kami berkenalan dan akupun pada akhirnya mengetahui namanya, namanya adalah Khai dan kamipun mulai akrab antara satu sama lain. Suatu hari aku dan dia berencana untuk menonton bioskop bersama setelah pulang sekolah, aku dan Khai pun sudah memutuskan untuk menonton film apa pada hari itu. Rencananya aku dan Khai akan nonton bioskop bersama setelah dia selesai melakukan kegiatan ekskul dan akhirnya akupun menunggu ia sampai selesai kegiatan ekskulnya, tetapi ketika ia sudah selesai dengan kegiatan ekskulnya secara tibatiba dia mengabari diriku bahwa ia sedang kurang sehat yang pada akhirnya membuatku kecewa dan kamipun tidak jadi nonton bioskop bersama pada hari itu. Semenjak hari itu hubungan aku dan Khai menjadi renggang, pada saat itu aku yang memutuskan untuk menjauh darinya sejenak. Sebenarnya ia tak salah, karena aku yakin itu bukan kemaunannya ia untuk sakit pada hari itu, tetapi ini salahku dikarenakan terlalu menaruh ekspektasi tinggi kepada dia. Setelah beberapa bulan berlalu akhirnya aku berani untuk memulai percakapan dengan Khai kembali. Aku meminta maaf kepada Khai dan menjelaskan alasanku kenapa beberapa hari lalu aku menjauh darinya dan Khai pun meminta maaf karena ia tidak dapat menepati janjinya untuk nonton bersamaku pada hari itu, setelah itu kami pun akrab kembali seperti dahulu. Aku melihat Khai yang sepertinya ia sangat senang dan menikmati ekskul yang sedang dijalaninnya, maka aku bertanya kepada mengenai ekskul yang diikuti selama ini diikuti oleh Khai dan ia pun juga mengajakku untuk masuk kedalam ekskul yang ia jalani, karena aku tertarik dan ku lihat bahwa kegiatan
yang dilakukan oleh ekskul tersebut juga memiliki eksistensi yang lumayan, pada akhirnya aku pun menyetujui ajakan Khai. Aku tak menyangka setelah masuk kedalam ekskul tersebut aku sangat disambut dengan hangat oleh teman-temanku disana, akupun mendapatkan banyak relasi baru dengan teman-teman lainnya. Bukan hanya sebatas relasi ataupun teman-teman baru, tetapi aku juga mendapatkan sahabat lagi disana. Nama sahabat baruku adalah Adi. Adi adalah teman yang baik, ia orang yang pertama kali menyambutku pada saat itu. Rupanya, aku, Khai, dan juga Adi sefrekuensi. Semenjak itu kami bertiga pun selalu bersama-sama setiap melakukan kegiatan apapun. Aku berharap perteman kami selalu terjaga sampai tua nanti. Sejak saat itu sudut pandangku mengenai lingkungan sekitarku dan bahkan dunia luarpun berubah, aku menjadi lebih bisa untuk menerima orang-orang yang berada disekitarku, dan akupun sadar bahwa selama ini aku dikelilingi oleh orang-orang yang peduli dengan diriku. Aku berharap sampai kapan pun diriku selalu dikelilingin oleh orang-orang baik. Aku Amira, cukup sekian kisah ku.
Tajur dan Kisahnya Muhammad Dhafin Athallah Terasa angin perlahan mengelus wajah ku dengan ditemani embun air di dedaunan yang ada di sepanjang jalan, membuat hati ku menggebu gebu saat aku sedang mengendarai motor ku pada kala itu. Perlahan tapi pasti, aku mulai mendekati tempat SMA Diponegoro 1 Jakarta berada. Ya, itu adalah hari pertama ku menginjakan kaki di instansi pendidikan sebagai siswa SMA. Tepat pukul 06.00 aku pun menurunkan standar motor berwarna hitam ku itu di tempat parkir yang telah disediakan. Dengan hati yang Menggebu-gebu, aku melangkahkan kaki dengan pasti menuju titik berkumpul yang sudah dijanjikan yaitu aula SMA Diponegoro 1 Jakarta. Tanpa banyak bicara, langsung ku cari tempat kosong untuk ku duduk. Langsung ku istirahatkan kaki ku dengan duduk bersila diatas karpet hijau yang telah disediakan oleh pihak sekolah. Aku mulai berkenalan dengan beberapa orang di sekitar ku “Kenalin, Nama aku Dhafin dari SMP 115” ujar ku pada orang disamping ku. Sontak, orang itu pun juga memperkenalkan diri. “Aku Rino dari Global Islamic School” ujarnya. Hal serupa terus terjadi berulang ulang, aku memperbanyak teman dengan berkenalan pada orang disekitar ku saat itu. Untungnya dengan aku berusaha mengenal orang orang disekitar dapat berbuah baik pada diri ku. Sebab aku menjadi kenal satu sama lain dan tidak lagi canggung dalam berinteraksi.
Tepat saat kedua jarum jam di dinding menunju angka 6, seorang anggota OSIS maju ke depan dan seketika menjadi pusat perhatian setiap pasang mata yang ada di ruangan. “Halo semua, perkenalkan nama saya bagus dan saya akan menjadi pembawa acara pada hari ini” ucap Bagus. Setelah memperkenalkan diri, Bagus pun mulai membina jalannya acara selama acara berlangsung. Hingga akhirnya tiba saat pihak instansi sekolah akan menyampaikan program kerja yang mereka punya. “Hari ini saya akan mensosialisasikan program program yang dimiliki SMA Diponegoro 1 Jakarta, siapa aja nih yang udah penasaran?” Ucap perwakilan pihak sekolah. “SAYAAAA” ucap siswa siswi baru dengan kompak dan lantang. Akhirnya pihak sekolah pun mensosialisasikan berbagai macam program yang mereka punya. Namun ada satu program yang terngiang-ngian di kepala ku, seakan akan nama program tersebut terbang memutari otak dan kuping ku. Nama program itu adalah trip observasi. Berdasarkan yang dijelaskan, trip observasi merupakan program unggulan SMA Diponegoro 1 Jakarta yang ditujukan untuk melatih mental dan keterampilan hidup dengan cara melakukan penelitian di suatu desa Bernama Desa Tajur Selama 4 hari 3 malam dan akan dilaksanakan 1 bulan lagi. Hanya dengan mendengar penjelasannya saja, aku sudah sangat amat bersemangat. Setiap hari aku selalu menantikan hari program tersebut dilaksanakan.
Setelah 3 minggu 4 hari menahan sabar, Akhirnya tiba waktunya untuk pembagian kelompok dan pemberitahuan mengenai persiapan apa saja yang harus dipersiapkan oleh peserta. Pembagian kelompok pun selesai, aku menjadi anggota kelompok kecapi, sayangnya dalam kelompok ku tidak ada yang ku kenal sama sekali, akhirnya aku memutuskkan unutk berkenalan pada seluruh anggota kelompok yang ada. Aku berusaha mengakrabkan diri dengan 12 anggota kelompok, untungnya anggota kelompok ku memiliki cara berinteraksi yang mirip seperti ku sehingga kami menjadi mudah untuk akrab. Tidak lupa pantia menginfokan untuk berkumpul pada hari senin pukul 05.30 di Lapangan Pulomas. Dering gawai yang menggetarkan gendang telinga ku dengan sangat keras membangunkan ku di pagi hari pukul 04.00 pada hari senin. Setelah bangkit dari kasur, segera ku menuju ke kamar mandi untuk mandi. Setelah selesai mandi, samar samar ku dengar suara teriakan dari lantai 1 “Abanggg, siapkan barang barangnya duluu!” rupanya itu adalah teriakan dari bunda ku. “Iyaa bundaaaa” balas ku dengan panjang. Segera ku kemasi barang baranag yang telah ku siapkan dari hari hari sebelumnya. Pukul 05.00 pun aku berangkat menuju tempat berkumpul yang sudah dijanjikan. Tiba disana, aku melaksanakan apel terlebih dahulu Bersama seluruh peserta yang akan pergi ke Desa Tajur. Seusai upacara, selurh peserta diperintahkan untuk bergegas menuju tronton masing masing. Mendapati tempat duduk di dekat pintu masuk membuat ku sangat senang karena tidak akan merasakan sesak. Selama
perjalanan yang memakan waktu 4 jam itu, angin mengoreskan dirinya pada wajah ku secara terus menerus, seperti mengisyaratkan ku untuk terlelap pada kesejukannya selama perjalanan. Setelah 4 jam berlalu, akhirnya aku menginjakan kaki di Desa Tajur. Namun lagi dan lagi seluruh peserta diwajibkan untuk mengikuti apel di lapangan yang nampaknya seperti sawah yang sudah tidak digunakan. 1 jam kami dijemur dibawah sinar Terik matahari, akhirnya kami dipersilahkan menuju rumah orang tua asuh kami masing masing. Setibanya di rumah orang tua asuh, aku dan kempok ku mulai menata barang bawaan kami dengan tertata dan rapih. Pada hari pertama di Desa Tajur, para peserta diberikan waktu untuk pembiasaan dan beristirahat terlebih dahulu. Namun tentunya karena momen seperti ini jarang dirasakan, kami memutuskan untuk bermain main diluar dan membeli makanan ringan pada penduduk setempat. Setelah bermain Bersama diluar, kami pun Kembali ke rumah orang tua asuh masing masing. Aku pun mandi sebelum menjalani sholat maghrib dan isya. Saat malam tiba, pembagian posisi tidur pun dilakukan, para Perempuan akan tidur di dalam kamar dan para laki laki akan tidur di ruang tamu. Pada hari kedua di Desa tajur, pukul 06.00 para peserta melakukan jalan pagi mengelilingi desa sambal menghirup udara segar guna meningkatkan kebugaran tubuh para peserta dan Pembina dari kegiatan ini. Pada siang hari, mentor dari kelompok kecapi mengumpulkan ku dan teman teman ku di rumah orang tua asuh kami. Mentor Bernama rafi itu pun
menjelaskan apa saja yang harus kami lakukan dan catat selama penelitian berlangsung. Kelompok kecapi pun meneliti mengenai keterhubungan antara Covid-19 dengan kestabilan ekonomi yang ada di desa tersebut. Rupanya Desa Tajur ini mengalami kesulitan ekonomi yang serius karena kurangnya pengunjung pada saat masa pandemic Covid-19. Setelah melakukan penelitian, aku pun menjadi perwakilan dari kelompok kecapi untuk mempresentasikan hasil penelitian yang telah dilakukan oleh kelompok Kecapi. Beruntung hasil penelitian kelompok Kecapi menuai pujian dari guru guru penilai. Pada hari ketiga di Desa tajur, para peserta diberi kesempatan untuk mengagumi keindahan Desa Tajur dari berbagai tempat. Satu per satu kelompok dipersilahkan memasuki rute penjelajahan yang mencakup Sungai deras, medan berair, tanah curam, dan hutan yang masih jarang tersentuh oleh manusia. Kelompok ku mendapat urutan ke 10 untuk masuk ke rute penjelajahan. Selama bosan pun akhirnya aku bermain bola terlebih dahulu Bersama teman teman ku. Saat keringat sudah mengaliri seluruh bagian tubuh ku, tiba tiba terdengar teriakan memanggil “Kelompok kecapi cepat kemari!” ujar Pembina.. Segera bersma teman teman ku, aku menjelajahi hutan huta yang masih jarang terjamah manusia. Di Tengah Tengah penjelajahan, sempat ada kepanikan karena terdapat ular di medan berair yang menjadi rute penjelajahan dari trip obsevasi.
Pada hari keempat di Desa Tajur, para peserta mulai mengemas barang barang yang telah mereka bawa dikarenakan hari keempat merupakan hari para peserta akan pulang ke Jakarta. Setelah mengemasi seluruh barang barang, akhirnya kami berpamitan dan mengucapkan terimakasih pada orang tua asuh masing masing, tidak lupa kami juga melaksanakan sesi foto Bersama dengan orang tua asuh masing masing. Sehabis memastikan tidak ada yang tertinggal, roda tronton pun mulai berputar yang menandakan seluruh peserta akan segera pulang ke Jakarta. 4 jam perjalanan pulang sungguh tidak terasa bagaikan angin lewat. Akhirnya kami tiba kembali di Lapangan Pulomas. Meski kami telah kembali, namun kaimi harap bahwa kebiasaan mandiri dan sifat berani kami akan selalu menetap pada diri kami. Dan itulah akhir kisah penuh kenangan yang aku alami di Desa Tajur, Purwakarta.
Misteri Pulau Misterius Muhammad Ilham Suatu hari ada dua orang sahabat dari kecil yaitu Chirst,dan Marsha dia sudah merencanakan untuk pergi ke suatu pulau.Suatu saat mereka berdua menemukan sebuah pulau yang misterius,jarang sekali terlihat ada seorang pun di pulau tersebut,kemudian Chirst dan Marsha pun berniat untuk pergi ke pulau tersebut,dengan mempersiapkan segala barang bawaan mereka berdua,berangkatlah mereka berdua ke pulau misterius tersebut.Sesampainya di pulau tersebut,mereka mulai menyusuri lokasi pulau tersebut dengan niat untuk mencari harta Karun,setelah mereka berjalan menyusuri hutan tersebut,mereka menemui sebuah tokoh nenek paruh Bayah,kemudian si nenek itu bertanya kepada mereka berdua,”Cari apa nak disini?” sontak Chirst pun menjawab.”Kami sedang mencari harta Karun di pulau ini nek.” kemudian nenek itu berkata lagi,”kalian tahu dari mana soal harta Karun yang berada di pulau ini?” Tanya nenek itu kepada Chirst dan Marsha.Sontak mereka berdua pun kebingungan untuk menjawab pertanyaan dari nenek tersebut,lalu mereka pun menjawab dengan gugup dan agak ketakutan.”kami tahu dari peta yang sudah lama tersimpan di laci belajar kami nek”.Kemudian setelah berbincang yang cukup lama akhirnya nenek tersebut berkata.”kalau kalian ingin menemukan harta Karun di pualu ini,kalian harus melewati beberapa syarat yang kalian harus penuhi”. Kemudian nenek tersebut memberikan beberapa tantangan untuk memenuhi syarat.agar mereka berdua menemukan harta
Karun yang mereka incar.Syaratnya setelah berhasil mendapatkan perhiasan tersebut kalian berdua tidak boleh sombong dan harus membagikan harta tersebut.Jika tidak memenuhi syarat tersebut kalian akan mendapatkan kutukan yang mengerikan.Setelah berhasil melewati tantangan yang diberikan oleh nenek tersebut akhirnya mereka berdua pun menemukan harta Karun yang mereka incar sejak lama.setelah dibuka mereka terkejut dengan isi di dalam kotaknya yang ternyata banyak sekali emas dan perhiasan yang mewah, Marsha”Wahh ini Banyak sekali perhiasan dan emas nya, kalau begini bisa kaya kita.”, dan Chirst menjawab”Betul kalau kita ambil ini semua kita bisa menjadi kaya raya.” Saat hari mulai gelap dan matahari sudah tenggelam tibalah saatnya mereka berdua untuk keluar dari pulau tersebut sambil membawa tas berisi perhiasan dan emas.Setibanya mereka dirumah,mereka bedua langsung kembali kerumah masingmasing sambil membawa beberapa perhiasan yang telah di dapatkan nya di pulau tersebut.Keesokan harinya mereka berdua membagi rata hasil tersebut,namun mereka sangat sombong. “Halo Chirst selamat malam,kemana saja kamu dari pagi”.Ucap tetangganya Chirst “Berisik kamu miskin”.Ucap Chirst Tiba-tiba datanglah Marsha dengan pakaian nya yang mewah Marsha pun berkata”Hei Chirst jangan dekat-dekat dengan orang miskin,kita kan kaya”.semakin lama mereka semakin
sombong sampai-sampai mempunyai ide untuk meninggalkan orang tua Mereka sendiri yang sudah tua “Nak mengapa kamu tega meninggalkan ibu?”.Ucap ibu Chirst “Iya nak,mengapa kamu tega sekali menginggalkan kami berdua,kami kan sudah tua”.Ucap ayahnya Chirst “Sudah,bapa dan ibu cari uang sendiri,dasar miskin”.Ucap dengan nada yang tinggi Kejadian yang sama terjadi juga di rumah Marsha “Nak,kan ayah kamu sudah tiada,apakah kamu tega meninggalkan ibu sendiri?”.Ucap ibu Marsha sambil menangis “Sudahlah Bu,aku ingin hidup enak tidak miskin seperti ibu”ucap Marsha sambil membentak ibunya Mereka pun terus menerus menghambur-hamburkan kekayaan nya.Namun mereka lupa dengan ganjaran yang akan mereka terima.Pada saat dirumah baru mereka.Tiba-tiba rumah mereka terbakar sendiri tanpa sebab,mereka berdua berlarian keluar,setelah diluar mereka pun bertemu dan menangis,karena semua harta mereka telah habis,dan juga masyarakat tidak ada yang mau membantu mereka berdua “Ya Allah maafkanlah atas apa yang telah ku perbuat”.Ucap Chirst dan Marsha.Tidak lama dari kejadian tersebut orang tua Mereka berdua pun tiba. “Nak kamu tidak apa apa ?”.Kata ibu Chirst “Bagaimana keadaan mu nak,tidak ada luka kan?”.tanya ayah Chirst kepadanya
“hu..hu..hu..,maafkan aku ayah ibu,aku telah sombong dan telah meninggalkan kalian,ini ganjaran yang aku terima dari apa yang aku perbuat kepada kalian”.Ucap Chirst sambil menangis tersedu-sedu. Kemudian ibu Marsha pun datang “nak kamu gapapa kan nak ibu langsung berlari begitu mendengar kalau rumah kamu terbakar”ucap ibu Marsha dengan sangat khawatir. “Hu..hu..hu maafkan aku ibu karena sudah kurang ajar dan meninggalkan ibu sendiri”.jawab Marsha sambil menangis tersedu-sedu. Akhirnya mereka berdua pun kembali ke rumah mereka masingmasing dan hidup mereka kembali seperti biasanya.
Pergi untuk Kembali Muhammad Raffa Alviar Di sebuah desa yang kecil yang berada di tengah tengah perbukitan, hiduplah seorang anak laki laki yang bernama Toni, Toni adalah anak yatim piatu yang tinggal dengan seorang nenek, Nenek Siti. Meskipun mereka hidup dengan keterbatasan ekonomi namun mereka tetap hidup dalam kebahagiaan. Setiap hari, Toni pergi ke tengah tengah hutan untuk mencari kayu bakar, kemudian kayu bakar yang Toni dapatkan akan dijual di pasar untuk memenuhi kebutuhan sehari hari. Nenek yang baik selalu memberi Toni bekal nasi bungkus dan sebotol air minuman sebelum Toni berangkat ke hutan. Toni adalah anak yang rajin dan taat kepada sang nenek. Suatu hari ketika Toni sedang mengumpulkan kayu bakar ditengah tengah hutan, Toni mendengar suara tangisan seorang bayi, ia langsung mengikuti sumber arah suara yang menangis itu, setelah sampai ia menemukan seorang bayi perempuan yang tergeletak di rerumputan yang ber alaskan kain. Bayi tersebut terlihat sangat lapar dan sudah lemah. Toni tidak tau harus berbuat apa, ia juga tidak tega kalau meninggalkan bayi itu sendirian di tengah tengah hutan. Akhirnya Toni menggendong bayi itu dan membawa pulang bayi itu kerumah neneknya. Nenek Siti sangat terkejut melihat bayi itu, dan segera mereka merawatnya. Lalu mereka memberi nama bayi itu yang bernama Intan, sebagai tanda rasa terima kasih kepada sang nenek yang telah memberinya tempat yang aman dan damai, Intan tumbuh menjadi gadis yang sangat ceria dang terlihat lucu. Ia sangat menyayangi Toni dan neneknya. Akhirnya mereka menjadi keluarga yang bahagia, meskipun hidup dalam keterbatasan.
Toni dan Intan tumbuh bersama, dan mereka selalu berbagi cerita dan tawa. Ketika Intan berusia 10 tahun, Intan memastikan untuk mencari tahu siapa orang tua kandungnya. Meskipun ia sangat menyayangi Toni dan neneknya, rada ingin tahu itu begitu besar Intan merasa bahwa Intan harus mencari tahu asal usulnya. Nenek Siti dan Toni sangat mendukung keputusannya. Lalu Intan memulai perjalanan panjangnya untuk menemukan orang tua kandungnya. Intan menghadapi berbagai kesulitan dan rintangan, tetapi ia selalu bersemangat dan pantang untuk menyerah. Akhirnya setelah bertahun tahun Ia mencari, Intan menemukan ibunya yang telah lama ia cari cari. Mereka bersatu kembali dalam kebahagiaan. Namun dilain itu Intan juga cukup sedih karena meninggalkan orang yang merawatnya dari kecil yaitu Toni bersama neneknya, ia merasa terbagi dalam dua keluarga. Akhirnya, Intan memutuskan untuk membawa ibu kandungnya bertemu dengan nenek Siti dan Toni. Mereka semua bersatu dalam kebahagiaan, dan dari itu Intan belajar bahwa keluarga bukan hanya dari darah, tetapi juga dari cinta dan kebaikan hati. Meskipun terkadang kita harus pergi jauh, kita akan selalu kembali ke tempat yang penuh cinta. Setelah itu Intan dan ibunya kembali pulang kerumah dan nenek Siti bersama Toni hidup kembali seperti dulu, seperti sebelum betemu Intan mereka hidup berdua dan tentu mereka merasa bahagia karena telah merawat Intan dari kecil. Toni cukup sedih karena Intan menginggalkan ia bersama neneknya, Toni sungguh menyayangi Intan, takdir berkata lain mereka berdua terpisah Intan kembali bersama ibu kandungnya dan Toni kembali bersama neneknya, Toni dan nenek Siti hidup dengan kebahagian berdua dengan menjalani
hidupnya seperti sebelum bertemu dengan Intan, dan intan pun hidup berbahagia bersama ibu kandungnya.
Dia Nur Alika Bilqis Aku Nayyara atau bisa dipanggil Naya, Aku anak kedua dari tiga bersaudara. Aku tidak pernah bisa menentukan apa yang Aku mau, Aku selalu bimbang. Aku anak yang bisa dibilang bawel, cengeng,manja,pemarah dan juga Aku anak yang tidak gampang untuk percaya kepada orang lain. Dari kecil Aku selalu dimanja oleh mama dan ayahku, aku dimanja oleh siapa saja. Pada suatu hari mama dan ayahku bercerai dan mengharuskan ayahku tinggal di luar kota. Sejak saat itu Aku haus akan kasih sayang seorang ayah. “Nayya, sini turun dulu untuk sarapan!” Teriak ibuku dari dapur “Iya ma, sebentar, Aku lagi mencari dasiku.” Hari ini hari pertama aku masuk SMA, Aku lupa untuk menyiapkan seragam sekolahku tadi malam karena terlalu asik berbincang dengan sahabatku di telepon. Aku sarapan Bersama dengan ibuku saja , karena kakakku sudah berangkat kerja lebih pagi. Di sekolah. Aku berjalan melewati koridor untuk menemukan kelas baruku. Aku duduk di pojok, alias di dekat jendela. Seperti pada sekolah lainnya saat pertama kali masuk sekolah yaitu perkenalan diri dan menyebutkan asal sekolah kita. Aku menjalani MPLS selama 3 hari. Setelah MPLS selesai, kelas yang aku tempati ternyata di ubah dan Aku dipindahkan ke kelas lain. Aku memasuki kelas X IPA 5.
“Permisi” Suara yang dingin. Seorang lelaki mendahuluiku untuk masuk ke ruangan kelas. Aku hanya menatap punggung itu dan berkata dalam hati. Siapa nama dari pemilik suara yang dingin itu? Aku memperkenalkan diriku dan Aku menyebutkan asal sekolahku. Sampai pada saat giliran lelaki itu memperkenalkan diri. Mata yang sendu, Hidung yang mancung, bulu mata yang lentik, rambut yang sedikit ikal, kulit yang putih, bibir yang tebal, dan pemilik suara yang dingin. Azril Djaelani. Nama yang indah. Kriinggg..kringgg… Jam istirahat. Aku memakan bekal yang disiapkan sama mama tadi pagi. Masakan seorang ibu memang tidak pernah gagal. Saat Aku sedang makan, Aku melihat lelaki itu sedang menyendiri seperti tidak punya teman. Aku berinisiatif untuk menghampirinya. Aku duduk di sampingnya. “Hai” Kepala yang tadinya tertunduk kini terangkat setelah aku mengucapkan sepatah kata. Alis itu terangkat satu tanda bahwa dia menanyakan kenapa aku menyapanya. “Aku Nayya, salam kenal ya.” Ucapku sambil mengulurkan tangan kananku. Awalnya wajah itu terlihat bingung dan dia Kembali menetralkan ekspresi wajahnya. “Gue Azril.” Jawabnya dingin.
“Kenapa ga ke kantin bareng yang lain?” Tanyaku “Males” “Emangnya ga laper? Oh, iya, kamu mau Cobain masakan buatan mama Aku ga? Kebetulan mamaku bawain banyak” Tawarku sembari menyodorkan sebuah kotak bekal. Aku melihat matanya yang sendu. Tiba-tiba dia tersenyum. DEG. Entah perasaan apa ini, aku belum pernah merasakannya. Ada rasa senang dan juga gelisah. “Makasi” Jawabnya singkat. “Iya, sama-sama.” “oh ya, aku boleh panggil kamu ajil?” Lelaki itu sempat bingung “Ajil?” “Iya.” Jawabku. “Belum ada yang manggil begitu” “Yauda kalo gitu aku orang pertama yang manggil kamu Ajil” Aku tersenyum menatap matanya yang sendu. “Oke, Gayung” Ucapnya asal. Aku yang mendengar itu bingung, bagaimana bisa namaku yang cantik tiba-tiba bisa berubah menjadi Gayung “Kok gayung sih?” Tanyaku tidak terima. “Nama pemberian dari gue, lucu” Sudut bibirnya terangkat satu
Waktu berlalu begitu cepat, sejak saat itu Aku semakin dekat dengannya, ada rasa senang dan ada rasa gelisah. Saat ini kita berdua berada di taman belakang sekolah, jam menunjukkan pukul 14.50, dimana sebentar lagi adzan ashar berkumandang. “Sholat dulu, yuk” Ucapku padanya. Dia tersenyum lalu langsung mengajakku ke mushola di sekolah kita. “Nanti pulang sekolah mau kemana?” Tanya nya “emm ga tau, Aku bingung, oh ya gimana kalo kamu ke rumah Aku aja?” “Boleh, Aku mau ketemu sama mama kamu sekalian nyobain masakan mama kamu” Ucapnya senang antusias. “Hahaha oke” Sesampainya di rumahku. “Assalamu’alaikum Mama” aku mencium tangan mamaku begitupun dengan azril “Walaikumussalam, eh udah pulang. Ini siapa nayy?” “Ini Ajil ma, Sahabat aku” Jawabku. “Halo Tante” Sapa Ajil dan tersenyum. “Oalah, mari makan dulu” Ajak mama. Kita pun makan Bersama. Setelah selesai makan kita sedikit mengerjakan yang di berikan oleh guru tadi siang, sebenarnya waktu pengumpulannya masih lama tetapi kita sedikit-sedikit
mengerjakan gar tidak terlalu menumpuk tugas. Tak terasa langit sudah mulai gelap. Azril pamit pulang pada mama. “Hati-hati ya, Nak” “Iya tante, Ajil pamit ya” Katanya sambil mencium tangan mamaku. Semakin hari Aku dengan Ajil semakin dekat, bahkan Ajil sering main ke rumahku, mamaku pun sering mengajak Ajil untuk ke rumah. Aku tidak menyangka ternyata Aku bisa berteman baik dengan orang yang Aku suka. Ya, aku menyukainya sejak awal kita bertemu, matanya yang sendu membuat aku menghangat setiap menatapnya, suaranya yang membuat hatiku tenang tiap mendengarnya, tutur kata yang lembut membuat aku nyaman, tingkahnya yang menjadikanku seperti anak kecil. Kita selalu Bersama kemanapun kita pergi, kita saling membantu, kita saling menguatkan, dan kita saling menyayangi satu sama lain. Hari berlalu begitu cepat dan saat ini dimana hari yang paling Aku takuti tiba. Hari ini jadwal penerbangan Ajil untuk ke luar negeri. Ya, dia memilih untuk melanjutkan pendidikannya di sana. Tiba di bandara. Ada kedua orang tua Ajil dan Aku untuk mengantarkan Ajil yang terakhir kalinya. Kedua orang tua Ajil mencium dan memeluk Ajil dengan penuh kasih sayang. Mama Ajil menangis karna akan ditinggal oleh putra tersayangnya.
Setelah Ajil selesai berpamitan dengan mereka, Ajil menghampiri Aku yang sedang menahan air mata. Ajil menghampiriku dengan senyum yang membuat aku kesal, dia memelukku, dan tangisku pecah saat Ajil memelukku. “ssstt heyy, aku Cuma sebentar doang kok di sana, nanti juga balik lagiii” Dia menangkup wajahku dan menatap mataku bergantian. “Gemes banget sihh” dia tertawa kecil. “Janji jangan lama ya” Kataku sedih “Iya gayung” Dia Kembali memelukku. Dan mengelus rambutku. Pesawat yang ditunggu tiba, sudah saatnya Ajil bergegas agar tidak tertinggal. “Udah ya, nanti aku ketinggalan pewasat gimana” ucap Ajil “emm iyaa” Ajil melepaskan pelukannya padauk, dia tersenyum dan mulai berjalan menjauhiku, entah apa perasaanku saja, saat aku menatap matanya dari jauh matanya sedikit memerah. Setelah Ajil menghilang dari pandanganku, aku Kembali untuk pulang Bersama kedua orang tua Ajil, kami sudah sangat dekat. Hari-hari berlalu, aku menjalani hari hari tanpa sahabatku. Sahabat. Meski begitu, kami tetap berkomunikasi, namun berbeda rasanya, tidak ada lagi kehangatan yang aku dapat. 1 tahun berlalu. Komunikasi kami semakin jarang, bahkan pernah beberapa kali dia tidak menghubungiku, Aku maklumi
karna Aku tau dia sibuk. Ajil bilang setelah satu tahun di sana dia akan pulang, namun aku tidak tahu pasti kapan karna dia tidak menghubungiku. Kriingg.. kringgg.. Dering telfon terdengar di telingaku. Panggilan dari Ajil. Aku langsung mengangkat telfonnya. “Hai cantik, maaf ya Nay aku ga ngabarin kamu akhir-akhir ini” “Hai, aku kangen kamu tau Jil. Kamu apa kabar?” Tanyaku padanya. “Baik Nay” “Kamu kapan pulang?” “Minggu depan Nay, Nanti aku kabarin kamu ya kalo aku mau pulang ke sana” “emm iya, Jil” Sudah 2 jam kami telfonan untuk saling bercerita hari-hari kami belakangan ini. Aku selalu senang Ketika mendengar suaranya, dari Aku bertemu dengannya sampai detik ini, Aku masih suka suaranya hingga sekarang. Hari semakin larut, aku mulai mengantuk. Selang beberapa lama aku tertidur. 1 minggu kemudian Ajil mengabarkan bahwa Ia akan pulang ke Indonesia. “Aku hari ini pulang, akua da sesuatu buat kamu Nay” ucapnya di telfon tadi pagi.
Aku tiba di bandara untuk menjemput Ajil. Aku Bersama dengan kedua orang tua Ajil dan juga Mamaku. Saat kami sedang menunggu, terliht sosok yang aku rindukan selama satu tahun terakhir ini. Itu Ajil. Dia berlari ke arahku dan langsung memelukku. Sangat erat. Setelah itu Ia melepaskan pelukannya dan mulai berlutut di depanku. Aku kaget, bahkan tidak mengerti maksud dari dia berlutut untuk apa. Dia mulai mengeluarkan kotak kecil, dan saat dibuka ternyata itu sebuah cincin yang sangat cantik. aku kaget. “Nay, aku udah bareng kamu selama bertahun-tahun, dan aku juga udah tau gimana sifat kamu. Aku jatuh cinta sama kamu Nay. Maukah kamu menjadi ibu dari anak-anakku nanti?” Ajil menatap mataku bergantian. Aku terharu mendengar penutura halus yang Ajil ucapkan. Aku menggangguk antusias. Menandakan aku mau. “Iya aku mau, Jil” jawabku tersenyum. Ajil yang mendengar jawabanku langsung berdiri dan langsung memelukku, dia juga mencium keningku berkali-kali. “Kita nikah minggu depan ya” Katanya sambil tertawa kecil. “Iya” Aku juga tertawa kecil membalas perkataan Ajil. Dan saat itu, Bandara menjadi saksi bisu tempat dimana aku merasakan Bahagia yang sangat Bahagia, aku tidak menyangka aku akan menikah dengan temanku sendiri dan juga orang yang Aku suka selama bertahun-tahun. Tuhan telah menjawab semua doa ku dengan cara Ajil yang melamarku.
Tepat pada tanggal 16 Agustus 2020 aku resmi mejadi istri dari seorang lelaki yang Bernama ‘Azril Djaelani’
Sekolah saat Pandemi Nurfajriyah Pagi hari yang cerah, semua orang sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Aku yang sedang menonton TV , kulihat berita yang sedang disiarkan mengenai virus yang diduga telah menyebar dinegeri cina dan telah memakan korban. Virus yang lebih dikenal dengan virus Corona. Namun aku menghiraukan atau tidak mengkhawatirkan virus tersebut. Hingga suatu hari Virus itu telah menyebar ke Indonesia pada tanggal 2 Maret 2020. Virus Corona menyebar pertama kali oleh dua orang WNI yang berdomisili di depok yang telah diketahui positif virus Corona. Virus Corona sangat berbahaya dan mudah menyebar maka dari itu pemerintah memberlakukan system lockdown yang dimana Masyarakat dibatasi beraktivitas diluar rumah dengan cara bekerja dan sekolah dirumah saja. Hari Senin tiba , aku dan siswa lainnya mulai ramai memasuki area sekolah. Siswa dan guru melakukan kegiatan belajar mengajar seperti biasanya. Aku yang sedang berada dikelas dan mengerjakan soal yang sudah diberi , tiba-tiba datang wali kelas ku dan memberikan informasi yang penting. "Assalamualaikum, anak-anak bapak ingin mengumumkan bahwa besok kita akan mulai belajar dari rumah selama 2 minggu" kata wali kelasku "Memangnya ada apa pak sampai kita harus belajar dari rumah?" Tanya temanku mewakili kami semua. "Seperti yang kita ketahui dan berita-berita yang sudah beredar mengenai Virus Corona yang sudah menyebar di Indonesia dan
juga sangat mudah tertular hingga banyak memakan korban, maka dengan ini pemerintah mengambil keputusan untuk melakukan kegiatan belajar mengajar sekolah menjadi dirumah saja , agar dapat mengurangi korban yang terkena virus Corona" ujar wali kelasku yang coba menjelaskan alasan mengapa belajar dirumah. Keesokkan hari nya , aku sudah memulai melakukan pembelajaran di rumah. Sekolah-ku melakukan kegiatan pembelajarannya yang di awali dengan pembiasaan , aku dan siswa lainnya melakukan pembiasaan melalui online dengan menggunakan aplikasi zoom meeting. "Anak-anak mulai hari ini kita telah melakukan pembelajaran dirumah, di mohon untuk semua siswa agar dapat mengikuti pembelajaran di online ini hingga selesai. Jangan lupa mengerjakan tugas yang telah bapak dan ibu guru berikan kepada kalian."kata wali kelas ku melalui zoom. "Baik pak" jawab para siswa Selanjutnya setelah pembiasaan pagi pembelajaran di mulai dengan bapak-ibu guru sesuai dengan jadwal mata pelajarannya. Setiap tugas yang sudah diberikan telah dikirim ke google classroom agar dapat dikerjakan oleh para siswa. Dua Minggu kami sudah melakukan pembelajaran dirumah , aku senang besoknya sudah bisa lagi ke sekolah karena aku sudah bosan belajar dirumah. Namun , secara tiba-tiba wali kelasku memberitahu melalui grup kelas bahwa besok masih belajar di rumah sampai virus Corona sudah tidak ada lagi.aku yang mendapat kabar seperti itu membuatku sedih.
Aku melakukan pembelajaran kembali di rumah, seperti biasa aku bangun dipagi hari melakukan pembiasaan dan belajar melalui online, hal itu terus terjadi setiap harinya. menurut ku pembelajaran yang dilakukan di rumah sangatlah tidak efektif, membuat para siswa malas untuk belajar dan memilih untuk bermain , tugas-tugas menjadi jarang dikerjakan dan menumpuk dengan alasan bisa dikerjakan nanti. Sementara itu, Pemerintah sedang mencari solusi agar masyarakat Indonesia bisa keluar dari pademi, dengan cara memberikan vaksin. Vaksin tersebut diberikan mulai dari anakanak hingga lansia dengan tujuan supaya tidak banyak lagi yang terkena virus Corona. Berkat vaksin tersebut banyak orang yang tidak terkena virus Corona itu membuat Indonesia pulih dari pandemi. Setelah dua tahun kemudian, akhirnya para siswa bisa kembali melakukan pembelajaran disekolah. Aku bersemangat sekali karena bisa kembali ke sekolah , bertemu teman-teman ,serta kembali melakukan kegiatan secara normal disekolah.
Behind The Identical Faces Pianti Yubaini Kita memang saudara kembar tapi kita tidak memiliki nasib yang sama, nasib diriku sangat berbeda dengan dirimu. Di tengah kota yang sibuk, hiduplah seorang gadis bernama Diandra. Diandra juga memiliki seorang saudara kembarnya yang bernama Dian. Tetapi kehidupan mereka sangat berbeda. Diandra selalu merasa berada di bawah bayangan saudara kembarnya sendiri, saat Diandra dan dian masih kecil orang tua mereka sering membandingkan prestasi mereka. Dian selalu menjadi menjadi murid terbaik di sekolahnya ia juga selalu memenangkan lomba-lomba dan juga selalu menjadi anak yang sangat patuh pada guru dan orang tua, Sementara Diandra meskipun ia sama pintarnya dengan dian tetapi ia merasa berada di bawah Dian. Diandra tumbuh dalam keluarga yang penuh benci terhadap dirinya sendiri, orang tuanya selalu membenci dirinya dan selalu membandingkan dirinya dengan saudara kembarnya orang tuannya juga sering meninggalkan Diandra sendiri dalam keadaan ia ingin merasakan sosok orang tuanya. Ketika mereka beranjak remaja, perbandingan itu tetap berlanjut dian yang menjadi seorang siswa SMA yang sangat berprestasi di sekolahnya, sedangkan Diandra juga memasuki disekolah yang sama dengan Dian tetapi orang tua Diandra selalu terusmenerus mengingatkan Diandra akan “Nilai” yang mereka yakini hilang karna nilai Diandra dan dian sangat jauh berbeda. Meskipun suasana di rumahnya selalu dibandingkan dan tidak pernah menemukan kebahagian diri sendiri, ia juga menyadari
bahwa kebahagiannya tidak selalu harus bergantung pada orang taunnya. Ia mencobanya dalam berbagai cara, seperti mengikuti kegiatan-kegiatan ekstrakurikuler di sekolah, Ia juga mencoba hobi yang berbeda dab berkumpul dengan teman-temannya. Pagi yang cerah memenuhi seisi kamar milik Diandra dengan sinar matahari yang masuk melewati cela-cela jendela Diandra terbangun dari tempat tidurnya untuk membersihkan dirinya sebelum ke sekolah, setelah selesai ia pun memakai baju seragam sekolahnya dia berdiri di depan kaca sambil melihat dirinya untuk berangkat ke sekolah di mana ia selalu lelah karna ia harus tersenyum cerah ceria seakan hidupnya tidak ada apaapa. Diandra pun turun ke bawah untuk sarapan bareng bersama keluargannya, sampai di ruang makan hawa yang ia rasakan merasa dingin dan sunyi seakan kehadirannya merusak momen mereka yang sedang mengobrol begitu asyik. “ Pagi mama, pagi papa, pagi dian” sapa diriku tersenyum ceria menyapa orang rumah. Tetapi tidak ada satu pun yang menjawab sapaan itu seperti bunga Lamium Maculatum yang sering tumbuh liar di kebun dan selalu diabaikan karna dianggap sebagai gulma, padahal ia memiliki bunga yang cantik seperti Diandra yang selalu diabaikan oleh orang tuanya tapi Diandra selalu ceria terhadap orang lain dengan senyumannya yang begitu cantik. Merasa diabaikan Diandra pun langsung duduk di kursinya dan mengambil satu roti dengan selai coklat yang ia sukai baru ingin memakannya tiba-tiba orang tuanya berbicara kepada Diandra. “ Diandra mama dengar dari guru kamu kalo kemarin kamu ulangan harian? Dapat berapa nilai kamu?” tanya dengan tegas “ Iya Ma kemarin aku ulangan, aku dapat nilai 90 ma itu aku paling besar dari teman-teman aku” jawab dengan pelan
“ Nilai 90 kamu bilang besar? Itu kecil Diandra nilai yang besar itu seperti dian 100 tidak pernah dia dapat 90, sebenarnya dulu itu mama Ngidam apa sih sampai punya anak kaya kamu gini padahal kamu sama dian kembar tapi kok beda” mengoceh. Diandra yang mendengar itu hanya terdiam diri saja tanpa ada sekata apa pun ia juga ingin menangis tapi ia tahan agar tidak menetes air matanya ia juga tidak ingin dikatakan cengeng oleh orang taunnya, roti yang belum ia sempat makan perlahan-lahan hancur karna ia merasa sakit hati dengar perkataan mamanya itu. Belum lama mamanya berbicara seperti itu lalu disambutlah oleh papanya. “ Makanya kalo papa sama mama kamus suruh belajar itu belajar jangan asyik main terus yang ada di pikiran kamu” “ Aku juga sudah belajar kok Pa” “ Belajar apaan kamu, kalo kamu belajar kamu pasti kaya Dian, tapi ternyata tidak Diandra” sahut mamanya “ Maaf Ma nanti aku bakal belajar giat lagi” “ Itu harus, AH IYA sebagai hukumannya karna kamu dapat nilai kecil kamu Ga akan mama kasih uang jajan dan satu lagi jangan harap kamu ke sekolah naik mobil” “ Tapi Ma_.” belum menjawab pertanyaan tiba-tiba omongannya terpotong.“ Ga ada tapi-tapi mengerti!” “ Iya Ma. “ Dian yang hanya melihat itu hanya diam saja sambil memakan makanan yang ada di depannya tanpa mempedulikan saudara kembarnya yang sedang dibandingkan oleh dirinya. Diandra ke sekolah dengan senyuman yang sangat ceria. Ia adalah gadis yang selalu menunjukkan keceriaan dan kebaikan pada teman-temannya. Tidak ada yang tahu bahwa dia memiliki beban berat di rumahnya, Diandra juga memiliki teman-teman
yang sangat peduli padanya, terutama sahabat dekatnya yaitu Olla. “ Pagi Olla.” Sapaku “ Pagi juga Diandra, ayo masuk kelas sebelum bel masuk.” Ketika Diandra dan Olla berjalan di koridor untuk menuju kelas, tiba-tiba ia merasakan sebuah aura yang mengejutkan tidak jauh dari ujung sana terdapat saudara kembarnya yang berjalan sendirian di koridor. Saat mereka hadap hadapan mata dian begitu sinis terhadap Diandra, dian juga sempat berbisik kepada Diandra. “ Kamu tahu Diandra,” bisik Dian dengan nada yang meredakan,” Hidupmu ini begitu membosankan Diandra, lebih baik kamu Ga ada di dunia ini.” Dian langsung pergi setelah berbisik kepada Diandra. “ Tadi Dian ngomong apa sama kamu?" Tanya Olla kepada Diandra. “ HAH? Oh itu dia bilang semangat belajarnya nanti." Menjawab pertanyaan Olla. Olla yang mendengarkan jawabannya hanya berkata oke, mereka pun melanjutkan perjalanan menuju ke kelas mereka. “ Pagi anak-anak” “ Pagi Bu.” Jawab anak murid “ baik kali ini akan ada ulangan kimia.” “HAH? Bu kok mendadak banget sih, kita kan belum belajar.” Jawab salah satu murid “ Ini gampang kok materinya masih tetap sama kaya ibu ajarkan kemarin masa kalian tidak mengerti, sudah ibu tidak ingin
dengar kalian berisik cepat ambil kertas lembar kalian satu lembar “ Ujian harian kimia pun di mulai banyak sebagian anak yang menyontek , ada juga yang tidak peduli dengan hasilnya. Berbeda dengan Diandra yang begitu serius dengan ulangan hariannya ia merasa dadanya begitu sesak jika ia mendaptkan nilai di bawah Dian. Setelah ujian selesai Diandra merasa khawatir dengan nilainya nanti Olla yang berada di samping Diandra bingung terhadap sikapnya Diandra yang takut akan nilainya kecil padahal ia selalu mendapatkan nilai yang tertinggi dikelas. “Diandra kamu kenapa kok kaya khawatir begitu sama nilai kamu, kamu mah gausah khawatir begitu aku yakin kok pasti nilai kamu paling tinggi dikelas apalagi soalnya tadi lumayan gampang bagi kamu” tanya sambil meledeki Diandra “ Tapi aku takut La” jawabnya “ sudah ISH gausah khawatir lebih baik kita ke kantin” ajaknya “ Aku ga dulu deh kayanya kamu duluan saja” “ Yaudah kalo kamu mau pesan apa apa telepon aku saja ya.” “ iya Olla” Diandra yang masih khawatir dengan nilainya sampai bel selesai istirahat pun tiba, Diandra selalu mendoakan semoga nilainya lebih tinggi pembagian ulangan harian dibagikan satu persatu anak yang lain tidak kecewa tapi ada pun yang begitu kecewa terhadap nilainya, Diandra yang sudah mendapatkan nilainya hanya terdiam ia tidak bisa berkata apa terhadap nilainya ia takut bagaimana reaksi orang tuanya jika tahu ia mendapatkan nilai 88. Sesampai di rumah mama diandra sudah ada di depan pintu Diandra heran tidak biasanya orang tuanya menunggu ia pulang
sekolah belum sempat masuk tiba-tiba sebuah tamparan yang begitu keras menampar pipinya Diandra “PLAK” Diandra yang kaget akan tamparan itu tidak bisa berkata kata ia hanya meneteskan air matanya “ Mama kenapa? Diandra ada salah?” “ Iya kamu ada salah bisanya kamu dapat nilai 88 kamu itu bodoh atau bagaimana sih” Diandra yang bingung bagaimana ia tahu kalo nilai ia 88 belum sempat berpikir mama sudah menjawab apa yang dia pikir “ Mama tahu dari guru kamu, sekarang kamu ke ruang kerja papa kamu.” Diandra yang masih memakai baju seragam sekolah memasuki ruang kerjaan papanya ia disambut dengan gesper pinggang milik papanya yang menyambit ke tubuh Diandra “BELTAK” suara yang begitu kencang terus menerus menyambit ke badan milik Diandra yang kesakitan hanya mengeluarkan air matanya, “ Pa udah, Diandra sakit” “ Ini ga akan selesai sebelum kamu menyesali hal itu” “ Iya Pa Diandra menyesal, udah ya” walaupun Diandra terus menerus meminta untuk berhenti tapi ia tidak pernah berhenti sampai waktunya tiba. satu jam sudah dilalui papanya berhenti memukul dirinya Diandra yang begitu kesakitan yang berada diruang kerja hanya terdiam dan tertawa sendiri sambil menangis, ia pun tertidur pulas sampai pagi hari tiba ada sebuah air yang menyabur ke muak Diandra yang kaget akhirnya terbangun tepat dimatanya terdapat dian saudara kembarnya. “ Gimana? Sakit? Gue kan sudah pernah bilang sama lo buat mati saja karna lo itu ga di butuh di sini mengerti.”
“ Kenapa lo selalu mengatakan itu terus menerus ke gue Dian, apa salah gue ke lo?” “ lo tanya sama gue? Salah lo itu banyak Diandra, kenapa lo selalu punya teman lo bisa bebas ke mana aja? Tapi Gue ga Diandra gue selalu dituntun sama mama papa buat dapat prestasi yang bagus sedangkan lo mereka ga pernah peduli sama lo” “ Gue yang seharusnya iri sama lo dian, lo selalu di banggabangga sama mama sedangkan gue selalu di banding-banding sama lo apa lo tahu berapa sakitnya dibanding sama lo terus di tampar, di sambit pakai gesper lo tahu ga bagaimana sakitnya? Lo ga akan tahu bagaimana sakitnya dian, jadi lo diam aja gausah jadi sok paling ter sakiti.” Diandra yang hendak meninggalkan dian tiba-tiba tangannya dipegang oleh dian. “ APALAGI DIAN?GUE UDAH CAPEK GUE INGIN ISTIRAHAT” “ Gue minta maaf ga seharusnya gue bicara seperti itu, gue cuman capek jadi anak yang harus dapat prestasi gue tahu prestasi itu bagus tapi mereka ga pernah peduli sama gue, sekali lagi maaf in gue ya Diandra.” “ Gue juga sudah maaf in lo kalo begitu sudah ya gue ingin istirahat” “ Kalo begitu gue bantu ya.” Dian membopong saudara kembarnya ke kamarnya saat dian membuka pintunya terdapat orang tuanya di sana. “ Ada apa kamu dian di sini? Lepas Diandra dia harus menerima hukuman dari mama” “ Ma sudah stop ini sudah terlalu kejam, kalian Ga kasihan sama anak kalian sendiri?”
“ Ini adalah caranya mendidik kita agar Diandra tidak melakukan kesalahan lagi” “ Tapi Ga begini juga Pa” Diandra yang kesakitan napasnya tersengal ia merasa kesakitan ditubuhnya sampai tiba-tiba ia mulai tidak sadarkan diri, Dian yang panik hanya menangis sambil berkata “ Kalian berdua sudah kelewatan” Orang tuannya yang menyadari bahwa mereka telah melampaui batas, mereka juga menyesal terhadap perbuatan mereka. Namun semua itu sudah terlambat nyawa Diandra sudah tidak tertolong lagi. Mereka juga menyadari bahwa cara mereka mendidik mereka terlalu berlebihan dan mereka juga bahaya besar bagi anak-anak mereka, dan sekarang mereka juga harus menerima konsekuensi atas perbuatan mereka.
Bullying Raden Fariz Abiyyu Namaku Edo, Aku mulai berangkat ke sekolah seperti bisa diantar sama bapakku. Di smp ini, aku tidak mempunyai teman satu pun yang aku kenal sebelumnya. waktu SD saya terkenal culun dan orang yang tidak terlalu PD dengan diri sendiri. Aku tidak pernah melakukan perlawanan saat orang lain mengejekku. Itu merupakan salah satu faktor kenapa aku sering dibully, Dengan badanku yang gemuk dan kulit hitam. Melanjutkan yang tadi, sesampainya aku di sekolah dengan diantar sama bapakku. Seperti sekolah lainnya di hari senin ini akan ada upacara bendera. Ini merupakan saat dimana aku malas untuk mengikuti, dengan badanku yang gemuk ini seperti biasa teman-teman akan mengejek. Bel sekolah sudah berbunyi menandakan upacara bendera akan segera dimulai. Aku sudah siap dengan perlengkapan upacara seperti topi dan juga dasi. Sesampainya di lapangan upacara, perkelas akan membuat barisannya sendiri. Dari teman lain aku merupakan seorang siswa yang paling gemuk dan akan membuat barisan menjadi lebih sempit. Seperti biasanya saat upacara temanku yang paling iseng dan nakal di kelas namanya Engga, dia mulai mengejekku dengan fisikku ini. “Edo kamu buat barisan aja sendiri, sempit nih, atau di tengah lapangan situ” Dia mengejek sambil tertawa. Aku hanya bisa diam karena yang dia katakan memang sesuai dengan keadaan yang ada. Disini aku tidak mungkin melawan karena dia memiliki gang atau teman yang banyak sedangkan aku cuman siswa sendirian smp ini yang belum memiliki teman yang akrab. Sebenarnya ada temanku yang bernama Dewi, dia suka membela aku saat Engga sedang mengejekku. Bisa dikatakan dia teman yang paling buat aku setidaknya lebih nyaman di
sekolah ini. Upacara pun dimulai, aku tepat berada di samping engga di barisan ke 3 dari depan. “Edo geser dong badan kamu bikin penuh aja, sampe aku keluar barisan nih.” Kata Engga sambil nyindir aku. Aku hanya bisa diam saat dikatakan seperti itu. Yahh seperti bisanya, diam dan menerima ejekannya. Paling berani aku hanya bisa berkata “iya”. Setelah 30 menitan berjalan upacara bendera selesai dengan lancar. Semua siswa mulai kembali ke kelasnya masing-masing dan mulai mengikuti kegiatan belajar mengajar. Setelah duduk di kelas kadang aku berfikir, kenapa ini tidak adil dengan ejekan yang diberikan kepada aku. Sementara aku tidak bisa melawan sedikit pun. Di kelas aku duduk di bagian tengah sedangkan Engga berada di paling pojok. Jarak yang cukup jauh ini sampai bisa membuat aku sangat nyaman, dengan terhindar dari omongan Engga yang membuat aku semakin hari menjadi orang yang tidak PD. Beberapa saat kemudian guru IPA pun datang untuk mengajar kelas pagi pertama kali. Saat itu sedang membahas flora dan fauna, yah ada hewan-hewannya gitu. Setelah di pertengahan materi sampai di pembahasan soal binatang beruang. Engga pun teriak. “Lahh itu kayak Edo dong” Teriaknya di kelas sambil tertawa. Saat itu aku hanya bisa diam dengan malu. Dewi pun membalas teriakan Engga tadi “Engga jangan gitu dong, keterlaluan tu” Teriaknya dewi membelaku. Aku cukup senang ada teman yang membelaku. Aku pun juga tidak tau kenapa Engga terus mengejekku, Aku rasa tidak punya salah sama sekali dengan dia selama ini. Setelah kejadian itu semua siswa yang ada di kelas semua tertawa. Sampai guru IPA menenangkan semua siswa untuk diam. Setelah beberapa waktu sampai 2 pelajaran telah selesai,
waktunya untuk istirahat. Sebelum keluar kelas aku sama Engga bertatapan, seolah tatapannya seperti membenci yang sangat mendalam sama aku. Disitu aku memberanikan diri untuk ngomong. “Kenapa” Kataku sambil menatapnya. Engga pun membahas ucapanku tadi “Lahh kenapa” Katanya Engga sambil nada yang lebih keras. Aku mulai memberanikan diri untuk melawannya saat itu. “Maksud kamu apa tadi ngejek aku didepan semua kelas” Kataku ke Engga sambil nada tinggi juga. Engga menjawabnya “Yahh terserah aku, ngga merugikan orang lain juga kan”. Aku menjawabnya. “Kamu tau ngga sudah membuat aku malu didepan seluruh kelas” Kataku dengan menyautnya. “Ngga peduli sih aku, kamu malu apa ngga” Katanya Engga sambil nyinyir. Percakapan tadi akhirnya membuat aku sama Engga bertengkar. Disitu selain aku dan Engga ada 2 temannya Engga. Mereka tidak menyerangku untuk membela Engga tapi malah justru melerai pertengkaran aku sama Engga. Setelah kejadian itu Engga pun langsung pergi dengan diseret 2 temannya untuk keluar kelas. Aku masih sendirian di dalam kelas sambil menahan rasa sakit setelah pertengkaran tadi. Kejadian itu pun menjadikan pertemanan aku dan Engga semakin tidak baik. Aku merasa takut saat pulang sekolah nanti pertengkaran ini terus berlanjut. Waktu istirahat itu aku gunakan cuman untuk di kelas saja. Setelah beberapa waktu jam istirahat pun habis dan semua siswa masuk kelas lagi. Sampainya jam sekolah selesai aku langsung pulang dan menunggu bapakku menjemput di depan gerbang. Sesampainya di rumah aku terus memikirkan bagaimana dengan besok. Pesan Penulis: Kita sebagai sesama manusia harus memiliki sikap toleransi apalagi terhadap teman sendiri. Bagaimana kita
harus menjaga ucapan kita sendiri terhadap dampaknya kepada orang lain
Rinai Derai Reva Putri Devicka Dikala ribuan bintang berkilau dengan sinar indahnya di atas sana, dan rintikan air yang sudah membasahi tubuh seorang gadis yang hanya berdiam diri menikmati dingin nya cuaca pada malam itu. Ia Kirana Nestapa, gadis cantik yang memiliki nama indah yang bermakna, dan ia gadis yang selalu merindukan rintikan air hujan tiap harinya. “Kamu mau ikut dengan ayah atau ibumu?”satu kalimat, namun beribu makna yang sangat menusuk. Iya, Kirana yang mendapatkan pertanyaan itu dari seorang lelaki tua berjas hitam di hadapan nya. Sudah menjadi makanan Kirana setiap harinya mendengar kalimat itu, namun Kirana hanya bisa berdiam diri dan membungkam mulutnya seraya ia tak bisa menjawabnya. “Pisah saja kalian, Kirana akan tinggal sendiri” tak disangkasangka akhirnya Kirana menjawab dengan alih-alilh menahan tangisnya. Iya, benar Kirana anak tunggal yang tidak memiliki saudara kandung. Lupakan perihal itu, kini Kirana sudah berada di sekolah dengan wajah yang sudah seperti orang tidak bersemangat untuk pergi ke sekolah, dengan bawah mata nya yang hitam dan mata nya yang sembab. Sudah dipastikan, Kirana menangis diperjalanan menuju ke sekolah. “Lihat anak pemalas dan gatau malu itu datang ke sekolah dengan kondisi seperti ini cuih” “Benar-benar memalukan, dasar anak pemalas”
Banyaknya kalimat-kalimat jahat yang ia dapat setelah ia sampai di sekolah, tidak di rumah tidak di sekolah kondisi nya sama saja, tidak membuat Kirana merasa aman dan nyaman. Namun di kala banyaknya orang memandang Kirana sebagai layaknya sampah dan anak pemalas, Kirana hanya memiliki satu teman yang menganggapnya sebagai manusia. “Hai hai ya ampun muka lo kenapa kir? Lo habis nangis?” tanya seorang gadis cantik dengan rambut nya yang di urai. Kirana menjawabnya dengan jawaban seperti biasanya, Kirana akan selalu menjawab ia baik baik saja kepada seseorang yang memberikan ia pertanyaan dari satu-satu nya teman yang melihat Kirana tidak seperti sampah. Ia, Rawika Kamajaya. Satu-satunya teman yang Kirana punya dan satu-satunya manusia yang selalu mendukung Kirana di setiap situasinya. Mereka sudah berteman lebih dari 3 tahun dan tentu saja Rawika sudah mengetahui banyak tentang hidup Kirana. Berjalannya waktu dengan cepat disekolah, namun baru saja ia ingin bergegas untuk segera pulang, Rawika menarik tangan nya dan ia mengajaknya untuk jalan-jalan sebentar bersamanya. Setelah mereka sempat berdebat untuk memilih ke tempat mana mereka berkunjung, akhirnya mereka memilih ke taman dekat sekolah hanya untuk menikmati ice cream berdua disana. Di kala keasyikan mereka berdua, Kirana tiba-tiba membuka suaranya yang tidak Rawika sangka, ternyata ia mulai menceritakan masalah hdiupnya kepada Rawika.
“Raw, aku capek” ucapnya menahan tangis. Mendengar kalimat itu terucap oleh Kirana, Rawika sontak memeluk Kirana dengan sangat erat. “Aku tau, Kirana” “Kenapa dunia sejahat ini Raw sama aku hiks hiks,,,, Kenapa mereka sering kali memanggilku anak pemalas dan gatau malu Raw? Aku tidak ada niat untuk bermalas-malasan pergi ke sekolah Raw hiks hiks,,,, Aku sering datang telat, sering tidak masuk sekolah itu karena setiap pagi kondisi rumah ku selalu hancur Raw hiks hiks,,,, orang tua ku masih sering kali berantem di depan ku Raw, banyak barang yang mereka hancurkan tiap kali mereka berantem Raw hiks hiks,,, Aku harus membersihkan nya Raw sebelum mereka pergi dan pulang bekerja Raw, kalau tak begitu mereka akan memukuli ku Raw hiks hiks,,,” Ucap nya terisak-isak. Tak di sadar, air mata Rawika sudah jatuh menetes mendengar cerita dari teman nya itu. Rawika sangat sedih membayangkan seberat apa Kirana menjalankan hidupnya setiap hari. Namun, meskipun begitu Rawika tetap menenangkan Kirana dan meyakinkan Kirana bahwa masih ada dia yang selalu di sampingnya. Bergantinya waktu setelah Kirana dan Rawika menghabiskan waktunya bersama di taman untuk mendengarkan cerita dari Kirana, akhirnya Kirana sampai di rumahnya. Rumah Kirana, sudah bukan lagi rumah orang tuanya. Kirana benar-benar memutuskan untuk tinggal sendiri dan membiarkan orangtuanya berpisah, Kirana sudah muak dengan semua ini, Kirana ingin mengakhirnya untuk memulai hidup Kirana yang baru menjadi lebih baik. Kirana tak menyesal telah memutuskan
keputusannya ini, Kirana pikir ia sudah tepat memilih keputusannya, toh selagi orang tuanya tetap menafkahinya Kirana tidak apa-apa, meskipun Kirana masih selalu menangisi keputusannya ini. Dengan keputusannya sekarang membuat Kirana berpikir untuk belajar lebih giat lagi dan rajin untuk masuk ke sekolah dengan tepat waktu dan mengurangi absen alfa di sekolah. Kirana lakukan itu semua demi membuktikan ke semua orang bahwa apa yang mereka bilang tidak sama sekali benar soal Kirana. Dan dengan berjalannya waktu Kirana sangat berusaha lebih keras untuk meningkatkan nilai nya di sekolah yang sampai akhirnya Kirana menempatkan ranking 1 di kelasnya. Kirana bangga dan sangat terharu, Kirana ingat bagaimana semua orang merendahkannya, bagaimana semua orang melihatnya bagiaikan sampah, namun kini Kirana menempatkan posisi yang tak semua orang bisa tempatkan. Dengan kabar yang sangat membahgiakan ini, Kirana tentu memberitahu kepda kedua orang tuanya, dan tidak ia sangka sangka ternyata orang tuanya sudah benar-benar berubah. Kirana sudah diterima kehadirannya oleh mereka, ya meskipun mereka sudah menjalani hidup nya masing-masing. “Mama bangga sama kamu Kirana, mama minta maaf ya atas segalanya yang sudah menghancurkan hidupmu Kirana” ucap seorang perempuan dengan rambut berwarna hitam Ia Kusuma Aditama, Ibu dari seorang Kirana Kamajaya.
Tak hanya dari Ibu nya saja, namun dari sang Ayah Kirana pun mengapresiasi atas apa yang Kirana capai selama ini. Suasana hangat, yang Kirana sudah rindukan sejak lama. Seperti ini, berkumpul lagi bersama di meja yang sama, Kirana sangat merindukannya. Namun, di kala keasyikan mereka mengobrol bersama bertukar ceirta, Ibu dan Ayah Kirana menanyakan suatu jawaban yang sama seperti saat itu yang mereka katakan setiap kali ingin berpisah. “Nak, Kirana mau tinggal bersama Mama atau Ayah? Kita tidak memaksamu untuk memilih saying yang kali ini, kita hanya ingin mendengar apa mau mu. Kita sudah sangat jahat menelantarkanmu hidup sendirian di umur segini, Nak maafkan kita ya nak” ucap nya dari seorang Ibu dari Kirana Mendengar itu membuat Kirana bingung dan tak tau untuk menjawabnya. Namun, Kirana sudah memikirkan ini sejak lama karna Kirana selalu berpikir bahwa Kirana tidak akan tinggal sendirian selama itu. Maka dari itu, Kirana memilih untuk tinggal bersama Ibu nya karena Ia paling dekat dengan Ibu nya, namun dengan begitu juga ia akan sering main ke rumah Ayah nya untuk bertemu. Akhir dari Cerita Kirana Nestapa, ia sudah menemukan titik terang dari segala perjalanan hidupnya yang penuh rintangan nya ini, Kirana sangat senang dengan akhir yang seperti ini. Dan kehidupan Kirana yang baru akan di mulai dari sekarang.
Sahabat yang Selalu Ada Sakramenta Murti Paramastuti ‘Matahari bersinar terang, seolah tersenyum senang. Walau panas, menyengat aku tetap gembira’ alunan lagu riang yang di nyanyikan oleh gadis kecil keluar dari televisi yang bertengger diruang tamu. Terlihat gadis remaja yang dengan senyum riangnya mengikuti alunan nada dari televisi sambil mengepel lantai, sesekali menari kecil dan berputar serta menggunakan tongkat pel di tangannya sebagai microphone seolah dirinya adalah diva terkenal. Hangat dan segarnya angin pagi yang berhembus dari jendela ruangan tersebut menyapa masuk mengibaskan rambut panjangnya. “Ririn, selesaikan dulu mengepel lantainya, setelah itu baru kau puas-puas bernyanyi” teriakan Ibu dari dapur cukup membuyarkan fantasinya. Bagaimana tidak, bekerja sambil ditemani oleh film musikal kesukaannya membuat pekerjaan yang berat terasa menyenangkan. Sifatnya yang sedikit membangkang membuatnya tak acuh akan omelan sang Ibunda. Nyanyian Ririn serta aktivitasnya terhenti seketika saat ia melihat bahwa rumah yang baru dijual beberapa bulan lalu di seberang kini tampak akan berpenghuni. Terdapat juga mobil SUV dengan beberapa mobil pengangkut barang mengekor dibelakang. Ririn mengamati orang-orang yang sibuk menurunkan perkakas dan kardus dari balik jendela. Jelas bahwa mereka adalah tetangga barunya, di tengah pengamatan jarakagak-jauhnya Ririn melihat seorang gadis sebaya dengannya keluar dari mobil. Gadis tersebut tampak dingin, dengan rambut dikepang dua dan kacamata yang bertengger di batang
hidungnya. Ia juga terlihat sedang membawa boneka penguin yang malang karena penampilannya agak lusuh. “Ibu pikir nyanyianmu berhenti karena pekerjaanmu sudah selesai, ternyata kau sedang bengong.” Ibu masuk dari dapur dengan membawa nampan berisi beberapa cangkir teh hangat dan kue serabi lalu meletakkannya di atas meja kecil di ruang tamu untuk dinikmati oleh para penghuni rumah. “Mana ada bengong Bu...., aku sedang mengamati rumah seberang, sepertinya sudah berpenghuni. Tadi aku juga lihat ada gadis yang sepertinya sebaya denganku. Apakah Ibu sudah mengetahui hal ini sebelumnya? Bahwa kita akan punya tetangga baru?” cerocos Ririn kepada Ibunya. Pertanyaannya hanya dibalas gelengan kepala dari Ibunya. Tampaknya Ibu juga penasaran karena kini mereka berdua berdiri di depan jendela mengamati aktivitas di luar. “Ibu juga tidak tahu bahwa akan ada penghuni baru di seberang. Kalau begitu segera selesaikan pekerjaanmu lalu kita tawarkan bantuan untuk mereka sembari berkenalan” karena Ririn sangat penasaran dengan tetangga barunya, ia segera fokus membereskan pekerjaannya tanpa bernyanyi-nyanyi lagi. Satu jam berlalu, kini Ririn berada di kamarnya sedang merias sedikit wajahnya dengan bedak dan menyisir rambut panjangnya. Ia memakai bandana sebagai pemanis, tak lupa menyemprotkan parfum ke badannya. Dengan langkah kaki yang semangat, Ririn segera keluar kamar menuju ke ruang tamu, mengambil beberapa kue serabi dan berteriak memanggil Ibunya.
“Bu, bergegaslah! Aku sudah siap” lalu menyeruput teh manis yang masih sedikit hangat. “Mau ke mana sih?” tanpa bersuara hanya dengan mimik bibir, Kale kakak laki-laki Ririn yang sedang menonton televisi bertanya kepada adiknya. “Ke rumah seberang, ada tetangga baru” jawab Ririn dengan mulutnya yang penuh dengan serabi. Tak lama, Ibu keluar dan mereka berdua segera pergi ke rumah seberang. Ibu mengetuk pintu, memberi salam dan disambut hangat oleh sang pemilik rumah. Ririn dan Ibunya pun dipersilahkan untuk masuk. Ternyata rumah mereka sudah cukup tertata karena mereka menyewa house designer, jadi mereka tidak perlu membantu dalam hal berberes. Mereka berbincang hangat untuk saling mengenal satu sama lain di ruang tamu. Ibu berbincang baik dengan Ibu Marni dan Pak Wisnu, sang pemilik rumah. Selagi para tetua bercengkerama, mata Ririn menelusuri setiap bagian rumah mencari gadis yang dilihatnya tadi. Hingga akhirnya ia mendengar ada suara senandung menyanyikan salah satu lagu dari penyanyi kesukaannya. ‘Malam demi malam, silih berganti. Namun bintang-bintang terus menemani’ seolah terjadi secara alamiah, kepalanya menengok ke kamar asal suara itu datang dan jarinya bergerak pelan sesuai dengan alunan senandung tersebut. Pak Wisnu yang menyadari hal itu bertanya “Kamu suka Sherina juga?” Ririn mengangguk antusias. “Anak saya juga suka, dia selalu menyanyikan lagu Sherina dimanapun dia bisa. Mau berkenalan?” Ririn berharap pertanyaan itu tidak pernah ada karena jawabannya pasti iya.
Pak Wisnu mengajak Ririn menghampiri kamar yang berjarak tak jauh dari ruang tamu. Setelah beberapa ketukan pintu, suara senandung itu terhenti. Pak Wisnu membuka pintu dan pemandangan yang Ririn lihat adalah kasur dengan seorang anak yang sedang membungkus dirinya di bawah selimut. “Keke... ini ada teman baru, Ririn namanya. Ia tinggal di rumah seberang, bertemanlah dengan baik” namun gadis yang berada di bawah selimut itu tidak berkutik, ya Ririn bisa menyimpulkan bahwa anak itu pemalu. Tak lama Pak Wisnu keluar dan menyisakan Ririn dengan gadis-di-bawah-selimut itu. Keke. “Aku mendengarmu bernyanyi tadi, suaramu merdu” Ririn membuka suara, mencoba mencairkan suasana. Nihil, tidak ada jawaban dari buntalan kain tersebut. “Oh ya, aku juga sangat suka Sherina. Semua lagunya sudah aku hafal, termasuk lagu yang kamu nyanyikan tadi” usaha Ririn kali ini tidak sia-sia. Perlahan gadis itu membuka diri dari selimut tebalnya. Tampak gadis berkepang dua dengan kacamata bulat dan boneka penguin lusuh di sampingnya. Ririn menyambut gadis itu dengan senyuman cerahnya dan menjulurkan tangannya untuk mengajak berkenalan. “Ririn” “Keke” keduanya berjabat tangan. Ririn melakukan berbagai cara untuk mencairkan suasana. Ternyata keduanya memiliki banyak selera yang sama, mulai dari menonton film musikal, membaca buku fantasi, bermain alat musik hingga menikmati musik orkestra. Bahkan mereka saling bertukar ilmu dan Keke juga memperdengarkan salah satu lagu ciptaannya, tentu saja Ririn memberikan reaksi yang puas
akan lagu tersebut. Rupanya Keke cukup menikmati pertemuan ini. Bahagia rasanya ia menemukan teman baru dengan hobi yang sama dengannya. Hari demi hari berlalu, mereka selalu bersekolah di sekolah yang sama. Mulai dari mereka di bangku SMP hingga mereka berada di bangku SMA. Kapan pun dan di mana pun ada Ririn, pasti ada Keke. Hubungan mereka berjalan dengan sangat baik. Perdebatan kecil tentu terjadi, tetapi persahabatan mereka semakin kuat karena perdebatan tersebut. Hingga detik-detik di mana keduanya berada di bangku kelas 12 dan bersiap untuk menuju jenjang perkuliahan pun tiba. Guru menanyakan setiap siswa dikelas tentang penjurusan yang akan dituju oleh masing-masing siswa. Ririn dengan percaya diri yang tinggi selalu menjawab bahwa ia ingin masuk ke jurusan arsitektur, namun tidak dengan Keke, kebimbangan selalu menghantuinya. Suatu malam keluarga Keke mengundang keluarga Ririn untuk makan malam bersama, merayakan hari pernikahan Ibu Marni dan Pak Wisnu. Mereka berbincang dengan riang dan hangat. Para Bapak-bapak terus melontarkan teka teki khas mereka hingga suasana ceria tercipta. “Ririn rencana mau kuliah apa? Dimana?” tanya Bu Marni. “Mau ke Arsitektur Bu, di Universitas Brawijaya.” Jawab Ririn dengan percaya diri. “Wah.... Universitas Brawijaya, jauh sekali di Malang.” Ujar Pak Wisnu dengan nada yang sedikit terkejut.
“Iya ini, Pak. Memang ingin jauh dari keluarga. Alibinya bosan hidup di Ibukota, padahal aslinya bosan ketemu saya.” Entah angin dari mana, Kak Kale menyahut dengan candaan sok asyik nya itu. “Kalau Keke, kamu mau ke mana?” sambungnya. Bukannya Keke yang menjawab, malah Bu Marni yang membalas “Duh, Anak ini masih susah Le... masih belu-” “Arsitektur Universitas Brawijaya juga, Kak Kale” Keke memotong pembicaraan ibunya. Semuanya mengangguk paham, namun tidak dengan Ririn. Ia mematung dan raut wajahnya seketika berubah. “Sejak kapan kamu minat ke arsitektur? Kampus yang sama denganku pula.” tanya Ririn dengan nada agak curiga. “Emm.... sejak aku lihat kamu.” jawab Keke dengan yakin. Ririn berdecak dan menanyakan hal yang membuat seisi ruangan terkaget “Kamu sampai kapan mau ikuti aku terus, Ke?” Pertanyaan yang tidak pernah Keke pikirkan akan keluar dari mulut Ririn, sahabatnya satu satunya. Sahabatnya yang selalu ada di dekatnya. Oh tidak! sepertinya Ia menyadari sesuatu, bahwa selama ini bukan Ririn yang berada di dekatnya, tetapi ialah yang selalu mengikuti tetangganya itu. Ia yang selalu memilih apa yang Ririn pilih, layaknya tidak punya pendirian. Keke beranjak dari kursinya dan berlari menuju kamarnya. Pintu dibantingnya dengan keras sebagai ‘sinyal’ bahwa ia tidak baikbaik saja. Bahkan dirinya sendiri tidak tahu perasaan apa ini. Marah? Keke tahu bahwa dirinya salah, memang sudah sepantasnya Ririn yang marah. Sedih? Kecewa? Seharusnya