buka maupun tutup. Fitur lain yang tersedia dari aplikasi ini adalah tersedianya pengaturan menu
makanan, dengan fitur ini, pengguna dapat mengubah informasi menu yang akan dipesan, seperti
menambah deskripsi untuk tingkat kepedasan suatu makanan, dan sebagainya. GoFood juga
menyediakan sistem pembayaran dengan GoPay secara online, namun menerima pembayaran
secara cash atau offline.
GoFood yang merupakan bagian dari Aplikasi Gojek ini merupakan sarana yang paling
sering digunakan dalam industri layanan pesan antar makanan karena memiliki
keunggulan-keunggulan tersebut. Namun, posisi GoFood tetap saja dapat bergeser karena
banyaknya saingan dalam industri layanan pesan antar makanan ini, contohnya Grab Food dan
Shopee Food. Maka dari itu, penting untuk meningkatkan customer satisfaction atau kepuasan
pelanggan. Customer satisfaction merupakan respon perusahaan untuk memenuhi harapan
pelanggan (Zhang et al., 2020). Kepuasan pelanggan dapat dinilai dengan seberapa senang dan
puasnya pelanggan terhadap produk atau layanan yang diberikan (Cronin & Taylor, 1992).
Sebagian besar konsumen, sebanyak 82% konsumen berhenti berlangganan karena merasa tidak
puas dan menerima pelayanan yang buruk. Hal ini membuktikan bahwa konsumen selalu
menginginkan pelayanan yang memuaskan dan maksimal, sehingga setiap jasa layanan pesan
antar makanan harus memiliki fitur serta pelayanan yang maksimal untuk memenuhi keinginan
konsumen yang berbeda-beda. Setiap platform layanan pesan antar makanan memiliki strategi
untuk membuat konsumennya puas, contohnya dengan mengadakan promo yang menarik, terus
mengembangkan fitur-fitur dalam aplikasi, serta memudahkan penggunaan aplikasi sehingga
pelayanan yang diberikan aplikasi berjalan dengan lancar.
Selain itu, menurut Kotler & Keller (2016), service quality juga merupakan salah satu
faktor penting dalam memenuhi kepuasan pelanggan. GoFood merupakan salah satu bagian jasa
layanan pesan antar makanan dengan memanfaatkan teknologi, maka pelayanan yang diberikan
juga berupa e-service. E-service quality menurut Santos (2003) merupakan sebuah kualitas
layanan web yang dapat memenuhi kepuasan penggunanya selama proses transaksi. Dalam hal
ini, e-service quality dapat dilihat dari tampilan dan layanan yang disediakan oleh aplikasi
GoFood sendiri. Sebuah perusahaan dengan pelayanan elektronik yang berkualitas tinggi
tentunya akan membentuk kepuasan dalam diri pelanggan. Maka dari itu, terdapat fitur ulasan
pelanggan atau review yang diluncurkan pada 30 Juli 2021 yang memungkinkan pelanggan dapat
menilai restoran dan driver setelah mereka memesan makanan dari GoFood. Ulasan yang
diberikan oleh pelanggan ini nantinya akan terlihat oleh pengguna lain dan dapat menjadi
referensi bagi pelanggan lain. Dengan ini, pelanggan dapat mengetahui lebih jauh mengenai
restoran dari rating yang diberikan pelanggan lain, fitur ini merupakan bukti bahwa GoFood
terus berinovasi dan berkembang untuk membentuk kenyamanan bagi pelanggannya.
Hasil Survey
GoFood merupakan salah satu bagian dari layanan pesan antar makanan yang terus
mengembangkan fitur-fiturnya demi mengambil hati konsumen. Sesuai dengan survey yang
disebarkan kepada mahasiswa Universitas Prasetiya Mulya, dengan total 100 responden, 97
mahasiswa menggunakan jasa layanan pesan antar makanan, dan lebih spesifik lagi 96
mahasiswa dari 100 responden tersebut menggunakan GoFood sebagai jasa layanan pesan antar
makanan. Para mahasiswa ini menggunakan GoFood dengan berbagai macam alasan, seperti
banyaknya promo, pelayanan yang baik, terpercaya, aplikasi mudah digunakan, kemudahan
transaksi dengan fitur GoPay maupun CoD (Cash on Delivery) atau bayar ditempat, serta
memiliki pilihan restoran yang lengkap. Namun sebagian besar mahasiswa Prasetiya Mulya
menggunakan GoFood karena banyaknya promo, dan karena aplikasi Gojek tersebut mudah
digunakan, serta memiliki fitur pembayaran yang bervariasi, mulai dari menggunakan GoPay,
transfer bank, CoD (Cash on Delivery), dan sebagainya. Hal ini membuktikan bahwa sebagian
besar mahasiswa Prasetiya Mulya merasa puas dan nyaman dengan pelayanan dan fitur-fitur
yang dimiliki oleh GoFood.
Sebelum terjadi pandemi, tingkat keseringan mahasiswa Prasetiya Mulya paling banyak
berada di angka 3 dengan total 34 responden yang berarti mereka menggunakan GoFood
kadang-kadang dari skala 1 sampai 5, dimana angka 1 berarti jarang, dan angka 5 berarti sangat
sering. Sesuai data, sebelum terjadinya pandemi pun, GoFood sudah lumayan banyak digunakan,
dan terkenal di kalangan mahasiswa Prasetiya Mulya sebagai jasa layanan pesan antar makanan.
Setelah terjadinya pandemi COVID-19, terjadi peningkatan transaksi GoFood dari yang
sebelumnya berada di skala 3 menjadi skala 4 dan 5 dengan jumlah responden 44 orang di angka
4, dan 43 orang di angka 5. Hal ini terjadi karena mahasiswa Prasetiya Mulya lebih sering
menggunakan GoFood dibandingkan berkunjung ke restoran secara langsung untuk membeli
makanan take away. Berdasarkan survey yang disebarkan, 85 responden dari 100 responden
lebih memilih untuk menggunakan GoFood dengan berbagai macam alasan seperti lebih praktis,
lebih efisien, lebih cepat dan menghemat waktu, dan semenjak terjadi pandemi Covid-19
beberapa mahasiswa tidak diperbolehkan untuk pergi keluar rumah, sehingga mereka
menggunakan GoFood. Selain itu, hal ini juga membantu mengurangi penyebaran virus
Covid-19, beberapa mahasiswa mengatakan bahwa jika membeli makanan menggunakan jasa
layanan pesan antar, makanan tersebut dapat di disinfektasi terlebih dahulu sehingga jauh lebih
aman.
Hal-hal yang disebutkan di atas membuktikan bahwa GoFood terus berkembang terutama
dalam masa pandemi Covid-19, dengan meningkatkan e-service quality dengan fitur-fitur yang
sangat membantu mempermudah kehidupan sehari-hari mahasiswa Prasetiya Mulya dalam
membeli makanan dari restoran. Ketika service quality meningkat, maka akan terbentuk
customer satisfaction, dan jika para pelanggan merasa puas dengan layanan yang diberikan oleh
GoFood, maka mereka akan terus menggunakan aplikasi tersebut, bahkan bisa lebih sering
daripada sebelumnya. Hal ini terbukti dengan survey dan data yang mendukung bahwa terjadi
peningkatan dalam transaksi GoFood sejak masa pandemi Covid-19 di kalangan mahasiswa
Prasetiya Mulya.
Kesimpulan
Di masa pandemi virus Covid-19 ini, Indonesia memberlakukan PSBB sesuai dengan
Keppres Nomor 21 Tahun 2020. Akibatnya, masyarakat cenderung beralih ke penggunaan
e-commerce dalam kehidupan sehari-hari. Pemberlakuan PSBB yang mendorong masyarakat
untuk tetap berada di rumah menyebabkan peningkatan transaksi dalam aplikasi jasa layanan
pesan antar makanan yaitu GoFood. Menurut data Statista (2021), jumlah pengguna layanan
pesan-antar makanan online meningkat dari tahun 2017 hingga 2020. Hal ini membuktikan
bahwa layanan pesan-antar makanan memiliki peminat yang cukup signifikan di kalangan
masyarakat Indonesia, terutama sejak adanya pandemi Covid-19. Layanan pengiriman ini
menarik bagi jenis pelanggan yang paham teknologi seperti Milenial dan Gen Z, yang semakin
menyederhanakan operasi sehari-hari, terutama kepada mahasiswa. GoFood sendiri merupakan
bagian dari aplikasi Gojek dan membantu masyarakat untuk menemukan dan memesan makanan
secara online.
Konsumen selalu menginginkan pelayanan terbaik yang membuat mereka puas, sehingga
setiap layanan pesan antar makanan harus memiliki fitur dan layanan terbaik untuk memenuhi
tuntutan konsumen yang berbeda-beda. Selain kualitas pelayanan juga menjadi faktor penting
dalam mencapai kepuasan pelanggan. Karena GoFood merupakan bagian dari layanan pesan
antar makanan berbasis teknologi, maka layanan yang diberikan juga diberikan dalam bentuk
e-services. GoFood merupakan bagian dari layanan pesan-antar makanan yang terus berkembang
kemampuannya untuk merebut hati konsumen.
Berdasarkan survei yang disebarkan di kalangan mahasiswa Prasetiya Mulya, sebagian
besar mahasiswa Prasetiya Mulya merasa puas dengan layanan dan fitur yang dimiliki GoFood.
Maka dari itu, mahasiswa Prasetiya Mulya lebih sering menggunakan GoFood daripada langsung
ke restoran untuk membeli makanan takeaway. Sebagian besar responden lebih memilih
GoFood karena berbagai macam alasan, antara lain: GoFood digunakan karena lebih nyaman,
efisien, lebih cepat, dapat menghemat waktu, dan beberapa mahasiswa belum diperbolehkan
keluar rumah sejak pandemi Covid-19 meningkat. Ketika kualitas layanan meningkat, kepuasan
pelanggan meningkat, dan ketika pelanggan puas dengan layanan yang diberikan oleh GoFood,
mereka dapat menggunakan aplikasi lebih sering dari sebelumnya. Hal ini didukung oleh
penelitian dan data yang menunjukkan adanya peningkatan transaksi GoFood di kalangan
mahasiswa Prasetiya Mulya sejak pandemi Covid-19 dibandingkan sebelumnya.
Lampiran
Hasil Survey
DAFTAR PUSTAKA
FAQ | GoFood - Tentang GoFood | GO-JEK Indonesia. (n.d.). Gojek. Retrieved June 16, 2022,
from https://www.gojek.com/gofood/partner-center/faq/gofood/about-gofood/
Ikram, M. M. (2021, Juni). Keputusan Penggunaan Layanan Gofood Selama Masa Pandemi
Covid-19. Retrieved June 16, 2022, from
https://jurnal.ibik.ac.id/index.php/jimkes/article/view/467/616
Sudaryono, D., Rahwanto, E., & Komala, R. (2020, Agustus). E-COMMERCE DORONG
PEREKONOMIAN INDONESIA,SELAMA PANDEMI COVID 19 SEBAGAI
ENTREPRENEURMODERN DAN PENGARUHNYA TERHADAP BISNIS OFFLINE.
JURNAL MANAJEMEN DANBISNIS (JUMANIS) PRODI KEWIRAUSAHAAN, VOL:02 NO :
02(P.ISSN : 2686-0554). http://ejournal.lppm-unbaja.ac.id/index.php/jmb/article/view/1011/588
Setyowati, D. (2021, July 30). Transaksi GoFood, ShopeeFood, Traveloka Eats Meroket saat
PPKM Level 4 - Startup Katadata.co.id. Katadata. Retrieved June 16, 2022, from
https://katadata.co.id/desysetyowati/digital/6103d72b9abdb/transaksi-gofood-shopeefood-travelo
ka-eats-meroket-saat-ppkm-level-4
Elisabeth, D., Nasir, A., & Suyono, J. (2019). The Effect of Service Quality on Customer
Satisfaction at Koperasi Karyawan PT. Lotus Indah Textile Industry. International Journal of
Entrepreneurship and Business Development, Volume 2 Number 2(2597-4785), 172-178.
Jemandu, L., & Prastya, D. (2021, July 30). Dua Fitur Baru GoFood Diluncurkan: Review
Pelanggan dan Rekomendasi Kuliner. Suara.com. Retrieved June 19, 2022, from
https://www.suara.com/tekno/2021/07/30/205319/dua-fitur-baru-gofood-diluncurkan-review-pel
anggan-dan-rekomendasi-kuliner
Final Paper Reading & Writing
Disusun Oleh:
Christabella Gracia
Hospitality Business
13412110008
SCHOOL OF BUSINESS & ECONOMICS
Universitas Prasetiya Mulya
2022
Pengaruh Pandemi Covid-19 dan Maraknya Penyebaran E-book Terhadap Strategi
Penjualan di Toko Buku Gramedia
ABSTRAK
Penulisan karya ilmiah ini memiliki tujuan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh
pandemi Covid-19 dan tingginya penyebaran literasi digital terhadap bisnis toko buku, juga
mempelajari lebih lanjut tentang solusi dan tindakan apa saja yang diambil oleh para pemangku
kepentingan untuk mengatasi permasalahan yang terjadi. Jenis penelitian yang dilakukan berupa
penelitian kualitatif dengan instrumen penelitian berupa observasi dan riset pencarian sumber
data. Metode yang digunakan untuk memperoleh data adalah dengan melakukan studi pustaka di
sumber-sumber yang telah terakreditasi keabsahannya. Berdasarkan data-data yang diperoleh,
penulis dapat menyimpulkan bahwa toko buku Gramedia mengalami dampak yang cukup
signifikan terhadap jumlah penjualan buku akibat hadirnya pandemi. Untuk itu, mereka
melakukan usaha-usaha seperti pemanfaatan media sosial dan melakukan berbagai kerjasama.
Toko buku Gramedia juga menunjukkan reaksi yang positif terhadap berkembangnya teknologi
dengan menghadirkan inovasi kolaborasi antara media literasi dan digital.
Kata kunci: Gramedia, digital, penjualan
ABSTRACTION
The purpose of writing this scientific paper is to find out how much influence the Covid-19
pandemic and the high spread of digital literacy have on the bookstore business, as well as to
learn more about solutions and what actions are taken by stakeholders to overcome the problems
that occur. The type of research conducted is in the form of qualitative research with research
instruments in the form of observation and research to find data sources. The method used to
obtain the data is by conducting a literature study on sources that have been accredited for
validity. Based on the data obtained, the author can conclude that the Gramedia bookstore
experienced a significant impact on the number of book sales due to the presence of the
pandemic. Therefore, they carry out efforts such as utilizing social media and conducting various
collaborations. The Gramedia bookstore also shows a positive reaction towards development of
technology by presenting collaborative innovations between literacy media and digital.
Keywords: Gramedia, digital, sales
Buku merupakan media yang cukup krusial bagi kehidupan manusia. Hampir seluruh
informasi dan pengetahuan yang ada dapat ditemukan di dalam buku. Tidak hanya sebagai
sumber ilmu, buku juga dapat dijadikan sebagai objek penghibur dikala penat. Bagi para peminat
buku bacaan, membaca buku bisa menjadi kegiatan yang dilakukan saat ada waktu luang. Maka
dari itu, dapat dikatakan bahwa buku memberikan banyak dampak positif bagi masyarakat.
Setidaknya ada dua jenis buku yang dapat diakses oleh para pembaca, yakni buku fisik
dan non-fisik. Buku fisik adalah literasi atau karangan yang telah melalui proses pencetakan di
atas lembaran-lembaran kertas. Sedangkan buku non-fisik atau sering disebut sebagai E-book
adalah buku yang berbentuk elektronik atau digital, dengan media-media seperti handphone,
laptop, atau kindle sebagai alat dalam penggunaannya.
Seiring berkembangnya teknologi, banyak pembaca buku fisik mulai beralih pada E-book
dikarenakan akses yang lebih mudah dan cepat serta meminimalisir terjadinya global warming
yang disebabkan oleh penggunaan kertas yang berlebihan. Ditambah dengan adanya pandemi
Covid-19 yang melanda membuat minat pembelian buku fisik semakin berkurang. Hal ini
tentunya berdampak buruk bagi para penerbit dan toko buku. Riset dari IKAPI menunjukkan
bahwa semasa pandemi, sebanyak 58,2% penerbit mengalami penurunan penjualan sebanyak
kurang lebih 50%. Selain itu, salah satu penerbit dan toko buku ternama di Indonesia yakni
Gramedia harus menutup secara sementara kurang lebih 61 toko yang ada.
Apabila keadaan ini terus berlanjut, maka keberlangsungan para penerbit buku bisa
terancam. Maka dari itu, diperlukan adanya solusi serta inovasi baru untuk mengatasi
permasalahan tersebut. Dengan itu, keuntungan bisa didapatkan oleh kedua pihak, baik itu para
peminat kegiatan literasi, juga para penerbit dan toko buku. Sehubungan dengan adanya
permasalahan ini, penulis memutuskan untuk melakukan penelitian.
Tujuan dari penelitian yang dilakukan adalah untuk memberi wawasan kepada pembaca
mengenai imbas apa saja yang dirasakan oleh instansi bisnis toko buku Gramedia akibat
terjadinya pandemi Covid-19 dan hadirnya buku digital di era modernisasi. Disamping itu,
penulisan karya ilmiah ini juga memiliki sasaran untuk mengetahui seberapa besar dan/atau jauh
usaha dari para pemangku kepentingan dari bisnis toko buku yang bersangkutan untuk
memperbaiki keadaan depresiasi penjualan yang terjadi.
Dalam menuliskan karya ilmiah ini, penulis melakukan penelitian jenis kualitatif dengan
metode pengambilan data berupa riset pengkajian literatur menggunakan sumber-sumber
tervalidasi yang ada. Hal ini dilakukan dengan memilih literatur yang relevan dengan karya
ilmiah yang ditulis dan mengorganisasikannya sesuai bagiannya masing-masing. Penulisan
kajian pustaka juga dilakukan sebagai bentuk apresiasi terhadap penulis sumber data yang
digunakan. Hasil penelitian akan ditulis dengan bentuk kutipan dan parafrase dari data yang
diperoleh.
Transisi dalam Kegiatan Literasi
Fase baru yang dialami dunia yakni era revolusi industri 4.0 membawa banyak perubahan
dalam berbagai aspek dan sektor kehidupan. Di era ini pula teknologi akan dioptimalkan,
sehingga secara otomatis akan terjadi perubahan pola hidup manusia yang awalnya konvensional
menjadi serba digital dan terkomputerisasi. Maka dari itu, akibat pergeseran aktivitas manusia
inilah diperlukan kesiapan sumber daya manusia dalam menerima dan menyerap teknologi.
Salah satu aspek yang masih kental dengan sifat konvensionalnya adalah kegiatan literasi
manusia. Media-media seperti buku fisik, koran, majalah, dan media literasi konvensional
lainnya masih banyak digunakan oleh masyarakat. Namun, tidak bisa dipungkiri bahwa generasi
di era ini tidak bisa lepas dari media digital dan internet. Akan tetapi, hal tersebut tidak memberi
dampak yang cukup signifikan bagi dunia literasi. Menurut riset dari IKAPI, penjualan buku
non-fisik atau e-Book di Indonesia masih terbilang sangat rendah. Hal ini terjadi karena
pendigitalisasian buku masih belum menjadi tren di kalangan peminat literasi. Kebiasaan
masyarakat membaca buku secara konvensional masih dinilai sebagai cara paling efektif.
Walaupun teknologi dan internet telah menjadi salah satu aspek penting dalam kegiatan manusia,
cara konvensional dalam kegiatan literasi masih belum berubah secara keseluruhan. Maka dari
itu, masih terdapat banyak toko buku yang beredar di masyarakat.
Melihat penjabaran di atas, bisa dikatakan buku fisik masih menjadi pilihan utama bagi
para peminatnya. Akan tetapi, pengabaian perkembangan teknologi tetap tidak bisa dilakukan.
Guna menyikapi perkembangan teknologi di era modern ini, perlu ada solusi sebagai bentuk
usaha untuk melatih masyarakat beradaptasi seiring dengan terjadinya pergeseran literasi.
Ketersediaan akses literasi digital seperti e-Book, aplikasi perpustakaan digital, dan teknologi
literasi lainnya menjadi alternatif solusi bagi masyarakat untuk beradaptasi dengan modernisasi.
Baik buku fisik maupun digital sama-sama berdampak positif dalam aspek penguatan minat
membaca, yang menjadi pembeda hanya tampak luarnya saja. Pemilihan penggunaan buku fisik
dan digital ini hanya bergantung pada porsi kebutuhan, kemampuan, serta konteks yang dialami
oleh individu.
Bisnis Literasi Indonesia Era Pandemi
Dunia perbukuan merasakan dampak yang sangat besar saat pandemi menghantam
Indonesia. Sebenarnya, pada tahun 2017, dunia literasi sudah mengalami keanjlokan hingga
-0,48% dan tidak pernah kembali ke angka pertumbuhan semula. Keberadaan pandemi di
Indonesia membuat kemerosotan yang semakin drastis.Menurut Ketua Umum IKAPI, pada
pandemi kuartal pertama, angka penurunan penjualan buku di Indonesia tercatat minum sebesar
17,27%. Keadaan di kuartal kedua semakin parah, dengan angka penjualan buku tercatat minus
sebesar 72,40%. Penurunan penjualan ini meliputi buku-buku fisik dan non-fisik/eBook.
Kemerosotan ini tentu membawa pengaruh yang besar bagi instansi-instansi literasi di
Indonesia. Banyak toko-toko buku yang harus gulung tikar, bahkan salah satu toko buku ternama
di Indonesia yakni Gramedia harus menutup sementara kurang lebih 61 cabang. Penurunan
penjualan secara konvensional ini tidak bisa serta merta langsung digantikan dengan sistem
digital/online, sebab pada saat itu belum terdapat kesiapan yang matang baik itu dari masyarakat
sebagai penerima dan toko buku sebagai penyedia layanan. Tidak hanya berdampak kepada
instansi bisnis, para penerbit dan distributor buku juga terkena imbas kemerosotan yang drastis
ini. Untuk menyikapi permasalahan ini, salah satu solusi yang dinilai cukup efektif adalah
dengan mengubah sistem penjualan dan penyebaran buku secara daring/online. Jaringan para
toko buku diperluas, dimana instansi literasi mulai bekerjasama dengan agensi marketplace dan
memindahkan penjualannya.
Solusi Gramedia Atasi Dampak Pandemi
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan sebelumnya, dalam salah satu jurnal
mengenai Strategi Komunikasi Pemasaran Toko Buku Gramedia di Jambi, terdapat informasi
bahwa memang terdapat pengaruh antara terjadinya pandemi Covid-19 dengan penjualan buku di
tempat tersebut. Dalam wawancara yang dilakukan penulis jurnal tersebut, narasumber
mengatakan bahwa keadaan pandemi Covid-19 sangat berpengaruh terhadap penjualan,
ditunjukkan dengan menurunnya penjualan penerbit buku sebanyak 40-70 persen. Melihat
permasalahan yang terjadi, tentunya pihak Gramedia tidak tinggal diam. Usaha-usaha untuk
memperbaiki keadaan dilakukan demi meningkatkan penjualan. Adapun usaha yang dilakukan
berupa:
1. Penggunaan Media Sosial sebagai Media Promosi
Menurut jurnal yang bersangkutan, Gramedia Jambi melakukan usaha dengan
mempergunakan media sosial yang sedang marak digunakan terutama di era pandemi. Mereka
menyebarkan informasi mengenai produk mereka menggunakan platform sosial media seperti
instagram, facebook, bahkan whatsapp. Promosi di media sosial ini memiliki tujuan untuk
meningkatkan minat pembeli dalam melakukan transaksi di Gramedia sehingga penjualan bisa
ditingkatkan. Disamping itu, berdasarkan observasi yang penulis lakukan, beberapa toko
Gramedia cabang lain juga mengadakan promosi di platform media sosial TikTok untuk
meningkatkan penjualan. Pembuatan konten yang menarik dan disesuaikan dengan target market
yang sedang marak saat ini membuat video-video yang diunggah menarik banyak perhatian
pengguna platform media sosial TikTok. Hal ini dibuktikan dengan jumlah pengikut yang
dimiliki oleh akun Gramedia cabang Grand Metropolitan yang berjumlah diatas 100 ribu dengan
jumlah viewers video terbanyaknya sejumlah 2 juta.
2. Business to Business
Dalam jurnal berjudul ‘Strategi Komunikasi Pemasaran Terpadu Toko Buku Gramedia
Jambi’, terdapat informasi bahwa Gramedia Jambi juga aktif dalam melakukan berbagai kegiatan
kerjasama dengan institusi bisnis dan pendidikan. Kegiatan tersebut berupa event online ataupun
event business to business, di mana toko buku Gramedia mendatangi beberapa sekolah, institusi
pemerintahan juga bisnis untuk menawarkan produk. Beberapa usaha ini dinilai cukup efektif
dalam menangani keanjlokan penjualan buku yang terjadi selama pandemi, terlihat dari
pertahannya toko buku Gramedia hingga sekarang.
3. Perubahan Sistem Penjualan
Melihat keterpurukan kala pandemi, toko buku Gramedia berusaha menyiasati
permasalahan ini dengan membuka Gramedia Official Shop di kanal marketplace Shopee untuk
mempertahankan pemasukan di era pandemi. Dilansir dari republika.id, menurut General
Manager Marketing Gramedia, Gramedia Official Shop yang ada di Shopee menyediakan buku
yang tidak kalah lengkapnya dengan jajaran etalase di toko buku Gramedia konvensional.
Harapannya adalah memberi kemudahan bagi masyarakat untuk mendapatkan asupan literasi.
Selain itu, menurut Heads of Brand Management Shopee Indonesia, kerjasama antara Shopee
dan Gramedia ini tidak hanya mendukung Gramedia sendiri sebagai toko buku untuk bertahan
dan menjangkau masyarakat Indonesia lebih luas, tetapi juga berperan untuk memenuhi
kebutuhan pengguna Shopee dalam membeli buku-buku yang terpercaya keabsahannya.
Dengan dilakukannya kerja sama ini, penjualan buku bisa kembali ditingkatkan
dikarenakan platform Shopee menyediakan berbagai potongan harga juga fitur-fitur yang
memudahkan pembeli dalam memperoleh produk. Fitur-fitur itu berupa fitur gratis ongkir,
diskon besar-besaran saat tanggal kembar, dan sebagainya.
Penjabaran di atas merupakan pembahasan mengenai usaha-usaha yang dilakukan
Gramedia untuk mengatasi penurunan penjualan dikarenakan pandemi Covid-19. Namun,
penurunan penjualan buku tidak hanya disebabkan oleh pandemi. Hadirnya literasi
non-konvensional seperti e-book sebagai buah transformasi digital juga menjadi salah satu faktor
terjadinya kemerosotan pada minat pembelian buku. Gramedia sendiri merupakan toko buku
konvensional, akan tetapi perkembangan teknologi tetap tidak bisa diabaikan. Perlu adanya
adaptasi dengan maraknya pertumbuhan digital guna mempertahankan jalannya bisnis di era
modernisasi saat ini.
Inovasi Gramedia di Era Digital
Tidak bisa dipungkiri bahwa di zaman ini, generasi muda atau seringkali disebut sebagai
Generasi Z lebih memilih untuk menggunakan media digital dalam melakukan kegiatan
sehari-hari, termasuk kegiatan literasi. Hal ini dibuktikan dengan riset yang dilakukan oleh
Nurbaiti dan Marian dimana masyarakat dengan rentang usia 15 hingga 20 tahun di wilayah
Jabodetabek lebih tertarik untuk menggunakan e-Book sebagai media membaca dibandingkan
dengan masyarakat berusia 31 tahun ke atas. Maka dari itu, para penerbit buku perlu kembali
dengan gagasan dan model bisnis baru yang relevan dengan situasi modern saat ini demi
memenuhi kebutuhan dan kepuasan dari para pengguna.
Inovasi yang dilakukan Gramedia dalam menghadapi perkembangan teknologi sekaligus
pandemi adalah dengan hadirnya Gramedia dalam bentuk ‘Omni Channel’ sebagai bentuk
adaptasi terhadap situasi yang sedang terjadi. Omni Channel sendiri adalah sistem ritel dimana
pelanggan bisa menggunakan berbagai saluran / platform dalam melakukan transaksi jual beli.
Sarana jual beli tersebut bisa berupa e-commerce, online/mobile store, ataupun toko
konvensional. Mengutip dari dailysocial.com, Managing Director Gramedia Pustaka Utama
mengatakan bahwa minat masyarakat terhadap literasi mengalami kenaikan hingga 4,5% dari
rata-rata per bulan. Melihat peluang yang ada, Gramedia mempergunakan kesempatan ini dengan
meluncurkan Gramedia Go yang menawarkan layanan jual beli baik secara online atau jarak jauh
maupun secara offline atau konvensional.
Website Gramedia Go menyediakan dua pilihan layanan bagi para penggunanya, yakni
fitur pick-up in store dimana pelanggan dapat membeli buku secara online dan pesanannya
diambil dalam toko. Fitur yang kedua adalah order in store, dimana bagi pelanggan yang tidak
dapat menemukan buku yang diinginkan di toko, bisa memesan buku tersebut lewat web yang
tersedia dan diantar langsung ke rumah. Fitur-fitur yang disediakan di Gramedia Go ini
memudahkan pelanggan dalam mendapatkan buku-buku yang mereka inginkan. Inovasi ini juga
memberikan solusi alternatif bagi pelanggan yang belum mendapatkan kepuasan saat berbelanja
dalam toko.
Tidak hanya fitur berbelanja melalui website, Gramedia juga melihat adanya transisi
dalam kegiatan literasi yang hingga saat itu terus marak bergeser ke arah digital. Demi
keberlangsungan bisnis dan sebagai wujud penyesuaian dengan transformasi digital, Gramedia
meluncurkan aplikasi Gramedia Digital dimana pengguna bisa membeli dan membaca buku
secara digital di media elektronik apapun, baik itu handphone, laptop, iPad, dan perangkat
elektronik relevan lainnya. Gramedia Digital menawarkan fitur berlangganan dimana pengguna
membayar Rp 89.000 per bulan dan dapat mengakses lebih banyak buku-buku yang tersedia.
Hadirnya aplikasi Gramedia Digital memudahkan peminat literasi untuk mendapatkan kepuasan
juga meningkatkan keefektifan Gramedia dalam meningkatkan penjualan yang sebelumnya
mengalami penurunan.
Melihat dunia literasi yang kian berkembang ditunjukkan dengan meningkatnya minat
membaca dan tren menulis di platform digital, Gramedia memutuskan untuk merilis model bisnis
baru yakni produk platform web novel bernama ‘Gramedia Writing Project’. Produk ini
dijadikan sarana bagi komunitas hobi menulis, terutama mereka yang berasal generasi muda
untuk menyalurkan gagasan kreatif mereka dalam bentuk literasi digital yang dapat dinikmati
oleh banyak pengguna. Dalam salah satu interview untuk artikel dailysocial, Manager Director
Gramedia Pustaka Utama mengungkapkan bahwa Gramedia Writing Project ini dibentuk dalam
rangka mewujudkan ekosistem digital yang baru bagi dunia literasi. Kehadiran GWP ini
diharapkan dapat menggiatkan minat masyarakat Indonesia untuk membaca sekaligus menjadi
panutan media literasi lainnya dalam hal beradaptasi dengan digitalisasi.
Kesimpulan
Dunia literasi telah mengalami banyak perubahan selama beberapa tahun terakhir.
Penyebab dari pergeseran yang terjadi juga beragam. Mulai dari kehadiran pandemi yang
mengharuskan instansi bisnis merubah model bisnis agar tetap bertahan, hingga masuknya era
digitalisasi dalam peradaban masyarakat modern sehingga perlu dilakukan adaptasi. Toko Buku
Gramedia merupakan salah satu bisnis yang bisa dikatakan berhasil dalam menghadapi beberapa
permasalahan yang terjadi pada ekosistem literasi dewasa ini.
Strategi Gramedia dalam mengatasi kemerosotan penjualan selama pandemi dinilai
cukup efektif. Usaha Gramedia yang melibatkan beberapa pemangku kepentingan lainnya ini
tidak hanya berhasil membawa bisnis Gramedia kepada titik cerah, namun juga memberikan
kepuasan bagi para pelanggan loyal toko buku tersebut. Hal ini dibuktikan dengan berbagai
kerjasama yang dilakukan menghasilkan cara-cara baru dalam menjalankan bisnis yang
mempermudah pembeli dalam mendapatkan barang yang diinginkan.
Dari sisi literasi digital, Toko Buku Gramedia membuktikan bahwa dunia literasi tidak
melulu berputar secara konvensional. Gagasan kolaborasi digital yang mereka lakukan
membawa masyarakat untuk lebih mengenal lagi tren membaca buku secara digital serta
membantu meningkatkan minat masyarakat pada literasi. Inovasi platform menulis digital juga
dibentuk Gramedia sebagai bentuk penyediaan sarana bagi masyarakat untuk mewujudkan
ekosistem literasi yang baru.
Melihat besarnya usaha yang dilakukan oleh instansi bisnis toko buku dalam
mempertahankan dunia literasi di Indonesia, sudah sepantasnya masyarakat memberikan bentuk
apresiasinya. Tidak hanya untuk mempertahankan bisnis yang telah berjalan, tetapi juga
menggerakan angka minat baca Indonesia yang selama ini menjadi perhatian.
DAFTAR PUSTAKA
2022, IKAPI: Pandemi Sebabkan Penurunan Penjualan Buku
https://www.alinea.id/gaya-hidup/ikapi-pandemi-sebabkan-penurunan-penjualan-buku-b1ZRM9
wpL (diakses 12 Juni 2022, pukul 23:38)
2020, Strategi Toko Buku Pertahankan Penjualan saat Pandemi
https://www.republika.co.id/berita/qbin3m58587878621000/strategi-toko-buku-pertahankan-penj
ualan-saat-pandemi (diakses 18 Juni 2022, pukul 16.11)
2020, Ekosistem Dunia Perbukuan Terganggu Karena Covid19
https://www.republika.co.id/berita/q88z41282/ekosistem-dunia-perbukuan-terganggu-karena-cov
id19-part1 (diakses 18 Juni 2022, pukul 16:11)
2020, Adaptasi Toko Buku Gramedia di Masa Pandemi Corona Penjualan Online
Meningkat Drastis
https://sumsel.tribunnews.com/2020/06/02/adaptasi-toko-buku-gramedia-di-masa-pandemi-coron
a-penjualan-online-meningkat-drastis (diakses 18 Juni 2022, pukul 18:00)
2020, Fokus Gramedia Digital Perkual Strategi Omnichannel
https://dailysocial.id/post/fokus-gramedia-digital-perkuat-strategi-omnichannel (diakses 18 Juni
2022, pukul 18:00)
Al Azis, R. (2021). ‘Tantangan Industri Penerbitan Buku di Indonesia Sebagai Bagian
dari Industri Kreatif dalam Mengarungi Era Digitalisasi dan Pandemi Covid 19’. (8-9)
https://www.researchgate.net/publication/354293604_TANTANGAN_INDUSTRI_PENERBITA
N_BUKU_DI_INDONESIA_SEBAGAI_BAGIAN_DARI_INDUSTRI_KREATIF_DALAM_
MENGARUNGI_ERA_DIGITALISASI_DAN_PANDEMI_COVID_19
ASILA (2021). ‘Strategi Komunikasi Pemasaran Terpadu Toko Buku Gramedia Jami
dalam Meningkatkan Penjualan’. (Skripsi Sarjana UIN Jambi, 2021) diakses dari :
http://repository.uinjambi.ac.id/7843/1/304171330%20Strategi%20Komunikasi%20Pemasaran%
20Terpadu%20Toko%20Buku%20Gramedia%20Jambi%20Dalam%20Meningkatkan%20Penjua
lan-Lampiran%20Fulltext.pdf
Pengaruh Pemilihan Brand Ambassador Han So Hee
Terhadap Penjualan Produk Kecantikan Somethinc di Shopee
Dhea Novanda Argashie
Hospitality Business, Universitas Prasetiya Mulya
13412110004
ABSTRACT
This article will study the impact of using Korean Brand Ambassador Han So Hee
on the sales of Indonesians beauty products Somethinc in Shopee. It will
particularly discuss the reasons for choosing the Korean ambassador on the
product and the impact of the sales after using it. Through observation,
quantitative research, qualitative research and critical critique. It is shown that
many companies started using Korean Artists as their ambassador to increase the
exposure of their product.
Kata kunci : Produk kecantikan, Brand Ambassador, Korean Ambassador, Strategi
Marketing.
Memiliki tampilan wajah yang cantik, menarik dan sehat merupakan
impian dari setiap perempuan. Menurut sebagian perempuan, penampilan dan
kecantikan sangat penting karena hal tersebut menentukan popularitas, sosial,
pasangan hidup dan sebagian karir juga dipengaruhi oleh daya tarik fisik.
Berbagai macam cara akan dilakukan oleh perempuan untuk mendapatkan
kecantikan yang mereka dambakan. Hal tersebut juga didukung oleh gaya hidup
manusia yang modern dan praktis yaitu ingin melakukan sesuatu dengan cepat
dan mudah. Salah satu cara untuk bisa mendapatkan tampilan yang menarik
adalah dengan mulai menjaga kesehatan kulit menggunakan produk kecantikan.
Dalam memilih produk kecantikan, biasanya konsumen akan menyesuaikan
produk tersebut dengan kebutuhan kulit masing-masing dan seberapa cepat
pengaruh yang akan diberikan. Saat ini, perempuan menjadi target konsumen
utama dalam produk kecantikan.
Keinginan untuk menggunakan produk kecantikan menciptakan
persaingan yang semakin kompetitif. Hal ini dapat dibuktikan melalui banyaknya
produk kecantikan yang saat ini beredar di pasaran, mulai dari produk lokal
hingga produk luar negeri. Produk kecantikan tersebut juga memberikan berbagai
manfaat yang dapat diterima oleh kulit. Mulai dari mencerahkan, melembabkan,
memberikan nutrisi hingga melindungi lapisan kulit. Beragamnya produk
kecantikan yang beredar di pasaran akan menjadi salah satu pertimbangan dalam
memilih produk yang sesuai dan tidak berdampak buruk bagi kesehatan kulit.
Adapun produk kecantikan lokal yang saat ini dapat ditemukan dipasaran adalah
Scarlett Whitening, Somethinc, Lacoco, Avoskin, N’Pure, dan masih banyak
produk lokal lainnya. Dari berbagai produk tersebut, salah satu produk kecantikan
yang akan diteliti ialah Somethinc.
Somethinc merupakan produk kecantikan lokal yang sudah berdiri sejak
tahun 2019 dan saat ini sedang menjadi perbincangan di kalangan beauty
enthusiast. Produk kecantikan ini dikenal sebagai produk dengan harga yang
affordable dan selalu konsisten terhadap kualitas produk yang mereka tawarkan.
Irene Ursula menyadari adanya kesenjangan pasar antara industri kecantikan lokal
dan luar negeri. Pada akhirnya menggunakan kesempatan ini untuk menghasilkan
sebuah produk kecantikan bernama Somethinc.
Perkembangan teknologi serta arus informasi dari waktu ke waktu,
mengakibatkan masyarakat Indonesia menjadi lebih terbuka terhadap
pengetahuan. Perkembangan teknologi yang semakin maju diikuti pula dengan
perkembangan media online maupun elektronik. Saat ini, media online tidak
hanya digunakan untuk mengumpulkan sebuah informasi, tetapi juga telah
menjadi domain dari perusahaan atau yang biasa dikenal dengan perdagangan
online (e-Commerce). Adapun pengertian dari e-Commerce (Laudon, 1998)
adalah suatu proses menjual dan membeli produk secara elektronik oleh
konsumen dari perusahaan ke perusahaan dengan memanfaatkan jaringan
komputer. Persaingan bisnis dalam industri e-Commerce telah berlangsung selama
bertahun-tahun.
Dalam menjalankan bisnis, sebuah perusahaan membutuhkan strategi
pemasaran yang tepat. Jika dijalankan dengan baik dapat meningkatkan penjualan
dan meraup keuntungan yang besar. Ada banyak strategi pemasaran yang dapat
dijalankan. Salah satunya adalah Marketing Mix. Marketing Mix atau bauran
pemasaran (Kotler dan Keller, 2016) merupakan sekumpulan variabel yang dapat
dikendalikan dan digunakan oleh perusahaan untuk meningkatkan penjualan yang
diinginkan dalam pasar sasaran. Istilah marketing mix dibagi dalam 4P yaitu,
product, price, place, dan promotion. Untuk mencapai target penjualan, keempat
elemen tersebut harus saling mendukung. Keberhasilan pada pemasaran akan
diikuti dengan kenaikan oleh kepuasan konsumen dan kenaikan jumlah
konsumen.
Untuk memperkenalkan produk kepada masyarakat secara luas, salah satu
strategi yang dapat diterapkan oleh perusahaan produk kecantikan adalah dengan
menggunakan brand ambassador sebagai bintang iklan untuk mempromosikan
dan memperkenalkan produk kepada konsumen. Pemilihan brand ambassador
dalam memasarkan sebuah produk juga dapat membantu mendekatkan dan
menarik minat konsumen terhadap produk yang ditawarkan. Dengan adanya
penyesuaian brand ambassador dan promosi yang tepat diyakini mampu
meningkatkan angka penjualan suatu produk. Saat ini, beberapa perusahaan
Indonesia mulai memasang strategi pemasaran dengan menjadikan salah satu
selebritis Korea sebagai brand ambassador produk mereka. Strategi ini juga
diterapkan oleh produk kecantikan lokal, Somethinc yang menjadikan salah satu
aktris asal Korea Selatan Han So Hee sebagai brand ambassador produk mereka.
Melihat antusiasme masyarakat Indonesia terhadap produk kecantikan
lokal dan perusahaan yang mulai memasang strategi pemasaran brand
ambassador mendorong peneliti untuk mencari tahu lebih dalam mengenai
permasalahan tersebut. Terutama pada permasalahan mengenai pemilihan brand
ambassador asal Korea Selatan. Melalui tulisan ini akan dipelajari bagaimana
pengaruh yang diberikan terhadap penjualan produk kecantikan Somethinc baik
sebelum maupun sesudah pemilihan brand ambassador.
Penelitian akan dilakukan dalam bentuk kuantitatif dan kualitatif.
Penelitian kuantitatif dilakukan dengan menyebarkan kuesioner bagi pengguna
setia produk Somethinc khususnya yang membeli melalui platform shopee.
Penelitian kualitatif didapatkan melalui wawancara bersama salah satu karyawan
perusahaan Somethinc yang bergerak pada bidang e-commerce management
untuk mengetahui dampak yang dirasakan perusahaan sebelum dan sesudah
menggunakan brand ambassador terhadap penjualan produk. Penelitian ini juga
memiliki manfaat tidak hanya bagi penulis namun juga memberikan manfaat bagi
produk lokal lainnya agar mendapatkan informasi mengenai dampak penggunaan
brand ambassador asal Korea terhadap penjualan.
Fenomena Korean Wave di Indonesia
Berbagai hiburan serta budaya Korea semakin digemari di beberapa
belahan dunia khususnya Indonesia. Korea yang dimaksud ialah Korea Selatan
yang berhasil untuk menginvasi dunia saat ini. Hal ini dapat dibuktikan melalui
munculnya korean wave yang mengakibatkan masyarakat remaja hingga dewasa
menikmati berbagai lagu dan drama korea. Munculnya fenomena korean wave
diakibatkan oleh perkembangan teknologi informasi yang masif ditambah
antusiasme publik terhadap Korean Wave di Indonesia. Hallyu atau Korean Wave
merupakan istilah untuk penyebaran budaya populer Korea pada seluruh dunia.
Budaya Korea pertama kali masuk Indonesia pada pertengahan tahun
2000-an dengan penayangan drama Korea di saluran televisi Indonesia, Winter
Sonata. Kesuksesan budaya Korea di Indonesia dilanjutkan dengan meroketnya
K-pop Group. Berbagai penyanyi asal Korea Selatan berhasil menarik perhatian
masyarakat Indonesia melalui kualitas vokal, kemampuan menari dan visual yang
menarik. Blackpink, BTS, 2NE1, SNSD, EXO dan sederet grup asal Korea
lainnya ikut mendunia dengan berbagai prestasi. Lagu Gangnam Style PSY yang
keluar pada akhir tahun 2012 menjadi titik balik dunia K-pop yang berhasil
menaklukan musik Internasional.
Masuknya budaya Korea ke Indonesia menjadi hal yang diminati oleh
sebagian besar masyarakat Indonesia. Hal ini diakibatkan adanya persamaan nilai
yang dijalankan oleh masyarakat Korea dan Indonesia. Nilai-nilai yang dimaksud
ialah demokrasi, ekonomi dan masyarakat Korea juga dikenal sangat
menghormati orang yang lebih tua. Selain itu, kehadiran berbagai selebriti asal
Korea Selatan mempengaruhi penggemarnya. Baik dalam perilaku maupun pola
pikir. Cara pandang beberapa penggemar menjadi lebih terbuka terhadap berbagai
aspek kehidupan. Selain itu, lagu atau ucapan dari artis K-pop membuat
penggemar menjadi lebih bahagia, hidup dan bahkan beberapa juga lepas dari
penyakit mental seperti depresi. Para penggemar juga sering menyelipkan
kata-kata seperti annyeong, saranghae, hyung, dan hwaiting dalam kehidupan
sehari-hari. Secara keseluruhan masyarakat Indonesia memiliki peran penting
dalam perkembangan budaya Korea secara global.
Strategi Pemasaran dengan Menggunakan Korean Brand Ambassador
Strategi pemasaran menjadi langkah penting yang tidak boleh terlewatkan
ketika ingin membangun sebuah brand atau produk. Strategi pemasaran
merupakan strategi yang dilakukan untuk memperkenalkan produk yang
ditawarkan agar dapat mencapai target pasar dan penjualan. Seperti yang kita
ketahui, dampak yang dirasakan dari strategi Word of Mouth Marketing sangatlah
efektif. Namun, seiring berkembangnya teknologi sosial media, strategi ini sudah
banyak mengalami perubahan. Sekarang, bentuk strategi Word of Mouth
Marketing mulai memasuki era penggunaan brand ambassador. brand
ambassador terbukti memberikan efektivitas lebih besar ketimbang pemasaran
melalui iklan, email dan strategi pemasaran lainnya.
Saat ini berbagai perusahaan tengah bersaing untuk memasarkan sebuah
produk ataupun brand. Adapun strategi pemasaran yang akhir-akhir ini sedang
diterapkan adalah penggunaan brand ambassador. brand ambassador merupakan
strategi yang digunakan oleh perusahaan untuk mengkomunikasikan dan
terhubung dengan publik, agar dapat membantu meningkatkan penjualan produk
(Lea Greenwood, 2012). Brand ambassador dapat menjadi salah satu bentuk
strategi yang menguntungkan. Penelitian telah menunjukkan bahwa citra suatu
produk mempengaruhi keputusan pembelian individu. Oleh karena itu, brand
ambassador dapat membantu meningkatkan brand awareness dari sebuah produk
dan brand.
Dalam memilih seseorang untuk memasarkan sebuah brand atau produk,
tentunya ada beberapa hal yang harus diperhatikan. Salah satunya ialah adanya
kesesuaian antara brand ambassador dengan brand. Kesesuaian yang dimaksud
adalah value seseorang, target pasar hingga budget yang sudah ditetapkan. Hal
tersebut penting diperhatikan karena brand ambassador merupakan wajah yang
merepresentasikan produk kita. Oleh karena itu, ketika tidak adanya kesesuaian
antara brand ambassador dan produk, strategi pemasaran akan berlangsung secara
sia-sia.
Pemilihan artis Korea Selatan sebagai brand ambassador dapat dilihat
sebagai fenomena tersendiri. Belakangan ini, beberapa artis Korea Selatan kerap
dijadikan sebagai brand ambassador produk lokal dalam negeri. Mulai dari
produk makanan, minuman, pakaian hingga produk kecantikan. Beberapa produk
bahkan menjadi sukses dikenal setelah menggunakan brand ambassador artis
Korea. Sebagai contoh BTS yang ditunjuk sebagai BA dari Tokopedia, Blackpink
sebagai BA Shopee, NCT 127 sebagai BA pada produk NU Green Tea hingga
Twice yang dipilih sebagai BA produk kecantikan Scarlett Whitening. Strategi ini
diterapkan untuk menarik perhatian banyak dari target konsumen Indonesia.
Pemilihan artis Korea Selatan sebagai BA disebabkan oleh fenomena
Korean Wave di Indonesia yang terus mengalami perkembangan bahkan ketika
pandemi berlangsung. Hal ini menjadi salah satu alasan utama banyak perusahaan
menggunakan strategi ini untuk memasarkan sebuah produk atau brand. Strategi
pemasaran yang dibahas disini adalah memanfaatkan momen demam Korea
Selatan atau Korean Wave di Indonesia. Penggunaan brand ambassador asal
Korea Selatan dinilai sangat efektif untuk menjangkau masyarakat lokal maupun
global. 86,1% dari 101 responden juga menyetujui hal tersebut. Beberapa
responden juga bertanggapan seperti “Marketing strategy yang bagus karena di
jaman ini semua orang “terobsesi” dengan hal yang berbau Korea, namun tidak
sedikit orang yang juga tidak tertarik dengan hal Korea.” Jumlah fandom di
Indonesia sangat banyak, strategi ini akan sangat menguntungkan bagi sebuah
perusahaan untuk menarik perhatian Korean Enthusiast.
Indonesia dikenal memiliki penggemar yang royal sekaligus loyal
terhadap artis Korea yang digemari. Oleh karena itu, para penggemar akan selalu
memberikan dukungan sebanyak mungkin terhadap musik, film hingga produk
yang diiklankan. Hal ini menjadikan Indonesia sebagai ‘target pasar’ yang sangat
potensial untuk perekonomian Korea Selatan dan Indonesia. Keberadaan artis
Kpop saat ini mempengaruhi preferensi para millennial dalam kehidupan
sehari-hari mereka. Misalnya dapat ditemukan beberapa produk berbau Korea
seperti skincare, make up ala Korea, Korean style, hingga berbagai restoran Korea
yang sudah tersebar di Indonesia.
Untuk menarik minat penggemar, beberapa perusahaan yang
menggunakan strategi ini akan memberikan merchandise dalam bentuk
photocard. Merchandise tersebut akan didapatkan setelah konsumen membeli
produk yang ditawarkan. Hal ini menjadi dorongan secara sukarela yang
dilakukan oleh para penggemar. Suka atau tidak suka, beberapa penggemar akan
berlomba untuk membeli agar bisa mendapatkan photocard tersebut.
Han So Hee sebagai Brand Ambassador Somethinc
Somethinc menjadi salah satu produk kecantikan lokal yang menggunakan
strategi brand ambassador. Adapun dalam memilih brand ambassador, prinsip
yang ditawarkan oleh kedua belah pihak harus sama. Sebelumnya pada 1 Januari
2022, produk kecantikan ini mengumumkan kerjasamanya dengan NCT Dream
sebagai brand ambassador. Dalam kerjasama ini, Somethinc menciptakan sebuah
skincare set bernama “NCT DREAM’S PICK”. Dimana dalam setiap pembelian,
penggemar akan mendapatkan produk skincare beserta photocard setiap anggota.
Photocard tersebut akan menjadi incaran penggemar karena akan menampilkan
gambar setiap anggota menggunakan seragam SMA.
Pada 5 Maret 2022, Somethinc kembali mengumumkan kerjasamanya
dengan salah satu selebriti asal Korea Selatan yaitu Han So Hee. Alasan
pemilihan Han So Hee sebagai Brand Ambassador Somethinc, dikarenakan kedua
pihak membagi prinsip dan value yang sama. Adapun value serta prinsip yang
dimaksud ialah keberanian dalam berkarya dan berbagai prestasi yang berhasil
diraih. Baru-baru ini, aktris Korea Selatan, Han So Hee semakin dikenal oleh
masyarakat global. Selain memiliki visual yang menarik, Han So Hee juga
digemari akibat keberaniannya dalam ketika menerima tawaran menjadi sosok
karakter yang kuat dalam serial drama My Name. Sedangkan Somethinc, dikenal
sebagai produk kecantikan yang agresif dalam menciptakan beragam produk
seperti skincare, makeup dan bodycare. Selain itu jika berbicara dari segi prestasi,
persamaan lain yang dapat ditemukan antara Han So Hee dan Somethinc, ialah
keduanya mengedepankan kualitas baik dalam bekerja maupun berkarya. Hal ini
dapat dibuktikan melalui beragam penghargaan yang berhasil diraih oleh Han So
Hee yaitu Best New Artist pada Baeksang Art Awards. Sama halnya dengan
Somethinc yang berhasil mengamankan posisi sebagai No. 1 skincare brand
terlaris di e-commerce di Indonesia dan memenangkan kategori Local Brand of
The Year by Female Daily Awards 2021.
Kolaborasi akan dilakukan dengan membawakan konsep Han So Hee
sebagai seorang Beauty Guru yang memberikan rekomendasi produk kecantikan
Somethinc dengan nama Han So Hee’s Picks. Dalam rekomendasinya, terdapat
sembilan skincare essentials, seperti brightening serum, cleanser dengan pH
rendah, sunscreen hingga moisturiser. Selain itu, dalam kategori makeup Han So
Hee merekomendasikan sembilan produk juga seperti setting powder, cushion, lip
tint hingga eyeshadow palette. Berbagai produk kolaborasi yang dilakukan
bersama Han So Hee akan dijual dalam bentuk single products dan bundling.
Somethinc juga membangun strategi yang dapat mendekatkan hubungan antara
konsumen dan Han So Hee. Strategi yang dilakukan ialah dengan mengajak Han
So Hee untuk berbicara menggunakan bahasa Indonesia seperti “Aku Bucin
Somethinc, Kamu? Adapun strategi ini dijalankan dengan harapan dapat
mengajak konsumen untuk menjaga serta merawat kesehatan kulit.
Kolaborasi bersama Han So Hee memberikan peningkatan penjualan yang
besar pada produk Somethinc. Pada bulan pertama Somethinc mengalami
peningkatan sebesar 35,7%. Pada bulan kedua, kembali terjadi peningkatan yang
jauh lebih besar daripada bulan sebelumnya yaitu sebesar 75,8% jika
dibandingkan dengan penjualan pada bulan februari. Penjualan tertinggi terdapat
pada salah satu produk makeup yaitu Hooman Cushion. Hooman Cushion
menjadi salah satu produk pada Han So Hee’s Picks. Cushion ini diformulasikan
menjadi non-greasy, non-cakey, non-cracking, & oil control. Shopee menjadi
salah satu platform dengan penjualan produk Somethinc tertinggi.
Pembelian produk kolaborasi ini dapat ditemukan pada berbagai aplikasi
penjualan online seperti Tokopedia, Blibli, BeautyHaul, Lazada, Somethinc
official website hingga Shopee. Selama masa pandemi, penjualan produk
kecantikan mengalami peningkatan khususnya pada aplikasi penjualan Shopee
dan Tokopedia. Hal ini diakibatkan oleh munculnya berbagai produk kecantikan
lokal yang memiliki transaksi cukup tinggi selama pandemi. Meskipun aktivitas
diluar rumah terbatas, namun perawatan pada tubuh tetap perlu dilakukan. Selain
itu saat ini, produk kecantikan lokal juga memberikan manfaat yang tidak kalah
dengan produk luar. Salah satunya ialah Somethinc.
Kesimpulan
Pemilihan Han So Hee sebagai brand ambassador dinilai efektif. Hal ini
disebabkan banyaknya penggemar yang dimiliki oleh Han So Hee dapat
membantu pemasaran produk secara global. Selain itu saat ini, Han So Hee juga
kerap menjadi perbincangan setelah penayangan beberapa drama Korea seperti
Nevertheless, The World of The Married Couple hingga drama terakhir My Name
dimana ia membawakan karakter yang belum pernah ditampilkan sebelumnya
yaitu menjadi sosok perempuan yang kuat dan berani. Strategi pendekatan yang
dilakukan oleh Somethinc juga dinilai sangat efektif untuk mendekatkan
hubungan dengan konsumen.
Pemilihan brand ambassador Korea Selatan sempat menjadi perbincangan
karena dianggap kurang sesuai dengan brand tertentu khususnya produk
kecantikan. Beberapa masyarakat dan responden beranggapan bahwa kondisi kulit
Indonesia tidak bisa disamakan dengan orang Korea yang memiliki kulit sehat,
putih, cerah dan langsing. Namun akibat pemilihan brand ambassador ini, banyak
masyarakat yang ingin memiliki kulit layaknya orang Korea dan berusaha untuk
mengikuti standar kecantikan yang ada. Hal ini juga sering menjadi pertanyaan,
Apakah untuk menjadi cantik kita harus memiliki kulit yang putih dan bersih?
Pada akhirnya timbul sebuah stigma beauty standard yang membuat sebagian
besar wanita ingin memiliki kecantikan tersebut.
Membahas mengenai kontroversi pada paragraf sebelumnya lantas,
Apakah yang membuat beberapa perusahaan tetap memilih artis Korea sebagai
brand ambassador produk kecantikan? Jawabannya tentu ada pada akumulasi
modal yang sangat menjanjikan di masa depan. Selama demam Korean Wave
masih berlangsung, wajah-wajah artis Korea akan sering kita temukan.
Menggunakkan artis Korea untuk memasarkan sebuah produk kecantikan
merupakan strategi yang efektif untuk menjangkau target pasar Indonesia yang
mayoritas merupakan penggemar K-pop. Meskipun membutuhkan dana miliaran,
namun penggunaan strategi ini justru memberikan keuntungan yang besar bagi
perusahaan.
DAFTAR PUSTAKA
Lea-Greenwood, Gaynor. 2012. Fashion Marketing Communications Ebook. Somerset,
NJ, USA: Wiley.
Internet
https://egsa.geo.ugm.ac.id/2020/09/30/fenomena-korean-wave-di-indonesia/; diakses tanggal
15 May 2022.
https://eprints.umm.ac.id/40762/2/BAB%20I.pdf; diakses tanggal 18 May 2022.
https://www.cantika.com/read/1567844/dinilai-berani-dalam-berkarya-han-so-hee-jadi-brand-
ambassador-somethinc; diakses tanggal 6 Juni 2022.
https://katadata.co.id/desysetyowati/digital/5f8ac51a42afd/ampuhnya-pesona-artis-korea-men
gerek-penjualan-e-commerce-indonesia; diakses tanggal 9 Juni 2022.
https://www.kompasiana.com/nandaafira5811/629df047d2634526f70ea262/tren-penggunaan-
artis-korea-selatan-sebagai-brand-ambassador-produk-lokal; diakses tanggal 9 Juni 2022.
LAMPIRAN 1
● Topik : Pengaruh Pemilihan Brand Ambassador "Han So Hee" Terhadap
Penjualan Produk Kecantikan Somethinc di Shopee
● Tujuan : Mengetahui pengaruh yang didapatkan sebuah produk kecantikan lokal
“Somethinc” terhadap pemilihan Brand Ambassador asal Korea Selatan.
● Tesis : Pemilihan Brand Ambassador asal Korea Selatan didukung oleh
fenomena Korean Wave yang sedang digemari oleh sebagian besar masyarakat
Indonesia.
● Kerangka karangan :
○ Fenomena Korean Wave di Indonesia
○ Strategi Pemasaran dengan Menggunakan Korean Brand Ambassador
○ Han So Hee sebagai Brand Ambassador Somethinc
LAMPIRAN 2
Penelitian kualitatif dilaksanakan dengan melakukan interview bersama
Marcellia Argashie mahasiswa S1 Universitas Prasetiya Mulya yang saat ini sedang
magang sebagai bagian E-commerce Management di Somethinc.
Daftar pertanyaan wawancara :
1. Sebagai seseorang yang bekerja di perusahaan Somethinc, Menurut pendapat
kakak apakah pemilihan brand ambassador Korea untuk produk kecantikan
dapat dikatakan efektif?
2. Pengaruh dari kolaborasi bersama Han So Hee paling besar dirasakan
peningkatan penjualannya melalui situs perbelanjaan apa?
3. Apakah penggunaan brand ambassador berpengaruh signifikan terhadap
keputusan pembelian dan brand awareness?
4. Jika dibandingkan dengan rata-rata penjualan sebelumnya, berapa persen
peningkatan penjualan produk yang dirasakan Somethinc sesudah penerapan
strategi ini selama satu bulan pertama di Shopee?
5. Produk atau paket bundling kolaborasi apa yang paling banyak diminati oleh
konsumen?
LAMPIRAN 3
sumber : google form penelitian kuantitatif
Strategi Pemasaran “Collaboration” Terhadap Keputusan Pembelian Pada Brand
Street Boba di Gading Serpong
Doretta Jocelyn Han - 13412110014
Abstract
In a company or business, strategic involvement is needed in various ways so that a company
can be sustainable in the long term. Nowadays, many brands have implemented various
strategies including Collaboration so that purchasing decisions can be in their favor. With this
paper, it was written with the aim of knowing the effectiveness of Collaboration empowerment
in the economy at Street Boba Gading Serpong.
Kata Kunci: Berkelanjutan, Brand, Collaboration, Keputusan Pembelian.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Berkelanjutan memiliki arti
berlangsung terus-menerus; berkesinambungan. Berkelanjutan ini dapat
dihubungkan dalam berbagai hal. Dalam perkembangan zaman tentunya akan
memiliki pertumbuhan baik secara waktu, ekonomi, tren dan juga kebutuhan hidup.
Hal ini juga dapat dilihat pada sebuah perusahaan, dimana perusahaan akan
mengutamakan alur dan melakukan strategi dalam berbagai cara agar tetap berada
pada tingkat dan batasan yang diinginkan.
Hal tersebut dapat dilihat dalam Pandemi Covid-19 berlangsung, banyak dari
perusahaan dan bisnis yang kurang memiliki strategi pemasaran yang baik sehingga
terjadinya Pemutusan Hubungan Kerja (PHK), Micro Break hingga gulung tikar.
Namun tidak dengan beberapa Perusahaan yang memiliki Strategi yang baik, baik
dimulai sebelum pandemi Covid-19 maupun setelah. Seperti yang dilakukan pada
salah satu bisnis dibawah naungan perusahaan PT. Nikmat Group ini, yang
diciptakan oleh Jovi Adhiguna selaku owner Brand Street Boba.
Street Boba ini merupakan suatu brand minuman yang menyajikan berbagai
jenis rasa yang disesuaikan dengan cita rasa owner Street Boba tersebut. Street Boba
ini telah berjalan selama kurun waktu kurang lebih 2 tahun, dimana hal ini bertepatan
dengan pandemi Covid-19. Namun, tak disangka Jovi Adhiguna selaku owner
memiliki strategi yang sangat baik untuk meningkatkan kualitas brandnya, yang
dimana dapat dikatakan membangun sebuah bisnis ditengah pandemi Covid-19 ini
sangat sulit. Bahkan sampai saat ini gerai Street Boba dangat terbilang sangat banyak
dengan jumlah lebih dari 200 gerai.
Banyak strategi yang mereka jalankan seperti melakukan “Collaboration”
dengan berbagai pihak dimulai dari Influencer, dan Selebgram seperti Shani Amelia,
dan Fuji, dan juga salah satu Brand Food and Beverages yaitu Teh Pucuk dengan tujuan
untuk dapat memuncul varian-varian cita rasa baru yang sesuai dengan cita rasa para
Brand Ambassador. Tetapi, walaupun Street Boba melakukan “Collaboration” dengan
banyaknya pihak. Street Boba tidak akan meninggal jejak ciri khas mereka tersendiri
terutama pada konsep yang telah ditentukan ketika diluncurkannya Street Boba ke
kalangan masyrakat.
Strategi yang dijalankan pun tidak berhenti sampai disitu, mereka juga
melakukan pendekatan dengan para pengikut dan penikmat Street Boba dengan cara
melakukan promosi baik secara langsung dari pihak Street Boba sendiri dan juga
secara tidak langsung yang bekerjasama dengan platform layanan online yang
membantu dalam berbagai bidang terutama Food and Beverages yaitu Grab, Gojek,
Shopeefood dan Traveloka Eat.
Dari strategi yang ditentukan oleh suatu perusahaan ini memberikan pengaruh
dalam keputusan pembelian bagi seluruh pelanggan. Keputusan pembelian
merupakan Keputusan pembelian merupakan serangkaian proses yang berawal dari
konsumen mengenal masalahnya, mencari informasi tentang produk atau merek
tertentu dan mengevaluasi produk atau merek tersebut seberapa baik masing-masing
alternatif tersebut dapat memecahkan masalahnya, yang kemudian serangkaian
proses tersebut mengarah kepada keputusan pembelian (Tjiptono, 2014:21).
Penelitian ini dilakukan dengan sistem metode kuantitatif dan kualitatif.
Pertama, untuk metode kuantitatif dilakukan dengan cara melakukan penyebaran
kuisioner kepada beberapa pelanggan dengan jumlah 100 responden sebagai
gambaran untuk hasil secara objektif dan analitis berupa angka dan grafik.
Sedangkan, untuk metode kualitatif ini dilakukan dengan melakukan wawancara
terhadap beberapa pelanggan yang tergolong “sering” mengkonsumsi minuman dari
brand Street Boba.
Penelitian ini bertujuan untuk dapat mengetahui strategi pemasaran
“collaboration” menjadi pilihan yang tepat bagi Street Boba untuk meningkatkan
perekonomian mereka. Tidak hanya itu, dari penelitian ini juga diharapkan untuk
dapat menganalisis bagaimana pengaruh dari “collaboration” pada brand Street Boba
setelah melakukan beberapa “collaboration” tersebut baik bersama influencer dan
brand lainnya.
Kolaborasi Menjadi Peranan Penting Dalam Berbisnis
Strategi penentuan utama pada awal dibangunnya suatu perusahaan akan
sangat berpengaruh, baik berpengaruh pada masa sekarang hingga pada tahun-tahun
berikutnya. Strategi itu tergantung dari masing-masing industri yang dijalankannya
seperti dari industri Fashion, F&B, kreatif, dan lain sebagainya. Beberapa dari industri
tersebut mereka menjalankan strategi yang disebut dengan “Collaboration” atau
bekerjasama dengan Influencer maupun Brand-brand lainnya dengan tujuan untuk
memperbarui produk-produk yang dimilikinya, menutup segala kemungkinan
penyebab gulung tikar secara tiba-tiba.
Tidak hanya itu, suatu perusahaan itu juga tentunya untuk menarik lebih
banyak konsumen dengan inspirasi dan pengetahuan baru yang dimiliki agar
terbentuk Word of Mouth dari para konsumen yang semakin menyebar dari satu pihak
ke pihak lainnya. Word of Mouth menjadi bagian yang sangat penting dari suatu brand
dikarenakan dapat meningkatkan kepercayaan dari para konsumen, dapat
membangun brand untuk semakin mudah dikenal dan juga memudahkan penjualan
baik secara langsung maupun tidak langsung.
Pentingnya Kolaborasi ini juga dapat dilihat dari dampak-dampak positif yang
didapatkan diantaranya yaitu dapat memperluas pangsa pasar sehingga brand dapat
memiliki pencapaian yang lebih besar dan menambah brand awareness. Brand juga
dapat meningkatkan credibility mereka di mata para penggemar kolaboratornya.
Hal ini dijalankan oleh salah satu Brand Food and Beverages yaitu Street Boba.
Kolaborasi ini dilakukan bersama Teh Pucuk, Shani Amelia dan yang saat ini sedang
berlangsung yaitu Fuji. Walaupun Street Boba ini dijalankan ketika pandemi Covid-
19 berlangsung tetapi street boba ini memiliki sebuah fenomena menarik yaitu
memecahkan pendapat orang-orang bahwa penjualan minuman boba tidak akan
bertahan lama dan hanya akan bertahan sementara di masa trennya saja. Namun,
Street Boba dapat memebuktikan bahwa mereka dapat memperjualbelikan minuman
boba ini terus-menerus bahkan sampai sekarang mereka terus dapat membuat
pelanggan semakin tertarik dengan membangun banyaknya franchise di kota-kota
Indonesia.
Selain itu, dibalik fenomena yang dimiliki itu, minuman boba sebenarnya
banyak diisukan bahwa memiliki efek yang tidak baik untuk tubuh bahkan hingga
membuat seseorang dapat meninggal dunia. Hal ini dikarenakan persepsi oleh orang-
orang bahwa minuman boba ini sangat sulit untuk dicerna oleh saluran pencernaan
karena terbuat dari bahan tepung tapioka yang sangat banyak hingga berkumpul
menjadi satu dan memiliki tekstur yang sangat kenyal. Kemudian, juga terdapat
informasi sangat membahayakan untuk anak kecil karena terdapat kasus seorang
gadis yang tersedak oleh beberapa boba sehingga menghalangi saluran pernapasan
(https://medan.tribunnews.com). Persepsi-persepsi yang dimiliki ini menjadi
pengaruh negatif bagi penjualan dari Street Boba. Namun, tidak berangsur dalam
waktu yang lama.
Kolaborasi Menjadi Pemberi Warna Baru Dalam Berbisnis
Dalam melakukan suatu kolaborasi ini secara langsung dan tidak langsung
dapat memberikan dampak positif bagi kedua belah pihak. Kolaborasi yang
dilakukan tentunya pada awal dirancang akan direncanakan sesuai cita rasa dari sang
pemilik dan juga penikmat sehingga dapat menciptakan rasa yang tepat.
Seperti hal yang dijalankan Street Boba dengan Fuji, Shani Amelia dan juga Teh
Pucuk. Pada awalnya memang Street Boba sudah memiliki Brand awareness yang
sangat baik tetapi setelah Street Boba pertama kali menetapkan sebuah inovasi baru
untuk bekerjasama melakukan kolaborasi dengan mereka membentuk peningkatan
ketertarikan dari para konsumen diantaranya yaitu terdapat 85,5 % dari 100 orang
tahu dan pernah mencoba menu-menu kolaborasi tersebut.
Tidak hanya para konsumen tahu, tetapi banyak dari mereka ketika awal
mendengar informasi bahwa Street Boba akan melakukan kolaborasi, mereka sangat
tertarik untuk mencobanya karena mereka ingin mencoba rasa baru yang dimiliki
Street Boba. Nyatanya, setelah mereka mencoba, mereka merasa sangat senang karena
walaupun Street Boba melakukan kolaborasi, Street Boba tidak menghilangkan ciri
khas yang dimiliki terutama dari cita rasa menu “Shibuya Milk” yang dimana menjadi
menu favorit konsumen.
Beriringan dengan informasi tersebut, walaupun para konsumen sangat
tertarik dengan hal baru, mereka secara tidak langsung akan memiliki opini terhadap
menu-menu yang dimunculkan. Mereka berpendapat bahwa dari adanya kolaborasi
yang dilakukan itu, mereka lebih menyukai menu yang ada pada kolaborasi bersama
Fuji yaitu Banana Fujimi. Selain itu, para konsumen juga menyukai menu
Konnichidut Glitter yang dimunculkan bersama Shani Amelia.
Keputusan tersebut juga didukung dari penelitian yang saya lakukan dengan
melakukan penyebaran survey kepada 100 pihak. Dengan hasil sebagai berikut:
No Nama Kolaborasi Persentase
1 Fuji x Street Boba 58,2 %
2 Shani Amelia x 18,2%
Street Boba
3 Street Boba Original 18,2 %
4 Teh Pucuk x Street 5,5 %
Boba
Tabel 1. Hasil Responden Ketertarikan Kolaborasi
Fuji berada diurutan pertama untuk ketertarikan konsumen, disusul dengan
Shani Amelia dan Street Boba Original berada di posisi yang seimbang dan Teh Pucuk
berada diurutan terakhir. Alasan keputusan tersebut yaitu dengan tingkat menu-
menu yang variatif dan kreatif, rasa yang dimiliki, promosi yang ditawarkan dan
harga dari masing-masing menu.
Tak disangka, Kolaborasi ini sangat berpengaruh bahkan dapat memberi
warna baru bagi Street Boba. Seiring berjalannya waktu Street Boba semakin
meningkat penjualannya itu. Hal yang menariknya itu bahwa para konsumen
berharap bahwa Street Boba dapat melakukan kolaborasi baru dalam kurun waktu
yang dekat seperti dengan Titan Tyra, Tasyi Athasyia, Jerome Polin dan juga Erika
Richardo.
Kolaborasi Menjadi Poin Adaptasi untuk Keberlanjutan Berbisnis
Suatu perusahaan yang menjalankan usahanya tentu akan membentuk
berbagai cara untuk mempertahankannya terutama kolaborasi, baik untuk usaha
yang baru merintis maupun yang sudah lama berjalan. Kolaborasi juga jika dilihat
secara lebih mendalam memiliki efektivitas yang sangat tinggi seperti pada usaha
yang sedang dalam suatu kendala ataupun yang lain. Dengan kata lain kolaborasi
dapat menjadi solusi akan adaptasi baru yang dilakukan.
Sama halnya dengan beberapa Ilmu yang berpendapat akan kolaborasi ini
sendiri yaitu dari dua ahli bernama Aggranoff dan McGuire (2003:4). Kedua ahli itu
mengatakan bahwa kolaborasi itu diciptakan untuk dapat menjadi jalan keluar untuk
menyelesaikan suatu permasalahan yang ada seperti adanya keterbatan informasi,
waktu dan ruang.
Tidak hanya itu, seorang ahli bernama Fendt (2010:22) juga mengemukakan
bahwa terdapat tiga alasan mengapa suatu kelompok maupun perusahaan
melakukan kolaborasi, diantaranya yaitu organisasi perlu berkolaborasi untuk
menyelesaikan suatu permasalahan secara efektif. Kedua, bekerja bersama
menghasilkan manfaat yang lebih besar bagi organisasi daripada bekerja sendiri.
Terakhir, berkolaborasi dapat membantu mengurangi biaya produksi untuk kedua
belah pihak dan membuat produk mereka lebih terjangkau dan kompetitif di pasar.
Maka dari itu, dapat dikatakan bahwa secara tidak langsung Street Boba ini
dengan melakukan kolaborasi, Street Boba dapat meningkatkan perekonomiannya
dalam jangka waktu yang panjang ataupun yang sering disebut dengan sustainability.
Sustainablity ini yang dimaksud juga dapat dihubungan dengan Sustainable
Development Goals (SDGs). SDGs merupakan suatu program yang dimana dirancang
untuk menciptakan kesejahteraan baik kepada manusia, perusahaan, dan juga dunia
yang bertujuan untuk mengurangi kasus-kasus kesenjangan sosial.
Kesimpulan
Berdasarkan segala bentuk informasi yang didapatkan mengenai strategi-
strategi yang dijalankan oleh Street Boba dengan keefektivitas yang dimiliki dapat
dikatakan hal tersebut menjadi alur yang tepat. Kolaborasi ini memiliki makna yang
sangat penting, juga menjadi warna baru, hingga salah satu poin penting untuk
meningkatkan suatu perusahaan dalam segi ekonomi, segi brand awareness dan lain
sebagainya. Dimana, kolaborasi ini dapat memberikan dampak positif bagi kedua
belah pihak seperti juga yang telah dikatakan oleh seorang ahli.
Namun, walaupun memang kolaborasi ini akan berjalan dengan lancar
ataupun sesuai rencana terkadang terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan
dengan lebih lanjut baik dari internal maupun eksternal. Seperti, dari internal
terdapat persepsi orang yang tentunya tidak sesuai dengan apa yang telah kita
tentukan, terkadang juga ketika bisnis sedang naik daun terdapat beberapa dari pihak
yang tidak menyukai sehingga perlu dari pihak penyelenggara memperhatikan
secara seksama akan apa yang terjadi di kemudian hari.
Selain itu, Street boba ini di lain sisi sudah melakukan strategi yang tepat untuk
memacu usahanya agar terus meningkat. Rencana kedepannya pun tentu telah
dirancang seperti dengan strategi-strategi lainnya ataupun mungkin dengan tetap
melakukan kolaborasi bersama dengan pihak lain yang tentunya dapat memberikan
dampak positif bagi Street Boba baik dalam segi apapun dengan tidak lupa
mempertimbangkan resiko yang akan terjadi agar tetap memberikan warna baru dan
sustainability yang ada pada visi dari tiap perusahaan.
Daftar Pustaka
Raharja, S., 2022. [online] Media.neliti.com. Available at:
<https://media.neliti.com/media/publications/72669-ID-kolaborasi-sebagai-strategi-
bisnis-masa.pdf> [Accessed 17 June 2022].
Eprints.umm.ac.id. 2022. [online] Available at:
<https://eprints.umm.ac.id/40376/3/BAB%20II.pdf> [Accessed 17 June 2022].
Repository.unair.ac.id. 2022. [online] Available at:
<https://repository.unair.ac.id/67685/3/Sec.pdf> [Accessed 18 June 2022].
Pustaka.ut.ac.id. 2022. [online] Available at: <https://pustaka.ut.ac.id/lib/wp-
content/uploads/pdfmk/DAPU6107-M1.pdf> [Accessed 19 June 2022].
Undp.org. 2022. [online] Available at:
<https://www.undp.org/content/dam/undp/library/corporate/brochure/SDGs_Bookl
et_Web_En.pdf> [Accessed 19 June 2022].
Lpm.iainlhokseumawe.ac.id. 2022. [online] Available at:
<https://lpm.iainlhokseumawe.ac.id/sibak-
v2/BIDANG%20KERJASAMA/DOKUMEN%20LAPORAN%20PKM%20LUAR%20N
EGERI/2017/25%20-%202017.pdf> [Accessed 19 June 2022].
PENINGKATAN KUNJUNGAN
WISATA HOLISTIK DI LABUAN BAJO
Febronius Prosprandi
Abstract
This article examines the holistic tourism that is developing in Labuan Bajo and will
become a new attraction for the Labuan Bajo destination.In addition, it can have
positive and negative impacts on the community and the surrounding environment.
Kata kunci:Wisata holistik,pemasaran,dan dampak.
Margenroth dalam Yoeti (1996:117), menjelaskan bahwa pariwisata adalah lalu
lintas orang-orang yang meninggalkan tempat tinggalnya untuk sementara waktu
semata mata sebagai konsumen dari hasil perekonomian dan kebudayaan serta
keinginan yang beraneka ragam dari pribadinya.Ada berbagai negara bergantung
pada industri pariwisata sebagai sumber pajak dan pendapatan untuk perusahaan
yang menjual jasa kepada wisatawan.Oleh karena itu,pemerintah mendorong dan
mengembangkan sektor industri tersebut.
Pariwisata merupakan sektor ekonomi penting di Indonesia.Pada 2009,pariwisata
menempati urutan ketiga dalam penerimaan devisa setelah komoditas minyak dan
gas bumi serta minyak kelapa sawit.Berdasarkan data 2016,jumlah wisatawan
mancanegara yang datang ke Indonesia sebesar 11.525.963 juta lebih atau tumbuh
sekitar 10,79 % dibandingkan tahun sebelumnya. Dengan melihat keadaan tersebut
pemerintah berupaya membangun pariwisata yang berkelanjutan,yaitu salah
satunya adalah menetapkan beberapa daerah pariwisata Indonesia menjadi daerah
pariwisata prioritas dan super prioritas serta membangun dan menata infrastruktur
penunjang kegiatan wisata.Pembangunan berkelanjutan bertujuan untuk
meningkatkan kesejahteraan masyarakat, untuk memenuhi kebutuhan dan aspirasi
manusia (Salim, 1990).
Sektor pariwisata Indonesia dulunya hanya bergantung kepada destinasi Pulau
Dewata . Namun,seiring berjalannya waktu dan melihat potensi pariwisata Indonesia
yang sangat besar,pemerintah telah menetapkan 10 destinasi baru,yaitu destinasi
pariwisata prioritas atau kerap disebut 10 bali baru”. 10 destinasi yang dimaksud
terdiri dari Mandalika (Nusa Tenggara Barat), Pulau Morotai (Maluku Utara), Tanjung
Kelayang (Kepulauan Bangka Belitung), Danau Toba (Sumatera Utara), Wakatobi
(Sulawesi Tenggara), Borobudur (Jawa Tengah), Kepulauan Seribu (DKI Jakarta),
Tanjung Lesung (Banten), Bromo (Jawa Timur), dan Labuan Bajo (Nusa Tenggara
Timur). Selain itu,pengembangan pariwisata tersebut diharapkan dapat menarik
minat wisatawan berkunjung ke Indonesia. Dengan begitu,secara tidak langsung
masyarakat dapat merasakan dampak dari adanya perubahan pariwisata ini.
Seperti telah disebutkan, Labuan Bajo merupakan salah satu daerah yang
ditetapkan sebagai daerah pariwisata super prioritas.Hal tersebut tidak terlepas dari
banyaknya daya tarik wisata yang dimiliki,baik itu wisata alam,bahari,dsb.Selain
itu,Labuan Bajo sudah memperkenalkan daya tarik lainnya,yaitu wisata
holistik.Pariwisata holistik merupakan pariwisata yang berpartisipasi,berbudaya,dan
berkelanjutan atau dengan kata lain masyarakat lokal tidak hanya menjadi penerima
keuntungan pariwisata,tetapi juga terlibat aktif dalam mengendalikannya dan
menghargai atau merawat tradisi lokal secara inklusif serta menghargai budaya lain
dan menghadirkan wisata yang ramah lingkungan. Pemerintah bersama tokoh
agama Manggarai sedang mengkampanyekan pariwisata holistik ini.Hal ini bertujuan
agar wisatawan tidak hanya mengenal Labuan Bajo dari atraksi wisata alamnya
melainkan dari atraksi wisata lain seperti religi dan budaya
Melihat hal-hal menarik tersebut, tulisan ini dimaksudkan untuk meneliti lebih
dalam mengenai pariwisata holistik yang terdapat di Labuan Bajo dan cara untuk
menarik minat wisatawan terhadap pariwisata holistik di Labuan bajo serta dampak
yang ditimbulkan dari adanya atraksi wisata baru ini.
Data yang terdapat pada artikel ini didapat melalui beberapa cara seperti
menyebarkan kuesioner sekurang-kurangya pada 100 responden dan melakukan
wawancara terhadap tokoh agama atau tokoh budaya yang berperan penting dalam
mengembangkan pariwisata holistik ini serta dari berbagai artikel dari surat kabar
serta majalah.
“Wisata Holistik” sebagai daya tarik baru
Munculnya wisata holistik di Labuan Bajo, tampaknya memberikan atraksi
wisata baru dan daya tarik tersendiri bagi wisatawan.Atraksi wisata merupakan
daya tarik wisata yang dapat dilihat lewat pertunjukan dan membutuhkan persiapan
bahkan memerlukan pengorbanan untuk menikmatinya (Zaenuri,2012).Dalam hal
ini,wisata holistik adalah daya tarik wisata baru yang harus dipersiapkan dan
direncanakan.Dengan begitu,wisatawan dapat menikmati hasil dari daya tarik
tersebut.
Seperti yang disampaikan sebelumnya,wisata holistik merupakan atraksi
wisata yang baru dikembangkan.Oleh karena itu,perlu direncanakan dengan baik
dan sustainable. Pengembangan suatu daerah tujuan wisata agar dapat menarik
untuk dikunjungi wisatawan, ia harus memiliki syarat-syarat yang mana daerah itu
harus mempunyai sesuatu yang dapat dilihat atau sering disebut “something to see”
dan juga atraksi wisata yang berbeda dengan apa yang dimiliki oleh daerah lain.
Dengan kata lain harus mempunyai daya tarik khusus, di samping itu harus
mempunyai atraksi wisata yang dapat dijadikan sebagai “entertainments” (Yoeti,
1983: 25-29).Dalam hal ini,semua pihak yang berperan dalam membangun wisata
holistik ini harus memiliki ide dan strategi yang unik untuk membuat atraksi wisata
ini diminati dan dikenal oleh masyarakat luas.
Seperti yang kita ketahui ,Labuan bajo memiliki banyak daya tarik wisata
yang sudah dikenal oleh masyarakat.Munculnya berbagai daya tarik baru membuat
daerah ini semakin dikenal luas oleh masyarakat lokal maupun mancanegara.Oleh
karena itu,setiap atraksi wisata dituntut harus memiliki keistimewaannya
masing-masing. Dengan begitu,wisatawan tidak merasa bosan mengunjungi salah
satu destinasi super prioritas ini.
Tentunya semua perencanaan ini tidak akan berjalan lancar,jika tidak adanya
dukungan dari berbagai pihak.Oleh karena itu,pemerintah dan tokoh-tokoh agama
melakukan sebuah agenda diskusi dengan tema”Berpartisipasi,berbudaya,dan
berkelanjutan”.(Media Indonesia,7 Januari 2022).Tema ini sengaja diangkat karena
pariwisata holistik meliputi pelbagai aspek yang mendukung kesejahteraan manusia
dan terintegrasi dengan keutuhan ciptaan (manusia dan alam).Hal ini senada
dengan pernyataan yang disampaikan Uskup Ruteng Siprianus Hormat. Beliau
mengatakan bahwa “kesejahteraan yang diangkat dalam pariwisata tidak hanya
menyasar pada satu aspek tetapi kesejahteraan holistik atau menyeluruh untuk
masyarakat”(Media Indonesia,7 Januari 2022). Oleh karena itu ,masyarakat diajak
untuk membangun mindset baru bahwa berwisata dan berjalan-jalan itu penting
sejak dini seseorang sudah menjadikan pariwisata sebagai bagian dari kehidupan
mereka.
Menghadapi isu dan masalah tersebut,terdapat berbagai respon dari masyarakat
ketika diberi pertanyaan-pertanyaan seputar Labuan Bajo dan wisata holistik,seperti:
Berdasarkan diagram diatas,masyarakat pada umumnya mengetahui Labuan
Bajo dan umumnya mereka mendapat informasi tersebut dari social media,berbagai
sumber lain,teman,keluarga,dll.Meskipun umumnya masyarakat mengetahui hal
tersebut,tetapi mereka sebagian besar belum pernah mengunjungi Labuan Bajo dan
masyarakat yang sudah mengunjungi daerah ini berpendapat bahwa destinasi ini
memiliki keindahan alam yang banyak dan dapat dinikmati.Ketika masyarakat
ditanya mengenai wisata holistik,sebagian besar mereka belum mengetahui
informasi dan berita tersebut.Oleh karena itu,pemerintah dan semua pihak yang
berperan dalam kegiatan wisata holistik ini dituntut untuk lebih menyuarakan lagi
mengenai wisata holistik Labuan Bajo.
Pemasaran dan dampak dari wisata holistik
Kayanya potensi alam,seni dan budaya yang dimiliki oleh Labuan Bajo
seharusnya dapat menjadi PAD dan dapat meningkatkan kemakmuran masyarakat
setempat.Namun,hal tersebut tidak akan tercapai tanpa diikuti dengan pengelolaan
sektor pariwisata yang jelas.Pemasaran merupakan langkah awal pengelolaan
pariwisata dengan baik.Strategi pemasaran yang tepat mampu meningkatkan
kunjungan wisata yang pada akhirnya dapat mewujudkan tata kelola wisata yang
baik.
Setiap atraksi wisata di suatu destinasi wajib memiliki strategi pemasaran yang
bagus.Pemasaran merupakan suatu proses sosial dan manajerial dimana individual
maupun kelompok mendapatkan apa yang mereka inginkan melalui penciptaan dan
pertukaran sesuatu yang bernilai secara bebas dengan pihak lain (Kotler,1993).
Dalam hal ini,daya tarik tersebut dapat dikenal dan diminati oleh masyarakat luas
serta perencanaan yang telah dibuat dapat tercapai maksimal.Selain itu,tujuan dari
pemasaran adalah mengidentifikasi kebutuhan pelanggan dan memenuhi kebutuhan
itu dengan baik,sehingga produk menjual dirinya sendiri.
Munculnya Labuan Bajo sebagai destinasi super prioritas membuat daya tarik
yang belum dikenal menjadi lebih diminati dan diketahui.Bagaimanapun,daya tarik
baru seperti wisata holistik dituntut tidak hanya mengandalkan hal tersebut.Oleh
karena itu,dibutuhkan suatu strategi pemasaran agar wisata holistik dapat dikenal
luas dan diminati.Pemasaran pariwisata menekankan lebih jauh lagi tentang siapa
sebetulnya segmen pasar dan bagaimana perilakunya
(Damanik,2006).Penekanannya adalah bagaimana mengkomunikasikan kepada
pasar bahwa daya tarik yang ditawarkan adalah unggul dan berbeda dengan daya
tarik di destinasi lain.Wisata holistik akan hadir menjadi pelengkap dari destinasi
Labuan Bajo.Daya tarik wisata ini akan menawarkan budaya Manggarai yang masih
kental.Wisatawan yang berkunjung tidak hanya menikmati budaya serta wisata
religinya,melainkan mereka juga secara tidak langsung diberi pengetahuan
mengenai budaya dan sistem religi di Manggarai lebih khusus di Labuan
Bajo.”Dengan adanya pariwisata,pelestarian budaya Labuan Bajo (Manggarai) bisa
menjadikan pariwisata sebagai kendaraan dan karena brand wisata kita adalah
wisata religi dan budaya,maka ini adalah momentum untuk mempertahankan
semangat dengan cara baru yaitu melalui pariwisata”ujar Bupati
Manggarai,Heribertus Nabit (Media Indonesia,7 Januari 2022).
Melihat pendapat berbagai pihak yang menyatakan bahwa wisata holistik dapat
dipromosikan dengan cara memasang iklan/promosi periklanan promosi di surat
kabar lokal,radio,stasiun televisi lokal dan buku profil pariwisata.Tetapi,pendapat
tersebut dipatahkan dengan data dan fakta yang terjadi di Kabupaten Rote Ndao
dimana strategi tersebut belum mampu meningkatkan sektor pariwisata. Hal tersebut
dibuktikan dengan masih rendah nya kunjungan wisatawan baik domestik maupun
internasional.Hal tersebut memiliki efek domino bagi ekonomi dan pembangunan
daerah setempat. Melihat kondisi tersebut pemerintah daerah dan tokoh agama
serta masyarakat setempat harus berani melakukan inovasi promosi wisata dengan
cara memanfaatkan teknologi yang ada.
Perkembangan pariwisata yang sangat pesat dan terkonsentrasi dapat
menimbulkan berbagai dampak.Secara umum,dampak yang dapat ditimbulkan
adalah dampak positif dan dampak negatif.Menurut John M.Bryden dalam
Abdurachmat dan E.Maryani (1998:79) yang menyebutkan bahwa suatu
penyelenggaraan kegiatan pariwisata dan objek wisata dapat memberikan
setidaknya memberikan dampak positif seperti penyumbang devisa
negara,menyebarkan pembangunan,menciptakan lapangan kerja,dan memacu
pertumbuhan ekonomi,serta mendorong semakin meningkatnya pendidikan dan
keterampilan penduduk.Dampak positif tersebut dirasakan langsung oleh
masyarakat Labuan Bajo dimana mereka sangat menerima dengan baik dari
adanya pengembangan pariwisata serta pariwisata dijadikan sebagai mata
pencaharian mereka.(Agas,2019). Selain itu,munculnya perkembangan pariwisata
dapat menimbulkan dampak negatif seperti mengganggu kenyamanan
masyarakat.Seperti terdapat perubahan terhadap gaya hidup,gaya berpakaian,gaya
bahasa,dan mulai perlahan budaya lokal memudar,serta kebisingan suara musik dari
hotel,cafe,dan restoran (Agas,2019).Tentunya,sampah yang dihasilkan oleh
wisatawan juga harus memerlukan perhatian khusus.Jika,permasalahan ini dibiarkan
,maka memberikan dampak bagi destinasi itu sendiri.Oleh karena itu,semua pihak
harus bekerja sama dalam mengkampanyekan sustainable tourism.
Kesimpulan
Labuan Bajo merupakan salah satu destinasi super prioritas.Hal tersebut tidak
terlepas dari banyaknya atraksi wisata yang menarik,baik itu wisata alam,seni,atau
bahari.Selain itu,Labuan bajo sudah melahirkan destinasi baru yaitu wisata
holistik.Wisata holistik merupakan wisata budaya dan religi yang mengandalkan 3
prinsip utama,seperti berpartisipasi,berbudaya,dan berkelanjutan.Semua pihak
berharap dengan adanya wisata holistik dapat memberikan dampak positif bagi
masyarakat setempat.Oleh karena itu,perlu dilakukan sebuah strategi pemasaran
pariwisata yang kuat dan inovatif.Salah satu caranya adalah dengan memanfaatkan
perkembangan teknologi yang ada,seperti,memasang iklan di sosial media,dll.Selain
itu,kita juga harus memperhatikan hal lain yaitu pencemaran lingkungan.Dalam Hal
ini,semua pihak harus bekerja sama untuk menjaga dan menciptakan suatu daya
tarik yang sustainable dan ramah lingkungan demi kelancaran serta kenikmatan
wisatawan.
Daftar Pustaka
A, Yoeti, Oka. (1996). Pengantar Ilmu Pariwisata. Angkasa, Bandung.
Bryden.(1973).Tourism and development.Newyork,Cambridge University.
“Gagasan pariwisata holistik,Manggarai jalan rawat budaya dan religi,” Media
Indonesia,7 Januari 2022.
Kotler.(1993).Manajemen pemasaran (Analisis perencanaan,implementasi,dan
pengendalian).Indeks kelompok gramedia,Jakarta.
Salim,E.(1990).Pembangunan berkelanjutan.Gramedia,Jakarta.
Zaenuri,M.(2012).Tata kelola pariwisata.Explore,Jakarta.
Pembelian Scarlett Whitening di Shopee
(Studi Kasus Mahasiswa Universitas Prasetiya Mulya)
Jasmine Jayalie - 13412110015
Hospitality Business, Universitas Prasetiya Mulya
Abstrak
Untuk melakukan proses pembelian, tentunya pelanggan akan membuat serangkaian tindakan
evaluasi terhadap pilihan yang ada dan penjual akan melakukan pemasaran dan promosi
untuk membangun brand awareness dan memotivasi pelanggan agar membeli produk.
Penelitian ini dimaksud untuk mengevaluasi faktor yang mempengaruhi Pembelian Scarlett
Whitening di Shopee. Mulai dari informasi produk, proses pembelian, kelengkapan produk
toko, waktu pengiriman hingga online review customer lain.
Kata Kunci: Faktor Pengaruh, Keputusan Pembelian, Shopee, Scarlett Whitening.
Seiring berkembangnya jaman, konsumen tidak hanya membeli kebutuhan pokok
secara online, namun juga produk kecantikan yang telah menjadi prioritas banyak wanita
untuk berpenampilan lebih baik lagi. Oleh karena itu, Semakin banyak perusahaan bidang
kosmetik yang mengambil kesempatan ini untuk meluncurkan berbagai variasi produk yang
sebenarnya sama, tetapi diubah nama, generik dan mereknya. Kemudian, dijual dengan harga
terjangkau dan banyak beredar di pasar untuk memenuhi demand customer. Salah satu
contohnya adalah Scarlett Whitening.
Berawal dari seringnya muncul pertanyaan netizen kepada Felicya Angelista (Pemilik
Scarlett Whitening) yang merupakan seorang public figure mengenai produk kecantikan yang
ia gunakan. Tanpa memberi jawaban terhadap pertanyaan netizen, Felicya Angelista justru
meluncurkan Scarlett Whitening pada 2017 sebagai jawabannya. Harga produk Scarlett
Whitening bisa dibilang harga termurah dengan harga terbaik, yaitu sekitar Rp55.000,00
sampai Rp75.000,00/Botol. Hal ini dikarenakan, harga terendah produk Scarlett Whitening
tetap dianggap berkualitas tinggi oleh pelanggan. Penetapan harga rendah pada produknya
ini bertujuan untuk meningkatkan volume penjualan (Machfoedz, 2010: 67).
Untuk melakukan proses pembelian, tentunya pelanggan akan membuat serangkaian
tindakan evaluasi terhadap pilihan yang ada. Keputusan pembelian adalah “pemilihan dari
dua atau lebih alternatif pilihan keputusan pembelian, artinya bahwa seseorang dapat
membuat keputusan, harus tersedia beberapa alternatif pilihan. Keputusan untuk membeli
dapat mengarah pada bagaimana proses dalam pengambilan keputusan tersebut itu
dilakukan” (Schiffman, Kanuk 2004: 547). Pemasaran adalah proses memperkenalkan merek
kepada umum. Promosi merupakan komponen dari pemasaran yang digunakan untuk
memberi tahu pelanggan akan produk-produknya. Promosi juga merupakan salah satu faktor
terbesar yang mempengaruhi keterampilan penjualan (Saladin, 2006).
Dengan para wanita dan remaja sebagai target marketnya, Pemilik Scarlett Whitening
pun memutuskan untuk menggandeng salah satu marketplace populer di Indonesia, yaitu
Shopee Indonesia yang telah didominasi oleh perempuan serta lebih terfokus pada produk
kecantikan dan aksesoris. Dengan adanya kerjasama ini, penjualan produk Scarlett Whitening
pun meningkat pesat karena Shopee Indonesia dapat menyediakan proses transfer dana yang
aman, pengiriman barang yang tepat waktu dan komunikasi antara penjual dan pembeli.
Tidak hanya marketplace, Scarlett Whitening juga mempromosikan produknya melalui
berbagai media, seperti Instagram, Tiktok, Youtube, dll. Cara promosi yang dipilih
merupakan periklanan, yang membutuhkan modal besar untuk membangun brand dan
mempertahankan customer. Dengan ini, Scarlett Whitening berhasil dikenal dan memiliki 5,5
juta pengikut di Instagram dan 2,2 juta pengikut di Shopee per hari ini.
Menurut (Witarisma,2017), E-commerce merupakan pemanfaatan internet dengan
browser web untuk transaksi jual beli produk.Di Indonesia sudah terdapat berbagai macam
e-commerce seperti Shopee, Tokopedia, Lazada, dll. Shopee Indonesia telah menjadi salah
satu platform e-commerce terbesar di Indonesia dengan menyediakan berbagai macam
fasilitas yang dapat mempermudah transaksi kebutuhan hidup masyarakat melalui
smartphone.
Shopee menawarkan kelebihan dengan membuat pelanggan lebih mudah dalam
mencari produk dengan menampilkan produk serupa dari berbagai toko sehingga pelanggan
dapat membandingkan harga untuk mencari harga terbaik. Selain itu, transaksi melalui
shopee juga praktis karena tidak perlu menempuh jarak yang jauh untuk membeli produk.
Shopee juga menyediakan layanan bagi seller dan buyer, jika terjadi masalah maka pihak
seller ataupun buyer dapat menghubungi call centre atau customer service shopee melalui
aplikasi untuk dibantu dalam menyelesaikan masalah agar kedua pihak dapat bertransaksi
dengan nyaman di Shopee.
Marketplace yang terkenal ini juga sering mengadakan promosi setiap bulannya,
seperti tanggal 1 pada Januari (1.1), tanggal 2 pada Februari (2.2), dst. Hal ini menjadi
strategi marketing Shopee dalam meningkatkan jumlah calon pelanggan baru untuk
berbelanja. Semakin sering berbelanjang di Shopee, maka semakin banyak juga kesempatan
bagi pelanggan untuk mendapatkan voucher gratis ongkir, cashback, diskon, flash sale dan
lainnya. Jika produk yang dikirim tidak sesuai dengan pesanan pembeli, Shopee juga
menyediakan layanan pengembalian dana untuk buyer dan barang bagi seller dengan syarat
dan ketentuan yang berlaku.
Melihat hal-hal menarik diatas, penulis ingin meneliti lebih jauh mengenai Pembelian
Scarlett Whitening di Shopee. Mengevaluasi bagaimana cara Scarlett Whitening
meningkatkan image brand lokal dan mempromosikan produknya sehingga bisa mencapai
lebih dari Rp7.000.000.000 dalam waktu kurang dari 2 minggu. Dengan nilai transaksi yang
telah menembus 20 miliar rupiah pada awal 2021.
Untuk menilai dampak pemasaran produk terhadap keputusan Scarlett Whitening di
Shopee, Penelitian ini dilakukan secara online melalui pelaksanaan kuesioner kepada 40
Mahasiswa Universitas Prasetiya Mulya. Metode penelitian kuantitatif diterapkan dalam
penelitian ini.
Hasil Penelitian dan Pembahasan
Berikut adalah hasil data dari kuesioner yang digunakan untuk mendukung penelitian
Pembelian Scarlett Whitening di Shopee.
Tabel 1.1 Identitas Responden (Berdasarkan Jenis Kelamin)
Jenis Kelamin Frekuensi Persentase
Pria 29 29%
Wanita 71 71%
Tabel 1.2 Pengenalan brand Scarlett Whitening
Pengenalan brand Scarlett Whitening Frekuensi Persentase
92%
Ya 92 8%
Tidak 8
Data penelitian menunjukkan bahwa terdapat sebanyak 92% mahasiswa/i Universitas
Prasetiya Mulya yang mengetahui keberadaan brand Scarlett Whitening. Hal ini telah
membuktikan bahwa Scarlett Whitening telah berhasil dalam membangun brand awareness
terhadap publik.
Tabel 1.3 Media/saluran utama dalam pengenalan brand
Media / saluran utama dalam Frekuensi Persentase
pengenalan brand
Instagram 58 58%
Tiktok 62 62%
Youtube 21 21%
Influencer 50 50%
E-commerce 17 17%
Temuan ini menunjukkan bahwa Tiktok dan Instagram merupakan media utama atau media
yang paling berdampak dalam pemasaran dengan 62% dan 58%. Sedangkan, pemasaran di
e-commerce dan youtube kurang berdampak banyak.
Tabel 1.4 Platform Pembelian Scarlett Whitening
Platform Pembelian Frekuensi Persentase
Shopee 86 86%
Tokopedia 8 8%
Website resmi 3 3%
Berdasarkan data diatas, terdapat 86% responden yang melakukan pembelian di Shopee, hal
ini menunjukkan bahwa Scarlett Whitening membuat keputusan yang benar dalam
menggandeng shopee yang memiliki target market yang sama.
Faktor Pengaruh Keputusan Pembelian
Berdasarkan hasil survey, dapat diketahui bahwa Online Review yang merupakan
tanggapan pembeli lain yang telah mencoba produk dan menulisnya di bawah kolom produk,
terbukti sangat berdampak terhadap keputusan pembelian seseorang dengan nilai 74%. Hal
ini dikarenakan, calon pembeli dapat melakukan pertimbangan berdasarkan pengalaman
pembeli sebelumnya.
Perbandingan harga juga merupakan salah satu faktor pengaruh keputusan pembelian
yang mempunyai dampak yang signifikan (44%). Dengan menampilkan produk serupa dari
berbagai toko, platform e-commerce telah mempermudah pelanggan dalam membandingkan
harga untuk mencari harga yang paling sesuai dengan kebutuhan. Ditambah dengan diskon
atau promosi toko seperti flash sale yang lebih memotivasi pelanggan untuk segera
melakukan pembelian pada harga terendah (38%).
Sedangkan, komunikasi dan layanan toko tidak memiliki hubungan yang signifikan
terhadap pengaruh keputusan pembelian di Shopee dengan nilai 14%.
Tabel 2.1 Faktor Yang Mempengaruhi Keputusan Pembelian
Faktor yang mempengaruhi keputusan pembelian Persentase
Informasi dan deskripsi produk 33%
Gambar dan tampilan produk yang menarik 27%
Proses pembelian yang praktis 29%
Diskon / promo toko 38%
Dapat membandingkan harga 44%
Komunikasi dan layanan toko 14%
Waktu pengiriman yang cepat 30%
Online review dari customer lain 74%
Kesimpulan
Scarlett Whitening adalah sebuah merek yang di bangun pada 2017 oleh Felicya
Angelista dengan menjual produk kecantikan dan perawatan. Scarlett Whitening telah