TESIS PENGEMBANGAN MODUL SPERMATOPHYTA BERBASIS GDL TERINTEGRASI POTENSI TUMBUHAN LOKAL UNTUK MENINGKATKAN PEMAHAMAN KONSEP DAN KEMANDIRIAN BELAJAR SISWA SMAN 4 PULAU TALIABU Oleh: RIFAI KASMAN NIM 20725251027 Diajukan untuk memenuhi sebagian persyaratan untuk memperoleh gelar magister pendidikan PROGRAM STUDI MAGISTER PENDIDIKAN BIOLOGI JURUSAN PENDIDIKAN BIOLOGI FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA 2022
LEMBAR PERSETUJUAN PENGEMBANGAN MODUL SPERMATOPHYTA BERBASIS GDL TERINTEGRASI POTENSI TUMBUHAN LOKAL UNTUK MENINGKATKAN PEMAHAMAN KONSEP DAN KEMANDIRIAN BELAJAR SISWA SMAN 4 PULAU TALIABU RIFAI KASMAN NIM 20725251027 Tesis ini ditulis untuk memenuhi sebagian persyaratan untuk mendapatkan gelar Magister Pendidikan Biologi Menyetujui untuk diajukan pada ujian tesis Pembimbing Tesis Dr. Ir. Suhartini M.S. NIP. 196106271986012001
LEMBAR PENGESAHAN PENGEMBANGAN MODUL SPERMATOPHYTA BERBASIS GDL TERINTEGRASI POTENSI TUMBUHAN LOKAL UNTUK MENINGKATKAN PEMAHAMAN KONSEP DAN KEMANDIRIAN BELAJAR SISWA SMAN 4 PULAU TALIABU RIFAI KASMAN NIM 20725251027 Telah dipertahankan di depan Tim Penguji Tesis Program Magister Pendidikan Biologi Jurusan Pendidikan Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Yogyakarta Tanggal: 4 Agustus 2022 TIM PENGUJI Prof. Dr. Paidi, M.Si …………...…… Agustus 2022 (Ketua/Penguji) Nur Aeni Ariyanti SP., MP., M.Agr., Ph.D ………………… Agustus 2022 (Sekretaris/Penguji) Dr. Ir. Suhartini MS. ………………… Agustus 2022 (Pembimbing/Penguji) Dr. Bernadetta Octavia ………………… Agustus 2022 (Penguji Utama) Yogyakarta, 19 Agustus 2022 Dekan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Yogyakarta, Prof. Dr. Ariswan, M.Si NIP. 195909141988031003
i ABSTRAK RIFAI KASMAN: Pengembangan Modul Spermatophyta Berbasis GDL Terintegrasi Potensi Tumbuhan Lokal Untuk Meningkatkan Pemahaman Konsep dan Kemandirian Belajaran Siswa SMAN Pulau Taliabu. Tesis. Yogyakarta: Program Studi Magister Pendidikan Biologi, Jurusan Pendidikan Biologi, Universitas Negeri Yogyakarta, 2022. Penelitian ini bertujuan mengungkapkan: (1) Kelayakan modul Spermatophyta berbasis GDL terintegrasi potensi tumbuhan lokal; (2) Keefektifan modul Spermatophyta berbasis GDL terintegrasi potensi tumbuhan lokal dalam meningkatkan kemandirian belajar peserta didik; (3) Keefektifan modul Spermatophyta berbasis GDL terintegrasi potensi tumbuhan lokal dalam meningkatkan pemahaman konsep Peserta didik. Penelitian ini merupakan jenis penelitian pengembangan dengan menggunakan model ADDIE yang terdiri dari tahapan analysis, design, development, implementation, dan evaluation. Modul yang dikembangkan dinilai oleh ahli dan praktisi dan diuji efektivitasnya pada peserta didik kelas X dengan desain nonequivalent control group design. Pengumpulan data penelitian menggunakan panduan wawancara, angket penilaian ahli materi, ahli media, ahli pembelajaran, guru biologi, peserta didik, angket kemandirian, dan soal pemahaman konsep. Teknik analisis data menggunakan analisis statistic parametric melalui uji independent sample t-test dan n-gain score. Hasil penelitian menunjukan bahwa: (1) Modul Spermatophyta berbasis GDL terintegrasi potensi tumbuhan lokal termasuk dalam kategori layak digunakan dalam pembelajaran; (2) Modul Spermatophyta berbasis GDL terintegrasi potensi tumbuhan lokal cukup efektif dalam meningkatkan kemandirian belajar peserta didik; (3) Modul Spermatophyta berbasis GDL terintegrasi potensi tumbuhan lokal memberikan pengaruh signifikan terhadap peningkatan pemahaman konsep Peserta didik. Kata Kunci: Kemandirian belajar, Modul Spermatophyta, Pemahaman konsep, Potensi Tumbuhan Lokal
ii ABSTRACT RIFAI KASMAN: Development of Integrated GDL-Based Spermatophyta Modules for the Potential of Local Plants to Improve Concept Understanding and Learning Independence of Taliabu Island Senior High School Students. Thesis. Yogyakarta: Master of Biology Education Study Program, Department of Biology Education, Yogyakarta State University, 2022. This study aims to reveal: (1) the Feasibility of the GDL-based Spermatophyta module integrated local plant potential; (2) the Effectiveness of the GDL based Spermatophyta module integrated the potential of local plants in increasing the learning independence of students; (3) the Effectiveness of GDL-based Spermatophyta module integrated potential of local plants in increasing the understanding of students' concepts. This type of development research uses the ADDIE model, which consists of the stages of analysis, design, development, implementation, and evaluation. The developed module was assessed by experts and practitioners and tested its Effectiveness on class X students with a nonequivalent control group design. It collected research data using interview guides, material expert assessment questionnaires, media experts, learning experts, biology teachers, students, self-reliance questionnaires, and concept understanding questions. The data analysis technique used parametric statistics through independent sample t-test and n-gain score tests. The results showed that: (1) Spermatophyta module based on GDL integrated local plant potential is included in the category suitable for use in learning; (2) GDLbased Spermatophyta Module integrated local plant potential is quite effective in increasing the learning independence of students; (3) GDL-based Spermatophyta Module integrated potential of local plants has a significant influence on increasing the understanding of students' concepts. Keywords: Concept Understanding, Independent Learning, Local Plant Potential, Spermatophyta Module.
iii PERNYATAAN KEASLIAN KARYA Saya yang bertanda tangan di bawah ini: Nama Mahasiswa : Rifai Kasman Nomor Mahasiswa : 20725251027 Program Studi : Pendidikan Biologi S2 Dengan ini menyatakan bahwa tesis ini merupakan hasil karya saya sendiri dan belum pernah diajukan untuk memperoleh gelar magister di suatu perguruan tinggi, dan sepanjang pengetahuan saya dalam tesis ini tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain kecuali yang secara tertulis diacu dalam naskah ini dan disebutkan dalam daftar pustaka. Yogyakarta, Juli 2022 Yang membuat pernyataan Rifai Kasman NIM 20725251027
iv HALAMAN PERSEMBAHAN Karya ini penulis persembahkan untuk dua wanita hebat yang tiada henti memberikan dukungan moril dan materil serta doa yang sentiasa menjaga dalam setiap langkah dan pikiran hingga proses studi dan peyelesaian tugas ini dapat terlaksana tepat pada waktunya: 1. Ibundaku Hadija Mandar, wanita yang tidak lagi bersuami dan bekerja sebagai petani namun sangat perduli pada pendidikan putra dan putri 2. Kakakku Nurafia Andu yang sama seperti ibunda. Tidak lagi bersuami dengan beban hidup anak-anak (Galang, Imut, Zain Naila) namun tak lupa untuk terus memberi dukungan moril dan materil pada penulis. 3. Selanjutnya karya ini penulis juga persembahkan untuk Almamater, Agama, Nusa dan Bangsa. Semoga bermanfaat untuk perkembangan ilmu pengetahuan menuju peradaban yang lebih baik.
v KATA PENGANTAR Segala puji bagi Tuhan Yang Maha Esa. Pencipta dan penguasa alam mikro dan makro, sang pemberi nafas, sang pemberi rezeki, sang penentu awal dan akhir kehidupan, sang pemberi cinta, sang pemberi kasih, dan sang pemilik ilmu yang mengalir deras mengisi gelap awal kehidupan dengan cahaya peradaban ilmu pengetahuan lewat perantara makhluk dan hamba-hamba pilihan serta upaya pengembangan untuk diwariskan dari generasi ke generasi hingga sampai pada peradaban ilmu pengetahuan yang penulis jumpai dewasa ini. Warisan peradaban ilmu pengetahuan dan kesempatan memperoleh pendidikan, sangatlah bermanfaat dalam menyelesaikan penelitian, penyusunan dan pelaporan tesis dengan judul ”Pengembangan Modul Spermatophyta Berbasis GDL Terintegrasi Potensi Tumbuhan Lokal Untuk Meningkatkan Pemahaman Konsep dan Kemandirian Belajar Siswa SMAN 4 Pulau Taliabu” sebagai syarat memperoleh gelar magister pada Program Studi Magister Pendidikan Biologi Jurusan Pendidikan Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Yogyakarta. Terselenggaranya proses penelitian hingga tahap penulisan tesis tidak terlepas dari banyaknya kontribusi yang penulis peroleh dari berbagai pihak, oleh karena itu dalam kesempatan ini ucapan terima kasih rasanya tidaklah berlebihan untuk penulis sampaikan kepada: 1. Prof. Dr. Sumaryanto, M.Kes., AIFO selaku Rektor Universitas Negeri Yogyakarta; 2. Prof. Dr. Ariswan, M.Si, selaku Dekan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Yogyakarta; 3. Prof. Dr. Paidi, M.Si., selaku Ketua Program Studi Pendidikan Biologi Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta; 4. Prof. Dr. Paidi, M.Si., Prof. Dr. IG. Putu Suryadarma, M.S., Prof. Dr. Djukri, M.S., Prof. Dr. Bambang Subali, MS., Dr. Slamet Suyanto, M.Ed., Dr. Drs. Suyitno Aloysius, M.S., Dr. Ir. Suhartini, M.S., Dr. drh. Heru Nurcahyo, M.Kes., Dr. Bernadetta Octavia., Paramita Cahyaningrum Kuswandi, Ph.D., Nur Aeni Ariyanti, Ph.D., Dr. Agung Wijaya Subiantoro, S.Pd., M.Pd., Dr. Ixora Sartika Mercuriani, M.Si., dan Dr. Anggi Tias Pratama, S.Pd., M.Pd. selaku Dosen Pengampu Mata Kuliah dalam Proses Studi; 5. Dr. Ir. Suhartini, M.S., selaku Dosen Pembimbing Tesis yang selalu memberikan bimbingan, dan motivasi dalam pelaksanaan penelitian hingga tahap penyelesaian tesis ini; 6. Dr. Drs. Suyitno Aloysius, M.S., dan Nur Aeni Ariyanti, Ph.D selaku dosen validator dalam tahap validasi instrumen dan produk pengembangan; 7. Keluarga besar Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Kie Raha Ternate; 8. Kepala sekolah, guru, staf dan peserta didik SMA Negeri 4 Pulau Taliabu yang berkenan memberi izin, bantuan, dan kesempatan selama proses pengumpulan data penelitian; 9. Ibundaku, Hadija Mandar selaku tulang punggung keluarga yang tiada henti mengirimkan doa, memenuhi kebutuhan finansial, memberi semangat dan motivasi dan membuka pintu pendidikan dasar hingga pendidikan tinggi bagi penulis;
vi 10. Nurafia Andu selaku kakak terbaik sepanjang masa sebagai sumber inspirasi, motivasi, dan sumber utama finansial dalam pelaksanaan pendidikan ini; 11. Anak-anak dari almarhumah kakak Nurhadia Andu (Ardiansyah, Ansoruddin, Desta, Risman, Nur-zain)., kakak Nurafiah andu (Firmansyah, Dwi Mutia, Aqifah Nayla)., dan Kakak Rusdi Andu (Roqyan dan Riyan) merupakan salah satu pembangkit semangat pendidikan dan penyelesaian studi ini; 12. Nenekku Jenabun Kobo, terima kasih atas doa dan nasehat yang selalu diberikan; 13. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu. Semoga segala bentuk dukungan baik moril maupun materil yang diberikan kepada penulis, tercatat sebagai amal kebaikan yang diperhitungkan oleh tuhan yang maha kuasa. Harapan penulis semoga ilmu pengetahuan yang diperoleh dari proses ini dapat mengalir dan memberikan manfaat untuk banyak orang. Meskipun tesis ini telah penulis susun dengan sebaik-baiknya, penulis menyadari masih jauh dari tingkat kesempurnaan sehingga kritik dan saran masih sangatlah dibutuhkan demi penyempurnaan dan kebermanfaatan. Yogyakarta, Juli 2022 Rifai Kasman
vii DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL.............................................................................................. LEMBAR PERSETUJUAN................................................................................... LEMBAR PENGESAHAN.................................................................................... ABSTRAK ............................................................................................................. i ABSTRACK............................................................................................................. ii PERNYATAAN KEASLIAN KARYA................................................................. iii HALAMAN PERSEMBAHAN............................................................................. iv KATA PENGANTAR............................................................................................ v DAFTAR ISI .......................................................................................................... ix DAFTAR TABEL .................................................................................................. x DAFTAR GAMBAR.............................................................................................. xi DAFTAR LAMPIRAN .......................................................................................... x BAB I PENDAHULUAN ...................................................................................... 1 A. Latar Belakang............................................................................................ 1 B. Identifikasi Masalah ................................................................................... 10 C. Pembatasan Masalah .................................................................................. 11 D. Rumusan Masalah ...................................................................................... 11 E. Tujuan Pengembangan ............................................................................... 11 F. Spesifikasi Produk...................................................................................... 12 G. Manfaat Pengembangan ............................................................................. 13 H. Asumsi Pengembangan .............................................................................. 13 BAB II KAJIAN PUSTAKA ............................................................................... 15 A. Kajian Teori................................................................................................ 15 1. Hakikat Belajar..................................................................................... 15 2. Prinsip Pembelajaran Biologi............................................................... 16 3. Sumber Belajar..................................................................................... 20 4. Bahan Ajar............................................................................................ 22 5. Modul ................................................................................................... 25 6. Potensi Lokal........................................................................................ 30 7. Modul Terintegrasi Potensi Lokal........................................................ 32 8. Kemandirian Belajar............................................................................. 34 9. Pemahaman Konsep ............................................................................. 35 10. Kajian Materi Modul ............................................................................ 38 11. Guided Discovery Learning ................................................................. 48 B. Kajian Penelitian yang Relevan.................................................................. 52 C. Kerangka Pikir............................................................................................ 54 D. Pertanyaan Penelitian ................................................................................. 56 BAB III METODE PENELITIAN ..................................................................... 57 A. Jenis Penelitian ........................................................................................... 57 B. Tempat dan Waktu Penelitian .................................................................... 63 C. Sumber data ................................................................................................ 64 D. Teknik dan Instrumen Pengumpulan Data ................................................. 65 E. Analisi Data ................................................................................................ 66 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN.............................................................. 75 A. Hasil Penelitian........................................................................................... 75 1. Hasil Pengembangan Produk Awal...................................................... 75 2. Hasil Uji Coba Produk.......................................................................... 78 3. Revisi dan Produk Akhir ...................................................................... 95
viii B. Pembahasan Produk Akhir ......................................................................... 96 1. Kelayakan Produk Pengembangan....................................................... 99 2. Efektivitas Produk Terhadap Kemandirian Belajar Peserta Didik ....... 101 3. Efektivitas Produk Terhadap Penguasaan Konsep Peserta Didik ........ 104 C. Keterbatasan Penelitian .............................................................................. 108 BAB V SIMPULAN DAN SARAN ..................................................................... 110 A. Simpulan Tentang Produk .......................................................................... 110 B. Saran Pemanfaatan Produk......................................................................... 111 DAFTAR PUSTAKA
ix DAFTAR TABEL Tabel 1. Desain nonequivalent control group design............................................. 63 Tabel 2. Kategori kelayakan modul........................................................................ 70 Tabel 3. Kriteria nilai gain score ternormalisasi.................................................... 71 Tabel 4. Kategori Tafsiran Efektifitas N-Gain Score............................................. 72 Tabel 5. Deskripsi Uraian Materi Pembelajaran Modul......................................... 79 Tabel 6. Hasil Tinjauan Kualitas Media Oleh Ahli Media..................................... 81 Tabel 7. Masukan Dan Saran Perbaikan Hasil Validasi Ahli Materi..................... 82 Tabel 8. Tampilan Modul Spermatophyta Sebelum dan Setelah Validasi............. 83 Tabel 9. Penilaian Modul Spermatophyta Oleh Guru Biologi ............................... 84 Tabel 10. Tinjauan Kepraktisan Modul Spermatophyta Oleh Peserta Didik ......... 85 Tabel 11. Saran/Masukan Hasil Tinjauan Kepraktisan Oleh Peserta Didik........... 86 Tabel 12. Deskriptif Statistik Kemandirian Peserta Didik ..................................... 87 Tabel 13. Luaran Tests of Normality Kemandirian Peserta Didik.......................... 88 Tabel 14. Luaran Test of Homogeneity of Variance............................................... 88 Tabel 15. Luaran Uji Hipotesis Data Kemandirian Peserta Didik ......................... 89 Tabel 16. Analisis Data Perhitungan N-Gain Score Kemandirian Peserta Didik .. 90 Tabel 17. Data Evaluasi Pemahaman Konsep Peserta Didik ................................. 91 Tabel 18. Luaran Tests of Normality Penguasaan Konsep Peserta Didik .............. 92 Tabel 19. Luaran Test of Homogeneity of Variance Penguasaan Konsep.............. 92 Tabel 20. Luaran Uji Hipotesis Data Penguasaan Konsep Peserta Didik .............. 93 Tabel 21. Analisis Data Perhitungan N-Gain Penguasaan Konsep Peserta Didik . 94
x DAFTAR GAMBAR Gambar 1. Bagian-Bagian Biji Tumbuhan............................................................ 39 Gambar 2. Cengkeh (Syzygium aromaticum L.) ................................................... 40 Gambar 3. Kelapa (Cocos nucifera)...................................................................... 40 Gambar 4. Struktur Bunga Angiospermae ............................................................. 41 Gambar 5. Struktur Biji Angiospermae.................................................................. 41 Gambar 6. Pakis Haji (Cycas rumphii)................................................................... 43 Gambar 7. Melinjo (Gnetum gnemon)................................................................... 44 Gambar 8. Ginkgo Biloba (Ginkgo biloba L.) ....................................................... 45 Gambar 9. Pinus (Pinus Mercusii) ......................................................................... 46 Gambar 10. Perbedaan Karakteristik Gymnospermae dan Angiospermae ............ 47 Gambar 11. Kerangka Pikir Penelitian .................................................................. 54 Gambar 12. Model Pengembangan ADDIE........................................................... 57 Gambar 13. Tahap Pengembangan......................................................................... 61 Gambar 14. Skema Uji Terbatas ............................................................................ 62 Gambar 15. Hasil Desain Kerangka Modul Spermatophyta .................................. 78 Gambar 16. Tampilan Produk Akhir Penelitian ..................................................... 95 Gambar 17. Diagram Peningkatan Kemandirian Peserta Didik............................. 101 Gambar 15. Diagram Peningkatan Pemahaman Konsep........................................ 105
xi DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1: 1A. Panduan Wawancara................................................................ 120 1B. Instrumen Tinjauan Kebenaran Konsep Esesnsial Ahli Materi 121 1C. Lembar Pernyataan Ahli Materi............................................... 126 Lampiran 2: 2A. Instrumen Tinjauan Relevansi dan Signifikansi Desain Pembelajaran Oleh Ahli Pembelajaran ........................................... 128 2B. Lembar Pernyataan Ahli Pembelajaran.................................... 131 2C. Rekapitulasi data Hasil Tinjauan Ahli Pembelajaran............... 132 Lampiran 3: 3A. Instrumen Tinjauan Kualitas Modul Oleh Ahli Media ............ 134 3B. Lembar Pernyataan Ahli Media ............................................... 137 3C. Rekapitulasi Penilaian Ahli Media........................................... 138 Lampiran 4: 4A. Instrumen Tinjauan Kualitas Modul Oleh Guru Biologi ......... 141 4B. Lembar Pernyataan Guru Biologi ............................................ 145 4C. Rekapitulasi Penilaian Guru Biologi........................................ 146 Lampiran 5: 5A. Instrumen Tinjauan Kepraktisan Oleh Peserta didik ............... 150 5B. Lembar Pernyataan Peserta Didik............................................ 153 5C. Rekapitulasi Tinjauan Kepraktisan Oleh Peserta Didik........... 154 Lampiran 6: 6A. Kisi-kisi Angket Kemandirian Peserta Didik .......................... 157 6B. Angket Kemandirian Sebelum Pembelajaran (Pretest) ........... 158 6C. Angket Kemandirian Setelah Pembelajaran (Posttest) ............ 162 6D. Rekapitulasi Data Angket Kemandirian .................................. 166 6E. Output SPSS............................................................................. 170 6F. Rekapitulasi N-Gain Score ....................................................... 172 Lampiran 7: 7A. Kisi-Kisi Soal Evaluasi Pemahaman Konsep ........................... 174 7B. Soal Evaluasi Pemahaman Konsep .......................................... 175 7C. Rubrik Pengskoran Soal Evaluasi ............................................ 178 7D. Output SPSS ............................................................................ 180 7E. Rekapitulasi N-Gain Score....................................................... 182 Lampiran 8: 8A. Silabus dan RPP Kelas Kontrol ............................................... 184 8B. Silabus dan RPP Kelas Eksperimen......................................... 190 Lampiran 9: 9. Dokumentasi Pelaksanaan Penelitian ......................................... 197 Lampiran 10: Surat-surat Penelitian..................................................................... 204
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Indonesia sebagai suatu negara terkenal di mata dunia memiliki kekayaan melimpah baik kekayaan akan sumber daya alam maupun kekayaan atas budaya masyarakatnya. Eksistensi kekayaan alam dan budaya masyarakat yang melimpah ruah, dalam dunia pendidikan dapat dipandang sebagai potensi yang dapat diintegrasikan dalam kegiatan pembelajaran. Merujuk pada undang-undang nomor 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional dijumpai pernyataan bahwa pendidikan nasional memiliki misi untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Undang-undang nomor 20 tahun 2013 tentang sistem pendidikan nasional juga menegaskan ketentuan bahwa pengembangan kurikulum dilakukan dengan mengacu pada standar nasional pendidikan dan kurikulum pada setiap jenjang serta jenis pendidikan yang dikembangkan dengan prinsip pengoreksian dan sesuai dengan satuan pendidikan, potensi daerah dan peserta didik. Pelaksanaan kurikulum 2013 dianggap telah mempermudah guru dalam melakukan tugasnya karena telah disertai dengan dokumen pendukung berupa buku guru dan buku siswa yang dibuat oleh pemerintah sebagai bentuk upaya pemenuhan kebutuhan kegiatan belajar mengajar. Meskipun demikian, keberagaman kekayaan alam dan budaya masyarakat pada suatu daerah tentunya berbeda dengan daerah lainnya sehingga kehadiran buku teks pelajaran dari pemerintah atau lembaga penerbitan tidaklah selalu relevan dengan kondisi lapangan atau kontekstual dengan tuntutan pembelajaran. Seperti halnya pembelajaran biologi yang menekankan adanya interaksi siswa dengan objek yang dipelajari. Implementasi pembelajaran sebagai cerminan adanya upaya mencetak generasi yang berkualitas ditandai dengan kemampuan guru memaksimalkan kegiatan pembelajaran melalui berbagai macam pendekatan, metode, yang sesuai dengan karakteristik materi dan karakteristik siswa, serta kemampuan membaca potensi misalnya lingkungan sekitar sebagai peluang dalam meminimalisir keterbatasan atau memperkaya sarana dan prasarana kegiatan pembelajaran.
2 Prastowo, (2015: 6) dalam bukunya yang berjudul panduan kreatif membuat bahan ajar inovatif, memberikan deskripsi bahwa kita bisa menyaksikan di sekolah-sekolah atau perguruan tinggi di sekitar kita masih banyak para guru dan dosen yang menggunakan bahan ajar buatan orang lain ataupun produksi pabrik pada kegiatan pembelajaran yang mereka lakukan. Padahal sejatinya mereka mengetahui dan sadar bahwa bahan ajar yang mereka gunakan itu sering sekali tidak sesuai dengan konteks dan situasi sosial budaya masing-masing dan itu merupakan sebuah fakta yang dikemukakan oleh Haka et al., (2020) bahwa dalam implementasi pembelajaran banyak guru cenderung terfokus hanya pada buku pegangan yang digunakan dari tahun ke tahun padahal bahan ajar (buku teks) dengan pemaparan materi tidaklah selalu relevan dengan kehidupan nyata peserta didik. Banyak penelitian juga telah dilakukan terhadap aspek kesesuaian dari produk pemerintah seperti buku yang beredar dan digunakan di sekolah dan sebagian mengungkapkan bahwa contoh-contoh dari materi pembelajaran masih memakai contohcontoh umum atau tidak kontekstual sehingga masih sangat perlu adanya upaya untuk dilakukan oleh sekolah terlebih khususnya guru untuk mendesain kegiatan pembelajaran yang lebih aktif dengan pendekatan pembelajaran yang lebih bersifat kontekstual seperti penggunaan lingkungan sekitar sebagai sumber belajar atau pembelajaran yang berbasiskan potensi lokal. Sebuah riset dilakukan oleh Saputra & Advinda, (2018) yang diterbitkan dalam jurnal internasional mengemukakan bahwa berdasarkan wawancara yang dilakukan di salah satu sekolah diketahui guru menggunakan bahan ajar berupa buku teks sebagai sumber dalam proses pembelajaran namun setelah dilakukan analisa terdapat banyak kelemahan yang pada akhirnya pembelajaran pun terhambat dan tidak begitu berarti bagi siswa dan sebagai akibat siswa tidak dapat mengembangkan kompetensi yang pada gilirannya mempengaruhi hasil belajar. Merekapun merekomendasikan solusi untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah mengembangkan modul pembelajaran yang lebih sesuai dengan kebutuhan. Sajian data oleh Syukri & Razak, (2021) berdasarkan sebuah riset yang bertujuan menganalisis kebutuhan pengembangan modul pembelajaran biologi dengan pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL) pada tiga sekolah menengah atas (SMA) mengemukakan bahwa bahan ajar yang digunakan belum mampu membantu siswa untuk mengeksplorasi dan menghubungkan fenomena yang terjadi di lingkungan sekitar dan tidak memotivasi siswa untuk merespon makna yang terkandung dalam materi yang
3 disajikan. Persoalan ini karena bahan ajar yang digunakan mengandung hal seperti materi yang disajikan terlalu banyak, bahasa buku yang sulit dipahami, terdapat banyak istilah yang membingungkan, serta gambar yang kurang relevan untuk mendukung pemahaman siswa terhadap materi. Oleh karena itu diperlukan pengembangan bahan ajar yang lebih relevan atau konteks dengan pengetahuan yang siswa miliki. Kehadiran modul pembelajaran memiliki arti yang sangat penting sebagaimana yang dikemukakan oleh Hartati & Putri, (2019) bahwa salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran adalah dengan mengembangkan sumber belajar, dan salah satu contoh sumber belajar hasil sebuah pengembangan yang cocok untuk siswa terkait dengan permasalahan adalah modul. Hargaini & Violita, (2019) juga mengemukakan bahwa modul dapat digunakan dalam proses pembelajaran sebagai bahan ajar untuk membantu guru, dan siswa memahami materi dalam rangka meningkatkan hasil belajar sehingga mencapai tujuan pembelajaran. Lebih jauh dikemukakan oleh Novana et al., (2014) bahwa sebuah modul pembelajaran dapat di kembangkan dengan berbasiskan potensi lokal sehingga siswa dalam kegiatan pembelajaran mendapatkan contoh atau melakukan kegiatan belajar sesuai dengan potensi lokal daerahnya. Model pembelajaran berbasis penemuan (discovery learning) adalah suatu model yang menuntut siswa untuk menemukan sendiri pengetahuan melalui serangkaian aktivitas belajar. Melaui pembelajaran penemuan siswa akan terlibat aktif untuk menemukan konsep dan prinsip (Simamora et al., 2018). Model pembelajaran berbasis penemuan terdiri dari free discovery learning, dan guided discovery learning. Akinbobola & Folashade, (2010) mengemukakan bahwa melalui penerapan guided discovery learning (GDL) dapat membimbing siswa menemukan konsep secara mandiri, siswa dapat mengembangkan sikap positif dalam pembelajaran, serta dapat meningkatkan hasil belajar dengan aktivitas berpikir dengan bimbingan guru. Marzuki et al., (2017) dalam laporan risetnya mengemukakan bahwa model guided discovery learning (GDL) efektif dalam pembelajaran IPA karena dapat membantu siswa bertemu dengan dua kriteria penting pembelajaran aktif berupa membangun pengetahuan untuk membuat pengertian dari informasi baru, dan mengintegrasikan informasi baru sampai ditemukan pengetahuan yang tepat. Menurut mereka, sebuah modul dapat dikembangkan dengan berbasiskan guided discovery learning (GDL) dan mengintegrasikannya dengan potensi lokal. Sedangkan untuk menghasilkan sebuah
4 modul pembelajaran dapat ditempuh melalui desain penelitian dan pengembangan (development research) dan salah satu model pengembangan yang dapat digunakan adalah ADDIE (Analysis, Design, Development, Implementation, Evaluation) dari Dick & Carry. Berdasarkan uraian di atas dapat diketahui bahwa sebuah modul dapat dikembangkan dengan berbasis guided discovery learning dan diintegrasikan dengan potensi lokal. Untuk menghasilkan sebuah modul dapat ditempuh melalui desain penelitian dan pengembangan yang dalam aplikasinya pembelajaran modul yang dapat dilakukan secara mandiri, Model discovery learning yang merupakan pembelajaran berbasis penemuan, serta GDL yang menuntut siswa untuk menemukan sendiri konsep atau pengetahuan melalui aktifitas belajar akan sangat dapat mendukung penguasaan konsep dan kemandirian belajar siswa. Kurikulum 2013 menekankan pada pendekatan saintifik sehingga pembelajaran dengan menggunakan pendekatan saintifik tentunya lebih bermakna jika dapat dipadukan dengan pemanfaatan potensi lokal sebagai sumber belajar. Pemanfaatan kekayaan berupa potensi lokal sebagai sumber belajar dan dikemas sebagai bahan ajar merupakan suatu peluang yang harus mampu dilakukan oleh seluruh praktisi pendidikan terlebih khusus adalah guru, guna menunjang proses kegiatan pembelajaran. Namun hal ini tak sedikitnya guru yang merasa memiliki kemampuan atau waktu yang cukup untuk dapat melakukannya. Peraturan menteri pendidikan dan kebudayaan tahun 2014 tentang pembelajaran holistik menyatakan bahwa holistik yang dimaksud adalah proses pembelajaran yang mendorong terbentuknya pola pikir yang komprehensif dan luas dengan mengintegrasikan keunggulan dan kearifan lokal maupun nasional. Selain itu dalam implementasinya diharapkan setiap guru biologi dapat menginisiasi pembelajaran biologi yang bersifat kontekstual yaitu pelaksanaan pembelajaran yang mengelaborasi materi dengan kondisi lingkungan sekitar. Riset yang dilakukan oleh Rama Yeni et al., (2019) mengungkapkan bahwa melalui pembelajaran yang kontekstual peserta didik akan mendapatkan pemahaman konsep lebih kuat jika dibandingkan dengan proses pembelajaran yang hanya berdasarkan pengertian atau contoh-contoh yang bersifat umum. Karena pembelajaran biologi menekankan adanya interaksi siswa dengan objek, maka pembelajaran biologi perlu untuk mendayagunakan potensi yang terdapat di alam
5 atau lingkungan sekitar yang sering dijumpai atau disaksikan siswa dalam kehidupan sehari-hari sehingga siswa dapat menghubungkan pengetahuan yang dimiliki melalui pengalaman belajarnya serta dapat untuk mengaplikasi dalam kehidupan sehari-harinya. Namun nyatanya sampai dengan sekarang, mayoritas guru masih berfokus pada buku teks dan belum mengoptimalkan pemanfaatan potensi lokal sebagai sumber belajar untuk pembelajaran biologi bagi siswanya. Daerah kabupaten pulau taliabu khususnya kecamatan taliabu timur selatan memiliki sumber daya alam yang melimpah. Kondisi geografis yang berbatasan langsung dengan laut dilengkapi dengan tersedianya ekosistem mangrove, kepadatan penduduk yang kurang dari 10.000 jiwa menyediakan lahan pertanian yang luas untuk dimanfaatkan masyarakat setempat. Kehidupan masyarakat Kecamatan Taliabu Timur Selatan adalah sebagai petani dengan komoditas unggulan berupa kelapa (Cocos nucifera), cengkeh (Syzigium aromaticum), dan pala (Myristica fragrans). Terdapat ragam jenis tumbuhan yang dibudidayakan masyarakat sebagai bahan makanan dan obat obatan tradisional, serta beberapa jenis tumbuhan unggulan yang juga digunakan sebagai bahan perkakas/perabot rumah tangga dan pembuatan alat transportasi laut. Keberadaan kekayaan alam berupa potensi lokal yang terdapat dalam wilayah Kabupaten Pulau Taliabu khususnya Kecamatan Taliabu Timur Selatan sudah seharusnya diintegrasikan dalam pembelajaran biologi sebab, keberadaan potensi lokal sebagaimana dikemukakan pada paragraf sebelumnya sangat serasi jika disesuaikan dengan silabus pembelajaran biologi SMA kelas X pada materi Plantae yang memiliki beberapa sub materi diantaranya terdapat sub materi tumbuhan biji (Spermatophyta) dan sub materi manfaat dan peran tumbuhan dalam ekosistem yang menyangkut manfaat ekonomi, serta dampak turunnya keanekaragaman tumbuhan bagi ekosistem. Hal ini sangat penting dilakukan sebagai bentuk kontekstualisasi materi pembelajaran agar siswa dapat belajar biologi dengan objek nyata yang sering disaksikan dan diketahui siswa dalam kehidupan sehari-hari sehingga dengan mudah dapat memahami konsep, menghubungkan materi dengan pengetahuan yang dimilikinya. Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 4 Pulau Taliabu adalah salah satu sekolah yang terletak dalam peta wilayah pemerintahan Provinsi Maluku Utara Kabupaten Pulau Taliabu Kecamatan Taliabu Timur Selatan. Sekolah ini secara kondisi masih sangat memprihatinkan. Pelaksanaan pembelajaran yang berlangsung dengan sarana dan prasarana yang tidak memadai menjadi kendala serius yang akrab dalam aktivitas
6 kegiatan belajar mengajar. Ketidak tersedianya fasilitas seperti listrik, jaringan telekomunikasi, internet, serta terputusnya akses transportasi menjadikan sekolah ini terisolir dari lajunya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Sejauh ini belum ada riset yang pernah dilakukan sebagai upaya membantu pihak sekolah terutama para guru untuk mengembangkan produk-produk tertentu yang dapat dimanfaatkan sebagai kebutuhan pelaksanaan pembelajaran. Proses kegiatan pembelajaran pun harus berlangsung sesuai dengan kondisi yang ada. Berdasarkan data wawancara dengan guru mata pelajaran biologi SMA Negeri 4 Pulau Taliabu, diketahui bahwa pelaksanaan pembelajaran sampai dengan saat ini pada umumnya hanya sebatas menggunakan buku teks pelajaran yang dimiliki sekolah. Buku teks pelajaran yang digunakan diperoleh dari bantuan pemerintah atau yang dibeli dari pusat-pusat penjualan buku di ibukota provinsi namun dengan jumlah yang sangat terbatas sehingga dapat diketahui bahwa belum ada variasi bahan ajar yang dapat diimplementasikan dalam pembelajaran biologi. Keterbatasan bahan ajar menurut guru mata pelajaran biologi mengharuskan bagi mereka untuk menggunakan metode ceramah. Kegiatan pembelajaran lapangan sebagai bentuk interaksi siswa dengan objek pembelajaran menurut pengakuan guru biologi belum pernah dilakukan karena keterbatasan waktu. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) begitu cepat terjadi dan menuntut pembaharuan termasuk pembaharuan dalam bidang pendidikan seperti mulai ramai di kembangkan fasilitas teknologi yang lebih praktis untuk menunjang proses belajar mengajar. Sebelumnya, bahan ajar atau bahan belajar hanya tersedia dalam bentuk cetak, namun pada era sekarang telah dikembangkan untuk dimanfaatkan dalam bentuk elektronik yang dapat diakses lebih praktis melalui smartphone dengan keterhubungan jaringan internet. Meskipun demikian, fasilitas teknologi yang menawarkan kepraktisan belum sepenuhnya tersentuh dan bisa dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat Indonesia. Pelaksanaan proses belajar mengajar bagi SMA Negeri 4 Pulau Taliabu yang belum didukung dengan ketersedian listrik (PLN), jaringan internet, serta siswa yang tidak semuanya memiliki smartphone tentunya tidak cocok jika dalam penelitian ini yang dikembangkan adalah modul dalam bentuk elektronik (e-modul). Hal tersebutlah yang menjadi pertimbangan sehingga produk yang akan dihasilkan dalam penelitian ini adalah modul berbentuk cetak.
7 Materi Plantae yang merupakan materi dalam silabus pembelajaran biologi kelas X, menurut guru biologi SMA negeri 4 pulau taliabu adalah materi yang cukup padat dan membutuhkan waktu atau bahan ajar lain agar siswa dapat menyelesaikan pembelajaran. Namun karena keterbatasan bahan ajar dan waktu, tak jarang materi ini tidak selesai dibahas. SMA negeri 4 Pulau Taliabu menetapkan kriteria ketuntasan minimal (KKM) untuk pembelajaran biologi adalah 70%. Namun berdasarkan data hasil belajar siswa diungkapkan oleh guru masih dibawah standar. Untuk materi Plantae sendiri berdasarkan data dari 36 siswa yang telah mempelajarinya hanya satu orang siswa saja yang mencapai taraf ketuntasan minimal dengan perolehan nilai 75% dan sisanya berada di bawah standar dengan nilai terendah adalah 45%. Dengan demikian dapat diketahui bahwa siswa mengalami kesulitan dalam memahami materi pembelajaran sehingga berdampak pada hasil belajarnya. Setelah dilakukan telaah terhadap buku teks yang digunakan dalam pembelajaran biologi, ternyata penyajian materi dan contoh-contoh yang termuat di dalamnya masih sangat bersifat umum atau tidak kontekstual dan tentunya melenceng dari pembelajaran biologi yang menekankan pada interaksi siswa dengan objek pembelajaran atau sesuai dengan depdiknas yang memandang biologi sebagai produk, proses, sikap, dan aplikasi dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu perlu adanya upaya yang perlu dilakukan sehingga dapat membantu atau mendukung pelaksanaan proses pembelajaran, khususnya pembelajaran biologi melalui kontekstualisasi materi dengan contoh-contoh nyata yang sering disaksikan atau diketahui oleh siswa dalam kehidupan sehari-harinya, sekaligus pengembangan modul dapat dimanfaatkan untuk menunjang hasil belajar biologi khususnya pada materi Plantae dengan fokus pembahasan pada sub materi Spermatophyta yang dipelajari siswa kelas X pada semester genap sesuai silabus pembelajaran. Implementasi pembelajaran dilakukan untuk mencapai segenap tujuan atau target yang telah ditetapkan. Untuk mencapai tujuan pembelajaran maka kompetensi seorang guru adalah hal mutlak yang harus dimiliki termasuk kemampuan analisis permasalahan dan kebutuhan untuk mengatasi permasalahan tersebut. Dalam dunia pendidikan terdapat banyak permasalahan yang perlu diberikan solusi dan permasalahan dimaksud termasuk pemahaman konsep dan kemandirian belajar siswa yang rendah atau cenderung rendah. Pemahaman konsep dan kemandirian belajar siswa yang rendah tentu akan mempengaruhi hasil belajarnya mengingat kedua aspek tersebut sangat menentukan
8 keberhasilan belajar. Berbagai upaya pun telah dilakukan untuk mengatasi permasalahan yang berkaitan dengan kemandirian dan pemahaman konsep yang dapat kita temukan dalam laporan riset yang diterbitkan di jurnal nasional maupun internasional. Ragam laporan riset tersebut tidak hanya memaparkan permasalahan tetapi juga solusi untuk mengatasinya. Sebagai bentuk inovasi pembelajaran untuk mengatasi permasalahan seperti pemahaman konsep dan kemandirian belajar siswa yang rendah diketahui dapat dilakukan dengan berbagai cara seperti pemilihan metode pembelajaran yang tepat serta penentuan dan pengembangan bahan ajar. Pengembangan bahan ajar kemudian dapat dilakukan dengan memanfaatkan potensi lokal pada masing-masing daerah yang lebih sesuai atau menciptakan pembelajaran yang kontekstual dengan mengaitkan materi pembelajaran dengan situasi atau objek yang akrab dalam kehidupan sehari-hari siswa. Kontekstualisasi materi pembelajaran dengan dunia terdekat siswa kemudian akan mendukung peningkatan atau penguasaan konsep materi yang dipelajarinya. Selain penguasaan konsep, kemandirian belajar siswa juga dapat meningkat dengan pengembangan bahan ajar untuk digunakan siswa seperti modul dengan karakteristiknya sebagai bahan belajar mandiri. Pemahaman konsep termasuk hal urgen yang harus dicapai oleh siswa setelah melakukan pembelajaran. Anderson & Krathwohl, (2010) mengemukakan bahwa pemahaman konsep adalah bentuk kemampuan yang diperoleh siswa dari kegiatan pengajaran, buku, atau media pembelajaran. Kemampuan tersebut dalam pandangan Moore & Diehl, (2019) terdiri dari kemampuan dalam menyatakan ulang sebuah konsep, mengklasifikasi objek-objek menurut sifat-sifat tertentu, memberi contoh dan noncontoh dari konsep, menyajikan konsep dalam berbagai bentuk representasi, mengembangkan syarat perlu atau syarat cukup suatu konsep, menggunakan, memanfaatkan, dan memilih prosedur tertentu, dan mengaplikasikan konsep atau algoritma pemecahan masalah. Kemampuan ini juga yang dalam taksonomi bloom terdiri dari tingkatan C1-C6 yaitu pengetahuan, pemahaman, penerapan, analisis, evaluasi, dan sintesis. Untuk mencapai pemahaman konsep sebagai hasil pembelajaran menurut beberapa riset dapat dilakukan melalui pembelajaran yang kontekstual seperti mengaitkan materi dengan kehidupan sehari-hari siswa. Riset yang dilakukan oleh Rama Yeni et al., (2019) mengemukakan bahwa melalui pembelajaran yang kontekstual siswa akan mendapatkan pemahaman konsep lebih kuat jika dibandingkan dengan proses pembelajaran yang
9 hanya berdasarkan pengertian atau contoh-contoh umum dan Yudha et al., (2019) bahwa pembelajaran yang kontekstual terbukti efektif mampu meningkatkan pemahaman konsep siswa terhadap materi yang dipelajari. Hasil belajar biologi siswa SMAN 4 Pulau taliabu dari tahun ke tahun cenderung rendah berdasarkan pengakuan guru dan khususnya untuk materi Plantae sebagaimana diungkapkan pada paragraf sebelumnya yang diketahui dari 36 siswa yang telah mempelajarinya hanya satu siswa yang berhasil mencapai standar KKM dan hal ini menjadi indikator bahwa siswa mengalami kesulitan atau pemahaman konsepnya cenderung rendah. Berdasarkan hasil analisis, pemahaman konsep yang rendah dari siswa dapat diberikan solusi dengan mengembangkan bahan ajar berupa modul dengan memanfaatkan potensi tumbuhan lokal yang akrab dalam kehidupan sehari-hari siswa sehingga siswa lebih mudah memahami konsep materi yang dipelajari. Mengingat bahwa bentuk tindak pendidikan merupakan bagian dari upaya pendewasaan agar seseorang dapat menjadi pribadi yang mandiri oleh karena kemandirian termasuk aspek penting yang harus dimiliki setiap individu dan dalam sebuah proses pembelajaran kemandirian sangat diperlukan siswa dalam mencapai keberhasilan belajar. Kemandirian berasal dari kata mandiri yang bermakna dapat memerintah diri sendiri dan menjadi satu aspek yang harus dimiliki oleh siswa dalam proses belajarnya. Salah satu ciri kemandirian belajar menurut Dabbagh & Kitsantas, (2012) adalah keharusan mereka untuk mampu menentukan tujuan dan cara untuk mencapai tujuan belajar. Kemandirian belajar yang harus dimiliki oleh siswa sangat dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal seperti motivasi, ketersediaan sarana belajar, kesempatan belajar, dan kemampuan belajar sehingga siswa perlu dibantu agar dapat mencapai hasil belajar yang optimal. Bagi siswa dalam proses pembelajaran kemandirian termasuk hal urgen atau sangat diperlukan untuk mendukung keberhasilan belajar sebagaimana yang dikemukakan oleh Zumbrunn et al., (2011) bahwa kemandirian yang dimiliki siswa dapat membantunya mengelola pikiran, sikap, serta emosi sehingga dapat meraih keberhasilan belajar. Kemandirian yang dimiliki oleh siswa dapat berguna untuk menghadapi masalah yang ditemukan selama proses pembelajaran maupun yang sering ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Berkaitan dengan kemandirian belajar siswa SMA Negeri 4 Pulau Taliabu diungkapkan guru bahwa karena keterbatasan bahan ajar membuat siswa tidak dapat melakukan pembelajaran secara mandiri. Pembelajaran secara mandiri menurut guru
10 dapat dilakukan jika didukung dengan ketersediaan bahan belajar yang dapat dimanfaatkan siswa sehingga siswa tidak lagi bergantung pada pembelajaran di kelas bersama guru. Berdasarkan uraian di atas secara deskripsi akar permasalahan terkait pemahaman konsep dan kemandirian belajar siswa yang cenderung rendah khususnya dalam pembelajaran biologi di SMAN 4 Pulau Taliabu adalah keterbatasan bahan ajar bagi guru dan bahan belajar bagi siswa yang berdampak pada hasil belajar. Kebiasaan guru mengajar dengan model pembelajaran konvensional, bahan ajar yang terbatas pada buku teks, dan ketergantungan siswa pada pembelajaran bersama guru di kelas dapat di berikan solusi dengan pengembangan bahan ajar/belajar berupa modul dengan desain berbasiskan model pembelajaran guided discovery yang diintegrasikan dengan potensi tumbuhan lokal khususnya pada sub materi Spermatophyta sehingga modul yang dihasilkan dapat dimanfaatkan guru sebagai bahan ajar selain buku teks dan bahan belajar yang dapat dimanfaatkan siswa untuk melakukan pembelajaran secara mandiri sehingga tidak cenderung bergantung pada pembelajaran bersama guru di kelas. Ketidak tergantungan pembelajaran bersama guru dapat melatih kemandirian siswa dan bahan ajar yang dimanfaatkan siswa kemudian dapat meningkatkatkan kemandirian dan penguasaan konsep yang pada akhirnya dapat meningkatkan hasil belajarnya. B. Identifikasi Masalah Berdasarkan uraian latar belakang di atas, yang menjadi masalah sehingga diperlukannya penelitian ini adalah: 1. Pembelajaran biologi SMA Negeri 4 Pulau Taliabu terbatas pada penggunaan buku teks sehingga diperlukan bahan ajar lain yang dapat diimplementasikan dalam pembelajaran; 2. Hasil belajar biologi siswa pada materi Plantae masih sangat rendah dengan skor rata-rata berada di bawah standar KKM yang ditetapkan, sehingga untuk meningkatkan hasil belajar biologi siswa diperlukan modul pembelajaran yang terintegrasi potensi lokal; 3. Siswa mengalami kesulitan dalam memahami materi dan bergantung pada pembelajaran di kelas bersama guru karena keterbatasan bahan ajar dan bahan belajar secara mandiri sehingga diperlukan modul pembelajaran yang dapat dimanfaatkan siswa untuk belajar secara mandiri.
11 C. Pembatasan Masalah Berdasarkan pada identifikasi masalah di atas dan pertimbangan keterbatasan penelitian yang menyangkut waktu, tenaga, biaya maka dipandang perlu untuk memberi batasan yaitu: 1. Modul yang dimaksudkan hanya sebatas modul biologi pada materi Plantae dengan sub materi tumbuhan biji (Spermatophyta) terintegrasi potensi tumbuhan lokal yang akan digunakan untuk pembelajaran bagi siswa kelas X SMA Negeri 4 Pulau Taliabu; 2. Pengembangan modul terintegrasi potensi tumbuhan lokal sebagai upaya peningkatan hasil belajar biologi melalui penguasaan konsep, dan kemandirian belajar; 3. Modul Spermatophyta berbasis guided discovery learning terintegrasi potensi tumbuhan lokal hanya dapat dikatakan layak untuk diimplementasikan berdasarkan penilaian ahli dan praktisi serta hasil uji coba berdasarkan kriteria yang ditentukan. D. Rumusan Masalah Berdasarkan uraian sebelumnya, dan telah diketahui bahwa penelitian ini dimaksudkan untuk menghasilkan produk berupa modul Spermatophyta berbasis guided discovery learning terintegrasi potensi tumbuhan lokal yang akan digunakan dalam pembelajaran biologi bagi siswa kelas X Negeri 4 Pulau Taliabu, maka yang menjadi rumusan masalah adalah: 1. Apakah modul Spermatophyta berbasis guided discovery learning terintegrasi potensi tumbuhan lokal yang dikembangkan layak digunakan dalam pembelajaran biologi untuk siswa kelas X SMA Negeri 4 Pulau Taliabu? 2. Apakah modul Spermatophyta berbasis guided discovery learning terintegrasi potensi tumbuhan lokal efektif dapat meningkatkan pemahaman konsep siswa? 3. Apakah modul Spermatophyta berbasis guided discovery learning terintegrasi potensi tumbuhan lokal efektif sebagai bahan ajar untuk meningkatkan kemandirian belajar siswa? E. Tujuan Pengembangan Berdasarkan uraian rumusan masalah diatas maka tujuan yang dapat rumuskan adalah sebagai berikut:
12 1. Untuk mengetahui kelayakan modul Spermatophyta berbasis guided discovery learning terintegrasi potensi tumbuhan lokal sehingga dapat diimplementasikan dalam pembelajaran biologi bagi siswa kelas X SMA Negeri 4 Pulau Taliabu; 2. Untuk mengetahui keefektifan modul Spermatophyta berbasis guided discovery learning terintegrasi potensi tumbuhan lokal dalam meningkatkan pemahaman konsep siswa terhadap materi; 3. Untuk mengetahui keefektifan modul Spermatophyta berbasis guided discovery learning terintegrasi potensi tumbuhan lokal dalam meningkatkan kemandirian belajar siswa. F. Spesifikasi Produk Melalui penelitian ini yang dihasilkan adalah modul pembelajaran Spermatophyta berbasis guided discovery learning terintegrasi potensi tumbuhan lokal dengan spesifikasinya sebagai berikut: 1. Modul berbasis GDL terintegrasi potensi tumbuhan lokal berbentuk media cetak dan disesuaikan dengan silabus pembelajaran biologi SMA kelas X pada materi Plantae. Pemilihan modul berbentuk cetak oleh karena keterbatasan sarana penunjang seperti smartphone yang rata-rata siswa belum memiliki, dan koneksi jaringan internet yang masih sangat terbatas sehingga modul tidaklah cocok untuk didesain dalam bentuk elektronik. 2. Modul dimulai dari bagian luar yang terdiri dari halaman cover, sampul dalam, kata pengantar, daftar isi, glosarium, serta peta konsep dan dengan struktur isi modul yang terdiri dari 3 bagian yaitu: a. Bagian pendahuluan yang terdiri dari (1) Identitas modul, (2) Kompetensi dasar (KD), (3) Petunjuk penggunaan, (4) Sistematika penyajian materi, dan (5) Deskripsi singkat materi pembelajaran; b. Bagian kegiatan pembelajaran yang terdiri dari dua kegiatan dengan rinciannya yaitu halaman cover kegiatan pembelajaran, dan dilanjutkan dengan (1) Tujuan kegiatan pembelajaran, (2) Uraian materi, (3) Rangkuman, (4) Latihan soal, (5) Pedoman penskoran, (6) Penilaian diri; c. Bagian penutup yang terdiri dari (1) Evaluasi akhir kegiatan pembelajaran yang berisi soal uraian (2) Kunci jawaban dan pembahasan, (3) Daftar pustaka dan (6) Identitas penyusun.
13 G. Manfaat pengembangan Adapun yang menjadi sasaran berupa kebermanfaatan melalui penelitian dan pengembangan modul Spermatophyta berbasis guided discovery learning terintegrasi potensi tumbuhan lokal adalah sebagai berikut: 1. Bagi sekolah: hasil penelitian diharapkan menjadi menjadi rekomendasi untuk mendorong tenaga kependidikan (guru) agar dapat memanfaatkan potensi lokal sebagai penunjang kegiatan belajar mengajar, dan sebagai langkah taktis meminimalisir keterbatasan bahan ajar yang dimiliki sekolah. 2. Bagi guru biologi: menjadi produk yang dapat digunakan guru sebagai bahan ajar pada materi terkait dan menjadi salah satu contoh bahan ajar berbasis potensi lokal yang memudahkan guru untuk dapat membuat produk serupa pada materi lain sehingga dapat digunakan juga pada kegiatan belajar mengajar biologi. 3. Bagi siswa: menjadi referensi bagi siswa untuk belajar secara mandiri, memudahkan siswa memahami materi pembelajaran dengan sistem pembelajaran yang kontekstual, sebagai informasi bagi siswa tentang keterhubungan pembelajaran biologi dengan hal-hal yang sering disaksikan atau pengalaman siswa dalam kehidupan sehari-hari, serta upaya meningkatkan hasil belajar siswa. 4. Bagi Peneliti: memperoleh pengetahuan baru dalam hal mengembangkan bahan ajar praktis yang sesuai dengan kebutuhan dan peningkatan motivasi serta keterampilan pengembangan bahan ajar. H. Asumsi Pengembangan Pengembangan modul Spermatophyta berbasis guided discovery learning terintegrasi potensi tumbuhan lokal untuk siswa kelas X SMA Negeri 4 Pulau Taliabu dilandasi dengan beberapa asumsi diantaranya: 1. Kehadiran modul Spermatophyta terintegrasi potensi tumbuhan lokal dapat sangat membantu siswa dan guru dalam kegiatan belajar mengajar di SMAN 4 Pulau Taliabu karena belum tersediannya variasi bahan ajar yang dapat diimplementasikan dalam pembelajaran; 2. Siswa memiliki pengetahuan akan potensi tumbuhan lokal yang terkait dengan materi pembelajaran, namun belum memiliki kemampuan untuk menghubungkan materi pelajaran dengan pengetahuan akan potensi lokal yang dimiliki, sehingga melalui modul yang terintegrasi potensi tumbuhan lokal siswa dapat menghubungkan materi pelajaran dengan pengetahuan yang dimilikinya;
14 3. Penguasaan konsep dan kemandirian belajar siswa dapat meningkatkan dengan memanfaatkan modul Spermatophyta berbasis guided discovery learning terintegrasi potensi tumbuhan lokal karena pembelajaran modul dengan desain model guided discovery dapat melatih kemandirian dan pengintegrasian materi modul dengan potensi tumbuhan lokal dapat meningkatkan pemahaman konsep.
15 BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Kajian Teori 1. Hakekat Belajar Belajar merupakan suatu aktivitas yang dilakukan dengan bimbingan atau bantuan orang lain maupun yang dilakukan sendiri. Belajar dalam Siregar & Nara, (2010: 6) secara istilah merupakan eksistensi manusia meniscayakan dirinya untuk berusaha mencari tahu segala sesuatu yang berada diluar dirinya sebagai makhluk individu maupun makhluk sosial. Proses interaksi terhadap semua situasi sekitar individu menurut Rusman, (2010: 1) merupakan hakikat dari belajar. Belajar dalam pandangan Mulyadi et al., (2017: 43) bukan sekedar menghafal, melainkan proses penguasan sesuatu yang bermakna yang diperoleh baik dari pendidikan, latihan maupun pengalaman yang menghasilkan perubahan perilaku relatif permanen sebagai wujud penguatan materi pelajaran ataupun keterampilan. Suatu kegiatan belajar yang bermakna menurut Ausubel dalam Mulyadi et al., (2017) adalah proses menghubungkan informasi yang potensial bermakna ke pengetahuan yang telah diketahui secara mantap oleh pembelajar. Makna pembelajaran menurut tinjauan kurikulum 2013 adalah proses pendidikan yang memberikan peluang kepada peserta didik agar potensi yang dimiliki berkembang dan meningkat pada aspek kognitif, afektif, dan psikomotor. Sedangkan menurut Syaifurrahman & Ujiati, (2013: 60) pembelajaran yang bermakna terjadi apabila peserta didik mampu mengaitkan fenomena baru dalam struktur pengetahuan mereka. Manusia memiliki tuntutan untuk dapat memenuhi segala kebutuhan baik yang dasar sampai pada kebutuhan yang kompleks. Segala bentuk kebutuhan yang harus dipenuhi mendorongnya untuk terus belajar. Abraham Maslow dalam Siregar & Nara, (2010: 38) mengemukakan tahapan-tahapan kebutuhan manusia diantaranya: a. Physiological needs yang mencakup kebutuhan mendasar seluruh makhluk hidup seperti kebutuhan akan makan dan minum (pangan) dan juga termasuk dalam kebutuhan fisiologis. Sandang dan papan yang termasuk dalam kebutuhan pemenuhan biologis. b. Safety/ security needs yang menyangkut kebutuhan manusia untuk memperoleh rasa aman baik secara psikis maupun fisik. Bagi peserta didik secara psikis
16 kebutuhan rasa aman dalam belajar adalah tidak ingin terkena marah, diejek, serta direndahkan oleh orang lain. c. Social needs yang menyangkut kebutuhan manusia agar ia dianggap sebagai warga yang memiliki kemampuan dalam komunitas sosial. Peserta didik yang berupaya untuk belajar dengan baik agar memperoleh penerimaan yang baik dari teman-temannya termasuk upaya pemenuhan kebutuhan sosialnya. d. Esteem needs yang menyangkut keinginan manusia untuk memiliki prestasi dan prestise. Seseorang membutuhkan rasa untuk dipercaya dan diberi tanggung jawab oleh orang lain. e. Self-actualization needs yang menyangkut kebutuhan seseorang untuk dapat membuktikan dan menunjukkan dirinya kepada orang lain. Kebutuhan aktualisasi dilakukan seseorang dengan cara mengembangkan potensi diri semaksimal mungkin. Berdasarkan tinjauan teoritis diatas dapat diketahui bahwa belajar sejatinya merupakan suatu aktivitas yang dilakukan seseorang dan bermuara pada perubahan perilaku. suatu aktivitas pembelajaran dipandang bermakna apabila pembelajar memiliki kemampuan untuk menghubungkan fenomena baru dalam struktur pengetahuan. Tahapan-tahapan tentang kebutuhan manusia bagi peserta didik dalam belajar memiliki kebutuhan untuk memperoleh rasa aman dan nyaman, dapat diakui sebagai bagian dari kelompok yang memiliki potensi, memerlukan kepercayaan dan diberikan tanggung jawab, serta membutuhkan kesempatan untuk dapat membuktikan atau menunjukan kemampuan dirinya sebagai bentuk aktualisasi diri. 2. Prinsip Pembelajaran Biologi Biologi adalah ilmu yang mempelajari tentang makhluk hidup dan pendidikan biologi sangat menekankan adanya interaksi antara siswa dengan obyek yang dipelajari. Dengan adanya interaksi antara siswa dengan objek yang dipelajarinya memungkinkan siswa untuk dapat menghubungkan pengetahuan yang dimiliki melalui pengalaman belajar kemudian dapat untuk mengaplikasikanya dalam kehidupan sehari-hari. Namun yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana upaya yang dapat dilakukan agar pembelajaran biologi bisa merupakan wujud interaksi antara siswa dengan objek yang dipelajarinya sehingga siswa dapat mencapai tujuan pembelajaran dengan optimal? hal tersebut tentunya perlu didukung dengan sarana dan prasarana yang baik, serta upaya inovasi pembelajaran. Menyampaikan materi
17 dalam pembelajaran biologi prosesnya menurut Haka et al., (2020) diperlukan bahan ajar atau bahan penunjang yang salah satunya adalah modul karena dapat sangat membantu guru, dan sebuah modul selanjutnya dapat disesuaikan dengan kebutuhan siswa serta dapat dimanfaatkan untuk pembelajaran mandiri. Merujuk pada BNSP, (2006: 167-168) terdapat beberapa tujuan dalam mata pelajaran biologi dengan rincian sebagai berikut: a. Sikap menyadari keindahan serta keteraturan alam dan menggunakan kebesaran Tuhan semesta alam yang akan membentuk sikap positif terhadap biologi; b. Membentuk sikap ilmiah seperti sikap jujur, objektif terbuka, kritis, cekatan, bertanggung jawab dan mampu bekerjasama dengan orang lain; c. Pengalaman dapat berkembang dengan cara mengajukan dan menguji hipotesis melalui percobaan, serta mengkomunikasikan hasil percobaan yang diperoleh secara lisan maupun tulisan; d. Menggunakan konsep dan prinsip biologi mendorong mengembangkan keahlian berpikir analitis, induktif dan deduktif; e. Mengembangkan penguasaan pemahaman konsep dan prinsip biologi yang saling berkaitan dengan ilmu IPA lainnya serta menambah pengetahuan, kecakapan serta sikap percaya diri; f. Menetapkan pemahaman konsep dan prinsip biologi agar dapat menghasilkan karya teknologi yang sederhana berdasarkan kebermanfaatan bagi manusia; g. Mendorong kesadaran diri dan aktif berperan untuk menjaga kelestarian lingkungan hidup. Merujuk pada depdiknas secara hakikat pembelajaran biologi dipandang sebagai produk, proses, sikap, serta aplikasi dalam kehidupan sehari-hari. Unsur tersebut sekaligus menjadi ciri pembelajaran biologi yang tidak terpisahkan serta diharapkan dapat muncul dalam kegiatan pembelajaran sehingga siswa dapat mengalami proses pembelajaran secara utuh, memahami fenomena alam melalui kegiatan pemecahan masalah, metode ilmiah, dan meniru cara ilmuwan bekerja dalam menemukan fakta baru. Menurut Lathifah & Wilujeng, (2016) pembelajaran biologi pada masa kini hanya mempelajari biologi sebagai produk seperti menghafal konsep, prinsip, hukum serta teori dan itu merupakan pembelajaran yang hanya pada berorientasi pada ujian sehingga mengakibatkan sains sebagai sikap dan proses tidaklah tersentuh, dan menurut Eriyanto et al., (2021) yang dicapai peserta didik
18 setelah melakukan proses belajar adalah hasil belajar yang berkaitan dengan kemampuan menyerap dan memahami materi yang dipelajari atau diajarkan Jika ditinjau dalam PP No 65 tahun 2013, proses pembelajaran IPA yang termasuk biologi mengarah pada pengembangan ketiga ranah secara utuh (produk, proses, sikap) yang artinya ranah yang satu tidak bisa dipisahkan dengan ranah lainnya serta pelaksanaan pembelajaran biologi dilakukan dengan pendekatan saintifik atau pendekatan ilmiah. Pelaksanaan pembelajaran dengan pendekatan saintifik atau ilmiah menurut Bahri et al., (2016) diperlukan model pembelajaran yang dapat melatih siswa berpikir secara ilmiah serta dapat memecahkan masalah seperti yang mereka alami di dunia nyata. Menurut Trianto, (2008: 10) pendekatan kontekstual merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan kondisi lingkungan dunia terdekat siswa serta mendorongnya membangun hubungan antara pengetahuan yang dimiliki, dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari sehingga pembelajarannya akan menjadi lebih bermakna. Melalui pembelajaran yang kontekstual menurut Rama Yeni et al., (2019) siswa akan mendapatkan pemahaman konsep lebih kuat jika dibandingkan dengan proses pembelajaran yang hanya berdasarkan pengertian atau contoh-contoh umum. Hal serupa dikemukakan oleh Yudha et al., (2019) bahwa pembelajaran yang kontekstual terbukti efektif mampu meningkatkan pemahaman konsep siswa terhadap materi yang dipelajari. Salah satu tujuan penting dari pembelajaran sains yang termasuk biologi adalah untuk meningkatkan pemahaman konsep. Pemahaman konsep merupakan proses menerima dan memahami dari hasil pembelajaran yang diperoleh. Paham terhadap sesuatu merupakan penguasaan seorang manusia terkait sesuatu melalui pikiran. Untuk menguasai dengan baik suatu konsep menurut Rustaman, (2017: 33) siswa mengalami dua macam bentuk penyesuaian yaitu apabila hal baru yang dipelajari bersesuaian dengan hal yang sudah pernah dipelajari maka siswa akan menerapkan pengetahuan itu pada situasi baru dan apabila pengetahuan baru tersebut sama sekali berbeda dengan yang sudah dimilikinya maka perlu mengubahnya. Dalam dunia pendidikan, guru memegang peran penting termasuk dalam proses perencanaan kegiatan pembelajaran (Boleng et al., 2017), dan guru dalam mengemban tugas sebagai tenaga kependidikan dituntut dapat membuat siswa paham terhadap
19 konsep dari materi pembelajaran. Namun hal ini harus dipahami bahwa konsep tidak dapat di transfer langsung dari guru ke siswa melainkan siswa yang harus membangunnya sendiri. Dalam kegiatan proses belajar mengajar seorang guru tidak hanya berfungsi sebagai pentransfer ilmu pengetahuan (transmitter of knowledge) tetapi berfungsi juga sebagai pengelola proses belajar mengajar. Guru profesional merupakan guru yang mampu menciptakan proses pembelajaran efektif untuk semua siswa agar memahami penuh materi pembelajaran yang disampaikan. Mengutip pendapat dari Rustaman, (2017: 75) bahwa untuk merumuskan suatu pengalaman belajar maka seorang guru perlu untuk memperhatikan beberapa hal yaitu karakteristik konsep, kesiapan siswa, dan fasilitas yang tersedia. Pengembangan pembelajaran banyak hal yang harus diperhatikan guru diantaranya: pendekatan pembelajaran, model pembelajaran, karakteristik siswa, lingkungan sebagai sumber belajar, hingga kebudayaan tradisional masyarakat. Menurut Novana et al., (2014) strategi guru dalam mengajarkan biologi tergantung cara pandang guru terhadap biologi. Persepsi guru yang sempit akan berdampak pada proses pembelajaran. Menurut Ismiati, (2020) pembelajaran biologi perlu mendayagunakan potensi dan ruang lingkup lokal karena biologi haruslah relevan dengan kehidupan dan kebutuhan siswa. Pemanfaatan konten lokal dalam suatu kegiatan pembelajaran menurutnya dapat diperoleh manfaat diantaranya: a. Menyelamatkan pengetahuan akan konten lokal; b. Membantu siswa dalam belajar biologi dengan pembelajaran kehidupan nyata, yang dekat dengan kehidupan sehari-hari mereka; c. Meningkatkan hubungan siswa dengan masyarakat sekitar; d. Menghubungkan pengetahuan lokal dengan pengetahuan modern. Berdasarkan landasan teoritis, tinjauan yuridis, maupun hasil penelitian yang telah dibahas pada sub-bab ini, maka dapatlah diketahui bahwa pembelajaran biologi sejatinya sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Biologi sebagai disiplin ilmu dalam implementasi pembelajaran perlu memperhatikan potensi-potensi yang ada untuk dimanfatkan sebagai sumber belajar, dikembangkan menjadi bahan ajar atau media pembelajaran sehingga menjadi penunjang guna mengatasi permasalahan yang sering dijumpai dalam kegiatan belajar mengajar biologi.
20 3. Sumber Belajar Indonesia memiliki kekayaan yang melimpah, namun masih banyak dari kita yang kurang memiliki kesadaran untuk menjaga dan melestarikannya. Sebagaimana dikemukakan oleh Leksono et al., (2015) bahwa terbukti kerusakan lingkungan terus berlangsung seperti penebangan pohon secara ilegal, pengeboman ikan, perdagangan satwa liar, dan masih banyak lagi aktivitas manusia yang cenderung merusak lingkungan, sehingga pada akhirnya menimbulkan bencana alam dan berdampak pada menurunnya biodiversitas. Menurutnya sebenarnya yang menjadi akar permasalahan ini adalah sistem pembelajaran yang tidak sesuai. Kesesuaian sistem pembelajaran adalah dengan melibatkan siswa secara aktif dan menggunakan lingkungan sekitar sebagai sumber belajar. Mengutip dari Rustaman, (2017: 10) dalam proses belajar mengajar terdapat sejumlah peranan penting seorang guru diantaranya sebagai penyampai informasi, fasilitator atau mediator dan sebagai evaluator. Sebagai penyampai informasi maka seorang guru dituntut memiliki penguasaan yang tinggi terhadap materi sehingga mampu menyampaikan materi tersebut dengan baik, menggunakan alat bantu, serta keterampilan dalam memanfaatkan berbagai sumber belajar untuk memperjelas informasi materi. Sumber belajar dalam pandangan Prastowo, 2015: 31) adalah segala sesuatu baik itu berupa benda, data, fakta, ide, ataupun orang yang dapat menimbulkan proses belajar, dan sumber belajar merupakan bahan mentah untuk menyusun sebuah bahan ajar. Untuk sumber belajar bisa disajikan kepada siswa, sumber belajar harus diolah terlebih dahulu menjadi sebuah bahan ajar. Menurut Majid, 2013: 170) sumber belajar dirumuskan sebagai informasi yang disajikan dan disimpan dalam berbagai bentuk media yang dapat membantu siswa dalam belajar dan hal itu merupakan perwujudan dari kurikulum yang bentuknya tidak terbatas, yaitu dapat berbentuk cetakan, video, format perangkat lunak, atau kombinasi dari berbagai format yang dapat digunakan oleh siswa maupun guru. Selanjutnya sumber belajar kemudian diartikan sebagai segala tempat atau lingkungan sekitar, benda, dan orang yang mendukung informasi dapat digunakan sebagai wahana bagi siswa untuk melakukan proses perubahan tingkah laku. Mengutip pendapat Prastowo, (2015: 23) sumber belajar sangat penting artinya dalam penyusunan bahan ajar. Olehnya itu keberadaan dan penggunaan sumber belajar setidaknya memiliki tujuan utama yaitu memperkaya informasi yang
21 diperlukan dalam menyusun bahan ajar, dapat digunakan oleh penyusun bahan ajar, memudahkan siswa mempelajari suatu kompetensi tertentu. Lebih jauh dikemukakan Prastowo, (2015: 61) untuk memudahkan dalam pemilihan sumber belajar dilakukan dengan menetapkan kriteria yang meliputi kriteria umum dan kriteria khusus dengan penjelasannya sebagai berikut: a. Kriteria umum 1) Nilai ekonomis, yaitu sumber belajar tidaklah mahal sehingga semua lapisan masyarakat akan mampu menjangkau; 2) Nilai praktis dan sederhana yang artinya sumber belajar tidak memerlukan pelayanan atau pengadaan sampingan yang sulit dan langka; 3) Nilai kemudahan diperoleh, yang artinya sumber belajar dekat dan mudah dicari; 4) Nilai fleksibel, yang artinya sumber belajar bisa dimanfaatkan untuk berbagai tujuan pembelajaran. b. Kriteria Khusus 1) Sumber belajar dapat memotivasi peserta didik dalam belajar; 2) Sumber belajar untuk tujuan pengajaran dan hal ini dimaksudkan sumber belajar yang dipilih sebaiknya mendukung kegiatan belajar mengajar yang diselenggarakan; 3) Sumber belajar untuk penelitian yang artinya dapat diobservasi, analisis, dicatat secara teliti dan sebagainya; 4) Sumber belajar untuk memecahkan masalah yang artinya dapat mengatasi problem belajar peserta didik; 5) Sumber belajar untuk presentasi yang artinya sumber belajar yang dipilih hendaknya bisa berfungsi sebagai alat, metode, atau strategi penyampai pesan. Pelaksanaan pembelajaran dan penggunaan sumber belajar memiliki peran yang besar dalam memberikan pemahaman materi kepada para siswa dikarenakan sumber belajar sangat mendukung terlaksananya proses pembelajaran yang efektif. Meskipun demikian ketersedian sumber belajar yang melimpah pada masing-masing daerah dan memberikan peluang untuk terciptanya pembelajaran yang lebih efektif, pada daerah tertentu nyatanya belum dimaksimalkan untuk dapat melengkapi keterbatasanketerbatasan dalam implementasi pembelajaran.
22 Riset yang dilakukan oleh Faridah et al., (2017) mengungkapkan bahwa sebagian besar sekolah belum memanfaatkan sumber belajar berupa lingkungan alam untuk pembelajarannya, misalnya potensi daerah masing-masing. Sebagian sekolah sudah mulai memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar akan tetapi yang dominan adalah lingkungan sosial. Untuk lingkungan alam, hanya 25% pendidik yang menggunakannya sebagai sumber belajar dan itupun hanya terbatas pada halaman sekitar sekolah. Lebih jauh diungkapkan bahwa ternyata yang menjadi pertimbangan mengapa potensi lokal belum dimaksimalkan sebagai penunjang kegiatan pembelajaran bagi guru dalam hal ini dianggapnya susah untuk mengorganisir siswa, waktu yang terbatas, kemampuan pendidik, dan asumsi masyarakat. Sumber belajar yang diartikan sebagai segala sesuatu yang dapat diambil manfaatnya untuk memberikan kemudahan kepada seseorang dalam proses belajar maupun mengajar, maka pemilihan atau penentuan suatu sumber belajar perlu untuk dikaitkan dengan tujuan yang hendak dicapai agar supaya dalam prosesnya, sumber belajar tersebut memang benar-benar dapat menunjang pencapaian tujuan. Dari sumber belajar kemudian dapat dikembangkan menjadi bahan ajar. 4. Bahan Ajar Pendidikan memiliki peran yang sangat penting guna menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas. Melalui pendidikan diharapkan tercipta manusia berjiwa inovatif, dapat mengembangkan potensi, serta dapat mengambil peran dalam upaya pembangunan di berbagai aspek kehidupan. Pendidikan harus terus membuat inovasi yang lebih baik untuk menghadapi tantangan masa depan dan memenuhi kebutuhan masyarakat. Sebagai upaya yang perlu dan bisa dilakukan untuk mewujudkan harapan sebagaimana ungkapan diatas adalah dengan menyediakan fasilitas yang sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan. Sanjaya, (2013: 9) mengemukakan bahwa proses pembelajaran pada hakikatnya diarahkan untuk membelajarkan siswa agar dapat mencapai tujuan. Oleh karena itu, keputusan yang diambil dalam perencanaan dan desain pembelajaran sepatutnya disesuaikan dengan kondisi peserta didik yang bersangkutan. Suatu kegiatan pembelajaran di sekolah menurut Fitriana et al., (2017) sebaiknya dapat didukung dengan berbagai fasilitas yang bertujuan untuk memudahkan guru dan siswa dalam pencapaian tujuan pembelajaran, dan fasilitas dimaksud salah satunya adalah berupa bahan ajar.
23 Merujuk pada Depdiknas bahan ajar diartikan seperangkat materi atau substansi pembelajaran yang disusun secara sistematis dengan menampilkan sosok utuh dari kompetensi yang akan dikuasai siswa dalam suatu kegiatan pembelajaran. Bahan ajar menurut Majid, (2013: 173-174) adalah segala bentuk bahan yang digunakan untuk membantu guru atau instruktur dalam melaksanakan proses belajar mengajar yang dapat berupa bahan tertulis maupun tidak tertulis dan mencakup petunjuk belajar, kompetensi yang akan dicapai, informasi pendukung, latihan-latihan, petunjuk kerja, dan evaluasi. Bahan ajar menurut Prastowo, (2015: 17) merupakan segala bahan baik itu informasi, alat, ataupun teks yang disusun secara sistematis dengan menampilkan sosok utuh dari kompetensi yang akan dikuasai oleh siswa dan digunakan dalam proses pembelajaran dengan tujuan perencanaan dan penelaahan implementasi pembelajaran diantaranya buku pelajaran, modul, handout, LKS, model atau maket, bahan ajar audio, bahan ajar interaktif dan sebagainnya. Sedangkan salah satu upaya yang bisa dilakukan guna meningkatkan kualitas pendidikan sebagaimana dikutip dari beberapa sumber oleh Syamsussabri et al., (2019) yaitu dengan mengembangkan bahan ajar yang sesuai dengan kurikulum dan kondisi siswa yang dibelajarkan. Menurut direktorat pembinaan dan pengembangan SMA (2010: 27) terdapat beberapa prinsip yang harus dipenuhi dalam mengembangkan bahan ajar. Adapun prinsip yang dimaksud adalah sebagai berikut: a. Prinsip relevansi yang berkaitan dengan keterhubungan materi berdasarkan ketentuan kompetensi inti dan kompetensi dasar; b. Prinsip konsistensi atau keajegan yang menyangkut apabila kompetensi dasar yang harus dicapai peserta didik terdiri dari empat jenis, maka bahan ajarnya pun harus empat jenis; c. Prinsip edukasi atau kecukupan yang artinya materi dalam bahan ajar cukup untuk mencapai kompetensi yang diajarkan oleh praktisi. Majid, (2013: 173) mengemukakan bahwa dengan menggunakan bahan ajar dapat memungkinkan siswa mempelajari suatu kompetensi dasar secara sistematis sehingga secara kumulatif dapat menguasai semua kompetensi secara utuh dan terpadu. Bahan ajar selanjutnya berdasarkan bentuknya menurut Prastowo, (2015: 40) terdiri dari:
24 a. Bahan cetak (printed) yang merupakan sejumlah bahan yang disiapkan dalam bentuk kertas dan dapat berfungsi untuk keperluan pembelajaran atau penyampaian informasi contoh sebagiannya adalah handout, buku, modul, LKS, serta model atau maket; b. Bahan ajar dengar (audio) yakni semua sistem yang menggunakan sinyal suara secara langsung yang dapat dimainkan atau didengar oleh seseorang atau kelompok; c. Bahan ajar pandang dengar (audio visual) yakni segala sesuatu yang memungkinkan sinyal audio dapat dikombinasikan dengan gambar bergerak secara sekuensial d. Bahan ajar interaktif (interactive teaching material) yang merupakan kombinasi dua atau lebih media seperti audio, teks, grafik, gambar, animasi, dan video. Lebih jauh Prastowo, (2015: 26-27) mengemukakan bahwa terdapat tujuan dan manfaat dalam pembuatan atau pengembangan bahan ajar yaitu: a. Tujuan pembuatan atau pengembangan bahan ajar terdiri dari membantu siswa mempelajari sesuatu, menyediakan berbagai macam jenis bahan ajar sehingga mencegah timbulnya rasa bosan, memudahkan siswa dalam melaksanakan pembelajaran, dan agar kegiatan pembelajaran menjadi lebih menarik; b. Manfaat pegembangan bahan ajar terbagi atas manfaat bagi pendidik yaitu pendidik akan memiliki bahan ajar yang dapat membantu dalam melaksanakan pembelajaran, bahan ajar dapat diajukan sebagai karya yang dinilai untuk menambah angka kredit guna keperluan kenaikan pangkat, serta menambah penghasilan jika karya tersebut sampai diterbitkan; Manfaat bagi siswa yang meliputi kegiatan pembelajaran lebih menarik, mendapat kesempatan belajar secara mandiri, dan memperoleh kemudahan dalam mempelajari setiap kompetensi yang harus dikuasainya. Sebagaimana ungkapan sebelumnya, Tamimiya & Suryadarma, (2019) juga mengemukakan bahwa salah satu inovasi yang dapat dilakukan guru adalah membuat bahan ajar yang dapat meningkatkan motivasi peserta didik seperti menghadirkan kehidupan nyata atau sesuatu yang ada di lingkungan ke dalam pembelajaran. Mengutip dari Situmorang, (2016) bahan ajar yang dikembangkan yang bersentuhan langsung dengan objek pembelajaran berpotensi dalam memberikan pemahaman konsep dan motivasi peserta didik.
25 Menurut Prastowo, (2015: 18) realitas pendidikan yang terjadi di lapangan banyak pendidik yang masih menggunakan bahan ajar konvensional berupa bahan ajar yang instan, tinggal pakai, tinggal beli, tanpa upaya merencanakan, menyiapkan, atau menyusunnya sendiri. Hal ini dipandang memiliki resiko serius bila mana bahan ajar tersebut tidaklah kontekstual, tidak menarik, monoton, dan tidak sesuai dengan kebutuhan peserta didik. Sebuah hasil riset yang dilakukan oleh Anwar et al., (2017) mengemukakan bahwa karakteristik bahan ajar yang kontekstual sebagai cara memudahkan peserta didik dalam belajar belum ditemukan pada buku siswa yang diterbitkan oleh pemerintah. Dengan demikian dapat dipahami bahwa bahan ajar merupakan sumber belajar yang secara sengaja dikembangkan untuk tujuan pembelajaran yang dikemas dalam bentuk bahan-bahan cetakan atau media lain yang secara potensial mampu menumbuhkan dorongan pada diri siswa untuk belajar. Bahan ajar yang di kembangkan sesuai kebutuhan guru dan siswa serta dimanfaatkan secara benar, akan menjadi salah satu faktor penting yang dapat meningkatkan mutu pembelajaran. Bahan ajar salah satunya adalah berupa modul pembelajaran yang dapat digunakan oleh guru sebagai bahan ajar, dan siswa sebagai bahan belajar. 5. Modul Sumber belajar merupakan bahan mentah untuk menyusun sebuah bahan ajar. Untuk bisa digunakan oleh guru dan disajikan kepada siswa, sumber belajar harus diolah terlebih dahulu menjadi sebuah bahan ajar. Salah satu bahan ajar yang dapat digunakan oleh guru dan menjadi bahan belajar bagi siswa dengan karakteristik belajar mandiri adalah modul. Modul menurut Nasution, (2006: 205) adalah suatu unit lengkap yang berdiri sendiri dan terdiri atas suatu rangkaian kegiatan belajar yang disusun untuk membantu siswa mencapai sejumlah tujuan yang telah dirumuskan secara khusus dan jelas. Menurut Daryanto, (2013: 9) modul merupakan bahan ajar yang dikemas secara utuh dan sistematis yang memuat seperangkat pengalaman belajar yang terencana dan didesain sebagai keperluan membantu siswa menguasai tujuan belajar spesifik. Mengutip dari Kemenristekdikti tahun 2017, modul ialah bahan ajar yang disusun sesuai dengan pokok bahasan, rancangan pembelajaran, dan disebarluaskan kepada siswa untuk digunakan dalam kegiatan pembelajaran. Menurut Majid, (2013: 176) modul adalah sebuah buku yang ditulis agar siswa dapat melakukan belajar secara mandiri, dan sebuah modul akan memiliki makna jika
26 siswa dapat dengan mudah menggunakannya. Berkenaan dengan hal tersebut maka modul harus menggambarkan kompetensi dasar yang harus dicapai, disajikan dengan menggunakan bahasa yang baik, menarik, serta dilengkapi dengan ilustrasi. Menurut Nasution, (2006: 205) walaupun terdapat bermacam-macam batasan, modul sejatinya merupakan paket kurikulum yang disediakan untuk belajar secara mandiri. Modul disebut juga media untuk belajar mandiri, karena didalamnya telah dilengkapi petunjuk untuk belajar sendiri yang artinya pengguna dapat melakukan kegiatan belajar tanpa kehadiran pengajar secara langsung dengan bahasa, pola, dan sifat serta kelengkapan lain yang didalamnya telah diatur sehingga seolah-olah merupakan bahasa guru yang sedang memberikan pengajaran siswanya. Lebih ringkasnya modul ialah bahan ajar yang dapat berbentuk cetak maupun elektronik (EModul) yang disusun untuk dapat dipelajari oleh siswa secara mandiri. Fleksibilitas modul sebagai materi atau bahan pelajaran menurut Daryanto, (2013: 1) sangat tinggi dan setiap modul dapat dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan peningkatan kompetensi lulusan dengan karakteristik yang dimilikinya sebagai berikut: a. Self instruksional, yang berarti memungkinkan seseorang mampu belajar sendiri atau tidak tergantung pada pihak lain; b. Self contained, yang berarti seluruh materi pembelajaran dari satu unit kompetensi yang dipelajari terdapat di dalam satu modul utuh; c. Stand alone, yang berarti modul yang dikembangkan tidak tergantung pada media lain atau tidak harus digunakan bersama-sama dengan media lain; d. Adaptif, yang berarti modul hendaknya memiliki daya adaptasi yang tinggi terhadap perkembangan ilmu dan teknologi; e. User friendly, yang berarti modul hendaknya juga memenuhi kaidah akrab atau bersahabat dengan pengguna. Penggunaan bahasa yang sederhana, mudah dimengerti, serta menggunakan istilah yang umum digunakan. Modul yang merupakan salah satu bentuk dari bahan ajar menurut pendapat Prastowo, (2015: 14) pada segi pembuatan atau pengembangan selama ini bagi para pendidik terdapat paradigma dan persepsi yang keliru. Pembuatan atau pengembangan bahan ajar (modul) dianggap merupakan pekerjaan yang sulit dan membuat stres, memakan waktu dan tenaga yang tidak sedikit. Pekerjaan ini menurutnya sebenarnya
27 merupakan pekerjaan yang mudah, menyenangkan, tidak membutuhkan waktu yang lama, bahkan bisa mendatangkan uang. Melakukan pengembangan suatu modul menurut Daryanto, (2013: 11) sebagai langkah awal adalah dengan menetapkan desain atau rancangan dikarenakan kedudukan desain merupakan salah satu dari komponen prinsip pengembangan yang mendasari dan memberi arah teknik dan tahapan penyusunan. Penyusunan atau pengembangan modul selanjutnya menurut Nasution, (2006: 217) dapat dilakukan menurut langkah-langkah sebagai berikut: a. Merumuskan tujuan pembelajaran secara jelas, spesifik dalam bentuk kelakuan siswa yang dapat diamati dan diukur; b. Menyusun alasan atau rasional pentingnya modul bagi siswa. Siswa harus mengetahui manfaat yang dapat diambil bila ia mempelajari modul yang disusun sehingga dapat dipelajarinya secara optimal; c. Menentukan kegiatan-kegiatan belajar yang akan dilakukan siswa untuk membantu dan membimbingnya dalam mencapai kompetensi-kompetensi yang telah dirumuskan dalam tujuan pembelajaran. Kegiatan belajar dapat berupa mendengarkan rekaman, melihat film, mengadakan percobaan dalam laboratorium, membaca, mengerjakan soal dan sebagainya; d. Menyusun post-test untuk mengukur hasil belajar siswa; e. Menyiapkan pusat-pusat sumber-sumber bacaan yang terbuka bagi siswa setiap waktu ia memerlukan. Riset yang dilakukan oleh Hartati & Putri, (2019) sebagai keperluan analisis untuk pengembangan modul pembelajaran mengemukakan bahwa yang menjadi penyebab siswa belum terlalu mampu memahami dan menerapkan materi dalam kehidupan nyata adalah pembelajaran yang masih hanya terfokus pada konsep atau teori. Ketika bahan ajar yang digunakan materinya tidak memberikan contoh masalah atau contoh konkret maka dampak yang ditimbulkan adalah siswa tidak memiliki kemampuan untuk menghubungkan antara materi pembelajaran dengan teknologi, lingkungan, dan masyarakat sehingga tidak juga untuk menerapkan ilmu yang diperoleh dalam kehidupan nyata. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran adalah dengan mengembangkan sumber belajar, dan salah satu contoh sumber belajar yang cocok untuk siswa terkait dengan permasalahan itu adalah modul.
28 Riset dilakukan oleh Syukri & Razak, (2021) yang juga bertujuan untuk menganalisis kebutuhan pengembangan modul pembelajaran biologi dengan pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL) mengemukakan bahwa bahan ajar yang digunakan belum mampu membantu siswa untuk mengeksplorasi dan menghubungkan fenomena yang terjadi di lingkungan sekitar dan tidak memotivasi siswa untuk merespon makna yang terkandung dalam materi yang disajikan. Sebuah materi akan dapat lebih bermakna dan lebih mudah untuk dipahami oleh siswa jika materi tersebut dihubungkan langsung dengan lingkungan siswa sehari-hari dan olehnya itu diperlukan upaya pengembangan bahan ajar dengan pendekatan kontekstual, sehingga kontekstualisasi materi pembelajaran kiranya dapat meningkatkan daya ingat, keaktifan siswa, dan pemahaman dalam pembelajaran biologi yang pada akhirnya dapat meningkatkan hasil belajar. Menurut Hargaini & Violita, (2019) sebenarnya dalam proses pembelajaran di sekolah sebagian guru telah melakukan pengembangan bahan ajar seperti modul pembelajaran. Namun komponen kelengkapan sebuah modul pembelajaran tidak semua diperhatikan seperti modul pembelajaran yang hanya berisikan penjelasan materi dan evaluasi yang pada akhirnya tidaklah optimal untuk memotivasi siswa dalam belajar secara mandiri. Suatu modul pembelajaran yang telah selesai dibuat menurut Daryanto, (2013: 49-51) meskipun penyusunan telah menempuh langkahlangkah yang baik, tetap saja diperlukan perbaikan menyangkut isi maupun efektivitasnya. Hal ini berkaitan dengan kegiatan perbaikan melalui review dan uji coba yang dimaksudkan untuk memperoleh tanggapan terhadap modul yang disusun sehingga akan diperoleh masukan dalam upaya perbaikan modul yang telah selesai disusun. a. Review dilakukan dengan cara meminta beberapa orang untuk membaca draft modul yang telah selesai disusun kemudian mengkritik dan memberikan komentar. Review ini dilakukan oleh para ahli seperti ahli materi bidang studi, ahli pembelajaran, tutor/guru atau teman sejawat; b. Uji coba modul kepada beberapa orang sampel (siswa) yang ditempuh dengan cara meminta mereka mempelajari draft modul yang telah diperbaiki berdasarkan hasil review, teliti pengetahuan awal yang dimiliki sebagai prasyarat, jelaskan tujuan ini uji coba, meminta mengerjakan secara wajar, amati cara peserta uji coba melakukan belajar dengan modul, amati reaksi terhadap
29 aktivitas dalam modul, amati apakah masih terdapat hal-hal membuat bosan dan mengalami kesulitan, berikan tes untuk mengetahui apakah peserta uji coba telah menguasai, serta hasil uji coba dijadikan dasar untuk melakukan revisi. Sejalan dengan hal diatas, Syamsussabri et al., (2019) mengemukakan bahwa modul merupakan salah satu bahan ajar yang cocok dikembangkan dan digunakan sesuai dengan kondisi lingkungan siswa. Mereka juga mengemukakan bahwa menurut beberapa peneliti penggunaan modul sangat penting dalam pembelajaran karena tidak terbatasi oleh waktu belajar sehingga dapat digunakan untuk pembelajaran secara aktif dan rinci dari materi yang dipelajari. Menurut Hargaini & Violita, (2019) modul dapat digunakan dalam proses pembelajaran sebagai bahan ajar untuk membantu guru dan siswa dalam memahami materi dan mencapai tujuan pembelajaran dalam rangka meningkatkan hasil belajar siswa. Menurut Nasution, (2006: 204-207) pembelajaran dengan menggunakan modul dapat memberikan kesempatan siswa untuk belajar menurut cara dan kecepatannya masing-masing, selain itu secara akumulasi kebermanfaatan bagi siswa diantaranya: a. Memberikan feedback yang banyak dan segera sehingga siswa dapat mengetahui taraf hasil belajar dan kesalahan dapat segera diperbaiki; b. Setiap siswa memperoleh kesempatan untuk mencapai angka tertinggi dengan menguasai bahan pelajaran secara tuntas; c. Dengan penempatan tujuan yang jelas membuat usaha siswa terarah untuk mencapainya dengan segera; d. Menimbulkan motivasi siswa untuk berusaha segiat-giatnya; e. Penyesuaian terhadap kecepatan dan cara belajar serta bahan pelajaran. Lebih jauh dijelaskan pada segi kebermanfaatan pembelajaran modul bagi seorang guru menurut Nasution, (2006: 207-209) yaitu: a. Memberikan rasa kepuasan: kesuksesan yang dicapai oleh siswa akan berdampak pada rasa kepuasan yang lebih besar bagi seorang guru dimana ia merasa telah melakukan profesinya dengan baik; b. Pemberian bantuan individual: memberi kesempatan yang lebih besar dan waktu yang lebih banyak kepada guru untuk dapat memberikan bantuan dan perhatian secara individual siswa tanpa mengganggu atau melibatkan seluruh kelas; c. Pengayaan: guru memperoleh lebih banyak waktu untuk memberikan ceramah atau pelajaran tambahan sebagai bentuk pengayaan kepada siswa;
30 d. Kebebasan dari rutinitas: guru dibebaskan dari aktivitas rutin persiapan pelajaran karena seluruhnya disediakan oleh modul; e. Penghematan waktu: modul dapat digunakan oleh berbagai sekolah atau fakultas yang berkepentingan tanpa harus dilakukan penyusunan kembali yang memerlukan lagi waktu; f. Bentuk peningkatan profesi keguruan: dari berbagai pertanyaan yang muncul mengenai proses pembelajaran merangsang guru untuk berfikir, mendorong bersikap ilmiah tentang profesinya; g. Evaluasi formatif: dengan disertakan adanya pre-test dan post-test dapat dinilai taraf hasil belajar siswa. Modul pembelajaran dipahami sebagai bahan ajar yang disusun secara sistematis dan menarik yang mencakup isi materi, metode dan evaluasi yang dapat digunakan secara mandiri untuk mencapai kompetensi yang diharapkan. Atau dengan kata lain, modul merupakan suatu unit program pengajaran yang disusun dalam bentuk tertentu untuk keperluan belajar dan memegang peranan penting dalam proses pembelajaran. Modul yang memberikan manfaat begitu besar, jika seseorang hendak mengembangkan sebuah modul pembelajaran, maka terdapat prinsip yang harus diperhatikan yaitu prinsip pembembangan yang didasarkan pada hasil analisis kebutuhan dan kondisi. Kegiatan analisis membuat pengembang modul (guru/peneliti) dapat mengetahui dengan pasti materi belajar apa yang perlu disusun, siapa yang akan menggunakan, sumber daya apa yang telah tersedia dan mendukung penggunaan sehingga sesuai dengan bentuk modul yang akan di kembangkan, serta potensi-potensi apa yang bisa dimanfaatkan. Setelah itu sebuah modul dapat di kembangkan sesuai dengan berbagai data informasi objektif yang diperoleh dari analisis kebutuhan dan penyesuaian terhadap kondisi. 6. Potensi Lokal Potensi lokal menurut Asmani, (2012: 29) dapat diartikan sebagai daya atau kemampuan pada suatu daerah yang memiliki sumber daya baik berupa kekayaan geografis, budaya maupun historis, sumber daya alam, atau sumber daya manusia yang potensial untuk di kembangkan serta memiliki ciri-ciri berada pada lingkungan masyarakat tertentu, dimiliki masyarakat, menyatu dengan alam, bersifat universal,
31 memiliki kepraktisan, mudah dipahami dengan menggunakan common sense, bersifat turun temurun atau diwariskan. Sebagaimana diungkapkan pada pembahasan sebelumnya bahwa pembelajaran holistik adalah proses pembelajaran yang mendorong terbentuknya pola pikir yang komprehensif dan luas dengan mengintegrasikan keunggulan dan kearifan lokal maupun nasional. Sejalan dengan pembelajaran holistik dimaksud, menurut Wilujeng et al., (2017) potensi lokal yang ada di Indonesia dapat digunakan dalam usaha memajukan bangsa sebagai pertimbangan merencanakan pembelajaran di sekolah. Menurut Ismiati, (2020) pembelajaran biologi perlu mendayagunakan potensi dan ruang lingkup lokal karena biologi haruslah relevan dengan kehidupan dan kebutuhan peserta didik. Hal ini secara praktis hemat penulis dapat dipandang sebagai harapan dalam suatu kegiatan pembelajaran dapatlah diintegrasikan dengan potensi lokal termasuk dalam kegiatan pembelajaran biologi. Menurut Romadhoni & Witir, (2019) penanaman nilai lokal dapat dilakukan dengan berbagai cara yang salah satunya adalah melalui pendidikan. Lanjutnya penanaman nilai-nilai lokal melalui pendidikan, kemudian perlu dikemas dengan berbagai cara dan hal itu tidak terlepas dari peran guru. Baik dan buruknya pendidikan berkaitan erat dengan kompetensi guru sebagai tenaga pengajar serta sarana prasarana yang mendukung terlaksananya kegiatan belajar mengajar. Oleh karena itu guru sepatutnya memiliki kemampuan dalam mengolah proses belajar mengajar yang dapat memberikan rangsangan kepada siswa dalam kegiatan belajar seperti menggunakan pendekatan atau sistem pembelajaran yang bervariasi. Sistem pembelajaran yang tidak bervariasi akan membuat siswa cenderung jenuh dan bosan. Oleh karena itu guru harus mampu menciptakan suasana belajar yang demokratis, menarik dan menyenangkan, sehingga siswa menjadi tertarik dan termotivasi untuk belajar. Pengintegrasian potensi lokal dalam pendidikan selain digunakan untuk kepentingan penunjang kegiatan pembelajaran, dapat juga membentuk pola pikir masyarakat termasuk siswa untuk mengambil peran serta dalam melestarikan potensi yang ada pada masing-masing daerah. Mengutip dari Santoso, (2020) orientasi dari pemberlakuan kurikulum 2013 sejatinya memiliki pengertian bahwa pembelajaran di dalam cakupan kurikulum 2013 tidak lagi hanya berfokus terhadap perkembangan kognitif, tetapi lebih kepada pengembangan dan penanaman sikap serta keterampilan yang diharapkan dapat memberi bekal yang cukup pada seluruh siswa dengan
32 menggunakan pola-pola pembelajaran yang berbasis lingkungan sosial budaya. lebih lanjut mengemukakan bahwa proses pembelajaran yang demikian berfungsi sebagai langkah preventif dari sekolah guna menjaga kelestarian dari kekayaan keberagaman yang dimiliki Indonesia. Leksono et al., (2015) banyak mengemukakan hasil penelitian seperti (Snively & Corsiglia) bahwa bahan ajar berbasis potensi lokal sangat penting dalam menjaga nilai lokal di karenakan nilai lokal jarang sekali terdokumentasi dengan baik, (Djulia) konten lokal dalam pembelajaran akan meningkatkan pemahaman siswa dalam memahami materi dan kepedulian mereka terhadap alam, (Glasson et al.,) bahwa pemanfaatan konten lokal dalam pembelajaran dapat memperkaya materi pembelajaran, serta (Armesto, Smith-Ramirez, & Rozzi; Rao et al.,) bahwa dapat meningkatkan kepedulian masyarakat akan arti pentingnya pelestarian lingkungan. Setelah diketahui bahwa nilai lokal sejatinya memiliki relasi dan manfaat dalam kehidupan, maka aktivitas pendidikan pada jalur formal, diharapkan para guru, maupun praktisi pendidikan dapat mengidentifikasi dan mengenal potensi pada masing-masing daerah setempat sehingga pembelajaran dapat lebih bersifat kontekstual atau siswa dapat belajar dengan hal-hal konkrit yang sering dijumpai dalam kehidupan nyata atau kehidupan sehari-harinya. Hemat penulis, menghadirkan benda-benda konkrit dalam pembelajaran dapat mempermudah peserta didik memahami materi yang dipelajari. 7. Modul Terintegrasi Potensi Lokal Setiap daerah memiliki karakteristik tersendiri, misalnya tentang keragaman lingkungan atau kebudayaan masyarakatnya. Hal tersebut kemudian menjadi suatu tantangan tersendiri dalam hal melakukan pengkajian. sebagaimana dikemukakan oleh Situmorang, (2016) bahwa kajian terhadap potensi lokal setiap daerah sebenarnya memiliki tantangan dan keragaman lingkungan sehingga memerlukan suatu analisis serta kajian yang tepat dan pembelajaran biologi sebagai salah satu bagian dari pendidikan memiliki potensi yang besar dalam memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar. Salah satu pemanfaatan lingkungan adalah dengan mengkaji potensi lokal, dan menghadirkan potensi lokal dalam pembelajaran selain sebagai upaya kontekstualisasi materi pembelajaran atau meningkatkan kualitas, dikemukakan oleh Haka et al., (2020) merupakan upaya pengenalan dan pelestarian potensi lokal.
33 Sajian data oleh Syukri & Razak, (2021) dalam sebuah riset yang bertujuan menganalisis kebutuhan pengembangan modul pembelajaran biologi dengan pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL) pada tiga sekolah mengemukakan bahwa bahan ajar yang digunakan belum mampu membantu siswa untuk mengeksplorasi dan menghubungkan fenomena yang terjadi di lingkungan sekitar dan tidak memotivasi siswa untuk merespon makna yang terkandung dalam materi yang disajikan. Menurut mereka sebuah materi akan dapat lebih bermakna dan lebih mudah untuk dipahami oleh siswa jika materi tersebut dihubungkan langsung dengan lingkungan siswa sehari-hari dan oleh karena itu diperlukan upaya pengembangan bahan ajar dengan pendekatan kontekstual sehingga kontekstualisasi materi pembelajaran kiranya dapat meningkatkan daya ingat, keaktifan siswa, dan pemahaman dalam pembelajaran biologi yang pada akhirnya dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Menurut Mumpuni et al., (2013) bentuk pengintegrasian materi pembelajaran yang sesuai dengan isu-isu lingkungan sekitar dapat memberikan kemudahan bagi para siswa dalam menyelesaikan permasalahan-permasalahan lingkungan. Ketepatan dalam analisis kajian potensi lokal dapat membekali kecakapan hidup untuk siswa sesuai dengan karakteristik daerah dan pengalaman hidup sehari-hari seperti tumbuhan lokal yang menyimpan potensi sangat besar untuk dikembangkan sebagai sumber belajar biologi. dalam pembelajaran biologi, materinya dapat menggunakan tumbuhan lokal misalnya materi keanekaragaman hayati dan konservasi, klasifikasi dan pemanfaatan makhluk hidup serta materi Plantae asalkan guru lebih kreatif dan inovatif. Suryanda et al., (2016) mengemukakan bahwa pembelajaran biologi di SMA baik teori maupun kegiatan praktikum membutuhkan sumber belajar lain selain buku paket yang dapat menunjang siswa dalam memahami materi biologi. Salah satu sumber belajar selain buku paket yang yang dapat digunakan adalah modul. Modul yang merupakan suatu unit program pengajaran dan disusun dalam bentuk tertentu untuk keperluan belajar, Menurut Novana et al., (2014) sebuah modul pembelajaran dapat disusun dengan berbasiskan potensi lokal sehingga siswa dalam kegiatan pembelajaran mendapatkan contoh atau melakukan kegiatan belajar sesuai dengan potensi lokal daerahnya.
34 Modul berbasis potensi lokal dirancang sebagai upaya mengaitkan materi baru yang akan dipelajari siswa dengan pengalaman indera atau pengetahuan yang sudah ada. Pengalaman indera atau pengetahuan siswa tentang sesuatu misalnya lingkungan yang dipandang sebagai potensi lokal, dapat memberikan peluang besar untuk mengantarkan siswa mencapai tujuan pembelajaran. Mengutip dari Nofiana & Julianto, (2018) salah satu implementasi yang dapat dilakukan untuk melaksanakan pembelajaran berbasis keunggulan lokal yaitu dengan mengintegrasikannya dalam mata pelajaran tertentu termasuk mata pelajaran biologi. Tahapan ini dimulai dengan menganalisis potensi lokal kemudian di integrasikan dengan SK/KD, kemudian dilanjutkan dengan mengkaji SK/KD kemudian disajikan pada penyempurnaan silabus dan RPP. Tahapan selanjutnya adalah dibuat bahan ajar cetak berupa modul atau LKS yang berbasiskan potensi lokal. 8. Kemandirian Belajar Tindakan pendidikan merupakan upaya mendewasakan peserta didik agar menjadi seseorang yang mandiri untuk menghadapi berbagai masalah selama berlangsungnya pendidikan maupun masalah yang sering terjadi dalam kehidupan sehari-harinya (Eriyanto et al., 2021). Kemandirian berasal dari kata mandiri yang bermakna dapat memerintah diri sendiri dan menjadi satu aspek yang harus dimiliki oleh siswa dalam proses belajarnya. Menurut Zumbrunn et al., (2011) Kemandirian mampu membantu siswa mengelola pikiran, sikap, serta emosi sehingga dapat meraih keberhasilan belajar. Menurut Thoha, (1996: 121) salah satu unsur sikap yang tidak terpengaruh orang lain disebut sebagai perilaku mandiri. Kemandirian menurut Masrun, (1986: 8) adalah suatu sikap yang memungkinkan seseorang untuk bertindak bebas, melakukan sesuatu atas dorongan diri sendiri untuk kebutuhannya tanpa bantuan dari orang lain, maupun berpikir dan bertindak original kreatif penuh inisiatif, mampu mempengaruhi lingkungan, mempunyai rasa percaya diri serta memperoleh kepuasan dari usaha yang dilakukan. Kemandirian belajar (self regulated learning) menurut Zimmerman, (2015) secara umum digambarkan melalui tingkatan atau derajat yang meliputi keaktifan baik secara metakognisi, motivasi, maupun perilaku siswa di dalam proses belajar. Menurut Butler, (2010) kemandirian belajar atau self regulated learning merupakan siklus kegiatan kognitif yang berulang-ulang yang memuat kegiatan seperti menganalisis tugas, memilih, mengadopsi, atau menemukan pendekatan
35 strategi untuk mencapai tujuan dari tugas, serta memantau hasil dari strategi yang telah dilaksanakan. Sedangkan menurut Rochester Institute of Technology (2000) terdapat beberapa karakteristik dari self regulated learning yaitu: memilih tujuan belajar, memandang kesulitan sebagai tantangan, memilih dan menggunakan sumber yang tersedia, bekerja sama dengan individu lain, membangun makna, memahami pencapaian keberhasilan yang tidak cukup hanya dengan usaha dan kemampuan saja melainkan disertai dengan kontrol diri. Salah satu ciri kemandirian belajar menurut Dabbagh & Kitsantas, (2012: 5) yang tercermin pada peserta didik adalah keharusan mereka untuk mampu menentukan tujuan dan cara untuk mencapai tujuan belajar. Menurut Mudjiman, (2008: 39-40), faktor yang mempengaruhi kemandirian seorang siswa antara lain adalah motivasi belajar, ketersediaan sarana belajar, kesempatan belajar, dan kemampuan belajar. Sedangkan Menurut Goodman & Books., (1999: 42) ciri-ciri kemandirian belajar mencakup tiga aspek yaitu: a. Independen yang artinya segala aktivitas dan perilaku mengarah pada diri sendiri, tidak mengharapkan orang lain untuk memberi pengarahan serta permasalahan diselesaikan secara individu tanpa mengharapkan bantuan pihak lain; b. Autonomi yang didefinisikan sebagai kecenderungan seseorang untuk bersikap bebas dan original; c. Self reliance yang di artikan sebagai sikap yang dilakukan berdasarkan kepercayaan diri sendiri. Berdasarkan landasan teoritis yang dibahas pada sub bab ini secara umum dapat kita pahami bahwa kemandirian belajar merupakan bentuk sikap inisiatif seseorang untuk belajar. Dalam sebuah proses pembelajaran kemandirian sangat diperlukan siswa dalam mencapai keberhasilan belajar. Kemandirian belajar yang harus dimiliki oleh siswa sangat dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal seperti motivasi, ketersediaan sarana belajar, kesempatan belajar, dan kemampuan belajar sehingga siswa perlu dibantu agar dapat mencapai hasil belajar yang optimal. 9. Pemahaman Konsep Salah satu tujuan penting dari pembelajaran sains yang termasuk biologi adalah untuk meningkatkan pemahaman konsep. Menurut Sudjana & Rivai, (2007: 42) pemahaman dibedakan ke dalam 3 kategori. Kategori tingkat rendah atau tingkat
36 pertama adalah pemahaman terjemahan mulai dari menerjemahkan dalam arti yang sebenarnya, mengartikan dan menerapkan prinsip-prinsip. Kategori tingkat kedua adalah pemahaman penafsiran berupa menghubungkan bagian-bagian terendah dengan yang diketahui berikutnya atau menghubungkan beberapa bagian grafik dengan kejadian, membedakan yang pokok dengan tidak pokok. Kategori tingkat ketiga merupakan tingkat pemaknaan ekstrapolasi. Pemahaman Konsep Menurut Anderson & Krathwohl, (2010: 105) adalah pengkonstruksian makna dari pesan-pesan pembelajaran yang didapatkan dari pengajaran, buku, atau media pembelajaran yang lain. Sedangkan yang menjadi indikator dari pemahaman konsep menurut Moore & Diehl, (2019: 199)terdiri dari bentuk kemampuan dalam hal: a. Menyatakan ulang sebuah konsep; b. Mengklasifikasi objek-objek menurut sifat-sifat tertentu (sesuai dengan konsepnya); c. Memberi contoh dan noncontoh dari konsep; d. Menyajikan konsep dalam berbagai bentuk representasi; e. Mengembangkan syarat perlu atau syarat cukup suatu konsep; f. Menggunakan, memanfaatkan, dan memilih prosedur tertentu; g. Mengaplikasikan konsep atau algoritma pemecahan masalah. Dalam hal ini lebih spesifik di menurut taksonomi bloom terdiri dari tingkatan kemampuan C1-C6 dengan rincian sebagai berikut: a. Pengetahuan (C1) yang merupakan kemampuan mengingat dan kemampuan untuk menyatakan kembali informasi yang telah dipelajarinya; b. Pemahaman (C2) yang merupakan kemampuan dalam memahami suatu objek atau subjek pembelajaran. memahami didasari atas sebuah pengetahuan atau dengan kata lain tingkat pemahaman lebih tinggi dari tingkat pengetahuan (C1); c. Penerapan (C3) yang merupakan kemampuan untuk menggunakan/menerapkan suatu konsep, prinsip, prosedur pada situasi tertentu; d. Analisis (C4) yang merupakan kemampuan menguraikan atau memecah suatu bahan pelajaran ke dalam bagian atau unsur-unsur serta hubungan antar bagian. Kemampuan analisis merupakan tingkatan kompleks yang mungkin dikuasai seseorang jika telah memiliki kemampuan sebelumnya (CI-C3);