duniazat
akan meninggalkannya. Namun, pada akhirnya, dia pun
meninggalkannya, dengan alasan manusianya sendiri.)
Ada sebuah buku Persia yang berjudul Hazar Afsaneh,
atau Seribu Dongeng, dan telah diterjemahkan ke dalam
bahasa Arab. Dalam versi Arab, cerita yang ada di
dalamnya lebih sedikit, tidak lagi seribu cerita, namun
kisah-kisah itu diceritakan lebih dari seribu malam, atau,
karena angka bulat itu tidak bagus, maka mereka lebih
senang menamakan dongeng itu seribu satu malam. Dia
tidak pernah melihat buku itu, tapi beberapa kisahnya
pernah diceritakan padanya di istana. Cerita seorang
nelayan dan jinni menarik baginya. Bukan karena elemen
fantasi yang ada di dalamnya (jinni yang keluar dari
lampu, ikan ajaib yang bisa berbicara, pangeran penyihir
yang setengah manusia dan setengah bukan manusia),
melainkan keindahan teknik ceritanya, cerita di dalam
cerita lain, terlipat di dalamya dengan cerita lainnya juga,
hingga cerita itu menjadi cermin sebenarnya kehidupan.
Ibnu Rushd berpikir, seluruh cerita kita terjalin dari
cerita-cerita dari orang lain dan terus-menerus terjalin
dalam cerita yang lebih besar, narasi besar, sejarah
keluarga kita atau tanah air kita, atau kepercayaan. Lebih
indah bahkan dibandingkan dengan cerita di dalam
cerita dari seorang pendongeng, seorang putri bernama
Shahrazad atau Scheherazadem yang bercerita tentang
pembunuhan suaminya untuk menghindarkan dirinya
dari hukuman mati.
Cerita berkisah tentang perlawanan terhadap kematian
dan pemberadaban masyarakat barbar. Dan, di sebuah kaki
ranjang perkawinan duduklah adik perempuan Shahrazad,
pendengar setianya. Ia meminta diceritakan satu kisah lagi,
dan kemudian satu kisah lagi, dan satu kisah lainnya. Dari
nama adiknya, Ibnu Rushd mendapatkan nama bagi anak-
anaknya yang lahir dari rahim istrinya tercinta, Dunia.
143
salman rushdie
Adik perempuan sang putri itu, seperti yang diketahui,
bernama Dunyazad.
“Dan apa yang memaksa kita mengisi rumah ini yang
tak ada cahaya dan memaksaku meminta bayaran lebih
pada pasienku, orang sakit dan miskin Lucena? Kehadiran
Duniazat, ya itu, bangsa Dunia, ras Dunia, orang-orang
Dunia, yang bisa juga diterjemahkan sebagai ‘penduduk
dunia’.”
Dunia merasa diserang sangat dalam, “Maksudmu,”
ujarnya, “hanya karena kita tidak menikah, anak-anak
kita tidak bisa memakai nama ayahnya.” Dia tersenyum,
tersenyum penuh kegetiran.
“Lebih baik mereka menjadi Duniazat,” katanya, “nama
yang berisi dunia dan belum terhakimi dengan itu. Menjadi
seorang Rushidi akan mengirim mereka ke dalam pusara
sejarah dan menandai dahi mereka.” Ia mulai berbicara
layaknya adik perempuan Scheherazade, selalu meminta
sebuah dongeng, sayangnya kali ini Scheherazade-nya
adalah seorang laki-laki, kekasihnya bukan saudaranya,
dan beberapa ceritanya bisa membuat mereka terbunuh
jika kata-kata mereka tak sengaja kabur dari kamar yang
gelap ini. Jadi, kini dia telah menjadi anti-Scheherazade,
kata Dunia padanya, kebalikan dari kisah pendongeng
Seribu Satu Malam: ceritanya menyelamatkan hidupnya,
sedangkan cerita Ibnu Rushd menempatkan dirinya dalam
bahaya.
Namun kemudian, Khalifah Abu Yusuf Yaqub
memperoleh kemenangan dalam peperangan, kemenangan
terbesar militernya atas raja Kristen, Raja Kastila, Alfonso
VIII, di Alarcos di sungai Guadiana. Setelah Peperangan
Alarcos, yang pasukannya berhasil membunuh 150.000
tentara Kastila, hampir setengah pasukan Kristen, sang
Khalifah menyebut dirinya Al-Mansur, orang yang menang,
dan dengan kepercayaan diri setelah kemenangannya, dia
144
duniazat
menjanjikan akan mengakhiri kekuasaan orang barbar
yang fanatik dan memanggil Ibnu Rushd kembali ke istana.
Tanda memalukan yang tertulis di dahi filsuf tua kini
dihapuskan, masa pengasingannya berakhir. Namanya
telah direhabilitasi, kehormatannya dikembalikan,
rasa malunya telah dihapus, dan dia kembali di posisi
kehormatannya sebagai dokter istana di Cordoba, dua
tahun delapan bulan dan dua puluh delapan hari setelah
masa pengasingannya dimulai. Yang bisa saja disebut,
seribu satu malam.
Dan, Dunia pun hamil lagi, tentu saja, dan dia tidak
menikahinya, tentu saja dia tidak memberikan namanya
bagi anak-anaknya, tentu saja dia tidak membawa Dunia
ke istana Almohad, tentu saja keberadaan Dunia tak
tercatat dalam sejarah. Apa yang dia bawa ketika dia pergi:
jubah, tabung kimia, manuskrip—beberapa dalam ikatan
beberapa dalam gulungan, manuskrip buku karangan
orang lain. Manuskrip buku-buku karangannya sendiri
sudah dibakar, meski begitu ada beberapa salinan yang
terselamatkan—dia pernah mengatakan pada Dunia—di
kota-kota lain, di perpustakaan teman-temannya, dan di
tempat persembunyiannya sehingga orang-orang yang
membencinya tak akan menemukan. Bagi orang-orang
bijak, mereka akan mempersiapkan kemungkinan-
kemungkinan terburuk yang akan datang, namun jika
dia benar-benar seorang yang sederhana, keberuntungan
akan bersamanya dengan cara yang tak terduga.
Ibnu Rushd pergi tanpa menyelesaikan sarapannya
atau mengucapkan selamat tinggal, dan Dunia tidak
mengancamnya sama sekali, juga tidak mengungkapkan
siapa dirinya sebenarnya atau kekuatan yang tersembunyi
di dalam dirinya. Tidak mengatakan sama sekali. Ia juga
tidak mengatakan, “Aku tahu apa yang kamu ucapkan
keras-keras di mimpimu, ketika kamu kira sesuatu hal akan
145
salman rushdie
menjadi kebodohan untuk mengira-ngira, ketika kamu
berhenti mendamaikan sesuatu yang tak terdamaikan
dan membicarakan sesuatu yang mengerikan, kebenaran
fatal.” Ia membiarkan sejarah meninggalkannya tanpa
sekalipun mencoba meraihnya kembali seperti cara anak-
anak membiarkan karnaval besar lewat. Ia mengabadikan
dalam ingatan, membuat semuanya menjadi sesuatu yang
takkan terlupakan, membuat itu semua menjadi miliknya,
dan ia tetap mencintainya, bahkan meski dia begitu tanpa
beban meninggalkannya.
“Kamu adalah segalanya bagiku,” ia ingin ucapkan itu
pada kekasihnya, “Kamu adalah matahari dan bulanku, dan
siapa yang akan membelai kepalaku sekarang, siapa yang
akan mencium bibirku, siapa yang akan menjadi ayah bagi
anak-anak kita?” Tapi, dia adalah seorang yang ditakdirkan
mengisi ruang-ruang keabadian dan jeritan anak-anak tak
lebih bagaikan debu di belakang ketika ia pergi.
Suatu hari, ia bergumam kepada filsuf yang telah
pergi, “Suatu hari setelah kematianmu, kamu ingin
mengakui keluargamu dan pada saat itu, aku, istri jiwamu,
akan mengabulkan keinginanmu, meskipun kamu telah
menghancurkan hatiku.”
Ia yakin dirinya akan tetap dalam bentuk manusia,
untuk beberapa waktu. Barangkali berharap melawan
harapannya agar dia kembali, dan dia tetap mengirimi
uang terus-menerus, mungkin dia akan mengunjunginya
dari waktu ke waktu dan ketika dia menyerah dengan
bisnis kuda, dia tetap bertahan di bisnis Tinaja. Namun
sekarang, matahari dan bulan dari sejarah telah tenggelam
selamanya di rumahnya. Ceritanya menjadi bayangan dan
misteri.
Mungkin benar, seperti orang-orang bilang, setelah
Ibnu Rushd meninggal, rohnya akan kembali padanya
dan menjadi ayah bagi anak-anaknya. Orang-orang juga
146
duniazat
147
salman rushdie
bilang Ibnu Rushd akan membawa lampu yang ada jinni
di dalamnya dan jinni menjadi ayah bagi anak yang baru
lahir setelah dia pergi darinya. Jadi, kita lihat bagaimana
gosip itu mudah menyebar! Dan mereka juga bilang,
dengan sedikit keramahan, perempuan yang ditinggalkan
itu akan mengambil laki-laki apa pun yang bisa membayar
sewa rumahnya dan setiap laki-laki yang ia pilih akan
meninggalkannya dengan anak-anak baru, Duniazat, anak-
anak Dunia, yang tidak lagi keturunan Rushidi bangsat,
atau beberapa dari mereka tidak, atau kebanyakan dari
mereka bukan, atau bahkan semuanya.
Bagi kebanyakan orang, cerita hidupnya telah menjadi
puisi yang gagap, kata-kata yang sudah tua dan takkan
berarti, tak bisa menerangkan berapa lama ia akan hidup,
atau bagaimana, atau di mana, atau dengan siapa, atau
kapan, dan bagaimana—atau jika—ia mati.
Tak ada seorang pun yang menyadari atau peduli, jika
suatu hari ia akan kembali ke seberang dan masuk melalui
lubang kecil di dunia dan kembali ke Peristan, realitas
yang lain, dunia mimpi tempat jin secara berkala membuat
masalah dan memberkati manusia. Bagi penduduk
desa Lucana, ia terlihat sudah melebur, barangkali telah
menjadi api tak berasap. Setelah Dunia meninggalkan
dunia kita, perjalanan dari dunia jin menuju dunia kita
semakin berkurang dan kemudian mereka tidak datang
sama sekali untuk waktu yang cukup lama. Dan lubang
yang menghubungkan dunia jin dengan dunia kita telah
ditumbuhi rumput-rumput yang tak bisa diimajinasikan
dan semak-semak berduri yang tumbuh ke atas. Pada
akhirnya, lubang itu tertutupi sempurna dan nenek
moyang kita hanya bisa melakukan sesuatu yang terbaik
yang mereka bisa tanpa mengandalkan keuntungan sihir.
Namun, anak-anak Dunia tumbuh sehat. Itulah yang bisa
dikatakan. Dan hampir 300 tahun kemudian, ketika orang-
148
duniazat
orang Yahudi diusir dari Ispanya, bahkan seorang Yahudi
yang tidak tahu bahwa dirinya Yahudi. Anak-anak Dunia
naik kapal di Cadiz dan Palos de Moguer, atau berjalan
melintasi Pyrenees, atau terbang dengan karpet ajaib, atau
di atas jin yang keluar dari kendi besar seperti keluarga
jinni mereka. Mereka melintasi benua dan berlayar ke-7
samudra, mendaki gunung tinggi dan berenang di sungai
yang kuat dan meluncur di lembah dan menemukan
tempat tetirahan dan aman di mana pun mereka bisa.
Mereka pun cepat sekali lupa satu sama lain, atau
mengingat selama mereka bisa dan lupa, atau takkan
pernah lupa. Mereka menjadi keluarga yang tidak benar-
benar seperti keluarga, menjadi bangsa yang tak benar-
benar seperti bangsa. Mereka memeluk setiap agama dan
tidak beragama. Kebanyakan dari mereka, setelah berabad-
abad mengalami konversi yang dipaksakan, mengabaikan
kekuatan asli supranatural, melupakan peristiwa konversi
bagi orang Yahudi dengan penuh siksaan. Beberapa di
antara mereka jadi gila dan taat, sementara beberapa
yang lain menghina kafir; keluarga tanpa tempat tinggal,
tapi keluarga di setiap tempat, desa tanpa sebuah lokasi,
namun berkelok-kelok masuk dan keluar di setiap lokasi
di bumi, seperti tumbuhan tanpa akar, seperti lumut atau
sejenisnya, atau seperti anggrek yang harus bergantung
dengan yang lain, tidak mampu berdiri sendiri.
Sejarah tidak ramah bagi orang-orang yang terbuang
dan sama tidak ramahnya bagi orang-orang yang
menyebabkannya. Ibnu Rushd meninggal (secara alami
karena usia, atau seperti itulah yang kita percaya) ketika
melakukan perjalanan ke Marrakesh, setahun setelah
dibersihkan nama baiknya dan tak pernah melihat
ketenarannya sendiri, tak pernah melihat kemahsyurannya
menyebar melampui batas-batas dunianya sendiri ke dunia
orang-orang kafir yang telaah-telaahnya tentang Aristoteles
149
salman rushdie
dijadikan fondasi yang kokoh bagi popularitasnya. Batu
pilar filsafat bagi orang-orang kafir tak bertuhan yang
sering disebut saecularis, yang berarti idea yang datang
sekali pada masa saeculum, sebuah zaman di dunia, atau
mungkin sebuah ide-ide yang hanya diucapkan di mimpi.
Barangkali, sebagai orang saleh, dia takkan senang
dengan sejarah yang telah menempatkannya begitu
tinggi. Sangat aneh sekali bagi seorang yang beriman
menjadi inspirasi ide-ide yang tak perlu lagi adanya
sebuah keimanan, dan susah dimengerti pula bagi
seorang filsuf menjadi pemenang melampui zamannya,
namun kalah pada zamannya sendiri, karena di dunia
yang ia tahu adalah anak-anak dari musuhnya, Ghazali,
bertambah berkali lipat dan menyatu dengan kerajaan,
sementara anak-anak malangnya justru menyebar, bahkan
dilarang menggunakan nama belakangnya, dan mengisi
populasi bumi. Sebagian besar orang-orang yang selamat
mengakhiri perjalanan panjang di benua Amerika Utara,
dan sebagian lainnya di anak benua Asia Selatan.
Dan, sebagian dari mereka kemudian menyebar ke
barat dan selatan melintasi Amerika, dan ke utara dan
ke barat dari tanah berbentuk berlian besar di kaki Asia,
masuk ke seluruh negara di dunia. Kaum Duniazat ini
bisa dikatakan selain memiliki telinga aneh, kaki mereka
semua juga gatal.
Dan Ibnu Rushd telah meninggal, namun, seperti yang
telah diketahui, dia dan rivalnya terus berdebat di luar
kubur, ya, karena gagasan dari pemikir besar tidak akan
pernah mati. Gagasan argumen itu sendiri pada akhirnya
menjadi alat untuk meningkatkan pikiran, senjata tertajam,
lahir dari cinta pada ilmu pengetahuan, yang bisa disebut
filsafat.
150
duniazat
151
152
153
Ludmilla Petrushevkaya lahir di Moscow, Uni Soviet, pada 1938. Ia adalah
pendongeng Rusia yang kerap menampilkan cerita satir ala Chekhov disertai
unsur alegori dan mistik. Publisher Weekly menyebut Ludmilla sebagai salah
satu cerpenis andal yang tinggal di Rusia. Beberapa kumpulan cerpen yang
terkenal adalah There Once Lived a Woman Who Tried to Kill Her Neighbor’s
Baby (2009), There Once Lived a Girl Who Seduced Her Sister’s Husband,
and He Hanged Himself: Love Stories (2013), There Once Lived a Mother Who
Loved her Children Until They Moved Back In (2014), dan The Girl From The
Metropol Hotel Memoir (2017). Selain menulis cerpen, ia juga menulis lagu,
naskah drama, dan film. “Kisah Seorang Pelukis” dalam buku ini pernah dimuat
di The Newyorker pada 18 Januari 2016.
154
Ludmilla Petrushevskaya
Kisah seorang pelukis
DA SEORANG PELUKIS yang hidupnya sangat
miskin. Dia bahkan tak bisa membeli satu crayon,
Ahanya kuas dan cat saja kepunyaannya. Dia coba
menggambar di trotoar dengan batu bata, tetapi tukang
kebersihan dan petugas keamanan tak bisa mengapresiasi
seni. Dia bisa saja menggambar di pagar dan tembok,
tapi setiap pagar dan tembok sudah jadi milik seseorang.
Lagipula, batu bata tidak benar -benar bisa digunakan
untuk menggambar. Batu bata hanya menggores, tak rata
saja.
Setidaknya pelukis itu memiliki atap di atas kepalanya—
ya, jika itu bisa disebut atap. Dia tinggal di tempat tukang
kebersihan apartemen—dulu, dia pernah punya satu unit
di tempat itu—di bawah tangga, tempat tukang kebersihan
menyimpan sapu, ekrak, dan pakaian kerja. Gudang darurat
itu terpampang iklan apartemen, “Private Apartment for
Rent—No Running Water.” Ya, di situlah pelukis kita tidur:
155
ludmilla Petrushevskaya
di lantai, mantelnya dijadikan selimut, dan bahagia karena
dia tidak tidur di jalanan.
Ceritanya panjang kenapa si pelukis bisa menyewa
gudang itu. Kita hanya bisa bilang, dia adalah salah satu dari
banyak orang yang mudah tertipu dengan janji-janji muluk
untuk bisa mendapatkan banyak uang dari apartemen
mungilnya, satu-satunya properti kepunyaannya. Lalu,
keesokan paginya, mereka akan bangun di sebuah bangku
taman, mencoba mengingat apa yang telah terjadi dan
kenapa apartemen mereka tiba-tiba berganti kunci dan
gorden.
Pelukis itu tinggal di bawah tangga, juga dengan
mengutang. Tukang kebersihan berharap, suatu hari si
pelukis menang dalam pengadilan melawan Adik, tukang
tipu yang telah merampas apartemennya, dan kemudian
membayar semua utang-utangnya. Semakin utang-utang
si pelukis itu menumpuk, tukang kebersihan merasa lebih
dan lebih jengkel melihat tubuh rentan pelukis itu saat dia
datang pagi-pagi benar untuk mengambil ekraknya atau
sapunya. Adegan penuh teriakan pun dimulai. Tukang
kebersihan itu berteriak, cuma satu orang baik hati,
yang bodoh pula, di seluruh alam semesta ini yang rela
memberikan rumah berharganya dan membiarkan tidak
dibayar selama enam bulan. “Kau utang padaku berjuta-
juta, kau dengar!” tukang kebersihan berteriak sambil
mengacungkan sapu, sementara itu si pelukis menarik
mantelnya untuk menyumbat telinganya.
“Bayar atau pergi! Kesabaran ada batasnya!”
Lalu, si tukang kebersihan itu berpikir, “Atau, aku bisa
menyewakan tenagamu sebagai gantinya. Aku bisa pasang
iklan: ‘Disewakan Budak untuk Tiga Tahun’. Tapi, tentu saja
itu butuh biaya iklan dan waktu. Pergilah ke rumah sakit.
Jual ginjalmu. Kau punya dua, satu terlalu banyak untuk
orang sepertimu.”
156
kisah seorang pelukis
Petugas kebersihan berteriak seperti itu tiap pagi,
seperti ayam jantan. Untungnya, dia tidak betulan seperti
ayam jantan. Dia punya dua hari libur tiap minggu dan
saat itu, si penunggak sewa bisa tidur nyenyak.
Di hari kerja, si pelukis itu merangkak keluar dari
lubang persembunyiannya, tepat pukul tujuh dan memulai
ritual hariannya, berkeliling di jalanan kota. Dia juga
berdiri di sekitar tempat sampah gedung, berharap Adik
membuang kanvas tua miliknya, kuas, dan cat yang masih
tersimpan di dalam apartemen. Lalu, dia bisa melukis dan
menjual lukisan itu.
Namun, ketika semua berjalan buruk, mereka akan
semakin mendapatkan nasib buruk. Suatu hari, ketika
kembali ke “rumah”, si pelukis mendapati lima anjing,
grand piano, perempuan muda, dan orang tuanya
pindah ke apartemen tua miliknya. Salah satu anjing
itu buta, tapi tetap bisa menggonggong bersama anjing
lainnya. Sementara itu, tumpukan buku dan partitur, rak
buku, kursi, serta kandang dengan kucing di dalamnya
dimasukkan melalui pintu depan.
Si pelukis malah jatuh cinta dengan keluarga aneh itu,
khususnya dengan anjing buta dan anak perempuannya
yang terlihat sangat dewasa, meski ia hanya seorang
remaja. Dan, dia pun menunduk dan pergi. Bahkan tidak
pernah bersaksi di pengadilan melawan orang-orang itu,
menuntut pengusiran mereka. Si tukang tipu, Adik, tahu
betul apa yang ia lakukan, menjual apartemen si pelukis
ke keluarga itu.
EESOKAN harinya, pelukis yang murung itu
Kmencoba menyelesaikan lukisannya. Dia mulai
melukis, meski hanya dalam kepalanya saja. Seperti
seorang komandan perang, dia mencari tempat yang
cocok, lalu dia mempertimbangkan lanskap sebuah
157
ludmilla Petrushevskaya
158
kisah seorang pelukis
bangunan tua yang kokoh, gereja kecil dengan kubah
perak, awan yang menyerupai bulu, tunas pohon, dan
pembeli berbadan montok yang meninggalkan toko roti
dengan sekantong baguette. Momen yang tetap, semuanya
begitu indah! Di dalam lukisan imajinasinya, warna-warna
bersinar dan berkilauan: langit berwarna biru kehijauan,
roti yang masih hangat dan tembok gereja memancarkan
warna keemasan, baju motif bunga pelanggan seperti
semak berwarna ungu, dan sentuhan akhir lukisan itu
adalah seorang penyihir perempuan mengenakan daster
flanel jingga, dengan langkah berat menuju toko roti.
Ketika menyelesaikan masterpiece-nya, si pelukis itu
menghirup napas dalam-dalam. Tangannya gemetar dan
matanya berkaca-kaca dengan air mata kebahagiaan. Jika
dunia bisa melihat lukisannya, mereka akan tertawa riang
gembira, pikirnya. Lantas, dia menyeberangi jalanan,
membayangkan berjalan menuju toko roti dan sebentaran
menghirup aroma baguette yang baru matang, kaya akan
aroma adonan roti, dan aroma samar-samar roti gulung
hangat. Tak pernah terpikir olehnya untuk mengemis
atau mencari remah-remah di lantai toko roti. Dia hanya
berdiri di sana sambil memejamkan mata, menikmati
kehangatan.
Selanjutnya, dia mengunjungi tempat rahasia di bawah
beranda rumah sebelah, tempat dia menyembunyikan
batu kapur, batu bata, dan arang. Dari sana, dia mencari
spot trotoar berpaving blok yang kosong. Biasanya, dia
bisa menemukan di salah satu sudut terpencil di taman
kota. Dia meringkuk dengan kaki dan lututnya sampai hari
gelap, melukis burung gereja abu-abu dan kucing putih.
Goresan merah batu bata lamat-lamat mengisi paving blok
trotoar.
Hari itu, si pelukis menggambar lima ekor anjing di
samping kandang yang di dalamnya terdapat kucing,
159
ludmilla Petrushevskaya
sebuah grand piano yang digambar dari atas, dan
perempuan muda yang galak. Terkadang, pejalan kaki
yang simpatik memberinya uang dan begitulah cara si
pelukis hidup. Hari ini, lukisannya menarik perhatian
kerumunan kecil orang lewat: anak-anak dengan es
krim, nenek mereka yang membawa baju ekstra dan
makanan ringan, pensiunan yang mengenakan setelan
rapi, dan beberapa orang dengan potongan rambut penuh
kesedihan serta tak membawa apa-apa. Orang-orang
itu tak pernah memberikan apa pun untuk lukisannya:
lukisan perempuan setengah baya yang—dengan tatapan
sepintas lalu bisa diketahui bahwa dia perempuan lajang—
bisa membuatmu terenyuh, kurus, dan tidak cocok untuk
lelaki mana pun.
Masyarakat umum tidak selamanya setuju dengan kreasi
si pelukis. Beberapa di antaranya tidak puas lantaran ia
hanya menggunakan tiga warna. “Ia bisa melakukan lebih
baik dari itu,” kata mereka. Namun, anak-anak menyukai
karyanya. Sebagian besar bahkan menginspirasi anak-
anak untuk menciptakan kreasinya sendiri, meski mereka
menggambar bukan di paving blok kosong, melainkan
langsung di karya si pelukis. Beberapa anak kecil menaburi
karyanya dengan pasir dan kotoran, lantas diguyur dengan
air hujan. Hasilnya, lukisan itu dipenuhi jejak kaki kecil. Si
pelukis tidak mengeluh. Ia tahu, itu juga bagian dari seni.
Tapi, nenek mereka keberatan. Mereka melompat dari
bangku, menarik cucu-cucu mereka, dan membawanya
pergi. Mereka menyesali kaki-kaki basah cucunya karena
bisa menyebabkan flu dan merusak celana. Anak-anak
menghilang, meninggalkan si pelukis sendirian di
sebidang kecil paving blok yang kotor. Pelukis itu berpikir,
sebuah karya yang dilukis dengan tanah, air, dan jejak kaki
kecil juga berhak masuk museum, baik museum geologi
atau seni postmodern.
160
kisah seorang pelukis
Hari ini, anak-anak mendekorasi anjingnya dengan
kaca mata dan tanduk, membasahi poppy hingga meleleh,
lalu menari dengan sepatu penuh lumpur di atas grand
piano. Tak ada satu pun yang memberikan uang. Namun,
nasib mujur datang padanya. Seorang pejalan kaki
mendekatinya, betul-betul bulat gemuk, mengenakan jaket
kulit, dan tangannya kotor. Dia mengunyah permen karet
lalu meludahkan dengan presisi yang pas, tepat di atas
lukisan anjing yang berjenggot dan berkaca mata.
“Kau punya kamar untuk malam ini?” tanyanya. “Aku
akan membayarmu. Banyak.”
“Uang tunai di muka,” ujar pelukis yang kelaparan. Ia
tahu bahwa ini hari Sabtu dan tukang kebersihan takkan
datang pagi-pagi. Untuk satu malam, ia bisa atur semua.
Laki-laki itu menyerahkan segepok uang dan minta
diantarkan ke tempat tidurnya. Saat mendekati gudang
di bawah tangga, laki-laki itu menerima kunci, menutup
pintu, rebahan di lantai, lalu suasana senyap. Tiba-tiba,
si pelukis mendengar suara siulan panjang, diikuti suara
tersedak, lalu desahan napas yang menyedihkan. Si pelukis
berpikir, penyewa kamarnya tercekik tanpa udara segar. Ia
pun mencoba membuka paksa pintu, namun tubuh renta
laki-laki itu memenuhi seluruh ruangan dan pintu tidak
mau terbuka. Ia berpikir untuk melepaskan engsel pintu,
tapi siulan, sedakan napas, dan rintihan berulang, lagi dan
lagi. Si pelukis menyadari bahwa penyewa itu benar-benar
tertidur.
Si pelukis meninggalkannya tertidur. Di toko roti, ia
membeli sepotong roti murah, dua roti gulung, dan satu
botol soda. Dengan perut kenyang, ia menjelajahi kota
seharian dan malamnya ia pulang ke gudang. Ia mencoba
membuka pintu, tapi gagal. Cekcok suara keras terdengar
dari dalam dan orang yang bercekcok tidak menyadari
ketukan pintu.
161
ludmilla Petrushevskaya
Malam hari, pintu terbuka sekali agar perempuan
gendut dengan dua karung plastik besar bisa masuk. Si
pelukis memaksa masuk setelah perempuan itu masuk,
namun beberapa tangan dan kaki mendorongnya keluar.
Ia merasa, di dalam gudang itu, setidaknya ada lima orang,
saling bertumpukan di karung dan tas hingga ke langit-
langit.
Si pelukis berbaring di luar pintu, menggigil kedinginan
dan sengsara. Di dalam, dua orang mendengkur, dua
orang lain berdebat, dan bayi menangis, bayi yang baru
saja dilahirkan.
Keesokan pagi, tiga perempuan bersaudara penuh
dengan karung masuk ke dalam. Mereka hanya melangkahi
pelukis miskin dan menghilang di dalam. Seketika itu,
ruang depan penuh dengan aroma roti dan bawang putih
bologna. Si pelukis mengetuk pintu dan meminta uang
lebih, namun yang ia terima adalah sebuah pukulan
telak. Tinjuan membabi buta bersarang di tubuhnya dan
akhirnya si pelukis dirundung keputusasaan. Pesan itu
kembali diperkuat dengan kedatangan tamu baru yang
memenuhi seluruh lobi dengan karung dan matras.
Anak-anak dengan lemah lembut menggeledah dompet
si pelukis, seseorang juga menarik mantelnya. Si penyewa
gudang pun nyaris bisa membebaskan diri dan melarikan
diri.
EMIKIAN kehidupan si pelukis. Kegiatan hariannya
Dmasih sama seperti hari-hari sebelumnya.
Pertama, mengkhayal melukis, lalu mengkhayal sarapan
pagi, dan sebagainya dan sebagainya. Kehidupan bahagia
orang miskin, kecuali orang miskin satu ini yang kelelahan
dan putus asa setelah semalaman tak bisa tidur, tidak bisa
merasakan kebahagiaan, dan memaki-maki diri sendiri
lantaran jatuh di lubang yang sama, kehilangan segalanya
162
kisah seorang pelukis
untuk kedua kali.
Gerimis tipis menyelubungi kota dalam kabut ungu
dan menyulap warna-warna ke dalam pelangi kecil. Objek-
objek terjauh pun terlihat misterius dan magis. Ia dulu suka
sekali melukis lanskap kota seperti itu. Pemandangan kota
seperti itu sudah cukup membuat selembar kertas penuh
dengan genangan cat air. Lalu, dengan satu goresan lebar,
ia bisa membuat langit jingga menutupi pemandangan
abu-abu. Ia tambahkan kubus-kubus rumah warna-warni
dan di latar depan, sebuah mobil berwarna hijau zamrud
yang tidak ada di alam. Lalu, pantulan warna-warna
murni dalam percikan cat air melengkapi lukisannya itu.
Namun, rasa lapar, basah, dan tak punya tempat tinggal
kembali menyeret dirinya ke jalanan kota, mengabaikan
udara berkabut dan dinding lembab berwarna-warni.
Tanpa tempat berlindung, ia tak bisa menghibur diri
dengan mimpi-mimpi indah yang biasa digunakan untuk
mendukungnya. Ia tak bisa membayangkan memenangkan
kasus melawan Adik atau menjual lukisannya ke museum-
163
ludmilla Petrushevskaya
museum di dunia…. Ia tak lagi bisa berpura-pura bahwa
hidupnya kini gagal total dan kosong, kecuali kesenian
yang menjadi perhatiannya.
Ia tersandung—ketika hendak beristirahat sejenak di
depan pintu dan menyelinap ke toko untuk menghangatkan
diri—dan akhirnya, ketika kekuatannya sudah habis, ketika
ia siap berbaring dan mati, instingnya justru menyuruhnya
untuk kembali ke apartemen tuanya. Ia berbaring di depan
pintu bekas apartemennya dan tertidur. Ia bangun pagi-
pagi benar ketika anjing mulai menggonggong dari dalam
apartemen dan bau lezat kopi panas mulai memenuhi
lorong. Seseorang sedang memainkan piano dengan indah.
Dengan mata yang masih agak berat, ia lihat di sampingnya
secangkir kopi panas dan kantong kertas penuh kentang
goreng, hot dog, garpu plastik, dan sepotong roti.
Oh, betapa senangnya pria miskin ini menikmati
pemberian-pemberian ini! Bagaimana ia menangisi—
sambil jongkok di dinding—lantaran hidupnya telah
hancur! Bagaimana ia berjanji pada dirinya sendiri, ia
akan mengatasi segalanya dan bertemu dengan keluarga
yang luar biasa ini lalu memberikan lukisannya, yang telah
ia gambar di paving blok, yang ia kerjakan bersama anak-
anak di taman!
Setelah pahlawan tunawisma kita menyelesaikan
sarapan, kunci pintu apartemen berderit. Si pelukis itu
buru-buru mengambil tas dan menuruni tangga untuk
menghindari bertemu dengan penyewa yang baik hati itu.
Ia merasa malu dengan pemberian mereka.
ALAM hari, setelah kelayapan di jalanan sepanjang
Mhari, pelukis miskin yang kedinginan itu berteduh
di bawah tenda. Hari masih hujan dan tak ada tempat yang
dituju. Ia takkan kembali ke pintu tuanya, yang kini anjing-
anjing selalu menggonggong dari dalam dan piano terus
164
kisah seorang pelukis
berdenting. Dan, ia pun tak mungkin kembali ke gudang
karena penyewa baru akan merampas mantelnya: satu-
satunya harta miliknya.
Ia duduk sambil memejamkan mata, berharap seseorang
menendangnya ke luar tenda; karena memang semua atap
kini telah menjadi milik seseorang. Akhirnya, seseorang
menepuk pundaknya. Pelukis miskin itu membuka mata
dan melihat pria asing, gendut dan penuh keriangan. Dia
memperkenalkan dirinya sebagai kawan lama dari kampus
seni yang kini menyerah melukis karena sudah menjadi
orang kaya. Si pelukis tak mengenalinya, tapi laki-laki itu
mengenali namanya.
“Igor!” ujarnya. “Kau ingin peralatan lamaku? Aku
sudah lupa cara melukis dan aku tidak ingin mengotori
baju baruku. Kau terlihat membutuhkan bantuan.”
“Peralatan? Cat dan kuas?”
“Tentu, Igor. Dan yang lainnya juga.”
“Kanvas juga?”
“Tentu saja. Dan masih banyak lagi. Sekarang ikut
denganku.”
Si pelukis senang karena ada seseorang
mengundangnya ke suatu tempat. Siapa tahu, tempatnya
hangat dan kering. Dan, mungkin saja teman sekelas yang
ia lupa namanya menawarkan sesuatu untuk dimakan dan
bahkan menawarkan tempat untuk bermalam. Apa yang
bisa dia ambil diriku? Pelukis itu bergumam dalam hati
dengan perasaan sedih. Lalu, tiba-tiba ia merasa malu
untuk pergi bersama orang asing yang memintanya itu.
Dan, ia menjawab ragu-ragu, “Aku sungguh tidak tahu. Aku
sedang buru-buru.”
“Buru-buru? Memang mau ke mana?” tanya kawan
lama dengan nada agak marah. Bahkan, bahasa tubuhnya
menunjukkan kemarahan. “Kau tidak punya tempat untuk
dituju! Kau tidak ingat denganku? Aku Izvosia! Aku sering
165
ludmilla Petrushevskaya
menodong uang makan siangmu di sekolah!” Seketika, si
pelukis ingat Izvosia, si berengsek yang suka mengambil
uang, penghapus, dan krayon miliknya.
“Ya, benar, memang tidak ada tempat kan? Aku pergi
ke tempatmu, mencarimu. Adik telah menipumu, iya kan?
Dan di bawah tangga, di gudangmu, di sana sudah sesak.”
Sungguh dingin, malam yang basah, namun ia merasakan
gelombang panas dari mulut Izvosia.
“Maaf, aku sedang buru-buru,” bisik si pelukis.
Wajah Izvosia seakan meleleh dalam kabut. Sekarang
saatnya pergi, pikir si pelukis. Aku pasti sudah kehilangan
akal sehatku karena kelaparan.
“Tentu, silakan tinggal di sini,” teriak Izvosia, seolah-olah
dari jarak yang jauh. “Semua orang menggali kuburnya
sendiri!” Dan dia pun menghilang dalam kegelapan senja.
Aku pasti sudah kehilangan akal sehat, si pelukis
menegaskan dalam hati. Ia berdiri dan menatap gedung di
belakangnya. Jendela dan pintu telah hilang. Di lobi, pohon
kecil tumbuh di antara celah lantai yang rusak. Pelukis
miskin itu menemukan sofa lusuh di sudut, dan ia pun
rebah di atas sofa. Untuk pertama kalinya ia tertidur di
tempat yang empuk.
I pagi hari, tidurnya terganggu oleh suara bising
Dyang luar biasa. Suara mesin buldoser menderu-
deru dari luar: siap menghancurkan bangunan. Atap
bangunan mulai rontok dan seketika si pelukis pun lari
keluar pintu. Ia menggigil karena pagi begitu dingin
dan mulai pergi. Tapi, salah satu operator buldoser
menghentikannya, dan buru-buru menanyakan sesuatu
padanya.
“Permisi, apakah ini punya Anda?” tanya si petugas
sambil menunjukkan kanvas kosong. “Ini dari dalam
gedung, dari kamar Anda.” Si pelukis mengangkat bahu
166
kisah seorang pelukis
dan menjawab jujur, “Bukan, itu bukan punyaku, dan
kamar ini juga bukan punyaku.” Ia pun terus berjalan.
Namun, ia tak bisa menahan diri. Ia berbalik. Ia lihat
kanvas putih yang kesepian dan sebuah easel yang terlipat
bersandar di dinding beton yang hendak dirobohkan.
Sebelum ia kehilangan keberanian, ia pun berlari dan
mengambil harta karun itu. Ia ingat, ia harus menahan
lapar seharian di sekolah karena si berengsek Izvosia
dan bersumpah tak akan mengambil barang orang lain,
namun dalam kasus ini, ia menyelamatkan barang dari
kehancuran. Ia pun menyeret easel dan menggamit kanvas
di lengannya, ia memutuskan mencari benda-benda yang
telah ditinggalkan pemiliknya.
Namun, sebelum ia pergi, seorang nenek-nenek yang
berparas ceria berpapasan dengannya. Si pelukis pun
menanyakan padanya, apakah dia tahu siapa yang dulu
tinggal di rumah yang akan dibongkar itu.
“Seorang pelukis,” jawab nenek-nenek itu. “Dia sudah
terikat kontrak untuk melukis wajah teman sekelasnya,
namun sayangnya, sebelum lukisannya selesai, ia keburu
meninggal. Tak ada ahli waris. Oh, nasib malang selalu
mengikutinya. Gangster menyusup masuk, menyogok
penjaga, dan menjarah semuanya. Orang-orang miskin
tidak mendapatkan apa-apa, seperti biasanya.”
“Ambillah ini,” si pelukis menawarkan temuannya.
“Nah,” nenek-nenek itu menjawab dengan nada
mengejek. “Aku sudah mengambil sampah-sampah di
sana: kuas, cat, dan dua gulungan kanvas. Di pasar, tak
ada yang memberi satu sen pun dari barang-barang itu.
Lalu, aku membuang barang-barang itu. Pelukis-pelukis
sudah tak menggunakan kuas. Mereka menggunakan
cat semprot atau sejenisnya. Dan, kudengar, mereka
menggunakan tabung yang berisi cat dan lalu mereka
tinggal menyemprotkan langsung ke kanvas. Kau percaya
167
ludmilla Petrushevskaya
dengan itu?”
Nenek-nenek aneh itu pun pergi, seperti menari dengan
gerakan cepat dan menghilang di sekitar sudut.
Si pelukis segera berlari menuju tempat favoritnya,
di toko roti. Baguettes keemasan bergelayutan di tangan
orang-orang dan tas belanjaan. Hujan sudah berhenti dan
langit hijau kelabu kini sudah cerah, gedung berwarna
merah muda dan kuning kini telah dipenuhi orang-
orang, di sekitar gereja kecil di jalanan sempit, dan
seorang penyihir perempuan mengenakan daster oranye
terpincang-pincang menuju toko roti.
Si pelukis segera menyiapkan easel dan mulai melukis
dengan cepat sehingga goresannya terlihat kabur. Kuas
menari di tangannya, dan seketika itu pula, kanvas mulai
168
kisah seorang pelukis
bersinar dan bergemerlapan. Pejalan kaki yang lewat
berhenti, takjub, lalu berkomentar ramah: “Langitnya
salah”, “Rotinya salah”, dan lain sebagainya. Si pelukis
sudah pernah mendengar komentar itu sebelumnya
dan ia mengabaikan mereka. Adik si tukang tipu, secara
mengejutkan, bertingkah laku lain, berbeda ketika mereka
bertemu pertama kali. Dia mendekati si pelukis dan
memuji berlebihan sketsa yang baru saja ia mulai. Tentu
saja, si pelukis merasa tersanjung, akhirnya ada juga yang
memuji bakatnya. Ia pun mengundang Adik ke rumahnya
untuk melihat lukisan lain. Dengan penuh pujian, Adik
pun menawarkan bantuan kepada pelukis berbakat untuk
menjual apartemennya dan mencarikan yang lebih murah.
Pada hari yang sama, si pelukis memberikan kuasa penuh
169
ludmilla Petrushevskaya
atas semua hartanya. Nah, kita tahu bagaimana ini akan
berakhir.
Ia segera menyelesaikan lukisannya. Tiba-tiba, ia
berpikir untuk memeriksa bersama pengacaranya gugatan
melawan Adik. Ia pun segera bergegas sambil membawa
lukisannya dan setelah beberapa langkah, ia berbalik
dan mengucapkan selamat tinggal pada spot favoritnya.
Namun, entah kenapa, tempat itu menghilang. Kabut tebal
turun ke persimpangan jalan dan membuat tempat itu tak
terlihat. Lucu, cuaca berubah begitu cepat, pikir si pelukis
dalam lamunan, dan terus berjalan.
Yang mengejutkan, pengacara yang sedang berada di
meja kerja dan menyambutnya memberi kabar yang tak
masuk akal. “Anda menang. Dan, Adik si tukang tipu akan
diusir dari apartemen hari ini. Anda berutang 10% dari
nilainya. Pergilah sekarang. Segeralah. Setiap hari, utang
Anda akan bertambah.”
Si pelukis mulai berjalan menuju apartemennya, lalu
berhenti di tengah jalan. Bukan Adik yang akan diusir dari
170
kisah seorang pelukis
tempat itu, melainkan keluarga itu, perempuan dan orang
tuanya, lima anjingnya dan kucing. Si pelukis pun kembali
ke kantor pengacaranya, namun si pengacara sudah pergi.
Jam kerja sudah habis.
Keributan yang ia temui di gedung itu sungguh
memilukan. Di lantai atas, anjing-anjing menggonggong,
pintu apartemen terbuka lebar dan ia bisa lihat si penyewa
sedang mengepak barang. Si pelukis melihat gadis itu
memasukkan kucing ke dalam kandang. “Dengar,” kata si
pelukis, “kau tak harus pergi. Kau bisa tinggal!”
“Apa sebenarnya maksudmu?”
“Maksudku, aku adalah pemilik sebenarnya apartemen
ini, tapi kau bisa terus tinggal di sini.”
“Oh ya, ya,” jawab gadis itu acuh tak acuh. “Jadi kau, orang
yang merampok Adikku yang malang? Mengambil semua
hartanya, dan mengirimkannya ke penjara, lalu merasa
kasihan padanya dan memberinya lagi apartemennya? Itu
kau?”
“Adik itu penipu!” seru si pelukis yang kebingungan.
“Adik bukan penjahat,” seru gadis itu, dingin, dan
akhirnya kucing itu bisa masuk di kandang. “Adik adalah
suamiku.” Dia menjawab tanpa kepedihan atau kebanggaan,
tapi dengan kekuatan tertentu, seolah-olah pernikahannya
sedang diganggu. Gadis itu meletakkan kandang kucing di
luar dan makin jelas, bahwa dia pincang.
“Biarkan aku membantumu,” kata si pelukis. “Kakimu
sakit.”
“Kakiku tidak sakit lagi.”
“Ya, aku bisa melihatnya,” kata si pelukis, benar-benar
marah sekarang.
“Tidak, ini tidak sakit!” dan dia berusaha jalan seperti
orang normal. Gadis itu membawa kandang kucing ke
lantai bawah.
Sementara itu, para kuli, dengan tali, menyeret keluar
171
ludmilla Petrushevskaya
grand piano. Si pelukis memutuskan untuk membantu
mengepak barang-barang keluarga itu. Ia mengikat buku-
buku ketika ayah gadis itu mengatakan sesuatu kepada
para kuli. Mereka segera meninggalkan grand piano, rak
buku, dan meja di tengah ruangan.
Di luar, truk sewa untuk pindahan pergi. Melalui
jendela, si pelukis bisa melihat seluruh keluarga duduk di
atas koper mereka. Kandang kucing berada di pangkuan si
gadis, anjing-anjing mengelilingi si gadis layaknya seorang
penggemar. Keluarga itu mungkin saja sedang menunggu
Adik, yang barangkali tidak akan datang. Pelukis melihat si
gadis membongkar mangkuk dan menuangkan makanan
kucing, lalu membiarkan kucing keluar dari kandangnya.
Musim semi tahun ini sungguh mengerikan. Hujan
sering datang dan sekarang kota diselimuti awan mendung
gelap yang siap meledak kapan saja. Si pelukis takut ke
bawah untuk menawarkan bantuan. Bahkan, ia takut
menunjukkan wajahnya di jendela. Ia merasa bersalah,
namun tangannya telah terikat. Adik pasti telah dirampok
dan lalu dia meninggalkan istrinya. Dia mungkin menjual
apartemen istrinya dengan janji akan menemukan yang
lebih baik dan, saat ini, mereka dipindahkan ke tempat
kecil milik si pelukis. Namun, istri Adik yang menyedihkan
itu tidak ingin mendengar sepatah kata yang menentang
Adonis-nya. Si pelukis merendahkan nada bicaranya ketika
ia tiba-tiba mendengar suara Adik di belakangnya.
“Aku ambil kuncinya,” kata Adik, “karena aku sudah
mengajukan banding dan untuk sementara, tempat ini
masih jadi milikku. Aku punya dokumen yang membuktikan
bahwa kau berutang padaku dengan jumlah besar. Dan,
apartemen ini adalah agunannya. Aku masih punya
kekuatan hukum. Dan, jika kau tidak keluar, aku bisa saja
memanggil tukang pukul. Hanya dengan dua pukulan, kau
akan terbaring kaku di peti mati. Tapi kau, kau tidak akan
172
kisah seorang pelukis
dikubur. Kau akan menjadi makanan anjing atau ikan di
kolam. Mengerti?”
“Istrimu bilang, kau telah jual apartemennya?”
“Istri yang mana?”
“Yang sedang bersama anjing. Yang kakinya sakit.”
“Maksudmu si Pincang Vera?” Adik tertawa.
“Aku punya banyak istri seperti dia. Enyahlah dari sini.
Aku sudah jual apartemen ini ke beberapa orang Rusia.”
Di luar, dari tangga, si pelukis bisa mendengar suara
yang familiar. Meringkik, berkelahi, dan tangisan seorang
anak.
“Tunggu sebentar. Orang-orang Rusia ini, apakah
mereka yang membayarmu?”
“Apa pedulimu?”
“Aku akan memberitahumu, uang mereka palsu, paham?
Segera setelah kau menggunakannya, kau akan ditangkap.”
Si pelukis menundukkan kepalanya. “Dengar, Adik, aku
telah menyewakan kamarku pada mereka, dan mereka
membayar di muka, tunai. Ketika aku pergi membeli roti
dengan uang itu, kasir tiba-tiba berteriak. Aku hampir saja
tidak lolos.”
Adik melirik saku bajunya, yang menonjol seperti
balkon rumah. “Aku paham,” katanya. “Kau tetap di sini,
oke? Jangan biarkan mereka masuk. Tahan mereka. Aku
tidak di sini, kau mengerti?”
“Sini kuncinya, aku akan mengunci pintu.” Dia pun
memberikan kunci itu.
Adik, pucat dan berkeringat, mendengarkan suara
gedoran pintu dan teriakan. Dia pun berbisik, ketakutan.
“Apa yang harus kulakukan?”
“Aku akan menjaga apartemen, tapi kau harus segera
memindahkan Vera dan keluarganya atau mereka akan
segera menemukanmu lewat Vera.”
“Tapi, bagaimana aku keluar?”
173
ludmilla Petrushevskaya
“Ada tangga darurat di atas. Dari sana kamu bisa ke
atap gedung.”
Adik memanjat keluar jendela. Saat dia keluar, dia
berkata, “Aku sudah memasang gerendel di jendela.
Kuncilah setelah aku pergi. Atau mereka akan memanjat
jendela itu.”
Pintu digedor-gedor oleh orang Rusia itu, namun Adik
juga sudah memasang gembok seri bernomor.
Si pelukis mengunci jendela dan menghalangi jendela
itu dengan easel yang ia bawa ke apartemen. Karena ia tidak
memiliki kanvas lain, ia pun mulai melukis, menimpali
gambar yang ia bikin di toko roti. Segera, ia menggambar
sketsa gadis, anjing-anjingnya, dan kedua orang tuanya,
lalu ia membuka jendela dan memeriksa kondisi di luar.
Trotoar di depan gedung itu kosong.
I pelukis tetap bertahan di apartemen. Ia makan
Soatmeal dan buckwheat yang ada di dapur dan
menguping keriuhan di tangga. Keluarga migran dengan
jumlah yang banyak tampaknya berkemah di luar,
menduduki setiap langkah kaki. Ia mendengar nyanyian,
hentakan kaki-kaki kecil yang seperti sekumpulan kuda,
suara ribut dari penyewa di bawah yang komplain. Dari
suara pekikan, tandu tampaknya hanya digunakan oleh si
kepala keluarga. Sementara yang lain, terus mengarahkan
kerumunan ke arah tertentu: “Roma di elevator! Di bantal
itu! Bicara padanya!” Si pelukis bisa membayangkan
dengan gamblang para penyewa berada di tangga, duduk
dan tidur di tangga, seperti layaknya di teater, Roma
yang mengenakan jaket kulit duduk di atas bantal seperti
seorang solois di sebuah panggung.
Namun, tak ada yang mengganggu si pelukis. Dia
disibukkan dengan lukisannya. Dia juga merasa bahwa
keluarga Vera seperti keluarganya sendiri. Sepanjang hari,
174
kisah seorang pelukis
dia mengutak-atik gambar potret. Dia mengubah ekspresi
si gadis. Terkadang, gadis dalam lukisannya menatapnya
dengan lembut, kadang pula dengan tatapan ironis. Dia
memberikan anjing buta satu mata, kandang kucing
menjadi lebih luas, dan seterusnya.
Akhirnya, pagi pun tiba ketika dia memasak sekepal
beras terakhir dan membuka makanan kucing terakhir,
yang samar-samar tercium bau daging. Lalu, di jendela, di
balik jeruji besi, muka Adik muncul. Dia menunggu dengan
sabar di pintu darurat, mengetuk-ngetuk gelas seperti
merpati. Si pelukis mendekati jendela dan menggelengkan
kepalanya.
“Tolong, biarkan saya masuk!”
“Jangan tanya.”
“Lihat sendiri kondisimu,” Adik memohon.
“Kau seharusnya menikahi Vera.”
“Apa kau sudah kehilangan akal, teman?”
“Lihat, aku punya cukup makanan untuk tiga tahun.
Aku punya air, gas, dan mesin pemanas, serta apartemen
yang memang punyaku,” ujar si pelukis dengan suara
meyakinkan.
“Jika aku menikahinya, apa kau mau memberikan
padaku?” tanya Adik.
“Tentu.”
“Baiklah, aku akan menikahinya besok. Di mana gadis
pincang itu?”
“Syaratnya, tempat ini akan menjadi miliknya dan
miliknya seorang. Kau tidak berhak menjualnya lagi.”
Adik pun menghilang sekejap dari tangga darurat.
Dari percakapan itu, si pelukis cemas jika Vera dan
orang tuanya tidak tinggal bersama Adik dan mereka akan
hilang dalam tujuan yang tak tentu.
Melupakan semuanya, dia pun bergegas keluar pintu
untuk mencari mereka, namun sebelum ia mengunci
175
ludmilla Petrushevskaya
pintu, para penghuni tangga melewati si pelukis dan masuk
ke apartemen seperti air bah yang menjebol bendungan.
Mereka memenuhi lorong hanya dalam satu semburan
lalu pecah menjadi sungai-sungai kecil yang memenuhi
ruangan. Ada karung, tas, kasur, anak-anak, samovar,
bantal. Para penyerbu tidak seperti sedang merayakan
sesuatu, justru lebih tepatnya mereka ribut, adu mulut, dan
bertengkar memperebutkan ruangan. Di ruang belakang,
grand piano seakan meledak: seseorang pasti melompat
ke dalam piano itu dan seseorang lain menekan-nekan
tuts sembarangan. Roma yang bongsor, yang mengenakan
celana jins, sepatu Nike putih, dan jaket kulit, memeluk
bantal dengan bulu menempel di pipinya, menutup
barisan. Dia melihat ke sana kemari dan akhirnya berjalan
ke kamar mandi yang entah mengapa masih kosong.
Hanya satu menit sebelumnya, tempat itu cuma hunian
kosong dan penuh rasa lapar. Sekarang, banyak orang
tidur di mana-mana, anak-anak memanjat perabotan yang
ringkih, para perempuan adu mulut di dapur, piring-piring
dan panci berdentangan….
“Kau lapar?” tanya perempuan yang berbalut berlapis-
lapis selendang dengan suara canggung kepada si pelukis
miskin.
“Tidak, terima kasih,” jawab si pelukis itu lalu berjalan
kembali ke tempat easelnya. Anak-anak nakal sudah
mengerubungi easel itu. Salah satu dari mereka juga
sudah tahu cara membuka cat dan menuangkan isinya ke
seluruh kanvas. Lukisannya ditimpa dengan cat merah tua
tebal, seperti darah.
Lukisan potret keluarga Vera yang berharga telah
dihancurkan.
Si pelukis menghela napas dan mulai melukis kembali
di atas lukisannya yang telah dirusak. Di balik latar merah
yang memekakkan mata itu terdapat hidup anak-anak
176
kisah seorang pelukis
yang penuh dengan rasa ingin tahu, orang-orang tua yang
kusam dan setengah tertutup, perempuan besar dan licik.
Lalu, si pelukis kembali menggambar: sebuah karung, kasur
bulu, rok motif bunga dan syal, poci dan panci, samovar
merah, teh yang sudah panas di dalam cangkir porselen
Cina berwarna merah kirmizi, taplak meja berwarna putih
yang menutupi lantai, roti bagel berwarna emas, sepiring
permen raspberi, irisan roti hitam, dan teko teh berukuran
besar.
Entah bagaimana, sebuah kanvas kecil cukup
menggambarkan seluruh kehidupan sederhana keluarga
nomaden itu. “Aku juga! Aku juga!” anak-anak berteriak
dan si pelukis dengan senang hati melukis mereka, satu
per satu. Dia hampir lupa dengan waktu. Ketika lukisannya
hampir rampung, dia mendengar suara isakan lembut. Dia
melihat sekitar dan menemukan ruangan hampir kosong:
sendiri di pojokan duduk gadis kecil menggendong bayi. Si
pelukis seakan mengerti gadis itu ingin ikut serta dalam
lukisannya dan si pelukis menemukan spot menarik
untuk si gadis. Dia mulai menggambar roknya, rosarionya,
tangisannya, lengan kecil yang memeluk bayu, lalu pipi
merah muda bayi dan bulu matanya yang berwarna hitam,
serta kesuraman di balik kepalanya yang seperti boneka
itu.
Ketika si pelukis mulai menggoreskan potret keduanya
di kanvas, apartemennya seakan-akan hening. Dia
menggoreskan kuasnya dan melihat sekeliling. Gadis kecil
dan bayi tiba-tiba menghilang. Dia memerhatikan sebuah
samovar yang terbungkus syal, dia pun terdorong untuk
menambahkan samovar itu ke dalam lukisannya.
Sekarang, dia bisa menghela napas. Dia alihkan
pandangan matanya dari lukisan itu dan samovar itu
pun juga menghilang. Keluarga itu pasti mengambilnya
lagi. Mengapa mereka pergi? Mengapa mereka takut
177
ludmilla Petrushevskaya
dilukis? Si pelukis lalu mengunci pintu, untuk jaga-jaga,
dan mendengar suara dengkuran dari kamar mandi.
Roma yang agung tertidur di bak mandi, di atas tumpukan
kasur. “Bagaimana aku bisa lupa dengan gajah di toko
Cina!” si pelukis bergumam sendiri dan ia pun buru-
buru memasukkan Roma ke dalam lukisan keluarga itu.
Dia menggambarkannya berada di atas semua karung
yang ditumpuk di atas grand piano. Lukisan itu dikerjakan
begitu cepat: hanya sepuluh goresan dan Roma sudah
melayang di atas anggota klannya. Si pelukis menengok
kamar mandi untuk mengecek kemiripan lukisannya.
Singgasana Roma kosong. Pintu masih terkunci. Tak ada
seorang pun meninggalkan apartemen. Jendela-jendela
pun masih tertutup rapat.
Si pelukis roboh di lantai, benar-benar ketakutan.
Apakah semua anggota gang itu masuk ke lukisan? Dan,
jika benar, bagaimana dengan orang-orang lainnya—
pembeli di toko roti, perempuan penyihir dengan daster
oranye? Bagaimana dengan keluarga dan anjingnya?
Kanvas dan cat-cat itu, apakah kesemuanya milik Izvosia,
teman sekelasnya dulu? Objek yang sederhana bisa saja
menjadi alat penghancur jika digunakan oleh iblis, namun
ketika Anda berurusan dengan sesuatu yang sekompleks
seni… Seniman, pencipta, bisa saja mati seperti anjing
liar, dalam kemiskinan dan kehinaan serta sakit jiwa, dan
sekalipun dia bisa menghentikan waktu.
Tiba-tiba, dia menatap lukisannya dan kembali menatap
keluarga migran, yang mungkin saja dia bunuh.
ENGAMBIL kanvas, easel, dan lukisan, si pelukis
Mitu bergegas menuju ke persimpangan favoritnya,
toko roti.
Sebuah konstruksi bangunan yang besar telah
menggantikan toko itu. Sebuah lubang fondasi yang besar,
178
kisah seorang pelukis
179
ludmilla Petrushevskaya
penuh dengan tanah dan eskavator, telah menelan gang
abad ke-19. Gemetaran melihat kuburan toko favoritnya,
si pelukis menyadari apa sebenarnya pemberian Izvosia.
Yang pernah terlukis dalam kanvas tak akan pernah
kembali. Dunia akan segera berakhir. Siapa yang tahu
jumlah kanvas yang sudah dibagi-bagikan kawan lamanya
itu ke toko seni dan pinggir jalan?
Si pelukis ingin menemui Izvosia, bikin perjanjian
dengannya, membujuknya untuk mengambil seluruh
“perlengkapan” dan melepas semua orang yang
terperangkap di dalam lukisan. Dia ingin menawarkan
apartemennya ke Ivzosia. Tapi, dia takkan bisa membayar
pengacara. Atau, Izvosia bisa mengambil nyawa si
pelukis—apa yang dia inginkan lagi jika Vera dan seluruh
keluarganya sudah meninggal?
Akhirnya, si pelukis sudah sampai di tempat terkutuk.
(Ingatannya sungguh sempurna.) Di sanalah jalan itu
berujung, di sana pula gedung kosong dan dinding beton
berdiri.
Sekarang, bangunan itu sudah tergantikan dengan
mansion baru berwarna merah mawar, berlantai lima,
dengan kubah, susunan balkon, beratap merah, dan
dikelilingi dinding tebal berkawat duri. Si pelukis menekan
bel yang menempel di dinding, tapi satu-satunya yang
menjawab bel itu adalah gonggongan anjing dari dalam
yang menyedihkan, seakan-akan mereka disiksa dengan
setruman. Mansion tetap sunyi.
Di luar kebiasaannya, si pelukis meraih easel,
mengeset easel itu, menekan beberapa cat, meletakkan
kanvas terkutuk itu, dan memulai melukis di atas lukisan
sebelumnya.
Dia dengan gesit menggoreskan cat mengikuti kontur
mansion dan dinding, serta membubuhkan bayangan
biru dan secercah kehangatan cahaya, membayangkan
180
kisah seorang pelukis
daun hijau pertama, geraian tirai di jendela-jendela. Dia
tak melewatkan apa pun kecuali gagak yang bertengger
di atap mansion. Dia tak ingin membunuh burung tanpa
dosa itu. Di salah satu jendela, sebuah tirai tergerai keluar
jendela dan muka pucat dengan mulut sedikit terbuka tiba-
tiba muncul sesaat. Si pelukis segera melukis lingkaran
pucat dan koma hitam lalu wajah itu seketika menghilang.
Di jendela lain, sesuatu berwarna biru dan mengkilat—
barangkali pistol—namun si pelukis menggoreskan dengan
tepat lalu bercak hitam itu lenyap.
Dia melukis dengan seksama dan mansion itu pelan-
pelan menghilang sendiri, meleleh seperti gula pasir di
dalam teh panas. Menara itu berubah transparan—dia bisa
melihat jelas tiang-tiang penyangganya—dan burung gagak
itu bergidik berada di atas atap yang mulai lenyap. Lalu,
dinding yang dia lukis dengan hati-hati menghilang dan
si pelukis sekilas melihat seseorang gemuk mengenakan
mantel brokat, memegangi kedua anjingnya. Dua detik
berikutnya, anjing-anjing itu menggerutu di dalam kanvas.
Tentu saja, si pelukis menghindari melukis langit, hutan
di ujung horizon, rumah-rumah tetangga, atau semacam
domba kecil di puncak bukit.
“Kau!” seru seseorang tanpa kepala yang masih
mengenakan mantel brokat dan sepatu beludru. “Igor,
temanku, mari kita bikin kesepakatan.”
“Tunggu sebentar.” Si pelukis dengan cepat
menggambar seseorang tanpa kepala itu dan kini suara
orang itu melolong, tanpa tubuh, dari ketiadaan.
“Apa sebenarnya tujuanmu? Tanpa tubuh, aku tidak bisa
membantumu. Aku cuma bisa menghancurkanmu. Hapus
diriku dalam lukisan itu, lalu aku bisa melakukan apa pun
yang kamu mau.”
“Oke. Jika kau mengeluarkan semua orang, aku akan
melepaskanmu. Dan aku ingin mereka hadir di sini,
181
ludmilla Petrushevskaya
sekarang juga.”
“Mari kita berbicara,” kata suara tanpa tubuh itu. “Aku
tahu kau adalah orang yang jujur. Kau selalu memberikan
uang jajanmu tanpa mendumel. Sekarang, aku akan
mengembalikan semuanya kepadamu. Ini yang harus
kamu rapalkan, ‘ciao, ciao, bambino.’ Selamat tinggal,
sayang. Seseorang yang kau lukis terakhir, akan muncul
lebih dulu. Sisanya, kau akan menemukan di tempat
terakhir kau meninggalkan mereka. Sungguh, aku berani
bersumpah demi kehormatan saya.”
“Ciao, ciao, bambino,” si pelukis merapalkan mantra
itu dengan cepat. Dan tiba-tiba, kanvas menjadi kosong.
Pertama, mansion itu muncul kembali, lalu gerombolan
orang yang ceria dan dekil yang dipimpin Roma, yang
langsung bermunculan di dinding beton. Bersama mereka
muncul pula samovar, kasur, dan anak-anak. Mereka
clingak-clinguk di jendela, lalu di atap. Berteriak, “Aku akan
bunuh bajingan-bajingan itu!” Pemilik mansion yang telah
dibangkitkan itu, yang mengenakan mantel brokat merah,
lari menuju gerbang untuk melepaskan anjing yang baru
saja dihidupkan kembali, namun si pelukis dengan cepat
memasukkan orang itu dan anjing-anjingnya ke dalam
kanvas.
Di jendela mansion, sudah ada bantal dan seprai
menggantung. Asap membumbung dari perapian, anak-
anak menjerit-jerit di lapangan, merusak semak-semak
ungu. Keluarga itu sudah kembali ke kehidupan normal.
Suara tanpa tubuh itu memohon dengan sedih, “Ayo,
rapalkan sekali lagi! Katakan, ‘Ciao, ciao bambino,’ kalau
tidak, aku akan berbicara padamu selamanya.”
“Lakukan saja! Aku akan membeli penyumbat telinga,”
jawab si pelukis. Dia melemparkan peralatan lukis itu ke
dinding dan pulang ke rumah, menuju ke tempat suara
robekan kanvas dan teriakan kemenangan anak-anak
182
kisah seorang pelukis
melempar-lempar easel kayu.
ETENGAH jam kemudian, dia melihat pemandangan
Syang biasanya: di trotoar depan apartemennya,
kucing dan anjing-anjing makan dari mangkuk, dan
orang-orang masih duduk di koper mereka, menunggu. Si
pelukis mendekati mereka, kunci di tangan. “Apartemen ini
gratis,” katanya. “Kau bisa masuk kembali.” Dia mengambil
sebundel buku-buku. Orang tua Vera mengambil koper,
Vera menarik anjing-anjingnya masuk ke elevator dan
semua orang pergi ke lantai atas.
Setelah itu, tampaknya, segala sesuatu berjalan lancar
bagi si pelukis. Dia akhirnya menikahi Vera, setelah ia
berbicara padanya bahwa dia hanya melukis komposisi
abstrak yang tidak akan menghasilkan banyak uang. Dia
juga mengingatkan Vera jika dari waktu ke waktu dia
akan mendengar suara umpatan yang menghujat dirinya.
Jangan khawatir, itu hanya permainan kata-kata saja. “Itu
karena kau orang lucu,” Vera berkata padanya. “Selalu
seperti itu dan selamanya akan seperti itu.”
183
184
Hikayat
La Florida
Laila Lalami
185
Laila Lalami lahir di Rabat Maroko pada 1968. Ia adalah pengarang Maroko-
Amerika. Setelah lulus sekolah menengah, ia memutuskan pindah ke Inggris
dan mendapatkan gelar Master di bidang Linguistik. Lalu, ia melanjutkan studi
Linguistik hingga meraih gelar doktor. Novel terbarunya, The Moor’s Account
(2014), mendapatkan sambutan baik dari kritikus sastra. Novel itu juga masuk
finalis Putlizer Prize pada 2014. “Hikayat La Florida” dalam buku ini merupakan
bagian pertama dari novel he Moor’s Account.
186
Laila Lalami
hikayat la florida
AHUN 934 Hijriah, 30 tahun sudah masa hidupku,
5 tahun aku dalam perbudakan, dan aku sekarang
Tberada di ujung dunia yang asing. Aku berada
di belakang Senor Dorantes, di daerah yang subur. Ia
dan beberapa orang Castilla seperti dirinya menyebut
daerah itu La Florida. Aku tidak yakin orang sebangsaku
akan menyebut daerah itu apa. Ketika aku meninggalkan
Azemmur, berita tentang tanah ini tidak selalu membetot
perhatian tukang teriak penyebar berita di kotaku. Mereka
lebih suka meneriakkan berita kelaparan, gempa bumi
terbaru, atau pemberontakan di selatan suku Barber. Tapi,
aku bisa membayangkan, dengan konvensi sederhana
penamaan suku-suku kami, orang sebangsaku akan
menamainya Tanah Suku Indian. Suku Indian tentu
saja punya nama sendiri untuk tanah itu, baik Senor
Dorantes maupun orang-orang dalam ekspedisi itu tak
mengetahuinya.
187
laila lalami
Senor Dorantes pernah mengatakan padaku, La Florida
adalah pulau yang sangat besar, bahkan lebih besar dari
Castilla, dan bisa saja seluas dari garis pantai tempat
kita bersandar hingga ke ujung Samudra Kedamaian.
Dari satu samudra ke samudra lain, ya, begitulah ia
menggambarkannya. Semua tanah ini, ujarnya, akan
dikuasai oleh Panfilo de Narvaez, komandan armada
kapal ekspedisi ini. Menurutku ini janggal, atau setidaknya
aneh, seorang Raja Spanyol akan mengizinkan salah satu
penggawanya memerintah di tempat yang lebih luas dari
tanah miliknya, tapi tentu saja aku akan menyimpan unek-
unekku dalam hati.
Kami melanjutkan ekspedisi ke utara, menuju Kerajaan
Apalache. Senor Narvaez mendengar kabar ini dari salah
satu orang Indian yang ditangkap selepas kami sampai
di garis pantai La Florida. Meski aku tidak menginginkan
datang ke tanah ini, setidaknya aku lega sekarang. Akhirnya
aku bisa menginjakkan kaki di daratan. Karena selama
perjalanan melintasi Samudra Kabut dan Kegelapan, aku
harus berjibaku dengan penderitaan yang memang sudah
diperkirakan: roti basi, air keruh, dan jamban busuk.
Tempat yang sempit membuat penumpang dan awak kapal
mudah marah dan hampir setiap hari perkelahian meletus.
Tapi, yang terburuk adalah bau busuk yang bercampur
aduk seperti bau busuk pengidap pes—bau badan orang
yang tidak mandi berbulan-bulan bercampur dengan bau
asap tungku dan bau busuk kotoran kuda serta ayam yang
terus menempel di kandang meski sudah dibersihkan tiap
hari—yang akan mengoyak jiwamu ketika kau turun di dek
bawah kapal.
Aku pun penasaran dengan tanah ini karena aku
pernah mendengar, menguping lebih tepatnya, banyak
cerita dari majikanku dan teman-temannya soal Suku
Indian. Suku Indian, kata mereka, berkulit merah dan
188
hikayat la florida
tak punya kelopak mata. Mereka adalah kaum kafir yang
membuat ritual pengorbanan manusia dan menyembah
patung dewa-dewa seperti setan, mereka minum
ramuan misterius memabukkan yang bisa memberikan
penampakan-penampakan “suci”, mereka berjalan tanpa
sehelai kain, bahkan para perempuan mereka juga—
sebuah cerita yang tak bisa kupercayai dan membuat
tanganku tak bergerak. Tapi, sekarang aku sudah terpikat.
Tanah ini tak hanya menjadi tujuanku, tapi tempat yang
kugunakan untuk melengkapi dunia fantasiku, tempat
yang hanya ada dalam imajinasi pendongeng keliling
Suku Barber. Ya, inilah petualangan menembus Samudra
Kabut dan Kegelapan yang akan menghipnotismu, meski
kau tidak menginginkan untuk ambil bagian. Ambisi orang
lain akan meracuni dirimu, perlahan dan tak bisa ditarik
kembali.
Pendaratan itu sendiri hanya terbatas untuk regu kecil
perwira dan serdadu di tiap kapal. Sebagai kapten kapal
Gracia de Dios, Senor Dorantes telah memilih 20 orang,
189
laila lalami
di antara mereka adalah aku—pelayan Allah, Mustafa ibn
Muhammad—untuk ikut ke dalam sekoci menuju pantai.
Majikanku berdiri di ujung perahu dengan satu tangan
berada di pinggul dan tangan lain memegang pedang—
pose, yang menurutku, sempurna dan menunjukkan
hasrat menguasai harta karun di dunia baru, seperti dia
sedang berpose untuk seorang pematung yang tak terlihat.
Pagi yang begitu cerah di musim semi. Langit biru,
tak biru-biru amat dan tak mendung, dan air laut yang
jernih. Dari pantai, kami berjalan pelan-pelan ke kampung
nelayan yang pernah dilihat oleh pelaut dari tiang layar
dan berlokasi, kira-kira, dalam jangkauan panah dari
garis pantai. Kesan pertamaku, keheningan menggema di
sekitar kami. Bukan, keheningan bukan kata yang tepat.
Ada suara ombak, dan setelah itu, angin sepoi-sepoi yang
190
hikayat la florida
menggerakkan daun-daun pohon palem. Di sepanjang
perjalanan, burung-burung camar yang penasaran sesekali
melihat kami dan kembali terbang. Tapi, aku merasakan
kesunyian yang begitu agung.
Di kampung itu, ada sekitar 12 gubuk, dibangun dari
tiang-tiang kayu serta atapnya ditutupi daun palem. Jarak
antar-rumah diatur dalam lingkaran yang lebar sehingga
terdapat ruang cukup di antara rumah untuk memasak
dan tempat menyimpan makanan. Tungku perapian yang
berlubang-lubang dan berbentuk lingkaran itu berisi kayu
bakar yang baru saja diambil dari hutan, dan di atasnya
tergantung tiga kulit rusa. Darah rusa masih menetes
membasahi tanah. Namun, kampung itu kosong. Gubernur
memerintah untuk mencari secara teliti. Di dapur
mereka terdapat alat untuk memasak dan membersihkan
makanan. Selain kulit binatang dan bulu, juga terdapat ikan
kering dan daging, biji bunga matahari yang berlimpah,
kacang, dan buah-buahan. Para serdadu pun mengambil
apa pun yang bisa mereka raih. Bahkan, di antara mereka
timbul rasa iri dengan barang-barang yang mereka curi.
Mereka pun saling bertukar barang-barang curian sesuai
dengan keinginan mereka. Aku tidak mengambil apa pun
dan aku tak menukar apa pun, namun aku merasa risih
karena aku menyaksikan pencurian itu dan aku tak bisa
menghentikannya, bahkan aku menjadi pembantu mereka
dalam mencuri.
Saat aku berdiri dengan majikanku di luar gubuk, aku
melihat tumpukan jaring ikan. Ketika aku mengangkat
jaring aneh itu, aku menemukan batu kerikil yang janggal.
Awalnya, jaring itu terlihat berat, tapi jaring-jaring itu
memiliki pemberat batu yang halus—tidak seperti batu
biasa—berwarna kuning dan kasar. Lalu, aku berpikir,
mungkin ini mainan anak-anak karena memang mirip
dengan kelereng atau bisa saja ini bagian dari rattle.
191
laila lalami
Mungkin saja batu itu tidak sengaja jatuh ke jaring ikan.
Aku mengambilnya dan mengamati di luar agar bisa
mengamati dengan jelas. Tapi, Senor Dorantes memergoki.
“Estebanico,” majikanku berteriak, “Apa yang kau
temukan?”
Estebanico adalah nama Castilla yang diberikan
untukku ketika mereka membeliku dari pedagang
Portugis—suara cengkok yang asing masih memekakkan
telingaku. Ketika aku terjebak dalam perbudakan, aku tidak
hanya kehilangan kebebasanku, tapi juga sebuah nama
yang telah dipilih ibu dan ayahku. Sebuah nama yang
berharga. Di dalamnya termaktub bahasa, sejarah, tradisi,
dan cara memahami dunia. Kehilangan nama juga berarti
kehilangan semua yang berkaitan dengan itu. Jadi, aku
tidak pernah merasakan bahwa Estebanico adalah laki-laki
yang dilahirkan dari orang Castilla, sangat berbeda dengan
diriku sesungguhnya. Majikanku mengambil kerikil dari
tanganku. “Apa ini?” tanyanya.
“Bukan apa-apa, Senor”
“Bukan apa-apa?”
“Hanya kerikil.”
“Coba kulihat.” Dia meraba-raba dengan jari-jarinya,
menerka-nerka. Di balik lapisan kotor, warna kuning cerah
pun muncul. Dia adalah orang yang gampang penasaran.
Majikanku selalu menanyakan tentang apa pun. Barangkali,
inilah yang mendorongnya meninggalkan kehidupan
nyaman di Bejar del Castanar dan mempertaruhkan
keberuntungannya di wilayah yang asing. Aku tidak
membenci rasa ingin tahunya soal “dunia baru”, tapi
aku iri caranya berbicara tentang kampung halaman.
Selalu diceritakan dengan harapan pulang penuh dengan
kehormatan.
“Bukan apa-apa,” kataku lagi.
“Aku tidak yakin.”
192