43 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS c. Cyto Megalo Virus Pemeriksaan laboratorium sangat bermanfaat untuk mengetahui infeksi akut atau infeski berulang, dimana infeksi akut mempunyai risiko yang lebih tinggi. Pemeriksaan laboratorium yang silakukan meliputi Anti CMV IgG dan IgM, serta Aviditas Anti-CMV IgG. d. Herpes Simpleks Pemeriksaan laboratorium, yaitu Anti-HSV II IgG dan Igm sangat penting untuk mendeteksi secara dini terhadap kemungkinan terjadinya infeksi oleh HSV II dan mencaegah bahaya lebih lanjut pada bayi bila infeksi terjadi pada saat kehamilan 7. Diagnosa TORCH Proses diagnosa medis merupakan langkah pertama untuk menangani suatu penyakit. Tetapi diagnosa berdasarkan pengamatan gejala klinis sering sukar dilaksanakan, maka dilakukan diagnosa laboratorik dengan memeriksa serum darah, untuk mengukur titer-titer antibodi IgM atau IgG-nya. Penderita TORCH kadang tidak menunjukkan gejala klinis yang spesifik, bahkan bisa jadi sama sekali tidak merasakan sakit. Secara umum keluhan yang dirasakan adalah mudah pingsan, pusing, vertigo, migran, penglihatan kabur, pendengaran terganggu, radang tenggorokan, radang sendi, nyeri lambung, lemah lesu, kesemutan, sulit tidur, epilepsi, dan keluhan lainnya.
44 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS Untuk kasus kehamilan: sulit hamil, keguguran, organ tubuh bayi tidak lengkap, cacat fisik maupun mental, autis, keterlambatan tumbuh kembang anak, dan ketidaksempurnaan lainnya. 8. Pengobatan TORCH Adanya infeksi-infeksi ini dapat dideteksi dari pemeriksaan darah. Biasanya ada 2 petanda yang diperiksa untuk tiap infeksi yaitu Imunoglobulin G (IgG) dan Imunoglobulin M (IgM). Normalnya keduanya negatif. Jika IgG positif dan IgMnya negatif, artinya infeksi terjadi di masa lampau dan tubuh sudah membentuk antibodi. Pada keadaan ini tidak perlu diobati. Namun, jika IgG negatif dan Ig M positif, artinya infeksi baru terjadi dan harus diobati. Selama pengobatan tidak dianjurkan untuk hamil karena ada kemungkinan infeksi ditularkan ke janin. Kehamilan ditunda sampai 1 bulan setelah pengobatan selesai (umumnya pengobatan memerlukan waktu 1 bulan). Jika IgG positif dan IgM juga positif,maka perlu pemeriksaan lanjutan yaitu IgG Aviditas. Jika hasilnya tinggi, maka tidak perlu pengobatan, namun jika hasilnya rendah maka perlu pengobatan seperti di atas dan tunda kehamilan. Pada infeksi Toksoplasma, jika dalam pengobatan terjadi kehamilan, teruskan kehamilan dan lanjutkan terapi sampai melahirkan. Untuk Rubella dan CMV, jika terjadi kehamilan saat terapi, pertimbangkan
45 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS untuk menghentikan kehamilan dengan konsultasi kondisi kehamilan bersama dokter kandungan anda. Pengobatan TORCH secara medis diyakini bisa dengan menggunakan obat-obatan seperti isoprinocin, repomicine, valtrex, spiromicine, spiradan, acyclovir, azithromisin, klindamisin, alancicovir, dan lainnya. Namun tentu pengobatannya membutuhkan biaya yang sangat mahal dan waktu yang cukup lama. Selain itu, terdapat pula cara pengobatan alternatif yang mampu menyembuhkan penyakit TORCH ini, dengan tingkat kesembuhan mencapai 90%. C. Human Papilomavirus Kutil kemaluan disebabkan oleh human papillomavirus (HPV). Banyak ibu hamil yang sudah terinfeksi dengan virus biasanya mengalami kehamilan sehat dan memiliki proses melahirkan halus. Sayangnya, virus ini dapat menyebar dari seorang wanita berpenyakit kutil kelamin pada janinya tidak hanya selama kelahiran, tetapi juga sebelum kelahiran. Namun, kabar baiknya yaitu bahwa kutil kelamin tidak memiliki efek samping yang berbahaya bagi kesehatan bayi selama kehamilan. Sebuah perhatian utama menyangkut kutil kelamin yaitu bahwa berdasarkan lokasi pertumbuhanya, dapat menyebabkan beberapa komplikasi selama proses
46 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS persalinan. Fakta juga mengatakan bahwa pengidap biasanya lebih sering mengalami kelahiran yang tidak normal atau mengalami gangguan karena pertumbuhan kutil ini. Ada beberapa kasus dimana kutil sudah tumbuh begitu besar sampai akhirnya memblokir jalan lahir dan menghasilkan kelahiran yang sulit. Selain itu, kutil kelamin juga dapat menyebabkan pendarahan. Apabila sudah diketahui bahwa kutil kelamin dapat menghambat proses melahirkan dan ada kemungkinan menyebabkan perdarahan yang berlebihan, maka operasi caesar yang akhirnya menjadi alternatif. Kekhawatiran lainnya yaitu bahwa bayi yang belum lahir dari seorang wanita yang memiliki kutil kelamin dapat mendapatkan laring papillomatosis, ini yaitu kondisi yang sangat berbahaya. Hal ini dapat berakibat fatal dalam beberapa kasus. Gejala-gejala penyakit ini dapat mengancam jiwa meski terjadi sesudah beberapa lama terlahir, kadang-kadang selama tiga tahun. Laring papillomatosis yaitu suatu kondisi kedokteran dimana kutil muncul dalam atau di sekitar daerah tenggorokan dan mulut bayi. Penyakit ini dapat menular ketika virus menyebar melalui jalan lahir yang terinfeksi. Karena daerah tenggorokan dan mulut lembab dan hangat, hal ini menjadikan daerah tersebut kondusif bagi perkembangbiakan HPV.
47 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS Apabila ingin bayi tidak terkena laring papillomatosis, maka dia harus menjalani operasi laser secara teratur untuk menghilangkan kutil yang dapat menghalangi saluran udara. Metode pengobatan lain yaitu terapi interferon. Ini dapat dilakukan dengan operasi laser untuk memperlambat pengguatan HPV dan mengobati kutil. Metode pengobatan untuk kutil kelamin untuk ibu hamil berbeda dari apa yang diresepkan untuk orang lain. Wanita hamil tidak diperbolehkan untuk menggunakan obat over-the-counter untuk kutil kelamin tanpa konsultasi Dokter terlebih dahulu. Hampir semua pengobatan kutil kelamin dengan over-the-counter mengandung asam salisilat, yang memiliki efek negatif terhadap bayi yang belum lahir saat itu diterapkan. Selain itu, perawatan resep lain, seperti pondofilox, dapat membawa cacat lahir karena bahan kimianya mudah diserap oleh kulit. D. Infeksi Traktus Genetalis 1. Vulva Kelainan yang bisa menyebabkan distosia ialah edema, stenosis dan tumor. Edema bisa timbul waktu hamil, biasanya sebagai gejala preeklampsia akan tetapi dapat pula mempunyai sebab lain misalnya gangguan gizi. Pada persalinan lama dengan penderita dibiarkan meneran terus, dapat timbul
48 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS pula edema pada vulva. Kelainan ini umumnya jarang merupakan rintangan bagi kelahiran pervaginam. Stenosis pada vulva biasanya terjadi sebagai akibat perlukaan dan radang, yang menyebabkan ulkus-ulkus dan yang sembuh dengan parut-parut yang dapat menimbulkan kesulitan, walaupun umumnya dapat diatasi dengan mengadakan episiotomi yang cukup luas. Kelainan kongenital pada vulva yang menutup sama sekali hingga hanya orifisium uretra eksternum tampak dapat pula terjadi. Penanganan ialah mengadakan sayatan median secukupnya untuk melahirkan kepala janin. Tumor dalam bentuk neoplasma jarang ditemukan pada vulva; lebih sering terdapat kondilomata akuminata, kista atau abses glandula Bartholin. Abses yang pecah pada waktu persalinan dapat menyebabkan infeksi puerperalis. 2. Vagina Stenosis vagina kongenital jarang terdapat, lebih sering ditemukan septum vagina yang memisahkan vagina secara lengkap atau tidak lengkap dalam bagian kanan dan bagian kiri. Septum lengkap biasanya tidak menimbulkan distosia karena bagian vagina yang satu umumnya cukup lebar, baik untuk koitus maupun untuk lahirnyav janin. Septum tidak lengkap kadang-kadang menahan turunnya kepala janin pada persalinan dan harus dipotong terlebih dahulu.
49 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS Stenosis dapat terjadi karena parut-parut akibat perlukaan dan radang.pada stenosis vagina yang tetap kaku dalam kehamilan dan merupakan halangan untuk lahirnya janin, perlu dipertimbangkan seksio sesarea. Tumor vagina dapat merupakan rintangan bagi lahirnya janin pervaginam. Adanya tumor vagina bisa pula menyebabkan persalinan pervaginam dianggap mengandung terlampau banyak resiko tergantung dari jenis dan besarnya tumor, perlu dipertimbangkan apakah persalinan dapat berlangsung pervaginam atau harus di elesaikan dengan seksio sesarea. 3. Serviks Uteri Distosia secara servikalis karena dysfunctional uterine ection atau karena parut pada serviks uteri. Konglutinasio orivisii eksterni ialah keadaan yang jarang terdapat. Di sini dalam kala satu serviks uteri menipis akan tetapi pembukaan tidak terjadi, sehingga merupakan lembaran kertas di bawah kepala janin. Diagnosis dibuat dengan menemukan lubang kecil yakni ostium uteri eksternum di tengah-tengah lapisan tipis tersebut. Dengan jari yang dimasukan ke dalam lubang itu pembukaan dapat diperlebar dengan mudah dan dalam waktu yang tidak lama pembukaan dapat menjadi lengkap dengan sendirinya.
50 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS 4. Uterus Pada umumnya persalinan dengan myoma uteri berlangsung seperti biasa, sehingga penanganan persalinan itu dapat dibatasi pada pengawasan yang seksama. Kelainan letak janin atau kelainan yang his dihadapi dengan sesuai dengan sikap yang lazim. Apabila myoma uteri merupakan halangan dari lahirnya janin pervaginam, perlu dilakukan seksio sesarea. Myomektomi sesudah seksio sesarea umumnya tidak dianjurkan berhubungan dengan bahaya perdarahan banyak dan tertinggalnya lukaluka yang tidak rata pada myometrium yang memudahkan terjadinya infeksi puerperal. Dalam masa puerperium, myoma uteri dapat mengecil malahan bisa menjadi lebih kecil dari pada sebelum kehamilan. Akan tetapi bahaya mekrosis dan infeksi selalu ada walaupun tidak besar, sehingga puerperium perlu diawasi dengan baik. Jika peristiwa yang terakhir ini terjadi dan pengobatan konservatif tidak memberi hasil yang diharapkan perlu dipertimbangkan histerektomi. Sebagai profilaksis dianjurkan agar tidak memberikan oksitosin yang dapat mengganggu peredaran darah ke myomata yang kemudian menjadi nekrotik dan mudah terinfeksi.
51 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS 5. Ovarium Distosia karena tumor ovarium terjadi apabila tumor tersebut menghalangi lahirnya janin pervaginam. Tumor demikan itu untuk sebagian atau seluruhnya terletak dalam kavum doglas. Membiarkan persalinan berlarut-larut mengandung bahaya pecahnya tumor (bila tumor kistik),atau ruptura uteri (bila tumor solid) dan garis miring atau infeksi intrapartum. Apabila pada permulaan persalinan ditemukan tumor ovarium dalam kavum doglas, boleh dicoba dengan hati-hati apakah tumor dapat diangkat ke atas rongga panggul, sehingga tidak menghalangi persalinan. Apabila percobaan itu tidak berhasil atau persalinan telah maju sehingga percobaan reposisi lebih sukar dan lebih berbahaya, sebaiknya dilakukan seksio sesarea diikuti dengan pengangkatan tumor. Pada tumor ovari yang tidak merupakan halangan bagi persalinan pervagina, persalinan dibiarkan berlangsung spontan dan tumor diangkat dalam masa nifas. Dalam masa ini ada kemungkinan terjadi putaran tangkai tumor yang memerlukan tindakan pembedahan segera.
52 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS E. Infeksi Post Partum 1. Definisi Infeksi adalah berhubungan dengan berkembang-biaknya mikroorganisme dalam tubuh manusia yang disertai dengan reaksi tubuh terhadapnya (Zulkarnain Iskandar, 1998 ). Infeksi pascapartum (sepsis puerperal atau demam setelah melahirkan) ialah infeksi klinis pada saluran genital yang terjadi dalam 28 hari setelah abortus atau persalinan (Bobak, 2004). 2. Etiologi Infeksi ini terjadi setelah persalinan, kuman masuk dalam tubuh pada saat berlangsungnya proses persalinan. Di antaranya, saat ketuban pecah sebelum maupun saat persalinan berlangsung sehingga menjadi jembatan masuknya kuman dalam tubuh lewat rahim. Jalan masuk lainnya adalah dari penolong persalinan sendiri, seperti alat-alat yang tidak steril digunakan pada saat proses persalinan. Infeksi bisa timbul akibat bakteri yang sering kali ditemukan didalam vagina (endogenus) atau akibat pemaparan pada agen pathogen dari luar vagina (eksogenus) (Bobak, 2004). Namun biasanya infeksi ini tidak menimbulkan penyakit pada persalinan, kelahiran, atau pasca persalinan. Hampir 30 bakteri telah diidentifikasi ada di saluran genital bawah (vulva, vagina dan sevik) setiap saat (Faro 1990).
53 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS Sementara beberapa dari padanya, termasuk beberapa fungi, dianggap nonpatogenik di bawah kebanyakan lingkungan, dan sekurang-kurangnya 20, termasuk e.coli, s. aureus, proteus mirabilis dan clebsiela pneumonia, adalah patogenik (Tietjen, L; Bossemeyer, D, & McIntosh, N, 2004). Bermacam-macam jalan kuman masuk ke dalam alat kandungan seperti eksogen (kuman datang dari luar), autogen (kuman masuk dari tempat lain dalam tubuh) dan endogen (dari jalan lahir sendiri). Penyebab yang terbanyak dan lebih dari 50% adalah streptococcus anaerob yang sebenarnya tidak patogen sebagai penghuni normal jalan lahir. Kuman-kuman yang sering menyebabkan infeksi antara lain adalah : a. Streptococcus haemoliticus anaerobic Masuknya secara eksogen dan menyebabkan infeksi berat. Infeksi ini biasanya eksogen (ditularkan dari penderita lain, alat-alat yang tidak suci hama, tangan penolong, infeksi tenggorokan orang lain). b. Staphylococcus aureus Masuknya secara eksogen, infeksinya sedang, banyak ditemukan sebagai penyebab infeksi di rumah sakit dan dalam tenggorokan orang-orang yang nampaknya sehat. Kuman ini biasanya
54 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS menyebabkan infeksi terbatas, walaupun kadang-kadang menjadi sebab infeksi umum. c. Escherichia Coli Sering berasal dari kandung kemih dan rektum, menyebabkan infeksi terbatas pada perineum, vulva, dan endometriurn. Kuman ini merupakan sebab penting dari infeksi traktus urinarius. d. Clostridium Welchii Kuman ini bersifat anaerob, jarang ditemukan akan tetapi sangat berbahaya. Infeksi ini lebih sering terjadi pada abortus kriminalis dan partus yang ditolong oleh dukun dari luar rumah sakit. 3. Faktor predisposisi Beberapa faktor dalam kehamilan atau persalinan yang dapat menyebabkan infeksi pascapersalinan antara lain : a. Anemia Kekurangan sel-sel darah merah akan meningkatkan kemungkinan infeksi. Hal ini juga terjadi pada ibu yang kurang nutrisi sehingga respon sel darah putih kurang untuk menghambat masuknya bakteri. b. Ketuban pecah dini Keluarnya cairan ketuban sebelum waktunya persalinan menjadi jembatan masuknya kuman ke organ genital. c. Trauma Pembedahan, perlukaan atau robekan menjadi
55 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS tempat masuknya kuman pathogen, seperti operasi. d. Kontaminasi bakteri Bakteri yang sudah ada dalam vagina atau servik dapat terbawa ke rongga rahim. Selain itu, pemasangan alat selama proses pemeriksaan vagina atau saat dilakukan tindakan persalinan dapat menjadi salah satu jalan masuk bakteri. Tentunya, jika peralatan tersebut tidak terjamin sterilisasinya. e. Kehilangan darah Trauma yang menimbulkan perdarahan dan tindakan manipulasi yang berkaitan dengan pengendalian pendarahan bersama-sama perbaikan jaringan luka, merupakan factor yang dapat menjadi jalannya masuk kuman. 4. Manifestasi Klinis Rubor (kemerahan), kalor (demam setempat) akibat vasodilatasi dan tumor (bengkak) karena eksudasi. Ujung syaraf merasa akan terangsang oleh peradangan sehingga terdapat rasa nyeri (dolor). Nyeri dan pembengkan akan mengakibatkan gangguan faal, dan reaksi umum antara lain berupa sakit kepala, demam dan peningkatan denyut jantung (Sjamsuhidajat, R. 1997).
56 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS 5. Patofisiologi Reaksi tubuh dapat berupa reaksi lokal dan dapat pula terjadi reaksi umum. Pada infeksi dengan reaksi umum akan melibatkan syaraf dan metabolik pada saat itu terjadi reaksi ringan limporetikularis di seluruh tubuh, berupa proliferasi sel fagosit dan sel pembuat antibodi (limfosit B). Kemudian reaksi lokal yang disebut inflamasi akut, reaksi ini terus berlangsung selama menjadi proses pengrusakan jaringan oleh trauma. Bila penyebab pengrusakan jaringan bisa diberantas, maka sisa jaringan yang rusak disebut debris akan difagositosis dan dibuang oleh tubuh sampai terjadi resolusi dan kesembuhan. Bila trauma berlebihan, reaksi sel fagosit kadang berlebihan sehingga debris yang berlebihan terkumpul dalam suatu rongga membentuk abses atau berkumpul di jaringan tubuh yang lain membentuk flegman (peradangan yang luas di jaringan ikat). (Sjamsuhidajat, R, 1997 ). 6. Pencegahan dan penanganan a. Mengurangi atau mencegah faktor-faktor predisposisi seperti anemia, malnutrisi dan kelemahan serta mengobati penyakit-penyakit yang diderita ibu. b. Pemeriksaan dalam jangan dilakukan kalau tidak ada indikasi yang perlu.
57 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS c. Koitus pada hamil tua hendaknya dihindari atau dikurangi dan dilakukan hati-hati karena dapat menyebabkan pecahnya ketuban. Kalau ini terjadi infeksi akan mudah masuk dalam jalan lahir. Hindari partus terlalu lama dan ketuban pecah lama/menjaga supaya persalinan tidak berlarut-larut. d. Menyelesaikan persalinan dengan trauma sedikit mungkin. e. Perlukaan-perlukaan jalan lahir karena tindakan baik pervaginam maupun perabdominam dibersihkan, dijahit sebaik-baiknya dan menjaga sterilitas. f. Mencegah terjadinya perdarahan banyak, bila terjadi darah yang hilang harus segera diganti dengan tranfusi darah. g. Semua petugas dalam kamar bersalin harus menutup hidung dan mulut dengan masker; yang menderita infeksi pernafasan tidak diperbolehkan masuk ke kamar bersalin. h. Alat-alat dan kain-kain yang dipakai dalam persalinan harus suci hama. i. Hindari pemeriksaan dalam berulang-ulang, lakukan bila ada indikasi dengan sterilisasi yang baik, apalagi bila ketuban telah pecah.
58 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS BAB III PENYAKIT PADA MASA KEHAMILAN A. Diabetes Melitus 1. Definisi Diabetes merupakan suatu penyakit di mana tubuh tidak menghasilkan insulin dalam jumlah cukup, atau sebaliknya, tubuh kurang mampu menggunakan insulin secara maksimal. Insulin adalah hormon yang dihasilkan oleh pankreas, yang berfungsi mensuplai glukosa dari darah ke sel-sel tubuh untuk dipergunakan sebagai bahan bakar tubuh. 2. Gejala dan tanda Pada masa awal kehamilan, dapat mengakibatkan bayi mengalami cacat bawaan, berat badan berlebihan, lahir mati, dan gangguan kesehatan lainnya seperti gawat nafas, hipoglikemia (kadar gula darah kurang dari normal), dan sakit kuning. 3. Penanganan Menjaga agar kadar glukosa darah tetap normal, ibu hamil harus memperhatikan makanan, berolahraga secara teratur, serta menjalani pengobatan sesuai kondisi penyakit pada penderita penyakit ini. (Prawirohardjo, 2008, p. 290).
59 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS B. Hyperemisis Gravidarum 1. Definisi Hiperemesis gravidarum adalah mual dan muntah yang berlebihan pada wanita hamil sampai mengganggu pekerjaan sehari-hari karena keadaan umumnya menjadi buruk, karena terjadi dehidrasi (Mochtar,1998). Hiperemesis gravidarum adalah keadaan di mana penderita mual dan muntah lebih dari 10 kali dalam 24 jam, sehingga mengganggu kesehatan dan pekerjaan sehari-hari (Arief.B, 2009) Hiperemesis gravidarum adalah mual – muntah berlebihan sehingga menimbulkan gangguan aktivitas sehari – hari dan bahkan membahayakan hidupnya. (Manuaba, 2001). 2. Etiologi Penyebab Hiperemesis gravidarum belum diketahui secara pasti. Beberapa faktor predisposisi yang ditemukan : a. Sering terjadi pada primigravida, mola hidatidosa dan kehamilan ganda hal ini menimbulkan dugaan bahwa faktor hormon memegang peranan, karena pada kedua keadaan tersebut hormon Khorionik gonadotropin dibentuk berlebihan. b. Faktor organik, karena masuknya vili khorialis dalam sirkulasi maternal dan perubahan metabolik akibat hamil serta resistensi yang menurun dari pihak ibu tehadap perubahan ini.
60 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS Alergi juga disebut sebagai salah satu faktor organik karena sebagai salah satu respon dari jaringan ibu terhadap anak. c. Faktor psikologik memegang peranan yang penting pada penyakit ini walaupun hubungannya dengan terjadinya hiperemesis gravidarum belum diketahui dengan pasti, takut terhadap kehamilan dan persalinan, takut terhadap tanggung jawab sebagai ibu, dapat menyebabkan konflik mental yang dapat memperberat mual dan muntah. Tidak jarang dengan memberikan suasana yang baru sudah dapat membantu mengurangi frekwensi muntah klien. 3. Patofisiologi Hiperemesis gravidarum dapat mengakibatkan cadangan karbohidrat dan lemak habis terpakai untuk keperluan energi. Karena oksidasi lemak yang tak sempurna, terjadilah ketosis. Kekurangan cairan yang diminum dan kehilangan cairan karena muntah menyebabkan dehidrasi, sehingga cairan ekstraselurer dan plasma berkurang. Natrium dan klorida darah turun, demikian pula klorida air kemih. Selain itu dehidrasi menyebabkan hemokonsentrasi, sehingga aliran darah ke jaringan berkurang. Hal ini menyebabkan jumlah zat makanan dan oksigen ke jaringan berkurang pula dan tertimbunlah zat metabolik yang toksik. Kekurangan
61 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS Kalium sebagai akibat dari muntah dan bertambahnya ekskresi lewat ginjal, bertambahnya frekuensi muntah-muntah yang lebih banyak, dapat merusak hati. 4. Diagnosa a. Anamnesa : Amenore, tanda kehamilan muda, muntah terus menerus. b. Pemeriksaan fisik : KU = lemah - Kesadaran= apatis sampai koma - Nadi >100 x/menit - Tekanan darah menurun - Suhu meningkat c. Pemeriksaan penunjang : Kadar Na dan Cl turun. 5. Klasifikasi Hiperemesis gravidarum, menurut berat ringannya gejala dapat dibagi dalam 3 (tiga) tingkatan yaitu : Tingkat I a. Muntah terus menerus sehingga menimbulkan : - Dehidrasi : turgor kulit turun - Nafsu makan berkurang - Berat badan turun - Mata cekung dan lidah kering b. Epigastrium nyeri karena asam lambung meningkat dan terjadi regurgitasi ke esophagus c. Nadi meningkat dan tekanan darah turun d. Frekuensi nadi sekitar 100 kali/menit
62 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS e. Tampak lemah dan lemas Tingkat II a. Dehidrasi semakin meningkat akibatnya : - Turgor kulit makin turun - Lidah kering dan kotor - Mata tampak cekung dan sedikit ikteris b. Kardiovaskuler - Frekuensi nadi semakin cepat > 100 kali/menit - Nadi kecil karena volume darah turun - Suhu badan meningkat - Tekanan darah turun c. Liver Fungsi hati terganggu sehingga menimbulkan ikterus d. Ginjal Dehidrasi menimbulkan gangguan fungsi ginjal yang yang menyebabkan : - Oliguria - Anuria - Terdapat timbunan benda keton aseton. Aseton dapat tercium dalam hawa pernafasan. e. Kadang – kadang muntah bercampur darah akibat ruptur esofagus dan pecahnya mukosa lambung pada sindrom mallory weiss. Tingkat III a. Keadaan umum lebih parah
63 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS b. Muntah berhenti c. Sindrom mallory weiss d. Keadaan kesadaran makin menurun hingga mencapai somnollen atau koma. e. Terdapat ensefalopati werniche : - Nistagmus - Diplopia - Gangguan mental f. Kardiovaskuler Nadi kecil, tekanan darah menurun, dan temperatur meningkat. g. Gastrointestinal - Ikterus semakin berat - Terdapat timbunan aseton yang makin tinggi dengan bau yang makin tajam h. Ginjal Oliguria semakin parah dan menjadi anuria 6. Penatalaksanaan a. Obat-obatan Sedativa yang sering digunakan adalah Luminal. Vitamin yang dianjurkan Vitamin B1 dan B6 Keadaan yang lebih berat diberikan antiemetik seperti Avopreg, Avomin. Anti histamin ini juga dianjurkan seperti Dramamin, Avomin, Antasida. b. Isolasi Penderita disendirikan dalam kamar yang tenang tetapi cerah dan peredaran udara yang baik. Kadang-kadang dengan isolasi saja gejaia-
64 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS gejala akan berkurang atau hilang tanpa pengobatan. c. Terapi psikologik Perlu diyakinkan pada penderita bahwa penyakit dapat disembuhkan, hilangkan rasa takut oleh karena kehamilan, kurangi pekerjaan yang serta menghilangkan masalah dan konflik, yang kiranya dapat menjadi latar belakang penyakit ini. d. Cairan parenteral Berikan cairan- parenteral yang cukup elektrolit, karbohidrat dan protein dengan Glukosa 5% dalam cairan garam fisiologik sebanyak 2-3 liter per hari. Bila perlu dapat ditambah Kalium dan vitamin, khususnya vitamin B kompleks dan vitamin C. Bila ada kekurangan protein, dapat diberikan pula asam amino secara intra vena. e. Penghentian kehamilan Pada sebagian kecil kasus keadaan tidak menjadi baik, bahkan mundur. Usahakan mengadakan pemeriksaan medik dan psikiatri bila keadaan memburuk. Delirium, kebutaan, tachikardi, ikterus anuria dan perdarahan merupakan manifestasi komplikasi organik. Dalam keadaan demikian perlu dipertimbangkan untuk mengakhiri kehamilan. Keputusan untuk melakukan abortus terapeutik sering sulit diambil, oleh karena di satu pihak tidak boleh dilakukan terlalu cepat, tetapi di lain pihak tak
65 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS boleh menunggu sampai terjadi gejala ireversibel pada organ vital. f. Diet - Diet hiperemesis I diberikan pada hiperemesis tingkat III. Makanan hanya berupa roti kering dan buahbuahan. Cairan tidak diberikan bersama makanan tetapi 1 — 2 jam sesudahnya. Makanan ini kurang dalam semua zat – zat gizi, kecuali vitamin C, karena itu hanya diberikan selama beberapa hari. - Diet hiperemesis II diberikan bila rasa mual dan muntah berkurang. Secara berangsur mulai diberikan makanan yang bernilai gizi tinggi. Minuman tidak diberikan bersama makanan. Makanan ini rendah dalam semua zat-zat gizi kecuali vitamin A dan D. - Diet hiperemesis III diberikan kepada penderita dengan hiperemesis ringan. Menurut kesanggupan penderita minuman boleh diberikan bersama makanan. Makanan ini cukup dalam semua zat gizi kecuali Kalsium. 7. Prognosis Dengan penanganan yang baik, prognosis sangat memuaskan. Namun, pada tingkat yang berat dapat menyebabkan kematian ibu dan janin.
66 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS 8. Komplikasi Komplikasi yang terjadi akibat hiperemesis gravidarum antara lain : a. Komplikasi ringan : Kehilangan berat badan, dehidrasi, asidosis dari kekurangan gizi, alkalosis, hipokalemia, kelemahan otot, kelainan elektrokardiografik, tetani, dan gangguan psikologis. b. Komplikasi yang mengancam kehidupan : Rupture oesophageal berkaitan dengan muntah yang berat, encephalophaty wernicke’s, mielinolisis pusat pontine, retinal haemorage, kerusakan ginjal, pneumomediastinum secara spontan, keterlambatan pertumbuhan di dalam kandungan, dan kematian janin. C. Eklampsia 1. Definisi Pre eklamsi merupakan suatu kondisi spesifik kehamilan di mana hipertensi terjadi setelah minggu ke 20 pada wanita yang sebelumnya memiliki tekanan darah normal. Pre eklamsi merupakan suatu penyakit vasopatik, yang melibatkan banyak system dan di tandai oleh hemokonsentrasi, hipertensi, dan proteinuria (Bobak, Lowdermilk, Jensen, 2012). Hipertensi di definisikan sebagai peningkatan tekanan sistolik dan diastolic sampai mencapai atau
67 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS melebihi 140/90 mmhg. Jika tekanan darah ibu pada trismester pertama diketahui, maka angka tersebut dipakai sebagai patokan dasar tekanan darah dasar ibu. Dengan menggunakan informasi ini (Bobak, Lowdermilk, Jensen , 2012). 2. Jenis – jenis Pre Eklamsi Berat Menurut Bobak, Lowdermilk, Jensen, 2012, Preeklamsi dibagi menjadi 2 golongan yaitu : Tabel 2.1 EFEK PADA IBU PRE EKLAMSI RINGAN PRE EKLAMSI BERAT Tekanan darah Peningkatan tekanan darah sistolik sebesar 30 mmHg atau lebih, peningkatan diastolic sebesar ≥ 15 mmHg atau hasil pemeriksaan sebesar 140/90 mmHg dua kali dengan jarak enam jam Peningkatan menjadi ≥ 160/110 mmHg pada dua kali pemeriksaan dengan jarak enam jam pada ibu hamil yang beristirahat di tempat tidur Peningkatan berat badan Peningkatan berat badan lebih dari 0,3 kg/minggu selama trimester kedua dan ketiga atau peningkatan berat badan yang tiba-tiba sebesar 2kg setiap kali Sama seperti pre eklampsi ringan Proteinuria Proteinuria sebesar 300 mg/L dalam 24 jam atau >1 g/L secara Proteinuria 5 samapi 10 g/L dalam 24 jam atau
68 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS random dengan memakai contoh urine siang hari yang dikumpulkan pada dua waktu denga jarak enam jam karena kehilangan protein adalah bervariasi dari sedikit sampai +1 ≥+2 protein dengan dipstick Edema Edema dependen, bengkak di mata, wajah, jari, bunyi pulmoner tidak terdengar Edema umum, bengkak semakin jelas di masa wajah, jari, bunyi paru (rales) bisa terdengar hiperefleksi +3 atau lebih, klonus di pergelangan kaki Refleks Hiperefleksi +3 tidak ada klonus di pergelangan kaki Hiperefleksi +3 atau lebih, klonus di pergelangan kaki Haluaran urine Keluaran sama dengan masukan ≥30 ml/jam Oliguri,30 ml/jam atau 120 ml/4 jam Nyeri kepala Sementara Berat Gangguan penglihatan Tidak ada Kabur, fotopobia, bintik buta pada pundoskopi Iritabilitas/afek Sementara Berat Nyeri ulu hati Tidak ada Ada Kreatinin serum Normal Meningkat Trombositopen ia Tidak ada Ada Peningkatan AST Minimal Jelas
69 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS Hematokrit Meningkat Meningkat EFEK PADA JANIN Perfusi plasenta Menurun Perfusi menurun dinyatakan sebagai IUGA pada fetus, DJJ, deselerasi lambat Premature placenta aging Tidak jelas Pada waktu lahir plasenta terlihat lebih kecil daripada plasenta yang normal untuk kehamilan, premature aging terlihat jelas dengan berbagai daerah yang sinsitianya pecah, banyak terlihat nekrosis iskemik, (infark putih) dan deposisi pibrin intervilosa (infark merah) bisa terlihat 3. Etiologi Pre eklamsi adalah suatu kondisi yang hanya terjadi pada kehamilan manusia. Tanda dan gejala timbul hanya selama masa kehamilan dan menghilang dengan cepat setelah janin dan plasenta lahir. Tidak ada profil tertentu yang mengidentifikasi wanita yang akan menderita pre eklamsi. Akan
70 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS tetapi, ada beberapa faktor resiko tertentu yang berkaitan dengan perkembangan penyakit : a. Primigravida b. Grand multigravida c. Janin besar d. Kehamilan dengan janin lebih dari satu e. Mordid obesitas Kira-kira 85% pre eklamsi terjadi pada kehamilan pertama, pre eklamsi terjadi pada 14% sampai 20% kehamilan dengan janin lebih dari satu dan 30% mengalami anomaril rahim yang berat. Pada ibu yang mengalami hipertensi kronis atau penyakit ginjal, insiden dapat mencapai 25% (Zuspan, 1991). Pre eklamsi adalah suatu penyakit yang tidak terpisahkan dari pre eklamsi ringan sampai berat, sindrom HELLP, atau eklamsi (Bobak, Lowdermilk, Jensen, 2012). Sedangkan menurut Sarwono Prawiroharjo, 2013 ada beberapa faktor resiko untuk terjadinya hipertensi dalam kehamilan yang dapat dikelompokan dalam factor resiko sebagai berikut : a. Lebih sering pada primigravida b. Masa plasenta besar (pada gemelli, penyakit tropoblas) c. Diabetes mellitus d. Isoimunisasi rhesus e. Factor herediter f. Masalah vaskuler
71 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS 4. Patofisiologi Pre eklamsi setidaknya berkaitan dengan perubahan fisiologis kehamilan. Adaptasi fisiologis normal pada kehamilan meliputi, peningkatan volume plasma darah, vasodilatasi, penurunan resistensi vaskuler iskemik (system vascular ressistance SVRI), peningkatan curah jantung, dan penurunan tekanan osmotic koloid. Perubahan pada organ-organ ibu hamil dengan Pre Eklamsi Berat menurut Bobak. Lowdermark. Jensen, 2012 adalah sebagai berikut : a. Kardiovaskuler 1) Meningkatnya volume darah. Ekspansi volume plasma meningkatkan ekspansi massa sel merah, menyebabkan anemia fisiologis pada kehamilan 2) Menurunnya resistensi perifer total, akan terlihat penurunan tekanan darah 3) Menigkatnya curah jantung, terjadi akibat peningkatan volume darah, sedikit peningkatan denyut jantung untuk mengompensasi relaksasi perifer 4) Meningkatnya konsumsi oksigen 5) Edema fisiologis berkaitan dengan menurunnya tekanan osmotic koloid plasma dan menurunnya tekanan hidrostatik vena kapiler.
72 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS b. Hematologi 1) Meningkatnya factor pembekuan, mempredisposisi DIC dan pembekuan. 2) Menurunnya albumin serum menyebabkan penurunan tekanan osmotik koloid, mempredisposisi edema paru. c. Ginjal Meningkatkan aliran plasma ginjal dan laju filtrasi glomerulus. d. Endokrin 1) Meningkatnya produksi estrogen menyebabkan meningkatnya sekresi renninangiostensin II-aldosteron. 2) Meningkatnya produksi progesteron menghambat efek aldosteron (Na sedikit menurun). 3) Vasodilator prostaglandin menyebabkan resistensi Angiostensin II (tekanan darah sedikit menurun). Pre eklamsi, volume plasma yang beredar menurun sehingga terjadi hemokonsentrasi dan peningkatan hematokrit maternal, perubahan ini membuat perfusi organ maternal menurun, termasuk perfusi ke unit janin – uteroplasenta. Vasoplasma siklik lebih lanjut menurun perfusi organ dengan menghancurkan organ sel-sel darah merah sehingga kapasitas oksigen maternal menurun.
73 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS Vasopasma merupakan sebagian mekanisme dasar tanda dan gejala yang menyertai pre eklamsi. Vasoplasma merupakan penyebab peningkatan sensitivitas terhadap penekanan darah, seperti angiotension II dan kemungkinan suatu ketidakseimbangan antara prostasiklin, prostaglandin dan tromboksan A2.. Selain kerusakan endothelial, vasosvasme anterial turrut menyebabkan peningkatan permeabilitas kapiler. Keadaan ini meningkatkan edema dan leboh lanjut menurunkan volume intravaskuler, mempredisposisi pasien yang mengalami pre eklamsi mudah menderita edema paru (Bobak, Lowdermilk, Jensen, 2012). 5. Tanda dan Gejala Menurut Sarwono Prawirohardjo, 2013 dalam bukunya, menerangkan bahwa kemungkinan tanda dan gejala preeklampsi adalah sebagai berikut : a. Tekanan diastolic > 110 mmHg b. Proteinuria ≥ 2+ c. Oliguria < 400 ml per 24 jam d. Edema paru, nafas pendek, sianosis, suara nafas ronkhi e. Nyeri daerah epigastrium atau kuadran atas kanan
74 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS f. Gangguan penglihatan skotoma atau penglihatan berkabut g. Nyeri kepala hebat tidak berkurang dengan analgesic biasa h. Hiperrefleksia i. Mata : spasme anterior, edema j. Koagulasi : koagulasi intravaskuler disseminate, sindrom HELLP k. Pertumbuhan janin terhambat l. Otak : edema serebri m. Jantung : gagal jantung 6. Pemeriksaan Diagnostik Menurut Mitayani, 2009 dalam bukunya, menerangkan bahwa kemungkinan tanda dan gejala preeklampsi adalah sebagai berikut : a. Pemeriksaan laboratorium 1) Pemeriksaan darah lengkap 2) Urinalisis : ditemukan protein dalam urine 3) Pemeriksaan fungsi hati 4) Tes kimia darah : asam urat meningkat (N = 2,4 – 2,7 mg/dl) b. Radiologi 1) Ultrasonografi 2) Kardiografi 8. Komplikasi Menurut Mitayani 2009, komplikasi yang terjadi pada pre eklamsi berat adalah :
75 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS a. Pada ibu 1) Eklamsia 2) Solusi plasenta 3) Perdarahan subkapsula hepar 4) Kelainan pembekuan darah 5) Sindrom HELLP (hemolisis, elevated, liver, enzymes, dan low plateled count) 6) Ablasio retina 7) Gagal jantung hingga syok dan kematian. b. Pada janin 1) Terhambatnya pertumbuhan dalam uterus 2) Premature 3) Asfeksia neonaterum 4) Kematian dalam uterus 5) Peningkatan angka kematian dan kesakitan perinatal. 9. Pencegahan a. Pembatasan kalori, cairan, dan diet rendah garam tidak dapat mencegah hipertensi karena kehamilan, malah dapat membahayakan janin. b. Memanfaatkan aspirin, kalsium dan lain-lain dalam mencegah hipertensi karena kehamilan belum terbukti. c. Yang lebih perlu adalah deteksi dini dan penanganan cepat tepat. Kasus harus ditindak lanjuti secara regular dan diberi penerangan yang jelas bilamana harus kembali kepelayanan kesehatan. Dalam rencana pendidikan keluarga
76 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS (suami, orang tua, mertua, dan lain-lain) harus dilibatkan sejak awal. d. Pemasukan cairan terlalu banyak mengakibatkan edema paru. 10. Penatalaksanaan Ditinjau dari umur kehamilan dan perkembangan gejala-gejala preeklampsia berat selama perawatan maka perawatan dibagi menjadi : a. Perawatan aktif yaitu kehamilan segera diakhiri atau diterminasi ditambah pengobatan medisinal. 1) Perawatan aktif Sedapat mungkin sebelum perawatan aktif pada setiap penderita dilakukan pemeriksaan fetal assesment (NST dan USG). Indikasi : a) Ibu - Usia kehamilan 37 minggu atau lebih - Adanya tanda-tanda atau gejala impending eklampsia, kegagalan terapi konservatif yaitu setelah 6 jam pengobatan meditasi terjadi kenaikan desakan darah atau setelah 24 jam perawatan medisinal, ada gejala-gejala status quo (tidak ada perbaikan). b) Janin - Hasil fetal assesment jelek (NST dan USG).
77 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS - Adanya tanda IUGR (janin terhambat). c) Laboratorium Adanya “HELLP Syndrome” (hemolisis dan peningkatan fungsi hepar, trombositopenia). Sedangkan menurut Wahyu dan Siti, 2010 Penatalaksanaan pada klien pre eklamsi adalah : 1) Ajurkan melakukan latihan isotonik dengan cukup istirahat dan baring 2) Hindari konsumsi garam yang belebihan 3) Hindari kafein, merokok dan alcohol 4) Diet makanan yang sehat dan seimbang 5) Lakukan pengawasan kehidupan dan pertumbuhan janin dengan USG 6) Pembatasan aktivitas fisik 7) Kolaborasi pemberian hipertensi. 11. Penanganan Menurut Sarwono Prawirohardjo 2013, penanganan yang harus dilakukan pada pasien pre eklamsi berat adalah : a. Medis 1) Jika tekanan diastolic > 10 mmHg, berikan antihipertensi samapai tekanan diastolic di antara 90 – 100 mmHg
78 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS 2) Pasang infus Ringer Laktat dengan jarum besar (16 gauge atau >) 3) Ukur keseimbangan cairan jangan sampai terjadi overload 4) Karakteristik urine untuk pengeluaran volume dan proteinuria 5) Jika jumlah urin <30 ml per jam : a) Infus cairan dipertahankan 11/8 jam b) Pantau kemungkinan edema paru 6) Jangan tinggalkan pasien sendirian, kejang disertai aspirasi dapat mengakibatkan kematian ibu dan janin 7) Observasi tanda-tanda vital, refleks dan denyut jantung janin setiap jam. 8) Auskultrasi paru untuk mencari tanda-tanda edema paru 9) Nilai pembekuan darah dengan uji pembekuan bedside, jika pembekuan tidak terjadi sesudah 7 menit, kemungkinan terdapat koagulopati. b. Non medis Menurut Bobak.Lowdermilk.Jensen 2012, dalam bukunya penanganan pada pasien pre eklamsi secara non medis adalah : 1) Laporkan dengan segera setiap peningkatan tekanan darah 2) Gunakan timbangan yang sama, lakukan pengukuran pada waktu yang sama setiap
79 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS hari, setelah berkemih, sebelum makan pagi untuk mendapat berat yang dapat dipercaya 3) Laporkan ke dokter jika proteinuria +2 atau jika mengalami penurunan haluan urin 4) Tirah baring dan diet rendah garam. 12. Asuhan Keperawatan Pre Eklamsi Berat a. Pengkajian Tahap ini merupakan tahap awal proses keperawatan yang diawali dengan pengumpulan data secara sistematis. Pengkajian fisik dilakukan secara head to toe dengan menggunakan pendekatan secara sistematis untuk mengumpulkan data dari klien, keluarga dan catatan keperawatan, maupun catatan dari tim kesehatan yang lain berupa data subjektif maupun data objektif. Pengkajian yang dilakukan terhadap ibu pre eklamsi antara lain sebagai berikut : 1) Pengkajian umum ibu 2) Data riwayat kesehatan a) Riwayat kesehatan dahulu - Kemungkinan ibu menderita penyakit hipertensi sebelum hamil. - Kemungkinan ibu mempunyai riwayat pre eklamsi pada kehamilan terdahulu. - Biasanya mudah terjadi pada ibu dengan obesitas.
80 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS - Ibu mungkin pernah menderita penyakit ginjal kronis. b) Riwayat kesehatan sekarang - Ibu merasa sakit kepala di daerah frontal - Terasa sakit di ulu hati/epigastrium - Gangguan virus : penglihatan kabur, skotoma dan diplopia - Mual dan muntah, tidak ada nafsu makan - Gangguan serebral lainnya : terhuyung-huyung, refleks tinggi, dan tidak tenang - Edema pada ekstremitas - Tengkuk terasa berat - Kenaikan berat badan mencapai 1kg seminggu. c) Riwayat kesehatan keluarga Kemungkinan mempunyai riwayat pre eklamsi dan eklamsi dalam keluarga. d) Riwayat perkawinan Biasanya terjadi pada wanita yang menikah di bawah usia 20 tahun atau di atas 35 tahun. e) Riwayat psikologis Mencakup respon klien terhadap keadaan sekarang, respon terhadap
81 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS kelahiran atau proses kelahiran, respon terhadap bayi yang dilahirkan. f) Riwayat sosial Hubungan klien dengan keluarga, orang terdekat dengan klien, dengan perawat dan dengan pasien yang lainnya. g) Riwayat obstetric Mencakup riwayat menarche, riwayat terakhir menstruasi, riwayat kehamilan dan persalinan. h) Riwayat penggunaan kontrasepsi Mencakup jenis alat kontrasepsi yang digunakan, lama pemakaian, dan keluhan selama pemakaian, serta jenis alat kontrasepsi yang akan digunakan setelah melahirkan. i) Pola kebiasaan sehari-hari Pola kebiasaan sehari-hari mencakup pola nutrisi seperti makan, minum, dengan jenis frekuensi, porsi, keluhannya, pola eliminasi seperti BAB dan BAK, pola personal hygien seperti mandi, oral hygiene, cuci rambut, poal istirahat tidur baik tudur malam maupun siang, dan pola aktivitas baik yang di rumah maupun di rumah sakit.
82 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS j) Pemeriksaan fisik biologis Menurut Bobak.Lowdermilk.Jensen 2012, pemeriksaan fisik pada pre eklamsi berat adalah : - Pemeriksaan tekanan darah yang akurat dan konsisten penting untuk menetapkan nilai dasar dan memantau perubahan kecil sepanjang masa hamil. - Observasi edema yang disertai hipertensi memerlukan pemeriksaan tambahan. Edema dinilai dari distribusi, derajat dan pitting, jika diperiolbital atau wajah tidak jelas, ibu ditanyai apakah edemanya lebih jelas pada saat dia bangun tidur. Edema dapat digambarkan sebagai dependen atau pitting. - Edema dependen adalah edema pada bagian bawah atau bagian tubuh yang dependen, di mana tekanan hidrostatiknya paling besar. Apabila ia sedang berjalan, edema ini terlihat paling jelas di kaki dan pergelangan kaki. Apabila orang tersebut berbaring di tempat
83 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS tidur edema paling sering timbul di bagian sacrum. - Edema pitting meninggalkan lekukan kecil setelah bagian yang bengkak ditekan oleh jari, lekukan ini disebabkan pergeseran cairan ke jaringan sekitar, menjauh dari tempat yang mendapatkan tekanan, dalam 10 sampai 30 detik lekukan ini biasanya akan menghilang, walupun jumlah edema sukar disebutkan tetapi metode yang dijelaskan digunakan untuk mencatat derajat relative edema. - Gejala-gejala yang menunjukan adanya keterlibatan sistem saraf pusat (SSP) dan system penglihatan biasanya menyertai edema wajah. Walupun hal ini merupakan pemeriksaan rutin untuk periode prenatal, tetapi evaluasi fundus pada awal kehamilan akan membantu membedakan penyakit yang memang sudah ada dari penyakit yang baru timbul pada masa hamil. Ibu memang tidak mampu
84 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS mengaitkan gejala yang lain seperti nyeri ulu hati atau oliguria. - Refleks tendon profunda (RTP) dievaluasi jika diduga ada pre eklamsi. Reflex bisep dan patella serta klonus pada pergelangan kaki dikaji dan hasilnya dicatat. Evaluasi RTP terutama diperlukan jika ibu sedang mengalami pengobatan dengan magnesium sulfat. Hilangnya RTP adalah tanda dini keracunan magnesium yang mengancam. Refleks patella dilakukan dengan tungkai bawah ibu tergantung bebas pada meja periksa atau dengan ibu berbaring miring, lutut dengan sedikit fleksi atau kedua tungkai ditopang pemeriksa. Ketukan dengan martil diarahkan ke tendon patella, sebelah inferior patella. Respon normal ialah ekstensi atau menendang. Untuk mengkaji reflex hiperaktif (klonus) di pergelangan kaki. k) Pemeriksaan penunjang - Pemeriksaan laboratorium
85 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS Pemeriksaan darah lengkap dengan hapusan darah Penurunan hemoglobin (nilai rujukan atau kadar normal) hemoglobin untuk wanita hamil adalah 12-14 gr% Hematokrit meningkat (nilai rujukan 37-43 vol%) Trombosit menurun (nilai rujukan 150-450 ribu/mm3) - Urinalisis Ditemukan protein dalam urine - Pemeriksaan fungsi hati Bilirubin meningkat (N= < 1 Mg/dl) LDH (laktat dehidrogenesa) meningkat Aspartat aminomtransferase (AST) > 60 Ul Serum glutamate pirufat transaminase (SGPT) meningkat (N 15-45 u/ml) Serum glutamat oxalocetic trasaminase (sgpot) meningkat (N= < 31 u/l) Total protein serum menurun (N = 6,7-8,7 g/dl)
86 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS - Tes kimia darah Asam urat meningkat (N = 2,4-2,7 mg/dl) - Radiologi (1) Ultrasonografi Ditemukannya reterdasi pertumbuhan janin intrauterus. Pernafasan intrauterus lambat, aktivitas janin lambat, dan volume cairan ketuban sedikit (2) Kardiografi Diketahui denyut jantung lemah. (Mitayani, 2012). b. Diagnosa keperawatan Diagnosa Keperawatan adalah keputusan klinik tentang respon individu, keluarga dan masyarakat tentang kesehatan actual atau potensial sebagai dasar seleksi intervensi untuk mencapai tujuan asuhan keperawatan.(NANDA internasional,2007 Diagnosa yang sering muncul di Mitayani 2009 adalah : 1) Kelebihan volume cairan interstisial berhubungan dengan penurunan tekanan osmotik, perubahan permeabilitas pembuluh darah.
87 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS 2) Penurunan curah jantung berhubungan dengan hipovolemik atau penurunan aliran balik vena. 3) Resiko cidera pada janin berhubungan dengan tidak adekuatnya perfusi darah ke plasenta. 4) Resiko cidera pada ibu berhubungan dengan edema atau hipoksia jaringan kejang tonik klonik. 5) Resiko tinggi intoleransi aktivitas berhubungan dengan adanya masalah sirkulasi, peningkatan tekanan darah. 6) Nyeri epigastrik berhubungan dengan peregangan kapsula hepar. 7) Resiko infeksi berhubungan dengan trauma jaringan atau luka operasi. c. Perencanaan Perencanaan keperawatan merupakan tugas tugas lanjut dari keperawatan setelah mengumpulkan data yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan ibu sesuai dengan pengkajian yang telah dilakukan. Pada tahap ini ditetapkan tujuan dan alternativ tindakan yang akan dilakukan pada tahap implementasi dalam upaya memecahkan masalah atau mengurangi masalah ibu (Mitayani, 2009).
88 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS Berikut ini akan diuraikan rencana tindakan yang akan dilakukan sesuai dengan kemungkinan diagnosis yang telah dijelaskan sebelumnya. 1) Kelebihan volume cairan interstisial berhubungan dengan penurunan tekanan osmotic, perubahan permeabilitas pembuluh darah. Tujuan : volume cairan kembali seimbang. Rencana tindakan : a) Pantau dan catat intak dan output setiap hari. Rasional : dengan memantau intake dan output diharapkan dapat diketahui adanya keseimbangan cairan dan dapat diramalkan keadaaan dan kerusakan glomerulus. b) Pemantauan tanda-tanda vital, catat waktu pengisian kapiler (capillary refill time – CRT). Rasional : dengan memantau tanda-tanda dan pengisian kapiler dapat dijadikan pedoman untuk penggantian cairan atau menilai respon dari kardiovaskuler. c) Memantau atau menimbang berat badan Rasional : dengan memantau berat badan ibu dapat di ketahui berat badan yang yang merupakan indicator yang tepat untuk menentukan keseimbangan cairan.
89 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS d) Observasi keadaan edema Rasional : keadaan edema merupakan indicator keadaan cairan dalam tubuh. e) Beriak diet rendah garam sesuai hasil kolaborasi dengan ahli gizi. Rasional: diet rendah garam akan mengurangi terjadinya kelebihan cairan. f) Kolaborasi dengan dokter pemberian diuretic. Rasional : diuretic dapat meningkatkan filtrasi glomelurus dan menghambat penyerapan sodium dan air dalam tubulus ginjal. 2) Penurunan curah jantung berhubungan dengan hipovolemik atau penurunan aliran balik vena. Tujuan: agar curah jantung kembali normal. Rencana tindakan : a) Observasi tanda-tanda vital Rasional : dengan mengobservasi tandatanda vital dapat melihat peningkatan volume plasma, relaksasi vaskuler dengan penurunan tahanan perifer. b) Lakukan tirah baring pada ibu dengan posisi miring kiri. Rasional : meningkatkan aliran balik vena, curah jantung, perfusi ginjal.
90 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS c) Pemantauan parameter hemodinamik invasive (kolaborasi). Rasional : memberikan gambaran akurat dari perubahan vaskuler dan volume cairan. d) Berikan obat antihipertensi sesuai kebutuhan kolaborasi dengan dokter. Rasional : obat antihipertensi bekerja secara langsung kepada arteriol untuk meningkatkan relaksasi otot polos kadiovaskuler dan membantu meningkatkan suplai darah. e) Pemantauan tekanan darah dan obat hipertensi. Rasional : mengetahui efek samping yang terjadi seperti takikardi, sakit kepala, mual, muntah dan palpitas. 3) Resiko cidera pada janin berhubungan dengan tidak adekuatnya perfusi darah ke plasenta Tujuan : cidera tidak terjadi pada janin Rencana tindakan : a) Istirahatkan ibu Rasional : dengan mengistirahatkan ibu diharapkan metabolism tubuh menurun dan peredaran darah ke plasenta menjadi adekuat sehingga kebutuhan oksigen untuk janin dapat dipenuhi
91 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS b) Anjurkan ibu agar tidur miringke kiri Rasional : denagn tidur iring ke kiri diharapkan vena kava di bagian kanan tidak tertekan oleh uterus yang membesar, sehingga aliran darah ke plasenta menjadi lancar. c) Pantau tekanan darah ibu Rasional : dengan memantau tekanan darah ibu dapat mengetahui aliran darah ke plasenta seperti tekanan darah tinggi, aliran darah ke plasenta berkurang sehingga suplai oksigen ke janin berkurang. d) Memantau bunyi jantung janin Rasional : dengan memantau bunyi jantung janin dapat diketahui keadaan jantung janin lemah atau menurun menandakan suplai oksigen ke janin berkurang sehingga dapat direncanakan tindakan selanjutnya. 4) Resiko cidera pada ibu berhubungan dengan edema atau hipoksia jaringan kejang tonik klonik. Tujuan : resiko cidera tidak terjadi. Rencana tindakan : a) observasi tanda-tanda vital Rasional : Mengetahui cepat bila ada kelainan pada tanda vital.
92 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS b) catat tingkat kesadaran klien Rasional : penurunan kesadaran sebagai indikasi penurunan aliran darah otak. c) Kaji adanya tanda-tanda eklampsia (hiperaktif, reflek patella dalam, penurunan nadi dan respirasi, nyeri epigastrium dan oliguria). Rasional: Gejala tersebut merupakan manifestasi dari perubahan pada otak, ginjal, jantung dan paru yang mendahului status kejang. d) kolaborasi pemberian anti hipertensi Rasional : untuk menurunkan tekanan darah. 5) Nyeri epigastrik berhubungan dengan peregangan kapsula hepar Tujuan : nyeri dapat teratasi Rencana tindakan : a) Observasi tanda-tanda vital Rasional : Mengetahui cepat bila ada kelainan pada tanda vital b) Kaji tipe,lokasi dan karakteristik nyeri Rasional : Mengetahui batasan normal tingkatan nyeri, mempermudah c) Ajarkan teknik distraksi dan relaksasi Rasional : Tekhnik yang aman dan cepat untuk melenturkan otot-otot yang kaku, mengalihkan nyeri