100 ”Tapi belum jadian, kan?” Puput bersikeras. ”Lanjut! Aku nunjuk Betra.” ”Aih! Kok aku yang kedua?” ”Nggak pa-pa. Nanti kamu boleh tunjuk yang lain.” Sebelum memulai pengakuannya Betra menarik napas dalam-dalam. ”Aku… aku suka sama… Fred…” ”Oh, tidak!” pekik Evi. ”Fredy, ya?” Evi menatap Betra ngeri sementara Betra hanya bisa mengangguk sekali. ”Hayoo, jadi cowok yang kamu kecengin itu Fredy juga, ya?” terka Naomi. ”Mending mundur aja deh. Masa tega sama temen sendiri? Lagian kamu kan udah ada Haris.” ”Nggak, bukan itu masalahnya. Langsung ngaku aja deh. Cowok yang aku kecengin tuh Richard. Uh, tu anak keren banget en baiiiik! Aku pernah dianterin waktu hujan-hujan. Padahal belum kenal lho. Gitu kan seharusnya anak Tuhan.” ”Richard… Tampang sih oke,” komentar Puput. ”Tapi dia itu kurus banget…” ”Biarin. Lagian dia kan cuma buat pajangan.” Evi menjulurkan lidah pada yang lain. ”Eh… Trus soal Fredy tadi gimana?” tanya Windy. ”O, iya. Gini, Be. Bukannya mau ancurin perasaanmu tapi aku denger-denger si Fredy itu suka sama cowok…,” Evi melirihkan suaranya. ”Hah?!” ucap Mira. ”Gay gitu maksudnya?” tanya Naomi pula. ”Yang bener…” Betra langsung tertegun. Ini pasti fitnah, kan? jerit hatinya. Tapi di lain pihak, kenapa juga kemarinkemarin Fredy kayaknya perhatian banget sama Hans? tanya batinnya lagi. http://facebook.com/indonesiapustaka
101 ”Bener!” Evi bersikeras. ”Kamu tau dari mana?” tanya Windy penuh selidik. ”Dari sepupuku. Dia tinggal di Bandung. Waktu tau Fredy, temen sekelasnya itu pindah ke sini, iseng aja dia nanya ke aku, ’Kenal nggak sama yang namanya Fredy?’ Aku bilang nggak tau, di kelas kita kan nggak ada murid baru. Katanya Fredy itu gay. Waktu itu aku nggak tertarik sih, habis nggak tau orangnya. Dia bilang supaya semua cewek ati-ati jangan sampe terkecoh en semua cowok juga harus ati-ati biar nggak jadi sasaran Fredy! Setelah beberapa hari aku baru tau kalo ada murid baru di kelas IPA yang namanya Fredy.” ”Masa sih…?” Betra benar-benar tak percaya. ”Padahal Fredy kan lumayan banyak penggemarnya,” Naomi menambahkan. ”Tapi kok kamu diem-diem aja sih?” tanya Windy lagi. ”Aku nggak mau ikut campur. Aku takut bikin kalian semua panik. Lagian nggak yakin aja. Aku kan nggak kenal anaknya. Tapi aku juga menghindari dia ding. Hehehe…” ”Nah, Be, kamu kan deket sama Fredy. Apa selama ini sikapnya ada yang aneh gitu?” tanya Naomi. Betra sudah tidak bisa berpikir. Membayangkan Fredy adalah seorang gay? Meski cuma gosip atau fitnah, tetap saja dirinya tidak sanggup. Rasanya terlalu kejam. Palingpaling ini kerjaan orang yang sirik sama Fredy! Biar Fredy dijauhi! ”Heh, Be! Kok bengong?” Naomi menepuk lengan Betra. http://facebook.com/indonesiapustaka
102 ”Sikap aneh…? Nggak tau ya.” Betra kembali teringat semua peristiwa yang berhubungan dengan Hans. Betapa Hans sering ketakutan berada di dekat Fredy. Jujur aja, sesungguhnya jauh di lubuk hati Betra pun merasa cemburu kepada Hans, karena Fredy lebih perhatian pada cowok itu. Aneh, kan? Tapi ia selalu menepisnya karena hal itu dianggapnya tidak masuk akal. Nggak ada salahnya kan cowok punya sahabat dekat? Sepertinya itulah yang diharapkan Fredy dari Hans… ”Be, udah jangan pingsan. Lebih baik kamu selidiki aja dulu,” saran Mira. Selanjutnya Betra sudah tidak fokus pada permainan ini. Ingin sekali ia mengetahui kebenaran yang sesungguhnya tentang Fredy. ”Be, kamu tunjuk siapa?” tanya Puput. ”Em, Mira…,” kata Betra asal saja. ”Wow, kayaknya udah pada tau, kan!” pekik Mira malumalu. ”Wah, bener ya si Hans…,” goda Evi. Mira hanya terkekeh-kekeh. ”Emang apa yang bikin kamu suka sama dia?” ”Wah, nggak ada alasan untuk mencintai…” ”Cie… Cinta buta gitu?” timpal Puput. Mira lagi-lagi hanya tertawa. ”Nggak tau ya. Lanjut deh. Windy!” ”Aku? Aku suka sama… Nggak ada.” ”HUUUU!!” Semua menyoraki Windy kecuali Betra yang masih shock. ”Nggak mungkin, kaliiii!” seloroh Puput. http://facebook.com/indonesiapustaka
103 ”Ayo, Win, fair dong!” desak Evi. ”Ck, gimana ya? Beneran nggak ada sih…” Windy garuk-garuk kepala. ”Bohong! Bohong!” seru Evi. ”Oke, gini. Tapi aku bukannya suka lho ya. Aku cuma kagum. Aku kagum sama seseorang…” ”Iya, siapa?” desak yang lain. ”Simon.” Semua kembali menahan napas. ”Kamu bercanda, kan?” tanya Naomi ngeri. ”Yak, pasti bercanda,” timpal Mira. ”Sst, jangan membuat Windy patah semangat dong,” ujar Puput. ”Oke, apa yang bikin kamu tertarik sama dia?” ”Aku kan udah bilang, aku cuma kagum! Nggak tertarik, nggak suka, nggak cinta…” ”Ya, whatever-lah istilahmu. Apa yang bikin kamu kagum sama dia?” Windy tersenyum malu. Manis juga dia. ”Simon itu beda sama cowok lain. Dia rendah hati, care sama semua orang, nggak banyak tingkah…” ”Nggak nyangka aku, Simon punya penggemar,” ujar Mira. ”Udah deh. Sekarang Naomi. Terakhir.” ”Agak berat nih mau ngomong, tapi harus jujur, kan? Aku suka sama Kak Michael juga…” ”Oh, no!” ucap Puput. ”Tapi aku ngerti perasaanmu. Oke, sana ngajak bersaing, sini siapa takut?” ”Jangan sampe seorang Michael bikin kalian jadi musuh- http://facebook.com/indonesiapustaka
104 an lho ya…,” Mira mengingatkan. ”Ya nggak, Be? Dari tadi diem aja sih!” ”Wah, mikirin Fredy, ya…? Lupain aja. Aku rela kok kalo kamu mau sama Richard,” ujar Evi. ”Mi, kok gini sih? Aku nggak terima!” ujar Puput. Ia dan Naomi jadi ribut sendiri. ”Aku sebenernya juga udah curiga waktu Kak Michael membawakan acara kemarin, kamu singer kok kayak nggak konsen gitu… Ngeliatin Kak Michael melulu,” cerita Naomi. ”Hehe… Ketauan, ya? Habis kamu juga sih. Emang aku nggak tau? Waktu makan malam kamu sengaja telat biar bisa bareng Kak Michael, kan?” ”Ssst, sstt! Eh, pren!” desis Windy yang tanpa sepengetahuan yang lain tiba-tiba sudah mengintip di balik jendela. ”Sini! Ini nih Richard.” ”Wah, mana?” Evi langsung meloncat turun dari ranjang. ”Eh, iya. Aw!” Richard tengah duduk di sekitar taman bersama temannya. Evi segera membuka pintu agar terbuka lebar. ”Mana sih, mana sih orangnya?” tanya Naomi tanpa mengecilkan suaranya. Ia berdiri di ambang pintu. ”Aduh, Naomi, kamu tuh keliatan banget!” keluh Evi sambil menarik-narik Naomi yang tidak mau beranjak. ”Mana? Pake baju apa, Vi?” ”Kamu kenceng banget sih! Sengaja, ya!” ”Liat dong, liat dong! Mana yang namanya Richard?” tanya Mira dengan suara tak kalah keras. Ia berlari menghampiri Naomi. http://facebook.com/indonesiapustaka
105 ”Aduh, kamu, lagi! Malah sebut nama!” ”Dia adik kelas kita, kan?” ujar Betra yang tiba-tiba juga sudah ikut nimbrung. Ditambah lagi Puput dan Windy. Kelima cewek itu berebutan ingin melihat Richard sambil menjulur-julurkan leher. ”Hoei, kalian semua minggir dari situ, oi!” Evi berteriak-teriak panik. ”Itu lho! Yang itu!” Windy menunjuk-nunjuk. Richard yang merasa sedari tadi ada yang memperhatikan langsung menoleh. ”Ups!” Semua menyembunyikan diri cepat-cepat. Mereka bertabrakan dan saling jerit. ”Dia liat ke sini, tolol!” teriak Puput. ”Yang mana sih, Win? Aku belum tau!” ujar Mira. ”Yang pake jaket kuning tadi, kan?” ujar Naomi meyakinkan. ”Tampangnya agak bule gitu…,” komentar Betra tak mau kalah. Rupanya dia mulai sadar dari shock-nya. ”Heh, heh, dia mendekat! Dia mendekat!” ujar Windy yang memperhatikan dari jendela. ”Dia ke arah sini.” ”Mana…? Mana…?” Evi langsung ikut mengintip dari balik jendela, disusul yang lainnya. Richard rupanya berjalan menyusuri taman menuju kamar temannya. ”Yah… Nggak ke sini,” ujar Puput kecewa. Tak berapa lama Richard keluar dari kamar itu dan membawa dua temannya. ”Heh, dia balik!” seru Windy lagi. ”Mana?? Aku mau liat!” Mira kali ini merangkak di depan pintu. http://facebook.com/indonesiapustaka
106 Betra kembali nongol dan merangkak di sebelahnya. ”Yang itu lho…” Berturut-turut di belakang mereka Puput, Naomi, Windy, dan Evi. Mereka bertumpukan bagaikan para fotomodel yang siap diambil gambarnya. ”Richard…,” panggil Naomi pelan. ”Hei, di sini! Dicari Evi…,” ucap Puput. ”Heh, mundur! Mundur! Dia liat ke sini…,” ujar Mira berusaha mundur tapi tidak bisa karena teman-temannya berbaris di belakangnya. ”Hei, aku nggak bisa mundur, siapa nih yang dudukin kakiku…?” keluh Betra yang merangkak paling depan. ”Eit, aduh, aduh… Aku nggak seimbang nih. Waaa!” Naomi yang digencet Windy dan Puput langsung tersungkur bebas ke depan. Menimpa Betra dan Mira, yang sudah merangkak tertimpa teman-temannya pula. Evi yang paling belakang ikut jatuh saat penopangnya, Naomi, tersungkur. Pemandangan itu kontan mengundang perhatian Richard dan teman-teman. ”Masuk, masuk! Cepat masuk semua,” ujar Mira. Satu per satu mereka bangun. ”Eh, Dik!” panggil Windy pada Richard. ”Heh, mau apaan!” sergah Evi. ”Telanjur basah, nyebur aja sekalian,” desis Windy. ”Iya, kamu!” Windy menyuruh Richard mendekat. ”Ada apa, Kak?” tanya Richard yang hanya berani sampai di muka pintu. ”Tolong potret kami, ya,” pinta Windy. Ia lalu menyerahkan kameranya. http://facebook.com/indonesiapustaka
107 ”Posenya yang seperti tadi lho,” ujar Betra pada yang lain. ”Oh, oke-oke. Di depan pintu, ya?” Evi pun tak mau kalah bersandiwara. ”Yuk, yang depan bisa bertiga kok,” ujar Mira. Evi pun pindah ke depan diapit Betra dan Mira. ”Siap?” tanya Richard. ”Eh, dihitung ya, Dik,” pinta Puput. ”Oke. Satu, dua…” KLIK! Tepat pada saat tombol ditekan, lampu kamar tiba-tiba mati. Betra dan kawankawan langsung menjerit dan bubar. Mereka berlari keluar dan tinggallah Richard yang bengong. ”He, pengecut semua! Orang cuma lampu mati,” ujar Puput. ”Alah, kamu juga lari,” balas Naomi. ”Abis kaget. Tiba-tiba banget,” timpal Mira. ”Mati. Lampunya mati tuh. Rusak, kali,” ujar Richard yang memeriksa lampu kamar. ”Ya udah. Makasih ya, Dik,” ucap Windy meminta kameranya kembali. ”Haduh, nanti malem kita tidurnya gimana dong?” rengek Puput pada Mira. ”Nggak seru. Pindah ke kamarku yuk!” ajak Betra. Pasukan itu pun hijrah ke kamar Windy dan Betra. Tapi ternyata kamar itu dikunci dari dalam. Rupanya Rita sedang berbicara dengan temannya. ”Wah, lagi dipake curhat,” ujar Betra. Sementara kamar Naomi sudah menjadi base camp adik kelasnya. Kamar Evi malah sudah dipakai tidur. Akhirnya mereka terdampar di http://facebook.com/indonesiapustaka
108 depan kamar Betra. Mereka asyik duduk berdesakan di situ, ngemil sambil kedinginan. Tak terasa sudah pukul satu kurang lima menit. ”Aduh, aku ngantuk. Tidur di kamarmu yuk,” pinta Betra. ”Ya udah. Ayo, kita semua tidur bareng aja,” ajak Mira. ”Be, apa kita nggak nunggu di sini aja?” tanya Windy. ”Tapi kita nggak tau kapan mereka selesai. Tidur dulu yuk,” jawab Betra. ”Ya udah.” ”Aku balik ke kamarku deh. Bisa-bisa dibunuh Kak Caca nanti,” ujar Evi. ”Aku juga,” Naomi pun memutuskan untuk kembali ke kamarnya. Akhirnya Betra dan Windy ditampung di kamar Mira dan Puput. Mereka tidur bersama sambil menunggu Amber, ketua kamar mereka kembali. ”Enak ya, kalian sekamar cuma bertiga,” komentar Betra. XY ”Kak Michael balik jam berapa?” tanya Hans pada Simon. Mereka berdua sudah rebah di ranjang dalam kegelapan. ”Nggak tau. Nanti juga balik,” ujar Simon yang sudah mengantuk. ”Kalau Fredy ke mana…?” tanya Hans lirih. Entah kenapa dia merasa belum tenang kalau belum melihat anak http://facebook.com/indonesiapustaka
109 itu tertidur. Hans takut Fredy melakukan yang aneh-aneh, tapi tidak tahu apa ketakutannya itu cukup masuk akal atau tidak. Sesudah memikirkannya sebentar, Hans mencoba terpejam. Masih sehari lagi yang harus dilalui. Besok harus bangun jam lima pagi. Kalau tidak, Michael bisa membunuhnya. Mau tidak mau, pasti harus ber-saat teduh. Lamat-lamat pintu kamar dibuka oleh seseorang. Fredy masuk, tapi tidak menyalakan lampu. Ia melihat Hans memejamkan mata, berusaha terlena. Ia mengira temannya itu tertidur pulas. Ia memandangi Hans selama beberapa detik. Ia mendekat, duduk di tepi ranjang, dan membelai rambut Hans yang lembut. Wajah Hans dengan mata terpejam tampak sangat lugu dan innocent. Fredy tidak tahan untuk tidak menyentuhnya. Ia lalu mendekatkan wajahnya pada wajah Hans. Bibirnya hampir melekat pada pipi Hans. Namun, saat itu tiba-tiba Hans membuka mata. ”Fred, kamu ngapain sih!” bentak Hans marah. ”Aku nggak ngapa-ngapain. Ada nyamuk tadi,” elak Fredy. ”Sstt! Fredy udah balik? Kalian jangan ribut,” ujar Simon yang merasa terganggu. Hans sebal karena Simon selalu tidak mengerti duduk persoalannya. ”Fredy tadi… Dia mau…” Hans tidak bisa melanjutkan kalimatnya. Ia hanya menatap Fredy lalu menendang selimutnya, bangkit, dan pergi keluar. ”Kenapa?” tanya Simon. ”Nggak tau.” Fredy benar-benar merasa seperti terempas. Ia tidak tahu bagaimana selanjutnya. Ia merasa ti- http://facebook.com/indonesiapustaka
110 dak berdaya. Apa yang dapat dilakukannya? Akankah semua yang pernah terjadi di Bandung berulang kembali? XY Sementara itu di kamar Mira dan Puput, kedua anak itu serta Betra dan Windy sedang nyenyak-nyenyaknya tidur ketika Rita dan Amber masuk. ”Wah, udah pada tidur,” ujar Amber pada Rita. ”Dik, bangun, Dik,” Amber membangunkan Betra dan Windy, tapi yang terbangun justru Puput. ”Be, balik tuh, Be,” Puput menendang-nendang Betra. Betra dan Windy segera terbangun. Melihat Rita, mereka pun tanggap. Itu panggilan untuk balik ke kamar. ”Ayo. Lama, ya?” tanya Rita. Bukan lama lagi, batin Betra. Ia melihat jam tangannya. Sudah pukul dua lewat. Setengah sempoyongan dia dan Windy menyusuri lorong menuju kamar mereka. Saat melintas di depan aula, Betra melihat Hans duduk. Ngantuknya segera hilang digantikan rasa heran. ”Itu Hans?” tanya Betra pada Windy. ”Tau!” Windy cuek dan terus saja mengikuti Rita seperti orang tidur sambil berjalan sementara Betra berbelok menghampiri Hans. ”Ngapain kamu?” tanya Betra. ”Ngantuk, tapi aku nggak mau balik ke kamar…” ”Kenapa?” Betra ikut duduk di samping Hans. ”Ngeri deh, Be. Tapi kamu pasti nggak percaya… Fredy… Fredy itu…” http://facebook.com/indonesiapustaka
111 ”Kenapa Fredy?” ”Aduh, nggak deh. Tapi aku yakin ini bukan khayalanku belaka. Gini.” Hans membisikkan sesuatu ke telinga Betra. Betra tertegun. ”Kamu yakin…?” ”Tuh kan, kamu nggak percaya.” Kayaknya aku mulai berpikir lain deh, Hans…, batin Betra. http://facebook.com/indonesiapustaka
112 HARI terakhir retret. Setelah kebaktian, mereka dibagi dalam kelompok-kelompok untuk outbond. Karena banyaknya peserta, satu kelompok bisa terdiri atas sepuluh sampai sebelas orang. Maksimal dua belas orang. Kelompok satu termasuk Windy bersama dengan Risa, Simon, dan Richard. Betra masuk di kelompok dua bersama Evi. ”Win, ambilin foto-foto Richard, ya,” pinta Evi. Kelompok tiga ada Mira, Hans, dan Fredy. ”Hore, aku bareng Hans! Bareng Hans!” pekik Mira senang. ”Aduh, kenapa selalu bareng Fredy…,” keluh Hans. Sementara Puput dan Naomi di kelompok empat bersama dengan Bruno. ”Dengerin ya,” ujar Rita melalui mikrofon. ”Kelompok satu kelompok bebek, kelompok dua ayam, kelompok tiga anjing, kelompok empat sapi, kelompok lima…” TUJUH http://facebook.com/indonesiapustaka
113 ”Yah, kok anjing sih,” keluh Mira. ”Bebek tuh suaranya gimana?” tanya Risa pada kelompoknya. ”Kwak! Kwak!” seru Richard. ”Kwek-kwek!” seru yang lain. ”Sepakat dulu, mau kwak-kwak ato kwek-kwek?” Simon menawari. ”Kwik-kwik, kwek!” Risa mencoba-coba. ”Kayaknya kwek-kwek aja deh.” ”Oke, semua sepakat nanti bunyinya kwek-kwek, ya! Jangan salah.” ”Sekarang semua pakai slayer-nya buat menutupi mata!” perintah Rita. Masing-masing peserta sudah berbekal slayer dari rumah tapi tetap saja ada yang tidak membawa meski sudah diumumkan jauh hari sebelumnya, seperti Bruno dan Hans. Untung panitia sudah mengantisipasi. Semua kasak-kusuk mengikatkan slayer menutupi mata mereka. Lalu para kakak menuntun tiap anggota kelompok secara acak ke tempat-tempat terpencar. ”Silakan cari anggota kelompoknya sambil menirukan suara binatang kelompoknya! Hitungan tiga mulai. Satu, dua, tiga!” Langsung suasana hiruk-pikuk, saling tabrak terjadi di halaman. Ada yang berkokok, mengeong, dan mengaum. ”Petok! Petok! Petok!” pekik Betra sembari meraba-raba dan berjalan pelan. Ia berhasil berpapasan dengan seseorang. ”Petok! Petok!” Betra kembali bersuara. ”Moo! Moo!” balas orang itu. Yah, malah ketemu sapi. Betra mengenali itu suara Puput. Lalu mereka berpisah. http://facebook.com/indonesiapustaka
114 ”Guk! Guk! Guk!” ”Petok! Petok!” Betra yakin barusan yang ”menggonggong” di dekatnya adalah Hans. ”Kwek! Kwek! Kwek!” seru Windy. Ia belum juga bertemu seorang pun. ”Ciit! Ciit! Ciit!” ”Guk! Guk!” Kali ini Fredy yang menyalak. ”Nguung! Nguuung!” ”Kwek! Kwek!” seru Simon. ”Kwek!” Windy senang akhirnya menemukan kelompoknya. Aduh, siapa ya? Akhirnya mereka berdua berjalan bersama sambil terus ber-kwek-kwek ria. Betra pun akhirnya bisa menemukan kelompoknya. Ia mendengar suara ”petok-petok” yang kompak sekali. Rupanya mereka sudah berkumpul dan hanya tinggal Betra yang masih nyasar. Waktu habis. Semua membuka slayer masing-masing. Kelompok Betra dan Hans lengkap. Kelompok Windy masih kehilangan tiga orang termasuk Risa yang berada nun jauh di dekat pagar. Kelompok sapi malah terbagi dua kubu. Di pos satu mereka disuruh membuat yel-yel dan stempel yang mewakili kelompok mereka. Stempelnya terbuat dari kentang. Pos dua, menyusun ayat Alkitab. Tiap anak dibisiki sebuah kata lalu mereka harus menyusunnya dengan berdiri sesuai dengan bunyi ayat Alkitab yang dimaksud. Di pos tiga, ada Michael. Di sana semua anggota ditutup matanya dengan slayer kecuali ketua kelompok. Tugasnya adalah semua anggota harus mengikuti instruksi http://facebook.com/indonesiapustaka
115 yang diberikan oleh sang ketua. Puput dan Naomi tak lupa berebut perhatian dari Michael. ”Ya, di pos ini… Ehem, aku haus,” ujar Michael tibatiba lebih pada dirinya sendiri. Namun, dengan sigap Puput dan Naomi menyodorkan botol minuman mereka. ”Iya, makasih. Nggak pa-pa nih?” ”Nggak pa-pa kok, Kak. Beneran. Minum aja,” desak Puput. Pos terakhir, bertempat di sungai. Alirannya jernih sekali. Anak-anak harus bisa mengeluarkan bola yang ada di dalam batang bambu yang sudah disiapkan. Bambu itu diberi lubang-lubang pada sekelilingnya sehingga tidak mudah untuk diisi air. Semua harus berusaha agar lubang itu dapat tertutup. Windy sudah menyangka bahwa Risa anak manja yang sangat menyebalkan. Sangat suka mengeluh dan lamban. Padahal Windy sangat menikmati petualangan ini. Saat berjalan di pematang sawah Windy bilang, ”Wah, jadi teringat masa kecil.” ”Iya, ya. Dulu aku juga suka main ke tempat seperti ini,” Simon menanggapi dengan ramah. ”Hah, mengerikan! Waktu aku masih kecil nggak pernah bermain seperti ini!” omel Risa yang berjalan persis di belakang Simon. Simon hanya tertawa mendengarnya. Sering kali Risa menjerit karena sesuatu yang menurut Windy tidak berbahaya. Overacting banget. Lalu Simon dan Richard akan bergegas-gegas menghampirinya. Windy sebenarnya tidak ingin peduli. Tapi karena Simon peduli, Windy jadi ikut-ikutan peduli. http://facebook.com/indonesiapustaka
116 ”Sini!” Simon mengulurkan tangan pada Risa ketika cewek itu tak sanggup naik. Windy yang sudah duluan berada di atas memperhatikan mereka dengan sebal. Ia akhirnya berjalan mendahului dan tidak mau tahu lagi soal mereka. Ia tidak menoleh ke belakang dan tidak peduli. Terserah Risa mau seperti apa! Dirinya bukan Risa dan ia bisa berjalan sendiri. Di kelompok Hans lebih aneh lagi. Hans sedang asyikasyiknya ngobrol dan jalan bareng dengan Mira, tapi tahutahu Fredy sudah ada di sampingnya. Mira ingat yang dikatakan Evi semalam. Ia hanya diam. Saat berjalan di pematang yang tinggi Hans sangat bersemangat hingga hampir tercebur. Untung Fredy yang di dekatnya memiliki refleks yang baik. Ia segera menangkap Hans dengan memeluknya. Mira langsung menahan napas dan membelalakkan mata lebar-lebar. Meskipun sudah ditangkap Fredy, kedua cowok itu tetap jatuh dan berguling-guling bersama. Mereka langsung tercebur ke sawah. Seluruh tubuh mereka penuh lumpur dan beberapa rumpun padi jadi rusak. ”Eh, lepasin! Kok kamu pake peluk-peluk segala sih?” protes Hans. ”Aku berusaha nyelametin kamu!” ”Kalian nggak pa-pa?” tanya Mira. Ia turun perlahanlahan lewat jalan yang semestinya. Sebenarnya ia ingin lari begitu saja saat menyaksikan kejadian itu dan pura-pura tidak melihat, tidak mau berurusan, tapi rasanya sungguh tidak tega melihat Hans mandi lumpur begitu. Yang merasa paling apes justru Betra. Dia juga sama lambatnya dengan Risa. Bedanya, di kelompoknya tidak http://facebook.com/indonesiapustaka
117 ada yang peduli padanya. Tidak ada Simon, tidak ada Richard. Betra berjalan paling belakang sementara Evi begitu lincah bagaikan kelinci. ”Aduh, dasar jahat semua! Ketua kelompok masa ninggalin anak buah sih? Tega!” Betra mengomel-omel sendiri. Ia masih berusaha berjalan mendaki. Teriknya sinar matahari membuat pandangan Betra sedikit terhalang. Setelah berhasil naik, Betra ternyata tidak melihat kelompoknya lagi. Wah, pada ke mana semua? Harus ke mana ya ini? Untung udah tinggal balik. Tapi lewat mana ya? Betra tidak membawa ponselnya karena tidak dianjurkan. Tidak ada yang mengurusi ponsel anak-anak jika sampai terjadi sesuatu. Betra berjalan asal sambil mengandalkan ingatan seadanya. Nah, kayaknya lewat sini nih…, batin Betra. Betra hendak berjalan menempuh pematang di bawahnya. Itu berarti ia harus melewati anak sungai. Baru menjejakkan sebelah kakinya, Betra hampir tergelincir. Ia menuruni semak-semak dan berhati-hati saat melewati batu besar yang menyembul di gundukan bukit. XY Kelompok yang sudah kembali diperbolehkan makan siang. Semua wajah tampak kumal dan letih lesu. Pakaian Bruno basah kuyup sehingga ia pulang dengan bertelanjang dada. Risa mengaku jam tangannya hilang. Hans dan Fredy, dengan tubuh berlepotan sisa-sisa lumpur, langsung berebut kamar mandi. Fredy sebenarnya menawarkan un- http://facebook.com/indonesiapustaka
118 tuk bareng, tapi Hans menolak keras. Alhasil, Fredy memakai kamar mandi Bruno. ”Risa tuh nyebelin banget,” gerutu Windy pada temantemannya. Ia menusuk tempenya dengan kejam. ”Tapi asyiknya yang bareng Simoon…,” goda Evi. ”Uh… Kalian belum tau, Hans sama Fredy tuh… Jatuh aja pake pelukan. Aku kasian sama Hans,” cerita Mira. ”Berarti bener dong kalo Fredy…,” Naomi tidak melanjutkan kalimatnya. ”Eh, by the way, Bebe mana?” tanya Puput sambil menyendok makanannya. ”Nggak tau. Tadi sih dia emang jalan di belakang. Belum balik, kali,” ujar Evi cuek. ”Tapi ketua kelompokmu Kak Arya, kan? Orangnya udah balik tuh,” Naomi menunjuk dengan dagunya. ”Kudunya anak buahnya juga udah balik semua dong.” ”Ke kamar dulu, kali. Bebe kan gampang capek,” Windy menambahkan. ”Ah, temen-temen, aku udah dulu, ya. Aku nggak selera makan nih,” ucap Mira tiba-tiba. Ia kemudian meletakkan sendok-garpunya. Tampaknya ia sedari tadi be-te lantaran memikirkan hubungan Fredy dan Hans. ”Balik ke kamar? Tolong liatin Bebe sekalian ya,” pinta Evi pada Mira yang langsung menyanggupi. Sebelum meninggalkan ruang makan Mira sempat mencomot dua buah jeruk. ”Yeee, katanya tuh anak nggak selera makan,” komentar Puput. http://facebook.com/indonesiapustaka
119 ”Win, nih kunci kamarnya,” ujar Rita yang datang mendekati Windy. ”Habis ini langsung aja packing terus ke aula buat closing.” ”Oh, jadi dari tadi kamarnya masih dikunci? Bebe belum pulang?” tanya Windy sambil menerima kunci. ”Iya, dari tadi aku nggak liat Bebe. Kukira malah udah makan duluan. Ternyata belum, ya?” tanya Rita. Windy menggeleng sambil mengunyah makanannya. Rita sudah hampir panik dan hendak melaporkan hal ini kepada teman-temannya sesama panitia. ”Nah, itu siapa?!” teriak Puput sambil menunjuk ke pintu. Tampak Betra datang dengan ngos-ngosan dan wajah pucat. Ia langsung duduk di tempat Mira tadi. ”Aduh, Bebe… Kamu dari mana, Sayang?” tanya Rita cemas. Betra hanya menggeleng-geleng. Matanya berkunangkunang dan kepalanya seakan berputar. ”Air… air…,” pinta Betra. ”Eh… ambilin air!” perintah Rita pada yang lain. ”Sekalian ambilin makan deh.” Naomi segera bertindak. Saat makanan datang, baru Betra cerita panjang-lebar tentang betapa kejamnya semua orang di kelompoknya. ”Aku pulang sendiri! Nyasar! Sebel! Evi juga! Ninggalin aku!” ”Ya, maaf, sis…,” imbuh Evi sambil menjulurkan lidah. Ia sedikit merasa bersalah juga. Kasihan amat Betra. XY http://facebook.com/indonesiapustaka
120 Sepulang dari retret semua kembali pada kesibukan masing-masing. Kehidupan sekolah, kehidupan di rumah, kehidupan nyata. Betra sedang termenung di meja belajarnya. Di hadapannya terhampar tumpukan soal ujian tahun lalu, dua tahun sebelumnya, dan tiga tahun sebelumnya. Soal-soal akuntansi itu menjadi tugas yang seharusnya segera ia kerjakan. Namun, pikirannya tidak bisa fokus. Memang biasanya juga tidak pernah fokus sih… Tapi kali ini lebih parah daripada biasanya. Menyentuh pensil pun enggan. Pikirannya hanya dipenuhi wajah Fredy. Ia terus merekam perkataan Evi… Apa benar Fredy itu gay? Layaknya kejatuhan durian matang, Betra tiba-tiba saja mendapat ide. Ide yang sungguh brilian dan cemerlang menurutnya. Tapi itu berarti ia harus siap mengambil risiko. Di sisi lain, tampaknya memang itulah satu-satunya jalan. Pasti berhasil! Pasti! Betra berjingkrak-jingrak di dalam kamarnya. Ia sudah siap menelepon Fredy, tapi lalu ragu-ragu. Ia menggigit bibir bawahnya dan berpikir sejenak. Akhirnya ia memutuskan untuk bertanya dulu pada… Hans. Tapi Hans kan selalu menentang hubungannya dengan Fredy? Tidak heran jika nanti jawabannya tidak setuju. Tapi tahu apa sih Hans? Aku nggak mungkin bilang ada dugaan Fredy itu gay. Bisa-bisa jadi gosip di sekolah. Bisabisa Hans menertawakannya seumur hidup! Bisa-bisa omong kosong itu nyebar sebelum terungkap kebenarannya… lalu Fredy benci padaku, oh tidak! Tapi tidak ada salahnya juga dicoba. Betra lalu memutar nomor telepon Hans lewat telepon rumahnya. Sesudah ini minta persetujuan… Evi? Ah, nggak. Windy? Mira? Simon? Ngawur banget. Windy… ya Windy! http://facebook.com/indonesiapustaka
121 ”Halo?” sapa sebuah suara yang berat dan dalam di rumah Hans. Seorang pria, papanya pasti. Karena Hans hanya dua bersaudara dengan adik perempuan yang masih kelas enam SD. Jadi pria satu-satunya di rumah itu ya pastilah papanya. Kecuali mamanya punya pria simpanan. Hush! ”Halo, Hans ada, Oom?” ”Ada. Ini dari siapa?” ”Bebe.” ”Oh, kamu, Be. Bentar ya.” Beliau meletakkan gagang telepon di meja lalu berteriak memanggil putranya. Ritual biasa saat ada telepon untuk anggota keluarga di rumah kita. Orang lebih suka berteriak-teriak daripada berpikir bahwa suara mereka terdengar jelas di telepon. Terkadang si penelepon akan menirukan suara-suara itu. Begitu juga Betra. Apalagi jika temannya itu dipanggil dengan nama yang tidak biasa dipakai di sekolah. Panggilan sayang maksudnya. Misalnya Wina menjadi Wiwin, Johny menjadi Ninow (diambil dari mananya?)… Sayangnya, Hans tidak punya nama seperti itu. Orangtuanya sungguh tidak kreatif. ”Halo,” sapa Hans dengan napas terengah-engah. ”Wah, abis maraton nih ceritanya?” canda Betra. ”Aku abis lari-lari dari bawah… naik ke kamar… Apaan?” Itulah salah satu kebiasaan aneh Hans. Dia bisa saja terima telepon di ruang tamu tapi selalu saja lebih suka naik ke kamarnya untuk menjawab telepon. ”Hans, aku punya ide brilian. Aku sudah memutuskan.” http://facebook.com/indonesiapustaka
122 ”Memutuskan? Memutuskan apaan?” tanya Hans tak sabar. Ia heran kenapa Betra suka sekali bicara berbelitbelit begitu. ”Aku besok mau ngajak Fredy nge-date!” ”HAH?!” ”Kenapa? Kok kaget banget sih? Kamu pasti berpikir aku ini cewek agresif. Iya, kan? Emansipasi dong.” ”Be… Be…” Hans bingung harus bicara apa. Bukan soal agresif atau tidak. Tapi saat ini Hans lebih memikirkan bahwa usaha Betra itu kemungkinan besar bakal siasia belaka! Nol besar! Fredy tidak punya perasaan apa-apa padanya. Betra-nya saja yang kepedean. ”Lebih baik jangan, Be… Please…” ”Nah, tuh kan! Aku udah menduga kamu pasti nggak bakal dukung aku! Kenapa sih, Hans? Apa aku segitu nggak pantesnya buat dia? Kenapa kamu segitu bencinya sama dia…? Kenapa…?” tanya Betra meledak-ledak. Tahu-tahu air mata sudah bergulir di pipinya. Ia bingung. Ia sungguh tidak tahu harus berbuat apa. Ia hanya ingin ada orang yang mendukungnya. Ia hanya ingin ada orang yang bilang bahwa tindakannya itu tepat… Mungkin dirinya terlalu takut dengan apa yang dikatakan Evi. Bagaimana jika seandainya Fredy ternyata benar-benar seorang gay…? Tidak! Itu benar-benar mimpi buruk! Memikirkannya saja sudah membuat Betra menangis semakin keras. ”Lho…? Lho, Be…? Kamu nangis… Yah, kok kamu jadi nangis sih? Aduh, sori deh… Aku salah? Aku nggak bermaksud kayak gitu. Suer! Eh… Nggak enak ngomong di telepon, jangan nangis dong. Aduh. Nanti kamu nggak http://facebook.com/indonesiapustaka
123 cantik lagi…,” Hans berusaha menghibur. ”Oke, aku ke sana, ya. Tunggu aku di rumahmu. Aku pengin bicara. Bisa, kan? Jangan nangis ya, Say…” ”BODO!! Jangan panggil aku say-say lagi! Kamu kan nggak pernah sayang sama aku! BODO!! Jangan dateng ke sini! Awas ya!!” BRAK! Betra membanting gagang telepon dengan keras. Sakit sekali hatinya. Hans itu memang orang paling tidak masuk akal sedunia. ”Halo, Win?” Betra selanjutnya menelepon Windy setelah berhenti menangis. Ia menjelaskan rencananya untuk mengajak Fredy kencan. Menurutnya dari situ akan dapat ketahuan sekali seseorang itu gay atau tidak. Windy diam beberapa saat. ”Ya, oke. Bisa aja. Tapi kamu harus siap mental ya. Karena biasanya kan…” ”Iya, aku tau. Cowok kan yang biasanya ngajakin duluan?” ”Kamu harus siap kalo si Fredy itu cerita ke tementemennya yang laen, kamu harus siap kalo ternyata Fredy bukan gay dan dia jadi tau perasaanmu, dan nggak membalasnya.” ”Rasanya itu semua nggak ada apa-apanya dibanding jika aku tau Fredy bener-bener gay… Rasanya itu hal yang paling nggak bisa aku hadepin…” ”It’s okay! Everything will be alright! Semangat! Masih banyak pria di luar sana. Hans misalnya…” ”Ih, jangan sebut-sebut nama itu deh. Aku lagi berantem sama dia. Nyebelin!” http://facebook.com/indonesiapustaka
124 ”Wah, pasutri lagi berantem nih ceritanya,” goda Windy sambil tertawa panjang. XY Malam itu berkali-kali Hans mencoba menghubungi ponsel Betra tapi selalu dimatikan. SMS pun tidak dibalas. Tampaknya Betra benar-benar marah padanya. Be... aq bener2 MINTA MAAF dr ht yg terdlm. Bknny aq g mau dkg kmu, gk! Tp aq cm tkt kmu tluka. Ad alasan knp aq smp tkt bgt. Eh, bsk aq jempt, y? ;) Nitez. ”’Ada alasan kenapa aku sampai takut banget...’ BAH! Satu-satunya alasan ya karena kamu iri sama Fredy! Itu aja! Betra sama sekali tidak berminat membalas SMS itu. Baginya Hans itu terlalu naif! Kenapa sih? Fredy nggak mungkin membuatku terluka! Dia baik! Sekalipun nggak suka, aku yakin Fredy nggak bakal nolak aku mentah-mentah! XY Selang beberapa lama setelah mengirim SMS untuk Betra, ponsel Hans berbunyi. Hans langsung serabutan mengambil ponselnya, yakin itu balasan dari Betra. Malam ini, ketika aku tidak dapat memejamkan mata, kupandangi jumlah bintang di langit, http://facebook.com/indonesiapustaka
125 ternyata banyak hal tak kupahami… kucoba merenungkan kebaikan2 Tuhan, dan aku menyadari bahwa engkau adl salah satu wujud kebaikanNYA dalam hidupku.. Good night… Hans sungguh terkesan dengan SMS itu. Lebih mengherankan lagi karena pengirimnya adalah Mira. Hans merasa diberkati dengan SMS itu. Ia tersenyum dan membalasnya segera. OK! Sm2. Good night jg, ya. Met malem, met bo2. Mira sumringah mendapat balasan SMS dari Hans. Memang cuma singkat, padat, dan jelas tapi itu lebih dari cukup! Mira bahkan tak pernah mengira SMS-nya akan dibalas oleh Hans. Thanks LORD…. XY ”BEBE!!” panggil Hans saat tiba di depan pagar rumah Betra. Tak lama Mama Betra keluar. ”Hans, Bebe tadi sudah berangkat tuh.” ”Ah, masa, Tante?” ”Iya. Udah, barusan.” ”Oh, ya udah kalo gitu. Mari, Tante.” Hans lalu kembali naik ke motornya dan segera melesat pergi. Wah, tega banget Bebe… Marah sampe segitunya… Niat baik gue diabai- http://facebook.com/indonesiapustaka
126 kan gitu aja. Balas SMS-ku aja nggak. Awas, kalo nanti udah ditolak Fredy! Nangis-nangis ke aku tau rasa! Padahal aku mau pamer soal SMS Mira tadi malam. XY ”Eh, kamu, Be. Ada apa?” tanya Fredy saat keluar kelas. Sebelumnya Windy memberitahu Fredy ada seseorang yang mencarinya dari kelas IPS. Fredy sudah berharap Hans, tapi saat Windy bilang seorang cewek, Fredy jadi tidak berharap. ”Ngobrol di sini nggak pa-pa kan, Be?” ”Eh… Nggak pa-pa kok. Cuma sebentar, lagi,” ujar Betra agak gugup. ”Ada apa?” Fredy mengulang kembali pertanyaannya. ”Eh… akhir pekan nanti… kamu ada acara nggak, Fred?” Fredy mengerutkan kening, berpikir sesaat. ”Akhir pekan? Sabtu nanti maksudmu?” Betra menganggukkan kepalanya cepat-cepat. ”Ada.” Betra sedikit kecewa, tapi tidak ingin cepat putus asa. ”Kalo malam Minggu aku ada pelayanan di gereja,” terang Fredy. ”Sore sampe malem. Pokoknya kalo malam Minggu nggak bisa diganggu gugat. Memangnya ada apa, Be?” Wah, hampir tidak ada harapan dong kalo gitu… ”Eh, jadi kapan kamu punya waktu lowong? Aku pengin ngajak kamu nonton…” Betra sudah pasang tampang memelasmelas segala. http://facebook.com/indonesiapustaka
127 ”Nonton? Sama siapa aja?” ”Yah… cuma kita berdua…” Fredy kembali mengerutkan kening. ”Nge-date gitu maksudmu?” Cerdas! ”He-eh! Gimana?” Betra dapat melihat dari ekspresi Fredy tampaknya dia tidak terlalu senang. ”Aku pikir-pikir dulu deh.” YAH...? ”Nanti malem aku kabari. Nggak pa-pa, kan?” ”Mmm… Oke,” ucap Betra terpaksa. ”Nanti malem. Bener lho ya…” Fredy mengangguk lalu langsung berbalik kembali masuk kelas. Betra kembali ke kelasnya dengan langkah gontai. Tak berani lagi ia berharap. Baru juga mengajak pergi, kemungkinan bakal ditolak. Gimana caranya bisa menyelidiki? Sakit hatinya. Saat melihat Betra kembali, Hans yang tidak berani menyapanya hanya bisa cari-cari perhatian. ”Eh, Mir, semalem makasih ya! SMS-nya bagus banget… Nyentuh banget…,” Hans sengaja mengeraskan suaranya agar Betra mendengar. Tapi Betra tetap cuek dan duduk di kursinya. ”Ah, nggak segitunya. Suka? Nanti malem lagi deh…” Mira senang sekali dengan reaksi Hans. Ia terus memandangi Hans tanpa berkedip. Namun, kedua bola mata Hans hanya tertuju pada satu titik. Mira menoleh. Ia ikut memperhatikan apa yang sedang diamati Hans sedari tadi. Ternyata Betra. ”Kenapa sih? Kalian berantem, ya?” http://facebook.com/indonesiapustaka
128 Kenapa lagi tuh anak? Abis nyamperin Fredy pasti. Ada kabar apa ya? Masa langsung ditolak gitu aja? Huh, dibilangin juga nggak mau denger sih… Marah mulu. Hans bicara dalam hati. Ia tidak terlalu menyimak pembicaraan Mira. ”Iya, kan?” lanjut Mira. ”Heh?” ”Ck, dari pagi aku perhatiin kok. Kalian nggak kayak biasanya. Tapi ada hikmahnya juga. Aku bisa deketin kamu,” ujar Mira sambil menopang dagu. ”Heh?” Hans terus-terusan nggak nyambung kalo diajak bicara. ”Udah, samperin sana! Gitu aja kok repot.” Mira memukul lengan Hans. Tanpa disuruh pun Hans sudah berpikir untuk menghampiri Betra. Mira tidak sadar bahwa semua kata-katanya barusan hanya terdengar sambil lalu di telinga Hans. ”Halo!!” Hans mengagetkan Betra yang sama sekali tidak terkejut. Wajahnya tetap cemberut, bahkan makin cemberut saat Hans datang. ”Ngapain sih ngelamun aja?” Hans menyenggol Betra. ”Kamu apa-apaan sih? Pergi sana!” bentak Betra garang. ”Eh, jangan marah-marah terus gitu dong. Masa sih permintaan maafku nggak kamu terima? Gimana rencana kencannya?” tanya Hans dengan senyum lebar. Untuk mendapatkan hati Betra lagi, tentu saja ia harus berpurapura berada di pihak Betra. ”Pasti sukses, kan? Pasti malem Minggu besok…” ”Udah deh, Hans! Aku nggak ngerti kamu ini punya http://facebook.com/indonesiapustaka
129 akal bulus apa. Apa sih maumu? Yang jelas, semuanya itu nggak ada hubungannya sama kamu! Baru aja tadi malem kamu menentang habis-habisan. Sekarang kamu malah bisa-bisanya bilang kayak gitu. GILA!!” ”Eh…emang kenapa? Jadi, salah lagi nih aku…?” Hans pura-pura memelas. Betra menatap Hans dengan mata nanar. ”Kencannya kemungkinan besar batal! Gagal total! Denger?! Seneng kan lo sekarang?!” Betra berlari meninggalkan kelas sementara Hans hanya terbengong. http://facebook.com/indonesiapustaka
130 FREDY baru saja selesai membaca Alkitab-nya. Baru sekali ini ia tidak bisa konsen seperti biasa. Pikirannya terus melayang pada Betra. Apa jawaban yang harus diberikannya? Kenapa semua ini harus terjadi? Selama ini ia belum pernah pergi bareng berdua saja dengan seorang cewek. Nge-date? Ia sama sekali belum pernah melakukan itu. Ia malah lebih senang jika Simon atau Hans yang mengajaknya jalan. Di Bandung ia sering hang out berdua dengan Albert. Itulah saat-saat membahagiakan dalam hidupnya. Itulah saat-saat ia tidak perlu berpura-pura menjadi orang lain. Saat ia bisa bebas menjadi dirinya sendiri. Saat ia bisa memuaskan hasratnya…. Sebuah dilema. Kembali hati kecilnya bicara. Betapa lebih indah dan bahagia dirinya jika ia bisa normal seperti pria lain. Jika ia bisa mencintai seorang gadis yang dapat DELAPAN http://facebook.com/indonesiapustaka
131 mengubah hidupnya selamanya. Mungkin kencan dengan Betra akan bisa membuatnya mencintai gadis itu. Siapa tahu? Bukankah mukjizat masih terjadi? Saat akan menghubungi Betra, ponsel Fredy berbunyi lebih dulu. Di layar LCD tertera nama Hans. Tumben, batin Fredy. Tanpa berlama-lama ia segera mengangkat panggilan itu. ”Halo?” ”Hai, Bung!” sapa Hans seperti biasa. Sebenarnya ia malas sekali harus menelepon Fredy setelah semua yang terjadi selama retret. Kalau bukan demi Betra, tentu ia tidak akan melakukan ini. Gila. ”Fred, kamu tadi bicara apa sama Bebe?” tanya Hans langsung. Ia ingin segera menyudahi telepon ini. ”Hah? Oh, nggak. Dia kok yang pengin bicara.” ”Iya. Tadi dia bilang apa?” Hans kesal karena merasa Fredy sepertinya berbelit-belit. ”Tadi dia ke kelasku. Dia ngajak aku nonton.” ”Terus? Kamu tolak?” ”Aku belum bilang apa-apa… Baru aku pikirkan jawabannya.” ”Ck, jangan kelamaan mikirnya. Fred, denger ya. Aku ngerti kamu nggak ada perasaan apa-apa sama Bebe karena dia itu gadis biasa, galak, nggak pengertian, centil, sok baik… Tapi, kamu bisa kan, nggak menyakiti perasaannya? Aku nggak minta kamu kasih harapan palsu, tapi…” ”Aku ngerti kok, Hans… Tenang aja. Kamu khawatir banget.” ”Yaaah… Bukan apa-apa. Jangan salah paham. Aku http://facebook.com/indonesiapustaka
132 nggak suka sama Bebe. Tapi kamu tau kan dia sahabatku sejak kecil… Dan aku pengin dia bahagia.” Diam beberapa saat meliputi keduanya. Ada gaung kosong di antara mereka. ”Aku putusin buat nerima ajakannya,” ucap Fredy akhirnya. ”Bagus.” Hans manggut-manggut di seberang sana meski sebenarnya ia merasa ada bagian dari hatinya yang merasa sakit. Kau berutang satu sama aku, Be! ”Nggak ada salahnya dicoba,” ucap Fredy lagi. ”Maksud kamu? Kamu nggak akan mempermainkan dia, kan?” ”Nggak. Aku cuma berusaha menimbang perasaannya. Kalo bisa cocok, kenapa nggak? Mungkin aku aja yang selama ini terlalu menutup diri.” Hening kembali di seberang sana. ”Oke. Sukses deh kalo gitu. Yah, emang sekali-sekali kencan, bersenang-senang sama cewek cantik kan nggak ada salahnya. Apalagi kamu dikelilingi gadis-gadis aduhai. Sok jual mahal kamu.” Fredy tertawa getir. ”Iya… Kamu bener juga…” Padahal apa yang ia ucapkan sangat bertolak belakang dengan batinnya. Sakit ternyata. Hans pun tertawa juga di seberang sana. Tawa pahit yang dipaksakan. Kok sekarang ada bagian dalam dirinya yang tidak rela jika Betra direbut. Bukan direbut… Apa ya namanya? Pokoknya kan nggak enak banget kalo Bebe udah jadian duluan sama cowok lain sementara aku belum…. Gimana coba kalo Bebe punya pacar? Mana pacarnya Fredy, lagi… Ih, nggak kebayang! Nggak rela! Masa aku cemburu? http://facebook.com/indonesiapustaka
133 XY ”Eh, Fredy,” ucap Betra berusaha bersemangat saat menerima telepon dari cowok itu. ”Soal yang tadi siang… Aku udah pikirin…” Betra menahan napas di seberang sana. Ia sudah siap jika Fredy menolaknya. Bahkan ia mungkin tidak dapat mencegah jika dirinya nanti sampai pingsan atau menangis. Betra memejamkan mata rapat-rapat. ”Soal ajakan kencan itu… Oke.” ”Heh?!” Betra seketika membuka matanya. ”Oke? Oke apa?” ”Ya oke. Aku mau jalan bareng kamu.” Ah, yang bener? Nggak mimpi nih? Asyik!! ”Beneran? Jadi, Fred?” ”He-eh. Tapi karena malem Minggu aku nggak bisa, gimana kalo Minggu-nya aja? Kamu ke gerejanya jam berapa?” Ah, soal ke gereja gampang! Kalo perlu nggak usah ke gereja! ”Oke, terserah kamu. Aku kapan aja bisa kok.” ”Iya, tapi kamu biasa ke gereja kapan? Aku nggak mau dong ganggu kebaktianmu.” Ups, iya nih. Fredy kan rajin. Paling nggak aku harus nunjukin aku juga ke gereja. ”Aku… ke gereja pagi. Jam… sembilan. Gimana?” ”Oh, berarti sore aja ya. Aku ke gereja jam tujuh pagi. Ya udah. Sore jam empatan kita ketemuan, ya…” ”Ketemuan? Kamu nggak jemput aku?” http://facebook.com/indonesiapustaka
134 ”Oh, iya, iya. Oke, aku jemput di rumahmu. Gitu?” ”Yah, gitu deh.” ”Kalo gitu sampe ketemu besok Minggu, ya.” ”Eh, kok Minggu sih? See you tomorrow!” ralat Betra. ”O, iya, iya. Udah, ya. Bye.” ”Bye.” YES!! Betra langsung bersorak senang di kamarnya. Andai ia bisa terbang, pastilah ia saat ini sudah terbang ke seluruh penjuru dunia. Ingin rasanya mengumumkan hal ini pada semua orang. Biar Risa iri, biar Mira tau Prince Charming-nya itu bukan Hans, apalagi Simon. Wahahahaha… Hush, kok tiba-tiba nama Simon dibawabawa? Betra jadi tidak bisa menahan diri untuk tidak memberitahu Hans. Ia harus menelepon Hans. Tiba-tiba semua kemarahannya pada Hans hilang begitu saja. Ia cuma ingin berbagi kebahagiaan. Biar Hans tau rasa! Dia pasti mencak-mencak! ”Ehem!” Betra berdeham sebentar saat sudah terdengar nada sambung. ”Halo?” Yang mengangkat langsung Hans. Betra langsung berteriak sekencang-kencangnya. ”HOI, kamu tau nggak?!!” ”Nggak…,” Hans menjauhkan gagang telepon dari telinganya. ”Apaan sih?” ”Denger ya!! Fredy barusan nelepon, dia bilang dia mau kencan sama aku!! Coba bayangkan, Hans! Betapa bahagianya aku!” ”Oke, oke. Selamat ya,” ujar Hans kalem dan tenang. ”Kok kamu gitu sih?” http://facebook.com/indonesiapustaka
135 ”Gitu gimana? Aku tuh seneng, Be… Aku ikut seneng buat kamu. Ini kan yang kamu harepin?” Betra diam sejenak. ”Iya, tapi ini aneh, tau!” Hans tertawa. ”Ya nggak lah. Pokoknya sukses deh. Oya, jangan lupa makan-makan kalo udah jadian.” ”Ah, Hans nih! Kamu suka bicara ngawur! Terlalu cepat, lagi!” Betra langsung mulai ge-er-nya. ”Tapi itu hal gampanglah. Udah ya, Hans. Aku mau bobo. Mimpi indah nih…” ”Ya, iya. Gimana nggak, wong yang dimimpiin aku.” ”Ih, pe-de banget sih! Mending mimpi penghuni-penghuni kebun binatang daripada kamu. Udah, ah. Bubye!” ”Bye.” XY Akhirnya hari yang dinanti-nantikan Betra tiba juga, setelah hari-hari yang membosankan di kelas, melewati tiga ulangan dalam seminggu, dimarahi guru karena terlambat masuk kelas, lupa mengerjakan PR, dan bertengkar dengan Evi gara-gara berebut tempat duduk. Namun, semua itu tidak seberapa jika dibandingkan dengan kegembiraan berkencan dengan Fredy. Semua itu dirasakan Betra hanyalah sebagai neraka dunia, siksaan sementara. Betra sibuk memilih baju apa yang akan dikenakannya. Ia suka warna pink, tapi apa tidak terlalu memperlihatkan perasaannya? Tunggu dulu! Jangan lupa, tujuan utama kencan ini kan untuk menggoda Fredy? Akhirnya Betra mengambil sebuah tank top-nya. Ia menempelkan baju itu http://facebook.com/indonesiapustaka
136 ke badannya sambil berdiri di depan cermin. Perfect! Seulas senyum mengembang di bibir Betra. Usai berdandan, Betra menunggu dengan gelisah di teras rumah. Sesekali ia duduk, tapi merasa tidak nyaman lantaran rok mini yang dikenakannya. Berkali-kali Betra memeriksa dandanannya dalam cermin kecil di tasnya. Jepit rambutnya masih terpasang rapi, bedaknya tidak terlalu tebal. Ia juga sudah menghabiskan uang sakunya minggu ini untuk menata rambut di salon. Lihat, betapa manis dan seksi dirinya sore ini. Perfect! Perfect! Pria normal mana pun pasti akan tergila-gila padanya. ”Belum dijemput, Be?” tanya Hans yang tiba-tiba menyembul dari balik pagar yang lumayan tinggi. ”Ya ampun, Hans! Kamu ngapain pake panjat-panjat pagar segala? Ayo masuk!” ujar Betra panik. ”Males. Aku cuma pengin liat kamu kok.” ”Mendingan kamu masuk aja deh. Kan nggak enak kalo Fredy liat kamu.” ”Kenapa? Dia juga udah tau kalo kita tetanggaan,” jawab Hans ringan, tapi akhirnya ia tetap melompat turun dari pagar dan masuk ke halaman rumah Betra. Hans memandangi Betra beberapa lama sampai-sampai Betra sendiri rikuh dibuatnya. Betra tampak seksi memakai rok pink selutut dipadu dengan tank top putih ketat bergambar seekor panda tidur. Meskipun bertetangga sejak lama, rasanya Hans belum pernah melihat Betra memakai rok ke gereja atau memakai tank top trendi di rumah. ”Apaan sih?” http://facebook.com/indonesiapustaka
137 ”Nggak. Kamu beda aja.” ”Lebih manis, ya? Cantik, kan?” tanya Betra sambil cengar-cengir mengharap pujian. ”Be, jangan lupa bawa jaket. Dingin lho,” nasihat Hans lebih terdengar seperti sindiran. Betra langsung mengatupkan mulutnya rapat-rapat. Seharusnya ia tahu bahwa Hans tidak mungkin membuatnya bahagia. Selalu kata-kata seperti itu yang diucapkannya. ”What-ever-you-say!” ucap Betra lambat-lambat dan tegas tepat di hadapan muka Hans. Tak lama berselang sebuah mobil berhenti di depan rumah Betra. Betra tahu itu Fredy. Ia sudah hafal suara mesin mobilnya, warna mobilnya, bahkan pelat nomornya. ”Itu dia! Aku berangkat ya, Hans.” Betra bergegas dan meninggalkan Hans seorang diri. ”Be…,” panggil Hans ragu. Betra menoleh. ”Nggak. Nggak pa-pa,” Hans bingung dan hanya menggaruk-garuk kepalanya. ”Have fun ya…” Betra hanya tersenyum dan mengangkat bahu. Hans pun hanya bisa menatap kepergian Betra. Saat Betra keluar pagar barulah Hans bisa berucap lirih, ”Jangan pergi, Be…” XY ”Mau nonton apa?” tanya Fredy saat mereka akhirnya sampai di gedung bioskop. ”Film romantis!” ”Transformers gimana?” tawar Fredy. http://facebook.com/indonesiapustaka
138 ”Yah, kita kan kencan. Harusnya film romance dong!” ”Ah, nggak harus, lagi.” ”Aku pengen nonton Twilight.” ”Lho… Itu kan udah ada bukunya? Baca bukunya aja. Kita nonton Transformers aja, ya? Ada Shia LeBeouf….” ”Kamu nge-fans sama Shia LeBeouf?” ”Ya gitu deh. Aku suka aktingnya.” Betra menyipitkan mata. Ini aneh nggak sih? Tapi dulu aku inget waktu SMP temen cowokku ada yang nge-fans sama F4. Dia bukan gay, dia cowok tulen dan punya cewek. Jadi ini masih wajar, ya? ”Ya udah. Okelah. Aku ngalah. Kita nonton Transformers. Aku juga suka Shia LeBeouf kok. Sana cepetan antre!” Saat Betra mengeluarkan ultimatum tersebut Fredy langsung berjingkrak senang. Lucu juga melihatnya. Tapi mana ada sih kencan pertama malah ribut mau nonton apa? Tambahan pula ceweknya yang harus mengalah. Mestinya dari rumah sudah sepakat mau nonton apa, jadi tidak buang-buang waktu. Tapi Betra memang sama sekali tidak memikirkan hal itu. Baginya, Fredy mau menerima ajakannya saja sudah merupakan suatu anugerah. Bagaimana sempat memikirkan mau nonton apa? Nonton film hitam-putih pun Betra rela! Setelah berdiri di belakang dua cewek berambut pirang yang berbisik-bisik dan seorang cowok setengah baya berambut gondrong, akhirnya Fredy mendapatkan tiket. Film baru akan diputar pada pukul 17.15. Masih sekitar setengah jam lagi. Betra menyuruh Fredy membeli makanan ringan dan softdrink. http://facebook.com/indonesiapustaka
139 XY Fredy begitu terhanyut dengan film yang diputar. Betra pun sebenarnya penggemar berat film. Ia selalu tahu dan up to date soal film-film terbaru. Tapi saat ini perhatiannya justru tersita oleh Fredy. Bagaimana cara merayu dan memikat hatinya? Masa sedari tadi Fredy tidak menyinggung soal dandanannya sih? Ini terlalu aneh. Dia anggep aku ini apa? batin Betra sebal. Betra mulai menjalankan aksinya. Ia meraba tangan Fredy. Fredy awalnya tidak peduli, tapi lalu menoleh. ”Kamu kedinginan?” tanya Fredy sambil menarik tangannya. Betra melotot mendengar pertanyaan itu. ”Apa AC-nya terlalu dingin? Tanganmu dingin banget tadi.” ”Eh… Iya, sedikit.” ”Nih, mau pake jaketku?” Fredy menyerahkan jaketnya. Betra senang dengan perhatian Fredy, tapi bukan ini yang ia harapkan. ”Nggak usah. Thanks…” Betra menepis jaket Fredy lalu kembali pura-pura asyik menonton. Sampai selesai film diputar, ia tidak berniat lagi melakukan yang aneh-aneh. Tapi ia sibuk memikirkan rencana selanjutnya. ”Bagus kan filmnya?” ujar Fredy puas saat sudah berada di luar. Betra hanya mengangguk. ”Laper nih…,” keluh Betra. ”Makan yuk?” ”Boleh. Makan di mana?” ”Mmm… Enaknya apa?” Betra menggelayut manja pada lengan Fredy. ”Kamu mau makan apa?” http://facebook.com/indonesiapustaka
140 ”Em… Eh, ini apaan sih?” Fredy melepaskan diri dari ”serangan” Betra yang mendadak. ”Kenapa? Kita kencan, kan?” ”Ya, tapi bukan pacaran! Inget itu!” kata Fredy marah. Ia mempercepat langkahnya sehingga berjalan beberapa meter di depan Betra. Betra pun berjalan semakin lambat di belakangnya. Mereka tidak seperti orang pacaran lagi. Fredy bahkan tidak menoleh. Betra tidak mengerti. Fredy itu tidak suka pada dirinya atau pada semua cewek? Mana yang lebih menyakitkan? Bahwa perlakuannya tadi pertanda: a. dia seorang gay; b. dia bukan gay, hanya saja Fredy tidak mencintai dirinya, ada cewek lain…. Betra benar-benar pusing. Yang jelas perlakuan Fredy tadi bukan pertanda baik. Di area parkir banyak cowok iseng tengah nongkrong. Mereka merokok dan tertawa-tawa bersama. Betra yang berjalan seorang diri dengan penampilan seksi menjadi sasaran empuk bagi mereka. ”Manis...,” panggil salah seorang dari mereka. Wah, gawat! batin Betra. Kok malah ketemu orang-orang gila? Aduh, mana pakaian gue minim-minim, lagi…. Alangkah senangnya mereka. Fredy jalannya juga cepet banget sih. Tega amat? ”Wah, sok jual mahal nih!” ”Sendirian, ya? Sini main dulu sama kami.” Please deh! Ini lebih dari cukup! pikir Betra kesal. Tanpa pikir panjang dia menghardik cowok-cowok itu. ”Heh! Jangan kurang ajar ya! Mau kuhajar apa?” Tentu saja Betra tidak sungguh-sungguh dengan ucapannya. Ia hanya emosi dan ingin menggertak, tapi dalam hati ketakutan http://facebook.com/indonesiapustaka
141 setengah mati. Bagaimanapun tidak mungkin seorang cewek bakal menang melawan empat-lima orang cowok mesum! ”Eh, berani juga nih cewek?” ”Kita habisi aja!” Cowok-cowok itu bangkit dan berjalan mendekati Betra. ”Heh, gue teriak nih!” Betra pasang ancang-ancang. ”Ayo, Be, kamu ke mana aja?” Fredy tiba-tiba datang dan menarik pergelangan tangan Betra. Betra merasa lega setengah mati. Senyumnya mengembang. ”Lama banget aku tungguin di mobil.” ”Kamu siapa?” tanya salah seorang cowok berandal itu. ”Aku? Aku pacarnya. Jangan sentuh dia! Ngerti?” Fredy merangkul Betra. Betra dapat merasakan debaran jantungnya semakin keras. ”Ayo, Be.” Saat mereka akan pergi, seorang berandal menghalangi mereka. ”Mau ke mana? Cewekmu itu buat kami aja.” ”Enak aja kalo bicara!” BUK! Fredy memukul cowok itu tepat di wajah. Betra tercengang dibuatnya. Tanpa berlama-lama Fredy menggandeng Betra dan berlari menuju mobilnya, di area yang cukup ramai dan aman. Sementara Betra ketakutan setengah mati. ”Hampir aja kita mati,” komentar Fredy. ”Kamu tadi kenapa ninggalin aku?” tanya Betra dengan nada menuduh. ”Sori. Tapi kan aku balik lagi.” Fredy tersenyum pada Betra. http://facebook.com/indonesiapustaka
142 ”Aku sungguh nggak tau, Fred. Entah gimana kalo kamu nggak datang… Thanks,” kata Betra dengan suara nyaris berbisik. Baru sekarang dia merasa lemas dan ketakutan. ”Kita kan teman. Ini juga salahku.” Tanpa perdebatan mereka memutuskan makan di Pizza Hut. Pilihan yang tidak terlalu buruk. Selera standar kebanyakan orang. Kencan ala anak SMA ya ke restoran seperti itu, makanannya lumayan mewah tapi harganya tidak terlalu mahal. ”Fred, penampilanku hari ini gimana?” tanya Betra langsung. Insiden dengan cowok-cowok nakal tadi sudah lenyap dari ingatannya. Sekarang Betra fokus pada tujuan kencannya bersama Fredy. ”Bagus.” Fredy mengangguk-angguk sambil melahap pizza-nya. ”Bagus gimana? Kok pujianmu kayak nggak tulus gitu?” ”Dandanan seperti ini kan yang mengundang para pria datang,” kata Fredy dengan nada biasa. ”Termasuk kamu?” Fredy angkat bahu. Betra tidak mengerti maksudnya. Apakah Fredy tidak mau mengakui bahwa ia tertarik pada Betra? ”Kamu suka cewek kayak gimana sih, Fred?” ”Maksud kamu?” ”Cewek yang pengin kamu jadikan pacar…” ”Aku nggak berpikir ke sana.” Fredy berhenti makan. ”Belum mau pacaran maksudmu?” desak Betra. http://facebook.com/indonesiapustaka
143 Fredy hanya angkat bahu. ”Jangan ngomongin itu, ah. Kamu sendiri gimana?” Betra tersenyum simpul. ”Curang. Aku juga nggak mau cerita.” Fredy tertawa sesaat. Mereka lalu makan tanpa bicara sepatah kata lagi. Betra benci suasana ini. Ia benci kesunyian. Ia benci diam. Ia sebenarnya ingin menghancurkan kebekuan di antara mereka. Betra berharap ini akan menjadi kencan yang romantis. ”Kamu tau nggak?” tanya Betra tanpa menatap Fredy. Ia hanya memain-mainkan sedotannya yang diputar-putar di dalam gelas minumannya. ”Ada gosip miring yang beredar tentang kamu lho… Temen-temen ngirain kamu gay. Gara-gara sikapmu yang tertutup sama cewek.” Fredy berhenti mengunyah. Ia terdiam, kaget sekaligus bingung harus bicara apa. Betra berharap Fredy mengelak. Betra berharap Fredy akan marah dan mengatakan itu semua tidak benar. Kumohon! ”Haha…,” Fredy tertawa getir. ”Isu dari mana? Adaada aja.” Betra menarik napas lega. ”Jadi itu nggak bener, kan?” ”Toh nyatanya aku kencan sama kamu, kan?” kata Fredy, tapi nadanya datar. ”Syukur deh. Berarti aku ada harapan dong?” tembak Betra langsung. Fredy tersenyum pahit. Lagi-lagi ia berkhianat pada batinnya. Di sisi lain ia memang tidak ingin orang-orang melihat siapa dirinya yang sebenarnya. Ia tidak mau ditolak dan dikucilkan masyarakat, dianggap tidak normal, http://facebook.com/indonesiapustaka
144 disebut-sebut sebagai kaum yang menentang agama. Rasanya semua itu terlalu berat untuk diterima sekali lagi. ”Ya udah. Yuk pulang,” ajak Fredy sembari bangkit berdiri dan memberi tanda meminta bon kepada pelayan. ”Yah, pulang? Nanti dulu… Aku pengin punya banyak waktu bersamamu.” Betra meraih tangan Fredy. ”Ngapain lagi? Besok kan sekolah. Lagian aku bawa anak orang. Masa aku mulangin anak orang kemaleman? Hehe…,” canda Fredy setengah hati. Akhirnya Betra bersedia diajak pulang setelah Fredy berjanji lain kali mereka akan nonton bareng lagi. Sepanjang jalan pulang hati Betra terus berbunga-bunga sementara Fredy merasakan kegalauan yang sangat. Bagaimana mungkin kabar itu bisa terdengar sampai ke teman-temannya? Rahasia yang begitu rapat ingin ia tutup. Apa yang terjadi? Padahal ia telah berusaha memendam semua kenangan itu di Bandung bersama Albert. Ia harus bertindak lebih hati-hati jika tidak ingin menggali kuburannya sendiri di sini. ”Udah sampai,” ujar Fredy saat tiba di muka rumah Betra. ”Makasih, Fred… buat semuanya… Aku bahagia,” ujar Betra memandangi Fredy penuh arti. ”Ya sudah. Sana cepet turun,” ujar Fredy sambil memalingkan muka. Ia benar-benar merasa kesal dan muak. Ia benci topengnya dan ia merasa lelah. Ia tidak bisa menjadi pria yang diinginkan Betra. Dirinya sendiri haus akan kasih sayang Albert… ”Fredy…” Yang dipanggil tidak menoleh. Sekali lagi http://facebook.com/indonesiapustaka
145 untuk kesekian kalinya sikap Fredy menorehkan luka di hati Betra. ”Fredy, kamu kenapa sih?” Betra mengguncang-guncang tubuh Fredy. ”Turunlah, Be. Aku capek.” Fredy menepis tangan Betra. ”Oke.” Betra sudah berbalik dan siap membuka pintu mobil. Namun, pada detik berikutnya ia berbalik kembali dan mendaratkan sebuah ciuman di bibir Fredy. Enak saja! Dia pikir bisa mengusirku begitu saja? Aku nggak puas dengan malam ini! batin Betra bete. Sebagai ”korban”, Fredy tidak bisa mengelak. Terlalu tiba-tiba. Terlalu cepat dan tidak terduga. Ia menerima ciuman itu dengan mata terbuka lebar lalu melepaskan diri dan mendorong Betra dari sisinya. Ia pikir Betra hanyalah seorang gadis SMA lugu biasa yang tidak ”berbahaya”. ”Kamu ini apa-apaan sih?” bentak Fredy. Jantungnya berdebar lebih cepat. Betra tertawa senang dengan mata nanar. Ia merasa menang tapi juga terluka. Kenapa Fredy sama sekali tidak tertarik pada dirinya? What’s wrong? Masalah dia bukan gay… ”Dasar cewek murahan! Kamu harusnya bersyukur aku memperlakukanmu dengan sopan! Jadi… jadi itu yang selama ini kamu inginkan? Oke! Kalo itu yang kamu mau! Memangnya kamu pikir aku nggak berani berbuat seperti itu, gitu?!” Fredy mendekati Betra, menyudutkannya di jok mobil. Ia hanya ingin menggertak Betra. Ia ingin Betra tahu rasa. Sudah lelah ia dengan semua ini. Cukup! http://facebook.com/indonesiapustaka
146 Tidak! Bagaimana ini? Ternyata dia memang bukan cowok baik-baik… Aku menyesal! jerit Betra dalam hati. Ia memejamkan mata dan tidak sanggup berteriak. ”Pergilah,” ucap Fredy akhirnya. Ia tidak tahu apakah dirinya masih waras atau tidak. Tapi kalau memang dia waras, kenapa dia mencintai sesama laki-laki? Apakah batasan antara waras dan tidak waras? ”Kenapa…” ”Pergi. Aku nggak mungkin melakukan ini. Kamu tau kenapa? Karena aku nggak mencintaimu. Aku nggak mungkin bersamamu. Karena aku ini gay! Apa kamu sudah mengerti?” Air mata Betra langsung tumpah. Kebohongan apa lagi ini? Tidakkah ini terlalu kejam baginya? Belum lewat satu jam saat Fredy mengatakan bahwa dia bukan gay… Dia bilang itu cuma isu dan memang benar, kan? ”Bohong. Kamu bilang begitu supaya aku nggak mendekatimu lagi….” ”Inilah kenyataan, Be. Aku bener-bener seorang gay! Buka matamu! Aku nggak mungkin bersamamu!” ”Bohong!” Betra menangis semakin histeris. ”Liat ini, Be! Liat ini!” Fredy merogoh saku celananya, mengambil dompet dan membukanya. Ia menunjukkan sebuah foto yang diambil dari dalam dompetnya. Di foto itu ada Fredy dan seorang cowok lain seusianya. Mereka sama-sama tersenyum bahagia. Fredy duduk di pangkuan cowok itu dan mereka berpelukan. Betra langsung mual melihatnya. Dengan tangan gemetar Betra meraih foto itu. Apa ini? http://facebook.com/indonesiapustaka
147 ”Aku dan Albert… Kami dipisahkan karena perbuatan bejat kami. Tidak, lebih tepatnya karena cinta… Bandung menyimpan semua kenangan masa lalu kami.” Betra tak percaya ini. INI GILA! Lidahnya terlalu kelu untuk dapat berkata-kata. Ia hanya mampu menggelengkan kepala berulang kali. ”Pasti… Pasti ada yang salah… Foto ini…” Fredy menggeleng pelan. ”Ada ungkapan, cinta tidak pernah berbuat salah. Tidak masalah siapa yang kamu cintai, siapa yang aku cintai… Tapi aku nggak pengin menyakitimu lebih dari yang sudah-sudah, teman…” Fredy hendak menepuk pundak Betra tapi Betra menepisnya. Ada rasa mual dan jijik menghinggapinya. Tapi ia juga tidak akan menyerah! Ia pasti bisa membuktikan bahwa Fredy cuma berbohong! Fredy pasti cuma ingin memperdaya dirinya dan setelah ini akan tertawa puas terbahakbahak. Fredy bukan gay! Betra menyeka sisa-sisa air matanya. ”Aku nggak percaya ini! Kamu cuma nggak mencintaiku!” Betra lalu turun dari dalam mobil. Ia terisak-isak masuk ke rumahnya. Perasaannya benar-benar kacau dan hatinya hancur. Ia membanjiri ranjangnya dengan air mata. http://facebook.com/indonesiapustaka
148 HANS terus-menerus gelisah di kamarnya. Ia berjalan mondar-mandir seperti orang bingung. Jam dinding menunjukkan pukul setengah sebelas lewat. Hans memikirkan Betra. Pasti jam segini Betra udah pulang. Telepon nggak, ya? Tapi kalo ditanya kenapa, mau bilang apa? Masa ngaku aku cemas, khawatir…? Hans sudah berkali-kali hendak menghubungi nomor Betra, tapi membatalkannya. Akhirnya untuk kedelapan kalinya Hans mengangkat HP-nya, siap menghubungi Betra. Nanti gimana? Pasti dia ngejek aku habis-habisan! Biarin! Enaknya bilang apa ya? Aku penasaran apa dia bikin kacau ato nggak. Gitu, kali ya? Oke, sip! Sip!! XY SEMBILAN http://facebook.com/indonesiapustaka
149 Betra ragu-ragu mau menjawab telepon Hans. Kenapa cowok ini tidak juga berhenti mengganggu hidupnya? Apa kata Hans nanti saat tahu kencan Betra berakhir dengan Fredy mengaku dirinya seorang gay? Bahwa Fredy mencampakkannya, tidak pernah memandangnya karena seseorang bernama Albert, karena Fredy seorang gay…? Tidak!! Hans pasti meledeknya habis-habisan! NSP I Think I Love You-nya Full House memenuhi ruang dengar Hans. Dengan sabar ia menanti teleponnya diangkat. TUUUUUUUT… Hans tersentak sewaktu ponselnya mengeluarkan nada panjang itu. Diputus? Kenapa? Hans heran sekaligus bingung. Apa ini sudah terlalu malam? Nggak deh, Bebe tuh kalo bahagia bawaannya suka nggak bisa tidur… Hans berniat menghubunginya lagi, tapi ia raguragu. Nggak, ah! ”Met malem deh, Be… Kamu pasti bahagia banget sampe nggak mau angkat teleponku. Mulai sekarang hidupmu pasti bakal berubah… Ya. Hidupku juga.” Hans bergumam seorang diri seolah Betra ada di sana untuk mendengarnya. XY ”Eh, sebagai teman kamu ngerasa nggak?” tanya Hans lirih pada Mira. ”Bebe hari ini kok murung banget? Sejak tadi pagi sampe mau pulang… Kenapa ya?” ”Ya samperin sana gih!” Mira mendorong tubuh Hans. ”Nggak, ah. Nanti aku dimarah-marahin. Dia sering http://facebook.com/indonesiapustaka