The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Ilmu adalah suatu pera yang mulia dan guru adalah orang yang mengantarkan seseorang untuk mencapai kemuliaan.
Menjadi Guru inspiratif adalah tindakan yang sangat strategis yang inspiratif dengan menghasilkan energi yang kreatif.

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Didi Pianda, 2020-12-21 11:56:16

BEST PRACTICE (Karya Guru Inovatif dan yang Inspiratif)

Ilmu adalah suatu pera yang mulia dan guru adalah orang yang mengantarkan seseorang untuk mencapai kemuliaan.
Menjadi Guru inspiratif adalah tindakan yang sangat strategis yang inspiratif dengan menghasilkan energi yang kreatif.

Keywords: Best Practice

Menambah File atau Link:

Untuk menambah File atau Link di Backpack, silahkan ikuti
langkah berikut: Klik “Backpack” ikon di toolbar paling atas.
Klik tombol “Add to Backpack” di atas sebelah kanan Ada
pilihan File atau Link, silahkan pilih salah satu. Jika siswa

memilih File silahkan klik tombol “Upload” dengan
maksimal file 100 MB kemudian klik “Add”. Jika siswa
memilih Link silahkan masukkan alamat kemudian klik
“Add”.

Menyimpan Posting:

Jika siswa ingin menyimpan Post penting dari guru
keBackpack-nya untuk membuatnya lebih mudah untuk
menemukan resources atau dokumen di kemudian hari.
Siswa dapat menambahkan Posting ke Backpack dengan
mengikuti langkah-langkah berikut: Klik Post Settings ikon di
sebelah kanan post. Pilih “Link to this Post” pada menu drop-
down. Sehingga muncul pop up window Link to Post, copy link
yang dihasilkan. Klik “Backpack” dan klik tombol “Add to
Backpack” di sebelah kanan atas. Pada halaman “Add to

Bacpack”pilih Link, kemudian Paste. Klik “Add” maka Posting
sudah disimpan di Backpack.
Pencarian file yang sudah dikirimkan:

Fitur ini digunakan untuk mencari file dari tugas telah siswa
kirimkan. siswa dapat mempersiapkan portofolio akhir
tahun atau mencetak meskipun file tersebut telah hilang.
Caranya adalah klik pada “Backpack” ikon di toolbar atas.
Kemudian klik tab “Turned In” di panel sebelah kiri.
Membuat dan memindah Folder:

Untuk menjaga agar Backpack terorganisir, siswa dapat
membuat Folders dengan mengikuti langkah-langkah
berikut: Klik padaBackpack ikon di toolbar atas, kemudian
pilih menu Folder. Klik tombol New Folder di sebelah kanan
atas. Tuliskan nama Folder yang akan dibuat setelah itu klik

BEST PRACTICE: Karya Guru Inovatif yang Inspiratif (Menarik Perhatian Peserta Didik) | 197

tombol Create dan Folder siap digunakan. Sedangkan jika

siswa ingin menambahkan konten ke Backpack, siswa dapat

menambahkan file ke Folder dengan mengikuti langkah

berikut. Pilih file yang akan dipindah dengan klik sehingga

muncul checkbox di pojok kiri gambarthumbnail. Klik ikon

“Add to Folder” ikon di toolbar atas “Backpack”. Centang

Folder yang akan diinginkan, kemudian klik tombol

“Apply” maka file sudah dipindah.

4) Menghapus Folder: Jika siswa ingin menghapus

permanen Folder dan isinya dariBackpack, yang harus

diperhatikan adalah semua resources di dalamnya juga akan

terhapus. Jika ingin menyimpan beberapa resources maka

perlu menyimpanya terlebih dahulu. Langkahlangkah

menghapus Folder yaitu sebagai berikut: Klik “Backpack” ikon

di the top toolbar. Pilih “Folders” yang akan dihapus dan klik di

atas sebelah kiri thumbnail. Klik “Trash” ikon untuk

menghapus Folder. Pilih konfirmasi menghapus resource

dari Backpack dengan klik Yes.

Integrasi ke Google Drive: Jika Anda membagikan materi
menggunakan Google Drive dengan siswa, atau Anda ingin
menggunakan Google Drive, siswa dapat mengkoneksikan
dengan Backpack. Syarat utama siswa harus memiliki akun
Gmail. Langkah-langkahnya adalah berikut: Klik

“Backpack” ikon in the toolbar.Klik tab “Google Drive” di
sebelah kiri dan klick tombol “Connect with Google Drive”.
Siswa akan diminta untuk sign in akun Google Drive. Pilih
tombol “Allow Access” ketika Anda mendapatkan
permintaan akses Google Drive

Menambahkan Note

Bagi Anda yang terbiasa menggunakan Facebook, note di
sini sebenarnya tidak jauh berbeda dengan istilah “Status” pada
Facebook. Fitur ini dapat Anda gunakan untuk berkomunikasi

198 | Didi Pianda, dkk

dengan siswa, misalnya untuk memberikan informasi mengenai
kelas Anda di Edmodo, menginformasikan materi yang harus
dipelajari siswa, dsb. Jika Anda ingin memberikan catatan,
perhatikan langkah-langkah berikut.

Klik "Note" pada atas halaman Edmodo.
Ketik pesan/catatan yang ingin anda berikan pada text box

(a). Ingat bahwa fungsi catatan ini sama halnya ketika Anda
berbicara di depan kelas atau di depan siswa. Klik pilihan
link “Files (c),” “Links (d),” atau “Library (e)” () jika

Anda ingin menambahkan upload ke posting Anda.
(Setiap file atau link Anda posting secara otomatis akan
ditambahkan ke Library Anda , jadi pastikan untuk
memberikan penjelasan yang baik ketika posting).
Pilih kirim sekarang (Send Now) atau dijadwal (Scheduled)
(f):

Send Now: klik tombol "Send" makan akan
mengirimkan posting segera.
Scheduled: klik tombol "Scheduled" ikon akan otomatis
mengirim sesuai waktu yang telah ditentukan sesuai
jam (samakan waktu antara guru dan siswa).
Tentukan siapa yang bisa membaca note yang Anda
tulis. Kemudain ketik nama siswa, guru, orang tua atau
group pada text box “Send to” dan Klik tombol “Send”

Mengatur Kalender

Edmodo Planner dapat Anda fungsikan untuk
menginformasikan berbagai kegiatan yang Anda laksanakan,
baik berupa berupa kegiatan yang akan berlangsung, penugasan
dan proyek yang sedang terjadi di suatu group. Untuk melihat
Edmodo PlannerAnda hanya perlu klik pada navigation bar yang
ada di bagian kanan halaman Edmodo Anda. Berikut tampilan
Edmodo Planner.

BEST PRACTICE: Karya Guru Inovatif yang Inspiratif (Menarik Perhatian Peserta Didik) | 199

Klik Edmodo Planner ikon di the Apps Toolbar pada sisi kanan.
2) Pilih diantara Week/Month. Week digunakan untuk

menampilkan semua kegiatan di setiap minggu Anda.
• Coming Soon: Semua kegiatan yang telah
direncanakan untuk bulan selanjutnya.
• Someday: Tugas yang Anda rencanakan
menyelesaikan di masa depan.
Month: Menampilkan semua kegiatan di suatu
bulan, tetapi tidak ditampilkanComing Soon atau
Someday.

Klik di Assignment untuk melihat isi, lampiran dan berapa
banyak yang mengerjakan tugas.

Sedangkan untuk membuat kegiatan yang akan Anda
masukkan dalam kalender, Anda hanya perlu klik pada
tanggal pelaksanaan kegiatan. Anda nanti akan diberikan
pilihan untuk membuat even atau task. Sebelum
menginformasikan kepada rekan Anda maupun
kelompok Anda, maka terlebih dahulu Anda melengkapi
informasi mengenai nama kegiatan (a), kapan kegiatan
akan dilaksanakan (b), dan kepada siapa informasi
tersebut akan diberikan.

Sedangkan apabila Anda ingin menghapus kegiatan yang
sudah Anda buat, maka Anda hanya perlu klik sekali lagi
pada kegiatan yang ingin Anda hapus, kemudian pilih
tombol delete. Sebagai catatan, Anda tidak dapat
melakukan edit pada kegiatan, Anda hanya dapat
membuat dan menghapusnya saja. Untuk mempermudah
melihat kegiatan, di sebelah kanan Anda dapat memilih
kegiatan dari kelas mana yang ingin Anda lihat.

200 | Didi Pianda, dkk

Menggunakan Search and filter
Anda dapat melakukan pencarian terhadap post, guru,

siswa, komunitas, maupun aplikasi yang telah Anda tambahkan
dalam kelas dengan cara mengetik keyword, nama guru/siswa dan
aplikasi di Search posts yang ada di navigation bar Anda. Selain itu
Anda jika Anda mempunyai seribu file di Library maka Anda akan
mengalami kesulitan jika menari file, maka dengan menggunakan
fitur ini akan lebih cepat untuk pencarian. Sedangkan untuk
membantu Anda dalam melihat Posting yang tersedia, maka Anda
dapat memanfaatkan fasilitas filter sehingga Anda hanya dapat
melihat Posting berdasarkan Penulis (Author), Jenis (Type) dan lainya
(More). Apabila Anda ingin keluar dari filtertersebut, klik link close x
yang ada di pojok kanan. Caranya adalah:

Klik tombol Filter Posts By di kanan atas halaman Edmodo
Pilih salah satu pilihan filter
berikut: o Author: Penulis posts
By Students
By Me
Type: Jenis
Latest
o Posts o
Alerts
o Assignments
o Feeds (RSS) o
Polls
o Quizzes
More: Lebih detail
Direct Messages
o Connections
o Assignments

BEST PRACTICE: Karya Guru Inovatif yang Inspiratif (Menarik Perhatian Peserta Didik) | 201

Membaca Materi Pelajaran
Sesuai arahan yang telah Anda berikan dengan

menggunakan note, maka siswa Anda arahkan untuk membaca
materi belajar yang telah Anda siapkan.Siswa dapat mengakses
materi belajar tersebut pada panel sebelah kanan. Folder berisi
materi yang telah Anda buat dalam Library menentukan bahan-
bahan yang harus dibaca siswa.

Polling

Sebagaimana guru yang memberikan Poling kepada
siswa, siswa akan menjawabPoling yang telah diberikan oleh
guru. Siswa mendapatkan tampilan seperti di bawah ini, dan
setiap siswa hanya punya kesempatan menjawab satu kali saja
untuk menjawab Poling.

Mengerjakan Test Online

Untuk dapat mengerjakan tugas dan kuis, maka siswa
dapat dengan mudah klik tombol Turn In untuk penugasan dan
tombol Take Quiz. Pada saat siswa mengerjakan tugas, maka
siswa akan mendapatkan bebrapa soal dan form. Dalam form
tersebut dia dapat menuliskan jawaban serta melampirkan
bahan-bahan lain yang mendukung pendapatnya tersebut dalam
bentuk file maupun link ke website yang lain. Siswa dapat
mengirimkan jawaban dengan klik “Turn In Assignment”.

Apabila Anda memberikan Annotate pada lampiran yang
diberikan siswa, maka untuk membaca Annotate tersebut siswa
hanya perlu pilih view di samping dokumen yang mereka lampiran.
Jika siswa mengirimkan kembali hasil perbaikan tugas tersebut
kepada Anda, maka penanda Annotate tidak akan terlihat lagi. Untuk
itu, jika Anda menginginkan Annotate yang Anda buat masih terlihat,
maka siswa diharapkan mengirimkan versi baru dari tugas tsb.
Sedangkan pada siswa memilih untuk mengerjakan kuis maka akan
muncul informasi umum mengenai kuis tersebut

202 | Didi Pianda, dkk

yaitu nama kuis, deskripsi kuis, jumlah pertanyaan dalam kuis
tersebut, dan juga jangka waktu pengerjaan kuis. Jika siswa
sudah siap untuk mengerjakan maka dia akan klik tombol “Start
Quiz.” Setelah tombol start dipilih, maka akan muncul pertanyaan
yang harus dijawab siswa. Siswa akan mendapat pertanyaan
sesuai dengan tipe pertanyaan yang sudah Anda sediakan.
Kemudian siswa mendapatkan informasi berapa lama waktu
yang tersisa untuk pengerjaan kuis dan mereka juga
mendapatkan informasi berapa soal yang telah ia kerjakan.
Apabila siswa telah menyelesaikan dalam menjawab kuis, maka
dia harus klik tombol “Submit Quiz”.

Selama tombol submit belum dipilih, maka waktu
pengerjaan kuis akan tetap berjalan, walaupun siswa tidak berada
pada halaman tersebut. Apabila waktu telah habis, maka secara
otomatis tes akan ditutup dan siswa dapat melihat hasil kuis tsb
(hanya jika Anda menyetujui opsi untuk menginformasikan hasil
kuis setelah siswa mengerjakannya). Untuk memberi respon Quiz,
Anda dapat melakukan dengan cara memilih salah satu ikon dari
pertanyaan “What did you think of this Quiz”. Kemudian klik
tombol View Result untuk melihat hasil kuis yang telah dikerjakan
siswa. Dari halaman tersebut dapat dilihat jawaban yang benar
berwarna hijau (A), merah berarti salah (D), setengah hijau dan
merah berarti jawaban benar setengah karena soal bertipe
Matching(C), sedangkan biru berarti guru harus melihat secara
manual dan memberikan poin nilai pada jawaban tersebut (B). Di
sebelah kanan juga dapat dilihat berapa soal yang sudah dapat
dijawab dengan benar oleh siswa.

PELAKSANAAN BEST PRACTICE

Deskripsi dan Ruang Lingkup Best Practice
Alat dan Bahan yang dibutuhkan

Alat dan bahan yang dibutuhkan dalam melaksanakan
proses pembelajaran nilai perbandingan trigonometri

BEST PRACTICE: Karya Guru Inovatif yang Inspiratif (Menarik Perhatian Peserta Didik) | 203

pada segitiga siku-siku dengan menggunakan digital
class adalah

Komputer atau handphone yang terhubung
langsung dengan internet
Proyektor
Rol

LKS tentang materi nilai perbandingan trigonometri
pada segitiga siku-siku

Langkah-Langkah Pembelajaran Best Practice
Adapunlangkah-langkahpembelajarandengan

menggunakan kelas digital (digital Class) dapat diuraikan sebagai
berikut :

Guru membuat akun (Grup) di edmodo, kemudian guru
memberikan kode grup kepada siswa di dalam suatu kelas.
Siswa diarahkan untuk membuat akun sebagai siswa dengan
menggunakan kode grup yang telah diberikan oleh guru
Setelah semua siswa masuk dalam grup yang telah dibuat,
guru dapat mengunci grup agar tidak ada siswa lain yang
masuk

Guru memberikan bahan ajar dapat berupa dokumen, video,
maupun tautan
Kepada siswa diberikan kesempatan untuk berdiskusi di
grup.

Pada jam tatap muka, guru memberikan kesempatan pada
salah satu siswa untuk membuka bahan ajar yang telah
diberikan di edmodo, dengan menggunakan proyektor, dan
guru membimbing siswa dalam kelas nyata agar dapat
memastikan kalau semua siswa telah mempelajari materi
yang bersangkutan.

Guru memberikan tugas kepada siswa melalui grup di kelas
digital, agar siswa dapat mengumpulkan tugas tersebut
sebelum batas akhir yang ditentukan

204 | Didi Pianda, dkk

Guru mengadakan evaluasi akhir pembelajaran didalam
kelas digital, yang hasil dari evaluasi tersebut langsung
diketahui siswa.

Guru dapat melihat kemajuan siswa dan menganalisis soal
yang telah diberikan yang secara otomatis disediakan oleh
sistem.

Guru dapat memindahkan nilai siswa yang ada di grup
tersebut ke dalam microsoft excel.

Hasil yang dicapai
Penerapan strategi pembelajaran dengan menggunakan

digital class merupakan sesuatu yang baru dan tidak lazim bagi
siswa, khususnya siswa kelas X IPA1. Hal ini tentu mendapat
respon positif dan antusias siswa untuk mengikuti proses
pembelajaran. Ketika proses pembelajaran yang menggunakan
digital class dilaksanakan perhatian dan konsentrasi siswa untuk
belajar meningkat, karena selain siswa memperhatikan materi
pembelajaran, siswa juga harus mengetahui cara menggunakan
digital class tersebut, sehingga siswa menjadi sangat konsentrasi
dan aktif memperhatikan setiap materi atau langkah-langkah
pembelajaran yang sedang berlangsung. Suasana kelas nyaman,
tidak ada keributan, tidak ada yang keluar masuk bahkan siswa
tidak menyadari waktu tatap muka akan berakhir. Secara
keseluruhan kegiatan pembelajaran dapat berlangsung dengan
baik, aktif dan menyenangkan. Siswa dapat berinteraksi,
bertanya, berdiskusi serta mengikuti ujian secara langsung.
Selama proses pembelajaran berlangsung siswa fokus
mendiskusikan materi pelajaran secara langsung(tidak
menggunakan media online), akan tetapi di luar kegiatan tatap
muka siswa masih dapat berdiskusi baik dengan teman maupun
guru yang terkoneksi secara langsung seluruh anggota kelas
secara online. Ada kegembiraan dan ekspresi siswa dalam
mengikuti proses dan hasil belajar yang memuaskan.

BEST PRACTICE: Karya Guru Inovatif yang Inspiratif (Menarik Perhatian Peserta Didik) | 205

Hasil evaluasi yang dilakukan baik secara online maupun tidak
online menunjukkan bahwa nilai rata-rata siswa meningkat yaitu
86,5 (hanya 1 orang siswa yang mendapat nilai tidak tuntas) dari
sebelumnya 7,70 (7 siswa tidak tuntas), sehingga dapat
disimpulkan bahwa hasil belajar siswa kelas X IPA 1 dengan
menggunakan digital class lebih tinggi dibandingkan hasil
belajar dengan cara konvensional seperti biasa.

Nilai penting dan Kebaruan yang dilakukan

Dalam era digital seperti sekarang ini, setiap orang
termasuk siswa kelas X IPA 1 sangat banyak menghabiskan
waktunya dalam mengakses internet baik untuk meningkatkan
kemampuan diri dengan mencari berbagai ilmu pengetahuan
maupun hanya untuk menghibur diri. Pembelajaran dengan
menggunakan digital class di edmodo merupakan cara terbaru
dalam memvariasikan metode pembelajaran di era digital seperti
sekarang ini, karena setiap hampir setiap siswa mempunyai
handphone android yang dapat mengakses internet kapan saja,
sehingga jika hal tersebut dapat dimanfaatkan guru sebagai
kegiatan pembelajaran maka akan sangat membantu guru dalam
memaksimalkan kegiatan pembelajaran.

Faktor Pendukung dan Penghambat
Faktor-faktoryangmendukungdilaksanakannya

pembelajaran dengan menggunakan digital class ini dapat
dijabarkan sebagai berikut:

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, dimana data
dan permasalahan hidup manusia bersifat komputerisasi

Hampir semua siswa memiliki smart phone dan sekolah
menyediakan fasilitas wi-fi

Siswa sangat senang mengakses segala sesuatu yang
berhubungan dengan internet termasuk dalam
menyelesaikan tugas yang diberikan secara online.

206 | Didi Pianda, dkk

Selain faktor-faktor pendukung yang telah dijelaskan diatas,
terdapat juga faktor-faktor yang menghambat kegiatan
pembelajaran dengan menggunakan digital class, diantaranya:

Masih ada siswa yang tidak memiliki Smart phone
Koneksi atau jaringan internet kadang terganggu
Mempersiapkan bahan ajar berbasis komputer
Pembuatan bahan evaluasi dengan menggunakan bahasa
latex untuk soal-soal matematika agak sulit.

Tindak Lanjut
Berdasarkan uraian yang telah dijelaskan diatas, maka

proses pembelajaran dengan menggunakan digital class dapat
terus digunakan dan dapat diperluas lagi untuk pelajaran-
pelajaran yang lain karena pemanfaatan kecanggihan teknologi
akan sangat membantu manusia untuk memenuhi kebutuhan
hidupnya baik dimasa sekarang maupun dimasa yang akan
datang.

PEMBAHASAN
Hasil Pembelajaran Best Practice

Berdasarkan hasil pengamatan terhadap 29 orang siswa
kelas X IPA1, nilai pelajaran matematika pada semester ganjil
menunjukkan bahwa rata-rata nilai kelas dari siswa kelas X IPA 1
memiliki nilai yang kurang memuaskan, sebagian kecil (kurang dari
50%) siswa yang memiliki nilai yang cukup. Oleh karena itu,
dengan menggunakan pembelajaran berbasis internet yaitu
menggunakan pembelajaran melalui digital class dapat
meningkatkan minat dan motivasi belajar siswa sehingga akan
dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Dari segi proses
pembelajaran, hasil observasi menunjukkan bahwa dengan
penerapan digital class dapat meningkatkan aktivitas guru dan
siswa dalam kegiatan pembelajaran. Selanjutnya ditinjau dari segi
hasil belajar siswa pada materi nilai perbandingan trigonometri
sudut istimewa dengan diterapkannya pembelajaran dengan

BEST PRACTICE: Karya Guru Inovatif yang Inspiratif (Menarik Perhatian Peserta Didik) | 207

menggunakan digital class terdapat peningkatan pemahaman
siswa, dimana persentase siswa yang memperoleh nilai >80
adalah sebesar 96,5% (terdapat 1 siswa yang tidak tuntas).

Pembahasan Best Practice
Penerapan strategi pembelajaran dengan menggunakan

Android merupakan sesuatu yang baru dan tidak lazim bagi siswa,
khususnya siswa kelas X IPA1 SMA Negeri 2 Lhokseumawe. Hal ini
tentu mendapat respon positif dan antusias siswa untuk mengikuti
proses pembelajaran. Siswa sudah terbiasa dengan pembelajaran
metode ceramah dan penugasan, mereka merasakan penggunaan
media yang dapat menumbuhkan minat belajar masih kurang.
Akibatnya banyak siswa yang tidak memperhatikan, pasif dan bosan
terhadap proses pembelajaran yang sedang berlangsung. Namun
sebaliknya, ketika proses pembelajaran berbasis komputer
dilaksanakan perhatian dan konsentrasi siswa untuk belajar
meningkat. Siswa aktif dan tekun memperhatikan setiap materi atau
langkah-langkah pembelajaran yang sedang berlangsung. Suasana
kelas nyaman, tidak ada keributan, tidak ada yang keluar masuk
bahkan siswa tidak menyadari waktu tatap muka akan berakhir.

Secara keseluruhan kegiatan pembelajaran dapat
berlangsung dengan baik, aktif dan menyenangkan. Siswa dapat
berinteraksi, bertanya, berdiskusi serta mengikuti ujian secara
langsung. Selama proses pembelajaran berlangsung siswa fokus
mendiskusikan materi pelajaran, baik dengan teman maupun guru
yang terkoneksi secara langsung seluruh anggota kelas. Ada
kegembiraan dan ekspresi siswa dalam mengikuti proses dan hasil
belajar yang memuaskan. Selain memberikan materi secara online,
digital Class juga sangat memudahkan guru dalam melakukan
evaluasi. Digital Class menyediakan beraneka macam bentuk
evaluasi seperti soal pilihan ganda, soal benar-salah, soal isian
singkat, soal isilah dan soal bentuk mencocokkan. Selain bentuk soal
yang dapat dibuat bervariasi juga untuk mengoreksi jawaban

208 | Didi Pianda, dkk

siswa dapat dilakukan secara otomatis. Dari hasil evaluasi
terhadap proses pembelajaran dengan digital class, ada
peningkatan minat belajar setiap siswa, mereka sangat antusias
untuk mengetahui apa yang sudah diupload oleh guru. Dengan
demikian, perubahan yang terjadi pada aktivitas siswa
tersebutdapat membuktikan bahwa pembelajaran dengan
menggunakan Androidcukup efektif dalam meningkatkan minat
belajar siswa. Sungguh ini merupakan kreatifitas dan model
pembelajaran yang perlu dan terus dikembangkan guna
meningkatkan minat belajar siswa serta dapat dijadikan sebagai
pedoman dalam mengelola penggunaan Android ke arah yang
positif.

PENUTUP
Berdasarkan kegiatan yang telah dilakukan, dapat

diambil beberapa kesimpulan, yaitu: (a) Seiring perkembangan
zaman, pembelajaran tidak hanya dilakukan dalam kelas nyata,
tetapi dapat juga dilakukan dalam kelas maya, (b) Pembelajaran
dalam kelas maya tidak dibatasi oleh waktu dan ruang, (c)
Pembelajaran dengan menggunakan kelas maya dapat
memudahkan guru dalam menyampaikan materi ajar dan
melakukan evaluasi dan (d) Pembelajaran dengan menggunakan
kelas maya dapat meningkatkan minat belajar siswa

BEST PRACTICE: Karya Guru Inovatif yang Inspiratif (Menarik Perhatian Peserta Didik) | 209

PEMBELAJARAN BAHASA INGGRIS

DALAM MENULIS KALIMAT DESKRIPTIF

DENGAN PENERAPAN METODE

DISCOVERY LEARNING

YUSRIDAWATI, S.Pd
(SMK Negeri 3 Lhokseumawe)

TENTANG PENULIS
Yusridawati, S.Pd, Lahir di Bireuen, Pada
tanggal 6 Februari 1970. Tinggal di
Kompleks Ujong Blang Permai,
Lhokseumawe. No HP/WA 082367025076.
Media sosial lainnya Ida Thantawi (FB).
Email, [email protected]. Blog
pribadi, http://idapembelajaranmenarik.
wordpress.com. Saat ini bertugas di SMPN
12 Lhokseumawe. Terdaftar sebagai anggota

Ikatan Guru Indonesia (IGI) Lhokseumawe sejak tahun 2017. Prestasi
terbaik menjadi Guru Berprestasi SMP tingkat Kota Lhokseumawe pada
tahun 2013 dan tahun 2017. Buku yang sudah ditulis di antaranya: (1)
Buku Antologi Gerakan Literasi di Bumi Pasee; dan (2) Buku Antologi
Kopi.

LATAR BELAKANG
Dalam keseluruhan proses pendidikan di sekolah,

kegiatan belajar merupakan kegiatan yang paling pokok, ini berarti
bahwa berhasil atau tidaknya tujuan pendidikan banyak bergantung
pada bagaimana proses kegiatan belajar yang dialami siswa sebagai
anak didik. Belajar mengajar merupakan suatu kegiatan yang bernilai
edukatif. Nilai edukatif mewarnai interaksi yang terjadi antara guru
dengan anak didik. Interaksi yang bernilai

210 | Didi Pianda, dkk

edukatif ini diarahkan untuk mencapai tujuan tertentu yang telah
dirumuskan sebelum pengajaran dilakukan.

Harapan yang tidak pernah sirna dari seorang guru
adalah bagaimana bahan pelajaran yang disampaikan guru dapat
dikuasai oleh anak didik secara tuntas. Ini merupakan masalah
yang cukup sulit yang dirasakan oleh guru. Kesulitan itu
dikarenakan anak didik bukan hanya sebagai individu dengan
segala keunikannya, tetapi mereka juga sebagai makhluk sosial
dengan latar belakang yang berlainan.

Menulis kalimat deskriptif yang merupakan salah satu
materi yang diajarkan di kelas VII merupakan materi baru yang
belum pernah diterima oleh peserta didik sebelumnya sehingga
penulis berkeinginan kuat bagaimana caranya agar peserta didik
dapat menguasainya dengan baik. Didalam materi bab V ini
terdapat struktur teks dan unsur kebahasaan yang harus
dipahami oleh peserta didik sehingga akhirnya mereka dapat
menghasilkan beberapa kalimat deskriptif yang baik. Hal tersebut
menjadi tantangan tersendiri bagi penulis sehingga penulis
berusaha memikirkan metode yang tepat agar pembelajaran pada
materi teks deskriptif ini dapat berjalan dengan maksimal dan
peserta didik dapat menguasai materi tersebut dengan tuntas.

Melalui diskusi dengan rekan sejawat penulis akhirnya
mencoba untuk menerapkan metode discovery learning pada
pembelajaran menulis kalimat deskriptif dengan harapan peserta
didik dapat menemukan sendiri pengetahuan serta konsep dalam
membuat kalimat-kalimat deskriptif sehingga pada akhirnya
mereka dapat menghasilkan sebuah teks deskriptif yang baik.

Kegiatan belajar mengajar menggunakan metode discovery
mirip dengan inkuiri (inquiry). Inkuiri adalah proses menjawab
pertanyaan dan menyelesaikan masalah berdasarkan fakta dan
pengamatan. Sementara itu, discovery adalah menemukan konsep
melalui serangkaian data atau informasi yang

BEST PRACTICE: Karya Guru Inovatif yang Inspiratif (Menarik Perhatian Peserta Didik) | 211

diperoleh melalui pengamatan atau percobaan (Ridwan Abdullah
Sani : Inovasi Pembelajaran, 2013).

Langkah pertama dalam metode discovery ini adalah
menciptakan stimulus atau rangsangan, dimana peserta didik
melakukan aktivitas mengamati fakta atau fenomena dengan cara
melihat, mendengar, membaca atau menyimak. Fakta yang disedikan
dimulai dari yang sederhana hingga fakta atau fenomena yang
menimbulkan kontroversi. Misalnya peserta didik diminta untuk
mengamati fakta tentang beberapa gambar orang dengan tinggi,
berat dan umur yang berbeda, kemudian diberi fakta lain tentang
perbandingan jumlah dan sifat yang dari segi informasi terlihat
hampir sama tapi dengan struktur yang berbeda. Dengan demikian
peserta didik tergugah untuk mencari tahu lebih lanjut tentang
fakta/fenomena tersebut dengan membaca dari berbagai sumber atau
mempertanyakan kepada pendidik.

Tahapan ini dimulai dengan peserta didik dihadapkan
pada teks dengan genre yang sama namun bervariasi dalam
fungsi sosial dan unsur kebahasaan sehingga menimbulkan
kebingungan, namun penulis tidak memberikan generalisasi agar
timbul rasa ingin tahu untuk menyelidiki alasan penulis
menggunakan unsur kebahasaan yang berbeda, sehingga dapat
mengetahui perbedaan fungsi sosial dari teks-teks tersebut.

Tahapan berikutnya adalah menyiapkan pernyataan
masalah. Setelah dilakukan stimulasi, langkah selanjutnya adalah
penulis memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk
mengidentifikasi sebanyak mungkin masalah-masalah yang
relevan dengan kalimat deskriptif tentang benda, kemudian salah
satunya dipilih dan dirumuskan dalam bentuk hipotesis atau
jawaban sementara atas pertanyaan yang diajukan.

Tahapan selanjutnya adalah mengumpulkan data. Ketika
pengumpulan data berlangsung, penulis memberi kesempatan
kepada para peserta didik untuk mengumpulkan informasi
sebanyak-banyaknya yang relevan untuk membuktikan benar atau

212 | Didi Pianda, dkk

tidaknya hipotesis (Syah, 2004). Selanjutnya mengolah data dan
informasi yang telah diperoleh baik melalui wawancara,
membaca, observasi dan sebagainya, semuanya diolah, diacak,
diklasifikasikan, dan ditabulasi. Data processing disebut juga
dengan pengkodean (coding) kategorisasi yang berfungsi sebagai
pembentukan konsep dan generalisasi. Dari generalisasi tersebut
peserta didik akan mendapatkan pengetahuan baru tentang
alternatif jawaban/penyelesaian yang perlu mendapat
pembuktian secara logis.

Tahapan terakhir adalah menarik kesimpulan yang dapat
dijadikan prinsip umum dan berlaku untuk semua kejadian atau
masalah yang sama, dengan memperhatikan hasil verifikasi
(Syah, 2004). Berdasarkan hasil verifikasi maka dirumuskan
prinsip-prinsip yang mendasari generalisasi. Setelah menarik
kesimpulan peserta didik harus memperhatikan proses
generalisasi yang menekankan pentingnya penguasaan pelajaran
atas makna dan kaidah atau prinsip-prinsip yang luas yang
mendasari pengalaman seseorang, serta pentingnya proses
pengaturan dan generalisasi dari pengalaman-pengalaman itu.

Berangkat dari permasalahan dan cara yang akan
digunakan diatas maka penulis merasa perlu melakukan sebuah
terobosan baru untuk perbaikan proses pembelajaran guna
meningkatkan hasil belajar peserta didik. Perbaikan pembelajaran
dilakukandengan menerapkan metode discovery learningdalam
menulis kalmat-kalimat deskriptif. Oleh karena itu penulis
melaporkan perbaikan pembelajarantersebut sebagai kegiatan best
practice berjudul “Penerapan Metode Discovery LearningUntuk

Meningkatkan Hasil Belajar Bahasa Inggris Peserta Didik
Dalam Menulis Kalimat Deskriptif”

TUJUAN
Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan di

atas, maka yang menjadi tujuan dari best practice ini adalah : untuk

BEST PRACTICE: Karya Guru Inovatif yang Inspiratif (Menarik Perhatian Peserta Didik) | 213

mendapatkan suatu metode yang tepat dalam pembelajaran
bahasa Inggris khususnya dalam menulis kalimat deskriptif pada
siswa kelas VII-3 SMP Negeri 12 Lhokseumawe.

MANFAAT
Best Practiceini diharapkan dapat memberikan manfaat

kepada guru, para siswa, sekolah dan untuk masyarakat, antara
lain:

Bagi guru, melalui best practice ini guru dapat meningkatkan
professionalnya dalam menjalankan tugas sebagai guru
bahasa Inggris

Para siswa, diharapkan memiliki rasa percaya diri dalam
menyampaikan pendapat, ide, gagasan dan pertanyaan.

Sekolah, diharapkan dengan adanya best practice ini akan
mampu meningkatkan mutu pendidikan sekolah
khususnya pada pelajaran bahasa Inggris.

STATE OF ART (SOTA)*
Metode Discovery Learning

Kegiatan belajar mengajar menggunakan metode discovery
learningmirip dengan inkuiri (inquiry). Inkuiri adalah proses
menjawab pertanyaan dan menyelesaikan masalah berdasarkan fakta
dan pengamatan. Sementara itu, discovery adalah menemukan
konsep melalui serangkaian data atau informasi yang diperoleh
melalui pengamatan atau percobaan. Discovery terbimbing
merupakan metode yang digunakan untuk membangun konsep di
bawah pengawasan guru. Pembelajaran discovery learningmerupakan
metode pembelajaran kognitif yang menuntut guru untuk lebih
kreatif menciptakan situasi yang dapat membuat peserta didik
belajar aktif menemukan pengetahuan sendiri. Metode belajar ini
sesuai dengan teori Bruner yang menyarankan agar peserta didik
belajar secara aktif untuk membangun konsep dan prinsip. Kegiatan
discovery melalui

214 | Didi Pianda, dkk

kegiatan eksperimen dapat menambah pengetahuan dan
keterampilan peserta didik secara simultan.

Langkah-langkah Penerapan Metode Discovery Learning

Adapun langkah-langkah pembelajaran discovery learning
adalah sebagai berikut.

Guru menjelaskan tujuan pembelajaran

Guru menyampaikan rencana kegiatan yang akan
dilakukan.
Guru memaparkan topik yang akan dikaji, motivasi dan
memberikan penjelasan ringkas.
Guru mengajukan permasalahan atau pertanyaan yang
terkait dengan topik yang dikaji.
Guru membagi siswa kedalam beberapa kelompok

Kelompok merumuskan hipotesis dan merancang
percobaan atau mempelajari tahapan percobaan yang
dipaparkan guru, LKS atau buku. Guru membimbing
dalam perumusan hipotesis dan merencanakan
percobaan.

Guru memfasilitasi kelompok dalam melaksnakan
percobaan/investigasi.

Kelompok melakukan percobaan atau pengamatan untuk
mengumpulkan data yang dibutuhkan untuk menguji
hipotesis.

Kelompok mengorganisasikan dan menganalisis data
serta membuat laporan hasil percobaan atau pengamatan.

Kelompok memaparkan hasil investigasi (percobaan atau
pengamatan) dan mengemukakan konsep yang
ditemukan. Guru membimbing peserta didik dalam
mengonstruksi konsep berdasarkan hasil investigasi.
Bahan dan Alat yang di perlukan dalam Best Practice

Laptop dan infocus
Slide gambar-gambar hewan dan benda di kelas

BEST PRACTICE: Karya Guru Inovatif yang Inspiratif (Menarik Perhatian Peserta Didik) | 215

Lembar Kegiatan Peserta Didik (LKPD)
Kertas HVS, spidol, lem, gunting

Langkah-langkah Pelaksanaan Best Practice
Kegiatan yang dilakukan adalah melaksanakan seluruh

kegiatan yang terdapat didalam kegiatan perencanaan.
Melaksanakan kegiatan proses pembelajaran bahasa Inggris pada
materi teks deskriptif dengan menggunakan metode discovery
learning. Adapun langkah-langkah pelaksanaan tindakan adalah
sebagai berikut :

Kegiatan Pendahuluan
Guru menyiapkan peserta didik secara psikis dan
fisik untuk mengikuti proses pembelajaran dengan
memberi salam,mengajak peserta didik untuk
merapikan kelas dan penampilan mereka, mengajak
peserta didik untuk mengawali kegiatan dengan
berdoa, dan memeriksa kehadiran peserta didik.
Guru mengajak peserta didik menyanyikan lagu “Big
Little” untuk membangkitkan motivasi belajar Bahasa
Inggris.
Guru mengajukan pertanyaan tentang materi Bahasa
Inggris yang dipelajari atau telah dikenal sebelumnya.
Guru menyampaikan tentang tujuan pembelajaran
atau kompetensi dasar yang akan dicapai.
Guru menyampaikan cakupan materi dan uraian
kegiatan sesuai RPP.

Kegiatan Inti (60 menit)
Mengamati
Peserta didik mengamati sebuah kalimat
deskriptif yang ditayangkan penulis lewat in-
focus.

216 | Didi Pianda, dkk

Peserta didik menuliskan hal-ikhwal
yang belum diketahui berkaitan dengan
teks deskriptif yang disaksikannya.

Penulis menayangkan kembali kalimat-
kalimat deskriptif yang lain.

Menanya

Dengan bimbingan guru peserta didik
merumuskan pertanyaan terkait dengan isi,
fungsi sosial, dan struktur teks, serta unsur
kebahasaan dalam teks yang telah disaksikan.

Dengan bimbingan guru peserta didik
merumuskan pertanyaan tentang kosa kata
yang belum diketahui maknanya.

Mencoba/Mengumpulkan Data atau Informasi

Guru penulis membagi siswa kedalam
beberapa kelompok, setiap kelompok terdiri
dari 4-5 siswa.

Setiap kelompok diberikan lembar kerja
(LKPD) yang berisikan teks deskriptif

Setiap kelompok berdiskusi tentang fungsi
sosial, struktur teks dan unsur kebahasaan
yang terdapat dalam teks tersebut.

Setiap kelompok merumuskan hipotesis dan
merancang percobaan yang dipaparkan oleh
guru.

Setiap kelompok melakukan percobaan yaitu
membuat kalimat-kalimat deskriptif menurut
pola yang sementara telah mereka pahami.

Mengasosiasi/Menganalisis Data atau Informasi

Dalam kelompok, peserta didik

mengorganisasikan dan menganalisis data

serta membuat laporan hasil percobaan atau

pengamatan.

BEST PRACTICE: Karya Guru Inovatif yang Inspiratif (Menarik Perhatian Peserta Didik) | 217

Mengomunikasikan

Setiap kelompok memaparkan hasil investigasi
dan mengemukakan konsep yang ditemukan.
Penulis membimbing peserta didik dalam
mengonstruksi konsep berdasarkan hasil
investigasi.
Penutup (10 Menit)

Guru dan peserta didik secara bersama-sama
membuat ringkasan bahan yang sudah dipelajari
pada pertemuan ini.

Guru mengajukan pertanyaan kepada peserta didik
untuk membantu mereka melakukan refleksi
terhadap kegiatan belajar yang telah mereka
lakukan.

Guru memberikan tugas kepada peserta didik
menulis lagi kalimat-kalimat deskriptif sebanyak-
banyaknya dengan mencarinya dari berbagai
sumber.

Guru menjelaskan rencana kegiatan pembelajaran
yang akan datang.

Hasil yang Dicapai
Pembelajaran bahasa Inggris dengan menerapkan metode

discovery learningseperti yang telah dipaparkan dalam langkah-
langkah kegiatan di atas untuk meningkatkan kemampuan
peserta didik dalam menulis kalimat-kalimat deskriptif dilakukan
sebanyak 4 kali pertemuan dengan materi yang berbeda. Selama
proses pembelajaran berlangsung, dilakukan pengamatan
terhadap aktivitas siswa yang lebih difokuskan pada siswa yang
pemalu dan ragu-ragu dalam mengungkapkan jawabannya.
Untuk lebih jelas, berikut ini akan dipaparkan secara rinci proses
pembelajaran yang dilaksanakan beserta hasilnya. Beberapa hasil
yang dicapai selama pembelajaran antara lain:

218 | Didi Pianda, dkk

1. Setiap peserta didik aktif mengikuti kegiatan
pembelajaran, tidak ada peserta didik yang terlihat
murung, diam atau melamun.
Proses pembelajaran bahasa Inggris dengan menerapkan
metode discovery learning ini menyebabkan seluruh
kegiatan berjalan dengan lebih menyenangkan, seluruh
peserta didik terlihat antusias dalam menulis kalimat
deskriptif
Peserta didik terlihat menunjukkan sikap tanggung jawab
dan kerja sama dalam menyelesaikan setiap tugas
yangdiberikan

Nilai Pentingdan Kebaruan Best Practice yang telah
dilaksanakan
Dalam proses pembelajaran bahasa Inggris dengan

menerapkan metode discovery learning memiliki nilai-nilai
yang sangat penting antara lain :

Guru memiliki waktu yang lebih leluasa dalam mengamati
peserta didik baik dari segi penilaian pengetahuan dan
keterampilan maupun penilaian sikap.

Peserta didik memiliki kesempatan yang lebih luas dalam
mengungkapkan pendapat dan idenya

Peserta didik diberikan kesempatan untuk mengoreksi hasil
kerjanya dan memperoleh masukan dari setiap kesalahan
yang dibuatnya.

Peserta didik merasa diberikan kesempatan yang luas untuk
melakukan penulisan kecil dan menemukan jawaban dari
hasil kerja kerasnya.

Peserta didik merasa lebih dihargai karena tidak ada
penilaian yang salah dari sebuah penulisan yang lakukan,
hanya perlu perbaikan dalam proses pelaksanaannya saja.

BEST PRACTICE: Karya Guru Inovatif yang Inspiratif (Menarik Perhatian Peserta Didik) | 219

Faktor-Faktor Pendukung dan Penghambat
Adapun Beberapa faktor pendukung dalam proses

pembelajaran bahasa Inggris melalui penerapan metode discovery
learningantara lain : (a) Sekolah sudah memiliki layar infokus
untuk menayangkan slide gambar pendukung kegiatan
pembelajaran dan (2) guru sudah sangat memahami langkah-
langkah pembelajaran yang dilaksanakan dalam menerapkan
metode discovery learning.

Adapun Beberapa faktor penghambat dalam proses
pembelajaran bahasa Inggris melalui penerapan metode discovery
learningantara lain : (a) kurangnya ketersediaan waktu, 2 x 40 menit
dalam setiap pertemuan dirasa kurang memadai karena banyaknya
langkah-langkah kegiatan yang harus dilaksanakan sehingga harus
meminta ijin pada guru yang akan masuk pada jam berikutnya. (b).
Dalam setiap pertemuan ada beberapa peserta didik yang tidak
masuk karena berhalangan sehingga hal ini agak sedikit menyulitkan
penulis dalam mengambil data yang optimal.

Tindak Lanjut
Adapun tindaklanjut dari best practice pada proses

pembelajaran bahasa Inggris dengan menerapkan metode
discovery learningantara lain : penulis mensosialisasikan hasil best
practice yang telah dilaksanakannya kepada rekan sejawat di
sekolah maupun dalam forum MGMP sekota Lhokseumawe
antara lain: (1) Proses pembelajaran berlangsung dengan sangat
menyenangkan baik bagi peserta didik maupun bagi guru (2).
Peseta didik menjadi lebih aktif dan kreatif(3). Ketuntasan materi
menjadi sangat tinggi, hampir semua peserta didik mampu
menuliskan kalimat deskriptif sederhana dalam bahasa Inggris.

220 | Didi Pianda, dkk

PEMBAHASAN
Adapun hasil dan Pembahasan pada Best Practice antara

lain :
Hasil Pembelajaran Pada Best Practice

Penilaian hasil belajar pada materi menulis kalimat
deskriptif dengan menggunakan metode discovery learning
dilakukan merujuk pada Kompetensi Dasar 3.5, yaitu
“Memahami fungsi sosial, struktur teks, dan unsur kebahasaan
pada teks untuk menyatakan dan menanyakan nama dan jumlah
binatang, benda, dan bangunan publik yang dekat dengan
kehidupan siswa sehari-hari.”

Penilaian kompetensi pengetahuan dilakukan melalui

pemberian tugas berbentuk essay untuk mengetahui pemahaman

peserta didik dalam menulis kalimat deskriptif. Berikut disajikan
ringkasan perbandingan hasil belajar peserta didik pada materi

menulis kalimat deskriptif sebelum dan sesudah menggunakan

metode discovery learning.

Tabel 1

Ringkasan Perbandingan Hasil Belajar

dengan Discovery Learning

Sebelum Sesudah

Penerapan Penerapan

No Kriteria Penilaian Metode Metode

Discovery Discovery

Learning Learning

1 Nilai tertinggi 75 100

2 Nilai terendah 40 72

3 Nilai rata-rata 68, 49 91

4 Nilai peserta didik 15 23

yang tuntas

5 Jumlah peserta didik 9 1

yang tidak tuntas

6 Tingkat ketuntasan 62,5% 96,3%

BEST PRACTICE: Karya Guru Inovatif yang Inspiratif (Menarik Perhatian Peserta Didik) | 221

Tabel 2

Ringkasan Perbandingan Aktivitas Peserta didik

Dengan Discovery Learning

Sebelum Sesudah

Penerapan Penerapan

No Kriteria Penilaian Metode Metode

Discovery Discovery

Learning Learning

1 Memperhatikan 71% 91%

penjelasan guru

2 Aktif dalam diskusi 63% 83%

3 Mengajukan 50% 79%

pertanyaan dalam

diskusi

4 Menjawab 71% 83%

pertanyaan dalam

diskusi

5 Memperbaiki kalimat 46% 88%

yang salah

6 Ikut merangkum 67% 91%

materi pembelajaran

Rata-rata 61,33% 85,83%

Pembahasan Pada Best Practice

Berdasarkan hasil yang diperoleh dari pelaksanaan best
practice, maka dapat dikatakan bahwa telah terjadi peningkatan
aktivitas siswa pada materi yang terdapat pada KD. 3.5 khususnya
tentang menulis kalimat deskriptif. Hal ini bisa kita lihat dari data
yang diperoleh pada aktivitas siswa dan hasil belajar siswa setelah
pembelajaran dilaksanakan. Setelah dilakukan analisis hal ini terjadi
karena pengaruh guru dalam menerapkan metode discovery learning.
Siswa bergairah belajar karena siswa tidak harus bertanya kepada
guru bila tidak mengerti namun siswa bisa bertanya pada

222 | Didi Pianda, dkk

teman dalam satu kelompok yang dianggap lebih memahami atau
kepada ketua kelompok. Siswa juga merasa tertantang karena guru
menjanjikan hadiah atau penghargaan bagi kelompok yang
memperoleh nilai tertinggi sehingga mereka bersemangat dalam
menyelesaikan semua tugas yang diberikan. Perolehan hasil belajar
siswa pada proses pembelajaran setelah menerapkan metode
discovery learning mencapai ketuntasan sebesar 96,3%

sedangkan sebelum menerapkan metode discovery learningketuntasan
belajar siswa hanya mencapai 62,5%. Demikian juga dengan tingkat
keaktifan siswa dimana sebelum menerapkan metode discovery
learning keaktifan siswa mencapai rata-rata

61,33% namun setelahmenerapkan metode discovery
learningkeaktifan siswa meningkat menjadi rata-rata 85,83%.

KESIMPULAN
Adapun kesimpulan dari hasil pembelajaran yang terbaik

(best practice) adalah sebagai berikut

Pembelajaran bahasa Inggris dengan menerapkan metode
discovery learningmasih sangat jarang digunakan oleh para
guru bahasa Inggris mungkin hal ini dikarenakan guru
masih belum menguasai metode ini dengan baik.

Pembelajaran bahasa Inggris dengan menerapkan metode
discovery learning diharapakan mampu menggantikan
pembelajaran yang menggunakan metode konvensional,
yang berpusat pada guru (Teacher Center) menuju ke
pembelajaran yang berpusat pada peserta didik (Student
Center).

Penerapan metode discovery learning dapat memudahkan guru
dalam mengelola kelas dimana guru hanya berfungsi
sebagai fasilitator saja, peserta didik menjadi lebih
bersemangat dalam belajar karena mereka dibebaskan untuk
menemukan jawaban sendiri meskipun masih dalam
pengawasan dan bimbingan guru.

BEST PRACTICE: Karya Guru Inovatif yang Inspiratif (Menarik Perhatian Peserta Didik) | 223

Dengan menggunakan metode discovery learning peserta didik
lebih mudah dalam memahami materi pelajaran sehingga
mampu meningkatkan hasil belajarnya.

224 | Didi Pianda, dkk

PEMANFAATAN SOFTWARE GEOGEBRA

TERHADAP PEMAHAMAN MATEMATIS DAN

MOTIVASI SISWA SMA

YUVERNI SELVY, S.Si., M.Pd
(SMA Negeri 1 Lhokseumawe)

TENTANG PENULIS
Yuverni Selvy, S.Si, M.Pd, lahir di
Lhokseumawe pada 16 September 1984 anak
ketiga dari pasangan H. Yuniasman dan Hj.
Kartini. Beralamat di Jl. Pelangi Lr. Delima
No. 95 Hagu Selatan Kota Lhokseumawe.
Nomor HP +628535810099 dan email
[email protected]. Aktif mengajar di
SMAN 1 Lhokseumawe 2012-sekarang.
Sebagai Instruktur Nasional Guru Pembelajar
di Medan tahun 2016 dan prestasi sebagai

Juara harapan I OSN Guru Matematika SMA Se-Provinsi Aceh (2018

PENDAHULUAN
Latar Belakang

Pembelajaran matematika di sekolah diharapkan mampu
mewujudkan tujuan pembelajaran matematika yaitu (1) melatih cara
berpikir dan bernalar dalam menarik kesimpulan, (2)
mengembangkan aktivitas kreatif yang melibatkan imajinasi, intuisi
dan penemuan dengan mengembangkan pemikiran divergen,
orisinil, rasa ingin tahu, membuat prediksi dan dugaan, serta
mencoba-coba, (3) mengembangkan kemampuan pemecahan
masalah dan (4) mengembangkan kemampuan menyampaikan
informasi dan mengkomunikasikan gagasan. Hal tersebut
disempurnakan pada Kurikulum 2013 (Permendikbud No. 24, 2016)
yang bertujuan agar siswa memiliki kemampuan hidup

BEST PRACTICE: Karya Guru Inovatif yang Inspiratif (Menarik Perhatian Peserta Didik) | 225

sebagai pribadi dan warga negara yang beriman, produktif, kreatif,
inovatif dan afektif serta mampu berkontribusi pada kehidupan
bermasyarakat, berbangsa, bernegara dan peradaban dunia.

Demikian pula tujuan yang diharapkan dalam
pembelajaran matematika oleh National Council of Teachers og
Mathematics (NCTM). NCTM (2000) menetapkan enam standar
kemampuan matematis yang harus dimiliki siswa, yaitu
pemahaman (understanding), kemampuan pemecahan masalah
(problem solving), kemampuan komunikasi (communication),
kemampuan koneksi (connection), kemampuan penalaran
(reasoning) dan kemampuan representasi (representatiton).
Penekanan pembelajaran matematika di sekolah tidak hanya
pada melatih keterampilan dan menghafal rumus tetapi juga
pada pemahaman konsep. Tidak hanya hasil tetapi juga
bagaimana dan mengapa soal tersebut diselesaikan dengan cara
tertentu dengan tetap menyesuaikan kemampuan berpikir siswa.

Kenyataannya dilapangan pembelajaran matematika masih
bersifat drill, guru hanya menjelaskan di depan dan memberikan
soal-soal matematika dan meminta siswa menyelesaikannya apalagi
dibidang geometri khususnya transformasi geometri (refleksi)
dikarenakan siswa terlalu banyak menghafal rumus pada matriks
transformasi (Munandar, 2015). Hal ini membuat siswa kurang
berpartisipasi aktif ke dalam pembelajaran, siswa yang aktif hanya
siswa yang memiliki kemampuan lebih sehingga matematika hanya
diingat sepintas dan tidak bertahan lama di long term memory. Salah
satu solusi agar siswa lebih memahami konsep dasar sebuah materi
matematika yaitu dengan metode discovery learning (penemuan) yang
ditemukan oleh Bruner dan metode tersebut sangat disarankan oleh
Kurikulum 2013 agar siswa dapat langsung terlibat pada konsep
dasar matematika yang dapat dikaitkan dengan konsep
lainnya.Selain itu guru jarang menggunakan media pembelajaran
yang mampu memvisualisasikan konsep-konsep abstrak, media

226 | Didi Pianda, dkk

yang digunakan tidak eksploratif dan jarang melibatkan peran
aktif siswa.

Salah satu media yang dapat mengurangi kesulitan
belajar karena materi yang sangat abstrak adalah dengan
menggunakan media Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK)
yaitu komputer. Hal tersebut juga disarankan oleh Kurikulum
2013 untuk dapat menggunakan komputer sebagai media
pembelajaran karena perkembangan teknologi komputer sangat
berpengaruh dalam dunia pendidikan, termasuk didalamnya
adalah pendidikan matematika. Salah satu program komputer
(software) yang dapat dimanfaatkan sebagai media pembelajaran
matematika, khususnya geometri adalah geogebra. Menurut
Hohenwarter (2007), geogebraadalah program komputer untuk
membelajarkan matematika, khususnya geometri dan
aljabar.Program geogebrajuga dapat diakses untuk umum oleh
masyarakat dengan bebas (free) pada situs www.geogebra.org.
Keunggulan inilah yang dapat membantu siswa dalam
mempelajari objek-objek geometri yang bersifat abstrak tanpa
mengeluarkan biaya dan dapat mengunggahnya secara gratis.

Berdasarkan pemaparan di atas, penulis tertarik untuk
meneliti tentang “Pemanfaatan Software Geogebra Terhadap
Pemahaman Matematis dan Motivasi Siswa SM

Tujuan
Tujuan dalam penulisan ini yaitu untuk mengetahui

motivasi dan kemampuan matematis siswa dalam penemuan
matriks transformasi refleksi berbantuan Geogebra.

Manfaat
Hasil penulisan ini diharapkan dapat memberi manfaat

bagi penulis dan pihak-pihak lain dalam meningkatkan kualitas
pembelajaran matematika diantaranya:

BEST PRACTICE: Karya Guru Inovatif yang Inspiratif (Menarik Perhatian Peserta Didik) | 227

Bagi siswa, memberikan pengalaman baru yang dapat
meningkatkan kemampuanpemahaman matematis siswa
dalam pembelajaran matematika. Meningkatkan rasa ingin
tahu, semangat dan minat dalam pemecahan suatu masalah
matematika, sehingga siswa memiliki motivasi belajar
terhadap mata pelajaran matematika.
Bagi guru, hasil penulisan ini dapat digunakan sebagai bahan

pertimbangan dalam pengembangan pembelajaran
matematika dan sebagai acuan dalam upaya meningkatkan
kemampuan pemahaman matematis siswa dalam
pembelajaran matematika berbantuan software geogebra.

STATE OF ART (SOTA)
Pembelajaran materi refleksi pada topik transformasi

geometri bertujuan untuk menemukan matriks transformasi
beserta sifat-sifat dari refleksi. Sesuai dengan tujuan pembelajaran
maka model yang sangat cocok digunakan adalah model discovery
learning sehingga siswa menemukan sendiri matriks transformasi
refleksi dengan LAS yang ada berbatuan Geogebra. Berikut adalah
komponen model pembelajaran

Sintaks (Fase)
Stimulation (stimulasi/pemberian rangsangan)

Guru menyampaikan tujuan pembelajaran yang akan
dicapai, memperlihatkan tayangan melalui power point
berupa gambar-gambar yang berkaitan dengan refleksi
beserta langkah-langkah menggunakan Geogebra dalam
refleksi
Problem statement (pernyataan/identifikasi masalah)

Siswa diberikan masalah tentang hubungan titik koordinat
pada gambar beserta titik-titik bayangannya. Siswa diminta
menemukan matriks transformasi beserta sifat-sifat refleksi
dari gambar yang ada pada layar Geogebra.

228 | Didi Pianda, dkk

Data Collection (Pengumpulan data)

Siswa mengerjakan LAS sesuai dengan tugas masing-
masing kelompok. Siswa mengumpulkan informasi
sebanyak-banyaknya dari hasil kerjanya pada LAS
dengan bantuan Geogebra.
Data Processing (pengolahan data)

Setelah semua informasi didapat, dengan berdikusi di
dalam kelompoknya siswa berusaha untuk menemukan
bentuk umum bayangan titik oleh refleksi pada korrdinat
kartesius dalam bentuk matriks transformasi. Dalam
kegiatan ini guru memberikan konjektur matematis
dalam bentuk tabel yang berisi beberapa matriks,
kemudian siswa mencari matriks yang sesuai dengan
tugas kelompoknya.
Verification (pembuktian)

Siswa memeriksa kembali matriks yang sudah
ditemukannya dengan cara mensubstitusi titik pada
koordinat ke matriks tersebut dan menghasilkan titik
bayangan yang ada pada layar Geogebra.
Generalization (menarik kesimpulan/ generalisasi).

Siswa mempresentasikan hasil penemuannya di depan
kelas yaitu: Menemukan matriks transformasi refleksi
pada koordinat kartesius terhadap sumbu x, sumbu y,
garis y=x, garis y=-x, garis x = h atau garis y = k.
Sistem Sosial

Dalam kegiatan pembelajaran siswa berdiskusi dalam
kelompok beranggotakan 4 orang yang dipilih secara
acak. Disini siswa diharapkan dapat bekerja sama dan
saling menghargai teman sekelompoknya karena
penilaian yang dilakukan adalah penilaian kelompok.
Prinsip Reaksi

Guru berfungsi sebagai fasilitator untuk membimbing
siswa yang mengalami kesulitan dalam mengoperasikan

BEST PRACTICE: Karya Guru Inovatif yang Inspiratif (Menarik Perhatian Peserta Didik) | 229

Geogebra serta dalam menyelesaikan LAS, sekaligus
sebagai motivaor yang selalu memotivasi siswa untuk
selalu berusaha dan tidak gampang menyerah serta
meyakini siswa untuk selalu percaya diri.
Sistem Pendukung

Penggunaan laptop dan infokus untuk mempermudah
dalam penyampaian materi dan membuat siswa lebih
tertarik. Siswa juga menggunakan laptop yang sudah
terinstal program Geogebra untuk bekerja secara langsung
dengan program tersebut, kemudian hasil diskusi
masing-masing kelompok dituliskan pada kertas plano
dan ditempelkan pada dinding kelas untuk presentasi
kelompok.
Dampak Instruksional dan Dampak Pengiring

Siswa dapat menemukan sendiri matriks transformasi
refleksi dan lebih memahami materi refleksi dalam
kehidupan sehari-hari. Siswa sangat tertarik dan
termotivasi dalam mengikuti proses pembelajaran
dengan menggunakan program Geogebra, ada siswa yang
biasanya tidak memiliki minat belajar menjadi antusias
dalam mengikuti pembelajaran.

PEMBAHASAN BEST PRACTICE
Kegiatan yang dilakukan

Siswa dibagi ke dalam 7 kelompok dengan masing-masing

kelompok terdiri dari 4 orang. Setiap kelompok diharuskan
membawa laptop minimal 2 unit yang sudah terinstal Geogebra.
Kegiatan pembelajaran dilaksanakan sesuai RPP dengan metode
discovery learning, siswa diminta untuk menemukan matriks
transformasi refleksi dengan bantuan Geogebrayang diarahkan
pada LAS.Sebelum penulisan, siswa sudah mengenal
Geogebramelalui materi translasi yang sudah diajarkan pada
pertemuan sebelumnya.

230 | Didi Pianda, dkk

Diawal pembelajaran siswa masih kurang aktif tetapi setelah
diberikan Lembar Aktivitas Siswa (LAS) yang menuntut mereka
bekerja dengan Geogebra, siswa sangat aktif bertanya tentang
penggunaan Geogebra dan juga pengisian LAS sehingga guru sangat
kewalahan menghadapinya. Siswa mulai berpikir tentang sifat-sifat
refleksi yang muncul pada layar Geogebra kemudian siswa mulai
menemukan matrik stransformasi terhadap refleksi, ada siswa yang
menemukan cara cepat mencari bayangan titik koordinat pada
refleksi. Siswa juga sangat bersemangat dalam membuat presentasi
didepan kelas, namun pada saat guru mengalami kesulitan saat
meminta perwakilan siswa dari masing-masing kelompok untuk
maju kedepan mempresentasikan hasil diskusinya, siswa masih
kurang percaya diri tampil di depan umum dan masih sulit dalam
berkomunikasi.

Siswa mendapat manfaat lebih pada pembelajaran
berbantuan Geogebra, dengan beberapa komentar sebagai berikut :

Yah pembelajaran ini sangat menarik, membantu saya
mempelajari penggunaan IT, saya rasa pembelajaran ini
harus ditetapkan untuk setiap sekolah, agar pengetahuan
tentang IT berkembang dan pembelajaran ini menarik minat
para siswa/i untuk belajar matematika karena matematika
itu menyenangkan.

Menurut saya dengan menggunakan software Geogebra dalam
pelajaran cukup menarik, praktis dan mudah. Geogebra juga
memiliki fitur yang baik dalam belajar matematika khususnya
refleksi dan saya dapat memahami perbedaan benda nyata
dengan bayangan setelah direfleksikan.

Dengan pembelajaran menggunakan Geogebra membuat
pembelajaran lebih efisien dan ramah lingkungan, tidak
perlu menggunakan pensil, kertas dan mempercepat waktu
dalam menentukan koordinat.

Sangat mengagumkan, selain membantu kita dalam hal
transformasi refleksi, juga dapat memotivasi siswa lain untuk

BEST PRACTICE: Karya Guru Inovatif yang Inspiratif (Menarik Perhatian Peserta Didik) | 231

belajar dengan cara komputer, supaya jangan rugi ada
komputer dan tidak hanya untuk main game saja, tapi juga
untuk belajar.
Secara umum, software Geogebra membuat siswa lebih tertarik
mendapatkan informasi karena mereka mencari dan mengecek
sekaligus menemukan matriks transformasi.

Ketercapaian Tujuan Pembelajaran
Berdasarkan hasil LAS yang dikerjakan oleh siswa

diperoleh bahwa pemahaman siswa pada hasil kerja kelompok
terhadap materi refleksi berada di kategori sangat baik
(Permendikbud No. 23, 2016) tetapi terdapat temuan pada saat
proses pembelajaran, siswa kesulitan dalam menuliskan
kesimpulan hasil diskusi ke dalam bentuk kalimat. Hal tersebut
terjadi karena kurangnya kemampuan komunikasi matematis.

Siswa dapat menemukan sifat-sifat dan matriks
transformasi dari refleksi serta dapat mengoperasikannya
kedalam soal yang berhubungan dengan masalah sehari-hari.
Siswa juga dapat menggunakan program Geogebra pada materi
refleksi walaupun ada siswa yang masih canggung
menggunakannya karena belum terbiasa. Berikut adalah sampel
yang diambil dari hasil belajar siswa pada LAS.

Gambar 32. Siswa mampu menemukan sifat-sifat refleksi dengan
bantuan Geogebra

232 | Didi Pianda, dkk

Dari gambar diatas Siswa mencoba mengaplikasikan
kegiatan di LAS pada Geogebra dan dari hasil kerja pada layar
Geogebra, mereka menemukan sifat-sifat dari refleksi.

Gambar 33. Siswa mampu menemukan matriks transformasi
refleksi

Dari gambar diatas siswa diberikan bebrapa pilihan
matriks, kemudian dengan operasi perkalian matriks siswa
mencocokan dengan hasil yang didapat dari layar Geogebra.

Siswa diberikan 3 buah soal tes di akhir pembelajaran
untuk melihat pemahaman siswa dengan indicator soal yaitu: (1)
Pemahaman siswa tentang sifat-sifat refleksi, (2) Pemahaman
siswa terhadap matriks transformasi terhadap sumbu y, (3)
Pemahaman siswa terhadap matrikstrans formasi terhadap garis
x= k. Secara menunjukkan bahwa pemahaman siswa secara
individu tentang refleksi dengan bantuan Software Geogebra
adalah sangat baik.

BEST PRACTICE: Karya Guru Inovatif yang Inspiratif (Menarik Perhatian Peserta Didik) | 233

KESIMPULAN
Dari angket yang dibagikan menunjukkan siswa senang

menggunakan Geogebra dalam penemuan matriks
transformasi refleksi.
Siswa masih kesulitan dalam kemampuan komunikasi
matematis.
Pemahaman siswa tentang refleksi berada pada kategori
sangat baik.
Model pembelajaran discovery learning dengan berbantuan
Geogebra dapat diterapkan pada materi lainnya. Akan
tetapi, perlu diperhatikan kesesuaian antara waktu dan
materi agar semua komponen yang ada dalam RPP dapat
tercapai.

234 | Didi Pianda, dkk

UPAYA MENINGKATKAN KESADARAN BERKONSTITUSI

MELALUI PENGAYAAN MATERI PENDIDIKAN AGAMA

ISLAM PADA PELAJARAN PPKn DI SMA

SABARUDIN, S.H, M.H.I
(SMA Negeri 5 Lhokseumawe)

TENTANG PENULIS
Sabarudin Simbolon, lahir di Langkat 10
November 1977. Berdomosili di Lhokseumawe,
bertugas sebagai guru di SMA Negeri 5
Lhokseumawe. Sebelumnya mengajar di Pesantren
Modern Jabal Rahmah Aceh Tengah 1996-1998,
Pesantren Modern Azzahrah Bireuen 1999-2002,
Pesantren Modern Misbahul Ulum Lhokseumawe
2003-2006. Pernah menjadi Dosen Luar Biasa di
STAIN Malikussaleh Lhokseumawe 2007-2011,
Dosen Luar Biasa Unimal 2009 s.d saat ini.

Menyukai dunia tulis-menulis. Sebelum ini telah menulis beberapa
judul buku diantaranya Epistemologi Hukum Islam (Antologi), Belajar
Pidato Bahasa Arab, Metode Kritik Hadis, Berani Hidup Tak Takut M
ati (Antologi), Logika Kemuliaan Hidup (Antologi)

PENDAHULUAN
LATAR BELAKANG

Pendidikan merupakan salah satu bagian yang sangat
penting bagi manusia untuk mengaktualkan potensi yang mereka
miliki dalam rangka menjalankan fungsinya sebagai khalifah di
bumi. Pandangan ini dapat dilihat dari yang diutarakan oleh M.
Arifin “proses budaya untuk meningkatkan harkat dan martabat
manusia, dan berlangsung sepanjang hayat, yang dilaksanakan di

BEST PRACTICE: Karya Guru Inovatif yang Inspiratif (Menarik Perhatian Peserta Didik) | 235

lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat.” Dalam redaksi
lain dikemukakan oleh Suwendi “pendidikan merupakan sesuatu
pola yang menyeluruh dari proses pendidikan yang
memindahkan pengetahuan dan yang mempengaruhi
pertumbuhan sosial, spiritual, dan intelektual.”

Berkenaan dengan pendidikan yang dilakukan di
lingkungan sekolah sangat erat kaitannya dengan belajar.
Adapun belajar itu sendiri memiliki arti tindakan dan perilaku
siswa yang kompleks. Seseorang dikatakan belajar bila dapat
diasumsikan dalam diri orang itu terjadi satu proses kegiatan
yang mengakibatkan suatu perubahan tingkah laku. Kegiatan
dan usaha untuk mencapai perubahan tingkah laku itu sendiri
merupakan hasil belajar. Dengan demikian belajar akan
menyangkut proses belajar dan hasil belajar. Sujana ketika
memperjelas pengertian belajar mencoba menampilkan tiga ciri
pokok yaitu, (1) terjadinya tingkah laku baru berupa kemampuan
aktual dan potensial, (2) kemampuan itu berlaku dalam waktu
yang relatif lama, dan (3) kemampuan baru yang diperoleh
melalui usaha.”

Dalam hal ini kita mengenal beberapa jenis pendidikan
yaitu pendidikan formal, informal, dan nonoformal. Sebagai
pendidikan formal yang memiliki banyak kelebihan dibanding
dengan dengan jenis pendidikan lainnya maka seharusnya siswa
yang terdidik pada lembaga pendidikan formal harus memiliki
nilai tambah dibanding siswa pada pendidikan lainnya.

Adapun yang dimaksud dengan pendidikan formal disini
adalah sebagaiamana yang diatur di dalam Undang-undang
Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem
Pendidikan Nasional pasal 1 ayat (11) “Pendidikan formal adalah
jalur pendidikan yang terstruktur dan berjenjang yang terdiri atas
pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi.
Dari bunyi pasal ini dapat dengan jelas bahwa pendidikan formal
harus terstruktur dan berjenjang. Maka konsekuensi logis yang

236 | Didi Pianda, dkk

ditanggung adalah siswa yang terdidik di dalam sebuah lembaga
pendidikan formal harus memiliki nilai tambah dibanding siswa
yang terdidik di lembaga pendidikan lainnya.

Untuk menjamin keberhasilan pendidikan pada lembaga
pendidikan formal ini maka pemerintah dalam hal ini telah
menyediakan perangkat pendidikan yang dibutuhkan. Baik itu
perangkat kasar seperti bangunan sekolah, komite sekolah, guru,
kepala sekolah dan lain-lain. Selain perangkat kasar yang
dimaksud, pemerintah juga tidak pernah lupa membenahi
perangkat lunaknya, seperti regulasi di bidang pendidikan,
kurikulum, silabus dan lain sebagainya.

Sampai sejauh ini penulis melihat pemerintah, dalam hal ini
kementerian pendidikan telah melakukan apa yang menjadi
kewajibannya yang pada gilirannya akan sangat memudahkan guru.
Dimana, setidaknya pada kurikulum 2013, guru tidak lagi
disibukkan untuk merumuskan silabus yang memuat Kompetensi
Inti dan Kompetensi Dasar. Guru hanya menyesuaikan Kompetensi
Dasar pada setiap materi yang diajarkan.

Selanjutnya setelah menelaah silabus yang dianut oleh
Kurikulm 2013 penulis mendapatkan kenyataan bahwa muatan
Pendidikan Agama yang terdapat pada silabus khususnya
Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan sebagai objek telaah
pada makalah ini, sangat minim -untuk mengatakan tidak ada-
hal ini diperkuat pula dengan telaah atas Buku Siswa Pendidikan
Pancasila dan Kewarganegaraan, kelas X, Kurikulum 2013, Edisi
Revisi, Tahun 2017, Hak Cipta Kementerian Pendidikan dan
Kebudayaan, ditulis oleh Nuryadi dan Tolib. Demikian juga hasil
telaah atas Buku Guru.

Kekurangan materi yang bermuatan Pendidikan Agama
tersebut menurut penulis sangat memengaruhi sikap siswa terhadap
konstitusi negara. Dimana akan terjadi perasaan kontradiktif di
dalama diri siswa antara doktrin Negara yang tertuang di dalam
UUD 1945 dan peraturan perundang-undangan

BEST PRACTICE: Karya Guru Inovatif yang Inspiratif (Menarik Perhatian Peserta Didik) | 237

lain dan dengan apa yang didapatkan dari sumber ajaran
agamanya masing-masing.

Hal ini menurut penulis memang sudah pada tempatnya
secara profesional dan proporsional dikarenakan baik silabus
maupun buku ajar yang dikeluarkan oleh pemerintah berlaku
untuk semua provinsi dan kabupaten/kota seluruh Nusantara.
Dimana diketahui bahwa Indonesia terdiri dari 6 (enam) agama
resmi dan beberapa aliran kepercayaan. Maka seandainya
penyusun silabus dan buku ajar/buku guru ingin memasukkan
muatan Pendidikan Agama maka Pendidikan Agama apa yang
harus dimasukkan?. Terlebih lagi penyusun silabus dan buku
ajar/buku guru tentunya tetap memedomani Peraturan
Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 Tentang Standar Nasional
Pendidikan, dimana pada pasal 9 ayat (1) mengatakan: Silabus
Kurikulum 2013 Sekolah Menengah Aliyah/Madrasah Aliyah
dikelompokkan atas:

Silabus mata pelajaran umum Kelompok A;
Silabus mata pelajaran umum Kelompok B; dan
Silabus mata pelajaran peminatan Kelompok C.

Selanjutnya untuk melihat wewenang siapakah
pengembangan silabus mata peljaran kelompok A dapat dilihat
pada ayat (2) di dalam pasal yang sama yang berbunyi: “Silabus
mata pelajaran umum Kelompok A sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) huruf a dikembangkan oleh Pemerintah.” Dari sini jelas
bahwa pihak yang berwenang untuk mengembangkan silabus
untuk mata pelajaran kelompok A adalah pemerintah. Dan
Peraturan Pemerintah ini belum memberi wewenang kepada

Pemerintah Daerah untuk berpartisipasi dalam
pengembangannya.

Sampai sejauh ini penulis masih setuju terhadap
kenyataan bahwa silabus dan buku ajar siswa/buku guru yang
minim muatan Pendidikan Agama memang sudah pada
tempatnya demi menjaga integritas Bangsa. Namun di sisi lain

238 | Didi Pianda, dkk

kebutuhan akan penambahan materi yang bermuatan Pendidikan
Agama penulis pandang sesuatu yang urgen untuk dilakukan.
Dimana penulis memandang akan sulit membentuk jiwa dan
kesadaran siswa untuk lebih mencintai negaranya dalam kondisi
minimnya materi yang bermuatan Pendidikan Agama. Maka
sudah sepantasnya mengintegrasikan mata pelajaran PPKn
dengan materi yang bermuatan Pendidikan Agama sesuai
dengan agama yang dianut oleh siswa masing-masing.

Aceh sebagai salah satu provinsi di Indonesia yang memiliki
otonomi yang luas termasuk di bidang pendidikan haruslah
mengambil inisiatif pengintegrasian ini. Dimana diketahui bahwa
mayoritas siswa di Aceh beragama Islam. Maka hendaknya
Pemerintah Daerah diberi wewenang juga dalam mengembangkan
silabus mata pelajaran kelompok A. Maka selanjutnya silabus mata
pelajaran PPKn ke depan akan diperkaya dengan materi yang
bermuatan Pendidikan Agama Islam.

Perihal kemungkinan pemberian wewenang oleh
Pemerintah Pusat, sebenarnya ada regulasi yang telah
menjaminnya, namun mungkin luput dari perhatian Pemerintah
Provinsi Aceh. Regulasi tersebut adalah aturan yang sama yaitu
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2005,
dimana pada pasal 14 menyatakan:

Ayat (1)

Kurikulum untuk SMP/MTs/SMPLB atau bentuk lain yang
sederajat dan kurikulum untuk SMA/MA/SMALB atau bentuk
lain yang sederajat dapat memasukkan pendidikan berbasis
keunggulan lokal.

Ayat (2)

Pendidikan berbasis keunggulan lokal sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) dapat merupakan bagian dari pendidikan kelompok
mata pelajaran agama dan akhlak mulia, pendidikan kelompok
mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian,

BEST PRACTICE: Karya Guru Inovatif yang Inspiratif (Menarik Perhatian Peserta Didik) | 239

pendidikan kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan
teknologi, pendidikan kelompok mata pelajaran estetika, atau
kelompok mata pelajaran pendidikan jasmani, olah raga, dan
kesehatan.

Aturan hukum yang terdapat pada pasal ini
menyebabkan kebingungan kepada konsumen yaitu duni
pendidikan, dimana pada pasal 9 dikatakan bahwa Silabus mata
pelajaran umum Kelompok A sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) huruf a dikembangkan oleh Pemerintah, sementara pada pasal
14 mengisyaratkan bolehnya mengembangkan Kurikulum
dengan memasukkan pendidikan berbasis keunggulan lokal.

Untuk menkombinasikan kedua pasal yang tampak
kontropersi ini maka penulis mencoba melakukan penafsiran atas
kedua pasal ini. Sebagaimana dikatahui bahwa silabus adalah:
rencana pembelajaran pada suatu mata pelajaran yang mencakup
Kompetensi Inti, Kompetensi Dasar, materi pembelajaran,
kegiatan pembelajaran, penilaian, alokasi waktu, dan sumber
belajar. Sementara itu kurikulum adalah seperangkat rencana dan
pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara
yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan
pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.

Malaui definisi di atas maka tampaklah bahwa cakupan
kurikulum lebih luas dari pada cakupan silabus. Dengan demikian
maka haruslah diambil sebuah pemahaman bahwa sesuatu yang
cakupannya lebih besar (kurikulum) boleh dikembangkan oleh
Pemerintah Daerah, maka seharusnya yang cakupannya yang lebih
kecil (silabus) juga harus boleh dikembangkan. Melalui penafsiran
terhadap Peraturan Pemerintah ini dan kondisi siswa yang memang
sangat membutuhkan materi yang bermuatan Pendidikan Agama
Islam yang terintegrasikan pada mata pelajaran PPKn untuk SMA
maka penulis akan menulis karya tulis yang berjudul Upaya
Meningkatkan Kesadaran Berkonstitusi

240 | Didi Pianda, dkk

melalui Pengayaan Materi Pendidikan Agama Islam pada
Pelajaran PPKn di SMA.

Rumusan Maslah
Berdasarkan permasalahan di atas maka yang menjadi

rumusan masalah pada karya ini adalah:
Benarkah silabus mata pelajaran PPKn SMA minim materi
yang bermuatan Pendidikan Agama?
Benarkah siswa SMA membutuhkan materi Pendidikan
Agama yang diintegrasikan pada mata pelajaran PPKn?
Mungkinkah meningkatkan kesadaran berkonstitusi
melalui pengayaan materi Pendidikan Agama Islam di
SMA?

Strategi Pemecahan Masalah
Diskripsi Strategi Pemecahan Masalah

Adapun strategi pemecahan masalah yang penulis
tawarkan adalah dengan membedah silabus SMA mata
pelajaran PPKn, dalam hal ini yang dijadikan objek
bedahan adalah kelas X.

Tahapan Operasional Pelaksanaan
Adapun tahapan operasional pelaksanaan yang penulis

tawarkan dalam hal ini adalah:
Meneliti sisi posistif isi silabus lalu menjadikannya
sebagai nilai positif;
Meneliti sisi negatif (bila ada) lalu menjadikannya
sebagai catatan untuk perbaikan;
Menelaah seluruh materi silabus dan
menyesuaikannya dengan ajaran Agama Islam yang
diambil dari sumber utama ajaran Islam yaitu Alquran
dan hadis Nabi Muhammad Saw.;

BEST PRACTICE: Karya Guru Inovatif yang Inspiratif (Menarik Perhatian Peserta Didik) | 241

Bila ternyata di dalam silabus ditemukan materi yang
sesuai dengan ajaran Islam maka akan diberi catatan
khusus guna pada tahap selanjutnya akan
ditambahkan dengan dalil-dalil Alquran atau hadis;

Bila langkah “a” sampai dengan “d” sudah dilakukan
maka tahap selanjutnya adalah melakukan revisi buku
pegangan siswa dan guru agar sesuai dengan silabus
yang telah dikembangkan.

PEMBAHASAN
Alasan Pemilihan Strategi Pemecahan Masalah

Sebagaimana telah penulis kemukakan pada bagian
pendahuluan bahwa menurut penulis, siswa di SMA kurang
menyadari pentingnya kehidupan berkonstitusi, maka startegi
yang penulis tawarkan adalah dengan memperkaya materi yang
bermuatan Pendidikan Agama Islam pada mata pelajaran PPKn.
Startegi yang penulis tawarkan ini bukanlah tanpa alasan,
dimana diketahui bahwa siswa SMA di Aceh mayoritas adalah
penduduk asli Aceh. Dan sebagaimana dimaklumi bahwa
mayoritas penduduk Aceh beragama Islam. Maka dalam hal ini
melalui pengayaan materi Pendidikan Agama Islam kita ingin
menyentuh mental transendental para siswa melalui materi-
materi yang bersumber dari ajaran agamanya yaitu Islam.

Untuk disadari bahwa antara agama dan negara dalam
konteks negara modern saat ini tidak mungkin dipisahkan satu
sama lainnya. Agama tanpa negara akan kocar-kacir, dan negara
tanpa agama akan sangat sekuler. Disinilah letak pentingnya
integrasi antara agama dengan negara. Dalam hal ini Abdul
Hamid dan Yahya di dalam buku Pemikiran Modern dalam Islam
mengatakan:

“Berdirinya negara Indonesia yang dilandasi Pancasila,
sebagaimana dimaksudkan oleh Founding Father,
memfungsikan agama-agama aktif memperjuangkan dan

242 | Didi Pianda, dkk

menegakkan nilai-nilai kemerdekaan, kerakyatan, keadilan,
dan kesatuan. Identitas masing-masing agama tidak
dilenyapkan, tetapi agama-agama itu diletakkan dalam
kerangka yang lebih luas, yaitu hal ini mengandung arti
bahwa agama-agama perlu mengadakan kontekstualisasi
ajaran-ajarannya di Indonesia.

Negara indonesia, sebagaimana halnya negara-negara
lain di dunia tentunya memiliki konstitusi masing-masing yang
dijadikan sebagai hukum dasar negara tersebut. Demikianlah
Indonesia yang dengan kespakatan pendiri bangsa ini menyetujui
Undang-undang Dasar 1945 sebagai konstitusi tertulis negara.

Siswa SMA sebagai penerus dan cita-cita harapan bangsa
ini wajib mengenal dan mencintai konstitusinya dan wajib
berperilaku sesuai dengan yang telah digariskan oleh konstitusi
itu. Doktrin ini tidak dengan sendirinya menafikan bahwa siswa
harus hidup sesuai dengan ajaran agamanya. Tetapi disini harus
terjadi sinergisitas antara keduanya. Melalui konstitusi pula kita
memahami bahwa negara Indonesia menjamin setiap penduduk
untuk memilih, memeluk, dan beribadat sesuai dengan
kepercayaan dan keyakinannya.

Melalui pengayaan materi yang bermuatan Pendidikan
Agama Islam pada mata pelajaran PPKn diharapkan siswa SMA
di Aceh semakin mencintai negaranya tanpa harus kehilangan jati
dirinya sebagai muslim yang taat kepada agamanya. Hal ini
penting karena jangan sampai ada siswa yang beranggapan
bahwa untuk dapat menjalankan agamanya maka Indonesia
harus menjadi negara Islam. Perihal tidak perlunya merubah
Indonesia menjadi negara Islam telah dikemukakan dengan
sangat luas oleh Munawir Sadzali sebagai berikut:

Negara Indonesia tidak hanya menjamin umat Islam untuk
menjalankan ajaran Islam, tetapi negara juga memberi
fasilitas;

BEST PRACTICE: Karya Guru Inovatif yang Inspiratif (Menarik Perhatian Peserta Didik) | 243

Mayoritas penduduk Nusantara adalah Muslim;
Konstitusi negara tidak bertentangan dengan-bahkan, hingga

pada taraf-taraf tertentu, merefleksikan prinsip-prinsip
Islam.

Selanjutnya Munawir berkeyakinan bahwa di Indonesia
Islam diharapkan memberikan dasar-dasar spiritual, etis, moral
bagi pembangunan nasional karena Islam dimengerti sebagai
yang tidak bertentangan dengan Pancasila dan UUD 1945,
bahkan mencerminkan nilai-nilai Islam, seperti monoteisme,
keadilan sosial, kerakyatan, dan permusyawaratan. Hal inilah
yang kiranya perlu difahamkan kepada siswa SMA di Aceh
melalui strategi yang penulis tawarkan.

Hasil yang Dicapai

Adapun hasil yang akan dicapai melalui strategi ini
adalah, Aceh akan memiliki silabus mata pelajaran PPKn yang
telah diperkaya dengan materi Pendidikan Agama Islam. Silabus
ini nantinya akan menjadi kebanggaan siswa SMA di Aceh
karena diperkaya dengan kekayaan budaya lokal Aceh yang
terkenal dengan daerah Otonomi luas termasuk Otonomi bidang
keagamaan dan pendidikan.

Kendala-kendala yang Dihadapi

Sesuai dengan pengalaman penulis yang selama ini telah
mengajar selama 10 tahun di Aceh tentu startegi ini akan
mengalami kendala-kendala dalam pelaksanaannya diantaranya
dapat penulis akan klasifikasikan ke dalam beberapa item:

Keterbukaan para pihak terkait, dalam hal ini Gubernur
Aceh, DPR Aceh, Dinas Pendidikan Aceh, Kanwil
Kementerian Agama Provinsi Aceh, Komite Sekolah,
yayasan, para guru, tokoh pendidikan, tokoh agama, dan
tokoh adat. Dimana satu sama lainnya belum tentu satu
pandangan dalam menerima strategi ini.

244 | Didi Pianda, dkk

Ketersediaan dana, dimana diketahui bahwa strategi ini
akan melibatkan panitia yang besar dan akan bekerja
dalam waktu yang panjang yang tentunya akan
membutuhkan biaya yang besar.

Ketersediaan waktu panitia atau tim yang dibentuk untuk
menyelesaikan strategi ini. Karena panitia yang akan
dibentuk tentunya orang-orang yang dianggap kompeten
di bidang ini. Selama melaksanakan strategi ini tentu
mereka akan meninggalkan tugasnya di tempat kerjanya
masing-masing, atau setidaknya akan terganggu.

Faktor-faktor Pendukung
Di dalam menjalankan strategi ini Provinsi Aceh memiliki

sumber daya manusia yang melimpah baik yang berupa individu
maupun berupa lembaga-lembaga pemerintah dan swasta,
diantaranya:

Dinas Pendidikan Provinsi Aceh
Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Aceh
Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan (LPMP) Provinsi Aceh
Universitas Syiah Kuala
Universitas Islam Ar-Raniry
Majelis Pendidikan Daerah Provinsi Aceh
Himpunan Ulama Dayah
Majelis Permusyawaratan Ulama

Dan masih banyak lagi lembaga terkait yang dapat diminta
bantuan untuk menjalankan strategi yang penulis yawarkan
seperti Dayah-dayah yang tersebar secara merata di penjuru
provinsi Aceh baik Dayah Modern maupun Dayah Tradisional.

Alternatif Pengembangan
Menurut penulis strategi ini akan sangat mendapat

dukungan dari semua pihak yang memiliki hubungan kerja

BEST PRACTICE: Karya Guru Inovatif yang Inspiratif (Menarik Perhatian Peserta Didik) | 245


Click to View FlipBook Version