The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Rifai Kasman, 2024-01-09 21:52:51

PENGEMBANGAN MODUL SPERMATOPHYTA BERBASIS POTENSI TUMBUHAN LOKAL

TESIS RIFAI KASMAN FULL

Keywords: Spermatophyta,Tumbuhan Lokal,Rifai Kasman

37 e. Evaluasi (C5) yang merupakan kemampuan untuk memberikan keputusan/nilai tentang sesuatu yang dilihat dari berbagai perspektif seperti tujuan, gagasan, cara kerja, pemecahan, metode, materi dll. Kemampuan ini didahului oleh kemampuan analisis (C4); f. Sintesis (C6) yang merupakan kemampuan untuk menyatukan bagian-bagian dari sesuatu menjadi satu kesatuan yang bermakna. kemampuan ini dalam taksonomi merupakan kemampuan tertinggi yang dimiliki oleh seseorang. Pemahaman konsep merupakan proses menerima dan memahami dari hasil pembelajaran yang diperoleh. Paham terhadap sesuatu merupakan penguasaan seorang manusia terkait sesuatu melalui pikiran. Untuk menguasai dengan baik suatu konsep menurut Rustaman, (2017: 33) siswa mengalami dua macam bentuk penyesuaian yaitu apabila hal baru yang dipelajari bersesuaian dengan hal yang sudah pernah dipelajari maka siswa akan menerapkan pengetahuan itu pada situasi baru dan apabila pengetahuan baru tersebut sama sekali berbeda dengan yang sudah dimilikinya maka perlu mengubahnya. Pemahaman konsep dapat diperoleh melalui pembelajaran yang kontekstual. Pembelajaran yang kontekstual salah satunya adalah bentuk pembelajaran yang mengaitkan materi dengan kehidupan sehari-hari siswa seperti pemanfaatan potensi lokal yang akrab dengan kehidupan siswa pada suatu daerah tertentu. Kontekstualisasi materi pembelajaran sebagaimana dikemukakan oleh Rama Yeni et al., (2019) bahwa melalui pembelajaran yang kontekstual siswa akan mendapatkan pemahaman konsep lebih kuat jika dibandingkan dengan proses pembelajaran yang hanya berdasarkan pengertian atau contoh-contoh umum. Ungkapan serupa dikemukakan oleh Yudha et al., (2019) bahwa pembelajaran yang kontekstual terbukti efektif mampu meningkatkan pemahaman konsep siswa terhadap materi yang dipelajari. Berdasarkan uraian di atas, dapat diketahui bahwa pemahaman menyangkut penguasaan seseorang terhadap sesuatu. Pemahaman konsep yang merupakan proses menerima dan memahami dari hasil pembelajaran bagi siswa dapat dicapai melalui pembelajaran yang kontekstual. Mengaitkan materi pembelajaran dengan objek yang akrab dalam kehidupan sehari-hari siswa seperti memanfaatkan potensi lokal merupakan wujud dari kontekstualisasi materi pembelajaran. Kontekstualisasi materi pembelajaran kemudian dapat mendukung pemahaman konsep siswa terhadap materi


38 yang dipelajari. Dengan menguasai konsep suatu materi pembelajaran maka hasil belajar siswa dapat meningkat. 10. Kajian Materi Modul Modul dalam penelitian ini menggunakan pokok bahasan pada materi plantae sesuai silabus pembelajaran biologi SMA/MA kelas X kurikulum 2013. Berdasarkan silabus, materi plantae memiliki beberapa sub pokok bahasan diantaranya (1) ciri-ciri umum, (2) tumbuhan lumut, (3) tumbuhan paku, (4) tumbuhan biji spermatophyta, dan (5) manfaat dan peran tumbuhan dalam ekosistem, manfaat ekonomi, serta dampak turunnya keanekaragaman tumbuhan bagi ekosistem. Spesifik materi yang termuat dalam modul yang dikembangkan adalah sub materi tumbuhan biji (spermatophyta). Adapun kompetensi dasar (KD) yang digunakan adalah kompetensi dasar (KD) 3.7 yaitu menerapkan prinsip klasifikasi untuk menggolongkan tumbuhan ke dalam divisio berdasarkan pengamatan morfologi dan metagenesis tumbuhan serta mengaitkan peranannya dalam kelangsungan kehidupan di bumi, dan kompetensi dasar (KD) 4.7 yaitu menyajikan data tentang morfologi dan peran tumbuhan pada berbagai aspek kehidupan dalam bentuk laporan tertulis. a. Spermatophyta Untuk dapat terus bertahan hidup selain makanan, manusia dan hewan sangat membutuhkan oksigen. Oksigen yang sangat dibutuhkan oleh manusia dan hewan disediakan oleh tumbuhan melalui proses fotosintesis dengan dukungan cahaya matahari sebagai sumber energi. Tumbuhan nyatanya memiliki manfaat yang besar selain penyedia oksigen bagi kelangsungan kehidupan di bumi banyak juga kelompok tumbuhan yang dimanfaatkan manusia sebagai bahan makanan dan bahan obat-obatan. Akar tumbuhan (pohon) yang kuat mampu untuk menahan tanah ditempatnya bahkan di lereng yang curam. Tanpa adanya pepohonan, hujan akan membasuh semua tanah dan menyisakan bebatuan yang gundul, banjir, atau kekeringan kering ketika musim kemarau (Mauseth, 2016: 74). Melalui sistem klasifikasi 5 kingdom, tumbuhan berbiji terbagi menjadi 2 yaitu Angiospermae atau tumbuhan berbiji tertutup, dan Gymnospermae atau tumbuhan berbiji terbuka. Spermatophyta atau yang dikenal dengan tumbuhan berbiji adalah kelompok tumbuhan yang memiliki tingkat perkembangan


39 filogenetik tinggi dengan ciri khas yang dimiliki adalah terdapat organ yang berupa biji. Biji merupakan alat reproduksi generatif atau seksual karena diawali dengan peristiwa peleburan sel telur dengan sel kelamin jantan. Biji tumbuhan merupakan alat perkembangbikan utama karena biji pada tumbuhan mengandung lembaga atau calon tumbuhan baru. Dengan menghasilkan biji dalam Tjitrosoepomo, (2005: 242-244) tumbuhan dapat mempertahankan jenisnya. Biji pada tumbuhan terbagi atas beberapa bagian diantaranya 1) Spermodermis atau kulit biji, 2) Funiculus atau tali pusar, dan 3) Nucleus seminis atau inti biji seperti tampak pada gambar 1. Pada halaman berikut: Gambar 1. Bagian-Bagian Biji Tumbuhan Sumber: https://www.gurupendidikan.co.id Kulit biji pada tumbuhan berasal dari selaput bakal biji (integumentum) dan biasanya terdapat pada kelompok tumbuhan berbiji tertutup (Angiospermae) yang terdiri dari dua lapisan diantaranya 1) testa atau lapisan kulit luar yang mempunyai sifat bermacam-macam yaitu ada yang tipis, kaku, serta ada yang keras seperti kayu atau batu dan 2) tegmen atau lapisan kulit dalam biasanya tipis seperti selaput yang sering disebut juga dengan kulit ari. b. Angiospermae Angiospermae merupakan kelompok tumbuhan berbiji tertutup dan sering disebut juga Spermatophyta 2.0 atau Gymnospermae yang mengalami peningkatan (Shipunov, 2021: 147). Angiospermae berasal dari kata “angio” yang berarti bunga dan “sperma” yang berarti biji. Dikatakan tumbuhan berbiji tertutup karena bijinya selalu diselubungi oleh suatu badan yang berasal dari daun-daun buah yang disebut dengan bakal buah. Angiospermae terbagi menjadi dua subkelas yaitu dikotil dan monokotil. Subkelas dikotil menurut Kimbal, (1983) merupakan subkelas yang lebih besar dan lebih tua dengan memiliki kira-kira 200.000 spesies, sedangkan sub


40 kelas monokotil diperkirakan memiliki 50.000 spesies yang dikenal seperti bawang (Zephyranthes spp), jagung (Zea mays), gandum (Triticum aestivum), padi (Oryza sativa), kelapa (Cocos nucifera L.) dan lain-lain yang merupakan bahan makanan penting bagi kehidupan manusia. Salah satu contoh dari masing-masing kelas dikotil dan monokotil dapat dilihat pada gambar berikut: Gambar 2. Cengkeh (Syzygium aromaticum L.) Sumber: http://tropical.theferns.info/ Gambar 3. Kelapa (Cocos nucifera) Sumber: Dokumentasi Pribadi c. Karakteristik Angiospermae Setiap kelompok bahkan jenis tumbuhan memiliki memiliki karakteristik pembeda yang membedakannya dengan jenis/kelompok tumbuhan lainnya. Karakteristik utama dari Angiospermae adalah memiliki biji yang tertutup oleh daun buah dan memiliki bunga yang sempurna dibandingkan dengan tumbuhan Gymnospermae. Struktur bunga dan biji dari Angiospermae dapat dilihat pada sajian gambar 4 dan 5 halaman berikut; Klasifikasi Kingdom : Plantae Divisi : Angiospermae Class : Dicotyledoneae Order : Myrtales Famili : Myrtaceae Species : Syzygium aromaticum L. Nama Lokal : Cengkeh Klasifikasi Kingdom : Plantae Divisi : Spermatophyta Class : Monocotyledoneae Order : Arecales Famili : Arecaceae Species : Cocos nucifera L. Nama Lokal : Kelapa


41 Gambar 4. Struktur Bunga Angiospermae Sumber: Shipunov Sumber: Afriani Gambar 5 Struktur Biji Angiospermae Sumber: https://theinsidemag.com Secara Umum kelompok tumbuhan berbiji tertutup (Angiospermae) memiliki ciri-ciri diantaranya: 1) Umumnya tumbuhan berupa pohon, perdu, semak, liana dan herba; 2) Memiliki bakal biji atau biji yang tertutup oleh daun buah; 3) Mempunyai bunga sejati/bunga yang sesungguhnya yang terdiri dari mahkota bunga, kelopak bunga, putik, dan benang sari. 4) Bentuk daun lebar, tunggal atau majemuk dengan komposisi yang beraneka ragam. 5) Jenis batang bervariasi yaitu ada yang bercabang-cabang dan tidak bercabang; Monokotil Dikotil


42 6) Sistem perakaran bervariasi yaitu serabut dan ada juga yang berakar tunggang. Tumbuhan berbiji tertutup (Angiospermae) dalam Sudarnadi, (1996) dapat dibedakan dengan tumbuhan berbiji terbuka (Gymnospermae) karena memiliki beberapa pembeda diantaranya: 1) Adanya megasporangia atau bakal biji (ovule) yang diselimuti oleh megasporofil atau dinding buah (karpel); 2) Adanya mikrosporofil atau benang sari (stamen) yang merupakan bentuk dasar dari organ kelamin jantan atau androecium; 3) Adanya daun steril yang mengelilingi putik dan sari merupakan bentuk dasar dari perhiasan bunga yang terdiri dari kelopak dan mahkota; dan, 4) Adanya bunga yang merupakan gabungan antara kelopak, mahkota, gynoecium dan androecium. Angiospermae adalah kelompok tumbuhan yang mendominasi bumi dengan lebih dari 250.000 spesies, sekitar 300 keluarga dan 40 ordo berbeda, serta satusatunya tempat yang tidak memungkinkan untuk Angiospermae dapat tumbuh adalah laut terbuka dan wilayah antartika tengah dan sekaligus menjadi kelompok makhluk hidup terbanyak di bawah kelompok serangga (Shipunov, 2021: 151). d. Gymnospermae Gymnospermae merupakan kelompok tumbuhan yang memiliki biji terbuka. Gymnospermae berasal dari bahasa yunani yang terbagi atas dua kata yaitu “gymnos” yang berarti terbuka/telanjang dan “sperma” yang berarti biji. Penamaan Gymnospermae dikarenakan kelompok tumbuhan ini bagian biji tidak terlindungi di dalam bakal buah (ovarium) sehingga biji nampak langsung diantara daun-daun penyusun strobilus atau runjung. Kelompok Gymnospermae atau tumbuhan berbiji terbuka memiliki anggota yang lebih sedikit jika dibandingkan dengan kelompok Angiospermae atau tumbuhan berbiji tertutup. Kelompok ini terbagi menjadi empat kelas yaitu: 1) Cycadophyta Divisi Cycadophyta memiliki habitus/bentuk badan yang menyerupai pohon palem pada kelompok tumbuhan berbiji tertutup, dan termasuk dalam kategori tumbuhan berumah dua oleh karena mikrospora dan makrospora dihasilkan tumbuhan yang berbeda yaitu mikrospora dihasilkan oleh tumbuhan


43 jantan, dan makrospora dihasilkan oleh tumbuhan betina. Salah satu contoh dari tumbuhan dari divisi Cycadophyta yang dikenal adalah pakis haji (Cycas rumphii). Gambar 6. Pakis Haji (Cycas rumphii) Sumber: Dokumentasi pribadi Cycads yang sekarang tersebar luas dan menempati banyak habitat menurut (Mauseth, 2016) dahulunya memiliki populasi yang lebih besar namun sebagiannya telah punah dan saat ini, hanya terdapat sembilan atau sepuluh genera. Sikas adalah tanaman mirip palem dengan daun yang menyirip, kaya akan parenkim dengan batang yang memiliki anomali penebalan sekunder. Kelas Cycadopsida hanya memiliki sekitar 300 spesies dan tumbuh dominan pada daerah tropis dan terdapat satu spesies yang tumbuh alami di bagian Amerika Serikat, Zamia pumila, florida dan Georgia. Ovul tanaman ini melekat pada bagian daun yang dimodifikasi (megasporofil) dan berkumpul dalam kerucut tegak. Sikas memiliki kesaaman dengan ginkgo, yaitu memiliki spermatozoa multiflagelata, archegonia dan oosit besar. Siklus hidup sikas sangat lambat dan biji sikas didistribusikan oleh hewan (Shipunov, 2021). 2) Gnetophyta Pada divisi Gnetophyta terdiri dari tiga kelompok tumbuhan yaitu Gnetum dengan 30 spesies, Ephendra dengan sekitar 40 spesies, dan Welwitschia mirabilis, sebagai satu-satunya spesies dalam genus. Gnetum termasuk tumbuhan merambat atau perdu kecil dengan bentuk daun lebar yang mirip dikotil dan Gnetum adalah tumbuhan asli asia tenggara, Africa tropis, dan cekungan amazon. Ephendra adalah tumbuhan berupa semak yang sangat umum di temukan pada daerah gurun Meksiko, barat daya dan utara Amerika Serikat, dan wilayah pegunungan kering Amerika Selatan. Welwitschia memiliki batang Klasifikasi Kingdom : Plantae Divisi : Cycadophyta Class : Cycadopsida Order : Cycadales Famili : Cycadaceae Species : Cycas rumphii Nama Lokal : Pakis Haji


44 pendek dan berdaun lebar yang saat ini ditemukan diwilayah gurun Africa selatan atau dalam budidaya (Mauseth, 2016). Salah satu contoh dari divisi Gnetophyta adalah Gnetum gnemon atau yang dikenal dengan melinjo yang biasanya bagian biji sebagai bahan baku pembuatan keripik atau yang sering dimanfaatkan sebagai bahan sayuran seperti tampak pada gambar 7 berikut: Gambar 7. Melinjo (Gnetum gnemon) Sumber: (Mauseth, 2016) Dalam pandangan Mauseth (2016) untuk memahami asal-usul nenek moyang dari Gnetophyta berdasarkan fosil berupa organ/jaringan yang berumur jutaan tahun belum cukup membantu memahami proses evolusinya. Namun aspek tertentu dari bentuk anatomi dan sistim reproduksi dapat ditafsir sebagai indikasi jika Gnetophyta dan tumbuhan berbunga (Antophyta) merupakan dua klad bersaudara yang memiliki nenek moyang yang sama. 3) Ginkgophyta Divisi Gnetophyta memiliki habitus berupa semak, memiliki batang dan akar berkayu (berkambium) dan memiliki daun berbentuk seperti kipas berwarna keemasan. Pada kelas ini hanya memiliki Ginkgo sebagai spesies satusatunya. Saat ini Ginkgo biloba L. adalah tanaman asli tiongkok yang oleh masyarakatnya dimanfaatkan sebagai bahan obat-obatan. Menurut Mauseth, (2016) Ginkgo biloba tampak terlihat seperti tumbuhan dikotil dengan batang yang kokoh dan memiliki banyak cabang akan tetapi memiliki kayu seperti tumbuhan runjung, memiliki pucuk pendek yang mengandung sebagian besar daun dan memiliki biji berdiameter 1.5-2 CM dengan kulit biji yang mengembang dan berlapis-lapis. Warna dan bentuk daun yang indah dari Klasifikasi Kingdom : Plantae Divisi : Gnetophyta Class : Gnetopsida Order : Gnetales Famili : Gnetaceae Species : Gnetum gnemon Nama Lokal : Melinjo


45 Klasifikasi Kingdom : Plantae Divisi : Ginkgophyta Class : Ginkgoopsida Famili : Ginkgoaceae Species : Ginkgo biloba L. Nama Umum : Ginkgo biloba Ginkgo biloba menjadi hiasan yang sangat popular akan tetapi ketika menghasilakn biji, lapisan berdaging luar dari biji mengeluarkan asam yang baunya sulit ditoleransi. Ginkgo diketahui sangat melimpah pada era mezoitikum yang utamnya pada era jurassic berdasarkan fosil berupa daun dan kayu yang ditemukan pada hampir seluruh wilayah di dunia, terutama di wilayah Alaska, Kanada, dan Siberia dekat Kutub Utara, dan patagonian Afrika Selatan, serta Selandia Baru yang Dekat Kutub Selatan. Gingo kemudian mulai mati semenjak periode tersier, tetapi menyisahkan dua spesies yaitu Gingko biloba dan Ginkgo Adiantoides, kemudian Ginkgo Adiantoides punah sekitar 10-12 juta tahun yang lalu. Ginkgo yang masih bertahan sampai saat ini seperti tampak pada gambar 8 berikut: Gambar 8. Ginkgo Biloba (Ginkgo biloba L.) Sumber: (Mauseth, 2016) 4) Divisi Coniferophyta Coniferae adalah kelas dari tumbuhan berbiji terbuka yang memiliki spesies terbanyak. Kelas Coniferae adalah kelompok tumbuhan yang memiliki organ reproduksi berupa konus yaitu organ reproduksi yang berbentuk seperti sisik. Beberapa contoh diantaranya pinus, cemara, dan damar. Salah satu cotoh tumbuhan dari divisi Coniferophyta dapat dilihat pada gambar 7 halaman berikut:


46 Klasifikasi Kingdom : Plantae Divisi : Coniferophyta Class : Pinopsida Famili : Pinaceae Genus : Pinus Species : Pinus merkusii Nama Lokal : Pinus Gambar 9. Pinus (Pinus merkusii) Sumber: (Mauseth, 2016) Dibandingkan dengan Gymnospermae, Conifer adalah kelas yang paling banyak dikenal dan memiliki peran peting secara ekonomi. Conifer memiliki sekitar 630 spesies dan kebanyakan berupa pohon yang hidup beriklim sedang, xilem dalam jumlah besar, ovul melekat pada daun khusus, sisik biji yang dipadatkan dalam kerucut, dan prose penyerbukan biasnya melalui angin dan hewan serta secara keseluruhan dari siklus hidup memakan waktu hingga dua tahun (Shipunov, 2021). Salah satu species dari Conifer yang mampu hidup dan memili ketinggian yang lebih dari panjangnya ukuran lapangan sepak bola adalah redwoods (Sequoiadendron giganteum) yang hidup di California. Bentuk daun konifer seringkali hanya sederhana dengan satu atau dua vena panjang yang mengalir pada bagian tengah daun berbentuk seperti jarum atau beberapa vena paralel di daun yang berbentuk sisik. Urat pada daun memiliki endodermis dan jaringan yang disebut jaringan transfuse dan jaringan ini terdiri dari sel parenkim transfusi dan trakeid transfusi parenkim transfusi bercampur dengan trakeid, dua jenis sel membentuk pola tiga dimensi yang kompleks yang memfasilitasi transfer bahan antara jaringan vaskular biasa dan jaringan mesofil di luar endodermis (Mauseth, 2016). e. Karakteristik Gymnospermae Sebagaimana tumbuhan Angiospermae, Gymnospermae juga memiliki karakteristik pembeda. Karakteristik pembeda utama dari Gymnospermae adalah memiliki biji yang tidak tertutupi oleh daging buah dan tidak memiliki bunga sempurna. Secara umum kelompok Gymnospermae memiliki ciri-ciri


47 yaitu memiliki bakal biji yang tidak tertutup oleh buah, berupa perdu atau pohon dengan batang yang dapat tumbuh membesar dan bercabang, belum memiliki bunga sejati. Gymnospermae bereproduksi secara generatif dengan membentuk biji dan alat reproduksinya adalah strobilus yang terbentuk ketika tumbuhan sudah dewasa. Reproduksi generatif Gymnospermae terjadi satu kali pembuahan (pembuahan tunggal) yang akan menghasilkan zigot dan waktu antara penyerbukan dan pembuahan berlangsung relatif lama dibandingkan dengan Angiospermae. Pada Gymnospermae ovulum tidak dibungkus oleh ovarium sedangkan pada Angiospermae dibungkus oleh ovarium dan ovulum akan berkembang menjadi biji serta ovarium selanjutnya akan berkembang menjadi buah. Perbedaan keduanya dapat dilihat pada gambar 10 berikut: Gambar 10. Perbedaan Karakteristik Gymnospermae dan Angiospermae Sumber: https://www.tentorku.com Indikator pencapaian kompetensi (IPK) dari uraian materi Spermatophyta yang dipelajari peserta didik menggunakan modul pada aspek pemahaman konsep sebagai berikut: 1) Menguraikan ciri-ciri dari tumbuhan berbiji (C4) 2) Menerapkan klasifikasi dari tumbuhan berbiji (C3) 3) Mengidentifikasi perbedaan Angiospermae dan Gymnospermae (C4) 4) Membuat tabel data perbedaan dikotil dan monokotil (C6) 5) Menjelaskan peranan tumbuhan Angiospermae dan Gymnospermae (C5)


48 11. Guided Discovery Learning (GDL) Model pembelajaran discovery menurut Saefuddin & Berdiati, (2014: 56) adalah proses pembelajaran yang terjadi dimana pembelajar (siswa) tidak disajikan dengan pelajaran yang bentuk final melainkan melalui proses menemukan. Sedangkan menurut Richard dalam Roestyah, (2012) adalah suatu cara mengajar yang melibatkan siswa dalam proses kegiatan mental melalui tukar pendapat, diskusi, seminar, membaca sendiri, mencoba sendiri, agar dapat belajar sendiri dengan cara menemukan sendiri. Lebih jauh dikemukakan oleh Hanafiah, (2012: 77) bahwa discovery learning merupakan rangkaian kegiatan pembelajaran yang melibatkan secara maksimal kemampuan peserta didik/siswa untuk mencari dan menyelidiki secara sistematis kritis, logis, serta keterampilan sebagai wujud adanya perubahan perilaku. Pembelajaran dengan penemuan terbimbing merupakan pola metode saintifik yang menuntun siswa menemukan pemecahan masalah secara berkelompok dengan langkah-langkah yang mulai dari pemberian stimulasi, identifikasi, kegiatan pengumpulan data, pengolahan data, verifikasi, sampai menarik kesimpulan (Yerizon et al., 2018). Dengan demikian dapat kita pahami bahwa discovery learning sejatinya merupakan suatu model pembelajaran yang berbasis penemuan dimana siswa dituntut untuk menemukan sendiri pengetahuan melalui serangkaian aktivitas belajar dan ini tentunya sejalan dengan konsep student center learning yaitu pembelajaran yang berpusat pada siswa dan tidak bergantung pada guru sebagai transfer of knowledge. Sebuah model pembelajaran tentunya memiliki karakteristik tersendiri dan menjadi penanda atau ciri pembeda dari model pembelajaran lainnya. Menurut Hosnan, (2014: 284) model discovery learning memiliki ciri-ciri diantaranya: a. Mengeksplorasi dan memecahkan masalah untuk menciptakan, menggabungkan, dan menggeneralisasi pengetahuan; b. Pembelajaran yang berpusat pada siswa; c. Kegiatan pembelajaran dilaksanakan untuk menggabungkan pengetahuan baru dan pengetahuan yang telah mapan. Mengutip dari Suryosubroto, (2009: 184) langkah-langkah model discovery/penemuan terdiri dari: a. Identifikasi kebutuhan siswa; b. Seleksi pendahuluan terhadap prinsip-prinsip, pengertian konsep dan generalisasi yang akan dipelajari;


49 c. Seleksi bahan, dan tugas-tugas; d. Membantu memperjelas: 1) Tugas/problema yang akan dipelajari, 2) Peranan masing-masing siswa. e. Mempersiapkan setting kelas dan alat-alat yang diperlukan; f. Mengecek pemahaman siswa terhadap masalah yang akan dipecahkan dan tugas tugas siswa; g. Memberi kesempatan pada siswa untuk melakukan penemuan; h. Membantu siswa dengan informasi atau data jika diperlukan i. Memimpin analisis sendiri (self analysis) dengan pertanyaan yang mengarahkan dan mengidentifikasi proses; j. Merangsang terjadinya interaksi antar siswa; k. Memuji dan membesarkan siswa yang bergiat dalam proses penemuan; l. Membantu siswa merumuskan prinsip-prinsip dan generalisasi atas hasil penemuannya. Menurut Bruner dalam Winataputra, (2008: 19) tahapan penerapan pembelajaran penemuan terdiri dari: 1) stimulus, 2) problem statement, 3) data collection, 4) data processing, 5) verification, dan 6) generalization. Tahapan ini kemudian bila diimplementasikan dalam pembelajaran adalah sebagai berikut: a. Stimulus merupakan tahap mengajukan pertanyaan oleh guru sebagai pembuka untuk merangsang siswa dapat masuk kepada topik pembelajaran, kemudian dilanjutkan dengan mengarahkan siswa untuk mempelajari isi modul pembelajaran: b. Problem Statement merupakan tahap pemberian kesempatan kepada siswa untuk mengidentifikasi masalah yang relevan dengan materi modul yang dipelajari kemudian merumuskannya dalam bentuk hipotesis. c. Data collection merupakan tahap siswa melakukan pengumpulan informasi terkait dengan rumusan hipotesis. d. Data processing merupakan tahap mengolah data yang telah dikumpulkan siswa. e. Verification merupakan tahap memverifikasi/pemeriksaan terhadap data untuk membuktikan hipotesis.


50 f. Generalization yang merupakan tahap penarikan kesimpulan terhadap data dan hipotesis dalam kegiatan pembelajaran. Model pembelajaran discovery mengutip dari Suwangsih & Tiurlina, (2006: 204) terbagi atas free discovery learning (pembelajaran penemuan murni), dan guided discovery learning (pembelajaran penemuan terarah). Guided Discovery Learning atau Pembelajaran penemuan terarah/terbimbing yang di singkat (GDL) dalam pandangan Eggen & Don, (2012) terfokus pada dua aspek yaitu mendorong pemahaman mendalam tentang materi dan berpikir kritis yang pada akhirnya pemahaman siswa tentang topik materi menjadi lebih baik saat melakukan praktik berpikir kritis. Mengintegrasikan bimbimgan dalam model discovery learning menurut Simamora et al., (2018) diperlukan agar dapat mengantisipasi miskonsepsi atau pengetahuan yang tidak lengkap dari siswa. Menurut Hosnan, (2014: 287) model guided discovery learning memiliki beberapa kelebihan dan kekurangan diantaranya sebagai berikut: a. Kelebihan 1) Membantu siswa memperbaiki dan meningkatkan keterampilan dan proses kognitif; 2) Aspek pengetahuan yang diperoleh melalui penggunaan model GDL sangat pribadi dan ampuh menguatkan pengertian, ingatan, dan transfer; 3) Dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam memecahkan masalah; 4) Membantu siswa memperkuat konsep diri; 5) Mendorong keterlibatan keaktifan siswa; 6) Mendorong siswa berpikir intuisi dan merumuskan hipotesis; 7) Melatih siswa belajar mandiri; 8) Siswa aktif dalam kegiatan belajar mengajar karena siswa berpikir dan menggunakan kemampuan untuk menemukan hasil akhir. b. Kekurangan 1) Memerlukan banyak waktu sebagai akibat perubahan kebiasaan mengajar guru yang umumnya sebagai pemberi informasi menjadi fasilitator, motivator, dana tau pembimbing; 2) Kemampuan berpikir rasional tidak semua siswa memiliki Guided discovery learning (GDL) dalam pandangan Hamalik, (2002: 134) adalah prosedur pengajaran yang menekankan studi individu, manipulasi objek, dan


51 eksperimen siswa sebelum membuat generalisasi sampai menyadari suatu konsep. Dalam pandangan Tung, (2015: 329) suatu proses pembelajaran akan berjalan baik dan kreatif apabila siswa memiliki kesempatan untuk menemukan aturan sendiri melalui konsep, teori, definisi, dan lain-lain yang pada intinya adalah bentuk pembelajaran dengan pemberian kebebasan kepada siswa oleh guru, dan implementasi pembelajaran guided discovery dalam pandangan Shieh & Yu, (2016) dapat mengungguli peserta didik yang melakukan pembelajaran secara konvensional. Penggunaan modul berbasis guided discovery learning (GDL) dan diintegrasikan dengan potensi lokal akan sangat menarik dan menyenangkan bagi siswa karena pemasalahan yang disajikan memiliki keterhubungan dengan kekayaan alam yang akrab dalam kehidupan sehari-hari (Marzuki et al., 2017) dan hal ini sangat perlu untuk dilakkan mengingat beberapa daerah dengan keterbats bahan ajar sangat bergantung bantuan buku/bahan ajar dari pemerintah sedangkan menurut Anwar et al., (2017) pembahasan materi dan contoh-contoh yang diberikan dari buku/bahan ajar produk pemerintah cenderung tidak relevan/kontekstual. oleh karena itu masih sangat diperlukan keaktifan, kreativitas atau kompetensi guru untuk mengembangkan agar lebih sesuai dengan keadaan lingkungan tempat guru mengajar. Penerapan model pembelajaran GDL terintegrasi potensi tumbuhan lokal pada materi Spermatophyta dilakukan sebagai wujud kontekstualisasi materi pembelajaran karena mengaktualisasikan pembelajaran dalam fenomena kehidupan nyata dalam pandangan Rindah et al., (2019) dan Rusdi et al., (2016) dapat meningkatkan pemahaman kosep siswa. Selain untuk meningkatkan kemandirian dan penguasan konsep, menurut Agus & Fitriani, (2019) dan Noviana & Prayitno, (2020) dapat juga digunakan untuk meningkatkan High Order Thingking Skills atau kemampuan berpikir kritis siswa, dan dalam pandangan Afian et al., (2017), suatu perangkat pembelajaran yang didesain menggunakan model GDL dapat memberikan pengaruh positif terhadap keterampilan berpikir dan penguasaan konsep siswa. Berdasarkan kajian teori di atas, dapat diketahui bahwa guided discovery learning (GDL) efektif terhadap peningkatan hasil belajar sehingga pengembangan modul Spermatophyta berbasis GDL dan implementasinya dengan mengikuti sintaks yang sistematis berpotensi untuk meningkatkan kemandirian dan pemahaman konsep. Kaitan modul Spermatophyta dengan model guided discovery learning (GDL) yaitu model Spermatophyta yang dikembangkan dalam penelitian ini mengikuti sintaks atau


52 langkah-langkah sistematis dari model pembelajaran GDL yang terdiri dari stimulation, problem statement, data collection, data processing, dan generalization. Sistematisasi dan fleksibilitas modul Spermatophyta dengan sintaks model GDL dalam desain pembelajaran menjadikan modul Spermatophyta dapat ditempatkan dalam pembelajaran yang tidak terbatas pada pembelajaran bersama guru di kelas melainkan dapat secara optimal dimanfaatkan siswa di luar kelas untuk pembelajaran mandiri. B. Kajian Penelitian Yang Relevan Berikut dipaparkan beberapa penelitian yang relevan dengan rencana penelitian dalam proposal ini: 1. Penelitian yang dilakukan oleh Anwar, Ruminiati, & Suharjo pada tahun 2017 dengan judul penelitian “Pengembangan modul pembelajaran tematik terpadu berbasis kearifan lokal kabupaten sumenep kelas IV subtema lingkungan tempat tinggalku” yang diterbitkan dalam Jurnal Pendidikan Teori, Penelitian dan Pengembangan Volume 2 Nomor 10 tercetak pada halaman 1291-1297. Penelitian ini mengemukakan bahwa buku siswa yang diterbitkan oleh pemerintah tidaklah bersifat kontekstual, oleh karena itu dalam pembelajaran diperlukan adanya bahan ajar berupa modul dengan berbasiskan kearifan lokal guna menghadirkan kontekstualisasi dalam pembelajaran. hasil dalam penelitian ini kemudian menghasilkan modul berbasis potensi lokal yang layak diimplementasikan dalam pembelajaran berdasarkan uji validasi dan pengujian lapangan. Letak perbedaan dalam penelitian yang dilakukan oleh Anwar dkk tahun 2017 dengan penelitian yang akan dilaksanakan adalah berupa tema dan sasaran produk dihasilkan. 2. Penelitian yang dilakukan oleh Latfiah & Wilujeng pada tahun 2016 dengan judul “Pengembangan perangkat pembelajaran integrated science berbasis kearifan lokal dalam meningkatkan kepedulian lingkungan, keterampilan proses dan pemahaman konsep sains”, yang diterbitkan dalam Jurnal Pendidikan Matematika dan Sains Volume 4 Nomor 2 dan tercetak pada halaman 120-129. membuktikan bahwa pengembangan perangkat pembelajaran dengan pengintegrasian kearifan lokal dapat meningkatkan kepedulian siswa terhadap lingkungan, keterampilan proses, serta pemahaman konsep. 3. Penelitian yang dilakukan oleh Noviana dan Julianto pada tahun 2018 dalam penelitiannya yang berjudul “Upaya Peningkatan Literasi Sains Siswa Melalui


53 Pembelajaran Berbasis Keunggulan Lokal” yang diterbitkan dalam BIOSFER Jurnal Tadris Pendidikan Biologi Volume 9 Nomor 1 dan tercetak pada halaman 24-35. Penelitian ini mengemukakan bahwa implementasi pembelajaran berbasis keunggulan setempat yang terintegrasi pada materi biologi dapat dilakukan melalui model pembelajaran kontekstual yang pada akhirnya berkesimpulan bahwa penerapan pembelajaran berbasis keunggulan setempat dapat meningkatkan kemampuan konten, konteks, dan proses sains siswa. 4. Penelitian yang dilakukan oleh Prabowo & Maridi pada tahun 2016 dengan judul “The Development of Local Potential-Based Module On Ecosystem Subject Matter as a Teaching Materials SMA N 1 Tanjungsari, Gunungkidul”. Penelitian ini berangkat dari keterbatasan bahan ajar dan upaya kontekstualisasi materi pembelajaran untuk mengetahui keefektifan modul berbasis potensi lokal terhadap peningkatan pemahaman konsep dan sikap peduli lingkungan siswa. Hasil uji coba modul berbasis potensi lokal memperoleh skor 92,62% yang merupakan kategori sangat layak sehingga dapat diimplementasikan. 5. Penelitian yang dilakukan oleh Arif Supriyadi sebagai tugas akhir memperoleh gelar magister pendidikan biologi universitas negeri yogyakarta dengan judul “Pengembangan E-Modul Pengayaan Ekologi Hutan Adat Berbasis Android Untuk Meningkatkan Kemandirian Belajar dan Pemahaman Konsep Pengetahuan Lingkungan Mahasiswa Pendidikan Biologi” dimana hasil penelitian membuktikan bahwa pembelajaran menggunakan produk yang dikembangkan memberikan pengaruh signifikan terhadap peningkatan pemahaman konsep dan kemandirian belajar berdasarkan hasil uji coba lapangan. Letak perbedaan dalam penelitian ini dengan penelitian yang akan dilaksanakan adalah bentuk produk dan sasaran penggunaan produk yang dihasilkan.


54 C. Kerangka Pikir Gambar 11. Kerangka Pikir Penelitian Permasalahan di Sekolah 1. Keterbatasan bahan ajar menyebabkan kegiatan pembelajaran siswa hanya belangsung di kelas bersama guru; 2. Konsep materi Plantae sukar dapat di pahami yang terbukti dengan skor perolehan hasil belajar siswa berada di bawah standar KKM 3. Keterbatasan bahan ajar menjadi indikator ketergantungan siswa terhadap guru, dan skor perolehan hasil belajar siswa menjadi indikator bahwa bahan ajar yang di gunakan belum efektif dalam meningkatkan pemahaman konsep siswa terhadap materi. Pembelajaran dengan modul Spermatophyta berbasis GDL dapat meningkatkan kemandirian belajar karena GDL dapat melatih kemandirian, membimbing siswa menemukan konsep secara mandiri, dan mengurangi ketergatungan siswa pada guru Pembelajaran dengan modul Spermatophyta terintegrasi potensi tumbuhan lokal dapat meningkatkan pemahaman konsep siswa karena materi pembelajaran kontekstual dengan kehidupan sehari hari siswa Hasil Belajar Meningkat Diperlukan sumber belajar lain untuk meningkatkan pemahaman konsep dan kemandirian Pengembangan modul untuk materi Plantae (Spermatophyta) berbasis GDL terintegrasi potensi tumbuhan lokal Pengintegrasian materi pembelajaran dengan kehidupan sehari-hari siswa melalui Pemanfaatan potensi tumbuhan lokal Mengurangi ketergantungan siswa terhadap guru sebagai pemberi informasi dan melatih siswa belajar secara mandiri melalui Guided discovery learning (GDL) Penguasaan Konsep Meningkat Kemandirian Belajar Meningkat


55 Berdasarkan kerangka pikir penelitian di atas, maka adapun yang menjadi penjelasannya yaitu: permasalahan dalam proses pembelajaran bagi biologi bagi SMA Negeri 4 Pulau Taliabu adalah keterbatasan bahan ajar sehingga aplikasi pembelajaran biologi terbatas pada penggunaan buku teks pelajaran pada umumnya. Berdasarkan analisis buku teks pelajaran yang digunakan, diketahui bahwa aspek materi dan pemberian contoh-contoh maupun gambar yang tertera masih bersifat umum dan jauh dari pengetahuan siswa. Sebagaimana Anwar et al., (2017) yang melakukan penelaahan terhadap referensi pembelajaran dan mengemukakan bahwa karakteristik bahan ajar yang kontekstual sebagai cara memudahkan peserta didik dalam belajar belum ditemukan pada buku siswa yang diterbitkan oleh pemerintah. Hal ini kemudian menyebabkan siswa mengalami kesulitan memahami materi pembelajaran, dan kesulitan siswa dalam memahami materi pembelajaran kemudian berdampak pada hasil belajar siswa yang tergolong rendah atau belum mencapai standar KKM. Keterbatasan bahan ajar juga membuat kegiatan pembelajaran siswa sangat bergantung pada pembelajaran bersama guru di kelas dan oleh karena itu sangat dibutuhkan bahan ajar lain yang dikembangkan dengan mendekatkan aspek penyajian materi dengan contoh-contoh, gambar-gambar yang dekat atau akrab dengan kehidupan sehari-hari siswa. Permasalahan ini dapat diatasi dengan mengembangkan modul biologi yang terintegrasi potensi tumbuhan lokal. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Ismiati, (2020) bahwa pembelajaran biologi perlu mendayagunakan potensi dan ruang lingkup lokal karena biologi haruslah relevan dengan kehidupan dan kebutuhan peserta didik. Pengembangan modul biologi terintegrasi potensi lokal merupakan sebuah upaya pengintegrasian materi pembelajaran dengan pengetahuan atau kehidupan sehari-hari siswa agar siswa dapat dengan mudah memahami materi yang dipelajarinya. Kehadiran modul dapat dimanfaatkan siswa sehingga kegiatan pembelajaran tidak lagi terbatas/bergantung pada pembelajaran buku teks dan bersama guru di kelas. Urgensi pengembangan modul pada materi Plantae dengan sub materi Spermatophyta didasarkan pada data lapangan bahwa materi ini masih sukar dipahami oleh siswa dari tahun ketahun yang terbukti dengan tingkat ketercapaian pembelajaran rata-rata siswa berada dibawah standar KKM. Materi ini dipelajari siswa kelas X pada semester genap sesuai silabus pembelajaran kurikulum 2013. Pengintegrasian materi Plantae dalam pembelajaran biologi dengan kehidupan sehari-hari siswa berupa penggunaan potensi tumbuhan lokal dapat meningkatkan pemahaman konsep sekaligus guided discovery


56 learning (GDL) mampu meningkatkan kemandirian belajar siswa sebagaimana Akinbobola & Folashade, (2010) yang mengemukakan bahwa melalui penerapan guided discovery learning (GDL) dapat membimbing siswa menemukan konsep secara mandiri, serta Hosnan, (2014: 287) bahwa guided discovery learning (GDL) dapat mengurangi ketergantungan siswa terhadap guru sebagai pemberi informasi dan melatih siswa belajar secara mandiri. Peningkatan pemahaman konsep siswa terhadap materi dan kemandirian belajar selanjutnya dapat meningkatkan hasil belajar biologi siswa pada materi Plantae pada sub materi Spermatophyta yang masih dianggap sukar untuk dipahami sehingga siswa dapat mencapai taraf KKM yang ditetapkan. D. Pertanyaan Penelitian Berangkat dari uraian pengkajian pustaka, yang menjadi pertanyaan dalam penelitian ini adalah: 1. Bagaimana kelayakan modul Spermatophyta berbasis GDL terintegrasi potensi tumbuhan lokal berdasarkan penilaian ahli, praktisi, dan siswa? 2. Bagaimanakah efektivitas modul Spermatophyta berbasis GDL terintegrasi potensi tumbuhan lokal ditinjau dari hasil uji coba lapangan pada aspek penguasaan konsep siswa terhadap materi? 3. Bagaimanakah tingkat ketercapaian modul Spermatophyta berbasis GDL terintegrasi potensi tumbuhan lokal ditinjau dari aspek kemandirian belajar siswa? Untuk memperoleh jawaban atas pertanyaan-pertanyaan penelitian di atas ditempuh melalui desain penelitian dan pengembangan (research and development) serta implementasinya dengan prosedur-prosedur yang sistematis, menggunakan teknik dan instrumen pengumpulan data yang sesuai dengan kebutuhan yang akan dijelaskan pada bab berikut.


57 BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Penelitian ini merupakan jenis penelitian pengembangan (Development Research) dalam bidang pendidikan yang akan menghasilkan produk berupa modul pembelajaran biologi pada materi spermatophyta berbasis GDL terintegrasi potensi tumbuhan lokal daerah Kabupaten Pulau Taliabu. Model pengembangan yang digunakan adalah ADDIE (Analysis, Design, Development, Implementation, Evaluation) dari Dick & Carry. Penelitian ini berangkat dari analisis kebutuhan dan identifikasi potensi lokal daerah Kabupaten Pulau Taliabu sebagai sumber belajar yang dapat di kembangkan menjadi bahan ajar sehingga dapat digunakan dalam pembelajaran biologi untuk penguasaan konsep dan kemandirian belajar siswa. Gambar 12. Model Pengembangan ADDIE 1. Prosedur Pengembangan Prosedur dalam pengembangan modul Spermatophyta berbasis GDL terintegrasi potensi tumbuhan lokal dengan model ADDIE adalah sebagai berikut: a. Analysis Analisis yang dilakukan pada tahap ini merupakan analisis kebutuhan berdasarkan informasi yang diperoleh sehingga dapat diadaptasikan dengan tujuan penelitian. Informasi yang dimaksud meliputi: 1) Kurikulum yang digunakan sekolah; 2) Keterlaksanaan pembelajaran biologi; 3) Bahan Ajar; Analysis Design Development Implementation Evaluation


58 4) Kemampuan siswa dalam pembelajaran biologi berdasarkan pandangan guru dan capaian hasil belajar; 5) Persepsi siswa mengenai pembelajaran biologi; 6) Sarana prasarana penunjang kegiatan pembelajaran; 7) Kejelasan potensi lokal. Setelah informasi-informasi di atas terkumpul dan dilakukan analisis, kegiatan selanjutnya adalah pengkajian literatur, analisis kompetensi, analisis instruksional, dan analisis karakter siswa. 1) Analisis Kompetensi Analisis dilakukan dengan mengidentifikasi dan menetapkan aspek keluasan dan kedalaman kompetensi yang perlu di kembangkan. Materi yang dianalisis untuk diintegrasikan dengan potensi lokal Kabupaten Pulau Taliabu adalah materi Plantae dengan kompetensi dasar (KD) 3.7 menerapkan prinsip klasifikasi untuk menggolongkan tumbuhan ke dalam divisio berdasarkan pengamatan morfologi dan metagenesis tumbuhan serta mengaitkan peranannya dalam kelangsungan kehidupan di bumi, dan kompetensi dasar (KD) 4.7 menyajikan data tentang morfologi dan peran tumbuhan pada berbagai aspek kehidupan. Sub materi yang dianalisis adalah tumbuhan biji (Spermatophyta), serta sub materi manfaat dan peran tumbuhan dalam ekosistem, manfaat ekonomi, dan dampak turunnya keanekaragaman tumbuhan bagi ekosistem yang sesuai dengan silabus pembelajaran biologi SMA kelas X kurikulum 2013 yang dipelajari siswa pada semester genap. 2) Analisis Instruksional Analisis instruksional dilakukan melalui penjabaran kompetensi umum menjadi kompetensi khusus yang akan dikembangkan menjadi topik modul. Hasil analisis berupa modul pembelajaran biologi materi Spermatophyta berbasis GDL terintegrasi potensi lokal daerah Kabupaten Pulau Taliabu. 3) Analisis Karakter siswa Analisis ini bertujuan untuk mengetahui karakter siswa sebagai sasaran modul yang di kembangkan. Analisis ini berkaitan dengan perkembangan belajar, kemandirian, serta kemampuan penguasaan konsep pembelajaran yang dijadikan acuan pengukuran setelah pembelajaran.


59 b. Design Berdasarkan hasil analisis, tahapan selanjutnya yang dilakukan adalah mendesain kerangka modul pembelajaran biologi berbasis potensi lokal yang disesuaikan dengan materi Plantae khususnya pada sub materi tumbuhan berbiji (Spermatophyta), dan sub materi manfaat dan peran tumbuhan dalam ekosistem yang meliputi manfaat ekonomi, dan dampak turunnya keanekaragaman tumbuhan bagi ekosistem. Adapun komponen-komponen yang di desain pada tahap ini adalah sebagai berikut: 1) Sistematisasi materi modul sehingga siswa dapat melakukan pembelajaran secara terstruktur; 2) Pengintegrasian materi ajar dengan potensi lokal sehingga siswa mudah memahami materi melalui contoh atau gambar konkrit yang sering disaksikan dalam kehidupan sehari-hari; 3) Perancangan instrumen evaluasi yang akan digunakan baik dalam proses pengembangan (validasi ahli) maupun uji coba lapangan c. Development Pada tahap pengembangan modul biologi berbasis potensi lokal pada materi Spermatophyta meliputi Pra penyusunan, penyusunan draf, penyuntingan, revisi I, uji coba terbatas, dan revisi tahap II. 1) Pra-penyusunan Kegiatan pada tahap ini meliputi pengumpulan referensi pendukung, penelaahan terhadap referensi, dan observasi terhadap potensi lokal yang akan diintegrasikan pada modul yang di kembangkan. 2) Penyusunan Tahap ini merupakan kegiatan penyusunan draft modul berdasarkan kerangka yang telah disusun pada tahap sebelumnya. Tahap penyusunan modul mencakup garis-garis besar modul, teknik penulisan, muatan materi, serta kesesuaian isi modul dengan capaian kompetensi yang di targetkan. Draf hasil penyusunan kemudian dikonsultasikan kepada dosen pembimbing dengan tujuan memperoleh saran dan masukan.


60 3) Penyuntingan Penyuntingan merupakan tahapan setelah draft modul selesai disusun dan dikonsultasikan kepada dosen pembimbing. Tahap ini adalah tahapan validasi modul oleh para ahli yang terdiri dari ahli materi dan ahli bahan ajar yang akan menilai dari beberapa aspek diantaranya kesesuaian dengan capaian pembelajaran, bahasa, penyajian, grafis serta kepraktisan penggunaan sehingga dapat diketahui kelayakan modul yang dikembangkan. 4) Revisi tahap I Revisi pada tahap ini dilakukan setelah produk divalidasi oleh para ahli dan memperoleh masukan dan saran. Revisi bertujuan untuk tahapan penyempurnaan sebelum produk di uji cobakan dan hasil revisi adalah produk yang siap diuji cobakan pada skala terbatas. 5) Uji coba terbatas Uji coba terbatas adalah modul yang telah melalui prosedur penyuntingan dan telah dilakukan perbaikan berdasarkan saran dan masukan. Modul yang telah direvisi kemudian diujicobakan pada siswa kelas XI yang telah mempelajari materi Plantae pada jenjang kelas sebelumnya. Tujuan uji coba terbatas adalah untuk mengetahui tingkat kelayakan dan keefektifan pembelajaran menggunakan modul yang di kembangkan. Guru biologi dengan kriteria memiliki pengalaman mengajar lebih dari 3 tahun dilibatkan pada proses ini sebagai reviewer. Hasil yang diperoleh pada tahapan ini adalah tanggapan siswa dan penilaian guru terhadap modul yang di kembangkan. Tanggapan dan penilaian kemudian dijadikan acuan untuk perbaikan. 6) Revisi tahap II Revisi modul tahap II dilakukan berdasarkan tanggapan siswa dan penilaian guru biologi pada tahap uji coba terbatas. Revisi dilakukan sebelum modul diimplementasikan pada lapangan utama. Hasil dari revisi adalah modul Spermatophyta berbasis GDL terintegrasi potensi lokal yang siap diuji cobakan pada kelas eksperimen. Adapun tahapan proses development menggunakan model pengembangan ADDIE dapat dilihat pada gambar halaman berikut:


61 Gambar 13. Tahapan Pengembangan d. Implementation Modul yang telah direvisi pada tahap II diimplementasikan kepada siswa kelas X berjumlah 28 siswa. Siswa diberikan soal pre-test sebelum melakukan pembelajaran modul dengan tujuan untuk mengetahui kemampuan awal. Setelah pre-test dilakukan, siswa diberikan pembelajaran menggunakan modul Spermatophyta berbasis GDL terintegrasi potensi lokal. Setelah siswa melakukan pembelajaran modul, siswa kemudian diberikan soal post-test. Tahapan implementasi yang dilakukan bertujuan untuk mengetahui pengaruh pembelajaran menggunakan modul Spermatophyta berbasis GDL terintegrasi potensi lokal terhadap penguasan konsep dan kemandirian belajar. e. Evaluation Tahapan evaluasi dilakukan setelah serangkaian proses implementasi pembelajaran modul dilaksanakan dan data telah diperoleh. Evaluasi dilakukan sebagai bentuk tindak lanjut hasil implementasi yang merupakan serangkaian proses analisis terhadap data dan memperbaiki kekurangan-kekurangan dari modul pembelajaran. Hasil dari proses evaluasi adalah modul biologi dengan materi Spermatophyta berbasis GDL terintegrasi potensi tumbuhan lokal yang telah teruji validitasnya sebagai bahan ajar yang dapat diterapkan dalam pembelajaran biologi untuk penguasaan konsep pada materi Plantae dan kemandirian belajar siswa kelas X SMA Negeri 4 pulau taliabu. 2. Desain Uji Coba Uji coba produk memiliki tujuan memperoleh data sehingga dapat digunakan untuk mengetahui produk (modul) sebagai bahan ajar optimal atau tidak dalam Revisi tahap I Uji coba terbatas Revisi tahap II Pra penyusunan Penyuntingan Penyusunan Development


62 meningkatkan penguasaan konsep materi dan kemandirian belajar siswa. Kegiatan uji coba produk memiliki desain sebagai berikut: a. Uji coba terbatas Uji coba terbatas melibatkan siswa kelas XI SMA Negeri 4 Pulau Taliabu yang telah mempelajari materi Plantae pada jenjang kelas sebelumnya berjumlah 16 orang dan 3 orang guru biologi. Data yang diperoleh pada tahapan ini adalah penilaian dan respon pembelajaran modul Spermatophyta berbasis GDL terintegrasi potensi tumbuhan lokal yang meliputi aspek penyajian, kebahasaan, dan penggunaan. Data yang diperoleh kemudian dijadikan acuan perbaikan. Kegiatan uji coba terbatas dapat dilihat pada gambar berikut: Gambar 14. Skema Uji Terbatas b. Uji coba lapangan utama Uji coba lapangan utama dilakukan terhadap seluruh siswa kelas X SMA Negeri 4 Pulau Taliabu yang berjumlah 28 siswa yang dibagi menjadi dua kelas yaitu sebagai kelas eksperimen dan kelas kontrol. Pembagian siswa kelas X Uji coba terbatas 3 Guru biologi Memiliki pengalaman mengajar biologi > 3 tahun Subjek 16 Siswa kelas XI Telah mempelajari materi Plantae pada jenjang kelas sebelumnya Respon pembelajaran Validasi, Saran/Masukan Penggunaan data Acuan revisi Hasil Akhir Produk siap uji lapangan utama Sasaran data


63 didasarkan atas keterbatasan kelas yang akan dijadikan kelas kontrol dalam penelitian oleh karena siswa kelas X SMA Negeri 4 Pulau Taliabu hanya terdiri dari satu kelas saja. Desain uji coba dalam penelitian ini yang digunakan adalah nonequivalent control group design. Dalam desain ini, seluruh siswa baik kelas kontrol dan eksperimen diberikan pretest untuk memperoleh data kemampuan awal siswa dan selanjutnya kelas eksperimen diberikan treatment (perlakuan) pembelajaran menggunakan produk (modul) yang dikembangkan sedangkan siswa kelas kontrol melakukan pembelajaran menggunakan bahan ajar umum yang biasanya digunakan oleh guru dalam implementasi pembelajaran biologi di sekolah. Adapun nonequivalent control group design dapat dilihat pada tabel dan keterangan berikut: Tabel 1. Desain Nonequivalent Control Group Design No Kelas Pretest Treatment Posttest 1 Eksperimen O1 X1 O2 2 Kontrol O3 X2 O4 (Sugiyono, 2019: 138) Keterangan: O1: Kemampuan awal siswa kelas eksperimen sebelum diberikan perlakuan pembelajaran menggunakan modul Spermatophyta berbasis GDL terintegrasi potensi lokal; X1: Pembelajaran menggunakan modul Spermatophyta berbasis GDL terintegrasi potensi tumbuhan lokal siswa kelas eksperimen; O2: Kemampuan akhir siswa kelas eksperimen setelah pembelajaran menggunakan modul Spermatophyta berbasis GDL terintegrasi potensi tumbuhan lokal; O3: Kemampuan awal siswa kelas kontrol sebelum pembelajaran; X2: Pembelajaran 5M siswa kelas kontrol O4: Kemampuan Akhir siswa kelas kontrol setelah pembelajaran. B. Tempat dan Waktu Penelitian 1. Tempat Penelitian ini dilaksanakan pada SMA Negeri 4 Pulau Taliabu yang bertempat di Desa Losseng Kecamatan Taliabu Timur Selatan Kabupaten Pulau Taliabu Provinsi Maluku Utara.


64 2. Waktu Waktu pelaksanaan penelitian yang direncanakan adalah pada bulan April sampai dengan Mei tahun 2022 semester genap. C. Sumber data Untuk menghasilkan produk berupa modul Spermatophyta berbasis GDL terintegrasi potensi tumbuhan lokal sehingga dapat digunakan sebagai bahan ajar dalam pembelajaran biologi bagi siswa kelas X SMA Negeri 4 Pulau Taliabu dalam penelitian ini yang menjadi sumber data adalah sebagai berikut: 1. Dosen Ahli Dosen ahli terdiri dari ahli media, dan ahli materi yang akan melakukan validasi terhadap modul yang dikembangkan. Dosen ahli bersumber dari Jurusan Pendidikan Biologi FMIPA UNY dengan kualifikasi pendidikan Strata 3 (S3) dan memiliki pengalaman sebagai tenaga pengajar perguruan tinggi lebih dari 5 tahun sesuai dengan basik keilmuan. 2. Guru biologi Guru biologi SMA Negeri 4 Pulau Taliabu sebanyak tiga orang dengan kualifikasi pendidikan strata 1 (S1) yang telah memiliki pengalaman mengajar mata pelajaran biologi lebih dari 3 tahun. Data yang diperoleh dari guru biologi adalah data wawancara pada tahap penelitian pendahuluan untuk analisis kebutuhan, penilaian produk, serta data berupa saran dan masukan pada tahap uji coba skala terbatas dan uji coba lapangan utama. 3. Siswa Sumber data siswa diperoleh dari siswa SMA Negeri 4 Pulau Taliabu yang terdiri dari siswa kelas XI dan siswa kelas X. sumber data yang diperoleh dari siswa kelas XI adalah data respon pembelajaran menggunakan modul biologi berbasis potensi lokal pada tahap uji coba terbatas. Sedangkan data yang diperoleh dari siswa kelas X sebagai subjek utama penelitian dan sasaran modul yang dikembangkan adalah data penguasaan konsep dan kemandirian belajar baik pretest dan posttest yang diperoleh melalui teknik tes maupun non tes. 4. Potensi lokal Data potensi lokal adalah data yang diperoleh berdasarkan observasi lapangan dan dokumentasi di sekitar Desa Losseng Kecamatan Taliabu Timur Selatan


65 Kabupaten Pulau Taliabu Provinsi Maluku utara sebagai keperluan pengintegrasian materi modul. D. Teknik dan Instrumen Pengumpulan Data Penelitian sejatinya dilakukan untuk mendapatkan data. Data hasil penelitian kemudian digunakan untuk berbagai kepentingan. Dalam penelitian ini untuk memperoleh data digunakan teknik observasi, dokumentasi, wawancara, angket, dan tes. Sedangkan instrumen yang digunakan berupa lembar angket validasi ahli, guru, lembar angket kemandirian siswa, dan soal tes hasil belajar. 1. Teknik pengumpulan data a. Observasi Observasi dilakukan di lingkungan Desa Losseng Kecamatan Taliabu Timur Selatan Kabupaten Pulau Taliabu Maluku Utara untuk memperoleh informasi pendukung berupa potensi tumbuhan lokal yang akrab dengan kehidupan siswa. Observasi juga dilakukan pada SMA negeri 4 pulau taliabu untuk memperoleh deskripsi kegiatan pembelajaran guna analisis kebutuhan pengembangan modul. b. Dokumentasi Dokumentasi dalam penelitian ini menggunakan alat bantu kamera dengan maksud mengabadikan jenis-jenis tumbuhan lokal yang akan diintegrasikan dalam modul berbasis berbasis GDL terintegrasi potensi tumbuhan lokal yang dikembangkan, serta untuk mengabadikan potret pelaksanaan kegiatan pembelajaran. c. Wawancara Teknik wawancara dilakukan untuk menggali informasi sehingga diperoleh data yang berguna sebagai bahan analisis kebutuhan pengembangan modul pembelajaran biologi berbasis GDL terintegrasi potensi tumbuhan lokal. Wawancara dilakukan terhadap terhadap 3 orang guru mata pelajaran biologi SMA Negeri 4 pulau taliabu untuk memperoleh data deskripsi keberlangsungan proses pembelajaran biologi menggunakan panduan wawancara. d. Angket Angket merupakan instrumen yang berisi satu set daftar pertanyaan yang digunakan sebagai teknik pengumpulan data penelitian. Penggunaan teknik angket dalam penelitian ini memiliki tujuan untuk:


66 1) Memperoleh data kelayakan produk berdasarkan validasi ahli; 2) Memperoleh data penilaian guru; 3) Memperoleh data penilaian siswa pada saat uji terbatas; 4) Memperoleh data tentang kemandirian belajar peserta didik sebelum dan sesudah pembelajaran menggunakan modul Spermatophyta berbasis GDL terintegrasi potensi tumbuhan lokal. e. Tes Teknik tes digunakan untuk memperoleh data penguasaan konsep siswa terhadap materi. Tes dilaksanakan sebelum dan sesudah (pretest-posttest) pembelajaran menggunakan modul Spermatophyta berbasis GDL terintegrasi potensi tumbuhan lokal terhadap siswa SMA Negeri 4 Pulau Taliabu. 2. Instrumen pengumpulan data Instrumen yang digunakan dalam penelitian untuk menghasilkan modul Spermatophyta berbasis GDL terintegrasi potensi tumbuhan lokal untuk penguasaan konsep dan kemandirian belajar siswa adalah sebagai berikut: a. Lembar Panduan Wawancara Guru Studi Pendahuluan Lembar panduan wawancara guru digunakan sebagai instrumen pengumpulan data awal untuk analisis kebutuhan sehingga dapat ditetapkan produk yang tepat untuk dikembangkan. b. Lembar angket validasi ahli Lembar validasi ahli memiliki tujuan untuk mengetahui kelayakan modul Spermatophyta berbasis GDL terintegrasi potensi tumbuhan lokal yang dikembangkan. Modul akan divalidasi oleh ahli berdasarkan aspek-aspek yang terdapat dalam lembar validasi. Lembar validasi terdiri dari lembar validasi ahli media, ahli materi, dan ahli pembelajaran. 1) Lembar angket validasi ahli media Ahli media akan melakukan validasi modul pada aspek penggunaan, kebahasaan, kesesuaian kompetensi, penyajian dan kegrafikan menggunakan skala Likert. 2) Lembar angket validasi ahli materi Ahli materi akan melakukan validasi modul pada kebenaran konsep menggunakan skala penilaian “benar” dan “salah”. 3) Lembar Angket Validasi Ahli Pembelajaran


67 Ahli pembelajaran akan melakukan validasi terhadap relevansi dan signifikansi desain pembelajaran. Aspek pembelajaran divalidasi menggunakan skala likert yang terdiri dari Sangat Baik (SB), Baik (B), Tidak Baik (TB), dan Sangat Tidak Baik (STB). c. Lembar angket validasi guru biologi Instrumen angket validasi oleh guru biologi mencakup aspek pembelajaran, materi, bahasa, dan tampilan modul. Instrumen penilaian menggunakan skala Likert dengan skalanya yang sama dengan lembar angket validasi ahli. d. Lembar angket kemandirian belajar siswa Penggunaan instrumen ini memiliki tujuan untuk dapat mengetahui tingkat kemandirian siswa sebelum dan setelah pembelajaran modul Spermatophyta berbasis GDL terintegrasi potensi tumbuhan lokal. Angket kemandirian menggunakan skala Likert dengan empat alternatif jawaban dari Sangat Setuju (SS), Setuju (S), Tidak Setuju (TS), dan Sangat Tidak Setuju (STS). Kisi-kisi instrumen untuk kemandirian adalah sebagai berikut: Aspek Kemandirian Indikator Butir 1 Tidak bergantung pada orang lain Pengembangan diri 1 (+) Ketergantungan pada instruksi 2 & 5 (-) Ketidak tergantungan pada guru 3 (+) Ketidak tergantungan pada teman 4 (+) Kemampuan evaluasi keberhasilan belajar 6 (+) Kemampuan mempelajari kembali materi 7 (+) 2 Inisiatif diri Inisiatif merencanakan kegiatan belajar 8 (+) Inisiatif belajar tanpa diperintah 9 (+) Inisiatif memanfaatkan waktu 10 (+) Inisiatif melakukan kegiatan belajar 11 (+) Insiatif untuk mengetahui 12 (+) Inisiatif diri untuk bertanya 13 (-) Inisiatif memaksimalkan penguasaan materi 14 (+) 3 Disiplin diri Ketepatan membuat keputusan 15 (+) Menjalankan jadwal 16 (+) Disiplin diri terhadap waktu 17 (-) Ketepatan waktu menyelesaikan tagihan (tugas) 18 (+) Upaya menjaga kedisiplian waktu 19 (+)


68 4 Bertanggung jawab pada diri sendiri Mengikuti kegiatan pembelajaran sesuai aturan dan petunjuk. 20 (+) Kesungguhan mengikuti pembelajaran 21 (+) Upaya melaksanakan jadwal belajar 22 (-) Menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan. 23 (+) Upaya belajar dengan serius 24 (-) 5 Percaya pada kemampuan diri sendiri Berani berbicara, bertanya atau mengeluarkan pendapat. 25 (+) Keraguan diri 26 & 29 (-) Keyakinan akan kemampuan diri sendiri. 27 (+) Keyakinan mencapai tujuan belajar 28 (+) Keyakinan mengatasi masalah atau hambatan dalam belajar 30 (+) e. Soal tes pemahaman konsep siswa Pemahaman konsep siswa diukur menggunakan instrumen tes yang terdiri dari soal pretest dan posttest berbentuk uraian sebanyak 5 soal. Soal tes pemahaman konsep siswa adalah soal yang mencakup bentuk soal level kognitif C3-C6 dengan kisi-kisi sebagai berikut: Kompetensi Dasar Indikator Soal Soal Kognitif No Soal 3.7 Menerapkan prinsip klasifikasi untuk menggolongkan tumbuhan ke dalam divisio berdasarkan pengamatan morfologi dan metagenesis tumbuhan serta mengaitkan peranannya dalam kelangsungan kehidupan di bumi 4.7 Menyajikan data tentang morfologi dan peran tumbuhan pada berbagai aspek kehidupan dalam bentuk laporan tertulis. 1. Menguraikan ciriciri dari tumbuhan berbiji Uraian C4 1 2. Menerapkan klasifikasi dari tumbuhan berbiji Uraian C3 2 3. Mengidentifikasi perbedaan Angiospermae dan Gymnospermae Uraian C4 3 4. Membuat tabel data perbedaan dikotil dan monokotil Uraian C6 4 5. Menjelaskan peranan tumbuhan dari Angiospermae dan Gymnospermae Uraian C5 5


69 E. Analisis Data Jenis data dalam penelitian ini terdiri dari data kualitatif dan data kuantitatif yang diperoleh melalui teknik dan instrumen pengumpulan data. Setelah data penelitian terkumpul, data kemudian dianalisis. Data yang diperoleh melalui teknik pengumpulan data angket disajikan dalam bentuk persentase. Data yang disajikan dalam bentuk persentase diperoleh melalui hasil penskoran nilai angket yang terdiri dari angket validasi ahli (materi dan media), angket penilain oleh guru biologi, angket kemandirian belajar, dan data tes pemahaman konsep (pretest-posttest). 1. Analisis Data Kelayakan Modul Analisis data kelayakan modul Spermatophyta berbasis GDL terintegrasi potensi tumbuhan lokal dilakukan melalui proses sebagai berikut: a. Data angket validasi kebenaran konsep oleh ahli materi Benar : 1 Salah : 0 b. Data angket validasi ahli materi, media, dan guru biologi Sangat baik (SB) : 4 Baik (B) : 3 Tidak baik (TB) : 2 Sangat tidak baik (STB) : 1 c. Data kuantitatif perolehan dari siswa Sangat setuju (SS) : 4 Setuju (S) : 3 Tidak setuju (TS) : 2 Sangat tidak setuju (STS) : 1 Skor rerata setiap aspek dihitung menggunakan rumus berikut: Keterangan: X = Skor rata-rata x = Jumlah skor n = Jumlah reviewer/responden Konversi rerata skor ke nilai 100 dilakukan melalui cara sebagai berikut: x X = n x


70 2. Hasil Analisis Data Kelayakan Modul Sebagai Dasar Pengambilan Keputusan Analisis data pengujian modul sebagai dasar pengambilan keputusan mengacu pada nilai yang disampaikan oleh Riduwan, (2007) sebagaimana sajian pada tabel 2 berikut: Tabel 2. Kategori Kelayakan Modul No Nilai Kategori 1 81-100% Sangat Layak 2 61-80% Layak 3 41-60% Cukup Layak 4 21-40% Kurang Layak 5 0-20% Sangat Kurang Layak Katerangan: 1) Apabila produk (modul) yang diuji mencapai taraf persentase 81-100%, maka produk tersebut tergolong dalam kategori sangat layak untuk diimplementasikan dalam pembelajaran biologi; 2) Apabila produk (modul) yang diuji mencapai taraf persentase 61-80%, maka produk tersebut tergolong dalam kategori layak untuk diimplementasikan dalam pembelajaran biologi; 3) Apabila produk (modul) yang diuji mencapai taraf persentase 41-60%, maka produk tersebut tergolong dalam kategori netral sehingga perlu dilakukan revisi untuk mencapai taraf ketercapaian implementasi dalam pembelajaran biologi; 4) Apabila produk (modul) yang diuji mencapai taraf persentase 21-40%, maka produk tersebut tergolong dalam kategori tidak layak sehingga perlu dilakukan revisi besar untuk mencapai taraf ketercapaian sehingga dapat di implementasi dalam pembelajaran biologi; 5) Namun apabila produk (modul) yang diuji hanya mencapai taraf persentase yaitu 0- 21%, maka produk tersebut tergolong dalam kategori sangat tidak Skor rata-rata Nilai setiap aspek = X 100 Skor maksimal


71 layak (Gagal) sehingga tidak dapat di implementasi dalam pembelajaran biologi 3. Analisis data pengujian modul a. Data kemandirian belajar Analisis data kemandirian belajar siswa dilakukan dengan rekapitulasi jawaban siswa berdasarkan masing-masing item pernyataan, skor masing-masing siswa dijumlahkan, dan skor diubah dalam bentuk persentase menggunakan rumus sebagai berikut: Keterangan: P = Persentase jawaban f = Jumlah skor perolehan n = Jumlah skor maksimal Data yang diperoleh dari angket sebelum dan sesudah pembelajaran menggunakan modul menggambarkan nilai kemandirian belajar siswa. Analisis kemandirian belajar dilakukan menggunakan Normalized Gain Score (N-gain) yang mengacu pada Hake (1999: 1) dengan rumus dan kriteria sebagai berikut: b. Hasil Analisis Sebagai Dasar Pengambilan Keputusan (Aspek Kemandirian) Hasil analisis data pengujian modul pada aspek kemandirian sebagai dasar pengambilan keputusan mengacu pada nilai sebagaimana sajian pada tabel 3 dan 4 berikut: Tabel 3. Kriteria Nilai N-Gain Score Ternormalisasi Sumber: Malzer (Syahfitri,2008: 33) Nilai <g> Klasifikasi g < 0.3 Rendah 0.7 > g ≥ 0.3 Sedang g > 0.7 Tinggi f P = X 100% n Skor angket akhir (%) – skor angket awal (%) g = 100% - skor angket awal


72 Tabel 4. Kategori Tafsiran Efektifitas N-Gain Score Persentase (%) Tafsiran >76 Efektif 56-75 Cukup Efektif 40-55 Kurang Efektif <40 Tidak Efektif Sumber: (Hake, 1999) Berdasarkan nilai pada tabel 3 diketahui bahwa jika hasil perhitungan diperoleh nilai gain score (g < 0.3) maka peningkatan kemandirian belajar siswa termasuk dalam kategori rendah dan jika nilai gain score (0.7 > g ≥ 0.3) maka besar peningkatan kemandirian belajar siswa termasuk dalam kategori sedang, sedangkan jika hasil perhitungan nilai gain score (g > 0.7) maka peningkatan kemandirian belajar siswa berada pada kategori tinggi. Berdasarkan nilai tabel 4 diketahui bahwa tafsiran efektifitas penggunaan modul untuk meningkatkan kemandirian belajar jika hasil perhitungan gain score diperoleh nilai g<40 maka penggunaan produk (modul) tidak efektif dalam meningkatkan kemandirian belajar. Jika nilai gain score berada pada rentang 40-55 maka penggunaan produk berada pada kategori kurang efektif, jika hasil perhitungan gain score diperoleh nilai 56-75 maka tafsirannya produk cukup efektif dalam meningkatkan kemandirian belajar, dan jika hasil perhitungan gain score diperoleh nilai >76 maka tafsirannya penggunaan modul Spermatophyta efektif dalam meningkatkan kemandirian belajar siswa. c. Data penguasaan konsep Analisis data penguasaan konsep sebagaimana analisis data kemandirian belajar yang menggunakan penghitungan n-gain score ternormalisasi yang mengacu pada Hake (1999:) Nilai gain score akan menggambarkan sejauh mana besar peningkatan penguasaan konsep siswa setelah menggunakan modul Spermatophyta berbasis GDL terintegrasi potensi tumbuhan lokal. Adapun rumus yang digunakan adalah sebagai berikut: Skor posttest - pretest g = Skor maksimum – Skor pretest


73 d. Analisis Uji Prasyarat 1) Uji Normalitas Tujuan dilakukan uji normalitas adalah mengetahui data berdistribusi normal atau tidaknya. Uji normalitas dapat dihitung melalui program SPSS 22 melalui uji Shapiro-Wilk. Jika data hasil uji berdistribusi normal, uji lanjut menggunakan analisis parametrik. Namun jika data hasil uji tidak berdistribusi normal, maka uji lanjut dapat dilakukan menggunakan analisis statistik non parametrik. 2) Dasar Pengambilan Keputusan Uji Normalitas Adapun dasar pengambilan keputusan dalam uji normalitas adalah sebagai berikut: a) Jika nilai signifikansi > 0.05 maka data berdistribusi normal; b) Jika nilai signifikansi < 0.05 maka data berdistribusi tidak normal. (Guilford, 1950:134) 3) Homogenitas Tujuan dilakukan uji homogenitas adalah mengetahui data sampel penelitian memiliki varians homogen atau tidak. Sebagaimana uji normalitas, uji homogenitas juga mnggunakan program SPSS 22 for windows. 4) Dasar Pengambilan Keputusan Uji Homogenitas Adapun dasar pengambilan keputusan dalam uji homogenitas adalah sebagai berikut: a) Jika nilai signifikansi > 0.05 maka data sampel memiliki varian homogen; b) Jika nilai signifikansi < 0.05 maka data sampel memiliki varian tidak homogen. 5) Uji Hipotesis Efektifnya penggunaan modul Spermatophyta berbasis GDL terintegrasi potensi tumbuhan lokal dalam meningkatkan pemahaman konsep dan kemandirian diukur melalui uji hipotesis. Data yang dianalisis adalah data yang menunjukkan pemahaman konsep dan kemandirian siswa setelah melakukan pembelajaran pada kelas eksperimen dan membandingkan dengan data pada kelas kontrol. Independent Sample T-Test digunakan dalam uji hipotesis untuk membandingkan selisih rerata dari dua sampel yang berdistribusi normal. Uji pengganti berupa uji Mann Whitney yang digunakan jika data tidak berdistribusi normal.


74 6) Dasar Pengambilan Keputusan Uji Hipotesis Adapun yang menjadi dasar dalam pengambilan keputusan hasil uji hipotesis pada penelitian ini sebagai berikut: 1) Jika nilai sig p < 0.05 maka Ho ditolak dan Ha diterima; 2) Jika nilai sig p > 0.05 maka Ho diterima dan Ha ditolak. Dasar pengambilan keputusan yang ditetapkan menjadi acuan dalam proses penelitian. Hasil perhitungan atau analisis data penelitian yang mengacu pada dasar pengambilan keputusan dapat memberikan informasi tentang besar kecil, dan tinggi rendahnya peningkatan variabel yang diukur. Adapun variabel yang diukur dalam penelitian ini adalah kemandirian belajar dan penguasaan konsep maka dasar pengambilan keputusan yang ditetapkan akan memberikan informasi tentang besar kecil, tinggi rendahnya peningkatan variabel penelitian setelah memperoleh perlakuan pembelajaran menggunakan modul Spermatophyta yang dikembangkan dalam penelitian ini. Selain itu, dasar pengambilan keputusan juga menjadi acuan tindak lanjut modul yang dikembangkan yaitu bagian-bagian yang masih keliru atau kekurangan sehingga tidak memenuhi standar dapat menjadi acuan revisi untuk perbaikan atau penyempurnaan.


75 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian 1. Hasil Pengembangan Produk Awal Hasil pengembangan dalam penelitian ini berupa modul Spermatophyta berbasis GDL terintegrasi potensi tumbuhan lokal dengan model pengembangan yang digunakan adalah ADDIE yang terdiri dari 5 tahapan dengan penjabarannya sebagai berikut: a. Tahapan Analisis (Analysis) Tahap analisis diawali dengan melakukan studi pendahuluan pada SMA Negeri 4 Pulau Taliabu sehingga diperoleh informasi yang dapat diadaptasikan dengan tujuan penelitian. Informasi yang dimaksud adalah kurikulum sekolah, keterlaksanaan pembelajaran biologi, bahan Ajar, kemampuan siswa dalam pembelajaran biologi berdasarkan pandangan guru dan capaian hasil belajar, persepsi siswa mengenai pembelajaran biologi, sarana prasarana penunjang kegiatan pembelajaran, serta kejelasan potensi lokal. Berdasarkan kegiatan studi pendahuluan diketahui bahwa kurikulum yang digunakan SMA Negeri 4 Pulau taliabu adalah kurikulum 2013 dengan keterlaksanaan kegiatan pembelajaran yang terbatas pada penggunaan buku teks karena keterbatasan bahan ajar dan bahan belajar. Pelaksanaan proses belajar mengajar juga belum didukung dengan ketersedian listrik (PLN), jaringan internet, dan siswa yang tidak semuanya memiliki smartphone. Kriteria ketuntasan minimal (KKM) untuk pembelajaran biologi adalah 70% dan data hasil belajar siswa diungkapkan oleh guru masih dibawah standar. Materi Plantae menurut guru adalah salah satu materi yang cukup padat sehingga tidak jarang materi ini dapat selesai dibahas. Data dari 36 siswa yang telah mempelajari materi Plantae hanya satu orang siswa saja yang mencapai taraf ketuntasan minimal dengan perolehan nilai 75% dan sisanya berada di bawah standar dengan nilai terendah adalah 45%. Berkaitan dengan kemandirian belajar siswa SMA Negeri 4 Pulau Taliabu diungkapkan guru bahwa karena keterbatasan bahan ajar membuat siswa tidak dapat melakukan pembelajaran secara mandiri. Pembelajaran secara mandiri dapat dilakukan jika didukung dengan ketersediaan bahan belajar yang dapat dimanfaatkan siswa sehingga siswa tidak lagi bergantung


76 pada pembelajaran di kelas bersama guru. Berdasarkan hasil studi pendahuluan kegiatan selanjutnya adalah pengkajian literatur, analisis kompetensi, analisis instruksional, dan analisis karakter siswa. 1) Analisis Kompetensi Pada tahap analisis kompetensi yang dilakukan adalah menetapkan aspek keluasan dan kedalaman kompetensi yang perlu di kembangkan. Materi yang dianalisis adalah materi Plantae dengan kompetensi dasar (KD) 3.7 menerapkan prinsip klasifikasi untuk menggolongkan tumbuhan ke dalam divisio berdasarkan pengamatan morfologi dan metagenesis tumbuhan serta mengaitkan peranannya dalam kelangsungan kehidupan di bumi, (KD) 4.7 Menyajikan data tentang morfologi dan peran tumbuhan pada berbagai aspek kehidupan dalam bentuk laporan tertulis dengan sub materi tumbuhan biji (Spermatophyta) sesuai dengan silabus pembelajaran biologi SMA kelas X kurikulum 2013 yang dipelajari siswa pada semester genap. Berdasarkan hasil analisis, materi Plantae dengan sub materi tumbuhan berbiji (Spermatophyta) sangat serasi untuk diintegrasikan dengan potensi tumbuhan lokal yang terdapat di Kabupaten Pulau Taliabu. Kesimpulan hasil analisis sebagai dasar pemilihan materi Plantae dengan sub materi Spermatophyta adalah: a) Materi Plantae merupakan materi yang cukup padat sehingga tak jarang materi ini selesai dibahas pada kegiatan pembelajaran berdasarkan data studi pendahuluan melalui wawancara guru; b) Tumbuhan berbiji (Spermatophyta) adalah sub materi dari Plantae yang dibahas setelah pembahasan sub materi ciri-ciri umum Plantae, tumbuhan lumut, dan sub materi tumbuhan paku berdasarkan tinjauan silabus pembelajaran biologi SMA kelas X kurikulum 2013; c) Sub materi tumbuhan berbiji (Spermatophyta) dapat diintegrasikan dengan potensi tumbuhan lokal daerah Kabupaten Pulau Taliabu yang akrab dengan kehidupan siswa sehari-hari. Hal ini didukung dengan hasil analisis buku teks pelajaran yang digunakan dengan pembahasan dan pemberian contoh tumbuhan yang kurang kontekstual; d) Kontekstualisasi materi pembelajaran Plantae dengan sub tumbuhan berbiji (Spermatophyta) melalui pemanfaatan potensi tumbuhan lokal dapat meningkatkan pemahaman konsep karena siswa belajar materi


77 dengan objek yang sering ditemukan dalam kehidupan sehari. Hal ini sejalan dengan pembelajaran biologi yang menekankan adanya interaksi siswa dengan objek yang dipelajarinya. 2) Analisis Instruksional Analisis instruksional dilakukan melalui penjabaran kompetensi umum menjadi kompetensi khusus berupa indikator pencapaian kompetensi yang perlu dicapai siswa dalam pembelajaran modul Spermatophyta berbasis GDL terintegrasi potensi tumbuhan lokal. Adapun indikator pencapaian kompetensi (IPK) pembelajaran modul sebagai berikut: a) Siswa dapat menjelaskan dasar klasifikasi tumbuhan berbiji; b) Siswa dapat mengidentifikasi jenis-jenis tumbuhan berbiji; c) Siswa dapat menyebutkan ciri-ciri tumbuhan berbiji; d) Siswa dapat mengelompokan tumbuhan berbiji terbuka (gymnospermae) kedalam divisi berdasarkan pengamatan morfologi; e) Siswa dapat mengaitkan peranan tumbuhan berbiji terbuka (Gymnospermae) dalam kehidupan sehari-hari; f) Siswa dapat mengidentifikasi jenis-jenis tumbuhan berbiji tertutup (Angiospermae); g) Siswa dapat mengelompokan tumbuhan berbiji tertutup (Angiospermae) dalam divisi berdasarkan ciri morfologi; h) Siswa dapat membandingkan tumbuhan berbiji terbuka dan tertutup; i) Siswa dapat mengaitkan peranan tumbuhan berbiji tertutup (Angiospermae) dalam kehidupan sehari-hari. 3) Analisis Karakteristik Peserta Didik Analisis ini bertujuan untuk mengetahui karakter siswa sebagai sasaran modul yang di kembangkan. Subjek dalam penelitian adalah siswa kelas X SMA Negeri 4 Pulau Taliabu semester genap tahun 2022 yang hanya terdiri dari satu kelas berjumlah 28 siswa yang dibagi menjadi dua kelas (eksperimen dan kontrol) dalam uji coba lapangan utama dengan nonequivalent control group design. Hasil analisis menunjukan bahwa sumber belajar sangat mendukung untuk diintegrasikan dalam kegiatan pembelajaran karena sumber belajar seperti tumbuhan lokal akrab dalam kehidupan sehari-hari sehingga siswa dapat lebih mudah menghubungkan materi dengan pengetahuan yang sudah dimiliki yang


78 pada akhirnya dapat menguatkan pemahaman konsep siswa terhadap materi pembelajaran. Sayangnya sumber belajar yang tersedia belum dimanfaatkan atau dikembangkan menjadi bahan ajar yang bervariasi. Berdasarkan data wawancara terhadap siswa SMA Negeri 4 Pulau Taliabu diketahui bahwa bahan ajar berupa buku teks yang digunakan dalam kegiatan pembelajaran biologi kurang berwarna dan contoh-contoh materi yang terdapat didalamnya kurang relevan dengan yang sering siswa temukan atau ketahui dalam kehidupan seharihari. Selain itu siswa juga setuju jika terdapat bahan belajar lain selain buku paket yang sering digunakan. Oleh karena itu kehadiran modul Spermatophyta yang didesain lebih berwarna dan diintegrasikan dengan potensi tumbuhan lokal dapat meminimalisir keterbatasan bahan ajar dan menjadi menarik untuk dipelajari siswa. b. Tahap Perancangan (Design) Tahap selanjutnya setelah memperoleh hasil analisis adalah mendesain kerangka modul pembelajaran biologi berbasis potensi lokal yang disesuaikan dengan materi Plantae khususnya pada sub materi tumbuhan berbiji (Spermatophyta). Hasil tahapan perancangan disajikan sebagai berikut: Gambar 15. Hasil Desain Kerangka Modul Spermatophyta Halaman Sampul ...................................................................... Daftar Isi ................................................................................... Glosarium .........................................................................…… Peta Konsep .............................................................................. Pendahuluan ............................................................................. A. Identitas Modul ................................................................ B. Kompetensi Dasar ............................................................ C. Petunjuk Penggunaan Modul ........................................... D. Penyajian Materi Pembelajaran ........................................ E. Deskripsi Singkat Materi ................................................. KEGIATAN PEMBELAJARAN 1 ......................................... Spermatophyta Tumbuhan Berbiji Terbuka ............... A. Tujuan .............................................................................. B. Uraian Materi ................................................................... C. Rangkuman ...................................................................... D. Latihan Soal ..................................................................... E. Pedoman Penskoran Kegiatan Pembelajaran 1 ................ F. Penilaian Diri Kegiatan Pembelajaran 1 ........................... KEGIATAN PEMBELAJARAN 2 ......................................... Spermatophyta Tumbuhan Berbiji Tertutup ......................... A. Tujuan .............................................................................. B. Uraian Materi ................................................................... C. Rangkuman ...................................................................... D. Latihan Soal ..................................................................... E. Pedoman penskoran Kegiatan pembelajaran 2 ................. F. Penilaian Diri Kegiatan Pembelajaran 2 ........................... Evaluasi Akhir Kegiatan Pembelajaran Modul ..................... Kunci Jawaban Dan Pembahasan ........................................... Daftar Pustaka


79 Selain mendesain kerangka modul, sistematisasi materi pembelajaran juga dilakukan pada tahap ini. Sistematisasi materi bertujuan agar peserta didik atau pengguna modul dapat melakukan pembelajaran yang lebih terstruktur. Hasil sistematisasi materi modul tersaji dalam tabel berikut: Tabel 5. Deskripsi Uraian Materi Pembelajaran Modul Uraian Materi Kegiatan Pembelajaran 1 Uraian Materi Kegiatan Pembelajaran 2 1. Spermatophyta (Tumbuhan Berbiji) Ciri-Ciri Tubuh Spermatophyta 2. Gymnospermae (Tumbuhan Berbiji Terbuka) Ciri-Ciri Gymnospermae 3. Klasifikasi Gymnospermae 1) Cycadophyta 2) Coniferophyta 3) Ginkgophyta 4) Gnetophyta 1. Angiospermae (Tumbuhan Berbiji Tertutup) Ciri-Ciri Angiospermae 2. Klasifikasi Angiospermae 1) Kelas Monokotil 2) Kelas Dikotil Bentuk kegiatan selanjutnya yang dilakukan pada tahap perancangan (design) adalah rancangan instrumen evaluasi kegiatan pembelajaran modul yang terdiri dari soal berbentuk pilihan ganda sebanyak 10 soal pada setiap kegiatan pembelajaran dan instrumen evaluasi akhir kegiatan pembelajaran modul berbentuk uraian sebanyak 5 soal. Selain soal-soal evaluasi pembelajaran modul, pada kegiatan ini juga dilakukan perancangan instrumen validasi ahli yang terdiri dari: a. Angket validasi ahli materi b. Angket validasi ahli media c. Angket validasi guru d. Angket tanggapan pembelajaran peserta didik e. Angket kemandirian f. Soal evaluasi pemahaman konsep g. Silabus dan RPP Adapun hasil perancangan instrumen terdapat pada bagian lampiran tesis ini. (Lihat Lampiran). Hasil perancangan instrumen kemudian dikonsultasikan pada dosen pembimbing dan validasi ahli pada tahap selanjutnya.


80 c. Tahap Pengembangan (Development) Tahap pengembangan meliputi Pra penyusunan, penyusunan draf, penyuntingan, revisi I, uji coba terbatas, dan revisi tahap II. a. Pra Penyusunan Kegiatan pada tahap ini meliputi pengumpulan referensi pendukung, penelaahan terhadap referensi, dan observasi terhadap potensi lokal yang akan diintegrasikan pada modul yang di kembangkan. Referensi yang digunakan bersumber dari buku dan jurnal ilmiah. Sedangkan gambar-gambar yang relevan dengan materi modul diperoleh dari ragam sumber internet dan dokumentasi pribadi. Berikut adalah sajian referensi materi modul Spermatophyta. Aji, H, B. (2016). Petunjuk Teknis Pembibitan Tanaman cengkeh: Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Maluku Utara. Arief, R. W., & Ab, F. (2015). BERNILAI EKONOMI TINGGI Potential of nutmeg fruit processing being various products with high value economic. 165–174. Dewi, C., Utami, R., & Riyadi, N. H. (2012). Aktivitas antioksidan dan antimikroba ekstrak melinjo (Gnetum gnemon L.). Jurnal Teknologi Hasil Pertanian, 5(2), hal 74-81. https://jurnal.uns.ac.id/ilmupangan/article/view/13554/11298. Mancha A., and Fuentes J. (2008). Evaluation of the health beneficial properties of the aromatic ether Myristicin. a volatile oil derived from various plants sources. The University of TexasPan American 1201 W. University Drive Edinburg. Texas. diakses tanggal 28 Maret 2022 dari http://agrilifecdn.tamu.edu/phytochemicals/files/2011/03/Myri sticin_Nov9_330PM.ppt. Mauseth, J. D. (2016). Botany. An Introduction to Plant Biology. In Kew Bulletin (Vol. 27, Issue 2). https://doi.org/10.2307/4109487 Shipunov, A. (2021). Introduction to botany. In Introduction to botany, https://doi.org/10.5962/bhl.title.54988 Suloi, A. F., Nur, A., Suloi, F., Agroindustri, J., Fakfak, P. N., Tpa, J., Bonjol, I., Barat, P., Hasanuddin, U., Perintis, J., & Km, K. (2021). Bioaktivitas Pala (Myristica fragrans Houtt): Ulasan Ilmiah. 3(1), 11–18. Suparman, S., Nurhasanah, N., Bahtiar, B., & DAS, S. (2020). Studi Literasi Taksonomi dan Penelusuran Spesimen Lektotipe Cengkih (Syzygium aromaticum (L.) Merr. & Perry). Techno: Jurnal Penelitian, 9(1), 363. https://doi.org/10.33387/tjp.v9i1.1753. Sulistiono, W., Aji, H. B., Hartanto, S. (2019). Petunjuk Teknis Pendampingan Kawasan Perkebunan Pala Peningkatan Produksi dan Produktivitas: Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Maluku Utara. Tjirosoepomo, G. (2016). Taksonomi Tumbuhan Obat-obatan. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Tjirosoepomo, G. (2020). Morfologi Tumbuhan. Yogyakarta.


81 b. Penyusunan Kegiatan tahap ini merupakan penyusunan draf modul berdasarkan kerangka yang telah disusun pada tahap sebelumnya. Tahap penyusunan modul mencakup garis-garis besar modul, teknik penulisan, muatan materi, serta kesesuaian isi modul dengan capaian kompetensi yang di targetkan. Draf hasil penyusunan kemudian dikonsultasikan kepada dosen pembimbing dengan tujuan memperoleh saran dan masukan. Hasil konsultasi dengan dosen pembimbing draf modul dinyatakan telah layak untuk lanjut pada tahap validasi ahli. c. Penyuntingan Penyuntingan adalah tahapan setelah draf modul selesai disusun dan dikonsultasikan kepada dosen pembimbing. Penyuntingan dilakukan untuk memperoleh saran sebagai bahan perbaikan untuk penyempurnaan modul yang dikembangkan sebelum diuji coba dalam skala terbatas. Pada tahap ini melibatkan dosen ahli yang terdiri dari satu dosen ahli media dan satu dosen ahli materi. Hasil validasi ahli pada tahap ini disajikan pada tabel berikut: 1) Penilaian Modul Spermatophyta Oleh Ahli Media Tabel 6. Hasil Tinjauan Kualitas Media Oleh Ahli Media No Aspek Penilaian Hasil Penilaian Kategori 1 Kesesuaian dengan kompetensi 71,42 Layak 2 Kebahasaan 58,33 Cukup Layak 3 Penyajian 79,54 Layak 4 Kegrafikan 66,66 Layak Rata-rata 68,99 Layak Saran dan Masukan Tindak Lanjut Perbaiki tata cara penulisan ilmiah, dan pertimbangkan pemilihan jenis font. Memperbaiki tata cara penulisan Berdasarkan sajian data pada tabel 4, kualitas modul pada aspek kesesuaian dengan kompetensi memiliki nilai 71,42 dengan kategori layak, aspek kebahasaan 58,33 dengan kategori cukup layak, aspek penyajian 79,54 kategori layak, dan aspek kegrafikan 66,66 dengan kategori layak dan nilai rata-rata dari seluruh aspek sebesar 68,99 dengan kategori layak sehingga dapat diketahui bahwa hasil validasi ahli media terhadap modul Spermatophyta dinyatakan layak diimplementasikan dalam pembelajaran biologi. Sedangkan untuk saran dan masukan yang diperoleh dari ahli media


82 adalah perbaikan tata cara menulisan nama ilmiah dan petimbangkan pemilihan jenis font dan sudah diperbaiki sesuai saran dan masukan yang diperoleh. Hasil validasi dari ahli media secara kesimpulan umum adalah modul Spermatophyta yang dikembangkan layak diujicobakan dengan revisi. 2) Penilaian Modul Spermatophyta Oleh Ahli Materi Penilaian modul Spermatophyta oleh ahli materi yang diperoleh berupa catatan-catatan perbaikan. Catatan perbaikan dari ahli materi disajikan pada tabel halaman berikut: Tabel 7. Masukan dan Saran Perbaikan Hasil Validasi Ahli Materi Masukan dan Saran Tindak Lanjut 1. Pertimbangkan Penyempurnaan Judul dengan menunjuk “kualitas” target pengembangan (Misal untuk ‘MENINGKATKAN’) 1. Penyempurnaan Judul yang merujuk pada kualitas target dengan menambahkan kata ‘Meningkatkan’ 2. Perbaiki kesalahan penulisan dan recheck beberapa konsep terminologi pada glossary. 2. Memperbaiki kesalahankesalahan penulisan dan konsep terminologi pada bagian glosarium. Sudah dilakukan.. 3. Model belum secara tegas memberi ruang/kesempatan kegiatan pemecahan masalah karena tidak ada pernyataan ‘Permasalahan Pembelajaran’ dan ‘Tujuan Pembelajaran’ (format kegiatan pemecahan masalah tidak jelas). Silahkan disempurnakan. 3. Mendesain ulang format kegiatan pembelajaran modul pada bagian kegiatan mandiri dan Kegiatan Kelompok dengan menambahkan kejelasan Topik Kegiatan Tujuan Kegiatan dan Sasaran Kegiatan 4. Kata “Potensi Lokal” sumber belajar yang digunakan belum tampak, karena tidak ada tampilan/penggunaan data tentang keragaman tumbuhan Spermatophyta lokal 4. Menambahkan data-data keragaman tumbuhan Spermatophyta Lokal. 5. Jika materi kajian hanya berdasar gambar tumbuhan dari blok atau buku-buku referensi, maka TIDAK PERLU ada pernyataan “Potensi Lokal”. Karena kata “potensi Lokal” itu pernyataan dalam Judul, maka ‘Keragaman tumbuhan suatu daerah (lokal)’ harus menjadi dasar guru dalam membangun kegiatan pembelajaran model GDL 5. Mengganti gambar-gambar yang bersumber dari blog dengan data gambar dokumentasi pribadi tumbuhan Spermatophyta lokal


83 Beberapa tampilan pada modul Spermatophyta yang diubah berdasarkan saran/masukan dari Ahli media dan materi disajikan pada tabel berikut: Tabel 8. Tampilan Modul Spermatophyta Sebelum Dan Setelah Validasi Sebelum Sesudah


84 3) Tinjauan Relevansi dan Signifikansi Desain Pembelajaran Modul Oleh Ahli Pembelajaran Berdasarkan tinjauan relevansi dan signifikansi desain pembelajaran modul Spermatophyta dengan menggunakan instrumen angket yang berisi 20 butir item pernyataan diperoleh hasil sebesar 96,25%. Dengan demikian dapat diketahui bahwa modul Spermatophyta yang dikembangkan termasuk dalam kategori sangat layak untuk diimplementasikan dalam pembelajaran. adapun rekapitulasi penilaian oleh ahli pembelajaran terdapat pada bagian lampiran 3C. 4) Penilaian Modul Spermatophyta Oleh Guru Biologi Tabel 9. Penilaian Modul Spermatophyta Oleh Guru Biologi No Aspek Penilaian Hasil Penilaian Rata Guru 2 Kategori 1 Guru 2 Guru 3 1 Aspek Pembelajaran 96.42 98.21 94.64 96.42 Sangat Layak 2 Aspek Materi 100 95 100 98.33 Sangat Layak 3 Aspek Bahasa 95 95 90 93.33 Sangat Layak 4 Aspek Tampilan 90 90 90 90.00 Sangat Layak Nilai Rata-rata Seluruh Aspek 94.52 Sangat Layak Berdasarkan sajian data pada tabel di atas dapat diketahui bahwa penilaian terhadap modul Spermatophyta oleh guru biologi diperoleh nilai rata-rata seluruh aspek sebesar 94.52 dengan rincian pada aspek pembelajaran diperoleh nilai rata-rata sebesar 94.42, aspek materi 98.33, aspek Bahasa 93.33, dan aspek tampilan memperoleh nilai rata-rata 90.00. Dengan mengacu pada nilai tabel oleh Riduwan, (2007:23), Nilai 94.42 (81- 100%) memiliki kategori sangat layak sehingga dapat disimpulkan bahwa berdasarkan penilaian guru biologi, modul Spermatophyta dinyatakan sangat layak untuk diimplementasikan dalam pembelajaran. 5) Uji Coba Terbatas Uji coba terbatas adalah modul yang telah melalui prosedur penyuntingan dan telah dilakukan perbaikan berdasarkan saran dan masukan. Pelaksanaan uji coba terbatas melibatkan 14 peserta didik kelas XI yang diasumsikan telah mempelajari materi Spermatophyta pada jenjang kelas sebelumnya. Pelaksanaan uji coba terbatas dilakukan dengan prosedur sebagai berikut:


85 a) Memperkenalkan modul Spermatophyta kepada peserta didik; b) Meminta peserta didik untuk membaca/mempelajari modul Spermatophyta; c) Meminta peserta didik memberikan penilaian terhadap modul Spermatophyta dengan mengisi angket yang telah disediakan. Instrumen angket tinjauan kepraktisan penggunaan peserta didik dapat dilihat pada bagian lampiran 5A. Rekapitulasi tinjauan kepraktisan modul Spermatophyta oleh peserta didik disajikan pada tabel berikut: Tabel 10. Rekapitulasi Tinjauan Kepraktisan Modul Spermatophyta Oleh Peserta Didik No Aspek Penilaian Konversi Skor Kategori 1 Aspek Tampilan 90.7 Sangat Layak 2 Aspek Kemudahan Penggunaan 89.2 Sangat Layak 3 Aspek kemudahan memahami materi 83.95 Sangat Layak Rata-rata skor 87.95 Sangat Layak Keterangan Aspek: 1. Nilai min 5, Max 20 Rerata = 18.14 2. Nilai Min 10, Max 40 Rerata = 35.71 3. Nilai Min 5, Max 20 Rerata = 16.79 Rata2 Skor X 100 Nilai Max Penyajian data pada tabel diatas dapat diketahui bahwa tinjauan kepraktisan modul Spermatophyta oleh peserta didik dari keseluruhan aspek diperoleh rata-rata skor 87.95 yang termasuk dalam kategori sangat layak dengan mengacu pada nilai yang disampaikan oleh Riduwan, (2007:23) nilai (81-100% kategori sangat layak). Hasil tinjauan kepraktisan modul Spermatophyta oleh peserta didik selanjutnya diperoleh kesimpulan dapat diimplementasikan dalam pembelajaran. Selain perolehan nilai angket, terdapat beberapa saran dan masukan dari peserta didik sebagai bahan perbaikan produk sebelum diimplementasikan pada lapangan utama yang disajikan pada tabel 11 halaman berikut:


86 Tabel 11. Saran/Masukan Hasil Tinjauan Kepraktisan Oleh Peserta Didik Saran/masukan Tindak lanjut Sebaiknya bagian cover modul Spermatophyta lebih didominasi warna hijau, dan penambahan katakata motivasi dan penambahan kosakata pada bagian glosarium Desain ulang cover modul yang lebih didominasi warna hijau, menambahkan unsur motivasi, dan penambahan kosakata pada bagian glosarium. Saran dan masukan dari peserta didik pada tahap uji coba terbatas menjadi bahan evaluasi untuk perbaikan modul Spermatophyta sebelum produk diimplementasikan pada uji coba lapangan utama. Hasil perbaikan adalah modul Spermatophyta yang siap diujicobakan pada lapangan utama penelitian. 2. Hasil Uji Coba Produk a. Hasil Tahap Implementasi (Implementation) Tahap implementasi adalah tahap uji coba lapangan utama modul Spermatophyta yang telah direvisi berdasarkan penilaian serta saran/masukan yang diperoleh pada tahap sebelumnya. Ujicoba ini dimaksudkan untuk mengetahui pengaruh modul Spermatophyta terhadap kemandirian dan penguasaan konsep peserta didik. Ujicoba ini menggunakan peserta didik kelas X SMA Negeri 4 Pulau Taliabu sebanyak 28 orang yang dibagi menjadi kelas eksperimen dan kelas kontrol dengan desain nonequivalent control group design. Dalam desain ini, seluruh peserta didik baik kelas kontrol dan eksperimen diberikan pretest untuk memperoleh data kemampuan awal dan selanjutnya kelas eksperimen diberikan treatment (perlakuan) pembelajaran menggunakan modul Spermatophyta yang dikembangkan dan peserta didik kelas kontrol melakukan pembelajaran menggunakan bahan ajar umum yang biasanya digunakan oleh guru dalam implementasi pembelajaran biologi di sekolah. b. Kemandirian Peserta didik 1) Pengukuran Kemandirian Pretest dan Posttest Peserta Didik Kemandirian peserta didik diukur menggunakan angket yang telah tervalidasi. Pengukuran kemandirian peserta didik sebelum melakukan pembelajaran dijadikan sebagai data awal kemandirian sebelum treatment pembelajaran materi Spermatophyta, sedangkan kemandirian akhir diukur setelah treatment pembelajaran. Analisis data kemandirian peserta didik termuat


Click to View FlipBook Version