meningkatkan penjualan. Tidak hanya itu, selebgram juga dibayar dan setiap selebgram
memiliki fee atau rate card yang berbeda-beda. Satu post di Instagram dapat dihargakan
dengan sangat tinggi. Artis Nikita Mirzani pernah berkata di talkshow Denny Sumargo kalau
pemasukannya setiap post ada di range harga 1-2 miliar.
Namun Instagram juga memiliki beberapa kekurangan. Setiap orang ingin terlihat
sempurna di Instagram dan kebanyakan dari para pengguna ini mengedit foto-fotonya
sedemikian rupa hingga membuat foto mereka tidak realistis. Konten yang terdapat di
Instagram juga dapat menurunkan kepercayaan diri seseorang. Namun, pengguna harus mulai
sadar kalau apa yang dipajang di sosial media tidak 100% nyata dan sama dengan dunia
aslinya. Dengan teknologi yang canggih, orang-orang dapat mengedit badannya agar terlihat
lebih berisi atau lebih kurus dan tinggi demi mencapai tubuh ideal yang diidamkan semua
orang, serta mukanya agar bibirnya terlihat lebih tebal, dan kulitnya lebih halus.
Peminat Instagram di Prasetiya Mulya
Setelah melakukan beberapa riset menggunakan survei kualitatif melalui platform
Google Forms, penulis mendapatkan beberapa informasi mengenai peminat platform hiburan
Instagram. Setelah memasang survei selama 7 hari (satu minggu), terdapat 70 responden
yang menjawab survei yang dibuat oleh penulis.
Di survei tersebut, ditemukan bahwa 96% dari pengisi survei menggunakan sosial
media dan 67% menggunakan Instagram untuk kebutuhan pribadi seperti edukasi, hiburan
dan juga promosi. Seorang responden juga mengatakan kalau Instagram sangat
membantunya melewati masa pandemi Covid-19 karena melalui platform ini, ia dapat
membuat koneksi baru dengan orang-orang yang tidak pernah ia jumpai. Responden ini
bercerita bahwa ia bertemu dengan orang Amerika dan mereka menjadi sahabat yang sangat
dekat. Mereka menggunakan platform Instagram untuk mengetahui kabar masing-masing
lewat Instagram Story, dan berbincang-bincang melalui fitur chat dan juga melakukan sleep
call (berbincang melalui video call hingga tertidur) melalui fitur video chatnya Instagram.
Responden lain juga mengatakan ia belajar banyak tentang cara mengatur keuangan dan
mengatur waktu untuk hidup lebih sukses karena terdapat banyak sekali tips untuk anak muda
dari bilioner dunia seperti Steve Jobs dan Mark Zuckerberg.
Bisa dilihat melalui survei ini bahwa lebih banyak orang berminat menggunakan
Instagram untuk alasan yang lebih serius dan tidak hanya untuk hiburan belaka. Dengan
survei ini juga terlihat bahwa Instagram cocok untuk semua orang karena setiap minat dan
hobby memiliki kontennya tersendiri sehingga target market Instagram bisa dibilang cukup
luas. Tidak hanya itu, melalui survei ini, dapat ditemukan bahwa pengguna dapat
menghabiskan waktu berjam-jam di aplikasi Instagram karena menurut salah satu responden,
terdapat akun di platform ini yang menyediakan cerita pendek tentang cinta remaja, horor,
bahkan misteri. Hal ini membuat para pengguna betah dan nyaman yang akhirnya dapat
menghabiskan harinya di Instagram.
Dari survei yang sudah dibagikan, terdapat beberapa manfaat dari Instagram,
contohnya adalah, dapat mengisi waktu luang, dapat memberi pengetahuan baru, dan juga
dapat membuat koneksi baru demi kepentingan edukasi, bisnis maupun pertemanan. Namun,
responden juga menyebutkan beberapa dampak negatif dari menggunakan Instagram seperti
ketidakproduktifan karena menghabiskan kebanyakan waktu di Instagram, orang-orang juga
menjadi lebih tidak percaya diri atau minder.
Menurut seorang peneliti bernama Asri di tahun 2012, ketidak percaya diri adalah
“Perubahan fisik, Perubahan pada tubuh merupakan hal yang pasti terjadi pada semua orang
namun seringkali orang memiliki rasa tidak puas dan hal tersebut bisa mempengaruhi
kepercayaan diri seseorang.” Namun ketidak percaya diri ini tidak boleh terus dibiarkan
begitu saja karena dapat merusak kesehatan mental terutama remaja.
Platform Hiburan Tiktok
Tiktok merupakan sebuah aplikasi dari luar, lebih spesifiknya dari Tiongkok. TikTok
adalah sebuah jaringan sosial dan platform video musik Tiongkok yang diluncurkan pada
September 2016 oleh Zhang Yiming, pendiri Toutiao. Aplikasi tersebut membolehkan para
pemakai untuk membuat video musik pendek mereka sendiri (Wikipedia). Melalui platform
ini, setiap pengguna dapat berkreasi sesuai kreatifitas masing-masing berdasarkan minat dan
hobby setiap pengguna. Melalui Tiktok, orang-orang pun dapat mendapatkan hiburan karena
setiap orang dapat menonton video secara acak. Di Tiktok, terdapat video yang sangat lucu
dari berbagai negara, jadi para pengguna juga dapat menikmati hiburan dari setiap negara
seperti Amerika, Eropa, bahkan daerah-daerah terpencil. Tidak hanya video lucu, Tiktok juga
menyediakan hiburan seperti video memasak dan tutorialnya, membuat kue dan juga review
makanan-makanan yang sedang trending. Ada juga video edukasi seperti pembelajaran
bahasa asing dan juga kutipan galau yang sangat disukai remaja.
Tidak berbeda dengan Instagram, content creator juga dapat mendapatkan
penghasilan yang bisa dibilang cukup besar. Konsepnya mirip seperti Instagram, yaitu
endorse, namun Tiktok dapat mereview produk-produk dengan lebih detail dan juga lebih
kreatif. Salah satu contoh iklan endorse di tiktok bisa juga digunakan ketika kreator berjoget
menggunakan pakaian yang di endorse oleh online shop. Bila produknya adalah makanan,
kreator juga dapat mempromosikannya sambil jalan-jalan keliling kota dan membawa
makanan yang di endorse. Pemasukan melalui Tiktok bisa dibilang cukup besar karena
penontonnya pun banyak.
Melalui Tiktok, orang-orang dapat membagikan video-video lucu melalui fitur
message. Hal ini sangat penting agar kebahagiaan yang didapatkan melalui Tiktok tidak hanya
dinikmati sendiri, tapi juga dinikmati oleh orang lain, terutama teman-teman terdekat.
Dengan membagikan video-video, hal ini juga dapat memberi topik bagi remaja yang sedang
dalam proses pendekatan.
Selama masa pandemi, aplikasi ini sangat sangat populer karena sangat menghibur.
Ketika semua orang hanya bisa mengurung diri didalam rumah, mereka dapat mencari
inspirasi kegiatan melalui Tiktok. Pengguna dapat mengikuti resep-resep yang disediakan
oleh video-video di Tiktok dan mempraktekannya juga. Disaat masa pandemi, terdapat
banyak sekali trend-trend menarik yang dapat dicoba dirumah untuk mengisi waktu luang.
Contohnya adalah membuat kopi Dalgona dimana kita harus mencampur bubuk kopi dengan
gula dan mengocoknya hingga bergelembung dan menjadi busa. Setelah kopi menjadi busa,
kopinya pun ditaruh diatas gelas berisi susu dan dapat dinikmati. Namun proses ini tidak
gampang dan warga Tiktok pun berbagi cara dan tips agar semua orang dapat membuat kopi
Dalgona yang menarik. Contoh tren lain adalah membuat keripik Dancow dimana susu
Dancow saset di setrika untuk menjadi keripik. Kegiatan-kegiatan inilah yang sangat diminati
oleh kalangan remaja untuk mengisi waktu mereka, maka dengan itu, tidak heran bila Tiktok
menjadi sosial media nomor satu di Indonesia pada saat itu.
Peminat Tiktok di Prasetiya Mulya
Setelah melakukan survei kualitatif, ditemukan bahwa memang, peminat Tiktok lebih
sedikit dibandingkan dengan peminat Instagram, namun hal ini tidak berarti Tiktok lebih
kurang daripada Instagram. Tiktok adalah sebuah aplikasi baru dan dengan perkembangan
audiens yang sangat besar ini dalam waktu yang tidak lama membuatnya salah satu aplikasi
paling hebat. Menurut responden yang mengisi surveinya, ia sangat senang menggunakan
aplikasi Tiktok karena ia mendapatkan pemasukan yang besar melaluinya. Ia mendapatkan
fee Rp.500.000,00 per post ketika ada online shop meng-endorsenya dan ia mendapatkan
endorsan setiap harinya. Dan menurutnya, kerja dengan cara begitu sangat mudah. Maka
dengan itu, ia sangat bahagia dengan aplikasi ini.
Menurut responden, terdapat beberapa manfaat dari Tiktok, salah satunya adalah
menghibur. Dengan video-video yang tersedia, banyak dari pengguna aplikasi ini seringkali
tertawa terbahak-bahak hingga mengeluarkan air mata. Tidak hanya itu, seperti yang sudah
dibilang diatas, Tiktok dapat mengedukasi para pengguna, hal ini sangat krusial agar
remaja-remaja jaman sekarang dapat menjadi pemimpin-pemimpin yang baik untuk negara
kita. Namun Tiktok juga memiliki dampak buruk yang sama seperti instagram, karena terlalu
menghibur, kadang orang-orang seringkali tidak sadar akan berjalannya waktu dan
menghabiskan sehari-hari menonton yang menghasilkan hari yang tidak produktif.
Kesimpulan
Maka dari itu, dapat disimpulkan melalui riset ini bahwa remaja di Universitas
Prasetiya Mulya lebih condong berminat ke platform hiburan Instagram. Walaupun Tiktok
memiliki banyak sekali fitur menarik, namun Instagram memang sudah berdiri untuk waktu
yang lebih lama.
Daftar Pustaka
Houlihan, B & Green, M. (2008). Comparative Elite Media Development Systems,
Structures and Public Policy. Butterworth-Heinemann is an imprint of
Elsevier.
Kemenkes RI. 2020. “Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Coronavirus Disease
(COVID-19).”
Ma’mun, Amung. (2019). Governmental Roles in Indonesian Sport Policy: From Past
to Present, The International Journal of the History of Media. DOI:
10.1080/09523367.2019.1618837: 1-20.
Rizal, J. G. (2020). Pandemi Covid-19, Apa Saja Dampak pada Sektor Media
Indonesia?. Kompas. Diambil dari
https://www.kompas.com/tren/read/2020/08/11/
102500165/pandemi-apa-saja-dampak-pada-sektor-ketenagakerjaan-indonesia.
Salzberger, B., Glück, T., & Ehrenstein, B. (2020). Successful containment of
COVID-19: the WHO- Report on the COVID-19 outbreak in China. In
Infection (Vol. 48, Issue 2, pp. 151–153). Springer.
https://doi.org/10.1007/s15010-020-01409-4
Subarjah, Herman. (2001). Pendekatan Keterampilan Taktis Dalam Pembelajaran
Sosial Media. Jakarta : Depdiknas.
Uchiumi, K. (2010). On sporting nationalism: Research methodology. Hitotsubashi
Journal of Arts and Sciences, 51, 1-17.
Pengaruh Tren Sosial Media Terhadap Perbandingan Penjualan Fresh Food
Indomaret Point Dengan FamilyMart di Bintaro
Scott Radaro
13412110006
Abstract
This article investigates the comparison of fresh food sales of two big minimarket
companies of Indomaret and FamilyMart in the Bintaro area. Besides sales, it will
observe how the impact of social media trends affects the sales and interest of
customers in buying fresh food products daily.
Kata kunci: Makanan cepat saji, penjualan, tren, sosial media
Makanan dan minuman cepat saji telah menjadi tren dan sedang berkembang
sekarang menjadi sebuah alternatif bagi beberapa minimarket di Indonesia. Tren
tersebut bermulai dari hadirnya minimarket 7-Eleven pada tahun 2009 yang menjual
berbagai macam makanan dan minuman cepat saji. Sejak bermunculan, masyarakat
Indonesia meyambut hal tersebut dengan positif dan kini banyak minimarket yang
berfokus pada penjualan fresh food dan terus mengembangkan sektor makanan dan
minuman cepat saji. Fenomena makanan dan minuman cepat saji ini dapat terjadi
karena di masa sekarang banyak masyarakat yang tertarik dengan makanan yang
cepat dengan harga yang terjangkau serta kualitas yang terjamin juga. Tren dari
minimarket luar juga menjadi salah satu faktor penyebab fresh food kini digemari
oleh masyarakat Indonesia. Beberapa contoh makanan dan minuman cepat saji yang
umumnya ditemui di minimarket Indonesia adalah berbagai olahan nasi, ricebox, roti
sandwich, bakpao, dimsum, hingga cemilan seperti sate jepang atau yakitori dan
berbagai macam gorengan. Untuk minuman sendiri, Minimarket umumnya menjual
berbagai jenis olahan kopi, susu, coklat, teh, dan olahan minuman lainnya yang
menyegarkan.
Bentuk produk yang dijual oleh minimarket di Indonesia menjadi variatif dan
tidak hanya menjual produk untuk kebutuhan sehari-hari. Dengan adanya pilihan
produk makanan dan minuman cepat saji ini juga tentu menambah pemasukan serta
meningkatkan penjualan pada minimarket sehingga memberikan efek yang positif
juga. Di era digital sekarang pun, produk makanan dan minuman cepat saji digemari
masyarakat karena dinilai cepat dan praktis untuk dikonsumsi serta mudah untuk
didapat. Rata-rata konsumen bentuk produk ini adalah masyarakat yang ingin
membeli makanan untuk sarapan yang cepat dan dekat dengan tempat tinggal mereka
karena minimarket hampir bisa ditemui di dekat tempat tinggal mereka.
Makanan dan minuman cepat saji merupakan alternatif baru yang
menyediakan makanan yang disajikan secara langsung dan biasanya berupa makanan
berat dan membawa dampak yang positif bagi minimarket. Dua minimarket yang
sedang mengembangkan dan menjual jenis makanan dan minuman seperti ini adalah
Indomaret dan Familymart. Indomaret sendiri telah membuat jenis Indomaret khusus
untuk menyajikan jenis makanan cepat saji yang diberi nama Indomaret Point.
Sedangkan FamilyMart merupakan minimarket luar yang menghadirkan makanan dan
minuman cepat saji juga untuk masyarakat Indonesia. Kedua minimarket tersebut kini
memiliki fokus terhadap penjualan makanan cepat saji selain menjual produk
kebutuhan sehari-hari seperti beras, bumbu dapur, dan lain-lain. Jenis produk ini telah
mengalami peningkatan penjualan sejak tren dari sosial media yang bermunculan
yang juga meningkatkan atensi masyarakat tentang hadirnya makanan dan minuman
cepat saji pada minimarket di Indonesia.
Melihat hal-hal menarik tersebut, artikel ini ditujukan untuk meneliti lebih
jauh tentang pengaruh tren sosial media dalam pengembangan dan penjualan
makanan dan minuman cepat saji antara Indomaret Point dengan FamilyMart pada
area Bintaro. Melalui artikel ini akan mempelajari juga tentang berkembangnya jenis
makanan dan minuman cepat saji yang dihadirkan pada kedua minimarket tersebut.
Informasi mengenai penjualan pada Indomaret Point dan FamilyMart akan
diperoleh melalui penelitian yang dilakukan dengan studi pustaka terhadap berbagai
sumber, dan juga akan melakukan wawancara dengan pegawai dari kedua minimarket
tersebut untuk mendapatkan informasi tentang penjualan makanan dan minuman
cepat saji.
Tren Sosial Media dan dampaknya terhadap penjualan Makanan Cepat Saji
Kehadiran tren sosial media pada dunia makanan dan minuman cepat saji
memberikan suasana baru bagi dunia minimarket di Indonesia dan memberikan warna
baru untuk penjualan minimarket di Indonesia. Menurut Kotler (2009: 79) Tren
(Trend) adalah arah atau urutan kejadian yang mempunyai momentum dan
durabilitas, tren lebih mudah diperkirakan dan berlangsung lebih lama. Dari
pengertian tersebut dapat kita simpulkan bahwa fenomena tren sosial media tentu
memiliki momentum untuk mempromosikan sebuah barang khususnya makanan dan
minuman cepat saji pada minimarket Indomaret dan FamilyMart. Hal itu dapat
berlangsung secara lama dan konsisten untuk kepentingan promosi dari kedua
minimarket tersebut.
Sosial media sendiri mempunyai peran yang sangat penting untuk
menyebarluaskan tren yang diciptakan oleh masyarakat luas. Media sosial adalah
sarana bagi konsumen untuk berbagi informasi teks, gambar, video dan audio dengan
satu sama lain dan dengan perusahaan dan sebaliknya (Kotler, Keller 2012: 568). Hal
itu berarti segala aktivitas yang dibagikan pada sosial media dapat tersebar secara luas
dan dalam hal ini termasuk tren makanan dan minuman cepat saji pada minimarket
Indomaret dan FamilyMart.
Tren pada sosial media turut menyumbang peran untuk kepentingan promosi
dan penjualan produk makanan dan minuman cepat saji pada kedua minimarket
tersebut di Indonesia. Khususnya pada sosial media TikTok dan Youtube, dimana
terdapat konten review yang memberikan promosi terhadap makanan dan minuman
cepat saji kepada masyarakat Indonesia. Jenis konten ini diminati masyarakat
sehingga berdampak juga pada penjualan makanan cepat saji pada kedua minimarket
tersebut.
Makanan dan minuman yang disajikan menarik perhatian masyarakat
sehingga peran sosial media sangat berdampak untuk mempromosikan jenis produk
tersebut. Tren yang dihadirkan pada sosial media juga kreatif dan menarik sehingga
kedua minimarket tersebut selalu mengembangkan menu dan jenis makanan dan
minuman cepat saji yang akan dijual. Contohnya pada FamilyMart yang awalnya
menyediakan berbagai jenis olahan makanan cepat saji khas negara Jepang yang
kemudian mulai mengembangkan jenis makanan cepat saji khas Indonesia seperti
ayam sambal hijau dengan harga yang relatif murah dan terjangkau bagi masyarakat
Indonesia.
Salah satu contoh penggunaan tren sosial media untuk kepentingan pemasaran
makanan dan minuman cepat saji pada minimarket terdapat pada salah satu konten
yang diunggah oleh @deastykartika pada platform TikTok.
Sumber : @deatykartika pada platform TikTok
Konten tersebut berisi tentang ulasan terhadap produk makanan dan minuman
cepat saji yang dihadirkan oleh FamilyMart. Pemaparan produk yang jelas dan detail
menambah daya tarik bagi para penonton yang tentu meningkatan promosi dari
FamilyMart itu sendiri agar masyarakat ingin segera mengunjungi FamilyMart untuk
membeli produk makanan dan minuman cepat saji yang dijual mereka.
Lalu terdapat juga penggunaan tren sosial media untuk meningkatkan
penjualan dari minuman cepat saji yang dihadirkan oleh Indomaret Point seperti yang
diunggah oleh @melyyasminn pada platform TikTok.
Sumber : @melyyasminn pada platform TikTok
Konten ini memanfaatkan tren sosial media yaitu “What I Eat In A Day” yang
dibawakan secara menarik dan memberikan promosi terhadap salah satu produk dari
Indomaret Point yaitu Point Cafe yang menjual makanan dan minuman cepat saji.
Dari diunggahnya konten ini juga memberikan pemasaran bagi IndomaretPoint dan
mendapatkan respon yang positif dari para penonton sehingga membuat atensi
masyarakat meningkat untuk mengunjungi Point Cafe yang dimiliki oleh Indomaret
Point.
Dengan munculnya berbagai jenis konten sosial media yang memanfaatkan
tren untuk melakukan promosi terhadap produk makanan dan minuman cepat saji
yang dijual oleh Indomaret Point dan FamilyMart, tentu akan mempengaruhi angka
penjualan dari produk-produk tersebut. Indomaret Point menekankan promosi pada
Point Cafe yang memiliki spesialis pada minuman cepat saji, sedangkan FamilyMart
menekankan promosi mereka pada makanan cepat saji yang mereka jual.
Perbandingan Penjualan Fresh Food Indomaret Point dengan FamilyMart
Selain penggunaan tren sosial media sebagai cara untuk meningkatkan angka
penjualan makanan dan minuman cepat saji, salah satu cara lain untuk menjaga dan
meningkatkan penjualan adalah dengan benar-benar mempertimbangkan faktor
kebutuhan dan potensi pasar. Strategi ini terutama berlaku pada Indomaret Point,
yang beroperasi seperti 7-Eleven dimana tetap buka 24 jam sehari, dan terdapat ruang
bagi pembeli untuk duduk dan mengobrol (CNN Indonesia, 24 Juni 2017). Daya tarik
ini lah yang coba diangkat oleh Indomaret Point untuk meningkatkan penjualan
makanan dan minuman cepat saji mereka.
Kehadiran Point Cafe pada Indomaret Point sebenarnya dirancang untuk
memenuhi tuntutan besar para milenial dan eksekutif muda. Selain harga yang
kompetitif, produk Indomaret Point sendiri juga bercirikan kualitas tinggi (Kontan, 5
Februari 2019). Produk yang ingin diunggulkan dari Indomaret Point ini sendiri
adalah minuman cepat saji mereka yang hadir dengan nama Point Cafe. Rata-rata
penjualan kopi dari Indomaret Point Bintaro sendiri mencapai sekitar 70 gelas setiap
harinya. Hal itu didapat dari Interview yang saya lakukan terhadap kasir Indomaret
Point Bintaro yakni Deni. Ia juga menambahkan bahwa produk favorit dari Indomaret
Point merupakan varian kopi susu mereka dan setiap harinya melebihi penjualan dari
makanan cepat saji yang mereka jual seperti Donut dan Ayam Goreng.
Berbeda dengan Indomaret Point, pada minimarket FamilyMart Bintaro angka
penjualan menunjukkan bahwa produk makanan cepat saji mereka lebih banyak
disukai oleh masyarakat. Meskipun begitu, produk minuman cepat saji mereka juga
tidak kalah menarik perhatian masyarakat dan tetap bisa menjual hingga 50 gelas
setiap harinya. Saya melakukan interview dengan kasir FamilyMart Bintaro, yakni
Rafi Rifaldi yang menyebutkan bahwa umumnya yang membeli produk makanan
cepat saji dan minuman cepat saji di FamilyMart adalah masyarakat yang
memesannya secara online melalui layanan ojek online. Pemesanan yang dapat
dilakukan secara online ini lah yang membuat FamilyMart lebih unggul dalam angka
penjualan mereka dibandingkan dengan Indomaret Point.
Sumber : Dokumentasi Penulis
Dapat dilihat dari gambar diatas bahwa terdapat ojek online yang melakukan
pesanan terhadap makanan dan minuman cepat saji yang dijual oleh FamilyMart
cabang Bintaro. Pemesanan yang dapat dilakukan secara online tentu berdampak pada
angka penjualan produk fresh food FamilyMart dan bisa unggul jika dibandingkan
dengan angka penjualan dari Indomaret Point. Tidak adanya fitur untuk pemesanan
online yang disediakan oleh Indomaret Point membuat angka penjualan fresh food
mereka tidak sebanyak FamilyMart.
Sumber : Dokumentasi Penulis
Kemudian dari hasil dokumentasi pribadi penulis dapat dilihat bahwa foto ini
diambil pada pukul 13.00 WIB dan menunjukkan pada rak fresh food FamilyMart
sudah mulai kosong dan dibeli oleh masyarakat. Hal ini menunjukkan bahwa angka
penjualan pada FamilyMart lebih tinggi dalam menjual produk makanan cepat saji
mereka dibandingkan dengan minuman cepat saji yang mereka jual. Hal tersebut juga
dapat terjadi karena pengaruh tren sosial media yang berhasil menarik minat
masyarakat untuk memesannya secara online dan membeli produk fresh food dari
FamilyMart cabang Bintaro.
Kesimpulan
Penjualan makanan dan minuman cepat saji oleh Indomaret Point dan
FamilyMart telah menjadi fenomena baru dikalangan masyarakat. Produk tersebut
mendapat respon yang positif dari masyarakat dan diminati juga oleh mereka.
Tren sosial media juga mempengaruhi penjualan dari produk makanan dan
minuman cepat saji dari Indomaret Point dan FamilyMart khususnya pada daerah
Bintaro. Hal ini terbukti dengan Indomaret Point yang memfokuskan penjualan
mereka pada minuman cepat saji seperti berbagai macam olahan kopi dan
FamilyMart yang berfokus pada penjualan makanan cepat saji. Namun setelah
melakukan tinjauan langsung ke lokasi dapat ditemukan bahwa kehadiran fitur
pesanan online oleh FamilyMart membuat angka penjualan mereka lebih tinggi
dibandingkan dengan Indomaret Point. Tren sosial media yang hadir juga
meningkatkan atensi masyarakat untuk berkunjung ke Indomaret Point dan
FamilyMart untuk membeli makanan dan minuman cepat saji.
Dari hal tersebut dapat disimpulkan bahwa tren sosial media berpengaruh
terhadap penjualan produk fresh food dari Indomaret Point dan FamilyMart. Selain
itu, perbandingan penjualan fresh food menunjukkan bahwa Indomaret Point lebih
unggul dalam hal menjual produk minuman cepat saji sedangkan FamilyMart unggul
dalam menjual produk makanan cepat saji.
Daftar Pustaka
Kotler, Philip. 2009. Manajemen Pemasaran, Edisi 13 Jilid 1 & 2. Edisi Terjemahan
Oleh Bob Sabran. Jakarta: Erlangga.
Kotler, P. & Keller, K.L. 2012. Manajemen Pemasaran, Edisi 12 Jilid 1. Jakarta:
Erlangga.
Yanna Yuli, 2017. “Resep Indomaret Point Agar Tak Merana Seperti 7-Eleven”
https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20170624161352-92-223957/resep-indomar
et-point-agar-tak-merana-seperti-7-eleven diakses pada 10 Juni 2022 pukul 14.15.
Dwijayanto Andi, 2019. “Indomaret perkuat pengembangan Point Cafe”
https://industri.kontan.co.id/news/indomaret-perkuat-pengembangan-point-cafe
Diakses pada 11 Juni 2022 pukul 18.25.
Pengaruh Penurunan Angka Covid-19 Karena Vaksinasi Terhadap Bisnis
SWAB PCR-Antigen di Jakarta Selatan
Shafina Raniella Darwis
13412110005
Abstract
This article investigates the effects of the decreasing numbers of Covid-19 cases towards
the PCR Antigen Swab business in South Jakarta. Besides the swab sales, it will also
observe how the community reacts towards getting vaccinated and tested.
Kata Kunci: Pandemi, Vaksinasi, Masyarakat, Penjualan
Covid-19 merupakan sebuah wabah yang pertama kali ditemukan pada akhir tahun
2019 di Cina. Tidak perlu waktu lama, pada maret 2020, WHO menyatakan Covid-19
sebagai pandemi. Hal ini dikarenakan virus itu sendiri, merupakan jenis virus yang dapat
berujung pada kematian dan penyebarannya sangat cepat. Gejala pada individu yang
terpapar oleh virus antara lain yang umum adalah demam, batuk, kehilangan indra perasa
dan sakit tenggorokan. Masuknya Covid-19 ke Indonesia jatuh pada tanggal 2 Maret
2020, pada seorang yang tertular oleh warga negara asing saat ia berada di Amigos Bar,
Jakarta Selatan. Dari satu kasus positif itu, tersebar lah kasus positif lainnya di Indonesia
hingga hari ini yang sudah dinyatakan positif menyentuh angka 6,07 juta jiwa.
Pandemi ini mempengaruhi berbagai macam distrik dan unsur dalam kehidupan
manusia di Indonesia, seperti politik, sosial, budaya, kemanusiaan, militer, dan ekonomi
bisnis. Perihal ekonomi bisnis, hampir seluruh sektor ekonomi mengalami penurunan
karena keberadaan pandemi ini. Salah satu cara penanggulangan masalah ini adalah untuk
testing individu yang terkena dan membedakannya dengan individu yang tidak terkena
Covid-19.
1
Setelah beberapa bulan adanya pandemi di Indonesia, munculah satu persatu
perusahaan yang menyediakan jasa swab PCR (Polymerase Chain Reaction) dan Antigen.
Jasa ini ada guna melakukan tes pada setiap individu supaya jika individu tersebut positif,
tidak makin menularkan virus kepada individu-individu lainnya.
Disini perbedaan mulai terlihat dalam sektor ekonomi bisnis SWAB PCR-Antigen,
dimana seluruh sektor ekonomi lain seperti pariwisata mengalami penurunan, keberadaan
pandemi ini justru melahirkan kesempatan untuk kehadiran bisnis SWAB PCR-Antigen,
dikarenakan keberadaan masyarakat yang butuh testing.
Vaksinasi Di Indonesia
Dengan berjalannya waktu, ditemukan lah vaksin bagi semua kalangan umur, dan
semua golongan masyarakat dapat mendapatkan vaksinasi karena tidak dikenakan biaya
sama sekali. Vaksinasi untuk Covid-19 sendiri ada 3 dosis, pertama, kedua dan yang
terakhir booster. Banyak masyarakat di Indonesia sudah mendapatkan vaksinasi, karena
vaksinasi merupakan hal yang wajib jika kita ingin mendatangi hampir seluruh tempat
umum baik terbuka maupun tertutup. Namun juga masih banyak masyarakat yang hingga
saat ini masih belum percaya dengan adanya virus ini, dan menolak untuk melakukan
vaksinasi.
Dengan banyaknya masyarakat yang sudah di vaksinasi, kehidupan kian membaik
dan perlahan-lahan hidup di Indonesia kembali normal.
Covid-19 Di Jakarta Selatan
Ibu kota Indonesia, yaitu DKI Jakarta juga turut menyumbang kasus positif tertinggi
di Indonesia. Kalangan masyarakat yang harus pergi bekerja, bermain ke mall, berkumpul
dengan kerabat dan teman-teman, pergi berpesta tanpa menjaga jarak dan tidak
menggunakan masker merupakan penyebab utama penyebaran kasus positif Covid-19.
Jika dikerucutkan lagi, Jakarta Selatan lah penyumbang paling banyak kasus positif
dibandingkan dengan Jakarta bagian lainnya.
2
Namun orang-orang itu juga yang paling sering melakukan swab test, baik karena
diwajibkan oleh kantor tempat mereka bekerja, sekolah maupun karena keinginan sendiri.
Dari data yang penulis sudah kumpulkan, mayoritas masyarakat yang tinggal di daerah
Jakarta Selatan sudah pernah melakukan swab test minimal 2 kali dari awal munculnya
pandemi Covid-19. Masyarakat yang sama juga sudah mendapatkan vaksinasi dosis
pertama dan kedua, namun juga sudah terkena covid 1 kali sejak bulan Maret 2020.
Kasus Covid-19 Varian Delta dan Omicron di Jakarta Selatan
Periode waktu yang akan dibahas salah satunya adalah periode waktu varian
covid-19 yang mulai muncul perlahan seperti varian delta dan omicron. Varian delta dan
omicron walaupun secara medis memiliki pendekatan yang berbeda. Hal itu berbeda dari
sudut pandang bisnis SWAB PCR-Antigen pendekatan bisnis yang diadakan kurang lebih
serupa.
Pendekatan yang diadakan ketika menghadapi varian tersebut adalah pendekatan
yang sangat menguntungkan dengan peningkatan testing dan peminat testing sebagai
pelanggan bisnis Swab PCR-Antigen. Dapat secara aman dikatakan, bahwa kedatangan
varian baru Covid-19 yang berkesinambungan dengan kedatangan angka kasus yang
meningkat berpengaruh sangat baik terhadap bisnis Swab PCR-Antigen. Dengan adanya
pelanggan yang bertambah sama halnya dengan bisnis lain, menjadi berita baik dalam
kelangsungan bisnis bisnis Swab PCR-Antigen.
Penurunan Kasus Covid-19 Terhadap Bisnis Swab PCR-Antigen
Seperti yang dijelaskan sebelumnya bisnis Swab PCR-Antigen berawal dikarenakan
keperluannya jasa testing pada masa pandemi. Untuk membedakan dan melakukan
tindakan-tindakan kesehatan yang diperlukan. Perusahaan-perusahaan yang menyediakan
3
jasa ini berasal dari perusahaan farmasi ataupun perusahaan lainnya yang mengubah jasa
utamanya menjadi covid testing.
Berdasarkan hal tersebut, jasa testing semakin diinginkan dan dibutuhkan serta
semakin banyak perusahaan yang memberikan jasa testing hadir dengan persaingan
harganya tersendiri bahkan dengan perusahaan milik pemerintah, yang menjadikan bisnis
Swab PCR-Antigen sebagai entitas baru dalam dunia pandemi. Kondisi bisnis Swab
PCR-Antigen pada awalnya tidak menghadapi keuntungan yang sangat besar dikarenakan
permulaan dan belum semua orang melihat keharusan untuk adanya testing. Semakin
lama covid berkembang, berkembang juga bisnis ini dalam pembukaan cabang dan
kuantitas testing yang disediakan oleh perusahaan tersebut. Peminat yang hadir
berkembang seperti bisnis pada umumnya, dan masa yang berubah sesuai dengan periode
waktu serta faktor lain yang akan ditimbang dibawah.
Disisi lain penurunan angka kasus, dan varian yang sudah mulai teratasi menjadi
berita buruk terhadap bisnis SWAB PCR-Antigen. Keberadaan vaksinasi sebagai
langkah kemajuan penanggulangan Covid-19 menjadi bentuk langsung proses
berakhirnya pandemi, dan tanpa adanya pandemi tidak akan ada bisnis SWAB
PCR-Antigen. Oleh karena itu, kedatangan vaksinasi mempengaruhi secara langsung
terhadap penurunan angka Covid-19. Vaksinasi yang hadir membuat masyarakat semakin
kuat terhadap virus Covid-19 yang berlanjut kepada kekurangannya testing yang ada.
Dikarenakan kekurangan testing yang ada, dapat disamakan dengan pengurangan
pelanggan yang ada seperti faktor lain yang dapat disimpulkan adalah, urgensi untuk
testing yang sudah hilang dikarenakan keberadaan vaksin Covid-19. Secara garis besar,
seperti yang sudah disinggung sebelumnya keberadaan vaksin menegaskan kembali
bahwa pandemi sudah mulai berakhir yang mempengaruhi pemakaian masker dan
protokol kesehatan yang secara psikis membuat rakyat sudah tidak khawatir dan seluruh
hal tersebut adalah bukti dan fakta jelas penurunan bisnis SWAB PCR-Antigen oleh
pengaruh vaksinasi.
Perusahaan perusahaan tersebut perlu melakukan adaptasi terhadap Indonesia yang
semangkin mendekat dengan akhir pandemi. Kondisi bisnis SWAB PCR-Antigen yang
4
mengalami penurunan akan membutuhkan penyesuain yang sangat besar untuk terus
hadir. Penyesuaian tersebut seperti penutupan beberapa cabang test, penurunan harga test
itu sendiri, dan juga stok alat test yang harus menyesuaikan dengan jumlah pelanggan
yang ada.
Dapat dimengerti bahwa kondisi bisnis SWAB PCR-Antigen tidak seperti pada
masa awal pandemi, pertengahan pandemi, penanggulangan varian, ataupun permulaan
vaksinasi. Pada masa pra-vaksinasi semua masyarakat sudah tidak memiliki rasa takut
akan Covid karena Covid itu sendiri yang sudah tidak sedominan dahulu kala. Kondisi
bisnis SWAB PCR-Antigen mengalami penurunan, penyesuaian, dan kemungkinan untuk
hilang pada masa pra-vaksinasi. Mengingat juga vaksinasi bukanlah hal pilihan dan
menjadi hal wajib oleh pemerintah, maka dapat dikatakan bahwa vaksinasi itu sendiri
bukanlah hal yang bisa dilawan oleh perusahaan-perusahaan ini dikarenakan kewajiban
serta vaksinasi sendiri yang sangat diinginkan oleh masyarakat banyak.
Dari sisi bisnis, harapan yang dapat dicari oleh perusahaan bisnis SWAB
PCR-Antigen adalah untuk mengandalkan masyarakat yang belum percaya vaksinasi dan
belum mendapatkan imunitas terhadap virus Covid-19. Masyarakat tersebut adalah
masyarakat yang dimasa depan dapat terkena dan akan masih memerlukan testing.
Lonjakan kasus kembali dikarenakan varian baru yang muncul, juga menjadi harapan
oleh perusahaan bisnis SWAB PCR-Antigen. Dengan adanya lonjakan kembali, kondisi
testing akan kembali seperti masa pertengahan pandemi dan bisnis SWAB PCR-Antigen
tidak akan menghadapi bahaya seperti kondisinya pada belakangan ini.
Bahaya pada belakangan ini itu sendiri seperti yang sudah disinggung berulang kali
adalah penurunan angka Covid-19 itu sendiri yang secara garis besar akan mematikan
bisnis SWAB PCR-Antigen. Dalam sudut pandang ekonomi bisnis sebuah bisnis tidak
bisa berlangsung tanpa pelanggan. Pada kasus ini para pelanggan adalah masyarakat yang
butuh testing.
Kembali lagi pada penurunan kasus, dikarenakan hal tersebut terjadi covid 19
yang menyakiti masyarakat sudah menurun. Berlanjut kepada orang yang terjangkit covid
5
19 sudah menurun hingga masyarakat yang membutuhkan konfirmasi testing sudah
menurun. Pendapatan ekonomi bisnis ini secara langsung dari sudut pandang Cost and
Benefit, serta Supply and Demand sudah mengarah kepada kematian bisnis SWAB
PCR-Antigen.
Bukti akan hal diatas adalah antrian testing Covid-19 yang sudah tidak ada, cabang
cabang testing yang dahulu ramai sudah tidak ada, dan harga testing yang sudah turun
jauh menjadi titik berat kematian bisnis ini dikarenakan penurunan angka Covid-19.
Kesimpulan
Indonesia atau lebih tepatnya Jakarta sudah memasuki fase new normal yang
bahkan sudah ada pelonggaran oleh pemerintah bahwa masyarakat tidak perlu
menggunakan masker lagi di ruang terbuka. Hal ini tidak langsung dilakukan oleh semua
individu maka dari itu belum ada lagi kenaikan kasus positif di Jakarta.
Vaksinasi juga semakin berjalan kedepan karena tingginya minat masyarakat untuk
mendapatkan vaksinasi. Hal ini terbukti dengan statistika Covid-19 yang ada di internet,
dimana grafik terlihat stabil dan tidak ada lonjakan kasus lagi sejak bulan Februari 2022.
Tetapi masih banyak juga masyarakat yang tidak percaya akan adanya kasus Covid-19
ini, mungkin kebanyakan dari mereka sudah terkena wabah tersebut namun
mengabaikannya dan tidak melakukan swab test.
Dengan adanya penurunan kasus ini, banyak perusahaan Swab PCR-Antigen yang
hampir bangkrut karena minimnya orang yang datang untuk testing. Perusahaan-
perusahaan ini hanya bergantung pada lonjakan kasus seperti masa Delta dan Omicron.
Dari hal tersebut dapat disimpulkan bahwa semakin dekatnya Indonesia dengan
akhir pandemi, semakin jatuh juga perusahaan-perusahaan yang menyediakan jasa swab.
6
Daftar Pustaka
“Data Pemantauan Covid-19.” Jakarta Tanggap COVID-19, Juni 2022
https://corona.jakarta.go.id/id/data-pemantauan diakses pada 20 Juni 2022
Halodoc, Redaksi. 11 Juni 2021 “Kronologi Lengkap Virus Corona Masuk
Indonesia.”,
https://www.halodoc.com/artikel/kronologi-lengkap-virus-corona-masuk-indonesia
diakses pada 11 Juni 2022
Humas, Universitas Islam Indonesia. 23 November 2021 “Kontroversi TES PCR:
Bisnis Atau Krisis.” https://www.uii.ac.id/kontroversi-tes-pcr-bisnis-atau-krisis/
diakses pada 12 Juni 2022
Handayani, Rina Tri. et.al. “Pandemi Covid-19, Respon Imun Tubuh, Dan Herd
Immunity,” Jurnal Ilmiah Permas, Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Kendal, Volume
10 No.3 (2020). Diakses pada 14 Juni 2022
7
Analisis Tipe Indekos yang Diminati
Mahasiswa S1 Universitas Prasetiya Mulya
Sultan Har Ray – 13412110023
Program Studi S1 Hospitality Business, Universitas Prasetiya Mulya
Abstract
Artikel ini mengkaji minati mahasiswa S1 Universitas Prasetiya Mulya terhadap indekos
menjelang dibukanya kembali kampus secara berkala. Secara khusus, minat tersebut dianalisis
melalui tipe-tipe indekos yang tersedia di seputar kampus meliputi layanan fasilitas, lokasi,
lingkungan dan harga sewa indekos. Melalui observasi dan studi lapangan, dapat dilihat bahwa
mahasiswa S1 Universitas Prasetiya Mulya menginginkan sebuah hunian indekos yang
memiliki fasilitas praktis, lokasi strategis, lingkungan bebas akses serta harga yang minimalis.
Kata kunci : mahasiswa, tipe, indekos.
Belakangan ini, dunia tengah dihadapi oleh situasi pandemi Covid-19 yang mempengaruhi
banyak kehidupan masyarakat. Penyebaran pandemi yang berlangsung hampir 2,5 tahun ini
telah mengakibatkan banyak korban jiwa, gangguan finansial hingga kerugian lainnya. Bukan
hanya itu, di Indonesia mayoritas bidang kehidupan juga mengalami penurunan kualitas akibat
pembatasan pergerakan masyarakat yang diterapkan oleh pemerintah. Namun, beragam upaya
pemulihan keadaan telah dilakukan secara bertahap guna mengembalikan situasi normal.
Salah satu pengaruh yang begitu kasatmata dari pandemi ada pada bidang pendidikan, baik
sekolah maupun perguruan tinggi. Penerapan pendidikan secara virtual/daring menjadi pilihan
yang harus dilakukan beberapa tahun terakhir. Namun, seiring dengan penurunan jumlah
penyebaran pandemi covid-19 di Indonesia, pemerintah mulai mengambil langkah-langkah
konkret dan secara bertahap membangun pemulihan. Sebagai contohnya, berdasarkan Surat
Keputusan Bersama (SKB) Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Menteri Agama, Menteri
Kesehatan, dan Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia, satuan pendidikan perguruan tinggi
yang telah memenuhi persyaratan dapat kembali menyelenggarakan sistem Pembelajaran
Tatap Muka (PTM) secara terbatas. Proses ini tentu akan dilakukan secara ketat sesuai dengan
protokol kesehatan dan memprioritaskan keselamatan warga kampus.
Terkait dengan dibukanya kembali pembelajaran tatap muka secara berkala, terdapat
beragam respons pelajar maupun mahasiswa. Sebuah respons mahasiswa yang cukup gencar
dibicarakan belakangan ini ialah penentuan tempat tinggal bagi mahasiswa yang tinggal jauh
dari kampus. Hal ini tentunya perlu dipertimbangkan secara matang guna membangun
kenyamanan mahasiswa selama menempuh studi jauh dari rumah. Beragam pilihan tempat
tinggal dengan berbagai fasilitas dapat menjadi incaran mahasiswa, bahkan diperebutkan agar
mendapatkan yang terbaik.
Indekos merupakan salah satu pilihan tempat tinggal untuk mahasiswa dengan
menyewa sebuah kamar serta fasilitas pendukung lainnya yang dibebankan biaya pembayaran
dalam setiap periode tertentu, biasanya dilakukan dalam kurun waktu satu tahun guna menjadi
tempat tinggal temporer (Utomo, dikutip dalam Ghifari, Muhammad, 2017). Indekos juga
termasuk selera tempat tinggal yang paling disukai oleh mahasiswa dengan berbagai tumpuan
opini. Bukan hanya itu, beragam tipe yang ditawarkan oleh pengelola indekos menjadi daya
pikat untuk mahasiswa dalam memutuskan opsi. Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi
mahasiswa dalam memilih indekos sebagai tempat tinggal di perantauan, antara lain faktor
jarak dari tempat indekos, pengaruh teman, ekonomi, kebersihan indekos serta tempat yang
nyaman (Bardi, dikutip dalam Ghifari, Muhammad, 2017). Selain itu, pendapat serupa juga
diungkapkan bahwa terdapat tujuh faktor yang memengaruhi mahasiswa dalam menentukan
pilihan indekos yaitu faktor lingkungan , harga sewa , fasilitas, referensi, lokasi, keamanan, dan
pelayanan (Hajar, et al., dikutip dalam Ghifari, Muhammad, 2017).
Melihat fenomena yang menarik tersebut, tulisan ini dimaksudkan untuk meneliti lebih
lanjut mengenai tipe indekos yang paling diminati oleh mahasiswa S1 Universitas Prasetiya
Mulya menjelang dibukanya kembali Pembelajaran Tatap Muka(PTM) di kampus. Tipe-tipe
indekos tersebut didasari oleh layanan fasilitas, lokasi, lingkungan serta harga indekos. Melalui
tulisan ini akan dipahami analisis tipe indekos yang diminat mahasiswa serta faktor pendukung
yang mempengaruhi pilihan tersebut.
Segala bentuk informasi, teori serta data lainnya yang bertuju pada penelitian ini
didapatkan melalui studi literatur terhadap berbagai sumber aktual seperti artikel, jurnal dan
karya ilmiah. Selain itu, dilakukan juga sebuah survei dengan menyebarkan kuesioner kepada
mahasiswa S1 Universitas Prasetiya Mulya dengan sekurang-kurangnya 100 responden.
Informasi Pemasaran Indekos
Sebagai sebuah bisnis yang cukup menjanjikan bagi para pengusaha, tentunya indekos
harus membangun komunikasi pemasaran dengan baik. Menurut Kotler dan Keller dalam
Isnawati, D. M., & Sudrajat, R. H. (2021) “Komunikasi Pemasaran adalah teknik pemasar
untuk memberikan informasi tentang produk atau jasa sekaligus membujuk calon konsumen
untuk membeli produknya”. Melalui komunikasi pemasaran ini, terdapat beragam cara yang
dapat dilakukan oleh pengusaha untuk menarik minat para konsumen.
Gambar 1.1 Informasi Mahasiswa
Sumber : Grafik Survei Informasi Mahasiswa
Berdasarkan grafik hasil survei lapangan pada 113 mahasiswa S1 Universitas Prasetiya
Mulya dapat dilihat beberapa anggapan yang signifikan. Hasil menunjukkan bahwa 49,6% dari
mahasiswa tersebut mendapatkan informasi indekos melalui teman. Hal ini pastinya
dipengaruhi oleh tingkat promosi dan eksistensi di kalangan mahasiswa.
Gambar 1.2 Informasi Pemasaran Indekos
Sumber : Grafik Survei Informasi Pemasaran Indekos
Layanan Fasilitas Indekos
Berbicara mengenai indekos, tentunya terdapat berbagai hal penunjang yang menjadi
pendorong kenyamanan hunian tersebut, salah satunya ialah fasilitas. Menurut Kurniawan,
Andre (2015) mengungkapkan bahwa “Fasilitas merupakan suatu bentuk pelayanan
perusahaan terhadap konsumennya guna memenuhi kebutuhan konsumen, sehingga dapat
meningkatkan kepuasan konsumen”. Oleh karena itu, dalam penelitian ini terdapat beragam
objek layanan fasilitas yang menjadi acuan pilihan para mahasiswa guna menentukan hunian
temporer (indekos).
Melalui penelitian ini, layanan fasilitas dibagi menjadi 2 bagian yaitu layanan fasilitas
dasar dan layanan fasilitas khusus. Layanan fasilitas dasar merupakan segala bentuk fasilitas
yang umumnya disediakan oleh pengurus/pengelola indekos guna memberikan ketenteraman
kepada penghuni dalam skala tertentu. Sedangkan, layanan fasilitas khusus merupakan segala
bentuk fasilitas tambahan dan/atau pilihan yang disediakan oleh pengurus/pengelola indekos
dengan tambahan biaya tertentu.
Berdasarkan grafik hasil survei lapangan yang disebarluaskan pada 113 mahasiswa S1
Universitas Prasetiya Mulya, terdapat berbagai layanan fasilitas dasar yang penting disediakan
oleh pengurus/pengelola indekos. Layanan fasilitas dasar diambil melalui data minat
mahasiswa pada fasilitas tersebut yang melebihi 50% dari data keseluruhan. Layanan fasilitas
dasar tersebut antara lain kasur(94,7%), lemari(86,7%), kursi dan meja belajar(92%),
cermin(51,3%), air conditioner(77%), wifi(93,8%), dispenser(50,4%), kompor(65,5%),
kulkas(67,3%), listrik(80,5%) dan area parkir(53,1%).
Gambar 1.3 Layanan Fasilitas Dasar
Sumber : Grafik Survei Layanan Fasilitas Indekos
Selain itu, berbagai layanan fasilitas khusus juga menjadi pilihan para mahasiswa guna
memenuhi kebutuhannya. Layanan tersebut meliputi jenis gedung, luas kamar, dapur, wifi,
pencucian pakaian, kamar mandi, dan area lainnya. Melalui survei lapangan tersebut, fasilitas
khusus terbanyak yang diinginkan oleh mahasiswa antara lain lantai bertingkat(57,5%), gedung
bertangga(47,8%), luas kamar 4×5 meter2(35,4%), dapur pribadi di kamar(46%), wifi pribadi
di kamar(48,7%), laundry oleh pengurus(48,7%), kamar mandi pribadi(81,4%), water
heater(65,5%) dan rooftop(61,1%). Namun, untuk fasilitas gym dan kolam berenang sebagian
besar mahasiswa memilih opsional dengan masing-masing data sebesar 46% dan 47,8% dari
data keseluruhan.
Gambar 1.4 Luas kamar, dapur, dan wifi
Sumber : Grafik Survei Layanan Fasilitas Indekos
Gambar 1.5 Gedung Indekos
Sumber : Grafik Survei Layanan Fasilitas Indekos
Gambar 1.6 Pencucian Pakaian dan Kamar Mandi
Sumber : Grafik Survei Layanan Fasilitas Indekos
Gambar 1.7 Rooftop, Gym dan Kolam Renang
Sumber : Grafik Survei Layanan Fasilitas Indekos
Lokasi Indekos dari Kampus dan Area Publik
Selain fasilitas yang disediakan oleh indekos, lokasi indekos juga menjadi fokus utama
dalam penentuan hunian tersebut. “Lokasi merupakan salah satu unsur dalam bauran
pemasaran yang memegang peranan penting dalam hal mengalokasikan barang atau jasa dan
melancarkan arus barang atau jasa dari produsen ke konsumen”(Kurniawan, Andre, 2015).
Jarak lokasi indekos berperan penting kepada mahasiswa itu sendiri maupun perekonomian
sekitar.
Indikator jarak lokasi indekos terhadap area publik diambil melalui berbagai tempat
yang paling banyak dikunjungi oleh mahasiswa indekos. Selain kampus, beberapa area publik
tersebut antara lain rumah makan, pasar atau minimarket, tempat ibadah dan tempat
hiburan/rekreasi. Area publik tersebut memiliki peranan esensial dalam menyokong kehidupan
mahasiswa.
Berdasarkan data survei lapangan dengan menggunakan metode skala prioritas pada
113 mahasiswa S1 Universitas Prasetiya Mulya, hasil data menunjukkan jarak yang signifikan.
Melalui data tersebut dapat dilihat bahwa mahasiswa menginginkan lokasi indekos yang
memiliki jarak ≤1km dari kampus. Selain itu, untuk lokasi indekos terhadap area publik,
sebagian besar mahasiswa memilih jarak lokasi antara lain rumah makan/warung(1-2km),
pasar atau minimarket(2-3km), tempat ibadah(3-4km) dan tempat hiburan/rekreasi(≥4km).
Gambar 1.8 Lokasi Indekos
Sumber : Grafik Survei Lokasi Indekos
Lingkungan Indekos
Dalam menentukan hunian temporer, asas kenyamanan dan ketenteraman menjadi
sebuah preferensi. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, lingkungan dan suasana indekos
menjadi faktor fundamental terhadap pencapaiannya. Lingkungan dan suasana indekos ini
dapat dibangun sesuai keinginan para penghuni dan pihak pengurus/pengelola dengan
menetapkan aturan dan/atau kesepakatan bersama.
Berdasarkan data hasil survei lapangan, mayoritas mahasiswa menginginkan indekos
yang memiliki lingkungan sesama gender(46,9%) sebagai penghuni lainnya. Selain itu,
kapasitas indekos yang paling diminati oleh mahasiswa ialah 5-10 kamar(44,2%). Hal ini
menafsirkan bahwa kebanyakan dari mahasiswa memperuntukkan sebuah indekos yang minim
penghuni dan terbatas untuk sesama gender saja.
Gambar 1.9 Jenis dan Kapasitas Indekos
Sumber : Grafik Survei Jenis dan Kapasitas Indekos
Selanjutnya, lingkungan dan suasana indekos juga dapat dibangkitkan dengan
komponen seperti akses dan keamanan. Dalam survei lapangan ini, mahasiswa lebih berkenan
apabila indekos bebas akses 24 jam(93,8%) dan tamu bebas mengakses indekos(89,4%). Untuk
keamanan, mahasiswa lebih senang dengan sistem keamanan CCTV(59,3%).
Gambar 1.10 Akses dan Keamanan Indekos
Sumber : Grafik Survei Akses dan Keamanan Indekos
Harga Indekos
Sebagai salah satu variabel mahasiswa dalam menentukan indekos yang akan dihuni,
harga sewa pastinya memengaruhi minat mahasiswa tersebut. Menurut Kurniawan,
Andre(2015) “Harga sewa indekos adalah jumlah uang yang dibutuhkan untuk memperoleh
beberapa kombinasi dalam memperoleh tempat indekos”. Oleh sebab itu, penentuan harga
sewa indekos menjadi hal yang vital dan membutuhkan sebuah pertimbangan.
Menurut data primer yang dihasilkan melalui survei lapangan, kebanyakan mahasiswa
memilih opsi terendah dari kisaran harga yang tertera. Sejumlah 61,1% dari 113 responden
menyatakan minatnya pada kisaran harga 1,5-2 juta rupiah per bulan atau sekitar 18-24 juta
rupiah per tahunnya. Hasil ini dipengaruhi oleh faktor ekonomi, yang mana harga yang murah
namun berkualitas merupakan incaran sifat alamiah manusia terutama mahasiswa(Badri, dalam
Ghifari, Muhammad., 2017).
Gambar 1.11 Harga Indekos
Sumber : Grafik Survei Harga Indekos
Kesimpulan
Sejak dibukanya kembali aktivitas kampus secara berkala, isu penentuan hunian untuk
para mahasiswa perantau menjadi topik tanggapan yang cukup tinggi. Indekos sebagai salah
satu hunian temporer menjadi pilihan primer para mahasiswa terutama bagi mahasiswa S1
Universitas Prasetiya Mulya. Dengan segala komponen yang ditawarkan indekos, mahasiswa
tentunya akan memilih dan memilah tipe indekos yang paling mereka minati.
Berkaitan mengenai alasan memilih indekos, data hasil survei membuktikan sebagian
besar mahasiswa memutuskan opsi indekos dikarenakan harga sewa yang murah dan
terjangkau. Fakta ini diiringi oleh dalih lainnya seperti kenyamanan, jarak lokasi strategis dan
fasilitas yang lengkap serta praktis. Selain itu, motif untuk menambah relasi, privasi dan
mandiri juga menjadi argumentasi dalam menetapkan indekos sebagai sebuah hunian.
Melalui alasan tersebut, grafik data survei juga memperlihatkan hasil yang selaras dan
relevan. Mayoritas mahasiswa S1 Universitas Prasetiya Mulya menghendaki sebuah indekos
yang memiliki 11 fasilitas dasar, lokasi indekos ≤1km ke kampus, lingkungan indekos yang
sesama gender, kapasitas indekos 5-10 kamar serta kisaran harga 1,5-2 juta rupiah per bulan.
Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar mahasiswa S1 Universitas Prasetiya Mulya
memiliki perspektif yang sama dalam menentukan tipe indekos yang diminati.
Daftar Pustaka
Admin, C. P. (2017, January 27). Rekomendasi Kostawira di Kawasan BSD. Cerita Prasmul.
Retrieved May 26, 2022, from https://ceritaprasmul.com/rekomendasi-kostawira-
kawasan-bsd/
Dyah, E. (2022, January 23). Sambut PTM Terbatas, Prasmul Siapkan pembelajaran
berbasis teknologi. detikEdu. Retrieved May 26, 2022, from
https://www.detik.com/edu/perguruan-tinggi/d-5910278/sambut-ptm-terbatas-prasmul-
siapkan-pembelajaran-berbasis-teknologi
Ghifari, M. (2017, May 16). Pengambilan Keputusan Mahasiswa Dalam memilih indekos di
Daerah Universitas Muhammadiyah Surakarta. UMS ETD-db. Retrieved May 29,
2022, from http://eprints.ums.ac.id/53446/
Herlina, N. (2021, September 16). Penyelenggaraan Pembelajaran TATAP Muka Tahun
Akademik 2021/2022. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan
dan Kebudayaan Republik Indonesia. Retrieved June 17, 2022, from
https://dikti.kemdikbud.go.id/pengumuman/penyelenggaraan-pembelajaran-tatap-
muka-tahun-akademik-2021-2022/
Isnawati, D. M., & Sudrajat, R. H. (2021, October 5). Analisis Strategi komunikasi
pemasaran koseeker dalam upaya menarik minat Penyewa Pada Masa pandemi covid-
19. eProceedings of Management. Retrieved June 14, 2022, from
https://openlibrarypublications.telkomuniversity.ac.id/index.php/management/article/vi
ew/16639
Kristina. (2022, April 13). Aturan Kuliah Tatap Muka TA 2022/2023, Dirjen Dikti: Semakin
100 persen. detikEdu. Retrieved May 26, 2022, from
https://www.google.com/amp/s/www.detik.com/edu/perguruan-tinggi/d-
6031086/aturan-kuliah-tatap-muka-ta-20222023-dirjen-dikti-semakin-100-persen/amp
Kurniawan, A. (2015, August 25). Analisis Pengaruh lokasi Dan Fasilitas terhadap
Keputusan Mahasiswa Memilih tempat INDEKOS dengan harga Sewa Indekos sebagai
Variabel Moderasi. JURNAL EKONOMI DAN KEWIRAUSAHAAN. Retrieved May
29, 2022, from https://ejurnal.unisri.ac.id/index.php/Ekonomi/article/view/1036
Natasha, V. (2021, December 28). 5 Kost Mulai 2 jutaan Dekat Prasetiya Mulya, Cocok
untuk Mahasiswa! Rukita. Retrieved May 26, 2022, from
https://www.rukita.co/stories/rekomendasi-kost-dekat-prasetiya-mulya/
Prasmul. (2022). Welcome home, Prasmulyan. Retrieved June 7, 2022, from
https://www.instagram.com/tv/CegKU7qBbLQ/?utm_source=ig_web_copy_link.
Fenomena FoMO dan Impulsive Buying
Mahasiswa Universitas Prasetiya Mulya
Tazqia Putri Humaira - 13412110017
Hospitality Business, Universitas Prasetiya Mulya
Abstrak
The internet has become an inseparable part of people's social lives. Individuals spend
most of their time constantly checking their social media accounts. Individuals afraid of being
left behind by the experiences of others show a tendency towards FoMO. However, a strong
desire to be recognized and considered cool by society and to be included in a group can make
individuals act negatively. This FoMO phenomenon can lead again to impulsive buying
behavior. This study aimed to determine the effect of FoMo tendencies that result in impulsive
buying among Prasetiya Mulya students. This research uses a quantitative method,
distributed through a questionnaire survey randomly to students of Prasetiya Mulya
University. The results showed that the tendency towards FoMO has a high intensity and does
not cause impulsive buying behavior in the research subjects.
Keywords: FoMO, Impulsive Buying, Mahasiswa
Kehadiran media sosial dapat dianggap sebagai revolusi dan memberikan begitu
banyak peluang bagi individu untuk mengekspresikan diri. Melalui media sosial pula individu
dapat terhubung dengan jejaring sosialnya dengan cara yang bervariatif serta inovatif.
Terutama terhadap generasi-Z, yaitu generasi muda yang lahir di sekitaran 1995-2010.
Terdapat berbagai media sosial yang terkenal di kalangan generasi-Z, yaitu TikTok, Instagram,
Twitter, dan lain sebagainya. Generasi-Z cenderung menganggap media sosial seolah menjadi
bagian dari kebutuhan yang tidak dapat dipisahkan dari bagian hidupnya. Salah satu media
sosial yang paling banyak digunakan oleh generasi-Z adalah Instagram. Hal ini dibuktikan dari
laporan Napoleon Cat yang menunjukkan, pada Oktober 2021 terdapat 91,01 juta pengguna
Instagram di Indonesia. Lalu, kelompok usia 18-24 tahun (generasi-Z) merupakan pengguna
terbanyak Instagram, yakni sebesar 33,90 juta.
Instagram merupakan suatu aplikasi berbagi foto dimana penggunanya dapat
mengambil foto, menggunakan filter digital saat berfoto, serta membaginya ke beragam
layanan jejaring sosial, termasuk ke Instagram sendiri. Foto yang diambil di Instagram juga
dapat disimpan di berbagai macam gadget, sehingga kebanyakan orang cenderung
menganggap mengambil foto melalui instagram lebih mudah dan hasilnya bagus. Instagram
juga kerap kali dijadikan tempat untuk berbagi cerita mengenai aktivitas sehari-hari atau
apapun yang penggunanya ingin bagikan. Oleh karena itu, Instagram juga dapat dijadikan
sebuah ajang untuk memamerkan hal-hal yang dibanggakan atau hal paling positif dalam
hidupnya. Tidak individu yang ingin mendapatkan citra buruk saat menggunakan Instagram.
Instagram juga memiliki dampak negatif pada penggunanya. Berdasarkan sebuah
penelitian dari Royal Society for Public Health (RSPH) mengenai dampak negatif penggunaan
media sosial diantaranya berdampak pada anxiety, depression, bullying dan termasuk Fear of
Missing Out. Pada tulisan ini, pembahasan akan difokuskan mengenai fenomena FoMO pada
pengguna Instagram. FoMO juga dapat diartikan sebagai individu yang memiliki keinginan
sangat tinggi untuk tetap terus terhubung dengan apa yang sedang dilakukan oleh orang lain
di dunia maya (Pryzbylski, Murayama, DeHaan, & Gladwell, 2013). Sebagai contoh kecilnya
adalah, jika dulu individu cenderung menggunakan waktu luangnya untuk bersantai di rumah
bersama keluarga, lalu membicarakan banyak hal. Namun hal seperti itu tidak dianggap
menyenangkan lagi ketika ia melihat melalui media sosialnya bahwa teman-temannya
melakukan banyak keseruan lain di luar rumah yang tidak terlihat membosankan, dan
seketika dia adiktif dalam memperhatikan aktivitas orang lain yang di unggah pada media
sosial.
Menurut Przybylski, Murayama, Dehaan, dan Gladwell (2013), FoMO adalah suatu
kondisi dimana kebutuhan psikologis akan otonomi, kompetensi, dan kekeluargaan tidak
terpenuhi, yaitu suatu kondisi individu yang tidak muncul dari dirinya atau perasaan terpaksa
(autonomy), keadaan individu yang selalu ingin lebih baik dari orang lain (competence), dan
kebutuhan untuk selalu berhubungan dengan orang lain (relatedness). Jika ketiga kebutuhan
ini tidak terpenuhi, individu akan takut atau gagal sehingga menimbulkan perasaan
kecemasan dan kesepian.
Berdasarkan pendapat ahli diatas dapat disimpulkan bahwa FoMO adalah sebuah
sindrom yang dampaknya cukup membahayakan apabila tidak dihindari dan dituntaskan
secepatnya. Bermula dari FoMO kemudian akan menjurus ke masalah baru yaitu perilaku
Impulsive Buying. Akibat tidak ingin tertinggal trend dari teman-temannya, maka ia akan
membeli barang-barang yang tidak direncanakan atau bahkan diperlukan dan tidak sesuai
dengan keadaan finansial ekonominya. Sehingga ia akan memaksa diri untuk dapat
melakukan atau membeli barang yang trend dan terus berkembang di Instagram. Masalah ini
cukup serius, terkhusus pada mahasiswa yang nantinya banyak memiliki peran penting dalam
aspek memajukan bangsa. Indonesia adalah negara yang memiliki bonus demografi cukup
banyak dan diprediksi mampu mewujudkan generasi emas pada 2045. Akan tetapi, jika
penggunaan teknologi yang kurang bijaksana akan mengganggu bonus demografi yang
dimiliki, maka mimpi Indonesia untuk merealisasikan generasi emas didepan akan binasa.
Melihat dari hal-hal diatas, tulisan ini dimaksudkan untuk meneliti lebih jauh seberapa
besar aplikasi Instagram sudah menyebabkan fenomena FoMO pada sebagian mahasiswa
Universitas Prasetiya Mulya, dan apakah masalah tersebut kemudian menjurus pada perilaku
Impulsive Buying. Melalui tulisan ini akan dipelajari bagaimana dampak negatif sosial media
mengganggu keadaan finansial individu apabila disalahgunakan.
Informasi mengenai fenomena FoMO dan Impulsive Buying yang mendukung tulisan
ini didapatkan dari studi pustaka terhadap berbagai sumber, artikel dari surat kabar dan
majalah, jurnal penelitian, dan memfokuskan sampel pada survey yang mendapat sekurang-
kurangnya seratus responden. Subjek pada penelitian ini adalah mahasiswa Universitas
Prasetiya Mulya. Survey dibagikan melalui questionnaire Google Form dan dikirim kepada
para mahasiswa Universitas Prasetiya Mulya.
FoMO yang Menjurus Pada Impulsive Buying
FoMO atau fear of Missing Out berasal dari bahasa Cina yang artinya takut kehilangan
orang lain (Hodkinson & Poropat, 2014). FoMO adalah bentuk ketakutan akan kesepian dan
dikucilkan ketika seseorang ketinggalan update atau tren terbaru yang berkecambah melalui
media sosial. Fenomena ini merupakan salah satu jenis kecanduan internet baru yang
terutama terlihat di kalangan generasi muda, seperti mahasiswa.
Berdasarkan informasi diatas, dapat disimpulkan bahwa FoMO merupakan bentuk
ketakutan individu terhadap ketinggalan sesuatu trend terbaru (hal berharga) yang dialami
atau dimiliki oleh orang lain, sedangkan individu tersebut tidak mampu mengikutinya.
Sehingga dapat menyebabkan individu memaksa diri untuk mengikuti apa yang dilakukan
orang lain pada media sosial. Hal ini dapat dilihat dari tumbuhnya keinginan individu untuk
selalu terhubung dengan media sosial (Przybylski et al, 2013). Secara singkat, FoMO dapat
didefinisikan sebagai sebuah perasaan cemas atau social anxiety yang muncul karena internet
terus berkembang secara pesat, terkhususnya pada media sosial seperti Instagram.
Daya pikat penggunaan media sosial di Instagram tidak hanya memudahkan orang
untuk terhubung dan berinteraksi dengan pengguna lain dari seluruh dunia, tetapi juga dapat
membawa konsekuensi negatif, terutama dengan meningkatnya penggunaan. (Kirkaburun
dan Griffiths, 2018b).
Penggunaan media sosial Instagram memiliki daya tarik tertentu, penggunanya dapat
terus terhubung dan berinteraksi antara sesama pengguna Instagram, tanpa
mempermasalahkan jarak pada belahan dunia lain. Karena cakupannya yang terlalu luas,
penggunaan Instagram juga dapat membawa konsekuensi negatif, terutama dengan
meningkatnya penggunaan. (Kirkaburun dan Griffiths, 2018). Penggunaan media sosial
Instagram secara berlebihan dan adiktif akan memberikan efek yang buruk pada diri. Individu
menjadi terlalu adiktif pada media sosial dan cenderung tidak mampu menguasai dirinya
untuk terus menjelajahi fitur-fitur yang disediakan oleh Instagram.
Akibat penggunaan Instagram semakin ramai, trend atau update juga semakin banyak
bermunculan. Penggunaan Instagram adalah suatu keharusan bagi generasi-Z saat ini agar
dianggap keren alias tidak “ketinggalan zaman” oleh teman-temannya. Hal ini yang memicu
sindrom FoMO semakin marak terjadi, terkhususnya pada mahasiswa yang merupakan
generasi-Z. Oleh karena itu, kecemburuan dan pengucilan sosial juga dapat dihubungkan
dengan FoMO, yaitu situasi saat individu hanya memperhatikan dan menganggap berlebihan
pengalaman positif orang, daripada apa yang individu alami sendiri secara nyata (Jordan et al,
2011). Dengan demikian, individu hanya fokus pada pengalaman positif yang dialami oleh
individu lainnya seperti bagaimana individu tersebut bahagia, lebih sukses daripada dirinya
sendiri (Chou & Edge, 2012) kemudian pada akhirnya mengakibatkan munculnya perasaan
anxiety, restlessness dan feelings of inadequacy pada individu tersebut. (Przybylski et al,
2015).
Berawal dari sindrom FoMO dapat menyebabkan masalah yang lebih serius yaitu
perilaku Impulsive Buying. Individu yang merasa cemas akibat gejala FoMO akan memaksa
dirinya untuk mengikuti trend atau update agar tidak dianggap remeh, bahkan dikucilkan oleh
kelompok sosial di sekitarnya. Perilaku Impulsive Buying dapat diartikan ketika individu
mendapatkan dorongan atau keinginan secara tiba-tiba dan sangat kuat untuk membeli
sesuatu yang belum direncanakan sebelumnya. Pembelian barang ini dapat dideskripsikan
sebagai pembelian yang berbeda, cenderung lebih menggunakan emosi daripada logika dan
dikarakteristikan oleh pembuatan keputusan yang cenderung cepat yang berlaku saat itu
juga.
Memantau aktivitas yang dilakukan teman di Instagram sama saja dengan
memperhatikan pakaian, barang, sepatu, bahkan mobil yang ia gunakan. Individu yang terlalu
candu dalam memantau orang lain menimbulkan berbagai emosi negatif. Mulai dari ingin
menggunakan pakaian yang sama atau lebih keren, lalu memamerkan barang atau mobil yang
lebih hebat dari teman-temannya. Ini menjadi sebuah sindrom dimana individu tidak ingin
dianggap tertinggal. Muncullah keinginan untuk membeli barang atau hal-hal yang tidak
tertulis dalam rencana keuangan. Produk yang dibeli adalah barang yang diinginkan akan
tetapi tidak dibutuhkan. Padahal pembelian barang yang secara tidak terencana seperti itu
dilakukan terus menerus, akan berakibat pada sektor ekonominya.
Dapat disimpulkan bahwa perilaku Impulsive Buying merupakan pembelian yang tidak
direncanakan, serta karakteristiknya adalah mengambil keputusan yang cenderung cepat. Ini
merupakan karakter negatif yang dapat mengganggu keadaan finansial individu. Jika individu
cenderung mengulang perilaku Impulsive Buying secara terus menerus tanpa
mempertimbangkan keadaan finansial, akan menjadi masalah baru yang lebih besar.
Pengaruh Intensitas Penggunaan Instagram dengan Perilaku FoMO
Terdapat aspek yang tak terpisahkan dari sifat manusia, rasa takut kehilangan atau
tertinggal yang dapat diteliti lebih dalam lagi. Akibat teknologi yang terus berkembang dimana
kita sudah menuju era revolusi industri 5.0, FoMo menjadi lebih general dan dapat dilihat dari
maraknya penggunaan media sosial saat ini. Konten-konten yang dibagikan di platform media
sosial menyebabkan individu merasa harus mengikuti konten tersebut akibat rasa takut
tertinggal dari orang lain.
Penelitian yang dilakukan dengan membagikan survey kepada mahasiswa Prasetiya
Mulya mendapatkan respon yang berbeda-beda. Responden terbanyak adalah perempuan
dengan angka 67%, sedangkan laki-laki berjumlah 33%. Instagram merupakan pilihan
terbanyak pada aplikasi yang paling sering digunakan. Sebanyak 83% responden memilih
Instagram, lalu diikuti dengan TikTok sebesar 62%, Twitter 19% dan Facebook 3%.
Gambar 1. Sosial media yang paling sering digunakan
Kemudahan dalam mengakses media sosial Instagram menjadi salah satu faktor
banyak mahasiswa menggunakannya. Remaja masih berada dalam fase mengeksplorasi diri
dan mengubah gaya hidupnya, Instagram dapat memainkan peran penting dalam fase
tersebut. Individu saat ini mudah sekali terhubung dengan satu sam lain walaupun saling
berjauhan. Menurut Kircaburun dan Griffiths (2018), pengguna Instagram ditawarkan banyak
fitur-fitur yang penting seperti mengedit, mengunggah foto atau video, memperoleh suka dan
juga komentar dari sesama pengguna Instagram. Lalu sesama pengguna Instagram dapat
mengikuti (follow) akun Instagram orang lain atau temannya. Pada dasarnya, pada ruang
lingkup sosial generasi-Z, tingkat keatraktifan seseorang dinilai berdasarkan foto, post, like,
dan komentar di akun Instagramnya.
Hasil survey dari 100 responden menunjukkan bahwa 64% memiliki banyak teman
yang menggunakan Instagram, 31% menjawab cukup banyak, dan hanya 5% yang menjawab
sedikit. Terbukti bahwa banyak pengguna Instagram yang menggunakan aplikasi tersebut
sebagai media untuk menyebarluaskan ruang lingkup pertemanannya. Hal ini dapat menjadi
salah satu timbulnya sindrom FoMO dikalangan mahasiswa. Terlalu sibuk memantau aktivitas
yang dilakukan teman di Instagram, lalu muncul rasa bahwa ia tidak boleh kalah dan tidak
boleh tertinggal.
Individu yang mengunggah foto yang jelek dan tidak menarik dianggap “culun” dan
cenderung dikucilkan dari kelompok sosial. Sebaliknya, individu dengan akun Instagram yang
bagus disertai banyak komentar dan like dianggap populer dan diidamkan oleh banyak orang.
Hal ini pula yang menyebabkan kebanyakan remaja menganggap penggunaan Instagram
sangat penting. Informasi ini didukung dengan hasil survey yang menunjukkan bahwa sebesar
59% responden menganggap penggunaan Instagram penting, lalu 29% nya lagi menganggap
mungkin penting, dan 12% nya menganggap bahwa penggunaan Instagram tidaklah penting.
Berdasarkan hasil survey alasan penggunaan Instagram, sebanyak 59% responden menyetujui
menggunakan aplikasi Instagram agar tidak ketinggalan zaman. Sementara 25% yang
menjawab “Mungkin” akibat kebingungan memilih antara “iya/tidak”. Responden yang tidak
menyetujui penggunaan Instagram agar tidak ketinggalan zaman hanya berjumlah 16%.
Dapat disimpulkan bahwa mayoritas mahasiswa Prasetiya Mulya menggunakan Instagram
dan mengikuti perkembangan atau trend yang terjadi di Instagram.
Gambar 2. Jangka waktu penggunaan Instagram per harinya
Berdasarkan tabel diatas, dapat dilihat bahwa mayoritas mahasiswa Prasetiya Mulya
menggunakan Instagram di atas dua jam setiap harinya. Bahkan mereka cenderung
menggunakan Instagram dengan jangka waktu yang cukup lama per harinya. Sebanyak 29%
dari responden menjawab menggunakan aplikasi Instagram 2-3 jam setiap harinya. Waktu
tersebut dapat terbilang cukup lama untuk seseorang menjelajahi dunia maya. Lalu menurut
hasil survey, sebanyak 72% menyetujui bahwa yang mereka lakukan saat menggunakan
aplikasi Instagram adalah memantau aktivitas orang lain, hanya 28% yang tidak menyetujui
pernyataan tersebut. Mengarah pada kesimpulan, mahasiswa menggunakan Instagram untuk
mencari tahu mengenai kehidupan orang lain. Tidak dapat diabaikan fakta bahwa dengan
data diatas, dikhawatirkan akan timbul gejala pada beberapa individu dengan tingkat
kecenderungan FoMO yang tinggi. Dapat disimpulkan bahwa intensitas penggunaan sosial
media Instagram yang semakin tinggi, maka perilaku FoMO juga diperkirakan akan semakin
meninggi dan begitu pula sebaliknya.
Pada pertanyaan mengenai apakah aktivitas instagram yang sering dilihat responden
menyebabkan fenomena FoMO (Fear of Missing Out), ditemukan berbagai pendapat menarik.
Salah satu responden memberi pendapat, “Saya tdk sering memantau aktivitas orang lain di
Instagram. Tetapi menurut saya orang-orang di Instagram cenderung menampilkan sisi
terbaik mereka saja dan takut diejek kuno atau ketinggalan jaman. Instagram adalah sosial
media yang toxic dan dapat berpengaruh buruk untuk kesehatan mental. Oleh karena itu,
individu harusnya diedukasi lebih lanjut mengenai FoMO. Masalah ini juga akan
menyebabkan masalah baru pula yaitu pembelian barang yang tidak penting agar tidak
ketinggalan jaman”. Berarti terdapat responden yang melihat bahwa penggunaan Instagram
secara berlebihan dapat menyebabkan perilaku negatif. Seharusnya masyarakat lebih di
edukasi bagaimana cara penggunaan media sosial secara bijak.
Perilaku Impulsive Buying di Kalangan Mahasiswa Prasetiya Mulya
Individu yang ekonomis kerap kali akan melakukan pembelian produk dan jasa
berdasarkan evaluasi biaya dan manfaat, sementara ada juga orang menunjukkan perilaku
yang kurang rasional saat membuat pembelian mereka. Konsumen dapat membeli produk
atau layanan untuk menghilangkan suasana hati yang tertekan, untuk menunjukkan perasaan
mereka, identitas, atau hanya untuk bersenang-senang selain memenuhi kebutuhan tertentu.
Tindakan pembelian secara tidak rasional inilah yang disebut sebagai Impulsive Buying. Hal
ini juga terjadi akibat individu mengalami dorongan secara mendadak, seringkali kuat, dan
terus-menerus untuk membeli sesuatu secepatnya.
Pada analisa mengenai apakah mahasiswa pernah melihat instastory atau post orang
lain, lalu tertarik untuk membeli barang atau outfit yang orang tersebut gunakan, sebanyak
48% responden menyetujui pertanyaan tersebut. Sedangkan 20% menjawab mungkin dan
32% lagi menjawab tidak pada pertanyaan tersebut. Lalu untuk analisa lanjutan mengenai
apakah barang atau outfit tersebut adalah hal yang sudah terencana untuk dibeli beli sejak
lama, mayoritas responden yaitu 64,5% menjawab tidak dan 36,5% lagi menjawab iya. Dapat
disimpulkan bahwa mahasiswa tertarik untuk membeli barang yang ia lihat melalui unggahan
Instagram orang lain, lalu pembelian tersebut tidak termasuk pada pembelian yang
direncanakan.
Gambar 3. Analisa pendapat responden
Gambar 4. Analisa pendapat responden
Alasan lebih spesifik mengapa individu memutuskan untuk membeli barang yang tidak
direncanakan ada beragam. Ada yang membeli barang tersebut karena suka saja, agar merasa
senang, atau karena barangnya memang bagus. Mayoritas responden memutuskan untuk
membeli berdasarkan perasaan saja dan akan cenderung tergesa-gesa memutuskan untuk
membeli dengan cepat tanpa mempertimbangkan hal lain yang lebih dibutuhkan untuk
dibeli. Akan tetapi salah satunya menyebutkan, “Kadang barang itu adalah barang yang saya
perlukan dan saya lupa untuk membeli barang itu. Atau dalam kasus lain, barang itu biasanya
barang yang harganya murah tapi kualitasnya bagus”, berarti terdapat juga mahasiswa yang
memang membutuhkan barang yang dibeli dan tidak termasuk pada perilaku pembelian
impulsif.
Mengarah pada kesimpulan, terdapat individu yang melakukan pembelian impulsif
dan tidak berpikir untuk membeli suatu produk atau merek tertentu. Individu langsung
membelinya karena ketertarikan pada merek atau produk pada saat itu juga. Pembelian
impulsif ini dapat terjadi dimana saja dan kapan saja. Termasuk pada saat individu sedang
menjelajahi aplikasi Instagram dan melihat produk menarik yang ditampilkan. Menurut
pendapat salah satu responden, “karena barang dan modelnya bagus dan kebetulan pas lihat
langsung cocok gitu pengen punya juga”. Walaupun sebenarnya terkadang tidak terpikirkan
dalam benak individu sebelumnya. Sebanyak 63,5% responden termasuk pada kategori
tersebut.
Lalu terdapat pula individu yang memang sudah lama merencanakan untuk membeli
produk dan sering mencari informasinya melalui sosial media. Sesuai dengan kutipan dari
responden, “Karena butuh dan sudah lama pengen beli”. Meskipun ia memutuskan untuk
membeli produk tersebut karena gejala FoMO, akan tetapi ia sudah merencanakan untuk
membelinya sejak lama. Pendapat lainnya yang mendukung, “karena barangnya menarik dan
sudah diinginkan dari dulu”. Sebanyak 36,5% dari responden tergolong pada perilaku ini.
Hasil survei yang mendukung pernyataan diatas terdapat pada analisa mengenai
pendapat responden mengenai perlu atau tidaknya membeli barang yang tidak direncanakan.
Mayoritas sebesar 51% menjawab menjawab tidak perlu membeli barang yang tidak
direncanakan. Mengarah pada kesimpulan bahwa mayoritas mahasiswa menunjukkan
kecenderungan membeli produk dari Instagram, tetapi tidak merujuk pada perilaku Impulsive
Buying.
Gambar 5. Analisa perilaku Impulsive Buying
Cara untuk Menghindari FoMO
Hasil survei menunjukkan bahwa sebesar 65% responden menyadari bahayanya
sindrom FoMO apabila tidak segera diatasi, sedangkan 26% menjawab mungkin, dan hanya
9% yang menjawab tidak.
Gambar 6. Analisa tingkat kesadaran bahaya FoMO
Berarti mayoritas mahasiswa mengerti bahwa FoMo adalah kelakuan buruk yang
harus dikurangi. Terdapat beberapa cara yang dapat diterapkan individu yang ingin
mengurangi kecenderungan sindrom FoMO dalam dirinya. Berikut adalah cara yang
dikemukakan oleh Martha Beck, seorang sosiolog yang pernah didiagnosa mengalami FoMO
(Dossey, 2018)
1. Menyadari bahwa FoMO berdasar pada sebuah kebohongan, seseorang yang
mengunggah aktivitasnya di situs media sosial telah memilih bagian mana dari
aktivitas tersebut yang akan dibagikan. Hanya sebagian kecil hal positif dari
kehidupannya yang diputuskan untuk diunggah ke media sosial.
2. Lawan FoMO dengan mengubah pola pikir positif dalam diri, seseorang dapat
memakai diksi yang berbeda. Misalnya FoMO yang dimaksud adalah “Feel enough
more often”.
3. Putuskan untuk berhenti atau mengurangi waktu penggunaan media sosial dan
menyadari bahwa berinteraksi secara langsung lebih menyenangkan daripada melalui
media sosial.
Kesimpulan
Fear of Missing Out (FoMO) merupakan suatu keadaan yang menyebabkan perasaan
individu takut atau khawatir jika ia tidak memantau aktivitas orang lain melalui media sosial,
ia cenderung menganggap diri sebagai orang yang tertinggal dan takut akan dikucilkan dari
kelompok sosial. Keadaan ini kemudian membuat individu merasa harus selalu terhubung
dengan dunia maya. Berakibat pada dirinya selalu memantau kegiatan orang lain dalam
setiap kesempatan baik itu ketika sedang melakukan aktivitas lain atau ada waktu luang. Salah
satu penyebab sindrom ini adalah tingginya intensitas penggunaan sosial media per-harinya.
Meskipun mayoritas mahasiswa menunjukkan kecenderungan intensitas FoMO yang
tinggi, sindrom tersebut tidak mengarah pada perilaku pembelian impulsif. Karena mayoritas
mahasiswa mengerti akan tidak perlunya membeli barang yang tidak terencana. Akan tetapi,
tetap diperlukan edukasi mengenai cara menggunakan media sosial yang bijak. Agar
mahasiswa mengurangi sikap-sikap yang mengarah pada sindrom FoMO.
Daftar Pustaka
Maysitoh, Ifdil & Zadrian Ardi, Tingkat Kecenderungan FoMO (Fear of Missing Out) pada
Generasi Millennial. Journal of Counseling, Education and Society, Vol. 1, No. 1, 2020,
pp. 1-4
Chilmiyatil Mudrikah (2019), Hubungan Antara Sindrom FoMO (Fear of Missing Out) dengan
Kecenderungan Nomophobia pada Remaja. Retrieved from
http://digilib.uinsby.ac.id/31787/1/Chilmiyatul%20Mudrikah_J01215007.pdf
Riky Adi Kurniawan (2021), Pengaruh FoMO terhadap Impulse Buying Behavior dengan
Purchase Intention sebagai Pemediasi (Studi Kasus pada Shopee). Retrieved from
http://repository.stieykpn.ac.id/1752/1/Ringkasan%20Skripsi%20Riky%20Adi%20Kur
niawan%202117%2029700.pdf
M Ivan Mahdi & Dimas Bayu (2022), Pengguna Media Sosial di Indonesia Capai 191 Juta pada
2022. Retrieved from
https://dataindonesia.id/digital/detail/pengguna-media-sosial-di-indonesia-capai-
191-juta-pada-2022
Işıl Karapinar Çelik, Oya Eru & Ruziye Cop (2019), The Effects of Consumers’ FoMo Tendencies
On Impulse Buying and The Effects of Impulse Buying on Post- Purchase Regret: An
Investigation on Retail Stores. Retrieved from
https://www.brain.edusoft.ro/index.php/brain/article/view/950
Noviyanti Kartika Dewi, Imam Hambali & Fitri Wahyuni (2022), Analisis Intensitas Penggunaan
Media Sosial dan Social Environment terhadap Perilaku Fear of Missing Out (FoMo).
Retrieved from
https://www.journal.ppnijateng.org/index.php/jikj/article/view/1352/619
Analisis Tingkat Penggunaan Aplikasi Dompet Digital (DANA, OVO, ShopeePay, GoPay,
dan LinkAja) dalam Bertransaksi pada Mahasiswa Prasetiya Mulya
Tirani (13412110025)
Hospitality Business 2A, Universitas Prasetiya Mulya
Abstrak
This research entitled Transactions Level Analysis of Using Digital Wallet Applications
(DANA, OVO, ShopeePay, GoPay, dan LinkAja) to Prasetiya Mulya Students. Over time and the
development of technology, transaction activities that originally used physical money began to
switch to using digital money. There are many digital wallet applications that in use look the
same but still have their own differences. This research uses a quantitative research method by
distributing a questionnaire survey randomly to students at Prasetiya Mulya University with the
aim of differentiating the level of effectiveness between one digital wallet application and other
digital wallet applications. Some of the applications that are the subject of research are DANA,
OVO, ShopeePay, GoPay, and LinkAja applications. The survey results prove that not everyone
uses the application but most of the respondents suggest the ShopeePay in daily life because it is
seen from the convenience it provides and guaranteed security.
Kata kunci: Aplikasi, dompet digital, transaksi.
Pada Revolusi Industri 4.0 sekarang ini, teknologi informasi berkembang dengan sangat
pesat sehingga membuat gaya hidup masyarakat mengalami sedikit demi sedikit perubahan.
Selain dianggap mempermudah segala aktivitas, kehadiran teknologi informasi juga dinilai lebih
efektif dan efisien dalam melakukan pekerjaan dibanding sebelumnya. Teknologi informasi
hampir telah diterapkan pada setiap aspek kehidupan sehari-hari masyarakat, contohnya dengan
kehadiran berbagai jenis fasilitas teknologi informasi termasuk dalam sistem pembayaran.
Menurut Peraturan Bank Indonesia No.18/40/PBI/2016 menyatakan bahwa perkembangan
teknologi dan sistem informasi terus menghasilkan berbagai inovasi yang terkait dengan
financial technology (fintech) untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, termasuk di bidang
layanan sistem pembayaran, baik dari segi instrumen, penyelenggara, mekanisme, dan
infrastruktur penyelenggaraan pemrosesan transaksi pembayaran.
Dewasa ini, dalam melakukan transaksi dan pembayaran, uang fisik (tunai) sudah jarang
ditemui. Hal ini dikarenakan sudah ditemukannya teknologi yang mengubah uang menjadi
sebuah aset yang tak berwujud (non-tunai) atau biasa dikenal dengan uang elektronik. Dengan
adanya keberadaan uang elektronik ini, kegiatan bertransaksi pun menjadi mudah dan marak
terjadi di masyarakat. Apalagi dengan kondisi pandemi seperti sekarang, masyarakat sedikit
mengurangi bahkan menghindari untuk melakukan sentuhan fisik antara satu sama lain. Terlebih
lagi, kebijakan pemerintah Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) pada
pandemi Covid-19 ini membuat hampir seluruh sektor harus membanting setir menggunakan
transaksi elektronik berupa QR code dan dompet digital. Dengan demikian, masyarakat dapat
meminimalisir kontak langsung dalam bertransaksi.
Fitur-fitur yang disediakan oleh aplikasi dompet digital kepada penggunanya, tentu saja
memiliki ciri khas tersendiri. Ciri khas inilah yang memutuskan pengguna lebih nyaman
menggunakan dompet digital jenis apa. Pengalaman pengguna merupakan reaksi dinamis yang
disebabkan oleh berbagai aspek instrumental dan non-instrumental dari suatu produk yang
berevolusi atau mengalami perubahan dalam kurun waktu tertentu (Hasan & Gope, 2013).
Beberapa aplikasi yang menyediakan fitur dompet digital di dalamnya sudah marak digunakan,
seperti DANA, OVO, ShopeePay, GoPay, dan LinkAja. Aplikasi-aplikasi tersebut sudah
dilengkapi dengan fitur transaksi dan pengisian saldo yang bisa dilakukan dengan cara scan
barcode atau QR dan transfer baik dari bank maupun minimarket. Dengan demikian, proses
pengisian saldo dan transaksi dapat dilakukan dimanapun dan kapanpun dengan mudah, cepat,
dan praktis.
Tujuan dilakukannya penelitian ini guna mengetahui tingkat perbandingan pengguna,
tingkat kenyamanan dan keamanan pengguna, serta kelebihan dan kekurangan dari setiap
aplikasi dompet digital, seperti DANA, OVO, ShopeePay, GoPay, dan LinkAja. Tidak hanya itu,
dari penelitian ini juga akan diketahui aplikasi dompet digital mana yang paling
direkomendasikan.
Dalam melakukan penelitian ini, metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif.
Deskriptif kualitatif merupakan suatu metode yang dilakukan dalam sebuah penelitian atau
pengamatan untuk mendapatkan sebuah teori dan pengetahuan (Mukhtar, 2013). Data dan
sumber primer yang akan digunakan berasal dari penyebaran kuesioner kepada mahasiswa
Universitas Prasetiya Mulya sebagai responden. Responden terdiri dari berbagai program studi
dan angkatan. Kuesioner yang dibagikan secara online berupa Google Form disebarkan melalui
jejaring sosial, WhatsApp, Line, dan Instagram. Penyebaran kuesioner dilakukan mulai dari 12
Juni 2022 hingga 17 Juni 2022 dengan memperoleh sebanyak 102 responden.
Penggunaan DANA sebagai Dompet Digital
Dengan kehadiran aplikasi dompet digital jenis DANA, memudahkan pengguna dalam
melakukan pembayaran atau transaksi tanpa harus membawa uang tunai. Untuk bertransaksi,
pengguna cukup melakukan top up saldo dan bisa membayar berbagai jenis kebutuhan layaknya
menggunakan uang fisik. Mengenai keamanan, DANA telah terjamin 100% sehingga pengguna
tidak perlu cemas atau resah akan kehilangan saldo di dalamnya (Syafira, 2020). DANA dapat
digunakan untuk membayar tagihan, beli pulsa/data, dan lain sebagainya. Penggunaan dompet
digital ini tidak hanya dapat digunakan untuk transaksi atau pembayaran online saja, pengguna
tetap bisa melakukan transaksi secara offline di beberapa merchant yang bekerja sama dengan
DANA.
Hasil survei yang dilakukan kepada 102 responden menunjukkan bahwa 40 responden di
antaranya tidak pernah menggunakan aplikasi dompet digital DANA dan 62 responden sisanya
menggunakan DANA. Tingkat penggunaan mereka dalam kehidupan sehari-hari, 41 responden
mengaku kadang-kadang menggunakan DANA dan 21 responden sering menggunakan DANA.
Gambar 1. Frekuensi penggunaan DANA seseorang
dalam kehidupan sehari-hari.
Selain itu, 77 responden berpendapat bahwa menggunakan DANA mudah dan aman.
DANA sudah dilengkapi dengan fitur QR code sehingga memudahkan mereka untuk melakukan
transaksi dengan cepat dan mudah. Tidak hanya itu, saldo yang ada di DANA bisa ditransfer ke
rekening bank tanpa dikenakan biaya admin, seperti bank konvensional lainnya. Sebelum
melakukan transaksi, DANA dilengkapi dengan fitur pin atau sidik jari sehingga kecil
kemungkinan untuk disalahgunakan. Untuk masalah keamanan dalam bertransaksi, tentunya
DANA sudah diawasi langsung oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bank Indonesia (BI)
sehingga keamanannya tidak perlu diragukan lagi.
Gambar 2. Persentase rekomendasi penggunaan