amnundsen
mendapatkan jatah makanan hanya dengan satu kartu
rangsum. Kartuku tidak tersedia lagi, sudah ditarik oleh
koki dapur—ibunya Mary—setelah aku mulai makan di San.
Lebih baik tidak banyak menarik perhatian.
entu saja, semua orang mencurigai sesuatu. Para
Tperawat lansia ternyata ramah dan bahkan Matron
memberiku senyum kesedihan. Aku berdandan sederhana,
hampir tanpa maksud apa pun. Aku menutupi diriku,
dengan kain beluduru sunyi, mata sebaiknya dirias ke
bawah. Sama sekali aku tidak terpikirkan bahwa perempuan
tua sedang menatapku untuk memastikan arah keintiman
ini akan berjalan dan mereka akan siap bergerak untuk
menjatuhkanku jika dokter merestui untuk itu.
Pembantu yang setia dan sepenuh hati di sisiku
menggodaku. Ia mengatakan semua orang melihat cincin
pernikakah di gelas tehku.
Maret adalah bulan termuram dan tersibuk di dalam
rumah sakit. Bulan ini selalu menjadi yang terburuk,
kata pelayan. Untuk beberapa alasan, orang-orang lebih
memilih mati setelah melalui musim dingin. Jika seorang
anak tidak masuk kelas, aku tidak tahu apakah karena
penyakitnya memburuk atau hanya terbaring karena
demam.
Waktunya datang juga, bagaimanapun, bagi dokter
untuk membuat beberapa persiapan. Dia menyelipkan
catatn di bawah pintu kamarku, memerintahkan untuk
siap-siap pada minggu pertama April. Kecuali ada beberapa
kondisi kritis, dia bisa mengatur ulang rencana beberapa
hari kemudian.
AMI akan pergi ke Huntsville—pergi ke Huntsville
Kadalah kosa kata yang kami pakai untuk merujuk
pernikahan kami.
93
Alice munro
Aku membawa gaun sutra hijau, tercuci bersih, dan
terlipat rapi di dalam tas. Aku pikir aku bisa mengganti
pakaianku di toilet perempuan. Aku melihat-lihat jika
ada bunga-bunga yang tumbuh liar di jalanan, aku bisa
memetiknya dan kubuat karangan bunga. Mungkikah dia
setuju dengan ideku itu? Bahkan terlalu dini memetik
bunga rawa Marigold. Tak ada yang tampak kecuali pohon
cemara hitam kurus dan sebaran pohon-pohon juniper dan
bogs, toilet dari kayu yang berada di tengah hutan. Dan, di
kanan kiri jalanan tumpukan batu yang semrawut sudah
menjadi pemandangan biasa bagiku—besi yang berkarat
yang terlihat seperti berlumuran darah dan tumpukan
batu granit.
Radio memutar musik-musik kemenangan karena
tentara Sekutu semakin dekat dan lebih dekat ke Berlin.
Dokter Fox bilang mereka menunda, membiarkan
Rusia beraksi duluan. Mereka akan menyesal, katanya.
Kami sudah jauh dari Amundsen. Sekarang, aku bisa
memanggilnya Alister.
Ini adalah perjalanan terpanjang kami, dan aku jadi
terangsang dengan sikap ketidakpedulian khas laki-laki
yang dia miliki—ya, sikapnya yang bisa berubah 180 derajat
dengan cepat—dan kemampuan mengemudinya. Selain
itu, keahlian dokter bedahnya juga membuatku semakin
tertarik, meski aku tak pernah mengakuinya. Sekarang,
aku bisa saja memaksanya tidur di bogs mana pun atau
lubang kotor, atau tulang belakangku bisa saja remuk
karena kupaksa dia bercinta di bebatuan pinggir jalan. Ya,
aku harus menyimpan perasaan ini untuk diriku sendiri.
Aku mengalihkan pikiranku pada masa depan. Ketika
akan ke Huntsville, aku pikir kami akan disambut oleh
pendeta dan duduk berhadapan di ruang tamu seperti
tamu-tamu kehormatan lainnya di ruang tamu yang
pernah kuketahui sepanjang hidupku.
94
amnundsen
Tapi, ketika kami sampai di sana, aku baru tahu ternyata
ada cara lain untuk menikah, dan pasanganku punya
keengganan lain yang tak pernah kumengerti. Dia takkan
pernah ingin melakukannya dengan pendeta. Di balai
kota Huntsville, kami mengisi formulir dan bersumpah
kepada negara dan kami pun menikah secara sah di bawah
pengadilan.
Waktunya makan siang. Alister berhenti di luar sebuah
restoran yang pemiliknya masih saudara sepupu pemilik
kedai kopi di Amundsen.
“Ayo?”
Namun, setelah menatap wajahku, dia berubah pikiran.
“Tidak?” tanyanya, “Oke.”
Kami akhirnya makan siang di rumah makan sederhana
yang dingin dan menawarkan ayam untuk makan malam.
Piringnya sedingin es, tak ada pengunjung lain, dan tak ada
radio. Hanya ada suara denting garpu saling bersahutan
ketika kami memotong daging ayam yang alot. Aku yakin
dia berpikir seharusnya kami makan di restoran yang dia
sarankan tadi.
Meski demikian, aku pun tetap menanyakan keberadaan
toilet perempuan, dan di sana, udara lebih dingin
dibandingkan ruangan depan, aku keluarkan gaun hijauku
dan memakainya, memakai lipstik, dan membenarkan
rambutku.
Ketika aku keluar, Alister berdiri menemuiku,
tersenyum, dan merengkuh tanganku sambil berbisik,
“kamu terlihat cantik.”
Kami kembali ke mobil, bergandengan tangan. Dia
membukakan pintu untukku, memutar dan masuk ke
mobil, duduk, dan memasukkan kunci, menyalakannya
lantas mematikannya.
Mobil diparkir di depan toko perkakas. Sekop salju
dijual setengah harga. Di jendela, tempelan iklan tertulis,
95
Alice munro
sepatu skate bisa diasah di dalam.
Di balik jalan, ada rumah kayu bercat minyak kuning.
Jalan setapaknya tak aman, dan ada dua papan silang di
depan rumah itu.
Truk yang terparkir di depan mobil Alister merupakan
truk model sebelum perang dengan bak kayu dan bemper
berkerat. Seorang laki-laki berseragam keluar dari dalam
toko perkakas masuk ke dalam truk itu. Setelah beberapa
kali gagal menyalakan dan berderak-derak di tempat itu,
truk itu bisa jalan juga. Sekarang, truk pengantar dengan
nama toko di baknya mencoba parkir di ruang kosong
di sebelah kiri. Supirnya keluar dan datang, mengetuk-
ngetuk jendela mobil Alister. Alister terkejut—jika dia tidak
sungguh-sungguh bicara, dia akan menyadari ada masalah.
Dia menurunkan jendela, dan laki-laki itu bertanya, apakah
kami parkir di sini karena kami ingin belanja di toko. Jika
tidak, dia menyuruh kami berpindah.
“Kami akan pergi,” ujar Alister, laki-laki yang duduk
di sebelahku, yang akan menikahiku tapi kini tak akan
menikahiku. “Kami akan segera pergi.”
Kami. Dia berkata “kami”. Untuk beberapa waktu,
aku terpesona dengan kata “kami”. Lalu aku berpikir, ini
terakhir kalinya. Terakhir kalinya aku akan terlibat dalam
“kami”.
Bukan soal “kami” yang penting, soal kebenaran yang
belum begitu jelas bagiku. Soal suara antarlaki-laki dengan
supir truk, ketenangannya, dan alasannya meminta maaf.
Aku hampir berharap memutar kembali apa yang dia
katakan sebelumnya, ketika dia bahkan tidak menyadari
mobil van yang hendak parkir. Apa yang dia katakan
sungguh mengerikan, tapi setidaknya rodanya masih
mencekram aspal, cengkramannya, serta abstraksinya dan
suaranya tersimpan rasa sakit di dalamnya. Tak peduli
apa pun yang telah dia katakan, dia berbicara dari tempat
96
amnundsen
97
Alice munro
yang sama, yang dalam, mirip dengan apa yang telah dia
katakan ketika dia tidur denganku. Namun, pernikahan
kami tidak jadi sekarang, setelah dia berbicara dengan
laki-laki lain. Dia menaikkan kaca jendela dan fokus
pada mobilnya, mundur di tempat sempit dan bergerak
sehingga tidak terserempret van, seakan tidak ada lagi kata
yang diucapkan atau diatur.
“Aku tidak bisa melakukannya,” katanya.
Dia tidak bisa melaluinya.
Dia tidak bisa menjelaskannya.
Dia hanya merasa ini akan jadi kesalahan.
Ini semua terjadi padaku, aku takkan pernah sanggup
melihat huruf keriting “S” yang terpampang pada iklan
pengasah sepatu skate, atau papan menyilang yang
terpampang di rumah berwarna kuning, tanpa mendengar
suara ini.
“Aku akan mengantarmu ke stasiun sekarang. Aku akan
membelikan tiket ke Toronto. Aku yakin ada kereta terakhir
ke Toronto sore ini. Aku akan mengarang beberapa cerita
yang masuk akal dan akan kusuruh orang untuk mengepak
barang-barangmu. Kamu tinggal menulis alamatmu di
Toronto. Aku tak yakin akan menyimpannya. Oh ya, aku
akan menulis surat rekomendasi. Kamu telah bekerja
dengan baik. Kamu tidak harus menyelesaikan kontrak—
aku belum mengatakan padamu, tapi anak-anak akan
dipindahkan ke senatorium lain. Perubahan besar akan
terjadi.”
Nada yang baru dalam suaranya, hampir terasa percaya
diri. Nada penuh kelegaan. Dia coba menahan itu semua,
sampai aku pergi.
Kulihat jalanan. Rasanya seperti digiring menuju tiang
gantungan. Belum. Hampir. Belum kudengar suaranya
untuk terakhir kalinya. Belum.
Dia tidak perlu menanyakan jalan menuju stasiun.
98
amnundsen
Aku yakin dia pernah mengantarkan gadis ke stasiun
sebelumnya.
“Jangan seperti itu.” katanya.
Setiap tikungan seperti menggeser apa yang tersisa di
hidupku.
Kereta ke Toronto pukul 5 sore. Aku menunggu di mobil,
ketika dia pergi mengecek tiket. Dia datang membawa tiket
dan yang ada dalam kepalaku adalah sebuah langkah
ringan. Dia pasti menyadarinya, ketika dia mendekati
mobil, dia jadi lebih tenang.
“Stasiun yang tenang dan bagus. Ada toilet perempuan
khusus.”
Dia membukakan pintu untukku.
“Atau mungkin kamu lebih suka aku menunggu dan
melihatmu membuka baju? Mungkin di sana ada tempat
makan sepotong pie. Makan malam yang mengerikan.”
Perkataannya mengacaukanku. Aku keluar dan
berjalan di depannya menuju stasiun. Dia menunjuk toilet
perempuan. Mengangkat alisnya dan mencoba membuat
lawakan terakhir.
“Mungkin suatu hari kamu akan menghitung hari ini
sebagai hari terberuntung sepanjang hidupmu.”
KU memilih bangku di ruang tunggu yang
Amenghadap ke pintu depan. Dengan begitu, aku
bisa melihat dia jika dia kembali. Barangkali, dia akan
berkata padaku semua itu hanya lelucon. Atau, sebuah tes,
sama seperti drama abad pertengahan. Atau barangkali, dia
akan mengubah hatinya. Mengendara di jalan raya, melihat
sinar matahari pucat musim gugur di bebatuan yang
pernah kami lalui bersama. Sadar akan kebodohannya, dia
akan memutar balik dan kembali dengan kecepatan penuh.
Sejam sebelum kereta dari Toronto datang ke stasiun,
tapi hal itu tak mungkin terjadi. Dan bahkan sekarang,
99
Alice munro
hanya fantasi yang begeleyut di kepalaku. Aku berjalan
ke kereta seakan-akan ada rantai yang terikat di kakiku.
Kutekan wajahku ke jendela melihat petugas yang hendak
meniup peluit tanda keberangkatan. Belum terlambat
bagiku untuk lompat dari kereta. Lompat bebas dan lari dari
stasiun ke jalanan—tempat dia memarkirkan monbilnya—
dan melompati tangga, berpikir, belum terlambat, berdoa
agar tidak terlalu terlambat.
Aku berlari menemuinya. Belum terlalu terlambat.
Sekarang ada masalah baru, teriakan, sorakan, bukan
hanya satu melainkan kerumunan orang yang baru datang
di antara kursi-kursi. Gadis SMA berperawakan atletis
mengumpat masalah yang mereka sebabkan. Kondektur
tidak senang dan menyuruh mereka bergegas duduk di
kursi.
Salah satu di antara mereka dan barangkali yang paling
keras adalah Mary.
Aku memalingkan wajah dan tidak melihat mereka lagi.
Namun, dia di sini, memanggil namaku dan ingin tahu
ke mana saja aku pergi.
Mengunjungi teman, aku katakan padanya.
Dia sekonyong-konyong duduk di sebelahku dan
berkata padaku bahwa mereka baru saja bertanding basket
melawan Huntsville. Pertandingannya rusuh. Mereka
kalah.
“Kalahkah, kami?” dia berseloroh keras dan yang lain
mengerang dan tertawa. Dia menyebutkan skor, yang tentu
saja mengejutkan.
“Anda rapi sekali?” tanyanya. Tapi, dia tak begitu peduli,
dia mendengarkan penjelasanku tidak dengan sungguh-
sungguh.
Bahkan, dia hampir tidak memerhatikan ketika aku
bilang aku pergi ke Toronto untuk menengok kakek-
nenekku. Tak ada kata yang menyinggung Alister. Bahkan
100
amnundsen
101
Alice munro
tidak ada kata yang buruk. Mary tidak lupa. Hanya mengatur
dan menyimpan adegan demi adegan dalam almari
bersama dirinya yang lain. Atau mungkin dia benar-benar
orang yang bisa mengatasi hinaan dengan serampangan.
Aku berterima kasih padanya, bahkan ketika aku tidak
bisa berpikir jernih sekarang. Membiarkan diriku dalam
pikiran-pikiran, apa yang mungkin aku lakukan jika kami
pergi ke Amundsen? Meninggalkan kereta dan pergi ke
rumah Alister dan meminta penjelasan, kenapa, dan
kenapa. Pasti aku akan merasa bodoh selamanya.
Seperti biasanya, kereta singgah di Amundsen tak lama,
tidak bisa dengan mudah mengumpulkan tim basket.
Kondektur memperingatkan jika mereka tidak segera
turun, mereka akan ikut pergi ke Toronto.
NTUK sekian tahun, aku pikir aku mungkin akan
Upergi menemuinya. Aku tinggal dan masih saja
tinggal di Toronto. Aku merasa semua orang akan berakhir
di Toronto, setidaknya untuk sementara waktu.
Lalu, lebih dari satu dekade kemudian, itu benar-benar
terjadi. Terjebak dalam kerumunan jalan, bahkan tak bisa
berjalan lambat. Kulihat ke arah berlawanan. Menatap,
pada saat yang sama, kepala botak yang mengerikan
setidaknya pada masa kita—muka yang rusak.
Dia memanggil, “Apa kabar?” dan kujawab, “baik.”
Kutambahi, agar terlihat baik-baik saja. “Bahagia.”
Saat itu, itu memang yang sebenarnya. Aku sedang
bertengkar dengan suamiku karena utang-utang yang
harus dibayar karena salah satu anaknya. Aku seharusnya
pergi siang itu ke pameran agar pikiranku sedikit tenang.
Dia menyahutku sekali lagi. “Bagus bagus,” katanya.
Seolah-olah kami sedang mencari jalan keluar dari
kerumunan, dan seolah-olah kami akan bersama untuk
beberapa saat. Namun, ini hanya kebetulan, kami akan
102
amnundsen
kembali berjalan ke jurusan masing-masing, dan begitulah
yang kami lakukan.
Tak ada isak tangis, tidak ada tangan di bahuku ketika
aku sampai di trotoar. Hanya seberkas cahaya yang kulihat
ketika salah satu matanya terbuka lebar dibanding matanya
yang lain. Ya, mata kirinya—selalu mata kirinya, sebatas
yang kuingat. Dan mata itu selalu terlihat aneh sekali,
waspada, dan penuh tanya, seperti jika kemustahilan gila
telah terjadi padanya dan membuatnya tertawa.
Ya, hanya itu saja. Aku pulang ke rumah.
Rasanya masih sama seperti ketika aku meninggalkan
Amundsen. Kereta api menyeretku, membuatku tak
percaya. Tidak ada yang berubah. Terutama cinta.
103
Clara
104
Clara
Roberto Bolano
105
Roberto Bolano lahir di Santiago, Cili, pada 1939 dan meninggal 15 Juli 2003.
Sebagian masa mudanya, ia habiskan dengan berkeliling Amerika Latin, seperti
Meksiko dan El Salvador. Ia memutuskan menetap di Barcelona, Spanyol
pada 1977 dan menikahi gadis mideterania. Selain sebagai pengarang prosa,
Bolano juga menulis puisi dan esai. Namun, namanya lebih sohor sebagai
prosais ketimbang pemuisi atau esais. Beberapa novel terbaiknya antara lain
The Savage Detectives, By Night in Chile, dan 2666. Hampir semua puisinya
dihimpun dan diterbitkan dalam buku The Romantic Dogs, tiga tahun setelah
kematian Bolano. “Clara” merekam satu episode hidupnya di Barcelona.
Cerpen ini pernah dimuat di majalah The Newyorker pada 4 Agustus 2008.
106
Roberto Bolano
Clara
A MEMPUNYAI dada besar, kaki kecil, dan mata biru.
Ya, begitulah aku sering mengingatnya. Aku tidak tahu
Ikenapa aku jatuh cinta begitu hebat dengannya, tapi
aku melakukannya, dan sejak dari awal, maksudku sejak
hari pertama, jam pertama, semuanya terkesan baik-baik
saja, lalu Clara kembali ke kota kelahirannya, di selatan
Spanyol (saat itu Clara sedang berlibur di Barcelona), dan
semuanya mulai berontokan.
Suatu malam aku bermimpi tentang malaikat: aku
berjalan di bar yang besar dan kosong dan aku lihat ia
duduk di sudut dengan siku di meja dan secangkir kopi
susu di depannya.
“Ia adalah perempuan yang kau cintai sepanjang hidup,”
kata seorang yang ada di bar, sambil melihat ke arahku.
Dengan kekuatan tatapannya dan pijaran api di matanya
itu dia melemparkanku ke ujung ruangan. Aku mulai
berteriak, “pelayan, pelayan,” lalu mataku terbuka dan
107
roberto bolano
kabur dari mimpi yang menyedihkan. Malam berikutnya,
aku tidak memimpikan siapa pun, tapi aku bangun dengan
air mata meleleh.
Sebenarnya, Clara dan aku masih berkirim surat.
Suratnya pendek-pendek, seperti “Hai, apa kabar? Di sini
hujan, Aku mencintaimu, bye.” Mulanya, surat-suratnya
membuatku takut. Ini akan berakhir, pikirku. Meski
begitu, setelah membaca berulang-ulang secara cermat,
kesimpulanku, barangkali ia terlalu berhati-hati dalam
menyusun kalimat, barangkali ia menghindari kesalahan
tata bahasa. Clara bangga dengan itu. Ia memang tak bisa
menulis dengan baik, tapi dia tidak ingin kelihatan, bahkan
jika itu berarti menyakitiku dengan terlihat dingin.
Umurnya 18 tahun waktu itu. Ia keluar dari sekolah
menengah dan belajar musik secara privat dan juga
belajar menggambar pada seorang pensiunan pelukis
pemandangan, namun ia sebenarnya tak begitu suka
dengan musik. Lukisan? Ia menyukai, tapi tidak bisa
membuatnya tergila-gila. Suatu hari, aku menerima surat,
yang seperti biasa ditulis pendek-pendek. Ia memberitahu
bahwa ia sedang ikut kontes kecantikan. Responsku,
yang kutulis hingga 3 lebih kertas bolak-balik, kupuji
kecantikannya naturalnya, matanya yang indah, dan postur
tubuh yang sempurna, dan lain-lain. Surat ini terlalu
penuh pujian-pujian yang tak perlu alias buruk. Ketika
aku menyelesaikannya aku berpikir apakah surat ini akan
kukirimkan atau tidak, namun akhirnya kukirimkan juga.
Beberapa minggu kemudian, aku baru dengar
darinya. Aku bisa saja meneleponnya, tapi aku tidak
ingin mengganggunya, dan juga keuanganku sedang
tidak sehat. Clara hanya juara kedua dalam kontes
itu. Kekalahannya membuat dirinya depresi selama satu
minggu. Anehnya, ia malah mengirimi aku telegram, yang
berbunyi,
108
clara
“JUARA DUA. TITIK. KUTERIMA SURATMU. TITIK.
DATANG DAN LIHAT AKU.”
Seminggu kemudian, aku naik kereta ke tempat ia
tinggal, ya, tentu saja pada hari itu juga. Sebelumnya,
setelah menerima telegram, kami sudah berbincang
melalui telepon. Aku pun telah mendengar cerita tentang
kontes kecantikan beberapa kali. Ini sangat memengaruhi
Clara, rupanya. Jadi, aku mengemas tasku dan, secepat
yang kubisa, pergi ke stasiun. Keesokannya, pagi-pagi
benar aku sudah bisa sampai di sana, di kota yang tak
kukenal. Aku sampai di apartemen Clara pukul 9.30 setelah
minum kopi di stasiun dan merokok beberapa batang
untuk menghabiskan waktu. Perempuan gemuk dengan
rambut berantakan membukakan pintu. Dan ketika aku
bilang ingin bertemu Clara, dia menatapku seolah-olah
aku seperti domba yang siap digiring ke penjagalan.
Mereka terasa sangat lama sekali dan sepertinya mereka
memikirkan sesuatu lama. Setelah itu aku menyadari
memang seperti itulah mereka.
Hanya beberapa menit aku duduk dan menunggu Clara
di ruang tamu, namun aku merasa mereka lama sekali.
Ruang tamunya berantakan, tapi masih terkesan nyaman
karena penuh dengan cahaya lampu. Ketika Clara masuk,
ia tampak seperti dewi yang turun dari surga. Aku tahu ini
adalah pemikiran yang bodoh—dan ini juga sesuatu yang
bodoh untuk dikatakan—tapi begitulah ia.
Hari-hari berikutnya terasa menyenangkan dan tidak
menyenangkan. Kami menonton begitu banyak film,
hampir tiap hari, kami bercinta. Aku adalah laki-laki
pertama yang tidur dengannya, meski dengan insidental
atau anekdotal, akhirnya itu membuat aku semakin
masuk ke kehidupannya. Kami berjalan-jalan, bertemu
dengan teman-teman Clara. Kami pergi ke dua pesta
yang mengerikan. Aku pun meminta padanya untuk
109
roberto bolano
tinggal bersamaku di Barcelona. Tentu saja, aku sudah
tahu jawaban yang akan ia lontarkan. Setelah sebulan,
aku pulang ke Barcelona dengan kereta yang sama.
Ia menjelaskan di dalam suratnya, surat terpanjang
yang pernah ia tulis untukku, kenapa ia tidak ingin tinggal
bersamaku. Ternyata, aku membuatnya dalam tekanan
yang tak bisa diteloransi, dengan mengajaknya tinggal
bersama. Semua sudah selesai. Setelah itu, kami hanya
bicara 3 atau 4 kali di telepon. Aku juga menuliskan
surat untuknya penuh dengan ungkapan-ungkapan cinta.
Suatu saat, ketika aku sedang berlibur di Maroko, aku
meneleponnya dari hotel di Algeciras, dan saat itu kami
berbincang-bincang lebih dewasa. Setidaknya, ia merasa
perbincangan itu lebih dewasa. Atau, aku yang berpikiran
demikian.
ETAHUN berlalu, Clara bercerita kepadaku tentang
Sbagian hidupnya yang tak kuketahui. Lalu, setahun
berikutnya, baik ia maupun teman-temannya menceritakan
kehidupannya lagi, dari awal, atau dari cerita yang kami
lewatkan. Ya, aku juga mempunyai kekuarangan tentang
kehidupanku. Ini tidak berbeda dengan mereka. Sungguh,
meski tidak mudah bagiku untuk mengakuinya. Bisa
ditebak, tidak lama setelah putusnya pertunangan kami
(aku tahu “pertunangan” terlalu hiperbolis, tapi kata itu
yang terbaik yang bisa kutemukan) Clara menikah, dan
laki-laki yang beruntung itu adalah salah satu temannya
yang pernah kutemui di kotanya. Cukup logis sekali kenapa
ia memilih temannya.
Namun, sebelum pernikahan itu, ia mempunyai
masalah psikologis. Selama sebulan, dia sering bermimpi
tentang tikus. Malam hari ia sering mendengar tikus-tikus
di kamar tidurnya. Sebulan sebelum pernikahannya itu, ia
tidur di sofa di ruang tamu. Kurasa, setelah menikah, tikus-
110
clara
111
roberto bolano
tikus berengsek itu menghilang.
Ya, Clara sudah menikah. Dan, suaminya, suami
tercintanya, mengejutkan semua orang, bahkan dirinya
sendiri. Setelah satu atau dua tahun, aku tidak yakin,
betul-betul tidak yakin—Clara menceritakan kepadaku, tapi
aku lupa—mereka berpisah. Bukan perpisahan baik-baik.
Suaminya berteriak, Clara berteriak. Ia menamparnya,
suaminya balik memukulnya sampai rahangnya dislokasi.
Terkadang, ketika aku sendirian dan tak bisa tidur dan
belum merasa harus mematikan lampu, aku kepikiran
Clara. Ah, Clara yang mendapatkan juara dua dalam kontes
kecantikan, Clara yang rahangnya hampir terlepas dan
tak bisa dikembalikan seperti semula, Clara yang melaju
menuju rumah sakit terdekat dengan tangan satu di setir
dan tangan lainnya menyangga rahangnya. Aku bisa saja
merasa itu lucu, tapi aku tak bisa ternyata.
Yang membuatku terpingkal justru jika aku
membayangkan malam pertamanya. Ia baru saja
menjalani operasi wasir sehari sebelum malam pertama.
Ia akan sedikit grogi. Atau mungkin saja tidak. Aku tak
pernah bertanya padanya apakah dia bisa bercinta dengan
suaminya. Aku rasa mereka sudah melakukannya sebelum
operasi itu. Lagipula, apa pentingnya itu? Semua detail ini
lebih banyak menceritakan tentang aku daripada yang
mereka lakukan untuknya.
Pada akhirnya, Clara berpisah dengan suaminya setahun
atau dua tahun setelah pernikahan dan mulai sekolah lagi.
Ia tak bisa melanjutkan ke universitas karena ia belum
menuntaskan SMA-nya. Tapi, ia tetap mencoba apa pun:
fotografi, melukis lagi (aku tidak tahu kenapa, tapi ia selalu
bilang ia bisa menjadi pelukis besar), musik, mengetik, dan
sebagainya. Semua kursus diploma selama setahun yang
bisa memungkinkan, ia ambil. Ya, semua kursus pendek
untuk mendapatkan pekerjaan. Bagi gadis muda seperti
112
clara
dirinya, masa-masa itu bisa membuatnya depresi. Bisa
membuatnya melompat atau terperosok jatuh. Meski Clara
terlihat bahagia karena berpisah dengan suaminya yang
memukulnya, dari lubuk hatinya, dia sangat depresi.
Tikus-tikus itu kembali lagi dan begitu pula dengan
penyakit itu. Selama dua atau tiga tahun dia dirawat
karena maag. Sampai akhirnya dokter menyadari ada
yang bermasalah, setidaknya bukan di perutnya. Selama
itu, ia bertemu dengan Luis, seorang eksekutif. Mereka
saling mencintai. Dia menyarankan Clara untuk
belajar administrasi bisnis. Menurut teman Clara, ia
telah menemukan cinta terakhirnya dalam hidupnya
kini. Mereka pun tinggal bersama; Clara mendapatkan
pekerjaan di sebuah kantor firma hukum atau semacam
agensi. Pekerjaan yang menyenangkan, katanya, tanpa
sedikit pun memperlihatkan ironi. Kehidupannya seperti
kembali ke jalur yang benar, untuk yang terbaik kali
ini. Luis adalah laki-laki yang sensitif, ia sama sekali
tak pernah memukulnya. Seleranya tinggi, aku yakin
dia salah satu dari 2 juta orang Spanyol yang membeli
karya lengkap Mozart dalam koleksi pribadinya. Dia
sabar juga. Dia mendengarkan, dia mendengarkan
setiap malam, bahkan setiap akhir pekan. Clara belum
pernah mengatakan tentang kehidupannya dengan Luis.
Namun, dia tidak pernah lelah menceritan soal lain. Ia
tak lagi mengkhawatirkan kontes kecantikan lagi, meski
ia melakukannya untuk membuat dirinya semangat dari
waktu ke waktu. Sekarang ini, ia sering bercerita tentang
periode depresinya, ketidakstabilan psikologisnya, dan
lanskap yang ingin ia lukis tapi takkan pernah bisa.
Aku tak pernah tahu kenapa mereka belum mempunyai
anak, barangkali mereka tidak punya waktu, meski,
menurut Clara, Luis sangat menyukai anak-anak. Ia
menggunakan waktunya untuk belajar dan mendengarkan
113
roberto bolano
Ada tiga Clara
di dalam dirinya:
seorang gadis kecil,
seorang nenek tua yang
diperbudak keluarganya,
dan perempuan muda. Clara
sesungguhnya, menurutnya,
adalah seorang perempuan
muda yang selalu ingin
berkeliling kota selamanya, yang
ingin melukis dan memotret,
jalan-jalan, dan hidup.
114
clara
musik (Mozart, juga kemudian komposer lain), memotret,
yang hasilnya tak pernah ia perlihatkan sama siapa pun.
Dengan caranya yang kabur dan tidak jelas, ia mencoba
membela kebebasannya dan mencoba belajar.
Umur 31, ia tidur dengan salah satu laki-laki di
kantornya. Itu hanya sesuatu yang tiba-tiba terjadi, bukan
soal yang besar, setidaknya bagi mereka berdua. Namun,
Clara membuat kesalahan, ia menceritakannya pada Luis.
Pertengkaran terjadi. Luis membanting kursi atau lukisan
yang baru ia beli, mabuk, dan tidak berbicara padanya
selama sebulan. Menurut Clara, sejak hari itu, tidak ada
lagi yang sama, terlepas dari upaya rujuk kembali, terlepas
dari perjalanannya ke kota di tepi pantai, perjalanan yang
membosankan dan menyedihkan, seperti yang sudah
dibayangkan.
Sekarang, ia sudah 32 tahun, kehidupan seksualnya
hampir punah. Pendeknya, sebelum ia beranjak 33, Luis
berkata padanya dia mencintainya, dia menghormatinya,
dia takkan pernah melupakannya. Namun, baru beberapa
bulan, Luis tertarik dengan salah satu perempuan di tempat
kerjanya: janda beranak satu, cantik, dan perempuan penuh
pengertian. Luis berencana untuk tinggal bersamanya.
Clara menerima perpisahan itu dengan baik-baik.
Sejauh yang kuingat, ini pertama kalinya seseorang
meninggalkannya. Namun, beberapa bulan kemudian,
ia kembali tenggelam dalam depresi dan harus berhenti
bekerja beberapa lama dan menjalani terapi di bawah
pengawasan dokter psikiatri yang tidak begitu membantu.
Ia diberi obat yang mengendalikan hasrat seksualnya.
Meski ia mencoba bercinta dengan beberapa laki-laki untuk
memuaskan keinginannya, toh ia tak terpuaskan sama
sekali, termasuk denganku. Ia mulai berbicara tentang
tikus-tikus lagi. Tikus-tikus itu tidak akan membiarkan
dirinya sendirian. Ketika dia gugup, ia akan sering pergi
115
roberto bolano
ke toilet. (Pertama kali kami tidur bersama, ia bahkan ke
toilet 10 kali).
Ia bercerita tentang dirinya. Ia pernah sekali
bercerita padaku bahwa ada tiga Clara di dalam dirinya:
seorang gadis kecil, seorang nenek tua yang diperbudak
keluarganya, dan perempuan muda. Clara sesungguhnya,
menurutnya, adalah seorang perempuan muda yang selalu
ingin berkeliling kota selamanya, yang ingin melukis dan
memotret, jalan-jalan, dan hidup. Setelah beberapa hari
kami bersama lagi, aku mulai sangat khawatir dengan
kehidupannya. Terkadang, aku bahkan tidak ingin pergi
berbelanja karena aku takut ketika aku kembali, aku
akan menemukan ia meninggal. Setelah hari demi hari,
ketakutanku mulai lenyap dan aku sadar atau barangkali
meyakinkan diriku sendiri bahwa Clara tidak akan bunuh
diri. Ia tidak akan terjun dari balkon apartemennya—ia
takkan melakukan apa pun.
Setelah itu, aku meninggalkannya, tapi kali ini aku
memutuskan untuk meneleponnya setiap saat dan
berhubungan dengan temannya, yang bisa membawaku
masuk kembali ke kehidupan Clara. Itulah bagaimana aku
bisa tahu sedikit dan mungkin lebih mudah untuk tidak
mengetahui cerita yang membuatku tidak tenang, berita-
berita egois harus selalu dikesampingkan.
Clara kembali bekerja (obat-obatan baru yang ia minum
membuatnya kembali terlihat segar). Pihak kantornya
barangkali ingin memberinya tugas untuk membayar
ketidakhadirannya yang cukup lama, ia pun dipindahkan
ke kantor cabang di kota Andalusia lain, meski tak begitu
jauh. Ia pindah, mulai kembali pergi ke gym (umur 34, ia
tidak lagi terlihat cantik seperti yang pernah kukenal ketika
aku berumur 17), dan mencari teman baru. Begitulah ia
bertemu dengan Paco, yang juga sudah bercerai, seperti
dirinya.
116
clara
Belum lama ini, mereka menikah. Mula-mula, Paco
ingin mengatakan ke semua orang tentang impresinya
terhadap karya foto dan lukisan Clara. Dan, Clara berpikir
Paco pintar dan mempunyai selera bagus. Waktu berlalu,
bagaimanapun, Paco akhirnya kehilangan ketertarikan
pada pencapaian estetika Clara dan menginginkan anak.
Clara sudah 35 tahun dan ini pertama kalinya ia tak tertarik
lagi dengan ide itu Tapi, Clara memberikannya juga,
mereka punya satu anak. Menurut Clara, anaknya senang
dengan kerinduan yang ia berikan—kata itulah yang ia
gunakan. Menurut temannya, ia semakin memburuk, apa
pun artinya.
Pada satu kesempatan, untuk alasan yang tak relevan
bagi cerita ini, aku menghabiskan satu malam di kota Clara.
Aku meneleponnya dari hotel, memberitahu di mana aku
berada, dan mengajak dia bertemu pada hari berikutnya.
Aku lebih suka bertemu dengannya pada malam hari.
Namun, setelah pertemuan dengannya sebelumnya, Clara
menganggapku semacam musuh. Barangkali ia punya
alasan yang masuk akal. Aku tidak bersikeras memaksanya
bertemu malam hari.
Ia hampir saja tak kukenali. Berat badannya bertambah,
dan tanpa make up wajahnya begitu pucat, bukan
karena waktu melainkan frustasi. Dan jika kamu tidak
menginginkan apa pun, bagaimana kamu bisa frustrasi?
Senyumannya pun juga sudah berubah. Sebelumnya,
senyumannya hangat dan terlihat lugu, senyuman
perempuan muda dari ibu kota provinsi. Sekarang,
senyumnya terlihat licik, menyakitkan, dan mudah sekali
terbaca kebencian, amarah, dan iri hati di baliknya. Kami
saling mencium pipi seperti pasangan idiot dan duduk.
Untuk beberapa saat kami terdiam, tidak tahu harus berkata
apa. Akulah yang pertama kali memecah kesunyian. Aku
bertanya tentang anaknya; ia mengatakan anaknya sedang
117
roberto bolano
di penitipan anak, lalu dia menanyakan anakku.
“Dia baik,” kataku.
Kami menyadari, jika kami tidak melakukan sesuatu,
pertemuan ini akan terasa menyakitkan.
“Bagaimana penampilanku?” Clara bertanya. Seolah-
olah ia memintaku untuk menamparnya. Sama seperti
biasanya, kujawab otomatis. Aku ingat kami sedang minum
kopi, lalu jalan-jalan di sepanjang lajur yang di kanan-
kirinya dipenuhi pohonan yang mengarah langsung ke
stasiun. Keretaku segera berangkat. Kami mengucapkan
perpisahan di depan pintu stasiun, dan itu terakhir kalinya
aku bertemu dengannya.
Kami berbincang di telepon sebelum ia meninggal. Aku
selalu meneleponnya setiap 3 bulan atau 4 bulan. Aku telah
belajar dari pengalaman untuk tidak terlalu menyentuh
urusan-urusan personal atau keintiman (misal, seperti
obrolan tentang olahraga ketika berbincang dengan orang
asing di bar), jadi kami berbincang tentang keluarganya
atau tentang sekolah anaknya. Perbincangan itu serasa
abstrak seperti puisi kubisme. Ia masih kerja di kantor
yang sama, dan selama bertahun-tahun, ia mengetahui
semua rahasia rekan kerjanya dan kehidupannya,
semua masalah para eksekutif. Semua rahasia-rahasia
itu membuatnya merasa semangat dan barangkali
menimbulkan kesenangan tersendiri. Suatu waktu, aku
mencoba menanyakan padanya tentang suaminya, tapi ia
bungkam.
“Kamu pantas mendapatkan yang terbaik,” kataku.
“Itu aneh,” jawabnya.
“Aneh bagaimana?” Tanyaku lagi.
“Aneh sekali kamu berkata sama seperti orang lain,”
katanya.
Aku secepatnya mengubah topik pembicaraan,
mengaku jika koinku akan habis (aku tak mempunyai
118
clara
119
roberto bolano
telepon, dan takkan pernah ingin punya telepon—
aku selalu menelepon di telepon umum), cepat-cepat
mengucapkan selamat tinggal, dan menutup telepon. Aku
sadar aku tidak bisa beradu argumen dengan Clara. Aku
tidak bisa mendengarkan alasan lain darinya, yang selalu
digunakan sebagai pembenaran tanpa ujung.
UATU malam, belum berselang lama, ia mengatakan
Spadaku, ia mengidap kanker. Suaranya masih
terdengar dingin seperti biasanya—suara yang selalu
menceritakan kehidupannya dengan nada pencerita
yang buruk, menempatkan tanda seru pada tempat yang
salah, dan terlalu sering berlama-lama pada sesuatu yang
seharusnya dilewati, bagian yang seharusnya ia potong
cepat-cepat. Aku ingat pernah menanyakan padanya,
apakah diagnosis kanker itu dari dokter atau dia sendiri
yang mendiagnosis (atau dengan bantuan Paco). Tentu saja,
ia tak menjawab. Di ujung kalimatnya seperti terdengar
suara parau. Ia tertawa. Kami berbincang sebentar tentang
anak-anak kami, lalu (ia pasti merasa kesepian atau
bosan) dia memintaku menceritakan sesuatu tentang
kehidupanku. Aku bilang sedang mengerjakan sesuatu,
aku akan meneleponnya lagi minggu berikutnya.
Malamnya, tidurku tak menyenangkan. Aku bermimpi
berulang-ulang dan terbangun tiba-tiba, berteriak, yakin
bahwa Clara berbohong padaku; ia tak mengidap kanker.
Sesuatu terjadi pada dirinya, tentu saja, sesuatu telah terjadi
selama 20 tahun ini, kecil, kekacauan, penuh kebohongan
dan senyuman, namun ia tak mengidap kanker. Pukul 5
pagi. Aku terbangun dan berjalan ke Paseo Maritimo,
dengan angin menabrak-nabrak punggungku, angin aneh,
karena biasanya angin berembus dari arah laut, dan susah
sekali berembus dari arah berlawanan. Aku tidak berhenti
sampai aku sampai di telepon umum di sebelah kafe
120
clara
terbesar di Paseo. Terasnya kosong, kursi-kursi terantai
dengan meja. Agak jauh dari situ, di dekat laut, pemuda
gelandangan tidur di kursi, dengan lutut ditarik ke atas,
dan dia bergidik setiap saat, seperti dia sedang bermimpi
buruk.
Hanya ada satu nomor lain yang tersimpan dalam buku
teleponku di kota Clara. Aku meneleponnya. Setelah sekian
lama, suara perempuan menjawab. Aku berkata siapa aku,
namun tiba-tiba aku tak bisa berkata apa pun. Aku pikir dia
menutup telepon, tapi aku mendengar “klik” korek api dan
suara asap berembus dari bibir terdengar.
“Masih di sana?” Perempuan itu bertanya.
“Ya,” kataku,
“Sudah pernah berbicara dengan Clara?”
“Ya.”
“Apa dia bilang padamu, dia mengidap kanker?”
“Ya.”
“Well, itu benar.”
Semua kenangan bertahun-tahun sejak aku pertama
kali bertemu dengan Clara tiba-tiba berhamburan di
kepalaku. Hampir sepanjang hidupku, sebagian besar,
memang tidak berhubungan dengannya. Aku tidak
tahu apa-apa lagi yang dikatakan perempuan di ujung
telepon, yang berjarak ratusan mil jauhnya. Aku merasa air
mataku mulai meleleh, seperti dalam puisi Ruben Dario.
Aku meraba-raba saku, mengambil rokok, mendengarkan
fragmen demi fragmen cerita: dokter, operasi, mastektomi,
diskusi, perbedaan sudut pandang, rembukan, aktivitas
Clara yang aku tak bisa tahu atau sentuh atau bantu,
tidak sekarang. Seorang Clara yang tak bisa kuselamatkan
sekarang.
Ketika aku menutup telepon, gelandangan itu berdiri
kira-kira lima kaki. Aku tidak mendengar dia mendekat.
Dia sangat tinggi, mengenakan baju tebal yang terlalu
121
roberto bolano
panas untuk musim ini. Dia menatapku, seperti seolah-
olah dia rabun, atau khawatir jika aku tiba-tiba bergerak.
Aku terlalu sedih. Aku sama sekali tidak takut, meski
setelah itu, aku kembali berjalan melewati jalanan di pusat
kota. Aku baru sadar, bertemu dengan gelandangan itu,
aku jadi lupa dengan Clara, hanya sebentar, untuk pertama
kalinya, dan hanya saat itu saja.
Kami sering berbicara di telepon setelah itu. Beberapa
minggu aku meneleponnya dua kali sehari. Perbincangan
kami pendek dan bodoh. Aku tidak tahu cara untuk
mengatakan apa yang benar-benar ingin kukatakan, jadi
aku berbicara tentang apa saja, sesuatu yang pertama
kali terlintas di kepalaku, kadang nonsense, aku harap
aku bisa membuatnya tersenyum. Suatu kali, aku merasa
sentimental dan mencoba memanggil hari-hari yang telah
berlalu, tapi Clara justru mengenakan jubah es, dan aku
pun sadar dan menyerah untuk bernostalgia. Mendekati
hari operasi, aku lebih sering menelepon. Pernah aku
berbicara dengan anaknya. Lain waktu dengan Paco.
Mereka tampak sehat, suara mereka baik, setidaknya tidak
setegang diriku. Barangkali aku salah. Sungguh-sungguh
salah.
“Semua orang justru khawatir padaku,” kata Clara,
suatu siang.
Aku rasa yang ia maksud suami dan anaknya, namun
“semua orang” terdiri dari lebih banyak orang, lebih dari
yang bisa kubayangkan, semua orang. Hari sebelum ia
pergi ke rumah sakit, aku menelepon siang hari. Paco
menjawab. Clara tidak di rumah. Tidak ada orang yang
melihatnya atau mendengarnya dalam dua hari ini. Dari
nada suara Paco, aku merasa dia menuduhku bahwa Clara
ada di tempatku. Aku katakan saja langsung, ia tak di sini,
namun malam itu aku berharap ia datang ke apartemenku.
Aku menunggunya, lampu menyala, dan akhirnya aku
122
clara
123
roberto bolano
tertidur di sofa, dan bermimpi tentang perempuan cantik,
bukan Clara: tinggi, kurus, dengan dada kecil, kaki panjang,
mata cokelat gelap, yang bukan dan tidak mungkin
Clara. Perempuan yang kehadirannya melenyapkan sosok
Clara, menyurutkan dirinya menjadi sosok perempuan
empat puluhan yang lemah, hilang, dan gemetaran.
Ia tak datang ke apartemenku.
Besoknya, aku menelepon Paco. Dan dua hari kemudian,
aku meneleponnya lagi. Masih tidak ada tanda-tanda
keberadaan Clara. Ketiga kalinya aku menelepon Paco, dia
berbicara tentang anaknya dan mengeluhkan sikap Clara.
“Setiap malam aku bertanya-tanya di manakah dia”,
katanya. Dari nada dan arah perbincangannya, aku bisa
katakan apa yang dia butuhkan diriku, atau seseorang,
siapa pun adalah pertemanan. Sayangnya, aku juga sedang
tidak dalam kondisi memberikan penghiburan semacam
itu.
124
clara
125
126
Duniazat
Salman Rushdie
127
Salman Rushdie lahir di Bombay, British India, pada 1947. Ia adalah seorang
novelis dan esais. Tulisannya banyak tersebar di beberapa media dunia, seperti
The Guardian dan The Newyorker. Novel keduanya, A Midnight’s Children
didapuk menjadi novel terbaik versi Booker Prize pada 1981. Namanya kian
fenomenal setelah The Satanic Verse pada 1988. Lantaran itu pula, ia hijrah ke
Inggris meminta suaka. Di Inggris ia mendapatkan gelar kehormatan “Sir” dari
Ratu Elizabeth II. “Duniazat” dalam buku ini diambil dari bab pertama novel
Two Years Eight Months and Twenty-Eight Nights yang terbit pada 2008.
128
Salman Rushdie
Duniazat
ANYA SEDIKIT YANG DIKETAHUI, meski banyak
yang sudah ditulis, tentang kebenaran asal-
Hmuasal jin, makhluk yang diciptakan dari api
tanpa asap. Apakah mereka baik atau jahat, kejam atau
jinak? Pertanyaan itu selalu menjadi perdebatan. Beberapa
hal yang sudah diterima secara umum, seperti mereka
dapat bergerak dengan cepat, mampu berubah bentuk
dan ukuran, menjanjikan keinginan fana laki-laki dan
perempuan hingga mereka harus memilih atau bisa juga
mereka akan dipaksa untuk melakukan keinginan itu.
Dan, jin hidup dalam ruang waktu yang berbeda sama
sekali dengan manusia. Manusia tidak akan kebingungan
membedakannya dengan malaikat. Ya, meskipun beberapa
dongeng lama keliru berkisah bahwa iblis sendiri merupakan
malaikat yang dikutuk, yakni Lucifer, putra sang fajar, dan
129
salman rushdie
dia adalah jin yang paling berkuasa. Untuk waktu yang
lama, tempat tinggal mereka juga masih diperdebatkan.
Beberapa dongeng lama bercerita, lebih tepat dongeng itu
memfitnah, bahwa jin tinggal di bumi, yang kerap disebut
sebagai “dunia terendah, ” di reruntuhan gedung dan
beberapa tempat yang tidak sehat, seperti tempat sampah,
kuburan, kakus di luar ruangan, got, dan beberapa tempat
yang mungkin, seperti tempat kotoran hewan. Menurut
dongeng fitnahan itu pula kita harus membersihkan diri
setelah bersentuhan dengan jin. Mereka berbau busuk
dan membawa penyakit. Bagaimanapun, penjelasan yang
terbaik sebatas yang kita tahu sebagai kebenaran adalah
jin hidup di dunia mereka sendiri, terpisah dari dunia kita
dengan selubung tipis, dan dunia khayangan ini terkadang
disebut sebagai Peristan atau alam gaib, dunia yang sangat
luas dan juga tersembunyi dari kita.
Tentang jin yang tidak berbentuk seperti manusia
tampaknya sudah menjadi kebenaran, namun manusia
juga berbagi beberapa karakteristik jin, setidaknya
kesamaaan sifat ketidakmasukakalan. Misalkan dalam
hal keimanan. Ada jin yang percaya dengan setiap sistem
kepercayaan di bumi dan ada pula jin yang tidak percaya.
Bagi siapa pun, gagasan Tuhan dan malaikat begitu asing
sama halnya dengan soal jin itu sendiri, sangat asing
bagi manusia. Dan, meski banyak jin yang tak bermoral,
setidaknya bagi jin yang mempunyai kemampuan lebih,
mereka tahu perbedaan antara baik dan jahat, antara sisi
kanan dan sisi kiri jalan yang ditempuh.
Beberapa jin bisa terbang, tapi beberapa lainnya
merayap di tanah dalam bentuk ular, atau menggonggong
dan membuka taring mereka seperti anjing besar. Di lautan,
terkadang di udara, mereka menganggap jin dalam bentuk
naga. Beberapa jin yang lemah tidak bisa, ketika di bumi,
mempertahankan bentuknya dalam waktu lama. Makhluk
130
duniazat
yang tak berbentuk ini terkadang masuk ke dalam manusia
melalui telinga, hidung, atau mata, dan mengambil alih
tubuh manusia untuk sementara, lalu meninggalkan tubuh
itu ketika mereka sudah kelelahan di dalamnya. Manusia
yang dirasuki, sayangnya, tidak selamat.
Jin perempuan, jinnias atau jinniri, bahkan lebih
misterius, dan bahkan lebih halus serta susah dimengerti.
Mereka menjadi bayang-bayang perempuan yang terbuat
dari api tanpa asap. Ada jinniri buas, dan ada pula jinniri
yang penuh cinta. Meski kedua jinniri ini berbeda, mereka
sebenarnya satu dan sama karakternya, yakni roh yang
jahat bisa saja dijinakkan dengan cinta, atau jinniri yang
penuh cinta bisa jadi buas dengan penganiayaan biadab
melebihi pengetahuan manusia.
NI adalah cerita jinnia, putri jin yang termasyhur,
Iyang sering dikenal sebagai Putri Cahaya, putri yang
menguasai petir, yang jatuh cinta pada manusia bertahun-
tahun lalu, di abad ke-12, seperti yang kita akan ceritakan.
Dan, putri itu mempunyai banyak keturunan dan ia akan
kembali ke dunia, setelah sekian lama menghilang, untuk
jatuh cinta lagi, setidaknya untuk sesaat, dan setelah itu
akan pergi berperang. Ini juga kisah tentang jin lain, laki-
laki, dan perempuan, terbang dan merayap, baik, buruk,
dan tidak tertarik pada moralitas. Jin yang hidup pada
masa-masa kritis, waktu yang tak berkesinambungan, yang
kita sebut sebagai waktu yang tak dikenal, yang berlangsung
selama dua tahun delapan bulan dan dua puluh delapan
malam. Bisa juga disebut sebagai seribu satu malam. Dan,
ya, kita sedang hidup di seribu malam yang lain sejak
hari itu, namun kita semua selamanya sudah berubah
oleh waktu. Apakah untuk lebih baik atau lebih buruk, dan
pilihan ini semua untuk masa depan yang harus dipilih.
Pada 1195, filsuf besar Ibnu Rushd, yang waktu itu
131
salman rushdie
menjadi kadi atau hakim di Sevilla dan juga sebagai
dokter pribadi Khalifah Abu Yusuf Yaqub di kampung
halamannya, Cordoba, baru saja secara resmi dihina dan
dipermalukan karena gagasan-gagasan liberalnya. Ide-
ide itu tak diterima olah kelompok fanatik suku Barber
yang semakin membesar dan kuat serta juga semakin
menyebar ke Iberia seperti wabah penyakit. Dia dikirim
untuk tinggal di pengasingan, di desa kecil Lucena, di
luar kampung halamannya. Lucena adalah desa yang
penuh dengan orang Yahudi—saat ini mereka tak bisa
disebut Yahudi karena pemimpin Andalusia sebelumnya,
132
duniazat
Dinasti Almoravides, memaksa mereka untuk pindah ke
agama Islam. Ibnu Rushd, yang tidak lagi diizinkan untuk
menyebarkan filsafatnya dan semua tulisannya dilarang
dan buku-bukunya dibakar, cepat sekali merasa seperti di
rumahnya sendiri, meski berada di sekitar kaum Yahudi
yang sebenarnya tidak bisa disebut lagi Yahudi. Dia menjadi
pemikir yang disukai Khalifah Kesultanan Dinasti Almohad,
namun seorang kesayangan istana biasanya memang akan
disingkirkan, dan Abu Yusuf Yaqub mengizinkan para
fanatik untuk menekan pengagum Aristoteles itu keluar
dari kota.
Filsuf yang kini tak bisa lagi menyebarkan gagasannya
itu tinggal di dekat jalanan kasar di rumah sederhana
dengan jendela kecil dan sangat terpukul karena tiadanya
penerangan. Dia membuka praktik dokter di Lucena
dan statusnya sebagai bekas dokter Khalifah membuat
banyak pasien datang padanya. Sebagai tambahan
penghasilan, dia menggunakan sisa-sisa barangnya dan
secara sederhana masuk di bisnis jual-beli kuda. Dia
juga membiayai pembuatan gerabah besar, Tinajas, yang
dipakai oleh kaum Yahudi yang bukan lagi Yahudi untuk
membuat anggur dan minyak zaitun. Tinajas itu kemudian
mereka jual. Suatu hari tidak lama setelah permulaan
masa pengasingannya, seorang perempuan mungkin
telah melewati 16 musim semi muncul di luar pintu,
tersenyum lembut, tidak mengetuk pintu atau mengganggu
kegiatannya dalam cara apa pun, dan menunggu dengan
sabar hingga Ibnu Rushd menyadari kehadirannya dan
menyuruh masuk. Perempuan itu mengatakan padanya,
ia baru saja kehilangan kedua orang tuanya. Ia tak lagi
punya penghasilan dan tidak ingin bekerja di pelacuran.
Namanya Dunia. Nama yang tak terdengar seperti nama
seorang Yahudi karena ia tak diizinkan menggunakan
nama Yahudi dan karena ia tidak bisa membaca menulis,
133
salman rushdie
ia pun tak bisa menuliskan namanya. Ia bilang padanya,
seorang pengelana mengusulkan sebuah nama dan nama
itu berasal dari bahasa Yunani yang berarti “dunia” dan
ia suka dengan ide itu. Ibnu Rushd, seorang penerjemah
Aristoteles, tidak ingin berdebat dengan Dunia untuk
menonjolkan pengetahuannya yang tak begitu penting
bagi orang dengan lidah kebanyakan yang cukup tahu arti
sederhana “dunia”.
“Kenapa kamu menamakan dirimu dunia?” Ibnu Rushd
bertanya pada Dunia.
Dan, ia menjawab seraya melihat matanya, “Karena
dunia akan mengalir dari diriku dan yang mengalir dari
diriku akan menyebar ke seluruh dunia.”
Sebagai seorang yang mengutamakan logika, dia tidak
menyangka sama sekali bahwa Dunia adalah makhluk
supranatural, jinnia, berasal dari bangsa jin perempuan,
jiniri. Ia adalah putri agung bangsa itu, yang sedang
berkelana, yang biasanya mengejar cinta dengan seorang
laki-laki dan khususnya seorang laki-laki yang jenius. Dia
mempekerjakan Dunia sebagai pembantu rumah dan juga
kekasih. Dan, pada malam yang sunyi, ia membisikkan
nama Yahudi yang “sebenarnya”—ini caranya bercerita:
benar berarti salah—di telinga Ibnu Rushd dan menjadi
rahasia mereka. Dunia, seorang jinnia, sungguh sangat
“subur”. Kesuburannya itu seperti sebuah nubuat yang telah
disematkan padanya. Setelah dua tahun, delapan bulan, dan
dua puluh delapan hari dan malam, Dunia telah hamil tiga
kali dan dalam tiap kali kehamilan ia melahirkan banyak
anak. Setidaknya dalam tiap kehamilan ia melahirkan
tujuh anak. Bahkan suatu kali ia melahirkan sebelas atau
kemungkinan bisa sembilan belas. Meski catatannya tak
pernah jelas dan pasti. Semua anak-anaknya mempunyai
keunikan yang membedakan dengan anak-anak lainnya:
mereka tidak mempunyai telinga.
134
duniazat
135
salman rushdie
Jika Ibnu Rushd sudah mahir dalam ilmu gaib, dia
akan menyadari bahwa anak-anaknya adalah keturunan
dari ibu yang bukan manusia. Namun, dia terlalu sibuk
bekerja di luar. (Kita terkadang berpikir, itu merupakan
keberuntungannya, dan bagi seluruh sejarah kita, Dunia
sangat mencintainya karena kejeniusan pikirannya,
sifatnya barangkali terlalu egois untuk menumbuhkan
cinta bagi dirinya sendiri). Seorang filsuf yang tak bisa
berfilosofi lagi ini takut kelak anak-anaknya mewarisi
sesuatu dari dirinya, warisan kesedihan yang bisa saja
menjadi harta karun dan kutukannya.
“Untuk menjadi seorang yang ‘berkulit tipis’,
‘berpandangan jauh’, dan ‘lidah yang longgar’,” ujarnya,
“harus bisa berpikir sangat tajam, melihat sangat jelas,
dan berbicara dengan sangat bebas. Hal itu akan sangat
rentan bagi dunia ketika dunia sendiri percaya bahwa
dirinya kebal, memahami dunia berubah-ubah ketika
dunia sendiri tetap, merasakan apa yang belum dirasakan
orang lain, mengetahui bahwa masa depan orang-orang
barbar adalah menjatuhkan gerbang masa kini ketika
yang lain berpegang teguh pada kemerosotan untuk masa
lalu yang hampa. Jika anak kita beruntung, mereka hanya
akan menurunkan telingamu, namun sayangnya, tak dapat
disangkal mereka juga keturunanku. Mereka mungkin
akan berpikir terlalu banyak, terlalu cepat, dan mendengar
terlalu banyak, terlalu lebih awal, termasuk beberapa yang
tak izinkan untuk diajarkan atau didengar.”
“Dongengkan sebuah kisah,” Dunia selalu memintanya,
di kasur pada awal-awal mereka bersama. Dia dengan cepat
menyadari, meski Dunia terlihat muda, dia bisa saja jadi
seorang yang penuntut dan dogmatis, di tempat tidur dan
di luar juga. Ibnu Rushd adalah seorang yang besar dan ia
seperti burung kecil atau seekor serangga yang menempel,
namun dia selalu menganggap Dunia sebagai seorang yang
136
duniazat
kuat. Ia adalah kebahagiaan bagi orang seumurannya, tapi
juga meminta energi yang lebih besar yang baginya akan
sulit untuk dipertahankan. Pada umurnya yang sekarang,
kadang semua yang dia inginkan saat di tempat tidur
hanyalah tidur nyenyak. Namun, Dunia melihat gelengan
kepala Ibnu Rushd merupakan tanda bermusuhan.
“Jika kamu terjaga sepanjang malam untuk bercinta,”
ia berkata, “kamu akan benar-benar merasa beristirahat
dibandingkan jika kamu mendengkur sepanjang waktu
seperti lembu. Ini pengetahuan.”
Di umurnya sekarang, dia tidak selalu mudah
mempunyai kondisi prima untuk bercinta, terutama
berturut-turut setiap malam, namun Dunia melihat
kesulitannya bercinta bukan karena usia melainkan
nafsunya. Ini menjadi bukti bahwa dia tidak mencintainya.
“Jika kamu menemukan perempuan yang atraktif,
takkan pernah jadi masalah,” ia berkata padanya. “Tidak
peduli berapa malam berturut-turut. Aku, aku selalu
bernafsu. Aku bisa bercinta selamanya. Aku tidak bisa
berhenti.”
Dia menemukan hasrat Dunia bisa diredam dengan
cerita. Ini tentu saja membantunya. “Ceritakan sesuatu,”
katanya, seraya meringkuk di tangan Ibnu Rushd sehingga
tangannya bertumpu pada kepala Dunia. Dan Ibnu Rushd
pun berpikir, ‘bagus, malam ini aku terlepas dari tugas
bercinta.’ Dan sedikit demi sedikit, dia akan bercerita
padanya. Dia menggunakan kata-kata yang mengejutkan
bagi orang sezamannya. Kata-kata seperti, “akal”, “logika”,
dan “ilmu pengetahuan,” yang merupakan tiga pilar bagi
kekuatan magisnya, ide-ide yang membuat buku-bukunya
harus dibakar. Dunia takut dengan kata-kata itu, tapi
ketakutan itu membuatnya tertarik dan ia meringkuk
lebih dekat dan berkata, “Usap kepalaku ketika kamu
menambahkan kebohonganmu di dalamnya.”
137
salman rushdie
Ada sebuah luka yang dalam, kesedihan di dalam
dirinya karena dia telah dikalahkan oleh seorang laki-
laki. Ya, dia telah kalah dalam pertempuran besar dalam
hidupnya dengan seorang Persia yang sudah meninggal,
Ghazali dari Tus, lawan yang sudah meninggal 85 tahun
yang lalu. Seratus tahun yang lalu, Ghazali menulis
sebuah buku, Tahafut al-Falasifah. Di dalamnya, Ghazali
menyerang filsuf Yunani, seperti Aristoteles, penganut
Neoplatonis, dan pengikut-pengikutnya, para pendahulu
Ibnu Rushd, Ibnu Sina dan al-Farabi. Pada poin tertentu,
Ghazali menderita krisis keimanan, tapi dia kembali
untuk menjadi momok paling menakutkan bagi filsafat
dalam sejarah dunia. Filsafat, ujar Ghazali mengejek,
tidak mampu membuktikan keberadaan Tuhan, atau
bahkan membuktikan kemustahilan adanya dua Tuhan.
Filsafat percaya pada keniscayaan sebab dan akibat, yang
merupakan turunan dari kekuasaan Tuhan. Tentu Tuhan
bisa dengan mudah mengintervensi untuk mengubah
akibat sehingga membuat sebab tak lagi efektif jika dia
menghendaki.
“Apa yang terjadi,” Ibnu Rushd bertanya kepada Dunia
ketika malam menyelubungi mereka dalam kesunyian dan
mereka pun bisa berbicara tentang sesuatu yang dilarang,
“ketika obor bersentuhan dengan bola kapas?”
“Tentu saja kapas terbakar,” jawab Dunia.
“Dan mengapa kapas itu terbakar?”
“Karena memang seharusnya begitu,” ujarnya, “api
menjalar ke kapas dan kapas menjadi bagian dari api,
itulah yang terjadi.”
“Hukum alam,” jawab Ibnu Rushd, “yang
menyebabkannya,” dan kepala Dunia mengangguk di
bawah tangan Ibnu Rushd yang membelainya.
“Dia tidak setuju,” Ibnu Rushd berkata. Dan Dunia tahu
“dia” yang dimaksud adalah musuh Ibnu Rushd, Ghazali,
138
duniazat
seseorang yang telah mengalahkannya. “Dia berkata kapas
terbakar karena Tuhanlah yang menyebabkan itu terbakar
karena di alam semesta ini, hanya ada satu hukum, yakni
kehendak Tuhan.”
“Jadi, jika Tuhan menginginkan kapas itu memadamkan
api, jika Tuhan menginginkan api jadi bagian kapas, Tuhan
bisa melakukannya?”
“Ya,” jawab Ibnu Rushd. “Menurut buku Ghazali, Tuhan
bisa melakukannya.”
Ia berpikir untuk sesaat. “Itu bodoh,” ia menyela,
akhirnya. Bahkan di kegelapan, ia bisa merasakan senyum
kepasrahan, senyum dengan sinisme di dalamnya sama
artinya dengan kepedihan, yang keluar dari wajahnya yang
berjanggut itu.
“Dia akan bilang, itulah keimanan sebenarnya,” Ibnu
Rushd menjawabnya, “dan ketika tidak setuju dengannya,
itulah inkoherensi yang dia maksud.”
“Jadi, apa pun bisa terjadi jika Tuhan menentukan,
itu aku setuju,” ia berseloroh, “Kaki manusia mungkin
sebentar lagi takkan menyentuh tanah, misalnya—dia bisa
mulai berjalan di udara.”
“Keajaiban,” kata Ibnu Rushd, “hanya akan terjadi jika
Tuhan mengubah aturan yang Ia pilih, dan jika kita tidak
memahaminya, itu karena Tuhan tak bisa dilukiskan, bisa
dikatakan, melampaui pemahaman kita.”
Ia terdiam lagi. “Misalkan, aku mengira-ngira,” ia
berkata panjang lebar, “bahwa Tuhan mungkin tidak
ada. Misalkan, kamu membuat aku percaya pada ‘akal’,
‘logika’, dan ‘ilmu pengetahuan’, serta mempunyai daya
magis untuk membuat Tuhan tak lagi penting. Bisakah
seseorang bahkan mengira-ngira bahwa itu mungkin saja
terjadi untuk memisalkan hal semacam itu?” Ia merasakan
tubuhnya kaku. Sekarang, dia takut pada kata-katanya,
pikir Dunia, dan itu membuatnya senang dengan cara
139
salman rushdie
yang unik.
“Tidak,” Ibnu Rushd menimpali, dengan nada terlalu
keras. “Itu akan menjadi anggapan yang bodoh.”
Dia telah menulis sebuah buku, Tahafut al-Tahafut, untuk
membalas Ghazali yang telah melewati ratusan tahun dan
ribuan mil, namun terlepas dari judul tajamnya, pengaruh
orang Persia itu tak berkurang dan akhirnya membuat
Ibnu Rushd dipermalukan. Bukunya pun dibakar, melahap
halaman demi halaman karena Tuhan telah memutuskan,
waktu itu, api untuk membakar halaman-halaman
bukunya. Semua yang ada di dalam bukunya, sebenarnya
ingin mendamaikan kata-kata “akal”, “logika”, dan “ilmu
pengetahuan” dengan kata-kata “Tuhan”, “keimanan”, dan
“Quran,” dan dia pun tidak berhasil, bahkan meskipun
dia telah menghaluskan argumen-argumennya, dengan
mengutip ayat Alquran. Tuhan harus ada karena taman
duniawi ini disediakan untuk umat manusia, dan tidakkah
Kami turunkan dari langit hujan, air yang turun ke bumi
berlimpah-limpah sehingga kamu bisa menanam jagung,
rempah-rempah, dan kebun yang penuh pohonan?
Dia adalah tukang kebun amatir, namun tajam
pemikirannya dan argumen yang sedikit lembut itu
baginya untuk membuktikan sesungguhnya Tuhan adalah
Maha Pemurah, bersifat liberal, namun pemuja Tuhan
garis keras malah memukulinya. Sekarang dia berbaring,
atau dia meyakini, dengan seorang Yahudi dia bisa
menggunakan bahasa dari lubuk hatinya yang jika dia
gunakan di kehidupan sebenarnya, dia akan diseret oleh
eksekutor ke tiang gantungan. Ya, seorang Yahudi yang
telah berpindah keyakinan, yang telah dia selamatkan dari
rumah pelacuran dan juga seseorang yang tampaknya
mampu melihat ke dalam mimpinya, mimpi ketika ia
berdebat dengan Ghazali dalam bahasa yang tak mungkin
didamaikan.
140
duniazat
141
salman rushdie
Semenjak Dunia dipenuhi anak-anak dan kemudian
mengosongkan anak-anak itu dari rahimnya ke dalam
rumah kecil, tak ada lagi ruang tersisa bagi “kebohongan”
perbincangan Ibnu Rushd. Keintiman mereka berkurang
dan uang menjadi permasalahan.
“Seorang laki-laki sejati harus siap menghadapi
konsekuensi dari apa yang dilakukannya,” ujar Dunia
padanya, “terutama laki-laku yang percaya pada sebab–
akibat.”
Namun, mencari uang tidak pernah menjadi
keahliannya. Bisnis jual-beli kuda sangat berbahaya dan
penuh tukang jagal dan juga keuntungan yang dia dapat
kecil. Dia punya saingan banyak di pasar Tinaja hingga
harga jatuh.
“Mintalah sedikit pada pasienmu,” Dunia menyarankan
dengan nada jengkel. “Kamu harus menghasilkan uang
dari status mantan seorang yang pernah dihormati,
ternodalah sedikit. Apalagi yang kamu dapat? Ini semua
tidak cukup bagi seorang monster pembuat bayi. Kamu
membuat anak, anak lahir, dan anak harus diberi makan.
Itulah ‘logika’. Itulah ‘rasional’,” ia tahu kata-katanya bisa
berbalik menyerangnya. “Jangan seperti ini,” ia menangis
penuh kemenangan, “ini inkoherensi.”
(Jin gemar pada benda-benda berkilauan, emas dan
perhiasan, serta lain sebagainya, dan mereka selalu
menyembunyikan harta itu di gua-gua bawah tanah.
Mengapa putri jinnia tidak menangis, membuka pintu gua
harta karun dan memecahkan masalah keuangan pada
saat genting? Karena ia telah memilih kehidupan manusia,
teman hidup manusia, ya, sebagai seorang istri “manusia”.
Dan, dia sudah terikat pada pilihannya. Mengungkapkan
jati diri sebenarnya kepada kekasihnya pada masa ini akan
menjadi sebuah pengkhianatan, atau kebohongan, bagi
hubungan mereka. Jadi, ia tetap diam, barangkali takut dia
142