150 gitu ke aku… Apalagi kalo bad mood gini. Aku bicara dikit aja pasti salah. Nggak, ah. Takut.” Mira hanya menjulurkan lidah. ”Apalagi aku.” Saat bel pulang Hans sengaja menunggu Betra keluar. Biasanya Betra termasuk yang paling cepat keluar, tapi kali ini ruang kelas sudah hampir sepi Betra tak juga muncul. Karena penasaran, Hans kembali menjenguk ke kelas. Benar saja, Betra masih ada di situ. Duduk di kursinya dengan manis tapi gundah. ”Ngapain kamu, Be? Ditungguin juga.” Hans menghampiri Betra. ”Ngapain nungguin aku? Kurang kerjaan. Ngajak berantem, ya?” ”Eh… Nggaklah. Kamu selalu gitu. Nggak pernah bisa nerima kebaikan orang. Entar kualat loh!” Hans duduk di atas meja menghadap Betra. ”Kamu kenapa sih? Cerita dong kalo ada masalah.” Belum sempat berkata apa-apa Betra sudah menitikkan air mata. Padahal ia paling tidak ingin menunjukkan ini di depan Hans. Meski terkejut, Hans memilih untuk tidak terlalu banyak bertanya. Ia mencoba tenang dan memahami Betra dalam diam walau itu bukan keahliannya. Ia tahu ada yang tidak beres dengan kencan kemarin, tapi apa? Hanya Betra dan Fredy-lah yang punya jawabannya. Haruskah Hans menanyai Fredy tentang hal ini? Apa ia tidak terlalu ikut campur? ”Hans… Aku benci… Aku benci ini… Kenapa harus begini…? Ini nggak adil…” http://facebook.com/indonesiapustaka
151 Hans benar-benar tidak mengerti maksud ucapan Betra. Melihat sahabatnya itu terluka, dirinya juga ikut terluka. ”Maksudmu apa?” tanya Hans lembut. ”Kalo emang butuh cerita, cerita aja ya. Mungkin bisa ngelegain… Bisa nangis kayak gini juga nggak pa-pa. Nangis en ngerasa sedih… Itu hal yang manusiawi.” ”Aku bener-bener nggak ngerti… Kemarin Fredy… Fredy bilang…” Ah, benar, kan…. Berhubungan dengan Fredy lagi. Entah kenapa hati Hans langsung panas bagai terbakar saat nama itu disebut-sebut. ”Dia? Dia ngapain lagi, Be? Dia berani apa sama kamu?” ”Dia bilang dia nggak mencintaiku dan…” Betra tidak bisa mengatakan bagian Fredy adalah gay. Dia harus membuktikan dahulu! ”Jadi kamu ditolak?” Betra mengangguk. Hans mengepalkan tinju dengan geram. Maksudnya apa sih? Sudah dibilang jangan menyakiti Bebe, nggak ngerti rupanya! ”Sudah kuduga. Aku harus buat perhitungan. Kamu tenang aja. Be, maafin aku. Sebenarnya aku tau Fredy nggak punya perasaan ke kamu, tapi…” ”Udah cukup, Hans. Makasih. Kamu kira… masih pantaskah aku untuk meminta?” Hans menatap Betra penuh arti. Matanya seolah tengah mencari ketulusan dan kebenaran yang tersimpan dalam ucapan Betra. http://facebook.com/indonesiapustaka
152 ”Fredy bilang… dia nggak mungkin bersamaku… Dia bilang, dia nggak ingin menyakitiku lebih daripada ini…” Tuhan… Tatkala hati dan jiwaku merasa lelah Aku hanya ingin bersandar… Saat ini, aku hanya ingin bersandar dan menangis… Tapi aku tidak ingin menangis seorang diri Kirimkan seseorang untukku Seseorang yang mau memelukku Dan aku tahu, Tuhan, Engkau sudah berada di sini untuk ikut merasakan sakitku XY Betra tidak ingin langsung pulang ke rumah. Ia sudah punya rencana sepulang sekolah ini. Ia sengaja akan mampir dulu ke rumah Fredy. Hari ini ia akan menguak semua kebenaran tentang Fredy. Siapa Fredy dan bagaimana masa lalunya, ia harus tahu! Di muka rumah Fredy, Betra disambut oleh kakak lakilaki Fredy yang bernama Frans. Betra dipersilakan masuk dan duduk di ruang tamu. Frans sebenarnya lebih manis dibandingkan Fredy, hanya saja jauh lebih gemuk. ”Fredy kayaknya pulang sore. Ada praktikum katanya,” terang Frans. Betra manggut-manggut meski sebenarnya ia sudah tahu hal itu. Betra memang sengaja mencari waktu saat Fredy sedang tidak ada di rumah. http://facebook.com/indonesiapustaka
153 ”Gimana? Apa mau ditunggu? Aku kasian sama kamu udah nyampe sini tapi Fredy-nya belum pulang. Mau minum apa?” ”Eh, nggak usah, Kak! Ngrepotin aja.” ”Ala… Nggak pa-pa. Santai aja, lagi. Aku seneng kok ada temennya Fredy yang main. Cewek, lagi…,” ujar Frans sembari mengedipkan sebelah mata. Betra mengerutkan kening. Apa maksudnya? ”Ah… Kak Frans bisa aja…,” Betra mengucapkan kalimat itu dengan agak kaku. ”Bi! Tolong buatin es sirop satu!” ujar Frans pada pembantunya. ”Rumah sepi. Mama-Papa ke luar kota. Yah, beginilah…” Suara Frans mengambang. Betra jadi ikut merasa kesepian dan terdiam. ”Gimana? Di sekolah apa Fredy punya cewek?” tanya Frans tiba-tiba. Betra menatap Frans sesaat. ”Nggak. Setau saya nggak… Tapi dia emang banyak yang naksir. Kenapa sih, Kak?” ”Nggak. Nggak pa-pa kok. Jadi kamu juga bukan ceweknya…?” canda Frans. Maunya sih gitu! Tuh, kan… Fredy emang bukan gay! Kakaknya aja tanya begitu, batin Betra. ”Mmm… Bebe. Boleh aku panggil Bebe nggak nih?” Betra langsung mengangguk mantap. ”Semua juga manggil saya gitu…” Ah, Kak Frans ini emang maunya sok akrab sama calon adik iparnya, batin Betra ge-er. ”Oya? Wah, pas banget ya, aku langsung tau nama panggilanmu.” Frans tertawa sejenak. Betra merasa kakak http://facebook.com/indonesiapustaka
154 Fredy ini jauh lebih ramah. Pasti senang kalau dia menjadi kakak iparnya. Belum apa-apa Betra sudah berpikir begitu jauh. ”Menurutmu, Fredy itu orangnya gimana?” lanjut Frans lagi. Wah, ini nih. Penjajakan dengan calon adik ipar! EHEM! Betra benar-benar ge-er. ”Fredy sih orangnya cool… Terlalu cool malah. Sampesampe dia kayak nggak punya perasaan gitu sama cewek.” Frans manggut-manggut. Saat itu seorang wanita setengah baya muncul dengan membawa nampan berisi segelas es sirop untuk Betra. ”Eh, tapi jangan salah paham! Justru itu nilai plusnya. Fredy itu sebenarnya orang baik, juga perhatian… Buktinya dia melindungi saya waktu saya diganggu cowokcowok iseng,” lanjut Betra setelah pembantu rumah tangga itu kembali ke ruang dalam rumah. ”Oya? Ada kejadian kayak gitu? Kapan?” tanya Frans agak surprise. ”Eh… kemarin… Kemarin sih… Waktu nge-date,” kata Betra memancing. ”Nge-date? Beneran? Wow! Cerita dong!” Frans mendesak Betra. Wah, semangat banget. Jangan-jangan dia overprotective sama Fredy… Ke-ge-er-an Betra mulai bercampur pertanyaan. ”Eh. Emang kenapa, Kak?” tanya Betra. ”Oh, nggak… Pengin tau aja. Fredy akhirnya bisa jatuh cinta juga ya…” Pandangan Frans menerawang. Entah http://facebook.com/indonesiapustaka
155 apa yang dilihatnya. Tiba-tiba hati Betra serasa diiris. Entah apa, ia tahu ada yang tidak beres. ”Emangnya… selama ini Fredy nggak pernah suka sama cewek?” Betra menunduk sambil meremas rok abuabunya. Betra sengaja belum mengutarakan kenyataan pahit kepada Frans bahwa sesungguhnya ia ditolak Fredy. Bahwa dialah yang menyukai Fredy mati-matian dan berusaha mengajaknya kencan. Bahwa Fredy mengaku dirinya gay…. Frans menatap Betra beberapa saat. ”Aku bersyukur, Be, kalo akhirnya hatinya terbuka untukmu. Selamat ya.” Ia menepuk kepala Betra. Mendapat perlakuan lembut begitu Betra jadi ingin menangis. Ia ingin menumpahkan semua kepedihan hatinya. Bercerita pada seseorang yang bisa mengerti posisinya. ”Kak…” Setitik air mata mengalir ketika Betra mengangkat kepala. ”Lho… Kok nangis? Ada apa?” tanya Frans kaget. ”Saya nggak seberuntung itu, Kak… Saya ditolak…” ”Ditolak?” Frans tampak tidak kaget mendengarnya. ”Kencan itu juga saya yang rencanain. Fredy… Fredy sama sekali nggak pernah peduli sama saya, Kak… Huhuhu… Bahkan dia sampe tega bilang dirinya itu gay! Itu bohong, kan? Nggak bener kan, Kak?” Betra menangis semakin keras. Tiap mengingat kejadian itu, hatinya terasa hancur. ”Bebe…” Frans menatap Betra dengan lembut dan tenang. Ia memegang tangan Betra yang dingin. ”Aku akan cerita semuanya ke kamu, tapi kamu harus tenang http://facebook.com/indonesiapustaka
156 dulu. Kalo pengin nangis, puas-puasin aja dulu, tapi habis ini kamu harus tenang. Dan janji satu hal, apa yang kamu dengar hari ini jangan diceritakan pada siapa pun.” Betra mencoba menenangkan hatinya. Ia tahu apa yang akan ia dengar bukan hal yang menyenangkan, tapi ia terus berharap dan tak henti-hentinya berdoa dalam hati. Ia menangis beberapa lama. Menangis dan menangis. Tidak ada kata yang sanggup ia ucapkan. ”Sudah?” tanya Frans saat dilihatnya Betra mulai kehabisan air mata. Betra mengangguk dan menghapus sisasisa air matanya dengan tisu yang diberikan Frans. ”Bebe, selalu ada pelajaran dalam kehidupan.” Frans bicara lambat-lambat. ”Yah, mungkin ini proses hidup yang harus Bebe hadapi. Kenyataan memang sering kali pahit dan berat untuk dijalani. Berbeda dengan apa yang kita harapkan sebelumnya. Tapi kita harus belajar menerima hal itu. Life must go on, kan?” Tiap kata yang keluar dari mulut Frans menyentuh hati Betra begitu dalam. Entah kenapa ia jadi ekstra sensitif akhir-akhir ini. Tiap saat air matanya hampir menetes kembali. ”Bebe tau nggak? Alasan kepindahan Fredy ke sini?” ”Mengikuti orangtua…?” jawab Betra asal. Ia hanya tahu alasan klasik itu. ”Karena ada hal berat yang harus ditinggalkan. Bisa dibilang lari… Nggak hanya Fredy, tapi juga MamaPapa… Karena apa? Karena Fredy sudah melakukan tindakan asusila. Bukan dengan cewek, tapi dengan cowok. Fredy bilang sama Bebe dia gay? YA, itu benar. Dia ter- http://facebook.com/indonesiapustaka
157 tarik dengan sesama jenis, bahkan sempat menjalin hubungan dengan temannya.” ”Al… bert…?” ”Ya. Kamu tau? Di suatu hotel mereka ketangkap basah. Lalu besoknya seluruh sekolah dan tetangga heboh. Mama-Papa juga tak habis pikir. Mama sangat shock sampai dirawat di rumah sakit seminggu. Aku ingat waktu itu Papa menampar Fredy… Papa bener-bener marah… Keadaan kacau dan tak terkendali. Nggak kuat menanggung malu dan demi kebaikan Fredy, Papa mutusin kami semua pindah ke sini. Memisahkan Fredy dari Albert… Tapi ternyata sekarang dia juga nggak jauh berubah…” ”Fredy nggak mungkin gay!” jerit Betra. Logikanya seolah tidak bisa bekerja dengan baik saat ini. Ia tidak tahu lagi mana yang bisa ia percayai. Kenyataankah ini? ”Suatu hari nanti dia pasti menikah denganku…!” ”Be!” Frans mengguncang tubuh Betra sekadar memastikan gadis itu sadar. ”Bukan berarti tidak ada harapan. Kamu boleh beriman seperti itu, bagus. Siapa tau dia sembuh! Fredy pun pernah bilang, dia ingin seperti cowok normal lain… Bebe bisa terus menunggu dan membantunya untuk sembuh kalo mau. Tapi seandainya memang itu berat—dan pasti berat aku yakin—Bebe bisa cari cowok lain yang lebih sesuai di luar sana. Pasti ada!” Frans menepuk kepala Betra lagi. Rasanya apa yang ingin didengar Betra sudah cukup. Ada suara dari lubuk hatinya yang mengatakan bahwa ia capek dan ingin menyerah. Yah, kenapa tidak mencari cowok lain? Pasti masih banyak yang bisa mencintainya... http://facebook.com/indonesiapustaka
158 Tapi di satu sisi sudut hatinya yang terdalam Betra tahu bahwa ia sungguh-sungguh mencintai Fredy dan tidak ingin menyerah. Ya. Mungkin Tuhan sedang mengujinya sekarang. Siapa tahu kalau ia gigih Tuhan akhirnya akan mengubah Fredy. Tapi terlepas dari itu semua, Betra benar-benar ingin menolong Fredy. Pasti sulit baginya menghadapi semua sendirian, dan mulai sekarang Betra ingin jadi seseorang yang bisa menolong Fredy untuk sembuh. Tulus! Fredy tidak harus mencintainya tapi Fredy harus sembuh. Alkitab mengatakan bahwa Tuhan tidak pernah merancangkan yang jahat. ”Makasih, Kak…,” Betra terdiam sejenak. ”Eh, Kak... kenapa Kakak mau cerita ini ke saya? Maksud saya... kita kan baru kenal...” Frans tersenyum. ”Soalnya baru kali ini ada cewek yang kayaknya bener-bener tulus menyukai Fredy. Sampai mau repot-repot datang ke rumah dan tulus mencari tahu kebenarannya.” Melihat senyum Frans, mau tak mau kedua ujung bibir Betra terangkat sedikit. Satu hal lagi ingin diketahuinya. ”Kalau Kakak sendiri bagaimana? Emm... maksud saya, Kakak kayaknya nggak malu punya adik gay atau...” Senyum Frans lenyap. ”Yah, biar gimana, jadi gay itu kan berlawanan dengan norma dan bukan hal yang umum di masyarakat. Tapi, Fredy kan tetap adikku.” Frans menarik napas panjang lalu kembali tersenyum. ”Sekarang udah puas, Be? Masih ada yang mau ditanyain?” Betra menggeleng, membalas senyum Frans sambil menyeka sisa air matanya. ”Saya mau pulang…” http://facebook.com/indonesiapustaka
159 ”Yakin kamu nggak pa-pa? Atau mau aku anter?” ”Nggak, nggak usah.” ”Ya udah kalo gitu. Ati-ati di jalan ya.” ”Kak, jangan bilang Fredy kalo tadi saya ke sini.” ”Oh, iya.” Frans mengantarkan Betra sampai di ambang pintu. ”Bebe, aku boleh nganggep kamu adik, ya? Aku seneng punya adik kayak kamu.” ”Aku juga seneng, Kak, ketemu sama Kakak…” Betra tersenyum manis di sela-sela kesedihannya. ”Be, semangat ya! Aku tau mungkin saat ini Bebe benci sama Fredy dan untuk menerima keadaannya tidak cukup hanya dengan satu-dua hari, tapi aku berharap suatu hari nanti kamu bisa berteman lagi dengan Fredy. Kamu boleh hubungi aku kapan aja.” Frans memberikan nomor ponselnya. Di satu sisi Betra sedih, di sisi lain ia senang Frans sangat membuka tangan untuknya. XY Dari terik matahari siang hingga awan berganti teduh tidak menghalangi niat Hans untuk menunggu Fredy di belakang sekolah. Ia sudah mengirim pesan singkat pada Fredy yang menyuruhnya untuk menemui Hans di belakang sekolah begitu selesai praktikum nanti. Fredy yang tidak tahu-menahu tentang apa yang sedang menantinya hanya bisa merasa senang. Tidak biasanya Hans mengundangnya ke suatu tempat. Ada apa ini? ”Hans!” panggil Fredy riang. Seulas senyum menghiasi bibirnya, tapi Hans sama sekali tidak senang. http://facebook.com/indonesiapustaka
160 BUK! Satu pukulan di wajah Fredy membuatnya terhuyung ke belakang dan nyaris terjengkang. ”Ayo, maju!” tantang Hans. Fredy menyeka darah segar yang keluar dari bibirnya. ”Tunggu! Kenapa, Hans?” ”Kenapa? Masih tanya kenapa?” Hans mencengkeram kerah seragam Fredy. ”Ini pembalasan buat Bebe!!” ”Jadi kamu sudah tau?” tanya Fredy tak berdaya. Kedoknya terbongkar sudah. Hans tahu Fredy seorang gay… Dia pasti membencinya. ”Kamu nggak tau penderitaan Bebe. Apa kamu peduli dengan hatinya yang terluka?!” Hans berteriak sekeras mungkin. ”Ya, kamu pasti nggak peduli karena kamu nggak ikut merasakannya seperti aku merasakannya…” ”Kamu salah. Aku sungguh peduli sama Bebe. Makanya aku bilang yang sebenarnya, aku nggak bisa terus begini!” ”Cukup!” bentak Hans garang. Ia maju lagi dan menerjang Fredy yang rela tidak melakukan perlawanan. ”Andai ini bisa membayar semuanya, Fred! Lawan aja aku! Ayo bangun!” XY ”Hai,” Windy muncul saat teman-temannya, termasuk Betra, sedang asyik makan di kantin sekolah. ”Tau nggak? Fredy nggak masuk hari ini. Sakit. Kemarin habis dipukuli orang sampe babak belur.” Betra ternganga. Ia melepaskan sendoknya begitu saja. http://facebook.com/indonesiapustaka
161 Sakit? Dipukuli orang? Kenapa? Betra benar-benar khawatir dan gundah gulana. Ia harus mencari tahu tentang ini semua. Betra belum tahu bahwa Hans-lah yang menyebabkan semua terjadi. ”Be, kamu kok diem aja sih?” Mira menyenggol lengan Betra. ”Ehm... Dipukulin siapa?” tanya Betra kaku. It’s okay, kenyataan bahwa Fredy gay memang cukup membuatnya shock, tapi seharusnya paling tidak ia bisa kan bersikap normal seperti biasa? Calm down, Be... Tidak ada yang tahu rahasia tentang Fredy. Just me..., batin Betra. Usai pelajaran, Betra baru punya kesempatan untuk berbicara dengan Hans. Entah kenapa baginya Hans tidak seperti biasa hari ini. Cowok itu lebih banyak menyendiri dan belum sekali pun menggoda Betra seperti hari-hari biasa. Kalau bukan karena masalah Fredy yang terus menggelayuti pikirannya belakangan ini tentu saja Betra sudah meledek Hans habis-habisan. ”Hans, kamu udah denger soal Fredy?” Hans menatap Betra dengan tatapan garang tak mengerti. ”Be? Kamu ini kenapa sih? Kenapa kamu masih peduli juga sama si brengsek itu?” ”Hans...? Kamu ini yang kenapa...?” tanya Betra kaget dengan sambutan Hans. ”Baru aja kemaren kamu nangis-nangis gara-gara ditolak Fredy. Sekarang kamu bisa-bisanya menanyakan dia dengan tampang khawatir gitu? Peduli, ya?” sentak Hans. ”Hans! Ini nggak seperti yang kamu kira. Fredy habis dipukuli orang nggak bertanggung jawab! Aku dan Simon http://facebook.com/indonesiapustaka
162 mau jenguk dia. Mau ikut nggak? Kalo nggak ya udah! Thanks! ” Hans diam dan hanya menggelengkan kepala. Apa sih maunya cewek ini? XY ”Hai!” sapa Simon dengan wajah yang selalu memancarkan kedamaian dan sukacita surgawi. Fredy hanya tersenyum lunglai. Tampaknya pukulan-pukulan itu juga telah mematahkan semangatnya. Tangan kirinya digips dan wajahnya memar-memar. Hampir tidak seperti Fredy yang dulu lagi. Melihat kedatangan Simon bersama Betra sungguh membuatnya terharu. Bahkan cukup surprise juga Betra ada di sini. Fredy sampai bingung harus bagaimana. Betra mencoba tersenyum. Terenyuh rasanya melihat Fredy dalam keadaan seperti itu. Ia mencoba menepis setiap pemikirannya yang buruk tentang Fredy. Saat ini adalah waktunya untuk menolong Fredy. Ia tidak boleh mundur lagi walau mungkin hati Fredy selamanya tidak bisa ia miliki. It’s okay. ”Hai, Fred,” sapa Betra lemah meski sudah berusaha ceria dan tersenyum. Hatinya masih terasa sakit tiap kali mengingat segala hal yang telah dialaminya bersama Fredy. Sungguh, itu semua bukanlah kenangan yang indah. Fredy hanya tersenyum menanggapi sapaan kedua temannya. ”Gimana? Udah baikan?” tanya Simon sambil meletakkan parsel buah-buahan di meja. Fredy hanya menghela napas. http://facebook.com/indonesiapustaka
163 ”Kenapa kamu... mau datang, Be?” tanya Fredy. Betra tersenyum getir. Ia tidak terluka dengan kata-kata Fredy, ia hanya mencoba memosisikan dirinya jika ia menjadi Fredy. Bukan kemauan Fredy untuk menjadi berbeda dengan yang lain. Betra tahu Fredy ingin berubah dan Fredy tidak boleh menyerah. Harus ada orang-orang yang mendukungnya dan Betra akan menjadi salah satunya. ”Kamu ini ngomong apa sih...? Kita kan teman...,” ujar Betra berusaha tabah. Hampir saja ia menggenggam tangan Fredy tapi ia segera tersadar. It’s okay. Pada akhirnya aku pasti akan terbiasa, batin Betra. ”Teman? Yah, kupikir. Sekarang semua orang sudah tau, kan?” Betra mengerutkan kening. ”Sudah tau apa?” Kabar bahwa Fredy masuk rumah sakit? Atau...? Pikiran Betra tidak bisa menerka-nerka lagi. ”Kamu cerita ke Hans? Tapi itu juga bukan salahmu. Aku memang sudah menyerah.” ”Fred, lihat mataku,” Betra kali ini benar-benar menggenggam erat tangan Fredy dengan tulus hanya agar Fredy bisa tahu dan melihat dengan jelas bahwa dirinya tidak berbohong. ”Aku... nggak pernah cerita apa pun.” ”Ehem,” Simon yang tidak tahu apa-apa berdeham. ”Aku mau membantumu,” kata Betra tegas. ”Lalu Hans?” tanpa sadar Fredy menyebut nama itu. ”Hans? Ada apa dengan Hans?” tanya Betra heran. ”Nggak,” ucap Fredy cepat. Betra menyipitkan mata. Ia merasa ada yang tidak beres. http://facebook.com/indonesiapustaka
164 ”Jadi, siapa yang menghajar kamu, Fred? Apa kami kenal?” tanya Simon saat merasa suasana sudah tidak privat lagi. ”Nggak.” Simon manggut-manggut. Ia hendak bertanya apa kirakira motif orang itu, tapi ada dua pertimbangan yang mengurungkan niatnya: pertama, rasanya tidak etis membahas hal buruk terus-menerus sementara yang bersangkutan saja jelas-jelas sudah tidak ingin mengungkitnya lagi. Kedua, Betra malah menanyakannya. ”Oya?” pancing Betra. ”Lalu kenapa dia memukulimu habis-habisan? Premankah? Kamu kecolongan? Udah dilaporkan ke polisi, kan?” ”Be... Aku cuma ingin istirahat, please.” Betra merasa sedih dan putus asa. Bagaimana ia bisa menjangkau Fredy? Dulu mereka teman, tapi sekarang? Masih pantaskah sebutan itu? Andai ia tidak punya ide untuk mengajak Fredy kencan, tentu hubungan mereka akan baik-baik saja dan Betra tidak perlu tahu kenyataan yang sesungguhnya tentang Fredy. Biarlah itu menjadi rahasia selamanya. Tapi Tuhan bicara lain, sekarang Betra terseret semakin jauh. Apa ia bodoh? Apa seharusnya ia meninggalkan Fredy saja? ”Oke, kalo kamu nggak mau bicara.” Aku akan cari tahu sendiri, batin Betra. XY http://facebook.com/indonesiapustaka
165 Selesai menjenguk Fredy, Betra langsung ke rumah Hans. Ia langsung masuk ke kamar Hans. Ada hal yang tidak beres, Betra tahu itu. Hans sedang asyik di depan komputernya saat Betra datang. Hans tidak mengatakan apaapa meski jelas-jelas ia tahu Betra berdiri di ambang pintu. Hans hanya memutar kursinya sejenak. Melihat Betra juga masih hanya diam, Hans berbalik lagi. O, God! batin Betra. Bagus, semua berubah! Sekarang semua berubah! Fredy, Hans... Oke, kalian memang boleh seperti ini. Anggaplah aku nggak pernah ada! ”Kenapa kamu nggak mau jenguk Fredy, Hans?” sentak Betra geram. Ada banyak hal yang membebani pikirannya. Mungkin seharusnya ia langsung tanyakan saja apa yang memang ingin ia ketahui. ”Aku nggak peduli sama dia.” ”Kenapa?” tanya Betra sambil mendekat. ”Hans, jawab aku. Apa kamu yang memukuli Fredy?” Hans tetap diam seolah Betra tak ada. Ia terus asyik dengan desain animasinya. ”Hans!” Betra putus asa. Ia tahu suaranya bergetar. Tolong! Mengertilah... Hans menoleh. ”Iya. Memang kenapa?” Betra ternganga. Ia tak menyangka ini. Teganya. Kenapa Hans sejahat itu? Dia tahu Fredy orang yang disayanginya, kenapa Hans justru berbuat seperti itu? Apa alasannya? ”KENAPA?!” ”Udahlah, Be. Kita selalu bahas soal Fredy. Apa nggak ada obrolan lain?” http://facebook.com/indonesiapustaka
166 Tidak! Ini bukan Hans yang ia kenal. Mengerikan. ”Kenapa kamu begitu benci Fredy?” tanya Betra hampir menangis. Hans sendiri tidak tahu apa yang terjadi dengan dirinya. Kenapa ia bisa seperti ini? Ia sangat tidak bisa terima bila ada cowok yang tega menyakiti Betra, apa pun alasannya. Kenapa penolakan Fredy terhadap Betra mampu membuatnya begitu marah dan terluka? ”Hans... aku butuh jawaban...” Betra meraih tangan Hans hanya agar cowok itu mau menatapnya dan memberikan jawaban yang dimintanya. Apa mau dikata? Betra ingin mengajak Hans menjadi partner-nya untuk menyembuhkan Fredy. Tapi bila Hans sendiri sangat membenci Fredy... ”Karena kamu, Be. Apa kamu nggak sadar? Semua yang aku lakukan demi kamu. Aku nggak suka sikap Fredy yang berani nolak kamu gitu aja.” Betra benar-benar tak tahu harus berkata apa lagi kini. Hans hanya ingin membelanya, Betra berterima kasih untuk itu, tapi... ”Hans, dengar aku. Satu alasan utama kenapa Fredy nolak aku,” Betra menatap Hans dengan matanya yang ia tahu pasti sembap karena air mata, ”aku pengin kamu tau, Fredy itu gay... Dia suka sesama jenis....” http://facebook.com/indonesiapustaka
167 HANS berbaring di ranjangnya. Ia benar-benar shock. Ini gila! Jadi, segala hal yang ia rasakan aneh pada diri Fredy memang ada sebabnya dan ini terbukti! Gila saja! Penyuka sesama jenis? Pantas saja banyak sikap Fredy yang aneh, terutama sewaktu retret dulu. Ternyata... Oh, malangnya nasib Betra. Jangan bocorkan hal ini ke siapa pun, kamu bisa janji? Katakata Betra tergiang di telinganya. Hans... Ayo, kita bantu Fredy... Bah, ini lebih gila lagi! Biasanya saja Fredy sudah ”berbahaya”, kenapa sekarang ia justru harus berurusan dengan manusia abnormal itu? Salah-salah malah dia yang akan jadi ”korban”. Kalau bukan karena Betra dan karena ia masih punya hati nurani, pasti Hans sudah menjauhi Fredy. SEPULUH http://facebook.com/indonesiapustaka
168 XY Setiap tahun pesta ulang tahun Mira selalu dirayakan dengan mengundang teman-teman sekelasnya di rumah makan. Suatu tradisi yang menyenangkan. Tak urung pula tahun kedua di SMA ini Mira tetap melakukan ritual yang sama. Berbeda dengan tahun sebelumnya, tahun ini di acara ulang tahunnya Mira menggelar acara The Best Prince and Princess. Betra merasa ini permainan iseng yang hanya ingin memojokkan anak-anak yang jarang bergaul. Whateverlah. Otomatis acara itu mengharuskan mereka datang berpasangan cowok-cewek. Mulailah kehebohan di antara teman-teman Mira. ”Be, kita berpasangan aja yuk,” ajak Hans tanpa sungkan. Oh, oke. Mulailah membuatku bingung, batin Betra. Tentu saja Hans merasa tidak ada beban karena Fredy sudah menolak Betra dan karena Fredy gay. Tapi, tahukah Hans bahwa Mira memohon-mohon pada Betra agar jangan pergi dengan Hans? Aku tau mungkin dia bakal mengajakmu. Siapa teman perempuan yang dekat dengannya selain kamu sih? Tapi, please, semua tau kamu suka Fredy dan aku ingin Hans. Jadi... Itulah yang dikatakan Mira melalui telepon tak kurang dari 45 menit 30 detik yang lalu. ”Kamu kan nggak mungkin pergi dengan Fredy, Be.” ”Oke, benar. Tapi, Hans, kita perlu mencarikan pasangan pesta untuk Fredy, nggak?” http://facebook.com/indonesiapustaka
169 Hans membelalakkan mata. ”Tapi bukan kamu, kan?” ”Of course not!” Betra memekik. Apa dirinya cukup gila untuk tetap nekat mengejar Fredy dengan penuh kesadaran setelah ditolak? Apa pun alasannya, huh? ”Aku sudah membicarakannya dengan Fredy. Awalnya dia nggak mau berangkat, tapi setelah kubujuk-bujuk dia mau juga...” ”Trus, siapa pasangannya?” ”Ya aku tanyakan padanya dengan siapa dia ingin pergi. Seorang cewek yang bisa bikin dia merasa nyaman. Tidak terancam seperti saat bersamaku.” ”Dia bilang?” ”Awalnya sih tidak ada satu nama pun yang tersebut. Setelah aku desak-desak, dia bilang Windy.” ”Windy?” Hans manggut-manggut. ”Boleh juga.” Giliran Betra yang manggut-manggut. ”Yah, aku pikir juga begitu. Turuti dulu kemauan Fredy. Biarkan dia biasa dengan teman-teman cewek.” ”Great. Kalo gitu kita bisa pergi bareng, kan?” Betra memandang Hans dengan tatapan aneh. ”Please deh. Siapa juga yang mau pergi sama kamu?” dusta Betra. ”Aku mau ajak Simon kok.” ”Apa?! Kamu gila, ya?!” ”Lebih gila lagi kalo aku pergi sama kamu. Mending kamu ajak aja si Mira.” Hans mendengus kesal. Terserahlah, Hans, batin Betra. Ia sendiri juga bingung, kenapa semuanya jadi begini? Ia juga merasa bersalah http://facebook.com/indonesiapustaka
170 pada Windy karena ia pergi dengan Simon. Tapi Simon sudah mengatakan ”ya” pada ajakannya dan semoga dengan begitu Windy bisa menerima ajakan Fredy. Betra tak pernah terpikir ia bakal pergi dengan Pak Pendeta Simon. Oh, no! Ya sudahlah, demi Mira. For your birthday. Entah kenapa dalam lubuk hatinya Betra merasa berat melepas Hans ke pelukan Mira. Ah, pokoknya Simon cowok yang penurut dan alim, jadi paling tidak dia tidak akan berbuat yang macam-macam. Sori, Win. See you there... XY Simon adalah tipe manusia yang tidak bisa terlambat pada acara apa pun. Alhasil, Betra dan Simon datang paling awal di pesta ulang tahun Mira. Jadilah mereka duduk sambil memperhatikan orang-orang yang masih sibuk check sound. Untuk menghilangkan kejenuhan, Betra mengeluarkan ponsel dan mulai mengirim SMS untuk teman-temannya. Di mana lo, Hans? SMS Betra untuk Hans. Jgn lupa jemput windy! Selanjutnya untuk Fredy. Kawan, cepatlah kemari http://facebook.com/indonesiapustaka
171 Yang terakhir ini dikirimnya untuk Evi, Puput, dan Naomi. Tidak satu pun dari kelima manusia itu yang membalas SMS-nya. Untung keadaan mengambang dengan Simon yang mengajaknya mengobrol tentang arti Natal segera berakhir karena kedatangan Windy dan Fredy. Betra merasa senang dan tertolong, tapi Windy tampak kaget melihat Betra bersanding dengan Simon, cowok pujaannya. Simon memberi isyarat agar mereka bergabung. Awalnya Windy ragu, begitu pun Fredy, tapi akhirnya…? Whateverlah. Mereka berempat berpandangan selama beberapa detik. ”Udah lama, Be?” tanya Windy membuka percakapannya dengan Betra. ”Nggak juga.” Lalu hening di antara mereka. Ada kebekuan yang sangat. Celaka, batin Betra. Windy pasti berpikir yang tidak-tidak. No, jangan salah sangka sekarang! Tak lama Evi datang bersama pacarnya, Haris. Thanks Lord! Engkau memberi pertolongan kedua! Mereka juga bergabung bersama Betra. Meja bundar ini bisa menampung maksimal sepuluh orang. Jika Betra tidak salah prediksi, orang ketujuh sampai kesepuluh adalah Puput, Naomi, bersama pasangan mereka. ”Hei, wah... Aku nggak nyangka kalian bisa bertukar pasangan,” ujar Evi ceplas-ceplos. ”Apaan sih?” ujar Betra bersamaan dengan Windy. ”Kamu ngomong apa sih?” Evi langsung membekap mulutnya tanpa rasa bersalah, lalu duduk dengan santai di samping Betra. Seharusnya waktu retret itu mereka saling mengucap sumpah siapa http://facebook.com/indonesiapustaka
172 pun yang berani membocorkan rahasia dalam bentuk apa pun bakal dikutuk jadi ayam! Begitulah pemikiran Betra yang tak jauh berbeda dengan pemikiran Windy yang merasa Evi harus dikutuk menjadi kodok! ”Halo, semua!” ujar Puput yang menyusul sepuluh menit kemudian. Ia berjalan berdampingan dengan Michael. Windy, Evi, dan Betra membelalakkan mata lebar-lebar. Great! Bisa juga si Puput memancing hiu besar. Maksudnya mengajak kakak kelas yang gosipnya dekat dengan Kak Rita. Anyway, gimana dengan Naomi? Dia bisa shock! ”Hai,” Michael menyapa dan menyalami mereka satu per satu, membuat Betra teringat akan suasana di gereja. Simon tampak sumringah. Lega juga Betra, akhirnya datang orang yang sehati dengan Simon. Fiuh. Puput menyikut Evi. ”Kukira Windy serius waktu bilang dia suka sama Simon, ternyata... hohoho...” ”Aku juga nggak menyangka Betra mau sama Simon. Whatever.” Kehebohan batin semakin tidak tertahankan saat Naomi datang bersama Richard. Naomi bergelayut manja di lengan Richard. ”Apa-apaan ini?” ucap Evi lirih pada Puput. ”Halo, teman-teman. Aku kira sudah terlambat. Huuuuh... panas,” ujar Naomi sambil berkipas-kipas dengan kipas cendana warna pink-nya. ”Suka daun muda ya, beib...?” tanya Evi, lebih pada sindiran. Yah, jealous yang tidak beralasan. Dia suka pada Richard, tapi dia kan sudah menggandeng Haris. http://facebook.com/indonesiapustaka
173 ”Nggak ada urusannya denganmu, beib...” Tidak ada yang ingin dibahas oleh Naomi. Sial banget dirinya harus melihat Puput bersama Michael. Bisa-bisanya ia keduluan anak ganjen itu! Huh, sebal. Naomi jadi teringat pembicaraannya dengan Michael kala itu. Apa ini? tanya Michael sambil membuka undangan yang disodor Naomi padanya. Ulang tahun teman, Kak. Kalo Kakak nggak ada acara, mau kan datang sama aku? Oh, ini. Tapi, aku udah diajak sama Puput. Sori... DHUARR!! ”Oke, berarti hanya Hans yang kurang?” tanya Puput pada semua. Lamunan Naomi jadi buyar. ”Jangan mikirin Hans,” jawab Betra. Dia kan bersama Mira.” Tanpa sadar Betra berkata sinis. Acara dimulai pukul 18.05. Lewat lima menit dari waktu yang seharusnya, acara dibuka langsung dengan penampilan Mira dan Hans yang membawa kue tart diiringi lagu Happy Birthday. Betapa noraknya! batin Hans. Tapi nasi sudah menjadi bubur, mana mungkin dia tega membuat Mira menangis? Sementara Betra hanya bisa menahan iri. Apalagi celotehan teman-temannya membuat dia semakin tidak tahan. ”Wah, serasi ya.” ”Iya, bentar lagi pasti mereka jadian. Senang, ya.” Oke, selamat deh, Hans. Kamu menemukan putri impianmu yang sungguh imut, batin Betra. ”Gimana menurutmu, Be?” tanya Windy sambil tersenyum getir. http://facebook.com/indonesiapustaka
174 ”Apanya?” ”Kalo teman masa kecilmu itu jadian sama cewek lain? Jangan cemburu, ya.” Idih. Please deh, seperti bukan Windy yang kukenal. Kenapa dia yang sinis? batin Betra. Pasti gara-gara Simon. Tampaknya aku melakukan kesalahan fatal. ”Win, percayalah, aku nggak ada perasaan apa-apa pada Simon. Semua ini karena terpaksa!” Betra berbisik lirih pada Windy. ”Apa?” Windy semakin terperangah. Salah paham kedua, Windy pasti mengira Betra memperalat Simon. Oh, sudahlah. ”Terserah. Bukan urusanku,” ujar Windy ketus. Betra diam, tidak mampu berkata apa-apa lagi. Ia tidak ingin memperparah keadaan yang sudah carut-marut begini. Betra dapat melihat dari tempatnya duduk wajah Mira yang berseri-seri malu. Benar-benar cewek manis. Cowok mana yang tidak luluh hatinya melihat Mira? Saat Betra menatap Hans... entah kebetulan atau tidak, Hans balas menatapnya dengan tatapan yang tak kalah merindukan. Betra cepat-cepat memalingkan muka. Ada apa ini? Biasa aja deh, Be. Betra menegur dirinya sendiri. ”Makasih ya, Hans, kamu udah mau nemenin aku,” ujar Mira sambil tak hentinya tersipu-sipu. ”Nevermind.” ”Betra tuh cocok sama Fredy ya. Tapi kenapa mereka nggak berpasangan?” ”Mana kutau?” jawab Hans tak acuh. ”Yang bener aja. Masa Bebe cocok sama Fredy?” ”Ah, kamu cemburu, kan...?” http://facebook.com/indonesiapustaka
175 ”Sembarangan! Mana mungkin! Sampe kapan pun Fredy nggak mungkin berpaling pada Betra. Fredy itu gay!” Ups, Hans kelepasan bicara. Mira membelalakkan matanya lebar-lebar. ”Eh, bukan maksudku...” ”Gay?!” Mira mendesis sambil mendekatkan wajahnya. ”Are you serious?” Mira menatap Hans serius lalu menghela napas, ”I believe so.” Mira mengangguk-angguk. Oh, no! Hans menepuk jidatnya. Great, kesalahan besar. Bisa-bisa Betra marah lagi padanya. Satu-satunya harapan Hans adalah dengan mengancam Mira untuk tidak membeberkan hal itu pada siapa pun. Sejauh ini Mira sudah mengangguk dengan patuh, tapi wajahnya yang polos itu membuat Hans sedikit khawatir…. XY Waktu acara dansa, semua pasangan turun ke tengah area. Awalnya Betra duduk saja bersama Simon. Tentu tidak asyik dansa dengan si pendeta ini. Tapi ternyata hanya menonton sementara yang lain berdansa lebih tidak asyik lagi. Windy dan Fredy saja berdansa, dan Betra yakin seratus persen bahwa yang mengajak berdansa adalah Windy. Jadi Betra pun mengajak Simon berdansa juga. ”Kamu suka Simon?” tanya Fredy pada Windy sambil mengayunkan kakinya maju-mundur. ”Siapa bilang?” sangkal Windy tegas. Fredy tersenyum licik. ”Matamu. Kamu dari tadi merhatiin dia.” http://facebook.com/indonesiapustaka
176 Windy balas tersenyum. ”Gimana soal Betra, Fred? Kamu suka dia?” Fredy mengangkat bahu sambil tersenyum. ”Mungkin. Entahlah. Dia cewek yang baik,” Fredy berkata sekenanya. Hanya ingin terlihat bahwa dia adalah cowok yang sedang bimbang akan perasaannya. Windy tidak tahu bahwa Fredy sudah menolak Betra. Betra menatap Mira dan Hans yang berdansa dengan mesra. Mereka begitu akrab. Padahal tadinya Betra mengira tidak mungkin Hans menyukai Mira yang tipikal cewek manja, tapi tampaknya Hans baik-baik saja. Pahit rasanya. Musik berganti dan mereka harus berganti pasangan. Berat bagi Mira melepaskan diri dari Hans. Windy dan Simon langsung berdansa dengan lancar tanpa bicara sepatah kata pun. Betra tidak berniat akan berdansa, tapi dua tangan terulur padanya. Fredy dan Hans. Kedua cowok itu saling pandang. ”It’s okay,” ujar Fredy sambil angkat bahu dan dia mundur. Betra pun menyambut tangan Hans. Mereka saling menatap dengan lekat. Betra seolah terhipnotis kepada Hans. Tahu-tahu dia sudah menyandarkan kepalanya di dada Hans. ”Apa Mira baik?” tanya Betra. ”Hmm,” gumam Hans nggak jelas. Evi pun dengan senang hati langsung melepaskan Haris dan berganti pasangan dengan Richard. Sementara Naomi sejak tadi sudah mengincar Michael. ”Ehem, Puput, apa kamu nggak dengar musik udah berganti?” ujar Naomi sedikit sebal. http://facebook.com/indonesiapustaka
177 ”Oh, masa iya sih? Nggak tau tuh. Hohoho,” dusta Puput. Dasar Naomi nggak bisa liat orang laen seneng! XY Semua tidak berjalan seperti yang diharapkan Hans. Harihari berikutnya dengan cepat isu tentang Fredy yang gay tersebar ke seantero sekolah. Berbagai peristiwa malang mulai dialami Fredy. Ada saja anak yang iseng padanya. Mulai dari dikunci di kamar mandi dan disiram air lewat ventilasi, kehilangan celana abu-abunya sehingga harus mengikuti sisa pelajaran dengan celana olahraga dan digiring ke BP, sampai aksi tidak bicara yang dilakukan kelompok tertentu. ”Hans, kamu cerita, ya?!” tuduh Betra suatu siang. Pusing dia. Seharusnya misi rahasia menyembuhkan Fredy bisa berjalan lebih lancar tanpa perlu ada seorang pun yang tahu dan berpikiran negatif. Tapi, dalam keadaan seperti ini? Betra tahu Fredy berperasaan halus. Cowok itu tidak banyak melawan, hanya pasrah seolah membenarkan semua gunjingan di belakangnya. ”Nggak! Mira yang cerita!” Hans menuding Mira. ”Kamu yang cerita ke aku,” kata Mira tak mau kalah. ”Keceplosan.” ”Terus?” Betra menanyai Mira sambil menyipitkan mata. ”Terus... Aku nggak cerita ke siapa-siapa.” ”Yakin?” ”Windy.” http://facebook.com/indonesiapustaka
178 ”Terus?” desak Betra lagi. ”Evi. Puput. Naomi.” Oh, no! Lengkap sudah. ”Tapi mereka janji nggak akan bilang....” XY Di kelas IPA tidak seorang pun mau duduk di samping Fredy, bicara dengannya apalagi meminjaminya catatan. Felix yang selama ini menjadi teman sebangkunya tibatiba pindah tempat duduk. Baginya lebih baik duduk seorang diri di pojok kelas dari pada harus seharian bersama seorang… gay. Fredy berpikir, mungkin ini akan jauh lebih mudah jika ia sekelas dengan Simon. Ya, anak itu pasti tidak peduli siapa dirinya. Ia pasti bersedia menemani siapa pun, seekor kerbau bau sekarat sekalipun, Fredy yakin Simon tetap masih bisa bertahan. Hari ini anak-anak IPA baru saja selesai praktikum biologi sementara anak-anak IPS di kelas Betra mengikuti pelajaran olahraga. Hans dan teman-temannya tengah asyik menendang bola di lapangan rumput termasuk Simon. Mereka berteriak dan berlari ke sana kemari. Anak-anak perempuan yang kebagian jatah main bola basket kebanyakan lebih senang duduk menyaksikan pertandingan sepak bola dari pinggir lapangan daripada harus mendribel bola oranye dan memasukkannya ke keranjang bolong. Bagi Betra itu pekerjaan sia-sia. ”Ngapain sih kita harus susah-susah melindungi bola segede gitu yang entah fungsinya buat apa!” Saat ini pun ia, Mira, dan Evi asyik bergerombol di ba- http://facebook.com/indonesiapustaka
179 wah pohon. Hanya beberapa anak cewek yang benarbenar jago seperti Puput yang bersedia menggunakan jam olahraga ini untuk sungguh-sungguh bermain basket. ”Wah, Hans cakep! Cakep banget!!” jerit Mira. Makin hari makin tidak canggung saja ia memuja Hans. Membuat Betra semakin kesal sebenarnya. Di tengah lapangan, perhatian cowok-cowok beralih dari bola sepak mereka. ”Heh, liat tuh di sana,” desis salah satu cowok IPS. Ia menunjuk ke arah koridor sekolah dengan dagunya. Teriknya matahari siang itu membuat Hans harus menyipitkan mata untuk dapat melihat apa yang dimaksud. O, my God! Fredy! Cowok malang itu tengah berjalan di koridor seorang diri sambil membawa buku dan alat tulis. ”Bagus. Kita buat pertunjukan.” Anton segera ancangancang. Ia merebut bola dengan cepat dan mengarahkannya pada Fredy. ”Heh, cepet!” teriak Simon, seperti biasa tidak mengerti apa yang sedang terjadi. ”Ke sini bolanya!” ”Berisik!” balas Anton. Detik berikutnya, Anton menendang bola yang berada di bawah kakinya. Bola itu melayang jauh seperti perkiraannya, menghampiri Fredy yang tidak sempat menghindar. Fredy melindungi kepalanya dengan kedua belah tangan. BUK! Bola itu membentur dinding. Nyaris. ”Ck, meleset!” gumam Anton. Fredy merosot lemah ke lantai. Barang-barangnya berserakan. Dengan susah payah ia berusaha memungutinya, tapi selalu saja ada yang terjatuh kembali. Tangannya http://facebook.com/indonesiapustaka
180 gemetar. Tanpa teman-temannya, Fredy bukanlah Fredy yang dulu. Windy yang ada di dekat sana terenyuh melihat keadaan Fredy. Ia ingin membantu. Sebenarnya ia tidak setuju dengan aksi menjauhi Fredy secara massal ini. Hati nuraninya terus memberontak. Kita ini hanyalah orang-orang berdosa. Tak ubahnya lebih buruk daripada seorang gay. Begitulah hati kecilnya bicara. Tapi bagaimana? Apa yang dapat ia lakukan? Di sana ada Evi dan kawan-kawan. Apa kata mereka nanti? Apakah Windy cukup punya keberanian untuk membantu? Bagaimana jika nanti ia juga dijauhi, dibenci oleh yang lain lantaran menolong Fredy? Ah, terpaksa Windy menulikan mata hatinya dan terus berjalan seolah tegar. ”Gila,” ujar Betra pada dirinya sendiri seolah Hans mendengar dalam jarak beberapa meter itu. ”Ngapain sih?” Orang-orang yang lalu-lalang di sekitar Fredy sama sekali tidak mau menolongnya. Mereka selalu hampir saja menginjak buku Fredy. Bahkan penggaris tiga puluh sentinya sudah lecet di sana-sini. ”Kamu nggak pa-pa?” Simon berlari mendekat. Ia menolong Fredy memunguti barang-barangnya. Windy yang melihat kejadian itu dari jauh merasa terusik. Ia akui dirinya ternyata lemah. Simon selalu melakukannya jauh lebih baik. ”Thanks. Nggak pernah lebih baik…” Fredy tersenyum sinis. ”Wah, yang ini lebih gila lagi!” komentar Anton menyaksikan kebaikan Simon. http://facebook.com/indonesiapustaka
181 ”Yaa, Simon gitu looh…! Nggak heran!” komentar Evi keras-keras. Hans dan Betra segera menyusul Simon menghampiri Fredy. Mungkin agak terlambat, tapi mereka di sana untuk mendukung. ”Udah, pergi kalian semua. Sebelum kalian kehilangan segalanya,” ujar Fredy pada ketiganya yang langsung saling pandang. Hans menepuk pundak Fredy. ”Tenang aja. Kami siap membantu.” Fredy tidak menunjukkan reaksi yang berarti. Ia hanya tersenyum lemah dan beranjak meninggalkan teman-temannya. Dari kejauhan, Windy hanya bisa menyesali diri. Ia memperhatikan Simon. Seharusnya ia juga berdiri di sana. XY Setelah berhari-hari, sebagai teman sekelas barulah keberanian Windy muncul. Ia mau duduk sebangku dengan Fredy meski banyak mulut berbisik-bisik di belakangnya. ”Cari sensasi.” ”Iya. Ngapain sih tuh orang?” ”Kamu ngapain?” tanya Fredy tak mengerti. Windy tersenyum sebelum sempat menjawab pertanyaan Fredy. ”Menuruti kata hati. Apa aku boleh duduk di sini?” ”Kamu gila? Temen-temen semua menjauhiku. Kamu juga akan mengalami masalah yang sama nanti.” http://facebook.com/indonesiapustaka
182 ”Aku gila kalo aku tetap menjadi salah satu dari mereka.” Windy dan Fredy lalu saling melempar senyum. Windy tak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, tapi yang jelas yang bisa dilakukannya saat ini adalah berdiri mendukung Fredy. Karena ia tahu, Yesus pun juga tidak akan tinggal diam jika Ia ada di sekolah ini. XY ”Iya, gila! Nggak tau tuh si Windy! Kerasukan setan, kali,” cemooh Naomi yang sekelas dengan Windy melaporkan kejadian tadi pada Puput, Evi, dan Mira saat istirahat di kantin. Ia sengaja mengeraskan suaranya agar Windy dan Fredy yang duduk di sudut ruangan bisa mendengar. ”Emm… Win, aku tau ini berat. Udah, aku nggak pa-pa kok. Kamu nggak harus seperti ini,” ujar Fredy. ”Nggak, Fred! Kamu diem aja. Aku masih waras kok. Aku akan berteman dengan siapa aja yang aku mau.” ”Halo!” sapa Simon pertama-tama pada Naomi dan kawan-kawan. Namun, mereka sengaja pura-pura tidak mendengar. ”Kayaknya barusan aku denger ada yang ngomong deh,” ujar Puput. ”Kamu ya, Mir?” Mira langsung menggeleng. ”Yeee… Aku kan sibuk SMS dari tadi.” Wah, mulai menjalankan aksi lagi nih! batin Simon. Ia melanjutkan langkahnya dan mencapai meja tempat Windy dan Fredy berada. http://facebook.com/indonesiapustaka
183 ”Hai!” sapa Simon ramah. Windy tersenyum dan Fredy balik menyapa. ”Ada yang beda nih,” ujar Simon sambil melirik jail pada Windy. ”Win, bisa kita bicara sebentar?” tanya Evi yang tibatiba menghampiri meja Windy. Windy memandang berkeliling. Agak ciut juga nyalinya. ”Boleh. Di sini aja kenapa?” ”Nggak ah. Yuk, gabung. Biasanya kan kita ngumpul bareng.” ”Ya udah.” Dengan tegar Windy memberanikan diri berdiri. Tepat saat itu bel masuk berbunyi. YES! Windy bersorak senang dalam hati. Evi mencelos. ”Wah, udah bel tuh. Mau ngomong apa?” desak Windy merasa menang. ”Nggak jadi.” Evi tersenyum licik. ”Lain kali aja. Jangan lupa gabung.” Ia menepuk-nepuk pundak Windy lalu meninggalkannya. ”Fiuh… untunglah. Aku nggak tau deh tadi mereka mau ngapain,” Windy kembali duduk sekadar untuk menenangkan diri. ”Tenang aja. Kami di pihakmu kok,” ujar Simon. ”Yup! Nggak akan kubiarkan mereka menyentuhmu seujung jari pun,” janji Fredy. XY ”Kenapa, Fred?” tanya Simon saat melihat Fredy dan Windy tampak kebingungan di tempat parkir. http://facebook.com/indonesiapustaka
184 ”Simon, anak-anak pada ngisengin Fredy lagi,” ujar Windy. ”Udah biasa,” gumam Fredy. Ban belakang sepeda motornya bocor, padahal Fredy yakin tadi pagi motornya baik-baik saja. ”Ya udah, dituntun aja sampai ujung jalan.” ”Aku temenin, ya?” Windy menawarkan diri. ”Nggak usah. Panas-panas gini…” ”Nggak pa-pa bareng-bareng,” ujar Simon. ”Habis itu nanti aku anterin kamu pulang ya.” Simon berpaling pada Windy yang tersipu malu. Fredy yang menangkap adegan itu langsung berdeham keras. XY ”Windy, cukup! Ini sungguh memuakkan!” Evi menarik tangan Windy di suatu siang. Di tengah lapangan sekolah saat Windy berjalan bersama Simon dan Fredy sementara Evi bersama kawan-kawannya. ”Vi, kamu ini kenapa sih?” tanya Windy ketus. ”Cukup! Gara-gara waktu itu kamu pergi ke pesta bareng Fredy, jadi kamu mau terus membelanya, gitu? Kamu jatuh cinta pada Fredy? Nggak pantes, Win! Kamu tuh sama bodohnya kayak Betra!” Windy melongo. Ia, Simon, dan Fredy saling pandang. ”Kok kamu bisa mikir gitu sih? Niatku itu tulus!” ”Tentu aja kamu punya maksud tertentu! Mana ada sih yang mau berteman dengan orang yang jelas-jelas udah kebongkar kedoknya kayak Fredy??” seloroh Puput. http://facebook.com/indonesiapustaka
185 ”Kamu sadar dong, Win… Sadar!” timpal Naomi pula. ”Kamu sekarang udah ketularan si pendeta itu!” ujar Evi sengit. Windy kalang kabut diserang habis-habisan seperti itu. Ia ingin bicara, tapi apa yang bisa ia jelaskan? ”Heh, kalian hati-hati kalo bicara!” Fredy angkat bicara. ”Oke, aku terima kalo kalian menghinaku, menjelek-jelekkanku. Tapi aku nggak bisa tinggal diam kalo kalian juga menjelek-jelekkan Windy atau Simon!” Evi dan teman-temannya ternganga. Sejak kedoknya terbongkar, baru sekali ini Fredy berani bicara dengan lantang. Awesome! Perkataan Fredy benar-benar membuat Evi naik pitam. Ia benci Fredy membela Windy dan Simon. Ia benci perlakuan Betra pada Fredy. Ia benci semua tentang Fredy. Tangan Evi terangkat siap memukul Windy. Saat itulah tak disangka-sangka seseorang menahan tangan Evi. ”Berhenti!” Hans—yang muncul bersama Betra entah dari mana—menyentakkan tangan Evi yang tergantung di udara. Evi terhuyung. ”Apa-apaan sih kalian ini?” sentak Hans galak. ”Curang!! Tiga cowok mau melawan cewek-cewek?! Nggak gentle!” teriak Puput mencak-mencak. ”Apa sih? Siapa yang mau melawan siapa?” Hans membalikkan perkataan Puput. Ia bersikap tenang. ”Kamu ini,” Evi maju menantang Fredy, ”orang paling menyedihkan yang pernah aku temui! Gay! Homoseks! Najis, tau! Apa kamu nggak tau? Perbuatan kayak gitu itu dosa! Dosa, tau?! Dasar abnormal!!” http://facebook.com/indonesiapustaka
186 ”Kamu mesti denger juga, ya!” Windy maju menantang Evi. ”Nggak cuma Fredy yang abnormal! Nggak cuma Fredy yang berdosa! Pembohong, pencuri, pendendam kayak kalian, kita semua ini juga najis dan abnormal! Semua yang nggak bener itu dosa, tau! Nggak ada bedanya kamu gay atau nggak! Memang kenapa kalo gay? Kenapa harus dijauhi? Yang lain juga sama aja, tau!” ”Udah, udah,” Simon berkata lirih pada Windy. Mau tak mau Evi dan yang lain jadi merenungkan kata-kata Windy barusan. Mereka merasa terpukul dan harus mengakui yang dikatakan Windy ada benarnya juga. Evi cs. hanya bisa menahan amarah. ”Ayo kita pergi,” ajak Evi pada teman-temannya. ”Percuma bicara sama orang-orang abnormal! Kurang kerjaan! Tinggalin aja mereka!” ”Gila,” gumam Betra. XY Kakiku menapak di antara bebatuan keras dan kerikil tajam, Ketika aku hendak berlari, Kaki ini hanya mampu membawaku ke lembah kekelaman yang paling gelap Aku semakin terperosok, jatuh, dan hilang⁄ Tuhan, Masihkah aku berharga di mata-Mu? Masihkah Engkau mengasihiku? http://facebook.com/indonesiapustaka
187 Dalam keheningan aku mendengar suaraMu, ‰AnakKu, engkau sangat kukasihi. Jangan menangis. Aku telah memilihmu dan engkau akan menjadi milik-Ku selamanya⁄ Ikutlah Aku!‰ Ia mengangkat wajahku dan aku melihat sinar terang⁄ Sinar yang sangat terang, ajaib, agung, dan mulia Tak dapat terlukiskan dengan kata-kata penyair mana pun Kini kutahu, hidupku takkan sama⁄. http://facebook.com/indonesiapustaka
188 BERBULAN-BULAN sudah sejak aksi pengucilan Fredy. Tak terasa kini mereka sudah naik ke kelas dua belas. Masalah tentang Fredy lambat laun mulai terlupakan meski tidak bisa mengubah perilaku teman-teman mereka kembali normal seratus persen. Evi sedikit-sedikit mulai bisa melihat bahwa gay tidaklah buruk. Mereka tetaplah manusia, mereka butuh teman. Mereka juga bisa menjadi teman yang baik. Kenapa Evi harus memusuhinya? Fredy mencoba lebih mendekatkan diri pada Tuhan. Memang sejak dijauhi teman-temannya Fredy juga jadi tidak punya waktu untuk bergaul dengan banyak orang. Ia merasa tertolak. Namun, itu membuatnya tidak patah semangat. Perlahan-lahan ia justru mulai bisa melupakan Albert. Sungguh ajaib ketika ia tidak lagi memiliki perasaanperasaan seperti yang dulu. Kini ia lebih sering memperSEBELAS http://facebook.com/indonesiapustaka
189 hatikan Windy. Betapa cantiknya gadis itu. Mengapa selama ini ia buta? Betapa ada gadis berhati tulus yang selalu ada di sisinya. Tegar dan cantik… Tapi ia tahu jauh di lubuk hatinya Windy menyukai Simon, begitu pun sebaliknya. Hanya waktu yang akan menjawabnya. ”Menurutmu gimana, Fred? Keren, nggak?” tanya Hans kepada Fredy tentang penampilannya malam itu. Hans tampil heboh dengan jas karena menyiapkan aksi ”penembakan” untuk Betra. Mereka sudah tiba di muka rumah Betra sejak beberapa menit yang lalu. Salut. Fredy ikut berbahagia untuk mereka. ”Oke,” Fredy mengacungkan kedua jempolnya. ”Itu dia Betra! Sukses ya!” Fredy menepuk punggung Hans keraskeras dan berlari meninggalkan temannya itu. Hans berusaha mengatur napasnya yang tak keruan. Jantungnya berdebar kencang. Di balik punggungnya ia menyembunyikan setangkai mawar merah. ”Hai,” sapa Betra sambil berjalan menghampiri Hans. Awalnya ia biasa saja, tapi tiba-tiba ia merasa ada yang sedikit aneh dengan temannya ini. Jas? ”Mau ke mana kamu?” tanya Betra sambil membukakan pintu pagar. Entah kenapa Betra jadi tersipu-sipu melihat penampilan Hans. Geli, tidak biasa. Waktu ulang tahun Mira saja Hans hanya mengenakan kemeja pink yang cute. ”Masuk yuk.” ”Ng... Ehem, nggak deh. Makasih. Di sini aja,” ujar Hans sok berwibawa. Betra memandangi Hans beberapa lama. ”Be... Ehem...,” Hans merasa suaranya tidak bisa meng- http://facebook.com/indonesiapustaka
190 alir dengan lancar. Sementara Fredy memperhatikan kedua insan itu dari tempat persembunyiannya yang tak jauh. ”Aduh, Hans... Jangan malu-maluin...,” gumam Fredy yang malah sudah berkeringat dingin. ”Seharusnya mereka masuk ke rumah...” ”Be, ini,” Hans langsung menyodorkan mawar merah yang sedari tadi disembunyikannya. Ia tidak tahu lagi harus berkata apa. Mungkin mawar ini cukup mewakili perasaannya. Betra terbelalak menerima mawar merah dengan memo ”I love you, Betra” yang diserahkan padanya dengan pasrah. ”Ambillah.” Betra ragu-ragu lalu menerima mawar itu dengan gumaman thanks pelan. Ia perlu mengklarifikasi ada apa ini sebenarnya. ”Jadi?” tanya Betra. ”Ini...” ”Buatmu. Pernyataan cinta.” What? Betra semakin tidak percaya. Bagaimana ia harus menjawab semua ini? Hampir-hampir ia menanyakan, ”Bukannya ini buat Mira?” ”Mau nggak kamu jadi pacarku?” Hans akhirnya berani menatap Betra. ”A...,” ucap Betra lalu terkekeh sesaat. ”Kamu bercanda, ya?” Kesal juga hati Hans. Cewek ini memang nggak bisa dikasih hati! ”Apa aku kayak bercanda?” Betra diam dengan wajah tersenyumnya yang paling http://facebook.com/indonesiapustaka
191 aneh. Ekspresi yang belum pernah dilihat Hans selama hampir delapan belas tahun ini. Hans? Cowok teman kecilnya yang selalu usil padanya? Cowok yang lebih sering membuatnya menangis daripada tertawa ini ”menembaknya”? Are you kidding me? ”Buktikan,” tantang Betra sambil bersedekap. ”Ha?” Hans melongo. ”Maksudmu?” ”Just... buktikan aja ucapanmu itu.” Hans menghela napas dalam-dalam. ”Baik. Kamu pikir aku main-main, kan? Kamu akan liat kalo aku serius! Aku akan teriak ke orang-orang kalo AKU SUKA BETRA!” Hans sudah berbalik dan hendak berteriak ke jalanan tapi Betra menarik tangannya. ”Hans! Cukup.” ”Jadi kamu percaya?” Betra diam dan mengembuskan napas. ”Mau teriak sama siapa? Di sini sepi nggak ada orang. Paling kamu cuma bakal ganggu tetangga yang lagi tidur.” ”Nggak pa-pa, biar mereka tau...” ”Udah, Hans. Aku percaya.” ”Jadi?” ”Kasih aku waktu.” ”Nggak masalah,” ujar Hans akhirnya merasa pasrah. ”Thanks, buat bunganya. Indah.” ”Aku tunggu jawabanmu. Jangan lama-lama. Oke?” ucap Hans sambil melangkah pergi. Angin malam mengiringi langkahnya. Begitu keluar dari pagar rumah Betra, Hans menyeret Fredy mengikutinya ke rumahnya. http://facebook.com/indonesiapustaka
192 XY Hans merebahkan diri di atas ranjangnya yang lapang. Fredy menonjok lengan Hans. ”Gimana tadi? Kamu diterima? Ditolak?” Hans menghela napas dalam-dalam. ”Lebih parah dari keduanya.” Fredy mengernyitkan kening. ”Cewek itu menggantung aku.” Hans bangun dan duduk bersila. ”Sial. Bebe nyuruh aku menunggu. Dia minta waktu segala.” Fredy terkekeh sesaat. Tidak tahu harus memberi tanggapan apa. Ya syukur kalau nanti diterima, tapi kalau ternyata ditolak? Rasanya seperti sia-sialah penantian ini. ”Smart girl,” komentar Fredy. ”Oya?” ”Yah, dia perlu waktu buat memikirkan apa kamu serius atau hanya mempermainkan dia.” ”Hei, jadi menurutmu aku ini kayak lelaki hidung belang gitu?” ”Hahahaha...” PLUK! Hans melempar Fredy dengan bantal besarnya. Fredy langsung memiringkan kepala. ”Yang penting kamu sudah menyelesaikan tugasmu. Sekarang aku sedang bingung gimana caranya menaklukkan Windy.” ”Hah, gampang. Kamu harus bisa lebih daripada Simon. Lawanmu cuma Simon, kan? You juga bisa.” Hans http://facebook.com/indonesiapustaka
193 bangkit dan merangkul Fredy. ”Tunjukin kamu juga bisa nyeberangin nenek-nenek tua, menuntun orang buta, jadi orang yang terakhir waktu antre tiket bioskop...” ”Gila aja lo!” gerutu Fredy. XY Siang itu seusai jam pelajaran olahraga, Fredy berhasil menyelipkan sebatang cokelat dan sepucuk surat bernuansa violet di tas Windy. Tidak seorang pun tahu, Fredy merasa lega. Ia tinggal melihat bagaimana respons Windy nantinya. Seulas senyum mengembang di bibirnya. Ia yakin ini cukup berhasil. Ia sudah mencoba menyelipkan kata ”GBU” di suratnya untuk menunjukkan bahwa— ehem—dirinya juga sedikit alim. Windy kembali bersama teman-temannya. Ia membuka tasnya dan mendapati sebatang cokelat menyembul dari dalam. Windy segera meraihnya. Ia sedang mengingatingat bahwa waktu berangkat dari rumah ia yakin tidak membawa bekal cokelat. Ia juga tahu ini bukan Hari Valentine. Belum hilang rasa penasarannya, Windy menemukan sepucuk surat yang tertempel di belakang cokelat yang dipegangnya. Windy hendak membukanya, tapi ragu jangan-jangan cokelat ini milik seseorang yang entah bagaimana salah menaruh ke dalam tasnya. Tapi harus bagaimana? Diumumkan di kelas? Apalagi di amplop surat itu tidak tertera nama pengirim dan nama yang dikirimi. Haduh, bodoh amat sih orang ini? batin Windy. Sebelum diumumkan di kelas, untuk memastikan tidak ada http://facebook.com/indonesiapustaka
194 salahnya kan kalau ia membuka amplop itu dulu. Hm... warna ungu. Kebetulan warna kesukaan Windy. Dear Windy, Hm, ternyata surat dan cokelat ini memang untuk dirinya. Windy merasa kenal tulisan ini. Sabtu malam besok kamu ada waktu? Aku ingin mengajakmu makan malam. Datang ya di Triangle Restaurant jam enam sore. Aku tunggu. Oke? C-u there! GBU. Oh, no! Ajakan kencan! Windy mendekap surat itu ke dadanya erat-erat. Dari siapa lagi kalau bukan dari Simon! Ini gila! Windy membaca isi surat itu berulang-ulang. I cannot believe it! Simon memang begitu pemalu hingga tidak mau menuliskan namanya. Tapi bagaimanapun Windy tahu dari kata khas-nya. ”GBU” hanya Simon yang sering memakainya di sekolah ini. Simon lewat di depan Windy tepat sedetik setelah cewek itu membaca surat itu untuk kedelapan kali. Windy tersenyum malu-malu pada Simon yang disambut pula dengan senyuman hangat tanpa canggung dari Simon. XY Saking senangnya, Windy sampai tidak bisa menahan berita ini dari Betra. Ia ingin berbagi dengan seseorang dan Windy tahu Betra orang yang tepat untuk diajak bicara. http://facebook.com/indonesiapustaka
195 ”Oh ya? Beneran, Win? Seorang Simon gitu looh...,” ujar Betra tak percaya saat menerima telepon dari Windy. ”Iya! Aku juga nggak yakin. Tapi... begitulah kekuatan cinta...,” ujar Windy malu-malu sambil merebahkan diri di sofa. Betra agak berpikir juga sebenarnya. Tapi whatever-lah. Memang begitulah kekuatan cinta. Punya nyali juga tuh si Simon. Tadinya Betra dan kawan-kawan mengira Simon akan membutuhkan waktu sekitar tiga tahun untuk bisa pacaran. Tahun pertama, memastikan perasaan bahwa dia benar-benar suka sambil memandang dari jauh. Tahun kedua, setelah yakin benar-benar suka, Simon akan bergumul dalam doa selama setahun. Lalu tahun ketiga, barulah ia akan melakukan aksi pendekatan. Dan tahun keempatnya menyatakan cinta. Jika diterima, mereka baru bisa pacaran pada tahun keempat. Jika ditolak, sia-sialah usaha kira-kira tiga tahun itu. ”Selamat deh. Happy ending ya.” ”Ah, Bebe... Aku benar-benar malu...,” Windy berguling-guling di sofa sambil menutupi wajahnya dengan bantal. Untung tidak ada orang di rumahnya saat itu. ”Kamu sendiri gimana, Be? Udah jawab perasaan Hans?” Hening selama beberapa detik di seberang sana. Kenapa Windy harus mengungkit-ungkit soal itu? Betra sama sekali tidak ingin memikirkannya. Seharusnya Hans dan dirinya tetap berteman saja. Tapi bagaimanapun Betra harus memberikan jawaban yang mungkin akan menjadi akhir dari persahabatan mereka selama ini. http://facebook.com/indonesiapustaka
196 ”Haah... Nggak tau, Win. Jangan bahas itu. Aku bingung.” ”Oke, sori. Aku tau kamu bisa memutuskan yang terbaik. Oke, jadi, Be, bisa kan kamu bantu aku?” ”Beres! Apa pun.” Asal jangan suruh aku menyamar jadi dirimu saja. Hahahaha... tapi nggak mungkin ya. Hehehe... ”Dandani aku.” Entah kenapa kata-kata itu keluar begitu saja dari mulut Windy tanpa rasa malu. Betra mengangguk-angguk sambil menyeringai lebar di ujung telepon seberang sana. XY Windy tiba di tempat janjian lima menit lebih awal. Ia tidak ingin membuat Simon menunggung dirinya terlalu lama. Lebih baik ia saja yang menunggu. Akhirnya ia tetap hanya mengenakan celana jins favoritnya dan T-shirt putih bergambar Garfield. Tadinya Betra sudah bela-belain datang ke rumahnya dengan membawa segala ”persenjataannya”. Ia meminjami Windy pakaian feminin mengingat satu-satunya gaun yang dimiliki Windy hanyalah gaun yang dipakai sewaktu pesta ulang tahun Mira kemarin, gaun yang sama saat dipakainya sewaktu Natal. Tapi semua usaha mereka hampir sekitar dua jam menjadi kacau dan sia-sia lantaran Windy merasa tidak pe-de. Ia merasa tampak aneh. Meski Betra sudah memujinya berkali-kali dengan bilang ”Cantik!”, pertahanan Windy tidak luluh juga. Ia tidak ingin Simon merasa ada yang spesial hari ini darinya. Jadi ia memutuskan untuk berpakaian biasa saja. http://facebook.com/indonesiapustaka
197 Sudahlah. Mungkin ini emang belum saat yang tepat, batin Windy menghibur diri. Betra hanya bisa berkacak pinggang sambil mencakmencak. Bagus! Windy sudah melecehkan keahliannya. Tapi Betra mengancam Windy agar tidak menyentuh satu senti pun riasan make-up yang sudah dipoleskan rapi dan manis di wajahnya. Untuk yang satu itu mau tak mau Windy harus setuju. Bagaimanapun awalnya ia sudah meminta Betra untuk mau membantunya, masa sekarang dia tega bilang, ”Be, aku berubah pikiran. Kayaknya aku nggak butuh jasamu deh. Thanks, silakan pulang.” Tak henti-hentinya Windy melihat jam tangan pink klasik milik Betra yang kini melingkar di pergelangannya. Betra memaksa menukar jam tangan digital Windy sementara dengan jam tangan miliknya yang dirasa lebih feminin. Oh, memalukan, batin Windy. Ingin rasanya melepaskan jam tangan itu. Jangan sampai Simon menyadari perubahan ini. Atau jangan-jangan malah dia tidak pernah tahu Windy selalu memakai jam tangan digital? Hahaha... Whatever-lah. Just stay cool, beib... Windy menyemangati dirinya sendiri. Pukul 18.05 Fredy tiba di restoran. Ia tak menyangka Windy datang lebih cepat daripada perkiraannya. Oh, syukur tidak ada yang berubah dari diri gadis tomboi itu. Fredy melangkah dengan senang setelah sebelumnya memastikan napasnya segar dan parfumnya masih melekat harum. Windy masih belum sadar bahwa pengirim surat itu adalah Fredy. Jadi sewaktu melihat Fredy datang, ia hanya tersenyum biasa saja mengira temannya itu sedang ada http://facebook.com/indonesiapustaka
198 acara sendiri. Wah, bisa jadi skandal kalau Fredy melihat aku bersama Simon berduaan, Windy membatin malu-malu. Bagaimana kalau seisi kelas tau? Ah, senangnya. ”Sori, Win, malah kamu yang harus nunggu aku,” ujar Fredy sambil menarik kursi di hadapan Windy. Hah? Windy masih belum tersadar. ”Itu... itu tempatnya Simon...” ”Simon?” Fredy mengerutkan keningnya. ”Sori, kamu ngomongin apa sih?” Sedetik kemudian barulah ingatan Windy seakan direcharge kembali. Oh, tidak! ”Fred... kamu... yang nulis surat dan kasih cokelat ke aku?” tanya Windy takut-takut. Fredy mengangguk mantap. ”Iya. Kenapa? A...” Giliran Fredy yang merasa pikirannya langsung di-recharge. Bodoh! Kenapa lupa kasih nama? Jangan-jangan Windy mengharap Simon, lagi. Haduh... Hening selama beberapa detik. Windy tidak tahu harus bagaimana. Betapa bodoh dia menyimpulkan begitu saja. Bagaimana dia harus menceritakan kejadian lucu ini pada Betra? Betapa malu dan kecewanya dia. Sekarang dia bisa apa? Pantaskah dia untuk marah atas surat yang tak bernama itu? Mungkin maksud Fredy tidak buruk. Windy menunduk. Ia tidak ingin Fredy melihat wajahnya yang merah karena berbagai perasaan bercampur menjadi satu. Marah, malu, kecewa, sedih... Fredy pun sibuk dengan berbagai pemikirannya. Memang pertanda buruk, tapi mau bagaimana lagi? Harus terus maju. Sudah telanjur basah. Apa pun jawabannya terima saja. It’s okay! http://facebook.com/indonesiapustaka
199 ”Mm...,” ucap Fredy. Ia bingung mau bagaimana. ”Kita makan dulu yuk.” Fredy segera memesan makanan. Ia menyodori Windy menu, tapi cewek itu tidak mau memilih. Pertanda buruk kedua. Setelah acara makan yang tidak mengenakkan dan bicara basa-basi tentang apa saja, Windy tidak tahan untuk bertanya tapi Fredy mendahuluinya. ”Win, sori tiba-tiba aku ngundang kamu ke sini.” ”Nggak pa-pa.” ”Eh... Sori buat surat tanpa nama itu. Bukannya sengaja, tapi aku bener-bener lupa. Entah karena saking senangnya atau apa...” Fredy mencoba terkekeh. ”Malam ini aku cuma mau bilang aku sayang sama kamu.” Tidak ada respons yang cukup berarti dari Windy. Fredy tahu pastilah perlu waktu bagi Windy untuk memercayai kalimat itu. ”Aku nggak bawa hadiah, aku nggak punya apa-apa, tapi aku ingin memberikan hatiku. Aku sayang kamu, Win.” Barulah Windy menatap Fredy. Cowok ini sungguh-sungguh. Perlahan namun pasti Windy menggenggam tangan Fredy. ”Fred, aku senang hatimu akhirnya terbuka buat seorang cewek....” XY Cuaca dan keadaan awan yang teduh sore ini seteduh hati Betra. Di hadapannya hadir wajah yang tidak asing lagi baginya. Betra bertemu muka dengan Hans untuk memberikan jawaban. Tanpa pemberitahuan sebelumnya, Betra http://facebook.com/indonesiapustaka