“Jangan bocorkan apa pun yang kau tahu. Kau boleh menjauh,
tapi kau harus tutup mulut,” bisik Clairé. Joanne bergidik mendengar
bisikan Clairé. Ia langsung mengangguk.
“Aku berjanji Clairé,” ucap Joanne.
“Bagus.”
---
“Hai Clairé.” Sapa Jackson. Clairé pun menoleh.
“Jackson ya? Ada apa?” balas Clairé. Tak lama teman-teman
Jackson datang.
“Ini anak baru itu ya? Hai. Namaku Dev Joshi. Panggil saja
Dev. Ini Anushka, dia sahabatku,” ucap seorang anak laki-laki dengan
logat India-nya.
“Namaku Takao, ini sepupuku Yui.” Takao memperkenalkan
dirinya dan sepupunya. Yui tersenyum kepada Clairé.
“Nah, kenalkan. Namaku Mark, sahabat sekaligus teman
sekamarnya Jackson. Kau tahu? Aku dan Jackson sangat beruntung
memiliki teman sekelas secantikmu. Apalagi Jackson ini, dia lebih
beruntung lagi sebangku denganmu!” ucap Mark antusias.
Clairé tersenyum simpul dan mengatakan, “Salam kenal
semuanya.”
84
“Mau makan bersama di kantin?” ajak Jackson. Clairé
mengangguk sebagai jawaban. Mereka pun bersama-sama berjalan ke
kantin.
---
Clairé memakan hidangannya dengan tenang, sesekali ia
melirik Jackson yang duduk di hadapannya. Sedangkan yang lain
heboh memperebutkan hidangan penutup yang tersisa satu.
“Cih, bagi rata saja apa susahnya sih,” ucap Clairé dengan
nada ketus. Ia sudah jengah dengan pertengkaran idiot teman-teman
barunya itu.
“Sabar ya. Mereka memang suka kekanakan begitu,” ucap
Jackson sambil memegang tangan Clairé.
Deg!
Clairé merasakan desiran aneh di dadanya. Ia tak pernah
merasakan hal ini sebelumnya. Ia menatap Jackson yang tersenyum
kepadanya.
“Yak! Jackson bodoh! Jangan mencari kesempatan dalam
kesempitan.” Teriak Mark sambil memukul kepala Jackson. Melihat
hal tersebut Dev, Anushka, Takao, dan Yui menyoraki mereka yang
sontak menimbulkan semburat merah di pipi Jackson dan Clairé.
Dari kejauhan Joanne, Natalia, dan Natasha terus
memperhatikan Clairé. Mereka kaget Clairé dapat tersipu malu,
85
terlebih Joanne yang sudah mengenal Clairé sejak lama. Clairé tak
mungkin tersipu. Tapi, itu hal yang cukup bagus. Pertanda Clairé
mulai mengalami perubahan dan berangsur sembuh.
---
“Woo, woo... berhenti di sana,” ucap seorang lelaki bertubuh
besar dengan rambut panjang bewarna coklat tua. Clairé terdiam. Ia
pun membalikkan badannya dan menatap dua lelaki yang baru saja
menyuruhnya untuk berhenti.
“Ini anak baru itu kan, Buck?” Kira-kira apa yang akan kita
lakukan padanya?” tanya lelaki berambut pirang kepada lelaki yang ia
panggil Buck itu.
“Well, Stevie. Jujur saja dia cukup manis. Bagaimana kalau
kita buat dia melayani kita?” usul Buck atau Bucky kepada Steve.
“Ide yang bagus. Yah, walau sejujurnya bersamamu saja sudah
cukup bagiku,” ucap Steve. Clairé menatap kedua lekaki di
hadapannya. Otaknya memproses apa maksud dari kedua lelaki itu.
Sepertinya ia paham apa yang akan terjadi selanjutnya. Seringaian
tipis pun tercetak di wajah manis Clairé.
“Hei kalian! Jauhi dia!” teriak Jackson. Jackson berlari
menghampiri Clairé. Ia berdiri tepat di depan gadis itu dan
merentangkan tangannya. Berusaha melindungi Clairé dari Steve dan
Bucky, Ssnior kelas XII yang terkenal karena kenakalan mereka. “Hei,
86
kenapa kau belum pulang? Pulanglah. Aku yang akan menangani
mereka,” lanjut Jackson.
“Hoo.. hei bocah. Kami seniormu. Berani apa kau pada kami,
huh?” ucap Bucky dengan nada meremehkan dan menatap Jackson
dengan tatapan tak suka.
“Bocah kecil ini mau melawan kita rupanya. Belum tahu
kekuatan kita,” ucap Steve sembari menggulung lengan seragamnya.
Setelah melakukan sedikit peregangan pada ototnya, Steve
menghantam perut Jackson bertubi-tubi. Clairé terdiam melihat
pemandangan di hadapannya. Haruskah ia senang? Atau malah sedih?
“Hentikan. Apa yang kalian mau?” Clairé pun angkat bicara.
Steve dan Bucky berhenti menghajar Jackson. Clairé menatap Steve
dan Bucky dengan tatapan tajamnya yang menusuk. Bucky
menyeringai melihat reaksi Clairé.
“Ikut kami. Ayo cepat.” Steve langsung menarik Clairé pergi.
Bucky terdiam sejenak. Ia melirik Jackson dengan tatapan
meremehkan lalu pergi begitu saja.
---
Steve, Bucky, dan Clairé pun sampai di rumah mewah Steve
yang terletak di tempat yang cukup terpencil. Apa pun yang mereka
lakukan di sana tak akan mengundang kecurigaan orang-orang di
sekitar mereka. Steve bersyukur kedua orang tuanya memilih tinggal
87
di tempat seperti ini yang jelas akan mempermudah rencana-rencana
nakalnya. Setelah kepergian orang tua Steve, Steve berubah menjadi
anak yang nakal, begitu juga dengan Bucky yang tinggal bersama
Steve.
Bucky menarik pergelangan Clairé dengan kasar. Steve pun
berjalan menuju kamarnya diikuti Bucky dan Clairé di belakangnya.
Tanpa sepengetahuan Bucky, Clairé merogoh saku tasnya dan
mengambil dua buah jarum kecil dan memasukkannya ke saku roknya.
Mereka pun sampai di depan kamar Steve.
“Cepat masuk!” Bucky mendorong Clairé masuk ke dalam
kamar Steve. Clairé meletakkan tasnya. Ia memasukkan tangannya ke
saku roknya dan mengambil dua jarum tadi dan menyelipkannya di
antara jarinya.
“Kemarilah. Bukannya kalian bilang ingin membuatku
melayani kalian kan?” tanya Clairé dengan santai. Steve dan Bucky
saling memandang. Mereka menggedikkan bahu dan berjalan
menghampiri Clairé.
Clairé mengusap pipi Bucky dan Steve. Ia menatap Steve dan
berkata, “Kalian tahu? Kalian adalah pria tertampan yang pernah
kutemui.” Perlahan tangan Clairé semakin menurun, mengusap leher
kedua lelaki itu. Dengan cepat Clairé menusukkan jarum yang terselip
di antara jarinya ke leher Steve dan Bucky. Seketika tubuh Steve dan
88
Bucky menegang dan terasa sangat kaku. Bahkan untuk bicara
sekalipun terasa sulit.
“Well.. let’s play, boys.” Seringaian tercetak jelas di wajah
Clairé. Saat itu juga Steve dan Bucky menyadari satu hal. Mereka
telah salah memilih target.
---
Setelah dua minggu sekolah berlalu, terasa ada kejanggalan.
Steve dan Bucky, dua senior yang terkenal membuat onar menghilang.
“Dengar. Apa pun yang terjadi, jangan coba-coba anda
mencari keberadaan Steve dan Bucky. Apa lagi menghubungi polisi.
Saya tak segan-segan menghabisi nyawa anda. Mengerti?” ucap
seorang gadis sambil memainkan pisau lipat di tangannya. Gadis itu
menyeringai melihat ketakutan yang tersirat dari mata kepala
sekolahnya. Sang kepala sekolah hanya mampu mengangguk pasrah.
“Kalau pun ada yang bertanya bilang saja mereka telah
memutuskan untuk pindah sekolah berhubung keuangan mereka
semakin kritis dan merasa tidak mungkin mendapat beasiswa
mengingat mereka adalah anak-anak nakal. Lagi pula Steve dan
Bucky yatim piatu kan? Selain itu, setelah kepergian orang tua Steve,
Bucky mulai menunjukkan sisi yang sebenarnya. Sisi nakalnya lalu
mereka bersama-sama menjadi anak nakal, memaksa setiap murid
untuk memberikan mereka uang. Murid-murid di sini mengira mereka
89
menggunakan uang itu untuk berfoya-foya, padahal semua itu untuk
memenuhi kebutuhan mereka. Tinggal di rumah mewah, tapi tidak
memiliki sepeser pun uang bukannya sungguh miris?” ucap gadis itu
yang membuat kepala sekolah itu tertegun. Ia yang seorang kepala
sekolah malah tidak mengetahui kenyataan pahit dibalik kenakalan
dua muridnya.
“Setidaknya Anda sudah mengerti apa yang harus anda
lakukan? Terima kasih telah meluangkan waktu untuk berbincang-
bincang. Oh ya, ingat. Jangan berani-berani melaporkan polisi atau
mencari mereka. Atau anda akan mengucapkan selamat tinggal pada
dunia yang indah ini serta membiarkan sekolah yang anda cintai ini
blacklist seketika dengan terungkapnya kasus ini. Saya permisi.”
Gadis itu pun membungkukkan badannya lalu keluar dari ruang
kepala sekolah.
---
“Hei Clairé.” Panggil Joanne. Clairé menoleh dan tersenyum
melihat siapa yang memanggilnya.
“Ada apa Joanne? Merindukanku?” canda Clairé. Joanne
duduk di samping Clairé.
“Aku ingin bertanya. Apa kau tahu di mana Steve dan Bucky?”
tanya Joanne dengan hati-hati. Senyum Clairé seketika pudar.
Berganti dengan wajah datar dengan tatapan dingin yang menusuk.
90
“Kau tidak perlu tahu. Lagi pula apa urusannya denganmu?”
tanya Clairé dengan nada dingin.
“Bukan begitu. Hanya saja itu terasa janggal. Bukankah
sebelum mereka menghilang kau pergi bersama mereka?” lanjut
Joanne. Ia menatap Clairé seakan butuh penjelasan yang jujur dari
gadis cantik berdarah Prancis tersebut.
“Lalu, kau menuduhku membunuh mereka? Kenapa begitu?
Apa salahku padamu sampai kau tega menuduhku? Kalau kau
membenciku tak apa. Tapi, jangan begini! Jangan menuduhku seperti
ini!” teriak Clairé. Seketika raut wajahnya berubah menjadi sedih.
Puluhan pasang mata terfokus ke arah mereka. Tak lama Jackson dan
kawan-kawannya menghampiri Clairé.
“Clairé? Ada apa?” tanya Jackson khawatir. Clairé langsung
memeluk Jackson dan menangis tersedu-sedu.
“Ia.. hiks.. Ia menuduhku.. Ia hiks..” ucap Clairé terbata-bata.
Jackson mengusap punggung Clairé.
“Coba jelaskan atas dasar apa kau menuduh Clairé dan apa
masalah kalian?” tanya Anushka. Joanne menggelengkan kepalanya.
“Ini tidak seperti yang kalian bayangkan. Aku ha—” belum
sempat Joanne menjelaskan Clairé sudah memotong ucapan Joanne.
91
“Dia berbohong! Dia menuduhku membunuh Steve dan
Bucky! Aku menganggapmu sebagai teman baikku! Kenapa kau tega?
Kenapa Joanne?” teriak Clairé.
Natasha dan Natalia segera menghampiri Joanne. “Joanne, ayo
kita pergi. Di sini tidak aman.” Natasha memegang pergelangan
tangan Joanne. Setelah lama bersembunyi Natasha dan Natalia keluar
dari tempat persembunyian mereka.
“Kami akan jelaskan nanti. Tapi, hal yang terbaik saat ini
menjauhkan Joanne dan Clairé untuk sementara waktu,” ucap Natalia
menengahi masalah. Joanne dan teman-temannya pun pergi setelah
meminta maaf atas kesalahpahaman yang belum bisa mereka jelaskan
kepada teman-teman Clairé.
---
Hari telah berganti. Lima hari setelah kejadian Joanne
menuduh Clairé. Sampai saat ini Joanne belum mengatakan sepatah
kata pun untuk meluruskan apa yang terjadi. Bahkan Joanne kerap kali
terlihat menghindari Clairé dan teman-temannya.
Terlihat sekumpulan anak-anak di pojokan kelas XI-F. Mereka
murid-murid yang terkenal selalu mengacuhkan murid yang lain dan
hanya mementingkan teman dekat mereka. Murid-murid itu bernama
Ai, Antonia, Dave, Ryuu dan Cynthia. Mereka terlihat sedang asik
membincangkan sesuatu.
92
“Hei Cyn. Kau tahu aku penasaran sekali dengan junior kita. Si
Clairé sama Joanne. Mereka sedang ramai di perbincangkan,” ucap Ai
kepada Cynthia. Antonia yang sedang sibuk menggambar langsung
mengalihkan pandangannya ke mereka.
“Mau mendekatinya?” tanya Antonia. Yang lain mengangguk.
“Aku juga penasaran,” ucap Dave.
“Firasatku tidak enak kalau kita mendekatinya,” balas Cynthia.
Seketika Cynthia menjadi pusat perhatian. Biasanya apa yang
dirasakan Cynthia sering terjadi.
“Aku malah merasa dia setipe denganku. Tetapi lebih parah.”
Tambah Dave. Cynthia mengangguk.
“Mendekatinya bukanlah pilihan yang baik,” ucap Cynthia
dengan suara pelan.
---
“Jackson~” panggil Clairé dengan nada manja. Jackson
terdiam. Tak biasa Clairé memanggilnya seperti itu dan hal tersebut
membuat jantungnya berdetak lebih cepat. Jackson menoleh dan
tersenyum.
“Ada apa Clairé? Ada yang bisa kubantu?” tanya Jackson.
Clairé menyodorkan buku paketnya dan menunjuk sebuah soal.
93
“Aku tidak mengerti yang ini. Ajari aku ya?” pinta Clairé. Ia
menatap Jackson dengan tatapan memohon. Jackson pun mengiyakan
permintaan Clairé.
“Nanti kuajari sepulang sekolah,” ucap Jackson. Clairé
tersenyum senang.
“Yeay! Terima kasih Jack!”
---
“Clairé. Bisa kita bicara sebentar?” aku menoleh ke belakang.
Seorang bertubuh tegap dengan sebuah headset bertengger manis di
lehernya.
“Siapa kau?” tanyaku penuh selidik. Aku menatapnya.
Instingku mengatakan aku dapat mempercayai orang itu.
“Namaku Dave. Dave Josh,” ucap orang itu. Aku hanya
mengangguk sebagai balasan. “Tenang saja, aku tak akan memaksamu
seperti Steve dan Buckyl” lanjutnya. Aku membulatkan mataku.
Darimana dia tahu?
“Darimana kau...?” tanyaku menggantung. Ia menunjuk
sebuah kamera pengawas di langit-langit koridor sekolah. Aku
mengarahkan pandanganku ke arah yang ia tunjuk.
“Aku juga mendapat video beraudio dari sumber terpercaya.
Aku bisa tahu apa yang terjadi dan apa yang kalian bincangkan saat
94
itu.” Ucapnya. Aku menatapnya tak percaya. Dia cukup cerdik juga
pikirku.
“Well, boleh ku akui. Kau cukup jenius untuk anak biasa.”
Ucapku. Kulihat ia menggelengkan kepalanya. Aku mengernyitkan
dahiku dan ia menyunggingkan seringaiannya.
“Ukuran orang sepertiku tak bisa dibilang anak biasa,”
ucapnya. Aku semakin bingung. Apa jangan-jangan dia sama
sepertiku? Sepertinya begitu. Kebanyakan orang sepertiku adalah
orang-orang jenius nan cerdik untuk mendapatkan apa yang
dibutuhkan.
“Jarang ada yang membuat pengakuan seperti itu. Tapi, kenapa
kau mau terbuka denganku? Bagaimana jika kau salah orang?”
balasku. Ia terkekeh.
“Kalau kau tidak sepertiku, kau tak mungkin mengerti apa
yang kumaksud tadi, kan?”
Perkataannya ada benarnya juga.
“Ya. Lalu apa maumu?” tanyaku dengan nada dingin.
“Izinkan aku melihat keadaan Steve dan Bucky. Aku ingin
tahu bagaimana bisa kau menangani dua bedebah itu.”
“Sepulang sekolah setelah aku belajar bersama Jack. Aku akan
menunjukkannya padamu.” Aku pun berlalu meninggalkannya sendiri
di koridor yang cukup sepi itu.
95
---
Jam telah menunjukkan pukul 16.30. Clairé berdiam di depan
gerbang sekolah. Sebuah mobil mewah dengan warna merah berhenti
di hadapannya. Kaca mobil bewarna hitam pekat itu perlahan turun.
Menampakkan sosok lelaki berkaca mata hitam dengan headset biru
yang bertengger manis di lehernya.
“Ayo masuk. Aku ingin melihat keadaan dua bedebah itu,”
ucap lelaki itu yang ternyata Dave. Tanpa ragu Clairé masuk ke dalam
mobil Dave.
“Kau tahu di mana rumahnya?” tanya Clairé. Dave
mengangguk. Matanya terfokus pada jalanan yang tidak begitu ramai.
Tak ada percakapan di antara keduanya. Mobil mereka pun memasuki
jalan kecil yang di apit dua hutan besar. Jalan itu menuntun mereka ke
sebuah rumah mewah nan megah. Melihat rumah tersebut ingatan
Clairé berputar kembali ke masa saat ia melakukan hal yang sangat
menyenangkan baginya kepada Steve dan Bucky.
---
Jackson berkali-kali jalan kesana-kemari tanpa arah yang jelas.
Sedari tadi ia menggigit bibirnya. Ia terlihat bimbang.
“Ayolah Jack. Tak ada yang perlu kau khawatirkan. Kami
yang akan mengurus segala persiapannya. Tenang saja tak akan
seburuk yang kau bayangkan. Lagi pula kulihat dia juga menaruh
96
perasaan padamu,” ucap Mark mencoba menenangkan Jackson yang
terus mengkhawatirkan esok hari.
Ya. Esok hari ia akan menyatakan perasaannya pada Clairé. Ia
sempat ragu, tetapi melihat teman-temannya mendukungnya, ia sedikit
optimis. Sejak awal bertemu Clairé, dia memang sudah menaruh hati
pada gadis berdarah Prancis itu. Melihat Clairé yang memanggilnya
dengan cara yang berbeda dari biasanya membuatnya yakin untuk
menyatakan perasaannya. Hanya saja yang ia takutkan saat ini,
bagaimana kalau ia salah? Bagaimana kalau Clairé ternyata tak
menyimpan setitik pun perasaan padanya? Satu hal lagi yang menjadi
pertimbangannya kalau ia tidak menyatakan perasaannya secepatnya,
kapan lagi? Lalu bagaimana kalau Clairé menjadi milik orang lain?
Memikirkan semua itu membuat Jackson bisa gila saat ini juga.
“Hei, sudahlah. Daripada memusingkan hal yang lain, lebih
baik kau memikirkan kata-kata yang pas untuk besok,” ucap Mark
santai. Jackson menghela napasnya berat. Ia menjatuhkan tubuhnya ke
kasur. Ia mencoba tenang, tetapi pertanyaan-pertanyaan tadi terus
berputar di kepalanya.
“Tidurlah. Santai saja. Semua akan baik-baik saja.” Setelah
mengucapkan itu Mark memejamkan matanya, bersiap menuju alam
mimpi. Jackson melirik Mark yang telah terlelap. Sekali lagi, ia
97
menghela napasnya. Ia memejamkan matanya, berharap apa yang
dikatakan Mark itu benar.
---
“Aku tidak membunuhnya. Ah, tepatnya belum. Tapi,
sepertinya mereka telah menghembuskan napas terakhir mereka
beberapa hari yang lalu,” ucap gadis itu.
“Tapi, kurasa ini korban terakhirku. Seseorang mengalihkanku
dari dunia kejamku ini. Bersamanya aku merasa nyaman dan takut
bila ia mengetahui diriku yang begini. Aku belum siap kehilangannya.”
Lanjut gadis pirang itu. Teman lelakinya tersenyum simpul.
“Kau tahu? Taktik dan pemikiranmu layaknya seorang
psikopat, tapi nyatanya kau seorang sosiopat yang sedang jatuh cinta.”
Temannya itu bangkit dan menendang pelan dua jasad di hadapannya.
“Ayo pulang. Akan kuantar.” Lelaki itu berjalan terlebih dulu
dan gadis itu mengikutinya. Mereka pun pergi dari rumah mewah
yang tak lama lagi menjadi bangunan angker tak berpenghuni.
---
Bel sekolah berbunyi menunjukkan pelajaran akan segera di
mulai. Murid-murid berhamburan masuk ke kelas masing-masing.
“Hei, Clairé,” panggil Jackson saat ia duduk di samping Clairé.
Clairé pun menoleh dan tersenyum manis kepada Jackson.
“Ya? Ada apa?” tanya Clairé lembut.
98
“Um... pulang sekolah tak ada acara kan?” Jackson berusaha
menutupi kegugupannya. Clairé menatapnya bingung lalu
menggelengkan kepalanya.
“Tidak ada. Memangnya kenapa?” Clairé menatap Jackson.
Jackson tersenyum dan menepuk-nepuk kepala Clairé pelan.
“Ada sesuatu yang ingin kuperlihatkan. Tunggu saja nanti,”
jawab Jackson. Guru pun masuk dan seketika kelas pun hening. Murid
pun fokus kepada penjelasan guru.
Tik.. tok.. tik... tok..
Waktu pun berlalu dengan cepat. Bel sekolah berbunyi
menandakan waktu istirahat telah tiba.
“Hei! Jackson! Clairé!” panggil Takao. Jackson dan Clairé pun
menghampirinya.
“Ayo ke kantin!” ajak Takao. Jackson mengangguk dan
mereka pun pergi ke kantin bersama-sama.
---
Clairé menunggu makanannya dengan tenang. Tiba-tiba
seseorang menepuk kepalanya pelan. Sontak ia dan teman-temannya
menoleh.
“Dave!” Clairé tersenyum. Ia berdiri dan memeluk Dave.
99
“Clairé? Sejak kapan kau dekat dengan kakak kelas?” tanya
Jackson. Dari nadanya tersirat kecemburuan melihat kedekatan Clairé
dan Dave.
“Uhm.. sejak kemarin? Oh ya, Dave! Kau bahkan tak
memberitahuku kelasmu! Oh ya, siapa mereka?” ujar Clairé lalu
melepaskan pelukannya. Ia menatap teman-teman Dave.
“Haha.. maafkan aku. Aku kelas XI-F. Ini Antonia, Ryuu, Ai
dan itu Cynthia,” ucap Dave menunjuk teman-temannya untuk
memperkenalkannya.
“Hai,” ucap mereka berempat bersamaan. Dave terkekeh. Tak
lama kemudian makanan Clairé pun datang.
“Ah, makananku sudah datang. Aku makan dulu ya. Nanti ada
yang mau kuceritakan padamu Dave.” Clairé mendudukkan dirinya di
samping Jackson.
“Baiklah adik manis. See you!” Dave melambaikan tangannya
lalu pergi. Clairé pun memakan hidangannya dengan tenang tanpa
menghiraukan tatapan bingung teman-temannya.
---
Tak terasa bel pulang sekolah pun berbunyi menandakan
pelajaran telah selesai. Murid-murid pun bergegas pulang. Jackson
menghampiri Clairé.
100
“Clairé, ayo ikut aku,” ajak Jackson. Tanpa menunggu
jawaban dari Clairé, Jackson langsung menariknya pergi.
“Kita mau ke mana?” tanya Clairé. Jackson hanya tersenyum
sebagai balasan. Tak dapat dipungkiri detak jantung keduanya berderu
cepat. Desiran halus terasa tatkala jemari mereka saling bertautan.
Sampailah mereka di atap sekolah. Terlihat bunga-bunga bertebaran
membentuk gambar hati. Terlihat pula spanduk besar bertuliskan ‘Be
mine, Clairé?’
Clairé tercengang. Itu sungguh romantis baginya.
“Sejak awal melihatmu aku telah menyimpan perasaan
padamu. Pada hari ini aku mau menyatakan perasaanku. Clairé, would
you be my girl?” Jackson berlutut dan menggenggam tangan Clairé.
Tanpa ragu Clairé mengangguk dan memeluk Jackson dengan erat.
“Tentu. Dengan senang hati aku mau,” ucap Clairé.
Dan mulai hari itu mereka menjadi sepasang kekasih.
---
Hari-hari telah berlalu. Kabar Jackson berpacaran dengan
Clairé telah tersebar ke seluruh penjuru sekolah. Joanne turut bahagia,
tetapi juga takut. Ia takut Clairé hanya memanfaatkan Jackson. Tapi,
kalau cinta Clairé ke Jackson itu nyata dan tulus ia turut bahagia. Itu
berarti Clairé telah sembuh.
101
Natalia, Natasha, dan Joanne sedang berjalan menaiki tangga
menuju kelas mereka.
“Hari ini tidak ada ulangan atau tugas kan?” tanya Joanne. Ia
sama sekali tidak memperhatikan jalan karena terpaku pada novel
yang baru saja ia pinjam. Tiba-tiba seseorang menabraknya dan
membuat tubuh Joanne terhuyung ke belakang.
Grep!
Seseorang di belakangnya dengan sigap menangkap tubuh
Joanne dengan memeluk pinggangnya. Joanne berusaha berdiri ketika
orang itu melepaskan pelukkannya.
“Ter—” ucapan Joanne terpotong ketika melihat Clairé yang
menatapnya dengan tajam. Ternyata yang menyelamatkannya adalah
Jackson. Kekasih Clairé. Joanne membungkuk dan langsung pergi.
“Dia kenapa?” tanya Jackson sambil melirik ke arah Clairé.
Clairé hanya menggedikkan bahunya.
“Ayo ke kelas,” ajak Clairé. Jackson mengangguk dan
mengikuti Clairé.
---
Setelah kejadian Jackson menyelamatkan Joanne, keadaan
tetap seperti biasa. Untuk saat ini Joanne dapat menghela napas lega.
Ia masih dapat bersantai.
Di lain tempat...
102
“Dave~ mau bantu aku kan?” tanya Clairé.
“Apa yang bisa kubantu?”
“Habisi Joanne. Aku sudah menyiapkan segalanya. Tenang
saja, tidak akan terjadi hal buruk kok. Kita pasti aman,” ucap Clairé
meyakinkan. Clairé menyeringai mengingat rencana yang telah ia
susun jauh hari.
“Apa yang kudapatkan kalau membantumu?”
“Tiket konser idamanmu.” Clairé menunjukkan sebuah tiket
konser artis Korea. Dave terlihat berpikir sejenak.
“SNSD? Baiklah aku ikut.”
---
Bel pulang sekolah pun berbunyi. Clairé segera keluar dari
kelasnya.
“Clairé? Mau kemana?” tanya Jackson bingung.
“Aku ada urusan sebentar. Kamu pulang duluan saja,” ucap
Clairé lalu berlalu pergi. Entah mengapa firasat Jackson tidak enak.
Jackson pun memutuskan untuk mengikuti Clairé.
“Joanne, ikut denganku dan Dave ya? Aku punya koleksi film
baru! Kau pasti suka!” bujuk Clairé. Firasat Jackson terbukti salah,
tetapi ia tetap merasakan firasat yang tidak enak. Ia pun memutuskan
untuk tetap mengikuti Clairé.
103
“Aku tak bisa Clairé. Aku harus belajar. Besok aku ada
ulangan,” tolak Joanne halus. Clairé menatap Joanne memohon.
“Ayolah.. sekali saja,” pinta Clairé sambil memelas.
“Aku tidak bi—” belum selesai bicara Clairé memeluk Joanne.
Ia menusukkan sebuah jarum kecil yang berisi obat tidur. Seketika
tubuh Joanne lemas dan ia pun tertidur.
“Angkat dia,” perintah Clairé dengan nada dingin. Dave
mengangkat tubuh Joanne. Dave pun berjalan lebih dulu keparkiran.
Jackson terkaget dengan kejadian tadi. Firasat buruknya semakin
menjadi. Ia segera menyusul Dave dan Clairé.
Sesampainya di tempat parkir, Jackson melihat Dave dan
Clairé masuk ke sebuah mobil sport merah. Dengan gesit ia segera
mengambil motornya dan menyusul mobil Dave.
---
Mobil itu terparkir di depan sebuah rumah mewah nan megah.
“Bukannya ini rumah Steve, ya?” tanya Jackson pada dirinya
sendiri. Jackson melihat Dave berjaga di depan pintu rumah. Ia harus
tahu apa yang sebenarnya terjadi. Tanpa berpikir lebih lama Jackson
segera mendekati rumah itu dan masuk ke rumah itu.
“Kau! Dilarang masuk!” tegur Dave. Jackson terdiam.
“Di mana Clairé?”
104
“Dia ada di dalam. Dia menyuruhku untuk tidak membiarkan
satu orang pun masuk ke dalam termasuk kau!” Dave menatap tajam
Jackson. Jackson yang tak terima memukul pipi Dave.
“Aku perlu menemuinya!”
“Sialan! Kubilang kau tidak boleh masuk!”
Dave membalas pukulan Jackson.
Jackson dapat menghindari pukulan Dave. Jackson langsung memukul
tepat di tengkuk Dave. Seketika Dave kehilangan kesadaran dan
tubuhnya terhuyung ke depan. Tanpa membuang waktu lagi Jackson
segera masuk dan mencari keberadaan Clairé.
“Agh! C- Clairé! Akhh!” teriakan kesakitan Joanne terdengar
jelas ke seluruh penjuru rumah. Mendengar itu Jackson mencari dari
mana asal suara tersebut. Semakin lama suara tawa dan rintihan-
rintihan kesakitan itu semakin terdengar jelas.
Brak!
Jackson mendobrak pintu yang ia yakini sebagai sumber suara-
suara mengerikan itu. Benar saja, ia menemukan Clairé yang tengah
menyiksa Joanne. Ia melihat tubuh Joanne penuh dengan sayatan-
sayatan. Ada pula penampakan yang lebih mengerikan, pelipis Joanne
tertusuk dengan sebuah pisau yang menembus pelipis di sisi lainnya.
Matanya berwarna merah pekat dan mengeluarkan cairan berwarna
sama yang Jackson yakini adalah darah Joanne. Ada pula lubang di
105
kedua pipi Joanne. Jackson bergidik. Ia tak percaya dengan
pemandangan yang ia lihat.
“Clairé! Apa yang kau lakukan? Kenapa kau begini? Kau
seperti... bukan orang yang kukenal,” ucap Jackson. Jujur saja ia
masih kaget dan takut.
---
“Clairé! Apa yang kau lakukan? Mengapa kau begini? Kau
seperti... bukan orang yang kukenal.” Kumelihat ada ketakutan yang
tersirat di mata Jackson. Hatiku berdebar. Aku takut ia akan
membenciku. Aku tidak ingin kehilangannya. Aku.. takut akan apa
yang terjadi nantinya.
“Aku melakukan ini.. karena.. aku tidak mau kau di sentuh
orang lain! Aku tidak suka kau menolongnya! Aku... aku... cemburu,”
ucapku lirih. Kulihat Jackson menghampiriku dan memelukku erat.
Seketika pisau di genggamanku jatuh.
“Berhentilah. Kembali menjadi Clairé yang kukenal. Aku akan
tetap mencintaimu sampai kapan pun. Berjanjilah, berhenti seperti ini.
Untukku.” Kudengar suaranya yang melembut. Ucapan tulusnya
menyentuh hatiku. Dave benar. Aku hanya sosiopat yang sedang jatuh
cinta. Hati kecilku berkata aku harus berubah. Demi dirinya yang
kucintai.
106
“Aku... aku berjanji. Demi dirimu aku akan berubah.” Aku
melepas pelukan kami. Aku tersenyum kepadanya. Kulihat Dave
masuk ke ruangan ini.
“Bawa Joanne ke rumah sakit. Tolong dulu pakai uangmu. Ini
tiket yang kujanjikan,” perintahku kepada Dave. Aku memberikan
tiket konser yang kujanjikan.
“Kau tak perlu membayar. Ini pasti butuh uang yang banyak.
Aku yang akan membiayainya hingga sembuh,” Ku dengar ucapan
Dave. Aku mengangguk.
“Ayo pulang,” ucapku manja. Jackson tersenyum kepadaku.
Kami pun pergi sementara Dave membawa Joanne ke rumah sakit.
---
Waktu telah berlalu, murid-murid telah mengakhiri semester
kedua ini. Keadaan Joanne semakin membaik. Wajahnya telah
kembali cantik seperti semula. Setelah kesehatan Joanne membaik,
Dave membiayai Joanne untuk pergi ke Korea Selatan untuk
menjalani operasi plastik memperbaiki wajahnya yang rusak karena
Clairé.
Jenazah Steve dan Bucky di bakar dan abu keduanya di tebar
di laut. Dave mengurus segala keperluan untuk menutupi jejak
pembunuhan dan ia juga menjadi penyumbang dana terbesar untuk
mengurusi kasus pembunuhan ini.
107
Keadaan Clairé pun baik. Ia telah sembuh. Cintalah yang
menyadarkan dirinya dari dunia kejamnya. Keberadaan Jackson
sangat berpengaruh bagi kehidupannya. Ia tak mungkin sembuh dari
kelainan jiwanya kalau ia tak bertemu dengan Jackson. Cinta benar-
benar mengubah pribadi seseorang.
Setelah kenaikan kelas, Clairé, Jackson, dan Dave pindah
sekolah. Membiarkan apa yang pernah terjadi hanya sebuah rahasia
antara Clairé, Joanne, Jackson, dan Dave. Mereka pun hidup tenang di
lingkungan baru mereka dan menjalankan kegiatan seperti biasanya.
-Tamat-
108
S. O. S.
Oleh: Andrian X.I
“Duaarrr!” suara sambaran petir membangunkanku. Entah
sudah berapa lama aku bersandar di sebuah pohon besar, tak sadarkan
diri. Aku berdiri perlahan dan menyadari bahwa aku berada di tengah
sebuah hutan yang asing. Aku bingung dan gelisah, kedinginan bukan
kepalang. Sambil ditemani suara hujan rintik-rintik dan jangkrik yang
bernyanyi bersahutan, aku kembali duduk dan termenung mencoba
mengingat kembali apa yang telah terjadi.
Ah, aku tak tahan lagi! Upayaku untuk mengingat bagian
ingatanku yang hilang itu hanya membuat tubuh semakin membeku
dan kepala semakin linglung. Aku menyadari bahwa tubuhku mulai
sempoyongan, mungkin meminta makanan atau istirahat. Sepertinya
109
aku harus bergerak walaupun dalam keadaan lemah dan tak berdaya.
Aku pun pergi mencari makanan di tengah hujan deras yang
membasahi tanah dan seluruh pohon di hutan itu. Selangkah, dua
langkah, tiga langkah. Sesaat setelah mulai melangkahkan kakiku,
seseorang menghampiriku. Dari kejauhan, kupandang orang itu
sejenak. Ada hal yang tidak aku sukai darinya: dia pendek, wajahnya
hitam gelap, kulitnya tak kalah gelap, layaknya budak! Dia berjalan
kian mendekat. Aku langsung berbelok arah untuk menjauhinya,
namun dia malah berjalan semakin cepat ke arahku. Aku pun berhenti
di tempat, tak tahu apa yang harus kulakukan. Tak lama kemudian,
orang asing itu berhenti tepat di depanku.
“Kau baik-baik saja?” mulutnya membuka, mengeluarkan
hawa panas yang mengembun di depan wajah gelapnya itu. Aku
hanya mengangguk pelan. Dia berpikir sejenak lalu menggapai tangan
kananku.
“Heii!” aku berteriak ke arahnya, sambil menarik tanganku
dari kepalannya. Dia terdiam dan berpikir lagi. Aku mulai bosan
menunggunya!
Pria itu kemudian mundur selangkah dan kembali membuka mulutnya,
“Baiklah, tapi setidaknya kau harus mengikutiku.”
Aku pun menuruti keinginannya. Tapi, tentu saja aku curiga.
Aku tak pernah mempercayai perkataan orang asing, apalagi orang
110
berkulit hitam dekil seperti dirinya. Sambil mengekori orang Negro itu,
aku mengumpulkan beberapa batu yang kuambil dari tanah. Jika dia
berniat menyakitiku, aku sudah menyiapkan amunisi untuk
menyerangnya balik!
Tak terasa tanganku sudah penuh dengan batu. Kami sampai di
sebuah pantai. Lalu, pria itu mundur sedikit.
“Cobalah lihat sekeliling dan kau akan tahu apa yang beberapa saat
lalu terjadi,” ujarnya.
“Sebenarnya aku bisa saja langsung menceritakan hal ini kepadamu,
tetapi aku tahu kau tak akan percaya kepada orang seperti diriku. Jadi,
lihatlah sendiri!”
Mataku mulai melihat-lihat sekitar. Sepertinya tidak ada yang
aneh dari tempat itu. Aku semakin bingung. Gerakan bola mataku
semakin membabi buta hingga akhirnya mataku secara tak sengaja
melihat sebuah tulisan. Tulisan itu terukir besar-besar di atas pasir
putih yang menyelimuti pantai itu. Aku tak bisa mempercayai mataku
sendiri. Kedua mataku mulai kebanjiran, sedih sekaligus perih tak
tahan melihat tulisan itu...
“S.O.S.”
Tak jauh dari tulisan itu tampak beberapa perabot ringan yang
berserakan, sebagian masih utuh, dan sebagian lagi rusak. Beberapa
potongan kayu yang agak besar juga ada di tempat itu. Pria Negro itu
111
tiba-tiba berkata, “Kapal pesiar yang beberapa jam lalu kita tumpangi
itu melewati badai dan terhantam ombak besar. Harusnya kau tahu apa
yang terjadi selanjutnya.
“Kita tak punya pilihan lain selain berdiam di pulau asing ini dan
menunggu pertolongan.”
Aku hanya terdiam. Seluruh batu yang ada di tanganku jatuh
bebas. Melihat semua itu, rasanya aku ingin berteriak! Mengapa aku
harus terdampar di sini, terlebih lagi bersama seseorang dari ras yang
jauh berbeda dariku? Jadi inikah yang orang-orang sebut sebagai
“cobaan dari Yang Maha Kuasa?” Hatiku berkecamuk, berbeda jauh
dengan wajahku yang lesu, seandai-andai aku sudah tak memiliki
harapan.
“Hei, setidaknya kita tidak ikut tertelan ombak dan masih bisa
bertahan hidup di sini,” pria itu berkata setelah melihat betapa
kusutnya wajahku saat itu.
“Lagipula aku sudah berusaha mencari bantuan. Perkara tanda S.O.S.
itu terlihat oleh pesawat yang melintas atau tidak, itu urusan nanti.”
Tampaknya dia mencoba menenangkan hati yang sedang
gundah ini. Ucapannya itu seakan tak ada gunanya bagiku karena di
senja itulah aku tertimpa “bencana” yang paling buruk sepanjang
hidupku!
***
112
Hari sudah semakin gelap. Hujan yang tadinya cukup deras
mulai reda. Mungkin sudah satu atau dua jam aku terlarut dalam
kegelisahanku, cukup lama untuk mengeringkan seluruh air mataku.
Aku melirik sedikit ke arah pria yang masih belum kuketahui
namanya itu. Dia membalas memperhatikanku sebentar, lalu beranjak.
“Ingin ke mana kau?”
“Sebaiknya kita mencari makanan sebelum hari terlalu gelap,”
balasnya.
“Kau ingin ikut denganku?”
Aku hanya menggelengkan kepala tanpa mengucapkan sepatah
kata pun. Dia pun langsung pergi ke dalam hutan itu sendirian.
Sementara aku hanya berdiam di pantai itu. Dinginnya udara malam
mulai menusuk kulit. Bajuku yang masih basah hanya membuat udara
seakan-akan lebih dingin. Sambil menggigil, aku mengumpulkan
beberapa ranting dari tanah untuk membuat api unggun, semuanya
dalam keadaan basah. Untung saja aku masih bisa menyalakan api.
Saat itu aku benar-benar tak punya rencana akan apa yang
akan kulakukan selanjutnya, apalagi untuk memanggil bantuan.
Ponselku sama sekali tak bekerja setelah terendam air asin. Sudahlah!
Aku hanya bisa pasrah dan duduk diam sambil menatapi api unggun
yang kehangatannya kalah dengan dinginnya udara.
113
“Tampaknya aku benar-benar harus bertahan hidup dengan pria
Negroid itu,” gumamku,
“Ah, mengapa harus bersama orang seperti itu? Sepertinya aku sedang
sial!”
Tanpa kusadari, aku terlelap di bawah sebuah pohon yang rindang, di
bawah kelipan bintang-bintang.
***
“Hei, nona! Nona!”
Aku terbangun dari tidurku berkat suara seseorang yang familiar bagi
telingaku.
“Emm... maaf menggangu, tapi langit sudah terang,” lanjutnya. “Aku
telah menemukan sebuah sungai jauh di dalam hutan itu. Airnya
bersih. Oh iya, sebelum kita ke sana, mungkin kau ingin memakan
buah yang kudapatkan kemarin malam. Maafkan aku bila buah itu
tidak cukup. Kemarin langit sudah terlalu gelap,” dia berkata sambil
menyodorkan sebuah loa.
Buah itu aku lahap dengan cepat sembari berpikir sedikit.
Mengapa dia tidak membangunkanku kemarin malam untuk makan?
Yakinlah aku bahwa dia sengaja membiarkanku tidur agar dia
mendapatkan lebih banyak jatah makanan. Apalagi, hanya ada satu
buah di tanganku. Ah, untuk apa aku mempercayai orang Negro
seperti dia?
114
“Jadi, di mana sungai itu?”
“Jauh di dalam sana kira-kira setengah jam berjalan kaki,” balasnya
sambil menunjuk tangannya ke arah hutan itu. “Aku telah
meninggalkan goresan di setiap batang pohon di sepanjang perjalanan
ke sana. Kita tinggal mengikuti tanda gores itu... atau kau dapat
mengikuti aku.”
Jujur saja, aku sudah bosan mengikutinya dari belakang, tapi
ya sudahlah. Lagipula saat itu aku juga kehausan. Akhirnya, aku
kembali menjadi “ekor” dari pria itu. Di tengah perjalanan, dia tiba-
tiba berbicara memulai sebuah percakapan pendek.
“Dari kemarin kau tidak banyak bicara. Ada apa?” dia bertanya
dengan nada yang lebih lembut dari sebelumnya. Aku hanya terdiam
yang membuatnya membisu pula. Setelah beberapa puluh langkah, dia
menyodorkan tangan kanannya ke arahku mengajakku bersalaman.
“Kau boleh memanggilku Rick,” ucapnya sambil melebarkan
senyuman di wajahnya.
“Leah,” aku membalasnya sambil menyalami tangan kanannya.
Setelah itu, aku tidak mendengar suaranya lagi. Yang
terdengar hanyalah langkah kaki kami berdua menyusuri hutan yang
luas itu. Sesekali terdengar suara burung bersahutan atau suara ranting
kering yang patah terinjak. Matahari mulai menambah ketinggiannya
di langit membuat tubuhku semakin panas dan haus. Dari kejauhan
115
terdengar suara aliran air. Aku pun terus berjalan hingga sungai itu
berada tepat di depanku.
Apa lagi yang kutunggu? Langsung saja kuambil air sungai itu
dengan kedua tanganku. Di permukaan air itu tampak bayangan diriku
sendiri. Aku dapat melihat ekspresi wajahku; rata, tanpa sedikit pun
senyuman. Tanpa berpikir panjang, langsung kuteguk seluruh air itu.
Di sampingku, Rick mencuci mukanya sambil membungkuk. Entah
mengapa, tiba-tiba dia terpeleset saat ingin beranjak dan dia menarik
tangan kiriku...
“Byuurrr!!!” kami berdua tercebur; ya, aku juga! Darahku rasanya
ingin mendidih!
“Mengapa kau harus menarik tanganku?”
“Maafkan aku! Aku tak sengaja...” belum saja dia menyelesaikan
kata-katanya, aku langsung beranjak dari sungai itu.
Menyebalkan sekali dia! Seperti itukah cara untuk
menyelamatkan dirinya sendiri? Aku tak sudi dimanfaatkan seperti itu,
apalagi oleh kaum seperti dia! Lagipula apa lagi yang bisa kuharapkan
darinya? Aku bisa mencari makanan sendiri, pergi ke sungai itu
sendiri, membuat api unggun sendiri, bahkan bertahan hidup sendiri!
“Leah, tolong aku! Kakiku tersangkut!”
116
“Bukan urusanku!” aku berteriak sambil lari menjauhinya tanpa
melihat ke belakang. Suara aliran sungai itu semakin pudar, pudar
bersama suara lainnya...
“Leaaah!”
***
Jangkrik mulai bersahutan menyambut tibanya malam.
Walaupun sudah berjam-jam aku menyusuri hutan yang tampaknya
tak berujung itu, aku tetap tidak berhasil menemukan makanan. Malah,
demi mencari sesuatu untuk dimakan, aku berjalan tanpa arah yang
pasti. Tampaknya aku tersesat. Aku pun duduk bersandar di bawah
sebuah pohon yang kelihatannya sudah sangat berumur. Kakiku sudah
kelelahan untuk berjalan lebih jauh lagi. Aku bingung dan takut, tak
tahu di mana aku berada. Aku hanya bisa menahan rasa lapar dan
dingin, hanya bisa diam di tempat dalam kegelapan. Semakin malam,
tubuhku semakin menggigil dan lemas.
Mungkin aku terlalu temperamen saat aku ikut tercebur ke
dalam sungai itu. Aku merasa terkadang aku tak bisa mengendalikan
diriku sendiri hanya karena emosi. Aku tidak sadar mengapa aku
meninggalkan Rick hanya karena hal seperti itu. Betapa cerobohnya
aku. Dan karena kecerobohanku, aku tersesat dan menderita.
Kukira mencari makanan di hutan tak begitu sulit. Tapi, aku
tidak berhasil mendapatkan apa pun setelah mencari selama berjam-
117
jam. Sementara Rick tidak keberatan berbagi dengan orang yang
bahkan tidak membantunya sama sekali walaupun untuk mencari satu
buah saja sulitnya bukan main. Selain itu, aku pun tidak tahu
bagaimana aku bisa berada di pulau ini. Diakah yang
menyelamatkanku kemarin saat kapal itu tenggelam?
Setelah mengalami semua ini, aku merasa kondisiku jauh lebih
baik saat aku berada di dekatnya. Selama ini dia selalu membantuku,
mencoba menenangkan hatiku, dan mungkin telah menyelamatkan
hidupku. Dan aku? Aku hanya menyusahkannya. Bahkan, tadi siang
aku tega meninggalkannya begitu saja. Bagaimana kondisi dia setelah
lama kutinggalkan di sungai itu? Semakin lama, aku semakin sadar
akan kekeliruanku selama ini. Kalau saja Rick adalah orang berkulit
putih sepertiku, mungkin semua ini tidak akan terjadi. Jadi, aku
menilai orang lain hanya berdasarkan warna kulit?
Aku merasa sangat bersalah kepada Rick. Aku sangat
menyesal atas apa yang aku lakukan siang itu. Aku merasa aku lebih
hina daripada orang yang aku rendahkan...
Seberkas cahaya terlihat dari kejauhan. Cahaya itu terlihat
semakin dekat, semakin jelas. Tiba-tiba muncul beberapa berkas
cahaya lainnya.
“ADA ORANG DI SANA?” seseorang berteriak. Penasaran, aku
berdiri dan menengok ke arah cahaya itu.
118
“Leah! Kau kah itu?”
Tak salah lagi, itu Rick! Dia berlari tertatih-tatih bersama tiga
orang lainnya, semuanya dalam busana jingga...
***
Aku tak menyangka aku sedang berada di atas sebuah perahu
kecil, bersama Rick dan tim S.A.R.. Rupanya tanda S.O.S. yang dibuat
Rick terbaca oleh orang-orang itu. Lagi-lagi, aku terselamatkan berkat
apa yang dia lakukan. Dia ada di hadapanku duduk diam sambil
menunduk. Ekspresi wajahnya tidak seperti biasanya.
Kurasa kali ini aku tahu apa yang harus kulakukan.
“Rick...”
Tiba-tiba semua orang yang tadinya sibuk dengan dunia sendiri
melirik ke arahku.
“Mungkin tak banyak yang dapat kusampaikan padamu. Namun...”
aku terdiam sejenak. “Aku ingin meminta maaf soal kejadian tadi
siang. Aku tak sanggup menahan emosiku. Aku meninggalkanmu
begitu saja. Aku sangat menyesal.”
Dalam sekejap, terbitlah senyum di wajah Rick. Aku
membalas senyumnya untuk pertama kalinya. Timbul rasa lega dalam
hatiku. Sesaat setelah itu, mulutku kembali membuka melanjutkan
curahan hatiku...
119
“Sebelum aku melangkahkan kakiku ke atas kapal itu, aku berharap
aku bisa berkesempatan untuk mendapatkan sesuatu yang berharga
bagiku. Selama ini aku tak sadar bahwa kesempatan itu ada tepat di
hadapanku. Selain itu, selama ini kau selalu membantuku walaupun
aku hanya menyulitkan keadaan. Mungkin aku tak akan selamat tanpa
bantuanmu. Jadi, terima kasih banyak atas segalanya, atas pertolongan
dan pelajaran berharga yang telah kau berikan...”
Perkataanku diikuti oleh keheningan sebelum akhirnya Rick
menjawab.
“Kau tahu? Sebenarnya, dulu aku juga membenci orang
berkulit putih sepertimu. Tapi, aku pernah dibantu oleh seseorang
yang tidak kukenal dan orang itu berkulit putih. Dia tak
mempedulikan warna kulitku. Hingga sekarang, aku tak bisa
melupakan keramahannya. Dia membuatku berpikir setelah kejadian
itu. Mengapa harus membenci orang lain hanya karena perbedaan
warna kulit? Bukannya kita sama-sama manusia yang penuh
kekurangan? Bukannya kita semua saudara? Bukannya kita selalu
ingin dihormati oleh orang lain? Aku yakin dunia ini akan menjadi
jauh lebih indah bila kita semua saling berbagi, saling mengasihi,
saling menghargai tanpa membeda-bedakan,” dia bercerita di hadapan
kami semua, “oh ya...”
Dia berhenti sejenak, lalu menatapku dalam-dalam.
120
“Leah, terima kasih telah mengerti diriku.”
Aku melepas senyumku setelah mendengar perkataannya.
Begitu pula dengan dirinya sendiri dan tiga orang yang
menyelamatkan kami berdua. Aku merasakan hangatnya suasana itu.
Hangatnya mengalahkan dinginnya malam di tengah lautan.
Hangatnya seperti menyelimuti kami semua...
***
Dear Diary, harus kuakui, Rick telah mengubah caraku
memandang orang berkulit hitam. Kini, aku tak lagi membenci
mereka. Ketika aku memiliki pikiran seperti itu, aku merasa bahwa
mereka juga ramah terhadapku. Bibit kebencian di antara kami hilang
begitu saja. Aku sangat bersyukur hari itu aku terdampar bersama
Rick. Ternyata, hari itu bukanlah cobaan dari-Nya, tapi pelajaran
paling berharga bagi diriku sendiri.
Aku berharap suatu hari nanti aku dapat bertemu kembali
dengan Rick. Aku rindu akan kehangatan itu, rindu akan percakapan
saling jujur yang sempat kami lakukan bersama. Diary, aku janji, aku
akan memberi tahu kepadamu jika aku bertemu dengannya suatu hari
nanti! Kau pasti tak sabar menunggu, aku juga!
Terima kasih, Tuhan.
Terima kasih, Rick.
Terima kasih, Diary.
121
Ketukan itu
Karya: Ricardo
Kring...kring...kring... bunyi bel sekolah yang menandakan
waktunya untuk pulang sekolah. Murid-murid berhamburan keluar
kelas. Aku membereskan bukuku dan bergegas untuk pulang.
Perkenalkan, namaku David Green. Teman-teman biasa memanggilku
David. Aku seorang pelajar kelas 12 di SMA Elang Biru, Tangerang.
Sebagai seorang pelajar, aku sering belajar sampai larut malam. Nilai
sekolahku selalu di atas rata-rata. Di sekolah, aku mempunyai banyak
teman. Selain karena aku orangnya mudah bergaul, aku juga aktif di
klub basket sekolah.
122
Keluar dari pintu gerbang sekolah, aku langsung berjalan
pulang menuju tempat kosku. Jaraknya tidak terlalu jauh, hanya
sekitar lima puluh meter dari sekolah. Perlahan-lahan aku berjalan
menyeberangi jalan raya. Hari ini jalan raya terlihat sangat sibuk. Ada
banyak mobil lalu lalang dan pedagang kaki lima berjualan di
sepanjang jalan. Selangkah demi selangkah aku akhirnya sampai di
seberang jalan. Setelah itu, aku masuk ke arah jalan kompleks dan
tidak lama kemudian aku sampai di tempat kosku.
Tempat kosku ini merupakan sebuah rumah dengan pagar
bewarna hitam dan dindingnya bewarna putih kecoklatan. Menurutku,
ukuran rumah ini cukup besar, luasnya kira-kira 16x30 meter persegi
dan menghadap ke arah Selatan. Rumah ini terdiri dari tiga lantai dan
sebuah basement untuk tempat parkir kendaraan. Lantai pertama
ditinggali oleh sang pemilik kos, sedangkan lantai kedua dan ketiga
masing-masing terdapat lima belas kamar untuk dijadikan kos-kosan.
Karena lantai pertama ditinggali sendiri oleh pemilik, tangga menuju
lantai kedua diletakkan di luar, tepatnya di sebelah kiri pintu masuk
tempat tinggal pemilik tempat ini. Tangga ini arah naiknya ke Timur.
Aku baru pindah ke tempat kos ini bulan lalu. Aku pindah ke
sini karena diberi tahu oleh sobatku Timmy, bahwa ada kamar di
tempat ini yang lebih murah dibandingkan dengan tempat kosku yang
123
dulu. Timmy sendiri sudah setahun lebih tinggal di tempat kos ini.
Aku dan Timmy satu sekolah, tetapi beda kelas.
Aku mengambil kunci pagar dari dalam saku celana biruku
dan membuka gembok pagar. Aku masuk dan mengunci kembali
pagar itu. Perlahan-lahan kakiku melangkah menuju tangga. Satu demi
satu anak tangga kunaiki hingga akhirnya aku sampai di lantai tiga. Di
lantai ini, terdapat dua lorong, yaitu lorong sebelah kiri tangga dan
sebelah kanan tangga. Lorong sebelah kanan berada di sisi depan
bangunan sehingga mendapat cahaya matahari, sedangkan lorong
sebelah kiri berada di bagian belakang bangunan sehingga lebih gelap.
Di lorong sebelah kanan terdapat sepuluh ruang kamar, lima kamar di
sisi kanan dan lima kamar di sisi kiri lorong, sedangkan di lorong
sebelah kiri hanya memiliki lima ruang kamar, empat kamar di sisi
kanan lorong dan satu kamar tepat di ujung lorong. Kamar mandi
jumlahnya empat, masing-masing dua di depan setiap lorong. Aku
lalu berjalan menuju lorong sebelah kiri karena memang kamarku
terletak di lorong itu. Sambil berjalan, mataku memandang sebuah
kamar di ujung lorong. Itu bukan kamarku, kamarku letaknya kedua
paling ujung, sebelah kamar itu.
***
Menurutku, ada yang aneh dengan kamar paling ujung itu.
Hari pertama aku pindah ke tempat ini, aku melihat ada sandal dan
124
sepatu di depan kamar itu. Aku tidak merasa aneh hari itu karena aku
berpikir itu pastilah sandal dan sepatu pemilik kamar. Tapi aku mulai
merasa aneh saat akhir minggu pertamaku, aku tidak pernah melihat
orang yang keluar masuk kamar itu. Sandalnya masih tergeletak rapi
di tempat yang sama dengan hari pertama. Awalnya aku mengira
mungkin sang penyewa kamar pergi selama beberapa hari. Namun,
aku pikir, kalau benar sedang pergi, pastilah sandal dan sepatunya ia
bawa dan selebihnya ia simpan di dalam kamar. “Kalau aku jadi dia,
sepatu yang tidak kubawa akan kusimpan, kalau di luar kan bisa
hilang,” pikirku dalam hati. Tapi aku tidak terlalu mengurusi sandal
dan sepatu itu, toh itu bukan milikku. Jadi hari demi hari kulewati
dengan biasa saja. Barulah pada minggu keempat, aku mulai
merasakan hal aneh. Terkadang, pada malam hari aku mendengar
suara kaki orang berjalan keluar atau masuk kamar sebelah. Tapi
ketika aku cek, tidak ada orang di situ. Aku pernah menceritakannya
pada Timmy. Kata Timmy, penyewa kamar itu pergi tiga bulan lalu
dan tidak kunjung kembali hingga hari ini. Timmy bercerita bahwa
sang penyewa kamar meninggal saat dalam perjalanan pulang
kampung dan keluarganya meminta agar barang-barang penyewa
kamar tidak disentuh sampai ada yang mengambilnya bulan ini. Tapi
aku tidak terlalu percaya cerita itu. “Mungkin saja cerita itu hanya
125
gosip yang menyebar di tempat ini dan aku hanya berhalusinasi,”
pikirku.
Sampai di depan pintu kamar, aku mengeluarkan kunci
kamarku dan membuka pintu. “Hey David,” sebuah suara
memanggilku dari arah belakang.”Cepet amat lu dah pulang,” katanya.
Oh, aku tahu siapa itu. Itu Timmy, aku kenal suaranya. Aku pun
menjawab, “Iya nih, gua mau langsung belajar PKn, susah banget“.
“Yahhhh gua baru mau ngajak lu main ke warnet,” ujarnya. Aku pun
membalas, “Main mulu lu, kapan belajarnya”. “Sorry ye, gua ga ada
ulangan besok. Ulangan PKn gua masih minggu depan,” kata Timmy
sambil membuka pintu kamar. Kamar Timmy terletak di lorong yang
sama dengan kamarku, tapi kamarku adalah kamar kedua paling ujung
di lorong, sedangkan kamarnya adalah kamar paling depan di lorong.
“Udah ya gua mau ganti baju ke warnet,” katanya sembari masuk
kamar. Aku pun juga masuk kamar.
Jam di dinding kamarku menunjukkan pukul tiga sore. Aku
mengambil buku catatan PKn dan merebahkan diri di kasur. AC
kamar juga kunyalakan. “Duh, undang-undang tentang HAM di
Indonesia banyak banget sih, gimana menghafalnya,” gumamku
dalam hati. Angin sejuk AC menerpa tubuhku dan membuat tubuhku
jadi rileks. Setelah satu jam belajar, aku merasa mengantuk. Tiupan
sejuk yang semula membuatku nyaman belajar, sekarang memaksaku
126
untuk tidur. “Duh, belom selesai belajar nih,” kataku dalam hati. “Apa
aku lanjutin ntar malem aja kali ya, sekarang tidur dulu ah,” pikirku.
Akhirnya, aku pun terlelap dengan masih mengenakan seragam
sekolah. Sejujurnya, aku sungguh tidak menyangka bahwa ini akan
menjadi terakhir kalinya aku tidur nyenyak di tempat ini.
***
Toktok..toktok..toktoktok..dhukk...dhukk.... Seseorang
mengetuk pintu kamarku, membuatku terbangun dari tidur.
Sebenarnya, lebih tepatnya disebut gedoran karena ketukannya
terdengar sangat kasar dan keras. Aku bangkit dari kasur. “Ahhh,
sebentar ya,” kataku. Toktok..toktok..toktoktok….Orang itu terus
mengetuk pintu kamarku. Aku pun membuka pintu dengan rasa
sedikit kesal. Tepat sesaat sebelum aku membuka pintunya, suara
ketukan itu tiba-tiba berhenti. Clekk. Saatnya pintu terbuka, aku tak
mendapati siapa pun di situ. “Ulah siapa ini, cepat sekali dia
menghilang,” pikirku dalam hati.
Aku melangkahkan kakiku keluar kamar untuk memastikan
bahwa benar-benar tidak ada orang di situ. Aku melihat ke arah kamar
Timmy. “Jangan-jangan tadi kerjaanya si Timmy nih,” kataku dalam
hati. Aku pun berjalan menuju kamar Timmy untuk mengecek. Lampu
kamarnya mati. ”Tapi itu bukan berarti Timmy sudah tidur,” pikirku.
“Timmyyy..... ini David,” kataku sambil mengetuk pintu kamarnya.
127
Tidak ada jawaban. “Timmyyy..... ini David,” ulangku sekali lagi.
Namun, masih tidak ada jawaban. Karena tidak ada jawaban, aku
memutuskan untuk kembali ke kamarku. Baru saja aku membalikkan
badan, lampu lorong tiba-tiba menjadi redup. Bulu kudukkku berdiri.
Udara terasa menjadi lebih dingin. Aku merasakan ada seseorang yang
menatapku dari belakang. Aku menoleh kebelakang, tapi tidak ada
siapa-siapa di situ. Mungkin, hanya perasaanku saja. Aku berusaha
memberanikan diri berjalan menuju ke kamarku. Langkah kakiku kali
ini lebih cepat dari biasanya. Sepertinya aku sedang ketakutan.
Sampai di kamar, aku langsung mengunci kembali pintu kamar. Aku
mengambil handphone-ku dan berusaha menghubungi Timmy. Jam di
handphone-ku menunjukkan kurang lebih pukul dua pagi. Ternyata
sudah lewat tengah malam, mungkin benar Timmy sudah tidur. Aku
menghubungi Timmy lewat Line dan tidak ada jawaban. “Berarti
Timmy sudah tidur, jadi siapa yang mengetuk pintu kamarku tadi?”
tanyaku penasaran dalam hati. Tiba-tiba aku kembali tersadar kalau
aku masih mengenakan seragam sekolah. Jadi, setelah itu aku
membuka lemari pakaianku dan mengganti baju.
Setelah selesai mengganti baju, aku merebahkan diriku di
ranjang sambil menyetel musik dari handphone-ku. Di dalam hati, aku
masih bertanya-tanya, “Siapa sih yang tadi mencariku. Aku yakin aku
mendengar suara ketukan dengan jelas. Aku tidak sedang
128
berhalusinasi”. Tidak sampai 15 menit, lagi-lagi suara itu muncul.
Kali ini aku tidak langsung membuka pintu kamar. Aku mengintip
dari balik gorden jendela kamar, dan.... tebak apa yang kulihat.
Keputusanku untuk mengintip membuatku menyadari satu hal, aku
sedang mengalami hal yang tidak biasa. Ada sesosok wanita berbaju
putih berdiri di depan pintu kamarku. Rambutnya sangat panjang dan
berantakan. Matanya merah dan wajahnya dipenuhi bekas luka dan
darah. Aku tidak melihat adanya tangan pada sosok itu, tapi entah
kenapa aku tetap bisa mendengar suara ketukan di pintu kamarku.
Tiba-tiba, suara ketukan itu berhenti dan wanita itu menoleh ke
arahku. Aku tidak tahu ada urusan apa sosok itu kepadaku, tapi
tatapannya membuatku ketakutan karena penuh dengan hawa
membunuh. Wanita itu lalu perlahan-lahan berjalan ke arah jendela.
Sepertinya ia tahu aku dari tadi sedang memperhatikannya.
Aku ketakutan dan menjauh dari jendela. Tiba-tiba lampu
kamar mati. Kamarku menjadi gelap gulita. Suasana saat itu sangat
mencekam. Aku dapat melihat bayangan wanita itu di balik gorden.
Cahaya lampu lorong saat itu seakan memperjelas bayangan wanita
itu agar terlihat dari dalam kamar. Entah menapa, mataku terus
terpaku pada bayangan itu. Bayangan itu juga seolah-olah sedang
menatapku dan berusaha masuk kamar. Tubuhku membatu. Rasanya
sangat sulit untuk digerakkan. Bulu kudukku kembali berdiri dan aku
129
merinding ketakutan. “Ah, aku harus mengambil selimutku,” kataku
dalam hati. Aku berharap ini semua hanya mimpi. Aku berusaha keras
menggerakkan tubuhku. “Ayolah bergerak, aku harus bersumbunyi di
balik selimutku,” kataku sekali lagi dalam hati. Akhirnya, aku berhasil
menggerakkan tubuhku dan mengambil selimut. Bayangan wanita itu
sepertinya sedang menempelkan wajahnya ke jendela, berusaha untuk
melihat ke dalam kamar. Aku buru-buru bersembunyi di balik selimut.
Musik dari handphone kumatikan dan aku berusaha tidur agar tidak
merasa ketakutan.
Akan tetapi, tepat setelah aku mematikan musik handphone-ku,
aku mendengar musik lain dimainkan. Fur Elise, aku tahu musik ini.
Musik ini bukan berasal dari handphone-ku, tapi berasal dari kamar
sebelahku yang kosong. Aku teringat cerita Timmy tentang kamar itu.
Aku yakin di lorong kamar itu masih kosong dan tidak ada yang
masuk kamar itu dari tadi. Musik itu lama-lama membuat suasana saat
itu makin menakutkan. Aku tidak bisa tidur. Aku penasaran apakah
wanita itu masih di depan jendela atau tidak. Aku ingin berusaha
mengintip keluar selimut, tapi rasa takutku mengatakan, jangan lihat
ke arah jendela.
Tiba-tiba, suara ketukan di pintu terdengar lagi. Kali ini diringi
ketukan di kaca jendela juga. Musik Fur Elise masih belum berhenti.
Suara ketukan-ketukan di pintu dan jendelaku makin lama makin
130
keras. Sekarang, suara ketukan di pintu kamarku sudah bisa disebut
gedoran. Dhukkdhukkk..... Dhukkdhukkk.... Rasanya, wanita itu
semakin memaksa agar bisa masuk ke dalam kamar untuk
membunuhku. Pikiranku mulai kacau karena teror itu. Aku berpura-
pura untuk tidak mendengar apa-apa. “Aku pasti sedang bermimpi
kalau benar ada yang menggedor sekeras ini, harusnya Timmy pasti
bangun,” pikirku berusaha menggunakan akal sehat. Tapi suara itu
malah makin kencang, pintunya bahkan terdengar seperti didobrak.
Bhummm.....tokktokk...dhukkdhukk... Suaranya semakin tidak karuan.
Aku sudah tidak tahan lagi. Aku ingin segera pergi dari tempat ini.
Tapi sayangnya aku bahkan tidak punya keberanian untuk membuka
pintu.
Tiba-tiba, suasananya menjadi sunyi. Semua suara, baik
gedoran di kaca maupun di pintu serta suara musik itu berhenti. Aku
merasa sedikit lega. Tapi tubuhku masih lemas akibat kejadian tadi.
Aku masih ketakutan dan belum berani keluar dari selimut. Aku
berusaha mengumpulkan semua keberanian yang kumiliki untuk
melihat keluar dari selimut ke arah jendela. Lampu kamarku masih
belum menyala dan tidak ada siapa-siapa di jendela. Keberanianku
sudah muncul lagi. “Akhirnya ini berakhir,” pikirku. Aku melepas
selimutku dan turun dari kasur. Tiba-tiba, aku merasa ada sebuah
tangan yang memegang pergelangan kaki kiriku. Sontak saja aku
131
kaget lalu berteriak dan berusaha lari keluar kamar. Aku tarik kaki
kiriki sekuat tenaga dan aku putar kunci kamarku yang masih
tergantung di dalam lubang kunci pintu. Aku tidak berani melihat ke
belakang dan pintu kamarku dengan cepat sudah terbuka. Tepat saat
aku membuka pintu kamar, tiba-tiba lampu kamarku menyala dan aku
melihat melihat sesosok wanita di depan pintu. Bukan, wanita ini
bukan wanita yang berwajah penuh darah tadi. Wanita ini adalah
seorang wanita yang cantik mempesona. Melihat ekspresi wajahnya,
sepertinya ia kaget melihatku membuka pintu kamar berusaha keluar
dengan panik. Setelah itu, ia tersenyum padaku, aku pun membalasnya
dengan senyuman juga. Aku merasa sedikit lega. Aku yakin, kali ini
sosok menyeramkan tadi sudah tidak ada.
Karena suasana terasa canggung, aku pun berusaha memulai
percakapan, ”Maaf ngagetin, tadi sepertinya ada tikus di kamar, tapi
ternyata aku salah hehe”. “Oh iya gapapakok mas, hihihi,” jawabnya.
“Emm, permisi mbak, ngomong-ngomong mbak tadi ada lihat orang
di depan sini enggak?” tanyaku padanya. “Aku baru saja sampai di
sini, aku tidak melihat siapa-siapa,” jawabnya lagi. “Eh, kenapa mbak
subuh-subuh datang ke sini?” tanyaku lagi karena penasaran. “Oh...
anu, hari ini 100 hari pacarku meninggal, aku datang dari luar kota
untuk mengambil barangnya. Kamarnya di sebelah kamarnya mas.
Sepertinya aku datang kepagian, tapi kupikir tidak apa-apa karena aku
132
bisa mengenangnya untuk terakhir kalinya di kamarnya ini,” jawabnya
sambil menunjuk kamar kosong di sebelahku dengan kunci miliknya.
“Pacar mbak? Aduhh, maaf ya, aku enggak bermaksud loh,” kataku.
“Ga papa mas, sudah 100 hari. Aku sudah mulai bisa melepas
kepergiannya. Begitu pun keluarganya,” jawabnya sambil tersenyum.
Aku merasakan ada sedikit kesedihan dalam senyuman itu.
Aku berusaha tidak menghiraukannya dan melihat ke arah jam
dinding kamarku. Ternyata sudah pukul empat pagi. Kejadian tadi
ternyata berlangsung cukup lama. “Oh iya, perkenalkan aku David,”
kataku memperkenalkan diri. “Namaku Fitri mas,” jawabnya. Kami
bersalaman. ”Mbak Fitri sendirian saja? Perlu bantuan untuk mindahin
barangnya ke bawah ga?” tawarku. “Ohh ga usah mas. Engga enak,
ngerepotin. Sebentar lagi keluarga pacarku datang kok,“ tolaknya.
“Oke deh kalau begitu. Udahan dulu ya mbak, aku mau tidur lagi,
masih ngantuk, hehe,” kataku. “Iya mas, permisi ya,” katanya sembari
membuka pintu dan masuk ke kamar pacarnya.
Akhirnya aku lega. Aku ingin tidur lagi sekarang. Kejadian
tadi menguras banyak energiku. Tapi aku takut jika aku masuk kamar,
kejadian tadi terjadi lagi. Akhirnya aku putuskan untuk tidur dengan
Timmy di kamarnya.
Aku berjalan menyusuri lorong menuju kamar Timmy. Aku
melihat ke arah kamar Timmy. Lampu kamarnya sudah menyala.
133