The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by bukunyamantan, 2018-09-19 09:08:51

Kumpulan Cerpen Dunia 135 x 200 mm

Gabriel Garcia Marquez
Haruki Murakami
Alice Munro
Roberto Bolano
Salman Rushdie
Ludmilla Petrushevskaya
Laila Lalami

Perempuan Tidur dan Dongeng Lainnya


Penerjemah: Agung Dwi Ertato
Editor:
Penata Isi:
Desain Sampul:
Cetakan Pertama, 2017
ISBN:
Diterbitkan oleh penerbit Quark Books









Dilarang mengutip atau memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku ini dalam bentuk
apapun (seperti cetak, fotokopi, mikrofilm, CD-rom, dan rekaman suara) tanpa
izin tertulis dari penerbit.
Sanksi pelanggaran pasal 113
Undang-undang nomor 28 tahun 2014 tentang hak cipta setiap orang yang dengan tanpa
hak melakukan pelanggaran hak ekonomi sebagaimana dimaksud dalam pasal 9 ayat
(1) huruf i untuk penggunaan secara komersial dipidana dengan pidana penjara paling
lama 1 (satu) tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp100.000.000,00 (seratus
juta rupiah) (2) setiap orang yang dengan tanpa hak dan/atau tanpa izin pencipta atau
pemegang hak cipta melakukan pelanggaran hak ekonomi pencipta sebagaimana
dimaksud dalam pasal 9 ayat (1) huruf c, huruf d, huruf f, dan/atau huruf h untuk
penggunaan secarakomersial dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun
dan/atau pidana denda paling banyak Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah) (3)
setiap orang yang dengan tanpa hak dan/atau tanpa izin pencipta atau pemegang hak
cipta melakukan pelanggaran hak ekonomi pencipta sebagaimana dimaksud dalam pasal
9 ayat (1) huruf a, huruf b, huruf e, dan/atau huruf g untuk penggunaan secara komersial
dipidana dengan pidana penjara paling lama 4 (empat) tahun dan/atau pidana denda
paling banyak Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah) (4) setiap orang yang memenuhi
unsur sebagaimana dimaksud pada ayat (3) yang dilakukan dalam bentuk pembajakan,
dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan/ atau pidana denda
paling banyak Rp4.000.000.000,00 (empat miliar rupiah).

UJUH dongeng pendek dalam buku ini menampilkan
Tkhazanah kesastraan dunia yang beragam, baik dari
segi isi maupun bentuk. Selain itu pula, dongeng-dongeng
ini ditulis oleh pengarang-pengarang besar dunia dari
latar belakang yang sangat berbeda. Namun, mereka
mempunyai satu kesamaan: “pengalaman migrasi”.
Singkat kata, dongeng-dongeng dalam buku ini akan
membawa pembaca tenggelam dan terseret dalam jerat-
jerat naratif. Semisal pengalaman mencium aroma bunga
mawar dalam “Laut yang Kehilangan Waktu”, terombang-
ambing pada masa lalu dan masa kini dalam “Pohon
Dedalu dan Perempuan Tidur”, atau tersesat di Dunia
Baru, Florida, dalam “Hikayat La Florida”, atau pula merasa
terbodohi dalam “Amundsen”.
Ya, sebaiknya Anda baca sendiri dan menikmati
dongeng-dongeng dari negeri seberang ini.














iii

iv

Pengantar Penerbit iii
Daftar Isi v

Laut yang Kehilangan Waktu 1
Gabriel Garcia Marquez
Pohon Dedalu dan Perempuan Tidur 32
Haruki Murakami
Amundsen 61
Alice Munro
Clara 105
Roberto Bolano
Duniazat 127
Salman Rushdie
Kisah Seorang Pelukis 152
Ludmilla Petrushevskaya
Hikayat La Florida 185
Laila Lalami




















v

vi



viii

LAUT






YANG








KEHI






LANGAN





Gabriel

Garcia


WAKTU Marquez










1

Gabriel Garcia Marquez adalah seorang pengarang, jurnalis, dan aktivis
Kolombia. Ia lahir di Aracataca, Kolombia, pada 1927. Ia meraih Nobel Sastra
pada 1982 berkat kejeniusan meramu fantasi dan realitas di novel dan cerita
pendeknya yang menggambarkan kehidupan dan konflik di Amerika Latin.
Salah satu karyanya, One Hundred Years of Solitude (1967), berhasil membetot
khalayak sastra dunia. Ia pun didapuk sebagai salah satu tokoh realisme magis
terkemuka. Cerita pendek “Laut yang Kehilangan Waktu” ini pernah dimuat di
majalah The Newyorker, 3 Juni 1974.




































2

Gabriel Garcia Marquez
LAUT YANG KEHILANGAN WAKTU












ENJELANG AKHIR JANUARI, lautan semakin kotor
dan mulai membawa sampah-sampah besar
Mke kota. Beberapa minggu kemudian, semua
telah terkontaminasi dan membuat suasana hati tak
tertahankan. Sejak saat itu, dunia ini sudah tidak layak
lagi untuk dihuni, setidaknya hingga Desember, sehingga
tak ada seorang pun akan terjaga setelah pukul delapan
malam. Namun, tahun ketika tuan Herbert datang, lautan
tidak berubah sama sekali, sekalipun di bulan Februari.
Sebaliknya, lautan semakin tenang dan lebih berpendar,
serta selama malam pertama bulan Maret, lautan diselimuti
wangi bunga mawar.
Tobias mencium wangi itu. Darahnya menarik perhatian
kepiting dan dia pun menghabiskan separuh malam untuk
menangkapi kepiting-kepiting itu dari kolong tempat
tidurnya hingga wangi bunga mawar tercium kembali
dan dia pun dapat tidur. Selama masa terjaganya, ia telah


3

Gabriel Garcia Marquez

mempelajari bagaimana membedakan semua perubahan
yang terjadi di udara. Jadi, ketika dia mencium wangi bunga
mawar, dia tak lagi membuka pintu untuk mengetahui
bahwa bau itu berasal dari laut.
Dia bangun terlambat. Clotilde sudah mulai membakar
sampah di kebun belakang. Udara terasa dingin dan semua
bintang berada di tempatnya. Namun, bintang-bintang itu
sangat susah terhitung, bahkan bintang-bintang terlihat
hingga di kaki langit. Ini lantaran cahaya bintang juga
memendar di lautan. Setelah meminum kopinya, Tobias
masih bisa merasakan sisa-sisa malam di langit-langit
mulutnya
“Sesuatu yang sangat asing telah terjadi tadi malam,”
dia mengingat-ingat kembali.
Clotilde, tentu saja, tidak menciumnya. Ia tertidur sangat
pulas hingga ia pun tak mengingat kembali mimpinya.
“Wangi bunga mawar,” kata Tobias, “dan aku yakin
aroma itu datang dari lautan.”
“Aku tidak tahu wangi bunga mawar itu seperti apa,”
seru Clotilde.
Dia bisa saja benar. Kota telah lama kering, dengan
kondisi tanah yang keras dan berkerut karena garam, serta
terkadang seseorang membawa karangan bunga dari luar
untuk dilarung ke laut tempat mereka membuang orang-
orang yang telah meninggal.
“Bau ini adalah bau orang yang tenggelam dari
Guacamayal,” kata Tobias.
“Yah,” Clotilde berkata sambil tersenyum, “Jika bau ini
benar-benar bau wangi, seharusnya kamu yakin bau ini
tidak datang dari laut.”
Lautan sungguh buruk sekali. Sekarang ini, jika jaring
dilemparkan, yang didapat hanya sampah-sampah yang
mengapung, jalanan kota ini masih dipenuhi bangkai
ikan ketika laut pasang dan surut kembali. Dinamit hanya


4

laut yang kehilangan waktu
















digunakan untuk mengangkat kapal tua yang karam ke
atas permukaan.
Beberapa perempuan yang tersisa di kota, seperti
Clotilde, telah terbiasa dengan kegetiran ini. Dan, seperti
Clotilde, di sana tinggal pula istri Jakob tua, yang bangun
lebih cepat dari pagi-pagi biasanya, membereskan
rumah, dan duduk sarapan dengan pemandangan penuh
kesengsaraan.
“Permintaan terakhirku,” bisiknya kepada suaminya,
“adalah dikubur hidup-hidup.”
Ia berkata seperti itu seakan dia sedang berada dalam
ranjang kematiannya, tapi sebenarnya ia sedang duduk
di depan meja, di ruang makan dengan jendela terbuka,
tempat cahaya matahari bulan Maret memendar dan
memancar ke seluruh isi rumah. Di depannya, dengan
menahan rasa lapar, adalah Jakob tua, lelaki yang sangat
mencintainya dan untuk beberapa lama, dia tidak lagi bisa
membayangkan semua penderitaan yang belum dimulai
bersama istrinya.
“Aku ingin mati dengan jaminan, aku akan diletakkan
di tanah seperti orang kebanyakan,” ia meneruskan. “Dan,
satu-satunya cara untuk itu adalah dengan keluar meminta
kemurahan hari orang-orang untuk menguburkanku
hidup-hidup.”
“Kamu tidak perlu meminta ke siapa pun,” kata Jakob


5

Gabriel Garcia Marquez

tua dengan suara yang tenang. “Aku akan menguburkanmu
sendiri.”
“Lakukanlah sekarang,” serunya, “karena cepat atau
lambat aku akan mati.”
Jakob tua menatap istrinya dengan seksama. Hanya
matanya, satu-satunya yang masih muda. Tulang-tulangnya
telah kering terikat di persendian dan tubuhnya tampak
seperti tanah yang selesai dibajak.
“Kamu dalam kondisi yang lebih baik daripada
sebelumnya,” dia berseru pada istrinya.
“Tadi malam, aku mencium wangi mawar,” bisiknya.
“Jangan terlalu dipikirkan,” Jakob tua meyakinkan
istrinya. “Hal seperti itu selalu terjadi pada orang miskin
seperti kita.”
“Bukan seperti itu,” katanya. “Aku telah lama berdoa
agar aku tahu kapan kematian itu akan datang sehingga
aku bisa mati jauh dari laut ini. Bau wangi bunga mawar di
kota ini adalah pesan dari Tuhan.”
Semua yang ada dalam benak Jakob tua hanyalah
meminta sedikit waktu untuk mencerna satu per satu. Dia
pernah mendengar bahwa seseorang tidak akan mati ketika
mereka seharusnya mati, namun justru ketika mereka
menginginkannya, dan dia sangat mengkhawatirkan
pertanda istrinya itu. Dia masih bingung, ketika hal itu
benar-benar terjadi, apakah dia benar-benar menguburkan
istrinya hidup-hidup.
Pukul sembilan pagi, dia membuka tempat yang
seharusnya sebagai toko miliknya. Dia meletakkan dua
kursi dan meja kecil dengan papan catur di atasnya, di
depan pintu, dan dia menghabiskan waktu paginya untuk
bermain catur dengan lawannya. Dari rumahnya, dia
melihat kota yang kian rusak, kota yang berantakan dengan
jejak-jejak warna yang memudar oleh sinar matahari dan
gumpalan laut di ujung jalan.


6

laut yang kehilangan waktu




























































7

Gabriel Garcia Marquez

Sebelum makan siang, seperti biasanya, dia bermain
catur dengan Don Maximo Gomez. Jakob tua tidak bisa
membayangkan lawan yang lebih ramah dari lelaki
yang selamat dalam dua perang saudara dan telah
mengorbankan satu matanya di perang ketiga. Setelah
kalah dengan sengaja di gim pertama, dia melawannya lagi
di gim berikutnya.
“Katakan padaku satu hal, Don Maximo,” dia
memintanya. “Apakah kamu akan menguburkan istrimu
hidup-hidup?”
“Tentu saja,” Don Maximo Gomez menjawab. “Kamu
bisa percaya padaku saat aku berkata bahwa tanganku
tidak lagi bergetar.”
Jakob tua tiba-tiba terhanyut dalam kesunyian.
Kemudian, setelah membiarkan bidak terbaiknya terampas,
dia menghela,
“Ya, seperti yang terlihat, Petra akan meninggal.”
Don Maximo Gomez tidak mengubah raut mukanya.
“Dalam kasus itu,” ia berkata, “tidak ada alasan untuk
menguburkan dia hidup-hidup.” Ia melahap dua bidak dan
mendekati raja. Lalu, ia membuat lawannya berkaca-kaca
dengan raut muka kesedihan.
“Apa yang dia dapat?”
“Tadi malam,” Jakob tua menjelaskan, “ia mencium
wangi bunga mawar.”
“Lalu, setengah penduduk kota akan mati,” Don Maximo
Gomez menimpali. “Semua itu yang dikatakan orang-orang
sepanjang pagi ini.”
Sangat berat bagi Jakob tua untuk kalah lagi tanpa
sekalipun menyerangnya. Ia merapikan meja dan kursi,
menutup toko, dan pergi ke segala penjuru kota mencari
seseorang yang juga mencium bau itu. Akhirnya, hanya
Tobias saja. Lalu, ia meminta Tobias untuk membujuk
istrinya berhenti, jika ada kesempatan, dan mengatakan


8

laut yang kehilangan waktu

kepada istrinya tentang bau itu.
Tobias melakukan seperti apa yang Jakob tua katakan.
Pukul empat sore, dengan baju Minggu terbaiknya,
dia muncul di beranda tempat sang istri Jakob tua
menghabiskan siang memperbaiki pakaian kepunyaaan
suaminya.
Dia datang begitu cepat hingga membuat sang
perempuan terkejut.
“Salam,” serunya. “Kupikir tadi malaikat Jibril.”
“Yah, kamu bisa lihat sendiri, aku bukan Jibril,” kata
Tobias. “Ini aku dan aku datang hendak membicarakan
sesuatu padamu.”
Ia merapikan letak kacamatanya dan kembali
melanjutkan pekerjaannya.
“Aku tahu apa yang akan kamu katakan,” katanya.
“Aku berani bertaruh kamu tidak tahu,” sahut Tobias.
“Kamu mencium wangi bunga mawar tadi malam.”
“Bagaimana kamu bisa tahu?” Tobias bertanya dengan
nada terkejut.
“Di umurku sekarang ini,” perempuan itu menyela,
“aku telah banyak menghabiskan waktu untuk berpikir
bahwa seseorang bisa saja menjadi seorang nabi.”
Jakob tua, yang menguping di balik dinding tokonya,
menahan rasa malu.
“Lihatlah, perempuanku,” dia berteriak menembus
dinding. Dia berputar dan muncul di beranda. “Ini tidak
seperti yang kamu pikirkan selama ini.”
“Anak muda ini telah berbohong,” timpalnya tanpa
sedikit pun menoleh. “Dia tidak mencium bau apa pun.”
“Waktu itu sekitar pukul sebelas,” Tobias menyahut.
“Aku sedang mengusir kepiting-kepiting.”
Perempuan itu selesai memperbaiki kerah baju.
“Bohong,” ia bersikeras. “Semua orang tau kamu
itu penipu.” Dia menggigit benang dengan giginya dan


9

Gabriel Garcia Marquez

















menatap Tobias melalui kaca matanya.
“Aku justru tidak paham, kenapa kamu datang kemari
dengan dandanan norak, rambut klimis, dan sepatu
mengilap, hanya untuk mengolok-olokku.”
Setelah itu semua, Tobias pun terpaku menatap lautan.
Dia menggantungkan hammock di beranda dekat kebun
dan menghabiskan malam, menunggu sesuatu keanehan
yang terjadi di dunia saat orang-orang terlelap. Setelah
beberapa malam, dia bisa mendengarkan suara putus
asa dari kepiting-kepiting yang hendak memanjat dinding
rumah hingga mereka kelelahan sendiri. Dia ingin
mengetahui bagaimana Clotilde tidur. Lalu, dia mendapati
bagaimana suara dengkurannya semakin lama semakin
tinggi mengikuti tingginya hawa panas sampai mereka
menjadi satu nada lesu pada bulan Juli yang bergerak
lamban.
Saat pertama kali Tobias mengamati lautan, seperti
kebanyakan orang-orang mengetahui dengan baik,
pandangannya tertuju pada satu titik di ujung cakrawala.
Dia melihat lautan berubah warna. Dia juga melihat lautan
mengeluarkan cahaya dan lautan semakin berbusa dan
kotor serta melontarkan muntahan penuh sampah ketika
hujan badai memporaporandakan lautan. Sedikit demi
sedikit, ia belajar cara mengamati lautan lebih baik dari
siapa pun. Tidak hanya melihatnya saja, namun ia juga


10

laut yang kehilangan waktu

tidak bisa melupakan peristiwa itu sekalipun di dalam
mimpi.
Istri Jakob tua meninggal di bulan Agustus. Ia
meninggal saat tidur dan mereka mengangkutnya, seperti
yang orang-orang lakukan sebelumnya, ke lautan tak
berbunga. Tobias masih saja menunggu. Dia telah cukup
lama menunggu bagaimana perubahan perempuan itu
setelah meninggal. Suatu malam, ketika dia terkantuk
dalam tempat tidurnya, dia menyadari bahwa udara
berubah drastis. Angin berembus sebentar-sebentar, sama
seperti ketika kapal Jepang membongkar kargo bawang
busuk di ujung pelabuhan. Lalu, bau busuk mengental
dan tidak berpindah sama sekali hingga subuh. Ketika
Tobias merasakan itu semua, dia bersijingkat keluar dari
tempat tidur gantungnya dan pergi ke kamar Clotilde. Ia
membangunkannya beberapa kali.
“Mereka muncul,” dia berkata padanya.
Clotilde menyeka bau itu seperti menyeka jaring laba-
laba agar bisa bangun. Lalu, dia kembali meringsuk di
selimut hangatnya.
“Tuhan telah mengutuk,” katanya.
Tobias melompati pintu, berlari ke tengah jalan, dan
mulai berteriak. Dia berteriak sekuat tenaga, menarik
napas dalam-dalam dan berteriak lagi, kemudian hening,
dan ia kembali menarik napas dalam-dalam, dan bau itu
masih saja muncul di lautan. Namun, tidak ada seorang
pun menjawab. Kemudian, dia mengetuk pintu demi
pintu, sekalipun rumah itu tidak berpenghuni, sampai
kegaduhannya membangunkan anjing-anjing dan dia pun
membangunkan semua orang.
Banyak dari mereka tidak bisa mencium bau itu.
Namun beberapa lainnya, terutama orang-orang lanjut
usia, pergi ke pantai, menikmati bau wangi itu. Aroma
itu seperti parfum yang dapat menghapus bau badan apa


11

Gabriel Garcia Marquez

pun. Beberapa orang, yang telah cukup banyak mencium
aroma itu kembali ke rumah masing-masing. Beberapa di
antaranya lagi memilih tidur dan menghabiskan malam
di pantai. Menjelang subuh, aroma semakin memabukkan
dan terasa sayang, bahkan untuk dihirup.
Tobias tidur sepanjang hari. Clotilde rebahan
bersamanya saat tidur siang. Mereka menghabiskan waktu
sepanjang siang, bermain-main di kasur dengan pintu
terbuka menghadap kebun belakang. Mereka berdua
bergeliat layaknya cacing tanah, lalu seperti kelinci, dan
pada akhirnya seperti kura-kura, hingga dunia semakin
sayu dan kembali gelap lagi. Masih ada sisa aroma mawar
di udara. Terkadang suara-suara musik merembet hingga
kamar mereka.
“Suara itu datang dari tempat Catarino,” sahut Clotilde.
“Seseorang pasti telah datang ke kota ini.”
Tiga orang laki-laki dan seorang perempuan telah
datang. Catarino berpikir mungkin serombongan lain
akan datang nanti dan dia pun mencoba memperbaiki
gramafonnya. Karena dia tak bisa memperbaiki sendiri, dia
pun meminta Pancho Aparecido, yang selalu mengerjakan
apa pun karena dia tidak pernah mempunyai apa pun.
Selain itu, dia mempunyai alat perkakas dan tangan yang
cukup terampil.
Tempat Catarino dibangun dari kayu dan menghadap
ke lautan. Tempat itu memiliki ruangan yang luas
dengan bangku-bangku dan meja kecil, serta beberapa
kamar tidur di belakang. Ketika mereka melihat Pancho
Aparecido memperbaiki gramofon, tiga lelaki dan seorang
perempuan itu minum-minum di keheningan, duduk di
bar dan sesekali menguap.
Gramofon pun bisa dimainkan setelah beberapa kali
diuji coba. Ketika mereka mendengarkan musik, jauh
namun berbeda, orang-orang berhenti bercakap-cakap.


12

laut yang kehilangan waktu

Mereka saling menatap satu sama lain dan sejenak diam
tak berkata-kata. Kemudian mereka baru menyadari
mereka sudah terlalu tua sejak terakhir kali mereka
mendengarkan musik.
Tobias baru menyadari semua orang masih terjaga
setelah pukul sembilan malam. Mereka duduk-duduk
di depan pintu, keluar mendengarkan piringan hitam
tua milik Catarino, dengan rona kekanak-kanakan yang
terheran-heran seperti ketika melihat gerhana matahari.
Setiap rekaman mengingatkan mereka pada seseorang
yang telah lama meninggal, kelezatan makanan setelah
lama terbujur sakit, atau sesuatu yang harus mereka
selesaikan esok hari karena bertahun-tahun tidak pernah
selesai hanya karena mereka kelupaan.
Gramofon berhenti sekitar pukul sebelas malam.
Orang-orang pergi tidur, dan berpikir hari akan hujan
karena mendung gelap telah menutupi lautan. Namun,
awan mendung melayang-layang untuk sementara saja di
atas permukaan laut, dan kemudian tenggelam ke lautan.
Hanya bintang-bintang yang masih setia di langit-langit.
Sesaat kemudian, udara mengalir sejuk dari kota dan
kembali membawa aroma bunga mawar.
“Sudah kukatakan, Jakob,” Don Maximo Gomez berseru.
“Aroma itu akan kembali lagi. Aku semakin yakin sekarang,
aroma mawar akan menyelimuti udara kita sepanjang
malam.”
“Duh Tuhan,” keluh Jakob tua. “Aroma ini adalah satu-
satunya dalam hidupku yang datang terlambat.”
Mereka telah lama bermain catur di toko yang kosong
tanpa memedulikan suara musik. Mereka terlalu tua
untuk bisa mengingat kembali lantunan musik serta
menggerakkan mereka kembali.
“Bagiku, aku tidak pernah percaya dengan semua
ini,” Don Maximo Gomez berkata. “Setelah sekian lama


13

Gabriel Garcia Marquez

bergelut dengan debu, dengan begitu banyak perempuan
yang sekadar ingin sepetak tanah hanya untuk ditanami
bunga, hal itu tidak begitu aneh jika seseorang harus
berakhir dengan mencium aroma seperti ini dan bahkan
memikirkan semua itu benar.”
“Tapi, kita bisa menciumnya sendiri dengan lubang
hidung kita,” ujar Jakob tua.
“Tidak masalah,” Don Maximo Gomez memotong. “Sejak
perang, ketika revolusi telah kehilangan rohnya, kami
semua begitu mengharapkan kehadiran seorang jenderal,
kemudian kami pun melihat Duke of Marlborough muncul
begitu nyata, darah, dan daging. Aku melihatnya dengan
mata kepalaku sendiri, Jakob.”
Setelah tengah malam. Ketika dia sendirian, Jakob tua
menutup tokonya dan membawa lampu ke kamar tidur.
Lewat jendela kamarnya, sisi-sisi jendela yang membatasi
cahaya lautan, dia melihat batu karang tempat mereka
melemparkan orang-orang yang telah mati.
“Petra...,” dia memanggil dengan suara parau.
Petra tak bisa mendengar suaranya. Pada saat itu, ia
melayang di sepanjang permukaan air di bawah ratapan
cahaya matahari di teluk Bengal. Ia mendongak untuk
melihat menerobos air, layaknya cahaya terang lampu
pertunjukkan, di garis samudra luas. Namun, ia tetap tidak
melihat suaminya, yang pada waktu itu, di dunia yang lain,
mulai mendengar gramofon Catarino lagi.
“Coba pikir,” Jakob tua memulai. “Sekitar enam bulan
lalu, mereka berpikir kamu gila dan sekarang mereka
mulai mengadakan festival dari aroma yang membawamu
pada kematian.”
Dia mematikan lampu dan pergi tidur. Perlahan, dia
pun menangis tersedu-sedu seperti seorang tua yang
kehilangan wibawa, namun perlahan dia tertidur.
“Aku akan segera pergi dari kota ini jika aku bisa,”


14

laut yang kehilangan waktu

ujarnya sambil tersedu-sedu. “Aku akan langsung pergi
ke neraka atau ke mana pun juga jika saja aku punya dua
puluh Peso.”
Sejak malam itu dan sampai beberapa minggu, aroma
itu masih saja tercium di lautan. Aroma itu meresap ke
kayu-kayu rumah, ke makanan, dan ke air minum, bahkan
tidak ada lagi tempat untuk menghindari dari aroma itu.
Bahkan, banyak orang terkejut, mencium aroma itu di
dalam bau kotorannya sendiri. Rombongan laki-laki dan
perempuan yang datang di tempat Catarino telah pergi
pada hari Jumat, tapi mereka kembali keesokannya lagi
dengan begitu banyak orang. Pada hari Minggu, semakin
banyak orang berdatangan. Mereka masuk dan keluar di
mana pun seperti semut-semut mencari sesuatu untuk
dimakan dan tempat untuk tidur, sampai-sampai sangat
mustahil bisa berjalan di jalanan.
Orang-orang terus-menerus berdatangan. Seorang
perempuan yang dulu pergi ketika kota mati, datang
kembali ke tempat Catarino. Mereka gemuk dan memakai
make-up yang tebal, dan juga mereka membawa piringan
hitam terbaru yang tentu saja tidak akan mengingatkan
orang-orang tentang apa pun. Beberapa penduduk yang
dulu pernah tinggal kembali lagi ke kota. Mereka pergi
untuk mendapatkan kekayaan yang melimpah di suatu kota
dan mereka kembali lagi hanya untuk menceritakan kisah
kesuksesan mereka, namun lucunya mereka menggunakan
pakaian yang sama saat mereka meninggalkan kota
ini dulu. Musik dan pertunjukan lain datang: judi rolet,
pendongeng dan laki-laki bersenjata serta laki-laki dengan
ular yang melingkari lehernya yang kesemuanya menjual
kekebalan mereka. Mereka terus berdatangan selama
beberapa minggu, bahkan saat hujan pertama datang,
dan laut berubah menjadi buruk, serta bau aroma mawar
menghilang.


15

Gabriel Garcia Marquez

Seorang pendeta datang di antara rombongan terakhir.
Dia berjalan, memakan roti yang dicelupkan ke kopi, dan
sedikit demi sedikit, dia melarang semua yang datang
sebelumnya: permainan judi rolet, musik-musik kekinian
dengan tariannya, dan bahkan kebiasaan tidur di pantai
yang baru-baru ini merebak. Suatu malam, di rumah
Melchor, dia berkhotbah tentang aroma yang muncul dari
lautan.
“Berterimakasihlah kepada surga, anakku,” serunya,
“atas semua rahmat aroma dari Tuhan ini.”
Seseorang memotongnya.
“Bagaimana bisa Anda bicara seperti itu, Bapa? Anda
pun belum pernah menciumnya.”
“Kitab suci,” serunya, “telah menjelaskan secara nyata
tentang aroma ini. Kita tinggal di desa yang dikaruniai.”
Tobias mondar-mandir di Festival itu seperti seorang
yang berjalan dalam tidur. Dia mengajak Clotilde untuk
melihat seperti apa bentuk uang itu. Mereka dimabukkan
untuk menghabiskan banyak uang, bertaruh, di judi rolet,
dan kemudian mereka merasa senang sekali dan merasa
sangat kaya dengan uang-uang yang mereka dapatkan dari
memenangkan judi itu. Namun, suatu malam tidak hanya
mereka, seluruh orang yang datang ke kota, melihat banyak
uang di satu tempat yang mereka tidak bisa bayangkan
sebelumnya.
Malam itu Tuan Herbert datang. Dia muncul tiba-tiba,
menata meja di tengah-tengah jalan, dan di tengah-tengah
meja dia letakkan dua kopor besar penuh dengan cek dari
bank. Ada begitu banyak uang yang sama sekali orang
tidak menyangkanya pertama kali karena mereka tidak
percaya tentang itu semua. Namun, ketika Tuan Herbert
mulai membunyikan lonceng kecil, orang-orang tiba-tiba
percaya, dan mereka mendengarkan kata-katanya.
“Aku adalah orang terkaya di dunia,” serunya. “Aku


16

laut yang kehilangan waktu




























































17

Gabriel Garcia Marquez

punya uang yang begitu banyak sampai-sampai aku tidak
punya ruangan untuk menyimpannya lagi. Dan selain
itu, jiwaku begitu lapang sampai dadaku tak cukup ruang.
Aku memutuskan berkeliling dunia untuk memecahkan
masalah manusia.”
Badannya tinggi dan kemerah-merahan. Dia berbicara
dengan suara keras tanpa jeda dan sekaligus dia
melambai-lambaikan ‘sepasang tangan suam-suam kuku’,
tangan yang tak bertenaga yang selalu kelihatan seperti
sudah dipotong kukunya. Dia berbicara sepanjang lima
belas menit. Kemudian dia membunyikan lonceng kecil
dan mulai berbicara lagi. Di tengah-tengah pidatonya,
seseorang di tengah kerumunan melambaikan topi dan
memotong pidatonya.
“Ayolah Tuan, jangan bicara terlalu lama dan mulailah
bagi-bagikan uang.”
“Tidak secepat itu,” jawab Tuan Herbert. “Membagi-
bagikan uang tanpa ritme dan alasan tertentu, selain
menjadi cara yang tak adil dalam melakukan sesuatu, juga
tidak masuk akal sama sekali.”
Dengan matanya, dia menatap laki-laki yang
memotongnya dan memanggilnya maju ke depan.
Kerumunan orang membiarkan dia melaju.
“Di sisi lain,” Tuan Herbert melanjutkan, “teman
kita yang sabar ini akan memberi kesempatan kepada
kita untuk menjelaskan sistem yang paling adil dalam
pemerataan kesejahteraan.” Dia mengulurkan tangan dan
membantunya naik.”
“Siapa namamu?”
“Patricio.”
“Baiklah Patricio,” Tuan Herbert berkata. “Seperti orang-
orang lainnya, kamu pasti punya masalah yang selama ini
belum bisa kamu selesaikan.”
Patricio melepaskan topinya dan mengiyakan dengan


18

laut yang kehilangan waktu

anggukan kepala.
“Apa itu?”
“Yah, masalahku adalah,” Patricio berkata pelan. “aku
tidak punya uang sepeser pun.”
“Berapa banyak yang kamu butuhkan?”
“48 Peso.”
Tuan Harbert memberi secercah harapan. “48 Peso,” dia
mengulang. Kerumunan itu kemudian bertepuk tangan.
“Bagus sekali, Patricio,” Tuan Herbert melanjutkan.
“Sekarang, katakan padaku, apa yang bisa kamu lakukan?”
“Banyak.”
“Pilih salah satu,” seru Tuan Herbert. “Salah satu yang
terbaik.”
“Yah,” sahut Patricio, “aku bisa menjadi burung.”
Tepuk tangan riuh datang untuk kedua kalinya, Tuan
Herbert menatap kerumunan.
“Baiklah, hadirin puan dan tuan semua, teman kita
Patricio, seorang yang ahli dalam meniru burung, akan
menirukan empat puluh delapan burung yang berbeda,
dan dengan demikian dia akan memecahkan masalah
terbesar dalam hidupnya selama ini.”
Kerumunan pun terkejut dalam keheningan, lalu
Patricio mulai meniru burung, kadang bersiul, kadang
dengan tenggorokannya. Dia menirukan semua burung
dan mengakhiri dengan burung yang sama sekali tidak bisa
dikenali orang-orang. Ketika dia telah sampai batasnya,
Tuan Herbert memanggil dan memberi tepuk tangan, dan
ia pun memberinya 48 Peso.
“Dan sekarang,” serunya, “kemarilah satu demi satu. Aku
akan tinggal di sini hingga esok hari untuk memecahkan
masalah-masalah kalian semua.”
Jakob tua mendengar keributan dari komentar-
komentar orang-orang yang berjalan melewati rumahnya.
Berita itu membuat hatinya semakin membesar dan


19

Gabriel Garcia Marquez

membesar sampai ia merasa akan meledak.
“Bagaimana menurutmu gringo ini?” tanyanya.
Don Maximo Gomez mengangkat bahunya. “Dia pasti
seorang filantropis.”
“Jika aku bisa melakukan satu hal,” Jakob tua berkata,
“Aku bisa memecahkan masalahku sekarang. Tidak terlalu
banyak. Dua puluh Peso.”
“Kamu bagus dalam permainan catur,” Don Maximo
Gomez menimpali.
Jakob tua tampaknya tidak memedulikannya, namun
ketika dia sendirian, dia mulai merapikan papan caturnya
dan membungkusnya dengan koran lalu pergi untuk
menantang Tuan Herbert. Dia menunggu hingga tengah
malam untuk mendapatkan giliran. Akhirnya, Tuan
Herbert merapikan koper-kopernya dan mengucapkan
selamat tinggal, sampai jumpa lagi besok pagi.
Tuan Herbert tidak juga pergi tidur. Dia muncul ke
tempat Catarino dengan laki-laki yang membawakan
kopor-kopornya. Kerumunan orang mengikutinya beserta
masalah-masalah yang dibawanya. Sedikit demi sedikit,
dia membereskan masalah-masalah mereka, dan dia telah
membereskan masalah begitu banyak. Akhirnya, di dalam
toko, tersisa satu lagi, perempuan dan beberapa laki-laki
yang telah diselesaikan masalahnya. Dan di belakang
ruangan, seorang perempuan sendirian mengipas-ngipasi
perlahan dirinya dengan brosur iklan.
“Bagaimana denganmu?” Tuan Herbert menyeletuk
pada perempuan itu. “Apa masalahmu?”
Perempuan itu berhenti mengipasi dirinya.
“Jangan coba-coba melibatkan aku dalam
kesenanganmu, Tuan Gringo,” dia berteriak dari seberang
ruangan. “Aku tidak punya masalah dan aku seorang
pelacur karena hal itu keluar dari kemauanku.”
Tuan Herbert mengangkat bahunya. Dia meminum bir


20

laut yang kehilangan waktu

dingin di sebelah kopor-kopornya, menunggu masalah-
masalah tak terselesaikan lainnya. Dia berkeringat. Sesaat
kemudian, seorang perempuan memisahkan diri dari
meja kelompoknya dan berbicara padanya dengan suara
rendah. Dia mempunyai 500 Peso masalah.
“Bagaimana kamu membaginya?” Tuan Herbert
meminta.
“Lima.”
“Coba banyangkan,” kata Tuan Herbert. “Itu seratus
laki-laki.”
“Tidak masalah,” sahutnya. “Jika aku bisa mendapatkan
semua uang itu, mereka akan menjadi 100 laki-laki terakhir
dalam hidupku.”
Dia menatapnya seksama. Ia cukup muda, rapuh,
namun matanya menyatakan keputusan yang lugu.
“Baiklah, kata Tuan Herbert. “Pergilah ke kamarmu,
aku akan mengirim seorang laki-laki beserta lima Peso
untukmu.”
Dia pergi ke pintu jalan dan membunyikan lonceng
kecilnya.
Pukul tujuh pagi, Tobias melihat tempat Catarino
terbuka. Semua lampu mati. Setengah mengantuk dan
kembung dengan bir, Tuan Herbert mengecek laki-laki
yang masuk ke dalam kamar gadis itu.
Tobias ikut pula. Gadis itu mengenalinya dan terkejut
melihat dia dalam ruangannya.
“Kamu juga?”
“Mereka menyuruhku untuk masuk,” seru Tobias.
“Mereka memberiku lima Peso dan mengatakan jangan
lama-lama.”
Ia mengambil seprai basah yang menutupi kasur dan
meminta Tobias untuk memegang ujung lainnya. Kain
itu keras seperti kanvas. Mereka memerasnya, memutar
di kedua ujungnya, sampai berat kain itu kembali seperti


21

Gabriel Garcia Marquez

semula. Mereka membalikkan kasur agar sisi lembut di
baliknya bisa digunakan. Tobias berusaha melakukan yang
terbaik. Sebelum meninggalkan gadis itu, ia meletakkan
lima Peso di kotak yang telah penuh di samping kasur.
“Kirim semua orang yang kamu bisa,” tuan Herbert
menyarankan. “Kita lihat jika kita bisa menyelesaikan
semua sebelum siang.”
Gadis itu membuka pintu dan minta bir dingin. Masih
ada beberapa laki-laki lagi menunggu.
“Berapa lagi tersisa?” tanyanya.
“63,” Tuan Herbert menjawab.
Jakob tua mengikuti Tuan Herbert sepanjang hari
dengan membawa papan catur. Gilirannya datang pada
malam hari dan dia menceritakan masalahnya. Tuan
Herbert pun setuju. Mereka meletakkan dua kursi dan
meja kecil di atas meja besar di tengah jalan. Jakob tua
memulai langkah pertama. Itu permainan terakhir yang
bisa ia rencanakan sebelumnya. Dia kalah.
“40 Peso,” seru Tuan Herbert, “dan akan kuberi kamu
kemudahan 2 langkah.”
Tuan Herbert menang lagi. Tangannya hampir tidak
menyentuh bidak catur. Dia bermain dengan menutup
mata, mereka-reka langkah lawannya, dan masih juga
menang. Kerumunan orang kecapekan menonton. Ketika
Jakob tua memutuskan menyerah, dia telah berhutang
sekitar 5.742 Peso dan 23 sen.
Jakob tua sama sekali tidak mengubah ekspresinya. Dia
mencatat angka di selembar kertas yang ada di dompetnya.
Lalu, ia melipat papan catur, dan memasukkan seluruh
bidak-bidak ke dalam kotak, dan membungkus semuanya
dengan kertas koran.
“Lakukan apa yang Anda inginkan dariku,” seru Jakob
tua, “tapi biarkan aku memiliki ini. Aku berjanji, aku akan
menghabiskan waktuku untuk mengumpulkan semua


22

laut yang kehilangan waktu

uang itu.”
Tuan Herbert melihat jam tangannya.
“Aku sangat menyesal,” serunya. “Waktumu akan habis
dalam dua puluh menit.” Dia menunggu hingga yakin
bahwa lawannya tidak menemukan solusi. “Kamu punya
sesuatu yang bisa ditawarkan?”
“Harga diriku.”
“Maksudku,” Tuan Herbert menjelaskan, “sesuatu yang
bisa berubah warna ketika kuas diolesi cat dan menimpa
itu semua.”
“Rumahku,” kata Jakob tua seakan-akan ia telah
memecahkan teka-teki. “Itu memang tidak begitu bernilai
banyak, tapi itu rumah.”
Itulah cara Tuan Herbert menguasai rumah Jakob
tua. Dia juga mengambil alih rumah-rumah lainnya dan
properti dari orang-orang yang tidak bisa membayar
utang-utang mereka. Tapi, ia mengadakan pertunjukan
musik selama seminggu, kembang api, dan sirkus, serta
dia mengambil alih perayaan bagi dirinya sendiri.
Minggu itu adalah minggu yang mengesankan. Tuan
Herbert menceritakan takdir ajaib kota dan dia bahkan
membuat sketsa bagaimana kota itu di masa depan,
bangunan-bangunan tinggi dari kaca dengan ruang dansa
di lantai atas. Dia menunjukkan kepada kerumunan orang.
Mereka tampak keheranan, mencoba menemukan diri
mereka di antara pejalan kaki yang telah diwarnai dengan
warna pilihan Tuan Herbert. Namun, mereka tampak bagus
berpakaian seperti itu yang membuat mereka tidak bisa
mengenali diri mereka sendiri. Ini terasa menyakitkan
mereka karena dimanfaatkan oleh Tuan Herbert. Mereka
menertawakan diri mereka saat mereka tahu harus
menangis kembali di bulan Oktober dan mereka terus
hidup di tengah-tengah harapan hingga Tuan Herbert
membunyikan lonceng kecilnya dan berkata pesta telah


23

Gabriel Garcia Marquez

usai. Kemudian dia bisa beristirahat.
“Kamu akan mati dari kehidupan yang kamu jalani,”
ujar Jakob tua.
“Aku punya banyak uang, tak ada alasan bagiku untuk
mati,” Tuan Herbert menimpali.
Dia merebahkan diri di kasurnya. Dia tidur selama
berhari-hari, mendengkur seperti singa, dan begitu banyak
hari berlalu hingga orang-orang kelelahan menunggunya.
Mereka mencari kepiting untuk dimakan. Piringan hitam
Catarino sudah terlalu tua hingga tiada orang yang dapat
mendengarkannya lagi tanpa air mata, dan ia pun harus
menutup tempatnya.
Waktu semakin lama berlalu setelah Tuan Herbert
tertidur pulas, pendeta mengetuk pintu rumah Jakob tua.
Rumah itu terkunci dari dalam. Seperti napas lelaki yang
tertidur telah menyebar ke seluruh udara, beberapa orang
telah kehilangan berat badan dan mulai menyebar ke
sekitar kota.
“Aku ingin bicara dengannya,” ujar pendeta itu.
“Anda harus menunggu sebentar,” kata Jakob tua.
“Aku tidak punya banyak waktu.”
“Silakan duduk, Bapa, dan tunggu sebentar,” Jakob tua
mengulangi lagi. “Dan tolong bicaralah padaku sebentar.
Sudah lama sekali semenjak aku mengetahui apa yang
terjadi di dunia ini.”
“Orang-orang telah tersebar semua,” kata pendeta itu.
“Tidak akan lama lagi sebelum kota akan kembali sama
seperti sebelumnya. Hanya itu hal yang baru.”
“Mereka akan kembali ketika aroma mawar dari lautan
kembali lagi,” ujar Jakob tua.
“Tapi sementara ini, kita harus mempertahankan ilusi
yang ada dalam diri orang-orang,” katanya. “Ini sangat
penting, kita harus segera membangun gereja.”
“Oh, itu alasan Anda datang menemui Tuan Herbert,”


24

laut yang kehilangan waktu

kata Jakob tua.
“Betul sekali,” ujar pendeta itu. “Gringos itu sangat
dermawan.”
“Tunggu sebentar, Bapa,” kata Jakob tua. “Dia mungkin
saja baru bangun.”
Mereka bermain catur. Permainan catur berlangsung
cukup lama dan ketat, serta sudah menghabiskan waktu
berhari-hari, tapi Tuan Herbert tidak kunjung bangun juga.
Pendeta itu kebingunan dan putus asa. Ia pun pergi
berkeliling dengan membawa cawan tembaga meminta
sumbangan untuk membangun gereja, tapi hasilnya tidak
begitu banyak. Dia semakin lama semakin lemah untuk
mengemis, tulang-tulangnya mulai bergemretak, dan pada
suatu hari Minggu, dia mengangkat kedua tangannya di
atas tanah, tapi tidak ada yang menyadarinya. Lalu, dia
mengemasi pakaiannya ke dalam kopor dan uang yang dia
kumpulkan di tempat lain seraya mengucapkan perpisahan
untuk selamanya.
“Aroma itu takkan kembali,” katanya kepada seseorang
yang mencoba menahannya. “Kamu harus menerima
kenyataan, bahwa kota telah jatuh ke dalam dosa besar.”
Ketika Tuan Herbert bangun, kota telah kembali ke
keadaan sebelumnya. Hujan telah membusukkan sampah
orang-orang yang tertinggal di jalanan dan tanah kini
mengering dan keras seperti batu bata lagi.
“Aku tidur lama sekali,” kata Tuan Herbert, menguap.
“Seabad barangkali,” kata Jakob tua.
“Aku kelaparan hingga mau mati rasanya.”
“Semua orang juga,” ujar Jakob tua, “Tidak ada lagi
yang bisa dikerjakan melainkan hanya pergi ke pantai dan
mencari kepiting-kepiting.”
Tobias melihatnya sedang menggali pasir, mulutnya
berbusa, dan dia terkejut melihat seorang kaya raya
kelaparan seperti orang miskin kebanyakan. Tuan Herbert


25

Gabriel Garcia Marquez

tidak mendapatkan cukup kepiting. Saat malam tiba, dia
mengundang Tobias untuk mencari sesuatu yang bisa di
makan di kedalaman lautan.
“Dengar,” Tobias mengingatkannya, “hanya orang mati
yang tahu di kedalaman samudra.”
“Ilmuwan pun juga tahu,” kata Tuan Herbert. “Di
kedalaman lautan, terdapat kura-kura dengan daging yang
lezat. Lepas pakaianmu dan ayo lekas berangkat.”
Mereka pergi. Pertama-tama mereka berenang lurus
dan kemudian mereka menyelam lebih dalam yang bahkan
cahaya matahari tak dapat menembus dan digantikan
cahaya dari laut itu sendiri. Segala sesuatu yang terlihat
hanya cahaya mereka sendiri. Mereka melewati desa yang
berada di bawah laut dengan laki-laki dan perempuan di
atas punggung kuda dan memutar musik. Saat itu adalah
hari yang luar biasa dan di sana terdapat bunga berwarna
cerah di teras-teras.
“Hari minggu sudah terbenam sekitar pukul sebelas
pagi,” kata Tuan Herbert. “Pasti ini sebuah bencana.”
Tobias menyerah mendekati desa itu, tapi Tuan Herbert
menyuruhnya untuk tetap menyelam.
“Ada bunga mawar di sana,” seru Tobias. “Aku ingin
Clotilde tahu mereka ada.”
“Kamu bisa kembali lain kali saat senggang,” serunya.
“Sekarang, aku mati kelaparan.”
Dia menyelam seperti gurita, lambat, mengepak-
ngekapan tangannya. Tobias, yang berusaha mati-matian
untuk tidak kehilangan pandangan, berpikir bahwa
harusnya ini menjadi cara orang kaya berenang. Pelan-
pelan, mereka meninggalkan lautan biasa penuh bencana
dan memasuki lautan kematian.
Mereka begitu banyak, sampai-sampai Tobias berpikir
bahawa dia tidak pernah melihat orang sebanyak
ini di bumi. Mereka melayang-layang tak bergerak,


26

laut yang kehilangan waktu




























































27

Gabriel Garcia Marquez

menentangkan wajah, dan pada tingkatan yang berbeda,
mereka semua memiliki tampilan dengan jiwa-jiwa yang
terlupakan.
“Mereka telah lama mati,” kata tuan Herbert. “Butuh
berabad-abad untuk mencapai kedamaian seperti ini.”
Semakin ke dalam, lautan semakin berisi jiwa-jiwa yang
baru mati, tuan Herbert berhenti. Tobias dan tuan Herbert
sekejap melihat seorang perempuan yang sangat muda
melintas di depannya. Ia melayang di sebelahnya, kedua
matanya terbuka, diikuti oleh bunga-bunga.
Tuan Herbert mengigit jarinya hingga bunga-bunga
yang terakhir lewat.
“Dia perempuan paling cantik yang pernah aku lihat
dalam hidupku,” serunya.
“Perempuan itu adalah istri Jakob tua,” kata Tobias. “Ia
kelihatan lima puluh tahun lebih muda, tapi aku sangat
yakin sekali itu dia.”
“Ia telah selesai menempuh perjalanan jauh,” kata tuan
Herbert. “Ia membawa bunga-bunga dari seluruh lautan
di dunia.”
Mereka mencapai dasar laut. Tuan Herbert mengambil
beberapa putaran dari dasar bumi dan melihat sesuatu
seperti batu yang telah dihaluskan. Tobias mengikutinya.
Karena sudah terbiasa dengan minimnya cahaya, dia
seperti melihat kura-kura di bawah sana. Ada banyak
sekali, mungkin ribuan, berkerumun di dasar laut, tak
bergerak, mereka tampak ketakutan.”
“Mereka hidup,” kata tuan Herbert, “tapi mereka telah
tertidur lebih dari jutaan tahun.”
Dia melewati salah satunya. Dengan sentuhan
lembut, dia mendorong ke atas dan hewan yang tidur itu
meninggalkan tangannya dan terus melayang ke atas.
Tobias membiarkan hewan itu lewat. Lalu dia melihat ke
permukaan dan dia melihat seluruh lautan terbalik.


28

laut yang kehilangan waktu

“Ini seperti mimpi,” serunya.
“Untuk kebaikanmu,” Tuan Herbert berkata, “jangan
katakan pada siapa pun. Bayangkan, dunia akan terganggu
jika orang menemukan tempat ini.”
Hari mendekati tengah malam ketika mereka kembali ke
desa. Mereka membangunkan Clotilde untuk memanaskan
air. Tuan Herbert memotong kura-kura, tapi dibutuhkan
tiga orang dari mereka semua untuk menangkap dan
membunuh jantungnya pada kesempatan kedua karena
kura-kura itu sempat melompat ke halaman ketika mereka
hendak memotongnya. Mereka makan sampai-sampai
mereka tidak bisa bernapas lagi.
“Yah, Tobias,” bisik tuan Herbert, “kita harus kembali ke
kenyataan.”
“Tentu saja.”
“Dan kenyataan itu berkata,” Tuan Herbert melanjutkan,
“bahwa aroma itu takkan pernah kembali lagi.”
“Aroma itu akan kembali.”
“Tidak akan kembali,” Clotilde menimpali, “di antara
banyak alasan yang paling masuk akal karena memang
aroma itu tak pernah datang. Semua karena ulahmu
hingga orang-orang terpedaya.”
“Kamu menciumnya sendiri, kan?” Kata Tobias.
“Aku setengah sadar malam itu,” kata Clotilde. “Tapi



















29

Gabriel Garcia Marquez

sekarang, aku tidak begitu yakin tentang apa pun yang
terjadi di lautan.”
“Jadi, aku akan pergi dengan jalanku sendiri,” kata
tuan Herbert. “Dan,” dia menambahkan, berbicara kepada
mereka berdua, “kamu juga harus meninggalkan ini
semua. Masih banyak yang bisa dilakukan di dunia ini agar
kamu tidak kelaparan di kota ini.”
Dia pergi. Tobias tetap bertahan di halaman dan mulai
menghitung bintang-bintang hingga kaki langit dan dia
menemukan tiga bintang lebih banyak sejak Desember.

























Clotilde memangilnya dari dalam kamar tidur, tapi dia
tidak mengindahkan sama sekali.
“Kemarilah, tolol,” Clotilde memaksa. “Sudah hampir
setahun sejak kita bermain kelinci-kelincian.”
Tobias lama sekali. Saat dia akhirnya masuk, Clotilde
sudah tertidur. Dia coba membangunkannya, tapi Clotilde
sangat kecapekan untuk melakukannya berdua dan mereka
pun cuma bisa bercinta seperti cacing tanah.
“Kamu melakukan seperti orang bodoh saja,” Clotilde


30

laut yang kehilangan waktu

menggerutu. “Cobalah memikirkan sesuatu yang lain.”
“Ya, Aku memang memikirkan sesuatu yang lain.”
Ia ingin tahu apa yang Tobias pikirkan dan Tobias
memutuskan untuk menceritakan semua kejadian
dan meminta Clotilde untuk menjaga rahasia. Clotilde
menyanggupi.
“Ada sebuah desa di dasar laut,” Tobias memulai,
‘dengan rumah-rumah kecil disertai jutaan bunga-bunga
di teras.”
Clotilde mengusap-usap kepalanya sendiri.
“Oh, Tobias,” serunya. “Oh, Tobias, demi Tuhan, jangan
kamu mulai dengan itu lagi.”
Tobias tidak berkata-kata lagi. Dia berguling resah di
ujung ranjang dan mencoba untuk tertidur sejenak. Dia
tidak bisa tidur hingga subuh, ketika angin laut berubah
dan kepiting-kepiting meninggalkannya dalam kedamaian.
































31

Dedalu



Buta



dan



Perem



puan

Haruki


Tidur Murakami



32

Haruki


Murakami



33

Haruki Murakami adalah pengarang Jepang yang kerap digadang-gadang
meraih Nobel Sastra. Ia lahir di Kyoto, 1949. Ia sendiri baru memulai menulis di
umur 29. Ia memutuskan menjual kafe jaz dan hidup dari menulis. Bagi kritikus
Jepang, karangan Murakami cenderung surealis dan nihilis dengan kerap
menampilkan tema kesendirian dan pengasingan. Beberapa karyanya, seperti
Norwegian Wood, 1Q84, dan Kafka on the Shore mendapatkan sambutan baik
di dunia sastra. Kafka on the Shore berhasil memenangkan World Fantasy
Award pada 2006. Jika pembaca yang pernah menuntaskan Norwegian Wood,
cerpen “Dedalu Buta dan Perempuan Tidur” adalah sekuel novel tersebut.







































34

Haruki Murakami
Dedalu Buta dan


Perempuan Tidur








ETIKA AKU MEMEJAMKAN MATA, bebauan di udara
terbawa angin ke arahku. Angin bulan Mei membawa
Karoma buah yang terlampau masak, kulit yang kasar,
daging berlendir, serta puluhan biji. Daging buah pecah
di udara terbuka, melemparkan biji-bijinya yang seperti
peluru ke kulit tanganku yang telanjang, dan meninggalkan
sedikit jejak luka.
“Jam berapa sekarang?” tanya sepupuku. Kira-kira 20
cm lebih pendek diriku, dia harus mendongak ke atas
ketika berbicara.
Kulirik jam tanganku. “Sepuluh dua puluh.”
“Apa jam itu tepat?”
“Ya, kurasa begitu.”
Dia menarik tanganku, memerhatikan jam tanganku.
Kurus, meski jari-jarinya lembut, tarikannya begitu kuat.
“Mahal kah?”
“Tidak, ini cukup murah,” aku menimpali, sambil


35

haruki murakami

melirik jam tanganku.
Tidak ada jawaban.
Sepupuku terlihat bingung. Gigi putih di sela-sela
bibir terbukanya terlihat seperti tulang yang tumbuh tak
sempurna.
“Ini cukup murah,” kataku, sambil melihat ke arahnya
mengulangi kata-kata tadi dengan hati-hati. “Ini cukup
murah, tapi tetap menunjukkan waktu yang tepat.”
Dia cuma mengangguk, tak ada kata-kata terlontar.


EPUPUKU tidak bisa mendengar dengan sempurna,
Stelinga kanannya cacat. Ketika dia masuk sekolah
dasar, dia terkena pantulan bola bisbol dan mengacaukan
pendengarannya. Itu membuatnya kesusahan dalam
kehidupan sehari-hari. Dia masuk di sekolah umum, sama
seperti anak-anak lainnya, menjalani kehidupan normal.
Di kelas, dia selalu duduk di depan, di sisi kanan sehingga
dia masih bisa mendengarkan guru dengan telinga
kirinya. Nilainya tidak begitu buruk. Yang jadi soal, meski
dia kadang bisa mendengar suara dengan cukup baik, ada
waktu-waktu tertentu dia tak bisa mendengar sama sekali.
Siklus ini naik turun, bergantian. Terkadang, mungkin dua
kali dalam setahun, dia hampir tidak bisa mendengarkan
apa pun di kedua telinganya. Seperti keheningan di telinga
kanannya menekan lebih dalam hingga menghancurkan
segala suara yang masuk di telinga kiri. Ketika itu terjadi,
kehidupan normalnya kabur lewat jendela dan dia harus
bolos sekolah. Dokter-dokter sebenarnya bingung. Mereka
tidak pernah menjumpai kasus seperti ini. Tak ada yang
bisa mereka lakukan.
“Meski jam itu mahal, belum tentu akurat,” ujar
sepupuku, berusaha meyakinkan dirinya. “Aku pernah
punya jam tangan mahal, tapi selalu saja hilang. Aku punya
saat masuk SMP, tapi hilang setahun kemudian. Sejak itu


36

pohon dedalu dan perempuan tidur

aku pergi tanpa jam tangan. Orang tuaku tidak mau lagi
membelikan yang baru.”
“Pasti susah hidup tanpa jam tangan,” kataku.
“Apa?” tanyanya.
“Tidakkah susah hidup tanpa jam tangan?” kuulangi
sambil melihat ke arahnya.
“Tidak juga,” jawabnya, menggelengkan kepala. “Tidak
seperti hidup sendirian di gunung atau sebagainya. Jika
aku ingin tahu, aku tinggal bertanya pada seseorang.”
“Iya, benar,” kataku.
Kami terdiam untuk sementara waktu.
Ya, aku tahu, seharusnya aku berbicara lebih banyak,
mencoba ramah padanya, coba membuat dia rileks sedikit
sampai kami tiba di rumah sakit. Namun, sudah lima tahun
sejak aku bertemu dia terakhir kalinya. Sekarang, dia telah
tumbuh dari 9 tahun ke 14 tahun dan aku sudah beranjak
dari 20 tahun ke 25 tahun. Dan dalam rentan waktu selama
itu telah berdiri tembok kasat mata di antara kami yang
susah dilewati. Setiap kali aku ingin mengatakan sesuatu,
tiba-tiba kata-kata itu urung kuucapkan. Setiap kali aku
ragu-ragu, aku menelan kembali kata-kata yang ingin
kuucapkan. Sepupuku menatap wajahku, kebingungan.
Telinga kirinya ia condongkan sedikit ke arahku.
“Jam berapa sekarang?” tanyanya lagi.
“Sepuluh dua puluh sembilan,” jawabku.
Pukul 10.32, bus akhirnya terlihat mendekat.


IS model baru yang datang, tidak seperti yang
Bsering aku tumpangi ke sekolah menengah. Kaca
depannya jauh lebih besar. Bentuk bis itu seperti pesawat
bomber tanpa sayap. Dan, bis ternyata lebih penuh dari
yang kubayangkan. Tidak ada yang berdiri, tapi kami tak
bisa duduk bersama. Kami tidak pergi terlalu jauh, jadi
kami duduk di dekat pintu belakang. Kenapa bis begitu


37

haruki murakami































penuh pada jam-jam segini? Itu masih menjadi misteri.
Rute bis dimulai dari stasiun kereta api swasta, lalu menuju
daerah perumahan di perbukitan, dan memutar kembali
ke stasiun. Tidak ada tempat wisata di sepanjang rute ini.
Beberapa sekolah dilewati rute bis ini sehingga bis penuh
ketika jam anak-anak berangkat sekolah. Namun, pada jam
segini, bis seharusnya kosong.
Aku dan sepupuku berpegangan pada tali strap dan
tiang. Bis itu model baru, langsung dari pabrik. Permukaan
logamnya mengkilat—kamu bisa melihat wajahmu
terpantul di dalamnya. Semua permukaan kursinya halus,
bahkan sekrup terkecil terlihat bagus. Ya, hanya bis tipe
terbaru saja yang punya seperti itu.
Bis baru dan penuhnya penumpang yang tidak diduga-
duga membuatku sedikit pangling. Barangkali rute bis itu
berubah sejak terakhir kali aku naik. Aku melihat seksama


38

pohon dedalu dan perempuan tidur































di sekitar bis dan melirik keluar. Namun, masih sama
seperti yang dulu, distrik perumahan yang tenang, yang
masih kuingat dengan baik.
“Bis ini benarkan?” tanyanya khawatir. Sejak kami
berangkat, wajahku pasti memperlihatkan pandangan
bingung.
“Jangan khawatir,” jawabku, aku meyakinkan dirinya
sekaligus pula diriku sendiri. “Cuma satu bis yang lewat
rute ini, jadi pasti ini bis yang benar.”
“Apa kamu naik bis ini juga kalau berangkat sekolah?”
tanyanya lagi.
“Iya, benar.”
“Kamu menyukai sekolah?”
“Tidak juga,” kataku. “Tapi, aku bisa bertemu teman-
temanku di sana, dan ini bukan perjalanan yang jauh.”
Sepupuku meresapi kata-kata yang kuucapkan.


39

haruki murakami

“Kamu masih melihat mereka?”
“Tidak, tidak untuk waktu yang lama,” jawabku, hati-hati
memilih kata-kata.
“Kenapa tidak? Kenapa kamu tidak melihat mereka?”
“Karena kami tinggal berjauhan satu sama lain.” Itu
bukanlah alasan, tapi aku tidak menemukan cara lain
untuk menjelaskannya.
Tepat di sebelahku duduk sekelompok orang tua.
Setidaknya ada 15 orang di antara mereka. Karena mereka-
lah bis ini jadi penuh, aku akhirnya menyadari. Mereka
semua terbakar sinar matahari, bahkan di leher bagian
belakang mereka, gelap. Setiap dari mereka berbadan
kurus. Kebanyakan laki-laki mengenakan setelan kaos
gunung tebal, sedangkan perempuan lebih simpel, blus
tanpa kerah. Mereka semua memangku tas ransel kecil—
perlengkapan yang biasa digunakan untuk hiking pendek
di perbukitan. Sungguh menakjubkan mereka terlihat.
Seperti sebuah boks yang di dalamnya penuh benda-
benda yang tertata rapi. Yang aneh, di sepanjang rute bis
itu, tak ada jalur pendakian gunung. Jadi, di dunia mana
sebenarnya mereka barusan pergi? Pikiran itu menyeruak
ketika aku berdiri di dekat mereka, berpegangan pada
tali strap, namun tak ada penjelasan yang masuk akal di
kepalaku.

KU ingin tahu, apa pemeriksaannya menyakitkan?”
“Asepupuku bertanya.
“Aku tidak tahu,” kataku, “aku tak pernah mendengar
detailnya.”
“Kamu pernah ke dokter THT?”
Aku menggelengkan kepala. Aku tidak pernah sekalipun
pergi ke dokter THT.
“Yang sebelumnya bagaimana? Sakit?” tanyaku.
“Tidak begitu,” sepupuku menjawab dengan muram.


40

pohon dedalu dan perempuan tidur




























































41

haruki murakami

“Sebenarnya tidak begitu sakit, tentu, kadang-kadang sakit
sedikit. Tapi, tidak mengerikan.”
“Mungkin sekarang akan sama. Ibumu bilang mereka
tidak akan melakukan lebih dari yang biasanya.”
“Tapi, kalau mereka melakukan hal yang sama terus,
apa bisa sembuh?”
“Ya, kita tidak akan pernah tahu. Kadang-kadang sesuatu
yang di luar dugaan bisa terjadi.”
“Maksudmu seperti mengeluarkan penyumbat?” kata
sepupuku. Aku melirik sekilas padanya, tak ada raut
sarkasme.
“Rasanya akan lain saat kamu ditangani oleh dokter baru
dan kadang-kadang hanya sedikit perubahan prosedur
bisa membuat lebih baik. Aku tidak akan menyerah begitu
saja,” kataku.
“Aku tidak menyerah,” katanya menimpali.
“Tapi, kamu sepertinya sudah lelah.”
“Kurasa,” katanya. Menghela napas. “Ketakutan adalah
sesuatu yang terburuk. Rasa sakit yang kubayangkan lebih
buruk dari rasa sakit sebenarnya. Kau tahu maksudku?”
“Ya, aku paham.”

ANYAK hal yang terjadi di musim semi ini. Suasana
Bdi tempat kerja telah berubah dan aku memutuskan
berhenti bekerja di sana, di perusahaan advertising kecil
di Tokyo. Sudah dua tahun aku bekerja di sana. Saat yang
sama, aku juga putus dengan pacarku, kami bersama
semenjak di kampus. Sebulan berikutnya, nenekku
meninggal karena kanker usus. Dan ini pertama kalinya
sejak lima tahun aku kembali ke kota ini, dengan kopor kecil
di tangan. Kamar lamaku masih sama seperti sebelum aku
meninggalkannya. Buku-buku yang sudah kubaca masih di
dalam rak, kasurku masih di tempat sama, mejaku, dan
semua kaset yang pernah kudengarkan juga. Tapi, semua


42


Click to View FlipBook Version