The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by kantor, 2022-03-28 04:17:22

Aswa Medha Parwa

Aswa Medha Parwa

nya. Fikiran dipusatkan tepat di tengah-tengah ruangan di
mana Roh itu bermukim. Di dalam ruangan itulah Roh yang da-
pat bergerak bebas keluar masuk itu melihat tempat bermukim
dirinya. Pada saat samadhi yang dalam sudah dicapai. orang
akan melihat keseluruhan yang bulat. Itulah Brahman yang
Agung, yaitu Roh Luhur Alam Semesta. Nampaklah sekarang
bahwa tidak ada sesuatu lagi yang berada di luar Brahman.
Dia meliputi dan merasuk keseluruhan ruangan yang dapat di-
bayangkan. Meditasi semacam ini harus dilakukan jauh dari
keramaian. Pusatkan terus fikiran kepada Brahman yang meli-
puti keseluruhannya itu. baik yang berada di dalam maupun
di luar badan. Pandanglah pancaran Brahman yang meliputi
gigi-gigi, langit-tangit, lidah, tenggorokan dan leher. Pusatkan
fikiran ke dalam jantung beserta cabanQ-cabang urat darah
yang berada di dalamnya. Demikian itula"l Brahman meliputi
dan merasuk ke dalam segala-galanya."

Selanjutnya, 0 Krishna, penakluk Raksasa Madhu, Kasya-
pa, murid yang cerdas itu bertanya kepada Brahman Utama itu
tentang seluk-beluk Agama Kebebasan, yang sungguh sangat
sukar menjelaskannya. Serentetan pertanyaan yang diajukan
misalnya adalah sebagai berikut. Bagaimanakah makanan di-
cerna di dalam perut? Bagaimanakah makanan itu dapat beru-
bah menjadi cairan makanan? Bagaimana cairan itu dapat ber-
ubah menjadi darah? Dan bagaimana darah itu dapat membe-
rikan makanan kepada daging, sumsum, syaraf dan tulang-
tulang? Bagaimanakah tubuh ini dapat tumbuh menjadi besar?
Bagaimanakah kekuatan badan itu dapat bertambah dengan
semakin besarnya tubuh itu? Bagaimana dapat dipisahkan
unsur-unsur yang tidak berguna serta kotoran-kotoran itu da-
pat keluar? Mengapa kalau bernafas itu, harus menghirup ma-
suk dan menghembus ke luar? Apakah faedahnya? Di Bagian
yang manakah Roh itu bermukim? Bagaimana Roh itu dapat
mendukung badan jasmani ini? Berupa apakah warna serta
bentuk jasad yang dipilihnya setelah Roh itu meninggalkan tu-
buhnya yang lama? Demikian itulah Kasyapa mengajukan per-
tanyaan bertubi-tubi. Brahmana yang sudah memiliki penge-
tahuan sangat tinggi itu menjawab pertanyaan-pertanyaan itu
sesuai dengan apa yang sudah di pelajarinya serta sudah di-
tulis dalam sastra-sastra khusus mengenai hal ini.

Selanjutnya dinyatakan, bawa sebagaimana halnya orang
menaruh barang di dalam gudang, fikirannya tentulah disatu-
kan dengan barang itu agar ia tidak melupakan tempat barang
itu. Dalam usaha untuk mengetahui keadaan Roh yang bermu-
kim di d~lam badan, fikiranpun harus diarahkan ke dalam, de-
ngan mengendalikan alat-alat pengindraan serta perasaan dan

52

carilah Roh itu dengan saksama. Semestinyalah orang itu harus
berusaha keras untuk menyelidiki rohnya dan bersamaan de-
ngan itu mensyukuri keadaan dirinya. Dengan jalan demikian
orang akan segera mencapai kesadaran Brahman, serta" me-
mahami segala sesuatu tentang Pradhana itu.la tidak lagi dapat

ditipu oleh penglihatan matanya, oleh alat-alat pengindraannya,
atau bahkan oleh perasaannya. Hanya dengan sinarnya Jiwa,
Roh Yang Maha Agung itu dapat dilihat. Roh itu berkaki dan
bertangan di segenap penjuru, bertelinga di mana-mana, me-
nyelusup ke dalam dan menembus segala-galanya yang ada di
Alam Semesta ini. Demikian itulah bentuk dan sifat Roh itu.
Atman melihat Brahman terlepas dari jasad kasar bagaikan serat-
serat daun sisal. Kemudian, dengan memprojeksikan Brahman
yang meliputi segala bentuk itu, dan dengan mengarahkan fikir-
an ke dalam badan, ia ak., menyadari bahwa Brahman itu ter-
bebas dari segala sifat dan bentuk. Dengan Roh yang mem-
punyai alat fikiran, ia melihat Roh itu sendiri dengan wajah oe.
rah dan tersenyum. Dan dengan menyerahkan diri sepenuhnya
kepada Brahman, orang dapat mencapai kebebasan melalui di-
ri Krishna, selaku perantara.

o Kasyapa, Brahmana cendekia, semua rahasia sudah ku-

ungkapkan untuk meneguhi<an keyakinanmu. Sekarang aku
hendak pergi, silahkan anandapun berangkat kemana ananda
suka. Demikianlah 0 Krishna, Kasyapa, muridku vang hebat
melanjutkan pengembaraannya".

"Demikian, 0 putera Pritha, setelah mahaguru Brahmana
itu selesai mengajarkan tentang patokari-patokan penting ten-
tang agama Kebebasan kepada diriku, beliau lalu lenyap seke.
tika. Nah, dapatkah anda menangkap inti ajaran Kebebasan
itu? itulah semua yang pada dasarnya adinda dengan dariku
di dalam kereta perang di madan Kurukshetra. Meniang, 0
putera Pritha, ajaran itu sangat sukar dimengerti, terutama oleh
mereka yang pengertiannya sudah dikacaukan oleh hal-hal
ke duniawian, tidak suka belajar, tidak berpantang dalam ma-
kan, dan fikirannya tidak bersih. 0 Pahlawan bangsa Bharata,
rahasia dewa-dewa sudah kuungkapkan di hadapan kalian hari
ini. Apa yang kuajarkan ini, sebenarnya belum pernah sampai
saat ini di ajarkan di hadapan manusia. Wahai ksatria tanpa
dosa, kecuali anda sekalian, tidak ada lagi orang lain yang patut
mendengar rahasia ini. Karena ajaran-ajaran ini tidak akan bisa
dimengertioleh.orang yang fikirannya kacau. Alam Dewa-dewa,

o putera' Kunti, pen-Uh dengan orang-orang yang menganut

agama praktis. Mereka memuja Dewata, melakukan upaca,a-

UD8cara kurban untuk mendapatkan berkahnya yang berupa

kebahagiaan di dunial ini dan di dunia Kadewatan. Sebaliknya

53

dengan Yoga menuju kebebasan, orang melepaSkan Rohnya
dengan mengabaikan tuntutan jasmaniah. la meninggalkan

segala bentuk perbuatan dan kegiatan, yang ditikirkan hanya-
lah mempercepat proses penunggal~n Atman dengan Brah-
man. Cara-cara yang tidak praktis ini, sungguh tidak disetujui
oleh Dewa-dewa. Para penganut agama Praktis (Prawirtti-
marga) akan mendapatkan pahala dan mencapai alam Surga
bersama-sama Dewa-dewa. Akan tetapi penganut ajaran
Niwritti (ajaran-ajaran menjernihkan tikiran dengan memusat-
kan cipta kepada badan Roh dalam hubungannya dengan Brah-
man), dengan sepenuh kemampuannya mengabdi kepada i1mu pe-
ngetahuan, kedalaman pengertian dan pandangan terang, se-
hingga akhirnya ia akan mendapatkan Kebebasan Abadi. Para
Dewa di alam Surga menunjang hidupnya dengan mengandal-

kan aliran Prawirtti dan akan merasa irihati kClJ)ada mereka yang
menjalankan Niwritti-marga, karena tingkat keb.ebas$n yang di-
capai sungguh lebih tinggi dari berkah-berkah yang dicapai
oleh para Dewa itu. Aku tegaskan kembali, wahai putera Pritha,
tujuankebebasan itu adalah yang tertinggi, yaitu Brahman yang
kekal. Setelah melepaskan jasad kasar itu, akan tercapailah
alam kekekalan dan selamanya bersatu dengan Kebahagiaan
Abadi yang diluar kemampuan tlkiran manusia untuk meng-
gambarkannya. Dengan menganut ajaran Niwrittj ini, orang
yang celaka terlahir di antara mereka yang penuh doss, kaum
perempuan hina, golongan waisya dan sudra, akan dapat men-
capai tujuan tertinggLApalah lagi kesulitannya bagi para Brah-
mana dan Ksatriya yang berpendidikan dan selalu taat menja-
lankan kewajibannya. dan selalu bersemangat dalam usahanya
Tlempersatukan diri dengan Brahman? Ajaran ini berpangk31
dariBrahman, Roh MahaAgung itu sendiri dan di susun Der-

dasarkan alasan-alasan yang pasti. Demikian juga langkah-
langkah pelaksanaannya berikut pahala-pahala yang bisa dida-
patkan tahap demi tahap,yang pada dasarnya berupa penger-
tian-pengertian yang semaki" mantap dan mendalam guna
mencapai KebebasanAbadi itu. Pahala-pahala yang didapatkan
itu adalah semakin mendalamnya pengertian kita tentang Kebe-
naran dan Penderitaan. Itulah sebenarnya pengetahuan yang
memberikan kegembiraan luar biasa. Mahluk tak kekal, yang

memiliki kecerdasan dan keyakinan, demikian juga memiliki

kekuatan, yang menolak segalanya yang dianggap mulia oleh
orang-oranQ biasa, dalam waktu singkat akan berhasil men-

capai tempat tertinggi di alam Brahman. Demikian itulah se-

muanya yang patut kuutarakan. Tidak ada lagi pelajaran yang
tertinggi, lebih tinggi dari ajaran ini Sehubungan dengan ini,
patut adinda sekalian catat, banwakeadaan samadhi tingkat

54

tertinggi akim dapat dicapai, apabila terus menerus dilakukan
latihan-Iatihan Yoga selama enam bulan!"

XX. Selanjutnya, 0 putera Pritha, aku ingin menyampaikan se-
buah ceritera kuna tentang sepasang suami isteri Brahmana
pertapa, yang sangat tinggi pengetahuannya dalam hal Yoga
dan filsafat Kebebasan. Isteri Brahmana itu, setelah melihat
suaminya dari hari ke hari duduk di tempat sepi melakukan
meditasi dan samadhi, lalu memberanikan diri menghadap dan
mengajukan pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut in!: "Wa-
hai kakanda junjunganku, menyadari bahwa hamba ini hanya-
lah seorang wanita yang selamanya menghamba kepada ka-
kanda, bolehkah hamba yang rendah ini mengetahui, alam
manakah yang mungkin tersedia bagi hamba nantinya'? Hamba
perhatikan kakanda hanya duduk ~perti)tu, mengabaikan se-
gala macam upacara keagamaan yang biasanya hambalah yang
membantu menyelenggarakannya. Walaup,un demikian, hamba
tidak akan berhenti mengabdikan diri, meskipun kakanda ber-
laku keras dan menyiksa adinda. Hambapun pernah mende-
ngar bahwa para isteri akan dapat pula bersatu dengan suami-
nya di alam yang lain itu. Benarkah demikian?"
Lambat-Iambat, Brahmana itu membuka matanya yang
tadinya meram, dengan wajah berseri dan sesungging senyum
nampak di ujung bibirnya, lalu menjawab pertanyaan isterinya
dengan suara tenang serta lemah lembut, katanya :
"Isteriku, berbahagialah engkau 0 adindaku. Sungguh aku
tidak marah mendengar ucapanmu tadi. Dengarkanlah baik-
baik isteriku. Sokongan yang benar apabila diberikan kepada
orang lain yang bertingkah laku benar, akan sama nilainya
dengan tindakan kebenaran yang dilakukan oleh orang lain
yang disokongnya itu. Orang-orang yang kurang pengetahuan-
nya, seringkali mempunyai penilaian yang keliru terhadap arti
perbuatan-perbuatan. Namun patut diketahui, bahwa di Dunia
ini, sesaatpun kita tidak dapat membebaskan diri dari melaku-
kan perbuatan. Semenjak dilahirkan, hingga mencapai tahap-
tahap tertentu dalam mengejar cita-cita selalu melakukan per-
buatan-perbuatan, dengan fikiran, perkataan, dan tindakan-
tindakan. Adinda tadi menyinggung tentang tindakan pemuja-
an dengan upacara yang sudah kutinggalkan. Memang adinda-
ku, tingkah laku memuja yang dilaksanakan dengan sarana
benda-benda nyata seperti air soma, minyak mentega murni,
dan benda-benda upacara yang lain, tidak kulakukan lagl. Ka-
rena setiap kegiatan upacara yang dilakukan dengan cara itu
selalu dirusak oleh Raksasa-raksasa besertajiwa-jiwasemacam
Raksasa itu. Lebth-Iebih aku sudah melihal adanya tempat Roh

55

suci di dalam badan ini. Dan itu dapat kulihat atas bantuan
Roh itu sendiri pula. Sekarang aku hanya melakukan pemujaan
melalui tempat Roh itu, yang disebut Awimukta, terletak di satu
titik di antara kedua alis mata dan hidung. Di sanalah aku me-
muja Brahman, Roh Maha Agung yang dapat mengatasi sifat
kembar yang berlawanan, baik-buruk, benar -salah, tinggi-ren-
dah dan selanjutnya. Di tempat itu juga bermukim Soma dan
Agni. Di sana pula bermukim Bayu, yang mendorong tumbuh-
nya pengertian-pengertian guna menunjang kelestarian 'se~u­
ruh mahluk di alam semesta. (Soma = Ida; Agni = Pinggala;
Dhira = Bhudiprerana; Wyawayam = Sancharam; Dhirabhutani
dharayan nityam vyavayam kurute = di tempat ini bermukim
Brahman; tempat itu juga pertemuan Ida dan Pinggala; dan di
sana pula Bayu yang mendorong timbulnya pengertian guna
menunjang kehidupan segala mahluk). Adalah menduduki tem-
pat itu Sanghyang Brahman beserta yCl1g latn-Iain melakukan
Yoga Samadhi untuk memuja zat yang kekal. Tempat itulah
yang selamanya dituju oleh orang-orang bijaksana. DIA yang
bermukim di sana itu tidak dapat dicium dengan alat pencium-
an, tidak dapat dikecap dengan Iidah, t~dak teraba dengan alat-
alat peraba. DIA itu hanya dapat dicapai dengan fikiran saja,
karena tidak berbentuk, tidak mempunyai sifat atau ci·ri-ciri.

DIA lah yang menjadi sumber alam semesta yang teratur ini,
dan alam semesta yang maha luas ini terletak di dalamnya.
Kelompok Prana yang bersifat menghidupkan itu, bersumber
dari Sana pula. Adapun kelompok Prana (hawa mur.ni) itu, ter-
diri dari Prana, Apana, Samana, Wyana dan Udana. Kesemua-
nya itu bersumber dari Brahman dan mengalir kembali ke
dalam Brahman yang berpusat di satu titik, perpotongan kedua
alis mata dan hidung. la berada di tengah. Prana dan Apana
bergerak di antara Samana dan Wyana. Pada Jiwa atau Roh
yang sedang tidur, kelompo~ Samana dan Wyana itu terserap
ke dalam. Di antara Aoana dan Prana, terdapatlah Udana yang
menyelusup dan menembus semuanya. Prana dan Apana terus
berfungsi meskipun orang itu sedang tidur. Udana, adalah yang
mengatur gerak pernafasan. Disebut Udana. karena gerakannya
itu dapat mengatur gerak aliran kelompok prana yang lain.

Udana inilah yang selalu diusahakan untuk dikendalikan oleh
mereka yang memuja Brahman. Dalam setiap keadaan, gerak
aliran Udana diatur dengan jalan mengendalikan nafas secara
ketat, dengan demikian, aliran Prana, Apana, Samana dan Wya-
na akan menjadi teratur pula. Perbuatan mengatur nafas ini
yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran Roh adalah me-
rupakan perbuatan tapa-brata. Di tengah-tengah hawa murni
atau kelompok prana yang saling serap satu dengan yang lain

56

itu, terdapat api yang menyala-nyala, memancarkan sinar yang
te~diri dari tujuh macam cahaya. Api itu dtsebut Waiswanara.
Tujuh jenis cahaya itu masing-,masing menembus hidung, ·Ii-
dah, mata, kulit dan telinga, dan selanjutnya, dua jenis cahaya
lagi, menembus fikiran dar) pengertian. Jadi fungsi dari ketujuh
lidah api Waiswanara adalah untuk menghidupkan alat-alat pe-
ngindraan. Dan selanjutnya, ap'i itu akan tetap besar dan me-
nyala-nyala apabila mendapatkan bahan bakarnya dari segala
yang dapat dicium baunya, yang dapat dirasakan dengan lidah,
yang dapat dilihat, yang dapat diraba, dan semua yang dapat
difikirkan serta ditahami atau dimengerti. Ketujuh hal yang di-
sebutkan itu, adalah tujuh orang pendeta penyelenggara upa-
cara, yang selalu menuangkan kurban-kurban kedalam api
Waiswanara itu. Ketahuilah wahai adindaku yang berbahagia,
bahwa orang bijaksana, dalam ",elakukan upacara kurban, se-
lalu akan menuangkan tujuh macam kurban ke dalam api yang
memancarkan tujuh macam cahaya itu. Yang dituangkan ke
dalam api kurban itu, segalanya yang memiliki sitat-sitat baik
dan bersih serta tercium baunya, terasa kenikmatannya apabila
diminum, terlihat ronanya dengan mata. teraba dan terasa wu-
judnya. terdengar suaranya. dapat difikirkan dan mengandung
pengertian sesuai dengan alam pengertian. Dalam melaksana-
kan persembahan kurban dengan jalan Yoga, seluruh tikiran dan
perasaan dipusatkan untuk menciptakan sitat-sifat persembah-
an itu, disatukan dengan Udana. (Kehidupan di dunia ini diatur
oleh nafas kehidupan itu. Natas-natas atau kelompok prana itu
melekat dengan Roh atau Atman serta menghasilkan sitat-sifat-
nya send~ri-sendiri. Udana yang mengendalikan besar kecilnya
aliran kesemua jenis prana itu, sedangkan Udana itu sendlri di-
atur oleh usaha-usaha mengatur nafas yang tidak lain dari ke-
giatan tapa-brata. Jadinya, tapa-brata itulah yang dapat me-
mutuskan perputaran kelahiran yang juda memungkinkan ter-
serapnya Atman' ke dalarn Brahman).

Tanah, angin, ether, air dan cahaya adaJah kelompok lima
unsur besar, yang ditambah oleh fikiran dan pengertian UAtU~
menggenapkan menjadi tujuh. Itulah semuanya. yang menjadi-
sumber segalanya yang qerwujud di alam semesta ini. Semua
hal yang dapat membe.rikan ck'i dan sifat kepada sajen-sajen
perocsembahall, akan masuk ke dalam api persembahan itu dan
diset'ap oleh sifat-sitatyang dimiliki oleh api itu. Setelah lebur
di dalam api itu, semuanya itu akan terlahir kembali ke dalam
perwujudannya yang baru, diserap kembali oleh wadah-wad_ah
baru, yang juga merupakan sumber aslinya. Oi sanalah ia me-
netap selama proses peleburan itu berlangsung. Oari sana-

57

lah bersumber segala rasa dan bau, Juga warns dan bentuk-

bentuk yang dapat diraba. Dari sana Juga beraumber legala
bentuk bunyi dan suara, juga keraguan dan kem.ntapan fiJciran

ditambah dengan kesimpulan-kesimpulan dan pengertlan. Iw-

lah semua yang disebut tujuh macam ciptaan. Demiklan itu
pengetahuan yang sudah dipahami oleh para cerdik pandai
sejak jaman purba. Dengan tiga kali menuangkan kurban, di-
tambah sekali lagi dengan yang keempat, maka upacara itu
menjadi sempurna, dan api bercahaya gemerlapan.

XXI. Sekarang, dengarkanlah ceritera tentang sepuluh per-.deta
pelaksana upaeara atau sepuluh Hotri itu. Kesepuluh pendeta
itu, apabila dikembalikan ke dalam badan jnmani, tidak lain
adalah telinga, kulit, kedua mata, lidah, hidung, kaki dan ta-
ngan, alat kelamin, dubur dan ueapan. ~uara dan rasa raba,
warna dan rasa lidah, bau, !Jeapan, tindakan dan gerakan, pele.
pasan sperma, air seni dan pengeluaran tinja kesemuanya itu
merupakan kurban tuangan. Arah mata angin, hembusan
angin, Surya, Chandra, Bumi (parwati), Agni (api), Wishnu,
Indra, Prajapati dan Mitra, itu semua disebut api kurban yang
menerima kurban tuangan itu. sepuluh alat-alat untuk menge-
tahui dan untuk bertindak itu sepadan dengan sepuluh Hotri
yang menyelenggarakan upaeara kurban. Dan jenis kurban itu-
pun sepuluh maeam jenisnya. Obyek dari sepuluh alat-alat itu
menjadi bahan bakar yang patut dituangkan untuk menyalakan
kesepuluh api kurban itu. fikiran dan simpanan pahala-pahala
yang baik dan yang buruk sebagai sumbu api itu. Sebagaimana
diketahui semuanya itu berkaitan dengan kehidupan kedunia-
wian. Karena itu, semuanya harus dikurbankan. Setelah semua-
nya djkurbankan, maka yang tinggal adalah Pengetahuan ter-
tinggi dan sejati. Kita semua sudah mendengar bahwa seluruh
alam semesta ini sudah pula di bagi-bagi menjadi bermaeam-
macam cabang ilmu pengetahuan. Namun bagaimanapun juga,
yang menjadi obyek dari semua ilmu pengetahuan itu adalah
fikiran atau kenyataan dari fikiran. IImu pengetahuan sebagai-
mana disadari, hanyalah merupakan sarana untuk mem~taami,
jadi bukan menjadi bag ian dari fikiran itu sendiri, meskipun
dengan ilmu pengetahuan itu kita dapat memahami apa dan
bagaimana fikiran itu. Yang mengetahui, Roh, membentuk di-ri-
nya menjadi gugusan abstrak dan ia merasuk ke dalam jasad
kasar yang terlahir dengan proses pembuahan Yang menun-
jang jasad kasar itu dari sebelah dalam adalah api yang disebut
Garhapatya. Dari api inilah dibentuk api-api yang lain. fikiran/
itu disebut api Ahawaniya. Ke dalam api itu dituangkan kurban
tuangan dan dari sana dihasilkan pengetahuan Weda-weda.

58

Demikian itulah fikiran dilahirkan. Fikiran itu didorong oleh ke-
inginan untuk menciptakan, lalu memikirkan dan mencetuskan
Weda-weda atau Firman-firman. Setelah itu barulah difikirkan
tentang warna dan bentuk tanpa membedakan bentuk dan
warna-warna khusus. Dan semuanya itu menuju ke dalam fik·ir-
an" .

Wanita isteri Brahmana itu selanjutnyabertanya : "Me-
ngapakah kata-kata yang pertama kali diciptakan, mengapa
bukan fikiran? Bukankah kata-kata itu hasil pengolahan fikir-
an? Menurut apa yang telah kakanda kemukakan di atas, Prana
itu bernaung di bawah fikiran. Mengapakah pada waktu tidur
nyenyak tanpa mimpi, meskipun sudah lepas dari pengaruh
fikiran, Prana itu tidak juga dapat menanggapi obyek-obyek
di sekitarnya? Apakah yang menghalangi kegiatan prana ketika
itu?"

"Setelah terbebas dari ,::I:}rlgaruh fikiran, Apana yang me-
nguasai Prana; ia diserap oleh Apana hingga menjadi sesuai
dengan Apana itu dan bahkan dalam keadaan demikian, ia
berubah menjadi apana itu sendiri. Terhambatnya gerakan Pfa-
na yang pada saat itu terserap ke dalam Apana, dikatakan seba-
gai awal dari gerakan fikiran. Oleh karena itu, fikiran yang ter-
gantung dari Prana dan bukan Prana yang tergantung dari ·ti-
ki ran. itu lah sebabnya dalam keadaan tidur yang nyenyak, sete-
lah fikiran itu lenyap, Prana itu menjadi aktip bersama,;,sama
dengan kelompok prana (hawa murni) yang lain, tidaklenyap
bersama-sama dengan fikiran. Adinda telah menanyakan ten-
tang fikiran dan kata-kata yang kedua-duanyamenuju ke dalam
Rohani dari arah segala yang ada di sekitar Rohani itu. Dengar-
kanlah ceriteranya itu baik-baik. Setelah keduanya itu, yaitu
Fikiran dan kata-kata itu tiba di tempat Rohani, mereka lalu
menanyakan, siapa dari antara keduanya yang lebih tinggi ting-
katannya. Menghadapi keduanya itu, Roh yang agung itu lalu
memberikan penjelasan sebagai berikut ini: "Aku mengetahui
dengan pssti bahwa kalian berdua sarna memiliki kekuatan-
kekuatan yang khas untuk dirimu sendiri, namun bagaimana-
pun juga, Fikiran ~dalah yang lebih tinggi!" Kata-kata tidak
puas, lalu menjawab sebagai berikut: "Hambalah yang selalu
mempersembahkan segalanya yang dihasilkan oleh keinginan
pa9'uka!" roh~nj menjawab: "Demikian itulah sepantasnyal"

"Ketahuilah juga adindaku, bahwa Fikiran itu mempunyai
dua ciri kepribadian. Yang pertama adalah bentuk kepribadian
tetap sesuai dengan pandangan fikiran sendiri di dalam. Dan
yang kedua bentuk kepribadian sesuai dengan pandangan
orang lain terhadap fikiran kita itu. Misalnya, aku ini, mempu-
nyai tikiran sendiri terhadap bentuk fikiran yang aku miliki ini,

59

sedangkan adinda mempunyai fikiran pula terhadap bentukfi-
kiranku itu. Adinda mendapatkangambaran tentang fikiran itu
melalui mantra-mantra yang kuucapkan, melalui tulisan YSlng
kususun, yang kesemuanya itu dapat adinda jangkau dan dibe-
rikan tanggapan. Karena itu bentuk kepribadian fikiran yang
datang dari luar atau sesuai dengan tanggapan orang lain itu ja-
uh lebih mulia dari fikiran kita tentang bentuk fikiran kita sendiri
itu. Itulah pula sebabnya mengapa fikiran yang mengarah ke
dalam jauh lebih tinggi mutunya dari fikiran yang diarahkan ke
luar. Jadi, fikiran yang ke dalam itu mencakup penilaian orang
lain terhadap diri kita dan juga kegiatan introspeksi yang kita
lakukan dan fikiran keluar itu adalah fikiran kita yang pada
umumnya ditujukan kepada orang-orang dan benda-benda di luar.
Karena itu, wahai adinda. jangan lagi ragu-ragu kemana adinda
akan menuju; dengan penuh penyerahan nikmatilah buah-
buah dari kesetiaanmu, dan aku, dengan~enarik nafas dalam-
dalam kuhirup pula fikiran yang adinda pancarkan dan kusebut
namamu.

Dewi mulia yang menguasal kata-kata, selamanya ber-
mukim di antara Prana dan Apana. Tetapi Dewi yang diberkati
itu tergelincir ke dalam Apana, karena berpisah dengan prana.
Dia tidak bisa'iagi muncul ke atas. bagaimanapun diusahakan
untuk mendorongnya. Karena itu Dia bergegas menuju Praja- .
pati seraya menghaturkan sembah: "Semoga paduka 0 yang
suci. merasa puas dengan diriku ini!" Pada saat itu Prana mun-
cu I sekali lagi untuk mendorong timbulnya kata-kata. berpapas-
an dengan hembusan nafas yang dalam dari tarikan nafas yang
terakhir. maka sejak saat itu, tidak pernah lagi terdengar ucap-
an kata-kata.

Kata-kata itu ada yang dikeluarkan dengan jelas. ada pula
kata-kata yang tidak terdengar sama sekal i. yaitu beri,ata-kata
di dalam fikiran. Dalam hal nilai, kata yang tidak diucapkan
lebih bernilai dari kata yang dikeluarkan. Kata-kata yang tidak
diucapkan dapat mempunyai banyak arti. dan ia selalu meng-
hasilkan kekekalan dan kebebasan. Kata itu mempunyai sifat
ganda yang berlawanan. sifat suci dan tidak suci. Adinda per-
hatikanlah hakekat dasar dari kata-kata ilu ..

Isteri Brahmana selanjutnya bertanya: "Apakah yang di-
ucapkan oleh Dewi penguasa kata dahulu ketika kakanda mera-
sakan dorongan keras untuk berbicara tetapi perkataan itu ·ti-
dak bisa keluar?"

"Pada waktu itu, kata-kata yang bang kit di dalam badan
berkat dorongan Prana, lalu bersama-sama dengan Prana itu
mengalir kedalam Apana. Dari sana ia menuju ke Udana
dan bersama-sama dengan nafas terakhir keluar dari badan,

60

namun segera ia diserap oleh alam raya bersama-sama dengan
Wyana. Setelah itu ia diserap oleh Samana dan tetap tinggal
di dalamnya. Demikian itulah kata-kata itu diucapkan pada ja-
man dahulu itu. Demikian, maka fikiran di dalam yang tidak
bergerak itu dibedal\an dengan Dewi penguasa kata-kata yang

bergerak.

XXII. Dalam hubunganini, sering diceriterakan suatu kisah lama

tentang tujuh pendeta penyelenggara upacara. Masing-masing

mereka itu adalah hidung, mata, lidah, kulit dan telinga, dan

dua yang lain adalah fikiran dan pengertian. Masing-masing

mereka itu berdiri sendiri dan dibatasi ruang yang jauh jarak-

nya, hingga masing-masing tidak saling mengenal. Itulah wahai

adinda, ketujuh pendeta pelaksana upacara kU'rban itu:'.

"Mengapakah mereka tidak saling mengenal satu dengan

yang lain? Mohon di jelaskan si1\t masing-masing pendeta itu".

"Tidak mengenal sifat suatu benda, berarti juga tidak me-

ngenal benda itu sendiri, demikian selanjutnya apabila menge-

nal sifat-sifatnya, pastilah benda itu, yang memiliki sifat-sifat itu

kita kenai pula. Masing-masing pendeta yang disebutkan itu

tidak pernah mengetahu; sifat atau nilai-nilai yang dimiliki oleh re-

i<an-rekannya yang lain. Lidah; mata, telinga, kulit, fikiran dan

pengertian, tanpa bantuan dari hidung itu sendiri, tidak pernah

mampu mencium bau. Hanya hidung sajalah yang mampu men-

cium bau itu. Selanjutnya, hidung, mata, telinga, kulit, fikiran

dan pengertian, tidak pernah berhasil menangkap rasa enak

dan tidak enak suatu makanan dan minuman. Hanya lidah saja

yang mampu menQetahuinya. Wama-warna, hanya dapat dike-

tahui oleh mata, tidak oleh yang lain. Rasa sentuhan atau rasa raba.

hanya dapat diketahui oleh kulit. tida'k oleh yang lain. Selanjut-

nya. bunyi dan suara. hanya dapat dik-etahui oleh telinga. Ke-

mudian fikiranlah yang semestinya rnenghadapi keragu-

raguan dan terakhir, hanya pengertian yang mampu mernberi-

~an tanggapan kepada kaidah-kaidah ilmu pengetahual-1. Se-

hubungan dengan ini. 0 adinda. terdapat suatu kisah kuna ten-

tang percakapan ya~g terjadi di antara ketujuh alat pengindra-

an itu itu terjadi karena ulahnya sang fikiran. yang pada suatu

hari berkata oOTanpa aku. pasti lah si hidung tidak dapat men-

cium bau-bauan. demikian juga si lidah. tentu tidak dapat

merasakan rasa enak dan tidak enak. mata tidak dapat menang-

kap sinar dan warna. kulit tidak merasakan sentuhan-sentuhan.

telinga tidak mendengar bunyi. Akulah yang kekal dan paling

utama dari semua unsur yang ada. Hukum yang selamanya ber-

laku adalah bahwa tanpa aku. alat-alat pengindraan itu tidak

akan bersinar cemerlang. Semuanya akan menjadi suram ba-

61

gaikan suatu tempat yang kosong, atau bagalkan api yang te-
lah padam. Tanpa aku, semua mahluk akan gagal melakukan
penghayatan serta tanggapan terhadap apapun juga yang ada
di dunia ini meskipun alat-alat itu berusaha dengan keras untuk
mengamatinya. Meskipun bahan bakarnya sudah melimpah
ruah, namun api tidak ntunqkin dapat dinyalakan!".

Mendengar pernyataan yang dikeluarkan oleh fikiran itu.
semua alat pengindraan itu lalu menjawab: "Hai saudar.aku
Flkiran mungkin ucapan saudara itu benar adanya, tetapi, ha-
nya apabila saudara Fikiran mampu menikmati segala kenlk-
matan itu tanpa kami sendiri yang menyajikannya kehadapan
saudara. Sungguh apa yang saucara ucapkan itu menjadi kenya-
taan, tetapl,tungg.ulah agar kami tidak bertungsi lagi, namun
rasa .puas masih dapat saudara nikmati dan kehidupan masih
dapat ditunjang, serta saudara masih terus dapat menikmati
berkat kenikmatan. Apabila kami s~ua sudah terserap dan
lenyap, sedangkan benda-benda kenikmatan masih ada, mam-
pukah anda menikmatinya dengan mengandalkan dorongan
keinginan saudara saja? Sungguh kami menyangsikan hal itu
dapat terjadi! Yang benar adalah bahwa saudara dapat menik-
mati kesemuanya itu hanya atas bantuan kami juga! Apabila.
benarlah saudara dapat merebut serta mempergunakan ke-
mampuan-kemampuan khusus yang kami masing-masing mi-
liki. nah, sekarang silahkanlah tangkap warna itu dengan hi-
dung, rasa enak nikmati dengan mata. Silahkan cobalah men-
cium bau itu dengan telinga dan rasa kulit dengan lidah. De-
ngarkan bunyi dengan kulit dan selanjutnya rasa kulit dengan
pengertian. Mereka yang mempunyai kekuatan dan kemam-
puan hebat tidak akan dibatasi oleh secutak peraturan khusus.
Peraturan-peraturan hanya dikenakan kepada mereka yang le-
mah dan mempunyai kemampuan terbatas semacam kami ini.
Silahkan sekarang saudara menikmati kenlKmatan yang belurn
pernah saudara rasakan sebelumnya. Saudara tentu tidak akan
mampu menikmati apapun juga yang belum pernah dinikmati
terlebih dahulu oleh kami-kami ini. Sebagaimana halnya se-
Qrang murid·datang rnenghampiri gurunya untuk mendapatkan
pelajaran Sruti aan setelah memahami wejangan gurunya itu
lalu mentrapkannya, demikian itulah hendaknya saudara mem-
perlakukan objek-objek yang karni ajukan kehadapan saudara,
balk yang dahulu maupun yang akan datang, baik dalam tidur
maupun dalam jaga. Mahluk yang bodoh, meskipun fikirannya
terganggu dan bahkan tidak berfungsi, namun ia masih dapat
hidup dengan mengandalkan fungsi kami yang lemah ini. Juga
mahluk-mahluk yang sudah melakukan kenikmatan khayal, pa-
da suatu saat, didorong oleh keinginannya untuk menikmati
kenyataan, tentu akan kembali kepada objek-objek panea tn-

62

driya. Orang yang ingin mendapatkan kenikmatan dan kepuas-
an hanya denganfikiran dan khayalan belaka, tanpa memper-
hitungkan ketergantungannya dengan benda-benda kebutuh-
an untuk hidup, sel,alu akan menemui ajalnya karena kehabisan
Pranal. bagaikan nyala api yang kehabisan bah;:ln bakar. Yan.Q
benar adalah bahwa kita ini terikat kepada sifat-sifat kita masing-
masing. Dan kita tidak mengenal sifat-sifat yang dimiliki oleh yang
lain. Tanpa kami, saudara tidak akan mendapatkan persepsi.
Tanpa kami saudara pasti tidak akan mendapatkan kesenang-
an !"

XXIII. Brahmana pertapa itu melanjutkan wejangannya: "Se-

hubungan dengan ini, 0 wanita mulia, terdapat sebuah cerit~ra

kuna yang menjelaskan apa dan siapa sebenarnya kelima pen-

deta penyelenggara IIpacara itu. Orang-orang bijaksana telah

memberikan pandangan mereka sebagai prinsip besar dan s~ngat

terkenal, yaitu Prana, Apana, Udana, $amana, danWyana".

Isteri Brahmana segera memotong dan bertanya: ".Maafkan

hamba 0 kakanda, hamba mendengar ada tujuh orang pelak-

sana upacara. Mohon dijelaskan, bagaimana itu bisa dicakup

oleh lima prinsip?" Brahmana pertapa segera menjawab: "De-

ngarlah dahulu keteranganku, perhatikanlah baik-baik! Kelom-

pok hawa yang digalang oleh Prana sendiri, pertama kali me-

nyelusup ke dalam Apana dan dari sana menuju ke dalam Wya-

na dan berkembang di dalamnya. Setelah dikembangkan oleh

Wyana lalu masuk dan berkembang di dalam Udana. Dari sana

ia mengalir dan beralih bentuk menjadi Samana. Mereka itu

semua, pada jaman dahulu pernah menghadap Hyang Maha

Agung Serta menanyakan siapakah dari antara mereka yang

paling tinggi derajatnya. Mereka bersama-sama menyatakan

sebagai berikut: "siapapunyang padukajunjungan kami sebut-

kan, dialah yang akan menjadi pemimpian kami!" Jawaban

ya-ng mereka terima adalah sebagai berikut :

"Dia yang lenyap bersama-sama dengan lenyapnya semua

hawa kehidupanitu, dia yang turut bergerak apabila jasmani

itu melakukan gerakan, dia itulah yang tertinggi di antara ka-

lian. Nah, sekarang berbuatlah sekehendak kalian!"

Prana lalu berkata: "Kalau aku pergi dan mati, semua yang

lain akan mati pula, tidak berfungsi lagi di dalam tubuh mahluk

hidup ini. Kalau aku bergerak, merekapun turut t?erge'rak. Ka-

rena itu akulah yang tertinggi. Saksikanlah aku akan matil"

Seketika, Prana mematikan dirinya dan sesaat kemudian Prana

menghidupkan dirinyakembali. Samana dan Udana juga me-

nyatakan serta melakukan hal yang sama'dan berkata kepada

Prana sebagai berikut: "0 Prana, pengaruh saudara tidak sam-

63

pai menembus wilayah kekuasaan kami. Karena itu saudara
bukanlah yang paling menentukan diantara kami! Hanya sa-
.udara Apana saja yang terpengaruh oleh kegiatan saudaraL"
Prana bergerak dan Apana berkata: "Kalau aku berhenti beker-
ja, semua hawa kehidupan yang lain pas~i tidak dapat berfungsi
di dalam mahluk hidup ini. Segala gerakanku akan diikuti oleh
mereka semua. Karena itu, pasti akulah yang terpenting di an-
tara mereka semua. Wahai saudaraku sekalfan, lihatlah aku
akan mati!" Apana menghentikan kegiatannya. Wyana dan
Udana segera berKata: "0 saudaraku Apana. Ternyata anda
bukan yang terutama. Hanya Prana saja yang terpengaruh oleh
keadaan saudara itu!" Apana segera bergerak kembali. Menge-
tahui kegagalan Prana dan Apana, Wyana lalu berkata; "Sebe-
narnya, akulah yang tertinggi di antara kalian. Dengarkan apa
alasanku. kalau aku mati, semua yan~ lain pasti ikutmati di
dalam tubuh ini. Demikian pula apabila aku bergerak, semua
kalian akan ikut bergerak. Saksikanlah sekarang aku akan
mati!" Wyana menghentikan kegiatannya. Setelah beberapa
lama ia menggerakkan dirinya kembali. Prana, Apana, Udana,
dan Samana serentak berkata kepadanya: "Saudara bukanlah
yang terutama 0 Wyana. Hanya Samana yang bisa terpengaruh
oleh keadaa'1 saudara!" Wyana bergerak dan Samana berkata:
"Hai dengarkan kalian semua! Akulah yang tertinggi di antara
kalian. Saksikanlah sekarang! Aku akan berhenti bekerja, pasti
kalian tidak sanggup melanjutkan kegiatan, dan apabila aku ber-
gerak, semua akan mengikuti aku!" Samana menghentikan pe-
kerjaannya bagaikan mati, dan setelah beberapa saat ia berge-
rak kembali. Seketika, Udana bersorak dan berkata: "Kalian
semua bukan yang tertinggi, jadi akulah yang berhak memim-
pin kalian! Lihatlah sekarang apabila aku yang menghentikan
kegiatan, pasti kalian akan berhenti pula, tidak kuasa bergerak.

Dan apabila aku bergerak, semua kalian akan mengikuti per-
gerakanku. Saksikan, aku akan menghentikan diri dari segala
kegiatan!" Untuk sesaat lamanya, Udana berhenti bekerja. Te-
tapi, setelah ia bergerak kembali, semua teman-temannya, yang
terdiri dari Prana, Apana, Samana dan Wyana serentak berseru
kepadanya. "0 saudaraku Udana, ternyata pengakuan saudara
itu tidak benar juga. Saudara bukanlah yang terpenting dari
antara kita sekalian. Hanya Wyana saja yang sempat saudara
pengaruhi dengan tindakan tadi!"

Menyaksikan tingkah polah kelima prinsip dasar itu, Hyang
Maha Agung tersenyum, lalu bersabda kepada mereka semua:
"memang, kalian semua sarna penting dan sarna-sarna seting-
kat dalam kedudukan kalian. Masing-masing dari antara kamu
hanya mampu menguasai di samping sifat-sifatmu sendiri, juga

64

sifat-sifat salah satu dari sejawatmu saja, tidak lebih! Kalian
semua mempunyai kelebihan-kelebihan masing-masing serta
dapat menguasai sifat-sifat ternan terdekatmu yang lain!" Demi-
kianlah Hyang MahaAgung, penguasa segala mahluk menegas-
kan kepada mereka. Masing-masing mereka bergerak dan tidak
bergerak silih berganti, kelimanya itu saling mempengaruhi sa-
tu dengan yang lain. Selanjutnya, Brahman bersabda : "Diriku
ini hanya satu. Yang satu ini dapat mengendap menjadi bermacam-
macam bentuk. Demikian juga kalian, sebenarnya hanyalatl
satu, karena itu berbaiklah kamu satu dengan yang lain. De-
ngan saling memberi dan saling menerima laksanakan tugas-
mu dan bantulah rekan-rekan terdekatmu! nah, sekarang, bu-
barlah kalian!"

XXIV. Brahmana pertapa itu melanjutkan wejanganlllya kepada

isterinya: "Dengarkanlah sekarang, wahai isteriku yang setia,

sebuah ceritera kuna yang juga menyangkut ajaran di atas,

yaitu percakapan yang berlangsung antara Rishi Narada dan

Ri~hi D_ewamata. Dalam suatu perbincangan yang terjadi di an-

tara mereka, Dewamata bertanya: "Apakah yang sebenarnya

telah terlahir pertama kali yang ada di dalam diri setiap mahluk?

Apakah Prana, Apana, Samana, Wyana ataukah Udana ?".

Narada menjawab: "Dengan bahan apapun mahluk ttu di-

ciptakan. yana oertama masuk menvelusup ke dalam dirinya
adalah suatu dzat yang lain dari din~ya itu. KelompoK prana

yang menunjang kehidupan itu, dikenal adanya dalam bentuk

berpasang-pasangan, gerakannya tegak lurus, sebagian me-

nuju ke atas dan sebagian ke bawah".

Dewamata bertanya: "Dari antara kelompok prana itu, yang

manakah yang menciptakan mahluk hidup itu? Yang manakah

muncul pertama kali? Mohon dijelaskan pasangan-pasangan

kelompok prana itu, baik yang bergerak ke atas maupun yang

menuju ke bawah".

Narada menjelaskan: "Dari sankalpa (keinginan) muncul

kesenangan. Kesenangan itu dapat ditimbulkan oleh bunyi-

bunyian, oleh rasa Iidah, rasa kulit, oleh warna dan oleh bau.

Keinginan dan kesenangan mendorong terjadinya suatu proses

pertemuan antara sperma dan induno telur yang diliputi oleh

darah. Pada saat pertemuan itu mengalir untuk pertama kali Pra-

na, menyelusuo ke dalam persatuan sperma dan indung telur

itu, hingga keduanya berubah menjadi janin. Proses perubahan

itu, hingga keduanya berubah menjadi janin. Proses perubahan

mengaktifkan Apana. Sperma dan Indung telur itu mendorong

suatu perpaduan keseriangan yang sukar dibayang kan. Ke-

senangan-kesenangan itu merupakan perpaduan rasa-rasa se-

65

luruh alat-alat pengindraan. Perpaduan bentuk rasa ini sebagi-
an terbesar ditimbulkan oleh Udana. Kesenangan itu dirasakan
pada saat pertemuan kedua jasad itu. Sperma dan indung telur
itu terwujud berkat adanya suatu dorongan khusus. yaitu suatu
keinginan untuk melakukan regenerasi, mengadakan keturun-
an. Keinginan itu mendorong pula terjadinya siklus menstruasi.
Di dalam pertemuan di antara sperma dan sel telur, yaitu me-
ngapa sperma- tertarik dan bertemu dengan sel telur, proses
itu didorong oleh Samana dan Wyana. didorong pula oleh

pasangan Prana dan Apana. yang bergerak lurus ke atas. Wya-
na dan Samana juga merupakan pasangan yang bergerak lurus
ke atas atau tegak lurus. Dewa yang aktip pada saat itu, tidak
lain adalah Agni. Inilah suatu ajaran yang tereantum dalam
Weda. Pengetahuan tentang Agni. tUflbuh di dalam diri se-
orang Brahmana yang mempunyai kecerdasan. Asap api mem-
punyai sitat Kegelapan. Sifat natsu (Kama) terdapat di dalam
abunya. Nilai-nilai -Kebaikan (Sattwam) terletak di dalam cahaya
api ke dalam mana kurban tuangan itu dituangkan. Mereka
yang berpengetahuan tentang Upacara. akan mengetahui pula
t>ahwa Samana dan Wyana itu terlahir dari sifat-sifat Kebaikan
ItU. Prana dan Apana adalah bahan bakarnya dan di antara ke-
duanya itulah. terdapat Api dan di sana itu pula Udana sebagai-
mana dikenal oleh para Brahmana. Pada puncaknya Samana,
kemudian Wyana. Wyana bertungsi setelah Samana. Samana
menyelusup ke dalam Wyana, dan mereka yang memiliki bathin
yang tenteram, ia hanya merasakan adanya Wyana. Kesadaran
Manusia tidak dapat melampaui Wyana dan dalam keadaan itu-
lah kita menyadari Brahman yang kekal. Dalam kesadaran itu-
lah tempat Udana sebagaimana diketahui oleh para Brah-
mana."

xxv. Brahmana pertapa itu melanjutkan ceriteranya: "Dengar-

kanlah sebuah eeritera kuna tentang Chaturhotra (Upaeara

kurban). 0 adindaku tereinta, aku akan mengungkapkan raha-

sia yang sangatdikeramatkan ini. Ketahuilah bahwa seluruh

alam semesta ini diliputi oleh empat dzat yang kita andaikan

sebagai empat pendeta penyelenggara upaeara kurban. Keern-

pat pendeta itu adalah Alat-alat (Sarana), Tindakan (Kegiatan),

Pengantar (media), dan akhirnya Kebebasan Abadi. Yang di-

sebut alat-alat, sebenarnya tidak lain dari pada alat-alat pengin-

draan dan penghayatan dari Roh, yaitu hidung, lidah, mata,

kulit dan telinga yang semuanya biasa disebut panea indriya,

Ditambah dengan pengertian dan fikiran hingga lengkap men-

jadi tujuh. Karena adanya alat-alat itu, maka kita mendapatkan

pengetahuan tentang nilai-nilai. Sau, rasa, warna, suara, rasa

66

luruh alat-alat pengindraan. Perpaduan bentuk rasa ini sebagi-
an terbesar ditimbulkan oleh Udana. Kesenangan itu dirasakan
pada saat pertemuan kedua jasad itu. Sperma dan indung telur
itu terwujud berkat adanya suatu dorongan khusus, yaitu suatu
keinginan untuk melakukan regenerasi, mengadakan keturun-
an. Keinginan itu mendorong pula terjadinya siklus menstruasi.
Di dalam pertemuan di antara sperma dan sel telur, yaitu me-
ngapa sperma-tertarik dan bertemu dengan sel telur, proses
itu didorong oleh Samana dan Wyana, didorong pula oleh

pasangan Prana dan Apana, yang bergerak lurus ke atas. Wya-
na dan Samana juga merupakan pasangan yang bergerak lurus
ke atas atau tegak lurus. Dewa yang aktip pada saat itu, tidak
lain adalah Agni. Inilah suatu ajaran yang tercantum dalam
Weda. Pengetahuan tentang Agni, tUrjbuh di dalam diri se-
orang Brahmana yang mempunyai kecerdasan. Asap api mem-
punyai sitat Kegelapan. Sitat natsu (Kama) terdapat di dalam
abunya. Nilai-nilai Kebaikan (Sattwam) terletak di dalam cahaya
api ke dalam mana kurban tuangan itu dituangkan. Mereka
yang berpengetahuan tentang Upacara, akan mengetahui pula
bahwa Samana dan Wyana itu terlahir dari sitat-sitat Kebaikan
itu. Prana dan Apana adalah bahan bakarnya dan di antara ke-
duanya itulah, terdapat Api dan di sana itu pula Udana sebagai-
mana dikenal oleh para Brahmana. Pada puncaknya Samana,
kemudian Wyana. Wyana berfungsi setelah Samana. Samana
menyelusup ke dalam Wyana, dan mereka yang memiliki bathin
yang tenteram, ia hanya merasakan adanya Wyana. Kesadaran
Manusia tidak dapat melampaui Wyana dan dalam keadaan itu-
lah kita menyadari Brahman yang kekal. Dalam kesadaran itu-
lah tempat Udana sebagaimana diketahui oleh para Brah-
mana."

xxv. Brahmana pertapa itu melanjutkan ceriteranya: "Dengar-

kanlah sebuah cei'itera kuna tentang Chaturhotra (Upacara

kurban). 0 adindaku tercinta, aku akan mengungkapkan raha-

sia yang sangatdikeramatkan ini. Ketahuilah bahwa seluruh

alam semesta ini diliputi oleh empat dzat yang kita andaikan

sebagai empat pendeta penyelenggara upacara kurban. Keem-

pat pendeta itu adalah Alat-alat (Sarana), Tindakan (Kegiatan),

Pengantar (media), dan akhirnya Kebebasan Abadi. Yang di-

sebut alat-alat, sebenarnya tidak lain dari pada alat-alat pengtn-

draan dan penghayatan dari Roh, yaitu hidung, lidah, mata,

kulit dan telinga yang semuanya biasa disebut panca indriya,

Ditambah dengan pengertian dan fikiran hingga lengkap men-

jadi tujuh. Karena adanya alat-alat itu, maka kita mendapatkan

pengetahuan tentang nilai-nilai. Sau, rasa, warna, suara, rasa

66

raba, semuanyalima hal yang menjadi objek fikiran, dan selan-
jutnya menjadi objek pengertian. Dan itu semua menjadi penye-
bab dilakukannya tindakan dan kegiatan. Mereka yang men-
cium bau, merasakan lezatnya makanan, yang melihat, yang
merasakan panas dan dingin, halus dan kasar, dan mereka yang
mendengar, berfikir dan mengerti. Semuanya itu mempunyai
nilai-nilai serta kadar sendi-ri-sendiri. Mereka yang mendahului
menyatakan yang baik dan yang buruk, menikmati yang baik
dan yang buruk. (Semuanya ini menyangkut sarana, medium
dan tindakan. Sifat-sifat dan kadaryang dimilikinya menyangkut
Kebaikan, Nafsu dan Kegelapan). Sedangkan Roh itu tidak di-
pengaruhi oleh sifat-sifat itu. Ketujuh hal yang disebutkan itu
mendorong. semua mahluk untuk mencari Kebebasan. Orang-
orang yang sudah belajar dan pengertiannya cukup, terutama
yang pengertiannya setingkat dengan dewa-d\wa,akan dapat
menikmati kurban tuangan itu sebagai mana mestinya dan
sebagai mana diharapkan. Jadi kurban tuangan yang dipersem-
bahkan kepada Roh (Atman) dan seterusnya menuju Brahman,
adalah segala-galanya yang tercium oleh hidung, yang terlihat
dengan mata, yang terkecap oleh lidah, yang terdengar oleh
telinga, yang teraba oleh kulit, yang dapat difikirkan dan dihim-
pun oleh pengertian. Semuanya itu dituangkan kepada api suci
yang berada di daLam Roh melalui alat-alat yang disebutkan
tadi itu, dan dalam menjalankan tugas atau fungsinya itu, alat-
alat itu mendapatkan kesenangan dan kedukaan pula. Alat-alat
itu bukan Aku, namun orang yang kurang pengertiannya atau
yang masih diliputi kegelapan menyatakan bahwa alat-alat itu-
lah si Aku-nya. Itulah sebabnya, orang bodoh itu, dalam me-
makan berbagai jenis makanan misalnya, akan terjerat oleh pe-
rasaan ke-Akuan yang keliru itu. Bagi orang bodoh itu, yang
menikmati bukan Rohnya, melainkan indriyanya. la selalu me-
ngatakan bahwa ini atau itu adalah miliknya, namun pada ke-
nyataannya, yang diaku sebagai Dirinya, bukan DIRI yang sebe-
narnya, ia bersikeras menyatakan bahwa indriyanya itu adalah
Di-ri-nya. Kamna kegelapan yang meliputi jiwanya, maka ia me-
ngidentifikasikan dirinya dengan benda-benda pemuas yang
berada di luar dirinya. Demikianlah ia mengunyah makanan
hanya untuk kepentingan dirinya yang palsu itu hingga akhir-
nya ambruk dicelakan oleh perasaan keakuannya itu. la akan
memakan makanan larangan dan meminum minuman keras
yang akan menghancurkannya. la mengunyah dan menghan-
curkan makanan dan bersamaan dengan itu menghancurkan
dirinya sendiri pula. Orang bijaksana, memakan makanan un-
tuk menghasilkan kembali makanan yang telah dikunyahnya

itu. Dosa-dosa paling kecilp~m tidak akan menodai dirinya se-

67

bagai akibat dari memakan makanan seperlunya itu. Se-
galanya yang difikirkan, diucapkan dan dilakukan, ataupun
yang didengar dan dilihat, diraba dan dicium, itu semuanya
telah bergabung di dalam minyak dan dituangkan sebagai kt.H-
ban persembahan, dieurahkan ke dalam api. setelah menutup
semua indriya yang lima jumlahnya dan ditambah dengan fikir-
an menjadi enam itu. Itulah yang dieurahkan ke Api yang me-
nyala di dalam badan, yang disebut Roh itu. (Dalam setiap ke-
adaan dan kegiatan. panea indriya dan fikiran itu supaya diken-
dalikan. setelah itu obyek pengindraan dan obyek fikiran itu
semuanya dituangkan ke atas api suci yang berada di dalam
badan. yang tidak lain adalah Roh (Atma) itu sendiri). itulah
makna dari setiap upacara kurban, dan demikian itulah aku
menyelenggarakannya dengan jalan Yoga. Hanya dengan cara
ini, maka api pengetahuan itu tetarfmenyala-nyala. Dalam upa-
eara Yoga ini. Prana yang mengalir ke atas menjadi Stotra.
Apana yang bergerak ke bawah menjadi Sastra penunjangnya.
Dan tidak mengikatkan diri kepada apapun juga di dunia ini,
menjadi Dakshina yang paling berharga dalam upacara Yoga
ini. Kesadaran, fikiran dan pengertian bertindak sebagai Hotri.
Adhwayyu dan Udgatri. Prasastri dengan Sastranya adalah ke-
benaran. Ya, kebenaran itu menjadi Prasastri dan Sastra dalam
upacara Yoga ini dan Dakshina adalah keadaan kita yang tidak
mengikatkan diri kepada apapun benda-benda kenikmatan di
dunia ini. Selanjutnya, orang yang biasa memuja Narayana,
akan mengunearkan sebagian dari mantram Rig Weda. Dahulu,
di jaman purba. orang menyembelih binatang kurban untuk di-
persembahkan, jaman itu sudah lama lampau, sekarang ini,
indriya kitalah yang harus dikendalikan. jangan merigikatkan
diri kepada segala macam kenikmatan indriya, itulah kurban
yang paling utama. Patut pula, dalam hal ini diuncarkan be-
berapa baitSamana. Di dalam itu semua terdapat kekuatan.
Narayana adalah Roh bagi segala-galanya'"

XXVI. Brahmana pertapa melanjutkan wejangannya: "DIA adalah

se~rang r~ja: yang tidak ada duanya. Raja mulia dari yang
p~llng mUII~ Itu bersemayam di dalam hati sanubari! Sekarang
Inl aku ~erblcara tentang Dirinya. Baginda itu yang mendorong

aku maJu, bagaikan aliran air di atas bidang yang landai. DIA

adalah Guru. Guru yang tidak ada bandingannya pula. Dia ber-

mukim di dalam hatj sanubari. Sekarang ini aku membicarakan

Guru itu. Setelah mendapat pelajarannya, segala jenis ular

mendapatkan sifat sebagaimana sepatutnya sifat ular! DIA ada-

lah sahabat yang tidak ada taranya. Dia bermukim di dalam

hati sanubari. Sekarang ini aku berbicara tentang sahabat itu.

68

Dengan mendengarkan petunjuk-petunjuknya, kita akan mem-
punyai sahabat-sahabat tidak terhitung banyaknya. Dan Sapta
Rishi akan berbinar cemerlang di angkasa. DIA adalah seorang
oen iaaa menvelamatkan kita dari mara bahaya. Dia menjaga
kita sebaik-baiknya. Dia bermukim didalam hati sanubari. Se-
karang ini aku berbicara dengan dirinya, dan kepadamu aku
berbicara tentang dirinya. Setelah hidup bersamanya serta me-
matuhi segala peraturannya, Sakra lalu berhasil menguasai se-
luruh alam di dunia. DIA adalah juga musuh yang tidak ada
tandingannya. Dia bermukim di dalam hati sanubari. Sekarang
ini aku ingin membicarakan tentang dirinya. Setelah belajar
dari musuh yang satu ini seluruh bangsa ular mendapatkan
keampuhan bisa yang mematikan itu.

Selanjutnya dengarkanlah wahai adindaku, sebuah ceri-
tera kuna tentang, DIA ini yang pasa suatu hari dittldap oleh
bangsa-bangsa Ular, Dewa-dewa,· pada Rishi, dan mahluk-
mahluk lain yang ada di alam ciptaan ini. Seluruh mahluk di
alam semesta ini duduk bersimpuh mengitari DIA yang maha
kuasa. Semuanya memohon agardiaja r kanapa saja yang ter-
baik bagi diri mereka masing-masing. Ternadap permohonan
mahluk-mahluk itu, Hyang Maha Agung hanya menjawab
dengan menguncarkan aksara suci OM, yang tidak lain adalah
aksara sakti simbu I Brahman. Setelah mendengar dengung
suara aksara itu, semua mahluk itu berlarian ke segenap pen-
juru Dunia. Berlari dengan membawa keinginan yang bergelora
di dalam dada masing-masing. Suatu keinginan yang tidak da-
pat dibendung untuk meningkatkan diri masing-masing, sest,Jai
dengan tingkat pengertian masing-masing. Dari antaranya, ter-
Iihatlah bangsa ular, yang berlari didorongoleh keinginannya
. itu dan tumbuh keinginannya yang paling kuat untuk menggi-
gil. Golongan Asura timbul keinginannya untuk membangga-
kan dirinya sebagai mahluk berhati liar dan bertenaga dahsyat.
Para Dewa mengembara dengan sifatnya yang suka memberi,
sedangkan para Rishi di dorong oleh keinginannya mengenda-
likan diri. Mahluk-mahluk itu sudah menghadap kepada se-
orang Guru yang sama, mendengar dengungan aksara suci OM
yang sama, yang bergema dengan halus dan lembut merasuk
ke dalam hati sanubari, dan setelah itu semuanya lalu merasa-
kan dorongan yang kuat sekali, bersumber dari dalam, dan tim-
bullah sifat diri masing-masing yang sangat berbeda-beda itu.
Adalah DIA yang satu itu yang mendengar kalau kita berkata-
kata, dan hanya DIA saja yang dapat memahami kata-kata itu
seutuhnya. DIA saja yang mampu memahami segala bentuk doa
yang diucapkan sendiri, DIA itulah Guru yang tidak ada duanya
di Jagat Raya ini! Semua sifat dan tingkah laku didorong oleh

69

DIA yang satu itu. DIA, sang Guru yang m~mpu memahami,
yang mendengar dan juga yang menjadi musuh dan menghukum
kita. Adalah DIA itu yang bermukim di dalam hati sanubari
setiap mahluk. DIA yang mendorong agar kita berbuat dosa,
dan sebaliknya DIA pula yang mendorong kita untuk berbuat
kesucian. Dia juga yang menjatuhkan kutuk kepada kita hingga
kita menjadi liar tak terkendalikan mendorong krta untuk me-

ngejar-ngejar kesenangan dan nafsu keduniawian. Dia juga
yang menjadi Brahmacharin yang selalu berusaha mengenda-
likan perasaannya dan mengendalikan indriyanya. Dis juga
yang menyebabkan kita mengucapkan sumpah .danjanji untuk
melakukan tindakan-tindakan yang menuju kesucian dan me-
nyerahkan diri sepenuhnya kepada Brahman. Dengan hidup
di Dunia dan selalu menyelaraskan diri dengan Brahman, dia
menjadi seorang Brahmacharin, seorang siswa pemuja Brah-

man. Brahman menjadi bahan bakarn~a, Brahman menjadi api-

nya, Brahman sumber dari segala permulaan, Brahman airnya,
Brahman Gurunya, dan dia terserap seluruhnya di dalam Brah-
man. Brahmacharya itu bersifat sedemikian lembut dan hanya
dapat dipahani oleh orang-orang bijaksana saja. Setelah mam-
pu meresapkan ajaran-ajaran fni, maka ia akan memutuskan
untuk mengambil jalan itu, dan selanjutnya ia akan diajar oleh
DIA yang paling mengetahui, yaitu Kshetrajna!

XXVII. Demikianlah adindaku! Aku ini sudah mempelajari dan

sudah pula mengalami keserba ragaman keadaan di dLinia ini.

Dunia yang dihuni oleh berjenis-jenis mahluk dari yang paling

rendah hingga yang tertinggi, penuh dengan kesusahan dan

kesenangan, dingin dan panas, kesemberonoan dan keteledoran

karena kegelapan yang pekat, nafsu tamak dan penyakit, penuh

dengan binatang melata yang menjijikkan, kekayaan dan ba-

haya-bahaya, tempat nafsu-nafsu dan kutuk, perampok-peram-

pok berkeliaran. Demikian itulah, maka aku sekarang sudah

sampai di dalam hutan belantara yang maha luas dari Hyang

Maha Brahman!"

Selanjutnya isteri Brahmana pertapa itu ingin mendapat-

kan penjelasan secara lebih gamblang tentang Brahman itu,

dengan mengajukan pertanyaan sabagai berikut ini: "Wahai

kakanda junjunganku, dimanakah sebenarnya bermukim DIA

yang maha utama itu? Bagaimanakah keadaan tempat di mana

DIA itu bermukim, bagaimana sungai-sungai dan gunung-

gunungnya? Bagaimana pula bukit-bukit dan hutannya?"

Brahmana pertapa itu lalu melanjutkan wejangannya: "Ti-

dak ada sesuatu yang terpisah di sana. Oi tempat itu sungguh

luar biasa membahagiakan, segala-galanya telah menunggal·ti-

70

dak dapat dipisahkan lagi. Semuanya terlibat terbelit, tidak bisa
diceraikan lagi, tidak mungkin ditentang. Tidak ada lagi yang
lebih besar daripadanya, dan tidak ada yang lebih keciL Tidak
ada yang lebih membahagiakan dari penunggalan dengan DIRI
nya. Orang suci yang'sudah menunggal dengannya, seketika
itu juga mampu mengatasi perasaan susah dan senang. Dia
tidak lagi mengenal perasaan takut, dan demikian juga sebalik-
nya, mahluk-mahl·uk lain tidak pernah merasa ragu-ragu untuk
berdekatan dengannya. Kalaupun dilakukan penguraian, di
tempat itu terdapat tujuh pohon besar, tujuh macam buah-
buahan, dan tujuh orang tamu, ditambah dengan tujuh tempat
pertapaan, dan tujuh cara Yoga, akhirnya tujuh bentuk upacara
penyucian. Demikian itulah gambaran tentang Brahman yang
seolah-olah dapat diuraikan, namun sebenarnya tidakmungkin
lagi dilakukan pemisahan-pemisahan it,. Tujuh pohon besar
itu sebenarnya adalah kelima indriya, ditambah .dengan fikiran
dan pengertian. Buah-buahan itu adalah tujuh macam kese-
nangan dan kesusahan yang dihasilkan oleh tujuh pohon yang
disebutkan tadi itu. Tujuh tamu adalah sifat masing-masing alat
pengindraan itu, karena mereka 'itulah yang pertama-tama
menerima suguhan buah-buahan y~mg melambangkan kese-
nangan dan kesusahan itu. Yang dilambangkan oleh tempat
pertapaan, tidak lain dari ketujuh pohon pengindraan itu, di-
bawah mana tamu-tamu itu berteduh. Ketujuh jalan Yoga itu
adalah tujuh tahap untuk mematikan daya dorongan alat-alat
pengindraan itu. Tujuh bentuk penyucian adalah tahap demi
tahap pengendalian alat-alat pengindraan itu, hingga akhirnya
tercapai keadaan di mana selur'uh alat-alat itu menghentikan
fungsinya. Oi dalam hutan itu pohon pohon itu berbunga dan
berbuah dengan lima macam warna. Ada dua jenis yang bunga
yang buahnya sangat harum. Selanjutnya ada dua warna yang
bunga dan buahnya sangat harum dan ada lagi satu warna yang
lain yang bunga dan buahnya luar bias~ harum. Dua jenis
pohon yang memenuhi hutan itu berbunga dan berbuah lebat
sekali dengan bermacam-macam warna yang tidak dapat lagi di-
t~gkap dengan pancaindra. Di sana pula terdapat satu api
yang diliputi oleh fikiran-fikiran yang baik. Api itulah yang erat
hubungannya dengan Brahman. Panca indra adalah bahan ba-
kar api itu. Tujuh cara pembebasan yang mengalir daripadanya
adalah tujuh upacara penyucian atau upacara inisiasi. Kadar ke-
baikan buah-buahan itu bermapam-macam, dan para tamu itu
menikmati buah-buahan itu. Terdapatpula beberapa tempat yang
berbeda-beda, dimana para Rishi dapat menerima penghormatan-
nya. Setelah upacara atau pengamatan, atau penyucia~ perta-
ma dilakukan, semuanya itupun lenyap, namun kemuthan 00-

71

tan yang lain memancar kelihatan, dan dalam hutan ini, kecer-
dasan yang menjadi pohon-pohonnya, dan buah-buahnya ada-
tah perlambang kebebasan abadi. Ketenanaan dan ketentraman
menjadi bayangan-bayangan bawah pohon yang dapat mem-
berikan keteduhan. Pengetahuan sebagai gubuk tempat peris-
tirahatan di dalam hutan itu. Rasa puas sebagai air, dan
Kshetrajna menjadi matahari yang meneranginya. Batas-batas-
nya yang terakhir tidak bisa dicapai baik ke atas, ke bawah
maupun ke samping. Tujuh orang wan ita yang cantik jelita se-
lalu berada di sana, dengan wajah selalu menatap ke bawah,
tubuhnya cemerlang dan memiliki daya pendorong berkelamin
untuk mendapatkanketurunan. Mereka menyerap segala ben-
tuk rasa yang ada di dalam mahluk-mahluk, sebagaimana ke-
tidak tetapan itu menyerap kebenaran. Oi sana ia bermukim dan

dari sana ia memancar. Mereka IU adalah ketujuh rishi yang

bermahkotakan keberhasilan tapa, dengan Rishi Wasistha
menjadi pemimpinnya. Kemenangan, kecemerlangan, kebesar-
an, kebebasan dan pengetahuan sempurna, Kejayaan, kebulat-
an dan kekuatan, semua itu menjadi sifat-sifatnya yang kekal.
Bukit-bukit dan gunung-gunung terdapat pula di sana, dan su-
ngai-sungai yang mengalirkan air bersumber dari Brahman.
Pertemuan aliran sungai terdapat di berbagai tempat sepi, dan
di sana itulah patut menyelenggarakan upacara kurban. Oi
tempat-tempat itu orang bijaksana memuja untuk mempersatu-
kan diri dengan DIA yang maha Agung. Mereka yang segala
bentuk keinginannya sudah di padamkan, maka yang tinggal
adalah keinginan untuk memenuhi panggilan kodratNya, orang
yang dosa-dosanya sudah dibakar dengan tapa-brata, maka
mempersatukan diri dengan Roh yang bermukim di dalam diri
untuk kemudian bersatu dengan Brahman. Ketentraman t}ati,
adalah yang pertama-tama harus dicapai. Setelah itu kemauan,
fikiran dan perbuatan selalu ditujukan kepada belantara ilmu pe-
ngetahuan itu/ dengan demikian ia akan lahir dengan penuh
keberanian. Nah, adindaku,demikian itulah keadaan hutan ke-
ramat yang dimengerti oleh para Brahmana yang tekun menge-
jar ilmu pengetahuan, dan setelah itu semua dapat dipahami,
mereka akan hidup secara teratur, sesuai dengan garis-garis
Dharma, dibimbing oleh Kshetrajna, maha guru yang berpenge-
tahuan luar biasa itu1."

XXVIII. Brahmana pertapa itu melanjutkan wejangannya :"Seka-

rang aku tidak memperhatikan bau; tidak perduli terhadap rasa;

tidak membedakan warna-warna; tidak membedakan halus-

kasar dan tidak diikat lagi oleh suara-suara yang merdu. Aku-

72

pun tidak menghiraukan tujuan-tujuan lain selain tujuan penge-
tahuan sejati. Adalah alam nyata ini yang menginginkan adanya
benda-benda kesenangan ini. Sebaliknya ada alam lain yang
menolak adanya benda-benda yang menimbulkan kebencian
itu. Dorongan keinginan dan dorongan penolakan datangnya
dari Alam itu. sesuai dengan arah aliran hawa kehidupan, ke
atas atau ke bawah yaitu setelah Roh itu memasuki jasad yang
mulai hidup ini. Terpisah dari semua itu adalah Alam yang lain,
di dalam alam-alam itu bermukim sifat-sifat yang kekal beserta
juga roh-roh segala mahluk, yang oleh para Yogi dapat dilihat
permukinannya di dalam badan. Sekarang ini, aku bernaung di
dalamnya itu, karena itu aku tidak lagi mengikatkan diri kepada
apapun juga. Tidak lagi didorong oleh keinginan dan kebenci-
an, tidak dirisaukan oleh penyakit atau bahkan oleh kematian.
Aku tidak menginginkan apa-apa lagi yang biasa I'lenjadi sum-
ber kesenangan, tidak membenci apapun yang biasanya me-
nimbulkan kebencian. aku tidak ternoda, bersih hening bagai-
kan butiran embun di atas daun kembang padma. Dengan ke-
teguhan prinsip inilah aku sekarang memandang semua sifat-
sifat alam yang sangat berbeda-beda itu. Meskipun perbuatan
dan tindakan masih dilakukan, tetapi ~gabungan kenikmatan
yang diakibatkan oleh perbuatan itu tidak lagi menjadi tujuan
pemikiran,sebagaimana berkas-berkas sinarmatahari tidak me-
lekat di ruang angkasa yang dilewatinya.

Sehubungan dengan ini, dengarkanlahsebuah ceritera an-
tara seorang Adhwaryu dan seorang Yati, yang melakukan per-
bincangan tentang jalan yang patut ditempuh dalam upacara
kurban. Sang Adhwaryu pada waktu itu baru saja'selesai me-
mercikkan air suci ke atas binatang kurban. Melihat kejadian
itu sang Yati lalu bertanya. "Wahai, wahai, bukankah ini suatu
pembunuhan?" Tetapi Adhwaryu itu menjawab: "Domba kl:Jr-
ban itu tidak akan mati. Binatang yang dikurbankan itu akan
menemukan kebaikannya sesuai dengan apa yang digariskan
dalam Weda. Apabila Weda itu benar, maka bagian tubuh bi-
natang itu yang berasal dari tanah akan kembali ke tanah. Yang
Iberasal, dari air ~akan kembali ke air. Sinar matanya akan kem-
bali ke mat-ahari, telinganya akan kembali ke titik-titik di segala
penjuru angin: kelompok prana yang menunjang kehidupannya
akan kembali ke angkasa. Aku yang menggunakan kitab suci
menjadi pedoman penyelenggaraan upacara kurban ini tidak
akan bersalah dalam pembunuhan kurban ini!"

Yati itu berkata : "Kalau benar demikian, bahwa kambing
ini akan menerimal pahala kebaikannya, maka upacara yang
diselenggarakan ini tentulah untuk kepentingannya. Apakah
gunanya upacara ini bagi anda sendiri? Sudahkah pengurban-

73

an karnbing inidirestui oleh kambing-kambing yang I~in? Kalau
belum. bawalah kembali ia itu kehadapan teman-temannya
Bukankah apapun juga yang terjadi terhadC\p kambing ini, sa-'
ngat tergantung dari binatang-binatang sejenisnya itu? Anda
harus datang kepada mereka dan minta pertimbaflgannya. Se-
telah mendengarkan apa oendapat mereka. barulah masalah
ini'.kita bahas kembali. HaWa penunjang kehidupan binatang ini
sudah dikirim ke tempat asalnya, hanya jasadnya saja yang
masih ada di sini. Dengarkanlah apa pendapatku! Orang-orang
yang ingin menikmati kesejahteraan diri sendiri dengan me-
ngurbankan jiwa mahluk lain, dan jasad yang sudah mati itu
diandaikan sebagai bahan bakar dari upacara kurban itu, me-
nurut pendatku, bukankah mahluk itu sendiri yang dikurban-
kan? Saya mengenal sebuah peraturan suci, yang dikatakan
sebagai kewaj~an yang paling utama, yaitu~ jangan berbuat
kekejaman. Demikian itu juga ditekankan oleh orang tua-tua.
-Setiap tindakan yang dilakukan, janganlah dinbdai oleh keke-
jaman, melainkan kasih sayang sajalah yang patut dijadikan
landasan setiap perbuatan. Bahkan sebenarnya hal ini adalah
merupakan sebuah dalil. Janganlah membunuh mahluk t,idup
dalam keadaan apapun juga. Saya tidak .akan menambah-
n~m,bah lagi. Tegasnya, apa yang disebut baik itu, adalah tidak
melakukan kekejaman terhadap semua mahluk hidup. Kitapun
menyadari kebenaran dalil ini dari pengamatan kita sehari-hari
secara nyata. Tentu kita tidak akan membuat-buat peraturan yang
tidak ada kaitannya dengan kehidupan nyata ini!"

Terhadap pernyataan Sang Yati itu, Adhwaryu menjawab
sebagai berikut: "Wahai saudara Yati yang berpengetahuan
gemilang, saudara selamanya sudah menikmati segala bentuk
-bau harum yang sebenarnya milik bumi atau tanah ini. Saudara
mengecap rasa nikmat yag sebenarnya milik segala benda yang
bersifat cairo Saudara menikmati warna-warna mili"k seqala mahluk
bersinar. Saudara merasakan rasa sentuhan yang sebenarnya
adalah milik sang angin. Demikian juga saudara sudah menik-
mati suara-suara yang sebetulnya kepunyaan ether. Saudara
sudah memikirkan buah-buah fikiran dengan menggunakan -fi-
kiran. Saudarapun pasti mengetahui bahwa semuanya itu me-
miliki kehidupan. Dengan demikian sebenarnya saudara tidak
bisa mempertahankan diri untuk tidak memusnahkan kehidup-
an. Sebenarnya, untuk mempertahankan kehidupan saudara
itu. saudara sudah melakukan pembunuhan-pembunuhan.
Tidak ada satupun dari gerakan kita yang dapatmembebaskan
diri dari kegiatan pembunuhan! Atau, bagaimanakah pendapat
saudara tentang hal ini?"

74

Yati yang memiliki pengetahuan cemerlang itu lalu men-
jelaskan sebagai berikut: "Wahai Adhwaryau, ketahuilah bah-
wa jiwa itu menjelmakan diri dari dua aspek manifestasi, yaitu
yang tidak bisa dihancurkan dan yang bisa dihancurkan. Dari
keduanya itu, yang tidak dapat dihancurkan adalah eksistensi
atau keadaan itu sendiri, yang dapat hancur dan musnah itu
sebenarnya tidak ada. Kelompok prana, lidah dengan segala
sifatnya, fikiran, kebaikan, juga sifat nafsu-nafsu, semuanya itu
termasuk dalam eksistensi atau keadaan yang ada itu. Orang
yang dapat membebaskan diri dari keadaan itu, orang yang
dapat membebaskan diri dar~ kedua sifat kembar yang berten-
tangan, yang tidak lagi mengharapkan pahala-pahala, meman-
dang semua mahluk itu sama, dapat membebaskan diri dari
perasaan kemilikan, y~ng menaklukkan dirinya seIldiri, sang-
gup membebaskan diri dari semua yang ada di'sekitarnya,
orang seperti itu tidak akan merasakan perasaan takut yang
dari manapun juga sumbernya!"

Setelah itu Adhwaryu itu berkata: "Sesungguhnyalah sa-
udara mengetahui dengan baik apa yang patut kita semua re-
sapkan. Sungguh tidak rugi saya bersahabat dan bertetangga
dengan saudara. Mendengar pendapat saudara itu, saya se-
olah-olah mendapat pengertian baru. Barangkali saudara ini
seorang dewa. Tetapi baiklah, bagaimanapun juga saya tidak
merasa bersalah, karena saya menyelenggarakan upacara kur-
ban itu dan mengurbankan jiwa binatang itu berdasarkan man-
tra-mantra serta adat kebiasaan yang sudah diwarisi sejak
jaman dahulu kala. Tetapi sekarang kesadaran saya terbuka.
Tadinya saya tidak tahu, karena itu janganlah hendaknya ke-
salahan itu ditimpakan seluruhn'ya kepada saya yang bodoh
ini !"

Mendengar kata-kata Adhwaryu sedemikian itu, Yati yang
bijaksana itu diam saja. Adhwaryu tetap melangsungkan upa-
caranya, tetapi sekarang didukung dengan pengetahuan yang
lebih mendalam. Para Brahmana yang mengerti tentang
Moksha, harus menempuh hidup sesuai dengan garis-garis ke-
bebasan, dibimbing oleh Kshetrajna, Guru abadi yang mengeta-
hui segala-galanya."

XXIX. "Dengarkanlah sebuah ceritera lain, 0 isteriku yang ter-

cinta. Kisah ini menceriterakan Raja Karttawirya Arjuna yang

sakti luar biasa tetapi angkuh itu. Raja itu sudah berhasil me-

nundukkan seluruh dunia dengan bala lasykar dan kehebatan

senjata panahnya. Para suatu hari, baginda berjalan-jalan di

75

tep; panta; deng ~n gagarn\ja. Baginda berfikir banwa tidak ada
,agi ksatria yang mampu menandingl kehebatan panah serta·ii-
mu memana~~ sepertl yang d mlk n::a u. Me,asa ba~gga~er
hadap kekuatannya itu, tiba-tiba bagmda melepa.:5kan ratusan
anak panah berdesing-desmg menancap dan mengorak permu-
kaan lautan. Pada saat itu, muncullah Sagara penguasa lautan, de-
ngan takzim menghormat dan berkata: " Ampunkan hamba 0 ba-
ginda Raja. Janganlah paduka melepaskan panah-panah itu ke-
pada hamba. Katakanlah apa yang dapat hamba kerjakan untuk
kejayaan paduka. Mahluk-mahluk lemah yang bernaung di
bawah hamba banyak yang mati terkena panah-panah padvka
itu. Kasihanilah mereka 0 maharaja perkasa !"

Karttawirya Arjuna dengan gagahnya menjawab: "Hai Sagara,
katakanlah kalau anda mengetahui ksatria lain dl dunla In, yang

mampu bertandl~g iimu panah dengan aku ini"

Sagara menjawab: "Pernahkah paduka mendengar nama
seorang rishi besarJamadagni? Nah. putera maharishi itu ba-
rangkali suka menerima paduka sebagai tamunya··.

Mendengar kata-kata Sagara itu. raja yang ingin menguji
kemahirannya itu dengan diiringkan oleh anak buahnya lalu
melesat pergi sambil mengutuk di dalam hatinya. Ternyata
masih saja ada orang yang sanggup menandingi dirinya. Seti-
banya di pertapaan, raja itu telah berjumpa dengan Rama pu-
tera Jamadagni sendiri. Sebagai seorang pertapa. Rama tidak
menghiraukan tantangan-tantangan yang diucapkan oleh raja
yang angkuh itu. Karena itu Arjuna lalu melakukan perbuatan2
yang sangat mengganggu ketentraman di tempat pertapaan itu.
Akhirnya, Rama, pahlawan yang berbudi luhur itu menjadi ma-
rah dan menyemburkan api kemarahan itu kearah para pengi-
ring raja hingga terbakarlah semuanya. yang masih hidup lari
tunggang-Ianggang masuk ke dalam hutan belantara. Sembur-
an api itu disusul dengan sambaran-sambaran senjata kampak.
yaitu senjata khas Rama yang terkenal sangat dahsyat itu. Raja
perkasa yang hebat bagaikan bertangan seribu jtu sang at ter-
desak dan akhirnya dibabat bagalKan sebuah ponon yang beran-
ting lebat. lalu ambruk tergeletak dan tewas! Melihat kejadian itu.
para pengiringnya yang masih hidup terhenyak, berkumpul dan
berunding sesaat, dan tiba-tiba melancarkan serangan gencar
dengan senjata-senjata rahasia beracun ditujukan ke arah Ra-
mao Serangan itu dilakukan beqitu tiba-tiba. Rama sedang
duduk dengan tenangnya, bersila di atas tanah. Jarum-jarum
beracun beterbangan, menyambar dari segala jurusan! Sung-
guh suatu serangan yang curang dan sangat berbahaya! Rama
itu sungguh hebat luar biasa. Pahlawan yang saktl itu melesat
menghindari serangan. Rama terhindar dari serangan gencar

76

itu dan sesaat kemudian pertapa yang sakti itu muncul dengan
mengendarai kereta terbang dan memegang senjata panah.
Ratusan anak-anak panah menghujani pengikut raja hingga lari
tunggang-Ianggang menyembunyikan diri ke dalam hutan.
Demikian itulah kehebatan putera Jamadagni itu. Raja dengan
pengikut-pengikutnya itu adalah wangsa ksatria yang sangat
angkuh namun pada saat-saat terakhir di mana dituntut sifat
kekesatriaannya, mereka melarikan diri secara pengecut! Dan
untuk seterusnya mereka itu tidak berhasil mendapatkan pen-
deta Brahmana untuk mentadi pendeta upacara bagi kelom-

pok ksatria ini. Karena itu seluruh keturunannya jatuh menjadi
kaum Wrishala atau Sudra. Golongan mereka itu kemudian
menurunkan bangsa-bangsa Dravida, Abhira, Pundra dan
. bangsa Sawara. Semuanya itu adalah golongan Wrishala (Su-
dra), karena tidak berhasil menunaikan twgasnya sebagai
ksatri.a serta tidak mempunyai pendeta Brahmana. Dan selan-
jutny~, g~ongan Brahmana dilarang mengambil isteri dari go-
long.an mereka,karena setiap anak yang lahir dari perkawinan
itu akan dimusnahkan oleh Rama putera Jamadagni itu. Pem-
basmian putera-putera itu berlangsung hingga keturunan yang
ke duapuluh satu, dan pada waktu terjadi penumpasan yang
terakhir, terdengarlah suara lembut bergema dari langit, yang
dapat didengar oleh seluruh umat manusia. Sabda yang terde-
ngar itu ditujukan kepada Rama: "Rama, 0 Rama!.Sudahlah!
Berkah apakah yang engkau harapkan dengal1 pembasmian-
pembasmian terhadap para ksatria yang sudah jatuh itu?" Yang
berbicara itu ternyata adalah para leluhur Rama yang pada
waktu itu turun dan dipimpin oleh Richika. Selanjutnyasuara
itu bergema: "Hentikanlah Rama!" Akan tetapi Rama tidak se-
gera dapat mengampuni dosa-dosa para ksatria yang dahulu
telah mengoorak-abrik pertapaan serta menewaskan para leh,J-
hurnya. Rama menjawab: "Wahai para leluhur hamba, mohon
jangan dihalangi pembalasan yang hamba laksanakan ini!"

XXX. Tetapi paraPitri itu menjawab: "0 Rama, pahlawan yang

tak terkalahkan, jangan dilanjutkan membunuh ksatria rendah

itu! Tidak selayaknya ananda, seorang Brahmana membunuh

raja-raja seperti itu!" Dengarkan ceriteraku ini! Nanti, setelah

ananda memperhatikannya, lakukanlah apa yang kiranya patut

menurut pendapat ananda. Nah, dengarkan!

Pada jaman dahulu, seorang maharaja pandita bernama

Alarka·. telah hidup dengan melakukan tapa brata yang sangat .

ketal. Sebelum menempuh jalan itu, dia pun sudah menakluk-

kan kerajaan-kerajaan di seluruh dunia. Selanjutnya, baginda

n

mengundurkan diri ke dalam hutan guna menuju kebebasan
sejati. Oi sana, di bawah sebuah pohon yang rindang, baginda
mengarahkan fikirannya ke dalam, serta bertanya jawab dengan
Roh di dalam hati nuraninya. Alarka berfikir: "Ah, sekarang ·fi-
kiranku sudah menjadi kuat. Setelah berhasil menaklukkan fik·ir-
an, maka kekallah kekuasaanku jadinya. Meskipun di kelilingi
oleh musuh, mulai saat ini dan seterusnya, aku tidak akan mem-
bidikkan panah itu ke arah mereka. Biarlah panahku itu menuju
ke arah lain. Karena fikirannya tidak tetap, orang-orang melaku-
kan bermacam-macam perbuatan. Karena itu, mulai saat ini aku
akan membidikkan panahku yang paling runcing ke arah fikiran-
ku sendiri!"

Fikirannya menjawab: "Panah itu 0 Alarka, tidak akan mam-
pu menembus diriku. Panah itu hanya akan merusak bagian
lemah dari tubehmu, dan setelah bagian tubuh itu luka ditem-
bus panah, maka anda akan tewas! Carilah panah yang lain
untuk menundukkan diriku ini!"

Mendengar suara dari fikirannya itu, Alarka termenung se-
jenak, kemudian berkata: "Setelah mengenal bermacam-
macam bau yang enak dan harum, hidungku ini hanya memi-
kirkan dan memburu bau-bau yang enak dan harum saja. Karena
itu aku akan membidikkan panah tajam dan berbisa ke arah
hidungku ini!"

Si hidung segera menjawab: "Panah itu tidak ada gunanya,
ia tidak akan mampu menghancurkan diriku yang sebenarnya.
Memang panah tajam itu akan menembus bagian penting dari
tubuh anda, dan anda sendiri akan tewas karenanya. Carilah
panah bentuk lain untuk menghancurkan diriku ini!" Alarka
rnemikirkan kata-kata si hidung itu, lalu berkata sebagai berikut:
"Lidahku ini, setelah merasakan enaknya bumbu-bumbu, maka
untuk selamanya ingin mengejar kemikmatan rasa makanan dan
minuman. Baiklah akan kLihamtam dia dengan panahku yang
paling berbisa untuk menghancurkannya!"

Sang lidah terkejut dan berkata: "Panahitu 0 Alarka, tidak
akan d~pat mencapai apalagi menembus diriku yang sebenar-
nya. Anda hanya akan melukai bagian lemah dari tubuhmu.
Setelah terluka, anda akan tewas percuma tanpa dapat meng-
hancurkan diriku. Carilah panah yang lain untuk memusnahkan
diriku ini'"

Setelah berlikir sejenak, Alarka lalu berkata: "Kulit ini, se-
telah mengenal benda-benda halus yang menimbulkan perasa-

an nikmat dalam merabanya, selanjutnya selalu ingin menikmati
perasaan-perasaan itu. Aku patut nienembus kulit ini dengan
panah-panah yang dilengkapi dengan buJu-bulu Kanka!"

Mendengar keluhan Alarka itu, kulit memberikan jawaban-

78

nya: "Panah-panah itu hanya akan menembus bagian lemah
dari tubuhmu yang akan mengakibatkan ketewasan anda. Pa-
nah itu tidak akan menembus sampai kepada diriko! Carilah
panah-panah bentuk lain untuk menghancurkan diriku ini!"

Alarka memikirkan kata-kata sang kulit itu, dan sesaat ke-
mud ian Aiarka mengucapkan kata-kata sebagai berikut: "Sete-
lah mendengar bermacam-macam suara yang merdu dan ma-
nis-manis, si kuping ini sampai tergila-gila kepada suara-suara
yang merdu itu. Aku harus menghancurkan kuping ini dengan
panah berbisaku!" Mendengar ucapan Alarka itu si telinga se-
gera menjawab: "Bagaimanapun juga, panah itu tidak akan
sampai menyentuh diriku 0 Alarka. Panah itu akan merusak
bagian lemah tubuhmu sendiri dan tewaslah anda dibuatnya.
Carilah panah yang lain untuk memusnahkan diriku!" Alarka
termenung sejenak. kemudian melanjutkan ucapannya:

"Setelah melihat bermacam-ma&m warna, mata ini selalu
tertarik untuk melihat warna-warna itu. Aku harus menghancl:lr-
kannya dengan panahku yang paling tajam!"

Mata terkejut dan menjawab sebagai berikut: "Panah itu

o Alarka, tidak akan mampu menghancurkan diriku. Anda ha-

nya akan merusak bagian lemah dari tubuhmu, dan setelah
rusak, anda akan tewas. Carilah panah lain untuk memusnah-
kan diriku!" Alarka termenung dan kemudian berkata:

"Pengertianku ini surigguh sangat beda-membedakan,
apalagi setelah dibantu oleh aka!. Aku harus membidikkan pa-
nahku ke arah pengertianku itu!" Pengertian itu segera men-
jawab:

"Panah itu tidak akan pernah mampu menghancurkan di·ri-
ku 0 Alarka. Anda hanya akan merusak bagian lemah dari tu-
buhmu sendiri dan setelah rusak andapun akan tewas. Cari-
lah panah yang lain untuk menghancurkan diriku!"

Semua pendapatnya sudah disangkal oleh hati nuraninya
sendiri. Karena itu Alarka melanjutkan renungan-renungannya
di bawah pohon besar di dalam hutan. la bertapa dengan keras.
Berusaha dengan tekun mencari jenis panah yang mampu
menghancurkan ketujuh alat-alat pengindraan yang disebl:.lt-
kan satu-persatu di atas. Lama sekali ia memikirkan, panah
yang bagaimanakah yang patut dijadikan sarana untuk menun-
dukkan kemauan pengindraan itu. Namun akhirnya, dengan
ketekunan serta kekuatan yang di milikinya dan dengan fikiran
terpusat, iapun mulai menyadari bahwa tidak ada jalan yang le-

bih baik dari pada Yoga. la lalu memusatkan fikirannya ke satu
objek dan dipertahankan objek itu selama-Iamanya, diam seoa-
ra sempurna dan terserap dalam Yoga.

Dengan kekuatannya yang hebat, segera ia berhasil mema-

79

tikan keinginan alat-alat pengindraannya. dan hanya dengan

satu jenis panah saja, yaitu masuk ke dalam keadaan Yoga.

menyelusup ke dalam jiwa, dan dengan jalan demikian itu dapat

dicapai kesadaran yang tertinggi. Sebagai tanda kegembiraan-

nya, Raja pandita itu lalu menyanyikan syair sebagai berikut

ini:

"Sayang

Mengapa membanting tulang untuk suatu kegiatan yang

dangkal?

Haus kesenangan, kebesaran dan kekuasaan!

Aduhai sayang!
Mengapa tidak du~u-dulu aku menyadarinya?

Sungguh tidak ada kebahagiaan yang lebih tinggi dari pada

Yoga!" •

"Renungkanlah ceritera ini 0 Rama. Hentikanlah segala

pembunuhan itu! Lakukan Yoga, pasti kamu akan mencapai

apa yang sesungguhnya dapat dikatakan kebaikan!'

Demikianlah, Brahmana putera Jamadagni lalu melakukan

latihan-Iatihan Yoga dan dilakukan dengan penuh semangat,

hingga pada akhirnya dapat mencapai tingkat keberhasilan

yang sungguh tidak mudah untuk mencapainya!

XXXI. Brahmana pertapa itu melanjutkan ajaran-ajarannya. "Ada

tiga jenis musuhbesar yang patut dihadapi. Ketiga musuh itu

kemudian berkembang menjadi sembilan, sesuai dengan sifat

yang dimilikinya. Luapan kegembiraan, kepuasan dan kese-

nangan (keriangan), ketiganya itu menempel pada sifat Ke-

baikan. Perasaan kemilikan, kemarahan dan kebencian, adalah

tiga hal yang menempel pada sifat Nafsu. Kelesuan dan kema-

lasan ditambah dengan kebodohan (pandangan salah), adalah

hal-hal yang menempel pada sifat Kegelapan. Basmilah kesemua-

nya itu dengan panah-panah yang ditujukan ke dalam jiwa.

Orang yang memiliki kecerdasan akan membebaskan diri dari

kemalasan. Jiwanya tenteram dan dengan pengendallan ketat

terhadap semua alat-alat pengindraannya, iapun akan mampu

menghadapi musuh-musuh yang berada di luar dirinya. Sehu-
bungan ~engan ini, maka mereka yang mengetahui dengan

baik jalannya perputaran jaman, tidak segan-segan akan me-

nguncarkan bait-bait yang sejak jaman dahulu sudah dikuman-

dangkan oleh Raja Amwarisha yang berjiwa tenteram itu. Apa-

~:' bila banyak sekali kesalahan-ke~alahan sudah dilakukan dan

keadilan mulai ditinggalkan, maka raja Amwarisha itu akan me-

ngerahkan kekuatannya dan merebut kekuasaan kembali. De-

ngan menekan kesalahan-kesalahannya menjadi sekecil mung-

80

kin serta memuja keadilan, Dia pun mencapai su~ses serta di-
nyanyikannya lagu pUja seperti berikut ini:

"Tak terbilang sudah kesalahan-kesalahanku,

semua kutaklukkan satu-persatu!

Musuh-musuh· sudah kutumpas,

masih satu musuh terbesar,

semestinya kutaklukkan dan musnahkan!

Keinginan,

mengapa belum juga aku mampu menundukkanmu?

Karena dia, Keinginan itu, jiwaku terjauh dari kebebasan!

Karena dia, Keinginan itu, orang jatuh merayap di lumpur

selokan!

Karena dia,' Keinginan itu, tak sadar orang melanggar'

pantangan!

Tebaslah 0 tebaslah!

Nafsu kemilikan itu den~an pedang tajam!

Awalnya kemilikan, tumbuh keinginan!

Awalnya keinginan, tumbuh kekhawatiran dan kegugupan!

Si~pa yang menyerah kepada kekuasaan keinginan,

orang terbelenggu rantai Natsu!

Dibelenggu oleh Nafsu,

orang terkurung dalam Kegelapan!

Maka,

orang lahir berulang-ulang,

terselubung badan jasmani,

'dengan kewajiban-kewajiban, tindakan dan perbuatan.

Setelah Roh melesat pergi,

jasad hancur cerai-berai,

ia mati untuk lahir kembali!

Dengan menyadari semua ini,

menundukkan nafsu kemilikan dengan kecerdasan,

tujulah kebesaran jiwa, kebesaran sejati,

tidak ada kebesaran yang lai n lag i!

Jiwa,

apabila dimengerti,

Dia itulah Raja di raja!"

Demikian itulah nyanyian yang dikumandangkan oleh Raja

Amwarisha, nyanyian tentang Kebesaran sejati. Dan raja itu,

sudah menebas putus belenggu musuhnya yang paling per-

kasa, yaitu nafsu kemilikan. .

XXXII. Selanjutnya Brahmana pertapa itu mengungkapkan peroa-

kapan di antara seorang pendeta Brahmana denganraja Ja-

naka. Dicer!terakan bahwa pendeta Brahmana itu, karena se-

81

suatu hal, telah melakukan suatu kesalahan yang menurut undang-
undang kerajaan itu, patut menerima hukuman. Raja Janaka
mengumumkan keputusan pengadilannya dengan suatu per-
nyataan sebagai berikut: "Hai pendeta, suatu pelanggaran 5U-
dah paduka lakukan. Karena itu, keputusan kami adalah, pa-
duka dihukum dan dengan segera harus meninggalkan wilayah
kerajaan ini untuk selama-Iamanya!"

Brahmana itu, sambil menundukkan kepala lalu mengaju-
kan pertanyaan kepada raja Janaka: "Ampunkan hamba 0 Ma-
haraja. apabila paduka berkenan, mahan dijelaskan, sampai
dimanakah batas-batas kerajaan paduka? Agar tidak ragu-ragu
lagi hamba tinggal di dalam wilayah kerajaan lain. Sesungg~h­
nyalah hamba patut mentaati, hukum-hukum yang sesuai de-
ngan ajaran-ajaran Kitab Suci. Mendapat pertanyaan seperti
itu', berkali-kali raja Janaka "i,enarik nafas panjang. Baginda
diam seribu bahasa. Ternyata baginda telah terserap kedalam
renungan yang dalam. Seri wajahnya nampak berubah-ubah,
sejenak muram bagaikan Rahu menyelubungi Surya. Kemudi-
an~ secercah sinar pengertian menyelinap, hingga baginda
nampak tenteram kembali, dan dengan sinar wajah yang gemi-
.Iang baginda mengucapkan kata-kata berikut: "0 Brahmana,
saya mewarisi kerajaan ini dengan wilayah berpenduduk yang
luas sekali. Terus terang, saya sendiri tidak berhasil mengetahui
wilayah kekuasaan yang sebenarnya, meskipun saya sudah me-
lakukan penjelajahan di seluruh permukaan Burni ini. Dalam
kebingungan, saya telah mencari kekuasaanku itu di dalam
diri Mithila. , permaisuriku nan jelita. Saya tidak menemukan
batas-batas kekuasaanku di dalam dirinya itu, demikian juga di
dalam diri anak-anakKu semua. Tetapi sekaran9, secercah awan
pengertian tiba-tiba menye lindp ke dalam fikiranku dan setelah
awan itu dibersihkan, rupa-rupanya, kecerdasanku sudah pulih
kembali. Sadarlah sekarang aku, bahwa saya tidak mempunyaj
wilayah ke'kuasaan itu, atau sebaliknya dapat juga kukatakan
bahwa semuanya adalah wilayah kekuasaanku. Namun yang
benar adalah bahwa tubuhku ini sekalipun, adalah bukan men-
jadi kekuasaanku! Atau barangkali kebalikan dari pada itu, se-
luruh dunia ini adalah kekuasaanku! Bersamaan dengan penga-
kuan terhadap kemilikanku itu, 0 Brahmana. sayapun berfikir
batlwa seberapa yang pantas menjadi miliklcu, sedelTlikian itu
juga patut menjadf milik arang lain. Mengingat kenyataan ini,

o Brahmana, tinggallah di kerajaan ini selama tuan pendeta

menghendakinya!" "Sayapun menyadari", demikian Janaka
melanjutkan penjelasannya, "Bahwa semua keadaan, semua
kejadian, yang berada di sini, hanyalah bersifat sementara. Ti-
dak ada satupun benda-benda yang dapat kukatakan sebagai

82

kepunyaanku. Saya selalu teringat ayat-ayat dalam Kitab Suci
Weda yang bertalian dengan Kemilikan itu. Berdasarkan ayat-
ayat itu, maka saya sekarang sudah menghapuskan segala ·fi-
kiran tentang kemilikan. Dengarkanlah sekarang, mengapa sa-
yapun merasa mempunyai wilayah di manapun di dunia ini.
Saya tidak ingin kalau bau yang kucium dengan hidung ini ha-
nya dapat tercium oleh saya sendiri. Bumi inilah yang menye-
m~rakkan semua bentuk bau itu. Jadi bumi ini sejak semula
sudah menghamba kepada diriku, bukan aku untuk Bumi! Saya
tidak menghendaki rasa yang di rasakan oleh lidah, ini hanya
untuk diriku seorang. Karena itu, air yang sudah menyerahkan
rasa itu kepada diriku, selamanya harus tunduk ~epada diriku!
Saya tidak menghendaki warna yang kulihat ini tmtuk kunikmati
sendiri. Cahaya yang telah menyerahkan warna-warna itu ke-
pada diriku, selamanya akan tunduk'epada diriku! Saya tidak
menghendaki rasa-rasa yang dapat kuraba dengan kulit ini un-
tuk kunikmati sendiri. Karena rasa kulit itu adalah mllik udara,
daD ia sejak semula sudah menyerahkan rasa-rasa itu kepada
diriku, karena itu selamanya udara itu akan mengabdi kepada
-diriku! Saya tidak ingin menikmati sendiri suara-suara yang di-
dengar oleh telingaku ini. Zat ether yang sudah menyerahkan
suara itu kepada diriku, tentu untuk selamanya akan mengabdi
kepada diriku! Sungguh saya tidak ingin rnenikmati sendiri
buah-buah fikiran yang berada di dalam fikiranku ini. Oleh ka-
rena fikiran itu sudah menyerahkan buah-buah fikiran itu ke-
pada diriku, maka untuk selamanya ia akan mengabdi kepada-
ku. Semua kegiatan yang kulakukan ini saya tujukan bagi pares.
dewa, pitri, para bhuta dan tamu serta teman-teman yang
datang, bukan, sama sekali untuk kepentinganku sendirif"

Mendengar penjelasan raja Janaka sedemikian itu, Brah-
mana itu tersenyum dan berkata; "Wahai raja nan bijaksana,
ketahuilah bahwa sebenarnya aku ini adalah Dharma, yang hari
ini turun untuk menguji keyakinan paduka raja. Sebenarnya
keyakinan yang seperti paduka miliki inilah yang telah menye-
babkan roda Kebenaran serta keadilan dan kebaikan terus ber-
putar. Roda itu; berputar dengan Brahman sebagai porosnya,
pengertian sebagai jari-jarinya. la terus berputar maju, tidak
akan berputar sebaliknya!"

XXXIII. Brahmana melanjutkan ajaran-ajaran kepada. isterinya:

"0 adindaku, di Dunia ini aku melakukan kegiatan yang mung-

kin adinda tidak memahaminya. Adinda sudah keliru menafsir-

kan kegiatanku ini. Aku ini adalah seorang Brahmana yang

memahami Weda-weda. Dengan pengetahuanku aku sudah me-

83



lepaskan diri dari segala bentuk penglKatan. Aku sudah bertapa
di dalam hutan dan akupun sudah melakukan kewajiban
berumah tangga. Aku sutJah memenuhi sumpah dan janji. Aku
bukan seperti adinda Ii hat dalam melakukan kegiatan, baik atau
buruk. Pada tingkat kesadaran yang kumiliki sekarang ini, maka
segala-galanya yang ada di alam semesta ini sudah menyusup
ke dalam diriku. Semua jenis mahluk, semua benda, yang ber-
gerak dan tidak bergerak sudah mengetahui bahwa aku yang
membasmi semuanya bagaikan api berkobar memusnahkan se-
gala jenis kayu. Tanda kebesaranku baik di dunia ini maupun
di dunia yang lain itu adalah kedalaman pengetahuanku itu,
yaitu kesadaran mendalam bahwa aku adalah satu dengan alam
semesta. Kesadaran itu menjadi satu-satunya kekayaanku. Ha-
nya jalan pengetahuan inilah satu-satunya jalan yang harus di-
tempuh oleh p3ra Brahmana. Dengan kedalaman pengertian-
nya itu, maka ia dapat memilih atau menentukan jalan hidup
di dunia ini. Apakah ia memilih hidup berumah tangga, menjadi
pertapa, tinggal belajar di tempat guru, ataukah hidup di antara
para pendeta pengembara. Di tengah-tengah, di antara serakan
segala macam perlambang dan simbul yang serba teratur, ia
hanya memuja satu saja ilmu pengetahuan. Apapun juga ke-
dudukan serta karir yang ditempuh di dunia ini, ia akan tetap
sadar dan mengerti, dengan ketenteraman sebagai inti dan
hakekat, iapu n akan mencapai yang satu, kesempu rnaan yang
mencakup, sebagaimana ribuan aliran sungai yang akhirnya
akan bertemu dan bersatu di dalam samudra raya. Jalan yang
kukatakan ini hanya dapat ditempuh dengan pengertian dan ke-
sadaran, dan bukan dengan jasmani atau perwujudan materi.
Tindakan dan perbuatan itu mempunyai titik awal dan titik akhir,
sedangkan perwujudan jasmani itu diikat oleh perbuatan-
perbuatan itu. Semua hasil dari perbuatan itu tidak kekal ada-
nya. Karena itu 0 adindaku, jangan ragu-ragu lagi terhadap
duniamu yang akan datang. Meskipun adinda tidak cukup me-
ngerti tentang ,dunia itu, namun dengan hati 'yang tetap di-
tujukan kepada kenyataan sejati, adinda akan tetap bersatu de-
ngan jiwaku ini!"

XXXIV. "0 kakanda, sebagaimana kebodohan masih menye~u-

bungi jiwa hamba, apa yang kakanda jelaskan kepada adinda

tadi itu tentulah tidak dapat dipahami oleh orang yang kurang

kecerdasannya atau orang yang jiwanya belum bersih. Penger-

tian hamba dangkal hingga hamba menjadi bingung. Perkenan-

kanlah hamba 0 kakanda, mengetahui bagaimanakah caranya

orang mendapatkan pengetahuan dan kesadaran seperti yang

kakanda ucapkan itu? hamba ingin mendapat pengetahuan itu

84

secara langsung dari sumbernya yang pertama".
"Ketahuilah adindaku, bah.wa orang yang selalu bersujud

menundukkan kepala memuja Brahman, ia itu baru disebut
Arani pemula. Guru adalah Arani yang tingkatannya lebih tinggi.
Dengan melakukan tapa sambil tekun mempelajari Weda-weda
hingga mengerti dengan sebaik-baiknya, maka keadaan ini me-
nyebabkan mengalirnya pengetahuan-pengetahuan yang tidak
terhingga luasnya. Dari kesadaran itulah api pengetahuan itu
mengalir untuk lebih memperdalam serta mematangkan pe-
ngetahuan yang semakin meningkat".

"0 kakanda junjunganku, di manakah Kshetrajna simbul
Brahman yang berwujud, nampak dan dapat diraba itu be-
rada ?"

"Ketahuilah a<4ndaku, Brahman yang sering kusebutkan
itu sebenarnya ada di mana-mana tanpa simbul dan sitat. Tidak
ada sitat dan simbul yang cukup sempurna untuk menggam-
barkan diri serta keadaanNya. Akan tetapi, walaupun demikian,
kakanda ingin mencoba memberikan jalan dengan jalan mana
Dia bisa dimengerti atau mungkin juga tidak sarna sekali. Ke-
sadaran yang mendalam terhadap Dirinya itu, Selamanya akan
dikukuhkan dengan perbuatan atau kegiatan yang menuju ke-
padaNya. Kesadaran yang mendalam itu dapat kita lukiskan de-
ngan merenungkan.hubungan antara kumbang den~an bunga.
Terjalinnya ikatan antara kumbang dan bunga itu adalah ber-
dasarkan suatu pengertian dan kesadaran yan.Q teramat tinggi.
Demikian sempllrna dan harmonisnya jalinan hubungan itu se-
hingga segala sesuatu yang berkenaan dengan hubungan yang
terjadi itu adalah menunjukkan kebaikan. Segala perbuatan dan
kegiatan di dalam hubungan itu telah didorong oleh kesadaran
dan pengertian yang tinggi. Orang-orang yang pengertiannya
belum bersinar bersih, akan menganggap kebulatan hubungan
itu penuh dengan sitat-sitat pengetahuan yang berbeda-beda
dan bahkan di campur aduk dengan segala macam sitat ber-
dasarkan pengertian yang masih gelap. Jalinanhubungan yang
harmonis itu harus dilihat dan dimengerti secara keseluruhan,
tidak sebagian-sebagian denganberbagai macam sifat yang ·ti-
dak sempurna. Pada jalan menuju kebebasan itu sebenarnya
tidak sama sekali ditetapkan peraturan-peraturan yang mengi-
kat. Di jalan itu tidak ditetapkan bahwa ini atau itu, baik atau
tidak baik untuk dilakukan. Apa yang sebenarnya dilakukan
adalah memperhatikan dengan seluruh alat-alat pengindraan
selta dengan renungan-renungan dan memperhatikan bim-
bingan Guru Sejati. la harus memahami sebanyak-banyaknya
hal-hal yang nampak dan tidak nampak, hingga dalam kehi-
dupannya di Dunia ini ia memiliki pengetahuan yang selu8S-

85

luasnya. Sebenarnyalah ia harus mengerti sebab-musabab dari
segala hal. Jadi, tidak sekedar terikat oleh segala macam pe-
raturan yang menggariskan ini boleh itu tidak boleh! Penger-
tian yang langsung dan mendalam akan mengatasi segala ben-
tuk peraturan. Pengetahuan dan pengertian itu hanya dapat
dimiliki dengan latihan-Iatihan, melakukan renungan dan pe-
ngendalian diri. Pengertian yang benar itu, berdiri di atas se-
gala-galanya! Renungan-renungan itu mula-mula dilakukan ter-
hadap wujud-wujud nyata, kemudian ditingkatkan kepada wu-
jUd abstrak, hingga semuanya dapat dipahami dengan sedalam-
dalamnya."

Sampai disini Krishna,'mahluk suci yang berpengetahuan
cemerlang itu lalu mengakhiri wejangan sucinya yang ditujukan
kepada Arjuna, dentan mengucapkan kata-kata penutup se-
bagai berikut: "Setelah mendapat penjelasan itu, fikiran isteri
Brahmana itu lalu melebur bersama-sama dengan leburnya
Kshetrajna, menunggal dengan Roh Alam Semesta dan bersatu
dengan Brahman berkat- pengetahuan Kshetrajna!"

Arjuna nampaknya masih sangat ingin mendengarkan ceri-
tera yang sangat menarik baginya itu, karena itu cepat-cepat
iapun bertanya: "Dimanakah sebenarnya isteri Brahmana itu 0
Krishna dan dimanakah Brahmana mulia itu berada? Ceritefa-
kanlah'tentang alam yang mereka capai 0 paduka yang bijak-
sana" .

Krishna lalu menjawab: "Ketahuilah wahai Arjuna, jiwaku
inilah sebenarnya Brahmana itu, sedangkan isterinya, adalah
pengertianku sendiri pula. Sedangkan Dia yang disebl:Jt-sebut
sebagai Kshetrajna adalah diriku sendiri. Yakinilah hal itu 0
Dhananjaya! "

XXXV. Sejenak Arjuna meresapkan pernyataan itu, kemudian me-

nyembah dan memohon petunjuk selanjutnya: "Karuniakanlah

kepada hamba pengetahuan tentang Brahman itu. Hamba akan sa-
ngat berbahagia apabila dapat memahami lebih dalam tentang

Dirinya atas karunia paduka itu".

Wasudewa menjawab: "Untuk menjelaskannya secara

langsung memang tidak mung kin dilakukan, karena itu aku

akan menjelaskannya dengan mengetengahkan sebuah cerite-

ra kuna tentang seorang Guru dengan muridnya yang kebetul-

an juga membahas masalah yang menyangkut Brahman itu.
Pada suatu hari, seorang murid wangsa Kshatriya bertanya

kepada Gurunya, seorang Brahmana yang sungguh dalam pe-

ngertiannya dan tinggi pengetahuannya. Sambil duduk bersila

dengan kepala tunduk di hadapan gurunya, ksatria itu menga-

86

jukan pertanyaan sebagai berikut: "Guruku yang mulia, semo-
ga Guru tidak mencemoohkan pertanyaan hamba yang bodoh
ini. Berkat belas kasihan Guru kepada hamba, maka hamba su-
dah mendengar dan memahami bermacam-macam hal yang
sungguh telah membuka kesadaran hamba Tetapi dalam satu
hal hamba masih saja dalam kegelapan dankebingungan. Di
dunia ini hamba menemukan nilai kebaikan dan keburukan itu
s~ngat relatif dan bukannya tidak jarang suatu kebaikan begitu
saja berubah menjadi keburukan dan suatu keburukan berubah
menjadi kebaikan. Dan dari antara kebaikan-kebaikan itu, ter-
nyata nilai kebaikan yang satu lebih tinggi dari pada kebaikan
yang lain, demikian seterusnya. Karena itu hamba ingin mend~­
patkan penjelasan langsung dari paduka Guru yang mulai, apa-
kah sebenarnya yang dapat disebut puncak dari segala kebaik-
an itu? Dengan niat untuk mendapatkan kebaikan sejati itu,
maka hamba bersujud di hadapan paduka 0 Brah~ana mulia.
Karuniakanlah pengetahuan itu kepada hamba".

Dengan suara lemah lembut, tetapi jelas dan mantap Brah-
mana itu menjawab: "Baiklah ananda, pusatkanlah perhatian-
mu kepada apa yang akan kukatakan ini. tetapi sebelumya, da-
patkah ananda menjabarkan satu persatu hal-hal yang belum
an and a fahami dan\ merisaukan hati ananda? Susunlah perta-
nyaan itu mulal dari hal-hal yang terdekat dengan diri ananda
untuk kemudian ke hal yang lebih luas ruang Iingkupnya. Nah,
ajukanlah pertanyaan-pertanyaan itu sekali lagi !".

"Baiklah Guru, maafkan kebodohan hamba. Guru, siapa-
kah sebenarnya hamba ini ? Siapakah paduka ? Mohon dijelas-
kan apakah yang disebut kebaikan dan kebenaran tertinggi?
Dari manakah munculnya segalamahluk yang bergerak dan
yang tidak bergerak ? Dengan apakah mahluk-mahluk itu me-
nunjang kehidupannya ? Apakah yang membatasi kehidupan
mereka ? Apakah kebenaran, tapa-brata, dan apakah yang men-
jadi ci.,.i-ciri kebaikan itu ? Jalan manakah yang disebut baik ?
Apakah kebahagiaan itu ? Apakah yang disebut dosa ? 0 Rishi
yang mulia, terangilah fikiran hamba. Siapa lagikah yang dapat
hamba harapkan untuk menjelaskan semua itu ? Sudah lama
hamba didesak oleh keinginan untuk mengetahui hal itu seroua
hamba mohon dengan sangat agar paduka berkenan menjelas-
kannya. Paduka dimuliakan di seluruh Dunia karena sudah me-
nguasai cara-cara untuk membebaskan diri itu. Tidak ada lagi

Yang hamba ketahui selain paduka yang suci dapat melenyap-
kan kebimbangan hati hamba : Sungguh hamba didesak oleh
keinginan untuk mendapatkan kebebasan itu".

Murid itu telah bertanya dengan sungguh~8ungguh, me-

87

ngajukan pertanyaan itu dengan sikap sangat hormat, lebth-Ie-
bih ia memang murid yang selalu taat dan patuh kepada Guru-

nya itu dan sudah menempuh kehidupan sebagai seorang Yati
dan Brahmacharin. Gurunyapun puas. Karena itu dijawabnya
semua pertanyaan yang diajukan itu, yang antara lain adalah
sebagai berikut :

"Semua rahasia yang ananda tanyakan itu, pada jam"an
yang lampau telah secara langsung dijelaskan oleh Brahman
sendiri. Ajaran-ajaran Brahman itu diterima dan dimanfaatkan
oleh para Rishi terkemuka dengan sebaik-baiknya dalam me-
nempuh kehidupan di Dunia ini, menuju alam kebebasan.
Ajaran-ajaran itu dicantumkan di dalam Weda-weda. Pelajaran
itu menyangkut segala hal tentang kenyataan sejati. Setelah
mempelajari slgalanya itu secara mendalam, maka kami, para
pendeta dan guru dapat mengambil kesimpulan bahwa tujuan
hidup yang tertinggi di dunia ini adalah pengetahuan menuju
kebebasan itu, dan yang dikatakan sebagai tapa-brata adalah
ketekunan, ketaatan serta pengendalian diri. Itulah yang ter-
baik ! Orang yang dengan pasti dapat mengetahui tujuan dari
ilmu pengetahuan yang sejati itu, ilmu pengetahuan yang tidak
mungkin dapat dirubah oleh keadaan yang membekas didalam
jiwa semua mahluk, maka orang itu akan berhasil mencapai ke-
bebasan dan kebaikan tertinggi. Orang yang memiliki kesadar
an tinggi akan melihat segala-galanya berkumpul dan bersatu
di satu tempat, alam raya ini berada di titik manapun juga yang
menjadi pusat perhatian kita. Demikian juga dengan perbedaan
perbedaannya, orang itu dapat melihat kesatuan didalam per-
bedaan. Dengan kesadaran yang mendasar seperti itu, iapun
akan berhasil membebaskan diri dari kesengsaraan di alam ma-
napun nantinya ia dilahirkan. Dia yang tidak ingin menghendaki
segala sesuatu telah membebaskan diri dari rasa kemilikan,
meskipun ia hidup di dunia ini, tetapi ia dapat dipersamakan
dengan Brahman. Orang itu mengetahui sifat-sifat sesungguh-
nya dari alam Pradhana (alam materi), mengetahui proses pen-
ciptaannya, dan iapun tidak dikendalikan oleh nafsu kemilikannya,
tidak sombong dan angkuh, maka sudah dapat dipastikan bah-
wa pada akhirnya ia akan berhasil membebaskan dirinya untuk
menuju alam kekal. la harus mengerti dengan baik apa sebenar-
nya pohon besar yang tumbuh dari alam tanpa wujud itu, apa
sebenarnya yang dilambangkan dengan batang nya, cabang-
eabangnya, ranting-ranting, selanjutnya lima unsur besar yang
menjadi bunga, unsl:Jr-unsuryang menjadi ranting-ranting keeil
tempat menempelnya daun-daun, pohon hayat yang selalu ber-
bunga, dan yang menjadi tempat bergantungnya dari segala

88

yang ada, yang bijinya itu adalah Brahman yang kekal. Semua
masalah akan dibahas dengan ketajaman ilmu pengetahuan,
dengan demikian ia akan mencapai kekekalan, meninggalkan
proses kelahiran dan kematian. Baiklah, akan kujelaskan ke-
padamu 0 Kshatriya, segala kesimpulan yang ada tentang masa
lampau, masa kini dan masayang akan datang; tentang agama,
tentang kesenangan dankekayaan, yang kesemuanya itu men-
jadi bahan renungan para bijaksana yang memiliki fikiran luas
dan pandangan jauh ke depan. Masing-masing hal itu dapat di-
anggap sebagai unSlH-unsur dari apa yang disebut kebaikan.
Orang yang memahami hal ini dan hidup disini pasti akan men-
dapat sukses. Pada jaman dahulu, para Rishi seperti Wrihaspati
Bharadwaja, Gautama, Bhargawa, Wasishta, ~asyapa, Wiswa-
mitra dan Atri telah berkumpul bersama untuk membahas ber-
bagai masalah. Mereka semua be.kumpul setelah masing-
masing selesai melakukan perjalanan berkelana dan menunai-
kan tugas-tugas yang menjadi tanggungan mereka. Mereka lalu
membicarakan bermacam-macam soal yang mampu dipecah-
kan bersama. Akan tetapi dalam pembicaraan-pembicaraan itu,
masih terdapat hal-hal yang dianggap perlu mendapat pengu-
kuhan dari Hyang Maha Tinggi Brahman, karena masalahnya
memang sulit dan menimbulkan banyak penafsiran yang satu
dengan yang lainnya seringkali bertentangan. Karena itu, de-
ngan dipimpin oleh putera Angirasa, mereka lalu menghadap
kepada· Brahman yang maha suci dan maha mengetahui.
Mereka sujud menyembah serta memohon petunjuk serta pen-
jelasan tentang apa yang dinamakan kebaikan sejati. Pada da-
sarnya pertanyaan-pertanyaan mereka itu tidak berbeda de-
ngan pertanyaan-pertanyaan yang telah ananda ajukan diatas
tadi. Misalnya beberapa dari antara pertanyaan mereka adalah :
Bagaimanakah orang baik itu sebaiknya bertindak ? Bagai-
manakah caranya membebaskan diri daridosa? Jalan manakah
yang terbaik dari antara jalan-jalan yang banyak jumlahnya itu ?
Apakah kebenaran itu dan apakah yang disebut dosa ?Apabila
terdapat dua jalan yang dinyatakan baik, namun arahnya ber-
beda, yang satu ke utara dan yang lain ke selatan, lalu bagai-
manakah caranya menempuh kedua jalan itu sekaligus? Apakah ki-
amat itu ? Apakah kebebasan abadi itu ? Apakah sebenarnya
kelahiran dan kematian dari segala mahluk ini ?

Demikian itulah mereka mengajukan pertanyaan-pertanya-
an itu berturut-turut dan aku sekarang ingin mengulangi apa
penjelasan Brahman terhadap masalah-masalah rumit yang di-
ajukan itu. Dengarkanlah wejangan Brahman yang antara lain

adalah sebagai berikut ini :

89

"OM segala mahluk dialam semesta ini telah terlahir dari
kebenaran. Mereka itu hidup berdasarkan ketahanan untuk me-
ngatasi penderitaan dan melakukan perbuatan-perbuatan. Ini-
lah yang pertama-tama patut direnungkan dan dicamkan ! la la-
hir dari bibit kebenaran ke alam penderitaan. Untuk mengelak-
kan diri dari penderitaan itu lalu ia melakukan perbuatan-
perbuatan guna mengejar kebahagiaan yang dibayangkan akan
dapat diatasi dengan melakukan ini atau itu. Memang dengan
perbuatan-perbuatannya itu, mahluk-mahluk itu lalu dapat
mempertahankan kehidupan dan berkembang biak, tetapi de-
ngan perbuatannya itu ia sema~in menjauh dari asalnya. Ke-
benaran, apabila diliputi oleh sirat-sifat, selamanya akan dise-
lubungi oleh lima kenyataan. Brahman itu kebenaran ! Daya ta-
han terhadap penderitaan juga kebenaran. Prajapati, tidak da-
pat disangkal lagi adalah juga kebenaran. Dari kebenaran-
kebenaran itulah semua mahluk di alam semesta ini berpangkal
Kebenaran itulah jagat rayanya semua mahluk hidup. Kepada
kebenaran inilah para Brahmana penganut Yoga, yang telah
membebaskan diri dari kutuk dan kedukaan, dan yang selalu
men gang gap agama sebagai suatu jalan keselamatan, me-
nyerahkan serta melindungkan dirinya. Para Brahmana itu akan
selalu saling menasehati, tinggi pengetahuannya, dan menya-
dari sepenuhnya adanya tahap-tahap peningkatan dan me-
nempuh empat jalan dalam kehidupannya. Orang bijaksana
akan selalu mengatakan bahwa agama atau kewajiban-kewajiban
itu hanya satu adanya, meskipun ia terdiri dari empat bagian. Wa-
hai para Rishi, dengarkan aku sekarang menjelaskan jalan kebenar
an itu. Jalan itu yang selamanya ditempuh oleh para bijaksana
yang ingin bersatu dengan Brahman. Jalan ini adalah yang ter-
tinggi, namun sangat sukar memahaminya. Langkah pertama
yang patut dilakukan adalah menempuh kehidupan Brahma-
charin, selaku murid atau siswa yang menuntut ilmu sejati
memperteguh kesadaran terhadap Brahman Yang kedua,
adalah menempuh kehldupan berumah tangga. Tahap ketiga,
adalah mengundurkan diri dalam hutan. Langkah yang terakhir
dan yang terpenting adalah langkah-Iangkah yang bertalian
dengan Adhyatma. Pada tahap yang terakhir ini orang men-
curahkan seluruh perhatiannya kepada pengetahuan tentang
jiwa dan cara-cara pembebasannya. Sebelum orang mencapai
Adhyatma. ia hanya akan melihat dan bersujud kepada Cahaya,
Ether, Surya, Bayu, Indra dan Prajapati. Karena itu. untuk me-
lepaskan din dari ikatan itu semua. camkanlah terlebih dahulu
pengetahuan tentang Adhyatma itu. Marilah kujelaskan jalan-

jalan yang disebutkan diatas itu satu-persatu. Mengundurkan

90

diri kedalam hutan diternpuh oleh para pertapa. Untuk memper-
tahankan kehidupannya sebagai pertapa ia hanya memakan
buah-buahan dan umbi-umbian yang dapat dikumpulkan dari
dalam hutan itu sendiri. Cara pengunduran diri ini patut ditem-
puholeh ketiga golongan pertama, yaltu Brahmana, Kahatriya
dan Waisya. Kehidupan berumah tangga dapat ditempun oleh
semua golongan. Orang bijaksana menyatakan bahwa agama
itu mempunyai cirinya yang terutama, yaitu ketaatan dan ke-
yakinan. Jalan yang kusebutkan ini dapat mengantarkan roh
manusia itu ke alam dewa-dewa. Jalan ini ditempuh oleh orang
bijaksana yang menitik beratkan kepada kebaikan melalui per-
buatan-perbuatan. Jalan itu adalah jalan kasih sayang, jalan ke-
ikhlasan berkorban. Orang-orang yang taat, teguh melaksana-
kan janji dan sumpah apabila menempuh salah satu jalan ini,
pada suatu saat nanti pasti akan berhasil m,ndapatkan penger-
tian tentang kelahiran dan kematian mahluk-mahluk di alam
ini.

Roh yang maha agung, yang tidak sarna dengan alam
wujud itu, yang menyadari kesempurnaannya sendiri, yang me-
miliki sebelas macam sarana untuk melakukan tindakan dan pe----
ngetahuan, menguasai kelima unsur besar beserta sifat-sifat-
nya. Dia itulah yang merasuk ke dalam segala alam ciptaan yang
terus menerus ada ini. Unsur-unsur alam ciptaan itu sudah se-
ring disebutkan jumlahnya, yaitu dua puluh empat ditambah sa-
tu. Orang yang dapat memahami kemunculan serta peleburan
semua unsur-unsur itu, ialah yang terutama dari segala mahluk
ciptaan,tidak akan pernah tertipu oleh selubung kenyataan itu.
Orang yang mengetahui unsur-unsur itu dengan setepatnya.,
sifat-sifatnya serta dewa-dewa yang meng.uasainya, akan ber-
hasil membersihkan diri dari dosa-dosanya.

Dan kemudian, setelah ia berhasil membebaskan diri dari
segala ikatan, ia akan mencapai alam yang paling suci.

XXXVI. Segala-galanya yang tidak nampak itu, yaitu yang tidak bisa/

ditangkap oleh daya persepsi, yang merasuk kedalam segala-J

galanya, yang kekal, tidak rusak oleh proses sendiri maupun

oleh kekuatan dari luar, itulah yang sebenarnya diandaikan se-

bagai kota yang memiliki pintu gerbang sembilan, mempunyai

tiga lapisan sifat dan tersusun atas dasar lima unsur, mem-

punyai sebelas jalur pemberi arah termasuk fikiran. la dapat

membedakan keadaan masing-masing wujud atau benda-

benda dan mempunyai pengertian sebagai penguasanya. Itu

semua merupakan pengendapan dari yang sebelas. Yang tiga

91

sebagai penunjang, yang dikenal sebagai tiga nadi. la selalu
bergerak, dan tiga sifat menjadiesensinya. Kegelapan (tamas),
Nafsu (kama) dan Kebaikan (Satwam), itulah ketiga sifat itu.
Yang tiga ini bergabung menjaqi satu kesatuan, tunjang-
menunjang,yang satu tergantung dari yang lain. Yang satu me-
lindungi yang lain dan mengikuti yang lain, saling berkait erat
sekali, Kelima unsur besar itu diberikan bersifat oleh ketiga ha-
kekat sifat ini.
Jadi, segala sesuatu yang berwuJud itu, dlOen bersifat oleh ke-
tiga sifat dasar yang telah disebutkan itu. Sifat Kebaikan dikait
oleh sifat Kegelapan dan Kebaikan itu pula dikait-·oleh sifat Naf-
SU, demikian sebaliknya. Dalam setiap keadaan, ketiganya ituti·
dak dapat dipisahkan. Dan ~fat-sifat dasar itu tidak dapat di-
musnahkan. namun dengan kekuatan kemauan dan fikiran pe-
nyalurannya dapat diarahkan, sehingga masing-masing seolah-
olah dapat diperbesar atau diperkecil pengaruhnya. Pada ha-
kekatnya, sifat Kegelapan itu diwujudkan oleh keadaan gelap
tanpa cahaya, dan kegelapan itu sendiri juga meliputi sifat-sifat
yang sering digambarkan dengan kebodohan, ketidak benaran
serta ketidak adilan atau segala sesuatu yang selalu menonjol
dalam perbuatan-perbuatan dosa. Itulah Kegelapan yang selalu
membayangi sifat-sifat yang lain. Banyak atau sedikit selalu me-
ngalir bersama-sama sifat-sifat yang lain.

Sifat Nafsu itu berfungsi mendorong dilakukannya perbuat-
an atau kegiatan. Dorongan nafsu itu memberikan kekuatan untuk
berlangsungnya serangkaian tingkah laku yang menghasilkan.

Keindahan yang anggun, kelincahan gerakan dan ketaatan
kepada keyakinan adalah merupakan perwujudan terang, sifat
kebaikan dari segala mahluk. Analisa di atas ini telah dikenal
dan diakui oleh orang-orang bijaksana sejak awal timbulnya ke-
sadaran.

Lebih jauh, inilah gambaran dari ketiga sifat-sifat itu, baik
secarabergabung maupun sendi·ri-sendiri. Sifat Kegelapan itu
meliputi hal-hal sebagai berikut : Kebodohan, kenaifan, keter-
gantungan, tidak bisa memutuskan apa yang harus dilakukan.
tidur, ketakutan, kemilikan, kedukaan, tindakan-tindakan bu-
ruk, kehilangan ingatan, pertimbangan tidak dewasa, tidak ber-
keyakinan, rnelanggar tata tertib, menginginkan keistirnewaan,
kebutaan, keangkuhan, kesombongan, bodoh tetapi berlagak
pintar, tidak ramah, bermusuhan, jahat, curang, tidak bisa me-
lihat hubungan-hubungan,. berbuat dosa, tidak berperasaan,
kaku, rnalas, tidak mengendalikan keinginan dan mengalami
kernerosotan atau kejatuhan derajat. Bagaimanapun keadaan
jiwa seseorang itu, apabila masih diikat oleh kebodohan atau
kurang pengertian, maka ia itu masih diliputi oleh Kegelapan.

92

Selanjutnya, sering berbicara menjelekkan orang lain, mencela
dewa-dewa, mencela orang-orang bijaksana atau para Brah-
mana, tidak bebas, sombong, bodoh, mengutuk, tidak memaaf-
kan, kejam terhadap semua mahluk, semua itu adalah ci·ri-ciri
diliputi kegelapan. Apapun juga jenis kegiatan yang dilakukan,
tetapi sia-sia atau tidak bermanfaat, misalnya memberikan dana
punia sia-sia karena sipemberi seorang yang berhatijahat, atau
menerima atau memberi pada waktu yang tidak tepat, memiliki
sesuatu yang tidak baik, memakan makanan tidak bermanfaat,
itu semua juga merupakan pengaruh dari sifat kegelapan. Ber-
buat cabul, tidak memaafkan, rakus, sombong, tidak berke-
yakinan, itu semua juga merupakan cki-ciri kegelapan. Siapa- .
pun juga yang hidup didunia ini, memiliki cii"i-ciri seperti itu,
melakukan kesalahan-kesalahan sejenis itu, dan melanggar
peraturan-peraturan yang digariskan oleh Kitab Suci, dapatlah
ia dikatakan diliputi oleh kegelapan."ekarang dengarkan baik-
baik di mana orang-orang yang diliputi kegelapan itu dilah-ir-
kan. Orang-orang seperti itu sudah ditakdirkan untuk mengisi
alam siksaan atau neraka, menjelma di antara mahluk-mahiuk yang
paling rendah. Mereka terlahir di alam itu diantara binatang-
binatang jahat. Mereka menjadi mahluk tak bergerak, menjadi
binatang-binatang, menjadi binatang tersiksa, orang-orang
biadab, ular, cacing dan ulat, serangga dan burung-burung, se-
gala macam mahluk jahat. orang gila. bisu dan tuli. orang-orang
berpenyakit menular, pengotor, orang-orang yang selalu be'r-
buat jahat dan tenggelam di dalam kegelapan. Atau orang yang
selalu menurun keadaannya. la diliputi oleh kegelapan, teng-
gelam di dalam kegelapan. Sekarang dengarkanlah apa yang
harus diusahakan mereka untuk memperbaiki keadaannya itu.

Mereka itupun dapat mencapai keduaukan orang yang berbudi
luhur. Mahluk-mahluk yang karena buah pekertinya laLu terlahir
dibawah tingkat manusia, apabila memanfaatkan dirinya untuk
kepentingan upacara keagamaan yang diselenggarakan qleh
para Brahmana, taat melakukan kewajibannya sesuai dengan
tingkat kehidupannya dan selalu berfikir untuk membahagia-
kan mahluk-mahluk yang lain, tentulah ia akan berhasil me-
··ningkatkan dirinya ketingkat keadaan yang lebih tinggi.
Dengan perjuangan yang sungguh-sungguh ia mungkin juga
mencapai tingkat kedudukan seorang Brahmana mulia dan
akhirnya, merekapun akan berhasil mencapai alam Surga. Ini-
lah suatu kaidah kehidupan yang tercantum dalam Weda.

Meskipun dahulunya mereka terlahir di bawah tingkat keduduk
an manusia, menjadi tua di dalam dunianya itu, akan tetapi apa-
bila sudah menunaikan tugasnya yang ditunjang oleh cita-cita-

93

nya guna peningkatan jiwanya, pasti mereka akan mengalami
peningkatan kelahiran hingga mencapai tingkat man usia.
Mahluk-mahluk itu akan terlahir diantara manusia, pertama-
tama sebagai orang tak berkasta, orang bisu-tuli, cacat jas-

.mani misalnya sumbing dan sebagainya, dan kemudian ia me-
ngalami peningkatan-peningkatan, menjadi kasta sudra, dan
selanjutnya, di mana kekuasaan kegelapan semakin menipis.
Mengikatkan diri kepada naf5u~-nafsu dan emosi adalah suatu
kebodohan. Dalam hal ini, semua manusia, bahkan para Rishi
dan muni sekalipun, tidak luput dari kebodohan itu. Dewa-dewa
sekalipun masih saja melakukan perbuatan-perbuatan yang di-
Iiputi oleh kebodohan. Buktinya adalah karena mereka masih
menginginkan kesenangan. Kegelapan, kebodohan, kegelapan
besar dan kebodohan besar, semuanya itu disebut kutuk dan
kematian, yang membuat kita buta dalam kesamaran. Semua-
nya itu disebut lima macam pe~eritaan yang terbesar. Kutuk
itulah kegelapan yang sangat hebat. Demikianlah 0 Brahmana,
aku telah menjelaskan secara terperinci sifat dan ci·ri-ciri ke-
gelapan itu. Sudahkah kalian memahaminya ? SUdahkah kalian
melihat kenyataannya ? Itulah Kegelapan yang selalu menipu
manusia hingga ia melihat sebagai kenyataan segala sesuatu
yang sebenarnya bukan kenyataan. Camkanlah semuanya itu !
Dengan menyadari kenyataan ini, pastilah kalian akan dapat
membebaskan diri dari cengkeraman kegelapan itu ".

XXXVII. Brahman melanjutkan ajaran-ajaran sucinya : " Wahai

mahluk-mahluk utama, sekarang pusatkan perhatian kembali,

aku akan menjelaskan segala sesuatu tentanQ sifat Nafsu itu .
.Kekuatan Nafsu itu tercermin di dalam keadaan dan per-

buatan seperti berikut : menyakiti orang lain, kecantikan

dan ketampanan, ketekunan bekerja untuk mengejar hasil, ke-

senangan dan kedukaan, dingin dan panas dalam hubungan

dengan sikap, kekuasaan, perang, damai, perbantahan, ketidak
puasan, kekuatan bertahan, kedukaan, kehebatan, kebanggaan,

kutukan, usaha keras, pertengkaran, irihati, keinginan, kekeras -

an, pertempuran, kemilikan, perlindungan, pembunuhan,

pengikatan diri, penyakit, usaha perdagangan, merambas dan

mencincang, merusak lambang-Iambang yang dihormati oleh

orang lain atau menghina kelemahan orang lain, kegalakan, ke-

kejaman, menunjukkan kesalahan orang lain, selalu memikir-

kan hal-hal keduniawian, kekhawatiran, kemarahan, meng-

hancurkan orang lain, berbicara tidak benar, melakukan dana

yang salah, ragu-ragu, menyombongkan diri dalam pembicara-

an, hinaan dan sanjungan, bicara keras, kegagahan, me-

nunggui orang sakit atau orang lelah, mentaati orang tua atau

94

guru, pelayanan dan tata laksana, memaksa diri untuk me-
menuhi keirlginan, kepandaian dan ketrampilan, politik atau ke-
bijaksaan, tidak perduli, mengikuti aliran jaman, perhiasan2,
upacara-upacara yang diiringi oleh ucapan-ucapan swaha,
swadha dan washat, menyelenggarakan upacara untuk ke-
pentingan orang lain, menyimpang dari ajaran-ajaran, melaku-
kan upacara, belajar, melakukan dana, menerima dana, melaku
kan upacara untuk menolak kesialan, perbuatan baik, keingtn-
an untuk memiliki, menyayangi, merasakan kenikmatan me-
miliki benda-benda, penghianatan, hormat dan tidak hormat,
pencurian, pembunuhan, menyembunyikan, keteguhan, ke-
lemahan, ketakutan, pengikatan, pemujaan, kepuasan, berbakti
berjudi, serong, berhubungan dengan wanita-wanita, menari,
main musik dan berl'yanyi; semuanya itu merupakan kegiatan
yang berpangkal dari dorongan Nafsu. Orang di Dunia ini, yang .

selalu merenungkan nilai-nilai masa lalu, masa sekarang dan

masa yang akan datang, yang mencurahkan hidupnya ketiga
himpunan kesatuan yang terdiri dari agama, kekayaan dan ke-
senangan, yang bertindak atas dasar dorongan keinginan dan
berhasil mencapai apa saja yang dikehendakinya, sebenarnya-
lah dia itu telah menggunakan serta menyalurkan kekuatan da-
sar Nafsu itu. Dilihat dari alam kesunyataan, dia itu sebenarnya
sedang menempuh jalan menurun. la sedang dimabuk oleh
sukses-sukses yang berlaku di dunia, ingin menguasai seluruh
kenikmatan yang ada didunia dan menghendaki kehidupan ke-
kal di dunia yang tidak mungkin dicapainya. Berulang-ulang ia
akan lahir ke dunia mengejar kesenangan duniawi dan ke-
nikmatan di dunia sana. Mereka memberikan dana dan mene-
rima dana, melakukan upacara penyucian yang ditujukan ke-
pada para Pitri, serta menuangkan kurban tuangan ke dalam
api suci. Demikian itulah sifat-sifat nafsu serta segala perbuat-
at yang akan kembali kepada Nafsu itu. Orang yang memahami
sifat-sifat ini, pasti akan berhasil membebaskan dirinya dari se-
galanya yang diselubungi nafsu itu."

\

XXXVIII. "Dan selanjutnya", demikian Brahman melanjutkan firman-

nya, Dengarkanlah sekarang sifat-sifat dari hal yang ketiga, yaitu

serba Kebaikan itu. Pengetahuan ini sungguh sangat bermanfa-

at bagi proses peningkatan seluruh mahluk di Dunia. Hakekat

dari Kebaikan ini tidak mengenal apa yang disebut eela. Sifat ini

dijadikan tempat bersandar, tempat bergantung dan berltn-

dung oleh mereka yang mencita-citakan kebaikan. Hakekat Ke-

baikan itu nampak mencetuskan diri sebagai Kebahagiaan men-

dalam yang ditimbulkan oleh kesadaran Brahman, puas dan

'\ 95

bersyukur, keagungan suei, kesadaran Brahman, kesenangan
positif, tidak kikir pun tidak berkelebihan dalam memberi, tidak
merasa takut, merasa eukup, pereaya, pemaaf, berani karena
benar, tidak menyakiti mahluk hidup, persamaan hak dan de-
rajat, kebenaran, bieara jujur, tidak mengutuk, tidak kejam, suei
pandai dan eerdas, gagah perkasa. Itulah semua hal yang dapat
diwtljudkan oleh hakekat Kebaikan itu. Orang yang mendalam
pengertiannya tentang Yoga akan menyadari bahwa penge-
tahuan manusia itusangat terbatas, keeil dan sia-sia, perbuatan
manusia itu sia-sia, pelayanannya juga sia-sia, eara hidupnya
sia-sia, semuanya tidak berarti apa-apa, apabila dibandingkan
dengan sifat Kebaikan yang maha agung semua kegiatan ma-
nusia itu sia-sia. Hal ini harus disadari, dengan demikian, de-
ngan kerendahan hatinya ia akCfl terus maju ke tingkat kesadar-
an yang lebih tinggi hingga akhirnya akan meneapai tingkatter-
tinggi di dunia yang lain itu. la bebas dari rasa kemilikan, ter-
bebas dari egoisme. tidak mengharapkan ini atau itu. melihat
semuanya dengan eara yang sama, terbebas dari keinginan, itu
lah peraturan kekal Kebaikan itu. Pengaruh hakekat Kebaikan
itu mengakibatkan orang pereaya kepada diri sendiri, seder-
hana, pemaaf, berpantang, mempertahankan kesueian, tidak
malas, tidak kejam, tidak tertipu karna bodoh, einta kasih ke-
pada semua mahluk, tidak tinggi hati, sujud, puas, merasa ter-
haru, rendah hati, tingkah laku yang baik, tindakan-tindakan
nya didasarkan atas niat suei guna meneapai ketenteraman,
pengertiannya benar, bebas dari segala ikatan, tidak perduli,

Brahmaeharyya, mengekang diri, terbebas dari rasa kemiHkan,
tidak mengharapkan, tidak putus-putusnya meneita-eitakan
keadilan dan kebenaran. Dana yang dibsrikan itu sia-sia, upa-
eara-upacara besar itu menjadi sia-sia. belajar sepanjang usia itu
juga sia-sia, sumpah dan janji itu sia-sia, menerima pemberian
itu sia-sia, taat kepada kewajiban itu sia~sia, penyiksaan diri dan
bertapa itu tidak ada gunanya, pendeknya semua kegiatan yang
dilakukan akhirnya tidak ada artinya. Para Brahmana yang hi..
dup di dunia ini, yang tingkah lakunya menunjukkancifi-ciri se-
demikian ini, yang selalu bertindak berdasarkan kebenaran,
berpegang teguhkepada Weda-weda, dikatakan orang sebagai
Brahmana bijaksana dan pengabdi-pengabdi kebenaran.

Detlgan cara demikian itu mereka membersihkan diri dari dosa-
dosanya, membebaskan diri dari kedukaan; Dengan demikian
mereka akan meneapai alam Dewa-dewadan mampu mendapat
kan apa saja menurut kebutuhannya. la mempunyai kemampu-
an menguasai dan memerintah apa saja, dapat mengendalikan
diri, menjadi kecil sekecil atom, menjadi besar memenuhi ruang

96

angkasa. dan itu dapat dilakukan dengan kekuatan fikirannya
yang tidak terbatas itu. la hidup dialam Surga bersama-sama
dewa-dewa. Orang suci seperti itu sebenarnya masih juga me-
nempuh jalannya ke atas. Mereka itu berwujudkan dewa-dewa
yang sakti, mampu merubah segala sesuatu sesuai dengan ke-
hendaknya. Demikianlah 0 para Rishi, aku telah menjelaskan
semua tingkah dan sifat yang berpangkal dari kebenaran dan
Kebaikan. Dengan memahami itu semua, maka apapun yang di-
cita-citakan pasti akan dapat dicapai. Orang yang memahami-
nya dan hidup berdasarkan Kebenaran ini, akan dapat me-
nikmati semua sifat tanpa mengikatkan diri kepada sifat-sifat
itu" .

XXXIX. Brahman melanjutkan firmannya : "Hakekat sifat itu, sebe-

narnya tidak dapat dijelaskan selengkapnya Aecara terpisah

satu dengan yang lain. Nafsu, Kebaikan dan Kegelapari sebe-

narnya mewujudkan diri sebagai satu gabungan bulat Ketiga-

nya itu terpadu sempurna, saling kait dan saling pengaruh-

mempengaruhi, dan yang satu melindungi yang lainnya. Yang

satu bergerak atas dorongan yang lain, atau yang satu bergerak

untuk diikuti oleh yang lain. Selama kebaikan itu ada, selama

itu pula nafsu itu ada; selama kegelapan dan nafsu itu ada,

selama itu pula kebaikan itu ada. Ketiganya itu berjalan ber-
sama-sama saling tarik dan saling mendorong. Dan semuanya

itu berada di dalam jasad atau wujud, selalu bergerak, baik

dengan alasan, maupun tidak dengan alasan. Meskipun demi-

kian, masing-masing itu dapat mengalami perkembangan yang

berbeda. Sekarang marilah kita lihat, bagaimana caranya ketiga
hakekat sifat-sifat itu berkembang bertambah besar atau· me-

nyusut menjadi keci!. Ada terdapat sifat Kegelapan yang semakin

bertambah besar pengaruhnya. Ini terlihat pada mahluk-

mahluk berderajat rendah. Pada mahluk-mahluk itu, nafsunya

tidak seberapa besar, sedangkan sifat kebaikannya lebth-Iebih

kecillagi. Pada mahluk-mahluk tingkat menengah, dorongan nafsu-

nya cukup besar; kegelapan agak kecil dan kebaikannya kecil

sekali. Pada mahluk-mahluk yang tinggi tingkatannya, dorong-

an kebaikannyalah yang lebih menonjol, kegelapannya kecil

dan nafsunya lebih kecillagi. Sifat Kebaikan itulah yang mendo-

rong perubahan-perubahan yang terjadi pada alat-atat pengtn-

draan. Kebaikan itu yang memberikan kita kebijaksanaan. Tidak

ada kewajiban yang lebih tinggi daripada mengabdi kepada

kebaikan. Orang-orang yang bergerak berdasarkan atas kebaik-

an itu akan berkembang terus menuju ke atas. Orang-orang

yang bergerak atas dorongan nafsunya, akan selamanyaberada

di tingkat menengah. Dan orang-orang yang bergerak berda-

97

sarkan kegelapan, akan merosot terus ke bawah karena sifat
kegelapan itu memang rendah. Kegelapan menyelubungi
orang-orang berderajat rendah, bodoh dan malas, yang karena
sitatnya itu kita sebut mereka golongan Sudra. Na fsu mengge-
rakkan para pahlawan dan golongan ksatria, dan orang-orang
yang menuntut ilmu pengetahuan sejati, golongan bijaksana,
yang karena sifatnya kita sebut golongan Brahmana, digerak-
kan oleh sifat kebaikan. Sifat-sifat itu menjadi ci·ri-ciri menon-
jol dan sebenarnya, ketiga sifat-sifat itupun dimiliki oleh ketiga
golongan itu, mencetuskan diri dalam perbandingan yang se-
suai dengan sifat golongan mereka masing-masing. Dipandang
secara sepintas lalupun sudah nampak bahwa sifat-sifat itu ter-
dapat dalam bentuk gabungan di dalam diri setiap mahluk. Si-
tat-si-tat itu tidak pernah t>,rdiri sendiri. Melihat matahari terbit,
orang-orang jahat gemetar ketakutan, para pengembara yang
sedang berada dalam perjalananmerasakan panas menyengat.
Sebenarnya, matahari itulah perlambang dari kebaikan yang
berkembang, yang memperigaruhi perkembangan dari apapun
juga yang berada di dunia ini. Orang jahat itu melambangkan
kegelapan. Pengembara yang sedang menempuh perjalanan
melambangkan Nafsu. Gerhana matahari atau keQelapan hari

melambangkan sitat' Kegelapan. Namun bagaimanapun juga,
semua sitat itu terdapat dalam bentuk gabungan juga di dalam
benda-benda langit yang bercahaya. Masing-masing sitat itl
berfungsi berganti-ganti, dengan cara berbeda dan dalam wak·
tu yang berbeda. Dalam benda-benda mati atau tidak bergerak,
sitat Kegelapan itu ada dalam proporsi yang sangat banyak.
Natsu dalam jumlah besar berada pada mahluk-mahluk yang selalu
bergerak dan berubah ..Ringan, bersih dan murni adalah ber-
wujudan sitat Kebaikan, yang banyak terkandung dalam minyak-
minyak yang menyebarkan bau wangi dan nyaman. (Rasa2
asam, manis, asin, pahit dsb.adalah merupakan cetusan sitst
Natsu). Malam, bulan mati, bulan, tengah bulanan, tahun,

masing-masing merupakan perwujudan yang'beralih atau ber:u-
bah dari ketiga gabungan sitat-sitat itu. Demikianlah sitat-sitat
dasar itu mempengaruhi segala-galanya di dunia ini, bahkan
upacara kurban yang dilakukan setiap saat, terdiri dari tiga ba-
gian yang masing-masing bagiannya dipengaruhi oleh masing-
masing dari ketiga sitat itu. Dunia inipun terbagi tiga, demikian
juga golongan dewa-dewa. Pengetahuan, jalan dan akhirtujuan
itu semuanya terbagi tiga sesuai dengan tiga sitat dasar yang
mempengaruhinya. Masa lampau, masa kini dan masa yang
akan datang, agama, kekayaan dan kesenangan, prana, apana
dan udana. masing-masing au dipengaruhioleh ketiga sitat da-

98

sar itu. Ketiga sifat itu bergerak berganti-ganti pada ~etiap ben-
da dan setiap keadaan. Dan ketiganya itu melakukan gerakan
dari dalam tidak secara langsung dapat dilihat. Ketiga sitat itu
kekal adanya. Keadaan yang tidak nampak itu, yang terdiri dari ke-
tiga sifat dasar itu, tidak dapat ditangkap dengan menggunakal'l
alat-alat pengindraan ia itu suci, tetap, tidak mempunyai he-
akhiran tidak terlahir, merupakan rahim, kekal, melakukan pr-o-
3eS modifikasi Alam, Pradhana. Kemusnahan, hasil, penyerapan.
tidak berkembang, maha luas, tidak goyah, tidak dapat digerakkan
atau tetap di satu tempat, dan yang paling terutama adalah bahwa

ia itu tidak nyata atau riil. Semua sebutan itu harus dikenal oleh
mereka yang memusatkan fikirannya kepada hal-hal yang ber-
hubungan dengan roh. Orang yang mengetahui dengan tepat
nama, sifat dan cara berprosesnya wujud yang tidak nampak
itu, akan mengetahui kebenaran beserta pertIbag ian sertadapat
beda membedakan, dan dapatlah ia membebaskan diri dari ikat-
an jasmani, membebaskan diri dari semua sifat dan pasti akan
sempat menikmati kebahagiaan hakiki.

XL. Dari yang tidak nampak itu, pertama-tama muncul Roh
Maha Besar, yang memiliki kecerdasan tidak ada batasnya, dan
Roh Awal itu merupakan sumber bagi segala sifat yang ada.
Dia itulah ciptaan yang pertama. Roh Maha Agung itu disebut
dengan nama-nama: Roh Agung, Kecerdasan, Wisnu, Jishnu,
Sambhu, Pengertian. metode untuk mendapatkan ilmu penge-
tahuan, metode untuk mendapatkan oersepsi yang benar juga
pemasyhuran, keberanian dan daya ingatan. Dengan mengetahui
hal ini. seorang, Brahmana bijaksana tidak akan pernah tertipu.
Roh Alam itu mempunyai tangan dan kaki di segala Jurusan, penun
dengan mata dan telinga. la berdiri dengan megah, merasuk segala-
galanya di alam semesta ini, kekuatannya tidak terbatas dan
bermukim di suatu pusat di tengah-tengah hati sanubari. Sitat-
sifatnya digambarkan sebagai kecil, ringan, kaya akan berkah-

berkah, menguasai segala-galanya dan sebagai junjungan sa-

gala-galanya. la itu identik dengan kecemerlangan cahaya ge-
milang bagaikan seribu Surya dan tidak mengenal kemunduran
keadaan. Di dalamnya itulah berlindung orang-orang yang
mempunyai pengertian, yang memuja kebenaran, yang melaku-
kan meditasi, yang melakukan Yoga, yang membela kebenaran,
yang mengendalikan indriya-indriyanya, yang berpengetahuan,
yang tidak diikat oleh keinginan untuk memiliki, terbebas dari
kutuk dan kemarahan, gembira, bijaksana dan terbebas dari
egoisme. Semua sifat-sifat itu terbebas dari segala ikatan, keou-
ali mengikatkan diri kepada Roh yang maha besar saja dan

99


Click to View FlipBook Version