The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Novel Romance Repository, 2023-10-25 22:56:14

NEVER BE THE SAME

NEVER BE THE SAME

50 Seorang wanita yang bisa memberi keturunan dan kebahagiaan bagi orangtua Fredy. Tapi kali ini pun hatinya tidak bisa tertaut pada gadis-gadis yang senantiasa mengelilinginya. Ia tetap hanya memperhatikan cowok-cowok macho dan keren. Cowok maskulin, cowok memikat yang bisa diandalkan…. Dan gairahnya saat ini tertuju pada… Hans. XY ”HALUUU…!!” sapa Betra dengan berteriak keras-keras di ponselnya. Hans yang sudah terlelap jadi gelagapan. ”Ngapain…,” ucap Hans lirih sambil memeluk guling. ”Idih… Jam segini udah tidur? Hans gitu looh… Nggak biasa banget!!” Betra tetap bicara dengan suara keras tanpa memedulikan tanggapan Hans yang lirih. ”Ada perlu apa? Kalo nggak penting banget aku tutup nih,” ancam Hans dengan mata masih terpejam. ”Eit, eit! Jangan, Bos! Ini telepon penting banget! Tadi Fredy telepon aku!” ”Ya udah. Aku tutup, ya!” ”Eh, bukan itu inti masalahnya. Gini, dia berharap, memohon, minta tolong, pengin banget, kita berdua besok datang kasih support ke pertandingan basketnya…. Kamu nggak ada acara, kan? Bisa, ya? Sayang nggak sama aku?” Betra mulai merajuk seperti biasa. ”Bebe sayang… Gini ya, bukannya aku nggak sayang sama kamu, tapi kamu nggak pengertian banget. Aku nih baru diare… Bolak-balik ke WC dari tadi.” http://facebook.com/indonesiapustaka


51 Betra hampir tak bisa menahan tawa mendengarnya. ”Lho… Kok bisa? Tadi nggak pa-pa, kan?” ”Nggak tau. Kualat sama kamu, kali. Gara-gara makan gado-gado…” ”YAH! Tapi besok pagi sembuh, kan? Sembuh dong... Ayolah, Hans… Besok kamu kudu berangkat… Ini kan jarang-jarang…” Hans diam sejenak. Dipikir-pikir tidak ada salahnya juga men-support teman. Yah, biarpun tidak terlalu akrab. Biarpun baik Betra maupun Fredy masing-masing punya tujuan sendiri-sendiri. ”Ya, okelah. Daripada ke gereja mending liat basket. Tapi aku nggak janji ya.” ”Nah, gitu dong! SIP! Besok jemput aku jam tujuh, ya!” ”Jam tujuh?” pekik Hans. Matanya sedikit terbuka. ”Mau ngepel dulu lo?” ”Ih, ya nggak! Mulainya kan jam delapan! Kan nggak ada salahnya datang early morning.” ”Aku berangkat ke gereja aja jam sembilan kurang lima menit buat kebaktian jam sembilan, ini mau nonton basket aja kenapa harus lebih pagi sih?” ”Hans… my lovely brother, please… Please, ya… Ini kesempatanku buat bisa deket sama Fredy. Masa kamu tega sih? Bantuin aku kek sekali-sekali.” Hans mendengus kesal. ”Ya udah. Udah, kan? Nggak ada lagi? Aku mau tidur!” ”Iya, iya. Tidur ya, Sayang… Biar cepet sembuh. Biar besok bisa liat Fredy maen. Hehehehe…” Betra tertawatawa senang. http://facebook.com/indonesiapustaka


52 XY Ponsel Fredy berbunyi di samping tempat tidurnya. Ia berharap itu pesan dari Hans. Mungkin dia mau bilang oke buat acara besok. Mungkin dia mau kasih support ke aku lewat SMS… Mungkin, mungkin… NaiTs, HanZ. :) Ni BeTra ;) No-ku iNi disaVe y. Ak Cm mO bLg meT b’JuaNg bt Bsk. DoaQ mEnYerTaimU sLalu. PerCayaLaH pdNYA, juZ Du uR BeZt! :) I’LL PRAY 4U (soRi, aK tAu no-mU dR sImoN jG :D Fredy menghela napas panjang. Tidak tahu harus bagaimana. Pantaskah ia kecewa? Ia ragu-ragu ingin membalas pesan Betra. Tangannya berulang kali mengetik tapi berulang kali dihapus pula. Akhirnya ia meletakkan ponselnya begitu saja. Andai Hans yang SMS begitu…. Andai Hans yang bilang akan berdoa untukku…. Sementara Betra berada di kamarnya dengan lampu dipadamkan, duduk di ranjangnya sambil memeluk lutut. Ia memandangi ponselnya. Cahaya bulan yang masuk lewat jendela kamar menciptakan secercah terang di kamarnya yang luas. Betra berharap Fredy akan membalas pesannya. Entah hanya satu kata: Oke!, Thanks! Atau apalah. Betra akan senang sekali. ”Uh, nggak boleh gini! Kok aku jadi nggak tulus sih?” Betra menggeleng-gelengkan kepala. Ia tahu tidak seharusnya berharap, tapi ia juga tidak beranjak sedikit pun dari http://facebook.com/indonesiapustaka


53 tempatnya. Ia justru membenamkan kepalanya di kedua lutut dan terlelap sampai pagi. XY ”HANS!!” Betra berteriak-teriak di muka rumah Hans pagi itu. Pasalnya, sudah pukul tujuh lewat sepuluh menit tapi orang yang seharusnya menjemputnya itu belum kelihatan juga batang hidungnya. Untung rumah mereka hanya terpaut satu rumah. Jadi, Betra bisa kapan saja bertandang menemui Hans. ”Be, bentar aku mau ke belakang! Pagi ini udah dua kali. Aduh…” Hans berlari ke belakang sambil memegangi perutnya tanpa terlebih dahulu mempersilakan Betra masuk dan duduk. Tapi tanpa disuruh pun Betra sudah mendarat di kursi empuk ruang tamu keluarga Hans. Mukanya dilipat-lipat karena kesal. Batal deh rencana datang lebih awal… Hans pake acara sakit segala sih… Salah siapa coba? Tapi kasian juga sih kalo pas pertandingan dia harus bolak-balik ke WC… Gimana doooong? Apa aku terlalu maksain dia, ya? Betra bertanya-tanya dalam hati. Pukul delapan kurang lima belas, keduanya baru tiba di tempat pertandingan. Barisan depan sudah terisi penuh. Terpaksa Betra puas dengan tempat yang ada. ”Be, sori banget. Aku nggak nyangka bakal kayak gini. Sori ya, Be…” Betra mencoba tersenyum. Meskipun sering ribut, di saat susah mereka bisa saling membantu dan pengertian. http://facebook.com/indonesiapustaka


54 Buat Betra… Hans adalah sahabat sejati. Begitu pun sebaliknya. ”Nggak pa-pa, Hans… Malah aku yang merasa nggak enak karena kamu lagi sakit…” ”Udahlah. Aku ngelakuin ini bukan buat kamu kok. Dasar ge-er!” Betra tidak membalas apa-apa. Hari ini ia sedang tidak ingin ribut. Ia tahu Hans sedang mencoba menghiburnya. Betra sebenarnya be-te juga sih. Sudah tidak bisa ketemu Fredy sebelum pertandingan, tidak bisa lihat dari depan pula! Tapi bisa hadir ke pertandingannya saja cukup kok. ”Semalam aku SMS Fredy,” cerita Betra. ”SMS apa?” tanya Hans sambil memandang Betra. ”SMS… gini,” Betra menyodorkan ponselnya, memperlihatkan pesan untuk Fredy yang masih disimpannya. Hans membaca pesan itu dengan cepat. ”Terus?” Ia menyerahkan kembali ponsel itu pada pemiliknya. Betra menggeleng. ”Nggak dibales.” Hans tersenyum lalu menepuk kepala Betra seperti yang biasa dilakukannya. ”Ya nggak pa-pa, lagi. Kalo jadi dia, mungkin aku juga nggak akan bales. Kan isinya cuma memberi semangat. Tapi bukannya nggak suka lho ya.” ”Iyalah, aku ngerti kok.” Betra berusaha menyembunyikan kekecewaannya. Setelah itu ponsel Betra bergetar. Ada satu pesan masuk. Betapa terkejutnya ia saat mengetahui siapa yang mengirim. Hi, B-tra. km udah dtg blm? sm hans kan? http://facebook.com/indonesiapustaka


55 ”O, my God !” pekik Betra. ”Siapa?” tanya Hans penasaran. ”Ini!” Betra menunjukkan pesan Fredy. ”Ck, sempet-sempetnya di detik-detik terakhir mau tanding malah SMS cewek.” Perkataan Hans membuat Betra mau tak mau ge-er juga. Iya, ya. Segitu berharapnya aku datang… Dengan lincah jari-jari tangan Betra mulai menari-nari di atas keypad. Ak uDah nYamPe ni. LiAt aJ d baRiSan aGak bLkg ;) Dua menit kemudian, ada balasan dari Fredy. YA. tp km sm hans kan?? Betra benar-benar terkejut membacanya. Begitu pun Hans saat diberitahu. Betra merasakan suatu kejanggalan, tapi ia menepis semua itu. Kok Hans terus sih? batin Betra. ”Wah, kayaknya Fredy ’suka’ sama kamu nih,” canda Betra sambil nyengir. ”HOEKH!!” Hans langsung berakting pura-pura muntah. Tanpa curiga lagi Betra kembali asyik membalas pesan Fredy. Hatinya berbunga-bunga dan melambung tinggi saat ini. :) Y pOkoKnY, kM cRi aJ y aK d Mn. kRn d mN aD Be2, d sT jG pSt kM bkL liaT HanZ. GooD LuCk! ;) http://facebook.com/indonesiapustaka


56 Sesudah itu tidak ada balasan lagi. Pertandingan dibuka dengan penampilan cheerleaders dari sekolah Betra. Di antara cewek-cewek centil nan lincah itu mereka dapat melihat Risa. Pakaiannya yang seksi membuat Hans yang tadinya tidak begitu bersemangat langsung membuka mata lebar-lebar, mencondongkan tubuh ke depan, dan tak hentihentinya air liur menetes dari mulutnya (nggak ding). Betra sih senang sahabatnya itu merasa terhibur, tapi kenapa harus Risa gitu loh…? ”Harusnya kita duduk di depan, Be,” ujar Hans. Betra hanya bisa mengerucutkan bibir. Anak ini dari kemarin nggak ngerti apa yang aku omongin? Aku kan bilang berangkat pagi, gerutu Betra dalam hati. Pertandingan pertama antara sekolah X dengan sekolah Y. Sekolah Betra mendapat nomor undian kedua. Bagi Betra dan Hans yang bukan penyuka basket rasanya sungguh membosankan menunggu giliran sekolah mereka berlaga di lapangan. Saat Betra mengira semuanya baik-baik saja dan berjalan dengan lancar, eh… Hans tiba-tiba mulai kambuh lagi sakit diarenya. Dia pamit ke belakang sebentar. Meski kecewa, Betra bisa apa? Masa dia mau menahannya di sini? Bisa-bisa terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. ”Cepetan balik, ya,” pesan Betra. Ia menatap sahabatnya itu dengan prihatin. Ternyata sampai hampir pertandingan sekolah mereka Hans sudah bolak-balik tiga kali. Betra merasa malu juga pada orang-orang di sekelilingnya. ”Be, sori…,” ujar Hans saat perutnya sudah terasa agak mendingan. ”Aku kayaknya mau pulang aja deh. Keadaan http://facebook.com/indonesiapustaka


57 tidak memungkinkan. Aku beneran nggak bisa. Aku nggak enak harus bolak-balik ke kamar mandi terus, gangguin penonton lain. Titip sori ya buat Fredy.” ”YAH…” Betra rasanya hampir menangis, soalnya amanat Fredy yang paling utama kan Hans harus ada. ”Maaf. Nanti aja kamu ceritain lanjutan pertandingannya. Nanti aku telepon Fredy. Kamu nanti pulang sendiri bisa, kan? Atau minta aja Fredy nganterin kamu. Udah, ya. Aku pulang…” Tanpa menunggu komentar Betra, Hans sudah berlalu. Dia tak tahu kapan ”panggilan alam” itu akan datang lagi. Sungguh malapetaka jika memaksakan diri pergi saat sedang diare. XY ”Be!” panggil Fredy seusai pertandingan. Betra berlari menghampirinya. ”Eh, Fred, selamat ya! Meskipun nggak juara satu, sekolah kita bisa dapet juara tiga itu udah bagus banget! Kamu main bagus kok. Mau dirayain nggak nih?” tanya Betra dengan gembira. ”Thanks, tapi mana Hans? Aku liat dia tadi nggak ada. Kamu bohong, ya?” tanya Fredy sedikit marah. Betra sempat kaget. Kenapa Fredy seperti ini? Tidak memercayainya, marah… Kenapa Hans terus, Hans terus…? Tapi untung Betra masih waras dan segera menguasai diri. ”Hans? Oh… Dia tadi ada, tapi buru-buru pulang. Lagi diare. Dia titip salam buat kamu,” ucap Betra dengan http://facebook.com/indonesiapustaka


58 agak menyesal melihat roman muka Fredy yang tampaknya kecewa. ”Udahlah.” Betra menepuk pundak Fredy. ”Tadi katanya dia bakal nelepon kamu. Jangan sedih gitu dong. Seharusnya kan kamu seneng.” ”Iya, kamu bener. Sori ya…” ”Halo!” sapa sebuah suara. Ketika Fredy dan Betra menoleh, mereka melihat Simon datang ke arah mereka. ”Maaf ya, baru dateng. Udah selesai, ya? Gimana? Sori, aku ada pelayanan di gereja.” Simon tersenyum lebar. Haduh, Simon ini. Emang lo kapan sih nggak pelayanan? batin Betra. ”Nggak pa-pa. Thanks ya,” ujar Fredy. ”Sekolah kita juara tiga,” ucap Betra tenang. ”Oya? Wah, bagus, bagus! Selamat ya! Meskipun nggak juara satu, kita tetap harus bersyukur. Seperti khotbah hari ini, Tuhan tidak akan membiarkan anak-anak-Nya bergumul sendiri. Tuhan sendirilah yang maju berperang untuk kita.” Saat Simon mengucapkan khotbahnya, Betra hanya bisa menguap lebar. Emang dia tidak ke gereja minggu ini, tapi bukan berarti harus mendapat khotbah privat, kan? ”Selamat ya. Aku seneng banget.” Tak henti-hentinya Simon memeluk Fredy. Ini cuma juara tiga. Entah apa yang terjadi kalo jadi juara satu. Simon bakal ngapain, aku nggak bisa bayangin, batin Betra. ”Kak Fredy!” panggil Risa dari jarak dua meter. Ia mengisyaratkan agar Fredy mendekat. ”Habis ini ke mana?” tanya Fredy pada Betra. http://facebook.com/indonesiapustaka


59 Wah, terancam makan siang bareng nih! batin Betra senang. ”Eh… Nggak ke mana-mana,” jawab Betra sok polos. ”Kalo gitu ikut aku, ya?” pinta Fredy. ”Kamu sekalian, Mon. Tapi tunggu sebentar. Aku beresin mereka dulu.” Fredy lalu berlari menuju Risa dan teman-temannya yang sudah berkumpul. Beneran nge-date? O, my God! Tapi kenapa harus ada Simon segala sih? Apa dia nggak tau ini momen Fredy seharusnya mengusir Simon? Aduh, dasar Fredy emang baik. Dia pasti ngerasa nggak enak ninggalin Simon yang udah bela-belain ke sini abis pelayanan, Betra bicara dalam hati. Tak berapa lama Fredy kembali. ”Selesai urusannya?” tanya Betra. ”Sudah. Tadi rencana mau makan bareng anak-anak. Tapi aku pengin nengok Hans. Anterin ke rumahnya bisa, kan?” Pupus sudah harapan Betra bak sekuntum bunga yang kelopak-kelopaknya berguguran. Jadi ini toh maksudnya? http://facebook.com/indonesiapustaka


60 BETRA benar-benar tak habis pikir. Kenapa bisa jadi seperti ini? Segala sesuatunya terasa tidak masuk akal baginya. Kenapa Fredy begitu terobsesi pada si Hans brengsek? Betra duduk di jok belakang mobil Fredy sambil memandangi cowok itu terus menyetir dengan serius. Makhluk aneh. Rasanya di mobil ini hanya ada orangorang aneh. Tidak cukupkah Simon seorang yang aneh? Simon duduk di samping Fredy dan menyetel gelombang siaran radio rohani yang tengah menyiarkan lagu rohani. Fredy ternyata tidak keberatan. Betra jadi bisa sedikit mengenal Fredy. Sepertinya dia memang orang yang suka dengan hal-hal religius. Tapi tetap tidak sefanatik Simon tentunya. ”Kita beli sesuatu buat Hans ya,” ujar Fredy sambil membelokkan mobil ke lapangan parkir sebuah mal. Betra melongo dan makin tidak mengerti. Nggak salah nih? EMPAT http://facebook.com/indonesiapustaka


61 ”Fred, kayaknya nggak perlu repot-repot deh,” ujar Betra. ”Ya, tapi nggak ada salahnya juga, kan? Hans pasti seneng kalo kita kasih perhatian,” sambung Simon. Anak ini sok tau banget sih! Kalo dikasih macem-macem nanti Hans cuma bakal ke-ge-er-an! batin Betra. Gara-gara ucapan Simon barusan, Fredy merasa terdukung. Dia segera keluar dari mobil. Betra mau tak mau mengikuti kedua temannya. ”Hans suka buah apa, Be?” tanya Fredy ketika mereka sudah memasuki supermarket dan sampai di bagian buahbuahan segar. ”Kamu lupa? Kemarin kan dia bilang suka apa aja,” jawab Betra santai. Belum sempat Fredy menjawab, tibatiba ponselnya berbunyi. Fredy mengerutkan kening. Ia tidak mengenali nomor yang tertera di LCD-nya. ”Halo.” ”Hei, man! Ini aku,” ujar suara di seberang sana. Fredy berpikir sejenak dan segera tahu suara siapa itu. ”Hans?” jerit Fredy senang. Wajahnya yang sedari tadi tampak masam berubah jadi cerah seketika. Betra menelan ludah. Ia merasa tidak enak. Dia melirik Simon yang tampak tenang-tenang saja. Wajahnya justru bak malaikat yang tengah bersyukur tatkala melihat anak-anak Tuhan saling mengasihi dengan kasih mesra Kristus. Ya iyalah. Dia kan tidak menyadari betapa anehnya sikap Fredy. ”Ini nomormu?” tanya Fredy antusias. ”Oke, oke. Aku simpen deh. Dapet dari mana? O, Betra, ya?” Fredy berpaling pada Betra sambil tersenyum. Betra balas tersenyum sambil mengacungkan jempol. http://facebook.com/indonesiapustaka


62 ”Gimana tadi tandingnya? Sori ya, aku nggak sempet liat. Aku udah dateng, tapi aku lagi diare…,” terang Hans. ”Betra udah cerita. Nggak pa-pa kok. Kamu dateng aja aku udah seneng.” Di seberang telepon, Hans merasa agak canggung saat Fredy mengucapkan kalimat itu. Rasanya tidak enak saja. Apa ini bukti tindakan dari kebaikan hati Fredy? Berarti selama ini ia salah menilainya. ”Sekolah kita dapet juara tiga,” lanjut Fredy. ”Oya? Wah, agak sayang sih. Tapi nggak pa-pa. Kamu nggak nyesel, kan? Selamet ya! Berarti makan-makan dong? Kalian lagi makan-makan nih ceritanya? Rugi aku nggak ikut….” ”Ehm, nggak. Makan-makannya ditunda. Nungguin kamu sembuh. Ini kami baru mau ke rumahmu.” ”Ah, jadi nggak enak. Aku nggak pa-pa kok. Bentar lagi juga sembuh,” kata Hans merasa semakin aneh dan canggung. Dia terdiam. Hening beberapa lama. ”E… Ya, udah ya, Fred. Sekali lagi selamat. Bebe di situ? Anterin dia pulang, ya. Salam tonjok buat dia.” ”Oke. Bye.” Pembicaraan ditutup. Fredy lalu berbalik pada Simon dan Betra yang sudah lama menunggu. Simon tengah asyik mengangkat-angkat buah semangka. Betapa noraknya anak ini, batin Betra. Entah apakah ia bermaksud memukulkan buah itu ke kepalanya sendiri atau apa, Betra tidak peduli. Pura-pura tidak kenal saja. ”Apa?” tanya Betra datar pada Fredy. ”Hans… titip salam tonjok buat kamu,” ujar Fredy sambil nyengir. http://facebook.com/indonesiapustaka


63 ”Huuu, dasar anak yang nggak ada matinya. Lagi sakit aja masih sok ngajakin berantem.” Betra menuju ke tumpukan buah pir, sekadar melihat-lihat. ”Jadi, buah apa buat Hans?” tanya Fredy sekali lagi sambil menggenggam buah jeruk. XY Betra, Simon, dan Fredy tiba di muka rumah Hans dengan membawa dua kilo apel. Akhirnya Betra terpaksa ngaku juga bahwa Hans suka apel. Seorang pembantu yang sudah dikenal akrab oleh Betra mempersilakan ketiganya masuk. Mereka menuju kamar Hans dengan Simon berjalan paling belakang sambil menenteng dua kilo apel merah segar. Ada untungnya juga Simon ikut. Orang seperti dia tidak akan pernah mengeluh jika dimintai tolong mengerjakan apa pun. Dia akan bilang, ”Segala sesuatu yang kita kerjakan untuk manusia haruslah kita kerjakan seperti untuk Tuhan.” Apa sih maksudnya? Betra sih tidak pernah bisa mengerti ucapan itu. Menganggap orang lain seperti Tuhan gitu? Tepat seperti dugaan Betra sebelumnya, Hans sedang terlelap di kamarnya dengan selimut menutupi seluruh tubuh sampai ke ujung rambut. ”Kayaknya kita hanya akan gangguin dia deh,” ujar Betra. ”Ya udah. Kita taruh aja buahnya di sini,” ujar Fredy lirih. Ia lalu mengisyaratkan agar Simon dan Betra mengikutinya keluar. ”BWAA!!” teriak Hans tiba-tiba sambil menyibakkan http://facebook.com/indonesiapustaka


64 selimutnya. Ia bangun dan tersenyum lebar. Ia tertawa terkekeh-kekeh ketika ketiga temannya itu terlonjak kaget. Betra yang paling heboh. ”HANS!! Kamu ini kurang kerjaan! Sakit ya sakit! Nggak usah pake teriak-teriak segala!” sentak Betra sambil memukuli Hans dengan bantal. ”Adu… duh… Udah dong, Be. Bisa-bisa aku tambah sakit…” Hans pura-pura kesakitan. Fredy duduk di tepi ranjang Hans. Ia senang melihat Hans tampak ceria seperti biasa. Ia memperhatikan tubuh Hans yang kekar hanya dibalut kaus singlet. ”Wah, ada Simon juga,” ujar Hans begitu menyadari kehadiran Simon. ”Hai! Cepet sembuh ya. Nih,” Simon menaruh seplastik apel yang sedari tadi dibawanya. ”Wah, makasih banget. Kok jadi repot-repot? Kayak aku sakit parah aja,” ujar Hans. ”Makasih ya, kalian mau dateng.” Hans menepuk lengan Fredy kuat-kuat. Fredy malah meraih tangan Hans dan menggenggamnya sambil menatapnya lekat. Hans yang merasa ada yang salah langsung menarik tangannya. ”Oya, teman-teman, gimana soal retretnya? Jadi pada ikut, kan?” tanya Simon. Betra dan Hans saling pandang. Hanya Fredy yang mengangguk. Detik berikutnya Betra menyusul. ”Hans?” Simon berpaling padanya. ”Ya ikut lah,” jawab Hans akhirnya. ”Kan wajib. Kapan sih?” http://facebook.com/indonesiapustaka


65 XY ”Jadi ikut juga, ya?” tanya Betra ketika ia dan Hans sudah berkumpul di halaman sekolah untuk berangkat retret siang itu. Mereka sedang duduk berteduh di bawah pohon. ”Tahun lalu aku kan udah nggak ikut,” ujar Hans sambil menerawang. Suasana panas membuatnya sedikit bengong. ”Risa cantik, ya?” Hans tengah memperhatikan Risa yang sibuk tebar pesona ke sana kemari. Lebih-lebih di depan Fredy. ”Ih, kamu suka Risa? Seleramu payah,” cemooh Betra. ”Yee, serius amat. Aku aja nggak serius. Siapa yang suka sama dia? Enak dipandang aja gitu…” Betra terkekeh dan dalam hati merasa senang. ”Jahat juga kamu.” ”Tapi kamu kok bisa suka sih sama si Fredy? Dia tuh aneh, tau!” ”Kamu juga ngerasa gitu? Tapi aku nggak tau juga ya. Masih dalam tahap observasi. Kali aja dia spesies langka.” ”Lebih aneh dari spesies Simon,” bisik Hans. Betra lalu menyikut Hans saat melihat Fredy berjalan lurus ke arah mereka. Kedua tangan Fredy membawa tiga cup es krim. Dengan senyum lebar ia mendekat. ”Wah, enak nih panas-panas gini,” komentar Hans melihat es krim di tangan Fredy. Tanpa berkata apa-apa Fredy menyodorkan es krim yang dibawanya. Satu untuk Hans, satu untuk Betra, dan satu untuk dirinya sendiri. http://facebook.com/indonesiapustaka


66 ”Makasih,” ucap Betra singkat. ”Sip, sering-sering aja, Fred. Hehe…” ”Tapi kok rasa vanila…? Aku suka rasa cokelat,” protes Betra. ”Oh? Maaf… Aku nggak tau. Tapi semua juga sama,” ujar Fredy merasa tidak enak. ”Bebe, manja banget sih! Udah ditraktir, juga! Beli sendiri sana!” ”Iya, iya. Kok kamu sih yang marah? Fredy aja santai. Aku kan cuma bilang aku suka rasa cokelat.” Fredy tersenyum lebar lalu duduk di samping Hans. ”Lain kali deh, Bos! Kalo kamu, Hans?” ”He? Apa?” tanya Hans bingung. ”Kamu suka nggak rasa vanila?” ”Ah, apa aja boleh. Terserah. Siapa sih yang nolak ditraktir?” Diam-diam di kejauhan Risa menyaksikan keakraban mereka bertiga dan merasa iri. Kenapa sih Kak Fredy selalu di deket Kak Betraaaa? Kenapa sih? Gimana caranya aku bisa gabung sama mereka…? Hans menjilati es krimnya dengan lahap seperti orang yang benar-benar kelaparan dan kehausan. Padahal menurut Betra rasa panas di sini masih belum setaraf dengan di padang pasir (tapi dia sendiri belum pernah ke padang pasir ding. Hehe…). Hans memang paling tidak bisa dilawan soal makanan. Tingkahnya jadi seperti makhluk liar. ”Hans, pelan-pelan kenapa sih? Kayak nggak pernah makan es krim aja!” bentak Betra. ”Muncrat ke mana- http://facebook.com/indonesiapustaka


67 mana, tau!” Betra mengelap setetes es krim yang menempel di tangannya. ”Eh, sori. Hehehe…” Hans berpaling pada Betra dengan wajah berlepotan es krim. ”Mana, mana? Sini biar aku jilat,” ujar Hans bercanda. ”Ih, amit-amit!” Betra segera menjauhkan diri. Melihat Betra yang ketakutan setengah mati, Hans justru semakin tertawa-tawa senang. Merasa dipermainkan, Betra lalu memukul punggung Hans keras-keras. ”Eh, itu…,” Fredy menunjuk-nunjuk wajah Hans. ”Apa?” tanya Hans bingung. ”Sebelah sini,” Fredy terus memberi komando. ”Ada es krim…” ”Oh… Bebe sayang, maukah kamu mengelap wajahku?” pinta Hans sengaja menggoda. Ia mendekatkan wajahnya pada Betra. ”Nggak mau,” ucap Betra cuek. Belum sempat Hans menggoda lagi tiba-tiba Fredy sudah membersihkan es krim yang menempel di pipi Hans. Kontan Hans terlonjak kaget. Ia bahkan hampir menghindar. ”Em, thanks,” ujar Hans sambil menyingkir. ”Kayaknya udah disuruh ngumpul sama Simon tuh. Aku duluan ya!” Betra melongo. Tadi barusan apa ya? Kok Fredy aneh gitu? Aku jadi takut. ”Hans, aku juga ikut. Tunggu!” Betra hanya memandang sekilas pada Fredy lalu berlari menyusul Hans. Sebelum berangkat, semua peserta disuruh berkumpul dahulu untuk berdoa bersama. Doa dipimpin oleh pem- http://facebook.com/indonesiapustaka


68 bimbing retret yang tak lain adalah guru agama mereka sendiri. Sesudahnya anak-anak berhamburan masuk ke bus. Masing-masing memilih tempat favoritnya. ”Hans! Tunggu aku!” kejar Betra sambil menjinjing tasnya yang besar. ”Aku sama kamu, ya?” ”Nggak sama Fredy aja? Tapi jangan pernah ngajakngajak aku lagi. Awas!” ”Yee… Marah nih ye! Nggaklah. Lagi males. Kamu sendiri? Sana sama Risa!” ”Nggak, ah. Dia kan cuma suka Fredy. Nggak nyesel nanti Fredy disamber Risa?” tanya Hans. Betra hanya angkat bahu. ”Kita duduk di belakang aja, mau nggak?” bisik Hans. ”Oke, oke, beres! By the way, bawain tasku dong…,” pinta Betra. ”Berat nih…” ”Salah sendiri bawa tas banyak-banyak. Sini!” Hans lalu mengambil ransel yang disandang Betra. Cewek memang suka ribet. Tidak cukup ransel, Betra juga membawa tas besar yang dijinjingnya sendiri. Padahal bawaan Hans cuma tas ransel sekolah. ”Hai,” sapa Fredy. ”Be, selamat bersenang-senang. Aku duluan,” bisik Hans lalu melesat pergi. ”Eh, eh…” Aku juga nggak mau. Aduh… ”Hans kenapa, kok buru-buru?” tanya Fredy. ”Ng…. Nggak tau. Ayo, cepetan ah!” Betra segera mengejar Hans masuk bus. Mau tak mau Fredy mengikutinya. Di dalam Hans sudah stand by mencarikan satu tempat untuk Betra di belakang. Betra bisa bernapas lega http://facebook.com/indonesiapustaka


69 sekarang. Ia duduk di samping Hans. Fredy masuk diikuti Simon tepat pada saat Risa menoleh ke belakang. Dari gelagatnya Risa paham Fredy akan duduk di barisan belakang itu. Mumpung masih ada tempat kosong, Risa yang sebenarnya sudah dapat tempat dengan temannya di depan langsung pindah meninggalkan temannya begitu saja. ”Aku di sini, ya?” tanya Risa pada orang-orang yang duduk di belakang—Hans, Betra, Fredy, dan Simon. Pas sekali ada lima tempat duduk. ”Oh, iya. Belum ada yang nempati kok,” ujar Simon ramah. Inilah kelemahan orang-orang baik seperti Simon. Bagi Betra, mereka keterlaluan baiknya sampai-sampai tidak dapat membaca situasi. Simon duduk di samping Betra, Risa duduk di dekat jendela dan tempat yang tersisa, mau tak mau Fredy duduk diapit Simon dan Risa. Yang merasa beruntung Risa seorang. Ia memanfaatkan kesempatan ini untuk ngobrol dengan Fredy. Simon asyik membaca buku Bencana-Bencana Terbesar Sepanjang Masa meski bus terus berguncang-guncang sementara Hans mendengarkan discman sambil menatap jalanan. Kepalanya sesekali manggut-manggut mengikuti irama. Entah lagu apa yang didengarkannya. Tapi Betra tak yakin Hans sedang mendengarkan lagu-lagu True Worshipper. Betra yang sedari tadi diam akibat menjadi korban cuek lama-lama merasa sebal juga melihat keakraban Risa dan Fredy. Heran… Kalo gini, Fredy bisa bikin aku tertarik, cemburu… Tapi tadi, dan belakangan ini?? Sikapnya pada Hans bikin aku ilfil! http://facebook.com/indonesiapustaka


70 ”Hans,” panggil Fredy tiba-tiba. Namun, yang dipanggil tidak mendengar. Justru Simon yang selalu siap menolong orang. Betra yang merasa mendapat sedikit angin segar segera bertindak. ”Hans!” Betra memanggil dan menepuk pundak Hans. Hans menoleh. ”Dipanggil tuuuuh…!” Betra melepas salah satu earphone yang menyumbat telinga Hans. ”Apa?” Hans memperhatikan Simon, Fredy, dan Risa bergantian. Siapa kira-kira yang memanggilnya? ”Di situ apa nggak panas?” tanya Fredy penuh perhatian. ”Hah?” Hans cengok. Begitu pun Betra yang sedang mendengarkan duduk persoalan apa yang membuat Fredy harus memanggil Hans, bukan dirinya. Setelah diperhatikan memang benar bagian tempat duduk Hans sedikit panas terkena matahari lantaran dekat jendela. Tapi Hans sendiri toh tidak memedulikannya. ”Oh, nggak pa-pa kok,” ujar Hans lalu kembali memasang sebelah earphone-nya. Kali ini dia memejamkan mata dan berusaha terlelap. Betra hanya bisa berpikir, kenapa Fredy segitu perhatiannya pada Hans? XY Tiba di rumah retret, anak-anak mencari kamar masingmasing. Sekamar dihuni oleh empat orang. Betapa kurang beruntungnya Betra. Ia seperti berjodoh dengan Risa. Tidak di persekutuan, tidak di retret, ia selalu bareng anak http://facebook.com/indonesiapustaka


71 itu. Kali ini pun mereka harus sekamar. Ditambah Rita, anak kelas XII yang perilakunya mirip Simon dan Windy. Windy ini anak kelas XI IPA, teman sekelas Fredy. Windy sangat kurus, tinggi semampai, dengan kulit pucat. Bila baru pertama melihatnya pastilah orang mengira ia dulu pecandu narkoba. Ia memakai kacamata dan berambut cepak. Sangat tomboi dan tidak terlalu senang bicara. Entah bagaimana kehidupan bersama selama tiga hari dua malam ini. Sementara Hans, Fredy, dan Simon kebetulan juga sekamar. Plus, Michael, anak kelas XII yang menjadi ketua panitia retret kali ini. ”Wah, firasatku bilang kayaknya nanti malem aku nggak bakal bisa tidur nyenyak di ranjang itu deh, Kak,” ujar Hans pada Michael. Michael hanya tersenyum, menepuk pundak Hans dan berkata, ”Jangan mengada-ada.” Kamar-kamar retret yang tidak terlalu besar itu kelengkapannya sama untuk kamar cowok dan cewek. Di sana terdapat sebuah kamar mandi, dua buah ranjang double yang muat untuk dua orang, dua lemari pakaian kecil, sebuah meja, dan sebuah kursi yang di atasnya sudah tersedia gelas-gelas serta teko. Di salah satu kamar cewek, Risa dan Betra berebut tempat lemari bagian atas untuk menaruh tas-tas mereka. Windy si supercuek hanya melempar kopernya di lantai begitu saja lalu keluar kamar tanpa bicara sepatah kata pun. Rita selaku pemimpin kamar dan yang tertua, sibuk menyapu kamar. http://facebook.com/indonesiapustaka


72 XY Sesi demi sesi di hari pertama berlalu begitu cepat. Anakanak banyak yang masih merasa capek. Bahkan sehabis opening ceremony Windy langsung mengeluh sakit dan akhirnya istirahat di kamar. Enak betul, batin Betra. Saat gini emang enakan tidur lebih dulu. Tapi bagi Risa, Betra, dan Hans tidak ada yang lebih membahagiakan kecuali saat makan tiba. Mereka selalu jadi orang yang pertama kali sampai di ruang makan. Akhirnya tiba juga di pengujung hari pertama. Acara terakhir adalah api unggun. Anak-anak sudah berkeliling di sekitar api unggun. ”Awannya mendung. Bakal hujan nggak nih?” tanya Betra pada Hans. Ia merapatkan jaketnya yang tebal agar tidak terlalu merasa kedinginan, karena lokasi rumah retret mereka memang di daerah pegunungan yang hawanya relatif dingin. ”Nggak tau. Hujan juga nggak pa-pa. Aku udah bosen banget.” Hans menguap lebar. ”Ugh, sinyal di sini jelek!” ujar Hans sambil mengangkat ponselnya tinggi-tinggi sedari tadi. Ia sudah dua kali mendapat telepon dari mamanya tapi selalu tidak jelas. ”Kartumu aja yang error. Sinyalku penuh tuh. Mau telepon siapa sih? Mami, ya? Hu… Dasar anak mami!” Hans tidak menggubris Betra. Ia terus saja memiringmiringkan ponselnya ke segala arah. ”Dingin-dingin gini kan enakan tidur… Daripada besok nggak bisa bangun pagi…,” ujar Betra. http://facebook.com/indonesiapustaka


73 ”Alah… Kayak kamu biasa saat teduh aja,” goda Hans menyebutkan saat renungan pagi itu. ”Biarin!” Betra memukul kepala Hans. ”Kamu sendiri?” Rita datang dan membuyarkan keributan di sana-sini yang dibuat oleh para peserta. ”Gimana hari ini? Udah capek, ya? Begini. Sebenernya panitia udah bikin acara. Talent show. Tapi karena kayaknya mau hujan, takutnya temen-temen udah susah payah siapin acara, eh nggak jadi gara-gara hujan. Karena itu kita ganti acara. Malam kesaksian dan pujian. Mau, nggak? Harus mau, ya.” ”Wah, makin bosen aja nih,” bisik Hans. ”Aku sekamar sama Kak Rita itu, tau.” Hans tertawa pelan. ”Mending, kali. Aku sekamar sama Simon, Fredy, en Kak Michael. Betapa naasnya.” ”Aku sama Risa, lagi. Plus anak supercuek en tomboi dari kelas IPA.” Betra dan Hans lalu saling tos, karena sama-sama merasa teman sekamar mereka payah. Mereka berhenti bicara saat gitar yang dimainkan Fredy mulai mengeluarkan nada-nada indah. ”Siapa yang ingin bersaksi?” tanya Rita pada para peserta. Semua diam, semua termenung. Entah karena sungguh menghayati lagu itu atau karena memang mengantuk. Betra memeluk lutut karena kedinginan. Ia memandangi langit malam. Bintang hanya tampak satu-dua karena mendung. Satu-dua bintang itu meskipun terlihat kecil, tetap bersinar terang. Sementara Hans menatap jauh ke dalam bola-bola merah yang memercik di dalam api unggun. http://facebook.com/indonesiapustaka


74 ”Fredy mungkin? Dari yang main musik dulu deh.” Rita berpaling pada Fredy. Meski tampak malu-malu dan salah tingkah, Fredy sama sekali tidak terlihat ingin menolak. Ia menggaruk-garuk kepala. ”Gimana?” Rita menatap Fredy dengan berbinar-binar. ”Dari MC-nya dulu dong…,” seloroh Michael. ”Wah, ya nggak harus,” elak Rita. ”Eh… Bersaksi tentang apa ya?” tanya Fredy. ”Apa ajalah. Tentang kebaikan Tuhan.” Fredy menatap ke tanah dan memetik gitarnya perlahan. Sedari tadi tidak sekali pun ia menatap teman-temannya. ”Eh… Saya... saya sebelumnya minta maaf karena kesaksian ini tidak dipersiapkan dan saya juga tidak pandai berkata-kata. Eh… Tapi biarlah kesaksian ini nantinya bisa menguatkan kita semua.” Risa terus memandangi Fredy dengan antusias sambil sesekali mengarahkan ponselnya untuk mengambil gambar Fredy. Sementara Betra… seperti merasakan ada sesuatu yang lain dalam diri Fredy. Entah apa. Pokoknya lain dari biasanya. Mungkin gini ya aura orang yang hidupnya dekat dengan Tuhan? ”Saya… Saya sejak kecil sudah jadi Kristen. Tapi itu semata karena orangtua saya juga Kristen. Saya sungguhsungguh percaya pada Yesus ketika saya kelas tiga SMP. Waktu itu ada KKR di gereja saya dan saya sungguh merasakan betapa Tuhan sedang memanggil nama saya dan Dia menangis untuk saya. Dia ingin supaya saya jadi seperti yang Dia mau. Dia ingin saya jadi anak-Nya…” http://facebook.com/indonesiapustaka


75 Fredy mengambil jeda sesaat. Semua memperhatikan dengan saksama. Betra pun tidak lagi menggubris rasa dingin yang menusuk-nusuk di kulitnya. ”Satu hal, waktu itu saya benar-benar tidak mengerti apa rencana Tuhan buat kehidupan saya. Saya cuma tau bahwa Tuhan itu mengasihi saya dan ingin saya hidup dalam jalan-Nya. Nah, itu yang berat. Ya, saya memang udah lahir baru tapi hati saya sering kali masih menjauh dari Tuhan. Saya masih melakukan dosa yang sama. Harihari ini pun saya masih hidup dengan kehidupan lama saya. Bagi saya susah untuk melepaskan hal itu... jadi seperti yang Tuhan mau… Rasanya itu mustahil. Dan saya merasa kehendak Tuhan itu berat. Kenapa Tuhan menakdirkan saya seperti ini…? Ada hal-hal yang tidak bisa saya terima…” Fredy terdiam, melupakan semua teman yang duduk di sekeliling api unggun di hadapannya dan teringat masa lalunya di Bandung. Bagaimana sulitnya mempertahankan hidup sebagai gay. Bagaimana perasaan bersalah itu menyiksa batinnya setiap saat tatkala ia mulai mencintai Albert. Bagaimana perasaan malu itu datang ketika orangorang mulai mengetahui ”keadaannya”. Tapi apa ini salahnya jika ia terlahir seperti ini? Rasanya terlalu berat, Tuhan…. Betra, Hans, dan teman-teman lain yang mendengarkan dengan saksama, tidak terlalu mengerti apa yang dimaksud Fredy. Bukankah dia baik-baik saja? Apa yang salah dalam dirinya? Apa yang ingin coba dia lepaskan? Apakah dia punya masalah keluarga, atau apa…? Saat itu gerimis http://facebook.com/indonesiapustaka


76 mulai turun. Satu-dua tetes air hujan membasahi rambut Betra. ”Tapi… Saya bersyukur karena kasih Tuhan itu hebat atas hidup saya. Betapa Dia tetap mau menerima saya kembali meski saya berulang kali menyakiti hati-Nya dan membuat-Nya menangis. Saya rasanya semakin merasa malu dan tidak berarti. Kenapa Tuhan masih begitu mengasihi saya? Berulang kali saya jatuh dan berulang kali saya diampuni-Nya… Ketika menyadari hal itu, sering kali saya menangis… Karena saya tidak juga berubah. Saya ingin belajar mencintai Dia tidak hanya lewat pujian atau kata-kata… Tapi juga dengan hati, dengan tindakan. Mm… Itu aja kesaksian dari saya. Terima kasih.” ”Iya, itu tadi,” kata Rita sambil kembali maju ke tengah, ”makasih ya, Fredy. Sekarang ada kesaksian yang lain mungkin?” Gerimis yang tidak terlalu berarti masih belum mengganggu acara malam itu. ”Saya,” ujar Simon mengajukan diri. ”Iya, Simon,” Rita tampak sangat berbahagia mendapat respons dari peserta. ”Sewaktu saya masih SD…” Baru saja Simon mengucapkan kalimat itu, hujan yang tadinya hanya berupa gerimis kecil berubah deras bak tercurah dari langit. ”Wah, hujan!” teriak Risa dengan centilnya. Dia yang pertama berdiri. Lalu anak-anak lain juga mulai berdiri dan berlari menuju rumah retret. Suasana langsung hirukpikuk seperti ada banjir. ”Teman-teman harap berkumpul di aula! Harap berkumpul di aula dulu sebelum tidur!” Michael meneriakkan http://facebook.com/indonesiapustaka


77 kalimat itu melalui mikrofon. Tapi tetap saja beberapa anak cowok yang nakal dan cewek-cewek manja memilih langsung menuju kamar mereka yang hangat. ”Ala, paling-paling brifing nggak penting!” komentar salah satu cewek. ”Peringatan ini-itu, besok harus ginigitu… Malas!” ”Simon, makasih ya,” ujar Rita menghampiri Simon dengan tidak enak. ”Padahal kamu udah mau kesaksian, tapi malah hujan… Maaf ya…” ”Nggak pa-pa, Kak. Lain kali kan masih bisa. Masih banyak kesempatan.” ”Bagus!” Rita menepuk pundak Simon. ”Aku seneng kamu semangat.” Hans dan Betra berjalan beriringan menuju aula. ”Untung hujan. Kalo nggak, ’Pak Pendeta’ kita tadi pasti bakalan lama banget!” komentar Hans. ”Iya, tuh,” sahut Betra. Seorang kakak kelas yang berambut ikal dan bertubuh gemuk yang menjabat sie acara memberi pengumuman dan imbauan panjang-lebar. Co-card harus selalu dipakai, tidak boleh pindah kamar, harus datang tiap sesi dan tidak boleh telat, tidak boleh merokok, tidak boleh berkunjung ke kamar lawan jenis, berpakaian sopan, besok tidak boleh bangun terlambat bla-bla-bla… Betra sampai sudah terkantuk-kantuk. Lima belas menit sudah berlalu. ”Sial! Tau gini aku tadi langsung ikut cabut aja,” bisik Betra pada Hans yang hanya tersenyum-senyum. http://facebook.com/indonesiapustaka


78 SAAT brifing selesai, hujan di luar sana ternyata juga sudah mereda. Anak-anak jadi lebih santai. ”Be, main dulu yuk!” ajak Hans. ”Nggak denger apa? Kita harus sudah tidur jam sebelas!” balas Betra. ”Ala, sok alim kamu. Biasanya juga begadang ampe pagi!” ”Besok aja, ya,” ucap Betra sambil menguap lebar dan merentangkan kedua belah tangannya ke udara. ”Aku ngantuk banget. Masih capek, pegel-pegel… Pijitin dong...” ”Huuu! Ya udah! Nggak seru deh.” Mereka lalu berpisah jalan menuju kamar masing-masing. Hans melambaikan tangan tanpa menoleh. Baru saja Hans berlalu, Fredy lewat di samping Betra. Betra yang memang selalu awas mengamati Fredy langsung menyapa, ”Fred.” LIMA http://facebook.com/indonesiapustaka


79 ”Hai,” sapa Fredy balik. ”Mau tidur, Fred?” tanya Betra, senang ada kesempatan untuk mengobrol. ”Nggak tahu nih.” Fredy angkat bahu. ”Tergantung teman-teman. Tapi aku sih capek.” ”Oh. Hari pertama sih.” ”Kamu sendiri?” ”Tidur juga paling. Aku nggak biasa begadang,” dusta Betra. ”Wah, sayang. Besok nggak bisa ikut nongkrong bareng dong.” ”Eh…” Betra merasa salah bicara. Seharusnya mungkin dia bilang terus terang, ”Aku biasanya selalu begadang bareng temen-temen sambil ngemil en ngomongin soal cowok sampai berjam-jam. Sampe pagi, gitu… Bikin ulah di sana-sini, dimarahi panitia, nyusup ke dapur, mampir ke kamar cowok… Habis gimana ya? Nggak ada kerjaan banget! Tidur di tempat retret nggak enak. Nggak kayak di rumah sendiri.” ”Gitaran gitu sama kita-kita,” ujar Fredy. ”O…ke. Itu sih gampang,” ujar Betra gelagapan. Mana mungkin sih dia melewatkan kesempatan seperti itu? ”Eh, Fred, kamu jangan putus asa, ya.” ”Apa?” ”Itu... kesaksian tadi. Aku emang nggak tau kesaksianmu tentang apa, tapi seperti katamu tadi, Tuhan pasti sayang sama kita.” Betra menepuk pundak Fredy. ”Iya, thanks.” Fredy tersenyum lalu pergi. Walaupun bibir Fredy berkata seperti itu, Betra dapat merasakan sorot mata Fredy yang memancarkan kehampaan. Ada apa http://facebook.com/indonesiapustaka


80 dengan Fredy? Betra sedih karena Fredy ternyata tidak mau berbagi beban dengannya. Betra tiba di muka pintu kamarnya dan langsung mencak-mencak. ”Tadi kuncinya kan dibawa Kak Rita. Ck, bikin susah aja!” Baru saja Betra berpikir akan kembali ke aula, tiba-tiba pintu kamar terbuka sendiri dari dalam. Betra menarik napas tertahan. Ia mulai bernapas lega ketika lampu menyala. ”Oh iya, Windy! Kamu dari tadi di sini ya? Aku kok bisa lupa.” Betra melempar jaketnya ke ranjang. ”Lampunya kok dimatiin sih?” ”Aku nggak bisa tidur kalo lampunya nyala,” ujar Windy sambil kembali menyelipkan diri di balik selimut. ”Oh…” Gawat, aku sebaliknya. Nanti tergantung Risa dan Kak Rita deh, batin Betra. Tak berapa lama Risa datang. Tapi ia hanya melongokkan kepala. Saat tahu yang ada hanya dua manusia yang bertolak belakang dan Rita belum selesai rapat, ia kembali keluar. Bersama teman-temannya ia berbuat gaduh dan kembali berteriak-teriak. ”Anak,” ujar Betra sambil mengeluarkan snack yang dibawanya. Ia sudah berganti piama, sebenarnya sudah siap untuk tidur, tapi lebih memilih menunggu semua balik ke kamar. ”Nggak jadi api anggun?” tanya Windy. ”Gitu deh. Hujan. Pas banget waktu Simon mau kesaksian,” cerita Betra sambil melahap keripiknya. ”Hmm. Besok saat teduh jam berapa?” tanya Windy lagi. http://facebook.com/indonesiapustaka


81 ”Nggak tau. Pokoknya jam tujuh udah makan pagi. Tergantung ketua kamar.” ”Mendingan tidur aja sekarang. Nggak usah nunggu Kak Rita, daripada besok susah bangun. Kalo udah lampunya matiin, ya.” Windy menaikkan selimutnya hingga ke kepala lalu membalikkan tubuh membelakangi Betra. Betra tak punya pilihan. Daripada bengong sendiri sambil makan keripik, lebih baik ia tidur. Lagi pula sebenarnya ia memang niat tidur dari tadi. Betra mematikan lampu dan meloncat ke tempat tidur. Ia berusaha terpejam tapi tidak bisa. Gelap amat…. ”Win… Windy…,” panggil Betra. Ia tidak tahan suasana seperti ini. Kegelapan membuatnya merasa sesak. ”Udah tidur, ya? Cepet amat.” Lamat-lamat Betra memang mendengar dengkuran lirih Windy. Berhubung Windy sudah tidur, Betra pun kembali menghidupkan lampu. XY Di kamar Hans, yang ada hanya Hans dan Fredy. Simon dan Michael sama-sama tergabung dalam kepanitiaan. Jadi mereka sedang rapat dan belum menunjukkan tanda-tanda akan kembali dalam waktu dekat. ”Keluar yuk,” ajak Hans. Fredy menatapnya beberapa saat lalu mereka keluar. Fredy menemukan tempat yang asyik. Ia mengajak Hans naik ke atap ruang makan yang rendah. Dari atas sana Hans berhasil mendapat sinyal yang bagus untuk ponselnya. http://facebook.com/indonesiapustaka


82 ”Ah, akhirnya bisa juga!” seru Hans senang. Ia lalu menghubungi mamanya yang sebelumnya sudah dua kali menelepon. Hans bicara dengan suara keras, membuat Fredy geli sebenarnya. Fredy mengeluarkan sekotak rokok dari saku jinsnya. Udara dingin membuatnya ingin mengisap rokok. ”Nggak enak, Mam! Sayurnya semur tahu, eh… lauknya tahu goreng. Iya, jadi seharian ini dikasih makan tahu terus. Ya udah. Goodbye, Mam!” ”Kangen rumah, ya?” goda Fredy sambil mengembuskan asap rokok ke udara. ”Kamu ngerokok, Fred?” tanya Hans kaget. ”Mau?” Fredy menyodorkan sebungkus rokok. ”Aku udah dua bulan berhenti ngerokok,” ujar Hans sambil menampik tangan Fredy. ”O ya? Sori.” ”Tapi nggak pa-pa deh. Sebatang aja nggak bakal kecanduan, kan?” Hans akhirnya menerima tawaran Fredy. Disulutnya sebatang rokok di mulut. ”Aku berhenti ngerokok berkat Bebe.” ”Oh,” komentar Fredy singkat. ”Kalian deket, ya?” ”Begitulah. Aku merasa beruntung bisa sama-sama dia terus.” ”Kamu suka sama dia?” ”Suka?” ”Cinta maksudku.” ”Suka sih jelas. Tapi kalo cinta… Nggak tau ya. Kayaknya juga nggak.” Hans mengambil jeda sesaat. Ia memandang ke langit lepas. ”Yang aku tau aku seneng dengan http://facebook.com/indonesiapustaka


83 hubungan kami sekarang ini. Kalo toh aku cinta sama dia, Bebe juga nggak bakal nerima aku.” ”O ya? Kenapa? Kamu kan menarik.” Hans tersenyum simpul mendengar pendapat Fredy. Kedengarannya aneh karena hal itu diucapkan seorang laki-laki. ”Ada orang lain yang dia suka.” Hans berpaling pada Fredy dan menatapnya tajam. Orang itu adalah kamu! batin Hans. Ia ingin tahu apakah Fredy cukup tanggap dengan apa yang sedang ia ucapkan. Tapi reaksi Fredy biasa-biasa saja. ”Apa sih?” protes Fredy lantaran Hans memandanginya sengit. ”Kenapa nggak kamu bantu aja dia mendapatkan cowok itu?” Fredy merangkul Hans dan menyandarkan kepalanya di pundak Hans. ”Ah, biarin aja!” seru Hans sambil melepaskan diri dari Fredy. ”Fredy, kamu bikin aku merinding! Jangan nempelnempel gitu dong!” ”Iya, sori!” ”Hans, Fredy?” panggil seseorang dari bawah. ”Itu kalian, kan? Sedang apa di situ?” ”Eh, gawat. Kak Michael.” Hans segera mematikan rokoknya. ”Turun kalian!” bentak Michael. Ia tahu keduanya sudah melanggar aturan. Kalaupun mereka mau mengelak, Michael sudah tahu mereka merokok sembunyi-sembunyi. XY http://facebook.com/indonesiapustaka


84 ”Kak, terus gimana? Apa mereka dihukum?” tanya Risa pada Rita saat keduanya kembali ke kamar. Risa bicara dengan suara keras seolah tidak ada orang yang sedang tidur di dalam kamar itu. ”Ssst! Udah pada tidur,” ujar Rita lirih. ”Nggak. Cuma diperingatkan aja. Tapi keputusan tetep di tangan mereka, mau berubah ato nggak. Kita nggak bisa ngatur-ngatur. Tapi kami udah bilang kan dari awal selama retret ini tolong jangan merokok. Setelah pulang terserah kalian mau gimana.” Risa mengangguk-angguk. ”Tapi aku kaget, Kak, ternyata Kak Fredy seperti itu…” ”Kaget, kan? Semua juga sama.” ”Ssstt! Berisik amat. Kalo udah matiin lampunya,” pinta Windy yang merasa terganggu. ”Oh, kebangun ya, Win? Sori ya,” ujar Rita sambil merapikan bantalnya. ”Udah? Ris, matiin lampunya.” ”Oke!” Risa lalu naik ke ranjang dengan merangkak melewati kaki Betra… ”Adow! Siapa sih? Nggak bisa pelan-pelan apa?” sentak Betra marah dengan mata tetap terpejam lantaran Risa merangkak di atas kakinya. ”Ups! Sori. Hihihi…” Risa terkekeh senang. ”Eh, udah tau gosip belum?” Risa menyikut Betra. Namun, Betra bergeming. Ia malah membalikkan tubuh. ”Uh, ya sudah! Terserah kalo besok pagi terkagetkaget!” ”Ssst!” desis Rita. http://facebook.com/indonesiapustaka


85 XY ”Bangun, bangun!” seru Rita pada adik-adik kelasnya yang masih terlelap. Tidak satu pun yang menandakan akan segera bangun. Akhirnya Rita ke kamar mandi duluan lalu kembali membangunkan mereka. ”Eh, Windy udah bangun,” ujar Rita yang melihat Windy sedang menyiapkan Alkitab-nya. ”Cuci muka dulu sana.” Sambil menguap lebar Windy membawa sikat gigi dan handuknya memasuki kamar mandi. ”Betra! Risa! Bangun!!” Rita mengguncang-guncang kedua anak itu. ”Sa-te, sa-te! Jam lima lebih sepuluh lho!” Betra menggeliat tapi tidak terbangun. ”Kak, minta odol dong,” ujar Windy yang tiba-tiba keluar dari kamar mandi dan masuk kembali secepat kilat. ”Sa-te, sa-te!!” teriak Rita tak mau menyerah. ”Sate? Hah, sate? Siapa yang bakar sate?” ujar Risa yang baru saja terbangun. ”Saat teduh, Non,” ujar Rita. Risa hanya garuk-garuk kepala lalu bersiap untuk cuci muka. Tak lama Betra juga bangun tepat saat Windy keluar dari kamar mandi. Melihat pintu kamar mandi segera ditutup lagi oleh Risa, Betra kembali rebah. XY Waktu renungan pagi, Risa dan Betra masing-masing menyanyi dengan kepala miring ke kanan dan ke kiri. Pada- http://facebook.com/indonesiapustaka


86 hal mereka sudah diberi kelonggaran, boleh ber-saat teduh di kamar. Betra masih memakai selimutnya, tapi rasa kantuk terus menyerang. Windy yang tampaknya cuek ternyata justru bisa menikmati saat teduh ini. Betra tidak pernah mengira Windy orang yang dekat dengan Tuhan. Usai saat teduh Rita mengingatkan agar mereka langsung mandi dan sarapan. Tapi yang namanya Risa justru berlari keluar dan main ke kamar teman-temannya. Betra dengan senang hati mempersilakan Windy mandi lebih dulu. ”Aku nggak lama kok,” ujar Windy sebelum masuk ke kamar mandi. ”Lama nggak pa-pa kok,” seloroh Betra. Siapa sih yang mau mandi jam enam pagi di tempat sedingin ini? ”Abis Windy… Kak Rita duluan, ya.” ”Ah, gampang. Aku mandi di kamar yang lain juga bisa.” Betra cemberut. Pasalnya, dia berharap bisa mandi paling akhir. Hawa di sini sungguh dingin. ”Kenapa?” kata Rita sambil tersenyum. ”Malas pasti.” ”Hehe… Habis dingin banget.” ”Hu…” Rita melempar handuknya ke arah Betra. Tapi tiba-tiba tampangnya berubah jadi serius. ”Be, kamu kayaknya deket sama Hans, kan?” ”He-eh.” Betra mengangguk mantap. ”Emang kenapa, Kak?” ”Dia orangnya gimana?” ”Mmmm… Hayo, kenapa niiih, Kak Rita…?” ”Eh, nggak,” ujar Rita. ”Aku cuma pengin tau, Hans http://facebook.com/indonesiapustaka


87 itu gimana. Masalahnya tadi malem Hans sama Fredy kepergok ngerokok.” ”Apa?? Siapa, Kak? Fredy… Hans…? Hans… Fredy? Kenapa…?” Betra sungguh tak percaya ini. ”Iya. Mereka ngerokok. Melanggar peraturan retret. Kamu tau kalo Hans ternyata bandel juga kayak gitu?” ”Wah, nggak bisa gitu. Hans emang dulu ngerokok tapi udah lama berhenti. Aku yakin banget! Trus kenapa sekarang…” Rita mengangguk. ”Apa dia punya masalah?” Betra menggeleng bingung. Yang lebih membuatnya tak mengerti adalah Fredy. Dia pikir Fredy sosok yang sempurna. Betra paling benci dengan perokok. ”Fredy… Fredy pasti dibujuk Hans!” ”Nggak percaya ya, Fredy seperti itu.” ”Jadi semalem ada kejadian kayak gitu, ya? Pantes Risa heboh,” ujar Windy yang baru keluar dari kamar mandi. Rambutnya yang basah sehabis keramas sedang dikeringkannya dengan handuk. Betra takjub melihat Windy yang sepagi ini sudah berani keramas. Aroma tubuhnya semerbak ke seluruh ruangan kamar yang kecil itu. ”Eh, udah selesai? Dengerin ya dari tadi?” Rita berbalik pada Windy. ”Menurutku seseorang nggak bisa dinilai dari penampilannya aja,” lanjut Windy. ”Tapi semua orang tau Fredy anak baik,” bela Betra. ”Apa sih batasan antara baik dan tidak baik? Orang merokok belum tentu jahat juga, kan?” Tapi kata-kata Windy tidak bisa menghapus cemberut http://facebook.com/indonesiapustaka


88 di wajah Betra. Tidak mungkin Fredy yang bandel! Pasti Hans yang merusak Fredy. Hans kan dari awal tidak suka sama Fredy, batinnya pahit. XY ”Hans!” Betra menghampiri meja Hans saat sarapan. Di situ juga ada Fredy dan Simon. ”Kamu kenapa sih bohongi aku?” ”Be, kamu kesambet apa pagi-pagi gini?” tanya Hans tak mengerti. ”Tenang, sini duduk dulu. Ada apa, Say? Bicara pelan-pelan.” Hans menarik sebuah kursi untuk Betra tapi Betra sama sekali tidak mau duduk. ”Kamu kenapa ngelakuin itu lagi? Padahal udah dua bulan kamu bersih! Mana ngajak-ngajak Fredy, lagi…” Hans baru mengerti arah pembicaraan Betra. Begitu cepat gosip beredar. Ada embel-embelnya pula… ”HOEI, tenang dulu! Kamu salah paham!” bentak Hans sambil bangkit berdiri. ”Salah paham apa?” ”Eh, udah deh. Jangan berantem. Mending kita…” Simon berusaha menengahi, tapi Betra mendorongnya mundur. ”Iya, Be. Kamu jangan salahin Hans. Justru akulah yang nawarin dia rokok semalem,” bela Fredy. ”Udah deh! Kamu nggak usah melindungi Hans! Aku tau siapa dia!” Betra bersikeras. ”Be! Kamu keterlaluan! Nggak kusangka kamu berpikir sejelek itu tentang aku! Nggak kusangka kamu udah di- http://facebook.com/indonesiapustaka


89 butakan oleh dia!!” Hans menuding Fredy lalu berjalan keluar, tidak jadi sarapan. ”Be, kamu nggak berhak ngelarang Hans ngelakuin sesuatu. Dia bukan pacarmu, kan?” ujar Fredy berapi-api. ”Ya iya sih. Tapi dia nggak hanya menjerumuskan dirinya sendiri. Dia juga ngajak kamu ngerokok, kan?” ”Be, aku nggak tahan ini. Aku yang ngajakin dia naik ke atap. Aku juga yang nawarin dia rokok. Jelas? Seharusnya kamu percaya sama Hans! Katanya kalian teman dari kecil?” Fredy berlari menyusul Hans. Meninggalkan Betra yang terpaku sendiri. ”Masa sih…,” ucap Betra dengan mata berkaca-kaca. XY ”Hans!” panggil Fredy. Namun yang dipanggil pura-pura tidak mendengar. ”Hans, tunggu! Kamu mau ke mana?” Akhirnya Hans mau menghentikan langkahnya. ”Please, jangan ganggu aku sekarang. Aku ingin sendiri!” ”Oke, tapi aku cuma mau minta maaf. Sori.” ”Fred, aku nggak ngerti. Aku nggak habis pikir... Aku... Kenapa Bebe itu begitu memuja-mujamu? Padahal kamu nggak seperti yang dia bayangkan! Kamu nggak se-perfect dugaannya! Iya, kan?” Hans menarik kerah baju Fredy dan memojokkannya ke dinding. ”Apa maksudmu? Aku nggak ngerti…” ”Cowok yang disukai Bebe tuh kamu! Di dalam otaknya cuma ada Fredy, Fredy, dan Fredy!!” Hans melepaskan cekalannya dan berlari lagi. Fredy ngos-ngosan di tempat. http://facebook.com/indonesiapustaka


90 Ia masih tidak memahami apa yang barusan terjadi. Tak percaya ini… Betra suka padanya? XY Sesi demi sesi retret hari itu berlangsung. Betra selalu berusaha duduk dekat Hans, tapi cowok itu selalu menghindar. Betra sampai ingin pingsan. Ia ingin meminta maaf atas kelakuannya yang semena-mena. Tidak hanya Betra, Fredy pun mengalami kesulitan untuk bisa mendekati Hans. Saat Betra duduk di sebelah kanan dan Fredy di sebelah kirinya, Hans segera menyingkir. Alhasil, tinggallah Fredy dan Betra yang saling pandang. Lalu tiba-tiba muncul Risa yang langsung duduk di tempat Hans tadi. Sudah sejak hari pertama dia mencari kesempatan untuk bisa duduk di samping Fredy. Risa sukses membuat Betra jealous. Baru pada saat acara istirahat siang Betra bisa mencegat Hans. Ia stand by di depan pintu kamar Hans. ”Hans…,” panggil Betra penuh harap saat sosok itu telah tiba. ”Ngapain kamu di sini? Cewek dilarang main ke kamar cowok, tau!” ”Hans! Aku nggak akan minggir sebelum kamu kasih aku kesempatan buat ngomong!” ”Apa sih? Udah sana cepet minggir!” ”Nggak, Hans… Kalo nggak aku teriak…” ”Ee… Iya, iya. Ayo, cepet ngomong!” Hans langsung keder mendengar ancaman Betra. Baru kemarin dia men- http://facebook.com/indonesiapustaka


91 dapat peringatan gara-gara merokok, masa hari ini mau mendapat peringatan lagi? Dia mengisyaratkan agar Betra mengikutinya. Mereka mencari tempat yang teduh untuk berdua. ”Hans, sori… Aku mau minta maaf… Aku udah salah paham…” ”O, jadi udah tau kebenarannya sekarang?” tanya Hans sok angkuh. Betra mengangguk pelan. ”He-eh. Fredy mati-matian belain kamu. Aku emang susah percaya, ternyata Fredy…” ”Baguslah kalo kamu sadar. Fredy ya manusia biasa. Bisa khilaf. Dia nggak sebaik yang kamu bayangkan.” ”He-eh, aku ngerti. Tapi kamu mau kan maafin aku?” tanya Betra dengan muka memelas. ”Maaf? Gampang banget ya kamu bilang maaf! Sesudah kamu mempermalukanku di depan temen-temen??” ”Hans… Jangan gitu dong… Aku tau aku salah… Aku udah menghakimi kamu seenaknya… Tapi aku juga udah ketemu Kak Michael dan tanya semuanya. Dia ceritain yang sebenarnya. Aku bener-bener nyesel, Hans… Aku merasa bersalah. Kamu jangan benci aku dong….” Betra menarik-narik ujung baju Hans dengan ekspresi hampir menangis. ”Bwa… Hahahaha…,” tawa Hans tiba-tiba meledak. ”Nggak tahan aku, Be. Suer, kamu barusan tuh lucu banget!” Hans tertawa sampai keluar air mata. ”Hans! Aku serius nih!” ”Iya, iya. Aku juga serius. Udah deh. Kali ini kamu aku maafkan. Aku kan paling nggak bisa nyimpen dendam. Betapa beruntungnya kamu!” http://facebook.com/indonesiapustaka


92 ”Syukur, deh… Aku kira kamu bakal benci aku….” ”Ya nggak lah. Apaan sih? Asal kamu nggak ngaco lagi aja! Percaya kan aku nggak ngajakin Fredy yang nggaknggak?” ”Tapi kamu seharusnya kan bisa nolak ajakannya. Aku sedih banget waktu denger kamu ketauan ngerokok…” ”Iya deh, nggak bakal lagi. Janji!” Hans dan Betra lalu saling mengaitkan kelingking. ”Habis, aku nggak tahan kalo kamu nggak bicara sama aku. Pasti sepi! Aku nggak bisa hidup tanpamu.” Hans tertawa mendengarnya. ”Eh, by the way, Be, kamu janji ya nggak bakal marah.” ”Emangnya ada apa sih?” ”Eh, aku nggak enak sih ngomongnya. Tapi... kamu janji dulu nggak bakal marah.” ”Ya nggak lah. Anggep aja kita impas. Emang kamu buat dosa apa, Hans?” ”Ehem, gini. Tadi… Aku… Aduh, Be, tapi ini benerbener karena aku hilang kendali, Be. Nggak ada unsur kesengajaan. Suer!!” ”Iya, tapi apa sih?” tanya Betra tak sabar. ”Tadi saking marahnya sama kamu, aku bilang ke Fredy kalo kamu suka sama dia….” ”APA??” teriak Betra kencang. Matanya langsung melotot bak mau melompat keluar dari kelopaknya. Otomatis kedua tangan Betra mulai memukuli pundak dan punggung Hans. ”Aduh, tadi kan udah janji nggak bakal marah. Aduuh…,” kata Hans panik, berusaha menangkap tangan Betra. http://facebook.com/indonesiapustaka


93 ”Tega kamu ya! Itu sama aja membunuh aku! Pengkhianat, kamu!” kata Betra marah-marah. Dia menghentikan hujan pukulannya, dan berbalik membelakangi Hans sambil cemberut dalam-dalam. ”Yah… Be, gimana dong??” tanya Hans bingung. ”Bodo! Mana kutau!” kata Betra masih cemberut. ”Oke, tenang aja,” Hans merangkul pundak Betra. ”Aku nggak akan membiarkan Fredy mencampakkanmu. Apa pun yang terjadi!” ”Haduh, malu-maluin… Nggak tau deh. Pusing!” Betra menunduk, kedua tangannya menutupi wajah. http://facebook.com/indonesiapustaka


94 ”HALO, Fred!” sapa Hans saat masuk ke kamar. ”Eh, Hans. Kamu udah nggak marah lagi?” ”Nggak… Kita kan pren,” Hans langsung merangkul Fredy. ”Aku tadi liat kamu ngobrol sama Betra. Udah baikan, ya?” ”Yup! Semua udah beres!” ”Hans, aku cuma mau negesin satu hal ke kamu.” ”He-eh, apa itu?” tanya Hans sok serius. ”Soal aku dan Betra… Aku cuma mau bilang, aku nggak ada perasaan apa-apa ke dia. Terserah dia mau kayak gimana, tapi aku sama sekali nggak tertarik sama Betra.” Hans ternganga. Dia tidak tahu harus bagaimana. Kalau Betra denger ini dia pasti langsung patah hati. Hans merasa ini terlalu kejam untuk Betra. Setiap hari Betra selalu ENAM http://facebook.com/indonesiapustaka


95 berharap Fredy akan membalas perasaannya, tapi nyatanya…? ”Yah… kalo gitu jangan pernah deketin dia. Jangan pernah deketin dia lagi. Oke?” Hans takut kalau-kalau sedikit tindakan saja akan membuat Betra terluka. ”Apa selama ini aku terlihat deketin dia?” ”Kamu nggak ngerasa, ya? Banyak perbuatanmu yang udah bikin dia ge-er.” Fredy hanya manggut-manggut meski sebenarnya tidak mengerti. ”Heh, emang cewek tipemu yang kayak apa sih?” tanya Hans. ”Hmm… Apa ya? Biasa sih. Standar,” ucap Fredy datar. ”Ya standarmu itu yang kayak apa…?” desak Hans. ”Ck, susah ngungkapinnya. Kamu nggak akan ngerti.” ”Yee… Segitunya. Jangan-jangan Risa, ya?” pancing Hans. ”Sembarangan. Kamu tuh! Udah, ah. Aku mau latihan gitar dulu. Nih kuncinya.” Fredy melempar kunci kamar ke arah Hans. Hans menangkapnya dengan jitu, lalu memperhatikan temannya itu melangkah keluar sambil menenteng gitar. Gawat! Bebe bakal nangis kalo tau kenyataan ini. Aku harus diem-diem. Tapi siapa sih cewek yang ditaksir Fredy? Nggak mungkin nggak ada, kan? Kalo Simon mungkin emang nggak ada. Tapi cowok populer macem Fredy gitu lho… Jangan-jangan dia playboy, lagi? Ah, penasaran…, batin Hans. http://facebook.com/indonesiapustaka


96 XY Malam kedua cuaca tidak semendung kemarin. Sehabis acara praise and worship sebagian peserta merasa lelah. Tapi anak-anak badung macam Risa seperti tidak pernah kehabisan tenaga. Mereka sibuk foto-foto, tebar pesona, jalan-jalan ke sana kemari sambil membawa segunung makanan ringan. Fredy dan anak-anak cowok berkumpul di kursi taman sekadar nongkrong sambil bermain gitar. Nongkrong dan ngobrol-ngobrol biasanya merupakan ajang untuk saling mendekati orang yang ditaksir. ”Be, ikut yuk…,” ajak Hans yang sudah berdiri di ambang pintu kamar Betra. Di sana ada Rita yang sibuk dengan berkas-berkas entah apa dan Windy yang baru saja keluar dari kamar mandi. ”Nggak! Mana aku punya muka di depan Fredy? Aku nggak bisa! Kamu pergi aja sendiri,” ujar Betra ketus. ”Alah, Be! Kamu kan bisa pura-pura nyuekin dia.” ”Ayo, Be,” ajak Windy yang sudah siap. ”Udahlah, Hans. Aku ada acara sendiri sama anak-anak cewek. Perkumpulan kaum hawa. Sana!” ”Ada Risa, ya?” tanya Hans sambil menaikkan sebelah alisnya. ”Nggak! Ini khusus cewek-cewek kelas sebelas!” Betra lalu berjalan mengikuti Windy menuju kamar Mira dan Puput. Tapi Hans tetap mengekori dua cewek itu. Di kamar itu sudah ada Mira, Puput, Naomi, dan Evi yang menunggu. Mereka berleha-leha di atas ranjang dengan berbagai pose. http://facebook.com/indonesiapustaka


97 ”Haiiii!” sapa Mira. ”Lama amat sih kalian?” ”Eh, cowok nggak boleh gabung!” canda Naomi begitu melihat tampang Hans di belakang Betra dan Windy. ”Ck, sayang banget,” ucap Hans pura-pura menyesal. ”Ya udah. Aku cuma nganterin Bebe. Titip, ya! Bye semua!” Dengan pedenya Hans melambaikan tangan lalu melenggang pergi sambil diikuti sorakan anak-anak cewek itu. ”Bebe nih… Kamu deket banget sama Hans…,” goda Evi. ”Iya nih! Kalian jadian aja,” sambung Naomi. ”Heh, apa-apaan sih kalian! Aku dan Hans itu nggak ada apa-apa,” sergah Betra kesal. ”En selamanya kami nggak mungkinlah jadian.” ”Eh, temen-temen, Mira cemburu lho. Jangan gitu dong…,” ujar Puput. ”Apa? Mira? Kamu suka Hans, ya? Aduh, sori deh…,” ungkap Betra. ”Puput nih! Apaan sih!” Mira memukul Puput dengan bantal. ”Mir, beneran aku nggak suka sama Hans. Tapi kamu yakin suka sama dia? Mending mikir lagi lho, Mir. Jangan sampe nyesel.” ”Apaan sih…,” elak Mira sambil tersipu-sipu. ”Emang Hans itu gimana? Dia kan baik.” ”Ciee… Mira nih,” Windy yang sedari tadi diam ikut menggoda. ”Oke, aku kasih tau kamu secret deh,” ujar Betra sambil merangkul Mira. ”Hans itu sampe kelas enam SD masih suka ngompol…” http://facebook.com/indonesiapustaka


98 ”Hah? Masa iya sih?” tanya Evi sambil berusaha menahan tawa. ”Iya! Udah gitu dia tuh suka kasar, nggak berperasaan, jorok…” ”Kamu nyebutin jelek-jeleknya terus. Yang baiknya?” tanya Mira. ”Baiknya? Hmmm… Baiknya tuh… nggak ada. Hahahaha! Bohong ding. Ya… Dia tuh care, ramah… Gitu-gitulah!” Betra tiba-tiba tidak mau melanjutkan. Teman-temannya langsung menghujaninya dengan sorakan dan bantal. Bahkan Windy melempar kacang ke arahnya. ”Hei, pada kenapa sih? Hans-lovers semua, ya?” protes Betra. ”Eh, mending gimana kalo sekarang kita buka-bukaan aja!” ucap Puput sambil memperbaiki letak kacamatanya. ”Buka-bukaan? Boleh. Cewek semua, kan? Tapi kan dingin?” tanya Mira. Puput cemberut. ”Heh, lo jangan pura-pura bego dong!” Mira hanya terkekeh-kekeh. ”Kita satu-satu ngaku siapa cowok yang kita sukai,” lanjut Puput. ”Ah, nggak ah!” Windy yang pertama kali menghindar. ”Ye, kenapa? Seru, lagi! Jadi kita nggak perlu saling membunuh, kan?” Evi setuju dengan permintaan Puput. ”Yah, kamu sih enak udah jadian. Sama orang di luar sekolah, lagi,” timpal Betra. ”Nggak ada hubungannya. Nanti aku juga ngaku deh siapa cowok yang kutaksir di sini.” http://facebook.com/indonesiapustaka


99 ”Ye, curang! Nggak setia dikau! Aku bilangin ke Haris, ya,” ancam Naomi. ”Gimana? Mau, ya? Semua kudu jujur!” ujar Puput. Windy berpikir sesaat lalu berkata, ”Oke. Tapi ini cuma di antara kita, harus dibawa mati, en hanya boleh dibicarain malam ini. Setuju?” ”Wah, serem banget. Dibawa mati segala?” timpal Mira. ”Ya iya lah, Win. Jangan kuatir. Masa sih kita tega saling membunuh? Kita semua harus fair,” ujar Puput lagi. ”Oke deh,” Betra akhirnya menyetujui. ”Gimana? Semua setuju?” tanya Puput memandangi wajah teman-temannya satu per satu. ”Yuk, kita mulai. Sini semua mendekat.” ”Eh, tunggu dulu. Pintunya udah dikunci belum?” tanya Windy sambil memeriksa pintu. ”Jendelanya juga harus ditutup rapat.” ”Udah kok, Win,” ujar Evi lantaran dia yang melakukan pekerjaan itu tadi. ”Jadi panik banget.” ”Ya, oke, oke. Sini kumpul lagi,” Puput mengomando. ”Siapa duluan ya?” ”Dari MC-nya,” usul Mira diikuti persetujuan temantemannya. ”Oke, oke. Ehem!” Puput segera melumerkan suasana. ”Aku suka sama… Kak Michael.” Semua menarik napas kaget. ”Beneran?” tanya Naomi tak percaya. ”Kayaknya dia kan deket banget sama Kak Rita….” http://facebook.com/indonesiapustaka


Click to View FlipBook Version