The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by ukipress, 2022-10-24 03:31:08

How to Develop Corporate In Indonesia Especially in Region

4. Pola Hubungan Antara Investasi dan Kemitraan

Sebenarnya pola hubungan antara investasi dan kemitraan ada dalam
kemitraan itu sendiri. Saat terjadi kesepakatan antara usaha besar dan usaha
kecil, maka saat itu juga terjadi arus perpindahan modal dari usaha besar ke
usaha kecil, perpindahan modal tersebut berupa belanja alat-alat produksi
yang diberikan usaha besar pada usaha kecil. Adapun model perpindahan arus
modal, barang dan jasa terdiri dari beberapa pola kemitraan, antara lain :


4.1 Pola-Pola Kemitraan Usaha Besar dan Usaha Kecil

Berdasarkan peraturan pemerintah Republik Indonesia Nomor 44 Tahun
1997, pola kemitraan antara perusahaan nasional (Usaha Besar) dan
perusahaan daerah (Usaha Kecil dan Koperasi) dibagi ke dalam lima jenis
kelompok sebagai berikut (Hafsah, 2000) :

1) Inti-Plasma. Bentuk kerjasama kemitraan antara Usaha Kecil Menengah
dengan Usaha Besar yang memiliki fungsi inti dengan mengembangkan
Usaha Kecil Menengah yang disebut plasma yang berfungsi menyediakan
lahan, sedangkan usaha besar menyediakan alat-alat produksi,
memberikan bimbingan teknis, manajemen usaha dan produksi,
penguasaan dan peningkatan teknologi untuk mencapai usaha kecil
menjadi lebih efisiensi, produktivitas meningkat.
2) Subkontrak. Ini merupakan bentuk kerjasama antara usaha kecil dengan
usaha menengah ataupun usaha besar, dengan pembagian kerjanya adalah
usaha kecil yang mengerjakan pesanan usaha besar berupa berbagai
peralatan pelengkap yang diperlukan perusahaan besar yang akan
digunakan sebagai komponen pelengkap bagi produknya. Kemitraan
model ini didasarkan pada kesepakatan kerja sama dengan
menandatangani kontrak yang berisikan kuantitas, harga, kualitas, dan
waktu. Model ini banyak digunakan dalam kerjasama antar negara dan
berguna untuk alih teknologi, modal, keterampilan, efisiensi.
3) Perdagangan. Pola Kemitraan perdagangan merupakan kerjasama usaha
kecil (perusahaan daerah) dengan usaha menengah atau usaha besar
(perusahaan nasional) di bidang pemasaran barang dan jasa. Dalam pola
ini usaha menengah dan usaha besar bertindak sebagai pemasar hasil
produksi usaha kecil, sementara usaha kecil bertindak sebagai pemasok
produk untuk dijual usaha besar. Jenis-jenis kemitraan ini meliputi



377

pemasaran produk, penyediaan lokasi usaha, atau penerimaan pasokan
dari usaha kecil. Contohnya : usaha pertanian dan bahan pertanian yang
menjadi bahan baku industri. Contoh, bahan-bahan kebutuhan pokok
yang dijual di Indomaret, Alfamart, Alfamidi, Carrefour, Giant dan lain-
lain.
4) Waralaba. Pola kemitraan berbentuk pemanfaatan hak atas kekayaan
intelektual yang dimiliki pihak lain, dimana waralaba besar memberikan
hak penggunaan lisensi, merek dagang, dan saluran distribusi
perusahaannya kepada penerima waralaba dengan mengadopsi seluruh
model manajemen yang dimilikinya kepada waralaba yang menggunakan
lisensi tersebut.
5) Keagenan. Keagenan merupakan pola kemitraan dimana usaha kecil
diberi hak khusus untuk memasarkan barang dan jasa yang diproduksi
usaha menengah atau usaha besar.
6) Pola Kemitraan kerjasama bisnis. Ini merupakan model kemitraan
yang dilakukan oleh kedua kelompok usaha, dimana salah satu
perusahaan mitra bertindak menyiapkan lahan dan tenaga kerja.
Sedangkan perusahaan mitra menginvestasikan modal, manajemen serta
sarana produksi. Pada model kemitraan bisnis ini juga diatur tentang
pembagian keuntungan dan risiko.
7) Bapak Angkat. Ini merupakan model kemitraan dimana usaha besar
bertindak sebagai bapak angkat yang membantu pengusaha kecil agar
berkembang.
8) Franchise. Ini model kemitraan antara pemilik merek (franchisor) –
biasanya Usaha Besar dan Menengah- dengan pengguna merek
(franchise) (Usaha Kecil dan Koperasi) untuk memproduksi, memasarkan
barang dan jasa yang dengan menggunakan merek dan atribut yang
dimiliki franchisor.
9) Vendor. Vendor adalah kerjasama di mana produk yang dihasilkan oleh
mitra kerjanya akan digunakan oleh “bapak angkat”, tetapi produk
tersebut tidak menjadi bagian produk yang dihasilkan oleh bapak angkat.











378

4.2 Bentuk-Bentuk Kemitraan antara Usaha Besar-Menengah dan
Usaha Kecil

Berdasarkan jangka waktunya kemitraan dibagi atas tiga bentuk, yaitu :


1) Kemitraan insidental : Kemitraan ini merupakan kemitraan yang
didasarkan oleh kepentingan ekonomi bersama dalam jangka pendek
dan dapat dihentikan setelah kegiatan yang bersangkutan selesai.
2) Kemitraan jangka menengah : Kemitraan ini merupakan kemitraan
yang dilakukan dengan atau tanpa perjanjian tertulis dan berlangsung
dalam beberapa musim tertentu.
3) Kemitraan jangka panjang : Kemitraan ini merupakan kemitraan
yang dilakukan dalam skala besar dan ada perjanjian tertulis. Hal ini
didasarkan pada ketergantungan dalam pengadaan bahan baku,
permodalan dan manajemen.


Dari aspek pelaku (Subyek) dan aspek objeknya, kemitraan usaha dapat
melibatkan para pelaku usaha di antara usaha besar dengan usaha kecil dan
koperasi. Misalnya dalam upayanya mengoptimalkan kredit perbankan bagi
pengembangan sektor usaha kecil di Indonesia ada beberapa bentuk kerja
sama yang bisa diciptakan dalam bentuk kemitraan atas dasar saling
membutuhkan.


1) Kerjasama hulu-hilir (forward linkage). Usaha kecil yang
menghasilkan produk primer sebagai bahan baku seperti pertanian,
perkebunan, peternakan dan perikanan dapat menjadi pemasok
(supplier) bagi perusahaan industri olahan (Manufaktur, sektor
sekunder) maupun sektor jasa (Angkutan, perdagangan, restoran dan
lain-lain). Dengan demikian usaha kecil sudah ada semacam captive
market yang bisa diandalkan, tidak perlu memasarkan sendiri
produknya. Dengan adanya forward linkage, maka usaha kecil yang
berada di hulu dengan produk primernya dapat bekerja sama atas
dasar kemitraan atau kebersamaan usaha yang saling membutuhkan.
2) Bekerja sama hilir-hulu (backward-linkage). Inisiatif datang dari
perusahaan besar. Perusahaan besar (hilir) menunjuk unit usaha kecil
sebagai pemasok kebutuhan bahan baku yang dibutuhkan dalam
proses produksi. Pengusaha besar menentukan standar atau
spesifikasi bahan baku yang dibutuhkan. Dengan demikian usaha



379

kecil (hulu) bertindak sebagai pembuat produk atas pesanan sesuai
dengan standar kualitas yang ditetapkan oleh usaha besar. Kemitraan
hilir-hulu ini dapat mencegah terjadinya mata rantai produk yang
dimonopoli oleh pengusaha besar, mulai dari penyediaan bahan baku
sampai pada proses produksi, bahkan sampai pada pemasarannya.
3) Dapat dilakukan dengan cara memberikan prioritas penjualan saham
kepada usaha kecil atau Koperasi. Kepemilikan saham usaha kecil
sebagai mitra usaha sesuai bertahap akan mengarah pada jumlah atau
nilai kepemilikan saham yang semakin besar. Kepemilikan saham
oleh usaha kecil agar tidak dikaitkan dengan bentuk kerja sama atau
kemitraan, dan seyogyanya tidak berupa bantuan atau charity, atau
belas kasihan kepada usaha kecil yang memerlukan bantuan dari
pengusaha besar. Seperti tertuang dalam Keputusan Bersama antara
Menteri Negara Investasi/Kepala BKPM dan Menteri Koperasi/PKM
No. 22/SK/1998 dan No. 07/SKB/M/VII/98 pasal 5 bahwa kerja
sama dapat berupa penyertaan saham dengan ketentuan sebagai
berikut : a). Usaha menengah dan usaha besar yang telah berusaha di
bidang/jenis usaha sebagaimana tercantum dalam Keputusan
Presiden No. 9 Tahun 1998, memberikan kesempatan kepada usaha
kecil untuk memiliki saham usaha menengah atau usaha besar dengan
harga yang wajar dan sistem pembayaran yang ringan serta tidak
merugikan usaha kecil. b). Dalam Kemitraan saham (Equity)
penyertaan 20% dari seluruh modal saham perusahaan yang baru
dibentuk dan ditingkatkan secara bertahap sesuai dengan kesepakatan
kedua belah pihak.

Peraturan Pemerintah No. 44 tahun 1997 menjelaskan bahwa pola
kerjasama antara pengusaha besar dengan pengusaha kecil, usaha besar dapat
membina dan mengembangkan seperti :

a. penyediaan dan penyiapan lahan;
b. penyedia sarana produksi;
c. pemberian teknis manajemen usaha dan produksi;
d. perolehan penguasaan dan peningkatan teknologi yang diperlukan;
e. pembiayaan; pemberian bantuan lainnya yang diperlukan bagi
peningkatan efisiensi dan produktivitas usaha;






380

f. penyandang dana yang dilakukan oleh Bank atau Perusahaan
Besar/Menengah.

Contoh, penyandang dana yang tergolong dalam Sarinah Funds, adalah
BDN, ASEI, DANA REKSA dan Sarinah Sendiri. Dana ini merupakan dana
bergulir dihimpun dari penyisihan sebesar 2%-5% dari keuntungan bersih
perusahaan. Sarinah adalah salah satu perusahaan Besar dalam hal ini
mewakili BUMN yang bergerak di bidang retail (perdagangan eceran) yang
melakukan kemitraan dengan usaha kecil dan koperasi. Disamping itu Sarinah
juga melakukan pembinaan usaha kecil dan koperasi tanpa keterkaitan usaha.

5. Pelaku Kemitraan Usaha
Pelaku kemitraan usaha dapat dikelompokkan menjadi lima komponen,
yaitu penyedia dana (Bank), perusahaan modal ventura (PMV) kelompok
(perusahaan) investor saprodi, koperasi primer, kelompok tani dan kelompok
usaha penjamin pasar (Martodireso dan Widada, 2001 :20-23).

Kemitraan usaha bukanlah penguasaan yang satu atas yang lain,
khususnya yang besar atas yang kecil, melainkan menjamin kemandirian
pihak-pihak yang bermitra. Kemitraan usaha yang kita inginkan bukanlah
kemitraan yang bebas nilai, melainkan kemitraan yang tetap dilandasi oleh
tanggung jawab moral dan etika bisnis yang sehat, yang sesuai dengan
demokrasi ekonomi. Adapun syarat-syarat kemitraan (Direktorat
Pengembangan Usaha, 2002:20-21), adalah sebagai berikut :

 Mempunyai itikad baik dalam membantu usaha kelompok mitra;
 Memiliki teknologi dan manajemen yang baik;
 Menyusun rencana kemitraan;
 Berbadan hukum;
 Kelompok usaha yang akan menjadi mitra usaha diutamakan telah dibina
oleh pemerintah daerah;
 Perusahaan mitra dan kelompok mitra terlebih dahulu menandatangani
perjanjian kemitraan. Isi perjanjian kerjasama menyangkut jangka waktu,
hak dan kewajiban termasuk kewajiban melapor kemitraan kepada
instansi pembina teknis di daerah, pembagian risiko penyelesaian bila
terjadi perselisihan dan kepastian hukum bagi kedua belah pihak;







381

 Kelompok mitra dapat memanfaatkan fasilitas kredit program dari
pemerintah, sedangkan perusahaan mitra bertindak sebagai penjamin
kredit bagi kelompok mitra;
 Perusahaan mitra dapat memanfaatkan kredit perbankan sesuai
perundang-undangan yang berlaku;
 Pembinaan oleh instansi Pembina teknis baik di Pusat maupun daerah
bersama perusahaan mitra untuk menyiapkan kelompok mitra agar siap
dan mampu melakukan kemitraan;
 Pembinaan dilakukan dalam bentuk penelitian, pemecahan masalah
sesuai dengan kebutuhan para pihak, pemberi konsultasi bisnis dan temu
usaha.


6. Tahap-Tahap Kemitraan Usaha

Menurut Angsriawan (2002:3) supaya kemitraan usaha dapat berjalan
lancar, maka para pihak yang bermitra perlu melakukan beberapa tahapan
sebagai berikut :

 Tahap persiapan, merupakan tahap dalam melakukan seleksi calon
peserta atau petani, organisasi petani, pola kemitraan, calon perusahaan
atau lembaga mitra, serta tata cara pelaksanaan mitra.
 Tahap sosialisasi, merupakan tahap pemahaman tentang cara kemitraan
serta saran dan tanggapan untuk penyempurnaan.
 Tahap pelaksanaan, merupakan tahap untuk mengetahui hak dan
kewajiban masing-masing pihak yang bermitra dan evaluasi keragaman
usaha kemitraan.



7. Kelebihan dan Kelemahan dari Praktik Kemitraan Usaha

Strategi kemitraan antara perusahaan nasional (Usaha besar-menengah)
dan perusahaan daerah (usaha kecil) pada dasarnya memiliki beberapa
keuntungan yaitu : (1) Adanya penggabungan manajemen antara perusahaan
yang berdampak pada peningkatan jumlah sumber daya, baik modal, peralatan
dan sumber daya lainnya. (2) risiko yang ditanggung secara bersama, (3) Alih
Teknologi, (4) memperoleh pasar baru yang merupakan pasar yang dimiliki
mitra (5) memperbesar saluran distribusi yang baru.




382

Kelemahan dalam strategi kemitraan antara Usaha Besar-Menengah dan
Usaha Kecil pada umumnya terjadi karena kesalahan manajemen. Selain Itu,
kesulitan dalam kemitraan sering terjadi apabila perusahaan yang
bersangkutan tidak memiliki perjanjian yang tegas dalam kerjasama ini.
Akibatnya perusahaan plasma akan mempergunakan apa yang akan dimiliki
oleh perusahaan inti dengan seenaknya saja (Baga, dalam Gutama, 2000:9).

8. Perusahaan – Perusahaan Yang Dapat Menjadi Mitra di Bidang
Finance, Teknologi dan Lain-Lain
Dalam era teknologi yang semakin canggih dewasa ini, banyak hal yang
tidak mungkin pada masa lalu, kini bisa terwujud. Contoh :

 AIKBNB, perusahaan teknologi informasi (IT) yang menawarkan
penginapan di seluruh dunia tanpa harus memiliki hotel (Fisik);
 UBER, perusahaan TI yang menawarkan angkutan Taxi di seluruh dunia
tanpa harus memiliki kendaraan sendiri/perusahaan taxi (Grabtaxi,
GrabCar, GrabBike, GrabExpress, GrabFood, GrabHitch, GrabShare);
 GOJEK, perusahaan TI di Indonesia yang menawarkan jasa seperti
angkutan sepeda motor dan mobil : Gojek/Goride, Gocar, Gofood,
Gomart, Go-Shop, Go-Send, Go-Box, Go-Massage, Go-Pay, Go-Pulsa
dan lain-lain.

Jadi, kemajuan TI mempermudah perjumpaan antara pembeli dan penjual.
Pasar dan transaksi yang diciptakan oleh TI sangat besar jumlahnya, dan
siapapun dapat memanfaatkannya secara luas.
Beberapa perusahaan pemakai TI yang sedang dikembangkan di
Indonesia antara lain :


8.1 PT Digital Artha Media

PT Digital Artha Media (DAM) bergerak di Bidang teknologi keuangan
yang menawarkan layanan solusi keuangan bagi perbankan dan
komunitasnya. DAM mengembangkan produk-produk pembayaran digital,
salah satu produk unggulannya adalah ‘Mandiri e-Cash’, sebuah produk e-
wallet, bekerja sama dengan Bank Mandiri, yang memungkinkan pengguna
melakukan transaksi perbankan menggunakan telepon genggam mereka tanpa
harus membuka rekening di bank, memanfaatkan jaringan lebih dari 17.000




383

ATM Bank Mandiri dan 23.000 lebih outlet alfamart, indomaret, dan 7-eleven
di Indonesia.

Saat ini, DAM telah menjalin kerjasama untuk pembayaran cashless
dengan penyedia layanan ride-sharing Grab, Line Pay, serta pembayaran
Bantuan Langsung Tunai (BLt) dari Pemerintah.


8.2 PT Indo Corpora Investama

PT. Indo Corpora Investama (ICI) merupakan perusahaan pengembang
platform digital Paditrain, Padiciti dan Padipay. Padiciti adalah sebuah
platform pemesanan tiket kereta api, tiket pesawat serta voucher hotel.
Pendahulunya, Paditrain, adalah aplikasi seluler pemesanan tiket kereta api
pertama di Indonesia. ICI juga mengembangkan sebuah platform payment
agregator/gateway bernama Padipay. Padipay adalah produk pelopor di
Industri mobile payment di Indonesia, yang mengintegrasikan lebih dari 97
sumber pembayaran dari bank, kartu kredit, dan e-money.

8.3 PT Dini Nusa Kusuma

PT Dini Nusa Kusuma (DNK) merupakan perusahaan penyedia solusi
komunikasi yang memiliki spesialisasi di bidang mobile satellite services dan
jaringan komunikasi aman. Saat ini, dNK telah menjalin kerja sama dengan
Navayo research, sebuah perusahaan dengan spesialisasi di bidang perangkat
keras terenkripsi, untuk mewujudkan sistem komunikasi terrestrial yang aman
berbasis satelit di Indonesia dan di Kawasan regional. Saat ini, dNK sedang
dalam tahap pengembangan produk.

8.4 PT Supra Kreatif Mandiri

PT. Supra Kreatif Mandiri (SKM) merupakan perusahaan hasil kolaborasi
dari Perseroan dan PT Supra Boga Lestari tbk (pemilik ranch Market and
farmers Market). SKM mengembangkan sebuah platform e-grocery bernama
“Kesupermarket.com” untuk melayani kaum urban sibuk yang tidak memiliki
banyak waktu untuk mendapatkan barang-barang harian berkualitas terbaik.










384

Dengan sekitar 12.000 jenis produk lokal maupun impor,
Kesupermarket.com merupakan solusi untuk mendapatkan kebutuhan harian
berkualitas dengan mudah dan nyaman. sKM secara resmi meluncurkan
Kesupermarket.com di bulan November 2016.

8.5 PT Arjuna Indotech Media


PT Arjuna Indotech Media (AIM) adalah perusahaan yang bergerak di
bidang digital entertainment and media. Ini adalah salah satu segmen untuk
semakin mengukuhkan posisi perseroan sebagai penyedia digital lifestyle
terintegrasi di Indonesia. Saat ini, aiM masih dalam tahap pengembangan
produk.


8.6 PT Dua Empat Print

PT dua Empat Print (24P) merupakan perusahaan cloud-based printing
yang akan melengkapi ekosistem sebagai digital lifestyle provider di
Indonesia. Dengan teknologi cloud yang digunakan, para pelanggan dapat
mencetak dokumen nya di manapun dan kapanpun dengan harga yang fair dan
kompetitif. 24P memanfaatkan teknologi artificial intelligence (ai) yang
memungkinkan harga printing yang dibayar oleh konsumen akan mengikuti
tingkat konsumsi tinta. Saat ini, 24P masih dalam tahap pengembangan
produk.

8.7 KPISOFT Pte.Ltd.

KPISOFT Pte. Ltd. merupakan layanan software-as-a-service (saas) yang
menyediakan solusi integrasi pelaksanaan strategi bisnis, manajemen kinerja
bisnis, dan intelijen bisnis.


8.8 Perusahaan Modal Ventura

Perusahaan Modal Ventura (Venture Capital Company) atau PMV adalah
badan usaha yang melakukan usaha pembiayaan/penyertaan modal ke dalam
suatu perusahaan yang menerima bantuan pembiayaan (investee company)
untuk jangka waktu tertentu dalam bentuk penyertaan saham, penyertaan
melalui pembelian obligasi konversi, dan/atau pembiayaan berdasarkan
pembagian atas hasil usaha.





385

Kegiatan usaha Perusahaan Modal Ventura Meliputi :

 Penyertaan Saham (equity participation);
 Penyertaan melalui pembelian obligasi konversi (quasi equity
participation);
 Pembiayaan berdasarkan pembagian atas hasil usaha (profit/revenue
sharing).


Saat ini pemerintah berupaya mendorong terbentuknya PMV-PMV baru
yang profesional. Salah satu langkah yang ditempuh yakni menerbitkan
Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) No. 34,35,36 dan 37 Tahun 2015.
Diharapkan PMV-PMV akan membantu percepatan pertumbuhan
perusahaan-perusahaan perintis (startup) maupun perusahaan-perusahaan
yang akan go public dan masih membutuhkan dukungan baik dari segi
permodalan maupun edukasi.

PT Kresna Ventura Kapital adalah salah satu PMV yang memiliki visi
“menjadi lembaga keuangan terkemuka di Indonesia yang mampu
menggabungkan keunggulan global dengan pengetahuan lokal dalam
meningkatkan nilai tambah secara berkelanjutan bagi usaha produktif dan
rintisan usaha awal yang berlandaskan prinsip-prinsip good corporate
governance (GCG).

Untuk mewujudkan visi tersebut maka PT Kresna Ventura Kapital
memiliki misi yang dirumuskan sebagai berikut :

 Menyediakan solusi permodalan dan pembiayaan bagi pengembangan
usaha produktif, UMKM dan rintisan usaha awal dalam mengembangkan
dan pertumbuhan usaha;
 Membantu pasangan usaha dalam pengelolaan yang lebih profesional
guna pengembangan usaha, baik di bidang produksi, marketing, keuangan
dan teknologi berdasarkan prinsip tata kelola yang baik serta pengelolaan
risiko usaha;

 Memelihara budaya kepercayaan, integritas dan keunggulan di Industri
jasa keuangan yang berkontribusi optimal bagi para pemangku
kepentingan.







386

Berbagai contoh perusahaan yang disebutkan di atas dapat menjadi
alternatif bagi perusahaan-perusahaan rintisan atau perusahaan yang ingin
melantai di lantai bursa untuk dijadikan mitra usaha yang menguntungkan.
Untuk berhubungan dengan perusahaan-perusahaan di atas Anda dapat
searching di internet dan melakukan korespondensi.















































387

[halaman ini sengaja dikosongkan]



388

DAFTAR PUSTAKA


Ambar T. Sulistiyani dan Rosidah. 2003. Manajemen Sumber Daya Manusia.

Cetakan Pertama. Yogyakarta: Penerbit Graha Ilmu.
Barrategi, A. Tornin, J. Martinez-Cruzado, L. Hamilton, A. Martinez-Campos,
E. Rodrigo, JP. Gonzales, MV. Baldini, N. Garcia-Castro, J. Rodriguez,
R. (2016) ‘Osteosarcoma:Cells-of-Origin, Cancer Stem Cells, and
Targeted Therapies’, Stem Cells International.
Hindawi Publishing Corporation, Volume 2016.

Charles J. Fombrun. 1996. Reputation; Realizing Value From The Corporate

Image

Corsetti, Pesenti, Roubini, 1998, “What Caused the Asian Currency Fall,”
Journal of Science Direct

Damayanti, Mia Nur. 2009. Kajian Pelaksanaan Kemitraan Dalam

Meningkatkan Pendapatan Antara Petani Semangka di Kabupaten
Kebumen Jawa Tengah dengan CV. Bogor: Bimandiri, IPB Press.

David M. Chalmers. 1978. An Abuse Of Public Power For Private Gains. (The
Lexicon Webster Dictionary)

Dornbusch, Rudiger, Stanley Fischer and Richard Startz, Macroeconomics,
Seventh Edition, McGraw Hill, 1998. New York: International Edition.

Edward H. Shein. 1972-1981 Organisasi, Organizational Culture and

Leadership, Amerika dan Eropa
Eichengreen, B., Rose, A. K., & Wyplosz, C. 1993. “Exchange Market
Mayhem: The Antecedents and Aftermath of Speculative Attacks”.
Economic Policy.

Hafsah, Muhammad Jafar. 1999. Kemitraan Usaha. Jakarta: Pustaka Sinar

Harapan.

Hasibuan, Malayu S.P. 2001. Manajemen Sumber Daya Manusia. Jakarta :
PT.Bumi Aksara



389

http://digilib.unila.ac.id

http:www.enciety.co. 17 Desember 2014
Ir. Purwadi. 2002. Penelitian tentang strategi Perkembangan BUMD on

Perbankan dalam Meningkatkan Pendapatan Asli Daerah. Surabaya:
Balitbang Daerah Provinsi Jawa Timur.

Kaminsky, G. L., & Reinhart, C. M. 1999. "The twin crises: the causes of
banking and balance-of-payments problems". America.

Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia

Krugman, Paul dan Obstfeld, Maurice. 2004. Ekonomi Internasional Teori dan
Kebijakan Harper Collins Publisher. Ahli Bahasa. DR. Faisal H. Basri,

SE MSc, Jakarta: PT Indeks Kelompok Gramedia.

Krugman, Paul R dan Mourice, Obstfeld. 1994. Ekonomi Internasional:
Ekonomi dan Kebijakan. PAU-FEUI dan Harper Collins Publisher.

Mangkunegara, A.A. Anwar Prabu. 2000. Manajemen Sumber Daya Manusia.
Bandung: PT, Remaja Rosdakarya.

McLeod, R. 1998. Sistem informasi Manajemen Jilid I. Jakarta: Prenhallindo.
Mink. 1993. Seri Manajemen Sumber Daya Manusia (Kinerja/Performance).

Jakarta: PT Elexmedia Komputindo

Musi Pos edisi. 10 Februari 2009
Nasution. 1998. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Tarsito


Ngamal, Yohannes. 2016: Jurnal Saint Mary. No.4.
Simamora, H. 2006. Sumber Daya Manusia. Jakarta: Rineka Cipta

Sulistiyani, Ambar T. 2004. Kemitraan dan Model-Model Pemberdayaan.
Yogyakarta: Gaya Media.

Tambunan, Tulus. 1998. Krisis Ekonomi. Jakarta: Lem baga Penerbit Fakultas
Ekonomi UI

Tempo.Co, Jumat. 18 Juli 2014





390

Undang-undang Nomor 20 tahun 2008 tentang Usaha Mikro, kecil, dan

Menengah pasal 1 Ayat (3).
Undang-undang nomor 20 tahun 2008 tentang Usaha Mikro, Kecil, dan

Menengah Pasal 11.
Wibisono, Yusuf. 2007. Membedah Konsep dan Aplikasi CSR. Gresik:

Fascho Publishing.
Wikipedia.org

World Bank "An Abuse Of Public Power For Private Gains",























































391

INDEKS



A C

Advertising, 159 Cash, 10, 105, 158, 317
Agrowisata, 64 Chloroform, 51
Akuntabilitas, 1, 4, 75, 91, 100, 177, 182, Corporate culture, 21, 207, 208, 214, 229
183, 192, 196, 223, 234, 261, 262, Corporate governance & financial
266, 288, 290, 298, 299, 300, 303, reporting, 15
315, 316, 318 Country risk, 9, 38, 344
Amerika, 1, 2, 3, 5, 14, 16, 18, 92, 176, Customer, 2
177, 206, 223, 335, 344, 345, 361, 363
APBD, 31, 36, 44, 45, 116, 138, 281 D
ARM, 2 Dayaguna, 234
ASKBIDA, 33 Debitor, 38
Auditor, 90, 199, 266 Devisa, 12, 13, 17, 344
Dividen, 105, 106, 107, 108, 109, 121,
B
188, 195, 315, 323, 352
Birokrasi, 31, 37, 41, 73, 74, 135, 138, DPRD, 31, 44, 117, 315, 318
143, 144 DSCR, 116
BPS, 13, 53, 62, 141, 142
BUMD, 22, 23, 24, 25, 26, 27, 28, 30, 31, E
32, 33, 34, 35, 36, 37, 40, 42, 43, 44, Economic bubble, 3
45, 86, 101, 102, 103, 104, 133, 134, Ekspansi, 1, 40, 86, 106, 107, 117, 140
135, 136, 137, 138, 139, 141, 142, Emiten, 86, 90, 91, 92, 93, 94, 104, 107,
143, 144, 145, 175, 229, 230, 231, 109, 110, 118, 122, 125, 192, 193, 365
240, 259, 260, 281, 282, 283, 286, Equity, 374, 386
289, 290, 291, 292, 293, 294, 295, Exit strategy, 96
296, 297, 298, 299, 300, 301, 318, 319
BUMN, 15, 22, 39, 135, 136, 137, 142, F
182, 183, 184, 193, 259, 260, 261,
family Dipterocarpaceae, 51
263, 288, 289, 300, 381
FAO, 46, 53, 56
Bunga, 1, 2, 3, 9, 18, 46, 57, 105, 106,
FDI, 15, 16
109, 110, 111, 112, 113, 114, 115,
Foreign direct investment, 15
117, 120, 121, 140, 305, 307, 309,
Furnitur, 53
310, 311, 312, 313, 330, 341, 342,
351, 352, 353
G
Bursa, 4, 8, 9, 20, 86, 89, 91, 92, 93, 96,
97, 99, 100, 101, 102, 108, 122, 125, GCG, 4, 15, 17, 42, 101, 104, 132, 136,
128, 133, 387 137, 138, 149, 175, 176, 177, 180,
Businees, 45 181, 182, 183, 184, 185, 186, 187,

391

190, 193, 194, 197, 203, 205, 208, KKN, 34, 134, 137, 138, 144, 221, 230,
214, 222, 223, 224, 257, 258, 260, 235, 265, 268, 286, 291
261, 262, 263, 264, 266, 271, 272, KKP, 54, 56
279, 281, 282, 283, 284, 286, 288, Komoditas, 43, 53, 58
289, 298,299, 300, 301, 303, 304, 305, KPR, 1, 2, 3, 4, 5
315, 386 Kredit, 1, 2, 3, 5, 10, 85, 104, 117, 140,
GDP, 6, 7, 66 175, 256, 260, 305, 310, 311, 312,
Go Public, 85, 86, 87, 88, 89, 94, 96, 100, 313, 340, 344, 360, 379, 382, 384
101, 102, 128 Krisis, 1, 2, 4, 6, 8, 13, 14, 16, 18, 20,
175, 176, 369
H Kuartal, 9, 87, 117

Hawai, 63
L
Hdr, 64
Laba, 26, 27, 31, 34, 35, 37, 87, 90, 105,
I 106, 107, 108, 134, 135, 136, 160,
188, 304, 306, 307, 319, 342, 351,
IMF, 6, 7, 10, 18, 20
352, 372
Infrastrutur, 40
Lazim, 149, 225
Inlflasi, 9
Intrinsik, 109, 347
M
Investasi, 1, 2, 4, 20, 26, 27, 29, 33, 36,
37, 38, 40, 72, 79, 85, 95, 104, 106, Malus, 19
110, 113, 114, 115, 116, 118, 119, Market nice, 74
120, 121, 122, 123, 127, 128, 129, Marketing mix, 136, 153, 155
176, 273, 303, 305, 311, 315, 317, MEA, 45
318, 323, 324, 327, 332, 341, 342, Mikro, 10, 85, 161, 164, 327
343, 344, 351, 352, 353, 355, 356, Modern, 20, 32, 37, 53, 149, 180
359, 370, 377 Moluska, 63
Investor, 3, 4, 5, 6, 9, 15, 20, 22, 41, 42, Moratorium, 55
78, 83, 85, 86, 87, 88, 91, 93, 94, 95, Mortagage, 2
96, 99, 100, 102, 106, 108, 110, 114,
115, 119, 120, 121, 122, 123, 124, N
125, 126, 127, 128, 133, 135, 177, NAB, 121, 122
186, 287, 297, 315, 327, 343, 352, Neraca, 10, 12, 17, 18, 88, 90, 319, 323
353, 355, 370, 381 Never ending goal, 21
IPTEK, 54, 55, 239 Nikel, 58, 157
Nonbankable, 1
K
Nonmigas, 10, 13
KADIN, 141 NPL, 9
KBN, 86





392

o Responsif, 75, 153
Restrukturisasi, 21, 26, 28, 43, 131, 132,
Obligasi, 3, 12, 19, 85, 104, 106, 108,
136, 138, 144, 281, 286
109, 110, 111, 112, 113, 114, 115,
Return, 107, 119, 120, 327, 351, 352, 356
116, 117, 118, 121, 122, 124, 125,
Riil, 6, 9, 10, 12, 24, 175
133, 134, 315, 341, 356, 362, 363,
385, 386
S
OJK, 90, 91, 103, 133, 202
Overvalued, 12, 17 Saprodi, 381
Scaling wax, 51
P Sdm, 54, 55, 64, 66, 136, 143, 146, 147,
169, 205, 207, 208, 231, 245
PAD, 22, 23, 28, 30, 35, 36
Sekuritas, 5, 6, 95, 104, 109, 124, 127,
PD, 32, 43, 44
287, 342, 344, 352
PDAM, 32, 35, 135
SIUPP, 73
Perbankan, 1, 3, 4, 6, 9, 10, 12, 17, 18,
Stakeholder, 179, 183, 186, 222, 224,
32, 86, 96, 117, 142, 143, 156, 175,
227, 229, 252, 258, 266, 281, 289,
176, 256, 257, 258, 305, 307, 310,
290, 291, 292, 293, 294, 295, 298,
312, 341, 355, 360, 379, 382, 383
299, 300, 316, 319
PERC, 38, 65
Subprime, 1, 4, 5
Plywood, 50
Subprime, 1, 2, 4, 5
Political variety, 74
Subsektor, 53
Positif, 1, 34, 75, 87, 88, 96, 98, 102, 145,
Summit, 44, 45
159, 175, 225, 227, 228, 229, 243,
245, 254, 263, 267, 276, 278, 279, 290
T
Potofolio, 121
Press release, 95 Tempo, 7, 8, 10, 17, 108, 109, 110, 112,
Provisi, 112 117, 125, 127, 203, 309
Provit oriented, 31 Terakumulasi, 229
Psikografis, 152 Track record, 93
Public, 29, 31, 34, 85, 86, 87, 88, 89, 90, Transparansi, 1, 4, 75, 100, 177, 182,
91, 92, 95, 96, 97, 98, 99, 100, 101, 183, 192, 222, 225, 258, 259, 264,
102, 104, 132, 133, 138, 194, 225, 281, 288, 289, 298, 299, 303, 305,
251, 260, 303, 315, 318, 343, 351, 315, 317, 318, 374
365, 386 Trawls, 55
Public service, 31
U
R UMKM, 9, 85, 141, 142, 143, 386
Refinancing, 2, 117 UNDP, 64
Reksadana, 118, 119, 120, 121, 122, 129 Unilever, 218
Responsibilitas, 4, 183, 291, 298, 299,
303



393

W

waran, 104, 124, 125, 126
Wellinformed, 75

Z
ZEE, 46, 53
Zona, 46, 53, 54





























































394

BIODATA PENULIS


Dr. Magit Les Denny Tewu, S.E., M.M merupakan salah satu
arsitek lahirnya Partai Damai Sejahtera (PDS) dan meninggal-
kan pekerjaannya sebagai PNS di Badan Pelayanan Kemuda-
han Ekspor dan Pengolahan Data (BAPEKSTA) Departemen
Keuangan RI lalu memilih berkiprah di dunia politik karena
ingin menggarami dunia perpolitikan di Tanah Air. Setelah
menjadi Sekretaris Jenderal (2001-2006) dan Wakil Ketua
Umum (2006-2010), ia terpilih secara aklamasi sebagai Ketua
Umum PDS periode 2010-2015.


s
e
Penulis juga sebagai Komisaris di KRESNA Group yang berpusat di Kresna Tower
u
i
P n l
SCBD Lot 18 Parc Place Jl. Jend. Sudirman Kav. 52-53 Jakarta diantaranya sebagai
Presiden Komisaris PT Kresna Ventura Kapital (KVK), Komisaris Utama PT Asur-
ansi Kresna Mitra Tbk (Kresna Insurance Tbk). Selain itu penulis juga berkiprah di
dunia pendidikan sebagai Dosen Manajemen Keuangan, Manajemen Risiko dan
Good Corporate Governance (GCG) di Magister Manajemen Universitas Kristen
Indonesia (UKI) Jakarta.




























UKI PRESS
Pusat Penerbit dan Pencetakan
Universitas Kristen Indonesia
Jl. Mayjen Sutoyo No.02 Cawang
Jakarta Timur 13630


Click to View FlipBook Version