Kamumemi
likikendali
ataspikiran
mu
—
bukankejadian-
kejadiandi
luar
•w sana.Sadariini,dan ■F
• •w1
kamuakan W
T
menemukan
kekuatan.”
-MarcusAurelius(Meditations)
Berkarierdiduniaadvertising(periklanan)menyadarkansayabetapatrikotomi kendali di
atas sangat relevan dalam membantu mengurangi
strespekerjaan.Bagikamiyangbekerjadibiroperiklanan,“dagangan”kamiadalah
idekreatif.Kamimenghasilkanidekreatifdanmenawarkannyakepadaklien.Jika klien setuju
dengan ide yang ditawarkan, maka barulah ide tersebutdiproduksimenjadimateriiklan.
Yang namanya menawarkan dagangan, entah itu pisang Ambon ataupun idekreatif,
memilikirisikoyangsama,yaitu DITOLAK.Kalaudipikir-pikir,pedekate gadis idaman
pun bagi sang cowok adalah perdagangan—menawarkan dagangan rasa ini [Halah,
apa sih). Penolakan terjadi sangatsering di dalam pekerjaan. Umumnya, reaksi kolega
yang idenya baru sajaditolak oleh klien adalah merasa kecewa dan jengkel (apalagi
kalau sudahditolakberkali-kaliuntukprojectyangsama),disertaikata-katasepertiberikut:
“Dasarklienbego,gakngertiidebagus." -(menyalahkanklien)
“Dasaraccountservicedanplannerbego, gakngasiharahanyangbener." -
(menyalahkananggotatimlain)
“Inisemuapastigara-garaguelupamembakarsesajendidepankantorklien." -
(menyalahkanduniasupranatural)
Bagaimana contoh aplikasi dikotomi/trikotomi kendali di dalam lingkuppekerjaan
saya? Dengan mengategorikan outcome (klien menyenangi
danmenyetujuiidekita)sebagaihal“diluar kendalikita",danmemfokuskanenergi dan
upaya pada hal-hal "di bawah kendali kita”, yaitu kualitas ide,presentasi ide, dan lain-
lain. Jika saya bisa mempraktikkan ini dengan baik,maka "penolakan klien tidak
seharusnya mengganggu kebahagiaan saya",karena praktisi Filosofi Teras tidak
menggantungkan kebahagiaan pada hal-hal yang ada di luar kendalinya (walaupun
jika ide kita disenangi klien tentukita diperbolehkan untuk merasa senangi. Kepuasan
kerja dikembalikan
pada"apayangkitakerjakan"(apakahsayasendirisudahbanggadenganideyangdihasilkan?
) dan bukan "apayang dikendalikanoranglain".
Ide kita ditolak? Tidak perlu menyumpahi dan menyalahkan orang
lain.Langsung move on kepada hal-hal yang ada di bawah kendali kita,
yaitumenerima inputklien,kembali bekerja,danberusahalebihbaiklagi.
Inilah mengapa saya menyadari bahwa saya lebih cocok denganFilosofi
Teras dibandingkan positive thinking atau tips-tips
selfhelplainnya.Seringkalitips-tipstersebutmemfokuskankitapadahal-
haleksternal, seperti kesuksesan karier, bisnis, dan percintaan,
yangsebenarnya berada di luar kendali kita (atau hanya sebagian dibawah
kendalikita).
Bagisaya,polapikirsepertiituadalahjalanmenujuekspektasiyangtidak realistis
atau kekecewaan dan kepahitan ketika ternyata halyang kita idam-idamkan
tidak terwujud. Sebaliknya, Filosofi Terastidak tertarik sama sekali dengan
hal-hal eksternal dan lebihmementingkan hal-hal di dalam diri kita, yaitu
menghilangkan emosinegatif, memaksimalkan hidup dengan hal-hal yang
benar-benarberguna danyangbisa kitakerjakan.
TiraniOpiniOrangLain
Mari kita membahas mengenai salah satu dari “hal di luar
kendali”menurutStoisisme,yaituopini/pendapatoranglain.Entahsadaratautida
k, berapa banyak dari kita yang hidup terus-menerus mengikutipendapat
orang lain. “Apa kata orang?" adalah ucapan yang seringkita dengar. Bagi
kita yang hidup di Indonesia, tekanan opini oranglain adalah sesuatu yang
nyata. Ternyata, hal ini sudah ada bahkansejak masa Kekaisaran Romawi
kuno. Marcus Aurelius pernahberujar, “Saya selalu kagum. Kita yang selalu
lebih mencintai dirisendiri daripada orang lain, justru lebih peduli pada
pendapat oranglain daripada pendapat diri sendiri. Jika Dewa meminta
seseoranguntuk selalu mengucapkan apa pun yang terlintas di
pikirannya,niscaya orang itu tidak akan mampu bertahan sehari saja.
Begitulahbesarnya kepedulian kita akan pendapat orang lain
dibandingpendapat kitasendiri.” [Meditations]
Tanpa kita sadar, sering kali kita berencana dan bertindak
demimengikutipendapatoranglain,baikitukeputusan-keputusanbesarsampai
keputusan-keputusankecil.Misalnya,
• Memilih pacar. Gue diomongin orang gakya kalo pacaran
samadoi?Cintasih,tapidialusuhgitu,guejadikeliatansobatmiskin
• Memilih kuliah. Gue mau kuliah sesuai minat gue, tapi kalo
guemasukjurusanitu,guedikatainbegosamatemen-temengue....
• Memilih pekerjaan. Gue sebenarnya merasa gak cocok kerja
diperusahaansekarang,tapiperusahaaninikerenbangetdimataor
ang-orang, jadi gue bertahandemi gengsi...
• Dan banyak pilihan-pilihan hidup lain yang membuat
kitamemprioritaskanpendapatoranglaindaripendapatdirikitasendir
i.
Jika kita mengira pengaruh pendapat orang lain hanya berdampakpada
"keputusan-keputusan besar saja”, ini keliru. Bahkan, pada hal-
halsepeleyangkelihatannyatidakterkenapengaruhpendapatoranglainpun
kitatidak terbebasdari fenomenaini.
Kehadiran media sosial membuat efek pendapat orang lain
justrusemakindahsyat, karenaapapunyangkitapostdimediasosialbisadinilai,
disetujui, atau dicela oleh ratusan, bahkan ribuan orang diinternet. Coba
jujur, berapa kali kita mem-posf sesuatu di mediasosial dengan harapan
mendapatkan banyak likes, views, danmenambahjumlahfollower?
[Udah,ngaku ajadidalamhati
.......................Sayapunseringbegitukok:D)
Epictetusmenyebutkanbahwahal-
halyangberadadiluarkendalikitaitu"bagaikan
budak.danmilikoranglain”.Interpretasi saya
adalahbahwa pendapat-pendapatorang laintersebutbisa"memperbudak” kita.
Saat kita terus-menerus ingin menyenangkanorang lain, ingin memenuhi
ekspektasi orang lain, mendapatkanapproval orang lain, meraih sebanyak-
banyaknya likes dan views,tanpa sadar kita sudah diperbudak oleh
pendapat orang lain. Daripilihan baju, sepatu, sekolah, pilihan karier,
pilihan politik, pilihancalonsuami/istri—
jikasemuanyadilakukantidakdengankebebasan,melainkan untuk menuruti
pendapat orang lain, apa bedanya kitadenganbudak?
“Memangapasalahnyasihhidupmengikutipendapatoranglain?Tohkitahappy juga
melakukannya. Ribet amat hidup lo?” Jika disanggah
sepertiini,seorangfilsufStoaakanmenantang balik,"Yakinkamuakanbisa
merasa terus-menerus bahagia dengan cara ini?” Ingatlah bahwamenggantungkan
kebahagiaan kepada halyang di luar kendalisesungguhnya sangat rapuh dan
sangat berisiko berujung padakekecewaan. Jika pendapat orang lain di luar
kendali kita,
artinya,pertama,tidakakanadahabisnyauntukdiikuti,dankedua,bisaberubahsema
u sipemilikpendapat.
Contohnya begini. Bayangkan jika kita terus-menerus berusaha mengikutipendapat
pacar. Pacar senang kamu berambut pendek, padahal
kamuberambutpanjang,kemudiankamuturutidenganmemotongrambut.Pacarsenangf
ilmStarWars,padahalmenurutkamusemuafilmStarWarsbodoh sekali, tapi kamu
tetap nonton. Pacar mau berhubungan seks,padahal kamu sebenarnya ingin
menjaga keperawanan sampai
menikah,tapikamuikutikemauannya.Kemudiankamuhamil,lalupacarkamukabur.Ak
hirnyakamutinggalsendirian,denganrambutpendek,koleksifilm Star Wars, dan
perut melendung. Semua karena kamu terus-menerusdiperbudak pendapat orang
lain. Contoh ini ekstrem, tetapi relevan dibanyak aspekhiduplain.
Tentunya ini bukan berarti Stoisisme mengajarkan kita untuk
menutuptelingasamasekaliterhadappendapatoranglain,karenakitaharusbisamenerim
akritikdanmasukanyang membangun.
"Jika seseorang bisa membuktikan kekeliruan saya dan menunjukkankesalahan
saya dalam berpikir dan bertindak, saya dengan senang hatiakan berubah. Saya
mencari kebenaran yang tidak pernah melukai siapapun.Yangcelakaadalahterus-
menerusbertahandalammenipudirisendiridan
ketidakpedulian,”MarcusAurelius.{Meditations)
Jadi, umpan balik, nasihat, dan opini yang membangun dan memperbaikidiri kita
sendiri tetap harus kita hormati dan dengarkan.
YangdipertanyakanolehStoisismeadalahketikakitamengirabisabahagiadandamai
dengan terus-menerus menyenangkanorang lain.
Preferred/UnpreferredIndifferents
Dengan dikotomi kendali, maka dalam Filosofi Teras sesuatu hal hanyabisa
menjadi benar-benar “baik” atau “buruk” jika hal tersebut berada dibawah kendali
kita. Sebab, bagaimana kita bisa dinilai atas sesuatu yangtidak di bawah kendali
kita? Sebaliknya, baik atau buruknya seseorangterletakpadahal-
halyangadadibawahkendalinya,yaitupemikiran,opini,interpretasi, tindakan, dan
perkataan. Karena hal-hal tersebut sepenuhnyaada di bawah kendali seseorang
(dengan asumsi dia memiliki jiwa
yangsehat,tidaksedangterganggu/sakit),makabaiktidaknyaseseorangbisa
dinilaidarihaltersebut.Lalu,bagaimanadenganhal-haldiluarkendalikita?
Stoisisme memasukkan semua hal di luar kendali kita sebagai “indifferent",atau
terjemahan bebasnya adalah "hal-hal yang gak ngaruh (bagi baik atauburuknya
kita)”. Jika melihat lagi daftar hal-hal di luar kendali, yaitupendapat orang lain,
tindakan orang lain, reputasi/popularitas kita,kekayaan/harta-benda kita,
kesehatan/tubuh kita, cuaca besok, realitaspolitik(danbanyakhal
laindiluarkendalikita),maka
artinyaitusemuatidakbisamenentukankualitaskarakter,kebahagiaan,danrasadamaikit
a.
Entah kita kaya atau miskin, entah kita sehat atau sedang sakit, entahanggota tubuh
kita lengkap atau tidak, Filosofi Teras berkata bahwa
kitasemuasanggupmerasabahagiadantenteram,danmenjalanihidupyangbaik.
Sebaliknya, kita bisa kaya raya, cantik, sehat, semua anggota tubuhlengkap, dan
populer, tetapi toh tetap merasa tidak bahagia dan tidakmenjalanihidupyangbaik.
Salah satu alasan saya menyukai Filosofi Teras adalah karena filosofi inisecara
eksplisit menyatakan sifat yang sangat inklusif (untuk semua orang,apa pun
kondisinya) dan menganggap semua manusia sama dalamkapasitasnyamenggapai
kebahagiaandanhidup yangbaik. ParafilsufStoa tidak akan silau oleh pameran
kekayaan, gelar atau pangkatseseorang— karena ini semua adalah hal-hal eksternal
yang tidak bisadigunakan menilai hidup seseorang. Sebaliknya, seseorang yang
terkesanjauh dari kekayaan dan ketenaran, tapi hidup dengan kebajikan /virtue)
danbebasdariemosinegatif,makahidupnya dianggap jauhlebihbaik.
Di masa kini, saat kekayaan, kecantikan, popularitas dapat denganmudah
"terlihat” dalam genggaman kita melalui media sosial
danmembuatkitamerasasedihkarenamembandingkanhidupkitadenganhidup
oranglain,filosofi initerasamakin relevan.
Sampai di sini, mungkin ada dari kamu yang mulai merasa
kurangtertarikdenganFilosofiTeraskarenaterkesanantikekayaanduniawi.Sebagi
an mulai mempertanyakan apakah Stoisisme identik dengangambaran filsuf
petapa yang hanya hidup di hutan, memakai sehelaikainsaja,dan hanyamakan
buah-buahan.
Karenakekayaanmasukdidalamdaftarhal-haldiluarkendali,apakahberarti
Filosofi Teras anti kekayaan? Jika mengamati kehidupan parafilsuf Stoa, kita
akan menemukan bahwa sebagian dari mereka cukupkaya raya. Ada yang
berprofesi sebagai politisi senior,
pedagang,bahkankaisar.Tentunyahidupmerekatidakbisadibilangsederhana,
apalagisusah.Apakahinisebuahkontradiksi,ataulebihparahlagi,kemunafikan?
Tidak seperti filsafat Sinisme (aliran Cynic] dan beberapa aliran agamaatau
mazhab agama yang menekankan bahwa semua kekayaanmateri adalah
buruk, bahkan cenderung mengajarkan sikap memusuhipada semua hal
duniawi, Filosofi Teras memiliki sikap yang lebihmoderat dan realistis.
Realistis karena tidak mungkin membebaskanseluruh manusia dari
menginginkan hal-hal duniawi. Lalu, mungkinjuga ada pertimbangan
marketing, karena filosofi yang ajarannya jikadiikuti
membuathidupkitaterlalumenderitarasanyatidakakanpopulerbagibanyakorang!
MariterlebihdahulukitalanjutkandenganpenjelasanStoisismemengenaih
al-halyangdisebutindifferent[gakngaruh]tadi.
Ingat bahwa arti kata "indifferent”adalah "tidak memiliki
pengaruh”,dalamhaliniterhadapkarakterdankebahagiaanseseorang.Namun,Stoi
sisme juga realistis karena mengamati perilaku kebanyakanmanusia yang
tidak bisa lepas dari rasa mengingini hal-hal duniawi,seperti kekayaan,
kecantikan, dan kesehatan. Dunia sains modernsudah menyadaribahwahasrat
“Manusiatidakmemilikikuasa
untuk memiliki
apapunyangdiamau,tetapid
ia
memilikikuasauntuktidakm
enginginiapa
yangdia belum
miliki,dandengan
gembiramemaksim
alkanapayang
diaterima.”
terhadaphal-
halinitampaknyasudah“terprogram”dibenakkitaselamaribuantahundans
usahuntukdimatikan begitusaja.
Sebaliknya,tidakadajugamanusiawarasyangmenyukaikemiskinan,kelaparan,dansakit
karenapenyakit.Karenanya,FilosofiTeras
membagiindifferentmenjadiduakategori:
• Preferred Indifferent. Hal-hal yang gak ngaruh, tetapi “kalau
ada”yabagus.Hartabenda,kesehatan,kecantikan,popularitas(yangpositif)
masuk dalam kategori ini. Mereka tidak berdampak
padakebahagiaan/karakter, tetapi jika ada tentunya lebih baik. Selainitu,
kekayaan, kesehatan, dan popularitas juga bisa membantukita dalam
mempraktikkan kebajikan (virtue) melalui perbuatanbaik (misalnya,
uang digunakan untuk membantu mereka yangkesusahan, kesehatan
menunjang kegiatan amal kita, dan lain-lain).
• Unpreferred Indifferent. Hal-hal yang gak ngaruh, tetapi kalau“tidak
ada” ya lebih baik. Contohnya adalah sakit karena
penyakit,kemiskinan,reputasiburuk.Stoisismeadalahfilosofiyangrealistisd
an tidak memaksa kita melakukan hal yang terlalu ekstrem. Disaat yang
sama, Stoisisme tetap konsisten dengan ajarannya.Walaupun ada hal-hal
yang kita “lebih sukai”, seperti punya uangyang jumlah nolnya sampai
tidak muat di buku tabungan,smartphone termahal, pensil alis dahsyat
yang bisa menangkapsinyal wi-fi, follower bejibun, dan semua nikmat
duniawi lainnya,jangan pernah lupakan bahwa itu semua ada di luar
kendali kita,bisa lenyap kapan pun, tidak berpengaruh pada kebahagiaan
dankualitas karakter kita (bahkan bisa mengganggu), dan karenanyakita
tidak boleh terlalu melekat (attached) pada hal-hal itu.Seberapa pun
menyenangkannya hal-hal itu semua, merekatetaplahindifferent,gak
ngaruh,gakada nilainya.
Sebaliknya, Filosofi Teras juga memberikan penghiburan saat
kitadalam"kesusahan”.Saatkitabangkrut,uangkirimanorangtuaseret,saat kita
harus menderita sakit, saat reputasi kita jatuh (entah karenasalah kita sendiri
atau karena fitnah), para filsuf Stoa bisa berempatibahwa hal-hal ini memang
tidak menyenangkan dan tidak diinginkan(unpreferred).Namun,di
saatyangsama,kitadihiburbahwasemuahaltidakenakitutidakbisamenghambatki
tamencapaikebahagiaan sejatidankarakteryangbaik, karena dalam keadaan
sulit pun kita masih memiliki hal-hal
didalamkendalikita(pikirankita,persepsikita,pertimbangan kita).
MemperlakukanHartaBenda(danPreferredIn
differentLainnya) sepertiMainBola
EpictetusdidalamDiscoursesmemberikananalogimenarikmengenaicara
menyikapi harta benda (dan preferred indifferent lainnya sepertiketenaran,
kecantikan, jabatan). Beliau menganalogikan itu semuabagaikan “bola”
dalam “permainan bola” kehidupan. Bola penting didalam permainan bola,
tetapi para pemain bola lebih mementingkancara meng-handle bola tersebut
dan bukan bola itu sendiri. Saatpertandingan di Piala Dunia berakhir
misalnya, kita tidak melihat parapemain kedua kesebelasan baku hantam
untuk bisa memiliki bolayang barudimainkan.
“Kamu akan menemukan bahwa para pemain bola andal melakukanhal yang
mirip (dengan seseorang menangani kekayaan).
Bukanbolanyayangdianggapberhargaolehmereka,tetapiyangdinilaibaiktidakn
ya adalah seberapa mahir mereka melemparkan danmenangkap bolaitu,"
ujarEpictetus.
Begitu juga dengan sikap kita akan kekayaan (dan preferredindifferents
lainnya—hal-hal ini dianggap sebagai 'bola' yang
harusdimainkandenganbaik,tetapibukanuntukdirebutdandipelukterus-menerus.
'Permainan bola’, termasuk cara kita bermain, jauh lebihpentingdan berharga
daripada sibola itu sendiri.
MengingatSifatSebenarnyadariBenda-
benda(danManusia)
Satu teknik lain agar kita tidak menjadi dikendalikan oleh hartakekayaan
adalah dengan terus mengingatkan diri akan nature daribenda-benda
tersebut.
"Mengenai benda atau apa pun yang bikin kamu happy, karenamemang
berguna atau kamu sayang-sayang banget, ingatkanlahselalu dirimu
tentang sifat [nature] sebenarnya barang-barang itu,dimulai dari yang
paling tidak penting. Contohnya, kalau kamusayang banget pada sebuah
mangkuk keramik, ingatkanlahdirimu bahwa yang kamu sukai ya hanya
sebuah mangkukkeramik. Jadi, kalau pecah, kamu tidak akan terlalu
bete.
Saatkamumenciumanakmu,atauistrimu,katakanpadadirimusendiribahwa
kamu hanya mencium manusia, sehingga kamu tidakterganggu
saatmerekameninggal dunia."-Epictetus
[Discourses]
Jadi, kita bisa kok enjoy hal-hal "duniawi". Silakan menikmati rezekiyang
kita dapatkan, tetapi selalu ingatkan diri sendiri untuk tidakbergantung
kepadanya (hindari attachment] dengan cara melihat hal-hal tersebut secara
apa adanya. Kamu senang punya pekerjaanbagus?Kamusenangpunya
smartphonemahal? Kamusenangterlahir cantik cetardengan alis paripurna?
Bisnis kamu sukses? Pacarkamu gantengnya ngalahin Zayn Malik dikawin
silang sama RyanGosling? Syukurlah ada itu semua, tetapi selalu ingatkan
diri kamubahwa sesungguh-sungguhnya itu semua hanyalah
sebuah"pekerjaan",hanyasebuah“smartphone”,hanya"keberuntunganfisik”,ha
nya "seorang cowok ganteng"—dan bahwa itu semua bisa hilangsewaktu-
waktu karena tidak (sepenuhnya) di bawah kendalimu,
danbahwakamuMAMPUmerasatenang/bahagia "tanpa"itusemua.
Disinilahbiasanyakitasemuamengalamikesulitan,karenasegalahalyang
nyaman, canggih, bagus, enak, cantik, elok, pastilah bersifatnagih. Inilah
mengapa Stoisisme menekankan nalar/rasio, karena(seharusnya) nalar/rasio
kita bisa melawan efek nagih segalakenikmatan dunia, dengan cara melihat
benda, objek, dan kenikmatantidak lebihdariapaadanya.
"Maka manusia yang menahan dirinya untuk hidup dalam batas
yangditetapkan Alam, tidak akan merasakan miskin. Sebaliknya,
manusiayangmelewatibatas-batasiniakanterus-menerusdikejarkemiskinan,tak
peduli betapa kayanya dia," ujar Seneca dalam On Shortness ofLife.
(Seneca)
Seneca percaya bahwa kebutuhan hidup manusia menurut
yangditetapkanAlamtidaklahbesar,tetapiketidakpuasanmanusialahyangingin
mengejar hal-hal yang lebih banyak lagi. Sesungguhnya, segalaharta benda ini
tidak penting dan tidak berpengaruh bagi kebahagiaankita. Ironisnya, mereka
yang kaya raya, tetapi tidak pernah puasmengejar lebih banyak lagi harta
benda, justru dikatakan “terus-menerusdikejar ‘kemiskinan’’’.
DalambukunyaLettersfromaStoic,Senecaberkata,“Manusiatidakmemiliki
kuasa untuk memiliki apa pun yang dia mau, tetapi diamemiliki kuasa untuk
tidak mengingini apa yang dia belum miliki, dandengan
gembiramemaksimalkanapayang dia terima.’’
Apakahkamuterus-terusanresahmelihattaskulitsapiperawan,
sneakeryangmasihadabaujempolnyaLeBron James,pacarorang,
atau foto Raja Ampat yang berkeliaran di media sosial, dan kamung/7ertapi
gak mampu meraihnya? Ingat quote di atas, kamu
punyapoweruntuktidakmengingininya.Cobaliriktaskamu,sneakerkamu,atau
pacar kamu sekarang. Bisakah kamu gembira dengan apa yangtelah kamu
miliki? Bisakah kamu melihat mereka dan sungguh-sungguh"mengingini”apa
yangsudah kamu miliki?
".... Saatkamumenciumanakmu,atauistrimu,katakan
pada dirimu sendiri bahwa kamu hanya mencium manusia,
sehinggakamutidakterganggusaatsalahsatudarimerekameninggaldunia.”Iniadal
ah bagian kutipan Epictetus dalam buku Enchiridion yang sekilasterasa
‘sadis’. Kok tega betul saat kita sedang menyayangi anak-istri—atau suami—
kita justru disuruh membayangkan kemungkinan merekamati? Ini masih
bentuk disiplin untuk melihat substansi/sifatsesungguhnya dari segala
sesuatu—termasuk melihat orang-orangyang kita kasihi sebagai makhluk fana.
Kita harus mengingat terus-menerus bahwa nature manusia adalah fana/”bisa
mati”, sehinggaketika akhirnya kematian sungguh menjemput mereka, kita
tidakterkejut.
Pesan Epictetus tersebut seharusnya juga memiliki efek supaya kitasemakin
menghargai keberadaan ayah, ibu, saudara, pasangan, anak,dan teman-teman
terdekat ketika mereka masih hidup. Apakah kitatelah menganggap remeh
keberadaan mereka /take them for granted),sampai suatu hari mereka
diambil dari kehidupan kita? Apakah
selamainikitamenghabiskanwaktubersamamerekatetapiperhatiankitatetapdigad
get[smartphone/tablet]kita?
Pesan Epictetus bisa diekspresikan ulang menjadi, "Karena anak, istri,dan
orang-orang terkasih di sekitarmu itu fana/ mortal, hargailah
setiapmomenbersamamereka”Jikaayah,ibu,istri,atausuamitiba-tiba
direnggut dari sisi kita, apakah kita baru akan menyesal
telahmenghabiskanwaktupadalayarsmartphoneselamaberadabersamamereka?
SekaliLagitentangPasrahpadaNasib
Tadi telah dibahas salah satu kesalahpahaman yang umum terhadapFilosofi
Teras adalah mengira filosofi ini mengajarkan kepasrahan padasituasi. Karena
situasi eksternal adalah sesuatu di luar kendali, seolah-
olahkitahanyabisamengubahpersepsisaja,dantidakperluberupaya,apalagi bekerja
keras. Anggapan ini sudah diberikan solusinya olehWilliam Irvine dalam bentuk
“trikotomi kendali” di atas. Selain itu,
kitacukupmelihatkehidupanparafilsufStoisismeuntukmelihatapakah
merekatergolongorang-orangyangpasif,nrimosaja,dantidakberusaha.
Cato The Younger adalah seorang politisi di Kekaisaran Romawi yangterkenal
karena berani menentang Julius Caesar. Seneca adalah gurubagi kaisar dan aktif
menulis, baik mengenai Stoisisme dan juga
naskahteater.DiajugaseoranganggotaSenat.MarcusAurelius,seorangkaisaryang
tidak hanya terkenal bijak, tetapi harus aktif menjaga keutuhankekaisarannya dari
pemberontakan. Saat Roma diperintah oleh KaisarNero yang sewenang-wenang,
sekelompok filsuf Stoa melakukanperlawanan secara politis. Saat membaca
kisah- kisah mereka, tidakterkesan praktisi Stoisisme sebagai orang- orang yang
nongkrong sajamenerimanasibyangtiba.
KataMarcusAureliusdalambukuMeditations:
"Saat subuh, ketika kamu merasa sulit meninggalkan tempat tidur,katakan
pada dirimu sendiri: saya harus bekerja, sebagai manusia.Apayangharus
sayakeluhkan,jikasayamemangmengerjakanhal-hal yang untuknya saya
dilahirkan—segala halyang memang harussaya lakukan datang ke dunia
ini? Atau INI-kah mengapa
sayadiciptakan?Untukmeringkukdibawahselimutagartetaphangat?”
Tapi kan rasanya nikmat melingkar di dalam selimut seperti kucing? Well,Kaisar
Marcus sudah punya jawabannya, "Jadi kamu dilahirkan
untuk‘merasanikmat'?Danbukannyabekerja danmencaripengalaman?
Tidakkah kamu lihat tumbuhan, burung, semut, laba-laba, dan lebah,semuanya
mondar-mandir mengerjakan pekerjaan mereka,
menempatkanduniainisebagaimanamestinya,sebaikupayayangbisamerekalakukan?
Dan kamu tidak bersedia melakukan tugasmu sebagai manusia?
Mengapakamutidakbergegasmelakukanapayangdituntutolehjatidirimu(sebagaiman
usia)?”
Perhatikan konsistensi prinsip "hidup selaras alam”. Rajin bekerja
danberkaryatidakdilihatsebagaisekadarjerihpayahuntukbertahanhidupataumemupuk
kekayaan, tetapi sudah bagian jati diri manusia. Di dalamStoisisme tidak ada
ancaman dosa untuk kemalasan, hanya kita diingatkanbahwa dengan malas bekerja,
kita sudah mengingkari Alam dan nature kitasebagai manusia (bahkan kita
dianggap lebih buruk dari binatang-binatangyang rajin!). Kemudian, tanpa
keselarasan dengan Alam, kita akan semakinsulitmeraihkebahagiaandan
ketenteramanbatinyang sejati.
Dengan kata lain, kemalasanlah yang akan membawa kesusahan
danbukanlah jerih payah itu sendiri. Sesungguhnya, kerajinan, kerja keras,
danberkaryasudahmenjadipanggilankita.
Jika kamu hidup selaras
denganAlam, kamu tidak
akanpernahmenjadimiskin.
MenyikapiKekayaanOrangLain
Sejak2.000tahunyanglalu,yangnamanyairipadapencapaian,apalagikekayaan
orang lain, ternyata sudah umum Padahal, zaman dahulubelum adamedia
sosialyangsangatmemudahkan untuk pamerkekayaan. Saya terbayang zaman
dulu ketika belum ada televisi, kitahanya bisa membandingkan diri kita dengan
para tetangga. Untukmembandingkan diri, kita harus melongok ke luar pagar
untuk melihattetangga mana yang punya kendi baru sampai suami baru. Ketika
adatelevisi, kita mulai bisa membandingkan diri dengan kekayaan paraselebriti
dantokoh terkenal yang munculdilayarkaca.
Kemudian, kehadiran media sosial membuat kita bisa membandingkandiri
dengan siapa saja, mulai dari teman yang dikenal, orang tak dikenal,sampai
berbagai macam selebriti, selama 24 jam, tujuh hari
seminggu.Sebegitubesarnyatekananuntukmemamerkankekayaan(atau‘terlihat’k
aya), bahkan saya sampai mendengar tentang akun-akun mediasosialyang niat
'memalsukan’ gaya hidup mereka agar terlihat hidupdalamkemewahan.
Inisebenarnyatragedi.JikaFilosofiTerasmenempatkankekayaandirisendiri saja
sebagai di luar kendali kita, apalagi kekayaan orang lain?Lalu, kita
membiarkannya menentukan kebahagiaan kita. Apa yangditawarkan Filosofi
Teras untuk melawan tendensi (manusiawi)
untukmembandingkandanmerasairi?
Pertama,menempatkankekayaanpadatempatnya.Epictetus,dalam
Enchiridion,berkata:
“Ini adalah nalar yang keliru, 'Saya lebih kaya, artinya saya lebihbaik
dari kamu’, atau 'Saya lebih pandai berkata-kata
[eloquent],artinyasayalebih baikdarikamu.’
Yang benar seharusnya adalah, ‘Saya lebih kaya, artinya sayamemiliki
lebih banyak aset dari kamu’, dan, ‘Saya lebih pandaiberkata-
kata,artinyasayamemilikigayabahasayanglebihbaikdarikamu.’"
Kekayaan hanyalah ukuran kuantitas aset, properti, harta benda.
Tidaklebihdariitu.Masalahnyaadalahadaorangyangtidakbisamemisahkankekayaan
seseorang dari kualitas pribadinya. Seolah-olah, mereka
yanglebihkayaotomatiskualitasnya sebagaimanusiajugalebih baik.
Dengan sangat logis, Epictetus mengklarifikasi hal tersebut. Kekayaan,keahlian,
kecantikan, kekuatan (fisik) tidak serta-merta
membuatseseorang"lebihbaikdarikita”.Inibisamembantukitasaatditerparasa
iri melihat kekayaan atau pencapaian orang lain. Sebaliknya, pesanEpictetus juga
berlaku bagi kita semua untuk tidak memandang
rendahmerekayanghartabendanyalebihsedikitataukeahliannyalebihrendahdari kita.
Lebih lanjut, Epictetus memberikan tips mengenai iri hati (akan kekayaan)dan
perspektifbaru:
"Setiap kali kamu melihat orang kaya, lebih baik cermati apa yangtelah
kamu miliki. Seandainya kamu tidak bisa melihat apa pun,kamu berada di
situasi yang menyedihkan. Namun, jika kamu tidakmemiliki keinginan
akan harta benda, sadarilah bahwa kamumemiliki sesuatu yang lebih besar
dan berharga. Atau, adaseseorang yang mempunyai istri cantik dan kamu
tidak
memilikikeinginanmemilikiistricantik.Apakahmenurutkamu(tidakmemiliki
keinginan akan harta/istri cantik) ini adalah hal sepele? Berapabanyak dari
mereka—orang- orang kaya, berkuasa, atau hidupdengan perempuan
cantik—yang bersedia membayar untuk bisamenganggap remeh kekayaan,
kekuasaan, dan semua perempuanyang merekapujadan dapatkan?”
Walaupun terkesan sebagai pembenaran diri ("Ah, ini sih bisa-bisanyasobat
miskin untuk menghibur diri.”), tetapi coba kita renungkan dalam-dalam
perkataan Epictetus ini. Kita semua, yang setiap hari dikejarkeinginan-
keinginan, ingin lebih banyak uang lagi; ingin punya motor;yang sudah punya
motor ingin skuter mahal atau punya mobil; yangsudah punya mobil ingin
ganti mobil lebih mewah; yang punya tas ingintas lebih mahal lagi; yang sudah
punya smartphone ingin yang lebihcanggih lagi; yang sudah punya istri ingin
istri lebih cantik, dan
lainseterusnya.Semuakeinginaninimendera,membuatkitaterobsesi,danterkadang
mendorong kitauntukberbuatkejahatan,seperti korupsi.
Dalam Filosofi Teras, ada yang lebih nikmat daripada keinginan
yangterpenuhi,yaitutiadanyakeinginanitusendiri.Inilebihhebatdarisekadarikhlas
menerimabahwakita tidakmemiliki
(tapidalamhatimasihmengingini).KataEpictetus,orang-orangkaya dan
berkuasa harusnya bahkan bersedia membayar untuk bisaterbebas dari
keinginan-keinginan. Filosofi Teras mengajarkan kitabahwa langkah awal
untuk bisa terbebas— minimal mengurangi—keinginan,adalahdenganbenar-
benarmengenaliapayangkitainginitersebut, apakah kita mengingini hal-hal di
luar kendali kita (dikotomikendali).
"Ifyouliveaccording towhatothersthink,youwillneverbe
rich."-Seneca [Letters)
Senada dengan Epictetus, Seneca berkata bahwa kita yang hidupterus-
menerusmengikutipendapat/opinioranglaintidakakanpernahmenjadi kaya.
Kita bisa mengartikan quote ini dalam dua cara. Yangpertama, hidup terus
mengikuti opini orang lain, artinya kita tidakhabis-habisnya mengikuti tren.
Tren sendiri artinya sesuatu yangsedang populer di antara banyak orang di
suatu periode. Mengikutitren artinya mengikuti opini orang banyak. Kalau
kita terus-menerusharus mengikuti tren yang ada dengan membeli barang-
barang danmakanan yang sedang populer, kapan kita menabung,
berinvestasi,dan menjadi kaya? Sayangnya, pola hidup “besar pasak
daripadatiang” inirasanya selalupopuler, apalagidikota-kotabesar.
Makna kedua dari pernyataan Seneca adalah jika terus-
menerusmembandingkan diri dengan pendapat orang, kita tidak akan
pernahbenar-benar merasa kaya, seberapa banyak pun harta yang sudahkita
kumpulkan. Berapa pun uang dan harta benda yang kita
miliki,akanselaluadaoranglainyang(tampak)lebihdarikita,danakhirnyakita
tidak pernah bisa merasa “sudah kaya”. Bagaikan hamster yangberlari di
roda mainan tak berujung, pengejaran materi ini tidak akanpernah usai.
Makna kedua ini sesuai dengan kalimat Seneca lainnya, “Jika
kamuhidupselarasdenganAlam,kamutidakakanpernahmenjadimiskin."Ingat
bahwa “Alam” dalam Stoisisme lebih bermakna nalar manusia.Dengan kata
lain, mereka yang hidup dengan nalarnya tidak akanpernah(merasa)miskin,
danbisa mengenalkata“cukup”.
Hal-hal yang tidak di
bawahkendali kita:
kekayaanreputasi,kesehat
an,danopini orang lain. Hal-
hal
yangdibawahkendalikita:pikir
an,
Mungkinadadarikamuyangsaatiniberpikir,“Ah,filsafatini>terlalu
meremehkankemiskinan.Miskinkan gakenak? Yang
opini, persepsi,dan\ beneraja?" Epictetus pun sudah
menyadarikemungkinan
tindakankitasendiri.
• tanggapansepertiini,makaiaberkata(dalam
Enchiridion], "Ingatlahbahwaadajauhlebihbanyakorangmiskin
(daripadaorangkaya),tapikamutidakmelihatmereka
• semuaterlihatlebihmurungdanlebihkhawatirdaripada
orangkaya.Bahkan, sayacurigamerekajustrulebih
• bahagiakarenalebihsedikithal-halyangbisamengganggu
* pikiranmereka.Cobakitaamatiorang-orangkaya.Tidakkah mereka
• sering kali terlihat sama saja dengan yangmiskin!"
•
•
1
Pengamatan dan konklusi yang masuk akal, dan bisa diterapkan dinegeri
kita. Secara statistik, jumlah orang yang tidak berada pastijauh lebih banyak
dari orang berada. Namun, cobalah kita melihat kesekeliling kita. Apakah
kita dikelilingi orang-orang yang terus-menerus terlihat muram, depresi,
dan bersedih hati? Tidakkah kitamasih melihat tawa ceria, sukacita,
keramahan di antara begitubanyak orang yang tidak memiliki materi
berlimpah? Maka, benarlahbahwa kekayaan materi sesungguhnya tidak
terlalu berpengaruhpadakebahagiaankita.
Di bab ini kita sudah berkenalan dengan prinsip dikotomi kendali(atau
trikotomi kendali). Jika bisa benar-benar meresapi prinsip
inisaja,seharusnya kita dapat menyadari bahwaada banyakkecemasan dan
ketakutan dalam diri kita yang sebenarnya tidakperlu. Stoisisme masih
mempunyai beberapa "perangkat” lain
untukmembuatkitalebihsanggupmengelolaemosinegatifkitadibab-
babselanjutnya.
IntisariBab4:
• Dalamhidup, adahal-halyangdibawahkendalikitadanadayangtidak.Orang yang
bijak adalah yang bisa mengenali kedua kategori ini dalamsegalahaldidalam
hidupnya.
• Hal-halyangtidakdibawahkendalikita:kekayaan,reputasi,kesehatan,dan opini
orang lain. Hal-hal yang di bawah kendali kita: pikiran,
opini,persepsi,dantindakankitasendiri.
• Walaupun kekayaan,kesehatan,kecantikan,ketenaran
bisadiusahakan,tetapitidakbisadijamintidakbisadiambildarihidupkita—
karenanya mereka termasukdidalamhal-haldiluarkendali.
• Baiktidaknyahidupkitahanyabisadinilaidarihal-haldibawahkendalikita.
• Mengertidikotomikendalitidaksamadenganpasrahpadanasib.
• Trikotomi kendali dari William Irvine memperkenalkan kategori
ketiga“SEBAGIAN di bawah kendali kita”, misalnya studi, karier, dan
bisnis.Tugas kita adalah memfokuskan pada internal goal yang masih
dibawahkendalikitadanselalusiapmenerimahasil/outcomeyangdiluarkendalikita.
• Waspadatiraniopinioranglainakanhidupkita.
• Segala hal di luar kendali kita adalah indifferent, tidak
berpengaruhterhadap baik tidaknya hidup kita. Sebagian dari indifferent
ini
lebihdiinginkan(preferred),sebagianlaintidakdiinginkan(unpreferred).
• Belajartidakmenginginihal-haldiluarkendalikita.
BABLIMA
Mengendalikan
Interpretasi
danPersepsi
S uatuhari,sayamerasakanmalasyangluarbiasasaatakanberangkatbekerja.
Adasebuahjadwalmeetingdenganklienyangsayamerasasangat berat untuk
dilakukan. Dalam perjalanan, saya
mencobamenganalisispikiransayasendiridibalikrasaberatini.Setelahdit
elusuri,ternyatarasaberatsayatimbuldaripersepsisayabahwameetinginihanyam
embuang-
buangwaktusaya,bahwatidakadahalapapunyangbisasayaperolehdarimeetingin
i.TetapikemudiansayadiingatkanFilosofiTerasuntuk berhati-hati dengan
persepsi saya akan sebuah fakta
objektif.Faktanyaadalahsayamenghadapisebuahmeeting.Titik.Apakah
meetinginihanyabuang-
buangwaktusudahmenjadipenilaian(valuejudgment)saya,danbukanfakta.Meny
adaribahwarasaberatinidisebabkanolehpersepsisayasendiri,makasayamenco
bamenantangnya.Katasiapameetinginipastibuang-buangwaktu—
apalagimeeting-
nyabelumterjadi?Dankatasiapasayatidakbisabelajarsesuatupundarimeetingapa
pun?Sesudahmelakukan'debatinternal’ini,sayamerasakansedikitlebihtenang.
Di bab sebelumnya, kita sudah diajarkan mengenai dikotomi kendali
untukmenyadarkan diri secara terus-menerus bahwa ada hal-halyang berada
dibawah kendali kita dan ada yang di luar kendali kita. Ini adalah
fondasipentingdidalam
Stoisisme.Denganbisamemahamihalinisaja,makaakansangatmembantu kita
mengatasikekhawatiransehari-hari.
Jika kita membuang waktu dan tenaga untuk memusingkan, meratapi, atauterobsesi
pada hal yang tidak di bawah kendali kita, maka itu adalahirasional, tidak masuk
akal. Walaupun prinsip ini sangat penting dalamFilosofi Teras untuk memandu
hidup kita sehari-hari, tetapi bukan satu-satunya. Saya rasa kamu juga pasti merasa
masih ada sesuatu yang
hilangjikahanyamemahamidikotomi(atautrikotomi)kendaliini,karenaparafilsufStoa
pun menyadari hal ini. Jadi, jangan khawatir. Ternyata mereka
sadarkokkalaukitasemuapunya kekuatan spesialuntukmenghadapihidup!
“It is not things that trouble us, but our judgmentabout things.”-
Epictetus[Enchiridion]
94
("Bukan hal-hal atau peristiwa tertentu yang meresahkan
kita,tetapipertimbangan/pikiran/persepsiakanhal-
haldanperistiwatersebut.”)
Dengan kata lain, Epictetus mengatakan bahwa sumber sebenar-
benarnyadarisegalakeresahandankekhawatirankitaadadidalampikiran kita,
dan bukan hal atau peristiwa di luar kita. Cobabayangkansituasi-
situasiberikut:
• Ketinggalankeretasaatmaukekampus/kantor.
• Motor/mobilkitabannyakempesditengahjalan.
• Smartphonebarubeliduaharijatuh,kacanyaretak.
• Pacarsalahsebutnamakitajadinamamantan.
• CalongubernurjagoankitakalahdiPilkada.
• Rumahkebanjiran.
• Dimarahimertuakarenamasakantidakenak.
• Kehilanganpekerjaankarenaperusahaanbangkrut.
• Anakkitakawinlaridenganpasangan yangberbedaagama.
Rasanya manusia normal akan setuju bahwa semua situasi di atastidak
mengenakkan. Dari yang sekadar menyebalkan, yang
seriusbikinmaumarah,sampaiyangbisamembuatkitaputusasa.
Epictetus berkata bahwa sesungguhnya semua hal itu bukanlahpenyebab
kita sedih, stres, galau, dan lain-lain. Menurut Stoisisme,peristiwa-peristiwa
tersebut adalah netral (tidak baik, tidak buruk).Namun, persepsi, anggapan,
dan pertimbanganlah yang membuat itusemuanya
menjadi"buruk”.Hah?Gimana?
DalamFilosofiTeras,adapemisahanantaraapayangbisaditangkapoleh indra
kita /impression), dan interpretasi atau makna atas apayang kita lihat dan
dengar tersebut /representation). Kita sering kaligagal memisahkan
keduanya. Pada umumnya, kita serta-mertamemberikan interpretasi/
penilaian lvalue judgment) dan pemaknaandari sebuah peristiwa yang
dialami. Peristiwa itu sendiri hampir selalunetral, tetapi kemudian menjadi
"positif" atau "negatif" karenainterpretasidanmakna yangkitaberikan.
95
Sebuah ilustrasi sederhana, seorang Jawa Solo baru pertama kali bertemudengan
seorang Batak Medan. Secara budaya, seseorang yang berasal dariBatak Medan
terkenal berbicara keras. Cara berbicara ini bagi diri sendirinyaadalah netral, tetapi
kalau dilihat dari perspektif si orang Jawa Solo, dia bisamenginterpretasi si orang
Batak Medan sebagai ‘’kasar’’ dan "pemarah”,padahal keduanya tidak benar. "Bicara
keras” adalah impression, faktaobjektif yang bisa ditangkap indra, tetapi “kasar”
adalah representation, sudahada penilaianlvalue judgment)subjektif.
Mari kita ambil beberapa contoh sebelumnya. Pacar salah sebut
namamantan,misalnya.Secarafakta,kejadianini"netral”.Apayangbikinkamumengamu
k kalau jadi pacarnya? Karena kamu menyusun persepsi daninterpretasimu [value
judgment)sendiri atas kejadian itu:
• '‘Bajingan,pacarguebelommoveondarisijalangitu!"
• "Selamainijadidiaselingkuhsamamantannya?"
• "Sungguhcowokberengsekyangtidakmenghargaigue!"
• Danlain-lain.
Perhatikan, semua pernyataan di atas adalah murni dikonstruksi di
dalamkepalamudanbukandatangdariperistiwapacarsalahsebutnamamantan.Kejadian
salah sebut nama mantan itu sendiri bersifat "netral”. Bahwa iadimaknai sebagai
tanda belum move on, atau bahwa dia cowok brengsek,adalahtambahan
valuejudgmentdarikita sendiri.
Marikitaambilcontohlain.Ketikadiputushubungankerjaolehperusahaankarena
perusahaanbangkrut, apa yangmelintasdipikiran kita?
• "Sayakenakarmaapayasampaiapessepertiini?”
• "Hidupsayaselalusial,kerjaansajagakbisabertahan.”
• "Iniadalahkiamat!Habissudahhidupku..."
Sekali lagi, pikiran-pikiran di atas adalah opini dan interpretasi kita sendiri,tidak
datang secara objektif dari peristiwa PHK itu sendiri. Inilah yangdisebutkan oleh
Epictetus bahwa sesungguhnya bukan peristiwa/hal
yangmeresahkankita,tetapipikirankitasendiri(mengenaiperistiwa/haltersebut).
FILOSOFITERAS 96
.pada
dasarnyasemua
emosi dipicuoleh <
penilaian, kkA
opini,persepsikita.
Keduanyasalin
gterkait,danjikaadaem
osinegatif,
•w sumbernyayanalar/rasio
•• w
1
,kitasendiri.J
KekuatanPertimbangan(Judgment) danPersepsi
SenadadenganEpictetus,MarcusAurelius[Meditations)menulis:
"Jika kamu merasa susah karena hal eksternal, maka perasaan susah itutidak datang
dari hal tersebut, tetapi oleh pikiran/persepsimu sendiri.
Dankamumemilikikekuatanuntukmengubahpikirandanpersepsimukapanpunjuga."
Kamu memiliki kekuatan untuk mengubahnya...kapan pun juga! Marcus
Aureliusmelanjutkan ucapan Epictetus, bahwa kita harus menyadari semua rasa
susah,khawatir, cemas, iri hati, dan lain-lain datangnya dari pikiran kita sendiri.
Kabarbaiknya,kitasebenarnyaMAMPUmengubahpikiran/persepsi kita(tanpa
mengubahperistiwaeksternalyangterjadi).
InilahyangdimaksudkanolehStoisismebahwakebahagiaansejatidatangdarihal-
halyangbisadikendalikan,yaitupikiran,persepsi, danpertimbangankitasendiri.
Kebahagiaantidakperlubergantungpadahal-haleksternal.
Bagisaya,ajaraninimembebaskankarenasifatnyamemberdayakan
/empowering) kita. Filosofi Teras berkeyakinan bahwa kita bukanlah sekoci keciltak
berdayung dan tak berlayar yang pasrah digoyang ke sana sini saat
diterjangbadai"peristiwahidup"lebuset,puitisamatyak].Kitatidakharusmenjadimakhlukyan
g selalu reaktif terhadap hal-hal yang terjadi di dalam hidup kita. Kita bukanlahmakhluk
pasifyangdibawasenang,sedih,danmaraholehhal-haleksternal.
Sebaliknya, perasaan kita datang dari pendapat dan persepsi yang sepenuhnya dibawah
kendali kita. Kita bisa aktif menentukan respon kita terhadap peristiwa-peristiwa didalam
hidupkita.
Insight dari Filosofi Teras ini juga menghancurkan apa yang saya percayai sejakkecil
mengenai emosi vs rasional. Dulu, saya selalu memisahkan "emosi" dari"nalar/rasio”
sebagai dua kekuatan berbeda yang saling bertarung.
Namanyapertarungan,selaluadayang‘kalah’dan‘menang’.Seolah-olahjikanalarmenangdari
emosi, maka kita menjadi manusia yang tenang dan terkendali. Sebaliknya,saat gantian
emosi menang dari nalar, maka kita melakukan hal-hal yangdestruktif.
Ajaran Filosofi Teras menantang konsep tersebut dengan
menjelaskanbahwapadadasarnyasemuaemosidipicuolehpenilaian,opini,perse
psikita. Keduanya saling terkait, dan jika ada emosi negatif, sumbernya
yanalar/rasio kitasendiri.
Konsepinicukuprevolusionerbagisaya,karenasetiapkitamerasakanemosi negatif
(seperti kisah saya di awal bab ini yang merasa beratmenghadiri sebuah
meeting] kita bisa menelusuri apa pikiran, opini,persepsi penyebabnya. Dan
pikiran, opini, persepsi ini bisa di- 'debat”,ditantang, diubah. Emosi (negatif)
bukan lagi sesuatu yang
harus“diperangi”,tetapibisa“diselidikidandikendalikan”darisumbernya.
Karenanyaadaungkapan,emosi(negatif)adalahnalaryangtersesat.
Mari kita kembali ke contoh sebelumnya dan melihat
bagaimanainterpretasikitaterhadapsebuahperistiwabisadikendalikan.Anggapsajase
perti menulis ulang drama hidup kita [rewrite the narrative!. Pacar
salahsebutnamamantan?Adaalternatif interpretasi, misalnya:
• "Semuamanusiawajarsalahsebut,apalagidialamapacaransam
a mantannya."
• "Mungkindiamemangbelummoveon.Sayabersyukurditunjukkanhalini,ka
rena dia berhakbahagia, dansaya berhakbahagia."
• "Iniadalahujianbagisayaapakahsayabisamemaafkandanmenerimadia.
Tidakadamanusiayangsempurna,termasuk saya."
Kehilanganpekerjaan?Adaalternatifinterpretasi:
• "Ini kesempatan mengubah karier ke bidang yang saya mau."
•"Lumayandapetpesangon, bisa nyobabisnis online."
• "Iniujianbagikesabarandankeuletansaya."
Perhatikan bahwa interpretasiulang diatasbukansekadarmenghindar/ngefes, tetapi
sama valid-nya dengan semua
interpretasinegatifsebelumnya.Peristiwayangterjadi(pacarsalahsebutnamaataukita
kehilangan pekerjaan) tetap tidak berubah, akan tetapi kita memilikikendali atas
”makna7va/ue judgment apa yang hendak kita kenakan keperistiwa itu.
Darimaknadanpersepsiinilahtimbulperasaandanemosikita.Jikakitamemberimakna
yangnegatif,makakitaakanmerasamarah,cemburu,iri,putusasa.
Namun, jika kita memberi makna yang positif, maka kita akan merasa
terinspirasi,lebihsabar,lebihtekun,dantidakmenyerah.Pilihanmaknaitusepenuhnyaadaditang
an kita.
MelawanInterpretasiOtomatis
“Jangan katakan pada dirimu sendiri lebih dari impresi
awalyangkamudapatkan.Kamumendapatkanbahwaseseorangberkat
ayangjelektentang kamu.Ya,hanyainikabarnya.
Kabarnyatidak berkatabahwa kamu sudahdilukai/dicelakakan
[harmed). Saya melihat putra saya sedangsakit—tapi tidak sedang
terancam jiwanya. Karenanyatetaplah fokus pada impresi pertama
(fakta objektif), danjangan ditambah-tambahkan lagi di kepalamu.
Makasesungguhnya tidak ada yang benar- benar bisa
terjadikepadamu.”-MarcusAurelius [Meditations]
Mempelajari Filosofi Teras menyadarkan saya bahwa banyak dari emosi negatifkita
merupakan akibat dari "interpretasi otomatis” /representation) atas
sebuahkejadian/peristiwa.Adakejadianyangtidakenakmenimpakita,makakitasecara
otomatismerasadizalimi,diperlakukantidakadil,ditimpabencana,dihina,danlain-lain, dan
akhirnya emosi negatif pun menyusul, yaitu jadi merasa jengkel, marah,takut,
dendam,cemburu, putusasa,danlain-lain.
Coba perhatikan kalau lain kali kita berkeluh kesah. Sering kali keluh kesah keluarsegera
setelah terjadinya sebuah peristiwa. Misalnya, saat kita kehilangan
uang,dikecewakanorang,stuckdikemacetanjalan,ataukuotadatahabis,makadengancepat kita
mengomel karena interpretasi kita (ingat perkataan Epictetus bahkanbukan hal/peristiwa itu
sendiri yang membuat kita cemas/khawatir, tapi interpretasikita). Iniyangsaya
maksuddengan"responotomatis”.Begituadapemicu/trigger),interpretasiotomatis
muncul, diikuti dengan emosi. Kurang lebih, bagannya akansepertiini:
Inilahyang dimaksudkan olehMarcus Aurelius, bahwakitasesungguhnya
memiliki kendali terhadap rasa cemas, khawatir,
danemosinegatiflainnya,yaitujikakitabisamengendalikaninterpretasisecara
aktif. Dengan demikian, kita bisa menginterpretasi sebuahperistiwa secara
rasional, sesuai dengan nature manusia untukmenggunakan nalar kita.
Jika kita tidak menggunakan nalar, makakita tidak ada bedanya dengan
binatang. Bagaikan kucing yangdipegang oleh orang tidak dikenal, maka
secara insting kucingtersebut berniat mencakar karena menganggap orang
itu sebagaiancaman.
Dalam Filosofi Teras, representation atau interpretasi kita
akansebuahperistiwatidakharusterjadisecaraspontantanpa‘diperiksa'
/examined). Jika mau, sesungguhnya kita mampu memeriksa
sebuahperistiwa dan kemudian memutuskan makna apa yang ingin
kitaberikan.Contohnyaadalahpengalamanpribadisayasebagaiberikut.
Di awal buku saya sudah bercerita bagaimana setelah mempelajariStoisisme
saya menjadi jauh lebih sabar jika terjebak kemacetan dantidakmarah-
marahgakjelaslagi.Dulu,sayaselalumendapatisituasisaya sepertiini:
Setelah membaca quote Marcus Aurelius di atas, saya jadi sadar bahwa saya
tidakharusmarahjikaterjebakkemacetan.Jikasayamaumeluangkansedikitwaktusaja
PERISTIWA: INTERPRETASI 1 EMOSI(N
Terjebakdi EGATIF):
kemacetan OTOMATIS:Saya Marah,kesal,
buang- frustrasi
buangaktudisini!Sa
ya
.terpenjara!J
untuk berpikir, saya mampu mengubah interpretasi atau persepsi otomatis ini.
Sayamencobamenerapkanprinsipinikedirisayasendiri, dansekarangsayatidakmarah-
marahlagiketikaterjebakkemacetan.Prosesberpikirsayamenjadisebagaiberikut:
Sekarang,kemacetantidaklagisecaraotomatismemicurasaamarahataufrustrasi.Dansemakin sering
saya berusaha mengendalikan pikiran saat terjebak kemacetan, semakinterasa mudah bagi saya.
Bagaikan latihan mengangkat beban, semakin sering dilatih,maka beban yang sama makin lama
akan makin terasa ringan. Begitu juga halnyadengan mengendalikan interpretasi/makna/va/ue
judgment sebuah peristiwa—semakinseringmakaakanterasa semakinmudah.
Sekarang, terjebak dalam kemacetan sudah tidak lagi membuat saya gelisah ataumarah-
marah. Teknik ini bisa diterapkan dalam semua situasi ketika kita mulaimerasakan adanya
emosi negatif. Jika saya mau, saya selalu mampu untuk
tidakmenurutiinterpretasiotomatisyangmenyeretsayapadaemosinegatifyangberlarut-larut.
Karenaumumnyaorangmenyukaiakronim(singkatan)untukmemudahkanmengingatlangkah-
langkah, maka saya akan menggunakan akronim juga untuk
membantupembacamengambilkembalikendaliinterpretasiataskehidupankitasehari-hari.
Akroniminisayatemuidiinternet,tetapitidakdiciptakanolehStoisisme.
Langkah-langkahyangbisadiambilsaatkitamulaimerasakanemosinegatif (mau
mengamuk, sedih, baper, frustrasi, putus asa, dan lain-lain) dapat disingkat
menjadi S-T-A-R iStop, Think & Assess,Respond):
1. STOP (berhenti). Begitu kita merasakan emosi negatif, secarasadar
kita harus berhenti dulu. Jangan terus larut dalamperasaan tersebut.
Anggap saja kita berteriak “time-out!" didalam hati. Cara ini bisa
mulai dilatih di semua emosi negatifbegitu mulai terdeteksi, seperti
takut, khawatir, marah, cemburu,curiga, stres, sedih, frustrasi, dan lain-
lain. Walau mungkinterdengar aneh atau mustahil untuk
"menghentikan” emosi yangselama ini muncul begitu spontan,
menurut pengalaman saya inisangat bisa dilakukan. Semakin sering
dilakukan, kita akanmenjadi lebihefektif melakukannya.
2. THINK & ASSESS (dipikirkan dan dinilai). Sesudahmenghentikan
proses emosi sejenak, kita bisa aktif berpikir.Memaksakan diri untuk
berpikir secara rasional saja sudahmampu mengalihkan kita dari
kebablasan menuruti emosi.Kemudian, mulailah menilai /assess),
apakah perasaan saya
inibisadibenarkanatautidak?Apakahkitatelahmemisahkanfaktaobjektifd
ari interpretasi/va/ue judgment kita sendiri?
Menggunakan Filosofi Teras, cara kita menilai adalah
denganbertanyapadadirisendiri,"Apakahemosisayainiterjadikarenasesuatu
yang di dalam kendali saya atau di luar kendali saya?”Contoh:
a. Terkenamacetyangtidakbiasanya.Inidiluarkendalikita,kenapa
gusar? Toh ngamuk-ngamuk tidak bisa mengubahsituasi.
b. Maumeeting,ketinggalanf/7e/dokumenpenting.
Oke, kita bisa kesal sama diri sendiri karena teledor(sesuatu yang
ada di bawah kendali kita), tapi, saat
ini,situasisudahterjadi.Jadi,daripadamarah-marahpadadirisendiri,
alihkan untukmencarisolusi.
c. Ketemu teman yang sudah lama tak berjumpa, tanpa basa-basi dia
langsung teriak, "GILEEEELO GEMUKANAMAAAT? EH, LO
GEMUKAN APA HAMIL DI LUARNIKAH??" Kata-kata ini
secara objektif ya hanya kata-
kata,tetapiinterpretasi"inisengajamenghinasaya"sudahdatangdari
pikiran kita sendiri. Kemudian, kita tidak bisamengendalikan
congor orang lain, jadi mau berharap apa?Berharap semua orang
bisa tahu mana sapaan yang sopanatau tidak? Ini tidak realistis.
Juga ada kemungkinan diabenar-benar tidak mengerti etiket, dan
kalau tidak tahu,artinya dia tidak tahu kalau yang dilakukannya
tidak patut.Kita bisa memberi tahu dia dengan baik-baik (kalau
mau).Nanti kita akan membahas nasihat praktis Stoisisme
dalamberurusan dengan manusia-manusia lain (yang kerap
dirasamenjengkelkan).
d. Permintaan dari atasan yang dirasa 'menakutkan', misalnya,dari
pengalaman saya pribadi, diminta untuk berbicara didepan
ratusan orang. Rasa gentar yang mendadak
munculkemudiansayaanalisis.Ternyata,sayagentarkarenatakutme
mbayangkan saya gagal (irasional karena belum terjadi)dan takut
orang lain menganggap penampilan saya buruk(irasional karena
opini orang lain tidak berada di bawahkendali kita). Saya juga
gagal memisahkan antara faktaobjektif (berbicara di depan
banyak orang), dan interpretasipribadi (saya akan
mempermalukan diri sendiri). Sesudahmelakukan think &
assess ini, saya pun berangsur lebihtenangdan bisamenerima
tugasdari atasan.
Daripengalamansaya,sekadarberusahamelakukanThink
& Assess saja sudah cukup untuk menahan laju emosi jiwayang
sedang membuncah, karena yang kita lakukan
adalahmenginterupsi emosi yang selama ini bablas seperti
gerbongkereta lepas. Dalam Think & Assess, sebenarnya
kitasedang "memisahkan” [detach) diri kita dari sekadar
orangyang terbawa perasaan menjadi "pengamat”/pihak
ketigayang berkepaladingin. Dicobadeh!
3. RESPOND.Sesudahkitamenggunakannalar,berupayauntukrasionaldal
ammengamatisituasi,dan,semogasaatini,emosisudah sedikit turun,
barulah kita memikirkan respon apa yangakan kita berikan. Respon
bisa dalam bentuk ucapan atautindakan.Karenapemilihanrespon
tersebut datang sesudah kita memikirkannya situasinya baik-baik,
diharapkan ucapan dan tindakan respon ini adalah hasilpenggunaan
nalar/rasio yang sebaik-baiknya, dengan
prinsipbijak,adil/fair),menahandiri/tidakterbawaperasaan/emosi/,da
n berani/courage).
Kerangka S-T-A-R ini menurut saya bisa dipakai di situasi apa pun.APA-
PUN. Tidak ada situasi yang terlalu berat sampai kita tidakmampu
mengendalikan interpretasi pribadi. Kapan kita tahu kitaharus melakukan
S-T-A-R? Begitu kita mendeteksi adanya
emosinegatifdalamsetiapsituasiyangdihadapi.Sekolah,pacaran,karier,bisnis,
keluarga, jalan raya—rasanya tidak ada skenario hidup
apapunyangtidakbisamerasakan manfaatkerangkaS-T-A-Rini.
Mulai dari keputusan "kecil”, misalnya panik melihat sale sepatu
dimal(interpretasiotomatisyangharusdilawan,"ADUHKAPANLAGIADASA
LESEPERTIINI,WALAUPUNGUEGAKBUTUHSEPATU
KE-200....”),sampaikeputusan"besar",misalnyadiajakmenikah
masih muda, sampai peristiwa hidup yang mengguncang
kita,misalnyaPHKataukematianmendadakkeluargadekat.Memberikandiri
kita kesempatan untuk berpikir rasional hampir selalu lebih
baikdibandingkan dengan terus-menerus membiarkannya ditarik ke
sanasiniolehemosi.
DalamDiscourses,Epictetusberkata,"Janganbiarkanperistiwayangada (di
depanmu) menggoyahkan dirimu. Katakanlah (kepadaperistiwa/kejadian
itu), 'Tunggu dulu; biarkan saya memeriksamusungguh-sungguh. Saya akan
mengujimu terlebih dahulu.”’ Bagi sayainiadalah teknikS-T-A-
Rdiatas.Hampir2.000tahunyang lalu
Epictetusjugamengingatkanagarkitatidaktergesa-gesamenilai,apalagi bertindak
atas apa yang kita rasakan dan pikirkan tanpadianalisis terlebihdahulu.
Mungkinkah seseorang mampu bersikap sangat rasional di
setiapdetik,disetiapkesempatan?Stoisismemengertisifatdasarmanusiayang
memiliki emosi dan perasaan yang bersifat reflex. Dan inimanusiawi.
Sebagai contoh, ketika kita sedang berkendara tiba-tibadisalip ibu-ibu naik
skutik yang menyalakan lampu sen ke kiri, tetapibermanuver ke kanan,
pasti ada reaksi spontan kaget dan mungkinmarah. Atau, ketika kita sedang
sendirian di rumah di malam hari,dan tiba-tiba terdengar suaradariloteng.
“Sudah saatnya
kamumenyadari bahwa
kamumemiliki sesuatu di
dalamdirimu yang lebih kuat
danajaib daripada hal-hal
yangmemengaruhimu
layaknyasebuahboneka”
- Marcus
Aurelius(Meditations)Reaksi pertama yang terpikir mungkin takut, bulu kuduk merinding,dan
berpikir ada setan lagi mampir. Stoisisme menerima impresi danreaksi
spontan ini sebagai sifat manusiawi yang wajar. Tantangannyaadalah apakah
kita akan membiarkan representation awal ini terusberlanjut? ("Gue
dizolimi ibu-ibu skutikl", atau, "ADA SETAN DILOTEEEEENGGGG!!!!"),
atau kita bisa menghentikannya, memeriksapikiran kita sendiri, dan
kemudian mengambil respons yang lebih
baik("Sabar.Pengendarasembaranganyaadadimana-
mana.Sayayangmustiwaspada,"
atau,"Mungkinadapenjelasanlainuntuksuaradi
loteng, gak harus setan kan. Bisa aja maling, kucing,
ataugenderuwo...").TeknikS-T-A-Rmembutuhkankemampuandeteksidini
emosi negatif agar kita bisa segera sadar dan
menghentikanrantaipikiranburuk seawalmungkin.
Kita bisa menjadikan disiplin S-T-A-R ini kebiasaan sehat.
Padaawalnyapastiterasamenantang,apalagijikaselamabertahun-tahunhidup
dengan emosi yang sangat reaktif dan spontan terhadap apapun
yangmenimpahidupkita.
Saat menulis buku ini, saya sudah menerapkan S-T-A-R selamakurang
lebih 6 bulan, dan saya bisa katakan, semakin seringditerapkan semakin
dia menjadi kebiasaan. Menurut banyakpenelitian, kemampuan mental
kita memang mirip dengan otot.Kebiasaan berpikir bisa dilatih seperti
mengangkat barbell atau larimaraton—semakinseringdilatih, maka
semakin kuat.
"Jagalah senantiasa persepsimu, karena ia bukan hal
yangsepele,tetapimerupakankehormatan,kepercayaan,ketekunan,kedam
aian, kebebasan dari kesakitan dan ketakutan—dengankatalain,
kemerdekaanmu.”-Epictetus [Discourses]
Tentunya kita harus realistis bahwa teknik S-T-A-R bukan amunisiajaib
[magic bullet) yang mengatasi segala emosi kita, membuat
kitaselalukalemluarbiasa bagaikan tokohYodadi filmStarWars.
Namun, minimal kita bukan bagaikan sekoci lepas yang pasrahmengikuti
dibawa ombak ke mana. Stoisisme mengajarkan bahwainterpretasi ini
sepenuhnya di bawah kendali kita. Dengan S-T-A-
R,kitamulaiberusahamemberikan"dayung”dan"layar”kekapalkecilemosi kita,
sehingga tidak semudah itu diombang-ambing ke sanasini.
Seperti disinggung oleh Dr. Andri SpKJ, FAPM di Bab I, bukan stresyang
membunuh kita, tetapi reaksi kita terhadap stres. Stres yangsama bisa
menimpa dua orang, tetapi responnya bisa sangatberbeda, tergantung
persepsi masing-masing individu. Bagi saya,inilahbentukvalidasidunia
medisterhadap FilosofiTeras.
Walaupun “ilmu” psikologi dan psikiatri mungkin belum
resmidirumuskandimasaYunanidanRomawikuno,parafilsufStoasudahmemah
amibahwaperistiwaburuk,kondisiyangtidakmenyenangkan, dan musibah
adalah fakta hidup (Sang Buddhaberkata bahwa hidup pada dasarnya penuh
kesedihan), tetapi bukanitusemuayang‘membunuh’
kita,melainkanapayangkitapikirkan
tentangnya.
“Sudahsaatnyakamumenyadaribahwakamumemilikisesuatudi dalam
dirimu yang lebih kuat dan ajaib daripada hal-hal yangmemengaruhimu
layaknya sebuah boneka.” - Marcus Aurelius[Meditations]
Kemampuan—dan kemauan—mengendalikan interpretasi
semakindiperlukan di masa kini, karena adanya temuan psikologi
bahwagenerasimillenialmemiliki“rasaberhak”(entitlement)yanglebihtinggid
ari generasi sebelumnya. Persepsi hak ini datang daribef/ef/kepercayaan
bahwa “saya lebih superior dari orang lain danberhak mendapatkan hal- hal
yang baik juga”. Dr. Joshua Grubbsyang melakukan riset bersama The
University of Hampshiremengatakan:
“Di tingkat ekstrem, rasa berhak/entitlement adalah sifat
narsisyangsangatmerusak,menempatkanorangpadarisikofrustrasi,tidak
bahagia, dan kecewa akan hidup. Sering kali, hidup,kesehatan,
bertambahnya usia, dan kehidupan sosial tidakmemperlakukan kita
sepertiyang kita inginkan.
Bertemu denganbatasan-batasan(hidup)ini sangatmengancam bagi
mereka yang merasa berhak/entitled
karenatidaksejalandenganpersepsimerekaakankeunggulanmerekasendir
i."
Dr. Grubbs meneliti 170 kasus dan menentukan bahwa sebuah rasaberhak
membawa kita pada siklus kekecewaan, kemarahan,perasaannegatif, dan
kebutuhanterus-menerus
“Selalu
ingatbahwa ini
semuatelahterjadi
sebelumnya,danakanterjadilag
i. Plot yang sama dariawal
hingga akhir, di
tatapanggungyangsama.
Pikirkanhalini,berdasarkanyan
g kamu ketahui
daripengalamanatausejarah.”-
MarcusAurelius
(Meditations).
bagi seseorang
untukmeyakinkan
dirinyabahwadiaistime
wa.
Untukbisa
melawanmentalitasini,parapakarpercayabahwaseseorangharusbelajar untuk
lebih rendah hati, lebih bersyukur /grateful),
danmenerimabatasanyangdihadapidanketerbatasanmerekasendiri.
Membaca temuan di atas, saya makin yakin bahwa kata-
kataEpictetusdanMarcusAureliussesungguhnyatetaprelevan,bahkan
2.000tahunsesudahdituliskan.Rasafrustrasidanketidakbahagiaankita
sesungguhnya datang dari dalam pikiran kita sendiri, bukan darirealitas hidup
itu sendiri. Good news-nya adalah pikiran
kitasepenuhnyaberadadibawahkendali kitasendiri.
MelawanLebay
Bagaikan cenayang, para filsuf Stoa juga sudah memberikanbeberapa tips
menghadapi kelebayan zaman ini. Tanpa kita sadari,sebenarnya kita sering
kali lebay (berlebihan) dalam menanggapisegala sesuatu, walaupun hal itu
sebenarnya remeh. Kita marah-marah,ngomel,baper,mewek,danlain-
lain,untukhal-halyangtidakperlu. Di foto selfie keliatan gemuk? Lebay!
Berat badan naik 200gram? Lebay! Gebetan ternyata sudah punya anak?
Lebay! Nilaiujiananak hanya97, padahalharusnya 100?
Lebay!Gakmendapatkan tiket konser? Lebay! Seleb kawin lagi? Lebay
juga,padahal kenaljugaenggak.
Kenyataannya, media sosial menambah lagi kemungkinan kitamenjadi lebay.
Pertama, dengan mendistorsi persepsi realitas
kita.Kebanyakanoranghanyamem-posthal-halyangindahsajadimediasosial,
misalnya sepatu baru, HP baru, pacar baru, cafe baru, liburanbaru, tasbaru,
rumahbaru, istribaru,anakbaru, danseterusnya.
Hampirjarangsekaliyangmem-postkemalangan,kemiskinan,kecerobohan,
kebodohandalamhidupnya.
Saya belum pernah melihat ada yang menulis di akun mediasosialnya, "Yay!
Saya hamil dan tidak tahu siapa bapaknya!” Karenapostinganorang-
orangdi mediasosialselaludiseleksi/curated),maka media sosial tidak
memberikan gambaran realitas hidup yangseimbang, tetapi cenderung ke
yang positif saja. Ini membuat kitamengira standar hidup yang "normal”
harus selalu indah,
sempurna,harmonis,danketikaharusberhadapandengankenyataanyangtidaken
aksedikit, bagi kita inisudah menjadimasalah besar.
Yang kedua, menjadi lebay sangat difasilitasi oleh media sosial. Kitamudah
memuji-muji dengan berlebihan hal-hal yang ada di mediasosial, karena kita
cukup memilih like, menaruh emoticon, ataumenulis komentar dengan
jempol kita. Tanpa kita sadari, lebay
dijempolakhirnyabisamenjadilebaydibibirdanpikiran.Sekarang,kita
mengertibahwalebaydipikiranbisamembuatkitatidakbahagia.
FilosofiTerasmembagikanbeberapapengamatanmengenaihidupuntuk
melawanfenomenalebay:
1. Tidak ada yang baru di dunia ini. "Selalu ingat bahwa ini semuatelah
terjadi sebelumnya, dan akan terjadi lagi. Plot yang
samadariawalhinggaakhir,ditatapanggungyangsama.Pikirkanhalini,
berdasarkan yang kamu ketahui dari pengalaman atausejarah," Marcus
Aurelius [Meditations). Semua kejadian yangkita alami dan amati
dalam hidup pada dasarnya sudah pernahterjadi,sedang terjadilagi,dan
masihakan terjadi.
Di sini, tentunya Marcus Aurelius tidak membicarakan hal-halyang
bisa muncul dan hilang, seperti tren baju, Taylor Swift, atauteknologi
smartphone, tetapi hal-hal yang berkenaan denganperasaan manusia,
yaitu patah hati, iri hati, sedih karenakehilangan barang, duka karena
kehilangan anggota keluarga,terkhianati, kehilangan teman, kehilangan
harapan, nafsu birahi,dan lain-lain-semua ini sudah dialami umat
manusia selamaribuantahun danmasih terus akanterjadi.
Dalam perspektif waktu seperti ini, apakah hal-hal sepele dalamhidup
ini perlu mendapatkan responyang berlebihan?
MungkinjikaMarcusAureliushidupdizamansekarang,diaakanmenegurkit
a, "EH BIASA AJA KELEUS. INI HAL BIASA DALAM
HIDUP,GAKUSAHLEBAY!"
2. Perspektif dari atas (View from above). "Ketika kamu
berpikirmengenaiumatmanusia,cobalahmelihathal-
haldiduniaseolahkamumelihatnya dariketinggian,”Donald Robertson.
Dalam bukunya Stoicism and The Art of Happiness,
Robertsonmengutip teknik yang pertama kali diperkenalkan oleh
MarcusAurelius ini. Kita diminta mencoba membayangkan diri
kitaperlahanterbangkeatas(denganmenumpangdroneraksasa).
Diawali dari problem kita sendiri, misalnya diputus pacar/
dimintacerai,kemudianperlahanmakinnaik.Kitamelihatorang-
orangdisekitar kita, mondar-mandir dengan urusan dan
kesusahanmereka sendiri. Makin naik, kita melihat kota tempat kita
tinggal,dengansegalakompleksitaswarganyadanpermasalahannya.
Makinnaik, kitamelihatIndonesia dengansegalapermasalahannya,
dari urusan korupsi, kerusakan hutan,kemiskinan,danlain-
lain.Terusnaik,siapkanhelmoksigen,
karenakitaakanmelihatbumiyangbulat,besertasegalapermasalahan
dunia,dari angkasaluar.
Kemudian, tanyakan kembali ke diri kita, apakah
sebenarnyamasalahpribadikitasungguh-
sungguhsebuahmasalahbesarbiladibandingkandenganduniadanseluru
hkehidupannya?
Tidakkah drama yang sedang kita jalani sebenarnya tidaksebegitu
istimewanya, sebuah debu di dalam keseluruhanperjalanan sejarah?
Bandingkan dengan ancaman perang nuklir,misalnya.
Yangmenarik,teknikkunoiniternyatadialaminyataduaributahunkem
udianolehpara ............................................. astronaut.The
Overview Effect (Efek Melihat Dari Jauh) adalah nama
untukperubahan drastis yang dialami para astronot saat melihat
bumidari jauh di luar angkasa. Ketika mereka melihat bumi
dariangkasa,makamunculkesadaranbetaparapuhnyakehidupan,dan
betapa kita semua umat manusia sesungguhnya
salingterhubung/interconnected)diplanetini.
Dalamartikel
“SeeingEarthfromSpaceistheKeytoSavingOurSpecies from Itself'
("Melihat Bumi dari Angkasa adalah KunciMenyelamatkan Spesies
Kita dari Diri Kita Sendiri”) oleh BeckyFerreira, mantan astronot
Apollo 11 Michael Collins berkata,"Saya sungguh percaya jika saja para
pemimpin bangsa-bangsabisa melihat planet mereka dari jarak 100.000
mil, makaperspektifmerekaakan berubahdrastis.”
3. Semua akan terlupakan. ‘Pada saatnya, kamu akan
melupakansegalanya.Danakanadasaatnyasemuaorangmelupakanmu.S
elalu renungkan bahwa akhirnya kamu tidak akan menjadisiapa-
siapa,dan lenyap dari bumi," MarcusAurelius
/Meditations). Jika pada akhirnya segala drama hidup kita
akandilupakan dan terlupakan, bahkan mungkin oleh kita
sendiri,apakah sudah sepantasnya kita bersikap berlebihan
terhadapsebuahperistiwa?
Pada akhirnya, kita sendiri mungkin akan melupakan apa yangbaru saja
terjadi, orang-orang lain juga akan melupakannya,
danmungkindalam10,25,atau50tahunlagi,semuainiakanterasaremehdanbia
sa.
Denganmenyadaribahwasesungguhnyatidakadayangbenar-
benaristimewadenganperistiwahidupkita,baikdalamperspektif waktu
(semuadramakitainisudahpernahterjadidimasalampaudiseluruhdunia,danakan
terjadilagidimasadepan),danjugadalamperspektif seberapa pentingnya apa
yang kita alami dibandingkankeseluruhan umat manusia dan hidup, maka
jika kita rasional, kitatidak perlulebaydi semuasituasi.
KultusIndividu
Reaksi lebay juga bisa timbul terhadap individu. Misalnya, kita nge-fans
sekali pada selebriti, tokoh idola, termasuk pemimpin (bisapolitik, agama,
atau bidang lainnya). Kultus individu (rasa hormatberlebihan) timbul ketika
kita mulai mendewakan
seseorang,sehinggayangterlihatolehkitadarinyahanyalahyangbaik-
baiksaja.Dia tampilbagaikan sosokyang sempurna.
Kemudian, ketika belakangan orang tersebut melakukan kesalahan,atau
tidak menunjukkan moralitas yang sesuai dengan ekspektasikita, maka ada
dua reaksi, yaitu penyangkalan /denial)—kitamenuduh itu semua pasti
tidak benar—atau patah hati menghadapikenyataan. Di kedua respons
tersebut, sebenarnya kita sudah lebayjuga. Media sosial saat ini juga sangat
memperbesar efek kultusindividu, karena kita bisa "mengikuti" sepak
terjang orang yang kitaidolakanhampir24 jam,tujuh hari seminggu.
Bagaimana Stoisisme melihat fenomena kultus individu ini?
Dengankerangka dikotomi kendali, seharusnya jawabannya sudah jelas.
Kitatidak seharusnya menggantungkan kebahagiaan pada kekayaan
danpopularitas kita sendiri, apalagi pada reputasi orang lain. Pilihan-pilihan
orang lain tidak berada di bawah kendali kita, karenanya kitaharus selalu
siap menghadapi ketika orang yang kita idolakanternyata mengecewakan
kita. Tidak perlu lebay, gusar, menangisguling- guling, jika kita selalu
mampu mengingat bahwa kehidupantokoh idolaadadi luar kendalikita.
TheInnerCitadel(BentengdiDalamDiri)
Di bab ini kita telah diingatkan oleh para filsuf Stoa bahwa perasaankita
tidak harus menjadi penumpang pasif yang dibawa danditentukan oleh
kehidupan. Kita juga diingatkan bahwa semua rasasusah, khawatir, cemas
karena peristiwa eksternal sebenarnya tidakdatang dari peristiwa hidup itu
sendiri, tetapi dari persepsi,
anggapan,opinikitasendiri,daninisepenuhnyadibawahkendalikita.Iniadalah
kabar gembira yangsangat
penting,karenajikakitabisamengendalikanpersepsidanpikirankitayangselamai
nibertanggungjawab terhadap semua emosi negatif kita, sesungguhnya rasa
damaidan tenteram selalu bisa kita ciptakan tanpa harus menunggu
hidupmemperlakukan kitadenganbaik.
Mengendalikan emosi negatif merupakan tema yang cukup seringberulang di
dalam teks-teks Filosofi Teras. Para filsuf Stoa melihatemosi negatif yang
lahir dari opini/va/ue judgment sebagai
sesuatuyangharusterusdikeluarkandaridalampikirankita.Haliniberkaitandenga
n hidup yang sebagian besar berada di luar kendali kita. Bagifilsuf Stoa,
hidup yang penuh ketidakpastian hanya bisa dihadapidengan pikiranyang
tidakterganggu emosi negatif.
“Pikiranyangtidakdigangguolehemosiberkecamukadalahsebuahbenteng,
tempat berlindung terkokoh bagi manusia untuk berteduhdan berlindung.”-
Marcus Aurelius /Meditations). Walaupun beliauadalah seorang Kaisar
dengan kekuasaan absolut atas ratusan ribuprajurit,bagiMarcus
a YouhaveDowerover
your notoutsid e
minevents.Realizet
his,
andyouwillfind
strength? -
MarcusAurelius(Medit
ations)