Batasan-batasan
Model Index Card Matchini digunakandalam
pembelajaran Fisika pada materi elastisitas pada kelas X IPA 1di
SMAN 2 Lhokseumawe
Langkah-langkah Pelaksanaan Best Practice
Ada beberapa tahap yang di lakukan dalam rangka
melaksanakan pembelajaran materi elastisitas dengan model
pembelajaran Index Card Match berbasis Kooperatif. Adapun
tahap-tahap tersebut adalah sebagai berikut:
Perencanaan
Pada tahap perencanaan diawali dengan kegiatan
pengenalan metode pembelajaran Index Card Match berbasis
Kooperatif kepada siswa dengan meyusun langkah-langkah
pembelajaran dengan menerapkan model pembelajaran Index
Card Match berbasis Kooperatif. Hal-hal yang perlu dipersiapkan
adalah sebagai berikut:
Menyiapkan RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran)
untuk dipergunakan sebagai acuan dalam melaksanakan
pembelajaran. RPP yang dibuat memuat scenario
pembelajaran tentang elastisitas
Menyiapkan lembar kerja siswa (LKS) yang akan
dilaksanakan pada saat pelaksanaan pembelajaran
Menyiapkan kartu atau potongan kertas
Menyiapkan soal test
Menyiapkan bahan yang berhubungan dengan
pembelajaran
Menyiapkan lembar obsevasi guru untuk mengamati
aktivitas guru dalam menerapkan model pembelajaran
Index Card Match berbasis Kooperatifdi kelas dan
menyiapkan lembar observasi siswa untuk mengamati
aktivitas siswa
BEST PRACTICE: Karya Guru Inovatif yang Inspiratif (Menarik Perhatian Peserta Didik) | 99
Pelaksanaan
Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar di bagi dalam
beberapa tahapan:
Tahap Awal
Pada tahap ini guru membuka pelajaran dengan
mengucapkan salam, mengajak siswa berdoa, mengabsen siswa
dan berusaha menciptakan suasana kelas yang kondusif.
Kemudian memotivasi siswa melalui informasi tentang hal-hal
yang berkaitan dengan elastisitas dan memperlihatkan alat dan
bahan yang berhubungan dengan pembelajaran.Selanjutnya guru
menyampaikan tujuan pembelajaran yang harus dicapai siswa.
Tahap Inti
Pada tahap ini guru menyampaikan materi pelajaran
tentang elastisitas dan guru membagikan satu kartu pada masing-
masing siswa, separuh siswa mendapatkan kartu berisi pertanyaan
dan separuh siswa lagi mendapatkan satu kartu berisi jawaban,
Kemudian siswa mencari pasangan kartu dan membentuk kelompok
dengan posisi letter U. Setelah suasana kelas tenang dan siap belajar,
guru membagikan LKS 1 serta menjelaskan tentang tata cara
mengerjakan LKS yang sesuai dengan anjuran yang ada pada LKS.
Kemudian guru meminta siswa untuk berdiskusi tentang tugas yang
ada di LKS dengan anggota kelompoknya.
Tahap akhir
Pada tahap ini setelah siswa memperoleh jawaban
dengan hasil diskusi, guru meminta siswa untuk
mempresentasikan hasil kerja kelompok dan membacakan
kartunya secara berpasangan ke depan kelas dan kelompok lain
menanggapinya. Kemudian guru bersama siswa membuat
rangkuman tentang materi yang telah dipelajari yaitu elastisitas
dan menyuruh siswa mengumpulkan LKS.Setelah itu guru
memberi penghargaan kepada kelompok yang terbaik.
100 | Didi Pianda, dkk
Hasil yang dicapai
Adapun hasil yang dicapai dalam pelaksanaan kegiatan
pembelajaran pada best practice adalah dapat analisis pada tabel
berikut ini:
Tabel 1. Analisis Aktivitas Siswa Pada Pelaksanaan Pembelajaran
Pelaksanaan pembelajaran
No. Fase/Tahap Skor Skor % Ket
Baik
1 Pendahuluan Perolehan Maks
Menyampaikan Baik
tujuan dan 4 5 80%
memotivasi
siswa 7 10 70%
2 Inti
Menyajikan
informasi atau
materi
3 Mengorganisasi 7 10 70% Baik
siswa ke dalam
kelompok- 4 5 80% Baik
kelompok belajar
7 10 70% Baik
4 Membimbing 3 5 60% Cuk
kelompok 32
bekerja dan up
belajar 45 71% Baik
5 Penutup
Mengevaluasi
6 Memberikan
pengakuan dan
penghargaan
Jumlah
BEST PRACTICE: Karya Guru Inovatif yang Inspiratif (Menarik Perhatian Peserta Didik) | 101
Tabel 2. Tingkat Ketuntasan Belajar Siswa Pada Masing-Masing
Indikator Keterampilan Berpikir Kritis
Jumlah
No Indikator Siswa %
Yang Ketuntasan
Tuntas
1 Memberi penjelasan 25 83%
sederhana
2 Membangun 24 80%
keterampilan dasar
3 Menyimpulkan 21 70%
4 Memberi penjelasan lebih 23 76%
lanjut
5 Mengantur strategi dan 24 80%
taktik
Nilai Penting dan Kebaharuan Best Practice
Respon siswa terhadap pelaksanaan pembelajaran dengan
menggunakan metode pembelajaran Index Card Match berbasis
Kooperatif menunjukkan respon yang sangat baik. Hal ini
menunjukkan bahwa pelaksanaan pembelajaran dengan
menggunakan model pembelajaran Index Card Match berbasis
Kooperatif dapat meningkatkan keterampilan berpikir kritis dan
motivasi siswa untuk belajar, selain itu suasana pembelajaran
menjadi lebih menyenangkan.
Faktor Pendukung dan Penghambat
Strategi pembelajaran Index Card Match sebagai salah satu
aternatif yang dapat dipakai dalam penyampaian materi
pelajaran selama proses belajar mengajar juga memiliki beberapa
kelebihan dan kelemahan. kelebihan dan kelemahan strategi
pembelajaran Index Card Match sebagai berikut:
102 | Didi Pianda, dkk
Beberapa kelebihan sebagai faktor pendukung dalam
menggunakan Strategi Index Card Match diantaranya :
Pembelajaran akan menarik sebab menggunakan media
kartu yang dibuat dari potongan kertas.
Meningkatkan kerja sama diantara siswa melalui proses
pembelajaran.
Dengan pertanyaan yang diajukan akan mendorong
siswa untuk mencari jawaban.
Menumbuhkan kreatifitas belajar siswa dalam proses
belajar mengajar.
Beberapa kelemahan sebagai faktor penghambat dalam
menggunakan strategi Index Card Match diantaranya :
Potongan-potongan kertas kurang dipersiapkan secara
baik.
Tulisan dalam kartu adakalanya tidak sesuai dengan
bentuk kartu yang ada.
Kurang memadukan materi dangan kebutuhan siswa.
Guru harus meluangkan waktu yang lebih.
Tindak lanjut
Dengan adanya beberapa keterbatasan dalam pengguaan
model ini, kepada peneliti lain diharapkan untuk mengadakan
penelitian sejenis lebih lanjut dengan mengambil wilayah penelitian
yang lebih luas, dan menggunakan rancangan penelitian yang lebih
kompleks dengan metode pengumpulan data yang lebih lengkap,
menggunakan bahasa dan mata pelajaran yang lebih banyak lagi,
juga melakukan penelitian pada tingkat pendidikan yang lain seperti
pada perguruan tinggi, sehingga dapat ditemukan hasil yang lebih
dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah, bisa digeneralisasikan
secara tepat dan tindak lanjut hasil penelitian dapat dirumuskan
dengan sempurna.
BEST PRACTICE: Karya Guru Inovatif yang Inspiratif (Menarik Perhatian Peserta Didik) | 103
PEMBAHASAN BEST PRACTICE
Hasil Pembelajaran pada Best Practice
Dari tabel 1. diatas, dapat dianalisis aktivitas guru dalam
kegiatan belajar mengajar dengan menggunakan metode
pembelajaran Index Card Match berbasis Kooperatifpada materi
elastisitas tergolong baik, yaitu 71% dari keseluruhan aktivitas
yang dilakukan guru. Aktivitas guru pada tahap kegiatan
pendahuluan dalam fase menyampaikan tujuan dan memotivasi
siswa tergolongbaik dengan persentase 80%.
Selanjutnya, aktivitas guru pada tahap kegiatan inti dalam
fase menyajikan informasi atau materi tergolong baik dengan
persentase 70%, fase mengorganisasi siswa ke dalam kelompok-
kelompok belajar tergolong baik dengan persentase 70%, dan fase
membimbing kelompok bekerja dan belajar tergolong baik dengan
persentase 80% dengan metode pembelajaran Index Card Match
berbasis Kooperatif. Hal ini dikarenakan oleh baiknya respon siswa
pada tahap ini sehingga pembelajaran menjadi lancar.Kemudian
pada saat tahap kegiatan penutup dalam fase mengevaluasi
tergolong baik dengan persentase 70%, dan pada fase memberikan
pengakuan dan penghargaan tergolong cukup dengan persentase
60%.Hal ini dikarenakan guru masih belum terbiasa dengan metode
pembelajaran yang digunakan.
Berdasarkan tabel 2. diatas terlihat bahwa hanya satu
indikator yang dinyatakan belum tuntas yaitu menyimpulkan
dengan persentase 70%. Sedangkan indikator memberi penjelasan
sederhana hanya 25 siswa yang tuntas atau 83%,indikator
membangun keterampilan dasar hanya 24 siswa yang tuntas atau
80%, indikator memberi penjelasan lebih lanjut hanya 23 siswa
yang tuntas, dan untuk indikator mengantur strategi dan taktik
yang dinyatakan tuntas 24 siswa atau 80%.
104 | Didi Pianda, dkk
Pembahasan Pada Best Practice
Penggunaan model pembelajaran ini dilakukan untuk
mengetahui keterampilan berpikir kritis siswa, aktivitas guru dan
siswa, serta respon siswa kelas X IPA 1 SMA Negeri 2 Lhokseumawe
setelah diterapkan metode pembelajaran Index Card Match berbasis
Kooperatif dalam pembelajaran fisika pada materi elastisitas. Kegiatan
mengajar dilakukan dengan menggunakan model pembelajaran
Index Card Match berbasis Kooperatif. Setelah itu, menguji kemampuan
akhir siswa dengan memberikan soal. Pengujian ini dilakukan untuk
mengetahui peningkatan keterampilan berpikir kritis siswa setelah
menerapkan metode pembelajaran Index Card Match berbasis
Kooperatif. Jika pembelajaran dengan menggunakan metode
pembelajaran Index Card Match berbasis Kooperatif sudah dapat
meningkatkan efektivitas pembelajaran dan keterampilan berpikir
kritis siswa, maka pembelajaran tersebut sudah berhasil dilakukan.
PENUTUP
Berdasarkan hasil analisis data pengamatan yang
dilakukan di SMA Negeri 2 Lhokseumawe di kelas X IPA 1 ,
maka dapat disimpulkan bahwa:
Pembelajaran Index Card Match berbasis Kooperatif dapat
meningkatkan minat siswa untuk belajar dan dapat
meningkatkan keterampilan berpikir kritis siswa
pembelajaran fisika pada materi elastisitas di kelas X IPA1
SMA Negeri 2 Lhokseumawe.
Aktivitas guru dan siswa dalam proses belajar mengajar dengan
menggunakan metode pembelajaran Index Card Match berbasis
Kooperatif pada materi elastisitas di kelas X IPA1 SMA Negeri 2
Lhokseumawe tergolong sangat baik. Hal ini terbukti dengan
meningkatnya persentase aktivitas guru dan siswa .
BEST PRACTICE: Karya Guru Inovatif yang Inspiratif (Menarik Perhatian Peserta Didik) | 105
Respon siswa kelas X IPA 1 SMA Negeri 2 Lhokseumawe
terhadap penerapan metode pembelajaran Index Card Match
berbasis Kooperatif menunjukkan hasil yang sangat baik.
106 | Didi Pianda, dkk
PEMBELAJARAN KIMIA DENGAN MEDIA LOTRE ION
KIMIA MELALUI PENERAPAN QUANTUM TEACHING
KIKI LEDYA, S.Si.,M.T
(SMA Negeri 2 Lhokseumawe)
TENTANG PENULIS
Kiki Ledya, S.Si., MT, dengan nama
panggilan Kiki lahir di Banda Aceh, pada
tanggal 03 Januari 1982. Tinggal di Jl. Mahoni
No. 6 Kuta Blang Kota Lhokseumawe. No
HP/WA/Telegram 08126977397. Email,
[email protected]. Saat ini bertugas di
SMAN 2 Lhokseumawe. Aktif di Ikatan Guru
Indonesia (IGI) Kota Lhokseumawe sebagai
Anggota. Prestasi terbaik menjadi Pemenang
Tingkat Provinsi Juara I Guru Berprestasi:
bidang kimia: Tahun 2016, Juara 2 Guru Berprestasi: bidang pendidikan:
Tahun 2017 dan pemenang Tingkat Nasional Karya Tulis : bidang
pendidikan: Tahun 2010
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Metode mengajar merupakan kegiatan fisik yang diberikan
kepada peserta didik sehingga kemampuan intelektualnya dapat
berkembang. Selama bertahun-tahun, metode mengajar mata
pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) di sekolah dasar dan
sekolah menengah bahkan perguruan tinggi adalah metode mengajar
secara informatif. Dalam hal itu peserta didik hanya mendengarkan
dan mencatat, sementara guru hanya berbicara. Desain pembelajaran
adalah praktek penyusunan media
BEST PRACTICE: Karya Guru Inovatif yang Inspiratif (Menarik Perhatian Peserta Didik) | 107
teknologi komunikasi dan isi untuk membantu agar dapat terjadi
transfer pengetahuan secara efektif antara guru dan peserta didik.
Model-model desain rencana pembelajaran adalah model PPSI,
model Banathy, model Kemp, model Gerlach & Elly, model Dick &
Carrey, model ASSURE, model ADDIE, dan model Hanafin and Peck.
Umumnya pengajaran IPA ditekankan pada penghafalan
rumus-rumus, konsep-konsep atau bentuk-bentuk masalah
tertentu. Kimia merupakan salah satu cabang IPA yang mungkin
dianggap sulit oleh peserta didik. Dalam pembelajaran kimia
diharapkan adanya suasana belajar yang menyenangkan. Salah
satu cara adalah dengan memilih satu atau beberapa metode dan
pendekatan yang sesuai. Berdasarkan hasil pengamatan di SMA
Negeri 2 Lhokseumawe, ditemukan bahwa cara mengajar guru
cenderung menggunakan pendekatan pembelajaran tradisional
yang didominasi dengan metode ceramah dimana pembelajaran
lebih terpusat pada guru (teacher centered learning).
Metode ceramah merupakan metode penyampaian
informasi oleh seorang pembicara kepada sekelompok orang.
Kelebihan dan kelemahan metode ceramah terletak pada waktu dan
kelompok pendengar. Dilihat dari segi kelemahannya, metode
ceramah dapat menyebabkan peserta didik menjadi bosan dalam
mengikuti pembelajaran kimia, proses belajar mengajar kurang
menyenangkan dan kurang melibatkan peserta didik secara aktif.
Hal ini akan membuat berkurangnya minat peserta didik terhadap
materi pembelajaran kimia yang disampaikan guru yang berakibat
berkurangnya hasil belajar yang diperoleh peserta didik.
Penulis sebagai guru kimia mencermati kebiasaan dalam
pembelajaran kimia yaitu masih rendahnya motivasi belajar
peserta didik SMA Negeri 2 Lhokseumawe masih kurangnya
minat belajar terhadap kimia, kurannya rasa ingin tahu dari
peserta didik diakibatkan dari proses belajar yang yang sulit dan
kurang menyenangkan. Banyak materi kimia yang disampaikan
guru tidak menyenangkan bagi peserta didik. Salah satunya
108 | Didi Pianda, dkk
adalah materi tata nama senyawa kimia biasa dan tata nama
senyawa kimia kompleks. Berdasarkan hasil pengamatan,
ditemukan bahwa sebagian besar peserta didik tidak mampu
menyebutkan dan menulis nama senyawa kimia biasa dan
senyawa kimia kompleks dari rumus kimia yang diketahui. Hal
ini mengakibatkan peserta didik kesulitan dalam menyelesaikan
soal-soal penamaan pada senyawa kimia. Untuk itu, penulis
sebagai guru kimia harus melakukan upaya perbaikan yang salah
satunya yaitu dengan melakukan perbaikan pada proses
pembelajaran dengan cara mengembangkan perangkat
pembelajaran yang didalamnya terdapat rencana pelaksanaan
pembelajaran (RPP), lembaran kegiatan peserta didik (LKPD)
serta dilengkapi media alat peraga yang berhubungan dengan
materi dan sistem penilaian. Pengembangan perangkat
pembelajaran diharapkan dapat mengatasi hal tersebut, ada
beberapa metode dan pendekatan alternatif yang dikombinasikan
dalam pengembangan perangkat pembelajaran yang dapat
diterapkan dalam pembelajaran kimia diantaranya metode
discovery, metode inquiry, metode eksperimen, pendekatan Sains
Teknologi Masyarakat (STM) dan pendekatan quantum teaching.
Salah satu pendekatan alternatif yang dapat diterapkan pada
pembelajaran kimia adalah quantum teaching. Quantum teaching
adalah pengubahan belajar yang meriah, dengan segala nuansanya.
Quantum teaching menyertakan segala kaitan, interaksi, perbedaan
yang memaksimalkan momen belajar . Kelebihan dari penerapan
quantum teaching adalah peserta didik lebih aktif, dapat
menggunakan akalnya lebih aktif dalam belajar, suasana kelas lebih
menyenangkan dan meriah, pemberian pujian atau penghargaan
serta permainan membuat peserta didik senang dan setia mengikuti
pelajaran tanpa merasa bosan. Hasil penelitian
tersebut menunjukkan bahwa pembelajaran dengan menggunakan
quantum teaching memiliki dampak positif terhadap peserta didik
yang memiliki minat dan hasil belajar yang kurang
BEST PRACTICE: Karya Guru Inovatif yang Inspiratif (Menarik Perhatian Peserta Didik) | 109
terhadap pembelajaran kimia, dengan demikian keistimewaan
quantum teaching dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik
dengan cara belajar yang menyenangkan, dengan penerapan
pengembangan perangkat pembelajaran yang disesuaikan
dengan media alat peraga yang dikombinasikan dengan
penerapan quantum teaching diharapakn dapat meningkatkan
minat belajar dan meningkatkan hasil belajar peserta didik pada
pembelajaran kimia.
Tujuan
Adapun tujuan yang hendak dicapai dari pelaksanaan best
practice adalah (1) Meningkatkan motivasi dan minat belajar kimia,
Meningkatkan aktivitas siswa belajar agar lebih aktif dan
kreatif, dan (3) Meningkatkan hasil belajar siswa.
Manfaat
Berdasarkan tujuan diatas, maka penulis harapkan dapat
memberikan mafaat kepada sekolah, guru dan para peserta didik
serta masyarakat antara lain:
Bagi Guru, dapat meningkatkan profesionalnya dalam
menghasilkan perangkat pembelajaran serta sistem
penilaian yang memenuhi kriteria valid, praktis dan
efektif.
Bagi Peserta Didik, diharapkan lebih menyenangi pembelajaran
kimia serta hasil belajar kimianya lebih baik.
Bagi Sekolah, diharapakan dengan adanya pembelajaran ini
akan mampu meningkatkan mutu pendidikan sekolah
khususnya pada pelajaran kimia.
Bagi Masyarakat, diharapakan dengan adanya penelitian ini
akan mampu meningkatkan mutu pendidikan sekolah
khususnya pada pembentukan karakter kepribadian etika
para peserta didik ketika berbaur dimasyarakat yang
dapat membawa hasil pembelajran yang menghasilkan
etika yang positif.
110 | Didi Pianda, dkk
STATE OF ART (SOTA)
Penerapan Quantum Teaching
Quantum teaching adalah sebuah program yang
mengizinkan pendidik untuk memahami perbedaan gaya
pembelajaran para peserta didik di dalam kelas yang bertujuan
untuk mengajari pendidik cara belajar dan menciptakan
lingkungan belajar yang efektif, dengan menggunakan unsur
pada diri peserta didik dan lingkungan belajarnya melalui
interaksi yang terjadi di dalam kelas.
Proses belajar yang dialami seseorang sangat bergantung
kepada lingkungan tempat belajar. Untuk mendapatkan
lingkungan yang dapat memberikan sugesti positif dapat
digunakan beberapa teknik, diantaranya peserta didik di dalam
kelas dibuat nyaman, musik dipasang, poster-poster besar yang
menonjolkan informasi ditempel. Penataan bangku dalam kelas
juga dapat menciptakan lingkungan yang memberikan sugesti
positif. Untuk presentasi peserta didik, ajaran guru dan lain-lain
bangku diatur ke depan sehingga peserta didik menghadap ke
depan agar membantu mereka tetap fokus ke depan. Untuk kerja
kelompok, bangku diputar saling berhadapan, rapatkan bangku
ke dinding jika ingin memberi tugas perorangan.
Penataan lingkungan belajar ini dibagi dua yaitu:
lingkungan mikro dan lingkungan makro. Lingkungan mikro
ialah tempat peserta didik melakukan proses belajar (bekerja dan
berkreasi). Lingkungan makro ialah dunia yang luas. Peserta
didik diminta untuk menciptakan ruang belajar di masyarakat.
Mereka diminta untuk memperluas lingkup pengaruh dan
kekuatan pribadi, berinteraksi sosial ke lingkungan masyarakat
yang diminatinya.
Asas dan Strategi Penerapan Quantum Teaching, Asas dari
QT adalah “Bawalah Dunia Mereka ke Dunia Kita, dan Antarkan
Dunia Kita ke Dunia Mereka”. Caranya mengaitkan yang
diajarkan guru dengan peristiwa, pikiran atau perasaan yang
BEST PRACTICE: Karya Guru Inovatif yang Inspiratif (Menarik Perhatian Peserta Didik) | 111
diperoleh dari kehidupan peserta didik. Setelah terbentuk diberi
pemahaman mengenai kehidupan tersebut. Hal ini menunjukkan,
betapa pengajaran dengan Quantum Teaching tidak hanya
menawarkan materi yang mesti dipelajari peserta didik. Tetapi jauh
dari itu, peserta didik juga diajarkan bagaimana menciptakan
hubungan emosional yang baik dalam dan ketika belajar.
Ā Ā Ā
edia “Lotre Ion Kimia”
Alat peraga adalah suatu media atau prasarana untuk
berlangsungnya suatu pembelajaran. Guru yang kreatif dan inovatif
akan membuat atau menciptakan media alat peraga tersebut yang
merupakan bagian dari perangkat pembelajaran yang sangat
dibutuhkan oleh guru dalam menyampaikan materi kepada peserta
didik. Diharapkan kepada semua guru dituntut untuk membuat
sesuatu bentuk media peraga yang relevan yang berhubungan
dengan materi yang akan dipelajari atau matei yang akan
disampaikan kepada peserta didik. Adanya media peraga ini
sangatlah membantu guru dalam hal menarik minat peserta didik
dan menambah motivasi belajar peserta didik. Pembelajaran yang
menarik bagi peserta didik adalah yang tidak kaku serta
menyenangkan. Beberapa kegunaan media alat peraga yaitu
meningkatkan motivasi belajar peserta didik diantaranya adalah:
membantu peserta didik mengenal pengetahuan secara langsung,
menujang perucapan kata, membuat lebih nyata, jelas dan
menarik, membantu guru mengembangkan bahan
pembelajarannya dan yang paling penting menambah
kesenangan serta motivasi dalam pembelajaran.
Media “Lotre Ion Kimia” adalah salah satu media alat
peraga yang terdapat pada pembelajaran kimia. Materi khusus kimia
seperti penamaan senyawa kimia dan penamaan senyawa kimia
kompleks. Media peraga lotre kimia ini dapat juga banyak
diterapkan pada materi kimia lainnya. Adanya media peraga lotre
112 | Didi Pianda, dkk
ion kimia, sangat membantu peserta didik mengenal jenis-jenis
ion yang terdapat pada senyawa kimia, sehingga yang tadinya
para peserta didik merasa sulit dan tidak menyenangkannya
materi kimia yang akan dipelajari, dengan adanya media peraga
lotre ion kimia ini sangatlah membantu siswa dalam hal
mengenal jenis-jenis ion. Para peserta didik dapat merasakan
belajar sambil bermain. Gambaran proses pembelajaran yang
terjadi adalah pembelajaran yang aktif, kreatif, inovatif dan
menyenangkan yang memiliki tujuan akhir meningkatkan hasil
belajar para peserta didik.
Langkah-langkah Penerapan Quantum Teaching
Dalam pelaksanaannya, QT melakukan langkah-langkah
pengajaran dengan enam langkah yaitu Tumbuhkan (T), Alami
(A), Namai (N), Demonstrasi (D), Ulangi (U), dan Rayakan (R)
yang dikenal dengan istilah TANDUR. Langkah-langkah yang
diterapkan dalam kelas pada sub materi tata nama senyawa
kimia kompleks adalah sebagai berikut:
Fase 1 : Tumbuhkan
Guru menumbuhkan minat belajar siswa dengan
menyampaikan tujuan pembelajaran dan bertanya tentang
perlunya mempelajari tata nama senyawa Kompleks.
Fase 2 : Alami
Membagi siswa dalam 5 kelompok
Sekarang saya akan membagikan 5 jenis permen
kepada kalian. Tiap-tiap orang mengambil 1 jenis
permen, yang mendapatkan permen dengan jenis
sama duduk dalam 1 kelompok.
Setiap Kelompok di wakili anggota kelompoknya
untuk memilih 2 anion (1 anion sederhana dan 1 anion
kompleks) dan 2 kation (1 kation sederhana dan 1
kation kompleks) dan siswa bekerja dalam kelompok
BEST PRACTICE: Karya Guru Inovatif yang Inspiratif (Menarik Perhatian Peserta Didik) | 113
diskusinya menurut LKPD dan berdasarkan ion lotre
yang telah dipilih oleh siswa.
Fase 4 : Demonstrasi
Pada tahap ini peserta didik mempresentasikan hasil kerja
kelompoknya dan diperhatikan serta ditanggapi oleh
kelompok yang lainnya sehingga terjadi diskusi antar
kelompok.
Fase 5 : Ulangi
Pada tahap ini peserta didik mengevaluasi hasil belajar
tentang materi yang telah dipelajari melalui diskusi
kelas untuk menganalisis hasil pemecahan masalah
penamaan pada senyawa kompleks.
Peserta didik diharapkan menggunakan buku dan
referensi sebagai bahan diskusi untuk bantuan
mengevaluasi hasil diskusi.
Selanjutnya presentasi hasil diskusi dan penyamaan
persepsi.
Diakhir kegiatan peserta didik diharapkan dapat
menarik kesimpulan dari hasil pembelajaran yang
sudah dilakukan dan diberi penguatan oleh guru mata
pelajaran.
Fase 6 : Rayakan
Guru memberikan apresiasi bagi kelompok yang benar
dalam menyelesaikan tugas LKPD kelompok yaitu dengan
memberikan reward tanda bintang penghargaan., untuk
menyemangati dan motivasi bagi peserta didik yang sudah
berhasil dalam melakukan proses pembelajaran.
114 | Didi Pianda, dkk
PELAKSANAAN BEST PRACTICE
Deskripsi dan Ruang Lingkup Best Practice
Bahan dan Alat yang Dipergunakan Dalam Best Practice
Media : Tabel Sistim Periodik Unsur, Tabel Anion
Ligan Senyawa Kompleks (karton), Karton
Bintang Penghargaan, soal pretes, soal post test
Alat/Bahan : Laptop, LCD, Handout materi senyawa
Kompleks, Permen, Kertas plano, spidol
Sumber belajar: Sudarmo, U. 2007. Kimia untuk SMA
Kelas XII. Jakarta: Phibeta.
www.pengetahuankimia. com
Batasan–batasan
Model Quantum Teaching dengan Media Lotre Ion Kimia ini
digunakan dalam pembelajaran Kimia pada materi Tata Nama
Senyawa Kimia Kompleks. pada kelas XII-MIA1 di SMAN 2
Lhokseumawe
ĀĀĀ Ā∀Ġ Ā
angkah-langkah Kegiatan Pembelajaran Pelaksanaan
Best Practice
Ada beberapa tahap / fase yang di lakukan dalam rangka
melaksanakan pembelajaran materi Tata Nama Senyawa Kimia
Kompleks dengan model pembelajaran Quantum Teaching dengan
Media Lotre Ion Kimia . Adapun tahap-tahap tersebut adalah
sebagai berikut:
FASE-FASE Waktu KEGIATAN PEMBELAJARAN
Pendahuluan
15 Apersepsi:
Fase 1
Orientasi menit • Guru memberi salam, dan
peserta didik
kepada melakukan doa bersama.
masalah
Melakukan brainstorming
dimana peserta didik dihadapkan
pada masalah :
BEST PRACTICE: Karya Guru Inovatif yang Inspiratif (Menarik Perhatian Peserta Didik) | 115
FASE-FASE Waktu KEGIATAN PEMBELAJARAN
• Guru memotivasi siswa melalui
tampilan tabel Sistim Periodik
Unsur.
• Guru menjelaskan tujuan
pembelajaran kemudian dapat
memberikan konsep dasar,
petunjuk atau referensi yang
diperlukan dalam pembelajaran.
Pemberian appersepsi:
Siswa diberi tugas pretest: menuliskan
dilembar kertas jawaban Unsur-unsur
transisi yang masih siswa ingat yang
berada di periode keempat: tuliskan
lambang dan nama
unsurnya. Tugas prestes
dikumpulkan.
Kegiatan Inti 15 Pada tahap ini guru membantu
menit
Fase 2 peserta didik mendefinisikan dan
Mengorganis
asikan peserta mengorganisasikan tugas belajar
yang berhubungan dengan masalah
didik tersebut. Peserta didik diarahkan
pada proses PBM:
116 | Didi Pianda, dkk
FASE-FASE Waktu KEGIATAN PEMBELAJARAN
Fase 1 : Tumbuhkan
Guru menumbuhkan minat belajar
siswa dengan menyampaikan tujuan
pembelajaran dan bertanya tentang
perlunya mempelajari tata nama
senyawa Kompleks.
Fase 2 : Alami
• Membagi siswa dalam 5
kelompok
Sekarang saya akan
membagikan 5 jenis permen
kepada kalian. Tiap-tiap orang
mengambil 1 jenis permen, yang
mendapatkan permen dengan
jenis sama duduk dalam 1
kelompok.
Setiap Kelompok di wakili
anggota kelompoknya untuk
memilih 2 anion (1 anion
sederhana dan 1 anion
kompleks) dan 2 kation (1
kation sederhana dan 1 kation
kompleks) dan siswa bekerja
dalam kelompok diskusinya
menurut LKPD dan
berdasarkan ion lotre yang
telah dipilih oleh siswa.
BEST PRACTICE: Karya Guru Inovatif yang Inspiratif (Menarik Perhatian Peserta Didik) | 117
FASE-FASE Waktu KEGIATAN PEMBELAJARAN
Fase 3 15 Fase 3 : Namai
Membimbing menit Peserta didik mengumpulkan
penyelidikan informasi untuk menciptakan dan
individu dan membangun ide mereka sendiri
dalam memecahkan masalah. Pada
kelompok kegiatan ini peserta didik
mendiskusikan materi dengan
mengamati Tabel Anion Ligan
Senyawa kompleks dan Handout
Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD)
yang tersaji data sifat-sifat unsur
transisi pada periode keempat. Guru
membimbing siswa dalam
memecahkan masalah pada LKPD
Fase 4 30 Fase 4 : Demonstrasi
Mengembang menit
Pada tahap ini peserta didik
kan dan
menyajikan mempresentasikan hasil kerja
hasil karya
kelompoknya dan diperhatikan serta
ditanggapi oleh kelompok yang
lainnya sehingga terjadi diskusi antar
kelompok.
118 | Didi Pianda, dkk
FASE-FASE Waktu KEGIATAN PEMBELAJARAN
Penutup 15 Fase 5 : Ulangi
menit • Pada tahap ini peserta didik
Fase 5
Menganalisa mengevaluasi hasil belajar
tentang materi yang telah
dan dipelajari melalui diskusi kelas
mengevaluasi untuk menganalisis hasil
pemecahan masalah penamaan
proses pada senyawa kompleks.
pemecahan • Peserta didik diharapkan
menggunakan buku dan
masalah referensi sebagai bahan diskusi
untuk bantuan mengevaluasi
hasil diskusi.
Selanjutnya presentasi hasil
diskusi dan penyamaan
persepsi.
Diakhir kegiatan peserta didik
diharapkan dapat menarik
kesimpulan dari hasil
pembelajaran yang sudah
dilakukan dan diberi
penguatan oleh guru mata
pelajaran.
BEST PRACTICE: Karya Guru Inovatif yang Inspiratif (Menarik Perhatian Peserta Didik) | 119
FASE-FASE Waktu KEGIATAN PEMBELAJARAN
Fase 6 : Rayakan
Guru memberikan apresiasi bagi
kelompok yang benar dalam
menyelesaikan tugas LKPD
kelompok yaitu dengan
memberikan reward tanda
bintang penghargaan., untuk
menyemangati dan motivasi
bagi peserta didik yang sudah
berhasil dalam melakukan
proses pembelajaran.
Guru memberi tugas persiapan
melakukan pertemuan yang akan
datang: kegiatan non lab (Latihan
penamaan senyawa kompleks).
120 | Didi Pianda, dkk
Hasil yang Dicapai
Bedasarkan Pembelajaran Kimia yang dilakukan dengan
Model Penerapan Quantum Teaching Menggunakan Pendekatan
“Lotre Ion Kimia” pada hari Selasa tanggal 10 September 2017.
Maka hasil pembelajaran peserta didik yang di capai disajikan
pada tabel daftar distribusi frekeunsi sebagai berikut:
Tabel 2. Daftar Distribusi Frekeunsi Hasil Peserta Didik
Nilai Interval Frekuensi Persentase Kriteria
(%)
90 - 100 14 51,9 Sangat Baik
80-89 9 33,3 Baik
70-79 1 3,7 Cukup
60-69 2 7,4 Kurang
50–59 1 3,7 Sangat Kurang
Total 27 100
Rata-rata 80,67
Ketuntasan 88,89 %
Belajar
Berdasarkan hasil tabel diatas dengan nilai KKM di tetapkan
adalah 75 maka nilai dengan pedekatan media “Lotre Ion Kimia”
Jumlah siswa yang memiliki nilai diatas atau nilai rata-rata sebesar
80,67, sehingga presentase kelulusan klasikal yaitu 88,89% atau 24
anak tuntas belajar dan 3 anak belum tuntas belajar dengan
mendominasi kategori sangat baik dengan pembelajaran tersebut.
Nilai Penting dan Kebaruan Best Practice Yang Telah
Dilaksanakan
Asas dari Quantum Teaching adalah “Bawalah Dunia
Mereka ke Dunia Kita, dan Antarkan Dunia Kita ke Dunia
Mereka”. Caranya mengaitkan yang diajarkan guru dengan
peristiwa, pikiran atau perasaan yang diperoleh dari kehidupan
BEST PRACTICE: Karya Guru Inovatif yang Inspiratif (Menarik Perhatian Peserta Didik) | 121
siswa. Setelah terbentuk diberi pemahaman mengenai kehidupan
tersebut. Hal ini menunjukkan, betapa pengajaran dengan
Quantum Teaching tidak hanya menawarkan materi yang mesti
dipelajari siswa. Tetapi jauh dari itu, siswa juga diajarkan
bagaimana menciptakan hubungan emosional yang baik dalam
dan ketika belajar.
Dalam memulai pelajaran apapun, kita sangat perlu
menjadikan siswa aktif semenjak awal caranya dengan
menuyusun aktivitas pembuka yang menjadikan siswa lebih
mengenal satu sama lain, merasa lebih leluasa, ikut berfikir, dan
memperlihatkan minat terhadap pelajaran. Salah satu strategi
yang dapat digunakan dalam menjadikan siswa aktif semenjak
awal adalah strategi pembentukan tim atau kelompok.
Pada strategi pembentukan tim, ada beberapa cara yang
dapat dilakukan dalam membentuk tim atau kelompok. Salah
satunya adalah berdasarkan rasa permen. Siswa diberi masing-
masing satu permen bebas gula dengan berbagai rasa untuk
menunjukkan pengelompokkan.
Agar siswa yang tergabung dalam kelompok-kelompok
tersebut bertanggung jawab terhadap mata pelajaran, dapat dibuat
suatu kontrak belajar. Rancangan ini memberi peluang bagi siswa
untuk memikirkan dan mengakui tanggung jawab individual mereka
dalam kegiatan belajar aktif di kelas. Kontrak belajar ini dapat berisi
tentang : (i) penggunaan waktu kegiatan belajar di kelas, (ii) siswa
bertanggung jawab atas kegiatan belajarnya, (iii) siswa dapat
memaksimalkan belajar dengan mendengarkan dan memberi
tanggapan positif terhadap apa yang dikatakan siswa lain, (iv) siswa
berjanji untuk melakukan apapun demi menjadikan mata pelajaran
sebagai pengalaman belajar yang efektif, (v) tidak boleh mengganggu
teman yang dapat memicu keributan.
Bila QT diterapkan, maka guru akan lebih mencintai dan
lebih berhasil dalam memberikan materi serta lebih dicintai anak
didik karena guru mengoptimalkan berbagai metode. Lebih jauh,
122 | Didi Pianda, dkk
dunia pendidikan akan semakin maju ke depannya, sebab QT
akan membantu siswa dalam menumbuhkan minat siswa untuk
terus belajar dengan semangat. Apalagi QT juga sangat
menekankan pada pentingnya bahasa tubuh. Seperti tersenyum,
bahu tegak, kepala ke atas, mengadakan kontak mata dengan
siswa dan lain-lain. Humor yang bertujuan agar kegiatan belajar
mengajar tidak membosankan.
Dengan meningkatnya minat siswa untuk terus belajar,
hasil belajar siswa juga dapat meningkat. Quantum Teaching juga
dapat menumbuh kembangkan kecerdasan peserta didik.
2) Faktor-faktor Pendukung Dan Penghambat
Faktor pendukung dan penghambat selalu muncul dalam
serangkaian kegiatan pembelajaran. Faktor pendukung yang muncul
diantaranya adalah ketersediaan fasilitas serta prasarana yang ingin
dilibatkan dalam proses pembelajaran melalui penerapan Quantum
Teaching. Ketersediaan median yang mudah diperoleh bahannya dan
dapat dibuat dengan mudah serta juga ketersediaan fasilitas seperti
Laptop dan LCD yang menjadi faktor prasarana pendukung.
Sedangkan yang menjadi faktor penghambat yaitu agar kita apara
guru sedikit lebih ekstra dalam memotivasi siswa untuk
melaksanakan kegiatan pembelajaran yang positif dan bersemangat
yang menimbulkan keceriaan di kelas saat pembelajaran. Namun
selalu ada saja beberapa siswa juga yang masih rendah motivasi serta
semangat belajaranya. Faktor penghambat inilah yang harus kita
berantas sehingga tidak timbulnya penghambat dalam pembelajaran
yang berlangsung.
1 Tindak Lanjut
Perencanaan tindak lanjut yang harus dilaksanakan secara
berkesinambungan melalui berbagai macam cara pembelajaran yang
meningkatkan motivasi belajar, dengan demikian para peserta didik
akan terus termotivasi untuk pembelajaran lainnya yang lebih
bersemangat lagi. Tugas kreatif para guru agar dapat
BEST PRACTICE: Karya Guru Inovatif yang Inspiratif (Menarik Perhatian Peserta Didik) | 123
menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan dengan
cara mengembangkan proses pembelajaran yang ceria dan kreatif.
PEMBAHASAN BEST PRACTICE
Data hasil proses pembelajaran menunjukkan kemajuan
yang baik. Pada proses belajar mengajar berlangsung siswa terliat
aktif. Semua siswa melakukan pembelajaran dengan
menyenangkan. Selama ini materi “Tata Nama Senyawa Kimia
Kompleks” adalah salah satu materi yang terdapat pada materi
Únsur-Unsur Transisi Periode Keempat” yang merupakan materi
sulit baik bagi guru maupun siswa. Namun dengan
dilakukannnya proses pembelajaran dengan menggunakan
quantum teaching, guru dan siswa sama-sama dapat melaksanakan
proses belajar mengajar yang menyenangkan.
Proses penyampaian materi dapat dilakukan dengan
memberikan tugas kelompok dalam permainan. Dalam materi ini
digunakan permainan menggunakan “Lotre Ion Kimia”. Saat
pertama memulai proses pembelajaran, ketika guru
menempelkan karton “Lotre Ion Kimia”, semua pusat perhatian
siswa terfokus dengan rasa penasaran yang tinggi. Ini merupakan
kegiatan awal yang baik dalam proses pembelajaran, karena
siswa termotivasi dan penasaran bahwa kita akan mempelajari
materi apa hari ini? dan apa yang akan dilakukan dengan “Lotre
Ion Kimia” tersebut? Dan apa hubungannya dengan materi yang
akan dipelajari pada hari ini. Timbul banyak pertanyaan dari
siswa, ini adalah merupakan appersepsi yang baik untuk memulai
kegiatan pembelajaran. Saat siswa sudah memiliki rasa
penasaran, saat kondisi itu sangat mudah untuk mengajak siswa
fokus terhadap materi yang akan dipelajari, karena siswa mulai
termotivasi dengan materi yang akan dipelajari.
Proses awal pembelajaran yang dilakukan adalah
menyamakan pemahaman siswa terhadap materi yang akan
dipelajari yaitu pemberian tugas pretes dengan mengamati tabel
124 | Didi Pianda, dkk
sistim periodik unsur, dengan memberikan tugas pretest
(sebutkan lambang dan unsur kimia yang ada di periode
keempat). Semua siswa mengerjakan pretes dengan waktu
singkat, siswa dimintai mengumpulkan kertas lembar jawaban
pretes mereka. Dilanjutkan dengan memperkenalkan materi yang
akan dipelajari hari ini dengan menyebutkan tujuan
pembelajaran. Kemudian siswa memilih permen yang mereka
sukai yang disediakan oleh guru. Hal ini adalah salah satu
kegiatan yang bisa dilakukan untuk menarik minat belajar siswa.
Kelompok dibentuk berdasarkan pemilihan jenis permen
yang sama. Kemudian siswa berkerja dan berdiskusi dalam
kelompoknya menyelesaikan Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD)
dengan menggunakan “Lotre Ion Kimia”. Semua siswa terlihat
antusias dan semangat serta aktif terlibat proses pembelajaran
yang menggunakan permainan “Lotre Ion Kimia” . Setelah
beberapa waktu siswa diberi waktu mengerjakan tugas
kelompok. Semua kelompok mempresentasikan hasil kerja
kelompoknya secara bergantian yang dikomentari oleh kelompok
yang lain sehingga pembelajaran terlihat aktif.
Diakhir sesi diskusi dan presentasi guru memberikan
penguatan materi dan simpulan diskusi. Kelompok terbaik
mendapat bintang penghargaan sebagai reward. Sebagai bentuk
uji pemahaman materi yang telah dipelajari, maka guru menguji
siswa secara individu untuk mengerjakan postes. Dari hasil
postes terlihat perkembahan hasil perolehan post tes diperoleh
persentase ketuntasan KKM sebesar 51,15% dan setelah
melakukan ujian akhir maka diperoleh nilai sebesar 88,89%
persentase kelulusan, maka peningkatan hasil belajar sangat baik
dilakukan pada pembelajaran model quantum teaching dengan
Pendekatan Lotre Ion Kimia.
BEST PRACTICE: Karya Guru Inovatif yang Inspiratif (Menarik Perhatian Peserta Didik) | 125
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, maka
dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut :
Penerapan quantum teaching dapat meningkatkan motivasi
dan minat belajar yang dimiliki masing-masing siswa
menjadikan siswa berperan aktif pada materi tata nama
senyawa kimia
Aktivitas guru yang sangat diperlukan dalam penerapan
quantum teaching adalah memotivasi siswa untuk terlibat
langsung dalam kegiatan pembelajaran, memberikan
contoh yang mudah dimengerti siswa, memberi
kesempatan, membimbing dan menanggapi siswa untuk
menunjukkan kemampuan dan menyatakan ide atau
pertanyaan, memberi kesempatan kepada siswa untuk
mengulang materi yang diajarkan, memberi penghargaan
kepada siswa atau kelompok yang menyelesaikan
tugasnya dengan sempurna dan memberi semangat
kepada siswa dan kelompok yang kurang, sehingga
siswa dapat meningkat aktivitas belajarnya.
Penerapan quantum teaching pada materi tata nama senyawa
dan persamaan reaksi dapat meningkatkan hasil belajar
siswa secara klasikal dengan proses pembelajaran yang
menyenangkan.
126 | Didi Pianda, dkk
EVALUASI PEMBELAJARAN MATEMATIKA DENGAN
MENGGUNAKAN PLICKERS
LIA AMALIA NURINA, S.Pd., M.Pd
(SMK Negeri 1 Lhokseumawe)
TENTANG PENULIS
Lia Amalia Nurina, Lahir di Jakarta, pada
tanggal 15 Januari 1984, dengan alamat Jl.
Kenari No 234. Banda Masen Kota
Lhokseumawe. Pendidikan terakhir S2 Magister
Pendidikan Matematika di
UniversitasPendidikan Indonesia(UPI)
Bandung pada tahun 2014. Aktif di Ikatan
Guru Indonesia (IGI) Kota Lhokseumawe
Sebagai anggota. Saat ini bertugas di SMKN 1 Lhokseumawe sebagai
guru Matematika.
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Proses belajar mengajar pada dasarnya adalah interaksi
yang terjadi antara guru dan siswa untuk mencapai tujuan
pendidikan. Guru sebagai pengarah dan pembimbing, sedang
siswa sebagai orang yang mengalami dan terlibat aktif untuk
memperoleh perubahan yang terjadi pada diri siswa setelah
mengikuti proses belajar mengajar, maka guru bertugas
melakukan suatu kegiatan yaitu penilaian atau evaluasi atas
ketercapaian siswa dalam belajar.
Selain memiliki kemampuan untuk menyusun bahan
pelajaran dan keterampilan menyajikan bahan untuk
mengkondisikan keaktifan belajar siswa, guru diharuskan
memiliki kemampuan mengevaluasi ketercapaian belajar siswa,
BEST PRACTICE: Karya Guru Inovatif yang Inspiratif (Menarik Perhatian Peserta Didik) | 127
karena evaluasi merupakan salah satu komponen penting dari
kegiatan belajar mengajar. Hal ini juga tercantum dalam Undang-
undang No. 20 Tahun 2003, tentang Sistem Pendidikan Nasional
pasal 58 ayat (1): Evaluasi hasil belajar peserta didik dilakukan
oleh pendidik untuk memantau proses, kemajuan, dan perbaikan
hasil belajar peserta didik secara berkesinambungan.
Evaluasi pada dasarnya adalah memberikan
pertimbangan atau harga nilai berdasarkan kriteria tertentu,
untuk mendapatkan evaluasi yang meyakinkan dan objektif
dimulai dari informasi-informasi kuantitatif dan kualitatif.
Matematika sebagai pelajaran yang dianggap susah oleh
sebagian besar siswa, menjadi perhatian khusus bagi penulis. Hal
ini terlihat dari hasil tes pada akhir pembelajaran untuk
kompetensi dasar tertentu. Dari hasil observasi dan hasil tes yang
dilakukan oleh penulis di SMK Negeri 1 Lhokseumawe,
ditemukan fakta bahwa , siswa belum mampu menguasai
konsep-konsep matematika , sebagian siswa akan kebingungan
jika diberikan soal yang berbeda dengan yang diberikan contoh
oleh guru.. Selain itu, jenis soal tes matematika yang bersifat
uraian membuat siswa bingung untuk memulai. Hal ini
disebabkan karena kebiasan siswa menyalin jawaban temannya
ketika ada tugas-tugas individu yang diberikan oleh guru. Hal ini
diperkuat dengan wawancara dengan beberapa rekan guru
sejawat, bahwa ulangan yang diberikan tidak jauh berbeda
dengan contoh soal yang diberikan pada saat pembelajaran.
Evaluasi pembelajaran yang dilakukan oleh kebanyakan
guru selama ini berbasis kertas, yang dilaksanakan dalam waktu
tertentu. Padahal, guru dapat juga melakukan tes dengan berbasis
teknologi informasi dan komunikasi, tanpa mengesampikan prinsip-
prinsip dalam evaluasi pembelajaran. Perkembangan teknologi
informasi dan komunikasi telah membentuk sebuah jaringan yang
dapat memberi kemungkinan para peserta didik berinteraksi dengan
sumber belajar secara luas. Jaringan internet
128 | Didi Pianda, dkk
dan web telah membuka akses bagi setiap orang untuk
memperoleh informasi dan ilmu pengetahuan atau bahan ajar.
Saat ini teknologi komputer tidak lagi hanya digunakan
sebagai sarana komputasi dan pengolahan kata (word processor)
tetapi juga sebagai sarana belajar multimedia yang secara virtual
dapat menyediakan respon yang segera terhadap hasil belajar
yang dilakukan oleh peserta diklat. Sajian multimedia berbasis
komputer dapat diartikan sebagai teknologi yang mengoptimalkan
peran komputer sebagai sarana untuk menampilkan dan merekayasa
teks, grafik, dan suara dalam sebuah tampilan yang terintegrasi.
Dengan tampilan yang dapat mengkombinasikan berbagai unsur
penyampaian informasi dan pesan, komputer dapat dirancang dan
digunakan sebagai media teknologi yang efektif untuk mempelajari
dan mengajarkan materi perkuliahan yang relevan misalnya
rancangan grafis dan animasi.
Perkembangan teknologi dan informasi yang
dimanfaatkan bagi dunia pendidikan bahkan tidak sekedar
sebagai sumber belajar bagi pembelajaran, bahkan digunakan
untk melakukan aktivitas evaluasi-evaluasi dalam pembelajaran
baik evaluasi yang sifatnya sebagai latihan-latihan soal maupun
yang sifatnya sebagai evaluasi resmi (ujian). Salah satu
pemanfaatan teknologi dalam evaluasi pembelajaran adalah
penggunaan aplikasi Plickers.
Tujuan
Pada artikel ini, penulis ingin menyampaikan beberapa
point tujuan penulisan, berdasarkan latar belakang yang sudah
dipaparkan di atas.Secara umum, dalam bidang pendidikan
evaluasi bertujuan untuk:
a. Memperoleh data pembuktian yang akan menjadi
petunjuk sampai dimana tingkat kemampuan dan tingkat
keberhasilan peserta didik dalam pencapaian tujuan-
BEST PRACTICE: Karya Guru Inovatif yang Inspiratif (Menarik Perhatian Peserta Didik) | 129
tujuan kurikuler setelah menempuh proses pembelajaran
dalam jangka waktu yang telah ditentukan.
Mengukur dan menilai sampai di manakah efektifitas
mengajar dan metode-metode mengajar yang telah
diterapkan atau dilaksanakan oleh pendidik, serta
kegiatan belajar yang dilaksanakan oleh peserta.
Merangsang kegiatan peserta didik dalam menempuh
program pendidikan.
Mencari dan menemukan faktor-faktor penyebab
keberhasilan peserta didik dalam mengikuti program
pendidikan, sehingga dapat dicari dan ditemukan jalan
keluar atau cara-cara perbaikannya.
Manfaat
Adapun Manfaat dari evaluasi pembelajaran pendidikan
bagi guru adalah sebagai berikut:
Mengetahui kemajuan belajar peserta didik.
Mengetahui kedudukan masing-masing individu peserta
didik dalam kelompoknya.
Mengetahui kelemahan-kelemahan dalam cara belajar
mengajar dalam PBM.
Memperbaiki proses belajar mengajar.
Menentukan kelulusan peserta didik.
Sedangkan Manfaat dari evaluasi pendidikan bagi
peserta didik adalah sebagai berikut:
Mengetahui kemampuan dan hasil belajar.
Memperbaiki cara belajar.
Menumbuhkan motivasi dalam belajar.
Sedangkan Manfaat khusus dari evaluasi dengan
menggunakan aplikasi Plickers:
Guru dan peserta didik dapat mengetahui hasilnya secara
langsung.
130 | Didi Pianda, dkk
Penggunaan aplikasi Plickers sangat praktis bagi guru dan
menyenangkan bagi peserta didik.
Guru dapat mengetahui tingkat kesulitan butir soal, melalui
hasil jawaban siswa yang ditampilkan dalam format
excel.
STATE OF ART (SOTA)
Penggunaan Plickers
Pada bahasan kali ini penulis akan memaparkan inovasi
dalam evaluasi pembelajaran yang pernah diterapkan pada
pembelajaran matematik. Teknik Evaluasi yang dilakukan
dengan memanfaatkan teknlogi yaitu aplikai Plickers.Plickers
membantu guru melakukan penilaian secara formatif
menggunakan kode. Adapun perangkat yang dibutuhkan yaitu
laptop, smartphone atau tablet.
Plickersmerupakan salah satu alat penilaian untuk
memberikan pengujian secara cepat akan pengetahuan siswa
anda melalui soal berbentuk pilihan ganda, pernyataan benar
atau salah, poling dan masih banyak lagi. Plickers bisa diunduh
dari aplikasi play store.Aplikasi Plickers dapat digunakan oleh
guru untuk membuat soal secara online dengan bentuk soal
pilihan ganda.Plickers memungkinkan kita membuat kelas
interaktif khususnya dalam memberikan penilaian ke siswa.
Dengan penindaian cepat,guru bisa mendapatkan tabulasi
jawaban siswa di kelas. Aplikasi Plickers bisa digunakan untuk
mengetahui sejauh mana siswa memahami konsep yang sudah
disampaikan guru dalam pembelajaran matematika.
Langkah-Langkah Penggunaan Plickers
Adapun Langkah-langkah penggunaan Plickers
yaitu: a. Tahap Persiapan:
Memasang Plickers di Android.
a. Buka aplikasi Playstore
BEST PRACTICE: Karya Guru Inovatif yang Inspiratif (Menarik Perhatian Peserta Didik) | 131
Search Plicker
Install
Gambar 19. Buka aplikasi Plikers
Membuat Akun Plickers di Website Plickers.
Buka Laptop
Ketik www.plickers.com
Sign up
Gambar 20. Membuat Akun Plickers di Website Plickers
132 | Didi Pianda, dkk
Membuat Kelas.
Klik Classes
Klik Add New Class
Isi nama kelas, tingkatan, mapel, dan warna
kelas. kemudian save
Gambar 21. Membuat Kelas Plickers di
Website
Plickers
Menginput Siswa
Buka file absen siswa
Copy nama-nama siswa
Klik Add Roster
Paste nama-nama siswa
Gambar 22. Menginput Siswa di Website Plickers
BEST PRACTICE: Karya Guru Inovatif yang Inspiratif (Menarik Perhatian Peserta Didik) | 133
Membuat Soal
Klik Library
Klik New Question. Kemudian ketik soal
dan opsi jawaban
Gambar 23. Membuat Soal di Website Plickers
Mencetak Kartu Plickers.
Klik “Card”
Pilih jenis kartu
Print kartu
Gambar 24. Hasil Kartu Plickers
134 | Didi Pianda, dkk
Tahap Pelaksanaan
Pelaksanaan ulangan di dalam kelas dengan
menggunakan Aplikasi Plickers:
Siswa dibagikan kartu berdasarkan urutan kartu.
Urutan kartu merupakan urutan absen siswa.
Guru menampilkan soal ulangan di akun
plickers yang ada di laptop, dengan. Guru
menayangkan soal melalui infocus dan
terkoneksi jaringan internet.
Setelah satu soal ditayangkan, siswa diberi
waktu untuk memikirkan jawaban, kemudian
menjawab soal dengan mengangkat kartu yang
posisinya disesuaikan dengan pilihan jawaban
siswa.
Pada saat siswa memperlihatkan kartu
jawabannya, guru melakukan pemindaian/ scan
terhadap kartu jawaban siswa dengan
menggunakan HP android yang terkoneksi
dengan aplikasi Plickers.
Gambar 25. Proses Pelaksanaan dengan Plikers
BEST PRACTICE: Karya Guru Inovatif yang Inspiratif (Menarik Perhatian Peserta Didik) | 135
Setelah semua kartu jawaban siswa dipindai
semua, maka dapat dilanjutkan ke soal
berikutnya.
Tahap Rekapitulasi Hasil
Pada tahap ini, guru dapat langsung mengetahui
komposisi jawaban siswa. Selain itu, guru juga dapat
mengidentifikasi soal soal yang dianggap sulit oleh siswa,
dan soal-soal yang dianggap mudah. Berikut ini adalah
tampilan hasil jawaban seluruh siswa untuk setiap soal.
Gambar 26. Tampilan Hasil Jawaban Untuk Tiap Soal
Berikut ini adalah cara melihat hasil jawaban
siswa
Klik “Report”
Klik “Scoresheet”
136 | Didi Pianda, dkk
Gambar 27. Rekapitulasi Hasil
Bahan dan Alat yang diperlukan dalam Best Practice
Adapun alat-alat yang diperlukan guru dalam
menggunakan aplikasi Plickers antara lain: Laptop, HP Android,
danInfocus. Sedangkan bahan yang diperlukan hanya kertas
karton untuk mencetak/print kartu yang digunakan untuk
menunjukkan jawaban peserta didik.
Batasan-batasan
Pada pelaksanaan Best Practise ini, guru melaksanakan
penilaian dengan menggunakan aplikasi Plickers pada siswa
kelas X Teknik Komputer Jaringan 1 SMK N 1 Lhokseumawe.
Adapun materi yang akan dilakukan penilaian adalah
Trigonometri, yaitu konsep tentang perbandingan trigonometri
pada segitiga siku-siku, dan satuan sudut beserta konversinya.
Adapun penilaian dilakukan untuk mengetahui
pemahaman konsep tentang perbandingan trigonometri, yang
merupakan dasar dari materi trigonometri. Tingkat kognitif pada
soal yang dibuat hanya C1 dan C2 saja. Soal tes berbentuk pilihan
BEST PRACTICE: Karya Guru Inovatif yang Inspiratif (Menarik Perhatian Peserta Didik) | 137
ganda dan berjumlah 10 soal yang harus dikerjakan dalam waktu
3 menit untuk setiap soalnya.
Langkah-langkah Pelaksanaan Best Practise.
Adapun langkah-langkah dari Best Practise yang telah
dilaksanakan adalah sebagai berikut:
Pembelajaran pertemuan ke-1
Evaluasi/ulangan ke- 1
Pembelajaran pertemuan ke- 2
Evaluasi/ulangan ke- 2
Pembelajaran pertemuan ke-3
Evaluasi/ulangan ke- 3
Pelaksanaan proses pembelajaran dan penilaian yang
dilakukan penulis sebanyak 3 kali, yaitu 3 pertemuan tatap muka
di kelas. Sebelum metode ini digunakan, guru menyampaikan
terlebih dahulu kepada siswa, bahwa pada setiap akhir
pembelajaran akan diadakan evaluasi/penilaian dengan
menggunakan aplikasi Plickers. Dengan demikian, diharapkan
siswa akan lebih bersungguh-sungguh untuk memahami konsep
yang di ajarkan oleh guru. Pada pertemuan 1 dan 2, guru
memberikan soal evaluasi sebanyak 3-4 buah soal. Sedangkan
pada pertemuan ke-3, guru memberikan soal lebih banyak,
sebagai evaluasi dari Indikator pencapaian kompetensi.
Pada Pertemuan ke-1, guru menjelaskan tentang satuan
derajat. Pada pertemuan ke-2, guru menjelaskan tentang
perbandingan trigonometri pada segitiga siku-siku. Dan
pertemuan ke-3, guru menjelaskan relasi sudut diberbagai
kuadran.
138 | Didi Pianda, dkk
Pertemuan Pokok Soal Evaluasi
ke- Bahasan
1 Satuan 1. Tentukan besaran 30o dalam
sudut dan satuan radian
konversin
1
ya
A. 3
B. 1
6
C. 1
4
D. 2
3
Tentukan besaran 34 dalam satuan derajat
45o
90o
135o
150o
2 Perbandin 3. Perbandingan trigonometri
gan sis-sisi cos adalah perbandingan
pada sisi-sisi ...
segitga A. Sisi depan sudut dengan
siku-siku sisi miring
B. Sisi depan sudut dengan
sisi samping sudut
C. Sisi miring dengan sisi
samping sudut
D. Sisi samping sudut
dengan sisi miring
4. Perbandingan trigonometri
cosecan adalah
perbandingan sisi-sisi ...
A. Sisi miring dengan sisi
depan sudut
BEST PRACTICE: Karya Guru Inovatif yang Inspiratif (Menarik Perhatian Peserta Didik) | 139
Pertemuan Pokok Soal Evaluasi
ke- Bahasan
B. Sisi depan sudut dengan
3 Relasi sisi samping sudut
sudut di C. Sisi miring dengan sisi
berbagai samping sudut
kuadran D. Sisi samping sudut
dengan sisi miring
140 | Didi Pianda, dkk 5. Tentukan nilai dari tan dari
segitiga siku-siku berikut
3
A.
4
3
B.
5
4
C.
3
5
D. 4
6. Tentukan nilai dari cosecan
dari segitiga siku-siku
berikut
5
A.
13
B. 13
5
5
C.
12
D. 12
13
7. Berapakan nilai dari cos 150o
1 1
A. 2 2
B. −
C. 1
D. √3
2
1
− √3
2
Pertemuan Pokok Soal Evaluasi
ke- Bahasan
8. Berapakah nilai dari sin 210o
C.
1
2
A.
B. − 12
C. 12 √3
D. −12√3
9. Berapakah nilai dari tan 45o
A. 1
B. 0
C. 13 √3
D. √3
10. Berapakah nilai dari cos 60o +
sin 0o
1
A. 2√3
1
2
D. 0
Hasil yang di capai
Hasil dari setiap penilaian yang dilakukan pada setiap
pertemuan di rekapitulasi kemudian dibandingkan dengan setiap
pertemuannya.
BEST PRACTICE: Karya Guru Inovatif yang Inspiratif (Menarik Perhatian Peserta Didik) | 141
Gambar 28. Grafik Ketuntasan Belajar Siswa
Dari diagram di atas terlihat, bahwa setiap siswa semakin
bersungguh-sungguh dalam belajar di setiap pertemuan agar
mendapatkan hasil yang baik. Selain itu, dengan aplikasi Plickers,
siswa dpat melihat langsung hasil dari evaluasi yang mereka
kerjakan. Jadi Guru dan siswa dapat mengetahui langsung
hasilnya disetiap pertemuan.
Nilai penting dan Kebaruan Best Practise yang telah
dilaksanakan
Berdasarkan pengalaman penulis dan pembahasan di atas,
kesimpulan yang diperoleh antara lain:
Pemanfaatan teknologi aplikasi Plickers dalam
penilaian/evaluasi pembelajaran memudahkan guru,
dan praktis penggunaanya.
Plicker adalah salah satu cara mengevaluasi hasil
belajar yang menyenangkan bagi siswa.
Hasil evaluasi dapat diketahui secara langsung, dan
menghemat penggunaan kertas, menghemat waktu
dalam memeriksa.
142 | Didi Pianda, dkk
Faktor-faktor Penghambat
Adapun faktor penghambat dari penggunaan aplikasi
Plickers adalah:
Penggunaan Plickers dalam pelaksanaan evaluasi sangat
bergantung pada jaringan internet.
Soal yang ditampilkan pada aplikasi Plickers berbentuk
pilihan ganda, hal ini memungkinkan siswa untuk
melirik jawaban temannya. Oleh karna itu, peran guru
untuk meminimalkan bentuk kecurangan siswa dengan
memberi jarak antar siswa.
Tindak Lanjut.
Aplikasi pembelajaran diakui telah banyak membantu
para guru baik dalam hal pembelajaran maupun penilaian.
Harapan dari penulis, setiap guru dapat memanfaatkan
teknologi/aplikasi Plickers di ruang-ruang kelas. Aplikasi ini
dapat digunakan untuk semua mata pelajaran. Dan dapat diikuti
oleh lebih dari 40 siswa. Selain itu, kartu jawaban di design
berbeda untuk setiap siswa, sehingga mengurangi potensi siswa
mencontek jawaban kawannya. Kartu juga dapat digunakan lebih
dari satu kali, hal ini dapat menghemat tenaga dan kertas.
PEMBAHASAN
Hasil Pembelajaran Pada Best Practise
Berdasarkan hasil pelaksanaan evaluasi di setiap
pembelajaran maka dapat digambarkan seperti dibawah ini:
Hasil pembelajaran menggunakan aplikasi Plickers selain
memudahkan guru, juga memotivasi siswa untuk mendapatkan
hasil yang baik. Selain itu memicu siswa untuk lebih unggul dari
teman-temannya. Hal ini dikarenakan hasil ulangan dapat dilihat
langsung setelah selesai ulangan, dan hasilnya dapat dilihat oleh
seluruh siswa.
BEST PRACTICE: Karya Guru Inovatif yang Inspiratif (Menarik Perhatian Peserta Didik) | 143
Soal yang digunakan benbetuk pilihan ganda, hal ini
membuat sebagian siswa ada yang menebak-nebak jawaban.
Walaupun begitu, setiap siswa akan berusaha dulu untuk mencari
jawaban, sebelum pada akhirnya memutuskan untuk menebak. Hal
ini membuat siswa semakin bersungguh-sungguh dalam
mendengarkan materi pelajaran untuk pertemuan selanjutnya, agar
mereka dapat menjawab setiap ulangan diakhir pertemuan.
No Karakteristik Pertemuan Jumlah Pertemuan
1 Pertemuan 3
1. Jumlah Siswa 35 35
2. (N) 54 2 86
3. Rata-rata 17 35 31
4. Jumlah siswa 18 68 4
5. yang tuntas 21
48,57% 14 88,57%
(≥75) 60%
Jumlah siswa
yang belum
tuntas (<75)
Ketuntasan
Klasikal (%)
Pembahasan Pada Best Practice
Beberapa hal penting yang harus diperhatikan dan
dipersiapkan sebelum pelaksanaan penilaian/ulangan
menggunakan Plickers antara lain:
Kartu Plickers sudah dibagikan ke siswa sesuai dengan
nomor absennya.
Soal dan kunci jawaban yang akan kita ujikan sudah benar
sesuai dengan kelasnya.
Tempat duduk siswa tidak saling menutupi pandangan Guru
saat scan kartu nanti .
144 | Didi Pianda, dkk
Kuota internet buat HP dan Hotspot buat laptop cukup.(bisa
menggunakan wifi sekolah agar lancar).
LCD Proyektor siap untuk menampilan soal dan progres
SCAN Plicker nanti
Penilaian Menggunakan Aplikasi Plickers Pembelajaran
saat ini berada pada era digital, dimana
proses mendapatkan ilmu pengetahuan bisa dilakukan dimana
saja dan kapan saja. Maka, para guru saat ini di tuntut untuk
lebih cerdas dalam memanfaatkan teknologi untuk kebutuhan
pendidikan, terutama pembelajaran di kelas. Tidak hanya itu,
guru juga diharapkan dapat melakukan teknis evaluasi/penilaian
yang efektif, dan menghemat waktu. Oleh karena itu, guru perlu
melakukan sebuah terobosan dalam hal penilaian terhadap hasil
belajar siswa. Salah satu aplikasi yang dapat membantu guru
dalam melakukan evaluasi hasil belajar adalah, aplikasi Plickers.
KESIMPULAN
Berdasarkan pengalaman penulis dan pembahasan di
atas, kesimpulan yang diperoleh antara lain:
1. Pemanfaatan teknologi aplikasi Plickers dalam
penilaian/evaluasi pembelajaran memudahkan guru,
dan praktis penggunaanya.
Plicker adalah salah satu cara mengevaluasi hasil belajar
yang menyenangkan bagi siswa.
Hasil evaluasi dapat diketahui secara langsung, dan
menghemat penggunaan kertas, menghemat waktu
dalam memeriksa.
Penggunaan Plickers dalam pelaksanaan evaluasi
sangat bergantung pada jaringan internet.
BEST PRACTICE: Karya Guru Inovatif yang Inspiratif (Menarik Perhatian Peserta Didik) | 145
Soal yang ditampilkan pada aplikasi Plickers berbentuk
pilihan ganda, hal ini memungkinkan siswa untuk
melirik jawaban temannya. Oleh karna itu, peran guru
untuk meminimalkan bentuk kecurangan siswa dengan
memberi jarak antar siswa.
146 | Didi Pianda, dkk
PENERAPAN SNAP GAME UNTUK
MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENGHAFAL
VOCABULARY BAHASA INGGRIS PADA
SISWA KELAS III SDS ULUMUDDIN
RIKA DWITA, S.Pd
(SD Swasta Ulumuddin)
TENTANG PENULIS
Rika Dwita, S.Pd, adalah seorang guru
bahasa inggris di SDIT Ulumuddin,
Uteunkot, Lhoksemawe, Aceh. Disamping
mengajar ia juga aktif di berbagai
organisasi kependidikan dan kemanusian
seperti lembaga psikology dan training
Tandaseru, TILC Aceh, , LBH Apik Aceh
dan RPUK. Perempuan yang sempat
bekerjasa dengan Save The Children
dalam kegiatan perlindungan hak anak
pada tahun 2015-2016 ini baru mulai
serius di dunia kepenulisan sejak
banyak mendapat dorongan action menulis dari IGI Lhokseumawe dan
Aceh Utara. Best Practice adalah karyanya yang ke-4 yang telah
diterbitkan. Ilmu menulis sudah dari dulu ia dapatkan, dari berbagai
training dan diskusi dalam lembaga dan ia beruntung bisa
mempraktikkan sekarang.
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Bagi usia anak sekolah dasar pada umumnya, pelajaran
bahasa inggris di anggap rumit dan menyusahkan. Pasalnya
mereka harus mengetahui atau memahami nya minimal dengan
BEST PRACTICE: Karya Guru Inovatif yang Inspiratif (Menarik Perhatian Peserta Didik) | 147
cara menghafal vocabbulary. Dan masalah menghafal inilah yang
sangat membosankan bagi siswa. Sejatinya guru perlu
menempuh berbagai skill untuk menarik perhatian siswa guna
menambah daya tarik mereka terhadap pelajaran yang menjadi
momok usia sekolah dini pada umumnya.
Motivasi siswa khususnya didaerah pinggiran kota
sangat rendah terhadap bahasa inggris. Tentunya guru harus
ekstra memutar otak agar ketercapaian target bahasa inggris
sebagai pelajaran ekskul dapat berjalan.
Banyak factor yang menghambat ketidaktertarikan siswa, salah
satunya pembelajaran yang dilaksanakan kurang menyentuh
siswa dan ketidakterbukaan wawasan akan pentingnya
pembelajaran ini. Serta Juga pembelajaran yang bersifat
konvensional yang hanya focus pada teacher centered yang
mengesampingkan keterlibatan siswa.
Mengacu pada permasalahan diatas, maka diperlukan
solusi yang dapat memacu siswa dalam penguasaan vocabulary
sehingga hasil hafalan dan pemahaman akan vocab seluruh siswa
terutama siswa yang lambat hafalan dapat lebih meningkat dari
sebelumnya. Adapun solusi yang dapat dilakukan adalah dengan
menerapkan suatu strategi pembelajaran yang lebih menarik bagi
siswa dan memotivasi mereka dalam menghafal utamanya.
Metode tersebut adalah “snap game” Sejatinya pembelajaran
anak usia SD harus di desain melalui bentuk permainan agar
tidak membosankan dan dan pasif. Dengan demikian, penulis
merangkum deskripsi praktik pembelajaran yang telah
dilaksanakan sebagai upaya pengembangan pembelajaran bahasa
inggris dalam menghafal vocab dalam sebuah best practice yang
berjudul “penerapan snap game untuk meningkatkan
kemampuan menghafal vocabulary bahasa inggris pada siswa
kelas III SDS Ulumuddin”
148 | Didi Pianda, dkk