Rina Nuraeni, S.Kep, Ners., M.Kes Arni Wianti, S.Kep., Ns., M.Kes ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS LOVRINZ PUBLISHING 2018
JUDUL BUKU : Asuhan Keperawatan Gangguan Maternitas Penulis : Rina Nuraeni, S.Kep, Ners., M.Kes Arni Wianti, S.Kep., Ns., M.Kes Editor : Aeni Rahmawati, S.Pd Sampul : Lentera Pena 14 Cetakan 1. Februari 2018 Dimensi 14 x 20 cm. Halaman 250 hal Diterbitkan oleh : LovRinz Publishing Perum Panorama B2 nomor 23-24 Sindanglaut – Cirebon Jawa Barat 085933115757 [email protected] ISBN : 978-602-5684-40-1 Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang All right reserved
1 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS BAB I GANGGUAN PERDARAHAN A. Perdarahan Awal Kehamilan 1. Definisi Pendarahan adalah salah satu kejadian yang menakutkan selama kehamilan. Perdarahan pada kehamilan adalah keadaan yang tidak normal dan harus diwaspadai. Biasanya perdarahan ini terjadi pada awal masa kehamilan (trisemester pertama), tengah semester (trisemester kedua) atau bahkan pada masa kehamilan tua (trisemester ketiga). Pendarahan di saat hamil memang perlu diwaspadai, terlebih di saat kehamilan pada trimester pertama, di mana keadaan janin yang sangat rentan atau belum kuat di dalam rahim, kerap kali menimbulkan efek di atas, tentunya setiap ibu tidak menginginkan hal tersebut terjadi. Mungkin beberapa dari wanita hamil pernah mengalami pendarahan pada trimester pertama dengan ditunjukan dengan titik atau bercak darah dari mulut rahim yang mungkin akan dikatakan wajar oleh para dokter kandungan, meskipun hampir tidak semuanya bisa dikatakan normal, karena hal ini juga bisa
2 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS menjadi kemungkinan penyebab keguguran di saat kehamilan. Pendarahan ini dapat bervariasi mulai dari jumlah yang sangat kecil (bintik-bintik), sampai pendarahan hebat dengan gumpalan dan kram perut. Pendarahan pada awal kehamilan tidak selalu normal, tapi hal ini sering terjadi hampir pada 30% kehamilan. Dan separuh dari wanita yang mengalami pendarahan pada awal kehamilan dapat tetap meneruskan kehamilannya dan melahirkan bayi yang sehat. Pendarahan dalam jumlah yang sangat sedikit / bintik-bintik pada awal kehamilan bisa merupakan hal yang normal yang disebut sebagai pendarahan karena implantasi embrio pada dinding rahim yang menyebabkan dinding rahim melepaskan sejumlah kecil darah, biasanya terjadi sekitar kehamilan minggu ke 7-9 dan hanya terjadi satu atau dua hari saja. 2. Penyebab Ada berbagai kemungkinan beberapa penyebab timbulnya pendarahan di atas, yang antara lain : a. Terlalu lelah dalam bekerja b. Model pakaian kerja yang terlalu ketat c. Mengangkat beban yang terlalu berat
3 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS d. Berhubungan seks di saat hamil e. Aktivitas yang berlebihan. Perdarahan pada trimester pertama tidak selalu berarti ada masalah. Penyebab yang tidak berbahaya misalnya : a. Melekatnya sel telur yang sudah dibuahi ke dinding rahim. Hal ini normal pada kehamilan. Jumlah darah yang keluar sangat sedikit. b. Perubahan hormone : Keluar flek yang disebabkan oleh perubahan hormon saat hamil. Biasanya terjadi pada minggu-minggu awal kehamilan, tetapi pada sebagian wanita dapat menetap sampai akhir kehamilan. Penyebab lain yang lebih serius pada trimester pertama yaitu : a. Keguguran/abortus : perdarahan vagina merupakan tanda awal keguguran, disertai dengan nyeri perut. b. Blighted ovum : kehamilan yang tidak berkembang. Walaupun dari pemeriksaan ultrasonografi (USG) terlihat tanda-tanda kehamilan di dalam rahim, namun embrio gagal berkembang sebagaimana mestinya. c. Kehamilan ektopik : sel telur yang telah dibuahi menempel di luar rahim. Yang tersering adalah
4 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS menempel di Tuba Falopii, sehingga tidak dapat berkembang karena kekurangan nutrisi. Tandanya antara lain nyeri perut dan perdarahan. Perdarahan akibat kehamilan ektopik sangat berbahaya karena bisa mengancam nyawa ibu. d. Kehamilan mola atau kehamilan anggur : plasenta tidak terbentuk secara normal. Pada pemeriksaan USG dapat terlihat bukan janin yang berkembang, tetapi jaringan abnormal. Mencegah terjadinya flek atau perdarahan dengan rajin kontrol ke dokter/bidan sejak awal kehamilan sehingga bisa mendeteksi dini adanya kelainan. Hindari rokok dan narkoba karena merupakan faktor risiko terjadinya perdarahan saat hamil, sekaligus juga tidak baik bagi kesehatan secara umum. B. Plasenta Previa 1. Definisi Pada keadaan normal, plasenta berimplantasi di bagian fundus uterus. Plasenta previa adalah plasenta yang letaknya abnormal yaitu pada segmen bawah uterus sehingga dapat menutupi sebagian atau seluruh jalan lahir (Krisanty dkk, 2011).
5 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS Plasenta previa adalah tertanamnya bagian plasenta dalam segmen bawah uterus. Istilah ini menggambarkan hubungan anatomik antara letak plasenta dan segmen bawah uterus. Suatu plasenta previa telah melewati batas atau menutupi (secara lengkap atau tidak lengkap) ostium uteri internum (Taber, 1994). 2. Klasifikasi Menurut Taber (1994) dan Krisanty dkk (2011), klasifikasi plasenta previa adalah : a. Plasenta previa totalis dikatakan demikian bila setiap bagian dari plasenta secara total menutupi osteum uteri internum. b. Plasenta previa parsialis dikatakan demikian bila bagian dari plasenta menutupi sebagian osteum uteri internum. c. Plasenta previa marginalis disebut demikian bila sebagian dari plasenta melekat pada segmen bawah uterus dan meluas ke setiap bagian osteum uteri internum, tetapi tidak menutupinya. 3. Etiologi Menurut Krisanty dkk (2011), apabila sebab terjadinya implantasi plasenta di daerah segmen bawah uterus tidak dapat dijelaskan. Namun demikian, terdapat beberapa faktor yang
6 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS berhubungan dengan peningkatan kekerapan terjadinya plasenta previa, yaitu : a. Paritas Makin banyak paritas ibu, makin besar kemungkinan mengalami plasenta previa. b. Usia ibu pada saat hamil Bila usia ibu pada saat hamil 35 tahun atau lebih, makin besar kemungkinan kehamilan mengalami plasenta previa. 4. Gambaran klinik Menurut Krisanty dkk (20110, gambaran klinik pada plasenta previa adalah: a. Perdarahan yang terjadi bisa sedikit atau banyak. Perdarahan yang terjadi pertama kali, biasanya tidak banyak dan tidak berakibat fatal. Perdarahan berikutnya hampir selalu lebih banyak dari sebelumnya. Perdarahan pertama sering terjadi triwulan ketiga. b. Pasien yang datang dengan perdarahan karena plasenta previa tidak mengeluh adanya rasa sakit. c. Pada uterus tidak teraba keras dan tidak tegang. d. Bagian terbawah janin biasanya belum masuk pintu atas panggul dan tidak jarang terjadi letak janin (letak lintang atau letak sungsang).
7 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS e. Janin mungkin masih hidup atau sudah mati, tergantung banyaknya perdarahan. Sebagian besar kasus, janinnya masih hidup. 5. Pemeriksaan fisik dan laboratorium Menurut Taber (1994), pemeriksaan fisik meliputi : a. Pemeriksaan abdomen : uterus halus dan tidak lunak, biasanya tidak ada kontraksi uterus. Bunyi jantung janin biasanya normal. Bagian presentasi tidak tercekap pada pintu atas panggul (pelvic inlet). Kelainan letak janin (bokong, oblik atau lintang) merupakan suatu temuan yang sering berkaitan. b. Pemeriksaan pelvis : Pada permulaan vulva harus diperiksa dengan teliti dengan tujuan mengevaluasi kuantitas perdarahan eksterna dan kemungkinan perdarahan traktus urinarius atau rektum. Pemeriksaan pervaginam atau rektal dapat merangsang perdarahan hebat. Oleh karena itu pemeriksaan pervaginam tidak pernah dilakukan kecuali pasien berada di dalam sebuah kamar operasi yang telah dipersiapkan untuk Seksio Sesarea segera. Apabila perdarahannya minimal dan tampaknya bukan plasenta previa, pemeriksaan yang hatihati dengan spekulum dapat menyingkap kemungkinan perdarahan vaginal atau serviks
8 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS (sebagai akibat rupturnya varises, erosi serviks, atau tumor-tumor serviks). Sementara pemeriksaan laboratorium didapatkan : 1) Hitung darah lengkap harus dilakukan terhadap setiap pasien dengan tujuan menilai derajat anemia. 2) Urinalisis biasanya normal 3) Golongan darah dan Rhesus : 2 sampai 4 unit darah harus dipersiapkan untuk kemungkinan transfusi. Kecepatan dan luasnya perdarahan menentukan perlunya penggantian darah. 6. Penatalaksanaan Menurut Blesler dan Sternbach (2006), terapi yang diberikan adalah: a. Perdarahan fatal dapat terjadi. Infus IV harus dipasang, pemeriksaan pembukuan darah dimintakan, darah diperiksa golongan darah dan pencookan silang, dan resusitasi cairan diberikan jika diperlukan. b. Seksia sesarea darurat mungkin terindikasi jika terjadi perdarahan yang signifikan. Konsultasi obstetri harus diperoleh.
9 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS C. Perdarahan Postpartum 1. Definisi Perdarahan postpartum didefinisikan sebagai hilangnya darah 500 ml atau lebih dari organ-organ reproduksi setelah selesainya kala tiga persalinan (ekspulsi atau ekstaksi plasenta dan ketuban). Normalnya, perdarahan dari tempat plasenta terutama dikontrol oleh kontraksi dan retraksi anyaman serat-serat otot serta agregasi trombosit dan trombus fibrin di dalam pembuluh darah desidua (Taber, 1994). Menurut Manuaba (1998), perdarahan postpartum dibagi menjadi : a. Perdarahan postpartum primer. Perdarahan postpartum primer terjadi dalam 24 jam pertama. Penyebab utama perdarahan postpartum primer adalah atonia uteri, retensio plasenta, sisa plasenta, dan robekan jalan lahir. Terbanyak dalam 2 jam pertama. b. Perdarahan pospartum sekunder. Perdarahan postpartum sekunder terjadi setelah 24 jam pertama. Penyebab utama perdarahan postpartum sekunder adalah robekan jalan lahir dan sisa plasenta atau membrane.
10 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS 2. Pemeriksaan fisik (Ramayanti, 2013) a. Anamnesa Selain menanyakan hal umum tentang periode perinatal, tanyakan tentang episode perdarahan postpartum sebelumnya, riwayat seksio sesaria, paritas, dan riwayat fetus ganda atau polihidramnion. 1) Tentukan jika pasien atau keluarganya memiliki riwayat gangguan koagulasi atau perdarahan massif dengan prosedur operasi atau menstruasi. 2) Dapatkan informasi mengenai pengobatan, dengan pengobatan hipertensi (calciumchannel blocker) atau penyakit jantung (misal : digoxin, warfarin). Informasi ini penting jika koagulopati dan pasien memerlukan transfusi. 3) Tentukan jika plasenta sudah dilahirkan. b. Pemeriksaan penunjang (Ramayanti, 2013) 1) Laboratorium a) Darah Lengkap : Untuk memeriksa kadar Hb dan hematokrit. b) Perhatikan adanya trombositopenia
11 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS (1) PT dan aPTT diperiksa untuk menentukan adanya gangguan koagulasi. (2) Kadar fibrinogen diperiksa untuk menilai adanya konsumtif koagulopati. Kadarnya secara normal meningkat dari 300-600 pda kehamilan, pada kadar yang terlalu rendah atau di bawah normal mengindikasikan adanya konsumtif koagulopati. 2) Pemeriksaan Radiologi a) USG dapat membantu menemukan abnormalitas dalam kavum uteri dan adanya hematom. b) Angiografi dapat digunakan pada kemungkinan embolisasi dari pembuluh darah 3) Pemeriksaan Lain Tes D-dimer (tes monoklonal antibodi) untuk menentukan jika kadar serum produk degradasi fibrin meningkat. Penemuan ini mengindikasikan gangguan koagulasi.
12 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS 3. Penatalaksanaan Menurut Safrudin (2009), terapinya bergantung penyebab perdarahan, tetapi selalu dimulai dengan pemberian infus dengan ekspander plasma, sediakan darah yang cukup untuk mengganti yang hilang, dan jangan memindahkan penderita dalam keadaan syok yang dalam. Pada perdarahan sekunder atonik : a. Beri syntocinon (oksitosin) 5-10 unit IV, tetes oksitosin dengan dosis 20 unit atau lebih dalam larutan glukosa 500 ml b. Pegang dari luar dan gerakkan uterus ke arah atas c. Kompresi uterus bimanual d. Kompresi aorta abdominalis e. Lakukan histerektomi sebagai tindakan akhir. D. Syok Hemoragi 1. Definisi Syok Hemoragik merupakan syok yang disebabkan oleh perdarahan yang banyak yang dapat disebabkan oleh perdarahan antepartum seperti plasenta previa, solusio plasenta, dan rupture uteri, juga disebabkan oleh perdarahan pasca persalinan seperti atonia dan laserasi serviks/vagina. Gejala
13 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS klinik syok hemoragik bergantung pada jumlah perdarahan yang terjadi mulai dari yang ringan sampai berat seperti terlihat pada tabel berikut. Pada syok yang ringan gejala-gejala dan tanda tidak jelas, tetapi adanya syok yang ringan dapat diketahui dengan “tilt test” yaitu bila pasien didudukan terjadi hipotensi dan/atau takikardia, sedangkan dalam keadaan berbaring tekanan darah dan frekuensi nadi masih normal. 2. Fase Syok Perempuan hamil normal mempunyai toleransi terhadapa perdarahan 500-1000 ml pada waktu persalinan tanpa bahaya oleh karena daya adaptasi fisiologik kardiovaskular dan hematologik selama kehamilan. jika perdarahan terus berlanjut, akan timbul fase-fase syok sebagai berikut. Fase Kompensasi a. Rangsangan/reflex simpatis : Respon pertama terhadap kehilangan darah adalah vasokontriksi pembuluh darah perifer untuk mempertahankan pasokan darah ke organ vital b. Gejala klinik: pucat, takikardia, takipnea.
14 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS Fase Dekompensasi a. Perdarahan lebih dari 1000 ml pada pasien normal atau kurang karena factor-faktor yang ada. b. Gejala klinik : sesuai gejala klinik syok di atas. c. Terapi yang adekuat pada fase ini adalah memperbaiki keadaan dengan cepat tanpa meninggalkan efek samping. Fase Kerusakan Jaringan dan Bahaya Kematian Penanganan perdarahan yang tidak adekuat menyebabkan hipoksia jaringan yang lama dan kenatian jaringan dengan akibat berikut : a. Asidosis metabolic : disebabkan metabolisme anaerob yang terjadi karena kekurangan oksigen. b. Dilatasi arteriol : akibat penumpukan hasil metabolisme selanjutnya menyebabkan penumpukan dan stagnasi darah di kapilar dan keluarnya cairan ke dalam jaringan ekstravaskular. c. Koagulasi intravaskular yang luas disebabkan lepasnya tromboplastin dari jaringan yang rusak. d. Kegagalan jantung akibat berkurangnya aliran darah koroner. e. Dalam fase ini kematian mengancam. Transfusi darah saja tidak cukup adekuat lagi dan jika
15 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS penyembuhan dari fase akut terjadi, sisa-sisa penyembuhan akibat nekrosis ginjal dan/atau hipofise akan timbul. 3. Penanganan Jika terjadi syok, tindakan yang harus segera dilakukan antara lain sebagai berikut : a. Cari dan hentikan segera penyebab perdarahan b. Bersihkan saluran nafas dan beri oksigen atau pasang selang endotrakheal c. Naikkan kaki ke atas untuk meningkatkan aliran darah ke sirkulasi sentral d. Pasang 2 set infuse atau lebih untuk transfuse, cairan infuse dan obat-obat IV bagi pasien yang syok. Jika sulit mencari vena, lakukan/pasang kanul intrafemoral. e. Kembalikan volume darah dengan : 1) Darah segar (whole blood) dengan crossmetched dari grup yang sama, kalau tidak tersedia berikan darah O sebagai life-saving. 2) Larutan kristaloid : seperti ringer laktat, larutan garam fisiologis atau glukosa 5%. Larutan-larutan ini mempunyai waktu paruh (half life) yang pendek dan pemberian yang berlebihan dapat menyebabkan edema paru.
16 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS 3) Larutan koloid : dekstran 40 atau 70, fraksi protein plasma (plasma protein fraction), atau plasma segar. f. Terapi obat-obatan 1) Analgesik : morfin 10-15 mg IV jika ada rasa sakit, kerusakan jaringan atau gelisah. 2) Kortikosteroid: hidrokortison 1 g atau deksametason 20 mg IV pelan-pelan. Cara kerjanya masih kontroversial, dapat menurunkan resistensi perifer dan meningkatkan kerja jantung dan meningkatkan perfusi jaringan. 3) Sodium bikarbonat : 100 mEq IV jika terdapat asidosis. 4) Vasopresor : untuk menaikkan tekanan darah dan mempertahankan perfusi renal. 5) Dopamin : 2,5 mg/kg/menit IV sebagai pilihan utama. 6) Beta-adrenergik stimulant : isoprenalin 1 mg dalam 500 ml glukosa 5% IV infuse pelanpelan. g. Monitoring 1) Central venous pressure (CVP) : normal 10-12 cm air 2) Nadi
17 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS 3) Tekanan darah 4) Produksi urin 5) Tekanan kaviler paru : normal 6-18 Torr 6) Perbaikan klinik : pucat, sianosis, sesak, keringat dingin, dan kesadaran 4. Komplikasi Syok yang tidak dapat segera diatasi akan merusak jaringan di berbagai organ, sehingga dapat menjadi komplikasi-komplikasi seperti gagal ginjal akut, nekrosis hipofise, dan koagulasi intravaskular diseminata (DIC). 5. Mortalitas Perdarahan 500 ml pada partus spontan dan 1000 ml pada seksio sesarea pada umumnya masih dapat ditoleransi. Perdarahan karena trauma dapat menyebabkan kematian ibu dalam kehamilan sebanyak 6-7% dan solusio plasenta 1-5%. Di USA perdarahan obstetric menyebabkan angka kematian ibu (AKI) sebanyak 13,4%. E. Gangguan Pembekuan Pada Masa Kehamilan 1. Pengertian Disfungsi perdarahan dan pembekuan adalah terjadinya kelainan dalam pembentukan pembekuan
18 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS darah di mana hal ini berhubungan dengan trombosit dan faktor-faktor pembekuan darah. Abnormalitas yang merupakan predisposisi seseorang mengalami perdarahan dapat disebabkan oleh pembuluh darah, trombosit, dan setiap faktor koagulasi plasma, fibrin atau plasmin. 2. Penyebab Tiga hal utama yang mempengaruhi kerentanan seseorang mengalami thrombus : a. Dinding pembuluh darah yang rentan mengalami luka, misal dinding pembuluh darah yang telah mengalami plak arterosklerosis sebelumnya. b. Aliran darah yang tidak normal, misal aliran darah pada penderita hipertensi, aliran darah pada percabangan pembuluh darah. c. Penyakit kelainan pembekuan darah. 3. Tanda Gejala Trombus yang kecil tidak menimbulkan gejala apapun. Namun bila trombus sudah menyumbat sehingga aliran darah menurun maka akan timbul gejala. Gejala yang umum adalah rasa nyeri akibat sel-sel tubuh tidak mendapat suplai oksigen. Gejala lainnya adalah kulit akan teraba dingin, juga nadi terasa lemah akibat sumbatan.
19 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS 4. Penatalaksanaan Transfusi trombosit dan komponen plasma hanya diberikan jika keadaan pasien sudah sangat buruk dengan trombositopenia berat dengan perdarahan masif, memerlukan tindakan invasif, atau memiliki risiko komplikasi perdarahan. Terbatasnya syarat transfusi ini berdasarkan pemikiran bahwa menambahkan komponen darah relatif mirip menyiram bensin dalam api kebakaran, namun pendapat ini tidak terlalu kuat, mengingat akan terjadinya hiperfibrinolisis jika koagulasi sudah maksimal. Sesudah keadaan ini merupakan masa yang tepat untuk memberi trombosit dan komponen plasma, untuk memperbaiki kondisi perdarahan. Satu-satunya terapi medikamentosa yang dipakai ialah pemberian antitrombosis, yakni heparin. Obat kuno ini tetap diberikan untuk meningkatkan aktivitas antitrombin III dan mencegah konversi fibrinogen menjadi fibrin. Obat ini tidak bisa melisis endapan koagulasi, namun hanya bisa mencegah terjadinya trombogenesis lebih lanjut. Heparin juga mampu mencegah reakumulasi clot setelah terjadi fibrinolisis spontan. Dengan dosis dewasa normal heparin drip 4-5 U/kg/jam IV infus kontinue, pemberian heparin harus dipantau minimal setiap empat jam dengan dosis yang disesuaikan. Bolus heparin 80 U tidak terlalu sering dipakai dan
20 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS tidak menjadi saran khusus pada jurnal-jurnal hematologi. 5. Pencegahan/ cara mengatasi a. Bergerak (darah bisa menumpuk di kaki saat duduk dalam waktu lama. Bila pekerjaan menuntut untuk duduk dalam waktu lama, sebaiknya luangkan waktu berjalan-jalan setiap 1 atau 2 jam) b. Hidup sehat (segera ubah kebiasaan buruk seperti merokok atau makan berlebih agar berat badan tetap normal. Selain itu, minumlah banyak air untuk mengurangi risiko penggumpalan darah) c. Hati-hati dengan obat-obatan tertentu (risiko DVT juga dapat meningkat saat mengkonsumsi pil kontrasepsi. DVT juga bisa diturunkan dari keluarga yang telah mengalami penyakit ini) d. Mengetahui tanda dan gejala (DVT terkadang sulit diidentifikasi karena gejala yang ditunjukkan hampir sama dengan gangguan lain. Perhatikan bila kaki menunjukkan gejala seperti membengkak, sakit, kemerahan, mengalami perubahan warna, dan kulit terasa hangat saat dipegang. Bila gumpalan darah sudah menjalar ke paru-paru biasanya dapat menimbulkan sesak nafas secara tiba-tiba). e. Lebih proaktif (bila tubuh menunjukan gejala pembekuan darah, cedera, atau akan melakukan
21 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS operasi, maka segeralah berkonsultasi ke dokter. Informasikan kepada ahli medis bila sedang mengonsumsi pil kontrasepsi, pernah menjalani operasi, melakukan perjalanan panjang, atau cedera dalam 8 minggu sebelumnya. 6. Komplikasi Pada ibu yang menderita pembekuan darah, kadar asam empedu akan meningkat dan akan menghasilkan racun yang akan memasuki darah ibu dan mengakibatkan beberapa gejala. Kondisi seperti ini harus segera diidentifikasi karena bisa mendatangkan dampak yang serius untuk kesehaan bayi Anda, terutama jika sudah memasuki masa kehamilan 36 minggu. 7. Dampak Resiko terbentuknya gangguan pembekuan darah dapat meningkat oleh faktor-faktor berikut : a. Obesitas Hingga saat ini, ahli kesehatan masih tidak mengetahui bagaimana obesitas meningkatkan resiko pembekuan darah. Tetapi mereka yakin bahwa gaya hidup yang banyak duduk, kurang bergerak, perubahan pada kimia darah, dan sebagainya, dapat membentuk suatu hubungan yang menyebabkan pembekuan darah.
22 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS b. Pil Keluarga Berencana (KB) Pil KB meningkatkan kadar estrogen pada tubuh. Tetapi, pil KB juga meningkatkan produksi faktor koagulasi yang menyebabkan peningkatan resiko pembekuan darah. c. Aterosklerosis Kondisi di mana arteri mengeras karena timbunan plak. Timbunan plak (kolesterol) memiliki tutup yang pada akhirnya akan pecah. Ketika itu terjadi, tubuh akan mengirim trombosit dan faktor koagulasi ke daerah tersebut untuk memperbaiki robekan. Kemudian, hal itu akan menyebabkan pembentukan gumpalan darah yang dapat semakin mempersempit jalan aliran darah.
23 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS BAB II INFEKSI MATERNAL A. Sifilis 1. Definisi Sifilis adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh Treponema pallidum dan mempunyai beberapa sifat, yaitu : perjalanan penyakitnya sangat kronis, dalam perjalanannya dapat menyerang semua organ tubuh, dapat menyerupai macam-macam penyakit, mempunyai masa laten, dapat kambuh kembali (rekuren), dan dapat ditularkan dari ibu ke janinnya sehingga menimbulkan kelainan congenital. Selain melalui ibu ke janinnya dan melalui hubungan seksual. Sipilis bisa juga ditularkan melalui luka, transfuse dan jarum suntik. Sifilis adalah penyakit kelamin yang bersifat kronis dan menahun walaupun frekuensi penyakit ini mulai menurun, tapi masih merupakan penyakit yang berbahaya karena dapat menyerang seluruh organ tubuh termasuk sistem peredaran darah, syaraf dan dapat ditularkan oleh ibu hamil kepada bayi yang dikandungnya, sehingga menyebabkan kelainan bawaan pada bayi tersebut. Sifilis sering dikenal sebagai lues, raja singa (Ai Yeyeh, 2010).
24 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS Sifilis merupakan penyakit infeksi sistemik disebabkan oleh treponema pallidum yang dapat mengenai seluruh organ tubuh, mulai dari kulit, mukosa, jantung hingga susunan syaraf pusat, dan juga dapat tanpa menifestasi lesi di tubuh. Infeksi terbagi atas beberapa fase, yaitu sifilis primer, sifilis sekunder, sifilis laten dini dan lanjut, serta neorosifilis (sifilis tersier). Sifilis umumnya ditularkan lewat kontak seksual, namun juga dapat secara vertikal pada masa kehamilan (Sarwono Prawirohardjo, 2010). 2. Etiologi Penyebab sifilis adalah masuknya suatu bakteri yang berbentuk spiral atau spirolche yang disebut troponema palidum. Dengan strategi hamper selalu menular kekorban baru melalui persetubuhan atau seks oral, mahluk kecil ini mencari jalan masuk melalui kulit dan dari sana, ia menyebar dengan ganas. Beberapa jam setelah bakter-bakteri ini masuk ke dalam kulit, mereka yang berbentuk spiral ini biasanya berhasil masuk ke dalam aliran darah, dan dalam satu minggu mereka telah menyebar dalam ke seluruh tubuh. Jika tidak diobati, infeksi tersebut biasanya berkembang melalui 3 tahap selama bertahun-tahun, (Ai yeyeh Rukiyah, 2010). Selama tahap pertama (sifilis awal), sebuah bisul yang tidak sakit timbul di mana bakteri itu
25 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS masuk ke dalam tubuh. Bisul ini atau chancre biasanya muncul berkisar antara 10 hingga 90 hari setelah infeksi dan hampir selalu di bagian genital. Biasanya, bisul-bisul sifilis memiliki bagian tengah yang halus dan pinggiran yang menonjol dan keras dan kadang-kadang berisi nanah kuning seperti lepuh atau jerawat. Pada laki-laki, bisul-bisul itu biasanya muncul pada atau dekat kepala penis. Pada wanita bisul-bisul itu biasanya pada labia (bibir vagina), namun kadang-kadang berada pada vagina bagian dalam, di mana bisul-bisul itu tidak dapat di ihat atau dirasakan. Kadang-kadang bisul itu muncul di mulut, payudara, jari-jari lidah atau wajah. 3. Patofisiologi Penularan terjadi melalui kontak langsung dengan lesi yang mengandung treponema pallidum. Treponema dapat masuk melalui selaput lendir yang utuh atau kulit dengan lesi, kemudian masuk ke perdarahan darah dan semua organ dalam tubuh. Infeksi bersifat sistemik dan manifestasinya akan tampak kemudian. Perkembangan penyakit sifilis berlangsung dari satu stadium ke stadium berikutnya. 10 sampai 90 hari (umumnya 3-4 minggu) setelah terjadi infeksi. Pada tempat masuk Treponema pallidum timbul lesi primer yang bertahan 1-5 minggu dan kemudian hilang sendiri. Kurang lebih 6 minggu (2-6 minggu). Setelah lesi primer terdapat kelainan kulit dan
26 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS selaput lendir yang pada permulaan menyeluruh, kemudian mengadakan konfluensi dan berbentuk khas. Kadang-kadang kelainan kulit hanya sedikit atau sepintas lalu. 4. Prognosis Prognosis pada ibu hamil dengan sifilis buruk, jika tidak dilakukan penanganan yang tepat akan berdampak buruk baik si ibu maupun untuk janin yang di kandungan, (Ai yeyeh Rukiyah, 2010). 5. Gejala Subjektif dan Objektif Secara umum menifestasi klinik dari penyakit sifilis yaitu : keluarnya cairan dari vagina, penis, atau dubur yang berbeda dari biasanya. Dapat berwarna putih susu, kekuningan, kehijauan, atau disertai bercak darah dan bau yang tidak enak, perih, nyeri atau panas saat BAK atau setelah buang buang air kecil (BAK) atau menjadi sering BAK, adanya luka terbuka (luka besar di sekitar alat kemaluan atau mulut). 6. Manifestasi Klinis a. Sifilis Primer (Stadium 1) - Terjadi 10 sampai 90 hari setelah infeksi - Diawali dengan sedikit nyeri pada papula yang berkembang menjadi kanker yaitu lesi ulserasi primer yang berbatas tegas dengan dasar dan daerah sekelilingnya mengeras dan berisi rabas purulen.
27 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS - Limfadenopati inguinal yang menyertai mungkin ada. b. Sifilis Sekunder - Terjadi 1-6 bulan setelah infeksi - Ruam papula pada telapak tangan dan telapak kaki, yang muncul pada saat masih terdapat lesi sifilis primer - Kebotakan pada rambut, alis dan bulu mata. - Kondilomata lafa - Lesi membran mukosa - Gejala-gejala penyakit sistemik, mencakup demam ringan, sakit tenggorokan, suara serak/ parau, malaise, sakit kepala, anoreksia dan adenopati umum. c. Sifilis Laten - Awal : terjadi pada saat infeksi hingga 1 tahun kemudian - Lanjut : terjadi 1 tahun setelah infeksi hingga awalan sifilis tersier - Tidak terdapat manifestasi klinis. d. Sifilis Tersier - Terjadi : 1-2 tahun setelah infeksi hingga 30 tahun kemudian/lebih - Guma : jaringan tumor granuloma, lunak, di hati, otak, jantung, tulang dan kulit - Kardiovaskuler : penyakit katub aorta, aneurisma aorta, penyakit arteri koroner.
28 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS e. Neurosifilis - Terjadi pada setiap tahap sifilis - Terdapat gejala-gejala klinis penyakit sistem saraf pusat/ SSP (missal : paralisis saraf kranial, perubahan kepribadian, kehilangan berbagai reflek). 7. Komplikasi a. Komplikasi Pada Janin dan Bayi Dapat menyebabkan kematian janin, partus immaturus dan partus premature. Bayi dengan sifilis kongenital memiliki kelainan pada tulang, gigi, penglihatan, pendengaran, gangguan mental dan tumbuh kembang anak. Oleh karena itu, setiap wanita hamil sangat dianjurkan untuk memeriksakan kesehatan janin yang dikandungnya. Karena pengobatan yang cepat dan tepat dapat menghindari terjadinya penularan penyakit dari ibu ke janin. b. Komplikasi Terhadap Ibu 1) Menyebabkan kerusakan berat pada otak dan jantung 2) Kehamilan dapat menimbulkan kelainan dan plasenta lebih besar, pucat, keabu-abuan dan licin 3) Kehamilan <16 minggu dapat menyebabkan kematian janin 4) Kehamilan lanjut dapat menyebabkan kelahiran prematur dan menimbulkan cacat.
29 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS 8. Diagnosis Diagnosis pasti ditegakkan dengan cara menemukan T, pallidium dalam spesimen dengan menggunakan microskop lapang pandang gelap, pewarnaan Burry, atau microskop imunofluoresensi. Pemeriksaan bantu lain adalah tes non treponema (tes reagen) untuk melacak antibody IgG dan IgM terhadap lipid yang terdapat pada permukaan sel treponema misalnya : Rapid Plasma Reagen (RPR), Veneral Disease Research Laboratory (VDRL). Hasil positif palsu tes nontreponemal dalam populasi masyarakat umum mencapai 1-2% (termasuk pada ibu hamil). Tes treponemal menggunakan T. Pallidum subspecies pallidum sebagai antigen, sehingga tes ini merupakan jenis tes konfirmatif misalnya: Treponema Pallidum Haemaglutina tion Assay (TPHA). Pada sebagian besar kasus tes treponema reaktif, hasil reaktif tersebut akan tetap reaktif seumur hidup. Untuk menegakkan diagnosis sifilis kongenital pemeriksaan IgM pada bayi sangat diperlukan, karena IgM dari ibu tidak dapat melalui plasenta. WHO dan CDC telah merekomendasikan pemberian terapi injeksi penisilin benzatin 2,4 juta MU untuk sifilis primer, skunder dan laten dini. Sedangkan untuk sifilis laten lanjut atau tidak diketahui lamanya, mendapat 3 dosis injeksi tersebut (Sarwono Priwirahardjo,2010).
30 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS 9. Pengobatan Sifilis pada stadium I diberikan benzatin penesilin dengan dosis total 4,8 juta unit secara IM berturut-turut 2,4 juta unit selama seminggu. Penesilin prokain dalam aluminium monostrearat (PAM) setiap tiga hari sekali 1,2 juta unit sehingga mencapai dosis total 4,8 juta unit. Panesilin prokain dalam akua 600.000 unit sehari selama 8 hari seharihari. Sifilis stadium II biberikan benzatin penesilin dengan dosis total 6,0 juta unit secara IM 2,4 dan 1,2 juta unit selang seminggu. Penesilin prokain dalam aluminium monostrearat (PAM) setiap 3 hari sekali1,2 juta unit sehingga mencapai dosis total 6 juta unit. Penesilin prokain dalam akua 600.000 unit sehari selama 10 hari sehari-hari. Sifilis stadium III (sifilis kardiovaskuler atau neuro sifilis) diberikan benzatin penicillin dosis total 9 juta unit, disuntikan berturut-turut 2,4 dan 1,8 juta unit selang seminggu. Penesilin prokain dalam aluminium monostrearat (PAM) setiap 3 hari sekali 1,2 juta unit sehingga mencapai dosis total 9 juta unit. Penesilin prokain dalam akua 600.000 unit sehari selama 15 hari sehari-hari. Apabila penderita alergi terhadap penisilin untuk sifilis stadium I dan II diberikan tetrasiklin HCL dengan dosis 4 x 500 mg/hari selama 15 hari. Pada stadium III diberikan tetra siklin HCL dengan dosis 4 x
31 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS 500 mg/hari selama 30 hari. Sesudah pemberian pengobatan yang cukup, setiap penderita sifilis harus tetap dalam pengamatan selama kurang lebih 2 tahun. Pemeriksaan ulang meliputi pemeriksaan fisik dan serologis dilakukan pada bulan ke 1, 3, 6, 12 dan 24 sesudah pengobatan selasai. Bila mana selama pengamatan titer tes serologis menunjukkan penurunan dan akhirnya menjadi negative, maka sesudah 24 bulan penderita dapat dilepaskan dari pengamatan, (Sarwono prawirahardjo,2010). B. Infeksi TORCH 1. Definisi TORCH adalah singkatan dari Toxoplasma gondii (Toxo), Rubella, Cyto Megalo Virus (CMV), Herpes Simplex Virus (HSV) yang terdiri dari HSV1 dan HSV2 serta kemungkinan oleh virus lain yang dampak klinisnya lebih terbatas (Misalnya Measles, Varicella, Echovirus, Mumps, virus Vaccinia, virus Polio, dan virus Coxsackie-B). Penyakit TORCH ini dikenal karena menyebabkan kelainan dan berbagai keluhan yang bisa menyerang siapa saja, mulai anak-anak sampai orang dewasa, baik pria maupun wanita. Bagi ibu yang terinfeksi saat hamil dapat menyebabkan kelainan pertumbuhan pada bayinya, yaitu cacat fisik dan mental yang beraneka ragam.
32 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS 2. Patofisiologi Penyebab utama dari virus dan parasit TORCH (Toxoplasma, Rubella, CMV, dan Herpes) adalah hewan yang ada di sekitar kita, seperti ayam, kucing, burung, tikus, merpati, kambing, sapi, anjing, babi dan lainnya. Meskipun tidak secara langsung sebagai penyebab terjangkitnya penyakit yang berasal dari virus ini adalah hewan, namun juga bisa disebabkan oleh karena perantara (tidak langsung) seperti memakan sayuran, daging setengah matang dan lainnya. Dalam dunia medis, Toxoplasma sering disebut juga dengan virus kucing. Biasanya disebut juga Toxo, tokso, toksoplasma, atau toksoplasmosis. Padahal sesungguhnya ini bukan virus kucing, tetapi parasit darah. Kenapa sering disebut virus kucing : selain sebutan ini sudah salah kaprah, memang parasit ini tumbuhnya di dalam tubuh binatang. Hal mana menurut penelitian di dalam maupun di luar negeri, 70% penyebab penyakit ini adalah kotoran kucing. Kemudian melalui hewan lain yang menempel dalam makanan, lalu masuklah ke dalam tubuh manusia dan menyatu dalam darah. a. Toxoplasma Dondii Toxoplasmosis adalah penyakit infeksi oleh parasit yang disebabkan oleh Toxoplasma gondii yang dapat menimbulkan radang pada kulit, kelenjar getah bening, jantung, paru, mata, otak,
33 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS dan selaput otak. Toxoplasmosissendiri merupakan penyakit zoonosis yang tersebar luas di seluruh dunia dengan prevalensi yang tinggi pada burung dan mamalia termasuk manusia. Kucing merupakan sumber infeksi bagi manusia. b. Rubella Kematian pada post natal rubella biasanya disebabkan oleh enchepalitis. Pada infeksi awal, virus akan masuk melalui traktus respiratorius yang kemudian akan menyebar ke kelenjar limfe sekitar dan mengalami multiplikasi serta mengawali terjadinya viremia dalam waktu 7 hari. Janin dapat terinfeksi selama terjadinya viremia maternal. Saat ini, telah diketahui bahwa infeksi plasenta terjadi pada 80% kasus dan risiko kerusakan jantung, mata, atau telinga janin sangat tinggi pada trisemester pertama. Jika infeksi maternal terjadi sebelum usia kehamilan 12 minggu, 60% bayi akan terinfeksi. Kemudian, risiko akan menurun menjadi 17% pada minggu ke-14 dan selanjutnya menjadi 6% setelah usia kehamilan 20 minggu. Akan tetapi, plasenta biasanya terinfeksi dan virus dapat menjadi laten pada bayi yang terinfeksi kongenital selama bertahuntahun.
34 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS c. Cytomegalovirus (CMV) Penyakit yang disebabkan oleh Cytomegalovirus dapat terjadi secara kongenital saat bayi atau infeksi pada usia anak. Kadang-kadang, CMV juga dapat menyebabkan infeksi primer pada dewasa, tetapi sebagian besar infeksi pada usia dewasa disebabkan reaktivasi virus yang telah didapat sebelumnya. Infeksi kongenital biasanya disebabkan oleh reaktivasi CMV selama kehamilan. Di negara berkembang, jarang terjadi infeksi primer selama kehamilan, karena sebagian besar orang telah terinfeksi dengan virus ini sebelumnya. Bila infeksi primer terjadi pada ibu, maka bayi akan dapat lahir dengan kerusakan otak, ikterus dengan pembesaran hepar dan lien, trombositopenia, serta dapat menyebabkan retardasi mental. Bayi juga dapat terinfeksi selama proses kelahiran karena terdapatnya CMV yang banyak dalam serviks. Penderita dengan infeksi CMV aktif dapat mengekskresikan virus dalam urin, sekret traktus respiratorius, saliva, semen, dan serviks. Virus juga didapatkan pada leukosit dan dapat menular melalui tranfusi. d. Herpes Simpleks (HSV) HSV merupakan virus DNA yang dapat diklasifikasikan ke dalam HSV 1 dan 2. HSV 1
35 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS biasanya menyebabkan lesi di wajah, bibir, dan mata, sedangkan HSV 2 dapat menyebabkan lesi genital. Virus ditransmisikan dengan cara berhubungan seksual atau kontak fisik lainnya. Melalui inokulasi pada kulit dan membran mukosa, HSV akan mengadakan replikasi pada sel epitel, dengan waktu inkubasi 4 sampai 6 hari. Replikasi akan berlangsung terus sehingga sel akan menjadi lisis serta terjadi inflamasi lokal. Selanjutnya, akan terjadi viremia di mana virus akan menyebar ke saraf sensoris perifer. Di sini virus akan mengadakan replikasi yang diikuti penyebarannya ke daerah mukosa dan kulit yang lain2,4,9,10. Dalam tahun-tahun terakhir ini, herpes genital telah mengalami peningkatan. Akan tetapi, untungnya herpes neonatal agak jarang terjadi, bervariasi dari 1 dalam 2.000 sampai 1 dalam 60.000 bayi baru lahir. Tranmisi terjadi dari kontak langsung dengan HSV pada saat melahirkan. Risiko infeksi perinatal adalah 35-- 40% jika ibu yang melahirkan terinfeksi herpes genital primer pada akhir kehamilannya. 3. Cara Penularan Torch Penularan TORCH pada manusia dapat melalui 2 (dua) cara. Pertama, secara aktif (didapat) dan yang kedua, secara pasif (bawaan). Penularan secara aktif disebabkan antara lain sebagai berikut :
36 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS a. Makan daging setengah matang yang berasal dari hewan yang terinfeksi (mengandung sista), misalnya daging sapi, kambing, domba, kerbau, babi, ayam, kelinci dan lainnya. Kemungkinan terbesar penularan TORCH ke manusia adalah melalui jalur ini, yaitu melalui masakan sate yang setengah matang atau masakan lain yang dagingnya diamsak tidak semnpurna, termasuk otak, hati dan lainnya. b. Makan makanan yang tercemar oosista dari feses (kotoran) kucing yang menderita TORCH. Feses kucing yang mengandung oosista akan mencemari tanah (lingkungan) dan dapat menjadi sumber penularan baik pada manusia maupun hewan. Tingginya resiko infeksi TORCH melalui tanah yang tercemar, disebabkan karena oosista bisa bertahan di tanah sampai beberapa bulan (Howard, 1987). c. Transfusi darah (trofozoid), transplantasi organ atau cangkok jaringan (trozoid, sista), kecelakaan di laboratorium yang menyebabkan TORCH masuk ke dalam tubuh atau tanpa sengaja masuk melalui luka (Remington dan McLeod 1981, dan Levine 1987). d. Hubungan seksual antara pria dan wanita juga bisa menyebabkan menularnya TORCH. Misalnya seorang pria terkena salah satu penyakit TORCH kemudian melakukan hubungan seksual dengan
37 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS seorang wanita (padahal sang wanita sebelumnya belum terjangkit) maka ada kemungkinan wanita tersebut nantinya akan terkena penyakit TORCH sebagaimana yang pernah diderita oleh lawan jenisnya. e. Ibu hamil yang kebetulan terkena salah satu penyakit TORCH ketika mengandung maka ada kemungkinan juga anak yang dikandungnya terkena penyakit TORCH melalui plasenta. f. Air Susu Ibu (ASI) juga bisa sebagai penyebab menularnya penyakit TORCH. Hal ini bisa terjadi seandainya sang ibu yang menyusui kebetulan terjangkit salah satu penyakit TORCH maka ketika menyusui penyakit tersebut bisa menular kepada sang bayi yang sedang disusuinya. g. Keringat yang menempel pada baju atau pun yang masih menempel di kulit juga bisa menjadi penyebab menularnya penyakit TORCH. Hal ini bisa terjadi apabila seorang yang kebetulan kulitnya menmpel atau pun lewat baju yang baru saja dipakai si penderita penyakit TORCH. h. Faktor lain yang dapat mengakibatkan terjadinya penularan pada manusia, antara lain adalah kebiasaan makan sayuran mentah dan buah - buahan segar yang dicuci kurang bersih, makan tanpa mencuci tangan terlebih dahulu, mengkonsumsi makanan dan minuman yang
38 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS disajikan tanpa ditutup, sehingga kemungkinan terkontaminasi oosista lebih besar. i. Air liur juga bisa sebagai penyebab menularnya penyakit TORCH. Cara penularannya juga hampir sama dengan penularan pada hubungan seksual. Berdasarkan kenyataan di atas, penyakit TORCH ini sifatnya menular. Oleh karena itu dalam satu keluarga biasanya kalau salah satu anggota keluarga terkena penyakit tersebut maka yang lainnya pun juga bisa terkena. Malah ada beberapa kasus dalam satu keluarga seluruh anggota keluarganya mulai dari kakek - nenek, kakak - adik, bapak - ibu, anak - anak semuanya terkena penyakit TORCH. 4. Cara Menghindari TORCH Untuk menghindari sedini mungkin penyakit TORCH yang sangat membahayakan ini, ada beberapa hal sebagai solusi awal yang bisa dilakukan antara lain sebagai berikut : a. Bila mengkonsumsi daging seperti daging ayam, sapi, kambing, kelinci, babi dan lainnya terlebih dahulu dimasak dengan matang hingga suhu mencapai 66 derajat Celcius, agar oosista - oosista yang mungkin terbawa di dalam daging tersebut bisa mati. b. Kucing peliharaan di rumah hendaknya diberi daging matang untuk mencegah infeksi yang masuk ke dalam tubuh kucing. Tempat makan,
39 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS minum dan alas tidur harus selalu dicuci / dibersihkan. c. Hindari kontak dengan hewan - hewan mamalia liar, seperti rodensia liar (tikus, bajing, musang dan lain - lain) serta reptilia kecil seperti cecak, kadal, dan bengkarung yang kemungkinan dapat sebagai hewan perantara TORCH. d. Penanganan kotoran kucing sebaiknya dilakukan melalui sarung tangan yang disposable (dibuang setelah dipakai). e. Bagi wanita yang sedang hamil, terutama yang dinyatakan secara serologis sudah negatif, jangan memelihara atau menangani kucing kecuali dengan sarung tangan. 5. Mencegah TORCH Mengingat bahaya dari TORCH untuk ibu hamil, bagi yang sedang merencanakan kehamilan atau yang saat ini sedang hamil, dapat mempertimbangkan saran-saran berikut agar bayi dapat terlahir dengan baik dan sempurna. a. Makan makanan bergizi Saat hamil, sebaiknya mengkonsumsi banyak makanan bergizi. Selain baik untuk perkembangan janin, gizi yang cukup juga akan membuat tubuh tetap sehat dan kuat. Bila tubuh sehat, maka tubuh dapat melawan berbagai penyakit termasuk TORCH sehingga tidak akan menginfeksi tubuh.
40 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS b. Lakukan pemeriksaan sebelum kehamilan Ada baiknya, memeriksakan tubuh sebelum merencanakan kehamilan. Dapat memeriksa apakah dalam tubuh terdapat virus atau bakteri yang dapat menyebabkan infeksi TORCH. Jika sudah terinfeksi, ikuti saran dokter untuk mengobatinya dan tunda kehamilan hingga benar-benar sembuh. c. Melakukan vaksinasi Vaksinasi bertujuan untuk mencegah masuknya parasit penyebab TORCH. Seperti vaksin rubela dapat dilakukan sebelum kehamilan. Hanya saja, Anda tidak boleh hamil dahulu sampai 2 bulan kemudian. d. Makan makanan yang matang Hindari memakan makanan tidak matang atau setengah matang. Virus atau parasit penyebab TORCH bisa terdapat pada makanan dan tidak akan mati apabila makanan tidak dimasak sampai matang. Untuk mencegah kemungkinan tersebut, selalu konsumsi makanan matang dalam keseharian. e. Periksa kandungan secara terartur Selama masa kehamilan, pastikan juga agar memeriksakan kandungan secara rutin dan teratur. Maksudnya adalah agar dapat dilakukan tindakan secepatnya apabila di dalam tubuh ternyata terinfeksi TORCH. Penanganan yang
41 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS cepat dapat membantu agar kondisi bayi tidak menjadi buruk. f. Jaga kebersihan tubuh Jaga higiene tubuh. Prosedur higiene dasar, seperti mencuci tangan, sangatlah penting. 6. Pemeriksaan TORCH a. Toxoplasma Tes ini mempergunakan antigen Toxoplasma yang diletakkan pada penyangga padat, mulamula di inkubasi dengan serum penderita kemudian dengan antibodi berlabel enzim. Kadar antibodi dalam serum penderita sebanding dengan intertitas warna yang timbul setelah ikatan antigen antibodi dicampur dengan substrat. Uji aviditas pada ELISA bermanfaat untuk determinasi prediktif kapan seseorang atau individu tersebut diperkirakan terinfeksi Aviditas ELISA juga dapat digunakan untuk menentukan status infeksi serta kekuatan ikatan intrinsik antara antibodi dengan antigen. Cara Kerja : 1) Lokasi pengambilan sampel - vena mediana cubiti (dewasa) - vena jugularis superficial 2) Cara kerja pengambilan sampel : - Bersihkan daerah vena mediana cubiti dengan alcohol 70% dan biarkan menjadi kering kembali
42 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS - Pembendungan vena tidak boleh terlalu kuat . - Tegangkan kulit diatas vena dengan jari tangan kiri agar vena tidak bergerak - Lepaskan pembendungan dan ambillah darah sesuai yang dibutuhkan - Taruh kapas diatas jarum/nald dan cabut perlahan - Mintakan agar pasien menekan bekas tusukan dengan kapas tadi - Alirkan darah dari syringe kedalam tabung melaluji dinding tabung - Berikan label berisi tanggal pemeriksaan, nama pasien dan jenis specimen. b. Rubella Dengan tes ELISA, HAI,Pasif HAatau tes LA, atau dengan adanya IgM spesifik rubella yang mengindikasikan infeksi rubella telah terjadi. Pemeriksaan Laboratorium yang dilakukan meliputi pemeriksaan Anti-Rubella IgG dana IgM. Pemeriksaan Anti-rubella IgG dapat digunakan untuk mendeteksi adanya kekebalan pada saat sebelum hamil. Jika ternyata belum memiliki kekebalan, dianjurkan untuk divaksinasi. Pemeriksaan Anti-rubella IgG dan IgM terutama sangat berguna untuk diagnosis infeksi akut pada kehamilan < 18 minggu dan risiko infeksi rubella bawaan.