Ririnlah yang lebih pantas sedih karena setiap jejak di hidupnya selalu diganggu oleh keberadaan Keke. Di meja makan, suasana menjadi berubah. Ririn memasang raut wajah marah, tetapi hatinya bertanya-tanya dan khawatir akan Keke. Ia tahu persis bahwa perkataannya sudah melukai sahabatnya. Ayah dan Ibu Ririn yang melihat situasi tersebut pun memutuskan untuk menyudahi silaturahmi kedua belah pihak keluarga. Untungnya Bu Marni dan Pak Wisnu tidak marah, mereka berkata bahwa Keke memang sedang labil seraya terus memberi dukungan kepada mimpi Ririn. Melihat hal itu, Ririn merasa makin tidak enak diri. Tapi gengsi tidak tertandingi, yang bisa ia lakukan hanya kembali ke rumahnya, masuk ke kamar dan terdiam. Hampir satu jam berlalu, Ririn kini merenung seolah menikmati sunyi padahal pikirannya kosong. Hingga suara ketukan pintu terdengar. Pintu terbuka dan menunjukkan Kak Kale di ambang pintu dengan gitar ditangannya. “Boleh Kakak masuk?” dan Ririn hanya mengangguk sebagai jawaban. Setelah mendapatkan izin, Kale masuk, menarik kursi belajar adik perempuannya itu mendekat dan duduk. Tangannya pun bersiap ingin memainkan gitar. “Kalau kau hanya ingin berisik, lebih baik jangan di sini. Suasana hatiku sedang tidak baik.” Ujar Ririn dengan nada yang ketus sambil memicingkan matanya ke arah Kakak satu satunya itu. Tak acuh dengan omelan adiknya, jemari Kale tetap bermain gitar dan memetik dawai demi dawai hingga melodi yang indah tercipta.
‘Pergilah sedih, pergilah gundah, jauhkanlah aku dari salah prasangka’ Ia mulai melantunkan lagu dari penyanyi kesukaan Ririn. ‘Pergilah gundah, jauhkanlah resah, lihat segalanya... lebih dekat... dan kau bisa menilai... lebih bijaksana’ Kale menyudahi senandungnya dan kini beralih menatap adiknya. “Sherina punya ibu untuk menasihati dia dan kamu punya kakak untuk menasihati kamu” ujar Kak Kale dengan nada sedikit bercanda. Ririn hanya terkekeh tidak ikhlas. “Semua hal yang orang lakukan pasti ada alasan dibaliknya, begitu juga dengan Keke. Pasti ada sesuatu yang membuatnya tidak dapat memilih apa yang baik untuknya, dan kakak rasa itu tugasmu sebagai sahabat untuk membantunya.” Kali ini Kale serius, sepertinya ia sedang menjalankan perannya sebagai seorang kakak. “Tapi kalau aku membantunya, apakah itu akan mengubah keputusannya? Keputusannya untuk selalu mengikutiku.” Jawab Ririn. “Kalau kau tidak mencoba, bagaimana kau mengetahui jawabannya?” Kale mengedikkan bahunya dan beranjak dari duduknya “Kakak di kamar jika kau butuh bantuan. Segeralah menyelesaikan masalah ini sebelum semuanya terlambat!” kemudian ia berlalu keluar. Benar kata Kak Kale, semua harus segera diselesaikan sebelum terlambat. Ririn juga tidak suka dengan rasa bersalah yang menghantuinya. Ia mengamati dari jendela kamarnya, kamar Keke yang tepat berseberangan dengan kamarnya itu tampak gelap. Jam memang sudah menunjukkan pukul 10 malam dan
besok adalah hari sekolah. Ririn kemudian memutuskan untuk menarik selimut dan membawa seluruh kegelisahnya dalam tidur. Keesokan harinya Ririn tidak menemukan Keke di sekolah. Bahkan di kelas, Keke pun tidak ada. Ririn bertanya kepada teman sekelas Keke dan mereka berkata bahwa Keke pergi ke UKS karena sakit. Mendengar hal itu, segera ia berlari menuju ke UKS. Namun nihil, saat sampai di UKS pun Keke tidak ada. Kaki Ririn membawanya ke setiap sudut sekolah menerobos ramainya siswa yang tengah menikmati jam istirahat. Sial, tetangga sekaligus sahabat baiknya tak kunjung menunjukkan batang hidungnya. Hingga bel berbunyi menandakan bahwa istirahat telah berakhir, suasana lorong menjadi sepi seketika. Pening di kepala mulai muncul, Ririn mulai tidak dapat berpikir dengan jernih dan jalannya pun sudah juntai. Perasaan bersalah seakan ‘mengolok’ dirinya sejak semalam. Di tengah sunyinya lorong, tiba-tiba terdengar suara piano dari ruang musik. Ririn tahu persis bahwa Kekelah yang memainkannya. Pasalnya, lagu yang sedang dimainkan adalah lagu yang Keke pertunjukkan kepadanya saat pertama kali mereka bertemu. Kini langkahnya telah mantap menghampiri ruangan tersebut. Keke terkejut mendengar pintu ruang musik yang terbuka, ia menghentikan aktivitasnya. Hatinya berdebar karena sedari tadi ia membolos mata pelajaran dengan alasan sakit. Keke menghela nafas lega saat mengetahui bahwa yang membuka pintu tersebut adalah Ririn.
“Bukankah bel sudah berbunyi? Masuklah ke kelas, kau akan dicari guru jika bolos.” Ucap Keke. “Kau sendiri saja tidak masuk ke kelas.” Balas Ririn yang duduk di salah satu kursi tak jauh dari Keke. Keadaan kini menjadi canggung, mengingat pertemuan mereka semalam yang tidak mengenakkan. “Apa yang mengganggumu? Kau bisa bercerita kepadaku seperti biasa.” “Rin, pernahkah kau bingung akan tujuanmu berada di dunia ini?” tanya Keke dan Ririn hanya menggelengkan kepala sebagai jawaban. “Aku iri denganmu Rin, kau tahu apa yang akan kau lakukan setiap hari. Kau punya impian dan kau punya pilihan. Sedangkan aku? Aku tidak tahu apa yang akan lakukan dan apa yang aku impikan. Aku juga tidak punya hal yang dapat aku kembangkan. Semua yang ada di dalam diriku tidak berguna. Aku juga tidak pandai berteman, temanku saja dapat dihitung dengan jari. Lihatlah sekarang, karena aku juga persahabatan kita menjadi kacau. Itu semua karena aku tidak dapat melakukan apa-apa.” Keke sepertinya mencurahkan semua yang mengganggunya, karena sekarang ia tampak menundukkan kepala dan menahan air matanya. Ririn menghela nafas dan beranjak dari duduknya. Ia berpindah duduk di depan piano, tepat di samping Keke dan jemarinya mulai memainkan piano di depannya. ‘Pergilah gundah, jauhkanlah resah, lihat segalanya... lebih dekat... dan kau bisa menilai... lebih bijaksana’ Ririn mulai menyanyikan lagu yang semalam dipakai kakaknya untuk menasihatinya. ‘Mengapa bintang... bersinar?... Mengapa air... mengalir?... Mengapa dunia... berputar... Lihat s’galanya...
lebih dekat... dan kau... akan mengerti’ Ririn menyelesaikan senandungnya dan beralih ke gadis di sampingnya. “Kau sangat menyukai karya Sherina bukan? Cobalah kau dengar apa kata dia. Lihatlah dirimu lebih dekat. Tidak tahukah kau jika kau berbakat? Kau sangat hebat dalam bidang musik. Jangan kau berani-beraninya merendah di depanku. Kau bisa menekuni hal itu, bukan? Sekarang zaman sudah berkembang, seniman juga sudah sangat disambut baik sekarang. Kau saja sudah bisa membuat lagu. Kau bisa saja menjadi seperti Sherina, atau bahkan kau bisa saja berkolaborasi di atas panggung dengannya. Bukankah itu hebat?” Ririn berkata sambil menggebu-gebu, berharap semangatnya dapat tersalurkan kepada Keke. Mendengar hal itu, Keke mengangkat wajahnya dan menatap Ririn. “Kau yakin aku dapat melakukannya? Entahlah, aku tidak percaya diri akan hal itu.” Dengan nada ragu ia bertanya. “Yakin, aku sangat yakin. Bahkan banyak sekolah musik berkualitas sekarang. Aku percaya kau akan menjadi musisi yang hebat.” Senyuman merekah tercipta di wajah Ririn. Bahkan karena terlalu semangat, ia sampai mengguncang badan Keke. Keke memeluk Ririn dengan erat, sangat erat. Tentu Ririn menyambut dengan pelukan yang hangat juga. Tak lupa ia membisikkan permintaan maaf di telinga sahabatnya. Perasaan Ririn kini lega, sahabatnya telah kembali dan Keke juga bersyukur dapat memiliki sahabat seperti Ririn. Empat bulan telah berlalu, ujian demi ujian sudah mereka hadapi, kelulusan juga sudah mereka lalui. Keluarga Ririn dan Keke kini sedang bertamasya ke pantai untuk melepaskan penat
dari ibukota. Di pesisir pantai dengan deru ombak dan aroma laut, Keke dan Ririn berdiri. Tarikan nafas yang dalam mereka ambil sambil menikmati angin yang berhembus menyapu wajah dan mengibarkan rambut mereka. “Ririn, terima kasih banyak.” Keke memecah suasana hening yang sedari tadi berada di antara mereka berdua. “Terima kasih untuk apa?” Ririn menoleh bingung. “Terima kasih karena telah membantu dan menemaniku selalu” Keke tersenyum simpul menatap tetangganya itu. Ririn hanya membalas dengan anggukan dan menepuk pelan bahu Keke. “Aku akan berkuliah di Jepang, ambil jurusan musik. Dua minggu lagi aku akan berangkat.” Ucapan Keke tentu membuat Ririn terkejut. “Itu baru sahabatku. Aku bahagia untukmu, tapi jika kau di Jepang maka kita akan jarang bertemu.” Ririn tentu sedih, tapi rasa bahagia karena melihat sahabatnya sudah bertumbuh lebih besar. “Kalau aku tetap di Jakarta apa bedanya? Toh kamu juga akan pergi ke Malang, kan? Aku pasti pulang sesekali, dan aku berjanji akan membawakanmu cendera mata.” Ujar Keke sambil mengangkat kelingkingnya. Tentu Ririn membalas dengan mengaitkan kelingking mereka berdua. “Berjanjilah kepadaku untuk tetap baik-baik saja di sana, dan yang terpenting jangan sekali-kalinya kau berani untuk melupakan aku.” Keke tersenyum simpul guna meyakinkan sahabatnya bahwa ia akan baik-baik saja.
“Janji. Aku tidak akan pernah melupakan Ririn, tetangga sekaligus sahabatku yang sangat hebat. Sahabat yang selalu ada....” Keke menutup kalimatnya dengan menyanyikan sebaris lagu Sherina yang keduanya sangat sukai. ‘dalam suka dan duka...’ Ririn ikut menyanyikan beberapa kata penutup dari lagu tersebut, kemudian memeluk Keke dengan erat. Keduanya masih sama-sama belajar, namun mereka memiliki satu sama lain untuk bertumbuh menjadi lebih dewasa.
LDKS Siti Khodijah Pagi hari yang cerah, kicauan burung yang merdu, serpihan debu yang melewati tiap pori-pori. Lea Kayaren seorang gadis pintar namun, tidak baik dalam penampilan. Lea memiliki kemampuan yang sangat baik dalam berpikir. Namun karena penampilannya yang terlihat cupu ia sering kali dibully. Tidak semua teman teman membully nya, ada seorang anak bernama Dina yang merupakan teman sekelasnya, Dina sangat baik terhadap Lea, mereka sering mengerjakan tugas dan segala hal bersama. Sementara di kelas sebelah ada Kairi, yaitu teman lelaki Lea saat satu SMP dulu. Kairi merupakan siswa lelaki yang cukup tampan di sekolah, sehingga banyak yang menyukai Kairi. Namun, karena Kairi dekat dengan Lea seringkali mereka dihujat karena ketidakpantasan yang terjadi. Salah satu dari orang - orang yang menghujat kedekatan Kairi dan Lea adalah Siera. Siera juga merupakan teman 1 SMP Lea dan Kairi, Siera menyukai Kairi dari awal masuk SMP. Namun, Kairi tidak menyukai Siera balik dikarenakan sifat buruk Siera sendiri. “Barisan Upacara dibubarkan, seluruh peserta upacara dipersilahkan kembali ke kelasnya masing-masing”. Ucap protokol pemimpin upacara untuk membubarkan barisan setelah upacara berlangsung. Saat upacara berlangsung telah terdapat informasi mengenai Latihan Dasar Kepemimpinan Siswa yang akan diadakan dalam 7 hari kedepan. Seluruh siswa telah membuat kelompok dengan para teman- temannya. Namun, ternyata kelompok LDKS telah ditentukan oleh para panitia LDKS. Setelah dibagikan kelompoknya, banyak yang protes
mengenai pembagian itu dikarenakan ketidaksesuaian yang diinginkan para siswa-siswi. Panitia pun menindak tegas akibat banyak protes yang diterima dari seluruh siswa-siswi. Kairi dan Lea sekelompok membuat Siera semakin membenci Lea, bahkan tidak hanya Siera, tetapi murid lain juga kian membenci mereka karena bisa bisanya mereka dimasukan kedalam satu kelompok. Tugas-tugas yang diberikan oleh guru dan panitia LDKS begitu banyak sehingga membuat Kairi sangat kebingungan. Namun, berkat kecerdasan Lea, ia mampu menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan dan juga dapat membantu Kairi menyelesaikan tugas tepat pada waktunya. Kekompakan Lea dan Kairi dalam menyelesaikan tugas membuat kelompok Lea ikut senang dikarenakan satu kelompok juga mendapat poin tambahan. Namun, tetap saja ada dari beberapa anggota kelompok yang memanfaatkan dalam kesempatan yang ada. “ah gue si bodo amat ama tugas LDKS, kelompok gue mah ada si cupu yang bisa ngerjain semua tugas”, ucap salah satu dari anggota kelompok Lea. Kairi mendengar hal itu, ia pun segera melaporkan kepada Lea berharap Lea tidak terus terusan mengerjakan tugas satu kelompok itu sendiri. Namun, Lea dengan sabar dan ikhlas tetap mengerjakan, karena ia tak mau kelompoknya kena hukuman. Singkat waktu, hari dimana LDKS pun dilaksanakan, seluruh siswa siswi bersiap memasuki tronton. Na’as nya satu tronton tersebut tidak cukup untuk tiap satu kelompok, sehingga harus ada yang duduk dan berdiri secara bergantian. Lea Kayaren seorang ketua kelompok yang rela berdiri selama perjalanan agar anggotanya bisa duduk dan tidur, seringkali Kairi menawari Lea untuk duduk bergantian dengan anggota lain, namun Lea
menolak. 2 jam perjalanan, kini mereka pun sampai di tempat LDKS. Seluruh kelompok turun dari tronton, mereka pun harus jalan kaki menanjak membawa segala keperluan mereka mendaki menuju tempat penginapan yang berada hampir di ujung bukit. Sorak-sorak menyanyi lagu mars dari para siswa dan siswi yang membuat mereka semangat sehingga perjalanan yang beratpun tidak terasa. 65 menit berlangsung, mereka pun sampai di villa mereka masing-masing, mereka diberi waktu 30 menit untuk beberes kamar mereka yang setelah itu mereka akan melanjutkan rangkaian acara LDKS. Brushhhh…………. hujan pun turun dengan deras membasahi wilayah LDKS dan membuat suhu sangat dingin. Banyak para siswa - siswi pun jatuh sakit akibat kelelahan dan kedinginan. Namun, Lea dengan tegap nya masih kuat bahkan ia membantu teman teman sekelompoknya untuk membersihkan kamar. “prittttt, diharapkan seluruh peserta LDKS berkumpul di lapangan sekarang juga!”, teriak pembina LDKS. Seluruh peserta panik dengan secepat mungkin memakai jas hujan lalu bergegas lari menuju lapangan. Dibawah derasnya hujan dan suhu yang dingin para peserta di suruh push up lalu terus melanjutkan kegiatan LDKS. Sebelum melanjutkan kegiatan, banyak peserta jatuh sakit, Namun Lea Karayen tetap gagah menahan dinginnya hujan dan terus melanjutkan berbagai kegiatan LDKS. Hingga malam hari pun tiba, makan malam bersama diadakan banyak peserta yang sudah jatuh sakit sehingga harus dipulangkan. Kelompok Lea pun hanya tersisa 8 dari 15 orang. Siera yang kondisi tubuhnya sudah kurang baik, namun ia tetap
memaksakan kegiatan LDKS selanjutnya demi mencuri perhatian Kairi dan tidak mau kalah terhadap Lea. Jejak Malam, adalah kegiatan yang selanjutnya dilakukan, para peserta membentuk barisan yang dipimpin oleh kakak mentor lalu mereka akan menyusuri hutan dan mencari petunjuk agar dapat kembali ke base dengan mendapatkan harta karun yang sudah disediakan dalam peta. Siapa yang duluan menemukan harta karun itu dan berhasil membawanya ke base maka kelompok itulah menang dan yang lainnya akan mengerjakan beberapa tugas sebagai hukuman. Karena kecerdasan Lea dan kemampuan Kairi yang dengan cepat menyelesaikan rintangan di tiap pos membuat kelompok Lea mampu mendapatkan harta karun itu. Namun, di dalam perjalanan menuju base, Lea mendengar suara seseorang minta tolong, dengan berani Siera meninggalkan kelompoknya diam diam di pos berikutnya lalu ia mencari sumber suara tersebut. Benar saja ia menemukan Siera yang hampir jatuh kedalam jurang, dengan cepat ia membuka tali kur yang ada di atributnya lalu melemparnya ke Siera. Lea pun menarik Siera dengan sekuat tenaga, Alhamdulillah Siera dapat diselamatkan. Siera sangat ketakutan dan memeluk Lea sekencang-kencangnya. Tidak berapa lama pun terdengar teriakan Kairi dan para kakak mentor mencari Lea, Lea pun menyahuti panggilan teman-temannya itu dan mereka pun berhasil ditemukan. Mereka dibawa kembali ke base dan segera diobati seluruh luka yang terdapat. Keesokan harinya, acara puncak dari LDKS yaitu pentas seni, dikarenakan banyak anggota kelompok yang dipulangkan sehingga pentas seni diadakan untuk seluruh peserta yaitu gabungan. Lea dan Dina pun mengangkat tangan dengan berani ia maju dan tampil membacakan puisi, Kairi pun ikut maju sambil bermain gitar
sehingga mereka pun menampilkan musikalisasi puisi. Lea dan Dina pun ikut menarik teman - temannya agar bernyanyi dan bersenandung bersama. Begitu indahnya kekompakan mereka. Selesai musik, tiba-tiba Siera muncul membacakan puisi yang bertema permintaan maaf. Aku benar-benar menyesal telah melukai perasaanmu Aku bahkan tidak yakin jika pertemanan ini harus berakhir Aku memohon maaf atas kesalahanku Aku adalah seorang yang bodoh Melukaimu adalah kebodohan terbesarku Bukanlah niatku membuat kamu merasa kecewa Segala sesuatu yang aku lakukan selalu berakhir memburuk Jika kamu sangat membenciku, aku ikhlas Sekarang satu bulan terasa seperti satu tahun Jika aku lalui tanpa kehadiran kamu disisiku Tolong maafkan aku Dan bisakah tetap berteman seperti sedia kala? dan dengan indahnya Lea pun membalas puisi itu Tidak peduli seberapa sering kita bertengkar Aku akan tetap disampingmu Kita sudah melalui banyak kenangan bersama Aku sungguh ingin pertemanan kita abadi Kamu adalah teman terbaikku
Semua orang pun terharu melihat pertunjukan itu dan bertepuk tangan tanda bangga atas apa yang telah ditampilkan. Siera dan Lea pun berpelukan, Dina dan Kairi ikut terharu melihat mereka. Mereka pun berkumpul dan bergabung bersama, mulai membereskan segala peralatan dan perlengkapan mereka. Ya itulah LDKS, Lea, Dina, Kairi, dan Siera hehehe nggak dong LDKS itu Latihan Dasar Kepemimpinan Siswa yaitu dimana kita belajar cara bersosialisasi, bekerja sama, memimpin, dan masih banyak lainnya. Untuk teman - temanku yang belum menjalankan LDKS, semangat yaa!. Kerjakan dan taati seluruh perintah kakak mentor atau pembina LDKS. See you next time !
Secangkir Kopi Kenangan Virly Adinda Arsyah Krekk Krekk..!!! Suara punggung berbunyi ketika Kynearly meregangkan punggungnya yang pegal ke arah kanan dan kiri. Di Selasa sore yang dingin, dengan ice coffee americano yang berdiri tegak di sampingnya, ia sibuk mengerjakan tugas-tugas kantornya yang menumpuk. Meskipun Kynearly telah mengarahkan hati dan pikiran berusaha fokus pada pekerjaannya, kebosanan mulai menyergapnya. Suasana di kantor terasa sunyi dan hening. Kynearly merasa bosan dan jenuh dengan rutinitas yang monoton. Ia merasa seperti tenggelam dalam lautan kebosanan yang tak kunjung usai. Ia memandangi ice coffee americano yang ada di atas meja kerja dengan tatapan kosong. Merenung sejenak, mengingat kembali akan masa kecilnya yang sering mengunjungi kedai kopi bersama seorang laki-laki. Kynearly kecil selalu merasa senang dan bersemangat ketika laki-laki itu mengajaknya pergi ke Kedai Kopi Klasik. Mereka memiliki rutinitas yang sama, yaitu pergi ke Kedai Kopi Klasik setidaknya tiga kali dalam seminggu. Mereka berdua akan duduk di meja yang sama setiap kali mereka datang. Meja khusus dua orang yang terletak di sudut ruangan. Kynearly akan memesan secangkir ice coffee americano, sementara laki-laki itu memesan snowflake coffee. Kynearly teringat tentang pertama kali ia pergi ke kedai kopi bersama laki-laki itu. Kynearly kecil yang polos duduk di
meja yang terletak di sudut ruangan, menunggu seorang lakilaki yang sedang memesan kopi di kasir. Kedai Kopi Klasik itu selalu terlihat ramai pengunjung. Ruangan dengan desain rustic tersebut di cat berwarna putih. Di dominasi dengan kayu dan tanaman hijau. Elemen kayu yang dikombinasi dari berbagai tipe memberikan kesan alami apa adanya. Seorang laki-laki yang berada di kasir akhirnya menghampiri Kynearly dan duduk di sebelahnya. “Sudah ku pesankan kopi untuk mu, Kyn,” ujar laki laki itu. Beberapa menit kemudian, pelayan kedai kopi tersebut datang menuju meja mereka, lalu meletakan dua kopi yang sudah dipesan di atas meja dengan bunyi yang mengentak keras. “Terima kasih, mas,” ujar Kynearly dan laki-laki itu bersamaan “Sama-sama,” jawab pelayan kedai kopi Kynearly akhirnya mencicipi secangkir kopi pertama dalam hidupnya. “Bagaimana rasanya, Kyn?” laki-laki itu bertanya dengan nada penasaran “Pahit sekali,” Kynearly menjawab Seusai percakapan canggung itu, mereka memandangi jalan raya melalui kaca jendela. Meminum kopi sedikit demi sedikit hingga cangkir itu terlihat kosong. pulang ke rumah masing-masing.
Awalnya, suasana diantara mereka terasa agak caggung dan kaku. Namun, seiring berjalannya waktu, mereka menjadi lebih dekat dan akrab. Mereka berbincang-bincang mengenai kopi. Mulai dari jenis-jenis kopi, metode penyeduhan, asal usul biji kopi yang berbeda, dan aroma, keasaman, kekuatan, serta cita rasa kopi dengan antusiasme yang sama. Minggu demi minggu, Kynearly semakin mengerti bahwa kopi bukan hanya minuman biasa. Ia belajar bahwa kopi dapat menghadirkan suasana yang berbeda, bisa memberikan semangat atau ketenangan, dan bahkan bisa membangkitkan inspirasi. Kynearly merasa seperti menemukan hal baru yang menarik melalui kopi. Laki-laki itu juga mulai membuka diri kepada Kynearly. Mereka saling berbagi cerita tentang kehidupan mereka, menciptakan ikatan yang kuat. Suasana antara Kynearly dan laki-laki itu semakin cair dan nyaman. Mereka tidak hanya berbicara tentang kopi, tetapi juga tentang kehidupan, impian, dan juga harapan. Laki-laki itu menjadi sosok yang menginspirasi Kynearly, memberikan nasihat bijak dan dorongan untuk mengerjar apapun yang diinginkan dalam hidupnya. Namun, seiring berjalannya waktu, laki-laki itu mulai sibuk dengan pekerjaannya. Laki-laki itu tak ada waktu untuk Kynearly. Ia sudah jarang sekali pergi ke kedai kopi bersama Kynearly. Pertemuan merwka pun berkurang.
Frekuensi pertemuan mereka menurun drastis. mulai dari tiga kali seminggu, menjadi dua kali seminggu, kemudian hanya satu kali seminggu, bahkan akhrinya tidak sekali. Kynerly merasa sedih dan kecewa. Ia merindukan momenmomen indah yang perna mereka lewati bersama di kedai kopi tersebut. Ia merindukan kehadiran laki-laki itu. Merindukan percakapan mereka yang penuh kehangatan. Kynearly pun menerima dengan pasrah. Pasrah kalau Ia dan laki-laki itu tidak bisa seperti dulu lagi. Pasrah kalau mereka pun sudah asing. Hingga saat ini, Kynearly masih sering datang ke Kedai Kopi Klasik itu. Duduk ditempat sudut ruangan, memesan kopi yang sama, hanya saja tiada sosok laki laki itu disana. Bagi Kynearly, Terdapat banyak rasa dalam secangkir kopi. Ia merasakan kasih sayang, dan perhatian, serta dukungan dari sosok laki-laki itu. Dari situlah, Kynearly menadari betapa pentingnya sosok lakilaki itu dalam hidupnya. Sosok yang selalu mendengarkan cerita-ceritanya. Sosok yang selalu ada untuknya. Sosok lakilaki itu adalah ayahnya.
Cinta Bertepuk Sebelah Tangan Yoga Fahara Hayat “Ada seorang remaja yang sedang di kelas mengobrol dengan teman nya menceritakan tentang. seorang wanita? yang cantik dan pintar,remaja tersebut bernama Sudi yang berumur 17 tahun yang menyukai seorang perempuan yang bernama Shinta. “lebih baik Jangan gegabah Sudi meninggan cari tahu dia suka apa! Daripada lu di tolak kan sakit. meninggan lu hari besok lu ajakin main bulu tangkis bareng sama shinta tapi jangan lupa membawa raket nya Sudi ucap Faris. “Wah bener juga lu Faris aku tak sabar main bereng bulu tangkis sama dia hari Selasa. Ucap sudi Nah waktu sudah hari Selasa Sudi pun berangkat sekolah dengan gembira karna tidak sabar bermain bulutangkis dengan Shinta “Faris pun berkata ada gak sabar ni mau pdkt dengan Shinta untuk bermain bulutangkis, yu kita sudi kita ganti baju untuk olahraga takut dimarahin guru pjok “Seluruh siswa ayu turun semuanya untuk ke lapangan bawa raket nya untuk bermain bulutangkis ujar Erlangga “Nah ayu semua anak untuk bermain-main bulu tangkis untuk mengambil nilai nya untuk Minggu depan ujar guru pjok “Shinta kita main bulutangkis bareng yu jika kalah kamu menjadi teman aku ya selamanya ujar Sudi
“Shinta pun berkata ayu kalau aku menang kamu Mabar bareng ya dengan aku “Sudah habis bermain bulutangkis Sudi pun menang bermain bulutangkis tersebut namun Sudi ngajak main habis pulang nanti Shinta untuk Mabar gem mobile legends adalah gem yang sangat populer di kalangan di masyarakat “Shinta berkata boleh entar kita mabar mobile legends nya aku make miya entar di gem nya kamu gendong aku sampai mytic “aku ikut boleh gak Shinta entar mabar nya ujar faris “Sudi berkata tak boleh aku mau ingin Mabar sama shinta berdua aja “Namun sudah berselang 2 hari sudah lama Mabar mobile legends si sudi mempunyai perasaan kepada shinta chat ke faris bahwa dia siap nembak shinta namu dia belum mempunyai percaya diri karna dia sadar diri bahwa dia belum ganteng dan masih Makai duwit orang tua nya ujar sudi faris berkata coba dulu saja nembak shinta semoga di terima tapi lu harus tanggung malu jika dia tolak lu sudi yang penting lu udh percaya diri bahwa lu bisa mendapatkan pujaan hati lu semoga berhasil Sudi “terimakasih” atas bantuannya telah mensupport w untuk mendapatkan seorang pujaan hati gua Shinta ujar Sudi Faris berkata besok aja lu nembak Shinta di sekolah Sud w takutnya lu malu aja sih jika dia tolak lu
Tenang aja w udh yakin pasti bisa mendapatkan dia ujar Sudi Namun waktu malam sudi chat Shinta nanya apa dia sudah mempunyai pacar atau belum tapi shinta Menjawab belum emg kenapa disitulah sudi senang karna Shinta belum mempunyai pacar percaya diri semangkin percaya diri meningkat habis Sudi menjawabnya tidak apa apa lebih baik saya tidur cepat berselang besok hari Sudi pun bersemangat berangkat sekolah untuk nembak Shinta Faris berkata kamu siap nembak shinta tidak Aku sudah semangat untuk menembak dia sudah tak sabar menunggu dia datang ke kelas ujar Sudi Erlangga berkata itu shinta di baru saja datang sekolah tu Apa kamu mau menjadi pacar ku shinta ujar Sudi Shinta berkata lebih Kita teman saja aku gak mau pacaran soalnya aku udah punya pacar tapi beda sekolah “Ok deh terimakasih ya” ujar Sudi Disitulah sudi Sudi seneng banget sudah melepaskan perasaan ke shinta nya namun emang sakit di rasakan tersebut
Berbeda Tujuan Zahrani Rani berjalan kaki dengan tergesa karna ia sudah terlambat 8 menit dari jadwal bus sekolahnya, sehingga ia tertinggal bus jemputan. Ia perlu berjalan menuju jalan raya untuk mencari ojek. Hari ini semakin sial, tidak ada satu pun ojek di pangkalan. Hari Senin seperti ini memang biasanya menjadi sangat sibuk, begitu pun tukang ojeknya. Di sebrang jalan, ia melihat sosok laki-laki menertawai raut wajahnya. Rani semakin mendengus kesal, laki-laki itu semakin mertawakannya. Dialah Satria Satria dengan motornya mendatangi Rani di sebrang jalan dan menawarkan untuk menaiki motor Satria, awalnya Rani menolak, karena pasti Satria dan teman lainnya mengejek Rani habis-habisan di jalan. Tapi, di saat tergesa, akhirnya Rani pun menerima ajakan Satria. "Gimana rasanya terlambat sekolah?" Tiba-tiba Satria bertanya saat di perjalanan. "Ya sama aja kaya kamu terlambat ke turnamen basket." Jawab Rani "Aku si gak pernah tuh yang namanya terlambat turnamen, Ran. Hahah" "Bodo amatlah, cepat ngebut aku sudah terlambat ini!" Satria pun yang terkekeh kembali mengencangkan gas nya agar Rani segera ke sekolahnya.
Satria memang atlet basket yang sudah tidak pernah sekolah sejak SD. Ia memilih fokus untuk menjadi atlet dan memilih sekolah di rumah. Dari teman masa kecilnya Rani, Satrialah yang sudah memantapkan diri menjadi apa yang ia mau. Walau berbeda jalan dengan Rani, Satria selalu menemukan cara untuk bisa menikmati masa-masa remajanya. Sesampainya tiba di sekolah, Satria mengucapkan kepada Rani, "Belajar yang rajin yaa Bu Guru!" Rani tersenyum dan mukanya memerah. Merasa senang dan puas, entah mengapa Rani merasa sedih yang tadinya semasa kecil iya bertujuan sama dengan Satria tiba disaat remaja malah menjadi berbeda tujuan. Dan keesokan harinya setelah aku pulang sekolah aku langsung pamit kepada orang tuaku untuk pergi kerumah temanku yang berbeda umur 2 tahun lebih tua dari aku dan ia juga temannya Satria Aku : “Ma, aku mau pergi kerumah Manda ya,nanti sore aku pulang” Ibuku : “Iya,tapi kamu jangan terlambat lagi” Aku : “Iya, aku pamit dulu, Assalamu’alaikum” Ibuku : “Wa’alaikumussalam” Setelah sampai dirumah Manda dan mempersilahkan aku duduk, Manda mulai ngobrol denganku. Manda : “Rani, setelah kamu lulus dari SMA Negeri 30 Jakarta, kamu ingin melanjutkan dimana?”
Aku : “Aku ingin melanjutkan kuliah di UGM Jogja, karena itu merupakan impianku sejak kecil agar aku bisa menjadi guru. Manda : “Kenapa nggak kamu coba memilih Universitas lain, misalnya di UI?” Aku : “Aku sih mau, tapi aku ingin kuliah di UGM.Selain itu, Universitas mana saja sama kok, yang penting niatnya. Manda : “ Ohh, baguslah kalau begitu.Kamu mau gak ikut shopping bersamaku untuk membeli peralatan sekolah kamu” Aku : “Wahh serius Man?” Akhirnya kita berdua bershopping bersama dan di bayarkan oleh Manda. Pada sore hari setelah aku pulang dari rumah Manda,Satria menelponku dan menanyakan kabarku. Satria : "Halloo Ran gimana kabar kamu?" Aku : "Haloo juga Sat baikk gimana turnamen basket kamu berjalan lancarkah?" Satria : "Alhamdulillah Ran berjalan dengan lancar untung ada kamu yang selalu mendoakanku walau semasa kecil kita bertujuan sama untuk menjadi Guru tetapi aku memilih tujuan yang berbeda dengan kamu." Rani : "Heheh gappa Sat,mungkin itu sudah menjadi skill kita masing-masing klo emng ini yang terbaik untuk kita tidak masalah"
Setelah terdiam sejenak telpon kita dan aku memutuskan untuk mematikan telponnya, dan keesokan harinya aku meminta izin kepada Ibuku untuk berlibur ke pantai dengan Satria dan Manda.Tepat pada pukul 07.00 WIB kami berangkat menggunakan mobil Satria, di dalam perjalanan aku merasa senang sekali telah sekian lama aku tidak berjalan-jalan bersama Satria dan Manda.Setelah sampai di sana kita berbicara kedepannya bagaimana. Satria : "Kalian nanti kedepannya mau gimana?" Manda : "Kan kamu tau aku mah sudah kerja di perkantoran disaat orang lain pada memilih untuk kuliah sedangkan aku memilih keluar dari SMK langsung menempuh dunia pekerjaan karna untuk biaya kelurga dan adik aku" Aku : "Hmm aku bingung,kelurgaku inginnya aku masuk ke univesritas UI tetapi aku memilih untuk memasuki UGM." Satria : "Ternyata tujuan kita di saat sudah benar-benar menempuh kelulusan ini malah menjadi berbeda tujuan yaa, tapi tidak apa-apa selagi itu memang yang terbaik untuk kita semua Tuhan tau mana yang terbaik untuk kita,jika memang kita tidak di satukan tujuannya." Tepat dimana kelulusan sudah di saat Manda ingin mengajak bertemu Satria dan Rani tetapi Satria dan Rani selalu tidak bisa diajak bertemu lalu Manda berkata "Kalian mentang-mentang sudah sukses malah pada susah untuk diajak reuni, kalian bukan teman yang aku kenal seperti dulu."
"Bukannya seperti itu Man, aku sangat sibuk dengan kuliahku ini kan kamu bisa mengajak temanmu yang lain" Jawab Rani yang tiba-tiba berubah seperti itu. "Yasudah jika memang itu mau kalian aku tidak apa-apa,asal jika ada problem jangan datang ke aku karna aku juga bukan orang yang seperti dulu, terimakasih sudah menjadi teman yang pernah satu tujuan denganku jika akhirnya kita menentukan berbeda tujuan" Kata Manda sambil menangis tersedu-sedu karna ia tidak ingin akhirnya seperti ini. Akhirnya Manda, Satria, dan Rani memilih hidup dan tujuannya masing-masing.