SENARAI TINGGALAN ZAMAN #1 CAGAR BUDAYA PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA EDISI PENDIDIKAN DAN PERJUANGAN ii SENARAI TINGGALAN ZAMAN #1 EDISI PENDIDIKAN DAN PERJUANGAN Terbit Pertama, 2023 Diterbitkan Oleh DINAS KEBUDAYAAN (Kundha Kabudayan) DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA Jalan Cendana Nomor 11 Yogyakarta 55166 Oleh: Tim Penyusun Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Daerah Istimewa Yogyakarta ISBN:
SENARAI TINGGALAN ZAMAN #1 CAGAR BUDAYA PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA EDISI PENDIDIKAN DAN PERJUANGAN iii
SENARAI TINGGALAN ZAMAN #1 CAGAR BUDAYA PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA EDISI PENDIDIKAN DAN PERJUANGAN iv KATA PENGANTAR SENARAI TINGGALAN ZAMAN Daerah Istimewa Yogyakarta memiliki Cagar Budaya yang sangat beragam. Cagar budaya menjadi jendela untuk menuju masa lalu, memberikan wawasan tentang sejarah dan peradaban. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya memberikan dasar hukum bagi pelestarian dan pengelolaan Cagar Budaya di seluruh Indonesia. Undang-Undang Cagar Budaya memiliki peran yang sangat penting dalam melestarikan warisan budaya suatu daerah, dan di Daerah Istimewa Yogyakarta, hal ini menjadi semakin krusial. Dalam konteks Daerah Istimewa Yogyakarta, keberadaan UndangUndang ini menjadi landasan upaya untuk menjaga dan mengembangkan kekayaan budaya yang meliputi benda, bangunan, struktur, dan berbagai peninggalan bersejarah lainnya. Menurut Pasal 39 dalam undang-undang ini, disebutkan bahwa pemerintah dan pemerintah daerah melakukan upaya aktif mencatat dan menyebarluaskan informasi tentang Cagar Budaya dengan tetap memperhatikan keamanan dan kerahasiaan data yang dianggap perlu sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Bahkan, keunikan Daerah Istimewa Yogyakarta sebagai pusat pendidikan dan perannya dalam kemerdekaan Republik Indonesia turut diakui dan dilindungi oleh undang-undang ini. Dengan regulasi ini, Cagar Budaya di Yogyakarta diharapkan dapat tetap lestari, menjadi pusat edukasi bagi masyarakat, dan tetap menjadi identitas berharga yang diwariskan kepada generasi mendatang. Cagar Budaya bukan sekadar saksi bisu zaman, melainkan pintu gerbang menuju pemahaman yang lebih dalam tentang identitas kita sebagai suatu masyarakat. Melalui susur waktu ini, kita dapat merasakan keindahan dan keajaiban serta kebijaksanaan yang telah diwariskan oleh pendahulu kita. Cagar Budaya ini menjadi suatu warisan budaya yang terus berkembang dan memberi makna bagi generasi-generasi yang akan datang. Lembaran sejarah yang kaya dan memikat menyajikan sebuah perjalanan melalui masa lalu yang diabadikan dalam bentuk arsitektur yang mengandung nilai-nilai budaya. Buku ini menyampaikan informasi-informasi yang terkandung dari 21 Cagar Budaya yang tersebar di Daerah Istimewa Yogyakarta. Dalam perjalanan ini, pembaca akan diajak untuk mengintip ke dalam detail-detail tak terlihat yang ada baik pada struktur maupun bangunan bersejarah. Bangunan-bangunan tersebut merupakan saksi bisu perjalanan panjang umat manusia kemudian melalui buku ini, kami berusaha untuk memberikan
SENARAI TINGGALAN ZAMAN #1 CAGAR BUDAYA PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA EDISI PENDIDIKAN DAN PERJUANGAN v suara kepada mereka. Kami berharap buku ini dapat menjadi sumber informasi yang berharga bagi para peneliti, pelajar, dan semua orang yang tertarik untuk mengapresiasi warisan budaya kita. Lebih dari itu, kami berharap buku ini dapat membangkitkan rasa cinta dan rasa tanggung jawab kita terhadap Pelestarian Cagar Budaya. Penyusunan buku ini diharapkan dapat mengoptimalkan upaya mempertahankan Cagar Budaya sekaligus penyebarluasan informasi dan menambah pengetahuan Cagar Budaya itu sendiri kepada seluruh aspek masyarakat. Semoga buku ini bukan hanya sekadar kumpulan gambar dan fakta, melainkan sebuah undangan untuk merenung, menghargai, dan menjaga warisan yang telah dipercayakan kepada kita. Mari kita bersama-sama menjadikan Cagar Budaya sebagai pijakan untuk melangkah ke masa depan yang penuh dengan kearifan dan keberagaman. Akhir kata, kami mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah terlibat dalam penyusunan buku ini. Semoga hadirnya buku Senarai Tinggalan Zaman ini dapat memantik rasa memiliki dari para pembacanya, baik yang berasal dari Kota Yogyakarta maupun dari luar Yogyakarta, sehingga cagar budaya yang telah berdiri kokoh ratusan tahun terus menjadi kebanggaan bagi kita semua. Selamat menikmati perjalanan ini. Semoga kita semua mampu menjadi pelindung warisan yang tak ternilai untuk generasi mendatang. Kepala Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Daerah Istimewa Yogyakarta Dian Lakshmi Pratiwi, S.S, M.A.
SENARAI TINGGALAN ZAMAN #1 CAGAR BUDAYA PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA EDISI PENDIDIKAN DAN PERJUANGAN vi
SENARAI TINGGALAN ZAMAN #1 CAGAR BUDAYA PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA EDISI PENDIDIKAN DAN PERJUANGAN vii DAFTAR ISI KATA PENGANTAR .............................................................................iv DAFTAR ISI ........................................................................................vii BANGUNAN CAGAR BUDAYA FASILITAS PENDIDIKAN DI YOGYAKARTA ................................................................................ 1 GEDUNG SEMINARI ....................................................................................4 KOLESE SANTO IGNATIUS.......................................................................... 12 SD NEGERI UNGARAN I.............................................................................20 SMA BOPKRI I YOGYAKARTA......................................................................28 SMP NEGERI 5 YOGYAKARTA .....................................................................36 SMA NEGERI 3 YOGYAKARTA ....................................................................44 SUSTERAN AMAL KASIH DARAH MULIA .............................................. 52 BANGUNAN JL. SUPADI NO. 15 DAN NO. 17, KOTABARU.............................56 SITI HINGGIL KRATON YOGYAKARTA..........................................................62 GEDUNG PUSAT UNIVERSITAS GADJAH MADA ........................................... 74 PENDOPO AGUNG TAMANSISWA ..............................................................88 CAGAR BUDAYA TEMA PERGERAKAN, PERJUANGAN, DAN REVOLUSI KEMERDEKAAN RI......................................................97 KANTOR DINAS PARIWISATA KOTA YOGYAKARTA .....................................100 ASRAMA KOMPI KOTABARU.................................................................... 108 JEMBATAN GANTUNG BANTAR................................................................ 112 SELOKAN MATARAM............................................................................... 124 GEDUNG DPRD DIY................................................................................. 134 HOTEL GRAND INNA MALIOBORO........................................................... 142 WISMA KALIURANG................................................................................ 152 MONUMEN PERJUANGAN RUMAH MAKAN SATE PUAS............................ 162 DALEM JOYODIPURAN............................................................................. 170 MASJID SYUHADA ...................................................................................184
1 SENARAI TINGGALAN ZAMAN #1 CAGAR BUDAYA PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA EDISI PENDIDIKAN DAN PERJUANGAN BANGUNAN CAGAR BUDAYA FASILITAS PENDIDIKAN DI YOGYAKARTA Yogyakarta telah dikenal sejak lama sebagai Kota Pelajar dikarenakan banyaknya jumlah lembaga/institusi pendidikan dari tingkat dasar hingga ke perguruan tinggi sehingga menjadi tujuan para calon murid dari seluruh Indonesia. Jika merunut linimasa sejarah perkembangan pendidikan Indonesia, julukan tersebut tampaknya memiliki makna lebih dalam daripada sekadar keberadaan jumlah lembaga/institusi pendidikan di Yogyakarta. Sebagaimana keberadaan Tamansiswa yang didirikan oleh Ki Hadjar Dewantara sebagai pionir upaya melawan penjajahan Belanda melalui pendidikan dan kebudayaan untuk kaum pribumi hingga munculnya Universitas Gadjah Mada sebagai lembaga pendidikan tinggi pertama nasional pascakemerdekaan Republik Indonesia. Dalam rangka melestarikan nilai-nilai pendidikan di Yogyakarta sebagai inti dari julukan Kota Pelajar dan juga untuk melaksanakan amanat Undang-undang No.11 Tahun 2010 Tentang Cagar Budaya, Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta telah menetapkan bangunan-bangunan yang menjadi tempat lahirnya lembaga/institusi pendidikan di Yogyakarta sebagai Bangunan Cagar Budaya. Bangunan-bangunan yang ditetapkan sebagai cagar budaya memiliki latar pendidikan yang bermacam-macam, mulai dari pendidikan dasar, pendidikan menengah pertama, pendidikan menengah atas, pendidikan tinggi, pendidikan militer, hingga pendidikan keagamaan. Kompleksitas lembaga/institusi pendidikan di Yogyakarta telah menjadi salah satu poin utama bagi sejarah perkembangan pendidikan di Indonesia, walaupun tidak semua institusi/lembaga pendidikan tersebut dapat bertahan hingga saat ini. Bangunan-bangunan lembaga/institusi pendidikan yang telah menjadi Cagar Budaya di antaranya yaitu Pendopo Agung Tamansiswa dan SD Ungaran I yang mewakili bangunan dengan latar pendidikan dasar. SMA BOPKRI I mewakili bangunan dengan latar pendidikan menengah pertama, pendidikan militer, dan pendidikan menengah atas. SMA Negeri 3 mewakili bangunan dengan latar pendidikan atas serta SMP Negeri 5 mewakili bangunan dengan latar pendidikan menengah pertama, sekolah tinggi, sekaligus institusi pendidikan militer. Gedung Pusat Universitas Gadjah Mada yang mewakili bangunan dengan latar pendidikan tinggi bangunan ini sekaligus menjadi bangunan gedung modern pertama yang didirikan sepenuhnya oleh bangsa Indonesia. Terakhir, bangunan Susteran Amal Kasih Darah Mulia, Gedung Seminari, bangunan untuk Novisiat Bruderan, dan Kolese Santo Ignatius yang mewakili bangunan dengan latar pendidikan keagamaan.
CAGAR BUDAYA FASILITAS PENDIDIKAN SENARAI TINGGALAN ZAMAN #1 CAGAR BUDAYA PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA EDISI PENDIDIKAN DAN PERJUANGAN 2 Fakta menarik terdapat di Bangunan Cagar Budaya Masjid Syuhada selain berfungsi sebagai tempat peribadahan sejak awal dirancang, bangunan ini juga sekaligus difungsikan sebagai tempat pendidikan. Bahkan pendiriannya pun merupakan simbolisasi gerakan perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia yang juga menjadi subtema berikutnya pada buku Senarai Tinggalan Zaman ini.
3 SENARAI TINGGALAN ZAMAN #1 CAGAR BUDAYA PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA EDISI PENDIDIKAN DAN PERJUANGAN
CAGAR BUDAYA FASILITAS PENDIDIKAN SENARAI TINGGALAN ZAMAN #1 CAGAR BUDAYA PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA EDISI PENDIDIKAN DAN PERJUANGAN 4 GEDUNG SEMINARI » Penetapan status Cagar Budaya: Peraturan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Nomor PM.89/PW.007/MKP/2011 tentang Penetapan Hotel Inna Garuda, Gedung DPRD (Ruang Paripurna), Stasiun Lempuyangan, RS Bethesda, Asrama Kompi Kotabaru, SLTP Negeri 5 Yogyakarta, Museum TNI AD, Gedung SMU Negeri 6 Yogyakarta, Rumah Sakit DKT, SD Tumbuh, GKPN PPRI DIY, Gedung RRI, The Phoenix Hotel Yogyakarta, Kantor Kedaulatan Rakyat, UPT Balai Yasa Yogyakarta, Gedung PT Asuransi Jiwasraya, Kantor Satlantas Poltabes Yogyakarta, Rumah Mr. Djody Gondokusumo, Pasar Beringharjo, Kompleks Gedung Agung, Museum Sonobudoyo, Masjid Gedhe Kauman, Dalem Pengulon, Dalem Benawan, Masjid Agung Puro Pakualaman, Dalem Yudonegaran, Dalem Padmokusuman (dahulu Dalem Suryonegaran), Museum Sonobudoyo Unit II (Dale Condrokiranan), Gedung Societet Militer, Hotel Limaran, SD Puro Pakualaman, LP Wirogunan, Susteran Sang Timur, Museum Biologi, Masjid Margoyuwono, Asrama Mahasiswa Kalimantan Barat “Rahadi Osmani”, Asrama Putra Mahasiswa Sulawesi Tengah, Asrama Putri Bundo Kanduang, Gedung Komando Pemadam Kebakaran (Kodamkar), Kodim 0734/Yogyakarta, Indraloka Homestay, Rumah Tinggal Moelyo Soebroto, Rumah Indis (Grapari), Rumah Judoprayitno, SMA “17” I, Gereja Huria Kristen Batak Protestan (HKBP), Gedung Seminari, Kolese St. Ignatius, Susteran Amalkasih Darah Mulia, Rumah Tinggal (Gd. Elti), Rumah Tinggal (PT. Sarana Yogya Ventura), Ndalem Natatarunan, Rumah Kemayoran, Asrama Saweri Gading, Rumah Tinggal (Dealer Suzuki), di Jalan Sultan Agung No. 24, Rumah Tinggal di Jalan Sultan Agung No. 26, Bangunan Kantor ODMIL (Oditur Militer), Gedung TK dan SD Bopkri Gondolayu, Lab. SMK Taman Siswa, Rumah Tinggal di Jalan Bintaran Wetan No. 7, SD Kintelan, Museum Dewantara Kirti Griya, Rumah Tinggal di Jalan Bintaran Wetan No. 17, STIE Nusa Megarkencana (Stienus), Rumah Kongsi Kanthil, Makopoltabes Yogyakarta, Markas Komando Resort Militer 072 Pamungkas, MAN II Yogyakarta, Kompleks Biara Bruder FIC, SD dan SMA Pangudi Luhur, SMP Negeri 2 Yogyakarta, Kompleks Biara Suster OSF dan SD Marsudirini, Dalem Mangunkusuman, SD Negeri Keputran I, Dalem Notoprajan, Museum Kereta, Dalem Joyokusuman, Dalem Purbonegaran, Dalem Pakuningratan, Dalem Mangkubumen, Dalem Kaneman, Dalem Wironegaran (Condrodiningratan), Masjid Sela, Dalem Suryoputran, Dalem Ngadiwinatan, Dalem Puspodiningratan, Dalem Pujokusuman, Panggung Krapyak, Kompleks Makam Imogiri, Kompleks Makam Banyusumurup, Rumah Markas Sandi T.B. Simatupang, Kompleks Makam Giriloyo, Kompleks Makam Girigondo, Monumen Bibis, dan Pesanggrahan Ngeksiganda yang berlokasi di wilayah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta sebagai Cagar Budaya yang dilindungi Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya. » Penetapan status Bangunan Cagar Budaya: Keputusan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakara Nomor 237/KEP/2017 Tentang Penetapan Bangunan Rumah Tinggal Mr. Djody Gondokusumo, Kantor Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta, Museum Sandi, SMA Negeri 3, Gedung PT Asuransi Jiwasraya, SD Negeri Ungaran I, Gereja Huria Kristen Batak Protestan, Gedung Radio Republik Indonesia, Gedung Seminari, Kolese Santo Ignatius, Gereja Santo Antonius, Susteran Amal Kasih Darah Mulia, di Kelurahan Kotabaru, Kecamatan Gondokusuman, Kota Yogyakarta sebagai Bangunan Cagar Budaya. » Pemeringkatan Bangunan Cagar Budaya: Keputusan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakara Nomor 274/KEP/2020 Tentang Penetapan Bangunan Rumah Tinggal Mr. Djody Gondokusumo, Rumah Tinggal Jalan Suroto Nomor 11 (Kantor Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta), Museum Sandi, SMA Negeri 3, Gedung PT Asuransi Jiwasraya, SD Negeri Ungaran I, Gereja Huria Kristen Batak Protestan, Gedung Radio Republik Indonesia, Gedung Seminari, Kolese Santo Ignatius, Gereja Santo Antonius, Susteran Amal Kasih Darah Mulia, di Kelurahan Kotabaru, Kecamatan Gondokusuman, Kota Yogyakarta sebagai Bangunan Cagar Budaya Peringkat Provinsi.
5 SENARAI TINGGALAN ZAMAN #1 CAGAR BUDAYA PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA EDISI PENDIDIKAN DAN PERJUANGAN Kotabaru dalam peta Yogyakarta tahun 1925 Kehadiran pemerintah Hindia Belanda memberi banyak pengaruh signifikan bagi kehidupan di Yogyakarta. Selain rancangan gaya arsitektur Kolonial/Indis yang masih bisa dijumpai saat ini, pengaruh pendidikan dan agama juga banyak mengambil porsi pengaruh kala itu. Gedung Seminari adalah salah satu bangunan pendukung pendidikan keagamaan yang saling melengkapi antara keberadaan jemaat, tempat ibadah, dan keberlangsungan penyebaran agama. Bangunan Gedung Seminari masih berdiri dan difungsikan sebagaimana tujuan awalnya hingga saat ini. Bangunan Gedung Seminari terletak di Jalan Ahmad Jazuli Nomor 2 Kelurahan Kotabaru, Kecamatan Gondokusuman, Yogyakarta. Luas lahannya mencapai 8.404 m2 dengan luas bangunan sekitar 7.082 m2. Area Gedung Seminari berbatasan dengan Jalan Merbabu di sisi utara, Kolase St. Ignatius di sisi timur, Jalan Abu Bakar Ali di sisi selatan, dan Jalan Ahmad Jazuli di sisi barat. Keberadaan bangunan Gedung Seminari tidak dapat dipisahkan dari terbentuknya kawasan Kotabaru. Pada awal abad ke-20 (tahun 1920-an), Kotabaru dirancang dan dibangun untuk permukiman masyarakat Eropa-Belanda di Kota Yogyakarta pada masa pemerintahan kolonial Belanda. Permukiman Kotabaru yang memiliki karakteristik gaya arsitektur Indis ditata lengkap dengan berbagai fasilitas pendukung, seperti fasilitas permukiman, pendidikan, kesehatan, keagamaan, dan olahraga bagi penghuninya.
CAGAR BUDAYA FASILITAS PENDIDIKAN SENARAI TINGGALAN ZAMAN #1 CAGAR BUDAYA PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA EDISI PENDIDIKAN DAN PERJUANGAN 6 Permukiman orang-orang Eropa yang cukup masif menjadi jembatan berbaurnya budaya dan agama yang disebarkan oleh orang-orang Eropa. Penyebaran agama Katolik di wilayah Jawa dilakukan oleh Frans van Lith atau dikenal juga dengan Romo van Lith (1863-1962) terutama di wilayah Jawa Tengah dan Yogyakarta. Penyebaran agama dilakukan dengan membaur dalam budaya lokal serta menjalin hubungan baik dalam pelayanan sosial dan pendidikan. Romo van Lith juga mendirikan sekolah tinggi Katolik di Muntilan yang diberi nama Kolase Xavier pada 1904. Seiring berjalannya waktu, penganut Katolik di Jawa Tengah dan Yogyakarta juga bertambah. Kotabaru sebagai tempat permukiman orang-orang Eropa memiliki fasilitas pendidikan dan keagamaan. Lokasi yang strategis tersebut juga menjadi suar penyebaran agama Katolik. Gedung Seminari merupakan bangunan keagamaan yang berupa fasilitas pendidikan calon pastor sebagai pelengkap atau yang dibangun kemudian setelah keberadaan gedung Kolese Santo Ignatius. Letaknya membelakangi gedung Kolese Santo Ignatius dan menghadap Sungai Code sebagai batas kawasan Kotabaru. Bangunan ini merupakan satu-satunya di kawasan Kotabaru yang memiliki prasasti berbahan logam berisi keterangan arsitek pembangunnya yang terdapat pada bagian kaki menempel di dinding fasad bangunan. Di pintu masuk utama, terdapat penambahan bangunan yang menjorok keluar menghadap barat yang menjadi kantor Puskat (Pusat Kataketik–Prodi Ilmu Pendidikan kekhususan Pendidikan Agama Katolik Universitas Sanata Dharma) dan terdapat penambahan bangunan di bagian utara gedung.
7 SENARAI TINGGALAN ZAMAN #1 CAGAR BUDAYA PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA EDISI PENDIDIKAN DAN PERJUANGAN Gedung Seminari yang kini menjadi bagian dari kompleks Kolese St. Ignatius merupakan satu dari dua bangunan di Kotabaru yang diketahui arsiteknya. Bangunan ini pada awalnya bernama Hoog Seminarie (Seminari Tinggi), keterangan tersebut ada di bagian kaki bangunan sebelah selatan yang terdapat plakat prasasti bertuliskan “ARCH.EN.INGRS.BUR.FERMONT-CUYPERS”. Nama tersebut merupakan biro arsitek dan pembangun gedung-gedung di Hindia Belanda, yaitu N.V. Architecten-Ingenieursbureau Fermont te Weltevreden en Ed. Cuypers te Amsterdam. Pembangunan gedung ini dilakukan pada periode waktu kemudian, karena pada peta kawasan Kota Yogyakarta tahun 1925, belum tampak adanya bangunan tersebut. Gedung Seminari dan Kolese St. Ignatius merupakan bangunan keagamaan berupa fasilitas pusat pendidikan calon pastor yang pertama di Hindia Belanda. Sarana keagamaan di Kotabaru ini didominasi oleh keberadaan Kolese Santo Ignatius yang selesai dibangun pada tahun 1922. Kolsani ini memiliki kegiatan sebagai penyelenggara novisiat, memberi pelajaran agama kepada para magang baptis sekaligus menyediakan tempat menginap. Keberadaan kompleks ini menandakan bahwa Yogyakarta, khususnya Kotabaru, menjadi pusat misi penyebaran Katolik di wilayah Jawa Tengah yang sebelumnya berlokasi di Muntilan (Adhyaksa, 2011: 35). Bangunan Gedung Seminari saat ini masih terawat dan difungsikan sebagai tempat pendidikan calon pastor. Selain itu, dalam perkembangannya saat ini, juga digunakan untuk kegiatan kampus Pusat Kataketik Prodi Ilmu Pendidikan kekhususan Pendidikan Agama Katolik Universitas Sanata Dharma. Beberapa penambahan terkait kebutuhan ruang sudah dilakukan terutama pada bagian sisi utara fasad. Akses gedung ini juga langsung terhubung dengan Gedung Seminari pada bagian halaman tengah. Fasilitas berupa ruang-ruang untuk menginap, sedangkan ruang pendidikan calon pastor terdapat di bagian bangunan gedung yang terhubung melalui selasar-selasar panjang. Bangunan Gedung Seminari merupakan bangunan yang memiliki masa gaya lebih dari 50 tahun. Bangunan tersebut menjadi penanda zaman sekaligus menjadi pengingat peristiwa-peristiwa yang terjadi di masanya. Bukti prasasti logam pada bangunan juga menunjukkan adanya keterlibatan perusahaan kontarktor yang berperan dalam pembangunan di wilayah Kotabaru sehingga menjadi bagian dari akulturasi gaya arsitektur Eropa dengan arstitektur lokal kala itu. Bangunan tersebut menjadi bagian sejarah Yogyakarta dalam hal pertukaran budaya lintas wilayah yang memberi dampak besar hingga hari ini di Yogyakarta.
CAGAR BUDAYA FASILITAS PENDIDIKAN SENARAI TINGGALAN ZAMAN #1 CAGAR BUDAYA PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA EDISI PENDIDIKAN DAN PERJUANGAN 8 Gedung Seminari Foto: Tim Narasumber TACB; Peta: BPCB DIY Kolase St. Ignatius Foto: Tim Narasumber TACB; Peta: BPCB DIY
9 SENARAI TINGGALAN ZAMAN #1 CAGAR BUDAYA PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA EDISI PENDIDIKAN DAN PERJUANGAN Daftar Bacaan » Adhyaksa, Dismas Rienthar. 2011. “Ragam Makna Gereja Santo Antonius”. Skripsi Sarjana. Yogyakarta: Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada. Adrisijanti, Inajati dan Anggraeni (Ed.). 2014. Mosaic Cultural Heritage of Yogyakarta. Yogyakarta: Balai Pelestarian Cagar Budaya Yogyakarta. » Dinas Kebudayaan DIY. 2013. “Studi Panduan Pelestarian dan Pengelolaan Kawasan Cagar Budaya Kotabaru”. Laporan Akhir. Yogyakarta: Dinas Kebudayaan DIY. » Dingemans, L.F. 1926. Gegevens over Jogjakarta 1926 A. Djogjakarta: H. Bunning. » Suyata. 2015. Pemanfaatan Aset Bangunan Peninggalan Kolonial di Indonesia untuk Masyarakat: Studi Kasus Kotabaru Yogyakarta, Presentasi Pada Travel Heritage Jakarta, 18 November 2015. Jakarta.
CAGAR BUDAYA FASILITAS PENDIDIKAN SENARAI TINGGALAN ZAMAN #1 CAGAR BUDAYA PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA EDISI PENDIDIKAN DAN PERJUANGAN 10 Gedung Seminari Foto: Tim Narasumber TACB
11 SENARAI TINGGALAN ZAMAN #1 CAGAR BUDAYA PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA EDISI PENDIDIKAN DAN PERJUANGAN
CAGAR BUDAYA FASILITAS PENDIDIKAN SENARAI TINGGALAN ZAMAN #1 CAGAR BUDAYA PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA EDISI PENDIDIKAN DAN PERJUANGAN 12 KOLESE SANTO IGNATIUS » Penetapan status Cagar Budaya: Peraturan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Nomor PM.89/PW.007/MKP/2011 tentang Penetapan Hotel Inna Garuda, Gedung DPRD (Ruang Paripurna), Stasiun Lempuyangan, RS Bethesda, Asrama Kompi Kotabaru, SLTP Negeri 5 Yogyakarta, Museum TNI AD, Gedung SMU Negeri 6 Yogyakarta, Rumah Sakit DKT, SD Tumbuh, GKPN PPRI DIY, Gedung RRI, The Phoenix Hotel Yogyakarta, Kantor Kedaulatan Rakyat, UPT Balai Yasa Yogyakarta, Gedung PT Asuransi Jiwasraya, Kantor Satlantas Poltabes Yogyakarta, Rumah Mr. Djody Gondokusumo, Pasar Beringharjo, Kompleks Gedung Agung, Museum Sonobudoyo, Masjid Gedhe Kauman, Dalem Pengulon, Dalem Benawan, Masjid Agung Puro Pakualaman, Dalem Yudonegaran, Dalem Padmokusuman (dahulu Dalem Suryonegaran), Museum Sonobudoyo Unit II (Dale Condrokiranan), Gedung Societet Militer, Hotel Limaran, SD Puro Pakualaman, LP Wirogunan, Susteran Sang Timur, Museum Biologi, Masjid Margoyuwono, Asrama Mahasiswa Kalimantan Barat “Rahadi Osmani”, Asrama Putra Mahasiswa Sulawesi Tengah, Asrama Putri Bundo Kanduang, Gedung Komando Pemadam Kebakaran (Kodamkar), Kodim 0734/Yogyakarta, Indraloka Homestay, Rumah Tinggal Moelyo Soebroto, Rumah Indis (Grapari), Rumah Judoprayitno, SMA “17” I, Gereja Huria Kristen Batak Protestan (HKBP), Gedung Seminari, Kolese St. Ignatius, Susteran Amalkasih Darah Mulia, Rumah Tinggal (Gd. Elti), Rumah Tinggal (PT. Sarana Yogya Ventura), Ndalem Natatarunan, Rumah Kemayoran, Asrama Saweri Gading, Rumah Tinggal (Dealer Suzuki), di Jalan Sultan Agung No. 24, Rumah Tinggal di Jalan Sultan Agung No. 26, Bangunan Kantor ODMIL (Oditur Militer), Gedung TK dan SD Bopkri Gondolayu, Lab. SMK Taman Siswa, Rumah Tinggal di Jalan Bintaran Wetan No. 7, SD Kintelan, Museum Dewantara Kirti Griya, Rumah Tinggal di Jalan Bintaran Wetan No. 17, STIE Nusa Megarkencana (Stienus), Rumah Kongsi Kanthil, Makopoltabes Yogyakarta, Markas Komando Resort Militer 072 Pamungkas, MAN II Yogyakarta, Kompleks Biara Bruder FIC, SD dan SMA Pangudi Luhur, SMP Negeri 2 Yogyakarta, Kompleks Biara Suster OSF dan SD Marsudirini, Dalem Mangunkusuman, SD Negeri Keputran I, Dalem Notoprajan, Museum Kereta, Dalem Joyokusuman, Dalem Purbonegaran, Dalem Pakuningratan, Dalem Mangkubumen, Dalem Kaneman, Dalem Wironegaran (Condrodiningratan), Masjid Sela, Dalem Suryoputran, Dalem Ngadiwinatan, Dalem Puspodiningratan, Dalem Pujokusuman, Panggung Krapyak, Kompleks Makam Imogiri, Kompleks Makam Banyusumurup, Rumah Markas Sandi T.B. Simatupang, Kompleks Makam Giriloyo, Kompleks Makam Girigondo, Monumen Bibis, dan Pesanggrahan Ngeksiganda yang berlokasi di wilayah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta sebagai Cagar Budaya yang dilindungi Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya. » Penetapan status Bangunan Cagar Budaya: Keputusan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakara Nomor 237/KEP/2017 Tentang Penetapan Bangunan Rumah Tinggal Mr. Djody Gondokusumo, Kantor Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta, Museum Sandi, SMA Negeri 3, Gedung PT Asuransi Jiwasraya, SD Negeri Ungaran I, Gereja Huria Kristen Batak Protestan, Gedung Radio Republik Indonesia, Gedung Seminari, Kolese Santo Ignatius, Gereja Santo Antonius, Susteran Amal Kasih Darah Mulia, di Kelurahan Kotabaru, Kecamatan Gondokusuman, Kota Yogyakarta sebagai Bangunan Cagar Budaya. » Pemeringkatan Bangunan Cagar Budaya: Keputusan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakara Nomor 274/KEP/2020 Tentang Penetapan Bangunan Rumah Tinggal Mr. Djody Gondokusumo, Rumah Tinggal Jalan Suroto Nomor 11 (Kantor Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta), Museum Sandi, SMA Negeri 3, Gedung PT Asuransi Jiwasraya, SD Negeri Ungaran I, Gereja Huria Kristen Batak Protestan, Gedung Radio Republik Indonesia, Gedung Seminari, Kolese Santo Ignatius, Gereja Santo Antonius, Susteran Amal Kasih Darah Mulia, di Kelurahan Kotabaru, Kecamatan Gondokusuman, Kota Yogyakarta sebagai Bangunan Cagar Budaya Peringkat Provinsi.
13 SENARAI TINGGALAN ZAMAN #1 CAGAR BUDAYA PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA EDISI PENDIDIKAN DAN PERJUANGAN Keletakkan Bangunan Cagar Budaya Kolese Santo Ignatius dalam satu kavling lahan dengan Gereja Santo Antonius dan Gedung Seminari Sumber: Citra Satelit Google Earth tanggal 26/05/2021 “Kebutuhan akan pastor dalam rangka penyebaran Katolik di Yogyakarta membuat Rama F. Strater merintis sebuah fasilitas pusat pendidikan calon pastor yang dikenal dengan Kolese Santo Ignatius. Bangunan berarsitektur Indis ini sempat menjadi kamp interniran pada masa pendudukan Jepang tahun 1942 dan menjadi kantor Departemen Pertahanan RI saat Ibu Kota RI dipindahkan ke Yogyakarta tahun 1946.” Kolese Santo Ignatius merupakan bangunan cagar budaya yang terletak di Jalan Abu Bakar Ali 1, Kelurahan Kotabaru, Kemantren Gondokusuman, Kota Yogyakarta, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakara. Lokasi bangunan cagar budaya ini tepatnya berada pada koordinat UTM Zona 49 M dengan titik X: 430595 m E dan titik Y: 9139063 m S. Bangunan Kolese Santo Ignatius berbatasan dengan Jalan Merbabu di sisi utara, Gereja Santo Antonius/Jalan I Dewa Nyoman Oka di timur, Jalan Abu Bakar Ali di selatan, dan Gedung Seminari di sisi barat. Kolese Santo Ignatius merupakan bangunan keagamaan berupa fasilitas pendidikan calon pastor sekaligus memiliki fungsi awal sebagai asrama. Di fasad bangunan tepat di dinding sebelah pintu masuk utama, terdapat plakat yang bertuliskan: “IGNATIUS_ COLLEGE”. Denah bangunan mengalami perkembangan pada bagian sayap selatan dan utara serta penambahan bangunan di bagian barat sehingga secara keseluruhan bangunan ini menampilkan bentuk segi empat dengan ruang terbuka di bagian tengahnya. Denah bangunan Kolese Santo Ignatius Sumber: BPCB DI Yogyakarta
CAGAR BUDAYA FASILITAS PENDIDIKAN SENARAI TINGGALAN ZAMAN #1 CAGAR BUDAYA PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA EDISI PENDIDIKAN DAN PERJUANGAN 14 Atap bangunan bertipe limasan (kiri), atap tipe kerucut segi delapan (kanan) Sumber: Dinas Kebudayaan DIY Kaveling bangunan ini menjadi satu kompleks dengan bangunan Gereja Santo Antonius dan Gedung Seminari. Bangunan Kolese Santo Ignatius memiliki luas 7.500 m2 dengan luas lahan mencapai 15.850 m2. Bangunan Kolese Santo Ignatius merupakan bangunan dengan gaya arsitektur Indis yang tampak dari bentuk fasad yang simetris dan ketinggian ruang yang relatif tinggi. Bangunan kolese memiliki atap berbentuk limasan di sepanjang massa bangunan. Di bagian sudut antara bangunan sisi utara dan sisi selatan dengan bangunan sisi timur serta di bagian tengah bangunan sisi timur terdapat atap berbentuk kerucut segi delapan. Keseluruhan penutup atap bangunan berbahan genting tanah liat berwarna cokelat tua. Ciri arsitektur Indis lainnya pada bangunan Kolese Santo Ignatius yaitu keberadaan jendela berukuran besar dan ventilasi yang banyak jumlahnya. Terdapat dua tipe jendela pada bangunan kolese, yang pertama yakni jendela dengan empat daun jendela yang memiliki arah bukaan ke dalam dan ke luar. Daun jendela dengan bukaan ke dalam berbahan kayu dengan panil kaca, sedangkan daun jendela dengan bukaan ke luar merupakan jendela krepyak berbahan kayu. Tipe jendela kedua adalah jendela dengan kusen kayu yang terdiri atas dua bagian, yaitu bagian atas memiliki dua daun jendela panil kaca dengan bukaan ke arah atas, sedangkan bagian bawah memiliki dua daun jendela panil kaca dengan bukaan ke arah samping. Di kedua bagian jendela tipe kedua, terdapat jeruji besi berpola. Bangunan Kolese Santo Ignatius mempunyai pintu dengan dua daun pintu berbahan kayu dan panil kaca. Sementara, untuk ventilasi, terdapat dua tipe, yakni ventilasi berupa celah dinding (roster) dan ventilasi dengan kusen kayu dan panil kaca yang memiliki bukaan ke arah bawah. Penutup lantai pada bangunan Kolese Santo
15 SENARAI TINGGALAN ZAMAN #1 CAGAR BUDAYA PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA EDISI PENDIDIKAN DAN PERJUANGAN Jendela kayu krepyak dengan roster di atasnya Sumber: Dinas Kebudayaan DIY Tegel abu-abu dan merah pada bagian doorlop Sumber: Dinas Kebudayaan DIY Ignatius terdiri atas beberapa jenis: pertama, penutup lantai berbahan marmer abuabu yang terdapat pada lobby. Kemudian, tegel abu-abu sebagai penutup lantai pada sebagian besar ruang serta tegel merah yang berfungsi baik sebagai aksen pembatas ruang, maupun area sirkulasi. Sejarah yang melekat pada bangunan Kolese Santo Ignatius berkaitan dengan keberadaan pastor di Hindia Belanda karena merupakan fasilitas pusat pendidikan calon pastor yang pertama kali ada di Hindia Belanda. Bangunan Kolese Santo Ignatius yang dirintis oleh Rama F. Strater mulai dibangun pada 18 Agustus 1922 dan selesai pada 18 Februari 1923 dengan pemberkatan oleh Rama J. Hoeberecht Sj. Kolese Santo Ignatius mulai digunakan pada 16 Juni 1923. Aktivitas pendidikan yang dilaksanakan di Kolese Santo Ignatius di antaranya yaitu penyelenggara novisiat, memberi pelajaran agama sekaligus menyediakan tempat menginap untuk para magang baptis. Pada masa pendudukan Jepang tahun 1942, Kolese Santo Ignatius dijadikan tempat penampungan para biarawan, biarawati, pastor, dan wanita-wanita Belanda interniran. Kolese sempat tidak digunakan dan dikosongkan setelah Rama F. Strater meninggal saat masa pendudukan Jepang. Pascakemerdekaan Republik Indonesia, bangunan kolese kembali difungsikan sebagai fasilitas pendidikan keagamaan. Pada 1946, saat terjadi pemindahan Ibu Kota RI ke Yogyakarta, bangunan Kolese Santo Ignatius digunakan sebagai kantor Departemen Pertahanan RI. Keberadaan Kolese Santo Ignatius dalam lingkup permukiman masyarakat Eropa di Kotabaru pada awal abad ke-20, merupakan komponen pelengkap tata kota untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Eropa terkait kegiatan peribadatan (aktivitas religius)
CAGAR BUDAYA FASILITAS PENDIDIKAN SENARAI TINGGALAN ZAMAN #1 CAGAR BUDAYA PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA EDISI PENDIDIKAN DAN PERJUANGAN 16 dan pendidikan yang berhubungan dengan aktivitas religius. Sementara, dalam lingkup yang lebih luas, keberadaan Kolese Santo Ignatius menandakan bahwa Yogyakarta, khususnya Kotabaru, menjadi pusat misi penyebaran Katolik di wilayah Jawa bagian tengah yang sebelumnya berlokasi di Muntilan. Bangunan Kolese Santo Ignatius yang dimiliki oleh Serikat Yesus Indonesia tidak mengalami perubahan fungsi, dengan kata lain, masih menjadi pusat pendidikan calon pastor. Bangunan utamanya juga tidak mengalami perubahan dan tetap menampilkan keaslian arsitektur. Namun, dikarenakan perkembangan aktivitas pendidikan dan kebutuhan operasional kolese, terjadi beberapa perubahan dalam adaptasi bentuk dan penambahan unit-unit bangunan baru pada kompleks bangunan Kolese Santo Ignatius. Kolese Santo Ignatius ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya pada tahun 2017 berdasarkan Keputusan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 237/ KEP/2017 dan sebagai bangunan cagar budaya peringkat provinsi pada tahun 2020 melalui Keputusan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 274/KEP/2020. Bangunan Kolese Santo Ignatius memenuhi kriteria sebagai bangunan cagar budaya karena berusia 50 tahun atau lebih berdasarkan tahun 1923 yang merupakan tahun selesai pembangunan kolese. Selain itu, bangunan Kolese Santo Ignatius juga memiliki Gedung Seminari (menghadap barat) dan Kolese Santo Ignatius (menghadap timur) tampak dari sudut barat laut Sumber: Koleksi Perpustakaan Kolese Santo Ignatius Kolese Santo Ignatius pada peta Jogjakarta en Omstreken 1925 Sumber: Topografische dients in Nederlandsch-Indie (Batavia)
17 SENARAI TINGGALAN ZAMAN #1 CAGAR BUDAYA PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA EDISI PENDIDIKAN DAN PERJUANGAN gaya arsitektur Indis yang paling tidak telah berusia lebih dari 50 tahun. Gaya arsitektur Indis pada bangunan Kolese Santo Ignatius terlihat dari penggunaan jendela berukuran besar, banyaknya ventilasi udara, dan penggunaan batu alam pada permukaan dinding bagian bawah sebagai dekorasi. Berdasarkan kriteria arti khusus, Kolese Santo Ignatius memiliki arti khusus bagi sejarah karena digunakan sebagai kantor Departemen Pertahanan RI saat peristiwa pemindahan Ibu Kota RI ke Yogyakarta tahun 1946. Bangunan Kolese Santo Ignatius juga memiliki arti khusus bagi pendidikan karena merupakan salah satu referensi pendidikan arsitektur bangunan terutama perkembangan arsitektur di Yogyakarta. Selain itu, bangunan Kolese Santo Ignatius memiliki nilai budaya bagi penguatan kepribadian bangsa karena arsitektur bangunannya yang mencerminkan akulturasi budaya berupa penerapan arsitektur Indis. Bangunan Kolese Santo Ignatius memiliki nilai penting sebagai bangunan cagar budaya karena merupakan bangunan berarsitektur Indis yang menjadi elemen penanda dan komponen pelengkap tata kota permukiman bangsa Eropa di Kotabaru yang berwujud fasilitas pendidikan keagamaan. Selain itu, Kolese Santo Ignatius juga memiliki peran sejarah pada masa revolusi kemerdekaan Republik Indonesia. Daftar Bacaan » Adhyaksa, Dismas Rienthar. 2011. “Ragam Makna Gereja Santo Antonius”. Skripsi Sarjana. Yogyakarta: Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada. » Adrisijanti, Inajati dan Anggraeni (Ed.). 2014. Mosaic Cultural Heritage of Yogyakarta. Yogyakarta: Balai Pelestarian Cagar Budaya Yogyakarta. » Djawatan Penerangan DI. Jogjakarta. 1953. Republik Indonesia: Daerah Istimewa Jogjakarta. Jakarta: Kementerian Penerangan. » Mas’ulah, 2006. “Perkembangan Fungsi Bangunan dan Arsitektur Susteran Amal Kasih Darah Mulia Kota Baru Yogyakarta”. Skripsi Sarjana. Yogyakarta: Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada. » Suhartono, dkk. 1983. Replika Sejarah Perjuangan Rakyat Yogyakarta, Buku keSatu. Yogyakarta: Dinas Sosial Provinsi DIY. » Wahyu, Harry Trisatya. 2014. “Pelestarian dan Pemanfaatan Bangunan Indis di Kota Baru”. Tesis Pascasarjana. Yogyakarta: Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada.
CAGAR BUDAYA FASILITAS PENDIDIKAN SENARAI TINGGALAN ZAMAN #1 CAGAR BUDAYA PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA EDISI PENDIDIKAN DAN PERJUANGAN 18
19 SENARAI TINGGALAN ZAMAN #1 CAGAR BUDAYA PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA EDISI PENDIDIKAN DAN PERJUANGAN
CAGAR BUDAYA FASILITAS PENDIDIKAN SENARAI TINGGALAN ZAMAN #1 CAGAR BUDAYA PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA EDISI PENDIDIKAN DAN PERJUANGAN 20 SD NEGERI UNGARAN I » Keputusan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 237/KEP/2017 Tentang Penetapan Bangunan Rumah Tinggal Mr. Djody Gondokusumo, Kantor Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta, Museum Sandi, SMA Negeri 3, Gedung PT Asuransi Jiwasraya, SD Negeri Ungaran I, Gereja Huria Kristen Batak Protestan, Gedung Radio Republik Indonesia, Gedung Seminari, Kolese Santo Ignatius, Gereja Santo Antonius, Susteran Amal Kasih Darah Mulia di Kelurahan Kotabaru, Kecamatan Gondokusuman, Kota Yogyakarta sebagai Bangunan Cagar Budaya. » Keputusan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 274/KEP/2020 Tentang Penetapan Bangunan Rumah Tinggal Mr. Djody Gondokusumo, Rumah Tinggal Jalan Suroto Nomor 11 (Kantor Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta), Museum Sandi, SMA Negeri 3, Gedung PT Asuransi Jiwasraya, SD Negeri Ungaran I, Gereja Huria Kristen Batak Protestan, Gedung Radio Republik Indonesia, Gedung Seminari, Kolese Santo Ignatius, Gereja Santo Antonius, Susteran Amal Kasih Darah Mulia di Kelurahan Kotabaru, Kota Yogyakarta sebagai Bangunan Cagar Budaya Peringkat Provinsi. Secara umum, kawasan Kotabaru yang dahulunya disebut dengan Nieuwe Europeesche villa-park dapat digambarkan sebagai berikut. Kawasan ini berpusat pada sebuah tempat terbuka di bagian tengah yang sekarang menjadi Stadion Kridosono. Dari tempat ini, lima jalan utama menyebar ke barat daya, utara, hingga timur. Di bagian selatan, seruas jalan pendek menghubungkan Kotabaru dengan Stasiun Kereta Api Lempuyangan. Di bagian tengah, dari barat hingga timur, terdapat bangunan-bangunan sekolah di antara rumah-rumah tinggal, sekolah tersebut antara lain Europeesche Lagere School (sekarang SD-SD Ungaran) di bagian barat, Algemeene Middelbare School (SMU 3), Normaalschool (SLTP 5), Christelijk Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (SMU Bopkri I), serta di ujung timur ada Keuchenius School dan Lands Jong School (sekarang ditempati Universitas Kristen Duta Wacana). Selain rumah tinggal, di Kotabaru, juga didirikan berbagai sarana sosial. Di bagian timur, terdapat Rumah Sakit Petronella yang sekarang merupakan RS Bethesda. Pemerintah Hindia Belanda juga menempatkan rumah sakit tentara (sekarang RS DKT), magazijn van oorlog, dan pos polisi di bagian timur Kotabaru. SD Negeri Ungaran I dulunya digunakan sebagai Europeesche Lagere School (ELS), yaitu sejenis sekolah dasar negeri milik pemerintah seperti sekarang. Sekolah tersebut diperuntukkan khusus bagi anak-anak orang Eropa yang tinggal di Kawasan Kotabaru. Bangunan berada di Jalan Serma Taruna Ramli Nomor 3 dan
21 SENARAI TINGGALAN ZAMAN #1 CAGAR BUDAYA PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA EDISI PENDIDIKAN DAN PERJUANGAN diapit dua buah jalur jalan, yaitu Jalan Ungaran di sisi selatan dan Jalan Pattimura di sisi utara, sedangkan sebelah barat dan timur merupakan perumahan penduduk kompleks Kotabaru. Pintu utama sekolah ini pada awalnya menghadap ke arah selatan, tetapi pada perkembangannya, sekolahan tersebut menghadap ke arah utara. Hal ini dikarenakan adanya bangunan baru yang difungsikan sebagai kantor, ruang kepala sekolah, dan guru yang menghadap ke arah utara. 1873 1903 1920 1925 1933 Perubahan wilayah Kota Baru pada serial peta kota Yogyakarta tahun 1872, 1903, 1920, 1925, dan 1933. Sumber Foto: Dinas Kebudayaan DIY Sumber Peta: BPCB DIY
CAGAR BUDAYA FASILITAS PENDIDIKAN SENARAI TINGGALAN ZAMAN #1 CAGAR BUDAYA PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA EDISI PENDIDIKAN DAN PERJUANGAN 22 Bangunan SD Negeri Ungaran I yang menjadi cagar budaya berada di sisi selatan, dengan denah berbentuk memanjang yang terdiri atas tujuh ruang kelas dan satu ruang kantor. Atap bangunan berbentuk limasan dengan kemiringan curam. Bangunan terkesan rendah karena bagian atap menyatu dengan teras yang berukuran lebar. Bangunan tambahan di bagian depan terdiri atas dua lantai membujur dari barat ke timur menghadap selatan menutupi bangunan lama. SD Negeri Ungaran I Yogyakarta semula dibangun untuk sekolah Europeesche Lagere School, yaitu sejenis sekolah dasar negeri milik pemerintah seperti sekarang. Sekolah tersebut khusus diperuntukkan bagi anak-anak orang Eropa yang tinggal di Kawasan Kotabaru. Guru-gurunya adalah orang-orang Belanda dengan bahasa pengantar bahasa Belanda. Europeesche Lagere School (ELS) ini menempati area SMPN II, Jalan Panembahan Senapati (Sekolah Kidul Loji) dan di Jalan Ungaran, Kotabaru. Sampai saat ini, SD Negeri Ungaran I masih difungsikan sebagai bangunan sekolah dengan perubahan berupa penambahan-penambahan komponen bangunan, tetapi tidak mengubah atau menghilangkan bangunan aslinya. Setelah peristiwa Pertempuran Kotabaru 7 Oktober 1945, bangunan SD Negeri Ungaran I dikuasai oleh bangsa Indonesia dan dimanfaatkan untuk infrastruktur kepentingan Republik Indonesia. Salah satunya, digunakan sebagai fasilitas pendidikan militer akademi, kemudian digunakan sebagai Sekolah Rakyat Latihan (SR Latihan) dan Sekolah Guru Putri (SGP). Kemudian, bangunan ini berubah menjadi Sekolah Rakyat Ungaran dan saat ini menjadi Sekolah Dasar Negeri Ungaran I. Bangunan SD Negeri Ungaran I pada peta yogyakarta 1925 yang menjadi Europeesche Lagere School. Bangunan SD Negeri Ungaran I pada peta yogyakarta 1945 yang menjadi Sekolah Guru Putri.
23 SENARAI TINGGALAN ZAMAN #1 CAGAR BUDAYA PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA EDISI PENDIDIKAN DAN PERJUANGAN Saat ini, bangunan SD Negeri Ungaran I tidak mengalami perubahan fungsi, tetapi terjadi beberapa perubahan adaptasi bentuk dan penambahan unit-unit bangunan baru pada kompleks bangunannya. Di setiap bangunan utamanya, tidak mengalami perubahan besar dan tetap menampilkan keaslian arsitektur. Komponen arsitektur yang asli dapat dilihat pada bagian atap, yaitu kuda-kuda atau rangka, tiang-tiang kayu di bagian lorong pada jendela dan pintu, serta handle atau gagang pintu dan jendela yang masih asli. Perubahan komponen arsitektur dapat terlihat pada pemasangan keramik di dinding bangunan kelas, pergantian lantai yang semula dari ubin diganti keramik warna merah dan putih. Dalam Keputusan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 237/KEP/2017, SD Negeri Ungaran I ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya karena SD Negeri Ungaran I telah berusia lebih dari 50 tahun dengan berdasarkan keterangan yang diperoleh pada Peta Kota Yogyakarta tahun 1925 yang diketahui bahwa bangunan tersebut telah ada. Apabila melihat arsitekturnya, maka bangunan ini menunjukkan gaya Indis yang paling tidak telah berusia lebih dari 50 tahun. Hal ini dapat dilihat dari penggunaan jendela berukuran besar. Banyaknya ventilasi udara pada bangunan merupakan bentuk adaptif ciri arsitektur Indis terhadap iklim tropis. SD Negeri Ungaran I memiliki nilai penting 1 2 3 4 5
CAGAR BUDAYA FASILITAS PENDIDIKAN SENARAI TINGGALAN ZAMAN #1 CAGAR BUDAYA PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA EDISI PENDIDIKAN DAN PERJUANGAN 24 6 7 Keterangan: 1. Konstruksi rangka pada SD Negeri Ungaran I 2. Elemen Arsitektur berupa Jendela pada SD Negeri Ungaran I yang masih asli. 3. Elemen Arsitektur berupa gagang jendela pada SD Negeri Ungaran I yang masih asli. 4. Lorong yang dapat menjadi serambi pada bangunan SD Negeri Ungaran I. 5. Bukaan jendela pada ruang kelas SD Negeri Ungaran I 6. Ventilasi udara pada bangunan SD Negeri Ungaran I. 7. Tiang Kayu pada bangunan gymnastic SD Negeri Ungaran I yang menjadi penyangga langi-langit. dalam sejarah dan ilmu pengetahuan. Gaya arsitektur Indis pada SD Negeri Ungaran I dapat digunakan sebagai referensi pendidikan arsitektur. Selain itu, dalam Keputusan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 274/KEP/2020, SD Negeri Ungaran I telah ditetapkan sebagai Bangunan Cagar Budaya Peringkat Provinsi karena Arsitektur SD Negeri Ungaran I mewakili karya kreatif yang khas di DIY karena karya cipta demikian hanya terdapat di Kotabaru. Kreativitas ini dapat dilihat dengan adanya jendela-jendela berukuran besar. SD Negeri Ungaran I menggambarkan terjadinya akulturasi antara arsitektur Barat dan arsitektur Jawa dengan memperhatikan lingkungan alam setempat. Arsitektur bangunan SD Negeri Ungaran I merupakan bukti nyata evolusi peradaban dan pertukaran budaya.
25 SENARAI TINGGALAN ZAMAN #1 CAGAR BUDAYA PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA EDISI PENDIDIKAN DAN PERJUANGAN Berdasarkan pernyataan di atas, maka nilai penting yang terkandung dalam bangunan Cagar Budaya SD Negeri Ungaran I mewakili karya kreatif yang khas dalam wilayah provinsi: langka jenisnya, unik rancangannya, dan sedikit jumlahnya di provinsi; sebagai bukti evolusi peradaban bangsa dan pertukaran budaya lintas wilayah kabupaten/kota, baik yang telah punah maupun yang masih hidup di masyarakat; dan/ atau berasosiasi dengan tradisi yang masih berlangsung. Daftar Bacaan » 2008. Rute Perjuangan Panglima Besar Jenderal Sudirman. Jakarta: Dinas Pembinaan Mental Angkatan Darat. » Adrisijanti, Inajati dan Anggraeni (Ed.). 2014. Mosaic Cultural Heritage of Yogyakarta. Yogyakarta: Balai Pelestarian Cagar Budaya Yogyakarta. » Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Yogyakarta. 2010. Laporan Pemetaan SDN Ungaran Kota Baru Yogyakarta (hal 9-11). » Djawatan Penerangan DI Jogjakarta. 1953. Republik Indonesia: Daerah Istimewa Jogjakarta. Jakarta: Kementerian Penerangan. » Suhartono, dkk. 1983. Replika Sejarah Perjuangan Rakyat Yogyakarta, Buku keSatu. Yogyakarta: Dinas Sosial Provinsi DIY. » Wahyu, Harry Trisatya. 2014. “Pelestarian dan Pemanfaatan Bangunan Indis di Kota Baru”. Tesis Pascasarjana. Yogyakarta: Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada.
CAGAR BUDAYA FASILITAS PENDIDIKAN SENARAI TINGGALAN ZAMAN #1 CAGAR BUDAYA PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA EDISI PENDIDIKAN DAN PERJUANGAN 26 Sumber Foto: Dinas Kebudayaan DIY
27 SENARAI TINGGALAN ZAMAN #1 CAGAR BUDAYA PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA EDISI PENDIDIKAN DAN PERJUANGAN SMA BOPKRI I YOGYAKARTA Sumber Foto: Dinas Kebudayaan DIY
CAGAR BUDAYA FASILITAS PENDIDIKAN SENARAI TINGGALAN ZAMAN #1 CAGAR BUDAYA PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA EDISI PENDIDIKAN DAN PERJUANGAN 28 SMA BOPKRI I YOGYAKARTA » Penetapan status Cagar Budaya: Peraturan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Nomor PM.25/PW.007/MKP/2007 tentang Penetapan Situs dan Bangunan Tinggalan Sejarah dan Purbakala yang Berlokasi di Wilayah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta sebagai Benda Cagar Budaya, Situs Cagar Budaya, atau Kawasan Cagar Budaya yang Dilindungi Undangundang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 1992 Tentang Benda Cagar Budaya. » Penetapan status Bangunan Cagar Budaya: Keputusan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakara Nomor 239/KEP/2017 Tentang Penetapan Bangunan Rumah Sakit Bethesda, Rumah Sakit Tingkat III dr. R. Soetarto, SMA BOPKRI I, SMP Negeri 5, Rumah Tinggal Jalan Suhartono Nomor 2, Klinik Pratama Detasemen Kesehatan Wilayah 04.04.02, Asrama Kompi Kotabaru, Rumah Dinas Komandan Resimen 072/Pamungkas, Rumah Tinggal Jalan dr. Wahidin Sudirohusodo Nomor 3, di Kelurahan Kotabaru, Kecamatan Gondokusuman, Kota Yogyakarta sebagai Bangunan Cagar Budaya. » Pemeringkatan Bangunan Cagar Budaya: Keputusan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakara Nomor 271/KEP/2020 Tentang Penetapan Bangunan Rumah Sakit Bethesda, Rumah Sakit Tingkat III dr. R. Soetarto, SMA BOPKRI I, SMP Negeri 5, Rumah Tinggal Jalan Suhartono Nomor 2, Klinik Pratama Detasemen Kesehatan Wilayah 04.04.02, Asrama Kompi Kotabaru, Rumah Dinas Komandan Resimen 072/Pamungkas, Rumah Tinggal Jalan dr. Wahidin Sudirohusodo Nomor 3, di Kelurahan Kotabaru, Kecamatan Gondokusuman, Kota Yogyakarta sebagai Bangunan Cagar Budaya Peringkat Provinsi. “Christelijke MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) atau sekolah lanjutan tingkat pertama, begitulah nama bangunan berarsitektur Indis ini disebut setelah dibangun pada tahun 1921. Memiliki ruangan yang banyak dengan jendela besar, ventilasi yang banyak serta langit-langit ruang yang tinggi dipilih oleh Jepang sebagai tangsi militer ketika menduduki Yogyakarta. Sempat pula menjadi Militer Academie karena Akademi Militer di Jakarta dibubarkan, bangunan yang kini bernama SMA BOPKRI I Yogyakarta merupakan elemen penanda dan komponen pelengkap tata kota bagi permukiman masyarakat Eropa di Kotabaru yang memiliki fungsi sebagai fasilitas pendidikan.” SMA BOPKRI I Yogyakarta merupakan bangunan cagar budaya yang terletak di Jalan Wardani 2, Kelurahan Kotabaru, Kemantren Gondokusuman, Kota Yogyakarta, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakara. Lokasi bangunan cagar budaya ini tepatnya berada pada koordinat UTM Zona 49 M dengan titik X: 431275 m E dan titik Y: 9139206 m S. Bangunan SMA BOPKRI I Yogyakarta berbatasan dengan Kompleks RS DKT di sisi utara, Kompleks Universitas Kristen Duta Wacana di timur, Jalan Wardani di selatan, dan Jalan Juadi di sisi barat.
29 SENARAI TINGGALAN ZAMAN #1 CAGAR BUDAYA PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA EDISI PENDIDIKAN DAN PERJUANGAN Bangunan Cagar Budaya SMA BOPKRI I Yogyakarta merupakan bangunan fasilitas pendidikan bergaya arsitektur Indis dengan denah tapal kuda. Komponen bangunannya terdiri atas tiga unit bangunan dengan akses masuk utama di sudut barat daya. Unitunit bangunan pada SMA BOPKRI I Yogyakarta berupa ruang-ruang untuk menunjang kegiatan belajar mengajar. Di bagian tengah di antara ketiga unit bangunan, terdapat halaman luas yang berfungsi sebagai taman sebagaimana ciri bangunan berarsitektur Indis. Bangunan Cagar Budaya SMA BOPKRI I Yogyakarta memiliki luas 4.500 m2 dengan luas lahan 9.981 m2. Unit Bangunan Cagar Budaya SMA BOPKRI I Yogyakarta berdenah empat persegi panjang dengan atap berbentuk pelana. Material penutup atap berbahan genting tanah liat berwarna cokelat tua. Jendela pada unit bangunan cagar budaya terdiri atas jendela kayu berbentuk panil kaca serta jendela krepyak berbahan kayu yang kesemuanya berdaun ganda dan memiliki bukaan ke arah luar. Pintunya juga terdiri atas dua tipe, yaitu pintu kayu berbentuk panil kaca dan pintu kayu berbentuk krepyak dengan daun pintu model ganda yang memiliki bukaan ke arah luar. peta keletakan bangunan (citra) peta keletakkan (kaveling) & denah
CAGAR BUDAYA FASILITAS PENDIDIKAN SENARAI TINGGALAN ZAMAN #1 CAGAR BUDAYA PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA EDISI PENDIDIKAN DAN PERJUANGAN 30 Jendela dan pintu yang berbentuk panil kaca di ruangan tidak digunakan untuk belajar mengajar, seperti yang terdapat di lobby dan ruang guru. Sementara, jendela dan pintu model krepyak digunakan untuk ruang kelas. Di dinding bagian atas, terdapat bouvenlicht dengan penutup kaca berbentuk tiga bidang persegi panjang yang tersusun secara horizontal. Penutup lantai bangunan menggunakan tegel abu-abu dan tegel berwarna merah sebagai aksen. Bangunan SMA BOPKRI I Yogyakara dibangun pada masa pemerintahan Hindia Belanda tahun 1921 oleh yayasan dari organisasi agama Kristen. Bangunan tersebut diperuntukkan untuk sekolah lanjutan tingkat pertama (setara SMP) berdurasi tiga tahun dengan nama Christelijke MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs). Penggunaan bangunan Christelijke MULO hanya sampai pada 1941 karena meletusnya Perang Dunia II. Di masa pendudukan Jepang, tahun 1942-1945, bangunan ini digunakan sebagai tangsi militer. Pascapembubaran Akademi Militer di Jakarta oleh pemerintah Jepang, pada 31 Oktober 1945, Letnan Jenderal Urip Sumoharjo selaku Kepala Staf Umum TKR memerintah untuk membentuk akademi militer di Yogyakarta dengan nama Militer Academie (MA). Sebagai pusat pendidikan militer, digunakanlah bangunan eks Christelijke MULO (SMA BOPKRI I Yogyakarta saat ini) dan bangunan yang saat ini menjadi SMA BOPKRI I Yogyakarta sebagai asrama kadet dari Militer Academie. Pada tahun 1950, Militer Academie Yogyakarta ditutup sementara karena alasan teknis. Dua angkatan kadet telah berhasil lulus dari Militer Academie Yogyakarta sampai dengan tahun 1950. Setelah MA Yogyakarta ditutup, kadet angkatan ketiga menyelesaikan pendidikannya di KMA Breda, Nederland (Akademi Militer Kerajaan Belanda). Hingga akhirnya, pada tahun 1957, Akademi Militer Nasional di Magelang diresmikan oleh Presiden RI Ir. Soekarno sebagai kelanjutan Militer Academie Yogyakarta. Setelah Militer Academie tidak lagi menggunakan bangunan eks Christelijke MULO, foto pintu dan jendela foto bouvenlicht dan lantai
31 SENARAI TINGGALAN ZAMAN #1 CAGAR BUDAYA PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA EDISI PENDIDIKAN DAN PERJUANGAN pada 19 Juni 1950, Vereniging Schooled m/d Bijbel (penyelenggara sekolah Kristen zaman Belanda) dan Zending (organisasi misi penyebaran Kristen di Hindia Belanda) menghibahkan tanah, gedung, dan peralatan eks Christelijke MULO kepada Yayasan BOPKRI untuk digunakan sebagai SMA BOPKRI Pagi. Pada tahun ajaran 1952/1953, SMA BOPKRI Pagi berganti nama menjadi SMA BOPKRI I Yogyakarta sampai saat ini. Bangunan SMA BOPKRI I Yogyakarta dimiliki dan dikelola oleh Yayasan Badan Oesaha Pendidikan Kristen Indonesia (BOPKRI) Yogyakarta. Bangunan SMA BOPKRI I Yogyakarta tidak mengalami perubahan fungsi, yakni masih menjadi bangunan sekolah sampai saat ini. Bangunan utamanya juga tidak mengalami perubahan dan tetap menampilkan keaslian arsitektur. Namun, dikarenakan perkembangan aktivitas pendidikan dan kebutuhan operasional sekolah, terjadi beberapa perubahan dalam adaptasi bentuk dan penambahan unit-unit bangunan baru pada kompleks bangunan SMA BOPKRI I Yogyakarta. SMA BOPKRI I Yogyakarta ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya pada tahun 2017 berdasarkan Keputusan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 239/KEP/2017 dan sebagai bangunan cagar budaya peringkat provinsi pada tahun 2020 melalui Keputusan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 271/KEP/2020. Bangunan SMA BOPKRI I Yogyakarta memenuhi kriteria sebagai bangunan cagar budaya karena berusia 50 tahun atau lebih berdasarkan tahun 1921 yang merupakan tahun pembangunan sekolah. Selain itu, bangunan SMA BOPKRI I Yogyakarta juga memiliki gaya arsitektur Indis yang paling tidak telah berusia lebih dari 50 tahun. Gaya arsitektur Indis pada bangunan SMA BOPKRI I Yogyakarta terlihat dari penggunaan jendela berukuran besar, banyaknya ventilasi udara, langit-langit yang tinggi, dan penggunaan batu alam pada permukaan dinding bagian bawah sebagai dekorasi (rubble wall). peta 1925
CAGAR BUDAYA FASILITAS PENDIDIKAN SENARAI TINGGALAN ZAMAN #1 CAGAR BUDAYA PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA EDISI PENDIDIKAN DAN PERJUANGAN 32 Berdasarkan kriteria arti khusus, SMA BOPKRI I Yogyakarta memiliki arti khusus bagi sejarah karena menjadi salah satu tempat sejarah perkembangan pendidikan di Yogyakarta mulai dari sekolah lanjutan tingkat pertama, kemudian pendidikan militer bagi kadet Akademi Militer masa pendudukan Jepang, hingga pendidikan siswa SMA pascarevolusi kemerdekaan hingga saat ini. Bangunan SMA BOPKRI I Yogyakarta juga memiliki arti khusus bagi pendidikan karena merupakan salah satu referensi pendidikan arsitektur bangunan terutama perkembangan arsitektur di Yogyakarta. Selain itu, Bangunan SMA BOPKRI I Yogyakarta memiliki nilai budaya bagi penguatan kepribadian bangsa karena arsitektur bangunannya yang mencerminkan akulturasi budaya berupa penerapan arsitektur Indis. Bangunan SMA BOPKRI I Yogyakarta memiliki nilai penting sebagai bangunan cagar budaya karena merupakan bangunan berarsitektur Indis yang menjadi elemen penanda dan komponen pelengkap tata kota permukiman bangsa Eropa di Kotabaru yang berwujud fasilitas pendidikan. Selain itu, SMA BOPKRI I Yogyakarta juga memiliki peran sejarah pada masa perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia. Daftar Bacaan » Adrisijanti, Inajati dan Anggraeni (Ed.). 2014. Mosaic Cultural Heritage of Yogyakarta. Yogyakarta: Balai Pelestarian Cagar Budaya Yogyakarta. » Juniyanti. 2001. “Pola Penempatan dan Tata Ruang SMU Bopkri I, SMU 3, dan SLTP 5 di Kota Baru, Yogyakarta”. Skripsi Sarjana. Yogyakarta: Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada. » Siswandi, Sugiarti. 1989. Rumah Sakit Bethesda dari Masa ke Masa. Yogyakarta: RS Bethesda Yogyakarta. » Suhartono, dkk. 1983. Replika Sejarah Perjuangan Rakyat Yogyakarta, Buku keSatu. Yogyakarta: Dinas Sosial Provinsi DIY. » Wahyu, Harry Trisatya. 2014. “Pelestarian dan Pemanfaatan Bangunan Indis di Kota Baru”. Tesis Pascasarjana. Yogyakarta: Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada. » Wulanda, Alfian. 2014. “Perkembangan Fasilitas Kesehatan Zending di Yogyakarta 1901–1942”. Skripsi Sarjana. Yogyakarta: Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Yogyakarta.
33 SENARAI TINGGALAN ZAMAN #1 CAGAR BUDAYA PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA EDISI PENDIDIKAN DAN PERJUANGAN SMA BOPKRI I & SMEA BOPKRI
CAGAR BUDAYA FASILITAS PENDIDIKAN SENARAI TINGGALAN ZAMAN #1 CAGAR BUDAYA PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA EDISI PENDIDIKAN DAN PERJUANGAN 34
35 SENARAI TINGGALAN ZAMAN #1 CAGAR BUDAYA PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA EDISI PENDIDIKAN DAN PERJUANGAN Kombinasi jendela dan pintu kayu berpanil kaca pada ruang kelas SMP Negeri 5 Yogyakarta Sumber: Dinas Kebudayaan DIY
CAGAR BUDAYA FASILITAS PENDIDIKAN SENARAI TINGGALAN ZAMAN #1 CAGAR BUDAYA PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA EDISI PENDIDIKAN DAN PERJUANGAN 36 SMP NEGERI 5 YOGYAKARTA » Penetapan status Cagar Budaya: Peraturan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Nomor PM.89/PW.007/MKP/2011 tentang Penetapan Hotel Inna Garuda, Gedung DPRD (Ruang Paripurna), Stasiun Lempuyangan, RS Bethesda, Asrama Kompi Kotabaru, SLTP Negeri 5 Yogyakarta, Museum TNI AD, Gedung SMU Negeri 6 Yogyakarta, Rumah Sakit DKT, SD Tumbuh, GKPN PPRI DIY, Gedung RRI, The Phoenix Hotel Yogyakarta, Kantor Kedaulatan Rakyat, UPT Balai Yasa Yogyakarta, Gedung PT Asuransi Jiwasraya, Kantor Satlantas Poltabes Yogyakarta, Rumah Mr. Djody Gondokusumo, Pasar Beringharjo, Kompleks Gedung Agung, Museum Sonobudoyo, Masjid Gedhe Kauman, Dalem Pengulon, Dalem Benawan, Masjid Agung Puro Pakualaman, Dalem Yudonegaran, Dalem Padmokusuman (dahulu Dalem Suryonegaran), Museum Sonobudoyo Unit II (Dale Condrokiranan), Gedung Societet Militer, Hotel Limaran, SD Puro Pakualaman, LP Wirogunan, Susteran Sang Timur, Museum Biologi, Masjid Margoyuwono, Asrama Mahasiswa Kalimantan Barat “Rahadi Osmani”, Asrama Putra Mahasiswa Sulawesi Tengah, Asrama Putri Bundo Kanduang, Gedung Komando Pemadam Kebakaran (Kodamkar), Kodim 0734/ Yogyakarta, Indraloka Homestay, Rumah Tinggal Moelyo Soebroto, Rumah Indis (Grapari), Rumah Judoprayitno, SMA “17” I, Gereja Huria Kristen Batak Protestan (HKBP), Gedung Seminari, Kolese St. Ignatius, Susteran Amalkasih Darah Mulia, Rumah Tinggal (Gd. Elti), Rumah Tinggal (PT Sarana Yogya Ventura), Ndalem Natatarunan, Rumah Kemayoran, Asrama Saweri Gading, Rumah Tinggal (Dealer Suzuki), di Jalan Sultan Agung No. 24, Rumah Tinggal di Jalan Sultan Agung No. 26, Bangunan Kantor ODMIL (Oditur Militer), Gedung TK dan SD Bopkri Gondolayu, Lab. SMK Taman Siswa, Rumah Tinggal di Jalan Bintaran Wetan No. 7, SD. Kintelan, Museum Dewantara Kirti Griya, Rumah Tinggal di Jalan Bintaran Wetan No. 17, STIE Nusa Megarkencana (Stienus), Rumah Kongsi Kanthil, Makopoltabes Yogyakarta, Markas Komando Resort Militer 072 Pamungkas, MAN II Yogyakarta, Kompleks Biara Bruder FIC, SD dan SMA Pangudi Luhur, SMP Negeri 2 Yogyakarta, Kompleks Biara Suster OSF dan SD Marsudirini, Dalem Mangunkusuman, SD Negeri Keputran I, Dalem Notoprajan, Museum Kereta, Dalem Joyokusuman, Dalem Purbonegaran, Dalem Pakuningratan, Dalem Mangkubumen, Dalem Kaneman, Dalem Wironegaran (Condrodiningratan), Masjid Sela, Dalem Suryoputran, Dalem Ngadiwinatan, Dalem Puspodiningratan, Dalem Pujokusuman, Panggung Krapyak, Kompleks Makam Imogiri, Kompleks Makam Banyusumurup, Rumah Markas Sandi T.B. Simatupang, Kompleks Makam Giriloyo, Kompleks Makam Girigondo, Monumen Bibis, dan Pesanggrahan Ngeksiganda yang berlokasi di wilayah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta sebagai Cagar Budaya yang dilindungi Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya. » Penetapan status Bangunan Cagar Budaya: Keputusan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakara Nomor 239/KEP/2017 Tentang Penetapan Bangunan Rumah Sakit Bethesda, Rumah Sakit Tingkat III dr. R. Soetarto, SMA BOPKRI I, SMP Negeri 5, Rumah Tinggal Jalan Suhartono Nomor 2, Klinik Pratama Detasemen Kesehatan Wilayah 04.04.02, Asrama Kompi Kotabaru, Rumah Dinas Komandan Resimen 072/Pamungkas, Rumah Tinggal Jalan dr. Wahidin Sudirohusodo Nomor 3, di Kelurahan Kotabaru, Kecamatan Gondokusuman, Kota Yogyakarta sebagai Bangunan Cagar Budaya. » Pemeringkatan Bangunan Cagar Budaya: Keputusan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakara Nomor 271/KEP/2020 Tentang Penetapan Bangunan Rumah Sakit Bethesda, Rumah Sakit Tingkat III dr. R. Soetarto, SMA BOPKRI I, SMP Negeri 5, Rumah Tinggal Jalan Suhartono Nomor 2, Klinik Pratama Detasemen Kesehatan Wilayah 04.04.02, Asrama Kompi Kotabaru, Rumah Dinas Komandan Resimen 072/Pamungkas, Rumah Tinggal Jalan dr. Wahidin Sudirohusodo Nomor 3, di Kelurahan Kotabaru, Kecamatan Gondokusuman, Kota Yogyakarta sebagai Bangunan Cagar Budaya Peringkat Provinsi.
37 SENARAI TINGGALAN ZAMAN #1 CAGAR BUDAYA PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA EDISI PENDIDIKAN DAN PERJUANGAN “Berawal dari sekolah untuk calon guru sekolah dasar pribumi, asrama untuk kadet Akademi Militer, hingga akhirnya menjadi sekolah untuk siswa menengah pertama sampai saat ini menjadikan SMP Negeri 5 Yogyakarta sebagai salah satu tempat sejarah perkembangan pendidikan di Yogyakarta. Karakteristik bangunan dengan arsitektur Indis mempertegas keberadaannya yang merupakan elemen penanda dan komponen pelengkap perkembangan permukiman masyarakat Eropa di Kotabaru.” SMP Negeri 5 Yogyakarta merupakan bangunan cagar budaya yang terletak di Jalan Wardani 1, Kelurahan Kotabaru, Kemantren Gondokusuman, Kota Yogyakarta, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakara. Lokasi bangunan cagar budaya ini tepatnya berada pada koordinat UTM Zona 49 M dengan titik X: 431148 m E dan titik Y: 9139166 m S. Bangunan SMP Negeri 5 Yogyakarta berbatasan dengan Jalan Juadi di sisi utara, Jalan Wardani di timur, Jalan Wardani di selatan, dan Telkom Kotabaru dan SD Serayu I, II Yogyakarta di sisi barat. Bangunan Cagar Budaya dalam kompleks SMP Negeri 5 Yogyakarta Sumber: Citra Satelit Google Earth tanggal 26/05/2021 SMP Negeri 5 Yogyakarta merupakan sekolah yang dibangun pada masa pemerintahan Hindia Belanda untuk calon guru sekolah dasar pribumi dengan nama Normaalschool voor Inlandsche Onderwijzeressen. Bangunan kompleks SMP Negeri 5 Yogyakarta memiliki gaya arsitektur Indis dengan ciri berupa jendela-jendela besar dan posisi langit-langit ruang yang tinggi untuk menghasilkan sirkulasi udara yang baik. Komponen bangunannya terdiri atas unit-unit gedung dan ruang untuk menunjang kegiatan belajar mengajar. Unit bangunan yang masih menampilkan bentuk dan struktur
CAGAR BUDAYA FASILITAS PENDIDIKAN SENARAI TINGGALAN ZAMAN #1 CAGAR BUDAYA PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA EDISI PENDIDIKAN DAN PERJUANGAN 38 Denah Bangunan Cagar Budaya dalam kompleks SMP Negeri 5 Yogyakarta Sumber: BPCB DI Yogyakarta, 2007 asli terdapat pada unit bangunan kelas sayap selatan dan utara bangunan utama serta unit bangunan sisi utara yang menghadap Jalan Juwadi. Bangunan Cagar Budaya SMP Negeri 5 Yogyakarta memiliki luas 5.040 m2 dengan luas lahan mencapai 14.852 m2. Bangunan SMP Negeri 5 Yogyakarta yang menjadi cagar budaya memiliki denah persegi panjang dengan atap berbentuk limasan dan penutup atap berupa genting tanah liat berwarna cokelat. Di segmen tengah atap bangunan paling utara, terdapat dormer yang berfungsi sebagai pencahayaan dan penghawaan. Unit-unit bangunan sekolah yang menjadi cagar budaya memiliki dua tipe jendela, yaitu jendela berbahan kayu dengan panil kaca dan jendela tipe krepyak berbahan kayu. Kedua tipe jendela berdaun ganda dan memiliki bukaan ke arah luar. Pada jendela tipe krepyak, terdapat jeruji besi berpola geometris. Selain itu, unit-unit bangunan cagar budaya juga dilengkapi ventilasi yang terletak di atas pintu dan jendela berupa celah dinding (roster) dan ventilasi tipe krepyak berbahan kayu. Atap limasan dengan dormer (kiri) dan jendela krepyak (kanan) Sumber: Dinas Kebudayaan DIY
39 SENARAI TINGGALAN ZAMAN #1 CAGAR BUDAYA PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA EDISI PENDIDIKAN DAN PERJUANGAN Pintu krepyak (kiri) dan pintu kayu berpanil kaca (kanan) Sumber: Dinas Kebudayaan DIY Pintu unit bangunan cagar budaya di SMP Negeri 5 Yogyakarta terdiri atas pintu kayu dengan panil kaca dan pintu kayu tipe krepyak. Kesemua tipe pintu berdaun ganda dengan bukaan ke arah luar. Penutup lantai pada unit bangunan cagar budaya berupa tegel berwarna abu-abu. Permukaan dinding bagian bawah unit bangunan cagar budaya menggunakan batu alam sebagai dekorasi (rubble wall) yang merupakan ciri bangunan berarsitektur Indis. Bangunan SMP Negeri 5 Yogyakara dibangun pada masa pemerintahan Hindia Belanda pada tahun 1923 seiring dengan perkembangan permukiman bangsa Eropa di Kotabaru. Bangunan tersebut merupakan fasilitas pendidikan untuk calon guru sekolah dasar pribumi dengan nama Normaalschool voor Inlandsche Onderwijzeressen. Pada tahun 1945, bangunan sekolah ini digunakan sebagai asrama kadet Militer Akademi (nama Akademi Militer kala itu). Pada tahun 1950, pascarevolusi kemerdekaan, bangunan sekolah digunakan secara bersama-sama oleh dua instansi pendidikan, yaitu SMPP (Sekolah Menengah Pertama khusus Putri) dan SMP IV Yogyakarta. SMPP merupakan sekolah khusus siswa putri bentukan Jepang dengan nama Nippongo Gakku yang didirikan pada 1 Aprill 1944 di kaveling Jalan Sabirin yang saat ini menjadi SMA Stella Duce. Sementara, SMP IV Yogyakarta dikenal sebagai “SMP Pejuang” karena diperuntukkan bagi para pejuang yang berlum tertampung di seakolah menengah yang ada di Yogyakarta. Pada 23 Juli 1951, SMPP menambah lingkup siswanya dengan menerima siswa putra sekaligus mengubah namanya menjadi SMP Negeri V Yogyakarta. Tanggal 17 Juli 1974, SMP Negeri V Yogyakarta dan SMP IV Yogyakarta berintegrasi menjadi SMP Negeri V Yogyakarta dan berubah nama menjadi SMP Negeri 5 Yogyakarta pada tahun 1980.
CAGAR BUDAYA FASILITAS PENDIDIKAN SENARAI TINGGALAN ZAMAN #1 CAGAR BUDAYA PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA EDISI PENDIDIKAN DAN PERJUANGAN 40 Bangunan SMP Negeri 5 Yogyakarta (Normaalschool voor Inlandsche Onderwijzeressen) dalam Jogjakarta en Omstreken 1925 Sumber: Topografische dients in Nederlandsch-Indie (Batavia) Bangunan SMP Negeri 5 Yogyakarta dimiliki dan dikelola oleh Pemerintah Kota Yogyakarta, sementara lahannya dimiliki oleh Kesultanan Yogyakarta. Bangunan SMP Negeri 5 Yogyakarta tidak mengalami perubahan fungsi, yakni masih menjadi fasilitas pendidikan. Bangunan utamanya juga tidak mengalami perubahan dan tetap menampilkan keaslian arsitektur. Namun, dikarenakan perkembangan aktivitas pendidikan dan kebutuhan operasional sekolah, terjadi beberapa perubahan dalam adaptasi bentuk dan penambahan unit-unit bangunan baru di kompleks bangunan SMP Negeri 5 Yogyakarta. SMP Negeri 5 Yogyakarta ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya pada tahun 2017 berdasarkan Keputusan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 239/KEP/2017 dan sebagai bangunan cagar budaya peringkat provinsi pada tahun 2020 melalui Keputusan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 271/KEP/2020. Bangunan SMP Negeri 5 Yogyakarta memenuhi kriteria sebagai bangunan cagar budaya karena berusia 50 tahun atau lebih berdasarkan tahun 1923 yang merupakan tahun pembangunan sekolah. Selain itu, bangunan SMP Negeri 5 Yogyakarta juga memiliki gaya arsitektur Indis yang paling tidak telah berusia lebih dari 50 tahun. Gaya arsitektur Indis pada bangunan SMP Negeri 5 Yogyakarta terlihat dari penggunaan jendela berukuran besar, banyaknya ventilasi udara, dan penggunaan batu alam pada permukaan dinding bagian bawah sebagai dekorasi (rubble wall). Berdasarkan kriteria arti khusus, SMP Negeri 5 Yogyakarta memiliki arti khusus bagi sejarah karena menjadi salah satu tempat sejarah perkembangan pendidikan di Yogyakarta, mulai dari pendidikan calon guru SD masa Hindia Belanda, pendidikan kadet Akademi Militer masa pendudukan Jepang, pendidikan siswa SMP pascarevolusi kemerdekaan, dan masih digunakan hingga saat ini. Bangunan SMP Negeri 5 Yogyakarta juga memiliki arti khusus bagi pendidikan karena merupakan salah satu referensi pendidikan arsitektur bangunan terutama perkembangan arsitektur di Yogyakarta.
41 SENARAI TINGGALAN ZAMAN #1 CAGAR BUDAYA PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA EDISI PENDIDIKAN DAN PERJUANGAN Selain itu, bangunan SMP Negeri 5 Yogyakarta memiliki nilai budaya bagi penguatan kepribadian bangsa karena arsitektur bangunannya mencerminkan akulturasi budaya berupa penerapan arsitektur Indis. Bangunan SMP Negeri 5 Yogyakarta memiliki nilai penting sebagai bangunan cagar budaya karena merupakan bangunan berarsitektur Indis yang menjadi elemen penanda dan komponen pelengkap tata kota permukiman bangsa Eropa di Kotabaru yang berwujud fasilitas pendidikan. Selain itu, SMP Negeri 5 Yogyakarta juga memiliki peran sejarah saat masa perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia. Daftar Bacaan » Adrisijanti, Inajati dan Anggraeni (Ed.). 2014. Mosaic Cultural Heritage of Yogyakarta. Yogyakarta: Balai Pelestarian Cagar Budaya Yogyakarta. » Juniyanti. 2001. “Pola Penempatan dan Tata Ruang SMU Bopkri I, SMU 3, dan SLTP 5 di Kota Baru, Yogyakarta”. Skripsi Sarjana. Yogyakarta: Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada. » Siswandi, Sugiarti. 1989. Rumah Sakit Bethesda dari Masa ke Masa. Yogyakarta: RS Bethesda Yogyakarta. » Suhartono, dkk. 1983. Replika Sejarah Perjuangan Rakyat Yogyakarta, Buku keSatu. Yogyakarta: Dinas Sosial Provinsi DIY. » Wahyu, Harry Trisatya. 2014. “Pelestarian dan Pemanfaatan Bangunan Indis di Kota Baru”. Tesis Pascasarjana. Yogyakarta: Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada. » Wulanda, Alfian. 2014. “Perkembangan Fasilitas Kesehatan Zending di Yogyakarta 1901–1942”. Skripsi Sarjana. Yogyakarta: Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Yogyakarta.
CAGAR BUDAYA FASILITAS PENDIDIKAN SENARAI TINGGALAN ZAMAN #1 CAGAR BUDAYA PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA EDISI PENDIDIKAN DAN PERJUANGAN 42 Jendela krepyak dengan ventilasi roster Sumber: Dinas Kebudayaan DIY Jendela kayu berpanil kaca dengan ventilasi krepyak Sumber: Dinas Kebudayaan DIY Rubble wall ciri khas bangunan Indis yang terletak di bawah jendela Sumber: Dinas Kebudayaan DIY Kombinasi jendela dan pintu kayu berpanil kaca pada ruang kelas Sumber: Dinas Kebudayaan DIY
43 SENARAI TINGGALAN ZAMAN #1 CAGAR BUDAYA PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA EDISI PENDIDIKAN DAN PERJUANGAN