The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Tata Kelola Cagar Budaya dan Warisan Budaya

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Fauzi Rahman, 2024-01-01 02:30:30

SENERAI TINGGALAN ZAMAN

Tata Kelola Cagar Budaya dan Warisan Budaya

Keywords: CAGAR BUDAYA

CAGAR BUDAYA FASILITAS PENDIDIKAN SENARAI TINGGALAN ZAMAN #1 CAGAR BUDAYA PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA EDISI PENDIDIKAN DAN PERJUANGAN 94 f. 1952, Majelis Luhur Tamansiswa melakukan perluasan pendopo dengan menambah tratag berbentuk atap panggang pe di sisi kanan dan kiri pendopo serta penambahan ruang di belakang pendopo untuk menyimpan gamelan. g. 2007, Kompleks Pendopo Agung Tamansiswa ditetapkan sebagai Cagar Budaya melalui Peraturan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia. h. 2015, Kompleks Pendopo Agung Tamansiswa ditetapkan sebagai Situs Cagar Budaya bersama Bangunan Cagar Budaya Museum Dewantara Kirti Griya melalui Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Pendopo Agung Tamansiswa merupakan bukti fisik sejarah lembaga pendidikan modern pada masa awal abad ke-20 dalam periode Kebangkitan Nasional Indonesia berbasis nilai-nilai kebangsaan. Bangunan ini dimiliki oleh Yayasan Persatuan Perguruan Tamansiswa. Proses pembangunan pendopo dimulai dengan peletakan batu pertama pada tanggal 10 Juli 1938 yang kemudian diresmikan pada tanggal 16 November 1938 (berusia 84 tahun). Bangunan menggunakan gaya arsitektur tradisional Jawa (Joglo Lawakan Lambang Téplok) yang telah digunakan sejak masa Mataram Islam. Di Masa sekarang, bangunan Pendopo Agung Tamansiswa dapat digunakan sebagai referensi ilmu arsitektur dan penerapan ilmu pengetahuan serta keterampilan seni arsitektur. Selain itu, Pendopo Agung Tamansiswa menjadi wadah sistem pendidikan di ruang terbuka berbasis dolanan (permainan tradisional) dan seni pertunjukan. Rancangan yang unik ditunjukkan dengan adanya komponen dan elemen struktur pembentuk arsitektur bangunan joglo yang diwujudkan dengan keberadaan kuncungan dan gombak serta jarak antara pamidhangan dengan sunduk (dimensi sunduk sama dengan dimensi pamidhangan). Arsitektur ini hanya satu-satunya di DIY. Daftar Bacaan » Darmosugito. 1956. Kota Jogjakarta 200 Tahun 7 Oktober 1756–7 Oktober 1956. Panitya-Peringatan Kota Jogjakarta 200 Tahun. » Soeharto, Ki, 1992. Menggali Butir-Butir Mutiara Museum Dewantara Kirti Griya. Yogyakarta: Proyek Pembinaan Permuseuman DIY Direktur Jenderal Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. » Suharini, TH.Sri dan Ign. Eka Hadiyanta, (2018). “Sekolah Kebangsaan dan Keberadaan Pendopo Tamansiswa Yogyakarta”. Jurnal Widya Prabha VII (3-14). Balai Pelestarian Cagar Budaya DIY.


95 SENARAI TINGGALAN ZAMAN #1 CAGAR BUDAYA PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA EDISI PENDIDIKAN DAN PERJUANGAN » Sutjiatiningsih, Sri. 1999. Soegondo Djojopoespito: Hasil Karya dan Pengabdiannya. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI. » Wiryopranoto, Suhartono, 2017. Perjuangan Ki Hajar Dewantara: Dari Politik ke Pendidikan. Jakarta: Museum Kebangkitan Nasional Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Keterangan: 1. Keletakkan Bangunan Cagar Budaya Pendopo Agung Tamansiswa (Sumber: Citra Google Earth tanggal 26/05/2021) 2. Gambar Lokasi Pendopo Agung Tamansiswa di dalam kompleks Tamansiswa (Sumber: Balai Pelestarian Cagar Budaya DIY, 2015 (dengan modifikasi) 3. Murid taman siswa di depan Pendopo (Sumber: Koleksi Museum Dewantara Kirti Griya (sekitar 1939) 4. Bangunan Pendopo Agung Tamansiswa (sekitar 1982) (Sumber: Sutjiatiningsih, 1999: 45) 5. Murid Tamansiswa di Pendopo Agung Tamansiswa (Sumber: Koleksi Museum Dewantara Kirti Griya (sekitar 1939). 1 2 3 5 4


CAGAR BUDAYA FASILITAS PENDIDIKAN SENARAI TINGGALAN ZAMAN #1 CAGAR BUDAYA PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA EDISI PENDIDIKAN DAN PERJUANGAN 96


97 SENARAI TINGGALAN ZAMAN #1 CAGAR BUDAYA PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA EDISI PENDIDIKAN DAN PERJUANGAN Daerah Istimewa Yogyakarta, dengan keanggunan keratonnya dan kekayaan budayanya, bukan sekadar destinasi wisata semata. Di balik kesenian tradisional, arsitektur bersejarah, dan pesona kebudayaannya, Yogyakarta menyimpan jejak perjuangan dan semangat kemerdekaan yang tak ternilai. Kota ini, selain menjadi kota budaya yang penuh pesona, juga terkenal sebagai tempat yang memainkan peran signifikan dalam sejarah pergerakan revolusi Indonesia. Daerah Istimewa Yogyakarta menjadi saksi sejarah penting, baik dalam perlawanan terhadap kolonialisme Belanda maupun dalam era pendudukan Jepang serta perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Kongres Pemuda II pada tahun 1928 yang diadakan di Yogyakarta menjadi tonggak awal dalam menyatukan pemuda Indonesia dan mengukuhkan semangat persatuan dan perjuangan. Pada saat Agresi Militer Belanda, Yogyakarta bahkan dijadikan ibu kota sementara Indonesia, sementara gedung-gedung bersejarah di kota ini menjadi ruang pertemuan penting bagi para pemimpin bangsa. Dengan keberagaman etnis dan lapisan masyarakat yang mendukung pergerakan revolusi, Yogyakarta tetap menjadi jantung perjuangan yang membawa Indonesia menuju kemerdekaan. Maka dari itu, di antara gemerlap seni dan keindahan alamnya, Yogyakarta tetap dikenang sebagai tempat bersejarah yang memancarkan semangat perjuangan dan tekad untuk meraih kemerdekaan. Salah satu dari sekian gedung-gedung bersejarah yang telah menjadi cagar budaya tersebut ada di Kotabaru. Kotabaru sendiri menyimpan kisah heroik para pejuang yang membangun fondasi kemerdekaan. Bangunan-bangunan Cagar Budaya yang menjadi titik awal perjuangan di Kotabaru, seperti Kantor Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta, Asrama Kompi Kotabaru, dan Masjid Syuhada dengan segala keunikan dan pesonanya, menjadi saksi bisu dari awal mula perjuangan merebut kemerdekaan. Jejak pergerakan revolusi bangsa Indonesia tertanam kuat di setiap jalan dan gang di kota ini. Dari pertemuan rahasia hingga aksi-aksi heroik, Kotabaru menjadi tempat lahirnya semangat kebebasan yang tak tergoyahkan. Bangunan Wisma Kaliurang di lereng Gunung Merapi menjadi saksi pula terhadap perjuangan diplomasi dalam mempertahankan kemerdekaan dan eksistensi Republik Indonesia yang baru lahir kala itu. Siti Hinggil Kraton Yogyakarta menjadi pusat pusaran politik di periode Revolusi beberapa momen penting mengambil tempat di lokasi ini. Keberadaan Rumah Makan Sate Puas di dalam kawasan Jeron Beteng CAGAR BUDAYA TEMA PERGERAKAN, PERJUANGAN, DAN REVOLUSI KEMERDEKAAN RI


SENARAI TINGGALAN ZAMAN #1 CAGAR BUDAYA PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA EDISI PENDIDIKAN DAN PERJUANGAN 98 PERGERAKAN, PERJUANGAN, & REVOLUSI KEMERDEKAAN menjadi bukti yang unik dalam masa pergerakan perjuangan karena berperan sebagai kamuflase pusat konsolidasi pejuang pada saat itu. Jauh di pinggir kota di lokasi Jembatan Gantung Bantar menjadi titik pertempuran yang menentukan, karena berperan penting pada keberhasilan peristiwa bersejarah Serangan Umum 1 Maret 1949 di Kota Yogyakarta. Demikian pula bangunan Hotel Inna Garuda yang memiliki peran penting sebagai infrastruktur pertahanan RI dalam masa konfrontasi mempertahankan kemerdekaan. Selain itu, jika kita melihat lebih jauh ke belakang Keberadaan Struktur Cagar Budaya Selokan Mataram pun menjadi bukti dalam perjuangan menghadapi masa pendudukan militer Jepang. Struktur ini muncul karena ide brilian Sultan Hamengkubuwono IX untuk menyiasati keselamatan rakyat Yogyakarta dari kebijakan romusha yang cenderung merugikan bagi rakyat kala itu. Daerah Istimewa Yogyakarta tidak hanya memiliki nilai sejarah dalam kisah-kisah peperangan, tetapi juga dalam bentuk bangunan-bangunan bersejarah yang masih berdiri kokoh. Dalam kekayaan sejarahnya, Daerah Istimewa Yogyakarta mengajarkan kita tentang pentingnya pelestarian warisan perjuangan. Buku ini memuat informasi bangunan-bangunan bersejarah yang telah ditetapkan sebagai cagar budaya oleh gubernur sebagai bentuk upaya untuk menjaga dan mewariskan semangat perjuangan kepada generasi berikutnya. Tentunya hal tersebut merupakan suatu cerminan dari rasa cinta tanah air yang tak pernah pudar.


99 SENARAI TINGGALAN ZAMAN #1 CAGAR BUDAYA PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA EDISI PENDIDIKAN DAN PERJUANGAN


SENARAI TINGGALAN ZAMAN #1 CAGAR BUDAYA PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA EDISI PENDIDIKAN DAN PERJUANGAN 100PERGERAKAN, PERJUANGAN, & REVOLUSI KEMERDEKAAN KANTOR DINAS PARIWISATA KOTA YOGYAKARTA » Keputusan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 237/KEP/2017 Tentang Penetapan Bangunan Rumah Tinggal Mr. Djody Gondokusumo, Kantor Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta, Museum Sandi, SMA Negeri 3, Gedung PT Asuransi Jiwasraya, SD Negeri Ungaran I, Gereja Huria Kristen Batak Protestan, Gedung Radio Republik Indonesia, Gedung Seminari, Kolese Santo Ignatius, Gereja Santo Antonius, Susteran Amal Kasih Darah Mulia di Kelurahan Kotabaru, Kecamatan Gondokusuman, Kota Yogyakarta sebagai Bangunan Cagar Budaya. » Keputusan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 274/KEP/2020 Tentang Penetapan Bangunan Rumah Tinggal Mr. Djody Gondokusumo, Rumah Tinggal Jalan Suroto Nomor 11 (Kantor Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta), Museum Sandi, SMA Negeri 3, Gedung PT Asuransi Jiwasraya, SD Negeri Ungaran I, Gereja Huria Kristen Batak Protestan, Gedung Radio Republik Indonesia, Gedung Seminari, Kolese Santo Ignatius, Gereja Santo Antonius, Susteran Amal Kasih Darah Mulia di Kelurahan Kotabaru, Kota Yogyakarta sebagai Bangunan Cagar Budaya Peringkat Provinsi. Bangunan Cagar Budaya Kantor Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta merupakan bangunan rumah tinggal yang memiliki bentuk unik di kawasan Kotabaru. Bangunan berada di Jalan Suroto Nomor 11 dengan titik koordinat UTM 49M X: 431034; Y: 9139540. Batas-batas bangunan ini meliputi: sisi utara berbatasan dengan Rumah Dinas Wakil Walikota Yogyakarta; sisi timur berbatasan dengan Jalan Suroto; sisi selatan berbatasan dengan Perpustakaan Kota Yogyakarta; dan sisi barat terdapat rumah tinggal. Denah bangunan tidak menghadap langsung ke tepi jalan. Bangunan ini terdiri atas tiga unit yang memiliki atap berbentuk limas segi delapan untuk bangunan tengah dan atap limasan untuk dua bangunan yang mengapit di kirikanannya. Bentuk bangunan menunjukkan arsitektur Indis yang terlihat pada atap limas segi delapan dengan kemiringan tajam dan hiasan kaca pada jendela penerang, dinding yang didominasi oleh jendela, dan ventilasi yang membentuk garis-garis vertikal. Bukaan jendela dilengkapi dengan peneduh cahaya matahari dan penahan tempias air hujan (overstek).


101 SENARAI TINGGALAN ZAMAN #1 CAGAR BUDAYA PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA EDISI PENDIDIKAN DAN PERJUANGAN Tingkat keaslian bangunan ditandai dengan penggunaan jendela berukuran besar, ventilasi udara di atas kusen jendela atau pintu (bovenlicht), penggunaan menara atau jendela kecil di bagian atap sebagai lubang ventilasi (lantern dan dormer) pada beberapa bangunan, serta penggunaan batu alam pada permukaan dinding dari dasar kaki bangunan sampai batas ambang bawah jendela (rubble wall). Selain itu, unsur arsitektur Indis juga tampak pada keberadaan teras depan dan penggunaan teritis (overstek) sebagai atap peneduh di beberapa bangunan. Dahulu, bangunan ini merupakan rumah tinggal di kawasan permukiman orang Eropa di Kota Yogyakarta sejak 1920-an sampai dengan 1940-an. Pada periode pasca masa pendudukan militer Jepang di Yogyakarta, bangunan ini menjadi rumah dinas Letjen Oerip Soemoharjo (penggagas pendirian akademi militer di Kota Yogyakarta), dan pernah berfungsi sebagai kantor Departemen Luar Negeri pada saat ibu kota Republik Indonesia pindah ke Kota Yogyakarta (periode tahun 1946–1950). Bangunan ini menjadi titik akhir rute gerilya Panglima Besar Jenderal Sudirman di tahun 1949. Pada tanggal 10 Juli 1949, Panglima Besar Jenderal Sudirman mengakhiri perjalanan perang gerilya dan kembali ke Ibu kota Yogyakarta menemui presiden dan wakil presiden di Istana Negara (Gedung Agung). Setelah pertemuan dengan presiden, Jenderal Sudirman menghadiri upacara kemiliteran di Alun-Alun Utara. Dari alun-alun, Jenderal Sudirman menuju ke tempat kediamannya yang baru untuk menemui keluarga di rumah yang berada di Jalan Widoro No. 9 yang saat ini menjadi Jalan Suroto No. 11. Selepas Agresi Militer Belanda atau perang pascakemerdekaan Republik Indonesia, bangunan ini sempat digunakan sebagai Kantor Transmigrasi RI, kemudian Kantor Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Yogyakarta, dan saat ini menjadi Kantor Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta.


SENARAI TINGGALAN ZAMAN #1 CAGAR BUDAYA PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA EDISI PENDIDIKAN DAN PERJUANGAN 102PERGERAKAN, PERJUANGAN, & REVOLUSI KEMERDEKAAN Secara umum, bangunan Kantor Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta masih menunjukkan keaslian dan dalam kondisi terpelihara dengan baik. Bangunan Cagar Budaya Kantor Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta dimiliki oleh Pemerintah Kota Yogyakarta dan dikelola oleh Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta. Dalam Keputusan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 237/KEP/2017, Kantor Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya karena beberapa hal berikut. a. Kantor Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta telah berusia lebih dari 50 tahun dengan berdasarkan keterangan yang diperoleh pada Peta Kota Yogyakarta tahun 1925, diketahui bangunan tersebut telah ada. b. Kantor Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta mewakili gaya paling singkat 50 tahun, apabila melihat dari arsitekturnya, bangunan ini menunjukkan gaya Indis, yang paling tidak telah berusia lebih dari 50 tahun. Hal ini dapat dilihat dari penggunaan jendela berukuran besar, banyaknya ventilasi udara pada bangunan sebagai ciri arsitektur Indis bentuk adaptif terhadap iklim tropis. c. Kantor Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta memiliki nilai penting dalam sejarah dan ilmu pengetahuan, Kantor Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta berkaitan dengan tokoh sejarah masa awal Republik Indonesia, salah satunya yaitu peristiwa Pertempuran Kotabaru 1945. Selain itu, gaya arsitektur Indis yang tampak pada Kantor Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta dapat digunakan sebagai referensi pendidikan arsitektur. Dalam Keputusan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 274/KEP/2020, Kantor Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya Peringkat Provinsi karena (1) mewakili gaya kreatif yang khas dalam wilayah provinsi. Arsitektur Kantor Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta mewakili karya kreatif yang khas di DIY karena karya cipta demikian hanya terdapat di Kotabaru. Kreativitas ini dapat dilihat dengan adanya jendela-jendela dalam ukuran besar. Unsur lokal dapat dilihat pada keberadaan serambi, dimisalkan sebuah pendapa pada rumah Jawa. (2) Langka jenisnya, unik rancangannya, dan sedikit jumlahnya di provinsi. Kantor Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta menunjukkan rancangan yang unik, misalnya, sebagian bangunan-bangunan rumah tinggal memiliki perbedaan bentuk baik eksterior maupun interiornya, meskipun dari segi lokasi berada dalam satu deret. (3) Bukti evolusi peradaban bangsa dan pertukaran budaya lintas wilayah kabupaten/ kota, baik yang telah punah maupun yang masih hidup di masyarakat; dan/ atau berasosiasi dengan tradisi yang masih berlangsung. Kantor Dinas Pariwisata


103 SENARAI TINGGALAN ZAMAN #1 CAGAR BUDAYA PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA EDISI PENDIDIKAN DAN PERJUANGAN Kota Yogyakarta menggambarkan terjadinya akulturasi antara arsitektur Barat dan arsitektur Jawa dengan memperhatikan lingkungan alam setempat. Arsitektur bangunan Kantor Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta merupakan bukti nyata evolusi peradaban dan pertukaran budaya. Tradisi berkumpul di suatu tempat, digambarkan dengan keberadaan serambi depan yang memang difungsikan sebagai tempat pertemuan keluarga. Daftar Bacaan » 2008. Rute Perjuangan Panglima Besar Jenderal Sudirman. Jakarta: Dinas Pembinaan Mental Angkatan Darat. » Adrisijanti, Inajati dan Anggraeni (Ed.). 2014. Mosaic Cultural Heritage of Yogyakarta. Yogyakarta: Balai Pelestarian Cagar Budaya Yogyakarta. » Djawatan Penerangan DI. Jogjakarta. 1953. Republik Indonesia: Daerah Istimewa Jogjakarta. Jakarta: Kementerian Penerangan. » Suhartono, dkk. 1983. Replika Sejarah Perjuangan Rakyat Yogyakarta, Buku keSatu. Yogyakarta: Dinas Sosial Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. » Wahyu, Harry Trisatya. 2014. “Pelestarian dan Pemanfaatan Bangunan Indis di Kota Baru”. Tesis Pascasarjana. Yogyakarta: Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada. Gambar fasad Bangunan Rumah Jalan Suroto Nomor 11(Kantor Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta) Sumber: Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Yogyakarta, 2017 Denah Bangunan Rumah Jalan Suroto Nomor 11(Kantor Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta) Sumber: Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Yogyakarta, 2017


SENARAI TINGGALAN ZAMAN #1 CAGAR BUDAYA PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA EDISI PENDIDIKAN DAN PERJUANGAN 104PERGERAKAN, PERJUANGAN, & REVOLUSI KEMERDEKAAN Upacara penyambutan Panglima Besar Jenderal Sudirman di Alun-Alun Lor saat kembali ke Yogyakarta usai gerilya pada 10 Juli 1949 Sumber: Majalah Senakatha Pusat Sejarah TNI, 2016: 40 Jenderal Sudirman bertemu presiden dan wakil presiden di Istana Negara (Gedung Agung) Yogyakarta, 10 Juli 1949 Sumber: Majalah Senakatha Pusat Sejarah TNI, 2016:17 Denah Situasi Kavling Rumah Jalan Suroto Nomor 11Pada Peta Yogyakarta Tahun 1945 Sumber: Peta Town Plan of Jogjakarta, 1945 Denah Situasi Kavling Rumah Jalan Suroto Nomor 11 Pada Peta Yogyakarta Tahun 1925 Sumber: Peta Jogjakarta en Omstreken, 1925 Presiden Sukarno menyambut kedatangan Jenderal Sudirman di Gedung Agung saat kembali ke Yogyakarta Sumber: Buku IPPHOS Remastered, 2013


105 SENARAI TINGGALAN ZAMAN #1 CAGAR BUDAYA PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA EDISI PENDIDIKAN DAN PERJUANGAN


SENARAI TINGGALAN ZAMAN #1 CAGAR BUDAYA PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA EDISI PENDIDIKAN DAN PERJUANGAN 106PERGERAKAN, PERJUANGAN, & REVOLUSI KEMERDEKAAN


107 SENARAI TINGGALAN ZAMAN #1 CAGAR BUDAYA PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA EDISI PENDIDIKAN DAN PERJUANGAN


SENARAI TINGGALAN ZAMAN #1 CAGAR BUDAYA PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA EDISI PENDIDIKAN DAN PERJUANGAN 108PERGERAKAN, PERJUANGAN, & REVOLUSI KEMERDEKAAN ASRAMA KOMPI KOTABARU » Penetapan status Bangunan Cagar Budaya: Peraturan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia Nomor: PM.89/PW.007/MKP/2011. » Penetapan status Bangunan Cagar Budaya: Keputusan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 210/KEP/2010 Tentang Penetapan Benda Cagar Budaya. » Penetapan status Bangunan Cagar Budaya: Keputusan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 239/KEP/2017 Tentang Penetapan Bangunan Rumah Sakit Bethesda, Rumah Sakit Tingkat III dr. R. Soetarto, SMA BOPKRI I, SMP Negeri 5, Rumah Tinggal Jalan Suhartono Nomor 2, Klinik Pratama Detasemen Kesehatan Wilayah 04.04.02, Asrama Kompi Kotabaru, Rumah Dinas Komandan Resimen 072/ Pamungkas, Rumah Tinggal Jalan dr. Wahidin Sudirohusodo Nomor 3, di Kelurahan Kotabaru, Kecamatan Gondokusuman, Kota Yogyakarta sebagai Bangunan Cagar Budaya » Penetapan status Pemeringkatan Bangunan Cagar Budaya: Keputusan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 271/KEP/2020 Tentang Penetapan Bangunan Rumah Sakit Bethesda, Rumah Sakit Tingkat III dr. Soetarto, SMA Bopkri I, SMP Negeri 5, Rumah Tinggal Jalan Suhartono Nomor 2, Klinik Pratama Detasemen Kesehatan Wilayah 04.04.02, Asrama Kompi Kotabaru, Rumah Dinas Komandan Resimen 072/ Pamungkas, Rumah Tinggal Jalan dr. Wahidin Sudirohusodo Nomor 3, di Kelurahan Kotabaru, Kecamatan Gondokusuman, Kota Yogyakarta sebagai Bangunan Cagar Budaya Peringkat Provinsi. Bangunan Cagar Budaya Susteran Asrama Kompi Kotabaru berada di Kawasan Cagar Budaya Kotabaru yang terletak di Jalan Atmosukarto No. 9, Kotabaru, Kemantren Gondokusuman, Kota Yogyakarta. KCB Kotabaru merupakan wilayah hunian pada masa pemerintahan kolonial Hindia Belanda di Yogyakarta. Kantung permukiman ini awalnya dirancang untuk dihuni warga kota golongan Belanda/Eropa yang pada saat itu masih menerapkan peraturan penggolongan hunian berdasarkan ras (Wijkenstelsel). Penduduk yang berasal dari kelompok orang-orang Belanda dan Eropa menempati wilayah strategis dan dirancang dengan tata ruang serta bangunan yang baik, berbeda dengan hunian dari penduduk golongan lain. Selain bangunan-bangunan hunian, di kawasan ini, dilengkapi dengan bangunan fasilitas publik seperti sekolah, rumah sakit, fasilitas peribadatan, dan olahraga. Selain infrastruktur tersebut, di dalam kawasan ini, terdapat instalasi militer berupa asrama tentara KNIL yang terletak di pojok tenggara.


109 SENARAI TINGGALAN ZAMAN #1 CAGAR BUDAYA PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA EDISI PENDIDIKAN DAN PERJUANGAN Bangunan Asrama Kompi Kotabaru berupa barak untuk tentara berada di sisi timur Stadion Kridosono. Tempat ini digunakan sebagai fasilitas militer berupa tempat tinggal para tentara. Asrama Korem atau lebih dikenal dengan nama Asrama Kompi Kotabaru diperuntukkan bagi para TNI AD KOREM 072 sebagai tempat tinggal. Pada masa pemerintahan Hindia Belanda, bangunan ini bernama Magazijn van Oorlog. Bangunan ini memiliki gaya arsitektur Eropa seperti halnya bangunan lain yang berdiri di sekitarnya. Kompleks Asrama KOREM terdiri atas empat baris bangunan. Ruangan berukuran lebar dan memanjang diperuntukkan sebagai barak tentara. Bangunan ini terawat dengan baik dan masih dipergunakan hingga saat ini. Di dalam kompleks ini, terdapat monumen peringatan peristiwa Pertempuran Kotabaru Oktober 1945. Diperkirakan bangunan ini telah berdiri semenjak kawasan Kotabaru dibangun, hal ini dibuktikan dari tapak bangunan yang terlihat pada peta Kota Yogyakarta tahun 1925. Bangunan ini beserta bangunan lain yang mempunyai corak militer membentuk blok, karenanya, di sekitar bangunan ini, menjadi bercorak kawasan militer. Sebagaimana lazimnya bentuk bangunan jenis barak, bangunan ini dirancang fungsional dan sederhana yang terlihat dari proporsi bangunan yang tinggi berdenah persegi panjang dengan bentuk atap limasan berpenutup genting. Bangunan tidak menggunakan konsol, bagian teritis pada atap disangga oleh rangka atap. Plafonnya berupa papan kayu yang disusun sejajar yang sampai saat ini masih dalam kondisi asli. Ventilasi berupa bukaan pada dinding bagian atas ruang dengan kisi-kisi besi. Fungsinya yakni sebagai sirkulasi udara dan pencahayaan alami. Dinding bangunan yang tebal merangkap fungsi sebagai penyangga struktur bangunan dan rangka atap. Keterangan: 1. Denah bangunan 2. Fasad bangunan 3. Bangunan tampak samping 4. Jendela dengan kusen kayu bercat krem dengan dua daun jendela kaca 5. Tetenger peringatan HB IX 1


SENARAI TINGGALAN ZAMAN #1 CAGAR BUDAYA PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA EDISI PENDIDIKAN DAN PERJUANGAN 110PERGERAKAN, PERJUANGAN, & REVOLUSI KEMERDEKAAN Bagian dalam bangunan relatif sederhana, massa bangunan dibagi menjadi ruang-ruang hunian. Namun, tiap ruang mendapat pencahayaan alami dan sirkulasi udara yang kurang baik karena jumlah dan ukuran bukaan tidak mampu memberikan kenyamanan pada bagian dalam ruang. Saat ini, bangunan dimanfaatkan sebagai hunian bagi keluarga anggota Korem Pamungkas 072. Bangunan yang pada awalnya difungsikan sebagai asrama kini berubah menjadi hunian rumah tangga, keadaan ini menyebabkan terjadinya adaptasi dalam bentuk beberapa penambahan bangunan semi permanen berupa penyekatan ruangan. Bangunan Asrama Kompi Kotabaru. Kompleks bangunan ini pada awal berfungsi sebagai asrama militer, kemudian di tahun 1942, difungsikan sebagai markas tentara Jepang di Kota Yogyakarta dan dinamakan Mase Butai. Di lokasi Mase Butai inilah, terjadi insiden kontak senjata pada saat peristiwa usaha pelucutan senjata tentara Jepang pada tanggal 6 Oktober 1945 oleh Badan Keamanan Rakyat yang merupakan satuan militer Republik Indonesia kala itu. Peristiwa ini berujung bentrokan senjata antara tentara Jepang dengan pejuang kemerdekaan di area kawasan Kotabaru ini yang kemudian dikenal sebagai peristiwa Pertempuran Kotabaru yang berlangsung pada tanggal 6–7 Oktober 1945. Sebanyak 21 orang pemuda gugur dalam peristiwa tersebut, nama-nama mereka diabadikan sebagai nama jalan di kawasan Kotabaru dan monumen peringatan pun didirikan untuk mengenang jasa kepahlawanan mereka. Hal ini dimulai sejak Oktober 1958 saat dilaksanakan musyawarah pembangunan Kota Praja Yogyakarta. 2 3 4 5


111 SENARAI TINGGALAN ZAMAN #1 CAGAR BUDAYA PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA EDISI PENDIDIKAN DAN PERJUANGAN


SENARAI TINGGALAN ZAMAN #1 CAGAR BUDAYA PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA EDISI PENDIDIKAN DAN PERJUANGAN 112PERGERAKAN, PERJUANGAN, & REVOLUSI KEMERDEKAAN JEMBATAN GANTUNG BANTAR » Penetapan status dan pemeringkatan Bangunan Cagar Budaya: Keputusan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 171/KEP/2021 tentang Penetapan Jembatan Gantung Bantar sebagai Struktur Cagar Budaya Peringkat Provinsi. “Jembatan gantung dengan konstruksi sendi dan rol satu-satunya di DIY ini telah menjadi penghubung sejak tahun 1929 antara wilayah Kulon Progo dengan Bantul dan Kota Yogyakarta yang dipisahkan Sungai Progo. Diresmikan dengan nama Gouverneur Jasper-brug (diambil dari nama Gubernur Yogyakarta, Johan Ernst Jasper), jembatan yang kini dikenal dengan Jembatan Gantung Bantar menyimpan sejarah perjuangan pasukan TNI Sub-Wehrkreise 106 Kulon Progo melawan pasukan Belanda pada peristiwa Serangan Umum 1 Maret 1949.” Jembatan Gantung Bantar merupakan struktur cagar budaya yang terletak di antara dua wilayah administrasi, yakni Kalurahan Argosari, Kapanewon Sedayu, Kabupaten Bantul dan Kalurahan Banguncipto, Kapanewon Sentolo, Kabupaten Kulon Progo, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Letak struktur cagar budaya ini tepatnya berada pada koordinat UTM Zona 49 M dengan titik X: 415518.10 m E dan titik Y: 9135255.87 m S. Jembatan Gantung Bantar berbatasan dengan Sungai Progo di sebelah utara dan selatan; Dusun Klangon, Kalurahan Argosari di sebelah timur; serta Dusun Bantar Kulon, Kalurahan Banguncipto di sebelah barat. Jembatan ini merupakan prasarana penghubung yang melintasi Sungai Progo untuk menghubungkan Kepanewon Sentolo, Kabupaten Kulon Progo di sebelah barat dan Kepanewon Sedayu, Kabupaten Bantul di sebelah timur. Jembatan Gantung Bantar merupakan jembatan gantung kabel dengan rangka baja sepanjang 176 m dengan lebar 6 m dan tinggi maksimal 23,8 m. Jembatan ini ditopang dua tower (pylon) ganda yang bertumpu pada pilar ganda


113 SENARAI TINGGALAN ZAMAN #1 CAGAR BUDAYA PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA EDISI PENDIDIKAN DAN PERJUANGAN Foto udara Jembatan Gantung Bantar beserta struktur jembatan baru (Jembatan Bantar II & III) Sumber: Dinas Kebudayaan DIY, 2019


SENARAI TINGGALAN ZAMAN #1 CAGAR BUDAYA PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA EDISI PENDIDIKAN DAN PERJUANGAN 114PERGERAKAN, PERJUANGAN, & REVOLUSI KEMERDEKAAN Foto udara Jembatan Gantung Bantar (Sumber: Dinas Kebudayaan DIY, 2019) Jembatan Bantar II Jembatan Bantar III Jembatan Gantung Bantar


115 SENARAI TINGGALAN ZAMAN #1 CAGAR BUDAYA PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA EDISI PENDIDIKAN DAN PERJUANGAN setinggi 13 m dari permukaan normal air sungai. Lantai jembatan berupa balok dan papan kayu yang disusun di atas gelagar (girder) baja. Konstruksi jembatan seperti ini merupakan jembatan gantung yang pertama kali dibangun di Hindia Belanda pada masa itu. Penampang memanjang Jembatan Gantung Bantar Sumber: Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional V Satker Pelaksanaan Jalan Nasional Wilayah Provinsi DIY, 2014 Konstruksi Menara (tower/pylon) pada Jembatan Gantung Bantar Sumber: Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional V-Satker Pelaksanaan Jalan Nasional Wilayah Provinsi DIY, 2015 Sistem jembatan gantung yang diterapkan pada Jembatan Gantung Bantar merupakan tipe jembatan yang gelagar utamanya digantungkan pada suatu kabel dengan perantara penggantung (hanger) yang dihubungkan dengan dua tower ganda dan bertumpu pada pilar ganda. Sistem seperti ini menjadikan beban dan getaran yang diterima oleh gelagar utama dapat diteruskan ke komponen fondasi. Untuk menerima beban dan getaran, komponen fondasi dilengkapi konstruksi cakram seperempat lingkaran yang didukung dengan sendi dan roll. Kabel yang melewati cakram seperempat lingkaran kemudian dihubungkan dengan anchor (pemberat) tertanam di dalam tanah fondasi.


SENARAI TINGGALAN ZAMAN #1 CAGAR BUDAYA PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA EDISI PENDIDIKAN DAN PERJUANGAN 116PERGERAKAN, PERJUANGAN, & REVOLUSI KEMERDEKAAN Jembatan Gantung Bantar terbagi menjadi tiga bagian, yaitu bagian bentang tengah sepanjang 80 m yang ditopang oleh tower ganda dan bertumpu pada pilar ganda serta bentang samping masing-masing sepanjang 48 m yang ditopang oleh kepala jembatan (abutment). Di atas pilar ganda, terdapat tower setinggi 10,8 m sebagai tempat kabel gantung (hanger). Jembatan Gantung Bantar juga dilengkapi dengan pagar setebal ±30 cm. Kabel gantung yang merupakan konstruksi utama pada jembatan berjumlah 3 buah di kedua sisinya dengan diameter masing-masing kabel 1,5 inci (3,81 cm). Untuk mengunci ujung-ujung kabel baja tersebut, digunakan cakram seperempat lingkaran untuk meneruskan kabel ke dalam konstruksi anchorage. Untuk menambah kemampuan menahan kapasitas beban jembatan pada masa kemudian, ditambah 3 kabel dengan bentuk dan diameter yang sama sehingga di kedua sisi jembatan terdapat 6 kabel. Tambahan 3 kabel gantung tersebut dikunci dengan tambahan empat cakram seperempat lingkaran di belakang masing-masing keempat cakram yang telah ada sebelumnya. Keempat cakram tambahan berfungsi sama untuk meneruskan kabel baja ke dalam konstruksi anchorage. Konstruksi cakram ganda lama dan baru pada masing-masing ujung Jembatan Gantung Bantar Sumber: Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional V-Satker Pelaksanaan Jalan Nasional Wilayah Provinsi DIY, 2015 Pembangunan Jembatan Gantung Bantar di daerah Sentolo telah diusulkan oleh Resident Djokjakarta Jacob Hendrik Liefrinck pada 1912. Pada saat proposal awal diajukan kepada Burgerlijke Openbare Werken (BOW), estimasi biaya pembangunan sebesar f156.000 Gulden. Kemudian, Th. E. Veer, arsitek dari BOW, merancang Jembatan Gantung Bantar selama tahun 1915–1916 dengan rincian biaya konstruksi mencapai f250.000 Gulden. Pada tahap perencanaan ini, pihak Kesultanan Yogyakarta bersedia berkontribusi setengah dari biaya konstruksi, yaitu f125.000 Gulden. Hal ini mempertimbangkan bahwa pembangunan Jembatan Gantung Bantar memiliki peran penting untuk perkembangan ekonomi di wilayah Yogyakarta.


117 SENARAI TINGGALAN ZAMAN #1 CAGAR BUDAYA PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA EDISI PENDIDIKAN DAN PERJUANGAN Peresmian Gouverneur Jasperbrug (Jembatan Gantung Bantar) 17 Juni 1929 Sumber: Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah DIY (Kode Arsip: 23400-24 005.8.136.136) Proses pembangunan jembatan sekitar tahun 1928-1929 Sumber: Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah DIY (Kode Arsip 23400-24 005.8.135.135) Pada 1920, terjadi perubahan anggaran konstruksi menjadi f415.900 Gulden yang ditetapkan melalui Keputusan Pemerintah Hindia Belanda No. 32 tanggal 1 Mei 1920. Dalam keputusan tersebut, tertulis pula tentang biaya pembangunan jembatan yang tetap ditanggung Pemerintah Hindia Belanda dan kontribusi dari Kesultanan Yogyakarta yang jumlahnya tetap f125.000 Gulden. Pembangunan Jembatan Gantung Bantar pun dimulai saat itu juga pada 1920 dan dikepalai oleh insinyur J.A. Verhoog dengan pengawasan langsung dari BOW. Namun, karena kondisi keuangan Pemerintah Hindia Belanda yang mengalami kesulitan, proses pembangunan jembatan terhenti pada 1921. Pekerjaan pembangunan Jembatan Gantung Bantar dilanjutkan kembali pada 1925. Pekerjaan substruktur (konstruksi pilar jembatan) ditenderkan kepada Nederlandsche Aannemingsmaatschappij (NEDAM) yang diselesaikan pada Oktober 1927 dengan biaya f229.000 Gulden. Sementara, konstruksi superstruktur dikerjakan oleh pabrik Werkspoor N.V. di Utrecht dengan biaya f221.000 Gulden. Perakitan konstruksi superstruktur dilakukan pada Agustus 1928 hingga akhirnya pembangunan Jembatan Gantung Bantar selesai dan diresmikan tanggal 17 Juni 1929. Pada saat peresmiannya, jembatan ini diberi nama: Gouverneur Jasper-brug. Nama tersebut diambil dari nama Johan Ernst Jasper yang menjabat Gubernur Yogyakarta pertama pada masa jabatan 1928–1929. Sebelumnya, J.E. Jasper menjabat resident di Yogyakarta sejak 1926 (pada 19 Desember 1927, status administratif wilayah Yogyakarta sebagai keresidenan ditingkatkan menjadi provinsi). J.E. Jasper dikenal pula sebagai penulis sastra dan seni, karyanya yang paling dikenal adalah buku De Weefkunst (Seni Tenun) yang ditulis bersama Mas Pirngadie pada 1912 yang hingga saat ini menjadi salah satu acuan utama dalam kajian wastra/tekstil di Indonesia.


SENARAI TINGGALAN ZAMAN #1 CAGAR BUDAYA PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA EDISI PENDIDIKAN DAN PERJUANGAN 118PERGERAKAN, PERJUANGAN, & REVOLUSI KEMERDEKAAN Pada masa Revolusi Kemerdekaan, Jembatan Gantung Bantar memiliki kaitan erat dengan peristiwa Serangan Umum 1 Maret 1949. Pertempuran di lokasi ini melibatkan Pasukan Sub-Wehrkreise 106 Kulon Progo dengan Pasukan Belanda. Pasukan SubWehrkreise ini merupakan pasukan TNI yang pada awalnya dibentuk sebagai bagian dari penerapan Operasi Siasat Nomor 1, yaitu “Siasat Bumi Hangus” (melakukan sabotase/ penghancuran fasilitas umum untuk menghambat mobilisasi musuh). Kolonel Bambang Sugeng sebagai Panglima Divisi III MBKD (Markas Besar Komando Djawa) Jawa Tengah bagian Barat dan Yogyakarta kala itu membentuk beberapa Wehrkreise (sistem pertahanan yang membagi daerah pertempuran dalam lingkaranlingkaran). Daerah Yogyakarta berada di bawah komando pasukan Wehrkreise III yang dipimpin Letnan Kolonel Soeharto. Selanjutnya, Letkol Soeharto membagi wilayah komandonya ke dalam beberapa Sub-Wehrkreise. Salah satu pasukkan Sub-Wehrkreise yang dibentuk yaitu pasukan Sub-Wehrkreise 106 yang berada di Kulon Progo dengan komandan Letnan Kolonel Soedarto. Setelah peristiwa Agresi Militer Belanda II (19 Desember 1948), Jembatan Gantung Bantar dikuasai pasukan Belanda dan dijadikan pos militer tentara Belanda sejak 27 Desember 1948. Misi Pasukan Sub-Wehrkreise 106 Kulon Progo adalah menyerang pos militer ini sekaligus merusak/menghancurkan Jembatan Gantung Bantar. Pada peristiwa Serangan Umum 1 Maret 1949, Pasukan Sub-Wehrkreise 106 Kulon Progo berhasil melakukan penekanan dan menahan pasukan Belanda yang berada di pos Jembatan Gantung Bantar. Kondisi ini mengakibatkan pasukan tentara Belanda tidak dapat bergerak untuk memberikan bantuan kepada pasukan Belanda yang sedang diserang oleh pasukan Wehrkreise III di Kota Yogyakarta. Peristiwa tertahannya pasukan tentara Belanda di Jembatan Gantung Bantar dalam pertempuran tersebut memberikan dampak besar terhadap keberhasilan Serangan Umum 1 Maret di Kota Yogyakarta. Peristiwa Serangan Umum tersebut kemudian berdampak signifikan terhadap sejarah perjuangan revolusi kemerdekaan Republik Indonesia. Situasi yang berakibat memaksa pihak Belanda untuk melaksanakan perundingan dan menghentikan pertempuran. Sejak 2015, Jembatan Gantung Bantar tidak lagi dilewati kendaraan, pada kedua ujungnya, telah diberi portal untuk mencegah kendaraan melintas. Sebagai pengganti Jembatan Gantung Bantar, dibangun dua jembatan baru untuk menghubungkan Kabupaten Kulon Progo dan Kabupaten Bantul. Kedua jembatan baru tersebut berada di sisi selatan Jembatan Gantung Bantar yang dikenal dengan nama Jembatan Bantar II (struktur rangka baja Trans Field Australia) dan Jembatan Bantar III (struktur gelagar beton pra tegang).


119 SENARAI TINGGALAN ZAMAN #1 CAGAR BUDAYA PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA EDISI PENDIDIKAN DAN PERJUANGAN Jembatan Gantung Bantar saat ini secara umum masih dalam kondisi baik. Namun, terdapat kerusakan di beberapa bagian jembatan. Kerusakan paling parah terdapat pada konstruksi lantai jembatan serta penurunan mutu proteksi baja terhadap karat. Penurunan mutu galvanis (lapisan anti karat) tergantung pada frekuensi pemeliharaan rutin berupa pengecatan, terutama konstruksi rangka baja di bawah lantai. Karat pada elemen baja banyak terjadi pada elemen balok baja memanjang di bawah lantai bagian pinggir. Hal tersebut karena ketiadaan pipa cucuran air di sepanjang jembatan yang menyebabkan air yang terlimpas dari permukaan pengerasan langsung membasahi elemen tersebut. Jembatan Gantung Bantar saat ini dikelola oleh Satuan Kerja Perencanaan dan Pengawasan Jalan Nasional Provinsi D.I. Yogyakarta. Walaupun tidak lagi dilewati kendaraan, pemeliharaan Jembatan Gantung Bantar tetap dilakukan yang meliputi penggantian papan kayu, penggantian pengerasan aspal, pengecatan struktur baja (pelapisan galvanis), perbaikan pasangan batu, dan pemeliharaan rutin menurut acuan Bridge Management System (BMS 1992). Jembatan Gantung Bantar telah ditetapkan menjadi Cagar Budaya pada 2021 melalui Surat Keputusan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta No.171/KEP/2021 tentang Penetapan Jembatan Gantung Bantar sebagai Struktur Cagar Budaya Peringkat Provinsi. Jembatan Gantung Bantar memenuhi kriteria sebagai struktur cagar budaya karena Jembatan Gantung Bantar telah berusia lebih dari 50 tahun, berdasarkan waktu perencanaan pembangunannya yang dimulai dari 1915 sampai 1916. Sementara, proses pembangunannya dimulai pada 1920 hingga selesai dan diresmikan pada tanggal 17 Juni Foto udara Jembatan Gantung Bantar beserta struktur jembatan baru (Jembatan Bantar II & III) Sumber: Dinas Kebudayaan DIY, 2019 Jembatan Gantung Bantar Jembatan Bantar III Jembatan Bantar II


SENARAI TINGGALAN ZAMAN #1 CAGAR BUDAYA PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA EDISI PENDIDIKAN DAN PERJUANGAN 120PERGERAKAN, PERJUANGAN, & REVOLUSI KEMERDEKAAN 1929. Jembatan Gantung Bantar juga mewakili masa gaya paling singkat berusia 50 tahun karena bentuk jembatan dengan bahan baja model gantung merupakan bentuk jembatan yang dikembangkan pada masa abad 19. Jembatan Gantung Bantar memiliki arti khusus bagi sejarah karena merupakan bukti sejarah peristiwa Serangan Umum 1 Maret 1949. Pertempuran di lokasi ini melibatkan Pasukan Sub-Wehrkreise 106 Kulon Progo. Pasukan ini merupakan pasukan TNI yang pada awalnya dibentuk sebagai bagian dari penerapan Operasi Siasat Nomor 1, yaitu “Siasat Bumi Hangus” (melakukan sabotase/penghancuran fasilitas umum untuk menghambat mobilisasi musuh). Jembatan gantung ini juga memiliki arti khusus bagi ilmu pengetahuan karena memiliki sistem konstruksi jembatan dengan kabel yang dilengkapi sendi dan rol yang merupakan sistem konstruksi untuk menyesuaikan material dengan kondisi alam. Selain itu, Jembatan Gantung Bantar juga memiliki arti khusus bagi pendidikan karena menjadi referensi bagi pendidikan teknik sipil konstruksi. Kriteria cagar budaya berupa nilai budaya bagi penguatan kepribadian bangsa juga menjadi alasan penetapan Jembatan Gantung Bantar sebagai struktur cagar budaya karena merupakan bentuk partisipasi Kesultanan Yogyakarta dalam pembangunan infrastruktur yang memiliki peran penting untuk perkembangan ekonomi di wilayah Yogyakarta. Selain itu, jembatan gantung ini juga menjadi monumen kepahlawanan rakyat Yogyakarta dan Indonesia (pasukan TNI Sub-Wehrkreise 106 Kulon Progo) dalam perjuangan revolusi kemerderkaan RI (1948–1949). Jembatan Gantung Bantar juga memenuhi kriteria cagar budaya peringkat provinsi yang di antaranya mewakili karya keatif yang khas dalam wilayah provinsi dikarenakan Jembatan Gantung Bantar merupakan karya kreatif Th. E. Veer, arsitek dari BOW (Burgerlijke Openbare Werken) atas prakarsa seorang Resident Djokjakarta Jacob Hendrik Liefrinck dengan perencanaan pada 1915–1916 dan pembangunan selama sembilan tahun (1920–1929). Selain itu Jembatan Gantung Bantar juga termasuk kriteria langka jenisnya, unik rancangannya, dan sedikit jumlahnya di provinsi dikarenakan Jembatan Gantung Bantar merupakan jenis jembatan gantung dengan konstruksi sendi dan rol satu-satunya di DIY yang memiliki panjang 176 m dan tinggi maksimal 23,8 m serta disangga pilar ganda setinggi 13 m dari permukaan air normal dan tower setinggi 10,8 m. Dengan demikian, Jembatan Gantung Bantar sebagai Struktur Cagar Budaya Peringkat Provinsi memiliki nilai penting berupa karya kreatif arsitektur yang mengawali penggunaan struktur jembatan gantung di Yogyakarta dengan fungsi sebagai penghubung dua wilayah untuk meningkatkan perekonomian dan kesejahteraan rakyat. Selain itu, Jembatan Gantung Bantar juga merupakan monumen sejarah perjuangan


121 SENARAI TINGGALAN ZAMAN #1 CAGAR BUDAYA PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA EDISI PENDIDIKAN DAN PERJUANGAN rakyat Yogyakarta dan Indonesia (pasukan TNI Sub-Wehrkreise) pada masa revolusi kemerdekaan RI (1948–1949). Daftar Bacaan » Baha Uddin, dkk. 2020. Masyarakat Pedesaan dan Revolusi Kemerdekaan di Daerah Istimewa Yogyakarta. Yogyakarta: Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta. » Hisbaron Muryantoro. 2003. “Peranan Sub-Wehrkreise 106 Pada Masa Perang Kemerdekaan II di Kabupaten Kulon Progo: Suatu Kajian Sejarah Lisan” dalam Patra Widya: Seri Sejarah dan Budaya, Vol. 4 No. 3. Hlm. 1–35. » De Gouverneur-Jasper-brug over de Progo. Dalam De Locomotief: Eerste Blad, 78e Jaargang, No. 136, 17 Juni 1929. » De Jasperbrug geopend. Dalam De Locomotief: Eerste Blad, 78e Jaargang, No. 138, 19 Juni 1929. » Een openings-plechtigheid. Dalam Soerabaiasch-Handelsblad, 77e Jaargang, 17 Juni 1929. 4 5


SENARAI TINGGALAN ZAMAN #1 CAGAR BUDAYA PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA EDISI PENDIDIKAN DAN PERJUANGAN 122PERGERAKAN, PERJUANGAN, & REVOLUSI KEMERDEKAAN Keterangan: 1. Kayu jati di atas gelagar baja pada konstruksi lantai jembatan (Foto: Yuwono Sri Suwito, 2014) 2. Konstruksi cakram ganda di ujung struktur jembatan 3. Jembatan Bantar 4. Profil Gouverneur Jasperbrug (Jembatan Gantung Bantar) tahun 1930-an 5. Gouverneur Jasperbrug (Jembatan Gantung Bantar) tahun 1935 sisi Barat (Sumber: KITLV 53877,) 6. Kabel baja pada konstruksi Jembatan Gantung Bantar 7. Struktur kerangka jembatan bagian bawah Sumber: Dinas Kebudayaan DIY 6 1 2 3 7


123 SENARAI TINGGALAN ZAMAN #1 CAGAR BUDAYA PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA EDISI PENDIDIKAN DAN PERJUANGAN


SENARAI TINGGALAN ZAMAN #1 CAGAR BUDAYA PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA EDISI PENDIDIKAN DAN PERJUANGAN 124PERGERAKAN, PERJUANGAN, & REVOLUSI KEMERDEKAAN SELOKAN MATARAM » Surat Keputusan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 231/KEP/2021 tentang Penetapan Selokan Mataram sebagai Struktur Cagar Budaya Peringkat Provinsi Pada 1942, tentara Dai Nipon (Jepang) datang dan menduduki seluruh wilayah di Indonesia. Semua penduduk dipaksa bekerja memenuhi berbagai kebutuhan infrastruktur. Banyak penduduk yang dikirim ke berbagai daerah untuk menjalani kerja paksa dan banyak dari romusa yang tidak kembali pulang ke daerah asalnya. Yogyakarta tidak lepas dari rangkaian tindakan kerja paksa tersebut, tetapi dengan negosiasi dari Sultan Hamengku Buwono IX, pengiriman pemuda ke luar daerah untuk menjalani Romusha dapat ditekan. Selain itu, juga ada manfaat yang didulang untuk Yogyakarta. Hasil dari negosiasi tersebut kita kenal saat ini dengan sebutan Selokan Mataram. Selokan Mataram merupakan struktur saluran/kanal air yang berfungsi sebagai sistem irigasi lahan pertanian terutama dalam wilayah Kabupaten Sleman. Aliran air Selokan Mataram bersumber dari barat, tepatnya dari inlet Sungai Progo, melalui bendungan Karangtalun yang dibangun untuk kebutuhan saluran Van Der Wijck pada 1909. Bagian hulu/saluran masuk berada di barat tepatnya di Desa Karangtalun, Kecamatan Ngluwar, Kabupaten Magelang, dengan mengambil saluran air Sungai Progo melalui bangunan Bendung (Weir) Karangtalun yang dikelola melalui pintu air (intake). Bagian hilir yang merupakan ujung saluran keluar berada di timur, yaitu di Desa Tamanmartani, Kecamatan Kalasan, Kabupaten Sleman, yang mengalirkan air ke Sungai Opak. Keseluruhan struktur saluran air Selokan Mataram melintasi wilayah 2 provinsi (Jawa Tengah dan D.I. Yogyakarta), 2 kabupaten (Magelang dan Sleman), 8 kecamatan (Ngluwar, Tempel, Seyegan, Mlati, Godean, Gamping, Depo, Kalasan), dan 16 desa (Karangtalun, Bligo, Banyurejo, Margokaton, Margodadi, Tirtoadi, Sidomoyo, Tlogoadi, Trihanggo, Sinduadi, Caturtunggal, Condongcatur, Maguwoharjo, Purwomartani, Tirtomartani, Tamanmartani).


125 SENARAI TINGGALAN ZAMAN #1 CAGAR BUDAYA PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA EDISI PENDIDIKAN DAN PERJUANGAN Bagian hulu Selokan Mataram memanfaatkan/menyambung pada struktur saluran air yang telah ada sebelumnya. Pada bagian segmen hulu Selokan Mataram sepanjang 3,3 km merupakan struktur saluran irigasi Van der Wijck (Van der Wijck Leiding) yang dibangun oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda pada 1909. Di Dusun Beteng, Desa Bligo, Ngluwar terdapat percabangan saluran air untuk struktur Van der Wijck dan struktur Selokan Mataram yang ditandai dengan Bangunan Bagi. Bendungan Karangtalun, mengambil air Sungai Opak untuk dialirkan ke Selokan Mataram dan saluran Vand Der Wijck Akhir Selokan Mataram jatuh ke Sungai Opak Berdasarkan penuturan Sultan Hamengku Buwono IX dalam biografinya, Selokan Mataram dibangun sebagai hasil diplomasi sultan kepada pihak pemerintah pendudukan militer Jepang di Yogyakarta. Diplomasi terselubung tersebut untuk menghindari mobilisasi penduduk Yogyakarta ke luar daerah dalam program Romusha (kebijakan kerja paksa dalam membangun sarana dan prasarana untuk kepentingan pemerintah pendudukan militer Jepang yang sedang terlibat dalam Perang Pasifik kala itu). Alasan


SENARAI TINGGALAN ZAMAN #1 CAGAR BUDAYA PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA EDISI PENDIDIKAN DAN PERJUANGAN 126PERGERAKAN, PERJUANGAN, & REVOLUSI KEMERDEKAAN yang diajukan sultan untuk pembangunan saluran irigasi itu ialah agar wilayah Yogyakarta dapat meningkatkan produktivitas pertanian secara signifikan sehingga dapat membantu menyumbangkan hasil bumi untuk keperluan militer Jepang. Sultan Hamengku Buwono IX juga berdiplomasi agar diberi bantuan dana untuk pembangunan tersebut. Hasilnya, pemerintah pendudukan militer Jepang mengeluarkan dana untuk: a. membangun saluran dan pintu air untuk mengatur air hujan dari daerah tergenang ke laut, terutama di daerah Adikarto sebelah selatan; b. membangun saluran untuk mengalirkan air dari Sungai Progo ke daerah kering yang kekurangan air di daerah Sleman bagian timur. Pembangunan saluran air irigasi Selokan Mataram ini dimulai pada 20 Juli 1944 dan selesai pada 5 Juli 1945. Pembangunan dibiayai oleh pemerintah pendudukan militer Jepang dan dikerjakan sepenuhnya oleh rakyat Yogyakarta dengan koordinasi dari pihak Kraton Yogyakarta. Kepala insinyur yang memimpin proyek ini adalah Ir. Hiromatsu dan Ir. K.R.T. Martonegoro. Dalam propaganda pembangunannya, Selokan Mataram dideskripsikan sebagai “proyek irigasi terbesar di Jawa”. Dilaporkan bahwa proyek ini menyerap 2,72 juta orang per hari (rata-rata 7.700 pekerja per hari), termasuk 210.000 orang per hari untuk pekerjaan tanpa upah. Keseluruhan biaya mencapai 1,2–1,5 juta gulden dengan bagian upah untuk pekerja Romusha dibebankan pada pemerintah lokal. Pekerjaan dilakukan dalam tiga sif dengan mengerahkan tenaga kerja pria, wanita, dan anak-anak. Proyek irigasi ini menyerap banyak tenaga kerja karena minimnya peralatan kerja sehingga menggunakan sepenuhnya tenaga kerja manual dengan tangan. Sebagian besar kendaraan truk dan peralatan mesin berat digunakan untuk keperluan militer saat itu. Bahan konstruksi seperti semen Portland dan batang besi tidak tersedia sehingga mereka menggunakan bahan pengganti seperti bubuk bata, semen teras, dan kayu. Struktur saluran irigasi berupa kanal air ini pada mulanya bernama Gunsei Hasuiro dan Gunsei Yosuiro. Kemungkinan nama pertama untuk kanal irigasi di daerah Adikarto, sementara yang lain untuk penamaan Selokan Mataram. Proyek pembangunan kanal irigasi ini disebut pula dengan nama Gunsei Yosuiro Kairyo Koji Gaiyosho. Nama Selokan Mataram telah dicantumkan pada pemberitaan surat kabar mengenai awal proyek pembangunan kanal irigasi ini pada 1944. Selokan Mataram resmi disahkan pada 1945, tahun yang sama untuk berakhirnya pendudukan Jepang di Indonesia. Setelah peresmian Selokan Mataram pada 1945, struktur saluran irigasi ini terus


127 SENARAI TINGGALAN ZAMAN #1 CAGAR BUDAYA PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA EDISI PENDIDIKAN DAN PERJUANGAN mengalami modifikasi berupa perubahan dan penambahan fasilitas bangunanbangunan pelengkap seperti jembatan, pintu air, tangga cuci, tempat mandi ternak, dan modifikasi talang air. Perubahan-perubahan tersebut dilakukan secara bertahap di titik lokasi yang berbeda-beda. Seperti halnya keberadaan akuaduk berupa Talang di atas Sungai Krasak yang mengalami beberapa kali kerusakan karena banjir lahar dingin dari Gunung Merapi pada pertengahan 1961, 26 Januari 1969, dan 15 Juli 1969. Pada tanggal 24 November 1969, terjadi banjir lahar dingin lagi yang mengakibatkan talang darurat dari kayu sepanjang 17 m putus dan hanyut. Kemudian, pada 1970, untuk antisipasi kerusakan berulang, bentuk talang melintas di atas Sungai Krasak diubah menjadi Sipon dari beton bertulang melintas di bawah permukaan sungai. Sipon baru di Sungai Krasak ini terdiri atas: (1) bangunan pemasukan (inlet) dilengkapi bangunan pembilas/pintu air dan bangunan outlet terbuat dari pasangan batu kali; (2) terowongan air dari beton bertulang tebal dinding 22,5 cm, ukuran 120 m x 170 m, panjang keseluruhan 75 m, ditanam sedalam 12 m di bawah dasar sungai, dengan kemampuan pengairan (debit) 5-10 m3/detik. Selama pembangunannya pun, terjadi 4 kali banjir lahar dingin yang mengganggu kelancaran pelaksanaan pembangunan. Dalam pengelolaan Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak untuk Daerah Irigasi Mataram, keberadaan Selokan Mataram merupakan salah satu bagian dari tiga saluran induk, yaitu: (1) Saluran Induk Karangtalun (debit 10.882 m3/dt), (2) Saluran Induk Van der Wijck (debit 4.607 m3/dt), (3) Saluran Induk Selokan Mataram (debit 6.275 m3/dt). Jaringan ini merupakan jaringan interkoneksi antara dua daerah aliran sungai (DAS), yaitu DAS Progo dan DAS Opak yang saat ini dikenal dengan “Sistem Mataram”. Panjang struktur Selokan Mataram mencapai 34,5 km (34.519,84 m) dengan lebar bervariasi antara 4 m–18 m. Sepanjang 4,3 km bagian barat (segmen hulu) atau 13% dari keseluruhan panjang Selokan Mataram berada di dalam wilayah Kecamatan Ngluwar, Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah. Sementara, dalam wilayah DIY, sepanjang 30,1 km atau 87% dari keseluruhan panjang selokan dan berada di 7 kecamatan wilayah Kabupaten Sleman. Struktur Selokan Mataram merupakan Jaringan Irigasi Teknis berupa Saluran Irigasi Primer berbentuk tetap dari pangkal hingga ujung. Di sepanjang salurannya, baik di sisi utara maupun selatan, terdapat Bangunan Sadap untuk mengalirkan air irigasi sebagai saluran tersier langsung menuju petak-petak sawah (Petak Tersier) tanpa melalui saluran sekunder.


SENARAI TINGGALAN ZAMAN #1 CAGAR BUDAYA PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA EDISI PENDIDIKAN DAN PERJUANGAN 128PERGERAKAN, PERJUANGAN, & REVOLUSI KEMERDEKAAN Selokan Mataram memiliki potongan melintang berbentuk trapesium dengan permukaan dinding talut berupa pasangan batu (ukuran boulder). Hanya di bagian wilayah permukiman padat (Desa Sinduadi, Caturtunggal, dan Condongcatur) potongan melintang saluran ini berubah menjadi bentuk kotak. Sepanjang struktur Jaringan Irigasi Utama Selokan Mataram terdiri atas Bangunan Utama berupa bendung dan pintu air; Jaringan Irigasi berupa saluran primer dan saluran pembuang; Bangunan Bagi dan Bangunan Sadap; Bangunan Pengukur dan Pengatur; Bangunan Pengatur Muka Air; Bangunan Pembawa berupa sipon (siphon), talang (akuaduk), talang silang, dan gorong-gorong; Jalan Inspeksi; Jembatan dan Jembatan Orang; serta Bangunan Pelengkap berupa tangga cuci dan tempat mandi ternak. Keterangan: 1. Akuaduk (jembatan air) 2. Bangunan Bagi air ke Selokan Mataram dan ke Van Der Wijck 3. Jalan inspeksi di sebelah saluran Selokan Mataram 4. Gorong-gorong 5. Saluran Sipon 6. Jembatan orang 1 2 3 4 5 6


129 SENARAI TINGGALAN ZAMAN #1 CAGAR BUDAYA PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA EDISI PENDIDIKAN DAN PERJUANGAN Struktur Selokan Mataram diawali dengan Bendung Karangtalun yang merupakan bagian segmen hulu untuk saluran Van der Wijck. Bangunan pengambilan dalam Bendung Karangtalun berupa konstruksi dam tinggi 20 m dengan 4 pintu air yang masing-masing memiliki jalur lintasan arus air panjang 50 m. Kompleks bangunan di Karangtalun ini merupakan Bangunan Utama jaringan irigasi Daerah Irigasi Mataram. Struktur Selokan Mataram adalah Jaringan Irigasi Utama berupa Saluran Primer (Saluran Induk) yang membawa air dari Bendung Karangtalun ke saluran ke petak-petak tersier yang diairi. Penanda awal Saluran Tersier adalah keberadaan bangunan-bangunan sadap di sepanjang saluran. Batas ujung saluran primer ini ada pada Pintu Pengatur berupa got miring yang berhubungan langsung dengan Sungai Opak sebagai bangunan yang terakhir. Struktur Selokan Mataram sepanjang 34,5 km melewati 27 sungai di antara Sungai Progo dan Sungai Opak. Aliran air irigasi yang melewati sungai-sungai tersebut melalui Bangunan Pembawa sebagai akuaduk berupa 22 Talang untuk melintasi di atas sungai dan 5 Sipon untuk melintasi di bawah sungai. Sipon terpanjang terdapat di Saluran Induk Karangtalun (dahulu saluran irigasi Van der Wijck) berada di 932 m dari Bendung Karangtalun. Sipon ini (KT.3/SP.1) melewati bawah permukaan Sungai Batang dan berlanjut di bawah permukaan tanah di Dusun Gagan, Desa Bligo sepanjang 641 m. Bangunan Sipon yang melintasi Sungai Krasak (B.MA.5b) sepanjang 83 m merupakan satu-satunya yang memiliki pintu pengatur air. Tepat di wilayah Dusun Karangjati, (Desa Sinduadi, Mlati) struktur saluran air Selokan Mataram mengalami pengalihan arah ke utara ditandai dengan keberadaan Bangunan Bagi (B.MA.47). Tepat dari titik Bangunan Bagi tersebut, terdapat saluran penggelontoran ke arah timur tepat menuju Sungai Code sepanjang 275 m. Jalur pengalihan ini memutar melewati Dusun Mranggen Kidul–Pogungrejo–Pogung Kidul. Pengalihan jalur air ini untuk menghindari bentangan lembah Sungai Code yang lebar (sepanjang 147 m). Dengan demikian, saluran Selokan Mataram hanya melewati Sungai Code selebar 13 meter melalui konstruksi sipon di Dusun Pogungrejo. Jalur mengitari ini sepanjang 1,67 km yang berakhir di Dusun Pogung Kidul kembali sejajar dengan sumbu struktur saluran Selokan Mataram di timur (Dusun Karangjati). Dari ke-22 Talang berupa jembatan saluran air yang melintasi di atas sungai, terdapat talang terpanjang dengan bentang 80 m (MA.24/TL.1)/(B.MA.58b). Talang ini melintasi Sungai Tambakbayan di perbatasan Desa Caturtunggal-Maguwoharjo, Depok. Selain itu, terdapat 70 Talang Silang yang berupa jembatan saluran air yang melintasi di atas struktur Selokan Mataram serta 73 Jembatan dan 58 Jembatan Orang yang berukuran lebih kecil.


SENARAI TINGGALAN ZAMAN #1 CAGAR BUDAYA PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA EDISI PENDIDIKAN DAN PERJUANGAN 130PERGERAKAN, PERJUANGAN, & REVOLUSI KEMERDEKAAN Terdapat bangunan-bangunan pelengkap yang dibuat di sepanjang saluran yang meliputi 59 tangga cuci dan 26 tempat mandi hewan ternak sebagai sarana bagi warga pemukim sepanjang Selokan Mataram untuk mencapai air di saluran tanpa merusak lereng. Dengan menyediakan tangga cuci dan tempat mandi hewan ternak, berarti mencegah penduduk agar tidak membuat fasilitas-fasilitas sendiri dengan cara merusak atau menghalangi saluran. Penambahan bangunan-bangunan pelengkap ini dibangun pada periode kemudian di tahun 1970-an secara bertahap Selokan Mataram merupakan salah satu bukti perjuangan masyarakat Yogyakarta selama masa penjajahan. Pada usia yang sudah lebih dari 50 tahun, Selokan Mataram mewariskan banyak manfaat dan nilai-nilai di bidang sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan dan kebudayaan serta menjadi bukti kekuatan masyarakat lokal melalui karya monumental struktur aliran air yang membelah Yogyakarta dari barat ke arah timur. Berdasarkan hal-hal di atas, sudah sepantasnya Struktur Selokan Mataram menjadi salah satu Cagar Budaya Peringkat Provinsi karena Struktur Selokan Mataram merupakan karya kreatif gagasan Sultan Hamengku Buwana IX dalam merepresentasikan prinsip manunggaling kawula-gusti (bersatunya pemimpin dan rakyatnya) melalui siasat diplomasi untuk melindungi rakyat Yogyakarta dari kerja paksa (Romusha) pada masa pendudukan militer Jepang yang sekaligus memberikan kemakmuran agraris di wilayah D.I. Yogyakarta. Sumber bacaaan » Atmakusumah (Penyunting). 2011. Takhta untuk Rakyat: Celah-Celah Kehidupan Sultan Hamengku Buwono IX (Cet. Keempat). Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. » Direktorat Djenderal Pengairan. 1971. Proyek Syphon Saluran Mataram. Jogjakarta: Projek Gunung Merapi, Direktorat Djenderal Pengairan, Departemen Pekerjaan Umum dan Tenaga Listrik » Monfries, John. 2015. A Prince in a Republic: The Life of Sultan Hamengku Buwono IX of Yogyakarta. Singapura: Institute of Southeast Asian Studies. » Sato, Shigeru. 2006. “Economic Soldier” in Java: Indonesian Laborers Mobilized for Agricultural Projects. Dalam Paul H. Kratoska (Ed.). Asian Labor in the Wartime Japanese Empire. Singapura: Singapore University Press. Hlm. 129– 151.


131 SENARAI TINGGALAN ZAMAN #1 CAGAR BUDAYA PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA EDISI PENDIDIKAN DAN PERJUANGAN


SENARAI TINGGALAN ZAMAN #1 CAGAR BUDAYA PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA EDISI PENDIDIKAN DAN PERJUANGAN 132PERGERAKAN, PERJUANGAN, & REVOLUSI KEMERDEKAAN saluran jembatan air di Tamanmartani


133 SENARAI TINGGALAN ZAMAN #1 CAGAR BUDAYA PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA EDISI PENDIDIKAN DAN PERJUANGAN


SENARAI TINGGALAN ZAMAN #1 CAGAR BUDAYA PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA EDISI PENDIDIKAN DAN PERJUANGAN 134PERGERAKAN, PERJUANGAN, & REVOLUSI KEMERDEKAAN GEDUNG DPRD DIY » Peraturan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata nomor PM.89/PW.007/MKP/2011 tentang Penetapan Hotel Inna Garuda, Gedung DPRD (Ruang Paripurna), Stasiun Lempuyangan, RS Bethesda, Asrama Kompi Kotabaru, SLTP Negeri 5 Yogyakarta, Museum TNI AD, Gedung SMU Negeri 6 Yogyakarta, Rumah Sakit DKT, SD Tumbuh, GKPN PPRI DIY, Gedung RRI, The Phoenix Hotel Yogyakarta, Kantor Kedaulatan Rakyat, UPT Balai Yasa Yogyakarta, Gedung PT Asuransi Jiwasraya, Kantor Satlantas Poltabes Yogyakarta, Rumah Mr. Djody Gondokusumo, Pasar Beringharjo, Kompleks Gedung Agung, Museum Sonobudoyo, Masjid Gedhe Kauman, Dalem Pengulon, Dalem Benawan, Masjid Agung Puro Pakualaman, Dalem Yudonegaran, Dalem Padmokusuman (dahulu Dalem Suryonegaran), Museum Sonobudoyo Unit II (Dalem Condrokiranan), Gedung Societet Militer, Hotel Limaran, SD Puro Pakualaman, LP Wirogunan, Susteran Sang Timur, Museum Biologi, Masjid Margoyuwono, Asrama Mahasiswa Kalimantan Barat “Rahadi Osmani”, Asrama Putra Mahasiswa Sulawesi Tengah, Asrama Putri Bundo Kanduang, Gedung Komando Pemadam Kebakaran (Kodamkar), Kodim 0734/ Yogyakarta, Indraloka Homestay, Rumah Tinggal Moelyo Soebroto, Rumah Indis (Grapari), Rumah Judoprayitno, SMA “17” I, Gereja Huria Kristen Batak Protestan (HKBP), Gedung Seminari, Kolese St. Ignatius, Susteran Amalkasih Darah Mulia, Rumah Tinggal (Gd. Elti), Rumah Tinggal (PT Sarana Yogya Ventura), Ndalem Natatarunan, Rumah Kemayoran, Asrama Saweri Gading, Rumah Tinggal (Dealer Suzuki), di Jalan Sultan Agung No. 24, Rumah Tinggal di Jalan Sultan Agung No. 26, Bangunan Kantor ODMIL (Oditur Militer), Gedung TK dan SD Bopkri Gondolayu, Lab. SMK Taman Siswa, Rumah Tinggal di Jalan Bintaran Wetan No. 7, SD Kintelan, Museum Dewantara Kirti Griya, Rumah Tinggal di Jalan Bintaran Wetan No. 17, STIE Nusa Megarkencana (Stienus), Rumah Kongsi Kanthil, Makopoltabes Yogyakarta, Markas Komando Resort Militer 072 Pamungkas, MAN II Yogyakarta, Kompleks Biara Bruder FIC, SD dan SMA Pangudi Luhur, SMP Negeri 2 Yogyakarta, Kompleks Biara Suster OSF dan SD Marsudirini, Dalem Mangunkusuman, SD Negeri Keputran I, Dalem Notoprajan, Museum Kereta, Dalem Joyokusuman, Dalem Purbonegaran, Dalem Pakuningratan, Dalem Mangkubumen, Dalem Kaneman, Dalem Wironegaran (Condrodiningratan), Masjid Sela, Dalem Suryoputran, Dalem Ngadiwinatan, Dalem Puspodiningratan, Dalem Pujokusuman, Panggung Krapyak, Kompleks Makam Imogiri, Kompleks Makam Banyusumurup, Rumah Markas Sandi T.B. Simatupang, Kompleks Makam Giriloyo, Kompleks Makam Girigondo, Monumen Bibis, dan Pesanggrahan Ngeksiganda yang berlokasi di wilayah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta sebagai Cagar Budaya yang dilindungi Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya; » Keputusan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta nomor 76/KEP/2023 tentang Penetapan Bangunan Cagar Budaya Gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Istimewa Yogyakarta sebagai Bangunan Cagar Budaya Peringkat Provinsi Bangunan Cagar Budaya Gedung DPRD DIY berada di Jalan Malioboro No. 54, Kelurahan Suryatmajan, Kemantren Gedongtengen, Yogyakarta. Bangunan tersebut didirikan pada 1870 dalam kepemilikan Sultan Hamengku Buwono VI yang disewakan kepada suatu organisasi yaitu perkumpulan mason “Mataram”. Organisasi pengguna bangunan ini merupakan unit cabang perkumpulan Vrijmetselarij untuk daerah Yogyakarta yang baru terbentuk saat itu: De Vrijmetselaars-Vereeniging “Mataram”. Dengan demikian, bangunan ini kemudian diberi nama: “Loge Mataram”.


135 SENARAI TINGGALAN ZAMAN #1 CAGAR BUDAYA PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA EDISI PENDIDIKAN DAN PERJUANGAN Istilah loge adalah untuk menyebut suatu gedung pertemuan (lodge) yang sering digunakan oleh organisasi-organisasi Freemason untuk menyebutkan fasilitas unit cabang atau tempat perkumpulannya. Istilah loge ini kemudian diserap dalam bahasa Jawa sebagai: “Loji”, kata yang digunakan untuk menyebutkan bangunan besar (gedung) yang berdinding tembok. Dalam bahasa Indonesia, kata loji berarti ‘gedung besar’ atau ‘kantor/benteng kompeni’ masa penjajahan Belanda di Indonesia. Organisasi “Vrijmetselaars” adalah sebuah perkumpulan tertutup yang keanggotaannya lintas agama. Organisasi ini termasuk kategori terbesar di dunia, tetapi berorganisasi di negara masing-masing. Nama lain dari organisasi ini adalah Freemasonry (bahasa Indonesia: “Tarekat Mason Bebas”, bahasa Belanda: “Vrijmetselarij”). Tujuan perkumpulan ini adalah mengangkat derajat rohani, kesusilaan, kesetiakawanan, dan berdasarkan pada cita-cita humanisme. Di Hindia-Belanda, organisasi ini cukup populer karena membuka keanggotaan lintas etnis, sementara kondisi sosial pada waktu itu (abad ke-19) berlaku segregasi sosial penduduk berdasarkan etnis (Belanda-Eropa; Cina; Arab; pribumi). Namun, keanggotaan Vrijmetselarij dari etnis Cina dan pribumi tercatat hanya berasal dari kelas sosial saudagar dan bangsawan saja. Di Yogyakarta, perkumpulan ini dikenal pula sebagai “Pusat Himpunan Teosofi” atau “Himpunan Ilmu Kebatinan”. Organisasi ini bergerak di bidang sosial dan kerohanian, tetapi bersifat eksklusif. Dalam ritus kerohanian, pertemuan anggota di fasilitas gedungnya cenderung tertutup dan rahasia dari publik sehingga sering memunculkan rumor terjadinya ritual pemanggilan arwah. Karena hal tersebut, penduduk lokal sering menjuluki gedung ini sebagai “Loji Setan”. Penamaan ini terjadi hampir di setiap gedung Vrijmetselarij di Hindia-Belanda saat itu. Bangunan gedung DPRD DIY saat menjadi bangunan “Lodge Mataram” nomor 62 pada Peta Kota Yogyakarta tahun 1925 Sumber: Peta JOGJAKARTA EN OMSTREKEN, 1925 Skala 1: 10.000


SENARAI TINGGALAN ZAMAN #1 CAGAR BUDAYA PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA EDISI PENDIDIKAN DAN PERJUANGAN 136PERGERAKAN, PERJUANGAN, & REVOLUSI KEMERDEKAAN Setelah masa kolonial Hindia-Belanda berakhir, gedung ini digunakan untuk berbagai fungsi, antara lain sebagai berikut. • 1942:Kantor Agraria pada masa pendudukan tentara Jepang di Yogyakarta. • 1946:Kantor Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Daerah DIY pasca pemindahan dari gedung Agung yang kemudian digunakan sebagai Istana Presiden; Kantor Dewan Pertahanan Negara; Kantor Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat. • 1948:(a) Tempat deklarasi Balai Perguruan Tinggi Gadjah Mada. (b) Peristiwa bersejarah yang pernah terjadi di gedung ini yaitu pencetusan politik luar negeri Indonesia “bebas aktif” oleh Kabinet/Wakil Presiden Drs. Moh. Hatta pada 2 September 1948 di depan sidang BPKNIP. Di sidang BPKNIP, Bung Hatta mengucapkan pidato bertajuk “Mendayung antara Dua Karang”. • 1951: Kantor untuk anggota DPRD hasil pemilu pertama kali. • 1959: Tempat persetujuan Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat, RI menyetujui RIS menjadi negara kesatuan. Bangunan Cagar Budaya Gedung DPRD DIY memiliki bentuk bangunan dan konstruksi atap yang cukup unik. Bangunan tersebut berorientasi ke arah barat, berdenah persegi panjang yang terdiri atas satu lantai dan enam bagian. Keseluruhan atap bangunan berbentuk deretan 7 bentuk limasan dengan penutup atap bahan genting. Terdapat tambahan atap pelana di tengah bagian atas atap pada bangunan utama. Perletakan Bangunan Cagar Budaya Gedung DPRD DIY Sumber: Citra Google Earth tanggal 26/05/2021


137 SENARAI TINGGALAN ZAMAN #1 CAGAR BUDAYA PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA EDISI PENDIDIKAN DAN PERJUANGAN Bangunan ini didesain dengan gaya arsitektur Indische Empire. Beberapa ciri-ciri gaya indis yang ada pada desain bangunan tersebut di antaranya: denah simetris, plafon tinggi, bukaan dinding yang lebar, dan area teras luas berupa portico yang ditopang dengan barisan kolom. Bagian portico (teras beratap) berada di muka (sisi barat). Pada bagian depan fasad, terdapat atap dengan entablature dan pedimen yang ditopang oleh empat tiang. Terdapat juga ornamen berupa cornice yang menghiasi bagian teratas dinding fasad. Bagian ini merupakan area terbuka tanpa dinding yang menjadi bagian teras sebelum masuk ke dalam ruangan utama melalui dua akses pintu utama. Permukaan lantai ditinggikan dari permukaan lahan sekitar dengan tiga anak tangga. Bagian teras beratap Sumber: Dinas Kebudayaan DIY, 2022 Ruang utama sebagai ruang rapat Sumber: Dinas Kebudayaan DIY, 2022 Bagian dalam bangunan di area depan menyerupai bentuk lobi. Bagian ini memiliki akses masuk berupa dua pintu dari dinding sisi barat (bagian teras/portico) berupa pintu dobel daun ganda dengan panel kayu di sisi luar dan panel kaca di sisi dalam. Akses dari dinding sisi utara dan selatan masing-masing terdiri atas tiga pintu berupa pintu dobel daun ganda dengan panel kayu kombinasi kaca di sisi luar dan panel kaca di sisi dalam. Ruangan tersebut dahulunya ruangan terbuka, tetapi sekarang, terdapat penambahan sekat untuk kebutuhan fungsi saat ini. Ruangan memiliki 10 pilar berbentuk silinder.


SENARAI TINGGALAN ZAMAN #1 CAGAR BUDAYA PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA EDISI PENDIDIKAN DAN PERJUANGAN 138PERGERAKAN, PERJUANGAN, & REVOLUSI KEMERDEKAAN Ruang utama berdenah persegi memiliki interior yang masih tergolong klasik dengan bahan kayu, seperti pada bagian plafon dan kaki pilar. Plafon masih menunjukkan bentuk aslinya, yakni di bagian tengah plafon terdapat bidang yang meninggi berbentuk persegi empat. Sementara itu, bagian plafon yang menjorok ke dalam lebih tinggi, setiap sisi ditutup kaca dan kaca hias sehingga memberikan pencahayaan tambahan ke dalam ruang (komponen skylight). Pintu bangunan ini didesain ganda, terdiri atas daun pintu krepyak untuk bagian luar serta daun pintu panel kaca di bagian dalam. Begitu juga dengan komponen jendela yang terdiri atas dua rangkap. Komponen pintu dan jendela Sumber: Dinas Kebudayaan DIY, 2022 Saat ini, Bangunan Cagar Budaya dalam kondisi baik dan terawat. Bangunan utama difungsikan sebagai ruang sidang paripurna DPRD DIY. Terdapat indikasi modifikasi tata ruang bangunan seperti menyekat ruang utama dengan dinding tembok beserta bukaan pintu pada deret kolom yang menghasilkan dua ruangan ruang rapat. Semua interior ruang rapat pada permukaan dinding saat ini dilapisi akustik panel untuk peredam suara serta panel kayu di permukaan dinding bagian bawah. Pada bagian kaki/bawah di setiap kolom di dalam ruangan, juga dilapisi panel kayu setinggi 1 m. Saat ini, ruang-ruang yang ada di gedung tersebut difungsikan sebagai ruang sidang fraksi, ruang tunggu, perpustakaan, ruang ketua DPRD, ruang kerja ketua DPRD, ruang rapat, serta ruangruang lain yang memenuhi kebutuhan kantor. Pada 1978–1990, dilakukan pembangunan bertahap di kompleks ini. Pembangunan tersebut tidak mengubah bangunan utama, tetapi dilakukan penambahan bangunanbangunan pada sisi timur dan utara lahan. Bangunan utama berada di tengah halaman. Selain itu, terdapat dua unit bangunan baru yang masing-masing terdiri atas 2 lantai


139 SENARAI TINGGALAN ZAMAN #1 CAGAR BUDAYA PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA EDISI PENDIDIKAN DAN PERJUANGAN dan 3 lantai pada sisi utara; satu unit bangunan baru 2 lantai di sisi timur dan bangunan masjid di bagian sudut barat laut halaman depan. Denah Bangunan Cagar Budaya Gedung DPRD DIY Sumber: Dinas Kebudayaan DIY, 2022 Selain dilihat dari gaya arsitektur Indische Empire yang mewakili masa pemerintahan Hindia Belanda, bangunan Gedung DPRD DIY juga memiliki peran penting dalam mengurai catatan perjuangan Indonesia. Dari ragam proses alih fungsinya, Gedung DPRD DIY dahulu pernah digunakan sebagai kantor Komite Nasional Indonesia Pusat sekaligus sebagai tempat deklarasi politik luar negeri Indonesia “bebas aktif” dan pencetusan bentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bangunan tersebut menjadi saksi menggebunya semangat nasionalisme untuk membangun negeri melalui pemerintahan Republik Indonesia yang berdaulat. Sumber bacaan » Freemasonry. 1917. Gedenkboek van de Vrijmetselarij in Ned. Oost-Indie, 1767–1917. Semarang: G.C.T. van Dorp. » Stevens, Th. 2004. Tarekat Mason Bebas dan Masyarakat di Hindia-Belanda dan Indonesia 1764–1962. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan. Keterangan: 1. Bangunan gedung DPRD DIY saat masih menjadi bangunan Loge Mataram sekitar tahun 1870, terlihat bentuk awal portico. (Sumber: Gedenkboek van de Vrijmetselarij in Ned. Oost-Indie, 1767–1917, (1917: 298) 2. Interior ruang utama saat masih digunakan sebagai ruang perkumpulan De Vrijmetselaars-Vereeniging “Mataram” dan saat digunakan sebagai Ruang Sidang Paripurna DPRD DIY saat ini (foto dari arah berlawanan) (Sumber: Indische Maconniek Tijdschrift, 1947-1948; Dinas Kebudayaan DIY, 2022) 3. Prasasti di dalam ruang rapat paripurna gedung DPRD DIY mengenai peringatan 40 tahun peristiwa pencanangan kebijakan politik luar negeri Indonesia “Bebas -Aktif” yang diumumkan oleh M. Hatta di dalam gedung ini (pada sidang BP-KNIP, 2 September 1948) (Sumber: Dinas Kebudayaan DIY, 2023) 1 2 3


SENARAI TINGGALAN ZAMAN #1 CAGAR BUDAYA PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA EDISI PENDIDIKAN DAN PERJUANGAN 140PERGERAKAN, PERJUANGAN, & REVOLUSI KEMERDEKAAN


141 SENARAI TINGGALAN ZAMAN #1 CAGAR BUDAYA PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA EDISI PENDIDIKAN DAN PERJUANGAN


SENARAI TINGGALAN ZAMAN #1 CAGAR BUDAYA PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA EDISI PENDIDIKAN DAN PERJUANGAN 142PERGERAKAN, PERJUANGAN, & REVOLUSI KEMERDEKAAN HOTEL GRAND INNA MALIOBORO » Penetapan status Cagar Budaya: Peraturan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Nomor PM.89/PW.007/MKP/2011 tentang Penetapan Hotel Inna Garuda, Gedung DPRD (Ruang Paripurna), Stasiun Lempuyangan, RS Bethesda, Asrama Kompi Kotabaru, SLTP Negeri 5 Yogyakarta, Museum TNI AD, Gedung SMU Negeri 6 Yogyakarta, Rumah Sakit DKT, SD Tumbuh, GKPN PPRI DIY, Gedung RRI, The Phoenix Hotel Yogyakarta, Kantor Kedaulatan Rakyat, UPT Balai Yasa Yogyakarta, Gedung PT Asuransi Jiwasraya, Kantor Satlantas Poltabes Yogyakarta, Rumah Mr. Djody Gondokusumo, Pasar Beringharjo, Kompleks Gedung Agung, Museum Sonobudoyo, Masjid Gedhe Kauman, Dalem Pengulon, Dalem Benawan, Masjid Agung Puro Pakualaman, Dalem Yudonegaran, Dalem Padmokusuman (dahulu Dalem Suryonegaran), Museum Sonobudoyo Unit II (Dale Condrokiranan), Gedung Societet Militer, Hotel Limaran, SD Puro Pakualaman, LP Wirogunan, Susteran Sang Timur, Museum Biologi, Masjid Margoyuwono, Asrama Mahasiswa Kalimantan Barat “Rahadi Osmani”, Asrama Putra Mahasiswa Sulawesi Tengah, Asrama Putri Bundo Kanduang, Gedung Komando Pemadam Kebakaran (Kodamkar), Kodim 0734/Yogyakarta, Indraloka Homestay, Rumah Tinggal Moelyo Soebroto, Rumah Indis (Grapari), Rumah Judoprayitno, SMA “17” I, Gereja Huria Kristen Batak Protestan (HKBP), Gedung Seminari, Kolese St. Ignatius, Susteran Amalkasih Darah Mulia, Rumah Tinggal (Gd. Elti), Rumah Tinggal (PT. Sarana Yogya Ventura), Ndalem Natatarunan, Rumah Kemayoran, Asrama Saweri Gading, Rumah Tinggal (Dealer Suzuki), di Jalan Sultan Agung No. 24, Rumah Tinggal di Jalan Sultan Agung No. 26, Bangunan Kantor ODMIL (Oditur Militer), Gedung TK dan SD Bopkri Gondolayu, Lab. SMK Taman Siswa, Rumah Tinggal di Jalan Bintaran Wetan No. 7, SD. Kintelan, Museum Dewantara Kirti Griya, Rumah Tinggal di Jalan Bintaran Wetan No. 17, STIE Nusa Megarkencana (Stienus), Rumah Kongsi Kanthil, Makopoltabes Yogyakarta, Markas Komando Resort Militer 072 Pamungkas, MAN II Yogyakarta, Kompleks Biara Bruder FIC, SD dan SMA Pangudi Luhur, SMP Negeri 2 Yogyakarta, Kompleks Biara Suster OSF dan SD Marsudirini, Dalem Mangunkusuman, SD Negeri Keputran I, Dalem Notoprajan, Museum Kereta, Dalem Joyokusuman, Dalem Purbonegaran, Dalem Pakuningratan, Dalem Mangkubumen, Dalem Kaneman, Dalem Wironegaran (Condrodiningratan), Masjid Sela, Dalem Suryoputran, Dalem Ngadiwinatan, Dalem Puspodiningratan, Dalem Pujokusuman, Panggung Krapyak, Kompleks Makam Imogiri, Kompleks Makam Banyusumurup, Rumah Markas Sandi T.B. Simatupang, Kompleks Makam Giriloyo, Kompleks Makam Girigondo, Monumen Bibis, dan Pesanggrahan Ngeksiganda yang berlokasi di wilayah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta sebagai Cagar Budaya yang dilindungi Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya. » Penetapan status dan pemeringkatan Bangunan Cagar Budaya: Keputusan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nomor 52/M/2023 Tentang Penetapan bangunan Cagar Budaya Hotel Inna Garuda Sebagai Bangunan Cagar Budaya Peringkat Nasional. » Penetapan status dan pemeringkatan Bangunan Cagar Budaya: Keputusan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 77/KEP/2023 Tentang Penetapan Bangunan Hotel Grand Inna Malioboro sebagai Bangunan Cagar Budaya Peringkat Provinsi.


143 SENARAI TINGGALAN ZAMAN #1 CAGAR BUDAYA PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA EDISI PENDIDIKAN DAN PERJUANGAN “Salah satu hotel pertama di Yogyakarta pada awal abad ke-20 menjadikan Grand Hotel te Djokja dikenal sebagai hotel dengan Arsitektur Indis terbesar dan termewah pada masanya. Lebih dari sekedar sejarah perhotelan di Yogyakarta, hotel yang kini bernama Hotel Grand Inna Malioboro menjadi saksi sejarah perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia dari masa pendudukan Jepang tahun 1942 sampai dengan periode revolusi kemerdekaan tahun 1946-1949.” Hotel Grand Inna Malioboro merupakan bangunan cagar budaya yang terletak di Jalan Malioboro No. 60, Kalurahan Suryatmajan, Kemantren Danurejan, Kota Yogyakarta, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Letak bangunan cagar budaya ini tepatnya berada pada koordinat UTM Zona 49 M dengan titik X: 430144 m E dan titik Y: 9138799 m S. Bangunan Hotel Grand Inna Malioboro berbatasan dengan Jalan Abu Bakar Ali di utara, Jalan Mataram di sisi timur, pagar kompleks hotel di sisi selatan, dan Jalan Maliboro di sebelah barat. Denah Bangunan Cagar Budaya dalam kompleks Hotel Grand Inna Malioboro Sumber: Dinas Kebudayaan DIY, 2022 Bangunan Cagar Budaya Hotel Grand Inna Malioboro terdiri atas tiga unit bangunan yaitu satu unit bangunan utama dan dua unit bangunan samping yang saling berhadapan. Bangunan utama berdenah persegi panjang menghadap barat ke arah Jalan Malioboro, sedangkan dua bangunan samping berdenah persegi panjang terletak di depan bangunan utama dengan orientasi masing-masing utara dan selatan saling berhadapan satu sama lain. Di antara ketiga unit bangunan terdapat halaman tengah yang sekaligus sebagai akses masuk utama dari arah barat (Jalan Malioboro). Ketiga unit bangunan memiliki luas 2.815 m2 dengan luas lahan 17.975 m2 . Bangunan Cagar Budaya dalam kompleks Hotel Grand Inna Malioboro Sumber: Citra satelit Google Earth tgl 26/05/2021


Click to View FlipBook Version