The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by kantor, 2022-03-28 04:17:22

Aswa Medha Parwa

Aswa Medha Parwa

mencapai tempat Kebesaran itu. Orang-orang yang mengetahui
bahwa cita-cita tertinggi itu adalah mempersatukan diri dengan
Roh Maha Besar, akan terbebaslah ia dari kebodohan yang me-
ngakibatkan pandangan salah dan tertipu oleh bayangan-
bayangan kenyataan. Wishnu yang terlahir dengan sendirinya
itu, menjadi penguasa alam ciptaan yang mula-mula itu. Orang
yang mengetahui bahwa Wishnu itu yang beradadi dalam guha,
Wishnu yang tertinggi, mahluk pertama yang paling kuna, de-
ngan wujudnya yang tersebar ke seluruh alam semesta. bersi-
nar dengan cahaya keemasan, yang menjadi pusat cit,a-cita bagi

orang bijaksana, maka orang itu akan dapat melampaui batas
pengertian yang paling tinggi!!.

XLI. Selanjutnya Brahman bersabda: "Mahat yang pertama kali
diciptakan adalah Egoisme. Ap'bila Ego itu mencetuskan diri
menjadi Aku, maka Aku itu adalah ciptaan yang kedua, dan
Kesadaran diri atau Egoisme itu menjadi sumber segala mah-
luk, karena mahluk-mahluk itu terlahir dengan modifikasi dari
Ego itu. Dia itu merupakan cahaya murni dan menjadi pen un-
jang kesadaran diri. Dia pula yang disebut Prajapati. Dia itu juga
adalah dewata yang tertinggi, melahirkan dewa-dewa yang lain
dan yang menciptakan fikiran. Dia itulah yang menciptakan ke-
tiga Dunia ini. Dia yang pertama kali mempunyai perasaan :

"Aku adalah semuanya inl!" Demikian itulah gambaran Dunia
bagi orang-orang bijaksana yang tekun mencari pengetahuan
tentang roh dan alam-alam rohani, terutama yang sudah menik-
mati keberhasilan melalui perielitiannya terhadap Weda-weda
dan melakukan pengamatan-pengamatan dengan pengurban-
an-pengurbanan (riset?). Dengan menyadari dan mengetahui
kenyataan roh itu, orang dapat menikmati sifat-sifat yang di-
dambakan oleh orang kebanyakan. Sumber segala mahluk itu
melahirkan mahluk-mahluk itu dengan mentrapkan pengetahu-
an itu. Dia itulah yang menyebabkan segala perubahan terja~
di. Dia itulah yang menyebabkan segalanya bergerak. Dengan
cahayanya sendiri, Dia menyinari seluruh jagat raya ini.

XLII. Dati .Kesadaran diri itulah,terlahir Kelima Wnsur Besar yang
terdiri dari unsur-unsur tanah, udara, ether, air dan cahaya.
Di dalam kelima unsur besar mahluk-mahluk itu menjadi bi-
ngung dan tertipu, karena kemampuan alat-alat pengindranya
terbatas. la ditipu oleh pendengaran, perasaan kulitnya, peng-
lihatan matanya, perasaan Iidahnya dan penciuman hidungnya.
Menjelang saat peleburan dari kelima unsur besar itu, yaitu
apabila saat peleburan jagat raya ini sudah tiba, rflaka semua

100

mahluk akan menderita ketakutan yang amat sangat, meski
orang yang paling bijaksanapun akan merasakan ketakutan ~u­
ar biasa itu. Pada saat peleburan itu, setiap bentuk yang nam-
pak, akan terurai menjadi unsur-unsur dasar yang menyusun

bentuk itu tadinya. Peleburan itu terjadi berangsl:Jr-angsur de-
ngan tahap-tahap yang berlawanan dengan tahap-tahap pen-

c.i. ptaan. Memanglah dalam hal kelahiran, setiap mahluk itu ter-

lahir dari jenisnya masing-masing. Dan beruntunglah orang-
orang bijaksana yang mempunyai kekuatan ingatan yang isti-
mewa, karena mereka itu mungkin tidak akan mengalami pen-
deritaan dalam proses peleburan itu. Pendengaran, rasa raba,
penglihatan, rasa lidah dan penciuman, semuanya itu hanyalah
sekedar akibat, yang semuanya tidak tetap dan itulah yang di-
sebut penipu-penipu dan penyebab kebodohan. laitu telah
ditimbulkan oleh perasaan kemilikan atau keakuan. Sebenar-
nya, hakekat dari masing-masing itu tidak berbeda satu dengan
lainnya, dan semuanya itu tidak menunjukkan keadaan yang
sesungguhnya. la berhubungan dengan darah dan daging dan
masing-masing tergantung dari yang lain. Semuanya itu berada
di luar badan roh. dan sem.uanya tidak bertenaga. Prana. Apana,
Udana, Samana dan Wyana kelimanya erat hubungannya
dengan roh. Dengan bergahung dengan ucapan. fikiran dan pe-
ngertian, bersama-sama menyusun suatu alam yang terdiri dari
delapan unsur. Orang yang dapat membatasi serta mengenda-
likan pengaruh kulit, hidung, telinga, mata, lidah dan perkata-
annya, ditambah dengan kebersihan fikiran dan pengertiannya
tidak akan pernah digoyahkan. Orang yang fikirannya tidak per-
nah dibakar oleh kedelapan api di atas, akan berhasil mencapai
Brahman yang maha tinggi itu.

Sekarano ak.u akan menielaskan sebelas sarana yang mun-
cui dari Egoisme. Kesebelas alat-alat. itu adalah kulit, telinga,
mata, lidah dan hidung, ditambah dengan dua kaki, alat pe-
lepasan, alat kelamin, dua buah lengan dan alat-alat untuk ber-
bicara. Itu semuanya berjumlah sepuluh macam alat-alat. Yang
ke sebelas adalah fikiran. Pertama-tama yang harus dilakukan
adalah meredakan .desakan kesebelas alat-alat itu. Setelah

kesebelas alat-alat itu dapat dikendaiikan semuanya) maka
mulailah memancar sinar Brahman dari dalam diri orang itu
lima macam dari alat-alat itu disebut alat-alat untuk mengetahui,.li-
ma yang lain untuk melakukan kegiatan bergerak. Lima yang perta-
ma, yang dimulai dari telinga adalah alat untuk mendapatkan pe-
ngetahuan, dan yang lain, yang ada hubungannya dengan gerakan,
sebenarnya tidak berbeda yang satu dengan yang lain. Fikiran meli-

puti kedua fungsi itu, yaitu untuk mengetahui, dan juga untuk

101

bergerak. Pengertian adalah merupakan alat yang keduabelas,
ia menduduki tempat teratas. Demikian itulah susunan alat-alat
pengindraan menurut tahap-tahap fungsinya masing-masing.
Orang bijaksana yang memahami kenyataan ini, sudah dapat
dikatakan mulai mencapai tahap keberhasilan. Dengarkanlah
sekarang sarana-sarana lain yang erat hubungannya dengan
alam besar. Yang pertama adalah Ether. Bahagian ether yang
berhubungan dengan fikiran disebut alat pendengaran (teli-
nga). Apabila ia berhubungan dengan benda-benda, maka ia di-
sebut suara atau bunyi. Kekuatan atau dewa yang menguasai-
nya adalah dewa penguasa arah mata angin. Udara adalah
perwujudan bunyi itu. Dan Udara ini merupakan sarana yang
kedua. Apabila Udara itu berhubungan dengan fikiran, ia ada-
lah kulit, dan apabila berhubungan dengan benda-benda, maka
ia adalah rasa raba. Sara,a ketiga adalah Cahaya, yang apabila
berhubungan dengan fikiran ia adalah mata. Apabila berhu-
bungan dengan benda-benda, ia adalah warna dari benda-ben-
da itu. Dewa yang menguasai cahaya itu adalah Surya. Sarana
keempat adalah unsur air. Apabila berhubungan dengan fikiran
ia adalah lidah, dan apabila berhubungan dengan benda-ben-
da, ia adalah rasa lidah yang ada pada benda-bendaitu. Dewa
yangmenguasainya adalah Soma. Sarana kelima, adalah tanah.
Berhubungan dengan fikiran ia mewujudkan hidung, sedang-
kan apabila berhubungan dengan benda-benda ia adalah bau
dari benda-benda itu. Dewa yang menguasainya adalah Bayu.
Sudah pula disebutkan bahwa kelima sarana atau unsur-unsur
besar itu dapat dikelompokkan menjadi tiga kelompok.

Marilah sekarang kita meninjau segala sesuatu tentang alat-
alat yang lain. Kedua kaki itu. selamanya berhubungan dengan
badan rohani, akan tetapi apabila ia berhubungan dengan
benda-benda, ia akan berubah menjadi gerakan-gerakan me-
nuju atau menjauhi benda-benda itu. Penggunaannya itu diatur
oleh Wishnu. Hawa kehidupan yang disebut Apana selalu ber-
gerak menuju ke bawah. Dalam hubungannya dengan badan

rohani, iii menggerakkan alat pelepasan dan apabila ia ber-

hubungan dengan benda-benda, ia adalah kotoran yang di-
keluarkan oleh benda-benda itu. Dewa yang mengaturnya ada-
lah Mitra. Juga apabila berhubungan dengan badan rohani ia
disebut alat kelamin yang berf~.mgsi melahirkan mahluk-
mahluk. Dan apabila berhubungan dengan benda-benda, ia
adalah lembaga untuk tumbuh dan berkembang yang dikuasai
oleh Prajapati. Kedua tangan dan lengan, selamanya ber-
hubungan dengan badan rohani, dan apabila ia berhubungan
dengan benda-benda, ia adalah gerakan atau tindakan untuk

102

mengambil atau melemparkan benda-benda itu. YanQ menga-

tur gerakannya itu adalah Indra. Yang terakhir, yang ada hu-
bungannya dengan badan rohani adalah suara, yang juga ber-
hubungan dengan semua dewa-dewa, dan apabila berhubung-
an dengan benda-benda, ia adalah apa yang dibicarakan. Yang
menguasai suara itu adalah Agni. Juga fikiran itu berhubungan
dengan badan rohani. la itu bergerak di dalam Jiwa dan ber-
pangkal dari ke Iimaunsur besar itu. Apabila berhubungan de-
ngan benda-benda, ia adalah kegiatan mental. Dewa yang me-
nguasainya adalah Chandrama. Berhubungan dengan badan
rohani adalah Egoisme atau Kesadaran Diri, yang telah men-
dorong seluruh jalan kehidupan ini. Apabila berhubungan de-
ngan benda-benda ia adalah Kesadaran Diri da~n yang langsung
menguasainya adalah Rudra. Juga berhubungan dengan ba-
dan rohani adalah pengertian, yang l1Ieliputi ke enam alat pe-
ngindraan itu. Apabila berhubungan dengan benda-benda, ia
menjadi objek untuk difahami dan dewa yang mengatutnya
adalah Brahman sendiri. Ada tiga tempat yang menjadi permu-

kiman benda-benda di alam semesta ini. Tempat ke empat
tidak mungkin ada. Ketiganya itu adalah tanah, air dan angkasa.
Dan dikenal empat cara kelahiran, yaitu lahir melalui telur, lahir
melalui lembaga yang tumbuh ke atas, menembus tanah, ada
yang lahir dari kotoran, dan ada yang lahir melalui kandungan
rahim. Itulah cara kelahiran yang terlihat bagi semua mahluk
hidup. Demikian itulah maka terdapat mahluk-mahluk yang ren-
dah tingkatannya dan ada pula yang tinggi, dan tempat hidup-
nya ada yang di dalam tanah, di atas tanah dan di udara. Bi-
natang-binatang yang dilahirkan dengan perantaraan telur anta-
ra lain adalah binatang melata. Binatang serangga berkembang
dari ulat yang dikatakan timbul dari kotoran. Tingkatan bina-
tang-binatang yang terlahir di antara kotoran itu sangat rendah.

Mahluk-mahluk yang tumbuh atau terlahir dengan perantaraan
lembaga tumbuh mencuat ke atas dan menembus tanah. la tum-
buh setelah terpendam beberapa waktu lamanya. Mahluk-
mahluk lain yang berkaki dua, merangkak atau berkaki empat
adalah mahluk-mahluk yang terlahir dari kandungan rahim.
Diantara mahluk-mahluk ini terdapat manusia yangderajatnya
rendah, cacat mental dan cacat jasmaninya. Rahim yang kekal
dari Brahman itu patut diketahui, ada dua jenisnya, yaitu tapa
dan perbuatan baik yang menghasilkan berkah-berkah serta
pahala-pahala yang baik. Demikian itulah, sesuai dengan keya-
kinan orang-orang bijaksana serta berpengetahuan. Tindakan
dan perbuatan itu banyak sekali jenisnya. Beberapa dari anta-
ranya adalah pengurbanan, dana punia yang menunjang pe-

103

laksanaan upacara, melakukan tugas pengabdian untuk kese-
jahteraan mahluk hidup, dan mempelajari semua rahasia-raha-
sia alam serta seluk beluk kehidupan. Demikian itulah yang di-
sarankan sejak jaman purba. Orang yang menyadari sebaik-
baiknya pengetahuan ini, dikatakan memiliki pengetahuan Yo-
ga, dan orang itu akan dapat membebaskan dirinya dari segala
macam ikatan, dari dosa-dosa serta kutuk dan kemarahan.
Demikianlah, aku sudah mengajarkan pengetahuan yang dise-
but Adhyatma. Wahai para Rishi, pengetahuan ini dieari oleh
semua dan dihormati oleh mereka yang mempunyai kebijaksanaan.
Dengan mempersatukan alat-alat pengindraan, benda-benda,
dan unsur-unsur besar, pertahankanlah kesadaran itu di dalam
fikiran, karena segala~galanyaitu, sebenarnya tereetus dari da-
lam tikiran. Apabila semuanya itu sudah terserap di dalam
fikiran, maka dengan senclirinya tidak ada lagi perasaan tertarik
kepada bentuk-bentuk kesenangan dan kemewahan di dalam
kehidupan ini. Terbebas dari segala bentuk kesenangan du-
niawi, itulah kesenangan yang sejati menurut orang-orang
bijaksana.

Sekarang, baiklah aku jelaskan persyaratan yang diperJu-
kan, agar fikiran itu tetap melekat kepada hal-hal yang bersitat
luhur. Apa yang harus dilakukan adalah meneari terus sitat-sifat
yang lebih hakiki. Jangan terlalu dipercaya sitat-sifat apapun
juga yang ditangkap oleh persepsi itu. Kwalitas yang terlihat itu
bukanlahkwalitasyang sebenarnya. Masih ac:Ja kwalitas yang lebih
murni dan lebih sejati. Sifat-sifat atau kwalitas sejati itu ter-
bebas dari segala ikatan, berdiri sendiri, tidak beda membeda-
kan dan penuh dEmgan panearan Brahman. Mencari kesejatian
itulah jalan kebahagiaan. (Gunagunam, Ekacharyyam, Anan-
taram). Orang bijaksana akan selalu berusaha menarik ke da-
lam dirinya dorongan keinginannya yang mendesak ingin ke
luar ke segala jurusan itu. Keinginan itu akan masuk ke dalam
bagaikan seekor kura-kura yang menarik masuk semua
anggota tubuhnya. la membebaskan diri dari dorongan nafsu,
tidak terikat, namun ia tetap gembira dan berbahagla. Semua
keinginan disimpan di dalam jiwanya, dimusnahkannya rasa
haus terhadap apapun juga, fikirannya memusat dalam medi-
tasi, bersahabat dan disayangi oleh semua mahluk, dengan
demikian ia sudah siap untuk melebur diri menunggal dengan
Brahman. la mengendalikan alat-alat indriyanya yang selalu
inginmenjelajahi benda-benda di luar, menyepi di tempat sunyi,
sehingga api Adhyatma memancar ke luar di'dalam meditasinya
Sebagaimana halnya api, apabila minyak dituangkan ke dalam-
nya ia akan menjadi besar dan bersinar, demikian itulah hasil-

104

nya apabila alat-alat pengindraan dikendalikan. Roh alam se-
rnesta akan memancar ke luar terang-oenderang. Orang bijak-
sana melihat keseluruhannya di dalam jiwanya, dan dengan di-
terangi oleh sinar kebenarannya sendiri, ia akan mampu me-
ningkatkan dirinya kealam-alam yang lebih tinggi, sehingga

akhirnya mencapai tingkat yang tidak ada duanya lagi. Badan jas-
mani manusia memang sudah memiliki api sendiri yang memancar-
kan warna-warna, memiliki air sendiri untuk dijadikan darah dan
cairan lain, udara sendiri untuk memberikan rasa raba, tanah
sendiri untuk dijadikan daging, tulang dan bagian-bagian padat
yang lain, mempunyai ether sendiri untuk memberikan bunyi. Dan

itu semua dapat terkena penyakit dan kedukaan. Badan jasmani
itulah y~ng dibanjiri oleh lima aliran arus yang ditimbulkan oleh
kelima unsur besar,mempunyai sembilan pintu dan dua dewa
penguasa, yaftu Jiwa dan Iswara. Badan ~smani itu diliputi
oleh nafsu-nafsu, dan dalam keadaan telanjang tidak pantas
dilihat karena tidak suci. Jasmani itu dibentuk oleh tiga sifat,
mempunyai tiga unsur pembentuk, yaitu udara, dan dua cairan
bening yaitu cairan empedu dan cairan getah bening (lymph).

Jasmani itulah yang suka melekatkan diri dengan benda-benda
duniawi dan penuh dengan kegelapan atau kebodohan. Jas-
mani itu sangat suk~r atau bahkan tidak mungkin disingkirkan
dari alam yang tidakkekal ini, dan dengan kuatnya menempel
pada pengertian yang ditunjangnya. Jasad itu, di dunia ini, ada-
lah merupakan rodanya waktu, ia selalu bergerak, berputar.

Tepat pula apabila dikatakan bahwa jasad itu merupakan lautan
ganas, luas dan dalam penuh dengan bayangan-bayangan yang
menipu. Adalah badan ini yang meregang dan mengkerut dan
menjagakan alam semesta bersama-sama semua mahluk tak
kekallainnya. Oengan mengendalikan indriya, maka dijauhkan-
lah kita dari nafsu-nafsu, kutuk dan kemarahan, juga rasa takut
dan perasaan kemilikan, permusuhan, kepalsuan, yang semua-
nya itu meraja-Iela untuk selama-Iamanya. Orang yang hidup
di dunia ini dan berhasil mengalahkan semuanya itu, yaitu me-
ngalahkan tiga sifat dasar dan kelima unsur besar yang mem-
bentuk jasmani ini, akan mendapatkan tempat tinggi di alam
surga. la akan mencapai suatu kedudukan di alam yang tidak
terbatas. Oi dunia ini orang bagaikan sedang menyeberangi 9U-
ngai dengan lima alat-alat pengindraan sebagai tepi-tepi ou-
ramnya, kecendrungan fikiran sebagai aliran airnya yang dah-
syat, kebodohan sebagai danaunya. Oemikianlah, orang harus
mampu menundukkan dorongan nafsu dan kemarahannya.
Orang dengan kekuatan seperti itu akan mampu membebaskan
diri dari kesalahan-kesalahan dan akan mampu melihat kenya-

106

taan-kenyataan yang lebih tinggi nili:linya. la akan m~musatkan
fikirannya di dalam fikiran itu sendiri, memandang diri di dalam
diri. Setelah memahami segala-galanya, ia melihat diri dengan
dirinya, jiwanya terserap ke dalam jiwa semua mahluk hidup,
kadang-kadang satu, kadang-kadang lebih dari satu dan berbe-
da-beda, berubah bentuk sesuai dengan keadaan dan waktu.
Sudah dapat dipastikan bahwa ia dapat melihat bermacam-ma-
cam wujud bagaikan ratusan cahaya yang bersumber pada satu
cahaya. Orang yang sudah mencapai kesadaran sepertj itu, ia
itulah Wishnu, Mitra dan Baruna, Agni dan Prajapati. Dialah
yang menciptakan dan yang mengatur. Dia itulah Cinta Kasih
yang memandang dengan wajah menghadap ke semua jurusan.
Di dalam dirinya terdapat hati nurani semua mahluk. Dia telah
bersatu dengan Roh 'llaha agung dari alam semesta, yang mu-
lia dan cemerlang tiaaa bandingannya. Dia menjadi tujuan bag;
semua Brahmana yang mengutamakan kebijaksanaan, juga
menjadi tujuan bagi para Dewa dan Asura, Yaksha dan Pisacha.
para Pitri, burung-burung dan para Rakshasa beserta mahluk-
mahluk halus lainnya. Dia yang maha agung itu dipuja-puja
oleh para Rishi terkemuka.

XLIII. Dengarkanlah sekarang orang-orang yang menauauki tlng-

kat menengah di antara golongan manusia, mereka itu adalah

golongan raja-raja dan para ksatriya. Di antara khewan pe-

ngangkut ia itu gajah; di antara penghuni hutan, singa; di an-

tara khewan sembelihan, kerbau dan domba; di antara yang

hidup di dalam tanah adalah bangsa ular; di ant~ra khewan

peliharaan, sapi jantan. Di antara kelompok binatang betina,

pejantannya adalah yang lebih tinggi derajatnya. Dar; antara

pohon-pohon, yang terutama adalah pohon Nyagrodha, ja:'Tlbu,

pippala, salmali, sinsapa, meshesringa dan kichaka. Dari antara

gunung-gunung, yang terutama adalah gunung Himawat, Pari-

patra, Sahya, Windhya, Trikutawat, Sweta, Nila, Bhasa, Koshta-

wat, Guruskandha, Mahendra dan Malyawat.

Para Marut adalah yang terutama dari antara golongan Ga-

na. Surya adalah pemimpin di antara planet-planet, dan Chan-

cramas merupakan yang tertinggi dari antara konstelasi benda-

benda angkasa.

Yama menjadi penguasa golongan Pitri. Lautan penguasa

sungai-sungai. Baruna penguasa air. Indra menjadi raja bagi

golongan Marut. Arka menguasai segala-galanya yang terasa

panas. Dan Indra juga merupakan yang terutama dari antara

mahluk-mahluk bersinar. Agni menjadi penguasa kekal segala

unsur, dan Wrihaspati menjadi penguasa dan pemi"mpin di an-

106

a a para Brahmana. Soma menguasai tumbuh-tumbuhan yang
apat dijadikan bahan obat. Wishnu menjadipemimptnl dari
a ara mereka yang mempunyai kekuatan atau tenaga hebat.
ashtri menjadi raja di antara para Rudra dan Siwa menjadi
penguasa seluruh mahluk hidup.

Dari semua bentuk upacara yang dilakukan, Upacara Kur-
ban adalah yang terutama dan Moghawat adalah yang tertinggi
dari antara dewa-dewa yang dipuja. Dari antara semua rahasia,
tidak ada yang lebih tinggi daripada rahasia tentang Brahman.

Dari antara segala arah, arah Utara yang terutama. Soma
yang bertenaga hebat itu adalah yang terutama dari antara go-
longan Brahmana terpelajar. Kuwera adalah penguasa kekaya-
an dan batu-batu permata. Purandara adalah maharaja dari an-
tara para dewa yang dipuja. Itulah semua mahluk-mahluk yang
tertinggi derajatnya Sudah disebutk~ bahwa mahluk ciptaan
itu dikuasai oleh Prajapati. Namun aari semuanya itu, Aku,
Brahman, adalah yang tertinggi. Tidak ada lagi wujud atau ke-
lompok wujud yang lebih tinggi dari pada Diriku ini meski
Wishnu sekalipun. Wishnu itu merupakan perwujltdan yang pe-
nuh dengan kekuatan Brahman. Dia itulah Raja dari antararaja-
raja. Dia Maharaja Alam semesta, dia pula yang menciptakan
segala-galanya. Dia itulah Hari yang tidak diciptakan, Dia ada
tanpa diciptakan. Dia itulah penguasa manusia, penguasa para
Kinnara, para Yaksha dan Gandharwa, juga menguasai golong-
an Ular, Rakshasa, Dewa-dewa, Danawa dan Naga. Dari antara
perwujudan yang dipuja-puja oleh orang-orang yang memen-
tingkan dorongan nafsu adalah Dewi Maheshwari yang cantik
dan bermata cemerlang. Dewi itu juga dikenal dengan nama
Dewi Parwati. Tetapi Dewi yang patut dipuja-puja oleh wanita-
wan ita yang mementingkan keluhuran budi adalah Dewi Uma.
Dari antara kaum wanita yang menjadi sumber kepuasan ada-
lah para Apsara yang semuanya cantik jelita. Raja-raja pada
umumnya membutuhkan kasih sayang dan kecintaan, sedang-
kan para Brahmana adalah yang menjadi penyebab dilimpah-
kannya kasih sayang itu. Karena itu para Raja harus menjaga
dan melindungi para Brahmana yang sudah mencapai kesucian
bathin itu. Raja-raj<;l, yang memerintah di suatu kerajaan di mana
orang baik-baik merasa tertekan dan tersiksa, dikatakanlah
bahwa raja itu tidak menunaikan kewaji,bannya sebagai raja.
Raja yang sedemikian itu sedang menempuh jalan yang salah.
Raja-raja yang dicintai serta melindungi orang baik-baik akan
mendapatkan kegembiraan serta kebahagiaan di dunia ini mau-
pun di dunia yang akan datang. Raja yang berbudi luhur akan
menduduki singgasana tertinggi. Camkanlah ajaran-ajaran ini

o para Rishi.

107

Sekarang aku akan menjelaskan kewajiban-kewajiban hi-
dup di alam raya ini. Kewajiban yang pertama adalah tidak me-
nyakiti mahluk-mahluk lain. Menyiksa atau menyakiti merupa-
kan eetusan dari ketidak benaran, Keindahan dan keagungan
merupakan ci·ri-ciri dari para Dewa. Manusia harus berbuat se-
suai dengan tugas yang dibebankan kepada dirinya. Ether atau
ruang kosong mempunyai sifat bunyi atau suara. Angin memi-
liki sifat perasaa~ kulit untuk meraba. Ciri dari benda-benda
bercahaya adalah warna, dan air mempunyai ciri sifat rasa Iidah.
Tanah atau bum; yang mendukung kesemuanya ini mempunyai
sifat bau. Suara yang keluar dari mulut mempunyai sifat kata-
<ata, yang dapat diuraikan menjadi suara huruf hidup dan suara
huruf mati. Fikiran bersifat penalaran dan pengertian. Benda-
benda atau hal-hal yang difikirkan itu dapat ditanggapi dengan
baik karena adanya pengertian itu, da~ selanjutnya pengertian
itulah yang menyebabkan kita dapat melihat serta menanggapi.

Karakteristik dari fikiran itu adalah merenungkan. Adapun ci-ri-
ciri orang yang baik itu adalah bahwa ia hidup dan bekerja
tanpa banyak dikenal oleh orang banyak. Ci'ri-ciri perbuatannya
adalah pengabdian. Ci·ri-ciri pantangan atau pengendalian diri
adalah pengetahuan. Itulah sebabnya orang-orang bijaksana
melakukan pantangan-pantangan hanya berdasarkan pengerti-
an dan pengetahuan. Orang yang mengendalikan diri, berpan-
tang dan berpengetahuan, akan dapat mengatasi sifat kefT\h:::tr
yang saling berlawanan, mengatasi kegelapan, kematian, cacat
dan cela, hingga akhirnya berhasil mencapai cita-cita tertinggi
yang sudah dijelaskan, yaitu menunggal dengan Roh Yang
Maha Agung. Itulah yang patut diketahui tentang tugas dan
kewajiban manusia hidup di dunia ini.

Sekarang baiklah akan kujelaskan sarana-sarana yang da-
pat dipergunakan untuk menangkap masing-masing dari sifat-
sifat itu. Bau yang sebenarnya merupakan sifat tanah ditangkap
oleh hidung. Udara yang berada di dalam rongga hidung juga
herfunQsi menjadi perantara bagi bau itu. Rasa-rasa yang dapat
dirasakan oleh lidah adalah merupakan sifat dasar dari air.
Rasa-rasa itu\dapat ditangkap oleh Iidah. Soma yang bermukim
di dalam Iidah juga bertugas me rasakan rasa enak dan tidak
enak itu. Warna adalah merupakan sifat dasar dari benda-benda
bercahaya. Warna-warna itu ditangkap oleh mata. Aditya yangselalu

bermukim di dalam mata juga bertugas untuk menyadari ada-
nya warna. Rasa raba selamanya merupakan sifat dasar dari-
pada an.Qin. la dapat ditangkap oleh kulit. Udara yang berada
di dalamkulit juga bertugas merasakan rasa raba itu. Sifat da-
sar ether adalah bunyi. la dapat ditangkap oleh telinga. Seluruh

108

penjuru alam yang berada di dalam telinga itu juga berfungsi
ntuk menangkap bunyi itu. Sifat kesadaran adalah berfikir.

la dapat ditangkap oleh pengertian. Dewa penguasa kesadaran
itu bermukim di dalam hati nurani dan bertugas pula untuk me-
nanggapi keadaan jiwa. Pengertian itu ditanggapi dalam ben-
tuk keputusan, keyakinan dan Mahat dalam bentuk pengetahu-
an. Dia yang tidak nampak itu (Prakriti) bertugas menangkap
segala sesuatu yang sudah diputuskan dan diyakini itu. Demiki-
anlah kenyataan yang tidak dapat diragukan lagi. Kshetrajna
yang kekal dan tanpa sifat itu, sesuai dengan esensinya, tidak
dapat ditangkap atau digambarkan dengan simbul-simbul atau
perlambang-perlambang. Kshetrajna itu tanpa perlambang, Dia
itulah ilmu pengetahuan murni. Unsur tak nampak yang berada
di dalam simbul di sebut Kshetra, dari sanalah sifat-sifat itu ber-
sumber dan ke sana pula ia akan kemQali. Aku selalu melihat,
mendengar dan mengetahui segala-gaTanya bahkan sampai ke
hal-hal yang tersembunyi. Purushamengetahui segala-gala-
nya, karena itu Dia disebut Kshetrajna. Kshetrajna menya-
dari adanya gerakan-gerakan sifat-sifat itu, demikian juga Dia
menyadari apabila tidak terjadi gerakan. Sifat-sifat yang dictp-
takan secara berulang-ulang, tidak menyadari keadaan dirinya,
karena ia tidak memiliki kecerdasan. Sebagai perwujudan yang
diciptakan, maka ia memiliki permulaan, masa kini, dan ke-
akhiran. Sebenarnya, hanya Kshetrajna yang mampu berpres-
tasi atau mencapai sesuatu, atau bahkan mencapai tujuan yang
tertinggi, wujud-wujud yang lain tidak mungkin dapat melaku-
kan prestasi itu. Dia itulah yang dapat mencapai keadaan ter-
tinggi, terbesar, mengatasi semua sifat serta melampaui wujud-
wujud yang terlahir dari sifat-sifat itu. Dengan demikian, orang
yang mengetahui tugas-tugas kehidupannya, akan membuang
jauh semua sifat dengan segala pengertiannya, dan 'setelah
dosa-dosa dileburnya. iaoun dapat mengatasi semua sifat itu
dan meresap ke dalam Kshetrajna. Orang yang dapat memoobas-
kan diri dari segala sifat pasangan yang berlawanan, tidak diikat
oleh salah satu dari sifat yang berlawanan itu. yang pp.nuh de-
ngan Swaha, tidak dapat digerakkan (dipengaruhi lagi,) tidak
mempunyai rumah tempat tinggal, maka dia itulah Kshetrajna.
Dialah yang disebut Hyang Maha Tinggi'"

XLIV. "Dengarkanlah keteranganku lebih lanjut tentang. segala

sesuatu yang mempunyai periode permulaan: periode perte-

ngahan dan keakhiran, mempunyai nama, sifat, arti dan apre-

siasi. Sudah dikatakan bahwa yang pertama-tama disadari ada-

lah adanya Terang, yang dikenal dengan hari siang, setelah

itu muncul kesadaran terhadap adanya Gelap, yang dikenal de-

109

ngan Malam hari. Dengan memperhatikan Gelap dan terang itu,
maka dikenal adanya perhitungan satu bulan, setengah bulan
edaranjjari Terang ke Gelap dan setengah bulan edaran dari
Gelap ke Terang. Dari antara konstelasi bintang-bintang di-
kenai Srawana yang terutama,lalu menyusul pengetahuan
tentang Musim, dan yang pertamaadalah musim Dingin. Tanah
adalah sumbernya bau; air menjadi sumber perasaan lidah dan
sinar matahari sebagai sumber warna-warna. Angin menjadi
sumber segala rasa raba yang dirasakan dengan kulit. Selan-
jutnya dikenal suara yang bersumber dari ether. Itulah semua
tentang sifat dan unsur-unsur.

Sekarang dengarkanlah tentang perwujudan-perwujudan
yang menduduki tempat tertinggi. Matahari adalah yang per-
tama dar; antara benda-benda bersinar yang berada di dalam
tata surya ini. ~n bersamaan dengan itu, api adalah merupa-
kan unsur yang pertama. Dari antara cabang-cabang jlmu pe-
ngetahuan, Sawitri adalah yang pertama. Prajapati adalah dewa
yang pertama bagi semua mahluk hidup.Aksara suci OM adalah
yang pertama dari Weda-weda. Dan dari antara kelompok hawa
kehidupan. Prana adalah yang pertama. Semua pengetahuan
tentang pemujaan yang diturunkan ke Dunia ini disebut Sawi-
trio Mantram dan irama yang pertama adalah Gayatri. Kurban
khewan yang pertama dilakukan adalah kurban binatang dom-
ba. Sapi adalah yang pertama dari antara khewan piaraan yang
berkaki empat. Manusia pertama adalah golongan DWijati. Bu-
rung yang pertama dari antara semua burung adalah jenis bu-
rungelang. Kurban pertama dilakukan adalah menuangkan mi-
nyak mentega murni ke dalam api. Dari antara binatang melata,
yang pertama adalah ular. Dari antara periode masa atau Yuga,
yang pertama adalah Krita. Emas adalah logam mulia yang per-
tama. Dan dari antara rerumputan yang dapat dimakan, padi-
pad ian adalah yang pertama. Makanan adalah yang pertama
dari antara yang dikunyah dan ditelan. Dari antara cairan yang
dapat diminum, air adalah yang terutama. Wujud tak bergerak
yang pertama mendapat penghormatan adalah Plaksha, itu
adalah suatu lapangan keramat khusus bagi para Brahmana.

Dari antara semua Prajapati, Aku, Brahman, adalah yang teruta-
mao Tentang yang terakhir ini tidak dapat diragukan lagi. Dari
antara Roh yang difikirkan, Wishnu adalah yang pertama. Dari
antara gunung-gunung, yang pertama adalah gunung Meru.
Dari antara arah kompas, Timur itulah yang pertama dikenal
orang. Dari antara sungai, sungai Gangga yang bercabang ti-
ga adalah yang pertama. Dari antara genangan air, Samudra
adalah yang pertama. Iswara adalah yang tertinggi d.iantara dewa-
dewa, tertinggi di antara para Danawa, para Pisacha, bangsa

110

lar. Rakshasha, Manusia, Kinara dan para Yaksha. Dialah
ishnu yang penuh dengan pancaran Brahman, yang tidak ada
andingannya di tiga dunia, Dialah yang pertama di alam semes-
a.

Dari antara cara hidup, hidup berumah tangga dikenal se-
agai yang pertama, Wujud yang tidak narnpak itu (Alam nis-
ala) adalah sumber semua dunia, dari sana proses keakhiran
iawali dan kesana semuanya akan menuju. Siang hari berakhir
dengan terbenamnya matahari, dan Malam berakhir dengan ter-
bi nya matahari. Keakhi ran dari suatu kesenangan sudah pasti
adalah kesedihan, dan akhir dari suatu kedukaan sudah pasti
adalah kebahagiaan. Apa saja yang dikumpulkan, pada saatnya
akan habis juga. Setiap pengikatan akan diakhiri dengan pe-
nguraian, dan hidup akan disudahi oleh kematian. Setiap kegiat-
an akan bp.rakhirdengan datangnya kehancwran, dan semua
yang terlahir dan berakhir dengan kematian. Segala-galanya
wujud-wujud yang bergerak dan yang tidak bergerak, hanya
untuk sementara saja adanya. Dan Upacara kurban, dana punia,
tapa brata, belajar, membulatkan tekad dengan sumpah dan
janji, ketaatan memuja semua itu akan berakhir dengan kehan-
curan!. Hanya pengetahuan saja yang terus berkembang tidak
ada akhirnya. Karena itu orang yang mempunyai ketenangan
jiwa, yang sudah menaklukkan perasaannya, terbebas dari rasa
kemilikan, tidak egois, maka orang itulah yang mampu mem-
bebaskan diri dari segala dosa, dibebaskan oleh kekuatan
pengetahuannya yang murni.

XLV. Roda kehidupan akan berputar terus. Pengertian yang menjadi
kekuatannya, fikiran dan jiwa menjadi sumbunya. Roda itu di-
ikat dan disatukan oleh rasa dan pengindraan. Pusatnya adalah
lima unsur besar dan rumah tangga merupakan keliling
lingkarannya. Roda kehidupan ini diselubungi oleh cacat-cacat
dan kedukaan, menurunkan segala macam penyakit' dan
bencana. Roda itu dipengaruhi oleh waktu dan tempat. Ber-
getar dan menderu-deru'suaranya, yang tidak lain adalah kerja
keras dan latihan-Iatihan. Siang dan malam merupakan ciri dari
perputarannya. Dikelilingi oleh panas dan dingin. Direkat dan
disambung oleh kesenangan dan ketidak senangan, rasa haus
dan lapar adalah merupakan paku-paku yang menancap pada
roda itu. Panas dan teduh merupakan Iintasannya. Roda itu
dapat digoncangkan meskipun hanya dalam waktu sekejap saja
Diselubungi kepalsuan dan kebodohan. la berputar tanpa ke-
saaaran. Panjang lintasan yang ditempuh diukur dengan waktu,
tengah bulanan dan bulan. Jalannya itu sungguh tidak teratur,.
tersentak-sentak melintasi seluruh dunia. Tapa brata dan ke-
bulatan tekad sebagai lumpurnya. Kekuatan nafsu menjadi

111

tenaga pendorongnya. la diterangi .oleh egoisme yang besar
dan dipertahankan atau dipelihara keutuhan bentuknya oleh
sifat-sifatnya. Roda itu menjadi teguh terikat, karena cita-cita-
nya atau tujuan terakhirnya belum dapat dicapai. Roda itu terus
berputar menyusuri jalan kehancuran dan kedukaan. la penuh
dengan berbagai macam kegiatan beserta alat-alat untuk
melakukan kegiatan itu dan ia semakin menjadi besar karena
semakin meluasnya unsur-unsur yang mengikat. Jalannya
goyah karena adanya dorongan-dorongan keinginan dan nafsu
kemilikan. la diciptakan oleh beraneka ragam kebodohan.

Roda itu dijaga oleh perasaan takut dan kebodohan yang diaki-
batkan oleh salah pengertian. la bergerak terus untuk mencari
kesenangan dan kegembiraan dan ia hanya memiliki keinginan
dan kemarahan. Wujudn¥a itu memang diawali dari Mahat dan
diakhiri denganunsur-unsur nyata. Ci·ri-cirinya yang paling
menonjol adalah adanya produksi dan pengrusakan yang ber-
langsung silih berganti dan terus menerus. Kecepatannya sarna
dengan kecepatan fikiran dan memang fikiran itulah yang
menjadi batas keluasannya. Roda kehidupan ini berkaitan
dengan sifat kembar yang saling bertentangan dan tidak
memiliki kesadaran. la itulah wujud materi alam semesta yang
tidak kekal, dan harus ditinggalkan! Itulah yang harus dikendali-
kan dan dipersingkat jangka perputarannya. Orang bijaksana
yang memahami hal ini, semestinya memahami pula awal per-
gerakan dan perhentiannya. la tidak akan dikacaukan lagi oleh
kesalahan pengertian. la terbebas dari semua kesan-kesan,
tidak lagi dipengaruhi oleh sifat kembar yang saling bertentang
an, terbebas dari dosa-dosa dan mencapai cita-citanya yang
tertinggl. Dari keempat cara hidup yang sudah disebutkan, maka

kehldupan berumah tangga adalah yang menjadi dasar pertama,
Apapun juga peraturan-peraturan yang ditetapkan dalam ke-
hidupan di dunia ini, memang patut ditaati karena ketaatan itu
sangat besar manfaatnya. Orang yang sudah melakukan
upacara penyucian diri, menepati sumpah dan janji, terlahir di
tengah-tengah k~luarga atau bangsa yang terhormat, selama-
nya akan mendapatkan kemuliaan, apalagi yang sudah mem-
pelajari Weda-weda serta menamatkan pelajaran melalui
seorang Guru. Orang baik-baik akan selalu menunjukkan ke-
setiaan kepada isterinya yang pertama, menjalankan tata cara
bertingkah laku, mengendalikan indriyanya, memiliki keyaktn-
an dan menyelenggarakan lima upacara kurban. la hanya
memakan makanan yang sudah terlebih dahulu dipersembah-
kan kehadapan dewa-dewa, atau memakan makanan lebih
setelah disuguhkan kepada tamu, melakukan peraturan-
peraturan yang digariskan dalam Weda, menyelenggarakan
upacara kurban yang disertai dengan dana punia sesuai

112

dengan kemampuannya, giat bekerja, memperhatikan petunjuk
petunjuk dengan sebaik-baiknya, melakukan tapa-brata, tidak
banyak berbicara. Orang seperti itulah yang dapat digolongkan .
sebagai orang baik-baik atau Sishta. Orang harus selamanya
mengenakan benang suci dipergelangan tangannya, berpakai-
an bersih, suka memberi dan mengendalikan diri. Dorongan
nafsu harus ditundukkan, mengembangkan cinta kasih se-
mesta dan memegang ethika dalam bertingkah laku. Menyedia~
kan air kepada para tamu dan menjadi guru setelah tamat belajar
Orang baik-baik akan menyelenggarakan upacaranya sendiri
dan menyempatkan diri untuk hadir dalam upacara orang lain.
la harus pula memperhatikan kebutuhannya sendiri, cukup
memberikan hiburan kepada dirinya sendiri. Itulah perbuatan-
perbuatan yang menjadi ciri dan pegangan untuk menjadi
orang baik. Apabila diperhatikan, perbuatan-perbuatan itu ter-
diri dari enam macam dan tiga dari antar~nya, yaitu mengajar,
menyelenggarakan upacara untuk orang lain, serta menerima
pemberian-pemberian dari mereka yang ikhlas dan berhati
bersih adalah merupakan ci·ri-ciri perbuatan golongan Brah-
mana. Tiga perbuatan yang lain, yaitu memberikan dana punia,
belajar dan melakukan upacara kurban adalah merupakan
kewajiban umat manusia semuanya, dan sesungguhnyalah
bahwa perbuatan-perbuatan itu akan membawa berkah bagi
kehidupan setiap mahluk di alam semesta. Melakukan tapa-
brata, mengendalikan diri, memancarkan cinta kasih kepada
sesama mahluk hidup, memberi maaf dan pengampunan,
memandang semua mahluk memiliki derajat yang sama, itu
semua adalah merupakan tugas manusia dari semua golongan aan
tingkatan. Brahmana bijaksana, yang menempuh kehidupan
berumah tangga, menepati semua sumpah dan janjinya, selalu
memuja denganketulusan hatinya, serta menunaikan tugas-
tugas yang menjadi tanggungannya, pastilah akan berhasil
mencapai kedudukannya di alam surga.

XLVI. Karena itu, belajarlah dengan segala kemampuan yang ada.

Hidup menurut aturan yang sudah ditetapkan sebagai siswa

Brahmacharyya da.n lakukanlah tugas serta kewajiban yang se-

suai dengan golongan yang diikrarkan. Seorang Brahma-

charyya selamanya akan mengejar pengetahuan,melakukan

tapa-brata, mengendalikan panca indra, menunaikan dengan

penuh kebaktian tugas-tugas yang diberikan oleh Guru, selalu

mencari kebenaran, hidup bersih dan suci dan setelah dipedn-

tahkan, barulah ia mengambil makanan serta makan dengan·ti-

dak menilai baik buruk makanan yang disajikan untuknya itu.

la hanya memakan Hawishya yang dibuat dengan bahan-bahan

apa saja yang diberikan orang kepadanya. Semua tindakan ser-

113

ta sikap-sikapnya seperti berdiri, duduk, dan melakukan kegiat-
an gerak badan dilakukan sesuai dengan peraturan yang dite-
tapkan atau diperintahkan. la harus menuangkan minyak men-
tega murni kedalam api kurban sebanyak dua kali sehari, me-
nyucikan diri dan melakukan meditasi. la selalu membawa tong-
kat yang terbuat dari ranting pohon wilwa atau kayu Palasa.
mengenakan jubah putih dari kain linen atau kain katun, atau
terbuat dari kulit rusa atau dapat juga berjubah kain yang se~u­
ruhnya berwarna coklat kemerahan. Memakai ikat pinggang
yang dianyam dari rumput Munja. Rambut digelung agar bersih
dan rapi. mandi setiap hari, mengenakan benang keramat,
mempelaiari kitab-kitab suci, tidak menginginkan benda-benda
untuk dimiliki sendiri dan menepati setiap janji yang sudah di-
ucapkan. la mempersembahkan suguhan air kepada dewata de-
ngan memusatkan fikiran pa~ waktu melakukan persembahan
itu Demikianlah tugas dan kewajiban seorang Brahmacharin
yang sangat patut ditiru. Sperma ditarik ke atas dengan me-
musatkan fikiran, dengan demikian diringankan dari siksaan
dorongan kelamin dan pada akhirnya akan mampu membebas-
kan diri dan mencapai alam Surga. Setelah mencapai tingkat
tertinggi itu, ia tidak menempuh lahir kembali ke dunia InLla disuci-
kan dengan berbagai macam upacarapenyuclandan menempuh
hidup sebagaimana seorang Brahmacharin. Setelah berhasil da-
lam pendidikannya itu, ia kembali ke desanya sendiri untuk
selanjutnya akan menempuh kehidupan sebagai pertapa didalam
hutan, yaitu setelah berhasil melepaskan diri dari segala bentuk ikat-
an keduniawian. Dalam kehidupannya sebagai Pertapa itu ia harus

mengenakan pakaian kulit rusa atau kulit kayu, namun tetap
menjaga kebersihan dengan mandi setiap pagi dan sore. la hi-
dup di dalam hutan dan tidak pernah kembali ke tempat ramai.

Tamu yang mengunjunginya di dalam hutan itu akan diterima
dengan penuh kehormatan dan ia sendiri harus menyandarkan
hidupnya dari m'emakan daun-daun, akar-akar dan syamaka,
meminum hanya air putih dan bersih, banyak menghirup udara
segar dan menikmati hasil-hasil hutan di sekitar tempat perta-
paan itu. Kehidupan pertapanya itu digariskan dalam upacara
inisiasi yang dilakukan sebelumnya, sesuai dengan cita-citanya
melakukan kehidupan bertapa itu. Tetapi bagaimanapun ben-
tuk tapa brata yang dilakukan, ia harus menghormati setiap
tamu yang datang mengunjunginya, menyuguhkan kepada me-
reka makanan-makanan yang dapat dikumpulkan di dalam hu-
tan seperti buah-buahan, daun-daun dan umbi-umbian. Se-
mentara itu ia memang harus mengurangi berbicara, dan hanya
makan setelah tamunya selesai atau setelah melakukan per-
sembahan kepada dewa-dewa. la harus sudah terbebas dari pe-

114

rasaan dendam, makan hanya sedikit dan menggantungkan hi-
dup seluruhnya kepada karunia dewata. Mengendalikan diri,
memancarkan kasih sayang kepada semua mahluk, pemaaf dan
pengampun, membiarkan tumbuh rambut dan jenggotnya, atau
merapikan dan membersihkannya sendiri tanpa minta bantuan
orang lain atau tukang cukur. la harus melakukan upacara kur-
ban dan mernpelajari dengan tekun kitab-kitab suci, menjalan-
kan kebenaran tanpa kompromi. Tubuhnya dipelihara agar
tetap bersih dan suci, dilatih agar mempunyai kepandaian, ting-
gal di dalam hutan dengan fikiran memusat, alat-alat pengtn-
draan dikendalikan dan apabila pertapa itu mentaati semua ke-
tentuan ini, pastilah ia akan mencapai suatu tingkat di alam
Surga. Jalan manapun yang ditempuhnya, apakah ia seorang
kepala rumah tangga, Brahmacharin, ataukah pertapa di dalam
hutan, apabila berkeinginan mencapal alam iurga atau pem-
bebasan jiwa, haruslah mentaati segala peraturan tingkah laku
yang sudah digariskan sesuai dengan tujuan yang ingin di-
capainya itu. Peraturan-peraturan itu adalah merupakan seba-
gian dari rencana untuk mencapai tujuan. Untuk mencapai ke-
bebasan abadi itu, maka setelah mentaati peraturan yang per-
tama yaitu tidak menyakiti semua mahluk hidup, ia harus segera
menghentikan semua kegiatannya. Oengan fikiran dipusatkan,
ia hanya akan memikirKan bagalmana menyenangkan hati se-
luruh mahluk, melaksanakan kasih sayang semesta, mengen-
dalikan serta menundukkan panca indriya. hidup sebagai per-
tapa didalam hutan dengan hanya memakan makanan yang
didapatkan tanpa meminta. yang tidak menimbulkan kesulitan baik
terhadap diri sendiri maupun kepada mahluk-mahluk lain. lebih
baik lagi apabila ia hanya memakan makanan yang tersaji begitu sa-
ja dihad~panllya. menyalakan api. melakukan perjalanan sebagai
pengemls tanpa merengek untuk memmta. LJalam perjalanan
mengemis itu ia tidak boleh meminta, melainkan hanya me-
nampakkan dirinya saja di tempat-tempat di mana asap dapur
sudah berhenti berkepul dan para penduduk sudah selesai ma-
kan. la baru mulai berjalan mengharapkan sedekah setelah se-
mua alat-alat makan orang kampung itu di cuci bersih pertanda
bahwa mereka sudah selesai dengan segala kegiatannya di
dapur. la tidak boleh bergembira apabila mendapat hasil yang
memuaskan dalam perjalanannya itu, oan tioak merasa ke-
cewa apabila tidak mendapatkan hasil apapun juga. la akan
puas dengan mendapatkan sekedar untuk menunjang kehidup-
annya. Oengan memusatkan fikiran ia berjalan berkeliling suatu
kampung guna mendapatkan sedekah apa saja. Oi suatu halam-
an rumah iapun hanya berdiri saja dan menunggu dengan sa-
bar. la tidak diperkenankan bekerja untuk mendapatkan peng-
hasilan sebagaimana orang kebanyakan dan iapun harus me-

115

nolak untuk makan apabila disambut dengan kehormatan dan
kebesaran. la harus menyembunyikan diri agar tidak menerima
kehormatan yang berlebihan. Jangan memakan makanan yang
tersisa dari piring orang lain. Dan selanjutnya, tidak memakan
makanan yang pahit, pedas, berbau busuk atau keras, dan tidak
pula memakan makanan yang rasanya terlalu manis, Orang
yang ingin mendapatkan kebebasan hanya makan sekedar da-
pat mempertahankan hidupnya tanpa mengganggu mahluk-
matlluk lain. Dalam perjalanannya meminta sedekah itu, ia tidak
boleh mengikuti perjalanan kolega lainnya. la tidak boleh mem-
perlihatkan kesengsaraan atau meminta belas kasihan orang
-lain. la berjalan di tempat-tempat sepi, terbebas dari nafsu, ber-
teduh di dalam bangunan-bangunan kosong, di hutan-hutan,
di bawah pohon, di sungai, di dalam gua-gua pegunungan .
.Dimusim panas, ia hanya tinggal sema/am saja di suatu tempat
yang sama di suatudusu~. Di atas bumi ini ia bergerak seperti
ulat dan selalu menuju ke arah di mana adanya matahari. Ber-
jalan sambil menundukkan kepala seraya tetap memperhatikan
agar tidak dengan sengaja menginjak mahluk-mahluk hidup la-
in. latidak mengumpulkan kekayaan dan tidak tinggal mengi-
nap di rumah teman atau kenalan. Orang yang mencita-citakan ke-
bebasan itu harus banyak menggunakan air bersih. Mandi setiap
hari den.gan·air yang sudah diangkut sendiri dari sebuah kali atau
sumur. Tegasnya, ia tidak menyakiti mahluk hidup, Brahmacharyya,
mencari dan membela kebenaran. menuntut kesederhanaan dan
terbebas dan kemarahan, tidak menyusahkan orang lain, me-
ngendalikan diri, tidak secara sembunyi-sembunyi menyakiti
orang lain. Demikianlah dengan seluruh perasaannya terken-
dali, ia harus dengan tekun menjalankan kede/apan syarat yang
disebutkan ini. Selalu melatih diri dengan tekun agar tingkah
lakunya terbebas dari dosa-dosa, tidak membohongi baik diri
sendiri maupun orang lain. la membebaskan diri dari segala
bentuk ikatan dan setiap tamu yang datang mengunjunginya
akan disediakan makanan dan minuman yang dibuat sendiri.
Dan ia sendiri, hanya makan sekedarnya untuk mempertahan-
kan hidup saja. la hanya makan makanan yang sudah didapat-
kan dengan kejujuran, tidak menuruti dorongan hawa nafsu.
la tidak akan menerima hadiah-hadiah berupa apapun juga
kecuali makanan dan pakaian, dan itupun sekedar cukup untuk
mempertahankan kehidupan saja. la tidak menerima hadiah-
hadiah dari orang lain dan ia sendiripun tidak memberikan
hadiah-hadiah itu. la menyadari bahwa mahluk itu sangat lemah, ka-
rena itu orang yang mencari kebebasan selalu akan memperhatikan
kebutuhan orang lain. Apabila ia mempunyai kelebihan apapun
juga, maka ia akan membagi-bagikan semuanya itu kepada siapa

saja yang benar-benar membutuhkannya. Lebih-Iebih ia tidak sama

116

sekali menginginkan kepunyaan orang lain, dan tidak boleh me-
ngambil apapun juga tanpa disuruh mengambil oleh yang empu-
nya. la tidak boleh menunjukkan keterikatan kepada suatu kese-
nangan sehingga ia bermaksud untuk mendapatkan kesenang-
an itu lagi. Di dalam perjalanan atau dimana saja, ia hanya

boleh memungut tanah, air, batu, daun-daun, bunga dan buah-
buahan yang tidak dimiliki oleh orang lain. la tidak menjadi
tukang, ahli dan tidak boleh sama sekali menaruh kesukaan
kepada emas. la tidak membenci dan tidak mengajar kepada
orang yang tidak datang mencari pelajaran dan ia tidak boleh
mengaku memiliki apapun juga, baik harta maupun kepandai-
an. la tidak boleh memakan makanan yang tidak diperkenankan
oleh peraturan kepercayaannya. Tidak mencari perdebatan
atau pertentangan-pertentangan. la hanya melakukan tingkah
laku atau kegiatan yang sudah pasti dqpat membahagiakan
orang lain. Tidak mengikatkan diri kepada apapun juga, tidak
melihatkan perasaan terlalu erat kepada mahluk apapun juga.
Tidak melakukan kegiatan-kegiatan untuk mengharapkan pa-
hala atau hasil, tidak menghancurkan atau merusak kehidupan
dan tidak menimbun kekayaan. la harus menolak dengan keras
pengikatan dengan benda-benda apa saja dan harus merasa
puas dengan yang seperlunya itu dan terus berkelana tanpa
memiliki rumah tempat tinggal, menunjukkan tingkah laku sa-
ma terhadap apa saja baik yang hidup bergerak ataupun yang
tidak bergerak. Dijaga agar jangan sampai mengganggu ke-
hidupan mahluk-mahluk lain, dan ia sendiripun harus menjaga
diri agar tidak merasa diganggu oleh mahluk-mahluk lain itu.
Seorang utama yang memahami arti Kebebasan adalah sahabat
yang dapat dipercaya oleh semua mahluk. la tidak lagi memi-
kirkan masa lalu yang telah lewat dan tidak was-was dalam
menghadapi masa yang akan datang. la tidak perduli dengan
apapun yang menimpa dirinya sekarang, ia membiarkan waktu
berlalu melewati dirinyadan tetap teguh memusatkan fikiran
untuk menuju Kebebasan semesta itu. la tidak mencela apapun
juga baik dengan pandangan mata, dengan fikiran maupun
dengan perkataan. lapun tidak melakukan apa-apa yang salah
baik terang-terang~n maupun secara rahasia. la menarikma-
suk semua perasaannya bagaikan seekor kura-kura menarik
anggota tubuhnya ke dalam, mengumpulkan perasaan atau ·fi-
kirannya guna memetik pengertian mendalam tentang keda-
maian dan perdamaian, dan berusaha memahani sedalam-
dalamnya semua masalah yang ada. la terbebas dari pengaruh
sifat ganda yang bertentangan, tidak lagi menundukkan kepala
untuk memuja, tidak lagi melakukan upacara-upacara yang
ditutup dengan kala-kata Swaha, tidak merasa memiliki dan
tidak menunjukkan sifat mementingkan diri sendiri. Dengan·ji-

117

wa bersih ia tidak berusaha mencari apapun' juga yang ia ·ti-
dak punyai atau mempertahankan apa-apa yang sudah dimiliki.
la tidak mengharapkan, tidak menonjolkan sifat-sifat sendiri,
tenteram, terbebas dari segala ikatan, tidak menggantungkan
diri kepada siapapun dan apapun juga.la hidup sendirian, lepas
bebas namun sama sekali tidak egois, memahami segala hal.
Demikianlah ia akan mencapai Kebebasan abadi itu. Dalam 5a-
madi ia akan melihat dirinya tanpa kaki, tanpa tangan, tanpa pung-
gung, tanpa kepala, tanpa perut, terbebas dari pengaruh sifat-
sifat atau materi, kekal, absolut, tak tercela, stabil, tidak berbau,
tidak terasa, tanpa warna, hanya dapat dipahami dengan pe-
ngamatan yang mendalam, tidak terikat, tanpa isi atau daging,
terbebas dari rasa khawatir, tidak memudar, luhur, dan akhir-
nya. meskipun ia merasuk ke dalam semua mahluk tetapi ia be-
bas dari kematian. PengarAatan panca indra dan bahkan pe-
ngertian, memang tidak mampu untuk mencapainya, tidak pula
oleh perasaan, tidak dicapai oleh Dewa-dewa, tidak pula ter-
jangkau oleh Weda-weda dan tidak dapat dicapai dengan upa-
cara-upacara, tidak pula oleh berkah-berkah dari alam luhur,
atau tapa serta penunaian sumpah dan janji. Orang-orang bijak-
sana mencapai tempat itu dengan tidak menggunakan sarana
apapun juga, tidak juga dengan apapun yang berupa simbul-
simbui. Karena itu, orang yang memahami hal abstrak yang
tidak dapat digambarkan oleh simbul apapun itu, harus mela-
kukan cara-cara Yoga yang disebutkan terdahulu untuk men-
dapatkan Kebebasan Abadi itu dengan berlandaskan Pengeta-
huan Kebenaran saja.

Orang bijaksana yang menempuh kehidupan berumah
tangga, sepatutnyalah melakukan tindakan serta tingkah laku
yang sesuai dengan pengetahuan kebenaran dan kenyataan
itu. Setelah ia mempunyai pengetahuan dan mengerti secara
mendalam, maka sama sekali ia tidak boleh mencela cara-cara
yang dianut oleh orang-orang yang belum mengerti. Dengan
tidak mencela, ia sendiri harus melakukan penyederhanaan
dalam setiap kegiatannya, namun tetap menjaga agar orang
lain tidak tersinggung perasaannya dan tetap menjaga agar
ia tidak salah ditafsirkan orang. Dengan penuh pengertian dan
fikiran bersih, ia harus menyesuaikan diri. Orang yang dapat
melakukan tingkah laku seperti itu, adalah juga seorang perta-
pautama. Alat-alat pengindraan beserta perasaannya, benda-
benda yang di indra atau dirasakan, lima unsur besar, fikiran,
pengertian, egoisme, yang abstrak, juga Purusha, harus difa-
hami dengan sebagik-baiknya, dengan contoh-contoh serta
perbandingan-perbandingan yang benar. Apabila hal itu sudah
difahami dengan benar, tidak dapat diragukan lagi pastilah ia
akan mencapai tujuan tertinggi di alam Surga, alam kekekalan,

118

terbebas dari segala bentuk ikatan. Dan setelah mendalami ke-
benaran itu. maka pada saat kematian, ia harus memusatkan
perhatian kepada satu titik, Demikian itulah ia mencapai kebe-
basan tidak mengandalkan apa dan siapapun juga. (Ia terbebas
bukan karena nama besar, bukan karena perbuatan, lebth-Iebih
bukan karena upacara-upacara betapa besarpun juga). Terbebaslah
ia dari segala-galanya, bagaikan angin di angkasa, yang dihimpun
sudah terkumpul semua, tidak ada rasa penyesalan, dan ia men-
capai tujuan tertinggi.

VII. Para Brahmana sekarang dan sejak jaman dahulu kala,su-
dah menyadari serta mengungkapkan kebenaran-kebenaran,
yang antara lain juga menyatakan bahl'a berpantang itu sama
dengan tapa-brata. Dan para Brahmana yang ada di dalam Weda
yang bersumber dari Brahman itu, menyadari pula bahwa Pe-
ngetahuan adalah Brahman yang maha tinggi! Perjalanan me-
nuju Brahman itu sangat jauh, dan untuk sampai ke tempat itu,
sangat tergantung dari pengetahuan tentang Weda-weda. Dia
yang maha tinggi itu terbebas dari sifat kembar yang berten-
tangan, bahkan tidak dipengaruhi oleh sifat-sifat, kekal, namun
penuh dengan berbagai macam sifat yang tidak mungkin dapat
difikirkan. Dia menikmati tanpa keinginan untuk menikmati.
Menguasai segala-galanya, mendapatkan segala-galanya, me-
nikmati segala-galanya. Dia itu yang maha tinggi. Adalah de-
ngan tapa-brata dan pengetahuan orang-orang bijaksana itu
dapat menyadari adanya Dzat yang tertinggi itu. Sesungguh-
nyalah, orang-orang yang fikirannya bersih, orang yang sudah
terbebas dari tindihan dosa-dosa, yang sudah menguasai se-
mua dorongan nafsunya, menghalaukan kegelapan fikirannya,
akan dapat memahaminya. Mereka yang selalu mengendalikan
diri, memahami Weda-weda, tentu akan berhasil mendapatkan
pengetahuan dan pengertian tertinggi itu, dan akhirnya bersatu
dengan Yang Maha Tinggi, yang identik dengan Jalan Kebaha-
giaan dan Kedamaian. Berpantang dan menahan diri adalah
merupakan cahaya. Tingkah laku mengarahkannya kepada ke-
sederhanaan cara hidup. Dan berkali-kali sudah dikatakan bah-
wa Pengetahuan adalah yang paling utama. Berpantang dan
mengekang diri adalah bentuk tapa-brata yang paling utama.
Tanpa berpantang dan mengendalikan diri, cita-cita yang ma-
napun tidak mungkin dapat dicapai. Berpantang itu adalah da-
ya tahan untuk menghadapi tekanan dan hidup ini adalah te-
kanan! Orang yang memahami dirinya dengan berlandaskan
penguasaan terhadap semua bentuk masalah, yang tidak goyah
iman, yang identik dengan Pengetahuan, dan yang ada di dalam

119

semua wujud, akan berhasil ke manapun ia pergi. Orang bijak-
sana itu, yang memahami kaidah-kaidah persenyawaan dan pe-
nguraian, memahami hukum-hukum kesatuan di dalam perbe-
daan, akan terbebas dari segala penderitaan. la tidak lagi me-
nginginkan apapun juga, tidak melakukan pemalsuan terhadap
apapun juga, akan berhasil, meskipun masih hidup di dunia
ini, bersatu dengan Brahman. Orang yang memahami kebenar-
an tentang sifat Pradhana, dan menyadari bahwa Pradhana itu
berada di dalam semua perwujudan, terbebas dari keakuan dan
egoisme, tidak diragukan lagi, pastilah akan mencapai Kebe-
basan Abadi itu. Orang yang tidak lagi dipengaruhi oleh semua
pasangan sifat kembar yang bertentangan, yang tidak menye-
rah kepada siapapun juga dalam mempertahankan keteguhan
kebenaran itu, tidak terikat oleh segala macam upacara Swadha
dengan ketentraman jiwan~a, akan berhasil mencapai tempat
di mana sifat kembar yang b~rtentangan tidak mempunyai fung-
si lagi, yang kekal dan penuh dengan berbagai macam sifat
untuk dinikmati. la meninggalkan semua kegiatan dan perbuat-
an yang biasa dilakukan, yang baik dan yang buruk yang ber-
kembang dari adanya sifat-sifat, menjauhkan semuanya, yang
benar maupun yang palsu, orang seperti itu, pastilah akan men-
capai Kebebasan Abadi itu. Yang tidak nampak itu sebagai .
benihnya, pengertian sebagai batangnya, prinsip besar egojs-
me sebagai cabang dan rantingnya, alat-alat perasa sebagai
tempat tumbuhnya tunas, lima unsur besar sebagai cabang-
cabang utamanya, perwujudan yang dirasakan sebagai ca-
bang-cabang kecil, dengan daun dan bunga-bunga yang tak
pernah pudar, berbuah lebat, man is dan masam dan ada yang bU-
suk. Itulah pohon perlarnbang Brahman, yang menunjang ke-
hidupan semua mahluk. Untuk menebang pohon itudiperlukan
sarana yang tidak lain dari Pengetahuan Kebenaran. Orang bi-
jaksana akan membebaskan diri dari segala ikatan yang menye-
babkan kelahiran kembali yang penuh dengan tekanan dan
penderitaan, cacat jasmani dan kematian. Dengan demikian ia
harus membebaskan diri dari rasa kemilikan dan egoisme, me-
ninggalkan ikatan-ikatan untuk mendapatkan Kebebasan. Rasa
kemilikan dan egoisme itu merupakan dua ekor burung yang
tidak dapat dibunuh, bersahabat yang satu dengan yang lain, yang
keduanya itu dikenal sebagai kebodohan. Bertentangan dengan
rasa kemilikan dan egoisme itu adalah Kecerdasan atau penge-
tahuan. Apabila badan rohani yang tidak menyadari hubungan-
nya dengan alam, tidak mengetahui hUkum-hukum alam, jadi
masih tertutup kegelapan, kemudian menjadi sadardan mampu
menguasai alam, menguasai Kshetra, jadi menguasai segala
sifat dan wujud karena berpengetahuan hingga dapat mema-
hami segala-galanya, maka seketika itu iapun dapat membebas-

120

,a dari beban dosa-dosa yang rnenindihnya.

ahagian orang menganggap bahwa Brahman itu bagai-
atang pohon, sebahagian lagi menganggapnya seba-
an belantara yang maha luas. Ada yang melukiskannya
-.- .c;;>ai sesuatu yang tidak terfikirkan, tidak berwujud, sebagi-
~ 'i menyatakan sebagai suatu hal transenden, terbebas dari
a a kedukaan. Dan semua merekayakin bahwa segala-gala-
ang ada ini dihasilkan dan diserap kembali ke dalam alam
idak nampak itu. Dan yakinlah, bahwa meskipun orang
mendapat kesadaran itu dalam waktu yang sangat sing,
isalnya sepanjang waktu untuk menarik nafas, dan tepat
a saat timbulnya kesadaran itu ia menghembuskan nafasnya
a 9 terakhir, maka iapun mendapat berkah dan mencapai alam
al itu. Dengan mempertahankan fikircr terserap ke dalam
R . meskipun dalam jangka waktu sekejap saja, sungguh akan
a gat besar manfaatnya bagi ketenteraman jiwa, serta selan-

j nya mencapai keadaan di mana ia terserap ke dalam keadaan
ang penuh dengan pengetahuan tak terbatas. Dengan me-

gendalikan hawa kehidupan ataukelompok prna, yaitu dengan
elatih terus pranayama, maka ia akan mendapatkan berkah
yang berlipat ganda. Latihan yang dilakukan sepuluh atau dua-
belas kali, akan menghasilkan berkah-berkah yang duapuluh
dan duapuluh empat kali banyaknya. Demikianlah, setelah per-
tama-tama ia berhasil menenteramkan fikiran, ia akan lebih
mudah menanjak terus untuk mencapai cita-cita. Apabila sifat-sifat
yang baik sudah memancar keluar yang bersumber dari dalam
wujud tak narnpak itu, maka ia pun sudah mampu untuk men-
capai kekekalan. Orang-orang yang memahami kebaikan, akan
selalu mengutamakan kebaikan itu dan menyatakan bahwa ti-
dak ada yang lebih tinggi dari kebaikan itu. Wahai Brahmana,
tidak ada lagi cara yang lebih baik untuk mencapai alam Purus-
ha daripada meningkatkan kesadaran dan pengetahuan itu. Se-
telah mendapatkan bathin yang tenteram karena meningkatnya
kesadaran terhadap Brahman, untuk selanjutnya, inilah ci-ri-ciri
kepribadian yang patut dikembangkan: memberi maaf dan am-
pun, berani, tidak menyakiti mahluk hidup, memandang segala-
galanya dengan pandangan sarna, membela kebenaran, taat,
jujur, membina pengetahuan, dermawan, dan mengendalikan
dorongan keinginan. Dengan mengembangkan sifat-sifat itu,
orang itu akan dapat menyelaraskan diri dengan Purusha atau
sumber dari Kebaikan itu. Janganlah ragu-ragu tentang kaidah
kebenaran ini.

Ada anggapan bahwa Kshetrajna dan alam itu sebenarnyJ
sama. Sebenarnya bukan demikian. Berulangkali sudah kukata..

kan bahwa Alam ini tidak sama dengan Purusha. Perbedaan da~

.'

121

persamaannya haruslah diketahui. Ada terdapat batas-batas
persamaan dan ada batas-batas perbedaan. Hal ini harus disa-
dari dan demikian itulah ilmu pengetahuan itu. Purusha dan
Alam memang bertautan bagaikan titik-titik embun di atas kem-

bang padma. Keduanya merupakan satu kesatuan yang indah
dan lengkap, namun yang satu dan yang lain jelas perbedaan-
nya!"

Setelah mendapat wejangan-wejangan secara panjang lebar
itu, para tsranmana itu nampaknya masih membutuhkan bebe-

rapa penjelasan. Karena itu merekapun segera menyembah dan
mengajukan pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut :

XLIX. "Wahai Hyang Maha Agung penguasa kecerdasan dan ke-

bijaksanaan, kami ini masih mempunyai keragu-raguan dalam

hal-hal seperti, yang manakah dari kewajiban-kewajiban itu

yang paling berniltli untuk dilaksanakan? Kewajiban-kewajiban

serta keharusan-keharusan itu sungguh sangat beraneka ra-

gam dan kadang-kadang menurut pendapat kami saling berten-

tangan satu dengan yang lain. Dan kami pernah mendengar

bahwa meskipun badan jasmani ini sudah mati dan dimusnah-

kan, masih juga terikat dengan kewajiban-kewajiban yang patut

dipenuhi, sehingga setelah matipun kami masih harus menem-

pUh upacara-upacara untuk menyucikan Roh kami ini. Dan se-

bagian orang menyatakan bahwa kewajiban-kewajiban itu akan

lenyap bersama-sama dengan kehancuran badan jasmani. Se-

bag ian lagi orang menyatakan bahwa sebenarnya tidak ada sa-

tu hal pun yang pasti, semua doktrtn-doktrin itu sangat meragu-

kan kebenarannya. Tetapi banyak pula orang yang dengan te-

gas berani memastikan bahwa apa yang diyakini itu adalah

benar! Tentang kekekalanpun masih banyak yang berbeda pen-

dapat. Banyak orang percaya bahwa di alam semesta ini tidak

ada sesuatu yang dapat disebut kekal. Pendapat-pendapat ten-

tang ada dan tidak ada itu sungguh bersimpang siur. Bebera-

pa orang Brahmana menyatakan bahwa mereka sungguh-

sungguh sudah memahami Brahman, menyatakan dengan pas-

ti bahwa ini ada itu tidak ada, juga menyatakan bahwa yang

nyata dan tidak nyata itu merupakan satu kesatuan. Sedangkan

Brahmana lain menyatakan bahwa pendapat itu tidak benar,

sebenarnya, kedua hal itu sangat berbeda. Ada lagi yang lain

menyatakan bahwa hal itu mempunyai banyak pengertian, ter-

gantung dari sudut mana kita meninjaunya. Selanjutnya, kami

mengetahui bahwa ada beberapa orang bijaksana menyatakan

bahwa ruang dan waktu itu adalah merupakan wujud nyata,

sedangkan yang lain menyatakan sebaliknya! Sampai pula ke

masalah pakaian, ada yang menyatakan bahwa rambut harus dige-

lung ke atas bahkan hingga melekat menjadi satu dan harus me-

122

ngenakan kain selembar dari kulit rusa. Yang lain menyatakan agar

rambut itu dieukur gundul serta dianjurkan agar tidak menge-
nakan pakaian berupa apapun juga! Ada orang mengajarkan
agar para pertapa tidak membersihkan diri dengan mandi, se-
mentara yang lain menganjurkan agar kebersihan jasmani itu
harus dipelihara dengan mandi setiap hari bahkan sampai ba-
nyak kali sehari. Perbedaan-perbedaan seperti itu pastilah di-
fahami sebab-musababnya oleh para dewa dan orang-orang bijak-
sana yang mengetahui tentang Brahman. Selanjutnya, ada
yang menganjurkan agar tetap makan sepuasnya, atau sedikit-
sedikit, tetapi ada bahkan yang menolak makanan sarna sekali.
Banyak pula orang bijaksana menganjurkan agar kita selalu ber
tindak dan berbuat, sedangkan yang lain megganjurkan agar
kita ini diam saja, menghentikan segala macam kegiatan itu dan
harus menyepikan diri ke tem,at sunyi melakukan meditasi
untuk selama-Iamanya ! Ada pula yang dengan penuh keyaktn-
an dapat menyatakan bahwa kebebasan itu hanya dapat dicCij)ai
dengan berpantang, sedangkan yang lain menganjurkan agar
menikmati hidup ini dengan sepuas-puasnya. Ada orang yang
selamanya mengejar kemewahan dan kekayaan, sementara
yang lain bahkan menolak kekayaan dan hidup seperti orang

miskin. Selanjutnya, orang berbeda pula pendapatnya dalam
hal sarana-sarana ada yang mengharuskan oenggunaan sarana-sa-
rana dan sarana-sarana yang diperlukanpun berbeda-beda pula.
Banyak orang berpantang melakukan tindakan-tindakan ke-
kejaman, tetapi banyak pula yang lain selamanya didorong
untuk melakukan tindakan kekerasan dan pengrusakan. Ada
yang selalu mendambakan hasi! dan kebesaran, sedangkan
yang lain bersikeras menyatakan bahwa tlal itu tidak benar.
Sebagian orang selalu berbuat kebaikan, yang lain tidak perduli
dan tetap ragu-ragu apakah semua kebaikan itu ada manfaat-
nya. Sebagian orang menuntut kesenangan hidup, yang lain
meneari rasa sakit dan penderitaan. Orang lain lagi menyatakan
bahwa renungan-renungan dan meditasi adalah merupakan
jalan satu-satunya untuk menuju kebebasan, sedangkan yang
lain mengatakan bahwa jalan satu-satunya itu adalah melaku-
kan upaeaFa-upaeara. Ada 'agi yang menyatakan bahwa ka-
runia dan bakat itu yang terpenting serta mendorong langkah-
langkah yang diambil dalam kehidupan ini, tetapi yang lain me-
nyatakan bahwa usaha dan tapa-brata adalah jalan yang patut
ditempuh. Bahkan ada yang dengan tandas menyatakan bahwa
semua jalan itu salah, menurut mereka jalan yang terpenting
adalah membaeadan mempelajari Kitab-kitab Suci saja. Ada
lagi yang menganjurkan bahwa menuntut ilmu pengetahuan
dan berpantang itu merupakan jalan yang paling utama. Yang

123

lain memujikan jalan bersatu dengan alam sebagaimana ada-
nya. Sebagian lagi secara ekstrim lalu melakukan segala-
galanya, sedangkan yang lain menolak segala-galanya. Wahai
Brahman yang maha agung, kewajiban-kewajiban yang sangat
berbeda-beda itu sungguh membingungkan· hamba. Kami
semua bergerak dalam kegelapan, sungguh tidak mampu me-
narikkesimpulan.Orang selalu saja menyatakan : "bukan itu,
melainkan inilah yang terbaik !" Orang yang sudah menempuh
salah satu jalan beserta tata kewajibannya selalu menyatakan
bahwa apa yang sudah dijalankannya jtu adalah jalan yang terbaik.
Itulah sebabnya pengetahuan kami menjadi kacau dan fikiran
kami tidak dapat dipusatkan lagi. Kami mohon penjelasan, 0
Brahman yang maha mengetahui, manakah jalan yang paling
tepat itu ? Oi manakah letak rahasianya dan apakah hubungan
Kshetrajna deng.n Alam ?".

L. Untuk menjawab serangkaian pertanyaan-pertanyaan itu,
Brahman memberikan jawaban sebagai berikut : "Aku tidak se-
cara langsung akan mengatakan mana yang baik dan mana
yang kurang baik ! Sejak semula Aku telah menyerukan. taatilah
Guru yang mengajar kalian. Kebenaran pertama yang ku-
jarkan adalah mendengarkan serta mentaati pelajaran yang
diberikan oleh Guru! Murid harus atau berkewajiban mentaati
Gurunya ! Terima dan camkanlah apa saja yang diajarkan oleh
Guru kalian itu ! Selanjutnya, sebagaimana telah kutekankan
berkali-kali, kebenaran yang patut diperhatikan adalah : Jangan
menyakiti mahluk lain. Itulah dua kewajiban terpenting dalam
hldup ini yang dapat membebaskan kalian dari perasaan was-
was dan khawatir. Mentaati kewajiban itu merupakan ci·ri-ciri
kesucian yang paling menonjol. Para bijaksana sejak jaman
dahulu sudah menyatakan bahwa Pengetahuan adalah merupa-
kan kebahagiaan yang paling tinggi. Dengan ilmu pengetahuan
orang dapat -membebaskan dirinya dari segala bentuk dosa.
Orang-orang yang suka merusak dan menyakiti mahluk-mahluk
lain, orang yang budi pekertinya buruk, mestinyalah pergi ke
alam Neraka, apalagi apabila mereka itu penuh dengan nafsu
kemilikan dan bodoh. Orang malas tetapi bertingkah laku baik
dan taat, akan lahir kembali ke dunia ini berulang-ulang, ter-
utama apabila ia melakukan kegiatan yang selamanya didasari
oleh keinginan-keinginan untuk mendapatkan hasil-hasil
berupa kesenangan dan kebahagiaan lahiriah. laakan terlahir
kembali sesuai dengan harapan-harapannya, yaitu mendapat-
kan kesenangan-kesenangan itu. Orang yang mengetahui ber-
macam-macam ilmu pengetahuan, bijaksana, melakukan per-
buatan berdasarkan keyakinan, tidak mengharapkan dan meng

124

inginkan, fikirannya terpusat, maka orang itu dikatakan dapat
melihat dengan jelas. Selanjutnya, dengarkanlah hubungan
antara Kshetrajna dengan Alam. Hubungan antara keduanya itu
merupakan hubungan antara obyektivitas dan subyektivitas.
Yang menikmati dan yang berfikir selaku subyek, sedangkan
yang difikirkan dan dinikmati menjadi obyek. Purusha itu se-
lamanya merupakan subyek, sedangkan Alam ini sebagai
objek. Alam ini sebenarnyalah merupakan objek yang patut di-
nikmati, karena itu ia tidak mempunyai kecerdasan, tidak mem-
punyai kesadaran. la merupakan wujud yang tidak mengetahui
apapun juga. Yang mengetahui adalah yang menikmati Alam itu
Kshetrajna adalah yang menikmati itu dan Alam dinikmati oleh-
Nya. Orang-orang bijaksana mengetahui bahwa Alam selama-
nya diliputi oleh sifat kembar yang bertentangan dan mem-
punyai kadar sifat-sifat baik atau buruk. K~ar itu mungkin ba-
nyak dan mungkin pula sedikit. Kshetrajna tidak dipengaruhi
oleh sifat-sifat yang bertentangan itu. la tidak mempunyai
bagian-bagian, kekal dan bebas sesuai dengan esensinya yang
tidak terbatas itu. la ada di mana-mana, bergerak dengan di-

galang oleh pengetahuan. Dia yang menyadari dan menikmati
Alam, sebagaimana kembang padma menikmati air. Karena Dia
menguasai pengetahuan itu, maka la tidak pernah ternoda oleh
sifat-sifat Alam. bagaimanapun ia melekat dan bersatu dengan
semua benda atau hal-hal yang memiliki sifat jasmaniah itu.

Purusha itu tidak diikat oleh apapun juga, bagaikan setetes
embun diatas daun talas atau setetes air di atas daun bunga
kembang padma. Demikian itulah sudah diputuskan di dalam
Pustaka Suci, bahwa Alam itu berada di bawah kekuasaan Puru-
sha. Alam itu adalah milik Purusha. Hubungan keduanya itu ba-
gaikan hubungan antara benda-benda dengan· gerakan-
gerakan atau perbuatannya. Orang memasuki tempat gelap de-
ngan membawa obor, demikian juga orang akan mencapai ke-
Iuhuran bud i dengan memanfaatkan cahaya alam yang kita na-
makan IImu Pengetahuan. Selama benda-benda itu masih me-
miliki sifat-sifat, yang adalah bagaikan sumbu dengan minyak
selama itu cahaya alam itu akan memancar. Tetapi cahaya itu
akan padam apabila benda dengan sifat-sifatnya itu sudah mus-
nah dan habis. Demikianlah dikatakan bahwa Alam itu merupa-
kan wujud nyata, sedangkan Purusha itu sebagai perwujudan
tidak nyata. Camkanlah hal ini 0 para Brahmana ! Ribuan pen-
jelasan sudah diberikan, namun orang yang kurang kecerdasan
dan pengertiannya, tidak mampu mendapatkan Pengetahuan
itu. Hanya orang-orang yang tekun dan cerdas saja yang akan
berhasil mendapatkan kebahagiaan, meskipun ia hanya me-
nerima seperempat bagian saja dari seluruh pengetahuan yang

125

diperlukan. Apapun kegiatan yang dilakukan haruslah di me-
ngerti maknanya. Orang cerdas dapat menangkan makna-
makna itu dan tidak akan melakukan hal-hal yang tidak di-
mengerti maknanya. Demikianlah ia akan mencapai kejayaan
tertinggi. Orang yang bepergian tanpa mempelajari jalan yang
akan ditempuhnya itu, tentu akan menempuh jalan itu dengan
penuh keragu-raguan dan kesulitan, dan mungkin harus ber-
hadapan dengan kehancuran sebelum mencapai tujuannya.
Harus pula disadari bahwa tidak semua perbuatan itu dapat
memberikan hasil sebagaimana yang diharapkan. Hanya pe-
ngetahuan dan pengertian saja yang dapat diandalkan dalam
ketangguhannya sebagai teman dalam perjalanan. Kemudian
yang sangat berg una pula adalah penelitian terhadap diri sen-
diri (introspeksi), mengenali apa yang baik dan kurang baik
pada diri kita sen~iri. Maksudnya adalah untuk merencanakan
langkah-Iangkah untuk kemajuan rohani kita. Kemajuan orang
yang kurang kecerdasan dan kurang pengetahuan adalah bagai-
kan orang yang dengan tergesa-gesa menempuh jalan yang pan-
jang tanpa meneliti terlebih dahulu jalan yang akan ditempubnya itu.

Dengan melajukan keretanya dengan cepat menempuh jalan
yang tidak dikenalinya itu ia pun tidak tahu pasti apakah tujuan
terakhirnya akan tercapai atau tidak. Yang sangat perlu diper-
hatikan juga adalah bahwa setelah mendapatkan kesadaran
ilmu pengetahuan, jangan lagi melakukan langkah mundur dan
dipengaruhi oleh jalan fikiran dan kepercayaan orang biasa
yang memang harus dibimbing dengan bermacam-macam dok-
trin dan upacara-upacara yang tercantum di dalam Kitab Suci.
Orang yang sudah berdiri di atas puncak tidak perlu lagi untuk
menyusuri jalan yang berada di bawah. Orang yang kurang pe-
ngetahuannya akan memacu keretanya dan sungguh ia akan ter-
siksa karena jalan yang dilalui itu sebenarnya bukan jalan
kereta. Orang bijaksana hanya akan menggunakan kereta pada
jalan-jalan kereta saja, setelah jalan itu berubah kondisinya di
mana kemegahan kereta tidak ada gunanya lagi, untuk apa me-
lanjutkan perjalan dengan kereta ? Demikian itulah orang yang
sudah memahami makna dan hakekat, haruslah ia dengan tetap
mempertahankan kebenaran dan melanjutkan menyelidiki
rahasia-rahasia kebenaran itu. dengan jalan melakukan Yoga.
Dengan cara demikian itu orang bijaksana itu akan terus men-
dapatkan kemajuan pesat sekali. Pertama-tama, memang orang
itu baru melakukan kegiatan apabila dipancing dengan harap-
an-harapan dan pahala-pahala, dan apabi la sudah maju selang-
kah lagi, tumbuhlah kesadarannya dan dilakukannya kegiatan-

kegiatan tanpa tuntutan untuk mendapatkan pahala. Akhirnya
akantimbul kesadaran tertinggi sebagai hasil usaha melakukan

126

Yoga yang seluruhnya dilakukan dengan tidak mengharapkan
berkah apapun juga. Keyakinan itu ak-an tumbuh dengan sen-
dirinya karena kejernihan fikiran dan kebebasan rohani yang
sudah terlepas dari segala ikatan. Orang yang terjun ingin me-
ngarungi lautan ganas tanpa menggunakan perahu, hanya me-
ngandalkan kekuatan tangan dan kaki serta-Keberanian dan ke-
bodohan, pasti akan berakhir dengan kehancuran dirinya.

Orang bijaksana akan mengarungi lautan luas itu dengan
menggunakan perahu yang dilengkapi segala peralatan serta
dayung dan kemudi, menyebrangi laut yang bergelombang itu
dengan nyaman. Setelah sampai di seberang dan mencapai da-
ratan, perahu itu sudah tidak berfungsi lagi, karena itu ia harus
ditinggalkan betapapun besarnya perasaan kemilikan kita ter-
hadap perahu itu. Hal ini sebenarnya sudah sering dijelaskan
bahkan dengan contoh-contoh pur-a. Orarigtyang dicengkeram
oleh rasa kemilikannya, tentu sa~at berat rasanya untuk me-
ninggalkan perahunya. Mungkin ia akan terus menunggui pera-
hunya di tepi pantai itu dan menjadilah ia nelayan yang tidak
banyak mengenal tanah daratan. Lingkaran kegiatannya akan
terbatas di sekitar pantai saja. Demikianlah pula orang yang me-
rasa berat untuk meningkatkan diri, misalnya untuk meninggal-
kan kereta yang sebenarnya sudah tidak banyak gunanya lagi.

Dengan mempertahankan kereta itu, tentulah orang itu tidak mam-
pu mengarungi lautan. Jadi jelas sudah bahwa tindakan harus
disesuaikan dengan tujuan yang akan dicapai. Bagaimana tin-
dakan dilakukan, demikian itulah hasil didapatkan. DIA yang
samar-samar tercium baunya, samar-samar dapat dirasakan
enak dan tidak enaknya, samar-samar terasa rabaannya, dan tidak
seluruhnya dapat ditangkap su-aranya, difikirkan dan dimedita
sikan oleh para pertapa den-gan bantuan pengertian yang
mereka miliki, adalah DIA yang disebut Pradhana. Pradhana itu
perwujudan abstrak dari alam materi, yang terus berkembang
menjadi Mahat. Selanjutnya ia berkembang menjadi Egoisme
atau Kesadaran diri. Selanjutnya ia berkembang menjadi lima
unsur besar. Lima unsur besar itu yang kemudian berkembang
menjadi alat-alat pengindraan. Dia yang abstrak itulah yang menjadi
sumber pokok dan sifat-sifatnya seperti benih. Pada hakekatnya ia
itu bersifat produktif. Kitapun sudah mengetahui bahwa Roh yang
maha agung itu mempunyai sifat seperti benih, namun sekali-
gus iapun merupakan suatu hasil produksi. Egoisme misalnya,
adalah juga berfungsi sebagai bibit yang diproduksi secara ber-
ulang-ulang. Demikian pula halnya dengan unsur-unsur bessr
itu, ia itu bibit dan juga hasil produksi. Selanjutnya, objek2
unsur-unsur besar itupun mempunyai sifat bibit yana juga me-
rupakan hasil produksi. Inl semua mempunyai sifat Cnltta. Dari

127

kesemuanya itu, Ruang, mempunyai satu sitat; Angin mem-
punyai dua sitat; Cahaya tiga, Air empat dan Tanah yang penuh
mengandung bermacam-macam mahluk bergerak dan tidak
bergerak, mempunyai lima sitat. Dia itu adalah seorang Dewi
yang menjadi sumber segala perwujudan dan penuh dengan
contoh-contoh yang menyenang kan dan yanq tidak menyenang-
kan. Bunyi, rasa raba, warna, rasa lidah dan bau, kesemuanya
adalah merupakan lima sitat Bumi. Bau khususnya adalah me-
rupakan sifat Tanah dan bau itu sendiri ada bermacam-macam
jenisnya.

Sebagaimana sudah dikenal bahwa bau itu ada yang me-
nyenangkan dan ada yang tidak menyenangkan, yang semua-
nya adalah manis, asam, pedas, merangsang dan kompak, se-
perti minyak, kering dan jelas. Demikian, bau yang menjadi sitat
tanah itu adh sepuluh jenis. Rasa enak dan tidak enak yang di-
rasakan dengan lidah pada dasarnya adalah merupakan sifat air
Rasa yang dirasakan oleh lidah itu juga merupakan kelompok
rasa yang terdiri dari rasa manis, masam, pedas, pahit, sepat
dan asin. Rasa yang dapat dirasakan dengan lidah itu ada enam
jenis. Warna pada hakekatnya adalah merupakan sifat cahaya.
Jenis-jenis warna itu adalah putih, hitam, merah, biru, kuning,
juga abu-abu. Benda-benda yang memancarkan cahaya kem-
bali bermacam-macam pula bentuknya, ada yang pendek, pan-
jang, kecil, besar, segi empat, bulat atau lingkaran. Kedua belas
macam ini merupakan sifat cahaya. Sesungguhnyalah bahwa
cahaya dan warna itu ada duabelas macam yang harus dike-
tahui oleh para Brahmana yang sudah melakukan pengamatan
selama bertahun-tahun untuk mencari kebenaran. Suara dan
rasa raba keduanya merupakan sifat angin. Rasa raba itu ber-
macam-macam jenis, halus dan kasar, dingin dan panas, lem-
but, ringan, keras, berminyak, liein, sakit serta halus lembut.ltu-
lah keduabelas jenis rasa raba yang pada dasarnya merupakan
sifat angin. Sedangkan Ruang hanya mempunyai satu sifat dan
sifat satu-satunya itu adalah bunyi. Suara atau bunyi itu juga ber
macam-macam bent'Jknya, beberapa dari antaranya disebut
Shadaja, Rishaba, berupa paduan dengan Gandhara, Madh-
gama, juga Panchama, kemudian Nishada dan Dhaiwata. Suara
suara itu ada yang menyenangkan dan tidak menyenangkan, be-
rupa suara tunggal dan kompak dan ada yang terpadu. Secara
garis besar, suara yang berada di dalam ruang itu ada sepuluh
jenis. Ruang adalah merupakan unsur terutama dari kelima
unsur besar yang disebutkan itu. Kesadaran Diri (Egoisme) ber-
ada di atasnya. Di atas Egoisme terdapat Pengertian. Di atas
Pengertian itulah Roh atau Atman itu bermukin. Tett=lpi di atas
Roh atau Atman itu masih ada Roh Maha Ag~ng. maha besar

128

dan maha kuasa, yang sudah umum disebut Purusha. Orang
yang memahami tingkatan-tingkatan ini, serta tingkatan-
tingkatan yang mengatur kedudukan dan fungsi seluruh mah-
luk, yang mengetahui tata cara dan hukum-hukum perbuata'n,
serta menyelaraskan diri dengan Roh Alam Semesta, maka ia-
pun akan mencapai Roh yang kekal itu.

LI. Karena Fikiranlah yang menguasai kelima unsur besar itu,
maka ia pula yang mengendalikan dan menyalakan mereka.
Fikiran itulah yang menjadi roh bagi kelima unsur besar itu.
Di atas Fikiran terdapat Pengertian yang menguasai tikiran
itu dan ia disebut Kshetrajna. Roh perorangan atau Atman itu
mengendarai kereta yang ditarik oJeh _kuda-kuda gagah dan
besar serta memahami kehendak kusirnya. Kereta itu selalu ber-
gerak melaju berkeliling. Alat-alat peng~draan ada~ah kuda-
kuda itu, Fikiran sebagai kusir kereta dan Pengertian sebagai
tali kekangnya. Itulah kereta Brahman. Orang yang dapat me-
mahami kereta Brahman ini, tentu tidak niudah tertipu di te-
ngah-tengah perwujudan-perwujudan yang beraneka ragam
itu. Hutan Brahman itu mulai dari yang tidak nampak dan ber-
sifat kekal dan membentang sampai kepada wujud-wujud yang
dapat terlihat serta tidak kekal sifatnya. Diaitu diliputi oleh wu-
jud-wujud yang bergerak dan tidak bergerak, yang menerima
cahaya terang dari matahari dan bulan dihiasi dengan planet-
planet dan bintang-bintang. Di mana-mana terdapat sungai-
sungai dan gunung-gunung, dengan danau dan lautan yang
mempunyai bermacam-macam sifat air. Semuanya itu menjadi
penunjang kehidupan semua mahluk. Oi dalam hutan itulah
Kshetrajna mengembara. Apapun juga perwujudan di dunia ini,
yang bergerak dan tidak bergerak, itulah semua yang akan mus-
nah terlebih dahulu. Kehancuran jasad-jasad itu kemudian di-
susul dengan mengurainya zat-zat yang mendorong timbulnya
benda-benda nyata itu dan disusul dengan mengurainya kelima
unsur besar. Itulah tahap-tahap proses peleburan yang dapat
juga diartikan sebagai tingkat keutamaan wujud atau zat-zat
yang ada. Dewa-dewa, Manusia, Gandharwa, Pisaccha,Asura
dan Rakshasa semuanya itl-J tumbuh dan berkembang biak di
dalam alam, bukan dijadikan oleh perbuatan-perbuatan dan bu-
kan pula disebabkan oleh penyebab-penyebab yang lain. Brah-
man sendiri, melaluJ para Brah,nana, berulang-ulang telah dan
akan terlahir di dunia ini. Dan semua yang terlahir di sini, apa-
bila saatnya sudah tiba, akan mengurai kembali, bergabung de-
ngan kelima unsur .besar yang bagaikan samudra luas melarut-
kan segala-galanya yang ada. UnslJr-unsur besar itu dapat di-
katakan menjadi pokok unSlJr-unsur yang lain yang kecil dan

129

yang besar, yang telah menyusun alam ini. Orang yang mampu
membebaskan diri dart pengaruh lima unsur besar itu, pastilah akan
berhasil m~ncapai tingkat tertinggi..Prajapati sudah mencipta-
kan segalanya yang ada itu hanya dengan fikiran saja. Demikian
juga para Rishi, dapat mencapai alam dewa-dewa dengan ban-
tuan tapa-brata yang pada dasarnya meluruskan jalannya fik-ir-
an menuju cita-cita yang difikirkannya. Demikian, orang yang
sudah mencapai kesempurnaan Yoga, yang hanya hidup de-
ngan memakan buah-buahan dan umbi-umbian di dalam hutan,
akanmelihat dengan jelas Tiga Dunia ini. Pengetahuan tentang
tanaman yang dapat digunakan sebagai obat, pengetahuan ten-
tang ramuan obat-obatan itu, dan segala pengetahuan yang lain
semuanya itu dapat disusun dengan Yoga dan tapa-brata. Apa-
pun juga bentuk prestasi yang dicapai, hanya dapat dicapai
dengan melalui disiplin tapa-brata.JApapun juga yang sukar di-
capai, sukar didapatkan, sukar dipelajari, sukar ditaklukkan, su-
kar dilalui, semuanya itu hanya bisa diatasi dengan tapa, karena
sesungguhnya, kekuatan tapa itu tidak bisa dibendung. Pema-
buk, orang berdosa karena telah membunuh Brahmana, mem-
bunuh janin, orang yang mengotori tempat Gurunya, dapat di-
bersihkan dari dosa-dosanya dengan melakukan tapa-brata
yang sesuai, Manusia, Pitri, Dewa-dewa, khewan kurban, bi-
natang buas, burung-burung, bahkan semua mahluk lain akan
mencapai tujuan masing-masing dengan berhasil, apabila me-
reka melakukan tapa-brata yang disesuaikan dengan tingkat ke-
sadaran masing-masing. Adalah dengan tapa-brata para Dewa
yang mempunyai kesaktian hebat itu berhasil menduduki alam
Surga. Orang yang rajin melakukan perbuatan-perbuatan yang
tidak didasari oleh keinginan untuk mendapatkan pahala, tidak
bersifat keakuan, akan menghadap kepada Prajapati. Orang
berbudi luhur, yang tidak dikuasai oleh nafsu kemilikan, ter-
bebas dari keakuan, dan dengan pemusatan fikiran menurut ja-
Ian Yoga, akan mencapai alam-alam yang lebih tinggi. Orang-
orang yang memahami dengan baik dirinya sendiri dan men-
capai suatu tingkat dalam Yogarselalu gembira, maka ia akan
terserap ke alam tanpa wujud yang penuh dengan kebahagiaan.

Orang yang tidak bersifat keakuan, dan terlahir kembali setelah
mencapai pengertian yang mendalam dalam hal Yoga, maka ia
akan mencapai alam yang tertinggi, yang diperuntukkan bagi
DIA yang maha tinggi. Karena terlahir dari Dia yang tanpa wujud
Maka ia akan kembali ke alam tanpa wujud itu dan terbebas-
lah ia dari sifat kegelapan dan nafsu dan hanya mempunyai si-
fat kebaikan, terbebas dari segala dosa dan mampu mencipta-
kan apa saja. Orang itulah yang dinamakan Kshetrajna. Orang
yang mengetahui Dia itu dengan sendirinya mengetahui pula

130

Weda-weda. Orang yang setiap hari membaca Weda, belum be-
rarti bahwa ia sudah memahami W,eda-weda, akan tetapi orang
yang mengetahui Kshetrajna sudah dapat dipastikan memaha-
mi pula Weda itu meskipun ia tidak pernah membacanya barang
seka/ipun. Setelah mencapai pengetahuan tertinggi dan sejati
dengan jalan mengendalikan dan memusatkan fikiran, pertapa
itu harus duduk denga.n tenang dan mengatur semua gerakan
dengan pengendalian diri. Pada tingkatan yang tinggi seperti.
itu, maka kepada apapun juga fikiran itu dipusatkan, seperti
itulah orang itu jadinyaUnilah suatu rahasia yang kekal! Apapun
juga yang bertitik pangkal dari Dia yang tanpa wujud dan be-
rakhir pada benda-benda berwujud, maka dikatakanlah bahwa
ia itu di/iputi oleh sifat-sifat kebodohan. Dapatkah kalian, hai
para Brahmana, memahami adanya suatu dzat yang terbebas
dari sifat-sifat atau wujud? Aksara dua ~ku adalah Mrityu, yang
berarti kematian. Aksara tiga suku ada/ah Brahman yang kekal.

Perasaan kemilikan adalah kematian, dan kebalikan dari pera-
saan kemilikan adalah kekekalan. Ada beberapa orang yang ka-
rena pengertiannya kurang mantap menyatakan bahwakegiat-
an atau banyak berbuat itu adalah yang paling utama. Tetapi
orang bijaksana, sejak jaman dahulu kala, tidak pernah terlalu
tinggi dalam memberikan penilaian terhadap segala kegiatan
itu. Adalah kegiatan jasmaniah yang menghasilkan kelahiran
mahluk-mahluk di dunia ini yang disusun oleh enambelas pdn-
sip itu, yaitu lima unsur besar, empat a/at-alat pengetahuan de-
ngan fikiran, dan empat alat-alat untuk bertindak. Sedangkan
Purusha diliputi oleh pengetahuan dan Roh diliputi oleh
Egoisme. Pengetahuan inilah yang dipandang paling utama oleh
mereka yangselalu meminum Amrita. (Orang yang sebelum ma-
kan. mempersembahkan terlebih dahulu makanan dan minum-
an itu kepada Dewa-dewa, para tamu dan Pitri dikatakan pe-
minum Amrita). Orang yang pengertian dan penglihatannya ter-
bentang sampai ke alam lain, tidak terikat oleh tindakan atau
kegiatan. Purusha itu penuh dengan pengetahuan, bukan di-
penuhi oleh tindakan. Orang yang sudah memahami DIA itu,
tidak akan mengalami kematian lagi, tidak dapat dilukai, tidak
dapat di hancurkan. Dan diapun tidak dapat d4fikirkan, kekal
tak termusnahkan! DIA itulah Roh yang bebas, berdiri sendiri,
terkendali dan merasuk ke dalam segala-galanya. Orang yang
memahami bahwa sedemikian itulah sifat Roh, yaitu tidak te,.a-
tasi, tidak diciptakan, fidak bisa dipotong, tidak tertalukkan, ·tl-
dak bisa sHahami meski oleh para Dewa sekalipun, maka ia akan
menjadi serupa dengan DIA yang memiliki sifat-sifat itu dan
menjadi kekal karenanya. Dengan menghapusl(an segala ke-
nangan, mempertahankan roh d.i dalam Roh, iaakan memahami

131

Brahman yang maha hebat itu. DIA yang terbesar, tidak ada
yang lain yang lebih besar lagi! Setelah memahami dengan je-
las, orang itu akan berhasil mencapai ketenteraman abadi. Sua-
tu ketentraman bagaikan di alam mimpi, yang sungguh mera-
suk fikiran dan perasaan, sehingga semua yang lain yang bera-
da di luar itu menjadi tidak nyata. Itulah yang menjadi cita-cita
orang yang berusaha membebaskan diri dan pengabdi-
pengabdi ilmu pengetahuan sejati. Mereka melihat semua ge-
rakan yang terlahir dari suatu perkembangan tak terputus, me-
ngetahui apa yang dahulu, yang sekarang dan yang akan da-
tang. Itulah yang menjadi tujuan semua mereka yang tidak ingin
lagi mengikatkan diri kepada dunia. Itulah kegunaan yang kekal
yang akan dicapai oleh para pengabdi ilmu pengetahuan sejati.
Itu pula yang menjadi cita-cita tak tercela, yang ingin dicapai
oleh mereka yang ntemandang dirinya sederajat dengan semua
mahluk, terbebas dari segala bentuk'pengikatan, tidak meng-
harapkan apapun juga, memandang segala-galanya dengan
sinar kasih sayang yang sama. Demikianlah 0 para Rishi, aku
sudah menjelaskan semuanya. Sejak saat ini, bertindaklah se-
sua; dengan ajaran-ajaranku ini sehingga segera kalian mencapal
keberhasilan rnutlak itu!"

Setelah menerima semua ajaran-ajaran itu, paraRlshi yang
telah menghadap Hyang Maha Tinggi itu bertambah-tambah se-
mangatnya melaksanakan latihan-Iatihan Yoga serta menam-
bah pengetahuan dan kesadaran mereka, hingga akhirnya men-
capai segala yang dicita-citakan mereka.

Itulah sebabnya 0 Arjuna. berbuatlah sesuai dengan apa
yang sudah diajarkan itu.

Arjuna lalu bertanya : "Siapakah sebenarnya Brahman itu

o Krishna dan siapakah murid yang menghadapinya itu? Apa-

bila diperkenankan beritahulah hamba".

Wasudewa menjawab : Ketahuilah 0 Arjuna, bahwa aku
sendirilah Guru itu dan fikiranku sendiri yang menjadi murtd-
nya. Karena kasih sayangku kepadamu 0 Arjuna, maka kuung-
kapkan rahasia ini, yang belum pernah didengar oleh orang lain
sebelumnya. Apabila adinda sayang dan mel}ghormati diriku
ini, lakukanlah apa yang telah kuajarkan itu. Apabila semuanya
itu sudah dilakukan sebaga~mana mestinya, pastilah adinda
akan terbebas dari segala bentuk dosa dan mencapai kebebas-
an mutlak itu. Dahulu pada waktu pertempuran akan berlang-
sung palajaran ini pula yang telah kuucapkan ~epadamu. Pu-
satkanlah perhatian adinda kepada ajaran-ajaran itu. Dan se-
karang, ijinkan aku berangkat menemui ayahku yang sudah
terlalu lama kutinggalkan!"

"Baiklah Guru junjunganku yang mulia, hari ini juga kita

132

kembali ke Hastina menghadap kakanda raja Yudhishthira untuk
mengabarkan bahwa kakanda akan kembali ke Dwaraka!"

_II. -Krishna lalu menyuruh Daruka menyiapkan kereta yang de-
ngan segera dikerjakan dan sesaat kemudian dilaporkan bahwa
kereta sudah menunggu untuk segera berangkat. Putera Pan-
dupun sudah memerintahkan semua anak buahnya untuk se-
gera berangkat kembali k~ ibukota kerajaan Hastina. Persiapan
berlangsung dengan tertib dan cekatan. Setelah semua siap,
kedua pahlawan besar yang bersahabat itu lalu masuk ke dalam
kereta dan berangkat. Percakapan yang sangat menarik kern-
bali terjadi di dalam kereta itu. Dhananjaya mengucapkan kata-
kata sebagai berikut : "0 kakanda pelindung bangsa Wrishni,
berkat karunia kakanda yang muli~ maka kakak hamba raja
Yudhishthira sudah berhasil merebut kembali singgasananya.
Semua musuh kami sudah tewas dan sekarang kakanda raja
memerintah terbebas dari segala bentuk rintangan. 0 kakanda
penakluk raksasa Madhu, dengan paduka berdiri di pihak kami,
maka kami para Pandawa merasakan suatu perlindungan yang
sarigat kuat. Paduka kekandalah yang sebenarnya memimpin
kami dalam mengarungi samudra kehidupan bangsa Kuru.
Hamba, sejak semula sudah yakin bahwa kakanda sebenarnya
adalah Roh Yang ·Maha Agung itu, yang sudah menciptakan
alam semesta. Dengan sungguh hati hamba bersujud di hadap-
an-Mu 0 Roh alam semesta; Paduka menjelma menjadi manu-
sia paling utama di jagad raya ini. Hamba rnengenal paduka
sebagaimana paduka sudah menampakkan diri kepada hamba.
Wahai panaklJk raksasa Madhu, hamba menyadari bahwa roh
segala mahluk sudah disepih dari Roh Agung paduka sendiri~
atas kekuatan paduka sendiri. Paduka yang menciptakan, me-
melihara serta kemudian melebur semuanya itu kembali. Bumi
dan langit ini adalah hasil permainan maya padukasendiri. Sa-
luruh alam semesta ini, lengkap dengan wujud-wujud yang ber-
gerak dan tidak bergerak, diadakan oleh kekuatan paduka itu.
Paduka menciptakan selengkapnya dengan proses perubahan
yang meliputi empat golongan mahluk, yang menyu8ui, yang
bertelur, yang melata dan tumbuh-tumbuhan. Paduka menctp-

takan Bumi, langit dan alam Surga. Cahaya matahari yang ee-

rah itu adalah senyuman paduka, musirn-musim merupakanpe-
ngindraan paduka, udara yang selalu bergerak merupakan na-
fas paduka, dan kematian kekal adalah kutukan paduka! Oi da-
lam berkatmu bermukim Oewi Kemakmuran. Memanglah bah-
wa Sri selalu berada di dalam diri paduka. OOikaulah perwu.-
judan kecerdasan tertinggi. Oi dalam diri padukasegala mahluk
bergembira. Paduka pemberi kepuasan kepada mereka, pem-

133

beri kecerdasan, dan pemberi pengampunan. Padukalah cita-
cita mereka dan keindahan mereka-. Paduka meliputi alam se-
mesta, dan pada akhir jaman, paduka juga 0 junjungan tanpa
dosa yang disebut kehancuran itu. Sungguh hamba tidak kuasa
menyebutkan sifat-sifat paduka yang tak terhingga banyaknya
itu. Sifat-sifat paduka itu sedemikian banyaknya, hingga befa-
papun lamanya waktu di berikan untuk menyebutkan semuanya
satu persatu tidak mungkin akan dapat diselesaikan. ENGKAU,
ROH yang maha tinggi itu, hamba memujamu, bersujud di ha-
dapanmu 0 paduka bermata cerah bagaikan kembang padma.
Kekuatan paduka tidak terbendung ataupun ditolak. Hamba
sempat pula mengetahui melalui Narada dan Dewala dan perta-
pa yang lahir di pulau (Wyasa), juga melalui para leluhur hamba,
bahwa semua yang ada di alam semesta, termasuk clan raja-
raja di manapun juga~erada,paduka sendirilah penunjang me-
reka. Paduka penguasa tertinggi tempat segala mah!uk mel tn-
dungkan diri Itulah yang sudah paduka ajarkan kepada hamba
Semoga hamba mampu melaksanakan semua ajaran paduka.

o Janardhana, atas karunia dan kasih sayangmu itu, hamba

akan melaksanakan ajaran-ajaran itu semua. Sungguh luar bi-
asa karunia yang sudah paduka limpahkan kepada kami semua
di sini. Terutama dalam tugas kami memusnahkan raja jahat
dari Kaurawa, putra Dhritarashtra itu. Sesungguhnya, angkatal1
perang raja durhaka itu sudah paduka bakar sebelum bertem-
pur, dan kami hanya melanjutkan tugas menyingkirkan mereka
dari medan pertempuran. Padukalah yang membasmi mereka
itu hingga nampaknya kami ini mendapatkan kemenangan. De-
ngan kecerdasan yang paduka kuasai, paduka mengatur siasat
peperangan demi kemenangan kami, menghancurkan Duryo-
dhana, Karna dan raja jahat serta berdosa dari lembah sungai
Sindhu yaitu Burisrawa itu. Hamba akan melaksanakan semua
ajaran-ajaran paduka karena hamba sudahtidak mempunyai
keragu-raguan lagi. Nanti setelah menghadap kakanda raja y.u-
dhishthira, hamba akan menghaturkan bahwa kakanda paduka
akan meninggalkan kami dan kembali ke Dwaraka. Adapun
hamba sendiri, sama sekali tidak menghalangi paduka untuk
menghadap paman paduka di kerajaan Dwarawati. Dan berjum-
pa dengan Baladewa yang tangguh dan para pembesar bangsa
Wrishni yang lain!"

Sambil bercakap-cakap, akhirnya mereka tiba di ibukota
Hastina. Dengan langkah tetap dan gembira mereka memasuki
istana yang ditempati oleh Dhritarashtra. Istana itu dibangun
khusus untuk raja tua itu dengan indah dan megah bagaikan
istana Sakra. Mereka menghadap langsung kehadapan Dhrita-
rashtra yang didampingi oleh Widura yang cerdas itu. Nampak

134

pula di sana raja Yudhishthira dengan didampingi oleh Bhima-
sena yang gagah perkasa dan dua saudara kembar putra Ma-
dri dan Pandu. Dhritarashtra didampingi oleh Yuyutsu, Gan-
dhari dan Pritha yang diiringkan oleh Draupadi yang cantik dan
para wanita isteri pembesar bangsa Bharata dengan Subhadra
yang terutama. Nampak juga di dalam ruangan itu para wanlta
yang bertugas meladeni Gandhari. Kedua pahlawan gagah itu
mendekat dan bersujud di hadapan Dhritarashtra, menyebl:Jt-
kan nama masing-masing dan lebih menunduk lagi untuk me-
nyentuh kaki raja tua itu. Selanjutnya beringsut untukmenyen-
tuh kaki Gandhari dan PrHha, demikian juga menghormat ke-
hadapan raja Yudhishthira dan Bhimasena yang jujur itu. Mere-
ka memeluk Widura dan saling bertegur sapa dengan gembi-
ranya. Setelah itu mereka kembali kehadapan raja Dhritarash-
tra. Mereka bercakap-cakap ¥jenak dan ketika itu malam su-
dah tiba. Karena itu Dhritarashtra memperkenankan mereka un-
tuk mengaso dan semuanya lalu menuju ke kamar peristirahat-
an masing-masing.

Krishna langsung menuju ke tempat peristirahatan Arjuna,
dan di sana mereka mengaso dengan tenteram. Keesokan hari-
nya, setelah melakukan upacara pagi, keduanya lalu menuju
ke dalam ruang pertemuan raja Yudhishthira yang disambut
dengan gembira oleh raja muda yang adil itu. Yudhishthira di-
dampingi oleh para menteri dan pembesar-pembesar istana.
Kedua pahlawan perkasa itu melangkah masuk bagaikan Aswin
dari alam Kadewatan. Setelah memberi salam dan berbicara
basa-basi, keduanya dipersilakan duduk dan Yudhishthira ber-
kata kepada mereka.

"Wahai pahlawan bangsa Yadu dan adindaku ksatria bang-
sa Kuru, agaknya ada sesuatu yang ingin disampaikan kepada
diriku pagi ini. Katakanlah apa maksud yang tersimpan di dalam
hati. Jangan ragu-ragu lagi!"

Phalguna mendekati kakaknya dan dengan hormat ia mela-
porkan kepada raja keinginanKrishna kembali ke Dwaraka itu,
katanya : "Kakanda maharaja, hamba sekedar ingin menyam-
paikan bahwa Wasudewa yang kita junjung tinggi kemuliaan-
nya, yang sudah cukup lama meninggalkan negerinya, seka-
rang menunggu perkenan paduka kakanda untuk kembali ke
Dwaraka menengok paman paduka di sana. Perkenankanlah
beliau mahan diri untuk menuju kota Anartta. Hamba selaku

juru bicara yang mengabdi baik.kepada paduka kakanda mau-
pun kepada sahabat, Guru dan junjungan kita itu turut memo-
hon semoga paduka kakanda memperkenankan keinginan be-

Iiau itu".
Yudhishthira tersenyum dan menjawab : "0 Kakanda Kris-

135

hnaiUnjungan kami, berbahagialah kiranya kakanda hari ini!
Apabila paduka menghendakinya, hari inipun, berangkatlah ke
Dwarawati untuk menghadap ramanda, pahlawan Sura yang
sakti itu. 0 Kesawa, berangkatlah!'Lama sudah kakanda berpi-
sah dengan ramanda yang tercinta dan Dewaki wanita mulia
yang sangat kuhormati. Dan sampaikan terima ka~ih dan sem-
/ bah sujud hamba kehadapan ramanda dan juga kepada Balade-
wa nan perkasa. Wahai kakanda, setelah tiba di tempat tujuan,
semoga kakanda selalu ingat kepada kami yang tertinggal di
sini dan selanjutnya sudilah paduka kakanda menyampaikan
undangan kami kepada paman Wasudewa beserta para pembe-
sar sekalian, dan paduka sudilah memimpin mereka untuk da-
tang kembali ke kerajaan kami guna menghadiri upacara Kl:Jr-

ban Kuda yang akan hamba seienggarakan. Silahkan paduka be-
rangkat dan mohon di~rimatanda'kesetiaan kami berupa batu-
batu permata dan sebagainya yang semoga cukup berharga.
Selaniutnva hamba persilahkan paduka menentukan sendiri
apa-apa saja yang paduka perlukan dalam menempuh perjalanan
kembali itu. AdaJah berkat karunia paduka 0 Kesawa, seluruh
dunia ini telah takluk ke dalam kekuasaan kami dan musuh-
musuh kami sudah terbasmi seluruhnya!"

Wasudewa lalu menjawab sebagai berikut : "0 raja, Pahla-
wan perkasa, semua kekayaan dunia sudah menjadi kepunyaan
adinda. Apapun juga yang ada di tempat ku adinda• juga yang
patut menguasainya!" Yudhishthira menjawab : "Semoga de-
mikianlah hendaknya!" Yudhishthira mengucapkan kata-kata
itu sambil menundukkan kepala serta mencakupkan tangan,
menyembah kepada kakandanya tertua Krishna, pahlawan
wangsa Gada yang hebat luar biasa itu.

Setelah diperKenankan oleh raja Yudhishthira, Krishna
(Wasudewa) lalu menghadap bibinya Kunti. Dengan takzim
ia menghormati wanita mulia ini dengan menyembah berke-
liling sebagaimana lazimnya menghorrnati orang yang lebih
tua. Setelah ibu Kunti mendapat penghormatan itu, sekarang
Krishna sendirilah yang menerima penghormatan, pertama-
tama dari Kunti, kemudian dari Widura dan para pembesar latn-
nya. Setelah semuanya tata penghormatan itu selesai dijalan-
kan, barulah saudara tua Gada yang bertangan empat itu me-
ninggalkan kota Nagapura. Krishna berangkat dengan me-

/"/

ngendarai kereta yang sangat indah luar tSiasa dan-adiknya Su-
1>hadra ikut serta denqannya. diiringkan oleh rombongan pan-
jang para penduauK kota yang akan mengantarkannya sampai ke-
batas kota. Para 'pembesar bangsa Kuru dipimpin oleh Arjuna .
yang jelas terlihat karena bendera kebesarannya berlukiskan
kera, juga Satyaki dan kedua putra Madrawati. WidLira pun tak
ketinggalan danterakhir nampaklah Shima yang langkah-Iang-

136

kahnya bagaikan maharaja gajah, sungguh gagah perkasa. Oi
luar kota, Janardhana sekali lagi mengucapkan terima kasih
dan meminta agar mereka yang mengantarkan itu kembali ke
ibukota kerajaan. Setelah mengucapkan kata~kata perpisahan,
Krishna memerintahkan kepada Daruka dan Satyaki untuk me-
macu 'keretanya. Mereka melaju dengan cepat sekali menuju
kota Anartta. Satyaki melecutkan cambuk dan kereta itu mele-
sat bagaikan kereta Indra meluncur di angkasa.

_III. Meskipun mereka berpisah untuk segera akan bertemu

kembali, yaitu dalam upacara Kurban Kuda yang akan datang,
namun sungguh berat dirasakan perpisahan di antara sahabat-
sahabat yang sudah menyatu dalam jiwa. Terutama Arjuna dan
Krishna, merasa berat sekali untuk berpisah. Mereka saling ber-
pelukan, berciuman, dan terus melambaikan tangan ketika ke,..e-
ta sudah melaju. Arjuna terus memandangi kereta 'ang semakin
lama semakin kecil itu dan akhirnya menghilang di belokan ja-
lan, hanya kepulan debunya saja yang masih kelihatan. Pada
waktu keretaKrishna itu mulai meninggalkan para pengantar-
nya itu, suatu keajaiban terjadi. Angin bertiup dengan kencang
mulai persis di depan kereta itu, menyapu bersih jalan yang ter-
bentang di depannya dan hujanpun turun tidak terlalu lebat
hingga debu jalanan tidak berterbangan dan meniupkan angin
segar dan harum bagalkan hujan kembang sudah turun dari
langit. Perjalanan itu menjadi sangat menyenan~kan.Tetapi se-
belum sampai di Owaraka, kereta itu harus melintasi ~urun_ ~a­
sir yang kering. Oi gurun pasir itulah Krishna bertemu dengan
pert~pa terkenal Utanka. Melihat Utanka berjalan di jalan yang
sepi dan kering itu, Krishna turun dari kereta untuk menghor-
mati pertapa itu. Utanka pun balik menghormati Krishna dengan
tata cara sepatutnya. Mereka saling bertegur sapa dan mena-
nyakan hal-ihwal masing-masing. Setelah berbasa-basi, Utanka
lalu mengajukan pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut : "0
Saurin, paduka sudah mengunjungi istana Kaurawa dan Pan-
dawa. Sudahkah paduka berhasil menanamkan pengertian ke-
kal di antara mereka, sebagaimana layaknya orang bersaudara?

o junjungan bangsa Wrishni, apakah paduka kembali ini setelah

berhasil mendamaikan mereka? Maukah kelima saudara Pan-
dawa itu bergabung dengan damai di dunia ini? Ataukah raja
dari masing-masing kerajaan itu hidup senang dan bahagia di
kerajaan masing-masing? Oahulu para Kaurawa telah menolak
missi perdamaian paduka, tetapi walaupun demikian, aDakah
kepercayaan hamba terhadap diri paduka tidak sia-sia? Hamba
berharap bahwa paduka dapat memberikan sesuatu yang ber-
harga bagi para Kaurawa!" Krishna yang berhati suci itu men-
jawab semua pertanyaan itu sebagai berikut: "Pada mulanya,

137

hamba mengusahakan perdamaian bagi kedua pihak yang ber-
musuhan, terutama kepada para Kaurawa, hamba sangat me-
minta pengertiannya. Tetapi, dengan jalan apapun juga, hamba
tidak berhasil menyadarkan mereka. Sebagai akibatnya, semua
mereka, tidak terkecuali semua sanak keluarganya, terpaksa di-
musnahkan! Adalah tidak mungkin untuk menghindar dari ja-
lannya takdir, dengan kecerdasan maupun dengan kekuatan !

o Rishi mulia, paduka sendiripun barangkali tidak akan tahu

bagaimana jalannya takdir itu. Semua kaum Kaurawa itu telah
berdosa dengan melanggar semua nasihat yang dipetuahkan
oleh Bhisma dan Widura yang tadinya sudah menerima wahyu
kebijaksanaan dari Roh Brahman atau Roh diriku ini. Para
Kaurawa sudah menjadi penghuni alam Yama. Hanya kelima
saudara Pandawa itulah yang masih hidup. Semua putra-putra-
nyapun sudah teW6\s dalam pertempuran itu. Putra-putra Dhri-
tarashtra berikut kaum kerabat dan anak-anak mereka tewas
semuanya". Mendengar jawaban Krishna itu, Utanka menjadi
sangat marah dan dengan mata mencorong bagaikan api me-
nyala-nyala lalu berkata : "Paduka mampu 0 Krishna mencegah
pembantaian itu, tetapi paduka sengaja membiarkan pem-
bunuhan sesama saudara itu terjadi, paduka hanya menyela-
matkan keluarga sendiri. Menurut patut, paduka tidak boleh
membenci bangsa Kuru, jelas bahwa paduka tidak bersungguh
sungguh mengusahakan perdamaian di antara mereka. 0 pe-
nakluk raksasa Madhu, terimalah sekarang api kemarahan
hamba ini. Hamba mengutuk paduka ! Apabila paduka ber-
sungguh-sungguh apalah sulitnya bagi paduka untuk menye-
lamatkan mereka ? Tetapi ternyata paduka tidak memperduli-
kan usul bangsa Kuru yang meskipun curang dan angkuh itu dan
paduka membiarkan hingga semuanya menemui kehancuran !"

Wasudewa menjawab : "0 Rishi yang termulia dari antara
wangsa Bhrigu, dengarkanlah perjelasan hamba ! Tetapi per-
tama, lapangkanlah dada paduka ! Paduka adalah seorang per-
tapa! Dengarkanlah dahulu penjelasan hamba yang berhubung~
an dengan sifat-sifat Roh ! Setelah mendengarkan pejelasan
itu, dan paduka tidak puas, kutuklah hamba ini ! Ketahuilah 0
Rishi utama, tidak ada seorangpun yang mampu menjatuhkan
diriku dengan mengandalkan sedikit kekuatan hasil tapanya
Wahai pertapa mulia, hamba tidak ingin melihat hasil tapa pa-
duka itu musnah karena menjatuhkan kutuk terhadap diriku ini
Paduka sudah berhasil mengumpulk~nkekuatan-kekuatan Yo-
ga yang luar biasa. Paduka sudah mendapatkan berkah yang
hebat karena berhasil memuaskan hati Guru paduka dan mem-
bahagiakan para p,ertapa sebelum diri paduka. Hamba tahu

138

pahwa paduka sudah menempuh kehidupan Brahmacharyya
semenjak masih kanak-kanak. Itulah sebabnya hamba tidak
ingin menyaksikan paduka terjerumus dan kehilangan kekuat-
an-kekuatan Yoga yang telah paduka kumpulkan dengansu-
sah payah itu".

L1V. Utanka menjawab : "0 Kesawa, baiklah! Jawablah per-
tanyaan hamba ini! Apakah pendapat paduka tentang Adhyat-
rna ? Apabila penjelasan tuan itu sudah berakhir, maka hamba
akan memutuskan, apakah hamba harus mendoakan kesela:'-
matan paduka ataukah menjatuhkan kutuk menuju kehancl:Jr-
an!" .
Wasudewa lalu mengheningkan cipta, memusatkan fik·ir-
annya dalam Yoga dan sesaat kemudian beliaupun menjawab :

"Wahai pertapa, anda mengetahui bahwa Alam semest~ ini dili-

puti oleh tiga sifat dasar, yaitu kegelapan, Nafsu dan Kebaikan.
AKU inilah yang menguasai ketiga sifat itu. Para Rudra dan pa-
ra Wasu terlahir dari Diriku. Di dalam Diriku ini semua mahluk
itu berada dan Aku berada di dalam diri semua mahJuk itu. Se-.
moga anda percaya kepada semua apa yang Ku ucapkan ini.
Daitya, Yaksha, Gandharwa, Rakshasa, Naga, Apsara, semua-
nya itu telah terlahir dari dalam Diriku ini. Segalanya yang ada, se-
galanya yang tidak ada, yang berwujud dan tidak berwujud, yang
hancur dan mengurai, yang tidak hancur dan kekal, semuanya itu
bersumber dari dalam Diriku ini. Empat jalan hidup yang dijadikan
pedoman kehidupan di dunia ini, doktrin dan kewajiban-kewa-
jiban yang digariskan dalam Weda, semuanya bersumber dari
Diriku ini. Citra dan Khayal, yang tidak ada dan ada, bahkan yang
mengatasi keduanya itu, semuanya yang telah menjadikan alam
semesta ini, bersumber dari Diriku ini. Tidak ada lagi yang lebih
tinggi dari Diriku ini. Aku inilah Dewata yang kekal. Hai pertapa
wangsa Bhrigu, Semua isi Weda bersumber dari Aksara sakti OM,
dan aksara suci itulah AKU ini. Aku ini tonggak tempat kurban.
Aku minuman Soma yang diminum pada upacara-upacarakl:Jr-
ban. Aku ini makanan yang diolah pada waktu upacara dan di-
persembahkan kepada Dewa-dewa yang sering disebut Charu.
itu. Aku ini upacara Homa. Aku adalah segala kegiatan dalam
upacara untuk menyenangkan para Dewa. Aku bahkan yang me-
nuangkan kurban tuangan pada setiap upacara kurban. Dan
aku juga Hawi atau kurban tuangan yang dituangkan dalam
upacara itu. Aku il')i Adhyaryu, Kalpika, Hawi yang sangat disu-
cikan itu. Aku Udgatri yang diuncarkan dalam setiap upacara
besar dilangsungkan. Aku ini nyanyian suci. Dalam setiap upa-
cara kurban. 0 Brahmana, semua doa dan mantra, yang panjang _

139

dan yang pen'dek, ditujukan kepada Diriku. Ketahuilah bahwa
Dharma itu adalah putraku yang tertua, yang terlahir dari fikiran-

ku dan seluruhnya berdasarkan cinta kasih semesta. Adalah se-
lamanya dan setiap saat Aku mentransformasikan diri dan lahir
di mana-mana, menyelusup ke dalam rahim setiap mahluk, gu-
na menyokong Dharma, anak pertamaku itu, dengan peranta-
raan orang-orang yang sekarang masih hidup atau yang sudah
meninggalk,an dunia ini. Kulakukan hal itu untuk melindungi ke-
benaran dan keadilan, mentrapkanserta memantapkan Kebenar-
an dan Keadilan itu. Di Ketiga Dunia Aku dikenal sebagai Wishnu,
Brahman dan Sakra. Akulah yang menciptakan serta menghan-
curkan segala-galanya. Akulah yang mengawali dan mengak-
hirinya. Sedangkan Aku sendiri tidak mengenal perubahan.
Akulah yang menghukum dan memusnahkan semua mahluk
yang hidup bergelimangldosa. Dalam setiap Yuga Aku selalu
memperbaiki jalan-jalan menuju Kebenaran dan Keadilan itu.
Menyelusup serta melahirkan diri dari bermacam-macam Fa-
him dengan satu tekad, yaitu agar semua mahluk mendapatkan
kedamaian dan kebaikan. Ketika Aku 0 wangsa Bhrigu, hidup di
tengah-tengah para Dewa, Aku hidup dan bergerak sebagai-
mana halnya Dewa-dewa. Apabila Aku terlahir di tengah-tengah
para Gandharwa, aku hidup dan bergerak sebagaimana halnya
Gandharwa. Demikian pula apabila aku terlahir di tengah-tengah
golongan naga, maka aku adalah Naga dalam segala-galanya.

Apabila aku terlahir di tengah-tengah para Yaksha atau para
Raksasa, seperti Yaksha dan rakshasa itulah aku hidup dan ber-
buat. Sekarang ini adalah saatnya Aku terlahir di tengah-tengah
manusia, maka Aku harus hidup sebagaimana halnya man usia.
Kecuali dalam kebulatan kesadaran terhadap Brahman, Aku ini
adalah manusia biasa, yang tidak luput dari kesusahan dan ke-
senangan. Dengarkanlah selanjutnya 0 Rishi, Aku sudah men-
coba dengan segala daya-upaya untuk menyadarkan Kaurawa
yang sungguh sangat kusayang. Tetapi kekakuannya, kehilang-
an kesadarannya, selalu menolak semua kebenaran dan kasih
sayang yang kuucapkan. Dengan berat hati dan terpaksa, Aku
mengancam mereka ketika mereka dengan sengaja memutar
balikkan kata-kataku. Aku mengancam dengan memperlihat-
kan kemarahanku. Ternyata memang mereka sudah terlalu pe-
nuh diliputi ketidak juju ran. Apalagi,semua yang terjadi adalah
merupakan kehendak Zaman, dan mereka tewas tertumpas selu-
ruhnya, sebagaimana seharusnya bagi orang-orang yang memiliki
sifat-sifat seperti itu, namun mereka tewas sebagai kesatria di
dalam pertempuran, karena itu, pastilah mereka akan mencapai
kerajaan Surga juga. Dan para Pandawa, sebagai akibat dari per-

140

tempuran itu, sudah mendapatkanapa yang patut mereka dapat-
kan, yaitu kerajaan yang damai dan keharuman nama hingga di-
kagumi oleh seluruh dunia. Demikian jawabanku, semoga
paduka 0 Rishi merasa puas !"

v. Utanka menjawab : "Hamba tahu OJanardhana, bahwa pa-

duka adalah pencipta Alam Semesta. Dan apapun juga penge-

tahuan dan kekuatan yang hamba miliki sekarang ini adalah ber-

ekat paduka juga. junjungan segala mahluk yang kekal dan

agung, hati hamba merasa tenteram dan berbahagia setelah

pemujaan yang selalu kutujukan kehadapan paduka. Sekarang

hamba tidak berkeinginan menjatuhkan kutuk terhadap diri

paduka lagi. Apabila paduka 0 Janardhana, memperkenankan,

perlihatkanlah untuk kali ini saja, p'erwujudan luhur Diri pa-

duka itu !" .• .

Krishna merasa puas dan gembira, karena itu Yang Maha
Suci itu lalu memperlihatkan perwujudan Waishnawa yang juga

pernah disaksikan oleh Dhananjaya. Utanka melihat perwujud-

an universil Wasudewa, penuh tangan di semua bagian per-

wujudannya, bersinar gilang-gemilang bagaikan seribu Surya.
Berdiri menjulang di hadapannya memenuhi angkasa bahkan

seluruh alam semesta. Pada setiap sisi nampak muka. Brahma-

na Utanka terpesona menyakstkan perwujudan Wishnu y~g
tidak lain dari Dia yang maha Agung.

Utanka menyembah dan berkata : "0 junjungan segala

mahluk yang menciptakan alam semesta, hamba bersujud di

hadapan paduka, wahai Roh Alam Semesta. 0 Sumber Alam

Raya ! Dengan kaki paduka menyelubungi seluruh Dunia, ke-

pala paduka menyelubungi seluruh ruang di angkasa, sedang-

kan ruangan di antara angkasa dan bumi ini diliputi oleh perut

paduka. Semua arah dan jurusan diliputi oleh tangan paduka

yang maha hebat. 0 paduka yang cemerlang dan kekal dikaulah

semuanya ini ! Hamba sudah melihatnya 0 junjungan nan Agung,

sekarang kembalilah kepada perwujudan paduka sebagai

manusia. Hamba ingin paduka kembali keperwujudan mula-

mula yang juga adalah kekal !".

Gowinda sangat puas, karena itu Roh Maha Agung itu ber-

sabda : "Ajukanlah suatu berkah kepadaku !" Tetapi Utanka

menjawab : "Sudahlah paduka pujaan hamba, hamba sudah cu-

kup puas dengan karunia paduka berupa penghilatan yang ·ti-

dak ada bandingannya ini. 0 Krishna, perwujudan paduka sa-

ngat indah tidak tercela, puas sudah hamba karena diperkenan-

kan menikmati penglihatan berupa perwujudan paduka selaku

penguasa kekal dari segala-galanya di Alam Semesta ini !"

141

Krishna mendesak : "Jangan segan ! Setelah menampak-
kan diri seperti ini, Aku harus memberi berkah. Perwujudanku
ini menghasilkan pahala menurut keinginan yang memintanya !"

Utanka lalu berfikir dan menjawab : "Tugas hamba berat
dan masih panjang, dan tugas-tugas itu mestilah hamba selesai-
kan. Sesungguhnyalah hamba menginginkan sesuatu yang
mungkin berupa suatu kemampuan guna menunjang tugas-
tugas hamba di tengah-tengah gurun pasir yang kering ini.
Hamba menginginkan adanya "air, dimanapun hamba mem-
butuhkan di tempat yang kering tandus ini. Semoga air itu dapat
keluar di manapun hamba menghendakinya. Air sungguh sa-
nqat sulit didapatkan di daerah ini !"

Wujud Maha Agung itu bersabda kepada Utanka : "Kapan-
pun wahai Maharishi memerlukan air. fikirkanlah Aku !" Dan se-
telah memberikan ~rkah itu, Krishna kembali ke perwujudan-
nya semula dan me'anjutkan perjalanannva menuju Dwaraka.
Demikian pula Utanka, dengan perasaan berbahagia lalu me-
lanjutkan perjalanannya di padang pasi r yang kering tandus itu.

Pada suatu hari Utanka kehabisan air dan sangat mem-
butuhkan air itu. Pertapa yang berkeyakinan hebat itu sudah ber
jalan berhari-hari lamanya. dan kini ia merasa sangat haus. la
lalu memusatkan fikiran untuk mengenangkan Krishna yang
maha besar dan kekal itu. Tiba-tiba, dari kejauhan. datang se-
seorang berpaka!an compang-camping. Ternyata ia adalah se-
orang pemburu dari golongan Chandala yang bodoh dan liar.
Tubuhnya kotor, berjalan dengan diikuti anjing-anjing pem-
burunya yang'liar dan ganas. Pemburu itu sendiri tidak kalah liar
dan kejam kelihatanya dengan bersenjatakan pedang besar dan
panah. Dan aneh sekali,dari alat kelamin pemburu itu mengal-ir-
lah air berlimpah bagaikan pancuran. Pemburu itu mendekati
Utanka yang berdiri dengan sikap tegang. Sekali lagi ia mem-
bayangkan wujud Krishna, dan pada saat itulah pemburu yang
tadinya nampak liar dan ganas itu, lalu tersenyum dan berkata :
"Hai Utanka, pertapa termulia dari wangsa Bhrigu ! Terimalah
air dariku ini; Nampaknya paduka sangat kehausan, sungguh
kasihan harnba melihat keadaan paduka ini." Melihat keadaan
pemburu itu saja, Utanka sudah menjadi jijik dan lebth-Iebih
merasa terhina karena disuruh meminum air yang keluar dari
alat kelaminnya. Utanka bahkan mulai mencela sikap Krishna,
di dalam hatinya pertapa sakti itu mengumpat. Pemburu itu
mendesak kembali; "Silahkan paduka, minumlah !" Pertapa itu
menolak, dan dengan menahan haus pertapa besar itu lalu me-
ngumpat dengan marah. Melihat sikap Utanka seperti itu, pem-
buru dengan anjing-anjingnya lalu lenyap seketika dari peman-
dangan. Melihat kejadian itu Utanka kaget dan sangat malu.

142

Tetapi lebih besar perasaannya bahwa Krishna telah memper-
mainkan dirinya. la menduga bahwa dirinya telah ditipu dengan
janji dan harapan untuk mendapatkan air di tengah-tengah gu-
run pasir itu, dan bahkan akan mendapatkan air kapan saja ia
menghendakinya ! Sedang ia berfikir seperti itu, tiba-tiba dari
arah pemburu datang tadi, terlihat pemegang senjata Cakra
dan sungu berjalan mendekati Utanka. Brahmana Utanka lang-
sung saja menyambutnya dengan kata-kata sebagai berikut :
"Wahai mahluk dewata yang mulia, bagaimanapun juga, adalah
tidak layak paduka menyuguhkan air minum kepada seorang
Brahmana betapa hinapun ia melalui air kencing seorang pem-
buru nista !" Janardhana tersenyum dan menjawab dengan
suara lembut : "Cara itu adalah suatu cara yang pantas ! Namun
rupa-rupanya yang mulia tidak mengerti ! Sebenarnya 0 Utanka,
pemegang senjata PE:ltir Purandhama ~dah kuberitahu agar me-
menuhi harapan paduka. Kata-kataku kepada Dewa yang sakti
itu adalah : "Berikanlah °air kekekalan Amrita kepada Utanka.
Berikan kepada Brahmana itu dalam wujud yang serupa de-
ngan air minum !" Ternyata maharaja Dewata itu enggan mem-
berikan air kekekalan itu kepada paduka. Dewata mulia itu men-
jawab permintaanku itu dengan kata-kata berikut : "Tidak se-
patutnya mahluk tak kekal menjadi kekal ! Berikanlah kepada
Utanka berkah yang lain !" Demikianlah wahai putera Bhrigu,
berulal1g-ulang maha dewata itu mendesak agar kepada diri
paduka diberikan sesuatu yang lain dari pada Amrita, air yang
menyebabkan kekekalan itu. Tetapi dengan tegas aku menyata-
kan kepada Sachi bahwa paduka pantas mendapat karunia itu
dan perintahku itu harus segera dilaksanakan. "Amrita itu patut
dan harus diberikan kepada Utanka !" Maharaja Dewata itu lalu
membuatku sedikit senang dengan menyatakan sebagai ber-
ikut : "Baiklah, apabila Amrita itu memang harus diberikan ke-
padanya, perkenankan hamba turun menyamar sebagai se-
orang pemburu dan menyuguhkan air kekekalan itu menurut
cara pemburu itu. Apabila pertapa putera wang sa Bhrigu itu
mau menerimanya, pasti akan hamba berikan dengan segera.
Akan tetapi apabila ia menolak, apa boleh buat, Amritaitu tidak
akan hamba berikan untuknya ,! "Dan Wasawa sudah muncul di'
hadapan paduka, menyamar sebagai seorang pemburu Chan-
dala kotor dan liar. Demikianlah, paduka sudah melakukan ke- .
keliruan besar. Tidak apa ! Walaupun demikian, permintaan pa-
duka pasti kukabulkan. Kehausan yang teramat sangat ini se-
gera akan kuatur agar berkurang. Pada saat-saat paduka me-
rasa haus, awan tebal yang mengandung air akan naik ke ang-
kasa dan menjatuhkan hujan ringan yang cukup untuk melepas-
kan rasa dahaga itu !". Selanjutnya Krishna berkata : "Awan itu

143

o Brahmana, akan dikenal selamanya dengan nama awan Utan-

ka !" Utanka sangat gembira, dan sampai sekarangpun awan
Utanka itu sangat terkenal di gurun pasir itu, karena di tempat-
tempat yang kering dan panas itu awan itu mencurahkan air hu-
jan secukupnya.

LVI. Selaniutnya Raja Janamejaya bertanya kepC\da Rishi Wai-
sampayana : "Apakah sebenarnya keistimewaan Utanka se-
hingga beliau itu terbebas dari kutukan Wishnu dan bahkan
mencapai apapun yang dicita-citakan cian apakdh yang menjadi
sumber kekuatannya itu ?" Waisampayana menjelaskan : "0
Raja, Utanka itu memang mempunyai kekuatan dari hasil ber-
tapa yang luar biasa ! Pertama-tama yang sangat mengagum- -
kan adalah bahwa beliau itu sangat hormat dan taat kepada Guru
nya. Dengan sepenuh ketaltannya yang hebat itu beliau tidak
mau menghormat atau tunduk kepada siapapun juga kecuali
Guru atau atas petunjuk Gurunya. Sampai sekarangpun ketaat-
an Utanka itu menjadi ukuran dan cita-cita para murid dan putra
putra para pertapa di seluruh dunia. Karena itu, kecintaan gur-u-
nya, Gautama, kepada murid yang satu ini sungguh sangat ber-
sar. Gautama sangat puas kepada murid yang selalu memper-
Iihatkan tingkah laku yang teratur, jujur, dan lugu, ditambah de-
ngan tenaga jasmani serta bathinnya yang hebat itu, ia selama-
nya mengabdikan diri kepada Gurunya. Ribuan anak dan pe-
muda Brahmana sudah diterima menjadi muridnya dan sudah
kembali ke rumah ma'Sing-masing setelah menamatkan pelajar-
anmereka. Tetapi karena keistimewaan sifat Utanka dan karena
kecintaan Guru Gautama kepada dirinya, maka beliau itu tidak
diperkenankan meninggalkan asrama. Sampai tuapun ia me-
nunjukkan kesetiaan itu kepada Gurunya. Dan Utanka sungguh
tidak menyadari bahwa dirinya sudah dikeringkan oleh waktu.
Dalam fikirannya ia hanya mempunyai satu tekad, yaitu setia
kepada Guru.

Pada suatu hari beliau mengambilkan kayu bakar untuk
Gurunya itu ke dalam hutan. l:3eliau kembali dengan seikat besar
kayu api di junjung di atas kepalanya. Hari itu beliau sudah be-
ke~ja berat, kembali ke asrama menjunjung beban sangat berat,
letrh dan lap~r. Semua itu tidakdihiraukan olehnya.Sesampai di
tempat penyrmpanan kayu bakar, beliau menjatuhkan ikatan
kayu yang berat itu dan bersamaan dengan bergedebuknya ka-
yu, terlepas pU.la semua rambut yang bergelung di kepalanya
Rambut yang drgelung ke atas sebagaimana lazimnya para pen-
deta, yang sudah rekat melekat menjadi satu, tercabutseluruh-
n)'adan menggelinding di tanah. Gumpalan rambut tu putih se-

144

Iuh.Jf1nya. Beliau lalu berdiri terpaku, kepalanya tunduk, perut
lapar dan badan letih luar biasa. Baru disadarinya bahwa u'sia-
nya sudah tua. Mengenangkan itu, air matanya meleleh mem-
basahi pipi dan kemudian mengalir deras. Dia tidak mampu
menenangkan fikirannya kembali. Selama hidupnya baru kali ini
ia menangis dan tangis itu tidak dapat dibendungnya. Beliau ter-
sedu-sedan hingga jelas terdengar. Gautama, gurunya, mem-
punyai seorang putri yang pada waktu itu sudah dewasa. Putri
itu sungguh cantik jelita. Atas perintah ayahnya, gadis ini meng-
hibur Utanka. Dengan kasihnya gadis berbudi itu menyeka air
mata Utanka itu dengan tangannya. Astaga ! Air mata itu panas
dan tangan gadis itu serasa terbakar! Cepat-cepat air mata
yang melekat ditangannya itu dikibaskannya ketanah. Dan Bumi
itu sendiripun tidak mampu menahan panas air mata Utanka
yang sakti itu. Diam-diam Gautama tnerasa bangga mem-
punyai murid berkekuatan hebat seperti itu. Guru Gautama
lalu menghampiri muridnya dan dengan kata-kata lemah-Iem-
but beliau membujuk dan bertanya : "Wahai muridku anakku, me-
ngapa ananda sesedih ini? Tenanglah, tenang! Katakan apa

yang terjadi a Rishi! Ceriterakan dengan terus terang !" Utanka

menahan sedu-sedannya dan menghatu rkan sembah katanya :
"Selama ini dan sampai kapanpun juga hamba hanya mem-

apunyai satu tekad, yaitu berbakti kepada paduka Guru! Ham-

ba melakukan apa saja yang dapat membahagiakan paduka dan
sesungguhnyalah hanya paduka yang bermukim di hati hamba.
Sampai tua hamba mengabdikan diri. Dan hambapun baru saat
ini menyadari bahwa hamba sudah tua. Saat ini baru hamba
menyadari bahwa sudah lama nian hamba mengabdi, tanpa me-
ngenal apa yang dinamakan kesenangan dan kebahagiaan du-
nia. Dan padukapun rupanya berteguh hati tidak memper-
kenankan hamba pergi meninggalkan asrama agar dapat me-
ngenal dunia luar. Mungkin seratus tahun sudah hamba tinggal
di tempat ini, namun sekalipun paduka tidak memperkenankan
hamba pergi untuk membebaskan diri. Banyak sudah mur.d-
murid paduka, yang datang untuk belajar jauh di belakang ham-
ba, sudah menyelesaikan pelajaran dan kembali ke tempat per-
mukiman masing-masing. Sesungguhnyalah beratus-ratus mu-
rid, bahkan mungkin ribuan banyaknya para Brahmana men-
dapatkan pengetahuan di asrama ini dan paduka memper-
kenankan mereka kembali ke tempat masing-masing. Dan
merekapun sudah menjadi GUfu-guru pula !".

Gautama menjawab : "0 Utanka muridku, ketahuilah bah-
wa aku sangat menyayangi dirimu. Engkau adalah muridku
yang palingutama hatimu tulus dan pengabdianmu kepada
diriku tidak tercela! Sesungguhnyalah aku sendiripun tidak me-

145

nyadari bahwa ananda sudah lama sekali berada di tempat ini.

o Brahmana nan berhati mulia, apabila kepergianmu dari tem-

pat ini dapat membahagiakan dhimu, nah mengapa tidak ber-
angkat hari ini juga? Terimalah, wahai, perkenan dari· Gurumu
ini !" Utanka menghaturkan sembah : "0 Guru, junjungan ham-
ba, apakah yang patut hamba persembahkan kehadapan pa-
duka? Tunjukkan kepada hamba apa yang layak Gulah ham-
ba persembahkan kehadapan paduka. Hanya setelah per-
sembahan itu paduka terima, barulah hamba akan mahan pamit
atas perkenan paduka pula! "Terhadap ucapan Utanka itu
Gautama menjawab sebagai berikut : "Memang, orang bijaksa-
na menyatakan bahwa apa yang dapat memuaskan hati se-
orang Guru adalah persembahan Daksina yang terakhir. Se-
sungguhnya, 0 Brahmana, aku cukup puas dengan tingkah-
lakumu saja. Aku puas dengan ketekunan pengabdianmu. Se-
andaiya saja ananda meJupakan sea rang pemuda enam belas
tahun pada saat ini aku bahkan tidak berkeberatan menjadoh-
kan dirimu .dengan anak gadisku satu-satun~a.Ak~ kira, tidak
ada lagi wanita yang pantas mendampingi ananda mengingat
kesaktianmu yang sangat hebat itu! "Dan ajaib! Setelah
Brahmana Gautama mengucapkan kata-katanya yang terakhir
itu. Utanka telah berubah menjadi mudakembali. Sungguh se-
suai untuk mendampingi serta menjaga putri cantik Brahmana
Gautama itu. Setelah diperkenankan oleh Gurunya, Utanka lalu
menikah dengan gadis remaja yang hebat itu.

Setelah melakukan upacara pernikahan, Utanka mengha-
dap ibu mertuanya yaitu istri Gurunya, sambil menyembah
ia berkata : "Apakah 0 menurut ibunda yang pantas hamba per-
sembahkan kehadapan Guru yang mulia? Perintahkanlah ke-
pada hamba, betapapun berat hamba akan menunaikan ke-
wajiban hamba itu. Sekalipun ibunda Guru meminta jiwa ham-
ba sendiri, tentu hamba tak akan mundur, karena itu katakanlah
apa yang patut hamba persembahkan. Adakah suatu permata
indah tak ternilai harganya didunia ini? Perintahkanlah hamba
untuk mencarinya, pasti akan hamba persembahkan kehadap-
an paduka! Dengan bekal kemampuan yang hamba miliki se-
karang, berkat menuntut pelajaran dan bertapa itu, pastilah
perintah paduka dapat hamba laksanakan. Hamba yakin de-
ngan kekuatan yang sudah hamba punya sekarang !".

Ahalya, isteri gurunya itu lalu berkata : "Aku sungguh puas
dan bangga kepadamu 0 Brahmana nan cerdas. Kebaktian dan
ketaatan ananda kepada Guru tak pernah pudar. Bagiku hal itu
sudah cukup. Nah, berbahagialah dan berangkatlah kemana-
pun yang ananda kehendaki !". Tetapi Utanka tidak puas, dan
sekali lagi mendesak : "Tidak ibunda Guru! Hamba tetap ma-
han agar Ibunda suka menugaskanhamba! Memang sudah se-

146

ngan kotoran dan lumpur, debu dan air ludah. Baginda raja itu
disiksa dan diancam. Akan tetapi Marutta tetap menunjukkan

...kesabaran, memuji-muji dan menyembahnya. Akhirnya orang

tua suci itu merasa lelah dan dibawah sebuah pohon ara yang
rindang Samwarta berhenti dan duduk kepayaha '

VII. Sambil bersungut-sungut beliau bertanya Bagaimana
kamu bisa mengetahui siapa diriku Cepat ber1tahukan yang
benar, kalau kamu membutuhkan pertolonganku Kalau kamu
berkata benar. mungkin semua yang kamu cita-c,itakan akan
terkabul. Tetapi awas, kalau kamu tidak berterus terang. kepala-
mu bisa kuhancurkan berkeping-kepirg'

"Wahai Brahmanat"lan suci. ampunkan hamba telah meng-
ganggu perjalanan paduka. Hamba sudah mendapat petunjuk
dari Narada tentang diri paduka. Beliau sudah memberitahu-
kan kepada hamba bahwa paduka tidak lam dari putera dari
pendeta keluarga hamba, yang mulia junjungan kami Brah-
mana Angirasa. Keterangan Narada itu yang telah mendorong
hamba memberanikan diri untuk menghadap dengan fikiran
merasa bahagia tak terhingga".

"Cepat beritahukan, di manakah Narada sekarang?"
"Ampunkan hamba 0 Brahmana, maharishi dari antara
para Dewa itu setelah membuka rahasia ini kepada hamba lalu
menyelinap dan masuk ke dalam api",
Samwarta memandangi raja Marutta dengan sorot mata ta-
jam luar biasa, dan nampak sesungging senyum di sudut bib-ir-
nya. Akhirnya, dengan wajah berseri-seri beliau lalu berkata :
"Memang, sayapun dapat menyelenggarakan upacara itu".
Akan tetapi tiba-tiba beliau berubah sikap kembali, nampaknya
seperti gila. Menggerutu dan menyumpah-nyumpah, menghina
raja Marutta. "Hai anak muda, otakku ini tidak beres. Dorongan
hatiku tidak bisa ditentang. Mengapa kamu berniat melakukan
upacara gila-gilaan dan diselenggarakan oleh pendeta gila se-
macam aku ini? Saudaraku sendiri Wrihaspati pun mampu me-
nyelenggarakan upacara gila itu dan, ho, ho, dia sudah besar,
dia sudah menjadi pendeta besar pujaan Wasawa. Sana, per-
gilah kepadanya. Saudaraku itu telah merampas semua keka-
yaanku, merampas dewa-dewa yang biasa membantuku, juga
merampas sisya-sisya yang menjadi bahagianku. hanya tubuh-
ku ini saja yang masih ada padaku. Siapa tadi kau bilang di·ri-
mu? Putera Awikshit? Nah, raja muda, kakakku itu sangat ku-
hormati, karena itu, bagaimanapun juga, aku tidak boleh me-
nyelenggarakan upacara itu tanpa seijin kakakku itu. Karena

14

layaknya hamba melakukan sesuatu untuk kesenangan Guru !"
Aha!ya lalu berfikir sejenak, kemudian berkata : "Wahai, se-
demikian keras kemauanmu!. Baiklah, berbahagialah kamu !
Carikan untukku anting-anting yang pada saat ini sedang di-
pakai oleh permaisuri raja Saudasa! Dengan mempersembah-
kan anting-anting itu, lunas tuntas hutangmu kepada gurumu
disini! "Baiklah Ibunda Guru, hama mohon doa restu !" de-
mikian, Utanka lalu berangkat dengan satu tekad, mendapat-
kan anting-anting itu untuk dipersembahkan kepada isteri Gu-
runya yang sangat dimuliakannya itu. Cepat sekali Utanka ber-
jalan menuju tempat raja Saudasa yang sedang menjalani hu-
kuman karena kutuk Rishi Wasistha. Raja itu sudah berubah
menjadi manusia liar dan biadab yang gemar memakan daging
mentah. Setelah Utanka lama berangkat, EVahmana Gautama
lalu bertanya kepada istrinya : "Sepanjang hari ini Utanka -ti-
dak kelihatan. Kemanakah dia ?" Isterinya memberitahukan
bahwa muridnya itu sedang pergi untuk mendapatkan anting-
anting bertuah kepunyaan isteri raja Saudasa. Gautama me-
mandangi isterinya dengan tajam dan kemudian berkata :
"Adinda kurang bijaksana. Raja Saudasa itu sedang menjalani
kutuk yang ditimpakan kepadanya oleh Rishi Wasishta. Seka-
rang raja itu menjadi manusia biadab pemakan daging manu-
sia. Aku khawatir, kalau-kalau Utanka itu dibunuhnya !" Ahalya
menjawab : "Maafkan hamba 0 kakanda. Sungguh hamba ·ti-
dak mengetahui adanya kutukan itu, sehingga hamba menu-
gaskan Utanka untuk menghadap kepadanya. Namun demiki-
an, adinda yakin, berkat doa restu kakanda, anak menantu
yang sakti dan berbudi luhur itu pasti akan selamat !" Gautama
singkat menjawab : "Mudah-mudahan demikianlah hendak-
nya,I" .

LVII, Sementara itu, di dalam sebuah hutan yang sunyi. utanka

sudah bertemu dengan raja Saudasa. Raja itu kelihatan sangat

buas, kumis dan janggutnya panjang dan kotor penuh bekas

darah yang sudah mengering. Utanka menghadapi raja itu de-

ngan tenang, sedangkan raja Saudasa berdiri dengan wajah me-

ngerikan bagaikan Yama penguasa maut itu sendiri. Raja itu

berkata'sungguh untung besar aku hari ini, 0 Brahmana. paduka

datang tepat pada saat aku membutuhkan makanan. Ketahui-

lah, bahwa aku telah menetapkan waktu makanku yaitu pada

bagian keenam dari satu hari, dan sekarang inilah saatnya!

"Utanka menjawab : "0 Raja, hamba datang ke tempat ini untuk

melaksanakan perintah Guru. Orang bijaksana menyatakan bah-

wa seorang siswa yang sedang menjalankan tugas yang diberikan

147

oleh Guru, ia tidak boleh diganggu! "Raja Saudasa menjawab :
"0 Brahmana, sudah ditakdirkan bagiku bahwa makanan harus
tersedia pada bag ian keenam dari satu hari. Sekarang aku se-
dang lapar, karena !.tu tentu saja aku tidak membiarkan paduka
terlepas dari tangank!J! "Utanka menjawab : "Baiklah kalau
memang demikian; ~~~:-,pi hamba berjanji, apabila tugas yang
diperintahkan oleh Guru hamOb I~l... sudah se!esai. hamba pasti
akan kembali untuk menghadap padukaditempat mi. Oi saat itu
lah hamba menjadi kekuasaan paduka. Hambapun mendengar
berita bahwa benda yang sedang hamba cari sekarang berada
dibawah kekuasaan paduka. Karena itulah hamba memberani-
kan diri menghadap kepada paduka 0 Raja. Hamba tahu bahwa
setiap hari paduka menghadiahkan berjenis-jenis permata ke-
pada para Brahmana Sudah tersohor bahwa paduka sangal
pemurah,.,dalam melimpahkan hadiah-hadiah dan setiap pemberian
hadiah <Jari paduka itu memang pantas diterima. Mengingat
sifat kedermawanan paduka itu, rasanya, hambapun patut me-
nerima limpahan karunia paduka 0 Maharaja. Setelah hamba
menerima apa yang dikehendaki oleh Guru, yaitu berupa benda
yang sekarang berada di bawah kekuasaan paduka, dan setelah .
mempersembahkannya kepada guru hamba itu, segera pula
hamba akan kembali untuk menyerahkan diri kehadapan pa-
duka. Itulah janji hamba ! Selaku seorang Brahmana, hamba·ti-
dak berani berjanji palsu ! Oalam hidupku ini tidak pernah ba-
rang sekalipun hamba berbohong, meski dalam senda gurau-
pun hamba tidak berani melakukannya !. Apakah lagi yang per-
lu hamba ucapkan untuk meyakinkan paduka ?" Terhadap per-
nyataan Utanka itu, Saudasa lalu menjawab : "Wahai Brahmana
sejahat dan sehina aku ini, memang pantas rasanya hamba
mempersembahkan sesuatu kepada para Brahmana mulia se-
. perti paduka dan Guru paduka. Itupun apabila memang benar
benda yang dikehendaki oleh guru paduka Brahmana ada di
d~lam kekuasaanku. Katakanlah segera, berupa apakah benda
yang paduka kehendaki itu ?" Utanka menjawab : "0 Saudasa,
maharaja menu rut pendapat hamba, paduka sebenarnyalah
seorang ksatria besaryang sungguh patut melakukan kederma-
wanan dan pemberian paduka sudah semestinya patut diharga-
kan at~u diterima sepantasnya. Hamba telah datang kehat1apan
paduka untuk memohon anting-anting bertuah yang sekarang
menjadi bagian busana permaisuri paduka !" Saudasa terdiam
sejenak, kemudian menjawab : "Anting-anting itu 0 Rishi, ada-
lah kesayangan istriku. Paduka seharusnya menghadap ke-
padanya. Ambillah dariku sesuatu yang lain !" Dan Saudasa ber
ulang-ulang membujuk Utanka agar mengambil bencJa-benda
berharga yang lain yang ada dalam kekuasaan raja yang keada-
annya sangat menyedihkan itu. Setelah berkali-kali dibujuk,

148


Click to View FlipBook Version