The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Karya tulis mahasiswa Hospitality Business 2A.
Universitas Prasetiya Mulya

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by joicetobing02, 2022-06-21 09:48:30

Reading & Writing

Karya tulis mahasiswa Hospitality Business 2A.
Universitas Prasetiya Mulya

Hospitality Business
2A

Universitas Prasetiya Mulya

READING
&
WRITING

Dampak Pandemi COVID-19 Terhadap
Bisnis Logistik J&T Express

Akeyla Luviana Salim - 13412110009

Abstrak
Karya ilmiah ini memiliki tujuan untuk mengetahui dampak serta perubahan yang dialami oleh
J&T Express selama Pandemi COVID-19. Metode kualitatif akan sangat digunakan pada
pembuatan karya ilmiah ini karena segala data yang akan disajikan dalam karya ini akan diambil
dari internet. Pandemi COVID-19 merubah kebiasaan banyak orang yang semula selalu
berbelanja offline menjadi belanja online. Akibat Pandemi COVID-19 yang masih berlangsung
hingga saat ini, J&T Express mengalami lonjakan peluang usaha yang signifikan. Pelayanan terbaik
yang J&T Express berikan kepada seluruh pelanggan menyebabkan lebih banyak orang yang
menggunakan layanan J&T Express.

Kata Kunci : Pandemi COVID-19, bisnis logistik, dampak, perubahan

Pada akhir 2019, ditemukan sebuah virus yang dapat menular serta menyebabkan
kematian. Oleh karena itu, hampir segala kegiatan menjadi terhambat. Virus COVID-19 yang
ditemukan di China ini mudah menular dan bermutasi dengan cepat. Hal ini menyebabkan
seluruh dunia harus melakukan karantina dan menerapkan beberapa peraturan yang dianggap
mampu memutus rantai penyebaran virus tersebut.

Setiap negara memiliki peraturan yang berbeda, tetapi rajin mencuci tangan,
menggunakan masker, dan menjaga jarak merupakan salah tiga dari peraturan yang harus
diterapkan oleh seluruh masyarakat Indonesia. Pemerintah Indonesia menghimbau seluruh
rakyatnya untuk selalu menerapkan peraturan tersebut agar pandemi segera berakhir. Akibat
pandemi ini, banyak pusat perbelanjaan terpaksa harus ditutup karena ada peraturan dari
pemerintah untuk menjaga jarak dan menghindari kerumunan.

Ditutupnya seluruh pusat perbelanjaan membuat banyak masyarakat yang beralih ke
kegiatan belanja online. Pada awalnya, banyak masyarakat yang kurang suka berbelanja online
dan lebih memilih untuk berbelanja secara offline karena dianggap lebih terpercaya dan
kualitasnya lebih terjamin tetapi akibat pandemi ini, kebiasaan belanja online semakin marak
terjadi. Seluruh kebutuhan mulai dari kebutuhan primer dan sekunder semuanya dapat
ditemukan di e-commerce. Kelengkapan serta kemudahan yang dirasakan oleh seluruh pengguna
menciptakan kenyamanan ketika melakukan kegiatan belanja online.

Terdapat banyak dampak yang sangat nyata terlihat dan terasa salah satunya adalah para
UMKM (Usaha Mikro Kecil dan Menengah). Berdasarkan artikel yang beredar, tercatat ada sekitar
30 juta UMKM yang terpaksa harus gulung tikar akibat pandemi. Hal ini disebabkan para UMKM
tidak mampu bertahan dan belum menemukan strategi serta solusi yang mampu mengatasi
masalah akibat pandemi. Setelah hampir 3 tahun pandemi ini berlangsung, ada semakin banyak
UMKM yang bangkit kembali dan ada juga banyak UMKM baru yang memulai usaha mereka.

Salah satu strategi yang dilakukan oleh para pelaku UMKM untuk mampu bertahan adalah
dengan berjualan online. Berbagai platform berbeda digunakan mulai dari Instagram hingga
Tiktok. Tentunya pembeli produk mereka bukan hanya dari satu daerah yang sama melainkan
seluruh Indonesia dapat membeli produk mereka. Pembeli yang berdomisili jauh dengan penjual
pasti akan menggunakan jasa ekspedisi untuk mempermudah pembelian barang. Sistem jasa
ekspedisi yang mudah dipahami serta estimasi waktu antar yang sebentar, membuat banyak
orang menggunakan jasa ekspedisi karena kenyamanan yang ditawarkan. Jasa ekspedisi yang
banyak digunakan masyarakat saat ini adalah J&T Express.

Menurut Christopher (2005), logistik adalah proses yang secara strategis mengelola
pengadaan, pergerakan, dan penyimpanan material, suku cadang, dan barang jadi beserta aliran
informasi terkait melalui organisasi dan kanal-kanal pemasarannya, dalam cara dimana
keuntungan perusahaan , baik untuk saat ini maupun di waktu yang akan datang, dapat
dimaksimalkan dengan cara pemenuhan pesanan yang berbiaya efektif.

Dikutip dari Trawlbens (2020), jasa ekspedisi adalah perushaan penyedia layanan
pengiriman barang yang tarifnya ditentukan dari berat barang, jarak yang ditempuh, dan pilihan
waktu pengiriman. Apabila barang yang dikirim berat dan tujuannya jauh biasanya akan

dikenakan tarif yang cukup mahal. Ada banyak ahli yang mengutip topik seputar ekspedisi dan
perusahaan dibidang logistik tetapi, saya pilih yang menurut saya sesuai dengan penelitian saya.

Berada di puncak kedua teratas dalam kategori ekspedisi yang paling sering digunakan
memberikan bukti bahwa pelayanan yang diberikan oleh J&T Express sangatlah baik sehingga
banyak orang yang menggunkan jasanya. Bisnis logistik J&T Express mengalami lonjakan
pendapatan akibat lonjakan pengiriman paket. Perusahaan J&T Express mengalami kenaikan
hingga 40 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Melihat adanya lonjakan yang signifikan, saya ingin melakukan penelitian mendalam
terhadap dampak yang diterima oleh pelaku bisnis logistik. Saya memiliki tujuan untuk mengulik
lebih dalam mengenai strategi apa yang digunakan oleh pelaku bisnis logistik agar mampu
bertahan ditengah pandemi dan juga melihat upaya apa yang dilakukan oleh perusahaan J&T
Express agar mampu meraih pasar yang dinginkan di masa pandemi ini.

Penelitian ini dilakukan pada masa pandemi, oleh karena itu saya akan menggunakan
bantuan aplikasi Google Form untuk mengumpulkan data serta Line untuk menyebarluaskan link
yang berisi pertanyaan penelitian. Subjek penelitian yang akan saya tuju adalah Mahasiswa/I
Universitas Prasetiya Mulya. Penelitian ini akan berjalan selama kurang lebih satu bulan mulai
dari tanggal 14 Mei 2022 hingga 14 Juni 2022. Dalam melakukan penelitian ini, saya akan
menggunakan metode penelitian kualitatif serta eksploratif. Data-data yang sudah terkumpul
akan saya sajikan dalam bentuk artikel sehingga mudah dibaca dan dipahami.

Selama masa pandemi, seperti yang sudah saya cantumkan diatas, kegiatan belanja online
meningkat pesat. Akibat Pandemi COVID-19, seluruh kegiatan baik outdoor maupun indoor
menjadi terhambat, salah satunya kegiatan berbelanja. Berdasarkan hasil pencarian melalui
google, JNE berada di peringkat pertama atau sebanyak 47,8% (1,2 juta) orang telah mencari JNE
secara langsung di internet. Peringkat kedua ditempati oleh J&T Express sebanyak 21,5% (550
ribu), kemudian diikuti oleh Si Cepat dengan 14,4% (368 ribu), lalu Pos Indonesia dengan
perolehan 9,6% (246 ribu), dan yang terakhir ditempati oleh TIKI dengan 6,4% (165 ribu).

https://infobrand.id/optimisme-bisnis-jasa-kurir-di-masa-pandemi.phtml

Pada laporan ini, saya akan melakukan penelitian terhadap perusahaan J&T Express yang
merupakan salah satu perusahaan jasa pengiriman yang akibat pandemi ini mengalami kenaikan
yang sangat luar biasa. G-Form akan saya sebarkan mulai tanggal 14 Mei 2022 kepada seluruh
kerabat saya yang menempuh pendidikan di Universitas Prasetiya Mulya dan akan saya tutup
formulirnya pada tanggal 14 Juni 2022. Saya pribadi tidak menetapkan berapa target responden
yang harus saya capai tetapi saya memiliki angka minimal responden yaitu 100 responden.
Hasil Penelitian

Berdasarkan hasil penelitian diatas, saya berhasil mendapatkan sebanyak 100 responden
dalam kurun waktu satu bulan. Dari total keseluruhan 100 responden yang berpartisipasi dalam

penelitian saya, dapat saya tarik kesimpulan bahwa terdapat sekitar 88 responden (88%) yang
sering melakukan kegiatan berbelanja online. Kemudian, terdapat 8 responden (8%) yang jarang
berbelanja online lalu yang terakhir, terdapat 4 responden (4%) yang tidak pernah berbelanja
secara online.

Dari 100 responden yang telah saya dapatkan, dapat saya tarik kesimpulan bahwa
terdapat 96 responden (96%) yang faktanya selama pandemi melanda responden ini menjadi
lebih sering melakukan kegiatan belanja online. Meskipun demikian, terdapat 4 responden (4%)
yang ternyata biasa saja atau tidak begitu sering melakukan kegiatan belanja online.

Dari 5 pilihan yang dapat dipilih oleh para responden, terdapat jawaban teratas atau
terpopuler dengan perbedaan presentase yang sangat signifikan. Posisi pertama ditempati oleh
J&T Express sebagai perusahaan ekspedisi yang paling sering digunakan oleh kebanyakan

responden yaitu terdapat 88 responden (88%) dati total keseluruhan 100 responden. Kemudian
lanjut ke posisi kedua, terdapat 6 responden (6%) yang memilih JNE sebagai jasa ekspedisi yang
sering digunakan. Posisi ketiga ditempati oleh TIKI dengan 3 responden (3%), dilanjutkan dengan
Si Cepat dengan 2 responden (2%). Di posisi terakhir ditempati oleh Pos Indonesia dengan 1
responden (1%).

Terdapat 6 pilihan yang saya berikan dalam penelitian ini. Setiap responden dapat
memilih dengan bebas sesuai dengan apa yang para responden rasakan. Berdasarkan hasil
penelitian diatas, dapat saya simpulkan bahwa terdapat 31 responden (31%) yang menjawab
pengiriman yang cepat. Kemudian, terdapat 30 responden (30%) yang memilih jawaban barang
yang diterima selalu dalam keadaan baik. Posisi ketiga ditempati dengan jawaban tracking yang
jelas diikuti dengan 15 responden (15%). Lalu jawaban kurir terpercaya dipilih oleh 14 responden
(14%). Jawaban harga pengiriman yang murah dipilih oleh 9 responden (9%) dan yang terakhir
terdapat 1 responden (1%) yang memilih jawaban counter yang mudah ditemukan.

Berdasarkan jawaban dari kedua responden yang telah memilih ekspedisi Si Cepat,
responden ini memilih menggunakan jasa ekspedisi Si Cepat karena dianggap memiliki counter
yang mudah ditemukan dan tracking yang jelas.

Dari total keseluruhan 100 responden yang berpartisipasi dalam penelitian ini, terdapat
1 responden yang memilih jasa ekspedisi Pos Indonesia dengan alasan harga pengiriman yang
murah.

Berdasarkan jawaban 3 responden yang memilih ekspedisi TIKI dalam berbelanja online,
dapat saya tarik kesimpulan bahwa para responden memilih TIKI karena barang yang diterima
selalu dalam keadaan yang baik, pengiriman yang cepat, dan harga pengiriman yang murah.

Dari total keseluruhan 100 responden yang turut berpartisipasi dalam penelitian ini
terdapat 6 responden yang memilih jasa ekspedisi JNE dengan 3 alasan yang berbeda. Ada 4
responden yang memilih alasan pengiriman yang cepat, 1 responden yang memilih alasan kurir
terpercaya, dan 1 responden terakhir memilih jawaban tracking yang jelas.

Beralih ke responden yang memilih J&T Express, terdapat 88 responden (88%) dengan
alasan yang berbeda-beda. Alasan yang paling banyak dipilih adalah barang yang diterima selalu
dalam keadaan baik yaitu sebanyak 29 responden (29%). Kemudian diikuti dengan alasan
pengiriman yang cepat yaitu sebanyak 26 responden (26%). Alasan ketiga dan keempat yaitu
tracking yang jelas dan kurir terpercaya memiliki kesamaan perolehan yaitu 13 responden (13%).
Terakhir, terdapat 7 responden (7%) yang memilih alasan harga pengiriman yang murah.

Melihat hal ini, membuktikan bahwa bisnis ekspedisi J&T Express mendapat paling banyak
perhatian dari para responden. Berdasarkan jawaban para responden, J&T Express memiliki
banyak sekali keunggulan bila dibandingkan dengan bisnis ekspedisi lainnya. Selain itu,
permintaan pengiriman paket yang terus meningkat membuat perusahaan J&T Express terus

ingin berkembang guna mengikat lebih banyak pasar di Indonesia. Kali ini J&T Express
memperluas bisnisnya dengan membuka perusahaan baru yang dinamakan J&T Cargo.

J&T Cargo resmi diluncurkan pada 20 Agustus 2021 dengan tujuan utama mengirimkan
paket yang berukuran besar ke seluruh wilayah di Indonesia. Banyak keuntungan yang akan
didapat dengan menjadi pelanggan VIP di J&T Express salah satunya yaitu layanan warehouse,
sebuah ruang penyimpanan produk atau yang biasa disebut dengan istilah “gudang” sebelum
kemudian dikirimkan oleh pihak J&T. Selain itu, J&T Express juga membuka peluang usaha bagi
seluruh masyarakat dengan bermitra sesuai ketentuan yang telah ditetapkan.

jtcargo.id

J&T Express mengungkapkan bahwa dalam sehari, ada 3 juta hingga 5 juta paket yang
harus diantarkan. Bahkan, selama pandemi ini melanda, J&T Express mengungkapkan bahwa
dalam sehari terdapat 10 juta hingga 20 juta paket yang harus diproses. Banyaknya paket yang
harus dikirim setiap harinya terutama yang akan dikirim ke beda pulau membuat J&T Express
harus meningkatkan pelayanannya dengan membuka layanan air freighter.

indocargotimes.com

Berbicara mengenai layanan yang diberikan oleh J&T Express, di kondisi pandemi yang
masih berlangsung, J&T Express terus menyediakan layanan terbaik dengan menerapkan
protokol kesehatan yang ketat sesuai dengan anjuran pemerintah. Seluruh karyawan yang
bertugas telah menjalani vaksin lengkap, memakai masker, dan juga selalu mengecek suhu tubuh
sebelum masuk. Aplikasi J&T Express juga telah beroperasi agar dapat membantu banyak
pelanggan yang ingin mengirim paket. Paket yang telah disiapkan oleh penjual nantinya akan di
jemput oleh pihak J&T Express sehingga penjual tidak perlu keluar rumah untuk mengantar paket.

Kesimpulan
Dari hasil penelitian yang telah dilakukan, saya dapat menarik kesimpulan bahwa sejak

pandemi melanda Indonesia, terdapat banyak sekali masyarakat yang beralih dari kegiatan
belanja offline menjadi belanja online. Selain pengoperasian e-commerce yang mudah dipahami,
layanan ekspedisi yang cepat sampai juga mengubah kebiasaan banyak orang. Perusahaan
ekspedisi J&T Express dipilih oleh 88 responden dari total keseluruhan 100 responden karena
dianggap memiliki layanan terbaik dari beberapa pilihan yang dapat pilih oleh responden.

Dapat disimpulkan bahwa selama pandemi berlangsung, bisnis logistik J&T Express
mengalami peningkatan yang sangat signifikan. J&T Cargo, Air Freigther, dan layanan aplikasi
merupakan langkah yang diambil oleh perusahaan J&T Express untuk terus berkembang
menyeimbangi permintaan masyarakat yang semakin banyak dari waktu ke waktu. Kedepannya
J&T Express harus mampu menghadirkan layanan yang lebih baik dari sekarang sehingga mampu
bertahan di tengah persaingan bisnis logistik yang tidak mudah.

Daftar Pusaka

“Bisnis logistik J&T Express tumbuh positif di tengah masa pandemi Covid-19.” industri kontan, 4
October 2021,
https://industri.kontan.co.id/news/bisnis-logistik-jt-express-tumbuh-positif-di-tengah-masa-
pandemi-covid-19

“E-commerce Menurut Para Ahli.” hestanto personal website,
https://www.hestanto.web.id/e-commerce-menurut-para-ahli/

“Fitur Aplikasi J&T Express dalam Upaya Meningkatkan Pelayanan Pengiriman Barang.”
Kompasiana.com, 6 December 2019,
https://www.kompasiana.com/septriyani/5de9b3dcd541df105114fb32/fitur-aplikasi-j-t-
express-dalam-upaya-meningkatkan-pelayanan-pengiriman-barang

“J&T Cargo meluncur, layani segmen jasa pengiriman paket besar.” industri kontan, 22 August
2021,
https://industri.kontan.co.id/news/jt-cargo-meluncur-layani-segmen-jasa-pengiriman-paket-
besar

“J&T Express Alami Peningkatan Pengiriman hingga 16,5 Juta Paket pada Festival Belanja Online
11.11.” Money Kompas.com, 17 November 2021,
https://money.kompas.com/read/2021/11/17/080100626/-j-t-express-alami-peningkatan-
pengiriman-hingga-16-5-juta-paket-pada-festival

“Luncurkan Layanan Air Freighter, J&T Express Gunakan Pesawat Jenis Ini.” Tribun, 18 March
2021,
https://www.tribunnews.com/bisnis/2021/03/18/luncurkan-layanan-air-freighter-jt-express-
gunakan-pesawat-jenis-ini

Perbandingan Minat Generasi Z Terhadap Produk Kecantikan Brand
Somethinc dan Dear Me Beauty
Reading and Writing

DISUSUN OLEH :
Nama : Audrey Priscilla Ardi Widana

NIM : 13412110007
Kelas : HOSBIS 2A

SCHOOL OF BUSINESS & ECONOMICS
UNIVERSITAS PRASETIYA MULYA
2022

Perbandingan Minat Generasi Z terhadap Produk Kecantikan dari
Brand Somethinc dan Dear Me Beauty

Audrey Priscilla Ardi Widana-13412110007

Abstrak
Karya ilmiah ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan minat dari Generasi Z

pada brand lokal Somethinc dan Dear Me Beauty. Ini berfokus pada strategi pemasaran yang
brand tersebut lakukan untuk menarik minat konsumen terhadap produk mereka. Melalui
survei yang dilakukan, dapat diketahui keunikan dan kelebihan yang dilakukan oleh kedua
brand dalam melakukan strategi pemasaran.

Kata kunci : Local brand, minat konsumen, strategi pemasaran, kolaborasi

Berdasarkan istilah dalam marketing, Local Brand diartikan sebagai sebuah merek
yang dijual dan dipasarkan di wilayah geografis yang relatif kecil dan terbatas. Local Brand
merupakan merek yang dapat ditemukan hanya dalam satu negara atau wilayah. Local Brand
di Indonesia telah berkembang pesat salah satunya pada kategori produk kecantikan. Affi
Assegaf sebagai Beauty Influencer mengatakan “ Baik di akhir 2020 hingga awal 2021 ini,
brand skincare lokal berkembang pesat. Bahkan, kualitas produk lokal itu diakuinya bagus
dan mengalahkan skincare impor. Banyak brand yang baru muncul tahunan atau bulanan
bahkan sudah menjadi produk favorit karena kualitasnya tidak kalah dengan produk luar, ini
menggembirakan sekali ” .

Brand skincare lokal sudah menjadi tren di Indonesia sekarang ini. Bahkan pengguna
skincare lokal telah mengalami peningkatan karena kualitas skincare lokal sendiri yang tidak
kalah dengan skincare dari luar. Beberapa contoh brand lokal kategori produk kecantikan
yaitu Somethinc dan Dear Me Beauty.

Somethinc didirikan sejak Maret 2019 oleh Irene Ursula yang menerapkan standar
kualitas internasional. Ketika brand Somethinc muncul, produk yang dijual adalah beberapa
jenis make up dikarenakan sang founder yang sejak kecil menyukai produk make up. Brand
Somethinc hadir untuk menghilangkan image bahwa produk lokal juga mampu berkualitas
dan berstandar internasional. Hingga pada akhirnya brand Somethinc telah menjual lebih dari
20 jenis produk make up dan skincare dan selain itu Somethinc juga telah menjual beberapa

perawatan untuk tubuh. Dan brand Somethinc sendiri telah dikenal di internasional sehingga
brand Somethinc sudah bisa melakukan pengiriman ke luar negeri.

Selain brand Somethinc, salah satu brand lokal produk kecantikan lainnya adalah
Dear Me Beauty. Brand ini sendiri sudah berdiri sejak November 2017. CEO dari brand ini
ialah Nikita Wiradiputri yang juga merupakan seorang Co-Founder dari Dear Me Beauty
yang memiliki visi untuk mengingatkan setiap wanita Indonesia untuk percaya diri dengan
kecantikannya masing-masing. Pertama kali, Dear Me hadir dengan konsep polkadot yang
menargetkan konsumen 16-25 tahun. Setelah berjalan selama 6 bulan, Dear Me memperluas
target pasar menjadi 25-35 tahun dengan melakukan re-branding dari kemasan yang menjadi
konsep warna nude ikonik yang terlihat simpel namun tetap eksklusif. Dan selain dari
kemasan, Dear Me juga mengembangkan formula mereka selama 6 bulan menjalani sambil
mempelajari pasar. Dan hingga sekarang, Dear Me telah menghasilkan banyak sekali produk
kecantikan untuk wajah seperti make up dan skincare dan juga untuk perawatan tubuh.

Brand Somethinc lebih diminati
Berdasarkan survei yang telah dilakukan, Somethinc memiliki peminat yang lebih

banyak. Somethinc diminati oleh mayoritasnya adalah perempuan. Dan Brand Somethinc
diminati oleh usia 15-25 tahun dengan minat lebih banyak pada usia 19 tahun. Salah satu
alasan konsumen memilih produk Somethinc adalah harganya yang terjangkau, karena harga
produk skincare Somethinc dijual dari harga Rp 39.000 - 255.000 dan untuk produk makeup
dijual dari harga Rp 50.000 - 245.500. Dengan harga tersebut merupakan harga yang sesuai
dengan kualitas yang dihasilkan dari brand ini. Selain itu Somethinc sendiri telah memiliki
banyak sekali jenis produk seperti serum wajah, sunscreen, serum untuk badan, facial wash,
dan juga beberapa make up seperti foundation, concealer, lip tint, lip balm, eyeshadow, pensil
alis, dan beberapa produk lainnya. Dan Somethinc sendiri dapat dikatakan cepat dalam
mengeluarkan produk baru yang dapat menarik perhatian konsumen sehingga produk
Somethinc menjadi lebih bervariasi. Selain itu beberapa konsumen juga lebih memilih
Somethinc karena belum pernah mencoba produk dari Dear Me Beauty dan merasa bahwa
produk Somethinc lebih cocok untuk digunakan oleh mereka.

Peminat dari Somethinc lebih tertarik dan lebih banyak membeli produk skincare
Somethinc karena produk skincare mereka merupakan produk yang membuat Brand
Somethinc menjadi dikenal. Dan skincare Somethinc merupakan salah satu brand lokal yang
kualitasnya baik dan lebih cocok di wajah karena dapat digunakan oleh berbagai jenis kulit.

Brand Somethinc sangat mudah untuk dicari karena Somethinc dapat dibeli pada
online dan juga offline store. Somethinc dapat dibeli pada official store mereka yang tersedia
pada e-commerce seperti tokopedia, shopee, dan yang lainnya. Dan juga dapat dibeli secara
offline pada beberapa toko yang terdapat pada beberapa mall karena Somethinc sendiri telah
memiliki banyak reseller.

Strategi pemasaran yang menarik perhatian
Konsumen mengenal kedua brand ini mayoritas melalui media sosial, teman-teman

mereka, melihat dan mendengar review dari influencer-influencer dan juga melihat pada ads.
Strategi pemasaran yang dilakukan oleh Somethinc merupakan strategi yang menarik
perhatian konsumen karena Somethinc menjadikan artis-artis Korea sebagai Brand
Ambassador dan juga melakukan kolaborasi yang membuat penggemar dari artis-artis
tersebut tertarik dengan produk Somethinc dan membelinya. Selain itu, Somethinc juga
melakukan iklan pada media sosial seperti Instagram, Tik Tok, dan yang lainnya. Somethinc
sendiri juga melakukan strategi word of mouth yang dilakukan oleh influencer yang
mempromosikan produk Somethinc. Mereka memilih influencer yang sesuai dengan target
konsumen mereka dan influencer tersebut juga mempromosikan dengan tetap mengedukasi
dengan menyebutkan kandungan dari produk tersebut dan juga kegunaannya bagi kulit. Dan
tentu juga memperlihatkan perubahan wajah ketika menggunakan produk Somethinc
sehingga konsumen tidak merasa tertipu ketika produk tersebut di promosikan. Dan
konsumen biasanya banyak yang terpengaruhi dengan perkataan influencer sehingga
memutuskan untuk mencoba produk Somethinc.

Namun, Strategi pemasaran dari Dear Me Beauty sendiri tidak kalah menarik dengan
apa yang dilakukan oleh Brand Somethinc. Dear Me melakukan kolaborasi dengan 3 brand
yang cukup terkenal di Indonesia. Yang pertama adalah kolaborasi dengan Nissin Wafer
dengan menghasilkan produk lip coat yang cukup menarik dengan beberapa variasi warna.
Yang kedua adalah kolaborasi dengan Yupi yang juga menghasilkan produk lip coat dan juga
menghasilkan produk eyeshadow palette yang menarik dengan bentuk salah satu produk
permen Yupi dengan warna-warna eyeshadow yang cukup colourful seperti warna produk
Yupi itu sendiri. Dan yang selanjutnya adalah produk kolaborasi dengan penyedap makanan
Sasa. Hasil dari kolaborasi ini adalah tentunya produk lip coat dengan variasi warna yang
berbeda, setting powder, dan juga eyeshadow palette dengan warna yang cenderung netral.
Selain itu, Dear Me juga berkolaborasi dengan brand KFC untuk mengeluarkan produk
skincare dan juga make up seperti cushion dan juga sunscreen. Kedua brand ini memiliki

keunikannya masing-masing dalam melakukan strategi pemasaran untuk menarik perhatian
konsumen.

Kesimpulan
Brand lokal dari Indonesia sudah menjadi tren untuk sekarang ini, terlebih pada

brand-brand produk kecantikan yang semakin lama telah semakin berkembang untuk
menghasilkan produk yang terjangkau dan berkualitas. Sangat diharapkan brand-brand dari
Indonesia ini dapat bersaing dengan brand internasional.

Salah satu brand lokal yaitu Somethinc telah menjadi salah satu yang terfavorit bagi
kaum perempuan muda di Indonesia. Karena Somethinc mengeluarkan produk skincare dan
make up yang cukup terjangkau dan juga produk yang sangat bervariasi. Bahkan untuk
kualitas yang dihasilkan dari produk Somethinc sendiri sudah dapat bersaing dengan
produk-produk internasional. Selain brand Somethinc, Dear Me Beauty juga merupakan salah
satu brand lokal Indonesia yang mengeluarkan produk yang cukup menarik, harga yang
terjangkau dan juga tentunya produk yang berkualitas. Somethinc dan Dear Me memiliki
perbedaan bahwa Somethinc lebih tertuju pada produk skincare yaitu serum, sedangkan Dear
Me memfokuskan produknya pada make up yaitu lip product.

Kedua brand ini memiliki strategi pemasaran mereka masing-masing yang mereka
gunakan untuk menarik konsumen mereka. Somethinc melakukan strategi pemasaran dengan
cara kolaborasi dengan artis-artis Korea, sedangkan Dear Me melakukan kolaborasi dengan
brand makanan di Indonesia. Meskipun strategi yang dilakukan berbeda, namun hal itu
menjadi keunikan dari brand mereka masing-masing.
Daftar Pustaka



Internet
https://ekonomimanajemen.com/120-daftar-istilah-dalam-marketing-konvensional-dan-digital
/ diakses tanggal 15 Juni 2022
https://mediaindonesia.com/ekonomi/388842/produk-kecantikan-lokal-makin-bersaing
diakses tanggal 15 Juni 2022
https://indiemarket.news/somethinc-brand-kosmetik-lokal-dengan-kualitas-internasional/
diakses tanggal 15 Juni 2022
https://journal.sociolla.com/beauty/perjalanan-dear-me-beauty diakses tanggal 15 Juni 2022

Perbandingan Minat Mahasiswa Prasetiya Mulya Terhadap Layanan Streaming
Netflix dan Disney+Hotstar.

Brigitta Faustine Kumentas

Abstrak
Indonesia memiliki jumlah penduduk yang sangat besar sehingga dapat menjadi pasar
bagi berbagai produk, termasuk produk teknologi layanan streaming film. Beberapa
platform streaming film menjadi tren di kala masa pandemi ini. Tulisan ini bertujuan
memaparkan bagaimana platform streaming film dapat memasarkan produknya di
kalangan Mahasiswa Prasetiya Mulya.

Kata Kunci: platform, streaming, teknologi

Menurut Bambang Warsita (2008:135) teknologi informasi adalah “sarana dan
prasarana (hardware, software, useware) sistem dan metode untuk memperoleh,
mengirimkan, mengolah, menafsirkan, menyimpan, mengorganisasikan, dan
menggunakan data secara bermakna.” Perkembangan Teknologi semakin hari
semakin canggih. Di masa sekarang ini teknologi digital tentunya sangat dibutuhkan
oleh semua orang. Mulai dari anak sekolah dasar sampai orang tua, setiap harinya
menikmati kecanggihan teknologi. Teknologi sekarang ini membuat segala
sesuatunya menjadi lebih mudah.

Teknologi digital yang saat ini sudah mengalami perkembangan yang begitu
luas dengan berbagai manfaat harus dapat digunakan dengan sangat bijak. Hal ini
dapat memberikan berbagai efek, baik positif maupun negatif bagi penggunanya.
Dalam perkembangan teknologi digital sekarang ini, kita dapat mencipatakan sebuah
situs atau website yang diinginkan. Hal ini tentunya dibuat bukan tanpa tujuan,
melainkan dengan tujuan untuk mendapatkan segala informasi yang kita perlukan.

Selama masa pandemi COVID-19, teknologi digital berperan aktif membantu
aktivitas masyarakat. Tidak disangka anak sekolahan, mahasiswa, hingga pekerja
beralih menggunakan platform seperti zoom untuk kepentingan masing-masing.
Selain itu hampir semua restoran beralih menggunakan barcode sebagai buku menu.
Hal ini dilakukan tentunya untuk mencegah penyebaran virus.

Dunia hiburan juga mengalami dampak dari adanya virus tersebut. Orang-
orang yang biasanya ingin menonton film untuk refreshing tidak bisa lagi pergi ke
bioskop. Teknologi hiburan akhirnya dimanfaatkan masyarakat untuk mengisi waktu
luang dirumah. Berbagai platform streaming film internasional yang sering digunakan
masyarakat seperti, Netflix, WeTV, Disney+ Hotstar, Apple TV, dan lainnya.

Netflix dan Disney+ Hotstar menjadi platform streaming film yang banyak
diminati masyarakat. Padahal sebelumnya kedua platform ini sempat bekerja sama,
namun sekarang keduanya memiliki tujuan yang berbeda dan sudah tidak lagi bekerja
sama. Disney+ Hotstar adalah layanan streaming film asal India yang hadir di Asia
Tenggara, namun tetap milik dari perusahaan Walt Disney. Berbeda dengan Netflix
yang dapat diakses di berbagai negara. Sampai saat ini, Disney+ Hotstar memiliki
pelanggan sebanyak 50 juta lebih pelanggan yang terus meningkat. Sedangkan Netflix
memiliki pelanggan sebanyak 221 juta berdasarkan data kuartal 1 tahun 2022 yang
telah mengalami penurunan sebanyak 200 ribu pelanggan.

Kedua platform ini memilliki genre yang beragam, Netflix lebih banyak
memberikan konten klasik dan terdapat banyak konten untuk remaja dan orang
dewasa. Di sisi lain, Disney+ Hotstar lebih banyak memberikan konten untuk anak-
anak dan keluarga. Beberapa film yang diproduksi Marvel telah dihapus dari Netflix
setelah Disney+ Hotstar muali populer dikalangan masyarakat. Sementara itu, Netflix
fokus memproduksi filmnya sendiri dan memiliki seri seperti “Stranger Things”.

Dari segi harga, harga yang ditawarkan Netflix lebih tinggi dibandingkan
dengan Disney+ Hotstar. Netflix memiliki empat paket yang berbeda yang dapat
pelanggan pilih sesuai budget. Empat paket tersebut terdiri dari Paket Mobile, Paket
Dasar, Paket Premium, dan Paket Standar. Paket Mobile memiliki harga sekitar 54
ribu Rupiah, Paket Dasar sebesar 120 ribu rupiah, Paket Premium sebesar 186 ribu
rupiah dengan memungkinkan pelanggan melihat film atau acara TV dalam kualitas
HD hingga 4 layar, dan yang terakhir Paket Standar sebesar 153 ribu rupiah yang
memungkinkan pelanggan merasakan kualitas HD hingga 2 layar. Sedangkan untuk
harga berlangganan Disney+ Hotstar perbulannya adalah 39 ribu rupiah dan untuk
tahunan sebesar 199 ribu rupiah.

Dalam melakukan promosi, keduanya memiliki strategi marketing yang
hampir sama. Seperti yang kita ketahui di masa sekarang ini melakukan promosi di
sosial media sangatlah membantu. Sama halnya yang dilakukan oleh kedua platform
streaming ini, Netflix menggunakan pemasaran di media sosial seperti iklan Youtube,

Tiktok, Instagram, twitter dan lainnya. Terkadang mereka juga menggunakan humor
dalam setiap promosinya lewat beberapa cuplikan di film sehingga dijadikan sebuah
meme yang membuat penggemarnya merasa terhibur. Strategi pemasaran Disney+
Hotstar selain melakukan pemasaran di media sosial, Disney+ Hotstar juga bekerja
sama dengan Telkomsel yang memberikan penawaran yang menarik. Dengan
berlangganan paket Disney+ Hotstar di aplikasi MyTelkomsel, harga yang diberikan
lebih murah dibandingkan harga pasaran yaitu 20 ribu Rupiah untuk paket 1 bulan, 49
ribu rupiah untuk 3 bulan, 79 ribu rupiah untuk 6 bulan dan 139 ribu rupiah untuk satu
tahun. Selain dapat berlangganan Disney+ Hotstar lebih murah, pelanggan juga
mendapatkan bonus kuota internet sebesar 3 GB untuk semua paket Disney+ Hotstar
yang dipilih.

Melihat hal-hal menarik tersebut, tulisan ini bertujuan untuk meneliti,
perbandingan minat Mahasiswa Prasetiya Mulya terhadap layanan streaming Netflix
dan Disney+ Hotstar. Penelitian ini juga meneliti layanan streaming yang berkembang
menjadi budaya populer di kalangan masyarakat khususnya mahasiswa Prasetiya
Mulya.

Informasi mengenai Netflix dan Disney+ Hotstar untuk keperluan penelitian
kecil ini diperoleh melalui berbagai sumber artikel internet. Untuk mencari tahu lebih
perbandingan minat mahasiswa Prasetiya Mulya terhadap layanan streaming antara
Netflix dan Disney+ Hotstar, dilakukan penelitian kuantitatif dengan menyebarkan
kuesioner yang bersifat terbuka dan tertutup kepada 101 mahasiswa.

Layanan Streaming sebagai Budaya Populer
Perkembangan teknologi tentu menghasilkan penemuan baru, termasuk cara

kerja menonton film. Sebelum adanya teknologi digital, masyarakat menikmati film
dengan datang ke bioskop atau menonton di TV saja. Berbeda dengan sekarang,
masyarakat dapat mengakses layanan streaming dengan hanya menggunakan gadget.
Hal ini tentunya mempermudah masyarakat dalam mencari hiburan. Apalagi ketika
dunia dilanda pandemi yang mengakibatkan masyarakat harus berada dirumah.
Akibatnya layanan streaming banyak diminati dan semakin lama mendorong
munculnya berbagai platform streaming. Kebiasaan streaming film ini pada akhirnya
menjadi budaya baru di masyarakat.

Layanan streaming dapat dikatakan menjadi suatu budaya populer. Budaya
populer merupakan suatu budaya yang lahir dengan adanya keterkaitan media. Media
berperan dalam memproduksi sebuah budaya yang akhirnya membuat publik
menyerapnya dan menjadikan sebagai bentuk kebudayaan. Sedangkan populer dalam
konteks ini, ada keterkaitan dengan perilaku konsumsi dan peran media massa yang
mempengaruhi publik sebagai konsumen (Strinati. 2007: 40).

Budaya populer dapat terjadi karena perilaku konsumsi masyarakat dan media.
Peran media sangat membantu dalam penyebaran teknologi informasi dan hiburan
pada budaya populer. Akibatnya, apa yang ditampilkan oleh media diterima oleh
masyarakat menjadi suatu nilai budaya dan bahkan bisa menjadi panutan masyarakat.
Pernyataan ini diperkuat oleh pendapat Ben Agger. Menurut Ben Agger “sebuah
budaya yang akan masuk dunia hiburan maka budaya itu umumnya menempatkan
unsur popular sebagai unsur utamanya. Budaya itu akan memperoleh kekuatannya
manakala media massa digunakan sebagai penyebaran pengaruh di masyarakat”
(Bungin, 2009:100).

Suatu budaya populer biasanya tidak bertahan selamanya. Semakin
berkembangnya zaman, akan ada hal baru yang menjadi tren di masyarakat. Oleh
karena itu, budaya populer memilik rentan periode sendiri di setiap tahunya.
Contohnya, pada 1970-an budaya populer di Indonesia saat itu adalah bioskop drive-
in. Berbeda dengan budaya populer pada 2020, masyarakat menonton film lewat
platform streaming yang dapat diberhentikan dan diulang sesuai keinginan kita.

Platform streaming seperti Netflix dan Disney+Hotstar merupakan bagian dari
budaya populer sekarang di masyarakat. Sampai hari ini, kedua layanan streaming
tersebut masih menarik minat dan menjadi konsumsi hiburan mulai dari anak-anak,
remaja, hingga orang dewasa. Kedua platform streaming film berbayar tersebut
memiliki berbagai serial dan film yang sangat menghibur dan menarik. Hal ini
membuat penonton ketagihan dan ingin menonton film lainnya.

Ketertarikan dan antusiasme pengguna layanan streaming tentunya menarik
minat masyarakat lain yang tidak berlangganan. Banyak dari mereka yang
membicarakan film atau serial yang sedang tren pada platform streaming langganan
mereka. Akibatnya, orang yang belum berlangganan merasa FOMO (Fear Of Missing
Out). Perasaan ini merupakan perasaan cemas dan khawatir tertinggal tren yang
sedang ramai terjadi. Perasaan khawatir tersebut membuat orang yang belum

berlangganan akhirnya mau berlangganan juga untuk mengikuti tren yang sedang
terjadi.

Disayangkan banyak orang yang berlangganan Netflix atau Disney+Hotstar
dengan layanan premium demi mengikuti tren. Layanan premium dapat disebut
layanan yang ilegal karena harga yang ditawarkan jauh lebih murah dan memiliki
sistem yang berbeda dengan platform aslinya. Seorang pelanggan bernama Faruq
Amar, pernah membeli akun Netflix dengan lama berlangganan satu tahun lewat salah
satu e-commerce."Setelah satu bulan berlalu, si penjual mengirimkan lagi e-mail dan
password yang berbeda dengan bulan sebelumnya, itu dilakukan hingga satu tahun"
ucapnya kepada KompasTekno melalui pesan singkat (Kompas.com, 26 Juni 2020).
Akibat sering berganti akun, riwayat tontonan yang belum ia selesaikan hilang. Ada
kemungkinan, berbagai akun yang dijual layanan premium tersebut merupakan akun
lama yang sudah tidak aktif lalu dihidupkan kembali atau hasil retasan hacker.

Sebagai teknologi hiburan, layanan streaming memperkuat tampilnya budaya
populer. Berbagai cara dilakukan masyarakat untuk mengikuti tren yang sedang
terjadi, salah satunya dengan berlangganan layanan premium karena harga yang lebih
murah. Kemungkinan hal ini juga akan terjadi pada tren yang akan datang. Sudah
menjadi sesuatu hal biasa dari dulu hingga sekarang. Kebiasaan itu telah menjadi
semacam “budaya” di masyarakat.

Analisis Data Penelitian
Untuk mengetahui minat Mahasiswa Prasetiya Mulya terhadap platform antara

Netflix dan Disney+ Hotstar, dilakukan penelitian dengan menyebarkan kuesioner
kepada 101 responden. Berikut hasil penelitian yang telah dilakukan.

Responden berdasarkan jurusan

Sumber : hasil penelitian, 2022 (data diolah)

Tabel diatas menunjukkan data jurusan beberapa responden yang sudah
menjadi sasaran peneliti untuk menyebarkan kuesioner. Terdapat 9 jurusan berbeda
yang mengisi kuesioner ini yaitu Bisnis Manajemen sebanyak 19.85 atau 20
responden, Branding sebanyak 6.9% atau 7 responden, Finance & Banking sebanyak
5% atau 5 responden, Accounting sebanyak 1% atau 1 responden, International
Business Law sebanyak 3% atau 3 responden, Hospitality Business sebanyak 16.8%
atau 17 responden, Event sebanyak 34% atau 35 responden, Business Economic
sebanyak 9.9% atau 10 responden, dan Food Business and Technology sebanyak 3%
atau 3 responden. Total keseluruhan responden berjumlah 101 responden.

Responden berdasarkan jenis kelamin

Sumber : hasil penelitian, 2022 (data diolah)
Dari 101 responden, tabel di atas menunjukkan frekuensi responden laki-laki
memiliki presentase sebesar 22.8% atau setara dengan 23 responden dan responden
perempuan sebesar 77.2% atau setara dengan 78 responden. Hal ini menunjukkan
bahwa responden dengan jenis kelamin perempuan lebih banyak mengisi kuesioner
dibandingkan responden dengan jenis kelamin laki-laki.

Senang menonton film atau serial

Sumber : hasil penelitian, 2022 (data diolah)
Berdasarkan tabel di atas mengenai kesenangan responden dalam menonton
film atau serial, terdapat 78.2% atau 79 responden senang untuk menonton.
Sedangkan 15.8% atau 16 responden jarang dan 5.9% atau 6 responden tidak suka
untuk menonton film maupun serial. Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa 79
dari 101 responden senang untuk menonton film atau serial.

Film atau serial merupakan hiburan

Sumber : hasil penelitian, 2022 (data diolah)
Dapat dilihat tabel di atas menjelaskan tentang pendapat responden mengenai
film atau serial merupakan sebuah hiburan. Sebesar 81.2% atau 82 responden
berpendapat bahwa film atau serial merupakan hiburan, 13.9% atau 14 responden
tidak yakin bahwa film atau serial merupakan hiburan, dan sebesar 5% atau 5
responden tidak menganggap menonton film atau serial merupakan hiburan bagi
mereka. Berdasarkan data pada tabel di atas, dapat disimpulkan sebagian besar
responden beranggapan menonton film atau serial adalah sebuah hiburan.

Platform streaming yang sering digunakan

Sumber : hasil penelitian, 2022 (data diolah)
Tabel di atas menjelaskan tentang platform streaming film yang sering
digunakan responden untuk menonton film atau serial. Dari 101 responden yang
mengisi kuesioner ini, terdapat berbagai platform streaming yang digunakan.
Sebanyak 70.3% atau 71 responden lebih sering menonton film di Netflix, 18.8% atau
19 responden sering menonton film di Disney+ Hotstar, 2% atau 2 responden sering

menonton film di platform Vidio, 2% atau 2 responden lebih sering menonton film di
Telegram, sedangkan platform Iflix, WeTV, IQIYI, Blibli, Viu memiliki masing-
masing 1% atau 1 responden, 2 responden tidak sering menonton film. Dari data di
atas dapat disimpulkan bahwa antara Netflix dan Disney+ Hotstar, Mahasiswa
Prasetiya Mulya lebih sering menggunakan platform Netflix untuk menonton film
atau serial daripada Disney+ Hotstar.

Sumber informasi platform streaming

Sumber : hasil penelitian, 2022 (data diolah)

Berdasarkan tabel di atas mengenai darimana atau dari siapa responden
mengetahui platform streaming Netflix atau Disney+ Hotstar, dapat dilihat 55.4%
atau 56 responden tahu dari sosial media seperti Instagram, Tiktok, Twitter dan
lainnya. Sebanyak 33.7% atau 34 responden tahu dari teman-teman, 5% atau 5
responden tahu dari Youtube, 2% atau 2 responden tahu dengan sendirinya,
sedangkan yang tahu dari orangtua, adik, dan telkomsel masing-masing memiliki 1%
atau 1 responden, dan 1 responden dengan keterangan tidak ada. Dilihat dari data
yang tertera di atas, dapat disimpulkan bahwa lebih banyak responden yang
mengetahui platform Netflix dan Disney+ Hotstar lewat sosial media. Hal tersebut
menunjukkan bahwa sosial media adalah platform yang memberikan pengaruh besar
terhadap platform sreaming seperti Netflix dan Disney+ Hotstar.

Sumber : hasil penelitian, 2022

Gambar di atas menjelaskan jawaban yang diberikan oleh responden mengenai
alasan mereka menggunakan platform streaming Netflix atau Disney+Hotstar.
Responden yang memilih Netflix memiliki berbagai alasan seperti, banyak film atau
serial di Netflix yang mereka minati atau sedang trending, banyak pilihan film
dibandingkan platform lain, kualitas streaming yang diberikan Netflix bagus, fitur
yang di Netflix mudah untuk digunakan, Netflix mudah untuk diakses, beberapa
responden menuliskan bahwa serial yang diminati hanya ada di Netflix, Netflix
memiliki banyak film atau serial zaman dahulu, menurut beberapa responden harga
yang diberikan Netflix lumayan terjangkau, platform Netflix tersedia berbagai genre
dan dilengkapi dengan berbagai subtitle dari berbagai negara, dan ada juga yang
menuliskan karena Netflix merupakan platform yang paling keren.

Responden yang memilih Disney+ Hotstar juga memiliki berbagai alasan
seperti, menyukai film disney, mendapatkan bonus kuota dari telkomsel, Disney+
Hotstar sudah termasuk paket kuota telkomsel, kualitas streaming yang mendukung,
harga lebih terjangkau, mudah di dapatkan, mudah melakukan transaksi, dan banyak
pilihan film atau serial.

Dari kedua platform streaming ini responden memiliki pilihan dan alasannya
masing-masing. Namun alasan yang paling banyak dikatakan responden yang
menggunakan Netflix adalah banyaknya film yang diminati dan juga pilihan film atau
serial banyak yang trending dan hanya terdapat di Netflix saja. Sedangkan alasan

yang paling banyak dikatakan responden yang menggunakan Disney+ Hotstar adalah
platform streaming ini sudah termasuk paket kuota telkomsel.

Sumber : hasil penelitian, 2022

Dari hasil survey pada gambar di atas, dijelaskan mengenai pendapat responden
terhadap menonton film di platform seperti Netflix atau Disney+ Hotstar sedang tren
atau tidak. Ada beberapa responden yang mengatakan sedang tren ada juga yang
mengatakan sudah tidak tren lagi. Alasan beberapa responden yang mengatakan
sedang tren dikarenakan sejak pandemi membuat banyak orang terbatas dalam
melakukan aktivitas, sehingga mereka mencari hiburan di rumah dengan menonton
film atau serial bersama keluarga. Selain itu ada juga beberapa responden yang
berpendapat bahwa semakin berkembangnya teknologi membuat banyak orang
menghabiskan waktunya dengan gawai atau laptop mereka, sehingga mereka ingin
menonton film dengan praktis juga bisa menonton kapan saja dan dimana saja lewat
gawai atau laptop mereka. Menurut beberapa responden hal ini bisa menjadi tren
karena banyak orang yang menunjukkan di sosial media ketika sedang menonton di
Netflix atau Disney+ Hotstar atau melihat film di platform tersebut sedang trending,
sehingga orang lain tertarik dan ikut berlangganan. Ada juga yang mengatakan
berlangganan Netflix atau Disney+ Hotstar memberikan citra kelas tertentu bagi
beberapa orang, sehingga akhirnya banyak yang berlangganan.

Sedangkan alasan beberapa responden yang mengatakan Netflix dan Disney+
Hotstar sudah tidak tren lagi karena menurut mereka sekarang ini sudah tidak
pandemi, banyak orang yang melakukan aktivitas di luar rumah sehingga sudah jarang
yang menonton film di platform streaming. Ada beberapa responden yang
mengatakan kedua platform tersebut tidak sedang tren karena sudah ada sejak
sebelum pandemi. Beberapa responden juga berpendapat menonton di platform
streaming tidak sedang tren karena hal tersebut sekarang sudah menjadi bagian atau
kebiasaan, dan kebutuhan dari hidup kita.

Dari 101 responden yang memberikan pendapatnya, lebih banyak yang
mengatakan bahwa menonton film atau serial di Netflix atau Disney+ Hotstar sedang
tren dikarenakan karena pandemi banyak orang yang akhirnya mencari hiburan
dirumah dengan menonton film lewat platform streaming dan juga adanya media
sosial membuat banyak orang mengetahui kedua platform tersebut dan akhirnya
banyak yang ikut berlangganan karena melihat ada film yang sedang trending.

Analisis Hubungan Teori dan Data Penelitian
Budaya populer tidak bisa terlepas dari kehidupan manusia. Seperti yang kita

ketahui manusia akan terus berevolusi menciptakan hal-hal baru. Hal tersebut dapat
menjadi sesuatu tren atau populer di tengah masyarakat. Sama halnya dengan
teknologi yang semakin berkembang hingga mencipatakan suatu layanan streaming
yang sekarang ini tidak asing lagi di telinga masyarakat.

Pada teori Budaya Populer (Strinati. 2007: 40), yang menjelaskan bahwa
media memiliki peran dalam memproduksi sebuah budaya yang akhirnya membuat
publik menyerapnya dan menjadikannya sebagai bentuk kebudayaan, dapat kita
hubungkan teori tersebut dengan penelitian yang dilakukan terhadap mahasiswa
Prasetiya Mulya. Dari data penelitian terhadap 101 mahasiswa Prasetiya Mulya,
55,4% atau 56 mahasiswa mengetahui berbagai platform streaming dari sosial media
seperti Instagram, Tiktok, Twitter dan lainnya. Hal ini akhirnya membuat banyak
orang tertarik untuk ikut berlangganan dan akhirnya menjadi suatu kebutuhan untuk
hiburan diri. Budaya populer tersebut dapat terjadi karena adanya pengaruh media dan
sikap konsumsi masyarakat.

Selain itu juga didukung oleh teori Budaya Populer menurut Ben Agger yang
mengatakan “sebuah budaya yang akan masuk dunia hiburan maka budaya itu

umumnya menempatkan unsur popular sebagai unsur utamanya. Budaya itu akan
memperoleh kekuatannya manakala media massa digunakan sebagai penyebaran
pengaruh di masyarakat” (Bungin, 2009:100). Berdasarkan hasil survey, beberapa
mahasiswa berpendapat bahwa platform layanan streaming seperti Netflix dan
Disney+ Hotstar bisa menjadi sesuatu hal yang populer di masyarakat karena terdapat
banyak orang yang menggunakan sosial media untuk menunjukkan film yang sedang
mereka putar di Netflix atau Disney+ Hotstar. Selain itu faktor lainnya adalah mereka
melihat film yang sedang trending di platform lewat media sosial mereka. Hal
tersebut akhirnya membuat orang lain tertarik dan mau untuk berlangganan. Semakin
banyak promosi di media sosial semakin banyak juga orang yang akhirnya
menggunakan platform streaming seperti Netflix dan Disney+Hotstar dan berujung
menjadi suatu budaya populer.

Kesimpulan
Perkembangan teknologi menghasilkan banyak penemuan baru termasuk

dalam dunia hiburan. Layanan streaming menjadi pilihan alternatif untuk masyarakat
modern menonton berbagai film atau serial. Dengan adanya layanan streaming,
masyarakat dimudahkan ketika ingin menonton film dimana pun dan kapan pun.
Berbagai platform streaming seperti Netflix dan Disney+Hotstar berlomba untuk
memberikan layanan streaming terbaik kepada masyarakat.

Mahasiswa Prasetiya Mulya menjadi bagian dari konsumen berbagai platform
streaming. Netflix dan Disney+Hotstar merupakan 2 platform streaming yang paling
banyak diminati. Namun setelah dilakukan survey terhadap 101 mahasiswa, hasil
menunjukkan bahwa Netflix lebih diminati dari Disney+Hotstar dengan angka 70.3%
dan 18.8%. Harga, kualitas streaming, dan banyakanya film yang tersedia menjadi
beberapa alasan yang dipertimbangkan untuk berlangganan.

Tidak dipungkiri streaming film menimbulkan suatu budaya. Kondisi ini dapat
terjadi karena adanya peran media massa maupun media sosial. Besarnya pengaruh
media dapat menciptakan suatu tren atau popularitas di tengah masyarakat. Hal ini
tentunya dapat terus berulang dan menjadi suatu budaya populer.

Daftar Pustaka
Warsita, Bambang. 2008. Teknologi Pembelajaran: Landasan &Aplikasinya, Jakarta:
Rineka
Bungin, Burhan. 2009. Pornomedia; Sosiologi Media, konstruksi Sosial Teknologi
telematika & Perayaan Seks di Media Massa. Jakarta: Pranada Media.
Strinati, Dominic. 2007. Popular Culture: Pengantar Menuju Teori Budaya Populer.
Yogyakarta: Bentang.

Internet
Nofianti, M. (2021, January 26). Disney+ Hotstar atau Netflix, Mana Nih Layanan
Streaming Paling Oke? Cekaja.Com. Diakses pada 30 Mei 2022, melalui
https://www.cekaja.com/info/disney-hotstar-atau-netflix#
Yusuf, M. Y. (2022, March 15). Mengupas Strategi Marketing Netflix di Media Sosial.
IDX Channel. Diakses pada 30 Mei 2022, melalui
https://www.idxchannel.com/milenomic/mengupas-strategi-marketing-netflix-di-
media-sosial
Nursaniyah, F. (2021, September 10). Cara Berlangganan Disney+Hotstar.
Kompas.Com. Diakses pada 30 Mei 2022, melalui
https://entertainment.kompas.com/read/2021/09/10/102420766/cara-berlangganan-
disney-hotstar?page=all
Ningsih, W. L. (2021, July 14). Sejarah Bioskop di Indonesia. Kompas.Com. Diakses
pada 10 Juni 2022, melalui
https://www.kompas.com/stori/read/2021/07/14/104424179/sejarah-bioskop-di-
indonesia?page=all
Pertiwi, W. K. (2020, June 26). Marak Jual Beli Akun Netflix, Spotify, dan YouTube
Premium di Indonesia, Legalkah? Kompas.Com. Diakses pada 11 Juni 2022, melalui
https://tekno.kompas.com/read/2020/06/26/13440677/marak-jual-beli-akun-netflix-
spotify-dan-youtube-premium-di-indonesia-legalkah?page=all



Pengaruh Product Placement Goobne dalam
Drama Korea Business Proposal terhadap Brand Awareness

Canty Angelina Liu - 13412110013

Abstract
Related to the Hallyu phenomenon that continues to grow in Indonesia, companies started to
use an advertising strategy, namely by product placement. This article aims to examine the
effectiveness of Goobne’s product placement on brand awareness of the Korean Drama
Business Proposal. The method used in this research is field observations with a qualitative
approach. In the end, it is shown that the product placement used by Goobne in the Korean
Drama Business Proposal has made a huge positive impact.

Keywords: Product Placement, Brand Awareness, Korean Drama, Business Proposal,
Goobne

Dengan zaman yang terus berkembang, setiap bidang kehidupan telah terpengaruhi
oleh perubahan-perubahan yang timbul. Salah satunya, hal tersebut dapat dilihat dari bidang
usaha. Kini, jumlah persaingan bisnis di Indonesia melonjak tinggi dan semakin tajam.
Faktanya, menurut laporan Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU), indeks persaingan
usaha Indonesia pada tahun 2021 sudah mencapai skor 4,81. Angka tersebut diperoleh
melalui pengukuran Indeks Persaingan Usaha (IPU) dengan skala 1-7 skor. Dalam kata lain,
persaingan usaha Indonesia telah meningkat hingga mencapai tingkat tertinggi dalam empat
tahun terakhir. Oleh karena itu, pengusaha kudu menciptakan inovasi dalam
mengkomunikasikan keunikan produknya melalui pemasaran. Salah satu bentuk pemasaran
yang kerap kali dilakukan adalah dengan menggunakan iklan.

Pada dasarnya, iklan digunakan dengan tujuan untuk meningkatkan brand awareness
atau kesadaran suatu merek. Iklan merupakan salah satu alat yang digunakan untuk
mempromosikan suatu barang atau jasa. Hal ini mengacu pada penyampaian informasi terkait
produk, jasa, ataupun merek kepada khalayak. Dengan begitu, informasi tersebut dapat
mempengaruhi konsumen maupun calon konsumen untuk membeli barang atau jasa yang
diiklankan. Oleh karena itu, iklan harus memiliki media atau sarana untuk menyampaikan
pesan dari produsen kepada konsumen. Sarana tersebut dapat berupa berbagai macam bentuk,
yakni radio, televisi, media cetak, dll.

Dengan teknologi yang kian hari kian berkembang, media iklan pun beralih menjadi
digital. Iklan digital ini digunakan karena dianggap lebih efektif, efisien, dan memiliki
cakupan yang luas untuk mempromosikan suatu produk atau merek. Namun, lambat laun
masyarakat mulai merasa terganggu dengan banyaknya iklan yang memotong konten-konten
yang sedang dinikmati. Alhasil, masyarakat pun mulai mencari cara maupun alternatif lain
untuk menghindari iklan. Menurut laporan We Are Social tahun 2020, Indonesia merupakan
negara yang paling banyak menggunakan fitur pemblokir iklan di dunia. Dikatakan bahwa
setiap bulannya, sebanyak 65% pengguna internet di Indonesia menggunakan alat pemblokir
iklan.

Lebih lagi, banyaknya orang kini lebih memilih platform yang menawarkan
konsumen untuk dapat menikmati konten tanpa iklan. Bahkan, tidak sedikit orang yang rela
mengeluarkan uang demi menggunakan platform tersebut. Adapun platform streaming
berbayar seperti Netflix, Disney+ Hotstar, Viu, dll yang digunakan di Indonesia. Hal tersebut
merupakan salah satu alasan mengapa layanan streaming mulai merajalela di Indonesia
sehingga mulai menggeser media konvensional.

Hal ini pun juga berhubungan dengan laporan App Annie tahun 2022 terkait
peningkatan video streaming di beberapa negara. Sarana video streaming memberikan
konsumen untuk menikmati film maupun acara melalui internet. Laporan tersebut
menyatakan bahwa adanya peningkatan sebanyak 140% terhadap minat masyarakat
Indonesia untuk menonton melalui streaming. Dengan begitu, Indonesia juga menjadi negara
tertinggi yang memiliki peningkatan total waktu menonton video streaming.

Seiring terjadinya globalisasi, konten streaming yang kini paling diminati masyarakat
Indonesia pun berasal dari Korea Selatan. Hal ini didukung dari hasil studi yang dilakukan
The Trade Desk yang berjudul Future of TV. Studi ini dilakukan dengan melakukan survei
terhadap penonton video streaming di berbagai negara, termasuk Indonesia. Studi tersebut
mengatakan bahwa sebanyak 57% dari responden Indonesia menjadikan Korea sebagai
preferensi konten utama mereka.

Dengan demikian, hal tersebut membuktikan bahwa fenomena Hallyu atau Korean
Wave masih menjamur di kalangan masyarakat Indonesia. Seperti yang telah dinyatakan,
penyebaran Hallyu ke seluruh dunia diawali dengan menggunakan media drama. (Schulze,
2013). Hallyu dipercayai masuk pertama kali di Indonesia pada 2000-an. Hal ini dimulai
dengan adanya drama asal Korea Selatan berjudul Endless Love yang ditayangkan di berbagai
stasiun TV lokal Indonesia. Ditambah lagi, Korea Selatan pada saat itu juga menjadi tuan
rumah Piala Dunia 2002. Dengan begitu, masyarakat Indonesia mulai mengenal dan

menerima Hallyu dengan antusias (Nugroho, 2014). Di sisi lain, kini drama asal Korea
Selatan berjudul Business Proposal telah menjadi topik hangat di tengah masyarakat
Indonesia.

Dengan adanya fenomena menarik seperti Hallyu di Indonesia, artikel ini ditulis untuk
meneliti pengaruh iklan restoran Goobne di K-Drama Business Proposal. Di dalam tulisan
ini, akan diamati dampak penempatan restoran Goobne di K-Drama terhadap kesadaran
merek Goobne di Jakarta Selatan. Pengamatan tersebut dilakukan dengan tujuan untuk
melihat apakah dan bagaimana iklan Goobne memperkenalkan serta mengingatkan kembali
mereknya kepada khalayak.

Penelitian ini dilaksanakan melalui observasi lapangan dengan metode kualitatif.
Observasi tersebut dilakukan dengan pendekatan complete participant. Complete participant
dimaksudkan dengan peneliti ikut berperan sebagai partisipan selama pengamatan
berlangsung. Hal ini merujuk pada peneliti yang juga ikut menjadi penonton Business
Proposal dan menjadi pelanggan Goobne.

Selain itu, wawancara juga dilakukan untuk menggali dalam informasi lebih lanjut.
Dalam penelitian ini, terdapat 4 kategori subjek penelitian yakni kategori A, B, C, dan D.
Kategori A merupakan pihak dari restoran Goobne di Mall Ashta, Jakarta Selatan. Kategori B
merupakan pelanggan restoran Goobne di Mall Ashta, Jakarta Selatan. Kategori C merupakan
orang-orang yang menonton drama Business Proposal. Kategori D merupakan orang-orang
yang berdomisili di Jakarta. Ditambah lagi, data sekunder yang mendukung penelitian ini
diperoleh melalui berbagai sumber terpercaya seperti jurnal dan surat kabar.

Inovasi Strategi Pemasaran
Dengan persaingan yang semakin ketat, perusahaan-perusahaan mulai mencari

strategi yang inovatif untuk memasarkan produk atau mereknya. Strategi pemasaran perlu
dirancang serta diimplementasikan agar perusahaan mampu bersaing di pasar dan menarik
perhatian masyarakat. Salah satu strategi pemasaran yang sering diterapkan adalah product
placement atau biasa disingkat PPL. Product Placement digunakan dengan cara menyisipkan
produk atau merek sebagai properti dari sebuah program televisi, film, atau media digital
lainnya. Hal ini dapat didukung dengan pendapat Cristel dan Michael yang mengatakan
bahwa PPL melibatkan “the purposeful incorporation of a brand into an entertainment
vehicle.” (Russell and Belch, 2005). Dengan begitu, penonton tidak merasa mereka sedang
menyaksikan iklan karena produk atau merek tersebut sudah termasuk dari bagian alur cerita.
Strategi ini digunakan dengan maksud untuk menaruh merek yang diiklankan ke dalam

memori penonton. Selain itu, tujuan lainnya adalah untuk membujuk penonton untuk
membeli produk atau jasa dari merek tersebut.

Oleh sebab itu, strategi product placement perlu diterapkan secara halus dan efektif
agar tujuan terwujudkan. Hal ini membuat media dan penempatan merek atau produk
menjadi aspek terpenting dalam merealisasikan strategi. Dengan begitu, trend yang sedang
booming dapat dimanfaatkan dalam penerapan strategi tersebut. Dalam hal ini, fenomena
Hallyu atau Korean Wave dapat digunakan sebagai sarana penerapan strategi product
placement.

Hallyu atau Korean Wave merujuk pada sebuah istilah yang menggambarkan
penyebaran budaya Korea melalui hiburan berupa drama, musik, dll. Saat ini, Hallyu dalam
bentuk K-Drama pun sedang marak di Indonesia dan telah menjadi sebuah trend yang
menjamur. Drama Korea atau singkatnya K-Drama/DraKor merupakan drama asal Korea
Selatan yang biasanya terdiri dari 16 episode. Serial drama tersebut berdurasi rata-rata
berdurasi 40 menit hingga 1 jam di setiap episodenya. Salah satu K-Drama yang belakangan
ini menjadi buah bibir di kalangan masyarakat Indonesia adalah Business Proposal.

Business Proposal merupakan K-Drama romance-comedy yang diadaptasi dari novel
webtoon yang berjudul The Office Blind Date. Drama tersebut dirilis pada tanggal 28
Februari 2022 dengan episode terakhirnya yaitu 12 yang ditayangkan pada 5 April 2022.
Setiap episode ditayangkan di platform Netflix pada Senin dan Selasa dengan durasi satu jam.
Secara singkat, Business Proposal menceritakan seorang wanita bernama Shin Ha-Ri yang
bekerja sebagai peneliti produk makanan di sebuah perusahaan. Ia memiliki sahabat yang
kaya raya bernama Jin Young-Seo. Sahabat tersebut meminta Ha-Ri untuk menggantikannya
menghadiri kencan buta. Tanpa mereka ketahui, pasangan kencan buta tersebut adalah Kang
Tae-Moo, CEO dari perusahaan Ha-Ri bekerja. Dengan begitu, kisah cinta Ha-Ri dan
Tae-Moo dimulai.

Jika dibandingkan dengan K-Drama lainnya yang ditayangkan di hari yang sama,
Business Proposal berhasil meraih rating tertinggi dengan rata-rata 11,4 persen di peringkat
nasional Korea Selatan. (Nielsen Korea, 2022). Selain sukses di negeri gingseng, Business
Proposal pun berhasil memikat hati penonton secara global. Kenyataannya, K-Drama
tersebut berada dalam posisi Top 10 TV di Netflix selama tiga minggu. Dalam kurun waktu
itu, Business Proposal telah menjadi serial nomor satu di berbagai negara, termasuk
Indonesia. (Kompas, 6 April 2022) Kini, meskipun sudah 2 bulan sejak K-Drama tersebut
berakhir, Business Proposal masih berada di Top 10 TV yaitu peringkat ke-8 dalam platform

Netflix Indonesia. Ditambah lagi, sebanyak 98% penonton Business Proposal di Netflix
Indonesia menyukai K-Drama tersebut. (Netflix, 18 Juni 2022)

Namun, ternyata tidak hanya alur cerita serta pemeran Business Proposal yang
menjadikan K-Drama ini topik yang hangat. Salah satu restoran yang menjadi properti drama
tersebut pun menarik perhatian masyarakat Indonesia. Dalam Business Proposal, restoran
tersebut bernama Goobne yang merupakan restoran keluarga Shin Ha-Ri. Alangkah
terkejutnya penonton saat mengetahui bahwa restoran Goobne ada di dunia nyata. Lebih lagi,
restoran tersebut sudah ada di beberapa wilayah Indonesia sejak lama.

Goobne memakai strategi PPL dengan menampilkan merek dan produknya di
Business Proposal. Terdapat 10 dari 12 episode Goobne ditampilkan di beberapa adegan.
Dalam episode 6 dan 7, restoran tersebut diputuskan untuk tidak ditampilkan karena pemeran
utama sedang melakukan business trip di luar kota. Keputusan itu pun membuat iklan
menyatu dengan jalan cerita sehingga terlihat lebih realistis dan tidak memaksa.

Ditambah lagi, produk dan merek Goobne yang ditampilkan memiliki maknanya
masing-masing. Dalam episode 1, terdapat adegan dimana restoran Goobne dipakai untuk
penyelenggaraan guitar club meeting. Hal ini merupakan cara penyampaian pesan secara
halus bahwa Goobne juga menyediakan tempat untuk acara. Selain itu, Goobne juga
menampilkan desain interior dan exteriornya. Adegan ini dapat dilihat dalam episode 2, 4, 9,
dan 12. Dalam episode 2 dan 4, interior desain dan susana restoran Goobne ditunjukkan.
Dalam episode 9 dan 12, exterior desain dan papan nama Goobne ditunjukkan. Dengan ini,
penonton dapat menggambarkan tempat dan suasana Goobne di benak mereka.

Sumber Gambar: Business Proposal Episode 1 di Netflix Sumber Gambar: Business Proposal Episode 9 di Netflix

Dalam episode 3 dan 11, terdapat motor delivery Goobne dan dialog “I’m going on
delivery.” Hal ini merujuk pada penyampaian informasi bahwa Goobne menyediakan layanan
delivery. Dalam episode 5, ditunjukkan salah satu pemain sedang memakan ayam Goobne
dan memberi reaksi berupa ulasan. Adapun beberapa dialog seperti “…it’s sweet and savory
too. I like it.”, “It’s addictive”, dan “You’ll keep thinking about it once you’ve had it.” Dengan
ini, Goobne mempromosikan dengan menunjukkan rasa makanannya yang amat lezat. Dalam

episode 8 dan 10, ditampilkan berbagai makanan dan minuman. Ditambah lagi, terdapat
dialog “this is a really good restaurant” dan “it’s crispy, right?” Hal ini memberi tahu
penonton bahwa Goobne menyajikan beberapa varian makanan dan minuman. Selain itu,
dialog tersebut juga memberi gambaran bahwa Goobne merupakan restoran yang apik dan
ayam khas Goobne memiliki tekstur yang garing.

Sumber Gambar: Business Proposal Episode 3 di Netflix Sumber Gambar: Business Proposal Episode 5 di Netflix

Efektivitas Product Placement Terhadap Brand Awareness
Brand awareness atau kesadaran merek memainkan peran krusial dalam dunia

pemasaran. Aaker (2008:39) mengatakan, “Brand awareness is the ability of customers to
recognize or remember that a brand is a part of a certain product.” Hal ini mengacu pada
tingkat kapabilitas konsumen dalam mengingat atau mengenali suatu merek. Maka dari itu,
semakin tinggi tingkat brand awareness suatu merek, akan semakin mudah pula merek
tersebut menarik konsumen. Tingkat brand awareness pun dapat ditingkatkan dengan
berbagai macam cara. Dalam hal ini, Goobne berupaya meningkatkan brand awareness
mereknya dengan memakai strategi PPL di Business Proposal.

Pada setiap adegan iklan, Goobne menampilkan mereknya dalam berbagai bentuk.
Seperti yang telah dibahas, bentuk-bentuk tersebut dapat berupa logo, interior restoran,
makanan, minuman, dan dialog. Setiap bentuk tersebut juga memiliki makna dan pesan
tersembunyi yang ingin disampaikan kepada penonton. Meskipun tersembunyi, strategi
tersebut justru membuat penonton tidak merasa terganggu dengan adanya iklan. Bahkan, ada
pun orang yang tidak sadar akan keberadaan iklan tersebut. Hal ini didukung oleh pernyataan
subjek C yang tidak menyadari bahwa restoran Goobne merupakan iklan selama menonton
Business Proposal. Secara spesifik, subjek C yang berusia 18 tahun menjelaskannya sebagai
berikut.

Subjek C mengatakan, “Awalnya, I kira Goobne itu restoran fiksi dan gak sadar kalau
di scene itu sebenarnya iklan karena kek natural banget. Restorannya dan
makanannnya itu kek bener-bener nyambung ama ceritanya. Terus, itu kan ada
adegan yang Young-Seo makan ayam kan? Itu pas nonton itu I ngiler parah sih.

Jadinya, I coba-cobalah iseng search di google, eh ternyata ada beneran dong di
Indo! Ya udah, I gas langsung pesen.”

Berdasarkan pernyataan subjek C, peningkatan brand awareness sudah dapat terlihat
dengan jelas. Ia mengenal brand Goobne setelah ia terbujuk dengan produk Goobne yang
ditayangkan dalam Business Proposal. Namun, tidak semua konsumen memiliki pengalaman
seperti subjek C. Terdapat juga orang yang memang sudah mengetahui Goobne, tetapi baru
tertarik untuk mencoba setelah menonton Business Proposal. Perasaan tersebut pun dialami
oleh subjek B. Subjek B merupakan pelanggan restoran Goobne di Mall Ashta, Jakarta
Selatan.

Subjek B mengatakan, “Aku sebenarnya udah tau restoran Goobne dari dulu. Tapi,
belum tertarik. Setelah nonton Business Proposal, aku baru tertarik untuk nyobain.”

Dari pernyataan subjek B, dapat dikatakan bahwa Goobne juga berhasil dalam
mengingatkan konsumen mengenai mereknya dan mempengaruhi konsumen untuk mencoba
produk Goobne. Selain pengenalan merek, pengingatan kembali mengenai merek tersebut
juga perlu dilakukan. Hal ini dilakukan dengan tujuan agar eksistensi suatu merek tidak
dilupakan oleh konsumen.

Berbeda dari subjek C dan B yang menonton Business Proposal, terdapat orang
seperti subjek D yang tidak menyaksikan K-Drama tersebut. Tempat tinggal subjek B berada
di Jakarta yang dekat dengan lokasi Goobne di Ashta. Dalam kasus ini, subjek B mengetahui
Goobne dari temannya yang menonton Business Proposal.

Subjek D mengatakan, “Gua sebelumnya belum pernah denger Goobne tapi ada
temen gua yang nonton Business Proposal jadinya ngajakin gua kesana mulu.”

Dengan pernyataan dari subjek D, dapat dilihat efek strategi PPL secara tidak
langsung. Efek tersebut dapat terjadi tatkala terdapat penonton yang terpengaruhi oleh iklan
yang ia tonton. Lalu, ia menyebarluaskan serta mempengaruhi orang lain mengenai
keberadaan Goobne. Dalam hal ini, strategi PPL dalam Business Proposal memicu penonton
untuk membicarakan Goobne. Oleh sebab itu, Goobne juga bisa menjadi viral di sosial
media. Terdapat banyak sekali penonton seperti teman subjek B yang memberitahu bahwa
Goobne ada di Indonesia dengan antusias. Alhasil, brand awareness Goobne pun terus
meningkat.

Dengan meningkatnya brand awareness Goobne, restoran tersebut pun dibanjiri oleh
penonton Business Proposal. Hal ini dapat diketahui dari pernyataan subjek A yang

merupakan pelayan dari Goobne di mall Ashta. Ia mengatakan bahwa sejak tayangnya
Business Proposal, restoran menjadi sangat ramai dari pagi hingga malam. Ditambah lagi,
banyak pelanggan yang rela menunggu berjam-jam untuk bisa makan langsung di
restorannya. Selain itu, ada beberapa pelanggan juga yang sering menanyakan subjek A
mengenai Business Proposal. Pertanyaan tersebut seperti “Mas, ini restoran yang di Business
Proposal ya?”, “Mas, sudah nonton DraKor Business Proposal belum”, dll. Faktanya,
beberapa pelayan dari Goobne sempat mencari mengenai K-Drama tersebut. Bahkan, ada pun
yang menontonnya sampai selesai.

Setelah dua bulan episode terakhir Business Proposal dirilis, Goobne pun masih
dibanjiri oleh pelanggan. Selain karena makanan yang lezat, lokasi Goobne di Ashta juga
sangat mendukung. Goobne di mall Ashta memiliki atmosfer yang mirip dengan perusahaan
dimana Shin Ha-Ri bekerja. Hal ini dikarenakan letak mall tersebut berada di dalam satu
gedung perkantoran Ashta District 8. Dengan begitu, penonton dapat seolah-olah merasakan
suasana seperti dalam K-Drama sembari menikmati makanan dan minuman Goobne. Dengan
begitu, sudah tidak heran lagi restoran tersebut sangat diminati pelanggan. Kenyataannya,
kapasitas restoran terpenuhi hingga terdapat 13 orang terdaftar di waiting list. Dengan begitu,
orang yang ingin makan di restorannya harus mengantri selama kurang lebih 2 jam. Namun,
terdapat juga penurunan dalam jumlah serta antusias dari pelanggan. Hal ini diakibatkan oleh
K-Drama tersebut yang sudah tidak booming lagi. Alhasil, pengunjung pun mulai merasa
lelah dan malas menunggu antrean yang panjang.

Sumber Gambar: Dokumentasi Pribadi, Lokasi: Goobne Ashta District 8 Mall

Kesimpulan
Persaingan yang kian ketat membuat perusahaan terus mencari strategi yang efektif

untuk mempromosikan produknya. Salah satu strategi inovatif adalah Product Placement
(PPL) yang menyatukan iklan dalam alur cerita pada film. Melalui strategi ini, proses
periklanan dapat terhindar dari pandangan negatif. Di sisi lain, Hallyu dalam bentuk
K-Drama telah menyebar dan menjamur di Indonesia. Oleh karena itu, K-Drama merupakan
media yang cocok digunakan dalam strategi PPL.

Melihat dari pengaruh PLL yang digunakan Goobne, dapat dilihat strategi tersebut
sangat efektif. Tidak dapat dipungkiri bahwa strategi PPL Goobne telah dirancang dan
diimplementasikan dengan sangat lancar dan baik. Goobne menempatkan iklannya secara
tersembunyi sehingga iklan tidak mengganggu konten cerita. Namun, pesan-pesan dari
produk juga tetap dapat tersampaikan kepada penonton. Dengan begitu, iklan tersebut pun
memberikan dampak dan hasil yang positif. Hal ini dapat dibuktikan dengan adanya
peningkatan brand awareness terhadap restoran Goobne di Jakarta Selatan. Akan tetapi, perlu
diingat juga bahwa strategi PPL ini sangat bergantung pada media yang digunakan. Oleh
sebab itu, perusahaan harus dapat memilih media yang tepat dan sesuai dengan produk yang
dijual. Selain itu, strategi ini juga berkaitan erat dengan tren. Seperti yang suda diketahui, tren
datang dan pergi. Hal ini mengartikan bahwa perusahaan kudu terus mengikuti tren dan
mengembangkan strategi yang inovatif secara berkala.

Daftar Pustaka
Russell, C., & Belch, M. A Managerial Investigation into the Product Placement Industry.
Journal of Advertising Research, 45(1), 73-92. 2005.

Aaker, David A. Managing Brand Equity: Capitalizing on the Value of a Brand Name. New
York: Toronto, 1991.

Bin Latif, Wasib & Islam, Md. Aminul & Mdnoor, Idris. Building Brand Awareness in the
Modern Marketing Environment: A Conceptual Model. Proceedings of the Australian
Academy of Business and Social Sciences Conference 2014, 2014

“KPPU Mencatat Indeks Persaingan Usaha Tahun 2021 di Indonesia Mengalami Peningkatan
Dibandingkan Tahun Sebelumnya,” Komisi Pengawasan Persaingan Usaha, 24 November
2021

Avery, R. J., & Ferraro, R. Verisimilitude or Advertising? Brand Appearances on Prime Time
Television. Journal of Consumer Affairs, 2000

‌H'ng, Yee & Yazdanifard, Assoc. Prof. Dr. Rashad. How Does Sponsorship Marketing in
Korean Dramas Bring in Lucrative Business?. International Business Research, Canadian
Center of Science and Education. Vol 8, 2015

Nugroho, Suray Agung. The Global Impact of South Korean Popular Culture: Hallyu
Unbound. Lexington Books, 2014.

“A Business Proposal’ Ends On Ratings Rise As No. 1 Monday-Tuesday Drama,” Soompi, 6
April 2022

“Drama A Business Proposal Puncaki Daftar Top 10 Netflix 3 Minggu Berturut-turut,”
Kompas, 6 April 2022.

“Konten Korea Terpopuler di Kalangan Penonton Layanan OTT Indonesia”
(www.Liputan6.com)

“Peningkatan Waktu Menonton Video Streaming di Indonesia Tertinggi Global pada 2021”
(www.databoks.katadata.co.id)

“Indonesia, Negara yang Paling Banyak Blokir Iklan Daring”
(www.databoks.katadata.co.id)

Artikel

Reading and Writing Final Paper

Disusun Oleh:
Celline Runtung 13412110002
SCHOOL OF BUSINESS & ECONOMICS

Universitas Prasetiya Mulya
2022

Transaksi GoFood di Kalangan Mahasiswa Prasmul di Masa Pandemi

Celline Runtung_13412110002_HOS 2A

Abstract :

This article discusses the transactions of GoFood as the most popular food delivery service
among students. The purpose of this study is to prove that the number of transactions in GoFood
has increased during this pandemic. During the pandemic, the government encourages people to
stay at home, hence this food delivery service is very much needed. To get supporting data, a
questionnaire will be distributed among Prasetiya Mulya students with a target of 100
respondents.

Kata Kunci: Food delivery service, transactions, Pandemic.

Di tengah masa pandemi virus Covid-19 ini, Indonesia sempat memberlakukan PSBB
(Pembatasan Sosial Skala Besar) sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2020
yang ditandatangani oleh Presiden Joko Widodo. PSBB ini bertujuan untuk menghambat
penyebaran coronavirus di Indonesia. Pembatasan berskala besar ini mengakibatkan masyarakat
lebih sering berada di rumah ketimbang pergi ke luar. Hal ini mengakibatkan masyarakat
cenderung lebih beralih ke penggunaan e-commerce atau suatu set dinamis teknologi
perdagangan, yang menghubungkan perusahaan, konsumen, dan komunitas secara elektronik.

Pemberlakuan PSBB yang menghimbau masyarakat untuk tetap tinggal di rumah
menyebabkan terjadinya peningkatan transaksi dalam layanan pesan antar makanan. Menurut
data Statista (2021), industri layanan pesan antar makanan akan terus mengalami peningkatan
hingga tahun 2024. Aplikasi GoJek merupakan aplikasi penyedia layanan transportasi, pesan
antar makanan, logistik, pembayaran, dan kebutuhan sehari-hari. Aplikasi ini merupakan salah
satu jenis e-commerce yang tergolong ke dalam Online-to-Offline (O2O) E-Commerce yang
artinya produsen menggunakan dua saluran, secara online dan offline. Strategi Online to Offline

ini merupakan strategi bisnis untuk menarik pelanggan secara online untuk mengalami
pengalaman digital saat melakukan transaksi secara online, namun menyediakan layanan jasa
delivery maupun pick-up. Tentunya, aplikasi GoJek ini sangat membantu masyarakat dari
sebelum terjadinya pandemi.

Sesuai data Statista (2021), terjadi peningkatan pengguna online food delivery sejak
tahun 2017 hingga 2020. Dari data tersebut, terlihat bahwa industri layanan pesan antar makanan
akan mengalami peningkatan secara terus-menerus hingga tahun 2024. Selain itu, menurut
penelitian McKinsey pada tahun 2020, terdapat peningkatan sebesar 34% pada penggunaan jasa
layanan pesan antar makanan selama pandemi COVID-19 (Desy Setyowati, 2021). Dari
peningkatan penggunaan jasa layanan pesan antar makanan, dapat dilihat bahwa hal ini menjadi
bukti bahwa perilaku konsumsi masyarakat mengalami perubahan sejak pandemi COVID-19
melanda.

Gambar 1 Grafik jenis pengeluaran digital konsumen per bulan selama pandemi COVID-19
Sumber : Condy Mutia Annur (2020)

Sesuai gambar di atas, dapat disimpulkan bahwa pengeluaran masyarakat Indonesia
selama pandemi adalah pada pemesanan makanan secara digital. Hal ini membuktikan bahwa
jasa layanan pesan antar makanan memiliki peminat yang cukup banyak di kalangan masyarakat
indonesia, terutama sejak pandemi COVID-19.

Jasa layanan pesan antar ini menarik tipe customer yang familiar dan terbiasa dengan
teknologi seperti generasi milenial dan gen Z untuk semakin mempermudah kegiatan mereka
dalam kehidupan sehari-hari, contohnya pelajar dan mahasiswa. Secara umum, generasi milenial
dan generasi Z merupakan generasi yang akrab dan tidak dapat terlepas dari gadget, atau
biasanya disebut “No Gadget No Life” (Sinta Wijayanti, 2020). Dengan menggunakan gadget,
maka semua kegiatan dapat dilakukan dengan instan dan praktis, seperti belanja online, termasuk
memesan makanan online melalui layanan pesan antar makanan ini. Dengan demikian,
penggunaan GoFood terutama di masa pandemi ini meningkat terutama di kalangan pelajar.

Berdasarkan hal-hal tersebut, artikel ini bertujuan untuk membuktikan adanya
peningkatan transaksi di GoFood sejak masa pandemi COVID-19. Selain itu, melalui artikel ini
akan dibahas fitur-fitur yang merupakan kelebihan dari jasa layanan pesan antar makanan
tersebut, sehingga membentuk customer satisfaction yang menyebabkan peningkatan transaksi
ini di kalangan mahasiswa Prasetiya Mulya.

Data mengenai peningkatan transaksi GoFood ini akan diperoleh melalui survey dengan
menyebarkan kuesioner mengenai frekuensi penggunaan GoFood ini di kalangan mahasiswa
Universitas Prasetiya Mulya, dengan target minimal 100 responden.

“GoFood” sebagai Jasa Layanan Pesan Antar Makanan.
GoFood merupakan layanan pesan antar makanan yang berasal dari Indonesia, kini

GoFood telah bekerja sama dengan lebih dari 125,000 restoran di berbagai kota di Indonesia.
GoFood sendiri merupakan bagian dari aplikasi Gojek yang berguna untuk mencari dan
memesan makanan secara online. Penggunaan GoFood sendiri sangat praktis dan mudah, dimana
pesanan pelanggan akan langsung masuk ke aplikasi, setelah itu driver Gojek berperan sebagai
pengantar pesanan ke lokasi pelanggan. GoFood memiliki fitur-fitur yang menarik dan sangat
mempermudah para penggunanya, antara lain fitur status jam operasional atau jam buka-tutup
restoran di GoFood, hal ini membantu pengguna untuk mengetahui jam berapa restoran akan


Click to View FlipBook Version