The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Karya tulis mahasiswa Hospitality Business 2A.
Universitas Prasetiya Mulya

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by joicetobing02, 2022-06-21 09:48:30

Reading & Writing

Karya tulis mahasiswa Hospitality Business 2A.
Universitas Prasetiya Mulya

berhasil menembus 20 miliar rupiah pada awal 2021 dengan menerapkan strategi pemasaran
yang sesuai dengan target marketnya, contohnya bekerja sama dengan e-commerce Shopee.
Yang dapat menyediakan proses yang praktis untuk mempermudah pembeli dalam
bertransaksi. Meskipun Scarlett Whitening juga bekerja sama dengan marketplace lain,
namun mayoritas pelanggan tetap melakukan pembelian di Shopee sehingga penulis ingin
meneliti faktor yang mempengaruhi keputusan pembelian di Shopee dan menemukan 3 faktor
yang memiliki dampak signifikan terhadap keputusan pembelian produk Scarlett Whitening
di Shopee, yaitu Online review dari customer lain (74%), Dapat membandingkan harga
(44%), Adanya diskon atau promo toko (38%).

Daftar Pustaka

Machfoed, Mahmud. 2010. Komunikasi Pemasaran Modern. Yogyakarta:Cakra Ilmu.

Saladin, Djaslim. 2006. Manajemen Pemasaran. Bandung: Linda Karya

Witarisme, Si. W. (2017). Analisis pengaruh kualitas pelayanan, harga dan promosi terhadap
keputusan pembelian pada e-commerce shopee. Seminar Nasional Manajemen, Ekonomi dan
Akuntasi, 53 (9), 1689-1699.
https://proceeding.unpkediri.ac.id/index.php/senmea/article/view/1050

Schiffman and Lazar Kanuk (2004). Costumer behaviour, Intemasional Edition, Prentice
Hall.

Perbandingan Minat Anak Remaja antara Cafe dengan Franchise
di Kota Pangkalpinang

Jennifer Calista Yang
S1 Hospitality Business

13412110001

Abstract
This article examines the preference of teenagers in selecting Food and Beverage business,
specifically in the Beverage section between cafes or franchises in Pangkalpinang, Bangka
Belitung. Through observation by conducting a survey, it's shown that most teenagers prefer
franchises than cafes although cafes have been established first than franchises.

Kata Kunci: Cafe, franchise, minat remaja, minuman.

Pada Maret 2020, ditandai dengan munculnya virus Covid-19 di Indonesia yang
kemudian dengan cepat menyebar ke provinsi lainnya termasuk Kota Pangkalpinang. Selain
virus Covid-19, muncul juga “virus” minuman franchise di Kota Pangkalpinang yang bermula
dengan dibukanya salah satu bisnis franchise minuman yaitu “Janji Jiwa” yang karena melihat
kesuksesan dan besarnya antusiasme membuat masyarakat lain terinspirasi juga untuk memulai
usaha minuman franchise.

Franchise adalah sebuah tipe bisnis yang dimiliki serta dioperasikan oleh seorang
individu yang berbeda-beda namun berasal dari satu brand yang sama. Dengan membuka sebuah
usaha franchise hal itu berarti bahwa selain membeli sebuah hak kepemilikan untuk membuka
bisnis, kita juga memiliki hak sistem bisnis, teknik pemasaran, produk, sistem harga dan hak
kepemilikan branding yang berhubungan dengan brand tersebut.

Bisnis franchise di Indonesia diawali dengan dibukanya restoran KFC pertama di
Indonesia pada tahun 1970-an yang merupakan titik awal masuknya brand franchise lain di
Indonesia. Sayangnya karena pada saat itu pengetahuan masyarakat mengenai bisnis franchise
masih terbatas, belum ada brand franchise lokal dan besarnya biaya untuk membuka sebuah
bisnis franchise di Indonesia membuat tidak banyak orang tertarik untuk menjalankan bisnis
tersebut. Namun hal ini berubah ketika bisnis beverage seperti Janji Jiwa, Kopi Kulo, Menantea,

dan usaha lainnya yang menggunakan konsep usaha franchise untuk memperluas jaringan bisnis
secara cepat.

Tipe bisnis tersebut diminati oleh banyak orang karena dipercaya dapat memberikan
keuntungan yang sama rata bagi kedua franchisee dan franchisor. Franchisee adalah individu
yang membeli hak-hak serta sistem bisnis sebuah brand dan menggunakannya untuk
mendapatkan keuntungan. Keuntungan bisnis franchise bagi franchisee adalah berkurangnya
resiko kerugian, tidak perlu melakukan branding, dapat memiliki bisnis dalam waktu yang
singkat dan menambah pengetahuan cara kerja bisnis. Sedangkan franchisor adalah individu
yang memiliki dan menjual hak-hak serta sistem bisnis brand tersebut kepada para franchisee.
Adapun keuntungan bisnis tersebut menurut franchisor adalah perluasan jaringan bisnis dengan
cepat, mempercepat penguasaan pasar, meningkatkan omzet serta putaran bisnis franchisor dan
adanya sumber penghasilan yang pasif. Namun dibalik bisnis dengan keuntungan yang banyak
terdapat juga resiko menjalani bisnis tersebut yaitu SDM yang tidak berpengalaman, perbedaan
visi misi, persaingan dengan franchise lain dan kesulitan memperoleh modal usaha.

Namun sebelum meruaknya “virus” minuman franchise di Kota Pangkalpinang, terdapat
salah satu usaha beverage yang sudah umum dan dapat ditemukan di kota manapun yaitu cafe.
Cafe berasal dari bahasa Perancis yang memiliki arti kopi, jadi cafe adalah sebuah jenis restoran
yang menyediakan minuman kopi dengan makanan ringan dimana para pelanggan dapat datang
dan duduk bersantai selama yang mereka mau. Walaupun sama-sama menyediakan kopi, sebuah
cafe memiliki arti yang berbeda dengan coffee shop dimana kopi menjadi fokus utama yang
disajikan dengan metode pembuatan yang berbeda-beda sehingga sebuah coffee shop tidak
menyediakan makanan ringan.

Cafe merupakan tempat yang digemari oleh para remaja karena kerap dijadikan sebagai
tempat untuk duduk bersantai dan mengerjakan tugas. Oleh karena itu, cafe merupakan salah
satu jenis usaha FnB yang populer setelah restoran, ditambah dengan beragamnya trend makanan
dan minuman yang ada di Indonesia. Keuntungan menjalani usaha cafe adalah pembuatan menu
yang fleksibel, memiliki pasar yang luas, perputaran modal yang cepat dan merupakan bisnis
jangka panjang. Walaupun memiliki berbagai keuntungan, juga ada resiko menjalani bisnis ini
yaitu persaingan dengan cafe lain, trend yang berubah-ubah, kurangnya inovasi menu dan
kesulitan mencari target market.

Cafe merupakan sebuah tempat yang sudah umum dan sering ditemukan di Kota
Pangkalpinang, sedangkan toko franchise minuman merupakan suatu trend yang baru di Kota
Pangkalpinang sehingga tujuan saya melakukan penelitian ini adalah untuk mengetahui
perbandingan minat anak remaja antara cafe dan franchise sebagai destinasi membeli FnB
terutama minuman. Pengumpulan data yang digunakan dalam artikel ilmiah ini dibatasi dengan
usia responden harus berada dalam kategori remaja (berumur 14-24 tahun) yang berasal dari
Kota Pangkalpinang serta dilakukan secara kuantitatif yaitu dengan menyebarkan kuisioner, studi
pustaka dan wawancara singkat.

Profil dan Minat Remaja sebagai Konsumen
Sebelum memulai suatu usaha bisnis, tentunya kita melakukan sebuah riset terlebih

dahulu mengenai target market atau tipe konsumer apa yang akan tertarik dengan usaha bisnis
tersebut. Berdasarkan dari dua kuisioner yang telah disebarkan sejak 11 Juni 2022 hingga 19 Juni
2022, jumlah total responden adalah 114 responden remaja yang berumur 14 hingga 24 tahun
berikut.

Gambar 1.1 Gender responden kuisioner

Gambar 1.2 Gender responden kuisioner

Hasil kuisioner menunjukkan bahwa mayoritas gender konsumen adalah perempuan
dengan hasil total 72 responden perempuan dan 44 responden laki-laki. Hal ini menunjukkan
bahwa konsumer perempuan memiliki kecenderungan untuk pergi mengunjungi cafe ataupun
franchise.

Gambar 2.2 Lokasi yang dipilih responden

Gambar 2.2 Lokasi yang dipilih responden

Kemudian dari 114 responden, sebanyak 57 responden memilih cafe dan 57 responden
lainnya juga memilih franchise. Hal ini menunjukkan bahwa walaupun franchise merupakan hal
yang baru, namun memiliki jumlah peminat yang sama dengan peminat cafe.

Walaupun jumlah persentase konsumen yang memilih cafe sama dengan jumlah
konsumen yang memilih tempat franchise, terdapat perbedaan yang signifikan dalam alasan
mengapa konsumen lebih memilih lokasi tersebut. Konsumen memilih bisnis franchise
dikarenakan rasa minuman yang konsisten, harga yang lebih terjangkau dan praktis karena
menerima layanan delivery sedangkan konsumen yang memilih cafe mengungkapkan bahwa cafe
memiliki tempat yang lebih nyaman, rasa minuman yang enak dan letak lokasi yang lebih
strategis dibanding franchise. Namun walaupun hasil kuisioner menunjukkan bahwa ada
kesamaan jumlah peminat, terdapat trend yang kerap berubah-ubah sehingga dapat dikatakan
franchise lebih digemari oleh konsumen di zaman sekarang dimana sebuah trend yang diciptakan
melalui marketing memiliki dampak yang sangat besar pada penjualan produk.

Faktor Pemilihan Lokasi Konsumen
Di zaman yang sudah modern ini, sebagian besar promosi atau marketing dilakukan

melalui media sosial dengan membuat sebuah konten yang mempromosikan dan bersifat
persuasif agar para konsumen tertarik. Terkadang membuat sebuah trend baru di media sosial
juga merupakan salah satu bentuk promosi yang berpengaruh untuk menarik konsumen. Hal ini
didukung dengan jumlah responden yang mengetahui suatu lokasi melalui iklan di media sosial.

Selain melalui media sosial, penyebaran informasi secara mulut ke mulut juga merupakan salah
satu faktor alasan konsumen memilih tempat tersebut karena beranggapan bahwa informasi yang
diberikan dari teman ataupun keluarga sudah merupakan informasi yang terpercaya dan terbukti
kebenarannya. Hal tersebut dikarenakan sebelum menyebarkan informasi tersebut, mereka
sendiri telah mendatangi dan mencoba secara langsung.

Selain karena faktor marketing, terdapat juga faktor lain yaitu karakteristik bisnis itu
sendiri dimana franchise biasanya dikaitkan dengan sebuah usaha yang praktis, cepat dan kecil
namun hal ini juga berarti usaha franchise memiliki kualitas produk yang tidak konsisten, tingkat
higienis yang kurang terjamin, lokasi usaha yang cenderung seadanya dan kecil serta tidak
nyaman untuk “nongkrong”. Sedangkan usaha cafe biasanya dikaitkan dengan sebuah tempat
yang konsisten, besar dan nyaman tapi terkadang hal ini membuat cafe menggunakan harga yang
terlalu overpriced, menu yang tidak variatif, tidak praktis dalam delivery dan lokasi yang tidak
sebanyak tempat franchise.

Kesimpulan
Dari hasil penelitian yang dilakukan melalui penyebaran kuisioner yang diisi oleh 114

responden remaja yang berusia sekitar 14-24 tahun, sebanyak 72 responden berjenis kelamin
perempuan memiliki kecenderungan untuk pergi ke tempat cafe ataupun franchise.

Cafe merupakan sebuah jenis usaha yang umum dan banyak dijumpai di Kota
Pangkalpinang sedangkan bisnis franchise merupakan suatu trend yang baru muncul di Kota
Pangkalpinang di tahun 2020. Kedua bisnis tersebut digemari oleh para konsumen remaja karena
keduanya merupakan tempat untuk duduk bersantai, mengerjakan tugas ataupun untuk sekedar
menikmati makanan atau minum yang dijual. Namun terdapat perbedaan antara bisnis franchise
dan cafe yaitu dalam tipe bisnis dimana cafe merupakan bisnis pribadi sedangkan franchise
adalah bisnis yang dibangun dari sebuah brand yang hak-haknya dibeli.

Terdapat persamaan jumlah responden yang memilih lokasi antara cafe dan franchise
yaitu berjumlah 57 responden. Hal ini menunjukkan bahwa walaupun franchise merupakan
sebuah trend baru, cafe masih tetap digemari oleh konsumen yang dipengaruhi oleh beberapa
faktor antara cafe dan franchise yaitu berdasarkan faktor marketing, karakteristik bisnis tersebut
dan alasan konsumen.

Daftar Pustaka

Gobiz. 2021. Apa itu Franchise & 4 Tips Sukses Menjalankannya. Retrieved from
https://gobiz.co.id/pusat-pengetahuan/apa-itu-franchise/ diakses pada 10 Juni 2022.

Finansialku. 2016. 8 Keunggulan dan Manfaat Waralaba untuk Franchisor dan Franchisee.
Retrieved from
https://www.finansialku.com/8-keunggulan-dan-manfaat-waralaba-untuk-franchisor-dan-franchis
ee/ diakses pada 10 Juni 2022.

Pengertian Cafe dan Coffee Shop Menurut Para Ahli. Retrieved from
https://mhcoffee.co.id/pengertian-cafe-kafe-dan-coffee-shop-kedai-kopi-menurut-para-ahli/
diakses pada 18 Juni 2022.

Anonymous. 2019. Resiko Bisnis Waralaba / Franchise. Retrieved from
https://www.pustakadunia.com/resiko-bisnis-usaha-waralaba-franchise/ diakses pada 18 Juni
2022.

Mandhez. 2019. Peluang Bisnis Cafe, Kelemahan dan Keunggulannya. Retrieved from
https://kreasik.com/peluang-bisnis-cafe-kelemahan-dan-keunggulannya/ diakses pada 18 Juni
2022.

Perbandingan Brand Mie Instan
terhadap Mahasiswa Prasetiya Mulya Angkatan 2021

Joice Robintang Melani Lumban Tobing
13412110021

Abstract
This article examines how important brand development is in a product. Through

surveys and interviews, it can be seen that the majority of students or boarding children make
instant noodles the right choice for their daily consumption. In particular, this article also
examines brand development in relation to the level of consumption of instant noodle
products for boarding children and also looks at the comparison between instant noodle
brands and the strategies they offer and analyzes the strengths and weaknesses of the brand.

Kata Kunci : Brand, strategy. mie instan, anak kos, perkembangan, product.

Sektor ekonomi merupakan salah satu sektor yang mengalami kemajuan dan
kemunduran. Hal ini dikarenakan adanya perubahan yang sedang terjadi pada perekonomian
nasional maupun situasi negara. Perkembangan ekonomi didukung dengan kemajuan
berbagai industri, baik barang maupun jasa. Sektor industri memegang peranan penting
dalam mendorong dan meningkatkan perekonomian nasional. Sektor ini menyediakan
lapangan kerja bagi masyarakat dan perolehan devisa bagi negara. Industri makanan menjadi
salah satu industri yang menjadi penopang dengan kontribusinya yang konsisten dan
signifikan terhadap produk. Untuk itu, pemerintah berupaya menjaga kebutuhan bahan baku
yang dibutuhkan oleh sektor industri makanan dan minuman agar semakin produktif dan
dapat menjadi daya saing secara global.

Saat ini, situasi pasar sangat kompetitif dengan meningkatnya persaingan diantara
para produsen. Hal ini menyebabkan pemasaran akan meningkat dan brand menjadi peran
yang sangat penting bagi produsen. (Warta Ekonomi, 2022). Brand adalah sebuah merek
yang mengacu pada konsep bisnis dan pemasaran yang membantu orang mengidentifikasi
perusahaan, produk, atau individu tertentu (Kotler,2002). Brand membantu membentuk
persepsi orang tentang perusahaan, produk mereka, atau individu. Brand biasanya
menggunakan penanda pengenal untuk membantu menciptakan identitas merek di pasar.
Dengan demikian, brand bukanlah hanya sebatas pembeda suatu produk dengan produk yang

lain, melainkan lebih dari sebuah identitas yang memiliki ikatan emosional antara konsumen
dan produsen.

Dalam perkembangannya, pasar telah dibanjiri dengan produksi suatu produk yang
dilakukan secara besar-besaran yang membuat konsumen atau masyarakat bingung, serta
dihadapkan oleh banyak pilihan mengenai suatu produk yang diproduksi. Informasi-informasi
mengenai kualitas suatu produk juga masih minim di masyarakat. Namun hal inilah yang
menjadi peluang bagi perusahaan produksi dalam melindungi, mengembangkan serta
meningkatkan kekuatan brand. (Keller, 1993) menyatakan bahwa brand equity adalah
keinginan dari seseorang untuk melanjutkan menggunakan suatu brand atau tidak.
Pengukuran dari brand equity sangatlah berhubungan kuat dengan kesetiaan dan bagian
pengukuran dari pengguna baru menjadi pengguna yang setia.

Saat ini, pola konsumsi masyarakat telah berubah seiring dengan perkembangan
sektor industri pangan dan juga kesibukan dari tiap individu. Sehingga, makanan cepat saji
atau makanan instan semakin digemari berbagai kalangan karena dinilai praktis, harganya
yang terjangkau dan cukup mengenyangkan para konsumen. Salah satu makanan yang
dimaksud ini adalah mie instan. Semakin banyak yang mengkonsumsi mie instan, maka akan
semakin meningkat juga produksi dan meningkatnya persaingan antara brand mie instan.
Hal ini akan menjadi kesempatan para perusahaan mie instan dalam meningkatkan mereknya
di kalangan masyarakat terutama yang mengkonsumsi mie instan.

Salah satu kalangan yang mengkonsumsi makanan cepat saji terutama mie instan
adalah mahasiswa yang menjadi anak kost. Hal ini dikarenakan anak kost cenderung memilih
sesuatu hal yang praktis dengan harga yang terjangkau untuk dikonsumsi. Hal ini juga
didukung dengan belum adanya penghasilan serta pendapatan utamanya masih berasal dari
orangtua, sehingga mereka memilih sesuatu yang terjangkau dan dapat mengenyangkan.

Universitas Prasetiya Mulya merupakan salah satu universitas yang rata-rata
mahasiswanya berasal dari luar daerah dan memilih untuk tinggal di kos-kosan maupun
tempat tinggal lainnya yang tentunya jauh dari tempat tinggal asalnya. Dengan kondisi ini,
mereka diwajibkan untuk mandiri, melakukan pekerjaan sendiri, memenuhi kebutuhan
sendiri, serta memasak makanan sendiri. Di tengah kesibukan menjadi seorang mahasiswa,
terkadang mahasiswa Prasetiya Mulya tidak memiliki waktu dalam memasak makanan
sendiri, sehingga alternatif dari masalah ini adalah dengan mengkonsumsi makanan cepat saji
salah satunya mie instan.

Melihat hal-hal menarik tersebut, penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui
seberapa penting strategi pengembangan brand dalam suatu produk terutama dalam kaitannya

dalam mengetahui tingkat konsumsi anak kos terhadap mie instan serta perbandingan antara
kedua brand tersebut, yang dilihat dari apa yang ditawarkan serta analisis terhadap kekuatan
dan kelemahan kedua brand tersebut.

Informasi mengenai perbandingan brand yang akan mendukung penelitian ini, didapat
dengan studi pustaka terhadap berbagai sumber, dilakukan dengan menyebar kuisioner dan
juga melakukan wawancara ke beberapa mahasiswa yang merupakan mahasiswa Universitas
Prasetiya Mulya angkatan 2021.

Perbandingan strategi pengembangan dari kedua brand

Indomie
Indomie merupakan salah satu merek dari produk mie instan, dimana produk ini telah
diproduksi sejak 1972 oleh PT. Indofood CBP Sukses Makmur yang perusahaannya dipegang
oleh Sudono Salim. Pada awal produksinya, produk ini masih mengeluarkan 2 varian rasa
yaitu udang dan ayam. Seiring perkembangannya, mie instan mulai diterima oleh masyarakat
dan kebutuhannya semakin bertumbuh. Pada 1982, penikmat indomie semakin meningkat
karena adanya varian baru yaitu rasa kari ayam dan setahun kemudian, Indomie
memperkenalkan jenis yang baru yaitu indomie goreng.
Strategi pengembangan merek mie instan ini dalam merajai pasar adalah dengan
memperhatikan gaya hidup yang berkaitan dengan pola konsumsi masyarakat. Dimana hal ini
didukung dengan penyajian mie instan yang praktis, murah, dan juga mengenyangkan. Selain
itu, brand ini juga menerapkan strategi yaitu acceptability (rasa yang disajikan disesuaikan
dengan target konsumennya), availability (produk ini mudah didapatkan), dan affordability
(produk ini memiliki harga yang terjangkau). Dengan strategi ini, brand akan semakin
mengalami kemajuan dan juga dapat sustain dari waktu ke waktu.

Mie Sedaap
Mie Sedaap merupakan salah satu merek mie instan, dimana produk ini telah
diproduksi sejak 2003 oleh Wings Food yang perusahaan nya dipegang oleh Johannes
Ferdinand Katuar. Pada awal produksinya, mie sedaap hanya mengeluarkan 3 varian rasa
yaitu, mie goreng dengan kriuk, soto dengan koya, dan ayam bawang dengan bawang goreng.
Pada tahun berikutnya, mie sedaap meluncurkan varian baru yaitu kari ayam dengan serbuk
gurih kari dan santan. Pada 2005, mie sedaap mengeluarkan varian baru yaitu mie sedaap

sambal goreng. Brand ini juga mengalami pertumbuhan dari waktu ke waktu sesuai dengan
kebutuhan masyarakat.

Ada beberapa perkembangan strategi yang dilakukan oleh mie sedaap dalam
pengembangan mereknya, mulai dari riset, sponsorship, dan demo makan Mie Sedaap di
lingkungan sekolah, pekerja pabrik, sopir truk dan angkot yang meningkatkan kedekatan
merek dengan konsumen yang menjadi target pasarnya. Selain itu, strategi yang dilakukan
oleh mie sedaap adalah dengan menjual dengan harga yang lebih rendah dibanding dengan
pesaing, namun tetap dalam kualitas yang baik. Mie sedaap juga memilih pasar-pasar kecil
sebagai awal pemasarannya, yang membuat brand ini memiliki dasar yang kuat. Dengan
strategi ini, brand ini dapat mengalami peningkatan yang cepat untuk bersaing.
Analisis Perbandingan Brand

Dalam mencari informasi terkait penelitian ini, saya melakukan survey terhadap 100
orang mahasiswa Universitas Prasetiya Mulya khususnya angkatan 2021. 100 responden ini
merupakan mahasiswa Prasetiya Mulya dari berbagai jurusan, mulai dari accounting sampai
software engineering, yang berasal dari fakultas SBE dan STEM.

Di awal penelitian ini, saya memberi pertanyaan terkait seberapa sering para
mahasiswa mengkonsumsi mie instan dalam jangka waktu seminggu. Dari hasil survey,
terdapat sekitar 30% mahasiswa mengkonsumsi mie instan sebanyak 3 kali, 28% mahasiswa
sebanyak 1 kali, 24% mahasiswa sebanyak 2 kali, 8% mahasiswa sebanyak 4-5 kali, 3%
mahasiswa sebanyak 5 kali, serta 7% lainnya jarang untuk mengkonsumsi mie instan.

Dari hasil survey, hal ini menunjukkan bahwa rata-rata mahasiswa telah menjadikan
mie instan sebagai makanan sehari-hari mereka. Hal ini dilihat dari besarnya persentase
terhadap konsumsi mie instan oleh mahasiswa.

Pada pertanyaan mengenai apakah mie instan menjadi pilihan yang tepat untuk anak kos, ada
sebanyak 75% mahasiswa menjawab “ya”, 6% menjawab “mungkin”, serta 19% menjawab
“tidak”. Hal ini menyebabkan pro dan kontra di kalangan mahasiswa, karena bagi sebagian
mahasiswa mie instan adalah makanan yang kurang menyehatkan dan terdapat bahan
tambahan yang kurang baik bagi tubuh dan sebaiknya tidak dijadikan pilihan. Ada juga yang
mengatakan bahwa mie instan itu bisa dimakan, tapi jangan terlalu sering karena tidak baik
untuk tubuh. Namun, mayoritas anak kos menganggap mie instan menjadi pilihan yang tepat
untuk dikonsumsi, karena cara penyajian yang terbilang mudah, cepat, enak, serta harganya
yang terjangkau.

Berdasarkan diagram di atas, dapat dilihat bahwa Indomie merupakan brand mie instan yang
paling diminati oleh mahasiswa Prasetiya Mulya.. Terdapat sebanyak 64% mahasiswa
memilih Indomie dan 36% mahasiswa memilih mie sedap.

Dari perbandingan kedua brand tersebut, ada beberapa yang menjadi kriteria seorang
mahasiswa dalam memilih mie instan untuk dikonsumsi. Pertama rasa, sebanyak 90%
mahasiswa memilih rasa sebagai kriteria utama dalam memilih mie instan. Kedua, ada 46%
memilih kualitas yang ditawarkan oleh brand tersebut. Ketiga, ada sebanyak 45% memilih
tekstur dari mie yang mereka konsumsi. Selanjutnya sebanyak 44% memilih variasi atau
varian dari brand tersebut. Sebanyak 37% mahasiswa memilih harga sebagai kriteria dan
diikuti oleh kemasan sebanyak 14%. Dari hasil ini, kita dapat melihat ternyata harga menjadi
urutan kelima dalam pemilihan mie instan oleh mahasiswa terutama anak kos.
Analisis kekuatan dan kelemahan brand
Kekuatan

Berdasarkan survei, ada beberapa hal yang menjadi kekuatan dari suatu produk mie instan:
● Rasa, merupakan hal yang dinikmati oleh lidah konsumen dari produk tersebut.
● Harga, merupakan nilai tukar yang ditetapkan, apakah sesuai dengan target konsumen.
● Varian, merupakan variasi yang ditawarkan mulai dari rasa lokal sampai
mancanegara.

● Bumbu yang disediakan, kesesuain bumbu dengan cita rasa dari target yang dituju.
● Tekstur, merupakan sifat permukaan dari produk yang ditawarkan, ini meliputi

kenyal, lembut, keras dan lainnya.
● Kemasan, berkaitan dengan design dan juga penyampaian informasi terkait produk.
● Brand, berkaitan dengan apakah produk tersebut sudah diketahui oleh banyak orang.
Kelemahan

Berdasarkan survei, ada beberapa hal yang menjadi kelemahan dari suatu produk mie instan:
● Porsi, merupakan kuantitas produk yang ada di tiap kemasan.
● Ketersediaan, berkaitan dengan pendistribusian di suatu daerah, apakah produknya
memiliki stok yang cukup di daerah tersebut.
● Nutrisi, merupakan gizi yang ditawarkan oleh produk tersebut. Akibat banyaknya
kandungan penyedap tambahan, produk ini dinilai kurang sehat.
● Tekstur, berkaitan dengan permukaan dari produk, seperti mudah hancur dan lainnya.

Hal yang perlu ditingkatkan

Berdasarkan survei, hal yang perlu ditingkatkan dari suatu produk mie instan:
● Semakin banyak melakukan riset terhadap rasa lokal supaya semakin dikenal orang
banyak.
● Menyediakan porsi yang sesuai dengan kebutuhan,
● Meningkatkan nutrisi yang terkandung dalam produk.
● Kualitas pengemasan, sebaiknya menggunakan bahan eco friendly terutama dibagian
bumbu, supaya dapat mengurangi penggunaan plastik yang baik untuk lingkungan.

Kesimpulan
Mie instan telah menjadi pola konsumsi baru di beberapa kalangan anak kost.

Khususnya mahasiswa Universitas Prasetiya Mulya, telah menjadikan mie instan sebagai
pilihan yang tepat dikala mereka tidak sempat menyiapkan makanan yang sehat. Mie instan
dinilai efektif untuk dikonsumsi, karena penyajian nya yang terbilang cepat, harganya yang
relatif murah, ketersediaan produk, serta cita rasa yang ditawarkan.

Namun, banyaknya permintaan produksi mie instan menyebabkan perusahaan
berlomba dalam meningkatkan produknya. Dengan adanya hal ini, perusahaan mie instan
akan semakin menyesuaikan serta meningkatkan produk yang ditawarkan serta target pasar
yang akan dicapai. Hal ini dilakukan dengan pengembangan brand melalui strategi-strategi
sehingga perusahaan mie instan ini dapat berkompetisi di pasar.

Adanya kompetisi menyebabkan perbandingan antara brand mie instan di kalangan
konsumen. Berdasarkan survei, hal ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu rasa, harga,
tekstur, varian rasa, kualitas, porsi, kemasan, dan tentunya merek yang ditawarkan oleh suatu
produk kepada konsumen. Oleh karena itu, ada beberapa hal yang perlu ditingkatkan dalam
pengembangan suatu brand, yaitu perlunya melakukan riset lebih untuk mengetahui pola
konsumsi serta cita rasa yang diinginkan oleh konsumen, menyesuaikan porsi dan varian rasa
yang ditawarkan, meningkatkan nutrisi yang terdapat dalam produk serta menggunakan
bahan yang ramah lingkungan terutama dalam pengemasan.

Daftar Pustaka

Keller, L. How to manage brand equity. Penerbit Gramedia Pustaka Utama, Jakarta

Robertus Sola Asisi, 2007. “Perbandingan Brand Equity Indomie dan Mie Sedaap”
Semarang, Badan Penerbit UNNES.

Apriani Wilda, 2014. “Analisis Strategi Brand Indomie sebagai Market Leader”
https://www.academia.edu/11322531/Analisis_Strategi_Indomie_Sebagai_Brand_Market_Le
ader . Diakses pada 19 Juni 2022 pukul 18.25.

Rahmatilani Conny,2020. “Strategi Periklanan Pemasaran Produk Mie Sedaap dari Sisi
Design Komunikasi Visual”
https://www.academia.edu/43101989/MAKALAH_PERIKLANAN_1_STRATEGI_PRIKLA
NAN_PEMASARAN_PRODUK_MIE_SEDAAP_DARI_SISI_DSAIN_KOMUNIKASI_VI
SUAL . Diakses pada 19 Juni pukul 21.00

Minat Remaja 18-21 Tahun Terhadap Layanan Pesan Antar Makanan GoFood dan
GrabFood

Jovita Raisa Ramadhanti
Hospitality Business 2A

13412110020

Abstract
This article discusses the use of GoFood and GrabFood as online-based service

applications among teenagers aged 18-21 years. The focus of this article is on the interest of
teenagers aged 18-21 years in using food delivery by GoFood and GrabFood services. The
research in this article was conducted through observation, distributing questionnaires, and
literature study. And it can be seen through the data collected that GoFood and GrabFood
have made a significant impact on society today.

Kata kunci : Layanan pesan antar makanan, GoFood, GrabFood, Remaja usia 18-21 tahun

Jasa usaha merupakan suatu bidang bisnis yang menjual atau menawarkan produk
dalam bentuk pelayanan jasa. Terbagi beberapa macam jenis jasa usaha yang ada salah
satunya adalah jasa usaha dalam bidang transportasi. Jasa usaha transportasi merupakan jasa
usaha yang menyediakan jasa pengangkutan atau pemindahan baik barang, makanan atau
manusia dengan jarak tertentu. Jasa layanan antar makanan yang cukup dikenal dikalangan
masyarakat baik dewasa maupun remaja saat ini yaitu GoFood dan GrabFood yang
berkembang dari aplikasi Gojek dan Grab.

Gojek yang didirikan oleh Nadiem Makarim sejak tahun 2010 silam telah menjadi
pemimpin revolusi industri transportasi di Indonesia. Berawal dengan pendiri nya sendiri
yaitu Nadiem Makarim yang kesulitan mencari transportasi ojek hingga akhirnya Nadiem
menjadikan keresahannya sebagai ide peluang untuk bekerja sama dengan ribuan pengemudi
ojek di Jakarta, Bandung, Bali, dan Surabaya untuk menjadi alternatif transportasi yang aman
dan murah di tengah kemacetan, kini GOJEK telah bekerja sama dengan jutaan pengemudi
ojek di berbagai kota di Indonesia tidak hanya sebagai ojek (GoRide) namun terus
berkembang menghadirkan transportasi roda empat atau taksi (GoCar), sebagai jasa
pengiriman barang (GoSend), belanja (GoMart), dan pesan antar makanan (GoFood).

Grab didirikan oleh Anthony Tan, beliau mendirikan aplikasi myteksi atau yang
dikenal Grab ini bersama temannya Tan Hoi Ling yang dirilis pada tahun 2012 di Malaysia,
yang kemudian dipindahkan kantor pusatnya ke Singapura. Anthony menjadikan aplikasi
Grab ini sebagai tugas akhirnya di Harvard Business School. Perkembangan awal mula Grab
tidak berbeda jauh dengan Gojek. Gojek diawali dengan transportasi roda dua atau ojek
sedangkan Grab diawali dengan transportasi roda empat atau taksi yang disebut GrabCar.
Setelah hadir di negara asia tenggara salah satu nya Indonesia di tahun 2013 Grab mulai
berkembang dengan menghadirkan transportasi kendaraan roda dua atau ojek (GrabBike),
layanan antar barang (GrabExpress), layanan belanja swalayan (GrabMart) dan pesan antar
makanan (GrabFood). Gojek dan Grab juga telah memiliki metode pembayaran elektronik
yaitu Gopay untuk Gojek dan Ovo untuk Grab. Gojek dan Grab sendiri sudah tersebar di
mancanegara dan beberapa kabupaten dan kota di Indonesia. Gojek sendiri telah tersebar di
167 kabupaten dan kota di Indonesia, Singapura, Vietnam, dan Thailand yang resmi pada
tahun 2018. Sedangkan Grab sudah tersebar di 8 negara di Asia Tenggara yaitu Indonesia,
Malaysia, Singapura, Myanmar, Filipina, Thailand, dan Vietnam.

GoFood sendiri lahir berawal dari banyaknya permintaan pengguna untuk pesan antar
makanan melalui GoShop yang sempat hadir di Gojek. Selain itu layanan GoFood sendiri
dapat membantu memberdayakan UMKM hal tersebutlah yang menjadi awal mula
terciptanya dan berubahnya GoShop menjadi GoMart dan GoFood yang dijalankan sejak
April 2015, kemudian disusul pada tahun 2016 oleh Grab yang juga meluncurkan layanan
pesan antar makanan GrabFood.

Selain menjadi lapangan pekerjaan bagi banyak masyarakat, jasa layanan antar
makanan juga memiliki banyak manfaat bagi para penggunanya. Ditambah berkembang nya
era digital saat ini dan juga pandemi Covid-19 dua tahun kebelakang menambah banyaknya
pengguna jasa layanan antar makanan melalui pihak ketiga ini. Hasil Riset Independen
Foodizz dan Deka Insight "Indonesian Eating Out Behaviour in New Normal Era 2021”
yang melibatkan 1.000 responden mencakup 5 kota besar di Indonesia Jakarta, Medan,
Bandung, Surabaya, dan Makassar, bahwa persentase pengguna jasa layanan antar makanan
pihak ketiga GoFood berada di angka 61% dan pengguna GrabFood berada di angka 49%.

Penulisan artikel ilmiah ini bertujuan untuk membandingkan minat remaja usia 18-21
tahun terhadap jasa layanan pesan antar makanan GoFood dan GrabFood serta mengetahui
alasan responden mengenai dua kompetitor jasa layanan pesan antar makanan GoFood dan
GrabFood. Penulis menyebarkan kuesioner kepada 104 responden yang menggunakan jasa
layanan antar makanan. 104 responden tersebut merupakan remaja dari usia 18-21 tahun yang

dapat dibilang sudah mampu mandiri atau memiliki akun atas nama diri sendiri untuk
menggunakan jasa layanan antar makanan.
Dalam penulisan artikel ilmiah ini dilakukan metode pengumpulan data dilakukan secara
kuantitatif yaitu menyebarkan angket kuesioner dan melakukan studi pustaka.

Pengguna Jasa Layanan Antar Makanan GoFood dan GrabFood
Penggunaan jasa layanan antar makanan sendiri memiliki banyak manfaat dimana

para pengguna dapat menghemat tenaga dan juga waktu karena pengguna tidak perlu repot
untuk pergi keluar rumah dan juga melakukan antri. Dari 104 responden yang menggunakan
jasa layanan antar makanan 100% setuju bahwa responden sangat terbantu dengan adanya
jasa layanan antar makanan saat ini. Seperti hasil riset yang telah dilakukan oleh Independen
Foodizz dan Deka Insight "Indonesian Eating Out Behaviour in New Normal Era 2021”
yang menghasilkan bahwa pengguna GoFood lebih unggul dibandingkan GrabFood.

Gambar 1. Layanan pesan antar makanan yang digunakan

Hal tersebut juga dibuktikan dari hasil kuesioner penulisan ini yang menghasilkan
80,8% responden menggunakan jasa layanan pesan antar makanan GoFood, dan 19,2%
responden menggunakan jasa layanan pesan antar makanan GrabFood, dimana dari 104
responden sebagian besar menggunakan jasa GoFood.

Sudah tidak asing lagi pastinya melihat iklan baik di televisi, sosial media, reklame,
maupun videotron mengenai promosi GoFood ataupun GrabFood. Pihak Gojek dan Grab
jelas memiliki strategi pemasaran untuk GoFood ataupun GrabFood, dimana dapat dihasilkan
bahwa 57,7% responden mengetahui GoFood dan GrabFood melalui iklan televisi, sosial
media, reklame, ataupun videotron yang mereka lihat. Sedangkan 26% responden mengetahui

GoFood atau GrabFood melalui teman-temannya dan 16,3% responden lainnya mengetahui
GoFood atau GrabFood melalui anggota keluarganya yang juga menggunakan aplikasi jasa
layanan antar makanan tersebut.

Jasa layanan antar makanan juga dapat dibilang tidak mengenal waktu, dimana
pengguna dapat memesan makanan pada pukul berapapun selama tempat makan tersebut
masih buka dan menerima pesanan. Dari hasil kuesioner para pengguna 35,6% GoFood
maupun GrabFood melakukan pemesanan jasa layanan pesan antar makanan di waktu sore
yaitu pukul 15:00 sampai 18:00. Kemudian 30,8% responden lainnya melakukan pemesanan
jasa layanan pesan antar makanan di waktu makan siang yaitu pukul 11:00 sampai 14:00.
Sedangkan 28,8% responden sering melakukan pemesanan jasa layanan pesan antar makanan
pada malam hari pukul 19:00 sampai 00:00, dan 4,8% responden melakukan pemesanan jasa
layanan pesan antar makanan pada pagi hari yaitu pukul 01:00 sampai 10:00.

Beberapa pengguna GoFood maupun GrabFood ada yang menggunakan GoFood dan
GrabFood sebagai sarana untuk memenuhi kebutuhan pokok mereka, dimana mereka
melakukan pemesanan hampir setiap hari namun ada yang menggunakan GoFood maupun
GrabFood hanya dalam beberapa kesempatan ataupun peristiwa dan bukanlah kebutuhan
primer untuk menggunakan jasa layanan pesan antar makanan GoFood ataupun GrabFood.

Gambar 2. Rentan waktu penggunaan layanan GoFood atau GrabFood

Berdasarkan dari hasil penelitian, 51,9% responden menggunakan GoFood maupun
GrabFood lebih dari 10 kali dalam sebulan. Sedangkan 24% responden menggunakan
GoFood maupun GrabFood sekitar 6 sampai 10 kali dan 24% responden lainnya hanya
menggunakan jasa GoFood dan GrabFood hanya sekitar 1 sampai 5 kali dalam sebulan.

Alasan Menggunakan Jasa Layanan Antar Makanan GoFood dan GrabFood
Sudah diketahui bahwa manfaat dari penggunaan jasa layanan antar makanan GoFood

ataupun GrabFood yaitu hemat waktu dan tenaga. Selain itu meringkas dari hasil 104
responden menganggap bahwa menggunakan jasa layanan antar makanan GoFood ataupun
GrabFood merupakan hal yang sangat praktis dan juga efisien. Praktis dan efisien baik dalam
proses pemesanan, komunikasi dengan driver dan juga saat melakukan pembayaran. Praktis
pembayaran yaitu dengan menggunaka pembayaran elektronik yaitu baik Gopay atau Ovo
yang dapat di top-up melalui mbanking kapan saja dan dimana saja. Selain itu beberapa
responden juga menganggap dengan menggunakan jasa layanan antar makanan GoFood
ataupun GrabFood dapat membantu sesama baik mitra gojek ataupun grab dalam memenuhi
kebutuhan hidupnya. selain itu GoFood ataupun GrabFood sering menampilkan beberapa
UMKM yang membuat para pengguna nya tertarik dengan banyak nya pilihan dan pada
akhirnya mencoba berbagai macam makanan baru hal tersebut menguntukan baik bagi
pengguna yang mendapat menu makanan baru dan juga UMKM yang akan mendapat
keuntungan. Dengan menggunakan jasa layanan antar makanan GoFood ataupun GrabFood
para responden sangat terbantu dengan adanya fitur dimana pengguna dapat melacak lokasi
supir atau kurir GoFood ataupun GrabFood.

Beberapa responden juga menganggap menggunakan jasa layanan antar makanan
GoFood ataupun GrabFood lebih aman dan nyaman. Mayoritas responden juga merupakan
remaja yang sedang menjalankan pendidikan kuliah merantau atau jauh dari orang tua
sehingga responden merasa sangat terbantu dengan adanya promo yang dihadirkan oleh
GoFood dan GrabFood sehingga responden merasa bisa mendapatkan makanan yang lezat
namun tetap dengan harga yang lebih murah dibandingkan membeli langsung ke tempat
makan tersebut.

Alasan menggunakan jasa layanan antar makanan GoFood
Dari hasil penelitian diatas, pengguna GoFood memang lebih unggul persentasenya

dikarenakan beberapa hal menurut responden. Alasan pertama mayoritas responden yaitu
memilih menggunakan dengan jasa layanan antar makanan GoFood karena para responden
merasa bahwa aplikasi Gojek lebih user friendly yang dapat diartikan bahwa aplikasi gojek
lebih praktis dari berbagai macam aspek dan lebih mudah untuk dimengerti dan untuk
digunakan dibandingkan kompetitornya. Selain itu beberapa responden menganggap jika
sudah menjadi langganan atau dengan melakukan subscription menggunakan GoFood maka
promo atau potongan harga yang didapat akan lebih besar sehingga responden senang untuk

melakukan pemesanan terus menerus agar terkumpul promo-promo yang diberikan oleh
Gojek.Responden juga menganggap bahwa menggunakan pembayaran elektronik dengan
Gopay lebih mudah dibandingkan kompetitornya. Beberapa responden juga mengalami
peristiwa dimana responden merasa bahwa mitra GoFood lebih ramah dan lebih sedikit
ditemui oleh responden adanya mitra GoFood yang bermasalah sehingga membuat para
responden menganggap GoFood lebih aman untuk digunakan.

Alasan Menggunakan jasa layanan antar makanan GrabFood
Walaupun angka persentase yang tidak sebanyak pengguna jasa layanan antar

makanan GoFood, namun para responden yang menggunakan jasa layanan antar makanan
GrabFood juga memiliki alasan tersendiri mengapa mereka memilih GrabFood dibandingkan
dengan kompetitornya. Mayoritas dari responden merasa bahwa dengan menggunakan
GrabFood biaya antar yang diberikan lebih murah dibandingkan kompetitornya. Selain itu
GrabFood juga dibilang sangat sering memberikan promo atau potongan harga yang cukup
besar dan penawaran menarik yang bisa didapatkan oleh siapa saja tidak hanya yang sudah
berlangganan atau memiliki banyak point. Selain itu beberapa responden menggunakan
GrabFood karena mereka sedang menjalankan pendidikan di luar negeri yang mengakibatkan
responden menggunakan GrabFood hal ini memang terbukti bahwa penyebaran Grab sendiri
lebih luas dibandingkan kompetitornya. Alasan lain dari para responden yang menggunakan
GrabFood juga dikarenakan lebih lengkapnya pilihan makanan yang ada di GrabFood, mulai
dari restoran ternama sampai UMKM kecil yang mungkin tidak berada di tempat keramaian
dan sebagainya.

Kesimpulan

Dari hasil penelitian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa remaja usia
18-21 tahun sangat terbantu dengan adanya jasa layanan pesan antar makanan GoFood dan
GrabFood. Jasa layanan antar makanan dianggap efektif dan praktis bagi para remaja yang
memiliki kesibukan. Dengan adanya jasa layanan antar makanan juga responden remaja usia
18-21 tahun menganggap bahwa mereka dapat menghemat tenaga serta waktu dan dapat
berbuat baik terhadap sesama. Selain itu beberapa responden juga menganggap bahwa
layanan pesan antar makanan merupakan salah satu sarana dalam memenuhi kebutuhan
primer sehari-hari nya.

Dari hasil penelitian ini juga dapat disimpulkan bahwa GoFood dan GrabFood
sama-sama memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing namun hasil dari penelitian
ini menghasilkan bahwa remaja usia 18-21 tahun mayoritasnya menggunakan jasa layanan
antar makanan GoFood dibandingkan GrabFood. Hal ini didukung oleh berbagai macam
alasan yang dapat disimpulkan bahwa GoFood memiliki aplikasi yang lebih gampang
dimengerti dan juga praktis dibandingkan kompetitornya. Selain itu beberapa responden
beranggapan bahwa GoFood memiliki banyak promo dan potongan harga yang sangat
membantu para responden untuk lebih mengatur keuangannya disaat merantau untuk
menjalankan pendidikan. GoFood juga dianggap lebih mudah untuk melakukan pembayaran
elektronik menggunakan Gopay dibandingkan kompetitornya.

Dari hasil penelitian ini juga dapat disimpulkan bahwa faktor utama responden remaja
usia 18-21 tahun memilih menggunakan jasa layanan antar makanan yaitu berdasarkan
mudah dan praktisnya aplikasi tersebut digunakan kemudian faktor kedua yaitu harga, promo
atau potongan harga, dan penawaran-penawaran yang diberikan oleh jasa layanan antar
makanan tersebut.

Daftar Pustaka

Sejarah Gojek dari awal hingga kisah sukses perkembangannya
https://www.kreditpintar.com/education/sejarah-gojek Diakses 11 Juni 2022

Sejarah singkat perusahaan Aplikasi Grab dan Perkembangannya
https://www.pranataprinting.com/sejarah-singkat-perusahaan-aplikasi-grab-dan-perkembanga
nnya/ Diakses pada 12 Juni 2022

Bermula dari Go-Shop, Begini cerita awal mula lahirnya Go-Food
https://www.idntimes.com/business/economy/vamela/bermula-dari-go-shop-begini-cerita-aw
al-mula-lahirnya-go-food?page=all Diakses 12 Juni 2022

Riset ini nobatkan GoFood sebagai layanan paling banyak digunakan
https://inet.detik.com/cyberlife/d-5867858/riset-ini-nobatkan-gofood-sebagai-layanan-paling-
banyak-digunakan Diakses pada 12 Juni 2022

Rajai Asia Tenggara, ini 8 Negara Grab beroperasi hingga jadi decacorn
https://www.liputan6.com/tekno/read/3906771/rajai-asia-tenggara-ini-8-negara-grab-beropera
si-hingga-jadi-decacorn Diakses 13 Juni 2022

Minat Mahasiswa Prasetiya Mulya Terhadap Shopee dan Tokopedia
Natasya Amabel
13412110003

Abstract
Through this article, an observation will be done to identify the reason behind the increasing
number of students using online shops. This observation will identify the reason behind students
of Prasetiya Mulya using online shops as a platform to shop for their needs and leisure purposes.

Kata Kunci: Online Shop, Belanja, Kebutuhan, Keinginan, Preferensi

Menurut Pasal 1457 KUHPerdata, Kegiatan Jual Beli merupakan suatu persetujuan,
dengan mana pihak yang satu mengikatkan dirinya untuk menyerahkan suatu kebendaan, dan
pihak yang lain untuk membayar harga yang telah dijanjikan. Dengan kata lain, kegiatan jual beli
merupakan kegiatan yang disetujui oleh dua pihak agar mereka juga mendapatkan keuntungan
mereka masing-masing. Kegiatan jual beli dapat dilakukan di berbagai tempat seperti pasar,
supermarket, dan juga melalui e-commerce. Menurut Kotler & Armstrong (2012), e-commerce
merupakan saluran online yang dapat dijangkau seseorang melalui komputer, yang digunakan
oleh pebisnis dalam melakukan aktivitas bisnisnya dan digunakan konsumen untuk mendapatkan
informasi dengan menggunakan bantuan komputer yang dalam prosesnya diawali dengan
memberi jasa informasi pada konsumen dalam penentuan pilihan.

Penemuan e-commerce pertama adalah pada 1979 oleh Michael Aldrich dengan
menghubungkannya ke televisi dan transaksi akan dilakukan melalui telefon. Lalu aktivitas jual
beli online yang pertama di dunia dilakukan pada 1982 oleh Boston Computer Exchange yaitu
toko yang menjual komputer bekas. Seiring waktu berjalan, terdapat perkembangan teknologi
yang semakin sering dijumpai dan lebih banyak pilihan aplikasi e-commerce yang muncul di
dunia serta di negara Indonesia.

Berkat kehadiran e-commerce, banyak pembeli mulai beralih ke e-commerce karena
beberapa alasan seperti barang yang dijual lebih beragam, mudah untuk membandingkan harga,
hemat waktu dan tenaga, banyak promo serta proses pembayaran yang mudah. Namun terdapat
banyak aplikasi e-commerce yang tersebar di Indonesia dan tidak semua orang menggunakan

semua aplikasi e-commerce untuk kegiatan jual beli, oleh karena itu setiap orang termasuk
mahasiswa memiliki aplikasi e-commerce yang paling disukai oleh mereka.

Shopee serta Tokopedia telah menjadi e-commerce terbesar di Indonesia, kedua
perusahaan telah membuka banyak lapangan kerja untuk masyarakat serta membantu pemilik
usaha atau UMKM agar bisa terus berkembang serta terus membangun perubahan. Lalu kedua
perusahaan ini juga menarik perhatian pembeli dengan iklan yang sangat menarik serta promo
yang sangat menguntungkan sehingga lebih banyak mahasiswa memilih untuk belanja melalui
online. Kedua perusahaan pun juga menunjukkan lebih banyak

Terdapat beberapa alasan mengapa mereka lebih suka menggunakan satu aplikasi dari
yang lain. Alasan dibelakang pilihan mahasiswa dapat diidentifikasikan dengan teori Technology
Acceptance Model yang ditemukan oleh Fred Davis di tahun 1986. Model ini dibuat untuk
melihat perilaku orang terhadap teknologi yang digunakan untuk pekerjaan mereka sehari-hari,
namun model ini juga bisa digunakan untuk program software yang terus berinovatif. Model ini
bisa mengidentifikasi bagaimana perasaan, perilaku, serta kegunaan program tersebut dalam
keseharian mereka.

Tujuan penelitian ini berjalan adalah untuk mendapatkan alasan mengapa mereka lebih
suka menggunakan salah satu aplikasi atau lebih suka menggunakan kedua aplikasi. Lalu
penelitian ini juga bertujuan untuk mengidentifikasi apa yang mempengaruhi pilihan mereka
terhadap aplikasi tersebut, seperti layout aplikasi, diskon, atau konten yang sering diberikan
sehingga mereka lebih tertarik untuk menggunakan aplikasi tersebut. Selain itu penelitian ini
diharapkan agar bisa menjadi panduan untuk pihak perusahaan agar mereka bisa memberikan
perkembangan untuk mendapatkan peminat yang lebih banyak.

Penelitian ini membutuhkan partisipasi mahasiswa Prasetiya Mulya agar bisa
mengidentifikasi alasan mereka, oleh karena itu penelitian ini akan dilakukan secara kuantitatif
dengan menyebarkan kuesioner kepada mahasiswa Prasetiya Mulya dari angkatan 2019 hingga
2021. Menyebarkan kuesioner kepada mahasiswa Prasetiya Mulya akan memudahkan mereka
untuk menjawab karena tidak memakan banyak waktu serta bisa penelitian ini bisa mendapatkan
responden dari banyak mahasiswa sehingga hasil penelitian ini dapat mewakili semua mahasiswa
Prasetiya Mulya.

Aplikasi Shopee dan Tokopedia

Shopee ditemukan pada tahun 2015 di Singapura dibawah naungan Sea Company dan
sejak itu Shopee sudah menyebar ke Malaysia, Thailand, Taiwan, Indonesia, Vietnam, dan
Filipina. Kini Shopee sudah diakui sebagai the leading e-commerce platform in Southeast Asia
and Taiwan, dan setiap tahun aplikasi Shopee terus menduduki peringkat atas dalam kategori
shopping. Kini Shopee juga memiliki banyak layanan seperti Shopee Xpress, ShopeePay, Cash
on Delivery, dsb. Pada tahun 2021, ShopeeFood (layanan antar makan Shopee) berhasil
membuka lapangan kerja baru untuk masyarakat dan membantu perekonomian Indonesia secara
tidak langsung. Pada tahun yang sama, Shopee dipilih oleh masyarakat sebagai e-commerce
terbaik dan berhasil memenangkan penghargaan di Selular Award 2021.

Tokopedia pertama kali ditemukan oleh William Tanuwijaya dan Leon Alpha Edison
pada 2009. Tokopedia memiliki visi untuk membangung sebuah ekosistem dimana semua orang
dapat memulai dan menemukan apa saja, dan juga misi untuk mewujudkan pemerataan ekonomi
secara digital. Tokopedia memulai karirnya dengan C2C Business atau yang biasa orang kenal
dengan e-commerce dimana pelanggan dapat melakukan jual beli melalui online, dan kini
Tokopedia telah menambahkan layanan mereka seperti Digital Wallet, Investasi, Proteksi produk,
Pengiriman, membantu UMKM agar dapat menjual produk mereka secara online, dsb. Pada
tahun 2021, Tokopedia berkolaborasi dengan salah satu perusahaan terbesar di Indonesia yaitu
Gojek. Kolaborasi ini menjadi kolaborasi usaha terbesar di Indonesia dan juga layanan Gojek
dan Tokopedia saling mendukung sehingga banyak UMKM bisa terus maju dan terus membantu
ekonomi Indonesia. Tidak kalah dengan Shopee, Tokopedia juga memenangkan CNBC
Indonesia Awards 2021 dalam kategori 'The Most Inspiring Technology Companies'

Bila membuka kedua aplikasi, pengguna akan dialihkan ke halaman utama. Bila dilihat
dari penampilan halaman utama, kedua aplikasi memiliki persamaan seperti mereka
menampilkan iklan diskon yang sedang diadakan oleh aplikasi, fitur atau layanan yang diberikan
oleh aplikasi, tombol untuk bisa mengalihkan ke halaman diskon, rekomendasi produk sesuai
kategori yang disukai oleh pembeli, dan live shopping. Namun kedua aplikasi tentu memiliki
perbedaan salah satunya adalah warna yang digunakan sesuai dengan warna yang mewakilkan
brand seperti Shopee menggunakan warna oranye dan Tokopedia menggunakan warna hijau.

Perbedaan yang paling signifikan dari kedua aplikasi adalah fitur yang diberikan oleh
aplikasi Tokopedia. Di halaman utama Tokopedia, mereka menampilkan tombol untuk kategori
produk yang paling diminati oleh pembeli seperti Perawatan Tubuh, Top-up & Tagihan, Travel &
Entertainment, Kecantikan, dan Fashion Wanita. Lalu Tokopedia juga memasang iklan untuk
setiap promo yang diadakan sehingga halaman utama Tokopedia terlihat lebih panjang dan
meriah. Tujuan Tokopedia memasang lebih banyak promosi di halaman utama adalah supaya
konsumen dapat lebih tertarik untuk berbelanja di Tokopedia karena promo yang diberikan
cukup banyak.

Gambar 1 dan 2. halaman utama Tokopedia; Gambar 3. menampilkan halaman utama Shopee
Namun bila ingin membeli sebuah produk, pengguna harus memilih produknya terlebih

dahulu dan akan dialihkan ke halaman produk tersebut. Kedua aplikasi menunjukkan foto-foto
produk, harga, serta toko yang menjual produk tersebut. Untuk fitur kedua aplikasi juga memiliki
tombol masukkan ke keranjang, beli langsung, chat penjual, testimoni pembeli serta pilihan
produk lain yang serupa atau produk yang mungkin disukai oleh pengguna. Namun ada sedikit
perbedaan dalam aplikasi Tokopedia, Tokopedia memiliki satu fitur di halaman produk dimana
pembeli bisa berdiskusi dengan penjual secara langsung dan bisa dilihat oleh pembelian ini.

Dengan ini pembeli lain bisa melihat informasi yang dapat membantu mereka dalam memilih
untuk beli produk tersebut atau tidak. Tapi mereka juga memiliki fitur chat pribadi kepada
penjual sama seperti fitur di Shopee.

Gambar 1&2. halaman produk Tokopedia; Gambar 3&4. menampilkan halaman produk Shopee
Selain itu mengenai promo, kedua aplikasi rajin mengadakan promo/diskon yang dapat

menguntungkan pembeli seperti flash sale, gratis ongkir, cashback, asuransi atau pengembalian
barang, serta layanan untuk pengantaran cepat (dalam kurun waktu 1-2 hari atau kurang dari 1
hari). Uniknya, kedua aplikasi memiliki permainan atau games yang bisa dimainkan oleh
pengguna aplikasi agar mereka bisa mendapatkan voucher atau hadiah yang lebih besar lagi.
Kedua aplikasi juga memberikan fitur untuk penjual agar mereka bisa mengunggah konten untuk
menarik perhatian pembeli atau menambahkan peminat seperti live shopping, feeds dan video
yang menunjukkan produk yang mereka jualkan.

Minat Aplikasi E-Commerce Mahasiswa
Kedua aplikasi e-commerce memiliki keunikan tersendiri, namun sayangnya tidak semua
mahasiswa memilih untuk menggunakan aplikasi tersebut. Analisa penelitian ini akan dikaitkan
dengan teori Technology Acceptance Model yang model final Fred Davis & Venkatesh tahun

1996. Technology Acceptance Model melihat dari Persepsi Kegunaan, Persepsi Kemudahan
Penggunaan, Sikap terhadap menggunakan teknologi, niat perilaku untuk menggunakan serta
penggunaan teknologi sesungguhnya.

Dalam penelitian ini, variabel yang akan digunakan ada Aplikasi Tokopedia (X1),
Aplikasi Shopee (X2). Lalu variabel akan dikaitkan pada faktor persepsi kegunaan agar bisa
melihat aplikasi mana yang lebih berguna/sering digunakan dan persepsi kemudahan penggunaan
agar bisa mengidentifikasi aplikasi mana yang mereka temukan lebih mudah digunakan dan
dimengerti.

Setelah itu akan dikaitkan pada faktor sikap terhadap penggunaan teknologi agar dapat
mengidentifikasi apakah mereka menikmati menggunakan aplikasi, dan dilanjutkan dengan
faktor niat perilaku untuk menggunakan aplikasi e-commerce untuk mengidentifikasi alasan
dibelakang mereka beralih ke aplikasi e-commerce. Dan penelitian ini akan diakhiri dengan
mengaitkan kepada faktor penggunaan teknologi sesungguhnya agar bisa menjawab apa yang
mahasiswa gunakan dalam aplikasi tersebut.

Kuesioner berhasil disebar dan direspon oleh 101 Mahasiswa Prasetiya Mulya dan
mayoritas responden berasal dari angkatan 2021 dan berjenis kelamin perempuan. Dengan
responden yang terkumpul, penelitian ini akan mewakili semua mahasiswa Prasetiya Mulya atas
minat mereka dalam aplikasi e-commerce serta alasan dibelakang pilihan mereka.

Mayoritas mahasiswa menemukan bahwa aplikasi e-commerce merupakan aplikasi yang
sangat berguna dan banyak mahasiswa yang sering menggunakan aplikasi e-commerce untuk

berbelanja. Namun bila dilihat dari persepsi kegunaan, terdapat 58,8% mahasiswa memilih
aplikasi Shopee sebagai aplikasi e-commerce yang lebih sering digunakan dan 26.5% mahasiswa
memilih aplikasi Tokopedia serta 14,7% mahasiswa sering menggunakan kedua aplikasi tersebut.
Melihat hasil respon dari mahasiswa, bisa dikatakan bahwa Shopee menjadi aplikasi e-commerce
yang paling sering digunakan atau paling berguna.

Persepsi selanjutnya adalah persepsi kemudahan penggunaan dan berdasarkan penelitian,
52% mahasiswa memilih aplikasi Shopee sebagai aplikasi yang mudah untuk digunakan dan bila
mereka harus merekomendasikan aplikasi e-commerce kepada pengguna baru, 51% mahasiswa
memilih aplikasi Shopee sebagai aplikasi yang cocok untuk digunakan oleh pengguna baru.
Mahasiswa menemukan penampilan yang diberikan Shopee sangat mudah dimengerti dan
aplikasi Shopee pun mudah digunakan. Oleh karena itu bisa disimpulkan bahwa aplikasi Shopee
menjadi aplikasi yang

Sikap mahasiswa terhadap penggunaan aplikasi terlihat memberikan respon yang baik
karena banyak mahasiswa sering menggunakan aplikasi e-commerce karena sangat praktis serta
memiliki banyak promo. Lalu mayoritas mahasiswa lebih puas menggunakan aplikasi Shopee
karena Shopee menyediakan produk yang lengkap serta mahasiswa bisa mendapatkan promo,
gratis ongkir serta praktis sehingga mahasiswa mendapatkan banyak keuntungan ketika
berbelanja di Shopee. Namun banyak mahasiswa lebih senang menggunakan Tokopedia karena
Tokopedia memiliki kepercayaan pembeli mereka sehingga produk yang dijualkan akan pasti
berkualitas, dan aman.

Niat mahasiswa untuk beralih menggunakan e-commerce tentu karena pembelian atau
aktivitas berbelanja menjadi lebih praktis serta menjadi lebih murah karena promo yang banyak.
Mahasiswa beralih untuk menggunakan Shopee karena mereka menemukan Shopee sebagai
aplikasi yang sangat menguntungkan dan juga praktis ketika berbelanja. Lalu banyak mahasiswa
beralih menggunakan Tokopedia karena pembelian praktis, serta cashback yang besar.

Penggunaan teknologi sesungguhnya tentu untuk memberikan kemudahan untuk pembeli
saat berbelanja. Namun berdasarkan penelitian, ditemukan mahasiswa lebih memilih Shopee
untuk produk fesyen seperti baju dan terdapat juga mahasiswa lebih memilih Tokopedia karena
produk yang dijualkan adalah produk berkualitas sehingga banyak mahasiswa lebih
mempercayai Tokopedia ketika ingin membeli elektronik dan hobi.

E-Commerce berhasil memberikan lapangan kerja yang baru serta memberikan
kesempatan baru untuk warga yang ingin memulai bisnis mereka. E-commerce juga berhasil
menjadi layanan yang sangat berguna bagi mahasiswa sehingga mayoritas mahasiswa Prasetiya
Mulya sudah beralih menggunakan aplikasi e-commerce ketika ingin membeli sebuah produk
atau ketika ingin berbelanja.

Menurut penelitian, mahasiswa menemukan faktor yang membuat sebuah e-commerce
menjadi sangat menarik adalah promo/diskon, iklan yang menarik serta layout yang mudah
dipahami. Mahasiswa juga sering menemukan iklan menarik melalui sosial media, itu sebabnya
mereka bisa mengetahui aplikasi e-commerce dan akhirnya mencoba untuk berbelanja di aplikasi
e-commerce.

Berdasarkan hasil penelitian menggunakan model Technology Acceptance Model,
mayoritas mahasiswa menjawab Shopee sebagai aplikasi e-commerce yang paling diminati oleh
mahasiswa karena ia memiliki produk yang lengkap, promo serta gratis ongkir yang sangat
menguntungkan, layout yang mudah dipahami serta praktis ketika ingin membeli. Namun
terdapat mahasiswa yang lebih memilih aplikasi Tokopedia karena lebih dipercayai untuk
membeli produk elektronik atau hobi.

Daftar Pustaka

5 Alasan Orang Memilih Belanja Online, Tidak Hanya karena Pandemi!, Mutami Matul
Istiqomah, 12 November 2021,
https://yoursay.suara.com/lifestyle/2021/11/12/145459/5-alasan-orang-memilih-belanja-online-ti
dak-hanya-karena-pandemi#:~:text=Dengan%20kemudahan%20dari%20belanja%20online,bahk
an%20bisa%20dilakukan%20sembari%20rebahan.

BAB III, PERLINDUNGAN HUKUM BAGI PEMBELI YANG BERITIKAD BAIK DALAM
TRANSAKSI JUAL BELI KAYU JATI DI DESA KUNDURAN KABUPATEN BLORA;
https://dspace.uii.ac.id/bitstream/handle/123456789/10466/05.3%20bab%203.pdf?sequence=7&i
sAllowed=y#:~:text=Menurut%20Pasal%201457%20KUHPerdata%20yang,membayar%20harg
a%20yang%20telah%20dijanjikan.

Evolusi E-commerce Dunia; Egohub; 15 Juli 2021;
https://www.egogohub.com/insight/evolusi-e-commerce-dunia#:~:text=1982%3A%20Boston%2
0Computer%20Exchange%20diluncurkan,menjual%20komputer%20bekas%20secara%20online

Indonesia: State of Nation Tour, Meeting with Tokopedia: Indonesia No.1 E-Commerce,
J.P.Morgan, 17 Februari 2020

Ini Deretan Layanan dan Inovasi Shopee untuk Maksimalkan Pengalaman Belanja; Teguh
Suyudi; 2 September 2020;
https://www.itworks.id/32072/ini-deretan-layanan-dan-inovasi-shopee-untuk-maksimalkan-peng
alaman-belanja.html

Kisah Kami; Tokopedia; https://www.tokopedia.com/about/our-story/
Kolaborasi Gojek-Tokopedia Jadi Momentum Penguatan UMKM Indonesia; Puput Ady
Sukarno; 18 Mei 2021;
https://teknologi.bisnis.com/read/20210518/266/1395291/kolaborasi-gojek-tokopedia-jadi-mome
ntum-penguatan-umkm-indonesia

THE LITERATURE REVIEW OF TECHNOLOGY ADOPTION MODELS AND THEORIES
FOR THE NOVELTY TECHNOLOGY; HELP University; 19 April 2017;
https://www.redalyc.org/journal/2032/203251213002/html/
SHOPEE; Sea; https://www.sea.com/products/shopee
Shopee Sabet Penghargaan Sebagai Best E-Commerce di Ajang Selular Award 2021; Amara
Marthiara; 15 Juli 2021;
https://selular.id/2021/07/shopee-sabet-penghargaan-sebagai-best-e-commerce-di-ajang-selular-a
ward-2021/
Tokopedia Raih Penghargaan 'The Best e-Commerce 2021'; CNBC; 07 Desember 2021;
https://www.cnbcindonesia.com/tech/20211207114206-39-297266/tokopedia-raih-penghargaan-t
he-best-e-commerce-2021

Penggunaan E-Card Pribadi dan Kartu Multi Trip
di Stasiun KRL Cisauk BSD

Putri Dian Parera
S1 Hospitality Business

13412110024

Abstract

The development of technologies are currently increasingly advanced
and have an impact on all sectors including the economic sector. One of them
is by conducting transactions using E-Cards and Multi Trip Cards at the
Jabodetabek KRL Station. By using E-Cards and Multi Trip Cards, passengers
can get several benefits, including practical, easy, and fast transactions. This
study aims to further compare the factors that influence the use of E-Cards or
Multi Trip Cards which are more in demand by Jabodetabek KRL passengers.
The questionnaire is limited to KRL passengers at Jabodetabek Station who
have used KRL and used E-Cards or Multi Trip Cards for transactions. This
study shows that the majority of passengers transact more frequently using the
BCA Flazz Card. The factor that influences this is because the use of the BCA
Flazz Card is simpler, more efficient, and can be topped up directly using the
NFC feature on the smartphone. These factors have a positive effect on the use
of the Personal E-Card, the BCA Flazz Card at the Jabodetabek KRL station.

Kata kunci : KRL, E-Card, Kartu Multi Trip

Transportasi merupakan alat bermesin dan non mesin yang dapat mengangkut manusia
atau barang dari satu tempat ke tempat lainnya. Ada tiga jenis transportasi, yaitu darat, laut,
dan udara. Transportasi darat meliputi kendaraan bermotor, kereta api, KRL, sepeda, dan lain
sebagainya. Adapun transportasi laut diantaranya adalah kapal laut, perahu, kapal selam, dan
masih banyak lagi. Transportasi udara meliputi pesawat, helikopter, dan jet. Transportasi
memiliki beberapa manfaat atau kegunaan diantaranya untuk memudahkan proses
penyampaian informasi dari satu tempat ke tempat lainnya, menjadi sarana pelayanan untuk
seluruh masyarakat, serta dapat membuka peluang bisnis di bidang jasa angkutan dan
perjalanan.

Pada 2008, PT. Kereta Api (Persero) meresmikan PT. KAI Commuter Jabodetabek
(Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi) sebagai salah satu anak perusahaannya. PT.
KAI Commuter Jabodetabek biasa disebut KRL. Berdirinya KRL dilatarbelakangi atas
keinginan dari PT. KAI untuk memberikan pelayanan yang dapat menjadi solusi bagi
masyarakat yang memiliki permasalahan transportasi.

Meningkatnya jumlah penduduk dan pesatnya perkembangan ekonomi dapat
menyebabkan tingginya kebutuhan akan jasa transportasi. KRL menjadi salah satu solusi atas
permasalahan transportasi yang dihadapi oleh masyarakat. Dengan adanya KRL, masyarakat
dapat bepergian dengan aman, nyaman, tenang, dan tentunya dengan harga yang terjangkau.
Masyarakat juga tidak perlu takut akan terkena macet karena KRL memiliki rute mereka sendiri
dan jam operasional yang cukup panjang mulai dari pukul 04.00 WIB hingga 24.00 WIB.

Terdapat dua kategori usia pengguna KRL, yaitu dewasa dan bayi. Usia yang termasuk
kategori dewasa adalah diatas tiga tahun, sedangkan usia dibawah tiga tahun berarti terhitung
dalam kategori bayi dan tidak perlu membayar tiket. Selain harganya yang terjangkau, KRL
juga memiliki beberapa inovasi fasilitas, seperti Vending Machine, Aplikasi KRL Access, Lost
and Found, Tempat Duduk Prioritas, Kereta Wanita, Kartu Multi Trip, dan lain sebagainya.

Selama masa pandemi Covid-19, stasiun KRL memberlakukan protokol kesehatan
yang ketat dengan menerapkan 3M, yaitu memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga
jarak. Untuk naik KRL, para penumpang wajib memindai QR yang ada di pintu masuk stasiun
melalui aplikasi Peduli Lindungi. Selanjutnya akan ada pengecekan suhu tubuh dan telah
disediakan hand sanitizer untuk para penumpang. Jam operasional KRL juga dibatasi selama
pandemi. Selain itu, para penumpang harus menjaga jarak dan dilarang berbicara selama di
dalam KRL. Satpam yang bertugas di KRL akan melakukan pengecekan terhadap orang-orang
yang dapat berpotensi untuk menyebabkan penularan Virus Covid-19.

Harga yang ditetapkan untuk menggunakan KRL sangat terjangkau, untuk jarak 1-25
kilometer hanya dibandrol dengan harga Rp3.000, lalu akan bertambah sebesar Rp1.000 untuk
tiap 10 kilometer selanjutnya dan berlaku kelipatan. Metode pembayaran yang dapat digunakan
untuk menggunakan KRL ada dua pilihan metode, yaitu dengan E-Card (BCA Flazz Card, BNI
TapCash, Indomaret Card, dll) atau menggunakan Kartu Multi Trip (KMT) yang telah
disediakan oleh KRL.

Kartu Multi Trip (KMT) adalah uang elektronik yang diterbitkan oleh PT. Kereta
Commuter Indonesia. KMT dibuat untuk memudahkan penumpang kereta saat pembayaran
tiket KRL. KMT dapat digunakan untuk membayar tiket KRL, membayar parkir di stasiun,
serta membayar merchant yang telah bekerja sama dengan PT. Kereta Commuter Indonesia.
Ada tiga jenis KMT, yaitu KMT Reguler seharga Rp30.000 dengan saldo sebesar Rp10.000,
serta KMT X-Presi dan KMT Special Edition seharga Rp50.000 dengan saldo sebesar
Rp15.000.

Melihat terdapat banyak cara untuk mengakses KRL, tulisan ini bertujuan untuk
membandingkan lebih lanjut mengenai penggunaan E-Card Pribadi dan Kartu Multi Trip yang
ada di Stasiun KRL Jabodetabek, terutama dalam efisiensi, kemudahan Top-Up, serta
kelebihan dan kekurangan dari masing-masing kartu. Dalam penelitian ini, pengumpulan data
dilakukan secara kuantitatif, yakni dengan menyebarkan angket berupa kuesioner dan
melakukan wawancara langsung kepada orang yang terlibat.

Informasi mengenai E-Card dan Kartu Multi Trip yang mendukung penelitian
sederhana ini diperoleh melalui studi pustaka terhadap berbagai sumber, mulai dari Website
resmi PT Commuter Jabodetabek, jurnal, serta artikel-artikel yang terkait dengan penelitian ini.

Karakteristik Pengguna KRL Jabodetabek
Berdasarkan hasil penyebaran kuesioner yang telah dilakukan pada 7 Juni 2022 hingga

20 Juni sehingga didapat 100 responden dengan karakteristik sebagai berikut.

Gambar 1. Rentang usia pengguna KRL Jabodetabek

Hasil kuesioner menunjukkan bahwa sebanyak 63% pengguna KRL didominasi oleh
rentang usia antara 19-22 tahun. Kemudian dilanjutkan dengan responden yang memiliki
rentang usia 15-18 tahun sebanyak 31%. Lalu sebanyak 6% sisanya adalah gabungan pengguna
KRL dengan rentang usia 23-30 tahun.

Gambar 2. Pekerjaan pengguna KRL Jabodetabek

Sebanyak 86% dari pengguna KRL adalah kalangan pelajar dan mahasiswa. Lalu
sisanya sebanyak 14% berprofesi sebagai karyawan swasta, tenaga pendidik, dan pegawai
negeri.

Gambar 3. Persebaran domisili pengguna KRL Jabodetabek

Pengguna KRL merupakan orang-orang yang berdomisili di kawasan Jakarta, Bogor,
Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek). Terdapat sebanyak 81% pengguna KRL yang
berdomisili di Tangerang. Kemudian dilanjutkan dengan sebanyak 9% pengguna KRL yang
berdomisili di Jakarta. Lalu sisanya sebanyak 10% adalah gabungan pengguna KRL yang
berdomisili di Bogor, Depok, dan Bekasi.

Berdasarkan hasil kuesioner, terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi seseorang
lebih memilih untuk menggunakan KRL dibandingkan dengan transportasi lainnya. Hal
pertama yang menjadi pertimbangan adalah dikarenakan tarif KRL yang terjangkau. Kemudian
hal kedua yang menjadi pertimbangan adalah efisiensi waktu, KRL memiliki jadwal dan rute
tertentu sehingga para penumpang bisa memperkirakan kapan bisa tiba di lokasi yang dituju
tepat pada waktunya. Faktor lain yang menjadi nilai tambah dari KRL adalah fasilitasnya yang
lengkap sehingga membuat para calon penumpang nyaman dan merasa aman selama bepergian
menggunakan KRL.

Para penumpang di kalangan pelajar dan mahasiswa biasanya menggunakan KRL
untuk pergi berkumpul dengan teman-teman dan juga mengikuti beberapa kegiatan
sukarelawan. Penumpang dari kalangan pegawai tentunya menggunakan KRL untuk pergi ke
tempat kerja atau bertemu dengan rekan kerja mereka. Terdapat cukup banyak responden yang
menggunakan KRL untuk mengunjungi keluarga. Dari hasil kuesioner, ada beberapa pelajar
dan mahasiswa yang menggunakan KRL untuk pergi ke tempat les/kursus. Lalu untuk
selebihnya adalah untuk sekadar menikmati pemandangan selama di dalam KRL, mencoba hal
baru dengan naik KRL, bahkan ada responden yang menggunakan KRL hanya untuk melepas
rasa rindunya kepada KRL.

Penggunaan E-Card Pribadi di Stasiun KRL Jabodetabek
Di era modern seperti sekarang ini, semua hal yang berkaitan dengan benda elektronik

semakin marak digunakan hampir di seluruh kalangan usia. Penggunaan alat elektronik ini
merupakan salah satu bentuk dari pemanfaatan perkembangan teknologi yang semakin
berkembang. Salah satu sektor yang memanfaatkan perkembangan dalam bentuk benda
elektronik tersebut adalah alat pembayaran berbasis kartu dan uang elektronik.

Kartu elektronik atau E-card saat ini telah menjadi salah sarana transaksi yang sah di
kalangan masyarakat luas. Eksistensi dari E-Card sendiri dapat menggantikan keberadaan uang
kertas dan logam. Aktivitas transaksi yang menggunakan E-Card terbukti lebih cepat, akurat,
dan efisien. Terdapat berbagai jenis E-Card, seperti BCA Flazz Card, BNI TapCash, Indomaret
Card, Kartu Multi Trip, dan lain-lain. Penggunaan berbagai jenis E-Card ini terbukti dapat
mempermudah metode pembayaran dan juga akses masuk ke suatu tempat, salah satunya
adalah untuk proses transaksi sebelum bepergian menggunakan KRL.

Menurut Listfield dan Montes-Negret (1994:27) sistem pembayaran adalah peraturan,
standar, serta instrumen yang digunakan untuk pertukaran nilai keuangan (Financial Value)
antara dua pihak yang terlibat untuk melepaskan diri dari kewajiban. Setiap orang tentunya
memiliki perbedaan cara dalam melakukan transaksi pembayaran dimana metode transaksi
yang digunakan biasanya adalah yang dianggap paling praktis bagi dirinya. Banyaknya
masyarakat yang melakukan transaksi menggunakan E-Card merupakan salah satu bukti dari
kemudahan yang ditawarkan oleh metode tersebut .

Berdasarkan hasil kuesioner, kebanyakan responden lebih memilih untuk
menggunakan E-Card Pribadi, yaitu BCA Flazz Card. Hal tersebut dikarenakan BCA Flazz
Card memiliki beberapa keunggulan dibandingkan dengan kartu-kartu lainnya. Keunggulan
BCA Flazz Card diantaranya mudahnya mengisi saldo kartu, mengingat terdapat fitur NFC di
smartphone yang dapat mengisi saldo hanya dengan menempelkan kartu ke bagian belakang
smartphone. Penggunaan BCA Flazz Card juga lebih simpel dan efisien. Selain itu, BCA Flazz
Card memiliki banyak kegunaan lain selain untuk akses KRL seperti untuk pembayaran tol,
parkir, dan lain-lain. Penggunaan BCA Flazz Card juga lebih simpel dan efisien. Hasil
kuesioner juga menunjukkan bahwa terdapat beberapa responden yang menggunakan E-Card
selain BCA Flazz Card diantaranya adalah BNI Tapcash, Indomaret Card, Brizzi, dan Mandiri
e-Money.

Berdasarkan hasil wawancara dengan beberapa pengguna KRL, responden lebih
memilih untuk menggunakan E-Card pribadi dikarenakan tidak diperlukan uang tunai untuk
mengisi saldonya, berbeda dengan Kartu Multi Trip yang harus diisi di loket stasiun KRL
dengan metode pembayarannya menggunakan uang tunai. Pihak loket stasiun KRL tidak
menerima pembayaran menggunakan kartu debit, barcode, atau alat pembayaran lainnya selain
uang tunai.

Penggunaan Kartu Multi Trip di Stasiun KRL Jabodetabek
Kartu Multi Trip merupakan kartu prabayar isi ulang yang dikeluarkan oleh KAI

Commuter sebagai tiket Kereta Rel Listrik (KRL) Commuter Line dengan persyaratan saldo
minimum. Kartu Multi Trip hanya bisa digunakan untuk transaksi di stasiun KRL saja dan
saldonya bisa diisi ulang di semua loket stasiun KRL di wilayah Jakarta, Bogor, Depok,
Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek).

Kuesioner yang telah disebarkan kepada 100 responden menunjukkan bahwa tidak
sepenuhnya dari mereka mengetahui mengenai Kartu Multi Trip. Berdasarkan data yang
didapat, terdapat sebanyak 68 responden yang telah mengetahui mengenai Kartu Multi Trip
dan sebanyak 32 responden belum mengenal Kartu Multi Trip.

Gambar 4. Tahu mengenai Kartu Multi Trip

Terdapat sebanyak 68 responden yang telah mengetahui mengenai keberadaan atau
eksistensi dari Kartu Multi Trip dan 32 responden lainnya belum mengetahui mengenai Kartu
multi Trip. Sebanyak 86,9% responden menunjukkan bahwa keberadaan atau eksistensi dari
Kartu Multi Trip ini mempermudah akses dalam melakukan pembayaran KRL.

Gambar 5. Eksistensi dari kartu Multi Trip

Berdasarkan hasil kuesioner, responden yang lebih memilih untuk menggunakan Kartu
Multi Trip dikarenakan mudah didapatkan dan bisa diisi saldonya di seluruh loket stasiun KRL
Jabodetabek. Alasan lainnya adalah karena mereka tidak memiliki fitur NFC pada
smartphonenya sehingga sedikit sulit untuk mengisi saldo jika menggunakan E-Card lainnya.
Kartu Multi Trip juga lebih murah dibandingkan dengan E-Card lainnya.

Menurut hasil wawancara dengan beberapa responden, mereka lebih memilih
menggunakan Kartu Multi Trip dikarenakan mereka tidak memiliki m-Banking untuk mengisi
saldo melalui fitur NFC yang ada di smartphone. Selain itu, Kartu Multi Trip juga memiliki
warna yang khas yaitu hitam pekat sehingga lebih mudah untuk membedakannya dengan kartu
lainnya. Akan tetapi, bagi pengguna KRL yang jarang melakukan pembayaran menggunakan
uang tunai, terasa sedikit sulit mengingat pengisian saldo Kartu Multi Trip di Stasiun KRL
hanya dapat dilakukan menggunakan uang tunai.

Kesimpulan
Dari hasil analisis data yang telah didapat melalui penyebaran kuesioner kepada 100

responden yang berdomisili di Jabodetabek, terdapat sebanyak 79 responden lebih nyaman
menggunakan BCA Flazz Card. Dengan menggunakan BCA Flazz Card, pengguna dapat
dengan mudah melakukan top up saldo. Top up saldo bisa dilakukan di ATM atau minimarket
terdekat. Pengisian saldo pada BCA Flazz Card dapat dilakukan dengan menempelkan Flazz
Card pada tempat NFC smartphone pengguna. Tidak hanya itu, faktor lain yang mendukung
para responden menggunakan BCA Flazz Card dikarenakan multifungsi. Beberapa responden
biasanya mengunjungi berbagai macam tempat dengan pembayaran akses masuk yang berbeda.
Namun, dengan memiliki BCA Flazz Card ataupun E-Card pribadi lainnya, mereka bisa
mengakses banyak tempat hanya dengan menggunakan satu jenis kartu saja.

Disamping itu, terdapat sebanyak 21 responden lebih memilih untuk menggunakan
Kartu Multi Trip karena smartphone yang dimiliki tidak mendukung fitur NFC dan top up bisa
dilakukan dengan mudah di loket stasiun. Beberapa responden memilih untuk menggunakan
Kartu Multi Trip juga dikarenakan mereka tidak memiliki m-Banking pada smartphone mereka
sehingga mereka hanya bisa melakukan pembayaran menggunakan uang tunai.

DAFTAR PUSTAKA

KAI Commuter. 2015. Inovasi KAI Commuter. Retrieved from https://www.krl.co.id/tentang-
kami . Diakses pada 10 Juni 2022.

Wardhani, Alvina Vivian. 2022. Cara Naik KRL Bagi Pemula dengan Harga Tiket Murah
2022. Retrieved from https://tiketresmi.com/cara-naik-krl/. Diakses pada 10 Juni 2022.

Listfield, R dan F. Montes-Negret. 1994. Modernizing Payment System In Emerging
Economies. World Bank Policy Research Working Paper, 1336.

Hardika dkk. (2017). Study of The Use of Multi-trip Cards for Transportation in Jakarta.
Conference on Global Research on Sustainable Transport (GROST 2017), 147, 440.

Perbandingan Minat Pengguna Platform Hiburan
Instagram dan Tiktok Terhadap Mahasiswa Prasetiya Mulya

Rachel Melynda

Abstrak
Kepenulisan ini mengambil tema antusiasme masyarakat muda, khususnya mahasiswa

Universitas Prasetiya Mulya terhadap platform hiburan Instagram dan Tiktok, terutama di
masa pandemi Covid-19. Indonesia memiliki penduduk yang bisa dibilang cukup banyak
sehingga sangat mudah bagi kedua perusahaan ini untuk memasarkan layanan hiburannya.
Penelitian ini dilakukan dengan metode deskriptif kualitatif dengan melakukan pengambilan
data melalui survei kuesioner digital, Google Forms.

Kata Kunci: Instagram, Tiktok, Pandemi Covid-19, Generasi Muda.

Pendahuluan
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), teknologi memiliki arti metode

ilmiah untuk mencapai tujuan praktis yang dibuat demi kelangsungan dan kenyamanan hidup
manusia. Di jaman seperti ini, teknologi sangat dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari
manusia, terutama anak muda atau milenial. Dunia seakan-akan sudah berpindah ke layar dan
masyarakat lebih menggunakan platform-platform hiburan seperti Instagram dan Tiktok
dibangkan hiburan fisik. Terutama dalam pandemi ini, teknologi ini makin melekat dengan
kehidupan semua orang. Saat semua orang diminta untuk tetap dirumah dan menjaga jarak,
platform-platform inilah satu-satunya hiburan anak muda.

Sudah sedari dulu, platform Instagram sangat digemari masyarakat. Dengan fitur-fitur
menarik seperti meng-upload foto, mengupdate story, dan chatting, masyarakat dapat
mengetahui update terbaru tentang teman-temannya. Namun sejak pandemi Covid-19
Instagram memiliki pengguna lebih banyak. Saat semua orang menjaga jarak dan tidak bisa
bertemu secara tatap muka, Instagram membantu sesama masyarakat tetap update dengan
berita terkini tentang kehidupan sesamanya. Tidak hanya itu, baru-baru ini Instagram
menambahkan fitur Reels dimana warganet dapat mengunggah video 90 detik yang dapat
menjadi hiburan bagi pengguna. Namun, setiap perusahaan tentu memiliki saingan dan
sekarang, saingan terberat Instagram adalah platform dari Tiongkok, Tiktok.

Tiktok adalah sebuah platform hiburan yang baru-baru ini terkenal, tepatnya
sejak tahun 2019. Platform ini digemari karena kemampuannya mengupload video-video agar
masyarakat dapat berkarya secara kreatif dan bebas. untuk para pengguna yang hanya
menonton, Tiktok sangat menarik karena platform ini menampilkan video-video secara acak
berdasarkan kesukaan pengguna. Tidak hanya itu, video-video di platform ini cenderung lucu,
mengedukasi, menghibur dan juga dapat mengisi waktu luang. Tidak heran saat pandemi
Covid-19, Tiktok menjadi aplikasi hiburan nomor satu di Indonesia mengalahkan posisi
Instagram yang sudah menempatkan posisi itu selama bertahun-tahun.

Oleh karena itu, penelitian ini berangkat dari ketertarikan penulis terhadap
perbandingan tersebut. Untuk mendapat jawaban dan materi yang diinginkan mengenai topik
yang diangkat, penulis melakukan penelitian dengan metode kualitatif dengan cara
melakukan survei terhadap lingkungan mahasiswa Universitas Prasetiya Mulya.

Platform Hiburan Instagram
Menurut Meta, perusahaan yang membuat aplikasi ini, Instagram merupakan sosial

media berbasis gambar yang memberikan layanan berbagi foto atau video secara online.

Melalui platform ini, pengguna dapat mengunggah foto dan video di profil mereka dan
pengguna juga dapat melihat story yang bersifat sementara yang hanya akan ditampilkan
selama 24 jam agar pengguna dapat melihat update teman-teman sekelilingnya didalam
waktu kini. Aplikasi Instagram memudahkan para pengguna untuk menjelajahi konten
konten yang tertera di aplikasi ini berdasarkan lokasi dan tag.

Di zaman sekarang, hampir semua remaja memiliki akun Instagram, dari anak kecil
hingga orang tua, Instagram sangat populer. Namun, ketertarikan masyarakat pada saat
pandemi Covid-19 melesat tinggi. Ketika semua orang diharuskan untuk tinggal di dalam
rumah dan mengurangi aktifitas keluar, hal yang dapat mereka lakukan hanya bermain di
platform-platform sosial media dan menjadikannya sebagai hiburan. Kebanyakan orang
menghabiskan waktu-waktunya menjelajahi platform ini karena terdapat banyak sekali
konten menarik, mulai dari masak-memasak, seni, ketertarikan kepada mobil, dan juga
pakaian. Tidak hanya itu, pengguna juga dapat mendapatkan edukasi-edukasi penting melalui
platform ini karena banyak sekali akun edukasi baik mengenai keuangan, pelajaran di
sekolah, hingga bahasa-bahasa. Karena hal ini, banyak orang sangat tertarik dengan
menggunakan platform Instagram,

Hal menarik lainnya mengenai platform ini adalah, Instagram dapat digunakan
sebagai tempat kerja. Melalui Instagram, orang-orang dapat mendapatkan pemasukan yang
bisa dibilang cukup besar. Bahkan ada beberapa Selebgram, (selebriti yang terkenal di
Instagram) mendapatkan omset yang lebih besar daripada orang-orang yang bekerja 8 jam
sehari di perkantoran. Hal menarik lainnya yang membuat Instagram mudah dijadikan tempat
pekerjaan adalah, pengguna dapat bekerja kapanpun dan dimanapun karena yang dibutuhkan
hanya telepon genggam yang memiliki aplikasi Instagram beserta sinyal yang kuat. Pengguna
atau yang sering disebut Selebgram biasanya melakukan endorse dimana toko-toko online
mengirimkan beberapa produk mereka untuk dicoba dan di review oleh selebgram untuk


Click to View FlipBook Version