The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Perlu kita ketahui, bahwa bakat menulis seorang siswa tidak datang begitu saja, namun membutuhkan proses yang cukup panjang. Pendekatan di lingkungan keluarga dan sekolah akan mempengaruhi kemampuan siswa dalam menghasilkan karya tulis. Dari kegiatan membaca sampai pelatihan menulis kreatif.
Dengan adanya sebuah program sekolah untuk menerbitkan buku kumpulan cerita pendek karya siswa ini, guru menjadi ujung tombak dalam meningkatkan kemampuan siswanya. Suatu saat, program menerbitkan buku ini akan menjadi cikal bakal andalan sekolah dalam pembelajaran, khususnya pembelajaran intensif bahasa Indonesia.

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Perpustakaan Pahoa, 2022-04-19 02:27:39

171 hari : Kumpulan cerita pendek karya siswa SMA Pahoa

Perlu kita ketahui, bahwa bakat menulis seorang siswa tidak datang begitu saja, namun membutuhkan proses yang cukup panjang. Pendekatan di lingkungan keluarga dan sekolah akan mempengaruhi kemampuan siswa dalam menghasilkan karya tulis. Dari kegiatan membaca sampai pelatihan menulis kreatif.
Dengan adanya sebuah program sekolah untuk menerbitkan buku kumpulan cerita pendek karya siswa ini, guru menjadi ujung tombak dalam meningkatkan kemampuan siswanya. Suatu saat, program menerbitkan buku ini akan menjadi cikal bakal andalan sekolah dalam pembelajaran, khususnya pembelajaran intensif bahasa Indonesia.

Keywords: Cerpen

“Timmy.... ini David, luudah bangun kan?” panggilku sambil
mengetuk pintu. Pintu kamar Timmy terbuka dan kulihat Timmy
berdiri di hadapanku sambil mengenakan piyama favoritnya. “Ya
udah bangunlah, gimana ga bangun coba kalo lu teriak-teriak kayak
tadi,” jawabnya kesal. “Hehe, maaf yaa. Tar gua ceritain deh. Hari ini
gua tidur di kamar lu ya,” pintaku. “Ya udah, masuk sini,” ajaknya.
Aku masuk ke kamar Timmy dan menceritakan semua yang baru saja
kualami. Mendengar ceritaku, Timmy pun juga ikut takut dan terkejut.

“Apa? Tadi lu ketemu sama pacar anak kost kamar sebelah
lu?”, tanyanya dengan raut wajah kaget. “Iya Tim, namanya Fitri,
cantik banget. Ternyata bener cerita lu, pacarnya meninggal tiga bulan
lalu, tepatnya 100 hari lalu,” kataku menjelaskan. “Jadi lu kira gua
ngarang? Kecelakannya itu masuk koran, Vid,” jawabnya dengan
nada tinggi. Lalu ia pergi ke arah tumpukan koran di dekat meja
belajarnya dan mencari-cari sesuatu. Setelah menemukannya, ia
menyodorkannya padaku. “Nih baca deh,” katanya sambil menunjuk
sebuah berita pada koran. Koran itu adalah koran tiga bulan yang lalu.
Aku mengambil koran itu dan membaca berita yang ditunjuk Timmy.
“Sebuah mobil mengalami kecelakaan di tol Jagorawi, sepasang
kekasih tewas di tempat,” aku membaca dalam hati. “Diketahui
korban bernama Herman Freeman (23) menyewa sebuah mobil
Avanza putih bernomor B 1316 SJX untuk pulang kampung bersama




134

kekasihnya, Fitri Carolina Putri (22),” aku membaca kalimat
selanjutnya dengan terkejut. Pada berita tersebut, ditampilkan pula pas
foto Herman dan Fitri. Wajah Fitri di koran ternyata sama dengan
wanita tadi. “Loh, ini kan cewe tadi”, kataku tidak percaya pada
Timmy. “Makanya gua merinding pas lu cerita ketemu sama pacarnya,
soalnya mereka meninggal bersamaan,” katanya. Bulu kudukku
kembali berdiri dan aku merinding. Aku ingin mengecek ke dalam
kamar yang dimasuki Fitri yang tadi kutemui, tapi tak berani. ”Udah
deh lu tidur dulu di sini, temenin gua. Gua juga takut soalnya, hehe,”
kata Timmy. Aku menyetujuinya dan kami akhirnya tertidur setengah
jam kemudian. Kami tidak bisa langsung tidur karena ketakutan.

Pukul 6 pagi aku bangun karena aku harus pergi ke sekolah.
Sebelum itu, aku meminta Timmy untuk menemaniku mengecek
kamar sebelahku. Tidak ada orang di kamar itu. Karena makin
penasaran, aku pun bertanya pada pemilik kos apa ada yang izin
datang ketika subuh untuk mengambil barang di kamar sebelahku.
Katanya, “Kalau yang mau ambil barang sih ada, tapi itu entar jam 7-
an pas kalian sekolah”. Untuk meyakinkanku, ia menunjukkan
rekaman CCTV dari pukul 2 pagi hingga 4 pagi tadi di pagar dan di
lorong kamarku. Tidak ada yang masuk lewat pagar pada jam itu. Tapi,
ada sosok wanita berbaju putih di rekaman CCTV lorong kamarku.
Sosok itu sama seperti yang kulihat. Sosok itu berdiri di depan




135

kamarku selama kurang lebih satu jam, kemudian aku keluar kamar
dan berbicara padanya. ”Sepertinya kita harus pindah kos,” kata
Timmy padaku.

***
“David, barang lu di kamar masih banyak ga? Barang gua
udah masuk mobil semua nih,” tanya Timmy padaku. “Berarti lu udah
selesai kan? Gua dikit lagi nih. Bantuin gua bawain ke bawah dong,”
jawabku. Ya, kami sedang mengangkut barang ke dalam mobil pick-
up yang kusewa untuk memindahkan barangku ke tempat kos yang
baru. Tadi sore sepulang sekolah, aku dan Timmy langsung pergi
mencari tempat kos di sekitar sekolah. Setelah sejam dua jam kami
berkeliling, akhirnya kami menemukan tempat kos baru yang cocok
dengan kami. Harga kamarnya kurang lebih sama dengan tempat
kosku sekarang, tapi jaraknya sedikit lebih jauh dari sekolah. Selain
itu, kami juga mendapatkan dua ruang kamar yang bersebelahan. Tak
jauh dari tempat kos itu, ada tempat penyewaan mobil pick-up.
Kebetulan sekali saat itu tidak ada yang menyewanya, jadi aku dan
Timmy langsung pulang ke kosan naik mobil itu untuk mengambil
barang.
“Nah udah semua nih kayaknya,” kataku setelah menaruh
kardus barang terakhir di dalam mobil. “Coba cek lagi, Vid. Tar kalau
ada yang ketinggalan sih.. elu yang balik ke sini sendirian,” kata




136

Timmy padaku. “Tenang... udah gua cek kok tadi,” jawabku yakin.
“Ya udah, ayo cabut,” balas Timmy. Bhremmmhh... Mobil dinyalakan
dan kami langsung pergi menuju tempat kos yang baru. Aku berharap,
aku tidak akan mengalami kejadian seperti semalam di tempat itu. Oh
iya, ulangan PKnku tadi diundur menjadi minggu depan karena hari
ini guruku mendadak sakit. Sebenarnya kalau dipikir-pikir, hari ini
aku mengalami banyak keberuntungan juga ya walaupun ada kejadian
sial yang menimpaku sebelumnya, hihi.

***




137

PEDAS

Anthony X2

“Brmm… Brmm…”, suara sepeda motor ayah sudah
memanggilku. Aku lekas keluar karena ayah sudah siap mengantarku
ke sekolah.
“John!”, pangil ayah.
“Ayo berangkat! Udah telat nih!”
“Oke, yah!”

Walaupun aku dipanggil John, nama asliku adalah Sueb
Dirgantara. Aneh? Tidak. Nama John berasal dari bibirku yang sering
jontor akibat sering makan makanan yang pedas.




138

Sampai di sekolah, aku bergegas masuk ke dalam kelas.
Kuletakkan tas sekolahku di tempat dudukku dan kusempatkan
bencengkrama dengan teman - temanku sebelum pelajaran dimulai.

“John, kamu sudah dengar belum beritanya?“ tanya Budi.
“Belum, memangnya ada apa?” balasku.
“Itu loh, dengar - dengar akan diadakan lomba makan pedas
untuk remaja se-Jabodetabek di LA. Juaranya akan mendapatkan
hadiah uang tunai,” sahut Tini
“Wah, tapi jauh banget, di LA. Apa gak kejauhan?
“Oh, maksudnya Lenteng Agung, hihihi. Kamu tertarik gak,
John?” tanya Tini.
“Tertarik sih, tapi ayah dan bunda belum tentu memberi izin.
Nanti setelah pulang sekolah aku tanya deh.”
Bel tanda mulai pelajaran berbunyi. Bu guru masuk ke dalam
kelas. Kami belajar dengan khidmat.
Pulang sekolah aku bergegas menemui ayah dan ibu untuk
menanyakan izin. Awalnya ayah dan ibutidak setuju, tetapi setelah
merayu-rayu akhirnya mereka memberiku izin dengan syarat aku
harus membantu pekerjaan rumah bunda selama satu minggu penuh
dan kakakku harus ikut menemaniku selama perlombaan. Aku lalu
melompat kesana kemari dengan gembira.




139

Setelah aku mencari informasi yang lebih detail, ternyata
informasi yang kudapat salah. Lomba makan pedas yang ingin aku
ikuti ternyata diadakan di Rumah Makan Pedas Gila di Pondok Indah
pada tanggal 10 - 12 April 2004. Karena aku tinggal di Bandung, ayah
menyarankan aku dan kakakku untuk menetap di sebuah hotel.
Kebetulan ayah memiliki kenalan bernama Pak Jaya yang memiliki
sebuah hotel di dekat rumah makan tersebut. Kami akhirnya
memutuskan bahwa aku dan kakakku akan menginap di hotel tersebut.

Ayam jago belum keluar kandang, ayah sudah siap untuk
mengantar kami ke terminal. Kami akan pergi ke Pondok Indah
menggunakan bus antarkota. Aku sudah tidak sabar untuk mengikuti
lomba makan pedas ini, aku sangat antusias sampai - sampai aku tidak
bisa berhenti berbicara. Sampai di terminal, aku dan kakak meminta
doa restu kepada ayah supaya kami bisa selamat sampai tujuan dan
aku bisa memenangkan lomba makan pedas ini. Lalu kami memulai
perjalanan menuju Pondok indah.

Di dalam bus aku tidak bisa diam. Aku terus mengajak kakak
mengobrol sampai kadang kakak kesal sendir, hihihi.

“Kakak, Pondok Indah itu seperti apa yah? Apakah ramai?
Apakah sepi? Apakah luas? Apakah sesak?”

“Gak, John. Pondok Indah itu sangat luas. Banyak orang yang
tinggal di sana.”




140

“Hanya itu kak? Kok biasa aja?”
“Hmm… Kakak dengar di Pondok Indah ada banyak hantu
yang berkeliaran. Orang-orang bilang rumah di Pondok Indah banyak
yang angker. Konon katanya di setiap rumah di daerah Pondok Indah,
terutama yang berukuran besar, pasti selalu ada saja kasus-kasus yang
terkait dengan pembunuhan ataupun kejadian-kejadian yang berbau
mistis.”
“Ooo… kakak memangnya masih percaya begituan?”.
“Gimana yah John. Kakak juga setengah percaya setengah gak
percaya.”
“Aduh, John jadi bingung.”
Tak terasa setelah dua jam, tibalah kami di Terminal Lebak
Bulus di dekat Pondok Indah.”
Tepat pada hari itu pada pukul 8 pagi kami tiba di Rumah
Makan Pedas Gila setelah naik angkot dari terminal. Aku segera
mendaftar lomba. Lalu aku diberi nomor peserta yang ditempel pada
bagian depan bajuku. Aku tidak menyangka ternyata ada banyak
orang yang mengikuti lomba ini sekitar 100 orang. Tua, muda, pria,
wanita, semua kalangan mengikuti lomba ini.
Karena lomba ini diikuti oleh banyak orang, akhirnya lomba
ini dibagi menjadi tiga babak. Babak pertama akan mengundi 20
peserta yang menghabiskan makanannya paling cepat. Babak kedua




141

20 peserta tadi akan diundi kembali menjadi 5 orang. Kemudian 5
orang ini akan memperebutkan hadiah utama di babak final.

Sebelum lomba dimulai, aku berkeliling Rumah Makan Pedas
Gila. Lalu aku melihat seorang anak perempuan yang kupikir sebaya
denganku. Parasnya rupawan, rambut panjangnya terurai bagaikan
sutera, ia terlihat sangat anggun bagi anak seusianya. Aku langsung
jatuh cinta pada pandangan pertama. Belum sempat aku berbicara
dengannya, lomba akan segera dimulai. Aku langsung berlari ke
tempat perlombaan takutnya nanti aku ditinggalkan. Kemudian babak
pertama dimulai.

Karena banyaknya peserta lomba dan ruangan yang tidak
memadai, akhirnya babak pertama lomba ini dibagi menjadi dua sesi.
Aku mengikuti babak pertama pada sesi pertama. Ada sekitar 50
orang yang mengikuti sesi pertama. Pada sesi ini para peserta lomba
dikumpulkan dalam satu ruangan. Lalu kami dipersilakan duduk pada
tempat duduk yang telah disediakan. Setelah semua peserta sesi 1
duduk, masuklah belasan pelayan ke dalam ruangan ini dan membawa
hidangan yang nantinya harus kami habiskan. Hidangan yang
disediakan kepada kami adalah semangkuk mie. Kuah mie yang
berwarna merah sudah menunggu di hadapanku. Para peserta diminta
untuk menghabiskan hidangan mereka sampai mangkuk tidak berisi
dan kemudian berdiri. Lima belas peserta pertama yang berdiri pada




142

setiap sesi akan dicatat nomor pesertanya dan waktu selesainya,
digabung dengan sesi lainnya dan diurutkan sesuai catatan waktu yang
paling cepat. Sesi sat pun akhirnya dimulai.

Aku mulai memakan mie di hadapanku. Ternyata setelah
kucicipi rasanya tidak sepedas yang kukira. Walaupun begitu, porsi
mie yang sangat banyak menjadi tantangan yang harus kulalui agar
lolos ke babak selanjutnya. Baru setengah porsi mie yang kusantap
sudah ada peserta yang berdiri. Wah, aku tercengang. Karena aku
tidak mau kalah aku menambah kecepatan makanku. Selang beberapa
menit akhirnya aku menghabiskan mie sampai tetes kuah terakhir.
Lalu aku berdiri. “Lima… Enam… Tujuh… Delapan…” ada 8 orang
lain yang telah berdiri. Berarti aku adalah peserta ke-9 yang berdiri.
Aku senang sekali. Tetapi aku khawatir, karena belum tentu aku akan
lolos ke babak kedua. Masih ada sesi 2 yang belum dimulai. Catatan
waktu para peserta pada sesi 2 mungkin melebihi catatan waktuku.
Setelah 15 orang berdiri, sesi 1 babak pertama usai.

Setelah sesi 1 babak pertama selesai, aku menunggu hasil final
babak pertama. Sekalian aku juga mencari anak perempuan yang
kulihat tadi. Setelah empat menit aku menemukannya, lalu kami
berkenalan.

“Hai. Kamu kok sendirian?




143

“Halo. Aku memang datang ke sini sendirian. Ngomong-
ngomong namaku Karina, kamu bisa panggil aku Rina.”

“Rina, yah. Nama lengkapku Sueb Dirgantara, tapi biasanya
aku dipanggil John, hihihi… Aku berasal dari Bandung. Salam kenal.”

“Wah, jauh juga rumahmu. Kamu jauh-jauh kesini cuma buat
ikut lomba ini?”

“Iya. Aku ke sini bareng kakakku. Kamu juga ikut?”
“Ga, aku ke sini cuma mau lihat - lihat aja.”
Lalu bel berbunyi, tanda pengumuman peserta yang lolos ke
babak kedua. Aku berpamitan dengan Rina. Aku pergi mencari tahu
siapa saja yang akan lolos ke babak kedua. Lalu dibacakanlah nomor
dan nama peserta oleh panitia lomba, “… nomor peserta 15, Junaedi,
nomor peserta 93, Ahmad Seto …” Aku deg - degan. Tiba - tiba, “…
nomor peserta 57, Sueb Dirgantara …” namaku dipanggil. Aku
senang sekali aku lolos ke babak kedua!
Karena babak kedua akan diadakan pada esok hari, aku
mengajak kakak untuk pulang ke hotel untuk beristirahat. Pulanglah
kami ke hotel. Malam harinya kakak mengajakku untu pergi ke luar
hotel untuk mencari makan dan jalan-jalan. Aku setuju. Lalu kami
berdua pergi ke luar hotel. Di luar hotel ada banyak makanan yang
dijual, seperti nasi goreng, mie goring, soto ayam, sate kambing, roti




144

bakar, dan lainnya. Daerah di sekitar hotel terasa seperti surga bagi
para penikmat makanan pinggir jalan.

Saat aku sedang mencari makanan, aku melihat Rina, anak
yang berkenalan denganku tadi pagi. Tapi aku tidak sempat bertemu
dengannya. Kerumunan yang sesak menghalangiku untuk bertemu
dengannya. Kemudian dia tidak ada lagi di tempat yang sama. Dia
sudah pergi. Lalu kakak menemukan sebuah kedai yang menjajakan
pecel lele. Kami makan bersama. Kemudian setelah makan sampai
puas aku dan kakak kembali ke hotel.

Sampai di kamar, kakak langsung tidur. Karena aku belum
mengantuk, aku belum tidur. Aku menonton televisi dan melihat
pemandangan Pondok Indah. Hiruk pikuk Pondok Indah tidak seperti
yang kubayangkan. Keadaan di sini pun berbeda jauh dengan di
tempat aku tinggal. Lama kelamaan aku mengantuk dan kemudian
tertidur. Aku bermimpi. Aku sedang berjalan di sebuah taman bunga.
Lalu muncul seorang perempuan, ternyata itu Rina. Rina melambaikan
tangannya kepadaku, dan aku melambaikan tanganku kepadanya.
Burung berkicau di atas pohon. Angin sepoi - sepoi berhembus dari
arah barat. Semerbak harum bunga ada di mana-mana. Aku merasa
sangat nyaman, tetapi seketika semua itu berubah ketika kakak
membangunkanku. “Kakak!!!” teriakku. Kakak hanya tersenyum.
Kemudian aku mandi, bersiap-siap untuk mengikuti babak kedua.




145

Aku sangat antusias. Lawan-lawanku terlihat sangat
berpengalaman, tetapi aku tidak takut. Aku merasa tertantang untuk
memenangkan perlombaan ini. Lalu babak kedua dimulai. Seperti
kemarin, kami dikumpulkan dalam satu ruangan. Peraturannya pun
hampir sama seperti kemarin. 5 peserta pertama yang berdiri pada
babak ini akan lolos ke bababk final. Lalu 6 orang pelayan masuk
membawa hidangan untuk kami. Mereka menghidangkan para peserta
10 potong martabak manis. Semua peserta kaget. Bukan hanya karena
hidangan yang berupa martabak manis, tetapi juga karena warna
martabak yang berbeda. Martabak yang biasanya berwarna kuning
keemasan kali ini berwarna kemerahan. Ternyata adonan martabak
telah dicampur dengan saus sambal. Unik banget martabak ini.
Kemudian babak kedua dimulai.

Pertama-tama aku membuka martabak untuk melihat isi
martabak. Ternyata martabak ini berisi wijen. Itu saat aku
membukanya, tetapi saat aku mencicipinya isi martabak ini bukanlah
wijen, melainkan biji cabai. Bukannya takut aku malah semakin
tertantang. Ini baru yang namanya lomba makan pedas. Aku memakan
sedikit demi sedikit martabak yang ada di hadapanku. Dari kejauhan
aku melihat Rina. Dia terlihat mendukungku. Aku tambah semangat.
Demi Rina aku tidak boleh kalah. Aku harus menang. Saat aku




146

memakan potongan ke-6, sudah ada peserta yang berdiri. Melihat hal
itu aku menambah kecepatan makanku. Kulawan rasa pedas yang
membakar seisi mulutku. Akhirnya aku menjadi peserta ke-4 yang
menyelesaikan babak kedua. Aku berhasil. Aku lolos ke babak final.

Setelah babak kedua usai, aku langsung mencari Rina. Aku
terus mencari Rina sampai akhirnya aku menemukan Rina di luar
rumah makan. Tetapi ketika melihatku dia langung pergi. Aku tidak
sempat mengejarnya karena kerumunan yang sesak di depan rumah
makan. Aku heran dan bergumam, “Kenapa Rina pergi saat dia
melihatku? Apa karena Rina takut padaku? Ah, tidak mungkin.” Lalu
aku kembali ke dalam rumah makan untuk mencari kakak. “John!”
panggilnya kakak. Aku menghampiri kakak. Kakak mengajakku untuk
kembali ke hotel. Setelah itu aku dan kakak kembali ke hotel.

Di malam hari aku tidak bisa tidur. Aku gelisah. Aku terus
memikirkan kejadian tadi pagi. Tiba -tiba terdengar suara ketukan
pintu. Aku bingung karena malam-malam begini jarang ada yang
mengetuk pintu. Ketika aku membuka pintu kamar muncullah Rina.
Aku tersentak. Rina mengajakku keluar. Karena kakak sudah tertidur
aku keluar dari kamar tanpa meminta izin dari kakak. Lalu Rina dan
aku berbincang-bincang.

“Rin, tadi pagi ketika kamu melihatku kenapa kamu langsung
pergi?”




147

“Ah, masa sih? Aku gak liat kamu kok. Kamu lagi halusinasi
kali. Soalnya aku dari tadi pagi pergi ke rumah tante aku.”

“Serius? Aku tadi pagi liat kamu loh.”
Tetapi Rina tidak menanggapi dengan serius ucapanku. Dia
menarik tanganku. Dia ingin aku mengikutinya. Tiba-tiba ada suara
yang tidak tahu dari mana asalnya. “Bruk!” Aku mencari tahu dari
mana asal bunyi itu. Aku melihat ke belakang, tetapi tidak
menemukan apa-apa. Ketika aku berbalik, Rina sudah menghilang.
Dia sudah berjalan duluan. “Kenapa aku ditinggal yah?” gumamku.
Aku melihatnya berbelok di ujung lorong. Aku berlari agar tidak
tertinggal olehnya, tetapi ketika aku sampai di ujung lorong aku tidak
menemukan tanda - tanda keberadaan Rina. “Cepat sekali jalannya1”
Lagi - lagi aku kehilangan Rina. Karena aku tidak ingin berlama-lama
meninggalkan kamar akhirnya aku kembali ke kamar dan tidur.
Keesokan harinya aku bangun pagi sekali. Aku tidak bisa tidur
nyenyak. Aku terus memikirkan Rina. Apa yang sebenarnya terjadi
kepadanya? Perasaan ini terus menghantuiku. Lalu kakak terbangun
dari tidur lelapnya. Kakak menyuruhku bersiap - siap karena dalam
waktu satu jam babak final akan segera dimulai. Setelah siap aku dan
kakak keluar datri kamar dan segera pergi menuju Rumah Makan
Pedas Gila untuk menghadapi babak final.




148

Sesaat sebelum lomba, aku menyempatkan diri untuk mencari
Rina, tetapi aku tetap tidak bisa menemukannya. Karena babak final
akan segera dimulai aku berhenti mencari keberadaan Rina.

Babak final ini akan diikuti oleh semua peserta sekaligus. Jadi
pemenangnya akan langsung ketahuan. Dari lima peserta babak final,
aku adalah peserta yang paling muda. Aku yakin peserta lainnya
meremehkan aku, jadi aku akan membuktikan kepada mereka bahwa
aku bisa memenangkan perlombaan ini. Aku harus tetap semangat.

Pada babak final para peserta dihidangkan semangkuk tomyam
dan sepiring rendang dengan dendeng balado. Babak final dimulai.
Penonton bersorak. Semua peserta berusaha memenangkan
perlombaan makan pedas ini. Ketika aku melihat peserta yang lain,
ternyata sisa makananku adalah yang masih paling banyak. Aku cepat-
cepat menghabiskan makanan di hadapanku. Aku menambah
kecepatan makanku. Lama-kelamaan aku berada di posisi yang
diunggulkan. Kali ini aku benar-benar kepedesan. Sambil mengelap
dahiku yang terus mengeluarkan keringat dan hindungku yang tak
henti-hentinya mengeluarkan air, aku berjuang untuk menghabiskan
makanan yang ada di hadapanku agar bisa memenangkan perlombaan
ini.




149

Babak final sudah berjalan selama 15 menit, tetapi masih
belum ada peserta yang berhasil menghabiskan makanan dihadapan
masing-masing peserta. Selang beberapa menit, salah satu peserta
menyerah. Kemudian mataku terasa pedas karena terkena tanganku
yang pedas, dan aku juga tersedak oleh biji cabai. Tekanan terus
menerus menerpa diriku, tetapi aku terus berjuang dan aku sama
sekali tidak putus harapan. Akhirnya setelah 25 menit babak final
berjalan, aku berhasil menjadi peserta pertama yang menghabiskan
semua makanan yang telah dihidangkan. Aku menang! Aku tidak
percaya kalau aku bisa menghabiskan semua makanan yang
dihidangkan dan memenangkan perlombaan makan ini. Bahkan
peserta lainnya terbelalak setelah melihatku telah menghabiskan
seluruh makanan yang dihidangkan. Aku tak kuasa menahan tangis
haru, juga tak kuasa menahan tangis karena mataku kepedesan.

Para penonton bersorak sorai. Peserta yang lain memberikan
tepuk tangan. Panitia lomba memberi ucapan selamat kepadaku. Aku
merasa sangat luar biasa. Tidak pernah aku merasakan hal seperti ini
sebelumya. Lalu salah seorang panitia lomba memberikan hadiah
uang tunai kepadaku sebesar Rp5.000.000,00. Wow! Banyak sekali
uang yang kudapatkan setelah memenangkan perlombaan ini. Kalau




150

uang ini aku pakai untuk beli siomay, mungkin uang ini habisnya bisa
dua tahun lagi nih, hihihi…

Ketika aku sedang merayakan kemenanganku, salah seorang
panitia lomba memanggilku untuk dimintai foto. Ya, begitulah tradisi
di Rumah Makan Pedas Gila. Setiap tahun, juara pertama, kedua dan
ketiga akan foto bersama di depan Rumah Makan Pedas Gila dan
nantinya foto ini akan dipajang di “Hall of Fame” yang berada di
dalam Rumah Makan Pedas Gila.

Setelah foto bareng, aku dan kakak ingin melihat “Hall of
Fame” yang berada di dalam Rumah Makan Pedas Gila. Lalu kami
berdua masuk ke dalam Rumah Makan Pedas Gila dan melihat “Hall
of Fame”. Wah, ternyata bukan aku saja “anak kecil” yang pernah
memenangkan perlombaan ini. Bahkan pada tahun 2000 juara kedua
dan ketiga adalah remaja. Pada tahun 2003 juara pertamanya juga
dalah seorang remaja. Tunggu. Itu kan foto Rina. Rina pernah menang
lomba ini? Tiba-tiba seseorang mengagetkanku dari belakang. “Buset!”
teriakku. Sontak para pengunjung rumah makan tertawa karena
teriakanku. Aku tersipu malu. Orang yang mengangetkanku ternyata
adalah Rina. Rina tertawa mendengar teriakanku lalu ia mengucapkan
selamat kepadaku.

“Maaf yah, tadi aku mengagetkanmu, hihihi… Ngomong-
ngomong selamat yah, Sueb, eh, John, atas kemenanganmu.”




151

”Makasih yah, Rin. Oh ya, ngomong-ngomong kamu pernah
menang lomba makan pedas ini juga, yah? Ternyata kamu hebat.”

“Hah? Enggak kok. Bahkan aku gak pernah ikut lomba makan
apa pun.”

“Lah, terus ini foto siapa?”
“Foto? Tunggu. Oh, maksud kamu foto ini. Ini mah foto adik
kembarku, Rini.”
“Adik kembar? Rini? Kok aku gak pernah tahu?”
“Kita aja baru kenalan, jelas aja kamu gak pernah tahu.”
Setelah kami berbincang-bincang, Rina mengajakku untuk
pergi ke rumahnya. Tapi sebelum itu aku minta izin terlebih dahulu
pada kakak. Kakak mengizinkanku. Kemudian Rani dan aku pergi ke
rumah Rina. Sampai di rumah Rina, ia menyuruhku untuk menunggu
di ruang tamu. Beberapa saat kemudian ia membawa sebuah album
foto dan menunjukkan beberapa foto kepadaku.
“Nah, ini foto kami berdua. Ini Rini, ini aku. Kita adalah
saudara kembar.”
“Wah, sekarang aku percaya kamu punya saudara kembar.
Sekarang, boleh aku bertemu langsung dengannya? Sekalian aku juga
ingin berkenalan dengannya.”
“Hmm, gimana yah? Sebenarnya sekitar setahun yang lalu,
Rini meninggal dunia, tepat dua hari setelah ia memenangkan lomba




152

makan pedas di Rumah Makan Pedas Gila karena ia terkena penyakit
muntaber.”

“Apa!? Tunggu, tunggu. Malam kemarin lusa aku melihatmu
di antara kerumunan ramai di dekat hotel Jaya? Apa itu kamu?”

“ Gak kok. Malam kemarin lusa aku tidak pergi keluar rumah.”
“Lalu kemarin siang saat kamu melihatku di luar Rumah
Makan Pedas Gila kamu langsung pergi tanpa mengatakan apa-apa.
Apa itu kamu?”
“Oh, maaf. Pada saat itu aku liat kamu, terus aku mau manggil
kamu. Tapi mama aku tiba-tiba manggil aku. Jadi aku menghampiri
mama tanpa sempat nyapa kamu.”
“Satu lagi. Kemarin malam kamu mengetuk pintu kamar hotel
aku kan? Bahkan saat itu kamu menarik tanganku dan mengajak aku
keluar kamar.”
“Loh kok? Kemarin malam aku dan mama pergi ke mall.
Jangankan mengajakmu keluar atau menarik tanganmu, aku saja tidak
tahu kamu menginap dimana ataupun nomor kamarmu. Bahkan hari
ini aku baru tahu kalau kamu menginap di Hotel Jaya.”
Bulu kudukku berdiri. Aku merinding. Aku menelan air
ludahku. Badanku terasa seperti membeku. Suasana yang tadinya
gembira berubah menjadi suram. Aku masih tidak bisa percaya
dengan apa yang telah terjadi kepadaku selama aku berada di Pondok




153

Indah. Tiba-tiba tubuhku terasa hangat setelah mendapat pelukan dari
seseorang yang tidak ada di belakangku.




154

Setitik Cahaya Dibalik Hujan

Karya: Gabriela Safitri

“ Pedihku tak terbendung. Langitku mendung tiada berujung. Kemana
berlindung. Sekarang engkau pun pergi. Kenapa begini, hatiku sedih.

Ku sendiri.”( Tangga – O…Teganya )
Langit biru menjadi gelap. Awan hitam pekat merayap
perlahan menyingkirkan awan putih pergi. Langit yang gelap
membuat keadaan kamarku semakin gelap dan suram. Angin kencang
membuat pohon bergoyang dan merontokkan daunnya kesana kemari.
Perlahan terdengar rerintikan hujan yang semakin lama semakin keras.
Lagi-lagi hujan. Apakah langit merasakan hal yang sama denganku?
Terkadang aku merasa iri dengan langit yang dapat menumpahkan
tangisannya sesuka hatinya. Ingin kuluapkan seluruh rasa sakitku, rasa




155

kecewaku. Namun apa daya, aku tak bisa. Akankah ada setitik cahaya
yang datang? Apakah kebahagiaan itu akan datang?

“Sedikit waktu yang kau miliki. Luangkanlah untukku. Harap
secepatnya datangi aku. Sekali ini kumohon padamu. Ada yang ingin
kusampaikan. Sempatkanlah . . . “ ( Bunga Citra Lestari – Kecewa)

“Mama gak adil!” teriakku.
Teriakanku mengisi seluruh rumah. Adikku hanya terdiam
tanpa mengeluarkan sepatah kata apapun. Lagi-lagi seperti ini. Seperti
biasa, ayahku juga hanya akan terdiam dan tak peduli. Ia hanya akan
mengurus pekerjaannya lewat telepon genggamnya. Padahal ia sering
memarahiku karena terlalu sering menggunakan telepon genggam.
“Udahlah, terserah kamu! Mama sibuk!” jawab ibuku kesal.
Tanpa melawan lagi, akhirnya aku menyerah. Aku segera
bergegas ke kamarku. Menenggelamkan wajahku dibalik bantal.
Jangan menangis.
Tidak aku tak boleh menangis.
Aku harus kuat.
Namun, air mataku sudah tak bisa kubendung. Sebisa mungkin
aku menahannya, tapi aku tak bisa. Aku hanya dapat menangis di
tengah kesunyian. Kutahan seluruh isakanku. Takkan kubiarkan ada
yang mendengarku menangis. Memang memalukan. Namun, aku juga
seorang manusia yang memiliki hati dan perasaan.




156

“ Kau adalah tempatku membagi kisahku. Kau sempurna. Jadi bagian
hidupku. Apa pun kekuranganku.”( Nidji – Arti Sahabat )

Kupersiapkan diriku. Tak lupa aku menyunggingkan senyum pada
bibirku. Aku bisa melakukannya. Ini tidak seberapa. Aku sudah
terbiasa melakukannya. Tersenyum dan tunjukkan pada dunia bahwa
semuanya baik-baik saja.

Kubuka pintu kelasku dengan perlahan. Seperti biasa, keadaan
kelasku sangat ramai. Ada yang membicarakan game. Ada juga yang
sedang mengerjakan PR, ups maksudnya yang sedang menyalin PR
milik orang lain karena lupa mengerjakannya tadi malam.

“Pagi Tania,” sapa Johan. Aku tak terlalu dekat dengannya,
namun ia adalah orang yang sangat ramah sehingga ia selalu menyapa
setiap orang.

“Pagi juga” balasku sambil tersenyum. Setelah menyapanya,
aku langsung duduk di bangkuku.

“Ssst, Tania.” Tiba-tiba ada seseorang yang berbisik padaku.
Aku menoleh ke samping dan mendapati sahabat baikku sedang
tersenyum usil kepadaku.

“Eh tumben Rin kamu dateng lebih pagi daripada aku.”
“Rajin sekali – sekali gapa-palah.”
Perbincangan kami berlangsung seru pagi itu. Karena masih
sekitar setengah jam sebelum pelajaran dimulai, kami berbincang agak




157

lama. Namun tiba – tiba Rina memperhatikan wajahku dengan serius.
Aku hanya bisa menatapnya dengan bingung.

“Kenapa Rin?” tanyaku bingung.
“Mata kamu kenapa? Kok agak bengkak ya?”
Aku langsung menunduk untuk menutup wajahku.
“Ah, ini mungkin cuma kurang tidur aja Rin.”
“Udahlah, Tan.” Rina menepuk pundakku. “Kamu ga usah
nutup-nutupin dari aku lagi. Aku kan sudah tahu semuanya. Kamu
ribut lagi ya sama mama papa kamu?”
Aku hanya mengangguk pelan.
“Tania kamu harus inget, kalau ada apa-apa tuh cerita ke aku.
Siapa tahu aku bisa bantu. Kalau perlu aku, cerita aja. Aku bakal
selalu ada kok.”
Aku mendongakkan kepalaku dan tersenyum.
“Makasih ya Rin.”
Ya, benar. Hanya Rina yang tahu seluruh rahasiaku. Ia tahu
apa yang ada dibalik senyumanku. Ia menyadari jika ada yang salah
denganku. Ia selalu ada untuk mendengarkanku dan menerima seluruh
kekuranganku. Setidaknya Tuhan mengirim seorang malaikat yang
selalu ada untukku sehingga kusadari bahwa aku tak sendiri di dunia
ini.




158

“Pantasnya kamu dengarkan aku dulu. Kali ini apa masih bisa aku
tahan denganmu? Apa masih bisa kamu sayangi aku? Apa bisa… Apa

bisa… Apa bisa?”( Kotak – Apa Bisa)
“Makan malam sudah siap!” teriak ibuku dari dapur.
Mendengar teriakan ibuku, aku, adik, dan ayah pun segera
bergegas berkumpul di meja makan untuk makan malam bersama.
Setelah ibuku selesai berberes, kami pun segera mulai makan malam
bersama. Baru sekitar lima menit kami makan malam bersama,
Telepon genggam ayahku bergetar.
“Halo? “
“Oh iya bu.. Jadi untuk proyek kali ini …… “
Lagi – lagi proyek kantor. Namun, tanpa memprotes apa pun
aku tetap memakan makananku dalam diam. Tak lama kemudian
telepon genggam ibuku pun berdering.
“ Halo?”
“Iya pak, barangnya udah siap kok. Tinggal dikirim ….“
Lagi-lagi barang pesanan klien. Karena sudah merasa agak
kesal, aku pun bersuara.
“Pa, Ma, bisa gak sih teleponnya nanti saja? Kita makan dulu!”
kataku dengan kesal.
Namun, perkataanku tadi hanya seperti angin yang lewat.
Tidak ada yang mendengarkan dan merespon kata-kataku. Aku




159

melirik adikku yang sedari tadi hanya terdiam dan dia pun menatapku
dengan tatapan pasrah.

“ Ma… Pa…“ panggilku.
Setelah kupanggil pun tetap saja tak ada yang peduli. Yang
hanya mereka pedulikan hanyalah lawan bicara mereka di telepon.
“Bentar ya,” jawab ayahku.
Akhirnya, ada yang meresponku. Namun, bukannya senang
aku malah kecewa. Setelah berkata seperti itu, ayahku malah
meninggalkan meja makan untuk melanjutkan teleponnya.
Setelah melihat ayahku pergi, ibuku pun juga pergi dan
alasannya sama untuk melanjutkan teleponnya.
“Bisa gak sih mama sama papa dengerin aku?!” teriakku
sambil menahan tangisanku.
Dan hasilnya pun tetap sama. Tak ada yang memedulikanku.
Adikku yang sedari tadi diam pun meninggalkanku untuk meletakkan
piring kotor. Aku yang sudah tak napsu makan pun meninggalkan sisa
makananku dan langsung bergegas ke kamar.
Aku segera meredam emosiku. Aku mengatur napasku
berusaha untuk membersihkan pikiranku.
Tenang, jangan biarkan emosimu meluap.
Tenang.
Tarik napas.




160

Hembuskan.
Mungkin bagi kalian aku agak berlebihan. Mungkin bagi

kalian aku haus perhatian. Ya benar, aku haus perhatian. Aku haus
dipedulikan. Aku haus didengarkan. Aku sangat haus akan kasih
sayang. Aku ingin dipedulikan dan didengarkan. Aku ingin ada yang
menanyakan kabarku setiap hari. Aku ingin ada yang menanyakan
kegiatan dan apa yang kulakukan di sekolah. Aku ingin ada yang
menanyakan bagaimana ujian hari ini. Namun, itu hanyalah mimpi. Itu
hanyalah harapan. Kau ingat? Banyak orang mengatakan janganlah
mimpi terlalu tinggi karena akan sakit jika terjatuh. Itulah yang
kurasakan sekarang.

“Syukuri apa yang ada. Hidup adalah anugerah.Tetap jalani
hidup ini. Melakukan yang terbaik.”( D’Masiv – Jangan Menyerah )

Hari-hari kulewati. Sampai sekarang pun masih belum ada
yang berubah. Tugas dan ulangan yang semakin menumpuk membuat
aku merasa lelah. Keadaan di rumah pun juga tak mendukung.

Karena itulah aku memutuskan untuk pulang sekolah dengan
berjalan kaki dan memakai transportasi umum untuk menikmati sore.
Cahaya oranye menyapa permukaan bumi menandakan salam selamat
tinggal dari matahari. Kehangatan juga diberikan olehnya membuat
aku merasakan kehangatan dalam hatiku. Sayangnya, bukanlah
ketenangan yang kudapatkan. Inilah Jakarta. Kendaraan berlalu lalang




161

kesana kemari. Suara klakson bersahut-sahutan. Trotoar pun juga
sangat ramai dipenuhi pedagang kaki lima dan pejalan kaki. Asap dan
debu juga berterbangan kesana kemari, baik dari asap rokok maupun
asap hitam pekat yang dikeluarkan bus tua yang kelihatannya sudah
tak layak pakai.

Aku pun memutuskan ke halte untuk menunggu bus. Satu per
satu bus menghampiri halte, namun bus dengan jurusan yang melewati
area rumahku tak kunjung tiba. Rasa bosan pun menggeluti hatiku.
Namun, ada sesosok ibu tua yang menangkap mataku. Terlihat
keringat menetes dari keningnya. Ia menenteng sebuah keranjang
besar berisi banyak kue.

“Kue!!Kue!!” teriaknya dengan serak.
Ia berteriak kesana kemari menawarkan kue dagangannya.
Namun, keadaan yang sangat ramai membuat orang tak terlalu
memperhatikannya. Bahkan sebagian orang tak tertarik melihat kue
dagangannya. Karena berdesak – desakan, ia pun terjatuh.
“Bruk … !“
Aku yang melihatnya pun langsung menghampirinya.
Keranjang besarnya yang terjatuh membuat kuenya berserakkan. Aku
membantu memunguti kue-kue yang masih bersih. Namun sayang,
jumlahnya sedikit. Ada yang terkena tanah, ada juga yang sudah
terinjak orang lain.




162

“Makasih ya neng.” Ibu tua itu tersenyum padaku.
“Iya sama – sama bu,“ balasku sambil tersenyum.
“Udah dulu ya neng, ibu masih mau jual sisa kue ibu.” Ibu itu
pun mengangkat keranjangnya.
“Nggak istirahat dulu bu?“ tanyaku.
“Kalo istirahat, nanti anak saya makan apa neng?“
Aku memandangi ibu tua itu pergi hingga hilang dari
pandanganku. Tak lama setelah itu bus yang kutunggu-tunggu pun
tiba. Aku segera menaikinya dan duduk di bangku yang kosong.
“Cobalah mengerti, semua ini mencari arti. Selamanya takkan berhenti.

“ ( Peterpan – Cobalah Mengerti )
Sepanjang perjalanan pulang bahkan hingga sampai di rumah,
kata-kata ibu tadi terus terngiang di otakku. Apakah orang tuaku juga
bekerja sekeras itu? Apakah mereka sibuk seperti itu demi aku?
Apakah aku yang terlalu egois karena tidak memikirkan perasaan
mereka?
“Dek, mama sama papa udah pulang belum?” tanyaku pada
adikku.
Belum kak. Katanya papa lembur soalnya ada meeting
mendadak. Kalo mama katanya masih ada urusan sama kliennya,”
jawab adikku.




163

Hal ini memang sudah biasa terjadi, namun entah kenapa ada
perasaan aneh yang terbesit dalam hatiku. Entah mengapa aku
mempertanyakan kabar mereka di dalam hatiku. Apakah mereka
lelah? Apakah mereka sudah makan? Entah mengapa rasa kekesalan
yang biasa kurasakan tak muncul. Yang muncul malah rasa
kepedulian dan kecemasan. Apakah aku tak mengerti apa yang mereka
rasakan oleh orang tuaku? Apakah aku tak mengerti apa yang
sebenarnya terjadi?

“Hatimu kan bahagia dengan memberi. Berikan senyumanmu
bila mampumu itu. Dunia ini kekurangan cinta.” ( Judika – Bahagia

Dengan Memberi )
Pagi itu di sekolah, aku menungu Rina datang. Akhirnya ia
datang sekitar 15 menit sebelum bel masuk berbunyi.
“Eh, Tania” panggilnya.
“Kenapa Rin?”
“Akhir pekan ini buat coklat bareng yuk!” ajaknya.
“Ha? Coklat? Buat apaan?“ tanyaku bingung.
“Ya buat valentine lah!”
Setelah itu barulah kusadari bahwa minggu depan adalah hari
ke-14 dalam bulan Februari alias hari kasih sayang yang ditunggu oleh
banyak orang. Namun, aku tak terlalu tertarik karena aku jarang
bertukar coklat dengan orang lain.




164

“Malas ah! Lagian kan aku tidak bakal kasih buat siapa-
siapa!“ tolakku.

“Ah tolonglahlah Tan, semua bahannya aku yang siapkan deh!
Kamu tinggal bantu buatnya.” Ia terus memohon padaku. Karena
kasihan, akhirnya aku mengiyakan ajakannya.

“Ya udah deh, aku bantu. Di rumah kamu kan?”
“Iya !!” jawab Rina sambil tersenyum.
Akhirnya, seperti apa yang telah dijanjikan, pada akhir pekan,
aku pergi ke rumah Rina. Seluruh bahan pun sudah ia siapkan. Mulai
dari coklat hingga topping-nya yang beragam. Aku dan Rina membuat
coklat secara teliti mengikuti resep yang sudah disiapkan. Kami
membuat coklat dengan berbagai bentuk, warna, dan dengan topping
yang berbeda. Kami mencetaknya satu persatu lalu memasukannya ke
dalam kulkas supaya menjadi padat. Setelah coklat dingin, kami
membungkusnya dengan kotak dan pita.
“ Nih buat kamu.“ Tiba-tiba Rina menyodorkan dua kotak
coklat untukku.
“Ah, ga usahlah Rin. Aku ga perlu kok!“ tolakku.
“Udahlah ambil aja.” Rina langsung meletakkan kedua kotak
coklat itu di tanganku. “Kasih aja Tan buat mama papa kamu.”
“Buat mama papa aku?” tanyaku tak yakin.
“Iya, sekali-kali ga papalah kamu kasih mereka.”




165

“Tapi…” aku berpikir sejenak. “Gimana cara ngasihnya?”
“Ya ampun Tan, tinggal kasih aja kok repot.”
Aku pun berpikir bingung. Aku tak pernah melakukan hal
seperti itu apalagi memberikan sesuatu pada orang tuaku. Bagaimana
jika mereka tak peduli? Bagaimana jika mereka tak suka dan
membuangnya?
“Melihat tawamu. Mendengar senandungmu. Terlihat jelas di
mataku, warna-warna indahmu.” (Sheila On 7 – Anugerah Terindah )
Hari yang ditunggu – tunggu pun datang. Nuansa merah muda
sudah melekat di berbagai tempat. Lagu-lagu romantis pun juga
diputar di banyak tempat. Di sepanjang jalan banyak spanduk dan
hiasan berwarna merah muda. Interior took-toko juga dihias
sedemikian rupa untuk merayakan hari kasih sayang, seperti balon
berbentuk hati, pita berwarna merah muda ataupun bunga-bunga yang
dirangkai sedemikian rupa. Pada supermarket coklat-coklat dijual dan
diletakkan pada rak terdepan. Bunga mawar, bunga yang paling dicari
pada hari kasih saying, juga dijual di mana-mana. Penjual bunga pun
sangat sibuk karena permintaan atas bunga sangat banyak. Banyak
juga restoran yang membuka layanan makan malam spesial hari kasih
sayang. Beberapa toko juga memberikan berbagai diskon untuk
menyambut hari ini.




166

Keadaan di sekolah pagi ini jauh lebih ramai dari biasanya.
Orang-orang saling bertukar coklat. OSIS juga menerima layanan
kiriman bunga sehingga akan terdapat kesan misterius yang diterima
oleh penerima bunga karena tak tahu siapa yang sebenarnya
mengirimkan ia bunga.

“Gimana Tan, udah kasih buat mama papa kamu belum?”
tanya Rina.

“Hmm… Belum nih, entar malem mungkin,” jawabku.
Sepulang sekolah aku langsung melakukan kegiatan-kegiatan
yang biasa kulakukan. Makan, mandi, belajar, mengerjakan tugas, dan
juga membereskan dan menyiapkan buku yang akan dibawa besok
pagi.
Jam sudah menunjukkan angka Sembilan, namun orang tuaku
tak kunjung pulang. Detik hingga menit bahkan hingga jam kulewati
dan tiba-tiba saat mendekati pukul 11, terdengar suara mobil yang
memasuki bagasi. Itu pasti mereka. Aku pun membantu membukakan
pintu untuk mereka.
“Loh Tania, kok kamu belum tidur?” tanya ibuku bingung.
“Eh iya… hmm…” Aku pun menunduk dan menyodorkan dua
buah kotak coklat kepada ayah dan ibuku.
“Happy valentine’s day,” kataku malu.




167

Ayah dan ibuku mengambil kotak coklat itu dan menatapku
bingung. Aku pun mulai merasa gugup dan takut. Namun, tiba-tiba
kehangatan menyelimuti hatiku. Mereka tersenyum padaku. Mereka
memelukku bahkan mencium pipiku.

“Makasih yah Tania.” Ayah dan ibu berterima kasih padaku.
Dengan seluruh keberanian yang aku kumpulkan, aku akhirnya
memberanikan diri untuk mengatakan sesuatu yang selama ini
kupendam.
“Ma… Pa…” Ayah dan ibuku pun menengok padaku.
“Tania ingin minta maaf. Selama ini Tania yang salah. Tania
terlalu egois. Tania gak pernah mikirkan perasaan mama ataupun papa.
Tania minta maaf,” kataku sambil menahan tangis.
“Mama juga minta maaf karena mama selalu sibuk dan kadang
mama cuekin kamu, maaf ya,” kata ibuku sambil menepuk pundakku.
“Iya papa juga salah, papa selalu ninggalin kamu untuk tugas-
tugas kantor,” balas ayahku.
Setelah itu entah kenapa rasanya hatiku sangat lega. Senyumku
pun tak pernah luntur sedari tadi. Jadi, ini yang namanya
kebahagiaan? Mengapa aku baru merasakannya sekarang?
Keegoisanku sendiri ternyata yang membuatku tidak bahagia. Namun,
sekarang aku sudah mengerti. Ternyata kebahagiaan adalah hal yang
sangat sederhana.




168

Kau hanya perlu peduli
Kau hanya perlu berbagi
Kau hanya perlu memahami
Karena semua terjadi karena alasan

Di saat orang yang kusayangi tersenyum
Aku pun tersenyum

Disaat orang yang kusayangi tersenyum karenaku
Kurasakan kebahagiaan

Terima kasih Tuhan
Terima kasih sahabatku
Sekarang kutemukan kebahagiaanku

Sekarang kutemukan
Setitik cahaya
Dibalik
Hujan.




169

Ketulusan Hati

Karya: Liza Sumarlin

Hari ini, langit kehilangan warna birunya. Waktu terus
berganti dan tak mau berhenti. Aku berjalan sendiri menyusuri
kelasku. Aku duduk termenung di sudut kelas. Terdiam tanpa
semangat. Hidupku mulai berubah. Ia yang selalu hadir untukku, kini
telah menjadi kepingan-kepingan memori yang membawaku pada
sebuah rahasia yang selama ini tersimpan rapat. Rahasia besar yang
mengubah jalan hidupku.

Aku membuka ponselku dengan rasa bercampur aduk, sedih,
tegang, haru, dan penasaran. Pesan singkat dari Ian, kekasihku, telah
membuatku termenung diam dalam seribu bahasa. Aku lelah. Tetapi
pelajaran tetap dimulai. Aku pun berdiri dan menghampiri lokerku
untuk mengambil buku-buku pelajaran. Teman-teman bersiap baris




170

dan aku melihat Ian berdiri di sana untuk bersiap memasuki kelasnya.
Aku ingin memasang borgol ke tangannya agar dia menemaniku
sepanjang pelajaran ini. Tetapi, semua hanyalah khayalan semata. Aku
harus masuk sendiri, memulai hari tanpanya.

Aku mengambil buku fisika dan memulai pelajaran dengan
pikiran kosong.

“Sa, kenapa?” tanya salah satu temanku.
Aku mengingat kejadian yang belum lama ini terjadi dengan
kekasihku. Bibirku seakan gugup dan lidahku kaku untuk
menceritakannya. Entah apa yang aku pikirkan. Hanya saja tatapan
mata ini membuatku tak mampu untuk membendung air mata ini. Aku
pun diam-diam meninggalkan kelas ini untuk menenangkan diri di
toilet. Toilet itu tempat aku mencurahkan segala isi hati dengan
tangisan dan berakhir sedikit lega. Namun, semua itu tidak
membuatku berhenti untuk memikirkan Ian.
Jujur saja, Ian adalah seorang pria sempurna untukku. Ia
menemaniku, mengajariku, menghiburku, menyayangiku,
melindungiku dan Ia adalah teman hidupku. Aku tidak tahu apa yang
terjadi pada diriku tanpanya. Aku menyayanginya, tetapi masalah ini
membuatku berpikir keras untuk segera menyelesaikannya. Tetapi
setiap aku melangkah, aku gagal. Aku tak berhenti di sana, aku
melanjutkan langkahku yang terasa kian berat.




171

Aku pun kembali ke kelas dan melanjutkan pelajaran
berikutnya. Seperti biasa, tanpa kehadirannya aku hanya berjuang
sendiri menghadapi ketergantunganku padanya seperti narkoba yang
mengendalikan diriku.

Alunan bel istirahat berbunyi. Aku pun tak sabar untuk melihat
Ian yang ada di kelas sebelah. Aku ingin berbicara padanya untuk
menyelesaikan masalah ini. Sayangnya, raut wajahnya tidak lagi
sama, terlihat emosinya yang tidak stabil dan memutarkan matanya
saat aku memanggilnya. Ia menghindariku. Aku kecewa, namun aku
mengerti bagaimana keadaannya. Oleh karena itu, aku tidak banyak
bicara. Hanya membuat janji untuk bertemu di bawah pulang sekolah
nanti.

“Buat apa?” tanya Ian dengan rasa malas membicarakan solusi
hubungan ini.

Aku menjawab, “Mau bicara.”
Ia pun menjawab, “Ya sudah” sambil meninggalkanku.
Aku pun kembali ke kelas dengan perasaan takut kehilangan
dirinya. Aku kembali melanjutkan pelajaran. Hingga tiba waktunya
pulang, aku menunggunya di bawah. Aku melihat sosok Ian yang
menghampiriku. Sungguh, aku gugup dan takut mengeluarkan kata-
kata yang salah. Aku tahu di dalam suatu hubungan pasti ada masalah.
Tetapi, ini berbeda. Aku yang terlalu sayang membuatku jatuh dalam




172

takut kehilangan dan berakhir pada sikapku, yaitu protective. Jujur
saja, aku takut ada orang lain yang membahagiakannya lebih dari
yang aku bisa.

“Mau ngomong apa?” Ian bertanya tanpa menyapaku.
Seolah petir yang tiba-tiba menyambar.
“Aku tahu, aku melakukan banyak kesalahan dan telah
membuatmu kecewa. Tetapi, aku mau berubah untukmu,” jawabku.
Ian tampak muak dan malas membicarakan ini karena yang ia
inginkan adalah mengakhiri hubungan ini.
“Ga perlu banyak berubah lagi, hasilnya juga sama. Ngapain
cape-cape berubah, nyiksa diri sendiri aja,” jawabnya.
Aku mencoba sabar dan memohon kesempatan satu kali lagi.
“Ini yang terakhir,” tambahku.
Ian menolakku. Tetapi ia menjawab.
“Karena dulu kamu juga pernah kasih aku kesempatan, ya
sudah aku kasih. Tapi rasa sayangnya sudah tidak sama seperti dulu.”
Ada sedikit kegembiraanku. Aku memperlakukannya dengan
baik. Aku mencari segala topik pembicaraan yang ia sukai, tetapi
lama-lama topik itu hilang karena Ian sudah bosan. Aku pun segera
mencari topik yang lain. Namun, apa daya ketika Ian sudah tidak lagi
niat melakukan pembicaraan denganku. Ia selalu mengakhiri dengan
kata-kata yang membuatku bisu.




173

Aku terdiam, keadaan sunyi. Aku mencoba memecah
kesunyian ini, aku memberikan perhatian lebih untuknya dan Ian
hanya menghela napas. Seberapa banyak pun aku mencoba, sedalam
apa pun aku mencintainya, semua hanya menjadi debu yang hinggap
tanpa tujuan.

Sampai di suatu hari, kami kembali bertemu. Kami
memutuskan untuk break. Break merupakan istirahat dalam suatu
hubungan selama beberapa hari tanpa bertemu dan berkomunikasi.

Hari-hari kulewati dengan tangisan. Terkadang, aku ingin
menghampirinya, tetapi aku tahu ia ingin sendiri dan ia memerlukan
waktu untuk berpikir. Aku hanya dapat melihatnya dari kejauhan. Aku
sedih melihatnya makan sendiri dan melakukan sesuatu sendiri. Aku
tak tega. Namun, Ian terlihat lebih senang sendiri daripada denganku.

Satu malam berlalu. Tampak diriku yang tercincang-cincang
dan Ian yang baik-baik saja. Beberapa temanku memberitahuku
bahwa Ian telah tertarik dengan perempuan lain. Sebelumnya, aku
memang mempunyai kecurigaan yang sama. Tetapi, aku tetap tidak
percaya, sampai aku melihatnya sendiri dan hilang sudah harapanku.
Untuk apa aku terus berjuang? Jika telah ada orang lain yang
menggantikannya di hati? Kini aku mengerti, semua yang aku lakukan
adalah sia-sia.




174

Aku menangis pedih dalam hati, memalsukan senyum yang
menyembunyikan rasa sakit mendalam di hati. Hingga terakhir, aku
dan Ian mengakhiri hubungan ini dengan baik-baik. Kami berdua
saling meminta maaf dan menyelesaikannya secara cukup dewasa.
Semoga ini menjadi pelajaran yang berharga untuk kita berdua. Aku
tahu, ini semua juga bagian dari rencana Tuhan.

Ya, ini merupakan sebuah perjalanan panjang kita, sampai kita
menemukan suatu pertigaan bahwa kita harus berpisah. Tetapi terima
kasih sudah pernah menemani perjalanan hidupku selama 1 tahun 8
bulan ini. Ketika kita tidak sengaja bertemu di sebuah persimpangan
pada tanggal 18 Desember 2014 pukul 18:00 menit ke-12 dan detik
ke-14. Akhirnya kita harus pergi ke tujuan dengan arah yang berbeda.
Ini telah menjadi tahun yang baik untuk kita berdua.

Begitulah hubungan kami berakhir. Aku harus melepaskannya
dan memulai hidup yang baru. Aku tahu ini sangat berat bagiku
karena aku yang masih menyayanginya dengan tulus. Bagaimana aku
harus melupakannya? Ketika sidik jarinya masih berada di hatiku,
suaranya beresonansi sampai ke bawah kakiku, senyumnya tinggal di
dalam mataku, dan setiap saat pikiranku bekerja, Ianlah orang pertama
yang kupikirkan.

Tetapi waktu tetap berjalan, aku harus bangkit dan
melanjutkan hidup ini tanpanya. Aku harus melepas ketergantunganku




175

padanya dan berjuang sendiri. Kini adalah waktuku untuk
memperbaiki hatiku. Karena suatu hari, aku akan bangun tanpa rasa
kehilangan lagi.

“Jika kamu bisa mencintai orang yang salah setulus itu,
bayangkan bagaimana jika kamu bisa mencintai orang yang benar-
benar mencintaimu”, kata Rachel, sahabatku.

Aku hanya dapat menganggukkan kepalaku. Memang awalnya
aku merasakan sesuatu yang tidak biasa. Sesuatu yang pahit jika
diingat. Sesuatu hal yang membuatku harus meninggalkan zona
nyaman ini.

Aku yang selalu berkata, “Gapapa, semua akan baik-baik
saja." dan teman-temanku yang berkata, "Stay strong! Move on aja."
Membuat aku mengakui bahwa kata-kataku lebih mudah terucap
dibandingkan dengan apa yang aku lakukan.

Sampai di suatu hari, aku melihat Ian bersama orang lain. Aku
kembali memalsukan senyumku. Aku melihatnya tertawa bahagia, aku
melihatnya menyayangi orang itu, dan inilah rasa merelakan orang
yang kamu sayangi untuk orang lain.

Terkadang, di saat aku sendiri dan merasa kesepian, aku
teringat akan memori-memori kecil tentangnya. Terkadang di saat aku
mengunjungi tempat yang dulu aku dan Ian datangi, rasanya tak lagi
sama. Teman lain yang belum mengetahui kabarku dengan Ian




176

mungkin akan bertanya, "Ian mana?" dan aku hanya membalas dengan
senyum tipis. Entah bagaimana menjawabnya.

Tetapi aku percaya pada suatu hal, semua ini pasti akan
berlalu, sama seperti hal lainnya di dunia, semua hal buruk pasti akan
beranjak pergi. Hujan pasti akan terganti dengan langit biru, gelap
pasti akan terganti terang, dan luka pasti akan terganti dengan
senyuman tipis di bibir ini. Ya, aku harus bersabar. Karena di setiap
gelap pasti ada titik terang, karena di setiap sakit ada pembelajaran,
dan aku pantas untuk bahagia kembali.

Oleh karena itu, biarkan itu sakit, biarkan itu luka, biarkan itu
sembuh, dan biarkan itu pergi. Karena aku tahu inu keputusan yang
baik untukmu dan aku disini bersama teman-temanku. Menanti
seorang pria yang tulus mencintaiku.




177

Maaf yang Tertunda

Oleh: Devi Elvina

Matahari telah naik dan bersinar begitu terik. Kulihat dari

jendela kaca kantorku peluh orang-orang menetes begitu deras. Aku

sedang memeriksa setumpuk berkas keuangan perusahaan ketika bel

tanda istirahat telah berbunyi. Jam putih yang melingkar di tanganku

telah menunjukkan pukul 11.30 siang. Seorang pemuda gagah dengan

kemeja putih lewat di depan ruang kantorku. Ia pun mengetuk pintu

lalu membuka pintu ruanganku.

“Hai, Reha! Ga ikut makan siang?” tanyanya sambil

melangkahkan kaki masuk ke dalam ruanganku. Wajahnya tersenyum

manis. Sangat manis, namun tetap terlihat gagah .

“Gak deh kayaknya. Aku masih kenyang,” jawabku sambil

tetap memeriksa berkas keuangan. Aku berusaha untuk tidak menatap

wajahnya.


178

“Oke. Kalo gitu mau kutemani jalan?” tanyanya lagi.
“Ga usah. Kamu makan aja. Hm..Aku harus belanja nih buat
stok makanan. Udah habis,“ kataku sambil terus sibuk memperhatikan
angka-angka yang tertera di kertas.
“Baiklah kalo gitu. Aku duluan ya. Hati-hati bawa mobilnya,”
balasnya seraya pergi meninggalkan ruanganku.
Lelaki itu bernama Mario Ganendra. Wajahnya lumayan
tampan dengan matanya yang tak terlalu sipit. Tubuhnya yang atletis
menunjukkan betapa keras usahanya di tempat kebugaran. Rambutnya
yang lurus dan berwarna hitam gelap baru dipotong Front Wave satu
minggu yang lalu. Beberapa minggu terakhir ini, ia kerap kali main ke
ruanganku sekadar untuk bertanya tentang kondisi dan pekerjaanku.
Agak terlihat seperti usaha pendekatan memang. Namun, aku
berusaha untuk tidak terlalu menggubrisnya. Aku ingin melihat betapa
keras usahanya. Aku tak mau terjebak dalam rayuan maut lelaki itu.
Selain itu, ada gosip yang beredar di kantorku. Berita yang tak
dapat dipercayai kebenarannya tentang alasan Mario mendekatiku.
Berita yang senang diceritakan oleh teman-teman wanitaku di saat
makan siang. Kabarnya ia memiliki motif pribadi dalam mendekatiku.
Gosip itu berkata ia tidak benar-benar tertarik pada diriku. Ia hanya
tertarik pada statusku sebagai anak pemilik perusahaan dan harta yang




179

dimilki orang tuaku. Gosip inilah yang membuatku tak berani untuk
membalas perhatiannya .

Tak berapa lama setelah Mario pergi, aku pun membereskan
berkas-berkas keuangan yang telah kuperiksa. Setelah berkas tersebut
tak berserakan, aku pun turun ke parkiran. Tak lupa kubawa tas
berwarna cream di tanganku .

Di sudut parkiran terdapat kendaraan roda empat milikku.
Kendaraan itu adalah sebuah mobil kecil berwarna hijau muda berplat
Ibukota Jakarta. Mobil ini berhasil kubeli berkat jerih payahku bekerja
selama ini.

Segera aku pun bergegas memacu mobilku keluar dari parkiran
kantor. Aku pun menuju ke arah sebuah pasar swalayan di kawasan
Jakarta Pusat. Hari ini seperti biasa jalanan ibukota begitu berisik dan
terlihat padat. Banyak kendaraan yang beraneka ragam termasuk
mobilku ikut meluncur di jalanan Ibukota. Bunyi klakson kendaraan
pribadi dan umum menghiasai perjalananku menuju pasar swalayan
tersebut. Setelah 20 menit yang panjang, aku pun berhasil sampai ke
tempat tujuan.

Setelah memarkir mobil, aku segera masuk ke dalam pasar
swalayan tersebut. Suasana di dalam pasar swalayan itu tidak terlalu
ramai. Hanya terlihat beberapa ibu rumah tangga yang sedang sibuk
mendorong troli barang sambil mengecek daftar belanjaan mereka.




180

Serta beberapa orang karyawan yang sedang menyusun ataupun
mengecek stok barang.

Sambil memperhatikan keadaan sekitar, aku pun segera
mengambil sebuah troli. Setelah menempatkan tasku, aku segera
mengambil daftar belanja milikku. Aku memulai kegiatanku untuk
berbelanja. Satu per satu lorong barang aku susuri sambil mengecek
daftar belanjaanku sekaligus mengambil barang-barang yang aku
butuhkan.

Ketika menyusuri sebuah lorong yang berisi minuman, aku
melihat seorang perempuan. Perempuan itu terlihat seumuran
denganku. Wajahnya yang ayu sangat akrab di ingatanku.
Senyumannya membuatku seketika membeku. Ingatan kelam itu
seperti kembali berputar di kepalaku.

Sepuluh tahun yang lalu. Aku masih duduk di bangku sekolah
di daerah Tangerang. Tepatnya saat itu aku masih duduk di kelas tiga
sebuah Sekolah Menengah Pertama (SMP). Saat itu aku aktif
mengikuti kegiatan di SMP seperti OSIS, basket, dan teater . Aku
juga lumayan pandai dalam hal pelajaran walaupun aku tak masuk ke
jurusan IPA. Namun, prestasiku cukup menonjol. Waktu itu aku
berhasil mendapat juara tiga di kelasku. Kelasku merupakan kelas
unggulan anak-anak. Selain itu, aku juga pandai bergaul, baik dengan
teman sebayaku maupun adik kelas.




181

Aku memiliki mata yang tak terlalu sipit walaupun kedua
orang tuaku adalah keturunan Tionghoa. Tentu saja aku memilki kulit
putih dan rambut hitam. Tinggi badanku sekitar 165 cm dengan
badanku yang tak terlalu gemuk ataupun tak terlalu kurus.

Dengan berbagai kelebihan yang kumiliki ditambah dengan
fisikku yang lumayan, aku memiliki banyak teman, baik laki-laki
maupun perempuan. Tentu saja aku memilki seorang sahabat
perempuan yang sudah bersahabat denganku sejak awal aku duduk di
bangku SMP. Sahabat yang terkadang sudah seperti bayanganku yang
tak bisa lepas dariku. Bayanganku itu bernama Kanya Stefani, seorang
perempuan berdarah Jawa Tioanghoa .

Berkebalikan denganku, ia tidak terlalu aktif mengikuti
kegiatan di SMP. Namun, ia sangat berbakat di bidang seni terutama
dalam bidang seni rupa. Lukisannya sangat indah membuat semua
mata terkagum. Pernah suatu ketika di saat aku genap berusia 13 tahun,
ia memberikanku sebuah lukisan bergambar bunga Dandelion, bunga
favoritku. Tentu saja aku sangat menyukainya.

Namun, ada suatu peristiwa yang masih membekas erat di
ingatanku. Peristiwa yang membuat hubungan persahabatan kami
berdua kandas. Saat itu, liburan panjang semester satu. Seharusnya
aku bersama kedua orang tuaku pergi berlibur ke Negeri Ginseng.
Namun sayang, karena jadwal ayahku yang padat, liburan kami pun




182

harus dibatalkan. Akhirnya aku mengisi liburanku dengan bermain
bersama kawan-kawanku. Tentunya aku menghabiskan banyak
waktuku dengan Anya sahabatku.

Saat itu adalah masa diwaktu aku seorang remaja putri yang
mulai menyukai seorang teman lelakiku. Tentu saja aku mengalami
cinta monyet. Lelaki itu bernama Panji Aditya. Ia bisa disapa Anji.
Anji sama sepertiku yang aktif di kegiatan OSIS. Ia juga terpilih ikut
ke dalam tim voli sekolah.

Kala itu aku sering memberitahukan segala persoalan dan
perasaanku tentang Anji kepada Anya. Aku juga sering meminta
sarannya agar aku dapat dekat dengan Anji karena Anya adalah
bayanganku. Namun, tanpa aku sadari, Anya juga menyimpan rasa
terhadap Anji. Mungkin aku terlalu egois karena tak tahu perasaan
Anya. Namun, ia telalu pandai untuk menyembunyikan isi hatinya.
Terlalu pandai sampai aku tak menyadarinya sedikit pun.

Hari itu tanggal 19 Desember, seminggu setelah awal libur
semester satu dimulai. Anya datang mengetuk pintu rumahku. Bi Inah
asisten rumah tangga keluargaku sedang sibuk di dapur karena ia
sedang menyiapkan makan siang. Akhirnya aku pun melangkahkan
kakiku turun ke bawah untuk membukakan pintu. Setelah
membukakan pintu, aku mengajak Anya untuk naik ke kamarku di
lantai dua.




183


Click to View FlipBook Version