The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by kantor, 2022-03-28 04:17:22

Aswa Medha Parwa

Aswa Medha Parwa

tidak mungkin dapat dibunuh, bahkan Sakra sendiripun tidak
mampu menundukkannya dalam pertempuran! Permata Dewa-
ta ini sudah ada ditanganku sekarang. Permata ini mampu
menghidupkan bangsa ular kapan saja dan berapa kalipun ia
mati! 0 ananda letakkanlah pennata ini di atas dada ayahmu.
Segera ananda akan melihat keadaan yang sebenarnya, bahwa
ayah paduka ananda masih hidup!" Dengan permata ditangan,
Wabhruwahana lalu mendekati ayahnya dan meletakkan batu
permata itu di atas dada putra Pritha nan perkasa itu. Dan tiba-
tiba, Jishnu telah hidup kembali! Setelah membuka matanya
yang memancarkan sinar kemerah-merahan, ia duduk seperti
bangun dari tidur yang nyenyak. Setelah melihat pahlawan be-
sar yang bertenaga luar biasa itu siuman, Wabhruwahana se-
gera bersujud menyembah dengan takzimnya. Pada waktu pen-
dekar sakti itu bangun kjmbali dengan tanda-tanda kehidupan
yang sempurna, Dewa penakluk Paka menghujankan bunga
dari langit, kentongan dan nekara berbunyi dengan sendirinya,
bergema bagaikan deru awan di angkasa. Sorak-sorai terde-
ngar di langit dan menyerukan : "Bagus; bagus!" Dhananjaya
bangkit dan memeluk Wabhruwahana serta menciumi kepala-
nya. la melihat ibunya, duduk agakjauh dari tempat anaknya.
Ibu dari raja muda itu terlihat olehnya seperti baru saja mele-
paskan kesedihan, dan di sebelahnya, duduk Ulupi. Dhananjaya
lalu bertanya : "Apa yang terjadi? Mengapakah suasana la-
pangan ini nampaknya demikian menyedihkan? Jelaskanlah
apakah yang sebenarnya sudah terjadl di tempat ini! Mengapa
ibumu itu datang ke tempat ini? Mengapa pula Ulupi, putri raja
Ular itu berada di sini? Aku masih ingat bahwa ananda tadi
sedang bertempur dengan aku atas perintahku. Aku sungguh
ingin tahu mengapa wanita-wanita ini berada di sin!!" Men-
dapat pertanyaan seperti itu, raja Manipura yang cerdas itu me-
nyembah dan menjawab : "Tanyakanlah 0 ayahanda, kepada
Ulupi!"

LXXXI. Arjuna memandang tajam ke arah Ulupi dan bertanya :

"Apa yang membawa kalian ke tempat ini ? Hai putri raja Ular,

jelaskanlah mengapa ibu raja Manipura ini berada di sini, dan

apakah adinda ini berniat baik kepada rajamuda ini? Demikian

juga terhadap diriku? Mudah-mudahan kami berdua, aku dan

Wabhruwahana tidak menyakitkan hati adinda! Apakan Chi-

tranggada putri Chitrawahana tidak berbuat salah kepada diri

adinda?"

Putri raja Ular itu lalu menjawab sebagai berikut : "Paduka

sama sekalitidak berbuat salah.demikian juga Wabhruwahana.

.Tidak juga putri nan cantik ibu dari; raia muda ini. Selamanya

ia menunjukkanketaatan keoada dlrtku dan dialah pembantuku

199

yar.1g pertama! Dengarkanlah 0 pahlawan, apa sebena
sudah terjadi.Tetapi sebelumnyahamba mohon denga
agar paduka Hdak marah kepada diri hamba. Sebena
ba ingi-n berbakti kehadapanpaduka, demikianlah, ha
bersujuddihadapan -paduka. 0 Pelindung bangsa Ku
y~rApa yang terjadi di sini hari ini, memanglah hasil pert::.:.:~r!'
_ liamba sendiri, demikebaikan paduka juga, ODhanan'
perkasa dan sakti! Dengarkanlah 0 paduka, apa' ya ;
hamba lakukan. Dalam pertempuran besar di padang K
duka telah berhasil menewaskan putra Santanu denga
tipu daya. Apa yang hamba lakukan sekarang ini. sebe
bertujuan membersihkan diri paduka dari dosa yang dia
kan oleh perbuatan memperdaya serta membunuh putra -
tanu itu. Paduka pada waktu itu tidak mampu menund
Bhisma. Sikhandin lalu membantu pa~uka dengan mema""',....'·.....-
mancing Bhishma sedemikian rupa hingga dengan muda ::.
duka dapat menghantamnya dengan panah-panah pad
itu. Jatuhlah Bhisma yang hebat itu ! Paduka pasti a
menuju ke Neraka apabila perbuatan dosa itu tidak
sucikan sebelum paduka meninggalkan dunia ini. Tenta
hal ini. hamba mendengarnya sendiri, dengan mengintai pe -
bicaraan para Wasu dengan dewi Gangga. Setelah putra Sa -
tanu tewas, para Wasu itu turun dan berkunjung ke sungai
Gangga. Setelah menyucikan diri di air sungai itu, mereka lal
. memanggil Dewi penguasa Sungai itu. Dewi itu muncul da
para Wasu mengadukan bagaimana Bhisma telah tewa's di ta-
ngan paduka, katanya : "Putra Santanu. Bhisma. sudah di-
bunuh oleh Dhananjaya. Sebenarnya. 0 Dewi. Bhisma itu se-
dang sibuk menghadapi orang lain, bahkan dia sedang meng-

hentikan serangannya. Untuk kesalahan itu. maka hari fni, kami
para Wasu berkehendak mengutuk Arjuna!" Dengan singkat
dewi Gangga menjawab : "Semoga demikian!" Mendengar per-
cakapan mereka itu. hamba menjadi sangat sedih, dan dengan
segera hamba menghadap ayah hamba di dunia bawah tanah.

Ayah hambapun sangat sedih mendapat be rita seperti itu. De-
ngan segera ayah hamba melesat dan menghadap para Wasu
untuk memohonkan agar kutukan mereka terhadap diri paduka
dicabutnya. Tetapi mereka menjawab bahwa hal itu tidak mung-
kin lagi dapat dilakukan. Namun mereka menyatakan suatu cara
penebusan sebagai berikut : "Dhananjaya itu mempunyai se-
orang putra, putra itu diberkahi dewata dan memiliki tenaga yang

hebat. Sekarang, anak mud.a itu menguasai kerajaan Manipura.
la akan berhadapan dengan Dhananjaya serta mengalahkan
Dhananjaya itu dalam p~rtempuran.Apabila hal itu terjadi. ma-
ka barulah ia akan dibebaskan dari'dosanya, itu demikian juga ia

200

an terlepas dari kutukan kami !" Setelah mendapatkan kete-
gan itu dari para Wasu, ayah hamba kembali serta memberita-
semuanya itu kepada hamba. Berdasarkan hal itulah maka
mba melancangkan diri berani mencampuri urusan' pertan-

ingan bersenjata antara paduka dengan putra paduka ini. Dan
etah-uilah 0 pahlawan, bahwa paduka sekarang sudah terleoas

ari kutukan para Wasu itu! Dalam pertempuran, mana raja
Dewata sekalipun, ti(jak akan mampu menundukkan paduka. I
Dan putra paduka ini, tidak lain adalah diri paduka sen-/
diri. Hari ini paduka nampaknya telah di kalahkan oleh
putra yang perkasa itu. Paduka sempat tewas di tangannya!
Hamba tidak bersalah 0 pahlawan junjunganku yang sak-
ti. Atau adakah paduka melihat kemungkinan kesalahan ham-
ba ?". Wijaya sangat gembira mendengar keterangan Ulupi dan
mengucapkan kata-kata berikut : "Tidak 0 dewi! 4dinda tidak
bersalah I. Apa yang adinda lakukan itu sudah selayaknya adtn-
da lakukan !" Dhananjaya lalu berpaling kepada putranya, raja
Manipura. dan berkata kepadanya didengar pula oleh ibunya
putri Chitranggada. isteri Arjuna : "Puncak upacara Kurban Ku-
da yang diselenggarakan oleh raja Yudhishthira akan dilang-
sungkan pad a hari purnama bulan Chaitra. Datanglah ke sana
bersama-sama dengan ibumu dan para pembesar negeri ini !"
Wabhruwahanat berlinang-linang air mata karena terharu dan
gemblra menjawab : "0 junjunganku ayahanda, paduka mema-
hami segala kewajiban ! Atas perintah ayahanda, pasti hamba
datang ! Apabila paduka berkenan, mohon hamba ditugaskan
meladeni para Brahmana, misalnya membagi-bagikan makanan
hidangan kepada mereka. Dan apabila ayahanda berkenan,
hamba ingin agar paduka bersama-sama dengan isteri paduka
sudi mengujungi istana paduka disini. Besok pagi-pagi silakan
paduka berangkat lagi mengawal kuda kurban yang dilepaskan
itu. Semoga paduka tidak menolak permohonan hamba ini !"
Arjuna menjawab permohonan putranya itu dengan kata-kata
sebagai berikut : "0 anakku nan perkasa! ananda mengetahui
sumpah yang kuucapkan dalam menjalankan tugas ini. Se-
belum tugas ini selesai, aku tidak boleh masuk ke dalam kota
manapun juga. Kuda ini mengembara sekehendak hatinya. Di-
berkahilah kiranya ananda! Aku harus pergi! Aku tidak me-
ngenal tempat untuk melepaskan lelah sesaatpun!" Segera
pahlawan putra Dewata penakluk Paka itu disembah oleh putra-
nya dan setelah diperkenankan oleh kedua isterinya, lalu me-
lanjutkan perjalanan kembali.

LXXXII. Kuda kurban itu. setelah melakukan pengembaraan di se-
luruh daratan yang dibatasi lautan, lalu mengarahkan langkahnya

201

kembali ke Hastina. Arjuna tetap menjaga denga
nya dari belakang. Dalam perjalanan kembali itu . ..,........;;.,~.
hari, kuda itu memasuki wilayah kerajaan Rajag i
mengetahui bahwa Arjuna telah memasukiwilaya
wilavah itu. vaitu Dutra Sahadewa yanq sangat pe
nantang ~Arjuna untuk bertanding. Putra Saha
Meghasandhi keluar dari istana mengendarai kere a ~:M.
lengkap dengan persenjataan serta dilengkapi denn~,oo:-,
pelindung panah. la bergegas maju ke lapanga
menghadapi Arjuna yang pada waktu itu sedang
kaki. Setelah berhadap-hadapan dengan Dha

Meghasandhi, dengan sikap ke kanak-kanakan mengucc=..=..z:

kata-kata berikut : "Kuda paduka ini rupa-rupanya su
ngembara ke berbagai tempat di dunia ini. Tetapi saya
ini hanya dikawal oleh kaum wanit~saja! Karena itu sa
mengambil kuda ftU! Cobalah kalian merampasnya ke
Demikian anak muda itu berkata dengan congkaknya. Sel ....
nya ia mengatakan : "Meskipun ayahku tidak mengajar
berperang. tapi sudahlah! Barang kali aku sendirilah yang
mendapat kehormatan untuk mengajarkan ilmu keperwi -
itu kepada kalian! Majulah. coba! Hantamlah aku ini. bia
pat kuperlihatkan bagaimana caranya menghantam kemba
Arjuna tersenyum-senyum mendengarkan ucapan raja yang
ngat ke kariak-kanakan itu. Kemudian Arjuna lalu menja a
katanya : "Tugas yang dibebankan kepada diriku ini oleh
udaraku tertua adalah untuk menghadapi raja-raja yang bera

menentang perjalananku. Tentu paduka a raja. sudah me -

dengar tentang tugasku itu! Hai anak muda. paduka hantamla
diriku 'ini dengan sepenuh kekuatan yang paduka miliki! a
yang tua tidak akan marah!" Dengan sigapnya raja Magadha
lalu melancarkan serangan menghujankan anak panah ke ara
Arjuna. Serangan pertama itu sedemikian hebat, bagaikan Indra
yang bermata seribu mencurahkan hujan teramat lebat ke per-
mukaan bumi. Arjunaterkejut! Tidakdisangka akan mendapat
serangan permulaan sehebat itu. Tetapi dengan Iincahnya ia
menghindarkan diri dan dalam sekejap, panah-panahnyapun
mengalir menyembur-nyembur keluar dari senjata Gandhiwa
yang selalu dipegangnya. Semua panah raja Magadha dapat
ditangkis dan runtuh ke tanah. Kini serangan dilancarkan oleh
pahlawan berbendera lukisan kera, dengan menembakkan ·ri-
buan panah berpijar seperti beribu-ribu ekor ular sedang me-
nyambar-nyambar mangsanya. Panah-panah itu diarahkan ke
tiang bendera. bendera, kereta, tiang-tiang pada kereta, tempat
kuda dan kuda. Sengaja panah-panah itu tidak diarahkan ke
arah kusir kereta serta raja yang menjadi lawannya kali ini.
Partha sudah termashur' mampu mernbidik baik dengan tangan

202

kanan maupun dengan ta a
pernah meleset. Walaupun de
secara kejam untuk sekaligus e"''''~'-
Akan tetapi raja muda itu telah sala
bahwa kekuatan tubuhnyalah yang te a
hingga semua panah yang di lepasKan oleh
pang dari tubuhnya sendiri. Sungguh suatu dU(Jaan
dasari oleh kesombongan yang kekanak-kanaka
hada itu tidak pernah menduga kalau Arjuna mema g o;::pr~,r-:
tidak membidik setepatnya. Dan raja yang masih muda i
menghantam lurus-Iurus untuk mencelakakan Arjuna. H ja
panah tak henti-hentinya menuju ke bagian-bagian'penting
buh Arjuna dan beberapa pucuk panah "telah berhasil menem-
bus tubuhnya. Pada saat itu. Arjuna nampak bersinar kemilauan
bagaikan kumbang Palasa yang berkeliaran di musim semi,

Sesungguhnyalah Arjuna tidak bermaltsud melukai raja muda
dari Maghada itu, apalagi membunuhnya ! Tetapi tidak demiki-
an halnya dengan raja yang belum dewasa ini. Raja itu meng-
hantam Arjuna sejadi-jadinya. Panahnya menyambar-~yambar
dan berbahaya sekali. Dhananjaya kecewa menyaksikan raja
muda yang nampaknya haus darah ini. Karena itu ia bertekad
untuk memberikan pelajaran kepadanya. Arjuna menarik tali
busur dengan kekuatan sepenuhnya dan dihantamnya kuda pe·
narik kereta dan jU9a kepala dari kusir keretanya hingga me:-
nemui ajalnya. Dan selanjutnya, dengansebuah panah .tajam ia
memotong busur panah yang sangat indah kepu'nyaan
Megha~andi dan akhirnya dihantamnya alat pelindung yang
terbuat dari kulit itu. Sambaran panah-panah Arjuna itu bagai-
kan kilatan-kilatan halilintar yang tak mungkin dapat dielakkan.
Semuanya mengenai sasaran dengan tepat. Akhirnya Arjuna
menutup serangan-serangan itu dengan menghancurkan ben-
dera serta tiang bendera hingga berkeping-keping. Raja Ma-
ahada itu dilucuti sedemikian rupa. kuda, kusir dan bahkan sen-

oJ

jata yang dipegangnya telah hancur. Namun semangat bertempur
raja ini sungguh luar biasa. ;a melompat turun dari keretanya,
memegang senjata gada da menerjang putra Kunti. Arjuna me-
ngelak dan membalas serangan-serangan itu dengan tidak
memberikan sedikitpun peluang kepada raja yang sudah me-
muncak kemarahannya. Serangan-serangan dilakukan bertubi-
tubi secara membabi buta. Gada yang dipegangnya itu besar
dan kuat serta berlapis emas. Pada suatu saat, ketika gada itu dj
angkat untuk dihantamkan,' tiba-tiba gada itupun hancur ter-
kena hantaman panah Arjuna. Gada itu terpental dan tergolek
di atas tanah bagaikan ular betina tak berdaya. Demikianlah raja
muda itu sudah dilucuti habis-habisan. Semua alat-alat perang
yang diandalkan, kereta, panah dan gadanya musnah semua.

203

Sedikitpun Arjuna tidak bermaksud melukai tubuh la e:-'-

Pahlawan bangsa Kuru yang benderanya berlambang

Arjuna yang cerdas itu lalu menghibur lawannya deng

an sebagai berikut : "Wahai ananda. cukup sudah pad

perlihatkan ketangguhan sebagaimana layaknya seara

tria. Sekarang kembalilah ke istana !. Ananda sudah e

kan perlawanan luar biasa pada usia sedemikian muda.

tah yang kuterima dari raja Yudhishthira adalah tida

membunuh raja-raja yang menentang aku di dalam me

kan tugas ini. Itulah sebabnya paduka 0 raja muda tida

. nuh, meskipun sebenarnya. melihat caramu bertanding

keterlaluan itu. demikian juga penghinaan-penghinaa

ananda lontarkan terhadapku, kamu pantas menerima h

an seberat-beratnya !" Setelah mendengar ucapan Arju a -

raja Maghada menganggap dirinya sudah dikalahkan dan

samaan dengan itu juga diampuni.'a menyadari hal itu. lal

ngan lambat-Iambat mendekati Arjuna dan bersujud di ha a -

annya serta berkata : "Hamba telah paduka kalahkan I, Oi

kahilah kiranya paduka !. Hamba tidak akan mengangkat se

jata lagi. Perintahkanlah apa yang harus hamba lakukan s

karang !". Oengan lemah lembut Arjuna menghibur raja ya

sudah menyerah ini : "Ananda datanglah untuk menghadi

upacara Kurban Kuda yang puncak upacaranya akan dilangsung-

kan pada hari purnama bulan Chaitra yang akan datang '" Putra

Sahadewa menyembah dan mengucapkan kata-kata berikut

"Semoga demikianlah hendaknya !". Setelah mengucapka

kata-kata itu, raja muda itu lalu memuji-muji kehebatan kuda

yang akan dijadikan kurban itu. Selanjutnya ia memberi salam

kepada para Kshatriya yang mengiringkan perjalanan Arjuna,

dan terakhir. sekali lagi ia menyembah di hadapan Arjuna dan

segera kembali ke istananya. _

LXXXIII. Kuda itu melanjutkan perjala~ya menyusuri pantai.
menjelajahi negeri-negeri Banga. PUndara dan Kosala. Oi wila-
yah itu Arjuna menundukkan banyak raja-raja. demikian juga
golongan bangsa Mlechcha

Pada suatu hari, kuda itupun memasuki wilayah kerajaan

Chedis dan langsung menuju'ke kota Suktimati. Sarabha, putra

raja Sisupala yang terkenal memiliki tenaga luar biasa menen-

tang Arjuna. Namun raja itu ditundukkan, karena itu ia meng-

hormati Arjuna dengan sepatutnya.
Kuda dan pengawalnya terus b~an memasuki wilayah

kerajaan Kasi. Angga. Kosala, Kirata dan Tangana. Raja-raja ke-
rajaan itu semuanya mengaku tunduk kepada Arjuna. Oemiki-

anlah kLlda itu melanjutkan perjalartarmya kembali ke negeri

204

Ha tina. Namun masih saja Arjuna harus menghadapi perla-
wanan-perlawanan yang patut diselesaikan dengansungguh-
sungguh. Pada suatu hari, kuda dan rombongan memasuki
kerajaan Dasarna. Raja di kerajaan itu bernama Chitranggada,
Raja itu terkenal memiliki kekuatan yang luar biasa dan sudah
banyak sekali ia menghancurkan musuh di manapun musuh-
nya itu berada. Maka terjadilah pertempuran teramat dahsyat
antara Wijaya dengan Chitranggada. Namun bagaimanapun ju-
ga, raja bangsa Dasarna itu harus mengaku tunduk kepada Ar-
juna.

Perjalanan dilanjutkan dan memasuki negeri Nishada di
mana putra Ekalawya sedang memerintah. Putra Ekalawya itu
menghadapi Arjuna. Pertempuran berlangsung seru dan me-
nyeramkan hingga berdiri bulu kuduk orang yang menyaksi-
kannya. Sungguh sukar bagi Arjuna menghadapi raja yan~ke­
jam dan ganas ini tanpa membunuhnya. Tetapi bagaimanapun
juga, raja itu akhirnya dapat ditundukkan serta mengakui ke-
unggulan pahlawan sakti Arjuna dari kerajaan Kuru itu. Masih .
dilingkungan wilayah para raksasa itu. Arjuna harus berhadap-
an dengan raja-raja bangsa Drawida dan Andhras, demikian ju-
ga bangsa Mahishaka yang terkenalluar biasa kejamnya, lebth-
lebih lagi dalam menghadapi bangsa Kolwa yang tinggal di pe-
gunungan, Arjuna berhasil pula menundukkan bangsa-bangsa
itu tanpa berbuat kekejaman terhadap mere'ka.

Selanjutnya kuda kurban itu melangkahkan kakinya me-
nuju kerajaan Surashtra. Kemudian ke Gokarna, Prabhasa dan
Dwarawati. Dwarawati merupakan sebuah kota yang sangat tn-
dah yang juga dijaga ketat oleh para Kshatriya bangsa Wrishni.
Ketika kuda itu sudah menjejakkan kakinya di Dwarawati itu,
pemuda-pemuda bangsa Yadawa beramai-ramai ingin me-
nangkapnya. Tetapi raja Ugrasena segera keluar istana dan me~
larang .tindakan pemuda-pemuda itu. Raja yang menguasai
bangsa Wrishni dan Andhakasa itu bersama-sam~dengan Wa-
sudewa, yaitu paman Arjuna dari pihak ibunya, keluar dari is-
tana, .dan dengan gembira dan tata upacara menyambut ke-
datangan Arju'na. Setelah menerima berkah dan perkenan dari
kedua raja tua itu, Arjuna melanjutkan perjalanan yang arah
dan tujuannya ditentukan oleh kuda upacara itu. Kuda itu me-
nyusuri pantai sebelah barat dan akhirnya tiba di wilayah yang
dikenal dengan julukan Samudra Lima. Daerah itu subur mak-
mur dan padat penduduknya. Dari sana kuda itu melanjutkan
perjalanan ke wilayah kerajaan Gandhara. Kuda itu berkeliaran'
di daerah itu dengan tetap dijaga oleh Arjuna. Dan di wilayah
kerajaan inilah terjadi pertempuran yang sangat mendebarkan
hati antara putra Kunti dengan putra Sakuni yang menjadi raja

205

di kerajaan itu. Putra Sakuni berniat membalas dendam atas
kematian ayahnya yang memang sangat memusuhi Pandawa.

LXXXIV Putra Sakuni itu seorang kstria ahli kereta yang paling
tangguh di antara para Gandhara. la berangkat menghadapi
Arjuna dengan diiringkan oleh ribuan laskarnya. Pasukannya
itu dilengkapi dengan pasukan gajah, pasukan berkuda dan
pasukan kereta. Persenjataan mereka lengkap dan berat-serta
disempurnakan dengan bendera-bendera tanda kebesaran
masing-masing. Pasukan Gandhara yang megah dan kuat itu
langsung menyerbu untuk menghancurkan Arjuna, pendekar
bangsaKuru yang berambut ikal itu. Wibhatsu dikepung dari
segala jurusan, namun Partha yang sakti tetap berdiri dengan
tenang, bahkan dengan lNajah berseri-seri dan suara lembut
namun mantap disampaikannya pesan maharaja Yudhishthira
yang menghendaki kesejahteraan dan perdamaian dunia. Te-
tapi mereka tidak menghiraukan pesan-pesan itu, malahan se-
pasukan laskar berkuda bergerak dan mengepung kuda kl:Jr-
ban yang berbulu hitam itu. Mereka bersorak-sorai dan menye-
rukc.ln kata-kata kasar dan menghina! Mendengar hinaan-hina-
an itu, Arjuna bangkit kemarahannya. Diangkatnya panah Gan-
dhiwa dan menyemburlah panah-panah tajam, diarahkan ke-
pada pasukan berkuda yang mengepung dan mengejar kuda
ku rban tersebut. Banyak kepala lawan yang terpenggal disam-
bar oleh panah-panah Arjuna itu. Melihat teman-temannya te-
was secara mengerikan itu, pasukan penangkap kuda itu me-
larikan diri dan kuda yang sudah ditangkap itu dilepas kem-
bali. Pasukan kereta menyerbu dan melancarkan serangan-
serangan sangat gencar. Putra Arjuna dengan seenaknya me-
nangkis serangan mereka itu sambil membalas dan membabat
musuhnya satu persatu. la menunjuk dan menyebutkan setiap
lawan yang ingin dipanahnya dan satu demi satu mereka ter-
jungkal tewas, karena panah Arjuna sungguh tak pernah mele-
set. Korban berjatuhan bertumpuk-tumpuk di sekeliling Arju-
na. Melihat keadaan ini, raja Gandhara putra Sakuni lalu me-
nyerbu maju untuk menghadapi Arjuna sendiri. Kepada raja itu
Arjuna berseru sebagai berikut : "Aku tidak diperkenankan
membunuh raia yang berhadapan denganku dalam tugas suci
ini!. Demiklan itu perintah Yudhishthira'. Karena itu. hal pah-

lawan, janganlah paduka menyerang diriku! Hentlkan per-
musuhan ini ! Jangan paduka mengundang kekalahan!". Kata-
kata Arjuna itu dijawab dengan senyuman sinis serta semburan
ribuan anak panah yang diarahkan lurus-Iurus ke arah bagian-
bagian lemah tubuh Arjuna. Pahlawan bangsa kuru dengan si-

206

gap mengelak, menangkis, berkelebat kian kemari tidak ubah-
nya Sakra sendiri apabila menghadapi musuh-musuhnyaL
Pada gerakan mengelak yang terakhir, Arjuna melepaskan pa-
nah yang ujungnya berbentuk bulan sabit yang dengan
tepat menyambar gelung kepala raja Gandhara itu Gelung'
itu terpental jatuh jauh sekali sebagaimana halnya kepala
Jayadratha yang terpental jauh terkena panah Arjuna di medan
Kuru dahulu itu. Semua Kshatriya Gandhara yang menyak-
sikan kejadian ini terkejut yang kemudian berubah men-
jadi kekaguman terhadap kehebatan ilmu panah Arjuna.
Mereka 'menyadari bahwa Arjuna sengaja menyelamatkan jiwa
rajanya. Raja bangsa Gandhara mengundurkan keretanya men-
jauhi medan pertempuran, diiringkan oleh semua pasukannya
bagaikan segerombolan kijang-kijang melarikan diri ketakutan.
Pasukan Gandhara yan,g lain melarikan dirij>ula, tetapi aneh,
semuanya seolah-olah kehilangan kesadaran, berlari kian ke-
mari tidak menemukan jalan keluar. Dengan panah-panah ber-
ujung besar Arjuna mengacaukan mereka, menyerang yang ·ti-
dak mau menyerah sehingga lebih banyak lagi korban yang ber-
jatuhan. Banyak pula dari antara mereka yang berlari lintang
pukang dengan tidak disadarinya bahwa sebelah tangannya te-
lah buntung. Demikianlah pasukan Gandhara itu berantakan
akibat serangan Arjuna yang menggunakan panah-panah besar
senjata Gandhiwa: Pasukan megah bangsa Gandhara yang ter-
diri dari kereta, gajah dan kuda, telah menjadi kocar-kacir, ba-
nyak sekali yang tewas dan cacat tubuhnya. Pasukan yang se-
demikian besar iumlat:l. bala lasykarnya tetap berputar-putar hi-
ruk-pikuk di lapangan luas itu dan tidak melihat jalan untuk melari-
kan diri. Banyak sekali para ksatria Gandhara itu tewas sebelum
sempat berdiri berhadap-hadapan dengan Arjuna. Tidak ada
yang mampu menandingi kehebatan Arjuna. Pada saat kekacau
an itu sudah mencapai puncaknya, yang menjurus ke kehancl:Jr-
an pasukan Gandhara itu, lalu muncul di sana ibu suri raja Gan-
dhara, diiringkan oleh para Menteri dan pejabat-pejabat pen-
ting istana, dengan gemetar, menghadap Arjuna serta memper-
sembahkan Arghya. Ibu suri itu telah berseru untuk melarang
putranya mengangkat senjata lagi. Rombongan yang baru da-
tang itu berkehendak menjamu Jishnu yang hebat, yang tidak
pernah merasa letih melaksanakan tugas berat. Wibhatsu yang
sakti itu dapat ditundukkan hatinya. la memuja dewi Gandhara
dan bahkan berbalik menjadi sangat menyayangi bangsa Gan-
dhara itu. Dhananjaya menghibur serta menasehati raja putra
Sakuni itu sebagai berikut : "0 Kshatriya perkasa ! Sebenarnya,
apa yang telah engkau lakukan terhadap diriku, yaitu menye-
rangku berdasarkan niat untuk membalas dendam merupakan
perbuatan yang sangat keliru. Sebenarnya engkau 0 raja, ma-

207

sih termasuk keluargaku juga. Sukankah Sakuni. ayahmu, juga
adalahpaman Duryodhana ? la itu salah seorang paman dari pi-
hak ibu. Karena itu kita ini memang bersaudara sepupu '. KaFe-
na itu. untuk menghormati ibu Gandhari dan untuk menghor-
mati raja Dhritarashtra. aku tidak akan mencabut nyawamu
Atas dasar kekeluargaan itulah maka kamu masih hidup se-
karang. Tetapi banyak sekali para pengikutmu menemui ajalnya
Semoga hal seperti itu tidak akan terulang lagi! Hentikan dan le-
nyapkanlah perasaan dendammu itu. Semoga pengertianm
tidak beruO-ah dan tidak keluar dari g'aris kebenaran ! Denga
ini pula aku mempergunakan kesempatanuntuk mengundang
kamu sekalian menghadiri upacara Kurban Kuda yang akan di-
selenggarakan pada hari purnama bulan Chaitra yang akan da-

tang '"

LXXXV. Setelah mtngucapkan nasihat-nasihat itu. Arjuna melan-

jutkan perjalanannya menjaga kuda yang berjalan sekehendak

hatinya itu. Kuda itu telah menempuh jalan yang menuju ke

Hastina kembali. Yudhishthira juga sudah mendengar berita

dari para petugas pencatat dan penyusun berita bahwa kuda

kurban itu sudah berjalan kembali. Diberitakan juga bahwa

Arjuna selamat tidak kurang suatu apa. Yudhishthira sangat

gembira mendapat berita itu. Apalagi setelah didengar berita

tentang tindak-tanduk Arjuna di seluruh wilayah kekuasaannya.

khususnya di wilayah kerajaan Gandhara. Serita itu diterima

pada hari keduabelas bulan magha. Jadi bulan Magha sudah

hampir berakhir. Karena itu baginda memanggil Shima dan ber-

kata: "Wrikodhara, bulan Magha ini sudah hampir berakhir.

Mulai hari ini, adinda kerahkanlah semua Srahmana utama dan

tugaskan mereka mencari tempat yang baik untuk menyeleng-

garakan upacara itu!" Shima menjalankan perintah raja itu

dengan gembira, karena iapun menyadari, dengan dikeluarkan-

nya perintah itu, berarti bahwa adiknya yang berambut ikal itu

pasti segera akan kembali! Shima berangkat, diiringkan oleh

para ahli yang khususnya sangat mendalam pengertiannya ten-

tang penyusunan dan pengaturan tempat upacara. Mereka be-

kerja giat dan gembira, meratakan tempat dan membangun

sanggar-sanggar, perkemahan, pendeknya segala keperluan

yang penting bagi kelancaran jalannya upacara. Shima me-

milih tempat. yang lain sibuk mengukur dan mempersiapkan

tempat sajen-sajen. Sanyak sekali bangunan besar dan kecil

yang didirikan, dilengkapi dengan jalan-jalan tinggi dan lebar.

Segera saja tempat itu telah berubah menjadi sebuah perkam-

pungan dengan berbagai macam bangunan yang indah dan

megah. Tanah diratakan sehingga halus mengkilap, dilapisi

208

batu-batu pualam, juga batu-batu permata, dihiasi bangunan-
bangunan perhiasan terbuat dari emas murni. Dibangun juga di
sana sebuah bangunan khusus menyerupai istana, dikerjakan
dengan sangat rapi, indah sekali, yang disediakan nantinya
bagi para wanita terkemuka istana. Bangunan menara men-
julang tinggi, dibangun pada tempat-tempat yang tepat dan
terbuat dari emas. Tempat para tamu kerajaan menginap di-
bangun luarbiasa indah dan megahnya. Tidak dilupakan tempat
permukiman para Brahmana yang pasti akan datang dari se~u­
ruh kerajaan di dunia. Setelah semuanya sudah siap, Bhimase-
na, atas perintah Yudhishthira, mengirim surat undangan resmi
kepada semua raja-raja di dun1a, dengan harapan mereka da-
pat hadir dalam upacara yang dilangsungkan pada hari purna-
rna bulan Chaitra yang akan datang itu. Malahan, banyak sudah
raja-raja yang mendahului datang serta mempa,rsembahkan ber-
macam-macam perhiasan, wan ita-wan ita sahaya, kuda dan ber-
jenis-jenis senjata. Raja-raja itu berkumpul di bangunan utama
yang mewah luar biasa itu. Tidak antara lama, bangunan tem-
pat tamu-tamu itupun penuh, sehingga dari dalamnya ter-
dengar suara berisik yang kadang-kadang bergema memenuhi
angkasa. Perkampungan itu berubah menjadi suatu tempat ke-
ramaian yang meriah namun khidmat dan suara yang terdengar
di sana berderai berdebur bagaikan ombak di samudra. Raja
Yudhishthira yang dikagumi sebagai penyelamat bangsa Kuru
menjamu semua raja-raja yang datang dengan berjenis-jenis
santapan yang nikmat cita rasanya. Mereka merebahkan diri
di atas tempat tidur yang sangat indah bagaikan peraduan de-
wata dikerajaan Surga.. Untuk kuda, gajah dan binatang tung-
gangan lainnya, juga untuk para petugas penjaganya, sudah
disediakan kandang-kandang yang bersih, dilengkapi berbagai
makanan seperti jagung, gandum ,tebu, susu dan lain sebagai-
nya. Para Muni yang datang untuk menghadiri upacara ini ter-
nyata jauh lebih banyak dari pada perkiraan semula, dan semua
mereka itu adalah para Brahmana pemuja Brahman. Sesung-
guhnyalah bahwa semua Brahmana terkemuka yang hidup pa-
da jaman itu telah datang ke sana, dii'ringkan oleh semua murid_
di bawah asuhan mereka. Raja bangsa Kuru, Yudhishthira yang
cemerlang itu, menyambut mereka semua dan dengan keren-
dahan hati mengantarkan sendiri tamu-tamunya itu menuju tem-
pat penginapan masing-masing. Akhirnya, pada ha~i yang 5U-
dah ditentukan, para ahli melaporkan bahwa segala-galanya
sudah siap tinggal menunggu pelaksanaan upacara itu saja.
Yudhishthira mengucapkan pidato penyambutan tanda terima
kasih yang ditujukan kepada para ahli yang sudah bekerja ke-
ras mempersiapkan segala sesuatunya itu. Baginda sangat

209

gembira, demikian juga saudara-saudaranya yang lain.
Pada waktu upacara ini dilangsungkan; banyak sekali ter-

jadi perdebatan diantara para ahli filsafal dan agama. Mereka
memperdebatkan bermacam masalah dan masing-masing
mempertahankan pendapat sendiri serta mengecilkan arti pen-
dapat yang lain! Tetapi semua raja-raja yang hadir sangat me-
ngagumi penyelenggaraan upacara itu yang sejak semula su-
dah dipersiapkan matang-matang, sehingga upacara itu se-
olah-olah diselenggarakan oleh maharaja Dewata sendiri. Per-
siapan itu dilakukan dengan sangat sempurnanya, aibawah
pimpinan Bhimasena. Oi tempat itu, para raja itu untuk pertama
kali menyaksikan sebuah pintu gerbang besar yang keseluruh-
annya dibuat dari pada emas. Tempat tidur dan korsi-korsi ber-
ukir indah sekali dan banyak lagi keindahan dan kesempurnaan
yang tidak ada duanya. Masint-masing telah menemukan ke-
sukaannya. Apa sajapun yang dikehenaaki, terdapat di sana,
dan memberikan kepuasan yang tidak ada bandingannya. Ce-
rek dan kendi, kuali dan tempayan, periuk dengan tudungnya,
semuanya itu terbuat dari emas murni. Tiang-tiang tempat me-
nambatkan binatang kurban terbuat dari bahan kayu sesuai
dengan petunjuk Kitab Suci, tetapi semuanya itu juga dilapisi
dengan emas. Tonggak-tonggak kurban itu ditancapkan de-
ngan kukuh, disucikan dengan mentra-mentra. Oi sana, raja-.
raja itu juga dapat menyaksikan berjenis-jenis binatang untuk
dikurbankan. Segala jenis binatang, baik yang hidup di laut
maupun yang hidup di darat, terkumpul di sana. Sapi, kerbau,
wanita-wanita tua, binatang air, binatang buas, burung-burung,
binatang melata dan bertelur, serangga, segala macam tum-
buh-tumbuhan yang hidup di dataran rendah maupun di gu-
nung-gunung, semuanya terkumpul di tempat itu. Raja-raja
yang menyaksikan s~muanya itu sungguh sangat kagum. Ber-
tumpuk-tumpuk daging yang sudah diawetkan dengan gula di-
sediakan bagi para Brahm~n~ dan golongan Waisya. Seratus
ribu orang Brahmana diladeni setiap kali makan, dan setelah
mereka selesai bersantap, bergemalah gong besa,r tanda ke-
lompok itu sudah selesai. Jumlah rombongan yang dijamu ma-
kan tidak terhitung banyaknya, sehingga gong dan gendang
tanda makan itu terdengar berulang-ulang tak henti-hentinya
siang dan malam. Sebenarnyalah dari hari ke hari dan sepan-
jang hari suara tanda makan itu tak pernah berhenti terdengar.
Oemikian itulah upacara raja Yudhishthira itu-diselenggarakan.
Tumpukan makanan membukit, khusus disediakan dalam
upacara itu. Jambangan-jambangan besar penuh dengan keju
dan mentega. Seluruh penduduk Jambudwipa telah berhimpun
di sana. Sepasukan besar pelayan laki-Iaki mengenakan pa-

210

kaian bersih dan indah, beranting-anting emas berkilauan me-
ngedarkan tempat makanan meladeni para Srahmana serat~s
ribu orang banyaknya. Makanan yang dihidangkan itu jenis-
jen is makanan yang termahal dan bermutu tinggi.

LXXXVI. Kepada Shimasena, Yudhishthira sudah berpesan berkena-

an dengan cara-cara menyambut para tamu yang datang dari
berbagai penjuru dunia itu. Antara lain Yudhishthira b~rpesan :
"Wahai adikku nan perkasa, berikan penghormata1 setinggi-

tingginya kepada para raja yang telah datang untuk menghadiri
upacara kita ini. Semua mereka-pantas untuk menehma peng~

hormatan kita yang setinggi-tingginya!" Yudhishthira merasa--- .

perlu menekankan hal irti kepada Shima, mengingat sifat Shima
yang sulit memaafkan musuh-musuhnya. Dan dengan didam-'

pingi oleh kedua saudara kembarnya, yant melaksanakan

perintah kakaknya itu deogan seqaik-baiknya.· Gowinda de-

ngan diiringkan oleh Saladewa serta para pembesar bang-,

sa Wrishni semuanya SLJdah berada di sana. Dari antara

mereka yang datang, nampak Yuyudhana, Pradyumna, Gada,

Nisatha, Samba, dan Kritawarman. Kepada rombongan ini

Shima telah menunjukkan sikap hormat yang sempurna. Rom-

bongan itu memasuki istana tempat penyambutan dengan
segala kebesarannya. Krishna langsung disambut di ruang-

an itu oleh Yudhishthira, dan segera merekapun terlibat

dalam percakapan-percakapan yang mengasyikkan. Se-

telah beberapa lama bercakap-cakap itu, akhirnya Krishna

memberitahukan kepada Yudhishthira bahwa Arjuna meskipun

selamat tak kurang suatu apa, tetapi tubuhnya menjadi sangat

kurus karena banyaknya pertempuran yang harus dihadapinya.

Yudhishthira mendesak Krishna agar mau berbicara Jebih ba-

nyak tentang Arjuna atau Jishnu putra Sakra itLi. Dan Krishna,

penguasa alam semesta menjawab sebagai berikut : "Wahai

adindaku raja, seorang petugas khusus telah melaporkan bah-

wa ia sendiri sempat menyaksikan Arjuna. Dikatakannya bahwa

Arjuna itu memang sudah menjadi agak kurus, karena letih,

mengingat banyaknya pertempuran yang harus dilakukannya

dalam perjalanannya mengawal kuda kurban itu. Tetapi kita

semua harus bersyukuf, karena Arjuna segera akan tiba kembaJi
tidak kurang suatu apapun juga! Memang sepatutnyal~hadinda

segera saja melangsungkan upacara Kurban Kuda yang sudah
lama dicita-citakan!" Setelah mendapat jawaban itu, Yudhish-

thira kembali mengajukan pertanyaan berikut : "Karena nasib

baik, Arjuna dapat kembali selamat! Hamba sebenarnya sangat

ingin mengetahttt bagaimana pendapat paduka selaku pah-
lawan terbesar tentang hasil perjalanan Arjuna itu!" Mendapat

211

pertanyaan seperti itu dari Yudhishthira yang berbudi luhur,
pemimpin besar bangsa Wrishni dan bangsa Andhakasa itu

menjawab sebagai berikut : "Petugas rahasia yang telah di-
tugaskan secara khusus telah berhasil membawa pesan Arjuna

...yang ditujukan kepada diriku. Pesan-pesan itu antara lain ber-

bunyi seperti ini : "Raja Yudhishthira patut mengetahui tentang hal
ini, 0 Krishna, apabila saatnya telah tiba, banyak sekali raja-
raja yang an hadir menyaksikan upacara itu. Apabila mereka .
. aatang, sambutlah dengan memberikan penghormatan terting-
- gi. Itulah yang patut kita lakukan. Katakanlah juga 0 Krishna,
bahwa raja patut memperketat penjagaan keamanan, agar tidak
terulang peristiwa seperti pada waktu mempersembahkan
Arghya dalam upacara Rajasuya dahulu itu! Semoga yang mulia
Kr,ishna juga sependapat dengan saran hamba ini. Jangan sam-
pai tercetus perasaan ketidak puasan di antara para raja itu.
Apabila hal ini terjadi, raky~lah yang akan menjadi korban!"
Selanjutnya petugas rahasia itu melaporkan kata-kata Arjuna
sebagai berikut : "0 raja, anak hamba, raja negeri Manipura
yang bernama Wabhruwahana juga akan datang menghadap
menghadiri upacara itu. Hamba mohon agar anak itu disambut
dengan cara khusus untuk kepentingan hamba sendiri! 0 raja,
ketahuilah bahwa anak itu telah memperlihatkan ketaatan dan
pemujaan.luar biasa terhadap diri hamba!"

.XXXVII. Setelah mendengar pesan Arjuna yang disampaikan oleh

Krishna itu, Yudhishthira lalu mengucapkan kata-kata ini :

"Sesungguhnyalah hamba sudah mendengarkan sesuatu yang

sangat melegakan hati hamba. Sepatutnyalah paduka mengu-

capkan kata-kata itu. Sungguh gembira hamba mendengarkan-

nya. 0 Hrishikesa, hamba mendengar bahwa memang banyak

sekali pertarungan yang dilakukan oleh Arjuna di dunia ini. Ta-

hukah paduka, apakah sebabnya maka Arjuna itulah yang se-

lamanya meninggalkan kesenangan dan ketentraman dari an-

tara kami semua? Wijaya itu cerdas. Tetapi dia itulah yang se-

lamanya menjalankar. tugas kami yang paling berat. Hal ini sem-

pat merisaukan hati hamba. Pada saat senggang dan terbebas

dari tugas, hamba selalu memikirkan putra Kunti yang satu ini.

Selah':' ia mengalami nasib buruk, harus menderita. Pada hal,

menurut pengamatan hamba, tanda-tanda pada tubuhnya se-

muanya menunjukkan suatu keberuntungan yang· patut dinik-

matinya. Lalu apakah sebabnya 0 Krishna, tanda-tanda jas-
maninya itu tida~sesu~(dengan kenyataan yang dihadapinya?

la taJah menanggung penderitaan yang sedemikian besar. Dan

harpt)a sendiri tidak melihat satupun tanda-tanda tercela di-

tubuhnya. Tolong paduka jelaskan hal ini kepada hamba!" Men-

212

dapat pertanyaan sedemikian itu, Hrishikesha, maharaja Bhoja
. yang memiliki pandangan terang luar biasa termenung lama
sekali! Setelah beberapa lama baginda lalu menjawab seperti
berikut : "Akupun tidak melihat tanda-tanda buruk dalam diri
anak muda itu, kecuali tulang pipinya agak sedikit mencuat
yang menunjukkan bahwa ia harus selalu bergerak melakukan
tugas perjalanan. Aku tidak melihat adanya tanda-tanda lain
yang menyebabkan ia hidup menanggung duka dan keseng-
saraan!" Yudhishthira menjawab : "Memang aneh! Mengapa
demikian!"

Tetapi Draupadi memandangi Krishna dengan sorat mata
tajam tanda ketidak puasan atas jawaban yang diberikan. Hris-
hikesa melihat sorot mata kemarahan Draupadi itu, dan itu da-
pat dipahami, karena itulah tanda kecintaan terhadap diri saha-
batnya, yang diperlihatkan oleh Draupadi, adiknya sendiri, yang
juga sudah dianggap sebagai sahabatnya sendiri! •

Bhimasena, dan juga para pahlawan bangsa Kuru yang lain,
beserta para Brahmana yang barusan mendengar tentang ke-
menangan-kemenangan Arjuna dalam melakukan tugas men-
jaga kuda kurban itu, semuanya sangat gembira. Sementara
mereka masih mempercakapkan Arjuna itu, masuklah utusan
dan segera menyampaikan pesan dari pahlawan yang sedang
menempuh jalan kembali itu. Utusan itu menundukkan kepala
nya menyembah serta mengumumkan bahwa pahlawan utama
Pha~una sudah tiba. Air mata terharu dan gembira membasahi
pipi raja Yudhishthira. Kepada utusan pembawa be rita itu di-
serahkan hadiah yang sangat besar jumlahnya sebagai tanda
bersuka cita dari raja. Dua hari setelah berita itu diterima, terdengar-
lah sorak-sorai menandakan bahwa 'pahlawan yang ·sedang di-
tunggu-tunggu itu sudah tiba. Debu membubung di udara yang
diakibatkan oleh kaki kuda pasukan pengawal yang mendam-
pingi Arjuna. Dan kali ini, debu tebal yang membubung ke ang-
kasa itu nampak indah, bagaikan debu yang ditimbulkan oleh
kuda kadewatan Uchchalsrawaitu sendiri. Arjuna disambut de-
ngan seruan-seruan gembira oleh para penduduk kota. Dan
dalam penyambutan itu, seorang dari antara penduduk kota itu
menyerukan ucapan-ucapan berikut : "0 Partha! Bintang te-
rang ada di pihak paduka! Paduka sudah terhindar dari ben-
canal Terpuji dan dimuliakanlah raja Yudhishthira! Siapalagi-

kah 0 yang dapat kembali dengan selamat setelah mengikuti

perjalanan kuda yang melangkahkan kaki sekehendak hatinya
menjelajahi seluruh dunia! Apalagi harus menaKluKkan semua
raja-raja dengan pertarungan-pertarungan yang syarat-syarat-
nya teramat berat! Selama ini kita belum pernah mendengar ke-
berhasilan segemilang ini, meski oleh Sagara dan seluruh raja

213

budiman sejak jaman kuna. Semua raja di masa-masa yang akan
datang, tidak akan mampu melaksanakan tugas sesukar dan
sehebat seperti apa yang telah paduka capai sekarang ini!"

Sementara itu, Arjuna dan rombongan sudah memasuki ha-
laman tempat upacara. Raja Yudhishthira dengan diiringkan
oleh semua Menteri, bersama-sama Krishna, mendudukkan
Dh ritarashtra dalam sebuah kereta dan bergerak ke lapangan
untuk menyambut Arjuna. Setelah rombongan yang datang dan

rombongan yang menyambut saling bertemu, Arjuna lalu me-
nyembah dengan menyentuh kaki Dhritarashtra, selanjutnya
bersujud kehadapan Yudhishthira, Shima, dan memeluk Ke-
sawa. Saling sembah dan saling hormat-menghormati berlang-
sung sesuai dengan tatacara sepatutnya. Setelah upacara peng-
hormatan itu selesai, Arjuna dan rombongan diperkenankan-
beristirahat. Tugas me~ka sudah selesai, alangkah lega rasa
dada mereka, meskipun letih, namun mereka sangat gembira
seperti penumpang kapal yang pecah dilanda badai, namun
sekarang telah selamat tiba di pantai! Sementara itu, raja Wa-
bhruwahana bersama-sama dengan dua orang ibunya te!~h tiba
pula di sana. Raja muda yang gagah dan tampan ini menyembah
dihadapan mereka yang lebih tua di kerajaan itu. Setelah men-
dapat penyambutan sebagai mana mestinya, Wabhruwahana

langsung menuju tempat peristirahatan neneknya. Kunti.

LXXXVIII. la bersujud menyentuh kaki Kunti sambi! memperkenalkan

diri dengan kata-kata lemah lembut. Chitranggada dengan di-

dampingi oleh Ulupi, putri raja Ular Kaurawya, dengan segala

rendah hati menghadap dan bersujud di hadapan Partha dan

Krishna, setelah itu merekapun bergabung dengan Subhadra

dan wanita-wanita lain di istana Kuru. Mereka berkumpul di

sana, saling hormat-menghormat dalam suasanagembira Kunti

memberikan hadiah-hadiah berupa perhiasan-perhiasan dan

benda-benda berharga kepada mereka. Draupadi, Subhadra.

dan semua para wan ita istana yang lain, memberikan hadiah-

hadiah pula kepada Chitranggada dan Ulupi. Akhirnya kedua

wanita yang sangat dihormati dan disayang itu menuju ke tem-

pat peristirahatannya dengan didampingi oleh Kunti sendiri.

Ini dilakukan khusus untuk memenuhi permohonan anaknya,

Partha. Raja muda dan gagah perkasa, Wabhruwahana itu, de-

ngan segala kehormatan diterima oleh Kunti dan selanjutnya di-

hadapan kepadaDhritarashtra.Di sana ia disambut dengan tata

cara sepatutnya. Setelah mengunjun')i Dhritarashtra. ia lalu

menghadap raja Yudhishthira yang pada saat itu didampingi

oleh Shima dan adik-adiknya. Dengan kerendahan hati, raja

Manipura itu menyembah kehadapan semua pamannya itu. la

214

dipeluk dan dicium dengan penuh kasih sayang. Selanjutnya ia
harus menerima hadiah-hadiah yang tak terkirakan banyaknya.
Setelah diperkenankan, raja yang masih muda ini menghadap
kepada Krishna, pahlawan sakti yang termashur senjata Cakra
dan Gadanya. la sujud menyembah Krishna, dan terlihatlah
suatu pemandangan yang mengingatkan kita kepada Pradyum-
na ketika sedang menghadap ayahnya. Krishna sangat puas
kepada anak ini. Dan untuk mewujudkan cinta kasihnya, di-
berikannya kepada anak itu suatu hadiah berupa kereta ken-
cana yang ditarik oleh kuda-kuda pilihan. Yudhishthira, Bhima,
Phalguna. Nakula dan Sahadewa, semuanya menerima kehadir-
an anak muda itu dengan penghormatan dan cinta kasih isti-
mewa dan masing-masing mereka telah menghadiahkan hadi-
ah-hadiah tak ternilai harganya.

Pada hari yang ketiga setelah peristiwa di atas itu, Rishi
Wyasa putra Satyawati melaporkan kepada Yudhishttfiira : "Mu-
lailah upacara paduka hari ini juga. Saat yang dinantikan sudah
tiba dan semua para pendeta sedang menunggu paduka. Lak-
sanakan upacara ini secermat mungkin hingga tidak ada se-
dikitpun kesalahan, meski. pada bag ian yang terkecil sekali-
pun'" Selanjutnya Wyasa mengucapkan kata-kata berikut :
"Karena banyaknya emas yang telah dipergunakan dalam upa-
cara ini. tidak salah apabila upacara ini dinamakan upacara.
"Panen Emas Berkelimpahan I" Paduka hendaknya juga mem-
buat Dakshina untuk upacara ini dengan isi tiga kali lipat lebih

banyak dari biasanya. Dengan demikian, semoga pahala yang
paduka terima berkat diselenggarakannya upacara ini menjadi
tiga kali Iipat juga! Para Brahmana yang bertugas mampu meli-
pat gandakan limpahan berkah mereka. Dengan membuat

Dakshina sedemikian itu, maka upacara Kurban Kuda ini akan
sama nilainya dengan tiga kali melakukan upacara Kurban
Kuda, ditandai dengan dana punia berkelimpahan dan semoga
paduka terbebas dari dosa-dosa akibat dari pembunuh-
an yang terjadi sesama sanak saudara sendiri itu Upacara man-
di dan penyusian diri yang akan dilakukan pada penutupan
upacara ini, sangat tinggi nilai kesuciannya dan akan mem-
bawa berkah yang berkelimpahan. Berkah-berkah itu untuk
cucunda paduka sendiri, 0 Maharaja Kuru!"

Yudhishthira melakukan upacara penyucian diri yang per-
tama agar boleh melangsungkan upacara Kurban Kuda itu se-
lanjutnya. Setelah upacara penyucian itulah baru dilangsung-
kan upacara inti, yaitu upacara Kurban Kuda yang ditandai
oleh pembagian hadiah-hadiah serta pemberian makanan yang
berlimpah-1impah, dengan disertai doa-doa dan harapan-
harapan yang dapat menghasilkan pahala-pahala kesejahtefa-

215

an. Pendeta-pendeta yang semuanya sudah memahami
Weda-weda sibuk melaksanakan upaeaFa-upaeara itu tahap
demi tahap. Semua pendeta-pendeta itu sudah terlatih,
pengertiannya terhadap Brahman yang kekal itupun sudah
sangat mendalam. Setiap bagian upaeara dilaksanakan de-
ngan tepat dan teliti. Tidak ada bag ian sekeeil apapun, me-
nyimpang dari ketentuan yang digariskan oleh Kitab Suei serta
petunjuk para Pendeta yang memimpin upaeara itu. Pendeta
pertama yang memimpin upaeara itu, pada tindakan pertama,
melakukan upaeara yang disebut Prawargya yang juga disebut
Dharma. Selanjutnya dilakukan upaeara yang disebut Abhishawa.
Para Rishi peminum air Soma, setelah memeras air Soma itu, lalu
melakukan upaeara Sawana sesuai dengan petunjuk Kitab Su-
ei. Semua yang hadir dalam upaeara itu tidak ada yang tidak
gembira. Di sana, tidak a~ lagi orang miskin, kelaparan, ber-
duka eita, dan tidak ada kesombongan dan keangkuhan. Bhi-
masena yang menjalankan perintah raja, telah mengalirkan ma-
kanan dan minuman tidak hel1ti-hentinya, membagl-bagikan
kepada siapa saja yang ingin makan. Para pendeta sibuk sendiri
melaksanakan upaeara yang telah dijadwalkan sesuai dengan
petunjuk Kitab Suci. Dari antara para Sadaya yang ditugaskan
oleh raja, tidak ada seorangpun yang tidak memahami Weda
dan eabang-eabangnya dengan sempurna. Semua mereka teri-
kat pada sumpah dan semuanya Upadhyaya dan semuanya ahli
berfikir dialektika. Setelah saat mendirikan tonggak kurban, di-
buatlah enam tonggak kurban yang bahannya diambil dari po-
han Wilwa, enam buah tiang terbuat dari kayu Khadira, dan
enam buah terbuat dari kayu Sazawawarnin. Dua buah tiang
khusus dibuat oleh para pendeta dengan menggunakan kayu
Dewadaru, dan sebuah tiang terbuat dari kayu Sieshmataka.
Atas perintah raja, Bhima memasang sebuah tiang kurban lagi
sekedar untuk perhiasan yang dibuat dari pada emas. Tiang
emas itudihiasi dengan katn-kain berwarna-warni indah sekali,
sehingga dari jauh tonggak-tonggak itu kelihatan bagaikan ~n­
dra yang dikelilingi oleh para dewa di alam Surga. Sebuah
bangunan yang dinamakan Chayana juga dibuat yang seluruh
bahannya terbuat dari emas murni. Bangunan ini melambal1g-
kan diksha, penguasa mahluk alam semesta. Bangunan Chaya-
na ini berukuran delapanbelas kubit dan tersusun dari empat
tingkat~:ln. Juga dibuat sebuah patung Garuda bersudut .segi-
tiga. Pada saat pengurbanan itu, semua binatang dan khewan
kurban ditambatkan pada tiang-tiang kurban sesuai dengan
peraturan Kitab Suci, yang semuanya itu dipersembahkan ke-
pada dewa-dewa tertentu. Sapi-sapi jantan pilihan, yang ei-ri-
eirinya sudah ditetapkan dan semua binatang air, ditambatkan

216

pada tonggaknya setelah upacara pemujaan terhadap api suci
selesai ~ilakukan. Dalam upacara yang diselenggarakan oleh
raja bangsa Kuru ini, telah dikurbankan tiga ratus jenis bina-
tang, termasuk kuda-kuda dari jenisnya yang paling utama.
Puncak upacara itu sungguh mengagumkan, indah dipandang,
dan dijaga oleh para Rishi bagaikan mahluk-mahluk dari alam
Surga, dengan para Gandharwa menyanyikan lagu bersama,
Apsara menari-nari gembira. Juga, nampaknya diramaikan oleh
Kimpurusha dan Kinnara. Di sekelilingnya berderet-deret per-
mukiman para Brahmana yang semuanya memiliki kesaktian

berkat tapa dan Yoga yang keras. Setiap hari kelihatan para
siswa pertapa Wyasa, pendeta yang tidak ada duanya itu, yang
:juga telah menyusun semua cabang ilmu pengetahuan serta
menguasai seluruh tatacara untuk kepentingan penyelenggara-
an upacara. Hadir pula di sana Narada dan Tumburu yang
wajahnya bersinar berseri-seri. Tidak ketinggalan ~swawasu
dan Chitrasena serta yang latn-Iain, yang semuanya ahli pemain
musik. Pada saat senggang, setelah upacara yang dija~walkan
selesai, para Gandharwa yang semuanya ahli musik dan me-
nari, menghibur para Brahmana yang selalu sibuk melangsung-
kan upacara itu.

LXXXIX. Hewan yang dikurbankan sudah sarna disembelih dan da-

gingnya diolah sesuai dengan peraturan yang digariskan Pus-

taka Suci. Setelah semua itu selesai dikerjakan, para pendeta

lalu mengurbankan kuda hitam pilihan yang sudah melakukan

pengembaraan ke seluruh dunia itu. Kuda itu disembelih dan

dagingnya dipotong-potong menurut peraturan tertentu. Se-

telah daging kuda itu disiapkan sebagaimana mestinya, Dewi

Draupadi dipanggil dan didudukkan di sebelah daging kuda itu,

karena dia sendirilah yang menguasai mantra-mantra, sarana-

sarana, serta ketaatan memuja yang diperlukan. Para Brah-

mana sudah mengeluarkan sumsum tulang kuda itu dan dima-

sak sepatutnya. Setelah siap, raja Yudhishthira, sesuai dengan'

aturan upacara, lalu mencium asap olahan sumsum itu. Asap

itulah yang menurut Kitab Suci, dapat membersihkan diri dari

segala dosa. Saudara-saudaranya yang lebih muda juga men-

cium asap yang mengepul dari daging sumsum yang telah di-

masak secara khusus itu. Bagian daging kuda selebihnya, dituang-

kan ke dalam api, yang dilakukan oleh enambelas orang pendeta

yang paling utama. Setelah upacara itu selesai, pertapa utama

Wyasa, dengan diiringkan oleh semua murtd-muridnya melaku-

kan pemujaan memohonkan kejayaan serta kebesaran Yudhish-

thira. Upacara itu ditutup dengan membagi-bagikan emas dan

permata sebanyak seribu scrore nikhas emas, dan khusus un-

tuk pertapa Wyasa, raja Yudhishthira menghadiahkan seluruh

217

;,

I
I
,/
Dunia yang sudah tunduk kepada kekuasaannya. Pendeta mu-
I
I
; li~ putra Satyawati itu, setelah menerima hadiah yang diumum-

I

I kan bahwa beliau itulah yang memiliki serta menguasai seluruh

I

dunia, beliau memberikan sambutan sebagai berikut : "0 raja

termul1a, aku dengan disaksikan oleh semua Brahmana dan

raja-raja yang sekarang hadir di sini, menerima dengan senang

hati hadiah yang sangat istimewa itu, yaitu dunia beserta segala

isinya. Tetapi ijinkan aku hari.·ini mempersernbahkan kembali

hadiah utama itu kehadapan paduka 0 maha raia !" Selanjutnya

beliau berkata : "Tetapi kembalikan harga pembeliannya se-

pantasnya, karena para Brahmana itu sesungguhnya memedu-

kan kekayaan berupa uang, bukan dunia atau tanah kekuasaan

yang sesungguhnya tidak bermanfaat baginya !" Men-

dengar ucapan pendeta Wyasa itu, raja Yudhishthira menjawab

sebagai berikut : "Dakshina dalam upacara Kurban Kuda yang

dipandang pantas dc!l sesuai dengan Kitab StJci, tidak lain ada-

lah Bumi ini. Karena itulah, maka kepada pendeta pertama yang

menangani upacara ini, hamba persembahkan dunia yang su-

dah seluruhnya ditundukkan oleh Arjuna. Setelah dunia itu pa-

duka terima 0 pendeta mulia, perkenankan hambcfrTiengundur-

kan diri ke dalam hutan. Hamba persilakan paduka.bersama-

sama para Brahmana yang lain melakukan pembagian terhadap .

dunia itu sebagaimana mestinya. Memang sepatutnyalah bumi

ini dibagi menjadi empat bagian, sesuai dengan pembagian

yang sudah dilakukan dalam upacara Chaturhotra. Wahai Brah-

mana utama, sesungguhnyalah hamba tidak menghendaki lagi

apa-apa yang sudan menjadi bagian paduka dan para Brahmana.

Inilah cita~cita hamba sejak semula, demikianjuga cita-cita saudara-

saudara hamba!" KetikaVudhishthira mengucapkan kata-kata

itu, saudara-saudaranya semua. demikianjuga Draupadi secara

serempa"k mengucapkan : "Demikianlah kehendak kami !"

suasana di dalam ruan·gan menjadi berisik. Inilah suatu pengu-

muman yang sangat mengejutkan. Dan dari angkasa tsrqe.ngar

seruan-seruan : "Bagus, bagus!" Suara berisik yang bergumam

di dalam ruangan itu meningkat. Krishna Dwaipayan~ Wyasa

sangat puasmendengar Jawabanyang diberikan oleh Yudhishthira

yar'!9 diaukung oleh saudafa-saudaranya itu. Karena itu, selakl!

wakil golongan Brahmana, beliau menyatakan sebagai berikut :

"Baiklah! Dunia ini, oleh paduka sudah pihadiahkan kepadaku

( hari ini! Tetapi sebaliknya, sebagai pernyataan .terima kasih

I. kami, para Brahmana, Dunia itu saya hadiahkan kembali ke-

( pada paduka raja! Sekarang, bagi-bagikanlah semua emas

'yang ada kepada para Brahmana yang hadir di sini dan dunia

itupun kembali menjadi hak paduka!" Dan pada saat itu, Wa-

sudeWa berkata. ditujukan kepada Yudhishthira, katanya :

"Adalah kewajiban· paduka untuk mentaati segala perintah

218

yang mulia Rishi Wyasa!" Karena menerima nasihat itu, maka

dengan gembira semua keluar9a Pandawa lalu membagi-bagi-
kan berjuta-jut~ keping uang emas, yaitu tiga kali lipat lebih
banyak dari jumlah yang diwajibkan dalam Dakshina upacara

Kurban Kuda biasa! Tidak akan ada lagi raja-raja lain di dunia
ini yang mampu menyamai jumlah Dakshina ini, selain tentu
saja raja Marutta pada jaman dahulu itu. Setelah Brahmana per-
tapa yang paling utama Wyasa menerima emas itu, beliau lalu
membaginya menjadi empat bagian sama banyak dan selanjut-
nya membagi-bagikannya unttlk para pendeta yang telah beker-
ja menyelenggarakan upacara itu. Demikianlah Yudhishthira
melunaskan harga dunia yang diminta oleh Wyasa, dan dengan
perbuatannya itu Yudhishthira telah dibersihkan dari segala
dosa, dan dapat dipastikan akan mencapai kerajaan Surga ber-
sama-sama semua saudara-sau'aranya. Para pendeta yang me-
nyelenggarakan upacara itu selanjutnya membagi-bagikan
uang emas itu kepada para Brahmana, dan dibagikan sesua~
dengan permintaan mereka, sehingga masing-masing men-
dapatkan seberapa banyak yang diminta. Setelah diperkenan-

kan oleh. Yudhishthira para Brahmana itu juga membagl-bagi-
kan perhiasan emas yang tadinya dipergunakan dalam upacara
itu, termasuk pintu gerbang kemenangan, tiang-tiang kuroan,
dulang-dulang dan tempayan tempat air yang ribuan jUllllah-
nya. Setelah para' Brahmana mendapatkan bagian .i1ereka
masing-masing .dan cukup, sebagaimana yang dikehendaki,
barulah barang-barang yang tersisa dibagi-bagi oleh para
Kshatriya, Waisya dan Sudra. Selebihnya dijadikan rebutan
oleh suku bangsa Mlechcha. Setelah menerima bagiannya
masing-masjng-;- dengan puas mereka kembali kenegerinya
yang tersebar di seluruh dunia. Dan bagian Wyasa yang terdiri
dari bertumpuk-tumpuk uang, perhiasan dan barang-barang
yang indah-indah, diserahkan seluruhnya kepada Kunti. Pritha
sangat gembira menerima tanda kasih sayang dari ayah mer-
tuanya itu dan dengan hormatnya ia menyembah serta kemu-
dian akan menggunakan semua harta itu untuk kepentingan
agama dan kemanusiaan. Raja Yudhishthira menutup upacara
itu dengan upc;acara penyucian diri yang terakhir, dan terbebaS-
lah ia dari segala bentuk dosa! Setelah mengenakan busana ke-
besarannya selaku raja yang berkuasa, baginda duduk di te-
ngah-tengah saudara-saudaranya dan nampak cahaya wajah-
nya cemerlang kemilauan, disembah dan dipuja oleh semua
yang hadir, tidak ubahnya maharaja dari kEn'ajaan Dewata! Pu-
tra Pandu itu duduk di atas singgasana; dikelilingi oleh para
raja dari seluruh dunia dan kelihatan 'bagaikan Surya ~ang di-
kelilingi oleh planet-planet dan bintang-bintang akhimya Yudhish-
thira membagi-bagikan hadiah-hadiah berupa emas dan permata

219

kepada para raja itu, juga kuda, gajah, hamba sahaya,
wanitasahaya yang cantik-cantik lengkap dengan perhi~=~­
nya yang indah. Raja yang membagi-bagikan sedemikia
nyak harta kekayaan itu nampak cemerlang bagaikan Wa'
wana penguasa kekayaan itu sendiri. Semua raja sudah me

patkan bagiannya masing-masing. Yudhishthira lalu .rrem

gil ke depan raja Mal1iptJra yang masih muda, putraArjuna Wab
wahana, dan diserahkan kepadanya hadiah-hadiah yang
biasa banyaknya serta memperkenankan raja muda itu kem e:-
ke kerajaannya. Putra Pandu, untuk membahagiakan sauda
putrinya, Putri Dussala, lalu menerima cucunya yang masih ba
untuk tinggal di kerajaan ayahnya. Terakhir, dengan kata-ka a
teratur dan membahagiakan, mengucapkan terima kasih da
selamat jalan' kepada semua mereka yang telah menyempatka
diri datang menghadiri uPicara Kurban Kuda yang luar biasa
itu.

Kini tinggal Gowinda beserta rombongannya dari bangsa
Wrishni dan Andhakasa. Yudhishthira menyembah dan memu-
janya .. meogucapkan terima kasih sedalam-dalamnya, khusus-
nya kehadapan Gowinda dan Baladewa. Pahlawan besar ini di-
kawal oleh ribuan ksatria bangsa Wrishni di bawah pimpinan
Pradyumna. Setelah saling mengucapkan kata-kata perpisahan
dan saling. hormat-menghormati, merekapun kembali ke Dwa-
raka dengan perasaan puas dan gembira.

Demikian itulah jalannya upacara Kurban Kuda yang di-
selenggarakan oleh raja Yudhishthira. Upacara itu ditandai
oleh keagungan. kemewahan dan pembagian hadiah-hadiah
yang berlimpah-limpah, didasari oleh perasaan cinta kasih se-
mesta yang tidak ada bandingannya lagi di dunia ini. Makanan
dan minuman, harta-benda dan penyambutan serta penghor-
matan. tidak mungkin dapat ditandingi lagi. Telah dipekerjakan
pula ribuan juru masak yang paling ahli dan jumlah khewan
yang disembelih tidak mungkin dapat dihitung banyaknya. Ang-
gur dan minuman bagaikan mengalir dari sebuah sungai yang
tidak akan berhenti mengalir siang dan malam. Tamu-tamu dan
rakyat bergembira ria bersama motto yang mendasari upacara
itu. yaitu "Berikan barang-barang yang indah-indah dan sajikan
makanan dan minuman yang paling lezat cita rasanya!"

Upacara itu luar biasa hebat dan meriahnya sehingga sam-·
pai sek~lrangpun upacara itu masih menjadi buah bibir di mana-
pun di dunia ini. di tempat itu telah terjadi hujan harta benda,
emas dan permata, makanan dan minuman yang lezat-Iezat.
Demikian, maka maharaja putra Bharata itu terbebas dari dosa-
dosanya. Setelah semuanya selesai raja dan rombongan kem-
bali ke istana!"

220

xc. Sekarang dengarkanlah 0 Janamejaya, suatu kejadian me-

narik yang telah terjadi pada waktu upacara itu baru saja di-
tutup, yaitu setelah semua para Brahmana dan rakyat seluruh-
nya, termasuk yang cacat dan buta, menerima sejumlah harta
sesuai dengan keperluannya, yaitu ketika orang-orang masih
bergembira karena semuanya mendapatkan apa saja yang di-
inginkannya. Pada waktu itu raja Yudhishthira menerima hujan
bunga karena perbuatannya itu. Dan tiba-tiba, muncul di tem-
pat itu seekQr binatang, sejenis rubah. Tubuhnya besar, sebe-
lah bag ian dari tubuhnya berbulu keemasan. Kemunculannya
itu disertai dengan suara keras bergemuruh di angkasa. Rupa-
rupanya, binatang itulah yang bunyinya sangat dahsyat sehing-
ga semua binatang yang berada di tempat itu gemetar ketaktJt-
an. Binatang yang biasanya berkeliaran di .Iubang-Iubang ular
untuk mencari mangsa itu kini rtuncul dan dapat berkata-kata
seperti man usia. Binatang itu berseru sebagai berikut : "Hai
raja-raja sekalian! Upacara besar-besaran ini sungguh tidak
ada artinya jika dibandingkan dengan sebutirpun tepung gan-
dum yang dipersembahkan oleh Brahmana dermawan di Ku-
rukshetra yang sedang melaksanakan sumpah Unccha!" Men-
dengar seruan rubah ajaib ini: Semua Brahmana yang hadir
ditempat itu menjadi heran. Mereka mendekati rubah itu, dan
setelah dekat, seorang Brahmana mengajukan pertanyaan : "Hai ru-
bah, dari manakah anda datang ini? Dan apa alasanmu maka berani
memberikan penilaian terhadap upacara raja bijaksana dan derma-
wan ini? Anda ini mempunyai kemampuan apakah dan berapa men-
dalamkah pengetahuan anda tentang upacara? Apakah sebenarnya
keyakinan anda? Siapa anda sebenarnya, maka berani ·mencela
u~acara yang kami selenggarakan ini? Kami sudah menyelengga-
rakan upacara ini seteliti mungkin sesuai dengan garis-garis
yang ditentukan oleh Kitab Suci.Apa yang patut dilakukan, su-
dah kami lakukan dengan sebaik-baiknya, sesuai dengan pe-
doman dan juga tidak bertentangan dengan akal dan fikiran.
Upacarat itu sudah diselenggarakan berdasarkan berbagai pe-
doman tentang penyelenggaraan upacara kurban. Siapa-siapa
yang patut dipuja, telah dipuja dalam upacara ini. Pemujaan itu
pun dilakukan berdasarkan Kitab Suci Weda. Kurban tuangan
sudah dituangkan ke dalam api kurban dengan disertai pengu-
capan mantra-mantra dan rumus-rumus yang pasti. Apapun
yang patut dihadiahkan, sudah dihadiahkan, sedekah sudah di-
bagi-bagikan dengan keikhlasan serta kerendahan hati.Para
pendeta dan semua Brahmana sudah menerfr:na bahagian me-
reka bahkan secara berkelimpahan. Para kshatJiya sudah dipu-
askan hatinya dengan melakukan pertempuran-pertempuran
yang sukar dan jujur. Roh-roh leluhur sudah dipuaskan dengan me-
lakukan upacara Sradha. Para Waisya dipuaskan dengan mem-

221

berikan perlindungan seeukupnya kepadanya. Kaum wanita-
pun dipuaskan hatinya dengan memenuhi apapun juga ke-
inginan mereka. Golongan Sudra dipuaskan hatinya dengan
kata-kata manis dan kasih sayang. Masyarakat banyak dan go-
longan-golongan lain juga sudah mendapat bagiannya dari se-
mua yang tersisa setelah upaeara selesai. Semua keluarga is-
tana beserta sanak saudaranya sudah dipuaskan hatinya de-
ngan tingkah laku dan budi luhur yang diperlihatkan oleh raja.
Para Dewapun mendapatkan kepuasannya dengan persem-
bahan-persembahan libasi yang dituangkan ke dalam api pe-
mujaan, yaitu dengan menuangkan minyak mentega murni di-
tambah dengan perbuatan-perbuatan lain yang dapat membe-
rikan berkah. Para pengikut dan rakyat kerajaan ini merasa
puas karena eukup mendapat perlindungan. Karena itu, wahai
rubah sakti, berkatalah iengan sebenarnya. Ueapkanlah ke-
benaran saja di hadapan para Brahmana yang hadir di sini.
Ueapkan sesuatu yang tidak bertentangan dengan Kitab Suei
dan juga tidak menyalahi kenyataan. Sesungguhnyalah para
Brahmana di sini ingin sekali mendapat penjelasan itu. Kejujur-
an anda patut dipuji. Hai rubah bijaksana, perwujudan anda
yang ajaib itu memanglah merupakan perwujudan mahluk dari
alam Kadewatan. Anda telah muneul di sini, di tengah-tengah
para Brahmana. Kami semuanya menuntut, agar anda men-
jelaskan siapa sebenarnya anda ini!" Sambil tersenyum-
senyum, rubah itu menjawab : "Wahai para Brahmana mulia,
apa yang hamba katakan itu tidak salah. Juga bukan karena
kesombongan hamba mengueapkan kata-kata itu. Apa yang
hamba katakan itu mungkin sudah diketahui pula oleh para
Brahmana semua! 0 para Brahmana pendeta utama, sesung-
guhnyalah upaeara ini tidak dapat menyamai berkah yang telah
diterima oleh keluarga Brahmana tertentu yang telah memper-
sembahkan satu prastha tepung gandum. Hamba harus meriga-
takan hal ini dihadapan paduka sekalian 0 Brahmana. Dengar-
kanlah kesaksian hamba ini. Hamba hendak menjelaskan apa
sebenarnya yang terjadi dengan diri paduka sekalian. Sungguh
luar bisa kebaikan yang akan menyusul kejadian hari ini. Ke-
jadian ini telah hamba saksikan sendiri dan akibatnya, hamba
sendiripun akan merasakannya. Tetapi terlebih dahulu, namba
akan menceriterakan suatu kejadian yang dialami oleh seorang
Brahmana budiman dan dermawan yang bermukim di padang
Kuru. Brahmana itu sedang menjalankan tapa-brata yang di-
sebut Unccha. hidup seperti burung merpati, meneari makan
dengan memungut gandum dari ladang-Iadang setelah yang
empunya ladang itu selesai memetik hasil gandum seluruhnya.
Gandum yang tersisa itulah dikumpulkan dengan tekun dan
susah payah. Karena perbuatannya itu, akhirnya Brahmana itu

222

mendapat tempat tertinggi di alam Surga. Dan tidak hanya di·ri-
nya sendiri, melainkan keluarganyapun mendapat tempat di
Surga pula. Keluarga Brahmana itu terdiri dari isteri, anak laki-
laki dan seorang putri menantu. Karena perbuatan mulia Brah-
mana pertapa itulah maka sebelah badan hamba berwarna ke-
emasan In!.

Wahai para Brahmana mulia, sekarang hamba akan menje-
laskan apakah buah-buah kebaikan yang didapatkan oleh se-
orang Brahmana yang dengan ikhlas mempersembahkan seke-
lumit bagian saja dari kekayaan yang didapatkan dengan jujur.
Oi suatu tempat, di padang Kuru, yang juga telah menjadi tem-
pat pertapaan orang-orang bijaksana, hiduplah seorang Brah-
mana yang sedang melakukan tapa-brata yang disebut Uneeha.
Brahmana itu hidup di sana dengan seorang isteri dan anak-
nya laki-Iaki dan seorang putri mena"'unya yang semuanya me-
lakukan tapa-brata yang sama. Jiwanya bersih, panea indranya
terkendali, dan mereka hidup seperti burung kakak tua. Waktu
makan merekasudah ditetapkan, yaitu hanya pada bagian ke-
en am dari satu hari. (Patut diketahui bahwa pada jaman dahulu,
satu hari 12 jam itu, telah dibagi menjadi 8 bagian saja). Apa-
bila pada bagian keenam itu mereka tidak mendapatkan makan-
an, merekapun terus berpuasa untuk sepanjang hari itu, dan
baru akan makan keesokan harinya pada bagian keenam pula.
Pernah pada suatu saat, beneana paeeklik melanda selurun
negeri. Pada saat-saat seperti itu, tidak ada sebutir gandumpun
tersisa di dalam rumah Brahmana itu. Tumbuh-tumbuhan yang
dapat dimakan semua sudah mati kekeringan. Mereka sudah
.tidak mempu-Ay-ai apa:.apa lagi untuk dimakan pada saat-saat
yang ditentukan untuk makan. Hal ini sudah berlangsung ber-
hari-hari lamanya. Semua anggota keluarga itu sangat menderi-
ta. Tetapi, merupakan kewajiban merekauntuk menunaikan tu-
gas-tugasnya setiap hari dengan sebaik-baiknya. Pada suatu
hari di bulan Jaistha, di saat matahari meneapai puneaknya,
Brahmana dengan keluarganya memetik bulir-bulir gandum di
sebuah ladang gandum. Mereka kepanasan, kelaparan dan pa-
yah sekali bekerja keras. Sebenarnyalah pada saat itu semua ba-
han makanan untuk keluarga itu habis semua. Keluarga Brah-
mana itu telah melewatkan satu hari itu dengan penderitaan
yang teramat sangat. Pada suatu hari, setelah bagian keenam
dari satu hari itu tiba, mereka berhasil mengumpulkan satu
prastha gandum. Gandum itu ditumbuk hal us agar dapat di-
jadikan Satu. Setelah selesai mengueapkan doa-doa di dalam
hati dan menuangkan kurban tuangan ke dalam api suei, Brah-
mana itu membagi gandum yang sedikit itu menjadi empat ba-
gian yangsama, dan masing-masing mendapatbagian tepung
satu KUdawa. Pada saat mereka siap untuk bersantap, tiba-tiba

223

muncul di tempat itu seorang tamu. Melihat tamu datang e
ka menyambut dengan gembira. Mereka menerima tam
itu dengan penuh hormat, mengajukan pertanyaan-pertan a
dengan sopan dan perasaan bahagia. Semua mereka itu
mang berhati bersih, mengendalikan dirinya .dengan baik
kali, penuh keyakinan dan menguasai dorongan nafsunya.
reka terbebas dari semua perbuatan yang dapat menyakiti da
sudah menundukkan kemarahannya. Mereka mengembang a
sifat kasih-sayang; dan tidak pernah merasa sakit hati melihat keba-

hagiaan orang lain. Tidak sombong, tidak menakut-nakuti, dan sa-
rna sekali tidak pernah marah. Sesungguhnyalah mereka suda
menepati tugas dan kewajibannya selaku pertapa. ualam pe -
bicaraan mereka itu, pertapa itu memperkenalkan diri serta me-
nuturkan tapa brata yang dijalankannya, juga warga dan keluar-
ganya. Tamuyang datjng itupun memperkenalkan dirinya pula.
Tamu itu nampaknya kelel~han dan kelaparan. Mereka masuk
ke dalam pondok dan langsung Brahmana pertapa itu mena-
warkan suguhan dengan ucapan seperti berikut : "Terimalah
suguhan Arghya kami dan ini, terimalah air pembasuh kaki pa-
duka. Silakan duduk di atas hamparan kusa yang tersedia dan
semoga paduka sudi menikmati Saktu yang kami kumpulkan.

Saktu ini halala yang mulia, terimalah suguhan kami ini seada-
. nya!" Brahmana yang baru datang itu menerima satu Kudawa

Saktu yang disajikan dan langsung menyantapnya. Tetapi Brah-
mana itu masih menunjukkan perasaan kelaparannya. Karena
itu, Brahmana yang melakukan brata Unccha itu berfik·ir-fikir,
dimanakah akan dicari makanan yang dapat mencukupkan ta-
munya ini? Tiba-tiba isteri Brahmana itu berkata : "Kakanda,
persembahkanlah kepada tamu kita itu bagian hamba. Cukup-
kanlah terlebih dahulu Brahmana mulia itu sebelum beliau me-
ninggalkan kita melanjutkan perjalanannya!" Tetapi Brahmana
pertapa itu tidak tega untuk mengambil bahagian isterinya, ka-
rena isterinya yang sudah tua itu !=)udah terlalu menderita aki-
bat dari kelaparan dan leblh-Iebih telah bekerja keras. Isterinya itu

kurus kering, tinggal kulit pembalut tulang, tubuhnya gemetar
lemah. Brahmana itu menolak untuk menyuguhkan bagian is-
terinya, katanya : "Adindaku,. binatang-binatang, bahkan ulat
.dan serangga sekalipun, masih melindungi betinanya. Karena
itu aku melarang adinda mengucapkan kata-kata itu. Adalah ke-
wajiban isteri memperlakukan suaminya dengan penuh kectn-
taan, menyediakan makanan dan menjaga nama baik suami.

Segala sesuatu yang berkenaan dengan agama, kesenangan
dan kekayaan, perawatan yang teliti, dan memberikan keturun-
an untuk kelanjutan kehidupan warga dan bangsa, semuanya

224

itu, merupakan tugas wanita selaku isteri. Dan sebenarnyalah
bahwa berkah bagi suami dan para leluhurnya tergantung dari
tingkah laku sang isteri. Para istri mengetahui suaminya ber-
dasarkan perbuatan yang dilakukan oleh suaminya itu. Laki-Iaki
yang tidak mampu melindungi isterinya, namanya akan tercela.
baik di sini maupun di dunia sana. la akan jatuh ke alam Neraka!
Laki-Iaki yang gagal melindungi isterinya akan jatuh meskipun
sebelumnya ia sudah mencapai kedudukan cemerlang, namun
ia akan terjatuh ke lembah nista serta tidak pernah mendapat
kebahagiaan di alam yang manapun juga!" Setelah mendengar
kata-kata suaminya itu, isterinya menjawab : "0 suamiku, jun-
junganku! Kegiatan keagamaan itu terjalin erat sekali dengan
kekayaan dan keadaan. Kakandaambillah bahagian hamba!
Semoga kakanda puas dan sudi menerimanya! Kebenaran, ke-
senangan, berkah keagamaan, dan Surga, sebaiaimana yang
bisa didapatkan dengan sifat-sifat kebaikan, bagl kaum wanita,'
sangat tergantung dari penilaian sang suami terhadap dirinya
itu. Dalam perbuatan pengadaan keturunan, pihak isteri menye-
diakan cel telur, darah dan tempat. Pihak ayah memberikan
benth-benihnya. Suami merupakan dewa tertinggi bagi isteri-
nya. Hanya karena mendapat berkah suaminyalah, maka si is-
teri mendapat kesenangan dan keturunan yang baik sebagai
hadiahnya. Paduka tidak lain dari pati hamba, karena kakanda
telah melindungi hamba. Kakanda junjunganku tidak lain dari
Bhartri bagi hamba, karena paduka tetah menghidupkan ham-
ba. Dan lagi, paduka pemberi kebahagiaan bagi hamba. karena
sudah menghadiahkan seorang putra kepada hamba. Mengi-
ngat jasa-jasa kakanda junjungan yang sedemikian banyaknya,
terimalah sekarang makanan bagian hamba dan s9g-uhkantah
kehadapan tamu kita yang telah sudi berkunjung nari ini. Ka-
kanda sendiripun sudah tua dan lemah, ditambah dEmgan ke-
adaan alam yang telah menimpa kita di saat ini, paduka kakanda
menjadi semakin tidak berdaya. Merana karena berpuasa dan
telah menjadi kurus kering. Sedangkan untuk harf ini kakanda
sendiri sudah menyuguhkan makanan bagian kakanda sendiri,
mengapa pula hamba tidak diperkenankan mempeIsembahkan
bagian hamba kehadapan paduka dansetanjutnyadisajikan ke-
pada tamu kita yang mulia?" Karena isterinya bersikeras itu,
maka diambilnyalah gandum bagian isterinya itu dan tangsung
disajikan kepada tamunya, katanya : "0 Brahmana mulia, teri-
malah juga persembahan kami ini!" Tamu Brahmana itu me-
nyambutnya dan segera menyantap saktu yang memang hanya
sedikit itu. Rasa lapar Brahmana itu belum juga mau berkurang
Nampak jelas bahwa tamu itu masih menghendaki makanan. Me-
Iihat keadaan ini, Brahmana pertapa Unccha itu kembati ber~

225

fikir. Sedang berfik·ir-fikir itu, anaknya mengucapkan kata-
berikUt : "Wahai ayahanda junjungan kami, ambillah ba .
hamba untuk disajikan kehadapan tamu kita yang mulia i
Hamba yakin kalau perbuatan hamba ini akan besar man aco-
nya. Silakan ayahanda, terimalah! Paduka selaku ayah ha c
memang patut menuntut agar hamba tetap memelihara
menjaga diri paduka. Menjaga dan memelihara orang tua me -
pakan salah satu kewajiban utama yang selamanya harus
lakukan oleh orang baik-baik! memelihara ayah sudah uzur
rupakan kewajiban yang disucikan l Inilah sebuah dari an a
Sruti-sruti yang dikenal di Tiga Dunia. Dengan sisa kehidupa
yang masih ada ini padukapun dapat menyempurnakan tapa
brata. Hawa-hawa yang dikenal dengan kelompok Prana mer -
pakan dewata mulia yang bermukim di dalam diri semua mah-
luk hidup, karena itu hambalah yang patut menjaga agar pa-
duka yang uzur dan lemah tetap hidup. Paduka terimalah sakt
bagian hamba untuk menyempurnakan tapa-brata paduka!
Ucapan anaknya itu dijawab oleh ayahnya dengan kata-kata se-
bagai berikut : "Anakku, meskipun seandainya umurmu se-
karang sudah mencapai seribu tahun, bagi diriku tetap ananda
hanyalah seorang anak-anak. Memang, seorang ayah dapat
mencapai sukses melalui anak-anaknya. 0 anakku budiman,
aku tahu bagaimana hebatnya perasaan lapar yang diderita
oleh anak-anak. Aku ini sudah tua. Bagaimanapun juga, aku
akan berhasil menjaga hawa kehidupan itu agar tetap mengalir
di dalam tubuhku. Terhadap hal ini jangan anakku khawatir!
Makanlah bagianmu agar engkau tetap kuat. Meskipun aku su-
dah tua dan lemah, tetapi perasaan lapar tidak menyakitkan aku
lagi. Bertahun-tahun lamanya aku telah berlatih dan melakukan
puasa. Sekarang aku telah terbebas dari perasaan takut untuk
menghadapi kematian!"

Anaknya yang berbakti itu menjawab : "Hamba anak pa-
duka! Sruti menyatakan bahwa anak itu disebut putra, karena
seorang ayah dapat diselamatkan oleh anaknya itu. Sedangkan
ayah itu sendiri dapat lahir kembali pada anaknya! Karena itu
selamatkanlah diri paduka dengan menggunakan diri paduka
juga yang sekarang berwujud diri hamba ini!" Ayahnya ter-
menung dan menjawab : "Sesungguhnyalah dalam perwujud-
an, ananda sangat serupa dengan diriku ini. Demikian juga da-
lam tingkah laku dan pengendalian diri. Dalam beberapa ke-
sempatan, aku telah mengamat-amati dirimu. Karena itu, de-
ngarkanlah keputusanku! Akan kuterima makanan yang semes-
tinya menjadi bagianmu itu!"

Dengan gembira ia mengambil bagian anaknya dan lang-
sung disuguhnya kehadapan Brahmana itu. Dan setelah bagian

226

itu habis disantap tamunya, namun perasaan lapar tamu itu
belum terpuaskan juga. Melihat keadaan ini, perasaan malu
menyelinap ke dalam diri Brahmana pertapa itu karena ia tidak
punya apa-apa lagi untuk disuguhkan. Tetapi segera putri me-
nantunya menghadap, menyembah dengan hormatnya seraya
mengucapkan kata-kata berikut : "Melalui putra paduka 0
ayahanda nan suci, hamba akan mendapatkan seorang putra.
Terimalah persembahan hamba berupa makanan yang sedikit
ini dan haturkanlah kehadapan tamu paduka yang hadir hari
ini. Berkah karunia paduka, berbagai jenis keindahan yang ke-
kal bisa hamba nikmati. Melalui cucunya, seseorang dapat men-
capai'"alam di mana kesengsaran dan kedukaan tidak menyiksa
lagi. Seperti halnya segitiga sakti yang diawali dengan Agam~
atau Dharma, atau segitiga sakti dari api suci, terciptalah segl-
tiga sakti pula yang disusun oleh alam-cwam kekekalan di Surga
dan hamba menyadari, hal itu tergantung ke pada anak, cucu
dan cicit. Anak itu memang sepantasnya disebut putra, karena'
anak itulah yang dapat membebaskan ayahnya dari semua hu-
tang-hutangnya. Melalui anak dan cucu orang itu selamanya
dapat menikmati kesenangan alam-alam yang disediakan bagi

orang baik-baik!"

Ayah mertuanya menjawab : "Sungguh mulia hatimu 0
anakku! Memandangi dirimu yang dirusak oleh angin dan pa-
nas, kecantikanmu pudar, kurus dan hampir pingsan menahan
lapar, betapa aku tega berbuat dosa dengan melal')ggar hukum-
hukum kebenaran, menyita makanan yang seharusnyalah men-
jadi hakmu? Anakku, engkau seorang isteri yang membawa
keberuntungan, janganlah anakku mengucapkan kata-kata itu,
demi kebahagiaan keluarga kita ini. Berdosalah keluarga yang
memperlakukan putri menantunya tidak sebagaimana mesti-
nya. 0 wan ita mulia, bagaimana aku tega melihat ananda, se-
sore ini belum memakan apapun juga dan ikut berpuasa? Se-
sungguhnyalah ananda seorang wanita suci, berbudi luhur dan
pertapa. Aduhai, betapa kamu sangat menderita. Penderitaan
itu telah kau jalani hari demi hari. Ananda sudah terlalu menderita
untuk seorang wanita. Adalah kewajibanku untuk melindungi
engkau untuk selama-Iamanya. Tetapi, apalah dayaku? Terpak-
sa aku hanya memandangi dirimu sengsara, menjadi kurus ka-
rena berpuasa!" Putri menantu itu menjawab : "Padukalah se-
karang yang menjadi junjungan hamba, bagi diri hamba ini,
paduka seorang yang tertua dari antara keluarga hamba yang
paling tua. Paduka Dewata tertinggi dari antara dewa-dewa
yang hambapuja-puja! Karena itu 0 junjungan, terimalah per- '
sembahan hamba. Dengan tubuh hamba, dengan nafas ke-
hidupan hamba, dengan upacara-upacara, dengan semua-

227

nya itu hamba hanya mempunyai satu tujuan, yaitu melaya
dan menyenangkan atasan hamba. Atas doa restu padu a

o Brahmana mulia, hambapun akan mendapatkan tempat se-

layaknya, yang penuh dengan kebahagiaan, di alam-alam yang
akan datang! Dalam mencapai cita-cita hamba inilah paduka se-
patutnya terus-menerus membimbing hamba. Ketahuilah 0 ayah-
anda Brahmana, hamba selamanya taat serta menyerahkan dir:i
kepada paduka. Jangan paduka menyita kebahagiaan hamba
dengan menolak persembahan hamba ini. Hamba mohonagar
tepung yang sedikit ini dapat paduka terima, dan hamba akan
sangat berbahagia karenanya!" Ayah mertuanya menjawab :
"0 wanita suci, berkat perbuatan ananda hari ini, ananda sela-
manya cemerlang dalam kejayaan! Sedemikian teguh ananda
memegang sumpah, sedemikian tekun ananda memuja, lebth-
lebih, cita-cita ananda adalah""enghormati dan mentaati orang
yang lebih tua! Karena itu 0 ananda, aku terima saktu yang

seharusnya menjadi bagianmu itu. Anak baik seperti kamu ini
tidak boleh dikecewakan! Sebenarnyalah ananda seorang putri
paling utama daTam hal menunaikan kewajiban Dharma!" Sam-
bil mengucapkan kata-kata itu, Brahmana pertapa itu lalu me-
ngambil tepung gandum serta menyajikannya kehadapan ta-
munya. Brahmana tamunya itu menerima makanan itu dengan
wajah berseri-seri tanda puas dan gembira. Sebenarnyalah ta-
munya itu, yang tidak lain dari Sanghyang Dharma sendiri yang
telah turun menyamar menjadi seorang Brahmana kelaparan,
merasa sangat puas lalu berkata : "0 pendeta utama, sungguh
aku sangat puas dengan penyambutan ikhlas yang telah gnda
lakukan. Anda telah menyuguhkan k~pada diriku sesuatu yang
suci serta diperoleh dengan kejujuran. Inilah namanya persem-
bahan yang dilakukan sesuai dengan peraturan kebenaran.

Persembahan itu sekarangpun sudah mulai berbuah di alam
Surga, tempat yang penuh dengan kesenangan dan kebahagia-
an. Saksikanlah 0 pendeta, bunga-bunga sudah mulai ber-
jatuhan bagaikan hujan dari langit! Para Rishi dari alam Ka-
dewatan, disertai oleh Dewa-dewa, Gandharwa, mahluk-mah-
luk utusan dewata, semuanya memuji~muji perbuatan anda. Pa-
ra Rishi yang sudah menunggal di alam Brahman, duduk di
dalam kereta menjenguk ke luar untuk memperhatikan wajah
anda.O Brahmana utama, berangkatlah sekarang juga ke alam
Surga. Para Pitri yang sewarga dengan anda semuanya sudah
diselamatkan berkat perbuatan anda hari ini. Yang lain, yang
belum mencapai tingkat Pitri, semuanya sudah diselamatkan
pula. Keselamatan untuk selama-Iamanya! Anda sudah menem-
puh kehidupan Brahmacharya, sudah melakukan kehidupan
selaku orang dermawan, sudah melakukan pengurbanan-

228

pengurbanan, melakukan tapa-brata, menyebar cinta-kasih de-
ngan tulus. Mengingat semuanya itu, anda patut mendapatkan
kedudukan di alam Surga. Dengan baik sekali anda sudah me-
nunaikan tapa-brata, dijalankan dengan penuh rasa pengabdi-
an. Persembahan yang anda lakukan hari ini sangat memuas-
kan para Dewa 0 Brahmana suci. Lebth-Iebih anda melakukan
persembahan pada musim yang sukar seperti saat ini. Walau-
pun demikian, anda telah melakukannya dengan penuh ke-
tulusan. Karena itu, tidak ada tempat yang patut diberikan ke-
pada anda, kecuali alam Surga! Perasaan lapar yang teramat

sangat dapat memusnahkan kebijaksanaan, dapat melenyap-
kan segala pengertian. Orang yang kecerdasannya dikuasai
oleh perasaan lapar, dapat kehilangan semua sifat baik yang
dimifikinya. Karena itu, orang yang mampu menundukkan pe-
rasaan laparnya, akan berhasil pu¥i menguasai alam Surga.

Kebenaran dan Keadilan tidak akan meninggalkan seseorang
selama ia suka memberi. Dengan tidak mengutamakan kepen-
tingan pribadi, dengan membebaskan diri dari keterikatan ter-
hadap anak dan isteri, anda ternyata lebih mengutamakan Ke-
benaran. Mencari harta kekayaan merupakan suatu kegiatan
yang kecilsekali pahalanya. Adalah perbuatan memberi kepada
orang yang patut menerima, yang mempunyai pahala yang be-
sar. Lebih besar lagi pahalanya, apabila pemberian itu dilaku-
kan pada saat yang tepat. Lebth-Iebih, jika pemberian itu di-
lakukan berdasarkan pengabdian, itulah pemberian atau per-
sembahan yang akan menghasilkan pahala yang berlipat gan-
da. Pintu masuk ke alam Surga itu memang tidak mudah di-
lihat. Apabila tidak diperhatikan dengan sungguh-sungguh,
pintu masuk itu tidak akan kelihatan. Palang pintu itu adalah
nafsu untuk memiliki. Palang itu akan semakin kuat menutup,
apabila nafsu kemilikan dan kecintaan terhadap kemewahan
keduniawian semakin besar. Sesungguhnyalah bahwa pintu ke
surga itu tidak dapat didekati. Orang yang sudah menundukkan
kemarahan dan dorongan nafsunya, para Brahmana yang me-
miliki kekuatan tapa-brata, dan selalu siap memberi sesuai de-
ngan kemampuannya, tentu akan berhasil melihat pintu rahasia
itu. Sudah dikatakan, bahwa orang yang punya seribu memberi
seratus, punya seratu's diberikan sepuluh dan bagi orang tidak
punya apa-apa, cukup menyuguhkan seteguk air. Nilai perbuat-
an itu sama dan berkah yang diterimapun sarna. Raja Ranti-
dewa, ketika semua kekayaannya sudah lenyap, telah memper-
sembahkan semangkuk air dengan disertai fikiran jernih. Ber-
kat persembahannya itu 0 Brahmana, bagindapun mencapai
alam surga. Sanghyang Dharma itu tidak pernah dapat dipuas-
kan dengan persembahan besar-besaran dan diisi dengan ben-

229

da-benda kemewahan. Meskipun persembahan itu tidak be -
harga sekepingpun uang, apabila dipersembahkan dengan pen
keikhlasan dan yang dipersembahkan itu didapatkan dengan ja-
Ian kejujuran, maka persembahan semacam itulah yang paling
besar membawa berkah. Raja Nriga, telah mempersembahkan
seribu ekor sapi pilihan kepada para Brahmana, dan seekor
sapi yang dipersembahkan itu hasil curian, maka raja itu jatuh
ke alam Neraka. Siwi, putra Usinara telah bersumpah untuk
melakukan sejenis brata, baginda itu telah mempersembahkan
daging yang disayat dari tubuhnya sendiri, dan baginda itu se-
karang sangat berbahagia di alam surga. Kekayaan itu saja bu-
kan berkah namanya. Orang baik baru akan menerima berkah
setelah berusaha sekuat tenaga, mempergunakan seluruh ke-
mampuan yang ada padanya, didasari kesadaran kebenaran
dan budi luhur. Dengan mejyelenggarakan bermacam-macam
upacara saja, orang tidak akan menerima berkah seperti misal-
nya orang mempersembahkan sedikit hartanya yang didapat-
kan dengan jerth-payah dan kejujuran. Pahala dan berkah akan
lenyap apabila pemberian atau persembahan itu disertai de-
ngan kemarahan. Dengan dorongan ingin mendapatkan ke-
punyaan orang lain, orang tidak mungkin dapat mencapai Sur-
gao Orang yang mengetahui pahala-pahala sehubungan de-
ngan tingkah laku kedarmawanan, yang ditunjang oleh budi
luhur dan tapa-brata, akan dapat menikmati kebahagiaan yang
kekal itu. Karena itu 0 Brahmana, dengan mempersembahkan
satu prashtha tepung gandum ini saja, maka pahala dan berkah
yang anda terima akan jauh lebih besar daripada menyeleng-
garakan berkali-kali upacara Rajasuya, ditambah dengan mem-
berikan hadiah-hadiah serta sedekah yang berlimpah-limpah
seperti dilakukan dalam upacara Kurban Kuda. Dengan hanya
satu prastha tepung gandum ini anda 0 Brahmana, sudah
mencapai alam Brahman. Berbagialah! Anda sungguh bijak-
sana! Baik, sekarang berangkatlah menuju alam Brahman yang
terang berderang tanpa setitikpun noda kegelapan. Wahai
Brahmana, dikaulah yang terutama dari antara semua Brah-
mana, sekarang akulah yang patut memuja paduka! Kereta
yang tersedia di sini akan mengangkut diri paduka ke alam
Brahman itu. Silakan paduka naik ke atasnya! 0 Brahmana,
hamba ini Sanghyang Dharma! Lihat dan perhatikanlah perwu-

judanku! Paduka sudah menyelamatkan diri paduka! Dan pres-
tasi yang paduka ciptakan hari ini, akan dikenal di seluruh alam
untuk selama-Iamanya! Berangkatlah sekarang, ajaklah serta
isteri,·anaK dan putri menantu paduka, yang semuanya pantas
menerima berkah kekekalan itu!" Setelah Sanghyang Dharma
mengucapkan kata-kata itu, Brahmana beserta keluarganya
lalu berangkat ke alam Luhur dan Abadi!

230

Setelah Brahmana pertapa itu bersama-sama dengan iste-
ri, putra danputri menantunya berangkat menuju alam Surga,
hambapun keluar dari dalam lubang. Dan kepala hamba ber-
ubah warnanya menjadi keemasan setelah hamba mencium
bau tepung gandum itu dan jug~ karena terkena uap air yang
disediakan oleh Brahmana itu kepada tamunya. Setelah ber-
sentuhan dengan bunga-bunga kadewatan yang ditaburkan
dari lang it, terkena sisa-sisa tepung gandum itu, ditambah
dengan pancaran kekuatan tapa-brata Brahmana itu, maka
sebelah tubuhku yang besar ini telah berubah warnanya. Lihat-
lah 0 para Brahmana berkah dari persembahan yang dilakukan
oleh Brahmana pertapa itu. Sebahagian dari tubuh hamba yang
sangat besar ini menjadi cemerlang memancarkan sinar ke-
emasan. Wahai Brahmana~ untuk merubah agar. ~eluruh tubuh
hamba berwarna sama cemerlangnya, tak jemu-jemuny.a ham-
ba mengunjungi tempat-tem~atpertapaan dan menghadiri se-
tiap upacara yang diselenggarakan oleh raja-raja di berbagai
negara. Tetapi tubuh hamba ini tidak berubah sedikitpun juga.
Akh·ir-akhir ini hamba mendengar berita bahwa di tempat ini
diselenggarakan upacara oleh raja bangsa Kuru yang ter-

mashur karena kebijaksanaannya. Hamba telah datang, dengan
harapan, semoga hambapun mendapatkan berkahnya sehing-
ga tubuh hamba ini berwarna keemasan seluruhnya. Tetapi
sampai saat penutupan ini, tubuh hamba belum berubah. 0
Brahmana sekalian, itulah sebabnya hamba dengan lancang
menyatakan bahwa upacara ini belum sebanding dengan per-
sembahan satu prashta tepung gandum yang dilakukan oleh
Brahmana pertapa di Kurukshetra itu! Dengan persembahan
satu prashta tepung, tubuh hamba yang sebelah ini telah be-
rubah cemerlang berwarna emas. Upacara besar dan megah
ini sarna sekali belum sebanding dengan persembahan segeng-
gam tepung tersebut. Itulah pendapat serta keyakinan hamba!"

Tetapi, setelah mengucapkan kata-katanya yang terakhir
itu, rubah yang aneh itu lenyap dari pemandangan. Dan para
Brahmana kern bali ke tempatnya masing-masing!

Demikianlah 0 Janamejaya, hamba sudah menceriterakan
sebuah peristiwa yang terjadi pada saat upacara Kurban Kuda
itu dilangsungkan. Karena itu 0 raja, janganlah hendaknya
paduka terpaku dan terikat oleh upacara. Berjuta-juta para
Rishi sudah mencapai alam Luhur hanya dengan menjalankan
Yoga dan tapa-brata. Yang lebih utama dilakukan adalah tidak
menyakiti mahluk lain, puas dan bersyukur, bertingkah laku
baik, taat dan jujur, pengendalian diri, kebenaran dan Ke-
Jermawanan! Itulah semua yang lebih mulia daripada melaku-
kan upacara!

231

XCI. Selanjutnya raja Janamejaya mengajukan pertanyaan beri-
kut kepada Rishi Waisampayana : "0 Rishi, raja-raja sejak ja-
man dahulu sudah terikat untuk melakukan upacara, sedang-
kan para Rishi diikat oleh tapa dan Yoga. Para Brahmana bijak-
sana diikat oleh tuntutan dan latihan guna mendapatkan kete-
nangan bathin, tingkah laku damai dan pengendalian diri. Me-
nurut keyakinan hamba selaku raja, tidak ada berkah yang lebih
mulia daripada berkah-berkah upacara. Keyakinan hamba itu

tentulah merupakan keyakinan yang benar, setidak-tidaknya ba-
gi golongan raja-raja. Hamba tahu bahwa tidak terhitung -ba-
nyaknya raja-raja yang melakukan pemujaan dengan menye-
lenggarakan upacara-upacara. Dan mereka semua telah men-
jadi besar, termashur dan mencapai alam Surga. Bahkan Indra-
yang bertenaga dahsyat itu telah mendapatkan kekuasaan di
antara para Dewa melalui upacara-upacara yang diselenggara-
kannya dengan disertai mendermalan harta kekayaan berlim-
pah-Iimpah dan karena perbuatannya itulah cita-citanya ter-
kabul. Tetapi, hamba heran, mengapa seekor rubah saja dapat
melontarkan kecaman-kecaman terhadap upacara Kurban Ku-
da yang diselenggarakan oleh maharaja budiman Yudhishthira,

yang didampingi oleh Bhima dan Arjuna. Tiga saudara itu saja
kemampuannya bahkan menandingi para Dewa, baik dalam ke-
makmuran maupun kekuatannya!" Terhadap pertanyaan itu
Waisampayana menjawab sebagai berikut : "Dengarkanlah 0
Raja. Hamba akan menjelaskan suatu kebenaran tentang upa-
cara dan meliputi pahala-pahala yang dihasilkan olehnya. Da-
hulu, pada saat yang tepat, Sakra bermaksud melangsungkan

suatu upacara. Pada saat bagian-bagian dari sajen-sajen ditata
dan dihamparkan, para Ritwijapun sedang sibuk pula menyele-
saikan upacara yang sangat banyak ragamnya. Semua kegiatan
itu dilakukan sesuai dengan pedoman Kitab Suci. Para pendeta
yang bertugas untuk melaksanakan kurban tuangan, sibuk pula
mencurahkan minyak mentega murni ke dalam api suci. Rishi-rishi
utama telah duduk mengelilingi lapangan tempat melangsungkan
upacaraitu. Dewa-dewa dipuja satu persatu, dilakukan oleh para
Brahmana yang bertugas dalam pemujaan Dewa-dewa itu. Pemuja-
an itu dilakukan dengan menguncarkan mantra-mantra yang
tercantum di dalam Kitab Suci pula. Para Adhwaryyu tidak hen-
-ti-hentinya menguncarkan mantram dari Yajurweda dengan
suara lemah lembut. Kemudian tibalah saatnya untuk menyem-
belih khewan-khewan yang akan dikurbankan. Pada waktu khe-
wan-khewan itu dipilih untuk disembelih, paraRishi yang terdiri
dari kelompok Rishi paling utama merasa kasihan melihat bi-
natang-binatang kurban itu. Dengan memancarkan wibawa ke-
kuatan yang didapatkan dari tapa dan Yoga, mereka mengha-

232

dap Sakra dan menyatakan sebagai berikut : "Cara-cara berkur-
ban seperti ini tidak benar! Paduka melakukan upacara, dengan
maksud agar mendapatkan pahala besar! Akan tetapi, tindakan
ini saja sudah cukup membuktikan bahwa paduka belum me-
mahami arti dan hakekat pengurbanan. 0 Purandara, sebenar-
nya tidak ada satupun ajaran yang menyatakan bahwa bina-
tang-binatang harus dibunuh dalam upacara kurban, Upacara
paduka yang sempurna ini, apabila ditambah dengan mengal·ir-
kan darah khewan, semua berkahnya akan menjadi rusak! De-

ngan pembunuhan itu, maka upacara paduka menjadi menyim-
pang dari kebenaran! Pembunuhan mahluk-mahluk tidak per-
nah dapat dikatakan perbuatan Kebenaran! Apabila paduka
berkenan, perintahkanlah kepada para pendeta paduka itu me-
nyelenggarakan upacara berdasarkan Kebenaran Agama. De-
ngan menyelenggarakan upacara berlandaskan peraturan-
peraturan yang benar, paduka akan r*endapatkan berkahnya
yang besar! 0 Dewa yang bermata seribu, lakukanlah pemujaan
dengan mempersembahkan biji-biji dan buah-buahan, seperti
misalnya mempersembahkan gandum yang selama tiga tahun
terakhir ini sudah cukup banyak dikumpulkan. Upacara seperti
inilah yang akan menghasilkan pahala-pahala yang sangat
membahagiakan karena bersumber dari tindakan kebenaran!"

Akan tetapi, Dewa yang berjuluk "penyelenggara seratus kali
upacara kurban" itu, karena didorong oleh perasaan kebang-
gaan dan kekakuan, tidak mau menerima saran-saran yang di-
ajukan oleh para Rishi mulia itu. Terjadilah perdebatan di an-
tara Sakra 'dengan para pertapa itu. Mereka terus memperde-
batkan apakah upacara persembahan itu dilakukan dengan
benda-benda tak bergerak ataukah dengan benda-benda ber-
gerak? Semuanya mengemukakan pendapat dan tetap saja ·ti-
dak didapat persesuaian, sehingga merekapun menjadi letih
karena berdebat. Para Rishi yang sebenarnya lebih mengetahui
tentang kebenaran, antara lain mengajukan pertanyaan se-
bagai berikut ditujukan kepada maharaja Wasu itu : "0 raja
yang diberkati, apakah yang tercantum dalam Weda-weda ber-
kenaan dengan upacara itu? Apakah harus di lalukan dengan
menyembelih binatang ataukah dengan mempersembahkan bi-
'ji-bijian dan air perasan tumbuh-tumbuhan saja?" Dengan ser-
ta-merta maharaja Wasu menjawab tanpa memikirkan betapa
berat akibat dari ketegasan ja~abannya. Sakra tela~ menjawab
sebagai berikut :'''Upacara kurban dapat dilakukan dengan apa
saja yang dikehendaki, dengan binatang atau dengan tumbuh-
tumbuhan, manapun dari keduanya itu cukup tersedia!" Karena
jawabannya itulah dewa Indra jatuh ke alam yang lebih rendah.
Sesungguhnyalah maharaja Chedi yang sakti itu telah jatuh

233

dan mendapat penderitaan karena telah mengumumkan suatu
kaidah yang salah. Demikian itulah sebenarnya! Apabila terjadi
keragu-raguan, tidak seorangpun dapat memutuskan semau-
nya sendiri saja, betapa saktipun dia adanya. terkecuali DIA.
itu Penguasa Mahluk yang maha bijaksana itu sendiri! Persembah-
an dan pemberian yang dilakukan oleh orang berdosa dan kacau
pengertiannya, meskipun persembahannya itu sangat tinggi nilai
dan besar jumlahnya, pastilah tidak berharga nilai berkahnya. Per-
sembahan seperti itu akan sia-sia! Persembahan yang dilakukan
oleh orang tingkah lakun'ya tidak benar, berdosa dan perusak,

tidak akan membuahkan nama besar, baik di dunia ini maupun
di alam yang akan datang. Orang bodoh yang ingin mendapat-
kan berkah besar, melakukan upacara-upacara dengan meng-
gunakan kekayaan yang didapatkan melalui kecurangan dan
penipuan, maka orang seperti itu tidak akan pernah menikmati
berkah upacara-upac'ra yang diselenggarakannya itu. Orang
culas dan berdosa itu, yang dengan munafik mengenakan se-
lubung kebenaran dan melakukan persembahan kepada para
Brahmana, akan mampu mengelabui masyarakat di sekitarnya,

betapa ia sudah berbuat kebenaran, tetapi ia tidak akan pernah
menerima berkah yang sesungguhnya. Para Brahmana yang ,ti-
dak berdisiplin dan tingkah lakunya tidak terkendali, yang men-
dapatkan kekayaan dengan jalan, menipu, diliputi nafsu dan ke-
sombongan, pada akhirnya akan mencapai keakhiran sebagai-
mana layaknya orang berd'osa! Seseorang yang didorong oleh
nafsu kemilikan dan kekerasan, pasti akan berhasil mengum-
pulkan kekayaan seberapa besarpun menurut keinginannya, te-
tapi bersamaan dengan itu, iapun menyiksa kehidup~n orang-
orang atau mahluk-mahluk lain. la itu telah didorong oleh pengerti-
annya yang kotor dan penuh dosa. Orang yang mengumpul-
kan kekayaan dengan cara seperti itu, apabila melakukan upa-
cara serta mendermakan harta, tidak akan menerima berkah da-
ri semua kegiatanny'a itu. Orang kaya berkat kekuatan hasil tapa
yang benar, apabila berkehendak melakukan upacara persem-
bahan, seberapapun saja menu rut kemampuannya, berupa
gand,um ataukah umbi-umbian dan buah-buahan, bunga-
bunga, air atau daun-daunan, bahkan berupa apapun, pastilah
ia akan mendapatkan berkah dan akhirnya mencapai alam Sur-
ga yang dicita-citakan! Persembahan dan pemberian yang nam-
.paknya 'sederhana itu, penuh dengan kebenaran, dan itu saja-
pun sudah sama nilainya dengan tapa-brata tingkat yang paling
tinggi. Persembahan separti itu, seperti juga kasih sayang terhadap
sesama mahluk, menjalankan kehidupan Brahmacharyya, ber-
bicara hanya kebenaran, baik hati, iman yang teguh, pemaaf
dan pengampun, semuanya itu merupakan dasar-dasar kekal

234

dari Kebenaran dan Keadilan yang abadi! Kita semua sudah
pula mendengar ceritera tentangj Wiswamitra dan raja-raja lain
yang telah hidup di jaman dahulu, antara lain: Wiswamitra sen-
diri, Asita, Janaka, Kakshasena, Arstisena dan raja Sindhudwipa
semua raja-raja itu dan banyaklagi yang lain, memiliki kekuatan
tapa-brata, melakukan persembahan yang terdiri dari benda
dan bahan yang didapatkan dengan jalan kebenaran dan ke~
jujuran, dan semuanya mencapai cita-citanya dengan gemi-
lang! Semua orang, baik ia Brahmana, Kshatriya, Waisya dan

Sudra melakukan Yoga dan tapa-brata, membersihkan dirinya
dengan Kedermawanan, dan melakuan kegiatan yang oerlan-
daskan kebenaran, pasti akan mencapai alam yang kekal dan

abadi serta penuh kebahagiaan itu!".

XCII. "0 Rishi yang mulia, apabila Surga itu adalah pahala bagi

persembahan dengan kekayaantyang didapatkan secara jujur,

tentulah paduka mengetahui pula sebab-sebabnya. Jelaskan-

lah hal itu kepada hamba. Paduka telah memahami segala-gala-

nya, karena itu hamba mohon penjelasan itu. 0 pendeta, paduka

telah menceriterakan kepada hamba suatu berkah tinggi yang

dieapai oleh Brahmana pertapa yang menuntut kehidtlpan tapa·

Unecha, dan meneapai alam tertinggi dengan persembahan

yang hanya terdiri "dari air dan empat mangkuk keeil tepung

gandum. Hamba pereaya bahwa semuanya yang paduka kata-

kan itu benar adanya! Tetapi dengan eara bagaimanakah kita

dapatmeyakinkan diri bahwa upaeara atau kegiatan tapa-brata

itu dapat menghasilkan berkah yang dieita-eitakan itu? 0 pen-

deta utama, hamba mohon penjelasan paduka!"

Waisampayana menjawab : "Dengarkanlah sebuah eeritera

kuna yang mungkin ada hubungannya dengan masalah yang

paduka tanyakan itu. Ceritera ini tentang kejadian yang terjadi

dalam suatu upaeara yang diselenggarakan oleh Agastya yang

sakti itu. Pada jaman dahulu 0 raja, Agastya yang bertenaga

hebat, selamanya berusaha membantu dan menyelamatkan se-

mua mahluk. Untuk memantapkan eita-eitanya, Rishi besar itu

melakukan upaeara penyueian diri yang disebut Diksha. Upaca-

ra penyueian itu berlangsung selama duabelas tahun. Dalam
upaeara itu ba:~yak~ekali para Hotri yang sudah meneapai ke-

sempurnaan jasmllni dan rohani telah ditugaskan. Dari antara

para Hotri itu terdapat pertapa-pertapa yang hanya menunjang

kehidupannya dengan memakan buah-buahan saja atau de-

ngan umbi-umbian. Ada pula yang menggiling tepung gandum-

nya sendiri hanya dengan alat dua keping batu saja, dan bahkan

ada yang hanya mengandalkan sinar bulan saja untuk hidupnya

itu. Terdapat pula dari antara mereka yang tidak makan sama

235

sekali, terkecuali orang datang kepadanya dan meletakkan ma-
kanan di hadapannya serta mohon dengan hormat agar dima-
kan persembahannya itu. Kebanyakan dari antara mereka me-
mang tidak akan menyentuh makanan itu sebelum melakukan
persembahan kepada Dewa-dewa, para Pitri dan tamu-tamu.

Ada sebagian yang lain yang tidak pernah mencuci makanan
apa sajapun yang dimakannya. Di sana telah berkumpul para
Yati dan Bikshu. Semua mereka itu pertapa-pertapa yang sudah
menyadari Kebenaran Dharma, sudah melihat Sanghyang
Dharma sendiri dalam perwujudan manusiawinya. Mereka 5U-
dah menindas kemarahan dan sudah menguasai sepenuhnya

gejolak panca indranya. Dengan mengendalikan diri, mereka-
pun sudah terbebas dari perasaan bangga, sombong dan me-
nyakiti mahluk lain. Tingkah lakunya berlandaskan kesucian
fikiran dan dalam setiap kiQiatan mereka, tidak pernah digang-
gu oleh gejolak nafsu dan keinginan indriya! Demikianlah para
pertapa besar itu hadir dalam upacara Agastya itu, masing-ma-
sing sibuk menjalankan tugasnya untuk menyempurnakan upa-
cara Diksha bagi Agastya. Rishi Agastya itupun berusaha de-
ngan sekuat tenaganya mengumpulkan bahan makanan, de-
ngan sejujur-jujurnya, agar upacara itu dapat berlangsung se-
bagaimana mestinya. Pada saat itu, banyak pula pertapa-per-
tapa yang lain menyelenggarakan upacara untuk kepentingan
mereka sendiri. Tetapi yang menjadi masalah terbesar pada
waktu itu adalah Indra yang menyinarkan seribu mata itu telah
menghentikan sama sekali curahan hujan yang sangat dipedu-
kan oleh tanam-tanaman untuk dapat tumbuh dan menghasil-
kan. Maka terjadilan percakapan di antara pertapa sebagai be-
rikut : "Agastya ini melangsungkan upacara besar-besaran
yang membutuhkan banyak sekali bahan makanan untuk diper-
sembahkan dan disuguhkan. la melakukan upacara ini dengan
menindas segala kesombongan hatinya, sungguh ia telah me-
nunjukkan kerendahan hatinya yang luar biasa. Tetapi malang,
sepanjang tahun dan sudah berjalan bertahun-tahun tidak per-
nah turun hujan lagi. Bagaimana mungkin dapat mencukupi
kebutuhan makanan untuk kepentingan penyelenggaraan upa-
cara itu? Sedangkan upacara ini merupakan upacara besar
yang akan berlangsung selama duabelas tahun. Dewa Indra itu
rupa-rupanya tidak akan menurunkan hujannya selama duabe-
las tahun ini. Karena itu. marilah kita membantu Rishi besar
Agastya. yang cerdas dan sakti ini!" Setelah Agastya menge-
tahui bahwa para pertapa itu dengan hati yang tulus ikhlas ber~
kehendak membantunya, beliau mencakupkan tangan dan de-
ngan kepala tunduk penuh hormat mengucapkan kata-kata be-
rikut : "Apabila sesungguhnyalah Wasawa tidak berkenan men-

236

curahkan hujan selama dua belas tahun ini, b;arlah hamba me-
langsungkan upacara ini dalam bentuk yang lain, yaitu melaku-
kan upacara dengan melatih fikiran. Karena sesungguhnya,
upacara melatih fikiran itulah yang sesuai dengan hukum Ke-
kekalan Hamba akan melakukan upacara Sentuhan, karena
upacara itupun sesuaidengan Kekekalan. Atau barangkali ham-
ba harus berhenti bergerak, menghentikan segala usaha, dan
mempersiapkan diri untuk menyelenggarakan upacara bentuk
lain yang ditandai dengan pelaksanaan ikrar dan sumpah yang
paling sukar dilaksanakan. Upacara yang hamba selenggara-
kan pada saat ini, dengan mempersembahkan biji-biji dan
umbi-umbian itu, sudah hamba persiapkan bertahun-tahun la-
manya, melalui masa dan musim yang telah lewat. Dengan biji-
bijian ini hamba sudah melakukan banyak kebaikan. Semoga
untuk selanjutnya, tidak banyak menemukan rintangan. Upaca-
ra yang hamba langsungkan iniiidak boleh terputus di tengah
jalan. Sesungguhnya, hamba sudah mempersiapkan diri lama
sebelumnya. Karena itu, ada dan tidaknya hujan, bagi hamba
tidak menjadi soal. Sesungguhnya, hamba sendiri sudah mem-
punyai suatu niat, yaitu, apabila Indra, tidak sudi memandang
diri hamba, dan selama duabelas tahuh ini tidak mencurahkan
hujan atas kemauan sendiri, maka dengan segala kemampuan
yang ada pada diri ~am~a, akan menjadikan diri hamba seperti
Indra, yaitu akan menunjang kehidupan seluruh mahluk di Du-
nia ini. Mahluk apapun adanya, dan apapun jenis makanan yang
biasanya telah menghidupkannya, akan terus hidup dengan men-
dapatkan makanannya sebagaimana biasanya. Bahkan dengan
pengetahuan yang hamba miliki sekarang ini, hambapun mam-
pu menciptakan jenis-jenis mahluk dan tumbuh-tumbuhan
yang sama sekali baru. Baik, sekarang, biarlah emas dan apa-
pun juga jenis kekayaan yang lain, biarlah mengalir ke tempat
ini hari ini! Biarlah kekayaan yang berasal dari. Tiga dunia, da-
tang sendiri ke tempat ini mulai hari ini. Biarlah para Apsara,
Gandharwa, para Kinnara dan Wiswawasu datang meramaikan
upacara hamba ini! Biarlah kekayaan' yang berada di wilayah
Kuru Utara mengalir sendiri ke tempat ini. Biarlah Surga dan
semua mereka yang bermukim di sana dengan Sanghyang
Dharma sendiri turun hari ini menyaksikan upacara hamba ini!"

S~telah pertapa yang sakti itu mengucapkan kata-kata itu, ke-
ajaiban besarterjadi! Segala-galanya yang diucapkan itu benar-
benar menjadi kenyataan, karena sebenarnyalah Agastya itu
memiliki semangat yang berkobar-kobar bagaikan api yang
. membakar angkasa dan tenaganya sungguh luar biasa hebat-
nya! Para Rishi dan pertapa yang berada di tempat itu semua-
nya bergembira namun masih diliputi keheranan lalu menya-

237

takan sebagai berikut : "Sungguh kami semua sangat berbaha-
gia men'dengarkan ucapan paduka tadi itu. Tetapi kami tidak
pula mengharapkan kekuatan tapa dan Yoga paduka menjadi
pudar karenanya. S,mua jenis upacara yang paduka sebutkan
itu memang sangat patut dan kamipun setuju sepenuhnya.

Mencari makanan dengan jujur dan mentaati kewajiban masing-ma-
sing, kita akan terus melanjutkan upacara penyucian ini, menuang-
kan kurban tuangan ke dalam api suci serta melakukan upacara-
upacara lain. Kita memuja Dewa yang menjadi pujaan semua mah-
luk, dan menjalankan kehidupan Brahmacharyya dengan sejujur-
jujurnya. Setelah melakukan kehidupan Brahmacharyya itu,
kita kembali ke tempat masing-masing untuk melangsungkan
kehidupan dengan cara-cara kebenaran. Pengertian yang ter-
bebas dari ~einginan menyakiti orang lain itulah yang kami se-
tujui dan anjurkan untuk dilaksanakan. Paduka 0 Agastya yang
sakti, harus selamanya rtembebaskan diri dari tindakan-ttn-
dakan yang menyakiti mahluk-mahluk lain selama upacara
yang manapun juga sedang dilangsungkan. Dengan demikian
kamipun akan sangat puas. Setelah upacara paduka ini sele-
sai dilaksanakan, setelah paduka memperkenankan, kami akan
meninggalkan tempat ini menuju tujuan masing-masing!" Pada
saat para pertapa itu baru saja selesai mengucapkan kata-kata-
nya itu, Purandara, maharaja dewata yang bertenaga petir itu,
yang sudah melihat kesaktian Agastya, lalu mencurahkan hu-
jan. Dan sesungguhnyalah, sampai upacara berakhir, selama
duabelas tahun itu, hujan selalu turun tepat pada waktunya
serta pada saat-saat yang paling dibutuhkan, sesuai dengan ke-
inginan maharishi Agastya yang sakti itu. Dan dengan didahu-
lui oleh Wrihaspati, maharaja dewata itu datang ke tempat upa-
cara untuk memuliakan Rishi Agastya. Setelah upacara itu bera-
khir, dengan sangat berbahagia, Agastya menghormat kehadap-
an para pendeta dan pertapa itu serta memperkenankan mereka
pergi meninggalkan tempat upacara.

Janamejaya bertanya : "0 Maharishi, siapakah rubah yang
kepalanya berbulu keemasan yang telah mengucapkan kata~
kata seperti manusia itu? Wahai Rishi yang mulia, ceriterakan-
lah kepada hamba!"

Waisampayana menjawab : "Paduka tadi tidak menanya-
kan siapa rubah itu sebenarnya, karena itu hamba tidak men-
ceriterakannya. Dengarkanlah ceritera hamba tentang rubah
yang dapat berbicara itu. Pada jaman dahulu Rishi Jamadagni
berkehendak melakukan upacara Sraddha. Sapi Homa telah
datang mendekat, dan Rishi itu mem~rah susu sapi itu sendiri.
Seliau menampung air susu itu dengan tempayan baru, kuat
dan bersih. Pada saat itu, Sanghyang Dhe,rma turun dan menjel-

238

ma menjadi getaran nafsu kemarahan dan menyelinap masuk
ke dalam tempayan penampung susu itu. Sebenarnyalah Sang-
hyang Dharma itu ingin menguji keteguhan iman Rishi utama
itu. Dharma lalu menumpahkan susu yang baru ditampung itu.
Tetapi Rishi Jamadagni mengetahui bahwa susu itu tumpah ka-
rena kemarahan. Rishi itu sama sekali tidak marah kepadanya.
Marah yangl mempunyai kemampuan berubah wujud itu lalu
merubah wujudnya menjadi seorang wanita. dari golongan
Brahmana dan memperlihatkan diri kepada Rishi Jamadagni
keturunan Bhrigu yang termashur itu. Marah, sebagai wanita
Brahmana menggoda Jamadagni dengan Gerak-gerik yang
manja seraya berkata sebagai berikut : "Wahai maharishi ke-
turunan Bhrigu nan utama! Hamba ini benar-benar takluk dan

menyerah kehadapan paduka. Orang semua mengenal bahwa
kaum priya bangsa Bhrigu sanga~pemarah,tetapi hari ini ham-
ba telah membuktikan bahwa mereka itu mempunyai anggapan
yang kelir.u' Hamba tunduk benar-benar kehadapan paduka!
Paduka ternyata seorang sakti yang berbudi luhur. Paduka se-
orang pengampun. Hamba berdiri sekarang di sini untuk me-
. nyerahkan diri hamba kehadapan paduka! Hamba takut kepada
kekuatan Yoga paduka 0 pendeta suei! Tolonglah hamba 0
Rishi nan sakti "

Jamadagni' menjawab : "Wahai Marah, aku melihat per-
wujudanmu yang sebenarnya! Pergilah sesuka hatimu : "Ja-
ngan khawatir, kamu tidak berbuat sesuatu' yang menyakit-
kan diriku hari ini. Karena itu akupun tidak benci kepada dirimu.
Tetapl. susu yang kutampung ini sebenarnya untuk kupersem-
bahkan kehadapan para Pitri yang sangat kumuliakan. Pergilah
ke sana dan dapatkan pendapat mereka tentang kejadian ini!"
Setelah mendengar u apan Rishi yang sakti itu, dengan tubuh
gemetar ketakutan Marah lenyap dari peman-dangan dan lang-
sung menghadap para Pitri yang ditunjukkan tadi. Dihadapan
para Pitri itu ia dikutuk menjadi seekor rubah. la selalu memuja
dan meladeni para Pitri agar kutukan itu segera dipunahkan.
Setelah menjelma menjadi seekor rubah itu, para Pitri menyata-
kan sebagai berikut : "Engkau harus menghadiri setiap upaeara
yang dilakukan, terutama yang diselenggarakan untuk menyu-
eikan diri dari dosa-dosa! Upaeara yang benar akan mampu
membersihkan dirimu itu. Tetapi yang paling penting, ucapkan-
lah kebenaran di hadapan Dharma sendiri, ueapkan kebenaran
itu dengan mencelanya! Kapan hal itu terjadi, maka terbebaslah
kamu dari kutukan ini!"

Demikianlah, maka mulai saat itu, rubah itu mengembara
ke seluruh penjuru dunia mengunjungi tempat-tempat di mana
saja upacara penyucian sedang dilangsungkan. lapun men-

239

dapat tugas untuk melancarkan kecaman-kecaman terhadap
upacara yang diselenggarakan tidak berlandaskan kebenaran.
Dia itulah yang telah muncul di hadapan Yudhishthira dan para
Brahmana, serta mengecam upacara besar yang diselenggara-
kan oleh Yudhishthira putra Dharma itu, membandingkan ber-
kahnya dengan persembahan satu prastha tepung gandum
yanq disuquhkan oleh Brahmana pertapa Unccha di Kurukshe-
tra itu. Pada saat itulah Marah baru terbebas dari kutukanl
para Pitri karena Yudhishthira itu tidak lain dari Dharma itu sendiri
yang telah dikecam oleh rubah itu di hadapan para raja dan para
Brahmana. Itulah sebabnya, di sana dan pada saat itu juga,
rubah yang aneh itu telah lenyap dari pemandangan !

Aswamedha Parwa Selesai! t·

240

(

/

.r

..



(

I PENERBIT PT. MABHAKTI·

.;

,

•I


Click to View FlipBook Version