The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by kantor, 2022-03-28 04:17:22

Aswa Medha Parwa

Aswa Medha Parwa

ASWAMEDHA
PARWA

.'•

ALIH BAHASA O.LEH:
K. NIL A

ASWAMEDHA
PARWA·

ALIH BAHASA OLEH:
K. NIL A

~~.-.

ASWAMEDHA PARWA

OM Narayana ya Nara. Saraswati Jaya ,

I. Setelah Raja Dhritarashtra menuangkan cairan kurban ke
dalam air.untuk menyucikan arwah Bhisma, Yudhishthira yang
pada saat itu berada di belakang Dhritarashtra, ambruk dan ter-
gelincir ke dalam sungai Gangga seperti gajah terkena panah
pemburu. Krishna memberikan isyarat lalu Bhima terjun ke da-
lam air untuk menyelamatkan kakaknya.
"Ini tidak boleh terjadi", kata Krishna, pahlawan besaryang
tiada bandingan itu. Para Pandhawa melihat putera Dharma ter-
lentang di atas tanah. mengeluh sedih tidak putus-putusnya.
Semuanya sangat sedih melihat keadaan kakaknya sedemikian
itu, lalu duduk mengelilingi YuPhishthira. Dhritarashtra. de-
ngan penuh kesadaran dan k8bijaksanaan berkata kepada
Yudhishthira, katanya:
"Wahai pahlawan perkasa. lakukanlah kewajiban ananda
sekarang 0 Putera Kunti. Deng~n jiwa ksatria ananda sudah ber-
hasil merebut kekuasaan di Dunia ini. Sekarang. nikmatilah ha-
si I kemenangan itu bersama-sama dengan saudara-saudara ka-
lian. Wahai ananda pembela kebenaran dan keadilan, aku sung-
guh tidak melihat a~asan mengapa ananda menjadi sedih seper-
ti ini. Ananda adalah maharaja. Berbeda dengan aku ini, sete-
lah kehilangan anak-anak yang bagaikan kekayaan yang melin-
tas dalam impian, Gandhari dan akulah yang mestinya sedih
dan berkabung. Aku yang sudah mengabaikan nasihat-nasihat
bernas Widura yang berbudi luhur itu, yang selalu memper-
hatikan permasalahan kita, akulah yang mengemban fikiran ja-
hat, dan sekarang, aku sungguh telah bertobat. Widura yang
sakti dan bijaksana itu sudah seringkali memberikan peringat-
an kepadaku. Sekali waktu dia pernah berkata: "Keturunan pa-
duka akan mengalami kehancuran karena dosa-dosa yang su-

dah dilakukan oleh Duryodhana. a Raja, apabila paduka ingin

menyelamatkan keturunan paduka, laksanakanlah apa yang
hamba nasihatkan. Jauhkan raja yang berhati jahat Soyodha-
na ini. Jauhkan ia dari kerajaan ini, jangan diberi kesempatan
kepada Karna dan Sakuni untuk mendekati dirinya. Dengan
muslihat-muslihat perjudian, mereka dengan diam-diam ingin
melakukan penindasan kepada raja Yudhishthira yang adil itu.
Putera Dharma. raja yang berbudi luhur itu, pada suatu saat
nanti, pasti akan berhasil menguasai dunia ini. Apabila paduka
tidak mengangkat Yudhishthira menjadi raja. maka lakukanlah
upacara penobatan dan ambillah sendiri singgasana ini dan
berlaku adil kepada semua pihak. Perkenankanlah rakyat be-

3

serta sanak keluarga paduka menikmati kesejahteraan di ba-
wah kekuasaan paduka". Pada waktu Widura mengucapkan sa-

aran-sarannya itu, Putera Kunti, aku memang tolo!. Aku telah

memihak dan mengikuti kata-kata bujukan Duryodhana. Aku
menutup telinga kepada kebijaksanaan yang diucapkan oleh

orang-orang yang bermaksud baik, maka kesedihan inilah men-
jadi akibatnya dan aku terbenam ke dalam lautan kesengsafa-
an. Lihatlah ayahmu dan ibumu ini, kami tengelam di dalam ke-
dukaan. Tetapi wahai raja aku tidak melihat alasan mengapa an-
da bersedih seperti ini".

II. Setelah mendengar kata-kata Dhritarashtra itu, Yudhish- .

thira menjadi agak tenang. Selanjutnya Kesawa menghiburnya

dengan kata-kata seperti berikut : •

"Apabila seseorang terlalu menurutkan perasaannya dan

sangat bersedih dalam mengenangkan para leluhurnya. tidak

lebih yang ia lakukan adalah membuat para leluhur yang sudah

tiada itu menjadi sedih pula. Karena itu, lenyapkanlah keduka-

an yang sia-sia ini. Bangkitlah ! Lakukanlah upacara-upacara

yang disertai pembagian hadiah-hadiah kepada para pendeta

dan pertapa serta kepada para Brahmana. Haturkan kepada se-

mua dewa cairan Soma disertai dengan sajen-sajen makanan

dan minuman yang pantas untuk dihaturkan kepada arwah para

leluhur yang masih membutuhkan upacara penebusan itu. Saji-

kan hidangan daging dan minuman kepada para tamu dan beri-

kan apa saja menurut kebutuhan mereka. terutama kepada me-

reka yang tidak mampu. Seorang cerdas seperti a~da ini tentu

tidak pantas bersedih seperti ini. Apa yang patut diketahui su-

dah cukup anda ketahui. apa yang patut dikerjakan sudah pula

anda kerjakan. Anda sudah pula mengetahui dengan sebaik-

baiknya apa yang menjadi tugas ksatria seperti yang sudah per-
nah diwejangkan oleh yang mulia Bhisma putera dewi Bhagi~

rathi. juga oleh Krishna Dwaipayana. tidak ketinggalan oleh Wi-

dura dan Narada. Karena itu jangan kembali kepada jalan ke-

bodohan. tetapi tempuhlah jalan yang dirintis oleh para leluhur

anda. Tegakkan kembali kerajaan ini ! Sudah berkali kali di-

nyatakan bahwa tugas seorang ksatria adalah mencapai ke-

agungan alam Surga melalui kemashurannya saja. Pahlawan-

pahlawan yang berjuang sampai tewas menjalankan tugasnya

tidak mung kin akan jatuh lagi dari alam kedewatan. Buangkan

ajauh-jauh kedukaan anda Raja. Apa yang sudah terjadi adalah

selaras dengan hukum takdir. Anda tidak dapat menghidupkan

kembali semua mereka yang sudah tewas!" Sampai di sini Go-

windha berhenti berbicara dan dengan suara lemah tidak ber-

4

semangat dijawab oleh Yudhishthira :
"0 Gowinda. hamba tahu, betapa kasih sayang paduka ke-

pada diriku ini. Selamanya paduka telah mendampingi hamba
dengan penuh keeintaan dan persahabatan. 0 Pahlawan per-
kasa bersenjatakan gada dan eakra, wahai penyelamat bangsa
Yadhu. 0 paduka yang eemerlang! Apabila pada saat ini paduka
memperkenankan hamba pergi bertapa ke dalam hutan. maka
paduka telah menyokong eita-eita yang paling hamba damba-
kan. Hamba tidak akan pernah mendapatkan kedar,naian sete-
lah melakuk'an pembunuhan terhadap kakak-kakak beserta ma-
nusia utama seperti Karna yang gagah berani. 0 Janardhana,
Perintahkanlah kepada hamba untuk pergi bertapa agar dapat
hamba membebaskan diri dari dosa-dosa kebiadaban ini, agar
jiwa dan fikiran hamba menjadi bersih". Oi sini dengan eepat
Rishi Wyasa. pertapa tua yang bertenaga he~t itu menyela dan
menghibur Yudhishthira sebagai berikut :

"Wahai. wahai, wahai I Fikiranmu sama sekali belum ten-
teram. Sekali lagi di sini eueunda digelapkan oleh perasaan ke-
kanak-kanakan. Haruskah k'ami orang tua berkali-kali meng-
hambur-hamburkan kata-kata kepada angin? Cueunda menge-
tahui kewajiban kaum kesatria; bahwa para ksatria itu harus hi-
dup melalui peperangan. Seorang raja yang sudah menunaikan
kewajiban dengan sepantasnya, tidak semestinya harus diring-
kus oleh perasaan sedih. Cueunda raja sudah dengan tekun
mendengarkan pelajaran-pelajaran guna mendapatkan ke-
bebasan abadi. dan berkali-kali aku sudah meluruskan pan-
danganmu yang didorong oleh nafsu keinginan sendiri. Tetapi
ternyata sekarang kamu tidak menghiraukan apa yang sudah
kuuraikan panjang lebar, pengertian eueunda yang picik itu 5U-
dah menyapu bersih semua yang mestinya dicamkan dengan
sebaik-baiknya. Janganlah sampai terjadi sedemikian itu. Kebo-
dohan seperti itu sungguh tidak pantas bagi dirimu. Hai ananda
yang berhati suei. kamu sudah mengetahui semua yang selaras
dengan kodrat. apa yang menjadi kekuatan seorang raja dan
apa yang menjadi pahala dari perbuatan dana yang ikhlas. Cucu
sudah mengetahui hukum ethika dan moral, memahami semua
agama. apakah lagi kelemahanmu wahai raja perkasa hingga
eueunda berhasil ditundukkan oleh kesedihan yang muncul da-
ri alam kegelapan jiwa?

III. 0 Yudhishthira, sekarang aku tahu bahwa kebijaksanaanmu
belum cukup. Ketahuilah bahwa tidak seorangpun dapat me-
lakukan sesuatu dengan mengandalkan kekuatannya sendiri.
Aqalah Roh Alam Semesta yang menggerakkan untuk melaku-
kan kegiatan yang baik ataupun yang buruk. Bagaimanakah pe-

5

ngertianmu tentang bertaubat? Ananda menganggap dirimu
sudah melakukan perbuatan jahat. dan itu sangat cucunda per-
hatikan. Tetapi cucu tidak sungguh-sungguh memperhatikan
bagaimana caranya menghapuskan dosa dan noda itu. Ketahui-

alah Yudhishthira. bahwa bagi setiap orang yang berdosa. su-

dah disediakan cara dan jalan membersihkan diri dari dosa-
dosa. Jalan-jalan itu antara lain adalah dengan melakukan tapa
brata dan berpantang. melakukan upacara kurban yang di-
dukung den~an membagi-bagikan dana punia. Wahai raja.
orang berdosa itu selamanya dapat menyucikan diri dengan
jalan menyelenggarakan upacara kurban, melakukan tapa bra-
ta dan berdana punia. Mahluk-mahluk Surga melalukan upaca-
ra kurban untuk mendapatkan berkah keagamaan, karena itu,
upacaFa-upacara itu memang sangat penting artinya. Dengan
melaksanakan pengurbanan-pengur~anan,para dewa itu men-
jadi luar biasa kuat dan jayanya. Setelah melakukan berkali-
kali pengurbanan, para dewa itu berhasil menaklukkan golong-

aan Danawa. Karena itu Yudhishthira, bersiap-siaplah untuk

menyelenggarakan upacara Rajasuya, Aswamedha, demikian
juga Sarwamedha dan Naramedha. Bahkan putera raja Dasa-
ratha, Rama, juga putera Dushmanta dan Shakuntala yaitu
leluhur paduka yang mulia Bharata, maharaja penguasa dunia
itu, juga melakukan upacara Aswamedha dengan Dakshina".
Yudhishthira termenung untuk kemudian menjawab dengan
kata-kata sebagai berikut :

"Wahai Maharishi junjungan kami, tidak dapat diragukan
lagi bahwa upacara upacara itu, khususnya upacara Aswame-
dha, akan dapat menyucikan raja-raja yang berdosa. Akan te-
tapi hamba sebenarnya sudah mempunyai niat yang semoga
paduka suka mendengarkannya. Setelah hamba melakukan
tindakan-tindakan yang mengakibatkan pembasmian secara
besar-besaran itu, maka hamba tidak sanggup lagi memik·ir-
kan untuk melakukan dana punia, meskipun dalam jumlahkecil
sekalipun. Kekayaan hamba sudah musnah dan hamba tidak me-
miliki apapun juga. Hamba tentu tidak sampai hati untuk me-
minta bantuan kepada putera-putera raja yang masih sangat
muda-muda belia ini, apa lagi mereka semuanya masih me-
rasakan kepedihan sebagai akibat dari peperangan yang maha
dhsyat itu. Bagaimana hamba dapat mengharapkan bantuan
kepada mereka, setelah hamba sendiri yang menghancurkan
dunia lalu menarik pajak lagi untuk sekedar melakukan upaca-

ra ? Karena kelalaian Duryodhana, 0 Maharishi, raja dunia

ini mengalami kehancuran dan kita semua menanggung ke-
miskinan. Demi kekayaan dan kesenangan, Duryodhana telah
menyia-nyiakan dunia ini, seluruh perbendaharaan putera

6

yang jahat itu sudah kosong. Dalam upacara kurban ini, dunia
sebagai Dakshina, itulah persyaratan pertama yang sudah di-
tetapkan. Tentu saja peraturan-peraturan sudah banyak dir=u-
bah dan meskipun perubahan itu diperkenankan dengan per-
syaratan-persyaratan, namun peraturan utama itu masih tetap
diakui sebagaimana bentuk aslinya oleh para cendekiawan.
Dan hamba sendiri tidak hendak melakukan penyimpangan
dari peraturan-peraturan itu. Karena itu wahai pertapa suci,
dalam hal ini hamba mohon petunjuk dan nasihat paduka". Men-
dengarkan jawaban seperti itu, Rishi Wyasa terdiam sejenak.

Kemudian beliau berkata :
"Sekarang perbendaharaan kerajaan memang sedang ko-

song. Tetapi segera akan penuh berisi. Wahai putera Pritha,
di atas gunung Himalaya, terdapat cukup jumlah emas yang
telah dibengkalaikan begitu saja ollh para Brahmana yang
dahulu upacara yang dilakukannya sudah menghadiahkan
emas luar biasa banyaknya kepada para Brahmana itu. Tetapi
mereka hanya membawa seperlunya saja, sedangkan sisanya
ditinggalkan saja di tempat itu".

IV. Yudhishthira bertanya : "Wahai Brahmana, mengapakah
dalam upacara itu dipergunakan sedemikian banyak emas ?
Dan kapankah baginda raja Marutta itu memerintah?" Rishi
Wyasa menjawab : "Nah cucunda raja, rupa-rupanya kamu ter-
tarik kepada riwayat raja keturunan Karandhama yang luar bia-
sa ini. Dengarkanlah Ceriteraku ini. Raja Marutta ini memang
mempunyai kekuatan yang luar biasa dan kekayaannya sung-
guh mentakjubkan. Padajaman Krita. Manu yang bersenjatakan
sceptra, tongkat kebesaran raja, telah menguasai dunia ini. Pu-
teranya adalah Prasandhi dan Prasandhi mempunyai seorang
putera bernama Kshupa. Dan Kshupa menurunkan seorang pu-
tera terkenal bernama Ikshwaku. Raja Ikshwaku ini menUrun-
kan seratus orang putera perkasa dan semuanya diangkat men-
jadi raja oleh Ikshwaku. Yang tertua bernama Winsa, menj~di
contoh utama bagi para ksatria pemanah. Putera Winsa adalah
Wiwinsa yang jaya. Raja Wiwinsa men.urunkan ~utera lima belas
orang yang semuanya ahli memanah tiada tandingan. Mereka
sangat menghormati para Brahmana, membela kebenaran,
lemah lembut dan tutyr katanya halus. Saudarannya yang ter-
tua yang bernama Khaninetra, menindas semua adik-adiknya,
dan setelah menguasai seluruh kerajaan, ia lalu melenyapkan
perintang-perintangnya satu-persatu. Akan tetapi temyata Kha-
ninetra tidak mampu mempertahankan kedudukannya, lebth-
lebih karena seluruh rakyat kerajaan tidak menyukainya. la da-
pat digulingkan dan anaknya Swarcha dinobatkan menjadi
raja. Puteranya ini sangat menyadari kekeliruan yang dilaku-

7

kan oleh ayahnya dan setelah ayahnya itu diusir dari kerajaan,
Suwarcha lalu memerintah dengan cita-cita membahagiakan se-

luruh rakyat. la memuja Brahmana, berkata benar, tingkah laku
dan perbuatannya mementingkan kesucian dan ia dapat me-
nqendalikan fikirannya serta perasaannya. Rakyat sangat men-
cintai raja ini. Akan tetapi karena baginda bagian ini terlalu me-
mentingkan kesucian dan mengabaikan keduniawian maka
kerajaan menjadi miskin ditambah pula oleh adanya pemimpfn-
pemimpin yang mempergunakan kesempatan memperkaya diri
sendiri. Mereka itu sungguh mempersulit kedudukan raja sehingga
hanya dengan susah payah raja mempertahankan tegaknya ke-
rajaan karena baginda tidak mempunyai cukup dana untuk

membiayai pertahanan dan administrasi kerajaan. Tetapi syu-
kurlah, bagaimanapun juga besar kekuatan musuhnya, namun
raja yang lemah ini tidak bisa dibunuh, karena sedikit kekuatan
yang dimilikinya dilandasi oleh k~enaran. Pada waktu keada-
an sudah sedemikian sulitya, ia didesak dan hampir dapat di-
bunuh. Tetapi raja lalu menghembus tangannya, dan sungguh
ajaib, dari kedua lengannya muncul kekuatan luar biasa dan
dengan kekuatan itu, semua musuh-musuhnya dapat ditunduk-
kan dengan mudah. Itulah sebabnya baginda mendapat julukan
Karandhama. Puteranya juga bergelar Karandhama Pertama

Baginda memerintah pada permulaan jaman Treta. Beliau ga-.
gah perkasa bagaikan Indra, memancarkan kasih sayang dan
dikaguml oleh semua mahluk bahkan oleh para Dewa yang kekal.
Pada waktu itu semu? raja-raja berada dibawah kekuasaannya: dan

baginda memajukan kerajaannya sehingga menjadi kayaraya

dan kekul!tannya tidak ada duanya. Demikian baginda menjadi
seorang Maharaja. Dan memanglah raja yang nama aslinya ada-
lah Awikshit setingkat dengan Indra baik dalam perwujudan
maupun dalam kepahlawanannya. Dia percaya kepada kekuat-
an upacara kurban. bathinnya teguh indriyanya terkendali

dengan sangat sempurna. Dalam hal pancaran kekuatan, ba-

ginda setara dengan Surya sendiri dan dalam hal kesabaran
baginda bagaikan Bumi ini sendiri. Kecerdasannya seimbang
dengan Wrihaspati dan dalam hal ketenangan baginda ada-
lah pegunungan Himawat. Baginda menghibur rakyatnya de-
ngan perbuatan. fikiran dan perkataan. ditambah dengan pe-

ngekangan diri, keteguhan iman serta kesabaran Bagindapun
sudah menyelenggarakan seratus kali kurban kuda dan Rishi
Angiras yang sakti dan berpengetahuan luas itu menjadi pen-
detanya dalam setiap upacara. Baginda inilah yang menurunkan
Raja Marutta yang sudah kita singgung dalam permulaan ceri-
tera ini. Baginda Marutta ini lebih hebat lagi. Adil dan sangat

8

dicintai rakyat. Kekuatannya bagaikan sepuluh ribu ekor gajah
dan sebenarnyalah dapat dianggap sebagai Wishnu yang kedua.
Beliau lebih-Iebih lagi mempunyai hasrat untuk menjunjung
tinggikebesaran arti upacara kurban. Untuk melangsungkan
niatnya itu, baginda naik ke puncak gunung Meru yang berdiri
megah di sebelah utara pegunungan Himawat. Sebelum me-
langsungkan upacara, baginda sudah memerintahkan untuk
membuat beribu-ribu buah tempayan dan piala emas. Oi atas
gunung kemilau dengan warna emas itu baginda melakukan
upacara. Seluruh pandai emas di kerajaan dikerahkan untuk
membuat belanga, tempayan, mangkuk dan korsi-korsi dalam
jumlah tak terhitung banyaknya. Tempat pemujaan didirikan
tidak jauh dari tempat pandai emas itu bekerja. Oi sanalah
Marutta, dengan dibantu oleh raja-raja dari seluruh dunia me-
lakukan upacara kurban besar-besaran". Apakah sebabnya raja
ini menjadi sedemikian kuat dan kaya datl dari manakah semua
kekayaan itu datangnya, mari dengarkanlah ceritera selanjut-
nya.

V. Sejak jaman dahulu kala, putera-putera Prajapati Oaksha,
yaitu para Asura dan para Oewa. sudah saling bermusuhan.
Demikian pula putera-putera Angirasa, yaitu Wrihaspati dan
Samwartta. Wrihaspati selamanya telah menyusahkan
Samwartta. Karena terus menerus disusahkan oleh kakaknya
sendiri. Samwartta lalu meninggalkan seluruh kekayaannya
dan pergi bertapa ke dalam hutan. Brahmana yang sakti ini per-
gi bertapa dengan bertelanjang bulat, tidak sehelai benangpun
menutupi tubuhnya. Pada waktu itu, Wasawa baru saja selesai
dengan peperangannya menundukkan para Asura. Dengan
demikian Wasawa ini telah berhasil menguasai seluruh ke-
rajaan Surga. Setelah mendapatkan kekuasaan itu, Wasawa
mengangkat Wrihaspati untuk menjadi pemimpin di daerah
taklukannya. Sejak jaman dahulu, Angirasa ~udah menjadi pen-
deta keluarga raja Karandhama. Sudah dikatakan bahwa raja
ini terkenal luar biasa kesaktiannya. gagah perkasa dan se-
orang pertapa yang keras. Membela kebenaran dan keadilan
bagaikan Satakratu sendiri. Baginda memiliki pasukan ber-
senjata yang kuat luar biasa, kaya raya dan itu semua didapat-
kan berkat hasil Yoganya serta pengaturan nafas yang berte-
naga hebat apabila dihembuskan melalui mulutnya. Dengan
kemampuan sedemikian itu, semua raja-raja berhasil ditunduk-
kannya. Lebih-Iebih baginda itu mampu hidup lama menurut
kehendaknya dan mampu pergi ke alam Surga lengkap dengan
badan kasarnya. Putera raja Karandhama, Awikshit, berhasil

9

I

menguasai seluruh bulatan bum; ini dan memerintah dunia de-
ngan sangat adilnya. Dalam hal kebenaran dan keadilan bagin-
da hanya sebanding dengan Yayati yang tidak ada tandingan-
nya lagi. dan kejayaan serta kebesarannya sebanding dengan
ayahnya sendiri. Baginda mempunyai seorang putera bernama
Marutta. Putera ini sungguh gagahperkasa, kekuatannya maha
dahsyat menyaingi Wasawa sendiri. Dunia ini. lengkap dengan
seluas samudranya telah tunduk kepadanya. Baginda ini sela-
manya tidak pernah mengakui kekuasaan maharaja Dewata
Wasawa dan demikian pula Wasawa tidak mau mengakui ke-
kuasaan Marutta. Selain perasaan bersaing itu. memanglah
Marutta seorang penguasa yang suci dan sempurna. sehingga
bagaimanapun diusahakan. Sakra tidak berhasil menandingi
keunggulannya. Merasa mendapat saingan berat itu. lalu Sakra
dengan mengendarai keretanya 'Yang gemerlapan melesat
menghadap kepada Wrihaspati dan menghatur sembah se-
bagai berikut :

"0 Wrihaspati. Brahmana utama. Apabila paduka ber-
kenan membantu hamba. janganlah hendaknya paduka men-
jadi pendeta raja Marutta. Hal ini hamba mohon dengan me-
ngingat kesejahtraan para dewa dan arwah leluhur man usia.
Hamba, 0 Wrihaspati. sudah berhasil menguasai ke tiga alam
di alam semesta. sedangkan Marutta sekedar menguasai alam
dunia saja.Bagaimana mungkin paduka yang sudah menjadi
pendeta bagi para Dewa yang kekal dapat merendahkan derajat
dengan menjadi pendeta bagi raja Marutta yang hanya manusia
biasa dan tidak kekal itu? Harap paduka dapat memutuskan.
manakah yang lebih baik. Paduka ingin meninggalkan hamba.
atau paduka tinggalkanlah raja Marutta itu dan dengan senang
hati menjadi pendeta hamba di alam Kedewatan yang kekal ini".
Mendengar permintaan Sakra sedemikian itu yvrihaspati me-
ngerutkan keningnya, berfikir dan menimbang. akhirnya di-
putuskan jawaban sebagai berikut ini :

"Paduka 0 Maharaja Dewata. menguasai segala makhluk.
Oi dalam diri paduka semua dunia ini tercipta. Paduka nan per-
kasa sudah menghancurkan Namuchi. Wiswarupa dan Wala.

Paduka sendirilah wahai pahlawan, menjadi jaminan bagi ke-

sejahteraan para Oewa dan 0 penakluk Wala, paduka sudah

menunjang kehidupan di Bumi dan juga di Surga. Karena itu.
bagaimana mungkin hamba yang sudah melaksanakan setiap

upacara bagi para Oewa dapat mengabdi kepada raja di antara

Manusia ? Yakinlah akan ucapan hamba ini 0 Maharaja pemus-
nah Paka ! Biarlah dewa Agni berhenti memancarkan sinar

panasnya, Bumi kehilangan sifat tanahnya. Surya kehilangan

10

sinar terangnya, hamba tidak mungkin akan meninggalkan ke-
benaran. Itulah janji hamba kehadapan paduka 0 Maharaja!"

Indra sangat terhibur hatinya mendengar janji yang di
ucapkan oleh Wrihaspati itu. Dengan perasaan bahagia beliau
melesat kembali ke kerajaannya.

VI. Setelah maharaja Marutta mengetahui bahwa Indra dan
Wrihaspati melakukan perjanjian, raja putera Karandhama ini
lalu memikirkan untuk melakukan upacara kurban yang me-
nurut fikirannya pantas dijadikan dasar untuk menghadap ser-
ta mengundang Wrihaspati untuk menyelenggarakannya. Ba-
ginda menghadap dan mengucapkan permohonan sebagai be-
rikut ini :
"0 pertapa junjungan semesta alam. t"*mbadatang meng-
hadap karena hamba mempunyai niat untuk melakukan suatu
upacara kurban yang sebenarnyasudah pernah paduka saran-
kan agar hamba melakukannya. Berdasarkan saran-saran pa-
duka itu 0 Brahmana mulia, maka sekarang hamba memohon
agar paduka sudi memimpim penyelenggaraannya. Bahan-
bahan untuk melakukan upacara itu' selengkapnya sudah di-
persiapkan. Wahai pendeta junjunganku. paduka selamanya
sudah menjadi pendeta bagi keluarga para leluhur hamba.
karena itu sudilah kiranya padukamengabulkan permohonan
hamba dan mengambil segala perlengkapan yang sudah siap
dan langsung menyelenggarakan upacara kurban yang patut
hamba lakukan."

Rupanya sudah dipersiapkan suatu jawaban yang singkat
dan tegas. karena tidak usah berfikir terlalu lama, Wrihaspati
lalu menjawab sebagai berikut ini :

"0 Maharaja Dunia, saya tidak mungkin lagi dapat menye-
lenggarakan upacara itu. Saya sudah dititahkan oleh Maharaja
Dewata Indra agar menjadi pendeta para Dewa saja. Dan saya
sudah melakukan perjanjian agar tetap demikian!"

Marutta menyembah lalu berkata : "Wahai pendeta mulia.
sejak jaman dahulu paduka adalah oendeta keluarga ham~a.
Hamba selamanya menjunjung kebesaran nama paduka,
kar'ena itu bukankah hamba mempunyai hak untuk dibantu
dalam setiap penyelenggaraan upacara? Paduka berkewajiban
untuk menjadi pendeta penyelenggara pertama dalam upacara

ahamba?"
Wrihaspati menjawab : "Setelah saya Marutta. menjadi
pendeta bagi para Dewa yang bersifat kekal. betapa mungkin
lagi saya menjadi perideta bagi golongan Manusia yang tidak

11

kekal? Singkatnya, bagaimanapun paduka raja mendesak saya.
namun saya akan tetap pada pendirian yang sudah diputus-
kan sesuai dengan perjanjian antara maharaja Indra dan dirt
saya, dan sejak saat itu. saya ticiak lagi menjadi pendeta bag!
manusia' biasa. 0 Maharaja. saya sungguh tidak mungkin lag l
menjadi pendeta paduka Dan mengenal 'lasrat paduka untuk
menyelenggarakan upacara kurban sedemlklan itu, sayapun
sangsi apakah ada pendeta lain yang mampu memimpin pe-
nyelenggaraan nya!"

Raja Marutta terhenyak. sedih. masygul dan terpukul. Diri-
nya sudah dipermalukan. Baginda berjalan kembali. mengen-
darai keretanya pelan-pelan menunduk dengan sedih. Di te
ngah perjalanan baginda berlumpa dengan Narada atau lebih
tepatnya, Narada melihat raja Marutta duduk dl atas keretanya
yang berjalan dengan lesu. Narad. berhenti dan menegur ma-
haraja itu sambil mencakupkan tangan.

"0 maharaja perkasa dan bijaksana. kalau tidak salah pe-
ngamatan hamba, nampaknya paduka sedang bermuram durja
Apakah paduka baik-baik saja? Dari Manakah paduka ini dan
apakah sebabnya paduka bermuram durja seperti ini? Wahai
Maharaja, kalau boleh hamba tahu ceriterakanlah kepada
hamba, apa yang paduka risaukan, mungkinkah hamba dapat
membantu meringankan beban pikiran paduka itu? Apabila
mungkin, pasti hamba akan berusaha dengan seluruh ke-
mampuan yang ada pada diri hamba ini"

Raja Marutta lalu menceriterakan tentang penolakan per-
mohonannya kepada pendeta keluarganya. "Wahai Rishi Na-
rada yang mulia. hamba sebenarnya sedang dalam kebingung-
an mencari seorang pendeta yang patut untuk melaksanakan
upacara kurban yang sudah hamba niatkan. Hamba sudah
menghadap kepada pendeta keluarga hamba. yaitu yang mulia
Wrihaspati putera Brahmana Angirasa pendeta para Oewa.
Tetapi malang beliau tidak dapat menerima permohonan ham-
_ba. Dengan penolakannya itu, hamba tidak ingin hidup lebih
lama lagi. Hamba telah ditolak mentah-mentah sebagai-

mana pantasnya orang-orang penuh dosa. Demikianlah pe-
rasaan hamba sekarang. ini, penuh dosa-dosa !".

Narada tercengang mendengar ucapan maharaja Marutta
yang malang itu. Tetapi kemudian beliaupun berkata dengan
ucapan-ucapan yang melegakan, katanya :

"Wahai maharaja, jangan dulu putus asa. Masih ada se-
orang putera Brahmana Angirasa, sangat sakti, Samwarta
namanya. Tetapi sekarang ini beliau sedang mengembara men-
jelajahi d.unia ini. Beliau itu seorang pertapa yang sangat aneh,

12

berjalan ke seluruh pelosok dunia denqap bertelanjang bulat.
Apabila Wrihaspati sudah tidak mau menyelenggarakan upa-
cara paduka. usahakanlah bertemu dengan pendeta Samwartta
itu. Beliau pasti tidak akan mengecewakan hati paduka".

"Wahai Narada yang suci". demikian raja Marutta berkata
dengan sinar wajah penuh pengharapan. "Sesungguhnyalah
harapan baru ini telah mengembalikan kekuatan hidup hamba.

Tetapi di manakah hamba. dapat berjumpa dengan pertapa
Samwartta ini dan bagaimanakah caranya agar hamba tidak di-
tolaknya dan tetap dapat bersujud kepadanya? Sungguhlah
hamba tidak mau hidup lagi apabila bellau menolak pula per-
mohonan hamba in i".

Narada lalu memberi petunjuk seperti berikut ini: "Pertapa
Samwarta itu memanglah seorang pertapa yang sangat aneh
menu rut pengamatan orang biasa. Belia" itu mengembara ke
seluruh penjuru dunia dengan tekad bulat ingin berjumpa de-
ngan Maheswara. Pada saat ini beliau sedang berkeliling di
kota Waranasi, seperti orang hilang ingatan. Paduka pergilah
ke kota itu Nanti setelah tiba di pintu gerbang kota, letakkanlah
mayat manusia di sebelah pintu gerbang. Orang yang kelihat-
an ketakutan dan menghindarkan diri dengan tergesa-gesa
menjauhi mayat itu, dia ituiah Samwarta. Ikutilah ke mana
orang sakti itu pergi. Di tempat sunyi sambil mencakupkan ta-
ngan, mohonlah agar beliau suka melindungi paduka. Apabila
beliau menanyakan siapa yang memberi tahukan rahasia dki-
nya, sebutkan nama hamba, Narada, dan selanjutnya, apabila
beliau menanyakan di mana hamba berada atau menyarankan
agar paduka mengikuti hamba, katakanlah bahwa hamba su-
dah mencebutkan diri ke dalam api".

Setelah jelas semua, raja lalu menGakupkan tangan mem-
beri hormat kepada Narada dan mohon diri agar diperkenan-
kan melanjutkan perjalanannya menuju kota Waranasi. Setiba
di kota itu, baginda melakukan setepatnya apa yang dinasihat-
kan oleh Narada. Baginda meletakkan sesosok mayat manusia
dekat di sebelah pintu masuk kota dan adalah suatu kebetulan
pada saat yang bersamaan Brahmana aneh itu juga sedang me-
masuki kota Waranasi. Setelah melihat mayat tergeletak di ptn-
tu gerbang tiba-tiba orang sakti itu menghindar dan bergegas
pergi. Setelah melihat seorang pengemis tua berpakaian com-
pang-camping terpontang-panting melarikan diri, raja lalu me-
ngikutinya dari belakang sambil terus menerus menyebut na-
ma dan mencakupnya tangan sebagaimana seorang murid se-
dang menunggu pelajaran dari gurunya. Tiba di suatu tempat
yang sunyi, Samwarta membalik dan melempari Marutta de-

13

ngan kotoran dan lumpur, debu dan air ludah. Baginda raja itu
disiksa dan diancam. Akan tetapi Marutta tetap menunjukkan
kesabaran. memuji-muji .Qan menyembahnya. Akhirnya orang
tua suci itu merasa lelah dan dibawati sebuah pohon ara yang
rindang Samwarta berhenti dan duduk kepayaha l

VII. Sambil bersungut-sungut beliau berlanya Bagaimana

kamu bisa mengetahui siapa diriku. Cepal bertlahukan yang

benar. kalau kamu membutuhkan pertolongankuKalau kamu

berkata benar. mung kin semua yang kamu cila-c,itakan akan

terkabul. Tetapi awas. kalau kamu tidak berlerus lerang.kepala-

mu bisa kuh~mcurkan berkeping-kepirg'" '

"W~hai Brahmana nan suci. ampunkim hamba telah meng-

ganggu perjalanan paduka. Hamba sudah mendapat petunjuk

dari Narada tentang diri paduka. Beliau sudah memberitahu-

kan kepada hamba bahwa paduka tidak lain dari putera dari

pendeta keluarga hamba. yang mulia junjungan kam! Brah-

mana Angirasa. Keterarigan Narada itu yang lelah mendorong

hamba memberanikan 'diri untuk menghadap denga'n fikiran

merasa bahagia tak terhingga".' , ','

"Cepat beritahukan. di manakah Narada sekarcingT

"Ampunkari hamba 0 Brahmana. maharishi dari antara

para Dewa itu setelah membuka rahasia ini kepada hamba lalu '

menyelinap dan masuk ke dalam a p i " . . · ,

Samwarta memandang i r'aja Marutta dengan 'sorot mata ta-

jam luar biasa. dan nampak sesungging senyum di sudut bibir-

nya. Akhirnya. dengan wajah berseri-seri beliau lalu berkata :

"Memang. sayapun dapat menyelenggarakan upacara itu".

Akan tetapi tiba-tiba beliau berubah sikap kembali. nampaknya

seperti gila. Menggerutu dan menyumpah-nyumpah. menghiria

raja Marutta. "Hai anak muda. otakku ini tidak beres. Dorongan.

hatiku tidak bisa ditentang. Mengapa kamu berniat melakukan

upacara gila-gilaan dan diselenggarakan oleh pendeta gila se-

macam aku ini? Saudaraku sendiri Wrihaspati p'un mampu me-
nyelenggarakan upacara gila itu dan, ho, ho, dia sUd~h besar,

dia sudah menjadi pendeta besar- pujaan Wasawa. Sana, per-

gilah kepadanya. Saudaraku itu telah merampas semua keka-

yaanku. 'merampas dewa-dewa yang biasa membantuku, juga

merampas sisya-sisya yang menjadi bahagi~nku. hanya tubuh-

ku ini saja yang masih ada padaku. Siapa tadi kau bilang diri-

mu? Putera Awikshit? Nah, raja muda. kakakku itu sangat ku-

hormati, kerena itu. bagaimanapun juga. aku tidak boleh me-

nyelenggarakan upacara itu tanpa seijin kakakku itu. Karena

14

I

!'

itu, anak muda harus menghadap kepada Wrihaspati kakakku,
setelah mendapat ijinnya barulah kembali kepadaku. Hanya
at as ijin kakakku baru boieh aku menyelenggarakan upacara".

'Dengarkanlah a Samwarta junjunganku. Hamba sebelum-

nya sudah menghadap kepada Wrihaspati, akan tetapi beliau
sudah terikat perjanjian dengan Indra. karena itu beliau tidak
sudi lagi menyelenggarakan upacara hamba seorang manusia

biasa, Beliau mengatakan begini kepada hamba : "Setelah me-
neri,ma tugas menjadi pendeta golongan Dewa yang kekal, aku
tidak mau lagi menjadi pendeta golongan manusia, lebth-Iebih
aku dilarang oleh Sakra menyelenggarakan upacara bagi
raja Marutta. Marutta adalah raja Dunia yang selalu ingin me-

anyamgi kedudukan Indra". Demikian Samwarta, kakanda

paduka sudah menentukan pilihannya dan mengabdi kepada
Dewata mulia pembunuh Asura Wala. Ya,.semoga demikianlah
lJendaknya Sekarang Wrihaspati sudah berada dibawah per-
lindungan maharaja kerajaan Surga. Hamba pun sudah meng-
hadap kepada baginda itu dengan niat suci dan penuh harapan,
tetapi hamba telah ditolaknya. Karena ditolak seperti orang
hina itu, maka sekarang hamba membulatkan tekad untuk
menghabiskan seluruh harta kekayaan hamba yang semoga
paduka sendiri sudi menyelenggarakannya. Semakin sungguh-
sungguhlah niat hamba untuk bertanding dengan Indra dan
bantuan paduka sungguh sangat hamba harapkan. Hamba
sudahditolak olehWrihaspati tanpa kesalahan dari pihak ham-
ba sendiri, karena itu hamba tidak mungkin lag; bersedia untuk
menghadap kepada beliau itu. Sekali lagi 0 Samwarta, hamba
mohon sudilah paduka membantu hamba menyelenggarakan
upacara kurban itu",

"Baiklah, baiklah! Kalau demikian itu masalahnya, aku
sendiripun mampu melakukannya, asalkan paduka raja muda
sanggup memenuhi persyaratan yang akan kujelaskan. Per-
tama-tama, pastilah Wrihaspati dan Purandara akan marah be-
sar apabila mereka tahu bahwa aku akan menyelenggarakan
upacara paduka. Terutama, mereka akan marah kepada pa-
duka, dan mereka itu tidak akan segan-segan mencelakakan
paduka. Karena itu, sebelumnya, berjanjilah bahwa apapun
yang terjadi paduka tidak akan mundur. Berjanjilah sebelum
aku berubah pendirian pula. Kalau syarat satu-satunya ini tidak
bisa anda penuhi, akan kumusnahkan anda beserta seluruh
keturunan anda menjadi abu!"

"Wahai Samwarta nan sakti, apabila ternyata kemudian
hamba menghianati paduka, biarkanlah hamba sengsara untuk
selama-Iamanya, tidak pernah mencapai tempat kebahagiaan

15

yang dicita-citakan. Selama gunung-gunung masih berdiri,
matahari memancarkan sinar panasnya, selama itu pula hamba
bersujud di kaki' paduka. Apabila kemudian ternyata hamba
mengabaikan paduka, biarlah hamba tidak akan pernah men-
capai kebijaksanaan sejati, biarlah untuk selama-Iamanya
hamba dimabukkan oleh benda-benda duniawi l "

Setelah Samwarta mendengar kata-kata raja Marutta yang
menyatakan kebulatan tekadnya itu, beliau lalu menjawab:
"Dengarkanlah 0 Putera Awikshit, cita-cita yang mendukung
pelaksanaan upacara itu sungguh bagus, aku menyokongnya.
dan memilih aku sebagai pendeta penyelenggaranya juga
tepat. Karena itu aku merestui niat paduka, semoga kebaikan
paduka menjadi kekal dan bahkan buah-buah kebaikan itu
melampaui apa yang didapatkan oleh Sakra beserta para Dewa
dan Gandharwa yang bermuki~ di Langit itu. Ha, ha, ha. aku
yang tua bangka ini tidak membutuhkan harta kekayaan atau-
pun hadiah-hadiah upacara. Biarlah sekarang aku memuaskan
hatiku, melakukan perbuatan yang paling dibenci oleh Indra
dan Wrihaspati kakakku itu. Bosan aku melihat kesombongan-
nya! Sudah pasti aku akan dapat menjadikan anda setara de-
ngan Indra. Demikianlah sebenarnya. Baiklah, aku akan me-
lakukan apa pun yang terbaik buat anda paduka!"

VIII. Selanjutnya Samwarta berkata : "Sekarang perhatikan
baik-baik apa yang kukatakan ini. Oi atas pegunungan Hima:
laya terdapat sebuah puncak bernama Munjaban. Oi sana
Mahadewa, suami dewi Uma sedang melakukan tapa dan latth-
an yoga. Awas terhadap senjata Trisulanya yang maha dahsyat
itu. Dan Dewa yang sakti itu dilindungi oleh para pengiringnya
golongan mambang dan peri yang memiliki perwujudan yang
aneh-aneh. Penjaga-penjaga itu berkeliaran di sana memuas-
kan diri mengejar kesenangan. Mereka menghuni tempat-
tempat teduh di bawah pohon-pohon raksasa. di dalamgua-
gua atau di puncak-puncak gunung yang seram. Oi atas pun-
cak itu Mahadewa dipuja oleh para Rudra, Saddhya, Wiswe-
dewa, Wasu, Yama, Waruna dan Kuwera dengan pengiring-pe-
ngiringnya yang terdiri dari roh-roh, mambang dan peri. Juga
dipuja oleh dewa kembar Aswin, para Gandharwa, Apsara,
Yaksha, demikian juga para pendeta dari alam Kadewatan,
juga Dewa-dewa dari alam Surya seperti juga makhluk-makhluk
yang bermukim di udara, tidak ketinggalan berjenis-jenis roh
jahat. Dewa Mahadewa junjungan Uma itu sungguh luar biasa
saktinya, memiliki bermacam-ragam sifat yang berbeda-beda.

16

Oi puncak keramat itu Oewa pujaan itu bermain-main dengan
para pengiring Kuwera, yaitu makhluk-makhluk liar namun
suka bermain-main itu. Para pengiring itu bentuk perwujudan-
nya memang aneh-aneh C~'; ;Tlereka itulah yang sering disebut
hantu. Dari kejauhan, puncak gunung itu nampak bersinar ba-
gaikan sinar matahari pagi. Dengan mata biasa, puncak itu ti-
dak mungkin dapat diten!ukan bentuknya. Dan di sana tidak
ada perasaan panas ataupun dingin. Matahari tidak bersinar dan
tidak pula dirasakan adanya hembusan angin. Tidak ada rasa

bingung lapar. haus, kematian dan perasaan takut. Di segenap
penJuru gunung itu terdapatlah tambang emas sedemikian ba-
nyak Jumlah emasnya hingga terpancarlah sinarnya bagaikan
sinar matahari di pagi hari. Para pengiring Kuwera yang ingin
fYlenyenangkan dewa Mahadewa itu menjaga tempat itu de-
ngan ketat Ke sanalah padtka harus pergi. Lunakkanlah hati
Dewa itu yang juga dikenal dengan nama-nama seperti Sarwa,
Bedha. Rudra. Sitikantha, Surupa, Suwarcha, Kapardi, Karala,
Haryyaksha. Warada, Tryaksha, Pushnodantabhid, Wamana,
Siwa. Yamya. Awyaktarupa, Sadwritta, Sankara, Kshemya, Hari-
kesa. Sthanu, Arusha, Harinetra, Munda, Krishna, Uttarana,
Bhaskara. Sutirtha, Dewadewa, Ranha, Ushnishi, Suwaktra,
Sahasraksha, Midhwan, Girisa, Prasanta, Yata, Chirawasa,
Wilwadanda, Sidha, Sarwadandhadhara, Mriga, Wyadha, Ma-
han, Dhanesa, Bhawa, Wara, Somawaktra, Siddhamantra,
Chakshu, Hiranya Bahu, Ugra, Dikpati, Lelihana, Goshtha,
Shiddhamantra, Wrishnu, Pasupati, Wrisha, Matribhakta,
Senani, Madhyama, Sruwahasta, Yati, Dhanwi, Bhargawa, Aja,
Krishnanetra, Wirupaksha, Tikshnadanashtra, Tikshna,
Waiswanaramukha, Mahadyuti, Ananga, Sarwa, Dikpati, Bi~o­
hita Oiptaksha, Mahauja, Wasuretas, Suwapu, Prithu, Kritti-
wasa, Kapalmali, Suwarnamukuta, Mahadewa, Krishna, Tryam-
baka, Anagha, Krodhana, Nrisansa, Mridu, Wahusali, Dandi,
Taptatapa, Akrurakarma, Sahasrasira, Sahasra-charana,
Swadha-swarupa, Wahurupa, Oanshtri, Pinaki, Mahadewa,
Mahayogi, Awyaya, Trisulahasta, Warada, Tryamwaka, Bhuwa-
neswara, Tripuraghna, Trinayana, Trilokesa, Mahanja, Sarwa-
bhuta-prabhawa, Sarwabhuta-Dharana, Oharanidhara, Isana,
Sankara, Sarwa, Siwa, Wisweswara, Bhawa, Umapati, Pasu-
pati, Wiswarupa, Maheswara, Wirupaksha, Dasabhuja, Wrisa-
wadhwaja, Ugra, Sthanu, Siwa, Rudra, Sarwa, Girisa, Iswara,
Sitakantha. Aja, Sukra, Prithu, Prithuhara, Wara, Wiswarupa,
Wirupaksha, Wahurupa, Umapati, Anangangahara, Hara, Safa-
nya, Mahadewa, Chaturmukha.

Oi atas puncak gunung itu paduka harus melakukan sem-

17

Nampak pucat dan tidak berseri. Katakanlah 0 Brahmana, atau-
kah seseorang sudah menyebabkan paduka menderita seperti
ini. Apabila dugaanku benar, biarkubunuh mereka semua!"

Wrihaspati lalu menjawab : "Wahai Indra, sebenarnya, fik·ir-
an hambalah yang tidak tenteram. Saya mendengar berita bah-
wa Marutta, raja Dunia itu akan menyelenggarakan suatu upa-
cara besar-besaran dengan disertai pembagian hadiah-hadiah
yang tidak terkira banyaknya kepada para Brahmana yang ber-
tugas menyelenggarakan upacara itu. Khususnya, tentulah
Samwartta yang akan mendapatkan kenikmatan selaku pendeta
kepala dalam upacara itu. Aduh, betapa besar keinginan hamba
agar Samwarta tidak melakukan upacara itu".

"Demikiankah? Baiklah 0 Brahmana, paduka sudah men-
dapatkan segalanya semenjak flen(adi pendeta kami di sini.
Paduka sudah memahami semua doa-doa suci, sudah mampu
mempengaruhi dan mengendalikan usia dan kematian. Apakah
yang dapat dilakukan oleh Samwarta sekarang?"

Wrihaspati menjawab :"Kebahagiaan bagi seorang saing-
an selamanya menyakitkan perasaan. Mengapakah para Dewa
bermusuh-musuhan dengan golongan Asura hingga berlang-
sung turun-temurun dan baru berakhir setelah kehancuran t-o-
tal bagi golongan Asura itu? Wahai maharaja Dewata, paduka
sekarang melihat hamba seperti terserang penyakit yang tidak
bisa disembuhkan adalah karena memikirkan saingan berat
hamba mendapat kemakmuran yang mungkin melampaui ke-
adaan diriku sekarang ini. Karena itu 0 Indra, bantulah hamba,
usahakan dengan jalan apa saja Samwarta dan raja Marutta
tidak menyelenggarakan upacara kurban itu".

Setelah mendengarkan apa sebenarnya yang menjadi fikir-
an Wrihaspati, Indra lalu memerintahkan Agni untuk pergi
rnenghadap maharaja Marutta, katanya :

"Hai Jataweda, anda akan kuutus untuk menghadap kepa-
da maharaja Marutta. Katakan bahwa anda adalah utusan Wri-
haspati dan beritahukan kepada raja itu bahwa Wrihaspati sen-
diri yang akan menyelenggarakan upacaranya agar baginda ra-
ja itu berhasil menjadi mahluk kekal".

Agni mencakupkan tangan dan berkata : "Segera hamba
berangkat turun ke Bumi sebagai utusan Wrihaspati. Hamba
berkewajiban menjunjung titah agar apapun ucapan Indra se-
gera menjadi kenyataan dan lagi hamba ingin menunjukkan
bakti hamba kehadapan Wrihaspati". Setelah mengucapkan ka-
ta-kata itu, Agni melesat pergi.

Demikianlah Agni, Dewa Api itu berjalan mender-u-deru me-
nerjang pohon-pohon dan hutan belantara, berpusing bagai-

19

kan angin topan dengan suara gemuruh menggelegar.
Melihat Agni datang, Marutta berkata : "Hai rupanya Dewa

Agni yang datang berkunjung lengkap dengan tanda-tanda ke-
besarannya. Sediakanlah 0 Muni tempat duduk baginya, juga
air minum, sapi dan air pencuci kaki".

Semuanya itu lalu dipersiapkan dan disuguhkan kehadap-
an Dewa Api, Agni, Dewa Agni menerima penyambutan itu de-
ngan mengucapkan kata-kata sebagai berikut : "Baiklah'saya
terima persembahan ini, tetapi sebelumnya baiklah kuberitahu-
kan bahwa saya datang ini sebagai utusan junjungan kami ma-
haraja Indra dan sekedar menyampaikan pesan-pesannya".

Setelah mendapatkan penjelasan seperti itu. Marutta lalu
bertanya:

"0 Agni, apakah maharaja Dewata di alam Surga itu dalam
keadaan berbahagia? Apakah baginda sen~ng kepada kami se-
perti juga senang kepada para Dewa yang berada d i bawah
kekuasaannya? Dan apakah Dewa-dewa itu semua taat kepada
baginda? Ceriterakanlah itu semua kepada hamba",

"0 maharaja Dunia, Sakra sangat berbahagia di alam Sur-
gao Demikian juga baginda itu sangat puas terhadap diri paduka
di Bumi ini. Dan bahkan, baginda itu berhasrat melimpahkan
karunia kepada paduka yang mungkin akan sangat membaha-
giakan paduka. Baginda Sakra berkehendak untuk membebas-
kan paduka dari kebingungan. Dan ketahuilah wahai raja Ma-
rutta bahwa semua dewa-dewa tetap taat dan tunduk kepada
maharaja junjungan kami Indra yang agung. Namun sekarang,
dengarkanlah pesan maharaja kami itu yang ditujukan keha-
dapan paduka. Sebenarnya, adapun tujuan hamba kemari ini
adalah untuk menyampaikan berita gembira yaitu bahwa W-ri-
haspati sudah bersedia untuk datang menjelang paduka serta
selanjutnya akan menyelenggarakan upacara kurban yang se-
dang paduka persiapkan. Perkenankanlah Wrihaspati menye-
lenggarakan upacara kurban itu dan tentulah paduka akan
mendapat peningkatan kehidupan dari mahluk manusia men-
jadi mahluk Dewata yang kekal",

Marutta menjawab : "Wahai Agni. ketahuilah bahwa Dwi-
jati Samwarta sudah memutuskan akan membantu hamba me-
nyelenggarakan upacara itu. Hamba menyadari bahwa setelah
Wrihaspati ditugaskan oleh maharaja Indra untuk menjadi pen-
deta bagi para Dewa, maka tidaklah pantas bagi yang mulia
Wrihaspati turun ke Bumi dan menyelenggarakan upacara un-
tuk kepentingan manusia biasa".

Agni menjawab : "Apabila Wrihaspati memang berkenan
untuk menyelenggarakan upacara kurban itu, mengapa paduka

20

menolaknya lagi, paduka pasti akan mendapatkan berkah dari
yang mulia maharaja Indra dan mencapai tempat tertinggi di
alam Surga, Oi puja-puja dan dengan sendirinya pula dapat me-
nguasai alam surga. 0 Maharaja, apabila Wrihaspati yang me-
nyelenggarakan upacara itu, dengan mudah paduka dapat le-
bih memantapkan kedudukan paduka di dunia Manusia ini.
Dan bahkan semua alam semesta akan menjadi kekuasaan pa-
duka. semua alam yang telah diciptakan oleh Prajapati di se-
luruh kerajaan langit di alam semesta raya ' "

Tiba-tiba Samwarta memotong dan menjawab : "Hai Agni,.
jangan lah anda melanjutkan bujukan-bujukan itu. Anda datang
sebagai utusan Wrihaspati. untuk membujuk raja Marutta se-
perti itu. jangan sampai aku yang tua bangka ini kehilangan
kesabaran! Kalau anda membujuk lagi, anda bisa kubakar de-
nqan sinar mataku yang tidak enengenal kasihan ini!".

Mendengar ancaman Samwarta itu, tubuh Agni menjadi
gemetar ketakutan bagaikan daun pohon Aswattha. Dengan·ti-
dak menunggu lebih lama ia menyembah dan melesat kembali
kehadapan para Dewa di Alam Surga. Kemudian Agni bersama-
sarna Wrihaspati menghadap kepada Sakra. Melihat mereka
datang, Sakra lalu mengucapkan kata-kata sebagai berikut : "0
Jataweda, sudahkah anda mewakili Wrihaspati untuk mengha-
dap raja Marutta sesuai dengan petunjuk-petunjukku? Bagai-
manakah Jawaban raja itu? Apakah raja itu menerima usulku ?"

Agni langsung menjawab : "Usul paduka tidak diterima
oleh Marutta dan sudah teguh pendiriannya bahwa Samwarta
akan menyelenggarakan upacara kurban itu. Dan baginda itu
juga tidak tertarik kepada berkah-berkah yang mungkin dica-
painya apabila upacara itu diselenggarakan oleh Wrihaspati
seperti kehidupan yang kekal baik di Dunia maupun di alam
Surga. dan bahkan menolak kemuliaan alam tertinggi yang ~u-.
dah diciptakan oleh Sanghyar"lg Prajapati"

Mendengar laporan Agni sedemikian itu, Indra lalu berkata
yang ditujukan kepada Agni : "Kembalilah menghadap kepada
raja itu dan katakan bahwa apa yang kupesankan itu sungguh·
sungguh dan tidak boleh ditolak. Apabila usulku itu ditolak,
aku akan menghancurkan semuanya dengan senjataku, petir
dan halilintar!"

Agni menyembah seraya menjawab : "Ampunkan hamba,
tetapi biarlah raja Gandharwa yang sekarang berangkat ke
sana. Hamba sendiri sungguh tidak berani kembali ke sana
karena Samwarta yang sakti sudah mengancam hamba dengan
ancaman sebagai berikut : "Akan kubakar engkau dengan
sinar mataku yang dahsyat ini apabila anda berani datang kem-

21

bali selaku utusan Wrihaspati kepada raja Marutta!"
Sakra menjawab : "0 Jataweda, mengapa takut? Bukan-

kah anda sendiri yang semestinya mampu membakar segala-
galanya? Tidak ada lagi makhluk di alam semesta ini yang
mampu membakar anda menjadi abu. Seluruh isi dunia takut
bersinggungan dengan tubuhmu, hai, sungguh kata-kata peno-
lakanmu itu tidak ada artinya!"

Agni menyembah dan menghatur sembah : "0 paduka
maharaja Sakra, paduka sudah berkelana mengelilingi alam
semesta, paduka sudah mengetahui segala-galanya. Tentunya-
lah paduka mengetahui pula mengapa pada jaman dahulu
Writra berhasil merebut kerajaan lang it ini dari tangan
paduka?"

Indra menjawab : "Aku dapat mertundukkan musuh yang
manapun juga, bahkan mampu menghancurkan sebuah gu-
nung menjadi sekecil atom, apabila aku menghendakinya.
Akan tetapi 0 Vahni, oleh karena aku tidak sudi menerima
kurban Soma yang disuguhkan oleh musuh dan oleh karena
aku tidak menghantam bagian-bagian yang lemah dengan sen-
jata petirku yang maha dahsyat ini, maka narnpaklah bahwa
untuk sementara aku dapat ditundukkan oleh Writra. Tetapi
siapakah dari antara makhluk tak kekal yang dapat hidup ten-
teram di muka burni ini dengan menciptakan kepalsuan? Aku
telah memusnahkan seluruh bangsa Kalakeya dari atas Bumi,
menghancurkan para Danawa di Angkasa, serta menyingkirkan
Prahlada dari alam Surga. Mungkinkah masih ada terdapat
orang yang hidup dengan tenteram dengan mengobarkan per-
musuhan menentang diriku?"

Agni menghaturkan sembah : "0 Mahendra, paduka ingat-
kah kejadian di masa lampau ketika maharishi Chyawana me-
lakukan upacara kurban bagi Saryati dengan Aswin dan diri-
nya sendiri saja yang menikmati air Soma? Pada waktu itu
paduka sangat murka dan bertindak menghalang-halangi upa-
cara kurban itu. Bahkan paduka sudah menghantam pendeta
Chyawana dengan senjata petir yang hebat itu. Tetapi Brah-
mana itu 0 Purandhara, dengan kekuatan yang dihimpun ber-
kat kebhaktiannya memuja, telah marnpu menangkap serta me-
nahan tangan paduka, dan selanjutnya, dengan pancaran ke-
marahannya, beliau itu telah menciptakan musuh baru untuk
paduka hadapi, yaitu Asura yang bernama Mada yang dapat be-
rubah wujud tnenurut kehendak hatinya. Menyaksikan Asura
itu paduka menjadi ngeri dan memejamkan I mata. Asura itu
membuka mulutnya lebar-lebar, salah satu rahangnya terben-
tang sampai di Bumi sedangkan yang lain berada di alam

22

Surga. Sungguh mengerikan gigi-giginya yang tajam ribuan

banyaknya membentang lebih dari seratus yojana, dengan

empat taring yang paling kuat mengkilat bagaikan pilar perak

membentang sampai duaratus yojana. Oengan mengkertakkan

gigi-giginya itu, Asura itu mengejar paduka menghantamkan

gada berduri dengan tujuan untuk menghancurkan paduka.

Menyaksikan raksasa yang luar biasa itu paduka gemetar keta-

kutan disaksikan oleh semua orang yang berada di tempat itu.

Sungguh mengecewakan! Akhirnya, sambil mencakupkan ta-

ngan, paduka memohon perlindungan kepada pendeta besar

itu. itulah kemampuan Brahmana 0 Sakra, yang jauh lebih he-

bat dari pada kemampuan seorang ksatria. Tidak ada yang le-

bih kuat daripada kekuatan Brahman, dan menyadari akan hal

itu 0 Sakra, hamba tidak berani memulai sengketa dengan

Samwarta!" •

X. Indra berkata : "Baiklah, tetapi walaupun kekuatan Brah-
mana itu sangat hebatnya, tidak ada kekuatan yang lebih hebat
dari padanya, tetapi saya tidak pernah akan dapat menahan
keangkuhan raja putera Awikshita itu. Akan kuhantam dia de-
ngan senjata petirku. Oleh karena itu 0 raja Oanawa Ohrita-
rashtra, anda gantikanlah tugas Agni, pergilah menghadap raja
Marutta selaku utusanku. Sampaikan pesan kata-kataku se-
bagai berikut ini : "Terimalah wahai raja, Wrihaspati menjadi
guru spirituil paduka, sebab apabila tidak menerimanya, aku,
Indra, terpaksa menyerang paduka dengan senjata halilintar
yang teramat dahsyat in i!"

Raja Gandharwa Dritarashtra lalu berangkat menuju istana
maharaja Marutta serta menyampaikan pesan Wasawa itu.

Oi hadapan raja Marutta, Oritarashtra mengucapkan kata-
kata.sebagai berikut ini : "0 maharaja Ounia, hamba Ohritarash-
tra, seorang Gandharwa, datang menghadap untuk menyam-
paikan pesan junjungan kami, maharaja Indra di alam Surga.
Hamba mohon sudilah paduka memperhatikan pesan paduka
junjungan kami, penguasa seluruh lapisan alam semesta itu.
Maharaja Indra berkehendak menyampaikan pesan sebagai
berikut : "Paduka terimalah Wrihaspati menjadi pendeta dalam
Jpenyelenggaraan upacara kurban yang paduka niatkan. Harap
paduka suka mempertimbangkan ~kibatnya, yang apabila di-
tolak, pasti saja Indra, akan menyerang paduka dengan meng-
hujani paduka dengan petir-petir yang maha dahsyat!"

"Raja Maruttamenjawab pesan yang disampaikan itu se-
bagai berikut : "Wahai Purandara beserta para Wiswadewa,

23

para Wasu dan Aswin. Paduka semuanya sudah mengetahui
apa akibatnya bersikap palsu terhadap seorang teman. bersi-
kap palsu terhadap teman, sama berdosanya dengan membu-
nuh seorang Brahmana. Berdasarkan hal itu, baiklah Wrihas-
pati tetap menjadi pendeta paduka di alam Kadewatan, berltn-
dung di bawah naungan paduka yang bersenjata petir nan
dahsyat. Ketahuilah 0 Maharaja, bahwa Samwarta tetap akan
menjadi pendeta hamba, semua usul dan perintah paduka,
terpaksa hamba tolak!"

Raja Gandharwa itu berkata : "Wahai raja nan gagah, pa-
duka bayangkanlah pekik peperangan yang akan menggetar-
kan Dunia, karena Wasawa dengan pengiring-pengiringnya
pasti akan bergemuruh memenuhi angkasa dan secara terbuka
akan menyerang paduka. Dengarkanlah permohonan hamba
pribadi 0 maharaja, fikirkanlah baik-biik keputusan paduka,
demi keselamatan paduka jug~. Hamba fikir, hanya sekarang-
lah kesempatan terakhir untuk menimbang-nimbang itu".

Setelah mendengarkan kata-kata terakhir raja Gandharwa
itu, raja Marutta lalu berunding dengan Samwarta, pendeta
yang luar biasa teguh dan kesaktiannya itu. Setelah memper-
hatikan perubahan alam yang secara tiba-tiba itu, Marutta me-
nyembah hormat dan berkata kepada Samwarta : "Awan tebal
di lang it menunjukkan bahwa Indra sudah melakukan peng.n-
taian dekat dari sini. Karena itu 0 Brahmana mulia. hamba mo-
hon perlindungan paduka. Lenyapkanlah perasaan khawatir
hamba dari ancaman Indra itu. Pemegang senjata halilintar itu
rupanya sudah mengepung kita dari sepuluh arah di lang it de-
ngan kekuatannya yang hebat. dan 0 lihatlah semua pembantu-
pembantu hamba yang menangani upacara sudah menggigil
ketakutan" .

Samwarta menjawab : "Wahai maharaja nan gagah per-
kasa, kekhawatiran paduka terhadap Sakra segera akan lenyap.
Tenanglah! Lihatlah saya akan membendung kekuatan yang
menimbulkan kekhawatiran itu dengan menguncarkan mantra-
mantra sakti. Tenang saja! Jangan khawatir akan dikalahkan
oleh Indra. Paduka tidak perlu takut dengan ancaman Indra
yang sudah menikmati seratus pahala kurban yang dilakukan-
nya. Saya akan memasang alat-alat penangkal ini hingga sen-
jata dewa-dewa itu tidak mampu menghancurkan setiap yang
disambarnya. Biarlah kilat dan petir menyambar dari segala }u-
rusan dan angin menyerbu ke dalam awan hingga mencurah-
kan hujan lebat, biarlah air menjadi jenuh di angkasa dan petir
tidak pernah berhenti menyambar, semuanya itu tidak akan me-
nimbulkan gangguan-gangguan. Paduka tidak usah khawatir,

24

yakinlah! Biarlah Wasawa menuangkan semua hujan dan mele-
paskan senjata-senjatanya di manapun menurut kehendaknya,
biarlah senjata-senjata itumenyambar-nyambar untuk meng-
hancurkan diri paduka, tetapi Jangan takut, karena Wahni (Agni)
akan melindungi paduka sebaik-baiknya dan tidak usah sang-
si pastilah paduka akan mencapai apapun yang di cita-cita-
kan !"

Marutta berkata : "Dentuman-dentuman petir dan halilintar
disertai dengan gemuruh angin yang mengerikan ini memekak-
kan telinga dan menggoncangkan perasaan hamba, 0 Brah-
mana. Hati hamba tidak tenteram!"

"Perhatikan! Rasa takut itu segera pasti lenyap! Aku se-
dang mengusir suara gemur!Jh itu dengan kekuatan angin. Te-
rimalah sekarang suatu berkah dariku. Katakah apa yang pa-
duka inginkan dariku, pasti keinginan itu akan tercapai!"

"Keinginan hamba 0 Brahma~, biarlah tiba-tiba muncul·
Indra berdiri di hadapan hamba dan menerima persembahan
yang disajikan untuknya, dan semua Dewa yang lain agar ber-
kumpul di sini !Jntuk menerima sajian-sajian yang khusus di-
pers~mbahkankepada mereka dan akhirnya menerima minum-
an air So~a ~ang disuguhkan kepada mereka".

"Dengan kekuatan mantra-mantra aku sedang memikat
Indra agar datang menyaksikan upacara ini. Lihat, dan perhati-
kan di sana. Indra sudah nampak dengan menunggang kuda-
nya, diiringkan oleh para Dewa sekalian .dan bergegas ke
tempat upacara ini!"

Dan apa yang terlihat sungguh membuat semua orang ter-
cengang! Dari jauh sudah kelihatan maharaja Dewata itu da-
tang beriring-iring dengan Dewa-dewa semuanya mengenda-
rai kereta yang ditarik oleh kuda-kuda yang hebat. semuanya
bergerak melaju mendekati sanggar persembahan yang didiri-
kan oleh putera raja Akwikshit, dan setelah tiba di bawah se-
muanya beramai-ramai meminum air Soma yang dihidangkan
oleh raja Marutta itu. Raja Marutta diiringkan oleh para pende-
ta dan Samwarta selaku pendeta kepala berdiri menyambut
kedatangan Indra dengan kegembiraan yang tidak ada ban-
dingnya. Iring-iringan para Dewa itu diterima dengan penuh
kehormatan, sesuai dengan tata cara penyambutan yang di-
gariskan oleh sastra-sastra. Secara khusus pendeta Samwarta
menyambut mereka dengan ucapan sebagai berikut : "Selamat
datang 0 Indra! Dengan kehadiran paduka di sini. upacara ini
menjadi mulia. 0 penakluk Asura Wala dan Writra. silahkan
paduka Dewata menikmati air Soma yang hamba sediakan hari
ini" .

25

Raja Maq.Jtta pun menyambut mereka dengan ucapan se-
bagai berikut : "Limpahan kasih sayang paduka sangat hamba
harapkan. Hamba menundukkao kepala bersujud memuja'
paduka 0 Indra, dan dengan kehadiran paduka di sini, maka
upacara yang hamba selenggarakan menjadi sempurna. Pasti-
lah kehidupan hamba sudah diberkahi dengan pahala-pahala
yang baik. 0 Surendra, ketahuilah bahwa Brahmana mulia ini,
yang adalah adik kandung Brahmana termulia Wrihaspati telah
berkenan memimpin penyelenggaraan upacara kurban yang

hamba lakukan ini".
Indra menjawab sebagai berikut : "Saya mengetahui pen-

deta ini. Beliau mempunyai kesaktian yang sangat hebat. Benar
beliau ini saudara muda Wrihaspati, dan atas undangan beliau
inilah saya datang menghadiri upacara ini. Saya 0 raja. sung-
gu~ sangat puas terhadap sikap paduk\ Sekarang, tidak ada
lagl perasaan bermusuhan dan bersamg-saingan menye~u­
bungi jiwa kami. perasaan-perasaan itu sudah lenyap semua!"

Samwarta lalu memotong dan berkata : .'Apabi la benar

o Maharaja Dewata, merasa puas terhadap diri kami, perkenan-

kan kami memohon agar paduka sudi menyelenggarakan ba-
gian upacara yang khusus diperuntukkan bagi para Dewa. biar-
lah 0 Dewata mulia, seluruh alam mengetahui bahwa paduka-
lah yang telah mengantarkan bag ian upacara Dewa yajna itu".

Karena terus didesak oleh Brahmana putera Angirasa itu,
Sakra lalu .memerintahkan kepada para Dewa untuk mendiri-
kan bangsal pertemuan, dilengkapi dengan ribuan kamar-
kamar yang sangat indah bagaikan lukisan. Tidak ketinggalan
jenjang-jenjang pendakian yang besar dan kuat untuk diper-
gunakan oleh para Gandharwa. dan Apsara bergerak turun
naik Di hadapan sanggar pemujaan itu dibangun sebuah la-
pangan luas dan indah tempat para Dewa itu bersenang-senang
dan menari sungguhlah tempat itu dibangun sesuai dengan is-
tana Dewa Indra di alam surga. Bangunan itu segera diselesai-
kan oletl-para Dewa sesuai dengan petunjuk serta perintah yang
dikeluarkan oleh Indra. Setelah selesai dibuat bangunan yang
luar biasa indah dan megahnya itu. Indra lalu berkata kepada
{';/ Raja Marutta, katanya : "0 Raja, dengan bekerja sama dalam
melakukan upacara ini, pastilah para leluhur anda dan juga
para Dewa sekalian merasa puas, dan menerima dengan se-
nang kurban tuangan yang paduka suguhkan. Dan sekarang,
biarlah manusia utama itu mempersembahkan sapi jantan ber-
bulu merah untuk disuguhkan kepada dewa Agni dan seekor
sapi jantan berbulu biru dan sudah disucikan dipersembahkan
kepada para Wiswedewa."

26

Demikian itulah upacara kurban itu menjadi sangat me-
riah. Para Dewa itu yang sudah mengumpulkan makanan dan
minuman dan Sakra sendiri yang membantu penyelenggaraan
upacara kurban tersebut. pada tahap upacara yang terakhir,
Samwarta melangkah menuju altar tempat pemujaan, dan de-
ngan wajah serta tubuh memancarkan sinar gemilang lalu ber-
seru kepada semua para Devva, memuji-muji mereka, dan ter-
akhir mereka menerima suguhan kurban tuangan berupa mi-
nyak mentega murni yang dicurahkan ke dalam api suci sambil
membaca doa-doa suci.

Indra meneg'uk suguhan air Soma yang terakhir dan akh,ir-
nya, dengan riang gembira mereka mohon kehadapan raja
Marutta agar diperkenankan kembali ke alam Surga.

Setelah para Dewa itu semuanya kembali ke Surga, Raja
Marutta lalu mengumpulkan bero~ggok-onggokemas dan di-
tempatkan di tempaLtemp~t tertenfu, jU9a membagi-bagikannya
kepada Brahmana, dan pada ketika itu raja yang hebat ini nam-
pak bersemarak bagaikan Kuwera sendiri yang kaya raya itu.
Dengan perasaan riang gembira raja mengisi kas kerajaan de-
ngan kekayaan luar biasa dan setelah menyembah serta mohon
diri kepada Brahmana Samwarta, bagindapun kembali ke ibu
kota kerajaan dan untuk selamanya menguasai Dunia ini. Raja
Marutta itu sudah memerintah dengan kebaikan yang tidak ada
bandingannya, demikian juga kekayaannya".

Demikianlah 0 Yudhishthira, cucunda harus pergi ke
tempat yang telah kutunjukkan dan ambilah kekayaan yang ter-
sisa itu, selanjutnya lakukanlah upacara pemujaan kepada
Dewa-dewa sebagaimana layaknya!"

Yudhishthira nampak sangat gembira mendengar ceritera
serta petunjuk-petunjuk dari Maharishi putera dewi Satyawati
itu, dan timbul kembali semangatnya, dan di sana pula ~agtn­
da mengukuhkan niatnya untuk melakukan upacara dengan
kekayaan yang akan dijemputnya itu. Baginda lalu melakukan
pertemuan-pertemuan dengan para menteri untuk membahas
masalah ini.

XI. Setelah Wyasa selesai berbicara, Krishna, putra Wasudewa
juga berkenan menyampaikan pandangan-pandangan yang di-
tujukan kepada Yudhishthira. Krishna menghibur putera
Dharma dengan kata-kata sebagai berikut :
"Segala bentuk ketidak juju ran, tentu akan berakhir de-
ngan kehancuran. Hanya kebenaran dan kejujuran saja yang
dapat mencapai alam Brahman. Brahman adalah cita-cita
tunggal dari segala bentuk kebijaksanaan yang benar. Orang

27

yang menyadari kenyataan ini, fikirannya akan menjadi teguh
tidak tergoyahkan oleh segala macam godaan. Karma adinda

o Raja, belum lenyap seluruhnya, musuh-musuh adinda itu be-

lum terkalahkan semuanya. Karena adinda belum menyadari
musuh-musuh yang bersembunyi di dalam darah dan daging
adinda sendiri. Baiklah kakanda ceriterakan kisah pertempur-
an yang pernah kudengar, yaitu pertempuran yang berlang-
sung di antara Dewa Indra dan Asura Writra.

Pada jaman dahulu kala, Bumi ini telah dikotori oleh Asura
Writra, sehingga tercemarlah dunia ini dan mengepulkan bau
yang sangat busuk menyebar dari segala jurusan. Karena itu,
Dewa Indra, yang sangat terkenal karena sudah menyeleng-
garakan seratus kali upacara kurban, menjadi sangat murka.
Dihantamnya raksasa Writra itu dengan senjata petirnya yang
luar biasa sakti itu. Writra menderita luka ~rah dan melarikan
diri ke dalam air. Dengan adanya Writra di dalam air, air itu -ti-
dak lagi memiliki sifatnya sebagai air. Air itu berubah menjadi
cairan yang bukan air. Indra semakin meluap kemarahannya
dan kembali mengarahkan senjatanya kepada Writra. Writra
yang sedang bersembunyi di dalam air dihantam dengan he-
bat, kembali ia melesat dengan gesit dan menyelinap ke dalam
unsur-unsur padat yang bersinar (Jyoti). Seketika, unsur-unsur
itu kehilangan warna dan bentuknya. Indra mengejar dan ber-
kali-kali dihantamnya dengan senjata petirnya yang sangat
dahsyat itu. Writra melesat dan menyelinap ke dalam Wayu
(unsur-unsur gas) dan dengan demikian hilang pulalah sifat-
sifat gas itu. Indra mengejar terus dan Writra disambarnya ber-
tubi-tubi. Nampaklah Writra dengan tubuh penuh luka melesat
ke angkasa (ether) dan seketika itu sifat-sifat ether itu pun
hilang. Di sanapun Writra tidak diberi ampun oleh Indra. namun
tidak disangka-sangka Writra menyelinap masuk ke dalam tu-
buh Indra sendiri, hingga hilanglah sifat-sifat kebesaran Indra.
Dewa itu menjadi bingung karena fikirannya dikacaukan oleh
bayangan-bayangan yang tidak benar. Dalam kebingungannya
itu, Indra dinasihati oleh Wasishtha dan atas nasihat beliau
itulah Indra lalu melepaskan senjatanya yang diciptakan de-
ngan fikirannya dan menghancurkan musuhnya yang bersem-
bunyi di dalam dirinya itu. Wahai adinda raja, inilah suatu ra-
hasia yang sudah diceritakan sendiri oleh Indra kepada para
Rishi di alam semesta ini dan selanjutnya, para Rishi itu yang
menceriterakan kisah pertempuran ini kepada diriku."

XII. Pada prinsipnya, penyakit itu dapat dikelompokan menjadi
dua golongan, yaitu penyakit jasm~ni dan penyakit rohani. Ke-

28

dua jenis penyakit itu ditimbulkan oleh dua kegiatan gabung-
an antara jasmani dan rohani dan selalu terjadi karena kelainan-
kelainan antara kedua unsur itu yang saling pengaruh-mem-
pengaruhi. Tetapi yang menjadi dasar pertama dari kesehatan
dan keadaan sakititu adalah sifat alami yang terdiri dari sifat
dingin, sifat panas dan demikian juga sifat-sifat udara yang
bertransformasi di dalam badan jasmani. Apabila humours
(prana) beredar dengan merata dan dengan perbandingan se-
imbang, maka keadaan itu lTIi:r upakan pertanda kesehatan jas-
mani yang sempurna. Getaran panas digerakkan oleh yang
dingin, dan yang dingin harus diimbangi oleh yang panas.
Satwam, Raja dan tamas adalah merupakan tiga pokok srfat
jiwa dan apabila ketiganya itu ada dalam perbandingan yang
tepat atau seimbang, maka sehatlah jiwa itu. Akan tetapi apa-
bila ketiganya itu tidak seimbang, maka diperlukan suatu sis-
tim pengobatan untuk mengemba~kankeseimbangan yang se-
lanjutnya akan mengembalikan kesehatan jiwa itu. Kegembi-
raan ditundukkan oleh kesedihan, dan kesedihan ditunduk-
kan oleh kesenangan. Banyak orang yang menderita kesedihan
berusaha mengurangi rasa sedihnya dengan mengenangkan
kegembiraan yang dialami di masa-masa lalu; dan dalam ke-
gembiraan dia mengenangkan kesedihan-kesedihan di masa lam-
pau, demikian dia mencoba agar keadaan jiwanya tetap se-
imbang. Tetapi adinda, 0 putera T<unti, tidakkah mengenang-
kan kesedihan ataupun kesenangan-kesenangan itu? Lalu apa-
kah yang adinda bayangkan di dalam fikiran adinda untuk me-
ngatasi kesedihan sekarang ini? Mungkinkah adinda sekarang
sedang dicengkram oleh dorongan dasar manusiawi, yaitu
bakat dasar yang bermukim di dalam diri setiap makhluk, yaitu
kegelapan dan kebodohan itu? Tidaklah adinda ingin mengi-
ngat-ingat betapa Krishna Draupadi berdiri menderita di dalam
ruang persidangan raja-raja, mengenakan selembar kain me-
nutupi tubuhnya. dalam keadaan menstruasi, dihina di hadap-
an para Pandawa. Dan adinda barangkali tidak suka mengingat
kejadian pada waktu adinda meninggalkan ibukota kerajaan,
selanjutnya hidup dalam pembuangan. mengenakan selembar
kulit menjangan untuk menutupi tubuh kalian. demikian anda
semua mengembara di dalam hutan belantara. Barangkali
adinda juga tidak suka mengenakan betapa Jatasura menyiksa
kalian, atau bertembur dengan Chitrasena, demikian juga se-
gala kesulitan yang kalian alami ketika berhadapan dengan
bangsa Saindawa. Dengan sikap kelemahan yang adinda per-

lihatkan sekarang ini, rupanya adinda sudah melupakan betapa
Kichaka menendang Draupadi, yaitu ketika adinda sekalian

29

harus menyembunyikan diri selama satu tahun terakhir di da-
lam pembuangan. Adindapun tidak ingat betapa adinda terpak-
sa harus menand ing i Drona dan Bh isma. Karena itu, jangan
lagi adinda bersikap bodoh dengan menyesali keberuntungan
yang sudah adinda rebut dan dapatkan melalui segala macam
penderitaan itu. Sekarang tiba saatnya adinda harus bertem-
pur kembali, bertempur bertanding satu lawan satu mengha-
dapi musuh yang berada di dalam fikiran sendiri. Bersiap si~­
galah 0 Pahlawan bangsa Bharata untuk menghadapi perju~
angan itu. Dengan sedikit analisa, ditambah dengan hasil kar-
ma sendiri anda harus mencapai seberang lain dari kegelapan
fikiran ini. Dalam peperangan hebat yang sedang menanti adtn-
da itu tidak lagi dibutuhkan senjata-senjata roket dan panah,
tidak diperlukan bala tentara dan sekutu. Perjuangan itu harus
dihadapi sendiri, hanya adinda sendiri yang patut merenung-
kan kenyataan ini. Kinilah saat pertemptHan itu dimulai. Apa-
bila adinda menyerah kalah dalam pertempuran ini, maka
adinda akan menjadi seorang pelarian yang paling hina di dunia
ini. 0 putera Kunti, camkanlah apa yang kukatakan ini dan ca-
pailah kemenangan itu. Resapkan kebijaksanaan ini, juga da-
lami pengetahuan tentang takdir yang mengikat seluruh
makhluk di alam semesta ini dan selanjutnya pelajari pula
segala tingkah laku yang sudah dirintis oleh para leluhur adtn-
da, ,dan akhirnya, terimalah kerajaan ini untuk adinda pimpin
dengan jaya!"

XIII. Selanjutnya Wasudewa Krishna berkata : "Kebebasan,

o putera Bharata, tidak dapat dicapai dengan mengejar benda

atau barang yang berada di luar, baik itu berbentuk kerajaan,
kekayaan, pangkat-kedudukan atau kehormatan, tetapi kebe-
basan abadi hanya mungkin dicapai dengan meninggalkan
semuanya itu, serta meninggalkan semua yang ada hubungan-
nya dengan kesenangan jasmaniah. Tetapi kekuatan dan ke-
bebasan yang dicapai dengan meninggalkan kesenangan jas-
mani. Apa bila masih dikuasai oleh nafsu-nafsu dan ditambah
dengan keadaan tubuh yang lemah, biarlah itu semua men-
jadi bagian dari musuh kita. Kata-kata yang terdiri dari
dua huruf adalah Mrityu yang berarti kematian jiwa atau kemati-
an rohani, sedangkan kata-kata yang terdiri dari tiga huruf ada-
lah Saswata Brahman, yang berarti Roh yang kekal. Kesadaran
yang menyatakan bahwa benda itu kepunyaan saya, atau ke-
adaan, di mana kita terikat ketat oleh kesenangan lahiriah ada-
lah Mrityu.Kesadaran atau keadaan, di mana hal yang disebl:Jt-
kan tadi tidak ada, itulah Swasta (Saswatam). Dan keduanya ini,

30

yaitu Mrityu dan Saswatam, menempatkan diri di dalam jiwa
setiap makhluk. Keduanya itulah yang saling bergolak dan sa-
ling memenangkan satu sama lain. Dan, 0 Bharata, apabila be-
narlah bahwa makhluk itu tidak bisa dimusnahkan, maka ja-
nganlah hendaknya seseorang itu terlalu merasa bersalah apa
bi/a pada saat-saat yang dirasakan perlu, melakukan pembu-
nuhan terhadap makhluk-makhluk, yaitu dengan merusak ja-
sad kasarnya. Apalah. artinya dunia ini bagi seseorang yang
sempat menguasai seluruh dunia ini beserta seluruh isinya,
baik yang bergerak, maupun yang tidak bergerak, apabila hati-
nya memang terbebas dari cengkeraman kesenangan duniawi
itu. Sebaliknya, orang yang meninggalkan duri-ia ini dengan
hidup sebagai pertapa di dalam hutan, memakan hanya akar-
akar dan apa saja yang dihasilkan oleh hutan itu;akan tetapi
sebenarnya hati dan keinginannya mlsih meraja lela mendam-
bakan kesenangan-kesenangan duniawi dan bahkan dikuasai
oleh keinginannya itu, maka dapatlah dikatakan bahwa ia me-
melihara Mrityu di dalam mulutnya sendiri. Wahai Bharata, per-
hatikanlah baik-baik sifat dan tabiat musuh-musuh adinda
yang berada di luar dan di dalam diri adinda itu. Pandangan
bathin adinda sudah cukup mampu untuk mengawasi gerak-
gerik semua musuh-musuh itu. Orang yang mampu memahami
sifat kenyataan dunia luar, tentu akan mampu pula mengatasi
pengaruh kematian yang sangat ditakuti. Sebenarnyalah bah-
wa orang tidak dapat membenarkan orang yang sangat memen-
tingkan kesenangan duniawi, meskipun tidak ada satu kegiat-
anpun yang tidak diawali oleh dorongan keinginan. Ketahuilah
bahwa keinginan itu sebenarnya merupakan alat dari fikiran
juga, ia, Kama, merupakan sungut-sungutnya fikiran. Orang bi-
jaksana yang mengetahui kenyataan ini, terlebih dahulu akan
menekan dorongan keinginannya. Para Yogi yang sudah dapat
menghubungkan diri dengan Roh Suci yang maha tinggi, tentu-
lah akan mengetahui bahwa Yoga itu merupakan jalan yang sa-
ngat tepat guna mencapai kebebasan karena.dengan jalan Yo-
ga melalui latihan-Iatihannya, dapatlah dihimpun tenaga-tena-
ga atau kesadaran-kesadaran, dari satu kehidupan ke kehidup-
an yang lain. Dan ingatlah bahwa keinginan sejati dari pada Roh
itu, bukanlah hal-hal yang mengakibatkan kelemahan ataupun
kesaktian, akan tetapi yang paling terutama adalah kebebasan
dari pengaruh atau ikatan-ikatan keinginan itu. Kekuatan yang
paling utama adalah kekuatan yang dapat membebaskan kita

dari segala bentuk keinginan itu. Orang yang sudah dapat
membebaskan dirinya dari pengaruh keinginan itu, tidak perlu
lagi dibebani dengan melakukan upacara kurban dan dana pu-

31

nia, bahkan tidak usah lagi ia mempelajari Weda-weda, tidak
perlu melakukan tapa-brata, tidak usah sama sekali melakukan
upacara kurban seperti yang digariskan dalam Weda, apalagi
yang tujuannya untuk mendapatkan berkah keselamatan, ke-
senangan dan kebahagiaan duniawi. la tidak akan melakukan
upacara-upacara, tidak lagi diikat oleh peraturan-peraturan ke-
agamaan, ia tidak akan memusatkan pikiran dengan tujuan men-
dapatkan kel.Jntungan-keuntungan kesaktian dan nama besar.
Untuk melukiskan kebenaran kenyataan ini, maka orang-orang
suci pada jaman dahulu menQ.uncarkan Gatha yang dikenal de-
ngan nama Kamagita ini. Dengarkanlah 0 Yudhishthira, Kama-
gita ini baik-baik.

"Kama telah menyatakan bahwa tidak ada makhluk yang
kuasa menaklukkan aku tanpa mengetahui terlebih dahulu
cara-caranya yang benar. Untuk men~ndukkan aku, lakukan-
lah latihan-Iatihan Yoga dan hilangkan keinginan sedikit demi
sedikit. Orang yang ingin mengalahkan aku dengan mengun-
carkan mantra-mantra, aku akan menguasai dirinya dengan
menyusup ke Jalam ji\";aflya, ia ~idak me'lyadari bahwa setelah
mantra-mantra itu demikian meresap, aku sendirilah yang di-
anggapnya ego subjektif yang menggetarkan dirinya sendiri itu.

Apabila ia ingin menaklukkan aku dengan menyelenggara-
kan upacara-upacara dan melakukan dana punia, maka aku
aKan menipunya dengan menampakkan diri di dalam fikirannya
sebagai makhluk yang paling sakti dari antara seluruh mahluk
hidup, dengan demikian aku akan tetap disembah dan dipuja-
nya dengan sajen-sajen dan dana punia itu.

Apabila aku ingin ditundukkan dengan mempelajari Weda-
weda dengan cabang-cabangnya yang tercakup di dalam weda,
maka aku pun menampakkan diri dengan menjelma di dalam
benda-benda tidak bergerak, hingga benda-benda itu didamba-
kan dikira akan dapat memberikan kepuasan kepada dirinya.

Orang yang mempergunakan kebenaran sebagai sumber
kekuatannya, dan ingin menundukkan aku dengan mengan-
dalkan kesabarannya, maka aku akan muncul di dalam fikiran-
nya, dengan demikian dia tidak akan menyadari kehadiranku.

Apabila orang berkehendak menundukkan aku dengan
menjalankan kegiatan keagamaan, misalnya dengan menjalan-
kan tapa-brata yang keras, maka aku akan muncul menjelma
menjadi suatu syarat yang harus dipenuhi dan yang paling ke-
ras, dengan demikian ia tidak akan mengenal diriku sendiri
dan terus mengejar cara-cara bertapa yang lebih keras dan
yang lebih keras lagi.

Seorang terpelajar yang ingin menaklukkan aku, dan ber-

32

dah mendapat gambaran bahwa kekayaan yang melimpah pas-
ti akan hamba dapatkan. Dengan demikian hamba berhasrat
untuk melaksanakan upacara besar untuk memuja para Dewa
penguasa alam semesta yang selalu dipuja-puja. Atas bimbing-
an dan bantuan paduka sekalian, hamba pastilah dapat menye-
lenggarakan upacara itu. Wahai paduka sekalian yang suci,
hamba sudah mendengar bahwa pegunungan Himalanya pe-
nuh dengan keajaiban-keajaiban. Semogalah berkat petunjuk
dan dea restu paduka sekalian, kami berhasil mencapai tempat
tujuan dan kembali dengan selamat. Seluruh upacara kurban
yang hendak hamba lakukan akan hamba kuasakan kehadap-

aan yang mulia para Brahmana Perkenankanlah pada kesem-

patan ini hamba menghaturkan banyak terima kasih, terutama
kehadapan paduka yang mulia Narada dan Dewashthana atas
petunjuk serta petuah demi kesejahtraan ~ami semua. Sung-
guh beruntunglah kami, karena pada saat-saat naas seperti
ini, kami disekong dan dihibur oleh mahluk-mahluk suci yang
tidak ada bandingannya lagi di Dunia ini".

Setelah mendengarkan serta menerima penghormatan da-
ri Yudhishthira itu, para Brahmana itu lalu mohon diri untuk
.kembali ke pegunungan Himalaya dan seketika mereka lenyap
dari pemandangan. Tempat itu menjadi sunyi kembali. Yudhishthi-
ra masih duduk di tempat itu untuk sejenak, dan kemudian, ba-
rulah para Pandawa itu berangkat kembali untuk mempersiap-
kan segala sesuatu berkenaan dengan upacara yang akan di-
selenggarakan. Pertama-tama mereka menyelenggarakan upa-
cara pembakaran jasad Bhisma, Karna dan para Kaurawa. Upa-
cara pembakaran mayat itu berlangsung dengan khidmat yang
selanjlItnya disusul dengan pembagian hadiah-hadiah kepada
para Brahmana. Setelah itu, baginda melanjutkan penyeleng-
garaan upacara pembakaran mayat para ksatria lain yang te-
was dalam pertempuran besar itu. Setelah semua upacara
pembakaran mayat itu selesai diselenggarakan, barulah para
Pandawa itu kembali memasuki istana negeri Hastina bersama-
sama Raja tua Dhritarashtra. Dan untuk selanjutnya, para Pan-
dawa merasa berkewajiban untuk menghibur serta meladeni
pamannya itu, dan juga melanjutkan memerintah kerajaan itu,
bersama-sama dengan saudafa~saudaranya.

XV. Wasudewa dan Dhananjaya, pasangcmheb(:it nan kekal itu,
sangat bergembira setelah Pandawa berhasil merebut kembali
kerajaan dan mengamankannya. Dengan perasaan puas dan
gembira mereka berangkat mengunjungi tempat-tempat suci
dihutan-hutan keramat serta indah, mendaki pegunungan, ber-

34

tujuan membebaskan diri, dengan segera akan kutertawakan
dihadapan mukanya sendiri. Ketahuilah bahwa aku ini kekal,
tidak memiliki tandingan, tidak ada makhluk di alam semesta
yang mampu menghancurkan aku. Aku tidak mungkin, 0 Raja,
dapat dimusnahkan. Kekuatanku hanyadapat disalurkan, dibe-
lokkan, menjadi suatu bentuk kekuatan sejati yang mendukung
segala cita-cita dapat tercapai. Aku tidak terbendung! Tidak
terkalahkan! Tidak terhancurkan '"

Demikianlah 0 Yudhishthira, Kama itu. Janganlah adinda
menolak kenyataan ini. Adinda pada saat ini adalah seorang
raja yang memimpin sebuah kerajaan. Tidak dapat membebas-
kan diri dari keinginan dan kehendak. Adinda sedang memikul
tanggung jawab dan aspirasi seluruh rakyat di kerajaan ini.
Karena itu, bersiap-siaplah sekarang untuk melakukan upacara
upacara yang patut dilakukantLakukan upacara kurban kuda
dan upacara dana punia yang pantas dan yang megah. Jangan
dibiarkan kesedihan menguasai diri adinda. Suat apa dikenang
lagi teman-teman, sanak keluarga yang sudah tewas menunai-
kan kewajibannya di medan pertempuran? Semua mereka itu
sudah tidak ada lagi di dunia ini, dan bagaimanapun juga
mereka tidak bisa hidup kembali. Karena itu bangkitlah dan
laksanakan upacara-upacara dan berikan hadiah-hadiah agar
adinda selaku raja berk,uasa dapat mencapai kemashuran dan
kesempurnaan di Dunia ini dan selanjutnya kebahagiaan yang
sempurna di kemudian hari!"

XIV. Demikianlah Yudhishthira dihibur oleh teman-teman dan
para pertapa suci diantaranya Wishtarasraba, Dwaipayana
Wyasa, Krishna Dewashtana, Narada, Shima, Nakula, Krishna
Draupadi, Sahadewa Wijaya, dan pembesar-pembesar lainnya
beserta para Srahmana yang pandai-pandai.

Yudhishthira pun bangkit semangatnya,dan berangsur le-
nyaplah kesedihannya. Baginda lalu melanjutkan upacara pe-
nyucian bagi semua teman-teman yang tewas dan melakukan
penghormatan serta pemujaan kehadapan para Brahmana dan
Dewa-dewa. Baginda bertekad untuk memerintah kerajaan
yang sudah direbutnya dan seluruh Dunia tunduk dan hormat
kepadanya.

Pada kesempatan itu pula, baginda mengucapkan kata-
kata sebagai berikut ditujukan kehadapan Maharishi Wyasa,
Narada dan para pertapa yang hadir disana : "Kesedihan sudah
tidak berbekas lagi didalam jiwa hamba. Itupun setelah mere-
sapkan petuah dan petunjuk yang tidak ternilai yang paduka
sekalian limpahkan kepada hamba. Sekarangpun hamba 9U-

33

ziarah. bertamasya ke danau-danau dan sungai-sung'ai. Sung-
guhlah mereka berdua bagaikan Indra bersama pengiringnya
yang telah turun ke Bumi dari alam Kadewatan, atau bagai-
kan Aswin yang sedang bermatn-main di taman Nandana.

Pada suatu hari mereka bercakap-cakap di dalam ruang si-
dang Indraprastha mempercakapkan kejadian-kejadian yang
dialami di dalam pertempuran serta pengalaman-pengalaman
lain ketika sedang berada di dalam hutan, dan penderitaan
kehidupan yang sudah dialaminya dahulu. Dengan sangat
gembira mereka berdua, yang tidak lain dari dua orang suci
sejak jaman bahari, membaca serta mengungkapkan sejarah
keturunan orang-orang suci dan para dewa. Padakesempatan
inilah Kesawa yang berpengetahuan luas dan sangat bijaksana
itu memberikan petunjuk-petunju, dengan penuh kasih sa-
yang kepada putera Pritha. Sedianya, nasihat yang diberikan-
nya itu adalah nasihatnya yang terakhir sebelum beliau kem-
bali ke negerinya di Dwarawati.'Pada kesempatan ini beliau
bermaksud menghibur hati Arjuna, karena ternyata ia masih
sering terkenang kepada putera-puteranya yang tewas dan
juga ribuan sanak keluarganya yahg lain. Gowinda mengucap-

kan kata-kata sebagai beriku,t ini :
"0 Arjuna, adindJl, sekarang ini, seluruh duniasudah tun-

duk kepada pemerintahan Maharaja Putera Dharma. Dalam
merebut kemenangan di medan laga, tidak lain dari senjata
adindalah yang menjadi andalan pertama. Dengan adinda sela-
ku pendamping, ditambah dengan kekuatan Bhima dan dua
adik-adik kembar, raja Yudhishthira tidak lagi mempunyai tan-
dingan di dunia ini. Tetapi wahai adikku, ketahuilah bahwa
ke!<uatan yang paling menentukan dalam mencapai keme-
nan-ganitu adalah kekuatan kebenaran. Kekuatan kebenaran
in ilah yang menyebabkan raja dapat merebut kembal i kerajaan
dan terbebas dari musuh-musuh serta kesulitan-kesulitan
yang lain. Adalah karena tindakan kebenaran maka raja Su-
yodhana dapat ditewaskan. Semua putera-putera Dhritarash-
tra yang bethati jahat, serakah dan kasar bicara itu, semuanya
sudah dapat dilenYapkan. Demikian para pengikutnya. Karena
itu putera Dharma dengan bantuan adinda pula dapat meme-
rintah seluruh kerajaan di Dunia dengan hati damai. Dan saya,

dengan gembira pula dapat menghabis!<an waktu bersama
adinda, menikmati keindahan alam di dalam hutan ini. Wahai
adinda nan perkasa, apa lagikah yang dapat kusampaikan, ke-
cuali penegasan, bahwa di manapun adinda 0 putera Prita
berada, di mana pun Raja Putera Dharma berada, di mana pun
Bhim'asena dan putera-putera Madri, ke sanalah aku merasa

35

tertarik. SungJuh gembira aku dapat hadir di sini. di dalam
ruang sidang yang indah dan megah ini. dan kupikir sudah
cukup lama pula aku berada di tengah-tengah kalian semua
Tanpa terasa waktu sedemikian cepat berlalu. hingga cukup
lama sudah aku tidak berjumpa dengan ayah Wasudewa Bala-
dewa dan para pemimpin bangsa Wrishni. Sekarang aku ingin
kembali ke Dwarawati. Ijinkan aku kembali Ketika raha y.u-
dhishthira menderita kedukaan hebat. aku bersama-sama de-
ngan Bhisma swdah membacakan ceriter-a-cerita untuk meng-
hibur kedukaan. Dan raja Yudhishthira yang berbudi luhur itu.
meskipun beliau sendiri sudah penuh dengan berbagai macam
pengetahuan dan sangat bijaksana. tetapi ternyata sangat
memperhatikan pula ceriter-a-ceriteraku itu. Putera Dharma itu
sangat menjunjung tinggi kebenaran. mengenal rasa syukur
dan berlaku sangat adil. Kar~a itu kekuatan bathinnya.
pertimbangan-pertimbangannya serta keseimbangannya se-
lalu 'mantap dan sanggup mengatasi segala rintangan. Dan
sekarang 0 Arjuna. adinda pergilah menghadap kepada bagfn-
da. katakan bahwa kakanda segera akan mahan diri mening-
galkan kerajaan ini. Sebenarnya aku segan meninggalkan ka-
lian untuk kembali ke Dwarawati. Memang sesungguhnyalah
bahwa keinginanku yang paling keras adalah membantu kali-
an, mengerjakan' apapun saja yang baik untuk kalian di sini,
Tetapi kukira, tugasku di sini sudah selesai. Musuh-musuh 5U-
dah tewas semua dan raja-raja di seluruh dunia sudah menga-
kui kekuasaan maharaja putera Dharma. Semogalah maharaja
yang berbudi luhur itu selalu memerintah dengan keadilan dan
kebenaran, dihormati dan diberkati oleh para Siddha, serta di-
junjung oleh para menteri dan pembesar istana serta kerajaan.

Marilah adindaku, kita berangkat menghadap raja dan adtn-
da laporkanlah bahwa aku segera akan kembali ke Dwa-
rawati. Ka~akan, bahwa berkat kecintaan Yudhishthira kepada
diriku, maka apapun yang menjadi kepunyaanku di kerajaan
Dwarawati, sepenuhnya kuserahkan kepada baginda. Demiki-
an,O Partha, setelah raja Yudhishthira menguasai dunia, maka
selesailah tugasku. kecuali kasih sayangku akan tetap ku-
tinggalkan di sini. kepada kalian semua. dan khusus kepadamu

juga 0 Partha".

Arjuna berdiri untuk segera menuju istana seraya berkata :
"Baiklah kakanda junjunganku, sernoga demikianlah hendak-
nya" .

36

XVI. Kerajaan sudah dapat direbut kembali. Arjuna selalu nam-
pak berdua dengan Krishna. Dengan riang gembira mereka me-
ngisi waktunya dengan bercengkarma, mengungkapkan ce-
ritera-ceritera kuna, pengalaman-pengalaman dan berbagai hal
yang menarik dan bermanfaat bagi kesadaran jiwa. Pada suatu
hari mereka sedang berada di suatu ruangan istana yang diba-
ngun sangat indah bagikan sebagian dari kerajaan Surga sen-
diri. Mereka dalam keadaan sangat berbahagia, dikelilingi oleh
sanak keluarga dan para pengawal, berjalan perlahan-Iahan
sambil menikmati keindahan ruangan yang sungguh luar biasa

itu. Pada saat itulah Arjuna teringat kepada suatu kejadian se-
saat sebelum maju bertempur di rnedan Kurukshetra, karena itu
ia berhenti dan mengajukan pertanyaan sebagai berikut :

"0 kakanda, junjungan, pahlawanan gagah perkasa. Ham-
ba rnerasakan kebesaran kakarida dengan jelas ketika saat-saat
menjelang pertempuran tibt. Kakanda putera Dewaki, pada
waktu itu hamba telah menyaksikan perwujudan kakanda yang
sebenarnya, 0 penguasa alam semesta, kiranya hanya hamba
sendirilah yang beruntung dapat menyaksikan keajaiban itu.
Pada saat ini, 0 Kesawa, semoga kakanda paduka dapat me-
ngampuni hamba, karena kedangkalan fikiran hamba, semua
yang kakanda ucapkan ketika itu, hampir seluruhnya sirna dari
ingatan hamba. Tetapi ketahuilah 0 kakanda, tentu harnba tidak
bosan-bosannya mendengarkan kebenaran itu diuncarkan
kembali. Limpahkanlah kasih sayang paduka hari ini, dengan
menurunkan kembali rahasia-rahasia kebenaran itu, apalagi ini-
lah kesempatan terakhir bagi diri kami sebelum paduka be-
rangkat meninggalkan kami untuk kembali ke Dwaraka".

Mendapat permohonan seperti itu, Krishna lalu memeluk
Arjuna seraya menjawab sebagai berikut :

"Baiklah adinda. Aku persilahkan adindaku sekalian suka
mendengarkan kebenaran-kebenaran yang sering dianggap
sebagai suatu rahasia yang sungguh sulit untuk mendapatkan-
nya ataupun memahaminya. Hari ini, aku berkehendak mengu-
tarakan kebenaran-kebenaran yang kekal kehadapan adinda
sekalian. Sebenarnyalah apa yang hendak kuketengahkan ini
adalah Agama dalam bentuk yang sebenarnya, yang meliputi selu-
ruhnya dari semua Agama yang kekal. Sebenarnya, sungguh
aku tidak merasa senang apabila apa yang sudah kuajarkan, kare-
na ketinggian hati lalu dilupakan, tetapi, tentu tidak demikianlah
keadaannya dengan kalian di sini. Apa yang kuucapkCJn pada
saat-saat menjelang pertempuran itu, tentu tidak dapat kuung-
kapkan kembali persis seperti pada waktu itu. Aku yakin bahwa
adinda tidak melupakan apa yang telah kuajarkan ketika itu.
Apabila adinda melupakan semuanya, jelaslah bahwa adinda

37

ngetahuannya tentang rahasia-rahasia alam, seperti timbul dan
tenggelarnnya segala mahluk ciptaan, dan secara langsung
dapat mengetahui semua rahasia yang dicakup oleh ilmu Yoga.
Dia mengetahui semua hukum-hukum alam yang berlaku di se-
luruh dunia ini. Dia mengetahui kebenaran tentang penderitaan
dan kebahagiaan. Dia mengetahui rahasia kelahiran dan kema-
tian, mengetahui sedalam-dalamnya prinstp-prinsip yang di-
sebut baik dan buruk. Dia mengetahui keakhiran yang dicapai
oleh setiap mahluk, baik yang tinggi maupun yang rendah
sebagai akibat dari perbuatannya, Brahmana itu hidup di sini,
di Dunia ini, tetapi ia sudah terbebas dari segala ikatan duniawi.
Beliau adalah seorang pertapa yang sudah berhasil dengan
gemilang. Karena itu beliau sudah mencapai ketenteraman jiwa
dan mengendalikan perasaannya dengan sangat sempurna.
Nampak beliau itu memancarkan sinar Brahman, dan terakhir,
dia sudah mempunyai Icfsaktian yaitu mampu pergi kemana
pun menurut kehendaknya. Beliau juga menguasai ilmu ghaib
yaitu dapat melenyapkan diri dari hadapan semua mereka yang
memandang langsung kepadanya. Beliau sering nampak ber-
kumpul. dengan para Siddha penghuni alam hal us dan ber-
sama-sama ahli, musik dari alam Kadewatan, Beliau duduk di .
tengah-tengah mereka di suatu tempat sunyi jauh dari hiruk-
pikuknya alam kota. Beliau itu bebas seperti angin. Demikian-
lah, setelah mendengar kehebaran Brahmana itu, Kasyapa sa-
ngat ingin berjumpa dengan beliau itu, dan sebenarnya, Kas-
yapa sendiri sudah sangat terkenal karena kecerdasannya

sungguh luar biasa. Pada suatu hari, dengan nlat tidak terben-
dung, Kasyapa lalu mengunjungi Brahmana utama itu. Di-
hadapan Brahmana yang tidak ada duanya lagi' itu, Kasya~a
menjatuhkan diri memohon berkah serta petunjtlk-petunjuk.
Dengan sabar beliau menunggu belas kasih Brahmana maha-
guru tertinggi itu, ber$ujud di kakinya bagaikan seorag
murid menantikan perintah dan ajaran-ajaran. Dengan ke-
sabaran dan kebaktian· yang didorong oleh kesungguhan

hatinya itu, Kasyapa akhirnya dapat ditenma menJacl mUrid
disana. apalagi karena Kasyapa memang sudan mempunyai
pengetahuan yang cukup untuk dijadikan lanC1asan oengetahu-
an tingkat tinggi, ditambah dengan tingkah laKunyayang sopan
da'n sabar Mahaguru Brahmana itu merasa puas lalu diberka-
tinya, Kasyapa itu serta diucapkannya ka:ta-kata sebagai berikut:

. "0 anakku, dengan berbagai macam perbuatan, ditambah

dengan berkah dan restu yang diterima, mahluK-mahluK ~ang
tidak kekal ini dapat mencapai suatu1ingkat terakhir kehidupan

yang sungguh berbeda-beda, baik di sini maupun di alam sana
nanti. Sebenarnya, tidak ada apa yang disebut puncak kebaha-
giaan itu; dan tidak ada satu p~m tempat yang kekal di alam ini.

39

kurang keyakinan dan pengertian adinda masih kurang men-

dalam. Tentu tidak mungkin 0 Dhananjaya. aku mengulangi

seluruhnya secara tepat seperti yang kuuncarkan ketika itu.

Ingatlah bahwa ajaran agama yang kukemukakan kepada adtn-

da ketika itu, sudah lebih dari cukup guna mendapatkan pe-

ngertian tentang Brahman. Pada waktu itu aku telah mengajar

kan tentang Brahman yang agung sementar akupun pada wak-

tu itu sedang dalam pemusatan cipta melalui Yoga dan menga-

lami penyatuan fikiran yang paling tinggi. Namun demikian,

baiklah sekarang aku mengajarkan itu semua melalui ceritera

kuna dan menyangkut hal yang sama. Wahai pahlawan seka-

Ilan yang menjunllJng tmggi segala kewajiban, aengarkanlah

baik-balk apa ya'ng hendak ku aJarkan ini. Apabila semua ajar-

anku ini dapat dimengerti dengan baik, pastilah kalian semua

berhasil mencapai puncak keakhiran,waitu tempat mulia, yang

paling tinggi! .

o para Ksatria, pada suatu hari, seorang Brahmana dari

alam surga telah berkenan datang mengunjungi aku. Dengan

kekuatan hebat yang dimilikinya, beliau turun dari alam paling

hulur di mana bermukim junjungan seluruh mahluk di alam

semesta. Kami menerima kehadiran beliau itu dengan tatacara

sepantasnya dan penuh kehormatan. Nah, sekarang dengar-

kanlah baik-baik, wahai putera Pritha! Jernihkan fikiran, jangan

lagi ragu-ragu dan jangan pula membantah! Dengarkan saja

baik-baik apa yang telah diungkapkan oleh Brahmana mulia itu

untuk menjawab pertanyaan yang adinda ajukan kepadaku.

Kebenaran yang diungkapkan itu adalah kebenaran yang ber-

laku juga di alam Surga!

Brahmana yang berpengetahuan maha tinggi itu mula-
mula menjawab pertanyaanku sebagai berikut ini :

"Apa yang anda tanyakan itu 0 Krishna, adalah ajaran aga-
ma tentang kebebasan abadi atau moksha. Semua itu akan kuje-
laskan, mengingat bahwa anda sudah menunjukkan kasih sa-
yang kepada semua mahluk, tidak mementingkan diri sendiri.
Sifat seperti itulah yang sebenarnya dapat melenyapkan kege-
lapan fikiran. Demikian itulah sebenarnya 0 Krishna, orang
yang keluhuran budhinya sudah memuncak sampai ketingkat
yang tertinggi. Baik, dengarkanlah sekarang 0 Pembunuh Rak-
sasa Madhu, dengarkanlah dengan penuh perhatian 0 Ma-
dhawa!

Pada suatu hari, BrahmanaKasyapa yang terkenal sakti dan
memahami hukum-hukum kewajiban telah bertemu dengan
seorang Brahmana bijaksana lain yang sangat mendalam pe-
ngertiannya tentang hakekat dan filsafat keagamaan.Memang
sebenarnyalah Brahmana yang satu ini $angat mendalam pe-

38

Yang ada hanyalah kejatuhan dan peningkatan yang berlang-
sung berulang-ulang. Jatuh dari tempat-tempat yang tinggi dan
yang lebih tinggi, dengan disertai penderitaan-penderitaan
yang bertalian dengan kejatuhan itu. Karena aku telah terlibat
dalam perbuatan-perbuatan dosa, aku sudah mencapai berma-
cam-macam keakhiran dan kelahiran kembali, penuh dengan
penderitaan dan keberuntungan yang buruk, penuh dengan
nafsu dan kutuk serta digelapkan oleh dorongan keinginan
yang memuncak demikian berulang-ulang aku sudah menga-
lami kematian dan kelahiran kembali. Sekarang aku sudah me-
rasakan bermacam-macam rasa makanan, aku sudah menyu-
sun di dada ibu-ibu yang berbeda-beda, demikian juga aku su-
dah mempunyai ayah-ayah yang berbeda-beda. Bermacam-
macam bentuk kesenangan sudah pernah kualami, demikian
juga segala bentuk kesusahan dan kedukaai. Demikian 0 an an-
da Kasyapa, seringkali sudah aku dijauhkan dari kesenangan
dan hidup diliputi kesengsaraan. Setelah berhasil mengumpul-
kan kekayaan dengan bekerja keras, tiba-tiba semua kekayaan
itu harus lenyap dengan menimbulkan berbagai macam penye-
salan. Penderitaan dan penghinaan aku sudah dapatkan dari
raja-raja, dari sahabat-sahabat dan orang-orang yang tidak ku-
kenaI. Aku sudah mengalami bermacam bentuk tekanan, baik
tekanan jasmani maupun tekanan rohani. Aku dihinakan, disik-
sa dan bahkan dibunuh. Sudah berulangkali aku jatuh ke alam
Neraka dan rnengalarni siksaan-siksaan hebat di alam Yarna.
Berrnacam-macam cacat dan penyakit sudah pu la sempat ku-
derita, berulang-ulang, dan ditambah dengan bermacam-ma-
cam bencana sudah menimpa dan seringkali sangat hebatnya.
Oi dunia ini seringkali aku mengalami penderitaan yang ber-
surnber dari sifat kembar yang saling bertolak belakang (rwa
bhineda) itu. Setelah berulang-ulang kali aku menderita seperti
itu, rnaka pada suatu saat, ketika aku sedang ditimpa kesedihan
yang teramat hebat, karena sudah putus asa, aku lalu bersujud
dan rnemohon perlindungan kepada Oia Yang tidak Berwujud.
Aku rnenyerahkan diriku sepenuhnya, meninggalkan Ounia ini
dengan segala bentuk kesenangan dan kesusahannya. Oengan
sepenuh kemampuan aku memusatkan cipta kepadaNya, hing-
ga mencapai keadaan sarnadhi di mana aku tidak lagi menya-
dari seluruh fungsi jasmani dan fikiranku lagi. Di sinilah aku
baru mendapatkan kebahagiaan itu, dan uI1tuk seterusnya aku
hanya hidup untuk melatih diri menempuh jalan kebahagiaan
melalui Yoga yang sederhana ini. Ketenangan jiwaku berkem-
bang, dan dengan ketenangan jiwa seperti itu aku berhasil me-
ningkatkan diri sebagaimana ananda saksikan sekarang. Cita-ei-
taku adalah agar rohku terserap seluruhnya ke dalam Roh Brah-

40

man yang k:ekal itu, lebur menjadi satu dengan Roh alam Se-
mesta. Hanya itu lah cita-citaku dan aku terus berusaha melat1h
d iri agar cita-cita itu segera dapat dicapai, yaitu bersatu dengan
mahluk-mahluk suci yang sudah menjadi bagian dari alam Se-
mesta ini. Aku akan meninggalkan dunia ini menuju ke alam-
alam yang lebih tinggi (Satyaloka) dan akhirnya terserap ke
dalam Brahman. Dengan keteguhan seperti sekarang ini tentu
akhirnya akan tercapai juga alam Brahman yang tidak mampu
kita amati di dunia ini. Janganlah engkau 0 anakku, ragu-ragu
lagi tentang hal ini. Aku sungguh tidak ingin kembali ke dunia
yang tidak kekal ini. Wahai ananda yang bijaksana, aku sudah
cukup puas dengan apa yang sudah engkau ketahui dan apa
yang sudah engkau kerjakan. Katakanlah sekarang, apa yang
baik kulakukan untuk menolong dirimu. Sekaranglah saat yang
baik untuk menyampaikan apa-apa yang sudah mendorong
. ananda datang kepadaku. Me~ng sebenarnya, akupun sudah
tahu apa yany menjadi tujuanmu datang menemui aku di sini.
Baiklah, karena aku pun segera akan meningga1kan dunia ini.

Aku sudah memperhatikan, dan cukup puas terhadap dirimu.
Sekarang tanyakanlah! akupun sudah menduga bahwa kamu
cukup memiliki kecerdasan untuk menerima ranasia-rahasia
yang akan kuajarkan kepadamu. Sebenarnya, kecerdasanmu
itu lah yang mendorong kamu untuk datang kepadaku, 0 anan-
da Kasyapa, engkau memang memiliki kecerdasan yang luar

biasa" .

XVII. Kasyapa menyembah dalam-dalam, kepalanya menyentuh

kaki Brahmana yang berpengetahuan maha tinggi itu, yang

sudah mencapai kebebasan, meskipun masih hidup untuk be-

berapa saat lamanya lagi di dunia ini. Kasyapa mengajukan

pertanyaan-pertanyaan yang sungguh sangat sukar dijawab.

Pertanyaan-pertanyaannya itu meliputi hal-hal sebagai beri-

kut: Bagaimanakah jasad ini melebur dan bagaimana roh itu

dapat memiliki badan jasmani yang lain? Bagaimanakah orang

dapat mencapai kebebasannya setelah melalui kelahiran-ke-

lahiran yang berulang-ulang itu? Dengan menikmati Prakriti

untuk beberapa waktu lamanya, bagaimanakah Roh itu dapat

meninggalkan jasadnya yang diberikan oleh Prakriti itu? Sa-

gaimanakah proses pembebasan Roh itu berlangsung dan ba-

gaimana ia mencapai tujuannya yang terakhir? Bagaimanakah

manusia itu dapat menikmati serta menahan hasil-hasil perbu-

atannya yang baik dan yang buruk? Oi manakah Roh yang

tidak berjasad itu dapat menikmati buah-buah perbuatannya?

41

Brahmana sakti itu menjawab semua pertanyaan-pertanya-
an Itu satu persatu. Dengarkanlah wahai pahlawan bangsa
Wrishni , bagian-bagian terpenting dari jawaban-jawaban itu.

Setelah semua perbuatan yang dap'at memperpanjang ke-
hidupan di dunia ini berakhir, yaitu segala perbuatan yang
dapat mengakibatkan kecemerlangan jasmaniah atau duniawi
telahterhenti, maka Roh itu mulailah melakukan kegiatan yang
bertentangan dengan kegiatan-kegiatan yang biasa dilakukan;
ia menolak segala kegiatan yang menghidupkan atau menye-
hatkan badanjasmani. Demikianlah menjelang saat penghan-
curan jasad ini. Roh itu akan menentang semua pengertian
yang blasanya dimiliki oleh manusia biasanya. Namun hal ini
belum tentu berarti kecerobohan ataupun kebodohan. Orang
yang bodoh dan penuh dosa, meskipun ia memahami hukum-
hukum kesehatan jasmani ·yang bertalian erat dengan penge-
tahuan tentang makanan, tentang ~ia dan musim, tetapi ia
mengabaikan hukum-hukum kesehatan itu, dengan tidak per-
duli untuk mengatur waktu makanannya dan memakan
makanan-makanan yang berbahaya bagi kesehatannya. Orang
bijaksana akan mengatur hidupnya sesuai dengan kehendak-
nya. Menjelang saat kehancuran badan jasmani, orang bahkan
akan melakukan kegiatan jasmani yang berbahaya bagi ke-
sehatannya. Seringkali ia makan terlalu banyak, atau tidak
makan sarna sekali. Memakan. makanan yang tidak sehat,
minuman tidak sehat, campuran makanan buruk hingga tidak
memenuhi syarat-syarat kesehatan. Memakan makanan de-
ngan kadar lemak terlalu tinggi, makanan kotor bekas orang
lain. Selanjutnya ia sering memeras tenaga jasmaninya terlalu
berat, melakukan hubungan seksu~1 berkelebihan dan sering
pula tidak melakukan kegiatan sarna sekali dan menolak semua
dorongan jasmaniah sarna sekali. Memakan makanan yang
terlalu banyak berkuah atau terlalu banyak tidur siang, dengan
demikian makanan. tldak dicernakan dengan baik. Mungkin

juga ia memakan makanan yang berpengaruh buruk bagi ke-
seimbangan peredaran oksigen, kelenjar pankreas dan hatL

Keseimbangan yang terganggu itu akan mengakibatkan sakit
dan bisa berakhir dengan kematian. Kadang-kadang, orang

yang in,9in segera menghancurkanbadan jasmaninya, melaku-
kan tindakan-tindakan yang tidak wajar, misalnya meng-
gantung dirinya hingga mati, Demikian inilah jasad

mahluk hidup itu menjadi rusak; Aku mengharapkan agar
ananda dapat memahaminya. Kadang-kadang, didorong oleh
angin yang berpusar kencang di dalam tubuh, panas di da-
lam badan b~rgerak dan mencapai turut bagian tubuh,
menghalangi pergerakan prana (hawa murni). Karena menda-

42

pat rangsangan itu, panas badan meningkat terlalu tinggi dan
merusak bag ian-bag ian penting di dalam tubuh. Bagian-bagi-
an penting itu adalah pusat-pusat tempat'menetapkan kehidup-
an. Akibatnya, roh itu--merasakan adanya tekanan yang hebat
dan ingin segera meninggalkan jasad selaku pembungkusnya
yang tidak kekal ini. Ketahuilah 0 manusia utama, apabila
bag ian-bag ian terpenting tubuh ini mendapat tekanan sedemi-
kian rupa, roh akan mulai meninggalkan badan itu. Sem~a
mahluk hidup pasti merasakan serta mengalami tekanan Rasa
Sakit dari proses kelahiran dan kematian itu. 0 Brahmana mu-
lia, sakit yang dirasakan pada waktu Aoh melepaskan diri itu se-
banding dengan rasa sakit yang terjadi pada waktu Roh itu
memasuki rahim dan juga pada waktu keluar dari rahim untuk
lahir ke dunia sebagai bayi. Pada waktu itu, semua persendian
terasa terlepas, dan itu ditambah dengan tekanan hebat yang
ditimbulkan oleh air yang berada di dalam kantong rahim. Da-
lam' proses kematian, terasa a<!anya dorongan udara atau gas
yang berada di dalam badan. Perasaan dingin lalu menyusupi
sekujur tubuh dan mulai terurailah ikatan unsur-unsur yang me-
nyusun badan jasmani, menjadi kelompok-kelompok unsur-un-
sur yang terpisah-pisah. Kelompok unsur-unsur itu pada dasar-
nya terdiri dari lima golongan unsur besar, Dan hawa yang bera-
da didalam badan yang mernberikan daya hidup itu pada pokok
nya dapat dibagi rrienjadi dua golongan penting, yaitu Prana
dan Apana. Kedua jenis hawa ini merasuk ke dalam gugus2
kelima unsur besar, mendesak ke atas karena adanya situasi
yang tidak menyenangkan itu dan meninggalkan jasad yang
tadinya hidup ini. Demikianlah prana dan apana itu meninggal-
kan jasadnya di sini. Karena itu jasad tidak bernafas lagi dan
dengan serta merta tubuh akan kehilangan panas badan, tidak
bernafas, wajah kehilangan seri yang tadinya memberikan ke-
cantikan, dan yang terutama adalah tubuh ini kehilangan
kesadaran. Ditinggalkan oleh ,Brahman (Aoh atau Atman l sarna
dengan Brahman,) maka orang itu dikatakan mati. Pemilik'
jasad itu tidak lagi dapat mengetahui alam sekitarnya melalui
saluran pengindraannya. Roh yang kekal itulah yang tadinya
mengolah makanan yang masuk ke dalam tubuh hingga ma-
kanan dan minuman itu memancarkan hawa murni (grup pra-
na), guna menunjang berlangsungnya kehidupan. Unsur-
unsur mengelompokkan.diri menjadiS1UQus-gu~usyang terikat
ketat satu sama lain. Gugus unsur-unsur itu memusatkan diri

pada bagian-ba9ian penting di dalam badan. Demikian itu juga
disebutkan dalam sastra-sastra. Apabila bagian-bagian terpen-
ting itu dirusak, Roh itu bergerak dan memusatkan diri di dalam
jantung dan dengan segera menghentikan proses kehidupan
itu dengan demikian meskipun mahluk itu masih memiliki prin-
stp-prinsip kesadaran, tetapi ia tidak sadarkan diri, tidak me-

43

ngetahui keadaan di sekttarnya. Bagian-bagian penting di
dalam badan itu diselubungi kegelapan yang pekat. Dan pada
ketika itu Roh dirangsang dan didorong oleh hawa, lalu beru-
saha menghisap hawa itu dengan suatu nafas yang panjang
dan dalam, dan kekuatan terakhir itu ia melepaskan diri ke
luar dari dalam badan. Pada saat usaha terakhir itulah badan
ini nampak berontak dan gemetar. Di luar jasad itu, Roh dise-
lubungi oleh rekaman segala perbuatan yang pernah dilaku-
kannya. Rekaman itu meneatat segala tingkah laku yang baik
dan yang buruk dan ini ditambah oleh berkah dan rahmat vana
pernah diterimanya sesuai dengan kebaktian dan kesujudan-
nya, tidak ketinggalan rekaman dosa-dosa yang pernah dilaku-
kannya. Para Brahmana yang tinggi pengetahuannya, yang
sudah memahami hukurn-hukum terpenting dari kitab-kitab.
Suei, akan dapat pula mengetahui keadaan jiwa. atau Rohnya
itu. Mereka akan mengetahui apakah Rot-6itu memiliki pahala-
pahala yang baik, buruk, apakah mempunyai berkah-berkah
atau tidak sama sekali. Dengan mata, manusia dapat melihat
seekor kunang-kunang di kegelapan malam, dan sebenarnya
ia juga mempunyai mata pengetahuan serta kemampuan-
kemampuan lain yang didapatkan berkat ketekunannya belajar
dan melakukan tapa brata. Karena itu, dengan pandangan mata
bathin, iapun dapat melihat Roh yang baru saja meninggalkan
badan, juga dapat dilihatnya Roh yang lahir kembali, atau yang
sedang memasuki kandung rahim. Dapat dilihat bahwa ada
tiga tempat yang kekal bagi roh itu. Dunia ini, di mana semua
mahluk hidup, disebut laoaogan untuk melakukan kegiatan
Di dunia ini, semua mahluk itu melakukan perbuatan yang baik
atau buruk, serta membuahkan. pahala-pahala yang sesuai
dengan perbuatannya itu. Sebagai akibat dari perbuatan-per-
buatannya itu, mahluk-mahluk dapat menikmati kesenangan
dari berbagai tingkatan. Orang-orang yang selamanya berbuat
keburukan saja di dunia ini, maka sebagai akibat dari perbuat-
annya itu iapun akan jatuh ke alam Neraka. Neraka inilah tern-
patRoh yang kedua. Tenggelam di alam penuh siksaan ini,
dengan kepala mengarah ke bawah, akan merupakan penderi-
taan dan siksaan yang maha hebat. Untuk menyelamatkan diri
dari alam siksaan ini, adalah luar biasa sulitnya. Dan sebenar-
nyalah bahwa setiap insan harus berusaha keras membebas-
kan diri dari alam penderitaan ini.

Sekarang dengarkanlah baik-baik tentang alam-alam, ke
mana Roh yang baru melepaskan diri dari jasad kasar itu me-
nuju. Pusatkanlah perhatianmu. Dengan memperhatikan apa
yang hendak kukatakan ini, ananda akan mendapat keteguhan
iman dan pengertian, serta fikiran ananda pun akan menjadi
jernih, hingga dapat membedakan perbuatan yang baik dan

44

yang buruk. Roh yang diliputi oleh rekaman perbuatan yang
baik akan menuju ke alam bintang-bintang yang bersinar di
angkasa, juga ke bulan dan ke matahari dan ke benda-benda
lang it yang lain di angkasa raya serta dapat memancarkan
cahayanya sendiri. Setelah pahala yang patut dinikmati di alam
itu habis, Roh itu akan merosot dan jatuh ke alam yang lebih
rendah. Demikian terjadi berulang-ulang, pertama menuju ke
alam yang tertinggi yang mungkin dicapai dan selanjutnya me-
rosot dan merosot ke alam rendah untuk kembali lagi ke alam
yang tinggi. Jadi di alam Surga itupun terdapat tingkatan-ting-
katan, karena itu masih terdapat juga perasaan tidak puas ter-
hadap keadaan sendiri dan keadaan Roh-roh lain, misalnya
merasa kecewa setelah melihat kecemerlangan sendiri yang
dilampaui oleh cemerlangnya Roh-roh orang lain. Sesungguh-
nya, kecemerlangan sinar Roh i~lah yang kita -cita-citakan.

Sekarang marilah kita tinjau bagaimana perjalanan Roh itu
kembali ke kantung rahim untuk dilahirkan kembali ke dunia
ini. Dengarkanlah baik-baik 0 Brahmana.

XVIII. Semua perbuatan kita, yang baik dan yang buruk, yang

sebenarnya dilakukan oleh Jiwa atau Roh atau Atman, apapun

namanya disebutkan orang, tidak bisa dimusnahkan. Setelah

mengembara dari satu jasad ke jasad yang lain, perbuatan-per-

buatan itu menghasilkan pahala-pahala yang sesuai dengan

perbuatan-perbuatan itu. Sebagaimana halya pohon yang ber-

buah, apabila musimnya sudah tiba, tentu akan menghasilkan buah-

buah. Pohon yang baik akan menghasilkan buah yang banyak,

sehat dan manis-manis.Akan tetapi pohon yang kurang baik,

buahnya tidak lebat dan banyak pula yang kecut atau busuk,

Seperti itulah kesenangan dan kesengsaraan dihasilkan. Budi·

luhur akan mendasari semua perbuatan yang menghaS(II<an

pahala-pahala yang membawa kenikmatan dan kebahagiaan.

Akan tetapi sebaliknya. hatj yang jahat akan mendorong di-

lakukannya perbuatan-perbuatan yang menghasilkan penderi-

taan Roh itu. dengan bersenjatakan fikiran yang dimilikinya.

mendorong dirinya sendiri untuk berbuat. Roh itu dengan di-

liputi oleh rekaman perbuatan-perbuatan yang didorong oleh

nafsu dan kutuk atau kemarahan. menyelinap masuk ke dalam

kandung rahim. Sperma yang bertemu dengan sel telur di da-

lam rahim. menjadi lapangan tempat turunnya Roh yang di-

liputi oleh perbuatan atau sifat yang baik atau buruk yang di-

miliki sebagai akibat dari perbuatan-perbuatannya di masa lam-

pau, Oleh karena Roh itu adalah badan halus yang tidak dapat

di amati dengan alat-alat pengindra. maka ia tidak mengikatkan

diri dengan apapun juga meskipun ia sUdahmendapatkan ja-

45

sad yang baru. Karens sifstnya itu, iapun disebut pula Brahman
yang kekal. DIA itulah Atman atau Brahman sebagai pangkal ata~
beOlh dari segala mahluk di alam semesta. DIA lah yang memberi
hidup, menyelusup ke dalam seluruh anggota tubun,_ padaJanin

yang sedang berkembang, sebagian demi sebagian dan mene-
rima fikiran sebagai sarana pelengkapnya, kemudian menetap
di seluruh bag ian tubuh yang dialiri oleh Prana dan menunjang
kehidupan. Itulah sebabnya, janin itu, yang baru saja mengem-
bangkan daya fikirnya, mulai menggerak-gerakkan anggota tu-
buhnya. S~bagaimana halnya besi yang cair, setelah dituang-
kan, tentu akan membentuk sesuai dengan alat pencetaknya,
seperti itu pula halnya Roh yang masuk ke dalam -tubuh ja-
nin ittJ, akan membentuk diri seperti bentuk janin itu pula.
Lampu yang menyala di dalam suatu ruangan, akan mene-
rangi seluruhnya yang berada di dalim kamar itu, demikian
ItU pulalah fikiran itumenyadari adanya semua anggota tubuh
di dalam badan itu. Apapun juga perbuatan yang dilakukan
oleh ROh, dengan perantaraan jasadnya, seharusnyalah dinik-
mati hasil-hasilnya oleh Roh itu sendiri. Kenikmatan dan pen-
deritaan sebagai hasil perbuatan itu haruslah habis dinikmati
atau diderita. Tetapi sebelum habis, perbuatan-perbuatan yang
lain sudah pula menimbun hasil, hingga Roh itu pada akhirnya
berhasil mendapatkan pengetahuan secukupnya guna menda-
patkan kebebasan. Baiklah akan kuuraikan, khususnya tentang
segala perbuatan yang dilakukan oleh Roh,sementara ia terlahir
secara berulang-ulang, namun iapun mendapatkan kesenang-
an. Perbuatan-perbuatan yang dapat memberikan kebahagiaan
kepada ROh, adalah segala perbuatan yang tidak mementing-
kan diri sendiri, yaitu misalnya, memberikan sesuatu untuk ke-
pentingan orang lain, melakukan tapa-brata, menuntut kehidup-
an Brahmacharyya, memuja Brahman sesuai dengan ketetap-
an-ketetapannya, selanjutnya mengendalikan diri, ketenangan,
kasih sayang universal, mengendaJikan nafsu, tidak kejam dan
ganas, tidak merampas kepunyaan orang lain, tidak memalsu
atau berbohong meski hanya dengan fikiran sekalipuo~ tidak
menyakiti mahluk hidup meski hanya dengan fikiran, berbakti
serta melayani ibu dan ayah, menghormati dewa-dewa, tamu-
tamu, menyembah terhadap guru, turutmerasakan kesusahan
orang lain, menjaga kesucian dan kebersihan, menjaga seluruh
anggota tubuh,hingga apapun yang dilakukan selalu mengaki-
batkan kebaikan: Itulah semua perbuatan yang dinyatakan sa-
bagai perbuatan baik yang mengakibatkan kebaikan dan mem-
berikan kebahagiaan kepada Roh itu. Dengan melakukan per-
buatan seperti itu akan tercetuslah kebenaran dan keadilan
yang dapat melindungi seluruh mahluk secara kekal. Perbuat-
an-perbuatan itu selalu terlihat dilaksanakan oleh orang-orang

46

yang mempunyai predikat baik. Demikianlahsebenarnya se-
mua perbuatan' itu melekat secara kekal pada Roh yang baik
itu. Semua perbuatan yang dilakukan oleh orang yang berjiwa
bersih dan berbudi luhur selalu menunjukkan kebenaran
dan keadilan. Mereka itu mempunyai' fikiran jernih hing-
ga segala kegiatannya menunjang Kebenaran dan Keadil-
an yang kekaL Siapapun orang yang menggunakan kebe-
narandan. Keadilan itu sebagai dasar kegiatannya, pasti.tidak akan
pernah mendapatkan keakhiran yang menyedihkan. Adalah
dengan perbuatan-perbuatan 'baik Dunia ini dapat dipertahan-
kan pada relnya yang benar manakala tekanan-tekanan hebat
sedang melanda. Seorang Yogi adalah orang yang sudah men-
capai kebebasan. Itulah sebabnya ia selalu berada di atas dari
segala yang baik. Pembebasan diri dari ikatan keduniawian ini
batkan kelahirannya kembali ~ Dunia ini dan kelahiran ke Du-
Kita harus selamanya mempertahankan kebenaran itu melalui
setiap perbuatan yang dilakukan. Setiap mahluk hidup selalu di-
songsong oleh perbuatan perbuatannya di masa lampau. S.
mua perbuatan itu menjadi pangkal penyebab yang mengaki-
batkan kelahirannya kembali ke Duniaini dan kelahiran ke Du-
nia, berbeda dengan kesejatian yang hakiki. Memang hal ini

sering menimbulkan keragu-ragu<,.n di Dunia ini. Selanjutnya
apakah syarat-syar~t utama yang "'aF's di penuhi oleh jasad itu
agar diterima oleh Jiwa atau Roh ? Penguasa alam sementa, yaitu
Brahman, pertama-tama menciptakan sebuah jasad bagi'dtri-
Nya bersamaan dengan itu muncul Tiga Dunia dalamsatu
kesatuan yang terpadu, berikut mahluk-mahluk serta benda-
benda ciptaan yang bergerak dan yang tidak bergerak. De-
mikian itulah DIA menciptakan Pradhana yang menjadi
pangkal materiil bagi semua mahluk serta· meliputi sega-
la-galanya di alam kelihatan ini. Tetapi semua yang nam-
pakini selalu mengalami perubahan yang dikaitkan de-
ngan fikiran kemusnahan, sedangkan CIA yang tidak nampak
ituadalah kekal dan 'tidak berubah maupun dihancurkan. S.
mua yang terlihat itu disebut Kshara, dapat berubah dan me-
ngurai hancur, sedangkan yang lain itu kekal, dan disebut Aks-
hara, tidak mengurai atau hancur. Masing-masing Purusha apa-
bila dijabarkan akan terdiri dari tiga wujud yang satu sama lain
merupakan duaHtas. (Parantwamritamaksharam, meliputi dua
unauryaitu Amritam dan Aksharam. Kshara adalah jasad kasar
dan yang lain itu disebut juga Para. Para ini apabila diuraikan
terdiri dari dua unsur yaitu Amritam atau SUdiha-chaitanyam,
yang tidak lain adalah Brahman dalam bentuknya yang asli.

Sedangkan Aksharam ditujukan kepada Jiwa atau Roh atau
Atmanyang bermukim di dalam jasad kasar itu. Trayanam ada-

47

lah tiga kesatuan Kshara, Amrita dan Akshara. Minthunam ada-
lah Dualita yaitu yang disusun oleh Kshara dan Akshara.· Jadi
jelaslah bahwa setiap Purusha, mengandung dualitas yang di-
susun oleh Kshara dan Akshara). Pada waktu Prajapati untuk
pertama kali menyadari perwujudannya, Dia menciptakan

unsur-unsur primitlf dan mahluk-mahluk yang tidak bergerak.
Kenyataan ini sejak jaman dahulu kala sudah diketahui orang.
Dalam menerima keadaannya yang berjasad itu, Prajapati me-
netapkan batas-batas waktu untuk menikmati atau mengalami
setiap keadaan itu, dan ditetapkan aturan-aturan perpindahan
di antara semua mahluk itu, serta hukum-hukum kelahiran kem-
bali. Apa yang kukatakan ini adalah kepastian dan kebenaran
yang dibenarkan oleh siapapun juga orang yang memiliki ke-
cerdasan dan sudah mampu melihat Roh sendiri terutama yang
berhubungan dengan pengamatal"flya terhadap kelahiran-ke-
lahiran di masa lampau. Orang yang memahami bahwa ke-
senangan dan kesusahan itu sebagai suatu hal yang tidak tetap,
yang mengetahui bahwa jasad ini merupakan perpaduan dari
unsur-unsur yang tidak murni, dan mengetahui bahwa proses
peleburan itu selalu berlangsung, dan orang yang selalu ingat
bahwa kesenangan itu sangatterbatas, yang menyadari bahvva
sebenarnya, semuanya itu adalah penderitaan, maka orang
dengankesadaran sedemikian itulah yang akan berhasil me-
nyeberangi laut yang bergelora dari perputaran kehidupan di
Dunia ini yang sungguh sangat sukar untuk menyeberanginya.
Meskipun diancam oleh cacat jasmani, kematian dan penyakit, rna-
ka orang yang memahami tentang sifat-sifat Pradhana, tetap a~(an
"menyadari bahwa segala mahluk di Dunia ini pada dasarnya
sama-sarna· rnernpunyai potensi kesadaran yang sarna. Dalarn
usahanya untuk rnencapai tempat yang tertinggi, ia tidak per-
duli dengan apapun juga yang berada di lingkungan sekitarnya.

o Manusia utama, sekarang dengarkanlah baik-baik apa se'be-

narnya yang rnenjadi bag ian-bag ian pengetahuan sejati iitu,
pengetahuan tempat kita bersandar dan tidak dapat dihancur-
kan.

XIX. Orang yang selamanya tekun merenungkan dasar-d.asar
serta hukum-hukum kekekalan, dan berkat ketekunannya itu ia
melupakan identitas pribadinya. Satu-persatu dibuangnya
identitas-identitas itu, hingga akhirnya, iapun berhasil membe- .
baskan diri dari segala bentuk ikatan. Dan mernanglah bahwa
ia sampai-sampai tidak menghiraukan kehadiran dirinya di
alam ini. Memang dia menjadi sahabat bagi semuanya, menem-
puh serta menanggung apa saja yang menimpa dirinya. Dan

48

mendekatkan diri selamany epada ketenangan jiwa, mengen-
dalikan perasaannya, terbebas dari ras waswas dan kawatir
serta kemarahan , dengan jiwa terkendali, akhlrnya, berhasil
juga ia membebaskan dirinya dari segala ik tan. Dia mengasihi
semua mahluk sebagaimana menyayangi dirinya sendiri, ting-
kah lakunya teratur. suci murni terbe as dari kesombongan,
tidak bersifat keakuan dan erbebaslah ia dari segala-galanya :
Mati dan hidup sudah sarna baginy ,kesenangan dan kesusahan,
keu ntu ngan dan kerug ian I nak dan tidak enak. la tidak akan me-
nginginkan kepunyaan orang lain tidak emah merendahkan orang_
lain dan dia menguasai atau mengatasi semua sifat kembar yang

bertentangan (rwabhineda), demi ia ji anya terbebas dari se-
gala ikatan. Orang akan encapai m ksha, apabila ia tidak
mempunyai musuh, tidak m mentingkan sanak saudara, tidak
pula diikat oleh anak-anak, tidak m gika kan diri kepada salah
satu agama yang manapun j a idak terpengaruh oleh keka-
yaan dan kesenangan, terbebas d ri dor ngan keinginan atau
kemilikan. Dia tidak menuntu berkah atau tidak menghiraukan
kehilangan berkah, melepaskan semua erkah atau kutukan
yang pernah diterimanya, pa a kehidupa nya terdahulu. mem-
biarkan unsur-unsur jasadnya meng rai demi tercapainya ke-
tenangan jiwa, dan dapat me gatasi semua bentuk sifat kembar
yang berbeda, dandia tidak melakukan apa··apa lagi, tidak me-
nginginkan apa-apa lagi, dia melihat ala semesta ini sebagai
sesuatu yang, maha besar, tidak erbatas, atau bagaikan pohon
Aswatha yanf~ dipenuhi oleh el ian, kematian dan kekurang
sempurnaan. Pengertian yang dipunyainya selalu diarahkan
kepada pembebasan dirinya, da anya selalu diarahkan kepada
kesalah'an-klesalahannya sendiri. Orang sedf3mikian itulah yang
segera akan dapat membebaskan irinya dari ikatan-ikatan
yang menge~cangnya.Orang yang melihat roh atau jiwanya ter-
bebas dari sifat-sifat kelima uns r, tanpa bentuk dan tanpa pe-
nyebab, benar-benar terbebas ari segala sifa\t, meskipun ia me-
nikmati semua sifat-sifat itu, maka ia ikatakan sudah mencapai
kebebasan ~lang dicita-citaka . ( idak berbentuk berarti mem-
punyai hakel'<at abstrak dan teramat halus, tanpa penyebab be-
rarti mengadiakan dirinya sendiri, jadi i entik dengan Brahman.
Terlepas dari segala ciri dan sitat sementara iapun mempunyai
atau meniknnati c~ri-ciri dan sifat itu, enunjukkan keadaan
yang bebas. la tidak diikat oleh ciri dan sifat yang mungkin
sangat di aglung-agungkan oleh orang- rang biasa). Dengan
bantuan pen,gertian yang cuku mendalam, tujuan-tujuan yang
ada hubungcmnya dengan adan dan fikiran itu, di tinggalkan
semua dan secara berangsur-angsur elep·askan diri dari ke-
adaannya, bclgaikan api yang i ak lagi diberikan bahan bakar

49

untuk memperbesar nyalanya. Orang yang terbebas dari se-
gala bentuk rekaman jiwa (fikiran, perasaan, kemauan dan per-
buatan), dapat mengatasi adanya sifat kembar yang bertentang-
an, tidak dapat mengakui apapun juga sebagai miliknya, dan
mempergunakan semua perasaan serta alat pengindranya ber-
dasarkan kekuatan tapanya, ia itu akan mendapatkan kebebas-
an. Setelah terbebas dari segala bekas serta rekaman, ia akan
mencapai alam Brahman yang kekal dan luhur itu, tenteram dan
stabil dan tahan serta tidak dapat dimusnahkan. Setelah yang
di atas itu dimengerti semua, selanjutnya aku akan menjelas-
kan ilmu pengetahuan Yoga yang sungguh tidak ada banding-
annya. Aku akan menjelaskan, bagaimana seorang Yogi de-
ngan jalan pemusatan fikirannya, dapat melihat Roh itu dengan
sempurna. Ketahuilah sekarang, bagaimana roh yang berada di
dalam badan itu dapat dituntun menuju ~Ian-jalan dan pintu-
pintu, hingga dapat dilihat perwujudannya yang tanpa awal dan
tanpa akhir itu. Dengan menarik mundur segala perasaan dan
pengindraan dari objeknya, orang harus memusatkan fikiran-
nya kepada Roh itu dan selanjutnya, setelah melakukan tapabrata
yang paling keras, orang harus memusatkan fikirannya menuju
kepada kebebasan Rohnya. (Fikiran harus dipusatkan kepada
hakekat dan sifat-sifat Roh). Berpantang dan mentaati tata ter-
tib tingkah laku, serta memusatkan fikiran kepada Badan
Rohani, di samping mendalami ajaran-ajaran yang digariskan
dalam ilmu Yoga, dengan demikian ia akan dapatmelihat badan
Roh yang bermukim di dalam badan kasarnya. Apabila orang
baik-baik itu berhasil memusatkan perhatiannya kepada Roh itu,
segera ia akan membangunkan kebiasaan menyepikan diri,
terserap dalam meditasi yangdalamuntuk melihat perwujudan
Roh yang berada di dalam badannya sendiri itu. Dengan teguh
ia mengendalikan dirinya, fikirannya memusat, dan semua alat-
alat pengindraannya terkendali, rohaninya menjadi bersih dan
sebagai akibat dari fikirannya yang memusat, iapun mampu
mengamat-amati Roh nya sendiri dengan menggunakan roh-
aninya juga. Sebagaimana orang yang tiba-tiba melihat orang
yang tidak dikenal di alam mimpi, dan setelah jaga dari tidur-
nya, benar-benar ia berhadapan dengan orang itu, pasti ia akan
berkata: "Oh, inilah dia-yang kulihat di datam mimpiku'" De-
mikian itu pula halnya orang sudah melihat Roh nya dalam

samadhi, dan akan tetap dapat mengenalinya setelah ia sadar
dari dalam samadhinya itu. Bagaikan serat yang dikeluarkan
dari daun sisal, demikian itulah Roh itu baru dapat dilihat sete-
lah dikeluarkan darijasad yaitu setelah dihancurkan dengan ke-
kuatan Yoga. Apabila seorang Yogi sudah mampu melihat Roh
nya. sendiri, maka ia tidak lagi dapat diperbudak oleh orang

50

ataupun wujud lain, bakan ia akan menjadi raja atau penguasa
di Tiga Dunia. Ini berarti bahwa tidak ada lagi yang lebih tinggi
dari padanya, bahkan penguasa alam semestapun tidak melam-
pauinya. la akan mampu merubah perwujudan menurut seke-
hendak hatinya. la tidak menjadi sedih, tidak mengeluh atau
mengumpat apabila terjadi penyimpangan-penyimpangan, eaeat
dan keku rangan, bahkan kematian sekalipun. Orang yang
mengendalikan dirinya itu, memusatkan fikirannya dalam Yo-
ga, akan dapat mengidentikkan dirinya dengan dewa-dewa dari
tingkat manapun juga. Setelah meninggalkan jasad kasar ini,
Rohnya itupun akan sampai ke alam Brahman. Perasaan takut
tidak lagi mengganggu dirinya, meskipun dirinya, meskipun se-
luruh mahluk sudah berjatuhan mati di hadapan matanya. Apa-
bila seluruh mahluk mengalami siksaan, ia sendiri akan ter-
bebas dari siksaan itu. la tert>ebas dari segala bentuk keinginan
dan mempunyai Roh yang tenteram. Orang yang mahir dalam
Yoga tidak pernah digoneangkan oleh perasaan sakit, kesed.h-
an dan perasaan takut, atau bentuk-bentuk perasaan lain yang
ditimbulkan sebagai akibat dari keterlibatannya dan kesenangan
nya. Senjata sudah tidak mampu melukainya dan kematian
sudah tidak dikenalnya lagi. Tidak ada seorangpun di dunia ini yang
lebih berbahagia, lebih gembira dari padanya. Terus-menerus ia
akan memusatkan cipta kedalam diri mengenali Roh nya sendiri,
dan dia teguh dengan keyakinannya yang sudah mantap dan tidak
adaseorangpun yang dapat mempengaruhinya lagi. Karena dia

tidak lagi memikirkan segala bentuk eaeat dan eela, tidak meng-
hiraukan senang dan susah, sakit dan sehat, oleh karena itu
ia selalu tidur dengan nyenyak. Pada suatu saat iapun akan
meninggalkan badan kasarnya, dan waktu untuk meninggalkan
itu, sudah ditetapkannya sendiri pula. Bahkan ia dapat pula
menetapkan apa pun juga bentuk kelahirannya kembali yang
akan dipilihnya. Setelah sempat menikmati apapun juga yang
mungkin dapat dilakukan dan dihasilkan dengan jalan Yoga,
janganlah menyimpang atau mundur kembali dari jalan Yoga
itu. Jangan tergodaoleh berkah-berkah dan kenikmatan yang

dihasilkan oleh Yoga itu, akan tetapi lanjutkan terus sampai
. eita-eita terakhir, yaitu kebebasan mutlak atau penunggalan

dengan Brahman dapat dieapai. Setelah Roh yang bermukim
di dalam badan sendiri itu dapat diketahui, maka ia tidak lagi
patut bersujud kepada Dewa-dewa. Tidak pula harus tunduk
kepada Indra yang terkenal karena bermahkotakan berkah dari
seratus upaeara yang sudah diselenggarakannya.

Dengarkanlah sekarang bagaimana seorang yang sudah
biasa melakukan meditasi dapat berhaSii. dalam Yoga. Perta-
rna-tarna, fikirkanlah suatu titik, di mana matahari ada di belakang-

51


Click to View FlipBook Version