hikayat la florida
193
laila lalami
“Mungkin saja itu besi.”
“Tapi, ini mungkin saja emas.” Dia membolak-balik
kerikil itu di antara jari-jarinya, tidak yakin dengan benda
itu. Lalu, ia tiba-tiba berlari ke Senor Narvaez yang sedang
berdiri di alun-alun desa, menunggu para sedadunya
menyelesaikan pencarian.
“Don Panfilo,” majikanku memanggil. “Don Panfilo.”
Aku akan menggambarkan sedikit rupa Gubernur
untuk Anda. Yang paling mencolok adalah tambalan hitam
di sekitar mata kanannya. Itu membuat wajahnya sedikit
garang, meski bagiku pipi cekungnya dan dagunya yang
kecil justru mengurangi kegarangannya. Hampir tiap
hari, bahkan saat-saat yang tidak dibutuhkan, dia selalu
memakai helm besi dengan hiasan bulu burung unta. Di
baju zirahnya, selendang biru menjuntai dari bahu hingga
paha, dan terikat di bagian pinggul. Dia seperti seorang
laki-laki yang cukup keras berusaha demi penampilannya,
namun dia bisa juga menjadi seorang yang tak beradab
seperti para serdadunya. Suatu kali, aku pernah melihatnya
memasukkan satu jari ke lubang hidungnya, lalu ia
membuang ingus ketika sedang membicarakan logistik
kapal dengan salah satu kapten.
Dengan cekatan, Senor Narvaez pun mengambil
kerikil-kerikil itu. Jari-jarinya yang serakah menelisik
dengan seksama dan meraba-raba kerikil itu.
“Emas, ya, ini pasti emas,” katanya penuh keyakinan.
Kerikil itu digenggam di tangannya seakan-akan seperti
sebuah persembahan untuknya. Suaranya parau ketika ia
berbicara lagi.
“Kerja yang bagus, Kapten Dorantes, kerja yang bagus.”
Para perwira yang berada di sekeliling Gubernur
bersorak-sorak. Seorang serdadu lari ke pantai dan
berteriak mengabarkan soal emas itu. Aku berdiri di
belakang Senor Dorantes, terhalangi bayangannya dan
194
hikayat la florida
silauan sinar matahari. Meski aku tidak bisa melihat raut
mukanya, aku yakin, dia sedang diliputi perasaan bangga.
Sudah setahun sejak aku dijual kepadanya di Sevilla dan
sejak itu aku sudah belajar banyak membaca perilakunya:
mengetahui apakah dia senang atau hanya puas, marah
atau agak kesal, khawatir atau hampir tidak peduli—
gradasi perasaan yang terlihat lewat tindakan dan hanya
aku yang bisa menerjemahkan. Sekarang, misalnya, dia
senang dengan hasil temuanku, tapi kesombongannya
telah mencegahnya untuk mengatakan bahwa akulah
yang menemukan emas itu. Aku harus tetap tutup mulut,
pura-pura tidak memerhatikan beberapa saat, biarkan
dia bersenang-senang sendiri di dalam kebanggaan atas
penemuan itu.
Beberapa saat kemudian, Gubernur memerintahkan
sisa armada untuk turun. Butuh tiga hari untuk
menurunkan semua orang, kuda, dan persediaan ke atas
pantai pasir putih. Semakin banyak orang berdatangan.
Entah bagaimana mereka bisa berjejalan satu sama lain
dengan teman seregu mereka di dalam pos. Gubernur
biasanya berdiri dengan para kaptennya, dengan baju besi
dan helm berbulu; Deputi bercakap-cakap dengan empat
biarawan. Semua mengenakan jubah cokelat yang sama;
para penunggang kuda berkumpul dengan orang-orang
bersenjata, setiap dari mereka membawa senjata—musket,
arquebus, panah, pedang, tombak bermata baja, belati,
atau bahkan pisau daging. Lalu ada pula penduduk biasa,
seperti tukang kayu, pandai besi, tukang sepatu, tukang
roti, petani, pedagang, dan banyak lagi orang dengan
pekerjaan yang tidak pernahku perhatikan atau mudah
saja kulupakan. Ada juga sepuluh perempuan dan tiga
belas anak-anak, berdiri di kerumunan di sebelah peti
kayu mereka. Namun, 50 lebih budak—termasuk pelayan
Tuhan ini, Mustafa ibn Muhammad—tersebar, tiap budak
195
laila lalami
berdiri di dekat majikannya, membawa barang-barang
sang majikan atau sekadar mengawasi barang-barang itu.
Saat semua orang telah berkumpul di pantai, saat itu
adalah hari ketiga dan sudah terlalu sore. Tak ada air
pasang. Ombak laut kecil dan garis gelap di bibir pantai
begitu terlihat jelas. Udara kian dingin; sekarang pasir
pantai terasa dingin dan lembab di bawah kakiku. Awan
tinggi telah berkumpul di langit, mengubah matahari
seakan menjadi bola api redup di kejauhan. Kabut tebal
berdatangan dari samudra, perlahan melunturkan warna
di dunia sekitar kami, menyelimuti dunia kami dengan
nuansa putih dan abu-abu. Benar-benar sunyi.
Notaris armada—pria gemuk dengan mata seperti
burung hantu—bernama Jeronimo de Albaniz melangkah
maju. Menghadap Senor Narvaez, dia membuka gulungan
dan mulai membaca dengan suara tanpa nada. “Atas nama
Raja dan Ratu”, dia berkata, “kami ingin menyampaikan
bahwa tanah ini milik Tuhan kita, Tuhan Yang Hidup Abadi.
Tuhan telah menunjuk seseorang yang bernama Santo
Petrus menjadi pemimpin bagi seluruh manusia di dunia,
di mana pun mereka tinggal, dan di bawah hukum, sekte,
kepercayaan apa pun yang mereka anut. Penerus Santo
Petrus yang dalam hal ini adalah Bapa Suci kita, sang
Paus, yang telah menyerahkan bumi ini kepada Raja dan
Ratu. Oleh karena itu, kami meminta dan mengharuskan
Anda memercayai Gereja sebagai penguasa dunia ini dan
pendeta yang kita panggil Paus, serta Raja dan Ratu sebagai
penguasa wilayah ini.”
Senor Albaniz tiba-tiba berhenti dan, tanpa meminta
permisi atau meminta maaf, dia minum dari tempat air
yang tergantung di bahunya.
Aku melirik wajah Gubernur. Dia terlihat kesal dengan
gangguan itu, namun dia menahan diri untuk tidak
mengatakan apa pun. Sebab, itu akan mengganggu jalannya
196
hikayat la florida
197
laila lalami
prosesi. Atau mungkin dia tidak ingin membuat marah
notaris. Toh, tanpa notaris dan juru tulis, tetap tidak akan
ada yang tahu apa yang dilakukan Gubernur. Kesabaran
dan penghormatan, meski kecil, sungguh dibutuhkan.
Tanpa terburu-buru, Senor Albaniz menyeka
mulutnya dengan punggung tangannya dan melanjutkan
berbicara. “Jika Anda melakukan apa yang kami katakan,
Anda melakukan perbuatan yang baik dan kami akan
menerima Anda dalam cinta dan kasih. Tapi, jika Anda
menolak mematuhi atau dengan jahat menghambat,
kami sampaikan kepada Anda, kami akan memerangi
Anda dengan segala cara yang kami bisa dan kami akan
mengambil istri dan anak Anda, menjadikan mereka
budak-budak, dan kami akan mengambil barang-barang
Anda dan membuat huru-hara dan kerusakan sebisa kami.
Dan jika semua itu harus terjadi, kami menyatakan bahwa
segala kematian dan kehilangan akan menjadi kesalahan
Anda dan bukan kesalahan Yang Mulia atau para kavaleri
yang hadir sekarang. Sekarang, kami akan katakan pada
Anda, kami akan meminta juru tulis untuk menuliskan
kesaksiannya dan orang-orang yang hadir di sini menjadi
saksi atas rekuisisi ini.”
Hingga Senor Albaniz sampai pada janji-janji dan
ancaman-ancaman, aku tidak tahu jika pidato itu ditujukan
untuk suku Indian. Aku juga tidak paham mengapa hal itu
harus dibacakan di sini, di pantai ini, jika para penerimanya
sudah meninggalkan kampung. Sungguh aneh. Aku
pernah berpikir betapa anehnya cara pandang orang-
orang Castilla ini—hanya dengan memaklumatkan tentang
sesuatu, lalu mereka pun memercayai sesuatu itu sebuah
kebenaran. Aku paham sekarang bahwa para penakluk ini,
sama seperti kebanyakan orang-orang sebelum mereka
dan tanpa diragukan lagi sama pula dengan orang-orang
setelah mereka, berbicara bukan untuk menyampaikan
198
hikayat la florida
kebenaran, melainkan membuat kebenaran.
Akhirnya, Senor Albaniz pun diam. Dia menyerahkan
gulungan dan menunggu, membungkukkan diri ketika
Senor Narvaez menandatangani gulungan dalam prosesi
rekuisisi. Di depan kerumunan, Gubernur mengumumkan
bahwa kampung ini akan dikenal sebagai Portillo. Para
kapten menundukkan kepala dan seorang serdadu
memancangkan panji-panji kerajaan, kain hijau dengan
perisai merah di tengah-tengahnya. Tetiba, aku teringat
dengan peristiwa beberapa tahun yang lalu ketika bendera
Kerajaan Portugis dikibarkan di atas menara benteng, di
Azemmur. Aku masih sangat muda saat itu, namun aku
masih terbayang-bayang penghinaan hari itu karena
hari itu telah mengubah nasib keluargaku, mengoyak-
koyak kehidupan kami, dan membuat diriku terusir
dari rumahku. Sekarang, di belahan bumi lain, adegan
peristiwa itu terulang kembali di panggung yang berbeda,
dengan orang yang berbeda. Jadi, aku tidak bisa menahan
ketakutanku tentang apa yang akan terjadi berikutnya.
AGI-PAGI sekali, ketakutanku pun terbukti juga
Pketika kami mendengar keributan di belakang
gudang kampung. Senor Dorantes memintaku untuk
mencukur rambutnya dan aku baru saja memulai
mencukur bagian pinggir rambutnya yang tebal dan
berwarna gandum. Jenggotnya juga tumbuh lebat, tapi dia
tidak ingin mencukurnya. Mungkin saja, dia merasa tak
perlu mengkhawatirkan penampilannya karena dia sedang
berada di ujung kerajaan. Atau, dia membiarkan jenggotnya
tumbuh karena dia bisa, sedangkan orang-orang Indian,
rumornya, tidak punya jenggot. Aku sendiri tidak bertanya
padanya; justru aku lega karena pekerjaan jadi tidak
banyak. Namun, ketika kami mendengar teriakan para
serdadu, Senor Dorantes sekonyong-konyong berdiri dan
199
laila lalami
berlari, bahkan kain linen putih masih dia kenakan, untuk
melihat apa yang sebenarnya terjadi. Aku mengikutinya
dari belakang dengan gunting Sevilla masih di tangan.
Para serdadu, ternyata, sudah menemukan orang-orang
Indian. Mereka bersembunyi di semak-semak, empat dari
mereka berhasil ditangkap.
Keempatnya adalah laki-laki dan keempatnya telanjang.
Aku sudah pernah melihat orang-orang Indian sebelumnya
di Kepulauan Kuba dan La Espanola ketika kapal berhenti
untuk membeli persediaan, tapi aku tak pernah melihat
begitu dekat. Aku tidak terbiasa mengamati lelaki berjalan
dalam keadaan natural mereka, tanpa malu-malu dengan
ketelanjangan mereka, jadi aku pun terdorong untuk
mengamati. Mereka bertubuh tinggi dan besar dengan
warna kulit seperti warna tanah yang terkena hujan. Rambut
mereka mengilap dan panjang, serta di tangan kanan
dan kaki kiri mereka terdapat tato dengan bentuk yang
tak kukenali. Salah satu di antara mereka bermata sayu,
seperti mata pamanku, Omar, dan dia mengedipkan mata
agar bisa fokus melihat para penculiknya. Sementara yang
lainnya mengamati kampung, melihat segala perubahan
sejak kedatangan kami: salib didirikan di dekat bangunan
suci; panji-panji Gubernur menancap di lapangan; dan
kuda-kuda dipancang di tiang yang baru dibangun di
sekeliling lapangan. Dari kisah-kisah yang kudengar
tentang orang-orang Indian, aku pun mengharapkan
sesuatu yang luar biasa, misalnya semburan api layaknya
jin dari mulut mereka, namun sepertinya mereka tidak
berbahaya bagiku—terutama bagi serdadu Castilla di
sebelahnya. Meski begitu, mereka tetap diikat dan dibawa
ke Senor Narvaez.
Dari sakunya, Gubernur mengambil kerikil emas yang
kutemukan. Sambil memainkan di jemarinya, dia bertanya
tentang emas itu. “Dari mana kau dapatkan emas ini?”
200
hikayat la florida
Tawanan-tawanan itu menatap Gubernur dengan
seksama dan dua di antara mereka berbicara dengan
bahasa ibu mereka. Aku belum bisa mendengar intonasi
suara yang keluar dari bibir mereka—misalnya di mana kata
pertama berakhir dan kata lainnya dimulai. Pengalamanku
di kota perdagangan seperti Azemuur membuatku jatuh
cinta dengan bahasa dan, maaf atas kelancanganku, itu
sedikit memudahkanku mengamati bahasa mereka. Jadi,
aku penasaran dengan bahasa orang Indian, meski aku
tidak bisa mendapatkan petunjuk untuk mempelajari
idiom-idiom baru, misalnya suara yang familiar, kata-kata
umum, atau kesamaan intonasi. Namun, aku agak terkejut,
Gubernur mengangguk pelan, seakan-akan dia tahu
dengan tepat dan bahkan setuju dengan mereka.
Meski demikian, dia tetap mengulangi pertanyaannya.
“Di mana kau temukan emas ini?”
Di belakangnya, para serdadu menyimak dan menunggu.
Di atas pohon, burung-burung sedang bernyanyi, suaranya
melengking meski panas begitu menyiksa. Suara ombak
datang dari bibir pantai dan aku bisa mencium asap
di udara—seseorang sedang menyalakan api untuk
menyiapkan almuerzo. Lagi, orang-orang Indian itu
menjawab dengan cara yang sama seperti sebelumnya.
Setidaknya, aku beranggapan mereka telah menjawab
pertanyaan itu. Itu seperti mereka sedang menanyakan
sesuatu kepada Gubernur, atau menantangnya bertarung,
atau mengancam akan membunuhnya jika dia tidak
melepaskan mereka.
Gubernur mendengarkan dengan sopan jawaban
mereka lalu dia kembali ke tempatnya. “Kunci mereka di
gudang,” katanya, “dan bawakan aku cambuk.”
Senor Dorantes kembali ke kursinya dan lagi-lagi aku
harus mengikutinya. Tak ada kata-kata di antara kami. Aku
telah selesai memotong rambutnya, memberikan cermin
201
laila lalami
padanya, dan memegangi satu cermin lagi di belakang.
Aku melihat kedua bayangan kami di kedua cermin yang
saling berlawanan itu. Majikanku tampak senang dengan
potongan rambutnya. Ia mengangguk senang ketika
berbalik badan seperti ini dan itu. Janggutnya sudah
hampir menutupi bekas luka di pipinya. Pernah sekali aku
dengar dia bercerita dengan bangga kepada salah satu
tamu makan malamnya. Dia pernah tinggal di Castilla
beberapa tahun ketika dia membantu memadamkan
pemberontakan melawan Raja. Bagiku, perbudakan
telah mengajariku untuk tetap menjaga raut muka yang
tenang. Namun, di cermin, aku sadar mataku justru
memperlihatkan kegelisahaku. Kuyakinkan diriku bahwa
aku hanya penasaran dengan jenis jala yang digunakan
orang Indian. Aku tidak tertarik dengan emas. Namun,
gara-gara kerikil yang kutemukan itu, empat orang ini
yang tidak pernah menyakitiku dicambuk. Aku harus pura-
pura, seperti majikanku, tidak mendengar tangisan dari
dalam gudang. Dalam beberapa saat, tangisannya menjadi
lolongan, begitu lama dan penuh kegetiran sehingga aku
sendiri bisa merasakan kepedihan itu di dalam hatiku.
Dan, setelah cambukan berkali-kali dan mengerikan itu
berhenti, suasana terasa sunyi.
Lalu, ketika aku sedang membantu Senor Dorantes
memakaikan sepatunya, aku mendengar adik laki-lakinya,
Diego, seorang pemuda yang cukup tenang, barangkali
16 atau 17 tahun, menanyakan soal pertemuan Gubernur
dan orang-orang Indian. Diego sungguh berbeda dengan
Senor Dorantes. Sampai-sampai aku sendiri heran kalau
mereka adalah saudara kandung. Ya, satunya pemalu dan
tak punya perasaan, satunya lagi tegas dan licik. Yang satu
selektif dalam berteman, satunya lagi gampang suka dan
cepat membenci pula. Tapi, Diego berusaha keras meniru
kakaknya. Dia mengenakan doublet tak berkancing dan ia
202
hikayat la florida
mengenakan helm layaknya seorang serdadu terlatih. Dia
mencoba menumbuhkan janggutnya, tapi hanya satu dua
rambut saja yang tumbuh. “Hermano,” kata Diego. “Kapan
Don Panfilo belajar bahasa mereka? Apakah dia pernah ke
La Florida sebelumnya?”
Senor Dorantes menatap Diego dengan pandangan geli,
tapi dia pasti merasa pertanyaan itu tidak begitu berbahaya.
Dia pun langsung menjawab. “Tidak, ini pertama kali dia ke
sini, sama seperti kita. Tapi, dia punya banyak pengalaman
dengan orang-orang liar ini. Dia bisa membuat dirinya
dimengerti oleh orang-orang itu, dan dia jarang gagal
mengorek informasi yang dia cari.”
Sungguh tidak masuk akal bagiku, namun aku tetap
203
laila lalami
diam, sebab aku tahu, majikanku tidak akan sembrono
bilang soal kemampuan Gubernur memahami bahasa
orang Indian. Nenek moyangku mengajarkan: anjing yang
masih hidup lebih baik daripada singa yang telah mati.
“Tapi, kenapa mereka harus dicambuk?” Diego
menimpali.
“Karena mereka terkenal pembohong,” jawab Senor
Dorantes. “Lihat mereka berempat. Mereka seperti mata-
mata, mereka dikirim ke sini untuk melihat gerak-gerik
kita dan melaporkan pergerakan kita,” pelan, hampir tak
kentara, nada bicara majikanku berubah dari geli menjadi
sedikit marah. Dia berdiri dan meraba-raba di sekitaran
sepatunya, memastikan celananya terpakai dengan benar.
“Untuk mendapatkan informasi yang benar,” katanya,
“perlu mencambuk mereka.”
UBERNUR mencambuki keempat tahanan itu
Ghingga dia puas dengan kebenaran informasi
yang dia dapat. Dengan bekal informasi itu, Gubernur
memanggil semua perwira untuk berkumpul pada
malam hari. Mereka berkumpul di loji besar di kampung,
seperti sebuah kuil yang bisa memuat ratusan orang,
meski hanya 12 perwira tinggi yang diundang ke sana:
komisaris, bendahara, pemeriksa pajak, notaris, dan para
kapten—di antara mereka adalah Senor Dorantes. Patung
kayu harimau dengan mata dicat kuning dan tangannya
memegangi senjata perang telah dipindahkan beberapa
hari yang lalu bersama dengan tifa. Dalam imajinasiku,
benda-benda ini digunakan untuk upacara kaum kafir.
Sekarang, kuil itu kosong. Namun, atap-atapnya membetot
perhatianku. Atap-atap itu dihiasi kulit kerang terbalik
yang memantulkan cahaya ke tanah.
Satu per satu, perwira tinggi Spanyol duduk di kursi
Indian yang sudah diatur melingkar. Tempat Gubernur
204
hikayat la florida
terdiri dari bangku panjang dan meja yang telah ditutupi
kain putih. Di tiap ujung diletakkan candelabras. Lalu,
hidangan makan malam pun disajikan: ikan bakar, nasi,
daging babi asap, dan buah-buahan segar yang diambil
dari gudang persediaan kampung. Ketika aku melihat
makanan-makanan itu, rasa lapar luar biasa menghujani
perutku bahkan dibandingkan hari sebelumnya, rasa lapar
ini lebih hebat. Namun, aku harus menunggu hingga makan
malam itu selesai, dan aku bisa memakan perbekalanku.
Berdiri di hadapan para perwira, Senor Narvaez
mengumumkan bahwa kerikil emas itu berasal dari
kerajaan kaya raya, yakni Alpalache. Kerajaan itu berjarak
dua minggu dengan berjalan kaki ke utara dari kampung
ini. Dan, pusat kerajaannya dipenuhi dengan emas, perak,
tembaga, dan logam mulia lainnya. Ada pula ladang luas
yang telah ditanami jagung dan kacang-kacangan di sekitar
kota, dan banyak orang merawat ladang itu, serta di dekat
situ ada sungai yang penuh dengan ikan. Pengakuan orang-
orang Indian, yang dicatat Senor Albaniz atas perintah
Gubernur, telah meyakinkan Gubernur bahwa Kerajaan
Apalache adalah kerajaan kaya, seperti Moctezuma.
Kata-kata ini memiliki efek layaknya tembakan meriam.
Kulihat, semua yang hadir di malam itu takjub, dan aku
pun ikut tersentak, kaget, lantaran di Sevilla, aku telah
banyak mendengar cerita tentang kerajaan kaya raya yang
istananya diselubungi emas dan perak. Kegembiraan para
kapten menjalar hingga aku menyadari diriku terbawa
dalam lamunan. Bagaimana jika, gumamku, orang-
orang Castilla ini menaklukkan kerajaan itu? Bagaimana
jika Senor Dorantes menjadi salah satu orang terkaya
di kerajaan ini? Harapan sembrono ini meluncur di
kepalaku. Dia mungkin saja—dengan kebaikannya dan rasa
syukur atau bahkan lantaran sebagai imbas kemenangan
atas emas-emas dan kemenangannya—membebaskan
205
laila lalami
budak yang telah lama menemani perjalanannya. Begitu
mudahnya aku terlena dengan fantasi ini! Aku bisa
meninggalkan La Florida dengan kapal yang akan berlayar
ke Sevilla, dan dari sana aku akan kembali ke Azemmur,
kota yang berada di ujung benua lama. Aku bisa kembali ke
rumah, bertemu keluargaku, berpelukan dengan mereka,
menjulurkan jari-jariku ke tembok yang tak rata di desa,
mendengar suara Umm er-Rbi’ ketika dipenuhi angin
musim semi, duduk di atap rumah kami di hangatnya
musim panas malam hari, ketika udara dipenuhi aroma
buah ara yang masak. Aku sekali lagi akan berbicara
dengan bahasa nenek moyangku dan menemukan kembali
tradisi yang sudah lama kutinggalkan. Aku akan menjalani
sisa hidupku bersama dengan orang-orang sekaumku.
Kenyataannya, tidak semua impianku ini telah dijanjikan
atau disarankan untuk mengurangi kerinduanku. Dan,
di sela-sela keserakahanku ini, aku lupa harga sebuah
mimpiku bagi orang lain.
Para perwira bersulang untuk Gubernur, berterima
kasih atas kabar baik yang dia berikan, dan para budak,
termasuk Pelayan Tuhan ini, Mustafa ibn Muhammad,
mengisi ulang gelas itu dengan anggur. (Pembaca yang
budiman, tidak mudah bagiku untuk mengakui bahwa
aku ikut menyajikan minuman haram itu, tapi aku telah
memutuskan untuk menceritakan apa pun yang terjadi
padaku, jadi aku tidak bisa meninggalkan detail-detail
kecil, bahkan kejadian seperti itu.)
“Namun,” kata Gubernur sambil mengangkat tangan
untuk menenangkan hadirin, “ada satu halangan. Armada
ini terlalu besar: empat kapal dan satu brigantine, 600
orang dan 80 kuda, 50.000 arroba persediaan dan senjata.
Ini sungguh tidak cocok untuk misi ini.”
Dia pun memutuskan membagi dua regu, masing-
masing berukuran sama. Regu pertama adalah regu yang
206
hikayat la florida
akan mengarungi laut, terdiri dari pelaut, perempuan dan
anak-anak, serta orang-orang yang menderita lantaran
kedinginan atau demam, atau yang terlalu lemah untuk
melanjutkan perjalanan. Kelompok ini akan berlayar
menyusuri pantai La Florida menuju kota terdekat di
Ispanya Baru, yang terdapat Pelabuhan Panuco, di ujung
Rio de las Palmas. Di sana, mereka akan menurunkan
jangkar dan menunggu.
Regu kedua, kalau boleh dikatakan begitu, terdiri dari
orang-orang yang masih bisa berjalan, menunggang
kuda, membawa makanan dan air, serta persenjataan dan
amunisi. Mereka akan berjalan menuju ke pedalaman
Apalache, merebutnya, dan mengirimkan kelompok
yang lebih kecil untuk ikut berpesta di pantai. Gubernur
mengundang para kapten untuk memilih orang-orang
terbaik yang ikut melakukan perjalanan dengan kapal-
kapal mereka.
Keheningan tiba-tiba menyeruak di majelis. Lalu,
seketika itu pula, beberapa kapten keberatan dengan
rencana itu, salah satunya pemuda yang juga teman
dekat majikanku. Senor Castillo namanya dan dia
sangat berhasrat ikut ekspedisi ini setelah mendengar di
perjamuan di Sevilla. Suaranya sengau seperti suara anak-
anak dan memang dia adalah remaja berumur belasan
tahun. Aku ingat dia berdiri dari tempat duduknya dan
bertanya, “Apakah tidak terlalu berbahaya jika mengirim
semua kapal dan persediaan ketika kami menjalankan
misi di pedalaman?”
“Kami tak memiliki peta,” ujarnya. “Tak ada cari
lain untuk memasok persediaan kepada kami jika misi
ini membutuhkan waktu lebih lama dari perkiraan
sebelumnya. Dan, para nakhoda juga belum tahu seberapa
jauh Panuco.” Senor Castillo berbicara tanpa tedeng aling-
aling dan tanpa nada permusuhan. Sementara, para
207
laila lalami
kapten lain yang juga mengajukan keberatan terdiam,
membiarkannya berbicara untuk mereka.
“Kita memang tidak mempunyai peta,” Senor Narvaez
menjawab dengan santun, “tapi, kita memiliki empat
orang Indian. Para pendeta akan mengajarkan bahasa
kita, jadi mereka bisa menjadi pemandu dan penerjemah.
Soal lamanya misi ini, kau bisa lihat sendiri dengan
mata kepalamu, betapa buruknya persenjataan mereka.
Takkan butuh waktu lama untuk menaklukkan mereka.”
Gubernur tidak mengenakan baju zirahnya malam itu. Dia
mengenakan doublet hitam yang lengan bajunya tertahan
dan diluruskan secara berkala. “Sekarang,” ujarnya, “mari
kita bahas bagaimana kita membagi orang-orang kita.”
Senor Castillo menggaruk-garuk rambut cokelatnya—
sebuah kebiasaan yang menandakan ia gugup. “Maafkan
saya, Don Panfilo,” katanya. “Tapi, aku masih belum yakin
kita harus mengirim semua kapal ketika tiga nakhoda kita
belum yakin seberapa jauh kita dari Ispanya Baru.
“Kita tidak begitu jauh dari Pelabuhan Panuco,” jawab
Gubernur. “Kepala nakhoda bilang hanya 20 league dari
sini. Nakhoda lain berpendapat mungkin 25 league. Aku
tidak melihat itu sebagai sebuah tidak kesepakatan.”
“Tentu, Anda tidak akan menyarankan mengirim semua
kapal kita begitu saja, bukan?”
Dari matanya yang bagus, Gubernur menatap Senor
Castillo dengan tajam. Setidaknya, seperti itulah yang
kurasakan.
“Bagaimana jika kapal-kapal itu hilang ketika
berlayar ke pelabuhan? Beberapa dari kita sudah banyak
menanamkan uangnya di kapal-kapal ini. Kita tidak bisa
kehilangan mereka.”
“Aku tidak akan panjang lebar bicara soal biaya kapal-
kapal ini, Castillo. Aku juga menanamkan banyak uangku
di perjalanan ini.” Gubernur melihat sekelilingnya,
208
hikayat la florida
meyakinkan para perwira yang hadir untuk menyetujui
pendapatnya. “Senor, rencanaku cukup sederhana. Kita
berjalan menuju Kerajaan Apalache, dan kapal-kapal kita
menunggu di pelabuhan yang aman sehingga para kru
bisa menyuplai persediaan yang mungkin kita butuhkan.
Aku pernah memakai strategi ini di Kuba, lima belas tahun
yang lalu.” Sekarang, Gubernur tersenyum mengenang
kejayaan dan kemenangannya lalu, menatap Senor
Castillo, dia menambahkan, “Barangkali, ketika kau masih
bayi.” Senor Castillo duduk. Wajahnya memerah.
Rencana Gubernur ini mungkin terlihat berani bagi
seorang kapten muda, tapi aku tahu rencana itu memang
pernah diuji. Sebelum, menuju Tenochtitlan untuk mengeruk
kekayaan Moctezuma, Hernan Cortes menenggelamkan
kapalnya lebih dulu di Pelabuhan Veracruz. Dan, tujuh abad
sebelumnya, Tariq bin Ziyad membakar kapal-kapalnya di
tepi pantai Ispanya. Sebenarnya, rencana Senor Narvaez
bisa dibilang lebih berhati-hati karena dia hanya mengirim
satu kapal untuk menunggu kami di pelabuhan terdekat
agar bisa mengisi ulang perbekalan kami. Jadi, aku tidak
merasakan ketakutan yang dialami Senor Castillo, dan
sebaliknya sebagian dari diriku justru membencinya
209
laila lalami
karena menghambat perjalanan ke kerajaan emas dan
tentu saja ini menunda impianku untuk bebas.
Namun, Senor Castillo meminta pendapat Senor Cabeza
de Vaca yang duduk di seberangnya. “Apakah Anda setuju
kita mengambil risiko yang tak perlu?” tanyanya.
Senor Cabeza de Vaca adalah bendahara dalam ekspedisi
ini yang mengumpulkan bagian Raja yang didapatkan di La
Florida. Rumornya, dia sangat dekat dengan Gubernur, jadi
sebagian besar orang-orang segan terhadapnya. Meski di
belakang, mereka membuat lelucon dengan memanggilnya
Cabeza de Mono lantaran kupingnya menonjol seperti
monyet. Senor Cabeza de Vaca memainkan jari-jarinya
yang putih, halus, dan berkuku bersih. Dia memiliki tangan
selayaknya bangsawan.
“Memang ada risiko,” ujarnya. “Selalu ada risiko.
Namun, orang-orang Indian di sini sudah tahu kehadiran
kita sekarang. Kita harus mulai bergerak sekarang,
sebelum Raja Apalache mengumpulkan pasukan besar
untuk menyerang kita atau membentuk sekutu dengan
kerajaan lain. Kita tidak bisa menunda-nunda kesempatan
kita untuk menaklukkan Apalache demi Raja kita.” Senor
Cabeza de Vaca berbicara dengan nada seperti seorang
budak lugu, namun gagasan yang dibawanya sungguh
cemerlang. Ide yang tidak terlalu mencemaskan soal
persoalan kapal yang terlalu dangkal. Beberapa kapten
mengangguk setuju karena bendahara adalah seorang
bijaksana dan berpengalaman yang berpengaruh di antara
mereka.
Anggota dewan lainnya pun terdiam. Senor Narvaez
berdehem. “Aku butuh seseorang untuk memimpin
kapal-kapal ketika kami berjalan menuju Apalache. Jadi,
jika Castillo lebih memilih untuk tidak ikut ekspedisi ke
pedalaman….
Penghinaan dalam tawaran Gubernur ini benar-benar
210
hikayat la florida
211
laila lalami
tidak disembunyikan.
“Don Panfilo,” Senor Castillo berkata, sikapnya betul-
betul berubah. Dia berdiri, siap mempertahankan
kehormatannya. “Tidak,” katanya lagi.
“Dia akan pergi,” Senor Dorantes memotong sambil
memegang bahu temannya untuk menghentikan perkataan
apa pun yang bisa menghancurkan reputasi Senor Castillo.
Gubernur akhirnya mengirim kapal-kapal ke Pelabuhan
Panuco. Dia pun memimpin perwira dan serdadu,
biarawan dan warga biasa, para kuli, dan budak menyusuri
pedalaman La Florida yang buas—sebuah prosesi panjang
300 jiwa mencari kerajaan emas.
EKELILING kami adalah tanah datar dan keras. Di
Stempat yang sinar matahari mampu menembus
atap tetumbuhan, tanahnya berwarna hijau pudar dan
terkadang kuning pucat. Suara derap kuda terserap
permukaan tanah yang lembut, tapi suara mars serdadu
yang keras dan kasar, derakan baju zirah perwira,
gremecak suara peralatan yang dibawa warga biasa di
dalam tas menggemakan kedatangan kami di samudra
hijau nan rimbun. Di balik pepohonan, rerawa yang
senyap menunggu, dikelilingi akar-akar yang menjalar dan
reranting yang bergelantungan. Tiap melewati itu, kaki dan
jari-jari kakiku penuh dengan lumpur abu-abu. Hampir
membuatku setengah gila karena harus terus menggaruk-
garuk
Suatu kali, saat kami melintasi sebuah rawa yang
besar, seorang budak yang bernama Agostinho—laki-laki
sama seperti diriku, yang terbawa oleh keserakahan dari
Ifqriya ke La Florida—meminta bantuan dengan karung
goni berat yang dia bawa di atas kepalanya. Aku berjalan
mendekatinya, melewati bunga-bunga berwarna putih
yang aroma wanginya memabukkan. Rawa di sekitar
212
hikayat la florida
kami mengeluarkan gelembung udara. Jika kami berjalan
semakin dalam, seakan-akan menarik napas kami dalam-
dalam. Tanganku hampir saja menggapai karung goni
ketika monster hijau keluar dari dalam air dan menerkam
Agostinho. Sungguh, suara patah tulang itu begitu terasa
dan darah mulai melumer di permukaan rawa. Agostinho
lamat-lamat tenggelam. Aku berlari sekuat tenaga, keluar
dari rawa. Jantungku dikuasai rasa takut yang sama
ketika aku masih kecil, saat ibuku menceritakan kisah
menyeramkan pada malam-malam pertama musim
dingin—cerita yang mengisahkan anak-anak masuk hutan
dan dimakan oleh makhluk-makhluk menyeramkan.
Sampai juga aku di tanah kering, lalu terkulai. Di saat yang
sama, monster itu lenyap sambil menghempaskan ekornya
di permukaan rawa.
Di dalam bahasa orang-orang Castilla, sama juga dalam
bahasaku, belum ada kata yang tepat untuk menyebut
monster ini. Mereka hanya bisa menyebut monster itu
dengan “Binatang Air dengan Kulit Bersisik”, sebuah istilah
yang tak praktis, yang bakalan dipakai orang Spanyol
ketika mereka berhasil menguasai La Florida. Mereka
memberi nama apa pun di sekitar mereka, seakan-akan
mereka adalah Tuhan Yang Maha Tahu atas semua yang
ada di Taman Firdaus.
Berjalan kembali di tepi rawa, Gubernur bertanya,
budak siapa yang mati itu dan apa isi karung goni yang
dia bawa. Seseorang menjawab, “Budak yang malang itu
milik salah satu warga. Karung goni berisi cerek, piring,
dan peralatan.” “Baiklah,” jawab Gubernur dengan suara
yang jengkel. “Hewan ini,” dia mengumumkan, “akan
dinamakan El Lagarto karena menyerupai kadal besar.”
Sebuah nama yang tak butuh dicatat oleh juru tulis. Setiap
orang akan selalu terngiang-ngiang akan kebuasan hewan
itu.
213
laila lalami
Namun, Lagartos bukanlah satu-satunya penghalang
dalam ekspedisi Gubernur. Ransum yang dia bagikan tidak
banyak: tiap orang hanya kebagian dua pound biskuit dan
setengah pound daging babi asap, serta setiap budak hanya
kebagian setengahnya. Jadi, mereka akan selalu mencari
cara untuk menambah perbekalan makanan, biasanya
dengan daging kelinci atau rusa, namun Gubernur buru-
buru melarang mereka menggunakan panah atau musket
untuk berburu. Dia minta mereka menghemat amunisi
untuk mengantisipasi jika orang-orang Indian Apalache
melakukan perlawanan. Aku tidak punya senjata. Aku
hanyalah hamba yang berjalan kaki. Dengan begitu, aku
bisa mencari sarang burung dan memakan telur-telur
yang ada sarang itu. Kadang-kadang, aku mengunduh buah
pohon palem, yang lebih kecil dan tebal dibandingkan di
kampung halamanku. Atau, aku mencari buah beri yang
tidak pernah dijumpai sebelumnya, mencicipi barang satu
dua lalu memakannya dalam jumlah banyak.
Senor Dorantes, tentu saja, tidak punya banyak
masalah. Sebab, dia menginvestasikan banyak uangnya
di ekspedisi ini. Dia dan orang-orang seperti dirinya
mendapat ransum dengan jumlah besar. Dia mengendarai
dengan nyaman kudanya, Abejorro—kuda Andalusia abu-
abu dengan mata tajam, berkaki gelap, dan kereta yang
bagus—dan mencoba menghilangkan kebosanan dengan
mengobrol bersama adiknya, Diego. Jika diamati seksama,
bagaimanapun, dia lebih senang bersama Senor Castillo,
Dia selalu menghentak kudanya agar selalu mengikuti kuda
putih temannya itu. Sementara aku, seperti yang disuruh
Senor Dorantes, selalu berjalan di belakangnya. Dia tidak
merasa puas hanya berjalan di tanah menakjubkan ini dan
sekadar mencari bagian dari kerajaan emas ini. Dia ingin
menjadi saksi mata dari ambisinya. Dia merasa dirinya
berada di pusat dari hal-hal baru dan luar biasa ini, jadi
214
hikayat la florida
dia membutuhkan penonton, bahkan ketika dia hanya
berjalan dalam barisan.
Pagi yang cerah, kira-kira dua minggu setelah
perjalanan dimulai, kami sampai di sebuah sungai yang
lebar. Sinar matahari memantul dari permukaan sungai
dan menyilaukan pandangan. Namun, jika kau berada di
tepiannya, kau bisa merasakan arus sungai yang sangat
deras dan bisa melihat dengan jelas hingga kau bisa
menghitung kerikil hitam di dasar sungai. Gubernur
mengumumkan bahwa sungai ini dinamakan Rio Oscuro
lantaran begitu banyak bebatuan hitam di sungai itu.
Namun, orang-orang bahkan tidak berhenti untuk
mendengarkan. “Agua, por fin,” kata mereka, “Gracias a
Dios and Dejame pasar, hombre!”
Senor Dorantes turun dan aku menuntun Abejarro ke
sungai. Aku juga membersihkan lumpur abu-abu di kakiku
dan di sandal. Kukira kami akan beristirahat di tepi sungai
untuk sementara waktu, tapi Gubernur memerintahkan
para tukang kayu segera membuat rakit untuk mengangkut
orang-orang yang tidak bisa berenang—bisa dikatakan,
hampir semua orang tak bisa berenang—menyeberangi
sungai. Saat itu adalah penghujung musim semi dan siang
hari lebih lama dari biasanya. Namun, lembayung senja
mulai kentara ketika rakit sudah siap dan regu pertama
menyeberangi sungai.
Tepi sungai seberang lebih rata dan gersang, hanya
beberapa rumput yang tumbuh di sana, tapi di ujung
sana hamparan hijau sudah kentara, tanda alam liar akan
kembali hadir. Angin sepoi-sepoi yang dingin berembus
meriakkan ranting-ranting pinus di ujung horizon. Aku
bisa merasakannya dari kemeja kasarku ketika meletakkan
pelana kuda dan mengusap-usap lehernya. Para perwira
dan serdadu—yang menyeberangi sungai pertama kali—
meringkuk bersama. Gubernur sedang berbicara panjang
215
laila lalami
lebar dengan komisaris, kepalanya dicondongkan ke arah
biarawan pendek itu, seolah-olah dia hanya bisa mendengar
dengan satu telinga. Senor Dorantes menunjukkan kepada
Senor Castillo cara mengikat baju zirahnya agar tak
melukai kulitnya. Dua orang berdebat tentang satu set
pedal pelana kuda.
Lalu, sekelompok orang Indian muncul di balik semak-
semak, diam-diam berkumpul di tanah lapang. Beberapa
216
hikayat la florida
di antara mereka telanjang, tapi beberapa lagi menutupi
bagian vitalnya dengan kulit binatang yang dicat motif
biru dan merah. Mereka membawa senjata yang terbuat
dari tulang binatang dan semacam senjata api yang
terbuat dari kayu kering—tombak, panah, atau ketapel—
tapi mereka tidak membahayakan kami. Kira-kira, mereka
ada seratusan orang. Masing-masing pihak bersepandang
penuh penasaran seperti anak pertama kali menatap
217
laila lalami
bayangan di cermin. Lalu, tanpa tergesa-gesa, Gubernur
menunggangi kuda dan para perwira juga melakukan hal
sama. Para budak mendirikan tiang bendera yang sedari
tadi tergeletak. Panji-panji Gubernur berkibar tertiup
angin sepoi-sepoi.
“Albaniz,” Gubernur memanggil.
Sebagai notaris resmi ekspedisi ini, selain bertugas
menyiapkan semua kontrak dan petisi, Senor Albaniz
juga bertanggung jawab mencatat secara kronologis
perkembangan selama beberapa bulan. Kehadirannya
saat ini, saat pertama kali kami berjumpa dengan bangsa
Indian, mengingatkanku pada ayahku yang memimpikan
aku menjadi seperti dirinya, seorang notaris publik, saksi
dan pencatat kejadian-kejadian dalam kehidupan orang
lain. Aku merasa keinginan ayahku yang tak kugubris dan
tak kupedulikan beberapa tahun lalu takkan pernah lenyap
dari diriku, akan selalu terngiang-ngiang ke mana pun aku
pergi, bahkan di tanah asing ini. Namun, pada akhirnya,
impian ayahku pun terwujud di sini, di tempat aku berdiri,
untuk alasanku sendiri dan terhubung dengan ekspedisi
Narvaez.
“Sampaikan pada orang-orang biadab itu,” ujar
Gubernur, “antarkan aku ke Apalache.” Dia merasa tidak
pantas berbicara langsung dengan orang-orang Indian.
Dengan tampang seperti seorang pelayan yang terpilih
menjalankan tugas yang membosankan, Senor Albaniz
turun dan melangkah maju. “Itu,” dia menunjuk seseorang
di belakangnya, “adalah Panfilo de Narvaez, Gubernur baru
tanah ini berdasarkan titah Yang Mulia. Dia ingin pergi ke
Kerajaan Apalache dan bertemu pemimpin di sana untuk
membahas hal-hal sangat penting bagi negara kami. Dia
ingin kau mengantarkan ke sana.”
Apakah orang-orang Indian tidak paham perintah
notaris atau menolak menuruti, aku tak bisa menebak.
218
hikayat la florida
Mereka tetap membisu. Aku mencari pemimpin mereka,
namun aku tidak bisa memastikan apakah orang yang
mengenakan penutup kepala dari bulu binatang atau yang
memiliki banyak tato.
“Antarkan kami ke Kerajaan Apalache,” Senor Albaniz
berkata. Sekarang nadanya lebih tinggi, tangannya
mengatup di sekitar mulut sehingga suaranya terdengar
hingga jauh. Salah satu orang Indian duduk, senang
menjadi tontonan orang yang mengenakan baju zirah
dan topi berbulu, merengek dan menggerakkan tangan di
hadapannya.
“Kerajaan Apalache!!!” Senor Albaniz berteriak lagi.
Saat itu, rakit telah kembali membawa lebih banyak
orang dari seberang: perwira, warga biasa, budak, dan
tawanan. Mereka segera bergabung dengan kami, tanpa
berbicara. Sekarang, jumlah kami melebihi orang-orang
Indian.
“Sudah cukup, Albaniz,” kata Gubernur. Ia mencari
sesuatu di belakangnya. “Bawa ke sini para tawanan.”
Perintah itu meluncur dan perwira yang berjalan kaki
membawa keempat tawanan. Lantaran aku selalu bersama
majikanku berada di barisan depan iring-iringan, aku
tidak melihat para tawanan semenjak berangkat dari
Portillo, kampung nelayan. Mereka bergerak maju,
tangannya terikat tali yang ditambatkan di sabuk serdadu
itu. Goresan cambuk membekas di tubuh mereka dan
perut mereka mengurus karena paling sedikit mendapat
jatah makanan. Salah satu tawanan menunduk dengan
cara yang menurutku tidak natural hingga aku sadar
lubang hidungnya ternyata tidak berada pada tempat
yang semestinya. Ingus dan darah mengeras di antara
lubang hidung. Lalat mengerubungi tanpa henti. Dia tak
bisa mengusir karena tangannya terikat. Aku mengalihkan
dari pemandangan yang mengerikan itu, seolah-olah aku
219
menyaksikan peristiwa yang seharusnya tidak kulihat.
Tawanan itu berdiri di samping Senor Albaniz, yang
berbicara langsung dengan salah satu di antara mereka.
“Pablo,” kata Senor Albaniz. “Beri tahu mereka untuk
mengantarkan kami ke Apalache.”
Laki-laki yang dipanggil Pablo oleh Senor Albaniz—
yang sebelumnya berambut abu-abu panjang kini telah
dicukur habis dan punggungnya penuh dengan luka—
mulai berbicara dengan bahasa ibunya, namun tiba-tiba
tombak meluncur dari arah orang-orang Indian. Seketika,
perwira yang memegang tawanan itu roboh, memegangi
tenggorokannya. Anak panah menancap di lehernya,
menembus. Perwira itu menganga, satu-satunya yang
keluar dari mulutnya adalah raungan kesakitan dan
darah yang melumer. Sekarang, orang-orang Indian mulai
melonglong, longlongan yang membuatku ketakutan.
“Ya Tuhan,” desis Senor Albaniz, berbalik dan mencari
kudanya.
“Andale!” teriak Gubernur.
Senor Dorates mengentak kudanya dan aku merasakan
kibasan ekor Abejorro di dadaku. Aku pun berbalik, mencari
perlindungan, meski tidak ada tempat bersembunyi. Aku
mencoba berlari menyeberangi sungai, namun kerumunan
orang-orang Castilla mendorongku ke arah berlawanan.
Tubuh mereka menahan diriku dengan penuh kekuatan.
Aku pun tak punya pilihan selain berlutut. Udara di atas
kepalaku penuh dengan suara letupan musket. Salah
satu perwira di hadapanku, remaja kira-kira 15 atau 16
tahun, mengangkat senjata dan menembak, namun justru
mengenai salah satu kawannya. Aku bisa mendengar orang
Indian di belakangku merengsek maju. Longlongannya
yang tak masuk akal tidak lagi membutuhkan terjemahan
apa pun.
Entah bagaimana, aku bisa menemukan jalan menuju
220
ke tumpukan perkakas, peti penuh peralatan tukang kayu,
dan aku berlindung di belakang peti-peti itu. Aku akan
aman di sini, pikirku. Lalu, aku mendengar suara tak wajar.
Di balik semak belukar di sebelah kiriku, kira-kira sepuluh
kaki dari tempatku, seorang warga biasa bertarung dengan
orang Indian. Dia menggunakan sekop yang coba ia
empaskan ke arah orang Indian. Dia meleset. Orang Indian
itu tetap tenang. Dia ayunkan kapaknya dari bawah. Lengan
warga itu terpenggal tepat di sikunya. Ayunan berikutnya
tepat menyasar kepala dan warga itu tersungkur, kedua
matanya masih terbuka.
Orang Indian berbalik arah, mencari musuh lain. Aku
menunduk di balik tumpukan peti. Dia tampak terkejut
ketika melihatku—orang hitam di antara orang kulit putih.
221
Warna kulitku yang berbeda dengan yang lain membuatnya
terhenti. Dan aku, seperti yang kukatakan, tidak mempunyai
senjata. Dia terlihat tidak yakin, apakah membiarkan
atau membunuhku, tapi dia memilih yang terakhir. Dia
melangkah maju dengan mengacungkan kapak. Saat dia
menebaskan kapak, aku berguling ke kiri dan dia terjatuh
di atas tubuhku. Berat badannya tertumpu di pahaku,
rambut panjangnya jatuh di mataku dan membutakanku.
Aku bisa merasakan tubuhnya—keringatnya, napas yang
penuh amarah, dan sabuk ular yang dikenakannya. Kami
bergulat di tanah dan aku menjerat rahangnya dengan
tanganku, meski telapak tanganku terpeleset dari wajahnya
yang tak berambut. Dia memukulku. Aku memukul balik.
Dia berhasil berdiri kembali dan mencabut kapaknya. Aku
merasa waktuku akan tiba. Namun, Tuhan berkehendak
lain, pelor musket melumpuhkannya. Dia tumbang dan
kapaknya terjatuh di kakiku, meninggalkan sayatan kecil
di tulang keringku. Aku meraung. Aku tidak ingat apa
yang kukatakan. Aku tidak ingat apa pun. Hanya berteriak
karena berhasil selamat. Lalu, aku mencabut senjata itu,
mencoba mengatasi ketakutanku. Aku puntuskan untuk
membela diri.
Aku bangkit dan mengendap-endap di balik tumpukan
peti, mengintip medan perang. Serdadu dengan baju
zirah menembakkan panah dan musket, lalu orang
Indian melawan balik menggunakan tombak dan panah.
Beberapa orang Indian berhasil melumpuhkan perwira
Castilla—seorang Castilla dengan helm berkarat terjatuh
dari kuda, tangannya memegangi tombak yang tertancap
di pahanya—namun, kebanyakan orang Indian itu cedera
parah. Aku ingat salah satu di antara mereka memegangi
ususnya yang menjurai. Satunya lagi berteriak ketika
perwira menghempaskannya dan menghancurkan
tubuhnya dengan gada.
222
Aku bukanlah orang yang akrab dengan senjata,
tapi aku bisa lihat dengan jelas bahwa pertempuran itu
berat sebelah. Orang-orang Indian tidak punya harapan
menang. Segera aku mencari-cari majikanku di tanah
lapang berdebu—lelaki tempat nasibku terikat. Di mana
dia? Lalu aku menemukannya, di balik barisan pemanah,
menunggangi kudanya. Dengan pedang, dia menebas
orang Indian hingga darahnya bermuncratan. Lelaki itu
tumbang dan Senor Dorantes menginjak-injak tubuh lelaki
saat beranjak menuju musuh berikutnya. Penunggang
kuda lain melakukan hal sama. Mereka menghancurkan
orang-orang Indian di hadapannya dengan serangan yang
kejam.
Lalu, suara terompet menggema dan orang-orang
Indian mulai mundur. Matahari mulai terbenam dan sangat
susah bagiku untuk melihat wajah-wajah yang tersungkur
di tanah. Ketika aku berjalan, aku hanya bersandar pada
suara perwira yang menghempaskan orang Indian, bau
debu, dan asap dibandingkan penglihatanku sendiri.
Ya, Tuhan, gumamku, apa yang telah kulakukan di tanah
asing ini, di tengah-tengah pertempuran dua bangsa
asing? Bagaimana bisa aku sampai di sini? Aku masih
berdiri, tertegun, dan tak bergerak ketika obor dinyalakan
dan orang-orang mulai memanggil. Warga dan biarawan
mulai berhamburan dari tempat persembunyian—peti,
pohon, atau bahkan mayat. Di belakang kami, Rio Oscura
bergemuruh, mengalir deras ke samudra.
223
halaman 1
(https://leasloanart.files.wordpress.com/2014/07/sonic-waves.jpg)
halaman 2
“Gabriel Garcia Marquez” by Cassio Loredano
(http://bomlero.blogspot.co.id/2012/03/cassio-loredano-um-genio-brasileiro-da.html)
halaman 5, 7, 10, 27, 29, 30
(ergocollective.org)
halaman 32-33
(https://nightsongws.deviantart.com/art/PASS-Watercolor-Small-Foliage-Plants-
Willow-388457810)
halaman 34
(http://www.independent.co.uk/news/people/profiles/haruki-murakami-profile-an-
everyman-for-our-times-9672625.html)
halaman 38-39
(https://daybydaywithmysketchbook.wordpress.com/tag/tadao-ando/)
halaman 41
(https://inspirationhut.net/inspiration/abstract-watercolor-paintings-satsuki-shibuya/)
halaman 44
(http://mindfuldiscipline.blogspot.co.id/2013/05/)
halaman 49
(https://www.etsy.com/listing/69137857/weeping-willow-tree-sketch-aurora-no-2
halaman 55)
(https://kknews.cc/culture/z6jnxjl.html)
halaman 60-61
(http://www.thomasmertonsociety.org/omwcs.htm)
halaman 62
(https://www.pinterest.nz/pin/552676185498931560/)
halaman 65
(http://www.flickriver.com/photos/tramwayjohn/8075459453/)
halaman 68-69
(http://www.thomasmertonsociety.org/omwcs.htm)
halaman 74-75
(http://www.thomasmertonsociety.org/omwcs.htm)
halaman 83
(https://doodlewash.com/guest-doodlewash-brushes-with-watercolour/)
halaman 90
(http://www.chyrosearts.com/gallery.html)
halaman 98
(http://www.thomasmertonsociety.org/omwcs.htm)
halaman 101
(http://www.garytuckerartist.com/gallery/2014/01/31/watercolor-technique-using-
watercolor/)
halaman 104
(https://weheartit.com/entry/143448752)
halaman 106
(http://caitlinhinshelwood.blogspot.co.id/2013/06/roberto-bolano.html)
halaman 111
(http://www.jinxiboo.com/blog/2010/11/9/art-spotlight-watercolor-and-ink-mystique-
from-peanuttothebu.html)
halaman 114
224
(http://thirddime.com/arts/youngluck-she-only-loves-you-when-shes-drunk)
halaman 119
(http://thirddime.com)
halaman 123
(https://davidhoffrichter.deviantart.com/art/Starlight-287138393)
halaman 128
(http://thewhynot100.blogspot.co.id/2014/05/51-author-portraits-drawn-by-zak-pullen.
html)
halaman 132
(https://en.wikipedia.org/wiki/Averroes)
halaman 135
(https://christytortland.deviantart.com/art/Princess-Tamina-165772002)
halaman 141
(https://en.wikipedia.org/wiki/Averroes)
halaman 154
(https://en.wikipedia.org/wiki/Lyudmila_Petrushevskaya)
halaman 158
(http://karenramsay.squarespace.com/blog/2009/8/12/silver-plume-bakery.html)
halaman 163
(www.barbaracallow.ca/watercolour-and-ink-sketches.html)
halaman 168-169
(www.urbansketchers.org/2014/07/direct-to-watercolor-part-1-of-4-first.html)
halaman 170
(www.allposters.co.uk/-st/Piano-Posters_c19272_.html)
halaman 184-185
(https://en.yabiladi.com/articles/details/55189/estebanico-zemmouri-first-moroccan-
reach.html)
halaman 186
(https://www.barnesandnoble.com/review/laila-lalami)
halaman 189
(www.swfwmd.state.fl.us/education/watersheds/alafia/final-voyage)
halaman 190
(https://en.wikipedia.org/wiki/Narváez_expedition)
halaman 203
(https://www.quora.com/What-were-the-Manila-Galleons)
halaman 209
(http://www.history.com/news/stranded-in-the-new-world-the-amazing-odyssey-of-
cabeza-de-vaca)
halaman 216-217
(https://tshaonline.org/handbook/online/articles/fca06)
halaman 221
(https://www.pinterest.com/pin/517491813414738173/)
225
Agung Dwi Ertato lahir di Semarang, 7 Oktober 1988. Ia adalah alumnus
Program Studi Indonesia, Universitas Indonesia. Selama kuliah, ia aktif mengikuti
diskusi bahasa dan sastra. Pada tahun 2012, ia pernah diundang Badan Bahasa,
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, untuk mengikuti Workshop
Penulisan Puisi MASTERA (Majelis Sastra Asia Tenggara). Pada tahun yang
sama pula, buku pertamanya terbit, yakni Iman dan Tanah Air Eka Budianta.
Beberapa tulisannya bisa ditemui di Majalah Pusat, majalah yang diterbitkan
oleh Badan Bahasa Kemendikbud.
226