The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Perpustakaan YPIB, 2023-07-26 00:23:44

EBOOK ASKEP GANGGUAN MATERNITAS

EBOOK ASKEP GANGGUAN MATERNITAS

93 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS d) Ajarkan posisi yang nyaman dengan semi fowler Rasional : Posisi yang nyaman dengan semi fowler bisa mengurangi rasa nyeri e) Kolaborasi pemberian analgetik. Rasional : Untuk mengurangi rasa nyeri 6) Resiko infeksi berhubungan dengan trauma jaringan atau luka operasi Tujuan : tidak mengalami infeksi Rencana tindakan : a) Observasi tanda-tanda vital Rasional : Mengetahui cepat apabila ada kelainan pada tanda vital b) Kaji tanda-tanda infeksi Rasional : Identifikasi lebih awal bisa meminimalkan penularan infeksi c) Lakukan perawatan luka dengan teknik aseptic Rasional : Perawatan luka dengan cara aseptic bisa mempercepat penyembuhan luka d) Inspeksi balutan abdominal atau rembesan Rasional : Untuk mengetahui apakah ada rembesan atau tidak e) Anjurkan intake nutrisi yang cukup


94 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS Rasional : Intake nutrisi yang cukup bisa mempermudah menumbuhkan jaringan baru pada luka insisi f) Kolaborasi pemberian antibiotic Rasional : Untuk mencegah adanya microrganisme. 7) Resiko tinggi intoleransi aktivitas berhubungan dengan adanya masalah sirkulasi, peningkatan tekanan darah. Tujuan : Mampu melakukan aktivitas secara mandiri. Rencana tindakan : a) Kaji kemampuan dalam melakukan aktifitas. Rasional : Posisi yang nyaman bisa membuat klien lebih rileks. b) Observasi tanda – tanda vital. Rasional : mengetahui cepat apabila ada kelainan pada tanda – tanda vital. c) Anjurkan klien untuk melakukan pergerakan dan latihan rentan gerak aktif atau pasif. Rasional : Melancarkan mobilitas menjadi baik. d. Implementasi Setelah rencana keperawatan tersusun, selanjutnya diterapkan tindakan yang nyata untuk mencapai hasil yang diharapkan berupa


95 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS berkurangnya atau hilangnya masalah ibu. Pada tahap implementasi ini terdiri dari atas beberapa kegiatan, yaitu validasi rencana keperawatan, menuliskan atau mendokumentasikan rencana keperawatan, serta melanjutkan pengumpualan data. Dalam implementasi keperawatan, tindakan tidak harus mendetail dan jelas supaya semua tenaga keperawatan dapat menjalankannya dengan baik dalam waktu yang telah ditentukan. Perawat dapat melaksanakan langsung atau bekerja sama dengan para tenaga pelaksana lainnya (Mitayani, 2009). e. Evaluasi Evaluasi keperawatan merupakan kegiatan akhir dari proses keperawatan, di mana perawat menilai hasil yang diharapkan terhadap perubahan diri ibu dan menilai sejauh mana masalah ibu dapat diatasi, di samping itu, perawat memberikan umpan balik atau pengkajain ulang (Mitayani, 2009). D. Gangguan Kardiovaskuler Pada Masa Kehamilan 1. Definisi Kehamilan menyebabkan terjadinya sejumlah perubahan fisiologis dari sistem kardiovaskuler yang akan dapat ditolerir dengan baik


96 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS oleh wanita yang sehat, namun akan menjadi ancaman yang berbahaya bagi ibu hamil yang mempunyai kelainan jantung sebelumnya. Tanpa diagnosis yang akurat dan penanganan yang baik maka penyakit jantung dalam kehamilan dapat menimbulkan mortalitas ibu yang signifikan. Keperluan janin yang sedang tumbuh akan oksigen akan zat-zat makanan bertambah dalam berlangsungnya kehamilan yang harus dipenuhi melalui darah ibu untuk itu banyaknya darah yang beredar bertambah sehingga jantung harus bekerja lebih keras oleh karena itu dalam kehamilan selalu terjadi pada system kardiovaskuler yang biasanya masih dalam batas-batas fisiologis perubahanperubahan tersebut disebabkan oleh : a. Hipervolumia : dimulai sejak kehamilan 28 minggu dan mencapai puncak pada 28-32 minggu lalu menetap b. Jantung dan diafragma terdorong ke atas oleh pembesaran rahim. Pengaruh kehamilan terhadap penyakit jantung saat-saat yang berbahaya bagi penderita jantung adalah : a. Pada kehamilan 32-36 minggu di mana volume darah mencapai puncaknya b. Pada kala II wanita menggerakkan tenaganya untuk mengedan dan memerlukan tenaga jantung yang erat.


97 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS a. Pada post partum, dimana darah dari ruang internilus plasenta yang sudah lahir, sekarang masuk dalam sirkulasi darah ibu. b. Pada masa nifas, karena kemungkinan adanya infeksi. Pengaruh penyakit jantung terhadap kehamilan : a. Dapat terjadi abortus b. Prematuritas : lahir tidak cukup bulan c. Dismaturitis : lahir cukup bulan namun dengan berat badan rendah d. Lahir dengan apgar rendah atau lahir mati e. Kematian janin dalam lahir (kjol) 2. Klasifikasi Kelas I : a. Tanpa pembatasan gerakan fisik b. Tanpa gejala pada kegiatan biasa Kelas II : a. Sedikit dibatasi kegiatan fisiknya b. Waktu istirahat tidak ada keluhan c. Kegiatan fisik biasa menimbulkan gejala insulfiensi d. Gejala adalah lelah, palpitasi, seska nafas dan nyeri dada (angin pectoris) Kelas III : Kegiatan fisik menimbulkan keluhan insufsiensi jantung apalagi kerja fisik kira-kira 80% penderita adalah kelas I dan II dan kehamilan dapat


98 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS meningkatkan kelas tersebut menjadi III atau IV factor-faktor yang dapat pula mempengaruhi adalah umur, anemia adanya aritmia jantung dan hipertropi ventrikuler dan sakit jantung. 3. Etiologi Menurut data statistik jumlah Ibu berpenyakit jantung yang mendapatkan kehamilan berkisar antara 1-4%. Penyakit jantung yang paling banyak dijumpai pada kehamilan biasanya dikarenakan penyakit hipertensi, tirotoksikosis (keracunan kelenjar gondok), dan anemia. Pada usia kehamilan 32-36 minggu volume darah ibu hamil akan mencapai puncaknya. Hal ini ditandai dengan terjadinya pembengkakan pada kaki maupun tangan ibu hamil. Di saat inilah kelainan jantung yang diderita oleh ibu hamil menjadi lebih berat. Selain pada kehamilan, penyakit jantung ini juga terasa berat pada saat persalinan maupun setelah persalinan di mana darah dari ruang plasenta bayi (yang telah lahir) mulai kembali masuk ke sirkulasi darah ibu hamil, dan memberatkan kerja jantung. 4. Tanda dan gejala a. ORTHOPNEA / dispnea progresif b. Batuk malam hari c. Hemaptisis d. Sinkop e. Nyeri dada


99 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS f. Riwayat keluarga 5. Patofisiologi Terjadi hiporvolemia dalam kehamilan, yang sudah dimulai sejak umur kehamilan 10 minggu dan mencapai puncak pada usia 32-36 minggu uterus yang semakin besar mendorong diafragma ke atas, kiri dan depan sehingga pembuluh-pembuluh dasar besar dekat jantung mengalami lekukan dan putaran, kemudian 12-24 jam pascapersalinan terjadi peningkatan volume plasma akibat imbibisi cairan dari ekstravaskuler ke dalam pembuluh darah, kemudian diikuti periode diuresis pascapersalinan yang menyebabkan hemokonsentrasi. Jadi penyakit jantung akan menjadi lebih berat pada pasien yang hamil dan melahirkan, bahkan dapat terjadi gagal jantung. Keperluan janin yang sedang bertumbuh akan oksigen dan zat-zat makanan bertambah dalam berlangsungnya kehamilan, yang harus dipenuhi melalui darah ibu. Untuk itu banyaknya darah yang beredar bertambah, sehingga jantung harus bekerja lebih berat. Karena itu dalam kehamilan selalu terjadi perubahan dalam system kardiovaskuler yang baisanya masih dalam batas-batas fisiologik. Perubahan-perubahan itu terutama disebabkan karena :


100 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS a. Hidrenia (Hipervolemia), dimulai sejak umur kehamilan 10 minggu dan puncaknya pada UK 32-36 minggu b. Uterus gravidus yang makin lama makin besar mendorong diafragma ke atas, ke kiri, dan ke depan sehingga pembuluh-pembuluh darah besar dekat jantung mengalami lekukan dan putaran. Volume plasma bertambah juga sebesar 22 %. Besar dan saat terjadinya peningkatan volume plasma berbeda dengan peningkatan volume sel darah merah ; hal ini mengakibatkan terjadinya anemia delusional (pencairan darah). Antara 12-24 jam pasca persalinan terjadi peningkatan volume plasma akibat imbibisi cairan dari ekstra vascular ke dalam pembuluh darah, kemudian di ikuti periode deuresis pasca persalinan yang mengakibatkan hemokonsentrasi (penurunan volume plasa). 2 minggu pasca persalinan merupakan penyesuaian nilai volume plasma seperti sebelum hamil. Jantung yang normal dapat menyesuaikan diri, tetapi jantung yang sakit tidak. Oleh karena itu dalam kehamilan frekuensi denyut jantung meningkat dan nadi rata-rata 88x/menit dalam kehamilan 34-36 minggu. Dalam kehamilan lanjut prekordium mengalami pergeseran ke kiri dan sering terdengar bising sistolik di daerah apeks dan katup


101 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS pulmonal. Penyakit jantung akan menjadi lebih berat pada pasien yang hamil dan melahirkan, bahkan dapat terjadi decompensasi cordis. 6. Pemeriksaan penunjang - EKG Untuk mengetahui fungsi jantung : T. Inverted, ST depresi, Q. patologis, Enzim Jantung, CPKMB, LDH, AST . - Elektrolit. Ketidakseimbangan dapat mempengaruhi konduksi dan kontraktilitas, missal hipokalemi, hiperkalemi. - Sel darah putih Leukosit (10.000 – 20.000) biasanya tampak pada hari ke-2 setelah IMA berhubungan dengan proses inflamasi. - Kecepatan sedimentasi Meningkat pada ke-2 dan ke-3 setelah AMI, menunjukkan inflamasi. - Kimia Mungkin normal, tergantung abnormalitas fungsi atau perfusi organ akut atau kronis. - GDA Dapat menunjukkan hypoksia atau proses penyakit paru akut atau kronis. - Kolesterol atau Trigliserida serum Meningkat, menunjukkan arteriosclerosis sebagai penyebab AMI.


102 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS - Foto dada Mungkin normal atau menunjukkan pembesaran jantung diduga GJK atau aneurisma ventrikuler. - Ekokardiogram Dilakukan untuk menentukan dimensi serambi, gerakan katup atau dinding ventrikuler dan konfigurasi atau fungsi katup. - Pemeriksaan pencitraan nuklir Talium : mengevaluasi aliran darah miocardia dan status sel miocardia, misal lokasi atau luasnya IMA Technetium : terkumpul dalam sel iskemi di sekitar area nekrotik - Pencitraan darah jantung (MUGA) Mengevaluasi penampilan ventrikel khusus dan umum, gerakan dinding regional dan fraksi ejeksi (aliran darah) - Angiografi koroner Menggambarkan penyempitan atau sumbatan arteri koroner. Biasanya dilakukan sehubungan dengan pengukuran tekanan serambi dan mengkaji fungsi ventrikel kiri (fraksi ejeksi). Prosedur tidak selalu dilakukan pada fase AMI kecuali mendekati bedah jantung angioplasty atau emergensi. - Digital subtraksion angiografi (PSA) Teknik yang digunakan untuk menggambarkan - Nuklear Magnetic Resonance (NMR)


103 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS Memungkinkan visualisasi aliran darah, serambi jantung atau katup ventrikel, lesivaskuler, pembentukan plak, area nekrosis atau infark dan bekuan darah. - Tes stress olah raga Menentukan respon kardiovaskuler terhadap aktifitas atau sering dilakukan sehubungan dengan pencitraan talium pada fase penyembuhan. 7. Penatalaksanaan - Rawat ICCU, puasa 8 jam - Tirah baring, posisi semi fowler. - Monitor EKG - Infus D5% 10 – 12 tetes/ menit - Oksigen 2 – 4 lt/menit - Analgesik : morphin 5 mg atau petidin 25 – 50 mg - Obat sedatif : diazepam 2 – 5 mg - Bowel care : laksadin - Antikoagulan : heparin tiap 4 – 6 jam /infus - Diet rendah kalori dan mudah dicerna - Psikoterapi untuk mengurangi cemas 8. Komplikasi - Anemia - Intrauterine Growth Restriction - Prematur yang tidak wajar (Preterm Labor) - Premature Rupture of Membranes. Gestational Diabetes


104 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS - Tekanan darah tinggi atau Pregnancy Induced Hypertension - Placenta Previa - Hidroamnios - Penyakit Rhesus - Kehamilan Post-Term - Kehamilan ganda - Kehamilan ektopik - Keguguran - Kelahiran mati - Pendarahan pasca melahirkan


105 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS BAB IV INFERTILITAS A. Definisi Infertilitas merupakan suatu ketidakmampuan pasangan untuk mencapai kehamilan setelah 1 tahun hubungan seksual tanpa pelindung (Keperawatan Medikal Bedah). Infertilitas (pasangan mandul) adalah pasangan suami istri yang telah menikah selama satu tahun dan sudah melakukan hubungan seksual tanpa menggunakan alat kontrasepsi, tetapi belum memiliki anak. (Sarwono, 2000). B. Klasifikasi Infertilitas terdiri dari 2 macam, yaitu: 1. Infertilitas primeryaitu jika perempuan belum berhasil hamil walaupun koitus teratur dan dihadapkan kepada kemungkinan kehamilan selama 12 bulan berturut-turut. 2. Infertilitas sekunderyaitu disebut infertilitas sekunder jika perempuan pernah hamil, akan tetapi kemudian tidak berhasil hamil lagi walaupun koitus teratur dan dihadapkan kepada kemungkinan kehamilan selama 12 bulan berturut-turut.


106 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS C. Etiologi 1. Penyebab infertilitas pada perempuan (istri) a. Faktor penyakit 1) Endometriosis Endometriosis adalah jaringan endometrium yang semestinya berada di lapisan paling dalam rahim (lapisan endometrium) terletak dan tumbuh di tempat lain. Endometriosis bisa terletak di lapisan tengah dinding rahim (lapisan myometrium) yang disebut juga adenomyosis, atau bisa juga terletak di indung telur, saluran telur, atau bahkan dalam rongga perut. 2) Infeksi Panggul Infeksi panggul adalah suatu kumpulan penyakit pada saluran reproduksi wanita bagian atas, meliputi radang pada rahim, saluran telur, indung telur, atau dinding dalam panggul. 3) Mioma Uteri Mioma uteri adalah tumor (tumor jinak) atau pembesaran jaringan otot yang ada di rahim. Tergantung dari lokasinya, mioma dapat terletak di lapisan luar, lapisan tengah, atau lapisan dalam rahim. Biasanya mioma uteri yang sering menimbulkan infertilitas adalah mioma uteri yang terletak di lapisan dalam (lapisan endometrium).


107 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS 4) Polip Polip adalah suatu jaringan yang membesar dan menjulur yang biasanya diakibatkan oleh mioma uteri yang membesar dan teremasremas oleh kontraksi rahim. Polip dapat menjulur keluar ke vagina. Polip menyebabkan pertemuan sperma-sel telur dan lingkungan uterus terganggu, sehingga bakal janin akan susah tumbuh. 5) Kista Kista adalah suatu kantong tertutup yang dilapisi oleh selaput (membran) yang tumbuh tidak normal di rongga maupun struktur tubuh manusia. Terdapat berbagai macam jenis kista, dan pengaruhnya yang berbeda terhadap kesuburan. Hal penting lainnya adalah mengenai ukuran kista. Tidak semua kista harus dioperasi mengingat ukuran juga menjadi standar untuk tindakan operasi. Jenis kista yang paling sering menyebabkan infertilitas adalah sindrom ovarium polikistik. 6) Saluran Telur yang Tersumbat Saluran telur yang tersumbat menyebabkan sperma tidak bisa bertemu dengan sel telur sehingga pembuahan tidak terjadi atau tidak terjadi kehamilan.


108 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS 7) Sel Telur Kelainan pada sel telur dapat mengakibatkan infertilitas yang umumnya merupakan manifestasi dari gangguan proses pelepasan sel telur (ovulasi). Delapan puluh persen penyebab gangguan ovulasi adalah sindrom ovarium polikistik. Gangguan ovulasi biasanya direfleksikan dengan gangguan haid. Haid yang normal memiliki siklus antara 26-35 hari, dengan jumlah darah haid 80 cc dan lama haid antara 3-7 hari. Bila haid pada seorang wanita terjadi di luar itu semua, maka sebaiknya untuk periksa ke dokter. b. Faktor fungsional 1) Gangguan system hormonal wanita dan dapat di sertai kelainan bawaan (immunologis). Apabila embrio memiliki antigen yang berbeda dari ibu, maka tubuh ibu memberikan reaksi sebagai respon terhadap benda asing. Reaksi ini dapat menyebabkan abortus spontan pada wanita hamil. 2) Gangguan pada pelepasan sel telur (ovulasi). Ovulasi atau proses pengeluaran sel telur dari ovarium terganggu jika terjadi gangguan hormonal. Salah satunya adalah polikistik. Gangguan ini diketahui sebagai salah satu


109 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS penyebab utama kegagalan proses ovulasi yang normal. 3) Gangguan pada leher rahim, uterus (rahim) dan Tuba fallopi (saluran telur). Dalam keadaan normal, pada leher rahim terdapat lendir yang dapat memperlancar perjalanan sperma. Jika produksi lendir terganggu, maka perjalanan sperma akan terhambat. Sedangkan jika dalam rahim, yang berperan adalah gerakan di dalam rahim yang mendorong sperma bertemu dengan sel telur matang. Jika gerakan rahim terganggu, (akibat kekurangan hormon prostaglandin) maka gerakan sperma melambat. 4) Gangguan implantasi hasil konsepsi dalam Rahim. Setelah sel telur dibuahi oleh sperma dan seterusnya berkembang menjadi embrio, selanjutnya terjadi proses nidasi (penempelan) pada endometrium. Perempuan yang memiliki kadar hormon progesteron rendah, cenderung mengalami gangguan pembuahan. Diduga hal ini disebabkan oleh antara lain karena struktur jaringan endometrium tidak dapat menghasilkan hormon progesteron yang memadai.


110 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS c. Lingkungan Paparan radiasi dalam dosis tinggi, asap rokok, gas ananstesi, zat kimia, dan pestisida dapat menyebabkan toxic pada seluruh bagian tubuh termasuk organ reproduksi yang akan mempengaruhi kesuburan 2. Penyebab pada laki-laki (suami) a. Kelainan pada alat kelamin 1) Hipospadia yaitu muara saluran kencing letaknya abnormal, antara lain pada permukaan testis 2) Ejakulasi retrograd yaitu ejakulasi di mana air mani masuk ke dalam kandung kemih 3) Varikokel yaitu suatu keadaan di mana pembuluh darah menuju bauh zakar terlalu besar, sehingga jumlah dan kemampuan gerak spermatozoa berkurang yang berarti mengurangi kemampuannya untuk menimbulkan kehamilan 4) Testis tidak turun dapat terjadi karena testis atrofi sehingga tidak turun. b. Kegagalan fungsional 1) Kemampuan ereksi kurang 2) Kelainan pembentukan spermatozoa 3) Gangguan pada sperma


111 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS c. Gangguan di daerah sebelum testis (pretesticular) Gangguan biasanya terjadi pada bagian otak, yaitu hipofisis yang bertugas mengeluarkan hormon FSH dan LH. Kedua hormon tersebut mempengaruhi testis dalam menghasilkan hormon testosteron, akibatnya produksi sperma dapat terganggu serta mempengaruhi spermatogenesis dan keabnormalan semen Terapi yang bisa dilakukan untuk peningkatan testosterone adalah dengan terapi hormon. d. Gangguan di daerah testis (testicular) Kerja testis dapat terganggu bila terkena trauma pukulan, gangguan fisik, atau infeksi. Bisa juga terjadi, selama pubertas testis tidak berkembang dengan baik, sehingga produksi sperma menjadi terganggu. Dalam proses produksi, testis sebagai “pabrik” sperma membutuhkan suhu yang lebih dingin daripada suhu tubuh, yaitu 34–35 °C, sedangkan suhu tubuh normal 36,5–37,5 °C. Bila suhu tubuh terus-menerus naik 2–3 °C saja, proses pembentukan sperma dapat terganggu. e. Gangguan di daerah setelah testis (posttesticular) Gangguan terjadi di saluran sperma sehingga sperma tidak dapat disalurkan dengan lancar, biasanya karena salurannya buntu. Penyebabnya bisa jadi bawaan sejak lahir, terkena infeksi


112 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS penyakit seperti tuberkulosis (TB), serta vasektomi yang memang disengaja. f. Tidak adanya semen Semen adalah cairan yang mengantarkan sperma dari penis menuju vagina. Bila tidak ada semen maka sperma tidak terangkut (tidak ada ejakulasi). Kondisi ini biasanya disebabkan penyakit atau kecelakaan yang memengaruhi tulang belakang. g. Kurangnya hormon testosterone Kekurangan hormon ini dapat mempengaruhi kemampuan testis dalam memproduksi sperma. h. Lingkungan Pada lingkungan yang sering terkena paparan Radiasi dan obat-obatan anti kanker. 3. Penyebab pada suami dan istri a. Gangguan pada hubungan seksual Kesalahan teknik sanggama dapat menyebabkan penetrasi tak sempurna ke vagina, impotensi, ejakulasi prekoks, vaginismus, kegagalan ejakulasi, dan kelainan anatomik seperti hipospadia, epispadia, penyakit Peyronie. b. Factor psikologis antara kedua pasangan (suami dan istri) - Masalah tertekan karena sosial ekonomi belum stabil - Masalah dalam pendidikan - Emosi karena didahului orang lain hamil


113 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS D. Patofisiologi 1. Perempuan Beberapa penyebab dari gangguan infertilitas dari wanita diantaranya gangguan stimulasi hipofisis hipotalamus yang mengakibatkan pembentukan FSH dan LH tidak adekuat sehingga terjadi gangguan dalam pembentukan folikel di ovarium. Penyebab lain yaitu radiasi dan toksik yng mengakibatkan gangguan pada ovulasi. Gangguan bentuk anatomi sistem reproduksi juga penyebab mayor dari infertilitas, di antaranya cidera tuba dan perlekatan tuba sehingga ovum tidak dapat lewat dan tidak terjadi fertilisasi dari ovum dan sperma. Kelainan bentuk uterus menyebabkan hasil konsepsi tidak berkembang normal walapun sebelumnya terjadi fertilisasi. Abnormalitas ovarium, mempengaruhi pembentukan folikel. Abnormalitas servik mempegaruhi proses pemasukan sperma. Faktor lain yang mempengaruhi infertilitas adalah aberasi genetik yang menyebabkan kromosom seks tidak lengkap sehingga organ genitalia tidak berkembang dengan baik. 2. Laki-laki Abnormalitas androgen dan testosteron diawali dengan disfungsi hipotalamus dan hipofisis yang mengakibatkan kelainan status fungsional testis. Gaya hidup memberikan peran yang besar dalam mempengaruhi infertilitas di antaranya


114 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS merokok, penggunaan obat-obatan dan zat adiktif yang berdampak pada abnormalitas sperma dan penurunan libido. Konsumsi alkohol mempengaruhi masalah ereksi yang mengakibatkan berkurangnya pancaran sperma. Suhu di sekitar areal testis juga mempengaruhi abnormalitas spermatogenesis. Terjadinya ejakulasi retrograt misalnya akibat pembedahan sehingga menyebabkan sperma masuk ke vesika urinaria yang mengakibatkan komposisi sperma terganggu. E. Manifestasi Klinis 1. Perempuan a. Terjadi kelainan system endokrin b. Hipominore dan amenore c. Diikuti dengan perkembangan seks sekunder yang tidak adekuat menunjukkan masalah pada aksis ovarium hipotalamus hipofisis atau aberasi genetik d. Wanita dengan sindrom turner biasanya pendek, memiliki payudara yang tidak berkembang,dan gonatnya abnormal e. Wanita infertil dapat memiliki uterus f. Motilitas tuba dan ujung fimbrienya dapat menurun atau hilang akibat infeksi, adhesi, atau tumor g. Traktus reproduksi internal yang abnormal.


115 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS 2. Laki-laki a. Riwayat terpajan benda – benda mutan yang membahayakan reproduksi (panas, radiasi, rokok, narkotik, alkohol, infeksi) b. Status gizi dan nutrisi terutama kekurangan protein dan vitamin tertentu Riwayat infeksi genitorurinaria c. Hipertiroidisme dan hipotiroid d. Tumor hipofisis atau prolactinoma e. Disfungsi ereksi berat f. Ejakulasi retrograt g. Hypo/epispadia h. Mikropenis i. Andesensus testis (testis masih dalam perut/dalam liat paha) j. Gangguan spermatogenesis (kelainan jumlah, bentuk dan motilitas sperma) k. Hernia scrotalis (hernia berat sampai ke kantong testis ) l. Varikhokel (varises pembuluh balik darah testis) m. Abnormalitas cairan semen F. Pemeriksaan Diagnostic 1. Pemeriksaan fisik: a. Hirsutisme diukur dengan skala ferryman dan gallway, jerawat b. Pembesaran kel tiroid


116 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS c. Galaktorea d. Inspeksi lender serviks di tunjukan dengan kualitas mucus e. PDV untuk menunjukan adanya tumor uterus/ adneksa 2. Pemeriksaan penunjang a. Analisis sperma Bila dijumpai hasil analisis sperma yang kurang atau kurang baik, maka biasanya diperlukan pemeriksaan ulang 1 minggu sesudahnya pada keadaan yang lebih sehat/ nyaman guna mengkonfirmasi hal tersebut. Perlu diingat bahwa apapun hasil analis sperma, sangat berguna untuk penentuan terapi, tindakan, dan pemilihan penatalaksanaan infertilitas. b. Deteksiovulasi - Anamnesis siklus menstruasi, 90 % siklus menstrusi teratur : siklus ovulatoar - Peningkatan suhu badan basal, meningkat 0,6 - 1⁰C setelah ovulasi : Bifasik - Uji benang lendir serviks dan uji pakis, sesaat sebelum ovulasi : lendir serviks encer,daya membenang lebih panjang, pembentukan gambaran daun pakis dan terjadi Estradiol meningkat. c. Hormonal : FSH, LH, E2, Progesteron, Prolaktin Setelah semua pemeriksaan dilakukan, bila belum dapat memberikan tentang sebab infertilitas, dapat dilakukan pemeriksaan hormonal untuk mengetahui keterangan tentang hubungan hipotalamus dengan hipofise dan


117 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS ovarial aksis. Hormon yang diperiksa adalah gonadotropin (follicle stimulation hormone (FSH), hormone luteinisasi (LH), dan hormone (estrogen dan progesterone, prolaktin). Pemeriksaan hormonal ini diharapkan dapat menerangkan kemungkinan infertilitas dari kegagalannya melepaskan telur (ovulasi). d. Sitologi vagina Pemeriksaan usap forniks vagina untuk mengetahui perubahan epitel vagina. e. Uji pasca senggama Pemeriksaan uji pasca senggama dimaksudkan untuk mengetahui kemampuan tembus spermatozoa menyerbu lendir serviks. f. Biopsy endometrium terjadwal Mengetahui pengaruh progesterone terhadap endometrium dan sebaiknya dilakukan pada 2-3 hr sebelum haid. g. Histerosalpinografi Radiografi kavum uteri dan tuba dengan pemberian materi kontras. Di sini dapat dilihat kelainan uterus, distrosi rongga uterus dan tuba uteri, jaringan parut dan adesi akibat proses radang. Dilakukan secara terjadwal. h. Laparoskopi Standar emas untuk mengetahui kelainan tuba dan peritoneum.


118 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS i. Pemeriksaan pelvis ultrasound Untuk memvisualisasi jaringan pelvis, misalnya untuk identifikasi kelainan, perkembangan dan maturitas folikuler, serta informasi kehamilan intra uteri G. Penatalaksanaan 1. Perempuan a. Pengetahuan tentang siklus menstruasi, gejala lendir serviks puncak dan waktu yang tepat untuk coital b. Pemberian terapi obat, seperti : 1) Stimulant ovulasi, baik untuk gangguan yang disebabkan oleh supresi hipotalamus, peningkatan kadar prolaktin, pemberian tsh 2) Terapi penggantian hormon 3) Glukokortikoid jika terdapat hiperplasi adrenal 4) Penggunaan antibiotika yang sesuai untuk pencegahan dan penatalaksanaan infeksi dini yang adekuat 5) GIFT (Gemete Intrafallopian Transfer) 6) Laparatomi dan bedah mikro untuk memperbaiki tuba yang rusak secara luas 7) Bedah plastic misalnya penyatuan uterus bikonuate 8) Pengangkatan tumor atau fibroid


119 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS 9) Eliminasi vaginitis atau servisitis dengan antibiotika atau kemoterapi. 2. Laki-laki A. Penekanan produksi sperma untuk mengurangi jumlah antibodi autoimun, diharapkan kualitas sperma meningkat b. Agen antimikroba c. Testosterone Enantat dan Testosteron Spionat untuk stimulasi kejantanan d. HCG memperbaiki hipoganadisme e. FSH dan HCG untuk menyelesaikan spermatogenesis f. Bromokriptin, digunakan untuk mengobati tumor hipofisis atau hipotalamus g. Klomifen dapat diberikan untuk mengatasi subfertilitas idiopatik h. Perbaikan varikokel menghasilkan perbaikan kualitas sperma i. Perubahan gaya hidup yang sederhana dan yang terkoreksi. Seperti, perbaikan nutrisi, tidak membiasakan penggunaan celana yang panas dan ketat j. Perhatikan penggunaan lubrikans saat coital, jangan yang mengandung spermatisida.


120 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS H. Asuhan Keperawatan 1. Pengkajian a. Identitas Klien Nama, jenis kelamin, suku bangsa / latar belakang kebudayaan, agama, status sipil, pendidikan, pekerjaan dan alamat. b. Riwayat Kesehatan 1) Wanita a) Riwayat Kesehatan Dahulu - Riwayat terpajan benda – benda mutan yang membahayakan reproduksi di rumah - Riwayat infeksi genitorurinaria - Hipertiroidisme dan hipotiroid, hirsutisme - Infeksi bakteri dan virus ex: toksoplasama - Tumor hipofisis atau prolaktinoma - Riwayat penyakit menular seksual - Riwayat kista b) Riwayat Kesehatan Sekarang - Endometriosis dan endometrits - Vaginismus (kejang pada otot vagina) - Gangguan ovulasi - Abnormalitas tuba falopi, ovarium, uterus, dan servik - Autoimun


121 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS c) Riwayat Kesehatan Keluarga Memiliki riwayat saudara/keluarga dengan aberasi genetic. d) Riwayat Obstetri - Tidak hamil dan melahirkan selama satu tahun tanpa alat kontrasepsi - Mengalami aborsi berulang - Sudah pernah melahirkan tapi tidak hamil selama satu tahun tanpa alat kontrasepsi. 2) Pria a) Riwayat Kesehatan Dahulu - Riwayat terpajan benda – benda mutan yang membahayakan reproduksi (panas, radiasi, rokok, narkotik, alkohol, infeksi) - Status gizi dan nutrisi terutama kekurangan protein dan vitamin tertentu - Riwayat infeksi genitorurinaria - Hipertiroidisme dan hipotiroid - Tumor hipofisis atau prolactinoma - Trauma, kecelakan sehinga testis rusak - Konsumsi obat-obatan yang mengganggu spermatogenesis - Pernah menjalani operasi yang berefek mengganggu organ


122 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS reproduksi contoh : operasi prostat, operasi tumor saluran kemih - Riwayat vasektomi 3) Riwayat Kesehatan Sekarang - Disfungsi ereksi berat - Ejakulasi retrograt - Hypo/epispadia - Mikropenis - Andesensus testis (testis masih dalam perut/dalam liat paha) - Gangguan spermatogenesis (kelainan jumla, bentuk dan motilitas sperma) - Saluran sperma yang tersumbat - Hernia scrotalis (hernia berat sampai ke kantong testis ) - Varikhokel (varises pembuluh balik darah testis) - Abnormalitas cairan semen 4) Riwayat Kesehatan Keluarga Memiliki riwayat saudara/keluarga dengan aberasi genetic. 2. Pemeriksaan Fisik Terdapat kelainan pada organ genital wanita maupun pria. a. Pemeriksaan wanita 1) Pemeriksaan vagina Masalah vagina yang dapat mengahambat penyimpanan air mani ke dalam vagina


123 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS sekitar serviks ialah adanya sumbatan atau peradangan. Sumbatan psikogen disebut vaginismus atau disparenia, sedangkan sumbatan anatomik dapat karena bawaan atau perolehan. 2) Pemeriksaan leher rahim Pemeriksaan standar leher rahim yang dikenal sebagai PAP Smear (smear test) ini perlu dilakukan 3-5 tahun sekali pada setiap wanita dewasa dengan kehidupan seks yang aktif. Vagina dibuka dengan spekulum dan contoh sel permukaan lehir rahim diambil dengan alat spatula, lalu dibawa ke lab untuk dianalisa, jangan melakukan hubungan seksual, Douche / menggunakan produk pembersih vagina selama 24 jam setelah PAP Smear. b. Pemeriksaan Pria 1) Mengamati kelainan fisik Dalam kesempatan pemeriksaan fisik dilihat penyebaran rambut dan lemak yang tidak rata, atau konsistensi testis, bisa menjadi tanda akibat ketidakseimbangan hormonal kelainan fisik lain dari alat reproduksi pria yang perlu diperiksa adalah kemungkinan adanya parut atau varises pada scrotum yang dapat mempengaruhi jumlah dan kemampuan bergerak (mobilitas) sperma.


124 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS Salah satu testis tidak turun (kroptorkismus) berarti memperkecil kemampuan produksi sperma. 2) Penampungan air mani Air mani ditampung dengan jalan masturbasi langsung kedalam botol gelas yang bermulut lebar (atau gelas minum), setelah abstensi 3- 5 hari. Sebaiknya penampungan dilakukan dirumah kemudian dibawa ke laboratorium dalam 2 jam setelah dikeluarkan. 3. Diagnosa Keperawatan a. Ansietas berhubungan dengan ketidaktahuan tentang akhir proses diagnostic b. Gangguan konsep diri : harga diri rendah berhubungan dengan gangguan fertilitas c. Berduka dan antisipasi berhubungan dengan prognosis yang buruk d. Nyeri akut berhubungan dengan efek test diagnostic. 4. Rencana Asuhan Keperawatan a. Dx.1 : Ansietas berhubungan dengan ketidaktahuan tentang akhir proses diagnostic. Tujuan : setelah tindakan keperawatan selama 1x24 jam diharapkan ansietas klien berkurang Kriteria Hasil: 1) Klien mampu mengungkapkan tentang infertilitas dan bagaimana treatmentnya


125 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS 2) Klien memperlihatkan adanya peningkatan kontrol diri terhadap diagnosa infertile 3) Klien mampu mengekspresikan perasaan tentang infertile. INTERVENSI RASIONAL Jelaskan tujuan test dan prosedur Menurunkan cemas dan takut terhadap diagnosis dan prognosis Tingkatkan ekspresi perasaan dan takut, contoh : menolak, depresi, dan marah. Biarkan pasien / orang terdekat mengetahui ini sebagai reaksi yang normal Perasaan tidak diekspresikan dapat menimbulkan kekacauan internal dan efek gambaran diri Dorong keluarga untuk menganggap pasien seperti sebelumnya Meyakinkan bahwa peran dalam keluarga dan kerja tidak berubah Kolaborasi : berikan sedative, tranquilizer sesuai indikasi Mungkin diperlukan untuk membantu pasien rileks sampai secara fisik mampu untuk membuat startegi koping adekuat b. Dx.2 : Gangguan konsep diri ; harga diri rendah berhubungan dengan gangguan fertilitas Tujuan : setelah tindakan keperawatan selama 3x24 jam diharapkan klien mengalami perubahan harga diri. Kriteria Hasil:


126 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS 1) Klien mampu mengekspresikan perasaan tentang infertile 2) Terjalin kontak mata saat berkomunikasi 3) Klien mampu mengidentifikasi aspek positif diri. INTERVENSI RASIONAL Tanyakan dengan nama apa pasien ingin dipanggil Menunjukan kesopan santunan / penghargaan dan pengakuan personal Identifikasi orang terdekat dari siapa pasien memperoleh kenyamanan dan siapa yang harus memberitahukan jika terjadi keadaan bahaya Memungkinkan privasi untuk hubungan personal khusus, untuk mengunjungi atau untuk tetap dekat dan menyediakan kebutuhan dukungan bagi pasien Dengarkan dengan aktif masalah dan ketakutan pasien Menyampaikan perhatian dan dapat dengan lebih efektif mengidentifikasi kebutuhan dan masalah serta strategi koping pasien dan seberapa efektif Dorong mengungkapkan perasaan, menerima apa yang dikatakannya Membantu pasien / orang terdekat untuk memulai menerima perubahan dan mengurangi ansietas mengenai perubahan fungsi / gaya hidup Diskusikan pandangan pasien terhadap citra diri dan efek yang ditimbulkan dari penyakit / kondisi Persepsi pasien mengenai perubahan pada citra diri mungkin terjadi secara tibatiba atau kemudian


127 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS c. Dx.3 : Berduka dan antisipasi berhubungan dengan prognosis yang buruk Tujuan : setelah tindakan keperawatan selama 1x24 jam diharapkan klien mampu melakukan mekanisme koping yang baik. Kriteria Hasil: - Klien menunjukan rasa pergerakan ke arah resolusi dan rasa berduka dan harapan untuk masa depan. - Klien menunjukkan fungsi pada tingkat adekuat, ikut serta dalam pekerjaan. INTERVENSI RASIONAL Berikan lingkungan yang terbuka pasien merasa bebas untuk dapat mendiskusikan perasaan dan masalah secara realitas kemampuan komunikasi terapeutik seperti aktif mendengarkan, diam, selalu bersedia, dan pemahaman dapat memberikan pasien kesempatan untuk berbicara secara bebas dan berhadapan dengan perasaan Identifikasi tingkat rasa duka / disfungsi : penyangkalan, marah, tawar - menawar, depresi, penerimaan Kecermatan akan memberikan pilihan intervensi yang sesuai pada waktu induvidu menghadapi rasa berduka dalam berbagai cara yang berbeda Dengarkan dengan aktif pandangan pasien dan selalu sedia untuk membantu jika diperlukan Proses berduka tidak berjalan dalam cara yang teratur, tetapi fluktuasainya dengan berbagai aspek dari berbagai tingkat yang muncul pada suatu kesempatan yang lain Identifikasi dan solusi Mungkin dibutuhkan tambahan


128 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS pemecahan masalah untuk keberadaan respon – respon fisik, misalnya makan, tidur, tingkat aktivitas dan hasrat seksual bantuan untuk berhadapan dengan aspek – aspek fisik dari rasa berduka Kaji kebutuhan orang terdekat dan bantu sesuai petunjuk Identifikasi dari masalah – masalah berduka disfungsional akan mengidentifikasi intervensi induvidual Kolaborasi : rujuk sumber – sumber lainnya misalnya konseling, psikoterapi sesuai petunjuk Mungkin dibutuhkan bantuan tambahan untuk mengatasi rasa berduka, membuat rencana, dan menghadapi masa depan d. Dx.4 : Nyeri akut berhubungan dengan efek test diagnostic. Tujuan : setelah tindakan keperawatan selama 3x24 jam diharapkan nyeri klien berkurang. Kriteria Hasil : 1) Ekspresi klien terlihat tenang 2) Napas klien teratur 3) Skala nyeri 0-3 4) Ttv dalam rentang normal 5) Klien mengetahui penyebab nyeri 6) Kliem mampu menggunakan teknik distraksi relaksasi dengan baik.


129 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS INTERVENSI RASIONAL Lakukan komunikasi terapeutik kemampuan komunikasi terapeutik seperti aktif mendengarkan, diam, selalu bersedia, dan pemahaman dapat memberikan pasien kesempatan untuk berbicara secara bebas dan berhadapan dengan perasaan Pantau lokasi, lamanya intensitas dan penyebaran (PQRST) Perhatikan tanda nonverbal, contoh peningkatan TD dan nadi, gelisah, merintih untuk menentukan intervensi selanjutnya Jelaskan penyebab nyeri dan pentingnya melaporkan ke staff terhadap karakteristik nyeri Memberikan kesempatan untuk pemberian analgesik sesuai waktu Berikan tindakan relaksasi, contoh pijatan, lingkungan istirahat Menurunkan tegangan otot dan meningkatan koping efektif Bantu atau dorong penggunaan nafas efektif Mengarahkan kembali perhatian dan membantu dalam relaksasi otot Bimbingan imajinasi Mengontrol aktivitas terapeutik


130 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS BAB V KLIMAKTERIUM A. Definisi Klimakterium merupakan peralihan masa reproduksi dan semium di mulai dari 6 tahun sebelum menopause berakhir 6-7 tahun setelah menopause. (Sarwono, 2007). Sedangkan menurut Chris Dolken (2008), klimakterium merupakan suatu periode di mana terjadi penurunan aktivitas ovarium yang pada akhirnya berhenti. Klimakterium adalah proses penuaan dari seorang wanita dari masa reproduktif ke masa nonreproduktif. Jadi, dapat disimpulkan bahwa klimakterium merupakan suatu proses penuaan yang dialami oleh wanita yang ditandai dengan penurunan aktivitas ovarium pada saat 6 tahun sebelum menopause sampai 6-7 tahun setelah menopause. Klimakterium terbagi menjadi 3 fase: 1. Premenopause Fase pertama klimakterim di mana terjadi penurunan fertilitas dan menstruasi tidak teratur. Terjadi 4-5 tahun sebelum menopause. 2. Menopause Fase di mana mennstruasi berhenti 3. Postmenopause


131 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS Fase 3-5 tahun setelah menopause. Ditandai dengan gejala vagina atrophy dan osteoporosis yang dapat berkembang. B. Etiologi 1. Terjadi perubahan dan penurunan fungsi pada ovarium, seperti sklerosis pembuluh darah. 2. Berkurangnya jumlah folikel dan menurunnya sintesis steroid seks. 3. Penurunan sekresi estrogen dan progesterone. 4. Gangguan umpan balik pada hipofisis. C. Manifestasi Klinis Gejala umum dari menopause : 1. Ketidakteraturan siklus haid 2. Hot flushes (panas pada kulit) Rasa panas pada kulit diakibatkan penurunan hormon estrogen sehingga pembuluh darah membesar, serta gangguan umpan balik pada hipotalamus. 3. Munculnya hot flashes ini sering diawali pada daerah dada, leher atau wajah, dan menjalar ke beberapa daerah tubuh yang lain. 4. Berdebar-debar, karena terjadi peningkatan denyut jantung 5. Sakit kepala


132 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS 6. Tangan dan kaki terasa dingin 7. Vertigo 8. Cemas 9. Gelisah 10. Insomnia Insomnia sering terjadi pada waktu menopause, tetapi hal ini mungkin ada kaitannya dengan rasa tegang akibat berkeringat malam hari, wajah memerah, dan perubahan yang lain. 11. Keringat waktu malam 12. Pelupa 13. Tidak dapat konsentrasi 14. Lelah 15. Penambahan berat badan Gejala yang paling sering : Ketidakstabilan vasomotor yang manifestasi sebagai : hot flushes, vertigo, keringat banyak, rasa kedinginan Tanda yang khas : kulit menjadi merah dan hangat, terutama pada kepala dan leher. Perubahan fisiologis pada masa klimakterium : 1. Peningkatan denyut jantung 2. Vasodilatsi perifer 3. Meningkatnya temperatur kulit 4. Pelepasan LH sedikit-sedikit 5. Kulit genitalia serta dinding vagina dan uretra menipis dan kering, sehingga mudah terjadi iritasi, infeksi, dan dispareunia (rasa sakit saat melakukan hubungan seks).


133 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS 6. Labia, klitoris, uterus, dan ovarium mengecil. 7. Elastisitas kulit berkurang Estrogen berperan dalam menjaga elastisitas kulit, ketika menstruasi berhenti maka kulit akan terasa lebih tipis, kurang elastis terutama pada daerah sekitar wajah, leher dan lengan. Kulit di bagian bawah mata menjadi mengembung seperti kantong, dan lingkaran hitam di bagian ini menjadi lebih permanen dan jelas (Hurlock, 1992)a 8. Osteoporosis Rendahnya kadar estrogen merupakan penyebab proses osteoporosis (kerapuhan tulang). Osteoporosis merupakan penyakit kerangka yang paling umum dan merupakan persoalan bagi yang telah berumur (lansia), paling banyak menyerang wanita yang telah menopause. Menurunnya kadar estrogen akan diikuti dengan penurunan penyerapan kalsium yang terdapat dalam makanan. Kekurangan kalsium ini oleh tubuh diatasi dengan menyerap kembali kalsium yang terdapat dalam tulang, dan akibatnya tulang menjadi keropos dan rapuh. Serta terjadi penurunan massa tulang. Gejala psikologis yang dapat terjadi : 1. Mudah Tersinggung 2. Ingatan Menurun (sering lupa) 3. Cemas 4. Stress 5. Depresi


134 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS 6. Susah berkonsentrasi D. Faktor Resiko 1. Genetik Usia menarche (menstruasi pertama kali) mempengaruhi cepat lambatnya terjadi menopause. Semakin cepat seseorang menarche maka kemungkinan semakin cepat pula terjadi menopause. Begitu juga pada ibu yang banyak anak (sering melahirkan) akan lebih lambat dibandingkan ibu yang jumlah anaknya sedikit, karena sel telurnya akan disimpan selama masa kehamilan. 2. Nutrisi (kalsium, kolesterol, fosfat, dan vitamin) 3. Kadar hormon estrogen 4. Kebiasaan/pola hidup (olahraga, kopi, alkohol, perokok) 5. Tingkat pendidikan dan status ekonomi 6. Pengangkatan kedua ovarium. E. Penatalaksanaan 1. Mengubah gaya/pola hidup a. Mengkonsumsi makanan yang kaya akan kalsium. b. Mengkonsumsi makanan yang mengandung vitamin seperti buah-buahan dan sayuran. c. Mengurangi konsumsi kopi, teh, minuman soda, dan alkohol.


135 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS d. Menghindari merokok. 2. Olahraga Olahraga akan meningkatkan kebugaran dan kesehatan seseorang, biasanya ini juga membawa dampak positif, seperti : a. Menguatkan tulang b. Meningkatkan kebugaran c. Menstabilkan berat badan d. Mengurangi keluhan menopause e. Mengurangi stress akibat menopause 3. Terapi penggantian hormon (HRT) Penggantian estrogen tunggal bisa dikombinasikan. HRT dapat menurunkan atau menghilangkan rasa panas, dapat membantu pencegahan osteoporosis. 4. Terapi komplementer : arklimakteriumterapi, yoga, homeopati. 5. Terapi sulih hormon (TSH) Untuk mengurangi keluhan pada wanita dengan keluhan atau sindromklimakterium menopause dalam masa premenopause dan postmenopause. Selain itu, TSH juga berguna untuk menjaga berbagai keluhan yang muncul akibat menopause, seperti keluhan vasomotor, vagina yang kering, dan gangguan pada saluran kandung kemih. Penggunaan TSH juga dapat mencegah perkembangan penyakit akibat dari kehilangan hormon estrogen, seperti osteoporosis dan jantung koroner. Jadi, tujuan pemberian TSH adalah sebagai suatu usaha untuk


136 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS mengganti hormon yang ada pada keadaan normal untuk mempertahankan kesehatan wanita yang bertambah tua. (Kasdu, 2002) Hal yang dapat dilakukan untuk mencegah /mengatasi kejengkelan fisik : a. Untuk mengatasi gatal-gatal dan rasa terbakar pada vulva : bicarakan dengan pemberi perawatan kesehatan untuk menyingkirkan abnormalitas dermatologis untuk mendapatkan resep krim pelumas/hormonal. b. Untuk mencegah dispareunia (rasa sakit ketika berhubungan seksual) : gunakan lubrikan yang larut dalam air, seperti jelly K-Y, krim hromon atau foam kontrasepsi. c. Memperbaiki otot tonus perineal dan kontrol kandung kemih dengan mempraktikkan latihan Kegel’s setiap hari : mengkontraksikan otot-otot perineal seperti ketika menghentikan berkemih, tahan 5-10 detik dan bebaskan. d. Untuk mencegah kekeringan kulit : gunakan krim dan lotion kulit. e. Untuk mencegah osteoporosis : amati asupan kalsium dengan meminum suplemen kalsium dan susu yang dapat membantu untuk memperlambat proses osteoporosis. f. Untuk mencegah infeksi saluran kemih : minum 6-8 gelas air setiap hari dan vitamin C (500 mg)


137 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS sebagai cara untuk mengurangi infeksi saluran kemih yang berhubungan dengan atrofi uretra. g. Aktivitas seksual yang sering dapat membantu untuk mempertahankan elastisitas vagina (Brunner & Suddarth, 2001). F. Komplikasi 1. Penyakit Jantung Koroner Keluhan yang mempengaruhi fungsi jantung dan pembuluh darah meliputi : kulit terasa kering, keriput dan longgar dari ototnya oleh karena turunnya sirkulasi menuju kulit, badan terasa panas termasuk wajah, terjadi perubahan sirkulasi pada wajah yang dapat melebar ke tengkuk (hot flushes), mudah berdebar – debar terjadi tekanan darah tinggi yang berlanjut ke penyakit jantung koroner. (Manuaba, 1999) Adanya hipertensi dan peningkatan kadar kolesterol menyebabkan meningkatkan faktor resiko terhadap terjadinya aterosklerosis. Khususnya mengenai sklerosis primer koroner dan infark miocard akan terjadi 1-2 kali lebih sering setelah kadar estrogen menurun. 2. Masalah urogenital a. Ketidakmampuan mengendalikan buang air kecil (inkontinensia) b. Infeksi saluran kemih


138 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS 3. Osteoporosis Dengan turunnya kadar estrogen, maka proses osteoblast yang berfungsi membentuk tulang baru terhambat dan fungsi osteoclast merusak tulang meningkat. Akibat tulang tua diserap dan dirusak osteoclast tetapi tidak dibentuk tulang baru oleh osteoblast, sehingga tulang menjadi osteoporosis. 4. Dimensia Wanita pascamenopause biasanya kemampuan berfikir dan ingatannya menurun hal ini merupakan pengaruh dari menurunnya hormon estrogen, di mana hormon estrogen ini dapat mempengaruhi kerja dari degenerasi sel – sel saraf dan sel – sel otak. (Manuaba, 1999).


139 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS BAB VI INFEKSI RENDAH ALAT KANDUNGAN DAN PENYAKIT RADANG PANGGUL A. Vulvitis 1. Definisi Radang selaput lendir labia dan sekitarnya. 2. Etiologi - Hyigiene yang kurang - Gonococcus - Candida Albicans - Trichomonas - Pediculi Cubis - Diabetes - Sekunder terhadap leucorrhea dan fistel tractus genetalis 3. Gejala - Perasaan panas dan nyeri terutama saat BAK - Leucorrhoe yang sering dan gatal - Gangguan coitus - Labia merah, bengkak dan tertutup sekret


140 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS B. Vaginitis 1. Definisi Radang pada vagina 2. Etiologi - Coitus terutama dengan preputium mengandung kuman-kuman - Tampon vagina - Hyigiene kurang - Atrofi epitel vagina 3. Gejala - Leucorrhea berbau anyir - Perasaan panas/pedih pada vagina - Perasaan gatal pada vulva C. Cervicitis/Endocervicitis 1. Definisi Radang selaput lendir canalis cervicalis 2. Gejala - fluor hebat, kental/purulent, berbau - Menimbulkan erosio pada portio sehingga tampak sebagai daerah yang merah menyala.


141 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS D. Penyakit Radang Panggul (PID) 1. Definisi Penyakit radang panggul adalah infeksi saluran reproduksi bagian atas. Penyakit tersebut dapat mempengaruhi endometrium (selaput dalam rahim), saluran tuba, indung telur, miometrium (otot rahim), parametrium dan rongga panggul. Penyakit radang panggul merupakan komplikasi umum dari Penyakit Menular Seksual (PMS). Saat ini hampir 1 juta wanita mengalami penyakit radang panggul yang merupakan infeksi serius pada wanita berusia antara 16-25 tahun. Lebih buruk lagi, dari 4 wanita yang menderita penyakit ini, 1 wanita akan mengalami komplikasi seperti nyeri perut kronik, infertilitas (gangguan kesuburan), atau kehamilan abnormal. Penyakit radang pelvis adalah suatu istilah umum bagi infeksi genital yang telah menyebar ke dalam bagian-bagian yang lebih dalam dari alat reproduksi wanita seperti rahim, tuba falopi dan ovarium. 2. Etiologi Penyakit radang panggul terjadi apabila terdapat infeksi pada saluran genital bagian bawah, yang menyebar ke atas melalui leher rahim. Butuh waktu dalam hitungan hari atau minggu


142 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS untuk seorang wanita menderita penyakit radang panggul. Bakteri penyebab tersering adalah N. Gonorrhoeae dan Chlamydia trachomatis yang menyebabkan peradangan dan kerusakan jaringan sehingga menyebabkan berbagai bakteri dari leher rahim maupun vagina menginfeksi daerah tersebut. Kedua bakteri ini adalah kuman penyebab PMS. Proses menstruasi dapat memudahkan terjadinya infeksi karena hilangnya lapisan endometrium yang menyebabkan berkurangnya pertahanan dari rahim, serta menyediakan medium yang baik untuk pertumbuhan bakteri (darah menstruasi). Faktor Risiko : - Wanita yang aktif secara seksual di bawah usia 25 tahun berisiko tinggi untuk mendapat penyakit radang panggul. Hal ini disebabkan wanita muda berkecenderungan untuk bergantiganti pasangan seksual dan melakukan hubungan seksual tidak aman dibandingkan wanita berumur. - Riwayat penyakit radang panggul sebelumnya - Pasangan seksual berganti-ganti, atau lebih dari 2 pasangan dalam waktu 30 hari - Wanita dengan infeksi oleh kuman penyebab PMS


Click to View FlipBook Version