143 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS - Menggunakan douche (cairan pembersih vagina) beberapa kali dalam sebulan - Penggunaan IUD (spiral) meningkatkan risiko penyakit radang panggul. Risiko tertinggi adalah saat pemasangan spiral dan 3 minggu setelah pemasangan terutama apabila sudah terdapat infeksi dalam saluran reproduksi sebelumnya. 3. Gejala Gejala paling sering dialami adalah nyeri pada perut dan panggul. Nyeri ini umumnya nyeri tumpul dan terus-menerus, terjadi beberapa hari setelah menstruasi terakhir, dan diperparah dengan gerakan, aktivitas, atau sanggama. Nyeri karena radang panggul biasanya kurang dari 7 hari. Beberapa wanita dengan penyakit ini terkadang tidak mengalami gejala sama sekali. Keluhan lain adalah mual, nyeri berkemih, perdarahan atau bercak pada vagina, demam, nyeri saat sanggama, menggigil, demam tinggi, sakit kepala, malaise, nafsu makan berkurang, nyeri perut bagian bawah dan daerah panggul, dan sekret vagina yang purulen. Biasanya infeksi akan menyumbat tuba fallopi. Tuba yang tersumbat biasa membengkak dan terisi cairan. Sebagai akibatnya bisa terjadi nyeri menahun, perdarahan menstruasi yang tidak teratur dan kemandulan. Infeksi bisa menyebar ke struktur di sekitarnya, menyebabkan terbentuknya jaringan
144 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS perut dan perlengketan fibrosa yang abnormal di antara organ – organ perut serta menyebabkan nyeri menahun. Di dalam tuba, ovarium – ovarium panggul bisa terbentuk abses (penimbunan nanah). Jika abses pecah dan nanah masuk ke rongga panggul, gejalanya segera memburuk dan penderita bisa mengalami syok. Lebih jauh lagi bisa terjadi penyebaran infeksi ke dalam darah sehingga terjadi sepsis. E. Asuhan Keperawatan 1. Pengkajian - Riwayat aktivitas seksual - Penggunaan kontrasepsi - Riwayat penyakit menular seksual - Pengetahuan wanita tentang infeksi rendah alat kandungan dan PID - Pemeriksaan fisik - Tanda dan gejala - Uji diagnostik: Kuldosentesis
145 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS laparoskopi kultur sedimen dari seviks, uretra dan rektum Hitung sel darah putih 2. Intervensi Keperawatan secara umum - Sikap perawat tidak menghakimi - Bantu klien untuk tidak merasa malu/bersalah jika ternyata masalah berhubungan dengan penyakit menular seksual - Penkes tentang : Peningkatan resiko yang berhubungan dengan pasangan seks dan penggunaan kontrasepsi IUD Hyigiene daerah perinium dan mengganti pembalut Intervensi nyeri
146 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS BAB VII KEGANASAN A. Mioma Uteri 1. Pengertian Myoma Uteri adalah suatu tumor jinak pada rahim yang berasal dari otot rahim. Biasa disebut mioma atau myom atau tumor otot rahim (Rukiah, 2012: 114). Myoma Uteri merupakan tumor jinak yang struktur utamanya adalah otot polos rahim (Winkjosastro, 2011: 274). Myoma Uteri merupakan tumor jinak dari miometrium (otot rahim). Berdasarkan letaknya, mioma uteri bisa dibagi menjadi tiga, yakni mioma intramular (di dalam otot rahim), subserosa (di bawah lapisan serous dan menonjol ke arah rongga perut), serta submukosa (yang menonjol ke arah rongga rahim) (Mirza Maulana, 2009). Myoma uteri terjadi pada 20% - 25% perempuan di usia reproduktif, tetapi oleh faktor yang tidak diketahui secara pasti. Insidennya 3 – 9 kali lebih banyak pada ras kulit berwarna dibandingkan dengan ras kulit putih. Selama 5 dekade terakhir, ditemukan 50% kasus mioma uteri terjadi pada ras kulit berwarna (Sarwono Prawirohardjo, 2011).
147 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS Myoma Uteri merupakan tumor jinak otot rahim, disertai jaringan ikatnya sehingga dapat dalam bentuk padat, karena jaringan ikatnya dominan dan lunak, karena otot rahimnya dominan. Kejadian menunjukan gejala dan memerlukan tindakan operasi. Sebagian penderita mioma uteri tidak mengalami keluhan apapun dan ditemukan secara kebetulan saat pemeriksaan. Sebagian besar mioma uteri ditemukan pada masa reproduksi, karena adanya rangsangan estrogen. Dengan demikian mioma uteri tidak dijumpai sebelum datang haid (menarche) dan akan mengalami pengecilan setelah mati haid (menopause) (Manuaba,2010, hal.556). 2. Klasifikasi Mioma Uteri Sarang mioma di uterus dapat berasal dari serviks uterus hanya 1-3%, sisanya adalah dari korpus uteri. Sesuai dengan lokasinya, mioma ini dibagi menjadi tiga jenis, antara lain : a. Mioma Submukosum Mioma ini berada di bawah lapisan endometrium dan menonjol ke dalam kavum uteri, dapat tumbuh bertangkai dan dilahirkan melalui serviks (myomgemburt), (Rasjidi, 2010: 25). Pengaruhnya pada vaskularisasi dan luas permukaan endometrium menyebabkan terjadinya perdarahan irreguler. Mioma jenis ini dapat bertangkai panjang sehingga dapat keluar melalui ostium serviks. Yang harus diperhatikan
148 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS dalam menangani mioma bertangkai adalah kemungkinan terjadinya torsi dan nekrosis sehingga resiko infeksi sangatlah tinggi. (Winkjosastro, 2011: 275) b. Mioma Intramural Mioma ini terletak di dalam dinding uterus diantara serabut miometrium (Rasjidi, 2010: 26). Mioma intramural atau interstisial adalah mioma yang berkembang di antara miometrium (Winkjosastro, 2011: 275). c. Mioma Subserosum Mioma yang tumbuh keluar dinding uterus hingga menonjol pada permukaan uterus, diliputi oleh lapisan serosa (Rasjidi, 2010: 26). Mioma subserosa juga dapat menjadi parasit omentum atau usus untuk vaskularisasi tambahan bagi pertumbuhannya (Winkjosastro, 2011: 275). Gambar 1 Mioma Uteri
149 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS 3. Etiologi Penyebab pasti myoma uteri tidak diketahui secara pasti. Myoma jarang sekali ditemukan sebelum usia pubertas, sangat dipengaruhi oleh hormon reproduksi, dan hanya bermanifestasi selama usia reproduktif (Winkjosastro, 2011: 274). Namun Pertumbuhan mikroskopik menjadi masalah utama dalam penanganan mioma karena hanya tumor soliter dan tampak secara enukleasi. Ukuran rata-rata tumor ini adalah 15 cm, tetapi cukup banyak yang melaporkan kasus mioma uteri dengan berat mencapai 45 kg (Sarwono Prawirohardjo, 2011). Walaupun seringkali asimtomatik, gejala yang mungkin ditimbulkan sangat bervariasi, seperti metroragia, nyeri, menoragia, hingga infertilitas. Perdarahan hebat yang disebabkan oleh mioma merupakan indikasi utama histerektomi di Amerika Serikat. Yang menyulitkan adalah anggapan klasik bahwa miom adalah asimtomatik karena hal ini seringkali menyebabkan gejala yang ditimbulkan dari organ sekitarnya (tuba, ovarium atau usus) menjadi terabaikan. Masalah lain terkait dengan asimtomatik mioma adalah mengabaikan pemeriksaan lanjutan dari specimen hasil enukleasi atau histerektomi sehingga miosarkoma menjadi tidak dikenal (Sarwono Prawirohardjo, 2011).
150 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS Tidak ada bukti yang kuat untuk mengatakan bahwa estrogen menjadi penyebab mioma. Telah diketahui bahwa hormon memang menjadi prekursor pertumbuhan miomatosa. Konsentrasi reseptor estrogen dalam jaringan mioma memang lebih tinggi dibandingkan dengan miometrium sekitarnya tetapi lebih rendah dibandingkan dengan endometrium. Mioma tumbuh cepat saat penderita hamil atau terpapar pertumbuhan mioma termasuk tidak konsisten (Sarwono Prawirohardjo, 2011). Walaupun mioma tidak mempunyai kapsul yang sesungguhnya, tetapi jaringannya dengan sangat mudah dibebaskan dari miometrium sekitarnya sehingga mudah dikupas (enukleasi). Mioma berwarna lebih pucat, relatif bulat kenyal, berdinding licin, dan apabila dibelah bagian dalamnya akan menonjol keluar sehingga mengesankan bahwa permukaan luarnya adalah kapsul (Sarwono Prawirohardjo, 2011). Faktor predisposisi terjadinya mioma uteri, yaitu : a. Umur Mioma uteri jarang terjadi pada usia kurang dari 20 tahun, ditemukan sekitar 10% pada wanita berusia lebih dari 40 tahun. Tumor ini paling sering memberikan gejala klinis antara 35-45 tahun.
151 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS b. Paritas Lebih sering terjadi pada nullipara atau pada wanita yang relatif infertil, tetapi sampai saat ini belum diketahui apakah infertilitas menyebabkan mioma uteri yang menyebabkan infertilitas, atau apakah kedua keadaan ini saling mempengaruhi. c. Faktor ras dan genetik Pada wanita ras tertentu, khususnya wanita berkulit hitam, angka kejadian mioma uteri tinggi. Terlepas dari faktor ras, kejadian tumor ini tinggi pada wanita dengan riwayat keluarga ada yang menderita mioma. d. Fungsi ovarium Diperkirakan ada korelasi antara hormon estrogen dengan pertumbuhan mioma, di mana mioma uteri muncul setelah menarche, berkembang setelah kehamilan dan mengalami regresi setelah menopause. Pemberian agonis GnRH dalam waktu lama sehingga terjadi hipoestrogenik dapat mengurangi ukuran mioma. Pertumbuhan mioma uteri sangat cepat saat kehamilan dan jika dilakukan terapi ekstrogen eksogen. Mioma akan mengecil pada saat menopause dan pengangkatan ovarium. Mioma uteri banyak ditemukan bersamaan dengan anovulasi ovarium dan wanita dengan sterilitas. Enzim hydroxydesidrosenase mengubah estradiol (sebuah estrogen kuat)
152 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS menjadi estron (estrogen lemah). Efek estrogen pada pertumbuhan mioma mungkin berhubungan dengan respon mediasi oleh estrogen terhadap reseptor dan faktor pertumbuhan lain. Progesteron merupakan antagonis natural dari estrogen. Progesteron menghambat pertumbuhan mioma dengan dua cara, yaitu mengaktifkan hydroxydesidrogenase dan menurunkan jumlah reseptor estrogen pada tumor. Terdapat bukti peningkatan produksi reseptor progesteron, faktor pertumbuhan epidermal, dan insuline-like growth faktor pertama yang distimulasi oleh estrogen. e. Obesitas Wanita yang terlalu gemuk (obesitas) tidak memiliki keturunan dan tidak menikah memiliki faktor yang besar terkena mioma uteri (Aulia, 2012: 57). Untuk mengetahui wanita tersebut obesitas atau tidak yaitu dihitung dengan IMT (Indeks Massa Tubuh) rumusnya IMT = BB(kg) : TB(m)² . IMT normal yaitu 18,5 – 22,9. 4. Patofisiologi Mioma uteri terjadi karena adanya sel-sel yang belum matang dan pengaruh estrogen yang menyebabkan submukosa yang ditandai dengan pecahnya pembuluh darah dan intranurel, sehingga terjadi kontraksi otot uterus yang menyebabkan perdarahan pervagina lama dan banyak akan terjadi
153 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS resiko tinggi kekurangan volume cairan dan gangguan peredaran darah ditandai dengan adanya nekrosa dan perlengketan sehingga timbul rasa nyeri. Penatalaksanaan pada mioma uteri adalah operasi jika informasi tidak adekuat, kurang support dari keluarga dan kurangnya pengetahuan dapat mengakibatkan cemas. Pada post operasi akan terjadi terputusnya integritas jaringan kulit dan robekan pada jaringan saraf perifer sehingga terjadi nyeri akut. Terputusnya integritas jaringan kulit mempengaruhi proses epitalisasi dan pembatasan aktivitas, maka terjadi perubahan pola aktivitas. Kerusakan jaringan juga mengakibatkan terpaparnya agen infeksius yang mempengaruhi resiko tinggi infeksi. Pada pasien post operasi akan terpengaruh obat anestesi yang mengakibatkan depresi pusat pernafasan dan penurunan kesadaran sehingga pola nafas tidak efektif. 5. Tanda dan Gejala Hampir separuh dari kasus mioma uteri ditemukan secara kebetulan pada pemeriksaan pelvik rutin. Pada penderita memang tidak mempunyai keluhan apa-apa dan tidak sadar bahwa mereka sedang mengandung satu tumor dalam uterus. Faktor-faktor yang mempengaruhi timbulnya gejala klinik meliputi :
154 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS a. Besarnya mioma uteri b. Lokalisasi mioma uteri c. Perubahan-perubahan pada mioma uteri Berbagai keluhan penderita dapat berupa : a. Perdarahan Abnomali Uterus Perdarahan menjadi manifestasi klinik utama pada mioma dan hal ini terjadi pada 30% penderita. Bila terjadi secara kronis maka dapat terjadi anemia defisiensi zat besi dan bila berlangsung lama dan dalam jumlah yang besar maka sulit untuk dikoreksi dengan suplementasi zat besi. Perdarahan pada mioma submukosa seringkali diakibatkan oleh hambatan pasokan darah endometrium, tekanan dan bendungan pembuluh darah di area tumor (terutama vena) atau ulserasi endometrium di atas tumor. Tumor bertangkai seringkali menyebabkan trombosis vena dan nekrosis endometrium akibat tarikan dan infeksi (vagina dan kavum uteri terhubung oleh tangkai yang keluar dari ostium serviks). Disemnorea dapat disebabkan oleh efek tekanan, kompresi, termasuk hipoksia lokal miometrium. b. Nyeri Mioma tidak menyebabkan nyeri dalam pada uterus kecuali apabila kemudian terjadi gangguan vaskuler. Nyeri lebih banyak terkait dengan proses degenerasi akibat oklusi
155 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS pembuluh darah, infeksi, torsi tangkai mioma atau kontraksi uterus sebagai upaya untuk mengeluarkan mioma subserosa dari kavum uteri. Gejala abdomen akut dapat terjadi bila torsi berlanjut dengan terjadinya infark atau degenerasi merah yang mengiritasi selaput peritonium (seperti peritonitis). Mioma yang besar dapat menekan rektum sehingga menimbulkan sensasi untuk mengedan. Nyeri pinggang dapat terjadi pada penderita mioma yang menekan persarafan yang berjalan di atas permukaan tulang pelvis. c. Efek penekanan Walaupun mioma dihubungkan dengan adanya desakan tekan, tetapi tidaklah mudah untuk menghubungkan adanya penekanan organ dengan mioma. Mioma intramural sering dikaitkan dengan penekanan terhadap organ sekitar. Parastik mioma dapat menyebabkan obstruksi saluran cerna perlekatannya dengan omentum menyebabkan strangulasi (penyumbatan), dispareunia dan infertilitas. Bila ukuran tumor lebih besar lagi, akan terjadi penekanan ureter, kandung kemih dan rektum. Semua efek penekanan ini dapat dikenali melalui pemeriksaan Intra Vena Pielografi (IVP), kontras saluran cerna, rontgen dan Magnetic Resonan Imaging (MRI).
156 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS 6. Degenerasi Menurut Winkjosastro (2011), bila terjadi perubahan pasokan darah selama pertumbuhannya, maka mioma dapat mengalami perubahan sekunder atau degeneratif sebagai berikut : a. Degenerasi jinak 1) Atrofi Ditandai dengan pengecilan tumor yang umumnya terjadi setelah persalinan atau menopause. 2) Hialin Terjadi pada mioma yang telah matang atau tua di mana bagian yang semula aktif tumbuh kemudian terhenti akibat kehilangan pasokan nutrisi dan berubah warnanya menjadi kekuningan, melunak atau melebur menjadi cairan gelatin sebagai tanda terjadinya degenerasi hialin. 3) Kistik Setelah mengalami hialinisasi, hal tersebut berlanjut dengan cairnya gelatin sehingga mioma konsistensinya menjadi kistik. Adanya kompresi atau tekanan fisik pada bagian tersebut dapat menyebabkan keluarnya cairan kista ke kavum uteri, kavum peritonium atau retroperitonium.
157 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS 4) Kalsifikasi Disebut juga degenerasi kalkareus yang umumnya mengenai mioma subserosa yang sangat rentan terhadap defisit sirkulasi yang dapat menyebabkan pengendapan kalsium karbonat dan fosfat di dalam tumor. 5) Septik Defisit sirkulasi dapat menyebabkan mioma mengalami neksrosis di bagian tengah tumor yang berlanjut dengan infeksi yang ditandai dengan nyeri, kaku dinding perut dan demam akut. 6) Kaneus Disebut juga degenerasi merah yang diakibatkan oleh trombosis yang diikuti dengan terjadinya bendungan vena dan perdarahan sehingga menyebabkan perubahan warna mioma. Degenerasi jenis ini, seringkali terjadi bersamaan dengan kehamilan karena kecepatan pasokan nutrisi bagi hipertrofi miometriumlebih dan diprioritaskan sehingga mioma mengalami defisit pasokan dan terjadi degenerasi aseptik dan infark. Degenerasi ini disertai rasa nyeri tetapi akan menghilang sendiri (self limited).
158 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS 7) Miksomatosa Disebut juga degenerasi lemak yang terjadi setelah proses degenerasi hialin dan kistik. Degenerasi ini sangat jarang dan umumnya asimtomatik. b. Degenerasi ganas Transformasi ke arah keganasan (menjadi miosarkoma) terjadi pada 0,1% - 0,5% penderita mioma uteri. 7. Komplikasi a. Torsi (Putaran Tangkai) Sarang mioma yang bertangkai dapat mengalami torsi, timbul gangguan sirkulasi akut sehingga mengalami nekrosis. Dengan demikian terjadilah sindrom abdomen akut. Jika torsi terjadi perlahan-lahan, gangguan akut tidak terjadi. Hal ini hendaknya dibedakan dengan suatu keadaan di mana terdapat banyak sarang mioma dalam rongga peritoneum (Winkjosastro, 2009, hal. 340). b. Perdarahan sampai terjadi anemia. Nekrosis dan infeksi, setelah torsi dapat terjadi nekrosis dan infeksi. c. Pengaruh mioma terhadap kehamilan. 1) Infertilitas 2) Abortus 3) Persalinan prematuritas dan kelainan letak 4) Inersia uteri
159 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS 5) Gangguan jalan persalinan 6) Perdarahan post partum 7) Retensi plasenta d. Pengaruh kehamilan terhadap mioma uteri 1) Mioma cepat membesar karena rangsangan estrogen. 2) Kemungkinan torsi mioma uteri bertangkai. 8. Diagnosis Diagnosis mioma uteri ditegakkan berdasarkan: a. Anamnesis 1) Timbul benjolan di perut bagian bawah dalam waktu yang relatif lama. 2) Kadang-kadang disertai gangguan haid, buang air kecil atau buang air besar. 3) Nyeri perut bila terinfeksi, terpuntir, pecah. b. Pemeriksaan fisik 1) Palpasi abdomen didapatkan tumor di abdomen bagian bawah. 2) Pemeriksaan ginekologik dengan pemeriksaan bimanual didapatkan tumor tersebut menyatu dengan rahim atau mengisi kavum Douglasi. 3) Konsistensi padat, kenyal, mobil, permukaan tumor umumnya rata. c. Gejala Klinis 1) Adanya rasa penuh pada perut bagian bawah dan tanda massa yang padat kenyal. 2) Adanya perdarahan abnormal.
160 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS 3) Nyeri, terutama saat menstruasi. 4) Infertilitas dan abortus. d. Pemeriksaan Luar Teraba massa tumor pada abdomen bagian bawah serta pergerakan tumor dapat terbatas atau bebas. e. Pemeriksaan Dalam Teraba tumor yang berasal dari rahim dan pergerakan tumor dapat terbatas atau bebas dan ini biasanya ditemukan secara kebetulan. f. Pemeriksaan Penunjang 1) USG untuk menentukan jenis tumor, lokasi mioma, ketebalan endometrium dan keadaan adnexa dalam rongga pelvis.. 2) Foto BNO/IVP pemeriksaan ini penting untuk menilai massa di rongga pelvis serta menilai fungsi ginjal dan perjalanan ureter. 3) Histerografi dan histeroskopi untuk menilai pasien mioma submukosa disertai dengan infertilitas. 4) Laparaskopi untuk mengevaluasi massa pada pelvis. 5) Laboratorium : darah lengkap, urine lengkap, gula darah, tes fungsi hati, ureum, kreatinin darah. 6) Tes kehamilan 9. Penatalaksanaan a. Pengobatan Operatif
161 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS 1) Histerektomi Gambar 2.6 Histerektomi a) Pengertian Histerektomi adalah tindakan operatif yang dilakukan untuk mengangkat rahim, baik sebagian (subtotal) tanpa serviks uteri ataupun seluruhnya (total) berikut serviks uteri. b) Indikasi Histerektomi memang sesuatu yang sangat tidak diharapkan, terutama bagi wanita yang masih mendambakan memiliki anak. Namun demikian, seringkali dokter tidak memiliki pilihan lain untuk menangani penyakit secara permanen selain dengan mengangkat rahim. Beberapa jenis penyakit yang mungkin mengharuskan histerektomi antara lain: (1) Fibroids (tumor jinak yang tumbuh di dalam dinding otot rahim)
162 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS (2) Kanker serviks, rahim atau ovarium (3) Endometriosis, kondisi berupa pertumbuhan sel endometrium di bagian lain dari rahim (4) Adenomyosis, kelainan di mana sel endometrium tumbuh hingga ke dalam dinding rahim (sering juga disebut endometriosis interna) (5) Prolapsis uterus, kondisi dimana rahim turun ke vagina karena ligamen yang kendur atau kerusakan pada otot panggul bawah (6) Inflamasi pelvis karena infeksi. Setelah menjalani histerektomi, seorang wanita tidak lagi mendapatkan ovulasi dan menstruasi. Hal ini juga berarti berkurangnya produksi hormon estrogen dan progesteron yang dapat menyebabkan kekeringan pada vagina, keringat berlebihan, dan gejala-gejala lain yang umumnya terjadi pada menopause normal. Wanita yang menjalani salpingooporektomi bilateral atau pengangkatan kedua ovarium biasanya juga diberi terapi pengganti hormon untuk menjaga tingkat hormon mereka.
163 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS c) Klasifikasi Histerektomi (1) Histerektomi Abdominalis Totalis Ini merupakan suatu tipe Histerektomi yang sangat dan sering dilakukan. Selama histerektomi abdominalis totalis, dokterdokter sering mengangkat uterus bersama serviks sekaligus. Parut yang dihasilkan dapat berbentuk horizontal atau vertikal, tergantung dari alasan prosedur tersebut dilakukan dan ukuran atau luasnya area yang ingin di terapi. Karsinoma ovarium dan uterus, endometriosis, dan mioma uteri yang besar dapat dilakukan histerektomi jenis ini. Selain itu histerektomi jenis ini dapat dilakukan pada kasus-kasus nyeri panggul, setelah melalui suatu pemeriksaan serta evaluasi penyebab dari nyeri tersebut, serta kegagalan terapi secara medikamentosa. Setelah dilakukan prosedur ini wanita tidak dapat mengandung seorang anak. Maka dari itu metode ini tidak dilakukan pada wanita usia reproduksi, kecuali pada kondisikondisi yang sangat serius seperti karsinoma. Histerektomi abdominal totalis memperbolehkan operator mengevaluasi
164 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS seluruh kavum abdomen serta panggul, dimana sangat berguna pada wanitawanita dengan karsinoma atau penyebab yang tidak jelas. Dokter juga perlu melihat kembali keadaan medis untuk memastikan tidak terjadinya resiko yang diinginkan saat metode ini dilakukan, seperti jaringan parut yang luas (adhesi). Jika wanita tersebut mempunyai resiko adhesi, atau ia mempunyai suatu massa panggul yang besar, histerektomi secara abdominal sangatlah cocok. (2) Histerektomi Vaginalis Prosedur ini dilakukan dengan cara mengangkat uterus melalui vagina. Vaginal histerektomi ini merupakan suatu metode yang digunakan hanya pada kondisi-kondisi seperti prolaps uteri, hiperplasi endometrium, atau displasia servikal. Kondisi ini dapat dilakukan apabila uterus tidak terlalu besar, dan tidak membutuhkan suatu prosedur evaluasi operatif yang luas. Wanita diposisikan dengan kedua kaki terangkat pada meja litotomi. Wanita yang belum pernah mempunyai anak mungkin tidak mempunyai kanalis vaginalis yang cukup lebar, sehingga tidak cocok
165 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS dilakukan prosedur ini. Jika wanita tersebut mempunyai uterus yang sangat besar, ia tidak dapat mengangkat kakinya pada meja litotomi dalam waktu yang lama atau alasan lain mengapa hal tersebut terjadi, dokter-dokter biasanya mengusulkan histerektomi secara abdominalis. Secara keseluruhan histerektomi vaginal secara laparaskopi lebih mahal dan mempunyai komplikasi yang sangat tinggi dibanding histerektomi secara abdominal. (3) Histerektomi Vaginal dengan Bantuan Laparoskopi Metode jenis ini sangat mirip dengan metode histerektomi secara vaginal hanya saja ditambah dengan alat berupa laparoskopi. Sebuah laparoskopi adalah suatu tabung yang sangat tipis di mana kita dapat melihat didalamnya dengan suatu kaca pembesar di ujungnya. Pada wanitawanita tertentu penggunaan laparaskopi ini selama histerektomi vaginal sangat membantu untuk memeriksa secara teliti kavum abdomen selama operasi. Penggunaan laparoskopi pada pasienpasien karsinoma sangat baik bila dilakukan pada stadium awal dari kanker tersebut untuk mengurangi adanya
166 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS penyebaran atau jika direncanakan suatu oovorektomi. Dibandingkan dengan vaginalis Histerektomi atau abdominal, metode ini lebih mahal dan lebih resiko terjadinya komplikasi, pengerjaannya lama dan berhubungan dengan lamanya perawatan di Rumah Sakit seperti pada vaginal histerektomi uterus. (4) Histerektomi Supraservikal Supraservikal Histerektomi digunakan untuk mengangkat uterus sementara serviks ditinggal. Serviks ini adalah suatu area yang dibentuk oleh suatu bagian paling dasar dari uterus, dan berada di bagian akhir (atas) dari kanalis vaginalis. Prosedur ini kemungkinan tidak berkembang menjadi karsinoma endometrium terutama pada bagian serviks yang ditinggal. Wanita yang mempunyai hasil papsmear abnormal atau kanker pada daerah serviks tidak cocok dilakukan prosedur ini. Wanita lain dapat melakukan prosedur ini jika tidak ada alasan yang jelas untuk mengangkat serviks. Pada beberapa kasus serviks lebih baik ditinggal seperti pada kasus-kasus endometriosis. Prosedur ini merupakan prosedur yang sangat simple
167 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS dan membutuhkan waktu yang singkat. Hal ini dapat memberikan suatu keuntungan tambahan terhadap vagina, juga menurunkan resiko terjadinya suatu protrusi lumen vagina (Vaginal prolaps). (5) Histerektomi Radikal Prosedur ini melibatkan operasi yang luas dari pada histerektomi abdominal totalis, karena prosedur ini juga mengikut sertakan pengangkatan jaringan lunak yang mengelilingi uterus serta mengangkat bagian atas dari vagina. Radikal histerektomi ini sering dilakukan pada kasus-kasus karsinoma serviks stadium dini. Komplikasi lebih sering terjadi pada histerektomi jenis ini dibandingkan pada histerektomi tipe abdominal. Hal ini juga menyangkut perlukaan pada usus dan sistem urinarius. (6) Ooforektomi dan Salpingooforektomi Ooforektomi merupakan suatu tindakan operatif mengangkat ovarium, sedangkan salpingooforektomi adalah pengangkatan ovarium. Kedua metode ini dilakukan pada kasus-kasus : kanker ovarium, curiga tumor ovarium atau kanker tuba falopii (jarang). Kedua metode ini juga dapat dilakukan pada kasus-kasus infeksi atau digabungkan
168 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS dengan histerektomi. Kadang-kadang wanita dengan kanker ovarium atau payudara tipe lanjut dilakukan suatu ooforektomi sebagai tindakan preventif atau profilaksis untuk mengurangi resiko penyebaran dari sel-sel kanker tersebut. d) Tingkatan Histerektomi Histerektomi adalah bedah pengangkatan rahim (uterus) yang sangat umum dilakukan. Ada beberapa tingkatan histerektomi, yaitu : (1) Histerektomi total : pengangkatan rahim dan serviks, tanpa ovarium dan tuba fallopi (2) Histerektomi subtotal : pengangkatan rahim saja, serviks, ovarium dan tuba falopi tetap dibiarkan (3) Histerektomi total dan salpingo-oporektomi bilateral atau dikenal dengan nama Total Abdominal Histerektomy And Bilateral Salphingo Oophorectomy (TAH-BSO) merupakan suatu tindakan pembedahan untuk mengangkat uterus,serviks, kedua tuba falofii dan ovarium dengan melakukan insisi pada dinding perut pada malignant neoplasmatic desease, leymyoma dan chronic endrometriosis. e) Pemeriksaan Penunjang Begitu banyak teknik-teknik operasi pada tindakan histerektomi. Prosedur operatif ideal
169 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS pada wanita bergantung pada kondisi mereka masing-masing. Namun jenis-jenis dari histerektomi ini dibicarakan pada setiap pertemuan mengenai teknik apa yang dilakukan dengan pertimbangan situasi yang bagaimana. Namun keputusan terakhir dilakukan dengan diskusi secara individu antara pasien dengan dokter-dokter yang mengerti keadaan pasien tersebut. Perlu diingat aturan utama sebelum dilakukan tipe histerektomi, wanita harus melalui beberapa test untuk memilih prosedur optimal yang akan digunakan : (1) Pemeriksaan panggul lengkap (Antropometri) termasuk mengevaluasi uterus di ovarium (2) Papsmear terbaru (3) USG panggul f) Prosedur Histerektomi Histerektomi dapat dilakukan melalui sayatan di perut bagian bawah atau vagina, dengan atau tanpa laparoskopi. Histerektomi lewat perut dilakukan melalui sayatan melintang seperti yang dilakukan pada operasi sesar. Histerektomi lewat vagina dilakukan dengan sayatan pada vagina bagian atas. Sebuah alat yang disebut laparoskop mungkin dimasukkan melalui sayatan kecil di perut untuk membantu pengangkatan rahim lewat vagina.
170 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS Histerektomi vagina lebih baik dibandingkan histerektomi perut karena lebih kecil risikonya dan lebih cepat pemulihannnya. Namun demikian, keputusan melakukan histerektomi lewat perut atau vagina tidak didasarkan hanya pada indikasi penyakit tetapi juga pada pengalaman dan preferensi masingmasing ahli bedah. Histerektomi adalah prosedur operasi yang aman, tetapi seperti halnya bedah besar lainnya, selalu ada risiko komplikasi. Beberapa diantaranya adalah pendarahan dan penggumpalan darah (hemorrgage/hematoma) pos operasi, infeksi dan reaksi abnormal terhadap anestesi. g) Miomektomi Adalah pengambilan sarang mioma saja tanpa pengangkatan uterus. Tindakan ini dapat dikerjakan misalnya pada mioma submukosum pada myom geburt dengan cara ekstirpasi lewat vagina. Pengambilan sarang mioma subserosum dapat mudah dilaksanakan apabila tumor bertangkai. Apabila miomektomi ini dikerjakan karena keinginan memperoleh anak, maka kemungkinan akan terjadi kehamilan adalah 30 – 50%.
171 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS h) Radioterapi Yaitu tindakan ini bertujuan agar ovarium tidak berfungsi lagi sehingga penderita mengalami monopause. Radioterapi ini umumnya hanya dikerjakan kalau terdapat kontraindikasi untuk tindakan operatif. Akhir-akhir ini kontraindikasi tersebut makin berkurang. Radioterapi hendaknya hanya dikerjakan apabila tidak ada keganasan pada uterus (Wiknjosastro, 2009:345). Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Post Op Histerektomi 1. Pengkajian Menurut M. Irene (2008) suatu kegiatan mengumpulkan dan mengorganisasikan data yang dikumpulkan dari berbagai sumber dan merupakan dasar untuk tindakan dan keputusan yang diambil pada tahap-tahap selanjutnya. Adapun pengkajiannya meliputi : a. Identitas 1) Identitas klien a) Nama Nama diperlukan untuk mencegah kekeliruan dengan klien lain. b) Umur Umur perlu dikaji agar tidak tertukar dengan klien lain. c) Jenis kelamin
172 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS Perlu dikaji agar tidak tertukar dengan klien lain d) Pendidikan Tingkat pendidikan formal yang di raih klien. e) Agama Agama perlu dikaji karena norma-norma yang berlaku sesuai paham dan keyakinan. f) Pekerjaan Jenis aktivitas keseharian klien yang dapat menambah penghasilan keluarga. g) Alamat Alamat sangat diperlukan agar identitas klien tidak tertukar dengan klien lain. h) Diagnosa medis Diagnosa medis dibutuhkan sebagai data pebanding dengan data yang didapatkan pada pengkajian asuhan keperawatan. i) Nomor Medrec Nomor medrec dibutuhkan untuk memperjelas identitas klien sehingga tidak tertukar dengan klien lain. j) Tanggal masuk Tanggal masuk rumah sakit perlu dikaji untuk mengetahui lama tidaknya klien dirawat. k) Tanggal pengkajian
173 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS Tanggal pengkajian sangat diperlukan untuk mengetahui perkembangan klien selama sakit. 2) Identitas penanggung jawab Meliputi : Nama, umur, jenis kelamin, pendidikan, agama, pekerjaan, alamat dan hubungan dengan klien. b. Riwayat Kesehatan 1) Keluhan utama Keluhan-keluhan atau masalah yang timbul pada saat dilakukan pengkajian pada klien post operasi mioma uteri biasanya mengeluh nyeri pada luka post operasi di bagian abdomen. 2) Riwayat kesehatan sekarang Perlu dikaji dengan menjabarkan keluhan utama dari proses timbulnya penyakit sampai keluhan-keluhan dirasakan, faktor apa yang dapat memperingan dan memperberat keluhan, kualitas dari keluhan dan daerah terasanya keluhan. 3) Riwayat kesehatan dahulu Data kesehatan yang lalu digunakan untuk mendapatkan informasi mengenai masalah klien yang mungkin mempengaruhi atau menjadi penyebab timbulnya nyeri.
174 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS 4) Riwayat kesehatan keluarga Riwayat kesehatan keluarga perlu dikaji untuk mengidentifikasi adanya sifat genetik atau penyakit keturunan. 5) Riwayat psikologis Perlu dilakukan pengkajian tentang masalahmasalah psikologis yang dialami klien 6) Riwayat sosial Perlu dilakukan pengkajian terhadap klien mengenai reaksi klien terhadap hospitalisasi hubungan klien dengan lingkungan serta terhadap tim/petugas kesehatan. 7) Riwayat spiritual Perlu dikaji untuk mengetahui serta normanorma yang dianut oleh klien sebagai penjulang didalam pelayanan yang akan diberikan. 8) Riwayat obstetri a) Riwayat menstruasi Perlu dilakukan pengkajian terhadap klien mengenai riwayat menarche, siklus haid, lamanya haid, berapa kali mengganti balutan, sifat darah, dan keluhan pada saat menstruasi. b) Riwayat perkawinan Perlu dikaji berapa usia klien pada saat menikah dan sudah berapa lama usia perkawinannya.
175 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS c) Riwayat kehamilan dan persalinan lalu Dikaji tentang jumlah kehamilan, riwayat persalinan lalu dan anak yang hidup 9) Riwayat Aktivitas Sehari-hari Klien pust operasi mioma uteri mengalami perubahan pola aktivitas sehari-hari diantaranya : a) Nutrisi Nafsu makan menurun/tidak (berapa kali sehari dan berapa porsi), suka makan makanan tambahan atau tidak, suka makan sayur/tidak, suka minum susu/tidak, sering minum air putih/tidak. b) Eliminasi BAK : Berapa kali sehari, jenis urine seperti warna, bau, normal/tidak BAB : Berapa kali sehari, waktu, konsistensi feces, warna, bau, normal/tidak c) Personal Hygiene Bisa mandi/tidak (berapa kali), sikat gigi/tidak (berapa kali), rambut sering keramas/tidak (berapa kali), penampilan rapi atau tidak, kebersihan untuk memotong kuku (berapa kali) d) Istirahat dan Tidur Tidur malam (berapa lama), tidur siang ada/tidak (berapa lama), kebiasaan yang
176 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS dilakukan sebelum tidur, ada keluhan ketika tidur/tidak e) Aktivitas & latihan Aktivitas keseharian klien ketika di rumah dan rumah sakit, sering melakukan olahraga/tidak. f) Kebiasaan yang mempengaruhi kesehatan Suka merokok/tidak, mengkonsumsi minuman keras dan ketergantungan obat atau tidak. c. Pemeriksaan fisik 1) Keadaan umum pasien Penampilan klien, kesadaran, tanda-tanda vital (tekanan darah, nadi, respirasi dan suhu), berat badan dan tinggi badan. 2) Kepala Bentuk kepala (simetris/tidak), ada kotoran pada kulit kepala/tidak, warna dan pertumbuhan rambut merata/tidak, keadaan rambut bersih/tidak, terdapat benjolan/tidak, ada nyeri tekan/tidak. 3) Mata Bentuk mata (simetris/tidak), konjungtiva ananemis/tidak, kornea normal bening/tidak, sklera ikterik/tidak, pupil isokor/tidak, pergerakan bola mata normal/tidak, kelopak mata dapat membuka/menurtup tidak, lapang pandang baik/tidak, terdapat kelainan
177 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS otot-otot mata atau tidak, ada tanda-tanda radang/tidak, adanya nyeri tekan/tidak. 4) Hidung Bentuk hidung (simetris/tidak), keadaan kebersihan hidung bersih/tidak, terdapat sekret/tidak, terdapat benjolan atau nyeri tekan (ada/tidak), peradangan (ada/tidak), fungsi penciuman (baik/tidak). 5) Telinga Bentuk daun telinga (simetris/tidak), keadaan telinga (bersih/tidak), terdapat benjolan dan nyeri tekan/tidak, adanya serumen/tidak, fungsi pendengaran (baik/tidak). 6) Mulut Bentuk bibir (simetris/tidak), Kebersihan mulut dan gigi (bersih/tidak), bibir (lembab/tidak), gusi (berdarah/tidak), tonsil radang/tidak), lidah (tremor/tidak), ada stomatitis/tidak, fungsi pengecapan baik/tidak. 7) Leher Keadaan (bersih/tidak), benjolan (ada/tidak), ada kekakuan/tidak dalam pergerakan , pergerakan leher ROM : fleksi/tidak, rotasi/tidak, lateral, rotasi/tidak, terdapat pembesaran kelenjar thyroid dan vena jugularis/tidak, reflek menelan baik/tidak.
178 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS 8) Dada a) Rongga dada Bentuk dada (simetris/tidak), pergerakan dinding dada teratur/tidak, retraksi dada (ada/tidak), adanya nyeri tekan/tidak. b) Paru-paru Bunyi nafas (vesikuler/tidak), frekuensi nafas (berapa kali per menit), terdapat bunyi nafas tambahan/tidak. c) Jantung Bunyi jantung normal/tidak, terdapat bunyi jantung tambahan/tidak. d) Payudara Bentuk mamae kanan dan kiri (simetris/tidak), warna aerola, bentuk puting (normal/tidak), adanya benjolan dan nyeri tekan/tidak. 9) Abdomen Bentuk abdomen (datar/tidak), ada pembesaran hati/tidak, bising usus (berapa kali per menit), adanya nyeri tekan/tidak, apakah luka operasi baik atau tidak. 10) Vulva dan Perineum Adanya radang dan lesi /tidak, varices (ada/tidak), perdarahan (ada/tidak), terpasang kateter/tidak.
179 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS 11) Ekstremitas a) Atas : bentuk (simetris/tidak), oedema (ada/tidak), warna kulit, CRT (berapa lama), dapat melakukan pergerakan/tidak, kekuatan otot (baik/tidak). b) Bawah : bentuk (simetris/tidak), oedema (ada/tidak), kebersihan (baik/tidak), CRT (berapa lama), dapat melakukan pergerakan/tidak, kekuatan otot (baik/tidak) varices (ada/tidak), reflek patella (+/-). d. Pemeriksaan penunjang 1) Pemeriksaan Laboratorium (leukosit, hemoglobin, trombosit) 2) USG 2. Diagnosa keperawatan Menurut Doenges (2002) diagnosa keperawatan yang dapat muncul pada klien dengan post operasi Histerektomi, di antaranya : a. Gangguan rasa nyaman : nyeri berhubungan dengan adanya luka operasi. b. Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan prosedur invasive. c. Resiko tinggi terhadap konstipasi/diare berhubungan dengan efek anastesi. d. Defisit perawatan diri berhubungan dengan kelemahan fisik.
180 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS e. Perubahan retensi urine berhubungan dengan manipulasi tindakan pembedahan. f. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik. g. Gangguan konsep diri : harga diri rendah berhubungan dengan feminitas, ketidakmampuan memiliki anak. 3. Intervensi Keperawatan Intervensi keperawatan adalah a. Diagnosa I : Gangguan rasa nyaman (nyeri berhubungan dengan adanya luka operasi). Tujuan : Nyeri berkurang atau hilang. Kriteria hasil : Skala nyeri 1 – 0 atau hilang, pasien tenang dan rileks, TTV dalam batas normal. Intervensi :
181 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS Intervensi Rasional 1) Kaji keadaan umum dan tanda-tanda vital 1) Mengetahui perkembangan klien 2) Kaji intensitas, lokasi dan frekuensi nyeri 2) Sebagai evaluasi untuk menentukan intervensi selanjutnya 3) Bantu pasien mengatur posisi senyaman mungkin 3) Posisi yang nyaman akan membantu memberikan kesempatan pada otot untuk relaksasi seoptimal mungkin 4) Ajarkan kepada klien teknik relaksasi seperti menarik nafas dalam 4) Dapat mengurangi rasa nyeri yang dirasakan klien 5) Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian obat analgetik 5) Membantu dalam proses penyembuhan, analgetik dapat mengurangi nyeri b. Diagnosa II : Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan prosedur invasive. Tujuan : Tidak terjadi infeksi Kriteria Hasil : Tanda infeksi tidak ada (rubor, kalor, dolor, tumor dan fungsiolaesa), kondisi luka membaik, WBC dalam batas normal. Intervensi :
182 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS Intervensi Rasional 1) Observasi keadaan luka insisi pembedahan 1) Untuk pengawasan penyembuhan 2) Lakukan tindakan ganti balutan dengan teknik septic dan aseptic perawatan klien 2) Mencegah kontaminasi terhadap infeksi 3) Pantau tanda infeksi 3) Mengidentifikasi sesuai intervensi yang dilakukan 4) Anjurkan klien untuk makan yang mengandung tinggi kalori dan tinggi protein 4) Mempercepat pertumbuhan jaringan yang baru 5) Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian obat antibiotik 5) Membantu dalam proses penyembuhan analgetik c. Diagnosa III : Resiko tinggi terhadap konstipasi/diare berhubungan dengan efek anastesi. Tujuan : Pola eliminasi BAB kembali normal. Kriteria Hasil : Menunjukan bunyi usus/aktivitas, peristaltik aktif mempertahankan pada eliminasi biasanya. Intervensi :
183 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS Intervensi Rasional 1) Auskultasi bising usus, pertahankan distensi abdomen mual muntah 1) Bising usus yang menurun atau meningkat menunjukkan adanya gangguan pada fungsi pencernaan 2) Anjurkan klien untuk tidak menahan BAB 2) Untuk memudahkan kelancaran BAB 3) Dorong pemasukan cairan per oral 6-8 gelas per hari dan beri buah bila pemasukan oral sudah dimulai 3) Mencegah susahnya BAB 4) Berikan obat pelunak feses laseratif sesuai indikasi 4) Obat feces dapat melunakan feces sehingga tidak terjadi konstipasi d. Diagnosa IV: Defisit perawatan diri berhubungan dengan kelemahan fisik. Tujuan : Kebutuhan personal hygiene terpenuhi. Kriteria Hasil : klien mengatakan lebih segar, bersih dan nyaman, melakukan aktivitas perawatan diri dalam tingkat kemampuan mandiri. Intervensi :
184 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS Intervensi Rasional 1) Kaji kemampuan klien dalam melakukan perawatan diri 1) Mengetahui tingkat ketergantungan klien 2) Ganti pakaian klien dengan pakaian yang bersih 2) Untuk melindungi klien dari kuman dan meningkatkan rasa nyaman 3) Anjurkan keluarga klien untuk membantu dalam melakukan perawatan diri seperti memandikan/menye ka 3) Agar badan klien menjadi segar, melancarkan peredaran darah dan meningkatkan kesehatan e. Diagnosa V: Perubahan retensi urine berhubungan dengan manipulasi tindakan pembedahan. Tujuan : Pola eliminasi kembali normal. Kriteria Hasil : Klien dapat berkemih secara teratur dan tuntas. Intervensi :
185 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS Intervensi Rasional 1) Ukur dan catatat intake output 1) Menentukan keseimbangan cairan 2) Perhatikan pola berkemih dan awasi keluaran urine 2) Dapat mengindikasikan retensi urine bila berkemih dengan sering dan jumlah sedikit/kurang 3) Palpasi kandung kemih, kaji keluhan ketidaknyamanan penuh, ketidakmampuan berkemih 3) Dapat menunjukkan distensi kandung kemih di atas simpisis pubis 4) Berikan tindakan berkemih rutin contoh : penyiraman air hangat pada perineum 4) Meningkatkan relaksasi otot perineal dan dapat mempermudah upaya berkemih 5) Berikan perawatan kebersihan perineal dan perawatan kateter (bila ada) 5) Meningkatkan kebersihan menurunkan resiko ISK asenden 6) Kolaborasi pemasangan kateter bila diindikasikan pasien tidak mampu berkemih atau tidak nyaman 6) Edema atau pengaruh suplai saraf dapat menyebabkan atoni kandung kemih/retensi kandung kemih memerlukan dekompresi kandung kemih
186 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS f. Diagnosa VI : Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik. Tujuan : Pola aktivitas terpenuhi Kriteria Hasil : Klien cukup energi untuk beraktivitas, aktivitas klien dapat dilakukan sendiri, menampakan kemampuan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Intervensi : Intervensi Rasional 1) Bantu klien dalam memenuhi aktivitas sehari-hari 1) Mengurangi pemakaian energi sampai kekuatan pasien pulih 2) Bantu klien duduk dan turun dari tempat tidur 2) Agar kekuatan otot tidak kaku dan bisa melakukan aktivitas secara mandiri 3) Kaji respon klien setelah duduk dan turun dari tempat tidur 3) Menjaga adanya respon abnormal g. Diagnosa VII : Gangguan konsep diri : harga diri rendah berhubungan dengan feminitas, ketidakmampuan memiliki anak. Tujuan : Tidak terjadi gangguan konsep diri. Kriteria Hasil : Menyatakan penerimaan diri pada situasi dan adaptasi terhadap perubahan pada citra tubuh. Intervensi :
187 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS Intervensi Rasional 1) Beri kesempatan klien untuk mengungkapkan perasaannya 1) Agar mengurangi beban klien 2) Kaji stress emosi klien, identifikasi kehilangan pada klien/orang terdekat. Dorong klien untuk mengekspresikan dengan tepat 2) Membantu dalam mengkaji kemampuan klien untuk mengatasi stress 3) Berikan informasi akurat dan kuatkan informasi yang diberikan sebelumnya 3) Memberi kesempatan pada pasien untuk bertanya dan mengasimilasikan informasi 4) Berikan lingkungan terbuka pada pasien untuk mendiskusikan masalah seksualitas 4) Meningkatkan saling berbagi keyakinan/nilai tentang subjek sensitif 5) Perhatikan perilaku menarik diri, menganggap diri negatif, penggunaan penolakan 5) Mengidentifikasi tahap kehilangan dan menentukan intervensi selanjutnya 6) Kolaborasi dengan konseling profesional sesuai kebutuhan 6) Memerlukan bantuan tambahan untuk mengatasi perasaan kehilangan 4. Implementasi Keperawatan Tindakan keperawatan adalah deskripsi untuk perilaku yang diharapkan dari pasien atau tindakan yang dilakukan oleh perawat. Implementasi merupakan kategori dari perilaku keperawatan di mana tindakan yang diperlukan untuk mencapai
188 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS tujuan dan hasil yang diperkirakan dari asuhan keperawatan dilakukan dan diselesaikan. Implementasi keperawatan adalah inisiatif dari rencana tindakan untuk tujuan yang spesifik (Doenges, 2002) 5. Evaluasi Mengukur respon klien terhadap tindakan keperawatan dan kemajuan klien ke arah pencapaian. Evaluasi merupakan tahap akhir dari proses keperawatan dan menyediakan nilai informasi mengenai pengaruh intervensi yang telah direncanakan dan perbandingan yang sistematis serta terencana tentang kesehatan pasien dengan tujuan yang telah ditetapkan, dilakukan dengan cara berkesinambungan dengan melibatkan klien dan tenaga kesehatan lainnya (Doenges, 2002). B. Kista Ovarium 1. Pengertian Kista ovarium merupakan rongga berbentuk kantong berisi cairan di dalam jaringan ovarium. Kista ini disebut kista fungsional karena terbentuk setelah sel telur dilepaskan sewaktu ovulasi. Kista fungsional akan mengerut dan menyusut setelah beberapa waktu (1-3 bulan), demikian pula yang terjadi bila seorang perempuan sudah menopouse, kista
189 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS fungsional tidak terbentuk karena menurunnya aktivitas indung telur (Yatim, 2008). Kista ovarium adalah tumor ovarium yang bersifat neoplastik dan non neoplastik. Kista ovarium merupakan suatu tumor, baik kecil maupun yang besar, kistik atau padat, jinak atau ganas yang berada di ovarium. Dalam kehamilan tumor ovarium yang paling sering dijumpai ialah kista dermoid, kista coklat atau kista lutein. Tumor Ovarium yang cukup besar dapat menyebabkan kelainan letak janin dalam rahim atau dapat menghalang-halangi masuknya kepala ke dalam panggul (Wiknjosastro, 2011). 2. Klasifikasi Kista ovarium dibagi menjadi dua, yaitu : a. Kista non-neoplasma (fungsional) terdiri dari : (Yatim, 2008). 1) Kista folikuler Kista yang terjadi dari folikel normal yang melepaskan ovum yang ada di dalamnya. Terbentuk kantung berisi cairan atau lendir di dalam ovarium. 2) Kista corpus luteum Kista ini timbul karena waktu pelepasan sel telur terjadi perdarahan, dan lama-lama bisa pecah dan timbul perdarahan yang kadangkadang perlu tindakan operasi untuk mengatasinya.
190 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS 3) Kista teka lutein Kista ini sering dihubungkan dengan terjadinya kehamilan di luar kandungan (ektopik pregenansi). Kista ini akan hilang sendiri tanpa pengobatan atau tindakan begitu kehamilan diluar kandungan dikeluarkan. 4) Polikistik kista Kista ini banyak mengandung cairan jernih. Bisa timbul di kedua ovarium kiri dan kanan, berhubungan dengan gangguan hormon dan gangguan menstruasi. b. Kista Neoplasma terdiri dari : (Winkjosastro, 2011) 1) Kista denoma ovarii serosum Kista ini terjadi pada kedua ovarium (bilateral). Ukuran kista berkisar antara 5-15 cm dan ukuran ini lebih keil dari rata-rata ukuran kista denoma musinosum. Kista ini berisi cairan serosa, jernih kekuningan. 2) Kista denoma ovarii musinosum Kista ini bilateral pada 5-7% kasus. Kista ini pada umumnya adalah multilokuler dan lokulus yang berisi cairan musinosum tampak berwarna kebiruan di dalam kapsul yang dindingnya tegang.
191 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS 3) Kista dermoid Kista yang berasal dari sel telur melalui proses patologis. Kista ini paling banyak diderita oleh gadis di bawah 20 tahun. Gambar 1. Kista Ovarium 3. Etiologi Penyebab pasti dari penyakit kista ovarium belum diketahui secara pasti. Akan tetapi salah satu pemicunya adalah faktor hormonal. Penyebab terjadinya kista ovarium ini dipengaruhi oleh banyak faktor yang saling berhubungan. Beberapa faktor resiko yang mempengaruhi terjadinya kista ovarium adalah sebagai berikut : a. Gaya hidup tidak sehat, di antaranya : 1) Konsumsi makanan yang tinggi lemak dan kurang serat 2) Zat tambahan pada makanan 3) Kurang olahraga
192 | ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MATERNITAS 4) Merokok dan mengkonsumsi alkohol 5) Terpapar dengan polusi dan agen infeksius 6) Sering stress 7) Zat polutam b. Gangguan pembentukan hormone Kista ovarium disebabkan oleh dua gangguan pembentukan hormon yaitu pada mekanisme umpan balik ovarium dan hipotalamus. Estrogen merupakan sekresi yang berperan sebagai respon hypersekresi folikel stimulasi hormon. Dalam menggunakan obat-obat yang merangsang pada ovulasi atau misalkan pola hidup yang tidak sehat itu bisa menyebabkan ketidakseimbangan hormon. 4. Patofisiologi Setiap indung telur berisi ribuan telur yang masih muda atau folikel yang setiap bulannya akan membesar dan satu di antaranya membesar sangat cepat sehingga menjadi telur matang. Pada peristiwa ovulasi telur yang matang ini keluar dari indung telur dan bergerak ke rahim melalui saluran telur. Apabila sel telur yang matang ini dibuahi, folikel akan mengecil dan menghilang dalam waktu 2-3 minggu dan akan terus berulang sesuai siklus haid pada seorang wanita. Namun jika terjadi gangguan pada proses siklus ini akan membentuk kista. Kista juga dapat terbentuk jika fungsi ovarium yang abnormal menyebabkan penimbunan