The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Tata Kelola Cagar Budaya dan Warisan Budaya

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Fauzi Rahman, 2024-01-01 02:30:30

SENERAI TINGGALAN ZAMAN

Tata Kelola Cagar Budaya dan Warisan Budaya

Keywords: CAGAR BUDAYA

CAGAR BUDAYA FASILITAS PENDIDIKAN SENARAI TINGGALAN ZAMAN #1 CAGAR BUDAYA PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA EDISI PENDIDIKAN DAN PERJUANGAN 44 SMA NEGERI 3 YOGYAKARTA » Surat Keputusan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 237/KEP/2017 tentang Penetapan Bangunan rumah tinggal Mr. Djody Gondokusumo, Kantor Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta, Museum Sandi, SMA Negeri 3, Gedung PT Asuransi Jiwasraya, SD Negeri Ungaran I, Gereja Huria Kristen Batak Protestan, Gedung Radio Republik Indonesia, Gedung Seminari, Kolase Santo Ignatius, Gereja Santo Antonius, Susteran Amal Kasih Darah Mulia di Kelurahan Kotabaru, Kecamatan Gondokusuman, Kota Yogyakarta sebagai Bangunan Cagar Budaya. » Peraturan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Nomor PM.25/PW.007/MKP/2007 tentang Penetapan Situs dan Bangunan Tinggalan Sejarah dan Purbakala Yang Berlokasi di Wilayah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta Sebagai Benda Cagar Budaya, Situs, Atau Kawasan Cagar Budaya Yang Dilindungi Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya. » Peraturan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Nomor PM.07/PW.007/MKP tahun 2010 tentang Penetapan Gedung Bank BNI’ 46,Gedung SMP Negeri 6, Gedung Kantor Pos Besar, Kelenteng Poncowinatan (Kranggan), Gedung Bank Indonesia, Gereja Santo Antonius, Gedung SMU Negeri 3, Kompleks Gedung Kepatihan, Gedung Museum Sasmitaloka, Gedung SMP Negeri I, Gedung Rumah Sakit Panti Rapih, Gedung Koni, Kraton Yogyakarta, Puro Pakualaman, Ndalem Tejokusuman, dan Kantor Gedung Dinas Pariwisata Seni dan Budaya Kota Yogyakarta yang Berlokasi di Wilayah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta sebagai Benda Cagar Budaya, Situs atau Kawasan, Cagar Budaya yang Dilindungi Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya. » Surat Keputusan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta nomor 274/KEP/2020 tentang Bangunan Cagar Budaya SMA Negeri 3 Sebagai Bangunan Cagar Budaya Peringkat Provinsi. Setelah Proklamasi disiarkan melalui radio-radio, tidak ada waktu yang disia-siakan untuk menyongsong langkah mengisi kemerdekaan. Yogyakarta menjadi salah satu kota yang bergerak menabur benih generasi penerus melalui jalur pendidikan. Sebuah tempat yang dahulu merupakan bangunan sekolah milik pemerintah Belanda menjadi saksi perumusan rencana-rencana besar Yogyakarta menyiapkan generasi penerus bangsa. Tempat yang saat ini dikenal dengan SMA Negeri 3 Yogyakarta adalah saksi bisu bergulirnya proses tersebut. Bangunan sekolah SMA Negeri 3 Yogyakarta merupakan sekolah yang berada di kawasan Kotabaru, Yogyakarta. Secara administratif, bangunan sekolah tersebut beralamat di Jalan Yos Sudarso No. 7, Kelurahan Kotabaru, Kecamatan Gondokusuman, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta. Posisi SMA Negeri 3 terbilang cukup strategis karena ada di jalur utama, terhubung dengan


45 SENARAI TINGGALAN ZAMAN #1 CAGAR BUDAYA PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA EDISI PENDIDIKAN DAN PERJUANGAN Posisi SMA Negeri 3 Yogyakarta di Kotabaru & batas-batasnya akses jalan, antara lain Jalan Sajiyono di sisi utara, Jalan Suroto di sisi timur, dan Jalan Yos Sudarso di sisi Selatan. SMA 3 juga memiliki fasilitas lapangan di sisi barat dan berdekatan dengan landmark Kotabaru yaitu Lapangan Kridosono. Bangunan SMA Negeri 3 Yogyakarta terletak di area utama kawasan Kotabaru, orientasi ke selatan menghadap langsung Lapangan/Stadion Kridosono. Secara arsitektural, bangunan ini memiliki ciri bentuk tinggi, besar, memiliki halaman luas, bentuk jendela dan pintu yang besar, serta langit-langit tinggi. Bagian muka bangunan utama pada akses masuk memiliki sepasang pilaster ganda dengan ornamen lampu di bagian atasnya.


CAGAR BUDAYA FASILITAS PENDIDIKAN SENARAI TINGGALAN ZAMAN #1 CAGAR BUDAYA PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA EDISI PENDIDIKAN DAN PERJUANGAN 46 Bangunan depan, tampak dari halaman tengah (sisi utara) Sumber: Dinas Kebudayaan DIY, 2021 Denah bangunan utama berjajar dua di utara dan selatan. Sebagian besar bangunan utama digunakan sebagai kelas. Di antara jajaran bangunan tersebut, terdapat halaman/ruang terbuka yang cukup luas. Pada sisi timur dan barat halaman tengah, terdapat bangunan-bangunan baru sebagai pelengkap sarana pendidikan (laboratorium, ruang olahraga, dan tempat parkir). Bangunan Cagar Budaya SMA Negeri 3 Yogyakarta awalnya merupakan gedung Algemeene Middlebaar School (AMS) yang pertama kali didirikan di Hindia Belanda (pada 5 Juli 1919). Pada periode kemerdekaan, sekolah ini berubah nama menjadi Sekolah Menegah Tinggi/SMT Kotabaru. Di masa kemudian, pada 1946, bangunan ini digunakan pula sebagai tempat Sekolah Teknik Tinggi (STT) Bandung di Yogyakarta karena peristiwa pemindahan STT dari Kota Bandung pascapendudukan militer Sekutu dan NICA. Tempat perkuliahan STT ini menggunakan sebagian ruang kelas dan ruang aula olahraga di waktu sore hari. Pada masa itu, bangunan sekolah ini digunakan pula sebagai tempat pertemuanpertemuan awal dalam rangka usaha pendirian suatu perguruan tinggi swasta di Yogyakarta. Rapat pertama kali dilakukan di tempat ini pada 24 Januari 1946 oleh panitia persiapan pembentukan yang diketuai oleh Ki Hajar Dewantara. Pertemuan tersebut menghasilkan keputusan pendirian Balai Perguruan Tinggi Gadjah Mada. Pengumuman pendirian dilakukan pada 3 Maret 1946 di gedung KNI Malioboro. Aktivitas perkuliahan umum perdana dimulai pada tanggal 13 Maret 1946 yang direncanakan bertempat di bangunan SMT Kotabaru. Namun, untuk menampung jumlah pendaftar peserta kuliah umum, lokasi dipindah ke kompleks Bangsal Pagelaran Kraton Yogyakarta. BPT Gadjah Mada sebagai perguruan tinggi berstatus swasta tersebut kemudian menjadi cikal bakal Universitas Gadjah Mada sebagai universitas negeri pertama yang didirikan oleh Republik Indonesia pada 1949.


47 SENARAI TINGGALAN ZAMAN #1 CAGAR BUDAYA PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA EDISI PENDIDIKAN DAN PERJUANGAN Selama 1947–1949, bangunan SMT Kotabaru digunakan sebagai laboratorium persenjataan untuk TKR yang dipimpin oleh Herman Johannes. Laboratorium ini menghasilkan bermacam bahan peledak yang digunakan oleh TKR saat masa revolusi. Setelah masa perang, Herman Johannes kembali ke dunia pendidikan dan kelak menjadi profesor doktor dan menjabat sebagai rektor UGM kedua (periode 1961–1966). Atas jasanya di dalam Perang Kemerdekaan, Herman Johannes dianugerahi Bintang Gerilya pada 1958 oleh Pemerintah RI serta memperoleh anugerah gelar Pahlawan Nasional dari Presiden RI di tahun 2009. Secara umum, Bangunan Cagar Budaya SMA Negeri 3 Yogyakarta masih mempertahankan bentuk asli dengan tampilan dominan gaya arsitektur Indis. Tingkat keaslian bangunan ditandai dengan penggunaan jendela berukuran besar, ventilasi udara di atas kusen jendela atau pintu (bovenlicht), dan penggunaan menara atau jendela kecil di bagian atap sebagai lubang ventilasi (lantern dan dormer) pada beberapa bangunan, serta penggunaan batu alam pada permukaan dinding dari dasar kaki bangunan sampai batas ambang bawah jendela (rubble wall). Selain itu, unsur arsitektur Indis juga tampak pada keberadaan teras depan, yakni penggunaan teritis (overstek) sebagai atap peneduh. Saat ini, SMA Negeri 3 Yogyakarta masih digunakan sebagai fasilitas pendidikan. Di tengah kebutuhan ruang pembelajaran yang semakin berkembang dan bertambah, kondisi bangunan cagar budayanya masih tetap terjaga dan terawat dengan baik. Bangunan tersebut penting untuk terus dilestarikan karena merupakan saksi bisu jejak perjuangan masyarakat Yogyakarta untuk mempertahankan Indonesia. Bangunan Denah Bangunan Muka SMA Negeri 3 Yogyakarta Sumber: Dinas Kebudayaan DIY, 2017


CAGAR BUDAYA FASILITAS PENDIDIKAN SENARAI TINGGALAN ZAMAN #1 CAGAR BUDAYA PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA EDISI PENDIDIKAN DAN PERJUANGAN 48 SMA Negeri 3 pernah menjadi tempat tinggal Tentara Pelajar pada masa Perjuangan Kemerdekaan Indonesia tahun 1940-an serta digunakan sebagai tempat untuk pertemuan-pertemuan dalam rangka usaha pendirian suatu perguruan tinggi swasta (Balai Perguruan Tinggi Gadjah Mada) yang kemudian menjadi cikal bakal Universitas Gadjah Mada sebagai universitas negeri pertama yang didirikan oleh Republik Indonesia. Bangunan tersebut memiliki nilai yang mencerminkan wujud persatuan dan kesatuan bangsa. Sumber Bacaan » Adrisijanti, Inajati dan Anggraeni (Ed.). 2014. Mosaic Cultural Heritage of Yogyakarta. Yogyakarta: Balai Pelestarian Cagar Budaya Yogyakarta. » Darmosugito. 1956. Kota Jogjakarta 200 Tahun: 7 Oktober 1756–7 Oktober 1956. Yogyakarta: Patitya Peringatan Kota Jogjakarta 200 Tahun. » Djawatan Penerangan DI. Jogjakarta. 1953. Republik Indonesia: Daerah Istimewa Jogjakarta. Jakarta: Kementerian Penerangan. » Suhartono, dkk. 1983. Replika Sejarah Perjuangan Rakyat Yogyakarta, Buku keSatu. Yogyakarta: Dinas Sosial Provinsi DIY. » Sutaryo. 2010. “SMA Negeri 3 Padmanaba Yogyakarta: Cikal Bakal UGM dan Lab Persenjataan TNI”, dalam Harian Kedaulatan Rakyat, 19 September 2010 hlm. 19. » Pour, Julius dan Nung Antasana. 1993. Herman Johannes, Tokoh yang Konsisten dalam Sikap dan Perbuatan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. » Putri, Esa Susanti. 2018. “Perkembangan Sekolah Algemeene Middelbare School (AMS) di Yogyakarta Tahun 1919-1942”, dalam Jurnal Ilmu Sejarah, Vol. 3 No. 7 hlm. 46-60. » Soimun, Hp. 1984. Prof. Dr. Ir. H. Johannes: Karya dan Pengabdiannya. Jakarta: Depdikbud, Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Sejarah Nasional. » Wahyu, Harry Trisatya. 2014. “Pelestarian dan Pemanfaatan Bangunan Indis di Kotabaru”. Tesis Pascasarjana. Yogyakarta: Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada. » Widodo dan Mutiah Amini (ed.). 2016. The Magic 70: Sumbangsih UGM untuk Bangsa. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.


49 SENARAI TINGGALAN ZAMAN #1 CAGAR BUDAYA PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA EDISI PENDIDIKAN DAN PERJUANGAN Bagian depan sayap timur bangunan SMA Negeri 3 Yogyakarta Sumber: Dinas Kebudayaan DIY, 2021 Bangunan depan, tampak dari halaman tengah (sisi utara) Sumber: Dinas Kebudayaan DIY, 2021


CAGAR BUDAYA FASILITAS PENDIDIKAN SENARAI TINGGALAN ZAMAN #1 CAGAR BUDAYA PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA EDISI PENDIDIKAN DAN PERJUANGAN 50 Bagian dalam ruang gimnastik Sumber: Dinas Kebudayaan DIY, 2017


51 SENARAI TINGGALAN ZAMAN #1 CAGAR BUDAYA PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA EDISI PENDIDIKAN DAN PERJUANGAN


CAGAR BUDAYA FASILITAS PENDIDIKAN SENARAI TINGGALAN ZAMAN #1 CAGAR BUDAYA PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA EDISI PENDIDIKAN DAN PERJUANGAN 52 SUSTERAN AMAL KASIH DARAH MULIA » Penetapan status Bangunan Cagar Budaya: Peraturan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia Nomor: PM.89/PW.007/MKP/2011. » Penetapan status Bangunan Cagar Budaya: Keputusan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor: 237/KEP/2017 tentang Penetapan Bangunan Rumah Tinggal Mr. Djody Gondokusumo, Kantor Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta, Museum Sandi, SMA Negeri 3, Gedung PT Asuransi Jiwasraya, SD Negeri Ungaran I, Gereja Huria Kristen Batak Protestan, Gedung Radio Republik Indonesia, Gedung Seminari, Kolese Santo Ignatius, Gereja Santo Antonius, Susteran Amal Kasih Darah Mulia, di Kelurahan Kotabaru, Kecamatan Gondokusuman, Kota Yogyakarta sebagai Bangunan Cagar Budaya. » Penetapan status Pemeringkatan Bangunan Cagar Budaya: Keputusan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 274/KEP/2020 Tentang Penetapan Bangunan Cagar Budaya Rumah Tinggal Mr. Djody Gondokusumo, Rumah Tinggal Jalan Suroto Nomor 11 (Kantor Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta), Museum Sandi, SMA Negeri 3, Gedung PT Asuransi Jiwasraya, SD Negeri Ungaran I, Gereja Huria Kristen Batak Protestan, Gedung Radio Republik Indonesia, Gedung Seminari, Kolese Santo Ignatius, Gereja Santo Antonius, Susteran Amal Kasih Darah Mulia, di Kelurahan Kotabaru, Kota Yogyakarta sebagai Bangunan Cagar Budaya Peringkat Provinsi. Bangunan Cagar Budaya Susteran Amal Kasih Darah Mulia berada di Kawasan Cagar Budaya Kotabaru yang terletak di Jalan Abu Bakar Ali No. 12, Kotabaru, Kemantren Gondokusuman, Kota Yogyakarta. KCB Kotabaru merupakan wilayah hunian pada masa pemerintahan kolonial Hindia Belanda di Yogyakarta. Kantung permukiman ini awalnya dirancang untuk dihuni warga kota golongan Belanda/Eropa yang pada saat itu masih menerapkan peraturan penggolongan hunian berdasarkan ras (Wijkenstelsel). Penduduk dari kelompok orang-orang Belanda dan Eropa menempati wilayah strategis dan dirancang dengan tata ruang serta bangunan yang baik, berbeda dengan hunian penduduk dari golongan lain. Bangunan Susteran Amal Kasih Darah Mulia memiliki arsitektur unik dengan denah dua lantai, balkon tepat di atas pintu masuk, dan adanya dua menara kecil tingkat tiga pada fasad bangunan. Konstruksi bangunan tersebut bergaya arsitektur Indis yang dipengaruhi oleh gaya Belanda beserta unsur-


53 SENARAI TINGGALAN ZAMAN #1 CAGAR BUDAYA PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA EDISI PENDIDIKAN DAN PERJUANGAN unsur tradisional Jawa sebagai cara beradaptasi orang-orang Barat di wilayah Nusantara yang beriklim tropis. Susteran Amal Kasih Darah Mulia memiliki peran dan menjadi bagian tak terpisahkan dari lingkungan peribadatan umat Katolik di Kotabaru. Pada awalnya, Susteran Amal Kasih Darah Mulia merupakan bangunan rumah tinggal di Kawasan Kotabaru yang berkembang pada tahun 1920-an. Bangunan ini diperkirakan telah berdiri semenjak kawasan Kotabaru dibangun, hal ini dibuktikan dari tapak bangunan yang terlihat pada peta Kota Yogyakarta tahun 1925. Bangunan Susteran Amal Kasih Darah Mulia berbentuk persegi panjang yang terdiri atas dua lantai. Di sudut bangunan, berdiri menara kiri dan kanan dengan gavel yang berbentuk segi empat yang menambah kemegahan bangunan ini. Di setiap bukaan jendela dan pintu panel kaca, terdapat stainglass kaca patri. Interior bangunan di dalamnya sangat mewah, menunjukkan bahwa dahulunya tempat tinggal ini dimiliki oleh orang berstatus sosial tinggi. Nyaris semua detail elemen interior bangunan masih terawat dengan baik dan memiliki kualitas yang tinggi. Bangunan hunian ini kemudian beralih fungsi menjadi biara tempat pendidikan bagi calon suster. Sebelum ditempati sebagai susteran, bangunan ini mengalami renovasi dan penambahan komponen bangunan yang menghasilkan perluasan ruang. Penambahan ruang ini tetap mempertahankan nilai estetika yang tinggi, tampak dari keselarasan bentuk arsitektur yang menampilkan suatu adaptasi gaya arsitektur Indis serta terdapat pengaruh elemen gaya arsitektur Cina. Menurut riwayat pengelola, Bangunan Susteran Amal Kasih Darah Mulia semula berfungsi sebagai rumah tinggal Liem Han Tjio yang kemudian pada 30 April 1966, beralih fungsi menjadi biara tempat pendidikan bagi calon suster. Selain itu, bangunan ini dipakai


CAGAR BUDAYA FASILITAS PENDIDIKAN SENARAI TINGGALAN ZAMAN #1 CAGAR BUDAYA PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA EDISI PENDIDIKAN DAN PERJUANGAN 54 sebagai tempat ibadah dan tempat tinggal Pemimpin Kongregasi. Bangunan seluas 1.698 m2 dengan luas lahan 2.990 m2 ini sekarang dimiliki Kongregasi Suster-suster Amal Kasih Darah Mulia. Di wilayah DIY, keberadaan bangunan ini mewakili karya kreatif yang khas dalam wilayah provinsi. Karena, dilihat dari beberapa aspek, Bangunan Cagar Budaya Susteran Amal Kasih Darah Mulia tampak dirancang untuk keperluan golongan elite waktu itu. Arsitektur bangunan ini mewakili karya kreatif yang khas di DIY karena karya cipta demikian hanya ada di Kotabaru. Bangunan Cagar Budaya ini menunjukkan rancangan yang unik yaitu bangunan rumah tinggal atau semula berfungsi sebagai rumah tinggal yang tidak memiliki kesamaan baik bentuk eksterior maupun interiornya, meskipun dari segi lokasi berada dalam satu deret. Dengan demikian, Bangunan Cagar Budaya Susteran Amal Kasih Darah Mulia di Kotabaru ini mewakili karya kreatif yang khas dalam wilayah provinsi; langka jenisnya, unik rancangannya, dan sedikit jumlahnya di provinsi; sebagai bukti evolusi peradaban bangsa dan pertukaran budaya. Daftar Bacaan » Adrisijanti, Inajati dan Anggraeni (Ed.). 2014. Mosaic Cultural Heritage of Yogyakarta. Yogyakarta: Balai Pelestarian Cagar Budaya Yogyakarta. » Mas’ulah, 2006. “Perkembangan Fungsi Bangunan dan Arsitektur Susteran Amal Kasih Darah Mulia Kota Baru Yogyakarta”. Skripsi Sarjana. Yogyakarta: Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada. » Wahyu, Harry Trisatya. 2014. “Pelestarian dan Pemanfaatan Bangunan Indis di Kota Baru”. Tesis Pascasarjana. Yogyakarta: Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada.


55 SENARAI TINGGALAN ZAMAN #1 CAGAR BUDAYA PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA EDISI PENDIDIKAN DAN PERJUANGAN


CAGAR BUDAYA FASILITAS PENDIDIKAN SENARAI TINGGALAN ZAMAN #1 CAGAR BUDAYA PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA EDISI PENDIDIKAN DAN PERJUANGAN 56 BANGUNAN JL. SUPADI NO. 15 DAN NO. 17, KOTABARU » Penetapan status Bangunan Cagar Budaya: Keputusan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor: 195/KEP/2019 Tentang Bangunan di Kelurahan Kotabaru, Kecamatan Gondokusuman, Kota Yogyakarta sebagai Bangunan Cagar Budaya. Bangunan di Jalan Supadi No. 15 dan No. 17 merupakan dua unit bangunan tempat tinggal yang dirancang bergandengan sehingga dua bangunan ini seolah merupakan satu kesatuan bangunan. Tipe bangunan seperti ini dinamakan “Rumah Kopel” (Couple House). Baik bangunan No. 15 dan No. 17 memiliki dua bagian bangunan yang terhubung berupa atap bentuk pelana yang menyatu, sedangkan penanda pemisah bangunan hanya terdiri atas satu lapis dinding tembok. Bangunan di Jl. Supadi No. 15-17 merupakan dua bagian bangunan yang terhubung. Bentuk atap berupa kombinasi limasan dan pelana yang mengikuti bentuk fasad. Penutup atap menggunakan genting vlam warna asli/tanah liat; tritisan menggunakan dak beton. Lisplang bangunan asli menggunakan kayu; ornamen dinding luar bangunan berupa pelisir/lekukan penebalan plester. Pintu dan jendelanya menggunakan rangka kayu dan panil kaca; ventilasi berupa kaca atas (boven/bovenlicht), panil kaca mati, kusen kayu berupa rooster yang berada pada dinding di bawah atap pelana. Kedua bangunan tersebut berfungsi sebagai tempat tinggal penduduk Kota Yogyakarta di Kotabaru. Pada awal pembangunannya di sekitar awal 1920-an, kawasan Kotabaru ini dirancang untuk kantung hunian penduduk dari golongan Belanda/Eropa atau golongan status sosial tinggi. Segregasi permukiman tersebut berdasarkan peraturan undang-undang wijkenstelsel yang berlaku pada masa pemerintahan Kolonial Hindia Belanda.


57 SENARAI TINGGALAN ZAMAN #1 CAGAR BUDAYA PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA EDISI PENDIDIKAN DAN PERJUANGAN Saat ini, bangunan di Jalan Supadi No. 15 dan No. 17 yang digunakan oleh Novisiat Bruder St. Aloysius tersebut masih dalam kondisi baik. Bagian detail bangunan seperti kaca atas (boven/bovenlicht), pintu, jendela, dan ornamen dinding masih tampak terawat. Bagian halaman ditumbuhi oleh tanaman buah dan bunga yang ditata pada pinggiran pagar dalam dan beberapa bagian depan bangunan sehingga membentuk alur menuju pintu masuk. Kedua bangunan ini menjadi salah satu atribut berupa 45 Bangunan Cagar Budaya yang terdapat dalam Kawasan Cagar Budaya Kotabaru yang ditetapkan oleh Gubernur DIY Nomor 130/KEP/2023 Tentang Penetapan Kawasan Cagar Budaya Kotabaru sebagai Kawasan Cagar Budaya Peringkat Provinsi.


CAGAR BUDAYA FASILITAS PENDIDIKAN SENARAI TINGGALAN ZAMAN #1 CAGAR BUDAYA PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA EDISI PENDIDIKAN DAN PERJUANGAN 58 Berdasarkan kajian Tim Ahli Cagar Budaya DIY, bangunan ini memenuhi kriteria sebagai Bangunan Cagar Budaya sebagaimana disyaratkan dalam Undang-Undang No. 11 tahun 2010 Tentang Cagar Budaya karena telah berusia 50 (lima puluh) tahun atau lebih yaitu berdasarkan keterangan yang diperoleh pada peta Kota Yogyakarta tahun 1925, diketahui bangunan kedua bangunan ini telah berdiri sejak tahun 1925. Kemudian, bangunan ini mewakili masa gaya paling singkat berusia 50 (lima puluh) tahun, terlihat dari arsitekturnya yang menunjukkan gaya Indis, yang paling tidak telah berusia lebih dari 50 tahun. Sejarah pendirian bangunan gedung tersebut dapat dilihat dari penggunaan jendela berukuran besar, banyaknya ventilasi udara pada bangunan, dan penggunaan batu alam pada permukaan dinding bagian bawah (rubble wall) sebagai dekorasi. Selain itu, unsur arsitektur Indis juga tampak pada keberadaan teras depan, penggunaan teritis sebagai atap peneduh, dan halaman depan serta samping yang ditanami bunga dan pohon buah-buahan. Selain itu, bangunan ini memiliki arti khusus bagi sejarah karena lokasi bangunan tersebut berada merupakan lokasi peristiwa bersejarah, yaitu peristiwa perebutan senjata pada tahun 1945 antara pejuang Indonesia dengan tentara Jepang di gedung Asrama Kompi Kotabaru. Bangunan ini merupakan perpaduan budaya Eropa dengan Jawa (gaya arsitektur Indis) yang dapat digunakan sebagai contoh referensi pendidikan arsitektur. Dengan demikian, nilai penting Cagar Budaya pada Bangunan Jl. Supadi No. 15-17 merupakan salah satu contoh bangunan dengan gaya arsitektur Indis dengan variannya.


59 SENARAI TINGGALAN ZAMAN #1 CAGAR BUDAYA PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA EDISI PENDIDIKAN DAN PERJUANGAN


CAGAR BUDAYA FASILITAS PENDIDIKAN SENARAI TINGGALAN ZAMAN #1 CAGAR BUDAYA PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA EDISI PENDIDIKAN DAN PERJUANGAN 60


61 SENARAI TINGGALAN ZAMAN #1 CAGAR BUDAYA PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA EDISI PENDIDIKAN DAN PERJUANGAN


CAGAR BUDAYA FASILITAS PENDIDIKAN SENARAI TINGGALAN ZAMAN #1 CAGAR BUDAYA PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA EDISI PENDIDIKAN DAN PERJUANGAN 62 SITI HINGGIL KRATON YOGYAKARTA » Keputusan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 220/KEP/2020 Tentang Penetapan Siti Hinggil Kraton Yogyakarta sebagai Bangunan Cagar Budaya Peringkat Provinsi. Bangunan cagar budaya Siti Hinggil Kraton Yogyakarta terletak di dalam kompleks Kraton Yogyakarta yang wilayah administratifnya masuk ke dalam dua wilayah kelurahan, yaitu Panembahan dan Kadipaten, dengan Kemantren Kraton, Kota Yogyakarta. Letak kompleks bangunan ini berada di halaman yang terletak di sisi selatan kompleks Pagelaran dengan koordinat UTM 49 M dengan X: 429894.61 m E dan Y: 9137080.78 m S. Batas bangunan mengikuti sesuai arah mata angin dengan sisi utara terdapat Kompleks Bangsal Pagelaran, di sisi timur terdapat rumah Tinggal, di sisi selatan ada Regol Brajanala, dan di sisi barat berbatasan dengan Kompleks Pracimasana. Siti Hinggil (Sitinggil) berarti ‘tanah yang ditinggikan’ memiliki fungsi agar dapat terlihat dan melihat. Nama lain dari Siti Hinggil ini adalah Siti Bentar atau Siti Luhur. Ketinggian permukaan tanah di halaman Siti Hinggil di Kraton Yogyakarta berada pada 2,85 m dari tanah dasar yang dicapai melalui tangga di sisi utara dan selatan halaman. Denah halaman berbentuk segi empat dengan sisi arah utara–selatan 77 m dan sisi arah timur–barat 88 m, diberi pagar keliling tinggi 2,40 m, dengan pagar sisi depan (utara) dibuat berlubang-lubang yang dinamakan pagar trancangan yang berfungsi untuk melihat kompleks Pagelaran serta Alun-Alun Lor dan sebaliknya. Di halaman Siti Hinggil, terdapat delapan bangunan dan sebuah struktur yang diurutkan berdasarkan hierarki fungsi bangunan, yakni sebagai berikut.


63 SENARAI TINGGALAN ZAMAN #1 CAGAR BUDAYA PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA EDISI PENDIDIKAN DAN PERJUANGAN 1. Bangsal Siti Hinggil Bangsal Siti Hinggil berada di sisi selatan Tarub Agung menghadap utara. Fungsi Bangsal Siti Hinggil yaitu sebagai tempat para pangeran dan tamu-tamu sultan duduk pada saat diselenggarakan upacara-upacara kebesaran. Di tempat ini, sultan hanya hadir tiga kali dalam setahun, yakni pada saat Pisowanan Ageng, Garebeg Maulud, Garebeg Sawal, dan Garebeg Besar. SIti Hinggil juga hanya digunakan untuk acara yang sangat khusus seperti saat penobatan sultan dan penobatan putra mahkota atau Pangeran Adipati Anom. 6 2 1 4 5 5 3b 3a Kompleks Siti Hinggil: (1) Tratang Siti Hinggil (terdapat Bangsal Manguntur Tangkil di dalamnya); (2) Bangsal Witana; (3a) Bale Angun-Angun; (3b) Bale Bang; (4) Tarub Agung; (5) Bangsal Kori barat dan timur; (6) Renteng Mentog Baturana Sumber: Citra satelit Googleearth tanggal 15.8.2019 Bangsal Siti Hinggil dan Tarub Agung dari halaman Kompleks Pagelaran Sumber: Dinas Kebudayaan DIY (2019: 93)


CAGAR BUDAYA FASILITAS PENDIDIKAN SENARAI TINGGALAN ZAMAN #1 CAGAR BUDAYA PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA EDISI PENDIDIKAN DAN PERJUANGAN 64 Bangsal Siti Hinggil atau Sitihinggil memiliki atap bentuk Kampung Dara Gepak. Atap bangunan bersusun dua: bagian atas bentuk kampung dan bagian bawah berbentuk limasan. Konstruksi atap terdiri atas balok kayu dan besi dengan bahan penutup atap terbuat dari lei. Denah bangsal tersebut persegi panjang dengan ukuran 18,61 m x 22,25 m yang diapit oleh bangsal beratap kampung dengan bahan penutup lei berukuran 39,35 m x 5,30 m di sisi timur dan barat. Bangsal ini mengapit pula Bangsal Witana yang terletak bergandeng di selatan dengan Bangsal Siti Hinggil. Bangsal Siti Hinggil dan kedua bangsal memanjang yang mengapitnya memiliki plafon eternit dan disangga oleh 34 tiang besi penampang bulat, permukaan beralur dicat hijau dengan ornamen pada bagian kepala (bentuk korintia), tengah, dan bawah. Lantainya berupa tegel teraso berukuran 20 cm x 20 cm. Di masing-masing sisi terluar bangsal memanjang yang mengapit Bangsal Siti Hinggil, terdapat tambahan atap emper dengan penutup atap dari bahan seng. Atap disangga oleh 8 tiang besi dengan konsol besi berukir. Ukuran denah bagian masing-masing emper yakni 39,35 m x 4 m dengan permukaan lantai tegel teraso 30 cm x 30 cm. Bangsal Siti Hinggil Sumber: Dinas Kebudayaan DIY (2019: 95) Pada bagian spandrel (bidang yang membentuk area segitiga di sisi atas ujung struktur lengkung/arch) fasad Bangsal dan Tratag Siti Hinggil, terdapat ornamen kronogram berupa angka tahun pemugaran bangunan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono VIII. Kronogram tersebut berupa candra sangkala memet: Pandhita Cakra Naga Wani (angka tahun 1857 Jawa) pada permukaan sisi luar (utara) dan surya sangkala memet: Gana Asta Kembang Lata (angka tahun 1926 Masehi) yang terukir pada permukaan sisi dalam (selatan).


65 SENARAI TINGGALAN ZAMAN #1 CAGAR BUDAYA PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA EDISI PENDIDIKAN DAN PERJUANGAN 2. Bangsal Manguntur Tangkil Bangunan ini merupakan tempat singgasana sultan pada saat penobatan (upacara Jumenengan) atau pada saat keraton menyelenggarakan upacara Pisowanan, Garebeg Dal, dan sebagainya. Bentuk arsitektur adalah Limasan Apitan (di dalam naskah Kawruh Kalang, bentuk Limasan Apitan disebut juga Limasan Jebengan) dengan ukuran luas 48 m2. Bentuk atap bangunan ini dapat disebut juga sebagai Joglo Jubungan karena Bangsal Manguntur Tangkil mempunyai derajat yang sangat tinggi sebagai tempat singgasana sultan saat upacara kebesaran. Karenanya, tipe atap Bangsal Manguntur Tangkil ini tidak bisa disamakan dengan bangsal-bangsal lainnya yang berbentuk Limasan Jebengan (Limasan Apitan). Bangunan ini merupakan salah satu bangunan yang penting sebagai tempat sultan melakukan meditasi. Titik pandang sultan pada saat meditasi terpusat pada puncak tugu, sehingga pandangan sultan dari Bangsal Manguntur Tangkil hingga tugu tidak boleh terhalang. Pada bagian tiang di bangsal ini memiliki pula ornamen dan ragam hias khusus berupa: Saton, Praban, Sorotan, Putri Mirong, dan Tlacapan. Khusus bentuk ornamen Praban dan Putri Mirong, hanya terdapat pada ruang-ruang di dalam lingkungan Kraton Yogyakarta tempat di mana sultan berada di bangunan tersebut. Oleh karenanya, kedua bentuk ornamen tersebut merupakan ornamen awisan (larangan) yang tidak boleh ditiru bangunan-bangunan lain baik di luar maupun di dalam keraton yang bukan merupakan tempat sultan berada. Bangsal Manguntur Tangkil dari arah timur laut Sumber: Dinas Kebudayaan DIY


CAGAR BUDAYA FASILITAS PENDIDIKAN SENARAI TINGGALAN ZAMAN #1 CAGAR BUDAYA PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA EDISI PENDIDIKAN DAN PERJUANGAN 66 3. Bangsal Witana Bangsal Witana bergandeng di sebelah selatan Bangsal Siti Hinggil. Bangsal ini berdenah bujur sangkar ukuran 18 m x 18 m, berukuran luas 295 m2 dengan bentuk arsitektur Tajug Lawakan Lambang Gantung. Bangunan ini berdenah bujur sangkar dengan keempat sudut atap bangunan bertemu pada satu titik yang menjadi letak mustaka (makutha). Permukaan lantai lebih tinggi 35 cm dari lantai Bangsal Siti Hinggil. Saka guru berada pada lantai yang lebih tinggi (55 cm) dari lantai di bawah penanggap. Lantai di bawah brunjung yang lebih tinggi ini disebut jrambah, sedang lantai di bawah penanggap yang lebih rendah disebut jogan. Bagian Jrambah ini merupakan permukaan lantai tertinggi di Kraton Yogyakarta. Bangsal Witana berfungsi sebagai tempat meletakkan pusaka keraton (seperti Tombak Kangjeng Kyai Ageng Plèrèd dan Kangjeng Kyai Ageng Baru, Cambuk Kangjeng Kyai Pamuk, dan sebagainya) pada saat upacara Jumenengan sultan atau pada waktu upacara Garebeg tahun Dal (pada zaman dahulu). Bangunan ini direnovasi oleh Sri Sultan Hamengku Buwono VIII pada tahun 1855 Jawa yang ditandai dengan candra sangkala: Tinata Pirantining Madya Witana atau pada tahun 1925 M dengan surya sangkala: Linungit Kembar Gatraning Ron. Kedua kronogram ini tercantum di dalam dua prasasti yang dipasang berdampingan di dinding jrambah sisi selatan Bangsal Witana. Bangsal Witana dari arah tenggara Sumber: Dinas Kebudayaan DIY (2019: 98)


67 SENARAI TINGGALAN ZAMAN #1 CAGAR BUDAYA PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA EDISI PENDIDIKAN DAN PERJUANGAN 4. Tarub Agung Bangunan Tarub Agung berada pada ujung atas tangga naik ke Siti Hinggil, berdenah persegi panjang ukuran 6 m (utara–selatan) x 6,5 m (timur–barat) dengan ukuran luas 67,5 m2. Memiliki konstruksi atap limasan dengan penutup atap berupa sirap berbahan metal disertai plafon eternit serta lisplang kayu berornamen rete-rete yang disangga oleh empat tiang besi. Bangunan ini berfungsi sebagai tempat para tamu sultan menunggu rombongan sebelum bersamaan masuk ke kraton. Bale Bang (timur) Sumber: Dinas Kebudayaan DIY (2019: 108) Bale Angun-Angun (barat) Sumber: Dinas Kebudayaan DIY (2019:108) Tarub Agung dari arah barat Sumber: Dinas Kebudayaan DIY (2019: 93) 5. Balé Bang dan Balé Angun-Angun Kedua bangunan ini mempunyai bentuk dan arsitektur yang sama, masingmasing terletak berhadapan dan berada di sisi timur dan barat Bangsal Siti Hinggil– Bangsal Witana. Bangunan yang terdapat di sebelah timur Siti Hinggil (Balé Bang) dahulu difungsikan untuk menyimpan Gamelan Sekatèn dengan luas bangunan 282 m2. Adapun bangunan sebelah barat Siti Hinggil (Balé Angun-Angun) berukuran luas 282 m2 yang konon dahulu digunakan untuk menyimpan tombak pusaka Kanjêng Kyai Sura AngunAngun (bangunan ini disebut pula sebagai Balé Mangu).


CAGAR BUDAYA FASILITAS PENDIDIKAN SENARAI TINGGALAN ZAMAN #1 CAGAR BUDAYA PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA EDISI PENDIDIKAN DAN PERJUANGAN 68 6. Bangsal Kori Barat dan Timur Di kanan-kiri ujung tangga sebelah atas, terdapat dua bangunan kecil beratap limasan jebengan yang disangga delapan buah tiang. Masing-masing berdenah persegi panjang dengan ukuran 7 m x 4 m dengan luas masing-masing 34 m2 serta peninggian lantai 30 cm dari permukaan tanah. Dahulu, bangunan ini berfungsi sebagai tempat untuk penjagaan Abdi Dalem Gandhèk rèh Kawedanan Gedhong Tengen dan Kawedanan Gedhong Kiwa, kemudian berubah menjadi pacaosan (tempat untuk jaga) Abdi Dalem Penongsong. Abdi Dalem Kori mempunyai tugas untuk menyampaikan permohonan rakyat kepada Sri Sultan. Petugas ini selalu mengawasi ke arah alun-alun utara apabila di sana ada seorang atau beberapa orang yang akan menyampaikan pengaduan dan mohon keadilan kepada Sri Sultan. Fungsi inilah yang menyebabkan bentuk pagar Siti Hinggil sisi utara dibuat trancangan. Bangsal Kori sisi barat Sumber: Dinas Kebudayaan DIY (2019: 94) Bangsal Kori sisi timur Sumber: Dinas Kebudayaan DIY (2019: 94) 7. Renteng Mentog Baturana Struktur ini dikenal juga dengan nama Kelir Renteng Baturana, Gapura Buntu, atau Kori Renteng. Struktur ini berupa tembok kelir di jalan masuk menuju Siti Hinggil dari selatan. Struktur tembok kelir berada di belakang Bangsal Witana, membujur arah timur-barat yang memiliki tinggi sampai puncak pediment (bentuk bidang segitiga) 15 m. Di sebelah selatan struktur tembok ini, terdapat tangga simetris arah barat dan timur. Kedua tangga tersebut bertemu di bawah pada pelataran berbentuk persegi dengan luas 6 m2 tepat di tengah-tengah Baturana. Luas seluruh komponen struktur tembok kelir serta struktur tangga 180 m2. Sisi selatan tangga dibatasi dengan pagar trancangan (dinding pagar berlubang). Jalurnya, dari pelataran ini ke arah selatan, melalui tiga buah anak tangga menuju suatu perempatan jalan ke arah timur–barat kemudian belok ke utara (menyerupai bentuk


69 SENARAI TINGGALAN ZAMAN #1 CAGAR BUDAYA PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA EDISI PENDIDIKAN DAN PERJUANGAN huruf “U”) menyusuri pagar Siti Hinggil, yang disebut Pamengkang (Supit Urang). Pada awalnya, ujung Pamengkang ini tepat di selatan kedua Bangsal Pamandengan. Kondisi ujung Pamengkang sisi barat saat ini tertutup oleh bangunan Pracimasana, sedang ujung sisi timur tertutup oleh bangunan garasi eks UGM. Renteng Mentog Baturana dari arah selatan Sumber: Dinas Kebudayaan DIY (2019: 109) Siti Hinggil merupakan bagian dari Kraton Yogyakarta yang berupa komponen yang dibangun pada masa Sri Sultan Hamengku Buwana I. Kompleks Siti Hinggil berada pada dua lokasi, yaitu di bagian utara yang disebut Siti Hinggil Lor dan di bagan selatan disebut Siti Hinggil Kidul. Pada tahun 1956, bangunan Siti Hinggil Kidul diganti dengan bangunan baru yang bernama Sasana Hinggil Dwi Abad untuk memperingati 200 tahun berdirinya Kraton Yogyakarta. Siti Hinggil merupakan area yang sakral karena digunakan untuk prosesi Jumenengan Sultan dan Miyos Sinewaka Sultan pada Upacara Garebeg. Miyos Sinewaka merupakan prosesi yang sarat makna filosofis dan sakral, yakni saat Sri Sultan berkenan keluar dari Kedhaton menuju Siti Hinggil. Prosesi Miyos Sinewaka terakhir dilakukan pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwana IX. Meskipun merupakan area yang sakral, Siti Hinggil pernah dibuka untuk perkuliahan UGM. Pada tanggal 20 Mei 1946, diadakan rapat Panitia Perguruan Tinggi di Pendopo Kepatihan Yogyakarta yang dipimpin oleh Prof. Dr. Soetopo dan dihadiri oleh Sri Sultan Hamengku Buwono IX, Prof. Dr. Prijono, Prof. Dr. Sardjito, Prof. Ir. Wreksodiningrat, Prof. Ir. Harjono, Prof. Sugardo, Wakil Kementerian Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan, dan sebagai ahli keuangan Slamet Soetikno, S.H. Rapat tersebut menghasilkan keputusan disetujuinya pendirian Perguruan Tinggi Federal. Sri Sultan Hamengku Buwono IX memberi bantuan yang sangat banyak untuk proses pelaksanaan rencana pendirian Perguruan Tinggi tersebut terutama dalam hal gedung pelaksanaan. Sri Sultan Hamengku Buwono IX memberi izin bahwa Siti Hinggil dan Pagelaran difungsikan sebagai aula dan ruang-ruang kuliah juga kantor Fakultas Hukum, Sosial-Politik, dan Ekonomi. Pada tahun


CAGAR BUDAYA FASILITAS PENDIDIKAN SENARAI TINGGALAN ZAMAN #1 CAGAR BUDAYA PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA EDISI PENDIDIKAN DAN PERJUANGAN 70 Suasana Perkuliahan Mahasiswa UGM Tahun 1949-1973 Koleksi Arsip UGM Peristiwa pelantikan Soekarno sebagai Presiden Republik Indonesia Serikat di Bangsal Manguntur Tangkil pada 27 Desember 1946 Sumber: IPPHOS/Antara Foto 1949, di halaman kompleks bangunan Siti Hinggil, terdapat tambahan bangunan berupa dua gedung di sudut tenggara dan barat daya yang digunakan untuk kantor administrasi dan Rektorat Universiteit Gadjah Mada dari tahun 1949 sampai 1973 atas izin Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Selain menjadi tempat perkuliahan, Bangsal Siti Hinggil dan Bangsal Manguntur Tangkil pernah digunakan untuk upacara pelantikan Soekarno menjadi Presiden Republik Indonesia Serikat pada tanggal 17 Desember 1949. Kondisi fisik bangunan Siti Hinggil Lor sampai saat ini terawat baik dan masih mempertahankan keberlangsungan fungsi sebagai tempat aktivitas upacara-upacara periodik yang dilakukan oleh Kraton Yogyakarta. Dalam Surat Keputusan Gubernur DIY Nomor 220/KEP/2020, dinyatakan bahwa Kompleks Bangunan Siti Hinggil Kraton Yogyakarta memenuhi kriteria sebagai Bangunan Cagar Budaya karena Kompleks Siti Hinggil dibangun pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwana I (1755–1792). Bangunan Siti Hinggil ini juga menunjukkan gaya arsitektur bangunan tradisional Jawa Yogyakarta yang masih lestari sampai saat ini. Apabila melihat sisi sejarah bangunan, Siti Hinggil pernah berfungsi menjadi tempat perkuliahan perguruan tinggi negeri pertama di Indonesia, kemudian juga menjadi tempat pelantikan Presiden Republik Indonesia Serikat tanggal 17 Desember 1949.


71 SENARAI TINGGALAN ZAMAN #1 CAGAR BUDAYA PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA EDISI PENDIDIKAN DAN PERJUANGAN Selain itu, Siti Hinggil merupakan bukti karya arsitektur bangunan yang memiliki makna, teknik konstruksi, dan filosofi yang luhur. Wujud dan tata letak kompleks bangunan ini menunjukkan hasil karya budaya tradisional Jawa dengan sistem pengetahuan rancang bangunnya yang didasarkan pada nilainilai budaya lokal Yogyakarta dengan perpaduan gaya arsitektur tradisional Jawa dan Eropa sehingga bangunan cagar budaya Siti Hinggil dapat menjadi referensi bidang ilmu arsitektur, sejarah, arkeologi, teknik bangunan, dan seni. Kompleks Bangunan Siti Hinggil Kraton Yogyakarta juga termasuk dalam Peringkat Provinsi karena merupakan salah satu atribut dalam Kawasan Cagar Budaya Kraton Yogyakarta yang merupakan Kawasan Cagar Budaya lintas wilayah kabupaten/kota. Siti Hinggil menjadi bangunan yang memiliki karya kreatif yang khas di DIY karena menjadi kelengkapan Kraton Yogyakarta yang berkaitan dengan representasi dari karya adiluhung Sultan Hamengku Buwana I. Keunikan Siti Hinggil terdapat pada rancangannya karena rancang bangun bangunannya menggunakan konsep kawruh kalang (kawruh kambeng), terdapat bangunan yang memayungi bangunan lain, dan secara lokasional, dibangun di atas lahan yang dibuat tinggi, serta sedikit jumlahnya karena satu-satunya di wilayah DIY. Surat keputusan tersebut juga menyatakan bahwa nilai penting yang terkandung dalam Bangunan Cagar Budaya Siti Hinggil Kraton Yogyakarta adalah kompleks bangunan yang dirancang dengan konsep filosofi luhur sebagai tempat sultan menunjukkan kekuasaan (Upacara Jumenengan, meditasi, Miyos Sinewaka pada upacara Garebeg dan upacara kerajaan yang lain). Daftar Bacaan » Dinas Kebudayaan DIY. 2019. Kraton Yogyakarta Pusat Budaya Jawa, (Penulis: Yuwono Sri Suwito). Yogyakarta: Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY.


CAGAR BUDAYA FASILITAS PENDIDIKAN SENARAI TINGGALAN ZAMAN #1 CAGAR BUDAYA PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA EDISI PENDIDIKAN DAN PERJUANGAN 72


73 SENARAI TINGGALAN ZAMAN #1 CAGAR BUDAYA PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA EDISI PENDIDIKAN DAN PERJUANGAN Kondisi awal Gedung Pusat UGM tampak sisi selatan, 1 Januari 1960 Sumber: Arsip Universitas Gadjah Mada No. AF.IP.IG.1960.1A W


CAGAR BUDAYA FASILITAS PENDIDIKAN SENARAI TINGGALAN ZAMAN #1 CAGAR BUDAYA PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA EDISI PENDIDIKAN DAN PERJUANGAN 74 GEDUNG PUSAT UNIVERSITAS GADJAH MADA » Penetapan status Bangunan Cagar Budaya: Keputusan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 349/KEP/2012 Tentang Penetapan Bangunan Cagar Budaya. » Penetapan status Bangunan Cagar Budaya: Keputusan Bupati Sleman Nomor 79.20/ Kep.KDH/A/2021 Tentang Status Cagar Budaya Kabupaten Sleman Tahun 2021 Tahap XX. » Penetapan status Situs Cagar Budaya: Keputusan Bupati Sleman Nomor 80.9/Kep. KDH/A/2021 Tentang Status Cagar Budaya Kabupaten Sleman Tahun 2021 Tahap XXII. » Penetapan status Pemeringkatan Bangunan Cagar Budaya: Keputusan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 333/KEP/2022 Tentang Penetapan Bangunan Cagar Budaya Gedung Pusat Universitas Gadjah Mada sebagai Bangunan Cagar Budaya Peringkat Provinsi. Bangunan Cagar Budaya Gedung Pusat Universitas Gadjah Mada merupakan kantor akademik dan aktivitas administrasi serta pengelola universitas. Nama awal saat bangunan ini dirancang dan didirikan adalah Kantor Pusat Tata Usaha Universitas Gadjah Mada (KPTU UGM). Pada perkembangannya kemudian, gedung ini lebih dikenal dengan nama Gedung Pusat UGM. Bangunan ini merupakan bagian utama dari zona pusat Universitas Gadjah Mada yang terdiri atas: (1) Arboretum, (2) Gedung Pusat, (3) Gedung Perpustakaan, (4) Gedung Grha Sabha Permana, dan (5) Lapangan Pancasila. Pola ruang zona pusat tersebut dibatasi oleh Jalan Kaliurang di barat, Jalan Bhinneka Tunggal Ika di selatan, Jalan Nusantara di utara, dan Jalan Agro di utara. Zona pusat, bulevar, dan bundaran ditata linear dalam satu garis sumbu. Konsep penataan tersebut meniru garis Poros Imajiner Kraton Yogyakarta. Muka bangunan sekaligus orientasi gedung ke arah utara menghadap Gunung Merapi. Arah hadap tersebut diilhami dari filosofi Tri Hitta Karana (parahyangan di utara, pawongan di tengah, dan palemahan di selatan) yang diadopsi daritata letak Kraton Yogyakarta. Namun, mempertimbangkan posisi keletakannya, agar tidak terkesan membelakangi Keraton Yogyakarta yang


75 SENARAI TINGGALAN ZAMAN #1 CAGAR BUDAYA PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA EDISI PENDIDIKAN DAN PERJUANGAN berada di bagian selatan, maka jalan utama menuju Gedung Pusat tidak dibuat di muka bangunan yang menghadap utara. Justru jalan utama menuju bangunan ini terdapat dari sebelah selatan (bagian belakang bangunan) yang kemudian dikenal sebagai boulevard (bulevar) Kampus UGM. Denah bangunan Gedung Pusat berbentuk empat persegi, panjang, memanjang dari arah timur ke barat dengan arah hadap bangunan ke utara dan selatan, bagian tengah berupa area terbuka yang merupakan halaman dalam. Bagian depan atau bangunan utama berada di bangunan sebelah utara menghadap ke arah utara. Bangunan sisi utara inilah yang memberikan ciri khas bangunan Gedung Pusat UGM. Gedung terdiri atas empat unit bangunan, yaitu: (1) Bangunan Utara dan (2) Bangunan Selatan yang memiliki kemiripan bentuk dan denah yang masing-masing terdiri atas tiga lantai, serta (3) Bangunan Timur, dan (4) Bangunan Barat yang memiliki kesamaan bentuk dan denah yang masing-masing terdiri atas dua lantai. Kondisi awal Gedung Pusat UGM tampak sisi selatan, 1 Januari 1960 Sumber: Arsip Universitas Gadjah Mada No. AF.IP.IG.1960.1A W


CAGAR BUDAYA FASILITAS PENDIDIKAN SENARAI TINGGALAN ZAMAN #1 CAGAR BUDAYA PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA EDISI PENDIDIKAN DAN PERJUANGAN 76 Bagian selasar lantai satu Sumber: Dinas Kebudayaan DIY, 2022 Bagian selasar lantai dua Sumber: Dinas Kebudayaan DIY, 2022 Bagian selasar lantai tiga Sumber: Dinas Kebudayaan DIY, 2022 Bagian interior berupa ruang-ruang kantor yang ditata dalam beberapa sekat ruangan. Pembatas antarruangan menggunakan partisi dengan rangka kayu jati. Akses masuk ke dalam interior masing-masing dapat diakses melalui pintu ganda kombinasi panel kaca dan kayu serta jendela atas (bovenlicht) pada tiap atas ambang kusen pintu. Komponen pintu ini sekaligus berfungsi sebagai jendela, masing-masing terdapat di ketiga lantai pada tiap sisi luar (depan) dan sisi dalam (belakang) bangunan. Seluruh pintu diakses melalui langkan (selasar) yang terdapat di semua lantai pada sisi depan dan belakang masing-masing Bangunan Utara dan Bangunan Selatan. Selasar di ketiga lantai ini membentuk teras tepi luar, berfungsi sebagai koridor dan ruang luar transisi sekaligus untuk melindungi ruang dalam dari tempias air hujan dan mereduksi panas matahari masuk ke dalam ruangan. Setiap tepi selasar (kecuali lantai satu bangunan utara sisi depan/utara) dilengkapi pengaman berupa pagar terali besi dengan pegangan kayu jati. Selain ruangan-ruangan kantor, terdapat kamar mandi/toilet di tepi ujung kiri-kanan Bangunan Utara dan Bangunan Selatan yang berdampingan dengan bagian akses tangga antarlantai. Di dinding luar unit Bangunan Utara dan Bangunan Selatan, masing-masing di bagian tepi kiri dan kanan, terdapat lubang angin berupa rooster semen yang memanjang setinggi bangunan berornamen gaya Jawa Kuna (sering terdapat di bangunan candi) berbentuk figur kala dan makara yang memiliki makna sebagai simbol penolak bala. Bagian ini berfungsi untuk memberikan cahaya dan sirkulasi udara pada setiap ruang tangga yang berada di keempat pojok (timur laut-tenggara-barat laut-barat daya) di keseluruhan bangunan Gedung Pusat. Bagian bawah Bangunan Utara dan Bangunan Selatan ditinggikan sekitar 1,5 m dari permukaan tanah sehingga tampak seperti dinding. Dinding struktur fondasi tersebut dilapisi kerikil yang ditempelkan pada permukaan. Di bagian belakang Bangunan Utara


77 SENARAI TINGGALAN ZAMAN #1 CAGAR BUDAYA PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA EDISI PENDIDIKAN DAN PERJUANGAN dan Bangunan Selatan (sisi menghadap halaman dalam) masing-masing di kedua ujung barat dan timur, terdapat tangga tepat di bawah kolong Bangunan Timur dan Bangunan Barat. Lantai dasar dicapai melalui tangga yang terbuat dari pasangan bata yang dilapisi tegel semen. Penutup lantai menggunakan tegel semen tipe kepala basah merek “Kunci” warna abu-abu polos dikombinasi dengan warna hitam polos. Khusus di ruang Balai Senat, penutup lantai menggunakan kayu jati. Detail Ornamen Kala-Makara Sumber: Gedung Pusat UGM, Filosofi dan Konsep (2013: 20) Tampak depan (sisi utara) unit Bangunan Utara Gedung Pusat UGM Sumber: Direktorat Aset UGM, 2022 Area terbuka di bagian tengah gedung pusat merupakan taman, sirkulasi jalan, dan bangunan bawah tanah. Persis di bagian tengah halaman dalam, terdapat bangunan berupa ground reservoir atau pusat pengendali air yang berada persis di bagian tengah di antara taman. Pada perkembangan berikutnya, ditambah bangunan bawah tanah yang lain berupa ruang sentral AC yang berada di sebelah timur ruang kerja pusat pengendali air. Berikut keempat unit dalam Bangunan Cagar Budaya Gedung Pusat UGM. 1. Bangunan Utara Bangunan ini merupakan fasad dari keseluruhan Gedung Pusat Universitas Gadjah Mada. Bangunan terdiri atas 3 segmen: bagian tengah diapit dengan segmen barat dan timur. Segmen tengah hanya terdiri atas 2 lantai: lantai dasar berupa ruangan balairung dan lantai tepat di atasnya berupa ruang Balai Senat. Mengapit segmen tengah di bagian samping kiri dan kanan memanjang barat-timur terdiri atas tiga lantai yang digunakan untuk ruang-ruang kantor.


CAGAR BUDAYA FASILITAS PENDIDIKAN SENARAI TINGGALAN ZAMAN #1 CAGAR BUDAYA PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA EDISI PENDIDIKAN DAN PERJUANGAN 78 Atap berbentuk limasan yang mengapit atap tajuk yang hanya terdapat pada bagian tengah. Pada puncak atap, terdapat hiasan puncak (mustoko) yang sekaligus berfungsi penangkal petir. Kerangka atap berupa kuda-kuda dari kayu jati. Bagian tepi atap dipasang talang keliling yang dihubungkan kepada pipa pada pilar bangunan untuk disalurkan langsung ke instalasi saluran air hujan di lingkungan gedung. Pada muka bangunan (sisi utara) di bagian tengah, terdapat akses masuk menuju balairung berupa tujuh lengkungan yang menyangga delapan kolom beton silinder di atasnya (di lantai dua). Balairung adalah aula terbuka yang terdapat 18 kolom silinder. Kolom tersebut dilapisi dengan bahan teraso dengan kepala kolom (capital) berbentuk seperti cendawan. Sisi barat dan timur ruang balairung berupa ruang-ruang kantor dengan fasad deretan pintu berbentuk persegi panjang. Daun pintu ganda berupa kombinasi panil kaca dan kayu. Akses masuk dari arah depan (sisi utara) melalui sembilan anak tangga dari batu andesit hitam yang menuju bukaan berupa tujuh lengkung. Balairung pada awalnya digunakan sebagai aula sekaligus tempat upacara wisuda mahasiswa sebelum dipindah ke gedung Purna Budaya kemudian beralih ke gedung Grha Sabha Pramana yang dibangun pada masa kemudian. Tepat di bagian lantai atas ruang balairung, terdapat ruang Balai Senat. Akses antara balairung ke Balai Senat dicapai melalui tangga utama di bagian tengah sisi selatan ruang Balairung. Plafon Balai Senat dibuat melengkung dan pada sisi tepi kiri-kanan dan terdapat drop ceiling terbuat dari teak block. Sketsa interior Balairung Gedung Pusat UGM Sumber: Koleksi Djoko Luknanto, diperoleh https://luk. staff.ugm.ac.id/UGM/gedung/Balairung.jpg Sketsa interior Balai Senat Gedung Pusat UGM Sumber: Koleksi Djoko Luknanto diperoleh dari https://luk.staff.ugm. ac.id/UGM/gedung/BalaiSenat.jpg Pada bagian bawah bangunan di belakang (sisi selatan), terdapat empat tangga masing-masing berada di ujung kiri dan kanan bangunan serta dua tangga di tepi bagian segmen tengah (belakang balairung). Tepat di bawah ruang balairung, terdapat ruang bawah permukaan tanah (basement) yang diakses melalui tangga turun di sisi belakang bangunan (sisi selatan) dari halaman tengah. Bagian ini dilengkapi empat jendela kecil masing-masing berada di kiri dan kanan tangga turun.


79 SENARAI TINGGALAN ZAMAN #1 CAGAR BUDAYA PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA EDISI PENDIDIKAN DAN PERJUANGAN 2. Bangunan Selatan Memiliki kemiripan bentuk dengan Bangunan Utara terdiri atas tiga segmen, tetapi bangunan ini hanya memiliki atap limasan dengan arah hadap fasad ke arah selatan. Bangunan ini terdiri atas tiga segmen berupa ruang-ruang perkantoran di semua lantai yang masing-masing segmen dibatasi oleh tangga. Akses masuk menuju lantai dasar berupa dua tangga berada di sisi depan (selatan) dan tiga tangga di sisi belakang (utara/ dari halaman dalam) yang berada di kedua ujung dan bagian tengah bangunan yang masing-masing terdapat kanopi pelat beton menonjol ke luar. Di atas kedua kanopi tangga ini, terdapat bidang dinding vertikal dengan komposisi jendela kaca bentuk segi empat memanjang ke atas yang memperlihatkan kesan bentuk menyerupai dua menara. Fasad ini mengesankan pengaruh bentuk eksterior bangunan gaya arsitektur Indis. Di antara kedua tangga tersebut, terdapat beranda lantai dasar yang menyerupai balkon. Di bawah balkon, semula merupakan ruang terbuka menghadap selatan untuk tempat parkir sepeda yang saat ini ditutup dengan sekat nonpermanen dan dilengkapi pintu serta jendela. Di bangunan selatan ini, terlihat bekas penggunaan bekisting anyaman bambu dalam teknik pengecoran pelat beton lantai dua dan lantai tiga. Saat ini, bagian tersebut tertutup asbes sebagai penutup instalasi listrik dan unit alat pendingin ruangan (air conditioner) yang terpasang di langit-langit. Selain bentuk atap, bentuk dan posisi tangga, serta denah ruang segmen bagian tengah, bangunan ini memiliki kesamaan dengan Bangunan Utara baik dalam tata ruang, komponen bukaan, maupun penutup lantainya. Tampak depan(sisi selatan) unit Bangunan Selatan Gedung Pusat UGM Sumber: Direktorat Aset UGM, 2022 3. Bangunan Barat dan Bangunan Timur Bangunan ini berfungsi sebagai penghubung antara Bangunan Utara dan Bangunan Selatan yang berada tepat di bagian tepi (ujung sisi timur dan barat). Kedua bangunan yang berada di timur dan barat ini memiliki bentuk, denah, ukuran, dan komponen kelengkapan yang sama satu sama lain. Kedua bentuk bangunan terlihat menyerupai rumah panggung, bagian atap berupa pelana berorientasi utara-selatan dengan ketinggian bubungan atap lebih rendah dari Bangunan Utara dan Bangunan Selatan.


CAGAR BUDAYA FASILITAS PENDIDIKAN SENARAI TINGGALAN ZAMAN #1 CAGAR BUDAYA PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA EDISI PENDIDIKAN DAN PERJUANGAN 80 Keletakan bangunan melintang utara-selatan memiliki denah persegi panjang terdiri atas tiga lantai. Masing-masing lantai satu di Bangunan Timur dan Bangunan Barat berupa ruang terbuka tanpa dinding terdapat 44 kolom beton yang menopang ruang perkantoran dua lantai di atasnya. Masing-masing bangunan menghadap ke halaman dalam (arah barat dan timur) di lantai dua dan tiga yang dilengkapi deretan jendela di sisi luar berbentuk memanjang. Pada sisi muka bangunan (menghadap halaman dalam) di lantai dua dan lantai tiga, terdapat koridor dengan deret pintu ganda panel kayu kombinasi kaca berikut jendela atas (bovenlicht) sebagai akses masuk menuju ruangan. Tampak sisi luar unit Bangunan Barat Gedung Pusat UGM Sumber: Direktorat Aset UGM, 2022 Tampak sisi luar unit Bangunan Timur Gedung Pusat UGM Sumber: Direktorat Aset UGM, 2022 Elevasi lantai Bangunan Barat dan Bangunan Timur lebih rendah dari lantai Bangunan Utara dan Bangunan Selatan yang dicapai melalui sembilan anak tangga. Hal ini menunjukkan hierarki fungsi bahwa bangunan samping ini ditujukan untuk mendukung kegiatan-kegiatan yang ada di bangunan utama. Secara keseluruhan, Bangunan Cagar Budaya ini merupakan gedung utama sekaligus yang mula-mula dibangun untuk Universitas Gadjah Mada sebagai universitas negeri pertama yang didirikan oleh Republik Indonesia. Sejak diresmikan pada 19 Desember 1949, kegiatan Universitas Gadjah Mada diselenggarakan di beberapa tempat terpisah terutama menggunakan bagian Bangsal Pagelaran dan Siti Hinggil dalam kompleks Kraton Yogyakarta, beberapa bangunan dalem di sekitar keraton (Wijilan dan Ngasem), serta bangunan sekolah di Jetis. Menurut Lembaran Negara RI No. 44/1955 tanggal 11 Juli 1955, nama Universiteit Negeri Gadjah Mada berganti nama menjadi Universitas Gadjah Mada dan mulai diundangkan sejak 21 Juli 1955.


81 SENARAI TINGGALAN ZAMAN #1 CAGAR BUDAYA PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA EDISI PENDIDIKAN DAN PERJUANGAN Seiring perkembangan kegiatan universitas dan penambahan mahasiswa, tempattempat tersebut tidak memadai. Kendala ini disampaikan dalam laporan tahunan pertama Universitas Gadjah Mada oleh presiden universitas (kini jabatan rektor) dalam upacara Dies Natalis pertama tanggal 19 Desember 1950 di hadapan Wakil Presiden Mohammad Hatta. Segera setelahnya, wakil presiden, dewan kurator, dan pengurus senat berunding untuk merencanakan pembelian tanah dan pendirian gedung-gedung universitas. Hasilnya tercantum dalam surat wakil presiden RI tanggal 30 Desember 1950 bahwa Universitas Gadjah Mada dianggarkan akan menerima dana sebesar Rp15.000.000 (lima belas juta rupiah) yang dibagi dalam dua tahun untuk pembelian tanah seluas 100 ha yang terletak di wilayah utara Kota Yogyakarta (daerah Bulaksumur). Kemudian, pada 1951, tiga kementerian saat itu (Kementerian Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan; Kementerian Pekerjaan Umum dan Tenaga Kerja; serta Kementerian Keuangan) menyediakan dana Rp5.000.000 (lima juta rupiah) untuk pembelian tanah. Selanjutnya, dibentuk panitia penaksiran harga tanah oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Sleman pada tanggal 9 Juli 1951. Panitia tersebut terdiri atas 12 orang yang diketuai oleh K.R.T. Honggowongso dari wakil pemerintah daerah. Berhasil terbeli 85 ha dari rencana semula 100 ha yang terletak di wilayah Bulaksumur. Sampai dengan 12 Oktober 1951, telah diselesaikan pembelian 94 ha lahan. Setelah kepastian tanah akan terbeli, Kementerian Pekerjaan Umum dan Tenaga Kerja Bagian Jawatan Gedung-Gedung di bawah Insinyur Praktik Soetardjo dan Insinyur Praktik Hadinegoro membuat rancangan dan gambar proyek untuk pelaksanaan pekerjaan pembangunan gedung-gedung. Dalam pekerjaan selanjutnya, pembangunan pengembangan gedung mendapat bantuan dari Kantor Planologi yang diwakili oleh Prof. Poerbodiningrat dan Insinyur Praktik Djojosoegardo. Bantuan tersebut merupakan perwujudan dari bantuan Yayasan Guna Dharma (yayasan yang menyiapkan pembangunan asrama mahasiswa) yang dipimpin oleh Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Pembangunan yang didahulukan adalah gedung pusat untuk aktivitas tata usaha atau administrasi universitas. Peletakan batu pertama dilakukan oleh Presiden Soekarno pada tanggal 19 Desember 1951 bertepatan dengan Dies Natalis kedua Universitas Gadjah Mada. Pembangunan gedung dikerjakan oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Tenaga Kerja yang sekaligus menjadi gedung yang pertama kali dibangun oleh Pemerintah RI. Berdasarkan kontrak, pembangunan gedung selesai pada tanggal 1 Februari 1955. Biaya pembangunan awal sebesar Rp16.500.000 (enam belas juta lima ratus ribu rupiah). Pada tahun 1953, diselesaikan bagian fondasi bangunan Gedung Pusat, tetapi pembangunan gedung tersebut mundur dari target yang ditentukan karena bahan yang dibutuhkan


CAGAR BUDAYA FASILITAS PENDIDIKAN SENARAI TINGGALAN ZAMAN #1 CAGAR BUDAYA PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA EDISI PENDIDIKAN DAN PERJUANGAN 82 seperti besi dan semen masih didatangkan dari luar negeri. Proses memesan dan mendatangkan material ini membutuhkan waktu yang cukup lama. Pembangunan gedung tersebut dapat terselesaikan pada akhir Desember 1957 dengan biaya yang membesar menjadi Rp34.000.000 (tiga puluh empat juta rupiah). Bangunan gedung pusat mulai digunakan sejak 19 Januari 1958. Proses pembangunan gedungnya berlangsung selama 9 tahun. Lamanya proses pembangunan dikarenakan terbatasnya tenaga ahli, juga sulitnya mendatangkan bahan baku seperti besi dan semen dari luar negeri. Setelah penggunaannya selama hampir dua tahun, kemudian pada 19 Desember 1959, bangunan gedung pusat diresmikan oleh Presiden Soekarno. Peletakan batu pertama pembangunan Gedung Pusat UGM oleh Presiden Soekarno, 19 Desember 1951 Sumber: Arsip Universitas Gajah Mada No. AF.IP.IG.1951.1A W Foto udara dari arah barat Gedung Pusat UGM saat dalam proses pembangunan, Oktober 1956 Sumber: Foto R.P.G.A. Voskuil, diperoleh dari Djokja Solo Beeld van de Vorstensteden (1999: 92) Tampak luar sisi utara Gedung Pusat UGM saat upacara peresmian 19 Desember 1959 Sumber: Arsip Universitas Gajah Mada No. AF.IP. IG.1959.1A W Peresmian Gedung Pusat UGM oleh Presiden Soekarno, 19 Desember 1959 Sumber: Arsip Universitas Gajah Mada, No. AF1/ IP.IG/1959-1B Sejak tahun 1972, ruang Balai Senat yang ada di Gedung Pusat digunakan untuk upacara peringatan Dies Natalis Universitas Gadjah Mada sekaligus untuk menandai sebagian fakultas, yakni Fakultas Hukum dan Fakultas Sosial-Politik yang dipindahkan dari keraton. Penggunaan Gedung Pusat untuk berbagai kegiatan universitas telah mengalami perubahan secara dinamis. Upacara Dies Natalis dilaksanakan di ruang Balai


83 SENARAI TINGGALAN ZAMAN #1 CAGAR BUDAYA PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA EDISI PENDIDIKAN DAN PERJUANGAN Senat sampai dengan tahun 1998. Adapun pada tahun 1999, Dies Natalies pertama kali dilaksanakan di gedung Grha Sabha Pramana. Sementara itu, ruang Balairung digunakan sebagai tempat pendaftaran mahasiswa baru sampai dengan tahun 1980-an sekaligus digunakan sebagai tempat upacara wisuda dari tahun 1986 hingga tahun 1994. Sejak digunakan dari tahun 1958 hingga saat ini, kondisi Bangunan Cagar Budaya Gedung Pusat UGM masih dalam kondisi asli dan terawat baik serta belum mengalami perubahan bentuk. Tata ruang serta komponen bangunan sebagian besar masih asli, tetapi terdapat beberapa modifikasi, di antaranya sebagai berikut. a. Pada tahun 1994, terdapat penggantian seluruh penutup atap yang semula dari atap sirap berbahan sirap kayu ulin Kalimantan setebal 5 mm–7 mm, menjadi atap genting keramik yang di bawahnya dilapisi alumunium foil. b. Pada tahun 2000, lantai ruang balairung yang semula berupa ubin teraso kemudian diganti berbahan keramik merek Ezenza ukuran 40 cm x 40 cm warna krem bermotif, dikombinasi dengan tegel warna lain sebagai ornamen, sekaligus memasang sabuk ornamen bahan kuningan bermotif naga pada pangkal pilar. Penutup lantai ruangan Balai Senat berupa kayu jati yang saat ini ditutup karpet. c. Pada tahun 2011, lantai dasar Bangunan Timur dan Bangunan Barat yang semula beton cor diganti menjadi keramik bermotif. d. Balairung saat ini digunakan sebagai tempat disemayamkannya jenazah para Guru Besar Universitas Gadjah Mada sebelum dimakamkan. e. Bagian bawah Bangunan Timur dan Bangunan Barat difungsikan sebagai tempat parkir kendaraan dosen dan karyawan serta parkir sepeda kampus. f. Pemasangan asbes untuk plafon di ruangan lantai 2 dan 3. Penambahan unit alat pendingin udara (air conditioner) di setiap ruangan serta penambahan lift di ruangan Balairung sisi barat menuju Balai Senat di lantai dua. Gedung Pusat Universitas Gadjah Mada ini dapat memenuhi kriteria sebagai Bangunan Cagar Budaya karena: a. telah berusia lebih dari lima puluh tahun sebab diresmikan pada tanggal 19 Desember 1959; b. memiliki gaya arsitektur Indis yang sudah berusia lebih dari 50 tahun serta menjadi acuan bagi bangunan-bangunan sejenis yang dibangun pada masamasa berikutnya setidaknya di wilayah DIY;


CAGAR BUDAYA FASILITAS PENDIDIKAN SENARAI TINGGALAN ZAMAN #1 CAGAR BUDAYA PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA EDISI PENDIDIKAN DAN PERJUANGAN 84 c. memiliki arti khusus bagi sejarah yang keberadaannya berperan penting dalam sejarah kemerdekaan Indonesia sekaligus menjadi salah satu simbol eksistensi Negara Kesatuan Republik Indonesia. Arti khusus bagi pendidikan sebagai bukti fisik kemandirian bangsa Indonesia untuk memiliki institusi pendidikan tingkat perguruan tinggi negeri yang dipelopori dan dikelola oleh bangsa Indonesia sendiri; d. memiliki nilai budaya bagi penguatan kepribadian bangsa yang terlihat melalui penerapan nilai-nilai filosofi pada tata letak dan komponen bangunan. Bangunan Cagar Budaya Gedung Pusat UGM mewakili karya kreatif yang khas dalam wilayah provinsi karena Konsep Gedung Pusat Universitas Gadjah Mada merupakan karya kreatif berupa gedung fasilitas pendidikan tinggi milik pemerintah Republik Indonesia yang pertama di wilayah DIY dengan gaya arsitektur Indis yang menampilkan hierarki ruang mengikuti fungsi (modern/aktivitas pendidikan tinggi) salah satunya diwujudkan dalam pemilihan bentuk atap (tradisional/tajuk) sebagai simbol ruang hierarki tertinggi. Selain itu, Gedung Pusat UGM menjadi salah satu bukti evolusi peradaban bangsa dan pertukaran budaya karena menampilkan rancangan perpaduan elemen arsitektur Eropa dan arsitektur tradisional Jawa serta menerapkan konsep filosofis Hindu, Buddha, dan Islam yang terlihat dari bentuk dan ornamen bangunan, tata ruang, serta vegetasi. Dengan demikian, Bangunan Cagar Budaya Gedung Pusat Universitas Gadjah Mada merupakan bukti fisik sejarah perkembangan pendidikan tinggi di Indonesia pascakemerdekaan yang pertama kali dibangun oleh Pemerintah RI sebagai universitas negeri. Daftar Bacaan » Bambang Purwanto, Djoko Suryo, dan Soegijanto Padmo (Ed.). 1999. Dari Revolusi ke Reformasi: 50 Tahun Universitas Gadjah Mada. » Hastangka. 2014. “Dimensi Kosmologis Gedung Pusat (Balairung) Universitas Gadjah Mada”, dalam Jurnal Filsafat Vol. 24, No. 1 Februari 2014. Hlm. 36–57. » Heri Santoso. 2019. “Nilai-Nilai Filosofis Gedung Pusat UGM dan Relevansinya bagi Pengembangan Ilmu”, dalam Khazanah: Jurnal Pengembangan Kearsipan, 2019, Vol 12(2). Hlm. 186–207. » Kota Jogjakarta 200 Tahun 7 Oktober 1756–7 Oktober 1956. 1956. PanityaPeringatan Kota Jogjakarta 200 Tahun Sub Panitya Penerbitan.


85 SENARAI TINGGALAN ZAMAN #1 CAGAR BUDAYA PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA EDISI PENDIDIKAN DAN PERJUANGAN » Laporan Tahunan Universitit Negeri Gadjah Mada Bagi Tahun Pengadjaran 1951/1952, 19 September 1952. Jogjakarta: Jajasan Fonds Universitit Negeri Gadjah Mada (Arsip UGM AS/OA.LR.02/1). » Laporan Tahunan Universitit Negeri Gadjah Mada Bagi Tahun Pengadjaran 1952/1953, 19 September 1953. Jogjakarta: Jajasan Fonds Universitit Negeri Gadjah Mada (Arsip UGM AS/OA.LR.02/2). » Laporan Tahunan Universitas Gadjah Mada bagi Tahun Pengadjaran 1957/1958 (Arsip UGM AS/OA.LR.02/7). » Nusa Dwi Atmaja. 2012. “Signifikansi Sumberdaya Arkeologi di Kampus Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta”. Skripsi. Yogyakarta: Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada. » Singgih Hawibowo, dkk. 2013. Gedung Pusat UGM, Konsep dan Filosofi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Keterangan 1. Salah satu sketsa rancangan awal Gedung Pusat UGM tampak selatan oleh arsitek Hadinegoro (Sumber: Koleksi Djoko Luknanto, diperoleh dari https://luk. staff.ugm.ac.id/UGM/Gedung /TampakSelatan.jpg) 2. Salah satu rencana awal Gedung Pusat UGM tampak halaman depan (sisi utara) terdapat kolam (Sumber: Gedung Pusat UGM Filosofi dan Konsep (2013: 11-12) 3. Gedung Pusat UGM sisi belakang (selatan) dari Jalan Pancasila, tampak deretan cemara kedua sisi jalan bulevar (Sumber: Arsip Universitas Gajah Mada No. AF.IP.IG.1960.1B W) 4. Segmen tengah Bangunan Utara (Balairung dan Balai Senat) tampak depan 5. Penangkal petir pada bagian atap kemuncak segmen tengah Bangunan Utara 6. Segmen tengah Bangunan Utara sisi belakang/selatan tampak dari halaman dalam 7. Bagian kanopi pada Bangunan Selatan, sisi belakang/ utara tampak dari halaman dalam 8. Ruang bawah tanah pada sisi belakang segmen tengah Bangunan Utara, tampak dari halaman dalam 9. Desain pintu serta bouvenlicht pada ruang-ruang di Gedung Pusat UGM 10. Salah satu akses tangga (sebelah barat) di belakang Bangunan Utara antara ruang Balairung dan halaman dalam 11. Ruang pada bagian bawah balkon Bangunan Selatan sisi depan/selatan Sumber: Dinas Kebudayaan DIY, 1 2 3


CAGAR BUDAYA FASILITAS PENDIDIKAN SENARAI TINGGALAN ZAMAN #1 CAGAR BUDAYA PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA EDISI PENDIDIKAN DAN PERJUANGAN 86 4 6 8 10 5 7 9 11


87 SENARAI TINGGALAN ZAMAN #1 CAGAR BUDAYA PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA EDISI PENDIDIKAN DAN PERJUANGAN


CAGAR BUDAYA FASILITAS PENDIDIKAN SENARAI TINGGALAN ZAMAN #1 CAGAR BUDAYA PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA EDISI PENDIDIKAN DAN PERJUANGAN 88 PENDOPO AGUNG TAMANSISWA » Peraturan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia Nomor PM.25/PW.007/ MKP/2007 tanggal 26 Maret 2007 Tentang Penetapan Situs dan Bangunan Tinggalan Sejarah dan Purbakala yang Berlokasi di Wilayah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta sebagai Benda Cagar Budaya, Situs, atau Kawasan Cagar Budaya yang Dilindungi UndangUndang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya. » Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan  Republik Indonesia Nomor 243/M/2015 Tentang Bangunan Cagar Budaya Museum Dewantara Kirti Griya dan Kompleks Pendopo Agung Taman Siswa, Gereja Blenduk (Gereja Protestan di Indonesia Bagian Barat Immanuel), Lokasi Gedung Merdeka, Masjid Agung  Demak, Situs Cagar Budaya Gereja Katedral Jakarta, Situs Cagar Budaya Percandian Panataran, Situs Cagar Budaya Taman Narmada, Situs Cagar Cetho, dan Situs Candi Sukuh sebagai Situs Cagar Budaya. » Keputusan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 64/KEP/2023 Tentang Penetapan Bangunan Pendopo Agung Tamansiswa sebagai Bangunan Cagar Budaya Peringkat Provinsi. Bangunan Pendopo Agung Tamansiswa merupakan bangunan utama berupa pendopo yang berada di kompleks bangunan pendidikan (sekolah) Tamansiswa. Bangunan ini terletak di halaman depan kompleks yang dikenal sebagai “Majelis Luhur Persatuan Tamansiswa”. Bangunan ini berada di Jalan Taman Siswa Nomor 25 Kelurahan Wirogunan, Kemantren Mergangsan dengan koordinat UTM 49M 431457.66 m E; 9137159.10 m S.


89 SENARAI TINGGALAN ZAMAN #1 CAGAR BUDAYA PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA EDISI PENDIDIKAN DAN PERJUANGAN Bangunan pendopo merupakan bangunan terbuka (tanpa batas atau sekat). Pendopo ini berdenah persegi panjang menghadap barat ke Jalan Taman Siswa. Bentuk arsitektur pendopo berupa Joglo Lawakan Lambang Téplok. Struktur atap terdiri atas atap brunjung dan atap penanggap, sedangkan antara brunjung dan penanggap renggang (tidak menyambung). Penutup atap menggunakan genting tanah liat tipe kodok. Atap brunjung dan atap penanggap Pendopo Agung Tamansiswa Struktur atap pendopo Bangunan pendopo ini memiliki kekhasan struktur atap Joglo Lambang Téplok. Namun, tidak seperti bentuk Joglo Lambang Téplok pada lazimnya karena lebar sunduk pamanjang dan sunduk panyelak di bawah pamidhangan berukuran sama dengan ukuran saka guru. Di bagian struktur atap, jarak antara pamidhangan atas dan pamidhangan bawah cukup tinggi sehingga pendopo ini seolah memiliki pamidhangan ganda, yaitu pamidhangan atas dilengkapi dengan dhadha paesi dan tumpangsari, sedang pamidhangan bawah hanya dilengkapi dengan balok panitih njawi.  Pada bagian struktur atap, jarak antara pamidhangan atas dan pamidhangan bawah cukup tinggi sehingga dilengkapi dengan panel krepyak berbahan kayu. Pada arah memanjang (sisi barat dan timur), dipasang 6 panel; sedang pada arah lebar (sisi utara dan selatan/panyêlak), terdapat 5 panel. Antarpanel krepyak tersebut diberi batang kayu vertikal berornamen sebagai penguat sekaligus pengaku. Batang vertikal pada arah memanjang (sisi barat dan timur) berjumlah 5 batang, sedang pada arah melebar (sisi utara dan selatan), berjumlah 4 batang. Di langit-langit pendopo bagian tengah (uleng), terdapat tumpangsari 5 (lima) susun. Untuk mencegah defleksi balok pamidhangan atas dan pamidhangan bawah serta untuk memperkukuh kedudukan panel krepyak, di sisi luar panel (eksterior), ditambah dengan batang diagonal yang hanya dapat terlihat dari sisi luar (eksterior) pendopo. Brunjung pendopo dilengkapi dengan dhadha paesi berukir yang diberi warna merah dan prada, serta singup bersusun empat dan bidang pyan (plafon brunjung) berupa eternit.


CAGAR BUDAYA FASILITAS PENDIDIKAN SENARAI TINGGALAN ZAMAN #1 CAGAR BUDAYA PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA EDISI PENDIDIKAN DAN PERJUANGAN 90 Batang diagonal pada eksterior atap brunjung dan atap penanggap Balok dhadha paesi Balok dhadha paesi Langit-langitnya terbuat dari eternit dengan ukuran 1 m x 1 m warna putih. Di bagian langit-langit ini, terdapat 4 (empat) buah tempat lampu, masing-masing sebuah pada tiap sisi. Ukuran tempat lampu 2 m x 3 m di sisi utara dan selatan, serta 2 m x 4 m di sisi barat dan timur. Bangunan Pendopo memiliki 16 (enam belas) tiang penyangga yang terdiri atas 4 (empat) saka guru (tiang utama) dan 12 (dua belas) saka penanggap (tiang pendukung). Semua umpak diberi hiasan mirong dengan warna cat yang sama untuk semua umpak di bangunan ini. Jarak saka guru yang satu dengan lainnya di arah utara-selatan adalah 6 m, sedangkan saka guru arah barat-timur 5 m. Jarak dari saka guru dengan saka penanggap yakni 5 m. Saka guru dilengkapi dengan ornamen wajikan dicat prada, sedang saka penanggap polos tanpa ornamen. Permukaan lantai pendopo lebih tinggi 40 cm dari permukaan lantai emper dan lebih tinggi 60 cm dengan permukaan halaman. Pada tepi jerambah pendopo di sisi depan, terdapat prasasti peringatan peletakan batu pertama sebagai penanda pendirian bangunan pendopo yang dimulai pada 10 Juli 1938. Posisi keletakannya ini membuat prasasti dapat dibaca oleh setiap orang yang memasuki pendopo dari kuncungan pendopo. Prasasti batu marmer dengan tulisan sebagai berikut (transkripsi). PEMASANGAN BATOE-PERTAMA 10-VIII-1938 12-V-1859/1357 OLEH NJI HADJAR DEWANTARA AMBOEKA RARAS ANGESTI WIDJI Prasasti pada tepi jerambah lantai pendopo


91 SENARAI TINGGALAN ZAMAN #1 CAGAR BUDAYA PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA EDISI PENDIDIKAN DAN PERJUANGAN Bangunan Pendopo Agung Tamansiswa terdapat kuncungan dan emperan. 1. Kuncungan Kuncungan merupakan bagian depan pendopo yang berfungsi sebagai akses masuk utama sekaligus tempat pemberhentian kendaraan. Di bangunan Pendopo Agung Tamansiswa, kuncungan terdapat di sisi depan (barat) dan belakang (timur). Kuncungan depan memiliki atap berbentuk kampung dara gepak dengan penutup atap genting tanah liat tipe kodok, berdenah persegi panjang berukuran 6,25 m x 8,25 m. Bagian depan kuncungan disangga oleh 6 tiang (masing-masing 3 tiang di sisi utara dan selatan). Masing-masing tiang disangga umpak dan pada bagian bawah umpak terdapat landasan (batur) tinggi 70 cm dengan permukaan berupa pasangan batu (rubble wall). Keberadaan batur menyebabkan dasar umpak kuncungan berada lebih tinggi dibanding dengan lantai pendopo. Bangunan kuncungan belakang Pendopo Agung Tamansiswa ini disebut dengan istilah gombak. Bangunan gombak ini disangga oleh 2 tiang penyangga, masingmasing tiang disangga umpak. Permukaan lantai menjadi satu level dengan lantai pendopo, penutup lantai sama berupa tegel warna abu-abu ukuran 20 cm x 20 cm. Antara pendopo dengan gombak dibatasi dengan dinding kayu (singgetan). Dinding kayu ini tersebut disusun dengan sistem knockdown (tidak permanen). Gombak difungsikan untuk menyimpan perangkat gamelan. 2. Emper Bagian kuncungan depan Bagian gombak (kuncungan belakang) Bangunan emper berada di sisi utara dan selatan pendopo. Atap emper berbentuk Panggang Pe. Langit-langit berupa eternit. Di bagian depan dan belakang lisplang masing-masing emper terdapat srawing berbahan kayu berupa papan kayu yang disusun vertikal. Emper memiliki saka sebanyak 7 tiang yang berdiri di atas umpak berbentuk empat bersegi. Saat ini, terdapat bangunan tambahan tempat ganti pakaian yang terletak di bagian


CAGAR BUDAYA FASILITAS PENDIDIKAN SENARAI TINGGALAN ZAMAN #1 CAGAR BUDAYA PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA EDISI PENDIDIKAN DAN PERJUANGAN 92 belakang gombak dan menempel menjadi satu. Selain itu, terdapat bangunan-bangunan lain yang merupakan penambahan pada periode berikutnya. Bangunan-bangunan tersebut berupa bangunan Pusat Wanita Tamansiswa, Sekolah Taman Indria (TK), Taman Muda (SD), Sekolah Taman Dewasa (SMP), Balai Persatuan Tamansiswa, dan salah satu ruang perkuliahan Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa, serta bangunan-bangunan untuk asrama putra dan asrama putri. Bangunan Pendopo Agung Tamansiswa merupakan simbol utama dari keberadaan Perguruan Tamansiswa sebagai lembaga pendidikan modern versi pribumi pada periode awal abad ke-20. Bangunan pendopo ini didirikan setelah pemindahan Perguruan Tamansiswa dari Lempuyangan (station weg/saat ini Jalan Gadjah Mada) ke bangunan tempat tinggal di daerah Wirogunan (gevangenis laan/saat ini Jalan Taman Siswa). Ki Hadjar Dewantara berkehendak pindah ke bangunan ini jika pendopo telah didirikan. Setelah pendiriannya, bangunan pendopo ini kemudian menjadi pusat kegiatan pendidikan Perguruan Tamansiswa yang merupakan cikal bakal sistem pendidikan nasional yang berakar dari nilai-nilai luhur budaya bangsa. Kronologi perkembangan Pendopo Agung Tamansiswa antara lain sebagai berikut. a. 14 Agustus 1935, Perguruan Tinggi Tamansiswa Yogyakarta membeli pekarangan dan rumah beserta isinya yang terletak di daerah Wirogunan. Proses pembelian lahan di sekitarnya juga berlanjut guna memenuhi kebutuhan ruang dan lahan yang cukup luas. Pada saat itu, Ki Hajar Dewantara belum pindah. Beliau berencana pindah ketika fasilitas pendidikan di lokasi tersebut telah terpenuhi semua, termasuk pembangunan pendopo. b. 10 Juli 1938, peletakan batu pertama pembangunan pendopo di lokasi Wirogunan. Peletakan batu pertama yang dilakukan oleh Nyi Hadjar Dewantara adalah permintaan Ki Hadjar Dewantara dan disaksikan oleh umum. Dana pembangunan pendopo mencapai f 4.000,00 (empat ribu gulden) dengan partisipasi pengumpulan dana dari beberapa pihak, antara lain: • Komisi pendirian: B.P.H.Surjodiningrat; Insinyur Suratin Sosrosugondo, G.P.H. Tedjokusumo, Ki Penewu Katri Kartisuseno, R. Sindutomo sebagai pelaksana dan R. Rudjit; • Ni Kumo Ratih Wonoboyo sebagai ketua organisasi Wismarini; • Majelis Ibu Pawiyatan Tamansiswa; • Majelis Luhur Tamansiswa;


93 SENARAI TINGGALAN ZAMAN #1 CAGAR BUDAYA PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA EDISI PENDIDIKAN DAN PERJUANGAN • sumbangan dari para siswa Tamansiswa seluruh Indonesia sebesar satu benggol (saat itu bernilai 2,5 sen =1/40 gulden) untuk setiap bulannya. Penggalangan dana dari para siswa per bulan ini kemudian dikenal dengan gerakan “sebenggolan”; • PSSI (Persatuan Sepakraga Seluruh Indonesia) dengan menyumbangkan seluruh penghasilan dari penyelenggaraan pertandingan sepak bola di berbagai tempat untuk Tamansiswa; • sumbangan dari para alumni Tamansiswa yang Ki Hadjar Dewantara & Nyi Hadjar Dewantara Peserta Rapat Besar Umum (Kongres)Tamansiwa ke III. Sumber Ir. Yuwono Sri Suwito, M.M saat itu bernama PBMTS (Persatuan Bekas Murid Taman Siswa). c. 27 September 1938, dilakukan upacara pemasangan “molo”, yaitu balok kayu yang terpasang di bagian paling atas pada atap bangunan. Molo juga berfungsi sebagai tempat untuk meletakkan kasau di bagian tertinggi bangunan. Salah satu prosesi dalam pemasangan molo adalah menancapkan paku emas yang dilakukan oleh B.P.H. Surjodiningrat. d. 16 November 1938, Pendopo Agung Tamansiswa diresmikan yang dirangkai dengan penyelenggaraan Kongres Tamansiswa. Di saat yang sama, Ki Hadjar Dewantara beserta keluarga resmi menempati bangunan rumah yang bersebelahan dengan pendopo. Bangunan rumah tersebut saat ini menjadi Museum Dewantara Kirti Griya. e. 16–22 November 1938, diselenggarakan Rapat Besar Umum (Kongres) Tamansiswa ke-III yang bertempat di pendopo. Sejak saat itu, kongres Tamansiswa selalu dilakukan di Pendopo Agung Tamansiswa.


Click to View FlipBook Version