pada akhir waktu tidak semua produk rancangan dapat
selesai dengan sempurna.
Faktor-faktor Pendukung
Penerapan yang telah dilakukan tersebut diatas tidak
akan terjadi tanpa faktor-faktor pendukung sebagai berikut :
Kemauan guru dan kemauan siswa
Guru sebagai fasilitator membuat MoU dengan peserta didik
sebelum melaksanakan suatu proyek. Kesepakatan ini sebagai
modal tanggung tanggung jawab moral peserta didik untuk
dapat melakukan proyek dengan yakin dan bersungguh-
sungguh sesuai bimbingan dan target yang diberikan.
Memaksimalkan peralatan praktek yang ada
Kegiatan pembelajaran PBL di bengkel ini, selain metode
pembelajaran yang baik dilakukan juga mensiasati
keterbatasan mesin praktek di bengkel, namun dapat
memaksimalkan peralatan perkakas lainnya yang mendukung
proses manufaktur/ pabrikasi produk mesin teknologi tepat
guna.
Teamwork jurusan
Tim pengajar jurusan Teknik Pemesinan senantiasa berdiskusi
dan saling mendukung serta bekerjasama dalam
merencanakan konsep proyek untuk siswa sesuai dengan
peralatan media praktek yang ada di bengkel.
Sekolah
Melalui bidang sarana selalu mendukung menyediakan bahan
sesuai proposal permintaan jurusan guna terlaksana
pembelajaran PBL.
Visi berkelanjutan
Memiliki visi berkelanjutan adalah bagian faktor pendukung
agar tetap terus terlaksananya kegiatan pembelajaran PBL di
bengkel mesin, namun tidak menutup kemungkinan
menerapkan metode lain. Diharapkan setiap tahunnya siswa
BEST PRACTICE: Karya Guru Inovatif yang Inspiratif (Menarik Perhatian Peserta Didik) | 49
mampu selalu memproduksi rancangan dan terus
meningkatkan kualitasnya.
Alternatif Pengembangan
Kegiatan pembelajaran PBL harus dilakukan
pengembangan yang berkelanjutan agar menjaga suasana
pembelajaran tidak membosankan dan menambah produk
inovasi yang lebih baik lagi dari siswa. Pengembangan yang
berkelanjutan dapat dilakukan dengan upaya sebagai berikut :
Siswa dibimbing untuk dapat menguasai beberapa aplikasi
gambar CAD selain autocad seperti inventor, catia dan solid
work guna memberi inspirasi baru dan warna ide saat
mengkonsep desain gambar.
Selain kolaborasi kompetensi dalam satu mapel teknik
pemesinan, dapat dikembangkan dengan berkolaborasi
bersama jurusan lainnya yang relevan seperti jurusan Teknik
Kenderaan Ringan, Teknik Sepeda Motor dan Teknik Energi
Terbarukan. Kolaborasi tersebut dapat menciptakan ide
rancangan bidang otomotif dan bidang energi.
Terus mendorong siswa untuk berprestasi diluar dengan cara
mengikut sertakan setiap even yang relevan.
Membangun jiwa entrepreneurship siswa karena wirausaha
adalah pilihan utama selain mencari pekerjaan setelah lulus
SMK. Kreatifitas siswa yang dapat membuat produksi yang
bernilai jual melalui Unit Produksi (UP) sekolah harus terus
digalakkan dan dikembangkan.
Melakukan kunjungan rutin diluar jam sekolah pada industri-
industri yang menggunakan peralatan mekanis dan mesin
produksi pada proses operasional mereka, guna menambah
inspirasi dan motivasi siswa untuk mengembangkan karyanya.
Guru terus diberikan peluang menggali dan memperdalam
keilmuan dan metode yang lebih mantap lagi penerapannya,
50 | Didi Pianda, dkk
dengan mengikuti pelatihan dan bimbingan teknik yang
dilaksanakan Pemerintah maupun swasta.
PENUTUP
Kesimpulan
Pembelajaran metode PBL yang telah dijalankan secara
terencana berdampak jelas terhadap perkembangan kemampuan
peserta didik. Kesimpulan yang dapat disampaikan disini adalah :
a) Pembelajaran PBL dapat dikatakan sebagai
operasionalisasi konsep Pendidikan Berbasis Produksi
yang dikembangkan di SMK sebagai institusi yang
berfungsi untuk menyiapkan lulusan untuk bekerja di
dunia usaha.
Metode ini selain tepat dilakukan untuk proses
pembelajaran proyek, juga sebagai upaya mensiasati
keterbatasan media praktek khususnya di bengkel
pemesinan dengan mengkolaborasi kompetensi yang ada
dalam lingkup teknik pemesinan.
Sebagai pengembangannya Selain kolaborasi kompetensi
dalam satu mapel teknik pemesinan, dapat
dikembangkan dengan berkolaborasi bersama jurusan
lainnya yang relevan seperti jurusan Teknik Kenderaan
Ringan, Teknik Sepeda Motor dan Teknik Energi
Terbarukan. Kolaborasi tersebut dapat menciptakan ide
rancangan bidang otomotif dan bidang energi.
Permasalahan yang menjadi subjek proyek adalah
kebutuhan rancangan teknologi tepat guna yang familiar
dengan masyarakat seperti rancangan mesin produksi
pencacah rumput gajah, penghancur es batu, pengasah
batu akik dan rancangan mesin lainnya.
Selain pengesahan nilai, Reward bagi peserta didik yang
dilakukan adalah mengeksplorasi kemampuan mereka
BEST PRACTICE: Karya Guru Inovatif yang Inspiratif (Menarik Perhatian Peserta Didik) | 51
pada even lomba inovasi teknologi tepat guna yang rutin
diselenggarakan pemerintah setempat.
Rekomendasi
Berdasarkan hasil yang diperoleh dalam pembelajaran
metode Project Based Learning yang dilakukan sejalan cara
mensiasati kekurangan alat praktek siswa teknik pemesinan
berdampak terhadap perkembangan ketrampilan luas peserta
didik dan tidak terfokus pada satu kompetensi saja. Sejalan
sistematis yang telah dilakukan dapat direkomendasikan sebagai
berikut:
Pembelajaran metode PBL dapat secara efektif dilakukan
khususnya pada kompetensi mapel teknik pemesinan,
karena tidak semua SMK telah memiliki sarana praktek
yang memadai dan lengkap khususnya mesin perkakas
jurusan teknik pemesinan
Kekurangan media alat praktek dapat dilakukan
kolaborasi beberapa materi dalam lingkup kompetensi
teknik pemesinan.
Guna berjalannya kegiatan PBL kolaborasi beberapa
materi tersebut, dituntut guru sebagai fasilitator dapat
menguasai seluruh materi yang akan disampaikan dalam
pembelajaran
Team teaching idealnya tetap dapat diterapkan dalam
pembelajaran praktek, hal ini upaya meminimalisir
keterbatasan seorang guru yang mendampingi rombel
dalam beberapa kelompok kerja dan pencegahan terjadi
kecelakaan kerja dan kecelakaan alat kerja.
52 | Didi Pianda, dkk
PEMANFAATAN GEOGEBRA SEBAGAI MEDIA
PEMBELAJARAN PADA MATERI GRAFIK FUNGSI SINUS
IRDATUL FITRI, S.Pd
(SMA Negeri 1 Lhokseumawe)
TENTANG PENULIS
Irdatul Fitri, S. Pd, lahir di Lhokseumawe
pada tanggal 18 September 1987 anak pertama
dari lima bersaudara yang dibesarkan dari
keluarga guru. Beralamat di Kruengeukueh
Aceh Utara. Nomor HP. 081360307839 dan
email [email protected]. Menyelesaikan
pendidikan Sarjana pada jurusan Pendidikan
Matematika (FKIP) Universitas Syiah Kuala
(2009). Sekarang mengajar di SMA N 1
Lhokseumawe.
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Matematika sebagai salah satu disiplin ilmu tidak terlepas
kaitannya dengann pendidikan terutama dalam pengembangan
ilmu pengetahuan dan teknologi yang memegang peranan
penting. Mengingat penting nya matematika dalam ilmu
pengetahuan dan teknologi, maka matematika perlu dikuasai dan
dipahami dengan baik oleh segenap lapisan masyarakat,
terutama siswa sekolah formal. Perlu diketahui, Matematika
penting sebagai pembimbing pola piker maupun sebagai
pembentuk sikap, sehingga salah satu tugas guru adalah sebagai
motivator bagi siswa dalam belajar.
BEST PRACTICE: Karya Guru Inovatif yang Inspiratif (Menarik Perhatian Peserta Didik) | 53
Namun, berdasarkan informasi yang diperoleh dari nilai-
nilai rapor siswa dan juga dari pertemuan dengan guru-guru
matematika SMA, baik negeri maupun swasta yang ada di Kota
Lhokseumawe, pada umumnya mengeluhkan siswa yang berada
jauh pada kenyataan yang diharapkan. Pada umumnya mereka
menyatakan bahwa minat/semangat belajar siswa dalam
melaksanakan tugas guru, daya tangkap siswa dalam memahami
pelajaran, kemampuan siswa dalam mengerjakan tugas mandiri,
kemampuan siswa dalam menyajikan temuan, ketrampilan siswa
dalam mempresentasikan hasil karyanya, masih dirasa rendah
belum sesuai dengan kompetensi yang diharapkan dan belum
sesuai dengan apa yang diharapkan oleh matematika itu sendiri
yaitu siswa mampu belajar mandiri, mengembangkan sense of
mathematics, dan memiliki kemampuan berfikir tingkat tinggi
(higher level thinking).
Sekolah sebagai salah satu lembaga pendidikan formal
mempunyai tanggungjawab dan wewenang untuk melaksanakan
proses pembelajaran. Namun pencapai tujuan pembelajaran
sangat tergantung pada proses pembelajaran. Pemilihan metode
dan media yang tepat disesuaikan dengan kondisi dan
karakteristik materi yang diajarkan. Untuk mengatasi
permasalahan ini, salah satu usaha yang harus dilakukan guru
matematika adalah mengoptimalkan penggunaan metode dan
media pembelajaran sebagai alat bantu untuk mencapai
ketuntasan belajar yang ingin dicapai, salah satu metode dan
media pembelajaran yang dapat digunakan adalah pemanfaatan
teknologi informasi yang dikenal dengan metode pembelajaran
berbasis ICT (Information, Communication dan Technologi). Metode
pembelajaran berbasis ICT merupakan salah satu metode dan
media pembelajaran yang menggunakan perangkat komputer
untuk memudahkan guru menyampaikan pesan/ informasi agar
dapat diterima baik oleh siswa.
54 | Didi Pianda, dkk
Salah satu penggunaan metode pembelajaran ICT pada
pembelajaran matematika adalah penggunaan Sofware Geogebra.
Sofware Geogebra di kembangkan untuk proses belajar mengajar
matematika di sekolah, yang memiliki tiga kegunaan yaitu:
sebagai media pembelajaran, alat bantu membuat bahan ajar dan
juga dapat menyelesaikan soal-soal matematika.
Pada materi menggambar grafik fungsi trigonometri,
misalnya menggambar grafik fungsi sinus yang diajarkan di SMA
Negeri 1 Lhokseumawe diakui oleh sebagian siswa dan guru
sebagai materi yang rumit, perlu pengajaran khusus dalam
pencapaian ketuntasan yang optimal. Sehingga perlu adanya
media yang cocok untuk memudahkan mengajari materi tersebut,
salah satu media yang cocok menurut penulis adalah
penggunaan media Geogebra. Media Geogebra telah dirancang
khusus dalam menyampaikan konsep-konsep yang bersifat
abstrak menjadi lebih konkrit, sehingga dengan pembelajaran
dengan menggunakan mediageogebralebih mudah memahami
konsep, menjadikan motivasi siswa untuk lebih tertarik belajar
serta membuat proses pembelajaran semakin aktif, kreatif dan
menyenangkan. Best Practice ini akan membahas pemanfaatan
geogebra sebagai media pembelajaran matematika dalam
memahami karakteristik dan menganalisis berbagai bentuk grafik
fungsi sinus.
Tujuan
Adapun tujuan dari best practice dalam pembelajaran
singkat ini adalah sebagai berikut:
Untuk berbagi pengalaman tentang penggunaan
geogebra sebagai media pembelajaran matematika
Menambah wawasan penulis maupun pembaca secara
umum tentang media pembelajaran matematika.
BEST PRACTICE: Karya Guru Inovatif yang Inspiratif (Menarik Perhatian Peserta Didik) | 55
Ā Ȁ ⸀Ā ЀĀ ȀĀ⤀Ā
anfaat
Adapun manfaat Best Practice bagi guru, siswa, sekolah
dan masyarakat adalah sebagai berikut :
Manfaat Bagi Guru, guru diharapkan mampu
meningkatkan mutu pembelajaran matematika dan
mengembangkan profesionalisme nya.
Manfaat Bagi Siswa, dengan adanya pembelajaran ini,
siswa diharapkan dapat meningkat hasil belajarnya.
Manfaat Bagi Sekolah, dengan memiliki guru yang
profesional dan mampu memperbaiki hasil belajar siswa,
diharapkan mampu meningkatkan kualitas dan prestasi
sekolah.
Manfaat Bagi Masyarakat, Memperluas pemngetahuan
dan wawasan masyarakat terhadapat perkembangan
pendidikan.
STATE OF ART (SOTA)
Penggunaan Geogebra sebagai media pembelajaran
Grafik Fungsi Sinus
Geogebra adalah salah satu softwarematematika dinamis
menggabungkan Geometri, Aljabar dan Kalkulus yang dapat
digunakan sebagai media dalam pembelajaran matematika.
Software ini dikembangkan untuk pembelajaran matematika di
sekolah oleh Markus Hohenwarter pada tahun 2001 di
Universitas Florida Atlantic. Di satu sisi, geogebra adalah sistem
geometri dinamik. Anda dapat melakukan konstruksi dengan
titik, vektor, ruas garis, garis, irisan kerucut, begitu juga dengan
fungsi dan mengubah hasil kontruksi selanjutnya. Geogebra
bukan hanya digunakan sebagai media pembelajaran tetapi juga
geogebra dapat digunakan sebagai alat bantu dalam
memecahkan soal-soal matematika. Salah satu contoh
penggunaan yang sangat sederhana misalnya pada kotak isian
input bar yaitu memasukkan fungsi sinus pada trigonometri,
56 | Didi Pianda, dkk
maka setelah menekan enter grafik sinus akan ditampilkan.
Selain itu geogebra merupakan aplikasi yang dapat digunakan
secara gratis tanpa harus membayar lisensi apapun.
Materi menganalisis grafik fungsi sinus pada trigonometri
dipelajari di kelas X semester ganjil pada Kurikulum 2013. Materi
ini merupakan salah satu bagian dari materi trigonometri sangat
penting dipelajari karena memiliki peranan penting dalam
kehidupan sehari-hari dan materi sinus juga memiliki kaitan
dengan beberapa materi tertentu pada pelajaran lain. Contohnya
materi getaran dan gelombang pada ilmu fisika yang diajarkan di
kelas XI adalah salah satu materi yang menggunakan grafik fungsi
sinus. Selain itu, Jika siswa tidak mengerti konsep grafik
trigonometri salah satunya grafik fungsi sinus maka siswa akan
mengalami kesulitan ketika mempelajari materi getaran.
Kesulitan yang dialami siswa pada materi grafik fungsi
sinus adalah siswa sulit menalar dan menganalisis grafik sinus
misalnya menentukan amplitudo, nilai maksimum-minimum,
periode dan pergeseran dikarenakan siswa kurang bisa
memahami konsep dasar, menalar dan menganalisis grafik
fungsi sinus. Untuk membantu pemahaman siswa pada materi
tersebut maka diperlukan media geogebra sebagai media
pembelajaran, dengan penggunaan media geogebra siswa lebih
mudah menemukan konsep, menalar dan menganalisis grafik
fungsi sinus, selain itu siswa juga bisa belajar sambil bermain
dengan media geogebra sehingga siswa lebih termotivasi dan
tertarik dalam belajar.
Materi yang akan dipelajari tentang karakteristik dan
menganalisis berbagai grafik fungsi sinus adalah:
= sin
= sin
= sin
= sin( ± )°
BEST PRACTICE: Karya Guru Inovatif yang Inspiratif (Menarik Perhatian Peserta Didik) | 57
= sin ±
= sin( ± )° ±
Langkah-Langkah Penggunaan Geogebra Sebagai
Media Pembelajaran Grafik Fungsi Sinus
Membuat grafik fungsi dapat dilakukan dengan 2 cara yaitu
dengan input bar dan slider.Penggunaan input bar merupakan cara
paling sederhana dalam menggambar grafik fungsi, hanya
memasukkan fungsi pada input maka akan keluar hasilnya, selain
itu memanfaatkan input bar, bisa digunakan untuk masalah
gambar grafik yang lebih komplek dan hasil gambar grafik lebih
detil. Namun di sisi lain kekurangan input bar, harus menulis satu
persatu soal dan sedikit salah penulisan parameter tidak akan
terbaca hasilnya. Penggunaan slider bisa dikatakan cara lebih
kreatif dalam menggambar grafik. Gambar grafik yang dihasilkan
bisa digerak-gerakkan (animasi), cocok digunakan untuk
membandingkan beberapa grafik dalam gambar bersamaan.
Penggunaan slider ini perlu ketelitian yang lebih di bandingkan
penggunaan input bar. Untuk memudahkan siswa, siswa terlebih
dahulu diajarkan cara membuat grafik dengan input bar, setelah itu
baru diajarkan dengan slider.
Membuat Grafik Sinus dengan Input Bar
Adapun Langkah-langkah membuat grafik sinus
menggunakan Input Bar aadalah sebagai berikut
Membuka tampilan jendela layar
Mengubah sumbu X dalam nilai derajat
cara mengubah nilai sumbu x dalam bentuk derajat,
Klik : klik kanan di layar grafik graphics
basic ganti x Min: -360, ganti y Max : 360 x Axis
centang distance, tuliskan 30 unit (derajat), Seperti
yang terlihat pada gambar di bawah lalu tutup kotak
dialog.
58 | Didi Pianda, dkk
Gambar 12. Mengubah sumbu x dalam nilai derajat
3. Masukkan nilai fungsi sinus pada input data .
Misalnya menginput fungsidari bentuk umum =
sin , ( ℎ ∶ = 3 sin ), cara menginput fungsi,
klik: input tulis: y=3*sin °) enter, maka akan muncul seperti gambar di bawah ini:
Gambar 13. Grafik Fungsi Sinus
Cara penggunaan geogebra pada grafik sinus menggunakan
Input Bar
Penggunaan dengan input bar, langsung dengan memasukkan soal-soal
fungsi sinus satu persatu pada input bar sehingga menghasilkan grafik fungsi
sinus.Melalui bimbingan guru, siswa diajak menemukan serta mengalisis bentuk
umum dari grafik fungsi sinus = sin( ± ) ° ± . Misalkan menemukan dan
menganalisis hubungan koefisien a dengan amplitudo, koefisien b dengan
BEST PRACTICE: Karya Guru Inovatif yang Inspiratif (Menarik Perhatian Peserta Didik) | 59
periode dan pergeseran horizontal/vertikal dengan sudut
dan koefisien c.
Membuat Gambar Grafik Sinus Dengan Slider
Adapun Langkah-langkah membuat gambar dari berbagai
karakteristik grafik sinus menggunakan geogebra dengan
cara slider adalah svagai berikut:
Membuka tampilan jendela layar
Mengubah nilai (parameter) pada sumbu x dengan
radian atau derajat
Buatlah 4 huruf/koefisien, misalnya : a,b, dan c sebagai koefisien dari bentuk umum dari = ∗
sin( ∗ ° − ) +
Membuat slider untuk koefisien a, b dan c
Klik slider (gambar: ) pada
Toolbar, kemudian klik pada layar, sebaiknya
klik agak ke ujung atau ke atas/bawah untuk
menghindari slider tertimpa dengan gambar
grafik, kemudian akan muncul seperti gambar
di bawah ini :
Gambar 14. Membuat Slider untuk Kopefiesien a, b dan c
Boleh merubah interval dan increment seperti
gambar di atas
60 | Didi Pianda, dkk
• Klik Ok
❖Membuat slider untuk sudut
Klik slider kemudian klik pada layar,klik angle lalu
rubah interval dan increment seperti gambar di
bawah ini :
Gambar 15. Membuat Slider untuk Sudut α
Klik Ok
6. Input lalu ketik = ∗sin( ∗ °− ) + ,
kemudian Hasil tampilan akhir diperoleh seperti
pada gambar di bawah ini :
Gambar 16. Grafik Fungsi Cosinus
Klik pada slider untuk menggerakkan grafik sinus
Cara Penggunaan Geogebra pada Grafik Sinus
Menggunakan Slider
Setelah siswa menemukan dan menganalisis
perbedaan dari beberapa grafik fungsi sinus yang telah
BEST PRACTICE: Karya Guru Inovatif yang Inspiratif (Menarik Perhatian Peserta Didik) | 61
dibuat dengan menggunakan input bar. Guru juga
memperkenalkan ke pada siswa cara penggunaan slider.
Menggambar grafik fungsi dengan slider mempunyai
fungsi yang sama dengan input bar, hanya saja dengan
slider siswa bisa dengan langsung mengubah ampitudo,
periode, pergeseran sudut dan pergeseran ordinatnya.
PELAKSANAAN BEST PRACTICE
Deskripsi dan Ruang Lingkup Best Practice
Bahan dan Alat yang diperlukan dalam Best Practice
Adapun Bahan yang digunakan antara lain :
Labtop/ komputer
Infokus
Powerpoint (Bahan Ajar)
Aplikasi Geogebra
Adapun Alat yang digunakan antara lain :
LKPD (Lembar Kegiatan Peserta Didik)
RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran )
Batasan-Batasan
Batasan-batasan dalam Best Practice ini adalah geogebra
sebagai media pembelajaran yang digunakan dalam
memahami karakteristik dan menganalisis berbagai bentuk
grafik fungsi sinus. Pembelajaran materi Trigionometri pada
kelas X-MIA 9
Langkah-langkah Pelaksanaan Best Practice
Pembelajaran matematika pada materi Trigonometri
dengan berbantuan menggunakan program aplikasi geogebra.
Adapun langkah-langkah yang penulis rangcang dalam best
practice melalui rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), antara
lain sebagai berikut:
62 | Didi Pianda, dkk
Pendahuluan
Membuka pelajaran dengan salam pembukaan dan
berdo’a
Memeriksa kehadiran peserta didik sebagai sikap
disiplin
Apersepsi :
Melalui tanya jawab siswa diingatkan kembali
materi sebelumnya tentang cara menggambar Grafik
fungsi sinus, y = sin x.
Motivasi :
Memotivasi siswa dengan cara menunjukkan
berbagai macam gambar berkaitan dengan
karakteristik grafik fungsi sinus yang memiliki
peranan penting dalam matematika, fisika,
kedokteran dan bidang lainya yang sangat
bermanfaat bagi makhluk hidup, seperti contoh
berikut :
Gambar 17. Grafik Fungsi dalam Kehidupan
Menyampaikan tujuan pembelajaran yang akan
dicapai. Cara kerja dan metode penemuan yang
akan dilakukan oleh peserta didik dengan
bantuan Geogebra.
Menyampaikan tehnik penilaian kepada siswa
BEST PRACTICE: Karya Guru Inovatif yang Inspiratif (Menarik Perhatian Peserta Didik) | 63
Kegiatan Inti
Mengamati
Siswa duduk berkelompok yang beranggotakan
4 orang secara heterogen.
Masing-masing kelompok mendapatkan
Lembar Kegiatan Peserta Didik (LKPD).
Siswa mengamati cara guru membuat gambar
grafik fungsi sinus dengan cara input bar dan
slider
Masing-masing kelompok mengamati soal yang
ada pada LKPD
Menanya:
Siswa mengajukan pertanyaan berkaitan
dengan soal yang ada pada LKPD sesuai
dengan arahan guru
Misalnya:
Apakah ada perbedaan antara grafik fungsi y =
sin x dengan grafik fungsi y = sin 2x?
Mengumpulkan Informasi
Masing-masing siswa dalam kelompoknya
mencoba menggambar grafik fungsi sinus
dengan Geogebra sesuai dengan aktivitas pada
LKPD
siswa memperhatikan grafik fungsi sinus pada
layar Geogebra.
Mendiskusikan kemungkinan-kemungkinan
yang berkaitan dengan karakteristik grafik yang
dibentuk.
Guru membimbing siswa dan memastikan
siswa menjawab dengan benar.
64 | Didi Pianda, dkk
Mengasosiasikan:
10) Masing-masing kelompok berusaha
menganalisis perbedaan dari beberapa grafik
fungsi sinus yang telah dibuat.
siswa mengisi LKPD sesuai dengan hasil
diskusi.
Mengeceksalah/benar dari hasil diskusi
dengan arahan guru.
Hasil diskusi disusun dengan rapi di kertas
plano untuk dipresentasikan.
Mengkomunikasikan
14) Beberapa siswa perwakilan kelompok
mempresentasikan hasil diskusinya di depan
kelas dan menampilkan grafik fungsi sinus
dengan Geogebra .
Siswa dari kelompok lain menanggapi.
Siswa diberi kesempatan untuk
mengeksplorasikan grafik fungsi sinus sesuai
dengan keinginan masing-masing.
Siswa mendapatkan umpan balik atau
penguatan tentang hal-hal yang belum
dipahami.
Penutup
Guru membimbing siswa menyimpulkan
tentang perbedaan dari beberapa fungsi sinus.
Setiap kelompok diberikan penghargaan
berdasarkan keberhasilan belajar
kelompoknya.
Guru memberikan soal evaluasi
Guru mengajukan pertanyaan refleksi,
misalnya
Bagaimana komentarmu tentang
pembelajaran menggunakan Geogebra ?
BEST PRACTICE: Karya Guru Inovatif yang Inspiratif (Menarik Perhatian Peserta Didik) | 65
Aktivitas mana yang sudah dan belum
kamu kuasai?
Bagaimana saran mu tentang proses
pembelajaran berikutnya?
Guru memberikan PR
Guru menginformasikan bahwa pertemuan
selanjutnya akan membahas tentang grafik
fungsi cosinus.
Guru mengakhiri pelajaran dengan doa dan
mengucap salam
66 | Didi Pianda, dkk
Bentuk LKPD yang diberikan ke siswa :
Lembar Kegiatan Peserta
Didik (LKPD)
(Karakteristik Fungsi Sinus)
Tujuan Pembelajaran :
Melalui diskusi, peserta didik dapat menentukan
karakteristik dari fungsi y = sin x, y = sin ax, y = a sin x, y =
sin (x ± α) dan y = a sin (x ± α) ± d dengan benar
Melaluidiskusikelompokpesertadidikdapat menganalisis
perbedaan dari beberapa grafik fungsi sinus denganbenar.
Petunjuk Pengerjaan:
Bacalah dengan seksama setiap uraiandari kegiatan yang
disajikan dalam LKPD berikut. Pikirkanlah kemungkinan
penyelesaiannya.
Catatlah kemungkinan penyelesaian dan ha-hal penting
lainnya, baik yang sudah dimengerti ataupun yang belum
dimengerti.
Diskusikanlah hasil pemikiranmu dengan teman
sekelompok, untuk mempertegas kebenaran penyelesaiannya
atau untuk memperoleh kesamaan pemahaman dan
pengertian terhadap masalah yang disajikan. Tanyakan
kepada guru jika terdapat masalah yang tidak dapat
diselesaikan melalui dostribusi kelompok.
Jika mengalami kesulitan, mintalah bantuan pada guru.
Pengerjaan dalam waktu 40 menit.
Nama Anggota Kelompok:
……………………….
……………………….
……………………….
……………………….
BEST PRACTICE: Karya Guru Inovatif yang Inspiratif (Menarik Perhatian Peserta Didik) | 67
Soal:
Menemukan Konsep dan menganalisis bentuk umum Ā
Grafik fungsi Sinus
A. Grafik bentuk umum =
ЀĀ Ȁ ⸀Ā Ā Ā
engan percobaan Geogebra, Gambarlah grafik Fungsi
trigonometri dari :
Amplitudo
(Simpangan/
No Fungsi Nilai Nilai jarak terjauh
Trigonometri Maks Minim titik pada suatu
grafik fungsi
trigonometri
terhadap garis
horizontal)
1 = sin 1 -1 1
2 = −sin ... ... ...
31 1 ...
1
= 2 sin 2 2
4 = 3 sin ... -3 ...
2. Berdasarkan bentuk umum=asin , selidiki
hubungan antara konstanta a dengan besar Ampitudo ?
.................
Untuk menghitung besarnya amplitudo yang ada hubungannya dengan konstanta a adalah = |… . . |
Berdasarkan no. 3, hitunglah besar Amplitudo (tanpa
menggunakan Geogebra):
a. = 4 sin , A =.......
b. = √5 sin , A =.......
c. = −3 sin , A =.......
68 | Didi Pianda, dkk
B. Grafik bentuk umum =
Dengan percobaan Geogebra, Gambarlah grafik Fungsi
trigonmetri dari :
No Fungsi Banyak Periode (.....°)
Trigonometri Putaran
1 1= sin 360°
2 = sin 2 2 180°
3 = sin 3 ... ...
...
4 1 ...
= sin 2
2. Berdasarkan bentuk umum = sin b , selidiki
hubungan antara konstanta b dengan besarnya Periode ?
............................
Untuk menghitung besarnya periode (P) hubungannya dengan konstanta b adalah = yang ada
360°
||
Hitung besar Periode dari setiap fungsi Trigonometri
(tanpa menggunakan Geogebra) berikut :
a. = sin 4 , P = .........
b. = sin 6, P = .........
c. = sin ,1 P = .........
3
Grafik bentuk umum =( ± )°
Dengan percobaan Geogebra, Gambarlah grafik
Fungsi trigonmetri dari :
Pergeseran Horizontal
No Fungsi Trigonometri terhadap =
(ke kanan atau ke kiri
1 = sin sebesar .......° )
2 = sin ( − 30)°
3 ...
...
...
= sin ( + 60)°
BEST PRACTICE: Karya Guru Inovatif yang Inspiratif (Menarik Perhatian Peserta Didik) | 69
2. Jika = sin( + )° bergeser sejauh .......... ke arah
.........
Jika = sin( − )° bergeser sejauh .......... ke arah
.........
Grafik bentuk umum =±
Dengan percobaan Geogebra, Gambarlah grafik
Fungsi trigonmetri dari :
No Fungsi Pergeseran Vertikal
trigonometri ( ke atas atau ke bawah
1
= sin sebesar satuan)
___________
2 = sin − 1 ....
3 ....
= sin
+3
2. Jika =sin
......... + bergeser sejauh .......... ke arah
Jika =sin
− bergeser sejauh .......... ke arah
.........
Grafik bentuk umum = ( ± ) ±
Dengan percobaan Geogebra, Gambarlah grafik
Fungsi trigonmetri dari :
No Fungsi Trigonometri Pergeseran Pergeseran
Horizontal Vertikal
1 = sin ___________ ___________
2 = sin( − 30)° .... ....
−1
3 = sin( + 60)° .... ....
+3
70 | Didi Pianda, dkk
Hasil Pembelajaran yang dicapai pada Bes Practice
Kualitatif
Secara universal, adanya peningkatan keaktifan
siswa dari pendahuluan sampai pembelajaran
selesai. Hal ini dapat disaksikan dari antusias siswa
saat pembelajaran berlangsung.
Kuantitatif
Secara umum, Hasil belajar siswa adanya
peningkatan dibandingkan dengan nilai siswa yang
tidak menggunakan pemanfaatan geogebra sebagai
media pembelajaran, hal ini dapat dilihat dari nilai
hasil test setelah materi yang diajarkan dengan
menggunakan dan tidak menggunakan media
geogebra pada bagian materi karakteristik fungsi
sinus, maka nilai yang diperoleh siswa yang
menggunakan geogebra dan tidak geogebra sebagai
media pembelajaran ditunjukkan seperti pada tabel
berikut:
Tabel 3. Rentang nilai tes Ujian tertulis Peserta didik Sebelum
dan Sesudah Menggunakan Pemanfaatan Geogebra
Nilai Frekuensi Frekuensi Persentase Persentase Kriteria
Konvesional Media (%) (%) Media
Geogebra
Geogebra Konvesional
45-53 1 0 2,86 0 Sangat
Kurang
54-62 5 3 14,23 8,57 Kurang
63-71 17 5 48,57 14,23 Sedang
72-80 12 11 34,29 28,57 Cukup
81-89 0 10 0 31,43 Baik
90-100 0 6 0 17,14 Sangat
Baik
Total 35 35 100 0
Rata-rata 67,34 82,03
Ketuntasan 78,38 % 86,49 %
Belajar
Sumber: Hasil Olahan, 2016
BEST PRACTICE: Karya Guru Inovatif yang Inspiratif (Menarik Perhatian Peserta Didik) | 71
Berdasarkan hasil tabel diatas dengan nilai KKM di tetapkan
adalah 62 maka nilai pembelajaran sebelum menggunakan media
geogebra Jumlah siswa yang memiliki nilai diatas atau nilai rata-rata
sebesar 67,34, sehingga presentase kelulusan klasikal yaitu %
kelulusan sebesar 78,38% atau 29 anak tuntas belajar dan 6 anak
belum tuntas belajar dengan mendominasi kategori sedang dengan
pembelajaran konvesional sebesar 48,57% pada nilai interval antara
63-71. Sedangkan pembelajaran sesudah menggunakan media
geogebra Jumlah siswa yang memiliki nilai diatas rata-rata 82,03,
sehingga presentase kelulusan klasikal yaitu % kelulusan sebesar
86,49% atau 32 anak tuntas belajar dan 3 anak belum tuntas belajar,
dengan mendominasi kategori baik pada pemanfaatan aplikasi
geogebra sebesar 31,43% pada nilai interval 81-89, maka nilai siswa
yang menggunakan geogebra sebagai media pembelajaran
mengalami peningkatan sebesar 8,11 % daripada nilai siswa yang
tidak
menggunakan geogebra sebagai media pembelajaran
(pembelajaran Konvensional).
Nilai Penting dan Kebaruan Best Practice yang telah
dilaksanakan
Pada proses pembelajaran matematika berlangsung
dengan geogebra sebagai media pembelajaran pada materi grafik
fungsi sinus memiliki nilai-nilai penting yaitu sebagai berikut :
Secara umum permasalahan tentang materi grafik fungsi
sinus mudah dipahami oleh siswa dengan menggunakan
media geogebra
Aplikasi geogebra merupakan cara belajar sambil bermain,
sehingga menjadi hal terbaru bagi siswa kami, yang
dulunya menganggap matematika sebagai pelajaran yang
tidak menarik menjadi lebih menarik.
72 | Didi Pianda, dkk
Faktor-faktor Pendukung dan Penghambat
Adapunbeberapafaktor-faktordalamproses
pembelajaran dengan pemanfaatan geogebra sebagai media
pembelajaran pada materi grafik fungsi sinus adalah : a) aplikasi
geogebra dapat diinstal secara gratis, b) sebagian siswa sudah
memilki labtop. Sedangkan faktor penghambat dalam proses
pembelajaran dengan pemanfaatan geogebra sebagai media
pembelajaran pada materi grafik fungsi sinus adalah : a)
membutuhkan waktu yang lebih lama dalam proses
pembelajaran, b) persediaan infokus di sekolah masih kurang.
Tindak Lanjut
Adapun tindak lanjut dari Best Practice pada proses
pembelajaran matematika pemanfaatan geogebra sebagai media
pembelajaran pada materi grafik fungsi sinus adalah: Setiap guru
merekomendasikan pembelajaran menggunakan geogebra
sebagai media pembelajaran pada materi grafik sinus antara lain :
a) sebagian siswa lebih antusias terhadap geogebra sebagai media
pembelajaran yang inovatif dan menyenangkan , b) menambah
wawasan dan kreativitas siswa dalam merancang alat peraga
sendiri, c) keterlibatan siswa secara aktif baik dalamkegiatan
belajar kelompok dan presentasi.
lain : PEMBAHASAN BEST PRANCTICE
Adapun hasil dan pembahasan pada Best Practice antara
Hasil Pembelajaran Pada Best Practice
Pemanfaatan geogebra sebagai media pembelajaran pada
kompetensi KD 1 dan KD 2 (kompetensi sikap spiritual dan sosial),
kompetensi KD 3.10: Menjelaskan fungsi trigonometri dengan
menggunakan lingkaran satuan dan KD 4.10 : Menganalisa
perubahan grafik fungsi trigonometri akibat perubahan pada
BEST PRACTICE: Karya Guru Inovatif yang Inspiratif (Menarik Perhatian Peserta Didik) | 73
konstanta pada fungsi y = a sin b(x + c) + d. Dengan indikator yang
dibahas adalah :
Menentukan karakteristik dari fungsi y = sin x, y = sin ax, y
a sin x dan y = sin (x ± α) dany = a sin (x ± α) ± d. Dan 4.10.1)
Menganalisis perbedaan grafik fungsi sinus akibat perubahan
pada konstanta pada fungsi y = a sin (x ± α) ± d. Maka diperoleh
hasil belajar siswa dengan menggunakan konvensional dan nilai
siswa yang menggunakan geogebra sebagai media pembelajaran
yang disajikan secara ringkas pada tabel berikut :
Tabel 4. Hasil pembelajaran dengan penggunaan Geogebra
Menggunakan
No Aspek Konvensional Geogebra
sebagai Media
Pembelajaran
1 Nilai Tertinggi 80 98
2 Nilai Terendah 45 55
3 Nilai rata-rata 67,34 82,03
4 Jumlah Peserta Didik 29 32
yang Tuntas
5 Jumlah Peserta Didik 6 3
Tidak tuntas
6 Tingkat Ketuntasan 78,38% 86,49%
Pembahasan Pada Best Practice
Berdasarkan hasil pengolahan data pada materi
karakteristik fungsi sinus trigonometri dengan menggunakan
geogebra sebagai media pembelajaran mengalami peningkatan,
baik dari aspek nilai tertinggi siswa, nilai rata-rata siswa dan
tingkat ketuntasan siswa. Hal ini dikarenakan meningkatnya
antusias siswa dalam belajar sehingga pembelajaran berlangsung
dengan baik.
74 | Didi Pianda, dkk
PENUTUP
Beberapa kesimpulan dari Best Practice ini, antara lain: (1)
Penggunaan media pembelajaran, diharapkan siswa dapat dengan
mudah menerima materi pembelajaran. Namun yang perlu
diperhatikan bahwa penggunaan media tersebut bertujuan untuk
membentuk pola pikir abstrak pada siswa. Oleh sebab itu setiap
selesai pembelajaran dengan media kongkrit, siswa harus selalu
diarahkan membentuk sendiri pola-pola atau prinsip-prinsip atau
kaidah-kaidah dalam bentuk abstrak, (2) Pemanfaatan TIK salah
satunya dengan Pembelajaran menggunakan aplikasi geogebra pada
materi grafik fungsi sinus mengalami peningkatan minat dan hasil
belajar siswa dibandingan dengan pembelajaran konvensional. Hal
ini dapat dilihat dari antusias belajar siswa danpeningkatan
presentase ketuntasan siswa. Demikian Best Practice yang sederhana
ini. Penulis menyadari bahwa hasil Best Practice ini masih jauh dari
kesempurnaan, maka dimohon kepada para pembaca agar sudi
kiranya memberikan masukan yang sifatnya membangun, demi
kebaikan di masa yang akan datang.
BEST PRACTICE: Karya Guru Inovatif yang Inspiratif (Menarik Perhatian Peserta Didik) | 75
PEMBELAJARAN BAHAN AJAR LISTRIK
DINAMIS BERBASIS INKUIRI DAN
PROBLEM SOLVING
JON DARMAWAN, M.Pd
(SMA Negeri 7 Lhokseumawe)
TENTANG PENULIS
Jon Darmawan, S.Pd., M.Pd dengan nama
pena darmawan buchari lahir di Desa Krueng
Batu, Aceh Selatan pada tanggal 3 Januari
1982. Tinggal di Komplek Poroh Permai
Cunda Kota Lhokseumawe. No
HP/WA/Telegram 081360350319. Media
sosial lainnya darmawan buchari (FB).
Email, [email protected]. Blog
pribadi, http://dharmawangureefisika. wordpress.com. Aktif
menulis di steemit dengan akun
https://steemit.com/@darmawanbuchari. Saat ini bertugas
di SMAN 7 Lhokseumawe. Aktif di Ikatan Guru Indonesia (IGI) Kota
Lhokseumawe sebagai Ketua. Prestasi terbaik menjadi pemenang
Simposium Guru dan Tenaga Pendidikan tahun 2015, finalis Lomba
Inobel Guru Dikmen tahun 2016, dan finalis Lomba Inobel Level Madya
Guru Pendidikan Menengah tahun 2018. Buku yang sudah ditulis di
antaranya: (1) Buku Antologi Gerakan Literasi di Bumi Pasee; (2) Stip
dan Pena; dan (3) Antologi Kopi.
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Proses pembelajaran yang dilakukan di sekolah harus
sesuai dengan muatan kurikulum yang digunakan. Undang-
undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan
76 | Didi Pianda, dkk
Nasional menyebutkan bahwa kurikulum adalah seperangkat
rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran
serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan
kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.
Berdasarkan pengertian tersebut, terdapat dua hal yang perlu
diperhatikan mengenai kurikulum, yaitu menyangkut rencana dan
pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran, serta cara
yang digunakan untuk kegiatan pembelajaran.
Berdasarkan penjelasan tersebut terlihat jelas bahwa
bahan pelajaran atau sering disebut bahan ajar merupakan salah
satu komponen penting dari kurikulum yang harus disampaikan
kepada siswa. Oleh karena itu bahan ajar yang menyajikan materi
fisika sangat penting dapat disampaikan dalam suasana inkuiri
ilmiah sesuai dengan harapan Permendikbud Nomor 59 Tahun
2014.
Berdasarkan pengamatan penulis di SMA Negeri 7
Lhokseumawe, pembelajaran fisika menggunakan buku-buku
paket yang diberikan oleh sekolah. Pendidik hanya
menggunakan sebuah buku teks sebagai satu-satunya bahan ajar.
Bahan ajar tersebut hanya berisi ringkasan materi dan contoh soal
dalam pembelajaran fisika. Strategi pengorganisasian dan
penyampaian isi di dalam bahan ajar tersebut tidak terstruktur
dengan baik dan lebih bersifat drill dan practice. Materi yang
disajikan di dalam bahan ajar tersebut banyak yang bersifat
abstrak dan rumit sehingga siswa enggan untuk membacanya
apalagi mempelajarinya. Akibatnya hasil belajar fisika belum
memuaskan. Banyak siswa yang belum mencapai Kriteria
Ketuntasan Minimal (KKM). Materi listrik merupakan salah satu
materi yang paling tidak memuaskan. Nilai ulangan harian siswa
pada materi listrik adalah 67, sementara KKM fisika 75.
Guna mengatasi masalah tersebut, pembelajaran fisika
terutama materi listrik harus diperbaiki agar hasil belajar siswa
meningkat. Salah satu cara adalah bahan ajar listrik harus didesain
BEST PRACTICE: Karya Guru Inovatif yang Inspiratif (Menarik Perhatian Peserta Didik) | 77
sedemikian rupa sehingga penyampaiannya dapat berlangsung
dalam suasana inkuiri ilmiah. Menurut Depdiknas ((2008:7),
bahan ajar seperangkat materi yang disusun secara sistematis
baik tertulis maupun tidak sehingga tercipta lingkungan/suasana
yang memungkinkan siswa untuk belajar. Bahan yang dimaksud
bisa berupa bahan tertulis maupun bahan tidak tertulis. Bentuk
bahan ajar yang dikembangkan dalam penelitian ini berupa buku.
Menurut Harijanto (2007), beberapa asumsi tentang arti
penting kedudukan bahan ajar khususnya, rancangan
pembelajaran pada umumnya, yaitu: (1) membantu belajar secara
perorangan; (2) memberikan keleluasaan penyiapan pembelajaran
jangka pendek dan jangka panjang; (3) rancangan bahan ajar yang
sistematis memberikan pengaruh yang besar bagi perkembangan
sumber daya manusia secara perorangan; (4) memudahkan
pengelolaan proses belajar mengajar secara sistematis; dan (5)
memudahkan belajar.
Beberapa penelitian relevan tentang pengembangan bahan
ajar telah menunjukkan hasil yang signifikan dalam meningkatkan
hasil belajar siswa. Penelitian yang dilakukan oleh Syaifudin (2013)
di SMAN 10 Malang menyimpulkan bahwa bahan ajar yang
dikembangkan sudah memenuhi kriteria cukup layak menurut ahli
materi dan ahli media. Bahan ajar yang dikembangkan berupa bahan
ajar fisika berbasis CAI tutorial. Penelitian yang dilakukan oleh
Purbaningrum (2013) di MAN Lab UIN Yogyakarta menyimpulkan
bahwa penggunaan bahan ajar fisika dengan konten kecerdasan
emosional, High Order Thinking Skills (HOTS) siswa mengalami
peningkatan dalam kategori sedang dengan nilai N-Gain 0,45.
Penelitian yang dilakukan oleh Hendratmoko (2013) di SMAN 1
Kencong menyimpulkan bahwa efektivitas pembelajaran
menggunakan bahan ajar berbasis instructional game pada
pembelajaran fisika memiliki kriteria efektif karena taraf efektivitas (
) yang didapatkan dari rata-rata nilai pre-test dan post-test adalah
83,53%. Penelitian yang dilakukan oleh Sutardi (2010)
78 | Didi Pianda, dkk
di SMAN 5 Semarang menyimpulkan bahwa pengembangan
bahan ajar fisika berbasis spreadsheet layak untuk membantu
siswa meningkatkan kemampuan berkomunikasi ilmiah. Hasil
belajar siswa meningkat, hal ini ditunjukkan oleh nilai gain
sebesar 0,90. Nilai rata-rata meningkat dari 21,15% dalam pretes
menjadi 92,35% dalam posttes.
Berdasarkan penelitian relevan terlihat bahwa
pengembangan bahan ajar fisika yang inovatif mampu
meningkatkan hasil belajar siswa. Oleh karena itu penulis tertarik
untuk melakukan pembelajaran menggunakan bahan ajar listrik
berbasis inkuiri dan problem solving. Bahan ajar ini sudah
diseminarkan di forum lomba inovasi pembelajaran (inobel) guru
pendidikan menengah tahun 2016.
Tujuan
Adapun tujuan penulisan pembelajaran Best Practice ini
adalah untuk:
Meningkatkan hasil belajar peserta didik setelah
melakukan pembelajaran menggunakan bahan ajar listrik
dinamis berbasis inkuiri dan problem solving.
Meningkatkan aktivitas belajar peserta didik setelah
melakukan pembelajaran menggunakan bahan ajar listrik
dinamis berbasis inkuiri dan problem solving.
Manfaat
Adapun manfaat penulisan Best Practice ini adalah untuk:
Bagi Siswa bahan ajar ini dapat meningkatkan hasil belajar
siswa pada materi listrik maupun materi fisika lainnya
yang menggunakan bahan ajar sejenis.
Bagi Guru dapat menghasilkan bahan ajar fisika yang sesuai
dengan harapan Permendikbud Nomor 59 Tahun 2014
sebagai salah satu bahan ajar yang bisa digunakan
dimana saja dan kapan saja serta dapat menfasilitasi
BEST PRACTICE: Karya Guru Inovatif yang Inspiratif (Menarik Perhatian Peserta Didik) | 79
kemampuan berfikir kritis dan kreatif peserta didik sesuai
tujuan strategi pembelajaran inkuiri dan problem solving.
Bagi Sekolah dapat menjadikan bahan ajar listrik berbasis
inkuiri dan problem solving sebagai alternatif bahan ajar
dalam kegiatan pembelajaran sehingga dapat
meningkatkan kualitas pendidikan.
Bagi Penulis dapat mengembangkan profesionalime guru
terutama dalam mengembangkan bahan ajar fisika sesuai
dengan tuntutan kurikulum.
STATE OF ART (SOTA)
Desain bahan ajar dalam best practice ini berbasis inkuiri
dan problem solving. Suasana inkuiri diharapkan berlangsung
dalam proses penyampaian bahan ajar tersebut sehingga desain
bahan ajar listrik dalam penelitian ini harus mampu membuat
guru menyampaikan materi dalam suasana inkuiri. Kegiatan-
kegiatan dalam bahan ajar didesain sedemikian rupa sehingga
menggambarkan sintaks-sintaks inkuiri. Adapun kegiatan inkuiri
yang digunakan dalam best practice ini adalah:
Tahap observasi fenomena
Tahap merumuskan masalah
Tahap pengajuan hipotesis/prediksi
Fase Laboratorium
Fase Post Laboratorium
Sementara problem solving merupakan strategi yang
digunakan untuk menjawab persoalan-persoalan dalam bahan
ajar terutama soal-soal fisika. Setiap persoalan fisika yang
diselesaikan peserta didik harus mengikuti langkah-langkah
strategi problem solving. Paling tidak ada 4 (empat) langkah-
langkah problem solving yang digunakan dalam best practice ini.
Keempat langkah-langkah tersebut adalah:
Memahami masalah
Terjemahan dalam bentuk gambar
80 | Didi Pianda, dkk
Rancangan perhitungan
Perhitungan
PELAKSANAAN BEST PRACTICE
Deskripsi dan Ruang Lingkup Best Practice
Alat dan Bahan yang digunakan dalam Best Practice Adapun
Alat dan Bahan yang digunakan dalam kegiatan
Bahan ajar listrik dinamis berbasis inkuiri dan problem
solving
Software Phet Simulations
Catu daya
Bola lampu senter
Papan rangkaian
Tempat dudukan lampu
Kabel penghubung
Basic meter
Batasan-Batasan
Agar tidak meluas dalam best practice penulis
memberikan batasan-batasan antara lain:
Menggunakan bahan ajar listrik dinamis dengan
model Berbasis Inkuiri dan problem solving
Peserta didik kelas XII IPA 1 SMA Negeri 7
Lhokseumawe.
Materi pembelajaran adalah pada Kompetensi Dasar:
Listrik Dinamis
Langkah-Langkah Pembelajaran
Pembelajaran listrik dinamis menggunakan bahan ajar
berbasis inkuiri dan problem solving dilakukan mengikuti langkah-
langkah pembelajaran seperti termuat dalam Rencana Pelaksanaan
Pembelajaran (RPP). Sintaks dalam RPP telah dirancang sesuai
BEST PRACTICE: Karya Guru Inovatif yang Inspiratif (Menarik Perhatian Peserta Didik) | 81
dengan pembelajaran berbasis inkuiri. Adapun langkah-langkah
pembelajaran tersebut adalah:
Kegiatan Pendahuluan
Guru membuka pelajaran dengan mengucapkan
salam, berdoa, memeriksa kehadiran siswa,
kemudian mengatur tempat duduk secara
berkelompok.
Menyiapkan fisik dan psikis peserta didik dalam
mengawali kegiatan pembelajaran.
Sebagai apersepsi, mengajukan pertanyaan-
pertanyaan yang mengaitkan konsep cahaya
dengan listrik dinamis
Sebagai motivasi, guru menanya siswa apakah
pernah melakukan praktikum hukum Ohm saat
SMP, kemudian guru mengajukan pertanyaan:
Bagaimanakah hubungan antara resistor, beda
potensial dengan arus listrik?
Guru menyampaikan tujuan dan manfaat
mempelajari hukum Ohm.
Guru menyampaikan cakupan materi hukum Ohm
dan penjelasan kegiatan sesuai silabus.
Kegiatan Inti
Guru membagikan bahan ajar listrik dinamis
berbasis inkuiri dan problem solving kepada peserta
didik. Guru bersama peserta didik melakukan
kegiatan seperti yang termuat dalam bahan ajar
tersebut.
Guru bersama peserta didik kegiatan demonstrasi
dan diskusi untuk mengenalkan konsep-konsep
(definisi-definisi) yang terkait hukum Ohm (kuat
arus listrik, tegangan listrik, hambatan listrik, dll).
82 | Didi Pianda, dkk
• Guru bersama peserta didik melakukan
demonstrasi dan diskusi untuk menentukan faktor-
faktor yang mempengaruhi besar kuat arus listrik.
Guru meminta peserta didik memprediksi
(berhipotesis) bentuk kebergantungan I terhadap V
dan R melalui analisis satuan atau dimensi.
Guru memberikan pertanyaan variabel untuk
menentukan variabel bebas dan variabel terikat.
Guru memberikan pertanyaan metode untuk
menentukan alat dan bahan yang dibutuhkan, set-
up alat yang sesuai, jenis data yang dibutuhkan,
bentuk tabel yang diperlukan, dan langkah-
langkah kegiatan praktikum.
Guru meminta peserta didik melakukan kegiatan
praktikum.
Guru memberikan pertanyaan analisis untuk
mengkomparasi dengan hasil prediksi, membuat
grafik sesuai data praktikum, menentukan nilai
gradien, menentukan bentuk kebergantungan I
terhadap V dan R, dan temuan yang didapat dari
hasil praktikum.
Salah satu kelompok mempresentasikan hasil studi
literatur di depan kelas, kelompok siswa yang lain
diberi kesempatan untuk menyanggah atau
menanggapi isi presentasi tersebut.
Guru mengarahkan diskusi sambil memberikan
koreksi dan penguatan dengan menggunakan slide
power point, agar seluruh permasalahan yang
dikemukakan dalam kegiatan studi literatur dan
diskusi dapat terselesaikan secara tuntas sesuai
dengan tujuan pembelajaran yang diinginkan.
BEST PRACTICE: Karya Guru Inovatif yang Inspiratif (Menarik Perhatian Peserta Didik) | 83
Penutup
Guru mengajak siswa menyimpulkan hasil
pembelajaran dengan mengajukan pertanyaan
sebagai berikut:
Apa saja yang dapat kita simpulkan dari
kegiatan pembelajaran yang telah kita
lakukan?
Siswa mengerjakan beberapa soal uraian sebagai
tes formatif menggunakan strategi problem solving.
Untuk keperluan tersebut peserta didik harus
mengikuti langkah-langkah problem solving sesuai
dengan yang terdapat pada bahan ajar listrik
dinamis berbasis inkuiri dan problem solving.
Guru memberikan umpan balik terhadap proses
dan hasil belajar.
Guru memberikan penghargaan kepada kelompok
siswa yang paling baik.
Guru menginformasikan rencana kegiatan
pembelajaran untuk pertemuan berikutnya tentang
rangkaian hambatan listrik.
Langkah-langkah pembelajaran seperti penjelasan di atas
merupakan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan penggiring. Jadi
guru sebagaimana terdapat dalam bahan ajar listrik dinamis
berbasis inkuiri dan problem solving memberikan pertanyaan-
pertanyaan penggiring selama pembelajaran berlangsung. Peserta
didik menjawab pertanyaan penggiring sambal melakukan
kegiatan pembelajaran. Kegiatan pembelajaran yang dilakukan
sesuai dengan jawaban dari pertanyaan penggiring tersebut.
Hasil Best Practice yang Dicapai
Pembelajaran ini merupakan penggunaan bahan ajar
listrik dinamis berbasis inkuiri dan problem solving untuk
meningkatkan hasil belajar peserta didik. Pembelajaran ini
84 | Didi Pianda, dkk
berlangsung pada tanggal 20 Juli 2017 di SMA Negeri 7
Lhokseumawe. Aktivitas belajar peserta didik diamati selama
proses pembelajaran berlangsung. Beberapa hasil yang dicapai
adalah sebagai berikut.
Mayoritas peserta didik sudah mampu melaksanakan
kegiatan inkuiri selama proses pembelajaran. Inkuiri yang
dilakukan merupakan inkuiri terbimbing (guide inquiry).
Mayoritas peserta didik sudah mampu menyelesaikan
persoalan fisika menggunakan strategi problem solving.
Faktor Pendukung dan Faktor Penghambat
Adapun faktor pendukung dalam pembelajaran
menggunakan bahan ajar listrik dinamis berbasis inkuiri dan
problem solving adalah tersedianya laboratorium Fisika beserta alat
dan bahan yang diperlukan dalam pembelajaran ini.
Faktor penghambat dalam kegiatan ini adalah terbatasnya
kemampuan peserta didik dalam mengajukan hipotesis melalui
analisis satuan atau dimensi. Untuk mengatasi hal tersebut, guru
memberikan contoh analisis satuan atau dimensi pada kasus lain.
Tindak Lanjut
Mengingat pembelajaran menggunakan bahan ajar ini
mampu memudahkan peserta didik meningkatkan hasil belajar
terutama karena terlibat dalam kegiatan inkuiri, maka guru
merekomendasikan kepada setiap guru yang lain pada mata
pelajaran yang lain untuk merancang bahan ajar yang sejenis.
Selain itu juga direkomendasikan untuk menggunakan strategi
problem solving dalam penyelesaian masalah terkait pembelajaran.
BEST PRACTICE: Karya Guru Inovatif yang Inspiratif (Menarik Perhatian Peserta Didik) | 85
PEMBAHASAN BEST PRACTICE
Bahan ajar listrik dinamis berbasis inkuiri dan problem
solving sudah di uji tingkat validitas, praktikalitas, dan efektivitas.
Hasil pengujian tersebut menyimpulkan bahwa bahan ajar listrik
dinamis berbasis inkuiri dan problem solving valid digunakan
dengan tingkat kevalidan 76% oleh ahli bahan ajar dan 80% oleh
ahli materi. Bahan ajar ini juga sangat praktis digunakan dengan
tingkat praktikalitas 91,78% oleh guru dan 90,51% oleh siswa.
Bahan ajar ini juga sangat efektif digunakan dengan persentase
aktivitas siswa sebesar 95,04%.
Bahan ajar yang telah valid, praktis, dan efektif tersebut
penulis terapkan dalam pembelajaran listrik dinamis di SMA
Negeri 7 Lhokseumawe. Sebagai sampel penulis memilih kelas
XII IPA.1 untuk menggunakan bahan ajar listrik dinamis berbasis
inkuiri dan problem solving. Kelas ini berjumlah 20 orang peserta
didik. Gambaran nilai rata-rata sebelum dengan sesudah
penggunaan bahan ajar listrik dinamis berbasis inkuiri dan
problem solving sebagaimana ditunjukkan Gambar berikut
Diagram Perbandingan Nilai Rata-rata
Sebelum dengan Sesudah Penggunaan
Bahan Ajar
85
100 65
50 Sebelum
Sesudah
0
Sebelum Sesudah
Gambar 18. Diagram Perbandingan Nilai Rata-rata Sebelum
dengan Sesudan Menggunakan Bahan Ajar Listrik Dinamis
Berbasis Inkuiri dan Problem Solving
86 | Didi Pianda, dkk
Sebelum pembelajaran menggunakan bahan ajar listrik
dinamis berbasis inkuiri dan problem solving, bahan ajar yang
digunakan adalah buku paket yang telah di bagi pemerintah.
Hasil pembelajaran belum mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal
(KKM). Hasil belajar peserta didik pada materi listrik diamis
tahun pembelajaran 2016/2017 adalah sebesar 65, sementara KKM
yang telah ditetapkan adalah 75. Selain itu aktivitas belajar
peserta didik juga masih kurang. Hal ini disebabkan oleh bahan
ajar yang digunakan masih berupa ringkasan materi dan soal soal
latihan. Model pembelajaran yang digunakan juga masih
konvensional sesuai dengan bahan ajar yang digunakan. Bahkan
masih menggunakan pola drill and practice.
Setelah menggunakan bahan ajar listrik dinamis berbasis
inkuiri dan problem solving, terjadi peningkatan hasil belajar siswa.
Rata-rata hasil belajar siswa adalah 85. Terjadi peningkatan sebesar
20%. Hal ini menunjukkan bahwa bahan ajar listrik dinamis berbasis
inkuiri dan problem solving sudah mampu meningkatkan hasil belajar
siswa. Hal ini disebabkan oleh tahapan-tahapan inkuiri dan strategi
problem solving sudah berjalan dengan baik. Kenyataan tersebut
sesuai dengan alasan perlunya menggunakan terutama bahan ajar
listrik dinamis berbasis inkuiri dan problem solving dalam
pembelajaran fisika menurut Susilawati dan Nur Khoiri (2014), yaitu:
(1) kegiatan eksperimen dan demonstrasi menjadi kegiatan dominan
dalam proses pembelajaran fisika; (2) Pemecahan masalah menjadi
tujuan pembelajaran dan pengalaman belajar yang harus dimiliki
siswa; (3) banyak konsep dan keterampilan yang dibutuhkan dalam
kehidupan sehari-hari berkaitan dengan konsep pembelajaran.
Langkah-langkah penyelesaian soal fisika menggunakan
strategi problem solving juga turut memberikan andil dalam
meningkatkan hasil belajar peserta didik. Kegiatan yang
mengharuskan peserta didik memahami masalah dengan
menuliskan kembali persoalan tersebut dengan kata-katanya
BEST PRACTICE: Karya Guru Inovatif yang Inspiratif (Menarik Perhatian Peserta Didik) | 87
sendiri menyebabkan peserta didik sangat memahami masalah
fisika. Setelah peserta didik memahami masalah tersebut, maka
langkah selanjutnya adalah menerjemahkan persoalan tersebut
dalam bentuk diagram atau gambar. Hampir semua persoalan
fisika klasik dan kelistrikan dapat diterjemahkan dalam bentuk
gambar. Demikian juga halnya dengan konsep listrik dinamis.
Terjemahan gambar merupakan upaya yang dilakukan peserta
didik agar persoalan tersebut menjadi lebih ringkas dan
tergambar dengan jelas. Terjemahan gambar juga memudahkan
peserta didik dalam menguraikan persoalan tersebut guna
melakukan perhitungan.
Langkah selanjutnya adalah membuat rancangan
perhitungan. Rancangan perhitungan dibuat berdasarkan gambar
dengan mendeskripsikan persamaan yang digunakan serta besaran-
besaran yang belum diketahui. Selain itu pada rancangan
perhitungan juga dilakukan kegiatan cek satuan untuk memastikan
persamaan yang digunakan sudah sesuai atau belum. Paling tidak
satuan yang digunakan sesuai dengan persamaan yang digunakan.
Setelah itu baru dilakukan perhitungan. Sampai tahap ini tinggal
melakukan rekayasa matematika sesuai dengan rancangan
perhitungan yang telah dibuat.
Langkah-langkah penyelesaian soal menggunakan
strategi problem solving tersebut memiliki kendala dimana peserta
didik membutuhkan alokasi waktu yang lumayan lama hanya
untuk menyelesaikan satu persoalan saja. Akan tetapi strategi
tersebut terbukti mampu membuat peserta didik menyelesaikan
persoalan fisika secara sistematis. Peserta didik bukan hanya
mampu mengoperasikan angka-angka matematika dalam
persamaan fisika, namun mereka juga mampu memeahami
masalah dengan benar serta mampu menyederhanakan persoalan
tersebut dalam bentuk gambar. Rancangan perhitungan juga
membantu siswa dalam mendesain model pemecahan masalah
sehingga perhitungan yang digunakan lebih tepat sasaran.
88 | Didi Pianda, dkk
Bahan ajar baru yang belum pernah dimiliki atau dialami
peserta didik sebelumnya turut memiliki andil dalam
meningkatkan hasil belajar serta membuat pembelajaran lebih
menarik. Hal ini sesuai dengan pendapat Sanjaya (2010:262)
menyatakan bahwa setiap anak memiliki kecenderungan untuk
hal-hal yang baru dan penuh tantangan. Karena bahan ajar listrik
dinamis berbasis inkuiri dan problem solving yang diterapkan di
SMA Negeri 7 Lhokseumawe dianggap aneh dan baru. Dengan
adanya bahan ajar listrik dinamis berbasis inkuiri dan problem
solving yang bervariasi, maka siswa merasa kegiatan
pembelajaran menjadi lebih menarik. Siswa memiliki peluang
untuk belajar secara mandiri dimanapun mereka butuhkan.
Aktivitas belajar siswa diamati menggunakan lembar
observasi pengamatan yang dilakukan oleh pengamat.
Berdasarkan hasil pengamatan, aktivitas siswa mengalami
peningkatan pada setiap pertemuan setelah pembelajaran
menggunakan bahan ajar listrik dinamis berbasis inkuiri dan
problem solving. Pada pertemuan pertama rata-rata keterlaksanaan
pembelajaran berdasarkan kegiatan siswa mulai dari fase pertama
sampai fase ketiga adalah 67,14%. Hal ini menunjukkan bahwa
kegiatan siswa belum berjalan dengan baik sesuai dengan sintaks
pembelajaran menggunakan bahan ajar listrik dinamis berbasis
inkuiri dan problem solving. Hal ini terjadi karena beberapa hal
berikut.
Siswa baru pertama kali mengikuti pembelajaran
menggunakan bahan ajar listrik dinamis berbasis inkuiri
dan problem solving sehingga setiap tahapan belum berjalan
dengan baik. Hal ini terlihat dari rata-rata kegiatan inti
pada fase kedua sebesar 54,55%.
Siswa belum memahami salah satu tahapan pembelajaran
menggunakan bahan ajar listrik dinamis berbasis inkuiri dan
problem solving terutama pada saat guru meminta siswa untuk
berhipotesis atau melakukan prediksi melalui analisis
BEST PRACTICE: Karya Guru Inovatif yang Inspiratif (Menarik Perhatian Peserta Didik) | 89
satuan. Untuk mengatasi hal tersebut, guru harus
membantu siswa dengan memberi contoh konsep lain yang
tidak terkait dengan listrik dinamis.
Pada tahapan laboratorium dan pasca laboratorium banyak
ditemui siswa yang mengalami kendala terutama tahap
analisis sehingga guru harus memberi bimbingan lebih
pada siswa tersebut.
Pada pertemuan kedua rata-rata keterlaksanaan
pembelajaran berdasarkan kegiatan siswa meningkat menjadi
81,98%. Hal ini mengindikasikan bahwa terjadinya peningkatan
keterlaksanaan pembelajaran menggunakan bahan ajar listrik
dinamis berbasis inkuiri dan problem solving pada setiap tahapan.
Peningkatan ini terjadi karena siswa sudah mulai terbiasa
menggunakan bahan ajar listrik dinamis berbasis inkuiri dan
problem solving sehingga kekurangan-kekurangan yang dialami
pada pertemuan sebelumnya sudah mulai teratasi. Tahapan-
tahapan penggunaan bahan ajar listrik dinamis berbasis inkuiri
dan problem solving sudah mulai berjalan dengan baik meskipun
belum sempurna.
Pada pertemuan ketiga rata-rata keterlaksanaan
pembelajaran menggunakan bahan ajar listrik dinamis berbasis
inkuiri dan problem solving berdasarkan kegiatan siswa mencapai
95,04%. Terlihat bahwa pada pertemuan ketiga ini tahapan
penggunaan bahan ajar listrik dinamis berbasis inkuiri dan
problem solving telah berjalan dengan baik. Hal ini menunjukkan
bahwa siswa sudah menjalankan setiap tahapan pembelajaran
menggunakan bahan ajar listrik dinamis berbasis inkuiri dan
problem solving dengan sangat baik. Kesulitan dan kekurangan
yang dialami pada pertemuan sebelumnya telah berhasil diatasi.
90 | Didi Pianda, dkk
KESIMPULAN
Berdasarkan uraian di atas dalam proses pembelajaran
dengan kegiatan best practice dapat disimpulkan bahwa:
Hasil belajar siswa meningkat setelah pembelajaran
menggunakan bahan ajar listrik dinamis berbasis inkuiri dan
problem solving. Hal ini ditunjukkan oleh nilai rata-rata siswa
meningkat dari 65 menjadi 85.
Aktivitas belajar siswa mengalami peningkatan setelah
pembelajaran menggunakan bahan ajar listrik dinamis
berbasis inkuiri dan problem solving. Hal ini ditunjukkan oleh
persentase aktivitas siswa yang meningkat dari 67,14% pada
pertemuan pertama menjadi 95,04% pada pertemuan ketiga.
BEST PRACTICE: Karya Guru Inovatif yang Inspiratif (Menarik Perhatian Peserta Didik) | 91
PEMBELAJARAN FISIKA MELALUI STRATEGI
INDEX CARD MATH BERBASIS KOOPERATIF
KEMALA HAYANI, S. Pd
(SMA Negeri 2 Lhokseumawe)
TENTANG PENULIS
Kemala Hayani, S. Pd, dengan panggilannya
Mala. Lahir di Banda Aceh, pada tanggal 23
Maret 1973 dengan alamat Jl. Merdeka Timur
No.121 Gg. Kuta Asan Desa Uteunkot Kec.
Muara Dua Kota Lhokseumawe Aceh, mengajar
sebagai guru Fisika di SMA Negeri 2
Lhokseumawe. Dengan hobi membaca dan
menulis. Alamat E-Mail: [email protected]
PENDAHULIAN Ā
ĀĀ
atar Belakang Masalah
Mata pelajaran fisika merupakan bagian dari Ilmu
Pengetahuan Alam (IPA) yang diajarkan di SMP dan SMA yang
didalamnya mempelajari tentang gejala-gejala alam dan hasil
kegiatan manusia berupa pengetahuan, gagasan, dan konsep yang
terorganisir tentang alam sekitar yang diperoleh dari pengalaman
melalui serangkaian proses ilmiah, Kenyataannya bahwa pelajaran
fisika memang terdiri dari persoalan-persoalan matematis yang
berhubungan erat dengan kehidupan sehari-hari, ada beberapa
kemampuan kognitif yang sangat berperanan dalam meningkatkan
keberhasilan pemecahan soal-soal fisika yaitu kemampuan
mengindentifikasi secara tepat konsep maupun prinsip fisika.
Pelajaran fisika bertujuan agar siswa dapat
92 | Didi Pianda, dkk
memahami pengetahuan dasar dan dapat mengaplikasikan
konsep-konsep dasar fisika dalam kehidupan sehari-hari serta
mampu menggunakan metode ilmiah untuk memecahkan
masalah-masalah yang dihadapinya, sehingga pelajaran yang
telah dipelajari siswa bermakna dan bermanfaat bagi dirinya
sendiri dan masyarakat sekitar.
Harapan yang ada pada setiap guru adalah bagaimana
materi pelajaran yang disampaikan kepada anak didiknya dapat
di terima dan di pahami secara tuntas.Untuk memenuhi harapan
tersebut bukanlah sesuatu yang mudah, karena kita sadar bahwa
setiap siswa memiliki karakteristik yang tidak sama baik dari segi
minat, potensi, kecerdasan dan usaha siswa itu sendiri. Dalam
proses belajar mengajar kemampuan berfikir siswa berbeda –
bedaada yang lambat dan ada yang cepat sehingga dalam proses
pembelajaran masih dominan siswa yang pintar.
Untuk mencapai harapan dan memecahkan persoalan
tersebut, guru akan mengembangkan teknik pembelajaran
dengan metode Index Card Match (pencocokan kartu indeks).
Sehingga pembelajaran ini dapat membuat siswa aktif dan
menyenangkan serta memberikan semangat dalam berfikir dan
belajar. Pembelajaran yang baik adalah pembelajaran yang bisa
membawa rasa senang kepada siswa sehingga membuat mereka
asyik belajar dengan harapan siswa mampu meningkatkan hasil
belajar atau prestasi siswa.
Pembelajaran dikelas sudah di arahkan agar siswa
terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran. Hal ini tentunya
akan berimbas kepada peningkatan pemahaman konsepnya.
Dengan penerapan model ini akan terjadi perubahan orientasi
pembelajaran dari pembelajaran langsung yang hanya
memerlukan sedikit analisis dan pemikiran sistematis menujukan
pembelajaran yang melatih siswa untuk menggunakan pemikiran
tingkat tinggi( high order of thinking ), sehingga nantinya siswa
mampu untuk berpikir secara kritis, kreatif dan sistematis.
BEST PRACTICE: Karya Guru Inovatif yang Inspiratif (Menarik Perhatian Peserta Didik) | 93
Dan untuk mengatasi masalah dalam pembelajaran fisika,
guru harus mampu mengenal berbagai model pembelajaran.
Model pembelajaran dipilih sesuai dengan materi yang diajarkan.
Salah satu model pembelajaran yang tepat diterapkan pada
materi elastisitas yaitu, model pembelajaran Index Card Match
(Mencari Pasangan Kartu) berbasis Kooperatif. Penggunaan model
pembelajaran ini dalam proses belajar-mengajar sebagai salah
satu upaya meningkatkan prestasi belajar siswa. Metode
pembelajaran bersifat permainan yang dimaksud adalah Index
Card Match. Merupakan metode “mencari pasangan kartu” cukup
menyenangkan digunakan untuk mengulang materi
pembelajaran yang telah diberikan sebelumnya”. Dalam
pembelajaran index card macth siswa mampu menerapkan materi
selanjutnya dengan diberi tugas mempelajari materi yang akan
diajarkan terlebih dahulu, sehingga ketika masuk kelas siswa
sudah memilki bekal pengetahuan.
Berdasarkan latar belakang masalah diatas, maka penulis
berminat untuk melakukan penelitian yang bertujuan untuk
meningkatkan keterampilan berpikir kritis siswa pada materi
elastisitas. Upaya penulis dalam meningkatkan keterampilan
berpikir kritis siswa pada materi ini adalah dengan menggunakan
model pembelajaran Index Card Match Berbasis Kooperatif. Adapun
judul dari Best practice ini: “Pembelajaran fisika Melalui Strategi
Index Card Match Berbasis Kooperatif.
Tujuan Penelitian
Berdasarkan uraian diatas maka tujuan penelitian ini
adalah untuk meningkatkan ketrampilan berpikir kritis pada
konsep elastisitas siswa kelas X IPA 1 SMA Negeri 2 Lhokseuawe
melalui strategi Index Card Math.
94 | Didi Pianda, dkk
Manfaat Penelitian
Berdasarkan latar belakang masalah serta tujuan
penelitian yang telah diuraikan, maka manfaat penelitian adalah:
Bagi Siswa:
Dapat menumbuhkan kemampuan siswa untuk
mengungkapkan dan mengekspresikan dirinya
sebagai individu maupun kelompok.
Dapat memudahkan siswa memahami dan mengingat
pelajaran Fisika yang sudah disampaikan.
Dapat membawa semangat siswa untuk tetap
tertarik dalam mengikuti pembelajaran Fisika agar
tujuan pembelajaran dapat tercapai.
Bagi Guru
Sebagai referensi guru untuk melakukan
pembelajaran yang bisa membuat siswa lebih
tertarik mengikuti pelajaran dan mendorong siswa
untuk aktif.
Membuat guru lebih kreatif menemukan metode dan
model pembelajaran untuk melaksanakan kegiatan
belajar mengajar.
Membantu guru mengarahkan siswanya untuk dapat
memahami materi melalui aktivitas kelompoknya.
Bagi Sekolah
Memperoleh pengalaman langsung dalam memilih
strategi pembelajaran yang aktif.
Mengetahui pengaruh model pembelajaran Index
Card Match berbasis Kooperatif terhadap peningkatan
keterampilan berpikirkritis.
Bagi Masyarakat
Dapat menjadi bahan bacaan untuk menambah wawasan
tentang pengenalan model pembelajaran Index Card match
(ICM)
BEST PRACTICE: Karya Guru Inovatif yang Inspiratif (Menarik Perhatian Peserta Didik) | 95
Ȁ ⸀Ā Ā ȀĀ⸀Ā Ā
TATE OF ART (SOTA)
Penggunaan Index Card Match
Strategi ini adalah strategi untuk mengatasi masalah belajar
dengan mencocokkan kartu indeks. Index Card Match (ICM) salah
satu teknik instruksional dari belajar aktif yang termasuk dalam
berbagai reviewing strategis (strategi pengulangan). Strategi Index
Card Match (ICM) ini berhubungan dengan cara-cara untuk
mengingat kembali apa yang telah mereka pelajari dan kemampuan
serta pengetahuan yang telah mereka peroleh.
Sintaks Model Pembelajaran Index Card Match Berbasis
Kooperatif
Adapun beberapa Fase Model Pembelajaran Index Card
Match Berbasis Kooperatif dengan memperhatikan tabel berikut:
Tabel 1. Sintaks Model Pembelajaran Index Card Match Berbasis
Kooperatif
FASE – FASE PERILAKU GURU
Fase 1 Menyiapkan kartu indeks
Menyiapkan kartu indeks sebanyak jumlah siswa yang ada
didalam kelas.
Membagi kartu indeks menjadi
Fase 2 dua bagian, yaitu separuh
Membagi kartu indeks dua sebagian brisi kartu soal dan
bagian sebagian yang lain berisi jawaban.
Fase 3 Mencampur adukkan kartu indeks
Menpercampur adukkan secara acak sehingga tercampur
kartu indeks secara acak antara kartu soal dan kartu
jawaban.
Membagikan kartu indeks kepada
Fase 4 semua siswa yang ada di dalam
Membagikan kartu indeks kelas kemudian guru menjelaskan
dan menjelaskan kegiatan bagaimana aturan permainan
pembelajaran
96 | Didi Pianda, dkk
FASE – FASE PERILAKU GURU
menggunakan kartu indeks dalam
pembelajaran.
Fase 5 Meminta siswa untuk
Mempretasikan hasil memprestasikan hasil pencocokan
pencocokan kartu indeks kartu indeksyang sudah
dilakukan di depan kelas.
Fase 6 Membahas hasil pencocokan kartu
indeks yang sudah dilakukan
Membuat klarifikasi dan siswa dan membuat klarifikasi
kesimpulan pembelajaran pembelajaran, kemudian bersama
– sama siswa membuat
kesimpulan pembelajaran yang
sudah dilakukan.
Mengukur sejauh mana
Fase 7 pemahaman siswa akan materi
Mengevaluasi pembelajaran pembelajaran dengan
menggunakan soal evaluasi
pembelajaran.
Mengakhiri pembelajaran dengan
Fase 8 memberikan
Menutup pembelajaran penghargaan/pengakuan kepada
siswa atas prestasi yang telah
dicapai.
Langkah-langkah pelaksanan strategi Index Card Match
Adapun Langkah-langkah dalam pelaksanaan Strategi
Index Card Match adalah sebagai berikut:
Guru mempersiapkan segala jenis dan bentuk peralatan
untuk memotong kertas dalam pembuatan kartu.
BEST PRACTICE: Karya Guru Inovatif yang Inspiratif (Menarik Perhatian Peserta Didik) | 97
Guru membuat potongan-potongan kertas sebanyak
jumlah siswa yang ada di dalam kelas. Kertas-kertas
tersebut menjadi dua bagian sama.
Pada separuh bagian, ditulis pertanyaan tentang materi yang
akan dibelajarkan. Setiap kertas berisi satu pertanyaan.
Pada separuh kertas yang lain, tulis jawaban dari
pertanyaan-pertanyaan yang telah dibuat. Semua potongan
kertas dicampur antara soal dan jawaban.
Setiap siswa diberikan satu kertas. Dan guru menjelaskan
bahwa ini adalah aktivitas yang dilaksanakan
berpasangan. Separuh siswa akan mendapatkan soal dan
separuh yang lain akan mendapatkan jawaban.
Guru meminta kepada siswa untuk menemukan pasangan
mereka. Jika ada yang sudah menemukan pasangan, untuk
duduk berdekatan.kepada siswa diharapkan agar tidak
memberi tahu materi yang mereka dapatkan kepada teman
yang lain.
Setelah semua siswa menemukan pasangannya dan duduk
berdekatan, guru meminta pada setiap pasangan secara
bergantian untuk membacakan soal yang diperoleh dengan
keras kepada teman-teman yang lain. Selanjutnya soal
tersebut dijawab oleh pasangannya.
Akhiri proses ini dengan membuat klarifikasi dan
kesimpulan.
PELAKSANAAN BEST PRACTICE
Deskripsi dan Ruang Lingkup Best Practice
Bahan dan Alat yang Digunakan dalam Best Practice
Adapun beberapa bahan dan alat yang digunakan dalam
pelaksanaan best practice
Bahan: kertas manila,dan alat-alat tulis lainnya
• Alat : gunting, benda elastis,seperti pegas
98 | Didi Pianda, dkk