The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Filosofi Teras adalah sebuah buku pengantar filsafat Stoa yang dibuat khusus sebagai panduan moral anak muda. Buku ini ditulis untuk menjawab permasalahan tentang tingkat kekhawatiran yang cukup tinggi dalam skala nasional, terutama yang dialami oleh anak muda.

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Mazyya Sahira Divva, 2022-11-16 11:00:28

Filosofi teras

Filosofi Teras adalah sebuah buku pengantar filsafat Stoa yang dibuat khusus sebagai panduan moral anak muda. Buku ini ditulis untuk menjawab permasalahan tentang tingkat kekhawatiran yang cukup tinggi dalam skala nasional, terutama yang dialami oleh anak muda.

Keywords: filosofi teras

akan menerima reaksi yang ramah dan santun. Ketika mereka sudahbersiap-
siapmenghadapiseranganjudesbalik,betapakagetnyamerekaketikamalahdiperlaku
kandenganbaik /Lah ...............................................kokgue judessama dia,
tapidoimalahbaik.Terus akukudupiye ........ J Lagi,bayangkanseorang
kaisarmengingatkandirinyasendiriuntuktidakmembalasperilakuburukdengan perilaku
buruk juga—sebuah halyang jarang ditemui di jajaranpenguasa, rasanya.

MungkinTidakAdaMotivasiJahat...

Sedari tadi kita membahas situasi-situasi di mana ada pihak-pihak
yangsengajahendakmenyakiti,menghina,ataumenyinggungkita.Akantetapi,para
filsuf Stoa juga menyadari ada kemungkinan lain, yang bahkan lebihsering terjadi,
yaitu banyak orang sebenarnya menyakiti kita ”tanpasengaja”.

“Ketika ada yang menyakitimu, atau berkata buruk tentangmu,ingatlah
bahwa dia bertindak dan berbicara karena mengira itumemang tugasnya.
Ingatlah bahwa tidak mungkin dia mengerti sudutpandang kita, tetapi hanya
sudut pandang dia sendiri. Karenanya, jikadia melakukan kesalahan dalam
menilai, sebenarnya dialah
yangdirugikan,karenadiatelahtertipu[deceived].Jikaseseorangmenganggap
kebenaran sebagai sebuah kekeliruan, kebenaran itusendiri tidak rugi, tetapi
justru dia yang tertipu yang rugi. Denganprinsip ini, kamu bisa dengan
rendah hati menanggung orang yangmenghina kamu, dengan cukup berkata,
‘Itu kan menurut dia.'” -Epictetus[Discourses]

Epictetus mengingatkan adanya kemungkinan lain saat kita merasatersinggung
oleh perkataan dan tindakan orang lain, yaitu bahwa
orangtersebuttidakbermaksudmenyakitikita,tetapijustrudiamelakukannyauntuk
“kebaikan” menurut sudut pandang dia. Bahkan, Epictetusmengatakan orang
tersebut merasakan sudah "tugasnya” untukmelakukan/mengatakan haltersebut.

Mari kita coba gunakan contoh situasi yang paling umum di kalanganmilenial
Indonesia, yaitu pertanyaan paling dibenci, "Kapan kawin?”, yangkerap
ditanyakan di acara-acara keluarga. Jika kita emosi, kita pasti
sudahjengkelduluandidalamhati.Dasarkurangajar,tidaktahuetiket,tidaktahu privacy
orang, tidak tahu sopan santun, dan lain-lain. Akan
tetapi,kalaukitamengikutijalanpikiranEpictetus,makasipenanya"kapannikah”mung
kinsebenarnyamerasadiamelakukantugasnya,darisudutpandang

167 HENRYMANAMPIRING

dia.Sangpenanyamungkinanggotakeluargayangmerasakasihankarena [bagi dia)
kamu sudah kelamaan hidup melajang, dan usia
mulaimendekatikedaluwarsa.Sangpenanyamungkinbenar-benartulusmerasakalau
kamu melajang, maka pasti hidupmu nelangsa. Juga, sang penanyamungkin benar-
benar secara tulus mengharapkan kamu untuk bahagia didalambahterapernikahan.

Saat kita mulai memikirkan kemungkinan ini, apakah kita masih inginmarah?
Betul, mungkin perspektif dia keliru. Mungkin kita memang masihbahagia
melajang. Mungkin kita memang tidak mau memaksakan asalmenikah sekadar
karena tekanan deadline. Namun, sang penanya
tidakmungkinsepenuhnyabisamelihatperspektifkita.Diatidakmenjalanihidupkita
dan tidak bisa merasakan apa yang kita rasakan. Dia bertindak
danbertuturkatamengikutiperspektifdia,pengalamanhidupdia,perasaandia, dan
menurutnya apa yang dilakukannya adalah “baik”. Jadi untuk apamerasa
tersinggungdanmarah?

FILOSOFITERAS 168

Epictetus pun menambahkan, jika seseorang berkata-kata/
bertindakberangkatdariperspektifyangkeliruatausalah,sesungguhnyayangrugiadalahdia
sendiri,bukan kamu,karenadiasudahtertipu/deceived).
Kembalikecontohtadi.Jikasesungguh-sungguhnyakamubahagiahidup

169 HENRYMANAMPIRING

melajang, tetapi orang lain merasa kamu tidak bahagia, maka, fakta bahwakamu
sebenarnya bahagia tidak berubah dan berkurang nilainya karenapersepsi keliru
itu. Bahkan, orang lain tersebutlah yang
sebenarnyadirugikan,karenagagalmelihatkebenaran(truth)bahwakamusebenarnyam
erasa bahagia. Kemudian, seperti dikatakan Epictetus, kamu cukupberpikir,“Ya
itukan menurutdia...”dengan senyummanis.

Menyadari bahwa orang lain bertindak menurut apa yang baik
sesuaiperspektifnya bisa membantu kita lebih tidak reaktif terhadap ujaran
dantindakan orang lain. Karena, seberapa pun menyehatkannya perilaku
atauperkataan orang lain, belajar memahami intent (niat) dan perspektifmereka
bisa membantu kita memberi respon yang lebih baik. Ini bisaditerapkan di banyak
situasi, tidak hanya soal pertanyaan "kapan kawin?",tapi juga di kampus, dengan
dosen atau teman-teman sekelas; di kantor,dengan para kolega; di tempat umum
seperti di mal, dengan orang-orangtak dikenal. Atau, bahkan dalam interaksi di
media sosial. Media sosialmemang memudahkan orang untuk mengomentari
orang lain dan kitamungkin sering jengkel dengan komentar-komentar sotoy (sok
tahu)
yangkitaterima.ParafilsufStoasudahmengingatkanbahwamanusiamemangharus
sotoy, karena keterbatasan pengetahuan dan sudut pandangmereka. Kita pun
tidak luput dari ke-sotoy-an saat kita menilai hidup oranglain.Jadi, kenapaharus
(cepat)gusar di media sosial?

MengasihaniMerekayangJahatkepadaKita

Apa?Adaorangyangjahatmalahdikasihani?Bukannyaharusnyadibalasyang
setimpal? Stoisisme memiliki perspektif yang menarik mengenaiorang "jahat"
yang dipengaruhi Socrates. Filosofi Teras memang sangatpemaaf terhadap
kesalahan orang, dan ini masih berhubungan dengan diatas. Stoisisme percaya
bahwa banyak orang yang berbuat jahat tidakkarena

"berniat jahat”. Sebelumnya telah kita lihat bahwa setiap orang
bertindakmenurutsudutpandangnya,yangbisasangatterbatasataukeliru.Menurutfilsu
f Stoa, orang berbuat jahat akibat ketidaktahuannya (ignorant) dan diatidak tahu
bahwa dia tidak tahu. Atau, dia sesaat kehilangan
nalar/akalsehat(khilafiuntukmengetahuimanayangbaikdanjahat.Jikadiamemiliki
kebijaksanaan dan nalarnya sedang berfungsi baik, dia pasti akanmemilih
yangbaik.

Menyangkut orang "jahat", Epictetus berkata, "Mengapa kamu justru
tidakmengasihaninya?Samasepertikitamerasaibakepadamerekayangbuta

FILOSOFITERAS 170

ataupincang,
makakitajugaharusmerasaibakepadamerekayang(nalarnya)‘butadanpincang’.”(Di
scourses)

Selama ini saya menganggap manusia hitam dan putih, ada manusia"baik", ada
manusia "jahat”. Namun, label "baik" dan "jahat” ini mereduksimanusia lain
menjadi dua kelompok saja, seolah-olah yang baik akan baikterus selamanya,
begitu juga dengan yang jahat. Stoisisme memberialternatif sudut pandang lain,
yaitu perbuatan “jahat" bisa jadi lahir
karenaketidaktahuan(ignorance),bukankarenamemangdiniatkan.Samahalnyasepe
rti kita tidak mungkin marah-marah kepada anak bayi yang inginmencolok
sambungan listrik dengan jarinya dan membahayakan dirinya,karena dia "tidak
mengerti” konsep bahaya listrik. Begitu juga denganorang-orang yang berbuat
jahat di mata kita—bagaikan si anak bayi tadi—karena merekatidakmengerti.

Seseorang menyalip antrean di depanmu? Mungkin dia belum tahu
soalantre.Atau,kalausudahtahupun,mungkindiatidaktahuperilakutersebutmenyakitipe
rasaanoranglain.Adayangbergosipjahatdibelakangmu?
Mungkindiatidaktahubahwaitutercela.Adayangbersikaptidakramahkepadamu di
kantor? Mungkin dia tidak tahu soal etiket di kantor. Adaorang yang memakimu?
Mungkin dia sedang dikuasai emosi sesaat,sehingga"tidaktahu”kalauitu jahat.

Saya yakin masih ada orang yang berbuat jahat dan sangat sadarmengetahui itu
jahat. Namun, orang-orang seperti ini rasanya sangatsedikit jumlahnya. Jika kita
renungkan orang-orang yang
pernah“menyakiti”kitadalamhidup,dankitamaumencobabenar-
benarberpikirobjektif dan empati, maka kita akan menemukan bahwa sebagian
besardari mereka tidak benar- benar berniat menjahati orang lain. Bahkan,mereka
yang kita yakini memang berniat menjahati kita pun
mungkinterdorongolehrasaketakutanmereka(yangbisajaditidakberalasan).

Frederick Douglass adalah seorang kulit hitam yang hidup di AmerikaSerikat pada
abad ke-19, di mana praktik perbudakan dan ketidakadilanterhadap kaum kulit
hitam masih terjadi, la adalah seorang mantan budakyang melarikan diri,
kemudian menjadi aktivis pejuang penghapusanperbudakan, la dianggap sebagai
tokoh kulit hitam paling berpengaruh
dimasanya.Padasuatusaat,Douglass,yangmelakukanperjalanandenganangkutan
umum, dipaksa untuk duduk di gerbong bagasi karena
warnakulitnya.Padahal,beliaumembayar tiketsama denganyanglain.
Beberapa orang kulit putih yang mengenalnya dan simpati padaperjuangannya
kemudian menghampirinya di gerbong bagasi
untukmenghiburnya.Salahsatudarimerekaberkata,“Sayaturutmenyesal

171 HENRYMANAMPIRING

Tuan Douglass, bahwa anda sudah direndahkan seperti ini.” Mendengarini,
Frederick Douglass menjawab, “Mereka tidak bisa merendahkanseorang
FrederickDouglass. Tidak adaseorang pun yang
bisamerendahkanjiwadidalamdirisaya.Sesungguhnyabukansayalahyangdirendahk
andengankejadianini,tetapijustrumerekayangmelakukaninipada saya.”

Kisah ini sungguh mengagumkan dan sangat menggambarkan FilosofiTeras,
menyangkut kemampuan kita untuk mengendalikan interpretasiatas perlakuan
orang lain terhadap kita. Rasanya, sebagian besar dari kitaakan merasa marah luar
biasa jika diperlakukan secara diskriminatif olehorang lain, apalagi sampai dilihat
oleh orang lain. Akan tetapi,
FrederickDouglassmenunjukkanbahwamerasa"direndahkan”adalahsubjektif.
Kata-
katabeliautepatmenohok,bahwatidakadaseorangpunyangbisamerendahkanjiwaseseorang
.

Seperti Epictetus yang mengajarkan kita untuk mengasihani orang yangjahat
kepada kita, Douglass pun menunjukkan bahwa mereka yang rasisjustru
merendahkan diri mereka sendiri. Dengan bersifat diskriminatif danmenzalimi
orang yang berbeda, justru merekalah yang "turun kelas”, lebihrendahdaripada
yangterzalimi—dalamhalini FrederickDouglass.

Saat kita berulang kali sudah mulai merasa akan terprovokasi
karenaperlakuanjahatatautidakadildarioranglain,ingatlahkata-
kataFrederickDouglass di atas. Tidak ada seorang pun yang bisa merendahkan
jiwaorang lain, dan, mungkin, mereka yang berlaku jahat kepada kitalah
yangpatut dikasihani.

KemarahanKitaLebihMerusakdaripadaPerlakuanyangKi
ta Terima

"HowmuchmoredamageANGERandGRIEFdothanthethingsthat
cause them." -MarcusAurelius/Meditations)

Kamu gusar karena perlakuan orang lain? Kamu sedih karena perlakuankeluarga
dan pasangan? Marcus mengatakan bahwa kemarahan dankesedihan/baperkamu
itu jauh lebih merusak daripada perlakuan itusendiri. Sekali lagi: BAPER ITU
SUMBER SEGALA MASALAH.
Karenabaperdimulaidaripersepsikitasendiriatassebuahperistiwa/impression)yan
g sering kali tidak dianalisis dahulu, dan karenanya bisa keliru. Kalaupun benar,
tetap saja tidak berguna (karena kita baper mengenai sesuatudiluar kendali
kita.Dikotomi kendalilagi!)

FILOSOFITERAS 172

Sebagai contoh: sahabat dekat kita tidak mengucapkan selamat ulangtahun.
Persepsi kita sendiri: dia sengaja! Dia sudah benci sama saya! Koktega-
teganya dia berlaku seperti ini sementara saya tidak pernah
lupamengucapkan selamat ulang tahun kepada dia. Ingat, bahwa hal
yangbenar-benar fakta objektif adalah "tidak mengucapkan selamat ulangtahun".
Soal sahabat kita sudah membenci kita adalah murni bikinanpikiran kita sendiri
(interpretasi/va/ue judgment yang kita tambahkankemudian).

Rantai persepsi (yang hanya ada di dalam pikiran kita) ini bisa berlanjutsampai
panjang sekali. Sekali kita membiarkannya menguasai pikiran kita,maka respon
apa yang muncul? Kita mulai marah. Mungkin kita sengajamengambek.
Kemudian kita mulai mengumpulkan sekutu di antara teman-
teman.Kitamulaimencaribuktibahwatemanyangtadimemang ngeselin.Kemudian,
dari mengambek, mulailah konflik terbuka, dimulai dari chatpribadi, chat grup,
sampai akhirnya berantem beneran dengan menyewaormas. Alhasil, rusaklah
sebuah pertemanan. Semua ini dimulai dari apa?Hanya karena seseorang lupa
mengucapkan selamat ulang tahun kepadakita dan kemudian "dibumbui" persepsi
kita! Apakah worth it (sepadan)sesuatu yang lebih besar seperti pertemanan atau
persaudaraan hancurkarena emosi yang tidak bisa kita kendalikan? Sudah berapa
pertemanan,persaudaraan, kerjasama yang bubar hanya karena salah paham
danemosiyanglebih merusakdarihal yangmemicuemosi itusendiri?

Saat kita mulai merasakan kemarahan atau sakit hati yang timbul
karenaperlakuanoranglain,selaluingattehnikS-T-A-R.Rasamarahdanemosinegatif
lainnyapastitimbul karenasebuahinterpretasi
/representation)yang kita buat sendiri. Saat kita bisa memisahkan
antara"faktaobjektif"dariinterpretasirekaankita,kitabisalebihmerasatenang.Apalag
i saat kita mengingatkan diri bahwa perilaku orang lain ada di luarkendali kita,
dan karenanya bukanlah sumber kebahagiaan—atauketenangan—kita.

MungkinKitayangSalah?

Saat kita merasa tersinggung oleh perlakuan dan kata-kata orang lain,ingatlah
bahwa bisa jadi kita yang keliru. Saat kita "mendengar" pendapatorang lain,
gosip yang beredar, sampai pesan berantai di group chat,selalu sadari ini
mungkin hanya opini saja. Di samping itu, opini, persepsi,interpretasi belum
tentu sama dengan fakta objektif yang ada.
Bahkan,penglihatankitapunbisamenipukita,karenasudutpandangkitaterbatasdan
karenasering kalipenglihatankitabias.

173 HENRYMANAMPIRING

Apakah kamu benar-benar yakin orang lain melakukan kesalahan?Sudahkah kita
benar-benar MENGERTI situasinya? Sebagai contoh: kitasedang berkendara, lalu
tiba-tiba ada kendaraan yang cepat melajumenyalip kita secara membahayakan.
Maka, kita pun marah karenamerasa diperlakukan buruk. Pertanyaannya, apakah
kita yakin bahwa diamelakukan itu dengan sengaja untuk memprovokasi kita?
Atau, yakinkahkita bahwa dia memang pengendara yang ceroboh? Atau,
mungkinkahsebenarnya dia sedang dalam situasi darurat/emergency, karena
istrinyaharus melahirkan di rumah, di saat yang sama kucingnya juga?
Faktanyahanyalah kendaraan kita disalip secara membahayakan, tetapi
hanyasampai di situ. “Kreativitas” kita yang menambahkan motivasi di
balikperbuatantersebut,danseringkalibumbukitahanyasemakinmenambahkemaraha
n.

Dalam situasi antarmanusia, contoh sederhana soal “penglihatan”
yangmenyesatkan /deceiving! sering menimpa teman-teman kita yang
memilikitemperamen introver. Introver butuh waktu menyendiri untuk
“mengisiulang baterai” mereka, karena berada di antara orang banyak
melelahkanbagi mereka. Ini kebalikan dari kaum ekstrover yang justru menjadi
lebihberenergiditengahbanyakorang.Saatintrovermemilihuntukmenyendiri,teman
ekstrover yang "melihat” ini akan mudah menganggap kalau diaseorang yang
sombong, tidak sudi bergaul, eksklusif, dan lain-lain. Contohlain, pasangan yang
lupa menanyakan keadaan kita. Kita bisa tergesa-gesa mengartikannya sebagai dia
tidak peduli lagi dengan kita, padahalmungkin dia sedang sangat sibuk atau
tertimpa masalah yang harusdiselesaikan. Kita harus senantiasa berhati-hati
dengan apa yang kita pikirkitalihatdan dengar,karena ituhanya darisudutpandang
kitasaja.

Jika kita menyadari betapa rentannya kita sendiri pada kesalahan
dankekeliruan,makatahap“Think&Assess”(PikirkandanNilai)dalamS-T-A-R
menjadi sangat krusial dalam menentukan respon yang benar. Sebelumkita emosi
merasa "kebenaran" kita dilanggar, cek terlebih dahulu apakahmungkin
kitayangsalah.

Waspada“KurangKerjaan"

"Kurang kerjaan banget sih lo?" Pernah mendengar ujaran yang
kerapdiberikan kepada orang yang melakukan aktivitas yang tak berguna
danhanya merugikan orang lain? Hampir 2.000 tahun lalu pun Seneca
sudahmenyadari bahwa “kurang kerjaan” bisa menjadikan kita orang
yangmenyebalkan:

FILOSOFITERAS 174

"Kurangkerjaan[unproductiveidleness]hanyalahmemeliharaniatjahat, dan
karena orang-orang kurang kerjaan tidak bisa menjadimakmur, maka
mereka menginginkan orang-orang lain nasibnyasama dengan mereka. Dari
sini, mereka menjadi benci padakesuksesan

175 HENRYMANAMPIRING

“People exist
foroneanoth

er.Youcaninstruct or
endure

them.”-
MarcusAurelius(Meditations)

oranglain,danmenyadarikegagalanmereka,merekamenjadimarahpadanasib,mengel
uhkanzamanini,

kemudianmenjauhkandiridanmerenungikesusahanhidupmerekasampaimerekamua
k akan dirimereka sendiri.”[Discourses)

Sounds familiar? Pernah menemui orang-orang seperti ini di media sosialatau di
dunia nyata? Mereka sering memberikan komentar negatif, sepertimenjatuhkan,
menjelek-jelekkan, dan menghina, bahkan kepada orang-orang yang tidak mereka
kenal (seperti selebriti). Jika ada yang berbagikeberhasilan,selalusajaorang-
oranginibisamenemukankejelekanuntukberusaha dijatuhkan.

Sutradara legendarisdariJepangAkiraKurosawa dikenaldenganujarannya, 7 cant
afford to hate anyone. I don't have that kind of time."(Saya tidak mampu
membenci siapa pun. Saya tidak punya waktu
untukitu).SepertiyangdikatakanSeneca,hanyakitayang“kurangkerjaan"yang
memiliki waktu untuk membenci dan mendengki pada orang lain. Jikakita punya
kesibukan dan keasikan sendiri, niscaya kita tidak punya
cukupwaktuuntukmembencidannyinyirpadaoranglain.Jadi,lainkalikitamulai
merasakan keinginan jahat untuk menjatuhkan orang lain, mungkinkitaharuscepat-
cepatberpikiruntukmenyibukkandiridenganhal-halyangproduktif.

InstructorEndure

"People exist for one another. You can instruct or endure them." -
Marcus Aurelius[Meditations)

Hidup bersama manusia lain menuntut lebih dari sekadar “menolerir”perilaku
mereka. Sekadar menolerir orang lain sifatnya pasif. "Yangpenting gue gak
ganggu orang lain, orang lain gak ganggu gue". Sebagiandari kamu mungkin
mendapat kesan bahwa sedari tadi Filosofi Terashanya mengajarkan untuk pasif
saja sebagai objek dari perlakuan tidakenak oranglain.Ini tidakbenar.

Marcus Aurelius berkata bahwa kita hidup untuk satu sama lain [exist forone
another). Artinya, keberadaan kita harus bisa membantu satu
samalain,secaraaktif.Membantudisinilebihdarisekadarmembantuuangataubantuan
bencana, tetapi setiap hari kita bisa saling mengajar danmembangun satu sama
lain. “Kamu bisa mengajari [instruct] orang lain,atau hidup menolerir mereka,”
kata Marcus. Kita bisa mengajari orang lainmenjadi lebih baik, dan jika itu tidak
tercapai, minimal kita bisamenanggung (hidup bersama) mereka [endure them).
Jika kita melihat adaperilaku yang keliru, maka pastikan bahwa itu memang keliru,
dankemudiankewajiban kitauntuk membenarkan.

Contoh sehari-hari. Kita melihat seseorang yang memotong antrean—
karenamemangtidakmengertiprinsipmengantre,ataumemangegois

saja. Seorang praktisi Stoisisme tidak akan hanya diam saja melihat itu,tetapi akan
memberi tahu baik- baik kesalahannya dan menunjukkanbagaimana seharusnya
mengantre [to instruct). Jika orang tersebut sudahdiberi tahu tetapi tetap ngotot
dan berperilaku menjengkelkan, barulah opsikedua diambil, to endure them. Di
Bab VI sudah dibahas bahwa kitamampu tidak merasa tersinggung atau marah atas
ulah orang lain. Selainitu, salah satu nilai kebajikan [virtue) Stoisisme adalah
temperance ataumenahandiri. Wecanendure otherpeople
ifwepracticetemperance.

Jadi, mengajukan keluhan [complaint) dengan tujuan memperbaiki
situasiatauoranglaintidakbertentangandenganStoisisme.Yangtidakdidukungoleh
Stoisisme adalah menggerutu dan menggosipkan kesalahan oranglain, tetapi tidak
memperbaiki keadaan maupun membuat orang lainmenjadi lebihbaik.

Tentunya ini tidak berarti kita menjadi sangat mudah menegur orang lain,sedikit-
sedikit menjadi hakim yang tegur ke sana sini, baik di dunia nyatamaupun online.
Sebelum kita mencoba memperbaiki orang lain, kita harusbenar-benaryakin
bahwa kita sudah betul-betul mengerti situasi yang adadan bahwa teguran
memang diperlukan. Ada standar ketat yang harus kitaterapkan kepada diri sendiri
sebelum bisa menegur orang lain. Yakinkahbahwa penilaian kita akan seseorang
sudah akurat? Bagaimana jika kitayang salah? Jika masih ada keraguan bahwa
kita benar-benar mengertisituasi sebenarnya, termasuk dari perspektif orang lain,
mungkin lebih baikkitadiam.

Apalagiketikakitamemasukikonteksperbedaanbudaya,dimanasebuahperilaku bisa
dianggap tidak layak di budaya yang satu, tapi layak dibudaya lainnya.
Contohnya, bagi kamu, bersendawa di depan orang lainsesudah makan mungkin
menjijikkan. Namun, bisa saja kamu traveling kesuatu daerah di mana
bersendawa tidak hanya normal, bahkan dianggaphal yang baik (misalnya tanda
seseorang sungguh-sungguh menikmatimakanan yang disuguhkan tuan rumah).
Maka, jika kamu menegurseseorang bersendawa di daerah di mana hal itu
diterima
(bahkandiharapkan),kamulahyangterlihatbodoh,egois,bahkanmenyebalkan.Disinil
ah kebijaksanaanIwisdom)diperlukan.

Ada banyak situasi lain di mana prinsip instruct or endure bisa diterapkan.Dari di
rumah sendiri, keluarga besar, di sekolah atau pekerjaan, atau dimasyarakat luas,
baik offline maupun online, kita bisa melakukan hal ini.Sayangnya, banyak dari
kita yang tidak mau menyampaikan teguranmembangun kepada orang lain, dan
hanya mengomel, bahkan bergosip,
dibelakangorangitu.Sepertikaryawanyangterus-menerusmengeluhkan

perilaku kolega/bosnya, tetapi tidak berani berkata langsung kepada
sikolega/bosmaupunmenyampaikankeluhanmelaluikanalresmi(misalnyake
departemen SDM). Perilaku cuma berkeluh kesah, tetapi tidak maumembantu
orang lain memperbaiki dirinya, pada akhirnya hanyamerugikan semua orang. Si
orang yang bersangkutan tidak tahu bahwadia perlu memperbaiki diri, si pengeluh
tidak menyelesaikan apa-apa,bahkan memperoleh predikat sebagai tukang gosip,
dan hidup orang-orang lainnyajuga tidakberubahmenjadilebih baik.

Contoh lainnya, saat buku ini ditulis, hoaks, fake news (berita bohong), danblack
campaign marak beredar baik di media sosial maupun chat group,terlebih
menjelang tahun politik 2018-2019. Jika kita menerima sebuahberitayang
diragukankredibilitasnya,apalagibersifatmerusak(menimbulkan kebencian dan
kecurigaan pada kelompok tertentu), yangpaling minimal bisa kita lakukan adalah
tidak ikut-ikutan menyebarkannya.Namun, ini tidak cukup. Marcus Aurelius akan
menasihati kita untukmemberi tahu /instruct) pihak yang menyebarkan bahwa
berita iniberpotensi merusak, tidak jelas kebenarannya, dan sebaiknya
tidakdisebarkan. Saya mengerti bahwa melakukan ini pasti tidak nyaman,apalagi
jika pelakunya keluarga yang dituakan, tetapi, menurut saya inihanyalah masalah
cara penyampaian. Jika pihak yang diberitahu
masihnyolot,ngeyel,atautidakmaumengalah, kitatidakperlumerasa kesal.
Opsikedua,endure, selaluadadikendalikita.

“Dalam hidup, orang-orang akan menghalangi jalanmu. Mereka tidak
bisamencegahkamumelakukanhalyangbaik,dantidakbisamencegahkamumenolerir
[put up] mereka juga...karena marah adalah juga kelemahan,sama seperti menjadi
patah arang dan menyerah berjuang. Keduanyaadalah desertir: mereka yang
menghindar dan mereka yang memutuskanhubungan dari sesama manusia.” -
Marcus Aurelius /Meditations). BagiMarcus, marah pada orang lain adalah
kelemahan, begitu juga denganmenghindari mereka. Kita digambarkan bagaikan
prajurit yang desersi, larimeninggalkan tugas, dan di dalam dunia militer, perilaku
desersi sangatterhina.

Kemarahan:“GilaSementara”

BagiSeneca,orangyangmarahsedangmengalami"gilasementara”
/temporarymadness)."Keburukandankejahatan(v/ces)lainmemengaruhipertimbanga
n [judgment] kita, tetapi kemarahan memengaruhi kewarasankita: keburukan dan
kejahatan (lain) menyerang kita dengan lunak dantumbuhtakterlihat,tetapi
kemarahanmenjerumuskanpikiranmanusia

secara mendadak...kemarahan bisa begitu memuncak hanya
daripenyebab awalyang remeh.”/OnAnger)

Kemarahan bisa begitu memuncak hanya dari penyebab awal yangREMEH.
Betapa benar dan tragis. Pernahkah kita membaca berita duakampung bisa
tawuran hanya karena urusan pertandingan bola? Orang-
orangberpendidikanbisanaikpitam,bahkanbakuhantamdijalan,hanyakarena urusan
mobil keserempet? Dua keluarga bisa tidak berbicarabertahun-tahun karena
urusan sesepele undangan nikah, hutang, atauperangkat Tupperware yang tidak
dikembalikan? Tidak ada pemicusesepele apa pun yang tidak mampu
menciptakan kemarahan berlipat-lipat.

Dalam bentuk lain, tetapi sama ”gila”-nya, adalah perilaku kita di
mediasosial.HanyakarenaurusansatutweetatausatupostdiFacebookatauInstagra
m, bisa terjadi pertengkaran berjilid- jilid dengan modal jempol.Bagi pihak
ketiga yang mengamati ini dengan kepala dingin, pasti
setujudenganperkataanSeneca: kemarahanmemengaruhikewarasankita.
Mungkin, karena hal ini juga orang Jawa zaman dulu menarik
kesimpulan,“Yangwarasmengalah.”Karenapercumaberhadapandenganorangyangsedan
gtidakwaras,walau hanyasementara.

Berikut kali kita merasakan kemarahan mulai terbangun,
segeralahmenghentikannya.Rasanyatidakadayangmaudibilangsebagai“oranggila”
, walaupun hanya untuk sementara. Sekali lagi, ingatlah S-T-A-R.Ajaran orang
zaman dulu untuk menghitung sampai sepuluh sebelummengekspresikan
kemarahan mungkin ada benarnya, karena memberikesempatan untuk
“kewarasan”kitapulih kembali.

JanganSampaiKitaMengisolasiDiri

“Dahan yang dipotong dari dahan sebelahnya juga terputus daripohon
keseluruhan. Begitu juga manusia yang terpisahkan darimanusia lain juga
terputus dari masyarakat keseluruhan. Dahanpohon dipatahkan oleh orang
lain, tetapi manusia 'mematahkan’ dirimereka sendiri—melalui kebencian
dan penolakan—dan tidakmenyadari bahwa mereka telah memotong diri
mereka dari seluruhmasyarakat...Kita memang bisa melekatkan lagi diri kita
dan
sekalilagimenjadibagiandarikeseluruhan.Akantetapi,jikakitamemotongdiri
terlalu sering, maka akan makin sulit untuk melekatkan dirikembali. Kamu
bisa melihat perbedaan antara dahan yang selalutumbuhdisebuah pohon,dan
dahanyangsudah pernahdipotong

dandilekatkankembali."-MarcusAureliusiMeditations)

Analogi yang sangat tepat menggambarkan relasi manusia denganmanusia lain,
bahkan masyarakat keseluruhan, dan menunjukkan betapaFilosofi Teras
sungguh-sungguh serius dalam mengingatkan kita untukselalu menjaga
kehidupan sosial kita, dengan menjaga kerukunan dansilaturahmi kita. Marcus
Aurelius berpendapat bahwa sebisa mungkin kitatidak memutuskan tali
hubungan dengan sesama kita, yang bahkan bisamenyebabkankitaterpotongdari
masyarakatkeseluruhan.

Bagaikandahanyangdipotongdaridahanlainnya,diajugaterpotongdaripohon
pokoknya. Yang merugi adalah si dahan, karena dia terpotong darialiran makanan
dan hidup. Dahan yang terpotong memang bisa“dilekatkan” kembali, dan
mungkin pulih, tetapi terlalu sering dipotongakhirnya akan makin sulit untukbisa
melekat kembali.

Apakah kita mengenali seseorang dalam hidup kita yang “memotongdirinya
sendiri” dari pertemanan atau lingkungan sosial? Bagi saya ini tidakada
hubungannya dengan karakter introver versus ekstrover. Mungkin
kitamengenalseseorangyangseringngambek,menyimpanmarah,kepahitan,atau
kebencian terhadap teman-temannya, atau lingkungan sekitarnya,sehingga dia
memilih memisahkan diri. Menurut Marcus Aurelius, ini halyang patut
disayangkandansebaiknya dihindari.

Ajaran Stoisisme bahwa manusia adalah makhluk sosial dan sebaiknyatidak
mengisolir diri mendapatkan semakin banyak dukungan dari ilmukesehatan.
Dalam artikel di The New York Times berjudul “The SurprisingEffects of
Loneliness on Health” (Efek Mengejutkan dari KesepianTerhadap Kesehatan),
disebutkan bahwa kesepian bisa meningkatkanhormon stres dan inflamasi, yang
kemudian bisa menambah risikopenyakit jantung, arthritis, pikun, bahkan upaya
bunuh diri. Artikel ini jugamencatat rasa kesepian tidak ada hubungannya dengan
jumlah temanatau kenalan. Seseorang bisa memiliki sedikit hubungan tetapi
tidakmerasa kesepian, sementara seseorang bisa dikelilingi banyak orang,tetapi
merasa kesepian. Kualitas dari hubungan antarmanusia menjadilebih penting dari
kuantitas. Artikel ini mengukuhkan apa yang telahditemukan para filsuf Stoa
2.000 tahun yang lalu, manusia harus hidupbersamamanusialainnyadenganbaik.

Prinsip-prinsip hubungan antar manusia di dalam Stoisisme saling terkaitdan bisa
sangat membantu kualitas hubungan. Satu- satunya cara
agarkitatidak“memotong”dirikitadarihubungansosial,menjadipahithatidanmenjauh
dari teman, keluarga, dan masyarakat adalah dengan
tidakbaperan,tidaksensitifataumudahterprovokasi, apalagi mudahmarah-

marah.Intinya,kembalisepertiyangdiajaranFilosofiTeras:hidupselarasdengan Alam,
dengan cara menggunakan nalar/rasio/reason kita sebaik-baiknya.Jika kitasering
mengabaikannalar/akal sehatkita, yang

Makajika

hidupharusselarasdenga

Alam,konsekuensinya

tidakada ruanguntukk

berbohong.

artinyamenjadisamadenganbinatang,makakitamenjadimudah
terprovokasi, terlalu sensitif, dan selalu menanggapi apa kata orang,
danniscayakitatidakakantahandanselalutergodauntukmenghindarikontaksosialsaja.
Bagaimanacaranyasupayakita tidakmudahbaperan?
Denganmenyadaribahwakitasendirilahyangbertanggungjawabjikakitamerasa
tersinggung, marah, tertolak-dan bukan orang lain. Selain itu,kerendahan hati
untuk menyadari bahwa kita sendiri tidak sempurna dansering
melakukankesalahanjuga menjadi penyeimbang.

BerkataJujurSelalu

“Betapamenjijikkannyaketikaseseorangberkata,'Sejujurnyanih
.............................’diawalkalimat.Apamaksudnya?Ituseharusnya tidak
perlu diucapkan. Itu sudah semestinya, tertulisdengan huruf besar di jidat.
(Kejujuran) harus terdengar di suaramu,nampak di matamu, bagaikan
kekasih yang menatap wajahmu danpercaya seluruh kisahmu dengan
sekilas pandang. Seorang yangjujur dan terus terang bagaikan seorang
dengan bau badan. Ketikakamu seruangan dengan dia, kamu langsung
tahu. Akan tetapi,kepalsuanbagaikanpisau(yangmenancap)dipunggung.”-
MarcusAurelius(Meditations)

[PakMarcus,
analogiorangbauiniagakaneh,tapisayamengertikalaujamanRomawikunodul
ubelumadadeodoran. Jadi,yasudahlahyaaa
...........................)

Waktu membaca, saya lumayan tertegun. Kata-kata Marcus
Aureliusbagaikantertujukepadasayapribadi.Sayamenyadariselamaberbicara

denganoranglainsayaseringkalimembukakalimatsepertiberikut,

"Kalaubolehjujur

...................................""

Sejujur-jujurnyanih ... .."

"Guebolehjujurgak? ...... "

Marcus Aurelius berkata bahwa hal ini 'menjijikkan*. Kalau dia hidup dimasa
kini, mungkin dia akan berkata, "Maksud looh? Jadi, kemarin-kemarin lo
selalu berdusta kalau ngomong?!" Jika kita semua terbiasaberkata jujur
senantiasa, maka tidak perlu ada saat-saat di mana
kitamembukakalimatkitadenganpembukaan “Kalaubolehjujur .......... "Inisama
sajadenganmengakuiselamainikitaseringberbohong.SkakmatdariBosMarcus.

Menarik untuk mengerti alasan mengapa berbohong dilarang dalamFilosofi
Teras. Umumnya berbohong dilarang oleh agama karenadikategorikan
sebagai dosa. Kita terbiasa menakut-nakuti anak kecil,"Jangan bohong kamu!
Dosa! Nanti kamu masuk neraka dan di situtidak ada wi-fi gratis!!” Stoisisme
mempunyai argumen mengapaberbohong itu keliru, bukan sekadar label dosa
atau tidak. Kembali
keprinsiphidupselarasdenganAlam[toliveinaccordancewithNature).Prinsip
fundamental ini juga yang mendasari argumen agar
tidakberbohong.Argumennya adalahsebagaiberikut.

Segala hal yang benar [truth] otomatis adalah bagian dari
Alam[Nature],dansebaliknyakebohonganadalahsesuatuyangtidakbenar
/tidakada, danartinyabukan bagian dari Alam.
Maka jika hidup harus selaras dengan Alam, konsekuensinya tidak
adaruanguntukberbohong.KarenadalamFilosofiTeraskebahagiaansejatihanya
bisa datang dari keselarasan dengan Alam, maka berbohongakan menghalangi
meraih kebahagiaan itu. Dengan kata lain, sipembohong sudahmembuat
dirinyasendirimenderitadenganbohongnya,karena dia sudah
menyimpangdariAlam.

Jadi, inilah insentif yang diberikan para filsuf Stoa agar kita mau hidupdalam
kejujuran dan menghindari dusta. Bukan dengan ancamanneraka di akhirat,
tetapi dengan argumen logis bahwa yang merugiadalah kita sendiri. Dengan
meninggalkan keselarasan dengan Alam,kita mempersulit diri sendiri
memperoleh kebahagiaan, damai,
dantenteram.Belumlagirisikoketahuanyangbisamengancamhubunganantar
manusia kita (atau, lebih buruk lagi, sampai berujung hukumanpidana!)

Terkadang,AdaOrang-orangyangHarusDihindari

Sofarsogood. Namun,sayabisamengertibahwasebagianpembacamasih
bersikap skeptis. “Okelah, idealnya memang kita tidak
mudahngambek,sensitif, atau terprovokasi oleh oranglain.

“Pertemananpalsuadalah^Cy
angterburuk.Hindari'

sebisamungkin.Jikakamuj
ujur dan terus-terang

danbermaksud baik, itu
akantampak di matamu.
Tidakmungkindisalahartik

an.”

-MarcusAurelius
(Meditations).AFine,gueyangbertanggungjawabatasrespondirikitasendiri.

LSetuju kalau kita harusnya menjaga kerukunan dengan
sesama.Tetapi.
................ kenyataannyamemangadaajaorangdiduniainiyang
sangat-sangatbikinguenaikdarahterus.Gimanadong?”

Tenang. Filosofi Teras adalah filosofi yang realistis, dan
saatmembacatulisan-
tulisanfilsufStoa,kitaakanmenyadaribahwapemikiranmerekadidasarkanpadap
engamatanakanperilaku

manusianyata,bukanteorimengawang-awang.BahkanseorangMarcus
Aurelius pun berkata pada akhirnya memang ada orang-
orangtertentuyang harusdihindari.

“Pertemanan palsu adalah yang terburuk. Hindari
sebisamungkin.Jikakamujujurdanterus-terangdanbermaksudbaik,itu
akan tampak di matamu. Tidak mungkin disalahartikan.” -
MarcusAurelius [Meditations).

Rupanya, masalah teman palsu ini, sama seperti ketimun
pahit,sudahadaselamaribuantahun,daniniadalahsalahsatucontohtipe
manusia yang terburuk dan harus dihindari sebisa mungkin.Menurut
saya, ada alasan mengapa Marcus Aurelius tidaksembarangan menyuruh
menghindari orang, dan secara eksplisitmembahas 'teman palsu’ (bukan
sekadar orang-orang yangmenyebalkan, tidaktahuaturan,tidaksopan,
danlain-lain).

Teman palsu bisa mencelakakan kita karena kewaspadaan kitaterkelabui.
Jika kita harus berurusan dengan orang yang baru kitakenal, atau memang
musuh kita, maka otomatis kita bersikapwaspada.Namun,
denganmerekayang berstatus“teman",kitasering kali tidak kritis, atau
membutakan diri kepada fakta bahwa
diasebenarnyatidaktulus,atauhanyabertemandengankitauntukhartakita, atau
sesungguhnya ingin mencelakai kita. “Kesialan terburukyang bisa menimpa
seseorang yang kebanyakan duit adalah diamengira orang- orang adalah
temannya, padahal sebaliknya tidakdemikian.”- Seneca.[Letters)

Selain teman palsu, rasanya selalu ada saja orang-orang yangkehadirannya
toxic, atau merusak mental kita. Mungkin
diamembawapengaruhyangburuk,kata-
katanyaselalumenjatuhkan,tidakmaukalah,atauterang-
teranganselaluinginmenyakiti kita.
Usaha untuk memperbaiki [instruct) sudah dilakukan dan dia
tidakmauberubah.Opsimenolerir[endure)pundirasasangatsulit,karenakehadi
rannyasangatmembawaauranegatif.Apayangharusdilakukan?

Ingat quote Marcus Aurelius tentang kalau ketemu ketimun pahitdibuang
aja? Saya rasa ini berlaku juga dengan hubungan sosial.Pada akhirnya
akan selalu ada orang yang negatif, yang tidak maudikoreksi, atau teman-
teman palsu tadi. Ketika sudah tidak
mungkinuntukmengoreksiataumenolerirmereka,jalanterakhirmenghindarior
ang-orang tertentu dalam hidup selalu ada. Ada teman yangkorosif?
Yagakusah ditemenin.Adateman yangkalaungutang

selalu amnesia dan kalau ditagih lebih galak dari yang menagih? Yasudah,
dihindari saja. Ini tidak bertentangan dengan prinsip
tidakmengisolir/memotongdirikitadaripergaulan,karenakitamasihtetapmemp
ertahankan kehidupan sosial, hanya kualitasnya saja yangdijaga. Tentunya,
Stoisisme menganggap ini sebagai langkahterakhir, dan tidak bisa dilakukan
seenaknya [dikit-dikit memutuspertemanan, menghindari orang, unfriend,
block, dan lain-lain),karena, jika keseringan, akhirnya kita yang
“memotong diri" dari“pohon" masyarakatyanglebihbesar.

Senecajugamenuliskanmengenaipentingnyaberhati-hatidalammemilih teman:

“Kita harus ekstra hati-hati dalam memilih orang,
danmemutuskanapakahmerekalayakuntukkitaberbagi(waktu)hidupden
ganmereka....

“Tidakada yang lebih menggembirakan kita sepertipersahabatan
yang akrab dan setia. Sungguh sebuah berkahuntuk memiliki mereka
yang siap dan mau menerima segalarahasia kita dengan aman.
Bercakap- cakap dengan merekamenyejukkan kecemasan kita,
nasehat mereka membantu kitamenetapkan pilihan, keceriaan mereka
mencairkan kesedihankita, bahkan sekedar kemunculan mereka
sudah membuat kitasenang!

“Pilihlah teman yang paling tidak bercacat moral; seperti
kitatidakinginbercampur denganorangsakitagar tidaktertular
...............khususnya,hindarimerekayangselalumurungdan
meratap, dan selalu menemukan alasan untukmengeluh
....................sesungguhnyatemanyangselalumerasakesaldan
menggerututentangsegalahaladalahmusuhbagikedamaianjiwakita.”(On
TranquilityofMind)

Bertemankokmilih-mUih?Yamemang!Bukanmemilih-milihatasdasarsuku,
agama, atau ras, atau memilih karena siapa bapaknya dan dimanarumahnya,
tetapimemilihtemanberdasarkankaraktermereka.
Karena, karakter yang buruk sesungguhnya bisa menjangkiti orang
lain,bagaikan penyakitmenular.

BeberapaTipsBerurusandenganOrangLain,dariMa
rcusAurelius

MarcusAureliusmenuliskancatatanuntukdirinyasendiribagaimanaberurusandengan
orang-orang lain,diambildari Meditations:

• Menyadari bahwa orang lain didorong oleh apa yang
merekapercayai,danbahwamerekabanggadenganapayangmerekalakuk
an.

• Jika yang mereka lakukan benar, maka tidak ada alasan untuk
kitamengeluh.Jikaapa yang merekalakukan adalahkeliru,(menyadari)
bahwa mereka tidak melakukannya dengan sengaja,tetapi lebih karena
ketidaktahuan (ignorance). Tidak ada orangyang senang disebut “tidak
adil", “sombong”, atau “serakah”—apapunsebutan yang mengesankan
merekabukan anggotamasyarakat yangbaik.

• Ingatlah bahwa kita sendiri melakukan banyak kesalahan. Kita
tidakberbeda dari mereka. Bahkan jika berhasil menghindari
melakukankesalahan, kita masih memiliki potensi melakukan kesalahan
dimasa depan.

• Jika kita menganggap orang lain melakukan kesalahan, kita belumtentu
tahu dengan pasti bahwa itu suatu kesalahan. Apa yangmereka lakukan
seringkah hanyalah jalan untuk mencapai tujuantertentu.Kitaharusbenar-
benarmengertibanyakhalsebelumbisamenghakimi tindakanoranglain.

• Ketika kamu kehilangan kendali atas emosimu, atau
bahkansekadarmerasakesal,ingatlahbahwahidupmanusiasangatlahsingk
atdan tidaklama lagi kitasemua akandikuburkan.

• Bahwa bukan apa yang orang lain lakukan yang mengganggu kita,tetapi
persepsi yang salah dari kita sendiri. Buang itu semua.Berhenti
beranggapan bahwa ini semua adalah bencana, makaakan lenyaplah
amarahmu. Bagaimana kita bisa melakukan itu?Dengan menyadari
bahwa sesungguhnya kita tidak benar-benarterlukai.

• Lebih banyak kerusakan ditimbulkanolehkemarahan dankesedihan kita
daripada hal-hal yang menyebabkan kemarahan dankesedihan tersebut.

• Sesungguhnya, kebaikan /kindness) itu sangatlah kuat
asalkandilakukandengantulusdanbukanpencitraan.Orangpalingjahatpunt
idakberdayajikakitaterusmemperlakukan diadengan

kebaikandandenganlembutmemperbaikinya.Biarlahnasihatmudisampaikandengan
lembuttanpaharusmenudingkan jari.
Lakukan dengan penuh kasih tanpa kebencian di
hatimu.Berbicaralahdengantidakmengguruidaningindikagumioranglai
n, bahkanjikamemangada oranglaindi situ.

Marcus Aurelius juga menambahkan bahwa murka bukanlah sifat yangterpuji.
Kesantunan dan kebaikanlah yang menentukan kemanusiaanseseorang.
Sesungguhnya, orang lembutlah yang memiliki kekuatandan keberanian,
bukan si pemarah dan tukang keluh.
Sebaliknya,kemarahanpadaoranglainadalahsebuahhambatanbagitugaskita.

“Kita dilahirkan untuk bekerja sama bagaikan kaki, tangan dan
mata,bagaikanduabarisgigi,atasdanbawah.Untukmenghambatoranglainadalah
melanggar Alam. Untuk menjadi marah pada orang lain,
danmemunggunginya;inisemuaadalahhambatan,"ujarMarcusAurelius.

ManusiaLain:KerjaKita

"Bisadikatakan,manusialainadalah'kerja'kita.Tugaskitaadalahmelakukan
yang baik kepada mereka dan hidup berdampinganmereka. Tetapi ketika
mereka menjadi halangan dalam kitamenjalankan kerja kita, maka mereka
menjadi irelevan—bagaikansinarmatahari,angin,dan



dicari,

tetapiuanedanh

arta

waktu

tanpaamp unterus

menghilc

•1

adalah harta

yangkehidupan kita,
terusmendekatkan diri

kitakepadakematia
n..

binatang-binatang.Tindakankitamungkindihambatolehmereka,tetapi tidak
ada yang bisa menghambat niatan atau watak kita.” -MarcusAurelius
[Meditations]

Berkali-kali Marcus Aurelius, Seneca, dan para filsuf Stoa lainnyamemberi
penekanan pada hubungan antarmanusia. Bahkan, di kutipandi atas dikatakan
(hubungan kita) dengan manusia lain sebagai salahsatu 'kerja' kita. Kewajiban
kita adalah terlebih dahulu melakukan halyang baik kepada orang lain dan
bisa hidup rukun di sisi mereka(minimal bisa menerima/ menolerir keberadaan
mereka). Ini menjadidefaultsetting,atau kondisistandarkita.

Namun,kitatahudalamhidupinitidaksemuamanusiamemilikiprinsipyang sama
(banyak yang belum mengerti Filosofi Teras!), dan
merekadengansengajaatautidak sengajamenghalangiatautidakmenghargai
upaya kebaikan kita. Marcus Aurelius menasihati agar kitatidak menjadipatah
hatidan menyerah.

Pernahkah kita dikecewakan sesudah berbuat baik kepada orang lain,dan
kemudian berkata dalam hati, ‘'Males banget. Kapok jadi
orangbaik.Tohnantigakdihargai,gakdiinget,gakdibales,deelel.
........"Soundsfamiliar?Sayarasasemuaorangpernahmerasaseperti
ini (termasuk saya!), dan karenanya, Marcus segera melanjutkandengan
kemungkinan ini-ketika orang lain menjadi halangan danbagaimana orang-
orang yang seperti ini irelevan. "Dianggap
anginsaja”,dankitatetapmelanjutkanberbuatbaikpadaoranglain.Jangansampai
kita patah arang, apalagi sampai membatalkan niatan danmengubahwatak.

Pentingnya“ManajemenOrangLain”diDalamHi
dupKita

"Manusia tidak mengizinkan orang lain merebut properti
rumahdantanahmereka.Jikaadasedikitsajaperselisihanmengenaibatas
(tanah), manusia berlomba mengambil batu dan senjata.Akan tetapi,
manusia mengizinkan manusia lain mencuri hidupmereka.

"Kamu tidak akan menemukan orang yang mau membagi-bagikan
uangnya begitu saja, tetapi berapa banyak dari kita yangjustu
membuang-buang hidup kita sendiri. Manusia pelit saatmenjaga harta
benda mereka, tetapi begitu soal membuang-
buangwaktu,kitajustruboros.Padahaljustrudisinilahkitaharuspelit.”-
Seneca(OnTheShortness ofLife)

Seneca sungguh memiliki pengamatan tajam akan ironi dari
perilakumanusia.Kitatidaksegan-
seganmengangkatsenjatajikamenyangkuturusan sengketa tanah dan harta.
Pertemanan, bahkan tali hubungansaudara atau orang tua-anak bisa putus hanya
karena perebutanwarisan, rumah, perusahaan, dan lain- lain. Kita sangat murka
ketikaada yang mencuri harta kita, atau tidak mengembalikan hutangnyakepada
kita. Namun, ironisnya, kita justru membuang-buang hal yanglebihbernilai
darisemuaitu,yaitu waktuyangadadidalamhidupkita.

Kitabisamenyia-nyiakanwaktudenganmemberikanterlalubanyak

porsi waktu kita untuk emosi negatif kepada orang lain. Mungkin
kitamenyimpan dendam bertahun-tahun atas masalah yang sudah
lamaberlalu.Atau,kitamenghabiskanberjam-jammenggosipkanoranglaintanpa
mengubah keadaan menjadi lebih baik. Atau, kita terusmengomel dan
berkeluh kesah mengenai perilaku orang lain kepadakita,tanpa kita
mencarisolusinya.Atau, kita bertahan dalampertemanan, pacaran, bahkan
pernikahan yang toxic (beracun),selama bertahun-tahun, yang akhirnya
menghancurkan jiwa kitasendiri. Semua ini sama saja seperti
"menghamburkan” waktu kitakepada orang lain, yang mana menurut Seneca
ini lebih buruk darimenghamburkan uang.

Seneca mengingatkan kita akan pentingnya "manajemen waktu" yanglebih
penting dari "manajemen uang”. Mengatur waktu di sini termasukjuga
memperhatikan waktu yang kita curahkan kepada orang lain. Jikakita tidak
suka uang dan harta kita dicuri/diambil orang lain, tidakkahkita harus lebih
ketat lagi menjaga waktu kita? Apakah kita akanmenjalani detik-detik akhir
kehidupan kita menyesali mengapa
kitamenghabiskanbanyakwaktuuntukorang-orangyangtidakseharusnya
diberikan tempat di dalam kehidupan kita? Karena uangdan harta benda selalu
bisa dicari, tetapi waktu adalah harta
yangtanpaampunterusmenghilangdarikehidupankita,terusmendekatkandiri
kitakepadakematian.

IntisariBab7:

• Filosofi Teras sangat menaruh perhatian pada
hubunganantarmanusia,karenaparafilsufStoapercayabahwanature
manusiaadalahmakhluk sosial.

• Dalamkehidupansosial,kitapastiharusberhadapandenganperilakuma
nusia lainyang menyebalkan.

• Kalaukamumerasatersinggungolehulahdanperkataanoranglain,
itusepenuhnya salahmusendiri.

• Di balik perilaku menyebalkan orang lain, kemungkinan
besartidakadamotivasi/niatanjahat,tetapiketidaktahuan/ ignorance.

• Orangyangmelakukanperbuatanmenyebalkankarenatidaktahu(ignorant),
justruseharusnyadikasihanidandiajari, bukandimarahi.

• Tidakadayangbisamerendahkanjiwamu.
• Kemarahankitajauhlebihmerusakdaripadapenyebabkemaraha

nitusendiri.

• Selaluingatkemungkinanbahwakitayangsalah/keliru.
• “Kurangkerjaan”membukacelahuntukniatjahat.
• Instruct and endure. Tugas kita adalah membangun orang lain,atau

menanggung/menolerirmereka.
• Kemarahansamadengangilasementara.
• KejujuranadalahbagiandariselarasdenganAlam.Ketidakjujuranmembawa

kerugiandisaat inijuga.
• Terkadang,memangadaorang-orangyanglayakdihindaridalamhidup.
• Waktu adalah harta yang terus menerus berkurang, jangandihamburkan

kepada orang-orang yang tidak membuat hidup kitalebih baik.

Wawancaradengan

CaniaCittaIrlanie

EditorGeolivedanGeotimes

“Selalumens
imulasi

theworstcase."

Saya mengenal Cania awalnya dari media sosial. Kehadirannya dimedia
sosial tidak lepas dari perdebatan yang ditimbulkannya, baikdari cuitan di
Twitter, posting-an di Facebook, atau vlog-nya, karenamemang hobi Cania
adalah menyatakan opini secara apa adanya,yang sering tidak sejalan dengan
pemahaman banyak orang.
Namun,bukaninialasanutamasayamemutuskanmewawancaraCania.Sayajustru
tertarik menyaksikan bagaimana dia bersikap menghadapiserbuan banyak
cercaan, bullying, bahkan sebagian sudah masukkategori ancaman. Cania
bersikap tenang dan chill banget. Karenasikapnya ini mengingatkan saya
kepada banyak prinsip Stoisisme,sayatertarik
untukngobroldengannya.Berikutkutipannya.

HiCania,apakegiatannyasehari-harisekarang?
SeminggusekalisayashootingproduksivideountukGeolive.Sisanyamenulis
untuk Geotimes, induk media dari Geolive, sambilmenyelesaikan skripsi di
Strata-1 Ilmu Politik Universitas Indonesiadengan peminatan di Comparative
Politics, jadi membandingkan satukawasan dengan yang lain. Misalnya,
membandingkan kebijakan diFinlanddengandiAmerikaSerikat.
Kalau weekend, karena saya pianis saya juga mengisi wedding
atauacaraulang tahun.Atau main di cafeatau dihotel.

Bisayamembagiwaktuantaraskripsi, shootingvideo,sampaimenulis?

Basically karena semua kegiatan ini adalah menulis dan membaca,jadi
pembagian waktu tidak masalah. Yang jadi masalah
lebihpembagianmood,hahaha.Karenasemuanyatentangmenuangkanide,
jadi kalau pas ada mood untuk menulis suatu ide, saya akanmeninggalkan
duluideyang lain.

MengapawaktululusSMAmemutuskanmengambilIlmuPolitik?

Agak aneh ceritanya. Latar belakang saya sebelumnya sains
banget.Tahun2006,sayaikutOlimpiadeMatematikadanSainsInternasional,suda
h melalui karantina bareng Yohanes Surya (Pembimbing TimOlimpiade
Fisika Indonesia-penulis) juga. Di SMP juga ikut OlimpiadeBiologi dua kali.
Saat SMA, karena juga tertarik pada bahasa Inggris,saya ikutan speech
contest. Kemudian diperkenalkan pada jugakepadaEnglishDebating.

Sejakkenaldebatingini,sayajadi
kenalsocialissues,karenadebatnyakantidakmungkintentangnaturalscience,t
apisocialpolitical issues. Di tingkat Jawa Barat saya dikarantina, setiap hari
bisaberdebat tujuh mosi, seminggu 50 mosi. Mosinya semua tentang
socialissues, seperti currency, kebijakan tobacco, dan lain-lain. Sejak
ituminat saya di bidang ini bertambah, seperti hukum, politik, dan lain-lain.
Saya kayak ngerasa ada something bigger than natural science,biology,
virus, genetics. Saat ikutan debat, baru menyadari ada yanglebih kompleks
dari itu semua, yaitu...manusia. Karenanya,
sayapengenmenghabiskanmasakuliahdisesuatuyanglaindarisains.
Itulah bagaimana saya akhirnya memutuskan belajar

politik.SempetnyeselgaksekarangsesudahmempelajariIlmuPolitik?

Sesuai ekspektasi. Semua pengalaman gue selama debating benar-benar
ditemui saat belajar ilmu politik. Seperti perdebatan teori. Untuksatu isu yang
sama, bisa ada enam teori yang berbeda-beda. Kalaubelajar sains kan tidak
seperti itu. Jika ada teori yang lebih baru
danlebihbagus,makateorisebelumnyayahilang,karenaartinyadiagagaldan
yangbarumenghapusitu.

Dalam(ilmu)sosialtidaksepertiitu.Untuksetiapisubisaadalebihdarisatu analisis,
teori, point of view, dan lain sebagainya. I used to obsesswith being right
when in science. Karena di sains itu tidak ada
pilihanlainselainbenardansalah. Kalaulogaksalahyalobenar,udahitu

aja.Makasaattenggelamdalamsains,sayasangatterobsesimenjadi‘'benar". Gak
mungkin ada dua kebenaran di sains. Saya bisa bilangkalo saya mungkin lebih
close-minded saat itu, karena saya gakmenganggap kebenaran itu
relatif.Kalolo salahyalogoblok.

Tapi, ketika kuliah di FISIP saya berbenturan dengan pemikiran-
pemikiranlain,danpadatahapyangkeras.Kalauloorangnyakeras,loakan tetap
close-minded. Tapi, saya selalu tertantang dengan adanyaorang lain yang
mungkin lebih bener dari saya. Akhirnya saya melihatbahwa ragam kebenaran
itu tidak bisa direduksi menjadi satu. Thereare alternatives of truth,
maksudnya truth dalam arti morality, virtue,orang-orangbisamemiliki
definisiyang berbeda.

Jadi, waktu masuk kuliah politik tadinya saya mengharapkan hanyacognitive
development aja, yaitu saya jadi lebih menguasai bidang
ini.Ternyataitgivesmealotmorethanthat,salahsatunyasayajadilebihopen-
minded dalamkonteks ragam kebenaranitu.

BagaimanaawalnyabertemudenganStoisisme?

Group LINE di mana saya berada sering membahas hal-hal yang
tidakmainstream. Waktu itu ada yang membahas spirituality. Kami
biasanyaberkutat pada filsafat-fiIsafat yang memuaskan kognitif,
sepertimarxisme,dialektika,renaissance.Kemudian,suatusaatkamimembaha
s apakah ada yang hilang jika tidak ada spirituality. Kamimembahas alternatif
(spiritualitas) selain divinity (ke-Tuhan-an), danmungkin salah satu alternatif
itu datang dari filsafat. Maka muncullahdiskusi tentangStoisismeitu.

Kami memang tidak membahas sangat dalam, tapi saya jadipenasaran,
kemudian search di Google dan saya menangkapnyasebagai filsafat self-
control. Menaklukkan diri sendiri. Itu yang sayatangkap. Diskusi tentang
bagaimana jika filsafat membahas sisiemosional manusia, bukan kognitif. Ini
melengkapi topik
liberalisme,karenaketikakitamemberikankebebasanpadaindividu,makaindividu
ituharusbisamengeloladirinyadidalamkebebasanitu.DanStoisisme memberikan
cara untuk menaklukkan diri lo sendiri, dalamkehidupanantarmanusia.

AdakahprinsipStoisismeyangsukaditerapkan?

Ada adagium (peribahasa): “10% masalah dalam hidup kita
adalahmasalahitusendiri, 90%adalahhowwereacttotheproblem".Danjika

90% dari masalah hidup adalah reaksi kita sendiri, maka kitalah yangharus
belajar bagaimana bereaksi pada masalah itu. Dan Stoisismememberikan cara
bagaimana kita bereaksi dengan "inner calm",
danekspresinyatidakperludenganmurka,marah-
marah,sertalebihfokuspadamencarisolusi.

Kamu juga aktif di media sosial, dengan segala konsekuensinya. Bisacerita
pengalaman dalam bermedia sosial, seperti menghadapi hater,dan lain-lain?

Saya suka mensimulasi dalam kepala saya sendiri, apa "the worstcase" kalau
saya mengambil pilihan tertentu. Misalnya, bagaimanakalau saya menjadi
jurnalis, dan saya menulis sesuatu yang 'keras',apa sih worst case that could
happen? Pada saat masuk media sosial,saya juga mensimulasi hal yang pasti
terjadi di social media, bullying(walaupun sejak di SMP saya sudah biasa
menghadapi bullying]. Tapi,bullyingdi socialmediakan beda bangetdari
masa SMP.

Kemudian saya membayangkan kalau saya di-bully berdasarkanpemikiran, itu
bisa sangat berbeda dengan jika d\-bully for no reason,seperti saat SMP di
mana banyak orang yang d'\-bully. Kalau kitamemberi sebuah pernyataan
yang keras, yang challenge the norm ofsociety, mungkin kita akan
menerima bullying yang jauh lebih parahdari itu. Terus saya membayangkan,
apa yang saya lakukan jika ada disituasi itu.

Sayaselalusimulasitheworstcasesebelummemilihsesuatu.Untukapa? Untuk
menjamin bahwa saya bisa react in the right manner(bersikap dengan cara
yang benar). Jadi, saya memutuskan untuklatihan,denganmembaca
bullyingyangditerimaorang-oranglain.
Saya mencari akun-akun yang sering d'\-bully orang, seperti Fadli Zonatau
Mulan Jamila. Saya baca aja bullying orang (kepada mereka),(mau tahu)
bullying bisa sampai sejauh mana sih. Akun Mulan Jamilayang d'\-bully,
anaknya sampai disumpahin cacat. Saya baca danrenungkankata-
kataitu,supayasayagakshockkalo(nanti)membacaitu semua(terhadapsaya).

Pada akhirnya serangan (terhadap saya) itu benar-benar terjadi,
danpersissepertiyangsayabayangkan.Sayadipanggil"cewekpalingtololse-
lndonesia", "Elo kaum sodomi, perek, gak punya agama ya?” danlain-lain. Ini
semua udah saya expect. Jadi saya sudah prepare kondisiemosional
jauhsebelumitusemua kejadian.

Jadi, gimana reaksi Cania saat akhirnya benar-benar ada yang mem-bully?

Karena saya selalu in calm state (kondisi tenang) saat membacabullying,
saya bisa berasumsi bahwa mungkin orang-orang ini tidaksungguh-sungguh
bermaksud apa yang mereka katakan. Mungkin adakesempatan untuk dialog.
Untuk beberapa kasus saya akan mencobangobrol (dengan mereka yang
mem-bully saya). Saya minta maaf dulukalo ada kesalahpahaman. Dan
sebagian dari mereka ternyatamembalas, dengan bahasa yang jauh lebih halus
dari pertama kali(menyapasaya).

Akhirnya soal bullying, saya mengambil kesimpulan sebagai berikut.Kalau
kita tetap menjadi objek, mereka akan semakin ganas. Dalambullying, ketika
orang memaki-maki elo, mereka tidak melihat
elosebagaiorang,tetapisebagaiobjekajauntukdimaki-maki.Tapisaatelo
memberi respon balik, mereka melihat elo sebagai subjek,
danmerekaakanmerubahsikapnya

f“Elotuhanakmudadenganse

k gudang
J
kemungkinanmenjadi lebih
A

A

besar,

kenapaeloharusturunkeleveli

ni?

w Menyimpan kemarahan
W

A danmarah- marah, artinya
1

levelelo jadi di bawah

orang(yangelokarena mereka akan kaget. Kayak elo lagi ngata-ngatain gelas, tiba-

tibagelasiningomongbalik,pastieloshockduluawalnya.Karenanyasaya

Ikmarah-marahin)itu.sesekali membangun dialog itu, agar orang- orang ini kedepannya bisa

mengurangi cara merespon sesuatu dengan cara[bully] seperti ini. Saya

berharap dengan berdialog, saya bisamemberikan saran, kalau melihat orang

yang berbeda (opini), tidakmerespondengancara [bully] ini.

Thedialogueworks.8dari10orangyangsayaajakngobrol berubah

sikapnya. Bukan hanya sikapnya terhadap saya, tetapi terhadap isuyang
sedang dibahas. Conversation matters. Inilah pentingnya elocalm in the
first place. Ketika elo menerima hujatan, elo tenang
dulu.Karenakaloelonyajugamurka,tidakakanmungkinterjadi dialog.
Yang dilakukan orang-orang umumnya langsung blokir, langsungdelete. Ini
denial. Don’t do anything that does not contribute positively.Memblokir
itu contribute negatively. Opportunity cost dari blokir itubesar. Elo
membuang kesempatan untuk orang ini menjadi positif
dimediasosial.Denganblokir/de/ete,elomen-
deny(menyangkal)doang,orangnyatetapada.Bagaikanmobilelotabrakan,mobiln
yagakdibawa ke bengkel, tapi elo tinggal aja di jalan terus elo pulang.
Eloemang gak liat lagi mobil itu, tapi mobil itu masih ada di jalan,
masihrusak.

Sekali lagi, saya bisa calm karena saya sudah mensimulasi dulu
theworstcase.Untuk memastikanmentalkitasiapuntukapa pun.
Masalahnyakalosayaliatteman-temanyangseumuransaya,merekaselalu
berharap pada best case. Ini positive thinking in the wrong
way,karenaeloakanshockbangetsaat worstcase terjadi.

Sejakkapankebiasaanmenyiapkanskenarioterburukdiatasmulaiterbentuk?

Mungkinkarenahidupsayasekerasitu,hahaha.Sayalahirdikeluargayang berada.
Suatu hari orang tua saya berpisah saat gue masih kelas1 SD. Kami anak-anak
tinggal bersama nyokap, dan nyokap tidakpunya bekal apa pun untuk bisa
mempertahankan gaya hidup yangsama. Jadi, secara keuangan drop banget.
Keadaannya berbalik 180derajat.Yang dilakukan nyokap tidak memanjakan
saya, ataumembuat anak-anaknya denial. Nyokap saya gak kayak gitu.
Diamalah memberi tahu bahwa kami jatuh miskin, mama cerai, jadi akuharus
menjaga adik.Nyokapgakpernahmemperlunakmasalah.

Jadi, saya gak pernah merasakan den/a//menyangkali keadaan. Kaloada
masalah ya dihadapi langsung sejak kecil. Nah itu baru soalkemiskinan.
Selain kemiskinan, ada hal-hal yang muncul darikemiskinan itu. Karena elo
miskin, elo harus menghadapi persainganyang lebih berat. Di sekolah
misalnya. Ketika semua anak punyagadget, saya gak punya apa-apa.
Semua orang gampang mencariinformasi, tapi saya harus ke warnet, dan
menghitung saya punyauang berapa,jadisaya harusefisien memakaiinternet.

Sayaranking1dariSDsampai SMAkarenanyokapselalubilang,

"Kamuituudahjelek,miskinpula.Kalokamugakpintar, kamugakakan
jadiapa-apa.”

Waktu di SMP saya di-bully tanpa alasan jelas, saya dibenci
angkatandansenior. Waktukelas3SMP,sayadicegatdidepanpagarsekolah.Apa
yang saya lakukan? Saya harus cari jalan lain. Saya memanjattembok
samping dan pulang lewat samping. Saya gak pernahmenghabiskan terlalu
banyak energi dan pikiran pada masalah. Sayaselalu langsung cari solusinya.
Suatu hari saya d'\-bully dengan caratas saya dimasukin sampah saat sedang
tidak di kelas. Besoknya,saya ke kantin sambil membawa tasnya. Gak harus
semua masalahelopikirin.Banyakorangput toomuch energyontheproblem.
Harusnyaeloputenergy tothesolution.Kalosayagusar,marah-marah di-
bully, nangis-nangis ke orang tua, itu semua tidakmemecahkanmasalah.

Adafaktororang tua?

Nyokap kalo ngeliat saya nangis waktu kecil, dia akan marah
banget,"Ngapain nangis? Nangis itu tidak menyelesaikan masalah.”
Adabenarnya kalimat itu. Beliau menuntut untuk tidak melakukan sesuatujika
itu tidak berkontribusi pada solusi masalah. Itu memang
ekstrim,tapipoinyangmausayaangkatadalahbagaimananyokapguesangatfokusp
ada solusi.Halini tertanam sangat dalam pikiran saya.

Kembalikemediasosial,apasihkesalahananak-anakmudadalammenggunakanmedia
sosialmenurutCania?

Mungkin comparing (membanding-bandingkan) kali ya. Saya pernahbaca
artikel mengenai Instagram bisa berpengaruh pada depresi yangsedang banyak
terjadi di antara anak muda. Mungkin karena
Instagramdipenuhiparaselebgramyangmemamerkantentanghidupmereka.
Ada yang pamer traveling, ada yang pamer baju mahal, ada yangpamer pacar
gantengnya, kulit putihnya, dan lain-lain. Saya liat anak-
anakmudainitakeittooseriously.Merekakekuranganinspirasiuntukmemikirka
ndirimerekasendiri, whatkindofpersonIwanttobe.Whatkind of myself that
I aspire to be. Anak-anak muda ini kekuranganinspirasi untuk berdiri di kaki
mereka sendiri dan menjadi diri merekasendiri,bukanmeng-copy oranglain.

Instagram ini menjadi tempat di mana mereka makin kehabisaninspirasi
karena kerjaan mereka hanya ngeliatin akun-akun ini.
Danmerekamenghabiskanterlalubanyakenergidisini,kemudianmereka

marahkarenakehidupanmerekatidakseindahitu,teruskemarahanitudialihkan ke tempat
lain—mem- bully akun-akun seleb saat merekamelakukan kesalahan.

Anak-anakmudainiperluspirituality,buku-
buku,ataufilosofiyangmemberimerekainspirasibahwamerekatidakperlusepertiitu
.
Bagaimanamerekabereaksi terhadaporang-orang yangkehidupannya lebih baik
dari mereka, bahwa tidak perlu menunggu-nunggu (seleb) melakukan
kesalahan untuk memaki-maki mereka
(dimediasosial).Sayabingungsih,kalianinidibesarkandimanasih,gaulsama
siapasampaijadikayakgini.

Elo tuh anak muda dengan segudang kemungkinan menjadi
lebihbesar,kenapaeloharusturunkelevelini?Menyimpankemarahandanmarah-
marah, artinya level elo jadi di bawah orang (yang elo marah-marahin)itu.

Bisa gak saya simpulkan, kalau kita sudah cukup sibuk
untukmerenungkandirisendiri,kitamaujadiapa,kitatidakakanpunyawaktu
untuk mengomentari paraseleb media sosial?

Balikkedikotomikendaliya,harusnyaelofokuspadahal-halyangbisaelo
kendalikan aja. Saya suka bingung, kenapa sih semua orang jadibegitu marah
pada orang lain? Gak ada alasan sama sekali. Beberapakali baju mahal saya
rusak di laundry. Apakah terus saya memaki-maki"Dasarlaundry
laknat!"?Gakadaalasansamasekaliuntukmarah...

Sayapunyatemendimediasosialyangharusbanget marahkesemuaorang. Mau
saya unfriend gak enak, jadi saya mute, hahaha. Buat apasih segala kata-kata
kasar itu? Anak-anak muda butuh lebih banyakbacaan, atau filosofi, untuk
membantu mereka menggunakan mediasosial ini dengan lebih tenang, gak
perlu dikit-dikit murka. Dan sayayakin ini awalnya iri hati/ dengki, yang
kemudian berubah menjadikemarahan. Elo akan mencari-cari kesalahan, dari
rambut baru (seleb)yang gak cocoklah, apa sajalah. Orang sekarang merasa
inferiorkarena gempuran social media, menyadari kalo mereka
“nothing",hanya remah rempeyek, gak tau mau ngapain selain marah
padasemuanya. Makanyabe better,beproudof yourself.

(Twitter:(dcittairlanie.FacebookdanYouTubeChannel:GeoliveID)

IntisariwawancaradenganCania:

• Stoisismeadalahaliranfilsafatyanglebihmementingkanpengend
alian emosi, bukan sekadar topik intelek
untukdiperbincangkansaja.

• 10% masalah dalam hidup adalah masalah itu sendiri,90%-
nyaadalahbagaimanakitameresponmasalahitu.

• Mensimulasi kemungkinan terburuk dari setiap
tindakanmembantukitamengantisipasinya,termasukdimediasosial.

• Onlinebullyingbisadihadapidengantenang,bahkanbisamenjadikesempata
ndialog positifyang membangun.

• Anakmudaterlalubanyakmembandingkandiridenganhiduporang lain
(yang tampak sempurna) di media sosial, ini bisamenyebabkan
kekecewaan pada hidup sendiri yang berlanjutdengan rasamarah.

BABDELAPAN

Menghadapi
Kesusahan
danMusibah

E\sanbaruberusia11tahun.Diadikenalguru-gurunyasebagaianak
yang senang menolong, terutama kepada teman-
temannyayangtertinggaldalampelajaran.Diatidakpernah
menolak saat diminta tolong membantu mengerjakan tugas.
HariMinggu, 13 Mei 2018, dia bersama adiknya Nathan yang
baruberusia 8 tahun berjalan bergandengan menuju Gereja Santa
MariaTak Bercela, Surabaya. Di sisi lain gereja, dua orang kakak
beradikjuga memasuki kompleks gereja, Firman, 15 tahun, dan
Yusuf, 17tahun. Firman dan Yusuf meledakkan diri, Evan dan
Nathan punterhempas. Keduanya sempat dibawa ke rumah sakit,
tetapi nyawamereka taktertolong.Evan meninggalkarenaluka
bakar,pendarahandalam,danbenturan.AdiknyaNathansempatmenjal
anioperasi amputasi kaki, tetapi darah yang terlalu banyak
hilangakhirnya membuatnya menyusul kakaknya. Hari Minggu
itu,Indonesia terhenyak tak percaya akan aksi kekejaman yang
harusmemakan korban orang-orang tak bersalah, termasuk anak-
anakkecil.

Salah satu aplikasi Stoisisme adalah bagaimana harus bersikap danbertindak
di dalam kesusahan, musibah, dan bencana. Kamu sudahbelajar bagaimana
segala sesuatu yang eksternal (di luar diri kita)dianggap sebagai indifferent,
tidak baik dan tidak buruk, karena tidakbisa menentukan kualitas karakter
kita. Tidak ada peristiwa
hidupyangbisadisebut"baik’’atau"buruk",yangadahanyalahinterpretasikita.
William Shakespeare, pujangga Inggris pernah menggemakanhalyang sama:
“There is nothing either good or bad, but thinkingmakes it so." (Tidak
ada hal yang baik, atau buruk. Pikiran kitalahyang menjadikannya 'baik’
atau ‘buruk’). Jika demikian, bagaimanaStoisisme bisa membantu kita
menghadapi kesulitan hidup yangbenar-benar sulit—bukan sekadar
peristiwa sepele atau orang-orangyang menyebalkan?

Karena interpretasi dan anggapan kita akan sebuah kejadian adasepenuhnya
di tangan kita, maka kita juga sepenuhnya mampumereinterpretasi ulang
episode hidup yang sulit. Filosofi Terasmengajarkan untuk melihat kesulitan
dan tantangan sebagai ujian.
Iknow,initerdengarbasidanmengingatkankitaakankata-
kataGuruBP.Akantetapi, iniberhubungandengantopikinterpretasi diatas.

206

Saat tertimpa kesulitan dan bencana, interpretasi kita malah bisamakin
memperburuk kondisi kita. Misalnya, dengan terus- terusanbertanya-tanya,
“Salah apa saya sampai tertimpa ini?" Atau, "Sayasudah berbuat baik,
mengapa Tuhan tidak adil?”, "Saya tidak layakmenerima ini, harusnya
orang lain/si Anu,” dan berbagai interpretasilain yang tidak mengubah
situasi. Mungkin kita pun
pernahmelakukanhalinisaatkesulitanmenimpa.Namun,pikiran-
pikiraniniadalah irasional menurut Filosofi Teras, karena kita
menghabiskanenergiuntuk hal-hal yangdiluarkendali
kita.Saatmusibah/kesusahan telah terjadi, dia sudah berada di luar
kendalikita,sudahmasukmasalaluIpast)ataumasasekarang Ipresent).
Dalam wawancara dengan Cania Citta, dia mengatakan bahwa lebihbaik
waktu dan energi segera dipusatkan kepada solusi (yang masihada di masa
depan), daripada mempertanyakan kenapa kita tertimpamusibah(yang adadi
masa lalu/masasekarang).

Filosofi Teras mengajarkan kita untuk menginterpretasi peristiwanegatif
sebagai ujian, kesempatan untuk menjadi lebih baik. Sepertidi sekolah, ada
ujian matematika, ujian sejarah, ujian biologi, danlain-
lain,makaujiandalamhidupadabanyakmacam,mengujisalahsatu karakter
kita. Kualitas karakter/v'vrtue apa dari saya yang bisadikembangkan
olehperistiwa ini?

“Constant misfortune brings this one blessing: Those whom
italways assails, iteventually fortifies."-Seneca

"Kesusahan yang datang terus menerus membawa berkah ini:mereka yang
selalu tertimpanya, akhirnya akan diperkuat olehnya,"ujar Seneca. Dalam
bahasa modernnya, “What doesn't killyou onlymakes you stronger", apa
yang tidak membunuhmu hanya akanmemperkuat dirimu. Interpretasi
pertama yang bisa
ditanamkanadalah,dibalikmusibahini,adakesempatankitamenjadiseseorangy
ang lebih kuat. Jika kita membaca biografi orang-orang terkenal,mereka pun
mengalami banyak musibah, kesialan, kesusahan—dansemua ini
menjadikan mereka lebih kuat dalam mengejar cita-citadan
perjuanganmereka.

207

• Sebelum sukses dengan bisnis animasinya, Walt Disney pernahdipecat
oleh koran tempatnya bekerja karena dianggap “kurangimajinasi
danmiskinide".

• OprahWinfreydipecatdaripekerjaanpertamanyasebagaipembawa
berita dengan alasan terlalu emosional denganberitanya.

• ParagurudariThomasEdison(penemubolalampudanbanyakinovasi
lainnya) mengatakan padanya bahwa dia “terlalu bodohuntuk
belajarapapun”.

• Lady Gaga diputus oleh perusahaan rekamannya
hanyasesudahtigabulan.

• Colonel Sanders, pendiri Kentucky Fried Chicken (KFC),
saatberusaha menjual resepnya mengalami penolakan dari
1.000lebih restoran.

• George Lucas mengalami penolakan dua kali dari dua
studiobesaruntukideStar Wars.

• NaskahHarryPotterditolakoleh12[duabelas!)penerbitbesarsampaiakh
irnyaditerbitkan.

• Steve Jobs dipecat dari perusahaan Apple yang didirikannya ditahun
1985, dan kemudian kembali lagi untuk meraih sukseslebih besar.

Masih banyak lagi kisah kegagalan, penolakan, kesulitan di
balikorang-orang yang akhirnya mencapai sukses besar.
Maka,interpretasipalingminimalyangbisakitabentuksaatmengalamikesu
litanadalah: iniakan memperkuat saya.

“Unluckyraven .... tomeallomensarelucky.Whicheverthings
happenitismycontroltoderiveadvantagefromit"-Epictetus
[Enchiridion)

“Burunggagakkatanyaadalahpertandasial.tapibagisayasemua
pertanda adalah keuntungan. Karena, apa pun yang terjadi, sayamemiliki
sepenuhnya kendali untuk menarik manfaat darinya,” ujarEpictetus. Sebagian
dari kamu mungkin berpikir, “Sombong beut!"Namun, sebelum
menuduhnya sombong dan belagu, ingatlah bahwaEpictetus adalah seorang
budak yang jalannya pincang. Dia
bukananakorangkayayangmendapataksesmudahmendirikanbisnisdandibantu
orang tuanya dengan koneksi. Jika ada yang bisa berbicaratentang nasib yang
kurang beruntung, Epictetuslah orangnya. Akantetapi,diatetap
mengatakanbahwa apa punyang terjadi,dia

FILOSOFITERAS 208

memegang kendali untuk bisa mengubahnya menjadi sebuah‘keuntungan’.
Belakangan, Epictetus mendapat kebebasan sebagaiorang merdeka, dan
kemudian mendirikan sekolah filsafat, danajarannya akhirnya sampai
membentuk sosok kaisar MarcusAurelius.

Apa“keuntungan”disini?Dikembalikankekita.Bagisebagianorang,masalah
bisa menjadi latihan kesabaran, baik itu sabar secara waktu(menunggu), atau
sabar menahan emosi. Bagi sebagian orang lain,keuntungan di sini justru
kesempatan untuk mengganti arah—bisaarah karier, arah bisnis, atau bahkan
arah hubungan. Ada yangmenjadikan masalah sebagai kesempatan untuk
mempelajari skillbaru. Seperti banyak kisah di mana seseorang dipecat
daripekerjaannya, dan sesudah itu dia justru menciptakan ide bisnis baruyang
tidak hanya membuatnya kaya raya, tetapi juga lebih bahagiadaripadajika
diangototbertahan dipekerjaannya.

Tidak ada formula yang sama untuk setiap situasi, karena
kesulitan,musibah, hambatan yang dialami orang berbeda-beda. Namun,
yangpenting adalah bagaimana kita tidak membiarkan pikiran kita
terlalulama dihabiskan di hal-halyang di luar kendali kita,
danmemfokuskannyakembalikehal-halyangdibawahkendalikita.
Bagaimana kita mau memaknai musibah dan kesulitan
adasepenuhnyaditangan(ataupikiran)kita.

Wenny Angelina Hudojo adalah ibu dari Evan dan Nathan.
DikutipdariBBC.com,dalamkeadaanberlinangairmatadiamenyerahkankem
balikeduaanak-anaknyakepangkuanTuhan,sambilmengucapkan doa
sekaligus pengampunan bagi pelaku seranganyangtelahmerenggutnyawa
anak-anaknyayangmasihbelia.
PengampunanyangdiberikanolehWennysepenuhnyaadadibawahkendalinya, tidak
adayang bisa merenggutnya.

MelawanPolaPikirDestruktif

Dalammenghadapikesusahanataumusibah,adapolapikirmerusakyang harus kita
lawan. Di buku Option B: Facing Adversity, BuildingResilience,
AndFindingJoy,karyaSheryl

209 HENRYMANAMPIRING

“Why is it so hard
whenthingsgoagainstyou?

Ifitis
imposed by nature,
acceptgladly.Ifnot,workout
whatyour own nature
requires,even if it brings
you noglory.” - Marcus

Aurelius(Meditations)

SandbergbersamaAdamGrant,disebutkanmengenaipolapikir3P
yang menurut psikolog Martin Seligman bisa menghambat kita untukpulih
dari musibah.Polapikir 3Pituadalah:
• Personalization.Menjadikanmusibahsebagaikesalahanpribadi.
• Pervasiveness. Menganggap musibah di satu aspek

hidupsebagaimusibahdiseluruhaspek hidup.

• Permanence.Keyakinanbahwaakibatdarisebuahmusiba
h/kesulitanakandirasakanterus-menerus.

Sebagai ilustrasi dari Pola 3P, bayangkan seseorang
perempuanyangbarupatahhatiberat,sampainangistujuhharitujuhmalamdanme
nolakmakan.Pola 3P bisa sepertiini:

• Personalization: “Cowok gue selingkuh karena SALAH
GUE.Gue yang kurang dandan, gue yang kurang semok, gue
yangkurang merdu suaranya. Ini semua memang salah
gue.Cowok gue pasti akan setia sama gue kalo gue secantik
GalGadot."

• Pervasiveness: “Hidup gue emang begini. Apes di
percintaan,jadimahasiswijugagakbecus,jadianakgakbener.
PokoknyaSEMUAhidupgue adalahkegagalan."

• Permanence:“GueakanpatahhatiSEUMURHIDUP,yakin
gue/"

Perhatikan bahwa Pola 3P ini bukanlah fakta, tetapi murni konstruksidi
dalam kepala kita sendiri. Mari kita mulai dengan
Personalization.Kenyataannya, tidak semua masalah hidup disebabkan
hanya olehkita sendiri. Memang ada yang sepenuhnya salah kita
sendiri,misalnya mengendarai kendaraan dalam keadaan mabuk
dankemudian menabrak orang lain, tetapi banyak juga yang
sebenarnyadiluaratauhanyasebagiandibawahkendalikita(jumpalagidengandik
otomi/trikotomikendali).

Di Pervasiveness, lagi-lagi kita memiliki perspektif yang keliru
(baca:lebay). Musibah/kegagalan di satu aspek hidup tidak otomatis
berartikegagalan di aspek hidup yang lain. Gagal di studi bukan berarti
kitagagal menjadi anak yang baik. Gagal di percintaan bukan berarti
kitajuga gagalsebagai profesional,dan seterusnya.

Yang terakhir, Permanence. Rasa sedih, galau, kecewa yang
dialamisekarang tidak otomatis masih akan dirasakan minggu depan,
bulandepan, atau tahundepan.Memangadakasus-kasusmusibah/kesulitan
yang menimbulkan luka psikologis yang lamaefeknya, tetapi sebagian besar
akan terasa lebih ringan seiringberjalannyawaktu.

DisaatStoisismesekadarmemberitahubahwakitamampudan

harus bisa mengendalikan persepsi kita mengenai musibah,
konsep3Pdiatasmembantukitamengidentifikasipolapikirapayangharusdihind
ari. Minimal dengan mengenali adanya Pola 3P ini, kita bisalebih cepat
menyadari saat mulai terjebak dalam pola menyalahkandiri sendiri, atau
membiarkan masalah merembet ke mana-mana,atau menganggapperasaan
duka iniakanselamanya.

MenerimaPenderitaan

”Whyisitsohard whenthingsgoagainstyou?Ifitisimposedby
nature, accept gladly. If not, work out what your own
naturerequires, even if it brings you no glory." - Marcus
Aurelius(Meditations)

Kita tadi sudah diingatkan oleh Filosofi Teras bahwa apa yang kitasebut
sebagai “bencana”, "musibah”, “kesulitan”, dan lainnya adalahkonstruksi
mental kita sendiri. Stoisisme melihat peristiwa, apa
punitu,sebagaisebuahfaktaobjektif.Maknadariperistiwaitudatangdarikita
sendiri, dan karenanya kita punya pilihan hendak memaknainyasebagai hal
buruk, atau sebagai hal yang baik (misalnya
kesempatanmemperkuatdiriataumelatihsifattertentu).

Ada satu lagi nasihat yang datang dari Marcus Aurelius, yaitu
untuk’’menerimanya dengan senang hati”. Ini juga sesuai
denganpembahasan sebelumnya mengenai mencintai nasib famorfati),
dandengansepenuhhati’’mengharapkan”halyangtelahterjadisebagaiyang
ditunggu-tunggu (walaupun terasa absurd). “Mengapa begitusulit saat hidup
dirasa melawan dirimu? Jika memang kejadian inidatang dari Alam, maka
terimalah dengan senang hati. Jika tidak,maka cari tahulah apa yang harus
kamu lakukan (yang
selarasdenganAlam),dankerjakanitu,bahkanjikahalitutidakmemberimukemuli
aan," ujarMarcus.

Masih ingat soal keteraturan dan keterkaitan semua yang ada diAlam
[Nature] ini? Hal ini pun mencakup peristiwa musibah dankedukaan. Jika
memang hal itu adalah bagian dari Alam, maka kitadiajak menerimanya
dengan senang hati [Love of Fate). Semua halyang memang harus dijalani
makhluk hidup, seperti kematian dansakit penyakit, atau segala tindakan di
luar kendali kita, seperti sikapdan perasaan orang lain, serta segala bentuk
bencana alam yangtidak bisadikendalikanmanusia.

Memangadamasalahyangtimbulkarenakesalahankitasendiri.

Misalnya, kita tidak menjalankan tanggung jawab kita sebagaipasangan,
anak, ataupun orang tua sehingga kemudian menjadimasalah bagi kita.
Atau, kita mengucapkan atau berbuat sesuatuyang merugikan kepada orang
lain, makhluk lain, atau lingkunganyang akhirnya membawa kesusahan.
Jika semua masalah iniditimbulkan oleh kita sendiri, karena kita telah
berbuat tidak selarasdengan Alam [not in accordance with Nature),
maka kembali ke kita.SepertidikatakanMarcus,kitayang bertugas
mencaritahubagaimana memperbaikinya, kemudian melakukannya
sungguh-sungguh.

MenangdenganBertahan

Kaum Stoa senang menggunakan analogi kontes olahraga ataupertandingan
untuk menggambarkan kesusahan hidup. Yangmenarik, kita tidak
diharapkan untuk menang dengan cara“mengalahkan” cobaan, layaknya atlit
gulat atau
taekwondomelumpuhkanlawan.DidalamFilosofiTeras,kemenangankitaatasc
obaan dan kesusahan hidup diperoleh dengan bertahan [endure]dan
membuatlawankita "lelah”.

"Dalam pertandingan suci banyak yang meraih kemenangandengan
cara membuat lawan mereka lelah. Dengan sikapbertahan yang keras
kepala [stubborn endurance). Bayangkanseorang Stoa semacam
(atlit) yang seperti itu, yang melaluilatihan panjang dan tekun akhirnya
memiliki kekuatan
untukbertahanmenerimaserangandanakhirnyamelelahkanlawan."Seneca
/Firmness)

"Jadilahsepertitebingdipinggirlautyangterusdihujamombak,tetapi tetap
tegar dan menjinakkan murka air di sekitarnya."MarcusAurelius
/Meditations).

Analogi-analogi di atas mengingatkan saya pada kisah-kisah pemainbulu
tangkis, petinju atau petarung yang memiliki strategi
bermainpanjang.Bukannyaberusahasecepatnyamenaklukkanataumelukailawan,
mereka memilih bermain 'partai panjang', memanfaatkankesabaran dan stamina
yang mereka miliki. Sampai akhirnya lawanmereka kelelahan, dan kemudian
mereka baru bertindak merebutkemenangan.

Saatcobaan,kesusahaan,bencanaterasabegituberatmelanda,

yang diminta dari kita bukanlah teori, strategi, tips dan trik
yangcanggih-
canggih.FilosofiTerashanyamemintakitauntukcukup'bertahan', tetap
teguh, bagai tebing karang yang tidak bisadikalahkan badai. Sampai
akhirnya cobaan tersebut yang
'lelah'sendiri.Hanginthere,mungkinbukan anjuran yangburuk.

LatihanMenderita

Premeditatio malorum melatih kita untuk memikirkan skenario-skenario
buruk yang mungkin terjadi di hari ini. Selain simulasimental, Stoisisme
juga menganjurkan "latihan menderita" dalamhidup kita, secara rutin.
"Latihan apes” ini benar-benar dalam artiliteral, artinya kita memaksa diri
kita menderita secara fisik. Bukandengan instrumen penyiksaan (ingat
penjahat di film The Da
VinciCodeyangsenangmencambukdiri?),tetapidengansengajahidupjauh di
bawah standar kenyamanan hidup kita sehari-hari secaraberkala.

"Luangkan beberapa hari dalam setahun di mana kamu
harusmemuaskan dirimu dengan makanan yang paling sederhanadan
murah, mengenakan baju yang paling jelek dan
kasar,kemudianberkatapadadirimusendiri,'Inikahkondisiyangsayatakut
i?’ Justru ketika keadaan kita sedang baik maka jiwa
kitaharusdiperkuatuntuk


Click to View FlipBook Version