87 pada lampiran tesis ini sedangkan rekapitulasi data kemandirian disajikan pada tabel berikut: Tabel 12. Deskriptif Statistik Kemandirian Peserta Didik Kelas Eksperimen Kelas Kontrol Pretest Posttest Pretest Posttest Sampel 14 14 14 14 Nilai Minimal 57.5 74.16 57.5 66.66 Nilai Maksimal 90.83 93.33 89.16 88.33 Rata-rata 79.22 85.71 77.91 80.59 Berdasarkan sajian data di atas diketahui bahwa nilai rata-rata kemandirian peserta didik pretest kelas eksperimen adalah 79.22 dan kelas kontrol 77.91 dengan rincian nilai maksimal kelas eksperimen sebesar 90.83 dan kelas kontrol 89.16. Sedangkan nilai minimal baik kelas eksperimen dan kelas kontrol adalah 57.5. Perolehan data pretest kemandirian peserta didik kedua kelas menunjukan tidak terdapat perbedaan yang signifikan sehingga kelas kontrol diasumsikan dapat dijadikan kelas pembanding dari kelas eksperimen. Setelah dilakukan posttest nilai rata-rata kemandirian peserta didik kelas eksperimen sebesar 85.71 dan kelas kontrol 80.59 dengan rincian nilai minimal kelas eksperimen 74.16 dan maksimal 93.3, sedangkan kelas kontrol diperoleh nilai minimal 66.66 dan nilai maksimal sebesar 88.33. 2) Perbandingan Kemandirian Peserta Didik Kelas Eksperimen dan Kontrol a) Uji Normalitas Uji normalitas dilakukan untuk mengetahui data berdistribusi normal atau tidaknya. Uji normalitas dihitung melalui program SPSS 22 melalui uji Shapiro-Wilk. Dengan dasar pengambilan keputusan: Jika nilai signifikansi > 0.05 maka data berdistribusi normal dan jika nilai signifikansi < 0.05 maka data berdistribusi tidak normal. Jika data hasil uji berdistribusi normal, uji lanjut menggunakan analisis parametrik. Namun jika data hasil uji tidak berdistribusi normal, maka uji lanjut dapat dilakukan menggunakan analisis statistik non parametrik. Hasil uji normalitas data disajikan pada tabel 13 luaran SPSS halaman berikut:
88 Tabel 13. Luaran Tests of Normality Kemandirian Peserta Didik KELAS Shapiro-Wilk Statistic df Sig. Hasil Pre Eksperimen .932 14 .322 Post Eksperimen .925 14 .255 Pre Kontrol .933 14 .339 Post Kontrol .914 14 .179 b) Interpretasi Hasil Uji Normalitas Berdasarkan luaran test of normality diketahui bahwa nilai signifikansi pretest-posttest kelas eksperimen dan kelas kontrol lebih besar dari 0.05 (> 0.05) maka kesimpulan dari uji normalitas adalah data berdistribusi normal. Oleh karena data diketahui berdistribusi normal, maka uji lanjut menggunakan analisis parametrik. c) Uji Homogenitas Uji homogenitas dilakukan untuk mengetahui peserta didik kelas eksperimen dan kontrol yang digunakan dalam penelitian memiliki varians homogen atau tidak. Kriteria uji homogenitas adalah jika nilai signifikansi pada Based on Mean > 0.05 maka data sampel memiliki varian homogen. Sedangkan jika nilai signifikansi pada Based on Mean < 0.05 maka data sampel memiliki varian tidak homogen. Luaran SPSS hasil uji homogenitas sebagai berikut: Tabel 14. Luaran Test of Homogeneity of Variance Levene Statistic df1 df2 Sig. Posttest Based on Mean .750 1 26 .394 Based on Median .758 1 26 .392 Based on Median and with adjusted df .758 1 25.972 .392 Based on trimmed mean .779 1 26 .385 d) Interpretasi Hasil Uji Homogenitas Berdasarkan luaran uji homogenitas diketahui nilai signifikansi (Sig.) Base on Mean adalah .394 atau lebih besar > 0.05, artinya kelompok data memiliki varians yang homogen atau sama. Kesimpulan dari uji ini adalah kelas eksperimen dan kelas kontrol yang digunakan dalam penelitian berasal dari populasi yang homogen atau sama.
89 e) Uji Hipotesis Efektifnya penggunaan modul Spermatophyta berbasis GDL terintegrasi potensi tumbuhan lokal dalam meningkatkan kemandirian diukur melalui uji hipotesis. Data yang dianalisis adalah data yang menunjukkan kemandirian peserta didik setelah melakukan pembelajaran pada kelas eksperimen dan membandingkan dengan data pada kelas kontrol. Hipotesis dalam penelitian ini adalah: Ho : Tidak ada perbedaan yang signifikan kemandirian peserta didik yang menggunakan modul Spermatophyta dengan yang tidak menggunakan modul Spermatophyta Ha : Terdapat perbedaan yang signifikan kemandirian peserta didik yang menggunakan modul Spermatophyta dengan yang tidak menggunakan modul Spermatophyta Karena telah diketahui data berdistribusi normal, Independent Sample T-Test digunakan dalam uji hipotesis. Kriteria uji hipotesis adalah Jika nilai Sig. (2-tailed) < 0.05 maka Ho ditolak dan Ha diterima, dan Jika nilai Sig. (2- tailed) > 0.05 maka Ho diterima dan Ha ditolak. Adapun Luaran hasil uji hipotesis adalah sebagai berikut: Tabel 15. Luaran Uji Hipotesis Data Kemandirian Peserta Didik Independent Samples Test t-test for Equality of Means t df Sig. (2-tailed) Kemandirian Equal variances assumed 2.120 26 .044 Equal variances not assumed 2.120 25.376 .044 f) Interpretasi data Hasil Uji Hipotesis Berdasarkan luaran uji hipotesis Independent Samples Test diketahui nilai signifikansi Sig. (2-tailed) adalah .044 > 0.05 sehingga mengacu pada kriteria uji hipotesis, kesimpulan dari uji ini adalah Ho diterima dan Ha ditolak atau diketahui tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara kemandirian peserta didik yang menggunakan modul Spermatophyta dan yang tidak menggunakan modul Spermatophyta.
90 3) Peningkatan Kemandirian Peserta didik Besar peningkatan kemandirian peserta didik kelas eksperimen dan kelas kontrol ditinjau dari perhitungan N-gain. Hasil analisis data perhitungan N-gain kemandirian peserta didik disajikan pada tabel berikut: Tabel 16. Analisis Data Perhitungan N-Gain Kemandirian Peserta Didik Nilai Kelas Eksperimen Kelas Kontrol Pretest Posttest Pretest Posttest Nilai Minimal 57.5 74.16 57.5 66.66 Nilai Maksimal 90.83 93.33 89.16 88.33 Nilai Rata-rata 79.22 85.71 77.91 80.59 Nilai Rata-rata N-gain 0.30 0.07 Kategori Tinggi Rendah Berdasarkan sajian tabel analisis data perhitungan N-Gain Score diketahui nilai minimal kemandirian peserta didik kelas eksperimen dan kelas kontrol untuk pretest adalah 57.7, sedangkan nilai untuk posttest masing-masing kelas adalah 74.16 (eksperimen) dan 66.66 (kontrol). Nilai tertinggi (maksimal) pretest untuk kelas eksperimen adalah 90.83 dan posttest 93.33. Nilai Tertinggi (maksimal) pretest kelas kontrol 89.16 dan posttest sebesar 88.33. Nilai Ratarata kelas eksperimen untuk pretest adalah 79.22 dan posttest 85.71. Pada kelas kontrol perolehan nilai rata-rata pretest 77.91 dan posttest 80.89 sehingga dapat diketahui bahwa kedua kelas (eksperimen dan kontrol) memiliki perolehan skor rata-rata kemandirian yang berbeda. Hasil perhitungan N-gain score menunjukkan bahwa kelas eksperimen memperoleh nilai rata-rata 0.30 (> 0.7) dengan kategori tinggi, sedangkan kelas kontrol memperoleh nilai rata-rata 0.07 (<0.3) dengan kategori rendah. Berdasarkan nilai yang diperoleh dapat disimpulkan bahwa pembelajaran menggunakan modul Spermatophyta kelas eksperimen lebih besar dalam meningkatkan kemandirian peserta didik dibandingkan dengan pembelajaran konvensional pada kelas kontrol. c. Penguasaan Konsep Peserta Didik 1) Pengukuran Penguasaan Konsep Pretest dan Posttest Peserta Didik Penguasaan konsep peserta didik diukur menggunakan soal evaluasi/tes pemahaman konsep yang telah melewati tahap validasi ahli. Soal tes pemahaman konsep terdiri dari soal uraian sebanyak 5 soal. Peserta didik kelas eksperimen dan kelas kontrol diberikan pretest dan Posttest untuk mengetahui
91 kemampuan awal dan akhir atau sebelum dan sesudah melakukan pembelajaran materi Spermatophyta. Data hasil evaluasi pemahaman konsep peserta didik disajikan pada tabel berikut: Tabel 17. Data Evaluasi Pemahaman Konsep Peserta Didik Kelas Eksperimen Kelas Kontrol Pretest Posttest Pretest Posttest Sampel 14 14 14 14 Nilai Minimal 16 52 16 44 Nilai Maksimal 44 88 48 72 Rata-rata 30.43 70.86 32.00 58.00 Berdasarkan sajian data di atas diketahui bahwa nilai rata-rata penguasaan konsep peserta didik pada saat dilakukan pretest kelas eksperimen adalah 30.43 dan kelas kontrol 32.00 dengan rincian nilai maksimal kelas eksperimen sebesar 44 dan kelas kontrol 48. Nilai minimal baik kelas eksperimen dan kelas kontrol adalah 16. Perolehan data pretest penguasaan konsep peserta didik kedua kelas menunjukan tidak terdapat perbedaan yang signifikan sehingga kelas kontrol diasumsikan dapat dijadikan kelas pembanding dari kelas eksperimen. Setelah dilakukan treatment dan dilakukan posttest diperoleh nilai ratarata penguasaan konsep peserta didik kelas eksperimen sebesar 70.86 dan kelas kontrol 58.00 dengan rincian nilai minimal kelas eksperimen 52 dan maksimal 88. Nilai minimal posttest kelas kontrol diperoleh 48 sedangkan nilai maksimal adalah sebesar 72. Data penguasaan konsep lengkap dapat dilihat pada bagian lampiran 6D. 2) Perbandingan Penguasaan Konsep Peserta Didik Kelas Eksperimen dan Kontrol a) Uji Normalitas Uji normalitas diperlukan untuk memastikan data penelitian berdistribusi normal atau tidaknya. Uji normalitas data penguasaan konsep peserta didik sama seperti pengujian data kemandirian yang dihitung melalui program SPSS 22 melalui uji Shapiro-Wilk. Dengan dasar pengambilan keputusan: Jika nilai signifikansi > 0.05 maka data berdistribusi normal dan jika nilai signifikansi < 0.05 maka data berdistribusi tidak normal. Hasil uji normalitas data penguasaan konsep peserta didik disajikan pada tabel luaran SPSS halaman berikut:
92 Tabel 18. Luaran Tests of Normality Penguasaan Konsep Peserta Didik Tests of Normality Kelas Shapiro-Wilk Statistic df Sig. Penguasan Konsep Pre Eksperimen .862 14 .032 Post Eksperimen .971 14 .883 Pre Kontrol .877 14 .053 Post Kontrol .941 14 .430 b) Interpretasi Luaran data Uji Normalitas Penguasaan Konsep Berdasarkan luaran test of normality diketahui bahwa nilai signifikansi pretest-posttest kelas eksperimen dan kelas kontrol lebih besar dari 0.05 (> 0.05) maka kesimpulan dari uji normalitas ini adalah data berdistribusi normal. Oleh karena data diketahui berdistribusi normal, maka uji lanjut yang dilakukan menggunakan analisis parametrik. c) Uji Homogenitas Uji homogenitas dilakukan untuk mengetahui peserta didik kelas eksperimen dan kontrol yang digunakan dalam penelitian memiliki varians homogen atau tidak. Kriteria uji homogenitas adalah jika nilai signifikansi pada Based on Mean > 0.05 maka data sampel memiliki varian homogen. Sedangkan jika nilai signifikansi pada Based on Mean < 0.05 maka data sampel memiliki varian tidak homogen. Luaran SPSS hasil uji homogenitas sebagai berikut: Tabel 19. Luaran Test of Homogeneity of Variance Penguasaan Konsep Peserta Didik Test of Homogeneity of Variance Levene Statistic df1 df2 Sig. Hasil Penguasan Konsep Based on Mean .028 1 26 .869 Based on Median .017 1 26 .899 Based on Median and with adjusted df .017 1 24.975 .899 Based on trimmed mean .023 1 26 .880 d) Interpretasi Hasil Uji Homogenitas Penguasaan Konsep Peserta Didik Berdasarkan luaran uji homogenitas penguasaan konsep peserta didik diketahui nilai signifikansi (Sig.) Base on Mean adalah .869 atau lebih besar
93 > 0.05 sehingga dapat diketahui bahwa kelompok data penelitian memiliki varians yang homogen atau sama. Kesimpulan dari uji ini adalah kelas eksperimen dan kelas kontrol yang digunakan dalam penelitian berasal dari populasi yang homogen atau sama. e) Uji Hipotesis Efektifnya penggunaan modul Spermatophyta berbasis GDL terintegrasi potensi tumbuhan lokal dalam meningkatkan pemahaman konsep peserta didik diukur melalui uji hipotesis. Data yang dianalisis adalah data yang menunjukkan penguasaan konsep peserta didik setelah melakukan pembelajaran pada kelas eksperimen dan membandingkan dengan data pada kelas kontrol. Hipotesis dalam uji ini adalah: Ho : Tidak ada perbedaan yang signifikan penguasaan konsep peserta didik yang menggunakan modul Spermatophyta dengan yang tidak menggunakan modul Spermatophyta Ha : Terdapat perbedaan yang signifikan penguasaan konsep peserta didik yang menggunakan modul Spermatophyta dengan yang tidak menggunakan modul Spermatophyta. Karena telah diketahui data berdistribusi normal, Independent Sample T-Test digunakan dalam uji hipotesis. Kriteria uji hipotesis adalah Jika nilai Sig. (2-tailed) < 0.05 maka Ho ditolak dan Ha diterima, dan Jika nilai Sig. (2- tailed) > 0.05 maka Ho diterima dan Ha ditolak. Adapun Luaran hasil uji hipotesis adalah sebagai berikut: Tabel 20. Luaran Uji Hipotesis Data Penguasaan Konsep Peserta Didik Independent Samples Test t-test for Equality of Means t df Sig. (2-tailed) Hasil Penguasaan Konsep Equal variances assumed 3.609 26 .001 Equal variances not assumed 3.609 25.629 .001 f) Interpretasi data Hasil Uji Hipotesis Berdasarkan luaran uji hipotesis Independent Samples Test diketahui nilai signifikansi Sig. (2-tailed) adalah .001 < 0.05 sehingga mengacu pada kriteria uji hipotesis, kesimpulan dari uji ini adalah Ho ditolak dan Ha diterima
94 atau diketahui terdapat perbedaan yang signifikan penguasaan konsep peserta didik yang menggunakan modul Spermatophyta dan yang tidak menggunakan modul Spermatophyta. 3) Peningkatan Pemahaman Konsep Peserta didik Besar peningkatan penguasaan konsep peserta didik kelas eksperimen dan kelas kontrol ditinjau dari perhitungan N-gain. Hasil analisis data perhitungan N-gain penguasaan peserta didik disajikan pada tabel halaman berikut: Tabel 21. Analisis Data Perhitungan N-Gain Penguasaan Konsep Peserta Didik Nilai Kelas Eksperimen Kelas Kontrol Pretest Posttest Pretest Posttest Nilai Minimal 16 52 16 44 Nilai Maksimal 44 88 48 72 Nilai Rata-rata 30.43 70.86 32.00 58.00 Nilai Rata-rata N-gain 0.57 0.38 Kategori Tinggi Tinggi Berdasarkan sajian tabel analisis data perhitungan N-Gain Score diketahui nilai minimal pretest penguasaan konsep peserta didik kelas eksperimen dan kelas kontrol adalah 16. Sedangkan nilai minimal untuk posttest masing-masing kelas adalah 52 (eksperimen) dan 44 (kontrol). Nilai tertinggi (maksimal) pretest untuk kelas eksperimen adalah 44 dan posttest 88. Nilai tertinggi (maksimal) pretest kelas kontrol 48 dan posttest sebesar 72. Nilai Rata-rata kelas eksperimen untuk pretest adalah 30.43 dan posttest 70.86. Pada kelas kontrol perolehan nilai rata-rata pretest 32.00 dan posttest 58.00 sehingga dapat diketahui bahwa kedua kelas (eksperimen dan kontrol) memiliki perolehan skor rata-rata penguasaan konsep yang berbeda. Hasil perhitungan N-gain score menunjukan bahwa kelas eksperimen memperoleh nilai rata-rata 0.57 (> 0.38) dengan kategori tinggi, sedangkan kelas kontrol memperoleh nilai rata-rata 0.38 (< 0.57) dengan kategori yang sama yaitu berada pada kategori tinggi. Berdasarkan nilai yang diperoleh diketahui bahwa kelas eksperimen dan kelas kontrol berdasarkan perhitungan N-gain sama-sama memiliki kategori tinggi. Meskipun demikian, besaran skor yang berbeda menjadi indikator penarikan kesimpulan bahwa pembelajaran menggunakan modul Spermatophyta kelas eksperimen (0.57) masih lebih baik dibandingkan dengan pembelajaran konvensional pada kelas kontrol (0.38).
95 3. Revisi dan Produk Akhir Pengembangan modul Spermatophyta berbasis GDL terintegrasi potensi tumbuhan lokal untuk meningkatkan kemandirian dan pemahaman konsep peserta didik SMAN 4 Pulau Taliabu telah dilakukan dengan mengikuti langkah-langkah model pengembangan ADDIE yang terdiri dari lima tahap. Hasil akhir dari penelitian ini berupa modul pembelajaran Spermatophyta yang akan digunakan dalam pembelajaran biologi peserta didik SMA kelas X untuk meningkatkan kemandirian dan penguasaan konsep materi. Produk akhir adalah produk yang telah direvisi berdasarkan saran dan masukan yang diperoleh pada tahap pengembangan dan pengujian lapangan. Deskripsi tampilan modul yang dikembangkan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: Gambar 16. Tampilan Produk Akhir Penelitian Link dan barcode produk hasil pengembangan: https://anyflip.com/hcjuv/qtfs/
96 B. Pembahasan Produk Akhir Dalam proses pembelajaran, pemilihan bahan ajar perlu dikatkan dengan tujuan yang akan dicapai termasuk peningkatan pemahaman konsep dan kemandirian (Putri et al., 2019). Modul merupakan suatu unit program pengajaran yang disusun dalam bentuk tertentu untuk keperluan belajar. Sebuah modul kemudian dapat disusun dengan berbasiskan potensi lokal sebagai upaya mengaitkan materi baru yang akan dipelajari siswa dengan pengalaman indera atau pengetahuan yang sudah dimilikinya. Modul yang dikembangkan dalam penelitian ini menggunakan pokok bahasan pada materi Plantae sesuai silabus pembelajaran biologi SMA/MA kelas X kurikulum 2013 dengan spesifikasinya menggunakan Kompetensi dasar (KD) 3.7 dan 4.7 pokok pembahasan materi Spermatophyta atau tumbuhan berbiji. Oleh karena menggunakan materi Spermatophyta, potensi lokal yang dimaksudkan dalam penelitian ini adalah jenis-jenis tumbuhan Spermatophyta lokal yang akrab dalam kehidupan sehari-hari peserta didik kemudian diintegrasikan dalam modul yang dikembangkan. Pengembangan modul Spermatophyta ditempuh menggunakan model pengembangan ADDIE dari Dick & Carry yang terdiri dari lima tahapan yaitu analysis, design, development, implementation, evaluation. Tahap pengembangan modul Spermatophyta dimulai dengan melakukan studi pendahuluan pada SMA Negeri 4 Pulau Taliabu sehingga diperoleh informasi yang dapat diadaptasikan dengan tujuan penelitian. Berdasarkan kegiatan studi pendahuluan diketahui bahwa kurikulum yang digunakan SMA Negeri 4 Pulau taliabu adalah kurikulum 2013 dengan keterlaksanaan kegiatan pembelajaran yang terbatas pada penggunaan buku teks karena keterbatasan bahan ajar dan bahan belajar. Selain itu diketahui juga bahwa pelaksanaan proses belajar mengajar belum didukung dengan ketersedian listrik (PLN) dan jaringan internet. Materi Plantae menurut guru adalah salah satu materi yang cukup padat sehingga tidak jarang materi ini dapat selesai dibahas. Kriteria ketuntasan minimal (KKM) untuk pembelajaran biologi di sekolah diketahui adalah 70% dan data hasil belajar siswa diungkapkan oleh guru masih dibawah standar. Dari 36 siswa yang telah mempelajari materi Plantae diungkapkan dalam wawancara guru hanya satu orang peserta didik saja yang berhasil mencapai standar KKM dengan perolehan nilai tertinggi 75% dan nilai terendah 45%. Setelah diperoleh informasi dalam studi pendahuluan, yang dilakukan adalah analisis kompetensi, analisis instruksional, dan karakteristik peserta didik. Analisis kompetensi dilakukan dengan mengidentifikasi dan menetapkan aspek keluasan dan
97 kedalaman kompetensi yang perlu di kembangkan. Adapun hasil analisis pada tahap ini adalah pengembangan modul Spermatophyta dengan dasar pertimbangan: Materi Spermatophyta adalah sub materi Plantae yang tidak jarang tidak selesai dibahas dalam kegiatan pembelajaran, Sub materi tumbuhan berbiji (Spermatophyta) dapat diintegrasikan dengan potensi tumbuhan lokal daerah Kabupaten Pulau Taliabu yang akrab dengan kehidupan siswa sehari-hari. Pembelajaran yang bermakna terjadi apabila peserta didik mampu mengaitkan fenomena baru dalam struktur pengetahuan (Syaifurrahman & Ujiati, 2013: 60) dan sebuah materi akan dapat lebih bermakna dan lebih mudah untuk dipahami oleh siswa jika materi tersebut dihubungkan langsung dengan lingkungan siswa sehari-hari (Syukri & Razak, 2021). Selain itu, perolehan hasil belajar siswa yang masih berada dibawah standar KKM untuk materi Plantae diperlukan bahan ajar/belajar lain selain buku paket yang sering dipelajari siswa bersama guru di kelas. Pembelajaran biologi di SMA baik teori maupun kegiatan praktikum membutuhkan sumber belajar lain selain buku paket yang dapat menunjang siswa dalam memahami materi biologi (Suryanda et al., 2016). Analisis instruksional dilakukan melalui penjabaran kompetensi umum menjadi kompetensi khusus berupa indikator pencapaian kompetensi yang perlu untuk dicapai peserta didik setelah melakukan pembelajaran. Kompetensi dasar (KD) 3.7 dan 4.7 Materi Plantae sub materi Spermatophyta dalam silabus pembelajaran biologi SMA kelas X dijabarkan menjadi sembilan butir indikator capaian pembelajaran yaitu: 1. Siswa dapat menjelaskan dasar klasifikasi tumbuhan berbiji; 2. Siswa dapat mengidentifikasi jenis-jenis tumbuhan berbiji; 3. Siswa dapat menyebutkan ciri-ciri tumbuhan berbiji; 4. Siswa dapat mengelompokan tumbuhan berbiji terbuka (Gymnospermae) kedalam divisi berdasarkan pengamatan morfologi; 5. Siswa dapat mengaitkan peranan tumbuhan berbiji terbuka (Gymnospermae) dalam kehidupan sehari-hari; 6. Siswa dapat mengidentifikasi jenis-jenis tumbuhan berbiji tertutup (Angiospermae); 7. Siswa dapat mengelompokan tumbuhan berbiji tertutup (Angiospermae) dalam divisi berdasarkan ciri morfologi; 8. Siswa dapat membandingkan tumbuhan berbiji terbuka dan tertutup;
98 9. Siswa dapat mengaitkan peranan tumbuhan berbiji tertutup (Angiospermae) dalam kehidupan sehari-hari. Indikator-indikator capaian pembelajaran di atas yang diharapkan dapat dicapai peserta didik setelah melakukan pembelajaran pada materi Plantae sub materi Spermatophyta dengan menggunakan modul Spermatophyta yang dikembangkan dalam penelitian. Analisis Karakteristik bertujuan untuk mengetahui karakter siswa sebagai sasaran modul yang dikembangkan. Keputusan yang diambil dalam perencanaan dan desain pembelajaran sepatutnya disesuaikan dengan kondisi peserta didik (Sanjaya, 2013: 9). Agar modul yang disusun dapat sesuai dengan kebutuhan peserta didik, tersaji dengan baik dan memiliki kebenaran serta kebermaknaan perlu untuk diperoleh informasi penting tentang peserta didik (Daryanto, 2013: 33). Perolehan data peserta didik yang diketahui rata-rata bersumber dari latar belakang keluarga petani menjadi informasi penting bahwa peserta didik sangat akrab dengan jenis-jenis tumbuhan Spermatophyta lokal daerah Kabupaten Pulau Taliabu sehingga hasil analisis pengembangan modul Spermatophyta dengan mengintegrasikan jenis-jenis tumbuhan lokal akan sangat mendukung penguasaan konsep peserta didik terhadap materi pembelajaran. Modul merupakan sebuah buku yang ditulis agar peserta didik dapat melakukan belajar secara mandiri (Majid, 2013: 176) walaupun terdapat bermacam-macam batasan sejatinya merupakan paket kurikulum yang disediakan untuk belajar secara mandiri (Nasution, 2006:205). Karakter modul sebagai bahan belajar mandiri selanjutnya dapat meningkatkan kemandirian belajar peserta didik yang bergantung pada kegiatan pembelajaran bersama guru di kelas. Desain dilakukan setelah tahap analisis. Langkah yang ditempuh sebelum mulai melakukan penulisan modul adalah dengan mempersiapkan outline/rancangan yang meliputi penentuan topik/pokok bahasan, mengatur urutan materi yang disesuaikan dengan tujuan, dan mempersiapkan rancangan penulisan (Daryanto, 2013: 38). Pada tahap ini yang dilakukan adalah mendesain kerangka modul dan dilanjutkan dengan sistematisasi materi modul, rancangan pengintegrasian materi modul dengan potensi tumbuhan Spermatophyta lokal, serta merancang instrumen evaluasi. Setelah tahapan desain selesai dilaksanakan kerangka modul Spermatophyta masuk pada tahapan pengembangan.
99 Tahap pengembangan meliputi Pra penyusunan, penyusunan draf, penyuntingan, revisi I, uji coba terbatas, dan revisi tahap II. Kegiatan pada pra penyusunan dalam penelitian ini lebih difokuskan pada pengumpulan referensi materi dan gambar-gambar yang relevan dengan kepentingan pengembangan. Referensi materi dan gambar yang digunakan bersumber dari buku, jurnal, internet dan beberapa situs resmi pemerintah. Penyusunan draft modul didasarkan pada referensi dan gambar yang telah dikumpulkan. Draf hasil penyusunan kemudian dikonsultasikan kepada dosen pembimbing untuk memperoleh saran/masukan perbaikan. Tahap penyuntingan merupakan tahap validasi draf modul oleh para ahli. Pada tahap ini draf modul divalidasi oleh ahli materi dan ahli media yang menilai draf modul pada beberapa aspek yaitu kesesuaian dengan capaian pembelajaran, bahasa, penyajian, grafis serta kepraktisan penggunaan. 1. Kelayakan Produk Pengembangan a. Validasi Materi Masukan awal yang diterima dari ahli materi adalah pada bagian validasi materi sebaiknya dengan melibatkan ahli pembelajaran yang akan melakukan penilaian pada relevansi dan signifikansi desain pembelajaran. Beberapa masukan lain yang diterima dari ahli materi tersaji dalam tabel 7 halaman 69 tesis ini. Hasil validasi oleh ahli materi kemudian ditindaklanjuti sesuai saran dan masukan yang diperoleh. b. Validasi Ahli Media Ahli media melakukan validasi terhadap modul Spermatophyta pada beberapa aspek yaitu aspek kesesuaian dengan kompetensi, aspek kebahasaan, aspek penyajian dan aspek kegrafikan. Hasil validasi ahli media diperoleh nilai rata-rata sebesar 68.99. Nilai 68.99 mengacu pada nilai yang disampaikan oleh (Riduwan, 2007: 23) termasuk dalam kategori layak. Adapun saran/masuk yang diterima dari ahli media adalah perbaiki tata cara penulisan ilmiah dan pertimbangkan untuk jenis font yang digunakan. Rekapitulasi hasil validasi media dapat dilihat pada bagian lampiran 3C. Kesimpulan umum dari ahli media adalah modul Spermatophyta layak diujicobakan dengan revisi. Selain melakukan validasi modul Spermatophyta, ahli materi dan ahli media juga melakukan validasi terhadap perangkat dan instrumen yang digunakan untuk pengumpulan data penelitian yang terdiri dari silabus dan RPP, angket tinjauan kepraktisan peserta didik, angket kemandirian pretest-posttest kelas eksperimen
100 dan kontrol, angket penilaian modul Spermatophyta oleh guru, angket tinjauan relevansi dan signifikansi desain pembelajaran oleh ahli pembelajaran, dan soal evaluasi pemahaman konsep peserta didik. Hasil validasi adalah instrumen dan perangkat pembelajaran yang telah teruji untuk digunakan dalam proses pengumpulan data penelitian. Instrumen dan perangkat pembelajaran dapat dilihat pada bagian lampiran tesis ini. c. Validasi Ahli Pembelajaran Tinjauan relevansi dan signifikansi desain pembelajaran modul Spermatophyta dilakukan menggunakan instrumen angket yang berisi 20 butir item pernyataan. Pengolahan data hasil tinjauan diperoleh hasil sebesar 96.25% yang termasuk dalam kategori sangat layak berdasarkan nilai yang disampaikan (Riduwan, 2007: 23). Rekapitulasi dan catatan-catatan lain yang diperoleh dari ahli pembelajaran termuat pada bagian lampiran 2C. d. Penilaian Modul Spermatophyta Oleh Guru Biologi Sebelum pelaksanaan uji coba dalam skala terbatas, modul Spermatophyta dinilai oleh guru biologi sebanyak 3 orang dengan kualifikasi pendidikan biologi S1 dan memiliki pengalaman mengajar lebih dari 3 tahun. Aspek yang dinilai terdiri dari aspek desain pembelajaran, materi, Bahasa dan tampilan. Penilaian dilakukan menggunakan instrumen angket yang berisi 30 butir pernyataan. Nilai rata-rata aspek desain pembelajaran sebesar 96.42%, aspek materi 98.33%, aspek Bahasa 93.33%, dan aspek tampilan 90.00% perolehan nilai rata-rata untuk seluruh aspek yang dinilai sebesar 94.52%. berdasarkan tinjauan nilai yang disampaikan (Riduwan, 2007: 23) maka nilai 94.52% termasuk dalam kategori sangat layak sehingga kesimpulan dari penilaian oleh guru biologi modul Spermatophyta dinyatakan layak untuk digunakan dalam pembelajaran. Rekapitulasi penilaian modul Spermatophyta terdapat pada bagian lampiran 4C. e. Uji Coba Terbatas Pelaksanaan uji coba terbatas modul Spermatophyta dilakukan pada peserta didik kelas XI yang diasumsikan telah melakukan pembelajaran materi Spermatophyta pada jenjang kelas sebelumnya. Sasaran data dalam pelaksanaan uji terbatas adalah memperoleh data tinjauan kepraktisan penggunaan serta saran dan masukan. Hasil tinjauan kepraktisan penggunaan menggunakan instrumen angket diperoleh nilai rata-rata 87.95 dengan kategori sangat layak berdasarkan
101 tinjauan nilai yang disampaikan (Riduwan, 2007: 23). Adapun saran/masukan yang diperoleh adalah pertimbangan bagian cover modul untuk lebih didominasi warna hijau, penambahan kata-kata motivasi, dan kosakata pada bagian glosarium. Saran dan masukan yang diperoleh kemudian ditindaklanjuti. Rekapitulasi hasil tinjauan kepraktisan modul Spermatophyta oleh peserta didik dapat dilihat pada lampiran 5C. Kesimpulan dari pelaksanaan uji terbatas adalah modul Spermatophyta dinyatakan layak untuk diimplementasikan dalam pengujian lapangan utama. Tahap lanjutan setelah pengembangan adalah implementasi yang bertujuan mengetahui efektivitas penggunaan modul Spermatophyta bagi kemandirian dan penguasaan konsep materi peserta didik. Modul Spermatophyta yang dikembangkan dalam penelitian ini ditempatkan sebagai bahan belajar yang dapat dimanfaatkan siswa untuk belajar secara mandiri. Keefaktifan modul Spermatophyta kemudian diketahui setelah rangkaian treatmen atau perlakuan diberikan. 2. Efektivitas Produk Terhadap Kemandirian Belajar Peserta Didik Belajar meliputi kegiatan yang dapat dilakukan dengan bantuan/bimbingan dan juga dapat dilakukan sendiri. Untuk mencapai hasil belajar yang baik perlu didukung dengan kemandirian, fasilitas belajar, dan perolehan kesempatan belajar. Peningkatan kemandirian belajar peserta didik merupakan bagian dari tujuan pengembangan modul Spermatophyta. Peningkatan rata-rata nilai kemandirian peserta didik tergambar pada diagram berikut: Gambar 17. Diagram Peningkatan Kemandirian Peserta Didik 70 75 80 85 90 Pretest Eksperimen Posttest Eksperimen Pretest Kontrol Posttest Kontrol 79.22 85.71 77.91 80.59 Peningkatan Kemandirian
102 Berdasarkan diagram di atas diketahui bahwa hasil pretest kemandirian peserta didik kelas eksperimen memperoleh nilai rata-rata 79.22 dan kelas kontrol 77.91 sedangkan nilai rata-rata posttest untuk eksperimen adalah 85.72 dan kelas kontrol adalah 80.59. Sajian diagram juga dapat diketahui bahwa tingkat kemandirian posttest peserta didik kelas eksperimen yang menggunakan modul Spermatophyta lebih tinggi (85.71) jika dibandingkan dengan kelas kontrol (80.59) yang melakukan pembelajaran tanpa modul Spermatophyta. Efektifitas modul Spermatophyta dalam meningkatkan kemandirian peserta didik dinilai kurang signifikan. Hal ini diperkuat dengan output SPSS dalam uji Independent Sample T-Test dengan hipotesis dan dasar pengambilan keputusan: H0: Tidak ada perbedaan yang signifikan kemandirian peserta didik yang menggunakan modul Spermatophyta dengan yang tidak menggunakan modul Spermatophyta Ha: Terdapat perbedaan yang signifikan kemandirian peserta didik yang menggunakan modul Spermatophyta dengan yang tidak menggunakan modul Spermatophyta Jika nilai Sig. (2-tailed) < 0.05 maka H0 ditolak dan Ha diterima Jika nilai Sig. (2-tailed) > 0.05 maka H0 diterima dan Ha ditolak. Luaran uji Independent Sample T-Test diperoleh nilai Sig. (2-tailed) sebesar .044 > 0.05 sehingga mengacu pada kriteria uji hipotesis, kesimpulan dari uji ini adalah H0 diterima dan Ha ditolak atau tidak terdapat perbedaan yang signifikan kemandirian peserta didik yang menggunakan modul Spermatophyta dengan yang tidak menggunakan modul Spermatophyta. Output uji SPSS dapat dilihat pada bagian lampiran 6E. Peninjauan N-Gain score terhadap kemandirian peserta didik diperoleh hasil untuk kelas eksperimen dengan nilai rata-rata 0.30 (> 0.7) termasuk kategori tinggi. Sedangkan kelas kontrol memperoleh nilai rata-rata 0.07 (<0.3) dengan kategori rendah berdasarkan tinjauan tabel klasifikasi N-Gain score Mazler dalam Syahfitri. Dengan demikian dapat diketahui peningkatan kemandirian belajar siswa kelas eksperimen yang melakukan pembelajaran dengan modul Spermatophyta cenderung lebih tinggi jika dibandingkan dengan kelas kontrol yang melakukan pembelajaran konvensional.
103 Berdasarkan tinjauan kategori tafsiran N-gain score persen (%) yang mengacu pada Hake, (1999) kelas eksperimen dengan nilai rata-rata 0.30 (30.14) dan kelas kontrol dengan nilai rata-rata 0.07 (7) keduanya berada pada kategori tidak efektif. Kesimpulan dari perhitungan N-gain score (%) terhadap kemandirian peserta didik pada kelas eksperimen dengan pembelajaran modul Spermatophyta dan kelas kontrol dengan pembelajaran konvensional tidaklah efektif. Meskipun terbilang tidak efektif, atau tidak terdapat berbedaan yang signifikan kemandirian belajar peserta didik kelas eksperimen dan kontrol, nyatanya bahwa skor perolehan tingkat kemandirian belajar peserta didik kelas eksperimen masih lebih tinggi dari kelas kontrol. Bentuk pemberian kesempatan kepada siswa untuk membangun konsep secara mandiri dapat berpengaruh signifikan terhadap peningkatan hasil belajar (Maknun, 2020). Pembelajaran modul lebih optimal untuk mengeksplorasi karena siswa dapat belajar sesuai dengan gaya dan kecepatannya (Aprilia & Suryadarma, 2020), serta memberikan kebebasan bagi siswa dan rasa tanggung jawab dalam belajar (Moore & Diehl, 2019). Pemberian kebebasan untuk belajar dan tanggung jawab dapat meningkatkan rasa percaya diri dan bagi seseorang yang memiliki rasa percaya diri yang tinggi maka semakin tinggi pula tingkat kemandirian yang dimilikinya (Pratiwi & Laksmiwati, 2016). Kemandirian belajar seseorang dapat menunjang prestasi akademik (Barnard-Brak et al., 2010), dan kemandirian belajar yang tinggi dapat berpengaruh signifikan terhadap hasil belajar biologi (Puspadita, 2018). Peningkatan kemandirian belajar peserta didik kelas eksperimen yang berbeda dengan kelas kontrol menjadi indikator bahwa modul Spermatophyta dapat dijadikan sebagai bahan ajar/bahan belajar yang dapat digunakan peserta didik untuk belajar secara mandiri sebagaimana yang dikemukakan oleh Majid, (2013: 176) bahwa modul adalah sebuah buku yang ditulis agar peserta didik dapat melakukan belajar secara mandiri. Meskipun terdapat berbagai keterbatasan, modul merupakan paket kurikulum yang disediakan untuk pembelajaran mandiri (Nasution, 2006). Dengan pembelajaran mandiri yang sering dilakukan oleh peserta didik menggunakan modul berpotensi meningkatnya kemandirian dan memberikan dampak positif pencapaain hasil belajar. Kemandirian peserta didik bukan merupakan karakter bawaan melainkan hasil dari proses belajar yang harus terus dipeliharan dan diperkuat (Al-hawamleh et al., 2022). Pengembangan modul dilakukan untuk digunakan peserta didik agar dapat
104 belajar dengan sedikit/tanpa bimbingan (Prastowo, 2015: 106). Penggunaan modul dengan sedikit/tanpa bimbingan kemudian dapat melatih kemandirian peserta didik. Self instruksional yang dimiliki oleh sebuah modul memungkinkan seseorang mampu belajar sendiri atau tidak tergantung pada pihak lain (Daryanto, 2013: 1). Kemandirian peserta didik yang rendah perlu diupayakan sehingga dalam kegiatan belajar dapat mencapai hasil yang optimal. Sejalan dengan hal tersebut dalam pandangan Mudjiman, (2008: 39), faktor yang mempengaruhi kemandirian seorang peserta didik antara lain adalah motivasi belajar, ketersediaan sarana belajar, kesempatan belajar, dan kemampuan belajar. Peningkatan kemandirian peserta didik yang rendah menjadi bahan evaluasi dalam pengembangan modul Spermatophyta. Kemandirian sejatinya adalah karakter yang dibangun melalui pembiasaan dengan didukung faktor internal dan eksternal. Dalam pandangan Subali, (2016: 26), treatment atau perlakuan yang diberikan dalam waktu singkat dapat menyebabkan peserta didik terkena effect testing. Hal ini memberikan keterangan bahwa peningkatan kemandirian peserta didik yang cenderung rendah kemungkinan disebabkan oleh singkatnya durasi treatment/perlakuan pembelajaran yang diberikan, dan hal ini juga didukung oleh fakta bahwa peserta didik SMAN 4 Pulau taliabu baru merupakan kali pertama melakukan pembelajaran modul. Meskipun merupakan kali pertama pembelajaran modul, perolehan nilai kemandirian kelas eksperimen cenderung lebih tinggi dibandingkan dengan kelas kontrol. 3. Efektivitas Produk Terhadap Pemahaman Konsep Peserta didik Landasan intelektual untuk mempelajari proses ilmiah adalah penguasaan konsep (Phanphech et al., 2019) dan belajar bukan sekedar menghafal, melainkan proses penguasan sesuatu yang bermakna (Mulyadi et al., 2017: 43). Suatu pembelajaran yang bermakna memberikan pengaruh yang positif terhadap kemampuan berpikir siswa (Boleng et al., 2017). Pembelajaran yang bermakna terjadi apabila peserta didik mampu mengaitkan fenomena baru dalam struktur pengetahuan (Syaifurrahman & Ujiati, 2013: 60). Salah satu tujuan penting dari pembelajaran sains yang termasuk biologi adalah untuk meningkatkan pemahaman konsep. Pengembangan modul Spermatophyta dengan terintegrasi potensi tumbuhan lokal selain untuk meningkatkan kemandirian, adalah meningkatkan pemahaman konsep materi yang dipelajari sehingga peningkatan pemahaman konsep peserta didik
105 merupakan bagian dari tujuan pengembangan modul Spermatophyta. Peningkatan rata-rata nilai penguasaan konsep peserta didik tergambar pada diagram berikut: Gambar 18. Diagram Peningkatan Pemahaman Konsep Berdasarkan diagram di atas diketahui bahwa hasil pretest pemahaman konsep peserta didik kelas eksperimen memperoleh nilai rata-rata 30.43 dan kelas kontrol 32. Sedangkan nilai rata-rata posttest untuk eksperimen adalah 70.86 dan kelas kontrol adalah 58. Sajian diagram juga dapat diketahui bahwa tingkat pemahaman konsep posttest peserta didik kelas eksperimen yang menggunakan modul Spermatophyta lebih tinggi (70.86) jika dibandingkan dengan kelas kontrol (58) yang melakukan pembelajaran tanpa modul Spermatophyta (5M). Efektifitas modul Spermatophyta dalam meningkatkan pemahaman konsep peserta didik dinilai cukup signifikan yang diperkuat dengan output SPSS dalam uji Independent Sample T-Test dengan hipotesis dan dasar pengambilan keputusan: H0: Tidak ada perbedaan yang signifikan pemahaman konsep peserta didik yang menggunakan modul Spermatophyta dengan yang tidak menggunakan modul Spermatophyta Ha: Terdapat perbedaan yang signifikan pemahaman konsep peserta didik yang menggunakan modul Spermatophyta dengan yang tidak menggunakan modul Spermatophyta Jika nilai Sig. (2-tailed) < 0.05 maka H0 ditolak dan Ha diterima Jika nilai Sig. (2-tailed) > 0.05 maka H0 diterima dan Ha ditolak. 0 10 20 30 40 50 60 70 80 Pretest Eksperimen Posttest Eksperimen Pretest Kontrol Posttest Kontrol 30.43 70.86 32 58 Peningkatan Pemahaman Konsep
106 Luaran uji Independent Sample T-Test diperoleh nilai Sig. (2-tailed) sebesar 0.001 < 0.05 sehingga mengacu pada kriteria uji hipotesis, kesimpulan dari uji ini adalah H0 ditolak dan Ha diterima atau diketahui terdapat perbedaan yang signifikan pemahaman konsep peserta didik yang menggunakan modul Spermatophyta dengan yang tidak menggunakan modul Spermatophyta. Luaran hasil uji SPSS untuk uji t-test dapat dilihat pada bagian lampiran 7D. Tinjauan N-Gain score terhadap pemahaman konsep peserta didik diperoleh hasil untuk kelas eksperimen dengan nilai rata-rata 0.57 (g> 0.7) yang termasuk dalam kategori tinggi. Sedangkan kelas kontrol memperoleh nilai rata-rata 0.38 (g>0.7) yang juga termasuk dalam kategori tinggi berdasarkan tinjauan tabel klasifikasi N-Gain score Mazler (Syafitri, 2008: 33). Dengan demikian dapat diketahui baik kelas eksperimen (pembelajaran modul) dan kelas kontrol (pembelajaran 5M) keduanya mengalami peningkatan hasil belajar yang termasuk dalam kategori tinggi. Meskipun keduanya termasuk dalam kategori tinggi, perbedaan N-gain score membuktikan bahwa peningkatan hasil belajar kelas eksperimen (0.57) lebih tinggi dibandingkan dengan kelas kontrol (0.30). Berdasarkan tinjauan kategori tafsiran N-gain score persen (%) yang mengacu pada Hake, (1999), kelas eksperimen dengan nilai rata-rata 0.57 (56.56) termasuk dalam kategori “cukup efektif”, sedangkan pada kelas kontrol dengan nilai rata-rata 0.38 (38.15) termasuk dalam kategori tidak efektif. Kesimpulan dari perhitungan Ngain score berdasarkan tingkat perolehan kategori, efektivitas modul Spermatophyta yang digunakan untuk pembelajaran peserta didik pada kelas eksperimen cukup efektif dalam meningkatkan pemahaman konsep. Sedangkan pada kelas kontrol dengan pembelajaran konvensional (5M), tafsiran N-gain menunjukan tidak efektif dalam meningkatkan pemahaman konsep peserta didik sehingga dapat diketahui bahwa modul Spermatophyta dapat digunakan dalam pembelajaran biologi untuk meningkatkan hasil belajar peserta didik. Efektifitas modul Spermatophyta dalam meningkatkan pemahaman konsep peserta didik dapat ditinjau juga dalam perbandingan hasil belajar yang berpatokan pada kriteria ketuntasan minimum pembelajaran biologi SMAN 4 Pulau Taliabu sebesar 70%. Sebanyak 14 peserta didik kelas eksperimen yang melakukan pembelajaran dengan modul Spermatophyta dan mengikuti posttest terdapat 9 peserta didik yang mencapai taraf ketuntasan dengan tingkat persentase 64.28%. Pada kelas
107 kontrol dengan pembelajaran 5M dari 14 peserta didik yang mengikuti posttest tidak terdapat peserta didik yang mencapai target KKM. Perbandingan nilai rata-rata peserta didik kelas eksperimen dan kontrol adalah 70.86 untuk kelas eksperimen dan 58.00 untuk kelas kontrol. Rekapitulasi data perolehan nilai pretest-posttest peserta didik dapat dilihat pada tabel lampiran 7E. Modul sebagai salah satu bahan ajar yang dikembangkan bersentuhan langsung dengan objek pembelajaran berpotensi memberikan pemahaman konsep dan motivasi peserta didik (Situmorang, 2016). Selain itu, hasil penelitian dari Putri et al., (2019) dapat diketahui bahwa pemecahan masalah dan kemandirian dapat meningkat dengan penggunaan perangkat pembelajaran yang realistik/kontekstual. Pengembangan modul Spermatophyta terintegrasi potensi tumbuhan lokal dilakukan sebagai upaya kontekstualisasi atau mengaitkan materi pembelajaran dengan kehidupan sehari-hari sehingga peserta didik dapat melakukan pembelajaran materi dengan contoh nyata yang sering disaksikan dalam kehidupan sehari-hari. Pendekatan kontekstual merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan kondisi lingkungan dunia terdekat dan melalui pembelajaran yang kontekstual peserta didik akan mendapatkan pemahaman konsep lebih kuat jika dibandingkan dengan proses pembelajaran yang hanya berdasarkan pengertian atau contoh-contoh umum (Rama Yeni et al., 2019). Pembelajaran yang kontekstual terbukti efektif mampu meningkatkan pemahaman konsep siswa terhadap materi yang dipelajari (Yudha et al., 2019). Hal ini terbukti dengan perolehan hasil belajar peserta didik kelas eksperimen yang melakukan pembelajaran menggunakan modul Spermatophyta terintegrasi potensi tumbuhan lokal dan memperoleh hasil belajar lebih tinggi dibandingkan dengan kelas kontrol. Pendidikan yang berkualitas sangat ditentukan oleh teknik pengajaran yang dilakukan oleh guru (Boleng et al., 2017) dan untuk mengatasi permasalahan yang sering ditemukan perlu untuk dapat memilih model, pendekatan, strategi, dan metode pembelajaran yang tepat (Putri et al., 2019). Suatu kegiatan belajar perlu didukung oleh berbagai fasilitas (Fitriana et al., 2017) dan dalam proses belajar mengajar, ada beberapa peran penting bagi seorang guru antara lain sebagai penyampai informasi, fasilitator, atau mediator, dan sebagai penilai (Rustaman, 2017). Kebiasaan belajar konvensional yang dilakukan oleh guru dengan tingkat keberhasilan belajar siswa yang rendah disebabkan oleh faktor kemampuan dan keterbatasan bahan ajar yang
108 dimilikinya. Menurut Maryono, (2016), di antara alasan dilakukan pembelajaran konvensional adalah keterbatasan waktu dan sumber belajar. Keterbatasan sumber belajar di SMA Negeri 4 Pulau Taliabu menuntut guru untuk melaksanakan pembelajaran dengan menggunakan metode konvensional. Dalam pandangan Ismiati, (2020) pembelajaran biologi perlu memanfaatkan potensi dan ruang lingkup lokal, dan sebuah modul pembelajaran dapat dikembangkan berdasarkan potensi lokal (Novana et al., 2014), sedangkan implementasi pembelajaran GDL memungkinkan siswa mampu menyusun konsep melaui diskusi, persentasikan pemecahan masalah dengan bimbingan guru (Shieh & Yu, 2016). Kehadiran modul Spermatophyta yang dikembangkan dengan mengintegrasikan potensi tumbuhan lokal dapat menjadi bahan ajar/pembelajaran yang mendukung pelaksanaan pembelajaran biologi. Selain itu, dilihat dari tingkat ketercapaian hasil belajar peserta didik kelas eksperimen yang menggunakan modul Spermatophyta hasil pengembangan maka modul Spermatophyta yang dihasilkan dalam penelitian ini dapat menjadi rekomendasi sebagai bahan ajar/bahan belajar untuk meningkatkan hasil belajar biologi Siswa di SMA Negeri 4 Pulau Taliabu atau daerah-daerah yang masih memiliki tingkat kesamaan potensi tumbuhan lokalnya. Modul yang dihasilkan dalam penelitian ini dapat ditempatkan sebagai bahan ajar atau bahan belajar yang dimanfaatkan siswa untuk melakukan pembelajaran mandiri. Pembelajaran secara mandiri yang dilakukan dengan menggunakan modul Spermatophyta efektifnya tidak terbatas pada pembelajaran bersama guru di kelas melainkan secara optimal dapat dimanfaatkan siswa untuk pembelajaran di luar kelas sehingga dapat meningkatkakan pemahaman konsep dan kemandirian belajar. Aktivitas pembelajaran mandiri yang sering dilakukan siswa kemudian akan sangat berguna dalam membangun kemandirian serta pemanfaatan modul untuk mempelajari materi Spermatophyta dapat meningkatkan pemahaman konsep siswa terhadap materi yang pada akhirnya dapat meningkatkan hasil belajarnya. C. Keterbatasan Penelitian Meskipun modul Spermatophyta yang dihasilkan dalam penelitian ini dinyatakan layak untuk diimplementasikan dalam pembelajaran biologi berdasarkan tinjauan hasil validasi dan implementasi, dalam penelitian ini tidak terlepas dari keterbatasan diantaranya:
109 1. Pengembangan modul bagi peneliti barulah merupakan kali pertama sehingga masih terdapat banyak kekurangan pada tahap validasi dan uji coba. Oleh karena itu membutuhkan waktu yang cukup lama untuk menyelesaikan seluruh proses penelitian. 2. Keterbatasan akses transportasi dan telekomunikasi menjadi kendala serius dalam menjangkau lokasi penelitian dan melakukan bimbingan dengan dosen pembimbing. 3. Modul yang dikembangkan hanya mencakup materi Spermatophyta sehingga hanya sedikit kontribusi yang bisa diberikan bagi pembelajaran biologi di sekolah. 4. Pengujian modul Spermatophyta masih terbatas pada satu sekolah dengan sampel yang terbatas, sehingga masih diperlukan pengujian dalam skala yang lebih luas agar dapat lebih dipastikaan keefektifan modul Spermatophyta dalam meningkatkan kemandirian dan penguasaan konsep peserta didik.
110 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Pengembangan Produk Berdasarkan hasil penelitian dan pengembangan modul Spermatophyta yang telah dilakukan, adapun yang menjadi kesimpulan adalah sebagai berikut: 1. Modul Spermatophyta berbasis GDL terintegrasi potensi tumbuhan lokal termasuk dalam kategori layak berdasarkan penilaian ahli materi, ahli media, ahli pembelajaran, guru biologi dan peserta didik pada tahap validasi dan uji coba terbatas. 2. Hasil analisis yang ditempuh melalui uji Independent Sample T-Test dan tafsiran N-gain score menunjukkan bahwa pembelajaran modul Spermatophyta berbasis GDL terintegrasi potensi tumbuhan lokal cenderung tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap peningkatan kemandirian belajar peserta didik. Meskipun cenderung tidak efektif, perbandingan nilai rata-rata kelas eksperimen yang cenderung lebih tinggi dari kelas kontrol menjadi indikator bahwa pembelajaran modul Spermatophyta cenderung lebih baik dibandingkan dengan pembelajaran konvensional pada kelas kontrol. Kecenderungan peningkatan kemandirian belajar peserta didik yang relatif rendah kemungkinan disebabkan oleh singkatnya durasi perlakuan pembelajaran, dan pembelajaran modul baru merupakan kali pertama bagi peserta didik SMAN 4 Pulau Taliabu. 3. Hasil analisis uji Independent Sample T-Test dan tafsiran N-Gain Score menunjukkan bahwa pembelajaran modul Spermatophyta berbasis GDL terintegrasi potensi tumbuhan lokal efektif atau memberikan pengaruh yang signifikan terhadap peningkatan pemahaman konsep peserta didik. Perbandingan nilai-rata kelas eksperimen yang cenderung lebih tinggi dari kelas kontrol setelah melakukan pembelajaran menggunakan modul Spermatophyta menjadi indikator bahwa modul Spermatophyta terintegrasi potensi tumbuhan lokal dengan desain pembelajaran guided discovery dapat menjadi rekomendasi untuk digunakan sebagai bahan ajar atau belajar peserta didik untuk meningkatkan pemahaman konsep materi.
111 B. Saran Pemanfaatan Produk Saran yang dapat diberikan berdasarkan kesimpulan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Modul Spermatophyta yang dihasilkan dalam penelitian ini dapat digunakan untuk pembelajaran biologi pada tingkat SMA/MA kelas X dengan pertimbangan kesamaan potensi tumbuhan lokal daerah masing-masing karena tidak semua daerah memiliki jenis tumbuhan lokal yang sama dan akrab dalam kehidupan sehari-hari peserta didik. 2. Modul Spermatophyta yang dihasilkan dalam penelitian ini masih tersedia dalam bentuk cetak sehingga perlu dikembangkan menjadi modul elektronik (e-module) agar lebih praktis untuk dimanfaatkan pada daerah/sekolah yang telah didukung peralatan elektronik untuk pembelajaran. 3. Modul Spermatophyta yang dihasilkan dalam penelitian ini masih sangat perlu dilakukan uji lanjut skala luas sehingga dapat lebih diketahui efektivitasnya dalam meningkatkan kemandirian belajar dan pemahaman konsep peserta didik.
112 DAFTAR PUSTAKA Afian, T., Ibrahim, M., & Agustini, R. (2014). Pengembangan Perangkat Pembelajaran Sains Berorientasi Guided Discovery Learning untuk Mengajar Kemampuan Berpikir Kreatif dan Penguasaan Konsep. JPPS: Jurnal Penelitian Pendidikan Sains, 4(1), 488–494. https://doi.org/https://doi.org/10.26740/jpps.v4n1.p488-494 Agus, I., & Fitriani. (2019). The Effectiveness of the Guided Discovery Learning (GDL) Method Using a Contextual Approach Reviewed from Mathematical Critical Thinking Ability of Senior High Schoolin Muna District. Jurnal Matematika Dan Pembelajaran, 7(1), 22–34. https://jurnal.iainambon.ac.id/index.php/INT/article/view/1043 Akinbobola, O. A., & Folashade, A. (2010). Analysis of Science Process Skills in West African Senior Secondary School Certificate Physics Practical Examinations in Nigeria. American- Eurasian Journal of Scientific Research, 5(1), 234–240. http://www.idosi.org/aejsr/5(4)10/3.pdf Al-hawamleh, M. S., Alazemi, A. F., Al-jamal, D. A. H., Shdaifat, S. Al, & Gashti, Z. R. (2022). Online Learning and Self-Regulation Strategies : Learning Guides Matter. Hindawi: Education Research International, 2022. https://doi.org/https://doi.org/10.1155/2022/4175854 Anderson, L. W., & Krathwohl, D. R. (2010). Kerangka Landasan Untuk Pembelajaran, Pengajaran dan Asesmen: Revisi Taksonomi Pendidikan Bloom. Pustaka Pelajar. Anwar, M. F. N., Ruminiati, & Suharjo. (2017). Pengembangan Modul Pembelajaran Tematik Terpadu Berbasis Kearifan Lokal Kabupaten Sumenep Kelas IV Subtema Lingkungan Tempat Tinggalku. Jurnal Pendidikan: Teori, Penelitian, Dan Pengembangan, 2(10), 1291–1297. http://journal.um.ac.id/index.php/jptpp/article/view/10059/4793 Aprilia, I., & Suryadarma, I. G. P. (2020). E-module of mangrove ecosystem (emme): development, validation and effectiveness in improving students’ self-regulated. Biosfer, 13(1), 114–129. https://doi.org/10.21009/biosferjpb.v13n1.114-129 Asmani, J. M. (2012). Pendidikan Berbasis Keunggulan Lokal. Diva Press. Bahri, S., Syamsuri, I., & Mahanal, S. (2016). Pengembangan Modul Keanekaragaman Hayati dan Virus Berbasis Model Inkuiri Terbimbing Untuk Siswa Kelas X MAN 1 Malang. Jurnal Pendidikan: Teori, Penelitian, Dan Pengembangan, 1(2), 127– 136. http://journal.um.ac.id/index.php/jptpp/article/view/6113/2570 Barnard-Brak, L., Lan, W. Y., & Paton, V. O. (2010). Profiles in self-regulated learning in the online learning environment. International Review of Research in Open and Distance Learning, 11(1), 61–80. https://doi.org/10.19173/irrodl.v11i1.769 BNSP. (2006). Standar Isi Untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah, Standar Kompetensi aan Kompetensi Dasar SMA/MA. BNSP. Boleng, D. T., Lumowa, S. V. T., Palenewen, E., & Corebima, A. D. (2017). The effect of learning models on biology critical thinking skills of multiethnic students at senior high schools in Indonesia. Problems of Education in the 21st Century, 75(2), 136–143. https://doi.org/10.33225/pec/17.75.136 Butler, D. L. (2010). Individualizing Instruction in Self-Regulated Learning. Theory Into
113 Practice, 41(2), 81–92. https://doi.org/https://doi.org/10.1207/s15430421tip4102_4 Dabbagh, N., & Kitsantas, A. (2012). Personal Learning Environments, Social Media, And Self-Regulated Learning: A Natural Formula for Connecting Formal and Informal Learning. Internet and Higher Education, 15(1), 3–8. https://doi.org/10.1016/j.iheduc.2011.06.002 Daryanto. (2013). Menyusun Modul Bahan Ajar Untuk Persiapan Guru Mengajar. Gava Media. Eggen, P., & Don, K. (2012). Strategi & Model Pembelajaran Mengajarkan Keterampilan Konten & Keterampilan Berfikir. Indeks. Eriyanto, M. G., Roesminingsih, M. V, & Soeherman, I. K. (2021). The Effect of Learning Motivation on Learning Independence and Learning Outcomes of Students in the Package C Equivalence Program. 2(4), 455–467. https://doi.org/https://doi.org/10.46245/ijorer.v2i4.122 Faridah, L. A., Sari, M. S., & Ibrohim. (2017). Analisis Pengembangan Perangkat Pembelajaran dan Pemanfaatan Potensi Lokal Sebagai Sumber Belajar Biologi SMA di Lamongan. Prosiding TEP & PDS, 27(4), 363–371. https://pasca.um.ac.id/conferences/index.php/sntepnpdas/article/view/887 Fitriana, D. E. N., Amelia, E., & Marianingsih, P. (2017). Penyusunan Modul Pembelajaran Berbasis Sains Teknologi dan Masyarakat (STM) Pada Konsep Bioteknologi (Sebagai Bahan Ajar Siswa SMA Kelas XII). BIOSFER: JURNAL PENDIDIKAN BIOLOGI (BIOSFERJPB), 10(2), 60–72. http://journal.unj.ac.id/unj/index.php/biosfer/article/view/5079 Goodman, & Books., S. E. I. B. (1999). Goodman, & Smart. (1999). Emotional Intelligence. Bantam Books. Bantam Books. Guilford, J. P. (1950). Fundamental Statistic in Psychology and Education. Mcgraw-Hill Book Company, Inc. Haka, N. B., Anggoro, B. S., Hamid, A., Novitasari, A., Handoko, A., & Puspita, L. (2020). The Development of Biology Module Based on Local Wisdom of West Lampung: Study of Ecosystem Material. Journal of Physics: Conference Series, 1467(1). https://doi.org/10.1088/1742-6596/1467/1/012013 Hake, R. R. (1999). Analyzing change/gain scores. In Research Association’s Devision.D, Measurement and Reasearch Methodology. http://www.physics.indiana.edu/nsdi/AnalyzingChange-Gain.pdf. Hamalik, O. (2002). Pendidikan Guru Berdasarkan Pendekatan Kompetensi. Bumi Aksara. Hanafiah, N. (2012). Konsep Strategi Pembelajaran. Rafika Aditama. Hargaini, K. N., & Violita. (2019). Learning Materials of Biodiversity and Ecosystem for. International Journal of Progressive Sciences and Technologies (IJPSAT), Vol. 14 No(2019), 301–307. http://ijpsat.ijsht-journals.org Hartati, S., & Putri, D. H. (2019). Analysis of Needs for the Development of Learning Module Helpful Learning Journal on Environmental Change Materials. International Journal of Progressive Sciences and Technologies (IJPSAT), Vol. 15
114 No, 157–160. https://ijpsat.org/index.php/ijpsat/article/view/1080/559 Hosnan, M. (2014). Pendekatan Saintifik dan Kontekstual Dalam Pembelajaran Abad 21. Ghalia Indonesia. Ismiati, I. (2020). Pembelajaran Biologi SMA Abad ke-21 Berbasis Potensi Lokal : Review Potensi di Kabupaten Nunukan-Kalimantan Utara The 21 st Century High School Biology Learning Based on Local Potency : Review of Potency in Nunukan Regency , North Kalimantan. 4(2), 234–247. https://journalcenter.litpam.com/index.php/e-Saintika/article/view/218 Kimbal, J. W. (1983). Biologi Edisi Kelima Jilid 3. Terjemahan Siti Soetarmi Tjitrosomo, Nawangsari Sugiri (V). Erlangga. Lathifah, I. N., & Wilujeng, I. (2016). The Development of Learning Kit of Integrated Science Based on Local Wisdom. Jurnal Pendidikan Matematika Dan Sains, 4(2), 120–129. https://journal.uny.ac.id/index.php/jpms/article/view/12943 Leksono, S. M., Syachruroji, A., & Marianingsih, P. (2015). Development of biology conservation teaching materials based on ethnopedagogy. Jurnal Kependidikan Penelitian Inovasi Pembelajaran, 45(2), 168–183. https://journal.uny.ac.id/index.php/jk/article/view/7494/6491 Majid, A. (2013). Perencanaan Pembelajaran. Remaja Rosdakarya. Maknun, J. (2020). Implementation of Guided Inquiry Learning Model to Improve Understanding Physics Concepts and Critical Thinking Skill of Vocational High School Students. International Education Studies, 13(6), 117. https://doi.org/10.5539/ies.v13n6p117 Maryono. (2016). The Implementation of Schools’ Policy in the Development of the Local Content Curriculum in Primary Schools in Pacitan, Indonesia. Educational Research and Reviews, 11(8), 891–906. https://doi.org/10.5897/ERR2016.2660 Marzuki, M. ., Ramli, M., & Sugiyarto, S. (2017). Pengembangan Modul Plantae berbasis Guided Discovery Learning Terintegrasi Potensi Lokal untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis Siswa SMA Lombok Timur. Bioedukasi: Jurnal Pendidikan Biologi, 10(2), 47–54. https://jurnal.uns.ac.id/bioedukasi/article/view/15276 Masrun. (1986). Studi Mengenai Kemandirian Pada Penduduk Dari Tiga Suku Bangsa (Jawa, Batak, Bugis). Laporan Penelitian. https://repository.ugm.ac.id/135387/ Mauseth, J. D. (2016). Botany. An Introduction to Plant Biology. In Kew Bulletin (Vol. 27, Issue 2). https://doi.org/10.2307/4109487 Moore, M. G., & Diehl, W. C. (2019). Handbook of Distance Education (Fourth edi). Routledge. https://doi.org/10.4324/9781315296135 Mudjiman, H. (2008). Belajar Mandiri (Self-Motivated Learning). LPP UNS. Mulyadi, S., Basuki, A. M. H., & Rahardjo, W. (2017). Psikologi Pendidikan Dengan Pendekatan Teori-Teori Baru Dalam Psikologi. Rajawali Pers. Mumpuni, K. E., Susilo, H., & Rohman, F. (2013). The Potential of Local Plants as a Source of Learning Biology Seminar Nasional XI Pendidikan Biologi FKIP UNS
115 Hasil Penelitian dan Pembahasan Tumbuhan Lokal. 825–829. https://www.researchgate.net/publication/338853612 Nasution, S. (2006). Berbagai Pendekatan Dalam Proses Belajar dan Mengajar. Bumi Aksara. Nofiana, M., & Julianto, T. (2018). Upaya Peningkatan Literasi Sains Siswa Melalui Pembelajaran Berbasis Keunggulan Lokal. BIOSFER Jurnal Tadris Pendidikan Biologi, 9(1), 24–35. http://103.88.229.8/index.php/biosfer/article/view/2876 Novana, T., Maridi, & Sajidan. (2014). Pengembangan Modul Inkuiri Terbimbing Berbasis Potensi Lokal Pada Materi Tumbuhan Lumut (Bryophyta ) dan Tumbuhan Paku (Pteridophyta). Jurnal Inkuiri, 3(2), 108–122. https://jurnal.fkip.uns.ac.id/index.php/inkuiri/article/view/4634 Noviana, M., & Prayitno, A. (2020). Pengaruh Model Guided Discovery Learning Terhadap High Order Thinking Skills Siswa Kelas XI. Jurnal Bio Education, 5(1), 1–10. https://www.jurnal.unma.ac.id/index.php/BE/article/view/1595/1757 Phanphech, P., Tanitteerapan, T., & Murphy, E. (2019). Explaining and enacting for conceptual understanding in secondary school physics. Issues in Educational Research, 29(1), 180–204. https://eric.ed.gov/?id=EJ1203436 Prastowo, A. (2015). Panduan Kreatif Membuat Bahan Ajar Iovatif. Diva Press. Pratiwi, I. D., & Laksmiwati, H. (2016). Kepercayaan Diri dan Kemandirian Belajar Pada Siswa SMA Negeri “X.” Jurnal Psikologi Teori Dan Terapan, 7(1), 43. https://doi.org/10.26740/jptt.v7n1.p43-49 Puspadita, D. D. (2018). Hubungan Kemandirian Belajar dan Fasilitas Belajar Dengan Hasil Belajar Biologi Kelas XI IPA SMA N 2 Koto XI Tarusan. Skripsi. http://repo.stkip-pgri-sumbar.ac.id/id/eprint/6241/4/12010089 DEASTY DWI PUSPADITA SKRIPSI.pdf Putri, S. K., Hasratuddin, H., & Syahputra, E. (2019). Development of Learning Devices Based on Realistic Mathematics Education to Improve Students’ Spatial Ability and Motivation. International Electronic Journal of Mathematics Education, 14(2), 243–252. https://doi.org/10.29333/iejme/5729 Rama Yeni, Y., Syarifuddin, H., & Ahmad, R. (2019). The effect of contextual teaching and learning approach and motivation of learning on the ability of understanding the mathematics concepts of grade v student. IOP Conference Series: Earth and Environmental Science, 314(1). https://doi.org/10.1088/1755-1315/314/1/012064 Riduwan. (2007). Skala Pengukuran Variabel-Variabel Penelitian. Bandung: Alfabeta. Alfabeta. Rindah, M. A. K., Dwiastuti, S., & Rinanto, Y. (2019). Excretory system learning in senior high school: Comparative analysis of students’ problem solving skills. Biosfer: Jurnal Pendidikan Biologi, 12(2), 249–257. https://doi.org/https://doi.org/10.21009/biosferjpb.v12n2.249-257 Roestyah. (2012). Strategi Belajar Mengajar. PT Rineka Cipta. Romadhoni, A. A., & Witir, D. W. (2019). Internalisasi Nilai Kearifan Lokal Indonesia Melalui Pembelajaran Untuk Membangun Karakter Generasi Muda Jaman Now.
116 JURNAL PENDIDIKAN SEJARAH INDONESIA (JPSI), 2(1), 24–37. http://journal2.um.ac.id/index.php/sejarah/article/view/9929/4459 Rusdi, R., Evriyani, D., & Praharsih, D. K. (2016). Pengaruh model pembelajaran peer instruction flip dan flipped classroom terhadap hasil belajar kognitif siswa pada materi sistem ekskresi. Biologi: Jurnal Pendidikan Biologi, 9(1), 15–19. https://doi.org/https://doi.org/10.21009/biosferjpb.9-1.3 Rusman. (2010). Model-Model Pembelajaran (2 (ed.)). PT Raja Grafindo Persada. Rustaman, N. (2017). Strategi Belajar Mengajar Biologi. UM Press. Saefuddin, A., & Berdiati, I. (2014). Pembelajaran Efektif. PT Remaja Rosdakarya. Sanjaya, W. (2013). Perencanaan & Desain Sistem Pembelajaran. Kencana. Santoso, R. (2020). Pengembangan Bahan Ajar PPKn Berbasis Kearifan Lokal Guna Meningkatkan Ketahanan Budaya Melalui Pemahaman Konsep Keberagaman. JURNAL KETAHANAN NASIONAL, 26(2), 229–248. https://jurnal.ugm.ac.id/jkn/article/view/56926 Saputra, A., & Advinda, L. (2018). Learning Material of Coordination System for Islamic Senior High School Students. International Journal of Progressive Sciences and Technologies (IJPSAT), 11(1), 55–60. Shieh, C., & Yu, L. (2016). A Study on Information Technology Integrated Guided Discovery Instruction towards Students ’ Learning Achievement and Learning Retention. Eurasia Journal of Mathematics, Science & Technology Education, 12(15), 833–842. https://doi.org/10.12973/eurasia.2015.1554a Shipunov, A. (2021). Introduction to botany,. In Introduction to botany,. https://doi.org/10.5962/bhl.title.54988 Simamora, R. E., Saragih, S., & Hasratuddin, H. (2018). Improving Students’ Mathematical Problem Solving Ability and Self-Efficacy through Guided Discovery Learning in Local Culture Context. International Electronic Journal of Mathematics Education, 14(1), 61–72. https://doi.org/10.12973/iejme/3966 Siregar, E., & Nara, H. (2010). Teori Belajar dan Pembelajaran. Ghalia Indonesia. Situmorang, R. (2016). Analisis Potensi Lokal Untuk Mengembangkan Bahan Ajar Biologi di Sma Negeri 2 Wonosari. Jurnal Pendidikan Sains Universitas Muhammadiyah Semarang, 4(1), 51–57. https://jurnal.unimus.ac.id/index.php/jpkimia/article/view/1938 Situmorang, R. P. (2016). Analisis Potensi Lokal Untuk Mengembangkan Bahan Ajar Biologi di SMA Negeri 2 Wonosari. Jurnal Pendidikan Sains Universitas Muhammadiyah Semarang, 04(1), 51–57. https://jurnal.unimus.ac.id/index.php/jpkimia/article/view/1938 Subali, B. (2016). Pengembangan tes beserta penyelidikan validitas dan reliabilitas secara empiris. UNY Press. Sudjana, N., & Rivai, A. (2007). Teknologi Pengajaran. Sinar Baru Algensindo. Sugiyono. (2019). Metode Penelitian Pendidikan. Alfabeta.
117 Suryanda, A., Ernawati, & Maulana, A. (2016). Pengembangan Modul Multimedia Mobile Learning Dengan Android Studio 4.1 Materi Keanekaragaman Hayati Bagi Siswa SMA Kelas X. BIOSFER: JURNAL PENDIDIKAN BIOLOGI (BIOSFERJPB), 9(1), 55–64. http://journal.unj.ac.id/unj/index.php/biosfer/article/view/5580 Suryosubroto. (2009). Proses Belajar Mengajar Di Sekolah. Rineka Cipta. Suwangsih, E., & Tiurlina. (2006). Model Pembelajaran Matematika. UPI Press. Syaifurrahman, & Ujiati, T. (2013). Menejemen Dalam Pembelajaran. PT Indeks. Syamsussabri, M., Sueb, & Suhadi. (2019). Kelayakan Modul Pencemaran Lingkungan Berbasis Environmental Worldview dan Environmental Attitudes. Jurnal Pendidikan Teori, Penelitian Dan Pengembangan, 4(9), 1207–1212. Syukri, & Razak, A. (2021). Analysis Of The Need For Contextual Teaching And Learning (Ctl) Based Learning Module For Ecological Materials And Environmental Changes. International Journal of Progressive Sciences and Technologies (IJPSAT), Vol. 26 No, 205–209. https://ijpsat.org/index.php/ijpsat/article/view/2893/1900 Tamimiya, K. T., & Suryadarma, I. G. P. (2019). Potensi lokal Gunung Ijen untuk pemahaman konsep dan berpikir kreatif pengurangan resiko bencana Mount Ijen ’ s local potential to understanding concept and creative thinking of disaster risk reduction. 5(1), 117–128. https://journal.uny.ac.id/index.php/jipi/article/view/25702/12509 Thoha, M. C. (1996). Kapita Selekta Pendidikan Islam. Pustaka Pelajar. Tjitrosoepomo, G. (2005). Morfologi Tumbuhan. Gajah Mada University Press. Trianto. (2008). Mendesain Pembelajaran Kontekstual (Contextual Teaching and Learning) di Kelas. Cerdas Pustaka. Tung, K. Y. (2015). Pembelajaran dan Perkembangan Belajar. PT Indeks. Wilujeng, I., Zuhdan Kun, P., & Suryadarma, I. G. P. (2017). Science learning based on local potential: Overview of the nature of science (NoS) achieved. AIP Conference Proceedings, 1868(August), 1–7. https://doi.org/10.1063/1.4995189 Winataputra. (2008). Teori Belajar dan Pembelajaran. Universitas Terbuka. Yerizon, Y., Putra, A. A., & Subhan, M. (2018). Student Responses Toward Student Worksheets Based on Discovery Learning for Students with Intrapersonal and Interpersonal Intelligence. IOP Conference Series: Materials Science and Engineering, 335(1), 97–101. https://doi.org/10.1088/1757-899X/335/1/012113 Yudha, A., Sufianto, S., Damara, B. E. P., Taqwan, B., & Haji, S. (2019). The Impact of Contextual Teaching and Learning (CTL) Ability in Understanding Mathematical Concepts. 295(ICETeP 2018), 170–173. https://doi.org/10.2991/icetep-18.2019.42 Zimmerman, B. J. (2015). Self-Regulated Learning: Theories, Measures, And Outcomes. International Encyclopedia of the Social & Behavioral Sciences. Scientific Research Publishing, 21(2). https://doi.org/http://dx.doi.org/10.1016/b978-0-08-097086- 8.26060-1
118 Zumbrunn, S., Tadlock, J., & Roberts, E. D. (2011). Encourage Self-Regulated Learning in The Classroom: A Review of the Literature. Metropolitan Educational Research Consortium (MERC), 10, 1–28. https://scholarscompass.vcu.edu/cgi/viewcontent.cgi?article=1017&context=merc _pubs
119 LAMPIRAN 1 1. Panduan Wawancara Guru 2. Instrumen Tinjauan Kebenaran Konsep Esensial Ahli Materi 3. Rekapitulasi Data Tinjauan Kebenaran Konsep 4. Lembar Peryataan Ahli Materi
120 Lampiaran 1A. PANDUAN WAWANCAWA GURU STUDI PENDAHULUAN A. Identitas Responden Nama Guru : NIP : Instansi : B. Pertanyaan 1. Bagaimanakah respon peserta didik terhadap pembelajaran biologi? 2. Berkaitan dengan pengalaman Bapak/Ibu dalam mengajar, bagaimanakah keterlaksanaan pembelajaran biologi pada materi Plantae? 3. Bagaimanakah pencapaian peserta didik dalam pembelajaran biologi khususnya pada materi Plantae? 4. Dalam proses pembelajaran biologi, metode pembelajaran apa yang Bapak/Ibu sering gunakan? 5. Apakah dalam proses pembelajaran biologi terdapat bahan ajar atau sumber belajar lain yang Bapak/Ibu gunakan selain buku paket? 6. Apakah kegiatan pembelajaran biologi sering memanfaatkan lingkungan sekitar sebagai sumber belajar? 7. Apakah Bapak/Ibu pernah menggunakan modul dalam pelaksanaan pembelajaran biologi? 8. Apakah Bapak/Ibu pernah melakukan pengembangan bahan ajar untuk dapat dimanfaatkan dalam proses pembelajaran biologi seperti modul/LKPD dan sejenisnya? 9. Bagaimanakah kemandirian peserta didik dalam melakukan kegiatan pembelajaran biologi? 10. Apakah Bapak/Ibu pernah mengukur tingkat kemandirian peserta didik? 11. Apakah kegiatan pembelajaran biologi telah didukung dengan ketersedian fasilitas jaringan internet? 12. Bagaimana upaya Bapak/Ibu mengatasi keterbatasan kegiatan pembelajaran? 13. Apakah Bapak/Ibu setuju bila dikembangkan modul untuk pembelajaran biologi? 14. Apakah Bapak/Ibu setuju bila modul pembelajaran dikembangkan dengan mengintegrasikan potensi lokal? 15. Menurut Bapak/Ibu apakah kehadiran modul pembelajaran yang terintegrasi potensi lokal dapat memberikan manfaat untuk pembelajaran biologi?
121 Lampiran 1B. INSTRUMEN TINJAUAN KEBENARAN KONSEP-KONSEP ESENSIAL OLEH AHLI MATERI Lembar angket uji kelayakan modul Spermatophyta terintegrasi potensi tumbuhan lokal untuk ahli materi. A. Identitas Ahli Nama : Dr. Drs. Suyitno Aloysius M.S. NIP : 1962010319860111001 Instansi Asal : Jurdik Biologi FMIPA B. Petunjuk Pengisian 1. Lembar angket penilaian ini dimaksudkan untuk mengetahui tinjauan Bapak/Ibu mengenai kebenaran konsep esensial pada modul yang dikembangkan 2. Instrumen aspek kebenaran konsep berisikan item-item pernyataan untuk direviewkan kebenaran konsep-konsep esensialnya 3. Penilaian terhadap modul dilakukan dengan cara memberikan tanda check list (√) pada kolom penilaian dengan ketentuan sebagai berikut: Aspek Kebenaran Konsep 1) Benar : Jika konsep yang disajikan benar 2) Salah : Jika konsep yang disajikan salah 4. Setiap konsep harus mendapat penilaian. Saran dapat dituliskan pada kolom saran/masukan. 5. Jika terdapat kekurangan, saran, dan kritik terhadap modul, mohon dituliskan pada lembar tinjauan yang telah disediakan. 6. Mohon melingkari kesimpulan umum dari hasil penilaian terhadap modul yang dikembangkan. 7. Terima kasih atas kesediaan Bapak/Ibu mengisi lembar angket ini.
12C. Aspek Kebenaran Konsep NO KONSEP Kegiatan Pembelajaran 1 1 Tumbuhan merupakan organisme penting yang menjadi awal bagi proses perolehan nutrisi seluruh makhluk hidup di bumi. 2 Spermatophyta berasal dari bahasa yunani yang terdiri darpenggabungan kata yaitu “sperma” yang berarti biji,“phyton” yang berarti tumbuhan. Meliputi semua tumbberpembuluh yang bereproduksi secara generatif demembentuk biji. 3 Spermatophyta dapat dibedakan dengan jelas bagian-btubuhnya yang meliputi akar, batang, dan daun. 4 Bentuk tubuh Spermatophyta terbagi atas semak, perdu, pdan liana. 5 Spermatophyta yang tergolong dalam semak memiliki cidiantaranya berbatang pendek, merayap, dan berumpun. Salacontohnya adalah rumput teki (Cyperus rotundus). 6 Spermatophyta yang tergolong dalam perdu memiliki cidiantaranya berbentuk seperti pohon namun memiliki batangkecil dan pendek. Salah satu contohnya adalah cabai (Capannuum) atau yang kita kenal dengan nama lokal rica. 7 Spermatophyta yang tergolong dalam pohon memiliki ciberbatang besar dan tinggi. Salah satu contohnya adalah pkelapa (Cocos nucifera). 8 Spermatophyta termasuk dalam kelompok tumbuhan berpemdan memiliki biji sebagai alat perkembangbiakan.
22 PENILAIAN SARAN/MASUKAN Benar Salah kunci muka ri dua , dan buhan engan bagian pohon, iri-ciri ah satu iri-ciri g yang sicum iri-ciri pohon mbuluh
1210 Dalam sistem klasifikasi 5 kingdom, tumbuhan bdigolongkan menjadi dua golongan, yaitu tumbuhan bterbuka (Gymnospermae) dan tumbuhan berbiji ter(Angiospermae). 11 Biji pada tumbuhan terbagi atas beberapa bagian diantaranspermodermis atau kulit biji, 2) funiculus atau tali pusar, dnucleus seminis atau inti biji. 12 Semua tumbuhan berbiji adalah heterospora, yang berarti memdua jenis sporangia berbeda. Megasporangia menghasmegaspora yang akan menjadi gametofit betina, mikrosporangia menghasilkan mikrospora yang akan megametofit jantan. 13 Gymnospermae berasal dari bahasa yunani yang terbagi atakata yaitu “gymnos” yang berarti terbuka/telanjang dan “speyang berarti biji. 14 Gymnospermae terbagi ke dalam empat divisi yaitu CycadopGnetophyta Ginkgophyta, dan Coniferophyta. 15 Secara umum kelompok Gymnospermae memiliki ciri membakal biji yang tidak tertutup oleh buah, berupa perdu atau pdengan batang yang dapat tumbuh membesar dan bercabelum memiliki bunga sejati. Kegiatan Pembelajaran 2 16 Kelompok tumbuhan Spermatophyta yang memiliki biji terdisebut Angiospermae. Disebut biji tertutup karena bterbungkus oleh daging buah. 17 Angiospermae Memiliki alat reproduksi berupa bunga sem(benang sari, putik, bakal buah, bakal biji, mahkota, kelopaktangkai).
23 berbiji berbiji rtutup nya 1) dan 3) miliki silkan dan enjadi as dua erma” phyta, miliki pohon abang, Benar Salah SARAN/MASUKAN rtutup bijinya mpurna k, dan
1218 Pada umumnya Angiospermae dapat berupa pohon, perdu, seliana, atau herba. 19 Angiospermae terbagi lagi menjadi 2 kelas, yaitu: Monocotyledoneae dan kelas Dicotyledoneae 20 Tumbuhan kelas Dicotyledoneae (dikotil) mempunyai ciumum, terutama saat biji berkecambah, biji mempunyai dualembaga yang terbelah menjadi dua bagian. 21 Tumbuhan dikotil mempunyai sistem akar tunggang, Batanakar tumbuhan dikotil berkambium sehingga mengpertumbuhan sekunder (tumbuh membesar). 22 Ciri umum kelas Monocotyledoneae (monokotil) adalah bmempunyai satu daun lembaga yang berfungsi untuk menyermakanan dari endosperma pada saat biji berkecambah. 23 Tumbuhan monokotil mempunyai sistem akar serabut. Batanakar tumbuhan Monokotil tidak berkambium, sehingga mengalami pertumbuhan sekunder. 24 Kelapa (Cocos nucifera L.) adalah jenis tumbuhan dari Spermatophyta berbiji tertutup (Angiospermae) kelas monyang banyak memberikan maafaat bagi kehidupan masyalokal 25 Pala (Myristika fragrans) termasuk dalam jenis tumbunggulan lokal yang merupakan bagian kelompok tumbberbiji tertutup (Angiospermae) dari kelas dikotil. Catatan: ……………………………………………………………………………………………………………………………
24 emak, kelas iri-ciri a daun ng dan galami bijinya rap zat ng dan tidak divisi okotil arakat buhan buhan ………………………………………………………………… …………………………………………………………………
12………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………Kesimpulan: Produk (modul) yang dikembangkan dinyatakan: 1. Layak diujicobakan di lapangan tanpa revisi 2. Layak diujicobakan di lapangan dengan revisi 3. Tidak layak diujicobakan di lapangan *) Lingkari salah satu
25 ………………………………………………………………… ………………………………………………………………… ………………………………………………………………… Yogyakarta, 2022 Ahli Materi Dr. Drs. Suyitno Aloysius M.S. NIP. 1962010319860111001
126 Lampiran 1C. LEMBAR PERNYATAAN AHLI MATERI Saya yang bertanda tangan di bawah ini: Nama : Dr. Drs. Suyitno Aloysius M.S. NIP : 1962010319860111001 Instansi Asal : Jurdik Biologi FMIPA Menyatakan bahwa telah memberikan penilaian dan masukan terhadap modul yang dikembangkan dalam tugas akhir tesis dengan judul: Pengembangan Modul Spermatophyta Berbasis GDL Terintegrasi Potensi Tumbuhan Lokal Untuk Meningkatkan Pemahaman Konsep dan Kemandirian Belajar Siswa SMAN 4 Pulau Taliabu. Dari Mahasiswa: Nama : Rifai Kasman NIM : 20725251027 Program studi : Pendidikan Biologi Pascasarjana UNY Harapan saya, masukan dan penilaian yang diberikan dapat menyempurnakan produk yang dikembangkan sehingga bermanfaat bagi pelaksanaan pembelajaran dan tugas akhir mahasiswa yang bersangkutan. Yogyakarta, 11 April 2022 Ahli Materi Dr. Drs. Suyitno Aloysius M.S. NIP.1962010319860111001
127 LAMPIRAN 2 1. Instrumen Tinjauan Relevansi Dan Signifikansi Desain Pembelajaran Oleh Ahli Pembelajaran 2. Lembar Peryataan Ahli Pembelajaran 3. Rekapitulasi data Angket Tinjauan Relevansi dan Signifikansi Desain Pembelajaran
128 Lampiran 2A. INSTRUMEN TINJAUAN RELEVANSI DAN SIGNIFIKANSI DESAIN PEMBELAJARAN OLEH AHLI PEMBELAJARAN Lembar angket uji kelayakan modul Spermatophyta terintegrasi potensi tumbuhan lokal untuk ahli pembelajaran. A. Identitas Ahli Nama : NIP : Instansi : B. Petunjuk Pengisian 2. Lembar angket penilaian ini dimaksudkan untuk mengetahui tinjauan Bapak/Ibu mengenai relevansi dan signifikansi pada aspek desain pembelajaran modul yang dikembangkan; 3. Instrumen aspek desain pembelajaran berisi Item-item penyataan terkait relevansi dan signifikansi modul yang dikembangkan. 4. Penilaian terhadap modul dilakukan dengan cara memberikan tanda check list (√) pada kolom penilaian dengan ketentuan sebagai berikut: 1) Sangat tidak baik 2) Tidak baik 3) Baik 4) Sangat baik 5. Setiap item pernyataan harus mendapat penilaian. Saran dapat dituliskan pada kolom saran/masukan. 6. Jika terdapat kekurangan, saran, dan kritik terhadap modul, mohon dituliskan pada lembar tinjauan yang telah disediakan. 7. Mohon melingkari kesimpulan umum dari hasil penilaian terhadap modul yang dikembangkan. 8. Terima kasih atas kesediaan Bapak/Ibu mengisi lembar angket ini.
129 C. Aspek pembelajaran No Indikator Skor Saran/Masukan 1 2 3 4 1 Kesesuaian KD dengan indikator, materi, kegiatan belajar, sumber, dan evaluasi. 2 Kebenaran uraian materi kegiatan pembelajaran 1 (Gymnospermae) dapat dipertanggungjawabkan 3 Kebenaran penyajian data klasifikasi tumbuhan pada kegiatan pembelajaran 1 4 Kebenaran uraian materi kegiatan pembelajaran 2 (Angiospermae) dapat dipertanggungjawabkan 5 Kebenaran penyajian data klasifikasi tumbuhan pada kegiatan pembelajaran 2 6 Kesesuaian peta konsep dengan uraian materi pembelajaran 7 Kesesuaian materi pembelajaran dengan indikator pencapaian kompetensi. 8 Ketepatan rumusan indikator untuk dapat diukur dan diobservasi. 9 Kesesuaian materi dengan tingkat perkembangan peserta didik. 10 Signifikansi cakupan kedalaman dan keluasan isi materi. 11 Keruntutan penyajian materi. 12 Kejelasan pengantar tiap sub materi 13 Kejelasan dan kecukupan contoh yang diberikan 14 Kesesuaian jenis soal dengan tuntutan kompetensi dasar 15 Ketepatan bentuk kegiatan sebagai pembelajaran yang berpusat pada peserta didik
130 16 Ketepatan pemilihan sumber belajar. 17 Sumber belajar mampu mendukung tercapainya KD. 18 Relevansi materi pembelajaran (Spermatophyta) dengan potensi lokal. (pala, cengkeh, kelapa) 19 Relevansi sajian data pada modul materi Plantae yang berbasis potensi lokal 20 Kemudahan sajian materi untuk dipahami siswa Sumber: Diadaptasi dan dimodifikasi dari Irma Aprilia, (2019) tesis UNY Catatan: ……………………………………………………………………………… ........................................................................................................................ ........................................................................................................................ ........................................................................................................................ ........................................................................................................................ Kesimpulan: Produk (modul) yang dikembangkan dinyatakan: 2. Layak diujicobakan di lapangan tanpa revisi 3. Layak diujicobakan di lapangan dengan revisi 4. Tidak layak diujicobakan di lapangan *) Lingkari salah satu Taliabu, 2022 Ahli Pembelajaran ……………………………... NIP.
131 Lampiran 2B. LEMBAR PERNYATAAN AHLI PEMBELAJARAN Saya yang bertanda tangan di bawah ini: Nama : Nasar La Parintah S.Pd NIP : 197408122005011010 Instansi Asal : SMA Negeri 4 Pulau Taliabu Menyatakan bahwa telah memberikan penilaian dan masukan terhadap modul yang dikembangkan dalam tugas akhir tesis dengan judul: Pengembangan Modul Spermatophyta Berbasis GDL Terintegrasi Potensi Tumbuhan Lokal Untuk Meningkatkan Pemahaman Konsep dan Kemandirian Belajar Siswa SMAN 4 Pulau Taliabu. Dari Mahasiswa: Nama : Rifai Kasman NIM : 20725251027 Program studi : Pendidikan Biologi Pascasarjana UNY Harapan saya, masukan dan penilaian yang diberikan dapat menyempurnakan produk yang dikembangkan sehingga bermanfaat bagi pelaksanaan pembelajaran dan tugas akhir mahasiswa yang bersangkutan. Taliabu, 2022 Ahli Pembelajaran Nasar La Parintah S.Pd NIP. 197408122005011010
132 Lampiran 2C. Rekapitulasi Penilaian Relevansi dan Signifikansi Desain Pembelajaran Oleh Ahli Pembelajaran Nomor Butir Indikator Skor 1 Kesesuaian KD dengan indikator, materi, kegiatan belajar, sumber, dan evaluasi. 4 2 Kebenaran uraian materi kegiatan pembelajaran 1 (Gymnospermae) dapat dipertanggungjawabkan 4 3 Kebenaran penyajian data klasifikasi tumbuhan pada kegiatan pembelajaran 1 3 4 Kebenaran uraian materi kegiatan pembelajaran 2 (Angiospermae) dapat dipertanggungjawabkan 4 5 Kebenaran penyajian data klasifikasi tumbuhan pada kegiatan pembelajaran 2 3 6 Kesesuaian peta konsep dengan uraian materi pembelajaran 4 7 Kesesuaian materi pembelajaran dengan indikator pencapaian kompetensi. 4 8 Ketepatan rumusan indikator untuk dapat diukur dan diobservasi. 4 9 Kesesuaian materi dengan tingkat perkembangan peserta didik. 3 10 Signifikansi cakupan kedalaman dan keluasan isi materi. 4 11 Keruntutan penyajian materi. 4 12 Kejelasan pengantar tiap sub materi 4 13 Kejelasan dan kecukupan contoh yang diberikan 4 14 Kesesuaian jenis soal dengan tuntutan kompetensi dasar 4 15 Ketepatan bentuk kegiatan sebagai pembelajaran yang berpusat pada peserta didik 4 16 Ketepatan pemilihan sumber belajar. 4 17 Sumber belajar mampu mendukung tercapainya KD. 4 18 Relevansi materi pembelajaran (Spermatophyta) dengan potensi lokal. (pala, cengkeh, kelapa) 4 19 Relevansi sajian data pada modul materi Plantae yang berbasis potensi lokal 4 20 Kemudahan sajian materi untuk dipahami siswa 4 Jumlah Catatan: dipertahankan dan dikembangkan lagi Konversi skor ke nilai 100: x 100 = 96,25 Skor maksimal : 80 Skor minimal : 20 77 80