The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Perpustakaan YPIB, 2023-07-26 00:23:44

EBOOK ASKEP GANGGUAN MATERNITAS

EBOOK ASKEP GANGGUAN MATERNITAS

193 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS folikel yang terbentuk secara tidak sempurna di dalam ovarium. Folikel tidak mengalami ovulasi karena kadar hormon FSH rendah dan hormon LH tinggi pada keadaan yang tetap ini menyebabkan pembentukan androgen dan estrogen oleh folikel dan kelenjar adrenal yang menyebabkan folikel anovulasi, folikel tersebut gagal mengalami pematangan dan gagal melepaskan sel telur, terbentuk secara tidak sempurna di dalam ovarium karena itu terbentuk kista di dalam ovarium. 5. Manifestasi Klinis Manifestasi klinis kista ovarium menurut (Yatim, 2008), antara lain : a. Rasa nyeri yang menetap di rongga panggul disertai rasa agak gatal b. Rasa nyeri sewaktu bersetubuh atau nyeri rongga panggul jika tubuh bergerak c. Rasa nyeri segera timbul begitu siklus menstruasi selesai. Perdarahan menstruasi tidak seperti biasa. Mungkin perdarahan lebih lama, mungkin lebih pendek, atau mungkin tidak keluar darah menstruasi pada siklus biasa, atau siklus menstruasi tidak teratur. d. Perut membesar e. Perasaan penuh tertekan di perut bagian bawah f. Nyeri saat buang air kecil dan terjadi konstipasi g. Nyeri spontan pada perut.


194 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS 6. Pemeriksaan Penunjang Pemeriksaan penunjang kista ovarium meliputi : (Winkjosastro, 2011) a. Laparaskopi Pemeriksaan ini sangat berguna untuk mengetahui apakah sebuah tumor berasal dari ovarium atau tidak, dan untuk menentukan sifat-sifat tumor. b. Ultrasonografi Dengan pemeriksaan ini dapat ditentukan letak dan batas tumor berasal dari uterus, ovarium, atau kandung kemih. Apakah tuor klastik atau solid dan dapatkah dibedakan pula antara cairan dalam rongga perut yang bebas dan yang tidak. c. Foto Rontgen Pemeriksaan ini berguna untuk menentukan adanya hidrotoraks, selanjutnya pada kista dermoid kadang-kadang dapat dilihat gigi dalam tumor. d. Pap Smear Untuk mengetahui diplosia seluler menunjukan adanya kanker atau kista. e. Hitung darah lengkap 7. Penatalaksanaan a. Photodynamic Terapi photodinamic dilakukan dengan memasukan photosensitizer atau obat yang aktif dengan paparan cahaya ke dalam tubuh, yang


195 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS kemudian dilanjutkan dengan penyinaran laser untuk mengaktifkan obat tersebut. b. Radiopartikel Penanaman biji partikel 1251, ditanam disekitar jaringan kista. Setelah penanaman partikel ini akan menghasilkan radiasi guna menghancurkan sel tumor. c. Radiofrekuensi Memasukan jarum target dengan bantuan alat pindai. Setelah jarum dimasukan pada sel tumor bagian depan jaringan tersebut akan terbuka menjadi 10 jarum lagi yang akan menyalurkan aliran listrik berfrekuensi tinggi. d. Radioterapi Terapi menggunakan radiasi yang bersumber dari energi radioaktif. e. Kemoterapi Pengobatan yang menggunakan obat keras (kimia) untuk merusak atau membunuh sel-sel yang tumbuh dengan cepat. f. Pembedahan Pengangkatan kista ovarium yang besar biasanya adalah melalui tindakan bedah, misalnya laparatomy atau laparatomy salpingo ooforektomi dan kistektomi.


196 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS g. Kontrasepsi oral Kontrasepsi oral dapat digunakan untuk menekan aktivitas ovarium dan menghilangkan kista. 8. Komplikasi Komplikasi dari kista ovarium menurut Manuaba (2010), yaitu : a. Perdarahan Intra Tumor Perdarahan menimbulkan gejala klinik nyeri abdomen mendadak dan memerlukan tindakan yang cepat. b. Perputaran Tungkai Kista bertangkai menimbulkan nyeri abdomen mendadak dan segera memerlukan tindakan medis. c. Infeksi Pada Tumor Menimbulkan gejala : demam, nyeri pada abdomen, mengganggu aktivitas sehari-hari. d. Robekan Dinding Kista Pada torsi rungkai kista ada kemungkinan terjadi robekan sehingga isi kista tumpah ke dalam rongga abdomen. e. Keganasan Kista Ovarium Dijumpai kista pada usia sebelum manarche atau kista pada usia di atas 45 tahun.


197 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS 9. Tindakan Pembedahan Pada Kista Ovarium Laparatomy Pembedahan atau operasi adalah semua tindakan pengobatan yang menggunakan cara invasif dengan membuka bagian tubuh yang akan ditangani. Pembukaan bagian tubuh ini umumnya menggunakan sayatan. Setelah bagian yang ditangani ditampilkan, dilakukan tindakan perbaikan yang diakhiri dengan penutupan dan penjahitan luka. Laparatomy adalah semua jenis pembedahan melalui akses membuka dinding abdomen. Permbedahan per laparatomy meliputi berbagai jenis operasi pada uterus, operasi pada tuba falopii, operasi pada ovarium (Winkjosastro, 2011). Jenis Pembedahan Laparatomy a. Jenis Laparatomy Menurut Teknik Pembedahan 1) Insisi vertikal/pada garis tengah abdomen - Kelebihan : a) Setiap kali dibutuhkan, insisi ini bia diperlebar untuk memperluas lapangan operasi. b) Apabila diadakan sayatan yang cukuppanjang dan penderita berbaring dalam letak Trendelenburg, lapangan operasi dapa dilihat dengan sangat baik.


198 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS - Kekurangan : a) Penyembuhan tidak sebaik transversal b) Dipilih pada kasus gawat darurat. 2) Insisi pada garis transversal abdomen Insisi transversal sering digunakan pada pembedahan obstetri dan ginekologi. - Kelebihan : a) Jarang terjadi herniasi pasca bedah b) Kenyamanan pasca bedah bagi pasien lebih baik - Kekurangan : a) Daerah lapangan operasi lebih terbatas b) Teknik relatif sulit b. Jenis Laparatomy Menurut Indikasi 1) Adrenalektomi : Pengangkatan salah satu atau kedua kelenjar adrenalin. 2) Appendiktomi : Operasi pengangkatan appendiks. 3) Gastrektomi : Pengangkatan sepertiga distal lambung duodenum/jejunum, mengangkat sel-sel penghasil gastrin dalam bagian sel parietal. 4) Histerktomi : Pengangkatan bagian uterus. 5) Kolektomi : Eksisi bagian kolon atau seluruh kolon.


199 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS 6) Pankreatomi : Pengangkatan pancreas. 7) Sectio caesar : Pengangkatan janin dengan membuka dinding ovarium melalui abdomen. 8) Sisektomi : Operasi pengangkatan kandung kemih. 9) Salfingo Oofarektomi : Pengangkatan salah satu atau kedua tuba falopii dan ovarium. Indikasi Pembedahan Laparatomy Beberapa indikasi yang dilakukan tindakan laparatomi, yaitu : a. Appendiksitis b. Pankreatitis c. Kista ovarium d. Kanker tuba falopii e. Kanker hati f. Kanker lambung g. Kanker kolon h. Kanker kandung kemih i. Kehamilan ektopik j. Mioma uteri k. Peritonitis l. Trauma abdomen m. Perdarahan abdomen


200 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS Komplikasi Post Laparatomy Komplikasi yang mungkin terjadi setelah pembedahan laparatomy antara lain : (Winkjosastro, 2011) a. Syok Digambarkan sebagai tidak memadainya oksigenasi selular yang disertai dengan ketidakmampuan untuk mengekspresikan produk metabolisme. b. Hemoragi Timbul karena ikatan terlepas atau oleh karena usaha penghentian darah kurang sempurna. Perdarahan yang mengalir keluar mudah diketahui, sedangkan yang sulit diketahui ialah perdarahan dalam rongga perut. Diagnosis dapat dibuat dengan observasi yang cermat; nadi meningkat, tensi menurun, tampak pucat dan gelisah, kadang-kadang mengeluh kesakitan di perut, pada pemeriksaan perkusi di perut ditemukan suara pekak di samping. c. Gangguan saluran kemih 1) Retensio urine 2) Infeksi saluran kemih 3) Distensi perut d. Infeksi Infeksi luka sering muncul pada 36-46 jam setelah operasi. Organisme yang paling sering menimbulkan infeksi adalah stopilokokus aurens,


201 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS organisme : gram positif. Stopilokokus mengakibatkan pernanahan. Untuk menghindari infeksi luka yang paling penting adalah perawatan luka dengan memperhatikan teknik septik dan aseptik. e. Terbukanya luka operasi eviserasi Eviserasi adalah keluarnya organ-organ dalam melalui insisi. Faktor penyebab eviserasi adalah infeksi luka, kesalahan menutup waktu pembedahan, ketegangan yang berat pada dinding abdomen sebagai akibat dari batuk dan muntah. f. Tromboflebitis Tromboflebitis post operasi biasanya timbul 7-14 hari setelah operasi. Bahaya besar tromboflebitis timbul bila darah tersebut lepas dari dinding pembuluh darah vena dan ikut aliran darah sebagai emboli ke paru-paru, hati, dan otak. Pencegahan tromboflebitis yaitu latihan kaki post operasi dan ambulatif dini. C. Kanker Payudara 1. Pengertian Kanker payudara adalah sekelompok sel tidak normal pada payudara yang terus tumbuh berupa ganda. Pada akhirnya sel-sel ini menjadi bentuk bejolan di payudara. Jika benjolan kanker itu


202 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS tidak dibuang atau terkontrol, sel-sel kanker bisa menyebar (metastase) pada bagian-bagian tubuh lain. Metastase bisa terjadi pada kelenjar getah bening (limfe) ketiak ataupun di atas tulang belikat. Selain itu sel-sel kanker bisa bersarang di tulang, paru-paru, hati, kulit, dan bawah kulit. (Erik T, 2005, hal : 39-40) 2. Etiologi a. Tinggi melebihi 170 cm Wanita yang tingginya 170 cm mempunyai resiko terkena kanker payudara karena pertumbuhan lebih cepat saat usia anak dan remaja membuat adanya perubahan struktur genetik (DNA) pada sel tubuh yang di antaranya berubah ke arah sel ganas. b. Masa reproduksi yang relatif panjang. Menarche pada usia muda dan kurang dari usia 10 tahun. c. Wanita terlambat memasuki menopause (lebih dari usia 60 tahun) d. Wanita yang belum mempunyai anak Lebih lama terpapar dengan hormon estrogen relatif lebih lama dibandingkan wanita yang sudah punya anak. e. Kehamilan dan menyusui Berkaitan erat dengan perubahan sel kelenjar payudara saat menyusui.


203 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS f. Wanita gemuk Dengan menurunkan berat badan, level estrogen tubuh akan turun pula. g. Preparat hormon estrogen Penggunaan preparat selama atau lebih dari 5 tahun. h. Faktor genetic Kemungkinan untuk menderita kanker payudara 2 – 3 x lebih besar pada wanita yang ibunya atau saudara kandungnya menderita kanker payudara. (Erik T, 2005, hal : 43-46) 3. Gejala klinik Gejala-gejala kanker payudara antara lain, terdapat benjolan di payudara yang nyeri maupun tidak nyeri, keluar cairan dari puting, ada perlengketan dan lekukan pada kulit dan terjadinya luka yang tidak sembuh dalam waktu yang lama, rasa tidak enak dan tegang, retraksi putting, pembengkakan lokal. (http//www.pikiranrakyat.com.jam 10.00, Minggu Tanggal 29-8-2005, Harianto, dkk) Gejala lain yang ditemukan yaitu konsistensi payudara yang keras dan padat, benjolan tersebut berbatas tegas dengan ukuran kurang dari 5 cm, biasanya dalam stadium ini belum ada penyebaran sel-sel kanker di luar payudara. (Erik T, 2005, hal : 42) Stadium kanker payudara :


204 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS a. Stadium I : tumor kurang dari 2 cm, tidak ada limfonodus terkena (LN) atau penyebaran luas. b. Stadium IIa : tumor kurang dari 5 cm, tanpa keterlibatan LN, tidak ada penyebaran jauh. Tumor kurang dari 2 cm dengan keterlibatan LN. c. Stadium IIb : tumor kurang dari 5 cm, dengan keterlibatan LN. Tumor lebih besar dari 5 cm tanpa keterlibatan LN. d. Stadium IIIa : tumor lebih besar dari 5 cm, dengan keterlibatan LN. Semua tumor dengan LN terkena, tidak ada penyebaran jauh. e. Stadium IIIb : semua tumor dengan penyebaran langsung ke dinding dada atau kulit semua tumor dengan edema pada tangan atau keterlibatan LN supraklavikular. f. Stadium IV : semua tumor dengan metastasis jauh.(Setio W, 2000, hal : 285) 4. Pemeriksaan diagnostik a. Mammagrafi, yaitu pemeriksaan yang dapat melihat struktur internal dari payudara, hal ini mendeteksi secara dini tumor atau kanker. b. Ultrasonografi, biasanya digunakan untuk membedakan tumor sulit dengan kista. c. CT. Scan, dipergunakan untuk diagnosis metastasis carsinoma payudara pada organ lain d. Sistologi biopsi aspirasi jarum halus. e. Pemeriksaan hematologi, yaitu dengan cara isolasi dan menentukan sel-sel tumor pada


205 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS peredaran darah dengan sendimental dan sentrifugis darah. (Michael D, dkk, 2005, hal : 15- 66) 5. Pencegahan Perlu untuk diketahui, bahwa 9 di antara 10 wanita menemukan adanya benjolan di payudaranya. Untuk pencegahan awal, dapat dilakukan sendiri. Sebaiknya pemeriksaan dilakukan sehabis selesai masa menstruasi. Sebelum menstruasi, payudara agak membengkak sehingga menyulitkan pemeriksaan. Cara pemeriksaan adalah sebagai berikut : a. Berdirilah di depan cermin dan perhatikan apakah ada kelainan pada payudara. Biasanya kedua payudara tidak sama, putingnya juga tidak terletak pada ketinggian yang sama. Perhatikan apakah terdapat keriput, lekukan, atau puting susu tertarik ke dalam. Bila terdapat kelainan itu atau keluar cairan atau darah dari puting susu, segeralah pergi ke dokter. b. Letakkan kedua lengan di atas kepala dan perhatikan kembali kedua payudara. c. Bungkukkan badan hingga payudara tergantung ke bawah, dan periksa lagi. d. Berbaringlah di tempat tidur dan letakkan tangan kiri di belakang kepala, dan sebuah bantal di bawah bahu kiri. Rabalah payudara kiri dengan telapak jari-jari kanan. Periksalah apakah ada


206 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS benjolan pada payudara. Kemudian periksa juga apakah ada benjolan atau pembengkakan pada ketiak kiri. e. Periksa dan rabalah puting susu dan sekitarnya. Pada umumnya kelenjar susu bila diraba dengan telapak jari-jari tangan akan terasa kenyal dan mudah digerakkan. Bila ada tumor, maka akan terasa keras dan tidak dapat digerakkan (tidak dapat dipindahkan dari tempatnya). Bila terasa ada sebuah benjolan sebesar 1 cm atau lebih, segeralah pergi ke dokter. Makin dini penanganan, semakin besar kemungkinan untuk sembuh secara sempurna. Lakukan hal yang sama untuk payudara dan ketiak kanan (www.vision.com jam 10.00, Minggu Tanggal 29- 8-2005, sumber : Ramadhan) 6. Penanganan a. Pembedahan 1) Mastektomi parsial (eksisi tumor lokal dan penyinaran). Mulai dari lumpektomi sampai pengangkatan segmental (pengangkatan jaringan yang luas dengan kulit yang terkena). 2) Mastektomi total dengan diseksi aksial rendah seluruh payudara, semua kelenjar limfe dilateral otocpectoralis minor. 3) Mastektomi radikal yang dimodifikasi


207 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS Seluruh payudara, semua atau sebagian besar jaringan aksial. 4) Mastektomi radikal Seluruh payudara, otot pektoralis mayor dan minor di bawahnya : seluruh isi aksial. 5) Mastektomi radikal yang diperluas Sama seperti mastektomi radikal ditambah dengan kelenjar limfe mamaria interna. b. Non pembedahan 1) Penyinaran Pada payudara dan kelenjar limfe regional yang tidak dapat direseksi pada kanker lanjut; pada metastase tulang, metastase kelenjar limfe aksila. 2) Kemoterapi Adjuvan sistematik setelah mastektomi; paliatif pada penyakit yang lanjut. 3) Terapi hormon dan endokrin Kanker yang telah menyebar, memakai estrogen, androgen, antiestrogen, coferektomi adrenalektomi hipofisektomi. (Smeltzer, dkk, 2002, hal : 1596 – 1600) 7. Asuhan Keperawatan a. Pengkajian keperawatan Pengkajian mencakup data yang dikumpulkan melalui wawancara, pengumpulan riwayat kesehatan, pengkajian fisik, pemeriksaan


208 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS laboratorium dan diagnostik, serta review catatan sebelumnya. Langkah-langkah pengkajian yang sistemik adalah pengumpulan data, sumber data, klasifikasi data, analisa data dan diagnosa keperawatan. Pengumpulan data Adalah bagian dari pengkajian keperawatan yang merupakan landasan proses keperawatan. Kumpulan data adalah kumpulan informasi yang bertujuan untuk mengenal masalah klien dalam memberikan asuhan keperawatan. Sumber data Data dapat diperoleh melalui klien sendiri, keluarga, perawat lain dan petugas kesehatan lain baik secara wawancara maupun observasi. Data yang disimpulkan meliputi : 1) Data biografi /biodata 2) Meliputi identitas klien dan identitas penanggung antara lain : nama, umur, jenis kelamin, agama, pendidikan, pekerjaan dan alamat. 3) Riwayat keluhan utama. 4) Riwayat keluhan utama meliputi : adanya benjolan yang menekan payudara, adanya ulkus, kulit berwarna merah dan mengeras, bengkak, nyeri. 5) Riwayat kesehatan masa lal


209 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS 6) Apakah pasien pernah mengalami penyakit yang sama sebelumnya. 7) Apakah ada keluarga yang menderita penyakit yang sama . Pengkajian fisik 1) Keadaan umum 2) Tingkah laku 3) BB dan TB 4) Pengkajian head to toe Pemeriksaan laboratorium 1) Pemeriksaan darah hemoglobin biasanya menurun, leukosit meningkat, trombosit meningkat jika ada penyebaran ureum dan kreatinin. 2) Pemeriksaan urine, diperiksa apakah ureum dan kreatinin meningkat. 3) Tes diagnostik yang biasa dilakukan pada penderita carsinoma mammae adalah sinar X, ultrasonografi, xerora diagrafi, diaphanografi dan pemeriksaan reseptor hormon. Pengkajian pola kebiasaan hidup sehari-hari meliputi : 1) Nutrisi Kebiasaan makan, frekuensi makan, nafsu makan, makanan pantangan, makanan yang


210 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS disukai, banyaknya minum. Dikaji riwayat sebelum dan sesudah masuk RS. 2) Eliminasi Kebiasaan BAB / BAK, frekuensi, warna, konsistensi, sebelum dan sesudah masuk RS. 3) Istirahat dan tidur Kebiasaan tidur, lamanya tidur dalam sehari sebelum dan sesudah sakit. 4) Personal hygiene Identifikasi masalah psikologis, sosial dan spritual 1) Status psikologis Emosi biasanya cepat tersinggung, marah, cemas, pasien berharap cepat sembuh, merasa asing tinggal di RS, merasa rendah diri, mekanisme koping yang negatif. 2) Status social Merasa terasing dengan akibat klien kurang berinteraksi dengan masyarakat lain. 3) Kegiatan keagamaan Klien mengatakan kegiatan shalat 5 waktu berkurang. Klasifikasi Data Data pengkajian : 1) Data subyektif Data yang diperoleh langsung dari klien dan keluarga, mencakup hal-hal sebagai berikut :


211 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS klien mengatakan nyeri pada payudara, sesak dan batuk, nafsu makan menurun, kebutuhan sehari-hari dilayani di tempat tidur, harapan klien cepat sembuh, lemah, riwayat menikah, riwayat keluarga. 2) Data obyektif Data yang dilihat langsung atau melalui pengkajian fisik atau penunjang meliputi : asimetris payudara kiri dan kanan, nyeri tekan pada payudara, hasil pemeriksaan laboratorium dan diagnostik. 3) Analisa Data Merupakan proses intelektual yang merupakan kemampuan pengembangan daya pikir yang berdasarkan ilmiah, pengetahuan yang sama dengan masalah yang didapat pada klien. b. Diagnosa keperawatan 1) Nyeri berhubungan dengan adanya penekanan massa tumor. 2) Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan imobilisasi lengan/bahu. 3) Kecemasan berhubungan dengan perubahan gambaran tubuh. 4) Gangguan harga diri berhubungan dengan kecacatan bedah 5) Resiko infeksi berhubungan dengan luka operasi.


212 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS 6) Kurangnya pengetahuan tentang kondisi, prognosis, dan serta pengobatan penyakitnya berhubungan dengan kurangnya informasi. 7) Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi berhubungan dengan intake tidak adekuat. c. Perencanaan Perencanaan keperawatan adalah pengembangan dari pencatatan perencanaan perawatan untuk memenuhi kebutuhan klien yang telah diketahui. Pada perencanaan meliputi tujuan dengan kriteria hasil, intervensi, rasional, implementasi dan evaluasi. 1) Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan adanya penekanan massa tumor ditandai dengan : o DS : Klien mengeluh nyeri pada sekitar payudara sebelah kiri menjalar ke kanan. o DO : Klien nampak meringis - Klien nampak sesak - Nampak luka diverban pada payudara sebelah kiri Tujuan : Nyeri teratasi. Kriteria : - Klien mengatakan nyeri berkurang atau hilang - Nyeri tekan tidak ada - Ekspresi wajah tenang


213 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS - Luka sembuh dengan baik Intervensi : a) Kaji karakteristik nyeri, skala nyeri, sifat nyeri, lokasi dan penyebaran. Rasional : Untuk mengetahui sejauhmana perkembangan rasa nyeri yang dirasakan oleh klien sehingga dapat dijadikan sebagai acuan untuk intervensi selanjutnya. b) Beri posisi yang menyenangkan. Rasional : Dapat mempengaruhi kemampuan klien untuk rileks/istirahat secara efektif dan dapat mengurangi nyeri. c) Anjurkan teknik relaksasi napas dalam. Rasional : Relaksasi napas dalam dapat mengurangi rasa nyeri dan memperlancar sirkulasi O2 ke seluruh jaringan. d) Ukur tanda-tanda vital Rasional : Peningkatan tanda-tanda vital dapat menjadi acuan adanya peningkatan nyeri. e) Penatalaksanaan pemberian analgetik Rasional : Analgetik dapat memblok rangsangan nyeri sehingga dapat nyeri tidak dipersepsikan.


214 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS 2) Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan imobilisasi lengan/bahu. Ditandai dengan : DS : Klien mengeluh sakit jika lengan digerakkan. Klien mengeluh badan terasa lemah. DO : klien tampak takut bergerak. Tujuan : Klien dapat beraktivitas Kriteria : Klien dapat beraktivitas sehari – hari. Peningkatan kekuatan bagi tubuh yang sakit. Intervensi : a) Latihan rentang gerak pasif sesegera mungkin. Rasional : Untuk mencegah kekakuan sendi yang dapat berlanjut pada keterbatasan gerak. b) Bantu dalam aktivitas perawatan diri sesuai keperluan Rasional : Menghemat energi pasien dan mencegah kelelahan. c) Bantu ambulasi dan dorong memperbaiki postur. Rasional : Untuk menghindari ketidakseimbangan dan keterbatasan dalam gerakan dan postur.


215 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS 3) Kecemasan berhubungan dengan perubahan gambaran tubuh. Ditandai dengan : DS : Klien mengatakan takut ditolak oleh orang lain. Ekspresi wajah tampak murung. Tidak mau melihat tubuhnya. DO : klien tampak takut melihat anggota tubuhnya. Tujuan : Kecemasan dapat berkurang. Kriteria : Klien tampak tenang Mau berpartisipasi dalam program terapi Intervensi : a) Dorong klien untuk mengekspresikan perasaannya. Rasional : Proses kehilangan bagian tubuh membutuhkan penerimaan, sehingga pasien dapat membuat rencana untuk masa depannya. b) Diskusikan tanda dan gejala depresi. Rasional : Reaksi umum terhadap tipe prosedur dan kebutuhan dapat dikenali dan diukur. c) Diskusikan tanda dan gejala depresi Rasional : Kehilangan payudara dapat menyebabkan perubahan gambaran diri,


216 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS takut jaringan parut, dan takut reaksi pasangan terhadap perubahan tubuh. d) Diskusikan kemungkinan untuk bedah rekonstruksi atau pemakaian prostetik. Rasional : Rekonstruksi memberikan sedikit penampilan yang lengkap, mendekati normal. 4) Gangguan harga diri berhubungan dengan kecacatan bedah Ditandai dengan : DS : klien mengatakan malu dengan keadaan dirinya DO : Klien jarang bicara dengan pasien lain Klien nampak murung. Tujuan : klien dapat menerima keadaan dirinya. Kriteria : Klien tidak malu dengan keadaan dirinya. Klien dapat menerima efek pembedahan. Intervensi : a) Diskusikan dengan klien atau orang terdekat respon klien terhadap penyakitnya. Rasional : membantu dalam memastikan masalah untuk memulai proses pemecahan masalah b) Tinjau ulang efek pembedahan


217 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS Rasional : bimbingan antisipasi dapat membantu pasien memulai proses adaptasi. c) Berikan dukungan emosi klien. Rasional : klien bisa menerima keadaan dirinya. d) Anjurkan keluarga klien untuk selalu mendampingi klien. Rasional : klien dapat merasa masih ada orang yang memperhatikannya. 5) Resiko infeksi berhubungan dengan luka operasi. Ditandai dengan : DS : Klien mengeluh nyeri pada daerah sekitar operasi. DO : Adanya balutan pada luka operasi. Terpasang drainase Warna drainase merah muda Tujuan : Tidak terjadi infeksi. Kriteria : Tidak ada tanda – tanda infeksi. Luka dapat sembuh dengan sempurna. Intervensi : a. Kaji adanya tanda – tanda infeksi. Rasional : Untuk mengetahui secara dini adanya tanda – tanda infeksi sehingga


218 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS dapat segera diberikan tindakan yang tepat. b. Lakukan pencucian tangan sebelum dan sesudah prosedur tindakan. Rasional : Menghindari resiko penyebaran kuman penyebab infeksi. c. Lakukan prosedur invasif secara aseptik dan antiseptik. Rasional : Untuk menghindari kontaminasi dengan kuman penyebab infeksi. d. Penatalaksanaan pemberian antibiotik. Rasional : Menghambat perkembangan kuman sehingga tidak terjadi proses infeksi. 6) Kurangnya pengetahuan tentang kondisi, prognosis, dan serta pengobatan penyakitnya berhubungan dengan kurangnya informasi. Ditandai dengan : DS : Klien sering menanyakan tentang penyakitnya. DO : Ekspresi wajah murung/bingung. Tujuan : Klien mengerti tentang penyakitnya. Kriteria : Klien tidak menanyakan tentang penyakitnya.


219 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS Klien dapat memahami tentang proses penyakitnya dan pengobatannya. Intervensi : a) Jelaskan tentang proses penyakit, prosedur pembedahan dan harapan yang akan datang. Rasional : Memberikan pengetahuan dasar, dimana pasien dapat membuat pilihan berdasarkan informasi, dan dapat berpartisipasi dalam program terapi. b) Diskusikan perlunya keseimbangan kesehatan, nutrisi, makanan dan pemasukan cairan yang adekuat. Rasional : Memberikan nutrisi yang optimal dan mempertahankan volume sirkulasi untuk mengingatkan regenerasi jaringan atau proses penyembuhan. c) Anjurkan untuk banyak beristirahat dan membatasi aktifitas yang berat. Rasional : Mencegah membatasi kelelahan, meningkatkan penyembuhan, dan meningkatkan perasaan sehat. d) Anjurkan untuk pijatan lembut pada insisi/luka yang sembuh dengan minyak. Rasional : Merangsang sirkulasi, meningkatkan elastisitas kulit, dan menurunkan ketidaknyamanan


220 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS sehubungan dengan rasa pantom payudara. e) Dorong pemeriksaan diri sendiri secara teratur pada payudara yang masih ada. Anjurkan untuk Mammografi. Rasional : Mengidentifikasi perubahan jaringan payudara yang mengindikasikan terjadinya/berulangnya tumor baru. 7) Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi berhubungan dengan intake yang tidak adekuat, ditandai dengan : DS : Klien mengeluh nafsu makan menurun Klien mengeluh lemah. DO : Setengah porsi makan tidak dihabiskan Klien nampak lemah Nampak terpasang cairan infus 32 tetes/menit Hb 10,7 gr % Tujuan : kebutuhan nutrisi terpenuhi Kriteria : Nafsu makan meningkat Klien tidak lemah Hb normal (12 – 14 gr/dl) Intervensi : a) Kaji pola makan klien


221 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS Rasional : Untuk mengetahui kebutuhan nutrisi klien dan merupakan asupan dalam tindakan selanjutnya. b) Anjurkan klien untuk makan dalam porsi kecil tapi sering Rasional : dapat mengurangi rasa kebosanan dan memenuhi kebutuhan nutrisi sedikit demi sedikit. c) Anjurkan klien untuk menjaga kebersihan mulut dan gigi. Rasional : agar menambah nafsu makan pada waktu makan. d) Anjurkan untuk banyak makan sayuran yang berwarna hijau. Rasional : sayuran yang berwarna hijau banyak mengandung zat besi penambah tenaga. e) Libatkan keluarga dalam pemenuhan nutrisi klien Rasional : partisipasi keluarga dpat meningkatkan asupan nutrisi untuk kebutuhan energi. d. Implementasi Implementasi merupakan tahap keempat dari proses keperawatan di mana rencana keperawatan dilaksanakan : melaksanakan intervensi/aktivitas yang telah ditentukan, pada tahap ini perawat siap untuk melaksanakan


222 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS intervensi dan aktivitas yang telah dicatat dalam rencana perawatan klien. Agar implementasi perencanaan dapat tepat waktu dan efektif terhadap biaya, pertamatama harus mengidentifikasi prioritas perawatan klien, kemudian bila perawatan telah dilaksanakan, memantau dan mencatat respons pasien terhadap setiap intervensi dan mengkomunikasikan informasi ini kepada penyedia perawatan kesehatan lainnya. Kemudian, dengan menggunakan data, dapat mengevaluasi dan merevisi rencana perawatan dalam tahap proses keperawatan berikutnya. e. Evaluasi Tahapan evaluasi menentukan kemajuan pasien terhadap pencapaian hasil yang diinginkan dan respons pasien terhadap dan keefektifan intervensi keperawatan kemudian mengganti rencana perawatan jika diperlukan. Tahap akhir dari proses keperawatan perawat mengevaluasi kemampuan pasien ke arah pencapaian hasil.


223 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS BAB VIII PERSALINAN POST MATURE A. Pengertian Definisi Post Matur merupakan kehamilan yang melampaui umur 42 minggu dengan segala kemungkinan komplikasinya. Untuk kehamilan yang melampaui batas 42 minggu dikemukakan beberapa nama lainnya : 1. Postdate : menunjukkan bahwa kehamilan telah melampaui umur 42 minggu sejak hari pertama menstruasi. 2. Postterm : menunjukkan bahwa kehamilan telah melampaui waktu perkiraan lahir menurut hari pertama menstruasi. 3. Postmature : menunjukkan keadaan janin yang lahir telah melampaui batas waktu persalinannya, sehingga dapat menimbulkan beberapa komplikasi. 4. Kehamilan serotinus. 5. Prolonged pregnancy. B. Etiologi 1. Tidak pasti mengetahui tanggal haid terakhir 2. Terdapat kelainan konginetal anensephalus 3. Terdapat hipoplasi kelenjar adrenal


224 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS 4. Defisiensi enzim sulfatase plasenta 5. Hormone estriol yang rendah 6. Kadar kortisol yang rendah pada darah janin 7. Kurangnya air ketuban 8. Insufisiensi plasenta. C. Tanda-tanda Postmature 1. Tak ada lanugo 2. Kuku panjang 3. Rambut kepala banyak 4. Kulit keriput, mengelupas sering bewarna kekuningan 5. Kadang-kadang anak agak kurus 6. Air ketuban sedikit dan mengandung mekonium. D. Komplikasi Persalinan Postmature Bahaya persalinan postmatur adalah : 1. Kemungkinan kematian anak di dalam rahim bertambah. 2. Besarnya anak yang berlebih dapat menimbulkan kesukaran pada persalinan. Sebaiknya anak dapat kecil dikarenakan penurunan fungsi plasenta. Komplikasi : 1. Untuk ibu a. Rasa takut akibat terlambat lahir


225 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS b. Rasa takut menjalani oprasi dengan akibat komplikasi. 2. Untuk janin a. Oligohidramnion b. Diwarnai mekonium b. Makrosomnia, berat badan terus bertambah meskipun lambat, dapat mencapai lebih dari 4000-4500 gram c. Dismaturitas bayi. d. Criteria makrosomia, kuku panjang, penulangan baik, tulang rawan telinga sudah baik, lemak kulit masih cukup, pertumbuhan genetalia sekunder sudah ada, mata besar dan terbuka. e. Jika plasenta telah mengalami disfungsi sehingga tidak mempu memberikan nutrisi dan O2 yang cukup, akan terjadi sebaliknya sehingga disebut sindrom post matur dengan kriteria bayi tampak tua, kuku panjang, keriput (lemak berkurang) terutama di telapak tangan dan kaki, mata lebar bahkan sudah membuka, verniks kaseosa hilang atau berkurang. f. Hipoglikemia, karena janin menggunakan cadangan lemak kulit dan glikogen dalam hati.


226 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS E. Penatalaksanaan Postmature 1. Expectative Management (Manajemen Menunggu) a. Prinsipnya yaitu mengharapkan proses spontan tanpa rangsangan dari luar. b. Sambil menunggu juga harus dilakukan evaluasi janin dalam uterus dengan beberapa tekhnik yang adekuat sehingga dapat diketahui terjadinya gangguan janin dalam bentuk gawat janin. c. Gawat janin merupakan indikasi mutlak untuk melakukan terminasi secara induksi atau langsung SC. d. Metode yang dipilih tergantung pada keadaan janin dan keadaan maternal saat itu. 2. Induksi oksitosin a. Pertimbangan yang perlu diperhatikan adalah pada pematangan serviks. b. Saat ini induksi harus dilakukan observasi ketat terhadap kesejahteraan janin dalam uterus dengan alat yang cukup memadai. c. Evalusi bishop skore - Kurang 4, SC - Antara 5 dan 6 coba mematangkan serviks - Di atas 7, sebagian berhasil 3. Secsio sesarea a. Salah satu pertimbangan SC yaitu AFI kurang dari 5 cm, yang merupakan indikasi mutlak untuk SC. b. Tanda asfiksia intrauteri


227 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS c. Makrosomia d. Kelainan letak janin e. Bad obstetric history f. Induksi gagal g. Infertilitas primer-sekunder h. Ibu dengan penyakit tertentu


228 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS BAB IX ISSUE DAN TREND TERKAIT MASALAH KEPERAWATAN MATERNITAS A. Angka Kematian Bayi Penyebab angka kematian bayi masih tinggi kematian pada bayi disebabkan oleh penyakit menular seperti radang paru-paru, diare dan malaria. Penyakit yang merenggut paling banyak korban jiwa adalah radang paru-paru 18 persen, atau sebanyak 1,58 juta anak diare (15 persen, 1,34 juta) dan malaria 8 persen, 0.73 juta anak. Penyebab angka kelahiran bayi masih tinggi Penyebab angka kelahiran bayi masih tinggi adalah pelayanan kesehatan yang semakin meningkat, kurangnya pengetahuan masyarakat progam KB B. Angka Kematian Ibu (AKI) Angka Kematian Ibu (AKI) tiap tahun atau dua ibu tiap jam meninggal oleh sebab yang berkaitan dengan kehamilan, persalinan dan nifas (Depkes RI, Dirjen Binkesmas, 2004). Penyebab kematian ibu cukup kompleks, dapat digolongkan atas faktor-factor reproduksi, komplikasi obstetrik, pelayanan kesehatan dan sosio-ekonomi. Penyebab komplikasi obstetrik


229 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS langsung telah banyak diketahui dan dapat ditangani, meskipun pencegahannya terbukti sulit. Perdarahan sebagai penyebab kematian ibu terdiri atas perdarahan antepartum dan perdarahan postpartum. Perdarahan antepartum merupakan kasus gawat darurat yang kejadiannya masih banyak dari semua persalinan, penyebabnya antara lain plasenta previa, solusio plasenta, dan perdarahan yang belum jelas sumbernya (Chalik TMA, 1997). Secara sempit, risiko obstetrik diartikan sebagai probabilitas kematian dari seorang perempuan atau ibu apabila ia hamil. Indikator yang lebih kompleks adalah adalah risiko seumur hidup (lifetime risk) yang mengukur probabilitas kematian perempuan atau ibu sebagai akibat kehamilan dan persalinan yang dialaminya selama hidup. Bila istilah pertama hanya mencantumkan kehamilan maka yang kedua mempunyai dimensi yang lebih lebar yaitu kemampuan dan jumlah fertilitas. Tingginya kematian ibu sebagian besar disebabkan oleh timbulnya penyulit persalinan yang tidak dapat segera dirujuk ke fasilitas kesehatan yang lebih mampu. Keterlambatan merujuk disebabkan berbagai faktor seperti masalah keuangan, transportasi dsb. (Depkes RI, Dirjen Yanmedik, 2005)


230 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS C. Penyakit Menular Seksual Penyakit menular seksual atau PMS adalah berbagai infeksi yang dapat menular dari satu orang ke orang yang lain melalui kontak seksual. Kelompok remaja dan dewasa muda (15-24 tahun) adalah kelompok umur yang memiliki risiko paling tinggi untuk tertular PMS, 3 juta kasus baru tiap tahun adalah dari kelompok ini. Hampir seluruh PMS dapat diobati. Namun, bahkan PMS yang mudah diobati seperti gonore telah menjadi resisten terhadap berbagai antibiotik generasi lama. PMS lain, seperti herpes, AIDS, dan kutil kelamin, seluruhnya adalah PMS yang disebabkan oleh virus, tidak dapat disembuhkan. Beberapa dari infeksi tersebut sangat tidak mengenakkan, sementara yang lainnya bahkan dapat mematikan. Sifilis, AIDS, kutil kelamin, herpes, hepatitis, dan bahkan gonore seluruhnya sudah pernah dikenal sebagai penyebab kematian. Beberapa PMS dapat berlanjut pada berbagai kondisi seperti Penyakit Radang Panggul (PRP), kanker serviks dan berbagai komplikasi kehamilan. Sehingga, pendidikan mengenai penyakit ini dan upaya-upaya pencegahan penting untuk dilakukan. D. Penemuan Teknologi Terbaru 1. Alat Kontrasepsi Implan Terbaru UGM berhasil menemukan alat kontrasepsi implant atau susuk KB generasi ke tiga yang


231 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS dinamakan Gestplan. Kelebihan alat kontresepsi ini bias bertahan hingga 7 tahun dibadingkan implant saat ini yang ber umur 5 tahun. Penemuan ini hasil dari penelitian dari jurusan Farmatologi dan Toksikologi UGM. ( WWW.KOMPAS.COM ) 2. Water Birth Proses persalinan atau proses melahirkan yang dilakukan di dalam air, manfaaatnya ibu akan merasakan lebih relaks karena semua otot yang berkaitan dengan proses persalinan menjadi lebih elastic. Metode ini juga akan mempermudah proses mengejar sehingga rasa nyeri selama persalinan tidak terlalu dirasakan, di dalam air proses proses pembukaan jalan lahir akan lebih cepat. (http://id.wikepidia.org/wiki/persalinan_di_air ) 3. USG ( Ultrasonografi ) 3D dan 4D Alat USG (Ultrasonografi) 3D dan 4D adalah alat USG yang berkemampuan menampilkan gambar 3 dan 4 dimensi di teknologi ini janin dapat terlihat utuh dan jelas seperti layaknya bayi yang sesungguhnya (Dr.Judi Januadi Endjun S.pog). Alat USG ini bahkan dapat memperlihatkan seluruh tubuh bayi berikut gerak-geriknya. Teknologi 3 dan 4 dimensi menjadi pelengkap bila diduga janin dalam keadaan tidak normal dan perlu dicari kelainan bawaannya seperti bibir sumbing, kelainan pada jantung dan sebagainya. Secara lebih detail kelebihan USG (Ultrasonografi) 3D dan 4D ini pada


232 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS janin dapat terbaca secara lebih akurat, karena teknologi ini dikembangkan untuk meningkatkan ketepatan diagnosa. (http://www.mailarchive.com/[email protected] m/msgo4183.html) 4. Pil KB Terbaru Pil KB dengan dorspirenone merupakan pil KB terbaru yang memberikan perlindungan kontrasepsi yang dapat diandalkan, dengan berbagai manfaat tambahan dalam suatu kombinasi yang unik Pil Kb dengan dorspirenone adalah pil yang membuat seseorang merasa lebih nyaman. Mengandung progestin baru dorspirenone yaitu homon yang sangat menyerupai progesteron salah satu hormon dalam tubuh. Dorspirenone mempunyai profil farmakologis yang sangat mirip dengan progesteron alami dengan karateristik memiliki efek antimineralokortoid dan antiandrogenik tidak memiliki aktifitas ekstrogenik, androgenik, glukortikoid dengan sifat antineralokortikoid. Pil KB dengan dorspirenone dapat memberikan manfaat tambahan yaitu tidak menaikkan berat badan, mengurangi gejala kembung, Haid menjadi teratur, mengurangi nyeri haid, dan mengatur keluarnya darah haid, tidak menaikan tekanan darah dengan androgennya. Pil KB dengan dorspirenone dapat memberikan manfaat


233 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS tambahan yaitu mengurangi jerawat, dan mempercantik rambut dan kulit.


234 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS BAB X EVIDENCE BASED PRACTICE DALAM KEPERAWATAN MATERNITAS A. Konsep Evidence Base Practice Evidence Based Practice (EBP) adalah proses penggunaan bukti-bukti terbaik yang jelas, tegas dan berkesinambungan guna pembuatan keputusan klinik dalam merawat individu pasien. Dalam penerapan EBP harus memenuhi tiga kriteria yaitu berdasar bukti empiris, sesuai keinginan pasien, dan adanya keahlian dari praktisi. B. Model EBP 1. Model Stetler Model Stetler dikembangkan pertama kali tahun 1976 kemudian diperbaiki tahun 1994 dan revisi terakhir 2001. Model ini terdiri dari 5 tahapan dalam menerapkan Evidence Base Practice Nursing. a. Tahap persiapan. Pada tahap ini dilakukan identifikasi masalah atau isu yang muncul, kemudian menvalidasi masalah dengan bukti atau landasan alasan yang kuat.


235 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS b. Tahap validasi. Tahap ini dimulai dengan mengkritisi bukti atau jurnal yang ada (baik bukti empiris, non empiris, sistematik review), kemudian diidentifikasi level setiap bukti menggunakan table “level of evidence”. Tahapan bisa berhenti di sini apabila tidak ada bukti atau bukti yang ada tidak mendukung. c. Tahap evaluasi perbandingan/pengambilan keputusan. Pada tahap ini dilakukan sintesis temuan yang ada dan pengambilan bukti yang bisa dipakai. Pada tahap ini bisa muncul keputusan untuk melakukan penelitian sendiri apabila bukti yang ada tidak bisa dipakai. d. Tahap translasi atau aplikasi. Tahap ini memutuskan pada level apa kita akan melakukan penelitian (individu, kelompok, organisasi). Membuat proposal untuk penelitian, menentukan strategi untuk melakukan diseminasi formal dan memulai melakukan pilot project. e. Tahap evaluasi. Tahap evaluasi bisa dikerjakan secara formal maupun non formal, terdiri atas evaluasi formatif dan sumatif, yang di dalamnya termasuk evaluasi biaya. 2. Model IOWA Model IOWA diawali dengan adanya trigger atau masalah. Trigger bisa berupa knowledge focus


236 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS atau problem focus. Jika masalah yang ada menjadi prioritas organisasi, maka baru dibentuklah tim. Tim terdiri atas dokter, perawat dan tenaga kesehatan lain yang tertarik dan paham dalam penelitian. Langkah berikutnya adalah minsintesis bukti-bukti yang ada. Apabila bukti yang kuat sudah diperoleh, maka segera dilakukan uji coba dan hasilnya harus dievaluasi dan didiseminasikan. 3. Implikasi EBP Bagi Perawat Peran perawat melayani penting dalam memastikan dan menyediakan praktik berbasis fakta. Mereka harus terus-menerus mengajukan pertanyaan, “Apa fakta untuk intervensi ini?” atau “Bagaimana kita memberikan praktik terbaik?” dan “Apakah ini hasil terbaik yang dicapai untuk pasien, keluarga dan perawat?” Perawat juga posisi yang baik dengan anggota tim kesehatan lain untuk mengidentifikasi masalah klinis dan menggunakan bukti yang ada untuk meningkatkan praktik. Banyak kesempatan yang ada bagi perawat untuk mempertanyakan praktik keperawatan saat itu dan penggunaan bukti untuk melakukan perawatan lebih efektif.


237 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS C. Pentingnya EBP EBP penting untuk praktik keperawatan : 1. Memberikan hasil asuhan keperawatan yang lebih baik kepada pasien 2. Memberikan kontribusi perkembangan ilmu keperawatan 3. Menjadikan standar praktik saat ini dan relevan 4. Meningkatkan kepercayaan diri dalam mengambil keputusan 5. Mendukung kebijakan dan prosedur saat ini dan termasuk menjadi penelitian terbaru 6. Integrasi EBP dan praktik asuhan keperawatan sangat penting untuk meningkatkan kualitas perawatan pada pasien. D. Hambatan untuk Menggunakan EBP Hambatan dari perawat untuk menggunakan penelitian dalam praktik sehari-hari telah dikutip dalam berbagai penelitian, di antaranya (Clifford &Murray, 2001) : 1. Kurangnya nilai untuk penelitian dalam praktek 2. Kesulitan dalam mengubah praktek 3. Kurangnya dukungan administrative


238 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS 4. Kurangnya mentor berpengetahuan 5. Kurangnya waktu untuk melakukan penelitian 6. Kurangnya pendidikan tentang proses penelitian 7. Kurangnya kesadaran tentang praktek penelitian atau berbasis bukti 8. Laporan penelitian/artikel tidak tersedia 9. Kesulitan mengakses laporan penelitian dan artikel 10. Tidak ada waktu dalam bekerja untuk membaca penelitian 11. Kompleksitas laporan penelitian 12. Kurangnya pengetahuan tentang EBP dan kritik dari artikel 13. Merasa kewalahan. E. Konsep Penelitian Keperawatan Penelitian keperawatan melibatkan penyelidikan sistematis yang dirancang khusus untuk mengembangkan, memperbaiki, dan memperluas pengetahuan keperawatan. Sebagai bagian dari disiplin klinis dan professional, perawat memiliki bidang keilmuan yang unik, yang membahas praktik keperawatan, administrasi, dan pendidikan. Perawat peneliti mengkaji masalah-masalah yang menjadi


239 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS perhatian khusus untuk perawat dan pasien, keluarga dan masyarakat yang mereka layani. Metode penelitian keperawatan dapat kuantitatif, kualitatif, atau campuran (yaitu, triangulasi): 1. Dalam penelitian kuantitatif, peneliti menggunakan objektif, data kuantitatif (seperti tekanan darah atau denyut nadi) atau menggunakan instrument survey untuk mengukur pengetahuan, sikap, kepercayaan atau pengalaman. 2. Peneliti kualitatif menggunakan metode seperti wawancara atau analisis narasi untuk membantu memahami fenomena tertentu. 3. Pendekatan triangulasi menggunakan kedua metode kuantitatif dan kualitatif. F. Isu-Isu yang Terkait dengan EBP, Penelitian Keperawatan dan Aplikasi Dalam Pelayanan EBP, penelitian keperawatan dan aplikasi merupakan rangkaian proses yang saling berkesinambungan. Sebelum melakukan penelitian keperawatan khususnya di area klinik, dibutuhkan datadata atau bukti-bukti dari hasil penelitian terdahulu yang mendukung masalah yang akan kita teliti. Hasil penelitian yang telah dilakukan, akan menjadi evindence dalam pengambilan keputusan klinis, sehingga tindakan yang dilakukan sudah berdasar hasil penelitian yang teruji.


240 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS 1. Mengidentifikasi Masalah Praktik Klinis Langkah pertama adalah mengidentifikasi masalah atau isu praktek klinis. Sebagai konsekuensinya, ini adalah langkah yang paling sulit karena dibutuhkan banyak pemikiran dan upaya untuk menyempurnakan pernyataan masalah untuk mengembangkan bukti praktik keperawatan berdasar projects. 2. Pengumpulan dan Penilaian Bukti Evidance Langkah ke dua adalah mengumpulkan dan menilai bukti, bukti empiris (penelitian) dan bukti non empiris. Bukti nonempiris penting untuk mendukung perubahan praktik, sedangkan bukti empiris adalah dengan evidence termasuk uji klinis, non eksperimental dan meta analisis. Harus dibedakan studi penelitian yang sebenarnya dengan yang bukan penelitian. Jurnal keperawatan sangat baik di mana mengarahkan pengarang untuk memberikan judul sehingga pembaca dapat menemukan komponen penting dari sebuah artikel penelitian. Bukti non empiris meliputi ulasan literatur yang diterbitkan, pendapat dari artikel dan protocol/pedoman serta literature review penelitian yang dipublikasikan. 3. Membaca dan Analisa Penelitian Empiris Langkah pertama adalah dengan melihat abstract untuk menyaring artikel yang relevan,


241 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS kemudian membaca hasil penelitian sehingga didapatkan suatu ide penelitian dan pengaruhnya terhadap implikasi keperawatan. 4. Meringkas Bukti Evidance Langkah ini sangat penting untuk keberhasilan perubahan praktik keperawatan yang kita usulkan. Sintesis temuan pada kelompok studi penelitian empiris dianggap kredibel. Hal ini dilakukan dengan melakukan analisis, pada analisis isi memeriksa temuan untuk dijadikan tema. 5. Mengintegrasikan Evidance dan Referensi Klinis Tahap berikutnya yang perlu disintesis adalah keahlian klinis dan preferensi dari nilai-nilai. Diperlukan seseorang yang memiliki keahlian klinis di bidang atau topic tertentu. Dengan pendekatan multidisiplin akan memastikan analisis mendalam tentang hasil penelitian yang dianalisis.


242 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS DAFTAR PUSTAKA Ari Sulistyawati. 2009. Asuhan Kebidanan Pada Masa kehamilan. Jakarta : Salemba Medika. Arif Mansjoer, Suprohaita dkk. 2001. Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta : Media Aesculapius. Edisi Ketiga. Halaman 461-462. Baker P, Shipp J. 2006. Antenatal Care & Breastfeeding (12 reviews), A summary of published Cochrane and nonCochrane Systematic reviews. Belland, KH & Wells, M. A. 1986. Clinical nursing procedures. California. Joners and Barletletlett aplublisher. Bobak, K. J. 2005. Perawatan Maternitas. Jakarta. EGC Brunner & Suddarth. 2003. Medical Surgical Nursing (Perawatan Medikal Bedah), alih bahasa: Monica Ester. Jakarta : EGC. Carpenito, Lynda Juall. 2001. Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Jakarta : EGC. Doengoes, M. E. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan: Pedoman untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. EGC. Jakarta.


Click to View FlipBook Version