Gambar 6-25 Penambahan sel baru untuk menyambungkan fitur yang terputus
Image yang bersih sebagai hasil penghilangan noise dan penambahan sel baru
hasil Raster Painting akan tampak seperti pada gambar berikut.
Gambar 6-26 Image yang sudah di-raster painting
184 Pemetaan dan Visualisasi
Catatan: Tidak semua sel yang ‘tidak berguna’ harus dihilangkan dari data
raster yang akan di-vektorisasi. Sebagai contoh, apabila data raster belum di-
georeferensi, beberapa fitur yang sangat berguna seperti tick-mark dari sistem
koordinat dapat dibiarkan untuk proses Spatial Adjustment dari data vektor
yang dihasilkan. Jika pengguna lebih terbiasa menggunakan perangkat lunak
pengolah image (Photoshop, Photopaint, GIMP, dsb), proses raster painting
dapat dilakukan pada software pengolah image tersebut. Penghilangan noise
dan atau penambahan sel-sel baru hanya bersifat opsional. Pengguna dapat
melakukan pembersihan terhadap fitur2 yang dihasilkan setelah proses
konversi dengan melakukan editing pada data vektor yang dihasilkan.
Vektorisasi otomatis
Vektorisasi otomatis dapat dijalankan tanpa harus menunggu membersihkan
image (halaman 180). Pengguna dapat melakukan pembersihan fitur setelah fitur
tersebut menjadi data vektor hasil dari proses vektorisasi.
Vektorisasi otomatis dapat dilakukan seperti pada langkah-langkah berikut.
Lakukan tahapan pembersihan image jika diperlukan dengan Raster Painting
(hal 180) ataupun software pengolah image eksternal.
Buka project bab06-03-03-02.mxd
Jalankan sesi editing
Jalankan menu Vectorization > Show Preview untuk melihat perkiraan
tampilan dari hasil vektorisasi.
Lakukan navigasi (zoom/pan) ke fitur yang dihasilkan. Jika hasilnya kurang
memuaskan, lakukan kembali Raster Painting untuk melakukan editing sel-
sel yang kurang bersih. Klik kembali Show Preview untuk mematikan
prakiraan tampilan dan menghapus data vektor sementara.
Bab 6 Input Data 185
Gambar 6-27 Preview pada vektorisasi
Jika raster painting dan preview sudah baik, tahapan selanjutnya adalah
menjalankan vektorisasi otomatis sebagai berikut.
Klik pada menu Vectorization > Generate Features
Pilih (biarkan) layer bogor_oto sebagai target, Klik OK
Pada layer bogor_oto akan secara otomatis dibuat fitur line sebagai hasil
vektorisasi
Stop sesi editing untuk menyimpan vektor yang dihasilkan
Gambar 6-28 Vektorisasi otomatis dari data raster yang sudah di-raster-painting dan preview
186 Pemetaan dan Visualisasi
Catatan: Kualitas dari vektorisasi otomatis sangat tergantung kepada kualitas
image yang digunakan. Diharapkan pengguna memahami bahwa kata
‘otomatis’ tidak secara otomatis menghasilkan yang terbaik dan memuaskan.
Untuk meningkatkan kualitas vektorisasi otomatis dapat dilakukan dengan
membersihkan image dengan Raster Painting atau software eksternal lain.
6.4.4 Vektorisasi interaktif
Melakukan vektorisasi interaktif tidak memerlukan penyiapan data raster seperti
vektorisasi otomatis. Vektorisasi interaktif dilakukan oleh pengguna dengan
melakukan tracing secara manual di atas garis yang ingin dikonversi menjadi
vector. Dengan demikian noise yang tidak diperlukan diseleksi secara visual oleh
pengguna sambil melakukan tracing.
Terdapat tiga hal yang perlu diatur/dioperasikan dalam vektorisasi secara
interaktif, yaitu raster snapping option, vectorization setting, dan vectorizatin
tool yang dapat dijelaskan sebagai berikut.
Raster snapping options; Raster snapping sangat penting untuk mengatur
seberapa besar snap yang diperbolehkan (dalam satuan pixel). Untuk
mengatur raster snapping option, pengguna dapat melakukan Klik pada ikon
pada toolbar Arcscan.
Bab 6 Input Data 187
Gambar 6-29 Raster Snapping Options
Vectorization settings; Pengaturan vektorisasi dapat dibuka melalui menu
Vectorization > Vectorization setting. Pilih pengaturan yang diinginkan atau
biarkan secara default.
Gambar 6-30 Vectorization settings
188 Pemetaan dan Visualisasi
Vectorization tool; Terdapat tiga tool utama untuk vektorisasi secara
interaktif, yaitu
vectorization trace tool ; untuk tracing fitur garis
vectorization trace between points ; untuk menyambungkan dua point
atau dua sel data raster
shape recognition ; digunakan untuk melakukan digitasi terhadap areal
atau bentuk khusus berbentuk polygon, seperti danau dan sebagainya.
Vektorisasi secara interaktif pada dasarnya sama dengan proses digitasi manual
(hal 173). Namun dengan bantuan ArcScan dan tool-tool di dalamnya, proses
digitasi manual tersebut dapat lebih efektif dan efisien. Sehingga penulis
menyebut vektorisasi interaktif ini sebagai digitasi semi-otomatis karena
menggabungkan kecepatan vektorisasi otomatis dan fleksibilitas pilihan
pengguna pada vektorisasi manual.
Untuk melakukan vektorisasi secara interaktif dapat dilakukan seperti pada
contoh-contoh berikut.
Buka project C:\x1data\bab06\bab06-03-04.mxd
Jalan sesi editing terhadap layer bogor_inter
Aktifkan jendela Create Feature dan pilih line template. Jika template
tidak dipilih maka tidak semua tool tracing aktif.
Gunakan vectorization trace tool , vectorization trace between points
dan shape recognition untuk trace image. Coba test satu persatu kegunaan
dari setiap tool tersebut agar terbiasa menggunakannya.
Proses digitasi akan secara otomatis menggeser data view. Namun jika
diperlukan, gunakan tool pan (atau tekan tombol C + geser mouse) untuk
menggeser data view.
Hasil vektorisasi adalah line seperti tampak pada gambar di bawah ini.
Bab 6 Input Data 189
Gambar 6-31 Hasil vektorisasi interaktif
Catatan: Vektorisasi menggunakan ArcScene memerlukan latihan agar dapat
berjalan sebagaimana mestinya. Review paska vektorisasi mutlak diperlukan
sehingga data vektor hasil vektorisasi masih belum dapat digunakan sebelum
di-review ulang.
6.5. Input data koordinat
Input data melalui data koordinat sangat sering dilakukan dalam operasional GIS.
Untuk mengetahui posisi satu atau dua titik koordinat tertentu pada ArcMap
sudah dibahas pada bagian 2.11 halaman 64. Bagian ini hanya membahas input
data koordinat dengan jumlah cukup banyak dan selanjutnya menyimpannya
secara permanen menjadi fitur (point, line, atau polygon).
Input data koordinat dapat dilakukan langsung pada ArcGIS Desktop (ArcMap)
maupun menggunakan software eksternal seperti MS Excel, notepad, dan
sebagainya. Dengan pertimbangan bahwa software MS Excel adalah software
yang paling banyak digunakan untuk mengelola data tabular, maka buku ini
hanya menyajikan input data koordinat menggunakan MS Excel dan selanjutnya
menambahkannya ke ArcMap.
190 Pemetaan dan Visualisasi
6.5.1 Membuat daftar koordinat di MS Excel
Pengguna harus benar-benar memperhatikan desain input data koordinat yang
akan dimasukan, yang mencakup jumlah kolom (field) dan kelengkapan
informasi apa saja yang diperlukan. Sebagai contoh berikut adalah hasil
pengukuran lapangan di Kota Banjarbaru dengan daftar koordinat seperti pada
tabel berikut.
Tabel 6-2 Contoh daftar koordinat hasil survey lapangan
Titik BT LS
o ‘“ ‘“
o 30 19,33
26 57,14
P1 114 42 52,38 3 26 40,87
26 41,10
P2 114 41 57,62 3 26 38,52
27 01,02
P3 114 42 03,56 3 26 30,01
26 44,86
P4 114 43 41,51 3 27 17,44
P5 114 46 18,41 3
P6 114 48 25,78 3
P7 114 49 01,95 3
P8 114 49 21,06 3
P9 114 49 23,94 3
Sumber: Data dummy, data karangan bukan data yang sebenarnya ada
Untuk melakukan input data koordinat seperti pada Tabel 6-2 pada ArcGIS
Desktop dapat dilakukan seperti pada langkah-langkah berikut.
Pada MS Excel, Sheet yang digunakan sebaiknya sheet kosong/baru
Buat sebanyak 7 buah header untuk menuliskan data seperti pada Tabel 6-2.
Setiap header harus unik, berbeda, tidak boleh ada header yang sama dalam
satu sheet.
Terdapat data Derajat (D), menit (M) dan detik (D) untuk posisi X (Bujur
Timur, BT) dan Y (Lintang Selatan, LS). Oleh karena itu, penulis
menyarankan membuat header sebagai berikut. TITIK, DX, MX, SX, DY,
MY, SY
Bab 6 Input Data 191
Tambahan dua kolom baru dengan header Lon, dan Lat. Kolom Lon adalah
posisi garis bujur dalam decimal degree, dan kolom Lat adalah posisi lintang
dalam decimal degree.
Bujur Timur (BT) adalah posisi garis bujur (longitude) positive karena berada
di sebelah kanan garis bujur 0o (greenwich), sedangkan Lintang Selatan (LS)
adalah garis lintang (latitude) yang memiliki nilai negative karena berada di
bawah garis lintang 0o (khatulistiwa). Untuk lintang selatan, maka nilai Y
harus dalam negatif.
Kolom Lon dan Lat dihitung dengan menggunakan rumus = +
(⁄60) + (⁄3600) dan = −( + (⁄60) + (⁄3600))
Jika daftar koordinat dilengkapi dengan keterangan atau penjelasan untuk
setiap titik, pengguna dapat menambahkan kolom (FIELD) tambahan sesuai
dengan kebutuhan, misalnya elevasi, waktu pengambilan data, dan
sebagainya
Tidak perlu dilakukan pengaturan alignment (rata kiri, tengah, kanan, justify)
dan border dari semua isi tabel
ArcGIS mengenal penanda desimal dengan tanda titik (.), bukan dengan koma
(,). Pengaturan regional pada OS Windows sebaiknya diatur ke America, atau
negara lain yang menggunakan tanda desimal titik (.). lihat halaman 1017
Jumlah desimal untuk field Lon dan Lat lebih banyak lebih baik, tetapi tidak
perlu terlalu detail. Penulis biasa menggunakan 10 angka di belakang koma.
Contoh pengisian MS Excel dapat dilihat pada Gambar 6-32.
Gambar 6-32 Contoh pengisian daftar koordinat menggunakan MS Excel
192 Pemetaan dan Visualisasi
Contoh file MS Excel pada Gambar 6-32 sudah tersedia di folder
C:\x1data\bab06\ dengan nama file input.data.xlsx.
Input data koordinat menggunakan MS Excel dapat disimpan dalam format MS
Excel (XLS atau XLSX), DBF, TXT ataupun CSV. Jika pengguna ingin
menggunakan format TXT, lakukan Save As pada MS Excel dan pilih format tab
delimited (txt).
Catatan: Meskipun ArcGIS mendukung format MS Excel, penulis sangat
menyarankan untuk menyimpan data koordinat pada format CSV atau TXT
dengan alasan kompatibilitas.
6.5.2 Input koordinat point ke ArcMap
Daftar koordinat yang telah dibuat pada MS Excel dan disimpan dalam format,
misalnya TXT, dapat langsung ditambahkan ke ArcMap. Berikut contoh
menambahkan data koordinat ArcMap.
Buka ArcMap
Klik pada add data untuk menambahkan data
Pilih input.data.txt yang berada di folder C:\x1data\bab06\
TOC akan secara otomatis beralih dari List by Drawing Order menjadi List
by Sources dikarenakan data yang ditambahkan adalah berupa data atribut,
bukan data spasial.
Klik-kanan di atas layer input.data.txt
Pilih Display XY Data
Pilih field yang akan digunakan untuk X, yaitu Lon
Pilih field yang akan digunakan untuk Y, yaitu field Lat
Tentukan sistem koordinat yang bersesuaian, yaitu GCS WGS 1984. Klik pada
Edit untuk menampilkan
Klik OK untuk konfirmasi
Jika ada peringatan karena ketiadaan field Object-ID, Klik saja OK. Fitur
yang dihasilkan tidak dapat diedit dan lain sebagainya. Oleh karena itu,
Bab 6 Input Data 193
selanjutnya fitur yang dihasilkan harus dikonversi ke fitur (shapefile atau fitur
geodatabase)
Gambar 6-33 Ploting data koordinat pada ArcMap
Sebagai hasil plotting, sebuah layer baru muncul berupa Event dengan nama
input.data.txtEvents. Layer tersebut memiliki keterbatasan sehingga harus
dikonversi ke fitur (misalnya shapefile) seperti dengan langkah berikut.
Klik-kanan pada layer input.data.txtEvents
Pilih Data > Export Data
Pilih All features untuk ekspor semua fitur
Tentukan sistem koordinat, apakah sesuai dengan data/layer atau sesuai
dengan data framei.
Tentukan folder dan nama file output, misalnya dengan format shapefile
Klik OK untuk konfirmasi
Jika ada pertanyaan apakah akan menambahkan data ke ArcMap, silakan pilih
Yes
i On-the-fly projection pada ArcMap memungkinkan data/layer memiliki sistem koordinat yang berbeda
dengan data frame
194 Pemetaan dan Visualisasi
Gambar 6-34 Konversi event menjadi fitur (shapefile) pada ArcMap
Sebuah shapefile akan tampil pada TOC. Data koordinat (TXT) dan XY Event
yang dibuat sebelumnya dapat dihilangkan dari TOC.
Catatan: Input data koordinat pada bagian ini pada prinsipnya dapat
digunakan untuk input data tipe point, polyline ataupun polygon. Input data
koordinat dapat juga dilakukan dengan tool Add XY Coordinates yang terdapat
pada ArcToolbox\Data Management Tools\Features. Namun tool ini
memerlukan field yang spesifik dengan nama POINT_X dan POINT_Y yang
akan secara otomatis dijalankan, tanpa ada pilihan bagi pengguna untuk
mengatur pilihan.
6.5.3 Input data koordinat polyline ke ArcMap
Input data koordinat polyline adalah kasus khusus dari input data koordinat.
Bahasan ini sangat berhubungan dengan bagian 6.5.2 (halaman 193).
Dikarenakan fitur yang di-input adalah polyline, maka terdapat tambahan tahapan
yang harus dilakukan.
Bab 6 Input Data 195
Membuat daftar koordinat
Polyline dapat dianggap sebagai kumpulan point yang saling terhubung dengan
cara tertentu. Cara menghubungkan point-point sehingga menjadi polyline
tersebut tidak random, misalnya dimulai dari point awal (start), point-point antara
(vertex/vertices) dan point akhir (end). Urutan koneksi dari point satu ke point
lain adalah sangat penting dalam data polyline.
Input data koordinat polyline ke ArcMap serupa dengan input data point pada
halaman 193 dengan sedikit kekhususan sebagai berikut:
Harus terdapat field yang mengatur urutan penarikan garis polyline (start,
vertices, dan end). Field ini dapat berupa nomor urut dari 1, 2, …, dan
seterusnya.
Seteleh dibuat titik-titik koordinat perlu dilakukan konversi dari point ke
polyline dengan menggunakan field tersebut di atas.
Sebagai contoh, terdapat penambahan jalan baru di Kota Banjarbaru dengan peta
situasi dan koordinat seperti pada Gambar 6-35. Koordinat diperoleh dari
pengukuran trase jalan di lapangan.
Gambar 6-35 Contoh kasus penambahan jalan baru di Kota Banjarbaru
Daftar koordinat pada Gambar 6-35 adalah hasil pengukuran yang sudah
dinyatakan dalam sistem koordinat UTM Zona 50S sehingga sudah dinyatakan
196 Pemetaan dan Visualisasi
dalam X dan Y. Pembuatan tabel koordinat pada MS Excel untuk di-input pun
lebih sederhana dibandingkan dengan tabel pada Gambar 6-32.
Daftar koordinat untuk tipe fitur polyline memerlukan paling tidak tiga field,
yaitu field untuk X, field untuk Y, dan field untuk urutan penarikan garis. Field-
field tambahan dapat dimasukan seperti nama titik, tanggal, dan sebagainya jika
diperlukan. Contoh pengisian daftar koordinat pada MS Excel adalah seperti pada
gambar berikut.
Gambar 6-36 Contoh pengisian daftar koordinat tipe fitur polyline
Daftar koordinat seperti pada gambar di atas tentu saja dibuat saat hasil
pengukuran sudah dalam bentuk X dan Y (misal dalam UTM). Jika hasil
pengukuran masih dalam derajat-menit-detik (Geo) maka daftar koordinat perlu
dibuat seperti pada Gambar 6-32 hal 192.
Contoh file daftar koordinat untuk input file tipe polyline adalah file
C:\x1data\bab06\jalanbaru.xlsx dengan TXT yang sudah dibuat yaitu
C:\x1data\bab06\jalanbaru.txt. Pembaca dapat menggunakan contoh file yang
sudah penulis buat atau membuat sendiri.
Bab 6 Input Data 197
Input koordinat polyline sederhana
Untuk melakukan input data koordinat dengan tipe fitur polyline dapat dilakukan
seperti pada langkah-langkah berikut.
Buat file MS Excel dengan minimal tiga buah header, misalnya field X, field
untuk Y, dan field NO untuk urutan penarikan garis.
Lakukan plotting daftar koordinat seperti telah dibahas pada bagian 6.5.2 hal
193. Bahasan ini tidak diulang untuk menghindari redundansi isi buku.
Hasil dari tahapan 1 – 2 tersebut adalah satu buah shapefile (point). Simpan
file tersebut pada folder yang diinginkan. Sebagai pembanding, penulis sudah
membuat shapefile dengan nama jalanbaru_pt.shp yang terdapat pada folder
C:\x1data\bab06.
Konversi point ke polyline
Setelah sebuah shapefile (point) jalanbaru_pt.shp dihasilkan, maka tahapan
selanjutnya adalah melakukan konversi point ke line dengan tahapan sebagai
berikut.
Buka ArcMap
Klik pada add data untuk menambahkan data, tambahkan file
C:\x1data\bab06\data\banjarbaru\jalanbaru_pt.shp sebagai hasil tahapan
sebelumnya.
Aktifkan ArcToolbox
Cari dan jalankan tool ArcToolbox > Data Management Tools > Features >
Points To Line
Isi input jalanbaru_pt.shp melalui drop-rown ataupun drag-n-drop dari data
TOC
Tentukan folder dan nama file output
Isi Sort field dengan field NO, yaitu FIELD yang menunjukkan urutan titik di
dalam garis (start, vertices, dan end)
Klik pada OK untuk menjalankan perintah
Tunggu hingga ada pesan perintah berhasil
Sebuah garis akan dihasilkan menghubungkan titik 1 sd 11 sebagaimana
tampak pada Gambar 6-37.
198 Pemetaan dan Visualisasi
Gambar 6-37 Konversi point ke polyline hasil input data koordinat
Input koordinat polyline yang kompleks
Bahasan sebelumnya menyajikan input data polyline sederhana, yaitu polyline
yang terdiri dari satu bagian (part) saja. Pada bagian ini dibahas bagaimana cara
melakukan input data untuk polyline dengan jumlah bagian lebih dari satu. Untuk
melakukan input polyline seperti ini, pengguna harus memahami tentang
bagaimana bentuk dari polyline yang akan di-input.
Sebagaimana disajikan pada Gambar 6-38, terdapat hanya 9 titik koordinat
(Nomor 1 – 9). Tetapi, bentuk polyline yang perlu dibuat tidak sederhana karena
terdiri dari beberapa bagian garis serta adanya beberapa titik yang dipergunakan
lebih dari satu bagian polyline.
Untuk input data koordinat polyline kompleks seperti pada contoh di atas, hal-hal
berikut perlu dilakukan oleh pengguna ArcGIS Desktop.
Bab 6 Input Data 199
Perlu ditambahkan FIELD (misalnya diberi nama GARIS) sebagai
pembeda antara satu bagian dengan polyline dengan bagian lainnya.
Sama halnya dengan polyline sederhana, perlu juga FIELD yang
mengatur pengurutan penarikan polyline (start, vertices, dan end) pada
setiap bagian polyline, misalnya field NO.
Beberapa point mungkin akan terdapat pada lebih dari satu polyline.
Sebagai contoh titik No 2 dan No 5 dipergunakan oleh dua buah polyline.
Titik yang digunakan dua kali harus dibuat dua item di dalam daftar
koordinat.
Gambar 6-38 Sketsa dan input data koordinat untuk polyline yang kompleks
Jika sudah dipahami desain pembentukan line seperti pada Gambar 6-38 di atas,
maka proses selanjutnya adalah melakukan input data koordinat ke MS Excel
(halaman 191), impor data koordinat ke ArcMap dan membuat shapefile point
berdasarkan data koordinat (halaman 193).. Untuk mengetahui tahapan-tahapan
tersebut silakan buka halaman yang dirujuk. Contoh shapefile yang dihasilkan
adalah file C:\x1data\bab06\data\line_multi_pt.shp
Setelah shapefile point dibuat, tahapan selanjutnya adalah konversi dari data
point ke polyline. Karena polyline yang dibuat terdiri dari beberapa bagian, maka
terdapat sedikit perbedaan dengan cara yang dilakukan pada halaman 198, yaitu
sebagai berikut.
200 Pemetaan dan Visualisasi
Buka ArcMap
Tambahkan data C:\x1data\bab06\data\line_multi_pt.shp
Jalankan ArcToolbox > Data Management Tools > Features > Points To Line
Pilih input features line_multi_pt.shp dengan memilih dari drop-down atau
drag-n-drop dari TOC
Tentukan folder dan file fitur output
Pilih FIELD yang membedakan satu garis dengan yang lain, yaitu field
GARIS (sesuai dengan struktur kolom pada Gambar 6-38)
Pilih FIELD urutan penarikan garis yaitu field ID
Klik OK untuk menjalankan tool
Hasil konversi menunjukkan tiga bagian garis
Gambar 6-39 Konversi point ke polyline yang kompleks
Konversi fitur point ke polyline pada Gambar 6-39 dan Gambar 6-37 memiliki
kesamaan pengaturan. Perbedaan di antara kedua konversi tersebut adalah adanya
field khusus (field GARIS pada Gambar 6-39) yang berfungsi memisahkan garis
satu dengan garis yang lainnya.
6.5.4 Input data koordinat dalam jarak dan azimuth
Bab 6 Input Data 201
Pengukuran lapangan menggunakan alat ukur biasanya dinyatakan dalam notasi
jarak dan azimuth. Untuk alat ukur yang canggih seperti total station (TS), data
hasil pengukuran jarak dan azimuth tersebut dapat langsung dihitung menjadi
data koordinat XY. Namun tentu saja tidak semua project mampu menyediakan
alat yang canggih untuk melakukan survey, sehingga data yang harus di-input
tetap dalam notasi jarak dan azimuth. Berikut adalah beberapa pilihan tool yang
dapat digunakan untuk melakukan input data jarak dan azimuth.
Menggunakan Spreadsheet (MS Excel)
Untuk dapat melakukan input data jarak dan azimuth dengan menggunakan MS
Excel, beberapa kondisi berikut harus sudah terpenuhi, yaitu.
Paling tidak terdapat satu titik ikat, baik
yang sudah diketahui koordinatnya
(misal x=702.901; y=9.261.556)
maupun yang sementara diberi koordinat
lokal (0;0).
Jarak antar titik harus sudah dikoreksi
menjadi jarak datar dengan
memperhatikan beda tinggi antar dua
titik. Cara melakukan konversi dari jarak
lapangan menjadi jarak datar tidak
dibahas pada buku ini.
Pengukuran azimuth di lapangan biasa dinyatakan dalam Derajat. Beberapa
alat yang sudah cukup teliti seperti T0 memungkinkan operator membaca
hingga satuan Menit dan Detik.
Satuan Derajat, Menit dan Detik dikonversi ke Decimal Degree (Az_DD)
Perhitungan di MS Excel menggunakan satuan sudut radian, sehingga satuan
decimal degree dikonversi ke radian.
Dengan menggunakan jarak datar (kolom E) dan satuan azimuth dalam radian
(J), dilakukan perhitungan beda X (DX) dan beda Y (DY)
Dengan diketahuinya beda X dan beda Y, maka titik-titik koordinat untuk titik
selain titik ikat dapat diketahui
202 Pemetaan dan Visualisasi
Gambar 6-40 Input data azimuth dan jarak menjadi koordinat XY
Data koordinat X dan Y yang sudah sesuai dengan proyeksi planar yang
digunakan, misalnya UTM Zona 48S, menjadi input bagi ArcMap. Contoh
file pada Gambar 6-40 dapat dilihat pada file azimuth.xlsx pada folder
C:\x1data\bab06.
Jika sudah diperoleh koordinat X dan Y seperti tampak pada Gambar 6-40, maka
input data koordinat ke ArcMap dapat dilakukan seperti pada halaman 193). Perlu
dicatat bahwa yang diperlukan hanya lah field X dan Y dan atribut yang
berkaitan. Oleh karena itu field-field lain yang tidak diperlukan dapat dihilangkan
saat melakukan input ke ArcMap.
Catatan: input data dengan cara ini tidak memperhatikan bentuk lengkung
permukaan bumi sehingga hanya cocok untuk survey skala mikro.
Menggunakan tool Construct Geodetik
Tool Construct Geodetik adalah tool yang dapat digunakan untuk input koordinat
dalam bentuk trayek ukur (jarak dan azimuth). Kelebihan tool ini adalah dapat
diatur supaya trayek ukur yang dibuat memperhatikan kelengkungan bumi.
Meskipun demikian, penggunaannya kurang fleksibel jika perlu melakukan revisi
trayek seperti jika menggunakan MS Excel.
Bahasan lebih lanjut tentang construct geodetik dapat dibaca pada bagian 11.1.7
halaman 432.
6.5.5 Input koordinat polygon
Bab 6 Input Data 203
Input data koordinat untuk polygon pada dasarnya sama dengan input data fitur
point dan polyline. Yang membedakan hanya pengaturan desain bagaimana
daftar koordinat disusun. Sebagai contoh terdapat hasil survey lapangan untuk 4
(empat) buah polygon seperti tampak pada Gambar 6-41. Data lapangan adalah
berupa titik-titik GPS berjumlah 9 (sembilan) buah.
Data koordinat yang akan dijadikan input pada ArcGIS Desktop harus disusun
seperti pada gambar berikut.
Gambar 6-41 Input koordinat polygon
Pada Gambar 6-41 terdapat 4 buah polygon dengan menggunakan 9 buah (titik 1
– 9). Namun untuk membuat polygon dengan beberapa bagian diperlukan
pengulangan penggunaan beberapa titik sehingga seperti tampak pada Gambar
6-41 sejumlah 9 titik tersebut di-input lebih dari satu kali dengan total menjadi
16 buah titik.
Field BLOK digunakan untuk membedakan polygon satu dengan yang lainnya.
Sedangkan field ID digunakan untuk pengurutan penarikan garis polygon.
Contoh input data seperti pada Gambar 6-41 dapat dilihat pada file
C:\x1data\bab06\polygon-multi-pt.xlsx.
Jika sudah dipahami desain pembentukan polygon seperti pada Gambar 6-41,
maka pengguna dapat melakukan input data titik koordinat menggunakan MS
Excel, impor titik koordinat ke ArcGIS, dan buat point seperti sudah dibahas pada
halaman 193 hingga diperoleh satu shapefile point.
204 Pemetaan dan Visualisasi
Proses selanjutnya adalah konversi dari point ke polygon yang dilakukan dengan
dua tahap, yaitu point to polyline dan feature to polygon.
Konversi Point To Polyline dilakukan sebagai berikut.
Buka ArcMap
Tambahkan data C:\x1data\bab06\data\polygon_multi_pt.shp
Jalankan ArcToolbox > Data Management Tools > Features > Points To Line
Pilih features polygon_multi_pt.shp sebagai input
Tentukan folder dan file fitur output
Pilih BLOK sebagai line field dan ID sebagai sort field
Aktifkan pilihan Close Line
Klik OK untuk menjalankan tool
Gambar 6-42 Konversi point to polyline
Proses konversi points to line menghasilkan fitur polyline yang terdiri dari
beberapa bagian. Contoh output yang dihasilkan dapat dilihat pada folder/file
C:\x1data\bab06\output\ polygon_multi_pl.shp
Selanjutnya lakukan konversi feature to polygon dengan langkah berikutnya.
Buka ArcMap dan data sebagai hasil proses sebelumnya ada di TOC,
misalnya polygon_multi_pl.shp
Jalankan ArcToolbox > Data Management Tools > Features > Feature To
Polygon
Jadikan polygon_multi_pl.shp sebgai input
Bab 6 Input Data 205
Tentukan folder dan file fitur output
Klik OK untuk menjalankan tool
Hasilnya dapat dilihat pada Gambar 6-43
Gambar 6-43 Konversi feature to polygon
Langkah-langkah di atas menghasilkan polygon yang terdiri dari empat bagian
terpisah (part). Setiap bagian berkorelasi dengan satu baris pada data atribut dan
menjadi satu entitas. Contoh file yang dihasilkan dari proses input data koordinat
polygon dapat dilihat pada folder/file
C:\x1data\bab06\output\polygon_multi_pg.shp
Cara sebagaimana disebutkan di atas tentu cukup merepotkan karena pengguna
ArcMap melakukan dua kali konversi dari point ke polyline dan selanjutnya dari
polyline ke polygon. Proses tersebut akan sangat mudah dilakukan jika
menggunakan ekstensi tambahan seperti ekstensi Production Mapping, Xtools
ETGeowizard, dan sebagainya yang tidak dibahas pada buku ini.
6.6. Input data vektor berpola/random (vektor)
206 Pemetaan dan Visualisasi
6.6.1 Data berpola
Data berpola adalah data yang memiliki keteraturan dan keseragaman dalam
konstelasi, jarak, bentuk maupun distribusi. Data berpola sangat diperlukan
dalam melaksanakan tugas-tugas GIS seperti pada survey, perencanaan areal,
perencanaan jalan, pengembangan lahan dan sebagainya.
Membuat data berpola di dalam ArcGIS dilakukan dengan tool fishnet yang dapat
diakses di dalam Arctoolbox\Data Management Tools.tbx\Feature Class\Create
Fishnet. Tool tersebut dapat digunakan untuk membuat data berpola dengan tipe
point, polyline dan polygon.
Data berpola tipe point dan polygon
Point berpola biasanya diperlukan untuk membuat lokasi titik-titik dengan jarak
seragam atau tertentu. Sebagai contoh, pada sebuah bidang lahan garapan dengan
luas 30 ha akan dilakukan pengambilan sample tanah untuk pengukuran tingkat
infiltrasi dengan pola sampling grid dengan jarak antar titik 50 meter.
Polygon berpola diperlukan dalam perencanaan areal atau pengembangan lahan.
Sebagai contoh pada pembukaan lahan untuk Hutan Tanaman Industri, blok yang
telah ditentukan perlu dibagi-bagi ke dalam blok dengan jarak tertentu, misalnya,
1 km x 2 km.
Pembuatan point dan atau polygon berpola pada ArcGIS Desktop menggunakan
tool Create Fishnet dilakukan seperti pada langkah-langkah berikut.
Buka ArcMap
Tambahkan data C:\x1data\bab06\data\data-berpola\land.shp
Set sistem koordinat data frame agar menggunakan UTM Zona 50S, sesuai
dengan data land.shp
Jalankan tool Arctoolbox\Data Management Tools.tbx\Feature Class\Create
Fishnet.
Tentukan folder dan file fitur output
Tentukan extent, sebagai contoh dipilih sama dengan layer land.shp
Secara otomatis posisi extent akan mengikuti layer land.shp
Jika tipe sampling adalah sistematis dengan titik awal ditentukan, maka
lakukan pengisian pada Fishnet Origin Coordinat.
Bab 6 Input Data 207
Isi Cell size width, yaitu jarak antar titik (atau ukuran polygon) arah X, dengan
50 (meter)
Isi Cell Size height, yaitu jarak antar titik (atau ukuran polygon) arah Y,
dengan 50 (meter)
Jika pembagian tidak dilakukan dengan jarak antar titik (atau ukuran
polygon) seperti langkah 9 – 10, maka pembagian dapat juga dilakukan
dengan menggunakan jumlah lajur dengan cara mengisi number of rows dan
number of columns
Untuk membuat data titik, tandai pada create label points (optional). Jika
pilihan ini tidak aktif, maka data yang dihasilkan hanya data polygon saja.
Pilih tipe geometri polygon.
Jalankan tool dengan Klik pada OK
Tunggu hingga ada pesan bahwa tool Fishnet berhasil dijalankan
Hasil dari tahapan di atas adalah dua layer, yaitu 1 layer polygon dan 1 layer
point.
208 Pemetaan dan Visualisasi
Gambar 6-44 Membuat data berpola tipe point dan polygon
Catatan: pengguna dapat juga menggunakan tool ArcToolbox\Cartography
Tools\Data Driven Pages\Grid Index Features yang dapat digunakan untuk
membuat grid (polygon) berpola. Tool ini ditujukan untuk membuat grid index
dalam pembuatan multi-layout (hal 690), tetapi dapat juga digunakan untuk
membuat data polygon berpola.
Bab 6 Input Data 209
Garis berpola
Garis berpola digunakan untuk membuat garis dengan orientasi dan jarak
tertentu. Garis berpola dapat digunakan untuk pembuatan jalur pengamatan
survey, pembuatan jalan pembatas petak, dan sebagainya.
Sebagai contoh digunakan studi kasus sebagai berikut. Pada sebuah bidang lahan
garapan dengan luas + 160 ha akan dibuatkan lajur-lajur tanaman hortikultura
dengan arah jalur tegak lurus (90o) terhadap jalan inspeksi utama dan dengan
jarak antar jalur 3 m. Perlu diperhatikan bahwa bidang lahan yang akan dibuat
jalur tidak berbentuk bujur sangkar. Oleh karena itu diperlukan referensi
tambahan, yaitu titik 1 dan titik 2 sebagaimana tampak pada Gambar 6-45,
dengan koordinat masing-masing Titik 1 (245979; 9611349) dan Titik 2 (243672;
9611187). Secara opsional juga diperlukan Titik 3 (245613; 9615299). Gambaran
rencana pembuatan lajur dapat dilihat pada gambar berikut.
Gambar 6-45 Rencana pembuatan lajur tanaman
210 Pemetaan dan Visualisasi
Catatan: Setiap titik pada Gambar 6-45 memiliki fungsi masing-masing. Titik
1 berfungsi sebagai penanda dimulainya lajur pertama. Titik 2 berfungsi
sebagai sumbu pembuatan lajur, sedemikian hingga semua jalur dimulai dari
garis imaginer antara Titik 1 dan Titik 2. Sedangkan Titik 3 berfungsi sebagai
pembatas berhentinya pembuatan lajur yang oleh karena itu berada pada pojok
yang berlawanan dengan Titik 1. Titik 3 sebaiknya dibuat/diperkirakan
melebihi dari areal studi.
Untuk membuat dibuatkan lajur-lajur tanaman hortikultura sebagaimana situasi
pada Gambar 6-45 dapat dibuat pada ArcMap seperti pada langkah-langkah
berikut.
Buka ArcMap
Tambahkan data C:\x1data\bab06\data\data-berpola\land2.shp.
Set sistem koordinat data frame ke UTM Zona 50S, sesuai dengan zona UTM
data land2.shp
Jalankan tool Create Fishnet yang terdapat pada Arctoolbox\Data
Management Tools.tbx\Feature Class\
Tentukan folder dan file fitur output
Isikan koordinat titik 1 (Gambar 6-45) pada Fishnet Origin Coordinate
Isikan koordinat titik 2 (Gambar 6-45) pada Y-Axis Coordinate
Isikan ukuran garis 300 m (panjang garis) dan 20 meter (jarak antar garis)
Isikan koordinat titik 3 (Gambar 6-45) pada Opposite corner of Fishnet
(optional)
Pilih tipe geometry POLYLINE
Jalankan dengan Klik pada OK
Bab 6 Input Data 211
Gambar 6-46 Membuat data berpola tipe line
Keluaran tool Fishnet adalah polyline. Data ini tentu harus disempurnakan
kembali untuk memotong line di luar areal dengan operasi Clip menggunakan
data land.shp (lihat halaman 811) dan menghilangkan guideline vertical yang
tidak perlu.
212 Pemetaan dan Visualisasi
6.6.2 Data random (titik)
Data random adalah data yang tidak memiliki keseragaman dalam ukuran
maupun jarak fitur. Data random diperlukan untuk analisis yang memerlukan
fitur random dalam analisis, sebagai contoh dalam menentukan titik pengamatan
secara acak di dalam areal tertentu.
Membuat data random berupa vector di ArcGIS biasanya hanya dilakukan untuk
data point. Untuk sebagai contoh membuat data random, dapat dilakukan seperti
langkah berikut.
Buka ArcMap
Tambahkan data C:\x1data\bab06\data\data-berpola\land2.
Set sistem koordinat data frame ke UTM Zona 50S, sesuai dengan zona UTM
data land2.shp
Jalankan tool yang terdapat pada Arctoolbox\Data Management
Tools.tbx\Feature Class\ Create Random Points
Tentukan folder output
Isi nama fitur output
Pilih constraining feature class yaitu batasan titik-titin random akan dibuat.
Batasan dapat berupa areal studi, misalnya layer land2.shp atau extent. Untuk
latihan ini digunakan land2.shp sebagai pembatas.
Isikan jumlah titik yang diinginkan, misalnya 50 buah. Jumlah titik ini
ditentukan dalam perencanaan.
Isikan batasan jarak terkecil antar point terkecil. Hal ini berfungsi untuk
menghindari duplikasi atau jarak antar titik yang terlalu dekat, misalnya 20
(m).
Klik OK untuk menjalankan tool
Bab 6 Input Data 213
Gambar 6-47 Membuat data random tipe point
Hasil nya adalah data titik yang tersebar secara acak di dalam polygon land2.shp.
6.7. Input data GPS
Teknologi satelit navigasi global (Global Navigation Satellite Systems, GNSS)
sudah sangat berkembang pesat dan umum diterapkan dalam survey dan
pemetaan. Salah satu sistem yang pionir dalam satelit navigasi adalah Global
Positioning System (GPS) yang dikembangkan oleh Departemen Pertahanan
214 Pemetaan dan Visualisasi
Amerika Serikat. Selain GPS, terdapat juga sistem navigasi berbasis satelit lain
yaitu GLONASS (Rusia) dan GALILEO (Uni Eropa).
Dikarenakan sudah sangat umum digunakan, GPS seringkali diasosiasikan
sebagai GNSS. Bahkan perangkat bergerak yang sering digunakan untuk survey,
yang sebenarnya adalah GPS receiver pun seringkali disebut dengan GPS saja.
Input data dari GPS dilakukan dengan beberapa alternatif cara tergantung kepada
tipe fitur, banyaknya data dan pilihan koneksi antara GPS receiver dan komputer.
6.7.1 Input data GPS secara manual
Jika data hasil pengukuran adalah berupa point dengan jumlah sedikit, (misalnya
3 point saja), maka input data dari GPS sebaiknya dilakukan secara manual. Cara
ini sama dengan input data koordinat tipe point sebagaimana telah dibahas pada
bagian 2.11 (halaman 64) dan bagian 6.5.2 (halaman 193).
Dengan cara ini, satu per satu data koordinat waypoint dicek di dalam GPS dan
selanjutnya satu per satu di-input dengan keyboard ke komputer. Cara ini sangat
efisien, cepat dan mudah untuk jumlah point yang sedikit. Untuk jumlah point
yang banyak, cara ini tidak direkomendasikan.
6.7.2 Download Data GPS ke komputer (DNRGPS)
Download data GPS ke komputer adalah pilihan yang tepat untuk data point
dengan jumlah yang banyak. Jika dilakukan input data secara manual akan
berpotensi terjadi kesalahan dan banyaknya waktu yang diperlukan. Selain itu,
tipe data berupa garis (track) dari GPS tidak dapat di-input secara manual.
Untuk download data langsung dari GPS bisa digunakan berbagai macam
perangkat lunak seperti Garmin Mapsource/Basecamp, Mobilemapper Offire,
Ozi Explorer, dan lain sebagainya. Buku ini tidak membahas perihal GPS secara
khusus sehingga tidak semua perangkat lunak akan dibahas. Sebagai contoh,
buku ini menggunakan DNRGPS yang kompatibel dengan ArcMap 10.x
Bab 6 Input Data 215
Instalasi DNRGPS
DNRGPS adalah ekstensi yang dikembangkan oleh Minnesota Department of
Natural Resources, Amerika Serikat. Saat buku ini dibuat DNRGPS sudah dirilis
hingga versi 6.1.0.6.
DNRGPS dapat di-download dari laman web
http://www.dnr.state.mn.us/mis/gis/DNRGPS/DNRGPS.html. Silakan download
sesuai dengan versi ArcGIS yang sudah ter-install. Pembaca juga bisa
memperoleh installer DNRGPS di dalam DVD yang menyertai buku ini (baca hal
1019) dengan lokasi di C:\x1data\software\DNRGPS.
Untuk menginstal DNRGPS tidak diperlukan proses instalasi khusus. Pengguna
cukup menyalin file software dan menyimpannya menjadi salah satu folder di HD
lokal, misalnya di C:\Program Files (x86).
Menjalankan DNRGPS
DNRGPS untuk ArcGIS 10.2 bisa dijalankan langsung tanpa instalasi. Ekstrak
file installer yang sudah di-download atau disalin dari DVD. Selanjutnya jalankan
file dnrgps.exe seperti tampak pada gambar berikut.
Gambar 6-48 Menjalankan DNRGPS dengan mengeksekusi file dnrgps.exe
File executable dnrgps.exe dapat dijalankan dengan terlebih dahulu mencari
folder hasil download. Untuk mempermudah, pengguna dapat membuatkan satu
file shortcut dari file dnrgps.exe dan simpan shortcut tersebut di Desktop.
Koneksi GPS dan DNRGPS
216 Pemetaan dan Visualisasi
GPS harus dapat dikenali sebagai salah satu device oleh komputer. Driver dari
GPS yang bersangkutan harus sudah terinstal di dalam komputer. Pada
kebanyakan GPS sudah dilengkapi dengan plug and play, sehingga driver bawaan
OS Windows dapat digunakan. Namun pada beberapa GPS, pengguna perlu
melakukan instalasi driver tersendiri. Diver untuk GPS dapat diperoleh dari CD
yang menyertai saat pembelian atau download dari website penyedia GPS.
Mengoneksikan GPS ke software DNRGPS dapat dilakukan seperti pada
langkah-langkah berikut.
Hubungkan GPS dengan komputer dengan menggunakan kabel koneksi yang
disediakan saat pembelian GPS. Kabel yang dapat digunakan adalah kabel
USB, COM/PORT
Pada DNRGPS, Klik menu GPS > Find GPS
Gambar 6-49 Mengkoneksikan GPS dengan DNRGPS
Jika GPS sudah terkoneksi akan terdapat pemberitahuan nama GPS serta
firmware-nya di DNRGPS seperti pada gambar di bawah.
Gambar 6-50 Status GPS receiver sudah terkoneksi ke DNRGPS 217
Bab 6 Input Data
Kondisi seperti pada Gambar 6-50 menunjukkan GPS sudah terhubung dengan
DNRGPS dan siap digunakan.
Menentukan Proyeksi
Pertama kali menggunakan DNRGPS sebaiknya melakukan pengaturan proyeksi
/ sistem koordinat. Berikut adalah tahapan untuk menentukan proyeksi dengan
sistem UTM Zona 50S pada DNRGPS.
Klik pada menu File
Pilih Set Projection
Pilih POSC Code atau langsung cari sistem proyeksi yang sesuai
Sebagai contoh dipilih UTM Zona 50S dengan POSC Code 32750
Klik OK untuk konfirmasi
Projection sudah berubah dari No Projection menjadi UTM Zone 50S
Gambar 6-51 Menentukan proyeksi pada DNRGPS
218 Pemetaan dan Visualisasi
Download data GPS
Data GPS terdiri dari beberapa tipe seperti Waypoint, Track, dan Route. Masing-
masing tipe data tersebut memiliki fungsi dan kegunaan berbeda-beda.
- Waypoint; adalah titik yang disimpan oleh pengguna GPS. Setiap waypoint
memiliki nama, baik secara otomatis berurutan oleh GPS maupun dengan
nama yang dimasukan oleh pengguna. Waypoint bisa dianalogikan sebagai
fitur point pada ArcMap.
- Tracks; adalah jejak perjalanan yang sudah ditempuh oleh GPS.
Mengaktifkan pengambilan data mode tracking dilakukan oleh pengguna
GPS, namun pengambilan data sepanjang perjalanan (tracking on) dilakukan
oleh GPS secara otomatis berdasarkan interval waktu atau jarak yang sudah
ditentukan. Track bisa dianalogikan dengan fitur line pada ArcMap.
- Route; adalah perjalanan dengan beberapa waypoint sebagai tempat
persinggahan. Tempat singgah tersebut ditandai oleh waypoint. Route bisa
dianalogikan dengan nama yang sama (route) di ArcMap.
DNRGPS hanya bisa melakukan download terhadap salah satu tipe data dalam
sekali waktu. Jika pengguna ingin mendownload tiga tipe data sekaligus
(waypoint, track, dan route), maka pengguna harus melakukan download satu per
satu. Untuk download data bisa dicontohkan sebagai berikut.
Download hanya dapat dilakukan jika GPS telah terkoneksi ke komputer yang
ditandai oleh tampilnya tipe GPS dan firmware GPS (Gambar 6-50)
Download Waypoint dengan Klik pada menu Waypoint > Download
Data Waypoint yang ada di GPS akan muncul di tab Waypoint
Bab 6 Input Data 219
Gambar 6-52 Download waypoint dari GPS dengan DNRGPS
Untuk download data tipe track dilakukan dengan Klik pada menu Track >
Download
Untuk download data tipe Route dilakukan dengan Klik pada menu Route >
Download
Setiap tipe data akan berada pada tab masing-masing. Oleh karena itu DNRGPS
menyediakan tiga tab data sesuai dengan tipe data GPS.
Pengaturan FIELD
GPS mencatat data sebanyak-banyaknya sehingga informasi pada setiap data
sangat banyak. Namun data yang di-download dari GPS tidak semuanya berguna
untuk dimasukan ke ArcMap. Untuk menyederhanakan data, pengguna dapat
melakukan pengaturan terhadap FIELD apa saja yang tampil pada DNRGPS dan
diekspor ke ArcGIS dengan cara Klik pada menu File > File Properties >
Waypoint.
Pada properti waypoint seperti pada Gambar 6-53, pengguna dapat mengatur
field apa yang aktif dan tidak sehingga hanya data yang diperlukan saja yang
digunakan.
220 Pemetaan dan Visualisasi
Gambar 6-53 Pengaturan field yang akan digunakan pada DNRGPS.
Menyimpan data
Data yang sudah di-download dari GPS menggunakan DNRGPS dapat disimpan
ke dalam format yang dapat digunakan oleh ArcGIS Desktop, misalnya Shapefile
dengan langkah-langkah seperti berikut.
Pada DNRGPS, Klik pada menu File > Save To > File
Browse ke folder tempat file akan disimpan
Isikan nama file
Tentukan format file
Klik Save untuk konfirmasi
Bab 6 Input Data 221
Gambar 6-54 Menyimpan data hasil download dari GPS ke format shapefile
Pada DNRGPS terdapat fasilitas untuk menyimpan langsung data ke project
ArcMap yang sedang dibuka dengan cara Klik pada menu File > Save To >
ArcMap > File. Prosesnya sama seperti Gambar 6-54, namun setelah disimpan,
data akan secara otomatis ditambahkan ke ArcMap yang sedang dibuka.
Catatan: Bahasan tentang download data dari GPS tentu belum menyeluruh
dan masih banyak hal-hal yang belum diinformasikan. Namun dikarenakan
buku ini hanya mengupas GPS sebagai salah satu input data, maka bahasan
mengenai proses download data dengan GPS dilakukan secara singkat. Silakan
membaca buku Geosiana Press lainnya yang khusus mengupas tentang GPS
6.8. Input Data online
Dalam era teknologi informasi saat ini, data online sudah menjadi trend. Data
online yang dimaksud dalam buku ini adalah data yang (1) dapat diperoleh secara
222 Pemetaan dan Visualisasi
online dengan cara download dan (2) data yang dapat ditambahkan langsung ke
dalam project ArcGIS Desktop.
Data yang diperoleh secara online memiliki beberapa karakteristik yang harus
dipahami oleh pengguna sebelum digunakan sebagai berikut.
- Data online memerlukan koneksi internet yang memadai;
- Data online memungkinkan pengguna memperoleh update data secara cepat.
Kita tidak tergantung kepada rantai distribusi data yang terlalu panjang
- Data online yang gratis biasanya memiliki skala dan akurasi rendah. Data
yang memiliki akurasi yang lebih tinggi seringkali tidak dipublikasikan
secara online
- Data online kurang memiliki kekuatan hukum dan hanya seabgai referensi.
6.8.1 Download data online
Pada mayoritas referensi, data online yang di-download tidak dikategorikan
sebagai data online. Hal ini sangat beralasan mengingat bahwa data yang di-
download sebenarnya memiliki karakteristik yang sama dengan data biasa (non-
online), hanya cara mendapatkannya harus lah dengan online (download). Namun
di dalam buku ini, data yang di-download tetap dimasukan sebagai data online.
Data online yang di-download sudah menjadi salah satu input data yang utama.
Beberapa lembaga terpercaya bahkan hanya menyediakan data online sehingga
tidak ada lagi data offline yang didistribusikan oleh lembaga-lembaga tersebut.
Berikut pada Tabel 6-3 disajikan beberapa contoh tipe data online yang bisa di-
download dengan repository-nya
Tabel 6-3 Beberapa respository data online
Tipe data Repository
Citra satelit http://earthexplorer.usgs.gov/
http://reverb.echo.nasa.gov/
Topography http://earthexplorer.usgs.gov/
http://reverb.echo.nasa.gov/
Iklim http://www7.ncdc.noaa.gov/CDO/dataproduct
http://www.tutiempo.net/en/Climate/
http://trmm.gsfc.nasa.gov/
Bab 6 Input Data 223
Tipe data Repository
Rupabumi
http://tanahair.indonesia.go.id (Ina Geoportal)
Tematik http://www.bakosurtanal.go.id/download/
http://www.diva-gis.org/gdata
https://www.openstreetmap.org/
http://appgis.dephut.go.id/appgis/download.aspx
http://data.fao.org/maps (FAO)
Catatan: Data online yang disediakan pada Tabel 6-3 hanya sebagian dari
repository data spasial yang tersedia. Beberapa pihak bahkan secara personal
membagikan data spasial secara gratis melalui blog pribadi ataupun group
diskusi.
6.8.2 Basemap
Basemap adalah salah satu data yang dapat ditambahkan ke ArcGIS Desktop
secara online. Basemap pada ArcGIS Desktop adalah data dasar yang disediakan
oleh ESRI yang dapat berupa data raster maupun vektor. Untuk menambahkan
basemap di dalam ArcMap bisa dilakukan dengan langkah-langkah berikut.
Buka ArcMap
Tambahkan data C:\x1data\bab06\data\kecamatan-ref.shp
Klik pada tombol tanda panah kecil di sebelah ikon Add Data
Pilih Add Basemap
Terdapat beberapa basemap yang tersedia (imagery, imagery with label,
streets, dsb). Pilih salah satu misalkan Imagery.
Tunggu beberapa saat karena ArcMap perlu terhubung ke internet dan
mendownload basemap yang dipilih pada extent sesuai data frame.
Layer basemap World_Imagery akan tampil pada TOC
Sebuah citra tampil overlay dengan data kecamatan-ref.shp
Image yang ditampilkan menyesuaikan dengan level zoom. Semakin zoom
maka semakin tinggi resolusi background yang ditampilkan.
224 Pemetaan dan Visualisasi
Gambar 6-55 Menambahkan basemap secara online pada ArcMap
Basemap sangat membantu analisis-analisis GIS dengan ArcGIS. Tanpa
menambahkan data tambahan pengguna sudah dapat menampilkan data rujukan
misalnya citra resolusi tinggi, informasi jalan dan lain sebagainya.
6.8.3 Mapservice
Bab 6 Input Data 225
Web Map Service (WMS) adalah metode publikasi peta berbasis web yang dapat
dibagikan secara online melalui internet ataupun lewat jaringan intranet. Data
yang dipublikasikan secara online berupa mapservice tidak akan terekspos dalam
bentuk data asli (fitur), melainkan sudah dalam bentuk gambar/raster. Pengguna
dapat menggunakan mapservice dengan aplikasi berbasis web, ArcMap, ArcGIS
Explorer, dan lain sebagainya.
Beberapa MapService
Beberapa lembaga di Indonesia telah merilis data spasial dalam mapservice yang
dapat digunakan secara terbuka oleh siapa pun yang memiliki koneksi internet.
Berikut adalah beberapa penyedia mapservice yang tersedia.
Tabel 6-4 Beberapa mapservice lembaga-lembaga di Indonesia
Lembaga Mapservice
Bakosurtanal (BIG) http://geoservices.ina-sdi.or.id/ArcGIS/rest/services
Kementerian Kehutanan http://webgis.dephut.go.id/arcgis/rest/services/
BNPB (Peta Tematik) http://geoservice.bnpb.go.id:8399/arcgis/rest/services
BNPB (Peta Dasar) http://gisserver.bnpb.go.id:8399/arcgis/rest/services
Kementerian Pertanian http://203.190.36.46/arcgis/rest/services/
LAPAN http://202.43.161.180/arcgis/rest/services/
Kementerian Perhubungan http://gis.dephub.go.id/arcgis/rest/services/
http://gis2.dephub.go.id/ArcGIS/rest/services/
Kementerian Pekerjaan http://sigi.pu.go.id/ArcGIS/rest/services
Umum
Alamat mapervice seperti disajikan pada Tabel 6-4 hanya sebagian kecil saja dari
mapservice yang tersedia. Selain itu, pada saat pembaca membaca buku ini
mungkin sudah ada perubahan terkait ketersediaan (aktif/mati) dan link yang
dipublikasikan.
Memeriksa ketersediaan dan detail mapservice
Untuk memeriksa ketersediaan suatu mapservice dapat dilakukan dengan cara
mengaksesnya melalui web browser seperti pada langkah-langkah berikut.
226 Pemetaan dan Visualisasi
Buka alamat mapservice seperti yang tersedia pada Tabel 6-4, misalnya
http://webgis.dephut.go.id/arcgis/rest/services/
Buka salah satu service yang tersedia. Sebagai contoh coba buka service
Batas DAS yang berada pada urutan teratas pada laman tersebut.
Terdapat beberapa link untuk mendownload layer dari service yang berada di
baris View In. Jika pengguna ingin membuka mapservice pada ArcMap,
Lakukan Klik pada link View in: ArcMap. Langkah tersebut akan
mendownload satu file layer yang dapat disimpan pada komputer lokal. File
layer yang di-download dapat ditambahkan ke ArcMap.
Untuk melihat footprint, yaitu cakupan dari data, pengguna dapat
mendownload View Footprint In: GoogleEarth
Selain itu, service dapat ditambahkan ke perangkat lunak GIS yang
mendukung mapservice dengan interface yang didukung oleh service yang
bersangkutan. Daftar interface yang didukung oleh suatu service dapat dilihat
pada bagian bawah dari service, seperti REST, SOAP dan WMS.
Pengguna dapat melakukan beberapa operasi GIS pada service. Pengaturan
ini tergantung kepada pihak yang membuat service yang bersangkutan.
Macam operasi GIS yang dapat dilakukan misalnya Export map, Identify,
Find dan Generate KML.
Gambar 6-56 Memeriksa ketersediaan dan detail mapservice
Bab 6 Input Data 227
Melakukan pengecekan mapservice dengan langsung mengunjungi alamat
mapservice menggunakan web browser sangat berguna sebelum menambahkan
mapservice ke dalam ArcGIS Desktop.
Membuat koneksi ke MapService
Menambahkan data (service) ke dalam ArcMap sudah sekilas dibahas pada
beberapa paragraphs sebelumnya. Cara tersebut sangat sederhana karena cukup
menyimpan file layer yang terdapat pada View In: ArcMap, dan menambahkan
file layer ke ArcMap (Gambar 6-56 Nomor 3).
Namun cara tersebut memiliki kekurangan jika layer (service) yang ingin
ditambahkan jumlahnya banyak. Agar tidak perlu mendownload layer dari setiap
service, pengguna dapat membuat koneksi ke mapservice yang selanjutnya
tinggal menambahkan service seperti menambah data pada umumnya.
Berikut adalah contoh membuat koneksi ke MapService dengan menggunakan
mapservice Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan
(http://webgis.dephut.go.id/arcgis/rest/services/).
Buka ArcMap
Tambahkan data sebagai referensi, misalnya
C:\x1data\bab06\data\kecamatan-ref.shp
Klik pada tombol Add Data
Pada drop-down Look in, pilih GIS Servers
Klik pada Add ArcGIS Server, Klik Add
Pilih Use GIS Service, pilih next
Isikan alamat service yang diinginkan. Sebagai latihan, pengguna isikan
alamat mapservice Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dengan
alamat http://webgis.dephut.go.id/arcgis/rest/services/
Abaikan User Name dan Password
Klik Finish
Jika koneksi berhasil, di dalam GIS Servers akan muncul tambahan service
yang sudah tersimpan, yaitu dengan nama arcgis on webgis.dephut.go.id
(user)
228 Pemetaan dan Visualisasi
Gambar 6-57 Membuat koneksi ke mapservice Kemen LHK
Setelah koneksi ke suatu mapservice dibuat, maka semua service yang berada di
dalam mapservice tersebut akan langsung dapat diakses seperti data pada
umumnya.
Menambah service dari MapService
Menambahkan service dari mapservice dapat dilakukan dengan beberapa cara,
misalnya
- Mendownload file layer dari suatu service dan menambahkan layer tersebut
ke ArcMap atau software ArcGIS Desktop lainnya. Kunjungi halaman suatu
service dengan web browser dan download file layer (lihat Gambar 6-56
Nomor 3).
Bab 6 Input Data 229
- Membuat koneksi ke mapservice seperti telah dibahas pada Gambar 6-57
halaman 229. Selanjutnya service dapat ditambahkan seperti menambahkan
data biasa
Menambahkan service ke dalam ArcMap setelah koneksi ke mapservice dapat
dilakukan seperti pada langkah-langkah berikut.
Buka ArcMap
Klik pada tombol Add Data
Pilih GIS Servers
Pilih mapservice yang sudah dikoneksi pada tahapan sebelumnya Gambar
6-57 halaman 229
Terdapat beberapa layer yang bisa dipilih, sebagai contoh pilih layer
Kawasan Hutan, Klik Add (atau langsung Klik-ganda pada layer Kawasan
Hutan)
Layer kawasan hutan muncul pada TOC
230 Pemetaan dan Visualisasi
Gambar 6-58 Menambahkan service dari mapservice ke ArcMap
Catatan: Selain platform mapserviec (Web Map Service, WMS), terdapat
juga Web Feature Service (WFS) yang mempublikasikan data spasial secara
online dalam bentuk fitur, bukan image. Namun penggunaan WFS masih
sangat terbatas dan seringkali tidak terbuka untuk umum.
6.9. Input data format lain
Format data standard dari ArcGIS Desktop adalah Geodatabase, yang dapat berisi
berbagai tipe data, coverage, dan sebagainya. Di dalam geodatabase, data raster
dan vektor dapat disimpan berdampingan tanpa harus dipisahkan ke dalam
Bab 6 Input Data 231
geodatabase yang berbeda. ArcGIS Desktop juga masih mendukung format
standard ESRI sebelumnya khusus untuk data vektor, yaitu shapefile, yang tentu
saja dapat dengan mudah disimpan, diedit dan dikelola dengan menggunakan
ArcGIS Desktop.
Namun karena ArcGIS Desktop bukan satu-satunya perangkat lunak GIS, dan
juga disiplin GIS sangat berhubungan dengan disiplin lain maka tersedia banyak
sekali format data spasial.
Input data format lain, selain format ESRI (shapefile atau geodatabase) seringkali
menimbulkan masalah. Pengguna ArcGIS Desktop mungkin menerima suatu
data spasial dalam format asing yang sama sekali belum pernah digunakan.
Format lain yang dapat dijadikan sebagai input data pada ArcGIS dapat
dikategorikan menjadi 3 tipe, yaitu (1) data tabular, (2) data raster, dan (3) data
vektor. Penjelasan mengenai penanganan setiap kategori format lain tersebut
dapat dijelaskan pada bahasan berikut.
6.9.1 Input tipe data tabular
Data tabular adalah data yang berisi informasi atribut dengan format tabel. Data
tabular sudah umum dibuat menggunakan software spreadsheet seperti MS Excel,
sehingga format data tabular yang dijadikan input ArcGIS Desktop pun sebagian
besar adalah format .xls atau .xlslx.
Untuk data tabular yang dibuat oleh software lain masih dapat dijadikan sebagai
bahan input dengan terlebih dahulu dikonversi ke format yang sudah sangat lama
dan populer digunakan seperti .dbf, .txt, dan .csv.
Skema penanganan data format lain untuk dijadikan input data tabular ke ArcGIS
Desktop dapat digambarkan dengan gambar berikut.
232 Pemetaan dan Visualisasi
Data Tabular Ya
Dikenali ArcGIS? Add ke ArcMap
No Plot XY
Ada informasi Ya Bisa dibuka dengan Ditampilkan di
koordinat (XY) ? No Excel, Notepad, atau ArcMap
software lain yang
No dimiliki?
Ya
Ekspor ke format
yang dikenali
ArcGIS misalnya
dbf, txt, csv
Gambar 6-59 Skema input data atribut untuk plotting data
Gambar 6-59 menunjukkan metode input data untuk plotting spasial data.
Beberapa data atribut tanpa informasi koordinat (XY) mungkin memiliki
pengecualian karena meskipun tidak memiliki informasi koordinat tetap
diperlukan untuk analisis GIS sepanjang memiliki field kunci untuk dapat
dikorelasikan dengan data spasial misalnya dengan operasi COGO, join, atau
relate.
Lebih lanjut mengenai atribut dibahas pada 0 hal. 306.
6.9.2 Input tipe data raster
Data tipe raster adalah data gambar (image) yang tersusun atas sel-sel (pixel)
dengan nilai tertentu. Beberapa format umum yang biasa digunakan untuk data
raster adalah .tif, .jpg, .asc, .img, grid, .jpg, .bmp, .gif, .png, .bil/bip/bsq, .dat, dan
sebagainya.
Skema penanganan data format lain untuk dijadikan input data raster ke ArcGIS
Desktop dapat digambarkan dengan gambar berikut.
Bab 6 Input Data 233