The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by bukunyamantan, 2018-09-19 09:08:51

Kumpulan Cerpen Dunia 135 x 200 mm

pohon dedalu dan perempuan tidur

yang ada di ruangan telah kering, kehilangan warna, dan
bau. Hanya waktu saja yang masih berdiri.
Setelah pemakaman nenek, aku berencana kembali
ke Tokyo, mencari pekerjaan baru. Aku juga berencana
pindah apartemen. Aku butuh suasana baru. Hari demi
hari berlalu, sungguh, seperti banyak masalah yang
membuat diriku ingin kabur dan pergi secepatnya dari
rumah ini. Bahkan hanya untuk bangun dan melakukan
sesuatu, aku tidak bisa. Kuhabiskan waktuku bersembunyi
di kamar lamaku, mendengarkan kaset-kaset, membaca
ulang buku-buku, kadang-kadang mencabuti rumput di
taman. Aku tidak bertemu siapa pun dan seseorang yang
kuajak bicara hanya keluargaku saja.
Suatu hari, bibiku datang dan memintaku untuk
mengantarkan sepupuku ke rumah sakit yang baru. Ia
seharusnya mengantarkannya sendiri, katanya, tapi
sesuatu telah datang pada hari yang sudah dijadwalkan
dengan dokter dan ia tidak bisa. Lokasi rumah sakit cukup
dekat dengan sekolah lamaku, jadi aku tahu, dan karena
aku tidak melakukan apa pun, aku tidak bisa menolak.
Bibiku memberi amplop berisi uang untuk makan siang.
Karena tak ada perubahan sama sekali, sepupuku
dipindahkan penanganannya ke rumah sakit baru.
Faktanya, dia punya lebih banyak masalah dari sebelumnya.
Ketika bibiku mengeluh pada dokter yang bertugas, dia
menyarankan bahwa masalah sebenarnya lebih banyak
pada lingkungan rumah dan keluarga dibandingkan
persoalan medis. Mereka berdua tidak sependapat. Tidak
seorang pun benar-benar yakin perubahan rumah sakit
akan mempercepat meningkatkan pendengarannya. Tak
ada yang berkata sejauh itu, namun mereka agak menyerah
jika kondisi sepupuku akan membaik.
Sepupuku tinggal di dekat rumahku, namun karena aku
hampir satu dekade lebih tua darinya, kami tidak pernah


43

haruki murakami




























benar-benar dekat. Ketika ada pertemuan keluarga, aku
mungkin akan pergi bersamanya ke suatu tempat atau
bermain dengannya, tapi hanya sebatas itu. Lama-kelamaan
semua orang menganggap kami berdua dekat, berpikir dia
melekat padaku, dan dia adalah saudara kesayanganku.
Untuk waktu yang lama, aku tidak tahu mengapa.
Sekarang, sungguh, melihat dia memiringkan kepalanya,
mendekatkan telinga kirinya padaku, aku merasakan
sesuatu keanehan yang menyentuh. Seperti suara hujan
yang terdengar bertahun-tahun lalu. Kekikukannya begitu
familiar denganku, seperti aku pernah merasakannya.
Dan, aku baru menangkap sekilas kenapa keluarga kami
menginginkan kami bersama.


IS telah melewati 7 atau 8 halte ketika sepupuku
Bcemas menatapku kembali.
“Masih jauh?”
“Ya, kita masih lumayan. Rumah sakitnya besar, kita


44

pohon dedalu dan perempuan tidur

tidak akan kelewatan.”
Aku sambil lalu melihat angin yang berembus dari
jendela terbuka dengan lembut mendesir di topi orang tua
dan syal yang melingkar di lehernya. Siapa orang-orang
ini? Dan ke mana kemungkinan mereka akan pergi?
“Hei, apa kamu akan bekerja di perusahaan ayahku?”
tiba-tiba sepupuku memecah lamunanku.
Aku menatapnya, terkejut. Ayahnya, pamanku,
menjalankan perusahaan percetakan besar di Kobe. Tak
pernah terlintas di kepalaku, dan tak seorang pun memberi
pertanda.
“Tak ada seorang pun yang berkata tentang itu,” jawabku,
“Kenapa kamu menanyakan itu?”
Sepupuku tersipu. “Aku hanya berpikiran kamu
mungkin bisa,” katanya. “Tapi, kenapa tidak? Kamu tidak
harus pergi. Tentu semua orang akan senang.”
Suara dalam mesin rekaman mengumumkan
pemberhentian berikutnya. Tak ada yang menekan tombol
untuk turun. Tak ada orang yang menunggu untuk naik bis
di halte.
“Tapi, ada sesuatu yang harus kukerjakan, jadi aku
harus kembali ke Tokyo,” kataku. Sepupuku menunduk, tak
berkata-kata.
Sebenarnya, tak ada satu hal pun yang harus kukerjakan.
Tapi, aku tidak bisa bahagia tinggal di sini.
Jumlah rumah semakin sedikit ketika bis mulai
menanjak di lereng gunung. Cabang-cabang pohon mulai
melemparkan bayangan gelap di sepanjang jalan. Kami
melewati rumah-rumah yang tampak asing, dicat, dan
dengan dinding rendah di depan. Udara dingin terasa
menyenangkan. Tiap kali bis melewati tikungan, cekungan
laut di bawah terlihat, kemudian menghilang. Bis berhenti
di depan rumah sakit, aku dan sepupuku berdiri di sana,
melihat pemandangan berlalu.


45

haruki murakami

“Pemeriksaan akan memakan beberapa waktu dan
aku bisa melakukannya sendiri,” katanya, “jadi kamu bisa
pergi dan menungguku di suatu tempat.” Setelah menyapa
dokter, aku keluar dari ruang periksa dan pergi ke kafetaria.
Aku hampir tidak sarapan dan sekarang merasa lapar.
Sayangnya, tidak ada menu yang membangkitkan selera
makanku. Akhirnya, aku cuma memesan secangkir kopi.
Pagi di hari kerja, aku dan keluarga kecil di sebelahku
mempunyai tempat bagi diri kami masing-masing. Sang
ayah sekitar 45 tahunan, mengenakan piyama bergaris
berwarna biru tua, dan sandal plastik. Sang ibu dan dua
gadis kembar datang kemudian. Si kembar memakai baju
putih yang sama persis dan meringkuk di atas meja, terlihat
serius di mukanya. Mereka minum segela jus jeruk. Cidera
atau penyakit sang ayah tidak terlihat terlalu serius. Kedua
orang tua dan anak-anak tampak bosan.
Di luar jendela terdapat halaman rerumputan.
Penyiram rumput berputar di permukaan halaman,
menyirami rerumputan dengan gerimis buatan keperakan.
Sepasang burung berekor panjang berkicau tepat di atas
mesin penyiram rerumputan itu, kemudian hilang dari
pandangan. Di balik lapangan tenis, pohon zelkova berjajar
dan di antara ranting-rantingnya, kamu bisa melihat
samar-samar lautan.
Aku merasa seperti pernah melihat pemandangan
ini beberapa tahun yang lalu: halaman rerumputan yang
luas, gadis kembar menyeruput jus jeruk, burung ekor
panjang yang terbang entah ke mana, lapangan tenis yang
tak bernet, dan lautan di cakrawala nun jauh... Namun, itu
hanya ilusi. Sayangnya, gambar-gambar itu sangat jelas
sekali, perasaan yang sungguh-sungguh nyata. Tetap saja
ilusi. Aku tak pernah berada di rumah sakit sepanjang
hidupku.
Kurenggangkan kakiku hingga ke kursi di depan,


46

pohon dedalu dan perempuan tidur

menarik napas dalam-dalam, dan menutup mataku. Di
dalam kekegelapan aku bisa melihat bungkahan putih.
Pelan-pelan meluas, lalu berkontraksi, seperti mikroba di
dalam mikroskop. Berubah bentuk, menyebar, membelah
diri, dan terbentuk ulang.
Sekitar delapan tahun lalu, aku berada di rumah sakit
lain, rumah sakit kecil yang berada di dekat laut. Semua
yang bisa kamu lihat di luar jendela adalah bunga-bunga
oleander. Ya, rumah sakit, rumah sakit yang memiliki
aroma air hujan. Di sana, pacar temanku dirawat dan akan
dioperasi. Musim panas pertama di sekolah menengah, ia
dirawat. Bukan merupakan operasi besar, sungguh, hanya
membenarkan posisi salah satu tulang rusuknya yang
melengkung sedikit ke dalam. Bukan prosedur darurat,
hanya sesuatu yang memang harus dibetulkan, lalu ia
berpikir kenapa tidak diurus sekarang saja. Operasinya
sendiri lebih cepat. Namun, dokter menginginkan ia
istirahat untuk memulihkan diri pascaoperasi. jadi ia harus
tinggal lebih lama di rumah sakit selama sepuluh hari.
Aku dan temanku berangkat ke rumah sakit berboncengan
mengendarai motor Yamaha 125cc. Dia mengendarai
saat jalan ke sana, dan aku mengendarai saat pulang. Dia
memintaku untuk datang.
“Tidak, Aku akan ke rumah sakit sendiri,” katanya.
Temanku berhenti di toko permen dekat stasiun dan
membeli satu boks cokelat. Aku berpegangan pada ikat
pinggangnya hanya dengan satu tangan, tangan lainnya
memegang erat boks cokelat. Panas sekali waktu itu
dan kemeja kami basah keringat, tapi angin kemudian
mengeringkannya. Saat temanku mengendarai motor, dia
menyanyikan sebuah lagu dengan suara mengerikan. Aku
masih bisa mengingat bau keringatnya. Tidak lama setelah
itu, dia meninggal.




47

haruki murakami

ACARNYA mengenakan piyama biru dan semacam
Pgaun tipis sepanjang lututnya. Kami bertiga
duduk-duduk di kafetaria, merokok Short Hope, minum
Cokes, dan makan es krim. Ia sangat kelaparan. Ia sudah
menghabiskan dua donat bertabur gula dan minum
cokelat dengan berton-ton krim di dalamnya. Tampaknya
itu masih belum cukup baginya.
“Saat kamu keluar dari sini, kamu akan jadi balon
udara,” ujar temanku, sedikit jijik.
“Tidak apa-apa, soalnya aku sedang dalam masa
penyembuhan,” ia menimpalinya, menyeka ujung jari-
jarinya yang terkena minyak dari donat.
Saat mereka berbincang, aku melihat sekilas ke luar
jendela. Bunga-bunga oleander. Mereka sangat banyak
sekali, hampir seperti sebuah hutan yang hanya berisi
oleander. Aku juga bisa dengar deburan ombak lautan.
Tangga di dekat jendela benar-benar berkarat karena
terpapar angin laut tiap hari. Sebuah kipas angin antik
cukup mengusir hawa panas. Kafetaria mempunyai
bau rumah sakit. Bahkan, makanan dan minumannya
pun juga. Di piyama pacarnya, ada dua saku yang tepat
menutupi dadanya. Salah satunya berwarna keemasan
karena terkena pena. Tiap kali dia membungkuk, aku bisa
melihatnya, dada putih yang bersembunyi di balik kerah
v-neck.

ENANGAN berhenti di bagian itu. Kucoba untuk
Kmengingat lagi. Aku minum Coke, menatap bunga-
bunga oleander, menyelinap, mengintip dadanya….
Selanjutnya apa lagi? Aku bergeser, duduk di kursi
plastik dan, meringkuk, menyandarkan kepalaku di
kedua tanganku. Kucoba menggali lebih dalam lapisan-
lapingan ingatan. Seperti mencungkil penyumbat dengan
ujung pisau tipis. Aku beralih ke sisi lain, mencoba


48

pohon dedalu dan perempuan tidur

































membayangkan dokter membedah, membelah dadanya,
dan membenarkan tulang rusuknya dengan tangan
terbungkus kaus tangan karet. Semua ini terasa surealistik,
seperti sebuah alegori.
Ya, benar. Aku baru ingat, setelah itu kami berbicara
tentang seks. Temanku lah yang memulainya. Tapi, apa
yang dia katakan? Tentu saja sesuatu tentang diriku. Ya,
kegagalanku melakukannya dengan seorang perempuan.
Memang tidak banyak yang dia ceritakan, tapi dengan
caranya membesar-besarkan cerita—menambahi bumbu-
bumbu yang tidak pada porsinya—membuat pacarnya
terpingkal-pingkal dan tertawa. Membuatku tertawa juga.
Dia memang seseorang yang tahu bagaimana bercerita.
“Tolong , jangan buat aku tertawa lagi,” katanya, sedikit
kesakitan, “Dadaku sakit kalau tertawa terus.”


49

haruki murakami

“Di mana sakitnya?”
Ia menekan, menunjukkan letak dadanya yang sakit di
piyamanya: di jantungnyanya, sedikit sebelah kanan dada
kirinya. Dia kembali membuat lelucon tentang itu, dan ia
tertawa lagi.

ULIHAT jam tanganku. Sebelas empat lima, tapi
Ksepupuku belum juga kembali. Sudah dekat dengan
jam makan siang dan kafetaria semakin penuh. Segala
suara bercampur seperti asap menyelimuti ruangan. Aku
sekali lagi kembali dalam ingatan-ingatanku. Dan pena
emas kecil yang ada di saku piyamanya…..
.... Sekarang aku ingat. Ia menggunakan pena itu untuk
menulis sesuatu di kertas tisu.
Ia menggambar sesuatu. Tisu terlalu tipis dan ujung
pena selalu terjebak, menancap di kertas itu. Ia mencoba
menggambar bukit. Dan rumah kecil di puncak bukit.
Seorang perempuan tidur di dalam rumah itu. Rumah itu
di kelilingi pohonan dedalu yang buta. Dedalu buta itulah
yang membuat perempuan itu tertidur.
“Pohon dedalu buta, apa itu?”
“Pohon yang seperti ini,” jawabnya sambil menunjuk
gambar yang ia buat.
“Yah, aku tak pernah mendengarnya.”
“Iya, karena aku satu-satunya yang membuatnya,”
katanya, tersenyum.
“Pohon dedalu buta punya banyak serbuk sari dan
serangga kecil yang tertutupi sesuatu merayap ke dalam
telinganya dan membuat perempuan itu tertidur.”
Ia mengambil tisu baru dan menggambar pohon
dedalu buta. Dedalu buta dalam gambarnya seperti
seukuran pohon azalea. Tanaman itu sedang berbunga,
dan bunganya dikelilingi dedaunan hijau tua seperti ekor
kadal yang terkumpul banyak. Dedalu buta itu tak mirip


50

pohon dedalu dan perempuan tidur

sama sekali dengan pohon dedalu kebanyakan.
“Kamu punya rokok?” tanya temanku. Kulemparkan
sebungkus Hopes dan korek api di meja.
“Dedalu buta tampak kecil dari luar, namun ia punya
akar yang dalam,” ia menjelaskan. “Sebenarnya, pada
titik tertentu, ia akan berhenti tumbuh, tapi akarnya akan
terus-menerus menekan, merasuk ke dalam tanah. Seperti
kegelapan adalah makanannya.”
“Dan serangga membawa serbuk sari ke dalam
telinganya, ke lubang telinga, dan membuat ia tertidur,”
temanku menambahkan, sambil berusaha menyalakan
rokoknya dengan korek yang basah. “Apa yang terjadi
dengan serangganya?”
“Mereka tetap di dalam tubuh perempuan dan makan
dagingnya,” pacarnya menjawab.
“Memakan habis,” temanku menimpali.

A, aku ingat sekarang. Musim panas itu, ia
Ymenulis puisi panjang tentang dedalu buta dan
menjelaskannya kepada kami. Itu satu-satunya tugas rumah
yang ia kerjakan musim panas itu. Ia membuat cerita
berdasarkan mimpinya suatu malam, dan saat ia terbaring
di kasur rumah sakit selama seminggu, ia menulis puisi
panjang. Temanku bilang ingin membacanya, namun
ia masih mencoba memperbaikinya. Jadi, ia menolak.
Malahan, ia menggambar frame-frame dalam mimpinya
itu dan meringkaskan plotnya.
Seorang pemuda mendaki bukit untuk menyelamatkan
sang perempuan dari serbuk sari dedalu buta yang
membuatnya tertidur lama.
“Pasti itu aku,” temanku menyela.
Ia menggelengkan kepalanya. “Tidak, itu bukan kamu.”
“Kamu yakin?” tanyanya.
“Aku yakin,” katanya, wajahnya sangat serius. “Aku tidak


51

haruki murakami

tahu bagaimana aku bisa tahu. Tapi aku yakin. Kamu tidak
marah kan?”
“Ya, tentu saja,” temanku mengernyitkan dahi, setengah
bercanda.
Menerobos pohon dedalu buta, pemuda itu pelan tapi
pasti berjalan ke atas bukit. Dia adalah orang pertama yang
berhasil sampai di puncak bukit setelah pohon dedalu
buta itu mengambil alih bukit. Ia menundukkan topinya
hingga di atas mata, satu tangannya mengusir serangga-
serangga yang berdengung di sekitarnya. Pemuda itu terus
berjalan untuk menyelamatkan perempuan yang tertidur,
membangunkannya dari tidur panjang, tidur yang dalam.
“Tapi, ketika dia sampai di puncak bukit, tubuh
perempuan itu seharusnya sudah dimakan serangga-
serangga itu kan?” temanku memotong.
“Bisa jadi,” pacarnya menjawab.
“Bisa jadi sudah dimakan habis oleh serangga. Hmm,
kisah itu jadi cerita sedih, iya kan?”
“Ya, kurasa,” ia menjawab. “Bagaimana menurutmu?” ia
bertanya padaku.
“Sedih,” kujawab, “Aku merasa ceritanya sedih.”

UA belas dua puluh, sepupuku kembali. Dia
Dmembawa tas kecil berisi obat-obatan dan mukanya
terlihat tidak fokus. Setelah dia sampai di pintu masuk
kafetaria, dia celingak-celinguk mencariku beberapa saat
dan lalu datang mendekat. Dia berjalan canggung seperti
dia tak bisa menjaga keseimbangannya. Dia duduk di
depanku dan, sepertinya, dia terlalu lupa untuk mengingat
cara bernapas, menghirup napas dalam-dalam.
“Bagaimana pemeriksaannya?” aku bertanya.
“Mmmm,” katanya. Aku menunggu dia berbicara lebih
banyak lagi, tapi dia tidak berbicara juga.
“Kamu lapar?”


52

pohon dedalu dan perempuan tidur

Dia mengangguk pelan.
“Kamu mau makan di sini? Atau kamu mau langsung
pulang ke kota naik bis dan makan di sana?”
Dia melihat sekitar ruangan dengan bimbang. “Di
sini tidak apa-apa,” ujarnya. Aku sudah membeli kupon
makan siang dan memesan dua paket makan siang untuk
kita berdua. Sebelum makanan dibawakan ke meja kami,
sepupuku menatap khidmat pemandangan di luar jendela,
pemandangan yang sama kulihat tadi: lautan, barisan
pohon zelkova, dan mesin penyiram rumput.
Di sebelah meja kami, pasangan berusia 60-an
yang berpakaian bagus sedang makan sandwiches dan
berbincang tentang teman mereka yang mengidap kanker
paru-paru. Dia, temannya itu, berhenti merokok 5 tahun
lalu, tapi sudah terlalu terlambat. Dia muntah darah ketika
bangun pagi. Sang isteri bertanya, sang suami menjawab.
Dalam perasaan tertentu, suaminya menjelaskan, kamu
bisa melihat seluruh hidup seseorang dengan penyakit
kanker.
Menu makan siang kami: steak Salisbury dan whitefish
goreng, salad, dan roti gulung. Selama kami makan,
pasangan di sebelah kami masih saja berbicara tentang
kanker, kenapa penderita kanker meningkat, kenapa tidak
ada obat untuk menyembuhkan.

E mana pun kamu pergi, ini tetap sama,”
“Kujar sepupuku dengan nada datar, menatap
tangannya. “Pertanyaan sama, pemeriksaan yang sama.”
Kami duduk-duduk di bangku depan rumah sakit,
menunggu bis. Sesekali angin berembus menghamburkan
daun-daun hijau di atas kami.
“Kadang, kamu tidak bisa mendengar apa pun?” tanyaku
padanya.
“Iya, benar,” jawab sepupuku. “Aku tidak bisa mendengar


53

haruki murakami

sesuatu.”
“Bagaimana rasanya?”
Dia menoleh ke satu sisi dan berpikir. “Bayangkan,
tiba-tiba saja kamu tidak bisa mendengarkan apa pun.
Tapi, butuh beberapa waktu sebelum kamu menyadari
apa yang terjadi. Lalu, kamu benar-benar tidak bisa
mendengar apa pun. Rasanya seperti berada di dasar laut
dan memakai penutup telinga. Itu berlangsung beberapa
waktu. Sepanjang waktu, kamu tidak mendengar sesuatu,
tapi masalahnya tidak hanya di telingamu. Tidak bisa
mendengar apa pun hanya bagian kecil saja.”
“Apa itu mengganggumu?”
Dia menggelengkan kepala, pendek saja, tapi jelas dia
menggeleng. “Aku tidak tahu kenapa, tapi tidak terlalu
banyak menggangguku. Hanya tidak nyaman, sungguh.
Tidak bisa mendengar apa pun itu tidak nyaman.”
Aku coba membayangkannya, tapi frame-frame itu tak
datang juga.
“Kamu pernah nonton filmnya John Ford, Fort Apache?”
sepupuku bertanya.
“Dulu, dulu sekali,” jawabku.
“Baru saja ada di TV. Benar-benar film bagus.”
“Umm,” aku mengiyakannya.
“Di awal film, seorang kolonel-baru datang ke benteng
barat. Kapten veteran menyambutnya dan bertemu
dengannya ketika dia sampai. Kapten itu dimainkan John
Wayne. Kolonel tidak tahu banyak tentang situasi di barat.
Dan, ada pemberontakan suku Indian di sekitar benteng.”
Sepupuku mengambil sapu tangan putih yang terlipat
rapi di sakunya dan menyeka mulutnya.
“Setelah ia sampai benteng, kolonel berbalik ke John
Wayne dan berkata, ‘aku melihat beberapa Indian sedang
menuju ke sini.’ Dan, John Wayne dengan raut muka
dingin, menjawab, ‘Jangan khawatir. Jika Anda melihat


54

pohon dedalu dan perempuan tidur




























































55

haruki murakami

beberapa Indian, artinya mereka tidak ada di sana.’ Aku
tidak ingat kata-katanya, tapi kira-kira seperti itu. Kamu
tahu maksudnya?”
Aku tidak bisa mengingat apa pun percakapan yang
ada di film Fort Apache. Aku sadar aku cuma tahu sedikit
tentang film itu.
“Kupikir artinya apa yang bisa dilihat seseorang tidak
semuanya itu penting…. Kurasa begitu.”
Sepupuku mengerutkan dahi. “Aku tidak berpikiran
begitu. Tapi, setiap seseorang bersimpati padaku karena
telinga ini, kata-kata itu tiba-tiba muncul. ‘Jika Anda melihat
beberapa Indian, artinya mereka tidak ada di sana’.”
Aku tertawa.
“Apa itu aneh?” tanya sepupuku.
“Yap,” dan dia tertawa. Sudah lama aku tidak melihatnya
tertawa.
Setelah beberapa saat, sepupuku berkata, “Kamu mau
melihat ke dalam telingaku untuku?”
“Melihat ke dalam telingamu?”
“Hanya melihat dari luar saja.”
“Oke, tapi kenapa kamu ingin aku melakukannya?”
“Aku tidak tahu,” sepupuku malu. “Aku hanya ingin
kamu lihat seperti apa di dalamnya.”
“Oke,” kataku, “aku akan mencoba.”
Sepupuku duduk membelakangiku, memiringkan
telinga kanannya ke arahku. Dia mempunyai bentuk telinga
bagus. Bentuknya kecil, tapi daun telinganya membengkak
seperti roti Madeleine yang baru saja dipanggang. Aku
tidak pernah melihat telinga seseorang dengan seksama
sebelumnya. Ketika kamu mulai mengobservasi secara
dekat, telinga manusia—strukturnya—begitu misterius.
Dengan semua keanehan simpulnya dan berlanjut
ke tonjolan dan lekukan. Barangkali proses evolusi
menyebabkan bentuk aneh ini untuk menangkap suara


56

pohon dedalu dan perempuan tidur

secara optimal atau melindungi yang ada di dalamnya.
Dikelilingi dengan tembok asimetris, lubang telinga
terbuka lebar seperti pintu masuk menuju kegelapan, gua
rahasia.
Aku membayangkan pacar temanku, serangga kecil
bersarang di telinganya. Serbuk sari menempel di kaki
serangga itu, mereka masuk ke dalam lubang gelap yang
hangat di telinganya, mengisap semua sari, menyarangkan
telur kecilnya di dalam otaknya. Tapi, kamu tak bisa melihat
mereka, atau bahkan hanya mendengar suara sayapnya.
“Cukup-cukup,” kata sepupuku.
Dia berbalik menghadapku, bergeser di sekitar bangku.
“Jadi, lihat sesuatu yang tak biasa?”
“Tidak ada yang berbeda sejauh yang aku lihat. Dari
luar setidaknya.”
“Apakah semua baik-baik saja, meski sekadar perasaan
yang kamu dapat atau sesuatu?”
“Telingamu terlihat normal bagiku.”
Sepupuku terlihat kecewa. Mungkin kata-kataku salah.
“Pemeriksaannya sakit?”
“Tidak, tidak sakit. Sama seperti biasanya. Mereka
hanya mengecek di tempat yang sama. Rasanya seperti
mereka akan kelelahan. Kadang-kadang tidak terasa
seperti telingaku sendiri.”

TU bis nomor dua puluh delapan,” sahut sepupuku,
“Isambil menengok ke arahku. “Itu bis kita kan?”
Aku baru saja kehilangan diriku. Melamun. Aku
mendongak ketika dia berkata dan melihat bis pelan-pelan
melintasi tikungan di lereng gunung. Itu bukanlah bis
model baru yang kami tumpangi tadi, tapi salah satu bis
model lama yang kuingat. Tanda nomor 28 tergantung di
depan bis. Aku mencoba berdiri dari bangku, tapi aku tidak
bisa. Seperti terjebak di tengah-tengah arus kuat, kakiku


57

haruki murakami

tak bisa digerakkan.
Aku teringat dengan boks cokelat yang kami bawa
ketika kami pergi ke rumah sakit. Siang hari, pada
musim panas yang lampau, sangat lampau. Perempuan
itu senang sekali ketika membuka tutup boks cokelat dan
menemukan puluhan cokelat telah meleleh, menempel
pada kertas yang memisahkan masing-masing cokelat
dan juga tutupnya. Saat kami berangkat ke rumah sakit,
aku dan temanku memarkirkan motor di tepi pantai dan
berbaring di pantai hanya untuk berbincang-bincang dan
istirahat sebentar. Ya, saat itulah kami membiarkan boks
cokelat itu meleleh karena panasnya matahari Agustus.
Kecerobohan dan keegoisan kami-lah yang merusak isi
cokelat dan menyebabkan kekacauan. Kami seharusnya
menyadari apa yang terjadi. Salah satu dari kami—tidak
penting siapa—seharusnya mengatakan sesuatu. Namun,
sore itu, kami tidak menyadari apa pun, hanya bertukar
lawakan dan mengucapkan selamat tinggal. Dan juga
meninggalkan bukit yang masih ditumbuhi pohon dedalu
buta.
Sepukuku menarik tangan kananku dengan erat-erat.
“Kamu baik-baik saja?” tanyanya.
Kata-katanya membawaku kembali ke dunia nyata.
Aku pun berdiri dari bangku. Sekarang, tidak ada yang
menahanku lagi. Sekali lagi aku merasakan angin Mei
berembus di kulitku. Beberapa detik, aku berdiri di tempat
asing, tempat yang redup. Yang terlihat justru tak bisa
kulihat. Yang kasat mata justru terlihat jelas. Ya, akhirnya,
nomor 28 sesungguhnya berhenti di depanku, pintu masuk
belakang terbuka. Aku susah payah naik ke dalam bis dan
mencari tempat kosong lain.
Aku menyandarkan tanganku di bahu sepupuku.
Menghela napas. “Aku baik-baik saja,” kataku.




58

pohon dedalu dan perempuan tidur




























































59

60

AMUNDSEN
Alice Munro













































61

Alice Munro lahir di Ontorio, Kanada, pada 1939. Ia adalah pengarang cerita
pendek terkemuka Kanada dan Amerika Serikat. Cerita pendeknya kerap
dimuat di majalah The Newyorker. Pada 2013, ia dianugerahi Nobel Sastra
karena ia dianggap sebagai “master of the contemporary short story.” Di dalam
cerpen-cerpennya, ia kerap mengangkat kompleksitas manusia dengan gaya
narasi yang sederhana. “Amundsen” pernah dimuat di majalah The Newyorker
pada 27 Agustus 2012.
































62

Alice Munro

AMUNDSEN











I BANGKU DI LUAR STASIUN, aku duduk dan
menunggu. Stasiun baru buka ketika kereta akan
Dtiba, namun sekarang masih terkunci. Perempuan
lain duduk di ujung peron, memegang tas yang berisi
dengan parsel di antara lututnya dan terbungkus kertas
minyak. Daging—daging mentah. Aku bisa menciumnya.
Di seberang rel, kereta listrik diam, kosong, dan
menunggu.
Tak ada penumpang lain terlihat. Setelah beberapa saat,
kepala stasiun menengok dari dalam jendela stasiun dan
memanggil, “San.” Kupikir dia memanggil nama seorang
laki-laki, Sam. Dan, laki-laki lain yang mengenakan
seragam datang ke gedung itu. Ia melintasi rel dan naik
kereta listrik. Perempuan yang membawa parcel itu
mengikutinya, aku pun demikian. Ada kericuhan dari
seberang jalan. Pintu gedung, yang beratap gelap dan datar
terbuka, membiarkan lewat gerombolan laki-laki yang
memakai topi dan membanting kotak makanannya di paha


63

Alice munro

mereka. Dari kebisingan yang mereka ciptakan, kamu bisa
saja berpikiran kereta yang kutumpangi akan segera pergi
meninggalkan kerumunan itu. Namun, ketika mereka
sudah diam, tak ada yang terjadi. Kereta berhenti ketika
mereka menghitung jumlah masing-masing dan mencari
siapa yang belum hadir. Mereka berpesan kepada masinis
untuk tidak berangkat dulu. Lalu, seseorang yang belum
hadir itu tidak muncul-muncul juga. Kereta meluncur,
meski aku tidak yakin jika masinis itu mendengarkan
semua ini, atau peduli.
Laki-laki itu turun di penggergajian di semak-semak—
tidak sampai 10 menit sebenarnya jika mereka berjalan
kaki—dan setelah itu pemandangan danau muncul,
tertutupi salju. Luas, putih, gedung kayu berada di
depannya. Perempuan itu merapikan parcelnya, berdiri,
dan aku mengikutinya. Masinis itu kembali memanggil
“San”, dan pintu terbuka. Sepasang perempuan yang sudah
menunggu masuk. Mereka disambut perempuan yang
membawa daging, dan dia berkata, hari ini begitu dingin.
Mereka semua tidak memedulikan aku, padahal aku
duduk di sebelah perempuan yang membawa daging itu.
Pintu menutup secara bersamaan, dan kereta kembali
melaju.
Sunyi. Udara sebeku es. Pohon birch—yang terlihat
rapuh dengan noda hitam di kulit batangnya, dan beberapa
evergreen kecil, tak teratur—tumbang seperti beruang
tertidur. Danau beku itu tidak rata, tetapi bergelombang
hingga ke bibir danau, seperti ombak yang tiba-tiba
membeku karena perubahan suhu yang drastis. Dan
gedung, dengan deretan jendela dan beranda yang sengaja
diatur sedemikian rupa, berada di ujung danau. Semuanya
sederhana dan sangat khas utara, hitam dan putih di balik
kerumunan awan. Masih sangat, sangat luar biasa dan
memesona.



64

amnundsen


























Namun, kulit pohon birch tidak seputih itu, jika kamu
melihat lebih dekat. Kuning keabu-abuan, biru keabu-
abuan, atau bahkan kelabu.
“Ke mana Anda pergi?” perempuan pembawa daging
itu memanggilku. “Jam berkunjung sudah habis, pukul tiga
tadi.”
“Aku bukan pengunjung,” kataku. “Aku guru baru.”
“Well, mereka tidak akan membiarkan Anda di depan
saja, kok” ujarnya dengan yakin. “Lebih baik Anda datang
bersamaku. Anda membawa koper?”
“Kepala stasiun bilang dia akan membawakannnya
nanti.”
“Cara Anda berdiri di sana—seakan-akan Anda seperti
orang tersesat.”
Aku bilang aku berhenti karena pemandangan ini
sangat indah sekali.
“Ya, beberapa orang akan berpikir demikian. Sisanya
mereka telalu sakit atau terlalu sibuk.”
Tak ada kata-kata lagi sampai kami memasuki dapur,


65

Alice munro

di ujung jauh gedung. Aku tidak punya kesempatan sama
sekali melihat diriku sendiri karena perhatian terpusat
pada sepatu boots- ku.
“Sebaiknya Anda melepas itu sebelum mereka
mengecek lantai.”
Aku melepas sepatu boots-ku—tidak ada kursi untuk
duduk—dan meletakkan sepatuku di keset seperti
perempuan itu meletakkan kepunyaannya.
“Bawa saja sepatu Anda. Aku tidak tahu di mana mereka
akan menempatkan Anda. Anda lebih baik membawa
mantelmu juga. Tidak ada pemanas di ruang ganti.”
Tidak ada panas, tidak ada cahaya, kecuali yang
merembes melalui jendela kecil yang tak bisa kuraih. Ini
seperti dipenjara di sekolah. Pergi ke ruang ganti. Ya. Bau
yang sama dari baju musim dingin yang tak pernah benar-
benar kering, boots basah hingga menembus kaus kaki,
kaki yang tak tercuci.
Aku memanjat bangku, tapi tetap saja tak bisa
melihat keluar. Di rak tempat topi dan syal diletakkan,
aku menemukan tas dengan beberapa buah ara yang
ditinggalkan di dalamnya. Seseorang pasti sudah
mencurinya dan menyembunyikannya di sini untuk dibawa
pulang. Seketika itu pula aku merasa lapar. Belum makan
sejak pagi, kecuali sandwich isi keju kering di Ontario,
Northland. Aku mempertimbangkan etika mencuri barang
dari seorang pencuri. Namun, buah ara itu akan tersisa di
gigiku dan mengkhianatiku.
Aku turun tepat waktu. Seseorang memasuki kamar
ganti. Bukan seorang pembantu dapur, tapi siswi yang
mengenakan mantel musim dingin tebal dan syal yang
menutupi hingga rambutnya. Dia masuk tergesa-gesa—
buku-bukunya terjatuh di kursi hingga tersebar di lantai,
syal terlepas sehingga rambutnya acak-acakan. Pada saat
yang sama, boots-nya terlempar ke lantai. Tak ada yang


66

amnundsen

mendorongnya, kelihatannya, hingga terjatuh di depan
pintu dapur.
“Oh, aku tidak bermaksud menabrak Anda,” ujar gadis
itu. “Di sini terlalu gelap setelah dari luar, Anda tidak akan
tahu apa yang Anda lakukan. Anda kedinginan? Sedang
menunggu seseorang?”
“Aku sedang menunggu dr. Fox.”
“Well, Anda tidak akan menunggu lama. Aku sedang
berjalan bersamanya dari kota. Anda tidak sakit kan? Jika
Anda sakit, Anda tidak bisa ke sini. Anda harus bertemu
dengannya di kota.”
“Aku guru baru.”
“Oh ya? Anda dari Toronto?”
“Iya.”
Ada sedikit jeda, mungkin untuk menghormati, tapi
bukan juga. Ternyata, ia memeriksa mantelku.
“Bagus sekali. Bulu apa yang ada di kerah?”
“Domba persia. Sebenarnya imitasi.”
“Aku tertipu,” katanya mengomentari mantelku. “Aku
tidak tahu mengapa mereka menempatkan Anda di sini—
pantat Anda bisa beku di sini. Maaf. Anda ingin bertemu
dokter, aku bisa menunjukkan jalannya. Aku hafal segala
sudut tempat ini. Aku sudah tinggal di sini semenjak aku
lahir. Ibuku bekerja di dapur. Namaku Mary, siapa nama
Anda?”
“Vivi, Vivien.”
“Jika Anda guru, pasti ada panggilan miss? Miss siapa?”
“Miss Hyde.”
“Samarkan wajah pucat Anda,” katanya. “Maaf, aku pikir
itu terlalu mencolok. Aku suka jika Anda menjadi guruku,
sayangnya aku sekolah di kota. Aturan yang aneh karena
aku tidak menderita TBC.”
Dia mengantarkan aku, sambil terus berkata, melalui
pintu di ujung ruang ganti, dan berjalan di koridor utama


67

Alice munro


























rumah sakit. Lantai tertutup linoleum, dinding bercat hijau
kusam, dan berbau antiseptik.
“Sekarang sudah sampai, mungkin aku akan memanggil
Reddy untuk menggantikanku.”
“Siapa Reddy?”
“Reddy Fox. Ini tak ada di buku. Aku dan Anabel biasa
memanggil dr. Fox dengan nama itu.”
“Siapa Anabel?”
“Bukan siapa-siapa sekarang. Dia sudah meninggal.”
“Oh, aku minta maaf.”
“Bukan salah Anda. Itu terjadi di sini. Aku masuk SMA
tahun ini. Anabel tidak pernah sekolah sama sekali. Ketika
aku duduk di sekolah negeri, Reddy mengundang guru
biar aku bisa tinggal di rumah lebih lama, jadi aku bisa
menemaninya.”
Dia berhenti di depan pintu setengah terbuka dan
berkata cukup keras.
“Hei, aku membawa guru baru.”
“Oke, Mary. Cukup untuk hari ini.”


68

amnundsen


























Dia melenggang dan meninggalkan aku berhadapan
dengan laki-laki bertubuh tinggi, berambut klimis dan
pendek serta berkilauan terkena cahaya dari lorong.
“Kamu sudah bertemu Mary,” katanya. “Dia banyak
bicara soal dirinya. Dia tidak akan di kelasmu, jadi kamu
tidak perlu menghadapinya setiap hari. Orang harus
memilih untuk mengajarinya atau tidak sama sekali.”
Dia lebih tua kira-kira 10 atau 15 tahun denganku, dan
saat pertama kali ia berbicara, gayanya seperti cara pria
yang lebih tua. Calon bos yang supersibuk. Ia bertanya
tentang perjalananku, barang bawaanku di koper. Ia
ingin tahu kesanku ketika akan tinggal di sini di gedung
berdinding kayu. Setelah Toronto, apakah aku akan bosan
nantinya.
Tidak sedikit pun, kataku, dan aku menambahkan di
sini sangat indah.
“Seperti berada di dalam novel-novel Rusia.”
Dia menatapku penuh perhatian untuk pertama kalinya.
“Sungguh? Novel Rusia yang mana?”


69

Alice munro

Matanya biru keabu-abuan terang. Satu alisnya naik,
seperti topi pet kecil.
Ini bukan karena aku tidak banyak membaca novel-
novel Rusia. Aku sudah banyak baca novel Rusia, sebagian
atau selesai. Namun, karena alis matanya, dan geli
pada reaksinya yang konfrontatif itu, aku jadi tidak bisa
mengingat judul-judul novel itu kecuali War and Peace.
Aku tidak ingin mengucapkan judul itu karena pasti semua
orang ingat dengan judul itu.
“War and Peace.”
“Well, hanya akan ada kedamaian di sini. Tapi, itu bisa
saja jadi peperangan yang kamu inginkan setelah, aku
pikir, kamu bergabung dengan wanita-wanita di sini dan
kamu merasa berbeda karena berasal dari luar.”
Aku marah dan dipermalukan karena aku tidak
merasa pamer. Atau, tidak pamer sama sekali. Aku
hanya menjelaskan keindahan yang aku rasakan dari
pemandangan ini.
Ia adalah orang yang dengan sengaja mengajukan
pertanyaan-pertanyaan yang menjebak dan
menjatuhkanmu.
“Aku pikir aku sungguh mengharapkan guru
perempuan tua yang keluar dari pintu,” ujarnya, dengan
sedikit meminta maaf. “Kamu bukannya tidak kuliah untuk
menjadi guru? Apa rencanamu setelah mendapatkan
sarjana?”
“Menyelesaikan masterku,” jawabku ketus.
“Lalu, apa yang membuatmu berubah pikiran?”
“Aku pikir aku harus mendapatkan beberapa uang.”
“Bijak sekali. Meski aku khawatir kamu tidak akan
mendapatkan banyak di sini. Maaf jika aku bertanya-
tanya. Aku hanya ingin memastikan kamu tidak lari
dan meninggalkan kami dalam kesukaran. Berencana
menikah?”


70

amnundsen

“Tidak.”
“Baiklah. Baiklah. Sudah cukup sekarang. Apakah ini
menyurutkan niatanmu?”
Aku menggelengkan kepala.
“Tidak.”
“Pergilah ke bawah, ke ruangan Matron dan dia akan
memberitahumu apa yang kamu butuhkan. Berusahalah
untuk tidak kedinginan. Aku tidak yakin kamu punya
pengalaman dengan tuberculosis?”
“Well, aku sudah membaca....”
“Aku tahu. Aku tahu. Kamu sudah membaca ‘The
Magic Mountain.” Perangkap lain muncul dan dia tampak
senang. “Beberapa sudah berkembang dari yang ditulis di
buku-buku, aku rasa. Di sini, aku sudah memberi catatan
tentang anak-anak yang ada di sini. Dan, aku rasa kamu
mungkin akan mencobanya dengan mereka. Kadang-
kadang aku lebih suka menyuruh dalam tulisan. Matron
akan memberikan keterangan padamu.”

ENGGUNAAN pedagogi yang biasa tidak berlaku di
Psini. Beberapa anak-anak akan masuk kembali ke
dunia atau sistem dan beberapa lagi tidak ingin. Lebih baik
tidak banyak yang membuat stres. Seperti, ujian, mengingat,
dan mengklasifikasi sesuatu yang tak penting.
Abaikan tingkatan kelas yang mereka masuki. Mereka
hanya perlu bisa mengejar di kemudian hari atau
melakukan tanpa itu. Sebenarnya keterampilan yang
sederhana tentang fakta-fakta dunia dan lain-lain yang
diperlukan mereka dalam menghadapi dunia. Bagaimana
menyebut anak yang sangat pintar? Itu istilah mengganggu.
Jika mereka pintar dalam akademik, mereka akan mampu
mengejar dengan mudah.
Lupakan sungai-sungai Amerika Latin, seperti Magna
Carta.


71

Alice munro

Menggambar, musik, bercerita lebih diutamakan.
“Skala-skala umum akan bilang itu ‘pangeran alien’,
tapi budak-budak akan berkata ‘nabi bagi orang-orang’.”
Gim oke, tapi perhatikan soal kesenangan yang
berlebihan dan banyaknya tingkat kompetisi.
Beri tantangan agar mereka terbiasa berjalan antara
stres dan kebosanan. Kebosanan perawatan rumah sakit.
Jika Matron tidak menyuplai apa yang kamu butuhkan,
kadang pelayan menyimpan sesuatu di tempat tertentu.


Selamat bekerja.

EMINGGU aku tidak berada di sana sebelum semua
Skejadian hari pertama terlihat unik dan tak biasa.
Dapur, kamar ganti dapur yang digunakan pekerja untuk
menyimpan pakaian dan menyimpan barang-barang
curian mereka, mungkin takkan kulihat lagi dan takkan
pernah kulihat lagi. Kantor dokter sama tak terjangkaunya,
ruangan Matron tempat yang tepat untuk segala pertanyaan,
keluhan, dan penyusunan harian. Matron bertubuh pendek
dan gemuk, wajahnya merah muda, dengan kacamata tanpa
frame, dan napas yang berat. Apa pun permintaanmu yang
kelihatannya akan mengejutkannya dan menyulitkan akan
tersedia. Terkadang, ia terlihat makan di ruang makan
perawat—tempat ia dilayani dengan jamuan spesial dan
diberikan sebuah celemek. Biasanya, ia akan simpan di
ruangannya.
Selain Matron, ada tiga perawat yang terdaftar, tidak
ada dari mereka semua yang seumuruan denganku, 30
tahunan. Mereka kembali lagi dari masa pensiunan,
melakukan rutinitas seperti pada masa perang. Lalu, ada
pembantu perawat yang seusiaku atau mungkin lebih
muda. Kebanyakan dari mereka sudah menikah atau
setidaknya tunangan, biasanya dengan laki-laki dari


72

amnundsen

tentara. Mereka berbincang-bincang setiap saat jika Matron
dan perawat tidak ada. Mereka sama sekali tidak tertarik
denganku. Mereka tidak tertarik mengetahui seperti apa
Toronto, meski beberapa di antara mereka pernah pergi
bulan madu ke sana, dan mereka tidak peduli bagaimana
aku mengajar atau apa yang telah kulakukan sebelumnya.
Mereka bukan berarti kasar—mereka pernah memberiku
mentega (disebut mentega, tapi warnanya sangat jingga
seperti margarin) dan mereka mengingatkanku soal pie
pinggiran, yang didalamnya ada daging groundhog atau
tikus tanah. Apa pun yang terjadi di tempat itu, mereka
tidak tau caranya untuk mengabaikan setiap kejadian yang
terjadi di sini; sudah jadi bagian dari cara hidup mereka
dan merasuk di dalam kulit. Setiap saat berita disiarkan di
radio, mereka menggantinya dengan musik. Dance with a
dolly with a hole in her stockin’ . . .
Namun, mereka mengagumi dr. Fox karena dokter
telah banyak membaca buku. Mereka juga bilang tidak ada
orang selain dia dalam merobek-robek kertasmu jika dia
merasa menyukainya.
Aku tidak mengerti hubungan antara banyak membaca
dan merobek-robek kertas.

UMLAH siswa yang hadir bervariasi. Kadang 15
Jatau bahkan setengah lusin saja. Hanya pagi, dari
pukul 9 hingga siang. Anak-anak akan dijauhkan jika suhu
tubuhnya naik atau jika mereka sedang ada pemeriksaan.
Ketika mereka hadir, mereka akan tenang dan penurut,
namun tidak aktif di dalam kelas. Mereka tahu bahwa
kelas ini hanya kelas “pura-pura”, kelas yang tak sungguh-
sungguh. Mereka bebas dari beban harus belajar apa pun
layaknya sekolah sungguhan, seperti mereka bebas dalam
hitung-hitungan dan hafalan. Kebebasan itu tidak membuat
mereka sombong, atau malas, atau membuat ulah. Mereka


73

Alice munro

hanya patuh dan suka melamun. Mereka bernyanyi lembut.
Mereka bermain X dan O. Selalu ada hantu keputusasaan
dalam mengimprovisasi suasana kelas.
Aku ingat kata-kata dr. Fox, kuputuskan untuk
mengikutinya. Atau, setidaknya sebagian, terutama soal
musuh utama anak-anak, kebosanan.
Di ruang sempit pelayan, pernah kulihat globe. Kuminta
untuk kubawa ke kelas. Akan kumulai kelas dengan geografi
yang paling sederhana. Samudra, benua, iklim. Kenapa
tidak angin dan cuaca sekalian? Rasi bintang cancer dan
capricorn? Kenapa tidak sekalian sungai-sungai di Amerika
Selatan?
Beberapa anak-anak pernah belajar sebelumnya, tapi
mereka hampir lupa. Dunia di balik danau dan hutan
begitu kabur. Pelajaran seharusnya membuat mereka
bersemangat lagi, atau setidaknya membuat mereka
































74

amnundsen

berteman lagi dengan apa pun yang mereka hendak
ketahui.
Aku tidak mencurahkan semua itu kepeda mereka dalam
sekali waktu, tentu saja. Aku harus pelan-pelan dengan
anak-anak yang belum pernah belajar tentang geografi
karena mereka bisa saja tiba-tiba kambuh sakitnya.
Namun, ini akan baik-baik saja. Ini bisa menjadi gim.
Aku membagi mereka ke dalam kelompok-kelompok,
mereka akan menjawab, sementara aku menunjuk
tempat-tempat pada globe. Aku pun harus hati-hati agar
kegembiraan pelajaran ini tidak lekas pudar. Tapi, suatu
pagi, dokter masuk ke dalam kelasku, selepas operasi,
dan memergokiku, tapi aku tidak boleh membiarkan
kehadirannya membuat kikuk kelas, aku berusaha
meneruskan pelajaran. Dia duduk, terlihat lelah dan
menyendiri. Dia tidak mengintrupsi. Setelah beberapa
































75

Alice munro

menit, dia bergabung dalam permainan, berseloroh
dengan jawaban konyol, sebuah nama yang tidak hanya
salah, tapi imajinatif. Lantas, suaranya surut. Surut, surut,
sampai-sampai hanya gumaman saja, lalu seakan-akan
membisikkan sesuatu, hingga tak terdengar sama sekali.
Dengan caranya, yang absurd itu, dia mengambil alih
kelas. Anak-anak pun mengikuti caranya, berkomat-kamit
tanpa suara. Mata mereka fokus pada bibir dokter.
Tiba-tiba doker mengeluarkan geraman rendah dan
membuat seisi kelas tertawa lepas.
“Mengapa kalian semuanya menatapku? Apa ini yang
diajarkan miss Hyde? Menatap orang yang tak mengganggu
siapa pun?
Sebagian tertawa lepas, tapi beberapanya tidak bisa
berhenti menatapnya. Mereka haus pada kelakar-kelakar
jenaka itu.
“Lanjutkan, lanjutkan, dan bermainlah di tempat lain.”
Dia meminta maaf karena menyela kelas. Aku
menjelaskan padanya kenapa aku membuat kelas ini
layaknya kelas sungguhan.
“Meski aku setuju denganmu tentang stres,” kataku
sungguh-sungguh. “Aku setuju dengan apa yang kamu
katakan dalam intstruksi. Aku hanya berpikir....”
“Instruksi apa? Oh, itu hanya potongan-potongan yang
bersekelebat di kepalaku. Aku tidak bermaksud membuat
mereka jadi seperti batu.”
“Maksudku, selama mereka tidak terlalu sakit....”
“Aku yakin kau benar. Aku pikir itu tidak terlalu penting.”
“Jika tidak, mereka kelihatan lesu.”
“Tidak perlu membuat lagu dan tarian tentang hal itu,”
katanya sambil berlalu.
Lalu berbalik dan meminta maaf setengah hati.
“Kita bisa membicarakannya lain waktu.”
Ya, lain waktu, aku pikir, tidak akan pernah datang. Dia


76

amnundsen

terang-terang mengajariku kekacauan dan kebodohan.
Aku baru mengetahuinya ketika makan siang, dari
pembantu perawat, seorang tidak selamat dalam operasi
pagi ini. Jadi, kemarahanku tak bisa dibenarkan dan
karena itu aku merasa bodoh sekali.

IAP siang adalah waktu senggang, tak ada jam
Tmengajar. Murid-muridku pergi ke kamar
untuk tidur siang yang panjang dan aku terkadang juga
melakukan hal sama. Namun, kamarku dingin dan selimut
di sini tipis—tentu saja seorang dengan tubercolosis
membutuhkan sesuatu yang lebih nyaman.
Aku, tentu saja, tidak kena tubercolosis. Mungkin
mereka berhemat pada orang-orang sepertiku.
Aku mengantuk, tapi tak bisa memejamkan mata.
Dari atas terdengar decit suara ranjang didorong menuju
serambi agar bisa terpapar cahaya siang yang beku.
Gedung, pohon-pohon, danau tidak akan sama lagi
seperti hari pertama aku datang, ketika aku terperanga
oleh misteri dan daya magisnya. Pada hari itu, aku percaya
diriku tak terlihat. Sekarang, tampaknya itu tidak benar
sama sekali.
Itu guru barunya. Apa yang dia lakukan?
Dia menatap danau.
Untuk apa?
Tidak ada yang lebih baik untuk dilakukan.
Beberapa orang beruntung dalam hidupnya.

UATU kali aku melewatkan makan siang di rumah
Ssakit, meski itu bagian dari tunjanganku, dan aku
pergi ke Amundsen, makan di kedai kopi. Kopi di sana
adalah kopi Postum dan sandwich terbaiknya berisi daging
salmon kaleng jika mereka punya. Salad ayam harus
diperiksa seksama pada kulit dan tulang rawannya. Meski


77

Alice munro

demikian, aku merasa nyaman di sana, serasa jika semua
orang tak mengenalku.
Tentang itu, mungkin aku keliru.
Kedai kopi itu tak punya toilet perempuan, jadi kamu
harus pergi ke hotel seberang, masuk, dan melewati bar
hotel yang selalu gelap, berisik, dan penuh bau-bauan
bir serta wiski, asap rokok dan cerutu akan benar-benar
membuatmu pingsan. Namun, para penebang kayu, pria
dari penggergajian, tidak akan menyalak padamu seperti
cara tentara-tentara dan penebang kayu Toronto lakukan.
Mereka tenggelam di dunia laki-laki, menangis saat
menceritakan kisahnya, tidak ke sini hanya untuk mencari
perempuan. Barangkali mereka ingin sekali, faktanya,
pergi jauh dari perusahaan sekarang atau selamanya.
Dokter Fox punya kantor di jalan utama. Hanya
bangunan kecil berlantai satu, jadi dia harus tinggal di
tempat lain. Aku dibisiki oleh pembantu, tidak akan ada
Mrs. Fox di rumah dokter. Di pinggir jalan, aku melihat
satu-satunya rumah yang mungkin miliknya—rumah
yang terlapisi semen, dengan jendela di atap di atas pintu
rumah, buku-buku bertumpukan di ambang jendela.
Terkesan suram namun rapi, minimalis tapi tetap nyaman
dan laki-laki yang hidup sendiri—laki-laki yang mengatur
hidupnya sendiri—barangkali telah merancang rumah itu.
Sekolah negeri kota itu berada di ujung jalan perumahan.
Suatu sore aku melihat Mary di halaman, bermain perang
bola salju, tampak seorang gadis melawan laki-laki.
Ketika ia melihatku, dia berteriak keras. “Hei, Teach,” dan
membuang bola salju di tangannya ke sembarang arah,
dan menyeberangi jalan. “Sampai jumpa besok,” katanya
pada temannya, kurang lebih sebagai peringatan jangan
ada siapa pun yang mengikuti.
“Anda sedang jalan pulang?” tanyanya. “Aku juga.
Biasanya aku ikut mobil Reddy, tapi dia sepertinya


78

amnundsen

terlambat. Anda ingin naik trem?”
Aku bilang, “ya”, dan Mary menyambung, “Oh, aku bisa
menunjukkan jalan pintas dan Anda bisa menyimpan
uang Anda. Jalan bersemak.”
Mary membawaku ke jalanan sempit, tapi cukup layak
dilewati dan menanjak ke atas kota, menembus kayu-kayu,
dan melewati penggergajian kayu.
“Jalan ini sering dilewati Reddy,” ujarnya.
Setelah penggergajian, di bawah kami, potongan-
potongan kayu aneh dan beberapa gubuk ternyata
ditinggali karena mereka punya tumpukan kayu dan tali
jemuran, serta ada asap yang membumbung. Dari salah
satu bangunan itu, anjing jenis serigala berlari keluar dan
menggonggong serta menggertak.
“Tutup mulutmu!” Mary berteriak. Dengan sekejap,
Mary melemparkan bola salju, tepat mengenai anjing
itu di antara kedua matanya. Dia berbalik dan dia siap
melemparkan satu bola salju lagi. Perempuan bercelemek
keluar dan berteriak, “Kamu bisa membunuhnya!”
“Kematiannya baik bagi sampah buruk.”
“Aku akan memanggil orang tuaku.”
“Sekarang akan menjadi harinya. Orang tuamu tak bisa
memukul rumah kecil.”
Anjing itu mengikuti dari kejauhan, dengan ancaman
tidak menyenangkan.
“Aku bisa mengurus beberapa anjing, tidak masalah,”
kata Mary. “Aku yakin aku bisa pula mengatasi beruang jika
kita bertemu salah satu dari mereka.”
“Bukankah beruang sedang hibernasi pada musim ini?”
Aku lumayan dibuat takut oleh anjing, tapi ini karena
kecerobohan.
“Yeah, tapi Anda takkan pernah tahu. Salah satu
beruang pernah keluar cukup dini, dan beruang itu masuk
ke dalam tong sampah bawah di San. Ibuku berputar dan


79

Alice munro

bertemu beruang itu. Reddy punya pistol dan menembak
beruang liar. Reddy harus membawaku dan Anabel keluar
dari kereta luncur, dan kadang-kadang anak-anak lainnya
juga. Dia punya peluit spesial untuk menakuti beruang.
Lengkingannya terlalu tinggi bagi kuping manusia.”
“Sungguh. Seperti apa itu?
“Tidak seperti peluit. Maksudku dia melakukannya
hanya dengan mulutnya.”
Tiba-tiba aku teringat tingkahnya ketika di kelas.
“Aku tidak begitu tahu, mungkin dia hanya bilang ini
agar Anabel tidak ketakutan. Anabel tak bisa naik di kereta
luncur. Reddy harus mendorongnya dengan kereta salju
juga, dan Reddy bilang, ‘Apa yang terjadi dengan kereta
ini? Beratnya satu ton.’ Dan dia akan berbalik cepat dan
menangkapku, tapi dia tidak pernah melakukannya. Lalu,
dia bertanya kepada Anabel, ‘Apa yang membuat ini sangat
berat? Tadi kamu sarapan apa sih?’ Tapi, Anabel tak pernah
menjawab. Anabael adalah satu-satunya teman baik yang
kumiliki.”
“Gadis-gadis di sekolah? Mereka bukan teman?”
“Aku hanya bermain dengan mereka jika sudah tak
ada orang lagi. Mereka bukan siapa-siapa. Anabel dan
aku punya bulan lahir yang sama, Juni. Di ulang tahun
kesebelas kami, Reddy mengajak kami pergi ke danau
dengan perahu. Dia mengajari kami berenang. Well, hanya
aku saja. Dia harus selalu menjaga Anabel—ia sungguh
tidak bisa belajar. Ketika Reddy berenang, kami mengisi
sepatunya dengan lumpur. Lalu, di ulang tahun kedua belas
kami, kita tidak bisa pergi ke mana pun seperti sebelumnya,
tapi kami pergi ke rumahnya dan menyantap kue ulang
tahun. Anabel tidak bisa makan meski hanya sedikit saja,
jadi Reddy mengajak kami ke dalam mobil dan kami pun
melemparkan potongan demi potongan kue ulang tahun
dari jendela kepada burung. Burung-burung itu bertarung


80

amnundsen

dan menjerit. Kita tertawa lepas dan Reddy pun berhenti
dan mendekap Anabel hingga ia tidak pendarahan lagi.
“Dan setelah itu,” ia melanjutkan, “setelah itu, aku
tidak dizinkan untuk bertemu dengan Anabel lagi. Ibuku
tidak ingin putrinya dekat-dekat anak dengan TBC. Reddy
membujuknya. Dia bilang dia akan berhenti jika sudah
waktunya. Dia pun melakukannya, dan aku marah padanya.
Namun, Anabel tidak lagi menyenangkan—ia sudah
terlalu sakit. Aku akan menunjukkan pada Anda di mana
kuburannya, tapi sudah tidak ada nisannya lagi sekarang.
Reddy dan aku akan melakukan sesuatu ketika waktunya
tiba. Jika kita jalan lurus saja, tidak berbelok seperti yang
kita lalui, kita akan menemukan kuburannya.”
Sekarang, kami menuruni bukit, mendekati San.
“Oh, hampir saja aku lupa,” katanya sambil segenggam
tiket.
“Untuk hari Valentine. Kami membuat acara di sekolah,
‘Pinafore’. Aku mengambil semuanya untuk dijual dan jika
Anda menjadi pembeli pertamaku, aku akan senang.”

ENAR dugaanku, rumah di Amundsen itu adalah
Btempat tinggal dokter. Dia membawaku ke sana
untuk makan malam. Undangannya terkesan mendadak,
saat kami tidak sengaja bertemu di hall suatu hari.
Barangkali dia tidak ingat pernah mengatakan suatu
saat kami akan membicarakan tentang ide mengajar.
Barangkali dia tak punya memori bagus.
Malam itu dia mengajakku makan malam bebarengan
dengan “Pinafore” yang tiketnya sudah kubeli. Aku bilang
padanya. Dan, dia bilang, “Well, aku juga sudah beli. Bukan
berarti kita harus datang.”
“Tapi, aku sudah berjanji padanya.”
“Well, sekarang kita bisa membatalkan janjinya. Tapi,
acara itu mengerikan, percayalah.”


81

Alice munro

Aku lakukan apa yang dia bilang, meski aku tidak
bertemu Mary untuk mengatakannya. Aku menunggu di
tempat yang ia sudah anjurkan, di teras luar di depan
pintu Rumah Sakit San. Aku mengenakan gaun terbaikku,
kain sutra berwarna hijau gelap. Dengan kancing mutiara
kecil dan renda-renda pada kerah dan panjangnya
menyelubungi kakiku hingga ke sepatu hak tinggi, sepatu
salju. Aku datang terlambat dari waktu yang ditentukan—
pertama, khawatir Matron akan keluar dari ruangannya
dan memergokiku, dan kedua dia juga lupa dengan itu.
Namun, dia datang, mengancingkan mantelnya, dan
meminta maaf.
“Selalu ada sedikit potongan rambut yang harus
dirapikan,” katanya dan mengajakku berjalan mengitari
gedung ke mobilnya. “Kamu tidak apa-apa?” ia bertanya
dan ketika aku jawab ya—kecuali sepatu suede—dia tidak
menawarkan lengannya.
Mobilnya tua dan lusuh, sama seperti mobil kebanyakan.
Tidak ada mesin pemanas. Ketika dia bilang kami akan
ke rumahnya, aku merasa lega. Aku tak bisa bayangkan
nantinya jika kami berada di kerumunan orang di hotel,
dan aku harap aku tidak makan sandwich di kedai kopi.
Di rumahnya, dia bilang kepadaku agar tidak melepas
mantelku sebelum rumahnya hangat sedikit. Dia pun sibuk
membuat api di tungku pemanas.
“Aku adalah petugas kebersihan, koki, sekaligus
pelayanmu,” selorohnya. “Rumah ini akan segera nyaman.
Makanan tidak lama lagi siap. Jangan menawarkan
bantuan. Aku lebih suka bekerja sendirian. Sesukamu
saja akan menunggu di mana. Kalau kamu ingin, kamu
bisa lihat buku-buku di ruangan depan. Seharusnya tidak
terlalu dingin di sana jika kamu tetap mengenakan mantel.
Saklar lampu berada di balik pintu. Tidak masalah kalau
aku mendengarkan berita? Ini sudah kebiasaanku.”


82

amnundsen





























Aku beranjak ke kamar depan—merasa ada yang
memerintahku—meninggalkan pintu terbuka. Dia datang
dan menutup puntu, berkata, “Sebentar saja, sampai
ruangan dapur lebih hangat,” dan kembali terdengar
suara dramatis, hampir seperti suara religius dari CBC,
menyiarkan berita tentang perang.
Banyak sekali buku-buku di sana. Tidak hanya di
rak buku, tapi juga di meja, tangga, dan jendela, juga
tersebar di lantai. Setelah aku mengenali beberapa buku,
kusimpulkan dia suka membeli buku dalam satu kelompok
sesuai tema dan beberapa mungkin saja bekas kepunyaan
klub buku. The Harvard Classics, The histories of Will
Durant. Fiksi dan puisi tidak terlalu banyak, meski sedikit
mengejutkan ada beberapa judul buku cerita anak klasik.
Buku-buku tentang Perang Sipil Amerika, Perang Boer di
Afrika Selatan, Perang Napoleon, Perang Peloponnesia,
Kampanye militer Julies Caesar, Penjelajahan Amazon, dan



83

Alice munro

Artik. Schakleton terjebak es. Penjelajahan John Franklin,
the Donner Party, dan the Lost Tribes, Newton, dan kimia,
rahasia Hindu Kush. Buku-buku membuat seorang ingin
tahu dan menguasai bungkahan besar ilmu pengetahuan.
Barangkali orang dengan selera itu akan tegas dan kaku.
Jadi, sangat mungkin sekali ketika dia menanyakan
padaku, “Novel Rusia yang apa?” dia tak punya bayangan
khusus yang solid seperti yang kupikirkan.
Ketika dia berteriak, “Sudah siap,” dan aku pun
membuka pintu, aku sudah membekali diriku dengan
skeptisme baru.
“Naphta atau Settembrini? Pilih yang mana?”
“Maksudnya?
“Di The Magic Mountain, kamu pilih Naphta atau
Sttembrini?”
“Sejujurnya, aku selalu berpikir mereka berdua
sepasang pembual, Kamu?”
“Settembrini lebih humanis, tapi Naphta lebih menarik.”
“Mereka mengajarimu di sekolah?”
“Aku tak pernah membaca di sekolah,” jawabku dingin.
Dia menatapku cepat, satu alisnya terangkat.
“Maafkan aku, jika ada buku yang buat kamu tertarik,
bebas saja. Kamu bebas datang ke sini dan baca sesukamu.
Di sini ada pemanas listrik yang bisa kusetel, dan kamu
pasti tak berpengalaman dengan tungku pemanas.
Mungkin kita bisa memikirkan itu. Aku bisa memberimu
kunci cadangan.”
“Terima kasih.”
Porck Chops, mashed potatoes instan, kacang polong
kalengan. Makanan penutupnya pie apel yang dibeli dari
toko roti—akan lebih baik jika dia memanaskan sebentar.
Dia bertanya kehidupanku di Toronto, kuliahku di
universitas, dan keluargaku. Dia berpikir aku dibesarkan
dalam keluarga yang lurus-lurus saja,


84

amnundsen

“Kakekku seorang pendeta liberal, semacam cetakannya
Paul Tillich.”
“Dan kamu? Cucu Liberal setengah Kristiani?”
“Tidak.”
“Touché, menurutmu aku kasar?”
“Tergantung. Jika kamu sedang menginterviu aku
layaknya seorang pekerja, tidak.”
“Baiklah. Kamu sudah punya pacar?”
“Ya.”
“Tentara, aku rasa.”
“Angkatan Laut,” jawabku. Ini pilihan baik menurutku,
untuk ketidaktahuanku soal di mana dia dan tak
mendapatkan surat secara berkala.
Dokter bangkit dan menuangkan teh.
“Bertugas di kapal apa?”
“Corvette.” Pilihan bagus lainnya. Setelah sekian lama,
aku selalu berharap dia tertorpedo, seperti yang selalu
terjadi pada setiap corvette.
“Seorang yang berani. Susu atau gula?”
“Tidak dua-duanya, terima kasih.”
“Bagus. Karena aku tidak punya keduanya. Kamu tahu,
itu kelihatan ketika kamu berbohong—mukamu memerah.”
Jika mukaku tidak merah sebelumnya, sekarang akan
memerah. Gejolakku naik dari kakiku ke atas, dan keringat
mulai bercucuran di tanganku. Semoga itu tidak merusak
gaun yang kukenakan.
“Aku selalu merasa panas ketika minum teh.”
“Oh, ya aku bisa lihat.”
Perbincangan ini tidak semakin memburuk, jadi aku
pun memutuskan untuk menghadapinya. Aku alihkan
topik pembicaraan, bertanya tentang bagaimana dia
mengoperasi pasien. Apakah dia mengangkat paru-paru,
seperti yang aku dengar?
Dia bisa saja menjawab pertanyaanku dengan olok-


85

Alice munro

olokannya, superioritasnya—dan aku yakin jika dia
melakukannya, aku akan ambil mantelku dan kabur dari
rumahnya. Barangkali dia membaca pikiranku. Dia mulai
berbicara tentang thoracoplasty. Tentu saja, operasi telinga
sudah sangat populer akhir-akhir ini.
“Tapi, apakah kamu kehilangan beberapa pasien?”
tanyaku.
“Tentu saja. Lari dan bersembunyi di semak-semak—
kami tidak tahu kapan mereka akan sampai. Lalu, lompat
ke danau. Atau kamu pikir mereka tidak mati? Ada juga
kasus ketika operasi bedah tidak berhasil, ya tentu saja.”
Namun, sesuatu yang besar akan datang, ia
menambahkan. Operasi bedah yang biasa dia kerjakan
akan ditinggalkan seperti operasi thoracoplasty. Obat-
obatan baru sedang dikerjakan. Streptomycin. Sudah diuji
coba. Memang masih ada masalah—naturalnya, memang
selalu masih ada masalah. Terutama masalah toksisitas
sistem saraf. Namun, halangan itu pasti segera dipecahkan.
“Letakkan saja ahli bedah sepertiku keluar dari bisnis
itu.”
Dia mencuci piring, aku mengeringkan. Dia
memasangkan celemek untuk melindungi gaunku dari
percikan air. Ketika tali pengikat dijeratkan, dia membelai
dadaku dengan tangannya. Tekanannya cukup kuat, jari-
jarinya meregang—dia mungkin saja sudah mengambil
keuntungan dari tubuhku dengan cara yang profesional.
Ketika aku hendak tidur, aku masih bisa merasakan
tekanannya. Aku masih bisa merasakan intensitas jari-
jarinya dari kelingking hingga ibu jari. Aku menikmatinya.
Ini lebih penting, sungguh, dibandingkan dengan
ciumannya di keningku setelah itu, momen ketika aku
turun dari mobil lusuhnya itu. Ciuman dari bibir kering,
singkat dan formal, dilakukan dengan terburu-buru.
Kunci rumahnya tergeletak di lantai kamarku,


86

amnundsen

diselipkan dari bawah pintu ketika aku tidak ada. Namun,
aku tidak bisa menggunakannya. Jika orang lain yang
memberikan penawaran itu, aku akan dengan senang hati
menyambut kesempatan itu. Apalagi ditambah penghangat
ruangan. Tapi, dalam hal ini, keberadaanya di rumah itu
akan menarik segala kehangatan dan kenyamanan dan
menggatikannya dengan kenikmatan menegangkan dan
meluap-luap. Aku ragu apa aku bisa membaca kata-kata
di buku.


KU harap Mary datang untuk memarahiku karena
Aaku tak datang pada “Pinafore”. Aku akan bilang
padanya kalau aku sedang tak enak badan. Aku demam.
Tapi aku ingat, demam adalah masalah serius di tempat
ini, yang melibatkan masker, disinfektan, dan karantina.
Dan, cepat atau lambat, aku yakin tidak ada harapan untuk
menyembunyikan kedatanganku ke rumah dokter. Takkan
menjadi rahasia lagi, bahkan tidak dari perawat yang tidak
berkata apa pun entah karena terlalu luhur dan bijaksana
atau karena hal itu tidak begitu menarik bagi mereka. Tapi,
pembantunya pasti menggodaku.
“Nikmati makan malam Anda?”
Nada mereka ramah, mereka tampak setuju.
Kepercayaanku bangkit. Apa pun aku di mata mereka,
setidaknya aku mampu menjadi perempuan utuh dengan
bersama lelaki.
Mary tidak kelihatan sama sekali minggu ini.

ABTU depan” adalah kata yang dia ucapkan
“Ssebelum ia mendaratkan ciuman. Aku pun
menunggunya lagi di teras depan dan sekarang, dia sangat
terlambat sekali. Kami melaju ke rumahnya dan aku pun
ke ruangan depan ketika dia menyalakan api di tungku
pemanas. Di ruangan depan, aku menemukan pemanas


87

Alice munro

listrik berdebu.
“Menurutmu aku main-main?” katanya. “Menurutmu
aku tidak sungguh-sungguh? Aku selalu memegang
perkataanku.”
Aku bilang aku tidak ingin datang ke kota karena takut
bertemu dengan Mary.
“Karena tidak hadir di konsernya.”
“Itulah yang terjadi jika kamu menyenangkan dia,”
jawabnya.
Menu malam ini hampir mirip dengan malam
sebelumnya. Pork chops, mashed potatoes instan, jagung
serut dalam pie dan bukan kacang polong. Malam ini
ia membiarkan aku membantunya di dapur, bahkan
memintaku untuk mengatur meja makan.
“Kamu akan belajar dengan cepat letak-letak benda-
benda di rumah ini. Semuanya sangat tertata, aku percaya.”
Artinya, aku bisa melihat dia bekerja dengan kompor.
Ia mudah berkonsentrasi, gerakannya ekonomis,
mempersiapkan di depanku sebuah prosesi “letupan api
dan panas dingin”.
Kami baru saja mau mulai makan, tiba-tiba pintu
diketuk-ketuk. Dokter berdiri dan membuka pintu dan
Mary mulai meluap-luap.
Mary membawa sebuah kotak kardus yang diatur
di atas meja. Lalu, dia melemparkan mantelnya dan
memperlihatkan kostum merah-kuning.
“Selamat Valentine,” katanya. “Anda tidak pernah
datang melihat konserku jadi aku membawakan konserku
kepada Anda.”
Mary berdiri dengan satu kaki lalu kaki satunya sudah
dalam posisi menolak ke depan, dan lalu bergantian. Dia
mendorong kakinya yang lain ke depan dengan caranya
dan mulai berjingkrak.




88

amnundsen

I’m called Little Buttercup.
Dear little Buttercup,
Though I could never tell why.
But still I’m called Buttercup,
Poor little Buttercup
Sweet little Buttercup I—


Dokter pun berdiri sebelum Mary mulai bernyanyi.
Dia berdiri di depan kompor, mengambil panci bekas
menggoreng Pork Chops dan mengetuk-ngetuknya.
Aku bertepuk tangan. “Kostum yang luar biasa,” pujiku.
Kostum itu rangkaian rok merah, rok dalam kuning
terang, celemek putih yang berkibar-kibar, korset
berbordir.
“Ibuku membuatkannya.
“Bahkan, untuk bordirannya?
“Tentu, dia begadang hingga pukul 4 pagi untuk
menyelesaikan ini semua.”
Mary berputar dan menghentak, memamerkan
gerakannya. Piring-piring berdentang. Aku bertepuk
tangan lagi. Kami berdua hanya menginginkan satu hal.
Kami ingin dokter berbalik dan berhenti mengacuhkan
kami. Baginya, cukup berat bahkan untuk mengatakan satu
kata sopan.
“Dan lihat apalagi itu?’ seloroh Mery. “Untuk Valentine.”
Dia merobek kotak karton dan di dalamnya ada kue
Valentine, semua dipotong dengan bentuk hati dan dilapisi
lapisan manisan merah.
“Bagusnya,” kataku dan Mary mulai berjingkrak lagi.


I am the Captain of the Pinafore.
And a right good captain, too.
You’re very very good, and be it understood,
I command a right good crew.


89

Alice munro



























Dokter berdiri untuk terakhir kalinya, dan Mary
memberi hormat padanya layaknya penampilan di
panggung.
“Baiklah,” katanya. “Sudah cukup.”
Mary tak menghiraukannya.

Then give three cheers and one cheer more
For the hardy captain of the Pinafore.

“Aku bilang, cukup.”
“Untuk kapten Pinafore….”
“Mary. Kami sedang makan malam. Dan kamu tidak
diundang. Kamu mengerti tidak? Tidak diundang!”
Mary terdiam sebentar. Tapi, hanya sebentaran.
“Well, sayang sekali. Kamu tidak ramah sama sekali.”
“Dan, kamu bisa melakukan semua itu tanpa mengunyah
cookies. Kamu bisa gemuk seperti babi muda.”
Raut muka Mary angkuh seolah-olah hendak menangis,


90

amnundsen

tapi dia malah berkata, “Lihat lawan bicaramu. Salah satu
matamu malah melirik ke arah lain.”
“Cukup.”
“Well, kamu mendapatkannya.”
Dokter mengambil sepatunya menaruh di depannya.”
“Pakai!”
Mary memakai sepatunya, sesenggukkan, air matanya
menetes. Dokter mengambil mantelnya dan tidak
membantunya sama sekali. Saat dia mendorong Mary ke
pintu, dokter menemukan kancing.
“Baiklah. Sekarang, bagaimana kamu datang kemari?”
Mary menolak menjawab.
“Jalan kaki?” Well, aku bisa mengantarmu ke rumah.
Jadi, kamu tidak akan sempat lari ke danau yang beku dan
mati membeku hanya untuk mengasihini diri sendiri.”
Aku tak bisa berkata apa pun. Mary tidak melihatku
sama sekali. Waktu itu suasana tidak menyenangkan,
bahkan hanya untuk mengucapkan selamat tinggal.
Ketika aku dengar mobil dinyalakan, aku mulai
membersihkan meja. Kami tidak menyantap dessert, pie
apel lagi. Barangkali dokter tidak tahu makanan lain, atau
barangkali hanya roti itulah yang dibuat di bakery shop.
Aku mengambil satu kue berbentuk hati dan
memakannya. Manis sekali rasanya. Tak ada rasa ceri atau
beri, hanya gula dan pewarna makanan merah. Aku makan
lagi dan lagi. Aku tahu setidaknya aku harus mengucapkan
selamat tinggal. Seharusnya aku mengucapkan terima
kasih atas cookies yang dibawanya. Namun, itu tak lagi
penting. Aku katakan pada diriku, itu takkan lagi penting.
Pertunjukkan itu bukan untukku. Atau, barangkali sebagian
pertunjukkan itu memang untukku.
Dokter Fox terlalu brutal. Sangat mengejutkanku
bahwa dia begitu brutal. Untuk seseorang yang sangat
membutuhkannya. Tapi, dia telah melakukan banyak


91

Alice munro

untukku hingga waktunya denganku itu tak ingin direbut
oleh siapa pun. Aku sangat tersanjung dan aku merasa malu
karena hanya dengan itu aku bisa setersanjung begini. Aku
tidak tahu apa yang akan aku katakan ketika dia kembali.
Dia tidak ingin aku mengatakan apapun. Dia membawaku
ke ranjangnya. Apakah ini kartu yang selama ini ia
simpan, ataukah ini kejutan yang ia persiapkan untukku?
Keperawananku, setidaknya bukanlah sesuatu yang
dirisaukannya—ia memberikan handuk, serta kondom—
dan dia menahannya, melakukan secara perlahan sebisa
dia. Aku terkejut, setidaknya bagi kami berdua.
“Aku berniat menikahimu,” katanya.
Sebelum dr. Fox mengantarkan pulang, dia
melemparkan semua cookies, semua yang berbentuk
merah hati itu, ke luar salju biar dimakan burung-burung
musim dingin.

AMI sudah yakin. Pertunangan kami—meski dia
Ksedikit khawatir dengan kata itu—telah disetujui.
Pernikahan bisa kapan pun juga setelah dia mendapatkan
libur beberapa hari berturut-turut. Pernikahan yang
sederhana, katanya. Aku tidak menulis kabar kepada kakek-
nenekku. Aku mengerti gagasan upacara—mengundang
seseorang yang idenya tidak dia hormati, dan seseorang
yang akan membuat kami terkekeh-kekeh dan tersenyum
bodoh—yang sudah dia persiapkan dengan lebih baik
dibandingkan saat dia menyiapkan cincin pernikahan.
Bukan karena dia lebih suka cincin berlian. Aku katakan
padanya aku tidak menginginkan itu, ini sungguhan, aku
tidak membutuhkannya. Itu bagus, katanya. Dia tahu aku
bukanlah tipe perempuan idiot, perempuan konvensional.
Akan lebih baik jika kami berhenti makan malam
bersama, katanya, bukan hanya karena gosip-gosip
yang akan beredar melainkan karena tidak mungkin


92


Click to View FlipBook Version