The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Filosofi Teras adalah sebuah buku pengantar filsafat Stoa yang dibuat khusus sebagai panduan moral anak muda. Buku ini ditulis untuk menjawab permasalahan tentang tingkat kekhawatiran yang cukup tinggi dalam skala nasional, terutama yang dialami oleh anak muda.

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Mazyya Sahira Divva, 2022-11-16 11:00:28

Filosofi teras

Filosofi Teras adalah sebuah buku pengantar filsafat Stoa yang dibuat khusus sebagai panduan moral anak muda. Buku ini ditulis untuk menjawab permasalahan tentang tingkat kekhawatiran yang cukup tinggi dalam skala nasional, terutama yang dialami oleh anak muda.

Keywords: filosofi teras

Jika kamu
inginseseorang tak
goyahsaatkrisismengha
ntam,makalatihlahia

sebelum krisis
itudatang.”

Seneca

menghadapikesulita
n
yanglebihbesar.Just
ruketika
DewiKeberuntunga
nsedang
ramahmaka kita
harusmenyiapkan
diri

terhadapmurkanya.

Dimasaperdamaianparatentaralatihanmelakukanmanuver,menggalitanahpadah
altidakadamusuh,danmelelahkandiri

dengankerjakerasyangsebenarnyatidakperlu,agardiaakhirnyasiap
ketikaharus bekerja keras betulan.

Jikakamuinginseseorangtakgoyahsaatkrisismenghantam,makalatihlahias
ebelumkrisisitudatang.”-Seneca[Letters)

Seneca menganjurkan kita berlatih apes, atau “latihan
kemiskinan”[practicepoverty)secara rutin, misalnya makanmakanan
yangsangat sederhana dan murah—bahkan Seneca menyebut “roti
yangsudah keras” sebagai simbol makanan yang sangat sederhana
(yak,kamu yang anak kos juga tidak punya alasan untuk tidak
melakukanritual ini!)—dan memakai baju yang lusuh atau usang. Di masa
kini,latihan ini tidak terbatas pada makan makanan sederhana atauberbaju
jelek saja. Pada intinya, apakah kita bisa melepaskankenyamanan yang biasa
kita nikmati selama beberapa hari? Bagiyang bisa naik mobil pribadi ke sana
sini, cobalah untuk merasakannaik kendaraan umum. Yang biasa naik taksi,
cobalah untukmerasakan naik ojek. Yang biasa tidur di kamar AC, cobalah
untuktidur dengan udara alami. Yang biasa tidur di kasur spring
bed,cobalah tidur di kasur tipis, atau bahkan di lantai beralas tikar.
Yangbiasa memakai smartphone, cobalah untuk...puasa internet?
[Hayo,berat kan?) Masih banyak lagi kesempatan untuk melatih
kesusahandan kemiskinan—hidup jauh di bawah standar kenyamanan kita—
jikakitamau.

Saatmelakukaninisemua,cobarenungkan,apakahhidupmelaratinisungguh-
sungguh menakutkan? Apakah kondisi berkekurangan iniadalah sebuah
bencana besar dalam hidup kita ataukah saat dijalaniternyata tidak
semenakutkan yang kita pikir? Karena ternyata, kitatetap bisa hidup dengan
makanan sederhana. Atau, ternyata tidakada yang peduli dengan baju bagus
kita. Atau, ternyata kita masihbisatidur tanpasegalafasilitas berlebih.

"Lakukan ini semua selama tiga atau empat hari, atau lebih lama,sehingga
ini bisa sungguh menjadi ujian bagimu dan bukan hanyahobi. Percayalah,
kamu akan bersukacita dengan makanan murah,dan kamu akan mengerti
bahwa damai pikiran seseorang tidakbergantung pada Dewi Keberuntungan
(kemakmuran),
karenabahkansaatmurkapuniamemenuhikebutuhankitadengancukup",lanjut
Seneca.

Menurut William Irvine di dalam bukunya A Guide To Good Life,
adabeberapamanfaatdari"latihankesusahan"ini.Yangpertamaadalah

melatihdirikitamenjadilebihtangguh.Bagaikantentarayangberlatihsusah payah
di masa damai, sehingga ketika pertempuran yangsebenarnya terjadi, mereka
sudah siap menghadapinya. Ingat bahwakekayaan adalah hal di luar kendali
kita. Siapkah kita jika itu semuamendadak direnggut dari kita (ketika Dewi
Keberuntungan
marahkepadakita,misalnyadenganmengirimkanperampok,kebangkrutan,benca
na alam)? Dengan berlatih kemiskinan secara rutin, kita akanmenjadi lebih
tangguh menghadapisituasi apa pun.

"Kita akan melatih jiwa dan raga ketika kita membiasakan dirikita
dengan dingin, panas, haus, lapar, kekurangan
makanan,dipanyangkeras,menahandiridarikenikmatan,danmenjalanike
sakitan.” -MusoniusRufus[Lettersand Sayings)

Manfaat kedua dari practice poverty, menurut Irvine, adalah
untukmembentuk rasa percaya diri, sehingga kita bisa menanggungmusibah
dengan tabah dan kuat. Seperti dikatakan Seneca, saat kitamenyadari bahwa
ternyata kita cukup kuat untuk menanggunglatihan-latihan ini, perlahan kita
menjadi lebih pede. Seandainya saatini kita dianugerahi kekayaan dan
rejeki lain, kita bisa berkata, "Jikaharus jatuh miskin pun,saya
tidakakanhancur."

Manfaat ketiga adalah melawan fenomena yang disebut ilmupsikologi
sebagai hedonic adaptation, atau "adaptasi kenikmatan".Para psikolog
menemukan bahwa apa pun yang membuat kitasenang (uang, ketenaran,
seks, harta benda, dan lain-lain) padaakhirnya akan kehilangan
kenikmatannya seiring berjalannya
waktu.SebuahpenelitianterhadapparapemenangloterediAmerikaSerikatmene
mukan bahwa 18 bulan sesudah memenangkan lotere, parapemenang lotere
tidak lebih bahagia daripada mereka yang tidakmenang. Penjelasannya
adalah, pada akhirnya kita akan beradaptasidengan hal- hal baru yang
tadinya membuat kita bahagia. Rasanyatidakperlujauh-
jauhuntukmencaricontohdarihidupkitasendiri.
Saatmemenangkankejuaraan,lulusdengannilaitertinggi,mendapatkenaikan
jabatan (dan kenaikan gaji), membeli tas atau gadget baru,atau bahkan
mendapat pacar/suami/istri baru, pada awalnya
kitasenangsekalidangrafikkebahagiaankitamengalami peningkatan.
Namun, seiring berjalannya waktu, maka kenikmatan yang kitarasakan
perlahan turun, dan kita kembali ke kebahagiaan di awalIbase level). Hal
ini karena kita mulai terbiasa dengan
kenikmatanbarukita.Gajibarukita,jabatan
barukita,gadgetbarukita,sampaipacar/suami/ istri baru kita perlahan menjadi
norm baru, tidak lagimenjadi spesial.

Menurut Irvine, practice poverty bisa membantu kita melawanadaptasi
kenikmatan tersebut. Dengan rutin “mengguncang” baselevel diri sendiri,
maka kita kembali menghargai apa yang telah
kitamiliki.Jikakitaterbiasamakanenak,makasaatmenghabiskanwaktuuntuk
makan makanan yang tidak enak dan sangat sederhana, kitajadi kembali
mengapresiasi makanan enak yang kita konsumsiselama ini. Saat terbiasa
naik kendaraan pribadi, dan kemudianmerasakan berdesakan bersama orang
lain di kendaraan umum, kitaakan kembali "menemukan” nikmatnya
kendaraan pribadi. Saatmemakaibusanamurahberbahan kasar,kita akan
kembalimenghargai pakaian bagus yang kita miliki. Saat kita
menemukankembali nikmatnya segala sesuatu yang telah kita miliki, maka
kitapun bisamerasalebih bahagia.

Di antara begitu banyak kenikmatan dan fasilitas dari kehidupanmodern,
makanan (food) mungkin adalah ujian terbaik mengenaipengendalian diri
(self control). Makanan relatif tersedia di mana-mana, dengan berbagai
kualitas dan harga. Mengenai
makanan,salahsatufilsufStoabernamaMusoniusRufusmemilikiprinsipyangum
um kita dengar sekarang sebagai "makan untuk hidup, bukanhidup untuk
makan”. Bagi Musonius, makanan ada hanya untuksekadar mempertahankan
hidup dan bukan sebagai sumberkenikmatan. "Bahwa Tuhan menyediakan
makanan dan
minumanhanyauntukmempertahankanhidupdanbukansumberkenikmatan,dap
at dibuktikan dari ini: ketika makanan menjalankan fungsinya(dalam
pencernaan dan penyerapan), ia tidak
memberikankenikmatanapapunbagimanusia.”[TheDailyStoic].Walaupunkit
a

menikmati rasa makanan di lidah, manfaat sesungguhnya darimakanan
justru baru kita terima di dalam perut dan sistempencernaan. Konsisten
dengan ajarannya, Musonius Rufus dikenalhanya makan tumbuh-
tumbuhan dan hasil dari susu, dan dia tidakmakan daging.

Musonius Rufus tampaknya tidak akan menjadi filsuf yang populer
dikalangan foodies dan food blogger\ Walaupun tidak semua dari kitabisa
mengikuti anjuran Musonius Rufus sepenuhnya (saya kebetulanpenganut
"makan untuk hidup, bukan hidup untuk makan”, makanyasaya paling tidak
rewel soal makanan), tetapi ada pesan lebih dalamyang bisa dihayati semua
orang, pencinta kuliner dan food bloggersekalipun: jangan sampai kita
diperbudak oleh makanan, baik darisegi kualitas (selalu hanya ingin makan
yang enak dan mewah),maupun segi kuantitas (makan berlebihan, melebihi
yang diperlukanoleh tubuh untuk tetap sehat). Di bab akhir mengenai
latihan prinsipStoisisme yang bisa kita lakukan, kita akan melihat contoh
praktikmelatih diri mengurangi ketergantungan pada makanan
yangsekaligus memilikimanfaat kesehatan.

Jika kita telah mampu melakukan practice poverty secara rutin,Seneca
mengingatkan kita untuk tidak merasa "bangga",
denganmengingatstatushidupkita.Bagaimanapun,merekayangmampumela
kukan ritual ini adalah mereka yang tidak harus menghadapikelaparandan
kemiskinansetiap hari.

"Tidakadaalasanbagimuuntukmerasahebat(melakukanhalini semua);
karena kamu hanya menjalani apa yang dijalankanribuan budakdan
orangmiskinsetiap hari.
Namun, kamu boleh sedikit memuji dirimu untuk ini:
bahwakamumelakukannyabukankarenaterpaksaolehkeadaan,danbahw
a kamu mampu melakukan ini secara permanen semudahkamu
melakukannya secara kadang- kadang...Biarlah kitamenjadi akrab
dengan kemiskinan, sehingga Nasib tidak bisamenyergap kita tiba-
tiba. Kita akan bisa lebih menikmati rejekikita, saat kita menyadari
bahwa kemiskinan bukanlah beban."(Letters)

Menurut saya, inilah manfaat terakhir dari "Latihan Kemiskinan".Untuk
mengajak kita (yang lebih beruntung) sesekali keluar darikenyamanan yang
telah kita anggap "normal”, dan menyadari
adajutaanoranglainnyayangtidakseberuntungkitadanbisamerasakanapa
yangmerekalaluisetiaphari.

HalanganadalahJalan

Jika kita kembali pada fundamental dikotomi kendali, kita akanmenyadari
bahwa hampir semua jalan hidup ini ada di luar kendalikita. Sebagian
memang bisa dipengaruhi oleh pilihan- pilihan kita(pemilihan teman,
pemilihan pasangan hidup, pemilihan pekerjaan,pemilihan tempat tinggal,
pemilihan sekolah, dan lain-lain). Namun,sebenar-benarnya, hasil atau
outcome dari pilihan kita banyak sekalibergantung pada faktor eksternal.
Hanya pikiran, interpretasi,strategi, dan keputusan kitalah yang masih
benar-benar di bawahkendali kita.

Inilah uatanpikirankita

Keuletandan ketangguhan

•w sejati bukan datang dari
•w
Ototatau Uang yang kita
•w
•1 miliki,tetapidari

pikiran(mind)kita.

yangbisamengubahhalangan

menjadijalanitusendiri.Marcus Aurelius menyebutkan bahwa “halanganadalah

jalan” [the obstacle is the way). Sebuahpermainan kata
yang menarik. Secara
definisi,“halangan”bukanlahjalandanjustrumengganggusang
jalanbukan? Inilahpenjelasanbeliau:

“Karenakitabisamenerimadan
menyesuaikan diri. Pikiran kita bisa beradaptasi dan
bisamengubahhalanganagarjustrumendukungtujuan.Halanganterhada
p tindakan kita justru memajukan tindakan kita. Apayang
menghalangi jalan kita menjadi jalan itu sendiri.”[Meditations]

Keuletan dan ketangguhan sejati bukan datang dari otot atau
uangyangkitamiliki,tetapidaripikiran [mind]kita.Inilahkekuatanpikirankita
yang bisa mengubah halangan menjadi jalan itu sendiri.
Theobstaclebecomestheway.KisahSteveJobsmengingatkansaya

padahalini.SteveJobsmendirikanAppleditahun1976, dan9tahunkemudian dia
dipecat dari perusahaan yang didirikannya, padahalkomputer yang
diluncurkannya cukup populer. Bagi banyak orang,dipecat daritempatbekerja

(apalagi dari perusahaan yang dia dirikan sendiri!) adalah
sebuahbencanabesar.Akantetapi,peristiwayangbagikebanyakanorangadalah“hala
ngan”initernyatamenjadi jalanbarubagiSteve.

"Dipecat dari Apple adalah hal terbaik yang pernah terjadi padaku”,ujar
Steve Jobs dalam pidato kelulusan di Stanford Universitybertahun-tahun
kemudian. "Beratnya beban sukses, digantikandengan rasa ringan menjadi
pemula lagi,” tambahnya. Setelahdipecat, Steve mendirikan perusahaan
komputer baru NeXT, dankemudianPixar(yangkitakenaldenganfilm-
filmproduksinyasepertiToy Story, Up, Cars, dan The lncredibl.es]. Kira-
kira satu dekadesesudah dipecat, Steve Jobs kembali ke Apple, dan
kemudianmenghasilkan inovasi- inovasi ikonik yang telah dikenal
jutaanmanusia, sepertiiPod, iTunes,iPhone,daniPad.

Mungkinpembacasaatinisedangmerasakankesulitandalamhidup,atau sedang
merasa jalannya terhalang. Bisa jadi, apa yangdirasakan sebagai halangan
justru adalah jalan yang baru. Untukmenemukanini, kitaharus
kembalikepikiran kita sendiri.

"Kamu sungguh sial jika kamu tidak pernah tertimpa
musibah.Karenaartinyakamumenjalanihiduptanpapernahmenghadapi'lawa
n'. Tidak ada yang tahu kemampuanmu sesungguhnya—bahkan dirimu
sendiri tidak."-Senece(OnProvidence]

IntisariBab8:

• Dalam Filosofi Teras, musibah' dan 'kesusahan’
adalahopini/va/uejudgementyangditambahkanolehkitasendiri.

• Walaupunmusibah,bencana,dankesusahanyangmenimpasering kali
berada di luar kendali kita, respon kita
atasnyasepenuhnyaadaditangankitasendiri.

• Filsuf Stoa melihat semua kesusahan sebagai
kesempatanmelatihwrtue/arete/kebajikankita.Saatkitatertimpakesusaha
n,kitabisamemikirkan virtueyangbisadilatiholehkeadaan ini.

• Saattertimpamusibahdankesusahan,waspadaipolapikir3Pyangmerusa
k (Personal,Pervasive, Permanence).

• Kitabisamengalahkancobaandanpenderitaandengan

bertahan menanggungnya (endure), bagaikan atlet
dipertandingan yang dengan keras kepala membuat
lelahlawannya.
• Latihan menderita (poverty practice) selain membantu
kitamenghadapikesusahanyangsebenarnya,jugabisamembuatkitakem
bali mensyukuri apa yang sudahkitamiliki.
• Halanganbisamenjadijalan,daninitergantungkepadapikirankita.

BABSEMBILAN

Menjadi
OrangT
ua

/strisayapernahmembicarakanbagaimanakamibisamemastikananak
kami yang masih kecil (saat buku ini ditulis) bisa
tumbuhmenjadianak yang tidak durhakakepada orang tua.
Keprihatinannya muncul mendengar kisah-kisah orang tua
yangdicampakkan oleh anak-anak mereka saat sudah dewasa,
bahkanketika orang tua ini sudah berusia lanjut, sakit-sakitan, dan
sangatmembutuhkan perhatian. Saya sendiri tidak punya jawaban
yangpasti.Sekadarmenyediakankasihsayang,perhatiandanmateriyang
cukup tidak menjamin kita membesarkan anak yang peduli
padaorangtuanya kelak. Saya jadi terpikir, adakah yang bisa ditarik
dariFilosofi Teras untuktopik membesarkananak?

Berdasarkan Survei Khawatir Nasional di Bab I, salah satu
sumberkekhawatiranadalahmenjadiorangtua.Sesudahsayamenjadiorangtua
juga barulah saya bisa mengerti mengapa peran ini benar-
benarbisamenjadisumberkekhawatiran.

Ketika saya bermain dengan anak saya (saat buku ini ditulis dia baruberusia
satu setengah tahun), ribuan pikiran tentang masa depannyamelanda: apakah
dia akan tumbuh menjadi remaja yang baik ataumenyusahkan orang tua?
Apakah dia akan tumbuh cerdas danberprestasi? Apakah dia akan bergabung
dengan teman-teman
yangmemilikipengaruhburuk?ApakahdiaakanpunyapacarkecesepertiVictoria
Secret Angels? Dan ribuan pikiran lain, dari yang pentingsampai
gakpentingbanget.

Saya bukanlah seorang pakar pendidikan atau psikolog anak(karenanya di
akhir bab kita akan ngobrol dengan seorang psikologanak), dan sebagai orang
tua pun saya tidak bisa dibilang sudahmemiliki banyak pengalaman. Namun,
saat menulis buku ini, sayatergelitik untuk mengetahui apakah Filosofi Teras
bisa diterapkan
didalamparentingjuga.Sayatidakmenemukancukupbanyakreferensimengenai
Stoisisme dan parenting, jadi berikut ini lebih banyak dariinterpretasi
sayasendiri.

Tentunya,sayaberharapbagianinibisamenjadipemicubagiparapakarpendidikand
anpsikologanakyangmembacabukuiniuntukmeneliti apakah prinsip-prinsip
dalam Filosofi Teras sungguh bisamembantu kita menjadi orangtua yanglebih
baik.

226

BiasakanMenggunakanNalar

Hidup haruslah selaras dengan Alam /Nature). Jadi, konsekuensipertama
dari prinsip ini adalah belajar menggunakan nalar. Bagi saya,artinya sejak
kecil anak saya bisa dibiasakan melakukan
pilihanberdasarkanpertimbangannyasendiri,tentunyadalamkapasitasyangsesu
ai dengan tahap perkembangannya. Di bagian wawancara diakhir bab kita
akan mendapatkan beberapa tips dari psikologpendidikanmengenaipenerapan
halini.

Konsekuensi anak bisa menggunakan nalar berarti kita harus
mampumemberdayakan mereka untuk belajar berpikir,
mengumpulkaninformasidandata,danmenarikkesimpulansendiri.Anakkecilser
ingbertanya, "Kenapa?", saat kita meminta mereka melakukan sesuatu.Jika
mereka dibentak, "SUDAH NURUT SAJA PADA ORANG TUAGAK
USAH NANYA- NANYA!”, rasanya tidak memberi merekamotivasi
untukberpikirsendiri.

Memberi penjelasan tentunya lebih membutuhkan waktu dan tenagabagi
orang tua, tetapi seharusnya memberi contoh yang lebih
baikdaripadasekadarmembentakmereka.Anakdibiasakanmengertiadaalasan di
balik setiap permintaan, dan perlahan mulai belajarmencerna alasan dan
pertimbangan di balik sesuatu. Sebaliknya,anak juga dibiasakan untuk
memiliki pertimbangan dan alasan yangbaiksebelummemintasesuatu
kepadakita.

MenerapkanDikotomiKendalikepadaAnak?

Apakah kita sudah mulai melatih anak untuk menerima ada hal-halyang
memang di luar kendalinya? Misalkan, rencana bersenang-senang keluar
rumah harus dibatalkan karena hujan deras. Apakahkita akan marah-marah
atau mengomeli cuaca di depan sang
anak("SELALUSAJAKALOPAPAMAUPUNYAACARAHARUSKENA
HUJAN! DASAR CUACA KAMPRET!"/? Atau kita dengan
tenangmenerimanyadansegeramencarirencanalainyangdibawahkendalikita("W
ah hujan, yabagaimana.Yuk,cariide aktivitas lain!")?

227

Dalam artikel di The Independent berjudul "Parents of SuccessfulKids
Have These 11 Things in Common" disebutkan bahwa salahsatu
kebiasaan orang tua dari anak-anak sukses adalah menghargaiusaha lebih
dari “menghindari kegagalan". Psikolog StanfordUniversity Carol Dweck
menjelaskan, bahwa anak-anak (dan
jugaorangdewasa)memilikiduakonsepyangberbedamengenaisukses.

Mentalitas pertama, "Fixed mindset" (mentalitas “sudah
tetap"),mengasumsikan bahwa karakter, kecerdasan, dan kreativitas
bersifatstatis/tidakberubah.Karenanya,suksesmenjadi"bukti"akankualitas-
kualitasitu.Akibatnya,anakdanorangtuayangmemilikimentalitasini akan
berjuang mati- matian meraih sukses dan menghindarikegagalan agar bisa
mempertahankan persepsi saya/anak saya“pintar". Kegagalan dianggap
mengancam realitas bahwa sang anakadalah anakyang“pintar”.

Mentalitas kedua adalah "growth mindset" (mentalitas
bertumbuh).Mentalitas ini justru menyukai tantangan. Kegagalan tidak
dilihatsebagaibukti"kebodohan”,tetapisebagaibatuloncatanyangperluuntukpert
umbuhanmentaldanmeningkatkankemampuan kita.
Kecerdasan dan kreativitas dilihat sebagai sesuatu yang
bisadikembangkan Igrow), dan bukan paket pemberian yang
sudahabsolut.

Contoh perbedaan kedua mentalitas ini adalah bagaimana
kitamemujianaksaatmerekasukses,misalnyameraihnilaiujianyangbagus.
Jika kita berkata, "Wah, nilai kamu bagus sekali. Kamumemang anak
yang pintar\", ini akan melahirkan anak bermentalfixed. Anak mulai
tumbuh dengan persepsi bahwa dia memangterlahir pintar.

Lho, memang apa salahnya jika anak mengira dirinya pintar? Hal
inibisaberpotensimenjadiduamasalah.Yangpertama,jikadiaakhirnyamengala
mikegagalan(kejadianyangsangatmungkin dalamkehidupan nyata), fixed
mentality bisa membuatnya terguncang1"Katanya saya pintar...kok saya
gagal?") Kedua, fixed mentality
bisamengurangimotivasiuntukberkembang,karenakepandaiandianggap
sebagaisuper poweryangsudahtertanamsejak kecill"Saya kan pintar, untuk
apa susah payah belajar lagi, saya pasti bisakok...").

Alternatiflainmemujiprestasianakadalahdenganmemujieffort
(upaya),misalnya,"Wah,nilaikamubagus sekali.Kamupastisudah

FILOSOFITERAS 228

bekerja keras untuk bisa mendapatkannya." Ketika suksesdiatribusikan ke
upaya dan kerja keras, kita memberikan pesanbahwa kecerdasan dan bakat
bukan sesuatu yang statis, tetapi bisaterus diasah. Inilah yang dimaksud
dengan pola pikir growth(bertumbuh). Anak dan orang tua percaya bahwa
kemampuan diribisa ditumbuhkan terus. Kegagalan tidak dilihat sebagai
indikatorseseorangterlahir"bodoh",tetapisebagaihambatansementarayangbisa
dilampauidenganusaha.

Konsep fixed mindset vs. growth mindset ini sangat kompatibeldengan
dikotomi kendali. Di awal, Filosofi Teras sudah mengajarkanbahwa
kesuksesan sesungguhnya tidak (sepenuhnya) berada dibawah kendali kita.
Saat anak terobsesi pada meraih sukses (ataumenghindari kegagalan),
padahal kedua hal ini banyak
sekalidipengaruhifaktoreksternal,apakahanakdisiapkanmenjadirealistis?Saat
dia meraih sukses, apakah itu akan membuat dia menepuk dada"Ha, ini
karena saya memang pintar”, dan saat gagal meratapi, "Inisemua karena
saya bodoh”? Dengan mengalihkan fokus pada hal-halyang berada di
bawah kendali (belajar sungguh- sungguh, berlatih,rajin), kita memberikan
anak sesuatu yang bisa mereka kendalikandan tingkatkan, dan kegagalan
bukan berarti vonis atas karaktermereka.

Kita juga bisa mulai memperkenalkan "kendali” secara perlahankepada anak.
Misalnya dari hal-hal kecil, seperti menentukan maumainapahariini,
ataumaumemakaibajuapahariini.Sebaliknya,kita juga mulai menjelaskan hal-
hal di luar kendali dari hal-halsederhana, misalnya saat cuaca buruk
menghalangi acara bermain.Atau, saat si anak sakit sehingga tidak bisa
bersekolah danketinggalan mata pelajaran. Kita bisa menunjukkan sikap
tidak streskarena sakitnya itu sendiri (sesuatu yang di luar kendali orang tua
danjugasianak),danlebihmemfokuskanpadabagaimanabisamengejarketertingg
alan,misalnya.

Semakin bertambah usia sang anak, tentunya percakapan yang kitamiliki
bisa lebih kompleks dan mendalam. Kita bisa bersama-
samamembahastentangdikotomikendali;

mengajarkanuntuktidakterobsesidanmengharapkankebahagiaandari hal-hal di
luar kendali, belajar tidak terlalu mencintai hal-halseperti kekayaan atau
ketenaran, dan belajar untuk mengendalikanpikiran kita. Anak yang lebih
dewasa juga bisa diajarkan bahwa diapunyakendalisepenuhnyaatasemosinya,
danbagaimanasebisa

229 HENRYMANAMPIRING

mungkindiatidakterlalureaktifpadaperistiwadisekitarnya.

DikotomiKendalibagiOrangtua

Mengajarkan dikotomi kendali kepada anak adalah satu hal, tetapimenerapkan ke
diri sendiri adalah hal lain lagi. Apakah kita
mampumenerapkandikotomikendalikedirikitasendirisebagaiorangtua?

Menerapkandikotomikendalitidakhanyasekadarurusanmemahamihal-hal
mana yang ada di luar kendali kita, tetapi juga kerelaan untuk“melepas ilusi
kendali" tersebut. Sebagai orang tua, rasanya melepassebagian kendali
menyangkut anak adalah hal yang paling sulitdilakukan. Saya pun pasti
harus melalui ujian tersebut. Ini mungkinbisa menjadi salah satu jawaban
terhadap tingginya kekhawatiranparaorang tua mengenaiperan ataupun
anak-anak mereka.

Seperti apa dikotomi kendali bagi orang tua? Ada sebagian haltentang anak
kita yang ada di dalam kendali kita, ada sebagian lagiyang tidak di dalam
kendali kita. Ada beberapa hal yang bisa kitakendalikan, misalnya nutrisi,
dana pendidikan, dana kesehatan,pilihan sekolah (sampai usia di mana
mereka mau memilih sendiri),pendidikannilai-
nilaiagama(kalaukitamau),pendidikanbudayadanetika, pendidikanfilsafat
(!),danlain-lain.

Yanglebihberatditerimaadalahhal-
halyangseharusnyasudahdiluarkendalikita.

• Kesehatan mereka. Kita memang bisa memilihkan nutrisi danimunisasi
bagi mereka, tetapi pada akhirnya datangnya
penyakittidakbisasepenuhnyakitatangkal.Apalagikecelakaanyangbisame
nimpa anak kita. Tidak hanya di jalan raya, di lapangan
basketatausepakboladidalam sekolahpun anakkitabisacedera.

• Minat dan hobi mereka. Apakah kita rela mereka memiliki
hobiapapun?Ataukahdiam-
diamkitainginmerekamenekunihobitertentusaja?

• Aspirasistudi/kuliah.Apakahkitamendukungjikamerekainginkuliah
jurusan tertentu, yang mungkin tidak sesuai denganambisi dan
impian kita sebagai orang tua? Kita mungkin bisamencoba
membujuk dengan argumen, tetapi apakah kita akanmembiarkan
sang anak menentukan sendiri pilihannya? Atau,kita akan memaksa
mereka wajib mengambil bidang
studitertentu(denganalasan,kansayayangbayarin kuliahnya?)

FILOSOFITERAS 230

• Pilihan pacar sampai pasangan menikah. Jengjengi
MungkinkondisidarizamanSitiNurbayabelumbanyakberubahsampaiha
ri ini. Masih ada orang tua yang ingin memiliki “hak suara"dalam
pemilihan pasangan hidup. Terkadang, orang tuamemiliki kriteria-
kriteria tertentu yang bisa sangat membatasi:harus dari suku tertentu,
harus dari latar belakang keluargatertentu, harus dengan yang
berdomisili di kode pos tertentu(kanlumayankalaualamat
besandiperumahantajir .......................................................... ),harus
tinggi badan tertentu, dan lain-lain. Hati dan perasaan si
anaktentunyaadalahmiliknya.Sampaisejauhmanamasihinginkitakendalikan?

• Bahkan, sesudah sang anak berkeluarga pun masih
banyakorangtuayanginginmengendalikanhidupsianak.Mulaidarimas
akan apa yang harus dibuatkan menantu, nama
anak,sampaicaramelipatpopoksicucu,danlainsebagainya.

Tapi kan maksud kita baik?! Filsuf Stoa akan berkata bahwapoinnya
bukanlah “maksud”-nya /intention), tetapi bahwa kita harusbersiap
terhadap kekecewaan, kemarahan, air mata, dan rasafrustrasi ketika kita
memelihara ilusi bisa mengendalikan
kehidupananakyangtidakberadadibawahkendalikita.Trikotomikendalidari
WilliamIrvinerasanya sangatrelevanditerapkan.

231 HENRYMANAMPIRING

Usahakanlahagarkamu k
k
meninggalkananak- k
anakyangterdidik
denganbaikdan k

bukannyakaya(harta),karena

mereka yang terdidik

memilikiharapanyanglebihbaik

darikpeakdaayaansibodoh(ignorant)”- ■ P'
W

Epictetus(Discourses).

Sebagai contoh, misalnya urusan memilih bidang studi. Tentu orangtua
memiliki perspektif tertentu mengapa ingin si anak memilih kuliahtertentu,
berdasarkan pengetahuan dan pengalaman orang
tua(misalnyadenganmeyakinikarier/profesitertentuakanlebihmenjaminpenghi
dupan si anak kelak). Dalam model trikotomi kendali,
pilihanakhirsanganaktetaplah miliknyadan tidakdibawahkendalikita.
Namun, kita bisa fokus pada tujuan internal /internal goal),
yaitumenerangkansebaik-baiknyamengapaanak
harusmempertimbangkansebuahjurusan,dengansemuaaspekpositifnya.

Jikakitasudahsampaiditahaptersebut, berartikitasudahcukup

berbuat dan bisa "berpuas diri”. Namun, keputusan terakhir ada
ditangansanganak.Begitujugadalampilihanpasanganhidup.Pilihanhati bukan
di bawah kendali kita, tetapi kita bisa berbagi pengalamankita dalam urusan
relationship dan memberi nasihat dari perspektifkita.Sudah,sampaidisitu
saja.

MembekalidenganKebijaksanaan,bukanHarta

"Usahakanlahagarkamumeninggalkananak-anakyangterdidikdengan baik
dan bukannya kaya (harta), karena mereka yangterdidik memiliki
harapan yang lebih baik daripada kekayaan sibodoh/ignorant)" -
Epictetus/Discourses).

"Terdidik” di sini memiliki makna yang jauh lebih luas dari
sekadarpendidikan formal, tetapi mencakup pendidikan nilai- nilai dan
filsafathidupyangseharusnyadatangdariorangtua.Etoskerjakeras,jujur,memp
erlakukan orang lain dengan baik, bangkit dari kegagalan, danlain-lain.

Tidakkah kita melihat etos kerja tersebut di banyak kisah inspirasiorang-
orangyangsukses?Merekamenjadiulet,tangguh,tidakmudahputus asa, bijak
dalam memperlakukan orang lain—semua itu karenaditanamkanoleh
orangtua sejakkecil? MenurutEpictetusmeninggalkan bekal ini kepada anak
jauh lebih baik daripadameninggalkan warisan hartakekayaan kepadaanak
tanpakebijaksanaan.

PendidikanbagiAnakLaki-lakidanPerempuan

"Tidak ada macam kebajikan yang hanya untuk laki-laki
dankebajikanlainuntukperempuan.Seoranglaki-lakiharusmemilikiakal
sehat, begitu juga perempuan. Apakah gunanya seoranglaki-laki dan
seorang perempuan yang (sama-sama) bodoh?” -Musonius
Rufus[Lectures]

MusoniusRufusmembahaskhususmengenaipendidikanlaki-lakidanperempuan.
Menurutnya, laki-laki dan perempuan sama dalam hal-halberikut: kemampuan
bernalar [reasoning], pancaindra dan anggotatubuh, keinginan untuk
kebajikan, keinginan untuk perbuatan baik, danketidaksukaan akan kejahatan.
Dia tidak percaya bahwa ada nilai-nilaikebajikan yang berlaku hanya untuk
laki-laki. Karenanya,
Musoniusmenyimpulkanbahwaperempuanjugaharusmendapatkanpendidikan

yangsama,baikpendidikannilai-nilai/filosofimaupunpendidikanakademis.

Pandangan yang telah lahir 2.000 tahun yang lalu ini sangat majuuntuk
zamannya, dan sungguh kontras dengan pandangan banyakorang tua masa
kini yang masih menganggap anak perempuan tidakperlu belajar setinggi
anak laki-laki. Alasannya umumnya
adalahkarenaanakperempuanakanmenikahdanhanyafokuspadaurusanrumah
tangga saja. Alasan lain adalah takut tidak ada laki-laki
yanginginmenikahdenganperempuan yangberpendidikan tinggi.

Padahal, sesungguhnya banyak sekali keuntungan bagi istri dan
ibuuntukmemilikilatarbelakangpendidikan.Selainbisamengajarianak-anaknya,
istri berpendidikan bisa menjadi backup tulang punggungkeluarga jika terjadi
apa-apa dengan suami (pendidikan
membantudalammencaripekerjaanataupunmelakukanbisnis).

PentingnyaAnakBersosialisasi

PenerapanlaindariFilosofiTerasdalamparentingadalahmenyadaripentingnya
anak tumbuh dengan pengalaman sosialisasi yangmemadai. Hal ini
dikarenakan salah satu prinsip dasar Filosofi Terasadalah manusia sebagai
makhluk sosial. Hidup selaras dengan Alamjugaberarti anak
harusdibiasakanhidup bersosialisasi.

Interpersonal skill, atau keahlian hubungan antarmanusia sering
kalidianggap sebagai soft skill, keahlian yang tidak terlalu penting,
kalahdengankeahlianmatematika,fisika,bahasaInggris,danlain-lain.
Walaupun keahlian-keahlian dalam aspek kognitif tetaplah
penting,semakinbanyakorangsetujubahwakemampuanberinteraksisosialdan
bekerja sama dengan orang lain adalah faktor yang tidak kalahpenting dalam
menunjang kesuksesan seseorang. Kita juga sudahmengetahui bahwa
hubungan sosial mendapat perhatian dari parafilsufStoajuga.

Sebagai orang tua, saya mengartikan bahwa porsi relasi sosial iniharus
diperhatikan dan ditumbuhkan dalam anak sejak kecil. Sayasering
mendengar kisah anak-anak yang kesehariannya tenggelamdari satu kursus
ke kursus yang lain: matematika, renang, balet,taekwondo, programming,
dan lain-lain. Jika kegiatan-
kegiatantambahanitumembukapeluangsianakberhubungandenganoranglainte
ntunyatidakapa-apa.Akantetapi,jikaanak terlalubanyak

diikutkandalamkegiatanyangbersifatindividudansolitary(sendirian),misalnya
terlalu banyak bermain game, maka dia mungkin tidakmendapat banyak
kesempatan berinteraksi dengan anak lain,
belajarberkomunikasi,bekerjasama,termasukmerasakankonflik(danbelajarmen
gatasinya).

Di tengah tren temperamen introver, latihan hubungan sosial ini
tidakberlakuhanyakepadaanak-
anakekstrover.Anakintroverpunmemilikikebutuhan berhubungan dengan anak-
anak lain, walaupun mungkinfrekuensi, durasi, dan jumlah interaksinya
berbeda dengan anak-anakyang bertemperamenekstrover.

Kita bisa tetap membina keahlian sosial bagi anak introver, denganmemilihkan
kegiatan sosial yang tepat (misalnya aktivitas kelompokyang kecil,
dibandingkan kelompok besar.) Atau, kegiatan
yangmemberikesempatansianakuntukmelakukanrefleksidanpemikirandan tidak
dipaksa “berbagi”di depanbanyakorang.

MelatihAnakMenghadapiPerlakuanBuruk

Sama seperti Stoisisme mempersiapkan kita untuk hidup denganperilaku
buruk dari orang lain, kita bisa mulai mengajarkan prinsip-prinsip yang sama
kepada anak. Prinsip S-T-A-R bisa mulaiditeladankan ke anak. Jika kita
sendiri sebagai orang tua cepatemosional mendengar perlakuan anak lain
kepada anak kita, maka initeladanyang juga akandipelajarinya. Contoh:

• Adi:“Pa,masaktemenAdibilangtampangAdikayakmonyet..."


AyahAdi:"Ohya?MAMAAAAA,MANAGOLOKPEMBUNUH
NAGAWARISANENGKONG????"

JikaperistiwainimenimpaEpictetus,Seneca,atauMarcusAurelius,
mungkin diskusinya menjadi sepertiini:

• Adi:“Pa,masaktemenAdibilangtampangAdikayakmonyet..."
• Seneca:"MenurutAdisendiri,Adikayakmonyetgak?MauPapacariin foto

monyet?"
• Adi:“Nggak,Pa.Adigakmiripmonyet."
• Seneca:“Terusmasalahnyadimana?"

Jikaorangtuaterlihattenang,rasional,tidakreaktif,dantidakcepat-cepat
membuka peti senjata Dinasti Ming, rasanya anak juga bisameneladani itu.
Orang tua S-T-A-R akan membesarkan anak-anakyang S-T-A-Rjuga.Hasek.

MelatihAnakMenghadapiKegagalan

Mungkin saya naif, tapi saya benar-benar percaya bahwa “kegagalanadalah
guru yang terbaik” (apalagi ini juga diucapkan Yoda di StarWars: The Last
Jedi...] Ingat yang dikatakan Seneca,
kemalanganmemperkuatmerekayangditimpanya.ApaprinsipFilosofiTerasyangb
isa diterapkan ketika anak harus menghadapi kegagalan ataukemalangan?

• Melatihinterpretasiterhadapkemalangan/kegagalan.
Saat anak kita gagal di sekolah atau perlombaan, sikap sepertiapa yang
kita tampilkan? Memarah-marahi dia? Menuduh juri:(coret yang tidak
perlu) goblok/buta/ curang/disuap? Ikut-
ikutanmeratapinasib?Atau,kitabisamenunjukkansikapyangtenang,karen
a dalam Stoisisme kalah dan menang itu hanya sebuahfakta.
Makna/va/ue judgment dari fakta itu sepenuhnya dari kita.Kita bisa
mengajarkan anak kita bahwa kegagalan dankemalangan adalah
musibah/kebodohan, atau mengajarkanbahwa ini adalah fakta hidup
biasa, dan yang penting apa yangbisadipelajariuntuk kedepannya.


Mengidentifikasidanmencegahpolapikir3P(Personalization,Per

vasiveness, Permanence) pada anak. Kita harus
cepatmengidentifikasi jika anak mulai terjebak dalam pola pikir
3P:menyalahkandirisendirisecaraberlebihan atassebuah

kegagalan/musibah (kembali ke dikotomi kendali),
memperlebarmasalah ke aspek hidup lain ["Karena saya gagal
mendapat nilai10 di matematika artinya saya anak yang bodoh
di semua
hal."],danmenganggaprasakecewaakanberlangsungselamanya.

Stoisisme adalah filosofi yang sangat pragmatis dengan
orientasimanajemenemosimelaluikendalinalar,persepsi,danpertimbangan.Karenanya
,iabukanfilosofiuntuk orangdewasayangpemikirsaja.
Menurutsaya,prinsip-
prinsipnyasangatrelevanuntukditanamkansejakusiadini, tentunyasekalilagi

dengan memperhatikan tahap perkembangan daya tangkap si anak.Misalnya,
“dikotomi kendali" tidak perlu disebutkan kepada anakberusia enam tahun
tentunya, tetapi esensinya bisa disampaikandenganprosesdialogdantanya-
jawab.Ketikaanaksemakindewasa,konsep-konsep Filosofi Teras bisa
disampaikan dengan lebihgamblang.

TidakMerasaAnakBerhutangkepadaKita?

Pernahkahkitamendengarujaransepertiini,

"KamutidaktahupengorbananIbumengandungmuselama9bulan!
Jangandurhakakamu!"

"BapakIbusudahberkorbanbegitubanyakuntukmembes
arkanmu..."

"Dulukamiharusbegadangmengurusmusaatsakit,sekarangkamu
kurangajar sepertiini?"

Pernahmendengarkata-katasepertidiatas?Atau,mungkinpembacapernah
mengucapkannya sendiri kepada anak? Rasanya konsep"anak harus berbakti
kepada orang tua karena pengorbanan orangtua” sangat familier bagi kita.
Segala jerih payah, pengorbanan,bahkan penderitaan kita menjadi orang tua
diperlakukan sebagai"investasi", dan ketika anak kita tidak berlaku
"semestinya” (baca:sesuai yang kita kehendaki), kita pun mengungkit-ungkit
segala yangsudah kita lakukan sebagai orang tua, dan seperti "menagih”
anakuntuk memberikan imbal balik atas"investasi”itu.

BagaimanaposisiFilosofiTerasmenyangkutsegalajerihpayahyangdilakukan
orang tua untuk anak? Ada baiknya kita mendengarkankisahEpictetusyang
termuat di Discourses:

Suatuhari,Epictetusbertanyakepadaseoranglaki-lakiapakahia
mempunyai istri dan anak. Orang itu mengiyakan.
Epictetusbertanya,"Kamusenang tidakmenjadisuamidanayah?”

"Sayamenderita,”jawabnya.

MakaEpictetusbertanya,"Lho,kokbisa?Laki-
lakimenikahdanmemilikianaktidakuntukmenderita, tetapiuntukbahagia."

Orangitumenjawab, "Sayasangat cemasakananaksayayangmalang.
Waktu itu, ketika anak perempuan saya sakit dantampak terancam
jiwanya, saya tidak kuat untuk terus berada disisinya. Saya harus
beranjak pergi dari sisi ranjangnya sampaisaya
mendapatkabarbahwaiasudah membaik."

"Kalaubegitu,"jawabEpictetus,"Apakahmenurutmukamusudahme
lakukanhal yangbenardisituasitersebut?"

"Sayamelakukanhalyangwajar/alamiah”,jawabnya.

"Jika kamu bisa meyakinkan saya bahwa kamu sudah
berlakuwajar/alamiah dengan meninggalkan putrimu yang sakit,
makasayasiapmendukungmubahwaapayangkamulakukansudahbenar,k
arena sudah‘selaras denganAlam.'"

“Iniadalahhalyangharusdirasakanhampirsemuaayah."

"Saya tidak menyangkal reaksimu waktu itu terjadi," kataEpictetus.
"Isunya di sini adalah apakah reaksimumeninggalkannya saat sakit itu
harus dilakukan. Karena,
jikamengikutijalanpikiranmutadi,makatumoradalahhalyangbaikbagi
tubuh, karena tumor timbul secara alami. Jadi, tunjukanpada saya
bahwa apa yang kamu lakukan— meninggalkananakmu saatsakit—
adalah halalami."

"Rasanya saya tidak mampu. Ya sudah, bagaimana kalau
ANDAyangmenunjukkanmengapahalyangsayalakukantidakselarasdeng
anAlam,dan tidaksemestinyaterjadi?”

"Katakan pada saya, apakah kasih sayang antarkeluarga
adalahhalyangbaik,dan selarasdenganAlam?"

"Tentunya."

"SetujukahkamubahwasegalahalyangrasionaljugaselarasdenganAlam?"

"Setuju."

"Artinyaapayangrasionaltidakmungkinbertentangandengankasihsayangk
eluarga.Benar?"

"Harusnyatidakya."

"Karena jika hal rasional bertentangan dengan kasih
sayangkeluarga,makayangsatuselarasdenganAlamdansatunyalagitidak."

"Benar."

"Karenanyajikaadasesuatuyangbersifatkasihsayangdanjugarasional,makakitad
apatberkatabahwahalinibenardanbaik."

"Setuju."

"Untukberanjak pergidarisisianakmusaatiasakitbukanlahhalyang
rasional, dan saya yakin kamu pun setuju denganpernyataan ini.
Sekarang tinggal menentukan apakah tindakanmeninggalkan anak saat
sedang sakit sesuai dengan kasihsayang keluarga."

"Okay,marikitacoba."

"Apakahbisa dibenarkan bahwakamu, yang
katanyamenyayangianakmu,meninggalkandia?Marikitabahasibunya.Ti
dakkahibunya juga sayangpadaputrinya?”
“Tentusaja."

"Kalaubegituharuskahdiajugameninggalkanputrinya?""Tentutida
k.”

"Bagaimanadenganperawatnya.Apakahperawatnyajugasayang
padasianakini?"
"Diasayangpadaanaksaya.”
"Kalaubegituapakahdiaharusmeninggalkanjugaputrimu?”"Yatidakd

ong."

"Danguruputrimu,apakahdiajugasayangpadaanakmu?""Betul."
“Kalau meninggalkan putrimu yang sakit adalah tanda
sayang,makaseharusnyaanakmuditinggalkanolehkeduaorangtuanya

danjugaolehsemuapenjaganyayangmenyayanginya,agardiamatidikeliling
iorang-orang yangtidakpedulikepadanya."

“Waduh,tentutidak."

"Jikakamusendirisakit,apakahkamumenginginikeluargamu,istrimu,
anak-anakmu,dan seluruh isirumahmumenelantarkanmu sendirian
sebagai bukti mereka sayangpadamu?"

“Tidakmau."

“Kamu hanya berharap ditinggalkan seseorang (saat kamusedang sakit)
hanya jika orang itu adalah musuhmu bukan?Karenanya,
kesimpulannya adalah apa yang kamu
lakukandenganmeninggalkanputrimusaatsakitbukanlahtandakasihsayan
g samasekali."

Percakapan antara Epictetus dengan seorang ayah ini bagi sayamenunjukkan
bahwa menyayangi dan merawat anak kita
dalamkondisiapapunadalahhalyangselarasdenganAlamdanjugasudahsemestin
ya dilakukan oleh orang tua yang menyayangi anak kita. Jikakita
memutuskan menjadi orang tua, dengan melahirkan jiwa baru kedunia ini,
maka merawat dan menyayangi mereka sudah menjadikonsekuensinya-
terlepas apakah anak kita akan membalasnya atautidak.

Jikakitamemahami ini,makakitatidakakanmenagihanakuntukhal-hal baik
yang telah kita berikan untuknya, karena itu semua sudahsemestinya dan
baik kita lakukan. Ini bagaikan seorang dokter yangterus-menerus
mengingatkan dan menagih hutang budi kepada kitakarena dia sudah
menyembuhkan kita dari sakit. Lah, kan memangsudah tugasnya?

Anak memang bisa diharapkan untuk berlaku sopan dan
hormatkepadaorangtua.Namun,jikadiatidakmelakukannya,kitatidakperluberus
aha membuatnya merasa bersalah (guilt trip] denganmengungkit-ungkit
segala hal yang memang sudah semestinya kitalakukan sebagaiorangtua.

Seneca

berkatabahwa

kitatidakbolehsampaib
erlarut-

larutdidalam

kesedihanitu(bahkansampai

dibawamati).MenghadapiKehilanganAnak

Sayapernahmendengarseseorangberkata,"Tidakadakesedihan

ymaennggluebbiuhrbkeasnaarndaakrinkyeas.e”dAihnaankomraennggtuubauyraknagnhoarraunsg■F Tw

tuaadalahsesuatuyang"lumrah”,yanglebihtua

harus terlebih dahulu meninggalkan yang

lebihmuda.Namun,untukbisamengandung,membawama

nusiabaru kedalamduniasebagaianak,dan

kemudianharusmenyaksikannyameninggalkankitajuga,

tak terbayang duka yang bisa dirasakan. Apayang bisa

ditawarkan Filosofi Teras di dalam situasiini?

Saat Seneca, sang filsuf yang juga seorang politisi,harus
menjalani pembuangan di Pulau Corsica oleh Kaisar Claudius, iamenyadari
duka yang dirasakan oleh ibunya yang masih hidup,
Helvia.Dimasaitu,jikaseseorangdihukumbuang,tidakadayangtahukapan

hukumanituharusberakhir.Terkadang,pembuanganbaruberhentisaat terjadi
pergantian kekuasaan. Di dalam pembuangan,
Senecamenuliskansuratuntukmenghiburhatiibunya,dandidalamnyadiajugameny
entuh situasi di mana orang tua harus ditinggalkan anak merekaselama-
lamanya.

"Janganlah engkau menggunakan alasan sebagai
perempuan(untukberdukaberlebihan),karenaperempuantelahmendapatkan
hak untuk berkubang di dalam air mata, tetapi tidak untuk selama-
lamanya. Karena inilah nenek moyang kita mengizinkan
jandauntukberkabungselamasepuluhbulan ......mereka tidakmelarang
berkabung, tetapi membatasinya. Karena berduka tak henti
ataskehilangan seseorang tercinta sesungguhnya adalah
keegoisanyangbodoh,sebaliknya,tidakmerasakandukasamasekaliadalahtak
berhati. Jalan tengah terbaik antara kasih sayang dan akalsehat adalah
untuk merasakan kehilangan dan di saat yang samamenaklukkannya.

Sayamengertibahwaemosiyangbegitukuatsulitdikendalikanolehkita,ap
alagi emosiyanglahirdaridukacita................................ terkadangkita
ingin meremukkannya dan menelan keluh kesah kita, tetapidengan
mencoba berpura-pura, air mata kita masih juga
menetes.Terkadangkitainginmengalihkanperhatiankitadenganmenontonpe
rtunjukan (hiburan), tetapi kenikmatan kita saat menontonberkurang saat
teringat kehilangan kita. Karenanya, lebih baik jikakita
menaklukkankesedihandaripadamencobamenipudirisendiri.

Karena,dukacitayangdicobaditutupiataudialihkanperhatiannyaakan terus
kembali, dengan kekuatan yang lebih besar.
Namun,dukacitayangtelahditaklukkannalarakantenangselamanya ........ "

Saya tersentuh sekali saat membaca bagian tulisan Seneca dariConsolations to
Helvia {Penghiburan Untuk Helvia] ini. Senecamenunjukan empati dan
pengertian yang luar biasa terhadap
betapadalamnyadukacitaorangtuayangkehilangananaknya,tetapidisaatyang
sama tetap teguh bahwa nalar tidak boleh diabaikan, bahkan
disituasisesulitapapun.

Ini berarti berani menghadapi dukacita itu—tidak lari darinya, atauberusaha
menutupinya dengan mengalihkan perhatian. Dukacita itudirasakan dan
dihadapi. Namun, di saat yang sama, Seneca berkatabahwa kita tidak boleh
sampai berlarut-larut di dalam kesedihan
itu(bahkansampaidibawamati).Karenanya,kitaharusmenaklukkannya

dengan nalar dan rasional. Prinsipnya sama dengan yang dibahas didalambab-
babsebelumnyamengenaimenghadapitantangan,kesialansehari- hari, atau
orang-orang menjengkelkan, yaitu mengendalikansepenuhnya interpretasi,
persepsi, value judgment kita atas kehilangankita.

BagiFilosofiTeras,meninggalnyaseoranganakadalahsebuahfaktayangnetral,buka
n halyang"baik” dan bukanhalyang "buruk".
Kemudian,manusialahyangmenginterpretasikandanmemberikanmaknanyasendiri,mi
salnya:

• AnaksayameninggalkarenahukumanTuhanatasdosa-dosasaya.
• Anak saya meninggal karena kesalahan saya dan saya adalah ibuyang

buruk.
• Anaksayadipanggilpulang,inisudahrencana-

Nya,dansayabersyukuriapernahhadir dalamhidup saya.

Bagaimana kita memaknai kehilangan anak kita, itu sepenuhnyadikembalikan
kepada kita. Kita bisa memaknainya dengan negatif danmenyiksa diri kita
terus-menerus, atau dengan positif,
sehinggamembawakeikhlasandanketenangan.DidalamStoisisme,pemaknaandan
interpretasisepenuhnyaadaditangankita.

Demikian usaha saya menerapkan Filosofi Teras di dalam parenting.Besar
harapan saya bahwa hal-hal di atas bisa membantu kamu yangjuga orang tua
dalam menjalankan peranmu dengan lebih positif dantenang. Saya sangat
berharap bab ini bisa dibaca dan diperkuat
lagiolehmerekayangmemangpakarpendidikandanperkembangananak.

IntisariBab9:

• Prinsip“hidup selarasdengan Alam" berartijuga
hidupmenggunakannalardanrasiokita.Orangtuabisamembantuanakmemba
ngunkebiasaanini.

• Anakbisadiajarkan"dikotomikendali"dalammenghadapiperistiwahidup,
denganteladandariorangtua.

• "Fixed" vs. "Growth" mindset. "Fixed" mindset
menganggapkecerdasandanbakatadalahsesuatuyangstatis,nasib."Growth"
mindset percaya kita semua bisa berkembang menjadi lebih baiklagi.

• "Dikotomikendali"bagiorangtua.Apakahorangtuabisamenerima

banyakhaldalamhidupanak merekayangtidakadadibawahkendali orangtua?

• Dalam Filosofi Teras, laki-laki dan perempuan memiliki
anugerahnalar/rasioyangsamadansejajar,dankarenanyapendidikanlaki-
lakidanperempuanharus sama.

• Anakjugaharusdilatihkemampuanhidupsosialnya,karenamanusia
adalahmakhluk sosial.

• Melatihanakmenghadapiperilakuburuksecarasehatdanrasional,termasuk
dengan teladan orang tua. Bisakah menyayangi danmerawat anak tanpa
‘pamrih* (mengharapkan dan menagihbalasan)? Karena merawat anak
dengan baik adalah hal selarasdenganAlamyang harusdilakukan.

• Bagaimanamenghadapidukakehilangananak?FilosofiTerasmengajark
anberdukayang terkendalinalar.

ncara dengan
edPiethers

AnakdanPendidikan

"Parenting

adalahme
milihuntu
kberdama
idengan
hal-
halyangtidakbisakitakontrol”

Agstried Piethers adalah seorang psikolog anak dan pendidikan.
SurveiKhawatir Nasional menunjukkan bahwa peran menjadi orang tua
justrumenjadi salah satu
sumberkekhawatiran.Selainkekhawatiranmengenaifinansial (sekolahdan
kesehatan anak),juga adakekhawatiran lain seperti kepribadian sang anak,
kenakalan anak, danlain- lain. Saya memutuskan untuk mewawancara Agstried
untukmendapatkan insight mengenai berbagai tantangan parenting masa
kini,denganharapanmenemukan relevansiStoisismedidalam topikini.
HiAgstried,apaaktivitasnyasehari-harisekarang?
Profesi gue psikolog pendidikan, gue sudah berkecimpung di
duniapsikologi pendidikan dan parenting selama tujuh tahun.
Sekarang,sehari-hariguemengelolaRumah Dandelionsebagaisalahsatuco-

founder-nya. Rumah Dandelion adalah tempat aktivitas dan pusatedukasi
parenting dan early childhood education (pendidikan anak usiadini). Ada
kelas bermain terstruktur, di mana anak dan orang tua
mainbarengsambildiawasipsikolog,kemudianmerekadiberikanfeedback.

MengapaAgstrieddulukuliahdipsikologi,danmengambilfokuspendidika
n?

Guetertarikpsikologikarenapadadasarnyaguetertarikpadamanusia.Gue gak
kebayang gue kerja dengan dokumen terus- menerus,paperwork yang banyak,
apalagi banyak angkanya. Entah bagaimanaSemesta seperti turut memberi tahu.
Di suatu hari, gue turun angkotmenuju sekolah dan berjalan di gang, ada ibu-
ibu nyamperin gue daripasar, nanya, “Nenek bingung, cucu nenek diapain ya,
emaknya barukemaren bunuh diri." Akhirnya kami ngobrol sepanjang
perjalanan. Guejadi mikir, mungkin ini yang gue cari. Sesudah gue nanya-
nanya dandiskusi,kataorang-orang,Psikologiadalah jurusan yangtepat.

Dalam perjalanan studi, kenapa memilih fokus di pendidikan dan anak,karena
gue datang dari keluarga yang isinya guru. Mbah gue guru,nyokapgueguru,
tantegueguru.Tapi guegakmaujadiguru.Kayaknyague gak punya cukup
kesabaran, hahaha. Jadi gue memilih menjadischoolcounselor.Memilih fokus
dipsikologi pendidikan.

Apayangbikinkamubahagiasesudahmenjalankanprofesiini?

Gue percaya parenting is a process. Hal yang paling kena buat guedalam
bidang ini adalah perubahan/kemajuan anak. Tapi kan kemajuananak harus ada
dari orang tua juga. Anak tidak akan berubah perilakukalau proses di rumah
tidak berubah. Kalo elo berharap (anak) berubahtapi tidak ada yang berubah
dari lo, itu aneh kan? Jadi harus ada yangberubah darilo,baruanak jugaberubah.

YangpalingberkesanituadalahketikaguemenjadipsikologdiCirebon.Suatu hari
gue membawakan seminar tentang penggunaan gadget olehanak, ada orang
tua yang hadir yang terkesan. Anaknya dulu sulitberbicara dan mengikuti terapi
bicara tanpa banyak kemajuan, sejakseminar dia tidak lagi memberi gadget ke
anaknya, dan ternyataanaknyabisa
ngomongsekarang.Anakyangbisangomongitukanlebih sehat ya, karena bisa
berekspresi. Jika ada kemauan mereka bisamengatakannya. Akhirnya anaknya
juga lebih bahagia di sekolah. Guemerasakaninilah
kebahagiaanmenjadipsikolog.

Kalautidakenaknya?

Gue ada kelas bayi, dulu hanya buka di weekend, akhirnya karenabanyaknya
peminat dibuka di weekdays (hari kerja) juga. Ternyata,karakteristik orang
tua kelas weekend dan kelas weekdays berbeda.Kalau kelas weekend
umumnya adalah orang tua bekerja, jadi
merekamengambilkesempatanakhirpekanuntukbermaindengananak.Kalaukelas
hari kerja, biasanya orang tua yang tidak perlu bekerja, atau stay-at home
mom. Jadi di kelas weekdays, ada satu anak dari awalpertemuan sampai akhir
tidak mau berinteraksi sama sekali. Bukannyatidak bisa ya, tapi tidak mau, jadi
avoiding (menghindari interaksi). Jadikalo gue samperin dia merem gitu. Gue
tidak mendengar
suaranyasamasekali,baikkeguru,ketemansekelas,maupunkeorangtuanya.

Terus, gue meminta orang tuanya ke klinik tumbuh kembang untukdievaluasi,
kalau perlu diterapi. Lalu minggu depannya orang tuanyadatang lagi dan
berkata tidak mau melanjutkan terapinya. Alasannya,"Saya tidak sreg anak
saya satu ruang terapi dengan anak
downsyndrome”.Padahalruangterapiterbatas,dantohterapinyaberbeda.Ini
contoh ketidakpahaman bahwa pilihan lo sebagai orang tua
bisamemengaruhianak.

Sesudahmengamatibanyakmacamorangtua,apayangrata-ratapaling
dikhawatirkanorangtua?

Yang paling banyak dikeluhkan adalah anak yang sulit berkonsentrasi.Surprisingly
banyak, pada anak-anak usia di bawah tiga tahun.
Berartituntutanorangtuabahwaanakharusbisakonsentrasiagarbisasuksessecaraakademi
s sedemikianbesarnya, bahkansejakusiasediniitu.
Padahal anak seusia itu bisa berkonsentrasi dua kali usianya sajasudahbagus,
contoh:anakusiaduatahunartinyabisafokus2x2menit
=4menittanpadistraksisajasudahbagus.

Jadikeluhanorangtuataditidakrealistis?

Kalau anak kecil terlalu pasif, duduk saja terokupasi pada satu bendakelamaan
bukannya harusnya kita malah khawatir ya? Jadi sayatanyakankeorangtuanya,
“Memang menurut ibu kenapakonsentrasinya? Apa yang dilihat dari si anak di
rumah? Jika diberiinstruksi dia bisa menangkap atau tidak?” Saya coba
memberi instruksi‘dance and freeze' ke si anak—“Kamu goyang mengikuti
musik,
kalotantematiinmusiknyakamudiemya."Iniuntukmenilaikemampuandiauntukko
ntroldiri,untukmengikutiinstruksi.Kalaubisayaartinyatidak

ada masalah. Atau, gue bilang bahwa cara anak belajar berbeda-beda.Misalnya,
tidak perlu ngajarin warna dengan cara anaknya harus
dudukdiamdimeja,terusdiajarin,inimerah,inibiru,danseterusnya.Kitabisasaja
main mobil-mobilan dengan warna- warna solid, terus kita minta,“Coba jalanin
mobil merah,” atau “Coba jalanin mobil hijau.” Atau, cobapindahkan bola
merah ke dalam keranjang merah. Jadi cara belajartidakperlu duduk
(diam),ituyang terkadang orang tua lupa.

MenurutAgstriedmengapaorangtuajaditerobsesisecaratidakrealistismengenai
konsentrasianak?

Karena tuntutan sekolah jaman sekarang mungkin? Ada konsepsi yangsalah
mengenai kecerdasankah? Seolah-olah anak pintar itu harus
bisamasukTKdengankemampuansudahbisaberhitung.Anakpintarharusbisa kenal
huruf. Padahal untuk bisa menghitung 1, 2, 3...tanpamengenal konsep kuantitas,
buat apa? Satu itu berapa, dua itu berapa,jika mereka tidak tahu buat apa? Jika
mereka tahu huruf A, B, C tapitidaktahubunyinyaseperti
apasaatdigabungjadikata,untuk apa?
Daripada belajar huruf dan angka, kenapa tidak main kata saja.Misalnya
kuda, "da”-nya diganti “di”, jadi apa? Kudi! Mereka familiardulu
dengansound.

Jadiyangada“lompat”step.Orangtuatidakrealistis,tapijugakarenatuntutan sekolah
bahwa anaknya harus sudah “jadi”. Ada SD yangmenuntutanak yangmasuk
sudahharus bisa

baca.Ditambahketerbatasaninformasi,bahwait'sokayanakitubelajarpelan-pelan.
Anak yang bisa membaca di usia empat tahun denganyang baru bisa membaca
di usia tujuh tahun, bedanya apa sih? Padaakhirnya yang menentukan adalah
minat baca, bukan kemampuanbaca.

Apakahinibisadisamakandengan"controllingparents”?

Sebenarnya relasi orang tua dengan anak dengan adalah bagaimanakamu bisa
berdamai dengan dirimu sendiri sebagai orang tua.
Misalnya,guemengunjungisebuah sekolahinternasionalyang sangatmenekankan
prestasi akademik. Suatu hari gue seminar di sekolah
itu,terusadaorangtuabilanggimanangomonginkeanakkaloudahmasukSD, nilai
gak boleh 80, harus 100. Terus anaknya nanya balik ke orangtuanya, "Kan 80
sudah bagus?" dan orang tuanya bertanya ke gue, gueharus bilangapakeanak
itu?

Ya kenapa juga anak itu harus dapet 100? Ada anggapan bahwaseseorang
menjadi better parent kalau anaknya berprestasi di
sekolah.Karenanya,memberi
badnewskeorangtuaitusangatsusah.Misalnya,memberi tahu bahwa anaknya
memiliki kebutuhan khusus, tidak cocokdi sekolah tertentu. Itu sangat sulit
karena itu menyinggung personalmereka sebagai parents. Padahal belum tentu
salah mereka juga. Jadipersonal.

Memang apa salahnya menjadi orang tua yang demanding? Kan
untukkemajuananaknyajuga...

Gue berpendapat suatu hal tidak worth (berarti) dikejar kalau lo
tidakenjoymengejarnya.Karenapadaakhirnyalobisabelajarlebihbanyakketika
lo menikmati the journey, not the result. Misalnya, ada seoranganak juara
internasional taekwondo. Dia berantem sama temannyayang tidak bisa
taekwondo, terus dia menendang temannya. Tetapianak ini sebenarnya
diprovokasi. Kemudian saya tanya ke anak ini,kenapa kamu mudah
diprovokasi? Dia menjawab bahwa dia sangatlelah. Memang apa yang kamu
kerjakan sampai lelah? Jawabnya,"Bayangin miss, untuk ikut kejuaraan
taekwondo, saya harus latihanlima hari seminggu, sesudah pulang sekolah."
Padahal sekolahnyametodeCambridge,kurikuluminternasional.Dandiahanya

Kalau mau jadi parents «
yangsehat,ingatlahselalubah

wa
tidakadayangsempurn

a.
Dan benar-
benarmemikirkan,
nilai-nilai apa
yangingin

punyaduaharidiweekend,itupunharusdiisidenganolahragayang

anakkitamiliki.berbedauntukmenjagaototnya.Dandiajugamelakukandiet.Anakinimasih

kelas1SMP.

Terus saya tanya, "Kamu senang tidak dengan semua ini?" Diamenjawab,
"Kalau boleh milih, gue lebih suka sepak bola.",
"Teruskenapakamutidakbilangkeorangtua?""Karenasepakbolatidakbisamemba
wasayamenjadijuarainternasional. ......................... " Diasama sekalitidak
fun/enjoy,jadibuatapa?Setiapbanguntidurdiamelihatjamsudah
merasaberat.Inibaru anak SMP loh.
Akhirnyadiatidakbelajarapa-apa.

Belajardarikasusini,bagaimanadongkitaharusmenjadi
orangtua?

Silakan memperkenalkan anak kepada
banyakhal(hobi,aktivitas),tetapijanganmemaksamanay
ang dia harus kejar. Memperkenalkan
banyakhaldanmemfasilitasiitutidak samadengan
memaksa. Kita memberikan fasilitas dan pilihan. Biasakan dari kecilanak diberi
pilihan, sesimpel nanti mau pakai baju apa? Hari ini
adawaktukosongmaumaindimana?Awalidariduapilihan,danperlahan

dibuka pilihannya. Ketika mereka bebas memilih, artinya
merekadihargaisebagaiindividu,danmerekaakanmenjadiindividuyanglebihsehat
. Mereka berani speak up their mind. Dan mereka mengenali dirisendiri, oh
ternyata gue sukanya ini. Gue sering bertemu anak remajadan gue tanya, nanti
rencana kariernya apa? Mereka menjawab, tidaktahu, gue ikut papa aja.
Mereka tidak biasa memilih, tidak mengenaldirinya sendiri.

Agstried menangani anak dari rentang umur yang cukup lebar,
daribatitasampairemaja.Apakahadaobservasimenarikdarianak-anakyang
tangguh dan ulet? Atau sebaliknya, anak-anak yang tidak
ulet,vulnerable.Apaperbedaandi antaramereka?

Kepribadian yang tangguh atau vulnerable adalah gabungan daripengalaman
dan karakter bawaan. Kalau karakter bawaan, memangada sebagian orang
yang terlahir tidak "se-baper-an” itu. Tetapi selainitu, lingkungannya bisa
tidak men-support dia, apalagi di fase usia 3-5tahun saat mereka mencoba
berinisiatif. Contoh, anak berinisiatifmencuci piring sendiri, atau mengambil
baju sendiri dari lemari, tapimalah dimarahi, "Kamu malah bikin berantakan
saja! Lemari baju jadiberantakan, dan seterusnya." Akhirnya dia merasa
bahwa inisiatif diapercuma, saya bukan orang yang perlu initiate duluan,
karena
hanyaakanmelakukankesalahan.Iniakanberdampakpadakepribadiandia,sehing
gajaditidak mau mencoba sesuatuyang baru.

Kemudiandiamenjadiseseorangyangterusberpikiran,"Sayagakbolehsalah.
Sayagakbolehsalah.Sayagakbolehsalah......................................... ’’
Akhirnya anak yang (merasa) tidak boleh salah akan menjadi
lebihvulnerable(rentan).Jadirespondariorangtuasejakanakmasihkecilakan
membentuk kepribadian anak, selain karakter bawaan
dansituasilingkungansekitarnya sepertiapa.

Saya juga pernah membaca, salah satu cara kita bisamengidentifikasi
seseorang resilient (tangguhi atau tidak adalah dariselera humornya.
Apakah lo bisa mentertawakan diri sendiri ketikagagaL Dan ketika orang
tua mencontohkan itu, misalnya, "Eh iyamama salah ya, maaf ya hahaha",
itu mengirimkan pesan bahwa it 'sokay tomakemistake.

Memanganakkecilbisamencapaitahapmentertawakandirisendiri?

Bisa! Anak itu observer yang "menakutkan’’, hahaha. Pernah gak
liatanakkitamarah ataukomplain,dan mikir,kokdiamirip banget

istri/sayasendiriya.Diamenyerap.Apapunperilakukita,merekamelihat
itudanmerekamengiraituyang benar.

Kalaubegituapayangbisaorangtualakukanagarmenjadicontohbagi anak
menjadiresilient(ulet dan tangguh)?

Kalaumaujadiparentsyangsehat,ingatlahselalubahwatidakadayang
sempurna. Dan benar-benar memikirkan, nilai-nilai apa yangingin anak kita
miliki. Dan kita harus hidup sesuai dengan nilaitersebut. Misalnya, ingin
anak kita menjadi orang yang bisamentertawakan kesalahan, kita bisa
memberi contoh, "Wah sayasalah, jadi tumpah, yuk kita ambil lap, kita
beresin." Kita pun harushidup sesuai dengannasihatyangkitaberikan.

Jadiorangtuayangsedikitadamasalahjadimarah-marahlebaybegitu bisa
memberipesan yangsalah?

Iya. Di kelas, karena kita sering bermain "messyplay"
(permainanberantakan) untuk menstimulasi indra (bermain pake tepung,
oats,agar-agar),itukankotorbanget.Ketahuanbangetanak-anakyangkalau di
rumah selalu dimarahin agar jangan kotor. Mereka akanterlihat segan
untuk ikut bermain kotor-kotoran dan merasa tidaknyaman, dikit-dikit
ngambil tisu, hahaha. Ada lagi yang sangatsemangat.

Bukuyangsedangsayatulisinimembahas tentangmengurangistresdengan
mengenali hal-hal mana yang bisa kita kendalikan dan manayang tidak bisa
kita kendalikan. Apakah hal ini relevan dengan orangtua danparenting?

Gua suka tidak mengerti jika ada orang tua yang berkonsultasi, kokanak
saya belum bisa jalan, padahal saya sudah melakukan ini
danitu.Bagaimanaya? Yabagaimana,memanganak
itubelummencapaimilestone-nya.Satu-
satunyayangbisadilakukanorangtuaadalah terus melakukan stimulasi. Jika ini
sudah dilakukan, maka yahanya bisa menunggu. Parenting itu adalah
memilih untuk berdamaidengan hal-hal yang bisa lo kontrol atau tidak. Dari
awal sekali,bahkan saat janin baru terbentuk. Dari gender si anak misalnya,
kitatidak tahu apakah dia cowok atau cewek. Yang bisa kita kontroladalah
setelah dia lahir, apa pun dia, kita bisa mempersiapkan yangterbaik untuk dia
semampukita.Itu bisa kitakontrol.

Beberapa saat sesudah melahirkan, gue sempat mengalami
babyblues(kesedihanyangbiasamenimpaibuyangbarumelahirkan).Itu

karena gue berusaha mengontrol apa yang tidak bisa gue kontrol.Gue
maunya anak gue nanti lahir dengan proses normal dan full
ASI,makaguememilihrumahsakituntukmelahirkanyangsangatpro-ASIdan
pro-kelahiran normal. Tapi, Tuhan berkata sebaliknya. KetikaUSG selama
kehamilan ternyata dinyatakan dia tidak bisa lahirdengan proses normal. Itu
tidak bisa gue ubah. Ketika gue masuk RSfull ASI, gue berharap dapat full
support untuk menyusui. Tetapiternyata, karena satu dan lain hal gue, gak
bisa menyusui karenaharusmenjalanipengobatan. Ini tidakbisa guekontrol.

Akhirnyaguemerasacapekdanmenutupdiridaridunia.

Akhirnya selesai cuti melahirkan gue mulai bekerja kembali, melihatdunia
luar, dan akhirnya berpikir, anak gue baik-baik saja. Emangkenapa dengan
sufor (susu formula)? Yang bisa gue kontrol
hanyalahasupananakkitaagardiatetaphidup,danitutidakharusASI.Apalagiyang
bisa gue kontrol? Gue bisa memastikan tumbuh kembang anakkita dengan
memberi stimulasi yang cukup. Akhirnya gue belajar thehardwaybahwa ada
hal-halyang tidak bisa gue kontrol.

Parenting is all about letting go hal-hal yang gak bisa lo kontrol, danfokus di
hal-hal yang bisa lo kontrol. Dan hal yang paling dasar yangbisa lo kontrol
adalah lo bisa membuat mereka merasa diterima apa punwujud mereka.

Bisatolongdiperjelas?

Bayangin anak SD pada umumnya. Sekarang anak SD baru
pulangsekolahjam14:30.Disekolahsudahbelajarbilingual(duabahasa).Tassekolah
nya pun sudah harus diseret (saking beratnya). Anak inikecapekan, kemudian di
rumah minum terus tidak sengaja menjatuhkangelas sampai pecah. Terus anak
ini dimarah-marahi. Kita tidak tahu apayang sudah dilaluinya sehari ini. Jadi
sesimpel lo bisa menerima dia asthe way they are—dia merasa aman menjadi
siapa pun di deket lo, ituyang bisalokontrol.

Bagaimanamengajarkanhalyangsamakeanak?

Contoh: anak jatuh. Jatuh itu kan wajar banget, anak kecilkeseimbangannya
belum sempurna, mereka mudah ter- distract,
jalansambilmelihatyanglain.Janganbertanya,"Kokbisajatoh?!”Kitabisasekedar
berkata,"Hati-hatiyaaa.Liatjalanya,sakitkankalojatoh ................................... "

Ataukitamenuntuthal-halyangtidakmasukakaldarimereka. Contoh,

saatmerekamalasbersekolahteruskitamarahi,"Kamutahugakbayaruang sekolah
kamu mahal?!" Ya mereka belum bisa mengerti konsepitu. Kita kan bisa
bilang, "Kamu kenapa tidak mau sekolah? Apa yangbisa membuat kamu tidak
mau sekolah?" Ini mereka bisa tahu, karenatidak di luar kemampuan mereka
untuk memaklumi. Tidak sepertikonsep "sekolah mahal" dan betapa beratnya
biaya yang harus dipikulorang tua.

TerakhiradakahpesanAgstriedkepadaparaorangtuamilenial?

Jangantuntutanakmenjadisempurna, karenalobukanorangtuayangsempurna.
Sama seperti lo jangan menuntut pasangan lo menjadisempurna, karenalojuga
tidak sempurna.Capek kan.

Yangkedua,jadiorangtuaituharusmenyadaribahwaprosesmenjadiorang tua itu
ada hal-halyang tidak bisa lokontrol.
Andthat'sokaytoo.Hal-halyangtidakbisalokontroljugaakanmembentuk
anaklo.

IntisariwawancaradenganAgstriedPiethers:

• Seringkaliorangtuamemilikituntutanyangtidakrealististerhadapperkemban
gan putra-putrimereka.

• Prestasi anak menjadi tidak worth it jika proses pencapaiannyatidak
menyenangkan.

• Parentingadalahbisamelepaskanhal-
halyangtidakbisakitakontrol,dan fokuspadahal-halyang
bisakitakontrol.

BABSEPULUH

Citizen
oftheWor
ld

D i suatu kesempatan beberapa tahun yang lalu,
sayamengunjungikotaParisbersamaistri.Iniadalahkunjungan
sayakePrancis dankotaParisyangpertama kalinya.
Berdasarkan apa yang saya baca, konon orang Prancis,
apalagiwarga Paris, adalah orang-orang yang tidak ramah
kepadapengunjung. Ini membuat saya memiliki ‘prasangka’ saat
berada disana.

Maka, betapa terkejutnya saya ketika mendapatkan
pengalamanyang sebaliknya. Suatu saat kami sedang berada di
kawasanMontmartre, mengunjungi katedral besar Sacre-Coeur.
Ketikasedangasyikmemfoto-
fotokatedraltersebutdarikejauhan,kamidihampiriseorangperempu
anlokalpirangyangsangatcantik.
Dengan aksen Prancis berat dan bahasa Inggris yang terpatah-
patah, dia memperingatkan kami akan bahaya copet yang
seringmengincarturisyangsedangmengambilfoto.Sesudahitudiapamit
dengan senyuman amat manis (saya tidak bisa terlalu manis
jugakarena adaistridisisi).

Sesudah dia berlalu, saya membahas dengan istri betapa
sayamerasa malu dengan prasangka saya. Ternyata, ada warga
Parisyang ramah, bahkan menolong pengunjung tanpa diminta.
Kalausaya balik situasinya, adakah warga kota tempat tinggal saya
yangakansukarelaberinisiatifmemberitahupengunjung/turisasingtanpa
ditanya?

'BerlakulahsepertiSocrates. Tidakpernah
membalaspertanyaandaerahasalnyadengan'SayaorangAthena’,atau'Say
a dari Korintus’, tetapi selalu menjawab, ‘Saya adalahwarga dunia.’”-
Epictetus(Enchiridion)

Apa yang terbayang oleh kita saat mendengar kata
"kosmopolitan"?Sebagian besar mungkin terpikir nama sebuah majalah.
Sebagianlainmungkinterbayangsebuahminuman
cocktailmanisyangidentikdengan peminum perempuan. Kita perlu mencari
kamus untukmenyadari bahwa makna cosmopolitan aslinya lebih dalam
darisekadarmajalahatauminuman.

Kosmopolitan diambil dari kata Yunani"kosmopolites", yang
artinya"wargadunia”.Hierocles—seorangfilsufStoayanghidupdizamanyang
sama dengan Marcus Aurelius— menjelaskan praktik
untukmemperlebarlingkupkasihsayang

258

kita terhadap orang-orang di sekitar. Dia mengatakan bahwa relasisosial
kita bisa digambarkan sebagai beberapa lingkaran dari yangkecilsampai
besar,dimana diri kitaada di tengahnya.

Lingkaran terdekat kita adalah keluarga (ayah, ibu, istri, anak,saudara),
kemudian di luarnya lagi adalah lingkaran orang- orang didesa, kelurahan
kita, kota kita. Lebih besar lagi adalah orang-
orangsebangsakita.Kemudian,masihlebihbesarlagiadalahseluruhumatmanusi
a. Dalam Filosofi Teras, kasih sayang kita terhadap sesamaseharusnya
"meluas", mulai dari keluarga inti kita, kemudianmenyayangi orang-orang di
desa atau kota kita. Terus lagi,menyayangi mereka yang sebangsa dengan
kita. Bahkan
padaakhirnya,diperluaslagisampaimenyayangiseluruhumatmanusia.

Hieroclesmengajarkanuntukmenyapasiapapunsebagai"sahabat"atau "saudara",
sesuatu yang rasanya sudah lumrah dipraktikkan dinegeri kita (dengan sapaan
"Mas", "Mbak", "Kak", "Bang", dan lain-lain).

Dalam Filosofi Teras, ini artinya mengakui bahwa pada
akhirnyasemuamanusiaadalahbagiandariduniadansemestayangsama,dan
karenanya tidak semestinya kita membedakan orang,
apalagisampaimendiskriminasidanmenyakitiorangyangberbeda.
Kewajiban berbuat baik kepada orang lain yang telah kita
bahassebelumnya harusnya menembus lingkup keluarga sendiri,
sukusendiri, agama sendiri, bangsa sendiri, dan bahkan
mencakupseluruh manusia.

Jika kita ingat latihan untuk membayangkan diri kita terus terbang keatas,
sampai keluar planet, bahkan keluar tata surya, sampai di luargalaksi, maka
barulah kita merasa planet ini sungguh kesepian
dialamsemesta,danseharusnyakitabisahiduprukunbersama-sama.Di sini lah
saya (semakin) jatuh cinta pada Filosofi Teras, karenasejalan dengan prinsip
kemanusiaan universal yang sudah sayapegang sedari dulu. Konsep ini juga
mengingatkan saya pada quotedari Sayyidina Ali bin Thalib yang pernah
saya baca, “Yang bukansaudaramu dalam iman, adalah saudaramu dalam
kemanusiaan." Inisungguh quote yang indah, karena apa lagi yang lebih
tinggi darisaudara dalam "kemanusiaan”? Kecuali mungkin jika kita
bertemualien—itupun kalauada alienyang baikhati.

Jika persaudaraan yang diajarkan Stoisisme menembus
identitasagama,bahkanbangsa,tidakkahseharusnyakitamerasabetapa

259

absurdnya pertengkaran yang disebabkan hanya karena pilihanpolitik?
Apalagi permusuhan yang lebih sepele lagi, sepertiperbedaan klub bola
favorit, perbedaan kampung halaman, atauperbedaan sekolah. Kita bisa
membenci orang lain sedemikian rupabukan karena mereka menyakiti atau
menghina kita (padahal, dalamStoisisme, hal tersebut sebenarnya juga
bukan masalah), tetapihanya karena mereka memiliki warna kulit yang
berbeda,
bahasayangberbeda,caraibadahyangberbeda,danmemilikibudayayangberbed
a.

Ketikasaatiniadabegitubanyakpihakyangberusahamemisahkandan
membedakan kita—baik dalam lingkup tetangga sekitar, kotakita, sampai
negara kita, Stoisisme terasa semakin relevan untukmenjadi antidote
melawan kekuatan yang hendak memisahkan danmengadu dombakita.

Jika kita menggabungkan ini dengan kata-kata Marcus Aureliusbahwa,
"Kita datang ke dunia ini demi satu sama lain,” maka,
prinsip"kosmopolitan” di atas jauh lebih dalam dari sekadar
menoleransiatau menerima mereka yang berbeda. Yang dituntut Stoisisme
lebihdarisekadarsebuahsikappasif—yangpentingtidakberbuatjahat—seperti,
"Yang penting saya tidak menyakiti mereka yang berbeda."Sebaliknya,
kewajiban utama kita adalah berbuat baik secara aktiftanpa
membedakansiapapun.

Pernahkah kita membaca atau mengetahui adanya penderitaan
dankesusahan di lingkungan kita, atau saudara sebangsa di daerah
lain,kemudian setelah mengetahui mereka adalah suku lain atauberagama
lain, kita menjadi tidak termotivasi untuk membantu?"Ooooh, ternyata dia
agamanya beda sama saya, gak jadi menolongah.”

Yang menarik, konsep kosmopolitan ini sebenarnya
mendapatkandukungandariduniasains.Denganilmugenetika,duniasainssaatini
menerima bahwa seluruh umat manusia yang ada sekarangsebenarnya
memiliki nenek moyang yang sama yang berasal dariAfrika. Spesies kita,
Homo sapiens, meninggalkan Afrika sekitar60.000-120.000 tahun
yanglalu,kemudian mulai
menjelajahbumidanbermukimdibelahanbumiyangberbeda.Perbedaanwarnak
ulit,warna mata, rambut, dan fitur fisik lainnya terjadi perlahan
sebagaibentuk adaptasi terhadap lingkungan yang baru (misalnya,
paranenekmoyangbangsaEropayangharushidupdidaerahyangmiskinsinarmat
aharitidakmembutuhkanperlindungandalambentuk

260

warnakulitdanmatayanggelapdibandingkanmerekayangakhirnyabermukim di
daerah kaya sinar matahari, seperti di ekuator atauAustralia).

Ini artinya, walaupun kita terlihat berbeda sekarang (ditambah
lagidenganperbedaanbudaya,sistemkepercayaan,danadatistiadat),pada
dasarnya akar kita sama dan kita semua bersaudara sebagaisatuspesies.

Sampai di mana kita saat ini sebagai individu? Apakah kita
masihmenyimpankebenciandandengkiterhadapmerekayangkitaanggap"berbe
da”. Atau, kita baru sampai tahap, "Yang penting gue gakganggu lo, dan
lo gak ganggu gue"? Atau mungkin kamu sudahmencapai tahapan
tertinggi, "Gue akan berbuat baik kepada siapapun, tanpa
membedakan suku, agama, ras, pilihan politik, atau klubbola dia."
Bagi kamu yang sudah mencapai tahap terakhir, para
filsufStoaakanmengacungkanjempoluntukmu.

MengatasiMasalahDunia

Duniainibanyakmasalahnya. Kecualikitaselamainitinggaldiguatanpa TV dan
internet, rasanya kita akan tahu bahwa ada banyakmasalah dan problem di
dunia. Dari peperangan yang tidak pernahberakhir, kebencian
antargolongan, hoaks, rusaknya lautan karenasampah plastik, sumber air
yang semakin menurun, pemanasanglobal, cuaca ekstrem,dan masih
banyaklagi.

Mungkin sebagian dari kamu pernah atau bahkan detik ini jugaberkata
dalam hati, "Hidup gue sendiri aja udah ribet, ngapain sihmikirin
masalah-masalah besar?" Lagi pula, namanya saja "masalahdunia”, apa
yang bisa diperbuat sendirian? Jika kita kembali keprinsip dikotomi
kendali, ngapain memusingkan hal- hal
besaryangjelasada"diluarkendalikita"?

Seperti pernah dibahas sebelumnya, besar sekali godaan
untukmenggunakanFilosofi Terassebagai alasan,excuse, untukberpangku
tangan dengan alasan sebuah isu eksternal ada di luarkendali kita. Apalagi
isu eksternal yang skalanya mendunia.
Selainitu.sebelumnyakitamenemukankonsepamorfati,yangmengajarkankita
untuk mencintai kondisi hidup kita saat ini. Jadi, untuk apa protesdan
bersusah payah? Mari kita mencintai keadaan planet ini yangpenuh polusi,
api angkara, dan kehancuran ekosistem!
Apakahbegitu?BenarkahStoisismejikaditerapkanberartikitatidakperlu

261

pedulidenganmasalahbesarsepertiancamanperangnuklirdancuacaekstrem,
karena toh kitatidakbisaberbuatapa-apa?

Tidak semua pemikir dan praktisi Filosofi Teras memiliki
satupemahaman menyangkut masalah-masalah besar dunia
sepertiperubahaniklim,kerusakanlingkungan,rasisme,ataukemiskinan.Seb
agian menginterpretasikan filosofi ini sebagai
hanyamementingkankualitasdarihal-halyangadadidalamdirikita.
Kualitaskarakter, moral,dan persepsi kitasudah cukup menjadipusat
perhatian kita. Segala hal eksternal dianggap sebagaiindifferent yang tidak
perlu mendapatkan prioritas perhatian
kita.Karenanya,segalaurusanduniaeksternal(termasuksemuamasalahlingkung
an dan sosial) dianggap tidak menjadi tanggung jawab,apalagi
kewajibanseorangpraktisiStoisisme.

Sebagian pemikir dan praktisi Stoisisme lainnya mengambilinterpretasi
berbeda. Kita semua memiliki kewajiban untuk
turutberpartisipasimengatasimasalahdunia,karenaargumen-argumensebagai
berikut:

• Mengikuti ajaran Hierocles di atas. Jika kita dianjurkan untukmemperluas
kepedulian dan kasih sayang kita bahkan sampai keseluruh umat
manusia, maka masalah dunia seperti perubahaniklim seharusnya
menjadi perhatian kita dan membutuhkanpartisipasi kita. Kerusakan
lingkungan dan perubahan iklim akanmerugikan dan banyak manusia
lain, dan bahkan mungkin kitasendiri—dan karenanya sebagai warga
dunia, kita juga harusberkontribusi.

• Manusia sebagai bagian dari Alam /Nature). Selaras dengan"alam”,
dalam hal ini lingkungan hidup /environment)
adalahbagiandariprinsipini, termasukdidalamnyamerawatlingkungan
dan alamtempatkita tinggal.Mencemari alamsampai menyebabkan
perubahan iklim yang mengancamkehidupan banyak makhluk hidup,
termasuk kita sendiri,
jelassudahmenyimpangdengantuntutanhidupselarasdenganalam,dan
karenanya kitajuga harus turutbertindak.

• Antara hal "internal” dan “eksternal”. Benar bahwa Stoisismesangat
menekankan pada pengembangan kualitas karakter
didalamdiri.Namun,disaatyangsama,karakterdidalamdiriiniharusmen
gikutikebajikan- kebajikan/virtues),sepertikebijaksanaandalam
memilih/wisdom), menahan diri
/temperance),berani/courage),dankeadilan/justice).Jikakita

262

sekarang dihadapkan dengan berbagai masalah besar dunia,seperti
perubahan iklim, ketidakadilan sosial, diskriminasi,kebencian,danlain-
lain,kira-kiraapakahhal"bijaksana”yangharus kita lakukan? Apakah
berlaku cuek dan menutup matabisadigambarkan
sebagaiberlakusesuaikebajikan?
Dariargumen-argumendiatas,sayamengambilposisiyangsamadengan
kelompok yang percaya bahwa mempraktikkan Stoisismeartinya juga
peduli pada masalah dunia dan umat manusia, dansebisa mungkin
berkontribusidalam solusinya.

ApalahKemampuanSayaMenghadapiMasalahD
unia?

Jikasemuamanusiaadalah"wargadunia",makamasalahduniabisadihadapikitab
ersamasebagaiwargaduniajuga.Somethingsarenot in MY control, but it
can be in OUR control. Jika suatu kondisitidak bisa diubah oleh satu
orang, ia mungkin bisa diubah oleh 100orang,atau 1.000
orang,atau1.000.000orang.
Sejarahjugamembuktikanbahwabanyakhalbesarbisadiraihketikakitamenyisihk
anperbedaandan mulaibekerjasama.
Memperjuangkankemerdekaanbangsadaripenjajah,isu

263

Sejarahjugame ■
r
mbuktikan r

bahwa

banyak hal
besarbisadiraihketik

a
kitamenyisihkan

perbedaandanmulai

bekerjasama.diskriminasigenderdanras,sampaikerusakanlingkungan;semuaitu

bisadiubahketikamanusiabersama-samasepakatuntukbergerak

memperbaikinya. Social movement, protes, petisi, adalah
contohsekelompokorangyangmemindahkansituasidaridomain"notin


Click to View FlipBook Version