DAFTAR ISI Monyet yang Iri pada Kuda ...................................................... 1 Berlibur Bersama Keluarga ke Puncak Bogor .......................... 5 Tiket Konser.............................................................................. 8 Bersamamu.............................................................................. 14 Teka – Teki Wuri..................................................................... 17 Turenamen Tingkat Daerah..................................................... 23 Juara ........................................................................................ 26 Dibalik Cermin Retak ............................................................. 26 Rumit....................................................................................... 45 Perjuangan Cinta Natan .......................................................... 48 Take A Change ........................................................................ 58 Secangkir Kopi........................................................................ 67 Bunga Cahaya ......................................................................... 73 Pintarnya Merebut Tenangnya ................................................ 76 Tak Ingin Usai......................................................................... 85 Pembalasan Kepada Pemerintah Dunia .................................. 95 Masa Laluku.......................................................................... 109 Tentang Aku .......................................................................... 115 My Wonderful Time.............................................................. 120 Time Flies, Time Heals......................................................... 128
Retreat ................................................................................... 134 Tuhanku dan Tuhanmu.......................................................... 140 Kawan Pertama ..................................................................... 150 Tajur dan Kisahnya ............................................................... 153 Misteri Pulau Misterius......................................................... 159 Pergi untuk Kembali ............................................................. 163 Dia......................................................................................... 166 Sekolah saat Pandemi............................................................ 175 Behind The Identical Faces................................................... 178 Bullying................................................................................. 186 Rinai Derai ............................................................................ 190 Sahabat yang Selalu Ada....................................................... 205 LDKS .................................................................................... 208 Secangkir Kopi Kenangan .................................................... 214 Cinta Bertepuk Sebelah Tangan ............................................ 218 Berbeda Tujuan ..................................................................... 221
Monyet yang Iri pada Kuda Achmad Zaky Beberapa hari ini Monyet merasa iri dengan kehidupan Kuda, sahabatnya. Ia mulai bosan dengan pekerjaannya. Sebagai penjaga gudang yang dikerjakan Monyet setiap hari adalah menjaga dan memastikan semua barang di dalam gudang dalam keadaan aman dari tindak pencurian yang dilakukan oleh pihak-pihak tertentu. Guna memastikan barang-barang di dalam gudang itu aman Monyet harus selalu siap dan waspada menghadapi segala kemungkinan-kemungkinan yang tidak diinginkan. Pada awalnya Monyet sangat menikmati pekerjaannya ini. Sebab selama menjalankan pekerjaan ini Monyet akan menempati sebuah ruangan ber-AC yang dilengkapi dengan berbagai peralatan yang canggih. Namun karena saat bekerja hanya duduk sembari mengawasi layar komputer dan sesekali berkeliling gudang, lama kelamaan Monyet merasa bosan dengan pekerjaannya itu. Monyet merasa iri dengan Kuda sahabatnya. Monyet beranggapan bahwa pekerjaan Kuda lebih menyenangkan daripada pekerjaannya. Ji Ia berpikiran demikian karena setiap harinya Kuda dapat berkeliling dari satu tempat ke tempat lain untuk mengambil barang yang nantinya akan ditaruh di gudang yang dijaganya.
Suatu hari ketika di sebuah kantin, ketika Monyet dan Kuda sedang beristirahat untuk makan siang. Monyet bertanya kepada Kuda. “Hai, Kuda bagaimana pekerjaanmu sekarang?” “Meski terasa lebih berat karena semakin banyak barang yang harus kuambil setiap harinya. Tetapi aku tetap menyukai pekerjaanku karena aku dapat mengunjungi tempat-tempat yang dulu hanya kuketahui lewat buku-buku pelajaran saja.” “Begitu ya? Kok aku jadi iri dengan kamu, ya?” “Iri kenapa?” “Pekerjaanmu itu loh yang membuatku iri. Kedengarannya pekerjaanmu itu menyenangkan sekali. Jauh berbeda dengan pekerjaanku.” “Memangnya kenapa dengan pekerjaanmu?” “Pekerjaanku sungguh membosankan. Setiap hari yang kutahu Cuma itu-itu saja. Tidak seperti kamu yang setiap hari bisa menemui hal-hal baru. Andai aku bisa seperti kamu, pastinya aku akan gembira sekali.” Usai mengatakan sesuatu yang beberapa hari terakhir mengganjal di hatinya. Monyet tadi lalu meminum es jeruk manis yang dipesannya. Kuda yang mulai mengetahui penyebab kemurungan sahabatnya beberapa hari terakhir ini mulai mencoba meluruskan pemikiran sahabatnya.
“Kamu mungkin iri kepadaku. Tetapi tidakkah kau tahu kalau sebenarnya aku juga pernah iri denganmu?”“Iri denganku? Apa yang membuatmu iri?” “Tentu saja pekerjaanmu. Coba kamu pikir, selama bekerja kamu tidak pernah kepanasan. Kamu juga tidak perlu menarik beban seberat beban yang kutarik. Setiap hari yang kamu lakukan hanya duduk di ruangan yang teduh dan sejuk. Awalnya aku sempat merasa iri dan ingin merasakan bagaimana rasanya punya pekerjaan seperti pekerjaan yang kamu miliki itu. Tetapi setelah kupikir dengan sungguh-sungguh. Aku tidak cocok dengan pekerjaan semacam itu. Dan apabila kamu mampu berpikir dengan sungguh-sungguh kupikir kamu juga tidak akan cocok dengan pekerjaan yang kulakoni selama ini.” Monyet lalu terdiam. Dia mencoba menjernihkan pikirannya. Setelah terdiam untuk sementara waktu. Akhirnya, monyet bersuara. “Kau benar temanku. Aku merasa iri padamu karena hanya melihat pekerjaanmu dari sudut enaknya saja. Dan hal itulah yang membuatku lalai pada bagian susahnya. Untuk itu aku ingin minta maaf padamu.” “Kalau mau minta maaf jangan padaku. Minta maaflah kepada Tuhan. Sebab kupikir kamu telah lupa menyukuri nikmat yang telah diberikan oleh Tuhan.”
Sekali lagi Monyet terdiam. Namun didiamnya kali ini. Jauh di dalam hatinya Monyet berdo’a sembari meminta maaf kepada Tuhan atas kesalahan yang telah dilakoninya. Semenjak saat itu dia tidak lagi merasa iri lagi karena mulai hari itu Monyet tahu bahwa semua yang diberikan oleh Tuhan adalah yang terbaik bagi umatnya.
Berlibur Bersama Keluarga ke Puncak Bogor Ahmad Mikail Alfarisi Pada hari jumat malam sabtu,keluarga sedang berkumpul dan menikmati makan bersama, sekalian merencanakan acara buat berlibur bersama keluarga. Dan malam itu, kami pun masih memilih tempat buat berlibur dan pada akhirnya kami sudah mendapatkan tempat yaitu taman safari,pada akhirnya pun tidurr karena sudah dapat tempat untuk berlibur. Keesokan harinya, kami sekeluarga terkejut mendapat info bahwa saudara kami mengalami kecelakaan, dan akhirnya kami memutuskan untuk batalkan berlibur dan di tunda untuk di esok hari, pada hari minggu. Kami pun pulang di waktu sore hari, sekeluarga pun bersih² pada mandi,dan sehabis mandi kami pun melaksanakan solat magrib bareng keluarga ada juga yang solat di masjid sebagai keluarga. Sehabis solat kami pun kembali makan malam bersama keluarga dan merencanakan acara berlibur di hari minggu, sekeluarga pun masih membicarakan acara berlibur besok. Dan akhirnya kami pun memilih untuk berlibur kepuncak Bogor sekeluarga,tapi ibu masih ragu dikarenakan tidak bisa naik mobil,tetapi kata ayah Kalau begitu ayah sama ibu naik motor.
Dan ibu pun akhirnya setuju dengan berlibur ke puncak Bogor sekeluarga di hari minggu dan keluarga pun istirahat tidur bersiap untuk besok berlibur. Dan pagi harinya kami sekeluarga pun menyiapkan segala kebutuhan untuk disana, setelah itu kami bersenang-senang sepanjang jalan, kami berhenti dulu di pom bensin untuk mengisi bensin, dan kami melanjutkan perjalanannya. Sesampainya di puncak Bogor villa, kami pun Beristirahat sejenak,setelah itu kami pun mulai bersenang-senang di villa. Setelah bersenang-senang,kami pun break makan siang dan kami semua makan bersama dan berbincang tentang keseruan kami. Aku bersama kakak kedua ku setelah makan kami pun menurunkan nasi sejenak kami pun berenang bersama. Aku dan kakak ku mencoba kolam yang dalam tinggi nya,ibu tidak bisa berenang dan ibu pun hanya menjaga adik adik ku dan berenang di kolam yang dalemnya setengah meter. Setelah pukul 15.00 WIB kami pun memutuskan untuk menyelesaikan keseruan di kolam renang, dan kami ganti baju untuk melanjutkan keseruan lain nya. Dan waktu menuju sore kami melanjutkan perjalanan pulang, setelah semua selesai kakak dan ayah pun ke parkiran mengambil mobil dan motor.
Di perjalanan pulang ternyata di sore hari jalanan macet, dan tiba tiba di tengah perjalanan ban motor ayah bocor, kebetulan di dekat situ ada bengkel. Sambil menunggu ban motor di tambal kita pun sekeluarga memutuskan untuk makan malam,kami sekeluarga pun makan malam sambil menceritakan keseruan hari ini. Dan setelah selesai makan kita pun kembali ke bengkel untuk melihat motor nya dan ternyata kata tukang bengkel nya ban motor nya harus di ganti, dan kami pun sekeluarga pun menunggu lagi. Setelah selesai menambal ban kami pun pergi melanjutkan perjalanan pulang, panjang perjalanan aku, kakak, dan adik bahkan kedua orang tua ku ikut bernyanyi-nyanyi dan bersenang-senang. Sesampainya kami di rumah kami pun kami mengeluarkan pakaian kotor kami, setelah itu kami pun beristirahat, untuk menyegarkan badan agar tetap sehat. Dan ternyata ayah dan ibu sakit, tepatnya masuk angin. Ayah meminta tolong untuk dipanggilkan kakak untuk memijat badan ibu dan aku memijat badan ayah. Ayah dan ibu ku pun meminum obat, kakak memijat ibu dan aku memijat ayah, sambil di pijat kami bercerita tentang keseruan yang kami alami kemarin.
Tiket Konser Ahmad Riky Albani KRINGKRING!!!!bunyi alarm di sabtu pagi hari ini,aku teringat bahwa aku ingin menonton konser jam 3 sore dengan 2 temanku sambil mengabarinya di telfon “cam,nanti jadikan.”ucap aku di telfon kemarin sebelum membeli tiket konser tersebut, aku meminta izin kepada orang tuaku untuk menonton konser itu.Pada jam 8 pagi aku mandi agar segar memulai hari dan semangat.Lalu pada jam 9 aku pun sarapan dengan memakan sebuah roti dan segelas susu yang disiapkan orang tuaku,aku tidak memakan terlalu banyak karena aku ingin banyak mencoba makanan di acara konser sore ini. Lalu pada jam 11 siang camry dan yoel mengabariku bahwa mereka akan berangkat jam setengah 3 sore,aku juga bilang kepada mereka,aku akan naik ojek online.Akhirnya waktu menunjukkan jam 2 pas,aku bersiap siap untuk langsung jalan,tapi sebelum jalan aku berpamitan terlebih dahulu kepada orang tuaku,lalu aku langsung pergi dengan ojek online menuju tempat konser. Singkat cerita aku pun sampai di depan gerbang tempat konser itu pada jam setengah 3 sore dan langsung menemui camry dan yoel,sesampai bertemu camry dan yoel kami bertiga langsung bergegas masuk kedalam,namun sesaat ingin memberikan tiket ternyata tiket ku tertinggal di rumah.
Aku langsung menelpon orang tuaku,tapi sial tidak ada sinyal dan camry dan yoel sudah masuk kedalam konser,aku langsung mencari agar dapat menonton konser,pulang kerumah pun membutuhkan waktu kurang lebih 40 menit dan jika bolak balik akan memakan waktu sebanyak 80 menit,sementara gate konser akan segera dimulai satu setengah jam lagi yang notabene 90 menit. Namun aku beruntung ada seorang wanita yang kusuka bernama syakira dengan masalah yang sama yaitu ketinggal tiket konser.Aku langsung menemaninya dan mencari topik dan berkata. “ra lo ngapain disini.”ucap aku “tiket gw ketinggalan di rumah.”ucap syakira “sama ra tiket gw juga ketinggalan.”ucap aku Pada akhirnya aku dan Syakira menunggu bersama sampai keajaiban terjadi,aku dan sekira mengobrol dan terus mengobrol sampai-sampai aku dan syakira lupa akan konser yang ingin aku tonton itu.Tak sadar sudah satu jam kami mengobrol akhirnya tiket syakira sampai dengan cara diantar ojek online,sesaat hatiku merasa sedikit sedih karena dia ingin segera masuk.Tapi keajaiban terjadi ternyata ayahku mengantarkan tiketku ke tempat konser yang tertinggal dirumah.
Aku mengajak syakira menonton konser bersama dan membiarkan camry dan yoel berdua agar aku bisa berduan dengan saykira,aku dan syakira menikmati konser bersama sampai malam,jajan bersama,hingga berfoto bersama,aku sangat senang hari ini,singkat cerita konser pun telah usai,aku mengajak syakira untuk mengobrol secara dari hati ke hati “ra sini deh gw pengen ngomong sesuatu sama lu.”ucap aku “iya,mau ngomongin apa?”ucap syakira “jadi gini sebenarnya eeeee.”ucap aku “sebenarnya apa…...”ucap syakira “mungkin gw ngomongnya pakai gombal kali ya,jadi gini jika seandainya aku harus memilih mencintai mu dan bernapas, aku akan menggunakan napas terakhirku untuk mengatakan aku sungguh mencintai mu.”ucap aku dengan salah tingkah “menurutku sulit untuk berpura-pura mencintai seseorang yang tidak kamu cintai,”ucap syakira dengan nada tegas,dan langsung pergi meninggalkanku.
Bersamamu Amadeus Maxwell Pada suatu hari ada seorang anak bernama Gilbert yang baru masuk sekolah TK, perasaan Gilbert senang karena pertama kali masuk sekolah. Gilbert bertemu banyak teman namun sifatnya yang pemalu dan pendiam. Eko adalah teman sekelasnya, Eko berkenalan kepada Gilbert dan mengajaknya mengobrol. Eko: “Hai, boleh kenalan sama kamu ga?” Gilbert: “Hai juga, ya tentu boleh saja. Namaku Gilbert, namamu siapa?” Eko: “Ouh namamu Gilbert, namaku Eko. Salam kenal ya Gilbert semoga pertemanan kita bisa berjalan lama.” Gilbert: “Halo Eko senang bertemu dengan kamu, iya aku berharap sama sepertimu.” Keesokan harinya mereka bertemu kembali pada saat masuk sekolah, sambil menunggu bel masuk kelas Gilbert bertanya dan mengobrol kepada Eko. Gilbert: “Hai Eko senang bisa bertemu kamu lagi, bagaimana kabarmu hari ini?” Eko: “Hey Gilbert… Puji Tuhan kabarku baik, bagaimana denganmu kawan?” Gilbert: “Aku sama sepertimu kawan.. Kabarku baik.” Eko: “Syukurlah… kalau begitu, aku senang mendengarnya.” Gilbert: ”Hm… Eko apakah kamu mau aku ajak untuk bermain dan makan bersamaku? Nanti pas jam istirahat kita bermain dan makan bareng yuk kebetulan ibuku membawakan aku bekal yang lumayan banyak, mungkin saja kamu mau. Aku dengan senang hati berbagi bekalku kepadamu” Eko: “Wah…Terimakasih untuk ajakan kamu, Tentu saja aku mau”
Gilbert: “Baiklah…Sampai jumpa nanti ya kawan” Akhirnya jam istirahat tiba dan mereka keluar dari kelas makan serta bermain bersama. Eko: “Asik… Sudah istirahat, Aku udah tidak sabar bermain dan makan bersama Gilbert.” Gilbert: “Iya… nih tapi aku sudah lapar, nanti setelah makan baru kita main.” Eko: “Hehehe sama nih aku juga sudah lapar.” Gilbert: “Ya sudah kita makan terlebih dahulu.” Eko: “Kamu bawa bekal apa saja Bert?” Gilbert: “Lumayan banyak sih ada nasi merah, kangkung, loucoupan(pangsit basah), chicken-katsu dan beef teriyaki.” Eko: “Waduh… banyak juga ya bekal makan milikmu, apakah kamu yakin bisa habis sebanyak itu.? Jika tidak habis jangan dipaksa ya karena mubazir kalau membuang makanan.” Gilbert:“Ya aku sudah menduganya untuk menghabiskan makanan sebanyak ini, jika kamu mau ambil saja.” Eko: “Ya sudah aku bantu kamu untuk menghabiskannya, aku minta 1 potong pangsit dan 2 potong chicken-katsu dan beef teriyakinya aku minta sedikit.” Gilbert: “Baiklah ambil ini untukmu.” Eko: “Terimakasih kawan.” Selesai makan mereka merapihkan tempat bekalnya masingmasing dan melanjutkannya dengan bermain di taman, namun karena sifat Gilbert yang pemalu maka Ia hanya bermain bersama Eko dengan waktu yang tidak terlalu lama. Sifat Gilbert ini memang sudah dipahami oleh Eko, maka Eko segera masuk ke kelas bersama sahabatnya.
Pertemanan mereka semakin dekat Eko dan Gilbert saling menyapa walaupun Gilbert memiliki sifat pendiam tapi ketika bersama Eko, Gilbert merasa nyaman berteman dengan Eko bahkan Ia tidak merasa risih ketika Eko mengajaknya bermain dan berbicara dengannya. Waktu begitu cepat tidak terasa mereka sebentar lagi lulus dari TK, selama 1,6 bulan di TK semua kenangan telah mereka lalui. Eko menghampiri Gilbert lalu berkata: “Enggak terasa ya kawan bentar lagi kita berpisah dari sini, semoga kita bertemu lagi dan jangan kamu lupakan semua kenangan yang kita telah kita lalui yah kawan.” Gilbert berkata: “Terimakasih ya untuk semuanya yang telah kita lalui, terimakasih sudah mau menerima aku sebagai temanmu walaupun aku memiliki kekurangan. Aku berharap kita bertemu lagi ya kawan baik itu di sekolah maupun dimana saja.” Eko: “Aku juga mau bilang terimakasih sama kamu, aku ga nyangka bisa dapat kawan baik sepertimu yah… sekalipun kamu pendiam/pemalu tapi aku tetap berteman denganmu.” Hari kelulusan tiba semua murid terharu termasuk dengan mereka berdua, mereka memiliki janji bahwa pertemanan yang mereka jalani di TK bisa berjalan terus hingga dewasa. Tahun ajaran baru pun telah tiba, Eko dan Gilbert melanjutkan sekolahnya ke jenjang yang lebih tinggi yaitu masuk sekolah SD. Mereka berdua awalnya tidak tau bahwa akan bertemu kembali dan mereka melakukan kegiatan di sekolah baru, setelah pulang sekolah Eko tak sengaja sekilas melihat seseorang yang hampir mirip dengan Gilbert akhirnya Eko menghampiri orang tersebut dan setelah dihampiri ternyata benar dugaan Eko bahwa orang itu memanglah Gilbert hanya
saja Ia sedikit lebih tinggi dari sebelumnya yang Eko temui pertama kali dengannya. Eko: “Hey Gilbert kita bertemu kembali, setelah 1 tahun. Aku sudah menduganya bahwa yang aku liat tadi itu memang kamu.” Gilbert: “Hai juga, hehehe iya nih baru setahun aja aku sudah kangen sama kamu.” Eko: “Hehehehe bisa aja kamu ngeledekin aku seperti itu.” Setelah itu mereka melakukan bermain, belajar, dan lainnya selalu bersama, mereka melanjutkan pertemanan yang sudah dipupuk dari TK. Hingga tiba waktunya dimana mereka berdua naik kelas 3 SD,tetapi sayang sekali mereka dinyatakan tidak naik kelas dan tinggal di kelas 2. Setelah tau mereka tidak naik kelas teman-teman yang mendengarnya langsung meledeki, menghina, dan beberapa ada yang memusuhinya. Awalnya mental Gilbert tersentuh oleh karena perkataan yang menyakiti hatinya, maka dari itu Ia bercerita ke Eko yang menjadi teman dekatnya sedari TK. Gilbert: “Hm… kenapa ya perkataan mereka nyakitin, padahal kita kan tidak pernah menyakiti mereka.” Eko: “Iya yah kita kan engga pernah nyakitin mereka.” Dengan muka cemberut Gilbert merespon Eko dengan berkata: “mungkin gara-gara kita tidak naik kelas kali yah, tapi kan itu proses kita. Masa kegagalan dibalas dengan kebencian dan penghinaan.” Eko: “Iya nih.. Aku juga heran kenapa ya mereka menjatuhkan dan menghina kita? Harusnya kan diberi semangat supaya kedepannya menjadi lebih baik.” Gilbert: “Ya aku juga setuju dengan ucapanmu.” Eko: “Yasudahlah kawan jika mereka memandang buruk seperti itu ke kita maka kita harus menunjukan yang terbaik supaya kita
tidak dipandang seperti itu lagi, kita berjuang secara bersama dan jangan lupa minta bantuan Tuhan supaya dilancarkan semua proses yang kita jalani.” Eko: “Kita berjuang lagi lebih keras supaya penghinaan yang mereka lakukan akan disesali oleh mereka pada suatu saat nanti.” Gilbert: “ Terimakasih sudah mengingatkan dan memberikan semangat kepadaku.” Eko: “Iya kawan, sudah seharusnya kita saling menguatkan, selalu ada ketika salah satu dari kita mengalami kesulitan.” Ketika Gilbert selesai curhat sama Eko, muncul kembali semangatnya dan mereka berdua berjuang lebih keras supaya tidak mendapatkan hinaan yang sama terhadap mereka. Hari demi hari mereka lalui, mereka berjuang ditengah hinaan yang masih masuk kedalam hidup mereka tapi mereka tidak berjuang sendirian mereka selalu mengandalkan Tuhan dan mereka yakin akan ada jalan keluar yang dahsyat. Ketika mereka memasuki kelas 3 Gilbert tidak disangka-sangka Ia lancar dan bisa belajar berbahasa mandarin, bahasa Indonesia dan bahasa inggris hingga semua guru mengatakan bahwa anak ini lumayan pintar di bidang bahasa. Semua orang yang pernah menghinanya terkejut karena kemampuan Ia berbahasa mampu mengimbangi, Eko senang dan terharu mendengar kabar itu bahwa anak yang lebih sering dihina dari pada dirinya bisa menunjukan kemampuan yang mengimbangi kemampuan anak-anak yang pernah menghinanya. Tidak hanya Gilbert, tapi Eko juga mengalami pengembangan yang cukup pesat. Semua guru berkata bahwa Eko bisa meningkatkan nilainya hasil kerja keras yang Ia lakukan. Mereka tetap melangkah bersama, karena
semakin dekat akhirnya mereka bersahabat. Mereka tetap berproses walaupun sudah ada perkembangan dan mereka juga rendah hati. Tidak terasa waktu berjalan dan akhirnya mereka berdua lulus dari SD, beberapa dari orang-orang yang pernah berkata buruk terhadap mereka meminta maaf dan menyesali perbuatanya. Mereka berdua berpisah untuk melanjutkan sekolah. Sebelum perpisahan Eko berkata kepada Gilbert: “Puji Tuhan akhirnya kita lulus juga ya sahabat, tidak sia-sia perjuangan kita.” Gilbert: “Ya, aku berterimakasih karena berkat bantuan dan dorongan semangat darimu aku bisa melalui semuanya.” Keesokan harinya perpisahan SD, Eko dan Gilbert saling mengucapkan selamat kepada satu sama lain. Setelah hari perpisahan itu mereka berdua tetap menjalin persahabatan sesuai janji yang mereka ucapkan pada masa kecil, di SMP mereka berbeda sekolah tapi mereka tetap melakukan aktivitas di sekolah masing-masing tanpa melupakan satu sama lain dengan cara berkomunikasi melalui Hand Phone. Ketika salah satu dari mereka memiliki uang/mengajak jalan-jalan maka tidak ada yang menolak karena mereka sudah terbiasa bersama sejak kecil. Persahabatan mereka tetap berjalan hingga saat ini dan kehangatan mereka tetap sama tidak berubah, tidak hanya mereka bahkan kedua keluarganya juga harmonis tanpa memandang kekurangan sejak mereka pertama kali bertemu.
Teka – Teki Wuri Aneta Padma Wuri adalah seorang anak perempuan yang ceria dan penuh dengan rasa ingin tahu. Dia hidup bersama Jati, ayahnya setelah ibunya tiba-tiba menghilang tanpa jejak. Orang-orang di desa mereka berteori bahwa ibu Wuri menghilang karena tekanan masalah keluarga, namun ada juga desas-desus yang menyebutkan keterlibatan hal-hal gaib dan mistis dalam kejadian tersebut. Kehidupan Wuri dan Jati berubah drastis sejak ibu Wuri menghilang. Mereka berdua harus belajar hidup tanpa kehadiran ibu yang selalu memberikan kehangatan dan kasih sayang. Jati, sebagai seorang ayah yang penuh tanggung jawab, berusaha keras memenuhi peran ganda sebagai ayah dan ibu bagi Wuri. Namun, Wuri merasakan bahwa ada yang tidak beres dalam kehidupan mereka. Suatu hari, ketika mereka berdua akan sarapan, Jati sebagai ayah memanggil Wuri untuk sarapan bersama. Namun, ketika dipanggil, tidak ada satupun jawaban yang terdengar dari Wuri. “Wuri, ayo sarapan. Ayah sudah memasak nasi goreng untukmu” Karena tidak ada jawaban, ayah pun menghampiri kamar Wuri. Tok tok tok... “Wuri, Nak... ayo sarapan bersama, apa kamu tidak sekolah?” Hening. Tidak ada satupun jawaban dari kamar Wuri. Karena khawatir, ayah pun membuka pintu kamar Wuri. Namun begitu
terkejutnya ia ketika melihat Wuri tidak ada di dalam kamarnya. Ia melihat ke sekeliling, namun tak ada satupun tanda-tanda keberadaan anaknya, Wuri. Wuri tiba-tiba menghilang. Satu-satunya petunjuk yang ditinggalkannya adalah sisa roti berselai kacang di atas meja. Jati panik dan bingung. Bagaimana mungkin anaknya juga menghilang seperti ibunya? Berita mengenai hilangnya Wuri menyebar dengan cepat di desa itu. Orang-orang kembali mempertanyakan apakah ada kaitan antara kejadian ini dengan hal-hal gaib dan mistis yang sebelumnya dikaitkan dengan ibu Wuri. Desas-desus semakin berkembang, membuat Jati semakin terpuruk. Dia merasa bersalah karena tidak dapat melindungi Wuri dan tidak mampu memberikan jawaban yang jelas tentang kejadian ini. Konflik semakin memuncak saat Jati memutuskan untuk mencari tahu keberadaan Wuri dengan segala cara yang ia bisa. Dia meminta bantuan dari para tetua desa yang memiliki pengetahuan tentang hal-hal gaib dan mistis. Mereka melakukan ritual-ritual khusus dan mencoba berkomunikasi dengan dunia lain. Namun, semua upaya ini sia-sia. Wuri tetap tidak bisa ditemukan. Jati merasa putus asa. Dia meratapi kehidupannya yang hancur dan merasakan rasa kehilangan yang begitu mendalam. Namun, ketika semuanya tampak sudah tidak ada harapan, keajaiban aneh pun terjadi. Wuri tiba-tiba muncul kembali bersama sang ibu. Kabar ini segera menyebar di desa, dan orang-orang tercengang dengan kejadian yang luar biasa ini.
Banyak pertanyaan yang muncul di benak setiap orang. Mengapa Wuri menghilang? Dan mengapa dia bisa pulang bersama ibunya setelah semuanya tampak sia-sia? Apa yang sebenarnya terjadi selama Wuri menghilang? Dalam proses penyelesaian masalah, ibu dan Wuri menceritakan pengalaman mereka selama Wuri menghilang. Wuri menjelaskan bahwa dia tiba-tiba terlempar ke dunia lain yang penuh dengan keindahan dan keajaiban. Di sana, dia bertemu dengan ibunya yang memberikan penjelasan tentang kepergiannya dan memberikan dorongan kepada Wuri untuk kembali ke dunia nyata. Konflik ini menyelesaikan semua teka-teki yang mengelilingi penghilangan ibu dan Wuri. Orang-orang di desa akhirnya mengerti bahwa kejadian ini tidak melibatkan hal-hal gaib dan mistis seperti yang mereka kira. Ini hanyalah keajaiban yang tidak dapat dijelaskan secara rasional. Dalam akhir cerita, Wuri, dan Jati kembali hidup dengan damai. Mereka belajar untuk menerima kejadian yang tidak bisa dipahami sepenuhnya dan menghargai setiap momen yang mereka miliki bersama. Meskipun ada rasa kehilangan yang mendalam, mereka menemukan kekuatan dan harapan dalam keajaiban yang pernah mereka alami.
Turenamen Tingkat Daerah Arafah Maulana Ibrahim Aku Arafah ingin sekali mempunyai cita-cita sebagai pemain bola maupun pemain futsal yang profesional. Aku selalu ingin bermain bola di berbagai tingkat mana pun, aku selalu bermain bola maupun futsal bersama teman-teman sekolah ku ya walaupun aku tidak setiap hari bermain bersama mereka. Aku mempunyai cita-cita yang tinggi karena impian ku menjadi pemain bola yang profesional seperti Cristiano Ronaldo dan pemain futsal seperti Ricardinho yang berasal dari negara Portugal,aku ingin seperti dia yang mempunyai banyak sekali gelar juara di berbagai klub yang berbeda. Aku selalu berlatih setiap hari agar bisa menjadi pemain bola profesional seperti idola ku Cristiano Ronaldo yang saat ini bermain di salah satu klub Arab yaitu Al- Nassr dan Ricardinho yang bermain di sporting. Dan saat aku sedang berlatih tiba-tiba salah satu teman ku mengajak aku untuk bermain bola bersama dan aku pun langsung menyutujui nya karena aku ingin sekali bermain di lapangan hijau yang luas. dan saat aku bermain tak sengaja kaki di tackle oleh lawan bermain ku yang membuat kaki ku cedera lumayan parah, dan akhirnya aku di bawa oleh teman ku ke rumah sakit untuk di periksa. Setelah di periksa tenyata kaki ku mengalami pergeseran tulang yang membuat aku tidak bisa bermain main bola untuk saat ini. Sebelum itu aku sempat emosi karena lawan ku sedikit bermain kasar ke pada ku yang membuat aku memukul lawan ku dan lawan ku membalas nya dengan meneckle ku yang
membuat aku cedera, yang akhirnya aku harus beristirahat untuk penyembuhan kaki ku. setelah 1 bulan mengalami cedera akhirnya aku mulai sedikit pemulihan dan melanjutkan latihan ku untuk menguatkan kaki ku agar tidak terjadi cedera suatu saat nanti. Dan setelah kaki ku benar-benar telah membaik aku meminta kepada orang tua ku untuk masuk ke salah satu sekola sepak bola yang ada di dekat rumah ku untuk meningkatkan skill bermain bola ku ini. Dan akhirnya kedua orang tua ku sangat mendukung ku agar bisa mencapa cita-cita yang aku inginkan, aku mulai berlatih bersama teman-teman ku di sekolah sepak bola. Aku memulai latihan ku di hari Minggu pukul 09.00 sampai jam 12.00 walaupun di situasi yang panas tidak membuat ku untuk menyerah karena aku mempunyai cita-cita yang tinggi, dan ingin membahagiakan kedua orang tua. Dan suatu hari aku di beri tahukan oleh orang tua bahwa akan ada turnamen antar daerah, dan situ pun aku langsung ingin mendaftarkan diri untuk ikut seleksi, setelah mendaftarkan akhirnya aku mengikuti seleksi agar bisa bermain untuk turnamen antar daerah. Dan setelah mendengarkan pengumuman akhirnya nama ku terpilih untuk ikut turnamen antar daerah yang membuat aku sangat bangga karena bisa mengawali daerah ku sendiri Aku pun setiap hari berlatih dengan giat agar bisa meningkatkan skill bermain bola ku untuk turnamen antar daerah, namun sebelum aku bermain untuk turnamen antar daerah ayah ku berpesan kepadaku. Ayah: nak,jika kamu bisa memenangkan pertandingan ini ayah dan mama sangat bangga pada mu namun, jika kamu
gagal maka kamu jangan menyerah karena ayah dan mama sangat mendukung mu Arafah: siap ayah aku akan bermain semaksimal mu Dan akhrinya turnamen antar daerah di mulai,aku bermain di posisi sayap kanan dengan nomor punggu 17 dan setelah lamanya pertandingan skor kami imbang dengan skor 2-2 dan berakhir dengan adu pinalti setelah selesai adu pinalti akhirnya tim kami juara turnamen antar daerah. Dan aku pun langsung memeluk kedua orang tua ku dan mereka sangat bangga kepada ku karena bisa memenangkan pertandingan ini dengan semangat Itulah Cerita Ku!!
Juara Arya Galang Saputra Pada suatu hari di tahun 2010, aku, seorang murid kelas 4 SD bernama Galang, merasa tegang dan sangat bersemangat untuk mengikuti turnamen futsal antarkelas yang diadakan sekolah. Aku bersama dengan teman-teman satu timku, yaitu Ricky, Bayu, Arif, dan Rizky, telang latihan keras selama beberapa minggu untuk mempersiapkan diri menghadapi kompetisi ini. Kami sangat antusias dan percaya diri karena telah memenangkan beberapa pertandingan lokal sebelumnya. Kami juga tahu bahwa lawan kami akan sangat kuat, terutama salah satu sekolah yang dihuni para pemain futsal yang cukup handal. Kami memulai turnamen dengan cukup baik, memenangkan pertandingan pertama dan kedua dengan skor yang cukup meyakinkan. Namun, di pertandingan ketiga, kami bertemu dengan sekolah yang diunggulkan sebagai juara bertahan. Kami merasa sangat mungkin bisa mengalahkan mereka dengan kerja keras dan semangat juang yang tinggi. Pertandingan dimulai dengan sengit dan penuh semangat dari kedua kubu. Kami bertahan dengan baik dan mencoba menyerang sebisa mungkin, namun lawan tetap memiliki pertahanan yang sulit tembus. Namun, di akhir babak pertama, kami berhasil mencetak gol pertama melalui tendangan Bayu yang memanfaatkan kesalahan lawan. Tentu saja, kami harus tetap fokus dan mengamankan keunggulan kami. Namun, di awal babak kedua, lawan berhasil menyamakan kedudukan dari sebuah tendangan sudut yang
tidak terkawal dengan baik. Kami semakin bertekad untuk menang dan mencetak gol kembali. Pertandingan semakin sengit, kedua tim saling menyerang dan bertahan dengan baik. Aku dan teman-teman di lini tengah harus terus bekerja keras menjaga bola agar bisa menyerang lawan. Di menit ke-15, kami akhirnya mendapatkan peluang bagus. Sebuah serangan balik cepat yang kami lakukan berhasil dimanfaatkan oleh Rizky untuk mencetak gol kedua. Suporter di sisi kami meriah, dan kami sendiri semakin yakin bisa mempertahankan kemenangan kami. Namun, masih ada waktu yang cukup lama dalam pertandingan. Kami terus fokus dan bekerja keras, mengamankan pertahanan dan mencoba menyerang sebisa kami. Lawan menekan dan mencoba menyamakan kedudukan, tetapi kami tetap kuat dan tenang. Akhirnya, peluit panjang mengumumkan akhir pertandingan. Kami menang 2-1, dan kami merasa sangat bahagia dan tersenyum lebar. Tentu saja, rasa lelah mulai dirasakan, tetapi senangnya rasa tersebut membuat kami semakin kuat. Setelah kami dideklarasikan sebagai juara, kami mendapatkan berbagai hadiah dari pihak sekolah dan suporter, di antaranya sebuah piala besar dan sejumlah piala kecil sebagai penghargaan untuk kami sebagai tim juara. Kami merayakan kemenangan kami dengan riang dan berfoto bersama-sama, dan pada saat itulah kami merasa menjadi bagian dari sebuah tim yang sangat hebat. Turnamen futsal Antarsekolah pada hari itu akan selalu menjadi momen yang sangat berarti dalam ingatan kami. Itu adalah
pengalaman yang membawa kami ke tingkat kepercayaan diri baru, dan mengajarkan kami tentang kerja keras, kesabaran, dan ketekunan yang dibutuhkan untuk mencapai sesuatu yang kita inginkan. Kami tidak melupakan kemenangan yang kami raih dan akan selalu memandangnya sebagai salah satu pengalaman terbaik dalam hidup kami.
Dibalik Cermin Retak Aylivia Nathanie Haddasah V.P “Coba lagi!!” adalah kalimat yang sehari – hari ku dengar. Setiap detik, setiap menit, setiap jam, aku hidup untuk menari. Bisa dibilang, passion aku adalah menari. “Karmen Poetranto, kamu bisa lebih lagi dari itu, lihatlah teman – teman mu yang lainnya. Push harder, Karmen.” Sahut Olga, guru balet ku sejak aku berusia 4 tahun. Tanpa aba – aba, ia mendorong badanku lebih dalam lagi ke dalam posisi split, membuatku menyeringai dengan rasa sakitnya. “Karmen, kamu serius mau mendapatkan beasiswa ini bukan? Bayangkan... kamu dapat tinggal di Amerika jika kamu memenangkannya. Aku melihat bakat di dirimu Karmen, dan aku tahu kamu dapat melakukannya, yang aku minta hanyalah satu. Fokus!” Olga berkata kepadaku yang hanya dapat diam dan menganggukkan kepala. “Yes Ma’am.” Ya, aku menghabiskan hampir seluruh waktuku di studio untuk menari. Pulang malam adalah kebiasaanku sejak aku menginjak usia 7 tahun. Sekarang aku, Karmen, yang berusia 16 tahun jauh lebih tangguh. Jadi mengapa aku harus mengeluh? Ini semua adalah pilihanku dan aku telah memilih jalan ini sedari dahulu. Janganlah bersikap seperti bayi Karmen. Kamu harus menjadi kuat, seperti Ibumu yang selalu siap menghadapi dirimu. “Kar, kamu dipaksain terus seperti itu apa ga sakit? Istirahatlah sejenak nak... sini nontonlah bersama Ibu.”
“Maaf Bu, minggu depan aku akan mulai untuk lomba di Bandung, aku benar – benar ingin mendapatkan beasiswa ini Bu, sesudah ini aku janji akan menemani ibu nonton.” Tak kusangka, itu adalah kalimat terakhir yang ku ucapkan kepada Ibuku. Ibuku yang selalu mendorongku untuk mengikuti apa isi hatiku, ibu yang selalu ada untukku, ibu yang merawatku disaat aku tidak dapat merawat diri sendiri. Ibu yang merupakan malaikat nyata bagiku. Ibu, mengapa kau meninggalkan aku begitu cepat? Aku sama sekali belum siap. “Kar, ayo kita makan mie kesukaanmu!” sahut salah satu temanku. “Kar... sudah 3 minggu kamu mengurung dirimu di dalam rumah, ayolah keluar.” Itulah kata mereka semua yang tidak mengalami apa yang aku rasakan. “Kar!! Ada Cinta teman baikmu. Cinta katanya mau masuk boleh?” “...” “Halo Kar? Ini aku Cinta. Aku bawain es krim kesukaanmu, rasa cokelat. Aku izin masuk ya.” Pintu pun terbuka dan aku disapa oleh senyum yang manis dan hangat milik seseorang yang bernama Cinta, teman baikku semenjak TK. “Cinta? Kamu ngapain kesini?” “Kamu seriusan nanya aku itu Kar?” “Iya” “Aku ga rela membiarkan temanku diam dirumah sendiri, kamu butuh keluar rumah Kar, kamu sudah menghabiskan 2 bulan terakhir disini. Kapan kamu mau mulai kembali aktivitasmu
seperti biasa?” Kata – kata yang terucap dari mulut Cinta seperti menampar ku tepat di pipiku. “Iya Ta, aku tahu aku meghabiskan terlalu banyak waktu disini, tetapi aku juga tidak bisa pergi, aku terlalu banyak menghabiskan waktu diluar rumah sehingga aku tidak sempat menjalani hari – hari ku dengan sosok seorang Ibu seperti apa yang layaknya semua orang rasakan. Aku menyesal Ta.” “Ini semua bukan salahmu Kar, Ibumu meninggal karena penyakit kanker yang sengaja ia tidak beritahukan ke kamu agar kamu tidak terpecah fokusnya, apalagi Ibumu tahu bahwa kamu akan mengikuti lomba.” Sahut Cinta. Tetapi saat itu, aku tidak berfikir jernih, gubraak, meja makan terjatuh. “Justru itu Ta!! Karena aku terlalu sibuk dengan urusanku sendiri, aku saja tidak menyadari bahwa Ibuku sendiri, Ibuku sendiri Ta! Bahkan aku tidak dapat melihat gejalanya yang dialami Ibu. Bukankah aku ini anak yang tidak tahu diri?!” “...” Cinta menatapku dengan tatapan iba, tetapi ia tidak mengatakan apa – apa. Ia tersenyum, tetapi aku dapat melihat bahwa senyuman itu bukanlah senyuman yang menyapaku dengan hangat seperti saat pertama kali ia masuk. “Karmen, aku duluan ya, aku taruh es krim kamu disini.” Aku hanya dapat terdiam. Menyesal akan perbuatanku, aku berlari keluar rumah berusaha untuk mengejar Cinta. Apa yang ku pikirkan? Aku tidak seharusnya beriskap seperti itu terhadap teman ku sendiri. Aku melihat Cinta dari jauh dan aku berusaha memanggilnya. “Cinta!!!”
“Hoiii Cintaaaa” Aku berusaha berteriak lagi, tetapi percuma. Jalanan raya yang bising menutupkan suaraku. Aku melihat kanan dan kiri ku sebelum aku menyebrang jalanan. Akhirnya, aku berfikir, Cinta melihat ke arahku, apakah dia akan memaafkan- “Karmen!!!” - “Kar?” “Cinta..? Sedang apa kamu disini? Kenapa sekelilingku putih semua? Ta aku lagi ada dimana?” “Kar, kamu di rumah sakit, kamu mengalami kecelakaan Kar.” “Oh.. Hah?? Aku dimana Ta? “Kamu sudah aman Kar, tapi apakah kamu melihat siapa yang menabrak mu? “Aku ditabrak?” “Iya Karmen, tapi tolong, kamu harus berusaha untuk mengingat lagi siapa yang menabrakmu.” “Aku... aku tidak ingat apa – apa Ta, aku hanya ingat melihatmu memanggil namaku, namun sesudah itu blur semua.” “Tidak ada satu pun yang kamu ingat?” “Hm, aku mengingat melihat tato bergambar bunga di tangannya yang sebelah kiri.” “Tato bunga? Kamu harus lebih spesifik Karmen... Banyak sekali orang yang memiliki tato bunga.” “Aku tidak ingat lagi sesudah itu Ta, maaf ya.” “Gapapa Kar, yang penting sekarang kamu istirahat saja ya.” Tidak ada kata – kata yang dapat menjelaskan apa yang aku rasakan saat itu. Sedih? Kecewa? Amarah? Aku tidak tahu.
“Karmen, dokter ingin berbicara denganmu” “Oh, iya, baik.” Adalah kalimat yang dapat ku ucapkan dengan tatapan kosong seperti ini. Apakah nasibku sesial ini? Apakah aku dikutuk karena meninggalkan ibuku sendirian terlalu lama? Atau inilah yang namanya karma karena aku sudah mengabaikan Ibuku? “Kar? Apa kata dokter?” Cinta berusaha menenangkanku tetapi hanyalah satu yang ada dipikiranku saat itu. ‘Apa yang akan ku lakukan sekarang?’ “Kar... Jawab aku Kar.” “Hm? Oh, Dokter mengakatakn bahwa aku harus mengamputasi kaki kiri ku, dan ginjal ku tidak dapat berfungsi seperti biasa, maka akan diadakan operasi untuk mengambil ginjal kiri ku.” “Astaga Karmen...” Cinta mengatakan sambil memelukku erat – erat. Aku tidak dapat mendengar apa lagi yang ia mengatakan sesudah ia berkata “Tenang saja Karmen, kita akan melalui ini bersama. Kamu ada aku dan kamu adalah wanita yang kuat. Berjuanglah.” - “Perhatian perhatian! Berhubung dengan acara kota ini yang ke – 68, akan diadakan sayembara untuk mencari Vanilli Puspi Kangga, bunga yang konon hanya muncul sekali dalam 10 tahun. Bagi para peserta yang dapat menemukannya, berilah bunga ini segera kepada sang Raja dan tentunya akan diberikan hadiah.” Begitulah pengumuman yang baru saja diberikan oleh Raja.
“Waduh, boleh juga tuh ya Kar, kamu mau ikut kami mencari bunga itu?” Tanya salah satu temanku. “Iya dong Karmen, kan kamu nih yang memilih jurusan agroekoteknologi” Sahut Cinta menanggapi Kasih. “Apa hubungannya dengan agroekoteknologi Ta?” “Yahh dodol juga nih, pembelajaran agroekoteknologi mencakup 3 bagian yaitu ilmu tanah, hama dan penyakit, budidaya dan dapat dijelaskan bahwa agronomi ialah ilmu yang mempelajari tentang sains dan teknologi suatu tanaman yang melibatkan penelitian dan pengembangan.” “Hah? Emang itu berpengaruh ya? Bukannya-“ Namun kalimat Kasih dipotong olehku, “Iya iya baiklah, daripada gue bosen juga, lumayan kan kalo ketemu dapet hadiah.” “Nahh gitu dong Kar, ini baru namanya Karmen yang kita kenal!! Hehe” Ucap Cinta dengan senyuman, “Daripada gue harus jelasin lagi ke Kasih, kan lama lagi.” “Tch... lo aja yang jelasinnya gajelas Ta.” “Udah udah guys, daripada makin lama, lebih baik kita research informasi dulu.” “Oh iya hehe ide bagus tuh Karmen, kamu emang pinter ya.” Ucap Kasih dengan senyuman sambil mengagumi Karmen. “Jadi? Sampai mana nih kita teman – teman?” Aku bertanya kepada kedua temanku yang sedang sibuk dibalik layar komputernya masing – masing. “Gini Kar, dari yang gue cari sih, Vanilli Puspi Kangga ini hanya dapat ditemukan oleh orang yang memiliki hati yang murni! Selain itu, bunga ini memiliki kekuatan untuk menyembuhkan apapun penyakit yang ada,
katanya sih, tinggal minum cairannya saja.” Kata Cinta. “Hm? Kalau begitu, kenapa sang Raja menginginkan bunga ini ya?” “Ya tidak tahu deh Kar, tapi itu ga penting. Menurutku, kita sih tinggal cari saja lalu boom! Dapet deh hadiah yang cukup pastinya untuk kita bertiga nih.” “Baiklah kalau begitu, kita istirahat dulu ya guys, besok subuh kita akan mulai mencarinya!” “Siap kapten!!” Sahut kedua temanku dengan semangat. “Jadi, kalau lihat dari petanya sih, ini jalan yang benar...” Kata Kasih sambil melihat peta jalanan yang baru saja dibeli olehnya. “Kasih lu ga ngerti apa gimana sih? Petanya aja kebalik” ketus Cinta dengan kesal. Setelah 1000 tahun rasanya, lebih tepatnya 1 jam di perjalanan dengan kedua temanku yang dapat dibilang bagaikan minyak dan air, aku menghentikan pertikaian mereka dengan memanggil mereka, “Cinta, Kasih, sebaiknya kalian lihat ini deh...” Aku menunjuk kedepan, melihat pandangan hutan lebat yang seperti tidak ada ujungnya. “Kar, mau aku bantu dorong kursi rodanya?” Tanya Kasih senggan, “Tidak usah Kash, gue bisa kok, kalian duluan saja, gue juga mau lihat – lihat daerah disini sebentar.” “Kalau begitu, aku yang bawa alat – alatnya ya.” Merenung, Cinta mengahmpiri ku dan menepuk punggungku, “Karmen, pernahkah lo berpikir kalau orang yang menghancurkan hidup lo, sekarang lagi berkeliaran dengan bebas? Tanpa merasa bersalah sedikit pun?”
“Hm, gimana ya Ta... gue masih nyesel, rasa itu akan selalu ada, tapi lama – lama gue belajar untuk ikhlasin aja Ta, gaada lagi yang bisa gue lakukan juga. Gue juga udah sukses kok sekarang.” “Lo ga kangen balet Kar?” “... Kangen, banget. Tapi gue bisa apa lagi Ta, semenjak kejadian itu-” Sebelum aku dapat melanjutkan obrolan dengan Cinta, Kash memotong pembicaraan kami, “Yo guys, look what I found.” “Ada apa Kash?” Namun sebelum Kasih menjawab, kami juga sudah tahu apa yang Kasih maksud dengan kalimatnya. Karena dihadapan kami, berdirilah istana yang terbuat dari marmer, warnanya putih memudar. “Are you guys thinking what I’m thinking?” Aku bertanya kedua temanku dan dan seolah-olah kami mempunyai pemikiran yang sama, kami semua mendapati diri kami berjalan menuju pintu masuk istana. Saat kami mencapai pintu masuk, tertulislah “Istana ini dibuat dengan cinta untuk istriku tersayang ---, Fradet Grahfer”. “Fradet Grahfer? Bukannya itu nama penemu kota ini ya?” “Tumben juga bisa bener lo Kash, biasanya kan ngaco semua.” “Kash, Ta, siapa istrri Fradet Grahfer menurut kalian?” “Susah untuk ditebak Kar, ukiran ini telah memudar, kabut tebal dan huruf pudar juga tidak membantu kami menebak nama istri Fradet Grahfer. Lagi pula, tidak ada hubungannya juga dengan kami.” Saat pertama kali ku menginjak kakiku kedalam istana ini, merinding bulu kudukku. Cinta berkeliling istana yang gelap gulita ini dengan pede, ia memberi kode kepada kami untuk
mengikutinya, “Cepat sini, aku menemukan sesuatu! Lihat deh...” Kasih mengangkat senter yang dipegangnya untuk menerangi, terlihatlah sebuah gantungan kunci besar dengan kunci emas tergantung pada pengaitnya. Pada dinding tertulis, Cincin kunci emas: Panah emas menunjukkan jalannya Ke ruangan langka dan menakjubkan ini, Hadiah pernikahan, dibangun dengan cinta, Kepada mempelai wanita dari mempelai laki-lakinya! “Hmm, panah emas? Aneh sekali. Hanya ada satu cara untuk mengetahuinya, ayuk mulai mengeksplorasi istana ini!” Kata Cinta dengan semangat selagi ia menaik tangga. Ketika kami mencapai puncak tangga, kami mendapati diri kami berada di sebuah lorong yang dipenuhi banyak pintu. Tetapi, setelah sekian lamanya mencoba untuk mencari ruangan ‘spesial’ yang dimaksud, kami terus gagal dan gagal dan gagal. Kami sudah memeriksa seluruh pintu yang ada di istana ini, bahkan kami mencoba untuk mengetuk dinding. Tidak yakin apa yang harus dilakukan selanjutnya, kami berjalan kembali ke pintu masuk istana. “Kar, Kash, gue cape nih, kita seperti melakukan eksplorasi terhadap ruangan yang bahkan kita tidak tahu nyata apa tidak. Lebih baik kita balik saja dan lanjutkan pencarian bunga itu.” "Wait Ta, aku baru saja memikirkan sesuatu. Teka-teki itu berbunyi: "Panah emas menunjukkan jalannya." Aku menunjuk ke patung marmer kerub terbang yang memegang busur. Sebuah
panah emas ditempatkan di dalamnya. Panah itu diarahkan ke cermin yang diukir dengan inisial K.P. Kasih berlari ke cermin. Kasih pun memasukkan kunci emasnya. Aku menahan napas, menunggu untuk melihat apa yang akan terjadi, lalu terdengar bunyi klik pelan, dan cermin terbuka seperti pintu. Bergegas kedalam, Kasih berteriak "Pintu yang misterius! Kami menemukannya!" dengan penuh semangat, dan tak lama kemudian, Cinta dan aku pun ikut berlari mengejarnya. Segera kami berada di ruangan berbentuk bunga. Aku terdiam, ruangan itu didekorasi dengan warna putih dan lantai marmernya diukir dengan gambar bunga yang sangat besar. Kasih menyela kesunyian sambil berkata, "Lihat, sebelah sana!" Dia menunjuk pada kuratin beludru putih yang tergantung di dinding. Itu menutupi bingkai foto emas. Kasih berlari ke arah tirai dan dengan kuat menariknya ke samping, memperlihatkan potret seorang wanita berpakaian pengantin. Wanita misterius itu mengenakan gaun putih halus. Kasih membungkuk untuk membaca sebuah plakat emas kecil dengan nama terukir di atasnya. Dia tersentak. Dengan gembira, Cinta mengatakan "Kami akan memecahkan misteri ini! Beritahu kami Kasih: Siapa pengantin Fradet Grahfer? Siapa? Siapa??" Tapi kemudian Kasih terdiam, wajahnya pucat. "Kasih?" Aku bertanya. "Ayo dong Kash, siapa nama mempelai wanita itu! Kami sudah tidak sabar nih!" "Iya, beri tahu kami Kash!!!" Kata Cinta sambil melambaikan tangan di depan muka Kasih.
"Saatnya akhirnya tiba!" Kasih menghela nafas panjang dan... "Pengantin misterius itu bernama... Khloe Poetranto" kata Kasih. "Apa?!" Aku dan Cinta berteriak serempak. "Poetranto?" Aku bertanya. “P-O-E-T-R-A-N-T-O, Poetranto?!!” Kasih mengangguk. “Jadi... gue ada hubungan dengan pengantin misterius Fradet Grahfer?” Aku bertanya. Kasih menyingkir agar aku dan Cinta bisa melihat plakat itu dari dekat. "Ternyata benar!" seruku tidak percaya. "Nama belakangnya Poetranto, sama seperti gue. Dialah nenek moyang gue!" Tidak tahu apa yang harus dilakukan dengan informasi ini, kami bertiga saling bertatap – tatapan dengan muka ketidakpercayaan. “Jadi selama ini, lo punya nenek moyang yang sekaya ini Kar? Bisa – bisanya lo nutupin ini dari kita.” “Gue sendiri juga baru tahu Kash, tapi ini berita baik! Berarti nama gue bakalan ditulis dalam sejarah!!” “Btw guys, maaf ganggu selebrasinya, tapi kalian mencium bau yang aneh ga sih?” Cinta memotong pembicaraanku. “Bau? Setelah dipikir – pikir, memang ada bau yang asing sih.” Aku menggiring kursi rodaku mencoba untuk mencium bau yang tidak diketahui datang dari mana, namun aku terjatuh, “Ow!” “Karmen! Kamu gapapa?” Kedua temanku berlari kearahku, “Iya, gue gapapa kok, tapi tadi gue tersandung apa ya?” Melihat sekelilingnya, Cinta mengangkat kotak yang dilapisi emas yang berbentuk seperti kotak harta karun. “Kamu tersandung ini Kar.” Namun disaat kedua temanku sibuk, aku mengambil kotaknya dari tangan Cinta dan berusaha membukanya, namun tidak berhasil. Karena kesal, aku
membanting kotaknya, tidak menyangka bahwa kotak tersebut malah terbuka. “Vanilli Puspi Kangga?!!” Kami semua berteriak. “Kar, Ta, kita menemukannya!” “Kejutan apa yang akan ada selanjutnya?!” Cinta bertanya sambil tertawa. “Guys, sebaiknya kita cepat – cepat membawa ini kepada Raja agar kita juga cepat mendapatkan hadiahnya” Dalam perjalanan balik, kami semua memiliki suasana hati yang baik. Aku baru saja menemukan bahwa nenek moyangku merupakan istri dari sang penemu kota kami, kota Celestia dan kami juga menemukan bunga Vanilli Puspi Kangga. Siapa yang sedih merupakan pertanyaan sesungguhnya? Sangatlah wajar untuk kami semua merayakan penemuan ini, namun sedikit yang aku tahu kalau perayaan ini akan segera berakhir. - “Permisi, apakah anda Karmen Poetranto? Sang Raja menginginkan untuk berterima kasih secara personal. Ia sungguh menghargai usahamu.” “Oh iya, baik... Guys, gue permisi sebentar ya” “Kamu Karmen? Karmen Poetranto?” “Betul Raja, dengan saya sendiri.” “Saya mendapat kabar bahwa anda menemukan bunga yang saya inginkan?” “Iya Raja, namun saya tidak dapat melakukannya tanpa bantuan teman – temanku. Bolehkah saya memanggil mereka?”
“Itu tidak perlu, sampaikan saja terima kasih saya kepada mereka.” Sang Raja menjabat tanganku dan sesaat aku terperanjat, karena apa yang kulihat adalah sesuatu yang tak bisa kupercaya jika aku tidak melihatnya sendiri. Sang Raja memiliki tato bunga di tangannya. Rasanya ingin berlari dari sini, namun Sang Raja memanggil putranya dan menyuruhnya berterima kasih kepadaku. “Sebenarnya Karmen, dokter mengatakan bahwa anak saya tidak dapat diselamatkan kecuali ditemukannya bunga tersebut. Ekstrak yang dikeluarkan oleh bunga dapat menyembuhkan siapa pun yang meminumnya, dan sekarang bunga itu telah berhasil ditemukan berkat kamu Karmen, kami sungguh berterima kasih.” Karmen yang waras hanya akan mengangguk dan tersenyum, tapi pikiranku sedang tidak benar. Sebaliknya, aku bertanya kenapa Ia tidak bisa melakukannya sendiri, sebagai Raja, aku yakin Ia punya ribuan tentara yang siap mencari apa pun yang diminta Raja, tapi kenapa meminta pertolongan kepada rakyat? Raja tersenyum mendengar pertanyaanku. Jawabannya sederhana, katanya. “Itu karena aku tidak mempunyai hati yang murni.” Dan untuk sesaat, aku merasa pusing tetapi aku berusaha menahan diri. Aku memberikan hormat dengan membungkukkan badan lalu bergegas keluar, mencari teman – temanku. “Kar, kamu kenapa? Kenapa lari – lari begitu?” “Kita harus pergi.”
“Hah? Maksudmu apa Karmen, ngomong yang jelas.” “Akan ku jelaskan diperjalanan.” Ekspresi tidak percaya di wajah mereka setelah mendengarkan ceritaku menjelaskan semuanya. “Tidak mungkin, jadi... yang lo maksud tuh, sang Raja yang membuat hidup lo hancur begini? Dia yang tidak bertanggung jawab atas perbuatannya?” “Tapi itu maksud akal sih Kar, I mean, Dia adalah Raja, or at least, soon to be king. Dia mempunyai kuasa atas segalanya. Jika Ia ditemukan telah menabrak dan hampir membunuh seorang anak kecil? Apa yang akan dikatakan rakyat?” “Tetapi Ia sudah membunuhku Ta, aku sudah lama mati bersama mimpiku, dan karena itu, aku tidak dapat membiarkan Ia lolos begitu saja.” Malam itu, aku tidak dapat tidur dengan nyenyak, aku aku bolakbalik sepanjang malam. Namun satu hal yang menggangguku. Anak sang Raja tidak layak aku perlakukan seperti ini. Sang Rajalah yang membuat kesalahan, mengapa aku ingin balas dendam kepada anaknya? Anaknya tidaklah berbuat salah apa pun, tetapi kenapa aku begitu ingin membuat mereka menderita? Apakah aku orang yang jahat karena memikirkan ini? Atau apakah dengan berpikir seperti ini, aku dapat disebut layaknya manusia normal? Sebab bukanlah karena keserakahan dan balas dendam manusia dapat hidup? Alarm ku yang berbunyi menandakan pagi hari telah tiba dan inilah saatnya aku memberi bunga hasil pencarian ku dan teman – temanku kepada sang Raja. Namun kini, aku tidak lagi bimbang. Aku tahu persis apa yang harus aku lakukan.
- “Kamu memberikan ini kepada saya?” “Iya Raja” “Tetapi mengapa?” Mendengar pertanyaan dari Raja membuat ku tersenyum. Mengapa? Pertanyaan yang hampir semua orang tanyakan namun kali ini, aku dapat menjawab dengan yakin. Karena semua orang harus mendapatkan kesempatan untuk hidup. “Raja, maaf jika perkataan saya lancang, namun saya telah mengetahui bahwa sang Raja sendiri yang menabrak saya dulu. Namun mengapa harus saya membawa rasa benci itu? Semua orang berhak untuk menjalani kehidupannya sendiri dan saya tidak akan menjadi penghalang bagi anak Raja..” “...Terima kasih. Terima kasih banyak Karmen, apakah ada yang dapat saya berikan lagi? Apapun itu, kau akan mendapatkannya.” “Berikanlah ekstrak bunga ini dan semoga anak Raja lekas sembuh. Itulah permintaan saya.” Tidak lama setelah pembicaraan tersebut, Raja memutuskan untuk memberi saya studio balet saya sendiri, sehingga saya dapat mengajar anak-anak kecil yang memiliki hobi yang sama seperti saya dulu. Kelas balet ramai, orang datang kesana kemari melihat saya mengajar anak-anak secara gratis. Raja pun datang membawa anaknya untuk belajar balet. -
Karmen. Karmen Poetranto adalah seorang wanita yang tangguh. Ia berhasil menjalani hidupnya walaupun mimpi yang ia miliki tidak dapat ia wujudkan. Itukah diriku yang orang pikirkan? Apakah aku dilihat seperti orang yang semenyedihkan itu? Ya, aku telah tidak dapat mewujudkan mimpi ku lagi, tapi apakah itu akhir dari dunia? Aku telah berjuang selama 26 tahun, dan aku tidak akan mau mengganti kehidupanku ini dengan apapun juga. ‘Tapi, kamu gamau jadi penari balet?’. Tentu aku ingin, tapi apa gunanya kita fokus kepada masa lalu? Aku telah belajar dan aku tahu bahwa sekarang yang harus aku fokuskan adalah diriku sendiri. Karena saya yakin, Karmen yang berusia 4 tahun akan melihat ke Karmen yang sekarang dan berkata "kita berhasil". Kita berhasil melewati kehidupan yang begitu berat bagi kita, tetapi hal itu tidak menghentikan kita, bukan? Saya sekarang telah membuka studio balet yang diberikan dari sang Raja dan saya merupakan seorang penulis sukses, buku biografi saya ternyata laris manis. Mulai dari ekspedisi mencari bunga Vanilli Puspi Kangga, hingga mengetahui aku punya hubungan dengan pendiri kotaku, hingga mencari tahu siapa yang 'menghancurkan' hidupku selama ini. Tapi hei, inilah yang membuat hidup, hidup. Aku tidak akan menukar hidupku dengan apapun di dunia. Aku mencintai diriku. Aku mencintai kehidupan.
Rumit Camry Hai namaku chloe ini adalah hari pertamaku masuk sekolah SMA aku adalah murid pindahan dari luar kota,pada suatu hari aku melihat kakak kelas yang menurutku sangat keren waktu itu adalah hari senin dan sedang dilaksanakan upacara bendera, ternyata kakak kelas yg ku bilang keren itu bernama alex pada saat itu alex di pajang saat upacara karna tidak memakai atribut yg lengkap aku mengetahui namanya dari teman ku yang bernama naomi, naomi memberi tahu ku bahwa alex itu murid yang nakal dan susah di atur tetapi aku tetap tertarik dengan alex aku berharap aku bisa kenal dengannya. Istirahat pertama chloe sedang jalan menuju ke kantin bersama naomi alex secara tidak sengaja alex menabrak chloe hingga makananya terjatuh. Awalnya chloe ingin sekali marah tetapi setelah menyadari dia di tabrak oleh alex wajah dia langsung memerah karna malu. "kamu tidak apa apa?" ujar Alex "aku gapapa, bajumu gimana? " chloe "ini ga seberapa di banding makanan mu yg jatuh" alex naomi hanya terdiam melihat mereka berdua dan sambil mengabadikan moment itu, setelah obrolan yang sangat panjang chloe meminjamkan jaketnya kepada alex agar noda yang di baju alex bisa tertutup. Keesokan harinya alex ingin memulangkan jaket kepada chloe. "terimakasih ya jaketnya" alex
"iya kak sama sama" chloe tak di sangka sangka ternyata mereka bertukar nomer dan hubungan mereka makin dekat. Saat alex kembali ke kelas, alex di ejek dengan temanya yg bernama ezra “ widihh ada yang lagi kasmaran nihhh” erza “apaan si lo iri aje” alex alex pun menjelaskan kepada ezra apa yang terjadi.Jam istirahat alex ngechat chloe untuk pergi ke kantin bersamanya lalu chloe setuju dengan ajakan alex dan mereka pun pergi ke kantin bersama, mereka makan di kantin berdua sambil mengobrol banyak hal lalu alexpun biacara kalau dia ingin mengenal chloe lebih dari siapapun chloe terheran heran kepada alex kenapa dia tiba tiba biacara seperti itu chloe pun mulai geer kepada alex. Jawaban dari chloe cukup singkat dan padat karna dia sedang menutupi ekspresinya yang salting dengan menjawab “iya boleh kok,” kata chloe dan jam istirahatpun selesai mereka kembali melanjutkan pelajaran di kelasnya masing masing. Pada jam pelajaran terakhir alex bertanya kepada ezra “kalau misalkan gw ajak pulang bareng dia mau ga ya?” ujar alex “coba aja ajak gada salahnya mencoba lex,” kata ezra lalu alex mendengarkan saran dari ezra, Bel pulang pun berbunyi alex bergegas datang ke kelas chloe untuk menawarkan pulang bersamanya. Saat bertemu dengan chloe alex berkata
“chloe kamu mau pulang bareng aku gaa?” Kata alex dengan wajahnya yg malu malu “emang ga ngerepotin kamu?” chloe bertanya kepada alex “aku seneng di repotin sama kamu,” jawab chloe tersipu malu dan mereka pun pulang bersama. Alex mengantar chloe pulang dengan motornya yang sangat nyentrik di jalanan dengan suara motor jadulnya lalu di dalam perjalanan chloe merasa lapar, “alex kamu ga lapar?” chloe bertanya kepada alex “lapar sih kenapa emang?” jawab alex di dalam hati alex, alex berkata pasti chloe ingin makan dulu baru mengantarnya pulang, dan chloepun ngomong “bagaimana kalo kita makan dulu, aku laper banget ini,” ujar chloe “oke kita makan bakso aja ya” sontak alex menjawab chloe chloe pun setuju dengan tawaran alex. Mereka berdua memakan bakso dengan sangat menikmati hidangan dan suasana romatisnya chloe berpikir tidak di sangka sangka aku bisa sedekat ini dengan alex aku merasa nyaman berada di dekatnya aku pikir aku cocok dengannya. Cuacapun mulai gelap dan mereka bergegas untuk pulang dalam perjalanan mereka kehujanan. “aku akan mengingatmu dengan hujan ini” kata chloe
alex dengan ekspresi kagetnya dan tidak bisa berkata kata. Di dalam perjalanan chloe memiliki perasaan yang tidak enak lalu sesampainya di rumah chloe mengucapkan hati hati kepada alex dan alex pun pergi pulang kerumahnya, lalu chloe masuk kerumahnya dengan suasana hati yang tidak enak dan kedinginan lalu bertemu dengan kedua orang tuanya dan mereka berkata “kita akan pindah dalam waktu dekat” chloe dengan raut wajah yang kaget dan shock bertanya tanya “kenapa pindah, kenapa tiba tiba kita pindah bu pah?” padahal chloe baru saja merasa nyaman tinggal di sini. Setelah perbincangan itu chloe pun masuk ke kamarnya sambil menangis chloe merasa tidak terima kalo keluarganya akan pindah lagi, pada saat makan malam chloe memberanikan diri untuk bertanya kepada orang tuanya “kenapa kita pindah apa alasanya?” lalu papah chloe menjawab “karna pekerjaan papah kita harus pindah ke luar kota” menjelaskan kepada chloe “apakah tidak bisa di tolak?” chloe membatah “kamu ini kenapa sih, kenapa kamu dari tadi menyangkal tidak seperti biasanya” sontak mamahnya “karna aku merasa nyaman tinggal dan bersekolah di sini” chloe ngambek kepada orangtuanya Keesokanya di jam istirahat chloe bercerita kepada alex bahwa dia akan pindah ke luar kota dan kemungkinan dia tidak bisa
bertemu lagi dengan alex, alex pun memasang ekspresi wajah sedih dan kecewa terhadap chloe suasananya pun menjadi hening dan sunyi padahal di sana sedang ramai orang jam istirahat pun habis alex dan chloe kembali ke kelasnya, “ lo kenapa lex sedih banget muka lu” ezra bertanya alex menjawab kalau dia tidak apa apa lalu sesampainya chloe ke kelas naomi menanyakan hal yg sama seperti ezra kepada chloe lalu chloe menjawab kalau dirinya sedang ga baik baik saja. Jam pulang pun tiba alex ingin mengucapkan salam perpisahan kepada chloe, “chloe kamu beneran akan pindah?” ujar alex “iya alex terima kasih ya selama untuk semuanya” chloe menjawab dengan wajah sedih “chloe kamu adalah cinta pertamaku jika hidup ini adalah sebuah buku maka bersamamu adalah bab favorit ku” alex mengatakan dengan sedih Raut wajah chloepun langsung berubah jadi bahagia, chloe di jemput dengan ayahnya dan mereka pun berpisah. Pada saat di dalam mobil papahnya chloe ingin memberi tahu kabar bahagia lalu chloe penasaran dengan apa yg ingin di katakan oleh papahnya tetapi papahnya tidak ingin memberi tahu sebelum pulang ke rumah chloe sangat menantikan kabar bahagia yang ingin di sampaikan oleh papahnya. Sesampainya di rumah chloe pun bertanya lagi kepada papahnya “apa yang papah ingin katakan?” chloe bertanya dengan wajah penasaran
“kamu penasaran banget?” papahnya meledeknya “iyaa ih buruaan kasih tau” chloe bertanya dengan wajah penasaran “papah..... Tidak jadi pindahh” kata papahnya chloe tanpa di sengaja berteriak yeay dengan sangat keras suasananya pun menjadi sangat bahagia. Keesokan harinya saat bersekolah chloe ingin memberi kejutan kepada alex dalam hati chloe berkata “padahal kemarin sudah berpisahan hahaha” chloe sangat senang lalu pada saat jam istirahat chloe mempunyai niat mengejutkan alex saat sedang makan di kantin chloe melihat alex sedang menyendiri sambil makan lalu chloe menghampiri alex dan menutup matanya lalu chloe mengatakan “hayoo tebak aku siapa..” ujar chloe sambil meledek “siapa gatau cepetan lepasin” alex bicara dengan lantang “kok kamu masi sekolah kamu gajadi pindah?” alex bertanya dengan nada penasaran “iya aku tetap disini bersamamu dan hanya kamu.” Jawab chloe dengan ekspresi senang