pasukan CP0 ingkar janji terhadap kesepakatan yang di buat oleh Ajax dan CP0. Sebelum para pasukan CP0 pergi ketua dari pasukan tersebut menumbak kepala Sophie hingga tak bernyawa. Ben melihat dengan mata kepala nya sendiri atas kematian ibu nya. Ben, Dexter, dan Ajax berteriak sekuat tenaga atas kematian sosok ibu dalam keluarga tersebut. “Apa yang kau lakuan dasar penjahat? Kau telah ingkar janji pada ku.” Ujar Ajax dengan lantang dan berteriak kencang. “Apa Aku harus menepati janji pada kaum rendahan seperti kalian?” Ujar pemimpin pasukan CP0 dengan lantang dan tertawa. “Kalian semua, aku akan balaskan dendam Ibuku kepada pemerintahan dunia. 5 tahun yang akan datang, tunggulah pembalasan ku untuk menghancurkan tataan pemerintah dunia dan aku akan mengungkapkan seberapa kotor nya pemerintah dunia. Ingat, 5 tahun yang akan datang. Ingat lah wajah ku sialan, aku lah orang pertama yang akan membunuhmu.” Ujar Ben menatap pemimpin CP0 dengan tajam dan suara teriakan yang keras.” Setelah insiden penyergapan yang terjadi di Pasar Gengki oleh para pasukan CP0, orang orang sekitar mulai membereskan kekacauan yang terjadi di pasar tersebut. Ben dan Dexter menguburkan ibu nya yang telah mati atas penembakan yang terjadi di malam hari. Satu tahun kemudian Ben dan Dexter meninggalkan desa nya dan berlayar ke pulau lain untuk mencari tau kejahatan yang telah di lakukan oleh pemerintah dunia terhadap dunia. Ben membuat organisasi pemberontakan
terhadap pemerintah dunia yang bernama Sophie. Nama ini di ambil dengan alasan balas dendam atas kematian ibunya. Tahun demi tahun telah berlalu, Ben dan Dexter telah mengumpulkan banyak data dan fakta tentang kejahatan yang telah di lakukan oleh pemerintah dunia pada saat masa kejayaan Sai. Ben dan Dexter mengungkapkan kejahatan tersebut melalui koran dan poster-poster ke seluruh penjuru dunia, tidak sampai di situ Ben dan Dexter juga banyak mengajak orang-orang yang telah di tindas oleh pemerintah dunia dan mengajak mereka bergabung ke organisasi nya untuk menjadi pemberontak atas parintah dari pemerintah dunia. Banyak orang yang tertarik dengan ajakan nya setelah membaca koran dan poster yang telah di sebar, banyak fakta kejahatan yang di lakukan oleh pemerintah dunia pada masa kejayaan Sai sang naga langit. Ben menjadi pemimpin dari pasukan tersebut dan memiliki tangan kanannya yaitu Dexter saudaranya sendiri. Setelah insiden penembakan ibunya Dexter berubah dan tidak lagi menjadi orang yang pendiam, melainkan berubah menjadi orang yang pendendam. Ben dan Dexter mulai membuat rencana agar bisa masuk dan menghancurkan tempat kediaman Sai sang naga langit. Orang-orang yang ada di dalam organisasi tersebut juga membantu rencana Ben dan Dexter, mereka juga menyiapkan apa saja yang di butuhkan untuk masuk kedalam kediaman sang naga langit dan menjatuhkan Sai sang naga langit. Setelah semua di rasa sudah cukup, Ben akan membuat beberapa tim untuk di tugaskan di titik yang berbeda. Dalam peta Ben menunjukan bahwa ada 5 titik yang akan di hancurkan untuk memulai penyergapan, sudah pasti pembalasan ini akan di bagi menjadi 5 kelompok dengan jumlah yang sama.
Pemberontakan ini akan di laksanakan tepat 5 tahun ibu nya meninggal dan di lakukan di malam hari. Pemberontakan ini di lakukan sama persis apa yang pasukan CP0 lakukan di Pasar Gengki pada malam hari, Ben berharap pemimpin pasukan CP0 mengingat apa yang telah dia lakukan kepada keluarga Ben di Pasar Gengki pada malam hari. “Malam ini akan di lakukan pemberontakan kepada naga langit, dan kita akan membalaskan semua dendam kita apa yang sudah di lakukan oleh pemerintah dunia terhadap kita.” Ujar Ben dengan penuh amarah dan dendam. “Dexter dengar kan aku, ini adalah waktunya untuk membalaskan dendan ibu kepada pemerintah dunia.” “Kita akan menumpas mereka semua Ben.” Ujar Dexter dengan penuh semangat. Mereka telah meletakkan peledak pada titik yang telah di tentukan oleh Ben dan Dexter, Setelah meletakkan peledak para pasukan pemberontak menunggu aba-aba dari Ben dan Dexter untuk mulai meledakannya. “Apa kalian siap?” Ujar Ben dengan semangat. “Siap Ben.” Ujar seluruh pasukan pemberontak. “Satu…, dua…, tiga…, ledakan.” Ujar Ben dengan berteriak. Setelah bom di ledakkan Ben dan para pasukannnya memasuki area kediaman sang naga langit. Mereka semua dengan penuh amarah ingin membalaskan dendam mereka.
“Selamat bersenang-senang sayang.” Ujar Ben dengan penuh semangat. Penyerangan pun di mulai, para pasukan pemberontak mulai memasuki bangunan tempat kediaman para pemerintah dunia. Ben dan Dexter dengan penuh semangat memberikan serangan balik terhadap mereka yang berkuasa dengan cara yang kotor. Yang akan Ben lakukan untuk pertama kali dalam melaksanakan penyerangan ini adalah mencari pemimpin dari pasukan CP0, karena Ben telah berjanji akan membalaskan dendam ibunya nya atas kematian nya. Ben memimpin perang di situasi ini dan di dampingi oleh saudara nya Dexter. Saat peperangan berlangsung tanpa sengaja Ben melihat pemimpin dari pasukan CP0, Ben pun mengejarnya dengan memiliki niat untuk membunuhnya dengan cara menembak kepala nya. Ben menghampiri nya dan memukul Kembali hingga terjatuh. “Apakah kau mengingat wajah ku penjahat?” Ujar Ben dengan penuh amarah. “Kau…, seharusnya aku membunuhmu di Pasar Gengki pada insiden 5 tahun yang lalu.” Ujar pemimpin CP0 dengan amarah dan penyesalan. “Bukankah aku telah berjanji akan membalaskan dendam ibuku pada 5 tahun yang lalu?” “Aku akan memberikan tawaran yang menarik kepada dirimu.” “Apa yang ingin kau tawarkan?”
“Katakan dimana ayahku di tahan dan berikan kunci nya, maka kau akan ku lepaskan hidup-hidup. Atau tidak memberikan informasi apapun tetapi aku akan meledakkan kepalamu seperti kau membunuh ibuku.” “Baiklah aku akan memberikan kunci nya dan kau telah berjanji akan melepaskan aku hidup-hidup.” Pemimpin CP0 memberikan kunci nya kepada Ben sesuai apa yang sudah di janjikan. Setelah melakukan negosiasi terhadap pemimpin pasukan CP0, Ben mengingkari janji nya terhadap pemimpin tersebut dengan menodongkan senjata api nya ke arah kepala pemimpin pasukan. “Hey, apa yang kau lakukan? Bukankah kau telah berjanji akan membebaskan aku?” Ujar pemimpin pasukan CP0 dengan rasa panik. “Awalnya aku memang ingin membebaskanmu tetapi roh ibuku mengatakan untuk tidak membebaskan dirimu” Ujar Ben dengan tersenyum. “Selamat tinggal pemimpin, bersenang-senanglah di neraka.” Tanpa rasa ragu Ben menembakkan senjata api mengarah ke kepala pemimpin pasukan CP0. Tidak sampai di situ Ben juga memenggal kepalanya dan di bawa sebagai bukti bahwa pasukan pemberontak telah menang. Para pasukan CP0 pun melihat kepala pemimpinnya yang telah terpisah dari badan nya, para pasukan CP0 pun semakin marah melihat kejadian itu. Peperangan pun terus terjadi selama ber jam-jam.
Sedangkan Ben dan Dexter mencari ayahnya yang sedang di jadikan budak dan mencari dimana sang naga langit bersembunyi. Tidak lama kemudian Ben dan Dexter melihat siluet hitam besar dari arah altar dan mendengar suara dari siluet tersebut untuk memohon ampun serta mengangkat bendera putih yang berarti tanda bahwa musuh sudah menyerah. Lantas mereka merasa kebingungan, mengapa ada seseorang yang sangat kuat dan dapat menguasai dunia tetapi menyerah di hadapan mereka. Yang membuat mereka kaget ternyata sosok sang naga langit berbanding terbalik apa yang mereka pikirkan. Mereka berfikir bahwa sang naga langit sangat kuat, berbadan besar, dan memiliki kecerdasan yang hebat. Ternyata yang mereka lihat adalah sosok pria gendut dengan tubuh kecil, berwajah buruk rupa, dan seorang yang penakut. “Aku menyerah Ben, aku telah mengetahui tentang kalian dari Kota Fushi.” Ujar sang naga langit dengan ketakukan.” “Eh…, ternyata naga langit tidak semenakutkan yang aku kira.” Ujar Ben berbisik kepada Dexter. “Katakan dimana ayahku?” “Ayahmu berada di dalam kurungan bawah tanah.” “Cepatlah berbalik badan dan antar kami kesana.” Ketika Sai berbalik badan, Sai mengeluarkan senjata api dan menembakkan ke arah Dexter. Dexter pun terkena tembakan Sai mengenai dada nya. Ben pun berlari ke arah Sai dan memukuli nya hingga tak sadarkan diri. Dexter masih bisa berjalan walaupun harus di bantu oleh Ben. Ternyata tembakan yang di hasilkan oleh Sai tidak memiliki kerusakan yang besar, sehingga
peluru yang masuk ke dalam tubuh Dexter tidak mengenai organ tubuh. Ben membawa Sai yang sedang tidak sadarkan diri. Peperangan pun masih terus berlanjut, mereka berhenti ketika Ben menunjukan Sai yang sedang tak sadarkan diri kepada pasukan CP0. Seluruh pasukan CP0 berhenti melawan dan meletakkan senjatanya ke tanah dan mereka semua menyerah. Pada akhirnya kemenangan jatuh di tangan para pemberontak. Setelah peperangan berakhir Ben membawa Dexter keluar dari medan pertempuran, Ben pun membawa Dexter ke pos medis untuk mengekuarkan peluru di dalam dada nya dan membiarkan Dexter beristirahat. Setelah itu Ben menuju ke ruangan bawah tanah untuk membebaskan ayahnya dan tahanan lainnya yang di jadikan budak oleh Sai. “Ayah, ayah dimana? Apakah ayah berada di dalam sini?” Ujar Ben dengan berteriak “Ben apakah itu kamu? Ayah di sini nak, keluarkan ayah dari penjara ini.” Ujar ayah sambil menangis. “Baiklah ayah, aku akan menemui ayah.” Setelah membebaskan ayah nya Sai pun di tangkap oleh pihak militer yang pernah menolak uang suapan dari Sai. Banyak berita yang beredar ke kota-kota tentang kejahatan pemerintah dunia atau biasa di sebut sebagai naga langit pada masa kejayaan Sai melalui koran-koran. Peperangan telah berakhir, Ben dan keluarganya pulang ke kota asalnya yaitu Kota Fushi, mereka sangat bersyukur dapat Kembali pulang tanpa ada yang gugur. Ben juga sangat puas karena sudah membalaskan dendam nya kepada pemerintah dunia. Satu tahun setelah insiden tersebut
Ajax mulai Kembali bekerja sebagai nelayan bersama Ben, sedangkan Dexter menjadi seorang petani untuk menggantikan sang ibu.
Masa Laluku Farrel Syahputra Hendris Ada seorang remaja yang sedang duduk di ruang tamu,dia sedang melamun memikirkan masa lalu,Remaja tersebut bernama Arya,Saat Arya sedang melamun dia tiba tiba tertawa karena dia teringat masa lalunya bersama teman temannya lalu dia menutup matanya dan mengingat saat dia kecil dia sering sekali bermain warnet,Arya yang saat itu berumur kurang dari 10 tahun bersama teman bermain game yaitu PB,Pada saat itu PB adalah salah satu game yang sangat populer dan sangat banyak peminatnya. Arya dan teman bermain pergi ke warnet untuk bermain game bersama pada saat sedang bermain di sebelah Arya datang seorang gadis yang cantik Arya memandangi gadis tersebut karena terpukau dengan ke cantiknya.Teman teman yang melihat itu cemburu dan merasa Arya beruntung lalu Arya berkenalan dengan gadis tersebut, gadis tersebut bernama Menta. Setelah berkenalan Menta dan Arya akrab seiring berjalanya waktu hari demi hari Menta dan Arya menjadi semakin dekat bahkan mereka berdua sudah berpacaran, Dan setelah pacaran Arya seiring mengunjungi rumah Menta bahkan orang tua Arya dan Menta sudah berkenalan layaknya seperti calon besan,Teman teman Arya tidak suka Arya dekat dengan Menta jadi mereka merencanakan sebuah rencana untuk memecah belah Menta dan Arya. Lalu mereka mulai rencana mereka,Mereka mengajak Arya untuk bermain warnet bersama dengan mereka saat Arya sedang bermain ada seorang wanita yang datang untuk merayu Arya,
wanita tersebut di sewa oleh teman teman Arya untuk melancarkan rencana mereka saat Arya sedang di goda oleh wanita tersebut salah satu teman Arya memfoto dan mengirim foto tersebut ke Menta pada saat itu Menta yang merupakan pacar dari Arya sangat marah dan kecewa karena Arya selingkuh dengan wanita lain, Arya yang sedang bermain warnet itu risih dengan adanya wanita yang terus menggodanya setelah cukup lama Arya pergi dari wanita tersebut dan menghampiri teman temanya “Guys tadi gw si godain cewe gw risih banget cabut yuk kita maen yang lain jangan maen warnet lagi ! “ ucap Arya. Setelah Arya bilang begitu teman temannya mengganguk untuk mengikuti Arya pergi dari warnet tersebut setelah pergi satu orang teman Arya menyampiri wanita tersebut, “Kerja bagus ini bayaran kamu karena sudah berkerja dengan baik.” ucap teman Arya wanita tersebut senang karena sudah bersih memuaskan pelanggan. “Terima kasih.’’ ucap wanita tersebut dan pergi dari warnet. Setelah pergi dari warnet Arya dan teman temanya pergi ke cafe untuk makan siang sekalian nongkrong, pada saat nongkrong Menta datang dan melabrak Arya dan mencaci maki Arya di cafe tersebut Arya yang kebingungan mencoba menenangkan Menta, Menta yang saat itu baru sadar dia memarahi Arya di area umum lalu menta menarik tangan Arya dan pergi dari cafe tersebut,teman teman Arya pada saat itu sangat senang karena rencana mereka hampir berhasil, setelah pergi dari cafe menta pergi ke tempat yang cukup sepi orang dan menunjukan foto
Arya yang sedang berduaan di warnet dengan seorang wanita, Arya yang kaget pada saat itu ingin menjelaskan apa yang terjadi Menta membantah ucapan Arya dan mengatakan ”Tidak usah banyak alasan kamu udah selingkuh dan masih banyak alesan aku kecewe Arya, hari ini kita putus.“ ucap Menta dan pergi menjauhi Arya. Arya yang diam seribu bahasa tidak bisa berkata kata dan sedih karena menta memutuskan dia dan tanpa mendengarkan apa yang sebenarnya terjadi di warnet. Arya yang kembali ke kafe dengan muka sedih dan menceritakan apa yang dialami Arya kepada teman temanya “Udah gapapa biarin aja namanya juga salah paham nanti juga baikan!”, ucap salah satu teman arya. “Bukan masalah baikan tapi gw diputusin ama Menta!”, ucap Arya teman teman. Arya pada saat itu diam “Udahlah gw mau balik dlu bete gw! “ ucap Arya. Setelah Arya pergi teman teman Arya tertawa terbahak bahak karena rencana mereka berhasil “Ha...Ha...Ha...Hah !!! Sukurin tuh orang siapa suruh ninggalin kita demi seorang perempuan!!” ucap salah satu teman Arya. Setelah sampai rumah Menta menceritakan apa yang terjadi kepada orang tuanya “Mah pah aku mau nangis tau aku sebel banget sama Arya masa dia selingkuhin aku,” ucap Menta
“Gausah nangis Men itu juga belum tentu salah Arya.” ucap orang tua Menta “Belum tentu gimana orang jelas jelas dia selingkuh kok mamah sama papah belain Arya sih ga belain Menta, “ ucap Menta. “Bukan belain tapi kami memberi tahu kamu emangnya kamu udah denger penjelasan Arya sampai kamu bisa menyimpulkan dia selingkuh,” ucap orang tua Menta. “Belum ngapain juga aku dengerin,” ucap Menta. Pada saat itu telepon rumah menta berdering “Kuru... Kuru... Kuru... Kuru..” lalu Menta mengangkat telepon tersebut. “Halo Men, ini Arya.” ucap pada saat Menta ingin mematikan telepon tersebut Arya menjelaskan apa yang terjadi di warnet tersebut setelah Menta mendengarkan dia menangis karena sudah menuduh Arya selingkuh, “Kamu ga usah nangis ini salah aku kok yaudah besok kalo begitu aku kerumah ya buat jelasin yang lebih rinci!! “ ucap Arya. Keesokan hari Arya sampai di rumah Menta dan si sambut oleh orang tua Menta, lalu setelah menjelaskan yang lebih rinci Menta dan orang tuanya mengerti apa yang terjadi “Jadi siapa yang tega yang mau membuat kalian berdua putus!!” ucap orang tua Menta. Lalu Arya teringat saat di warnet tersebut ada teman temannya, pada saat itu Arya menghampiri teman temanya dan meminta penjelasan apa yang terjadi pada awalnya mereka tidak mau
menjelaskan apa yang terjadi lama kelamaan akhirnya mereka mau menjelaskan apa yang terjadi “Kita cemburu Arya lo dekat ama Menta dan kurang dekat dengan kita padahal kita teman dari kecil dan lo memilih dekat dengan Menta dibandingkan dengan kita!!!” ucap teman teman Arya. Setelah itu Arya memahami apa yang mereka lakukan adalah untuk pertemanan ini “Dan kita minta maaf kepada elo karena sudah membuat hubungan kalian jadi begitu“ ucap teman Arya “Gue emang sudah memaafkan kalian tapi Menta dan juga orang tuanya belum tentu memaafkan apa yang kalian lakukan terhadap kita berdua ! ! ucap Arya. Setelah Arya bilang begitu teman teman Arya pergi kerumah Menta untuk meminta maaf terhadap dia. Sesampainya di rumah Menta mereka sudah di tunggu oleh menta dan juga orang tuanya, dan mereka di persilahkan untuk masuk kerumah Menta setelah masuk mereka menjelaskan apa yang terjadi pada Arya pada saat di warnet dan menjelaskan kenapa mereka melakukan hal tersebut setelah menceritakan hal tersebut “Kami meminta maaf terhadap Menta dan Arya yang telah dirugikan atas kejadian tersebut dan kami meminta maaf terhadap orang tua menta karena sudah di repotkan karena ulah kami, kami meminta maaf sebesar besarnya !!” ucap teman teman Arya.
setelah meminta maaf Menta memaafkan mereka karena wajar mereka cemburu dengan Menta dan Arya. Beberapa tahun kemudian Arya dan Menta menikah dan hidup bahagia bersama sama, setelah mengingat ngingat masa lalu tersebut Arya senang karena memiliki kisah cinta yang berlika liku tapi lancar sampai menikah dan juga memiliki teman yang sangat peduli terhadap dirinya, sambil duduk memandangi awan Arya masih senang mengingat kisah tersebut.
Tentang Aku Firyal Adawiiyah Bakhita Kring…. Kring… suara bel berbunyi. Aku merapihkan barang - barang yang berserakan diatas mejaku dan kangsung bergeggas untuk Kembali kerumah dengan kondisi badanku yang sudah terlihat sangat lelah. Sesampainya dirumah aku pun merapihkan tas dan buku-buku yang ada, setelah selesai membereskan barang-barang itu aku langsung bergegas menuju ruang makan untuk mengambil makanan yang telah disediakan ibuku diatas meja. Aku merasa senang, karena ibuku menyediakan makanan kesukaanku yaitu scothel macaroni. Ketika aku ingin mengambil scothel macaroni yang tersisa hanya untuk satu porsi, tiba – tiba adikku datang mendahulukanku untuk mengambil makanan kesukaanku. Aku pun sangat kesal dengan tingkah adikku yang tidak tahu malu itu padahal dia sudah mendapatkan jatah makanannya sendiri dan akhirnya aku memarahinya. Ibu pun menghampiri kita yang sedang bertengkar, seketika ibu langsung melerai pertikaian kita berdua, dan menasehatiku yang merupakan anak pertama. “Udah kak, kamu makan yang lain aja. Kan masih banyak lauk yang lain” ucap ibu yang menasehatiku. “Apa sih bu, itukan jatah makanku. Dia juga udah makan kenapa aku harus makan makanan yang lain?” ucapku yang masih sangat kesal kepada adikku. “Iya ibu tau tapi kamu harus ngalah sama adik mu itu” ucap ibu ku dengan sangat lembut seraya membujukku. Karena aku suka
kesal dan akhirnya aku memutuskan untuk tidak makan dan pergi meninggalkan dapur dan langsung masuk kekamarku. Namaku Shira, aku tinggal di rumah sederhana tingkat dua dengan cat bewarna biru langit yang sudah mulai memudar. Rumahku berada di pinggiran kota yang jaraknya sangat dekat jika kita ingin ke kota untuk jarak setiap rumah di perkampunganku sangatlah dekat, namun tidak berdempetan. Ibuku merupakan seorang WiraSwasta yang bekerja di sebuah pabrik tekstil. Dia mencari nafkah untuk membantu menambahkan pemasukan ekonomi keluargaku. Ayahku sendiri seorang pedagang di sebuah toko yang berukuran sangatlah kecil dan sempit. Itu tidak menjadi penghalang ayahku untuk mencari nafkah untuk memenuhi sebuah kebutuhan keluarganya. Aku merupakan anak pertama dari tiga bersaudara, aku memiliki seorang adik kembar laki laki dan Perempuan. Adikku yang Perempuan bernama Dirgantari yang biasanya dipanggil tari, sedangkan adikku yang laki laki bernama Dirgantara mereka berdua merupakan seorang murid di sekolah menengah atas di suatu sekolah ternama di kampungku. Aku merasa bingung dengan apa saja yang aku lakukan dengan adikku yang laki laki hingga menimbulkan keributan hingga aku selalu disalahkan oleh ibuku. Padahal itu semua dia yang memulai mencari perkara denganku dan aku hanya membela diri tapi malah aku yang kena marah dengan ibuku. Apakah di dunia ini hanya anak pertama yang harus selalu disalahkan dan adiklah yang patut dibela tanpa melihat siapa yang benar dan salah. Aku Mulai memikirkan apa yang sebenarnya yang erjadi, apakah aku yang salah dalam menanggapinya. Aku terus memikirkan akan
hal itu sampai akhirnya aku tertidur pulas di Kasur yang sangat empuk yang kumiliki di kamar. Tet….. tet….. tet…… tet….. bunyi alarm yang sudah menunjukan pukul lima pagi, tak terasa aku begitu pulas tertidur hingga aku terbangun di pagi yang sangat cerah ini. Aku pun merapikan buku dan juga Bersiap pergi berangkat ke kampus, ketika aku ingin mengambil tugasku yang sudah kukerjakan dari dua hari sebelumnya kutaruh di meja pun tidak ada. Aku pun panik dan bergegas menghampiri ibuku yang sedang menjemur pakaian dan langsung menanyakan kepada ibu. “Bu lihat tugasku yang ada di atas meja belajarku tidak?” tanyaku kepada ibu dengan wajahku yang panik. “Tuhkan, kamu kebiasaan. Ibu dari kemarin tidak merapikan kamarmu kak” jawab ibu yang sedang sibuk menjemur pakaian. “Terus gimana bu tugasku itu? aku sudah mengerjakannya dari dua hari lalu dan akan dikumpulkan hari ini..” Jawabku dengan wajah yang masih panik. “Mungkin ada di tempat lain, coba kamu cari di tempat lain” ujar ibu sambil menenangkanku. Aku sudah mencari tugasku itu tetapi tidak menemukannya dimana – mana. Dengan wajah lesu akupun jalan menuju kamarku, tetapi aku tidak sengaja melihat ada kertas tugasku yang tergeletak di meja belajar adikku. Seketika aku bergegas berlari kearah meja belajar adikku dan ternyata sudah ada Banyak coretan yang dibuat olehnya. Emosiku sudah memuncak dan ingin rasanya aku memarahi adikku. Aku berfikir bahwa
Tindakan ku itu akan menjadi sia sia, nanti juga adikkulah yang akan dibela oleh ibuku. Aku memutuskan untuk langsung berangkat ke kampusku tanpa sarapan terlebih dahulu. Kring…. kring…. kring… suara bel masuk tanda belajar akan segera dimulai. Ak masih cemas akan tugasku itu yang telah dicoret coret olah adikku, apakah aku akan dimarahi oleh dosenku itu terlebih lagi dosenku itu terkenal akan kegalakannya itu. Dosen ku pun mulai memasuki kelas ku dan memberitahukan bahwa tugas yang aku pikir dikumpulkan hari ini ternyata diundur untuk dua hari kedepan, akupun merasa lega. Meskipun aku masih emosi teringat dengan kejadian tadi pagi dan pikiranku yang tidak stabil tentang hal yang aku alami. Aku dikejutkan oleh sahabatku (Dela) yang tiba–tiba datang entah darimana sudah duduk disebelahku, aku tidak menyadari kedatangannya yang bagaikan jelangkung. Ia heran karena melihat wajahku yang berbeda dari biasanya. Ia menanyakan apa yang sebenarnya terjadi padauk, tetapi aku hanya menatapnya dan diam. “Dela kenapa ya ketika kita ada perselisihan antar adik dan kakak pasti kakak yang salah walaupun adik kita sekalipun yang melakukan kesalahan, pasti kakaknya yang disalahkan” tanyaku spontan pada Dela. “Aku juga dulu seperti itu dengan adikku, sampai aku merasa sangat marah sekali karena malah aku yang disalahkan dan habis dimarahi oleh orangtuaku” jawab Dela kepadaku “Lalu bagaimana denhan sekarang?” tanyaku dengan sangat penasaran.
“Aku baru menyadari bahwa ketika aku melawan atau tidak mengalah merupakan suatu sikap yang dapat membuat itu semua menjadi buruk, melainkan diperlukan sikap kedewasaan atau kesabaran yang harus kita miliki apalagi kita merupakan kakak dan telah beranjak dewasa” jawab Dela dengan menenangiku Aku baru menyadari bahwa selama ini sikapkulah yang membuat semua ini terjadi. Pada waktu dulu pun kakakku juga seperti itu tetapi dia lebih bersabar dalam menghadapiku hingga saat ini aku merasa dekat dengan kakakku. Mungkin aku harus merubah sikapku ini jauh lebih dewasa dari sebelumnya. Aku juga harus selalu bersabar dalam menghadapi sikap adikku ini. Dengan merubah sikapku ini aku dapat menciptakan keluarga yang damai tidak ada perselisihan dan lebih dekat dengan menciptakan keluarga yang damai tidak ada perselisihan dan lebih dekat dengan adikku seperti kakakku yang dekat denganku dan keluargaku. Aku sudah menyadari mengapa orang tuaku memarahiku dan itu semua akan kuterima demi kebaikanku.
My Wonderful Time Grace Dwi Christy Purba Ding dong Ding dong... Seketika aku menyunggingkan senyum kala lonceng itu berbunyi. Natal telah tiba. Ingatanku melayang pada natal 9 tahun yang lalu. Saat itu... “Ayah, lihat pohon natal itu! Cantik sekali bukan?” ujarku bahagia seraya menunjuk sebuah pohon pinus muda yang tengah dihias oleh para tetangga seberang rumahku. Ayahku menoleh mengikuti arah jari telunjukku. Jemari tanganku dipegang erat olehnya, menyalurkan kehangatan pada tanganku yang dilapisi sarung tangan. “Ya, itu cantik. Nanti akan ayah buatkan di rumah.” Ayah berkata sembari tersenyum sabar, kemudian mengelus kepalaku. Ia menundukkan tubuhnya, mungkin berusaha menyamakan tinggi kami. “Hei! Apakah kamu tetangga baru itu? Oh- selamat sore, Om!” Seorang anak lelaki bersyal merah tiba-tiba muncul menyapa kami dari balik truk barang, disusul oleh anak lain di belakangnya. Benar, kami baru saja pindah hari ini. Dan sepertinya mereka berdua adalah penghuni lama di daerah ini. “Haha.. selamat sore juga, Nak. Betul, kami adalah tetangga barumu. Selama kami tinggal di sini, mohon bantuannya, ya.”
Ayahku benar-benar lembut ketika berbicara pada si ‘tetangga’ tersebut. Tangannya pun terangkat menepuk halus bahu kedua orang yang berada tepat di depan kami itu. “Siap, Om!” ujar yang lebih tinggi dengan posisi tubuh yang sontak tegap berdiri sempurna dan jemari yang ditempatkan di samping pelipis mata kanan, diikuti oleh anak lelaki di sampingnya. Ayah terkekeh sesaat dan aku tersenyum padanya. Ia berbisik agar aku memperkenalkan diriku pada mereka. Aku hanya menjawab dengan senyuman seolah memberitahu ‘nanti saja’ pada Ayah. Untungnya Ayahku paham. “Kalau begitu, apakah saya boleh mengajaknya bermain, Om?” kata yang lebih pendek dengan mata melirik ke arahku sebentar, lalu kembali menatap ayahku. Ayahku kembali terkekeh. Kali ini suaranya terdengar lebih jelas dan tegas. Ayahku melihat tepat pada mataku seakan memberi kode tanya. Aku menoleh pada si ‘tetangga’ itu dan menjawabnya dengan anggukan berkali-kali. Ayahku terkekeh lagi. Sepertinya sudah tak terhitung berapa kali Ayah terkekeh pagi ini. “Tapi sebelum kalian bermain dengan anak saya, boleh saya tahu nama kalian dan tinggal di rumah nomor berapa?” ujar Ayahku. “Nama saya Akeno Fujinada, Om. Panggil aja Keno,” kata yang lebih tinggi itu. “Kalau saya Yoshiro, Om. Kami berdua tinggal di panti asuhan Dorongan Kasih yang ada di ujung jalan sana.”
Waktu itu, ia memperkenalkan dirinya dengan lugas, tangannya pun menunjuk ke arah pandangku saat ini, jangan lupakan senyum menawan yang terulas di bibirnya. Seingatku, itu menjadi pembuka dari semua memori tentang kami dan ternyata hal itu pula bisa membuat jantungku berdebar bahagia hanya karena teringat akan suasana kala itu. Sejak saat itu, setiap pukul 16.00, kami bertiga akan berkumpul bermain bersama. Terkadang jika aku tidak datang, mereka akan mengunjungiku ke rumah. Seiring berjalannya waktu, kami semakin jarang bermain di luar. Oleh karena itu, keadaan memintaku berkunjung ke panti asuhan tempat mereka tinggal atau mereka datang ke rumahku. Entah dimulai sejak kapan, bagai bunga yang terus bermekaran, aku jatuh pada pesona dari salah satu ‘teman’ itu. Seperti di salah satu sore yang tidak begitu indah waktu itu. “Argh!” teriakku. Aku menjambak rambutku sendiri. Hari ini aku tetap menunggu si pukul empat datang. Tugasku yang begitu banyak dan beranak cukup membuat anak sekolah menengah pertama sepertiku frustasi. Kak Keno menjitak dahiku, “Astaga, bodohnya. Aku sudah mengajarimu tiga kali, sampai tiga kali, lho! Dan sekarang kamu masih tidak mengerti juga, Ren?!” “Ngajarin? Huft,” ujarku sembari menghela napas berusaha berpikir jernih.
“Kamu ngajarin apa, Kak?! Kamu daritadi hanya berbicara tanpa bertanya apakah aku mengerti atau tidak dengan yang kamu ajari itu! Bahkan kamu tidak mau meng-“ BRAK Ucapanku langsung terhenti kala suara keras itu menyapa runguku. Kami berdua yang terlonjak lantas menoleh ke arah pintu. Pukul empat yang kunanti rupanya datang terlambat. Terlihat ia sedang meminum susu kotak berwarna kuning, susu pisang. “Nah!” katanya diiringi lemparan sebuah kantong plastik dingin. “Siapa tahu bisa membantu kalian menjernihkan pikiran,” lanjutnya. Empat buah es krim berhasil membuat cerah senyumku kembali. Aku ambil satu es krim stik rasa vanila dari dalamnya, kemudian kantong plastik itu direbut pria menyebalkan yang sayangnya sangat pintar itu. “Terimakasih, kak Iyosh!” ujarku semangat “Kak Iyosh? Apaan sih?! Sok imut!” Suara menyebalkan itu lagi-lagi hadir. Es krim sudah ada di tanganku, tak akan kubiarkan perkataannya menghancurkan mood-ku yang telah kuusahakan naik.
“Biarin aja, sih, Ken. Kasihan dia, dari sekolah tugasnya banyak. Sampai di rumah diomelin. Break dulu 15 menit, habiskan itu es krimnya. Aku ke warnet dulu ya, bye! Selamat belajar!” ujarnya berartikulasi amat jelas bersamaan pergerakan tungkai tak terlalu panjang itu. Tatapanku benar-benar terkunci padanya, memerhatikan betapa menawannya dia di masa pra-remajanya. Masing kuingat bagaimana gerak bibirnya dengan senyum seperti yang biasa dia lakukan. Tapi itu bukanlah akhir. Aku mendapatkan satu kenangan yang benar-benar tak bisa kulupakan sama sekali. Itu terjadi tiga tahun lalu. Bus sekolah yang masih belum datang membuatku cukup ingin mengeluarkan isi perutku karena menunggu begitu lama. Dengan berat hati, aku menurunkan volume lagu yang kuputar di ponselku. Gerakan impulsif yang timbul akibat waspada akan kemungkinan aku benar-benar mengeluarkan seluruh isi perutku. Aku memejamkan mataku berharap bisa membunuh waktu yang begitu memuakkan ini. Lagu yang tersalur sopan di telingaku sedikit menenangkan. Namun, sepertinya langit lagi-lagi tak ingin membiarkanku tenang. “Astaga, siapa, sih?!” responku begitu malas karena hari ini aku benar-benar lelah.
“Loyo banget jawabnya. Kenapa? Tugas lagi? Atau busnya lama lagi?” kata orang yang merecokiku itu tepat di sebelah telingaku. Suara itu. Kuangkat arloji yang melingkar di pergelangan tanganku, lalu dengan jantung berdebar aku tatap orang di sampingku. Mungkin jika ini adalah komik, maka akan ada pergerakan patah-patah dan tanda seru imajiner mengelilingi wajahku. “Ha-lo, kak.” Kupikir jantungku tengah loncat-loncat saat ini, sebentar lagi seperti akan meledak karena begitu terkejut. Wajah kami hanya berjarak beberapa senti, bahkan udara yang dihembuskan hidungnya menerpa wajahku. Dengan tergesa aku menarik wajahku. Gerak-gerik gelisah tak dapat kuhindari. Keringat tak berhenti keluar dari telapak tanganku. “Biasa aja kali. Saltingnya keliatan, tuh!” seru seseorang dari arah sebaliknya. Saat aku ingin membalas, bus yang aku tunggu sedari tadi tiba. Alhasil, balasanku tertahan di tenggorokan dan duduk dalam bus hingga tiba di halte tujuan kami tanpa pembicaraan apapun. Iya, itu adalah titik pertama aku sadar bahwa aku telah merosot ke dalam pesona si pukul empat. Rasa panas yang menjalar di
pipi yang aku yakini pula bersemu merah ketika itu, kembali aku rasakan. Jarum arloji yang melingkar pada pergelangan tanganku menampilkan waktu saat ini pukul empat sore. Di area luar gereja, aku melihatnya berdiri kokoh dengan topi santa claus apik di atas rambutnya. Seketika tanganku bergerak merapikan rambut dan bergetar sedikit. Langkahku perlahan-lahan seolah maling di tengah malam yang ingin mencuri di rumah warga. Angin senja tak menghalangi senyumku. Aku menggenggam tanganku sendiri erat, rasanya aku takut nadiku keluar dari jalurnya karena aliran darahku sontak mengalir cepat. Masih dengan perlahan, aku berjalan mendekat ke arahnya dari belakang. Namun, tiba-tiba seseorang dari arah yang sama denganku berlari cepat tepat di sebelahku. Tanganku yang bergenggaman mulai mengendur. Pikiranku kosong dalam sekejap. Aku hanya memerhatikan mereka berdua dari kejauhan sambil menahan sesuatu yang akan keluar dari mataku. Senyum masih aku biarkan di tempatnya. Aku pikir tak perlu berbalik arah. Aku meneruskan jalanku. Hingga sesuatu menahan langkahku kala melihat jari manisnya bersanding dengan sebuah cincin. Cincin yang begitu menarik mataku. Helaan napas pelan agar aku bisa mengendalikan diriku. Oh, aku sudah tak punya kesempatan rupanya. Baiklah, aku sadari mungkin hanya aku yang begitu bersemangat di sini. Selamat berbahagia untukmu.
Sesuatu yang sedari tadi aku tahan mulai memunculkan dirinya. Aku terkekeh sejenak, mungkin ini akan menjadi kali terakhir aku menunggu lonceng pukul empat sore berdentang. Tapi tak apa, terima kasih sudah pernah menjadi waktu indah yang selalu aku nantikan, my wonderful time.
Time Flies, Time Heals Jelita Di sebuah gereja terdapat dua anak balita yang saling bersahabat, Benayoun dan Lita itu lah nama kedua anak itu. Mereka memiliki perbedaan usia yang cukup jauh, Lita memiliki usia 1 tahun lebih tua dari Benayoun namun hal itu tidak menjadi penghalang mereka untuk bersahabat. Layaknya anak kecil pada umumnya, mereka tertawa bersama-sama, ketika sekolah minggu mereka nyanyi bersama. Suatu hari gereja kami mengadakan paskah, yang ku ingat adalah usia ku masih sekitar 5 tahun. Aku dan Benayoun tentu sangat senang karena paskah adalah hari yang sangat kami nanti, hari dimana kami akan berpergian ke suatu tempat untuk bermain games, bernyanyi, bertepuk tangan, semua itu adalah hal yang sangat menyenangkan bagi anak-anak pada usia 5 tahun. Bahkan aku masih ingat betapa bahagianya aku dan Benayoun pada hari itu. Hari Minggu, ya itu adalah hari yang paling dinanti oleh aku dan Benayoun, karena mereka hanya bertemu seminggu sekali yaitu pada hari Minggu untuk beribadah. Ketika aku menjalani harihariku, aku selalu bergumam “Hari Minggu kenapa lama banget sih, aku pengen main sama Benayoun, hari Minggu berapa hari lagi ya.” Minggu Minggu selalu berputar di kepalaku, kukira hanya aku saja yang merasa tidak sabar dengan hari Minggu ternyata Benayoun merasakan seperti yang kurasakan, ia pun tidak sabar untuk bermain dengan ku. Hari, minggu, bulan bahkan tahun mereka lewatin bersama.
Tak hanya hari Paskah dan hari Minggu yang kami nantikan, natal pun salah satu yang kami nantikan. Di gereja kami setiap tahun memiliki tema natal yang berbeda-beda, pada saat itu temanya adalah Kerajaan ketika itu aku memakai gaun yang sangat cantik layaknya princess pada saat itu, dan Benayoun menggunakan kemeja putih dan dasi kupu-kupu sehingga menambah ketampanannya. Bohong jika aku bilang ia tidak tampan pada malam ini, Benayoun memang berkharisma walaupun aku hanya anak kecil tapi aku tak berkutit bahwa Benayoun memang tampan maka dari itu tak sedikit temantemanku menyukai nya, bahkan teman-temanku cemburu karena Benayoun hanya dekat kepadaku saja itulah hal yang sangat ku syukuri bahwa aku adalah satu-satunya sahabat perempuan Benayoun pikirku seperti itu. Namun, ketika acara natal hendak berakhir kedua orangtua Benayoun maju kedepan, aku pun tersontak dan mulai berpikir “Mengapa orangtuanya Benayoun maju ya? Oh mungkin untuk mengucapkan selamat natal dan tahun baru.” Aku masih berusaha untuk berpikir positif, saat mama Benayoun mulai berkata “Kami sekeluarga ingin meminta dukungan doa, dikarenakan saat tahun baru nanti kami sekeluarga akan pindah ke Bali karena suami saya dipindahkan tugas dan juga saya ingin menyelesaikan tesis saya, kemungkinan kami akan kembali lagi ke Jakarta 4 atau 5 tahun lagi, itulah kiranya doa permohonan kami, kiranya bapak dan ibu dapat mendoakan kami selama kami di Bali.”
Saat itu aku tidak mengerti apa itu pindah tugas, apa itu menyelesaikan tugas tapi yang aku tahu adalah Benayoun akan pindah ke Bali selama 5 tahun? Bagaimana mungkin? Lalu siapa lagi teman aku tertawa? Aku tidak tahu harus berbuat apa yang kulakukan hanyalah terdiam dan muncul banyak sekali pertanyaan di kepala ku. Yang kupikir hari ini adalah hari yang menyenangkan bagiku dan Benayoun nyata tidak seperti yang kupikirkan, artinya adalah waktu ku untuk bermain dengan Benayoun tinggal beberapa hari lagi sebelum ia pergi ke Bali. Sedih sekali jika aku boleh jujur, bagaimana tidak sedih 11 tahun bersama-samanya namun takdir memisahkan kami namun aku tidak boleh berlama-lama bersedih karena waktuku hanya sedikit dengannya sehingga kami memutuskan untuk foto berdua untuk terakhir kalinya. Pada saat itu aku bertanya kepada Benayoun “Nanti kalau kamu Kembali lagi ke Jakarta kita masih sahabatan ga?” Benayoun pun tertawa dengan pertanyaan ku sampaikan “Kok kaya gitu nanyanya, masih lah, kita akan selalu sahabatan lit, kamu disini sehat-sehat ya, jangan kebanyakan nangisnya, walaupun gaada aku bukan berarti kamu ga main sama yang lain ya.” Mataku pun memanas, tak sanggup lagi aku menahan air mataku, perlahan-lahan air mata ku menetes lalu Benayoun memeluk ku dan aku merasakan kehangatan yang tak pernah ku rasakan dalam hidupku.
Hari dimana Benayoun pergi ke Bali, ingin sekali rasanya aku mengantakannya ke bandara namun aku hanyalah anak kecil yang tak bisa apa-apa, yang ku bisa hanyalah mendoakan supaya Benayoun dan keluarganya sampai di Bali dengan selamat. Setelah kepergian Benayoun, aku merasa dunia ini tidak seperti biasanya, aku merasakan kesepian bahkan belum sehari ia pergi aku sudah sangat merindukannya. Mau tidak mau aku harus melakukan aktivitas ku seperti biasanya meskipun perasaan yang kurasakan hanyalah kesedihan dan kesedihan. Ketika saat itu aku tidak mempunyai handphone sehingga aku tidak tahu bagaimana keadaan Benayoun selama di Bali. Kurasa 4 tahun bukanlah yang mudah untuk menunggu seseorang, namun perlahan aku mulai belajar untuk melepaskan Benayoun dari pikiran ku. Bertahun-tahun ku lewati, kurasa aku sudah mengikhlaskan Benayoun dari hidupku, aku mulai Kembali bermain dengan teman-teman gerejaku, tertawa bersama seperti dahulu ketika aku dengan Benayoun. Tidak terasa 4 tahun berlalu telah ku lewati, bahkan aku pun tidak menyadari bahwa Benayoun akan kembali ke Jakarta pada tahun ini. Hari Minggu adalah hari dimana biasanya aku dan keluargaku beribadah, namun pada saat itu aku dan mama sedang sakit sehingga kami tidak beribadah. Setibanya papa dan kakakku kembali kerumah, papa mulai bercerita kejadian di gereja tadi “Tadi Bapak Pendeta jatuh saat khotbah, terus langsung dibawa kerumah sakit, barusan diinfoin masuk ICU.”
Aku mendengar cerita papa dibalik pintu kamarku, tersontak aku mendengar cerita papa dan aku mulai bertanya-tanya bagaimana bisa dan mulai muncul banyak pertanyaan di kepalaku “Apakah Benayoun tahu akan hal ini?” Ya, benar Pak Pendeta adalah kakek Benayoun. Keesokan harinya papa dan mama berencana menjenguk Bapak Pendeta, rasanya ingin sekali aku menjenguk namun usiaku belum cukup. 3 hari berlalu tak ada perkembangan apa-apa mengenai kesehatan Pak Pendeta. Pada hari ke 5 aku mendapatkan kabar bahwa Pak Pendeta sudah tiada, setelah mendengar kabar itu aku langsung lari ke kamarku, tetesan air mata mulai keluar dari mataku, aku sedih karena aku tahu betul Pak Pendeta sangatlah baik kepada semua orang. Tibalah hari dimana waktu untuk melakukan pemakaman, saat itu aku, keluargaku dan jemaat yang lain berdoa bersama-sama di gereja, aku mulai melihat sekelilingku dan aku mulaimerasakan ada satu hal yang berbeda, ya benar terdapat Benayoun diujung sana, dapat aku rasakan dari raut muka Benayoun bagaimana kesedihan yang dirasakannya, setelah selesai berdoa aku menghampiri Benayoun yang sedang menundukkan kepalanya. “Hai Benayoun, turut berduka cita ya.” Benayoun pun tersontak mendengar sapaanku, lalu dia beranjak bangun dan mulai memelukku dengan erat, hangat rasanya, rasanya masih sama seperti pelukan terakhir sebelum Benayoun ke Bali. Ku mulai merasakan baju belakangku basah, Benayoun menangis dalam pelukan itu aku membiarkan dia untuk
mengeluarkan semua tangisannya sambil aku mengelus pundaknya. Setelah 5 menit aku membiarkannya menangis, akhirnya ia pun mulai melepaskan pelukannya sambil berkata, “Jel, aku kangen banget sama kamu, kenapa opung dipanggil sekarang? aku belum siap, aku belum jadi orang sukses jel.” Aku tahu betul bagaimana hancurnya hati Benayoun, saat itu aku hanya mendengarkan saja, aku membiarkannya untuk bercerita. Tak terasa hari mulai gelap, aku dan keluargaku harus pulang dan aku mulai berpamitan kepada Benayoun dan keluarganya, aku merasa sangat lega karena aku dapat melihat kembali wajah yang dahulu selalu menjadi tempatku untuk bercerita dan bercanda tawa. Tibalah hari Minggu, hari dimana aku dan Benayoun akan beribadah, aku merasa hari ini seperti déjà vu, akhirnya aku dapat beribadah kembali bersama-sama dengan Benayoun layaknya 4 tahun yang lalu.
Retreat Letty Abigail Moata Pada salah satu hari Kamis di bulan Juli, kami sekeluarga besar Gereja Bukit Zaitun melaksanakan kegiatan Retreat di Pelangi Park. Sebagian dari kami pergi ke lokasi retreat menggunakan kendaraan yang sudah disiapkan dari gereja, dan ada pula jemaat yang menggunakan kendaraan pribadi. Kendaraan yang disiapkan ialah bus, seluruhnya berjumlah dua. Saya termasuk bagian dari bus kedua. Dalam perjalanan, kami yang berada dalam bus melakukan banyak kegiatan, seperti bernyanyi bersama sambil diiringi alunan musik gitar yang dimainkan oleh Bapak Pendeta kami. Ketika hampir sampai di tempat tujuan, tiba-tiba bus satu yang berada tepat di depan kami mendadak berhenti, perlahan mundur, dan lampunya terlihat mati. Untung saja para lelaki di bus yang saya tumpangi cepat tanggap untuk turun dan turut membantu menyelipkan batu di ban belakang bus tersebut. Setelahnya, bus itu dapat berhenti mundur. Dalam beberapa saat, bus itu pun kembali menyala sehingga kami bisa melanjutkan perjalanan yang sempat tertunda sejenak. Setelah perjalanan dengan waktu tempuh kira-kira tiga jam, akhirnya kami pun tiba di tempat tujuan dengan selamat. Seperti biasa, sebelum pembagian kamar, kami semua berkumpul di aula untuk saling sapa dan menerima baju retreat. Saya dengan keluarga saya menuju kamar kami lalu kami bersih-bersih dan berganti baju, setelah itu kami berkumpul di aula dn melakukan Ibadah Bersama. Setelah selesai kami makan Bersama sekalian makan malam Bersama.
Setelah makan malam bersama kami lanjut dengan kelas yang mana kelas tersebut dubagi menjadi 2, ada kelas Indria-PratamaMadia kelas yang satunya lagi ad akelas Remaja. Di kelas remaja saya dapat mengenali anak-anak baru disitu lalu kami bernyanyi Bersama, lalu kami dibagi menjadi 5 kelompok yang mana saya berada di kelompok 5 dan di kelompok saya ada Bianca,Jojo,Joshua,David,Rachel, dan terakhir ada saya. Lalu kami berkumpul bersama kelompok dan di masing-masing kelompok kami ada kaka-kaka yang akan membina kami nama kaka tersebut adalah ka Iben, ka iben ini membina kami untuk saling sharing satu sama lain. “haloo semuanyaa!” sapa ka Iben “haloo kaaa” kata kami “sebelum kita saling sharing kita kenalan dulu, karna kaka belum kenal sama kalian” kata ka Iben “mulai dari kamu aja, selain nama kalian sebutin kalian citacitanya mau jadi apa, lalu apa saja keluhan yang menggangu atau bisa di bilang yang membuat kalian bingung dan ragu untuk memilih cita-cita kalian” kata ka Iben sambil menunjuk kearah David “nama aku David ka,cita-cita saya ingin menjadi intel, dan keluhan nya mungkin masii banyak dari teman saya yang mengatakan bahwa aku itu tidak mungkin bisa menjadi intel lahh apalah, pokoknya rata-rata nya gitu ka” kata David “ouuu gitu yaa, nanti kkta bahas di akhir ya, yaudah lanjut ya” kata ka Iben
Lalu setelah David lanjut ke Joshua lalu seterusnya sampai ke giliran Jojo. Setelah kita saling sahrig dengan kelompok kami, kami lanjut mendengarkan cerita kisah hidup dari ka Shanti, yang mana ka Shanti ini bercerita banyak tentang kisah hidup nya dan kami semua kaget dan shock waktu mengetahui bahwa kisah ka Shanti ini sudah di buat menjadi film yang dapat menginspirasi banyak orang. “ka Shanti ingin mengajak adik-adik semua untuk menonton satu film yang mana film tersebut di ambil dari kisah hidup ka Shanti, dan ka Shanti berharap setelah adik-adik menonton film ini dapat membuat kalian lebih semangat untuk mengapai mimpi kalia walau kalian banyak mengalami masalah entah itu ekonomi, masalah keluarga yang menimpa kalian” kata ka Shanti kepada kami semua “okayyy kaa, siappp” kata saya Lalu kami menonton bersama yang mana film ini membuat kami tersentuh, Sebagian dari kami ada yang menangis, setelah menonton kami sudah selesai kelas dikarenakan jam sudah menunjulkan pukul 9 malam, dan kami memutuskan untuk Kembali ke kamar kami masing-masing. Sebelum kami memasuki kamar kami bermain di taman yang terdapat lapangan basket dan ayunan disitu, Sebagian anak cowo bermain basket dan Sebagian anak yang bercerita bersama anak cewe sambil bercerita kami memakan snack. “coba ada Rio, pasti seru” kata Joshua sambil memakan snack “ahhh nanti lu dibawelin” kata Immanuel “sama siapa?” tanya Joshua
“sama dia nihh” jawab Immanuel sambil menunjuk kearah saya “dihhh apaan siii, gajelass lo!” kata saya kepada Immanuel “lahhh kan emang iyaa” jawab Immanuel lagi “ngga yaa!” jawab saya Gara-gara hal tersebut membuat saya marah, lalu setelah bercerita banyak hal kami satu persatu mulai Kembali ke kamar masing-masing. Hari kedua pun tiba, setelah bangun saya dan keluarga bersihbersih, lalu kami menuju ke aula untuk melakukan makan bersama dan saya berkumpul bersama teman-teman saya dan kami makan sambil ngobrol bersama. Setelah selesai makan kami menuju kelas kami dan setelah sampai disana kami ibadah dulu lalu kami. Lalu saya dan kelompok saya berkumpul Kami sisuruh membuat nama kelompok yang mana kelompok kami memiliki nama kelompok Daud, setelah menentukan nama kelompok kami di suruh membuat Yel-yel untuk di tampil di malam terakhir dan akan di lombakan. “jadi, kita mau buat yel-yel gimana nih?” kata saya Lalu jojo menjawab “kita pake lagu apa dulu biar jadi nanti kita tinggal susun kata-kata nya” Lalu kata kaka Ibo “kalian pake ini nii, adakah Yesus dihatimu? Ada! Adakah Yesus di hatimu? Ada! Adakah Yesus di hatimu? , Dimanaa? Ini dia ini dia ini dia” “nah boleh tuh, itu sebagai awalan aja terus abis itu tinggal nyanyi, nahh nyanyi nya gini aja niiii, minggir dong minggir
dong minggir dong Remaja Bz mau lewat, jangan di tengahtengah nanti keinjek-keinjek minggir dong minggir dong minggir, lalu nanti gua ngomong gini Remaja Bz terus nanti kalian jawab les’t gooooo, gimana??” kata saya kepada mereka “wihhh boleh juga tuhh, tapi yang lain gimana?” kata Dude “bolehhhh” kata yang lain “okayyy, ayoo kita coba bareng-bareng” kata saya Setelah buat yelyel kami lanjut bermain games pos to pos, dan selama bermain games saya sambil melirik seseorang yang menarik perhatian saya dari tadi. Ada part dalam games yang mana membuat saya dekat dengan dia. Part itu terjadi di pos ketiga yang mana saya dengan dia tanpa sengaja berpelukan dengan dia Selain pos to pos antar kelas ternyata sore nya kita ada games lagi pos to pos yang mana seluruh peserta retreat mengikuti nya kec panitia, kami bermain dengan sangat menyenangkan dan dari situ lah relasi antar jemaat gereja kami di bangun Hari kedua pun berlalu, datang lah hati ketiga yang mana menjadi hari terakhir kami di Pelangi Park pagi hari nya kami di kasih waktu untuk packing barang-barang kami dan bersihbersih lalu kami melakukan sarapan pagi bersama dan setelah sarapan kami menuju aula utama dan melakukan ibadah terakhir kami, setelah selesai ibadah kami semua di ajak menurut tempat relasi yang berada di Pelangi Park dan kami pergi kesana bersamasama, setelah sampai disana lah semua akhir dari hari pertama
sampai hari terakhir di laksanakan yang mana ada uji yel-yel dan pengumuman pemenang CTA dan sekolah minggu kami mendapatkan juara 2. setelah pengumuman pemenang dan uji yel-yel kami semua melakukan makan siang bersama dan ditemani beberapa ibu-ibu yang menyanyi lalu setelah sarapan bersama kami melakukan foto bersama yang mana itu mencakup seluruh anggota gereja entah itu panitia atau peserta, setelah makan siang g bersama dan foto bersama kami memutuskan untuk pulang ke rumah kami masing-masing
Tuhanku dan Tuhanmu Michelle Virginia Putri Lala itulah nama panggilanku dari dia, seorang yang dulu sangat aku kagumi dan aku sukai sejak SMP. Nama asliku adalah Shella Deandra dan saat ini aku berusia 26 tahun yang seharusnya sudah menemukan pasangan seumur hidupku, tetapi aku masih tidak bisa meninggalkan masa laluku yang pernah aku jalani selama 6 tahun. Seseorang itu bernama Reynal Rinaldy dan aku sering menyebutnya dengan sebutan Rey karena agar mempermudah aku untuk memanggilnya. Kami satu sekolah dan satu kelas saat smp, waktu kelas 7 Rey sangat usil kepadaku. "Lala kamu lucu deh jadi pacarku yuk, " kata Rey kepadaku. "Apaan sih kita masih kecil tidak usah bilang pacaran pacaran," ketusnya aku kepada Rey. Aku sangat tidak suka kepada Rey karena kejahilannya yang sangat caper kepada cewe cewe apalagi kepadaku yang berdekatan duduknya dengan dia. Lalu sisi berkata kepadaku "Sepertinya Rey suka sama kamu deh hel soalnya aku perhatikan dia lebih sering jailin kamu dan kadang dia perhatikan kamu diam diam.” Aku menjawab dengan muka bingung “hah? omong apa sih kamu kita masih kelas 7, lagi pula ga cocok aku sama dia." "Kalo cocok kamu pasti mau kan hahah, " Sisi berkata sambil mencolek ku dengan muka genitnya. Saat kelas 8 aku pisah kelas sama Rey karena setiap tahun kelas selalu diacak oleh sekolah dan aku hanya melihat dia dari jauh
saja, dan saat pisah kelas tersebut aku merasa Rey berbeda karena biasanya di kelas dia sering menjahilinku tetapi saat pisah kelas sudah jarang bertemu. Saat aku lagi terdiam di taman belakang sekolah. Rey datang kepadaku dan berkata "hai lala diem aja kamu disini, lagi ngapaiin?" Lalu aku berkata “Lagi duduk aja, emg ada masalah? " "Ga ada masalah sih, cuma aku uda jarang lihat kamu di sekolah jarang keluar kelas ya?" kata Rey kepadaku. "Iya jarang keluar," kataku kepada Rey. "Mau nonton ga? kan di dekat rumah kamu ada mall kita kesana aja," kata Rey kepadaku. Aku langsung kaget saat Rey bilang begitu karena ga biasanya dia ajak aku nonton. "Ngapaiin? ajak sisi dan yang lain baru gue mau," kataku kepada Rey. "Gue maunya sih berdua aja tapi kalo ga nyaman boleh ajak yang lain," kata Rey kepadaku. Lalu langsung aku tinggal pergi begitu saja. Hari sabtu tiba aku dan teman temanku termasuk Rey pergi nonton di mall dekat rumahku. Mereka datang kerumahku dan kita berjalan bersama untuk ke mall tersebut. Saat ingin pulang ke rumah tiba tiba Rey menyatakan perasaannya dan meminta aku untuk menjadi pacarnya disitu aku langsung kaget dan tanpa berpikir panjang langsung menolak dia karena aku tidak suka sama dia. Semenjak
kejadiaan itu Rey berubah dan kita tidak pernah mengobrol lagi sampai kami kelas 9. Saat ingin kelulusan kami berdekatan lagi dan aku merasa mulai menyukainya karena kami jadi lebih sering berinteraksi. Lalu saat liburan kelulusan menunggu pengumuman kelulusan Rey kembali mengajak aku untuk pergi tetapi kali ini kami pergi hanya berdua saja karena aku sudah nyaman untuk pergi berdua dengan dia, tetapi masih agak canggung karena hanya berdua saja. Tiba tiba Rey menatapku dengan serius dan aku mengerti tujuan dia untuk menatapku. Dalam hatiku “Apa Rey mau menembak aku lagi?” Benar saja Rey langsung mengucapkan apa yang aku pikirkan dan langsung memegang tanganku, sebenarnya aku bingung harus menerima dia atau tidak karena kalo aku terima pasti hubungan kami ga akan lama karena perbedaan agama tersebut. “Tapi kita beda agama Rey apa kamu yakin menjalin hubungan sama aku?” kataku kepada Rey dengan nada serius. “Kita saling menyukai kan? Ga ada masalahnya kok kalau bukan dari pihak ketiga,” kata Rey dengan senyum manisnya. Setelah mendengar perkataan Rey tersebut aku langsung tersenyum dan menyetujui ajakan Rey untuk menjalin hubungan. Setelah itu Rey mengantarku pulang agar tidak terlalu larut malam pulangnya. Sampai di kamar aku benar benar tidak menyangka bahwa cowo yang dulu aku tidak suka sekarang menjadi pacar pertamaku. Pengumuman kelulusan sudah ada,dan pendaftaran sekolah sudah dibuka aku daftar di sekolah SMA impianku dan keterima. Rey sekolah di SMA swasta. Jadi kami tidak satu sekolah lagi saat SMA. Saat kelas
10 kami jarang bertemu karena kegiatan sekolahku yang padat. Jadi kami sering berinteraksi lewat chat atau call. Kelas 11 kami sering bertemu setelah pulang sekolah untuk makan atau pun hari libur kami kadang menonton bioskop juga photobooth. Aku sangat senang bisa bertemu dengan Rey dia laki laki yang sangat baik dan perhatian, juga orangnya ga pernah berbuat aneh, tetapi aku memikirkan perbedaan agama tersebut. Jika dilanjutkan mungkin kami akan terjebak dalam masalah tersebut dan mungkin saja kami tidak akan bisa berpisah secara baik baik karena kami masih sayang satu sama lain. Saat kelas 12 aku mulai berbicara serius kepada Rey tentang hubungan kami. Aku mempertanyakan sampai kapan hubungan kami akan berlanjut karena kelas 12 adalah waktu dimana kami harus menentukan masa depan untuk mendapatkan universitas yang kami inginkan. “Tentang hubungan kita yang berbeda ini kita pikirkan nanti saja, saat ini kita fokus untuk kuliah. Kejar dulu impian universitas kita dan juga bisa saling support agar bisa terwujud bareng bareng,” Kata Rey kepadaku. Rey sambil tersenyum dan memegang tanganku agar meyakinkanku atas perkataan dia. Saat itu kami sangat jarang bertemu karena kesibukan kami untuk les dan kegiatan yang lainnya, tetapi kami masih menyempatkan waktu untuk melepas kerinduan. Kami bertemu untuk belajar dan bercerita bareng tentang hal yang akan kami lakukan. Kadang di hari minggu Rey menjemputku setelah aku pulang dari Gereja. Dan kami melakukan hal yang akan kami lakukan karena kadang di hari sabtu kami tidak bisa melakukan kegiatan seperti menonton bioskop atau ke tempat yang ingin kami kunjungi. Hari berlalu ujian kami semakin dekat dan kami sangat jarang bertemu karena kami sangat fokus untuk ujian dan
kami lebih sering berinteraksi lewat call untuk mereview pelajaran yang kami pelajari bersama. Ujian telah usai dan kami mendaftar ke universitas yang kami inginkan dan ternyata aku keterima di Universitas Negeri di Depok, yaitu UI dan Rey keterima di Bandung yaitu ITB. Aku memikirkan jika kita hubungan jarak jauh apa hubungan kami masi bersama atau hanya sekedar cinta di SMA. Dan ternyata hubungan kami masi berlanjut sampai kami semester 3 di kuliah, tanpa adanya orang ketiga. Sesekali Rey ketika liburan semester dia ke Jakarta untuk menemui keluarganya dan juga aku. Kedua orang tua kami sudah tau jika kami sudah pacaran selama 4 tahun. Sebenarnya orang tuaku sangat tidak setuju dengan hubungan kami dan memintaku untuk memutuskan Rey, tetapi aku tidak mau karena aku masih sangat menyayangi dia. Aku tau saat itu aku sangat bodoh karena tidak menuruti apa perkataan orang tuaku. Hubungan kami sudah berjalan 5 tahun 10 bulan dan tiba tiba Rey tidak bisa dihubungi sama sekali padahal 2 bulan lagi kami akan merayakan anniversary ke 6 tahun yang setiap anniv Rey selalu ke Jakarta untuk kami merayakan bersama. “Apakah Rey akan mengakhiri hubungan kami seperti ini? Jujur aku takut, jika Rey ingin mengakhirinya tanpa bicara denganku terlebih dahulu. Atau Rey sudah bosan dengan kehadiranku yang sudah kami jalani selama 6 tahun berlalu,” dalam pikiranku saat itu. Aku sudah menelpon teman temannya dan sepupunya tetapi tidak ada jawaban dari mereka sama sekali. Mereka selalu menjawab tidak tahu keberadaan Rey saat ini. Sudah 4 bulan berlalu semenjak Rey menghilang secara tiba tiba dan tidak ada kabar sama sekali dari dia. Aku memutuskan untuk pergi ke
Bandung untuk meminta penjelasan dari Rey karena tiba tiba dia menghilang begitu saja. Sesampai di Bandung aku menginap di hotel dekat dengan ITB dan kost dia. Dan setelah aku berberes untuk menaruh barangku di kamar hotel aku langsung datang ke coffe shop yang sering ia kunjungi. Dan benar saja disana aku melihat dia dengan Gilang teman dekatnya dan 2 perempuan lain yang tidak aku kenal. Aku menelepon Gilang untuk bertanya apakah dia sama dengan Rey sekarang dan jawaban dia berbohong dia bilang tidak sama dengan Rey. Aku langsung datang ke meja mereka. “Hai sudah lama ga bertemu apa kabar?” dengan nada pelanku ke mereka. Disitu aku melihat muka panik Gilang, Rey dan kedua temannya itu dan mereka tidak bisa menjawab pertanyaanku mereka masih menatapku dengan keadaan bingung. “Kamu ngapaiin disini?bukan seharusnya kamu sekarang lagi ada kelas ini kan bukan hari libur,” kata Rey kepadaku dengan muka bingungnya. “Seharusnya aku yang nanya kamu. Kenapa selama ini ga bisa dihubungin dan kamu lupa sama anniv ke 6 tahun kita?” kataku kepada Rey. Dan Rey tidak bisa menjawab pertanyaan aku yang seharusnya jika dia ingin melanjutkan hubungan kami pasti dia menenangkanku dan menjelaskan pelan pelan maka aku pasti akan mengerti keadaan dia. Dia hanya jawab perlu waktu untuk memberi tahu aku semuanya dan aku menyetujui perkataan dia. Sudah 2 hari aku di Bandung dan Rey akan menjelaskan
semuanya kepadaku kenapa tiba tiba dia menghilang begitu saja. Rey menjemputku dan membawaku ke taman untuk menjelaskan semuanya. “Aku minta maaf kalo aku tiba tiba menghindar dan tidak bisa dihubungi selama ini. Setelah aku menjelaskan semuanya aku harap kamu mengerti keadaanku,” kata Rey kepadaku dengan senyum manisnya. Sikap Rey tidak pernah berubah selama kita bersama selama 6 tahun dan aku pasti akan memafkan dia jika alasan dia masuk di akalku. “Alasan aku menghilang tiba tiba karena orang tuaku yang ingin kita segera putus karena kita sudah 6 tahun menjalin hubungan yang kata orang tuaku itu terlalu lama. Sebenarnya aku sudah disuruh memutuskanmu setelah kita lulus SMA, tapi aku gamau karena masih sayang kamu. Dan aku bingung saat ini untuk kita tetap lanjut atau tidak. Saat aku tidak ada kabar, aku butuh waktu sendiri dulu agar bisa memikirkan secara matang tentang hubungan kita ini yang terlalu rumit,” kata Rey kepadaku. Aku menangis saat Rey menjelaskan semua itu karena perbedaan agama kami yang sangat rumit dan tidak ada jalan yang bisa menyelesaikan hubungan kami selain berpisah. “Aku juga sebenarnya disuruh putus sama kamu oleh orang tuaku,” kataku kepada Rey. Aku dan Rey berpelukan dan menangis bersama karena hubungan kami yang sangat rumit jika dijalankan lebih lanjut.
Dan Rey melepas pelukannya dan berkata “Kita sampai sini saja ya. Hubungan kita sudah tidak ada jalannya jika kita masi memaksakan untuk melanjutkan hubungan ini dan kita juga tidak dapat restu dari kedua orang tua kita. Maaf kalo selama ini aku salah sama kamu dan maaf sudah tidak ada kabar selama berbulan bulan.” Aku menyetujui perkataan Rey dan kami memutuskan untuk tidak melanjutkan hubungan kami dan berpisah secara baik baik. Kami masih bisa berteman seperti biasa, tetapi keadaannya saja yang berubah. Setelah itu Rey mengantarku kembali ke hotel karena malam harinya aku harus segera ke Jakarta. Setelah aku siap siap untuk pulang ke Jakarta Rey menjemputku untuk mengantar ke stasiun. Dua bulan berlalu semenjak kejadian aku putus dengan Rey. Dan tiba tiba Gilang meneleponku dan memberi kabar yang membuat aku sangat terkejut. “Shella sebenarnya gue mau ngasi kabar kalo hari ini Rey tunangan sama cewe yang waktu itu lo liat di coffe shop namanya Billa. Gue minta maaf kalo selama ini gua bohong sama lo, sebenarnya Rey mutusin lo bukan karena persoalan perbedaan agama saja, tetapi dia udah mulai suka sama Billa dan saat lo ke Bandung mereka sudah pacaran selama 6 bulan. Billa itu adalah cewe yang menyukai Rey, tetapi ternyata Rey juga menyukai Billa.Saat itu dia bingung memilih lo atau Billa makannya dia ngehindar dari lo.” Setelah mendengar perkataan Gilang tersebut aku langsung menutup telpon dari Gilang dan menangis sekencang
kencangnya karena tidak menyangka bahwa Rey seperti itu di belakangku. Sebelum akhirnya kami berpisah. 4 tahun sudah berlalu dan aku sudah kerja di perusahaan terbesar di Indonesia, aku tidak tahu kabar Rey gimana sekarang atau dia sudah menikah dengan tunangannya atau bahkan sudah punya anak. Ternyata Rey menghubungiku kembali dan memintaku untuk datang ke pernikahannya dengan Billa. Rey saat ini belum tau kalau aku sudah mengetahui hubungan mereka sejak dulu dari Gilang karena aku tidak mau menjadi penganggu hubungan mereka. Sebenarnya aku tidak sanggup untuk melihat mereka berdua menikah, tetapi aku harus bersikap biasa aja seakan akan tidak tau apa yang sebenarnya terjadi. Dan saat ini aku melihat mereka berdua mengucapkan janji pernikahan di depan mataku. Hatiku sangat sakit saat melihat mereka berdua karena sikap Rey terhadapku dulu begitu jahat dan tidak memikirkan perasaanku sama sekali. Tiba tiba mereka berdua mendekati diriku dan meminta maaf atas semua yang terjadi. Aku kaget ketika mereka berdua tau ternyata aku sudah tau semuanya dan kata mereka Gilang yang memberi tahu semuanya bahwa aku sudah tau. “Aku ikhlas kok. Kalian berdua langgeng ya sampai kakek nenek. Jangan pernah berantem jika ada masalah selesaikan baik baik, jangan egois satu sama lain saling support. Aku pulang duluan ya dan selamat untuk pernikahan kalian setelah ini aku akan flight ke Jerman untuk tinggal disana.”
Dan aku pindah ke Jerman agar tidak mengingat hubunganku dengan Rey dulu dan bisa melupakan Rey untuk selamanya tanpa harus menganggu Billa istrinya saat ini.
Kawan Pertama Muhammad Adityafarrasy Azka Pernah kah kalian merasa kesepian? Atau bahkan merasa bahwa dunia dan bahkan alam semesta selalu tidak berpihak kepada kita? Kenalkan, namaku Amira. Pertama-tama, izinkan aku untuk membagi kisah hidupku kepada kalian. Hari ini tanggal 14 Juni, hari pertamaku untuk menduduki bangku sebagai siswa sekolah menengah atas dan aku sangat berharap mulai hari ini pula aku dapat membuat kehidupanku di sekolah menjadi lebih baik. Aku ini adalah seorang introvert, yang mana diriku ini sangat takut untuk berinteraksi dengan orang baru, tetapi entah angin apa yang bertiup sehingga membuat diriku ini merasa tertarik untuk mau memulai pertemanan dengan salah seorang teman yang yang pada saat itu ia berada dikelompok yang berbeda denganku pada saat kegiatan MPLS. Aku Amira, inilah kisahku. Pada hari pertamaku menginjakan diri sebagai siswa sekolah menengah atas disalah satu sekolah favorit yang ada di Jakarta. Hari itu dimulai dengan kegiatan yang bernama masa pengenalan lingkungan sekolah atau yang biasa disebut dengan MPLS. Waktu aku mendepatkan ada instruksi oleh mentorku untuk berbaris sesuai dengan kelompok masing-masing, tibatiba ada salah seorang teman yang bertanya kepadaku mengenai barisan kelompoknya, lalu aku memberitahunya, tetapi pada saat itu aku lupa untuk bertanya namanya. Pada saat itulah pertama kali aku dan dia berinterinteraksi. Setelah beberapa hari masa pengenalan lingkungan sekolah berlalu aku mencoba untuk memberanikan diri untuk menyapa ia terlebih dahulu dan lalu