The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Novel Romance Repository, 2023-10-25 22:56:14

NEVER BE THE SAME

NEVER BE THE SAME

http://facebook.com/indonesiapustaka


NEVER BE THE SAME http://facebook.com/indonesiapustaka


Undang-undang Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2002 Tentang Hak Cipta Lingkup Hak Cipta Pasal 2: 1. Hak Cipta merupakan hak eksklusif bagi Pencipta atau Pemegang Hak Cipta untuk mengumumkan atau memperbanyak ciptaannya, yang timbul secara otomatis setelah suatu ciptaan dilahirkan tanpa mengurangi pembatasan menurut peraturan perundangan-undangan yang berlaku. Ketentuan Pidana: Pasal 72 1. Barangsiapa dengan sengaja melanggar dan tanpa hak melakukan perbuatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 Ayat (1) atau Pasal 49 Ayat (1) dan Ayat (2) dipidana dengan pidana penjara masingmasing paling singkat 1 (satu) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp1.000.000,00 (satu juta rupiah), atau pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun dan/atau denda paling banyak Rp5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah). 2. Barangsiapa dengan sengaja menyiarkan, memamerkan, mengedarkan, atau menjual kepada umum suatu ciptaan atau barang hasil pelanggaran hak cipta atau hak terkait sebagai dimaksud pada Ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah). http://facebook.com/indonesiapustaka


Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama Jakarta, 2009 Monica Petra NEVER BE THE SAME http://facebook.com/indonesiapustaka


Dicetak oleh Percetakan PT Gramedia, Jakarta Isi di luar tanggung jawab Percetakan NEVER BE THE SAME oleh: Monica Petra GM 312 01 09 0031 Editor: Donna Widjajanto Ilustrasi sampul: eMTe © PT Gramedia Pustaka Utama Jl. Palmerah Barat 29–37 Blok 1, Lt. 4–5 Jakarta 10270 Hak cipta dilindungi oleh undang-undang Diterbitkan pertama kali oleh Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama anggota IKAPI Jakarta, September 2009 208 hlm; 20 cm ISBN: 978 - 979 - 22 - 4903 - 3 http://facebook.com/indonesiapustaka


Sebab dahulu kamu sesat seperti domba, tetapi sekarang kamu telah kembali kepada gembala dan pemelihara jiwamu. (1 Petrus 2:25) http://facebook.com/indonesiapustaka


http://facebook.com/indonesiapustaka


7 BETRA memandang lapangan basket dengan tatapan berbinar-binar. Tiupan angin sepoi-sepoi yang menerpa wajah membuatnya makin terbuai perasaannya sendiri. Hatinya berdebar tak keruan dan bibirnya tak kuasa menahan senyum mautnya yang makin lebar lima senti lagi. Hans yang sedari tadi menemaninya duduk makan di kantin jadi ngeri sendiri melihatnya. ”Heh,” Hans menyenggol Betra sekali. Bergeming. ”Hei, liat apaan sih?” seru Hans akhirnya tepat di telinga Betra. Baru deh konsentrasi sahabatnya itu pecah. ”Aduh, Hans! Kamu ini apa-apaan sih?!” Betra balas berteriak, menghirup cola-nya, lalu kembali asyik memandangi segerombolan cowok yang basah kuyup lantaran sibuk berebut bola oranye di tengah lapangan. ”Idih, galak amat. Apa sih bagusnya Fredy?” cemooh SATU http://facebook.com/indonesiapustaka


8 Hans menjawab pertanyaannya sendiri. Sebal juga ia diperlakukan kasar oleh Betra. ”Perfect,” kalimat itu meluncur keluar dari bibir mungil Betra yang dilapisi lipgloss. ”Bah! Segitunya. Bagusan juga aku,” kata Hans tidak mau kalah. Pasalnya, sebagai seorang lelaki nalurinya untuk terlihat sebagai yang PALING terasa tersaingi. Paling hebat, paling pintar, paling jago, paling keren, paling cakep… Lagi pula Fredy hanyalah anak pindahan dari Bandung yang masuk kelas IPA. IPA gitu lohh…? ”Hah, tau gini aku dulu seharusnya masuk kelas IPA nih,” kata Betra sambil memutar-mutar sedotannya di dalam botol. Mata cewek itu tidak lepas menerawangi Fredy yang baru saja berhasil merebut bola dari salah seorang lawan mainnya. ”Ck, sok kamu. Udah bagus di kelas IPS! Sekelas sama aku, ya nggak? Daripada masuk IPA tapi nggak bisa lulus?” ucap Hans sambil terkekeh-kekeh senang. Sulit rasanya membayangkan Betra memakai jas lab dan berdiri di depan mikroskop tanpa tahu apa yang harus dikerjakan. Betra yang mulai kesal melayangkan tinju ke lengan Hans. ”Bawel amat sih? Nggak ada yang nggak mungkin, tau!” Baru saja mereka saling melancarkan serangan, dari arah lapangan basket para atlet berhamburan menuju kantin. Sudah selesai latihan rupanya. Melihat Fredy masuk bersama teman-temannya, Betra langsung pasang aksi lemah lembut. Namun, rombongan Fredy tidak memperhatikannya sama sekali. Melirik pun tidak. Mereka terus lewat http://facebook.com/indonesiapustaka


9 dengan cool-nya sambil tertawa-tawa entah karena apa. Agak mencelos juga hati Betra. ”Kasian deh lo!” goda Hans tak dapat menahan diri. Rasanya tiap kali seorang cewek mengagumi seorang cowok populer pasti ada aja kejadian seperti ini. Dan Betra adalah salah satu korbannya. ”Uh, nggak pa-pa, lagi. Dia kan emang nggak kenal aku. Eh, tapi tau nggak? Tadi waktu dia lewat, wangi banget loh!” ”Yeee… Gila. Aku nggak nyium wangi apa-apa kok. Yang ada malah bau keringet!” Hans pura-pura menutup hidungnya. ”Eh, udah deh bercandanya! Aku serius! Fredy tuh tadi wangi banget. Nggak kayak cowok-cowok lain yang jorok.” Sementara di belakang mereka, para fans Fredy sibuk meladeni cowok itu dengan berbagai servis spesial. Beberapa cewek memberikan handuk-handuk kering dan berebut ingin menyeka keringatnya. Yang lain lagi menyodorkan minuman dingin. ”Amit-amit. Norak banget sih mereka! Kamu nggak ikutan sekalian, Be?” Hans berbalik sambil bergidik jijik. ”Andai aku bisa jadi salah satu dari antara mereka,” ucap Betra manggut-manggut. Hans hanya bisa gelenggeleng kepala. Ia tak paham jalan pikiran anak perempuan yang sedang jatuh cinta. ”Iya, sudah cukup. Terima kasih,” ujar Fredy formal sambil menepis semua benda dan tangan yang terarah padanya. Ia hanya menunduk tidak senang dan berjalan cepat. http://facebook.com/indonesiapustaka


10 ”Cih, apa-apaan sih tuh cowok! Sok cakep banget!” sungut Hans yang sedikit-banyak merasa iri juga. ”Ah, cool…,” ucap Betra yang tak henti-hentinya memuji-muji. ”Itu berarti dia bukan tipikal cowok gampangan! Bukan cowok yang suka mempermainkan perasaan wanita. SETIA!” Betra menekankan kata itu tepat di telinga Hans. ”Betapa beruntung cewek yang jadi pacarnya kelak. Haa…” Cewek-cewek yang sudah ditolak Fredy itu tetap berjuang dengan gigih. Mereka terus mengejarnya tapi beberapa ada pula yang sudah puas dengan tangannya ditepis oleh Fredy. Cewek itu langsung memandangi tangannya terus-menerus seakan baru saja disentuh oleh Sri Paus. Berikutnya, muncul Simon, teman sekelas Betra dan Hans yang sangat baik. Rambutnya keriting, berkacamata, dan selalu mengenakan kalung salib di leher. Jika sedang mengobrol ia suka sekali mengutip ayat-ayat Alkitab sampai-sampai semua temannya merasa tidak nyaman. Tidak ada yang percaya saat Simon bilang cita-citanya ingin menjadi seniman. Semua hanya bisa menahan tawa saat mendengarnya. Semua bertaruh seharusnya Simon menjadi pendeta. Itu lebih sesuai untuknya. Ya, melakukan misi, menyelamatkan banyak jiwa, bekerja di ladang Tuhan, dan semacamnya. Tapi tidak seorang pun yang berani menyakiti perasaan Simon. ”Ssstt! Pak Pendeta lewat!” desis Hans pada temantemannya yang ada di kantin. Semua yang mengenalnya langsung kasak-kusuk dan berpura-pura alim. Yang menyulut rokok langsung dimatikan, yang sedang asyik pacar- http://facebook.com/indonesiapustaka


11 an dengan pangku-pangkuan sambil berpegangan tangan langsung duduk sendiri-sendiri. Simon jarang sekali duduk bareng teman-temannya saat makan di kantin. Sebagai seorang Kristiani taat ia lebih suka duduk di samping anak-anak yang sedang duduk sendirian, kesepian, tampak murung… lalu ia akan menghiburnya, mengajak bicara tentang apa saja. Jika mereka benar-benar membutuhkan, mereka bisa menjadi akrab dengan Simon. Sebaliknya jika Simon salah sasaran, orang itu tidak akan terlalu menggubrisnya. Terkadang ada orangorang yang memang sedang ingin menyendiri dan tidak ingin diganggu. Jadi Simon hanya bisa diam atau minimal menyanyikan sebaris lagu pujian. Bisa-bisa Simon malah ditonjok orang itu kalau tetap nekat mengajak bicara. ”Wah, gawat. Dia berjalan ke sini. Ada urusan apa dia sama kamu, Hans? Apa kamu belum lunas bayar iuran Natal kemarin?” kata Betra lirih. ”Enak aja! Jangan-jangan kamu tuh yang telat nyerahin naskah buletin!” ”Hai,” sapa Simon dengan ramah kepada Hans dan Betra. Ia menyalami keduanya seperti yang biasa dilakukan orang-orang yang berdiri di pintu masuk gereja sambil menampakkan sederetan gigi yang berkilau. Betra selaku cewek masih bisa bermanis-manis, tapi Hans lebih sering tidak bisa menyembunyikan rasa kesalnya. ”Mau duduk di sini?” tanya Betra berbasa-basi karena ia tahu dengan pasti Simon bakal duduk di samping anak kelas sepuluh yang sedang membaca sendirian di pojok itu—sasarannya kali ini. http://facebook.com/indonesiapustaka


12 ”Nggak, thanks. Eh, nih, temen-temen beli dong. Buat dana retret,” kata Simon sambil menyebar beberapa lembar stiker di hadapan Betra dan Hans. ”Cuma seribu lima ratus.” Betra mengambil selembar yang bertuliskan Tetap Setia. ”Aku beli yang ini deh.” ”Wah, makasih ya. Hans, kamu nggak pengin beli?” ”Retretnya wajib, ya?” Hans malah balik bertanya dan Simon menjawab hanya dengan anggukan kepala. Hans tidak tahu harus berkomentar apa. Acara retret selalu diadakan tiap tahun di sekolah mereka. Waktunya biasanya pada awal semester genap. Seperti saat-saat ini. Hans lalu melihat-lihat beberapa lembar stiker dengan berbagai tulisan. ”Nggak pake gambar nih?” ujar Hans. ”Amazing Grace. Artinya apa?” tanya Hans saat membaca tulisan di salah satu stiker. Begitulah. Selalu saja ada orangorang yang hanya bisa mencela dan berkomentar seperti itu dalam sebuah pelayanan. ”Mmm… Anugerah besar? Karya terbesar… Hadiah, semacam itulah,” Simon mencoba menjelaskan sebisanya sementara Hans mengangguk-angguk. ”Oke, aku beli ini, ini, sama ini.” Hans mengambil tiga lembar stiker dengan tulisan yang berbeda-beda. ”Wah, thanks ya. Tuhan memberkati kalian.” Wajah Simon yang selalu berseri-seri kali ini tampak semakin berseri-seri. ”Oya, aku juga cuma mau ngingetin, jangan lupa nanti datang persekutuan, ya!” Betra dan Hans saling pandang. Betra mengangkat alis- http://facebook.com/indonesiapustaka


13 nya tinggi-tinggi dan Hans memasang muka masam. Apa anak ini segitu kurang kerjaannya? batin keduanya. ”Oke, Mon. Aku usahain deh,” ujar Betra sambil tersenyum semanis mungkin. ”Bagus. Kamu, Hans?” ”Waduh, kayaknya nanti nggak bisa deh. Aku harus bantuin Mama di rumah.” Betra hanya mencibir mendengar bualan Hans. Hans gitu loh…? Bantuin Mama? Ada-ada aja. Paling-paling dia dolan sama gengnya. ”O, gitu. Ya udah. Met melayani ya, Hans. Kalo gitu minggu depan.” ”Yo’i. Kalo nenekku nggak tiba-tiba sakit keras ya,” ujar Hans asal. Simon tersenyum tulus lalu berlalu. Setelah beberapa meter barulah Betra dan Hans meledak tertawa sekeras-kerasnya. ”Denger nggak sih? Met melayani ya, Hans… Hans gitu loh… Melayani?” sindir Betra. ”Aku muak banget waktu kamu bilang bantuin Mama.” Betra memonyongkan bibirnya. ”Udah, diem ah.” Hans terkekeh-kekeh, merasa dirinya berhasil mengelabui si Kolot Simon. ”Balik ke kelas yuk. Oya, Be. Met mencari Tuhan ya, di persekutuan nanti,” balas Hans. ”Eh, sialan lo!” Betra mengejar Hans yang sudah ngacir duluan. XY http://facebook.com/indonesiapustaka


14 Betra benar-benar tidak mengerti. Kenapa juga akhirnya dia ada di sini? Hadir di persekutuan yang diadakan tiap hari Jumat sepulang sekolah. Awalnya ia tidak berminat, tapi karena Simon yang baik hati itu terus mengajaknya, Betra jadi tidak bisa menolak. Hans sih sudah menghilang sejak bel pulang. Sialan tuh anak! Besok mesti merasakan hajaran gue! batin Betra gemas. Ditambah pula saat datang dan melihat anak-anak yang ikut bagaikan malaikat, Betra jadi salah tingkah sendiri. Tapi ada satu hal yang akan membuat hidupnya berubah selamanya, satu hal yang tidak pernah timbul dalam pemikiran Betra sebelumnya: Fredy datang persekutuan! O, my God! Tadinya Betra pikir anak populer macam Fredy tidak tertarik dengan hal-hal yang berbau kerohanian. Apalagi Fredy ternyata melayani jadi pemain musik. Makin kagum saja Betra dibuatnya. Worship Leader kali ini tak lain tak bukan adalah Simon. Fredy dan Simon sungguh dua orang yang bertolak belakang, tapi mereka justru jadi tim yang kompak. Betra tak percaya melihatnya! Acara kali ini perjamuan kasih. Dibagi kelompok-kelompok dan tiap kelompok terdiri atas lima orang. Betapa bahagianya Betra saat ia ternyata satu kelompok dengan Fredy. Betra semakin sumringah saja. Ia baru tahu Fredy ternyata ramah sekali pada teman-teman cowoknya. Fredy banyak tersenyum dan sepertinya disukai teman-temannya. Salah besar kalau Hans menilai dia sombong! Minggu depan Hans harus ikut persekutuan! Kelompok Betra terdiri atas dirinya, Fredy, Simon, anak cewek kelas sepuluh, dan seorang cowok bertubuh besar http://facebook.com/indonesiapustaka


15 kelas dua belas. Pemimpin kelompok Betra adalah Simon. Sebenarnya Betra sudah bosan dengan anak itu, tapi apa mau dikata, sekelompok dengan Fredy aja udah bisa membuatnya mengucap syukur, jangan sampai dia jadi bete hanya gara-gara seorang Simon. Simon cukup baik memandu teman-temannya hingga bisa terjalin keakraban di dalam kelompok mereka. Pertama-tama mereka diajak saling berkenalan lalu masing-masing anggota diwajibkan melontarkan satu pertanyaan. YES! batin Betra. Dengan begitu mau tak mau Fredy pasti mengenalnya, tahu namanya, mengingatnya! Semoga. Perkenalan pembuka diawali oleh Simon dan semua merasa malas untuk bertanya. Tidak ada yang ingin tahu tentang seluk-beluk Simon. Tapi Fredy membuka pertanyaan. Betra tercengang begitu Fredy angkat bicara. Gentle banget. Fredy emang temen yang baik. Dia tidak ingin Simon merasa malu, pikir Betra. Fredy bertanya di mana alamat rumah Simon. Simon menjawabnya dengan sangat berteletele—menurut Betra—diselingi humor-humor yang tidak bisa mengundang tawa. Tapi anehnya Fredy sanggup tertawa. Betra jadi ikut ngekor tertawa tapi ia baru sadar justru sikapnya itu terlihat aneh. Fredy dan lain sampai memandanginya. Lalu untuk mencairkan suasana, Betra segera mengajukan pertanyaan, agar segera tiba gilirannya dan Fredy. ”Berapa ukuran sepatumu?” tanya Betra asal. Ia tidak berpikir dahulu dan setelah menyadari untungnya itu bukan pertanyaan bodoh. Akan sangat malu sekali jika ia sampai bertanya berapa ukuran celanamu? Meskipun hanya http://facebook.com/indonesiapustaka


16 asal dan tidak ada maksud apa-apa, yang lain pasti berpikir negatif. ”Wah, Betra mau beliin aku sepatu, ya? Jadi nggak enak nih,” canda Simon sambil menggaruk-garuk kepala. Jayus, batin Betra. ”Empat puluh,” jawab Simon mantap. ”Kok kecil? Aku nggak muat pinjam sepatumu dong,” Fredy menimpali. Ah, Fredy cute banget…. Ukuran sepatunya berapa ya? Emang postur dia lebih kekar dan lebih atletis daripada Simon. Hans aja kalah, batin Betra. ”Ya. Tapi nggak sekecil ukuran Betra kok,” ujar Simon sambil terkekeh. Betra tersipu-sipu. Kira-kira Fredy tau nggak ya yang namanya Betra itu aku? Setelah Simon, giliran Betra memperkenalkan diri. ”E… Saya Betra dari kelas sebelas IPS…,” ujar Betra malu-malu. ”Ada yang pengin ditanyakan? Masing-masing harus bertanya satu pertanyaan lho!” ujar Simon mengingatkan. Ooh… Baru kali ini Betra merasa Simon telah melakukan hal yang benar. Betra deg-degan menebak apa kira-kira yang akan ditanyakan Fredy padanya. Masing-masing anggota sudah bertanya. Semuanya pertanyaan standar: rumahnya di mana, gerejanya apa, hobi… Tinggal satu orang yang belum bertanya. ”Eh,” Fredy tampak bingung. Ia tak menyangka akan jadi yang paling akhir. Ayo dong! Ayo dong! jerit Betra dalam hati. ”Ng… Apa, ya?” tanya Fredy sambil menatap anggota yang lain. http://facebook.com/indonesiapustaka


17 ”Rumah?” ”Lho, itu kan tadi udah,” Simon mengingatkan. Sedih juga Betra ternyata Fredy tadi tidak terlalu memperhatikannya. ”Oya, tanggal lahir,” ujar Fredy sambil tersenyum nakal pada Betra. Tampaknya ia merasa puas dan menang setelah berpikir sekian lama. Betra yang merasa senang diberi senyuman oleh Fredy tidak tahan untuk tidak membalas senyumnya. O, my God, dia tanya ulang tahunku!! Ini mimpi! ”Empat belas… Februari…” ”Wah, pas Hari Valentine dong,” komentar cowok yang bertubuh besar. Fredy hanya mengangguk-angguk dan tersenyum pada teman-temannya. Cool…. Setelah semua selesai mengajukan pertanyaan untuk Betra, tiba giliran Fredy. Sambil memperhatikan Fredy bicara, Betra berpikir-pikir enaknya dia bertanya apa. Ia tidak boleh melewatkan kesempatan ini begitu saja. Simon selaku penanya pertama bertanya apa hobinya. Ternyata Fredy suka bermain golf dan tidur. Main golf? Keren! Permainan orang kaya, batin Betra. Selain itu ia baru tahu Fredy ternyata punya sisi malas. Sulit rasanya membayangkan Fredy justru menghabiskan waktu luangnya untuk tidur. ”Kak, dulu waktu masih di Bandung punya pacar berapa?” tanya si anak cewek kelas sepuluh yang Betra yakin seyakin-yakinnya punya perasaan pada Fredy. U-uh! Tampang Fredy langsung merah membara dan sepertinya ia kaget sekali. Tak menyangka akan ada yang bertanya seperti itu. Sementara si cowok bertubuh besar mulai bersiul-siul jail. Betra agak menikmati juga. Penasar- http://facebook.com/indonesiapustaka


18 an. Ia senang melihat Fredy hidup. Eh, maksudnya baru kali ini Betra bisa melihat berbagai ekspresi yang ada dalam diri Fredy. ”Nah… Hayo, Fredy nggak boleh bohong lho. Ini rumah Tuhan,” Simon mewanti-wanti. ”Ng…,” Fredy bingung sendiri. Sepertinya ia tidak menyukai pertanyaan ini. Malah sama sekali tidak menyangka akan ada yang bertanya seperti itu. ”Ganti pertanyaan lain deh…” ”Nggak.” Anak kelas sepuluh itu menggeleng. ”Udah, ngaku aja. Sepuluh, ya? Apa dua puluh?” goda cowok yang berpostur tubuh besar itu. Fredy tidak menghiraukan lalu menarik napas dalam-dalam. ”Oke, aku jawab,” ujar Fredy dengan berat. Semua pasang mata tertuju padanya dan semua telinga dibuka lebar-lebar. Terlebih Betra dan anak kelas sepuluh itu. ”Satu,” jawab Fredy singkat, padat, dan lirih. Betra langsung menahan napas. Setia banget nih cowok…. Tapi rasanya sedih juga membayangkan Fredy pernah pacaran dengan cewek lain. Jangan-jangan mereka masih jalan sampe sekarang…? Siapa namanya ya? Kayak apa orangnya? Berbagai pikiran berkelebat cepat dalam benak Betra. Cewek yang sungguh beruntung…. ”Satu?” ulang cowok bertubuh besar itu. ”Yakin satu? Jangan-jangan lo amnesia!” ”Ngawur!” seru cewek kelas sepuluh itu sambil memukul lengan cowok itu tanpa sungkan. ”Terserah. Percaya atau nggak percaya, yang penting aku udah jujur,” kata Fredy sambil angkat tangan. http://facebook.com/indonesiapustaka


19 ”Apa sampai sekarang masih jalan?” tanya cewek itu lebih lanjut. Hati Betra langsung menjerit-jerit. Untung anak ini tanya lagi! ”Mm…Wah,” Fredy kali ini bisa tersenyum licik. Sepertinya ia telah menyiapkan serangan balik. ”Aturannya satu orang satu pertanyaan, kan?” ujar Fredy sambil memandang Simon lekat sebagai syarat SOS. Untunglah Simon segera bergerak. ”Ehem, iya. Satu orang satu pertanyaan dulu ya. Nanti waktunya nggak cukup. Kalo mau kenalan lebih lanjut abis persekutuan ini. Oke?” Simon tersenyum ramah pada adik kelasnya yang hanya bisa cemberut itu. Bahkan Betra pun ikut-ikutan cemberut. ”Oh, kalo gitu aku yang tanya!” seru cowok itu. ”Apa sampai sekarang masih jalan?” Fredy langsung cemberut. Mukanya dilipat-lipat. Gue bales kalian nanti! ”Nggak…,” jawab Fredy sambil menunduk dalam. Semua kembali terperangah. ”Wah, berarti sekarang Fredy jomblo dong?” seru Betra senang tanpa sadar. Melihat tingkah Betra, anak kelas sepuluh itu langsung menatapnya sinis. ”Ups, nggak… Bukan gitu maksudku… Ehem! Aku…,” Betra berusaha menjelaskan. Gawat… Bisa ketauan…. ”Udah, nggak pa-pa,” sela Fredy cepat tanpa memandang Betra. Aduh, sori, Fredy... aku nggak bermaksud kayak gitu…. Aduh, betapa bodohnya aku! Fredy pasti marah sama aku…. jerit Betra dalam hati. ”Iya, ayo pertanyaan terakhir, Be,” ujar Simon. http://facebook.com/indonesiapustaka


20 Cerewet! Aku juga tau aku yang terakhir! Makanya aku lagi mikir… Mana aku terancam dibenci Fredy seumur hidup, lagi! Apa kamu mikirin itu, Mon? Nggak, kan? Yang kamu pikirin cuma bible reading, saat teduh, doa… Bible reading, saat teduh, doa, serta cara menemukan domba-domba yang hilang. Sial! Betra menggerundel sendiri di dalam hati. ”Be! Giliranmu,” tegur Simon lagi. ”Iya. Cepetan dong, Kak,” desak anak kelas sepuluh itu. Tampak sekali ia menunjukkan ekspresi tidak senang terhadap Betra. ”Uh, ehem! Ng… Fredy… Apa…” Betra terpaksa buka mulut meski tidak tahu apa yang ingin ditanyakan. Sebenarnya terlalu banyak pertanyaan malah. Siapa nama cewek itu? Sejak kapan kalian dekat? Apa yang membuatmu tertarik padanya? Apa yang menyebabkan kalian putus? Sudahkah kamu melupakannya? Tapi tidak mungkin pertanyaanpertanyaan ini ia lontarkan sekarang. Fredy pasti akan lebih marah lagi padaku. Betra tanpa sadar memejamkan mata. ”Siapa nama mantanmu itu!” celetuk cowok bongsor itu lagi, membuat mata Betra terbuka lebar. Fredy tampak kesal lantaran justru cowok itu yang terus membombardirnya dengan pertanyaan. Tapi untunglah Fredy tidak harus menjawabnya. Mau tau banget urusan orang sih? ekspresi Fredy seolah berucap. Fredy menatap Betra garang seolah sedang mengisyaratkan agar ia tidak bertanya yang macammacam. Betra benar-benar salah tingkah dan ia mengerti arti tatapan itu. Sedih sekali rasanya. ”Apa… Apa makanan kesukaanmu?” tanya Betra akhirnya, disambut dengan muka masam cewek kelas sepuluh http://facebook.com/indonesiapustaka


21 yang duduk di sampingnya dan teriakan ”Yah, nggak seru!” cowok besar itu. Fredy sedikit tersenyum, membuat Betra merasa lega juga tidak begitu menyesal karena tidak jadi menanyakan tentang kehidupan cinta pujaan hatinya itu. Akhirnya Fredy mendapat pertanyaan normal. ”Emmm… Aku suka masakan Jepang.” ”Wah, sama dong! Aku juga suka!” ujar cewek itu bersemangat. Aih, apa-apaan sih? batin Betra. Sok banget. Gitu aja aku juga bisa. Aku juga suka, suka banget! ”Oya? Enak, kan? Eh, namamu siapa?” tanya Fredy sambil mengulurkan tangan. Betra hanya bisa membelalakkan mata. Cewek ganjen ini… Kok Fredy gitu sih…? ”Risa,” ujarnya sambil tersenyum. ”Aku sih sukanya chinese food,” seloroh Betra asal. Ia cuma ingin mengganggu keakraban yang tengah dibangun kedua insan itu. ”Oh, iya. Itu enak juga. Tapi aku tetep paling suka masakan Jepang terutama SUSHI!!” ujar Fredy tegas dan mantap. ”Kalian ini nggak mencintai bangsa Indonesia, ya?” Cowok bertubuh besar di samping Fredy berkomentar. Ia sengaja bicara dengan lambat-lambat dan sok angkuh. ”Aku lebih suka masakan tradisional. Contohnya nih, gudeg… sate Madura… lumpia… He, apa nggak hebat tuh!” ”Iya, oke, oke. Berikutnya ya... Yuk,” ujar Simon. Ia senang suasana terjalin akrab, tapi waktu tidak bisa dike- http://facebook.com/indonesiapustaka


22 jar. Mereka melanjutkan perkenalan pada cowok besar itu yang ternyata bernama Bruno. Fredy tertawa begitu nama itu disebut. Ia juga tidak menyia-nyiakan kesempatan dengan melancarkan aksi balas dendam. Ia bertanya langsung pada sasaran, ”Siapa cewek yang kamu sukai saat ini?” Bruno hanya bisa merah padam dan menjawab tidak ada. Namun, Fredy tetap ngotot dan akhirnya Bruno menjawab, ”Mamaku,” sambil tersenyum lebar. ”Hu, curang!” Fredy melempar bola kertas yang entah didapatnya dari mana ke arah Bruno. ”Gitu aja mah semua juga sama! Curang!” Saat giliran Risa lebih heboh lagi. Tidak hanya Fredy, tapi Betra dan Bruno juga tertarik untuk bertanya-tanya soal kehidupan cinta Risa. Biar tau rasa! batin Betra. Hihi… Lagian salah sendiri, dia yang mulai sih usil banget pake tanya gitu duluan. Untung banget giliranku tadi sehabis Simon. ”Udah pernah ’gituan’ berapa kali?” tanya Bruno sambil berkedip. ”Udah pernah apaan?” tanya Risa dengan muka merah membara. ”Ala… Pura-pura nggak tau!” Bruno menyenggol Risa dengan keras. ”Cewek kayak kamu pasti tipe-tipe suka ’begituan’.” ”Apa sih!” bentak Risa kesal. ”Ssst! Oke, kita kembali ke jalan yang benar,” Simon segera menengahi. Kok sekarang menjurus ke hal-hal negatif gini ya? Keluhan itu bisa terbaca jelas di wajahnya. http://facebook.com/indonesiapustaka


23 ”Baik, Pak Pendeta!” seru Bruno. ”Kali ini serius. Ehem! Pertanyaannya adalah siapa orang di persekutuan ini…” Bruno sengaja mengambil jeda sesaat untuk menciptakan suasana. Ia memandang semua satu per satu. ”Yang kamu sukai! Hahaha… Hayo, siapa? Jujur! Jujur loh! Pasti ada!” Risa langsung mematung. Wajahnya memelas bagaikan kijang terkena anak panah. Dalam hati Betra menjerit-jerit senang. Mampus lo! ”Mm… Udah ya, teman-teman. Kita kan nggak sedang maen truth or dare…,” Simon belum menyelesaikan kalimatnya tapi Risa keburu memotong. ”Eh, udah nggak pa-pa, Kak. Aku tau kok harus jawab apa,” ujar Risa dengan tersenyum licik pada Bruno. Semua kontan saja menjadi sangat penasaran. Masa sih dia bakal mengakui dia suka Fredy? Bakal kusembah kalo emang iya, Betra bertaruh pada dirinya sendiri. ”Kak Bruno kan tadi tanya siapa orang yang kusukai di persekutuan ini? Iya, kan? Jawabanku adalah: banyak! Aku suka sama semua orang. Kak Simon, Kak Caca, Kak Fredy, Kak Rita…” Betra langsung mencelos. Hem, bagus! Bener kan dia nggak berani ngaku! Aku jadi nggak perlu nyembah-nyembah dia! Kayak aku mau aja. Pinter lo bolak-balikin fakta. Pake nggak mau sebut namaku segala, lagi. ”Seharusnya kamu tanya siapa cowok yang paling kamu cintai di persekutuan ini,” ralat Betra pada Bruno. Ia merasa kecewa Risa tidak jadi menangis. ”Risa berapa kali pacaran?” tanya Fredy. http://facebook.com/indonesiapustaka


24 Dengan tampang lugu bak bidadari Risa langsung menggeleng pelan. ”Apa tuh artinya? Nggak mau pacaran?” tanya Betra mulai tidak bisa menahan emosi. Geram ia melihat si Risa yang terlalu banyak tingkah. ”Belum pernah.” ”Ala… Bohong!” cela Bruno langsung. Tapi Risa berhasil menaklukkan hati Simon dan Fredy. Mereka cukup percaya dan tidak mau mempermasalahkannya lebih lama. Siapa sih yang nggak ketipu tampang innocent Risa? Betra benar-benar bete. Pertanyaan terakhir ia tutup dengan, ”Risa, apa sih kebiasaan burukmu?” Ah, sialan! Kak Betra ini sengaja pengin mempermalukan aku, terbaca dari cemberutnya. Risa tampak berpikir sejenak. ”Nggak ada,” jawabnya sekadar ingin terlihat perfect di hadapan Fredy. Masa aku akan dengan jujur dan tulus dapat bilang, oh, aku suka menendang kucing tetangga saat sedang kesal. Trims, deh. Bisa-bisa Kak Fredy menganggap aku cewek jahat. Apalagi kalo ternyata Kak Fredy punya kucing di rumah. ”Nggak ada? Bohong ah,” kejar Betra. ”Emang Kak Betra punya kebiasaan buruk, ya?” Risa kembali memasang wajah innocent-nya. Ingin sekali Betra menamparnya. ”Heh, aku kan yang tanya kamu!” ”Udah, udah,” Simon mengerti suasana yang mulai memanas. ”Ini sebenarnya rahasia. Tapi aku beritahu ya. Kebiasaan burukku akhir-akhir ini aku suka lupa memberi makan ikan-ikan. Hahaha…” http://facebook.com/indonesiapustaka


25 Hening. Tidak ada yang tertawa. Semua heran mendengar cerita Simon. Mungkin satu yang menjadi pemikiran mereka: lupa memberi makan ikan rasanya bukan kebiasaan buruk deh. Ikan kan nggak bakalan mati cuma gara-gara belum diberi makan satu hari, batin Betra. Bruno dan Risa juga menunjukkan ekspresi heran dan terperangah. Fredy hanya geleng-geleng. http://facebook.com/indonesiapustaka


26 ”HANS! Kamu harus percaya ini!” pekik Betra di telepon malam itu. ”Aduh, jangan teriak kenapa sih?” omel Hans sebal. ”Habisnya… Aku seneng banget! Dengerin deh! Kamu tau nggak?” ”Nggak!” ”Kamu tau nggak, tadi aku ketemu Fredy!!” ”Oya? Gitu aja seneng?” tanya Hans sambil menggigit apel merah di tangannya. ”Uh, nggak cuma ketemu tapi ngobrol! Kamu pasti nggak bakal percaya! Fredy ikut persekutuan! Bener! Mana dia main gitar, lagi. Uh, cool...” ”Masa sih?” tanya Hans tak percaya. ”Si sok cakep itu? Nggak mimpi kamu?” ”Tuh kan nggak percaya... Aku juga awalnya gitu. Tapi DUA http://facebook.com/indonesiapustaka


27 beneran deh. Eh, ternyata dia jago maen gitar lho. Salut deh. Minggu depan kamu juga harus dateng, Hans!” ”Ah, ngapain?” tanya Hans malas. ”Liat anak sok cakep itu maen gitar? Nggak, ah. Mendingan tidur di rumah. Siang-siang gitu, lagi…” ”Iih, kamu ini bandel amat! Yang dibilang Simon tuh bener. Kita harus bersekutu dengan sodara-sodara seiman kita. Kita harus…” ”Wah, sejak kapan kamu jadi sepaham sama Simon? Bikin aku takut aja, Be. Jangan-jangan mulai besok kamu udah pake anting salib, kalung salib, bawa Alkitab…” ”Hans, apaan sih! Denger ya, yang jelas tadi itu aku bahagia! Tau nggak, aku tadi satu kelompok sama Fredy. Mana dia tanya ulang tahunku. Seneng nggak sih? Aduh, pusing! Tapi ada satu masalah, bro…” Betra tiba-tiba mengubah nada bicaranya. ”Apa? Kok tiba-tiba jadi lemes gitu? Biasanya kan kamu tukang bikin masalah,” komentar Hans cuek. Tapi Betra kali ini sedang tidak ingin menanggapi. Ia hanya ingin Hans mendengarkannya dengan sungguh-sungguh. Betra lalu menceritakan bahwa Risa adalah saingannya dan betapa menyebalkannya cewek itu. Betra menceritakan betapa Fredy tadi marah sewaktu dirinya tanpa sadar, tanpa berpikir, langsung bersorak girang saat mengetahui Fredy sudah putus. ”Menurutmu, aku harus minta maaf?” ”Hmmm… Gini nih ya. Cowok itu paling nggak suka kalo kehidupan cinta masa lalunya dibongkar-bongkar. Nggak berperasaan banget sih kalian? Biarpun keliatannya tegar, cowok juga manusia lho.” http://facebook.com/indonesiapustaka


28 ”Trus gimana doooong…?” Betra mulai merengekrengek sementara Hans tertawa senang di seberang sana. Ia senang jika Betra mulai seperti itu. Cowok usil itu merasa menang. ”It’s okay, lagi. Cowok itu makhluk yang apa adanya. Nggak suka berbelit-belit kayak cewek. Kalo sebel dia pasti bakal nunjukin. Tadi pulangnya masih baik-baik nggak?” ”Ya, biasa sih. Tapi aku nggak yakin, Hans… Aku selalu ngerasa nggak enak tiap inget itu. Kira-kira kalo aku minta maaf aja gimana?” tanya Betra sambil menggigit bibir. ”Ya… Boleh aja sih. Meskipun malah aneh kalo ternyata dia udah lupa. Tapi soal cinta emang sensi banget sih…. Tergantung orangnya aja. Aku sih oke-oke aja kalo yang teriak ’Wah, berarti sekarang Hans jomblo dong!” itu Chelsea Olivia. Hehe…” ”Iya, selain nyakitin dia, aku juga kayak mempermalukan diri sendiri. Haduh… Pada ngerasa nggak ya kalo aku naksir Fredy? Fredy tau nggak ya, Hans?” Hans kembali tertawa di seberang sana. ”Kok kamu ketawa sih?!” ”Kamu tuh, Be… Dari dulu nggak berubah. Selalu aja suka khawatir. Selalu aja ngeributin hal kecil. Aku kasih tau ya, nggak masalah apa yang dipikirin orang tentang dirimu. Karena pada kenyataannya, orang lain tuh hampir nggak mungkin mikirin kamu sepanjang hari! Hahaha…” ”Sialan lo! Eh, tapi bener juga, ya? Jadi maksudmu nggak pa-pa kalo seandainya seluruh sekolah bahkan Fredy sendiri tau perasaanku?” http://facebook.com/indonesiapustaka


29 ”Maksudnya nggak semua orang bakal berpikir seperti itu. Nggak semua orang tanggap atau peduli dengan urusan orang lain, kan? It’s okay!” ”Tapi gimana kalo Fredy merasa?!” ”Wah, itu sih cuma bisa dijawab sama Fredy sendiri. Dia orang yang gampang ge-er apa nggak. Tapi kalo jadi kamu nih, Be, seandainya udah basah aku milih nyebur aja sekalian. Sekalian malu! Sekalian tau!” Betra termenung beberapa saat. ”Halo, halo, Be? Kamu nggak pingsan, kan?” ”Mmm. Yah, aku tau aku harus gimana. Tampaknya harapan buat bisa deket sama tuh cowok memang ada. Seneng deh. Ya udah, gitu dulu ya. Oya, jangan lupa abis ini kerjain PR bahasa Inggris, besok pagi-pagi aku pinjem. Oke?” ”Apaan sih nyuruh-nyuruh!” ”Habis mau gimana lagi? Gara-gara kenalan sama Fredy kayaknya aku jadi nggak mood ngapa-ngapain deh. Aku nggak bakal menyerah! Tolong ya, my lovely brother… Muach… Have fun ya ngerjain Inggris. Dah!” KLIK! ”Idih, norak amat! Have fun ya ngerjain Inggris…,” ujar Hans dengan suara dibuat-buat sok centil. ”Hii…” Hans bergidik. XY ”HANS!! HANS!!” Betra berteriak-teriak di luar pagar rumah Hans. http://facebook.com/indonesiapustaka


30 ”Hush! Gangguin tetangga, tau! Ngapain sih pagi-pagi udah ke sini?” bentak Hans yang keluar dengan rambut acak-acakan berbalut seragam SMA. Tampaknya ia baru saja selesai mandi. ”Ayo, cepetan! Berangkat sekarang!” ajak Betra tak sabar. ”LHA? Ngapain? Baru juga jam enam? Ngapain sih?” ”Nggak usah banyak tanya!” Betra akhirnya sukses menyeret Hans berangkat ke sekolah diiringi senyuman gembira mama Hans yang merasa terharu karena anaknya mendadak menjadi rajin. ”Jadi ini alasannya?” Hans mendelik ke arah Betra yang hanya bisa cengar-cengir saat sampai di sekolah. Kayaknya Hans bakal marah besar. ”Aduh, seneng banget. Nggak nyangka deh, Be, kamu beneran dateng. Ngajak Hans, lagi!” ujar Simon dengan sangat bahagia. Ia menyalami keduanya. ”Nggak pa-pa kok,” ujar Betra rikuh. Pandangannya terus tertuju pada Fredy. ”Be, aku bela-belain nggak sarapan cuma gara-gara kamu paksa ikut doa pagi nih,” Hans berbisik lirih tepat di telinga Betra. ”Kamu harus traktir aku makan kalo nggak pengin aku balas dendam!” ”Iya, iya deh…,” sahut Betra takut-takut. ”Eh, liat nggak? Bukannya ge-er, tapi barusan Fredy ngeliatin ke arah sini deh…” Hans hanya pasang tampang jutek. Bodo amat si sok cakep itu mau liat apa. Apa yang dikatakan Betra tadi jelas-jelas hanyalah khayalan tingkat tinggi cewek tukang ge-er itu. http://facebook.com/indonesiapustaka


31 Malapetaka bagi Hans dan Betra. Mereka tidak pernah ikut doa pagi sebelumnya. Lagu-lagu yang mendayu penuh perasaan cinta dan penyembahan kepada Tuhan membuat mereka benar-benar tidak bisa menahan kantuk. Bahkan Betra berani bertaruh Hans saat ini malah sudah khusyuk tidur sambil menahan lapar. Apa lebih baik Hans kusenggol keras-keras supaya bangun? batin Betra. Ah, jangan. Fredy dari tadi melihat ke sini. XY ”Makasih ya udah dateng,” ujar Simon bahagia seusai doa. Ia menyalami semua yang hadir satu per satu sambil tersenyum. Betra tidak dapat membayangkan betapa pegalnya melakukan tindakan itu hampir sepanjang hari selama enam hari sekolah. ”Hans, besok Jumat jangan lupa datang, ya.” ”Aku…” Hans sudah akan membuat alasan, tapi seketika Betra menjawab, ”Iya, dateng. Besok Jumat tuh kami nggak ada acara. Pasti dateng dong!” Betra menyenggol Hans keras-keras. ”Wah, ada angin apa, Be? Sekarang kamu mulai rajin,” komentar Simon. Dalam hati Betra mengomel juga. Ini orang gimana sih? Bukannya dari dulu dia yang maksa-maksa? Sampe seribu satu alasan akhirnya udah habis! Begitu rajin, malah dicurigai. ”Hai,” sapa Fredy sambil menyalami Betra. DEG! Kontan Betra bahagia sekali, perasaannya berbunga-bunga dan dia seolah terbang ke langit tingkat tujuh. Betra yang salah tingkah langsung menyambut uluran tangan Fredy. http://facebook.com/indonesiapustaka


32 ”Hai juga,” balas Betra. Ia tidak menyangka Fredy bakal menyapanya duluan. Ditambah pula Fredy tersenyum maniiiiis sekali. Hoh, pengin pingsan saja si Betra. Hans hanya memalingkan muka dan memonyong-monyongkan bibir menyaksikan ulah mereka berdua. Aksinya harus berakhir ketika Fredy tiba-tiba menyentuh pundaknya dan menyalaminya juga. Hans yang kaget langsung berbalik dan pasang muka sok manis, membalas uluran tangan Fredy. ”Ehm… Kalian teman sekelas?” tanya Fredy sambil menunjuk Hans dan Betra. Betra memandang Hans sesaat. ”Mereka sekelas sama aku juga lho!” Simon menimpali dengan muncul di tengah-tengah. Aih, merusak suasana saja, batin Betra. ”O-oh…,” komentar Fredy singkat. ”IPS, ya?” ”Ya. Emang kenapa?” tanya Hans yang merasa sedikit terusik. ”Ikatan Pelajar Sukses. Anak-anak IPS lebih keren daripada anak IPA kok. Auw!” Hans agak terpekik garagara Betra menyikut rusuknya. Jelas cewek itu merasa komentarnya sudah kelewatan. Fredy tersenyum simpul. ”Aku dulu juga pengin masuk IPS.” ”Lho, kenapa? Aku malah pengin masuk IPA,” sahut Betra ingin tahu. ”Wah, kalo gitu mending kalian tukeran aja,” kata Simon. Betra cemberut mendengar komentar yang menurutnya sangat nggak mutu banget tersebut! Sementara itu Simon rupanya tidak menyadari perubahan ekspresi Betra http://facebook.com/indonesiapustaka


33 dan dengan tenang melanjutkan, ”Tapi percayalah. Di dalam segala sesuatu Tuhan pasti punya rencana buat anakanakNya.” Betra dan Hans kontan memasang ekspresi mau muntah. Tuh kan… Mulai lagi deh! batin mereka kompak. ”Nggak ada kebetulan yang terjadi dalam hidup kita.” Simon menepuk-nepuk pundak Fredy seolah baru selesai memberikan kata-kata penghiburan di acara pemakaman. ”Masalahnya dulu aku pengin jadi… akuntan,” lanjut Fredy. ”Akuntan? Wow, keren banget!” puji Betra meski sebenarnya ia tidak tahu seberapa hebat profesi itu. Dia ingin memuji Fredy saja. ”Terus, kenapa nggak?” ”Ya karena ortuku pengin aku masuk kedokteran. Klasik banget, ya?” Sebentar saja Fredy dan Betra sudah nyambung dalam obrolan IPA dan IPS, karier, dan masa depan. Mereka seolah hendak merancang masa depan yang masih nun jauh itu bersama-sama. Simon dan Hans terlupakan begitu saja. Dunia serasa milik berdua. Sampai-sampai Hans akhirnya pergi seorang diri. ”Lho, temanmu tadi mana?” tanya Fredy sedikit kecewa ketika tahu-tahu dilihatnya Hans sudah tidak ada lagi di tempat. ”Eh, iya. Ke mana ya?” Betra juga baru sadar dan ikut celingak-celinguk. ”Udah duluan kok,” Simon memberitahu. ”Yah… Padahal tadi aku belum sempat kenalan,” ucap Fredy dengan tampang menyesal. http://facebook.com/indonesiapustaka


34 Duh, baik banget nih orang…, batin Betra sambil menatapnya lembut. ”Kalo gitu mampir ke kelasku dulu deh,” kata Betra sambil meraih pergelangan tangan Fredy. ”Beneran?” tanya Fredy antusias, bola matanya membesar seketika. Betra mengangguk mantap. ”He-he. Masa bohong?” Betra merasa senang sekali bisa membuat Fredy bersemangat. ”Dia itu namanya Hans,” ujar Betra saat mereka berjalan beriringan menuju kelas. Perjalanan dari ruang kelas agama menuju kelas cukup jauh. Betra ingin memanfaatkan kesempatan ini untuk bicara. Simon yang mengekor di belakang mereka berusaha tidak dipedulikannya. ”Fred, aku minta maaf ya buat yang kemarin….” ”Soal apa?” tanya Fredy tak mengerti. ”Kemarin… Soal temen-temen yang tanya macemmacem, waktu aku teriak…” ”Udah, nggak pa-pa,” ujar Fredy tanpa ekspresi. Menatap Betra pun tidak. Reaksi yang sama dengan yang kemarin. Nggak! Bukan ini yang kuinginkan. Mulutmu bilang it’s okay tapi hatimu tidak! jerit Betra dalam hati. Semuanya tidak baik-baik saja. ”Eh, aku tau kamu nggak suka hal itu diungkit, tapi aku sendiri nggak bermaksud…” ”Kok… kamu masih mikirin itu, ya?” tanya Fredy dengan nada geli yang dipaksakan untuk menutupi rasa sakitnya sendiri. ”Aku kan udah bilang nggak pa-pa. Ya http://facebook.com/indonesiapustaka


35 aku kaget aja. Kok si Risa tau-tau bisa tanya seperti itu. Kupikir dia anak yang manis.” Huh! Aku udah tau Risa licik banget. Kamu ini ternyata cute en polos amat sama cewek, Fred. Salut buat kesetiaanmu sama satu cewek, Betra bicara sendiri dalam hati. Tak mungkin ia bakal menjelek-jelekkan Risa meskipun ingin. Bisabisa Fredy mengira dia orang jahat. ”Tiap orang pasti punya masa lalu yang ingin dilupakan. Asal kamu nggak ungkit-ungkit soal itu lagi aku udah seneng,” ujar Fredy sambil tersenyum. Melayang sudah hati Betra. Ia ikut tersenyum. Benarbenar mabuk cinta! ”Dia pasti berarti banget buatmu,” ucap Betra yang tidak dijawab apa-apa oleh Fredy. Seterusnya mereka hanya diam sepanjang jalan yang tinggal sebentar lagi. ”Hans!” panggil Betra tanpa tedeng aling-aling seperti biasa saat ia dan Fredy tiba di kelas. Hans tampak sedang terpejam dengan meletakkan kepalanya yang sepertinya berat di atas meja dan menutupinya dengan jaket. Hans berusaha tidur sembari menahan rasa lapar. Doa pagi tadi telah menyita seluruh waktu sebelum bel masuk dan Hans tidak punya kesempatan untuk lari ke kantin sekadar mencomot gorengan. Entah pura-pura tidak dengar atau benarbenar tidak mendengar, Hans tetap dalam posisinya. Bergeming sama sekali. ”Hans!” PLAK! Betra menepuk punggung Hans dengan keras. Kali ini Hans langsung bangun dan mengaduh. ”Aduh!” Hans mengelus punggungnya sambil meringis. ”Heh, nenek lampir! Kamu ini apa-apaan sih?” http://facebook.com/indonesiapustaka


36 Fredy terkekeh sekilas. ”Apaan kamu? Seneng ya? Anak IPA nyasar ke sini!” bentak Hans. ”Heh, kamu nggak sopan banget sih!” bela Betra. ”Kalo aku jadi Fredy, aku juga nggak bakal mau nyasar ke sini! Apalagi cuma demi kamu!” Hans mengernyitkan dahi. ”Nih! Fredy pengin banget kenalan sama kamu.” Hans semakin tidak mengerti. Ia hanya bisa terbengong-bengong bingung. Nggak salah nih? Hans menggaruk-garuk kepalanya canggung. ”Kenalan? Yee… Emang kamu nggak kenal aku? Nggak usah pake sok formal segala deh. Fredy, kan?” tanya Hans meyakinkan. ”Iya. Hans, kan?” Fredy balik bertanya. ”Habis aku takut kamu nggak kenal aku.” Apa sih maksudnya? Sok cakep banget…, batin Hans. ”Ya udah sana. Udah kenal, kan?” usir Hans. Ia merasa tidak senang dan sedikit merasa aneh. Seperti ada yang tidak beres saja. Baru kali ini ia bertemu cowok seperti ini. Ah, paling-paling ujung-pangkalnya dia mau ngedeketin Betra. Ih, tapi kok Betra sih? Nggak salah tu orang? Ah, gue nggak mau ikut campur! pikir Hans cuek. ”Kamu kok gitu sih, Hans? Fredy udah bela-belain ke sini,” kata Betra sebal. ”Yah, siapa suruh dia ke sini? Lagian kamu kok belain dia terus? Orang lagi kelaparan juga…” ”Hans, sekali-sekali kamu coba ikut doa-puasa aja.” Tiba-tiba Simon muncul dan sudah duduk di samping http://facebook.com/indonesiapustaka


37 Hans. Hari masih pagi dan cerah begini tapi Hans sudah merasa sangat depresi. Ia hanya bisa mengerucutkan bibir. ”Dengan begitu kamu bisa belajar menahan rasa lapar demi sesuatu yang berguna.” Betra langsung meringis dan tertawa-tawa senang dalam hati. Rasain kamu, Hans! Dikhotbahin! Disuruh doa-puasa lo! ”Eh… Udah deh, aku balik ke kelasku dulu. Udah bel. Lagian kasian si Hans. Sori, udah gangguin kalian,” ujar Fredy sambil berlalu. ”Eh, anu… Kamu sih!” seru Betra kepada Hans, lalu berbalik dan mengejar Fredy. ”Nanti ke kantin bareng, ya?” pinta Betra sambil menatap Fredy dengan penuh permohonan. Hans langsung mengerang. ”Emm…,” Fredy berpikir sejenak. ”Boleh. Sama siapa aja?” ”Eh… Ya kita aja. Hans…,” Betra menuding Hans, dirinya, lalu Fredy. ”Oke. Nanti, ya.” Fredy melambaikan tangan. ”Oke. See youuu!” Betra mulai kelihatan pula genitnya. ”SIP!” Ia berjingkrak-jingkrak begitu sosok Fredy menghilang di balik pintu kelas dan kembali menghampiri meja Hans. ”Denger nggak? Kita nanti nge-date bareng. Duh... senengnya!” ”He, udah gila, ya? Kayak gitu bukan nge-date bareng, tapi jajan bareng, o’on!” seru Hans kesal. ”Mana ngajakngajak aku segala, lagi.” ”Lho… katanya tadi minta ditraktir? Jadi nggak?” XY http://facebook.com/indonesiapustaka


38 ”Hai!” sapa Betra dengan riang sambil melambaikan tangan tinggi-tinggi saat melihat Fredy sudah sampai duluan di kantin. Fredy tersenyum. ”Dateng juga kamu, Hans,” ujar Fredy senang. Ia bergeser agar Betra dan Hans mendapat tempat duduk. Fredy menawarkan tempat di sebelahnya untuk Hans. Meski sempat ragu, akhirnya Hans duduk juga. Daripada Betra yang duduk di situ, bisa terlalu senang dia! Duduk di samping Fredy sepertinya bukan ide bagus, tapi bukan ide yang terlalu buruk juga, kan? ”Pesan apa?” tanya Fredy. ”Eh…,” Betra berpikir sejenak. Ia harus pesan sesuatu yang bikin Fredy tidak berpikir buruk terhadapnya. ”Gado-gado ekstra pedas dua,” ujar Hans tiba-tiba. Betra langsung melotot. Gado-gado ekstra pedas? Oh, tidak! Itu kan makanan favorit mereka berdua! Tapi jangan sekarang dulu kenapa sih, Hans? Kamu tuh emang paling nggak bisa liat orang bahagia, ya? Apalagi kalo yang seneng itu gue! JEB! Betra menginjak kaki Hans dengan kuat. ”Aow! Kamu ini kenapa sih, Be?” tanya Hans sengaja dikeras-keraskan supaya Fredy menyadari apa yang barusan diperbuat Betra. ”Ada apa?” tanya Fredy, tepat seperti yang diharapkan Hans. ”Betra tadi…” ”Ah, nggak! Hehe…,” potong Betra cepat. Ia segera memasang senyum selebar sepuluh senti. Hehe… Awas kamu, Hans. Kalo image gue hari ini hancur di depan Fredy, itu gara-gara kamu! Awas aja. http://facebook.com/indonesiapustaka


39 ”Kamu makan gado-gado ekstra pedas dua?” tanya Fredy pada Hans tak percaya. ”Iya. Katanya Hans tadi belum sarapan. Makan nasi kenapa?” Betra buru-buru mengalihkan. ”Ah, nggak pa-pa lagi, Be. Itu pesenan kami berdua,” Hans berpaling pada Fredy. ”Oh, Betra suka gado-gado ekstra pedas?” tanya Fredy sedikit kagum. Betra sendiri rikuh tidak tahu harus bicara apa. Kalau ia mengelak, Hans pasti semakin menjadi-jadi. Bisa-bisa Hans mengungkit-ungkit kegemaran Betra makan semur terong pedas tanpa nasi! ”Hu… Dia itu suka semua makanan yang pedas-pedas,” celoteh Hans merasa menang. Fredy hanya menganggukangguk. Aduh, mati aku! Hancur sudah reputasiku di depan Fredy…, batin Betra merana. ”Kalo gitu cocok sama papaku. Kapan-kapan aku undang makan di rumah,” ujar Fredy bersemangat. ”Papaku suka kalo ada yang nemenin lomba makan pedas.” Betra hanya manggut-manggut dengan seulas senyum palsu. Yah, mungkin ini salah satu hikmahnya: bisa makan bareng keluarga Fredy. Tapi masa dia mau diadu lomba makan makanan pedas sama papanya Fredy sih? Emang diriku apaan? keluh Betra dalam hati. Dia tak tahu harus senang atau sedih. Rasanya dia ingin menangis dan menghilang ditelan bumi bulat-bulat. Sementara Hans mulai mencibir, merasa siasatnya justru menjerumuskan Betra pada kebahagiaan. ”Kalo kamu, Hans, suka makanan apa?” tanya Fredy. http://facebook.com/indonesiapustaka


40 Hans cukup kaget mendengar pertanyaan itu. Rasanya sejauh ini belum pernah ada teman cowoknya yang bertanya tentang hal-hal sepele seperti itu. ”Aku sih apa aja suka. Asal bisa dimakan!” ”Yah, Hans gitu loh… Rumput aja doyan!” cemooh Betra. Hans tidak berkomentar apa-apa. Ia hanya menepuk kepala Betra sambil terkekeh. Tanpa disadari keduanya, Fredy memperhatikan keakraban mereka. Hal itu langsung terekam kuat dalam memori Fredy. Betapa dekatnya dua orang ini, pikirnya. ”Eh, tapi kemarin kamu bilang suka chinese food?” Fredy berpaling pada Betra, tiba-tiba ingat obrolan mereka waktu persekutuan. Mampus kamu, Be. Kamu kan sebetulnya nggak terlalu suka chinese food...., batin Betra. Hans langsung menganga dan melebarkan matanya. Dia tidak pernah tahu Betra suka chinese food. Selama bertahuntahun tetanggaan dengan Betra, Hans cukup tahu dan mengenal tabiat anak itu. ”O…,” Hans siap-siap berkomentar usil dan menjerumuskan Betra lebih dalam lagi. Tapi sebelum dia sempat bicara lebih jauh, Betra sudah angkat bicara. ”Ya. Aku suka makanan pedas dan masakan Cina. Aku suka!! Memangnya kenapa, Fred, kalo ada orang suka dua jenis makanan?” tanya Betra, berharap kata-katanya tidak terlalu mencurigakan. Fredy tersenyum manis, menyadari ketololannya. ”Nggak. Cuma pengin mastiin aja. Jadi kan aku tau makanan kesukaanmu apa aja. Ada yang lain?” http://facebook.com/indonesiapustaka


41 Degup jantung Betra sudah mulai stabil kembali. Senang kebohongan ini membuahkan hasil. ”Mmmm… Mau traktir aku nih ceritanya?” canda Betra. ”Sejak kapan, Be, kamu suka masakan Cina? Kok nggak pernah ngajak aku sih?” Hans segera menyela obrolan mereka. Mood usilnya tetap on. ”Ah, masa nggak tau sih? Tapi emang kamu harus selalu tau, ya? Suka-suka aku dong!” Betra lalu menatap Hans dengan memelas. Please… Jangan sekarang. Bisa kan kamu nolongin aku? Kata-kata itu seperti ditelepatikan ke pikiran Hans ketika mereka bertatapan. Hans hanya tersenyum simpul lalu terkekeh sendiri sebagai jawaban. ”Ya udah. Kamu pesen apa, Fred?” tanya Hans akhirnya. Betra menarik napas lega. ”Emm… Sama dengan kalian deh.” ”Yakin? Kalo nggak kuat jangan maksain diri lho,” komentar Hans. ”Nggak pa-pa. Kan ada Betra yang siap habisin porsiku.” Wah, mampus gue…! batin Betra. ”Ooh… iya ya! Hahaha…,” seru Hans senang. Hans segera berdiri dan menuju tempat Bu Kantin. ”Minumnya es jeruk tiga!” teriak Betra. ”Eh, Kak Fredy!” pekik sebuah suara. Saat Betra dan Fredy menoleh, mereka melihat Risa berdiri sambil tersenyum lebar. Betra langsung mencelos sementara Fredy tak tahu harus bagaimana. ”Sendirian, Kak?” tanya Risa dan langsung duduk di tempat Hans yang kosong. http://facebook.com/indonesiapustaka


42 Nih anak emang nggak pake mata! Gue ini apa? batin Betra jengkel. ”Nggak. Tuh…,” Fredy menunjuk Betra dengan dagunya. Risa mengikuti arah yang ditunjuk Fredy. Bukannya dia tidak tahu di situ ada Betra, tapi memang pura-pura tidak melihat. Terpaksa Betra menunjukkan senyum palsunya. Begitu pun Risa. ”Halo, Risa,” sapa Betra. Paling tidak dengan begini dia tahu kalo aku ada! ”Eh, omong-omong di situ tadi tempat Hans,” ujar Fredy. Betra pun tersenyum senang karena Fredy sendiri yang mengusir Risa. Mau apa tuh anak? ”Oh! Orangnya mana?” tanya Risa. Ia tidak menyangka Fredy akan tega mengusirnya. ”Tuh…,” ucap Fredy dan Betra serempak. Hans datang dengan senyum khasnya. Ada cewek cantik. Siapa nih? batinnya. Tapi kenapa tampang dua makhluk itu menyedihkan banget? Mau tak mau Risa berdiri. ”Eh, nggak pa-pa. Santai aja. Aku di mana aja bisa kok,” ujar Hans mengalah. ”Beneran? Ih, baik banget! Kenalan dulu dong. Nama Kakak siapa?” Sok pahlawan kamu, Hans! Kamu terjebak wajah malaikat itu! batin Betra. ”Hans, dari XI IPS 1. Kamu?” ”Risa. Kelas sepuluh.” ”Oh…,” Hans hanya bisa ber-oh panjang. Apa ini Risa http://facebook.com/indonesiapustaka


43 yang diceritakan Bebe semalam? ”Jadi kamu temennya…?” Hans sengaja memancing. ”Temennya Kak Fredy, Kak Betra juga.” Lalu mereka kembali duduk. Hans duduk berhadapan dengan teman-temannya. Tepatnya di hadapan Risa. Ia tidak bosan-bosannya memperhatikan wajah cantik Risa. Selanjutnya Betra merasa bagai obat nyamuk. Risa sukses memonopoli Fredy. Yang tersisa hanya Hans. Hans pun kadang ikut obrolan mereka karena dia menyukai Risa. Dan Risa memang pandai bermanis-manis pada semua orang. Tidak ada yang memedulikan Betra. Kenapa acara yang direncanakannya jadi seperti ini? Dia kan yang ngajak Fredy ke kantin bareng…. Fredy juga tidak mengajaknya ngobrol lagi. Cowok itu tampak asyik dengan Risa dan Hans. Menyebalkan! ”Oya, besok kan, Kak, pertandingannya?” tanya Risa sambil mengelap bibirnya dengan tisu setelah selesai melahap seporsi mi ayam. ”Iya. Datang, ya,” ujar Fredy. ”O, tentu. Pasti! Tim cheers gitu looh… Nggak mungkin nggak datang.” ”Betra, Hans, kalian besok juga datang, ya?” pinta Fredy. Ucapan itu kontan membuat Betra berbunga-bunga. Uh, calm down! Bukankah dia tadi juga meminta hal yang sama pada Risa? Nothing special, sis! Betra sungguh tidak ingin membiarkan dirinya dihantam perasaan melambung tinggi. Akan sakit tentunya saat terempas. ”Jam berapa?” tanya Betra. http://facebook.com/indonesiapustaka


44 ”Jam delapan pagi. Datang, harus datang, ya!” Betra terkekeh lalu pura-pura berpikir. ”Nanti dulu ya. Schedule-ku kayaknya udah penuh deh. Kamu sih bilangnya nggak dari kemaren!” Betra hanya mengada-ada. Tak mungkin dia tidak datang dan melewatkan aksi Fredy di lapangan begitu saja. Bahkan kalau perlu besok dia rela datang subuh-subuh. ”Jahat kamu ya! Ya udah. Hans aja yang datang besok. Bisa, kan? Soalnya besok bakal sangat menentukan. Pertandingan final.” Hans manggut-manggut. ”Tapi kalo Betra nggak berangkat aku juga nggak.” ”Ehem! Mesra banget nih. Jangan-jangan Kak Hans cowoknya Kak Betra, ya?” goda Risa. ”Aduh, sori aku nggak nyadar. Jadi ganggu kalian dong tadi.” Betra hanya menatap anak itu dengan tajam. Ia yakin Hans pasti bakal membereskan masalah ini. Dari dulu Betra tahu betul Hans paling tidak suka dikira pacarnya. Kayak aku mau aja! kata cowok itu selalu. Itulah yang selalu dikatakan Betra pula. ”Oh, nggak, Risa jangan salah paham!” ujar Hans cepat. ”Aku masih jomblo kok.” ”Ah, yang bener?” tanya Risa genit. Ingin sekali Betra menabok Risa. Jangan sampai Hans jatuh ke tangan anak itu. Duh, Hans, sadar dong. ”Iya, bener. Dik Risa mau sama Akang, ya?” canda Hans tak kalah genitnya. Betra agak lega karena Hans tahu cara mengatasi si kutu Risa. http://facebook.com/indonesiapustaka


45 ”Ah, nggak, ah!” jawab Risa dibuat-buat. Tiba-tiba saja kedua orang ini sudah seperti pemain lenong. ”Lho, kenapa? Akang kan cakep!” ”Nggak, Risa maunya sama yang lebih cakep en lebih tajir daripada Akang.” Lalu meledaklah tawa mereka berempat. Entah mengapa Betra juga sedikit bisa menikmati suasana ini. Mungkin sebenarnya Risa tidak terlalu buruk. Setiap orang pasti bisa menjadi teman buat seseorang. Risa pasti juga bisa menjadi teman buat mereka yang menganggapnya baik. Hanya saja Betra tidak melihat sisi Risa yang seperti itu. Begitu pula sebaliknya. Mereka bagaikan dua sisi uang logam yang berlawanan. Mungkin itu pula yang dirasakan Hans terhadap Fredy, batin Betra. http://facebook.com/indonesiapustaka


46 ”HALO, bisa bicara dengan Betra?” tanya seorang cowok di seberang telepon. ”Iya, saya sendiri,” sapa Betra sambil mencoba mengenali suara siapa itu. Kalau Hans tentu bukan. Suaranya sudah sangat familier di telinga Betra dan sikapnya tidak ada sopan-sopannya. ”Oh, Betra?” ”Iya, ini siapa?” tanya Betra makin penasaran. ”Wah, lupa nih sama temen sendiri.” ”Siapa sih?” ”Aku. Fredy.” ”O-OH! Fredy! Iya, iya. Oh, iya suaramu,” ujar Betra pangling. Begitulah, jika baru pertama kali ditelepon seseorang pasti sulit untuk langsung mengenali suaranya. Pasalnya, Betra juga tidak pernah menyangka cowok idamannya itu bakal meneleponnya. ”Kamu kok tau nomor teleponku?” TIGA http://facebook.com/indonesiapustaka


47 ”Dari Simon. Apa nggak boleh?” ”Eh, nggak! Bukan gitu…” Fredy lalu tertawa di seberang sana. ”Lagi apa?” tanya Fredy basa-basi. ”Lagi…,” Betra berpikir sejenak. Masa dia mau bilang sedang malas-malasan baca komik sambil ngemil banyak makanan? Tiba-tiba ia merasa jijik dengan pemandangan di kamarnya sendiri. ”Lagi baca koran.” ”Wah, suka berita, ya? Tapi koran hari ini kok baru baca malem? Nggak basi tuh?” ”Yaa… Nggak lah,” Betra langsung berlari-lari menuju ruang tamu mencari koran lokal yang terbit pagi itu. ”Tadi pagi nggak sempet. Kan ada doa pagi.” Akhirnya ia menemukan alasan yang sedikit masuk akal. ”Oh, iya.” ”Kamu sendiri lagi apa?” tanya Betra tepat saat menemukan koran hari itu di bawah meja tamu. ”Aku? Nggak ngapa-ngapain. Baru mempersiapkan batin aja. Besok kan udah mau tanding. Kamu dateng, ya?” ”Oh, pasti! Beres! Udah aku masukin schedule-ku kok. Tenang aja. Pasti besok aku dateng en bakal duduk di barisan paling depan sambil bawa spanduk yang gedeee…” Fredy tertawa sesaat. ”Eh…” ”Hmm?” ”Besok jangan lupa ajak si Hans, ya…” ”Oh, oke! Bakal kuseret-seret dia. Serahkan padaku!” Sekali lagi Fredy tertawa, kedengarannya seperti dipaksa. ”Kalian deket, ya?” http://facebook.com/indonesiapustaka


48 ”Ya… Kami kan tetangga. Udah sejak kecil main bersama. Tapi nggak lebih dari itu kok.” Betra merasa aneh juga Fredy tiba-tiba berkata seperti itu. Jangan-jangan… Apa dia cemburu, ya? Ah, nggak! Si Betra nih ge-er amat! ”Oh,” komentar Fredy singkat. ”Eh, ya udah ya kalo gitu.” ”O, iya. Semangat, ya!” ”Thanks. Janji ya, besok kalian berdua datang. Harus datang!” ”Wah, ngancem nih ceritanya? Udah deh. Percaya nggak sama Betra?” Fredy terkekeh. ”Iya, iya. Berarti habis ini kamu punya tugas: membujuk Hans.” ”Gampang.” ”Ya, udah. Be, aku bener-bener makasih banget lho. Dukungan kalian sangat aku harapkan dan akan berarti sekali. Tolong ya dateng.” ”Ah, nggak usah segitunya makasih ke aku. Emang aku lakuin apa sih? Cuma gitu aja. Udah sewajarnya kan kita saling menopang. Pokoknya, kamu kerjain aja bagianmu. Jangan khawatir.” ”Beruntung aku, Be, punya temen kayak kamu. Udah dulu, ya. Besok jangan telat lho! Awas!” ”Ih, ngancem, lagi.” ”Hahahaha… Sori, sori. Jangan marah, ya. Cuma bercanda. Jangan-jangan besok nggak dateng, lagi. Udah ya. See you tomorrow.” ”See you.” KLIK! Gagang telepon diletakkan. Betra lalu melompat http://facebook.com/indonesiapustaka


49 setinggi mungkin sampai hampir menyentuh langit-langit. ”YES! My Prince Charming datang!!” XY Fredy memandangi pigura foto yang ada di tangannya. Pigura berbingkai hijau itu memampangkan wajah Fredy dan seorang teman cowoknya. Mereka tampak dekat. Di foto itu Fredy dirangkul oleh teman cowoknya. Seseorang yang sangat dikasihinya. Seseorang yang selalu setia mendampinginya dalam hidup. Seseorang yang kepadanya Fredy bisa bersandar. Seseorang yang kini ditinggalkannya di Bandung. Satu-satunya kekasih jiwanya. Sampai akhirnya takdir memisahkan mereka. Fredy mengusap pigura itu perlahan. ”Albert…,” gumam Fredy pelan. Hatinya terasa remuk redam tiap kali mengingatnya. Ingin rasanya kembali ke pelukan hangat Albert, berada di sisinya selamanya. Andai hubungan mereka tidak diketahui orangtua Fredy, tentu kisah mereka berdua masih berlanjut sampai sekarang. Tatkala air matanya hampir menetes, Fredy segera meraih Alkitab-nya. Ia tertunduk dan berdoa. Ia tahu semua ini kekejian di mata Tuhan. Tidak seharusnya Adam mencintai Steve…. Tapi apa dayanya jika orientasi seksualnya adalah pada gender yang sama? Haruskah Fredy mengingkari ini? Haruskah ia menjadi seseorang yang ia rasa bukan dirinya? Tadinya ia pun berharap bisa normal seperti yang lainnya. Tadinya ia berharap setelah pindah ke kota ini ia akan bisa mencintai seseorang yang ”benar”. http://facebook.com/indonesiapustaka


Click to View FlipBook Version