Penutup: Penguasaan ArcCatalog akan sangat membantu pengguna ArcGIS
Desktop untuk lebih efektif dalam mengelola data spasial. ArcCatalog dapat
menjalankan fungsi analisis secara terbatas seperti menjalankan ArcToolbox.
Pengguna ArcGIS Desktop seringkali menggunakan ArcMap dan ArcCatalog
secara bersamaan untuk menjalankan tugas-tugas GIS secara efektif dan
efisien.
134 Pengenalan
Bab 4 Pengenalan ArcCatalog 135
Bab 5. Ekstensi
Bab ini berisi beberapa sub-bab sebagai berikut: Pengenalan
Pengenalan ekstensi
Menambahkan ekstensi
Tampilan ekstensi
Sekilas ekstensi dari ESRI
Ektensi 3rd party gratis
Ekstensi 3rd party berbayar
136
Ekstensi adalah software tambahan (add-on) untuk menambah kapabilitas dari
ArcGIS. Beberapa fungsi khusus tidak dapat dilakukan hanya menggunakan
ArcGIS Desktop. Namun, ESRI telah membuka ruang bagi para developer untuk
mengembangkan ekstensi bagi ArcGIS Desktop.
Ekstensi dibuat untuk melaksanakan tugas-tugas tertentu, baik tugas yang
memang di dalam ArcGIS belum tersedia, maupun tugas GIS yang sebenarnya
sudah tersedia tetapi tidak dalam satu kesatuan.
Ekstensi dapat dikategorikan sebagai ekstensi dari ESRI sebagai pembuat
ArcGIS Desktop dan ekstensi dari pihak ketiga (3rd party). Ekstensi juga dapat
dikategorikan sebagai ekstensi berbayar dan ekstensi gratis.
5.1. Pengenalan ekstensi
Ekstensi dalam ArcGIS membantu pengguna untuk melakukan banyak hal
sebagai berikut (ESRI 2013):
o Menganalisa data dengan perspektif yang lebih sesuai
o Melakukan analisis spasial lebih lanjut untuk memperoleh keluaran sesuai
kebutuhan
o Menggunakan tool statistik lebih lanjut
o Melakukan analisis jejaring seperti mencari route yang kompleks, fasilitas
terdekat dan analisis area layanan
o Menganalisa pola dan trend temporal
o Menyajikan dan memahami jejaring
ESRI telah merilis banyak sekali ekstensi untuk ArcGIS Desktop yang
dikategorikan ke dalam tiga kelompok, yaitu ekstensi untuk menunjang (1)
analisis, (2) produktivitas, (3) berbasis solusi. Selain itu ESRI juga menyediakan
banyak ekstensi yang gratis seperti tampak pada table di bawah ini
Bab 5 Ekstensi 137
Tabel 5-1 Ekstensi ArcGIS Desktop dari ESRI
Kategori Ekstensi
Analisis ArcGIS 3D Analyst
ArcGIS Geostatistical Analyst
ArcGIS Network Analyst
ArcGIS Schematics
ArcGIS Spatial Analyst
ArcGIS Tracking Analyst
ArcGIS Infographics Add-In
Produktifitas ArcGIS Data Interoperability
ArcGIS Data Reviewer
ArcGIS Publisher
ArcGIS Workflow Manager
Solusi ArcGIS Defense Solutions (includes ArcGIS Military Analyst, Grid
Manager, and MOLE)
ArcGIS for Aviation: Airports
ArcGIS for Aviation: Charting
ArcGIS for Maritime: Bathymetry
ArcGIS for Maritime: Charting
Esri Defense Mapping
Esri Production Mapping
Esri Roads and Highways
Ekstensi gratis ArcGIS Editor for OpenStreetMap
Districting for ArcGIS
Esri S-57 Viewer
Free Geoportal Add-ons
U.S. National Grid Tools for ArcGIS
WMC Client
NITF
Sumber http://www.esri.com/software/arcgis/arcgis-for-desktop/extensions
138 Pengenalan
5.2. Mengaktifkan ekstensi
Ekstensi yang sudah terpasang pada ArcGIS Desktop dapat diaktifkan ataupun
di-non-aktifkan oleh pengguna. Seringkali pengguna ArcGIS Desktop tidak dapat
menjalankan tool-tool tertentu karena tool tersebut berhubungan dengan ekstensi
yang tidak aktif. Untuk mengaktifkan / me-non-aktifkan ekstensi pada ArcGIS
Desktop (ArcMap) dapat dilakukan dengan cara berikut.
Klik pada menu Costumize
Pilih Extensions
Aktifkan tanda centang pada ekstensi yang ingin diaktifkan, atau
Matikan tanda centang pada ekstensi yang ingin di-non-aktifkan
Gambar 5-1 Mengaktifkan ekstensi pada ArcMap
5.3. Menambah ekstensi ke ArcGIS Desktop
Ekstensi dapat ditambahkan ke dalam ArcGIS dengan beberapa metode, yaitu
melalui instalasi, ArcToolbox maupun file library (DLL). Pilihan penambahan
ekstensi tersebut sangat tergantung kepada pembuat (developer) ekstensi masing-
masing dengan memperhatikan kapabilitas, kompleksitas dan dependensi dari
ekstensi.
Ekstensi yang besar dengan jumlah tool yang sangat banyak memerlukan proses
instalasi, sedangkan ekstensi yang sederhana dapat ditambahkan dengan file
Bab 5 Ekstensi 139
library DLL saja. Beberapa ekstensi yang dibuat opensource seringkali hanya
berupa script dan disematkan pada ArcToolbox.
5.3.1 Menambah ekstensi melalui proses install
Bagian ini menyajikan ilustrasi bagaimana melakukan instalasi ekstensi di
ArcGIS dengan contoh ekstensi ArcHydro. Ekstensi tersebut adalah salah satu
ekstensi ArcGIS Desktop yang tidak dijadikan installer default bersama-sama
dengan ArcGIS Desktop. Proses instalasi mirip dengan instalasi software biasa.
Namun ekstensi ini tidak menghasilkan software baru dengan shortcut baru,
melainkan menambahkan kapabilitas tambahan bagi ArcGIS Desktop.
Instalasi ArcHydro dapat dilakukan dengan langkah berikut.
Download installer ArcHydro di website ESRI dengan alamat web
http://downloads.esri.com/archydro/archydro/Setup/ yang terdiri. Terdapat
installer untuk beberapa versi ArcGIS Desktop. Pilih versi installer yang
bersesuaian. Penulis juga sudah menyediakan installer ArcHydro pada folder
C:\x1data\software\ArcHydro
Gambar 5-2 File installer ekstensi Archydro di server ESRI
Jalankan installer; Software ArcGIS Desktop (ArcMap, ArcCatalog,
ArcScene atau ArcGlobe) sebaiknya tidak sedang aktif.
Jika ada pesan Security Warning pilih Run. Hal ini sangat tergantung
pengaturan keamanan OS Windows masing-masing.
Lanjutkan proses instalasi seperti instalasi software lainnya. Pilihan next, I
accept, next, install, akan muncul dan harus dipilih.
Setelah instalasi selesai, buka ArcMap
ArcHydro bisa diaktifkan di ArcMap dengan mengaktifkan toolbar ArcHydro
seperti pada Gambar 5-3.
140 Pengenalan
Gambar 5-3 Toolbar ArcHydro sudah aktif di ArcMap
Proses instalasi menghasilkan file-file binary yang dapat dieksekusi yang
disimpan di dalam folder Program Files. File installer yang di-download dapat
dijadikan arsip setelah proses instal dan hanya diperlukan jika pengguna akan
melakukan instalasi ulang.
5.3.2 Menambah ekstensi melalui ArcToolbox
Beberapa ekstensi menggunakan ArcToolbox untuk diintegrasikan ke dalam
ArcGIS Desktop. Sebagai contoh adalah ekstensi Landscape Fragmentation Tool
(LFT) yang dapat dilakukan sebagai berikut.
Download LFT versi 2.0 pada website CLEAR (Center for Land Use
Education and Research) http://clear.uconn.edu/tools/download.asp
Untuk men-download, pengguna harus mengisikan data diri, organisasi, dan
tool yang diperlukan.
Bab 5 Ekstensi 141
Gambar 5-4 Tempat download LFT
Penulis juga sudah menyediakan file instalasi LFT pada folder
C:\x1data\software\ Landscape_Fragmentation_SA
Ekstrak file yang di-download ke folder mana saja. Jika menggunakan file
yang disertakan penulis, salin folder Landscape_Fragmentation_SA ke ke
folder mana saja yang dapat diakses oleh software ArcGIS Desktop.
Sebaiknya simpan di HardDisk C:
Buka ArcMap dan tampilkan box ArcToolbox
Klik kanan pada ArcToolbox > Add Toolbox
Arahkan ke folder seperti pada Langkah 2 ataupun folder
C:\x1data\software\Landscape_Fragmentation_SA
Pilih toolbox untuk ArcGIS 10 sesuai dengan versi ArcGIS Desktop yang
digunakan
Klik Open
Sebuah toolbox tambahan dari LFT akan tampil pada ArcToolbox
142 Pengenalan
Gambar 5-5 Menambahkan ekstensi melalui ArcToolbox
5.3.3 Menambah ekstensi melalui file library
Beberapa ekstensi menambahkan dirinya ke ArcGIS Desktop melalui file library
dengan format DLL. Beberapa ekstensi juga memerlukan penambahan melalui
file library selain dengan instalasi, seperti ekstensi Jennessent Repeating
Shapes.
Sebagai contoh, silakan unduh ekstensi Jennessent Repeating Shapes di laman
http://www.jennessent.com/arcgis/repeat_shapes.htm atau dapat dilihat pada
folder folder C:\x1data\software\repeat_shapes_10. Langkah pemasangan
ekstensi tersebut adalah sebagai berikut.
Instal ekstensi Jennessent Repeating Shapes seperti software lain pada
umumnya (lihat hal 140)
Pastikan bahwa anda mengetahui di mana ekstensi tersebut diinstall. Sebagai
contoh untuk Win7 64 bit secara default proses instalasi ekstensi tersebut
adalah di C:\Program Files (x86)\Jennessent\repeating_shapes
Buka ArcMap
Klik menu Customize > Customize mode
Pilih Add from file
Arahkan ke folder tempat instalasi (Langkah 2)
Klik pada file repeat_shapes.dll, Klik Open
Bab 5 Ekstensi 143
Gambar 5-6 Menambahkan ekstensi melalui file library (1)
Buka tab Command
Cari tool Jenness Enterprise
Pilih pada command Repeating Shapes, drag-n-drop ke salah satu toolbar
Tool Jennesent Repeating Shape akan tampil di toolbar yang dituju
Gambar 5-7 Menambahkan ekstensi melalui file library (2)
144 Pengenalan
Beberapa ekstensi hanya perlu ditambahkan file DLL tanpa proses instalasi
terlebih dahulu.
5.3.4 Menambahkan ekstensi melalui Add-Ins
Beberapa ekstensi ditambahkan ke ArcGIS Desktop melalui Add-Ins. Sebagai
contoh penambahan Add-Ins adalah menambahkan FGDC Metadata Editor untuk
ArcCatalog yang dapat ditambahkan seperti langkah-langkah berikut.
Download add-ins dari website
http://links.esri.com/metadata_fgdceditor_addin. Sebagai alternatif, penulis
sudah menyiapkan file hasil download yaitu file
C:\x1data\software\fgdc.esriaddin.
Salin file addin tersebut ke folder addin untuk ArcGIS, misalnya
C:\Users\kobu\Documents\ArcGIS\AddIns\Desktop10.2. Jika ingin folder
lain di-load oleh ArcGIS Desktop sebagai folder tempat addin, lakukan
pengaturan pada menu Customize > Add-In Manager
Gambar 5-8 Addin FGDC sudah aktif pada Add-In Manager 145
Buka ArcCatalog
Pilih menu Customize
Pilih Customize mode
Pilih tab Commands
Pilih kategori Metadata
Bab 5 Ekstensi
Pilih kemudian drag-and-drop tool Show Metadata Editor ke salah satu
toolbar apa saja yang sedang aktif pada ArcCatalog
Gambar 5-9 Menambahkan addins dengan drag-and-drop ke salah satu toolbar
5.4. Ekstensi dari ESRI
Secara default terdapat beberapa ekstensi dari ESRI yang turut diinstal saat
instalasi ArcGIS Desktop. Daftar ekstensi dari ESRI pada ArcGIS Desktop
adalah:
Spatial Analyst
3D Analyst
ArcScan
Publisher
Data Reviewer
Geostatistical Analyst
Schematics
Tracking Analyst
146 Pengenalan
Setiap ekstensi memiliki tipe lisensi masing-masing. Pengguna dapat
menjalankan ekstensi bawaan ESRI sepanjang tipe lisensi dari ArcGIS Desktop
dapat digunakan menjalankan ekstensi yang bersangkutan.
Beberapa gambaran mengenai sebagian ekstensi bawaan ESRI dapat dijelaskan
sebagai berikut.
5.4.1 Spatial Analyst
Spatial analyst mungkin adalah ekstensi Gambar 5-10 Ekstensi Spatial
yang paling utama untuk analisis data Analyst
spasial pada ArcGIS Desktop. Beberapa
fungsi penting untuk analisis spasial
terdapat pada ekstensi Spatial Analyst.
Semua tool pada ekstensi Spatial Analyst
dapat diakses melalui ArcToolbox seperti
tampak pada Gambar. Sejak ArcGIS versi
10, ArcGIS tidak menampilkan ekstensi
Spatial Analyst berupa toolbar, melainkan
disajikan di dalam ArcToolbox.
Bahasan pada Bagian III buku ini sebagian
besar menggunakan Spatial Analyst.
5.4.2 3D Analyst
3D Analyst adalah ekstensi ArcGIS Desktop yang memiliki kapabilitas untuk
melakukan analisis dan visualisasi tiga dimensi. Ekstensi ini dapat diakses
melalui toolbar dan ArcToolbox seperti dapat dilihat pada Gambar 5-11.
Bab 5 Ekstensi 147
Gambar 5-11 Toolbar dan tool 3D Analyst
Pembahasan lebih lanjut mengenai penggunaan 3D Analyst disajikan pada 0
halaman 932.
5.4.3 ArcScan
ArcScan adalah salah satu ekstensi ArcGIS Desktop dari ESRI yang digunakan
untuk melakukan input data dari data raster. Data raster hasil scan peta manual
dapat digunakan sebagai input data ArcGIS Desktop dengan melakukan digitasi.
Untuk mempercepat proses digitasi, ArcGIS Desktop menyediakan ekstensi
ArcScan yang dapat digunakan untuk membantu proses digitasi peta raster
tersebut. Penggunaan ekstensi ArcScan disajikan pada bagian 6.4 halaman 176.
5.4.4 Publisher
Publisher adalah ekstensi ArcGIS Desktop yang dapat digunakan untuk membuat
paket project yang dapat disalin ataupun dibagi ke komputer lain. Publisher
memungkinkan distribusi project secara efektif dengan pengaturan yang sangat
fleksibel terkait privasi data. Penerima paket project tidak harus memiliki
148 Pengenalan
ArcMap untuk dapat melihat project yang telah dibuat, tetapi cukup
menggunakan ArcReader yang dapat diperoleh secara gratis.
Dengan ekstensi publisher, data dapat didistribusikan dengan memberinya
batasan hanya dapat dilihat tanpa dapat diekspor ataupun dikonversi ke format
lain. Paket project dari publisher juga dapat dilindungi password sehingga hanya
orang-orang tertentu saja yang dapat membuka project tersebut. Penggunaan
ekstensi Publisher disajikan pada bagian 16.13 halaman 757.
5.5. Ekstensi pihak ketiga (3rd party)
Pihak lain selain ESRI juga turut mengembangkan beberapa ekstensi ArcGIS
Desktop. Jumlah ekstensi ArcGIS Desktop sangat banyak sekali jumlahnya, baik
itu ekstensi berbayar, trial maupun gratis. Contoh beberapa ekstensi yang dapat
digunakan untuk membantu tugas-tugas GIS pada ArcMap adalah sebagai berikut
Tabel 5-2 Beberapa ekstensi pihak ketiga untuk ArcGIS Desktop
Developer Ekstensi Lisensi
Spatial Technique (ET) ET GeoTools Berbayar/trial
ian-ko.com ET Surface Berbayar/trial
ET Geo Wizard Berbayar/trial
Jenness Enterprise Corridor Designer Free
jennessent.com Repeating Shapes Free
DEM Surface Tools Free
Spatial Ecology Geospatial Modelling Free
spatialecology.com Environment
USGS ArcGIS Toolbar free
cumulus.cr.usgs.gov/toolbar.php
UtahState Univ TauDEM free
hydrology.usu.edu/taudem/
taudem5/downloads.html
Otago dan Auckland Univ MGET free
mgel.env.duke.edu/mget
CLEAR KML to SHP Free
clear.uconn.edu/tools/index.htm Landscape
Fragmentation
Impervious surface
Bab 5 Ekstensi 149
Developer Ekstensi Lisensi
Urban Landscape
Texas A&M Univ Soil and Water free
http://swat.tamu.edu/software/arcswat Assessment Tool
Minnesota Department of Natural DNRGPS Free
Resources
www.dnr.state.mn.us/mis/
gis/DNRGPS/DNRGPS.html
DataEast XTools Pro Berbayar (trial)
xtoolspro.com CarryMap
TAB Reader
Well Tracking
Daftar ekstensi seperti disajikan pada Tabel 5-2 hanya sebagian kecil dari ekstensi
yang disediakan oleh pihak ketiga. Banyak sekali developer (perusahaan,
komunitas atau perorangan) yang mengembangkan ekstensi ArcGIS Desktop
sesuai dengan bidang-bidang tugas GIS yang spesifik.
Penutup: Ekstensi sangat membantu penyelesaian tugas-tugas GIS pada
ArcGIS Desktop. Pengguna dapat menggunakan ekstensi bawaan dari ESRI
yang turut diinstal saat melakukan instalasi ArcGIS Desktop, maupun
menggunakan ekstensi dari pihak ketiga. Setiap ekstensi memiliki tipe lisensi
masing-masing. Ada lisensi yang free dan ada juga yang berbayar. Meskipun
demikian, ekstensi yang berbayar biasanya juga menyediakan versi trial yang
tetap dapat digunakan dengan sedikit pembatasan fungsi dan waktu
penggunaan.
150 Pengenalan
Bab 5 Ekstensi 151
Bagian II
Pemetaan
dan
Visualisasi
152 Pemetaan dan Visualisasi
Pemetaan dan Visualisasi 153
Bab 6. Input Data
Bab ini berisi beberapa sub-bab sebagai berikut: Pemetaan dan Visualisasi
Sumber input data
Georeferensi data raster
Konversi raster ke vektor
Input data koordinat
Input data vektor berpola/random
Input data GPS
Impor data format lain
Input data online
154
Bab ini memberikan panduan untuk input data ke dalam ArcGIS dengan
menggunakan ArcMap. Beberapa tipe input data dibahas yaitu data raster/scan,
data koordinat, data GPS dan data online. Diharapkan setelah mengikuti Bab ini
pembaca memahami dan dapat melakukan input data ke dalam ArcGIS.
6.1. Sumber input data
Data yang digunakan untuk operasional GIS dengan menggunakan ArcGIS
Desktop dapat berasal dari beberapa sumber. Sebagaimana diilustrasikan pada
gambar berikut, terdapat beberapa sumber data yang dapat digunakan seperti
input data koordinat, citra satelit, peta scan, data online dan data hasil survey
lapangan dengan GPS.
Citra satelite
Online
Koordinat
GPS
Gambar 6-1 Ilustrasi input data ArcGIS Desktop
Namun pada era informasi sekarang ini, pengguna ArcGIS Desktop harus dapat
melakukan input data dengan semua tipe input data tersebut di atas.
Bab 6 Input Data 155
6.2. Georeferensi data raster
Data raster yang digunakan dalam ArcGIS Desktop dapat berupa citra satelit atau
data hasil scan peta kertas. Terhadap data raster yang dijadikan input tersebut,
pengguna harus melakukan georeferensi karena data raster tidak memiliki
referensi spasial atau jika sudah memiliki referensi spasial, masih perlu
melakukan koreksi geometris lebih lanjut.
6.2.1 Georeferensi citra satelit ke titik GPS
Sebagian besar produk citra satelit sudah di-georeferensi oleh penyedia citra.
Sebagai contoh, citra Landsat 7 atau 8 yang sudah diproses hingga tingkat L1T,
sudah ter-georeferensi secara otomatis oleh NASA/USGS menggunakan titik
kontrol dan data DEM. Namun, untuk beberapa analisis yang menuntut ketelitian
geometris yang tinggi, georeferensi citra tetap diperlukan sebagai koreksi
geometris.
Contoh data untuk georeferensi citra adalah citra pan-sharpened Landsat 8
dengan AOI Kota Banjarbaru yang terletak pada folder
C:\x1data\bab05\data\l8\L8-banjarbaru.tif. Citra tersebut sudah ter-
koreksi geometris oleh NASA, namun karena (misalnya) pengguna memiliki
GPS dengan akurasi yang cukup dan ingin melakukan koreksi geometri lebih
lanjut, maka georeferensi terhadap data tersebut tetap dilakukan.
Setelah melakukan pengukuran lapangan terhadap titik2 yang dapat diidentifikasi
pada citra L8-banjarbaru.tif, diperoleh data koordinat 4 buah titik seperti pada
Gambar 6-2.
156 Pemetaan dan Visualisasi
Gambar 6-2 Contoh georeferensi citra Landsat 8 menggunakan ground control points
Untuk melakukan georeferensi menggunakan ArcMap terhadap citra satelit dapat
dilakukan tahapan persiapan seperti pada langkah-langkah berikut.
Buka ArcMap, set proyeksi data frame (layers) ke GCS WGS 1984, sesuai
dengan data koordinat referensi (titik kontrol) pada Gambar 6-2. Jika titik
kontrol yang digunakan adalah dalam UTM, maka proyeksi yang digunakan
harus bersesuaian.
Tambahkan data C:\x1data\bab05\data\l8\L8-banjarbaru.tif ke dalam TOC.
Jika ada pertanyaan untuk membuat pyramid, silakan pilih Yes atau No.
Aktifkan toolbar Georeferencing pada menu Customize > Toolbars >
Georeferencing
Posisikan toolbar Georeferencing sesuai dengan keinginan pengguna.
Georeferensi sudah siap dilakukan. Perlu di catat bahwa citra yang akan di-
georeferensi sudah memiliki sistem koordinat GCS (dari penyedia citra). Di
bagian ini pengguna akan melakukan koreksi terhadap georeferensi yang sudah
dilakukan dengan data lapangan (titik kontrol) yang pengguna anggap lebih
akurat sebagai berikut
Bab 6 Input Data 157
Tabel 6-1 Daftar koordinat untuk georeferensi citra satlelit
No Titik X Y
-3.405026
1 114.668861 -3.522872
3o 34’ 4.72” LS
2 114.716993 3 o 21’ 53.37” LS
3 114o 49’ 44.64” BT
4 114o 54’ 46.64” BT
Setelah persiapan georeferensi dilakukan, tahapan selanjutnya adalah melakukan
georeferensi yang dapat dilakukan seperti pada langkah-langkah berikut
Pastikan layer target pada toolbar Georeferencing adalah L8-banjarbaru.tif.
Untuk project dengan beberapa layer, akan besar kemungkinan salah
penentuan layer target.
Zoom di sekitar Titik 1 seperti ditunjukkan oleh Gambar 6-2
Klik pada Add Control Point
Klik pada perempatan jalan seperti ditunjukkan oleh gambar
Klik-kanan di mana saja pada Data frame > Input X and Y
Isikan 114.668861 untuk X, -3.405026 untuk Y, yaitu titik koordinat Titik 1
seprti pada
158 Pemetaan dan Visualisasi
Tabel 6-1
Klik OK untuk konfirmasi
Lakukan langkah 6-7 untuk Titik 2 dengan koordinat yang bersesuaian.
Gambar 6-3 Memasukan titik GCP dengan satuan koordinat derajat desimal
Pengguna dapat melakukan navigasi menggunakan zoom atau pan selama proses
georeferensi. Sesi georeferensi akan kembali aktif ketika pengguna kembali
menggunakan toolbar Georeferencing.
Contoh titik kontrol 1 dan 2 adalah menggunakan penulisan koordinat decimal
degree. Sebagai alternatif, pengguna juga dapat menggunakan penulisan
koordinat dalam DMS (derajat, menit, detik) seperti pada titik kontrol 3 dan 4
berikut.
Lakukan Langkah 2 – 7 untuk titik kontrol 3 dan 4. Zoom pada lokasi titik 3 dan
titik 4 seperti ditunjukkan oleh Gambar 6-2. Selanjutnya cari fitur serupa seperti
pada Gambar 6-4
Bab 6 Input Data 159
Untuk Titik 3 dan 4, gunakan Input DMS of Lon and Lat…
Gambar 6-4 Memasukan titik GCP dengan satuan koordinat degree-minute-second (DMS)
Untuk georeferensi lebih advance, silakan buka table yang terdapat di toolbar
Georeference sehingga muncul display seperti pada Gambar 6-5, dengan
penjelasan sebagai berikut.
Link; Titik GCP berurutan sesuai urutan Klik
X Source dan Y Source; Posisi X dan posisi Y sebelum georeferensi
X Map dan Y Map; Posisi X dan posisi Y baru setelah georeferensi
Residual_x dan Residual_y; Error X dan error Y dengan satuan sesuai dengan
satuan data frame
Residual; Error gabungan antara error X dan error Y
Transformation; Mode transformasi
160 Pemetaan dan Visualisasi
Gambar 6-5 Tabel georeferensi
Pada Gambar 6-5 di atas harus diperhatikan jumlah titik kontrol yang diperlukan
dan mode transformasi yang terbaik. Buku ini tidak membahas teori analisis citra
sehingga tidak membahas mengenai jumlah titik yang optimal dan mode
transformasi yang terbaik untuk berbagai penggunaan.
Setelah titik kontrol dimasukan, lakukan georeferensi. Klik menu
Georeferencing (pada toolbar Georeference) > Update Georeferencing
Gambar 6-6 Update georeferensi
Catatan: georeferensi citra satelit memerlukan pengetahuan tentang areal
yang dipetakan. Pada data citra satelit tidak terdapat grid referensi spasial (grid
sistem koordinat), sehingga penentuan titik kontrol pada citra ditentukan
berdasarkan identifikasi visual dan pengalaman pengguna.
Bab 6 Input Data 161
6.2.2 Georeferensi gambar peta ke grid referensi spasial
Persiapan gambar peta
Gambar peta adalah tipe data raster yang diperoleh dari proses scan, foto, maupun
ekspor layout. Jadi gambar peta adalah peta (layout), sehingga terdapat elemen-
elemen peta seperti judul, skala, arah utara, grid referensi spasial, dan sebagainya.
Format gambar peta sama dengan format image seperti TIF atau JPG.
Karena gambar peta adalah sebuah peta (layout) yang seharusnya memiliki grid
referensi spasial (grid sistem koordinat), maka georeferensi gambar peta dapat
dilakukan dengan menggunakan grid referensi spasial tersebut. Beberapa hal
yang harus diperhatikan sebelum melakukan georeferensi gambar peta
menggunakan grid referensi spasial adalah sebagai berikut.
- Cek ketersediaan grid referensi spasial. Apakah tersedia grid sistem koordinat
pada gambar peta? Jika tidak tersedia, maka georeferensi tidak dapat
dilakukan berdasarkan grid referensi spasial.
- Cek garis grid atau tanda ticks (+) di dalam bidang peta. Jika tidak ada grid
atau tanda tick tersebut maka perlu ditambahkan secara manual baik pada peta
sebelum di-scan ataupun pada file image (TIF/JPG) menggunakan software
pengolah gambar sebelum georeferensi dilakukan.
- Jika dilakukan proses scan, sebaiknya dilakukan dengan menggunakan
scanner yang sesuai dengan ukuran peta. Jika peta berukuran besar (A1 atau
A0), lakukan scan dengan scanner berformat lebar.
- Jika tidak tersedia scanner format lebar, peta ukuran besar bisa di-scan
dengan ukuran kecil dengan diberikan grid tambahan untuk membantu
menggabungkan peta dengan perangkat lunak pengolah image
- Jika dilakukan proses foto terhadap peta kertas, jauhkan jarak kamera dari
peta untuk memperkecil sudut pengambilan foto. Cara ini serupa dengan foto
udara, sehingga teori dan praktik foto udara harus diperhatikan.
- Resolusi tidak boleh terlalu kecil karena akan menghilangkan detail peta.
Resolusi juga tidak boleh terlalu besar karena akan sangat membebani
komputer. Menurut pengalaman penulis, resolusi 300 dpi sudah cukup untuk
gambar peta.
162 Pemetaan dan Visualisasi
Contoh gambar peta yang sudah siap dilakukan proses georeferensi adalah file
C:\x1data\bab05\data\scan\banjarbaru-lokasi.jpg (Gambar 6-7). Perhatikan
bahwa image banjarbaru-lokasi.jpg sudah memiliki beberapa komponen yang
diperlukan untuk georeferensi ke grid koordinat sebagai berikut.
- Grid sistem koordinat UTM Zona 50 S
- Grid sistem koordinat Geografis
- Garis grid koordinat Geografis
- Grid tick koordinat UTM Zona 50 S
Gambar 6-7 Contoh peta scan (raster) untuk georeferensi
Persiapan georeferensi ke grid
Georeferensi gambar peta ke grid referensi memerlukan langkah-langkah
persiapan yang harus dilakukan/ditentukan seperti berikut.
Tentukan sistem koordinat apa yang akan digunakan. Pada Gambar 6-7
tampak bahwa terdapat dua sistem koordinat yang dapat digunakan, yaitu
GCS dan UTM Zona 50. Misalnya dipilih UTM Zona 50 S sebagai sistem
koordinat yang dipilih.
Buka ArcMap. Set sistem koordinat Data Farme menjadi Projected
Coordinate Systems > UTM > WGS 1984 > Southern Hemisphere > WGS
1984 UTM Zone 50S
Pada tab General, set Display Unit adalah meters
Bab 6 Input Data 163
Tambahkan C:\x1data\bab05\data\scan\banjarbaru-lokasi.jpg ke dalam
ArcMap. Jika ada pesan membuat file pyramid dan unknown spatial
reference, abaikan saja.
Cek ulang apakah satuan koordinat pada status bar apakah sudah sesuai
dengan sistem koordinat atau belum.
Gambar 6-8 Menambahkan data peta scan ke ArcMap
Georeferensi ke grid
Tahapan selanjutnya adalah memasukan ground control points (GCP) dengan
langkah-langkah sebagai berikut
Aktifkan toolbar Georeferencing
Pastikan yang menjadi target adalah banjarbaru-lokasi.jpg
Zoom ke bagian pojok kiri atas peta
164 Pemetaan dan Visualisasi
Klik pada Add control points pada toolbar Georeferencing
Klik pada tick grid (+) seperti pada Gambar 6-9
Klik Kanan di mana saja pada data view > Input X and Y
Isikan angka koordinat X dan Y yang bersesuaian, yaitu X=242000 dan
Y=9625000
Klik OK untuk konfirmasi
Image akan bergeser menyesuaikan dengan koordinat yang di-input. Untuk
menampilkan keseluruhan layer, Klik-kanan di atas layer banjarbaru-
lokasi.jpg > Zoom to layer. Maka view akan bergeser mengikuti layer
banjarbaru yang sudah berpindah sesuai koordinat baru
Gambar 6-9 Menambahkan GCP ke peta scan
Lakukan langkah 4 – 9 tersebut di atas untuk GCP lainnya. Buat 4 buah GCP
dengan konstelasi seperti pada gambar berikut.
Bab 6 Input Data 165
Gambar 6-10 Posisi GCP pada peta scan
Catatan: Pada umumnya semakin banyak titik kontrol akan semakin baik,
sehingga transformasi untuk melakukan georeferensi pun dapat menggunakan
yang lebih kompleks. Tetapi untuk gambar peta yang terbebas dari distorsi,
seperti peta hasil ekspor layout ke JPG, sejumlah 4 buah titik sudah sangat baik
dan tidak perlu ditambah lebih banyak.
Review link table
Adalah suatu praktik yang baik jika pengguna ArcGIS tidak begitu saja menerima
semua titik kontrol (GCP) yang telah dibuat. Meskipun yakin bahwa semua GCP
valid dan konsisten dengan gambar peta, tetapi melakukan review sebelum
menjalankan georeferensi adalah suatu tindakan yang bijak.
Review pembuatan titik kontrol dilakukan dengan melakukan review terhadap
link table untuk melihat titik mana saja yang memiliki error jauh melebihi titik
kontrol yang lain dan dapat menjadi tersangka sebagai titik kontrol yang keliru.
Selanjutnya terhadap titik kontrol tersebut dapat dilakukan tindakan penyesuaian
atau bahkan penghapusan.
Review link table dapat dilakukan seperti pada langkah-langkah berikut.
166 Pemetaan dan Visualisasi
Klik pada View Link Table yang terdapat pada toolbar Georeferencing
Cek pada kolom residual (error). Pertama, apakah residual pada setiap titik
berada di bawah nilai yang diperkenankan? Jika ukuran sel data raster adalah
30 m, dan residual yang dianggap layak adalah separuh piksel, maka nilai
residual di bawah 15 m dapat dianggap layak untuk digunakan. Jika terdapat
nilai residual lebih besar dari 15 m, maka titik tersebut dapat dihapus atau
diatur ulang. Pengaturan ulang nilai transformasi dapat langsung diisikan
pada Link Table.
Pilih tipe transformasi yang diinginkan. Transformasi harus disesuaikan
dengan kebutuhan. Untuk peta scan pada bagian ini, cukup dipilih 1st Order
Polynomial (Affine)
Gambar 6-11 Review pada Link Table
Jika link table sudah OK, maka georeferensi bisa dijalankan. Untuk mode
transformasi sederhana, cukup lakukan Klik pada menu Georeferencing >
Update Georeferencing.
Namun jika pengguna melakukan georeferensi peta ortho dengan
memperhatikan lengkungan topography, maka sebaiknya langsung jalankan
perintah Klik pada menu Georeferencing > Rectify.
Bab 6 Input Data 167
Gambar 6-12 Update georeferencing dan Rectify
Rectify
Georeferensi dengan Rectify (Gambar 6-12) dilakukan untuk menghasilkan
image baru (save as) dengan pilihan transformasi yang relatif kompleks. Pada
dialog rectify, Pengguna harus menentukan pengaturan seperti pada gambar di
bawah.
Tentukan ukuran pixel (cell size) atau resolusi dalam satuan sesuai dengan
sistem koordinat
Tentukan nilai yang null (NoData)
Tipe resampling
Lokasi penyimpanan file
Format file output
Nama file output
Klik Save
168 Pemetaan dan Visualisasi
Gambar 6-13 Dialog Rectify pada Georeferensi
Pengaturan rectify seperti pada Gambar 6-13 sangat tergantung kepada tipe data
yang digunakan.
6.2.3 Georeferensi data raster ke fitur geografis
Penjelasan kasus
Data raster dapat juga di-georeferensi-kan ke fitur geografis, baik itu fitur yang
sudah dalam format vektor maupun fitur yang berada pada data raster lain (fitur
jalan, sungai, dsb). Metode georeferensi ini diharapkan jadi pilihan terakhir
ketika metode georeferensi menggunakan titik-titik GPS dan grid referensi
spasial tidak dapat dilakukan.
Pada beberapa gambar peta mungkin tidak tersedia grid sistem koordinat. Atau
titik-titik kontrol GPS yang berada pada lokasi yang dapat diidentifikasi pada
citra tidak tersedia. Pada kondisi tersebut, maka georeferensi data raster ke fitur
geografis dapat dilakukan.
Sebagai alternatif, pengguna ArcMap dapat menggunakan fitur geografis untuk
georeferensi, misalnya cabang sungai, persimpangan jalan, dan sebagainya yang
terdapat pada peta scan dan pada database referensi.
Sebagai contoh, file C:\x1data\bab05\data\scan\banjarbaru-ruang.jpg adalah
file gambar peta yang tidak memiliki grid sistem koordinat. Namun seperti halnya
citra satelit, pada gambar tersebut terdapat banyak lokasi yang dapat
Bab 6 Input Data 169
diidentifikasi. Misalnya pengguna dapat melakukan georeferensi dengan
menggunakan 6 buah titik seperti tampak pada Gambar 6-14.
Jika terdapat data koordinat dari keenam titik tersebut, misalnya dari hasil
pengukuran menggunakan GPS receiver, maka pengguna dapat melakukan
tahapan seperti pada bagian 6.2.1 hal 156. Namun jika tidak tersedia, maka
pengguna dapat menggunakan data spasial yang sudah tersedia untuk digunakan
sebagai referensi.
Gambar 6-14 Peta scan tanpa grid sistem koordinat
Persiapan
Untuk melakukan georeferensi menggunakan fitur geografis dari gambar peta
pada Gambar 6-14 dapat dilakukan persiapan seperti pada langkah-langkah
berikut.
Buka ArcMap dan atur sistem koordinat data frame menggunakan UTM Zona
50S
Tambahkan data referensi yaitu kecamatan-ref.shp dan jalan-besar.shp di
dalam folder C:\x1data\bab06\data\
170 Pemetaan dan Visualisasi
Tambahkan data yang akan di-georeferensi-kan, yaitu file banjarbaru-
ruang.jpg di dalam folder C:\x1data\bab06\data\scan. Jika ada pesan bahwa
data tersebut tidak diketahui referensi spasialnya, abaikan saja.
Tampak pada Gambar 6-15 bahwa data gambar peta (banjarbaru-
ruang.jpg) dan data referensi (jalan-besar.shp dan kecamatan.shp) tidak
overlay satu sama lain yang dikarenakan data raster belum memiliki
referensi spasial yang tepat.
Gambar 6-15 Data banjarbaru-ruang.jpg tidak overlay dengan data lainnya sehingga tidak
tampak pada data view
Menambah GCP
Setelah data raster yang akan di-georeferensi-kan dan data fitur target telah
ditambahkan ke TOC, selanjutnya pengguna dapat menambahkan GPC seperti
pada langkah-langkah berikut.
Aktifkan toolbar Georeferencing, pastikan layer banjarbaru-ruang.jpg
menjadi target
Bab 6 Input Data 171
Untuk zoom pada Titik 1 (lihat Gambar 6-14), lakukan Klik kanan pada layer
banjarbaru-ruang.jpg > Zoom To Layer. Selanjutnya gunakan tool navigasi
untuk zoom ke Titik 1 (lihat Gambar 6-14 dan Gambar 6-16)
Klik pada Add control points pada toolbar Georeferencing
Klik pada bagian ujung batas polygon seperti tampak pada Gambar 6-16.
Tahapan selanjutnya adalah tinggal Klik pada lokasi dimana titik tersebut
harus berada. Namun karena tidak ada titik koordinat, pengguna harus Klik di
atas fitur yang sudah memiliki georeferensi sebagai referensi.
Dalam posisi belum melakukan Klik yang kedua, lakukan terlebih dahulu
Klik-kanan di atas layer kecamatan-ref.shp > Zoom to layer
Gambar 6-16 Zoom ke layer peta scan dan zoom ke layer referensi
Gunakan tool navigasi untuk zoom ke spot yang bersesuaian
seperti tampak pada gambar di atas.
Klik pada Add control points pada toolbar Georeferencing (seperti
Langkah 3) untuk mengaktifkan kembali proses pemberian titik kontrol.
Klik pada titik di kecamatan-ref.shp seperti tampak pada Gambar 6-16
172 Pemetaan dan Visualisasi
Catatan: Melakukan georeferensi dengan cara ini cukup tricky sehingga perlu
latihan dan kejelian. Tahapan umum georeferensi terhadap fitur referensi
cukup sederhana, yaitu (1) Klik pada satu titik di peta scan, dan (2) Klik pada
titik di referensi yang bersesuaian. Namun dua titik yang di-Klik tersebut
sering kali tidak berdekatan sehingga pengguna harus melakukan navigasi
(zoom/pan). Untuk itu ArcMap memperkenankan pengguna melakukan
navigasi (zoom to layer, zoom in, pan, atau menggunakan fungsi-fungsi
navigasi lain) untuk mencari titik yang bersesuaian pada layer referensi.
Lakukan langkah 2 – 8 tersebut di atas untuk Titik 2 – 6 pada Gambar 6-14
Lakukan review terhadap Link Table seperti sudah dibahas pada halaman
167.
6.3. Konversi raster ke vektor
Banyak pengguna yang lebih memilih format data vektor dibandingkan dengan
data raster. Meskipun sebenarnya format yang paling ideal untuk analisis spasial
adalah data raster, tetapi memang cukup signifikan juga operasional GIS yang
lebih memerlukan data vektor dibandingkan data raster.
Konversi raster ke vector adalah proses mengubah data raster menjadi data
vector. Proses konversi dilakukan secara manual maupun semi-otomatis.
Beberapa metode yang dapat digunakan untuk konversi raster ke vektor adalah
digitasi, menggunakan software pihak ketiga, dan menggunakan ArcScan. Setiap
bahasan tersebut dibahas pada bagian-bagian berikut ini.
6.3.1 Konversi raster ke vektor secara manual (digitasi)
Digitasi adalah konversi raster ke vektor yang dilakukan secara manual
menggunakan observasi visual dan pembuatan fitur menggunakan tangan.
Digitasi dapat dilakukan (1) menggunakan meja digitasi atau (2) digitasi pada
layar monitor.
Seiring berkembangnya teknologi informasi, digitasi pada layar monitor lebih
populer dilakukan para praktisi GIS. Perlahan-lahan, digitasi menggunakan meja
Bab 6 Input Data 173
digitasi pun ditinggalkan. Faktor harga meja digitasi yang cukup mahal juga turut
menjadi faktor berkembangnya digitasi pada layar.
Urutan tahapan digitasi pada layar monitor adalah sebagai berikut.
Pengguna harus menyiapkan data raster yang akan di-digit, misalnya data
hasil scan, hasil klasifikasi penutupan lahan, dan sebagainya dengan format
image yang didukung oleh ArcMap (TIF, JPG, IMG, dll).
Jika data raster belum memiliki referensi spasial, lakukan georeferensi sesuai
sistem koordinat yang digunakan (halaman 155)
Buat fitur baru point, polyline, atau polygon sesuai dengan skala dan tujuan
studi (halaman 245)
Lakukan digitasi menggunakan editing pada fitur point (halaman 261),
polyline atau polygon (halaman 266)
Catatan: Bagian ini tidak membahas proses digitasi secara khusus melainkan
lebih kepada penekanan digitasi sebagai bagian dari input data. Untuk bahasan
yang berkaitan dengan digitasi menggunakan ArcMap dapat dilihat bahasan
6.4 hal 176 dan 0 hal 244.
6.3.2 Konversi raster ke vektor menggunakan software lain
Banyak terdapat perangkat lunak selain ArcGIS Desktop yang dapat mengonversi
data raster menjadi data raster.
Salah satu contohnya adalah AlgoLab Raster to Vector Conversion Toolkit
(AlgoLab R2V) dengan tampilan seperti pada Gambar 6-17. AlgoLab R2V
adalah software trial. Pengguna dapat mendownload installer software tersebut
pada laman http://www.algolab.com/downloads.htm. Software ini dapat
melakukan konversi otomatis data raster menjadi data vektor. Data raster yang
dijadikan input harus dalam format greyscale ataupun hitam/putih (B/W). Vektor
hasil vektorisasi dapat diekspor ke format DXF yang dapat dibuka menggunakan
ArcMap.
174 Pemetaan dan Visualisasi
Gambar 6-17 konversi raster ke vektor dengan AlgoLab R2V Toolkit
Banyak terdapat alternatif software untuk konversi raster ke vektor. Untuk
software berbayar, pengguna dapat menggunakan Able software R2V, WinTopo,
CorelDraw, Adobe Illustrator, dan sebagainya. Terdapat juga software freeware
seperti Inkscape dan WinTopo Freeware yang menurut penulis sangat powerful
untuk melakukan tugas konversi raster ke ektor.
Yang menarik adalah terdapat juga software konversi raster ke vektor online.
Pengguna hanya perlu internet browser dan meng-upload file raster yang akan
dikonversi ke alamat seperti berikut
- www.autotracer.org
- http://vectormagic.com/home
- http://online.rapidresizer.com/tracer.php
- http://www.vectorization.org/
- http://www.roitsystems.com/cgi-bin/autotrace/tracer.pl
- http://www.enetzwerk.de/svg/index2.html
- dan sebagainya
Bab 6 Input Data 175
6.3.3 Konversi raster ke vektor dengan ArcGIS Desktop
ArcGIS Desktop telah menyediakan tool untuk melakukan input data dari data
raster termasuk melakukan konversi dari data raster menjadi data vektor, yang
dapat disebut sebagai vektorisasi. Tool tersebut ada pada ekstensi ArcScan yang
dapat digunakan pada ArcMap. Kelebihan dari ekstensi ini adalah proses
konversi raster ke vektor dilakukan langsung pada ArcMap, tidak menggunakan
perangkat lunak lain. Sehingga penyesuaian dan supervisi dapat langsung
dilakukan pada ArcMap. Bahasan mengenai ArcScan disajikan pada bahasan
selanjutnya.
6.4. Menggunakan ArcScan
ArcScan adalah salah satu ekstensi standar ArcGIS Desktop yang dapat
digunakan untuk mengonversi data raster ke data vektor. Bahasan penggunaan
ArcScan mencakup persiapan ArcScan, persiapan data raster, vektorisasi
otomatis dan vektorisasi interaktif.
6.4.1 Persiapan ArcScan
Sebelum melakukan vektorisasi dengan ArcScan, pengguna harus melakukan
persiapan ekstensi ArcScan terlebih dahulu yang dapat dilakukan seperti pada
langkah-langkah berikut.
Membuka ArcMap
Menyiapkan Image yang akan dikonversi. Image dapat diperoleh dari hasil
ekspor layout (pihak lain) atau dengan melakukan scan pada peta kertas ke
dalam format raster (TIF, JPG, dsb)
Mengaktifkan ekstensi ArcScan dan menampilkan toolbar ArcScan. Toolbar
ArcScan dapat diaktifkan seperti pada halaman 66, sedangkan ekstensi dapat
diaktifkan dengan melakukan Klik pada menu Customise > Extensions.
Aktifkan ekstensi ArcScan seperti pada dialog berikut.
176 Pemetaan dan Visualisasi
Gambar 6-18 Ekstensi ArcScan dalam status aktif
Membiasakan diri dengan toolbars yang sangat berkaitan dengan ArcScan,
yaitu toolbar Editor, ArcScan dan Raster Painting. Toolbar Editor berfungsi
melakukan editing terhadap database yang berada di dalam satu folder dengan
image. Toolbar ArcScan adalah toolbar utama untuk melakukan vektorisasi.
Sedangkan toolbar Raster Painting berfungsi melakukan fungsi-fungsi edit
image sederhana seperti menghapus pixel, menambah garis pixel, fill warna,
dan sebagainya.
Gambar 6-19 Toolbar Editor, ArcScan dan Raster Painting untuk dapat menggunakan ArcScan
Catatan: Vektorisasi degan ArcScan adalah tugas GIS yang cukup kompleks.
Pengguna tidak saja ditunjuk untuk dapat menguasai toolbar ArcScan tetapi
juga toolbar Editor dan Raster Painting. Penulis sangat menyarankan agar
pengguna melakukan latihan yang cukup.
Bab 6 Input Data 177
6.4.2 Mempersiapkan data raster untuk ArcScan
Tidak semua tipe data raster dapat digunakan dengan baik. Data raster yang
digunakan untuk ArcScan harus sangat sederhana, misalnya
- Bi-level image; yaitu image hitam-putih yang hanya terdiri 1 bit. Hanya ada
dua kelas nilai yaitu nilai background dan foreground. Bi-level image sangat
baik untuk digunakan dalam ArcScan
- Greyscale; Image greyscale adalah image yang hanya terdiri dari satu
kanal/band saja. Image komposit yang terdiri dari beberapa layer tidak dapat
digunakan begitu saja oleh ArcScan. Dengan demikian, peta hasil scan yang
biasanya berupa komposit tiga band (red, green dan blue) harus dikonversi
terlebih dahulu ke greyscale dengan software image prosessing (Photoshop,
GIMP, dan sebagainya).
Image yang digunakan untuk proses vektorisasi menggunakan ArcScan adalah
file bogor_grey.tif yang merupakan sebuah image 8 bit (greyscale) dengan format
TIF yang terdapat pada folder C:\x1data\bab06\data\bogor.
Catatan: Menambahkan data bi-level ke dalam ArcMap terkadang sedikit
tricky. Image mungkin tidak akan langsung tampil dikarenakan adanya
pengayaan kontras secara otomatis oleh ArcMap. Dikarenakan image dalam
grayscale atau hitam-putih, maka pengayaan kontras akan menampilkan
image dalam warna putih sehingga tidak tampak dengan jelas. Pada Gambar
6-20 ditampilkan bagaimana suatu image yang baru ditambahkan ke ArcMap
diatur symbology-nya menggunakan Classified ke dalam 2 kelas.
178 Pemetaan dan Visualisasi
Gambar 6-20 Mengatur symbology data 8-bit agar tampil pada data view
Langkah-langkah persiapan yang harus dilakukan sebelum melakukan
vektorisasi dengan ArcScan adalah seperti pada langkah-langkah berikut
Buka ArcMap
Tambahkan data C:\x1data\bab06\data\bogor\bogor_grey.tif
Atur symbology ke classified ke dalam dua kelas seperti tampak pada Gambar
6-20
Sebagai alternatif dari Langkah 1-3 dapat langsung membuka bab06-03-
02.mxd pada folder C:\x1data\bab06 yang sudah penulis siapkan.
Tambahkan data bogor_grey_line.shp terdapat pada folder yang sama dengan
data raster. Data tersebut adalah data line ‘kosong’ yang akan dijadikan
sebagai tempat menyimpan fitur hasil vektorisasi
Aktifkan ekstensi dan toolbar yang diperlukan (lihat Gambar 6-18 dan
Gambar 6-19)
Aktifkan sesi editing dengan cara Klik pada menu Editor (pada toolbar Editor)
> Start Editing.
Bab 6 Input Data 179
Gambar 6-21 Tampilan ArcMap saat memulai proses vektorisasi dengan ArcScan
Gambar tersebut di atas menunjukkan tampilan ArcMap saat langkah-langkah
persiapan telah selesai dilakukan. Terdapat satu layer raster greyscale dan satu
layer line (target). Serta semua toolbar yang dibutuhkan sudah diaktifkan
Selanjutnya proses vektorisasi dapat dilakukan, baik itu vektorisasi otomatis
ataupun vektorisasi interaktif seperti pada bahasan berikutnya.
6.4.3 Vektorisasi otomatis
Vektorisasi otomatis adalah proses vektorisasi yang dijalankan secara otomatis
tanpa campur tangan pengguna hingga diperolehnya data vektor. Setelah data
vektor diperoleh, pengguna tetap saja perlu melakukan review dan perbaikan
terhadap data vektor yang diperoleh.
Penghalusan image dengan Raster Painting
Image yang dijadikan input vektorisasi sebaiknya sudah dalam kondisi baik.
Image mungkin perlu diedit untuk melakukan hal berikut.
180 Pemetaan dan Visualisasi
- Penghilangan noise; Penghilangan noise dilakukan untuk mengurangi
(calon) fitur yang tidak diperlukan karena tidak bersihnya image. Sel (piksel)
yang tidak diperlukan sebaiknya dihilangkan sebelum proses vektorisasi.
- Penambahan sel-sel baru pada image. Penambahan sel-sel baru digunakan
untuk menambah atau menyambung sel pada image sehingga fitur yang akan
dihasilkan dapat tersambung dengan baik.
Untuk membersihkan image dengan raster painting dapat dilakukan seperti pada
langkah-langkah berikut.
Buka project bab06-03-03.mxd. Terdapat satu data raster sumber dan satu
data vektor target.
Aktifkan sesi editing pada toolbar Editor > Start Editing
Buka menu Bookmarks > Bookmark01 untuk menggeser extent ke area sekitar
judul dan skala peta
Klik pada menu toolbar ArcScan > Cell Selection > Interactive Selection
Target > Foreground Cells.
Gambar 6-22 Memilih Foreground Cells dengan menu interaktif
Klik pada ikon Select Connected Cell yang terdapat pada toolbar ArcScan
Aktifkan Raster Cleanup dengan Klik pada menu Raster Cleanup > Start
Cleanup
Buat kotak untuk memilih sel-sel seputar kotak judul, arah utara dan skala.
Sebagaimana dapat dilihat pada Gambar 6-23 bahwa judul peta dan grid
koordinat dapat dihapus pada data raster. Kotak yang dibuat harus
bersinggungan dengan sel yang akan dihapus.
Hapus raster terpilih dengan Klik pada menu Raster Cleanup > Erase Selected
Cells
Bab 6 Input Data 181
Gambar 6-23 Penghilangan noise dengan Raster Cleanup
Langkah 5 – 8 di atas dapat dilakukan berulang pada setiap raster yang akan
dihilangkan dari proses vektorisasi otomatis. Namun cara tersebut hanya dapat
digunakan sepanjang sel yang akan dihapus tidak terhubung ke sel lain yang
justru diinginkan untuk menjadi data vektor. Pemilihan menggunakan Select
Connected Cell akan secara otomatis memilih semua sel (foreground cell)
yang terhubung dengan kotak pemilihan.
Namun, untuk menghapus noise yang menempel pada ‘calon fitur’ dapat
digunakan tool Erase seperti pada langkah-langkah berikut.
Zoom ke extent seperti tampak pada Gambar 6-24 atau dapat dibuka menu
Bookmarks > Bookmarks02. Tampak fitur tebal berupa data administrasi dan
fitur tipis berupa data jalan. Semisal yang ingin dikonversi ke data vektor
hanya batas administrasi yang tebal, maka fitur jalan di dalam data raster
dapat dihapus.
Gunakan tool Erase pada Raster Painting untuk menghapus sel jalan
pada data raster. Jika ukuran penghapus kurang sesuai, Klik pada ukuran
penghapus yang diinginkan.
182 Pemetaan dan Visualisasi
Gambar 6-24 Menghapus sel dengan tool Erase
Tujuan penghapusan tidak menghapus seluruh sel jalan yang akan dihapus,
namun cukup untuk memisahkan fitur jalan dari fitur batas administrasi. Jika
fitur jalan sudah terpisah dari fitur administrasi, maka sel-sel jalan dapat
dipilih seperti cara pada Gambar 6-23.
Selain melakukan penghilangan noise, pengguna juga dapat melakukan
penambahan sel-sel baru pada image. Hal tersebut sangat baik dilakukan untuk
menyambungkan fitur yang ‘terputus’ pada data vektor seperti pada langkah-
langkah berikut.
Zoom ke extent seperti tampak pada Gambar 6-25 atau dapat dibuka menu
Bookmarks > Bookmarks02
Terdapat fitur batas administrasi yang tidak tersambung. Gunakan tool Brush
atau Line untuk menghubungkan batas administrasi tersebut.
Ukuran Brush dan Line dapat diperbesar dengan ikon dan
Bab 6 Input Data 183