lebih seumuranku. Melihat mereka, tiba-tiba aku teringat akan
kejadian lima bulan yang lalu.
Dalam kurun waktu lima bulan, banyak sekali hal yang telah
terjadi. Setelah aku, Nikolai, dan Eric ke kantor polisi, di sana kami
diperiksa dan diwawancarai. Pihak kepolisian Scotland Yard
mengakui kami dan menyatakan bahwa “Anak-anak Remaja Hilang
Ditemukan.”
Beritanya dimuat di halaman pertama semua koran dan media
cetakan. Akhirnya pihak kepolisian juga mengetahui tindakan Big
Madam yang melawan hukum. Penyelidikan lebih lanjut dilaksanakan.
Tidak lama setelah itu, Big Madam dibawa ke pengadilan, diadili oleh
Hakim Agung dan akhirnya dipenjara seumur hidup. Cecilia, Jameson,
dan kaki tangannya juga menerima hukuman yang sama. Sedangkan
para pelayan lain diberikan tugas layanan masyarakat selama tiga
bulan.
Lalu bagaimana dengan kami? Sejak saat itu hidup kami
menjadi jauh lebih enak. Ibuku diberi pekerjaan yang lebih layak dan
kami juga diberikan sejumlah uang yang berasal dari perusahaan Big
Madam’s yang sekarang sudah tutup. Sejumlah uang itu gaji kami saat
kami bekerja di sana. Kami juga bisa hidup lebih nyaman dan dengan
bantuan pemerintah, kami pun bisa bersekolah dan menuntut
pendidikan.
34
“Hei, Tessa!” aku menengok ke arah suara yang memanggilku.
“Wendy!” sahutku. “Lama tak jumpa!” kami berpelukan dan
sambil jalan ke pasar pagi, kami banyak bertukar cerita. Kami
membicarakan banyak hal, mulai keluarga, sekolah, masa-masa kami
di Big Madam’s, hingga membicarakan anak-anak yang lain juga.
“Eh, Tessa, kau sudah dengar kabar Nikolai belum?”
“Belum, emang dia mengapa?”
“Kabarnya Nikolai diterima di sebuah universitas ternama loh!
Dia mengambil mata kuliah hukum.”
“Waahh! Luar biasa! Robin, juga. Kudengar dia sekarang
bekerja di perusahaan tekstil besar bersama Reina dan Eric.”
“Hebat! Tak kusangka dalam lima bulan, begitu banyak yang
berubah.” Kata Wendy. Kemudian kami duduk di sebuah kursi. Di
depan kami terdapat banyak burung-burung yang sedang berkumpul
mencari makan. Aku memetik sebagian dari rotiku dan
memberikannya pada burung-burung itu. “Masa-masa di Big
Madam’s, bukanlah masa-masa yang menyenangkan. Tetapi… jika
aku tidak bekerja di sana, mungkin kita tidak akan pernah saling
kenal.”
“Ya,” sahutku. “Aku bersyukur bekerja di Big Madam’s. Aku
bersyukur bisa bertemu denganmu dan anak-anak lain. Aku juga
bersyukur bisa menanggung dan melewati masa-masa sulit bersama
35
kalian semua. Pengalaman ini tidak akan pernah kulupakan seumur
hidupku.”Fin.
36
Aku, Kau, dan Hujan
Karya: Fransiska Natalia
Sunyi dan kelam. Binatang tak bersuara, yang ada hanyalah
suara rintik hujan yang turun membasahi bumi. Gemerisik lembut
daun yang saling bergesekan memecah keheningan dan hembusan
angin menyusul kemudian. Merdu, seperti orkestra. Aku mendengus
pelan seraya menjejakkan kakiku hati-hati di atas tanah.
Tak ada yang terjadi. Angin masih terus memainkan musiknya
seolah ingin menghiburku dari kesendirian dan kegelisahan yang tak
berujung. Jemariku menerobos sela-sela rambutku, menyeka air hujan
yang sudah bercampur dengan keringatku.
Harus kuakui bahwa lututku sedikit gemetar kala mataku
menangkap sebuah tongkat di tangan kananku. Berada erat dalam
genggamanku adalah bambu runcingku, teman setia yang telah
mengantarkanku menuju puncak kejayaan.
37
Puncak kejayaanku sebagai seorang pembunuh yang tidak
kenal ampun saat berada di depan musuhku.
Reflek, kelopak mataku tertutup. Pikiran-pikiran berat
menyesakkan kepalaku. Memori-memori yang sama terus
menghantuiku, saat kulayangkan bambu runcingku tepat ke arah perut
lawanku. Pedih dan sadis memang, tetapi itulah tugasku. Tugas yang
harus kulakukan demi membela hak-hak yang terampas untuk meraih
masa depan yang lebih baik. Sekilas memang terdengar mulia, tetapi
tetap saja aku harus mengotori tanganku sendiri dengan darah segar
yang mengalir dari perut lawanku.
Menjijikkan.
Ujung sepatuku menghantam sebuah kerikil,
menerbangkannya jauh ke tempat yang luput dari pandangan. Berisik
dan teramat ceroboh. Tindakan sepele, namun bisa langsung
mengantarkanku menuju gerbang kematian. Awalnya, aku tak
menyadari. Kala telingaku menangkap suara ribut derap kaki yang
semakin lama semakin jelas, tak bisa kupungkiri bahwa hatiku terasa
sedikit menciut. Darahku berdesir dan jantungku berlari lebih
kencang. Kupertajam pendengaranku dan kubuka lebar mataku seraya
berusaha menenangkan diriku sendiri. ‘Tenanglah, Kirana,’ batinku
dalam hati. ‘Kau bisa menghabisinya. Kau bisa dan kau tak perlu
38
takut. Karena kaulah prajurit wanita terbaik yang dimiliki Indonesia
saat ini.’
Bayangan hitam berkelebat di antara batang pohon, berusaha
menghindar dari silaunya cahaya rembulan yang mulai muncul dari
balik awan. Siluet tubuh bambu runcing terasa jelas di kulitku kala
aku mengeratkan genggamanku. Hujan masih turun dengan deras dan
sayup-sayup terdengar lolongan serigala yang memekakkan telinga.
Dingin menusuk hingga ke tulangku. Rasanya seperti tak mampu
melangkah lagi. Namun, pada akhirnya kupaksakan saja untuk tetap
maju.
Ingin rasanya bertanya siapa gerangan yang ada di balik
pepohonan. Kawan atau lawan? Namun, lidahku kelu. Aku terus
berada dalam posisi siaga sampai sebuah bisikan terdengar dari
belakangku. Bisikan yang teramat halus dan lembut, layaknya angin
yang mendayu-dayu, dan teramat familier.
“Kirana…?”
Tubuhku sontak berbalik dengan sendirinya. Hampir saja aku
jatuh tersungkur ke tanah apabila aku tak memaksakan diri untuk tetap
berdiri. Keterkejutan menghantam diriku bertubi-tubi ketika aku
mengadu pandang dengannya. Sedikit tak percaya dengan apa yang
kulihat saat ini.
39
“Tim…?” Suaraku terdengar sedikit bergetar dan mataku
berkaca-kaca. Tim Willemsen, teman masa kecilku saat aku masih
berusia belia. Anak laki-laki dari keluarga pedagang Belanda yang
kaya raya dan terpandang. Meski masih bocah, banyak wanita—tua
maupun muda—yang jatuh hati padanya. Semua—tak terkecuali juga
diriku. Diriku yang masih terlampau muda dan naif, yang baru
pertama kali mengenal hal teramat rapuh bernama cinta.
Hari ini, di bawah derasnya guyuran hujan berpayung kelam,
aku bersua kembali dengan cinta pertamaku setelah 16 tahun berpisah.
Berbalut seragam untuk dua kubu yang berbeda.
Baik Tim maupun diriku terdiam, larut dalam pikiran masing-
masing. Pandangan kami saling beradu dan aku tertegun. Rasanya
seperti melihat hutan dengan pohon-pohon rimbun. Begitu hijau,
segar, dan bercahaya—layaknya daun yang baru saja disirami.
Matanya masih sehijau dahulu—seperti saat pertama hingga detik-
detik terakhir aku melihatnya. Memori di ingatanku berputar dan
akupun larut dalam kenangan manis tersebut.
Batavia, 16 tahun yang lalu. Aku hanyalah seorang bocah
perempuan berusia 8 tahun yang masih teramat lugu dan polos.
Ayahku adalah seorang petani dan ibuku adalah seorang buruh.
Keluargaku bukanlah keluarga yang kaya dan terpandang seperti
keluarga Tim.
40
Pagi itu cerah. Sejauh mata memandang, yang bisa kulihat
hanyalah warna kuning keemasan yang memikat hati. Surya
menyembul malu-malu dari balik bukit, perlahan namun pasti kembali
menduduki takhtanya di antara awan. Aku menarik napas dalam-
dalam dan senyuman tipis merekah di wajahku. Angin menerpa
lembut wajahku dan nyanyian merdu para burung memanjakan
telingaku. ‘Hari ini akan menjadi hari yang baik,’ pikirku seraya
mulai melangkah menuju dermaga.
Aku suka dermaga. Deburan ombak mampu menenangkan
hatiku dan bau laut mampu membuatku seolah mabuk bak wewangian
kamarku. Hiruk pikuk orang yang berlalu lalang di sepanjang dermaga
pun tak pernah membuatku bosan. Kujejakkan kakiku riang pada
kayu-kayu dermaga, menyelinap di antara orang-orang seraya berseru
selamat pagi di sana-sini. Aku memang cukup terkenal di kalangan
orang-orang yang berada di sekitar dermaga akibat terlalu sering
mengunjunginya.
Lima menit berlalu dan suara ribut-ribut tertangkap oleh
telingaku. Aku menoleh ke kanan dan kerumunan orang di kejauhan
menarik perhatianku. Entah perkara apa yang tengah mereka ributkan.
Namun, sebagai bocah kecil yang penuh rasa ingin tahu,
kulangkahkan kakiku menuju sumber keributan tersebut.
41
“Ampun tuan! Ini tempat saya!” Suara lemas seorang penjual
ikan terdengar dari tengah kerumunan. Pilu. Aku bisa merasakan
teriakan lapar yang tersampaikan dari bibir pucat sang penjual.
Terbebani oleh kewajiban untuk mendapat uang demi memberi
keluarga sesuap nasi.
Rentetan kalimat dalam bahasa Belanda mengalir dengan
cepat—entah siapa pemilik suara tersebut. Aku melompat-lompat
guna melihat dengan lebih jelas, namun nihil. Hanya sang penjual ikan
saja yang tampak di pandanganku.
Akhirnya, kuputuskan untuk menerobos paksa kerumunan
tersebut. Teriakan pilu yang kukenali sebagai teriakan sang penjual
membangkitkan amarahku. Dengan tergesa-gesa, aku menyeruak
masuk dan mendapati sang penjual ikan yang tengah tersungkur di
tanah. Seorang bocah laki-laki yang membelakangiku berdiri di
depannya dengan postur yang angkuh. Darahku terasa mendidih.
Tanpa sadar, kukepalkan tanganku erat dan mulai berteriak.
“Hei! Tinggalkan ia sendirian!”
Bocah laki-laki itu menoleh ke arahku dan aku merasa nafasku
seperti tercekat di tenggorokan. Belum pernah kulihat seorang laki-
laki yang seperti itu. Manis, batinku tak sadar. Reflek, aku merutuki
diriku sendiri. Bagaimana tidak, parasnya indah bak lukisan yang
telah dilukis oleh berbagai pelukis kenamaan dunia. Kulitnya putih
42
pucat seperti vampir dan rambutnya yang kuning terlihat semakin
bercahaya keemasan bermandikan cahaya mentari. Ia sangat
menawan—bak sesuatu yang sangat tak mungkin kucapai.
Tatapan matanya seolah meremehkanku. Aku menutup
mulutku rapat-rapat dan menatapnya balik dengan tatapan menantang.
Ia memalingkan wajahnya dan berbincang sejenak dengan seorang
pemuda tinggi di sebelah kirinya dalam bahasa Belanda. Pemuda itu
mengangguk, lalu pergi meninggalkan kerumunan itu tanpa banyak
suara.
Bocah laki-laki itu berjalan mendekatiku dengan tatapan
sedingin es, meninggalkan sang penjual ikan yang sekarang ribut
berseru terima kasih karena ia tidak jadi merampas tempat dagangnya.
Aku menelan ludah seraya sibuk menduga apa yang akan ia
lakukan terhadapku, tidak menyadari bahwa bibir pucatnya yang
terkatup telah mengajukan sebuah pertanyaan untukku.
“Hei!” Ia berseru dengan aksen Belanda yang kental. Ia
meletakkan tangannya di pundakku dan meremasnya dengan agak
keras. Aku mengaduh, sedikit kesakitan, namun ia tak
menghiraukanku.
“Namamu?” ulangnya lagi dengan suara keras.
“Kirana.”
43
Alisnya terangkat, seolah tak puas dengan jawabanku. Hei!
Memangnya aku harus berkata apa lagi? Ia bertanya siapa namaku dan
aku sudah menjawabnya!
Kukira ia akan mengataiku. Atau yang terparah, menamparku
karena aku telah lancang berteriak kepada salah satu anggota keluarga
pedagang Belanda yang tersohor.
Namun, apa yang kubayangkan sangatlah berbeda dengan apa
yang sesungguhnya terjadi. Berdiri di depanku, sang bocah Belanda
itu memamerkan senyuman tipisnya untukku. Ia mengulurkan
tangannya, ingin bersalaman denganku dan sejenak, aku terdiam, tidak
tahu harus melakukan apa. Dengan raut ragu, aku menjawab
tangannya. Tidak luput dari pandanganku ketika kulit wajahnya yang
pucat perlahan mulai memunculkan rona merah. Amarahku menguap
seketika dan saat itulah aku tersadar bahwa ia telah mencuri tempat di
hatiku.
“Tim Willemsen.” Dengan malu-malu, ia menyebutkan
namanya. Aku hanya mengangguk saja, sedikit terperangah dengan
apa yang baru saja terjadi.
“Laten we vrienden.”
Aku mengerjap bingung. Seolah mengerti raut bingungku, ia
lantas menerjemahkan apa yang baru saja ia katakan.
Mari berteman.
44
Bibirku melengkung membentuk senyuman. Aku
mengangguk.
Hari itu, aku telah berhasil mempelajari satu kalimat dalam
bahasa Belanda dan memperoleh seorang teman sekaligus cinta
pertamaku.
Entah bagaimana caranya kami bisa menjadi dekat. Akupun
tak begitu mengerti. Yang jelas, kami banyak menghabiskan waktu
bersama-sama. Entah itu memancing bersama, berjalan di sawah
bersama, atau sekadar duduk-duduk santai di pinggir dermaga. Kami
saling bercerita tentang banyak hal. Ia bercerita tentang kehidupannya,
keluarganya, dan juga negaranya. Sementara aku bercerita pula
tentang kehidupanku, keluargaku, dan juga memperkenalkan negaraku
sejauh yang kutahu.
Berbulan-bulan kami habiskan bersama. Aku selalu bangun
lebih pagi dari kedua orangtuaku dan menyelinap pergi untuk bertemu
Tim sebelum sang surya menampakkan dirinya. Hal ini kulakukan
karena aku takut orangtuaku melarangku bertemu dengannya. Karena
keluarganya adalah keluarga pedagang Belanda terpandang, tentu
orangtuaku enggan banyak berurusan dengan mereka. Mereka ingin
aku tidak terlibat dengan mereka. Menurut mereka, berurusan dengan
keluarga Belanda sama saja dengan mencari mati.
45
Tetapi, aku tahu bahwa Tim berbeda. Entah mengapa, namun
instingku menyerukan bahwa ia berbeda. Tidak, ia tidak sama dengan
kedua orangtuanya, dengan saudara-saudaranya. Meskipun darah yang
sama mengalir di dalam dirinya dan diri keluarganya, aku tahu bahwa
ia berbeda. Ia begitu baik kepadaku, ia begitu lembut. Begitu ramah
dan begitu…
Unik.
Pertemuan kami ini lantas menjadi rahasia kami berdua. Tanpa
sepengetahuan kedua orangtuaku dan keluarganya.
Dan entah bagaimana, pada bulan November, rahasia kami
akhirnya terkuak. Keluarganya yang pertama kali tahu.
Kedua orangtuanya lantas datang ke rumahku dan mendobrak
pintu depan rumahku. Rentetan kalimat dalam bahasa Belanda yang
penuh amarah memenuhi rumah kecilku. Seorang pria berperawakan
tampan dan tinggi—yang kutebak adalah ayah Tim karena keduanya
terlihat begitu mirip—mengacungkan jemari telunjuknya dan
menudingku. Tatapan amarah dan penuh benci dilayangkannya
untukku. Di waktu itu, aku hanya bisa terduduk di lantai, menangis
sekeras-kerasnya seraya menunduk. Ayahku menjawabnya dengan
bahasa Belanda yang campur aduk, sementara ibuku sibuk
menenangkanku.
46
Aku tidak mengerti apa yang dikatakan oleh ayah Tim.
Namun, kutebak ia pasti menghujatku dan mengatakan hal-hal seperti
aku adalah pengaruh yang tidak baik untuk Tim. Aku hanya menangis
dan terus menangis, menghiraukan teriakan dalam bahasa asing
tersebut sampai aku mendengar suara teriakan yang teramat familier.
“Kirana!”
Aku menengadah dengan wajah basah dan di sanalah ia
berdiri. Tim, dengan ekspresi terkejut yang sangat tergambar jelas di
setiap lekukan wajahnya dengan gesit, ia menghampiriku dan
menangkupkan kedua tangannya pada wajahku. Kami beradu pandang
dan jelas terlihat raut khawatir di wajahnya. Lantas, ia menggertakkan
giginya dan menatap ayahnya dengan tatapan penuh benci.
Sedetik kemudian, terjadi perdebatan di rumahku dalam
bahasa Belanda antara Tim dan ayahnya. Keduanya sama-sama keras
kepala, sama-sama tak mau mengalah. Sampai akhirnya, sebuah suara
keras menggema dan aku melihat sang ayah menampar Tim dengan
keras.
Aku menjerit dan hal terakhir yang kulihat adalah Tim yang
diseret keluar dari rumahku sebelum pintu rumahku dibanting keras.
Setelah itu, hening.
Langit berangsur-angsur menjadi gelap dan sayup-sayup
terdengar suara angin bertiup. Aku berdiri di dermaga, menatap ke
47
arah laut lepas yang terhalangi oleh banyaknya kapal milik keluarga
pedagang Belanda.
Keluarga Tim.
Air mataku kembali menetes dan aku menggigit bibir bawahku
kuat hingga berdarah. Menangis di depan umum itu sangatlah
memalukan, tetapi aku tidak bisa menghentikan laju setiap tetesan
yang mengalir menuruni pipiku.
Beberapa hari setelah insiden yang terjadi di rumahku itu, Tim
memberitahuku lewat surat yang dikirimkan oleh burung
peliharaannya bahwa keluarganya akan kembali lagi ke Belanda. Itu
berarti, ia akan ikut serta dan meninggalkan Indonesia, meninggalkan
dermaga, dan meninggalkan aku.
Aku menyeka air mataku dan mengambil napas dalam-dalam
guna menenangkan diriku sendiri. Apakah persahabatan kami akan
terhenti sampai di sini? Mungkinkah waktu mengizinkan kami untuk
kembali bertemu di masa depan? Aku tidak tahu.
“Kirana!”
Aku menoleh dan mendapati Tim yang tengah berlari ke
arahku. Wajahnya menyiratkan ekspresi panik. Aku tersenyum tipis,
berusaha menyembunyikan kesedihanku di balik topeng senyumanku.
Ia menghampiriku dan berhenti tepat di depanku, terengah-
engah karena berlari entah seberapa jauhnya. Peluh meluncur turun
48
dari keningnya. Ketika mata kami bertemu, keheningan menyelimuti
kami untuk beberapa saat.
“Maafkan aku.”
Ia bergumam pelan, sementara aku hanya terdiam. Aku
memutus kontak mata kami dan memalingkan wajahku. Karena aku
tahu, aku tidak akan bisa menahan air mataku apabila aku menatap
wajahnya barang sedetik lagi.
“Maafkan aku.”
Ia terus meracau, masih dengan aksen Belandanya yang
teramat kental dan sudah terekam secara jelas di setiap inci sel-sel
otakku.
“Tidak apa-apa.”
Aku menjawab dengan suara pelan. Sungguh, itu bukan
salahnya. Memang itu semua adalah salahku. Salahku karena telah
membuatnya bergaul dengan gadis pribumi rendahan yang tidak
sebanding dengannya. Salahku karena telah membuatnya menjadi
pribadi yang mudah melawan perkataan ayahnya. Salahku yang telah
lancang karena jatuh cinta kepadanya.
Baik aku maupun Tim terdiam, tidak tahu harus berbicara apa
lagi. Waktu kami semakin tipis, tetapi kami menghabiskannya dalam
diam. Tim melirikku dan berdeham pelan, membuatku menatapnya
dengan pandangan penuh tanya.
49
“Kita pasti akan bertemu lagi,” janjinya.
Aku hanya mengangguk. Memangnya, apalagi yang bisa
kulakukan selain mengangguk dan berdoa bahwa janji itu bukanlah
sekadar janji semata?
Terdengar suara teriakan yang terselubung amarah dari
kejauhan. Aku dan Tim menoleh ke arah salah satu kapal. Dari
kejauhan, aku mendapati ayah Tim yang tengah berdiri memandangi
kami. Wajahnya terlihat tidak senang melihat kami bersama. Tim
menjilat bibirnya gugup dan memandangi kayu dermaga.
“Itu ayahku. Aku harus pergi sekarang.”
Mata kami kembali bertemu dan aku memandangi iris hijau
daunnya lekat-lekat. Tiada dari kami yang berkedip. Aku menelan
ludah saat ia menatapku intens. Pipiku terasa sedikit panas dan aku
memalingkan wajahku.
“Pergilah,” ujarku.
Ia mengangguk dan berbalik arah. Aku menatapnya terus
sampai ia menaiki kapal keluarganya, memandangi punggungnya
yang terus bergerak tanpa berhenti sedikitpun untuk menolehku.
Kala deru mesin kapal yang menyala terasa seperti menulikan
telingaku, aku tahu bahwa inilah akhirnya. Kapal megah itu bergerak
sedikit demi sedikit, meninggalkan dermaga dan berlayar ke laut
lepas. Ketika kapal itu menjadi hanya sebuah titik kecil di tengah
50
lautan dengan asap yang mengepul dari salah satu cerobongnya, saat
itulah aku tersadar.
Aku telah membiarkan cinta pertamaku lepas dari
genggamanku.
“Kirana?”
Suara lembut Tim membawaku kembali ke realitas. Aku
mengerjapkan mataku beberapa kali dan menengadah menatap
angkasa. Tetesan air masih turun dengan deras dari langit dan aku
mengalihkan pandanganku untuk menatap Tim.
Tiada dari kami yang bersuara, meskipun inilah pertemuan
pertama kali sejak ia meninggalkanku bertahun-tahun yang lalu. Aku
ingin bersuara, namun kalimatku seperti tercekat di tenggorokan.
Bibirku terbuka, namun menutup kembali setelah beberapa saat.
Raut bingung tergambar jelas di wajah Tim. Alisnya terangkat
dan sesaat, ia tampak seperti Tim yang kukenal bertahun-tahun yang
lalu. Tidak seperti Tim yang sekarang berdiri di depanku, yang terasa
bagaikan orang asing bagiku.
“Lama tak berjumpa, Tim.”
Aku membuka bersuara dan hanya itu yang berhasil meluncur
keluar dari sela bibirku. Tenang, Kirana, aku berkata kepada diriku
sendiri. Ini hanyalah Tim. Tidak ada yang perlu kau takutkan.
51
Aku meyakinkan diriku. Kendati demikian, mengapa jemariku
sedikit bergetar dan mengapa aku merasa begitu takut dan khawatir?
Takut karena Tim akan membunuhku? Hah. Mustahil.
Mustahil apabila dilakukan oleh Tim yang dulu, otakku
berseru. Ia bukanlah Tim yang dahulu, yang menghabiskan waktunya
dengan bersenda gurau bersamamu. Ia adalah Tim Willemsen, salah
satu prajurit dari kubu Belanda, siap untuk menghabisi siapapun yang
berdiri di depannya—teman kecil atau bukan.
Aku menggelengkan kepalaku, berusaha membuang pikiran itu
jauh-jauh dari dalam kepalaku. Alhasil, Tim semakin mengerutkan
dahinya.
“Kau tak apa?”
Ia bertanya, dan dari nada suaranya tersirat pesan bahwa ia
benar-benar khawatir tentangku.
“Tak apa.” Aku menjawab pelan.
Suasana canggung meliputi kami. Suara tetesan air hujan
mengisi keheningan dan mataku tertuju pada senjata yang kini tengah
digenggam erat oleh Tim.
Sebuah pistol berwarna hitam mengilap. Sama sekali tidak
sebanding dengan bambu runcing yang kini kugenggam semakin erat
di tangan kananku.
52
Menyedihkan. Sebuah pertarungan yang sangat tidak adil—
sudah tentu jelas siapalah yang akan menjadi pemenangnya.
“Kau masih ingat janjiku ketika aku akan kembali ke
Nederland?” tanyanya.
Aku mengangguk. Tentu saja, bagaimana aku bisa lupa?
Tim menyunggingkan senyum yang menawan dan aku
berusaha keras agar wajahku tidak terlihat memerah. Tatapan matanya
seolah ingin mengatakan, ‘lihat, kita bertemu lagi, ‘kan?’ dan aku
menahan diri untuk tidak memutar bola mataku dan tersenyum.
“Mengapa kau ada di sini?” tanyaku.
“Bukankah kau seharusnya berada di sana, meneruskan usaha
ayahmu?”
Tim diam saja. Ia tampak sedikit gugup ketika aku
menanyakan hal tersebut. Sejenak kemudian, ia menggeleng dan
menghela napas.
“Perang,” ujarnya pendek. Aku mengangguk.
Tentu saja. Mengapa aku harus bertanya? Tidak mungkin
seorang pemuda seperti Tim bisa luput dari perhatian pemerintah kala
mencari orang untuk bergabung di militernya. Dengan tubuh yang
kuat seperti itu, tentu ia adalah prajurit yang sempurna dan tangguh.
Bodoh jika aku menanyakan alasannya berada di sini untuk berperang
melawan Indonesia.
53
Hening lagi. Oh, ayolah. Mengapa keadaan kami sekarang
begitu berbeda dari yang dahulu? Mengapa suasanya menjadi sangat
canggung seperti ini? Aku menggigit bibir bawahku dan menatap Tim
ragu.
“Apa itu berarti kau akan membunuhku?” Suaraku terdengar
pelan. Sangat pelan.
“Hah… aku akan membunuhmu?”
Tim tidak menjawab. Ia lebih memilih diam, membiarkanku
berperang sendirian melawan ribuan pertanyaan yang terus muncul di
benakku. Tatapannya tidak lagi ada padaku, melainkan sudah
berpindah dan jatuh pada senjatanya.
“Mungkin.”
Ia akhirnya membuka suara. Amarah mulai meletup-letup di
dalam diriku dan aku membuang senjataku ke tanah. Tim
memandangiku dengan mata lebar, tidak mengerti mengapa aku
melakukan hal demikian.
“Kirana?”
Aku menggeleng. Tidak, batinku, aku tidak akan mungkin
membunuh sahabatku sendiri. Sahabatku dan cinta pertamaku…
Tidak mungkin aku tega melakukannya…
Hujan masih turun dengan deras dan petir mulai menggelegar.
Air hujan yang menggenangi tanah kini mulai meresap masuk ke
54
dalam sepatuku. Aku bersumpah tidak akan membunuh Tim, apa pun
yang terjadi.
Tetapi, tetap saja. Salah satu dari kami harus mati.
Aku menggelengkan kepalaku, sementara Tim masih
menghujaniku dengan tatapan penuh tanyanya. Aku melangkah
mendekati Tim, sejenak mengagumi dirinya yang sekarang sudah
lebih tinggi dariku.
Aku berhenti tepat di depannya—hanya beberapa inci sebelum
kulit kami saling bersentuhan. Aku meraih tangannya dan mengambil
pistol yang berada erat dalam genggamannya. Dengan senyuman
sedih di wajahku, aku kembali menggeleng.
“Tidak, Tim.”
Aku berbisik pelan. Sementara tanganku yang bebas perlahan
bergerak mendekati wajahnya. Jemariku mendekati wajahnya yang
basah oleh air hujan dan membelai kulitnya dengan sangat perlahan.
Tim tetap bungkam, mematung di tempatnya.
“Salah satu dari kita harus mati.” Aku kembali berbisik.
Perlahan, aku merasakan air mata yang kembali meleleh menuruni
pipiku. Samar-samar, aku melihat tubuh Tim yang sedikit menegang.
Terlibat dalam peperangan berarti kau harus siap untuk membunuh
atau dibunuh seseorang. Tidak ada pilihan lain selain kedua hal itu.
Tim tentu tahu betul akan hal itu, bukan?
55
Tentu saja, aku sudah siap untuk mati apabila memang sudah
waktunya. Aku tidak memilih untuk bergabung dan berperang
melawan Belanda tanpa menyadari risiko itu. Akupun sudah siap
untuk mengotori tanganku sendiri dan menghabisi setiap lawanku.
Namun, yang aku tidak siap adalah menghabisi sahabat
sekaligus cinta pertamaku dengan tanganku sendiri.
Tetesan air mataku turun semakin deras, bercampur dengan air
hujan kala pistol Tim kini berpindah dan berada di dalam
genggamanku. Aku menggenggamnya erat, tidak ingin Tim
merampasnya dariku. Aku menarik napas dalam-dalam dan
menghembuskannya lagi guna menenangkan diriku.
Aku sudah siap, bukan?
“Kau tahu, Tim—kau adalah sahabat terbaik yang kumiliki.”
Aku berujar pelan. Tim menatapku dalam diam, seolah boneka yang
tidak bisa berbicara. Tanganku yang tengah membelai wajahnya kini
meremas erat tangannya. Tim mengaitkan jemarinya dengan jemariku
erat, seolah tak ingin melepaskan tanganku dari genggamannya.
“Kirana,” Ia berbisik lemah, “tolong jangan lakukan ini.”
Aku menggeleng kuat. Aku tidak bisa. Aku tidak mau menjadi
pembunuh sahabatku sendiri. Aku harus kuat. Kuatkan dirimu,
Kirana, aku berkata kepada diriku sendiri. Ini demi Tim—demi orang
yang sangat kau cintai. Bertahanlah, Kirana—demi Tim. Demi Tim.
56
“Kirana.” Ia memanggil namaku lagi dengan lemah, seolah
kehilangan tenaga untuk membujukku. Aku mengangkat pistol yang
berada dalam genggamanku, menelitinya lekat-lekat di bawah guyuran
hujan deras yang sama sekali tidak kupedulikan. Aku memeluk Tim
erat dan ia melingkarkan tangannya di pinggangku.
Kami saling berpelukan untuk beberapa saat sebelum aku
melepasnya. Dengan senyuman pasrah, aku bergumam pelan dengan
tubuh yang sedikit bergetar.
“Terima kasih karena kau telah sudi untuk menjadi temanku,
walau hanya untuk beberapa saat.” Aku berujar dan ekspresi Tim
berubah. Seolah ia tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.
“Terima kasih atas segala canda tawa yang telah kau berikan
untukku.” Aku menghiraukannya dan menggenggam pistol itu
semakin erat. Perlahan, kuarahkan moncong pistol itu ke arah
pelipisku dan wajah Tim berubah pucat. Sangat pucat.
“Kirana.” Ia menggumamkan suaraku dengan nada horor.
“Kirana, kumohon.”
Aku menggeleng lagi.
“Terima kasih karena kau telah mengizinkanku untuk jatuh
cinta padamu.”
Mata Tim melebar. Sangat lebar.
“Dan maaf. Sampai jumpa.”
57
Suara letusan terdengar keras, menggema di seluruh penjuru
hutan itu. Lututku menyentuh tanah yang basah oleh hujan dan wajah
Tim terlihat pucat pasi. Samar-samar, kulihat jemarinya bergetar. Aku
merasakan sesuatu mengalir turun dari pelipisku.
Darah.
Perasaan lega membanjiri hatiku. Ah, akhirnya. Aku tidak
perlu cemas akan mengotori tanganku lagi. Karena akhirnya, semua
telah berakhir.
Darah telah dibayar dengan darah. Aku tersenyum tipis
sebelum tubuhku jatuh ke tanah. Tidak apa, Kirana, aku memberitahu
diriku sendiri. Yang terpenting adalah Tim tetap hidup. Kau telah
melakukan hal yang benar.
“Kirana…?” Sayup-sayup aku mendengar suara Tim
memanggil namaku. Maafkan aku, Tim, batinku, sebelum kepalaku
berdenyut hebat.
Ah, aku ingin tidur. Kepalaku terasa berat.
Aku menutup mataku, berusaha untuk tidur dan
menghembuskan napasku. Samar-samar, kicauan burung masih
terdengar sebelum semuanya hilang.
Gelap, sunyi, dan kelam.
58
Chamomile
Karya: Amelinda
“Chamomile… tumbuh di daerah terpuruk, namun diberikan
kesempatan kedua untuk tumbuh dengan segala gula kebahagiaan
dalam dirinya hingga menjadi bunga penuh aroma yang indah”
“This year is the most severe winter in Boston, we urged
people to…” Tet aku matikan siaran berita tersebut sambil berjalan
menuju jendela dorm yang tertutupi embun pagi. Aku basuh perlahan,
mulailah terlihat pemandangan Cambridge street di pagi hari yang
dikelilingi gedung-gedung berbata merah yang kini terlapisi oleh
gumpalan-gumpalan salju halus. Jalanan kota tertutup gumpalan salju.
Kendaraan juga ikut tertutupi salju sehingga tak melaju seperti
59
biasanya. Orang-orang yang berlalu-lalang dengan balutan coat tebal
dan lapisan-lapisan baju di dalamnya dapat terhitung dengan hitungan
jari serta ranting kering pohon yang kehilangan daunnya. Ku tatap
langit putih tak bermentari yang terus menangis deras gumpalan salju.
Ditemani secangkir teh di tangan kananku yang menggantikan suasana
dingin di luar sana. “Hey, Nataly! Cepat beres-beres nanti kita
terlambat kelas pertama!” suara kekanak-kanakan yang
menyadarkanku dari lamunan semata. “Iya Bel! Aku turun”. Namanya
Bella, seorang gadis belia keturunan campuran Indonesia-Kanada
bermata hitam dan berambut pirang serta tinggi 165 cm yang tahun ini
menginjak usia 19 tahun. Bella selalu berada bersamaku melewati
gula garam kehidupan. Walaupun usianya satu tahun di bawahku,
namun dialah yang selalu memberikan warna baru dalam hidupku.
***
Suasana kota dengan kendaraan yang penuh sesak ini mulai
menghangat, awan-awan mulai berdampingan dengan mentari
menghiasi langit ibu kota. Helaian daun mulai tumbuh di pohon.
Cuaca dingin mulai tersapu kehangatan sinar matahari pertanda
musim dingin akan segera berakhir. Masyarakat kota mulai berlalu
lalang memenuhi jalanan kota, begitupula dengan taksi yang mulai
kembali beroperasional. Kukayuh sepeda sambil ikut meramaikan
jalanan pagi ini. “Shawn, don’t run!” teriakan itu seketika
60
menghentikan kayuhan sepedaku. Mengalir. Memenuhi selongsong
benakku yang seketika menujukanku pada sebuah cerita lampau,
menarikku melawan arus waktu, kembali menuju tiga tahun lalu tepat
di tanggal 19 Januari 2012 di depan bundaran HI –Hotel Indonesia.
Sore yang begitu dingin dipenuhi awan hitam di langit kota Jakarta
dan angin penghantar hujan mulai bertiup berdatangan. Orang-orang
mulai tergesa-gesa berlarian mencari tempat berlindung. Namun,
seorang gadis berdiri terdiam di pinggiran jalan yang dipenuhi lalu-
lalang penggendara. Terukir senyum hangat yang menyapu suasana
dingin dalam dirinya. Tatapan lurus bahagia tepat tertuju pada seorang
pria yang berdiri tepat di seberangnya. Berdiri kokoh dengan
segenggam bunga mawar merah di tangan kanannya dan sepasang
balon di tangan kirinya.
Namun, senyuman hangatnya terenggut sirna oleh seorang
supir transjakarta yang membelokkan setirnya keluar jalanan dan
membuat segenggam mawar merah itu menjadi bunga tabur sang pria
dan sepasang balon yang terbang bebas membawa segala harapan dan
kebahagian pergi menjauh selamanya. “Hey, hurry run your bike!”
sambil menepuk-nepuk punggung tak beraga ini. “Oh, nona kau orang
Indonesia?” sambil melihat bendera merah putih yang tertempel di
bagian belakang sepedaku. “Nona? Apakah kau mendengarku? Ah,
biar aku saja yang mengayuhnya, cepat kau duduk di belakang.”
61
Dengan tergesa-gesa, ia langsung mengayuh sepedaku dan menjauhi
arah suara itu.
“Huh, aman” sahutnya sambil menoleh ke arah belakang
“Hey nona, mengapa kau diam saja dari tadi? Bahkan aku
membawamu ke sini pun kau diam saja, untung saja aku orang baik
namun bagaimana kalau orang jahat yang membawamu? Lalu kalau
ia..” sambungnya
“Pergi” balasku dingin
“Apakah aku menggangumu, nona? Baiklah kalau begitu
maafkan aku, namun kurasa aku harus membalas kebaikanmu atas
sepeda itu. Bagaimana kalau..”
“Pergi!” ucapku sekali lagi tanpa menoleh ke arahnya
“Baiklah! Kalau itu maumu, bahkan aku sudah mencoba baik
padamu, namun kau sangat dingin. Satu lagi nona, terima kasih atas
sepedamu! Dan aku Shawn. Salam kenal. Sampai jumpa.” Ucapnya
ketus sambil menatapku kesal yang perlahan hilang oleh jarak.
“Tidak, tidak mungkin. Ini semua pasti hanya mimpi, ia sudah
pergi, ia tak mungkin kembali. ”Beribu pikiran saling bertumpuk
memenuhi benakku. “Ah! Mengapa aku bisa sebodoh ini! Mengapa
aku tak menatap wajahnya tadi, setidaknya aku bisa lebih yakin siapa
laki-laki bawel itu!” ucapku sambil melihat daerah sekitar yang sangat
asing bagiku. Langkah demi langkah kucoba untuk menebak-nebak
62
lokasi sekitar dan berusaha mencari jalan pulang. Di seberang
kananku, terlihat gedung putih tinggi yang tertancap bendera Amerika
di atasnya. Aku jalan mendekat berharap agar mendapat jawaban arah
pulang. Harvard Medical University tulisan besar terpampang di
bagian atas gedung itu. “Apa? HMU*? Sejauh inikah ia mengayuh
sepedanya. Lalu ke mana arah pulang.” Pikirku sambil duduk di
gundakan tangga gedung.
“Mimpi apa aku semalam, dikejar-kejar orang gila lalu
bertemu orang seperti itu. Apakah ia tidak diajarkan untuk menatap
orang yang berbicara dengannya? Mengapa bisa ada orang sedingin
itu?” Seketika cuaca menenggelamkan kecerian pagi, menggantinya
dengan tangisan deras para dewa langit. “Ah! Nona sinis itu!” teriak
Shawn sambil berlari ke tempat ke tempat ia meninggalkan nona itu
seorang diri.
“Aduh, tidak ada lagi orangnya. Kemana perginya ya.”
“Nona! Hey, nona sinis! Di mana kau!” teriak Shawn sambil
mencari-cari ke tempat-tempat sekitar
Kudengar suara teriakan samar dari kejauhan yang terhalang derasnya
rintik hujan. Suara tersebut seakan semakin mendekat. Seketika, suara
itu hilang dan tergantikan oleh genggaman tangan yang dingin.
Menarikku mendekati sepeda “Cepat naik, aku tahu arah pulang.” Aku
naik kursi sepeda bagian belakang lalu ia menarik kedua tanganku
63
yang sudah menggigil dan melingkarkan ketubuhnya “Pegangan yang
erat, kau sudah kedinginan.”
***
“Aku Nataly…” ucap Nataly sambil membasuh rambutnya
dengan handuk yang diberikan Shawn. Dorm Shawn dua kali lipat
lebih besar dibanding dorm Nataly dengan dinding berlatarkan abu-
abu terang yang dilengkapi kamar di lantai atas dan ruang tamu, dapur,
serta dua kamar lagi di bagian bawah. “Hai, Nataly. Hem, maaf harus
membawamu ke dorm-ku karena kupikir ini tempat terdekat dan hujan
di luar sangat deras.” Balas Shawn yang sedari tadi terus mondar-
mandir di dapurnya.
“Ini, tehnya.” Ucapnya sambil memberikan secangkit the
chamomile hangat dan duduk di hadapanku.
Tak sepatah kata pun terucap memecah kesunyian, hanya ada
aroma menenangkan dari teh chamomile ini saja yang mengisyaratkan
mereka tentang ketenangan sebelum segalanya hilang diluput waktu.
“Suka dan duka tecampur ke dalamnya, teraduk rata, terbagi sama rata.
Dinikmati bersama aroma tenang kebahagiaan. Namun, bagaimana
bisa rasa pahit hanya terasa di satu cangkir?” Suara dingin dengan
tatapan penuh dengki Nataly yang teringat kembali kejadian 19
Januari karena pertemuannya dengan Shawn itu seketika menghapus
kehangatan sesaat.
64
Tangan Shawn seketika membeku, pikirannya seakan berhenti. Ia
benar-benar bingung dan tak mengerti apa yang baru saja diucapkan
gadis di sebelahnya. “Ah, nona. Apa yang baru saja kau katakan? Aku
tidak mengerti, aku bukan ahli bahasa,” sahutnya sambil berjalan
menuju jendela utama. “Nataly, kurasa cuaca di luar sudah mulai
bersahabat. Bagaimana kalau kita berjalan-jalan ke taman di seberang
sana?” ucap Shawn yang dibalas anggukan pelan Nataly.
***
“Tiga tahun yang lalu hari-hariku diwarnai oleh seorang lelaki
yang memiliki nama sama denganmu.” ucap Nataly sambil duduk
berdampingan dengan orang yang baru ia kenal pagi ini “Shawn
namanya” lanjut Nataly sambil menatap Shawn dalam.
“Lalu..”
“Kami berbagi tawa bersama, saling melengkapi, melewati
gelapnya kehidupan bersama. Sampai akhirnya tepat tanggal 19
Januari 2012, ia memilih melewati kegelapan sendiri dan terjebak di
dalamnya, tidak bisa kembali.”
“Tunggu sebentar.” balas Shawn yang langsung beranjak lari.
“Huh..”Ia kembali dengan helaan napas dan sebuah vanilla ice
cream di tangan kanannya. Dengan segera, ia menikmatinya seorang
diri. “Lanjutkan ceritamu,” ujar Shawn sambil mencolekkan ice cream
ke hidung Nataly
65
“Hey! Kotor,” ujar Nataly sambil membersihkan ice cream di
hidungnya
“Kau Cuma beli satu? Aku kan sangat lapar, sini buatku saja,”
seru Nataly sambil merebut ice cream tersebut dan langsung
melahapnya.
“Jangan sedih lagi ya,” ucap Shawn pelan yang tak dihiraukan
oleh Nataly yang asik dengan makanannya.
***
“Bella, dari tadi ganti-ganti siaran tv terus,” sahut Nataly kesal
yang duduk di sebelah Bella saat di ruang tamu.
“Engga ada yang bagus siarannya tahu. Matiin aja lah,” kesal
Bella sambil menekan tombol merah pada remote di tangan kanannya
“Jalan-jalan aja yuk, tidak ada kelas juga kan hari ini.”
“Dari tadilah, Nat. Sabar ya, aku beres-beres dulu. Siapa tahu
nanti ketemu cowok ganteng, haha.”
“Udah cepet sana, bawel ya.”
***
Musim dingin sudah berakhir. Kini matahari berdampingan
dengan gumpalan halus awan putih mewarnai langit biru ditemani
pula dengan kepakan sayap sang burung yang terbang bebas. Pohon-
pohon pun mulai tumbuh merindang dengan daun dan bunga penuh
warna yang benar-benar menghiasi ibu kota Massachusetts ini.
66
Puluhan ribu orang kini mengisi jalanan kota, pantas saja kota ini
disebut The Walking City.
Kami memulai perjalanan hari ini dengan menaiki
Massachusetts Bay Transportation dari Harvard University menuju
Freedom Trail. Freedom Trail merupakan salah satu destinasi paling
diminati bagi turis lokal maupun mancanegara. Bentuk jalanan
sepanjang 4.0 km berbahan batu bata ini sangat unik karena terdapat
segaris susunan lurus bata merah yang menghubungkan Boston
Common diawal jalanan dan Bunker Hill Monument diakhirnya.
“Nataly, lihat deh, bunga tulipnya mekar dan semua warna-
warni lagi. Wah, ayo ke sana terus kita selfi,.” serunya sambil
menarikku menuju jajaran bunga tulip tersebut.
Boston Common founded 1634 tiang hitam tinggi yang
memampangkan tulisan tersebut. Di bagian depan Boston Common
terdapat sebuah patung George Washington yaitu seorang pria bertopi
yang menunggangi kuda. Dihiasi hamparan bunga yang saling
bermekaran, aku terpaku menatap keindahan taman ini. Berbagai
macam bunga berjajar, saling bermekaran, seakan-akan berlomba
untuk menjadi yang terindah. Masa kelam dalam hidupmu akan segera
terganti kebahagiaan. Mungkin itu adalah suatu isyarat kehidupan
akan pergantian musim salju menjadi musim semi.
67
“Bel, naik swan boats yuk masa kita udah dua tahun tinggal di
Boston belum pernah naik itu sih, nanti pas balik ke Indonesia gak
bisa pamer dong haha.”
“Ayo Nat! Tapi kamu yang bayar ya.”
“Iya deh, tapi nanti traktir makan siang.”
“Dasar pelit!”
Swan Boat merupakan salah satu public ride unik di Boston.
Bentuknya yang panjang dengan sebuah patung angsa putih di bagian
belakang sebagai tempat sang pengatur arah jalannya perahu angsa ini
dan juga enam baris kursi yang dapat memuat kurang lebih 18 orang
dalam sekali perjalanan mengitari danau di dalam Boston Common
park ini.
“Ayo Bel naik, aku sudah bayar tiketnya,” sahutku sambil
menaiki perahu yang dipenuhi banyak orang. Aku berdiri di pojok
perahu ini sambil menunggu Bella untuk naik. Seorang laki-laki
berusia kurang lebih 50 tahun ke atas berambut putih dan berbadan
cukup besar di sampingku seketika pingsan sehingga mendorongku
keluar dari swan boat “Ah!” seketika sebuah tangan laki-laki putih
dengan badan muscular dan tinggi kurang lebih 185 cm dengan mata
coklat tua dan hidung yang cukup mancung terulur dan menarikku
kembali ke dalam boat tersebut “Shawn,” sahutku heran saat melihat
pria yang telah membantukku barusan, namun ia langsung
68
membalikkan badannya dan memberikan pertolongan pertama pada
kakek yang pingsan tersebut. “Hey, Nataly you’re alright?” cemas
Bella sambil memastikan bahwa aku baik-baik saja. “Biar aku saja
yang duduk di pojok, aku takut nanti kau terjatuh lagi.” Ujar Bella.
“Sir, would you please call the emergency and take him to the nearest
hospital. It’s urgent.” ujar laki-laki yang memberikan pertolongan
pertama kepada sang kakek itu dan kini duduk di sebelahku. “We’re
gonna ride, everbody enjoy!”
“Thankyou Shawn,” ujarku
“Hey, nona sinis! Haha, it’s my pleasure.”
“Kurasa kau sudah membalas jasa sepedaku beberapa hari lalu.”
“Wah, Nataly. Kau sudah kenal pria ini?” sahut Bella yang
memotong pembicaraan kami
“Ngomong-ngomong kau bisa berbahasa Indonesia juga?” ujar
Bella
“Tentu saja. Walaupun aku bukan keturunan Indonesia namun
saat aku berusia 16 tahun kedua orangtuaku mengajak berlibur ke Bali
dan di sana sangat indah. Aku langsung jatuh hati pada Indonesia dan
dari situ aku mulai belajar bahasa Indonesia.”
“Oh, jadi kau bukan keturunan Indonesia? Tapi bahasa
Indonesiamu sangat fasih hebat sekali!”
“Tidak, kedua orangtuaku berasal dari Kanada.”
69
“Wah, indah sekali,” ujar Bella yang terlena dengan
pemandangan sekitar dan sibuk dengan handphone untuk mengambil
beberapa gambar sekitar.
“Senang bisa bertemu kau lagi Nataly,” ujar Shawn dengan
selapis senyum tipis di wajahnya yang benar-benar membuat kuyakin
bahwa yang telah tiada memang tak dapat kembali.
Selapis senyum tipisku membalas perkataanya “Shawn, pertolongan
pertamamu tadi hebat juga. Apakah kau seorang dokter?”
“Doctor in progress, Nat.”
“Oh, ternyata kau murid HMU*, pantas saja saat aku tersesat
di HMU* tempat terdekat adalah dorm mu.”
“Iya. Bagaimana denganmu Nat?”
“Kita sama-sama murid Harvard kok, namun aku ambil
business.”
“Pantas saja banyak uang dimukamu.”
“Enak saja kau!”
“So it was such a long journey to be here right?”
“Of course. Aku dan Bella udah berteman sejak SMP dan
kedua orangtua kami pun udah dekat sekali. Bahkan rumah kami saja
hanya berbeda beberapa petak saja. Kami pun punya mimpi yang
sama yaitu kuliah di Harvard ambil jurusan business. Kami berusaha
sangat keras supaya bisa ada di sini dan semenjak kejadian 19 Januari
70
2012 itu, benar-benar membuatku ingin segera meninggalkan
Indonesia. Saat kami mendengar kabar bahwa kami diterima di sini,
yeah it was the best day in my life. Saat hari telah tiba, kami berdua
harus pergi meninggalkan kedua orangtua untuk menggapai mimpi ke
depan.”
“Mengingat saat-saat kami berada hampir seharian di pesawat
dan akhirnya dapat menginjakan kaki pertama kali di Boston. Boston
Logan International Airport benar-benar menghipnotis pandangan
kami dengan latar berwarnakan coklat yang sangat mewah. Bandara di
hari itu sangatlah ramai, kupandangi duka beberapa keluarga yang
mungkin ditinggalkan salah satu anggotanya serta suka bagi mereka
yang akhirnya dapat bertemu kembali. Tak terasa ini udah jadi tahun
kedua kami berada di sini. Aku pernah berpikir, will I survive here?
Dan ternyata aku sama Bella bisa melewatinya,” lanjutku
“Untuk mantan kekasihmu yang memiliki nama sama
denganku, turut berduka cita ya,” ucapnya
“Shawn, kau sering ke sini?”
“Iya, aku suka sekali di sini terutama kalau sedang musim
semi. Matahari benar-benar memaparkan sinarnya, menerangkan
pemandangan indah Boston Common park dengan pohon-pohon
penuh warna yang rindang dan bunga-bunga yang seakan berlomba-
lomba menunjukkan keindahannya saat mekar, ditambah dengan
71
danau di sini yang membuat pikiranmu sangat tenang. Lihat, sebentar
lagi kita akan melewati jembatan itu,” sahutnya sambil mengacungkan
jarinya menuju jembatan berbata putih dengan jaring penyangga biru
serta beberapa lampu yang berjarak beraturan.
“Aku tak tahu mengapa, setiap menaiki perahu ini dan
melewati jembatan tersebut dapat selalu membangkitkan semangatku
dan membuatku berpikir bahwa aku belum menjadi apa-apa sehingga
aku masih harus berusaha keras untuk meraih mimpiku,” ucapnya
sambil memejamkan kedua matanya dan benar-benar merasakannya
saat melewati jembatan tersebut.
“Hello everybody, the ride has finished and thank you!” ujar
sang pengendara swan boat itu.
“Ayo, aku akan menunjukkan tempat indah lainnya di sini,”
ucap Shawn sambil menarik tanganku ke luar dari perahu tersebut.
“Hey, tunggu. Bella ke mana?” ucapku panik
Aku segera mengeluarkan handphone dan menelepon Bella.
“Bel, kau di mana?”
“Hehe, maaf Nat. Tadi di perahu aku ketemu orang terus
ngobrol-ngobrol. Sekarang dia ngajak aku jalan. Ganteng lagi Nat,
tapi gantengan cowo yang nolongin kakek tadi sih.”
72
“Ya ampun Bel. Ngagetin aku aja, dasar kamu ya genit. Ok,
take care. Nanti pulang sendiri ya, terus kamu masih utang traktir
makan siang.”
“Iya, pelit. Tenang aja, aku tutup ya,” ucapnya mengakhiri
pembicaraan kami di telepon
“Sini biar aku yang traktir makan siang. Gimana?” ujar Shawn
“Aku cuma bercanda tadi sama Bella.”
“Udah gak usah malu-malu,” balasnya sambil menarik
tanganku.
Bangunan berbata merah setinggi lima lantai dengan tulisan
putih Neptune Oyster di bagian kaca depan restoran tersebut yang
berlokasi di 63 Salem Street ini merupakan restoran seafood yang
sangat terkenal di Boston. Saat kami menginjakkan kaki ke dalam,
terlihat konsep restoran yang simplebut elegant dengan latar bata putih
yang dihiasi lampu putih bulat. Sofa merah panjang yang menempel di
sisi restoran membentuk huruf L dengan beberapa meja putih serta di
bagian bar terdapat sebuah meja putih panjang yang dilengkapi kursi
bulat berwarna coklat. “Pantas saja restoran ini selalu ramai
pengunjung,” pikirku sejenak.
“Nat, kamu mau pesan apa?” ucap Shawn yang mematahkan
kekagumanku sesaat.
“Aku ikut kamu saja deh, Shawn. Bingung mau pesen apa.”
73
“Two sweet ink risotto, please.”
Risotto berwarna hitam yang dilangkapi dengan saus hijau di
sekitarnya dan dua potong lobster di atasnya serta beberapa garnish
ini memang sangat menarik, rasanya pun sangat lembut dan enak
sehingga menjadi food recommended di hari Jumat.
Kami terus melanjutkan perjalanan hari ini di freedom trail
sampai akhirnya berhenti di Old North Church. “Shawn, ke sini bentar
ya.” ucapku sesaat. Gereja dua lantai dengan latar putih bersih dan
beberapa baris bilik yang dilengkapi sebuah kursi dan beberapa
Alkitab yang dibatasi dengan sebuah aisle merah tua dan dilengkapi
sebuah lampu besar di bagian tengah benar-benar menenangkan
benakku saat masuk ke dalamnya. Kami mengucapkan beberapa doa
permintaan lalu keluar dan melanjutkan perjalanan hari ini.
“Shawn, udah malam nih. Pulang sekarang ya,” ujarku yang
sudah kelelahan seharian mengitari freedom trail.
“Ayo, aku juga sudah lelah sekali.”
Dengan segala tenaga yang tersisa hari ini, kami berjalan menuju
Massachusetts Bay Transportation terdekat.
“Hari ini kami benar-benar menghabiskan waktu bersama,
berbagi tawa di pagi hari bersama cerahnya mentari, dan memberikan
kenangan kelam pada burung untuk ikut dibawanya terbang menjauh,”
pikirku sesaat.
74
“Hey, Nat. Aku pinjam teleponmu sebentar dong. Baterai
handphoneku mati,” ucapnya seketika.
“Nih, shawn. Pegang dulu ya, aku mau beli tiket pulangnya.”
“Oke, Nat.”
***
“Nat, handphonemu bunyi nih. Sepertinya ada yang telepon
deh,” teriak Bella.
“Biarkan saja Bel, masih mandi nih airnya dingin banget.”
“Kamu sih jam 9 baru pulang. Abis nge-date ya!”
“Apaan sih, kamu kali yang ngedate!”
Setelah selesai mandi, aku segera mengecek handphone untuk
memastikan siapa yang menelepon malam-malam.
“Prince ganteng?” pikirku
“Sejak kapan aku memasukan kontak dengan nama “Prince
Ganteng”?”
Seketika handphon-ku berdering tanda telepon masuk dari si
Prince Ganteng yang aku sendiri tak mengenalinya.
“Hallo, nona sinis. Kurasa kini aku bisa mencopot gelar
sinismu,” ujar pria di ujung telepon yang seketika aku langsung
mengenalinya.
75
“Ya ampun Shawn! Bagaimana kau tahu nomor te.. Ah! Aku
ingat! Pasti tadi saat kita di kereta lalu kau meminta handphone-ku
untuk memasukkan nomormu kan! Ah dasar!” oceh ku.
“Kurasa gelar sinismu tak bisa kucopot sekarang. Ngomong-
ngomong lumayan loh kau bisa mendapatkan telepon dari “Prince
Ganteng”, puluhan kilometer deretan gadis mengantre untuk
mendapatkan nomorku.”
“Hah! Alibi saja kau. Prince ganteng itu seperti Shawn Mendes
bukan sepertimu, Shawn..”
“Shawn Fletcher.”
“Sudah ya, udah malam nih, besok ada kelas pagi, takut gak
bisa bangun. Bye.”
“Bye nona sinis, Goodnight,” ujarnya sambil aku mematikan
teleponnya dan bersiap untuk tidur.
***
“Nataly Chloe! Aduh cepat bangun! Ya ampun sudah 10 menit
aku membangunkanmu kenapa dari tadi gak bangun-bangun sih,”
teriak Bella sambil mengguncang-guncangkan badanku.
“Iya, 2 menit lagi ya Bel.”
“HEY! Kau pikir sekarang jam berapa? 10 menit lagi kelas
akan dimulai Nat!”
76
“Apa?” teriakku sambil langsung terbangun dari tempat
tidurku.
“Tunggu sebentar ya, aku mandi dulu!”
“Sudahlah ganti baju saja, pakai parfummu! Kalau kau mandi
kita akan telat!”
“Ah, semua karena Shawn,” pikirku.
***
Tak terasa kini sudah menjadi musim semi kedua saat aku
bertemu Shawn. Setiap malam kami selalu tersambung dalam telepon
dan saat hari libur baru kami bisa berjalan-jalan bersama mengelilingi
kota Boston. Teng Nong Teng Nong.
“Biar aku yang buka Nat,” teriak Bella.
“Eh, Hai Shawn. Ayo masuk, mau ajak Nataly jalan-jalan ya.
So sweet haha.”
“Hai Bel, haha tahu aja deh.”
“Tiap minggu juga kamu ke sini ngajak Nataly jalan. Eh,
ngomong-ngomong kalian tiap minggu jalan kapan jadiannya?”
“Tunggu tanggal main aja Bel, haha.”
“Dasar ya cowok, mainnya rahasia.”
“Nat, turun. Ada Shawn nih,” teriak Bella.
“Hah? Shawn? Aduh sabar dulu. Ini lagi beres-beres dulu,”
teriakku dari lantai atas.
77
“Tuh, kalau cewek lagi jatuh cinta pasti dandannya lama. Lihat
saja ya pasti lebih dari 15 menit dia beres-beresnya,” ujar Bella.
***
“Satu tempat yang terlewatkan,” ujarnya saat kita sudah
sampai di depan sebuah bangunan bergaya modern dengan latar
dominan silver.
“New England Aquarium, ayo masuk aku sudah tak sabar,
banyak orang yang bilang di sini bagus sekali,” ujarku sambil keluar
dari mobil Shawn.
“Nataly, tunggu. Bisakah kau membuka bagasi mobil?
Sepertinya aku harus memperbaiki sesuatu.”
Aku berjalan menuju bagasi mobil Shawn dan saatku
membukanya terdapat sebuah box hitam besar bertuliskan Roger
Dubuis yang berisikan 56 mawar putih yang sangat indah, serta
secarik surat bertuliskan “For : Nona Sinis.” Seketika Shawn berada
di sampingku dan berkata jangan terkagum gitu. Ayo kita masuk.
Tadi kayaknya ada yang tidak sabar mau masuk,” ucap Shawn yang
menyapu kekagumanku sesaat.
Terletak di jalan 1 Central Wharf, New England Aquarium
benar-benar membuatku terkagum dengan segala macam hewan laut
yang terdapat di dalamnya.
78
Aku sejenak melihat ke arah luar. Terlihat awan-awan mulai
mendominasikan biru tua pertanda tugas mentari telah berakhir hari
ini. “Shawn, kayaknya sudah mulai sore deh, lihat tuh,” sahutku
sambil menunjuk ke pemandangan di luar sana.
“Iya Nat, satu tempat lagi yang belum kita kunjungi, ayo ikut
aku,” balas Shawn.
Aku terus berjalan tanpa tujuan, hanya mengikuti langkah
seorang lelaki yang kurasa akhirnya dapat meneteskan warna baru
dalam hatiku yang tak bisa dilakukan oleh seorang sahabat. Tanpa
kusadari ternyata kami sedang berjalan di antara hampara bunga
chamomile, bunga ketenangan. AKu jalarkan kedua tanganku pada
kelopaknya. Membiarkan arus ketenangan mengalir dalam tubuhku.
“Nat, sini,” sahut Shawn yang sudah duduk terdiam di sebuah meja
dan sepasang kursi taman putih dengan sepasang cangkir di atas meja
tersebut. Semakin aku berjalan mendekat, aroma teh chamomile dalam
cangkir tersebut semakin deras membanjiri ketenangan dalam
benakku. Kita duduk. Terdiam. Menikmati aroma ketenangan yang
tak lama akan sirna. Pudar. Menghilang.
“Selama hampir satu tahun kita belajar untuk lebih mengenal,
berbagi, dan saling mengerti. Saling berdampingan saat kondisi apa
pun. Puluhan malamku coba menghitung bintang, berharap mendapat
jawaban dari sebuah pertanyaan. Namun, sebenarnya jawaban tersebut
79
terlihat jelas dalam ukiran senyum di wajahmu Nat,” ucap Shawn
sambil mengunci pandanganku padanya.
Perlahan kedua tangannya mulai mendekap hangat tanganku,
menggenggam erat seakan takkan ada hari esok untuk kami. “Suka
dan duka tercampur ke dalamnya, teraduk rata, terbagi sama rata.
Dinikmati bersama aroma tenang kebahagiaan. Namun, segalanya
tetap kembali pada dirimu sendiri. Berapa banyak gula yang akan kau
ambil untuk dapat menikmatinya?” tanganku bergetar.
Segumpal air mata mulai terjatuh dan membasahi kedua pipiku.
“Akankah kau memberikan gula di cangkir teh kedua ini?” tanya
Shawn sambil mengusap air mata di kedua pipiku.
“Chamomile, tumbuh di daerah terpuruk, namun diberikan
kesempatan kedua untuk tumbuh dengan segala gula kebahagiaan
dalam dirinya hingga menjadi bunga penuh aroma yang indah,”
ucapku perlahan sambil menatapi hamparan bunga chamomile.
Seketika kedua tangan Shawn mendekapku dari belakang, sangat erat.
Dengan kedua tangisan penuh kebahagiaan, kira-kira berapa banyak
gula yang akan kita tabur bersama di cangkir teh chamomile yang baru
ini?
80
Psychopath yang Jatuh Cinta
Karya: Michelle Julieta
Aku terus berlari. Bayangan bermata merah itu terus
mengejarku. Sesekali aku melihat ke belakangku. Tampak seringaian
mengerikan itu semakin dekat. Aku berusaha berlari secepat yang ku
bisa. Menghindari kejaran bayangan itu.
“Son. Jackson.. yak! Jackson bangun!” teriakan itu
membangunkanku dari mimpi buruk itu. Lagi-lagi mimpi itu. Sudah
tiga kali aku bermimpi seperti itu.
“Mimpi buruk lagi?” tanya Mark, teman sekamarku. Aku
mengangguk.
“Hari ini aku tidak berniat masuk sekolah. Kau pergi sendiri
saja,” lanjutku.
81
“Kau yakin? Kudengar ada murid baru. Dia perempuan lho.”
Mark menyeringai tipis. Aku menghela napasku.
“Baiklah, baiklah aku sekolah. Tunggu di depan. Aku mau
bersiap-siap dulu.”
Setelah mengucapkan hal tersebut aku bergegas bersiap ke sekolah.
---
Bel masuk telah berdering dengan nyaringnya. Jackson dan
temannya berlari memasuki kelas. Wali kelas mereka memasuki ruang
kelas bersama seorang gadis manis.
“Anak-anak ini murid baru pindahan dari Prancis. Silakan
perkenalkan namamu,” ucap sang wali kelas.
“Selamat pagi teman-teman. Namaku Clairé. Aku pindah
kemari mengikuti teman baikku. Ia ada di kelas X-E. Namanya Joanne.
Senang bertemu kalian semua.”
Clairé tersenyum kepada semua murid X-C.
“Clairé, kamu bisa duduk di samping Jackson.”
Pak John menunjuk kursi kosong di samping Jackson. Clairé pun
duduk di samping Jackson.
Pembelajaran pun di mulai. Anak-anak fokus mengerjakan
latihan yang diberi guru. Tak lama suara berisik dari anak-anak yang
telah selesai mengerjakan latihan pun terdengar.
82
“Anak-anak, ayo kumpulkan hasil kerja kalian. Yang sudah
selesai boleh bersiap-siap ke pelajaran selanjutnya.”
Seketika meja guru pun penuh dengan murid-murid yang bergerombol
untuk mengumpulkan tugas mereka.
---
Clairé memasuki toilet untuk berganti pakaiannya. Seorang
yang sangat ia kenali keluar dari salah satu kamar toilet. Clairé
menyunggingkan senyumnya.
“C- Clairé...?” Joanne berusaha menutupi ketakutannya.
Senyum itu tampak begitu mengerikan di mata Joanne. Ia harus
berhati-hati. Seluruh sekolah ini harus berhati-hati.
“Hai Joanne. Kita bertemu lagi. Kau tahu? Aku sangat
merindukanmu.” Ucap Clairé. Ia memanyunkan bibirnya, berlagak
imut di depan Joanne.
“Ahaha.. begitukah? Aku juga merindukanmu, Clairé,” Balas
Joanne dengan tertawa canggung. Jujur saja, berhadapan dengan
Clairé adalah ketakutan terbesarnya saat ini.
“Kau tidak mau memelukku? Ayolah, sebagai teman
berpelukan itu hal yang pasti dilakukan untuk melepas rindu.” Clairé
merentangkan tangannya. Meminta Joanne untuk memeluknya.
Joanne terlihat ragu untuk memeluk Clairé walau pada akhirnya
Joanne tetap memenuhi permintaan Clairé.
83