The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Tata Kelola Cagar Budaya dan Warisan Budaya

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Fauzi Rahman, 2024-01-01 02:30:30

SENERAI TINGGALAN ZAMAN

Tata Kelola Cagar Budaya dan Warisan Budaya

Keywords: CAGAR BUDAYA

SENARAI TINGGALAN ZAMAN #1 CAGAR BUDAYA PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA EDISI PENDIDIKAN DAN PERJUANGAN 144PERGERAKAN, PERJUANGAN, & REVOLUSI KEMERDEKAAN Bentuk ketiga unit bangunan ini merupakan hasil perubahan di tahun 1929 dari bentuk awalnya yang dibangun pada tahun 1908. Perubahan yang terjadi pada bangunan hotel nampak pada gaya arsitektur bangunan, yang semula gaya arsitektur Indis menjadi gaya arsitektur modern Art Deco. Perubahan hasil renovasi ini tidak mengubah tata letak bangunan yang tetap terdiri atas satu bangunan utama dan dua bangunan samping yang saling berhadapan. 1. Bangunan Utama Bangunan Utama Hotel Grand Inna Malioboro berdenah empat persegi panjang satu lantai dengan gaya arsitektur Art Deco. Bangunan utama memiliki atap berbentuk limasan dan kanopi pada bagian depan pintu masuk utama. Arah hadap bangunan utama berorientasi ke arah barat (Jalan Malioboro). Bangunan utama terbagi atas ruang lobi serta ruang tamu pada sisi utara dengan luas ruangan 15,2 m x 3,5 m. Pintu dan jendelanya berbahan kayu berbentuk panil kaca. Pada dinding bangunan, terdapat bovenlicht dengan penutup kaca patri bentuk 3 bidang persegi panjang vertikal serta roster sebagai lubang ventilasi. Dominasi cat bangunan berwarna putih dengan elemen partisi kayu yang berfungsi sebagai ornamen pada dinding interior. Fasad bangunan utama Sumber: Dinas Kebudayaan DIY, 2022


145 SENARAI TINGGALAN ZAMAN #1 CAGAR BUDAYA PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA EDISI PENDIDIKAN DAN PERJUANGAN Bangunan sayap utara (kiri) dan sayap selatan (kanan) tampak dari barat Sumber: Dinas Kebudayaan DIY, 2022 2. Bangunan Samping Utara dan Selatan Bangunan samping utara dan selatan berada di depan bangunan utama dan memiliki bentuk identik dan saling berhadapan satu sama lain. Atap pada kedua unit bangunan ini berupa beratap pelana. Masing-masing bangunan berdenah persegi panjang dengan ukuran 32 m x 10,5 m dan terdiri atas dua lantai. Lantai satu pada masing-masing bangunan terdapat sekat 4 ruang. Pada bagian depan deretan ruang, terdapat selasar lebar 1 m dengan sisi terluar berupa dinding tembok yang di lengkapi deretan jendela panil kaca. Lantai dua dapat dicapai melalui tangga yang berada pada akses pintu masuk di bagian tengah denah bangunan. Bagian tengah bangunan ini memiliki fasad berupa bovenlicht besar berupa mosaik kaca patri tepat di atas bukaan pintu masuk utama. Di bagian atap pada segmen tengah bangunan ini, terdapat dormer yang dilengkapi miniatur atap tajuk di bagian atasnya. Bovenlicht pada bagian tengah fasad bangunan sayap Sumber: Dinas Kebudayaan DIY, 2022 Pembangunan Hotel Grand Inna Malioboro di mulai pada tahun 1908 berdasarkan rancangan arsitek Harmsen & Pagge. Pembangunan hotel ini sekaligus menjadi salah satu penanda keberadaan awal hotel di Kota Yogyakarta. Tahun 1911, operasional hotel mulai berjalan dengan nama Grand Hotel te Djokja. N.V. Marbak menjadi pemilik pertama dari hotel ini. Pembukaan Grand Hotel te Djokja sebagai penginapan secara resmi dilaksanakan pada tanggal 15 September 1912 dan diberitakan melalui surat kabar De Express edisi 23 September 1912. Bentuk awal bangunan Grand Hotel te Djokja berupa bangunan utama yang dilengkapi deretan bangunan pondok/paviliun (cottage). Surat kabar De Express tanggal 18 September 1912, menyebutkan tentang bentuk bangunan Grand Hotel te Djokja yang terdiri dari bangunan utama serta bangunan samping kanan dan kiri masing-masing


SENARAI TINGGALAN ZAMAN #1 CAGAR BUDAYA PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA EDISI PENDIDIKAN DAN PERJUANGAN 146PERGERAKAN, PERJUANGAN, & REVOLUSI KEMERDEKAAN Bentuk awal hotel (KITLV 104696/Grand Hotel Djokja te Jogjakarta diperoleh dari digitalcollections.universiteitleiden.nl) Sumber: http://hdl.handle.net/1887.1/item:723075 Keletakan Grand Hotel de Djokja (No. 57) pada Peta Kota Yogyakarta tahun 1925 Sumber: Peta Jogjakarta en Omstreken 1925 skala 1: 10.000 Bentuk hotel pasca perubahan bangunan tahun 1929 (foto tahun 1937) Sumber: http://www.indischhistorisch.nl/tweede/sociale-geschiedenis/sociale-geschiedenis-indisch-genieten-6-hotels-deel-5/ Grand Hotel de Djokja setelah menjadi Hotel Merdeka pasca tahun 1945 Sumber: NFA02:chb-5062-5 (Negatief), Indonesië onafhankelijk - foto's 1947-1953, Nederlands Foto museum (https://resolver.kb.nl/resolve?urn=urn:gvn:NFA02:chb-5062-5)


147 SENARAI TINGGALAN ZAMAN #1 CAGAR BUDAYA PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA EDISI PENDIDIKAN DAN PERJUANGAN berupa lima paviliun. Bentuk bangunan tersebut menyerupai bentuk bangunan Hotel Oranje di Surabaya serta menjadikan Grand Hotel te Djokja sebagai hotel terbesar dan termewah di Yogyakarta. Karakteristik bangunan hotel memiliki gaya arsitektur Indis yang Nampak pada bentuk denah, material yang digunakan, bentuk atap pelana dan perisai, bentuk gable yang mencolok, keberadaan pilaster serta keberadaan menara kembar yang terdapat pada bagian depan bangunan utama. Tahun 1925, Grand Hotel te Djokja menjadi tempat pendirian organisasi ABHINI (Algemeene Bond Hotelhuders in Nederlandsch-Indie). Organisasi ini merupakan perhimpunan pemilik, pengelola, pengurus hotel dan restoran, para direktur atau komisaris perusahaan hotel di Hindia-Belanda kala itu. Pada tahun 1929, Grand Hotel te Djokja melakukan perubahan bentuk bangunan yang diberitakan oleh surat kabar Algemeen Handelsblad voor Ned-Indie, tanggal 10 April 1929. Perubahan terjadi pada bangunan utama dan bangunan paviliun yang semula satu lantai menjadi bangunan bertingkat dua lantai. Seluruh pengerjaan perubahan bangunan dilakukan oleh biro arsitek Sitzen & Louzada yang selesai pada tahun 1930. Pada masa pendudukan Jepang tahun 1942, nama Grand Hote te Djokja diganti menjadi Asahi Hotel. Fungsi hotel juga berubah menjadi markas militer Tentara Pendudukan Jepang di Yogyakarta. Selain itu, salah satu bangunan hotel juga dijadikan kantor penerbitan surat kabar Sinar Matahari. Pascakemerdekaan Republik Indonesia tahun 1945, Asahi Hotel dinasionalisasi dan diubah namanya menjadi Hotel Merdeka. Perubahan nama menjadi Hotel Merdeka tidak hanya terjadi pada hotel di Kota Yogyakarta, tetapi juga di Surakarta, Madiun, Cirebon, Sukabumi, Malang, Sarangan, dan Purwokerto. Pengelolaan hotel di kota-kota tersebut berada pada Badan Pusat Hotel Negara (BPHN) yang didirikan pada November 1946. Kemudian, pada 1 Juli 1947, BPHN berubah nama menjadi Badan Hotel Negara dan Tourisme (HONET). Badan ini bertugas untuk meneruskan pengelolaan hotel-hotel milik pemerintah yang berada di Indonesia. Sejak Desember 1945–Maret 1946, pada kamar No. 911 bangunan sayap selatan pernah digunakan sebagai kantor Markas Besar Oemoem (MBO) Tentara Keamanan Rakyat. Kamar tersebut sempat ditempati Panglima Besar Jenderal Sudirman saat terjadi peristiwa Agresi Militer II. Untuk memperingati peristiwa tersebut, pada 30 Desember 1996, diresmikan prasasti Panglima Besar Jenderal Sudirman. Selain sebagai kantor MBO, hotel ini juga menjadi kantor kabinet pemerintahan ketika ibu kota RI dipindah ke Yogyakarta pada 4 Januari 1946. Perubahan nama terjadi lagi pada tahun 1950, dari Hotel Merdeka menjadi Hotel Garuda. Tahun 2002, nama hotel berubah lagi menjadi Hotel Inna Garuda dan terakhir tahun 2017 berganti nama menjadi Hotel Grand Inna Malioboro sampai saat ini.


SENARAI TINGGALAN ZAMAN #1 CAGAR BUDAYA PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA EDISI PENDIDIKAN DAN PERJUANGAN 148PERGERAKAN, PERJUANGAN, & REVOLUSI KEMERDEKAAN Pada perkembangannya, pemilik dan pengelola Hotel Grand Inna Malioboro mendirikan beberapa bangunan tambahan untuk memenuhi kebutuhan operasional hotel tanpa mengubah ketiga unit bangunan yang telah ditetapkan menjadi cagar budaya. Hotel Grand Inna Malioboro saat ini terdiri atas 9 unit bangunan meliputi 3 Bangunan Cagar Budaya dan 6 bangunan tambahan yang dibangun kemudian. Ketiga unit Bangunan Cagar Budaya Hotel Grand Inna Malioboro saat dalam kondisi baik dan terawat terutama pada bentuk, fasad, dan tata ruangnya. Semua unit bangunan baru tersebut menampilkan selaras sosok yang merujuk pada ketiga unit Bangunan Cagar Budaya Hotel Grand Inna Malioboro. Hotel Grand Inna Malioboro dimiliki dan dikelola oleh PT HIN (Hotel Indonesia Natour) yang merupakan Badan Usaha Milik Negara Republik Indonesia. Kata “INNA” dalam nama Hotel Grand Inna Maliboro merupakan kebijakan dari PT HIN sejak tahun 2002 yang disematkan untuk seluruh hotel, restoran, dan katering bawah naungan PT HIN sebagai nama bisnis sekaligus nama komersial perusahaan. Hotel Grand Inna Malioboro ditetapkan sebagai Bangunan Cagar Budaya pada tahun 2023 melalui Keputusan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 77/ KEP/2023 Tentang Penetapan Bangunan Hotel Grand Inna Malioboro sebagai Bangunan Cagar Budaya Peringkat Provinsi. Hotel Grand Inna Malioboro memenuhi kriteria sebagai bangunan cagar budaya karena berusia 50 tahun atau lebih berdasarkan tahun 1908 yang merupakan tahun pendirian dan tahun 1911 yang menandakan dimulainya operasional hotel. Bangunan Hotel Grand Inna Malioboro juga memiliki gaya arsitektur Indis lalu berubah menjadi gaya Art Deco yang keduanya mewakili gaya bangunan dengan usia lebih dari 50 tahun. Berdasarkan kriteria arti khusus, Hotel Grand Inna Maliboro memiliki arti khusus bagi sejarah karena pernah menjadi Markas Besar Oemoem TKR (Tentara Keamanan Rakyat) sekaligus kantor Panglima Besar Jenderal Soedirman serta kantor kabinet pemerintahan masa ibu kota RI di Yogyakarta periode 1946-1949. Selain itu, Hotel Grand Inna Malioboro memiliki arti khusus bagi pendidikan karena merupakan salah satu referensi bagi pendidikan arsitektur bangunan terutama perkembangan arsitektur di Yogyakarta. Hotel Grand Inna Malioboro juga memiliki nilai budaya bagi penguatan kepribadian bangsa yang terwujud dalam arsitektur bangunannya yang mencerminkan akulturasi budaya berupa penerapan arsitektur Indis. Hotel ini juga terpilih sebagai salah satu simbol nasionalisme karena diakuisisi menjadi aset negara pascaperiode revolusi kemerdekaan. Dengan demikian, nilai penting cagar budaya yang dimiliki Hotel Grand Inna Malioboro berupa bangunan berarsitektur Indis yang menjadi elemen penguat karakter


149 SENARAI TINGGALAN ZAMAN #1 CAGAR BUDAYA PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA EDISI PENDIDIKAN DAN PERJUANGAN Kawasan Cagar Budaya Kraton khususnya di area Jalan Malioboro yang mempunyai peran sejarah kemerdekaan Republik Indonesia. Daftar Bacaan » Bruggen, M.P. van & R.S. Wassing. 1998. Djokja en Solo: Beeld van de Vorstensteden. Purmerend [Netherlands]: Asia Maior. » BPCB Yogyakarta. 2014. Lensa Budaya 2: Menguak Fakta Mengenali Keberlanjutan. Yogyakarta: BPCB Yogyakarta. » Pambudi, Widy Hario. “Sejarah Hotel Inna Garuda 1908-1950”. Skripsi. Departemen Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada.


SENARAI TINGGALAN ZAMAN #1 CAGAR BUDAYA PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA EDISI PENDIDIKAN DAN PERJUANGAN 150PERGERAKAN, PERJUANGAN, & REVOLUSI KEMERDEKAAN


151 SENARAI TINGGALAN ZAMAN #1 CAGAR BUDAYA PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA EDISI PENDIDIKAN DAN PERJUANGAN Wisma Kaliurang tampak dari sisi utara Sumber: NFA02:chb-5065-1 (Negatief), Indonesië onafhankelijk - foto’s 1947-1953, Nederlands Fotomuseum


SENARAI TINGGALAN ZAMAN #1 CAGAR BUDAYA PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA EDISI PENDIDIKAN DAN PERJUANGAN 152PERGERAKAN, PERJUANGAN, & REVOLUSI KEMERDEKAAN WISMA KALIURANG » Penetapan status Bangunan Cagar Budaya: Keputusan Bupati Sleman Nomor 3.15/ Kep.KDH/A/2020 Tentang Status Cagar Budaya Kabupaten Sleman Tahun 2020. » Penetapan status Situs Cagar Budaya: Keputusan Bupati Sleman Nomor 5.1/Kep. KDH/A/2021 Tentang Status Cagar Budaya Kabupaten Sleman Tahun 2021 Tahap I. » Penetapan status Pemeringkatan Bangunan Cagar Budaya: Keputusan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 334/KEP/2022 Tentang Penetapan Bangunan Cagar Budaya Wisma Kaliurang sebagai Bangunan Cagar Budaya Peringkat Provinsi. Bangunan Cagar Budaya Wisma Kaliurang berada di Kawasan Cagar Budaya Kaliurang yang terletak di Jalan Astorenggo, Kalurahan Hargobinangun, Kapanewon Pakem, Sleman. KCB Kaliurang pada awalnya merupakan lokasi pertanian Indigo di bawah pengelolaan Kesultanan Yogyakarta. Setelah tahap reboisasi dari lahan pertanian sejak 1910–1922, lokasi ini berubah menjadi daerah resort dan banyak didirikan bangunan penginapan vila/bungalo. Kemudian, di masa-masa berikutnya, terdapat penambahan fasilitas wisata, taman, kolam renang, beberapa lapangan tenis dan bangunan hotel. Lokasi ini kemudian digunakan sebagai tempat berlangsungnya perundingan Komisi Tiga Negara (KTN) pada periode sejarah Perang Kemerdekaan Indonesia 1945–1949. Salah satu fasilitas di kawasan Kaliurang yang digunakan sebagai tempat utama rangkaian perundingan KTN adalah bangunan Wisma Kaliurang. Bangunan Cagar Budaya Wisma Kaliurang dahulu merupakan bangunan penginapan bernama Hotel Leh Meyer. Hotel tersebut didirikan sekitar tahun 1931 oleh pengusaha asal Jerman bernama Leh Meyer. Dalam dokumen Memorie van Overgave, 1934 oleh H.H. De Cock Gubernur Yogyakarta (1932–1935), dicantumkan bahwa Hotel Leh Meyer merupakan suatu hotel modern di kawasan Kaliurang pada saat itu. Wisma Kaliurang merupakan bangunan dengan gaya arsitektur kolonial. Ciri arsitektur kolonial meliputi dinding bata yang tebal dan penggunaan kaca untuk jendela. Langgam Eropa modern tecermin dalam penggunaan banyak jendela panil kaca dan atap limasan dengan penggunaan lantern di atasnya.


153 SENARAI TINGGALAN ZAMAN #1 CAGAR BUDAYA PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA EDISI PENDIDIKAN DAN PERJUANGAN Bangunan Cagar Budaya Wisma Kaliurang berupa dua unit bangunan, terdiri atas Bangunan Induk yang menghadap ke timur dan Bangunan Pendukung yang menghadap ke utara. Peta Keletakan Bangunan Cagar Budaya Wisma Kaliurang Sumber: Citra Satelit Google Earth tanggal 13/07/2019 1. Bangunan Induk Denah Bangunan Induk tidak mengalami perubahan, terdiri atas lobi, ruang makan, kamar mandi, gudang, dan dapur. Bangunan induk beratap limasan dengan penutup atap genting vlam yang dilengkapi komponen lantern (kubah kecil) berbahan kayu, kaca, dan beratap genting di bagian puncak atap. Pada fasad, terdapat pintu utama, jenis kupu tarung, berupa kombinasi panil kaca mati dan kayu. Jendela pada fasad juga berupa kombinasi panil kaca mati dan kayu. Pada bagian bawah jendela, terdapat penebalan permukaan dinding. Fasad Hotel Leh Meyer (Wisma Kaliurang) sekitar tahun 1930 Sumber: KITLV 182506 Pada bagian atas jendela di kanan dan kiri teras, terdapat bouven yang terpasang pada kusen kayu yang berbahan panil kaca mati. Terdapat tulisan “Kalioerang” pada permukaan dinding antara jendela dan bouvenlicht di bagian depan. Dinding di sisi utara, selatan, dan barat juga memiliki jendela dan bouvenlicht yang sama, tetapi saat ini, jendela-jendela tersebut telah ditutup menggunakan panel kayu dari bagian dalam ruangan. Karenanya, jika dilihat dari sisi dalam, maka jendela dan pintu yang masih berfungsi hanya berada di sisi timur yang merupakan bagian fasad bangunan.


SENARAI TINGGALAN ZAMAN #1 CAGAR BUDAYA PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA EDISI PENDIDIKAN DAN PERJUANGAN 154PERGERAKAN, PERJUANGAN, & REVOLUSI KEMERDEKAAN Di bagian dalam ruangan, langit-langit tertutup plafon eternit asbes berbingkai kayu yang diduga hasil perubahan/penambahan di masa kemudian. Begitu juga dengan lantai berbahan tegel dan teraso yang saat ini diganti menjadi keramik cokelat muda. Terdapat akses yang dahulu digunakan untuk mendistribusikan makanan dan minuman dari dapur ke ruangan utama, berbahan kayu. Namun, saat ini, bagian tersebut telah ditutup. Di sisi selatan Bangunan Induk, pada awalnya, terdapat beranda terbuka dengan peneduh berupa semacam kanopi. Beranda samping ini menghadap ke selatan dan berada di tepi tebing lahan bangunan. Area ini digunakan sebagai tempat duduk santai menghadap pemandangan kota Yogyakarta di bawahnya. 2. Bangunan Pendukung Bangunan Pendukung terletak di sebelah barat pada permukaan yang lebih rendah dengan Bangunan Induk. Kedua bangunan tersebut dihubungkan oleh tangga dari batu kali dan memiliki bekas kerangka atap selasar (doorlop). Bangunan Pendukung terdiri atas 7 kamar tidur, 6 kamar mandi yang terletak di depan kamar tidur, dan selasar di sisi utara. Masing-masing kamar tidur memiliki dua akses masuk dari utara dan selatan serta memiliki pintu konektor yang mengubungkan antardua ruangan kamar. Bangunan Pendukung beratap limasan, berbahan genting vlam. Bangunan Pendukung memiliki pintu dan jendela, kombinasi panil kaca mati dan kayu, menghadap ke arah selatan. Pada bagian atas pintu dan kaca, terdapat bouvenlicht pada kusen kayu berbahan panil kaca mati. Dinding luar pada sisi selatan memiliki rubble wall atau lapisan dinding batu Denah Bangunan Induk Wisma Kaliurang Sumber: BPCB DIY, 2020 (dengan modifikasi)


155 SENARAI TINGGALAN ZAMAN #1 CAGAR BUDAYA PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA EDISI PENDIDIKAN DAN PERJUANGAN Denah Bangunan Pendukung Wisma Kaliurang Sumber: BPCB DIY, 2020 setinggi jendela, begitu juga pada sisi barat dan timur. Plafon ruangan menggunakan eternit asbes, sedangkan lantai ruangan hingga selasar menggunakan tegel motif titiktitik. Saat ini, lantai dan dinding kamar mandi menggunakan keramik putih. Bangunan Wisma Kaliurang didirikan sekitar 1931 yang difungsikan sebagai hotel. Bangunan ini didirikan oleh seorang pengusaha asal Jerman bernama Leh Meyer yang tinggal di Kaliurang hingga 1940. Dengan demikian, hotel ini dinamai Hotel Leh Meyer (tercantum pula sebagai Lahmeyer atau Lahmeier. Selama bermukim di Kaliurang, Leh Meyer memprakarsai sambungan jaringan listrik dan layanan pos surat di daerah Kaliurang. Jaringan listrik yang disambung dari Pakem ke bangunan Hotel Leh Meyer ini kemudian berfungsi sebagai distributor untuk dialirkan ke bangunan dan vila lainnya. Bangunan ini sekaligus menjadi tempat pembayaran tagihan listrik untuk kawasan Penggunaan pos surat yang terletak di depan bangunan Wisma Kaliurang Sumber: Charles Breijer, 1948. NFA02:chb-5065-6 (Negatief), Indonesië onafhankelijk - foto's 1947-1953, Nederlands Fotomuseum


SENARAI TINGGALAN ZAMAN #1 CAGAR BUDAYA PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA EDISI PENDIDIKAN DAN PERJUANGAN 156PERGERAKAN, PERJUANGAN, & REVOLUSI KEMERDEKAAN Kaliurang. Jasa pos untuk kawasan Kaliurang menggunakan bangunan Hotel Leh Meyer sebagai titik kumpul dan distribusi surat untuk kawasan Kaliurang. Layanan pos ini diteruskan dari kantor pos pembantu di Medari ke kantor pos Distrik Pakem. Kemudian, melalui Asisten Wedana Pakem, surat-surat tersebut diteruskan ke Kaliurang dengan menggunakan bus milik Leh Meyer serta dikumpulkan di Hotel Leh Meyer. Karena fungsi bangunan ini memiliki peran sebagai “pusat infrastruktur” untuk kawasan vila di Kaliurang, maka di masa kemudian, pada 1948–1949, bangunan ini dipilih untuk menjadi tempat utama peristiwa perundingan-perundingan internasional guna membahas konflik Indonesia-Belanda. Bangunan Wisma Kaliurang dan beberapa fasilitas bangunan di Kaliurang digunakan sebagai tempat peristiwa politik berupa serangkaian perundingan penyelesaian konflik antara Indonesia–Belanda sepanjang tahun 1948 (13 Januari, 20 April, dan 27 November). Perundingan tersebut diselenggarakan oleh “Komisi Tiga Negara” (KTN) yang merupakan sebuah komite bentukan Dewan Keamanan PBB sebagai penengah sejumlah konflik bersenjata antara militer Indonesia dan tentara Belanda, terkait usaha Belanda untuk merebut kembali Indonesia sebagai wilayah jajahan. Pertemuan KTN – RI 13 Januari 1948 di Wisma Kaliurang (partisi dinding sisi utara tampak dalam foto, saat ini sudah ditak ada) KTN merupakan sebuah komite yang dibentuk oleh Dewan Keamanan PBB yang bakal menjadi penengah konflik antara Indonesia dan Belanda. Komite ini dikenal pula dengan nama Committee of Good Offices for Indonesia (Komisi Jasa Baik untuk Indonesia) yang kemudian dikenal sebagai Komisi Tiga Negara karena beranggotakan perwakilan dari tiga negara, yaitu Belgia yang dipilih untuk mewakili Belanda, Australia yang dipilih untuk mewakili Indonesia, dan Amerika Serikat yang dipilih sebagai pihak netral yang dipilih oleh kesepakatan Indonesia dan Belanda.


157 SENARAI TINGGALAN ZAMAN #1 CAGAR BUDAYA PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA EDISI PENDIDIKAN DAN PERJUANGAN Delegasi Belgia diwakili oleh Paul Van Zeeland (mantan Perdana Menteri dan Menteri Luar Negeri Belgia); delegasi Australia diwakili oleh Richard C. Kirby (Hakim Mahkamah Arbitrase dari Persemakmuran Australia); dan delegasi Amerika Serikat diwakili Dr. Frank Graham (akademisi, saat itu Rektor Universitas North Carolina). Sementara itu, Presiden Soekarno, Wakil Presiden Moh. Hatta, PM Syahrir, dan Jenderal Soedirman hadir di perundingan tersebut sebagai pengamat. Pertemuan KTN dengan pemerintah Republik Indonesia di Wisma Kaliurang pada 13 Januari 1948 ini dilakukan menjelang pelaksanaan Perjanjian Renville (17 Januari 1948). Pertemuan di Kaliurang ini menghasilkan sebuah kesepakatan bersama yang disebut “Notulen Kaliurang”. Isi dokumen tersebut berupa: (1) penghentian tembak-menembak sesuai dengan resolusi; (2) PBB menjadi penengah konflik antara Indonesia dengan Belanda; dan (3) pemasangan patok-patok wilayah status quo yang dibantu oleh TNI. Peserta pertemuan KTN – RI 13 Januari 1948 berfoto di beranda samping Wisma Kaliurang Sumber: Perpustakaan Nasional RI (Catalog ID 604783) diperoleh dari https://khastara.perpusnas.go.id/landing/detail/604783/0 Perjanjian Renville masih memiliki dampak konfrontasi senjata bahkan konflik internal RI. Pascakegagalan perjanjian tersebut, di bangunan Wisma Kaliurang ini, juga menjadi tempat perundingan bilateral terakhir antara Indonesia–Belanda tanggal 27 November 1948 yang akhirnya tetap mengalami kebuntuan. Kegagalan Perundingan Kaliurang ini memicu terjadinya peristiwa Agresi Militer II pada 19 Desember 1948.


SENARAI TINGGALAN ZAMAN #1 CAGAR BUDAYA PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA EDISI PENDIDIKAN DAN PERJUANGAN 158PERGERAKAN, PERJUANGAN, & REVOLUSI KEMERDEKAAN Peristiwa ini berupa serangan mendadak tentara Belanda terhadap Yogyakarta yang pada waktu itu merupakan Ibu Kota Republik Indonesia. Sejak 1985, bangunan ini yang pada saat itu bernama Hotel Kaliurang, dikelola oleh Korem 072/Pamungkas dan berubah nama menjadi Wisma Kaliurang. Saat ini, kondisi bangunan tidak terdapat modifikasi denah baik pada Bangunan Induk maupun Bangunan Pendukung. Terdapat bangunan baru yang menutup tangga. Bangunan yang terdapat di Wisma Kaliurang masih difungsikan sebagai penginapan. Di interior Bangunan Induk, penambahan atau perubahan terjadi pada bagian lantai yaitu penggunaan keramik yang digunakan untuk menutupi lantai teraso dan tegel. Wisma Kaliurang termasuk sebagai Bangunan Cagar Budaya Peringkat Provinsi karena Wisma Kaliurang merupakan monumen peristiwa sejarah diplomasi internasional pada periode perang kemerdekaan. Di samping itu, bentuk arsitektur bangunan Wisma Kaliurang memiliki gaya arsitektur Indis sebagai penyesuaian dengan kondisi lingkungan Kaliurang. Hal ini merupakan salah satu bukti evolusi peradaban bangsa dan pertukaran budaya baik yang telah punah maupun yang masih hidup di masyarakat. Pertemuan KTN – RI 13 Januari 1948 di Wisma Kaliurang Sumber: Nasoren, dkk. 1954. Lukisan Revolusi, 1945-1950: dari negara kesatuan ke negara kesatuan, hlm. 231


159 SENARAI TINGGALAN ZAMAN #1 CAGAR BUDAYA PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA EDISI PENDIDIKAN DAN PERJUANGAN Daftar Bacaan » Andani, Angelica Hedy. 2011. “Strategi Pelestarian Bangunan Kolonial di Kaliurang”. Skripsi. Yogyakarta: Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada. » Balai Pelestarian Cagar Budaya. 2012. Laporan Herinventarisasi Pakem. Yogyakarta. » Balai Pelestarian Cagar Budaya Yogyakarta. 2015. Laporan Pendataan Bangunan Cagar Budaya Wisma Merapi Indah I, Yogyakarta. Yogyakarta. » Dingemans, L.F. 1925. Gegevens over Djokdjakarta 1925. » Nasoren, dkk. 1954. Lukisan Revolusi, 1945-1950: dari Negara Kesatuan ke Negara Kesatuan. Departemen Penerangan RI. » Poesponegoro, Marwati Djoened dan Nugroho Notosusanto. 1993. Sejarah Nasional Indonesia VI–Jaman Jepang dan Jaman Republik Indonesia (± 1942– 1984). Jakarta: Balai Pustaka. » Sumalyo, Yulianto. 1995. Arsitektur Kolonial Belanda di Indonesia. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. » Toer, Pramoedya Ananta, Koesalah Soebagyo Toer, dan Ediati Kamil. 2003. Kronik Revolusi Indonesia 4 (1948). Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.


SENARAI TINGGALAN ZAMAN #1 CAGAR BUDAYA PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA EDISI PENDIDIKAN DAN PERJUANGAN 160PERGERAKAN, PERJUANGAN, & REVOLUSI KEMERDEKAAN


161 SENARAI TINGGALAN ZAMAN #1 CAGAR BUDAYA PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA EDISI PENDIDIKAN DAN PERJUANGAN


SENARAI TINGGALAN ZAMAN #1 CAGAR BUDAYA PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA EDISI PENDIDIKAN DAN PERJUANGAN 162PERGERAKAN, PERJUANGAN, & REVOLUSI KEMERDEKAAN MONUMEN PERJUANGAN RUMAH MAKAN SATE PUAS » Keputusan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 210/KEP/2010 Tentang Penetapan Benda Cagar Budaya. » Keputusan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 335/KEP/2022 Tentang Penetapan Bangunan Cagar Budaya Monumen Perjuangan Rumah Makan Sate Puas sebagai Bangunan Cagar Budaya Peringkat Provinsi. Bangunan Cagar Budaya Monumen Perjuangan Rumah Makan Sate Puas merupakan nama bangunan rumah tradisional Jawa yang terletak di Jalan Gamelan Kidul No. 1, Yogyakarta. Bangunan ini berada di sudut persimpangan jalan dengan arah bangunan menghadap ke selatan dengan koordinat UTM 49 M 430158.00 m E; 9136549.00 m S. Pada masa Perang Kemerdekaan (1945–1949), bangunan ini digunakan sebagai tempat pertemuan para pejuang Republik Indonesia untuk berkumpul dan menyusun strategi. Agar tidak terlalu mencolok dan menimbulkan kecurigaan, pertemuan-pertemuan untuk membahas rencana militer tersebut memanfaatkan tempat niaga di dalam kawasan njeron beteng Kraton Yogyakarta yang berupa warung sate kambing yang bernama Puas. Warung ini menempati bangunan dalem pada bagian gandok tengen yang menghadap jalan di sisi baratnya. Kompleks bangunan ini terdiri atas beberapa komponen kelengkapan rumah tradisional Jawa seperti pendopo, dalem, gadri, gandok tengen, dan gandok kiwa. Pada Bangunan Cagar Budaya Monumen Perjuangan Rumah Makan Sate Puas, keseluruhan lahan berbentuk persegi panjang dengan orientasi arah utara–selatan dan akses masuk utama berada di sisi selatan. Wisma Kaliurang tampak dari sisi utara Sumber: NFA02:chb-5065-1 (Negatief), Indonesië onafhankelijk - foto's 1947-1953, Nederlands Fotomuseum


163 SENARAI TINGGALAN ZAMAN #1 CAGAR BUDAYA PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA EDISI PENDIDIKAN DAN PERJUANGAN Bangunan Cagar Budaya Monumen Perjuangan Rumah Makan Sate Puas Sumber: Citra Satelit Google Earth tanggal 26/05/2021 Arsitektur bangunan bergaya tradisional Jawa dengan bentuk atap limasan. Bangunan ini terdiri atas beberapa ruang bangunan dengan pola keruangan sebagai berikut. Sultan Hamengku Buwono IX mengunjungi bangunan Warung Sate Kambing “Puas” di Gamelan dalam perjalanan memeriksa desa-desa pertahanan gerilya pada 4-5 Juli 1949 Sumber: IPPHOS, 1949 (Inventarisasi Arsip Foto IPPHOS 1945-1949, No. Foto: 1312, No. Album: 21.7-2) 1. Pendopo Pendopo berada di bagian depan bangunan yang menyambung dengan dalem tanpa longkangan dan pringgitan. Pendapa memiliki atap berbentuk limasan srotong dengan penutup atap berupa genting vlam. Konstruksi bangunan dari kayu ditopang oleh 12 saka masing-masing tinggi 3,50 m yang terdiri atas 8 saka menopang pamidhangan, dan 4 saka menopang atap emper depan. Empat saka di bagian tengah bertumpu pada umpak, sedangkan 4 saka lainnya langsung bertumpu pada lantai (sistem ceblokan). Lantai pendopo memiliki ketinggian ± 26 cm dari permukaan halaman dengan bahan berupa tegel berukuran 20 cm x 20 cm berwarna kuning. Denah pendopo berbentuk persegi panjang dengan ukuran lebar muka 9,44 m dan panjang 10,09 m. 2. Dalem Atap bangunan dalem berupa limasan, balok bubungan ditopang dua ander dengan penutup atap genteng vlam. Denah dalem berbentuk persegi berukuran 8,87 m x 9,44 m. Area dalem dapat diakses dari sisi selatan melalui pendopo. Akses berupa pintu 150 cm, daun pintu model kupu tarung, berbahan panil kayu dengan motif geometris. Di sisi kanan dan kiri pintu, terdapat jendela dengan model kupu tarung, berbahan panil kayu, bermotif geometris. Area ruangan


SENARAI TINGGALAN ZAMAN #1 CAGAR BUDAYA PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA EDISI PENDIDIKAN DAN PERJUANGAN 164PERGERAKAN, PERJUANGAN, & REVOLUSI KEMERDEKAAN dalem lebih tinggi 20 cm dari lantai pendopo, sedangkan area bagian sisi selatan ruangan dalem selebar 2,30 m. Bagian tengah ruangan dalem mencakup area senthong yang berukuran 6,57 m. Di bagian dalem, terdapat 3 ruangan senthong, yaitu senthong tengen berukuran 3,02 m x 2,90 m; senthong tengah berukuran 3,05 m x 2,99 m; dan senthong kiwa berukuran 3,02 m x 2,90 m. Senthong tengen dan senthong kiwa diakses melalui pintu model kupu tarung, dengan daun pintu berupa kombinasi panil kayu dan panil kaca mati, bermotif geometris. Senthong tengah memiliki akses lebih lebar tanpa daun pintu. Tiga akses masing-masing senthong tersebut memiliki tebeng dengan motif lung-lungan di bagian atasnya. Di sisi selatan ruangan dalem, terdapat pintu ke arah barat dan timur menuju gandok kiwa dan gandok tengen. 3. Gandok Kiwa Gandok kiwa merupakan bangunan memanjang di sisi timur bangunan utama. Unit bangunan ini memiliki atap kampung pacul gowang dengan penutup atap berbahan genting vlam. Denah bangunan berukuran panjang 8, 8m dan lebar 7,1 m. Di sisi selatan (muka) gandok, terdapat akses masuk berupa pintu panel kayu tunggal bermotif geometris. Di gandok kiwa, akses jalan berada pada bagian tengah mengarah ke bagian belakang (utara). 4. Gandok Tengen Gandok tengan ialah bangunan memanjang di sisi barat bangunan utama (dalem). Gandok tengen memiliki atap kampung jompongan dengan penutup atap berbahan genteng vlam. Gandok tengen berukuran panjang 8,87 m dan lebar muka 6,50 m. Di sisi selatan (muka) gandok terdapat akses masuk berupa pintu panel kayu tunggal bermotif geometris. Selain itu, di sisi barat bangunan gandok tengen yang menghadap jalan, terdapat 3 pintu dan 2 jendela. Dua pintu berupa pintu ganda panil kayu bermotif geometris. Satu pintu lainnya di sisi utara berupa pintu tunggal panil kayu bermotif geometris. Masing-masing pintu memiliki atap teritis yang ditopang (konsol) rangka kayu beratap seng. Adapun 2 jendela pada pemukaan dinding ini berupa jendela ganda panel kayu bermotif geometris. Bagian gandok tengen ini dahulu difungsikan sebagai area warung sate kambing Puas. 5. Gadri Gadri merupakan ruang terbuka di belakang (sisi utara) senthong dengan orientasi arah timur-barat. Denah gadri memiliki panjang 9,44 m dan lebar 2,99 m. Atap gadri yang melandai ke arah area terbuka di sisi utara disangga oleh 4 tiang. Dua tiang di ujung barat dan timur berbahan pasangan bata, sedangkan dua tiang


165 SENARAI TINGGALAN ZAMAN #1 CAGAR BUDAYA PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA EDISI PENDIDIKAN DAN PERJUANGAN di bagian tengah berbahan kayu. Gadri terdiri atas 3 ruangan. Ruangan sisi barat berukuran 4,76 m x 4,50 m dan memiliki pintu masuk berbahan panil kayu daun pintu tunggal, bermotif geometris. Ruangan berikutnya berukuran 4,76 m x 3,22 m dengan model pintu yang sama dari arah selatan. Ruangan lainnya merupakan ruangan paling luas berukuran panjang 15,69 m dan lebar 4,78 m. Di sisi selatan, terdapat lantai teras/ emper selebar 1,65 m. Bagian gadri telah direhabilitasi secara menyeluruh dan disesuaikan dengan pengembangan fungsi saat ini, salah satunya yaitu dengan menambahkan kaca sebagai pembatas ruangan. Bagian gadri pada bangunan Monumen Rumah Makan Sate Puas tidak termasuk bagian Cagar Budaya. 6. Sumur dan Kamar Mandi Depan Terdapat dua sumur di area lahan Monumen Perjuangan Sate Puas. Sumur pertama terletak di sisi barat halaman depan. Sumur kedua berada di sisi timur laut atau di area gandok kiwa bagian belakang. Sumur yang terletak di area gandok kiwa berbentuk bulat dengan ketinggian bibir sumur 1 m. Sumur yang terletak di halaman sisi barat berbentuk bulat dengan bibir sumur setinggi 1 m dan memiliki dua pilar untuk menggantung katrol untuk menimba air. Di sisi barat sumur, terdapat bangunan kamar mandi berukuran 3,10 m dan lebar 2,24 m. Bangunan kamar mandi terbagi menjadi 2 ruangan, masing-masing berukuran 2,24 m x 2,05 m dan 2,24 m x 1,05 m. Kamar mandi ini memiliki saluran air di dinding luarnya untuk mengalirkan air ke dalam bak di dalam kamar mandi. Bangunan Cagar Budaya Monumen Perjuangan Rumah Makan Sate Puas masih menunjukkan tata ruang bangunan tradisional Jawa dengan sedikit perubahan berupa penambahan bangunan baru di bagian belakang (area pawon). Secara keseluruhan, bangunan ini telah mengalami perubahan fungsi dari rumah tinggal menjadi monumen bersejarah sekaligus sebagai fasilitas untuk masyarakat bagi kegiatan sosial budaya. Di sudut barat daya halaman depan di bagian dalam pagar halaman, terdapat monumen peringatan peristiwa bersejarah berupa satu patung di atas pedestal. Monumen tersebut berupa figur pejuang masa perang kemerdekaan, tiang bendera dengan monumen prasasti peringatan peristiwa pengibaran bendara merah putih, dan prasasti di atas pedestal berisi informasi peranan bangunan tersebut pada masa perjuangan yang dibuat oleh Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta. Di bangunan tersebut, terdapat beberapa penambahan komponen pendukung. Seperti di bagian depan pendopo yang terdapat penambahan komponen berupa kanopi


SENARAI TINGGALAN ZAMAN #1 CAGAR BUDAYA PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA EDISI PENDIDIKAN DAN PERJUANGAN 166PERGERAKAN, PERJUANGAN, & REVOLUSI KEMERDEKAAN dengan rangka besi dan atap polycarbonat. Di bagian bawah kanopi, terdapat peninggian lantai berbahan batu andesit (batu hitam) dengan panjang 9,44 m dan lebar 2,15 m. Ketinggian lantai tambahan tersebut memiliki selisih ± 7–10 cm dengan lantai pendopo. Selain itu, di halaman sisi timur, terdapat bangunan kanopi yang dimanfaatkan sebagai lahan parkir kendaraan. Kanopi tersebut terbuat dari rangka besi dan atap berbahan asbes bergelombang. Halaman rumah ditutup dengan lantai batu andesit dan paving serta penambahan pagar halaman di sisi selatan dan barat. Bangunan Cagar Budaya Monumen Perjuangan Rumah Makan Sate Puas merupakan bangunan yang awalnya digunakan sebagai tempat tinggal abdi dalem Bangunan Joglo sebagai Monumen Perjuangan RM Sate Puas pada Peta Yogyakarta 1925 (Jogjakarta en Omatreken), skala 1:25.000 Sumber: Digital Collections Universiteit Leiden (http://hdl.handle. net/ 1887.1/item:2012431) Kraton Yogyakarta Djajengtutugo (KRT Danudipuro) yang didirikan sekitar 1920-an (tapak bangunan ini telah tercantum pada Peta Kota Yogyakarta tahun 1925). Pada masa perjuangan kemerdekaan (1945–1949) di Yogyakarta, bangunan ini digunakan sebagai dapur umum dan tempat konsolidasi gerilyawan yang disamarkan dengan memanfaatkan Warung Sate Kambing Puas. Karena perannya tersebut, bangunan ini kemudian dikenal sebagai Monumen Perjuangan. Di halaman bangunan, terdapat monumen peringatan peristiwa Serangan Umum 1 Maret 1949 pada masa Agresi Militer Belanda Kedua (Clash II). Tempat ini juga merupakan lokasi peristiwa pengibaran bendera merah putih untuk yang pertama kali pada tanggal 29 Juni 1949 di masa akhir periode pendudukan tentara Belanda di Yogyakarta. Riwayat Pelestarian 1. Pemda DIY melalui Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta membeli


167 SENARAI TINGGALAN ZAMAN #1 CAGAR BUDAYA PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA EDISI PENDIDIKAN DAN PERJUANGAN tanah dan bangunan ini dari masyarakat. Selanjutnya, pada 2012, dilakukan rehabilitasi sekaligus adaptasi untuk mewadahi aktivitas yang akan dilakukan pada bangunan ini. Pekerjaan rehabilitasi dilakukan di bangunan  pendapa, ndalem, gadri, gandhok tengen  dan  gandhok kiwa,  pakiwan  atau bangunan penunjang seperti kamar mandi, sumur, dan dapur. Selain itu, pekerjaan dilakukan juga di bangunan kamar mandi dan sumur di bagian kanan depan dan pagar keliling. 2. Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta pernah memanfaatkan bangunan ini sebagai kantor UPT Balai Pelestarian Warisan Budaya dan Cagar Budaya tahun 2016–2018. Bangunan Cagar Budaya Monumen Perjuangan Rumah Makan Sate Puas merupakan salah satu bukti sejarah perjuangan masa Perang Kemerdekaan (Clash II) di Yogyakarta. Hal tersebut dikarenakan bagian gandoknya difungsikan sebagai warung yang kemudian disamarkan sebagai tempat pertemuan pejuang pada masa Perang Kemerdekaan di Yogyakarta. Saat ini, bangunan tersebut dimiliki oleh Dinas Kebudayaan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Daftar Bacaan » Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta. 2007. Ragam Penanda Zaman: Memaknai Keberlanjutan Merawat Jejak Keberagaman. Yogyakarta: Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta. » Mohamad Roem, Mochtar Lubis, Kustiniyati Mochtar, dan S. Maimoen. 2011. Takhta untuk Rakyat: Celah-Celah Kehidupan Sultan Hamengku Buwono IX, Peny. Atmakusumah (cet. Keempat, Edisi Revisi). Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. » Inventarisasi Arsip Foto IPPHOS 1945-1949, No. Foto: 1312, No. Album: 21.7-2


SENARAI TINGGALAN ZAMAN #1 CAGAR BUDAYA PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA EDISI PENDIDIKAN DAN PERJUANGAN 168PERGERAKAN, PERJUANGAN, & REVOLUSI KEMERDEKAAN Monumen Perjuangan Rumah Makan Sate Puas sebelum dilakukan rehab Sumber: Dinas Kebudayaan DIY, 2010 Bangunan setelah dilakukan rehab Sumber: Dinas Kebudayaan DIY, 2023


169 SENARAI TINGGALAN ZAMAN #1 CAGAR BUDAYA PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA EDISI PENDIDIKAN DAN PERJUANGAN


SENARAI TINGGALAN ZAMAN #1 CAGAR BUDAYA PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA EDISI PENDIDIKAN DAN PERJUANGAN 170PERGERAKAN, PERJUANGAN, & REVOLUSI KEMERDEKAAN DALEM JOYODIPURAN » Peraturan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia Nomor PM.25/ PW.007/MKP/2007 tanggal 26 Maret 2007 tentang Penetapan Situs dan Bangunan Tinggalan Sejarah dan Purbakala yang Berlokasi di Wilayah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta sebagai Benda Cagar Budaya, Situs, atau Kawasan Cagar Budaya yang Dilindungi Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya. » Surat Keputusan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 75/KEP/2023 Tentang Penetapan Bangunan Cagar Budaya Dalem Jayadipuran sebagai Bangunan Cagar Budaya Peringkat Provinsi. Masa-masa memperjuangkan kemerdekaan adalah situasi yang sangat membutuhkan kebersamaan dan persatuan. Kelompok-kelompok pemuda dan kelompok perempuan menghimpun pemikiran dan kekuatan untuk urun perjuangan dalam ranah konsep dan pemikiran. Dalem Jayadipuran merupakan salah satu tempat yang menyimpan banyak cerita tentang kekuatan kelompok pemuda dari balik meja. Bangunan ini adalah saksi perjuangan yang masih bertahan hingga saat ini. Sebelum dimiliki oleh KRT Jayadipura, dalem ini pada mulanya bernama Dalem Dipowinatan. Penamaan ini merujuk pada kepemilikan bangunan yaitu KRT Dipowinata. Bangunan ini dibangun pada 1874 di atas tanah yang diberikan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono VII dengan status hak anggaduh. Setelah KRT Dipowinata meninggal pada 1911, bangunan ini digunakan oleh Raden Tumenggung Dipowinata II sampai 1914. Hak atas tanah kemudian dikembalikan kepada Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat, dan pada tahun 1917, Sultan Hamengkubuwono VII menghadiahkan Dalem Dipowinatan kepada menantunya, yaitu KRT Jayadipura. Sejak saat itu ,Dalem Dipowinatan kemudian berubah nama menjadi Dalem Jayadipuran. Saat serah terima kepemilikan tersebut, kondisi bangunan dalam keadaan tidak terawat sehingga KRT Jayadipura memperbaiki beberapa bagian bangunan dan menambahkan dua ruangan baru di bagian pringgitan.


171 SENARAI TINGGALAN ZAMAN #1 CAGAR BUDAYA PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA EDISI PENDIDIKAN DAN PERJUANGAN Dalem Jayadipuran memiliki riwayat kepemilikan yang cukup panjang, dari sejak dibangun hingga beralih kepemilikan kepada instansi. Masing-masing memiliki peran dalam keterawatan serta perubahan bentuk bangunan Dalem Jayadipuran. Adapun riwayat kepemilikan dan tindakan-tindakan yang dilakukan pada bangunan tersebut antara lain sebagai berikut. Tahun Kepemilikan & Perawatan 1874 Dibangun oleh KRT Dipowinata. 1911–1914 Bangunan ini digunakan oleh Raden Tumenggung Dipowinata II. 1914 Bangunan dikembalikan kepada Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. 1917 Hak atas tanah kemudian dikembalikan kepada Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat, dan pada tahun 1917, Sultan Hamengkubuwono VII menghadiahkan Dalem Dipowinatan kepada menantunya, yaitu KRT Jayadipura. Setelah Dalem Dipowinatan diserahkan kepada KRT Jayadipura pada tahun 1917, bangunan ini direnovasi dan terdapat penambahan ruangan, antara lain penambahan kuncungan dan pembuatan dua ruangan di sisi kanan kiri pringgitan yang bersebelahan dengan emper samping sebagai ruang persiapan penari. 1939 KRT Jayadipura meninggal dunia pada tahun 1939 dan kepemilikan bangunan ini diserahkan kepada salah satu kerabat keraton. 1950–1983 Dalem Jayadipuran disewa oleh Departemen Kesehatan sebagai kantor dan Balai Pengobatan Penyakit Malaria, Framboesia, Kudis, dan Kusta. 1983 Pindah kepemilikan ke Soemadi Wonohito, S.H. (Direktur Kedaulatan Rakyat) dan KRT Yudokusuma. 1984 Dalem Jayadipuran dibeli oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan melalui proyek dari Balai Pelestarian dan Pemeliharaan Peninggalan Sejarah dan Purbakala (BP3) Daerah Istimewa Yogyakarta 1985 Setelah bangunan ini dibeli oleh pemerintah Republik Indonesia pada tahun 1985, bangunan ini direnovasi dan fungsi ruangan-ruangan di bangunan induk disesuaikan dengan kebutuhan sebagai ruang kantor Departemen Kesehatan (1950–1983). Kemudian, sejak tahun 1984, bangunan ini difungsikan sebagai kantor Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional (BKSNT) Yogyakarta (kemudian berganti nama menjadi Balai Pelestarian Nilai Budaya BPNB Yogyakarta). Pada halaman depan, terdapat pohon sawo kecik yang ditanam saat alih fungsi Dalem Jayadipuran menjadi kantor Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional (BKSNT) Yogyakarta.


SENARAI TINGGALAN ZAMAN #1 CAGAR BUDAYA PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA EDISI PENDIDIKAN DAN PERJUANGAN 172PERGERAKAN, PERJUANGAN, & REVOLUSI KEMERDEKAAN 1985–1986 Dalem Jayadipuran dipugar oleh Proyek Javanologi, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. 1990-an Proyek Javanologi Depdikbud ditarik ke kantor pusat sehingga seluruh Dalem Jayadipuran digunakan oleh Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional (BKSNT) Yogyakarta dan kemudian bernama Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Yogyakarta. Dalem Jayadipuran merupakan bangunan yang penting pada Masa Pergerakan karena sering kali digunakan sebagai tempat penyelenggaraan kongres organisasi pergerakan sosial politik. Kongres yang berturut-turut dilakukan pada tahun 1919–1928 di antaranya yakni sebagai berikut. 1. Kongres Jong Java II (29 Mei–3 Juni 1919) Kongres Jong Java II membahas peranan wanita dalam organisasi dalam pergerakan nasional. Keputusan penting yang diambil dalam kongres ini adalah persetujuan keterlibatan wanita dalam pengurus besar dan redaksi majalah organisasi. 2. Kongres Jong Java VI (23–27 Mei 1923) Kongres Jong Java VI membahas permasalahan-permasalahan internal organisasi seperti penyusunan anggaran rumah tangga organisasi. Dalam kongres ini, anggaran rumah tangga organisasi berhasil disetujui oleh para anggota. 3. Kongres Jong Java VII (27–31 Desember 1924) Kongres Jong Java VII membahas pengaruh Sarekat Islam dalam Jong Java dan kebebasan berpolitik bagi anggota yang sudah berumur di atas 18 tahun. Selain itu, kongres ini juga memutuskan pembentukan Jong Java Studie Fonds (Dana Pendidikan Jong Java) sebagai cabang dari Jong Java yang mengurus pemberian bantuan (uang) bagi para anggotanya. 4. Kongres Jong Java XI (25–29 Desember 1928) Kongres Jong Java XI menyetujui ide fusi atau peleburan organisasi-organisasi pemuda ke dalam satu organisasi yang memiliki cabang di seluruh Indonesia. Terdapat ketetapan agar ada waktu peralihan sebagai persiapan dan pembentukan komisi persiapan. 5. Kongres Jong Islamieten Bond (1925) Kongres Jong Islamieten Bond I yang diadakan di Dalem Jayadipuran pada tahun 1925 dihadiri oleh Tjokroaminoto, Soerjopranoto, Dwijosewoto, Suwardi Suryaningrat, Agus Salim, H. Fachrudin, dan Mirza Wali Ahmad Baiq (Afschrift


173 SENARAI TINGGALAN ZAMAN #1 CAGAR BUDAYA PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA EDISI PENDIDIKAN DAN PERJUANGAN Congres Jong Islamieten Bond dalam Harnoko, 2014: 81). Dalam kongres ini, Raden Samsul Rizal membahas arah dan tujuan Jong Islamieten Bond, kedudukan pelajar wanita Islam, organisasi pemuda yang nasionalis, dan sikap Jong Islamieten Bond terhadap politik. 6. Kongres Jong Islamieten Bond II (23–27 Desember 1927) Kongres Jong Islamieten Bond II kembali mengadakan kongres di Dalem Jayadipuran pada tanggal 23–27 Desember 1927. Kongres ini membahas tentang keislaman dalam cita-cita persatuan dan pembentukan Jong Islamieten Bond Dames Afdeeling (JIBDA) yang merupakan organisasi wanita Islam. Kongres ini dihadiri oleh RM. Aryo Yosodipuro, dr. Soekiman, H. Sujak, RM. Suryopranoto, dan tokoh-tokoh kebangsaan termasuk dari PNI (Afschrift Congres Jong Islamieten Bond). 7. Rapat Umum PNI (17 Juni 1927) Setelah Perserikatan Nasional Indonesia (PNI) dibentuk di Bandung, didirikan pula cabang PNI di Yogyakarta yang diketuai oleh Mr. Soejoedi. Setelah ada berita mengenai penggeledahan dan penangkapan para pemimpin Perhimpunan Indonesia di Belanda, PNI mengadakan rapat umum di Dalem Jayadipuran pada tanggal 17 Juni 1927. Rapat ini dihadiri oleh PSI dan cabang-cabangnya, PNI, BU, Muhammadiyah, JIB, SIAP, Taman Siswa, Al Kaasyaaf, dan wakil dari perkumpulan Tionghoa (Bintang Hindia No. 2, 1928). Drijowongso menjadi pemimpin dalam rapat ini dan Dr. Soekiman Wirjosandjojo menjadi pembicara utama. Dalam rapat ini, Suwardi Suryaningrat mengusulkan agar dibentuk panitia penolong para mahasiswa Indonesia di Belanda, terutama mereka yang menjadi korban penangkapan. 8. Kongres Peleburan Kepanduan (1927) Awal gerakan kepanduan di Hindia Belanda ditandai dengan munculnya cabang organisasi kepanduan milik Belanda bernama Nederlandsche Padvinders Organisatie (NPO) pada 1912. Pada tahun 1916, organisasi ini berubah nama menjadi Nederlands Indische Padvinders Vereniging (NIVP). Pada tahun yang sama, Mangkunegara VII membentuk organisasi kepanduan pertama milik Indonesia dengan nama Javaansche Padvinder Organisatie (JPO). Lahirnya JPO memicu gerakan nasional lainnya untuk membuat organisasi sejenis, antara lain Hizbul Wathan (HM) pada 1918, Jong Java Padvinderij (JJP) pada 1923, Nationale Padvinders (NP), Nationaal Indonesische Padvinderij (NATIPIJ), Pandoe Pemoeda Sumatra (PPS), dan penyatuan organisasi pandu diawali dengan lahirnya Indonesische Padvinderij Organisatie (INPO) pada 1926 sebagai peleburan dua organisasi kepanduan, NPO


SENARAI TINGGALAN ZAMAN #1 CAGAR BUDAYA PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA EDISI PENDIDIKAN DAN PERJUANGAN 174PERGERAKAN, PERJUANGAN, & REVOLUSI KEMERDEKAAN dan Jong Indonesische Padvinderij Organisatie (JIPO). Karena organisasi kepanduan milik Indonesia semakin banyak, Belanda kemudian melarang penggunaan istilah Padvinder bagi organisasi kepramukaan selain milik Belanda. Oleh karena itu, K.H. Agus Salim memperkenalkan istilah pandu atau kepanduan untuk organisasi Kepramukaan milik Indonesia. Pada 23 Mei 1928, dibentuklah Persaudaraan Antar Pandu Indonesia (PAPI) yang terdiri atas anggota INPO, SIAP, NATIPIJ, dan PPS. 9. Kongres Perempuan Indonesia I (22–25 Desember 1928) Kongres Perempuan Indonesia dilaksanakan atas inisiatif tujuh organisasi perempuan, yaitu Wanito Utomo, Puteri Indonesia, Aisyiyah, Wanita Taman Siswa, Jong Islamieten Bond Dames Afdeeling, Jong Java Meisjeskring, Wanita Katolik dengan tiga tokoh pemrakarsa, yaitu Ny. R.A. Sukonto, Nyi Hajar Dewantara dan Suyatin (Ny. S. Kartowiyono) (Afschrift Vrouwen Congres, 1928). Selain ketujuh organisasi perempuan yang menjadi pelopor, kongres ini juga diikuti oleh 15 organisasi perempuan dari berbagai kota di Jawa. Kelima belas organisasi itu adalah Budi Rini (Malang), Budi Wanito (Solo), Darmo Laksmi (Salatiga), Kartiwara (Solo), Kusumo Rini (Kudus), Margining Kautaman (Kemayoran), Nahdlatul Fataat (Yogyakarta), Panti Krido Wanito (Pekalongan), Putri Budi Sejati (Surabaya), Rukun Wanodiyo (Jakarta), Sancaya Rini (Solo), Sarekat Islam Bagian Istri (Surabaya), Wanito Kencono (Banjarnegara), Wanito Mulyo (Yogyakarta), dan Wanita Sejati (Bandung). Selain itu, terdapat organisasi yang bersifat keagamaan, yaitu Islam dan Katolik, serta organisasi yang bersifat sekuler. Berdasarkan catatan kongres, terdapat 30 organisasi yang mengirimkan utusan. Namun, pada kenyataannya, beberapa perwakilan yang hadir merupakan perwakilan cabang dari organisasi yang sama (Afschrift Vrouwen Congres, 1928). Peserta Kongres Jong Java berfoto di depan Pendopo Jayadipuran Sumber: Rumah Kebangsaan: Dalem Jayadipuran (2020)


175 SENARAI TINGGALAN ZAMAN #1 CAGAR BUDAYA PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA EDISI PENDIDIKAN DAN PERJUANGAN Beberapa perkumpulan wanita yang tidak dapat hadir tetapi mengirimkan telegram antara lain Kaum Ibu Sumatra, Kautaman Istri Sumatra, Wanita Utama Bogor, Putri Pemuda Sumatra, Jakarta, Perserikatan Marsudi Rukun Jakarta, Dewan Pimpinan Majelis UIama, dan Pemuda Sumatra, Jakarta. Di sisi lain, perkumpulan di luar organisasi wanita yang menghadiri kongres ini antara lain dari Budi Utomo, PNI (Pimpinan Pusat), CPPPBD, Perhimpunan Indonesia (Pimpinan Pusat), Partai Islam (cabang), Partai Sarekat Islam (Yogyakarta), MKD, Jong Java (Yogyakarta), Wal Fajri (Pimpinan Pusat), Persaudaraan Antara Pandu Indonesia Batavia, PJA, PTI, Jong Madura, Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Jong Java Batavia, Jong Islamieten Bond (Pimpinan Pusat), PAPIM, PSD, Sangkara Muda, INPO, dan Sarekat Islam cabang Pandu. Selain itu, ada juga wakil dari pers dan pemerintah. Tujuan Kongres Perempuan Indonesia I adalah untuk menjalin hubungan dari berbagai perkumpulan perempuan yang sudah ada dan membicarakan berbagai hal yang dihadapi oleh kaum perempuan Indonesia. Keputusan paling penting yang diambil oleh Kongres Perempuan Indonesia adalah membentuk badan pemufakatan yang dinamakan Perikatan Perempuan Indonesia (PPI) dan berkedudukan di Yogyakarta atau di tempat lain yang menjadi tempat tinggal pengurusnya (Afschrift Vrouwen Congres, 1928). Usaha-usaha yang akan dijalankan antara lain menerbitkan surat kabar yang akan menjadi tempat bagi kaum perempuan Indonesia untuk mengemukakan gagasan dan kehendak yang berkaitan dengan hak dan kewajibannya. Selain itu, PPI juga membentuk studie fonds (badan derma) untuk membantu gadis-gadis yang tidak mampu bersekolah, mencegah perkawinan anak-anak, serta mengirim mosi kepada pemerintah Hindia Belanda agar: 1. secepatnya mengadakan dana untuk janda dan anak-anak, 2. jangan mencabut onderstand (tunjangan pensiun), 3. memperbanyak sekolah khusus untuk para perempuan, dan 4. mengirim mosi kepada pengadilan agama agar setiap talak dikukuhkan secara tertulis sesuai dengan peraturan agama Islam. Mengingat pentingnya Kongres Perempuan Indonesia I ini, maka hari ulang tahun kongres yang bertepatan pada tanggal 22 Desember diperingati sebagai Hari Ibu di Indonesia. Sejak tahun 1987, seluruh kompleks Dalem Jayadipuran ini digunakan sebagai kantor Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional (BKSNT) Yogyakarta dan kantor Proyek Javanologi Depdikbud RI. Saat ini, Dalem Jayadipuran digunakan sebagai kantor Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Daerah Istimewa Yogyakarta. Bentuk bangunan masih utuh dan


SENARAI TINGGALAN ZAMAN #1 CAGAR BUDAYA PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA EDISI PENDIDIKAN DAN PERJUANGAN 176PERGERAKAN, PERJUANGAN, & REVOLUSI KEMERDEKAAN terawat dengan baik. Namun, untuk memenuhi kebutuhan fungsi saat ini, beberapa bagian bangunan dan komponennya disesuaikan untuk memenuhi kebutuhan fungsi kantor. Bangunan induk dialihfungsikan sebagai ruang kepala, sekretariat, dan keuangan. Selain sebagai kantor, Dalem Jayadipuran juga digunakan sebagai lokasi pengembangan dan pelestarian kebudayaan seperti pementasan tari. Di sisi utara bangunan induk, juga dibuat bangunan baru sebagai kantor karyawan. Penambahan fungsi lain juga terjadi pada bagian masing-masing seketheng barat dan timur. Pada awalnya, seketheng merupakan gerbang tanpa daun pintu. Namun, sejak Dalem Jayadipuran digunakan sebagai kantor, gerbang ini diberi tambahan daun pintu. Kemudian, gerbang di sisi timur dan utara tembok kompleks yang berupa pintu kini ditutup aksesibilitasnya. Meskipun saat ini digunakan sebagai kantor, Dalem Jayadipuran tetap Sketsa denah Bangunan Cagar Budaya Dalem Jayadipuran tahun 2014 Sumber: Harnoko, Darto, dkk. 2014 Sketsa denah Bangunan Cagar Budaya Dalem Jayadipuran tahun 1917 (Sumber: Harnoko, Darto, dkk. 2014). mempertahankan langgam bangunan tradisiona Jawa baik dari pembagian komponen bangunan maupun tata letaknya. Kompleks Dalem Jayadipuran dikelilingi tembok pembatas setinggi 2 meter yang dilengkapi dengan tiga gerbang. Gerbang utama berada di sisi barat dan dua gerbang lainnya berada di sisi timur dan utara. Gerbang utama merupakan gerbang berpintu dan pernah mengalami renovasi setelah terdampak gempa pada 27 Mei 2006. Kompleks Dalem Jayadipuran terdiri atas bangunan utama dan bangunan


177 SENARAI TINGGALAN ZAMAN #1 CAGAR BUDAYA PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA EDISI PENDIDIKAN DAN PERJUANGAN pelengkap. Bangunan utama meliputi susunan ruangan lengkap khas arsitektur rumah Jawa. 1. Kuncungan Bagian ini merupakan komponen bangunan yang terletak di depan pendopo dan berfungsi sebagai akses masuk utama dari selatan sekaligus tempat pemberhentian kendaraan. Bagian ini berdenah persegi, permukaan lantai dengan lantai tegel abu-abu. Kuncungan terdiri atas 6 tiang kayu dan atap berbentuk tajuk, bahan penutup atap zincalume dengan hiasan kemuncak meruncing ke atas berbahan kayu. 2. Topengan Bagian ini berada di depan pendopo dengan denah persegi panjang. Bentuk atapnya berupa limasan jebengan dengan bahan penutup atap zincalume. Konstruksi atap ditopang oleh 8 tiang, berbahan kayu berornamen dengan penampang persegi. Di bagian di bawah srawing, terdapat teririsan dengan konsol besi berornamen dengan bahan penutup seng gelombang. 3. Pendopo Pendopo berupa ruang terbuka dengan denah persegi panjang. Atap pendopo berbentuk limasan dengan bahan penutup atap zincalume. Konstruksi atap ditopang 10 tiang berbahan kayu berornamen ragam hias berupa garis horizontal dan simbol Lingga-Yoni. Pada setiap sudut pendopo, terdapat konsol penyangga teririsan berbahan besi berornamen lung-lungan. Antartiang di sisi luar terdapat srawing dengan ujung berornamen banyu tumetes. 4. Pringgitan dan Emper Dalem Dua bagian ini berada dalam satu atap berbentuk limasan dengan konstruksi yang disangga oleh 6 pilar, sedangkan dinding tembok di bagian belakang (sisi utara) merupakan dinding depan dalem ageng. Komponen plafon menyatu dengan plafon pendopo yang berbahan timah hitam. Pringgitan merupakan ruangan terbuka di antara pendopo dan dalem ageng yang berdenah empat persegi. Di sisi kiri dan kanan emper dalem terdapat dua ruang yang memiliki 3 pintu ganda di sisi luar, sisi dalam (utara), dan sisi ke emper dalem ageng. Masing-masing ruangan memiliki 2 jendela di sisi yang menghadap pringgitan dan di dinding sisi luar (timur dan barat). 5. Dalem Ageng Bagian dalem ageng sebagai tata ruang inti dalam kompleks bangunan ini terdiri atas dua segmen yang berupa dalem dan senthong. Denah bagian dalem berupa


SENARAI TINGGALAN ZAMAN #1 CAGAR BUDAYA PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA EDISI PENDIDIKAN DAN PERJUANGAN 178PERGERAKAN, PERJUANGAN, & REVOLUSI KEMERDEKAAN persegi panjang. Pintu utama (pintu tengah) dahulu dibuka dengan cara ditarik dari bawah ke atas. Saat ini, pintu tengah diperbesar dan daun pintu diganti dengan daun pintu bukaan ke depan. 6. Senthong Bagian senthong berdenah persegi panjang. Tata ruang terdiri atas senthong tengah, senthong kiwa, dan senthong tengen. Ruangan ini memiliki masing-masing jendela di dinding sisi luar dan pintu di dinding sisi depan (menuju bagian dalem) dan sisi belakang (menuju bagian gadri). 7. Gadri Bagian gadri merupakan tata ruang paling belakang dari bangunan utama, memiliki fungsi awal sebagai tempat makan dan istirahat. Bagian gadri berdenah persegi panjang dengan atap berbentuk limasan. Akses menuju gadri dari selatan dapat melalui 2 pintu yang masing-masing dari ruangan senthong kiwa, dan senthong tengen, 3 pintu ganda di sisi utara menuju emper belakang. Permukaan lantai gadri dan emper belakang lebih rendah dari ruangan dalem dan senthong, tetapi lebih tinggi dari permukaan tanah halaman belakang. 8. Emper Samping Bagian emper ini berada di sisi barat dan timur bangunan dalem ageng sampai dengan gadri berdenah persegi panjang berorientasi utara-selatan. Masing-masing sisi terluar memiliki tambahan partisi kayu sehingga berbentuk menyerupai bagian gandok. Kedua bagian emper samping ini memiliki 3 ruang dengan sekat partisi yang dihubungkan pintu ganda serta memiliki akses menuju ruang senthong dan gadri. 9. Seketheng Seketheng merupakan pintu gerbang pada tembok pagar yang memisahkan halaman luar (area pendopo-pringgitan-emper dalem) dan halaman dalam (area dalem ageng–gadri). Seketheng terdapat di sisi barat dan timur. Bangunan pelengkap berupa bangunan eks-Standart School merupakan sekolah yang diperuntukkan bagi anak-anak para bangsawan pribumi, lurah, perangkat desa, dan saudagar. Bangunan eks-Standart School berada di sisi selatan halaman depan. Bangunan eks-Standart School berbentuk limasan jebengan yang memanjang dari timur ke barat. Bangunan ini terdiri atas 4 ruangan dengan ukuran yang sama dan beberapa kamar mandi di sisi timur. Di setiap ruangan, terdapat dua buah jendela yang berukuran tinggi dan besar dengan bukaan ke depan. Di samping kedua jendela, terdapat pintu dengan dua daun pintu yang membuka ke luar. Di atas pintu, terdapat lubang angin


179 SENARAI TINGGALAN ZAMAN #1 CAGAR BUDAYA PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA EDISI PENDIDIKAN DAN PERJUANGAN dengan ragam hias geometris yang terbuat dari kayu dan besi. Setiap ruangan kelas memiliki motif tegel yang berbeda tetapi masih dalam tema flora yang serupa dengan motif lantai pada bangunan utama Dalem Jayadipuran. Di teras ruangan kelas, terdapat pagar atau hek memanjang yang terbuat dari kayu dengan bentuk ragam hias banyu tetes yang terbalik. Seperti bangunan tradisional Jawa pada umumnya, tiap bagian memiliki karakter yang khas dengan nilai-nilai filosofi yang menjadi panduan baik bagi penghuni maupun orang yang bertamu. Walaupun dalam perjalanannya bangunan ini sempat beralih kepemilikan dan fungsi, tetapi bagian-bagiannya tetap tegas akan identitas arsitekturnya. Keunikan pada bagian-bagian arsitekturnya menjadi penanda zaman yang mencakup nilai kebudayaan, pendidikan, dan ilmu pengetahuan. Begitu juga dengan peristiwaperistiwa penting yang pernah terjadi dalam naungan ruangnya, tetap tercatat secara jelas dalam jejak perjuangan Indonesia untuk meraih kemerdekaan. Dalem Jayadipuran adalah bangunan yang perlu dilestarikan keberadaannya karena merupakan bukti fisik peristiwa pergerakan nasional serta wujud akulturasi budaya. Sumber bacaan » Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Yogyakarta. 2020. Rumah Kebangsaan: Dalem Joyodipuran. » Darto Harnoko, Sri Retno Astutui, dan Nurdiyanto. 2014. Rumah Kebangsaan: Dalem Jayadipuran Periode 1900–2014. Yogyakarta: Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Yogyakarta. » Panitia Peringatan 30 Tahun Kesatuan Pergerakan Wanita. 1958. Buku Peringatan 30 Tahun Kesatuan Pergerakan Wanita Indonesia, 22 Desember 1928-22 Desember 1958. Jakarta: Percetakan Negara. » Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala DIY, 1993. Laporan Pendataan Dalem Jayadipuran Kelurahan Keparakan, Kecamatan Mergangsan Kotamadya Yogyakarta.


SENARAI TINGGALAN ZAMAN #1 CAGAR BUDAYA PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA EDISI PENDIDIKAN DAN PERJUANGAN 180PERGERAKAN, PERJUANGAN, & REVOLUSI KEMERDEKAAN Foto bangunan Cagar Budaya Dalem Jayadipuran.


181 SENARAI TINGGALAN ZAMAN #1 CAGAR BUDAYA PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA EDISI PENDIDIKAN DAN PERJUANGAN


SENARAI TINGGALAN ZAMAN #1 CAGAR BUDAYA PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA EDISI PENDIDIKAN DAN PERJUANGAN 182PERGERAKAN, PERJUANGAN, & REVOLUSI KEMERDEKAAN


183 SENARAI TINGGALAN ZAMAN #1 CAGAR BUDAYA PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA EDISI PENDIDIKAN DAN PERJUANGAN


SENARAI TINGGALAN ZAMAN #1 CAGAR BUDAYA PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA EDISI PENDIDIKAN DAN PERJUANGAN 184PERGERAKAN, PERJUANGAN, & REVOLUSI KEMERDEKAAN MASJID SYUHADA » Penetapan status Cagar Budaya: Keputusan Walikota Yogyakarta Nomor 303 Tahun 2021 Tentang Penetapan Bangunan Cagar Budaya di Kota Yogyakarta Tahun 2021. » Penetapan Pemeringkatan Cagar Budaya: Keputusan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 279/KEP/2023 Tentang Penetapan Bangunan Cagar Budaya Masjid Syuhada Sebagai Bangunan Cagar Budaya Peringkat Provinsi Bangunan Cagar Budaya Masjid Syuhada terletak di Jalan I Dewa Nyoman Oka No. 13, Kotabaru, Gondokusuman, Yogyakarta. Masjid ini didirikan sebagai monumen peringatan untuk para syuhada (pejuang yang gugur) pada peristiwa Pertempuran Kotabaru Oktober 1945 yang terjadi pada masa peralihan dari pemerintahan pendudukan militer Jepang ke pemerintahan Republik Indonesia yang baru berdiri kala itu. Bangunan Masjid Syuhada bukan merupakan kelengkapan awal dari permukiman Kotabaru yang dirancang sebagai kantung permukiman tertutup bagi penduduk Kota Yogyakarta dari golongan Eropa-Belanda kala itu. Bangunan masjid ini ditambahkan kemudian pada masa pemerintahan Republik Indonesia di lokasi bidang tanah kosong di pertemuan Jalan Sultan Boulevard dan Tjode Weg. Bidang lahan ini sebelumnya digunakan sebagai tempat penampungan arca purbakala yang ditandai sebagai Oudheden Museum pada Peta Kota Yogyakarta 1925. Lokasi bangunan Masjid Syuhada di kawasan Kota Baru pada Peta Kota Yogyakarta 1925 dan saat ini (citra satelit Google Earth, 5/2021)


185 SENARAI TINGGALAN ZAMAN #1 CAGAR BUDAYA PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA EDISI PENDIDIKAN DAN PERJUANGAN Bangunan Cagar Budaya Masjid Syuhada merupakan bangunan masjid yang dirancang dengan gaya arsitektur modern yang pertama kali dibangun di Yogyakarta. Bangunan masjid ini dirancang oleh arsitek Ir. R. Feenstra dari N.V. Associatie Djakarta dengan kepala pembangunan Supono. Berbeda dengan tata ruang pada masjid bergaya arsitektur tradisional Jawa, Masjid Syuhada memiliki bentuk tata ruang yang modern dan telah mengakomodasi berbagai kepentingan ibadah serta muamalah sekaligus. Sejak peletakan batu pertama hingga peresmian selama dua tahun, proses pembangunan masjid ini diabadikan dalam inskripsi angka tahun yang terletak di anak tangga di halaman sisi barat daya halaman masjid. Inskripsi angka tahun tersebut mencantumkan: “1371–1369” (dalam angka Arab, menunjukkan tahun Hijriah); “1881– 1883” (dalam aksara Jawa, menunjukkan tahun Jawa); dan “1950–1952” (dalam angka Latin, menunjukkan tahun Masehi). Inskripsi penanda tahun durasi pembangunan Masjid Syuhada pada anak tangga di sisi barat daya bangunan Sumber: Arsip YASMA Masjid Syuhada,1952 dan Dinas Kebudayaan DIY, 2023 Masjid Syuhada yang berdenah persegi memperlihatkan 3 massa bangunan berundak: bagian dasar, bagian tengah, dan bagian atas dengan ukuran luas semakin ke atas semakin mengecil. Denah bangunan terdiri atas 3 lantai yang masing-masing lantai memiliki pembagian fungsi yang berbeda: Lantai Basement untuk kegiatan sosialkemasyarakatan; Lantai 1 untuk perkantoran fungsi pendukung pengelolaan masjid berikut ruang salat khusus wanita; dan Lantai 2 untuk ruang ibadah. Perancangan pembagian fungsi ruang yang tegas dalam bangunan masjid ini pertama kali diterapkan pada bangunan Masjid Syuhada, kontras dengan tata ruang masjid tradisional Jawa pada umumnya. 1. . Lantai Basement Lantai satu terdiri atas ruangan aula tertutup yang diapit ruangan lebih kecil di kiri (utara) dan kanan (selatan). Pembagian ruang ini melalui sekat partisi dinding kayu yang


SENARAI TINGGALAN ZAMAN #1 CAGAR BUDAYA PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA EDISI PENDIDIKAN DAN PERJUANGAN 186PERGERAKAN, PERJUANGAN, & REVOLUSI KEMERDEKAAN dapat dilipat. Ruang aula pada awalnya difungsikan sebagai ruang kuliah serta memiliki dua ruangan yang mengapit yang pada awalnya berfungsi sebagai ruang transit dai/ dosen. Terdapat 3 kolom untuk menyangga lantai dua (ruang salat). Denah lantai basement, bagian dasar bangunan Sumber: Arsip YASMA Masjid Syuhada Aula/ruang kuliah pada lantai dasar Masjid Syuhada Sumber: Arsip YASMA Masjid Syuhada,1952 dan Dinas Kebudayaan DIY, 2023 Lantai basement ini hanya dapat diakses dari sisi barat bangunan masjid. Di bagian fasad, terdapat jendela dan pintu yang diposisikan urut berselang dua jendela dan dua pintu. Di atas masing-masing bukaan jendela dan pintu, terdapat lubang ventilasi (roster) bentuk lingkaran. Di atas lubang ventilasi, terdapat kanopi beton bertulang berupa cantilever yang menjorok di sepanjang permukaan dinding. Di atas cantilever, terdapat deretan jendela atas (bovenlicht) dengan penutup berupa panel kaca dan terali besi di sisi dalam.


187 SENARAI TINGGALAN ZAMAN #1 CAGAR BUDAYA PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA EDISI PENDIDIKAN DAN PERJUANGAN Bagian fasad lantai basement Masjid Syuhada Sumber: Arsip YASMA Masjid Syuhada,1952 dan Dinas Kebudayaan DIY, 2023 Keterangan: 1. Denah lantai 1, bagian tengah bangunan (Sumber: Arsip YASMA Masjid Syuhada 2. Ruang sholat jemaah wanita di lantai 1 (Sumber: Arsip YASMA Masjid Syuhada,1952 dan Dinas Kebudayaan DIY, 2023) 3. Deret pintu di dinding barat antara ruang sholat jemaah wanita dengan aula/ruang kuliah (Sumber: Dinas Kebudayaan DIY, 2023) 4. Ruang wudu dan toilet Masjid Syuhada (Sumber: Arsip YASMA Masjid) 5. Ruang perpustakaan dan ruang kantor di sisi timur denah lantai 2 (Sumber: Arsip YASMA Masjid Syuhada,1952 dan Dinas Kebudayaan DIY, 2023) 2. . Lantai 1 Lantai 1 merupakan segmen tengah bangunan masjid ini dengan denah menyerupai bentuk huruf “U” dan memiliki 10 pembagian ruang. Akses menuju lantai ini berupa 3 pintu yang dilengkapi deret jendela masing-masing di sisi utara dan selatan serta di sisi timur. Di sisi utara, timur, dan selatan, terdapat tangga selebar 5 m dengan akses menuju lantai 2 sebagai ruang utama/ruang ibadah masjid. 1 2


SENARAI TINGGALAN ZAMAN #1 CAGAR BUDAYA PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA EDISI PENDIDIKAN DAN PERJUANGAN 188PERGERAKAN, PERJUANGAN, & REVOLUSI KEMERDEKAAN Tepat di bagian tengah lantai 1, terdapat ruang untuk salat jemaah wanita yang dapat diakses dengan 2 pintu masing-masing di sisi utara, timur, dan selatan. Di dinding barat ruangan ini terdapat deretan pintu ganda kombinasi panel kaca dan kayu dengan terali besi di sisi luarnya. Pintu ini bukan difungsikan sebagai akses, melainkan menghubungkan ruang salat wanita dengan aula/ruang kuliah yang permukaan lantainya berada 2 m di bawahnya. Di dinding timur ruangan ini, terdapat 2 tangga berbahan teraso warna kuning masing-masing di pojok utara dan selatan yang menghubungkan dengan ruang salat utama masjid di lantai 2. Keberadaan ruang salat khusus yang disediakan untuk jemaah wanita merupakan yang pertama kali muncul dalam tata ruang masjid pada masa itu. Di sayap utara dan selatan denah lantai dua ini, masing-masing memiliki pembagian ruang yang sama, yakni berupa ruang tertutup di ujung sisi barat. Di sisi timur masingmasing kedua ruang tersebut, terdapat ruang bawah tangga utama (akses utara dan selatan) yang difungsikan sebagai tempat berwudu dan toilet tertutup. Area wudu dan toilet ini ditandai dengan penutup lantai ubin kuning motif kasar (motif kulit badak sehingga dikenal dengan istilah ubin badak). Area ini diakses melalui dari timur melalui area transisi dari pintu luar menuju pintu ruang salat jemaah wanita. 3 4 5


189 SENARAI TINGGALAN ZAMAN #1 CAGAR BUDAYA PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA EDISI PENDIDIKAN DAN PERJUANGAN Keberadaan tempat wudu yang dilengkapi toilet di bangunan masjid ini merupakan yang pertama kali diakomodasi di Masjid Syuhada. Pada tata ruang masjid tradisional Jawa, tempat bersuci/wudu berupa kolam keliling serambi dan dilengkapi padasan (tempayan penampung air yang diberi lubang pancuran). Di sisi timur, terdapat 3 ruang yang masing-masing di bagian ujung utara dan selatan berupa ruang kantor yayasan dan perpustakaan. Masing-masing ruang memiliki akses pintu dan jendela di dinding sisi timur. Keberadaan fasilitas ruang perpustakaan di bangunan masjid pertama kali muncul pada tata ruang Masjid Syuhada. Di bagian tengah di antara perpustakaan dan ruang kantor, terdapat 2 koridor utara dan selatan yang menghubungkan bagian luar (sisi timur) menuju ruang salat jemaah wanita. Di kedua ujung koridor, terdapat pintu yang masing-masing menuju ruang perpustakaan (koridor selatan) dan ruang kantor (koridor utara). Di antara koridor, terdapat ruang yang berada tepat di bawah tangga timur masjid yang terdiri atas ruang tempat rak alas kaki dan dua ruang tertutup yang masing-masing memiliki pintu. 3. Lantai 2 Lantai 2 Masjid Syuhada berupa ruang utama masjid yang terdiri atas ruang salat berdenah persegi yang mempunyai 2 jendela putar (pivoted window) yang mengapit pintu geser daun ganda panel kaca pada dinding utara, timur, dan barat. Bagian struktur dinding penopang atap masing-masing sisi terdapat jendela atas (bovenlicht) dengan penutup kaca. Adapun struktur dinding segi delapan penyokong atap kubah memiliki 16 jendela atas (bovenlicht). Di dinding barat, terdapat mihrab dengan pintu di selatan untuk akses menuju ruang peralatan siaran di belakang mihrab guna menyiarkan ceramah melalui Radio Republik Indonesia. Ruangan studio belakang mihrab ini dapat pula diakses melalui selasar barat dan timur dengan pintu di dinding utara dan selatan dan jendela atas (bovenlicht) di dinding barat. Ruang studio penyiaran radio di Masjid Syuhada ini merupakan pionir dalam tata ruang bangunan masjid. Ruang Studio yang berada di belakang mimbar Sumber: Dinas Kebudayaan DIY, 2023


SENARAI TINGGALAN ZAMAN #1 CAGAR BUDAYA PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA EDISI PENDIDIKAN DAN PERJUANGAN 190PERGERAKAN, PERJUANGAN, & REVOLUSI KEMERDEKAAN Foto Masjid Syuhada sekitar tahun 1960-an, bagian selasar lantai 2 dinaungi kain kanvas sebagai kanopi Sumber: Arsip YASMA Masjid Syuhada Speaker yang menempel di dinding Masjid Syuhada Sumber: Dinas Kebudayaan DIY, 2023 Di dinding timur ruang salat ini, terdapat pintu masuk utama dengan tembok dinding yang menjorok ke luar. Di atas pintu, terdapat inskripsi berhuruf Arab bertuliskan “Masjid Syuhada” dari bentuk fasad yang simetris dan serupa di ketiga dinding (utaratimur-selatan) dengan bentuk pintu dengan dinding menjorok ke luar yang menandakan bahwa sisi timur merupakan sisi depan/muka bangunan masjid. Selain ruang utama untuk salat, terdapat selasar terbuka yang mengelilingi bangunan pada empat sisi. Sementara itu, di tepi luar, terdapat pagar terali besi. Bagian selasar ini pada awalnya terbuka, kemudian dinaungi oleh kain kanvas motif garis yang dapat digulung. Di dinding ruang utama sisi dalam, terdapat 2 pengeras suara, dan di selasar, terdapat 2 pengeras suara (speaker) merek “Toa” yang ditanamkan langsung ke dalam permukaan dinding. Permukaan dinding sisi luar di semua lantai dilapisi batu hitam. Dinding bercat putih dengan kubah aluminium berwarna putih perak dengan ornamen bentuk bulan-bintang di puncak kubah utama. Penggunaan atap kubah ini pertama kali diterapkan pada masjid di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta. Masingmasing bukaan jendela, pintu, dan jendela atas memiliki bentuk lengkung lancip (pointed arch). Komponen pintu dan jendela berupa daun ganda panel kaca dengan terali besi di sisi dalamnya.


191 SENARAI TINGGALAN ZAMAN #1 CAGAR BUDAYA PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA EDISI PENDIDIKAN DAN PERJUANGAN Tangga menuju ke dalam ruangan masjid yang berjumlah 17 diapit dengan pilar bersegi 8 di pangkal tangga Sumber: Dinas Kebudayaan DIY, 2023 Lantai basement dan lantai 1 menggunakan tegel warna kuning ukuran 20 cm x 20 cm, sedangkan lantai 2 ruang utama dan selasar pintu utama menggunakan tegel warna hijau ukuran 20 cm x 20 cm, selasar menggunakan tegel warna kuning ukuran 20 cm x 20 cm. Ketiga tangga utama masjid menggunakan teraso warna kuning. Bentuk pintu dan jendela pada Masjid Syuhada Sumber: Dinas Kebudayaan DIY, 2023 Arsitektur bangunan Masjid Syuhada memiliki makna filosofi dalam simbol kebangsaan dan keagamaan. Simbol kebangsaan berupa makna peringatan peristiwa Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia yang digambarkan pada bagian-bagian penting bangunan, seperti komponen bangunan masjid yang berupa 17 anak tangga,


SENARAI TINGGALAN ZAMAN #1 CAGAR BUDAYA PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA EDISI PENDIDIKAN DAN PERJUANGAN 192PERGERAKAN, PERJUANGAN, & REVOLUSI KEMERDEKAAN tiang gapura berbentuk segi 8, 4 buah menara berkubah di tingkat bawah, dan menara berkubah ke-5 berada di tingkat atasnya. Angka 17, 8, 4, dan 5 tersebut merepresentasikan tanggal proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus (bulan ke-8) tahun ‘45 (1945).  Simbol keagamaan terwujud dalam lubang ventilasi (roster) pada mihrab yang berjumlah 5. Makna filosofi jumlah kelima lubang tersebut sesuai dengan 5 Rukun Islam. Di lantai dua untuk ruang salat bagi jemaah wanita, terdapat 2 kolom yang bermakna 2 iktikad manusia pada dunia dan akhirat serta hubungan manusia dengan manusia lain atau dengan makhluk ciptaan-Nya lainnya (hablum-minannas) dan hubungan antara manusia dengan Allah Swt. (hablum-minallah). Di lantar dasar bagian aula/ruang kuliah, terdapat 20 bovenlicht, jumlah 20 merupakan makna atas 20 sifat wajib bagi Allah SWT dalam konsep ketauhidan Islam. Masjid Syuhada yang memiliki tiga lantai merupakan masjid termodern di Yogyakarta pada saat itu dan termasuk masjid pertama di Yogyakarta yang menggunakan atap kubah. Bentuk atap ini berupa kubah utama yang berada di bagian tengah dan dikelilingi kubah kecil di empat penjuru. Bentuk kubah merupakan tipe bawang, mengambil bentuk yang berkembang di Persia dan India. Dalam sejarah keberadaannya, di peta Yogyakarta tahun 1925, kaveling masjid ini pada awalnya berupa bangunan museum purbakala (oudheden museum) yang berada di Jalan Sultans Boulevard (saat ini bernama Jalan I Dewa Nyoman Oka) yang kemudian dibongkar dan lahannya digunakan untuk pendirian bangunan masjid. Masjid Syuhada mulai dibangun pada 14 Oktober 1949 dan diresmikan pada tanggal 20 September 1952. Tujuan utama dari pembangunan masjid ini yakni untuk mencukupi kebutuhan ruang beribadah bagi umat Islam yang menghuni wilayah Kotabaru. Selain itu, tujuan yang bersifat umum yaitu guna mendirikan simbol perjuangan kemerdekaan Indonesia sekaligus bentuk apresiasi terhadap peran Kota Yogyakarta sebagai ibu kota negara (periode 1946–1950). Pendirian bangunan masjid ini juga sekaligus dimaksudkan sebagai monumen hidup untuk memperingati jasa para pahlawan yang gugur dalam peristiwa bersejarah Pertempuran Kotabaru 6-7 Oktober 1945. Penggunaan nama syuhada berasal dari bahasa Arab yang berarti ‘pejuang;. Pemilihan nama ini merupakan penghormatan kepada para pejuang yang gugur dalam peristiwa tersebut. Panitia pembangunan Masjid Syuhada pertama kali diketuai oleh H. Mua’mmal dan kemudian diteruskan oleh H.M. Sudja. Pembangunan fisik dimulai saat panitia pembangunan masjid diketuai oleh Mr. Assaat (Pelaksana Tugas Presiden Republik Indonesia 1949–1950). Inisiasi pembangunan bentuk masjid berawal dari pengajian


193 SENARAI TINGGALAN ZAMAN #1 CAGAR BUDAYA PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA EDISI PENDIDIKAN DAN PERJUANGAN yang diselenggarakan di rumah M.J. Prawiroyuwono yang berlokasi di Langgenastran, Yogyakarta. Pengajian tersebut juga memunculkan kembali niat untuk membangun masjid guna memperingati para syuhada. Selanjutnya, lewat beberapa pertemuan pengajian, diputuskan gagasan untuk mendirikan masjid di Kotabaru. Panitia pembangunan masjid dibentuk pada Jumat 14 Oktober 1949/21 Zulhijah 1368 H dan dikukuhkan oleh Menteri Agama K.H Masykur (dalam Kabinet Hatta). Panitia tersebut dinamakan dengan Panitia Pendirian Masjid Peringatan Syuhada. Telah ditentukan pula nama masjid yang akan didirikan, yakni Masjid Syuhada. Penamaan ini merupakan hasil usulan salah satu anggota panitia, yaitu R.H Benjamin. Setelah dilakukan penentuan arah kiblat oleh K.H.A Badawi pada 17 Agustus 1950, proyek pembangunan dimulai pada tanggal 23 September 1950 melalui upacara peletakan batu pertama oleh Sri Sultan Hamengku Buwono IX (saat itu menjabat sebagai Menteri Pertahanan RI). Dalam upacara tersebut, dibacakan sambutan tertulis dari Presiden Soekarno. Pembangunan masjid yang berlangsung selama tiga tahun menghabiskan dana sebesar Rp1.261.499,58. Dana pembangunan masjid diperoleh dari sokongan para dermawan di Kota Yogyakarta. Mendekati proses penyelesaian pembangunan masjid, tepatnya pada tanggal 13 September 1952, panitia memperoleh bantuan 24 helai permadani buatan Karachi dari Kedutaan Pakistan di Jakarta. Pada saat upacara peresmian Masjid Syuhada, hadir Presiden Soekarno, Menteri Agama, P.P.P.K, Sosial, Pertanian, Urusan Pegawai, Penerangan, Pekerjaan Umum dan Tenaga Kerja. Selain itu, turut hadir juga Duta Besar Mesir, Ketua usaha Pakistan, Ketua Usaha Saudi Arabia, dan hadir juga Paku Alam VIII, Walikota Yogyakarta Mr. Soedarisman Poerwokoesoemo, Gubernur Jawa Tengah Budiono, Komandan Divisi Diponegoro Kol. Moch. Bachrun, dan Walikota Solo Muhammad Saleh. Pada saat pembangunan masjid berlangsung, panitia telah membentuk badan pengelola. Kemudian, dibentuk badan hukum yayasan pada 1 Agustus 1952 yang diberi nama Yayasan Asrama dan Masjid (YASMA). Rangkuman perihal riwayat pembangunan Masjid Syuhada tercantum pada prasasti yang ditempelkan di tepi tangga depan masjid di posisi sisi kanan (sisi utara) tangga. Prasasti ini memuat keterangan bahwa pembentukan panitia pendirian pada 14 Oktober 1949; pemasangan batu pertama dilakukan pada tanggal 23 September 1950; dan pembukaan resmi tanggal 20 September 1952.


Click to View FlipBook Version