The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Literasi SMAN 68 Jakarta, 2023-11-13 19:11:13

Menembus Hati dengan Kata Kata

Kumpulan cerita pendek

Keywords: cerpen

Perjuangan Cinta Natan Christ Yoel Disuatu hari ada anak SMA bernama Natan ia bersekolah di SMA Clover. Natan adalah anak SMA yang baik dan polos ia suka membantu orang walau tanpa imbalan namun, dari sikap nya yang seperti itu beberapa orang malah memanfaatkanya.seperti contoh Andi dia preman sekolah yang suka merundung orang. "Hey Natan bisa kerjain pr gw ga? gw lagi males nih" kata Andi. Natan pun menjawab "Tapi kan pr nya banyak banget masa aku yang kerjain sih." Andi pun menjawab dengan marah "Lo udah berani ngelawan gua hah!?" Lalu Natan menjawab "Hehehe maaf Andi aku bercanda nanti aku kerjain deh." Cekrek! Bunyi gagang pintu. Tiba-tiba Pak Novan walikelas natan masuk kedalam kelas dengan seorang gadis yang cantik dan menawan. "Anak-anak tenang dan tolong duduk dibangku kalian masingmasing," kata Pak Novan.


"Bapak ngapain masuk kelas ini kan bukan pelajaran bapak mana bawa cewe cantik lagi kiw kiw," kata Jason sahabat Natan sambil bercanda. Murid-murid didalam kelas pun tertawa mendengar nya. "Sudah nak jangan berisik!! Kita sedang kedatangan anak baru ini ,nak silahkan kamu perkenalkan diri," kata pak Novan sambil kesal. "Salam kenal semua nama saya Alexis saya murid pindahan dari SMA Casandra semoga kita bisa berteman ya"kata Alexis. "Wah udah cantik suaranya lembut banget lagi, " kata violet dengan mata yang berminar-binar. Alexis pun tersipu malu pipinya jadi kemerahan. "Oke Alexis silahkan duduk dimana saja yang kosong"kata pak Novan. Para murid pun saling berebutan karena ingin duduk disebelah Alexis. Alexis pun tiba-tiba kebelakang dan menghampiri Natan. "Disini kosong gak?" kata Alexis. "K-k-kosong kok duduk aja"kata Natan dengan kikuk dan malumalu. Alexis pun duduk disebelah Natan. Suasana hati Natan menjadi canggung karna ia terpesona dengan kecantikan Alexis. Alexis pun menyapa Natan.


"Halo selamat pagi namaku Alexis nama kamu siapa?" Kata Alexis. "Hhhalo selamat pagi namaku Natan salam kenal ya," kata Natan dengan malu-malu. Dalam hati Natan berbicara. "Aduh Mana dia cantik banget lagi AAARGH! Bikin jantung dag-dig-dug aja." “Ting tong ting tong” Bel istirahat pun berbunyi. “Kamu mau ke kantin gak?”Alexis bertanya. Dalam hati Natan berkata “Sebenarnya aku bawa bekal sih tapi gapapa deh kapan lagi jalan ke kantin barek cewek cantik.” Pada saat dikantin orang-orang terpesona dengan kecantikan Alexis namun beberapa orang juga iri kenapa si natan yang culun dan wajah nya juga ga ganteng tapi bisa jalan sambil ngobrol ke kantin. Lalu pada saat makan di meja kantin Natan pun memberanikan diri untuk berkomunikasi ke Alexis. “Alexis kamu kenapa bisa pindah ke sekolah ini?” tanya Natan. “A-a-aku pindah ke sekolah ini karena ayahku pindah kantor hehe” jawab Alexis dengan gugup seperti menyimpan sesuatu.


Bel pun berbunyi pertanda jam pelajaran segera dimulai.setelah belajar bel pulang pun berbunyi. “Sampai jumpa lagi ya Natan,” kata Alexis sambil tersenyum. “Iya sampai jumpa lagi,” jawab Natan. Pada saat pulang natan biasanya jalan bersama sahabatnya yaitu jason,dia tetangga sekaligus teman kecilnya natan.mereka pun berbincang pada saat perjalanan pulang. “Jes aku lagi suka sama seseorang nih,” kata Natan. “Widih sahabat gue udah ada gebetan nih, gw tau pasti si anak pindahan itu kan,” jawab Jason sambil menggoda. Natan pun kaget “Lah kok bisa tau sih”. “Gw bisa liat dari cara mata lu kalo lagi ngeliat si Alexis berbinar-binar,” kata Jason. Natan pun menjawab dengan malu “Ah aku ngeliat nya biasa aja kok.” “Alah jangan bohong natan hahahah,” kata Jason. “Lu mao gw bantuin gak buat si Alexis jadi pacar lo?” kata Jason.


“Alah mana mungking cewe secantik dia mau sama cowo culun kek aku ganteng aja kaga,” kata Natan. “Udah jangan kebanyakan minder tenang aja kalo udah gua yang bantuin pasti dapet,” kata Jason. “Bener ya awas aja sampai aneh-aneh dan malah bikin dia menjauh,” kata Natan. “Oke, pertama lo harus ubah gaya rambut lo terus jangan gugup didepan dia stay cool aja terus lo sapa dia dengan kata-kata yang memuji dia gitu” kata jason. “Oke deh.” jawab Natan. Keesokan hari nya “Natan kamu keliatan beda hari ini,” kata Alexis sambil menahan tawa. “Huuuuuft gaboleh gugup pokoknya aku harus puji juga penampilan nya,” kata Natan dalam hati. “Oh ya? kamu juga tampil berbeda makin cantik dari kemarin” jawab Natan sambil menahan malu. Alexis pun tertawa “Pffft hahahah kamu lagi kenapa sih kaya aneh aja”.


“Wah pasti ini karena kamu mau ikut pesta dansa bulan depan kan?” kata Alexis. Dalam hati Natan berkata “Hmm bisa jadi alasan nih biar ga ketahuan aku mau deketin dia”. “Iya emang buat pesta dansa biar keren pas disana,” jawab Natan. “Waw keren aku juga mau kesana sih tapi bingung mau sama siapa,” jawab Alexis “Hmm kesempatan emas nih hehe,” kata Natan dalam hati. “Hmmm gimana kalo sama aku aja soalnya aku juga sebenernya belum ada pasangan sih buat kesana hehe,” jawab Natan. “Wah beneran gapapa nih?” jawab Alexis. “Ya gapapa lah masa aku gamau sama cewe cantik kaya kamu hehe,” jawab Natan. “Ah kamu bisa aja,” kata Alexis sambil tersipu malu. Pada saat pulang “Jason gimana sih aku hampir diketawain alexis untung aja ada pesta dansa bulan depan jadi aku bisa alasan buat ganti-ganti gaya penampilan,” kata Natan sambil kesal.


Jason pun menjawab “Hehe sorry brother tapi itu alasan yang bagus loh, gini gue punya rencana kali ini gue yakin gak akan gagal deh pokok nya, gini rencana nya dalam satu bulan kamu deketin dia sampai dia punya perasaan sama lo ajak dia ngobrol trus nanti pas pesta dansa lo tembak deh, gimana?” “Hmm boleh juga ide kamu tapi pas satu bulan itu kamu bantuin aku ya terus baju buat pesta dansa kamu pilihin,” jawab Natan. “Oke bos siap,” jawab Jason. Hari demi hari pun berlalu setelah satu bulan hubungan antara Alexis dan Natan pun makin dekat sampai banyak yang mengira mereka berpacaran. Pesta dansa pun dimulai. Saat Natan bertemu Alexis mereka berdua saling memandang dan mengagumi satu sama lain. “Waw kamu keliatan ganteng banget selera baju kamu bagus banget,” kata Alexis. Dalam hati Natan berkata “Huuuuft makasih Jason sudah pilihin aku baju kamu berjasa banget buat aku.” “Makasih kamu juga cantik banget kaya putri Kerajaan,” jawab Natan.


Pesta pun berlangsung dengan sangat meriah pada saat dipenghujung acara Natan. Natan pun memulai rencana nya untuk menembak Alexis “Alexis aku mau ngomong serius sama kamu kita ke tempat yang agak sepi ya,” kata Natan. “Hah mau ngomongin apa sih kok serius banget?” jawab Alexis dengan ekspresi penasaran. “Jadi gini mungkin kita baru kenal cuma satu bulan tapi dari pertama kali aku melihat mu aku mulai terpesona dan dalam satu bulan aku mulai simpan perasaan sama kamu jadi kamu mau gak jadi pacar aku,” kata Natan sambil menahan malu. “A-a-a-aku pikir-pikir dulu ya maaf karna kamu terlalu dadakan sih,” jawab Alexis sambil malu dan wajah nya memerah Alexis pun lari karena malu sampai sepatu nya pun terlepas sebelah. “Eh tunggu alexis sepatumu tertinggal!” kata Natan. Namun Alexis lari dan tak menghirau kan sepatunya “Aduuuuh dia mau aku ga sih aaaargh besok pasti canggung banget nih,” kata Natan sambil kesal. Keesokan hari nya “H-h-hai Alexis s-s-selamat pagi.” sapa Natan sambil canggung


“Pagi.” jawab Alexis dengan canggung “Aduh kok jadi canggung banget sih padahal kan aku mau balikin sepatunya yang kemarin tertinggal, yaudah pulang sekolah aja deh biar bisa langsung pamitan,” kata Natan dalam hati. Bel pulang sekolah pun berbunyi “Eh mao kemana lo Natan kan hari ini lu piket jangan kabur,” kata Jason. “Aduuuh sebentar aja Jes ini masalah Alexis,” kata Natan. “Oke deh tapi jangan lama-lama ya buruan tuh kejar udah ilang aja tuh orang lu tau klan dia pulang lewat mana,” kata Jason. “Iya aku tau udah yah,” jawab Natan. Natan pun berlari mengejar Alexis. Di saat berlari di gang sepi Natan pun bertemu Alexis yang terjatuh ke jalan dengan penuh luka dan di kerubungi beberapa orang pembuli Natan pun berteriak “HEY KALIAN HENTIKAN!!” Sambil berlari dan langsung menghajar semua pembuli itu. ”BAK BUK BAK BUK” Natan berkelahi dengan sangat lihai, dan akhirnya dia berhasil mengalahkan para pembuli. Walau


dengan babak belur dia tetap menyelamatkan Alexis dan membawanya ke rumah sakit. Saat siuman Natan pun bertanya kenapa dia bisa di pukuli oleh pembuli. Alexis pun menjelaskan “Sebenarnya aku pindah kesekolah kamu itu karena aku sering jadi bahan bully karena aku kelihatan culun dan juga beberapa wanita iri aku jadi pusat perhatian mereka dan mereka pun menyewa preman untuk menghajar ku jadi gitu tapi kamu jangan kasih tau ya rahasia ini.” Alexis pun menangis tersenduh-senduh lalu natan memeluk nya untuk menenangkan dan sambil berkata “Sudah-sudah aku pasti akan melindungi kapan pun itu. Oh ya kamu juga jaga rahasia aku ya kalo aku jago berantem hehehe,” kata Natan sambil tersenyum. “Aku juga ingin ngomong kalo jawaban waktu itu iya, aku ingin jadi pacar kamu,” jawab Alexis sambil tersenyum. “YEEEEAAAY AKHIRNYA AKU JADI PACAR KAMU,” kata Natan sambil berteriak bahagia.


Take A Change Citra Putri Anggraeni Marchellino Lyra, seorang remaja tampan yang memiliki mata yang kecil seperti hamster, alisnya yang tebal, senyum yang manis, dan postur tubuh yang tinggi dapat memikat hati perempuan. Tidak ada yang spesial dari dirinya, hanya ada marchel yang suka main futsal di lapangan sekolah saat istirahat, dan marchel yang gila dengan vespa kuningnya. Menurutnya menghabiskan waktu bersama teman-teman nya lebih menyenangkan daripada menghabiskan waktu dengan perempuan. Bisa di bilang Marchel ini tidak suka di dekati oleh perempuan kecuali teman sekelasnya, selain teman kelas perempuan nya ia akan menjadi Marchel yang galak. Banyak anak perempuan yang menyukai Marchel, tapi mereka takut dengan sifatnya yang galak itu. Sifat galak Marchel itu ga berlaku buat Cathy, karena menurutnya sifat Marchel yang galak, membuat Cathy semakin tertarik dengannya. Cathy seorang remaja wanita, yang nekat menyukai Marchel dengan terang-terangan hanya karena teman dekatnya khansa adalah teman dekatnya Marchel juga. Brukk, suara tubuh bertabrakan, ya itu adalah Cathy yang tidak sengaja menabrak tubuh marchel yang tinggi menjulang.


"Sorry.. sorry ga sengaja, " Cathy bersuara meminta maaf karena tidak sengaja menabrak orang yang tidak ia kenali. "Ya," Jawab Marchel dengan nada cuek, lalu pergi begitu saja meninggal Cathy yang sedang kebingungan. Karena tidak mau mengambil pusing akhirnya Cathy langsung saja pergi menuju ke kelasnya untuk melanjutkan pelajaran, karena bel sudah berbunyi. Teng.. Teng.. Bel pulang sekolah berbunyi waktunya para murid untuk kembali ke rumah masing-masing, tetapi tidak dengan Cathy ia harus masih berada di sekolah hingga jam 16.30 karena menunggu jemputan. Tiba-tiba saja ada rasa penasaran di hatinya tentang cowo yang tidak sengaja ia tabrak tadi. Karena terlalu kepo akhirnya Cathy mencari keberadaan Khansa, karena ia tau jam segini Khansa masih berada di sekolah untuk bermain futsal. Tiba di lapangan futsal Cathy melihat Khansa yang sedang bermain futsal bersama cowo yang tidak sengaja ia tabrak, karena melihat itu Cathy semakin penasaran siapa cowo cuek tersebut, karena rasa penasaran yang yang semakin besar langsung saja Cathy teriak memanggil Khansa. "KHANSAAA," Teriak Cathy dengan suara yang sangat keras.


Dengan sesaat Khansa berhenti untuk melihat siapa yang memanggilnya, saat melihat itu Cathy Khansa hanya memutar bola matanya malas lalu melanjutkan permainannya. Selesai Khansa bermain futsal, ia langsung pergi menuju Cathy yang berada di sebrang lapangan yang ada teman-teman nya. "Hehehehe, nih minum," Cathy membuka percakapan dengan nada yang menjengkelkan "Kenapa?," Cuek Khansa, karena ia sudah malas dengan teman perempuan nya ini "Khansa, lo kan ganteng, cowonya Icha, mau nanya dong. Itu cowo yang pake baju hitam sepatu nike siapa? Heheheh," Tanya Cathy dengan cengengesan "Lo ngapain nanyain dia," Heran Khansa “Ih tadi tuh pas jam istirahat pertama gue ga sengaja nabrak dia, terus pas gue minta maaf dia jawabannya cuek. “Kan gue jadi penasaran sa,” Jawab Cathy sambil menjelaskan “Ye, itu temen gue, namanya Marchel” “Idih sebel, gue baru tau lo punya temen cakep sa, soalnya kan lo sama Denis mulu, bosen gue liatnya” “Tapi sa, kalo gue ajak dia kenalan gimana? Sekarang juga,” Lanjut Cathy “Ya terserah lo aja,” Jawab Khansa dengan nada malasnya “Oke deh, gue bakal ajak dia kenalan” Omong Cathy sambil berjalan menuju marchel


Khansa kira awalnya Cathy hanya bercanda, ternyata tidak dengan keberaniannya dia mengajak Marchel kenalan, mentalnya kuat juga Cathy pikir khansa. “Halo Marchel kenalin gue Cathy, orang yang istirahat pertama ga sengaja nabrak lo.” “Gue disini mau ngajak lo kenalan, sebagai temen aja dulu, nanti kalo kita udah kenal lama baru kita pacaran,” Oceh Cathy yang tidak di tanggapi oleh Marchel. Tring.. Tring.. Tiba-tiba saja suara telefon Cathy berbunyi, yang menandakan bahwa ia sudah di jemput. “Oke Marchel karena lo menyambut perkenalan gue dengan baik, jadi gue anggap kita temenan mulai sekarang, karena gue juga udah di jemput, duluan ya cel.” “Gue duluan Sa, byeee,” Pamit Cathy Setelah dari kejadian itu, hari-hari selanjutnya Cathy jadi sering mengganggu Marchel. Walaupun Marchel menanggapinya dengan malas-malasan. Sifat Marchel makin lama semakin berubah, sifatnya sudah tidak se cuek dulu, hingga akhirnya Cathy dan Marchel semakin lama semakin dekat. Walau begitu sifat Marchel kadang masih berubah-ubah membuat Cathy bingung sebenarnya mereka ini apa teman tapi mereka seperti orang yang pacaran, pacaran juga ga punya status apa apa.


Akhirnya Cathy curhat ke khansa tentang apa yang ia rasakan, tentang rasa kebingungan yang ia alami dengan sifat Marchel “Gue bingung Sa, dia suka gue apa Cuma kasian sama gue” Lirih Cathy “Gue sebenarnya udah tau Marchel dari SMP Sa, gue dulu satu komplek bareng dia, gue suka banget ngeliatin dia main futsal sore-sore di lapangan komplek,” Jelas Cathy dengan nada yang menyedihkan “Gue udah tertarik sama Marchel dari pertama kali gue liat dia di lapangan komplek sa, waktu gue mau kenalan sama dia, ternyata dia udh pindah rumah duluan makanya pas gue ga sengaja nabrak dia, gue nekat buat kenalan, gue gamau kehilangan jejak dia lagi,” Lanjut Cathy dengan lirih “Gue sebagi temen deket Marchel, ga suka ngeliat sifat dia ke lo, tapi gue juga ga bisa mihak ke siapapun, karena kalian temen deket gue.” “Gini aja deh, kalo lo di buat bingung sama sifatnya, berarti lo bukan orang yang dia cari, kalo dia beneran suka sama lo dia ga bakal buat lo bingung Cath,” Lanjut khansa “Kira-kira kalo gue menjauh dari Marchel, dia bakal nyariin gue ga ya Sa?,”Tanya Cathy dengan nada sedih “Gue ga tau Cath, gue juga gabisa mastiin itu.” Khansa jadi bingung karena dia ada di tengah-tengah antara Cathy dan Marchel, ia tidak bisa memihak siapapun. Walaupun sebenarnya Khansa tau bahwa Marchel belum selesai dengan masa lalu nya. Khansa ingin memberi tau Cathy pun itu bukan


haknya, ia ingin Marchel yang bercerita tentang masa lalunya ke Cathy sendiri, kalau Marchel serius dengan teman perempuannya itu. Karena Cathy tidak tahan dengan situasi seperti ini, akhirnya ia memberikan diri untuk bertanya dengan Marchel tentang status mereka. “Cel, bisa ngobrol sebentar gak?,” Tanya Cathy ke marchel, yang sedang duduk di kantin bersama teman-temannya “Iya boleh, mau ngobrol di mana?,” tanya Marchel balik “Di taman belakang aja cel.” “Ok.” Saat ini Marchel dan Cathy sudah berada di taman belakang sekolah. “Cel, gue mau nanya, sebenarnya kita ini apa si?,” Tanya Cathy “Temanlah, kan lo sendiri yang mau temenan sama gue” jawab Marchel dengan enteng. “Tapi sikap lo ga mencerminkan kalo kita temenan Cel, lo yang selalu care sama gue, lo yang selalu ada buat gue, kalo gue sedih lo suka peluk gue, setiap kita jalan bareng selalu gandeng tangan, emang itu sikap dari temanan ya Cel?”Cathy menjelaskan sambil menahan nangis Marchel hanya diam membisu, tidak menjawab Cathy, lalu Marchel pergi meninggalkan Cathy, yang sudah menangis.


Saat ini tujuan Marchel adalah taman kota yang sering ia kunjungi dengan Cathy. Ia pergi ke taman kota itu agar pikirannya jernih, dan mengintropeksi kesalahan dirinya. Lalu Cathy pergi untuk menemui Khansa dengan keadaan yang menyedihkan itu. Tujuannya adalah untuk menceritakan kejadian tersebut, lalu meminta sebuah saran. Khansa kaget saat Cathy menunjukkan diri di rumahnya dengan keadaan mata sembab, ia menebak pasti faktor dari mata sembab Cathy adalah Marchel, dan ya tebakan Khansa itu benar. “Lo kenapa?, abis ribut sama Marchel?,” Tanya Khansa dengan Khawatir “Sa, emang gue salah ya, buat nanya ke Marchel sebenarnya hubungan gue sama dia itu apa?.” “Lo ga salah, kalo Icha jadi lo pasti dia juga bakal ngelakuin hal yang sama ke gue.” “Yaudah sekarang gini aja, lo pulang dulu, tenangin diri lo, nanti gue coba ngobrol sama Marchel” “Ok, yaudah gue pamit ya, sorry ngerepotin” Setelah pergi dari rumah Khansa, akhirnya Cathy memutuskan untuk pergi ke rumah sang ayah. Sesampainya di sanaternyata ayah Cathy belum pergi ke kantor dan menceritakan semua nya kepada ayahnya karena khawatir melihat kondisi Cathy yang menyedihkan, sang ayah mengusulkan Cathy untuk pergi jalanjalan, ke Balikpapan untuk menyusul abangnya.


Karena sudah terlalu pusing dan kangen dengan abangnya, akhirnya Cathy memutuskan untuk menerima tawaran dari sang ayah untuk pergi berlibur dan menyusul abangnya. Saat ini Khansa sedang berada di rumah Marchel, untuk menanyakan tentang mereka berdua. Setelah bercerita tentang apa yang Marchel rasakan akhirnya Khansa tau bahwa Marchel bingung dengan dirinya sendiri, karena di satu sisi ia masih terjebak dengan masa lalunya Wulan. Setelah bercerita dengan Khansa akhirnya Marchel tau apa yang dia mau, ia mau Cathy bukan Wulan. Marchel niatnya setelah pulang sekolah ingin menemui Cathy, untuk minta maaf karena kejadian kemarin. Tapi ternyata Cathy tidak masuk sekolah, ia bertanya ke Khansa tapi Khansa juga gak tahu ke mana perginya Cathy. Seminggu di Balikpapan, Cathy menghabiskan waktu bersama Alaska abangnya, selama di sana ia sedikit lupa dengan permasalahan tentang dia dan Marchel. Cathy sedih karena harus berpisah dengan abangnya, tetapi ia ingin cepat-cepat membereskan permasalahannya dengan Marchel. Setelah seminggu berlibur, akhirnya Cathy masuk kembali ke sekolah. Selama seminggu Cathy tidak berada di sekolah, Marchel sering sekali memeriksa kelas Cathy untuk memastikan siapa tahu Cathy sudah mulai sekolah. Istirahat pertama Marchel melihat Cathy yang baru saja selesai berolahraga, saat Marchel ingin pergi menuju Cathy tiba-tiba saja bel berbunyi, karena setelah bel pelajaran biologi dan ia ada


ulangan harian, akhirnya Marchel memutuskan untuk menemui Cathy saat istirahat kedua. Saat istirahat kedua, Marchel pergi ke kelas Cathy untuk menemuinya lalu menjelaskan tentang hubungan mereka. “Cath, bisa ke taman belakang ga?,” tanya Marchel “Bisa, lo jalan duluan aja nanti gue nyusul.” Sesampainya di taman belakang sekolah Marchel menjelaskan bahwa ia mempunyai masa lalu yang sedikit mirip dengan Cathy. Tapi Marchel juga menjelaskan bahwa ia sudah move on dengannya, dan saat ini ia ingin fokus dengan Cathy. Karena Cathy mengerti, akhirnya mereka berdua pun berbaikan dan Marchel mengajak Cathy untuk berpacaran dengannya. “Cath, aku tau kemarin aku salah sama kamu, sekarang aku udah sadar apa yang aku mau. Kamu mau kab jadi pacar aku?” “Aku mau cel.” Akhirnya Cathy dan Marchel mulai berpacaran pada hari itu, setelahnya hubungan mereka lebih baik, dan Cathy bisa mewujudkan wishlistnya untuk double date bersama Khansa.


Secangkir Kopi Claudia Yeira Isabel Waktu itu adalah tahun 2012, 1 tahun sebelum tragedi terbesar dihidupku terjadi. Aku merupakan seorang wanita berusia 21 tahun yang baru saja melamar kerja di salah satu perusahaan ternama di Jakarta. Aku diwawancarai oleh seorang lelaki paruh baya yang cukup rapih dan tampan. Saat wawancara itu, aku dapat menjawab semua pertanyaan sesuai dengan yang kuharapkan, aku juga sempat bercanda tawa tentang hal-hal kecil. Jika sesuai dengan ekspektasiku, aku akan mendapatkan email berisi hasil dari wawancaraku 5 hari lagi, sesuai dengan informasi yang diberikan oleh lelaki tadi yang mewawancaraiku. Hari ke-5 pun tiba, hari dimana aku mendapatkan email berharga itu. TING! Suara notifikasi dari laptopku pun berbunyi. Itu adalah email yang kutunggu-tunggu. Aku membaca email tersebut dengan perlahan, “Selamat kepada Kiara Ramiza, Anda lolos tahap akhir perekrutan posisi Management Trainee”. Aku langsung melepaskan suara bernada tinggi, aku sangat senang mendengar kabar itu. Aku tidak menyangka akan seperti ini rasanya, mendapatkan posisi yang sangat aku ingini di perusahaan bergengsi khususnya di Jakarta. Sudah beberapa hari aku bekerja di kantor itu, dan rasanya nyaman, tidak ada yang mengintimidasiku. Mungkin karena Reo, lelaki paruh baya yang mewawancaraiku waktu itu, selalu berbincang denganku. Reo memiliki posisi yang cukup tinggi di perusahaan itu. Aku senang dengan keberadaan Reo di tempat itu, ia selalu memudahkan pekerjaanku, ia juga tidak pernah berbuat kasar denganku. Semua ucapannya selalu halus dan lembut di telingaku.


Minggu demi minggu kulewati dengan Reo, senang rasanya mempunyai sosok laki-laki yang dapat kuandalkan dalam situasi apapun. Figur tubuhnya yang tinggi dan besar pun sangat cocok untuk kujadikan sandaran. Kata orang-orang, kita berdua sudah berpacaran, tetapi sebenarnya Reo tidak pernah melontarkan pertanyaan keramat itu padaku. Mungkin kita berdua sudah tahu, jauh di lubuk hati kita masing-masing, kita adalah sepasang jodoh yang sudah diatur takdirnya oleh semesta. Sudah berbulan-bulan kulewati dengan Reo, hari itu aku diajak untuk pergi kerumahnya sore sepulang kerja. Katanya, ada sesuatu yang ia ingin tunjukkan kepadaku. Saat jam istirahat di kantor, aku mendengar suara bisikan oleh beberapa wanita yang sedang membicarakan hubunganku dengan Reo “Ih, tau gak sih? Aku dengar si Kiara itu mau dibawa ke rumahnya Pak Reo tau! Mau ngapain ya dia, sampe ngajakngajak ke rumah gitu?”, ucap satu wanita mengharapkan balasan dari yang lainnya “Masa sih? Pak Reo kan udah sering bawa cewe ke rumah, tau! Aku liat sendiri waktu itu di depan rumahnya!”, balas wanita lain dengan cepat “Eh, tapi bukannya Pak Reo itu orangnya kasar, ya? Dia kan sering olahraga boxing dan menembak. Masa Kiara mau sih sama tipe yang kaya gitu?”, tanya wanita lainnya dengan penasaran “Oiya, rumornya kan dia juga sering pake obat-obatan terlarang, makanya tubuhnya bisa gitu”, tambah wanita lain untuk menambahkan gosip kepada berita hangat itu


“Hush, udah ah jangan ngomongin orang terus”, ucap wanita lain menghentikan agar berita tersebut tidak sampai ke telinga luar. Aku yang mendengar ucapan-ucapan mereka hanya bisa diam dan merenung sendirian. Di tengah perenunganku, seketika Reo mengagetkanku dengan sosoknya yang tiba-tiba berada di samping bahu kiriku. “Ayo Ra, aku mau nunjukkin sesuatu yang spesial buat kamu”, ucapnya dengan semangat sambil menarik pergelangan tanganku untuk bergegas pergi ke parkiran. Di mobil, hal-hal yang dikatakan oleh wanita-wanita itu di kantor tadi sempat terlintas di benakku, tetapi tidak mungkin Reo berlaku seperti itu. Ia adalah seorang yang selalu halus kepadaku, ia juga tidak mungkin selingkuh dengan wanita lain. Aku menghilangkan semua pikiran negatif dari kepalaku. “Tidak mungkin, Reo gak mungkin seperti itu” pikirku. Kita pun tiba di rumah megah dan besar berwarna putih dengan aksen emas. Sebelumnya, aku tidak pernah melihat rumah sebesar ini. Aku berasal dari keluarga yang sederhana, yang mempunyai rumah dan fasilitas yang pas-pasan. Sampai di depan rumahnya, pintu mobil dibukakan oleh Reo agar aku dapat keluar dari mobil dengan mudah. Aku dituntun kedalam ruang kerjanya, ruangan yang nyaman dipenuhi dengan bukubuku dan berbagai berkas kantor. Di dalam ruang kerjanya sudah tertata rapih meja dengan secangkir kopi diatasnya, bungabunga pun menghiasi meja itu. Aku terharu dengan semuanya, tanpa kusadari setitik air mata mendarat di pipiku. Aku langsung memeluk Reo sekencang-kencangnya. Reo sangat baik kepadaku, betapa jahatnya aku dapat berpikiran yang tidak-tidak


tentangnya. Aku tidak layak diperlakukan sebaik ini. Sembari aku memeluknya, Reo mengelus-ngelus kepalaku dengan lembut untuk menenangkanku. “Sebentar ya, aku ke toilet dulu”, ucap Reo sambil melepaskan perlahan pelukanku. Saat ia pergi ke toilet, aku berjalan untuk menjelajahi ruang kerjanya. Ada satu berkas yang menarik perhatianku. Berkas itu berwarna merah terang dengan label kuning diatasnya. Tidak tahu mengapa, saat itu aku sangat penasaran dengan isi berkas tersebut. Aku membukanya perlahan dan membacanya dengan teliti. Saat membaca isi berkas itu, jantungku berdegup kencang karena mengetahui sesuatu yang mengerikan. Disebutkan bahwa Reo pernah dipidana 5 tahun penjara, karena telah membunuh seorang wanita berusia 21 tahun, disitu juga tertulis bahwa Reo sengaja meracuninya dengan sianida dalam secangkir kopi. Hubungan korban dengan pelaku pun dituliskan sebagai pasangan suami-istri. Aku tidak percaya dengan apa yang baru saja kubaca. Aku terlalu terkejut, sampai tidak bisa mengatakan apapun. Suara dorongan pintu pun terdengar, Reo melihatku memegang berkas itu. Aku bergegas memasukkan berkas itu ke tempat sebelumnya. Pandanganku ke Reo berubah seketika. Wajahnya yang tadinya manis dan lembut berubah menjadi licik dan sombong. Senyumannya yang cerah dan riang berubah menjadi senyuman yang sinis. Ia masuk dan menyodoriku kopi yang sejak tadi sudah ada diatas meja dihiasi bunga-bunga itu. Pikiranku sudah kacau memikirkan hal yang akan terjadi kepadaku jika meminum kopi ini. Aku tahu kopi ini


mengandung sesuatu yang akan membahayakanku. Namun, tatapannya kepadaku membuatku tidak mampu untuk menolak secangkir kopi ini. Perlahan aku mengangkat cangkir itu, dan membawanya mendekati bibirku. Di detik-detik terakhir kopi itu mendekati bibirku, semua pikiranku berubah 180 derajat. Aku tidak bisa meminum kopi ini! Aku tidak mau hidupku berakhir begini saja! Aku tidak mau dimanfaatkan oleh seorang lelaki tua yang sudah menggunakan kekuasaannya untuk melukai orang lain! PRANG!!!!! Aku melempar cangkir kopi itu ke sembarang arah, dan langsung berlari untuk mencari pintu keluar dari rumah tidak asing ini. Aku berlari sekuat tenaga, berharap agar dapat bebas dari segala omong kosong lelaki tua itu. Lima langkah lagi dan aku dapat mencapai pintu keluar, aku berteriak kesenangan dalam hati, “Akhirnya aku kelu—” DOR!! Suara tembakan pistol menggelegar dalam rumah itu, lariku terhenti seketika. Perutku berlumuran darah hasil bekas tembakan itu. Tidak membutuhkan waktu yang lama untuk darah mencapai kakiku. Tidak ada lagi dapat kulakukan. Semua harapan telah pupus dari kepalaku. Semua harapan untuk bebas, telah hilang sepenuhnya. “Takdir itu memang lucu ya, susah untuk ditebak”, ucapku dengan terbata-bata. Lelaki tua itu hanya diam menatapku dengan senyuman khasnya yang sinis. Aku berpikir “Mungkin ia sudah merencanakan ini sejak lama, ya?” “Ah, sudahlah. Tidak ada gunanya lagi untuk merancang asumsi-asumsi bodoh seperti itu, lagipula aku sudah mencapai ujung hidupku.” Lekas, aku mencari tembok untuk bersandar. Ingin mencari tempat yang nyaman, agar aku dapat pergi dari dunia ini dengan


tenang.” Saat punggungku bersandaran dengan tembok yang terkena percikan darah, perlahan-lahan aku merasakan pandanganku merabun, badanku pun terasa kaku dan susah untuk digerakkan. Aku menerima takdir pahitku. Disitulah, mataku terbuka untuk yang terakhir kalinya.


Bunga Cahaya Daniela Oktavina Aurelia P.S Pada zaman dahulu, hiduplah sebuah bunga ajaib yang tersembunyi dari ramainya pemukiman rakyat. Konon katanya, bunga itu memiliki keajaiban yang dapat merubah takdir. Siapa pun yang menemukan bunga tersebut dan meminum air rebusannya akan mendapatkan kekuatan untuk mengubah nasibnya sendiri, nasib keturunannya, bahkan dapat mengubah dunia sesuai dengan keinginannya. Masyarakat menyebutnya "Bunga Cahaya", karena cahaya bunga itulah yang menarik hati masyarakat. Kisah pencarian bunga ini telah menjadi legenda di kalangan nenek moyang. Mereka meyakini bahwa bunga tersebut merupakan hadiah dari dewa-dewa, yang hanya dapat ditemukan oleh orang yang berhati murni dan memiliki tekad yang kuat. Oleh karena itu, setiap generasi nenek moyang kita pasti akan mewariskan cerita dan petunjuk mengenai pencarian bunga tersebut kepada keturunannya. Banyak masyarakat yang berlomba-lomba menemukan bunga tersebut untuk menjadi sosok yang kuat, dan tak terkalahkan. Salah satunya adalah Alea, seorang gadis pemberani yang tumbuh dengan cerita-cerita tentang Bunga Cahaya. Ia sangat terpesona dengan kisah-kisah tersebut dan merasa bahwa nasibnya terikat dengan pencarian bunga tersebut. Alea memutuskan untuk memulai petualangan hidupnya dengan tujuan utama, yakni menemukan Bunga Cahaya dan mengubah nasibnya sendiri beserta keturunannya kelak. Dengan bermodalkan peta dan petunjuk dari nenek moyangnya, Alea memulai perjalanannya menuju ke hutan. Ia melakukan


perjalanan ke berbagai tempat yang indah dan misterius, mengikuti jejak nenek moyangnya. Perjalanan ini mengantarnya ke hutan lebat, pegunungan yang curam, dan bahkan ke pulaupulau terpencil yang belum pernah ia dengar sebelumnya. Di setiap tempat, Alea bertemu dengan orang-orang yang memiliki cerita unik tentang Bunga Cahaya, dan mereka memberinya petunjuk baru untuk melanjutkan perjalanan. Setelah berbulan-bulan melakukan perjalanan, Alea akhirnya sampai di sebuah lembah tersembunyi yang dianggap sebagai tempat terakhir Bunga Cahaya berada. Di lembah tersebut, ia menemukan taman bunga yang luar biasa indah. Bunga-bunga berwarna-warni tumbuh dengan indah, dan aroma mereka mengisi udara dengan keharuman yang tidak terlukiskan. Alea menghirup aroma bunga-bunga itu dan merasa seolah-olah kehidupannya berubah seketika. Ia merasa sebuah kekuatan baru mengalir dalam dirinya, dan ia menyadari bahwa ia telah menemukan Bunga Cahaya yang dicari-cari. Dalam kegembiraan dan kebahagiaan, Alea mengambil beberapa bunga tersebut dan memutuskan untuk membawanya pulang. Namun, sebelum ia meninggalkan lembah, seorang wanita tua yang tinggal di sana menghampirinya. “Wahai anak muda, apa kau senang setelah menempuh perjalanan panjang akhirnya bisa menemukan bunga ajaib itu?” tanya sang wanita tua tersebut Alea mengangguk senang “Ya, aku sangat senang. Aku merasakan adanya kekuatan yang ingin masuk kedalam tubuh dan jiwaku. Aku yakin, setelah ini aku pasti bisa mengubah takdirku dan juga keturunanku” ucapnya sembari memetik beberapa bunga disana


Melihat Alea yang excited mengambil bunga tersebut, sang wanita tua itu tertawa keras “Hahahaha, bunga cahaya bukanlah suatu alat untuk mengubah nasib manusia sesuka hati, Nak. Ia hanya merupakan simbol kekuatan dari dalam diri sendiri yang dapat menciptakan energi positif dalam hidup” Mendengar penjelasan itu, Alea terdiam. Ia melihat bungabunga yang telah ia petik. Lalu meletakkannya kembali ke atas tanah Alea menatap bunga itu sebentar, lalu menyadari akan ucapan sang wanita tua, bahwasanya bunga tersebut bukanlah sebuah jimat atau sihir yang dapat mengubah segalanya dengan instan. Sebaliknya, bunga tersebut hanyalah sebagai simbol yang akan membuat penemunya memahami bahwa kekuatan yang sebenarnya terletak pada dalam dirinya sendiri. Bunga Cahaya hanyalah sebuah pengingat bahwa setiap individu memiliki potensi untuk mengubah hidupnya sendiri dan membawa perubahan positif ke dunia. Dengan pemahaman baru ini, Alea membawa bunga-bunga tersebut pulang dan membagikannya kepada orang-orang di desanya. Ia menceritakan pengalaman dan pelajaran berharga yang telah ia dapatkan selama perjalanan pencariannya. Melalui cerita dan pengalaman ini, Alea menginspirasi orang-orang di desanya untuk menggali potensi mereka sendiri dan mengambil tindakan untuk mencapai impian mereka. Kisah Alea dan pencarian bunga cahayanya itu akan selalu menjadi bagian penting dalam sejarah nenek moyang kita. Bunga Cahaya yang ajaib mungkin hanya sebuah cerita, tetapi simbol yang dihasilkan oleh bunga tersebut adalah nyata, simbol kekuatan dan perjuangan dalam diri.


Pintarnya Merebut Tenangnya Delfira Handayani Aku, Kalula Halina merupakan seorang gadis yang sangat pintar dan berprestasi disekolah, namun aku hanyalah seorang gadis desa yang bersekolah disebuah pedesaan kecil yang cukup jauh dari perkotaan. Aku selalu ingin bersekolah di Jakarta, sayangnya orang tuaku tidak mampu membiayai itu, dan juga Ayahku sudah cukup lama meninggal sehingga ibuku lah yang harus banting tulang mencari uang untuk menyekolahkan ku. Suatu hari saat sedang berada disekolah aku mendengar bahwa salah satu sekolah internasional di Jakarta sedang membuka program beasiswa, dengan hati yang amat bahagia aku mengikuti tes beasiswa tersebut. Beberapa hari kemudian aku mendapat kabar bahwa aku berhasil lolos tes seleksi penerimaan tersebut, akupun merasa sangat senang dan langsung mengemas barang karena esok harinya aku akan dijemput untuk pergi ke Jakarta. Keesokan harinya aku pamit kepada nenekku dan pergi ke Jakarta. Sebelum ke sekolah, aku minta untuk diantarkan ke tempa ibuku bekerja terlebih dahulu. Setelah sampai akupun langsung berlari menemui ibuku dan memeluknya, aku memberitahunya bahwa aku lolos masuk ke sekolah Jakarta International High School melalui program beasiswa, ibu yang mendengar itu sangat senang dan langsung memberikan ku sebuah hp agar aku bisa berkomunikasi dengannya disekolah nanti. Akupun menerimanya dengan gembira, setelah berbincang dan makan bersama aku memutuskan untuk kembali


melanjutkan perjalanan ke sekolah. Aku kembali menaiki mobil jemputan dan berangkat menuju sekolah baruku. *** Setelah sampai disekolah baruku, Aku pergi ke ruang tata usaha untuk menyelesaikan dokumen penerimaan dan mengambil seragam serta kunci kamar asrama. Setelah semua berkas selesai aku pergi ke kamar asrama dan lansung membereskan barangku, lalu aku memutuskan untuk tidur karena sudah tidak sabar menanti hari esok, hari pertamaku bersekolah di Jakarta International High School. *** Keesokan harinya aku sudah besiap untuk pergi ke kelas, aku tersenyum didepan cermin dan berdoa semoga hari-hariku disekolah ini berjalan lancar, akupun mengambil tas dan pergi menuju ke ruang guru. Setelah sampai aku langsung dibawa oleh salah satu guru untuk menuju ke kelas. “Selamat pagi anak-anak” sapa sang guru yang baru memasuki kelas. “Selamat pagi buu” balas para murid yang ada dikelas itu. “Hari ini kelas kita kedatangan murid baru, ia masuk kesini melalui program beasiswa lohh. Ayo sini nak masuk dan perkenalkan diri kamu” ucap sang guru sambil melambaikan tangannya kepadaku sebagai tanda menyuruh masuk, akupun masuk ke kelas itu dan berdiri tepat disebelah ibu guru.


“Halo semuanya perkenalkan namaku Kalula Halina biasa dipanggil Kalula atau Lula, aku pindahan dari desa”ucapku memperkenalkan diri disertai senyum manis. “Nah Kalula kau bisa duduk dibangku kosong yang ada disana ya” beritahu sang guru kepadaku sambil menunjuk bangku kosong yang ada dikelas itu. “Baik, terimakasih bu” jawabku sambil menundukkan kepala lalu pergi ke bangku yang ditunjuk dan duduk disana. “Hai Lula, kenalin namaku Melina kamu bisa panggil aku Lina atau Meli” sapa seorang gadis yang duduk dibangku sebelahku, akupun menoleh kearahnya dan tersenyum. “Hai juga, salam kenal Meli” sapa balik Kalula. Setelah berkenalan dan memutuskan untuk berteman, aku dan Melina kembali memperhatikan guru didepan dan menyimak pelajaran dengan baik. *** Tidak terasa sekarang sudah waktunya istirahat karena bel istirahat sudah berbunyi, aku dan Melina memutuskan untuk pergi ke kantin dan mengisi perut kami terlebih dahulu karena setelah itu Melina mengatakan akan mengajakku berkeliling disekolah ini. Sesampainya dikantin kami berdua langsung memesan makanan dan duduk di meja kosong yang ada disekitar situ, tidak lama kemudian makanan kami datang dan kamipun memakan makanan itu dengan tenang dan hidmat.


Setelah selesai makan, Melina menepati janjinya dan mengajakku berkeliling sekolah, selama itu kami sudah mengelilingi beberapa tempat seperti taman, lapangan indoor dan outdoor, aula, ruangan-ruangan laboratorium, ruang ekskul, ruang organisasi, perpustakaan, dan yang terakhir kami berhenti didepan ruang prestasi, aku melihat sesuatu yang menarik dan bertanya kepada Melina. “Kenapa ada foto 3 siswa yang dipajang dengan besar disini?” tanyaku kepada Melina. “Ohh itu foto-foto murid peringkat paralel disekolah ini, diperingkat ketiga ada Nabastala Damian, peringkat kedua ada Hannindya Gealova, dan yang pertama..” ucapan Melina terjeda membuatku bingung. “Yang pertama itu siapa? Dan kenapa kamu berhenti?” tanyaku kepada Melina. ‘Yang pertama itu Grizelda Olivia, murid terpintar selama hampir 2 tahun disekolah ini dan belum ada yang bisa ngalahin dia. Grizelda juga anak donatur terbesar disekolah ini, jadi kamu jangan heran ya kalo dia ditakuti sama guru-guru disini” ucap Melina panjang lebar membuatku sedikit terkejut. “ohh begitu, lalu kenapa kamu sempat berhenti bicara tadi?” tanyaku kembali kepadanya. “ah itu.. dia itu orangnya tempramental sekali, dia tidak suka dikalahkan dan bahkan ada gosip kalau dia itu pembully. Satu sekolah jadi takut padanya, termasuk aku hihh” jawab Melina sambil sedikit mendramatisir keadaan.


“Ah kamu ini bisa saja, ayo kembali ke kelas sebelum ibu guru masuk ke kelas” ajakku, lalu kami beruda pergi kembali ke kelas dan mengikuti pelajaran sampai tuntas. *** Hari-hariku bersekolah disini berjalan baik dan normal sampai tidak terasa kini sudah memasuki minggu ujian semester, aku selalu belajar dengan giat sampai tengah mlam agar mendapatkan nilai yang bagus dan bisa mempertahankan beasiswaku disini. Sampai akhirnya hari ini adalah hari terakhir ujian, aku dan Melina merasa lega karena sudah menyelesaikan ujian dengan baik tanpahambatan apapun, kamipun memutuskan untuk pergi ke kantin untuk mengisi perut kami yang sudah meronta minta diisi. “Hahh akhirnya selesai juga ya ujiannya, lega banget tau perasaanku kaya bebas dari penjara rasanya” ucap Melina sedikit mendramatisir, aku hanya tertawa pelan sambil melanjutkan makanku. Setelah selesai makan kami kembali ke kamar asrama masingmasing untuk beristirahat karena tenaga yang sudah terkuras habis untuk berfikir menjawab soal saat ujian tadi. Akupun beristirahat dikamarku setelah selesai bersih-bersih dan merapikan tas serta seraggamku. ***


Hari ini hari senin, hari yang dibenci semua siswa karena hari ini ada upacara, dan dihari ini juga ada pengumuman peringkat paralel disekolah menurut hasil ujian minggu lalu. Aku mendengarkan dengan baik pidato kepala sekolah dan pengumuman nama-nama 3 besar paralel sekolah, aku terkejut karena namaku disebut sebagai peraih peringkat pertama paralel lalu akupun maju ke podium dan menerima piagam penghargaan itu. Setelah pemberian piagam dan pidato penutup seluruh siswa diminta untuk kembali ke kelas dan mengikuti pelajaran. Saat bel istirahat berbunyi, aku dan Melina langsung bergegas ke kantin untuk mengisi perut, setelah makanan datang kamipun makan sambil mengobrol singkat. “Selamat ya kal, ga nyangka kamu bisa dapet peringkat 1 paralel” ujar Melina disertai senyum yang lebar. “Iya makasih ya, aku juga ga nyangka bisa dapat ini awalnya” jawabku disertai dengan membalas senyumnya. “Tapi kamu harus hati-hati kal, inget kamu udah menggeser posisi Grizelda dan aku yakin dia ga akan diem aja” ucap Melina berbisik kepadaku, akupun mengangguk dan melanjutkan makan sampai selesai. Setelah bel masuk berbunyi aku dan Melina berjalan menuju ke kelas kembali, tetapi aku memutuskan untuk pergi ke toilet terlebih dahulu dan meminta Melina ke kelas duluan. Setelah selesai buang air aku pergi ke wastafel untuk mencuci tangan tetapi tiba-tiba saja ada yang menarik rambutku dari belakang.


“aww lepasin ini sakitt” ucapku sambil memegang bagian rambutku yang ditarik dan melihat kearah kaca, itu Grizelda dan dua temannya! “Heh anak kampung, berani lo ya ngerebut posisi gw, liat aja apa yang bakal gw lakuin sama lo. Gw pastiin hidup lo disekolah ini ga akan tenang!” ucaqp Grizelda sambil menarik rambutku dengan lebih kuat, terlihat dari matanya ia sangat marah kepadaku. “aduh sakit, aku ga berniat merebut posisimu, aku gatau kalo nilaiku akan lebih tinggi dari kamu” jawabku. “alah banyak bacot, girls abisin dia” ucap Grizelda sambil melepaskan rambutku dan memerintahkan kedua temannya untuk menyiksaku. Aku yang dikeroyok seperti itu hanya bisa diam dan berdoa semoga saja ada yang masuk ke toilet ini agar mereka bisa berhenti menyiksaku. *** Setelah hari itu aku selalu mendapat bullyan dari mereka terutama Grizelda, tidak ada yang bisa kulakukan selain diam dan menerima semua itu. Aku sempat ingin melaporkan hal ini kepada guru tetapi aku batalkan karena mengingat bahwa guruguru disini takut dengan Grizelda karena kuasanya, bahkan Melinapun tau aku dibully dan hanya diam saja karena memang tidak ada yang bisa ia lakukan.


Puncak penyiksaanku adalah ketika jam pulang sekolah aku diseret oleh Grizelda dan temannya menuju gudang sekolah, disana mereka mengikatku dibangku, melakban mulutku, dan memukuli seluruh tubuhku sampai aku lemas dan tidak bisa bergerak lagi. Setelah mereka puas melakukan itu, mereka meninggalkanku didalam gudang itu sendirian, selama 3 hari lamanya aku berada digudang itu tanpa ada yang mengetahuinya. Sampai akhirnya dihari ke empat salah satu penjaga sekolah menemukanku yang sudah pingsan dan akupun segera dibawa kerumah sakit untuk mendapatkan perawatan untuk lukaku dan tubuhku yang lemah karena tidak mendapatkan makanan dan juga minuman. Setelah keadaanku sedikit membaik, aku akhirnya diperbolehkan pulang ke asrama. Sejak kepulanganku dari rumah sakit aku hanya diam mengunci diri dalam asrama dan tidak keluar sedikitpun, bahkan untuk sekolahpun aku tidak masuk. Karena begitu stress dengan keadaan ini, aku melakukan percobaan bunuh diri dengan mengiris nadiku dengan pisau lalu akupun pingsan dan ditemukan oleh Melina yang segera membawaku kerumah sakit. Kabar percobaan bunuh diriku itu sampai ke telinga Grizelda dan teman-temannya, mendengar hal itu Grizelda merasa bersalah dan memutuskan untuk meminta maaf kepadaku. Grizeldapun pergi kerumah sakit tempatku dirawat. “Kalula.. maafkan aku” ucapnya sambil memegang tanganku yang tidak diinfus, aku hanya diam dan memerhatikannya. “maafkan semua perbuatanku, aku menyesal melakukan itu semua. Aku hanya tidak ingin kehilangan kasih sayang orang


tuaku karena nilaiku yang turun, aku terlalu emosi sampai tidak sadar melakukan hal yang keji kepadamu, maafkan aku.. Hukum saja aku tapi jangan melakukan hal ini lagi” ucap Grizelda lagi sambil menangis, aku terkejut mendengar alasan ia membullyku. Lalu akupun memegang tangannya dan tersenyum. “Hei jangan menangis, tidak apa aku mengerti posisimu dan aku sudah memaafkanmu” ucapku, mendengar itu Grizelda tersenyum dan memelukku sambil terus mengucapkan terima kasih. Setelah hari itu, aku dan Grizelda menjadi teman baik disekolah. Kami sering belajar bersama saat menjelang ujian.


Tak Ingin Usai Dorothy Agnesya 2023, bel pulang sekolah berbunyi, kini aku berjalan pulang menelusuri jalan yang dipenuhi oleh bunga cantik berwarna merah muda yang sedang bersemi indah. Aku berjalan sambil merenungkan betapa indahnya ciptaan Tuhan yang diberikan untuk bumi ini. Setelah berjalan selama 15 menit, aku menemukan tempat duduk dibawah bunga cantik yang sedang bersemi itu lalu membaca buku novel kesukaanku berjudul ‘Malioboro at Midnight’ oleh Skysphire sembari mendengarkan lagu ‘Kisah Sempurna’ membuat rasa kesepian menyelimuti hatiku. Tenggelam, jiwaku dalam angan, aku terjebak dengan masa lalu yang membuat hatiku terkunci kembali. 25 Januari 2021, aku sedang pergi ke pesta ulang tahun temanku. Seorang lelaki dengan wangi coklat melewati diriku dengan cepat. Selama pesta ulang tahun berlangsung, aku selalu memperhatikannya. Penampilannya yang rapih, tinggi dan senyumnya yang manis membuatku semakin penasaran, siapakah dia? “Alice, apakah dia temanmu?” ucap ku sembari mengarahkan tanganku ke lelaki tersebut “Iya benar, dia itu teman SMP aku,” balas Alice “Oh, siapa namanya?” ucap ku dengan penuh rasa penasaran “Namanya Gavin, memang kenapa kamu tertatrik?” balas Alice “Oh tidak apa-apa hanya penasaran saja, makasih ya,” balasku kembali Setiap saat, mataku selalu tertuju kepadanya hingga ia menyadari keberadaanku dengan melihat diriku kembali. Dengan cepat aku langsung menoleh kearah lain agar tidak kelihatan bahwa aku memperhatikan dia secara diam-diam.


Semakin aku memperhatikan dirinya semakin aku ingin mengajaknya berbicara. Di sisi lain, ternyata Alice menyadari bahwa sedari tadi aku memperhatikan Gavin. “Hey, mau kenalan ya sama Gavin?” kata Alice yang tiba-tiba menghampiri diriku “Hah, enggak kok,” balasku “Terus ngapain liatin Gavin daritadi? Sini aku ajak kenalan sama dia,” kata Alice yang sontak membuatku terkejut Tanganku pun langsung ditarik kearah Gavin oleh Alice. Gavin menyambut diriku dengan sangat baik dan ramah. Hal tersebut membuatku semakin yakin bahwa ia adalah orang yang baik. “Gavin, ini temen aku mau kenalan,” kata Alice Aku bingung ingin memulai pembicaraan seperti apa namun aku ingat bahwa kesempatan tidak akan datang dua kali. Akhirnya ku berani kan diri dan memberikan satu tangan ku lurus ke arah Gavin “Eh halo, nama aku Agnes.” “Halo Agnes, gue Gavin.” Percakapan awal yang sangat singkat padat dan jelas hingga bulu kuduk ku di buat merinding karena menggenggam tangan Gavin seraya memperkenalkan nama ku, duh aku kenapa ya? Namun, secara tiba-tiba Alice meninggalkan kami berdua. Pada awalnya, aku ingin ikut dengan Alice tetapi ternyata ia sedang mengobrol dengan orang lain terlebih dahulu, sepertinya itu temannya mereka tampak dekat. Aku dan Gavin saling berdiam tanpa tahu ingin membahas apa. “Tadi makan apa?” tanyanya “Baru makan pudding saja,” saat acara seperti ini memang aku jarang sekali memakan makanan berat karena aku lebih


menginginkan makanan manis, oh tuhan jangan sampai dia berpikir aku sedang diet “Oh, enak gak?” balasnya “Iya” balasku secara singkat “Sekolah dimana?” tanyanya “Di SMA Akasia Jakarta” balasku kembali “Hah serius? Dulu orang tua aku juga sekolah disana” katanya dengan ekspresi yang penuh senyum Topik demi topik pembicaraan yang kita ajukan seakan-akan sudah berteman lama, ada yang tidak beres disini, aku semakin nyaman. Tak terasa 1 jam berlalu, Alice kembali menghampiri diriku dan Gavin “Yuk kita kedepan dulu guys, mau foto-foto sebelum pada pulang nih” kata Alice “Ayo” kataku dan Gavin Waktu telah menunjukkan pukul 8 malam menandakan aku harus kembali ke rumah. Aku berpamitan dengan Alice, keluarganya, teman-temanku, dan pastinya, Gavin. Burung berkicauan melewati depan jendela kamarku, matahari yang bersinar terik membuatku terbangun dari mimpi indahku. Aku membuka pesan yang terlihat di layer depan gawai ku yang masuk secara bergantian. Namun, salah satu notifikasinya yaitu dari nomor asing, siapa dia? “Tes” “Agnes yang semalam?” ”Aku dapat nomor mu ini dari Alice“ Tampak tak asing bagi ku, setelah kucari tahu, dan memastikan kepada Alice nomor itu merupakan Gavin, Gavin memberikan pesan kepada ku sepagi ini? Sedang bermimpi kah aku sekarang?


”Iyaa, aku Agnes” ”Kamu Gavin ya?” Jawaban ku tampak datar namun percaya lah saat ini aku seperti ingin terbang ke saturnus dan membuat taman bunga, Agnes sadar lah... ”Sip berarti benar, kamu selalu bangun pagi ya Nes? Hehe soalnya kalau libur biasanya aja aku bangun jam 12“ isi pesan Gavin sontak membuat ku kaget, bukan, bukan karena topik yang ia ajukan, namun typing terpanjang yang pernah ia berikan sejauh ini lah yang membuat ku terkejut Pagi itu hari yang paling cerah dalam hidup ku, hal-hal baik terus berdatangan seiring ku menjalani hari. Sepertinya ini berkat Gavin yang pagi hari sudah berkicau an di pikiran ku ”Nes aku mau tanya” Tanya tinggal tanya, benak ku “Iya silahkan Vin, kenapa?“ ‘‘Kalau boleh tau rumah mu yang di Jl. Debora 30 MPK bukan? maaf ya kalau rasanya tidak sopan ngga ada maksud apa-apa disini“ Sontak ku dibuat semakin terkejut oleh dirinya, sebenarnya dia siapa? Apakah dia intel? Haruskah aku mundur sekarang? Tak bohong jantung ku serasa ingin copot “Iya betull loh keren banget kok bisa tau?“ ‘‘Syukurlah berartii benar ya? Kita tetanggaan ness ^^“ Tuhan....cobaan apa ini? Akan kah lagu Siti Badriah bisa ku realisasikan? Pacar ku lima langkah dari rumah beneran ada? ‘‘Lohh masaa? Aku ngga pernah liat kamu? Emang kamu di sebelah mana?“


‘‘Hehe aku jarang keluar tapi sekali aku pernah liat kamu sedang olahraga bareng adik kamu depan rumah, rumah aku nomor 29 Nes“ Rasanya aku ingin mencopot jantung dan hati ku sebentar dan ku pasang kembali bila sudah siap pasang, eh tidak, tidak akan pernah siap pasang kalau begini ‘‘Vin, kamu persis samping rumah ku...” Awal yang baik, gumam ku. Namun tetap, tuhan seolah-olah sedang ingin membuat hari ku seperti berada di surga, ya tuhan.. Sore harinya, sudah menjadi rutinitas untuk diriku menuju balkon kamar duduk di kursi dengan menikmati susu coklat kesukaan ku di sertai nyanyian dari lagu HIVI, dan satu lagi yang tak kalah pentingnya, buku. Hei, kau yang berdiri disana, tahukah ku di sini penuh tanya Ahh aku ingin berteriak sembari menyanyikan lagu ini, sangat pas dengan keadaan ku sekarang Oh mengapa begitu sempurna, hingga detak jantungku berdebar-debar begitu hebatnya Aku nyanyikan alunan lagu tersebut sembari menutup mata, dibuai nya aku dengan lirik lagu ini ”Angin seakan membawa ku menghampiri mu, demi satu niat tuk selalu menjaga mu” Seketika aku matikan lagu yang ku setel di sambungkan ke Bluetooth speaker ku ini, suara siapa itu? Suara yang berat dan bukan suara dari keluarga ku..aku merinding namun tetap menutup mata ”SIAPA DISANA”, masa bodo saja dengan suara ku yang menggelegar, aku takut! ”Nes, kalem” Sebentar, ini tidak asing di telinga ku, jangan bilang...


”Nes, udah jangan merem teruss pegel nanti matanya. Ayo nyanyi lagi Nesss” itu Gavin...AKU LUPA! Aku lupa kalau aku bertetanggaan dengan dia, tapi kenapa baru muncul sekarang?. Akhirnya ku berani kan diri membuka mata, oh tuhan mau di letakan di mana muka ku yang sudah seperti tomat ini? ‘‘Eh, hehe Gavin maaf aku kira siapa, maaf ya suara aku kekencengan ya sampai kamu keganggu?“ ‘‘Malah aku bersyukur suara kamu lantang tadi, jadi bisa tau kalau ada kamu disana, mau ikutan boleh?“ Tak dipungkiri aku pun merasakan wajah ku yang semakin mirip tomat, Nes kamu pasti bisa! ‘‘EH, eh maksud ku, iya boleh..tapi aku tutup mata ya mau menghayati“ Itu hanya alasan, dasar Agnes Tanpa tau untuk apa ku membuang waktu, woo-o-ow, indahnya dirimu ingin selalu bersama mu disetiap waktu habiskan sisa hidup dengan mu, andaikan diri mu dapat ku miliki sepenuhnya, seutuhnya, ku kan selalu ada tuk dirimu selamanya Oh mengapa mulut ku membisu, setiap saat ku ada di dekat mu Aku merasakan Gavin yang sudah berhenti menyanyi disaat lirik ini, huh..syukurlah ‘‘Inikah arti cinta bagiku, yang selaklu merasuki setiap malam dan mimpi-mimpi indah mu“ Aku...tak tahan rasanya, boleh aku pergi ke saturnus sekarang? Seakan-akan kita berdua sepasang kekasih yang berduet lagu cinta, dia paham rupanya part lirik untuk ku bernyanyi dan part untuk dirinya, Gavin..sudahlah cukup 9 Februrari 2021, hari demi hari ku lalui dengan keadaan hubungan ku yang semakin dekat dengan nya, hingga suatu saat


Gavin mengatakan ada yang ingin diobrolkan bersamaku. Semua perasaanku bergabung menjadi satu perasaan buruk namun aku tetap berusaha untuk berpikir dengan baik. Malam itu, kata-kata yang bergabung menjadi satu kalimat meruntuhkan segala harapanku kepada Gavin. “Lebih baik kita temenan saja ya, jangan lebih dari itu,” katanya Deg, sakit rasanya. Apakah perjuanganku selama ini tidak terlihat? 14 Februari 2021, hari kasih sayang. Pada saat siang hari itu, aku mendapatkan kabar yang sangat membuatku terkejut. Gavin memberikan sebuah bunga untuk orang lain. Apakah semudah itu mempermainkan hati seorang perempuan? Gavin, aku akan mencoba mengikhlaskanmu. Bukannya aku ingin menyerah, tetapi aku tahu kapan aku harus berhenti. Segala kisah singkat yang telah kita ukir bersama biarlah itu menjadi bagian dalam hidupku dan dirimu. Selamat tinggal Gavin, terima kasih telah menjadi bagian indah dalam hidupku walau hanya sesaat.


Pembalasan Kepada Pemerintah Dunia Dzakwan Abdil Irfan Al-Muthahar Ben adalah seorang anak yang terlahir dari Desa Fushi dan berlatar belakang dari keluarga yang kurang mampu dengan seorang ayah yang Bernama Ajax dan ibu yang Bernama Sophie. Ben memiliki saudara laki-laki yang Bernama Dexter. Ben dikenal sebagai anak yang ceria dan suka untuk berbaur dengan orang-orang yang berada di Kota Fushi. Sedangkan Dexter di kenal sebagai anak yang pendiam dan malu untuk berbicara kepada orang lain. Di Desa Fushi mata pencaharian nya sebagai petani dan nelayan, di Desa tersebut Ben dan keluarga nya hidup dengan damai tanpa adanya masalah. Ajax yang bekerja sebagai nelayan dan sering kali membawa Ben untuk berlayar dan mencari ikan, karena Ajax berharap anak-anaknya dapat melanjutkan pekerjaan ayah nya. Sophie bekerja sebagai petani di desa nya untuk membantu Ajax mencari uang agar dapat menghidupi keluarganya. Ajax di pandang oleh penduduk Desa Fushi karena Ajax di nobatkan sebagai pria terkuat yang ada di Desa tersebut pada saat ini, karena memiliki badan yang bugar dan fisik yang kuat. Pada sore hari Ajax ingin pergi berlayar bersama Ben untuk mencari ikan dan akan di jual pada malam hari di Kota Fushi. Sebelum pergi, Ajax selalu berpamitan kepada Sophie agar sophie tidak perlu mencari kemana Ajax pergi. “Sayang aku ingin pergi berlayar bersama anak-anak, jaga rumah sebentar Aku akan kembali dengan cepat.” Ujar Ajax dengan suara yang lemah lembut.


“Baiklah sayang Kembali dengan cepat sebelum matahari terbenam.” Ujar sophie dengan memandang Ajax dan tersenyum. Setelah Ajax berpamitan kepada Sophie mereka segera berlayar ke lautan sebelum matahari terbenam. Ben sangat senang karena ayah nya sering mengajak mereka berlayar untuk mencari ikan. Ajax selalu mengajarkan Ben bagaimana cara memancing untuk mendapatkan ikan yang besar. Ben selalu memperhatikan ayahnya yang sedang memancing. “Hey nak, lihatlah bagaimana ayahmu yang hebat ini memancing untuk mendapatkan ikan yang besar.” Ujar Ajax dengan suara yang lantang dan tersenyum. “Cepat tunjukan kemampuanmu ayah untuk mendapatkan ikan yang besar.” Tidak lama kemudian ikan pun memakan pancingan Ajax. “Wah…, bukankah ini ikan yang sangat besar Ben?” “Cepat tarik ikannya ayah sebelum talinya akan terputus.” “Lihatlah Ben ikan yang sudah ayah tangkap? Bukankah begitu besar?” “Ayah sangat hebat dalam memancing.” Tidak lama kemudian Ben dan ayahnya pulang ke rumah karena melihat matahari yang mulai terbenam. “Sayang aku pulang. Bukankah aku pulang tepat waktu?” Ujar Ajax sambil tertawa


“Bersiaplah, kita akan menuju ke pasar untuk menjual ikan hasil tangkapan hari ini” Setelah itu Ajax, Sophie, Ben, dan Dexter menuju pasar ikan di dekat rumah nya yang bernama Pasar Gengki untuk menjual hasil tangkapan nya. Dipasar tersebut tidak hanya dari Desa Fushi saja, melainkan dari kota-kota terdekat lainnya. Hal ini menyebabkan persaingan perdagangan yang sangat besar. Tidak sedikit juga para penjual ikan tersebut menjual ikan-ikan yang di lindungi dengan alasan banyak yang menginginkan ikan ini dengan kondisi hidup atau mati. “Berapa harga ikan ini satu ekor nya Pak?” Ujar pembeli yang akan melakukan tawar menawar. “Semua ikan yang ada di lapak saya di jual dengan harga sesuai timbangan.” Ujar Ajax dengan tersenyum. “Baiklah saya menginginkan 2 kilo saja untuk ikan mas nya, jadi berapa?” “Tidak mahal hanya 45.000 saja.” “Baiklah ini uang nya.” “Eh…, bukankah ini terasa aneh jika berbelanja tidak menawar?” Ujar Alex dalam hati sambil bertanya-tanya. “Baiklah terimakasih bu.” Tiba saat nya di malam hari dari arah timur terdengar suara ledakan yang besar dan teriakan orang-orang dengan histeris, mereka berlari berkeliaran kesana kesini dengan rasa takut mereka. Para pedagang pun meninggalkan lapaknya mereka


tidak peduli apa yang terjadi pada barang jualan nya, yang mereka pikirkan hanyalah bagaimana caranya selamat dalam insiden ini. Ajax pun terpental jauh akibat dari ledakan tersebut dia sesegera mungkin mencari kedua anaknya dan istri nya. Sedangkan Ben berlarian mencari saudara kembarnya dengan perasaan yang panik. Ledakan tersebut di sebabkan oleh pasukan dari pemerintah dunia dengan julukan CP0. Di kisahkan pada beberapa tahun yang lalu ada seseorang yang sangat berkuasa di kepemerintahan dunia, dengan kekuasaan yang begitu besar dia di juluki sebagai Naga Langit. Dia mendapatkan kekuasaan yang begitu besar dari ayah nya.Pada saat Ayahnya menjadi naga langit, Dia menjalankan tugas nya dengan baik tanpa adanya kotoran di masa kejayaan nya. Sayangnya sang ayah pun meninggal dan menurunkan tahtanya ke anak laki-laki pertamanya yang bernama Sai, saat tahta nya turun ke tangan anaknya semua rencana ayahnya yang mulia di hancurkan. Sai mengubah nya dengan cara menyuap para petinggi militer untuk tutup mulut agar Sai dapat melancarkan insidennya mulai dengan menghapuskan sejarah dunia agar Sai tidak terjerat kejahatan, pembantaian kota-kota yang memiliki pengetahuan Sejarah, penindasan terhadap masyarakat miskin, eksperimen yang tidak normal, perdagangan manusia, perbudakan, penjualan obat-obatan terlarang. Semua akan Sai lakukan atas dasar kehausan dalam kekuasaan. Setelah insiden dari ledakan di pasar anak buah para pemerintah dunia menghancurkan hingga membakar semua yang ada di dalam pasar. Ben pun melihat semua kejadian yang ada di pasar dengan mata kepalanya sendiri. Ben pun menghampiri para CP0


dan memukul nya menggunakan tangan kosong yang mengarah ke wajahnya dengan sangat keras. Pukulan tersebut dengan sangat tepat mendarat di wajah mereka, tapi yang terjadi malah berbalik Ben pun di tangkap oleh pasukan CP0. “Anak siapa ini? berani sekali memukul pasukan naga langit.” Ujar salah satu pasukan CP0 dengan suara yang lantang. “Bukankan kah rasanya sakit pecundang?” Ujar Ben sambil tertawa. “Berani-berani nya kau dengan kami?” “Apanya yang harus di takutkan? Bukankah kau hanya seorang pasukan rendahan? Ya…, walaupun pasukan dari pemerintah dunia.” “Tarik kembali kalimat itu.” Para pasukan CP0 sangat kesal atas perkataan Ben yang sangat lantang, tanpa berpikir panjang Ben di jadikan samsak oleh pasukan CP0. Ben di tangkap oleh pasukan CP0 dan di cari siapa orang tua dari Ben untuk di jadikan pertimbangan bagaimana nasib dari Ben. Tidak lama kemudian Ben melihat keluarga nya di tangkap juga oleh pasukan CP0. Dengan kondisi memar dan berdarah, Ben dan keluarganya di jadikan contoh kepada masyarakat sekitar yang akan terjadi apabila berani melawan bagian dari pemerintah dunia. Ajax pun di sandra oleh pasukan CP0 untuk merelakan dirinya sebagai budak dari pemerintah dunia atau para pasukan CP0 akan membunuh seluruh keluarganya.


“Jadi ini orang tua dari anak jagoan itu? Pantas saja kuat ayahnya pun sangat kekar dan bugar” Ujar pemimpin pasukan CP0 dengan tersenyum. “Siapa namamu pria berotot?” “Aku adalah Ajax, aku adalah orang yang bertanggung jawab dari keluarga ini.” Ujar Ajax dengan jawaban yang lemas “Aku ingin memberikan tawarin yang menarik kepada mu Ajax” “Semua akan aku lakukan dengan syarat keluargaku di lepaskan” “Baiklah, kalau begitu dirimu sudah siap di jadikan budak oleh pemerintah dunia.” “Apa kau sudah gila? Aku tidak akan di jadikan budak oleh penguasa yang keji dan kotor?” “Baiklah jika kau menolak tawaran ku, Aku akan meledakkan kepala istrimu dengan senapan ini” “Tidak…, hentikan itu. Aku akan menjadi budak dan lepaskan keluarga ku.” Ujar Ajax dengan nada yang tinggi dan di sertai tangisan “Hebat juga kau, mempertaruhkan dirimu hanya untuk perempuan rendahan.” Ujar pemimpin CP0 dengan berbicara dengan pelan di telinga Ajax. Setelah Ajax menerima tawaran CP0, Ajax dan beberapa orang yang terlihat kuat pun di bawa oleh pasukan tersebut menuju kerajaan pemerintah dunia untuk di jadikan budak. Penyiksaan yang di lihat Ben terhadap keluarganya tidak sampai di situ, para


Click to View FlipBook Version