The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by kantor, 2022-03-28 04:17:22

Aswa Medha Parwa

Aswa Medha Parwa

Utanka lalu menjawab : "a-Raja, apabila paduka ingin dipan-
dang sebagai manusia yang berkuasa, hentikanlah bujukan
paduka itu. Perkenankanlah hamba memohon anting-anting
permata itu. Taatilahsemua yang sudah diucapkan a Raja !"
Raja Saudasa tidak kuasa menolak lagi, karena itu raja lalu ber-

kata : "Bawalah pesanku ini dan pergilah kepada istriku, kata-
kan kepadanya bahwa hamba memerintahkan : "Berikan!"
Isteri hamba itu memang telah bersumpah untuk selalu men-
taati perintah hamba. Atas perintah hamba itu pasti isteri hamba
itu akan memberikan anting-anting itu kepada paduka a Brah-
mana !" Selanjutnya Utanka bertanya : "Dimanakah a Raja,
hamba dapat berjumpa dengan permaisuri paduka yana mlJlia?
Mengapa bukan paduka sendiri yang memintanya kesana?"
Saudasa menggeleng dan menjawab : "Paduka a Brahmana,
dapat berjumpa dengannya di tempat air mancur }eng terkenal
itu. Bahagian keenam dari satu hari ini sudah tiba bagiku,
karena itu hamba tidak mung kin ,untuk pergi kesana !"

Utanka lalu meninggalkan tempat itu dan langsung menuju
ke tempat yang ditunjukkan. Madayanti, permaisuri raja Sau-
dasa sedang beristirahat di sana dan setelah dihadap oletl Utan-
ka segera memahami permohonannya itu, apalagi karena di-
perintahkan oleh suaminya, maka permaisuri itupun berkata :
"Baiklah ! Tetapi sebelumnya, hambapun ingin mengetahui
bahwa paduka berkata benar ! Dapatkah wahai pendeta,
paduka menunjukkan tanda-tanda yang mungkin paduka dapat
kan dari suami junjungan hamba ? Anting-anting yang paduka
maksudkan itu terbuat dari batu permata yang tidak ternilai har-
ganya. Dan memiliki kekuatan yang sangat luar biasa sehingga
menjadi rebutan para Dewa, Yaksha dan para Rishi. Apabila
anting-anting ini karena lalai diletakkan di atas tanah, maka
segera akan disambar oleh Naga. Apabila yang memakainya itu
tidak suci makannya, anting-anting ini pasti akan direbut oleh
golongan Yaksha. Apabila yang mempunyainya itu tidur dan
tidak disembunyikan sebaik-baiknya, para Dewa akan datang
untuk mengambilnya. Para Dewa selalu mengintai untuk me-
rebut anting-anting ini, demikian juga golongan Rakshasa dan
Naga. a Brahmana, siang dan malam anting-anting ini meng-
hasilkan emas. Di malam hari, anting-anting ini mengeluarkan
sinar cemerlang menyaingi cemerlangnya cahaya bintang-
bintang. Siapapun juga yang mengenakan anting-anting ini, ia
akan terbebas dari rasa haus dan lapar, tidak mengenal rasa
takut ! Pemakai anting-anting ini akan kebal terhadap segala
macam bisa dan racun, api dan marabahaya lain dalarrt bentuk
apapun juga. Apabila yang memakainya itu tUbuhnyajPendek,
maka anting-anting inipun akan menjadi pendek. Dan sebalik-

149

nya, apabila dikenakan oleh orang yang tubuhnya tinggi, maka
anting-anting ini akan menjadi panjang. Demikian itulah bebe-
rapa keistimewaan yang dimiliki oleh anting-antingku ini.
Anting-anting ini sudah tersohor di mana-mana. Sesungguh-
nyalah anting-anting ini sudah dikenal di tiga dunia. Nah, se-
karang, tunjukkanlah tanda-tanda yang berasal dari suami ham-
ba itu !" Dan Utanka tidak mendapatkan tanda-tanda itu dari
raja Saudasa.

LVIII. Karena itu segera iapun kembali ke tempat raja yang selalu

setia kepada teman-temannya itu. Raja keturunan Ikshaku itu

memahami maksud Utanka itu dan segera memberikan suatu

pesan yang bunyinya sebagai berikut : "Keadaanku pada saat

ini sungguh mengerikan. Aku tidak tahu kemana harus meHn-

dungkan diri I,gi. Sekarang ini aku mempunyai secercah harap-.

an karena itu, berikanlah anting-anting itu kepada Brahmana

muliaini !" Demikian itulah bunyi pesan yang harus disampai-

kan oleh Utanka kehadapan permaisuri itu. Utanka kembali

menghadap permaisuri raja Saudasa itu dan meny&mpaikan

semua yang dipesankan itu. Setelah mendengar ucapan suami-

nya yang disampaikan oleh Utanka, maka dengan tidak berfikir

panjeng-panjang lagi dibukalah anting-anting itu dan diserah-

kan kepada Utanka. Setelah menerima anting-anting itu, Utan-

kapun kembali menghadap raja Saudasa dan dengan sangat

hormatnya ia berkata : "0 Raja nan budiman, sebelum hamba

mohon pamit meninggalkan tempat ini untuk kemudian kem-

.bali lagi menyerahkan nasib hamba kehadapan paduka, per-

kenarikanlah hamba mengetahui rahasia apa gerangan yang di-

kandung oleh pesan paduka yang hamba telah sampaikan ke-

hadapan permaisuri paduka ?" Terhadap pertanyaan Utanka

itu Raja Saudasa menjawab : "Wangsa Ksatriya,sejak jaman

dahulu sudah ditetapkan harus tunduk kepada golongan Brah-

mana. Tata aturan ini sudah ditetapkan sejak mula pertama pen-

ciptaan. Akan tetapi, sudah banyak sekali perbuatan dilakukan

yang sifatnya menghina dan menyakiti golongan Brahmana,

terutama yang dilakukan oleh golongan Kshatriya. Hamba sen-

diri, selamanya tunduk kepada peraturan yang ditetapkan itu,

meskipun kemalangan yang sedang menimpadiriku ini dengan

perantaraan seorang Brahmana. Aku hanya mempunyai Mada-

yanti dan dialah satu-satunya tempat berlindung. Sesungguh-

nya, 0 Brahmana utama, hamba sendiripun mempunyai cita-

cita, yaitu semoga roh hamba ini dapat mencapai Surga, atau

setidak-tidaknya, agar hamba menjadi lebih baik dalam mel an-

jutkan kehidupan h~mba di dunia ini. Sungguh tidak mung kin

bagi seorang rajamelanjutkan kehidupannya di dunia ini tanpa

150

mendapat restu dari Brahmana. Apa lagikah yang dapat diharap
kan di alam sana tanpa restu yang sangat bertuah itu ? Itulah
sebabnya hamba memerintahkan kepada isteri hamba untuk
menyerahkananting-anting yang sangat berharga ini kepada

paduka yang sangat membutuhkannya. Tetapi betapapun,
hamba tetap akan menuntut janji yang telah paduka ucapkan
hari ini !" Terhadap ucapan raja yang terakhir itu Utanka men-
jawab : "Tentu, tentu ! Hamba senantiasa bertindak sesuai
dengan apa yang telah diucapkan. Pasti hamba akan kembali
dan rnenyerahkan diri kehadapan paduka. Tetapi, perkenankan
hamba bertanya sekali lagi, dan terhadap pertanyaan hamba
yang terakhir ini, paduka harus menjawabnya !" Raja Saudasa
menjawab : "Baiklah ! Apakah yang paduka tanyakan itu ? Ham-
ba segera akan menjawabnya, semoga hilanglah keragu-ragu-
an paduka. Dengan senang hati, hamba pasti ~njawabnya !"
Setelah mendapatkan kepastian itu Utanka lalu berkata seperti ber-
ikut ini : "Wahai raja, orang bijaksana yang memahami hukum-
hukum kewajiban telah menyatakan bahwa para Brahmana itu
sangat hati··hati mengeluarkan ucapan-ucapannya. Selanjutnya
dinyatakan bahwa seseorang yang berlaku kurang baik ter-
hadap teman baiknya sendiri, sama hukumnya dengan seorang
pencuri yang paling jahat ! Dan hari ini, paduka telah menjadi
sahabat baik hamba. Karena itu 0 raja mulia, katakanlah se-
suatu yang baik, yang sesuai dengan hukum kebenaran yang
senantiasa dijunjung tinggi oleh orang-orang bijaksana. Seka-
rang hamba sudah mendapatkan benda yang sangat hamba bu-
tuhkan. Dan paduka sendiri seorang pemakan daging manusia.
Sekarang, sudilah kiranya paduka mempertimbangkan per-
tanyaan hamba ini sebaik-baiknya. Pertanyaan hamba adalah :
Baikkah atau tidak apabila hamba menghadap kembali kepada
paduka di sini ?". Raja Saudasa berfikir sejenak, dan kemudian
menjawab : "Kalau benarlah jawaban hamba ini 0 Brahmana
bijaksana, maka pertanyaan paduka itu hamba j~wab seperti
berikut : Tidak usah paduka 0 sahabatku Brahmana, datang
kembali kepada hamba di tempat ini! Dengan melakukan saran-

.saran hamba itu, 0 pendeta wangsa Bhrigu, paduka pasti men-
,

dapatkan kebaikannya. Apabila paduka kembali, ajal paduka
akan menanti disini !"

Setelah mendapat jawaban yang sangat memuaskan itu,
Utanka lalu mohon pamit dan cepat-cepat meninggalkan
tempat raja Saudasa itu. Utanka berjalan cepat agarsegera da-
pat menghadap isteri pendeta Gautama, Ahalya. la ingin de-
ngan segera menyenangkan isteri Gurunya itu. Seperti diper-
ingatkan oleh Madayanti, anting-anting itu dijaganya dengan
hati-hati, dibungkus rapat-rapat dengan kulit rusa hitam. Se-

151

telah berjalan jauh, ia merasa lapar. Dilihatnya sebatang pohon
wilwa buahnya lebat dan masak. Digantungkannya bungkusan
anting-anting itu disebuah dahan pohon itu dan ia sendiri lalu
memanjat untuk memetik buah-buah yang masak ranum itu.

Tiba-tiba sebutir buah terjatuh dan menimpa bungkusan yang
tergantung itu hingga ikatan serta lipatannya terlepas. Entah
dari mana datangnya, seekor ular jenis Airawata sudah berada
di sana dan melihat anting-anting yang berkilauan itu. Secepat
kilat disambarnya anting-anting itu serta dibawanya lari masuk
ke dalam sebuah lubang kecil yang sebenarnya merupakan se-
buah IUbang semut. Melihat anting-antingnya telah disambar
ular. Utanka dengan marah turun dari atas pohon. Sedikit pera-
saan kekhawatiran menyelinap di dalam hatinya. Dengan se-
buah tongkat runcing ia menggali liang semut itu. Ternyata·li-
ang itu dalam se,ali, sampai tiga puluh hari lamanya ia meng-
gali, namun ular atau anting-anting itu belum ditemukannya
juga. Utanka marah luar biasa, ia menggali dengan penuh se-
mangat yang didorong oleh kemarahannya itu, karena itu dewi
Pertiwi sangat khawatir, tidak tahan lagi menghadapi tongkat
Utanka itu, sedangkan Utanka terus menggali untuk membuat
jalan lebar menuju alam bahwa tanah tempat permukiman para
Naga itu. Pada saat itulah muncul di tempat itu Dewa Indra,
lengkap dengan senjata petirnya, mengendarai kereta yang di-
tarik oleh kuda-kuda berwarna hijau. Dewa Indra menemukan
Utanka sedang bekerja keras, menggali lubang besar dan da-
lam diatas tanah.

Dengan menyamar sebagai seorang Brahmana, dan sedih
menyaksikan Utanka memeras keringat itu, maharaja Dewata
berkata kepadanya : "Pekerjaan saudara itu akan sia-sia saja!
Ketahuilah bahwa istana para Naga itu seribu yojana jauhnya
dari permukaan bumi ini. Tidak mungkinlah saudara membong-
kar tanah itu hanya dengan tongkat semacam itu !" Utanka me-
nyadari bahwa Brahmana yang datang ini tentulah seorang sak-
ti yang patut dimohon bantuannya. Setelah menjelaskan duduk
persoalan seperlunya, selanjutnya Utanka berkata : "0 Brah-
mana nan suci, apabila anting-anting itu tidak berhasil hamba
dapatkan kembali, biarlah hamba mati saja dihadapan paduka !"
Dewa Indra yang memang datang untuk membantu itu lalu
menggabungkan kekuatan senjata petirnya den.gan tong kat
kayu Utanka, dan terciptalah suatu alat penggali yang kekuatan
nya hebat sekali. Tidak antara lama, terbongkarlah berkubik-
kubik tanah dan terciptalah sebuah terowongan yang terus me-
nuju ke tempat permukiman para Naga. Langsung saja Utanka
menyerbu ke tempat para Naga itu. la menyaksikan alam bawah
tanah Itu terbentang sangat luas, beribu-ribu yojana membentang

152

kesemua jurusan. Dan tempat itu penuh dengan penghalang-
penghalang berupa empangan-empangan yang terbuat dari
emas dan dihiasi dengan batu-batu permata yang berkilau-kilau
an. Banyak pula di tempat itu ditemukan waduk-waduk air de-
ngan jenjang-jenjang kristal indah cemerlang dan sungai-
sungai mengalirkan air yang sangat jernih. la juga melihat
burung-burung bersarang di atas berjenis-jenis pohon yang
aneh tapi indah-indah. Akhirnya ia melihat sebuah pintu ger-
bang. menjulang tinggi kifa-kira lima yojanatingginya dan lebar
nya kifa-kira seratus yojana. Melihat luas daerah yang dikuasai
oleh Naga itu, Utanka menjadi sedih dan putus asa. Oi manakah
anting-anting itu disembunyikan ? Mungkinkah bisa didapat-
kan kembali ? Tiba-tiba , entah dari mana datangnya, ditempat
itu sudah berdiri seekor kuda hitam, ekornya berwarna putih,
muka dan matanya berwarna merah tembaga dan kelihatannya
segar bugar penuh kekuatan dan berkata': "Hai Brahmana
Utanka, paduka tiuplah saluran Apana dalam tubuhku ini !"
demikian kuda ajaib itu menyuruh Utanka, dan selanjutnya
"Dengan menghembus saluran itu paduka akan mendapat-
kan kembali anting-anting yang hilang dicuri oleh ular keturun-
an Airawata itu. Jangan ragu-ragu tiuplah ! Dahulu di tempat

pertapaan Gautama anda sering melakukan hal itu !". Utanka
terkejut dan menjawab : "Hai kuda, siapakah anda sebenarnya?
Dan bagaimana anda bisa mengetahui keadaanku di tempat
Guruku ? Katakanlah hai kuda, bagaimana aku melakukan hal
itu dahulu itu !" Kuda ajaib itupun menjawab : " 0 cucunda
Brahmana yang cerdas, ketahuilah bahwa aku ini sebenarnya
adalah Guru dari Gurumu. Aku ini Jataweda, penguasa api itu
sendiri. Engkau adalah termasuk cucuku ! Sudah seringkali
engkau memuja diriku untuk mewakili Gurumu itu. Dan engkau

o Brahmana wangsa Bhrigu, telah melakukan pemujaan Itu de-

ngan hati tulus dan suci, bersih lahir dan bathin. Karena itu aku se-
karang ingin melakukan apa yang baik buat dirimu 0 cucu. Laku-
kanlah apa yang kuperintahkan dengan segera !".

Dengan tidak ragu-ragu lagi Utanka lalu melakukan apa
yang disuruhkan oleh kudaajaib itu. Dan segerasajadewaAgni
Vag merasa puas terhadap kebaktian Utanka itu lalu meman-
carkan cahaya semakin lama semakin besar berkobar-kobar
dan menghancurkan segala-galanya. Dari IUbang-lubang kulit
tubuhnya tersembur asap hingga mengancam keselamatan se-
mua mahluk penghuni alam Naga itu. Dengan adanya asap
yang bergumpal-gumpal itu, semuanya menjadi suram dan
akhirnya alam bawah tanah itu menjadi gelap gulita. Jeritan tangis
kesakitan dan ketakutan terdengar di dalam istana Airawata itu dan
dari antara suara jeritan yang hiruk pikuk itu terdengar teriakan-

153

teriakan panik para Naga yang dipimpin oleh Naga Wasuki.
Asap itu sedemikian tebal, sehingga istana itu sudah tidak nam-
pak sama sekali. Hutan dan bukit menjadi gelap seolah-olah d i-
Iiputi kabut teba!. Dengan mata merah kena asap dan tenaganya
melemah karena diserap oleh dewa Api, semua Naga itu la-
lu keluar dari dalam istana masing-masing dan semuanya ber-
kumpul di hadapan Utanka dan semuanya saling bertanya apa
gerangan yang terjadi. Utanka lalu menuturkan sebab-
musabab keributan itu. Para Naga itu menjadi gemetar ketakut-
an. Dan dengan segera mereka menyembah dan mempersiap-
kan upacara penyambutan dengan sepantasnya. Semua peng-
huni kerajaan Naga disuruh keluar serta mengatur duduk me-
reka baris demi baris dengan menempatkan anak-anak dan
kaum tua di depan. Semuanya mencakupkan tangan dengan
kepala tunduk di hadapan Utanka. Setelah semuanya duduk
dengan tertib, raja Nag' Wasuki lalu menghatur sembah dan
berkata: "0 Brahmana nan suci, terimalah penghormatan kami
semua !" Dan kepada Utanka dipersembahkan air pembasuh
kaki serta ramuan Arghya. Setelah upacara penyambutan itu
selesai dilakukan, anting-anting yang dicuri ular jtupun dikem-
balikan kepada Utanka Setelah mendapatkan anting-anting
itu kembali, lalu menyembah kepada dewa Agni dengan ber-
jalan membungkuk mengitarinya, untuk selanjutnya me-
lakukan perjalanannya kembali ke asrama Gurunya. Cepat
sekali iapun sampai di pertapaan pendeta Gautama dan lang-
sung menghaturkan anting-anting itu kepada isteri Gurunya.
Brahmana Utanka juga menceriterakan semua pengalamannya
pertemuannya dengan raja Wasuki dan Naga-naga yang lain.
Demikianlah itulah 0 Janamejaya, Utanka itu sudah menjelajahi
Ketiga Dunia untuk mendapatkan anting-anting yang akan di-
persembahkan kepada Gurunya. Brahmana Utanka itu penuh
dengan kekuatan luar biasa. Beliau itu melakukan Yoga sema-
dhi dengan taat serta menjalankan latihan-Iatihan ketat.

L1X. Selanjutnya Raja Janamejaya bertanya kepada Rishi Wai-
sampayana : "Setelah memberkati Rishi Utanka, apakah yang
selanjutnya dilakukan oleh Gowinda?" Waisampayana menu-
turkan sebagai berikut : "Dengan diiringkan oleh Satyaki, Go-
winda memacu keretanya menuju Dwaraka. Danau-danau,
sungai-sungai, hutan, gunung dan bukit-bukit sudah dilewati
dan akhirnya sampailah di kota Dwaraka yang dibangun dengan
sangat indahnya. Pada saat itu, perayaan had Raiwataka baru
saja dimulai. Bukit Raiwataka sudah dibenahi dan dihias de-
nganindahnya. Warna-warna keemasan, bunga-bunga ber-
aneka warna dan pohon-pohon besar dibukit itu nampaknya ba-

154

gaikan pohon Kalpa yang tumbuh di taman milik Bhatara Indra
sendiri. Telaga-telaga sudah dihias dengan lampu··lampu ge-
merlapan, indah sekali, baik siang maupun malam. Di dalarn gua

dan di tempat-tempat air mancur, telah dipasang larnpu··lampu
terang benderang seperti siang. Di semua sisi, bendera-bendera
dan umbul-umbul berkibar. Bendem-bendera itu dihiasi
dengan giring-giring hingga gemerincing Sl;aranya bila di-

tiup angin. Nyanyian merdu terdengar di mana-mana, dinyanyi-
kan oleh penyanyi-penyanyi pria dan wanita Bukit Raiwataka
nampak indah cemerlang bagaikan Meru intan dan perrnata.

Suasana sangat meriah, semua bergembira, bernyanyi dengan
nada-nada tinggi dan keras. Kemerduan nyanylan itu bagaikan
ingin mencapai alam Surga. Dan terdengar sorak-soral kaum
laki-Iaki yang bergembira. Kemeriahan suasana itu membuat
bukit itu menjadi suatu tempat yang sanga' memikat. Toko-toko
dan kios-kios menjual berjenis-jenis makar an dan minuman, ju-
ga bermacam-macam barang-barang kesenangan yang sangat
menarik seperti ka~n-kain dan perhiasan-perhiasan. Musi k Vina
dan Mridanga terdengar di mana-mana pula. Makanan dan ang-
gur melimpah-limpah. Sedekah mengalir kepada mereka yang
buta, cacat dan lemah. Inilah yang menyebabkan pesta di atas bukit
itu menjadi suatu kegiatan yang membawa berkah dan meng-
untungkan. Tempat-tempat suci didirikan di lereng-Iereng bukit
dan di sana telah berkemah orang-orang suci. mulia dan ber~
budi luhur. Para ksatria bangsa Wrishni bersuka-ria di atas bukit
dalam upacara Raiwataka itu. Dengan adanya perkemahan yang
gemerlepan itu, maka bukit itu bagaikan Surga yang kedua. Dan
dengan kehadiran Krishna di tempat itu. suasana menjadi se-
makin cemerlang. tidak kalah dengan kecemerlangan alam di
mana Indra bermukim. Setelah menerima penghormatan dan
penyambutan, Krishna masuk ke dalam perkemahan yang 5U-
dah dibangun dengan sangat indahnya. Satyakipun menuju ke
perkemahannya sendiri dengan perasaan sanga!t berbahagia
Gowinda memasuki ruangannya diperkemahan itu, dengan pe-
rasaan puas dan berbahagia setelah ketidak hadirannya
yang berkepanjangan. setelah menunaikan tugas yang sangat
berat. Semua para ksatria bangsa BhoJa, Wrishni dan An-
dakasa semuanya hadir untuk menyambut pahlawan besar
yang cemerlang itu. Dan dengan wajah berseri-seri Krishna
memberi salam kembali serta menanyakan keadaan mereka.
Dengan bahagia beliau menghormat takzim kehadapan ayah
dan bundanya, dan dipeluk dengan kasih sayang. Setelah men-
cuci kaki dan mengaso untuk sejenak, mereka lalu duduk dan
mempercakapkan perang yang baru saja selesai dan juga men-
jawab pertanyaan-pertanyaan."

155

LX. Oi dalam perkemahan di punggung bukit Raiwataka itu Wa-
sudewa berkata : "0 ananda pahlawan bangsa Wrishni, sudah ber-
ulang-ulang aku mendengar orang berbicara tentq.ng peperangan
yang luar biasa itu. Hari ini aku harus mendengarkannya melalui
ananda yang bahkan secara langsung sudah menyaksikan dan
mengalami sendiri. Karena itu 0 Pahlawan, ceriterakanlah ja-
lannya pertempuran it·u secara menyeluruh. Bagaimanakah se-
tepatnya jalannya peperangan antara pasukan Pandawa di satu
pihak, melawan Bhisma, Karna. Kripa, Orona dan Salya beserta
raja-raja lain di pihak yang lain itu. Ceriterakan kepadaku jalan-
nya pertempuran besar yang bahkan merupakan pertarungan
diantara para ksatria dari seluruh kerajaan di dunia yang pasti
semuanya trampil dalam mempergunakan senjata, serta de-
ngan alat dan perlengkapan yang sangat berbeda-beda !"

Oemikianlah WasLtdewa yang tua dengan didampingi oleh ibun-
ndanya. meminta agar Krishna menceriterakan jalannya pepe-
rangan itu kembali. Dengan sangat lancar Krishna lalu men-
ceriterakan seluruhnya yang terjadi dalam pertarungan yang
maha dahsyat itu yang telah mengakibatkan tertumpasnya se-
luruh kaum Kaurawa itu. Antara lain Krishna mengulas dan me-
nyimpulkan sebagai berikut : "Sesungguhnyalah pertempuran
itu merupakan suatu pertarungan untuk mencapai puncak pres-
tasi di antara dua pihak kaum Kshatriya yang memegang teguh
kewajibannya. Karena banyaknya bala lasykar yang dikerahkan
oleh kedua belah pihak, jumlah itu seolah-olah tidak mungkin
dapat dihitung, meski dalam ratusan tahun sekalipun ! Hanya
beberapa dari antara mereka yang penti ng-penti ng saja dapat
hamba sebutkan. Sudah sangat dikenal bahwa oleh Kaurawa,
Bhisma diangkat menjadi Panglima Perang. Beliau itu memimpin
sebelas Devisi yang terdiri dari pasukan raja-raja. Dipihak Pan-
dawa, yang menjadi Panglima Perang adalah Sikhandin yang
luar biasa cerdas itu, beliau ini selalu dilindungi oleh pasukan pe-
ngawal Arjuna dan memimpin tujuh Akshauhini (Devisi) pasukan
Pertempuran antara pasukan Pandawa dan Kaurawa dibawah
kedua Panglima Perang itu berlangsung selama sepuluh hari.
Pertempuran yang terjadi seru dan dahsyat hingga menimbul-
kan kengerian teramat sangat bagi siapa saja yang menyaksi-
kannya. Sikhandin maju dengan gagah berani. dilindungi oleh
ribuan panah-panah Arjuna, Bhisma menghadapinya dengan
gagah berani pula, namun akhirnya Sikhandin berhasil melum-
puhkan kekuatan Bhisma bahkan berhasil menewaskan pahla-
wan besar pihak Kaurawa itu. Tubuh Bhisma penuh luka dan
ratusan anak-anak panah menancap sehingga tubuh yang rebah
itu ditunjang oleh panah-panah itu. Pahlawan sakti itu belum

156

mau melepaskan rohnya, melainkan terbujur berbaring di atas
ujung-ujung panah yang menaneap di tubuhnya seperti seorang
pertapa. Pada saat itu Matahari sedang bergerak ke Selatan.
Beliau menunggu agar Matahari berbalik menuju ke Utara.
Pada saat Matahari berhenti bergerak ke Selatan, dan mulai
memutar ha/uan menuju ke Utara pada saat itulah Bhisma rela
melepaskan rohnya dan -tewas dengan tenangnya.

Orona yang berpengetahuan dan bertenaga dahsyat itu
menggantikan kedudukan Bhisma menjadi Panglima Perang
Kaurawa. Orona yang tidak pernah pudar semangatnya itu di-
bantu oleh sisa pasukan Kaurawa yang pada saat ItU bersisa sem-
bilan Akshauhini, dan selaku pelindungnya, dipilih Kripa, W-ri-
sha dan beberapa Kshatriya lain. Untuk menandingi Orona, pi-
hak Pandawa mengangkat Orishtadyumna yang mengusai
berjenis-jenis senjata. Beliau itu dilinduntJi oleh Shima sehing-
ga pasangan itu kelihatan bagaikan Waruna yang sedang di-
kawal oleh Mitra. Sebenarnyalah pahlawan perkasa ini 88Jalu
ingin meneoba kekuatan untuk berhadapan dengan Orona yang
terkenal sakti itu. la mengerahkan semua pasukan Pandawa
yang masih ada dan mempunyai keinginan kuat untuk mem-
balas perbuatan Orona terhadap ayahnya, Raja Orupada dari
Panea/a. Karena itu Pang lima yang gagah ini bertempur dengan
hebatnya. Kedua belah pihak menyerbu dengan ganas dan dah-
syat, memperlihatkan puneak prestasinya masing-masing. Ter-
jadilah banjir darah dan hampir seluruhnya raja-raja yang me-
nerjunkan diri ke da/am pertempuran itu menemui ajalnya.
Pertempuran teram?t dahsyat itu ber/angsung selama lima hari.
Menjelang akhir hari kelima itu Orona sudah menurun semangat-
nya dan akhirnya dapat ditundukkan oleh Ohristadyumna.

Karna, dari pihak Kaurawa lalu maju memimpin pasukan
yang tingga/ tersisa-sebanyak lima Akshauhini, sedangkan pa-
sukan Pandawapun sudah banyak berkurang, masih tersisa ·ti-
ga Akshauhini saja- Pe-rtentp-uran hebat berlangsung hingga
akhirnya Karna berhadap-hadapan dengan Arjuna yang me-
mimpin pihak Pandawa ketika itu. Karna yang hebat, yang lebih
dikenal dengan putra Suta, menemui ajalnya pada hari kedua
setelah turun ke medan pertempuran. Oengan tewasnya Karna
itu, pasukan Kaurawa kehilangan semangat bertempurnya.
Pasukan itu tinggal tiga Akshaudini saja lagi dan semuanya
menghimpun diri di bawah pimpinan Raja dari Madras. Salya
yang gagah dan berbudi luhur itu. Pasukan Pandawa tidak ku-
rang menyedihkan keadaannya. Hanya tersisa satu Akshauhini
saja, hanya saja semangatnya masih tetap berkobar-kobar, apaJagi,
mereka diplmpin langsung oleh Raja Yudhisthira sendiri. Dalam

( 157

pertempuran ini Yudhisthira memperlihatkan kemampuan yang
luar biasa. Hanya dalam waktu setengah hari saja, Panglima Pe-
rang pasuka~ Kau rawa, maharaja dari Madras itu sudah dapat
ditundukkan dan tewas dalam medan juang. Setelah Salya te-
''Vas, Sahadewa yang perkasa lalu mengejar Sakuni yang men-

jadi biang keladi permusuhan antara Pandawa dan Kaurawa itu.
Akhirnya Sakuni tewas di tangan Sahadewa itu. Pasukan Kau-
rawa benar-benar sudah kehilangan semangat dan menjadi ku-
car-kacir. Sanyak yang sudah melarikan diri meninggalkan me-
dan pertempuran. Pasukan yang masih bersedia bertempur di-
kumpulkan dan dipimpin langsung oleh Duryodhana, putra
Dhritarashtra. Melihat Duryodhana maju, Shimasena tidak dapat
dibendung melompat maju dengan penuh kemarahan, me-
mutar-mutar senjatanya yang teramat dahsyat, mengejar dan
menghantam. Duryodhana hampir tidak diberikan kesempatan
untuk bertindak, bahk'an hatinya kecut dan ngeri inenghadapi
amukan Shima. Tak lama kemudian iapun melarikan diri dan me-
nyembunyikan diri di dalam air danau Dwapayana. Dengan sisa
pasukan yang masih adp. para Pandawa mengepung telaga Dwai-
payana itu. Duryodhana menyelam. pasukan Pandawa bersorak
sorai menghina dan mengejeknya. Tak kuasa menerima hinaan-
hinaan itu, akhirnya Duryodhana muncul, memegang senjata
gadanya dan langsung menuju kearah Pandawa sambil menan-
tang untuk bertanding. Tantang.an itu disambut oleh Shima dan
dihadapan raja-raja yang menyaksikan. kedua mereka itu ber-
tempur dengan ganas dan hebatnya. Akhirnya, tentu saja, Shi-
ma berhasil menewaskan Ouryodhana itu. Pertempuranpun da-
pat dikatakan sudah berakh ir pada hari itudengankemenangan
di pihak Pandawa

Tetapi pada malam hari, ketika pasukan Pandawa sedang

mengaso di dalam kemah masing-masing. putra Orona, untuk
melampiaskan dendam karena kematian ayahnya, datang me-
nyerbu dan membunuh semua putra Pandawa beserta seluruh
pasukan pengawal yang menjaga kemah itu. Hanya kelima putra
Pandu, hamba sendiri dan Yuyudhana saja yang terlepas dari
maut malam hari itu.

Setelah pertempuran itu benar-benar selesai, dari pihak
Kaurawa yang masih hidup hanyalah Kripa, Kritawarman raja
bangsa Bhoja dan putra Orona. Putra Dritarashtra, Yuyutsu juga
selamat karena putra ini memang berdiri di pihak Pandawa.
Setelah semuanya berakhir itu,' Widura dan Sanjaya lalu datang
untuk menghadap Yudhisthira nan java. Demikian itulah per-
tempuran itu berlangsung 0 ayahanda junjunganku! Api pe-
perangan itu telah berkobar selama delapan belas hari. Ribuan
raja-raja yang memerintah di dunia ini tewas dalam pertarung-

158

an senjata itu dan karena sudah menunaikan tugas-tugasnya
dengan baik, sekarang sudah 'mencapai kerajaan Surga !"

Semua bangsa Wrishni yang sempat mendengarkan penu-
turan Krishna itu mengeluh sedih,

I. Wasudewa, pah lawan perkasa dan bijaksana itu sengaja -ti- _
dak menceriterakan kejadian yang merenggut nyawa Abimanyu
Maksudnya sudah jelas, agar jangan ayahnya menjadi terlalu se-
dih di saat-saat hari yang gembira itu, Hari-hari itu adalah hari
berpesta, Krishna tidak ingin melihat ayahandanya meratapi ke-
matian cucunya itu. Tetapi Subhadra tidak sejauh itu pemikiran-
nya. Setelah ia menyadari betapa kakaknya melewatkan begitu
saja peristiwa yang menyebabkan tewasnya Abhimanyu, putra
yang sangat dicintainya itu, -ia lalu bertaiya k-epada kakaknya :
"Kakanda, ceriterakanlah juga bagaimana anak hamba me-
nemui ajalnya !". Dan setelah mengucapkan kata-kata itu Su-
bhadra tak -kuasa menahan kesedihanrlya, hingga jatuh ter-
sungkur di tanah, pingsan ! Melihat kejadian ini, Wasudewa
yang tuapun jatuh pingsan. Suasana di dalam ruangan itu dili-
puti awan kesedihan, ramailah suara tangis sesegukan dan ban-
jir air mata !Sesaat kemudian, Wasudewa yang tua sadarkan diri
kembali. Setelah sadar beliaupun berkata ditujukan kepada
Krishna: "Wahai anakku nan cerdas, ananda terkenal di dunia
ini karena kebijaksanaan dan kejujuran ananda. Tetapi me-
ngapa, 0 ananda, hari ini engkau tidak menceriterakan bagai-

mana cucuku, putra dari anak perempuanku tewas ? a ananda

yang bijaksana, ceriterakanlah selengkapnya betapa putra ter-
cinta dari adik ananda itu diakhiri perlawanannya ? Wahai, sinar
mata anak itu indah, tak ada bedanya dengan kecerahan mata
ananda. 0 bagaimana anak itu dapat ditundukkan oleh musuh !
Anak· itu masih terlalu muda. Saat ajalnya belum semestinya
tiba ! Aku tak akan menyesal dan hatiku ini tak akan hancur be-
rantakan apabila ia tidak tewas bersama-sama mereka yang ma-

asih terlalu muda untuk mengakhiri kehidupannya ! apakah pe-

san-pesannya terakhir kepada ibunya pada saat menjelang ke-
".1atiannya itu ? Adakah pesan cucuku1ersayang itu kepada di-ri-
ku ? Semoga ia tidak dibunuh oleh musuh pada saat ia meng-
undurkan diri atau dihantam dari belakang !. Semoga ia terus
bersemangat dan dengan gembira menghadapi musuh-musuh-
nya dalam setiap pertempuran. Aku tahu bahwa cucuku itu sa-
ngat hebat 0 Krishna. Sejak masih kecil, dan bahkan sampai se-
karang setelah dewasa, karena jiwanya yang masih kekanak-
kanakan, ia sering memperlihatkan kekuatan dan kemahirannya
mempermainkan senjata di hadapanku. Betapa sering ia mem-

159

percakapkan keunggulannya dalam menghadapi pertempuran.
Semoga anak itu tidak tewas karena kecurangan Orona. Karna,
Kripa atau oleh yang latn-Iain. Ceriterakanlah kejadian itu ke-
pada kami. Aku tahu kalau cucuku itu selalu ingin menguji ke-
pandaiannya misalnya dengan menghadapi Bhisma atau Karna
bertanding senjata! "Mendengar ratapan ayahnya itu Gowtn-
da menjadi sedih dan terpaksa beliaupun bereeritera : "Ayah-
anda, yakinlah bahwa anak itu tidak pernah mengendur se-
mangatnya menghadapi pertempuran. la telah maju ke medan
perang dengan gembira dan mengamuk dengan dahsyatnya,·ti-
dak pernah mundur setapakpun, apalagi melarikan diri. la telah
berhasil menewaskan ratusan bahkan ribuan raja-raja yang be-
rani menghadapinya. Tetapi akhirnya ia didesak oleh Orona dan
Karna. Dalam keadaan terdesak itu ia diserang oleh putra Ous-
sasana hingga tewas dit,ngan pemuda itu. Seandainya saja ia
diberikan kesempatan untuk bertempur satu lawan satu, tanpa
diganggu oleh musuh-musuh yang lain, ia itu tidak mung kin da-
pat dibunuh, meski oleh Indra sekalipun. Pada waktu itu, Arjuna
yang bertugas melindunginya terpancing dan menghadapi tan-
tangan Samsaptaka. Ketika itulah Abhimanyu terpisah dari pen-
jagaan ayahnya dan langsung dikepung oleh para Kaurawa
yang dipimpin oleh Orona. Kemudian 0 Ayahanda, setelah ber-
hasil menumpas ribuan musuh, iapun harus tewas di tangan
putra Dussasana itu. Tidak dapat disangsikan lagi bahwa ar·
wah anak perkasa itu sudah meneapai alam Surga. Janganlah 0
Ayahnda junjunganku, yang memiliki kebijaksanaan dan keeer·
dasan, menjadi sedih karenanya. Orang yang bersih pengertian-
nya, tidak pernah meratap dalam menghadapi beneana. Oia
yang bp,rhadapan dalam pertempuran dengan Orona. Karna dan
ksatria-ksatria lain, pendekar-pendekar yang setara dengan ~n­
dra sendiri, mengapa tidak naik ke alam Surga ? 0 Ayahanda,
hapuskanlah kedukaan itu. Jangan dibiarkan diri paduka dipe-
ngaruhi oleh kemarahan. Semua pahlawan yang sudah menun-
dukkan berbagai negeri musuh, pasti akan meneapai tujuan yang
suei itu, karena para ksatria sedemikian itu sudah memilih ke-
akhiran hidupnya, yaitu tewas diujung senjata! Ketika pendekar
muda itu gugur, adinda Subadra menangis dalam pelukan Kunti
Kepada Draupadi ia bertanya : "Wahai kakanda. dimanakah
anak-anak kita? Hamba mau menengoknya !" Mendengar adik
hamba itu menangis dan meratap, kaum wan ita bangsa Kuru
datang memeluknya, duduk mengelilingi dan menghiburnya.
Kepada putri menantunya. Uttara. adikku bertanya : "0 anakku,
wanita pembawa berkah, kemanakah suamimu ? Kalau ia su-
dah kembali, beritahukan segerakepadaku! 0 putri Wirata, biasa
nya setelah mendengar suaraku saja, anakku itu akan segera

160

keluar dari kamarnya. Mengapakah suamimu itu tidak muncul
hari ini? Aduhai anakku, Abhimanyu, semua pamanmu sudah
berkumpul disini. Mereka akan memberkahikamu sebelum ber-
angkat ke medan pertempuran. Ceriterakanlah 0 anaku, jalan-

nya pertempuran hari ini, seperti di hari-hari sebelumnya. 0\

mengapa ~ari ini engkau tidak memberikan jawaban kepadaku
lagi?" Pritha, yang juga sangat sedih membujuknya dengan 9U-
ara lembut : "0 Subhadra, meskipun sudah dilindungi oleh Wa-
sudewa dan Satyaki, dan juga oleh ayahnya sendiri, namun anak
ananda yang masih muda itu tewas juga. la telah tewas karena
kehendak sang Waktu! Wahai putri bangsa Yadu, sebagaimana
halnya kita juga, putra ananda itu hanyalah mahluk tak kekal.

Jangan sedih, anak itu, sebagaimana kita tahu, seorang anak
yang gagah perkasa, tentulah ia sudah mencapai apa yang di-
cita-citakannya. la sudah mencapa' tempat tertinggi! Ananda
telah dilahirkan di Iingkungan bangsa dan keluarga terhormat,
di antara para Khsatriya yang berbudi luhur. Jangan sedih 0
wanita bermata cemerlang! Pandanglah Uttara, putri menantu
yang subur dan segera akan melahirkan anak : 0 anakku, ja-
ngan menyerah demikian kepada kesedihan! Putri menantumu
ini segera akan melahirkan seorang putra bagi pahlawan yang
telah gugur itu! "Setelah menghibur dengan kata-kata lemah
lembut seperti itu, 'dan setelah kesedihan mereka berkurang,
Kunti lalu mempersiapkan segaJa-sesuatu untuk mengupaca-
rakan jasad Abhimanyu. Persiapan dan penyeJenggaraannya di
bantu oleh Yudhishthira, Shima dan kedua saudara kembar,
yang semuanya dalam hal kekuatan bagaikan Yama sendiri.

Dalam upacara itu Kunti banyak sekali membagi-bagikan hadi-
ah-hadiah kepada para Srahmana, terutama berupa sapi-sapi
untuk dipelihara oleh mereka.

Setelah menyelenggarakan upa-
cara itu barulah wanita mulia bangsa Wrishni (Kunti) itu merasa
benar-benar .terlibur hatinya. Selanjutnya beliau lalu menghi-
burkan putri Wirata dengan kata-kata berikut : "Wahai wanita
tak tercela, tidak semesti nya ananda sedih terus-menerus begi-
ni. Demi ketentraman arwah suamimu, jagalah baik-baik anak
yang masih di dalam rahimmu itu!".

Demikianlah 0 ayahanda.
setelah Kunti mengucapkan kata-kata itu. beliau lalu mengun-
durkan diri, dan atas perkenan beliau pula maka ananda da-
tang kemari dengan membawa adik Subhadra ikut serta. Demi-
kian itulah kisah tewasnya cucu paduka ayahanda, putra Su-.
bhadra ini. Paduka hapuslah kesedihan itu sekarang!. Jangan
paduka menyerah kepada kedukaan !"

161

LXII. Setelah mendengarkan ceritera serta hiburan-hiburan dari
Krishna. Wasudewa lalu bangkit dan bersemangat kembali un-
tuk segera melakukari upacara penyucian bagi arwah Abhima-
nyu cucu yang sang at dicintainya itu. VVasudewa Krishna juga
melakukan upacara penyusian dengan doa-doa yang bertujuan
agar keponakannya, pahlawan yang berbudi luhur, sangat disa-
yang dan tahu menghormati orang tua itu dapat mencapai alam

Surga Pada kesempatan itu, Wasudewa telah menjamu enam
juta Brahrnana yang semuanya mempunyai kesaktian hebat.
Kepada rnereka disajikan berjenis-jenis makanan yang terbaik.
Tidak ketinggalan membagi-bagikan hagiah-hadiah berupa
kafn-kain pakaian dan bahkan apa saja yang diperlukan oleh
par Brahmana itu. Emas, sapi, tempat tidur, ka.n-kain dan se-
bagalnya, berfimbun-timbun yang semuanya dibagi-bagikan
sesual dengan jumlah~angdisebutkan oleh yang memerlukan-
nya. Setelah sernua mendapat bagiannya masing-mas:ng, para
Brahmana itu lalu memanjatkan doa dan berseru : "Semogalah
I\ekayaan dan keJayaan Krish na terus bertambah dan men ing-
k, t' . Setelah semuanya selesai, Wasudewa dari Dasarsha. Wa-
ladewa Satyakt dan Satyaka, masing-masing lalu melakukan
upacara penyucian untuk kepentingan Abhimanyu. Tetapi se-
mua pahlawan ini masih diliputi kesedihan yang sangat mem-
fJengaruhl flkiran mereka. sehingga segala yang dilakukannya
san~Jat menccrrninkan kesedihan.

Keslbukan yang sama dilakukan juga oleh pihak putra-
putra P ndu di I<.ota Hastina. Suasana sedih menyelubungi upa-
cara yang dilakukan di kota ini. Ketidak hadiran Abhimanyu
rnenyebabkan mereka tidak berhasil mendapatkan ketentram-
an Putri raja \lJirata, Uttara, untuk beberapa hari lamanya me-
nolak untuk menyantap makanan. Beliau itu sangat berduka cita
k "ha gan suami yang sangat dicinta. Karena itu semua keluar-
ganya t rpeng' ruh oleh kedukaan itu. Mereka sangat khawatir,
ja gan-jangan ayi yang masih di dalam rahim ibunya itu men-
ladl terganggu perkembangannya.

Pada saat mereka sedang dilanda kedukaan seperti ituiah
ertapa uci Wyas8, yang dapat melihat segala-galanya dengan
r:aqdangan bathinnya, datang mengunjungi mereka. Rishi yang
_n~at bijaksana serta memiliki tenaga sakti yang luar biasa itu
tl');: i tempat itu dan langsung berkata kepada Pritha dan juga
I :'pada Uttara sendiri, katanya : 'Tinggalkanlah segala kesedih
a )', ang tidak berguna ini! Hai wanita terkemuka, seorang putra
.. ng bertenaga luar biasa akan lahir berkat kesaktian Wasu-
(ewa dan kekuatan ucapanku! Putra itu akan menjadi raja dan
menguasai seluruh dunia, menggantikan para Pandawa! De-

"162

ngan memandang tajam kepada Dhananjaya pertapa sakti itu
berkata, yang juga didengarkan oleh Yudhishthira putra Dhar-
ma itu, katanya : "Cucumu itu akan menjadi raja yang berbudi
luhur! Dia akan memerintah dunia ini dengan adil dan bijak-
sana. Karena itu, hai para pemimpin bangsa Kuru. lenyapkan
segala kesedihan yang berlarut-Iarut tanpa guna itu ~ Jangan
ragu-ragu. bergembiralah, karena apa yang kuucapkan ini se-
gera akan menjadi kenyataan! Apa yang diucapkan oleh pahla-
wan besar bangsa Wrishni pada waktu dahulu itu, pasti akan ter-
jadi! Jangan tidak percaya! Adapun Abhimanyu, ia sudah me-
nuju ke alam dewa-dewa dan alam itu sudah dikuasainya dengan
kekuatan perbuatannya sendiri! Tidak pantas pahlawan sebe-
sar dia itu disedihkan lagi. tidak oleh diri kalian, tidak pula oleh
bangsa Ku ru yang lain!". Seketika. wajah Dhananjaya berseri-
seri kembali, kesedihannya lenyap tanp\ bekas!

Demikianlah 0 Janamejaya. bayi di dalam kandungan yang
kemudian menjadi ayahanda paduka. memiliki keistimewaan
tubuh yang sehat dan kecerdasan yang luarbiasa. cemerlang
bagaikan bulan purnama! Setelah itu. maharishi Wyasa menya-
rankan kepada maharaja putra Dharma untuk melangsungkan
upacara Kurban Kuda. Setelah semua nasihatnya itu diterima,
pertapa itu lenyap dari pemandangan di hadapan semua me-
reka yang menjadi tercengang keheranan.

LXIII. Raja Yudhishthira, setelah mendengar nasihat Wyasa itu,

lalu memperteguh tekadnya untuk melakukan perjalanan guna

mengumpulkan kekayaan yang sangat dibutuhkan. Pertama-

tama, Yudhishthira memanggil saudafa-saudaranya, yaitu Ar-

juna, Bhima dan dua saudara kembar putra Madri, dan berkata :

"Wahai adindaku para Kshatriya, kalian sudah mendengar dan

memaham i pesan-pesan yang pertapa Wyasa yang cerdas dan

suci itu. Karena kasih sayang beliau itu kepada kita sekalian,

maka telah ditunjukkan jalan kebahagiaan kepada bangsa Kuru

ini. Kalian juga sudah mendengar apa yang dinasihatkan oleh

Bhisma, selanjutnya oleh Gowinda. Kita tentu tidak boleh ber-

buat lain kecuali mentaati semua nasihat-nasiha.t itu. Kita seka-

lian berkewajiban mentaati segala perintah semua junjungan

kita itu karena kita tahu bahwa semua yang diucapkan itu meru-

pakan berkah bagi kesejahtraan kita. Kata-kata yang diucapkan

oleh siapapun juga yang selalu memuja Brahman yang maha

besar itu adalah pasti! Dan apabila dipatuhi, pasti pula akan

membawa berkah yang kiar bLaS-A rnambahagiakan! Wahai kali-

an para ksatria pelindung bangsa Kuru, kalian tahu bahwa ke-

kayaan kita sudah musnah. Demikian juga keadaan nega,a-

163

negara di latn-Iain bagian dunia ini. Tetapi maharishi Wyasa
yang kita junjung tinggi itu sudah menyatakan bahwa sebenar-
nya di negeri raja Marutta terpendam kekayaan yang luar biasa ba-
nyaknya. Apabila benar demikian. mengapa tidak kita angkut saja
semuanya ke tempat ini? Sagaimanakah pendapat adinda 0
Shima?" Shima yang perkasa itu meneakupkan tangan untuk
menghormati kakaknya dan berkata : "Hamba sangat menyetu-
jui gagasan kakanda untuk mengangkut kekayaan yang ditun-
jukkan oleh maharishi Wyasa itu. Apabila harta karun putra ra-
ja Awikshit itu sudah berhasil di dapatkan, pastilah upaeara
Ku rban Kuda itu dapat d iselenggarakan. Itu lah pendapat ham-
ba. Karena itu sebelumnya kita harus memuja Girisha. dan me-
muja Dewa-dewa dengan sepatutnya, setelah itu dilakukan.
kekayaan kita angkut. Diberkahilah kiranya paduka yang selalu
memuaskanlJlaha Dewata beserta para sahabat dan semua pe-
ngiringnya. Sebenarnyalah para dewa itu harus dipuaskan de-
ngan kata-kata. fikiran serta berbuatan' Dengan demikian. ham-
ba dapat memastikan bahwa harta karum itu akan berhasil kita
angkut ke tempat ini. Para Kinnara yang berada di tempat ter-
sebut dan menjaga harta itu. tentu akan mengijinkan kita, teru-
tama Mahadewata yang berlambangkan binatang Banteng itu
telah puas dengan perbuatan kita!" Mendengar ueapan Shima
itu. Yudhishthira putra Dharma merasa sangat puas. Adik-adik-
nya yang lain. dipimpin oleh Arjuna bersama menjawab : "Se-
moga demikianlah 0 kakanda!"

Setelah meneapai kesepakatan itu, para Pandawa lalu me-
merintahkan semua pasukannya untuk mempersiapkan diri ka-
rena segera akan berangkat, yaitu pada hari bertepatan dengan
hari bintang Dhruba. (Gugus bintang Dhruba ini terdiri dari btn-
tang Rohini dan dua bintang Uttara, jadi terdiridari tiga bintang
Hari Minggu juga dinamakan hari Dhruba). Jadi hari keberang-
katan itu adalah hari Dhruba. Para Brahmana semuanya men-
doakan keselamatan mereka. dan setelah memuja Maheswara.
putra-putra Pandu itupun berangkat. Mahadewata itu dipuja
dengan mempersembahkan sajen yang disebut Modaka, jua-
dah dan manisan, juga olahan daging. ~etelah mempersem-
bahkan sajen-sajen itu.' para Pandawa lalu berangkat dengan
penuh kegembiraan. Perjalanan mereka itu diiringi doa restu
semua penduduk dan para Srahmana. Para Pandawa itu me-
ninggalkan ibukota dengan terlebih dahulu memohon berkat
para Srahmana yang biasa bertugas melakukan pemujaan ter-
hadap api suei' mereka.Selanjutnya mereka mohon pamit ke-
hadapan Dhritarashtra.yang masih saja diliputi kesedihan"ka-
rena kematian putra-putranya. Mereka mohon doa restu Gan-
dhari dan Pritha. dan menugaskan Yuyutsu untuk tetap tinggal

164

+a.ri-..·...".".... Demikianlah mereka melakukan perjalanan, di'sem-
~-".- _ seluruh rakyat dan diberkati oleh para Brahmana yang

i pengetahuan cemerlang.

jalanan itu dilakukan dengan gembira, diiringkan oleh
pengiring dan binatang-binatahg pengangkut beban.
:- ringan itu nampak bersemarak. Roda-roda kereta dan pe-
erderak-derak dan bahkan karena banyaknya yang mengi-
'<an terdengar suarR gemuruh gegap gempita. Mereka'ber-
a yi-nyanyi, mengumandangkan, lagu puja yang-dinyan-yi-
dengan suara merdu oleh para penyanyi, wangsa Satua
Magadha, juga para pendeta, dan masing-masing di-
gkan oleh bala laskar yang dipimpinnya sendiri. Pasu-
itu cemerlang bagaikan Matahari-matahari yang ma-
g-masing memancarkan cahayanya serfdi-ri-sendiri. Raja
dh ishth ira bertedung payung -putih bersih, nampak ber-·
sinar bagaikan raja segala biriiimg yang gemilang di ang-
asa. Raja utama itu menyambut takzim salam dan lam-
baian tangan serta sorak sorai para penduduk kota yang
erdiri di k~ri-kanan jalan itu. Bala laskar yang mengiringk_an
baginda itu menimbulkan suara gemuruh bergumam bagaikan
suara lebah memenuhi angkasa. Pasukan itu menyeberangi
banyak danau dan' sungai, hutan dan taman yang indah-indah.
Akhirnya mereka sampai di daerah pegunungan di tempat har-
ta karun itu terpendam. Di tempat itu raja Yudhishthira men-
dirikan kemah diikuti oleh semua pasukan pengiringnya. Da-
taran tinggi tempat kemah itu didirikan indah dan baik letaknya
Yudhishthira memerintahkan agarterlebih dahulu didirikan kemah-
kemah bagi para Brahmana yang semuanya memiliki kemampuan
dan pengetahuan tinggi tentang bermacam-macam hal, dan khu-
sus tentang tatacara dan upacara keagamaan. Salah seorang
dari antara para Brahmana yang paling terkemuka adalah Agniwes-
ya, yang lebih dikenal dengan nama Dhaumnya. yaitu pendeta bang-
an -kuru yang ternama itu. Beliau itu sangat tinggi pengetahu-
annya tentang weda-weda serta cabang-cabangnya. Setelah
perkemahan itu selesai didirikan, semua putra Pandu dengan
diikuti oleh raja-raja lain yang me'nemani mereka'dalam perjalan-
an itu lalu melakukan upacara pemujaanyang dipimpin oleh para
Brahmana itu. Selesai melakukan pemujaan itu, pasukan lalu
dibagi-bagi untuk menempati semua tenda dalam perkemahan
itu. Para pendeta yang bertugas mengatur pendirian kemah
itu sudah membagi perkampungan itu menjadi sembi Ian bagi-
an. Raja-dan Menteri-menteri-nya menempati bagian paling di
tengah.Tigajalur jalan membentang ke arah Utara-Selatan dan
tiga jalur lagi membentang ke arah Timur-Barat. Perkembahan

I 165

itu dibagi oleh enam jalur jalan dan terdiri dari sembilan bag ian.
Kadang-kadang untuk binatang-binatang seperti gajah, kuda
dan binatang pengangkut lainnya juga sudah dibangun, hingga
segala sesuatu sudah selesai seluruhnya. Karena itu raja Y.u-
dhishthira mengumpulkan para Brahmana dan berkata : "Ham-
ba mohon kehadapan paduka sekalian untuk mengerjakan apa-
pun juga yang dipandang perlu untuk mencapai tujuan perja-
lanan ini. Terutama hamba mohon ketentuan hari baik menurut
perhitungan perbintangan serta susunan rencana kegiatan
yang patut kita lakukan setiap hari. Semoga kita tidak menung-
gu terlalu lama di tempat ini. Silakan paduka melaksanakan apa
saja yang sekiranya patut dilakukan!"

Para Brahmana itu, yang sebagian dari padanya mahir da-
lam ilmu tentang cara dan upacara keagamaan, sangat gembira
menyambut tugas-tulas yang dikuasakan kepada mereka itu.
Masing-masing lalu bekerja dengan giat demi tercapainya cita-
cita raja Yudhisthira, raja adil dan sangat dicinta itu. Setelah
menentukan suatu hari baik dan selesai menyusun rencana ke-
"giatan, para Brahmana itu menghadap kepada Yudhishthira
dan melaporkan sebagai berikut : "Hari ini merupakan suatu
hari baik menu rut perhitungan perbintangan. Kita segera akan
melaksanakan upacara pokok yang bertalian dengan kedatang-
an kita ke tempat ini. Mulai hari ini, kami akan melakukan pan-
tangan pertama, yaitu berpuasa dengan tujuan membersihkan
diri, tidak memakan makanan, kecuali meminum air saja. Semo-
ga paduka berkenan menyertai kami melakukan puasa itu mulai
hari ini juga !". Atas saran-saran para Brahmana itu, mulai ma-
lam itu Yudhishthira tidak menyentuh makanan, tidur terlen-

tang di atas hamparan rumput ilalang, namun dengan b,~rbuat

demikian pancaran kesucian bathinnya semakin cemerlang ba-
gaikan api kurban yang berkobar bernyala-nyala ! Malam itu
mereka melewatkan waktunya dengan mendengarkan per-
cakapan-percakapan yang dilakukan oleh para Brahmana me-
ngenai bermacam-macam masalah.

LXV. Pagi-pagi keesokan harinya, Brahn:ana yang terke~uk~

dari antara mereka pergi menghadap raja dan berkata: Hart

ini kita akan mempersembahkan sajen-sajen utama keha-

dapan Mahadewa yang bermata tiga. Selesai upacara, kita akan

berangkat ke tempat tujuan guna mengambil harta karun itu".

Sejalan dengan laporan Brahmana itu, Yudhishtira lalu meme-

rintahkan agar sajen-sajen itu segera disiapkan dan dipersem-

bahkan kehadapan Mahadewa yang suka beristirahat di lereng-

lereng pegunungan. Pendeta Dhaumya menuangkan minyak

mentega murni ke dalam api suci, mempersembahkan Charu

166

elafalkan mentfa-mentra. Beliau mempergunakan ber-
...am-macam kembang, disucikan semuanya dengan mentfa-
- - ra serta disuguhkannya modaka, juadah dan olahan da-
- -g. dipersembahkan kehadapan Dewa Mahadewa yang sakti
Kemudian, dengan menggunakan bermacam-macam kem-
- g. padi-padian yang diolah dengan menggoreng, merupa-

masakan pilihan yang bermutu tinggi, pendeta Dhaumya
elakukan upacara selanjutnya. Tidak lupa disajikan persem-
han kepada mahluk-mahluk astral yang menjadi pengiring
ahadewa. Pendeta itupun melakukan pemujaan kehadapan
uwera, tokoh pertama dari golongan Yaksha, juga kehadapan
anibhadra. Juga dilakukan pemujaan kehadapan para Yaksha
lain dan pengiring, terutama para pengiring Dewa Mahadewa.
Pendeta menyajikan bertalam-talam makanan Krisarasa de-
ngan daging dan Nirapasa dicampur dengan biji-biji sesame.
Untuk menyelenggarakan upacara'itu Raja Yudhishthira me-
nyedekahkan ribuan ekor sapi kepada para Brahmana itu. Sete-
lah persembahan kepada Dewa-dewa itu selesai dilakukan,
pendeta lalu menujukan persembahan dan pemujaannya ke-
pada mahluk-mahluk malam yang juga menjadi pengiring Ma-
hadewa itu. Harum dupa membubung ke angkasa, demikian ju-
ga wanginya bunga-bungaan, sehingga tempat yang suci dan
keramat itu sungguh menjadi suatu tempat yang sangat menye-

nangkan. Setelah melakukan pemujaan kehadapan para Audra dan
para Gana, maka raja dengan dipimpin oleh Wyasa yang sakti lalu
berangkat menuju ke tempat harta karun itu tersimpan. Setelah
tiba di tempat itu, sekali lagi mereka melakukan pemujaan keha-
dapan Dewa-dewa pemilik dan penguasa kekayaan, mereka
menundukkan kepala dan memuja dengan sepatutnya, mem-
persembahkan kembang-kembang, kue-kue dan Krisara, juga
melakukan penghormatan kehadapan dua permata yang paling
utama, yaitu Sankha dan Nidhi, dan juga kehadapan para Yak-
sha yang menguasai batu-batu permata. Setelah itu raja
Yudhishthira lalu bersujud kehadapan para Brahmana yang se-
muanya memberikan berkat dan mendoakan selamat. Dengan
penuh kepercayaan dan kekuatan raja lalu memerintahkan un-
tuk menggali tempat itu. Dan dari dalam gal ian itu dikeluarkan
bermacam-macam benda-benda perhiasan dari emas yang ke-
semuanya sangat indah bentuknya. Beberapa dari antaranya
adalah Bhringna, Kataha, Kalasa, Bardhamanaka dan ber-
macam-macam bejana yang indah-indah. Barang-barang emas
itu ditempatkan ke dalam Kapurata-kapurata, yaitu sepasang
peti kayu dirangkaikan dengan rantai untuk disampirkan di atas
punggung unta atau sapi. Sebagian dari harta karun itu diang-
kut dengan pikulan. Sebe['arnyalah semua cara pengangkutan
telah dipergunakan untuk mengangkut semua harta itu. Untuk

167

mengangkut seluruh harta karun itu, telah dikerahkan ena -
puluh ribu ekor unta, seratus duapuluh ribu ekor kuda dan ~
ratus ribuekor gajah. Sedemikian juga jumlah kereta kendara-
an, kereta pengangkut, dan jumlah gajah betina. Keledai d
manusia tidak mungkin dapat dihitung banyaknya. Sedemikia
itulah banyaknya emas yang dapat digali dari dalam timbuna
tanah itu. Enambelas ribu mata uang emas diangkut di atas
masing-masing punggung unta. delapan ribu keping di dalam
setiap kereta, duapuluh empat ribu keping pada masing-
masing gajah dan sejumlah sebanyaknya yang bisa diangkut,
diangkut dengan kuda, keledai dan dibawa dengan pemikul.
Setelah barang-barang itu diambil seluruhnya, sekali lag; raja-
dengan dipimpin oleh para pendeta utam-a melakukan pemuja-
an kehadapan Siwa. Atas perkenan maharishi Wyasa. rombong-
an rajalalu kembali ke kota Hastina, yaitu setelah mempersilah-
kan pendetaDhaumyt. naik dan duduk di dalam kereta. Karena
beban yang berat itu, perjalanan kembali tidak <;1apat dilakukan
dengan cepat. Jarak'yang dapat ditempuh hanya kifa-kira satu
Goyuta (+ 4 mil) setiap hari. Beban itu sungguh- berat. mereka
berjalan lambat-Iambat menuju ke ibukota kerajaan Hastina.
Akhirnya _rnereka sampai juga dan disambut dengan sangat
gembi ra 6Teh-semua bangsa Ku ru itu.

LXVI. Sementara itu Wasudewa, dengandiiringkan oleh seluruh pem-

besar bangsa Wrishni, datang berkunjung ke Pandawa. Dahulu

pada waktu beliau meninggalkan para Pandawa untuk kembali

ke Dwaraka, beliaupun sudah-menerimaundangan agar Kem-

bali ke Hasfinapura. Setelah hari penyelenggaraan upacara

Kurban Kuda menjelang tiba. bagindapun kembali ke kerajaan

Kuru. Beliau diiringkan oleh putra Rukmini, juga Yuyud-hana,

Charudeshna, Samba, Gada. Kritawarman, tidak-l<etinggalan

Sarana yang perkasa, Nisatha, Unmukha dan Wasudewa de-
ngan didampingioleh Baladewa memimpin rombongan itu. Ti-

dak ketinggalan juga Subhadra, Dhritarashtra, dengan didampi-

ngi oleh Widura menyambut kedatangan mereka dengan. tata

cara sepatutnya. Krishna yang hebat itu disambut oleh Widura

dan Yuyutsu. Mereka tinggal di istana"kerajaan Kuru. Dan pada

waktu Krishna berada di sanaitulah, 0 Janamejaya. ayahnda

padukaitu lahir. Putra mahkota Parikshit itu, sejak masih dtda-

lam kandungan memang terkena pengaruh senjata Brahma

yangdiledakkan oleh Aswathama, putra Orona. Karena itu, ke-

.tika putra mahkota itu lahir, beliau tidak bergerak bagaikan ·ti-

dak bernyawa. Sesaat, ketika berita kelahiran baginda itu di-

umumkan, rakyat negeri Kuru sangat gembira. Akan tetapi, ke-

gembiraan itu segera berubah menjadi kedukaan, yaitu setelah

semua sama mengetahui keadaan bayi yang sangat lemah dan
bahkan tidak bernyawa itu. Para penduduk yang mengetahui
keadaan itu menangis tersedu-sedu sangat sedih. Tangiskedu-
kaan itu menimbulkan kegaduhan yang amat sang2t Men-
dengar keributan itu, Krishna bersama-sama Yuyudhand berge-
gas masuk ke istana. Baginda disambut ol,eh biblnya, Kunti,
yang menangis menyebut-nyebut nama beliau. Dibelakang
Kunti, menyusul Draupadi, Subhadra dan para wanita istana
yang lain dari keluarga Pandawa. Semua mereka itu menangis
dan meratap memilukan hati. Setelah bertemu dengan Krishna,
Kunti lalu berkata : "0 Wasudewa, pahlawan sakti. Berbahagia-
lah Dewaki. wanita utama yang telah mengandung paduka.
Padukalah parilawan pelindung dan juru selamat bagi kami se-
mua. Paduka lambang kebesaran kami! Bangsa Kuru ini telah
menggantungkan diri sepenuhnya kepada ~duka, hingga
mencapai kebesaran seperti sekarang ini. 0 pahlawan bangsa
Yadu, bayi yang baru lahir itu ternyata terbunuh pula oleh As-
watthaman I 0 Kesawa, tolonglah anak tak berdosa itu I Wahai
pelindung bangsa Yadu, bukankah rnenolong anak itu merupa-
kan janji paduka, yaitu ketika Aswatthaman memanfaatkan tenaga
rumput itu menjadi senjata Brahma yang teramat dahsyat itu? Ham-
ba masih ingat ucapan paduka pada saat itu. yaitu: "Saya akan
menghidupkan bayi yang akan lahir itu apabila kemudian ter-
nyata ia lahir tidak bernafas!" Demikian paduka berjanji 0 Ke-
sawa. Dan sekarang, anak itu sudah lahir dan tewas, 0 Kesawa'
Tengoklah anak itu 0 mahluk utama! Adalah tugas paduka -,
Madhawa, menyelamatkan Uttara, juga Subhadra dan Draupadi
serta diriku sendiri. Putra Dharma, Shima, Phalguna dan Na-
kula serta Sahadewa, semua anak-anak hamba nan perkasa itu
mengharapkan perlindungan paduka. Kepada anak yang baru
lahir inilah para Pandawa menggantungkan harapan masa de-
pan keturunannya l 0 paduka keturunan Dasarha, pada anak itu
tergantung juadah penebusan Pandu, juga bagi ayahandamer-
tua hamba dan Abhimanyu, ayahnya sendiri! Diberkatilah kim-
nya paduka, karena kemenakan paduka itu sangat serupa de-
ngan diri paduka. Lakukanlah hari ini, apa yang terbaik bagi
semua yang hamba sebutkan itu. Usahakanlah dengan sung-

aguh-sungguh 0 Janardhana! Uttara itu, pahlawan, selalu me-

ngulangi pesan-pesan Abhimanyukepada dirinya. Dan pesan-
pesan itu senantiasa telah membesarkan hatinya. 0 paduka ke-
turunan Dasarha, putra Arjuna Abhimanyu selalu menyatakan
kepadanya : Anak lelaki yang akan lahir dari adinda itu akan
kudidik di istana pamanku dari Dwaraka, kakanda ibuku! Anak
itu akan hidup di tengah-tengah bangsa Wrishni dan Andha-
kasa. Di sana ia akan belajar ilmu senjata serta ilmu politik dan

169

ethika!" Oemikian itulah antara lain pesan serta niat putra Su-
bhadra kepada isterinya, Uttara. 0 penakluk rakshasa Madhu.
hari ini kami bersujud di hadapan paduka, memohon dengan
sangat agar ucapan Abhimanyu itu menjadi kenyataan! Ki~i
waktunya sudah tiba. karena itu. lakukanlah apa yang terbalk
bagi kami semua!" Kunti sujud dan menyembah, tetapi Janar-
dhana segera mengangkatnya dan mendudukkan serta meng-

hiburnya dengan kata-kata lemah lembut.

LXVII. Melihat saudaranya datang, Subhadra menjerit dan berkata
dengan suara tersendat-sendat : "0 kakanda nan bermata lem-
but bagaikan kembang padma. Tengoklah cucu Arjuna. Adllhai,
bangsa Kuru ini sudah dijarangkan, seorang bayi telah lahir,
tetapi tewas tak be,daya., Kekuatan sehelai rumput, yang diru-
bah menjadi senjata Brahma oleh putra Orona guna menghan-
curkan Bhimasena, telah mempengaruhi Uttara, Wijaya dan
hamba sendiri! 0 Kesawa, rumput jahat itu masih ada di dalam
tubuh hamba ketika hamba mendekati Uttara yang tidak hamba
ketahui bahwa seorang bayi tengah berkembang di dalam kan-
dungannya. 0, apakah nanti kata raja Yudhishthira tentang ke-
celakaan ini? Apakah nanti kata Bhimasena, Arjuna dan kedua
putra kembar Madrawati tentang kecelakaan ini? Mendengar
bahwa putra Abhimanyu lahir dalam keadaan tak bernyawa,
pastilah mereka akan menuduh bahwa Aswatthama dengan
sengaja telah merusak bayi ini. Abhimanyu, 0 Krishna, tak da-
pat diragukan lagi merupakan salah seorang putfa-putra kesa-
yangan Pandawa. Apakah tuduhan mereka nanti kepada anak
Drona itu? Kedukaan apakah yang lebih hebat dari pengetahu-
an bahwa putra Abhimanyu telah lahir tak bernyawa? Oengan
menundukkan kepala sedalam-dalamnya dihadapan kakanda

paduka, 0 Krishna, hamba memujaMu hari ini. Pandanglah pula

mereka yang memuja di hadapan paduka hari ini, yaitu Pritha
dan Draupadi. Ketika anak Orona itu sersesumbar bahwa ia
ingin menghancurkan meski jantn.:janin yang masih berada di
dalam kandungan kaum wanitaPandawa,pada waktu itu juga
pa9uka telah menjawab : "0 Brahmana ~iadab. manusia jahat,
aku akan menggagalkan kehendakmu itu! Aku akan menghi-
dupkan bayi yang lahir dari Uttara itu! "Mendengar ucapan
paduka dan menyadari betapa hebat kesaktian paduka itu, ma-
ka hamba tetap memujamu, 0 pahlawan tak terkalahkan! Hi-
dupkanlah kembali putra Abhimanyu itu ..Apabila paduka sudah
yakin bahwa anak itu tidak dapat ditolong sesuai dengan janji
yang paduka ucapkan, wahai pelindung bangsa Wrishni, biar-
kanlah hamba mengakhiri hidup hamba! Apabila bayi Abhima-

170

-

nyu itu tic:fak hidup, sedangkan paduka yang mamp.u berbuat
segala:-galanya berada dekat dengannya, lalu apa lagikah guna-
nya kehadiran paduka buat hamba? Bertindaklah 0 junjungan,
dan kabulkanlah permohonan dan harapan kami, kembalikan
nyawa bayi putra Abhimanyu itu. Anak ini yang sangat mirip
dengan ayahnya. bagaikan curahan hujan yang menyegarkan
kembali tanaman kering di ladang. Paduka 0 Krishna,seorang
mahluk suci, perwujudan dari kebenaran, kekuatan paduka da-
pat menghancurkan segala bentuk penipuan. Dan merupakan
kewajiban paduka untuk membuktikan kebenaran ucapan pa-
duka! Apabila paduka menghendaki, hamba yakin bahwa pa-
duka mampu menghidupkan kembali meski ke tiga lapisan du-
nia, kalau seandainya dunia-dunia itu mengalami kematian.
Apakah lagi yang dapat hamba katakan mengenai anak tercinta
yang terlahir dari dalam kandungan put" menantu adik paduka
itu? Bayi itu terlahir tidak bernyawa! Tetapi hamba cukup me-
ngenal akan kesaktian paduka 0 Krishna! Karena itu kabulkan
permohonan kami! Teruskanlah sokongan paduka terhadap
para putra Pandu itu. Kasihani Uttara dan juga diri hamba. Tun-
jukkan belas kasih paduka kepada hamba selaku adik paduka
sendiri. atau selaku seorang ibu yang kehilangan anaknya ter-
cinta, dan sudah menyerahkan diri sepenuhnyake bawah
naungan diri paduka!"

XVIII. Mendengar ucapan-ucapan permohonan sedemikian itu,

penakluk raja Kesin, yang juga sangat sedih, lalU menjawab se-

bagai berikut : "Baik, semoga- demikianlah hendaknya!" Se-

potong jawaban itu diucapkan dengan suara cukup keras se-

hi ngga sangat melegakan hati mereka yang mendengarnya. De-

ngan ucapan itu saja sudah cukup menjadikan siapa saja yang

berada di ruanq dalam istana itu menarik nafas le-.9a. baaaikan

suatu siraman ·air sejuk dicurahkan kepada orang yang menderita

kepanasan. Beliau langsung menuju ruang peraduan, tempat

ayahanda paduka 0 Janamejaya, dilahirkan. Ruangan itu sl,Jdah

disucikan, dihiasi dengan bunga-bunga berwarna putih, tempa-

yan-tempayan tempat air bersih terisi penuh, airnya sangat jer-

nih. Juga terlihat tumpukan arang kayu Tinduka yang sudah di-

celupkan ke dalam minyak mentega dan tempat-tempat yang

berisi biji mustard. Oi dalam kamar itu terlihat juga senjata-sen-

senjata pusaka "berbaris 'rapi bersih mengkilat dan api sudah

menyala di segenap penjuru, sehingga suasana didalam kamar

itu terasa hangat dan menyenangkan. Telah duduk disana me-

nunggu pelayan-pelayan tua yang kasih dan rapi, siap men-

jalankan perintah-perintah nenenda paduka. Sekelompok ta-

171

bib ahli sudah siap pula didalam yang itu. Oi suatu sudut
dalam ruan9an itu terlihat alat-alat serta sarana perusak yang -

asa dipergunakan oleh golongan Raksasa, diletakkan ditempat
dengan rapi dan diawasi oleh mereka yang mengetahui de-
ngan pasti segala seluk-beluknya. Melihat ruangan dala
yang sedemikian sempurna dihias dan diperlengkapi Kris -
na mengangguk-angguk dan berkata : "Bagus-bagus
Ketika penguasa bangsa Wrishni itu mengucapkan kata-
kata itu dengan wajah cerah, Oraupadi masuk dengan ter-
gesa-gesa dan berkata kepada putri raja Wi rata, katanya
"0 ananda, wanita nan berbahagia, ramandamu. penakluk
Raksasa Madhu sudah berada di ruangan ini. Beliau itu, maha-
rishi terbesar sejak awal penciptaan, beliau itulah yang kekal ,..
Uttara menghapus air matanya, menahan tangisnya yang maslh
tersendat karena sjdu sedan yang lemah. merapikan penutup
tubuhnya. lalu menunggu dengan perasaan penuh kebaktian
sebagaimana halnya menantikan kehadiran dewata yang paling di-
puja-puja ! Wanita itu lelT!ah tak berdaya. hatinya hancur luluh.
dan setelah melihat Gowinda mendekati dirinya. ia segera me-
nyembah dan mengadukan nasibnya dengan suara gemetar ter-
sendat-sendat menahan tangis : "Aduhai junjungan bermata ce-
rah bagaikan kembang padma, inilah kami berdua. Abhimanyu
dan hamba yang kehilangan anak. 0 Janardhana harapan kami,
baik Abhimanyu maupun hamba sendiri. sudah sama-sama mati
tak bernyawa lagi ! 0 junjungan pelindung kami bangsa Wrishni
wahai penakluk raksasa Madhu, terimalah sembah sujud hamba
ini 0 pahlawan ! Paduka tolonglah anak hamba yang hang us ter-
kena pengaruh ledakan senjata putra Orona itu ! Apabila maha-
raja Yudhishthira, atau Bhimasena, atau paduka s€ndiri pada
waktu itu menyatakan : "Biarlah rumput-rumput yang telah di-
olah menjadi senjata Brahma oleh Aswathaman itu menghancl:Jr-
kan ibu yang pingsan itu !", maka pastilah hamba sudah hancur
dan kenyataan pahit seperti sekarang ini tidak akan pernah ter-
jadi ! Wahai, manfaat apakah yang diharapkan oleh Aswathama
dengan berlaku sekejam ini ? Memusnahkan bayi tak berdosa.
bahkan masih di dalam rahim ibunya dengan senjata Brahma
yan'g dahsyat itu ! 0 pahlawan perkasa ! Perkenankan hamba
yang menyesali diri sendiri ini bersujud di hadapan paduka !
Hamba akan mencabut nyawa hamba, apabila ternyata anak
hamba itu tidak bisa dihidupkan kembali! Hamba telah menggan-
tungkan seluruh harapan hidup hamba kepada anak satu-satu-
nya yang baru lahir ini. Dan apabila semua harapan hamba itu dihan-
curkan oleh putra Orona, apalagikah gunanya hamba hidup di du-

nia ini 0 Kesawa Yang selamanya hamba idam-idamkan hanyalah

menimang anak di pangkuan. Tetapi ternyata harapan itu kini telah

172

hancur berantakan ! Wahai mahluk paling utama, dengan tewas
nya keturunan Abhimanyu ini, maka semua harapan yang me-

menuhi dan melegakan hati itu, musnah !. Dan Abhimanyu, 0
penakluk raksasa Madhu, merupakan kekasih paduka pula. Dan
lihatlah 0, anak kekasih paduka itu telah dicabut nyawanya oleh
senjata Brahma !. Wahai, anak ini, yang tidak tahu membalas bu-
di, tidak mempunyai rasa belas kasihan, sama saja dengan ayah-
nya, ternyata sangat meremehkan kesentausaan dan kemakmur
an Pandawa, dan ia bahkan memilih tempat permukiman Yama!

aDahulu hambapun sudah mengucapkan sumpah Kesawa,

bahwa apabila Abhimanyu tewas, hamba tidak akan menunggu
waktu lagi untuk mengikutinya ! Tetapi alangkah kejamnya ham-
ba ini. Hamba tidak menepati sumpah hamba itu karena kecinta-
an hamba terhadap kehidupan ini. Sekarang hamba telah siap
untuk menyusulnya, sesungguhnyalah ha'nba ingin tahu, apa
nanti kata putra Phalguna itu di alam sana setelah hamba me-
nyusul kesana !".

LXIX Setelah mencurahkan seluruh isi hatinya itu, Uttara am-
bruk tertelungkup di tanah~Ibu yang malang itu tidak sadarkan
diri. penutup tUbuhnyapun terlepas. Kunti dan wanita-wanita lain

menangis tersedu-sedu. Mendung kesedihan yang tebal me-
liputi istana. Lama juga putri raja Wirata itu pingsan. Setelah
sadar, dengan lemah dan gemetar ia memangku anaknya yang
tidak bergerak-gerak itu, serta mengucapkan kata-kata ini : "0
anakku ! Paduka ini putra seorang pahlawan yang mentaati ke-
wajiban dan penuh tanggung jawab ! Apakah paduka ini tidak
menyadari dosa-dosa yang sedang ananda lakukan ini, maka
ananda tidak bersujud di hadapan raja termulia dari bangsa
Wrishni yang telah berkenan mengunjungi ananda ini ? Wahai
ananda, apabila di alam san 1 ananda bertemu dengan ayah-
andamu, sampaikanlah pes< n ibumu ini : "Mem-ang tidak mu-
dah untuk mati sebelum c.Jal tiba, tetapi, meskipun paduka
suamiku sudah tiada, danf:;ekarang ananda tercinta pun sudah
meninggalkan hamba, maka semestinya, hamba pun sudah-
mati, namun kenyataannya hamba masih hidup dantidak mem~

punYa-t apapun lagi yang cukup berharga di dunia ini. 0 suami-

ku kusuma bangsa ! Apabila maharaja Yudhishthira memper-
kenankan, hamba segera akan menyusul paduka suamiku,
dengan jalan menelan racun yang paling berbisa, atau hamba
akan menceburkan diri ke dalam api yang berkobar ! Wahai
junjunganku, sulit hamba memikirkan jalan terbaik untuk
mengakhiri hidup hamba ini, meskipun sekarang hambasudah
tidak bersuami dan juga sudah tidak menimang anak, wahai,

173

mengapa jantungku ini tidak pecah dan hancur dengan sen-
dirinya ?" Semua yang menyaksikan keadaan Uttara itu merasa
terharu dan sangat sedih. Air mata bagaikan banjir, suara yang
terdengar hanyalah sedu-sedan ! Selanjutnya Uttara berkata :
"0 anakku, bangunlah ! Lihatlah betapa nenekmu menderita
karena sedih ! Nenekmu itu telah mandi dengan air mata !
Janganlah kau biarkan nenekmu itu tersiksa karena kesedihan,
tenggelam dalam lautan dukacita ! Lihatlah wanita termulia
dari Panchala, dan putri Sattata yang tidak berdaya ! Lihatlah
diriku ini, nak ! Ibumu ini tak kuasa lagi dihimpit oleh dukacita,
meronta-ronta bagaikan seekor rusa tak berdaya terkena pa-
nah pemburu! Bangunlah 0 anakk!J, pandangilah wajah pe-
nguasa Tiga Dunia yang sudah berkenan hadir disini! Beliau
itu penuh kebijaksanaan, sinar matanya lembut memancarkan
kasih sayang bagaikj,n kembang teratai!" Setelah Uttara meng-
ucapkan kata-kata itu, Kesaw& lalu menyentuh air (melakukan
"achamana") dan mulai menghisap keluar sisa-sisa kekuatan
senjata Brahma itu. Pahlawan perkasa berdarah Dasarha yang
kecemerlangan dan kebesarannya kekal itu lalu mengucapkan
kata-kata yang pengaruh getarannya menembus seluruh alam
semesta : "0 Uttara! Aku tidak pernah mengucapkan kata-kata
tidak benar! Sekarang akan terbukti bahwa semua ucapan-
ucapanku benar adanya! Aku akan menghid~pkan anak ini
kembali, dengan disaksikan oleh seluruh mahluk yang sudah
diciptakan! Aku ini, barang sekalipun tidak pernah mengucap-
kan kata-kata tidak benar, meskipun dalam senda-gurau sekali-
pun! Aku ini tidak pernah menghindarkan diri dari kesulitan,
tak pernah mundur dari pertempuran! Dengan berkah yang ku-

dapatkan dari hasil perbuatannya itu, baiklah anak ini dihidup-
kan kembali ! Aku ini selamanya membela kebenaran dan ke-

adilan, dan selalu menunjukkan kasih sayang mendalam ke-
Qada para Brahmana yang i1muwan dan berbudi luhur itu.
Semoga dari sifat-sifatku itu, cukup berkah dan pahala terkum-
pul guna menghidupkan kembali putra Abhimanyu ini! Dianta-
ra aku dan sahabatku Wijaya, tak pernah terjadi barang
sekalipun kesalahan pahaman! Ucapanku ini adalah kebenar-
an, yang semoga hiduplah anak ini berkat kebenaran ucapan-
ku itu! Kebenaran dan keadilan selamanya merasuk ke dalam
diriku ini! Baiklah sekarang, kekuatannya itu menghidupkan
anak Abhimanyu yang sudah tidak bernyawa ini. Biarlah ke-
benaran ucapanku ini dapat menghidupkan anak yang sudah
meninggal ini hari ini!"

Dan ajaib! Setelah Wasudewa selesai mengucapkan kata-
katanya itu, yang memang seluruhnya berdasarkan kebenaran,
bayi itu mulai bergerak dan bernafas, dan gerakan-gerakannya
itu semakin jelas dan kuatL

174

X Dan seketika, 0 Janamejaya, kamar peraduan itu menjadi
terang-benderang! Cahaya itu adalah kekuatan yang dipancar-
kan oleh ayahanda paduka, raja Parikshit yang masih bayi itu.
Semua Raksasa yang hadir di sana untuk menyaksikan keajatb-
an in i, gemetar ketakutan dan mel}i.ngg-a1kan ruangan itu, bah-
kan banyak pula yang menemui kehancurannya di sana!

Di angkasa, terdengar suara bergema dan mengatakan :
"Bagus, bagus sekali, 0 Kesawa !" Dan pada saat itu, kekuatan
senjata Brahman itu lalu kembali ke asalnya, yaitu kepada pe-

anguasa seluruh alam semesta! Ayahanda paduka itu, Jana-

mejaya, telah menerima nafas kehidupannya kembali Bayi itu
bergerak-gerak sesuai dengan kekuatannya. Dan semua wa-
nita Bharata berseru kegirangan. Atas permintaan Gowinda,
para Brahmana menguncarkan bait-bait suci Wed a-wed a
untuk mengucap syukur dan memberi berkth. Semua wanita
m u Iia itu berseri-seri wajahnya dan memuja Janardhana. Kunti,
Draupadi, Subhadra dan Uttara semuanya menarik nafas lega
bagaikan penumpang-penumpang sebuah kapal yang pecah
dilanda topan, namun berhasil mendapatkan perahu penolong
dan selamat tiba di pantai ! Demikian besar kegembiraan itu !
Para seniman, pematn-pemain olah raga dan orang-orang pan-
dai yang berada di lingkungan istana, memuji-m~ji syukur dan
bersujud di hadapan Janardhana dan mengucapkan doa-doa
selamat kepada bangsa Kuru.

Setelah tiba saatnya, Uttara lalu bangkit dari tempat tidur,
menimang bayinya dan menghaturkan sembah kehadapan Pe-
nguasa Utama dari bangsa Yadu. Krishna sendiri, tak terlukis-
kan lagi kegembiraannya. Untuk menyatakan kegembiraannya
itu, anak itu diberinya hadiah sebuah batu permata yang tak ter-
nilai harganya di dunia ini! Demikian juga hadiah-hadiah di-
berikan oleh para pembesar bangsa Wrishni yang mengiring-
kan Krishna ke istana bangsa Kuru itu. Hadiah-hadiah itu sung-
suh luar biasa banyaknya ! Janardhana itulah yang memberi-
kan nama kepada ayahnda paduka itu. Pada waktu itu 0 Jana-
mejaya, Krishna yang sakti dan penuh kebenaran ItU berkata se-
bagai berikut : "Karena anak Abhimanyu ini terlahir pada waktu
bangsa Kuru ini hampir saja musnah, maka baiklah anak ini KU-
beri nama Pariksit!" Demikian itulah ucapan Krishna.

Ayah paduka itu tumbuh dengan sehat, membuat siapapun
yang memandanginya menjadi senang dan berbahagia. Tepa~
pada waktu ayahanda paduka itu telah berusia satu bulan, para
Pandawa kembali ke ibukota kerajaan dengan membawa harta
kekayaan yang luar biasa banyaknya.

175

LXXI Setelah didengar laporan bahwa para Pandawa itu sudah
mendekati ibukota, para pembesar bangsa Wrishni segera
menge~u-elukan mereka ke luar istana. Penduduk kota sudah
menghiasi ibukota kerajaan itu dengan seindah-indahnya.
Demikian juga semua rumah penduduk sudah dihiasi oleh
penghuninya masing-masing. Widura memerintahkan agar di-
lakukan pemujaan kehadapan Dewa-dewa guna menyatakan
rasa syukur dan pemujaan itu dilakukan di dalam kuil keluarga
masing-masing. Jalan raya di kota kerajaan itu dihiasi dengan
bunga-bunga beraneka warna. Kota itu digetarkan oleh suasa-
na kemeriahan dan orang ramai menimbulkan suara gemuruh
lembut bagaikan debur ombak yang didengarkan dari kejauh-
an. Penari dan penyanyi menjadika"n ibukota itu lebih bersemarak
lagi sehingga dapat digambarkan seperti tempat kediaman
Waisrawana di negeri A'lengka. Para seniman dengan disertai
oleh wanita-wanita yang cantik-cantik berkumpul di tempat-
tempat sepi di sudut-sudut kota. Penjor-penjor dan umbul-
umbul meliuk-liuk ditiup angin yang berhembus dari selatan ke
utara atau sebaliknya, sesuai dengan arah terbentangnya ibu-
kota kerajaan itu. Hari itu, secara resmi diumumkan sebagai
suatu hari besar yang patut dirayakan dengan pesta dan ber-

suka-ria, karena perjalanan para Pandawa itu telah berhasil
dengan gemilang!.

Wasudewa dengan diiringkan oleh para pembesar negeri
lalu keluar dari istana untuk menge~u-elukankedatangan para
Pandawa. Di suatu tempat di luar kota kedua rombongan ber-
temu dan bergabung. Setelah melakukan upacara sebagai-
mana mestinya, kedua rombongan itu bersama-sama bergerak
kembali memasuki pintu gerbang kota kerajaan Hastina. Ter-
dengarlah gemuruh dan gemerincing kereta-kereta membelah
angkasa. Kelima orang putra Pandu didampingi oleh sahabat-
sahabat dan menteri-menterinya, dengan wajah berseri-seri
memasuki ibukota. Setibanya di istana, tumpukan harta keka-
yaan yang buar biasa banyaknya itu ditempatkan di dalam r:u-
ang perbendaharaan istana. Sedangkan para Pandawa lang-
sung menghadap kepada raja Dhritarashtra, bersujud dihadap-
annya dan menyebutkan nama masing-masing. Selanjutnya
bersujud di hadapan Gandhari, putri raja Suwala, kemudian
kepada Kunti dan membungkuk di hadapan Widura, paman-
nya, serta memberi salam kepada Yuyutsu, seorang putra Dh-ri-
tarashtra yang lahir dari salah seorang istri berkasta Waisya.
Terakhir, mereka sendirilah yang dihormati serta disalami oleh
sanak keluarga dan kaum kerabatnya semua. Dalam perjumpa-
an kembali itulah Panca Pandawa mendengar kejadian sedih

176

y,ang telah berubah menjadi suatu kegembiraan, yaitu perfS-
tlwa kelahiran bayi putra Abhimanyu itu. Setelah mengetahui
ap~ yan~ terjadi, kelima saudara Pandawa itu menjatuhkan diri,
sUJud d.' hadapan Krishna putra Dewaki yang memang sangat
patut dlsembah dan dipuja-puja itu.

Berselang beberapa hari setelah itu, pertapa nan sakti
Wyasa, putra Satyawati telah datang pula ke istana kerajaan
Hastina. Semua ksatria bangsa Kuru menyambutnya dan meng-
haturkan sembah kehadapan pertapa yang luar biasa itu. Perta-
pa yang berpengetahuan cemerlang tiada duanya itu juga di-
sembah oleh pahlawan terkemuka dari bangsa Wrishni dan An-
d hakasa. Setelah bercakap-cakap beberapa saat lamanya me-
ngenai ~beberapa hal, putra Dharma, Yudhishthira lalu menujukan
kata-kata berikut kehadapan pertapa suci Wyasa : "Semua harta ke-
kayaan yang telah kami dapatkan berkat karunia ~aduka yang
suci akan hamba pergunakan menyelenggarakan upacara be-
sar yang dinamakan Kurban Kuda atau Aswamedha itu. Wahai
pertapa mulia junjungan kami, hamba mohon perkenan paduka.
Tidak satupun di antara kami di sini yang tidak sepakat menge-
nai hal ini, demikian pun Krishna 0 Rishi!" Wyasa segera men-
jawab : "Baiklah 0 Raja! Laksanakanlah segera apa yang patut
dilakukan! Selenggarakan pemujaan terhadap dewata dengan
semestinya, selenggarakan Upacara Kurban Kuda ,dan beri-
kan sedekah atau dana. punia sebanyak-banyaknya. Upacara
Ku rban Kuda itu merupakan salah satu dari antara upacara~
upacara yang dapat membersihkan segala bentuk dosa! Tidak
dapat diragukan lagi, setelah memuja para Dewa dengan me-
langsungkan upacara itu, semua dosa-dosa kalian yang diaki-
batkan oleh pertentangan dan peperangan sesama saudara itu
akan dapat dihapuskan!" Pada saat itu juga Yudhishthira lalu
mengukuhkan niatnya untuk menyelenggarakan upacara itu.

Semua orang mulai sibuk mempersiapkan segala sesuatu
untuk kepentingan penyelenggaraan upacara Aswamedha itu.
Setelah melaporkan semua persiapan yang sudah dilakukan ke-
hadapan Rishi Wyasa, Yudhishthira lalu menghadap kepada
Wasudewa dan menyatakan sebagai berikut : "0 putra Dewaki
manusia utama nan budiman! Karena telah melahirkan diri pa-
duka, maka Dewaki menjadi seorang ibu yang paling beruntung
di antara kaum ibu semuanya! 0 paduka yang memiliki kecemer-
langan kekal! Saat ini hamba tunduk di hadapan paduka untuk me-
ngajukan suatu permohonan yang semoga paduka sudi memper-
kenannya. 0 paduka penyejuk hati bangsa Kuru, berbagai ke-
senangan sudah kami dapatkan dan nikmati berkat kasih sayang
paduka. Seluruh dunia ini sudah tunduk di bawah kekuasaan pa-

177

duka berkat kecerdasan dan keperwiraan paduka. Berdasarkan
kenyataan itu, maka hari ini hamba mohon, sudilah kiranya pa-
duka menyucikan diri paduka dan untuk se:1anjutnya memimpin
upacara yang hamba selenggarakan ini. Paduka adalah jun-
jU'ngan kami t~rtinggi dan juga Guru kami. Apabila paduka sen-
diri berkenan memimpi penyelenggaraan upacara it~, pastilah
semua dosa hamba akan terlebur seluruhnya! Karena paduka
sendiri yang menjiwai upacara itu, dengan perkataan lain, pa-
duka merupakan Kurban itu sendiri! Dan paduka tidak termus-
nahkan! Paduka merupakan perwujudan dari semuanya yang
ada di alam semesta ini! Paduka Kebenaran dan Keadilan itu!
Paduka Prajapati! Paduka tujuan semuamahluk! Inilah yang da-
pat harnba simpulkan secara pasti! Terhadap permohonan dan
pernyataan Yudhishthira itu Wasudewa menjawab : "Wahai
adindaku pahlawai perkasa, itulah ucapan adinda! Sebenarnya
adinda sendiri yang menjadi cita-cita dan tujuan semua mahluk !.
Itulah keyakinanku yang sudah pastil Dari antara sekian banyak
pahlawan bangsa Kuru, hari ini adinda memancarkan kecemer-
langan yang luar biasa! Itu, berkat kebenaran yang merasuk ke
dalam diri paduka adinda. Semua yang lain menjadi suram di-
dampingi oleh kecemerlangan adinda itu. Adinda sebenarnya
raja kami, adinda atasan kami semua! 0 Raja, dengan persetu-
juan melimpah dari DIRlku, laksanakanlah pemujaan kehadap-
an para Dewa dengan menyelenggarakan upacara seperti 5U-
dah disarankan semula 0 Bharata! Perintahkanlah apa yang
hendak paduka lakukan! Dengan sesungguhnya aku berjanji,
bahw~ aku akan melakukan semuanya apapun juga yang adtn-
da selaku raja perintahkan kepada diriku! Bhimasena, Arjuna
dan kedua putra Madrawati akan mengiringkan paduka berkl:Jr-
ban apabila paduka 0 Raja berkurban!"

LXXII. Setelah mendapat pengukuhan dan restu dari Krishna, Yu-
dhishthira putra Dharma kembali menghadap pertapa Wyasa
dan menyatakan : "Paduka Maharishi, apabila saatnya sudah
tiba, mohon disucikanlah hamba, karena padukalah yang pa-
ling memahami seluk-beluk upacara tersebut. Upacara yang
akan hamba selenggarakan ini seluruhnya tergantung dari ke-
bijaksanaan paduka!" Wyasa menjawab ; "0 putra Kunti, Paila,
Yajnawalkya dan aku sendiri akan menyelesaikan upacara itu
pada saatnya. Upacara penyucian paduka itu akan diseleng-
garakan pada hari purnama bulan Chaitra Perintahkanlah agar
semua, alat dan perkengkapan upacara dipersiapkan dengan
semestinya. Perintahkan ahli kuda Suta, bersama-sama de-
ngan para Brahmana yang juga memahami ilmu tentang kuda,

178

memilih kuda terbaik agar upacara itu terselenggara dengan
sempurna! Sesuai dengan yang digariskan dalam Weda-weda,
biarlah kuda itu dilepas dan mengembara ke manapun menu-
rut kehendaknya, menjelajah daratan, menyeberangi lautan,
dan membuktikan kebesaran serta kejayaanmu 0 Raja!" Yu-
dhishthira menjawab : "Semoga demikianlah hendaknya!"

Selanjutnya Yudhishthira lalu melakukan apapun saja yang
dinasihatkan oleh Maharishi pemuja Brahman itu. Segala per-
lengkapan yang dibutuhkan sudah dikumpulkan. Selama kesi-
bukan itu Yudhishthira membuktikan dirinya selaku raja putra
Dharma yang memiliki kesadaran bathin tak terduga kedalaman
nya! Setelah siap seluruhnya, bagindapun melaporkan semua-
nya kehadapan Krishna Dwaipayana Wyasa, yang segera men-
jawab dengan ucapan sebagai berikut ini : "Kamipun sudah
siap untuk menyucikan cucunda paduka deng'n upacara! Siap-
kan benda-benda untuk upacara dan biarlah seluruh benda-
benda seperti Sphya, Kurcha dan yang latn-Iain itu dibuat dari
emas seluruhnya! (Sphya, pedang-pedangan yang biasanya ter-
buat dari kayu; Kurcha, segenggam rumput ilalang). Lepaskan
kuda pilihan itu hari ini, biarkan kuda itu mengembara di atas
bumi, sebagaimana ditentukan dalam Kitab Suci. Biarlah kuda
itu tetap dijaga dan di awasi dalam pengembaraannya itu!"

Raja menjawab : "Padukalah 0 pendeta utama, yang mem-
persiapkan upacara melepaskan kuda itu, dan paduka tentu-.
kanlah selanjutnya siapa yang pantas dan mampu menjaga
kuda tersebut selama pengembaraannya mengelilingi dunia!"

Setelah berfikir sejenak, Krishna Dwaipayana lalu menja-
wab: "Aku memilih adik paduka yang lahir setelah Bhimasena,
yang dikenal dengan julukan Jishnu itu, yang sudah tersohor
kesabaran, ketangguhan serta keperwiraannya menghadapi
musuh untuk menjaga kuda itu. Penakluk raksasa Niwataka-
wacha itu cukup kemampuannya untuk menaklukkan seluruh
Dunia. Dialah yang menguasai semua senjata dewata dan per-
wujudan tubuhnyapun tidak berbeda dengan perwujudan tu-
buh dewa-dewa, demikian juga kekuatan serta ketahanannya!

Busur serta anak-anak panah yang dipegangnya itu memang
berasal dari alam kedewatan. Dialah yang pantas menjaga kuda
yang akan dijadikan kurban itu. Dan dia itu sangat mendalam
pengertiannya tentang hal-hal keagamaan serta kekayaan. Dia juga
menguasai semua cabang ilmu pengetahuan. Dia itu memang me-
menuhi persyaratan yang sudahditentukanoleh Kitab Suci. Dia ha-
rus mengikuti serta menjaga kuda yang mengembara mencari ma-
kanannya sekehendak hati itu. Pahlawan itu, yang kulitnya kehi-
taman dan sinar matanya cerah dan lembut bagaikan kembang

179

teratai, ayah dari Abhimanyu, dia itulah yang patut menjaga
kuda kurba~ itu. Memang, Bhimasenapun memiliki kekuatan
yang luar biasa hebatnya. Sahkan sebenarnya, putra Kunti itu
mempunyai kekuatan yang tidak ada batasnya! Tetapi biarlah ia·
menjaga kerajaan ini. la mampu mempertahankan kerajaan,

apalagi dibantu oleh adiknya Nakula! Dengan kecerdasan Luar
biasa yang dimiliki oleh Sahadewa, ia patut bertugas menyam-
but para tamu yang datang ke ibukota kerajaan paduka cucun-
da ini!"

Yudhishthira menyetujui pembagian tugas yang disaran-
kan itu dan memastikan Phalguna untuk ditugaskan menjaga
kuda yang akan dilepaskan itu. Kepada Arjuna, raja memedn-
tahkan : "Arjuna, kuda itu harus dijaga dan dilindungi! Hanya

adindalah yang sekiranya mampumengemban tugas itu. Siapa-
pun juga dari antara raja-raja di seluruh etmia, yang mencoba mere-
but kuda dan berani maju menghadapi adinda, OKsatria budiman,
usahakanlah agartidak terjadi pertumpahan darah! Setelah mereka
mengakui keunggulan adinda dan kebesaran kerajaan kita, un-
danglah mereka untuk menghadiri upacara yang kanda seleng-
garakan ini! Demikian adindaku, maju terus, namun ingat, ja-
ngan sampai menimbulkan permusuhan! Dengan jiwa ksatria,
binalah persahabatan dengan raja-raja itU!" Setelah mengu-
/' capkan kata-kata berupa pesan itu kepada Saryasachin, adik-
nya itu, Yudhishthira lalu memerintahkan kepada Shima dan
Nakula untuk menjaga dan melindungi kerajaan. Atas perkenan
raja Dhritarashtra, Yudhishthira juga menugaskan Sahadewa
untuk menyambut serta meladenl tamu-tamu yang datang
memenuhi undangan.

LXXIII. Pada waktu upacara penyucian raja Yudhishthira itu, se-

mua Ritwija yang paling terkemuka mengupacarakan dan me-

nyucikan raja sesuai 'dengan tujuan penyelenggaraan upacara

Kurban Kuda. Pada waktu raja dan juga binatang-binatang yang

akan dikurbankan selesai disucikan, Yudhishthira lalu duduk

di tengah-tengah para Ritwija, dan baginda itu nampak cemer-

lang gilang-gemilang! Kuda pilihan untuk upacara pokok itu di-

lepaskan dengan diiringi ucapan doa-doa dan mentFa-mentra

yang diuncurkan qleh Rishi Wyasa sendiri. Raja Yudhishthira,

setelah menyelesaikan upacara penyuciannya, nampak cemer-

lang bagaikan api menyala-nyala, mengenakan kalung bunga

emas indah berkilauan. Baju bagian atas terbuat dari kulit rusa

hitam. berkain sutra warna merah, memegang tongkat, kelihat-

annya. raja putra Dharma itu bagaikan Prajapati, duduk bersila

di atas balai pemujaan. Para Ritwija mengenakan jubah sefa-

gam. Arjuna, pahlawan perkasa yang mendapat tugas paling

berat, nampak gemerlapan bagaikan api berkobar-kobar! la 5U-

180

--=-- s'ap menaiki keretanya yang ditarik kuda-kuda putih untuk

gikuti serta menjaga kuda kurban yang berbulu hitam pe-
Sebelum naik ke dalam kereta, Arjuna mencoba menarik
~s r panah kadewatan yang disebut Gandhiwa itu. Tangannya
ah mengenakan sarung kulit iguana. la sudah siap dan pe-
r _saannya gemuruh gembira. Rakyat, di Hastinapura berjejal-
s"al di tempat itu ingin menyaksikan Dhananjaya. pahlawan
sar bangsa Kuru yang segera akan berangkat mengembara
e sekeliling dunia. Manusia berjejal-jejal, semua ingin menyak-
sikan kuda yang dilepasdan pahlawan perkasa yang mengikuti-
ya. Karena berdesak-desakan itu, suasana jadi panas bagaikan
bara. Lautan manusia terbentang sampai ke batas bumi dan ge-
taran suaranya bergema memenuhi angkasa. Mereka yang
mendapat tempat lebih baik dan melihat putra Kunti dan kuda
hitam yang hebat itu mulai bersorak dan berteriak-teriak : "0
itu putra Kunti! Lihat! Itulah kuda itu! Sunggth luar biasa! Be-
nar, itulah dia pendekar bangsa Kuru yang kekuatan tangan-
nya tak terkalahkan! Dia memegang senjata panah yang
dahsyat itu!" Demikian itu terdengar teriakan yang sempat di-
tangkap oleh telinga Jishnu. Beberapa dari antara mereka yang
berdesak-desakan itu sempat meneriakkan doa-doa serta ucap-
an selamat, misalnya : "Semoga paduka selamat dalam per-
jalanan, kembali tak kurang suatu apa, 0 Bharata!" Yang lain,
yang kurang beruntung berteriak-teriak pula: "Mana! Manakah
Arjuna itu? Aku tidak melihatnya! 0 aku hanya melihat ujung
panahnya! Ya! Itulah Gandhiwa yang berdesing nyaring itu!
Wahai, selamatlah paduka! Semoga tidak ada bencana dalam
perjalanan. Semoga paduka tidak mengenal takut! Kita pasti
akan sempat melihatnya nanti setelah beliau kembali! Kita ya-
kin, dia pasti kembali dengan selamat! Arjuna mendengar te-
riakan-teriakan pemujaan terhadap dirinya itu, diserukan baik
oleh laki-Iaki maupun wanita. Seorang Brahmana, murid pen-
deta Yajnawalkya yang sudah memahami sedalam-dalamnya
tentang Weda-weda, mendampingi Partha, untuk melakukan
upacara-upacara agar perlalanan itu selamat. Atas perintah Yu-
dhishthira, banyak juga para Brahmana dan Kshatriya yang be-
rangkat mengiringkan perjalanan Arjuna. Kuda yang dilepas itu

sudah mulai bergerak sekehendak hatinya. Pertama-tama, di
dalam wilayah kekuasaan Pandawa yang sudah direbut kembali
dengan kekuatan senjata. Dalam pengembaraan itu, memang
akhirnya banyak sekali pertarungan senjata yang dilakukan
oleh Arjuna melawan raja-raja asing yang menentang kekuasa-
an Pandawa. Tentang pertempuran-pertempuran itu akan dice-
riterakan nanti. Kuda itu mengembara ke seluruh penjuru du-
nia, Pertama menjelajahi wilayah bagian utara, lalu membelok
ke timur. Satu demi satu kerajaan asing dilewati dan ditakluk-

181

kan. Kuda itu berjalan perlahan, diikuti oleh Arjuna.
Sebenarnya banyak sekaliraja-raja asing yang masih me-

naruh dendam kepada Arjuna, karena sanak-saudaranya tewas
bertempur dengan Arjuna di Kurukshetra. Oi antara mereka
adcHah raja-raja Kirata, Yawana, Mlechcha, dan banyak lagi raja-

rala bangsa Arya yang mem\\\k\ persenlataan dan pasukan sa-

ngat kuat mencoba kekuatan dan bertanding dengan Arjuna.

LXXIV. Beberapa dari ant~ra pertempuran-pertempuran yang pa-

tutdicatat karena memang merupakan-yang seru dan dahsyat,

pertama-tama adalah ketika Arjuna berhadapan dengan anak

cucLJ Trigatra yangsejak semula memang sudah saling bermu-

suhan. Para ksatria Trigatra ini terkenal dengan kemahirannya

menggunakan kereta. Setelah mengetahui bahwa kuda kurban

yang dijaga oleh Arjuna memasuki wilayah ~erajaan·nya, mef'e-

kapun siaga, mengenakan pakaian perang, bersenjata lengkap

danmengepung Arjuna. Sebahagian pasukan Trigatra itu de-

ngan kereta-kereta yang posisinya disusun berlapis-Iapis, ber-

senjata busur dan panah, mengepung kuda kurban dengan tu-

juan menangkapnya. Dengan tenang dan sabar Arjuna meng-

hadapi mereka. Arjuna mengenakan busana lengkap, cemer-

lang berkilauan, melambangkan missinya sehubungan dengan

Jpacara yang dilakykan. la mengucapkan kata-kata man is dan

diplomatis untuk mencegah agar tidak terjadi permusuhan.

Akan tetapi pahlawan-pahlawan Trigatra tidak menghiraukan

ucapan-ucapan Arjuna, bahkan langsung menyerang dengan

senjata. Tenty saja Arjuna tidak mungkin lagi tinggal diam. la-

.pun bergerak mengeka dan menangkis serangan yang dilancarkan

secara bertubi-tul)"i, dilakukan oleh orang-orang yang sedang diku-

asai kegelapan dan nafsu! Arjuna bergerak Iincah mel~putkan diri

sambil tersenyum-senyum dan berkata : "Tahan duiu senJata,

tuan-tuan! Cara tuan-tuan ini tidak benar! Kehidupan ini sangat

berharga! Janganlah karunia yang baik itu disia-siakan per-

cuma!" Sebenarnyalah pada waktu Arjuna akan berangkat, Yu-

dhishthira dengan tegas memperingatkan agar ia tidak sampai

membunuh para Kshatriya yang sanak saudaranya sudah tewas

pula dalam pertempuran besar di Kurukshetra. Mengingat tu-

gas yang dijalankan kali ini, dengan sangat Arjuna meminta

kepada kaum Trigatra agar mereka bersabar dan menahan diri.
T~tapi mereka itu tidak perdul.i. Pasukan ito menyeran~ terus

dengan dahsyatnya dengan tUJuan membunDh! Karena ItU ter-

paksa Arjunamenghadapi Sury~warman, raja bangsa Trigatra.-

itu, dengan menghujankan ratusan anak panah guna menang-

kis senjata mereka. Pasukan musuh itu telah tersebar di se-

genap penjuru, memenuhi medan dengan kereta-keretanya

182

yang kU,at dan bersenjata lengkap. Suryawarman telah mem-
perlihatkan kehebatan ilmu panahnya. Dengan kecepatan luar
biasa ia telah menghujankan ratusan anak panah lurus-Iurus
menuju Dhananjaya. Arjuna dikeroyok dari segala jurusan. Pa-
nah-panah tajam berhamburan menuju dirinya dengan tujuan
satu,membunuh! Tetapi senjata Gandhiwa bukanlah senjata bi-
asa. Dengan ribuan anak panah yang meluncur dari senjata itu,
ditangkisnya kabut panah yang meluncur dari berbagai jurusan
itu. Ketuwarman, adik yang sangat perkasa "dari Suryawarman,
memekik menyeramkan sambil menyerbu dengan ganas untuk
membela kakaknya. Melihat serangan tiba-tiba dan dahsyat itu,
putra Pandu terpaksa mengarahkan senjatanya kearah penye-
rang itu dan melepaskan serentetan anak_ panah. Ketuwarman
terjungkal dan tewas! Melihat Ketuwarman tewas, Dhatawar-
man, dengan mengendarai keretanya m~_n'yerbu mctu. Senjata
yang dipasang pada keretanya memuntahkan hujan panah yang
sungguh tidak tercela. Benar-benarlah suatu hujan panah yang
tidak ada saat putusnya! Melihat cara anak muda itu mematn-
kan senjatanya, Arjuna ,kagu,m. Guda kesa putra Indra itu tidak
melihat bagaimana Dhritawarman mengambil panah-panah itu,
memasang pada busurnya dan menembakkannya! la hanya me-
lihat hujan panahseolah-olah tercurah dari langit! Untuk bebe-
rapa saat Arjuna terpesona dan dalam hatinya memuji kepah-
lawanan serta ketrampilan Dhritawarman yang muda dan per-
kasa itu. Pahlawan bangsa Kuru itu masih tersenyum-senyum
menghadapinya, sebaliknya anak muda itu menerjang meliuk-
liuk dengan bengis bagaikan seekor ular yang sedang marah.

Arjunapun sedikit gembira karena serangan lawannya yang
dahsyat itu tidak sampai menyentuh dirinya. Sampai sedemiki-
an jauh, Partha memang tidak menghadapi lawannya dengan
sungguh-sungguh. Dhananjaya tidak ingin membunuh lawan-
nya yang hebat ini. Namun [)t,ritawarman terus-menerus meng-
hujankan panahnya kepada iJhananjaya. Sekejap lengah, tidak
dapat dielakkan lagi, sebatang anak panah menancap dalam-
dalam menembus tangan yang memegang Gandhiwa, itu. Ar-
juna kaget, tangannya gemetar, genggamannya melemah dan
panah Gandhiwa itu terlepas dari tangannya.l3usur panah yang
tergeletak di tanah itu jelas terlihat bagaikan bianglala. busur
Indra yang melengkung di langit apabila hujan ringan turun darr~
lang it. Ketika busur yang dipegang oleh Arjuna itu -terlepas,
Dhritawarman tertawa terbahak-bahak dan mengejek Arjuna
dengan kata-kata yang menyakitkan hati. Timbul kegusaran Ar-
juna. Diusap darah yang meleleh di tangannya, diangkat kem-
bali busurnya dan meluncurlah ribuan anak panah menyambar-
nyambar dengan dahsyatnya. Terjadilah kegaduhan dan kepa-

183

nikan di pihak lawan. Mereka yang sempat melihat de'"
las kehebatan panah Arjuna itu bersorak-sorai kagu
benar-benar marah. la berdiri bengis bagaikan Yamac::.et-01~
Melihat keadaan menjadi sangat berbahaya semua pas...~_
gatra menyerbu dari segala penjuru mencoba melindu
tawarman. Arjuna menjadi semakin marah karena serb
Segera diperintahkan delapan belas orang pengawal
maju menyerbu. Panah-panah pasukan pengawal ini tid

lah hebatnya. Ujung-ujungnya terbuat dari besi keras da r-loaI_...,

pakan duplikat dari panah Indra itu. Pasukan Trigatra·Kac~'
melarikan diri. Dhananjaya menghujani mereka yang
rikan diri itu sambil tertawa, Prajurit-prajurit kereta T '_'"

melarikan diri ke segala jurusan. Tidak berani menyerang
bali! Akhirnya terdengar mereka berseru, ditujukan ke02C4
pahlawan penghancur p8jukan Samsaptaka di medan K
hetra : "Kami menyerah! Perintahlah \ kami 0 Partha! I<aJ
akan jalankan semua perintah paduka 0 Pahlawan bangsa
ru!" Mendengar seruan penyerahan itu, Ohananjaya lalu me -
jawab : "Selamatkanlah jiwamu 0 raja, dan tunduklah kepad
kekuasaan kami!"

LXXV. Kuda yang dilepaskan itu melanjutkan pengembaraannya

ke wilayah kerajaan Pragjyotisha. Oi kerajaan itu. putra Bhaga-

datta yang terkenal gemar berperang dan memiliki kekuata

hebat itu maju ke lapangan untuk mencoba menghalangi tugas

Arjuna. Raja Wajradatta hendak menangkap kuda itu dan ber-

niat bert'anding dengan Arjuna. Putra Bhagadatta itu berhasil

menangkap kuda kurban itu, namun pada saat ia akan kembali

ke istana Arjuna yang mementang Gandhiwa langsung mener-

jang menghadapi musuhnya. Karena sambaran panah yang

mendesing nyaring itu, putra Bhagadatta melepaskan kuda itu

kembali dan melesat berkelit mengelakkan terjangan Partha. la

melarikan diri ke istana dan tak lama kemudian iapun kembali

dengan mengenakan pakaian perang dan mengendarai gajah

kerajaan yang sudah terlatih. Raja itu bertudung payung putih

dan berkipas ekor Yak yang putih pula warnanya. Dengan jiwa

kekanak-kanakan dan kesombongan ia memghadapi Arjuna.
menantang-nantang bertanding. Bahkan, raja muda yang som-

bong itu tidak menunggu lagi jawaban Arjuna. tetapi langsung

menerjang dengan gajahnya ya.ng besar bagaikan gunung itu.

Gajah itu sendiri memang sangat bersemangat, mulutnya ber-

liur menetes-netes tanda kegarangannya. Lebth-Iebih, binatang

itu sudah dilatih dalam perkelahian untuk menghadapi musuh-
mus~h, khususnya menghadapi sesama jenisnya. Dan di atas

punggungnya telah dipasang senjata-senjata baik untuk me-

nyerang maupun untuk menangkis. Gajah itu liar tak terkenda-

184

likan, maunya menerjang saja. Lebth-Iebih, iapun dipacu se-
mangatnya oleh pengendaranya dengan kaitan besi. Gajah itu
benar-benar ganas, melaju menerjang bagaikan hendak mem-
belah angkasa! Melihat gajah itu menyerang dengan dahsyat-
nya, Dhananjaya yang hanya berdiri di atas tanah menjadi sa-
ngat marah. la balas menyerang raja yang duduk dengan cong-
kaknya di atas punggung gajah gila itu. Dengan penuh keben-
cian Wajradatta menghujankan panah-panah berujung lebar
dan tajam. Panah-panah itu memancarkan hawa panas seperti
api. jumlahnyapun ratusan susul-menyusul bagaikan segerom-
bolan belalang. Akan tetapi Arjuna sudah siap, dengan sigapnya
panah-panah lawannya itu ditangkis dengan panan-panah pula,
hingga semuanya berjatuhan di atas tanah. terpotong ber-
keping-keping. Arjuna menghantam panah-panah itu di udara.
la selalu mengarahkan panahn~ ke atas. Putra Bhagadatta
menjadi sangat marah.la membidikkan panahnya langsung me-
nuju arah Arjuna, melepaskan panah beruntun hingga semua pa-
nahnya membentuk satu garis lurus seperti tombak yanq sanaat
panjang. Menyadari adanya serangan yang dahsyat dan sukar
di elakkan ini,"Arjuna sangat marah. la berkelebat menghindar-
dan dari posisi yang baik ia menghantam putra Bhagadatta itu
dengan panah bersayap keemasan. Wajradatta yang memang
perkasa itu terkena sambaran batang panah Arjuna. terjungkal
jatuh dan rebah di tanah. la mengeluh, tetapi tidak pingsan, dan
segera melompat kembali ke atas punggung gajahnya yang be-
sar dan ganas itu dan segera panah-panahnya telah berterbang-
an kembali ke arah Arjuna. la bertempur dengan penuh nafsu
Ingin segera memenangkan pertarungan itu. Arjuna kini tidak
memikirkan pengampunan lagi. Dengan Cepat ia mengirim se-
jumlah anak panah yang melesat hebat sekali, cemerlang bagai-
kan api berkobar. namun yang diserang adalah gajah tung-
gangan Wajradatta itu. Gajah itu mengeluarkan p~kikan nyaring,
darah menyembur ke luar dari luka-Iuka yang banyak jumlah-
nya. Dari jauh kelihatan seperti air mancuryang menyemburkan
air berwarna merah!

LXXVI. Wajradatta itu memang hebat. la tangguh luar biasa. Per-

tandjngan sudah berlangsung selama tiga hari. Seru sekali,

hingga yang menyaksikan sungguh merasa ngeri! Memang

pertarungan itu tak ubahnya seperti perkelahiar1 antara Indra

melawan Writra.

Pada hari yang keempat, Wajradatta kembali menghadapi

Arjuna. sambil tertawa terbahak-bahak dengan sombongnya ia

berseru : "Hai Arjuna, tunggulah saat ini! Hari ini engkau akan

menemui ajal di tanganku! Hanya dengan membunuh engkau

/ maka upacara penyucian ayahku dapat disempurnakan. Ayah-

185

ku raja Bhagadatta sudah tua, dan adalah sahabat ayahmu ~n­
dra. Kamu membunuh ayahku itu di Medan pertempuran hanya
karena ayah itu sudah tva! Tetapi hadapilah aku sekarang! Di-
bangdingkan dengan usiamu, aku ini masih kanak-kanak, nah
tahanlah seranganku!" Raja Wajradatta menghentak gajahnya
dan menyerbu mendesak putra Pandu. Gajah itu bagaikan ter-
bang di angkasa, melompat dan menyambar Arjuna, menge-
luarkan pekikan nyaring dan menyemburkan air dari ujung be-
lalainya. Gajah itu m~rigamuk liar, mengobrak-abrik dan me-
nerjang Arjuna dengan ganasnya! Suaranya gemuruh dan pe-
kikan-pekikkannya memekakkan telinga. Dan untuk mengh~n­
darkan diri dari panah-panah Arjuna, gajah itu meliuk-liuk ba-
gaikan menari. Menghadapi gajah yang luar biasa ini Arjuna
kewalahan juga, dan akhirnya ia melompat mundur untuk men-
cari posisi yang lebih baik. la berdiri telak, menunggu dengan
tenang, tidak menunjukkan sedikitpun perasaan gentar. Inilah
saatnya ia harus mempergunakan senjata Gandhiwanya, yaitu
setelah mengingat betapa putra raja yang angkuh ini menyita
waktu dengan menghalangi perjalanannya, mengingat pula adanya
permusuhan lama antara kerajaan Pragjyotisha dengan pihak
Pandawa, maka putra Pandu itu tidak kuasa membendung ke-
marahannya lagi. Dhananjaya membidikkan panahnya yang
sakti itu dan sesaat kemudian, ratusan anak panah melesat ba-
gaikan bendungan yang merintangi air laut pasang dan berge-
lora ingin menerjang seg.ala-galanya. Dan gajah yang seperti
badai mengamuk itu tiba-tiba berhenti menyerang. Pada tubuh-
nya telah menancap ratusan anak panah, dilihat dari jauh tidak
ubahnya seekor binatang landak besar bagaikan gunung. Wa-
jradatta tersentak, kemarahannya memuncak. la lalu menem-
bakkan panahnya membabi buta tanpa perhitungan lagi. Ratus-
an anak panahnya meluncur ke arah Arjuna, namun dengan
tenang Arjuna menangkis seluruhnya dengan panah-panah
pula. Terjadilah pertarungan panah yang sangat menarik, suatu
tontonan yang sangat mengesankan. Akhirnya raja negeri
Pragjyotisha itu mencoba memaksa gajah yang terluka itu me-
nyerbu. Dan benar saja, gajah itu tiba-tiba melompat dan
menerjang dengan cara yang sangat mengerikan, Arjuna terkejut,
tetapi la masih sempat membidik dan melepaskan sebuah pa-
nah besar yang sejak tadi tidak dilepaskan. Pa-
nah itu melesat dan menembus oagian penting gajah gila itu.
Seketika gajah itu roboh bagaikan gunung runtuh terkena sam~
baran halilintar. Gajah itu terkulai menunggu saat kematiannya
Barulah raja yang masih muda itu menyadari betapa hebat se-
benarnya kemampuan lawannya itu. la gemetar, dan kini karena
takut! Melihat itu. Putra pandu lalu berkata kepadanya, katanya:

186

bah serta memohon perlindungannya. Dengan demikian pa-
duka menyerahkan diri sep~nuhnya kepada Dew~ yan.g berkekuat-
an maha dahsyat itu. Apabila Mahadewa berkenan. paduka
akan dik'aruniakan olehnya emas yang terdapat di tempat itu.
Orang-orang yang datang menghadap ke sana dengan cara
yang kujelaskan ini, pasti akan dikaruniakan olehnya emas se-
cukupnya" .

Raja Marutta putera Karandhama itu segera melaksanakan
petunjuk yang diyakinkannya itu dan sementara itu baginda-
pun melakukan persiapan-persiapan yang luar biasa untuk
melakukan upacara kurban besar-besaran itu. Emas ditempa
untuk dijadikan piala-piala dan bermacam-macam benda-
benda perhiasan yang indah-indah. Marutta memang berhasil
dalam perjalanannya menuju gunung tempat Mahadewa ber-
tahta, ·karena itu emas pun berlimpah-li~ahtidak terkirakan
banyaknya. Segala persiapan untuk upacara pun sudah dapat
dirampungkan.

Kemudian Wrihaspati juga mengetahui bahwa raja Marutta
bertambah-tambah kemakmuran serta kejayaannya, hingga
sungguh-sungguh menyuramkan kemuliaan para Dewa. Rishi
Dewata itu menjadi bingung dan cemas. Beliau menduga. ten-
tulah Samwarta sudah menjadi lebih baik kedudukannya dari
pada dirinya. Wrihaspati merasa terpukul dan sungguh sangat
kecewa, sedih dan gusar. Demikianlah seri wajahnya lenyap
dan tubuhnyapun menjadi kurus. Indra. maharaja Dewata itu
kemudian juga mengetahui keadaan Wrihaspati sedemikian itu,
maka dengan diiringkan oleh para Dewa sekalian lalu menuju
ke tempat pemukiman Wrihaspati dan setibanya di sana lang-
sung bertanya sebagai berikut :

IX. "Wahai Wrihaspati, apakah paduka dapat mengaso dengan
itenang? Bagaimana dengan para pelayan, apakah merekal
semua mengabdi dengan baik? Sudahkah paduka terus ber-
usaha mencari cara untuk kesejahteraan para Dewa? Tentunya
para Dewa sudah melakukan kewajibannya melindungi paduka
sebagai mana mestinya, benarkah demikian?"
"Saya dapat mengaso dengan tenang dan tidur dengan
baik 0 paduka Raja. Semua pelayan baik-baiksaja dan saya sen-
diri tidak pernah melepaskan fikiran untuk mencari jalan guna
membahagiakan para Dewa sekalian dan para Dewa itu pun su-
dah memperlakukan saya dengan sepatutnya".
"Lalu mengapa paduka seperti ini, apakah paduka sedang
diserang suatu penyakit? Sebutkanlah apakah itu penyakit
yang menyerang fikiran ataukah penyakit jasmani? Paduka

18

"Hai anak muda, jangan takut! Raja Yudhishthira yang adil itu
elah menugaskan aku untuk melakukan perjalanan. Sebelum

berangkat, Raja yang berbudi luhur itu telah berpesan kepada-

u. Dengarkan betapa pesannya itu! "Dhananjaya, engkau tidak
boleh mencabut nyawa Raja-raja yang merintangimu didalam
perjalanan ini! Tugasmu hanyalah menundukkan penghalang-

penghalang itu tanpa membunuhnya! Dan jangan pula membu-
nuh para Kshatriya yang membela rajanya! Undanglah mereKa
agar suka datang, bersama-sama dengan sanak keluarganya,
untuk menghadiri upacara Kurban Kuda yang aku. Yudhishthi-
ra. selenggarakan!" Mengingat perintah yang kuterima dar; ra-
ja, saudaraku itu, maka aku tidak akan membunuhmu! Se-
karang berdirilah! Jangan ragu-ragu! Kembalilah ke istana de-
ngan selamat 0 raja perkasa! Pada hari purnama bulan Chaitra,
kami mengundang paduka sekalian untuk menghadiri upacara
ya~g k~mi selenggarakan itu. Upacara Kurban K~da raJa Yu-
dhlshthtra yang adil dan berbudi luhur itu akan jatuh pada
hari itu!"

Raja Wajradatta mencakupkan tangan dan menjawab :
"Baiklah, semoga tidak ada halangan!"

I VII. Kemudian, dalam perjalanan itu. terjadi pertarungan hebat

antara Arjuna dengan beratus-ratus pasukan Saindhawa yang

masih hidup setelah kehancuran bangsa itu di medan Ku-

rukshetra. Setelah bangsa itu mengetahui bahwa Arjuna telah

memasuki wilayah kerajaan mereka, maka para KshatriyaSatn-

dhawa itu semuanya bersiap-siap untuk mencegatnya. Bangsa

ini sejak dahulu dikenal sebagai suatu bangsa yang berhati ja-

hat, menghadang dengan bersenjatakan panah-panah bera-

cun. Beramai-ramaimereka menangkap kuda kurban itu de-

ngan samasekali tidak menghiraukan kehebatan Arjuna yang

bertugas menjaganya. Pada waktu itu, Wibhatsu adik Bhima-

sena menjaga kuda itu dengan berjalan kaki, senjata panah ada

di tangannya. Tiba-tiba Arjuna di sergap dan diseranq dari jarak

dekat Bangsa Saindhawa ini r;nemang menaruh dendam ke-

sumat kepada pihak Pandawa karena kekalahan mereka di medan

Kuru dahulu. Mereka menyerang sHih berganti, melepaskan panah·

berbisa sambil menyebutkan nama, keluarga serta julukannya

yang menjadi ciri kehebatan mereka masing-masing. Akhirnya,

semua penyerang itu, yang masing-masing sudah memper-

kenalkan diri, mengepung Arjuna. Dan mereka tidak memberi-

kan peluang kepada Arjuna, serangan-serangan dengan panah

bagaikan hujan terus dilancarkan. Lebth-Iebih. mereka di atas

kereta, mengelilingi Arjuna yang hanya berdiri di atas tanah.

Dhananjaya. penakluk Niwatakawacha. penakluk Samsaptaka

dan maharaja dahsyat dari negeri Sindhu dengan tiba-tiba ha-

rus menghadapi serangan-serangan mematikan dari segala

187

penjuru. Arjuna terkurung rapat. pasukan yang mengepung itu
terdiri dari seribu kereta dan sepuluh ribu pasukan berkuda,
Dendam bangsa Saindhawa ini adalah karena raja Jayadratha
telah tewas di tangan Arjuna. Karena itu mereka menyerang
dengan tujuan pasti, yaitu menuntut balas dengan membunuh
Arjuna. Ribuan, bahkan jutaan anak panah bagaikan dicurah-
kan sejadi-jadinya menghujani tubuh Arjuna. Dan Arjuna sudah
tidak kelihatan lagi. seperti matahari sedang ditutup oleh awan hi-
tam, tidak mungkin dapat meloloskan diri ibarat burung terkurung
sangkar besi. Karena kejadian itu, seluruh mahluk alam semes-
ta menjadi cemas. Bahkan mataharipun nampak suram. Dan
tiba-tiba, bertiup angin menderu-deru, awan hitam pekat me-
nutupi matahari. Kilatan-kilatan meteor menyerbu bulatan ma-
tahari itu serta kemudian meledak memancarkan kembang-
kembang api menyeramkan. Raja p3nguasa gunung, Kailasa,
gemetar, Sapta Rishi dan para Rishi lainnya di kerajaan Surga
menggigil ketakutan. sedih dan mengeluh. Berpuluh-puluh me-
teor menghantam permukaan bulan juga. Asap hitam mem-
bubung dari semua jurusan. Awan kemerahan seperti darah,
petir menyambar-nyambar. pelangi membusur di angkasa dan
darah segar tercurah dari angkasa! Kegoncangan alam yang
mengerikan terjadi ketika itu. ketika Arjuna harus menahan hu-
jan panah berbisa itu. Kegoncangan alam ini memang sung-
guh-sungguh terjadi, merupakan suatu keajaiban yang mena-
kutkan. Pada waktu itu Arjuna memang sudah tidak berdaya.
Panah Gandhiwa terlepas dari tangannya. Dan pada saat ke-
goncangan itu terjadi dan panahnya sudah terlepas. ribuan
anak panah menyambarnya kembali. Arjuna, putra Pritha itu
pingsan! Para Dewa yang menyaksikan keadaan ini, sambil ge-
metar ketakutan, menguncarkan Weda-weda untuk mendoakan
keselamatan Arjuna. Para Rishi dan Sapta Rishi di Surga, de-
mikian juga semua pertapa dan Rishi yang berada di Bumi,
duduk bersila melakukan Yoga, memberikan kekuatan kepada
Arjuna agar ia mampu mengatasi kesulitan yang sangat ber-
bahaya ini. Ketika itulah kekuatan yang ada di dalam diri Arjuna
tersalur ke luar, mempengaruhi alam semesta hingga menim-
bulkan tanda-tanda ajaib yang mengerikan itu. Dan tiba-tiba,
Arjuna yang memang sudah mengetahui rahasia kekuatan
alam, berdiri tegak bagaikangunung karang yang sangat ~o­
koh. Diangkatnya kembali senjata Gandhiwanya. Tali busur pa-
nah itu ditarik meregang dan dilepaskan. Ini dilakukan berkali-
kali dan terdengarlah suara berdesing-desing memekakkan te-
linga. Panah-panah seperti dimuntahkan tak henti-hentinya,
menyambar-nyambar menghantam musuh-musuhnya. Seka-
rang. ganti pasukan Saindawa yang diselubungi panah seper-
ti pohon kayu dikerubut pasukan belalang, jutaan banyaknya!

188

Sebenarnya, mereka sudah gemetar dengan mendengarkan
desing tali busur Gandhiwa saja, dan merekapun lari lintang
pukang menyelamatkan diri. Semua mereka berbalik menjadi
sedih, menangis meratap dan meraung. Arjuna berkelebat
kian-kemari menghantam musuh-musuhnya yang masih men-
coba menyerangnya. Anak panah menyembl:Jt-nyembur dari
busur Gandhiwa, seperti kekuatan ghaib telah menggerakkan
panah itu dengan sendirinya. Sedangkan tubuh Arjuna nampak
bersinar cemerlang bagaikan matahari di musim gugur, me-
ngusir. semua kegelapan dengan cahaya tubuhnya yang
gemilang!

LXXVIII. Pendekar sakti pemegang Gandhiwa itu kini berdiri di te-
ngah-tengah medan pertaru.gan, tegak kokoh seperti gunung
Himawat. Pasukan Saindhawa yang tadi telah melarikan diri
menghimpun kekuatan kembali serta mencoba menyerang se-
rempak dengan hujan panah yang luar biasa lebat. Tetapi kali
ini Arjuna sudah menguasai posisi di medan itu, karena itu de-
ngan mudah ia menghalau serangan:-serangan ulangan itu.
Sambil tertawa, Arjuna lalu berkata kepada pasukan penyerang
itu. Suaranya halus, tetapi mengandung kekuatan yang teramat
dahsyat, sehingga terasa menembus hati insan yang mende-
ngarkannya: "Wahai para Kshatriya nan gagah! Apakah kalian
sudah mengerahkan seluruh kekuatan untuk menghancurkan
diriku? Yakinkah kalian akan mampu menundukkan aku ini?
Apakah kalian sudah siap menghadapi bencana yang sedang
menghadang kalian? Lihatlah! Aku akan menghadapi kalian
semuanya! Melumpuhkan kekuatan senjata kalian itu! Sema-
ngat kalian berkobar-kobar dalam pertempuran, tetapi berfik-ir-
lah sejenak! Kalian yang memaksa aku untuk menghancurkan
kesombongan kalian itu! "Arjuna memang sangat marah men-
dapat keroyokan seperti itu. Tetapi bagaimanapun juga, ia
masih ingat pesan-pesan kakaknya, yang dalam setiap perta-
rungan terasa masih terngiang di telinganya : "Adikku, jangan
sekali-kali adikku sampai salah tangan dan membunuh para
Kshatriya yang menghalangi tugas adinda! Tundukkanlah me-
reka, tetapi jangan sampai terjadi pertumpahan darah! "Arjuna
masih menghadapi berpuluh-puluh pasukan yang mengepung-
nya dari segala penjuru. Kemarahannya yang bergelora ditekan-
nya dengan- mengenangkan nasihat kakaknya, raja Yudhishthi-
ra. "Aduhai, aku harus bertindak sedemikian rupa, agar semua
nasihat raja menjadi kenyataan! Para penyerang itu tidak boleh
sampai tewas!" demikian ia berfikir. Lalu ia berdiri tegak siap
siaga. Setelah itu ia berseru kepada para ksatria Saindhawa

yang sedang meluap-Iuap kemarahannya itu : "Hail Aku pe-

189

ringatkan kalian sekali lagi! Peringatanku ini untuk kepentingan
kalian juga! Dengan senjataku ini, apalah sukarnya aku meng-
hancurkan kalian seluruhnya, tetapi aku tidak akan melakukan
hal sekejam itu! Sekarang aku harus mengetahui siapa-siapa di
antara kalian yang mau menyerah dan menyata~antakluk! Mere-
ka itu akan kuselamatkan! Yang ingin menyerah supaya mele-
takkan senjata dan datang ke mari mendekatiku agar dapat aku
melindungimu! Awas, mereka yang bertindak sebaliknya, se-
ketika akan berhadapan dengan bencana mengerikan!" Pe-
ringatan itu tidak dihiraukan. Karena itu segeraArjuna menyem-
burkan panah-panahnya dengan dahsyat. Arjuna sangat marah.
Lawannyapun demikian pula. Pasukan Saindhawa itu meng-
hujankan ribuan anak panah menghunjam ke arah Arjuna. Te-
tapi dengan tenangnya Arjuna menangkis serangan itu dengan
panah-panah jU,ga. Ribuan anak panah hancur berkeping-
keping. meskipu~ panah yang dipergunakan oleh pihak lawan
itu buatannya sangat istimewa, bersayap bulu burung Kanka
dan kecepatannya bagaikan kilat! Sepucuk panah musuh ber-
hadapan dengan sepucuk panah Arjuna dan semua panah mu-
suh itu jatuh berguguran tak berdaya menembus tangkisan Ar-
juna. Pihak lawan itu mengetahui bahwa Dhananjaya orangnya
yang bertanggung jawab atas kematian rajanya, Jayadratha. Itu-
lah sebabnya mereka pantang. menyerah. Panah-panah itu ke-
mud ian disusul dengan lemparan-Iemparan pisau terbang
dan lembing. Tetapi tak sebuahpun dari senjata-senjata itu yang
sempat menyentuh kulit Arjuna. Semuanya jatuh berantakan se-
belum mengenai sasarannya. Akhirnya, kemarahan Arjuna su-
dah tidak tertahankan lagi. Dipilihnya panah-panah besar dan
langsung disemburkan ke arah lawan. Panah yang berat itu
menghantam mereka dengan batangnya, tanpa menembus kor-
ban sasarannya. Melihat kehebatan senjata ini, banyak dari an-
tara penyerang itu menjadi ragu-ragu dan banyak pula yang
menyingkir menjauhkan diri dari hantaman panah luar biasa
yang tak pernah meleset itu. Namun masih saja dari antara me-
reka yang mencoba maju menyerang, tetapi lebih banyak lagi
yang berdiri terpaku, tidak tahu apa yang harus dilakukan, Hal
ini menimbulkan kekacauan di antara mereka. Mereka berseli-
sih pendapat dengan suara riuh rendah. Perintah rnaju dan
mundur bersimpang siur. Kekalutan itu menimbuikan suara se-
perti lautan bergolak tak teratur. Arjuna mempergunakan ke-

sempatan ini untuk lebih memperhebat serangan-serangannya,
membidik mereka satu demi satu. di hantamnya dengan panah
besar hingga yang terkena jatuh pingsan. Kuda tunggangan
merekapun rupa-rupanya sudah lelah dan ini lebih memudah-
kan lagi bagi Dhananjaya menghantam mereka sampai pingsan.
Pada saat itulah permaisuri Dusala, putri raja Dhritarashtra da-

190

tang bergegas ke tengah-tengah medan pertempuran dengan
membawa serta cucunya. Anak kecil yang dibawa serta itu ada-
lah putra dari Surata anak Jayadratha. Mereka mengendarai ke-
reta dan langsung menuju ke tempat Arjuna berdiri. Dia tidak
tahan menyaksikan prajur-it-prajurit Saindhawa yang sombong
itu dihajar oleh Arjuna. Di hadapan Dhananjaya ia bersimpuh
dan menangis sedih. Arjuna meletakkan senjatanya dan me-
ngangkat saudara sepupunya itu berdiri sambil menanyakan
apakah yang dapat dilakukan untuk membantunya. Permaisuri
itu berkata : "Wahai pahlawan pujaan bangsa Bharata, anak
yang kubawa serta ini satu-satunya putra dari saudara sepupu
paduka. la datang untuk menyatakan hormatnya kehadapan pa-
duka. Pandanglah dia 0 pahlawan perkasa!" Mendapat kete-
rangan itu, Arjuna lalu bertanya : "Dimanakah Surata, ayah anak
ini?" Permaisuri itu menjawab : "0 dia sudah ti~a! Dia sudah
meninggal karena menanggung sedih setelah ayahnya tewas
dalam pertempuran itu. Dia mengetahui bahwa ayahnya, raja
Jayadratha sudah tewas di tangan paduka. Dia sangat sedih
mengenangkan ayahnya itu sehingga sejak saat itu jatuh sakit.

Dan beberapa hari yang lalu, setelah mendengar khabar bahwa
paduka memasuki wilayah kerajaan ini selaku pengawal kuda
yang dikurbankan itu ia jatuh pingsan dan menghembuskan
nafasnya yang penghabisan. Inilah sekarang satu-satunya anak
yang ditinggalkannya, yang sekarang menghadap paduka untuk
memohon perlindungan paduka!" Setelah mengucapkan kata-
kata itu, permaisuri putri Dhritarashtra itu laiu menangis tersedu-
sedan sedih sekali. Arjuna berdiri terpaku dan termangu. Kepalanya
tunduk. Sesaat kemudian, permaisuri yang juga saudara se-
pupunya itu berkata : "Pandanglah hamba ini, pandanglah anak
kecil ini! Wahai pahlawan Kuru, kasihani kami dan hapuskanlah
permusuhan itu, permusuhan dengan kakanda Duryodhana itu.
Juga permusuhan dengan Jayadratha yang berhati jahat itu.
Hambapun sudah mendengar berita bahwa seorang pahlawan
besar Parikshit putra Abhimanyu telah lahir di istana paduka.
Dan di sini, telah lahir pula anak ini, putra Surata anak hamba.
Hamba menghadap paduka di sini, dengan memperkenalkan
anak yang tidak berdosa ini serta memohonkan ampun atas per-
buatan para Kshatriya bangsa Saindhawa. Anak dari musuh be-
sar paduka telah datang menghadap untuk menyembah pa-
duka. la menginginkan perdamaian dengan paduka! 0 pen-
dekar perkasa, perkenankan kami memohon perdamaian itu.
Semoga paduka menaruh belas kasihan kepada anak yang se-
mua keluarganya sudah tewas, dan ia sendiri tidak mengetahui
apapun juga tentang kesemuanya itu! Hentikanlah kemarahan
paduka! Lupakan perbuatan jahat kakeknya yang memang jahat
itu, dan kasihanilah anak bayi ini!"

191

Arjuna .berdiri terpaku, wajahnya suram menunjukkan ke-
sedihan yang teramat sangat. Fikirannya melayang-Iayang me-
ngenangkan Gandhari dan raja Dhritarashtra. Kemudian ia sa-
dar, tersentak dan berkata : "Ah, Duryodhana yang jahat itu te-
lah menyebabkan semuanya ini terjadi! Dia yang tamak dan
sombong itu! Dialah yang mendorong aku melakukan pe
bunuhan di antara sanak keluarga sendiri! Banyak sekali san
saudaraku yang telah kuantar sendiri ke alam Yama!" Sete
mengucapkan kata-kata itu, Arjuna lalu menghibur saudarase-
pupunya serta menyerukan perdamaian! Dipeluknya saudarcr
nya dengan kasih sayang dan disuruhnya kembali ke istan
Dusalapun menyerukan kepada pasukan Saindhawa unt
menghentikan pengepungan terhadap Arjuna dan memerinta,
kan kepada mereka agar menghormati Partha yang datang ber-
kunjung itu. Permaisuri yang canti\itu lalu kembali ke istana.
Setelah semua kembali ke tempat masing-masing, Arjuna me-
lanjutkan perjalanannya mengikuti kuda yang dilepas itu ke-
manapun kuda itu melangkahkan kakinya untuk mencari ma-
kanannya. la terus saja mengikuti kuda itu, seperti Pinaka di
jam.an purba, yang tidak pernah berhenti mengejar rusa buruan-
nya sampai jauh ke angkasa!

LXXIX. Kuda itu terus mengembara dari satu kerajaan ke kerajaan

lain. Dalam pengembaraannya itu, tidak jarang Arjuna terpaksa

memperlihatkan kekuasaan dan kebijaksanaannya. Pada suatu

saat, kuda itupun memasuki wilayah kerajaan Manipura. Yang

menjadi raja Manipura pada waktu itu tidak lain dari putra Ar-

juna sendiri, Wabhruwahana. Mengetahui Arjuna datang, ia se-

gera menyambutnya dengan penuh kehormatan. Raja itu me-

nge~u-elukan Arjuna dengan diiringkan oleh para Brahmana

dan tidak ketin~galan membawa sebuah kereta yang penuh

dengan barang-barang berharga untuk dipersembahkan. Me-

lihat cara raja muda ini menyambut dirinya itu, Arjuna melotot

marah dan berkata : "Hai raja, anakku! Aku datang ke kerajaan

ini selaku pengawal kuda kurban untuk menyempurnakan upa-

cara yang diselenggarakan oleh raja Yudhishthira! Selaku se-

orangKshatriya, ananda mestinya menghadang dan bertempur

dengandiriku! Perbuatan ananda ini sangat memalukan, tidak

sesuai dengan sifat seorang Kshatriya! Hai, engkau anak bodoh!

Ketahuilah bahwa engkau telah menghina martabat kepah-

lawanan para Kshatriya yang lain. Karena engkau tidak mela-

kukan kewajiban selaku seorang Kshatriya! Aku ini datang bu-

kan untuk minta disambut dengan segala kemegahan ini! Aku

datang untuk bertempur dengan engkau. Tidak menyangka ka-

lau engkau memiliki sitat perempuan seperti ini! Kamu picik!

Apabila aku datang ketempat ini tanpa memegang senjata di

192

tanganku ini, bolehlah engkau menyambut diriku sebagaimana
penyambutan yang kau lakukan sekarang ini, 0 kamu manusia
busuk!" Ulupi, isteri Arjuna, putri raja Ular tidak tahan men-
dengar penghinaan Arjuna yang ditujukan kepada putranya
sendiri itu. la mengelinap penyelusup ke dalam tanah dan mun-
cuk kembali di kempat kejadian itu. Dia melihat anak tirinya
berdiri membisu, kepalanya tunduk, malu dan sedih. Sikap raja
yang masih muda ini sangat dicela oleh Arjuna yang menghen-
daki agar anaknya itu mau bertempur menghadapi dirinya.
Ulupi yang cantik itu lalu mengucapkan kata-kata berikut, ka-
ta-kata tentang kewajiban dan kebenaran, ditujukan kepada
Wabhruwahana, yang sebenarnya sudah tidak asing lagi de-
ngan perihal kebenaran dan kewajiban itu.

"Ketahuilah hai anak muda, bahwa aku ini juga ibumu sen-
diri, bernama Ulupi putri dari raja ular! Aku menganjurkan ke-
padamu 0 raja, agar melakukan apa yang dikehendaki oleh
ayahmu itu, karena dengan demikian ananda akan mendapat-
kan pahalakebaikan serta berkah dari perbuatan itu. Hadapilah
ayahmu itu r Pahlawan besar bangsa Kuru, ayahmu itu meng-
hendaki agar ananda melawannya bertanding! Lawanlah! Pasti
ayahanda paduka itu akan merasa puas terhadap dirimu 0 ra-
ja!" Demikian itulah raja Wabhruwahana dibakar semangatnya
oleh ibunya. akhirnya diputuskan untuk memenuhi kehendak
yahnya. Meskipun masih muda, raja ini bukanlah seorang pe-
ngecut. la seorang raja perkasa, dan nampak cemerlang setelah
mengenakan busana perangnya, dengan topi pelindung yang
bersinar gemerlapan. Kereta perang yang dikendarainya ber-
senjata lengkap dan kuda penariknya bergerak dengan kece-
patan laju luar biasa. melesat secepat fikiran : Roda-roda kere-
ta itu kokoh dengan upashkara kuat dihiasi perhiasan berwarna
keemasan beraneka ragam bentuknya. Bendera kebesarannya
sudah berkibar dengan megahnya, berlukisan seekor singa di-
sulam dengan benang emas. Demikian raja Wabhruwahana
yang tampan itu maju bertempur melawan ayahnya. Dhananja-
ya. Raja muda itu melaju ke lapangan tempat kuda kurban itu
sedang memakan rumput dan langsung memerintahkan kepa-
dan ahli-ahli penan_gk~p kuda untuk menangkapnya. Dhananja-
ya memandang, dan setelah dilihatnya kuda hitam nan perkasa
itu berhasil ditangkap, ia merasa gembira. Dengan berdiri di
tanah Arjuna menghalang-halangi putranya yang duduk di
atas kereta ingin menembus rintangan. Pada suatu saat melun-
curlah panah-panah berbisa seperti ribuan ekor ular sedang
memperebutkan mangsanya. Terjadilah pertarungan seru an-
tara ayah dan anak. Dan masing-masing sudah bertekad untuk
menguji kekuatan masing-masing. Karena itu pertarungan itu
berkembang menjadi pertarungan yang teramat dahsyat, bagai-

193

kan pertarungan di antara para Asura di jaman kuna.
dibalas panah, ketrampilan keduanya selalu seimbang. oa';4:ll!"'"
manapun diusahakan, panah-panah yang ribuan. ban -
itu hanya sempat saling bentur di udara untuk kemudia
guguran di tanah berkeping-keping. Pada suatu kesempa· -
Wabhruwahana, sambil tertawa, melepaskan sebuah p~-­
yang menyambar teramat dahsyat dan menghantam bah

juna dan menancap! Panah itu menembusi tubuh Arjuna ba_ =-

kan seekor ular yang masuk ke liang semut. Dan pana
tidak sekedar melukainya, racun yang dikandungnya mere
masuk ke dalam darah. Arjuna tersentak, berdiri kaku, b ~ •
panahnya dipergunakan untuk menopang tubuhnya yang
lai terasa limbung. Tubuhnya gemetar, dan nafas kehidu
seakan-akan telah meninggalkan dirinya. Tetapi ia tetap b ~­
tahan, dan setelah tenaganya yang memang hebat itu

rasakan pulih kembali, iap'un berkata memuj~kehebatanputra-

nya : "Engkau sungguh hebat 0 putraku! Engkau gagah 0 p -
tra Chitrangada! Aku puas dengan ketangguhanmu itu! Teta
sekarang, terpaksa aku mempergunakan panah ini kembali.
Nah, bersiaplah anakku! Kuharap engkau tidak mengundurka
d I·n..,"

Dhananjaya lalu menyemburkanribuan anakpanah, mele-
sat berdesing-desing dari senjata Gandhiwa itu. Tetapi Wabhru-
wahana sudah mempersiapkan diri, mempergunakan senjata
penangkis khusus. Senjata penangkis itu juga berupa panah
yang berujung besar, Dengan panah-panah itu, mampulah ia
membendung hujan panah dari arah Arjuna yang ternyata sa-
ngat dahsyat bagaikan petir menyambar-nyambar. Panah-
panah yang berbenturan itu menimbulkan ledakan-Iedakan
nyaring dan kepingan-kepingannya berterbangan di udara dan
jatuh ke tanah. Sebuah panah melesat dari busur Gandhiwa
itu dengan kecepatan halilintar dan menyambar tiang bendera
tanda kebesaran Wabhruwahana yang terpasang di bahagian
depan kereta. Bendera yang berkibar megah. yang tiangnya
kokoh bagaikan pohon Tala, terpotong menjadi dua. Ledakan
kedua terjadi dan ambruklah kuda penarik kereta raja itu. Raja
muda itu turun dari keretanya dan ternyata ia marah sekali.
Dengan pekikan nyaring melengking dan menyeramkan ia me-
nyerbu ayahnya. Arjuna sebenarnya sudah sangat puas me-
nyaksikan kehebatan putranya itu. Tetapi entah mengapa, ia

terus saja menghantam putranya dengan panah-panah sakti-
nya. Pada waktu itu Wabhruwahana bahkan menduga, tentulah
tenaga ayahnya sudah sangat lemah karena pengaruh racun
yang menjalar di tubuhnya. Karena itu ia ingin segera menye-
lesaikan pertarungan itu dan iapun menghantam dengan panah
bertubi-tubi. Wabhruwahana melesat menyerbu dan dari jarak

194

nangis dan meratap mengucapkan .kata-kata berikut : "Bangkit-
lah 0 junjunganku! Padukalah yang paling diandalkan oleh raja
bangsa Kuru. Kuda kurban yang semestinya paduka jaga se-
dang berada di sini, telah hamba lepaskan kembali. BangkitLah

o junlunganku, tunaikanlah tugas paduka menjaga kuda yang

dilepaskan oleh maharaja Yudhishthira! Paduka lindungilah
kuda itu dalam pengembaraannya! Mengapakah kakanda diam
saja? Kehidupan hamba tergantung dari kehidupan paduka, 0
pahlawan utama bangsa Kuru! Betapa mungkin seseorang yang
biasanya memberikan nafas kehidupan kepada orang lain se-
karang kehilangan kehidupannya sendiri? Lihatlah 0 Ulupi, tu-
buh perkasa suamimu sekarang terbujur di sini! Dan engkau
tidak menunjukkan kesedihan! Setelah engkau mendesakkan
kehendak agar terjadi pertarungan, sekarang engkau tenang-
tenang saja! 0 engkaulah yangtbertanggung jawab terhadap
tewasnya pahlawan besar ini! Adalah pantas apabila anak kita
inilah yang tewas di tangan ayahnya! 0 Ulupi, berusahalah agar
Wijaya yang termashur berjuluk Gudakesa, yang matanya ber-
sinar k~merahan ini hidup kembali! 0 Ulupi, engkau wanita
yang diberkati! Apalah salahnya laki-Iaki yang mempunyai
isteri lebih dari satu? Kaum wanital·ah yang tak berbudi, apabila
ia menguasai lebih dari seorang suami! Karena itu 0 Ulupi,
janganlah engkau membalas dendam kepadanya! Ikatan
suami-isteri itu sudah ditetapkan· oleh Hyang Maha Agung!
Hubungan-hubungan itu kekal, tak dapat dielakkan! Karena itu
engkau. tak mungkin dapat memutuskan hubunganmu dengan
suamimu ini dengan cara keliru seperti ini! Bersyukurlah eng-
kau dengan hubungan yang sudah terjalin itu! Kukuhkanlah
kembali hubunganmu dengan suamimu ini! Engkau mem-
bunuh suami· sendiri de~gan meminjam tenaga serta tubuh
anakmu yang tidak berdosa ini! Kalau engkau tidak mau meng-
hidupkan kembali suami kita ini sekarang juga, biarlah aku
mencabut nyawaku di sini, di hadapan matamu! 0 engkau se-
orang wanita yang sangat kuhormati! Kedukaanku hari ini, ka-
rena kehilangan suami dan anak, sudah cukup mendorong aku
melakukan sumpah Praya, berpuasa sampai mati di sini di
hadapanmu !"

Setelah mengucapkan kata-kata itu kepada putri raja Ular
yang juga merupakan isteri Arjuna, putri Chaitrawahini lalu du-
duk diam. memusatkan fikiran, mengukuhkan niat untuk mela-

kukan sumpah Praya, yaitu duduk diam sampai permohonan-
nya terkabul, atau kalau tidak, sampai mati!. Niatnya itupun su-
dah pasti!.

Chitrangganda berhenti menangis. la menggeser duduk-
nya lalu dipangkunya kaki suaminya. Sekarang ia duduk di sana
membisu, fikirannya dipusatkan dan memohon kehadapan de-

196

wata, agar suami dan anaknya dihidupkan· kembali. Tak lama
kemudian, raja Wabhruwahana bergerak-gerak dan siuman
kembali. la melihat ibunya duduk membisu memangku kaki
ayahnya. Dengan suara lemah ia berkata : "Tidak ada lagi hal
yang lebih menyakitkan dari pada melihat ibu hamba yang 5U-
dah biasa hidup dilingkungan istana nan mewah, sekarang ber-
simpuh di sini bersama-sama suami,di atas tanah kotortak ber-
alas. Aduhai pahlawan perkasa yang tak terkalahkan, penguasa
ilmu senjata yang tak ada bandingan lagi di dunia ini telah tewas
di tanganku hari ini! Hamba yakin, hari. ini, bukanlah saatnya
yang ditentukan itu! Sebelum ajal, berpantang mati! Itulah ke-
yakinan hamba! Oh, hati wanita yang seorang ini nampaknya
sangat keras! Kenapa tidak pecah saja setelah melihat suami-
nya, pahlawan perkasa itu, terbaring tak bernyawa di atas ta-
nah? Kematian tidak akan datang kalau saatnya belum tiba!
Apabila saat itu telah tiba, tentulahhamba dan ibu hamba juga
tergeletak di sini, tidak sanggup menahan. kesedihan dalam me-
nyaksikan kemalangan ini! Betapa sayang, betapa tak ber-
gunanya busana emas, yang di kenakan oleh pahlawan besar
ini, yang sekarang tewas ditangan hamba sendiri, .anaknya ini!
Aduhai para Brahmana, lihatlah ayah hamba pahlawan besar itu ter-
buiur di atas tanah tidak bernafas dibunuh o\eh anak-
nya sendiri \ Jasa apakah yang sudah di\akukan o\eh Para
Brahmana pelindung pahlawan besar ini dalam menunaikan
tugasnya ? Biarlah sekarang para Brahmana itu menentu-
kan, hukum apa yang harus dikenakan kepada anak ke-
iam penuh dosa semacam aku ini, membunuh ayah sendiri

dalam perkelahian. Setelah hamba membunuh ayah sendiri
patutlah hamba menerima hukuman yang paling keras, mesti-
nya hamba diusir dan mengembara ke seluruh dunia, menutupi
tubuh hamba dengan kulit tubuhnya! Perkenankan hamba
membawa kedua b31ahRn kepada ayah hamba itu, agar hamba
yang hina dan jahat inl, yang telah membunuh ayah sendiri
dapat mengembara menjalani hukuman, mene-rima kutukan de-
wata membawa serta ke mana saja hamba pergi kedua belah-
an tengkorak ayahku! Lihatlah wahai Ibunda, putri raja ular,
suami paduka tewas di tangan hamba! Tentulah ibunda merasa
puas sekarang, setelah hamba membunuh ayah hamba, Arjuna!
Hari inipun hamba selaku anaknya akan menyusul, menempuh
jalan yang dilalui oleh ayah hamba itu. Wahai ibunda, hamba
tidak mampu lagi menenteramkan hati hamba. bersenang-
senanglah ibu sekarang! Bergembiralah ibu menyaksikan ham-
ba dan pemilik Gandhiwa ini dicengkeram kematian hari ini!
Hamba bersumpah demi kebenaran, bahwa hamba akan me-
lepaskan jiwa hamba hari ini!" Setelah mengucapkan kata-kata

197

itu, rajaWabhruwahana lalu mengambil air dan de
terpusat iamenyentuh air itu dan berseru dengan s
"Dengarkanlah wahai seluruh mahluk alam semes a
kan seruanku ini! Dengar jugalah seruan hamba ini
Hari ini hambaakan mengucapkan sumpah kebena c:....
putri raja Ular! Apabila pahlawan utama Jaya, ayah j
hamba ini tidak bang kit, hamba akan membiarkan tub
membusuk di lapangan ini! Setelah hamba membu
sendiri, maka tidak ada jalan lain lagi yang dapat melT::e-':;~
kan hamba dari cengkeraman dosa! Biarlah hamba
p~.nghuni alam Neraka! Dengan jalan berperang dan me
kan ksatria perkasa, orang telah berbuat dosa, namun
peraturan Dharma, orang itu menjadi suci kembali
mempersembahkan seratus ekor sapi! Tetapi oenga
bunuh ayah sendiri, hamba telah berdosa sedemikia
hingga tidak mung kin da~at disucikan kembali.! Dhana
putra Pandu ini, seorang pahlawan besar yang gagah per
Jiwanya bersih tak tercela, dan dia itulah yang telah menc •
kan jiwaku ini! Bagaimana hamba dapat dibebaskan dari
dan dosa setelah hamba membunuhnya?" Setelah meng c
kan kata-kata itu, Wabhruwahana menyentuh air dan sela .
nya duduk diam. Raj~ itu telah bersumpah akan duduk
puasa sampai ajalnya tiba.

Ketika itulah Ulupi memusatkan fikirannya mengenangka
batu permata yang memiliki kekuatan dapat\ menghidupka
orang yang sudah mati, Permata itu merupakan perma a
keramat yang sangat dipuja-puja oleh bangsa ular, yang
akan muncul seketika apabila difikirkan. Putri raja Ular
itu mengeluarkan permata itu serta mengucapkan kata-kata
yang sungguh sangat membesarkan hati, katanya : "Bang-
kitlah 0 anakku! Jangan sedih lagi! Jishnu ini bukannya
tewas karena terbunuh olehmu ! Pahlawan ini tidak mung-
kin dapat dibunuh oleh manusia, demikian pula tidak mung-
kin oleh Dewa-dewa dibawah pimpinan Wasawa sekalipun !
Aku sendirilah yang telah menciptakan tipuan mata ini,
mengacaukan alat-alat pengindraan kalian semua dengan mak-
sud melindungi pahlawan besar ini sendiri! 0 ananda, pahla-
wan berdarah Kuru, ayahanda paduka ini telah datang ke ke-
rajaan ini dengan tujuan untuk!menguji kekuatan putranya. De-
mikian itulah cita-cita beliau semenjak mula perjalanan ini di-
lakukan. Itulah sebabnya mengapa aku mendesak ananda agar
mau melayani kehendak ayahmu itu. Wahai ananda yang ber-

hati mulia. Janganlah ananda merasa berdosa! Ananda tidak ber-
salah sedikitpun dengan menerima tantangan ayahmu itu.
Ayahanda paduka ini sebenarnya seorang Rishi, berjiwa besar,
dengan kemampuan serta kesaktian luar biasa. la itu kekal dan

198


Click to View FlipBook Version