The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Ensiklopedia Suku, Seni dan Budaya Nasional Berau sampai Ilimano (Jilid 2) (M. Junus Melalatoa) (z-lib.org)

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by puputakromah01, 2022-08-24 23:31:24

Ensiklopedia Suku, Seni dan Budaya Nasional Berau sampai Ilimano (Jilid 2) (M. Junus Melalatoa) (z-lib.org)

Ensiklopedia Suku, Seni dan Budaya Nasional Berau sampai Ilimano (Jilid 2) (M. Junus Melalatoa) (z-lib.org)

Ber

BERAU

BERAU berdiam di wilayah kecamatan- Pada saat ini, pendidikan formal turut
kecamatan Tanjungredeb, Gunung Tabur, menentukan tinggi rendahnya kedudukan
Sembaliung, dan Bebanir, Kabupaten sosial seseorang. Semakin tinggi
Berau, Provinsi Kalimantan Timur. Orang pendidikan formal seseorang, semakin
Berau menggunakan bahasa Berau tinggi pula jabatan dan kedudukan sosial
dengan dialek khas, sebagai ciri yang orang tersebut di mata masyarakat.
membedakan mereka dari suku bangsa
lainnya di Kalimantan Timur. Menurut
perkiraan ahli bahasa, pendukung bahasa
dan dialek Berau ini tidak lebih dari
45.000 jiwa.

Mata pencaharian pokok orang Berau
adalah bertani dan menangkap ikan,
sedangkan yang tinggal di daerah kota
menjadi pegawai, buruh, atau tukang.
Orang Berau juga mengembangkan usaha
kerajinan anyaman dan tenunan. Selain
itu, akhir-akhir ini, mereka telah pula
mengembangkan mata pencaharian baru,
yakni menjadikan upacara tradisional
yang berhubungan dengan nenek moyang
sebagai pertunjukan pariwisata.

Hampir seluruh sistem kekerabatan
orang Berau ditandai dengan prinsip
patrilineal. Garis keturunan laki-
laki memegang peranan penting dan
menentukan berbagai aspek kehidupan,
misalnya perkawinan, pewarisan, dan
sebagainya. Orang Berau tidak mengenal
sistem pelapisan sosial yang ketat.

(TMII)

Upacara membawa burung enggang yang
digungkan oleh orang Dayak.

BERIK

BERIK adalah sebuah kolektifa yang Jayapura, Provinsi Irian Jaya. Mereka
bermukim dalam wilayah Kabupaten hidup di daerah pedalaman Sarmi, di

1

ENSIKLOPEDIA SUKU, SENI DAN BUDAYA NASIONAL

BERIK

hulu sungai Tor. Mereka memiliki bahasa
sendiri yang disebut bahasa Berik, yang
termasuk rumpun bahasa Irian. Pada
tahun 1970-an jumlah penutur bahasa
ini diperkirakan sekitar 1.200 orang.
Berdasarkan data hasil sensus penduduk
tahun 2000 dari Biro Pusat Statistik
jumlah penduduk suku Berik terdapat
1.461 jiwa.

Kabut pegunungan menjadi bagian “selimut”
kehidupan anak-anak Irian Jaya ini.

BERUSU

BERUSU adalah salah satu kelompok tahun 1990. Dilihat dari ciri-ciri fisik
orang Dayak yang merupakan penduduk ada kekhususannya dibanding dengan
asal di Provinsi Kalimantan Timur. kelompok Dayak lainnya di Kalimantan
Sebagian besar orang Berusu berdiam di Timur. Ukuran tubuhnya relatif pendek,
Desa Sekatak Buji di hulu sungai Sekatak, yaitu berkisar sekitar 120-130 cm; kulit
dan sebagian kecil lainnya berdiam di berwarna coklat dan mata tidak sipit.
desa-desa lain. Desa Sekatak Buji adalah Mereka memiliki bahasa sendiri yakni
salah satu dari 42 desa dalam wilayah bahasa Berusu. Kelompok suku Berusu
Kecamatan Tanjung Palas, Kabupaten merupakan Uma atau anak suku dari Suku
Bulungan. Desa ini dapat dicapai dengan Dayak Punan. Mata pencaharian hidupnya
perahu motor dari kota Tarakan sekitar dari berladang dan menangkap ikan.
dua jam, dan sekitar enam jam dari
Tanjung Selor, ibu kota Kabupaten Yang seringkali menarik perhatian
Bulungan. para pengamat adalah adat yang
menyangkut hubungan antar jenis
Belum banyak informasi yang dapat kelamin anggota masyarakat ini. Adat
diperoleh mengenai budaya dan hal berpacaran antara muda-mudi disebut
lain tentang orang Berusu ini. Jumlah bertakit. Seorang perjaka mengunjungi
keseluruhan orang Berusu sekitar pacarnya pada malam hari bisa langsung
4.000 jiwa di antara 47.000 jiwa masuk ke kamar gadis itu. Adat dan
penduduk Kecamatan Tanjung Palas pihak orang tua gadis memahami dan

2

ENSIKLOPEDIA SUKU, SENI DAN BUDAYA NASIONAL

BERUSU

membenarkan kunjungan itu asalkan Upacara yang terbesar dalam rangka
tidak ribut atau tidak mengganggu daur hidup mereka adalah upacara
ketenangan dalam rumah itu. Kedua kematian atau penguburan jenazah (erau).
makhluk yang sedang memadu cinta Setelah seseorang meninggal mayatnya
itu atau saling mempelajari kepribadian disimpan dalam peti mati (lungun)
masing masing bisa berlangsung sampai yang diletakkan di atas pohon. Kalau
menjelang subuh sebelum orang tua biaya telah tersedia barulah diadakan
gadis itu bangun. Ada satu hal yang tidak upacara erau tadi, dan upacaranya bisa
boleh mereka lakukan, yaitu hubungan berlangsung antara dua sampai tujuh hari.
seks. Kalau itu sampai terjadi, sang gadis
akan melaporkan kepada orang tuanya, (TMII)
dan perjaka itu akan didenda dengan
15 tempayan atau guci. Apabila karena Wadah bernama anjat dengan motif ragam
hubungan tadi terjadi kehamilan, dan hias yang khas adalah salah satu teknologi
mereka kebetulan tidak jadi kawin, maka Dayak.
anak yang lahir tadi dianggap anak yang
sah dengan telah dibayarnya denda tadi.
Kalau terjadi perkawinan maka pihak
laki-laki tadi masih harus membayar mas
kawin sebanyak 30 buah guci lagi. Pada
masa lalu, jadi atau gagalnya jodoh dari
sepasang muda mudi masih tergantung
kepada isyarat tertentu yang ditunjukkan
oleh bunyi burung kepiyo. Burung itu
adalah utusan dari Yadu Lawang atau
Yang Maha Kuasa. Isyarat itu didengar
dalam satu perjalanan menyusur sungai
yang memang khusus untuk memastikan
jodoh tadi. Upacara perkawinan biasanya
merupakan upacara besar dalam
masyarakat ini yang berlangsung satu
sampai tiga hari.

BESOA

BESOA adalah suku-bangsa yang bahkan dengan suku lainnya.
berdiam di wilayah pedalaman Kabupaten Kebanyak dari suku ini tinggal di
Poso, Provinsi Sulawesi Tengah. Mereka
tinggal terpencar di delapan desa, yaitu Lembah Besoa, dimana di lembah tersebut
Desa Katu, Desa Doda, Bariri, Lempe, menyimpan banyak situs megalit yang
Hanggira, Torire, Rompo dan Talabosa. merupakan peninggalan kebudayaan suku
Orang Besoa menyebut desa Katu Torire, tersebut pada zaman megalitikum.
Rompo dan Talabosa sebagai desa Kakau
atau desa Besoa Hitam.Bahasa orang Saat ini kebanyakan dari orang Besoa
Besoa juga digunakan oleh orang Katu menganut agama Kristen Protestan. Orang
untuk berkomunikasi dengan sesamanya, pertama yang menganut agama ini adalah
P. Ten Kate pada tahun 1909.

3

ENSIKLOPEDIA SUKU, SENI DAN BUDAYA NASIONAL

BETCH-MBOP

BETCH-MBOP adalah salah satu suku- tahun 2000 yang dikeluarkan oleh Biro
bangsa yang tinggal di wilayah Papua. Pusat Statistik, jumlah penduduk suku ini
Berdasarkan data hasil sensus penduduk sebanyak 129 jiwa.

BETAWI

BETAWI adalah suku-bangsa yang macam kepentingan, dan juga dengan
berdiam di wilayah DKI Jakarta, dan latar belakang kebudayaan yang berbeda
wilayah sekitarnya yang termasuk wilayah pula. Pembauran itu telah melahirkan
Provinsi Jawa Barat. Suku-bangsa ini biasa suatu masyarakat dan kebudayaan “baru”
pula disebut “orang Betawi”, “Melayu bagi penghuni kota Jakarta tadi, yang
Betawi”, atau “Orang Jakarta” (atau kemudian dikenal sebagai “Orang Betawi”.
Jakarte menurut logat setempat). Nama
“Betawi” itu berasal dari kata Batavia, Bangsa-bangsa dan suku-suku bangsa
nama yang diberikan oleh Belanda pada yang berbaur dan yang kemudian
zaman penjajahan dahulu. mewujudkan kebudayaan baru tadi dalam
periode waktu yang berbeda-beda. Pihak-
Latar Belakang Etnik. Dilihat dari pihak yang datang itu antara lain ialah
segi kesukubangsaan, Orang Betawi oang Portugis, Cina, Belanda, Arab, India,
yang berdiam di Jakarta memiliki latar Inggeris, Jerman; dan dari daerah-daerah
belakang sejarah yang telah melewati di Indonesia, misalnya Jawa, Melayu, Bali,
rentang waktu yang cukup panjang. Bugis, Sunda, Banda, dan lain-lain. Pada
Sejak lebih dari 400 tahun yang lalu periode yang lebih akhir variasi suku-
masyarakat Betawi yang kemudian bangsa yang datang menjadi lebih banyak
menjadi masyarakat seperti yang dikenal lagi. Kemudian diketahui bahwa berbagai
sekarang merupakan hasil dari suatu unsur budaya terpadu menjadi satu
proses asimilasi. Masyarakat itu dengan budaya yang disebut kebudayaan Betawi
budayanya merupakan hasil pembauran tadi. Perpaduan itu tercermin dalam
berbagai unsur budaya berbagai bangsa, bahasa, kepercayaan, kesenian, teknologi
dan suku-bangsa yang berasal dari seperti pakaian, makanan, dan lain-lain.
berbagai daerah di Indonesia.
Portugis. Sebagai contoh, kebudayaan
Jakarta sebagai satu tempat yang Betawi diselipi unsur budaya Portugis
terletak di pinggir pantai, dalam proses terutama dalam hal bahasa. Sampai
perjalanan sejarahnya, menjadi kota dengan abad ke-18 bahasa Portugis
pelabuhan dan kota dagang. Kota pernah menjadi bahasa pergaulan
ini kemudian menjadi pusat kota (lingua franca) di kalangan masyarakat
administrasi, politik, dan bahkan menjadi yang tinggal di Jakarta tadi. Pengaruh
salah satu pusat untuk memperoleh Portugis ini terasa pula dalam seni musik,
pendidikan di Indonesia. Sifat dan ciri yang kemudian dikenal mejadi musik
kota Jakarta yang demikian itu telah keroncong, tari-tarian, pakaian warna
memungkinkan menjadi arena tempat hitam, dan lain-lain. Kebudayaan Portugis
pembauran berbagai etnik yang ada di ini masuk melalui orang Mardijkers, yaitu
Indonesia, dan bahkan berbagai bangsa orang yang semula berasal dari Malabar,
yang berasal dari berbagai penjuru India, yang telah menyerap budaya
dunia. Mereka datang dengan bermacam- Portugis.

4

ENSIKLOPEDIA SUKU, SENI DAN BUDAYA NASIONAL

BETAWI

Cina. Kebudayaan Cina telah banyak tempat yang sama dengan nama suku-
pula memberikan pengaruhnya di bangsa tertentu. Sampai sekarang dikenal
kalangan penduduk Jakarta khususnya adanya nama-nama wilayah di Jakarta,
dan di Indonesia umumnya. Orang- seperti Kampung Melayu, Kampung Bali,
orang Cina yang datang ke Indonesia kampung Bugis, Kampung Makassar,
atau Jakarta sebenarnya berasal dan Kampung Jawa, kampung Ambon.
etnik yang berbeda di daerah asalnya Nama-nama tersebut memberi petunjuk
di daratan Cina. Masing-masing etnik bahwa pada masa lampau anggota suku-
itu menggunakan bahasa tersendiri, bangsa tertentu itu hidup mengelompok.
yaitu bahasa Hokkien, Teo-Chiu, Hakka, Orang Bali dan Bugis diketahui sebagai
dan Kanton. Di Indonesia mereka biasa unsur pendatang yang sudah hadir sejak
dikategorikan sebagai Cina “Totok” dan beberapa abad yang silam. Orang Jawa
Cina “Peranakan”. Tingkat penyesuaian pun telah datang sejak beberapa abad
dengan kebudayaan di Indonesia dari yang lalu Sebagai pekerja-pekerja di
kalangan “Peranakan” lebih besar sekitar kota Jakarta. Sebaliknya orang
dibandingkan dengan penyesuaian Cina Sunda, yang daerah asalnya lebih dekat
“Totok”. Di Jakarta, unsur budaya Cina letaknya, baru datang di Jakarta sekitar
yang banyak terserap ke dalam budaya abad ke-19. Pada mulanya mereka ini
Betawi adalah unsur bahasa, kesenian, berdiam di sekitar Jatinegara.
dan makanan. Pengaruh kesenian Cina
tercermin dalam irama-irama lagu, Kelompok orang Banda dari Maluku
alat-alat musik, bahkan nama-nama dibuang oleh orang Belanda ke Batavia
keseniannya sendiri. tahun 1621. Di sini antara orang Banda
dan penduduk setempat terjadi pergaulan
Kesenian memang merupakan salah yang erat dan kawin-mawin. Ketika
satu unsur budaya yang pada hakekatnya Belanda memerintahkan kembali ke
lebih mudah dinikmati dan diterima Banda mereka memilih tetap tinggal
oleh pihak-pihak yang berlatar belakang di Jakarta yang dahulu dikenal dengan
budaya berbeda. Penikmatan keindahan Sunda Kelapa itu. Mereka umunya
itu tidak terhalang oleh batas kesuku- berada di sekitar Pasar Ikan sekarang,
bangsaan atau bangsa. Rupanya hal tapi tidak meninggalkan bekas misalnya
inilah yang menyebabkan tidak terhalang dengan nama “kampung Banda”, karena
masuknya kesenian Cina, seperti Gambang mereka cepat membaur dengan penduduk
Rancag, atau rebana sebagai unsur budaya setempat tadi. Menurut Frans Hitipeuw
Arab, atau topeng dari budaya Sunda, dalam makalahnya, “Unsur-unsur
dan lain-lain. Pengaruh kebudayaan Arab Kebudayaan Banda dalam Kebudayaan
masuk melalui orang Moors (berasal ‘Betawi’ (1985)”, banyak persamaan atau
dari kata Mouro, yaitu istilah Portugis pengaruh budaya Banda pada budaya
untuk orang muslim). Pengaruh Arab Betawi, misalnya corak perahu, alat
ini sudah berlangsung sejak abad ke-19, penangkap ikan, jenis makanan seperti
dan pengaruh itu tampak dalam bahasa, onde-onde, waji, dan lain-lain, permainan
kesenian, dan lain-lain. Pengaruh lain beklen dari kulit siput, congka.
berasal dari Belanda, misalnya dalam
sistem mata pencaharian, pendidikan. Melayu. Diantara kelompok-kelompok
Budaya asing lain yang tidak begitu etnik tersebut di atas, keberadaan orang
banyak meninggalkan bekas adalah Melayu menempati kedudukan yang
Jerman, Inggeris, Perancis, India. cukup penting, meskipun jumlahnya
relatif lebih kecil dibandingkan dengan
Etnik Indonesia. Tanda-tanda orang Bali, Bugis, Cina dan lain-lainnya.
kehadiran berbagai suku-bangsa di Kedudukan orang Melayu ini menjadi
Jakarta dapat diketahui dari nama-nama lebih penting karena peran bahasanya,

5

ENSIKLOPEDIA SUKU, SENI DAN BUDAYA NASIONAL

BETAWI

net dialek Betawi Ora, yang tampaknya
banyak dipengaruhi oleh unsur kosakata
Sado, sisa budaya transportasi orang Betawi bahasa Jawa dan Sunda. Daerah penutur
masa lalu, seolah disaksikan tugu Monas. dialek Betawi Ora ini dilihat dari wilayah
administratifnya pada masa kini sudah
bahasa Melayu, yang digunakan sebagai berada diluar wilayah DKI Jakarta, atau
bahasa pergaulan (lingua franca). termasuk daerah administratif Jawa Barat.
Jakarta sebagai kota pelabuhan, kota Suatu kenyataan yang menarik adalah
perdagangan, dan tempat berbaurnya penggunaan bahasa dalam kesenian
berbagai kelompok dengan berbagai misalnya kumpulan Topeng Betawi dari
latar belakang budaya dan bahasa yang daerah Sadang. Kalau mereka mentas
berbeda tentu harus memerlukan bahasa di sekitar pusat kota Jakarta digunakan
pergaulan. Bahasa Melayu memang telah bahasa Betawi, sebaliknya kalau di daerah
menjadi lingua franca di berbagai kota pinggiran, mereka banyak menggunakan
pelabuhan atau kota-kota pantai lainnya bahasa Sunda untuk lakon yang sama.
di nusantara ini sejak lama.
Bahasa merupakan salah satu faktor
Kedudukan bahasa Melayu yang yang menyebabkan mereka merasa
demikian di Jakarta menyebabkan sebagai satu kesatuan budaya yang
kosakatanya diperkaya dengan unsur tergabung dalam satu kelompok suku
kosakata dari bahasa lain yang ada di bangsa. Faktor lain yang menyebabkan
Jakarta waktu itu. Kosakata yang turut terbentuknya kelompok itu adalah karena
memperkaya bahasa Melayu itu berasal adanya perkawinan campuran antara
dari bahasa-bahasa Portugis, Cina, anggota berbagai suku-bangsa tadi.
Arab, Belanda, Bali, Jawa, Sunda, dan Akhirnya kelompok ini memiliki suatu
dari bahasa etnik lainnya. Campuran identitas sendiri. Identitas itu diperkuat
dari beberapa bahasa yang berintikan misalnya adanya kesatuan kesenian, yang
bahasa Melayu itulah rupanya yang telah bisa dinikmati oleh keseluruhan anggota
melahirkan Bahasa Betawi atau Omong kelompok baru ini, seperti kesenian
Betawi, yang kadang-kadang disebut juga lenong, topeng, gambang rancag, qasidah,
Omong Jakarta. Sebuah kamus telah rebana, dan lain-lain. Kesenian-kesenian
disusun oleh Abd Chaer, Kamus Dialek itu merupakan kesenian baru yang
Jakarta (1976). berkembang atau diramu dari kesenian
berbagai suku bangsa atau bangsa tadi.
Oleh para ahli bahasa Betawi atau
bahasa Melayu Betawi tadi masih dapat Pembauran dengan kawin campur
dibedakan dalam dua dialek. Kedua dialek antar golongan atau suku-bangsa tadi
tampaknya terbagi atas dasar daerah diikat pula oleh adanya kesatuan agama.
kediaman penuturnya, yaitu dialek Betawi Orang Betawi dapat dikatakan hampir
Dalam Kota, dan dialek Betawi Pinggiran. seluruhnya memeluk agama Islam. Mereka
Dialek Betawi Pinggiran biasa juga disebut juga umumnya merupakan pemeluk-
pemeluk agama yang taat. Kehidupan
mereka banyak dipengaruhi oleh norma-
norma dan nilai-nilai agama Islam.

Wilayah. Seperti telah disinggung di
atas, orang Betawi berdiam di wilayah
administratif DKI Jakarta dan di daerah
administratif Provinsi Jawa Barat yang
berada di sekitar DKI Jakarta. Kini DKI
Jakarta terbagi atas lima wilayah kota
yang masing-masing dipimpin oleh

6

ENSIKLOPEDIA SUKU, SENI DAN BUDAYA NASIONAL

BETAWI

seorang Wali Kota, yaitu Wilayah Jakarta perumahan pegawai, real estate,
Pusat, Jakarta Utara, Jakarta Timur, Perumnas, daerah kumuh (slum). Di sela-
Jakarta Selatan, dan Jakarta Barat, sela kawasan tadi Jakarta dipadati pula
serta satu Kabupaten Administratif yaitu dengan pusat-pusat pertokoan, pasar-
Kepulauan Seribu. Masing-masing wilayah pasar kecil, pasar Inpres. Di berbagai
itu terbagi atas beberapa kecamatan, dan tempat lainnya bertebaran pula bangunan-
terbagi lagi menjadi beberapa kelurahan, bangunan sekolah mulai dari Taman
Rukun Warga (RW), dan Rukun Tetangga Kanak-kanak, SD, SLTP, SLTA, sampai
(RT). Pada tahun 1985 misalnya, DKI perguruan tinggi, arena olahraga, dan
Jakarta terdiri dari 30 Kecamatan, 236 lain-lain.
kelurahan, serta sejumlah RW dan RT.
Pada tahun 2008 DKI Jakarta memilik 43 Persawahan terdapat di empat wilayah
kecamatan dan 265 kelurahan. kota Jakarta, kecuali di Jakarta Pusat.
Di Jakarta Timur, persawahan terdapat
Wilayah DKI Jakarta ini ditandai oleh di 27 kelurahan di antara 59 kelurahan
keadaan lingkungan fisik yang bervariasi. yang ada. Di Jakarta Barat sawah terdapat
Di tengah wilayah berbagai kecamatan di 13 kelurahan di antara 47 buah
dan kelurahan tadi ada areal persawahan, kelurahan. Jakarta Utara yang terbagi
kebun buah-buahan, areal pemeliharaan atas 28 kelurahan terdapat persawahan
ikan darat, areal penangkapan ikan laut. di sembilan kelurahan; sedangkan di
Lingkungan fisik lainnya berupa kawasan Jakarta Selatan persawahan ada di tujuh
industri (pabrik), kawasan industri kecil kelurahan di antara 61 buah kelurahan
atau kerajinan. Bumi Jakarta ditutupi tadi dikerjakan oleh orang Betawi, dan
pula oleh jalan beraspal, perumahan sebagian kecil lainnya dikerjakan oleh
masyarakat biasa (kampung), kompleks orang Jawa dan orang Sunda.

(TMII) Kota Jakarta juga memiliki kebun
buah-buahan kecuali wilayah Jakarta
Penganten pria Betawi dengan adat mem- Pusat. Petani buah-buahan umumnya
buka cadar penganten wanita, pertanda resmi adalah orang Betawi. Jakarta Pusat
suami-isteri, sesudah ijab kabul juga merupakan satu-satunya wilayah
yang tidak ada areal penangkapan atau
pemeliharaan ikan. Para petani ikan
itu pun adalah orang Betawi, kecuali di
beberapa kelurahan di Jakarta Utara ada
nelayan Bugis dan orang dari Indramayu.

Demografi. Jumlah orang Betawi
pada masa kini di wilayah-wilayah yang
disebut di atas tentu tidak dapat diketahui
dengan pasti, karena pada beberapa kali
sensus penduduk yang lebih akhir telah
mengabaikan aspek kesuku-bangsaan.
Sekedar gambaran jumlah mereka
mungkin dapat dilihat angka-angka yang
pernah dicatat atau diperkirakan pada
masa lalu. Catalan yang berasal dari
tahun 1673 menunjukkan, bahwa jumlah
penduduk dalam “tembok” kota Jakarta
sebesar 27.068 jiwa. Mereka ini terdiri
dari orang Moors, orang Mardijkers, Cina,
Belanda, Jawa, Bali, peranakan Belanda,

7

ENSIKLOPEDIA SUKU, SENI DAN BUDAYA NASIONAL

BETAWI

dan Melayu. Penduduk yang berada di Porsi Orang Betawi dalam
luar tembok kota berjumlah 7.286 jiwa. Kelurahan-Kelurahan di DKI Jakarta, Tahun 1985
Jumlah orang Betawi berdasarkan sensus
penduduk tahun 1930 adalah 418.894 No. Porsi Orang Betawi Jumlah Kelurahan %
jiwa, sedangkan proyeksi berdasar sensus
penduduk tahun 1961 misalnya, menjadi 1. Kecil Sekali 41 17,37
655.400 jiwa. Pada tahun yang lebih akhir 2. Kecil 29 12,28
ini jumlah orang Betawi diperkirakan 3. Sedang 35 14,83
sekitar tiga juga jiwa (lihat Rinaldi Rais, 4. Besar 48 20,33
Media Indonesia, 9-11-1991). Berdasarkan 5. Besar Sekali 52 22,03
komposisi suku bangsa di Jakarta dan 6. Dominan 17 7,20
Indonesia tahun 2000, jumlah suku 7. Tidak Tahu 14 5,93
bangsa Betawi di Jakarta mencapai 2,3 Jumlah 236 100.00
juta jiwa atau 27,65% dari total penduduk
DKI Jakarta. SUMBER : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1985.

Hasil penelitian Direktorat Sejarah dan kelurahan. Contoh kelurahan yang
Nilai Tradisional, Departemen Pendidikan demikian adalah Kelurahan Petamburan
dan Kebudayaan, Deskripsi Kebudayaan (Jakarta Pusat), Kelurahan Marunda
Suku-suku Bangsa di Daerah Khusus (Jakarta Utara), Kelurahan Bale Kambang
Ibukota Jakarta (1985) antara lain melihat (Jakarta Timur), Kelurahan Ciganjur
porsi atau jumlah orang Betawi di antara (Jakarta Selatan), Kelurahan Pegadungan
penduduk setiap (236 buah) kelurahan (Jakarta Barat). Namun kategori yang
yang ada di Jakarta. Porsi itu bervariasi terbesar prosentasenya ialah kategori
dalam enam kategori, yakni kategori: “besar sekali”, artinya yang dihuni oleh 51
“kecil sekali” (1-5%), “kecil” (6-10%), -75% orang Betawi, terdapat di 52 buah
“sedang” (11-25%), “besar” (26-50%), kelurahan atau 22,03% dari keseluruhan
“besar sekali” (51-75%), dan “dominan” kelurahan yang ada di Jakarta.
(76-99%). Satu kategori khusus “tidak
tahu” karena mungkin ada responden Dalam kehidupan sehari-harinya
dari kelurahan tertentu tidak mengetahui orang Betawi berada dalam aneka-ragam
atau tidak dapat mengisinya. Rekapitulasi lingkungan sosial dengan berbagai latar
dari ke lima wilayah kota Jakarta ini belakang budaya yang beraneka-ragam
dapat dilihat seperti dalam tabel berikut pula. Lingkungan sosial itu adalah
ini, dan berikutnya diberikan satu contoh berbagai suku-bangsa yang berasal dari
kelurahan untuk kategori “sangat kecil” berbagai penjuru nusantara dan golongan-
dan untuk kategori “dominan” dari golongan lainnya. Menurut penelitian di
masing-masing wilayah, dan kategori yang atas di antara ‘“pendatang” itu sendiri ada
terbesar prosentasenya. gejala tinggal mengelompok di kelurahan
tertentu, misalnya orang Jawa, Cina,
Pada tabel 1 tersebut di atas orang Sunda, Batak, Banten, Minangkabau,
Betawi berada dalam porsi “kecil sekali” Bugis, Madura, Arab, dan lain-lain. Seperti
(1-5%) terdapat pada 41 (17,37%) yang dikemukakan pada latar belakang
kelurahan dan tersebar di ke lima wilayah. sejarah di atas, sejak berabad-abad yang
Contoh keluarahan semacam itu adalah lalu orang Betawi telah terbiasa dengan
Kelurahan Gondangdia (Jakarta Pusat), lingkungan sosial yang beraneka ragam
Kelurahan Kebon Manggis (Jakarta semacam itu. Barangkali itulah sebabnya
Timur), Kelurahan Melawai (Jakarta orang Betawi memiliki sifat yang ramah-
Selatan), dan lain-lain. Sebaliknya tamah dan terbuka terhadap orang lain
kelurahan yang penduduknya “dominan” (lihat misalnya, Hussein Wijaya, Seni
(76-99%) orang Betawi ada 17 (7,20%) Budaya Betawi, 1976).

Dulunya, mata pencaharian orang

8

ENSIKLOPEDIA SUKU, SENI DAN BUDAYA NASIONAL

BETAWI

Betawi bisa dibedakan antara mereka menyebabkan gagasan “cagar budaya”
yang berdiam di tengah kota dan yang itu agaknya hanya akan berakhir menjadi
berada di daerah pinggiran, tetapi sebuah impian.
sekarang sudah sulit membedakan wilayah
tengah kota dan pinggiran itu. Mereka Kekerabatan. Dalam kaitannya
yang berada di tengah kota menunjukkan dengan sistem kekerabatan, misalnya
mata pencaharian yang bervariasi, dalam penarikan garis keturunan, mereka
misalnya sebagai pedagang, pegawai mengikuti prinsip bilineal, artinya menarik
pemerintah, pegawai swasta, buruh, garis keturunan kepada pihak ayah dan
tukang seperti membuat mebel. Orang pihak ibu. Adat menetap nikah sangat
Betawi yang berdiam di wilayah Klender tergantung kepada perjanjian kedua
yang dulu termasuk wilayah pinggiran, pihak sebelum pernikahan berlangsung.
kini hampir bisa dikatakan di tengah kota. Ada pengantin baru yang sesudah nikah
Orang Betawi Klender ini secara turun- menetap di sekitar kediaman kerabat
temurun hidup dari pembuatan barang- suami (patrilokal), dan ada pula yang
barang mebel dan kini menjadi salah satu menetap di sekitar lingkungan kerabat
pusat industri mebel terkenal di Jakarta. isteri (matrilokal). Pada masa lalu, setiap
Orang Betawi yang berada di daerah orang tua selalu bercita-cita membuat
pinggiran hidup sebagai petani sawah, rumah (ngerumahin) bagi anaknya yang
buah-buahan, pedagang kecil, memelihara telah menikah. Yang membuat rumah
ikan, dan sekarang di antara mereka itu mungkin orang tua pihak laki-laki
banyak yang menjadi buruh pabrik, atau orang tua pihak perempuan. Pada
pegawai, dan lain-lain. Hasil penelitian saat sudah dibuatkan rumah itulah,
petani buah-buahan orang Betawi dapat pasangan ini berdiri sendiri atau lepas
dilihat, misalnya karangan hasil penelitian dari tanggung jawab orang tua. Di pihak
tahun 1960-an dari S. Boedhisantosa, lain orang tua pada umumnya cenderung
“Jagakarsa: Desa Kebun Buah-buahan menyandarkan hidup di hari tuanya pada
Dekat Jakarta”, dalam Koentjaraningrat anak perempuan. Mereka merasa anak
(Ed.), Masyarakat Desa di Indonesia perempuan sendiri akan lebih telaten
(1984), atau Koentjaraningrat, “Petani mengurus orang tua daripada menantu
Buah-buahan dari Selatan Jakarta”, perempuan, meskipun mereka tidak
Prisma (No. 5, II, 1973). Areal pertanian membedakan anak laki-laki dan anak
yang dulunya masih luas, kini semakin perempuan.
sempit yang berubah menjadi daerah
perumahan, kawasan industri, pemukiman Daur Hidup. Dalam rangka lingkaran
baru, dan lain-lain. Kawasan Condet hidup individu atau daur hidup, orang
di Jakarta Timur dulu secara dominan Betawi mengenal bermacam-macam adat
dihuni oleh petani Betawi yang terkenal atau upacara, mulai sejak bayi dalam
dengan tanaman buah-buahannya. Karena kandungan sampai kepada kematian dan
itu pemerintah DKI pernah memutuskan sesudah kematian itu sendiri. Mereka
menjadikan daerah ini menjadi kawasan mengenal upacara selamatan ketika
“cagar budaya” dengan maksud jabang bayi tujuh bulan dalam kandungan
melestarikan budaya Betawi dengan (nuju bulanin) atau kekeba, upacara kerik
mempertahankan ekosistemnya (lihat tangan dalam rangka kelahiran, khitanan
misalnya Ran Ramelan, Condet Cagar (penganten sunat), khatam Qur’an
Budaya Betawi, Lembaga Kebudayaan (penganten tamat), adat berpacaran
Betawi, 1977). Namun, perkembangan (ngelancong) bagi kaum remaja, upacara
kota, perkembangan masyarakat Betawi perkawinan, dan sebagainya. Berikut ini
dan masyarakat Jakarta pada umumnya akan diberikan sekedar penjelasan singkat
dari adat atau upacara tertentu.

Seperti juga pada beberapa masyarakat

9

ENSIKLOPEDIA SUKU, SENI DAN BUDAYA NASIONAL

BETAWI

lain, orang Betawi pun mengadakan suatu tadi untuk menarik perhatian masyarakat
upacara ketika seorang wanita hamil sekitarnya terutama anak-anak dan ikut
tujuh bulan yang disebut upacara kekeba memperpanjang barisan arak-arakan itu.
atau nuju bulanin (nujuin). Upacara ini Hal ini menyebabkan anak yang akan
diadakan hanya pada kehamilan pertama. disunat menjadi gembira. Acara sunatan
Tujuan upacara adalah mensyukuri nikmat sendiri dilaksanakan keesokan harinya,
Tuhan, memohon keselamatan, berisi yang dilanjutkan dengan selamatan
harapan agar anak yang akan lahir itu pada petang dan malam harinya. Bagi
menjadi anak yang soleh, berbudi luhur, yang tidak mampu, selamatan itu
patuh kepada orang tua, dan upacara ini dilaksanakan dengan sederhana dengan
juga semacam pemberi tahuan kepada mengundang para tetangga dan orang
masyarakat lingkungannya. Itulah yang membacakan doa. Bagi yang mampu,
sebabnya dalam upacara ini dibaca kitab upacara selamatan itu diteruskan dengan
suci Al Qur’an, khususnya Surat Yusuf. Isi hiburan, misalnya pertunjukan lenong,
Surat ini menggambarkan ketampanan topeng, atau wayang yang berlangsung
paras Nabi Yusuf, keluhuran budi semalam suntuk.
akhlaknya, kepatuhannya terhadap orang
tua. Lalu terselip harapan semoga anak Sejak masa lalu pendidikan agama
yang lahir ini mendekati sifat Nabi itu. bagi anak-anak Betawi, baik pria maupun
Dalam kehidupan sehari-hari orang yang wanita, sangat diutamakan, antara lain
berprilaku tak senonoh sering disebut dengan belajar mengaji Qur’an. Satu
kaya engga dikebain. Dalam rangka waktu, guru mengaji menyatakan kepada
upacara ini masyarakat Betawi ingin orang tua tentang kemampuan anaknya
menonjolkan nilai-nilai tahu bersyukur yang dianggap cukup dan tamat dalam
kepada Tuhan, soleh, budi luhur, dan taat mengaji Qur’an. Keputusan sang guru
kepada orang tua. Setelah kelahiran bayi mengaji ini merupakan kebahagiaan
antara lain ada upacara kerik tangan. dan kebanggaan tersendiri bagi yang
Upacara ini berupa serah terima tugas bersangkutan dan orang tuanya. Karena
perawatan sang bayi dari dukun bayi itulah diadakan upacara penyambut
kepada keluarga yang ditolong dukun itu. keberhasilan ini dengan nama upacara
Intinya berupa ungkapan rasa terima kasih penganten tamat, yang sudah menjadi
dari keluarga itu kepada sang dukun, dan tradisi bagi orang Betawi. Upacara
dukun sendiri mengisyaratkan bahwa ia ini sekaligus berfungsi sebagai suatu
melakukan pekerjaan itu dengan penuh pemberitahuan kepada masyarakat.
keikhlasan. Khatam Qur’an ini merupakan salah satu
wahana mengangkat status seorang anak
Orang Betawi melaksanakan khitanan, menjadi lebih tinggi dalam pandangan
yang disebut sunatan atau penganten masyarakat, sehingga mudah diterima
sunat, untuk memenuhi ketentuan agama dalam pergaulan dan biasanya mudah
dan kesehatan. Anak laki-laki yang disunat dalam mendapatkan jodoh. Sebaliknya
pada umur sekitar 5-10 tahun. Rangkaian dengan telah dilangsungkannya upacara
acara sunat itu terdiri dari acara itu, seseorang diharapkan akan mengubah
mengarak, menyunat, dan selamatan. sikap sebagai anak-anak menjadi semakin
Anak yang disunat dikenakan “pakaian dewasa, mengamalkan ilmu yang dimiliki,
penganten” dan diarak keliling kampung. menjadi suri tauladan dalam masyarakat.
Kadang-kadang anak yang disunat itu naik Upacara ini pun merupakan sarana untuk
kuda dan disertai bunyi-bunyian seperti terjadinya transformasi nilai-nilai agama
rebana dan gamelan. Perangkat arak- dan nilai sosial dalam masyarakat Betawi
arakan ini, seperti pakaian pengantin dan ini.
kuda tadi, biasanya disewa. Bunyi-bunyian
Upacara-upacara seperti dikemukakan

10

ENSIKLOPEDIA SUKU, SENI DAN BUDAYA NASIONAL

BETAWI

di atas pernah diteliti oleh tim dari atas bale-bale. Kemudian orang tua itu
Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, minta diri untuk tidur.
Ditjen Kebudayaan, pada tiga lokasi di
Jakarta yaitu di daerah Tanjung Barat, Pada waktu ngelancong berikutnya,
Kebun Kosong, dan Marunda pada tahun pemuda itu akan datang sendiri tanpa
1982. Hasil penelitian itu ditulis oleh membawa temannya lagi. Malam-
Puspitasari et al, Upacara Tradisional malam kehadiran pemuda Betawi
Sejak Anak dalam Kandungan Sampai untuk ngelancong berlangsung pukul
Dewasa (1982). Dalam laporan ini 8-10 malam, tetapi tidak jarang sampai
dikemukakan pula, bahwa berbagai menjelang subuh. Proses ngelancong ini
upacara tadi pada masa-masa terakhir bisa berlangsung 3 sampai 4 kali dalam
sudah banyak mengalami pergeseran. seminggu, dalam jangka waktu beberapa
Tentang pergeseran nilai budaya itu bulan sampai satu tahun. Pada masa lalu,
dikemukakan pula oleh Firman Muntaco, malam-malam memadu cinta kasih dari
“Sikap dan Harapan Orang Betawi balik kisi-kisi jendela itu kadang-kadang
Terhadap Pembangunan” dalam Media Ika dilakukan dengan cara berbalas pantun.
(No. 12, XV). Upacara daur hidup lainnya
adalah upacara perkawinan yang telah Kedatangan seorang pemuda malam
diteliti oleh tim Direktorat tersebut di atas demi malam ke rumah gadis pujaannya,
dalam laporan M.J. Melalatoa et al, Adat akhirnya diketahui oleh para tetangga
dan Upacara Perkawinan Daerah Khusus dan masyarakat sekitarnya. Oleh sebab
Ibukota Jakarta (1978). Dalam rangka itu, orang tua sang gadis pada satu
upacara perkawinan ada bagian-bagian saat menegur pemuda itu. Ia tidak mau
atau rangkaian upacara, yaitu melamar bila hubungan pemuda itu dengan
(ngelamar), serahan, pesta, malam negor, anaknya hanya sekedar begitu saja tanpa
dan lain-lain. ada kelanjutannya. Bila memang ada
kelanjutannya, orang tua pemuda itu
Namun sebelum terjadi perkawinan harus datang meminang (ngelamar) dan
ada adat khas yang disebut ngelancong. melanjutkan ke jenjang pernikahan.
Ngelancong adalah salah satu proses
memperdalam hubungan berpacaran Kesenian. Orang Betawi memiliki
antara muda mudi menurut adat istiadat kekayaan dalam lapangan kesenian
orang Betawi yang berdiam di Jakarta dan dengan berbagai jenis keseniannya. Sesuai
sekitarnya. Hubungan seorang pemuda dengan latar belakang suku-bangsa ini,
dan seorang gadis dimulai dari perkenalan bumi Betawi menjadi tempat berpadunya
pertama, misalnya ketika mereka berbagai budaya, akan tetapi kemudian
bertemu pada suatu pesta (keriaan), di muncul budaya atau kesenian yang
langgar waktu mengaji, di pasar, atau di bisa disebut sebagai sesuatu yang khas.
tempat lain. Perkenalan pertama ini bisa Memang setiap budaya tidak pernah
dilanjutkan oleh sang pemuda, dengan terlepas dari unsur pengaruh budaya lain.
cara mendatangi si gadis di rumahnya
pada malam hari. Kedatangan semacam Dalam seni tari, seperti dikemukakan
itu disebut ngelancong atau demenan. oleh Srijono Sispardjo (dalam majalah
Amanah), warna dasar tari rakyat Betawi
Kunjungan sang pemuda ke rumah adalah Melayu. Tarian Betawi yang ciri
gadis itu diatur, apabila obrolan mereka kemelayuannya cukup kuat, misalnya
berlangsung sampai larut malam, orang tari Samrah dan tari Zapin. Tarian Zapin
tua gadis kadang-kadang menanyakan sendiri dalam budaya Melayu pada
apakah ia akan menginap atau pulang. umumnya adalah pengaruh dari budaya
Bila si pemuda akan menginap, orang tua Arab-Islam. Tarian yang terkena pengaruh
akan menyediakan tikar untuk digelar di Cina ialah tari Cokek. Sedangkan
pengaruh Sunda yang secara geografis
bertetangga adalah tari Belenggo, tari

11

ENSIKLOPEDIA SUKU, SENI DAN BUDAYA NASIONAL

BETAWI

Topeng Tanji, tari Topeng Gong Ajeng, dan lain-lain.
tari Pencak Silat Betawi, Ondel-Ondel, Pantun Gambang Rancag merupakan
tarian yang terselip dalam permainan
Ujungan. Tari-tarian tersebut di atas telah pantun berkait, artinya satu bait dengan
diteliti oleh Proyek Konservasi kesenian bait yang lain saling berhubungan, karena
Tradisional Betawi, Dinas Kebudayaan keseluruhan pantun itu merupakan satu
DKI Jakarta, dan telah diseminarkan pada cerita. Cerita-cerita yang disyairkan antara
bulan Oktober 1984. lain Si Pitung, Si Angkri, Bapak Centeng,
Bapak Baria dari Tambun, Klebu, Sam Pek
Cerminan dari perpaduan tadi juga Eng Tay, Pho Sia Lie Tan, dan lain-lain.
terasa dalam seni musik dengan berbagai
unsurnya yang amat kaya. Ada unsur Sebelum tahun 1930 kesenian
pentatonik yang diwakili Sunda dan Jawa, ini cukup populer dan disenangi dan
ada warna Cina, namun diatonik pun merupakan pertunjukan panggilan.
masuk pula, yang dapat dilihat misalnya Krisis ekonomi dunia pada masa itu
dalam lagu Jali-jali yang sudah amat berpengaruh terhadap kemampuan
dikenal luas itu (Kompas, 13-11-1991). penggemarnya untuk menanggap kesenian
Gambang Kromong merupakan orkes ini. Para seniman Gambang Rancag ini
tradisional Betawi, jenis orkes perpaduan akhirnya berkeliling dari satu kampung
gamelan dan musik Barat dengan tangga ke kampung yang lain bermain dengan
nada pentatonis bercorak Cina. Orkes ini cara ngamen untuk mencari nafkah. Proses
erat hubungannya dengan masyarakat pengalihan kesenian ini kepada generasi
Cina Betawi, terutama Cina Peranakan. berikutnya semakin lesu pula, sehingga
Kesenian Gambang Rancag tampaknya kesenian ini hampir punah. Dalam rangka
juga merupakan salah satu bentuk konservasi kesenian tradisional Betawi,
kesenian Betawi yang mendapat pengaruh pada tahun 1980 Dinas Kebudayaan DKI
Cina. Kesenian ini tumbuh di kalangan Jakarta melaksanakan suatu seminar
masyarakat Betawi pinggiran kota, yang khusus tentang kesenian Gambang Rancag
berkembang pada periode sebelum tahun ini.
1930. Kesenian ini berupa pantun yang
dinyanyikan dengan akting tertentu Di antara kesenian Betawi ada yang
dengan iringan beberapa jenis alat musik. merupakan jenis teater rakyat, misalnya
Kesenian ini diperkirakan berasal dari kesenian lenong dan topeng atau disebut
Gambang Keromong tadi. “Topeng Betawi”. Kesenian topeng ini
berasal dari Cirebon, yang pada mulanya
Pengaruh Cina pada Gambang sebagai kesenian sarana dakwah agama,
Rancag tampak antara lain pada alat- tetapi kemudian menjadi kesenian rakyat
alat musiknya, melodi, tema ceritera, biasa, bahkan pernah menjadi alat untuk
dan para pelakunya sendiri kebanyakan ngamen. Kesenian topeng ini mengandung
dari golongan Cina Peranakan. Alat unsur seni tari, seni suara, seni vokal, seni
musik yang mengiringi kesenian ini sastra, seni rupa, dan musik. Kumpulan
antara lain gambang, kenong, kecrek, teater rakyat ini banyak terdapat di daerah
gong, dan lain-lain musik Cina, seperti pinggiran Jakarta atau di luar batas
tehyan, kongahyan, shukong. Lagu yang wilayah DKI Jakarta, yang masing-masing
sering diperdengarkan, baik di bagian mempunyai nama-nama sendiri, misalnya
pembukaan (phobin) maupun sebagai “Marga Sari”, “Kinang Putra”, “Marga
pengiring cerita, adalah Jali-Jali, Persi, Jaya”, dan lain-lain. Para pelaku dari
Surilang, Lenggang Kangkung, Cente suatu kumpulan topeng sering kali berasal
Manis, Stambul Siliwangi, Gelatik Unguk, dari keluarga pemain topeng secara turun-
Jiro, Pobin Tintit, Phobin Kongjilak temurun, misalnya Pak Katcrit tokoh
Perempuan, Sipatmo, Macutai, Cutaypan, kumpulan topeng “Marga Sari” mengaku
bahwa kemahirannya bermain kesenian

12

ENSIKLOPEDIA SUKU, SENI DAN BUDAYA NASIONAL

BETAWI

Depdikbud, 1983)

Pagelaran Kesenian “Topeng Betawi” dengan tokoh bodor-nya selalu tampil kocak.

ini berasal dari kakeknya (engkong), pimpinan kumpulan topeng dari beberapa
diturunkan kepada orang tuanya dan dia generasi yang lalu. Identitas anggota
sendiri sekarang menurunkan kepada kerabat pimpinan tadi adalah seperti
anak, menantunya serta cucu-cucunya. dalam Tabel 3 berikut ini.

Kumpulan topeng “Kinang Putra” dari Anggota-Anggota Kumpulan Topeng “Kinang Putra”
Cisalak, yang sudah termasuk Kabupaten Cisalak, Kabupaten Bogor, 1980
Bogor, pada tahun 1980, beranggotakan
18 orang. Di antara anggota kumpulan No Status Jenis Umur Pendidikan
tersebut masih merupakan anggota Kelamin
keluarga dari pimpinan kumpulan itu
sendiri, yaitu isteri dan anak-anaknya. 1. Pimpinan Laki-laki 47 S.D. Kelas V
Anggota yang lainnya masih tergolong
kerabat dari pimpinan tadi, misalnya 2. Isteri Perempuan 35 Buta Huruf
saudara kandung, kemenakan (keponakan)
sebanyak enam orang, menantu, besan. 3. Anak Perempuan 20 S.D. Kelas IV
Dengan demikian 14 orang (78%) masih
berada dalam lingkup kerabat. Selebihnya 4. Anak Perempuan 18 S.D. Kelas IV
berjumlah empat orang adalah orang satu
desa (lihat Tabel 2 di bawah ini). Dalam 5. Menantu Laki-laki 30 S.D. Kelas V
tabel ini tampak usia sebagian dari mereka
masih muda dengan tingkat pendidikannya 6. Keponakan Laki-laki 18 S.D. Kelas VI
rata-rata rendah.
7. Keponakan Laki-laki 18 S.D. Kelas IV
Kumpulan Topeng lainnya adalah
“Marga Jaya” dari kampung Sadang, 8. Keponakan Laki-laki 14 S.D. Kelas III
Kecamatan Setu, Kabupaten Bekasi. Pada
tahun 1980 kumpulan ini beranggotakan 9. Saudara Laki-laki 50 Buta Huruf
28 orang, delapan di antaranya anggota
keluarga dari pimpinan kumpulan itu. 10. Keponakan Perempuan S.D. Kelas III
Pimpinan ini adalah keturunan dari
11. Keponakan Perempuan 10 S.D. Kelas III

12. Anak Angkat Laki-laki 30 Buta Huruf

13. Keponakan Laki-laki 16 S.M.P. Kelas II

14. Besan Laki-laki 45 S.D. Kelas III

15. Orang sedesa Laki-laki 45 Buta Huruf

16. Orang sedesa Laki-laki 60 Buta Huruf

17. Orang sedesa Laki-laki 55 Buta Huruf

18. Orang sedesa Laki-laki 50 Buta Huruf

Sumber : Hasil Penelitian Tahun 1980

13

ENSIKLOPEDIA SUKU, SENI DAN BUDAYA NASIONAL

BETAWI

Dari tabel di atas tampak bahwa dari (TMII)
sejak umur yang masih sangat muda,
anggotanya itu sudah masuk sebagai Mesjid Al-Alam di Marunda diperkirakan be-
anggota dan ikut berperan. Tingkat rasal dari masa abad ke 12-13.
pendidikan mereka pun relatif rendah,
bahkan ada yang buta huruf. Mereka DKI Jakarta. Dengan demikian masyarakat
yang sempat bersekolah pun tidak sempat dan para ahli ikut serta mengkaji kesenian
menyelesaikan tingkat pendidikan dasar. ini dari berbagai aspeknya.
Hal ini dipengaruhi oleh kesibukan dalam
berkesenian ini. Agama. Gambaran tentang aspek
religi atau keagamaan orang Betawi jelas
Kesenian ini mengalami pasang dan diwarnai oleh ajaran Islam. Gambaran
surut dalam perjalanan waktu. Surutnya itu bisa dilihat dari sistem keyakinan dan
disebabkan karena kesenian ini tidak bisa tindakan yang mereka wujudkan, misalnya
menunjang ekonomi para senimannya seperti yang dikemukakan oleh H.
dan bersaing dengan kesenian lain Mahbub Djunaidi dalam Pertemuan Ilmiah
melalui teknologi baru, seperti masuknya Tentang Penelitian Kebudayaan Betawi
jenis-jenis hiburan lain, seperti film (1985): “... bahwa kebudayaan Betawi
(layar tancap), qasidah. Lagi pula dari sebagai suatu sub kultur hampir tidak bisa
sementara golongan masyarakat Betawi dipisahkan dengan Islam, mulai seorang
tertentu ada anggapan, bahwa kehadiran Betawi belum lahir hingga dia meninggal
kesenian topeng ini sering menimbulkan dunia dan beberapa bulan sesudah itu.
ekses yang tidak sesuai dengan ajaran Pergaulan perjaka dan perawan Betawi
agama. Satu waktu kesenian ini pernah sudah tunduk kepada norma-norma Islam.
bangkit kembali dan mendapat perhatian Begitu pula perkawinannya, hamil tujuh
dari masyarakat penontonnya karena bulannya, hingga lahir, menginjak masa
adanya perhatian dan pengarahan dari kanak-kanak, dihitan, menjadi tua bangka,
pemerintah dan mendapat kesempatan tak pernah lepas dari norma-norma Islam
tampil di TV, sehingga bisa dikenal dan itu, baik hukum formalnya, maupun
dinikmati oleh masyarakat secara lebih tradisi yang terbangun turun-temurun.
luas. P Kehidupan orang Betawi berkisar antara
rumah - langgar dan pasar; dengan
erhatian pemerintah itu diwujudkan kekecualian kecil, juga kantor. Mustahil
antara lain dengan mengadakan seminar buat seorang Betawi hidup tanpa
Topeng Betawi pada tahun 1979, yang bersentuhan dengan langgar dan mesjid.
diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan Dia akan terkucil dalam arti yang sebenar-
benarnya.
Anggota-anggota Kumpulan Topeng “Marga Jaya”,
Kampung Sadang, Kecamatan Setu, Sarana untuk mendalami dan mengikat
diri orang Betawi dengan keislamannya,
Kabupaten Bekasi, yang Masih Sekerabat, 1980 seperti mesjid tadi, memang telah tegak
sejak berabad-abad yang silam di tanah
No. Status Jenis Kelamin Umur Pendidikan Betawi ini. Sebagai suatu contoh saja ialah
dengan masih berdiri tegaknya sampai
1. Pimpinan Laki-laki 45 Buta Huruf (B.H.)

2. Isteri Perempuan 35 B.H.

3. Anak Laki-laki 20 S.D. Kelas III

4. Anak Perempuan 18 B.H.

5. Anak Laki-laki 11 S.D. Kelas IV

6. Anak Laki-laki 9 S.D. Kelas IV

7. Anak Perempuan 8 S.D. Kelas II

8. Anak Laki-laki 4 Belum Sekolah

Sumber : Hasil Penelitian Tahun 1980

14

ENSIKLOPEDIA SUKU, SENI DAN BUDAYA NASIONAL

BETAWI

sekarang sejumlah mesjid dari abad ke- tertimbun rapat, kata Jopie Wangania,
17. misalnya Mesjid Jami’ di Jalan Hayam Antropolog Universitas Indonesia itu,
Wuruk, Jakarta Utara, Mesjid Al ‘Alam di dalam tulisannya yang belum diterbitkan
Marunda Besar, juga di Jakarta Utara, dan “Situs-Situs Peradaban Tua di Marunda
lain-lain. DKI Jakarta” (1986).

Warisan Budaya. Tidak jauh dari Di sela-sela tabir gelap yang belum
lokasi mesjid Al ‘Alam, tidak ayal lagi terungkap seperti di Marunda tadi,
merupakan situs peradaban tua berupa pada masa-masa terakhir sudah banyak
49 petak bekas pondasi bangunan tua upacara mengenali dan memahami
di mana telah ditemukan 67.140 artefak kebudayaan Betawi, misalnya melalui
antara 1979-1985, dan dapat dipastikan penelitian lapangan, dalam berbagai
bahwa yang terkandung dalam perut aspek. Hasil-hasil penelitian itu, misalnya
pantai itu dan belum ditemukan lebih dari: L. Castles, The Ethnic Profile of
banyak lagi. Artifak-artifak itu berupa Djakarta, Vol. 1, April 1967; Ninuk
mangkok porselen dari berbagai jaman, Irawati Probonegoro, Kesenian Lenong,
sendok porselen, piring porselen, guci, Suatu analisa Antropologis, Jakarta, UI,
tempayan, vas kembang porselen, 1974; Muhadjir, Morfologi Dialek Jakarta:
patung porselen, pinggan, teko, rantang Afiksi dan Reduplikasi, Jakarta, UI., 1977
porselen, botol keramik, botol gelas, (Disertasi); dan lain-lain. Kini telah terbit
sejumlah artifak logam berupa perunggu, pula dua majalah yang memuat hal ikhwal
perak emas, besi, dan lain-lain. Riwayat orang Betawi, bernama: Jendela Betawi
Marunda bagai tabir yang masih dan Jali-Jali.

BETAWI TARI

BETAWI TARI, biasanya orang Betawi berpasangan di panggung atau pelataran
juga menyebutnya sebagai Tari Ngibing rumah warga.
Cokek. Tarian ini mirip dengan Tari Tayub
dari Jawa Tengah. Dalam tarian ini para Ditambah kerlingan mata sang penari
penari berusaha untuk menarik lawan yang indah untuk memikat para tamu
jenisnya untuk ikutan ngibing (menari) lelaki. Selama ngibing mereka disodori
minuman tuak agar bersemangat.

NET

BETAWI TARI,
biasanya orang
Betawi juga
menyebutnya
sebagai Tari
Ngibing Cokek.

15

ENSIKLOPEDIA SUKU, SENI DAN BUDAYA NASIONAL

BGU

BGU adalah satu kelompok etnik yang babi, tapi sering juga mereka menembak
sering juga disebut orang Bonggo, Armopa, atau menangkap macam-macam binatang
atau Bogu. Mereka berdiam dalam lain seperti soa-soa, kanguru, tikus,
wilayah Kecamatan Boggo, di pantai utara kadal, ular, kelelawar, burung kasuari
Kabupaten Jayapura, Provinsi Irian Jaya. dan lain-lain. Dalam berburu mereka
Di kecamatan tersebut, mereka umumnya dibantu oleh anjing. Pada masa terakhir
berdiam dalam desa-desa Armopa, mereka juga sudah muiai berburu buaya.
Armopa Lama, Trawasi, dan Tromta yang Mata pencaharian berkebun merupakan
berada di bagian muara sungai Wirawai, sambilan saja.
kira-kira 120 km di arah barat kota
Jayapura. Sebuah rumah orang Bgu biasanya
didiami oleh satu keluarga batih, kadang-
Data penduduk yang sempat diketahui, kadang ditambah dengan beberapa
bahwa jumlah orang Bgu pada tahun kerabat lain, misalnya seorang ibu atau
1964 di keempat desa tersebut di atas ayah yang sudah tua, menantu dan cucu
adalah 481 jiwa. Pada tahun yang sama atau saudara perempuan isteri bersama
ada 154 jiwa orang Bgu yang lain berdiam suaminya. Keluarga orang Bgu biasanya
di kota. Data penduduk Kecamatan Boggo mempunyai satu sampai dengan tiga anak
yang lebih akhir (1985) berjumlah 1.830 saja. Mereka mengenal sistem klen kecil
jiwa, tetapi tidak dapat diketahui berapa yang patrilineal. Klen yang bisa disebut
orang Bgu di antara jumlah tersebut. Di klen besar hanya terdiri dari sekitar 30-
tahun 2000 melalui sensus penduduk, an orang. Klen-klen itu disebut fam, di
jumlah orang Bgu terdapat 200 jiwa. mana istilah setempat untuk kelompok
Orang Bgu adalah penutur satu bahasa kekerabatan patrilineal itu adalah auwet.
yang disebut Bgufinti atau bahasa Bgu.
Kelompok-kelompok kekerabatan
Mata pencaharian yang terpenting dari auwet itu mempunyai nama-nama
orang Bgu adalah meramu sagu (pom). khusus seperti sadot, bagre, dan sida dan
Mereka mencari sagu di hutan-hutan sebagainya yang bersifat patrilineal. Adat
sagu yang letaknya tiga sampai lima km menetap nikah virilokal, di mana satu
dari desa mereka. Satu pohon sagu dapat pasangan pengantin baru tinggal di sekitar
memberi makan kepada satu keluarga pusat kediaman keluarga sang suami. Adat
yang mempunyai anggota empat orang itu menyebabkan adanya pembayaran mas
selama lebih dari satu bulan. kawin dari pihak kerabat suami kepada
kaum kerabat isteri. Pergaulan antara
Di daerah pantai utara ini mencari anggota klen rupa-rupanya terbatas,
ikan merupakan mata pencaharian pokok kecuali kalau ada upacara-upacara atau
yang sama pentingnya dengan mencari pesta-pesta besar. Pada masa lalu tiap-tiap
sagu. Sambil mencari ikan mereka juga klen mempunyai rumah suci yang disebut
mengumpulkan kerang, udang, kura-kura, nar sebagai tempat menyimpan benda-
binatang-binatang pantai yang semuanya benda suci, di antaranya yang terpenting
menjadi lauk untuk makanan bubur atau adalah seruling suci.
roti sagu. Tidak semua orang Bgu bisa
memakan sembarang ikan. Keluarga- Walaupun orang Bgu menganut
keluarga tertentu memiliki pantangan sistem kekerabatan berdasarkan prinsip
untuk makan jenis ikan tertentu. patrilineal, akan tetapi sekarang ada
gejala yang menunjukkan berlakunya
Berburu adalah juga suatu mata sistem bilateral. Hal ini tampak dalam
pencaharian penting, yang biasanya hal hukum waris, adat menetap sesudah
hanya dilakukan oleh orang laki-laki. nikah, dan fam hanya merupakan
Binatang buruan yang utama adalah

16

ENSIKLOPEDIA SUKU, SENI DAN BUDAYA NASIONAL

BGU

golongan orang-orang yang mempunyai ke alam baka berupa sebuah gunung
satu nama saja. bernama tardongsaun yang terletak dalam
hutan rimba di hulu sungai Wiruwai. Bagi
Orang Bgu dan penduduk pantai orang yang sudah agak tebal pengamalan
utara lainnya secara resmi telah memeluk agama Kristennya menganggap roh itu
agama Kristen, tetapi pandangan pergi menghadap Yesus. Orang Bgu juga
mengenai dunia gaib masih banyak percaya bahwa alam sekitar tempat
dipengaruhi oleh sistem religi yang asli. tinggal manusia didiami oleh bermacam-
Namun konsep-konsep religi asli itu macam roh baik atau jahat yang disebut
sudah mulai kabur karena tidak banyak sepro. Selain itu ada roh jahat seperti
lagi upacara upacara keagamaan yang buaya jadian, jin ular naga, hantu kayu.
mewujudkan konsep-konsep asli itu. Namun dalam kehidupan orang Bgu roh-
Ada pula suatu gejala di mana mereka roh itu tidak ada artinya kecuali hanya
ingin menyembunyikan hal yang bersifat menakuti anak-anak nakal.
rohaniah dan suci serta tidak diajarkan
kepada angkatan muda. Uraian di atas sebagian besar
merupakan gambaran keadaan orang
Konsepsi orang Bgu tentang akhirat, Bgu sekitar lebih dari seperempat abad
antara lain bahwa jiwa orang mati yang lalu. Keadaan masa kini tentu sudah
(fonggomu) melepaskan diri dari tubuh banyak berubah sesuai dengan proses
lalu menjadi roh (kepka) dalam jangka pembangunan dalam jangka waktu
waktu bertahap. Kalau roh itu sudah lepas tersebut di atas.
dari ikatan dunia fana, maka ia pergi

BIA

BIA adalah alat musik khas dari alat musik tiup yang biasa dimainkan pada
Propinsi Maluku. Alat musik ini terbuat acara tertentu.
dari kulit kerang besar. Bia merupakan

BIAK

BIAK adalah satu kelompok sosial yang kilometer persegi (3.0130 kilometer
biasa juga dinamakan suku-bangsa Biak- persegi + 18.442 kilometer persegi)
Numfor, karena kelompok ini berdiam Dalam lingkup administrasi pemerintahan
di pulau Biak dan pulau Numfor dan wilayah ini termasuk ke dalam Kabupaten
sekitarnya sebagai gugusan kepulauan Teluk Cenderawasih dan ada sumber
Biak. Kepulauan ini terdiri dari tiga tertulis lain menamakan Kabupaten
pulau besar, yaitu pulau Biak dengan Biak-Numfor. Kabupaten ini terbagi atas
luas 1.795,75 kilometer persegi, pulau delapan kecamatan, 71 buah desa dan
Supiori dengan luas 471,75 kilometer 284 kampung. Ke delapan kecamatan ini
persegi, dan pulau Numfor dengan luas adalah Kecamatan Biak Kota, Biak Timur,
322,50 kilometer persegi. Setelah terjadi Biak Utara, Biak Barat, Supriori Selatan,
pemekaran wilayah pada tahun 2003 luas Supriori Utara, Numfor Timur dan Numfor
wilayah Kabupaten Biak Numfor 21.672 Barat.

17

ENSIKLOPEDIA SUKU, SENI DAN BUDAYA NASIONAL

BIAK

Sebagian besar (70 persen) dari Sebaliknya, kecamatan yang sedikit
pulau Biak berupa karang dan kapur; jumlah penduduknya (2.600 jiwa). Sensus
dan selebihnya (30 persen) adalah penduduk tahun 1990 mencatat jumlah
lahan subur yang memungkinkan untuk penduduk Kabupaten ini telah menjadi
pertanian. Pulau Supiori merupakan 90.843 jiwa. Pada sensus penduduk tahun
daerah bergunung-gunung dengan hutan 2003 jumlah penduduk Kabupaten Biak
lebat dan tanahnya subur. Pulau Numfor Numfor 110.879 jiwa. Jumlah ini tentu
merupakan dataran rendah dengan merupakan gabungan antara penduduk
beberapa deretan bukit dan tanahnya setempat dan pendatang. Mereka
cukup subur. menyebut pendatang dengan istilah
Amberi, misalnya orang Jawa, orang-orang
Kepulauan ini dipengaruhi iklim tropis. dari Sumatra, Sulawesi, Maluku, dan
Iklim itu menciptakan tipe hutan tropis lain lain. Golongan Amberi ini ada yang
basah yang komposisinya amat heterogen. bekerja sebagai pegawai negeri, tentara,
Hutan itu terbagi dua, yaitu hutan pantai pengusaha, pedagang kecil, sopir taksi,
dan hutan gunung. Hutan pantai itu nelayan, dan lain-lain.
berupa tumbuhan bakau dan kelapa.
Hutan gunung berupa beberapa jenis Di antara pendatang ini, misalnya
kayu yang baik mutunya. Satwa di daerah orang Bugis, Makassar, Buton menyebar
ini terdiri dari kuskus, tupai, burung ke kampung-kampung dan berintegrasi
mambruk, burung maleo, kakatua putih, secara aktif dengan penduduk setempat
dan lain-lain. Jenis ikan tercatat ikan dan mereka diterima dengan baik. Para
duyung, tenggiri, hiu, tuna, dan lain-lain. pendatang ini membuat kebun sayur-
mayur, buah-buahan, penggergajian kayu,
Demografi. Berdasarkan ciri-ciri penangkapan ikan. Para pendatang ini
fisik, sejumlah pendapat muncul tentang umumnya beragama Islam, sehingga di
penduduk yang mendiami kepulauan beberapa tempat nampak tempat ibadah
teluk Cenderawasih (teluk Sairera) ini. kaum muslimin berdampingan dengan
Pada mulanya, kepualauan ini didiami gereja dari penduduk setempat.
oleh penduduk dengan ciri Weddoid;
sementara yang lain menyatakan Orang Biak merupakan suku-bangsa
campuran ras pribumi Irian dengan yang mobilitasnya tinggi di antara
Melayu (Mongoloid), atau campuran kelompok etnik di Irian. Ini sudah mulai
Melanesoid dengan pribumi Irian. sejak berabad-abad yang lalu dan masih
berlangsung sampai sekarang. Mereka
Ciri lain dari orang Biak-Numfor tersebar di pantai utara Irian mulai
bersifat dinamis dan selalu bergejolak dari Jayapura, pulau-pulau Kumamba,
dalam segala situasi, karena latar Membramo, hulu Teluk Cenderawasih,
belakang perkelanaan bahari yang dialami Kurudu, Yapen Utara, pantai utara
sejak lama. Kondisi alam di pulau karang Kepala Burung sampai ke Raja Ampat
yang terkadang minus, sangat mendorong di sebelah barat. Di Jayapura, ibu kota
mereka untuk selalu memperhitungkan propensi, mereka bekerja sebagai pejabat
situasi, bergerak, berpindah, berkelana pemerintah, swasta, tentara, guru Injil,
menghadapi gelombang dan badai laut. nelayan, petani dan buruh. Mereka
Mereka pun memiliki pengetahuan untuk bermigrasi dengan bermacam-macam
membaca letak bintang, menandai arah alasan, antara lain percekcokan dalam
angin, memperkirakan akan datang badai, kampung, mencari lokasi pemukiman baru
musim ikan, dan lain-lain. yang aman, mencari tanah yang lebih
subur, mencari pekerjaan di kota-kota,
Data statistik tahun 1979 mencatat atau karena panggilan tugas.
jumlah penduduk kabupaten ini sebesar
75.280 jiwa, sejumlah 50 persen (37.211 Latar Belakang Sejarah. Awal kontak
jiwa) berdiam di Kecamatan Biak Kota.

18

ENSIKLOPEDIA SUKU, SENI DAN BUDAYA NASIONAL

BIAK

resmi orang Biak dengan dunia luar (Dinas Pariwisata Irja)
dimulai sekitar akhir abad ke 15, yaitu
dengan Kesultanan Tidore yang sempat Orang-orang tua Biak sedang berkesenian
menjangkau daerah ini. Pada mulanya
seorang satria Biak, bernama Kurabessi, ada anggapan koreri itu ada di Tanah
melawat ke Tidore dan sempat kawin Jawa dan menunggu kembali ke tanah
dengan putri Sultan. Perlawatan itu asalnya di Irian Jaya. Peranan benda-
berlatar belakang kepercayaan orang benda asing itu masih berlaku sampai
Biak tentang koreri, suatu simbol negeri saat ini dan mempunyai fungsi dalam
bahagia dan makmur yang telah pergi ke perkawinan.
arah barat. Pertualangan ke arat barat itu
untuk mencari dan menemukan koreri Bahasa. Orang Biak mempunyai
yang hilang itu. Ketika di Maluku, mereka bahasa sendiri yaitu bahasa Biak atau
berkenalan dengan benda-benda asing, Biak-Numfor, yang termasuk keluarga
seperti keramik, kain, perunggu, dan besi bahasa Melanesia. Bahasa ini masih dapat
menguatkan pandangan mitis suku-bangsa dibagi atas sembilan dialek di kepulauan
ini, bahwa benarlah koreri itu telah teluk Cenderawasih dan tiga dialek di luar
muncul di sebelah barat. Benda-benda daerah itu, yaitu daerah Roon, Doreh, dan
tadi merupakan produk negeri bahagia Waigeo Barat. Catatan sekitar tahun 1960-
koreri. Sultan Tidore adalah Mansren an menunjukkan bahwa jumlah penutur
Koreri (“Penguasa Koreri”), artinya bahasa ini berjumlah sekitar 40.000 orang
Penguasa orang Biak. Itulah motif yang berdiam di pulau Biak, pulau Numfor
paling mendasar mengapa orang Biak dan pulau-pulau kecil di timur dan barat
sejak berabad-abad yang lalu tidak henti- daerah Kepala Burung.
hentinya mengunjungi Tidore.
Pola Perkampungan. Kampung-
Hegemoni Tidore pun memasuki kampung biasanya tersebar di sepanjang
kepulauan Biak, dan sebagai daerah pantai, karena mereka ada kepentingan
taklukan, orang Biak diwajibkan berhubungan dengan warga pulau
membayar upeti setiap tahun. Upeti itu lain di sekitar teluk ini. Pada masa lalu
berupa hasil bumi seperti getah damar, pemukiman di pantai itu dianggap
kulit mosoi, burung nuri, cendrawasih, strategis bila ada perang antar kampung
burung mambruk, batu ambar, kulit atau antar kelompok. Setelah masuknya
penyu. Sebagai penghargaan terhadap ajaran agama Kristen kebiasaan itu
pemimpin Biak yang memenuhi berangsur-angsur hilang dan sekarang
kewajibannya dengan baik, Sultan
Tidore menganugerahkan gelar-gelar
kehormatan. Sampai sekarang gelar-gelar
itu masih digunakan sebagai nama karet
atau fam, misalnya Kapitarau (Kapitan
Laut), Kapita (Kapitan), Mayor (Mayor),
Sanadi (Sangaji), Suruan (Suruhan), dan
Urbasa (Juru bahasa).

Pengaruh lain yang kemudian masuk
adalah dari Eropa, misalnya Belanda,
yang kemudian memasukkan benda-
benda budaya baru pula. Benda-benda itu
menyebabkan mereka mengkaitkan koreri
itu pergi ke Belanda. Setelah Irian Jaya
kembali ke pangkuan Republik Indonesia

19

ENSIKLOPEDIA SUKU, SENI DAN BUDAYA NASIONAL

BIAK

sebaliknya sudah tolong-menolong memberi si penjual berupa makanan
dalam masa paceklik, pembuatan rumah, jika diperlukan. Barang-barang yang
mengerjakan kebun dan lain-lain. Selain diperdagangkan oleh penduduk lokal
di tepi pantai rumah-rumah juga didirikan adalah bahan makanan, misalnya sagu,
di tepi sungai dan kini di sisi jalan-jalan keladi, ubi, pinang yang diasap (ropum)
umum. ikan yang diasap; serta gelang kerang
(fonis) sebagai perhiasan, gelang lengan
Rumah mereka umumnya berupa atas berwarna hitam (asisio), manik-
rumah panggung yang berdiri di atas manik. Alat-alat yang dibutuhkan dalam
tiang, baik rumah yang ada di atas air kehidupan sehari-hari, misalnya senjata,
(rumah berlabuh) maupun rumah di tombak ikan, parang, kapak, mata
darat. Tiang-tiang dibuat dari kayu yang panah, perahu, piring besar (kobor).
keras, misalnya kayu besi, atapnya daun Barang perdagangan yang dikirim
rumbia, lantainya kayu nibung. ke luar kepulauan ini adalah damar
putih, tripang, lokan, kayu besi, rotan;
Mata Pencaharian. Dalam jangka sedangkan yang didatangkan dari luar
waktu yang lama dari masa lalu, adalah beras, sagu, barang kelontong.
perikanan merupakan mata pencaharian
yang penting, dan makanan pokok Organisasi Sosial. Kelompok-
mereka adalah ikan dan kerang. Para kelompok kekerabatan dikenal mulai
wanita mencari ikan dan kerang di sekitar dari keluarga batih (sim), keluarga luas
karang-karang, dan kaum pria mencari (rumh), dan klen kecil (keret). Dulu
ikan yang lebih besar ke tengah laut. sebuah keluarga luas menempati sebuah
Dalam penangkapan ikan ini mereka rumah besar (aberdado), yang dibagi atas
menggunakan beberapa macam alat, beberapa bilik (sim) yang didiami oleh
misalnya tangguk (pam), sejenis pukat satu keluarga batih. Keluarga batih itu
(pam papos), jala, tombak (manorra) sendiri ada yang keluarga batih monogami
terbuat dari bambu, pancing (awiuwer), (sim inbesefek) dan keluarga batih
dan lain-lain. poligami (sim imbekya). Sebuah kampung
terdiri dari satu sampai beberapa klen
Jenis mata pencaharian lain adalah (keret). Ada klen yang hanya terdiri
bercocok tanam dengan menanam ubi- dari satu atau dua keluarga batih. Satu
ubian, gandum gierst, sejenis kacang kampung besar ada yang terdiri dari lima
merah. Kebun mereka ini terletak jauh sampai tujuh klen.
dari kampung, tetapi pisang dan tebu
ditanam di sekitar rumah. Ternak babi dan Klen (keret) itu adalah kelompok
ayam merupakan urusan kaum wanita, kerabat yang sangat penting bagi orang
namun ternak ini tidak begitu penting Biak, yang berasal dari satu nenek
dalam kehidupan mereka. Binatang moyang, namun nenek moyang itu
buruannya adalah babi, kuskus, burung, tidak jelas lagi kecuali sebagai tokoh
dan ular. Babi diburu dengan anjing yang suci. Keret masih terbagi atas beberapa
telah dilatih, burung diperoleh dengan kelompok yang lebih kecil, yang disebut
panah atau dengan jala. keret kasun dengan tokoh nenek moyang
yang masih nyata. Mereka mengamalkan
Mereka pernah mengenal sistem adat eksogami klen, kecuali kalau sudah
perdagangan yang disebut manibobi, keturunan dari angkatan keempat.
yaitu teman atau orang kampung lain
yang menjadi partner dalam melakukan Hubungan antara anggota kerabat
perdagangan tertentu, atau tempat sangat erat. Hubungan antara seorang
meminta bantuan dalam keadaan laki-laki dengan saudara perempuan
susah, misalnya kekurangan makanan. begitu eratnya, sehingga pernah
Barang-barang berharga tidak diminta ada kebiasaan di masa lalu seorang
pembayaran lunas, tetapi si pembeli wajib

20

ENSIKLOPEDIA SUKU, SENI DAN BUDAYA NASIONAL

BIAK

perempuan mencampur makanan mereka kepada para arwah nenek moyang
dengan darah saudara laki-lakinya yang (korwar), dan yang berarti juga setan.
disunat. Saudara laki-laki ibu mempunyai Patung itu sulit diidentifikasi berparas
peranan penting dalam keluarga, terutama laki-laki atau perempuan, karena lebih
dalam memimpin upacara inisiasi, yang merupakan karya seni kubisme yang
merupakan salah satu upacara penting abstrak. Patung itu dihormati, tetapi
dalam kehidupan orang Biak. apabila tidak dapat menolong manusia
seringkali dibelah-belah dan dibuang
Penarikan garis keturunan adalah sebagai benda yang tak berguna.
kepada pihak ayah atau laki-laki. Pusaka Kepulauan ini digolongkan sebagai
diterima oleh anak laki-laki yang sudah Wilayah Budaya Saereri, dengan ciri
dewasa. Kalau kebetulan tidak punya khasnya yang disebut daerah bergaya
anak laki laki, maka pusaka itu diberikan korwar (korwar style). Ciri lain ada
kepada saudara laki-laki yang tertua, pada motif ukiran atau seni rias yang
termasuk isterinya sendiri (levirat). Kalau ditempatkan pada badan perahu, dinding
saudara laki-laki itu sudah kawin dan rumah, peralatan dan senjata, pakaian,
tidak mau menerima isteri saudaranya itu, perhiasan, dan juga tatoage.
maka diserahkan kepada saudara laki-laki
yang lain atau saudara sepupu (napirin) Religi. Sistem kepercayaan leluhur
pihak ayah. orang Biak menggariskan bahwa
kekuasaan dalam alam ini dimiliki
Pada masa lalu, mereka mengenal oleh Nanggi (Tuhan Langit). Upacara
beberapa golongan sosial, yakni lapisan keagamaan yang menyeluruh adalah
Manseren (Penguasa), Mambri (Satria,) fannanggi, yaitu memberi makan pada
Mananwir (Kepala adat), dan Women Yang Kuasa tadi, yang dilakukan oleh
(budak). Golongan penguasa adalah seorang pemuka keagamaan yang disebut
keturunan penduduk yang pertama Mon. Upacara inisiasi seperti k’bor yaitu
membuka suatu kampung. Mereka melukai kemaluan laki-laki juga dipimpin
memiliki hak ulayat atas tanah dan laut. oleh Mon. Upacara ini mendidik seseorang
Golongan Satria berperan memimpin untuk meninggalkan masa kanak-
perang atau membela kampung dari kanaknya untuk menjadi laki-laki dewasa
serangan musuh. Golongan ini sekarang dan menyelaraskan kepribadiannya
sudah tidak ada lagi. Golongan Kepala dengan kebutuhan masyarakatnya.
adat adalah orang-orang yang bijak, yang
sampai kini masih dihormati, misalnya Kematian dihadapi dengan duka
ditunjuk menjadi kelapa desa. Golongan yang dalam dengan cara menjaga mayat
budak pun kini sudah tidak ada lagi. sambil meratapinya. Apabila si mati
orang yang sangat dikasihi, mayatnya
Kesenian. Ekspresi seninya berkaitan disimpan sampai dua hari. Hidung, mulut,
dengan sistem religi mereka. Seni rupa telinganya disumbat dengan tembakau,
yang terkenal adalah patung korwar dan sedangkan lubang pelepasannya tidak
ukiran naga. Musik dan tari merupakan disumbat, karena itu jalannya roh si mati
satu kesatuan yang tak terpisahkan. meninggalkan tubuh. Mayat itu ada yang
Patung korwar berkaitan dengan ritus dikubur, ada pula yang diletakkan di atas
kematian dan perkabungan. Patung ini panggung sampai dagingnya membusuk
terbuat dari kayu berbentuk manusia (exposure). Selama 30 hari anggota
dalam posisi duduk atau berdiri. Patung keluarga berada dalam suasana berkabung
dengan posisi duduk bertekuk lutut (frur sarop). Mereka harus tinggal dalam
bertopang dagu. Bagian bawah dagu rumah. Kalau harus meninggalkan
hingga perut dibentuk menyerupai kotak rumah tubuh harus ditutup dan jalan
terbuka. Dalam kotak tersebut diletakkan membungkuk seperti orang ketakutan,
berbagai sajian sebagai persembahan

21

ENSIKLOPEDIA SUKU, SENI DAN BUDAYA NASIONAL

BIAK

agar tidak menarik perhatian roh yang yang panjang masih terjadi konflik
meninggal itu. antara kepercayaan leluhur dan agama
Kristen; dan sistem kepercayaan
Orang Biak mengenal totemisme leluhur itu masih berlaku sampai masa
berganda yang terdiri dari burung, pendudukan Jepang. Namun kemudian
binatang darat dan laut. Mereka pun berangsung-angsur ajaran agama baru ini
mengenal dongeng suci yang dihayati semakin berkembang dengan cara-cara
secara mendalam oleh orang Biak, yaitu menyesuaikan dengan kepercayaan lama
Manarmakeri. itu. Kini sebagian besar dari mereka telah
menganut agama Kristen Protestan.
Agama Kristen masuk ke Biak pada
tahun 1908. Dalam jangka waktu

Rujukan: Jaya, Jayapura: Pemerintah Daerah Tingkat I Irian
Jaya.
Budjang, Anis Patty, Samuel A. et al.
1963 “Orang Biak-Numfor”, Penduduk Irian
1980 Adat dan Upacara Perkawinan Daerah
Barat (Koentjaraningrat dan Harsja W. Bachtiar, Irian Jaya, Pusat Penelitian Sejarah Budaya, Depar-
Eds), P.T. Penerbitan Universitas. Flassy, temen Pendidikan dan Kebudayaan.
Don A.L. (ed.)

1983 Aspek dan Prospek Seni Budaya Irian

BIGA

BIGA, merupakan salah satu suku- 2000, diketahui jumlah suku penduduk
bangsa yang mendiami Provinsi Papua. suku ini ada 2.578 jiwa.
Berdasarkan hasil sensus penduduk tahun

BIKSI

BIKSI, merupakan salah satu suku thaun 2000, jumlah penduduk suku ini
yang mendiami wilayah Provinsi Papua. hanya ada 40 jiwa.
Berdasarkan hasil sensus penduduk pada

BILI’U

BILI’U, PAKAIAN ADAT, merupakan makna tersendiri, merah berarti
pakaian adat khas Gorontalo yang keberanian dan tanggung jawab, hijau
dikenakan pada saat upacara perkawinan. berarti kesuburan, kesejahteraan,
Pakaian yang pada umumnya dikenal kedamaian dan kerukunan, kuning
terdiri dari tiga warna ungu, kuning berarti kemuliaan, kesetiaan, kebesaran
keemasan dan hijau ini disebut juga dan kejujuran, sedangkan ungu berarti
dengan Paluawala. Dalam masyarakat keanggunan dan kewibawaan.
adat Gorontalo setiap warna memiliki

22

ENSIKLOPEDIA SUKU, SENI DAN BUDAYA NASIONAL

BIMA

BIMA : lihat MBOJO.

Kuburan raja-
raja Bima.

BINES, TARI

BINES, TARI. Biasanya dibawakan ini dimulai dari gerakan yang paling
oleh penari-penari wanita, dengan duduk lambat kemudian meningkat ke gerakan
berjajar dan melantunkan syair yang berisi yang lebih cepat dan berhenti serentak.
nilai-nilai agama atau adat. Ritme tarian

NET

BINES, TARI

BINTAUNA

BINTAUNA, ORANG adalah salah Bolaang Mongondow, yang berdiam
satu sub kelompok dari suku-bangsa di dalam wilayah Kabupaten Bolaang

23

ENSIKLOPEDIA SUKU, SENI DAN BUDAYA NASIONAL

bINTAUNA

Mongondow, Provinsi Sulawesi Utara. Bintauna.
Wilayah asal orang Bintauna sekarang Apabila mereka harus berkomunikasi
merupakan wilayah Kecamatan Bintauna,
sebagai bagian dari Kabupaten Bolaang dengan orang luar, biasanya mereka
Mongondow tadi. Jumlah orang Bintauna menggunakan bahasa Melayu Manado
tidak diketahui lagi secara pasti, namun atau bahasa Indonesia. Sebelum masuknya
sebagian besar dari mereka bermukim di kekuasaan Belanda ke daerah ini Bintauna
Kecamatan Bintauna, yang pada tahun merupakan sebuah kerajaan kecil, yaitu
1986 berpenduduk sekitar 10.000 jiwa. kerajaan yang bernama kerajaan Bintauna
Mereka mempunyai bahasa sendiri, yang juga. Secara umum budaya orang
diperkirakan merupakan salah satu dialek Bintauna bersamaan dengan budaya sub
dari bahasa Mongondow, yaitu dialek kelompok lain dari suku-bangsa Bolaang
Mongondow.

BINTHE BILIHUTA, LAGU

BINTHE BILIHUTA, LAGU, merupakan Malo sambe lolowo
lagu khas Gorontalo yang menceritakan Malita dadata
tentang makanan khas Gorontalo yang Orasawa tahuwato
terbuat dari jagung. Syairnya adalah
sebagai berikut: Monga binthe
Binthe bilihuta
Binthe biluhuta Timi idu bele dila tamotolawa
Nola-nola loduo Binthe biluhuta
Wonu olamita Dilatuwu touwewo
Orasawa taduhelo Binthe bilihuta
Binthe biluhita Deboto Hulonthalo

BIPIM

BIPIM, adalah salah satu suku 2000 melalui sensus penduduk tercatat
bangsa yang mendiami wilayah Provinsi sebanyak 195 jiwa.
Papua. Jumlah orang Bipim pada tahun

BIRA

BIRA, ORANG bermukim di kampung Kabupaten Sorong, Provinsi Irian Jaya.
Duriankeri, Desa Seget, yang terletak di Jumlah orang Bira di desa tersebut
ujung barat Kepala Burung daratan Irian. tidak diketahui dengan pasti di antara
Desa Seget dan Desa Segun bersama penduduk desa tersebut yang berjumlah
dengan dua desa (Desa Sailohof dan 1.754 jiwa pada tahun 1979, padahal di
Desa William) di selatan pulau Salawati, desa ini berdiam pula kelompok orang
termasuk wilayah Kecamatan Seget, Moilema dan orang Sarim. Pada tahun

24

ENSIKLOPEDIA SUKU, SENI DAN BUDAYA NASIONAL

BIRA

2000, jumlah penduduk kecamatan Seget yang disebut bahasa Inanwatan, dan satu
secara keseluruhan sekitar 8.672 jiwa sumber data lain menunjukkan penutur
dengan jumlah orang Bira sekitar 2.776 bahasa ini di daerah Kepala Burung
orang. Orang Bira menggunakan bahasa berjumlah sekitar 1.100 orang.

BISMAM

BISMAM merupakan salah satu dari lingkungan. Jumlah suku Bismam
duabelas subsuku suku Asmat. Pembagian berdasarkan data tahun 2000 sekitar
ini diakibatkan adanya perbedaan 2.358 jiwa. LIHAT ASMAT)
tempat tinggal, dan cara pemanfaatan

BLAGAR

BLAGAR berdiam dalam wilayah Bahasa Blagar mempunyai tiga macam
Kecamatan Pantar dan Kecamatan Alor dialek, yakni dialek Kolijahe, Pura, dan
Barat Laut, Kabupaten Alor Provinsi Nusa Reta. Masing-masing pemakai dialek tadi
Tenggara Timur. Anggota suku bangsa dapat memahami dialek yang lainnya.
ini relatif tidak besar dan tidak ada data Namun jumlah dialek bahasa Blangar
berapa jumlah mereka yang sesungguhnya ini bisa diperkirakan lebih dari empat,
di antara keseluruhan penduduk kedua termasuk dengan penutur yang berada
kecamatan tersebut di atas. Pada tahun di luar pulau Pura. Sampai sekarang
2006 jumlah penduduk Kecamatan bahasa atau dialek tadi masih dipakai
Pantar di Pulau Pantar itu 8.042 jiwa, dan dalam rangka upacara-upacara adat,
penduduk Kecamatan Alor Barat Laut misalnya upacara daur hidup seperti
19.327 jiwa. Hasil penelitian Wakidi et kelahiran, perkawinan, dan kematian.
al (1989) tentang Morfo Sintaksis Bahasa Bahasa itu dipakai pula dalam rangka
Blagar menunjukkan persebaran bahasa upacara minta hujan, panen, dan lain-
ini tidak begitu luas di kedua kecamatan lain. Dalam upacara semacam itu sering
tadi. Persebaran di desa-desa Kecamatan muncul bahasa yang bernilai kesusastraan.
Pantar adalah di Desa Batu yang meliputi Namun pada masa ini kalangan generasi
tiga kampung, yaitu kampung Tuabang, muda sudah kurang menaruh perhatian
Bikolang, dan Kolijahe; dan di Desa Nule terhadap bahasa Blagar ini. Mereka lebih
meliputi dua kampung, yaitu kampung suka menggunakan bahasa Indonesia atau
Nuhawala dan Treweng. Persebaran bahasa Melayu Alor Blagar, karena takut
bahasa Blagar di Kecamatan Alor Barat dianggap kurang terpelajar atau dirasa
Laut berpusat di dua desa, yaitu Desa Reta kurang bergengsi. Hal ini dipengaruhi
dan Desa Pura. Jumlah penutur bahasa oleh semakin lancarnya hubungan antar
ini tidak sampai 10.000 orang namun anggota berbagai kelompok etnik yang
digunakan di 10 dari 12 kampung di ada. Itulah pula sebabnya menjadi sulit
pulau Pura, pulau Tereweng, dan sejumlah untuk mengetahui secara pasti jumlah
kampong di sepanjang pesisir timur pulau penutur bahasa tersebut atau mengetahui
Patar. jumlah anggota suku. Munandjar

25

ENSIKLOPEDIA SUKU, SENI DAN BUDAYA NASIONAL

BLAGAR

Widyatmika et al (1985) dalam Peta Salah satu cara untuk menyimpan jagung di
Sejarah Provinsi Nusa Tenggara Timur NTT
memperlihatkan bahwa kota Kabir di
Pulau Pantar dan kota Kalabahi di Pulau
Alor adalah pusat-pusat penyebaran
agama Islam pada abad ke-15 dan 16.
Penyebaran ke Kabir datang dari Makasar,
Sulawesi Selatan, sedangkan penyebaran
ke Kalabahi datang dari Ternate, Maluku,
dan selanjutnya datang dari Bima, Jawa,
dan Minangkabau.

Bahasa Blagar adalah salah satu
dari 13 bahasa yang ada di Kepulauan
Alor, yakni bahasa-bahasa Alor, Lemma,
Tewa, Nedebang, Kelan, Kabola, Kui atau
Kiraman, Kafoa, Abui, Woisika, Kolana,
Tanglapui, dan Blagar. Sumber lain
menyebutkan bahwa di Kepulauan Alor
ini terdapat tidak kurang dari 40 buah
bahasa, suatu jumlah yang cukup besar
untuk sebuah kabupaten seperti Alor ini.

Di tengah alam kepulauan yang
berbukit-bukit dengan jenis tanah litosol,
umumnya mereka hidup dari pertanian
dan menangkap ikan. Dalam pertanian
mereka menanam jagung dan ubi jalar.

BLANTEK

BLANTEK merupakan seni pertunjukan lain seperti rebana, ketuk tilu, dan topeng.
teater rakyat Jawa Barat yang berasal dari Demikian pula bentuk kesenian ini tidak
daerah Bogor. Seni Blantek yang berada di jauh berbeda dengan topeng yang berada
daerah Bogor ini termasuk rumpun seni ti- di Cisalak.
peuh, oleh karena itu disebut juga topeng
Blantek. Pertunjukkan Blantek memiliki be-
berapa tahapan, yaitu: tahapan pertama
Blantek berasal dari akronim Blan dan berupa pembacaan dzikir atau puji-pujian
Tek. Blan asal kata dari musik rebanan yang diiringi rebana biang yang disajikan
yang dipergunakan untuk mengiringi seni pada acara-acara ritual agama Islam di
Blantek. Sedangkan tek asal kata dari daerah Pondok Rajeg Ciseeng, Bojong
kotek nama salah satu rebana pada alat Gedeh, Ciganjur, Bintaro, Sawangan dan
musik kesenian tersebut. Selain itu ada Parung Bogor. Diikuti tahap kedua den-
juga yang menyebutkan bahwa Blantek gan masuknya tari Blanggo atau Pencak
memiliki arti tidak karuan campur aduk Silat Betawi dan Gisauw (Pencak Cina).
dan tidak semestinya didasari oleh ang- Dengan masuknya unsur pencak terse-
gapan bahwa kesenian ini dalam penyaji- but membuat kesenian Blantek tidak lagi
annya memasukkan unsur-unsur kesenian hanya dipertunjukan pada acara ritual

26

ENSIKLOPEDIA SUKU, SENI DAN BUDAYA NASIONAL

BLANTEK

agama islam, tapi dipentaskan juga pada di daerah Parung Bogor, yang dikelola
acara-acara hajatan. Lalu tahap ketiga, oleh keluarga Bapak Kirpin. Waktu dan
ditandai dengan masuknya ronggeng tempat pertunjukan topeng Blantek pada
topeng dengan tujuan membuat daya tarik dasarnya sama dengan pertunjukan
pertunjukan. Topeng yang dimasukkannya topeng Cisalak yaitu pada malam hari
kedalam kesenian ini merupakan tiruan dipanggung balandongan. Perbedaan-
dari topeng Cisalak yang hanya diambil nya terdapat pada struktur pertunjukan.
ronggeng topengnya saja atau kembang Secara keseluruhan struktur pertunjukan
topeng. Dengan masuknya unsur tari dan topeng Blantek adalah sebagai berikut :
topeng maka lagu-lagunya semakin bert- penyajian dzikir dan puji-pujian. Lagu-
ambah banyak. Dan pada tahap keempat lagu puji-pujian dan dzikir diiringi instru-
masuk unsur bodor yang menampilkan men musik rebana. Lagu-lagu ini syairnya
lakon-lakon pendek yang tidak utuh. Den- menggunakan bahasa Arab yang berisi
gan masuknya unsur-unsur kesenian lain tentang pujian kepada Alloh SWT dan
seperti tersebut diatas kedalam kesenian Nabi Muhammad SAW. Selanjutnya penya-
ini sehingga membentuk kreasi yang jian lagu gending jiro. Lagu ini merupakan
dinamakan kesenian Blantek atau seperti lagu-lagu pujian dengan musik iringan
Topeng Blantek. tari Blantek. Selesai penyajian lagu jiro
dilanjutkan dengan penyajian tari Blantek,
Kesenian Blantek dewasa ini telah jali-jali, dan lenggang kangkung. Selain itu
banyak dipengaruhi oleh kesenian pop ditampilkan juga lagu-lagu ketuk tilu dan
dan dangdut. Masuknya musik pop dan kliningan termasuk lagu-lagu kreasi baru.
dangdut ini tidak hanya berpengaruh pada Pada saat ini ditampilkan juga lagu-lagu
lagu-lagunya saja tapi juga alat musiknya, dangdut.
demikian pula tari Jaipongan. Adapun alat
musik yang dipergunakan dalam per- Berikutnya penyajian tari Blantek
tunjukan Blantek adalah Rebana (Biang, dan ronggeng topeng yang gerakannya
Katek dan Kebuk), Kendang, Jihan/Rebab, bersumber dari tari topeng badawa dan
Kecrek dan Goong. Pada jaman sekarang ketuk tilu. Sebagai puncak pertunjukan
ditambah dengan alat musik diantonis ditampilkan cerita komedi. Cerita-cerita
seperti Gitar melodi, Bas dan Keyboard. yang sering ditampilkan adalah Prabu
Zulkarnaen dan Ngarah Barni.
Kesenian ini sekarang masih hidup

NET

BLANTEK
merupakan seni
pertunjukan
teater rakyat
Jawa Barat
yang berasal
dari daerah
Bogor.

27

ENSIKLOPEDIA SUKU, SENI DAN BUDAYA NASIONAL

BOLAANG ITANG

BOLAANG ITANG, ORANG adalah menempati sebagian wilayah Kecamatan
salah satu sub kelompok dari suku-bangsa Sangtombalang. Mereka menggunakan
Bolaang Mongondow, yang berdiam di salah satu dialek dari bahasa Bolaang
wilayah Kabupaten Bolaang Mongondow Mongondow, yaitu dialek Bolaang Itang.
Utara, yang merupakan pemekaran
wilayah dari Kabupaten Bolaang Masyarakat Bolaang Itang ini
Mongondow, Provinsi Sulawesi Utara. dulunya merupakan sebuah kerajaan,
Di kabupaten tersebut mereka berdiam bernama Kerajaan Bolaang Itang, yaitu
dalam wilayah Kecamatan Bolaang satu dari lima kerajaan yang pernah ada di
Itang, yang pada tahun 1986 kecamatan wilayah Kabupaten Bolaang Mongondow.
ini berpenduduk sekitar 19.000 jiwa. Namun pada tahun 1910, kerajaan ini
Sejak tahun 2007, Kecamatan Bolaang bergabung dengan kerajaan Kaidipang,
itang dibagi menjadi dua wilayah, yaitu di bawah satu nama Kerajaan Kaidipang
Bolaang Itang Barat dan Bolaang Itang Besar. Kebudayaan masyarakat Bolaang
Timur. Jumlah penduduknya belum Itang secara umum tidak berbeda dengan
diketahui secara pasti. Mereka juga kebudayaan sub kelompok lain yang dari
suku-bangsa Bolaang Mongondow.

BOLAANG MONGONDOW

BOLAANG MONGONDOW adalah Kecamatan Bolaang Uki. Anggota suku
suku-bangsa yang mendiami wilayah bangsa ini terbagi pula atas beberapa
administratif Kabupaten Bolaang kelompok penutur logat bahasa, seperti
Mongondow, salah satu dari lima logat Mongondow, Bintauna, Kaidipang,
belas kabupaten di Provinsi Sulawesi Bolaang, Lolak, dan Bantik. Bahasa
Utara. Kabupaten Bolaang Mongondow pengantar dalam hubungan antar anggota
ini mengalami pemekaran menjadi suku bangsa dan dalam situasi resmi
empat kabupaten, yaitu Kabupaten adalah Bahasa Melayu Manado dan
Bolaang Mongondow, Kabupatern Bahasa Indonesia.
Bolaang Mongondow (Bolmong)
Selatan, Kabupaten Bolmong Timur, Dalam berbagai sumber tertulis,
dan Kabupaten Bolmong Utara. Suku seringkali muncul kerancuan dalam
bangsa Bolaang Mongondow terbagi penamaan bagi penduduk asal Kabupaten
atas beberapa subsuku bangsa, seperti Bolaang Mongondow ini. Komunitas itu
Mongondow, Bintauna, Kaidipang, kadang-kadang disebut Bolaang, atau
Bolaang Itang, dan Bolaang Uki. Mongondow, atau Bolaang Mongondow,
Subsuku bangsa tersebut pada umumnya di mana yang dimaksud adalah warga dari
terkonsentrasi pada wilayah kecamatan ke lima subsuku bangsa tersebut di atas.
tertentu; subsuku bangsa Mongondow, Sebaliknya dalam kedudukannya sebagai
yang jumlahnya paling besar, tersebar kerajaan ke lima kelompok itu tampil
pada 11 kecamatan; Bintauna di daerah dengan nama tersendiri. Dalam deskripsi
pesisir utara; Kaidipang di Kecamatan ini Bolaang Mongondow itu dipakai
Kaidipang; Bolaang Itang di Kecamatan sebagai nama suatu gabungan dari sub
Bolaang Itang dan sebagian Kecamatan kelompok tadi dengan lebih melihat ciri-
Sangtombalang; Bolaang Uki di ciri umum budayanya yang menyebabkan
bisa di lihat sebagai satu kelompok

28

ENSIKLOPEDIA SUKU, SENI DAN BUDAYA NASIONAL

Bolaang MONGONDOW

http://gmibm.tripod.com

Kabela yang dihiasi motif daun pada masyarakat Bolaang Mongondow.

etnik. Dalam hal yang khusus setiap sub daerah ini terdapat dataran rendah yang
kelompok itu akan dilihat secara terpisah. luas, yang dialiri sungai-sungai seperti
sungai Ongkang Dumoga, Mongondow,
Ketika Belanda datang ke daerah ini, Ayong, Sangkub. Di sana-sini mencuat
orang Bolaang Mongondow terhimpun gunung-gunung dengan ketinggian di
dalam empat kerajaan, masing-masing atas 1.500, seperti gunung Batu Bulawan,
Kerajaan Bolaang Mongondow, Bintauna, Gambuta, Poniki, Paupau, dan dikenal
Bolaang Itang, dan Kaidipang. Pada tahun dengan nama Dumaga Bone. Kawasan
1962 di pesisir selatan terdiri kerajaan seluas 167.338 ha itu terbagi menjadi
baru Bolaang Uki, yakni masyarakat suaka margasatwa Dumoga (93.500 ha),
dari Gorontalo yang menyingkir karena cagar alam Balawa (75.200 ha), dan
berselisih dengan Belanda. Pada tahun cagar alam Gunung Ambang (8.638 ha).
1910 Kerajaan Bolaang Itang bergabung Kehadiran taman nasional, di Sulawesi
dengan Kerajaan Kaidipang dan Utara umumnya dan dilain-lain.
membentuk Kerajaan Kaidipang Besar.
Semua kerajaan itu bertahan sampai Kabupaten ini pun memiliki Taman
tahun 1950. Nasional di daerah Bolaang Mongondow
serta Gorontalo khususnya, merupakan
Lingkungan Alam. Masyarakat upaya mengatasi penurunan masalah
Bolaang Mongondow ini hidup di tengah lingkungan akibat terganggunya ekosistem
suatu daerah dengan topograsi ketinggian vegetatif maupun semakin langkanya
yang bervariasi antara 500-2.000 meter fauna endemik yang hidup di kawasan
di atas permukaan laut. Di bagian tengah

29

ENSIKLOPEDIA SUKU, SENI DAN BUDAYA NASIONAL

Bolaang MONGONDOW

ini. Beberapa satwa khas Sulawesi, yang belum diterbitkan, oleh F.E.W.
yang dapat ditemukan di kawasan ini, Parengkuan dan L.L. Ticoalu Peta Suku
misalnya anoa (Bubalus deppresicornis dan Bangsa dan Deskripsi Kebudayaan Provinsi
Bubalus quarlesi), kera Sulawesi (Macaca Sulawesi Utara (Departeman Pendidikan
nigrescens), dan kuskus (Phaalanger dan Kebudayaan, 1984), pertambahan ini
kursinus) yang merupakan golongan antara lain disebabkan banyaknya masuk
satwa golongan mamalia. Satwa reptilia anggota masyarakat dari luar daerah
yang dikenal di daerah ini, misalnya ini, misalnya dari daerah Minahasa,
ular cobra dan jaring cobra (Naja raja Gorontalo, Sangir, Talaud, Bugis,
dan Naja Hannah), ular ekor merah transmigran dari Jawa dan Bali. Orang
(Nmaticora intestinalis) dan ular balap Minahasa, Gorontalo, dan Sangir memang
(Lycodon Sp). Selain itu terdapat burung merupakan tetangga secara geografis.
Maleo (Macroceaphalon maleo) yang Kehadiran orang Minahasa antara lain
merupakan burung khas Sulawesi, soa-soa karena pembukaan perkebunan kelapa
(Hydrosaurrus ambonensis). Satwa lainnya di Kecamatan Pasi, perkebunan kopi
adalah babi hutan, rusa, burung nuri, di Kecamatan Modayang, dan lain-
gagak, kakaktua, enggang, buaya, biawak, lain. Kini orang Minahasa ada di 15
dll. Hutannya ditumbuhi berbagai jenis kecamatan dalam kabupaten ini, bahkan
kayu tropis, misalnya meranti, kayu hitam, di Kecamatan Poigar, mereka menjadi
kayu besi, cempaka, rotan, bambu, bakau, mayoritas (60%).
dan lain-lain.
Orang Gorontalo telah mulai masuk
Demografi. Gambaran tentang ke daerah ini sejak abad ke 19 yang lalu.
jumlah anggota masyarakat Bolaang Mereka banyak berdiam di Kecamatan
Mongondow hanya dapat diketahui Kaidipang dan Bolaang Uki yang
secara lebih tepat adalah dari sensus berbatasan dengan daerah Gorontalo.
penduduk tahun 1930, yaitu sebesar Di sana mereka umumnya hidup sebagai
58.815 jiwa. Data kependudukan pada petani. Dengan dibukanya jalan Trans
masa berikutnya tidak lagi memperhatikan Sulawesi, orang Gorontalo lebih banyak
etnisitasnya. Dengan demikian angka lagi yang pindah ke daerah kabupaten ini
tentang penduduk daerah ini merupakan bahkan ke daerah Minahasa.
campuran dari berbagai latar belakang
etnik, misalnya jumlah penduduk Orang Sangir dan Talaud mulai
kabupaten ini menurut sensus tahun masuk ke daerah ini sejak meletusnya
1961 adalah 150.217 jiwa, tahun 1971 gunung api di pulau Siau pada tahun
berjumlah 211.359 jiwa, tahun 1980 1892. Pada mulanya mereka lebih banyak
berjumlah 299.696 jiwa, tahun 1988 berdiam di daerah pantai untuk dapat
telah menjadi 354.253 jiwa. Sejak adanya melanjutkan kebiasaan dalam mata
pemekaran wilayah, jumlah penduduk pencaharian sebagai pelaut. Kini mereka
Kabupaten Bolaang Mongondow pun ada pada 11 dari 15 kecamatan yang
terbagi. Jumlah penduduk Kabupaten ada di kabupaten ini. Transmigran Bali,
Bolaang Mongondow, 301.099 jiwa, mulai masuk ke daerah ini pada tahun
Kabupaten Bolmong Utara, 100.365 1963, yang merupakan transmigran bedol
jiwa, untuk wilayah kabupaten Bolmong desa karena melatusnya gunung Agung
Selatan dan Bolmong Timur blm diketahui di pulau Bali. Transmigran dari Jawa
jumlah penduduknya karena pemekaran dan juga dari Bali menyusul lagi pada
baru diresmikan akhir tahun 2008. tahun 1972 dan tahun-tahun berikutnya.
Keberhasilan transmigrasi itu, terutama
Data penduduk di atas menunjukkan yang dialami transmigran Bali, telah
pertambahan jumlahnya yang relatif mengundang transmigran swakarsa ke
besar. Seperti terungkap dalam laporan daerah ini. Antara masyarakat setempat

30

ENSIKLOPEDIA SUKU, SENI DAN BUDAYA NASIONAL

Bolaang MONGONDOW

dan pendatang telah mengembangkan penduduk dan adanya pendatang dari
hubungan yang cukup baik. luar yang juga mengolah sektor pertanian,
lahan menjadi sempit. Oleh karena itu
Mata Pencaharian. Sesuai dengan sistem perladangan berpindah-pindah
keadaan alamnya, orang Bolaang mulai ditinggalkan. Di antara mereka
Mongondow pernah mengembangkan banyak yang beralih menjadi petani
mata pencaharian berladang berpindah- sawah atau merangkap sebagai petani
pindah. Sistem perladangan itu dilakukan ladang. Pekerjaan sampingan lainnya
dengan cara merambah hutan primer, adalah menangkap ikan, mengumpulkan
yang disebut manalun, dan menggarap hasil hutan, membuka kios, dan lain-
belukar bekas ladang yang disebut lain. Banyak pula yang menjadi pegawai
mamarut jurame. Seperti pola kegiatan negeri, militer, buruh, tukang, dan lain-
sistem perladangan, tahap-tahap aktivitas lain. Dalam pengolahan lahan pertanian
perladangan dimulai dengan menandai mereka telah lama mengenal sistem
areal, membersihkan belukar di bawah kerja sama, baik di tingkat keluarga inti,
pohon, menebang pohon, memotong keluarga luas, atau tingkat desa. Tolong
dahan dan meratakan hamparan, menolong juga diwujudkan bila ada orang
membakar, membersihkan ladang yang sakit, meninggal dunia, mengadakan
sudah dibakar, menanam, menyiangi, perkawinan, atau mendirikan rumah
dan panen. Tahap-tahap pekerjaan ini baru. Pertolongan diberikan dalam bentuk
ada yang dilakukan dengan pengerahan barang, hasil pertanian, uang, dan tenaga.
tenaga orang lain yang disebut posad atau
mododuluan. Di ladang ini ditanami padi Daerah ini juga mempunyai potensi
sebagai tanaman utama, di samping ada besar dengan adanya deposit mineral
tanaman selingan palawija. Kemudian tambang emas yang sudah diusahakan
tanaman padi sebagai tanaman utama rakyat sejak zaman Belanda. Usaha
digantikan oleh kedele karena secara rakyat diikuti oleh pemerintah Belanda
ekonomis lebih menguntungkan dari yang pada tahun 1934 1936 melakukan
pada padi. Rasionalitas ekonomis ini penambangan dengan peralatan yang
tidak semata-mata berpatokan pada nilai maju menurut ukuran zaman itu.
uang bila dipasarkan, tetapi juga jumlah Batangan-batangan emas itu diangkut ke
panen dalam setahun serta intensitas negeri Belanda dan terhenti karena pecah
pemeliharaannya. Perang Dunia II. Pada periode-periode
berikutnya rakyat kembali meneruskan
Bekas ladang yang sudah ditinggalkan usaha itu sebagai salah satu alternatif
selama 2-3 tahun dikerjakan lagi untuk untuk mata pencaharian. Kawasan
ladang. Pekerjaan mamarut jurame jauh pencarian emas itu semakin meluas dan
lebih mudah dan lebih cepat dari pada orang memilih usaha itu karena kegagalan
merambah hutan tadi. Jenis pekerjaan dalam pertanian karena kemarau dan
yang dilakukan adalah membabat semak lain-lain. Namun pada masa terakhir
belukar, membakar, membersihkan sisa- ini muncul lagi teknologi tromol, jenis
sisa belukar yang tidak habis dimakan api. alat pemrosesan batu yang mungkin
Di sini pun mereka menanam padi dan mengandung emas, yang menganut hasil
tanaman selang seperti kacang-kacangan. penambangan itu bagi pemilik modal
Areal itu ada yang sudah ditanami dengan (Suara Pembaruan, 28-3-1989).
tanaman kopi, kelapa, atau cengkeh. Oleh
sebab itu waktu pembakaran rumputnya Kekerabatan. Orang Bolaang
harus hati-hati (lihat Sophia Ulaen- Mongondow mengenal bentuk-bentuk
Hoetagaol, Manalun dan Mamarut Jurame, kelompok kekerabatan. Kelompok
Jakarta, UI., Tesis, 1985). kekerabatan yang terkecil adalah keluarga
inti (tonggolaki). Kelompok kekerabatan
Dengan berkembangnya jumlah

31

ENSIKLOPEDIA SUKU, SENI DAN BUDAYA NASIONAL

Bolaang MONGONDOW

yang lebih besar (tonggoabuan), terdiri memberikan sesuatu yang sama kepada
atas keluarga inti senior, anak-anak yang anak kandung, anak angkat, dan anak tiri.
sudah kawin, dan kakek nenek mereka. Tonggama adalah pemberian anak kepada
Kelompok kerabat lain yang lebih besar orang tua tanpa pamrih. Luatton artinya
disebut motouadi yang anggotanya secara adat seseorang menarik kembali
meliputi saudara sekandung, saudara ucapan yang telah terlanjur menyinggung
sepupu pihak ayah dan ibu, paman dan perasaan orang lain sambil meminta maaf
bibi dari pihak ayah dan ibu. Sistem secara ikhlas.
penarikan garis keturunan adalah
bilateral, artinya, hubungan kerabat Agama dan Kepercayaan Asli.
dihitung melalui garis laki-laki dan Anggota suku bangsa Bolaang
perempuan. Sistem ini berpengaruh pada Mongondow umumnya memeluk agama
pemberian warisan. Pada masyarakat Islam. Ajaran agama Islam masuk ke
Bolaang Mongondow, baik laki-laki daerah ini sejak tahun 1660, sedangkan
maupun perempuan mendapat bagian ajaran agama Kristen masuk tahun 1904.
warisan yang sama besar. Pada tahun 1976, pemeluk agama Islam di
daerah ini berjumlah 189.810 jiwa (79,44
Hubungan baik, kerja sama, tolong- persen), Protestan 44.941 jiwa (18,81
menolong merupakan nilai yang persen), Katolik 2.654 jiwa (1,11 persen),
tinggi dalam lingkungan kerabat dan dan Budha 1.524 jiwa (0,64 persen).
komunitas orang Bolaang Mongondow.
Prinsip tolong-menolong di lingkungan Upacara daur hidup lebih banyak
kerabat tidak terikat oleh adanya jasa bersandar pada ajaran agama Islam,
atau pamrih, melainkan dilandasi oleh meskipun sistem kepercayaan leluhur
perasaan kekeluargaan yang mewajibkan di sana-sini masih tersisa. Seorang
semua anggota saling menolong. wanita hamil pernah dikenal pantangan-
Prinsip itu tercermin dalam berbagai pantangan, misalnya tidak boleh duduk di
aktivitas. Tonggolipu adalah kewajiban tangga yang menghadap jalan raya, tidak
yang didasarkan pada kesadaran untuk boleh memasukkan kayu bercabang ke
menyumbangkan tenaga, pikiran dalam api, keluar rumah pada senja dan
atau materi terhadap warga lainnya malam hari harus pakai kudung, tidak
yang sedang menyelenggarakan pesta boleh mandi waktu magrib, dan lain-lain.
perkawinan atau upacara berkabung, Namun ketika seorang bayi laki-laki lahir
membersihkan tempat ibadah, harus dibacakan azan, iqamah bagi bayi
membersihkan kuburan, dan lain-lain. perempuan, sesuai dengan ajaran Islam.
Posad adalah menolong orang lain yang Kelahiran bayi pertama diadakan upacara
sedang membuat rumah, membersihkan makan bersama (babato in lipu) dengan
kebun, dan lain-lain. Popogutat adalah mengundang iman dan tua-tua desa,
menolong kerabat terdekat dalam mengadakan selamatan dan membaca
kedukaan, pekerjaan dalam perkawinan, ayat-ayat Qur’an. Anak-anak diserahkan
dan lain-lain. Lolongoan adalah kewajiban kepada guru mengaji untuk dapat dan
menjenguk kerabat yang sedang sakit. mahir mengaji Qur’an. Demikian ada
Tonggadi artinya seorang ayah harus contoh lain tentang keterkaitan adat-
istiadat dengan kaidah agama Islam.

Rujukan: 1984 Peta Suku Bangsa dan Deskripsi
Kebudayaan Provinsi Sulawesi Utara, Departemen
Hoetagaol, S.U. Pendidikan dan Kebudayaan.
1985 Manalun dan Mamarut Jurame, Tesis,

Universitas Indonesia, Jakarta.
Parengkuan, F.E.W. dan Ticoalu, L.L.

32

ENSIKLOPEDIA SUKU, SENI DAN BUDAYA NASIONAL

BOLAANG UKI

BOLAANG UKI, ORANG merupakan pasti jumlah penduduk Bolaang Uki
salah satu kelompok sosial yang berdiam saat ini. Mereka menggunakan bahasa
di Kecamatan Bolaang Uki, termasuk atau dialek yang disebut Bolango atau
bagian dari wilayah administratif Molibagu. Mereka ini adalah orang-
Kabupaten Bolaang Mongondow, orang dari Kerajaan Bolango yang
Provinsi Sulawesi Utara. Sejak tahun berkedudukan di daerah Gorontalo, yang
2008, Bolaang Uki merupakan ibukota kemudian menyingkir ke daerah Bolaang
dari Kabupaten Bolaang Mongondow Mongondow pada tahun 1862, karena
(Bolmong) Selatan. Kecamatan ini terletak berselisih dan tidak mau tunduk pada
di pesisir selatan Teluk Tomini, yang kekuasaan Belanda. Di tempat yang baru
berbatasan dengan Kabupaten Gorontalo. ini mereka mendirikan kerajaan lagi yang
Jumlah orang Bolaang Uki tidak diketahui bernama kerajaan Bolaang Uki, di mana
secara tepat, namun mereka terutama sekarang kerajaan itu sudah tidak ada
berdiam di Kecamatan Bolaang Uki lagi. Konon kerajaan itu masih ada sampai
yang penduduknya sekitar 20.500 jiwa dengan tahun 1950.
pada tahun 1986. Belum diperoleh data

BOLO-BOLO, TARI. Berasal dari BOLO-BOLO, TARI
daerah Karo, ditarikan oleh 3 pasang
penari yang terdiri dari pria dan wanita.

BONAI adalah salah satu suku BONAI
asli yang tinggal di kecamatan Bonai
Darussalam, Kabupaten Rokan Hulu, pusat. Untuk memperoleh pendidikan,
Provinsi Riau. Mereka terbilang masih orang-orang Bonai terpaksa harus
terbelakang dan terasing karena belum keluar dari wilayah mereka atau tidak
adanya pembinaan dari pemerintahan meneruskannya. Jumlah dari suku ini
tidak diketahui secara pasti.

BONDAN, TARI

BONDAN, TARI, merupakan tarian wanita dengan menggendong boneka
tradisional dari daerah Surakarta yang mainan dan payung terbuka, kemudian
merefleksikan seorang ibu yang sedang menari dengan hati-hati di atas kendi
menjaga anak-anaknya dengan hati-hati. yang diinjak dan tidak boleh pecah.
Tarian ini dimainkan oleh seorang anak

33

ENSIKLOPEDIA SUKU, SENI DAN BUDAYA NASIONAL

BOORGO

BORGO, ORANG salah satu golongan umumnya. Kebebasan itu mereka peroleh
penduduk yang merupakan bagian dari sampai dengan tahun 1919. Pada tahun
suku-bangsa Minahasa, berdiam di daerah 1921 jumlah mereka tercatat sebanyak
Minahasa, Provinsi Sulawesi Utara. Pada 11.516 jiwa.
masa lalu mereka banyak berdiam di
kota Manado, Kema, Tanawangko, dan Sekarang golongan ini tidak tampak
Amurang. Mereka ini pada mulanya lagi, karena mereka sudah mengidentikasi
merupakan golongan peranakan dari sebagai orang Minahasa umumnya. Di
orang-orang Eropa, yaitu Belanda, Portugis, sekitar kota Manado, mereka terasimilasi
dan Spanyol. Nama “borgo” itu berasal sebagai orang Manado. Bahasa Melayu
dari kosakata bahasa Belanda: burger, dan Manado sendiri terbagi atas tiga dialek,
mereka disebut Vrijburgers yaitu “orang yaitu dialek Melayu Pantai, Melayu
bebas”. Di daerah Maluku, mereka disebut Gunung, dan Melayu Kota. Dialek yang
“orang Burugur” atau “orang Borgor”. disebut pertama yang dipakai oleh orang-
Mereka ini pernah mendapat hak istimewa orang sekitar pantai terutama di kalangan
dari pemerintah Belanda untuk tidak orang-orang Borgo. Di tempat lain
usah membayar pajak, tidak seperti yang mereka telah membaur dengan kelompok
diwajibkan kepada orang-orang Minahasa lain, misalnya menjadi orang Tombulu,
Tontemboan, dan Tonsea.

BORTO

BORTO, ORANG adalah satu kolektifa
yang daerah asalnya adalah di hulu
sungai Tor. Sungai ini bermuara di
pantai utara dalam wilayah Kabupaten
Jayawijaya, Provinsi Papua. Pada tahun
1959 sekelompok orang Borto menghilir
menyusuri aliran sungai tadi dan sampai
di daerah pantai. Migrasi berbagai
kelompok masyarakat pedalaman
semacam ini sudah berlangsung sejak
sekitar satu abad sebelumnya. Latar
belakang terjadinya migrasi ini antara lain
karena kekurangan bahan makanan, atau
karena konflik dengan kelompok lain.

Di daerah asalnya, mereka hidup dari
meramu dan berburu. Setibanya di daerah
pantai kebetulan mereka diberi tanah dan
hutan sagu oleh orang-orang desa Tromta.

(Dinas Pariwisata Irja)

Profil “prajurit” yang akan pergi “berperang” di
Irian Jaya.

34

ENSIKLOPEDIA SUKU, SENI DAN BUDAYA NASIONAL

BORTO

Tanah tadi digunakan untuk berkebun dan dengan cara berburu dan meramu. Yang
hutan sagu diambil sagunya sebagai bahan dilukiskan di atas adalah keadaan sekitar
makanan. Di sini mereka mendirikan desa tiga dasawarsa yang lalu, sedangkan
dan desa itu dinamakan desa Srum. Kalau keadaan pada masa terakhir belum
di sini mereka kehabisan bahan makanan dapat diketahui lagi. Populasinya saat ini
maka mereka kembali lagi mencari makan diperkirakan hanya sekitar 33 jiwa.

BOTI

BOTI, ORANG berdiam di Desa Boti berasal dari pemerintah, asal tidak
yang termasuk wilayah Kabupaten Timor bertentangan dengan adat seperti tersebut
Tengah Selatan, Provinsi Nusa Tenggara di atas. Mereka sangat menghargai prinsip
Timur. Sementara pihak menggolongkan musyawarah dan menghormati kepala
orang Boti sebagai kelompok “masyarakat adat mereka. Dalam berbagai upacara
terasing”. Pada tahun 1991 jumlah mereka adat mereka masih menggunakan mata
2.180 jiwa, yang terbagi menjadi 959 laki- uang Belanda (gulden), misalnya dalam
laki dan 1.121 perempuan. Keseluruhan rangka upacara perkawinan dan upacara
jumlah tersebut merupakan bagian kematian.
dari anggota 458 KK. Dengan demikian
setiap keluarga (KK) memiliki anggota (TMII)
yang relatif kecil. Populasinya saat ini
diperkirakan sebanyak 2.807 jiwa, yang Keanggunan busana Nusa Tenggara Timur
terbagi atas Boti Dalam dan Boti Luar.

Pada masa lalu, jumlah anak dari
setiap keluarga inti rata-rata lima orang.
Pada masa kini jumlah anak tampak
menjadi berkurang. Para prinsipnya
mereka sepakat dengan proyek Keluarga
Berencana (KB), asal pelaksanaannya
tidak bertentangan dengan norma adat
mereka. Mereka berpendirian bahwa
keluarga kecil menjadi salah satu faktor
untuk menciptakan kerukunan di dalam
rumah tangga; sebaliknya, memiliki
banyak anak merupakan beban keluarga.
Pelaksanaan “KB” dilakukan dengan
cara mereka sendiri, yaitu dengan doa
kepada leluhur agar kelahiran dan jumlah
anak mereka dijarangkan sesuai dengan
yang diinginkan. Upacara berdoa itu
dilaksanakan oleh satu keluarga yang
diikuti oleh keluarga-keluarga lain dan
dipimpin oleh kepala adat.

Secara umum mereka dapat menerima
berbagai program pembangunan yang

35

ENSIKLOPEDIA SUKU, SENI DAN BUDAYA NASIONAL

BRAZZA

BRAZZA adalah salah satu sub suku membedakannya adalah bagian kepala
dari suku Asmat yang tinggal di sekitar ukiran tersebut selalu terpisah dari badan.
Sungai Brazza, Papua. Suku ini terkenal Jumlah populasinya saat ini diperkirakan
dengan hasil seninya. Gaya seninya hanya sekitar 50 jiwa (2000)
sangat berbeda dengan yang lain. Yang

BUGIS

BUGIS merupakan salah satu suku “Pandangan Hidup dan Kepemimpinan
bangsa asal di jazirah selatan Pulau Masyarakat Bugis Asli” dan Mattulada
Sulawesi. Daerah yang kini merupakan menulis “Kepemimpinan Pada Orang
wilayah Provinsi Sulawesi Selatan itu Makassar”.
terbagi atas 21 Kabupaten, dan orang
Bugis sendiri berdiam di Kabupaten Bahasa. Orang Bugis juga memang
Bulukumba, Sinjai, Bone, Soppeng, mempunyai bahasa sendiri, yaitu bahasa
Sidenreng-Rappang, Polewali-Mamasa, Bugis, yang termasuk keluarga bahasa
Luwu, Pare-pare, Barru, Pangkajene, Autronesia Barat. Bahasa ini masih
dan Maros. Daerah Pangkajene dan bisa dibagi atas beberapa dialek, yaitu
Maros merupakan daerah peralihan yang dialek Luwu, Wajo, Palakka, Enna,
juga didiami oleh anggota suku bangsa Soppeng, Sidenreng, Pare-pare, Sawitto,
Makassar. Telumpanuae, dan Ugi. Kosa kata bahasa
Bugis telah dituangkan dalam sebuah
Nama. Kedua suku bangsa tersebut di kamus yang disusun oleh M. Ide Said DM,
atas sering disatukan menjadi satu nama, Kamus Bahasa Bugis - Indonesia. Suatu
yaitu Bugis-Makasar. Penyatuan seperti itu penelitian lain tentang morfologi bahasa
biasa dinyatakan oleh penulis atau pakar- Bugis telah dihasilkan oleh Muhammad
pakar asing di masa lalu dan juga oleh Sikki, Morfologi Nomina Bahasa Bugis.
penulis atau pakar dari masa yang lebih Orang Bugis juga mempunyai tulisan
akhir. Kita melihat Raymond Kennedy yang disebut aksara lontara, yaitu sistem
dalam Bibliography of Indonesian Peoples huruf yang berasal dan huruf Sansekerta.
and Cultures menuliskan Macassarese- Sejak abad ke-17, setelah Islam masuk,
Buginese menjadi salah satu kelompok mereka juga menggunakan huruf Arab
etnik dalam rangka menyusun daftar (aksara serang). Penutur bahasa Bugis ini
bibliografi kelompok-kelompok etnik, diperkirakan sebanyak empat juta penutur.
di Sulawesi. Dari masa yang lebih akhir,
Hamid Abdullah menulis bukunya Lingkungan Alam. Wilayah
Manusia Bugis Makasar; dan Mattulada pemukiman orang Bugis ada yang berupa
mengenai “Manusia dan Kebudayaan dataran rendah, daerah perbukitan, dan
Bugis-Makassar”. Bugis dan Makassar daerah pegunungan. Dataran rendah
sesungguhnya dua kelompok etnik ada di bagian selatan, seperti di daerah
yang masing-masing memiliki variasi Sidenreng-Rappang, Wajo, Polewali-
budaya meskipun juga memang banyak Mamasa, dan Pinrang. Lingkungan
persamaannya. Buktinya kedua penulis pegunungan yang diselingi hamparan
terakhir ini pernah menulis karangan sawah terdapat di daerah Sidrap dan
tentang keduanya secara terpisah, Maros. Daerah-daerah ini merupakan
misalnya Hamid Abdullah menulis daerah yang subur. Daerah ini kaya juga
dengan kandungan mineral, seperti bijih

36

ENSIKLOPEDIA SUKU, SENI DAN BUDAYA NASIONAL

BUGIS

NET

Pinisi adalah
Kapal laut yang
terkenal dari
Bugis.

tembaga, batu bara, emas, bijih nikel, berbagai anggota masyarakat lain sebagai
minyak tanah, dan lain-lain. Sebagian unsurnya. Kehadiran orang-orang Bugis,
terbesar dari kawasan pemukiman orang Makassar, orang Melayu di daerah
Bugis ini merupakan kawasan hutan. Jembrana, Pulau Bali, pada abad ke-17
yang lalu, telah melahirkan komunitas
Demografi. Jumlah orang Bugis tidak Loloan. Orang Bugis juga menjadi
dapat diketahui dengan pasti, termasuk penyebar agama Islam di Pulau Alor, Nusa
dalam data Sensus Penduduk 1930 yang Tenggara Timur.
memperhatikan identitas kesukubangsaan.
Dalam sensus tersebut orang Bugis dan Bukti sifat kebaharian itu dapat dilihat
Makassar disatukan dan jumlahnya dari daya jelajah mereka dengan perahu-
tercatat sekitar 2,5 juta jiwa. Dalam perahu pinisinya. Bukti keperantauan atau
tulisan Mattulada diperkirakan jumlah mobilitasnya dapat dilihat dengan adanya
orang Bugis tahun 1969 sebesar 3,5 juta kelompok-kelompok mereka, misalnya
jiwa, di antara 5.643.067 jiwa penduduk di Provinsi Kalimantan Timur, Provinsi
yang berdiam dalam 23 kabupaten / kota Riau, dan lain-lain. Hasil penelitian
madya di Sulawesi Selatan. Orang Bugis tim Direktorat Jenderal Kebudayaan,
sendiri sebagian terbesar bermukim dalam Departemen Pendidikan Kebudayaan
14 wilayah kabupaten seperti tersebut di tentang porsi suku bangsa menunjukkan
atas. orang Bugis terdapat di semua kabupaten
dan kota madia di Provinsi Kalimantan
Jumlah orang Bugis terlihat semakin Timur. Dari 30 kecamatan di Kabupaten
kurang, karena kini mereka tidak saja Kutai, orang Bugis terdapat pada 24
berdiam di daerah asalnya di Sulawesi kecamatan, yang jumlahnya bervariasi
Selatan, melainkan juga tersebar di antara 1-90 persen, misalnya Kecamatan
berbagai wilayah Indonesia. Mereka Muara Badak (90 persen), Kecamatan
dikenal sebagai masyarakat perantau, Bontang (60 persen), Kecamatan Long
masyarakat dengan mobilitas tinggi, Iram (20 persen), dan kecamatan lainnya
dan masyarakat bahari yang sudah antara 1-8 persen.
berlangsung sejak berabad-abad yang lalu.
Di mana-mana di Nusantara ini ditemukan Orang Bugis juga ada dalam semua
komunitas-komunitas Bugis. (10) kecamatan yang terdapat di
Kabupaten Pasir, yaitu antara 6-20 persen.
Berbagai sumber menunjukkan bahwa Lima kecamatan yaitu kecamatan Tanah
orang Bugis menjadi salah satu unsur Grogot, Long Kali, Long Ikis, Waru, dan
yang melahirkan masyarakat Betawi, Tajung Aru (ketika masih tergabung dalam
sebagai suatu hasil asimilasi dengan

37

ENSIKLOPEDIA SUKU, SENI DAN BUDAYA NASIONAL

BUGIS

wilayah Kabupaten Pasir), masing masing NET
didiami oleh 20 persen orang Bugis. Di
Kecamatan Kuaro terdapat 15 persen dan Pakaian pernikahan adat tradisional Bugis.
yang lainnya antara 6-10 persen orang
Bugis. Enam dari tujuh kecamatan dalam hasil-hasil teknologi tradisional, serta
Kabupaten Berau didiami oleh orang Bugis konsepsi-konsepsi budaya. Orang Bugis
yang jumlahnya bervariasi antara 2-60 dan Makassar mengenal sebuah epos
persen. Jumlah orang Bugis yang terbesar besar bernama Sure’ Galigo, yaitu sastra
(60 persen) terdapat di Kecamatan lisan yang berkembang di lingkungan
Talisayan, sedangkan di kecamatan istana Kerajaan Bugis dan Kerajaan
lainnya berjumlah antara 2-3 persen. Di Makassar.
antara 11 kecamatan dalam Kabupaten
Bulungan, orang Bugis terdapat pada Epos ini bermula dari turunnya Batara
delapan kecamatan dengan jumlah 1-30 Guru dari langit untuk menghuni bumi.
persen. Kecamatan Lumbis dan Kecamatan Batara Guru adalah putra To-PalanroE
Nunukan masing masing didiami oleh 30 atau “Yang Maha Pencipta”. Batara Guru
persen orang Bugis; Kecamatan Tarakan pertama kali menjejakkan kakinya di bumi
dan Sesayap masing-masing 25 persen dan adalah di daerah Tana Luwu. Di bumi ia
20 persen, sedang yang lainnya antara kawin dengan We-Nyili’ Timo, yaitu putri
1-2 persen. Kota Madia Samarinda juga dari pertiwi (dunia bawah). Pasangan
didiami oleh orang Bugis dalam jumlah ini kemudian melahirkan seorang putra
cukup besar, misalnya 70 persen dan yang diberi nama Batara Lattu. Batara
75 persen masing-masing di Kecamatan Lattu kemudian kawin dengan We Opu
Samarinda dan Kecamatan Muara Jawa. Sengeng, yang dikisahkan melahirkan
Di Kecamatan Semboja mereka berjumlah anak kembar. Anak kembar ini terdiri atas
30 persen dan di empat kecamatan seorang laki-laki bernama Sawerigading
lainnya masing-masing 10 persen, 8 dan seorang anak perempuan bernama We
persen, 7 persen, dan 2 persen. Secara Tenriabeng.
keseluruhan, saat ini jumlah suku Bugis di
Kalimantan Timur sekitar 18,26 persen. Kedua anak kembar tersebut
ditinggalkan di bumi oleh orang tuanya,
Di Provinsi Riau mereka lebih dan orang tua itu terbang kembali ke
terkonsentrasi di kecamatan-kecamatan
pantai timur bagian selatan yang termasuk
wilayah Kabupaten Indragiri Hilir. Mereka
terutama tersebar dalam lima kecamatan
yang jumlahnya antara 5-91 persen.
Kecamatan yang dominan (91 persen)
dihuni oleh orang Bugis adalah Kecamatan
Reteh. Yang juga cukup besar adalah
jumlah mereka di Kecamatan Kateman
(26,5 persen), Kecamatan Enok (22,2
persen), dan Kecamatan Gaung Anak (5
persen).

Latar Belakang dan Asal-usul.
Latar belakang sejarah orang Bugis
khususnya dan masyarakat Sulawesi
Selatan umumnya ditandai oleh sebuah
epos, bukti-bukti peninggalan dari jaman
prasejarah, tulisan pada lontar (lontara),

38

ENSIKLOPEDIA SUKU, SENI DAN BUDAYA NASIONAL

BUGIS

langit. Setiap anak diberi mahligai di Watampone. Hasil rekaman itu kemudian
tempat yang berjauhan satu sama lain. diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.
Letak yang berjauhan itu menyebabkan
yang satu tidak lagi mengenal yang lain Ketika Dewa tadi kembali ke langit,
sebagai saudara. Pada masa remajanya, kerajaan-kerajaan di bumi dikendalikan
dalam suatu perjalanan berkeliling di Tana oleh orang yang ada di bumi dan
Luwu, Sawerigading bertemu dengan We terjadilah kekacauan. Karena itu turunlah
Tenriabeng dan timbul hasratnya untuk To-manurung yang menjelma menjadi
mempersuntingnya. We Tenriabeng, penguasa di kerajaan-kerajaan Luwu,
akhirnya mengetahui bahwa Sawerigading Gowa, Bone, Soppeng, Bacukiki, dan
itu saudaranya, lalu menyarankan agar Wajo. Bone adalah salah satu kerajaan
saudara sepupunya itu meminang saudara Bugis yang tua.
sepupu lainnya yang cantik jelita bernama
We Cudai di Negeri Cina. Sawerigading Jaman prasejarah Sulawesi Selatan
pun berangkat ke Negeri Cina dan telah meninggalkan karya-karya nenek
mempersunting We Cudai. Pasangan moyang bangsa Indonesia yang amat
ini menurunkan tiga orang anak, yang berharga bagi ilmu pengetahuan.
salah seorang diberi nama La Galigo. La Peninggalan itu antara lain berupa
Galigo tidak diberi warisan menduduki lukisan-lukisan di dinding-dinding
singgasana. Dewata mengaruniainya gua (leang) di Kabupaten Maros dan
kemahiran dan kebijakan dalam dunia Kabupaten Pangkep. Peninggalan itu telah
kesusastraan. Akhirnya ia menciptakan banyak dicatat dan diteliti oleh para ahli,
karya sastra yang besar yang menjadi baik tentang lokasinya maupun macam-
pokok kebijaksanaan dan adat istiadat macam lukisannya. Gua-gua hunian
bernama Sure’ Galigo. prasejarah di Maros itu terkonsentrasi di
daerah yang sekarang menjadi wilayah
Dalam Sure’ Galigo ini terangkai Kecamatan Bantimurung dan Kecamatan
syair-syair yang mengandung makna Camba, yaitu di desa-desa Kalabbirang,
sangat dalam dan kebijaksanaan sangat Je’ne Taesa, Tukamasea, dan Telupamae.
tinggi. Ia menuliskan peraturan dan Di Kabupaten Pangkep gua-gua itu
ketentuan dalam Kerajaan Sawerigading. terdapat di Kecamatan Bollaci’ Baru,
Menurut kepercayaan lama orang Bugis Kecamatan Minasata’ne, dan Kecamatan
dan Makassar, Sure’ Galigo adalah tajuk Pangkaje’ne. Di Kecamatan Maros terdapat
kesusastraan Sulawesi Selatan yang tidak kurang dari 20 buah gua, dan
dijadikan pandangan hidup selama Pangkep tidak kurang dari 10 buah gua.
matahari dan bulan masih bersinar.
Lukisan dinding gua tersebut
Sure’ Galigo, sastra lisan yang memperlihatkan bermacam-macam wujud
berbentuk syair, itu dikumpulkan oleh atau motif, seperti cap tangan (hand
Dr. B.F. Mates, dan kemudian diterbitkan stencil), babi-rusa, cap kaki (foot stensil),
menjadi tiga jilid setebal lebih dari motif perahu, binatang melata, figur
7.000 halaman dengan judul Boeginesche manusia, motif geometris, ikan. Lukisan
Chrestomathie. R. Kern yang telah itu dilukis dengan warna merah, hitam,
menerbitkan La Galigo itu berpendapat dan putih. Para ahli memperkirakan,
bahwa buku syair ini merupakan yang warna merah adalah warna yang lebih
terbesar dalam kepustakaan dunia. Akhir- tua, kemudian hitam dan putih. Warna
akhir ini, Prof. Dr. Mattulada bersama itu sudah bertahan dalam rentang waktu
Abu Hamid berhasil merekam kembali yang sudah cukup lama.
Sure’ Galigo yang bersumber pada Passure’
Galigo bernama Matoa Mangangke Lukisan-lukisan ini cenderung lebih
dari desa Ujung sebelah barat kota mengemban makna religi daripada
ekspresi keindahan. Lukisan cap jari,
misalnya yang terdapat di Leang Pettakere

39

ENSIKLOPEDIA SUKU, SENI DAN BUDAYA NASIONAL

BUGIS

Komplek makam raja - raja Gowa di Kotangka NET

(Maros), merupakan cap tangan yang parennung. Gabungan dari beberapa
hanya terdiri atas empat jari tanpa kampung disebut wanua, yang dipimpin
telunjuk. Pemotongan jari itu diperkirakan oleh seorang yang disebut palili’. Pada
dilakukan dalam rangka menghadapi masa sekarang wanua dapat disamakan
suatu perkabungan; seperti juga terdapat dengan kecamatan.
pada lukisan jari di dinding gua di Irian.
Lukisan yang terdapat di Leang tampak Rumah tradisional Bugis berbentuk
menggambarkan babi-rusa terkena panggung yang terdiri atas tingkat
panah pada bagian perutnya. Lukisan atas, tengah, dan bawah. Tingkat atas
ini diperkirakan ada kaitannya dengan digunakan untuk menyimpan padi dan
kegiatan perburuan. Lukisan telapak benda-benda pusaka. Tingkat tengah,
kaki diinterpretasikan sebagai simbol yang digunakan sebagai tempat tinggal,
adanya suatu perjalanan jauh yang akan terbagi atas ruang-ruang untuk menerima
ditempuh, dan perjalanan itu disertai tamu, tidur, makan, dan dapur. Tingkat
dengan adanya upacara. dasar yang berada di lantai bawah
digunakan untuk menyimpan alat-alat
Pola Perkampungan. Kini sebagian pertanian, dan kandang ternak. seperti
besar orang Bugis hidup dalam wilayah ayam dan kambing. Sekarang bagian ini
pedesaan yang merupakan gabungan dari sering diberi dinding dan berfungsi untuk
sejumlah kampung bentuk lama. Kampung tempat kediaman pemiliknya juga.
lama itu merupakan tempat bermukimnya
keluarga-keluarga yang mendiami Rumah tradisional Bugis dapat
sejumlah rumah. Rumah-rumah tersebut juga digolongkan berdasarkan status
berderet dan umumnya menghadap ke pemiliknya atau berdasarkan pelapisan
arah selatan atau barat. Pada masa lalu sosial yang berlaku. Rumah besar (sao-
sebuah kampung mempunyai pusat yang raja) didiami oleh keluarga raja atau
dianggap keramat (possi tana), yang kaum bangsawan. Rumah ini berpetak
ditandai pohon beringin yang besar. lima, tujuh, atau sembilan. Rumah ini
Masyarakat kampung itu dipimpin oleh juga berbubungan bersusun lima bagi raja
seorang matowa, dengan dua orang yang berkuasa, dan bersusun tiga bagi
pembantunya yang disebut sarian dan para bangsawan lainnya; mempunyai
sapana, yaitu tangga beralas dan beratap.

40

ENSIKLOPEDIA SUKU, SENI DAN BUDAYA NASIONAL

BUGIS

Sao-pati’ adalah rumah kediaman orang Bicara adalah norma-norma yang
baik-baik, yang ukurannya lebih kecil terkait dengan peradilan. Rappang
daripada rumah raja. Petaknya tidak lebih merupakan analogi, kias, atau ungkapan
dari empat, berbubungan satu atau tiga, adat untuk menjaga kontinuitas hukum.
dan tidak mempunyai sapana. Bola, yaitu Wari’ adalah klasifikasi benda, peristiwa,
rumah orang kebanyakan yang berpetak dan aktivitas dalam kehidupan
tiga, bubungannya berlapis dua dan tanpa bermasyarakat, misalnya dalam
sapana. Pada masa silam, setiap memulai pelapisan sosial, dan lain-lain. Sara’
pembangunan rumah sampai dengan akan adalah pranata-pranata dan kaidahnya
menempatinya, memerlukan persyaratan yang berasal dari Islam.
berupa upacara atau penyediaan ramu-
ramuan untuk menolak bala atau Yang menjadi inti atau etos dari
memperoleh keselamatan. panngaderreng adalah apa yang disebut
siri’. Kata siri’ secara harafiah berarti
Sistem Budaya. Dalam keseluruhan “malu” atau juga “kehormatan”.
kehidupan orang Bugis, seperti juga pada Siri’ merupakan sebuah nilai yang
masyarakat lain, dikenal suatu sistem mengandung pikiran, kemauan, dan
budaya yang menjadi acuan bagi individu perasaan, yang dapat dikatakan sebagai
dalam kehidupan sosialnya, mulai dari “harga diri” atau “martabat”. Nilai ini
kehidupan keluarga sampai kehidupan mendorong orang untuk bekerja keras,
yang lebih luas sebagai kelompok etnik, untuk tidak menjadi miskin, untuk tidak
atau kehidupan sosial dalam kerajaan di menjadi gagal, untuk tidak dinodai oleh
masa lalu. Sistem budaya orang Bugis itu pihak lain. Orang yang tidak bekerja
dikenal sebagai panngaderreng. Sebagai keras akan menjadi miskin atau melarat
suatu sistem, panngaderreng mempunyai dan orang yang di masa lalu teracam
beberapa unsur yang disebut: (1) ade’, akan menjadi golongan hamba (ata).
(2) bicara, (3) rappang, (4) Wari’, dan Golongan orang semacam ini adalah
(5) Sara’. Unsur ade’ berisi norma-norma golongan orang yang kehilangan “harga
dalam sistem kekerabatan dan norma diri”. Orang yang kehilangan harga
dalam sistem pemerintahan negeri, baik di diri atau siri’ dianggap sebagai bangkai
dalam maupun yang berhubungan dengan hidup; atau hidup tanpa harga diri
negeri luar. adalah hidup tak punya arti.

NET

Bekas barak-barak benteng Ujung Pandang kini menjadi Museum La Galigo.

41

ENSIKLOPEDIA SUKU, SENI DAN BUDAYA NASIONAL

BUGIS

Prinsip-prinsip berpikir serta ayah atau pihak ibu, baik sepupu
perasaaan seperti tersebut di ataslah satu kali (sappiseng), sepupu dua kali
yang menyebabkan mereka berusaha (sappokkadua), maupun saudara sepupu
menegakkan dan mempertahankan tiga kali. Perkawinan antara sepupu dua
siri’. Untuk itu mereka kadang-kadang kali dan sepupu tiga kali adalah yang
harus berhadapan dengan risiko disukai, sedangkan antara sepupu satu kali
yang tinggi, misalnya mengorbankan umumnya terjadi di kalangan bangsawan.
nyawanya. Sebagai contoh, seseorang Yang tersirat di balik perkawinan dengan
merasa berkewajiban mempertahankan pasangan ideal tersebut di atas adalah
kehormatan keluarga. Wanita menjadi untuk menjaga tetap eratnya hubungan
salah satu lambang kehormatan kerabat dan agar harta tidak jatuh ke
keluarga. Apabila seorang anggota tangan orang lain di luar kerabat. Kalau
keluarga, misalnya anak gadis, dilarikan terjadi penjajagan dari pihak pria kepada
seorang perjaka tanpa melalui prosedur pihak wanita. Langkah berikutnya ialah
adat (silariang), maka keluarga itu melamar, mengantar uang belanja,
merasa martabatnya ternoda dan harus arakan mengantar penganten pria, acara
membelanya. Pada masa lalu pembelaan bersanding, dan lain-lain. Semua ini
itu sering kali menimbulkan peristiwa membutuhkan biaya yang besar.
berdarah. Yang masih dipertanyakan
adalah sejauh mana siri’ itu sebagai Sejarah Pinisi. Seperti telah
sebuah nilai positif masih menjiwai disinggung di atas, orang Bugis dan
masyarakat dalam berbagai aspek juga orang Makassar dikenal sebagai
kehidupan masa kini dan masa depan. masyarakat maritim. Mereka begitu dekat
dan akrab dengan laut. Oleh sebab itu
Sistem kekerabatan. Dalam penarikan sejak lama, mereka telah mengembangkan
garis keturunan mereka berpedoman pengetahuan dan teknologi kelautan
kepada prinsip bilateral, artinya hubungan dengan bermacam jenis perahu, misalnya
seseorang dengan kerabat pihak kerabat pinisi, lambo’ (palari), lambo’ calabai,
ayah dan pihak ibu sama erat dan jarangka’, soppe’, pajala. Jenis-jenis perahu
pentingnya. Adat menetap sesudah ini berbeda-beda ukuran dan fungsinya.
nikah adalah utrolokal, artinya pasangan
pengantin baru boleh memilih menetap di Pinisi sebagai suatu jenis perahu
lingkungan kerabat suami atau lingkungan tradisional orang bugis dan Makassar
kerabat istri. Namun pada awalnya, sudah dikenal dalam lembaran sejarah,
pasangan pengantin baru itu sementara paling tidak sejak abad ke-15. Perahu
berdiam di lingkungan kerabat istri. ini telah membawa pedagang-padagang
Bugis dan Makassar menjelajahi perairan
Penggolongan kerabat (seajing) di di kepulauan Indonesia, pelabuhan-
kalangan orang Bugis dibedakan antara pelabuhan terpenting di Semenanjung
rappe atau kelompok kerabat sedarah Melayu, Sri Lanka, Filipina Selatan, dan
(consanguinity) dan sumpung lolo atau Australia bagian utara.
pertalian kerabat karena perkawinan
(affinity). Kerabat itu dibedakan pula Panjang pinisi berkisar sekitar 20-30
atas kerabat dekat (seajing mareppe) dan meter, lebar 5-6 meter, dan kedalaman
kerabat jauh (seajing mabela). Kelompok 1.80-2.50 meter Pinisi yang berdaya
kerabat dekat itu akan saling menjaga muat 30-200 ton menggunakan tiga tiang
harga diri serta solidaritas satu dengan agung, sedangkan yang berukuran lebih
yang lain. dari 150-200 ton menggunakan tiga
tiang agung. Pada bagian buritan yang
Dalam pemilihan jodoh, adat Bugis berbentuk segi tiga terdapat bangunan
mengatur siapa yang menjadi pasangan beratap datar sebagai kamar juru mudi.
ideal, yaitu saudara sepupu dari pihak
Perahu pinisi biasanya menggunakan

42

ENSIKLOPEDIA SUKU, SENI DAN BUDAYA NASIONAL

BUGIS

dua layar besar yang disebut sombalu. itu, dan dengan demikian keturunan
Layar yang satu terpasang di bagian depan mereka mewarisi tiga unsur terpenting
dengan ukuran 200 meter persegi, dan dari pembuatan perahu. Ahli yang
yang lainnya terletak lebih ke belakang membuat tubuh dan bentuk kapal datang
dengan ukuran 125 meter persegi. Di atas dari Ara; ahli yang memberi sentuhan
setiap layar besar itu terdapat sebuah akhir serta menghaluskan kapal datang
layar berbentuk segi tiga, yang disebut dari Tana Lemo, sedangkan awak kapal
tanpasere. Bagian haluan dilengkapi tiga beserta nakhoda dari desa Tanjung Bira.
layar pembantu yang juga berbentuk segi
tiga. Layar ini masing-masing disebut Perahu Sawerigading diciptakan
Cocoro Pantara di bagian depan. Cocoro dengan kekuatan magis oleh La toge
Tangnga di tengah, dan Tarengke di Langi’, dengan gelar Batara Guru, nenek
belakangnya. Sawerigading yang menjadi raja bumi
pertama. Mitos itu telah mengangkat
Penyimpangan, artinya perkawinan nilai-nilai yang terkandung dalam profesi
dengan orang lain (tau laing), hal itu pembuatan perahu itu menjadi hal serba
dianggap untuk memperluas jaringan sakral. Orang-orang desa Ara merasakan
kekerabatan atau yang disebut komuniti mereka sebagai mikrokosmos,
merentangkan payung (mappallebba yang merupakan bagian dari jagad raya
teddung). Sudah menjadi pengetahuan (makrokosmos). Hubungan antara kedua
umum bahwa orang yang luas jaringan kosmos ini diatur oleh tata tertib abadi
kerabatnya akan disegani orang banyak. dan sakral, yang telah dilembagakan
Kawin dengan orang luar itu disebut para nenek moyang mereka sebagai
juga “membuka lahan di bantal” adat istiadat. Kedua kosmos ini dijaga
(makkabbeka ri angkalungengnge), yaitu harmoninya, dan karena itu mereka
untuk memperbanyak harta. Namun, cenderung mempertahankan yang lama
pemilihan pasangan dari kalangan orang dan menolak atau mencurigai yang
lain sebenarnya merupakan masalah yang baru, khawatir akan merusak harmoni
cukup peka. tadi. Rupanya itulah yang menjadi
sebab sangat sedikitnya pengaruh
Para remaja masa kini cenderung teknologi modern yang terlihat dalam
melepaskan diri dari ikatan norma adat pertukangan pembuatan pinisi. Barulah
dalam memilih pasangannya. Dalam pada penghujung abad ke-19 mereka
perkawinan, mereka mempunyai aturan- menggunakan bor, gergaji, dan ketam.
aturan (botting ade’) dengan berbagai Tetapi alat-alat kuno tetap dipakai
urutan kegiatan yang rumit. Kegiatan itu terutama dalam aktivitas ritual.
diawali dengan kunjungan.
Proses pembuatan perahu pinisi
Latar belakang sejarah pembuatan melibatkan beberapa tokoh. Tokoh utama
perahu pinisi terkait dengan tiga buah adalah punggawa, yaitu kepala tukang
desa, yakni desa Ara, Tanjung Bira, dan atau tukang yang ahli. Punggawa dibantu
Tana Lemo, yang semuanya terletak di oleh tukang-tukang lainnya (sawi) dan
kabupaten Bulukumba di ujung paling calon-calon sawi. Unsur lain adalah
selatan Provinsi Sulawesi Selatan. sombalu, yakni pemilik atau pemesan
Dalam legenda diceritakan bahwa yang ikut mengawasi pembuatan perahu
kapal Sawerigading, pahlawan budaya yang dipesannya. Pembuatan perahu ini
terpenting di Sulawesi Selatan, terdampar dibedakan dalam dua aspek pekerjaan
dan hancur di dekat ketiga desa di atas. yang saling isi-mengisi. Pertama, bidang
Tiangnya ditemukan di Tanjung Bira, teknis, yang mengerjakan bagian-bagian
papan-papannya di Tana Lemo, dan perahu, mengukur, membuat pola,
sisanya di Ara. Akibatnya, warga ketiga mengenal jenis dan daya guna bahan.
desa itu harus membangun kembali kapal

43

ENSIKLOPEDIA SUKU, SENI DAN BUDAYA NASIONAL

BUGIS

Kedua, aspek magis yang menyangkut yang telah dibuat “tidak mau bergerak”
analisis bahan, memimpin niat, ketika didorong ke laut. Ini disebabkan
menentukan syarat-syarat pantangan, karena punggawa sebagai “ibu” tidak
pelaksanaan ritual dan mantera-mantera rela apabila “bayi” perahunya diserahkan
yang diperlukan. kepada orang yang telah menyakiti
hatinya. Oleh sebab itu sombalu yang arif
Pandangan tersebut di atas akan segera menghubungi sang punggawa
berpengaruh pada aktivitas di untuk melakukan “perdamaian”. Apabila
galangan perahu (bantilang), yang perahu diluncurkan secara paksa, perahu
prosesnya diibaratkan bayi dalam tersebut akan cacat sesudah sampai di
kandungan. Hal ini terlihat, misalnya, laut. Jadi, ketangguhan perahu di laut
dalam upacara pemotongan lunas bukan saja karena faktor teknis, tetapi
perahu (an natra kalebeseang). juga karena faktor magis (gaib), yang
Pemotongan dan penyambungan balok- dapat menopang ketenteraman batin
balok melambangkan perkawinan mereka. Akhir-akhir ini perahu pinisi
(persetubuhan) antara jantan dan betina menjadi unsur kebanggaan bangsa
sebagai “janin perahu”, yang akan Indonesia terhadap dunia internasional.
menjadi “bayi perahu”. Ada pula upacara Sebuah pinisi yang diberi nama Phinisi
pemberian pusat perahu (pamossi), yang Nusantara memasuki perairan False Greek,
melambangkan saat kelahiran (bayi) alur pelayaran EXPO 86 Vancouver di
perahu ke laut lepas, seperti kelahiran Kanada pada tanggal 15 September 1986.
manusia ke dunia dari kandungan ibunya. Pada saat itu Phinisi Nusantara disambut
Dalam hal ini punggawa berperan sebagai dengan tiga kali dentuman meriam di
ibu dan sekaligus sebagai “bidan”. udara. Perahu yang dirancang oleh Dr.
Ing. Sularto Hadi Suwarno itu berlayar
Sesuai dengan pandangan kosmos selama 69 hari sejak keberangkatannya
mereka, segala sesuatu dilihat dari segi dari pelabuhan Muara Baru, Jakarta, pada
totalitas dan berkaitan secara organis, tanggal 9 Juli 1986. Phinisi Nusantara
sehingga pelanggaran terhadap “sebuah menarik perhatian pengunjung EXPO 86,
pantangan” akan berakibat fatal kepada yang sebagian besar tidak percaya bahwa
keseluruhan (bayi) perahu yang akan perahu layar tradisional itu akan tiba
dilahirkan. Pantangan terberat adalah dengan selamat.
apabila pihak sombalu menyakiti hati
punggawa. Kalau hal ini terjadi, perahu

Rujukan: Kebudayaannya, S. Budisantoso et al, Eds. 1986.
Mattulada
Abdurrachman Surjomihardjo
1976 “Golongan Penduduk di Jakarta”, Seni- 1977 “Kepemimpinan Pada Orang Makassar”,
Berita Antropologi No. 32-33, IX, Jakarta.
Budaya Betawi, Husein Wijaya, Ed. Mattulada
Hamid Abdullah
1985 La Toa: Satu Lukisan Analitis Terhadap
1982 “Pandangan Hidup dan Kepemimpinan Antropologi Politis Orang Bugis.
Masyarakat Bugis Asli”, Purba. R.A. Palengkahu
Jopie Wangania
1976 Peta Bahasa Sulawesi Selatan, Ujung
1981 Jenis-Jenis Perahu di Pantai Utara Jawa- pandang.
Madura. Syarif Saleh
M. Ide Said DM
1976 “Adat Perkawinan Orang2 Bugis
1977 Kamus Bahasa Bugis - Indonesia, Pusat Makassar”, Berita Buana, 29 Juni - 10 Juli 1976.
Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Jakarta. Umar Kayam
M. Junus Melalatoa
1984 Semangat Indonesia: Suatu Perjalanan
1986 “Tinjauan Tentang Porsi Suku-Bangsa Budaya.
di Provinsi Riau Masa Kini: Satu Hasil Proses
Perkembangan”, Masyarakat Melayu Riau dan

44

ENSIKLOPEDIA SUKU, SENI DAN BUDAYA NASIONAL

BUHUN TULUNGAN, SENI

BUHUN TUTULUNGAN atau dikenal alu dan lisung.
juga dengan sebutan Buhun Tutunggulan Kesenian tutunggulan dimainkan oleh
merupakan kesenian tradisional masyara-
kat Desa Wanayasa, Kecamatan Wanayasa, enam orang ibu-ibu dan dipertunjukkan
Kabupaten Purwakarta yang menjadi cikal kepada masyarakat manakala terjadinya
bakal munculnya seni Buhun Tutunggu- samagaha atau disebut gerhana bulan di
lan. Tutunggulan sendiri berasal dari kata malam hari ataupun sering digunakan
“nutu” yang artinya “menumbuk” sesuatu. untuk menghadirkan warga agar hadir
Sesuatu yang ditumbuk itu biasanya dalam acara musyawarah di balai desa.
gabah kering hingga menjadi beras, atau Belakangan, seni tradisional ini digunakan
dari beras menjadi tepung. Menumbuk untuk menyambut tamu pada suatu upa-
gabah menjadi beras tersebut biasanya cara tertentu, biasanya upacara peresmian
dikerjakan oleh ibu-ibu antara tiga sampai proyek, penyambutan tamu, dan lain
empat orang dan ayunan alunya menge- sebagainya.
nai lesung yang menimbulkan suara khas,
artinya dapat berirama, dengan tujuan Saat ini terdapat tiga kelompok pemain
agar tidak membosankan dalam menum- seni tutunggulan yang kesemuanya sudah
buk padi. Ini dilakukan hingga peker- berusia lanjut. Tiap kelompok memiliki
jaan selesai. Konon khabarnya lagu-lagu jenis lagu tersendiri. Untuk memper-
yang ke luar dari tutunggulan ini adalah tahankan kelestarian kesenian ini, Kan-
seperti; lutung loncat, oray belang, caang tor Disbudpar Kab. Purwakarta sedang
bulan, dan lainnya. mengadakan regenerasi melalui upaya
ajakan terhadap anak muda dan melalui
Kesenian tradisional “Tutunggulan” pelatihan-pelatihan di tempat terutama
sering disamakan dengan kesenian ditujukan kepada masyarakat di sekitar
gondang, padahal pada pelaksanaannya Desa Wanayasa, serta diadakannya lomba
berbeda karena kalau tutunggulan tidak Seni Tutunggulan setiap tahunnya dengan
diikuti dengan lagu-lagu atau pantun yang melibatkan kecamatan-kecamatan lainnya.
bersaut-sautan sedangkan gondang meng- Upaya ini dimaksudkan untuk mengem-
gunakan lagu dan sisindiran. Namun alat bangkan kelompok pelaku seni tutunggu-
dan sarana yang digunakannya sama yaitu lan hingga akhirnya merata di Kabupaten
Purwakarta.

BUKAT

BUKAT adalah salah satu kelompok itu berarti “sungai”. Dari Putusibau desa
orang Dayak yang ada di wilayah Provinsi itu bisa dicapai lewat sungai dengan speed
Kalimantan Barat. Dayak Bukat terbagi boat sembilan HP selama lebih kurang 6,5
dalam 3 suku kekeluargaan/sedatuk. jam.
Mereka terutama mendiami wilayah
Kabupaten Kapuas Hulu, terutama di Sumber Departemen Sosial
wilayah Kecamatan Putisibau. Di sini mencatat keseluruhan orang Bukat di
mereka berada di hulu sungai Mendalam, Kecamatan Putusibau pada tahun 1974
anak sungai Kapus. adalah sebanyak 296 jiwa. Mereka ini
dikategorikan sebagai “masyarakat
Di antara desa pemukiman mereka terasing”. Sedangkan sumber lain
bernama Nanga Obat, di mana kata nanga (Mutiara, 1988) mencatat orang Bukat

45

ENSIKLOPEDIA SUKU, SENI DAN BUDAYA NASIONAL

BUKAT

di desa Nanga Obat berjumlah sekitar (Pemda Kalbar)
130 jiwa yang terbagi dalam 24 kepala
keluarga (kk). Sumber terakhir ini Tenunan Sintang dan Kapus Hulu
menyebutkan bahwa orang Bukat ini
tidak tepat disebut sebagai kelompok berlangsung sejak berabad-abad yang lalu
“masyarakat terasing”, karena sejak lama antara masyarakat pedalaman Kalimantan
mereka telah banyak kontak dengan ini, yang memang mempunyai keahlian
kelompok masyarakat lain di sekitarnya yang luar biasa dalam mengumpulkan hasil-
atau dengan dunia luar. hasil alam itu. Hasil-hasil tersebut, misalnya
bahan obat-obatan tradisional, perekat
Orang Bukat yang berdiam di desa pembuatan kapal, sarang burung, telah
Nanga Obat ini biasa disebut orang Bukat menjadi incaran dari daratan Asia (Cina,
Mendalam. Sementara kelompok lain Arab) sejak berabad-abad yang lalu itu.
bernama Bukat Keriau yang berdiam
di sungai Keriau, yang juga anak Kemahiran orang Bukat yang patut
sungai Kapuas. Sementara pendapat diungkap di sini adalah berburu.
mengemukakan bahwa orang Bukat Pengetahuan dalam menggunakan
merupakan sub kelompok dari orang sumpit sebagai alat berburu selalu
Punan. Hal ini dianggap demikian karena diajarkan kepada generasi muda agar
orang Bukat sendiri memang sejak lama menjadi terampil. Sumpit (soput) buatan
bersifat nomadik. Kata punan itu sendiri orang Bukat terkenal mutunya yang
memang berarti “berkemah”, atau hidup baik di kalangan tetangganya seperti
berpindah-pindah sesuai dengan irama orang Kayan. Orang Kayan sering minta
mata pencaharian guna menunjang dibuatkan sumpit, yang bahannya
kehidupan mereka. Memang seperti dari sejenis kayu besi yang berwarna
umumnya orang yang disebut Punan, hitam pekat dan keras. Orang Bukat
orang Bukat pun hidup dari meramu, juga mempunyai teknik dasar berburu,
misalnya mengumpulkan hasil hutan, kemampuan membaca jejak, ketajaman
berburu, dan menangkap ikan. Mereka penciuman dan pandangan mata dalam
tidak memiliki rumah panjang, tidak mengamati sasaran, misalnya rusa.
berternak babi atau ayam, tidak menyadap Kegiatan berburu ini biasanya dilakukan
karet. Bercocok tanam di ladang pun dalam kelompok yang jumlahnya sekitar
belum lama mereka kenal, karena sering lima orang. Kelompok ini merupakan
ada kontak dengan orang Kayan. Dalam kelompok tetap. Perburuan itu juga
hal-hal tertentu orang Bukat berbeda dibantu oleh lima ekor anjing. Pemimpin
dengan Punan yang menjadi tetangganya, dalam berburu ditentukan berdasarkan
misalnya dalam hal bahasa dan pengalaman dan keahlian.
kesenian. Sementara pendapat memang
menyatakan, bahwa satu kelompok
“Punan” itu adalah “sayap” dari kelompok
Dayak tertentu yang menetap.

Sebaliknya, orang Bukat dan Punan
menunjukkan persamaan yakni sama-
sama sebagai pemasok hasil-hasil hutan
bagi kelompok Dayak yang menetap
untuk diperdagangkan dengan kelompok
“Non-Dayak”. Pola penghidupan
memperdagangkan hasil hutan lewat
perantara semacam ini memang telah
diungkap oleh para peneliti, yang sudah

46

ENSIKLOPEDIA SUKU, SENI DAN BUDAYA NASIONAL


Click to View FlipBook Version