Tujuan
Adapun tujuan dari snap game ini adalah supaya siswa
terangsang untuk mengetahui vocabulary selanjutnya yang di
stimulasi oleh temannya.
Manfaat
Adapun manfaat dari snap game ini diharapkan dapat
merangkum seluruh stakeholder pendidikan, seperti:
Bagi Guru: untuk memperkaya metode pengajaran dalam
mengajar dan mencapai target pengajarannya
Bagi Siswa: merangsang siswa supaya mengetahui vocab
sebanyak-banyaknya
Bagi Sekolah: membantu terlaksana salah satu progam
ekstrakurikuler sekolah yaitu daily vocabulary atau
hafalan vocab setiap pagi hari
Masyarakat: menumbuhkan rasa peduli dan positif
terhadap anak yang menyebutkan sepatah dua patah
vocab dalam masyarakat serta membantu terwujudnya
daily vocabulary di sekolah siswa
STATE OF ART (SOTA)
Permainan snap game ini adalah plagiasi dari permainan
kartu yang sering dimainkan anak-anak pada umumnya. Hanya
saja dalam permainan ini siswa akan meneriakkan “snap” saat
menjatuhkan kartu yang berisi jawaban dari lawan mainnya.
Peneriakan “snap” ini untuk memberitahukan anggota lain
bahwa siswa tersebut telah menemukan jawaban dari kartu yang
telah dimunculkan di meja oleh lawannya.
BEST PRACTICE: Karya Guru Inovatif yang Inspiratif (Menarik Perhatian Peserta Didik) | 149
PELAKSANAAN BEST PRACTICE
Deskripsi dan Ruang Lingkup Best Practice
Bahan dan alat yang diperlukan dalam Best Practice
Adapun Bahan dan alat yang diperlukan dalam
pelaksanaan Best Practice antara lain
Kartu bergambar sesuai tema yang diajarkan.
(missal: gambar pakaian)
Kartu berisi tulisan yang menjelaskan tentang
kartu isi gambar
Batasan-Batasan
Agar tidak meluas dalam best practice penulis memberikan
batasan-batasan antara lain:
Media pembelajaran dengan Permainan Snap Game
Materi menghafal vocabulary dalam Bahasa Inggris
Pada sekolah SD Swasta Ulumuddin kelas III
Langkah-Langkah Penggunaan SNAP GAME
Adapun Langkah-Langkah Penggunaan SNAP GAME
dalam best practice adalah sebagai berikut:
Siswa dikondisikan ke dalam kelompok yang terdiri dari 4
orang
Guru memberikan 12 buah kartu yang berisi gambar jenis
pakaian dan 12 buah kartu yang berisi tulisan nama
pakaian.
Guru membagikan 6 kartu bergambar kepada 2 siswa dan 6
kartu bertuliskan kosakata terjemahan gambar kepada
dua siswa. Masing-masing siswa 4 orang tersebut
mendapatkan 3 kartu.
Siswa dalam kelompok secara bergantian mendapatkan
giliran bermain
150 | Didi Pianda, dkk
Siswa yang pertama mendapatkan giliran bermain
meletakkan 1 kartu bergambar diatas meja (misal: shirt;
kemeja)
Siswa yang mempunyai kosakata terjemahan gambar yang
terpampang diatas meja langsung melempar kartu nya di
atas gambar sambil meneriakkan “snap”
Hasil yang di Capai
Dengan penggunaan metode ini siswa sudah mampu
memperkaya vocabulary nya karena mereka menyimak dengan
penuh keseriusan saat lawan mainnya melemparkan kartu diatas
meja. Dalam melakukan permainan init ampak kecerian wajah di
siswa. Mereka menyimak dengan seksama kartu apa selanjutnya
yang akan dilemparkan siswa. Mereka sangat menikmati permainan
ini. Dan siswa yang mulanya kurang dalam memahami vocab secara
keseluruhan menjadi mampu untuk memahaminya.
Nilai penting dan kebaruan best practice yang telah
dilaksanakan
Dalam hal penggunaan strategi ini penulis dapat melihat
langsung perubahan nilai yang terjadi pada siswa, yakni dapat
menumbuhkan nilai kerjasama, meghormati pendapat dan
melatih kesabaran dalam kerjasama antar kelompok. Strategi ini
tergolong baru di praktikkan disekolah ini dan strategi perdana
yang dilaksanakan ini diterima dengan sangat antusias oleh
pihak sekolah.
Factor Pendukung dan Penghambat
Keberhasilan penerapan strategi yang dipilih dalam
mengatasi masalah yang muncul, khususnya dalam
meningkatkan kemampuan menghafal vocab siswa tentunya
tidak terlepas dari adanya Factor pendukung dan juga factor
penghambat yang juga menjadi kendala.
BEST PRACTICE: Karya Guru Inovatif yang Inspiratif (Menarik Perhatian Peserta Didik) | 151
Faktor Pendukung
Tersedianya kartu yang dibutuhkan dalam jumlah
maksimal
Kecakapan dan kecepatan siswa dalam menjawab
soal dengan tepat
Guru yang kreatif
Siswa yang siap dan antusias
Antusiasme siswa yang besar karena mereka
belajar sambil bermain
Siswa merasa enjoy dalam ruang kelas
Kerjasama dan respond yang baik dari pihak
sekolah
Faktor Penghambat
Tidak tersedianya kartu yang cukup
Kurangnya penguasaan vocab siswa sehingga
menghabiskan waktu yang lama
Guru yang kurang berpengalaman
Suasana kelas yang gaduh
Banyak menghabiskan waktu karena melalui
permainan dari pembelajaran yang dilakukan
Tindak lanjut
Dengan snap game ini dapat merangsang siswa untuk
terus mencari tau segala vocab yang ada disekitarnya. Tugas guru
adalah dapat memodifikasi permainan supaya tidak monoton,juga
dapat digunakan dalam pembelajaran yang lain. mulai
menambahkan vocab tentang benda-benda disekitar lingkungan
siswa supaya letertariakn siswa untuk belajar bahasa inggris terus
terdorong dan mereka memahami bahwa belajar bahasa inggris
itu sangat mudah.
152 | Didi Pianda, dkk
PEMBAHASAN BEST PRACTICE
Pengalaman pengajaran ini memberikan efek yang sangat
positif bagi seluruh pelaku kegiatan ini. Bagi siswa sendiri, mereka
terangsang untuk terus mencari tau vocab benda-benda
disekelilingnya bahkan sambil mereka bermain bias mempraktikkan
kegiatan ini. Dan juga siswa yang tadinya tidak berani menjadi
tampil percaya diri secara spontanitas dengan melemparkan kartu
layaknya teman yang lain dan ini adalah perubahan yang baik yang
sudahterjadi pada diri siswa Dalam pembelajaran di dekolah dasar
yang dihadapi guru adalah siswa dengan berbagai karakter dan
keinginan yang selalu bermain. Minat anak terhadap segala bentuk
permainan sangat tinggi. Penerapan berbagai strategi permainan
dalam pembelajaran juga sesuai dengan tahapan perkembangan
anak usia sekolah dasar yang erat dengan benda-benda konkrit.
Seperti yang diungkapkan oleh Piaget nahwasanya anak usia sekolah
dasar berada pada tahap operasional konkrit, yang mana pada tahap
ini mereka akan lebih mudah memahami suatu konsep melalui
penggunaan benda-benda konkrit yang daekat dengan kehidupan
sehari-hari mereka. maka dari itu sepatutnya guru harus mampu
mengembangkan skill yang dimilikinya guna menemukan strategi
yang ampuh demi meningkatkan minat belajar siswa
PENUTUP
Melalui penerapan strategi snap game ini, motivasi siswa
yang tidak senang menghafal vocab menjadi meningkat,
permainan dapat membuat suasana lingkungan menjadi lebih
menyenagkan, keadaan emosional siswa yang lambat dalam
menghafal menjadi lebih baik, mereka menjadi lebih sabar dan
terkendali. baik dalam hal bekerjasama dengan dibentuknya
siswa dalam beberapa kelompok, semua siswa berbaur bekerja
sama dan berkomunikasi dengan baik
BEST PRACTICE: Karya Guru Inovatif yang Inspiratif (Menarik Perhatian Peserta Didik) | 153
PEMBELAJARAN MATEMATIKA DENGAN
PENDEKATAN KONTEKSTUAL
SALMA, S.Si
(SMK NEGERI 6 Lhokseumawe)
TENTANG PENULIS
Salma, lahir di Lhokseumawe pada tanggal
Desember 1973 anak ke-sembilan dari
sebelas bersaudara, lahir dan besar di
Lhokseumawe. Alamat sekarang di
Kruengeukueh Aceh Utara. Nomor HP.
081360045840danemail:
[email protected]
Pendidikan Sarjana pada Fakultas
Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
(MIPA) Jurusan Matematika Universitas
Syiah Kuala (1998). Sekarang bertugas di
SMK Negeri 6 Lhokseumawe.
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Berdasarkan informasi yang diperoleh dari pertemuan
dengan guru-guru matematika SMK, baik negeri maupun swasta
yang ada di Kota Lhokseumawe, pada umumnya mengeluhkan
kemampuan peserta didik dalam menyerap ilmu yang diberikan
oleh pendidik berada jauh pada kenyataan yang diharapkan.
Pada umumnya mereka menyatakan bahwa minat/semangat
belajar peserta didik dalam belajar, daya tangkap peserta didik
dalam menangkap pelajaran, kemampuan peserta didik dalam
154 | Didi Pianda, dkk
mengerjakan tugas mandiri, kemampuan peserta didik dalam
menyajikan temuan, ketrampilan peserta didik dalam
mempresentasikan hasil karyanya, masih dirasa rendah belum
sesuai dengan kompetensi yang diharapkan dan belum sesuai
dengan apa yang diharapkan oleh matematika itu sendiri yaitu
peserta didik mampu belajar mandiri, mengembangkan sense of
mathematics, dan memiliki kemampuan berfikir tingkat tinggi
(higher level thinking).
Seorang guru harus dapat menentukan strategi pengajaran
yang sesuai dengan kemampuan peserta didiknya sehingga mudah
dipahami. Secara khusus ada sebagian masyarakat sekolah yang
memprihatinkan pengajaran matematika tidak hanya diperlukan
oleh orang yang terjun dalam dunia pendidikan, tetapi juga
diperlukan oleh orang yang terjun di bidang lain, menurut Mardiati
Busono (1988:5). Melalui proses belajar matematika, mempelajari dan
menerapkan ke dalam situasi baru, misalnya dengan menyelesaikan
masalah baik dalam matematika sendiri, dalam ilmu lain maupun
dalam kehidupan sehari-hari.
Mengajarkan matematika merupakan suatu kegiatan
pengajaran sedemikian sehingga peserta didik belajar untuk
mendapatkan kemampuan dan ketrampilan tentang matematika.
Kemampuan dan ketrampilan tersebut ditandai dengan adanya
interaksi yang positif antara guru dengan peserta didik, peserta
didik dengan peserta didik, yang sesuai dengan tujuan
pengajaran yang telah ditetapkan (Hudya, 1988:122). Namun
dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran khususnya yang
berhubungan dengan matematika, ternyata masih banyak
mengalami hambatan-hambatan baik yang dialami peserta didik
maupun guru. Salah satu hambatan yang terjadi adalah kesulitan
dalam memahami konsep-konsep matematika. Peserta didik
kurang dapat memahami konsep-konsep matematika, karena
mereka tidak mengetahui sejauh mana kegunaan matematika itu
sendiri dalam kehidupan sehari-hari.
BEST PRACTICE: Karya Guru Inovatif yang Inspiratif (Menarik Perhatian Peserta Didik) | 155
Penulis berharap dengan adanya perubahan strategi
mengajar yang mengaitkan materi pembelajaran dengan
permasalahan kehidupan nyata dapat meningkatkan hasil belajar
peserta didik. Oleh karena itu penulis ingin memperbaiki
pembelajaran dengan best practice yang berjudul “ Meningkatkan
hasil belajar matematika peserta didik dengan pendekatan
kontekstual”.
Tujuan
Adapun tujuan dari Best Practice ini adalah sebagai berikut:
Menemukan format skenario pembelajaran matematika
dengan pendekatan kontektual.
Meningkatkan hasil belajar peserta didik dengan
penerapan pendekatan kontekstual.
Manfaat
Adapun manfaat dari Best Practice ini diharapkan dapat
digunakan antara lain:
Bagi Guru, diperolehnya suatu kreatifitas variasi
pembelajaran yang memberi banyak keaktifan kepada
peserta didik untuk terlibat dalam proses pembelajaran
demi tercapainya kompetensi dasar dalam pembelajaran
matematika dan bahan pertimbangan untuk memilih
metode pengajaran yang sesuai dalam menyelesaikan
soal matematika.
Bagi Peserta Didik, memberikan nuansa baru suatu
pendekatan pembelajaran yang dapat meningkatkan
pemahaman konsep matematika, keaktifan dan hasil
belajar peserta didik.
Bagi Sekolah, diperolehnya ketepatan implementasi
kurikulum pembelajaran sesuai dengan kurikulum.
Bagi Masyarakat, memberikan pemahaman kepada
masyarakat bahwa banyak kegunaan dari penerapan
matematika dalam kehidupan sehari-hari.
156 | Didi Pianda, dkk
STATE OF ART (SOTA)
Meningkatkan Hasil Belajar Peserta Didik
Hasil Belajar adalah suatu kemampuan yang dimiliki
oleh peserta didik setelah belajar, yang wujudnya berupa
kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotor. Derajat
kemampuan yang diperoleh peserta didik diwujudkan dalam
bentuk nilai hasil belajar. Dimana guru sebagai fasilitator dalam
proses belajar di mana peserta didik sebagai pelaku yang aktif.
Dalam hal ini hasil belajar peserta didik ditentukan setelah
menyelesaikan tes yang diberikan, tuntas atau tidak tuntas.
Dalam pendekatan penilaian sistem belajar tuntas, nilai
seorang peserta didik bukanlah berdasarkan perbandingan
dengan nilai yang dicapai temannya, akan tetapi ditentukan oleh
penguasaannya terhadap materi pelajaran hingga batas yang
sesuai dengan tujuan instruksional. Untuk menganalisa tingkat
ketuntasan peserta didik dapat digunakan penafsiran skor acuan
kriteria (Criterion Referensi Test).
Penafsiran skor acuan kriteria adalah pemberian skor
berdasarkan kemampuan siswa menyelesaikan evaluasi atau
ulangan harian. Jawaban yang benar dari siswa yang bersangkutan
dapat dinyatakan dalam bentuk prosentase sebagai berikut:
=
Dimana:
B = skor jawaban yang benar dari siswa yang
bersangkutan N = skor maksimal dari perangkat soal tes
Dari skor bisa ditafsirkan tentang ketuntasan belajar
siswa sesuai dengan Standar Kompetensi Kurikulum (SKK)
sebagai berikut:
Ketuntasan Perorangan
Seorang siswa dikatakan berhasil (mencapai ketuntasan),
jika telah mencapai taraf penguasaan minimal 75%. Siswa
yang taraf penguasaannya kurang dari 75% diberikan remidi
materi yang belum dikuasai, sedang siswa yang telah
BEST PRACTICE: Karya Guru Inovatif yang Inspiratif (Menarik Perhatian Peserta Didik) | 157
mencapai penguasaan 75% atau lebih dapat melanjutkan ke
materi berikutnya.
Ketuntasan Klasikal
Klasikal atau suatu kelas dikatakan telah berhasil (mencapai
ketuntasan belajar), jika paling sedikit 85% dari jumlah dalam
kelompok atau kelas tersebut telah mencapai ketuntsan
perorangan. Apabila sudah terdapat 85% dari banyaknya siswa
yang mencapai tingkat ketuntasan belajar maka kelas yang
bersangkutan dapat melanjutkan pada satuan
pembelajaran berikutnya.
Apabila banyaknya siswa dalam kelas yang mencapai
tingkat ketuntasan belajar kurang dari 85% maka:
Siswa yang taraf penguasaannya kurang dari 65% harus
diberikan program perbaikan mengenai bagian-bagian
bahan pelajaran yang belum dikuasai.
Siswa yang telah mencapai taraf penguasaan 65% atau
lebih dapat diberikan program pengayaan.
Apabila ketuntasan siswa lebih dari 85% maka pembelajaran
yang dilaksanakan dapat dikatakan berhasil. Tetapi bila
ketuntasan belajar siswa kurang dari 85% maka pengajaran yang
dilaksanakan belum berhasil.
Pendekatan Kontekstual (Contextual Teaching and
Learning / CTL)
Kontekstual berasal dari kata dasar konteks yang berarti
berbagai bidang kehidupan atau hal-hal yang diperlukan agar
orang dapat melaksanakan sesuatu. Definisi pendekatan
kontekstual (Contextual Teaching and Learning/ CTL) adalah
konsep belajar yang membantu guru mengkaitkan antara materi
yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong
siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimiliki
dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota
keluarga dan masyarakat.
158 | Didi Pianda, dkk
Dengan konsep ini, hasil materi yang diajarkan dengan
situasi dunia nyata dan mendorong siswa membuat hubungan
antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya
dalam kehidupan mereka sehari-hari, dengan melibatkan tujuh
komponen utama pembelajaran efektif, yakni: kontruktivisme
(Constructivisme), bertanya (Questioning), menemukan (Inquiry),
masyarakat belajar (Learning Community), pemodelan (Modeling),
dan penilaian sebenarnya (Authentic Assesment). Pendekatan
kontekstual (Contextual Teaching and Learning / CTL) adalah
konsep belajar yang membantu guru mengkaitkan pembelajaran
diharapkan lebih bermakna bagi siswa. Proses pembelajaran
berlangsung alamiah, bukan tranfer pengetahuan dari guru ke
siswa. Strategi pembelajaran lebih dipentingkan daripada hasil.
Dalam konteks itu, siswa perlu mengerti apa makna
belajar, apa manfaatnya, dalam status apa mereka, dan
bagaimana mencapainya. Mereka sadar bahwa yang mereka
pelajari berguna bagi hidupnya nanti. Dengan begitu mereka
memposisikan sebagai diri sendiri yang memerlukan suatu bekal
untuk hidupnya nanti. Mereka mempelajari apa yang bermanfaat
bagi dirinya dan berupaya menganggapinya. Dalam upaya itu,
mereka memerlukan guru sebagai pengarah dan pembimbing.
Dalam kelas kontekstual, tugas guru adalah membantu
siswa mencapai tujuannya. Maksudnya, guru lebih bayak
berurusan dengan strategi daripada memberi informasi. Tugas
guru mengelola kelas sebagai sebuah tim yang bekerja bersama
untuk menemukan sesuatu yang baru bagi anggota kelas (siswa).
Sesuatu yang baru datang dari ‘menemukan sendiri’, bukan dari
‘apa kata guru’. Begitulah peran guru di kelas yang dikelola
dengan pendekatan kontekstual.
BEST PRACTICE: Karya Guru Inovatif yang Inspiratif (Menarik Perhatian Peserta Didik) | 159
Langkah-langkah Pendekatan Kontekstual
Kontekstual hanya sebuah strategi pembelajaran. Seperti
halnya strategi pembelajaran yang lain, kontekstual
dikembangkan dengan tujuan agar pembelajaran berjalan
konduktif dan bermakna. Pendekatan kontekstual dapat
dijalankan tanpa harus mengubah kurikulum, dalam bidang
studi apa saja, dan tidak diperlukan biaya yang mahal. Secara
garis besar penerapan pendekatan kontekstual, langkah-
langkahnya adalah sebagai berikut ini:
Kembangkan pemikiran bahwa siswa akan belajar lebih
bermakna dengan cara bekerja sendiri, menemukan
sendiri, dan mengkontruksi sendiri pengetahuan dan
ketrampilan barunya.
Laksanakan sejauh mungkin kegiatan inkuiri untuk semua
topik.
Kembangkan sifat ingin tahu siswa dengan bertanya.
Ciptakan ‘masyaraat belajar’ (belajar dalam kelompok-
kelompok).
Hadirkan ‘model’ sebagai contoh pembelajaran.
Lakukan refleksi diakhir pertemuan.
Lakukan penilaian yang sebenarnya dengan berbagai
cara.
Ada 7 (tujuh) komponen pendekatan kontekstual (CTL)
antara lain yaitu:
Kontruksi (Constructivisme), kontruksivisme merupakan
landasan berfikir pendekatan kontekstual, yaitu bahwa
pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi
sedikit yang hasilnya diperluas melalui konteks yang
terbatas dan tidak sekonyong-konyong. Siswa perlu
dibiasakan untuk memecahkan masalah, menemukan
sesuatu yang berguna bagi dirinya, dan bergelut dengan
ide-ide,
160 | Didi Pianda, dkk
Menemukan (Inquiri), penemuan merupakan bagian inti
dari kegiatan pembelajaran kontekstual, yaitu
pengetahuan dan ketrampilan yang diperoleh siswa
diharapkan bukan hasil mengingat seperangkat fakta-
fakta, tetapi hasil dari menemukan sendiri. Guru harus
selalu merancang kegiatan yang merujuk pada kegiatan
menemukan,
Bertanya (Questioning), pengetahuan yang dimiliki
seseorang, selalu bermula dari ‘bertanya’. Bertanya
merupakan strategi utama pembelajaran ini. Bertanya
dalam pembelajaran dipandang sebagai kegiatan guru
untuk mendorong, membimbing, dan menilai
kemampuan berfikir siswa,
Masyarakat belajar (Learning Community), konsep
masyarakat belajar menyarankan agar hasil pembelajaran
diperoleh dari kerjsama dengan orang lain. Hasil belajar
diperoleh dari ‘sharing’ antara teman, antar kelompok,
dan antara yang tahu ke yang belum tahu. Di kelas ini, di
sekitar sini, juga orang yang di luar sana, semua adalah
anggota masyarakat belajar,
Pemodelan (Modeling), maksudnya dalam sebuah
pembelajaran ketrampilan atau pengetahuan tertentu,
ada model yang bisa ditiru. Pemodelan pada dasarnya
membahas akan gagasan yang dipikirkan,
mendemontrasikan bagaimana guru menginginkan
pada siswanya untuk belajar, dan melakukan apa
yang diinginkan guru bagi siswa-siswanya.
Pemodelan dapat berbentuk demontrasi, pemberian
contoh tentang konsep atau aktifitas belajar,
Refleksi (Reflection), adalam cara berfikir tentang apa
yang baru dipelajari atau berfikir ke belakang tentang
apa-apa yang sudah dilaksanakan di masa yang lalu.
Refleksi merupakan respon terhadap kejadian,
BEST PRACTICE: Karya Guru Inovatif yang Inspiratif (Menarik Perhatian Peserta Didik) | 161
aktifitas, atau pengetahuan yang baru diterima.
Misalnya ketika pelajaran berakhir siswa
merenungkan apa yang baru diterimanya,
Penilaian yang sebenarnya (Authentic Assessment), adala
prosedur penilaian pada pembelajaran kontekstual
dengan prinsip dan ciri-ciri penilaian autentik.
Assessment adalah proses pengumpulan berbagai data
yang bisa memberikan gambaran perkembangan belajar
siswa. Hal ini untuk memastikan
apakah siswa telah mengalami proses pembelajaran
yang benar atau tidak.
Pendekatan atau strategi yang berasosiasi dengan
pembelajaran kontekstual memiliki kesamaan ciri dalam hal
antara lain:
Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based Learning)
Pembelajaran berbasis masalah adalah suatu pendekatan
pembelajaran yang menggunakan masalah dunia nyata
sebagai suatu konteks bagi siswa untuk belajar tentang
cara berfikir kritis dan ketrampilan pemecahan masalah,
serta untuk memperoleh pengetahuan dan konsep yang
esensial dari materi pelajaran. Hal ini dimaksudkan untuk
merangsang berfikir tingkat tinggi dalam situasi
berorientasi masalah, termasuk di dalam belajar dan
bagaimana belajar. Tugas guru adalah menyajikan
masalah, mengajukan pertanyaan, dan memfasilitasi
penyelidikan dan dialog.
Pembelajaran Kooperatif (Cooperatif Learning) Pembelajaran
kooperatif adalah pembelajaran yang secara sadar dan
sengaja mengembangkan interaksi yang silih asuh (saling
tenggang rasa) antar sesama siswa sebagai latihan hidup
di dalam masyarakat nyata. Beberapa keunggulan
keunggulan pembelajaran kooperatif antara lain:
162 | Didi Pianda, dkk
Memudahkan siswa melakukan penyesuaian sosial,
Mengembangkan kegembiraan belajar yang sejati,
Menghilangkan sifat mementingkan diri
sendiri/egois,
Meningkatkan kepekaan dan kesetiakawanan sosial,
Meningkatkan kemampuan memandang masalah
dan situasi dari berbagai perpektif,
Meningkatkan hubungan positif antara siswa
terhadap guru dan personil sekolah.
Pembelajaran Berbasis Inkuiri
Pembelajaran dengan penemuan (inquiri) merupakan
suatu komponen penting. dalam memacu siswa untuk
mengetahui, memotivasi siswa untuk menemukan
jawaban, dan siswa belajar memecahkan masalah secara
mandiri serta memiliki ketrampilan berfikir kritis. Inkuiri
juga suatu seni dan ilmu bertanya dan menjawab, juga
menuntut eksperimentasi, refleksi, dan pengenalan akan
keunggulan metode sendiri.
Pengajaran Autentik
Pengajaran autentik yaitu pendekatan pengajaran yang
memperkenalkan siswa untuk mempelajari konteks
bermakna, siswa dituntut mengembangkan ketrampilan
befikir dan pemecahan maslaah yang penting dalam
konteks kehidupan nyata. Untuk memecahkan masalah,
siswa harus mengidentifikasi masalah, mengidentifikasi
kemungkinan pemecahannya, memilih dan
melaksanakan pemecahan atas masalah tersebut.
Pengajaran Berbasis Proyek / Tugas
Hal ini membutuhkan suatu pendekatan pengajaran
komprehensif dimana lingkungan belajar siswa didesain
agar siswa dapat melakukan penyelidikan terhadap
masalah-masalah autentik termasuk pendalaman materi
dan melaksanakan tugas bermakna. Siswa diberi tugas /
BEST PRACTICE: Karya Guru Inovatif yang Inspiratif (Menarik Perhatian Peserta Didik) | 163
proyek yang kompleks, sulit, lengkap, tetapi autentik dan
kemudian diberikan bantuan secukupnya. Tidak
memandang apakah tugas harus dikerjakan sebagai
pekerjaan kelas atau sebagai pekerjaan rumah.
Pengajaran Berbasis Kerja
Pengajaran berbasis kerja memerlukan suatu pendekatan
pengajaran yang memungkinkan siswa menggunakan
konteks tempat kerja untuk mempelajari materi pelajaran
berbasis sekolah dan sebagaimana materi tersebut
dipergunakan di tempat kerja. Pengajaran berbasis kerja
menganjurkan pentransferan model pengajaran dan
pembelajaran yang efektif kepada aktifitas sehari-hari di
kelas, baik dengan cara melibatkan siswa dalam tugas
dan melibatkan siswa dalam kelompok pembelajaran.
Pengajaran Berbasis Jasa Layanan
Pengajaranberbasisjasalayananmemerlukan
penggunaan metodologi pengajaran yang
mengkombinasikan jasa layanan masyarakat dengan
suatu struktur berbasis sekolah untuk merefleksikan jasa
layanan. Strategi pembelajaran ini berpijak pada
pemikiran bahwa semua kegiatan kehidupan dijiwai oleh
kemampuan melayani. Untuk itu siswa sejak dini
dibiasakan untuk melayani orang lain serta memahami
konsep abstrak dan konkrit.
Bahan dan Alat yang digunakan dalam best practice
Adapun bahan dan alat yang digunakan dalam best practice
ini adalah Rencana Pelaksanaan Pembelajaran, Lembar Kerja Siswa
(LKS) dan laptop dan infokus untuk presentasi hasil kerja siswa.
Batasan-batasan
Adapun batasan-batasan best practice ini hanya membahas
bagaimana meningkatkan hasil belajar matematika peserta didik
164 | Didi Pianda, dkk
pendekatan kontekstual hanya pada materi Barisan Aritmatika
pada kelas X-Nautika Kapal Penangkap Ikan (NKPI)
Langkah-langkah Pelaksanaan Best Practice
Pada best practice ini, penulis ingin mengungkapkan
permasalahan tentang pembelajaran matematika pada materi
Barisan Aritmatika data dengan pendekatan kontekstual pada
siswa Kelas X-NKPI1.
Kemudian penulis melakukan tindakan dengan
pembelajaran kontekstual agar siswa belajar dengan penuh
makna. Dengan memperhatikan prinsip kontekstual, yaitu proses
pembelajaran yang diharapkan dapat mendorong siswa untuk
menyadari dan menggunakan pemahamannya, mengembangkan
diri dan menyelesaikan berbagai persoalan yang dihadapi dalam
kehidupan sehari-hari. Kriteria best practice ini adalah kualitatif
karena:
Menggunakan latar belakang permasalahan sebagai sumber
data langsung dan alat pengumpul data utama,
Analisis data secara induktif,
Bersifat diskriptif, karena data yang dikumpulkan berupa
kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku
yang diamati sehingga yang dikumpulkan
berkemungkinan menjadi kunci terhadap apa yang sudah
diteliti,
Adanya kriteria untuk keabsahan data
Dalam best practice ini akan mengungkap persoalan yang
terjadi dalam pembelajaran matematika dengan pendekatan
kontekstual pada materi Barisan Aritmatika. Penulis berada di
sekolah dari awal sampai akhir guna mengetahui keadaan siswa,
merumuskan tindakan selanjutnya, memantau dan membuat
laporan.
Adapun Langkah-langkah yang ditempuh dalam
pelaksanaan best practice ini adalah:
BEST PRACTICE: Karya Guru Inovatif yang Inspiratif (Menarik Perhatian Peserta Didik) | 165
a) Melakukan observasi tentang permasalahan-
permasalahan yang sedang terjadi dan mengkaji
penyelesaiannya.
Merancang Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) pada
materi Barisan Aritmatika dengan pendekatan
kontekstual.
Melaksanakan kegiatan pembelajaran selama satu kali
pertemuan (4 jam pelajaran) dengan pendekatan
kontekstual.
Mengadakan evaluasi pertama sebagai pengumpulan data.
Mengadakan refleksi terhadap kegiatan pembelajaran yang
telah diberikan.
Secara lengkap langkah-langkah pembelajaran bes practice
dapat di lihat pada table berikut:
Kegiatan Deskripsi kegiatan Alokasi
waktu
Pendahuluan 1. Melakukan pembukaan dengan 10
menit
2. salam pembuka dan berdoa untuk
3.
4. memulai pembelajaran
Memeriksa kehadiran peserta
didik sebagai sikap disiplin
Menyampaikan tujuan
pembelajaran yang akan di capai
Melakukan apersepsi dengan
mengajukan pertanyaan untuk
mengarahkan siswa ke materi
yang akan dipelajari
Guru membagi siswa menjadi
kelompok kecil yang terdiri dari 4-
5 orang.
Guru membagikan LKS kepada
siswa
166 | Didi Pianda, dkk
Kegiatan Deskripsi kegiatan Alokasi
waktu
Kegiatan Inti 1. Menyajikanmasalahdalam
50
bentuk umum menit
➢
Masalah factual dipaparkan
dalam LKS
Siswa diberi kesempatan untuk
membaca dan memahami
masalah yang tercantum dalam
LKS (mengamati)
Siswa diberi kesempatan untuk
bertanya kepada sesama teman
di dalam kelompoknya atau
kepada guru bila ada yang tidak
dipahami. (menanya)
Menyajikan kembali masalah
dalam bentuk operasional
Siswa berdiskusi untuk
mengidentifikasi masalah factual
yang diberikan dalam LKS yaitu
menentukan apa yang diketahui
dan ditanya. (menalar)
Setiap anggota kelompok
menuliskan hasil identifikasi
pada kertas kerja (LKS)
Menyajikan strategi penyelesaian
masalah
Siswa berdiskusi merancang
strategi yang digunakan untuk
memecahkan masalah.
Siswa berdiskusi antar teman
sekelompoknya mencoba mencari
BEST PRACTICE: Karya Guru Inovatif yang Inspiratif (Menarik Perhatian Peserta Didik) | 167
Kegiatan Deskripsi kegiatan Alokasi
Penutup waktu
solusiuntukmenyelesaikan
permasalahan. (mencoba)
Menyelesaikan masalah
Melalui langkah-langkah kerja yang
ada di LKS dan tanya jawab
siswadiarahkan untuk
menemukan rumusan barisan
aritmatika (Jejaring atau
simpulan)
Siswa mempresentasikan hasil kerja
kelompoknya umum siswa 30
➢ menit
Secara
menyimpulkan tentang
bagaimana menentukan
rumusan barisan aritmatika dan
deret aritmatika (guru memberi
penguatan bila diperlukan)
➢
Guru memberikan beberapa soal
sebagai tugas/PR mengenai
penerapan barisan dan deret
aritmatika informasi
➢
Guru memberi
tentang materi pada pertemuan
➢ berikutnya
Guru mengakhirikegiatan
pembelajaran dengan
memberikan pesan untuk tetap
belajar
168 | Didi Pianda, dkk
Adapun Berikut contoh permasalahan dalam kehidupan
sehari-hari antara lain :
Setiap bulan, ibu menabung sejumlah uang yang besarnya
membentuk barisan aritmatika. Pada bulan ke -3, ibu menabung
sebesar Rp. 240.000,- dan bulan ke-5 sebesar Rp. 330.000,-. Berapa
besar uang yang ditabung ibu pada bulan ke-9?
Kunci Jawaban :
Diketahui : barisan aritmatika
U3 = 240.000
Ditanya U5 = 330.000
: U9 = …..?
Jawab : Un = a + (n-1). B ………………………….
(2) 240.000 = a + 2b ………………………….
(1)
330.000 = a + 4b
- 90.000 = -2b
b = 45.000
240.000 = a + 2b
240.000 = a + 90.000
240.000 - 90.000 = a
a = 150.000
Un = a + (n-1) b
U9 = 150.000 + 8(45.000)
150.000 + 360.000
U9 = 510.000
BEST PRACTICE: Karya Guru Inovatif yang Inspiratif (Menarik Perhatian Peserta Didik) | 169
LEMBAR KERJA SISWA
(LKS)
PERMASALAHAN
Dengan memanfaatkan bahan-bahan yang telah disediakan
lakukanlah observasi untuk menyelesaikan permasalahan berikut
:
“Ani menabung uang dalam celengan setiap harinya. Pada hari
pertama Ani menabung sebesar Rp 2.000,- pada hari berikutnya
bertambah sebesar Rp. 1.000,-“
Perhatikan banyaknya uang dalam celengan Ani setiap harinya:
Hari Uang yang Besar tabungan hari ke-
ditabung
1 Rp. 2000 Rp. 2000
2 ………………….. Rp. 2000 + ………….
3 ………………….. Rp. 2000 + …………. + …………
4 ………………….. Rp. 2000 +…….+……+…….
5 …………………. ……… + …….. + ……. + …….
+……..
Selisih besar tabungan ani hari kedua dan pertama adalah
………
Selisih besar tabungan ani hari ketiga dan hari kedua adalah
……..
Selisih besar tabungan ani hari keempat dan hari ketiga adalah
……..
Dari data 1 s.d 3 dapat disimpulkan bahwa:
…………………………………………..............................................
.....................................................................................................................
.....................................................................................................................
Jika suku pertama = a dan selisih = beda = b, maka Besar
tabungan ani hari kedua = Suku ke-2 = U2 = a + …..
170 | Didi Pianda, dkk
Besar tabungan ani hari ketiga =Suku ke-3 = U3 = a + b + b = a +
……
Besar tabungan ani hari keempat = Suku ke- 4 = U4 = a + b + b + b
= a + ……
Maka besar tabungan ani hari kelima = Suku ke-5 = U5 = a + b +
b+b+b=a+
….................................................................................................................
.....................................................................................................................
Jadi ,
Besar tabungan ani hari ke-10 = U10
=……………+…………………
Dan besar tabungan ani hari ke-n =
Suku ke-n = ………….. +…………..
Un = ………………..+……………………….
Hasil yang dicapai
Penulis ingin lebih mengutamakan kegiatan
pembelajaran pada proses dan pemahaman konsep materi yang
disampaikan. Penulis juga ingin selalu membimbing siswa-siswa
yang sering tidak tuntas dalam pembelajaran sebelumnya dengan
cara memberikan pengarahan dan mencari cara yang tepat dalam
menyampaikan konsep materi pada siswa. Pada kesempatan ini
siswa diharapkan lebih memahami, menguasai konsep dengan
sebaik mungkin serta tetap menjalin kekompakan kerja sama
antara anggota kelompoknya. Dengan demikian soal yang
diberikan penulis dapat diselesaikan secara baik dan
pembelajaran berhasil dengan tuntas.
Kegiatan pembelajaran ini membahas materi Barisan
Aritmatika. Selanjutnya dari kegiatan tersebut siswa diberi soal
latihan serta diakhiri kegiatan siswa mengerjakan soal evaluasi
sebagai penjaringan data sekaligus sebagai ulangan harian.
BEST PRACTICE: Karya Guru Inovatif yang Inspiratif (Menarik Perhatian Peserta Didik) | 171
Nilai penting dan Kebaruan Best Practice yang telah
dilaksanakan
Kegiatan pembelajaran matematika dengan pendekatan
kontekstual pada materi barisan aritmatika nilai-nilai penting
yaitu sebagai berikut :
Kegiatan pembelajaran matematika yang mengaitkan
materi pembelajaran dengan permasalahan dalam
kehidupan sehari-hari (pendekatan kontekstual), dapat
meningkatkan motivasi peserta didik dalam belajar.
Motivasi yang tinggi dapat memudahkan peserta didik
dalam memahami cara penyelesaian permasalahan dalam
kehidupan sehari-hari (Pendekatan kontekstual).
Faktor-faktor Pendukung dan Penghambat
Adapun faktor-faktor pendukung dalam proses
pembelajaran dengan penggunaan pendekatan kontekstual
sebagai strategi pembelajaran adalah : a) banyaknya
permasalahan sehari-hari yang dapat diangkat menjadi
permasalahan matematika sehingga siswa lebih termotivasi
untuk belajar, sehingga mereka merasakan kegunaan dari belajar
matematika itu sendiri, b) sebagian siswa sudah memilki labtop.
Adapun faktor-faktor penghambat dalam proses
pembelajaran dengan l sebagai strategi pembelajaran adalah: a)
membutuhkan kejelian guru dalam membuat strategi
pembelajaran yang mengaitkan materi matematika dengan
permasalahan sehari-hari, b) persediaan infokus di sekolah masih
kurang.
10. Tindak Lanjut
Adapun tindak lanjut dari Best Practice pada proses
pembelajaran matematika dengan menggunakan pendekatan
kontekstual adalah: Setiap guru merekomendasikan pembelajaran
menggunakan pendekatan kontekstual sebagai strategi
172 | Didi Pianda, dkk
pembelajaran matematika yang mengaitkan materi barisan
arimatika dengan permasalahan sehari-hari antara lain : a)
sebagian peserta didik semakin termotivasi dalam kegiatan
pembelajaran b) menambah wawasan peserta didik tentang
kebergunaan matemtika dalam kehidupan sehari-hari, c)
keterlibatan siswa secara aktif baik dalam kegiatan belajar
kelompok dan presentasi.
PEMBAHASAN
Hasil Pembelajaran pada Best Practice
Setelah pelaksanaan pembelajaran yang dilakukan dalam
best practice diadakan evaluasi dengan tes. Hasil tes tertulis dapat
disajikan pada tabel berikut ini antara lain :
Tabel 1 Rentang Nilai Tes Tertulis Hasil Nilai
Evaluasi kelas X-NKPI
Nilai f Persentase Kriteria
(%)
91-95 3 8,11 Sangat Baik
86-90 12 32,43 Baik
81-85 2 5,40
76-80 13 35,13 Cukup
Sedang
71-75 5 13,51 Kurang
5,40 Sangat Kurang
65-70 2 100
Total 37
Rata-rata 83,24
Ketuntasan 94,60
Belajar
Sumber: Hasil Olahan, 2018
BEST PRACTICE: Karya Guru Inovatif yang Inspiratif (Menarik Perhatian Peserta Didik) | 173
Gambar 29. Diagram Nilai Tes Tertulis Kelas X-NKPI
Pembahasan Hasil yang Dicapai pada Best Practice
Kegiatan pembelajaran pada best practice ini bertujuan untuk
meningkatkan hasil belajar matematika pada siswa kelas X-NKPI
dengan pendekatan kontekstual mendapatkan ketuntasan belajar
klasikal adalah anyaknya siswa seluruhnya 37 siswa, banyaknya
siswa yang tuntas adalah 35 siswa, Sedangkan Prosentase banyaknya
siswa yang tuntas adalah 94,60%. Maka yang paling meningkat
dengan kategori (Sedang) yaitu pada interval nilai 76-80 sebesar
35,13% artinya Mulai Tampak menunjukkan peningkatan atau sudah
ada usaha yang sungguh-sungguh dalam menyelesaikan tugas,
tetapi masih sedikit dan belum ajeg/konsisten. Kategori (Baik) yaitu
pada nilai interval 86-90 sebesar 32,43% artinya sudah Mulai
Berkembang menunjukkan peningkatan atau ada usaha sungguh-
sungguh dalam menyelesaikan tugas yang cukup sering dan
ajeg/konsisten. Kategori (Kurang) yaitu pada nilai interval 71-75
sebesar 13,51% artinya hanya beberapa yang Belum Tampak
meningkatkan ataun sama sekali tidak menunjukkan usaha sungguh-
sungguh dalam menyelesaikan tugas. Kategori (Sangat Baik) yaitu
pada nilai
174 | Didi Pianda, dkk
interval 91-95 sebesar 8,11% artinya sudah Membudaya dalam
menunjukkan peningkatan belajar matematika atau usaha
sungguh-sungguh dalam menyelesaikan tugas secara terus
menerus dan konsisten. Kategori (Cukup) yaitu pada nilai
interval 81-85 dan Kategori (Sangat Kurang) yaitu pada nilai
interval 65-70 sebesar 5,40% artinya Belum Tampak sama sekali
peningkatannya dalam belajar sehingga tidak menunjukkan
usaha sungguh-sungguh dalam menyelesaikan tugas/ tes.
Dari analisa di atas sudah jelas bahwa kegiatan
pembelajaran yang dilaksanakan penulis berhasil dengan tuntas
sebab prosentase siswa yang tuntas adalah diatas rata-rata dari
jumlah siswa secara keseluruhan. Dalam hal ini menunjukkan
kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan telah berhasil.
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Setelah penulis cermati selama dalam kegiatan penelitian
dari hal proses sampai pada hasil maka dapat disimpulkan
sebagai berikut:
Dalam menggunakan metode pembelajaran dengan
pendekatan kontekstual hendaknya guru juga
memperhatikan pentingnya pengelolaan kelas. Hal ini
demi kelancaran proses pembelajaran. Sebab walaupun
dalam pembelajaran sudah menggunakan metode
pembelajaran yang baik namun jika dalam mengelola
kelas kurang baik, maka proses pembelajaran akan
terganggu dan hasilnya kurang memuaskan.
Pembelajaran kontekstual pada materi Barisan Aritmatika, telah
memberikan nuansa baru dalam pembelajaran Matematika
sehingga pembelajaran lebih efektif. Hal ini terbukti dengan
adanya perubahan yang signifikan terhadap ketuntasan
belajar peserta didik. Terlihat pada nilai ulangan peserta
didik yang dilakukan setelah
BEST PRACTICE: Karya Guru Inovatif yang Inspiratif (Menarik Perhatian Peserta Didik) | 175
pelaksanaan pembelajaran dengan pendekatan
kontekstual mencapai nilai rata-rata 83,24 dengan
ketuntasan belajar 94,60%.
Saran
Adapun saran antara lain:
Seorang guru hendaknya trampil dan dapat menguasai
berbagai metode pembelajaran agar siswa lebih mudah
memahami materi pembelajaran.
Seorang guru harus selalu aktif melibatkan siswa selama
kegiatan pembelajaran berlangsung.
Seorang guru harus dapat memilih metode dan kreatif
dalam mencoba ide baru agar proses pembelajaran
berhasil dengan baik dan tidak membosankan.
Hendaknya guru selalu memotivasi siswa untuk selalu
belajar di rumah materi yang akan dibahas pada
pertemuan berikutnya supaya dalam pembelajaran siswa
mempunyai gambaran materi.
Perlunya kolaborasi dengan guru yang lain di dalam
meningkatkan kualitas pembelajaran.
176 | Didi Pianda, dkk
PEMBELAJARAN BIOLOGI DENGAN
MENGGUNAKAN MEDIA BALING-BALING
GENETIKA
SRI WARZUKNI, S.Si
(SMA Negeri 2 Lhokseumawe)
TENTANG PENULIS
Sri Warzukni, S.Si, Dengan panggilan Sri,
tempat tanggal lahir Meulaboh, 08 Juli 1972
dengan Alamat Jl. Kenari Lr. Bugeh No. 14A Kuta
Blang Lhokseumawe, E-Mail:
[email protected]. Hobi Membaca,
menonton, dan traveling. Mengajar sebagai guru
Biologia di SMA Negeri 2 Lhokseumawe.
PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah
Pembelajaran merupakan jantung dari proses pendidikan
dalam suatu institusi pendidikan. Kualitas pembelajaran bersifat
kompleks dan dinamis, dapat dipandang dari berbagai persepsi dan
sudut pandang melintasi garis waktu. Lembaga pendidikan dituntut
untuk terus meningkatkan kualitas pembelajaran dan proses
penyelenggaraan pendidikan, sehingga perlu diterapkan suatu
metode pencapaian kualitas pembelajaran yang dapat dilakukan
melalui lembaga pendidikan dan juga melalui individu seorang
guru. Keharusan bagi setiap pendidik yang bertanggung jawab,
bahwa dia dalam melaksanakan tugasnya harus berbuat dengan cara
yang sesuai dengan keadaan si ‘anak’ didik, (Suryabrata, 2011:1).
Proses-proses yang terjadi selama pendidikan berlangsung haruslah
dikembangkan dan diarahkan sebaik
BEST PRACTICE: Karya Guru Inovatif yang Inspiratif (Menarik Perhatian Peserta Didik) | 177
mungkin. Dalam kegiatan belajar mengajar terdapat dua hal yang
ikut menentukan keberhasilan peserta didik yaitu pengaturan
proses belajar mengajar dan pengajaran itu sendiri. Keduanya
saling ketergantungan satu sama lain. Banyak permasalahan yang
terjadi dalam proses pembelajaran pada masa sekarang, Namun
para pendidik dihadapkan pada tantangan dan masalah
bagaimana mencari cara terbaik untuk menyampaikan materi
pelajaran agar mudah diterima oleh peserta didik.
Media pembelajaran merupakan suatu alat atau perantara
yang berguna untuk memudahkan proses belajar mengajar, dalam
rangka mengefektifkan komunikasi antara guru dengan siswa, siswa
dengan siswa, dan siswa dengan sumber belajar. Hal ini sangat
membantu guru dalam mengajar dan memudahkan siswa menerima
dan memahami pelajaran. Proses ini membutuhkan guru yang
mampu menyelaraskan antara media pembelajaran dan metode
pembelajaran. Pemakaian media pembelajaran dalam proses belajar
mengajar juga dapat membangkitkan keinginan dan minat yang baru
bagi siswa, membangkitkan motivasi belajar, dan bahkan membawa
pengaruh psikologis terhadap siswa. Selain dapat meningkatkan
motivasi belajar siswa, pemakaian atau pemanfaatan media juga
dapat meningkatkan pemahaman siswa terhadap pelajaran sehingga
dapat mengatasi permasalahan yang dihadapi siswa dalam proses
pembelajaran.
Materi pola-pola hereditas adalah suatu materi yang
membahas tentang pola-pola pewarisan sifat yang diturunkan
dari induk kepada keturunannya. Pola-pola hereditas memilki
kerumitan dalam mempelajarinya karena memiliki banyak istilah
dan perhitungan-perhitungan yang sukar dipahami oleh siswa.
Selain itu model pembelajaran yang penulis gunakan selama ini
belum tepat sehingga siswa tidak tertarik untuk mempelajarinya
hal ini mengakibatkan hasil belajar siswa rendah.
Penggunaan baling-baling genetika sebagai media
diharapkan dapat membantu siswa untuk lebih memahami serta
178 | Didi Pianda, dkk
memperoleh gambaran yang lebih kongkrit tentang konsep
pewarisan sifat sehingga meningkatkan pemahaman siswa pada
konsep tersebut.
Permasalahan yang terjadi di kelas XII IPA1 khususnya
pada materi pola-pola hereditas adalah, materi ini merupakan
materi yang sulit dipahami oleh siswa, proses pembelajaran
masih teacher center, motivasi belajar siswa masih rendah, dan
hasil belajar yang rendah.
Berdasarkan permasalahan yang sudah diuraikan diatas
maka penulis merasa hasil belajar siswa yang rendah merupakan
persoalan yang harus segera diatasi. Apabila persoalan tersebut
tidak segera diatasi maka hasil belajar siswa tidak akan mencapai
nilai KKM yang sudah di tetapkan sebesar 80, dan juga
rendahnya motivasi siswa dalam mempelajari materi ini
menyebabkan hasil belajar siswa yang rendah.
Tujuan
Adapun tujuan kegiatan pelaksanaan best practice adalah
sebagai berikut
Mengetahui kemampuan siswa menerapkan pola-pola
hereditas hereditas dalam mekanisme pewarisan sifat di
kelas XII IPA 2 SMAN 2 Lhokseumawe dengan
menggunakan media pembelajaran baling-baling
genetika.
Mengetahui aktivitas siswa dalam KBM pada konsep
menerapkan pola-pola hereditas dalam mekanisme
pewarisan sifat.
Manfaat Best Practice
Hasil penulisan ini diharapkan dapat bermanfaat bagi
siswa, guru, dan sekolah dalam proses pembelajaran biologi
terutama :
BEST PRACTICE: Karya Guru Inovatif yang Inspiratif (Menarik Perhatian Peserta Didik) | 179
Bagi Siswa :
Dapat meningkatkan hasil belajar siswa.
Dapat memahami materi pola-pola hereditas melalui
kegiatan
mengkonstruksi konsep dan melatih bernalar.
Dapat meningkatkan kemampuan siswa untuk
saling berinteraksi dengan sesama teman.
Bagi Guru :
Dapat menambah motivasi guru untuk dapat
menggunakan berbagai macam media sehingga
memudahkan guru melaksanakan proses belajar
mengajar.
Bagi Sekolah :
Menambah sumber referensi bagi guru-guru lain
didalam penggunaan media pembelajaran.
Memiliki guru yang terampil menggunakan media
pembelajaran seperti media baling-baling genetika.
STATE OF ART (SOTA)
Penggunaan Baling-Baling Genetika
Materi pola-pola hereditas adalah materi yang
mempelajari proses pewarisan sifat dengan menggunakan
hukum Mendel. Pada saat menggunakan Hukum Mendel dalam
proses persilangan, banyak simbol-simbol yang harus dipelajari
siswa untuk mengetahui sifat-sifat mana saja yang diwariskan
dari induk kepada keturunannya. Penggunaan Hukum Mendel
ini sulit dimengerti oleh siswa jika materi ini disampaikan dalam
metode ceramah. Adapun hal yang berbeda dalam Best Practice
ini adalah adanya penggunaan media pembelajaran baling-baling
genetika yang dapat diterapkan pada proses belajar mengajar di
kelas untuk dapat memotivasi siswa agar dapat memahami
materi pola-pola hereditas.
180 | Didi Pianda, dkk
Langkah-langkah Penggunaan Baling-Baling Genetika
Adapun langkah-langlah dalam penggunaan baling-
baling genetika tersebut adalah sebagai berikut :
Kertas karton yang sudah di potong persegi panjang dan
diberi huruf sebagai penanda gen (gamet).
Sediakan tusuk lidi sate sebagai pemutar kertas karton
Siswa melihat perintah yang ada didalam LKPD untuk
memutar baling-baling yang memiliki gamet BK (sifat
dominan) dan baling-baling yang memuat gamet bk (sifat
resesif) secara bersamaan.
Hentikan secara acak baling-baling genetika tersebut dan
amatilah tangan baling-baling yang bertemu. Kemudian
catatlah dalam tabel (tangan yang berhadapan menunjukkan
2 gamet yang bersatu).
Putarlah sebanyak empat kali dan catatlah hasilnya
Putarlah baling-baling genetika yang memiliki gamet BK, bK,
Bk, bk dikeempat lengannya dengan bersamaan dengan
baling-baling yang memiliki gamet BK, bK, Bk, dan bk.
Lakukan dengan cara yang sama seperti pada kegiatan
dinomor 2.
Putarlah sebanyak enam belas kali catatlah hasilnya.
PELAKSANAAN BEST PRACTICE
Deskripsi dan Ruang Lingkup Best Practice
Bahan dan Alat Yang digunakan dalam Best Practice
Bahan yang digunakan di dalam best practice ini adalah
Karton Manila, Lidi Tusuk Sate, Lembar Kerja Peserta Didik
(LKDP) dan Lembar Evaluasi.
Batasan-Batasan.
Agar tidak meluas dalam best practice penulis memberikan
batasan-batasan antara lain:
Penulisan bect practice ini hanya ingin melihat apakah
penggunaan media-media pembelajaran baling-
BEST PRACTICE: Karya Guru Inovatif yang Inspiratif (Menarik Perhatian Peserta Didik) | 181
baling genetika dapat meningkatkan hasil belajar
siswa.
Penerapan media baling-baling genetika dilakukan
di Kelas XII IPA 1, yang terdiri dari 27 siswa dengan
komposisi siswa perempuan 17 orang dan siswa laki-
laki 10 orang.
Penggunaan media baling-baling genetika hanya
dapat dipakai pada materi pola-pola pewarisan sifat.
Sumber data dalam best practice ini adalah siswa
dan guru-guru.
Langkah-Langkah Pelaksanaan Best Practice. Pembelajaran
biologi pada materi pola-pola pewarisan
sifat dengan dengan media baling-baling genetika ini adalah
mengikuti langkah-langkah yang penulis rangcang melalui
rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), antara lain sebagai
berikut:
Kegiatan Deskripsi Kegiatan Waktu
Pendahul 6. Salah seorang peserta didik 10
menit
uan memimpin berdoa sebagai wujud rasa
syukur kepada Allah SWT
7. Guru mengecek kehadiran peserta
didik
8. Sebelum mengeksplorasi memahami
materi pola-pola pewarisan sifat, guru
membangun konteks dengan
mengajukan pertanyaan pada peserta
didik berkaitan dengan
pengalamannya tentang pola-pola
pewarisan sifat
9. Guru mengajukan beberapa
pertanyaan terkait manfaat pola-pola
182 | Didi Pianda, dkk
Kegiatan Deskripsi Kegiatan Waktu
Inti
pewarisan sifat dalam kehidupan
sehari-hari
10. Guru menyampaikan indikator
pembelajaran biologi
Mengamati
• Guru melakukan pembelajaran uji 15
coba dalam pembelajaran Biologi menit
dengan Model Baling-Baling Genetika,
melalui power point dengan langsu
ke materi memahami pola-pola
pewarisan sifat hasil
• Peserta didik mengamati
pembelajaran guru secara seksama
• Peserta didik sambil mengamati,
peserta didik mencatat, langkah-
langkah yang di lakukan guru dalam
pembelajaran dengan menggunakan
Model Baling-Baling Genetika.
Menanya
• Peserta didik bertanya hal-hal yang 10
berhubungan dengan pembelajaran menit
Baling-Baling Genetika
• Peserta didik bertanya tentang materi
yaitu memahami pola-pola pewarisan
sifat dan cara menjalankan Model
Baling-Baling Genetika dengan bahasa
yang benar dan sopan. 20
Mengumpulkan informasi menit
Peserta didik diarahkan untuk
membentuk kelompok diskusi
heterogen yang terdiri dari 5-6 orang.
Untuk menarik perhatian mereka,
BEST PRACTICE: Karya Guru Inovatif yang Inspiratif (Menarik Perhatian Peserta Didik) | 183
Kegiatan Deskripsi Kegiatan Waktu
gurumenyediakannama-nama 25
kelompok sesuai dengan nama tokoh
Aceh yang dibagikan.
Peserta didik menjawab pertanyaan menit
yang berhubungan dengan pola-pola
pewarisan sifat.
Peserta didik mendiskusikan jawaban
pertanyaan yang sesuai dengan buku
teks dengan jujur, percaya diri, dan
menggunakan bahasa Indonesia yang
baik dan benar.
Peserta didik mendiskusikan
beberapa masalah yang di berikan
guru
Guru memberikan LKDP untuk
setiap kelompok masing-masing.
Mengasosiasi
Siswa melihat perintah yang ada
didalam LKPD untuk memutar
baling-baling yang memiliki gamet
BK (sifat dominan) dan baling-
baling yang memuat gamet bk (sifat
resesif) secara bersamaan.
Hentikan secara acak baling-baling
genetika tersebut dan amatilah
tangan baling-baling yang bertemu.
Kemudian catatlah dalam tabel
(tangan yang berhadapan
menunjukkan 2 gamet yang bersatu).
Putarlah sebanyak empat kali dan
catatlah hasilnya
184 | Didi Pianda, dkk
Kegiatan Deskripsi Kegiatan Waktu
Putarlah baling-baling genetika yang
memiliki gamet BK, bK, Bk, bk
dikeempat lengannya dengan
bersamaan dengan baling-baling
yang memiliki gamet BK, bK, Bk,
dan bk.
Lakukan dengan cara yang sama
seperti pada kegiatan dinomor 2.
Putarlah sebanyak enam belas kali
catatlah hasilnya.
Setiapmasing-masingkelompok
mencatat hasil kerjanya
Mengkomunikasikan kelompok
• Masing-masing
mempresentasikan hasil diskusi
dengan jujur, percaya diri, dan
menggunakan bahasa Indonesia yang
baik dan benar, kemudian ditanggapi
oleh kelompok peserta didik yang lain
dalam diskusi kelas.
Penutup • Guru menugaskan peserta didik
memperbaiki poin yang belum benar 10
menit
di rumah dan memberikan waktu
satu minggu untuk mengerjakannya.
• Guru memberikan kesempatan pada
peserta didik mengajukan
pertanyaan.
• Guru menyampaikan rencana
pertemuan selanjutnya yaitu
mengerjakan tugas dengan
menggunakan Model Baling-Baling
Genetika
BEST PRACTICE: Karya Guru Inovatif yang Inspiratif (Menarik Perhatian Peserta Didik) | 185
Penggunaan baling-baling genetika sebagai media
pembelajaran diharapkan dapat membantu peserta didik untuk
lebih memahami materi pola-pola hereditas serta memperoleh
gambaran yang lebih konkret tentang proses pewarisan sifat
sehingga meningkatkan pemahaman siswa pada materi tersebut
yang pada akhirnya meningkatkan hasil belajar siswa.
Faktor-Faktor Pendukung dan Faktor Penghambat.
Faktor-faktor pendukung yang penulis temui adalah
mudahnya perolehan baku yang harganya murah, mudah
membuatnya dan mudah dalam penggunaannya serta banyak
dukungan dari kepala sekolah dan kawan-kawan sejawat.
Sedangkan faktor penghambat yang penulis temui adalah
kemampuan siswa dalam membaca hasil putaran baling-baling
genetika dan memasukkan nilai hasil dari pemutaran baling-
baling genetika kedalam tabel pengamatan.
Tindak Lanjut.
Setiap Guru dapat dengan mudah mendemonstrasikan
media ini agar lebih mudah mengaplikasikan untuk materi-materi
lain selain kelas XII. serta cara membaca hasil baling-baling genetika
dan cara memasukkan nilai yang diperoleh kedalam tabel
pengamatan lebih mudah secara efektif dan efesien.
PEMBAHASAN BEST PRACTICE
Adapun hasil dan Pembahasan pada Best Practice antara
lain :
Hasil Pembelajaran Pada Best Practice
Berdasarkan hasil pengamatan penulis saat melakukan
kegiatan pembelajaran menggunakan Media Baling-Baling
Genetika terlihat hasil sebagai berikut :
186 | Didi Pianda, dkk
Tabel 1. Daftar Distribusi Frekuensi Hasil Belajar Siswa
dengan Metode Baling-Baling Genetika
Nilai Interval Frekuensi Persentase Kriteria
90 -100 12 44,4 Sangat Baik
80-89 13 48,15 Baik
70-79 2 7,41 Kurang Baik
Total 27 100
Rata-rata 87,74
Ketuntasan 99,02 %
Belajar
Berdasarkan hasil pengamatan terhadap pelaksanaan
proses pembelajaran dapat diperoleh informasi bahwa proses
pembelajaran telah berlangsung dengan sangat baik. Terlihat dari
hasil perolehan nilai siswa dengan nilai rata-rata sebesar 87,74
dan dengan nilai persentase juga sebesar 99,02 %. Hal ini
mengindikasikan bahwa siswa sangat antusias dalam proses
pembelajaran sehingga penggunaan media baling-baling genetika
dapat membantu siswa mengkonstruksikan konsep sendiri materi
pola-pola pewarisan sifat, sehingga pada saat evaluasi diperoleh
hasil yang baik. Selain dari meningkatnya hasil pembelajaran,
pengguanaan media baling-baling genetika juga meningkatkan
interaksi antar siswa pada saat berdikusi sehingga diskusi
berjalan dengan baik dan siswa aktif bekerja dalam kelompoknya.
Grafik perolehan nilai siswa
BEST PRACTICE: Karya Guru Inovatif yang Inspiratif (Menarik Perhatian Peserta Didik) | 187
100
80
60
40 Series 1
20 Series 2
0 Series 3
Gambar 30. Hasil Pembelajaran Rekapitilasi Hasil Pembelajaran
Metode Baling-Baling Genetika
Dari grafik perolehan nilai siswa terlihat bahwa siswa yang
memperoleh nilai 85 adalah yang paling banyak ini menunjukkan
bahwa pemahaman terhadap konsep pola-pola hereditas sudah baik
yang mana nilai 85 sudah berada pada kategori B. Bahkan ada siswa
yang memperoleh nilai sempurna karena media baling-baling
gentika ini ternyata dapat membuka wawasan berpikir pada anak
yang mempunyai kecepatan lebih pada saat proses pembelajaran,
dikarenakan bentuk dari media yang sederhana yang mudah
digunakan serta siswa dapat melihat secara konkrit penyatuan
gamet-gamet dapat memicu pemahaman siswa terhadap materi pola-
pola hereditas ini sehingga dengan sendirinya dapat meningkatkan
hasil belajar siswa, dan juga media baling-baling genetika dapat
menjadi solusi mengatasi materi yang selama ini dianggap sulit
untuk dipahami.
Dari hasil analisis bahan yang telah digunakan penulis,
baling-baling genetik memiliki beberapa keunggulan
dibandingkan dengan bahan lainnya, misalnya kemudahan dan
rendahnya biaya dalam memperoleh bahan dan pemakaiannya.
Selain itu dengan adanya best practice ini guru-guru biologi
188 | Didi Pianda, dkk
memperoleh acuan dalam penggunaan media pembelajaran yang
bahannya sederhana, mudah diperoleh dan mudah digunakan
yang sebelumnya tidak pernah diketahui yang ternyata dapat
meningkatkan hasil belajar siswa.
KESIMPULAN
Berdasarkan proses dan hasil kegiatan pembelajaran dapat
disimpulkan bahwa :
Penerapan pembelajaran menggunakan media baling-baling
genetika dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar.
Proses belajar mengajar yang menggunakan media baling-
baling genetika dapat memotivasi siswa untuk
mengkontruksi sendiri pengetahuan, menemukan langkah-
langkah dalam mencari penyelesaian dari suatu materi yang
harus dikuasai.
Penggunaan baling-baling genetika sebagai media
pembelajaran membuat proses belajar mengajar menjadi
menyenangkan.
BEST PRACTICE: Karya Guru Inovatif yang Inspiratif (Menarik Perhatian Peserta Didik) | 189
PEMBELAJARAN NILAI PERBANDINGAN
TRIGONOMETRI DENGAN PENGGUNAAN EDMODO
SEBAGAI DIGITAL CLASS
YUNIAR, M.Pd
(SMA Negeri 2 Lhokseumawe)
TENTANG PENULIS
Yuniar, M.Pd, dengan panggilan Yuniar,
lahir di Lhokseumawe pada tanggal 27
Februari 1976, dengan Alamat jln H.Nafi
Dusun Paloh pineung Meunasah Alue Kec
Muara Dua Kota Lhokseumawe. Prestasi
Juara 2 Olimpiade Guru Nasional Tk Kota
Lhokseumawe Tahun 2012 dan Juara 2 Guru
Berprestasi Tk Kota Lhokseumawe Tahun
2018. Aktif mengajar Matematika di SMA Negeri 2 Lhokseumawe
PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah
Belajar adalah suatu proses yang kompleks yang terjadi
pada diri setiap individu sepanjang hidupnya. Proses belajar itu
terjadi karena adanya interaksi antara seseorang dengan
lingkungannya. Semakin sering interaksi itu terjadi, maka akan
semakin banyak hal yang dapat dipelajari. Para guru dituntut agar
mampu memaksimalkan kegiatan pembelajaran dengan berbagai
cara, sehingga kepada setiap guru harus selalu meningkatkan
kemampuan dan kompetensinya seiring dengan perkembangan
zaman dan perkembangan teknologi yang sangat cepat.
Guru sebagai tenaga profesional memiliki peran penting
dalam peningkatan mutu pendidikan. Dalam permendikbud
nomor 22 tahun 2016 tentang Standar Proses, bahwa proses
190 | Didi Pianda, dkk
pembelajaran diharapkan berlangsung secara interaktif, inspiratif,
menyenangkan, menantang, efisien, memotivasi peserta didik
untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup
bagi prakarsa, kreativitas dan kemandirian sesuai dengan bakat,
minat, dan perkembangan fisik serta psikologi peserta didik.
Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknonologi,guru diharapkan mampu menggunakan media dalam
proses pembelajaran di sekolah. Media pembelajaran merupakan
suatu alat atau perantara yang berguna untuk memudahkan proses
belajar mengajar, dalam rangka mengefektifkan komunikasi antara
guru dan siswa. Hal ini sangat membantu guru dalam mengajar dan
memudahkan siswa menerima dan memahami pelajaran serta dapat
meningkatkanminat dan motivasi belajar siswa. Berdasarkan
keterangan diatas, maka guru harus memiliki pengetahuan dan
pemahaman yang cukuptentang media pembelajaranyang
digunakan.
Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi, segala informasi baik dalam bentuk sosial media
maupun ilmu pengetahuan sangat mudah didapat melalui
internet. Khusus dalam bidang pendidikan, terdapat beberapa
aplikasi yang memudahkan guru dan siswa serta orang tua
dalam memaksimalkan proses dan hasil belajar, misalnya
edmodo, quipper school dan lainnya.
Penggunaan edmodo sebagai digital class selain kelas nyata
yang ada disekolah sangat membantu guru dalam meningkatkan
motivasi belajar siswa, karena siswa dapat langsung belajar
dengan menggunakan handphonenya setiap waktu, sehingga
diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar siswa.
Tujuan
Berdasarkan uraian yang telah dipaparkan di atas, maka
tujuan best practice ini adalah sebagai berikut :
Dapat membangkitkan minat belajar peserta didik
BEST PRACTICE: Karya Guru Inovatif yang Inspiratif (Menarik Perhatian Peserta Didik) | 191
Dapat memaksimalkan pemanfaatan Teknologi Informasi
dan Komunikasi (TIK) dalam pembelajaran Matematika
Dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik
Manfaat
Secara umum best practices ini dapat memberikan manfaat
kepada kegiatan pembelajaran, diantaranya:
Bagi Guru, akan menciptakan suatu tehnik pembelajaran yang
modern dalam meningkatkan kemampuan dan keterampilan
guru dalam melaksanakan proses pembelajaran serta dapat
mengembangkan kreativitas guru mata pelajaran matematika,
khususnya penggunaan media komputer dalam
meningkatkan minat belajar siswa.
Bagi Siswa, akan memaksimalkan kegiatan siswa dalam
pembelajaran serta dapat meminimalkan penggunaan
internet ke hal-hal yang negatif.
Bagi Sekolah, akan menambah referensi kepada sekolah
dalam meningkatkan mutu pendidikan
Bagi Masyarakat, akan membantu meningkatkan wawasan
masyarakat tentang penggunaan internet ke hal-hal yang
positif, sehingga diharapkan dapat terciptanya masyarakat
yang maju dan berwawasan luas.
STATE OF ART (SOTA)
Penggunaan Edmodo
Edmodo merupakan suatu platform microblogging pribadi
yang di kembangkan untuk guru dan siswa, dengan
mengutamakan privasi siswa. Guru dan siswa dapat berbagi
catatan, tautan, dan dokumen. Guru juga memiliki kemampuan
untuk mengirimkan sesuatu dalam kerangka waktu yang dapat
di lihat oleh pubik. Atau edmodo adalah suatu perusahaan yang
berkonsentrasi dalam meningkatkan mutu pendidikan. Edmodo
menyediakan kelas digital yang sangat berguna dan membantu
192 | Didi Pianda, dkk
guru dan siswa dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran,
dimana guru dapat memberikan materi pelajaran, memberikan
tugas, melakukan evaluasi serta membimbing siswa melalui
kegiatan diskusi. Edmodo dapat juga berfungsi sebagai berikut :
1). Untuk mempermudah komunikasi antara murid dengan
murid atau guru dengan guru / dosen. 2), Sebagai sarana
komunikasi belajar/ berdiskusi, dan 3. Sebagai tempat untuk
ujuan / quiz, dan lain sebagainya
Edmodo di rancang untuk membuat peserta didik
bersemangat dalam belajar baik itu di di lingkungan sekolah
maupun diluarnya. Di dalam edmodo, guru dapat melanjutkan
diskusi kelas online, dengan memberikan polling untuk
memeriksa pemahaman pesrta didik secara individual
berdasarkan kinerja atau perilakunya. Edmodo juga
memudahkan untuk melacak kemajuan peserta didik. Semua
hasil nilai dan rencana belajar di tugaskan/ di berikan melalui
edmodo dan di simpan dan dengan mudah sehingga dapat di
akses dengan cepat. Guru bisa mendapatkan masukan dari ruang
kelas melalui reaksi peserta didik untuk membuat kuis, tugas,
dan posting diskusi yang menangkap pemahaman, kebingungan,
atau pefrustasian bagi peserta didik.
Beberapa kelebihan dan kekuranga Edmodo dalam
pembelajaranran antara lain :
Kelebihan: Tidak sering error, Orang tua dapat mengontrol
hasil belajar siswa, Guru dan siswa tidak harus bertatatap
muka, dan Dapat diakses siapapun, kapanpun, dan di
manapun.
Kekurangan: Membutuhkan fasilitas dan jaringan internet
yang memadai, dan Membutuhkan kesadaran siswa untuk
aktif dalam pembelajaran.
BEST PRACTICE: Karya Guru Inovatif yang Inspiratif (Menarik Perhatian Peserta Didik) | 193
Gambar 31 . Penggunaan Kelas Vistual Edmodo
Langkah-Langkah Penggunaan Edmodo Untuk Peserta
Didik
Mengatur Profil
Ketika pertama kali siswa menggunakan Edmodo, mereka
diharapkan mengatur informasi profil, pemberitahuan/notifikasi
dan mengatur keamanan (password). Untuk melakukan
pengaturan tersebut, silakan pilih Account/“Me” ikon yang
terdapat di pojok atas sebelah kanan halaman depan Edmodo.
Kemudian pilih “Setting.” Di dalam menuSetting siswa akan
mendapatkan fitur sebagai berikut:
Akun (Account)
Pada halaman akun siswa dapat melakukan hal berikut:
Mengganti foto profil: Pilih foto dari komputer,
unggah menggunakan tombol “Upload a New Photo”
atau pilih foto menggunakan ikon yang disediakan
Edmodo.
194 | Didi Pianda, dkk
Mengubah informasi pribadi : siswa dapat merubah
nama meliputi nama depan/nama belakang (first
name/last name), alamat email, dan zona
waktu(timezone). Pastikan untuk mengatur zona
waktu yang sama dengan guru.
Profile Overview
Cara melakukan setting profile untuk halaman siswa sama
dengan yang dilakukan pada halaman guru yaitu dengan klik
Account/“Me” ikon padanavigation bar, kemudian pilih menu
profile. Pada halaman ini, siswa diharapkan mengubah foto,
mengisi identitas diri, dan mengatur notifikasi ke email
mereka masing-masing. Di dalam menu profile siswa akan
mendapatkan fitur sebagai berikut:
Foto profil, arahkan ke pojok kanan atas jika Anda ingin
mengganti foto.
Informasi siswa yang ditampilkan, meliputi nama dan
keterangan sebagai siswa.
Kelengkapan Profil (Profile Completeness), Bar akan
menunjukkanprogress setelah menyelesaikan profil
siswa.
Posts and Replies, jumlah posting dan jawaban yang siswa
telah buat.
Groups, jumlah Groups yang diikuti siswa.
Badges, jumlah lencana (Badges) yang sudah didapatkan
siswa.
Ikon Badges, menampilkan jumlah lencana (Badges) yang
sudah didapatkan siswa. Klik “See all” untuk melihat
detail lencana.
Kutipan favorit (Favorite Quote), klik pada ikon pensil
untuk memilih atau mengubah kutipan favorit siswa.
Siswa juga dapat memilih kutipan favorit dari yang
sudah disediakan, dan mencari kata kunci atau nama
untuk menemukan kutipan tertentu.
BEST PRACTICE: Karya Guru Inovatif yang Inspiratif (Menarik Perhatian Peserta Didik) | 195
Bagaimana saya suka belajar (How I Like to Learn), klik pada
ikon pensil untuk memilih atau mengubah
bagaimana siswa ingin belajar. Pilih menulis
(Handson), mendengarkan (Listening) atau melihat
(Visually) untuk mempelajari gaya belajar masing-
masing. Kemudian klik tombol “Select”.
Tujan karir (Career Goal), klik pada ikon pensil untuk
memilih atau mengubah tujuan karir mereka. Klik pada
bidang karir di sebelah kiri dan lihat deskripsi dari
setiap karir di sebelah kanan. Pilih tujuan karir dengan
mengklik nama karir tertentu.
Teachers, klik “Show all Teachers” untuk melihat guru dan
asisten guru (co-teacher) yang terhubung sebagai
anggota grup.
Classmates, klik “Show all Classmates” untuk melihat
semua teman sekelas. Meskipun mereka dapat melihat
profil teman sekelas mereka, namun mereka tidak dapat
mengirimkan pesan langsung kepada sesama.
Perpustakaan Edmodo
Backpack adalah seperti tempat penyimpanan maya yang
bekerja mirip denganLibrary pada guru. Siswa dapat menyimpan
file dengan jumlah yang tidak terbatas, tautan dan dapat
terintegrasi dengan Google Drive di Library. Siswa dapat
melampirkan item dari Backpack ke Posts atau Assignments. Batas
yang digunakan adalah 100 Mb ketika upload, namun
penyimpanan keseluruhan yang tersedia adalah tidak terbatas.
Pada Backpack ini, siswa tidak akan melihat Folder guru di sini,
namun mereka akan melihat Folder guru yang telah berbagi
dengan mereka.
196 | Didi Pianda, dkk