The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by , 2015-12-21 12:32:34

free2

free2

Raster Ada informasi Ya
koordinat?
Dapat ditambahkan Add ke ArcMap
ke ArcMap? No
Ya

No

Dapat dibuka Ekspor ke format Georeference
software lain? Ya yang disupport
Digunakan pada
ArcGIS ArcMap

No

.
Gambar 6-60 Skema input data raster pada ArcMap

Data raster yang di-input ke ArcMap dapat diolah lebih lanjut misalnya dengan
analisis spasial atau digitasi.

6.9.3 Input tipe data vektor

Data tipe vektor adalah data dengan format titik, garis dan bidang yang tersusun
atas kombinasi atau salah satu dari titik, garis dan bidang. Beberapa format lain
yang biasa digunakan adalah .tab, .dxf, .dwg, .pdf, .cdr, .ai, dan sebagainya.

Skema penanganan data format lain untuk dijadikan input data vektor ke ArcGIS
Desktop dapat digambarkan dengan gambar berikut.

234 Pemetaan dan Visualisasi

Vektor Ada informasi Y
koordinat?
Add ke ArcMap
N

Dapat ditambahkan Y Format vektor
ke ArcMap? (dxf, shp, dll)

N Ekspor ke format Spatial
yang disupport adjustmen
ArcGIS
Dapat dibuka Y
software lain yang
dimiliki? Ditampilkan di
ArcMap
N

Gambar 6-61 Skema input data vektor pada ArcMap

6.9.4 Input dengan Data Interoperability

Data Interoperability adalah ekstensi tambahan ArcGIS yang memungkinkan
pengguna melakukan impor, ekspor bahkan editing langsung format data lain.
Pengguna dapat melakukan instalasi ekstensi Data Interoperability dan
menggunakannya untuk melakukan konversi dan edit format data lain selain data
ESRI. Namun ekstensi ini tidak secara default dipasang dengan ArcGIS 10
sehingga penggunaannya tidak dibahas lebih lanjut di dalam buku ini.

6.10. Input data vektor format PDF (studi kasus)

Studi kasus yang ditampilkan pada bagian ini adalah studi kasus input data vektor
dengan format Adobe PDF (Portable Document Format). Banyak sekali lembaga
yang mempublikasikan data spasial dalam format PDF sehingga menjadi suatu
kesempatan bagi pengguna ArcGIS untuk menjadikan PDF sebagai salah satu
input data.

Format PDF sangat populer digunakan sebagai salah satu tempat menyimpan
layout siap cetak.. Meskipun format PDF dapat menyimpan format raster dan

Bab 6 Input Data 235

vektor, dalam studi kasus ini file PDF yang digunakan hanya dalam format
vektor.
Data PDF yang digunakan dalam studi kasus ini adalah data Peta Rencana Pola
Ruang Kota Bogor yang merupakan bagian dari Rencana Tata Ruang Wilayah
(RTRW) Kota Bogor Tahun 2011-2031. Data tersebut juga digunakan dalam
bahasan pada bab-bab selanjutnya.
6.10.1 Download data PDF
Data PDF sering dibagikan secara bebas oleh beberapa lembaga. Untuk studi
kasus ini, file PDF dapat di-download pada website Badan Perencanaan
Pembangunan Daerah Kota Bogor di alamat http://bappeda.kotabogor.go.id/.
Buka menu Dokumen Perencanaan > RTRW. Download Peta Rencana Pola
Ruang Kabupaten Bogor. Sebagai alternatif, penulis sudah menyertakan file
tersebut yang terletak pada C:\x1data\db\bogor\petarencanapolaruang.pdf yang
berisi beberapa layer vektor seperti tampak pada Gambar 6-62.

Gambar 6-62 Layer data PDF pada peta rencana pola ruang Kota Bogor 2011 – 2031

236 Pemetaan dan Visualisasi

File PDF tersebut dibuat dalam format vektor sehingga dapat dengan mudah
dijadikan input data spasial dalam format vektor, tanpa harus menjadi format
image terlebih dahulu.

6.10.2 Konversi format PDF ke DXF

Data vektor dalam format PDF sejauh ini belum dapat ditambahkan langsung ke
ArcMap. Seperti telah dibahas pada Gambar 6-61 (halaman 235) dapat dilihat
bahwa untuk format yang tidak didukung oleh ArcMap, pengguna harus
melakukan konversi ke format yang didukung oleh ArcMap, misalnya ke format
DXF. Sebagai contoh, penulis menggunakan software Inkscape untuk
mengonversi file PDF petarencanapolaruang.pdf menjadi format DXF seperti
tampak pada Gambar 6-63 dengan tahapan berikut.

Download dan instal Inkscape dari alamat www.inkscape.org
Buka file petarencanapolaruang.pdf dengan Inkscape. Pada PDF Import
Settings, biarkan saja pilihan default.
Setelah PDF dibuka dengan Inkscape, Klik pada menu File > Save to untuk
mengekspor data
Tentukan nama file keluaran dan format file DXF
Klik Save untuk menjalankan konversi format
Pada pilihan Desktop Cutting Plotter, biarkan semua pilihan default.
Klik OK

Bab 6 Input Data 237

Gambar 6-63 Konversi file PDF (vektor) ke format DXF dengan InkScape

Banyak sekali software yang dapat melakukan konversi PDF ke DXF. Silakan
gunakan software yang menurut pembaca lebih nyaman digunakan.
6.10.3 Menambahkan file DXF ke ArcMap
File PDF yang sudah dikonversi ke format DXF dapat ditambahkan ke ArcMap.
Menambahkan file DXF dapat langsung ditambahkan seperti menambahkan data
dengan format SHP seperti telah dibahas pada halaman 76. File DXF yang
ditambahkan ke ArcMap akan tampak seperti pada gambar berikut.

238 Pemetaan dan Visualisasi

Gambar 6-64 File format DXF dari pola ruang Kab. Bogor

Sebagaimana terlihat pada Gambar 6-64 bahwa format DXF yang ditambahkan
ke ArcMap akan terdiri dari beberapa layer, yaitu anotasi, point, polyline,
polygon dan multipatch.

6.10.4 Georeferensi data DXF

Data DXF hasil konversi sebelumnya tidak memiliki referensi spasial. Umumnya
data dengan format DXF, terlebih hasil konversi dari format PDF, hanya
memiliki sistem koordinat layout/kertas dikarenakan format PDF umumnya
dibuat dari layout . Oleh karena itu, diperlukan georeferensi terhadap data DXF
tersebut. Georeferensi data vektor serupa dengan georeferensi data raster yang
sudah dibahas pada bahasan sebelumnya (halaman 155).

Georeferensi data vektor (format DXF) hasil konversi dari data PDF dari peta
Peta Rencana Pola Ruang Kota Bogor dapat dilakukan seperti langkah-langkah
berikut.

Aktifkan tool Georeferencing
Set Data Frame layer di TOC ke sistem koordinat Geografis (WGS 1984).
Sistem koordinat tersebut dipilih sesuai dengan grid dominan yang terdapat
pada Peta format PDF/DXF.

Bab 6 Input Data 239

Dengan menggunakan software PDF Viewer (bukan dengan ArcMap), buka
file petarencanapolaruang.pdf untuk dijadikan sebagai referensi pembacaan
koordinat, sehingga pada desktop terdapat dua software aktif, yaitu ArcMap
dan PDF Viewer (Acrobat reader, Foxit reader, dsb).
Set target pada toolbar Georeferencing adalah petarencanapolaruang.dxf
Polyline
Lakukan georeferensi terhadap dua buah titik yang sebaiknya menyebar
diagonal, misal pojok kiri-atas dan pojok kanan-bawah. Gunakan koordinat
yang tercantum pada file petarencanapolaruang.pdf.
Sebagai contoh untuk grid koordinat pojok kiri-atas adalah menggunakan
koordinat 106o 45’ 0” BT dan 6o 32’ 30” LS.
Setelah minimal dua titik dibuat, Klik pada menu Georeferencing > Update
Georeferencing. Langkah ini akan menyimpan satu file georeferensi world
(WLD) yang menyertai file DXF.

Gambar 6-65 Georeferensi data DXF pada ArcMap

Lakukan supervisi apakah hasil georeferensi sudah memuaskan atau belum
dengan data referensi tambahan. Untuk melakukan koreksi pada studi kasus
ini dapat digunakan file citra satelit Kota Bogor yang terdapat pada folder
C:\x1data\db\bogor\bogor.tif. Seperti terlihat pada Gambar 6-66, tampak

240 Pemetaan dan Visualisasi

bahwa hasil georeferensi data DXF sudah cukup memasukan sehingga dapat
melanjutkan ke tahapan berikutnya.

Gambar 6-66 Overlay hasil georeferensi dengan citra pembanding pada daerah sekitar Istana
Bogor

6.10.5 Konversi file DXF ke format ArcMap

Data DXF yang sudah digeoreferensi harus dikonversi ke format yang secara
penuh didukung oleh ArcGIS Desktop, yaitu shapefile atau geodatabase. Proses
konversi dilakukan satu per satu terhadap layer yang terdapat pada data DXF.
Seperti tampak pada Gambar 6-64, data DXF memiliki 5 (lima) buah layer yang
jika dikonversi ke shapefile maka setiap layer akan menjadi satu shapefile
terpisah.

Konversi file DXF (yang sudah memiliki georeferensi) ke format shapefile dapat
dilakukan dengan langkah berikut.

Klik kanan di atas salah satu layer, misal petarencanapolaruang.dxf Polyline.
Pilih Data
Pilih Export Data
Simpan di folder tertentu. Untuk referensi, penulis sudah membuat data hasil
konversi di C:\x1data\bab06\petarencanapolaruang.shp

Bab 6 Input Data 241

Gambar 6-67 Konversi file DXF ke format shapefile

Data dalam format shapefile sebagai hasil dari langkah-langkah di atas hanya
dalam bentuk point, tidak terdapat data polygon sehingga masih perlu dilakukan
pengaturan lebih lanjut pada bahasan berikutnya.

6.10.6 Pemisahan fitur

Perlu dipahami bahwa format vektor lain tidak memiliki struktur yang sama
dengan ArcGIS. Data vektor dalam format PDF dari file
petarencanapolaruang.pdf tidak mengakomodasi fitur-fitur yang terdapat pada
data asli, melainkan hanya berdasarkan pada perintah print (plotting) saat proses
pembuatan file PDF dari layout. Oleh karena itu, fitur yang ‘seharusnya’ adalah
polygon, bisa berupa polyline. Begitu pula dengan format DXF yang merupakan
standar format Autocad dapat menampilkan fitur yang seharusnya polygon
menjadi polyline saja.

Pengguna perlu melakukan pemisahan fitur-fitur ke dalam kategori (layer) batas
administrasi, jalan, sungai, danau, SUTT, rel kereta api, dan kawasan-kawasan.
Memahami isi dari file petarencanapolaruang.pdf sangat penting dalam
pemisahan fitur ini.

Overview dan supervisi terhadap data DXF sebelum dikonversi ke shapefile
sangat penting dalam proses pemisahan fitur ini yang dapat dilakukan seperti
berikut.

242 Pemetaan dan Visualisasi

Aktifkan hanya satu kategori symbology untuk mereview fitur yang diwakili
oleh symbol yang bersangkutan. Symbology yang lain dapat diberi warna No
Color. Lakukan satu per satu terhadap setiap kategori symbol.
Bandingkan setiap kategori symbol dengan tampilan data frame. Catat nama
kategori dan isikan fitur yang diwakili, misalnya CONTINUOUS, 7, 25 adalah
batas wilayah ruang, CONTINUOUS, 1, 25 adalah jalan, dan sebagainya.
Buka shapefile hasil konversi pada Gambar 6-67 dan cek data atribut yang
menyertainya. Bandingkan field Linetype, Color dan LineWt dengan langkah
2 di atas.
Pisahkan fitur yang memiliki atribut yang sama (Linetype, Color dan LineWt)
menjadi shapefile terpisah. Pilih tabel dengan atribut yang sama kemudian
ekspor ke file shapefile yang baru.

Proses import file PDF ke fitur menggunakan ArcMap memerlukan ketelitian dan
latihan. Penulis sudah mencoba melakukan konversi tersebut dengan hasil pada
C:\x1data\db\bogor\kotabogor.gdb

Catatan: Input data sangat penting dalam GIS karena input data merupakan
tahapan awal dari proses lanjutan. Semua operasi GIS tergantung kepada data
yang digunakan. Sebuah istilah yang sangat populer adalah Garbage in,
garbage out (GIGO). Seberapa canggihnya analisa dan penyajian data, apabila
kualitas input data adalah kualitas sampah, maka hasilnya pun sampah. Aspek
akurasi patut diperhatikan dalam melakukan input data. Meskipun secara teori
pengguna tidak mungkin menghilangkan error, namun meminimalkan error
yang dapat dihindarkan adalah suatu keharusan. Review dan cek and ricek
selama proses input data harus dilakukan. Perbaikan data setelah data tersebut
digunakan analisa akan sangat menggangu keseluruhan proses GIS. Histori
data perlu diperhatikan. Histori menyangkut siapa yang melakukan input,
metode apa yang digunakan, sumber data dari mana, dan sebagainya. Histori
data saat melakukan input dapat dimasukan ke dalam metadata ataupun dalam
file catatan (TXT) yang disertakan pada shapefile.

Bab 6 Input Data 243

Bab 7. Edit Fitur

Bab ini berisi beberapa sub-bab sebagai berikut: Pemetaan dan Visualisasi

Membuat fitur baru
Kekhususan editing pada ArcMap
Tool penting editing
Sesi editing
Edit point
Edit polyline dan polygon
Selection
Konversi multi-part ke single-part
Topology
Ekspor fitur
Editing fitur lebih lanjut

244

Bab 7. Edit Fitur

Bab ini berisi beberapa sub-bab sebagai berikut: Pemetaan dan Visualisasi

Membuat fitur baru
Kekhususan editing pada ArcMap
Tool penting editing
Sesi editing
Edit point
Edit polyline dan polygon
Selection
Konversi multi-part ke single-part
Topology
Ekspor fitur
Editing fitur lebih lanjut

244

Bab 8. Tabel dan Query

Bab ini membahas tentang penggunaan tabel dan query dalam mengelola data
atribut. Software ArcGIS Desktop yang digunakan adalah ArcMap. Sub bahasan
dari bab ini adalah sebagai berikut:

Tabel atribut
Membuka tabel
Field
Edit tabel
Atribut geometri fitur
Field calculator
Export atribut
Query
Menggabungkan dua tabel

306 Pemetaan dan Visualisasi

Bab 9. Grafik dan Pelaporan

Bab ini berisi beberapa sub-bab sebagai berikut: Pemetaan dan Visualisasi

Tentang grafik dan pelaporan
Query untuk grafik dan pelaporan
Grafik
Pelaporan dengan summary
Pelaporan dengan report

350

Bab 10. Geodatabase

Bab ini membahas penggunaan data spasial dalam format geodatabase dengan
beberapa sub-bahasan sebagai berikut:

Struktur fitur
Struktur raster
Struktur tabel
Pembuatan geodatabase
Pembuatan fitur
Pembuatan raster
Layer file dan geodatabase
Anotasi
Cek kualitas data
Edit geodatabase
Topology

390 Pemetaan

Bab 11. Edit Fitur Lanjutan

Bab ini berisi beberapa sub-bab sebagai berikut: Pemetaan

Advanced editing
COGO
Network analyst
Parcel editor
Representation
Spatial adjustment
Kualitas data spasial

422

Bab 12. Symbology

Bab ini berisi beberapa sub-bab sebagai berikut: Pemetaan

Mengakses symbology dan symbol selector
Symbology sederhana
Symbology lebih lanjut
Symbology by category
Symbology by quantity
Symbology by chart
Symbology by multiple attributes
Style references
Menggunakan heading pada symbol
Representation
Style manager
Lebih lanjut dengan pengaturan symbol
Penyesuaian symbol
Representation
Style manager
Membuat symbol marker
File layer
Import symbol

498
































































Click to View FlipBook Version